MENJADI YANG TERAKHIR DARI SEMUANYA DAN PELAYAN DARI SEMUANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Selasa, 22 Mei, 2018) 

Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mrk 9:30-37) 

Bacaan Pertama: Yak 4:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 55:7-11,23 

“Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk 9:35).

Petikan sabda Yesus ini barangkali merupakan sabda yang paling menantang dalam Injil. Kita semua mengetahui bahwa kita dimaksudkan untuk melayani, …… namun menjadi pelayan dari semuanya? Mudahlah untuk kita menjadi penuh keutamaan/kebajikan ketika menghadapi seseorang yang nyaman/enak bagi kita berelasi dengannya. Akan tetapi bagaimana kalau kita harus berurusan dengan orang-orang yang “berbeda” dengan kita? Mungkin saja mereka berasal dari budaya yang berbeda, memiliki tradisi iman yang berbeda, atau menganut nilai-nilai yang berbeda. Bisa juga mereka adalah orang-orang yang cacat fisik dan/atau menderita penyakit yang menakutkan kita. Atau mungkin saja karena mereka adalah orang-orang tidak mengenakkan untuk menjadi teman bergaul. Jika kita cukup lama memikirkan hal ini, maka kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri, “Bagaimana aku harus melakukannya dengan baik seturut kehendak Allah?”

Sebenarnya kita tidak perlu mencari jauh-jauh untuk memperoleh jawabannya. Yesus, sang Guru agung, memberikan kepada kita visual aid guna membantu kita memahami diri-Nya. Dia menggunakan seorang anak kecil untuk mengingatkan kita bahwa mereka yang biasa kita sepelekan, yang kita pikir tidak ada artinya, paling akhir, atau “berbeda” sesungguhnya sangat dekat dengan diri-Nya. Pada kenyataannya, orang-orang kecil (wong cilik) ini sesungguhnya adalah Yesus yang menyamar: “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Mrk 9:37). Yesus dapat saja menggunakan seseorang yang sudah tua dalam usia, seorang pengemis, atau seseorang yang sedang mengalami pergumulan pribadi dalam batinnya, namun hakekat pesan-Nya adalah sama: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”  (Mat 25:40).

Yesus dapat saja tidak mengatakan kepada kita untuk pergi keluar melayani setiap orang yang kita temui. Namun jelaslah bahwa Dia menantang kita untuk mengubah cara kita memandang orang-orang lain. Apabila kita melihat wajah-Nya dalam wajah orang-orang yang kita temui, apakah dia kaya atau miskin, sehat wal’afiat atau sedang sakit-sakitan – maka kita tidak akan merasa gundah apakah kita  “besar” atau “kecil” dalam Kerajaan Surga. Kita tidak akan melihat pelayanan sebagai suatu beban melainkan sebagai sesuatu untuk dinikmati dengan penuh sukacita.

Apabila kita (anda dan saya) mempunyai kesulitan untuk menemukan Tuhan Yesus dalam diri seseorang yang kita temui, barangkali kita perlu menemukannya dalam diri kita sendiri dulu. Jika kita merasa lelah untuk mengasihi dengan kekuatan kita sendiri, marilah kita memohon kepada Tuhan Yesus untuk mengisi diri kita dengan kekuatan-Nya dan belas kasih-Nya. Terang Roh Kudus yang menyinari kita akan mentransformasikan visi kita. Orang-orang yang tadinya susah/tidak cocok menurut pandangan kita akan menjadi lebih mudah untuk kita kasihi. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kita pun akan mempunyai suatu bela-rasa terhadap mereka. Ada lagu barat yang liriknya a.l. berbunyi: “Nothing looks the same through the eyes of love” – Tidak ada sesuatu pun yang kelihatan sama melalui mata cinta.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah mata-Mu kepadaku, agar aku dapat melihat sesamaku seperti Engkau melihat mereka. Berikanlah hati-Mu kepadaku, agar aku dapat mengasihi mereka dengan kasih-Mu.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:30-37), bacalah tulisan yang berjudul “PELAYAN DARI SEMUANYA” (bacaan tanggal 22-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak,  20 Mei 2018 [HARI RAYA PENTAKOSTA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements