MOHON BIMBINGAN ROH KUDUS AGAR KITA DAPAT MENEMUKAN CARA-CARA PRAKTIS MELAWAN DOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Kamis, 24 Mei 2018)

 

Sesunguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”

“Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan buntung daripada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika matamu menyebabkan engkau berdosa, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulatnya tidak mati dan api tidak terpadamkan.

Karena setiap orang akan digarami dengan api.

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?

Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain.” (Mrk 9:41-50) 

Bacaan Pertama: Yak 5:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 49:14-20 

Apakah Yesus memaksudkan kita secara harfiah harus memotong satu tangan kita atau mencungkil satu mata kita untuk menghindari kedosaan? Yang jelas, berbagai bacaan dalam Perjanjian Baru tidak mencatat adanya mutilasi-mutilasi yang dilakukan oleh para pengikut Kristus yang awal. Mereka yang mendengar kata-kata Yesus ini jelas memahami kata-kata itu sebagai suatu “hiperbola”, yang dengan sengaja Yesus nyatakan secara berlebihan guna menyampaikan pesan yang ingin disampaikan-Nya. Pada kenyataannya, cara berbicara sedemikian merupakan sesuatu yang biasa di kalangan orang Yahudi abad pertama.

Kalau begitu, apakah yang dimaksudkan oleh Yesus di sini? Dosa mempunyai kekuatan untuk menyeret kita sampai terjatuh, dan bahwa kita harus melakukan hal yang dapat dilakukan untuk mencegahnya. Dosa menumpulkan kita dan merupakan penghinaan terhadap hidup Allah dalam diri kita. Lebih buruk lagi, dosa mendilusi kemampuan kita untuk menerima kuat-kuasa dan buah-buah Roh Kudus dalam diri kita, menyebabkan kita kehilangan “rasa asin” kita (Mrk 9:50).

Tentunya kita mengetahui bahwa seandainya pun kita jatuh ke dalam dosa, maka kita hanya perlu berbalik kepada Allah, bertobat, dan menerima pengampunan dari Dia. Akan tetapi pertobatan adalah apa yang kita lakukan setelah kita berdosa. Apa yang harus kita lakukan sebelumnya sehingga kita tidak terlibat dalam kedosaan? Inilah isu yang diketengahkan oleh Yesus dalam bacaan Injil hari ini: upaya-upaya praktis yang perlu kita lakukan guna menghindari dosa. Titik tolak yang baik adalah untuk mengetahui apa yang menyebabkan kita sampai terjatuh dalam dosa, hal mana berarti memeriksa dengan teliti disposisi batin kita setiap hari. Semakin baik kita mengenal diri sendiri, semakin jelas kita akan mengetahui ke mana kita akan melangkah.

Di Dublin, Irlandia pernah hidup seseorang pecandu alkohol (selama 15 tahun) yang bernama Matt (Matthew) Talbot [1856-1925]. Ia menghadapi kelemahan-kelemahan dirinya dengan cara yang praktis. Salah satu strateginya adalah untuk tidak pernah membawa uang dalam sakunya selagi dia berjalan pergi/pulang ke/dari tempat kerjanya. Tanpa uang ia tidak dapat membeli “miras”, jadi dia “memotong” apa yang tadinya telah menjadi kebiasaan buruknya sehari-hari. Ia bergabung dengan Ordo III Sekular S. Fransiskus (OFS), melakukan pertobatan dengan keras, banyak berdoa, menghadiri Misa Kudus setiap hari dan melakukan devosi kepada Santa Perawan Maria dengan benar. Pada tanggal 3 Oktober 1975, Paus Paulus VI mendeklarasikan Matt Talbot sebagai Hamba Allah (Venerabilis), satu tahapan sebelum Beato.

Kita masing-masing dapat menemukan cara-cara praktis sedemikian guna memerangi dosa.  Jika suatu strategi yang bersifat praktis tidak dapat kita bayangkan dengan jelas, maka sepatutnyalah kita memohon kepada Roh Kudus agar membimbing kita. Allah sungguh menginginkan agar kita bebas dari perbudakan dosa. Allah ingin agar kita menjaga garam agar tetap terasa asin dalam diri kita. Dengan demikian, Allah sungguh berkomitmen untuk menolong kita menemukan keseimbangan yang benar antara mengandalkan diri sepenuhnya pada kekuatan kita sendiri dan secara pasif menunggu saja mukjizat pembebasan ilahi dari Allah. Allah akan memberikan kepada kita rahmat-Nya yang bersifat supernatural selagi kita membuat sebuah rencana dan berjuang untuk mengimplementasikannya.

DOA: Roh Kudus Allah, aku sungguh ingin mematahkan hubunganku dengan dosa dalam hidupku. Tolonglah aku menemukan cara-cara yang praktis untuk memotong apa saja yang menyebabkan aku menyakiti hati-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi garam yang tidak hambar dalam Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:41-50), bacalah tulisan yang berjudul “KATA-KATA KERAS YESUS” (bacaan tanggal 24-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 21 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements