MURID YESUS ADALAH GARAM BUMI DAN TERANG DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Selasa, 12 Juni 2018)

Keluarga OFMConv., OSC/OFMCap.: Peringatan B. Yolenta, Florida (Ordo II) dkk. Martir Revolusi Komunis Spanyol dan Polandia

 

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (Mat 5:13-16) 

Bacaan Pertama: 1Raj 17:7-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 4:2-5,7-8

Catatan awal: Dalam tulisan ini, terjemahan yang digunakan oleh LAI “garam dunia”, saya ganti dengan “garam bumi” (salt of the earth) sesuai dengan semua versi terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris.

Garam bumi dan terang dunia digunakan Yesus sebagai lambang-lambang dari fungsi penting yang kita lakukan di tengah dunia. Garam memperbaiki, mengawetkan dan menjadi pemberi rasa atas makanan dll. yang di luar dirinya. Terang mencerahkan sesuatu di luar dirinya. Seorang pengikut/murid Yesus yang sejati adalah garam bumi dan terang untuk dunia di sekelilingnya.

Apabila kita menolak untuk berfungsi sebagai garam dan terang dunia, maka iman-kepercayaan kita pun dengan mudah menjadi pudar dan sekadar menjadi ungkapan-ungkapan lahiriah tanpa kekuatan untuk menjadi saksi-Nya dalam kehidupan kita. Kita barangkali mengenakan kalung lengkap dengan salib Kristus, tetapi sikap dan perilaku kita jauh dari semangat salib Kristus itu. Sebagai pejabat bank kita menerima (bukan menolak) pemberian “tanda terima kasih” dari nasabah yang baru menerima penjaman dari bank kita, dan menamakannya sebagai “berkat Tuhan”. Masih banyak lagi contoh dari dunia bisnis dan kehidupan kita sehari-hari pada umumnya.

Apabila tingkat perceraian di dalam keluarga-keluarga Kristiani dan berbagai kejahatan (misalnya korupsi) oleh orang Kristiani tidak lebih rendah daripada yang lain, maka dapat dikatakan bahwa kita telah kehilangan kuat kuasa untuk menjadi saksi-saksi Kristus. Dalam masyarakat yang “katanya” penuh toleransi ini kita juga dapat terjebak untuk dengan mudahnya mengasimilasikan nilai-nilai budaya popular sambil memegang keserupaan dengan identitas Kristiani hanya terbatas dalam terminologi-terminologi dan hal-hal yang bersifat seremonial.

Yesus tidak menghendaki agar kita menjadi semacam kaum elit rohani yang baik secara psikologis maupun kultural (budaya) terpisah dari dunia di sekeliling kita. Dengan kata-kata kita maupun dengan kehadiran kita, kita berdiri tegak membela sistem nilai alternatif seperti dilakukan oleh Yesus, Yohanes Pembaptis, Elia (Bacaan Pertama) dan para nabi lainnya, yaitu sebagai “tanda lawan”. Kita mengingatkan dunia tentang Allah. Kita mengingatkan orang-orang yang kita temui tentang Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dengan kata-kata maupun perilaku kita sehari-hari. Sebagaimana garam dan terang, iman kita sendiri paling operatif jika iman itu menjadi bagian dari tekstur hidup kita sehari-hari. Kita melayani dunia secara paling efektif tidak melalui isolasi, melainkan melalui kontak dan keterlibatan diri kita dengan dunia itu.

DOA: Roh Kudus, datanglah dan penuhilah hatiku dengan hikmat-kebijaksanaan-Mu dan kasih-Mu. Ajarlah aku dan bimbinglah aku. Buatlah aku menjadi garam bumi dan terang dunia sebagaimana dimaksudkan oleh Yesus, Tuhan dan Juruselamatku.Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 5:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “GARAM BUMI DAN TERANG DUNIA” (bacaan tanggal 12-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

Cilandak, 10 Juni 2018 [HARI MINGGU BIASA X [TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements