Archive for August, 2018

MENGGUNAKAN SEGALA KARUNIA/ANUGERAH DARI ALLAH SECARA BIJAKSANA

MENGGUNAKAN SEGALA KARUNIA/ANUGERAH DARI ALLAH SECARA BIJAKSANA

Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Sabtu, 1 September 2018)

HARI SABTU IMAM

“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.”  (Mat 25:14-30) 

Bacaan Pertama: 1Kor 1:26-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:12-13,18-21 

Dalam perumpamaan tentang talenta ini, Yesus mengingatkan kita bahwa kita harus menggunakan secara bijaksana segala karunia (anugerah) yang diberikan oleh Allah, jikalau kita mau masuk ke dalam Kerajaan Surga. Dalam perumpamaan ini, seperti juga dalam perumpamaan-Nya yang lain, Yesus mendesak bahwa segalanya yang ada pada kita dan kita gunakan sebenarnya adalah milik Allah. Ia telah memberikan berbagai macam talenta dan hal-hal baik lainnya berkaitan dengan kehidupan ini kepada makhluk ciptaan-Nya, ada yang memiliki nilai tinggi, ada yang bernilai lebih rendah dlsb. Dalam perumpamaan ini segala pemberian dari Allah itu diumpamakan uang, untuk mana setiap hamba hanya berfungsi sebagai administrator-nya. Sang Tuan dengan tegas menugaskan para hambanya untuk menggunakan segala miliknya dengan bijaksana dan agar menghasilkan buah secara berlimpah.

Ketika waktu mereka sudah habis dan sang Tuan kembali, ia menuntut perhitungan dari setiap hambanya yang telah diberikan tugas tersebut. Mereka yang telah memperkenankan karya Allah terlaksana lewat diri mereka memperoleh ganjaran. Mereka akan menjadi para hakim dan pemimpin dalam Kerajaan Allah. “Baik sekali perbuatanmu,” sang Tuan berkata, “karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” 

Ini adalah peringatan keras bahwa kita tidak boleh menggunakan karunia (anugerah) Allah dengan cara “semau gue” …… untuk kenikmatan diri kita sendiri. Hal-hal baik dalam kehidupan ini bukanlah milik kita sendiri, sehingga kita mau memperlakukannya sesuai kesenangan kita. Semua itu harus digunakan dalam rangka pelayanan bagi Allah dan sesama kita. Perumpamaan ini juga merupakan satu lagi perumpamaan di mana Yesus mengingatkan kita tentang penyalahgunaan kekayaan. Jikalau kita tidak menumbuh-kembangkan kasih mendalam dalam diri kita, suatu semangat berbagi, suatu kemurahan-hati dengan segala yang Allah telah berikan kepada kita, maka kita akan “bernasib” serupa dengan hamba tolol yang menyembunyikan dalam tanah satu talenta yang dipercayakan sang Tuan kepadanya, … dia tidak menggunakan anugerah Allah kepadanya untuk kemuliaan-Nya.

Hanya mereka yang membuat ruangan besar bagi Allah dan sesama, menggunakan dengan baik hal-hal baik yang telah diberikan kepadanya oleh Allah, hanya mereka inilah yang layak memperoleh ganjaran dari Allah.

DOA:  Tuhan Yesus, Engkau “pergi” untuk sementara waktu dan telah minta kepadaku menginvestasikan talenta-talenta-Mu dengan bijaksana. Ajarlah aku bagaimana menjadi seorang “investor” yang cerdik. Aku ingin diriku mampu untuk memberikan kepada-Mu hasil yang maksimal. Yesus, biarlah aku menjadi salah satu dari orang-orang yang mendengar Engkau berkata, “Baik sekali perbuatanmu, engkau adalah hamba-Ku yang baik dan setia!”. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:14-30), bacalah tulisan berjudul “MELIPAT-GANDAKAN TALENTA KITA” (bacaan tanggal 1-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Jakarta, 29 Agustus 2018 [Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

ALLAH BERKENAN MENYELAMATKAN MEREKA YANG PERCAYA OLEH KEBODOHAN PEMBERITAAN INJIL

ALLAH BERKENAN MENYELAMATKAN MEREKA YANG PERCAYA OLEH KEBODOHAN PEMBERITAAN INJIL

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Jumat, 31 Agustus 2018) 

Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.

Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. Karena ada tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.” Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmat, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: Untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang Yunani suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia. (1Kor 1:17-25) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2.4-5.10-11; Bacaan Injil: Mat 25:1-13 

Memang cukup mengagetkanlah kenyataan, bahwa begitu banyak orang yang mendengar khotbah-khotbah Santo Paulus malah menolak pesan-pesannya. Atau apakah hal itu sesuatu yang mengagetkan dan tak disangka-sangka. Bagaimana pun juga, bukankah Injil atau Kabar Baik yang diberitakan oleh Paulus itu tidak sama dengan kebenaran lainnya yang dapat ditemukan dan dimengerti oleh hikmat manusia? Seseorang dapat bertanya dalam hatinya hal-hal seperti berikut: Mengapa Allah harus menjadi seorang rabi yang miskin dan berasal dari sebuah tempat kecil-kurang terkenal seperti Nazaret? Mengapa Dia membiarkan diri-Nya dihukum mati secara mengerikan di kayu salib, hanya untuk menyelamatkan daku? Bagaimana mungkin kita dikatakan diberkati, kalau pada kenyataannya kita menderita karena dikejar-kejar, dianiaya dan disiksa? Bagaimana mungkin kita harus mengampuni siapa saja yang bersalah kepada kita?

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas tadi sah-sah saja kalau ditanyakan seseorang karena semua mengerucut pada kenyataan, bahwa tanpa Roh Kudus Injil memang tidak masuk akal. Tidak ada seorang pun yang hanya memiliki “hikmat dunia” dapat memahami kebenaran-kebenaran ini atau sampai kepada suatu pengenalan akan Allah (1Kor 1:20-21). Tugas Roh Kudus lah untuk membuat jantung Injil menjadi terang dan masuk ke dalam wilayah pengalaman pribadi. Roh Kudus adalah “batu ujian” dari kasih ilahi yang membuat segala teka-teki kehidupan ini menjadi dapat diterima oleh akal manusia. Dia memimpin kita ke dalam hadirat seorang Bapa yang kasih-Nya begitu tanpa syarat, mampu mengubah dan membersihkan dan tidak dapat kita sangkal. Cobalah mengabaikan Roh Kudus, maka Injil terasa sangat tidak masuk akal atau tereduksi menjadi sederetan peraturan dan doktrin yang samasekali tidak mempunyai kuasa untuk mengubah kehidupan manusia.

Dunia kita sekarang memang dapat dikatakan sangat berbeda dengan dunia orang-orang di Korintus pada abad pertama, namun kita menghadapi tantangan mendasar yang sama dengan yang mereka hadapi di kala itu, yaitu: Bagaimana menghayati kehidupan Kristiani dengan mempertahankan integritas dalam sebuah dunia yang sedang merosot jatuh. Tidak ada jawaban atau rumusan baku dan mudah yang dapat menolong kita! Akan tetapi, kita dapat mengandalkan Roh Kudus untuk menolong kita, apabila kita menjaga agar hati kita tetap terbuka bagi-Nya. Roh Kudus  akan menolong kita untuk mengingat kembali dan memahami sabda-sabda Yesus dan karya-karya-Nya. Roh Kudus pula yang akan mengajar kita untuk menerapkan ke dalam situasi-situasi khusus kehidupan, segala pelajaran yang kita peroleh dari segala ajaran dan perbuatan Yesus tersebut. Lagipula, Roh Kudus akan memampukan kita untuk ‘meng-konek’ kita dengan Allah, …… berelasi dengan-Nya, sehingga “sabda Allah” dan “kuasa salib” menjadi suatu realita yang semakin mendalam dalam kehidupan kita.

DOA: Roh Kudus, Engkau sendiri yang membawa kuasa Allah ke dalam hidupku. Melalui Engkau aku dapat berkata, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan!’. Melalui Engkau aku memiliki hidup yang meluap-luap. Seturut rencana-Mu, penuhilah diriku dengan karunia-karunia-Mu, ya Roh Kudus, setiap hari dalam perjalanan hidupku di dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG LIMA GADIS BIJAKSANA DAN LIMA GADIS BODOH” (bacaan tanggal 31-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 26 Agustus 2018 [HARI MINGGU BIASA XXI – TAHUN B]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SENANTIASA WASPADA MENANTIKAN KEDATANGAN TUHAN YESUS

SENANTIASA WASPADA MENANTIKAN KEDATANGAN TUHAN YESUS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Kamis, 30 Agustus 2018)

Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.

Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” (Mat 24:42-51)

Bacaan Pertama: 1Kor 1:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-7

“Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang.” (Mat 24:46)

Apakah anda siap? Orang-orang pada zaman Yesus mengetahui, barangkali jauh lebih tahu dari kita semua, akan kebutuhan untuk senantiasa bersikap waspada. Pada zaman itu banyak perampok atau penyamun beroperasi di malam hari. Oleh karena itu para penjaga rumah dan/atau penjaga malam harus sungguh waspada setiap saat, siap untuk menghadapi bahaya apa pun yang mungkin mengancam.

Memang kebanyakan kita – teristimewa orang kota besar – tidak merasa adanya keperluan untuk menghadapi ancaman para pencuri di malam hari, namun kita dipanggil untuk menjaga harta warisan kita dalam Kristus. Musuh-musuh kita – Iblis, hal-ikhwal duniawi, kodrat kita sendiri yang cenderung berdosa – terus saja mengancam kita semua. Kalau tidak waspada, maka kita pun dapat hancur berkeping-keping! Iblis dan hal-hal yang disebutkan tadi senantiasa mencari kesempatan untuk menggeser posisi kita yang penuh kepercayaan pada Kristus, a.l. dengan menimbulkan keraguan terhadap martabat kita sebagai anak-anak Allah; juga dengan mengaburkan ingatan kita akan karya Allah dalam kehidupan kita dan yang meyakinan kita  bahwa Kristus sungguh ada dalam diri kita masing-masing, dan bahwa Dia samasekali bukanlah harapan kemuliaan bagi kita. Setiap Selasa malam dalam Ibadat Penutup, Santo Petrus senantiasa mengingatkan kita: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr 5:8).

Menghadapi ancaman-ancaman tersebut di atas, Yesus memanggil kita untuk senantiasa waspada. Dia ingin kita untuk siap-siaga tidak hanya dalam menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya, melainkan juga siap untuk segala waktu akan kedatangan-Nya kepada kita dalam kehidupan kita sehari-hari untuk memberikan rahmat dan hikmat-Nya kepada kita. Dengan tetap waspada, kita dapat menjaga posisi istimewa yang kita miliki dalam Kristus, martabat kita sebagai “kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Ef 2:19). Kesiap-siagaan akan menjaga kita untuk terbuka menyambut Yesus kapan saja Dia datang.

Janji Injil hari ini adalah bahwa apabila kita tetap waspada menantikan kedatangan Tuhan Yesus, maka musuh-musuh kita akan kehilangan kontrolnya atas diri kita. Bahkan badai kehidupan sekali pun akan menjadi kesempatan-kesempatan sangat berharga untuk melihat bagaimana Yesus bertempur untuk kita.  Tuhan Yesus ingin sekali melayani kita dengan penuh kemurahan hati. Sayup-sayup atau jelas kita mendengar suara-Nya: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Oleh karena itu, marilah kita menyerahkan segala beban dan kesusahan kita, dan Ia pun akan menggantinya menjadi sukacita dan tawa-ceria.

Waspadalah dan selalu ingatlah bahwa kita (anda dan saya) mempunyai “seorang” Allah yang telah mengasihi kita sejak sediakala dan menginginkan kita mengalami kemenangan-Nya dan mencicipi sukacita yang akan datang bersama-Nya pada saat Ia kembali kelak.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah segalanya yang kubutuhkan. Engkau adalah mutiaraku yang sangat berharga. Tolonglah aku agar mampu mengambil keputusan-keputusan hari ini yang akan menjaga harta kehidupan yang telah Engkau taruh dalam hatiku. Aku akan menjaga agar pelitaku tetap bernyala selagi Engkau mengisi diriku dengan minyak Roh-Mu, karena bersama sang pemazmur aku percaya bahwa “Engkau, Tuhan, akan memberikan kebaikan” (Mzm 85:12) kepadaku . Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:24-51), bacalah tulisan yang berjudul “SENANTIASA BERJAGA-JAGA” (bacaan tanggal 30-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018.

Cilandak, 26 Agustus 2018 [HARI MINGGU BIASA XI – TAHUN B]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IA AKAN SENANTIASA BERADA BERSAMA KITA DAN IA AKAN MEMPERKUAT KITA

IA AKAN SENANTIASA BERADA BERSAMA KITA DAN IA AKAN MEMPERKUAT KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir – Rabu, 29 Agustus 2018)

Sebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:17-29) 

Bacaan Pertama: Yer 1:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17 

Yohanes Pembaptis mewartakan sabda Allah kepada segala lapisan dalam masyarakat: kepada para pangeran dan raja, kepada para imam dan orang biasa, dengan cara yang sama tanpa banyak memperhatikan konsekuensi-konsekuensinya. Seperti juga nabi Yeremia, Yohanes Pembaptis berkhotbah melawan arus deras tsunami korupsi moral dan apatisme spiritual yang mencirikan para pemimpin Israel pada zaman mereka masing-masing (lihat bacaan pertama Yer 1:17-19). Yohanes Pembaptis berdiri tegak membela kebenaran Allah dan berbicara tanpa rasa takut sedikit pun pada saat mereka yang berada di puncak pimpinan negeri menghina hukum Tuhan. Pada akhirnya, Yohanes Pembaptis harus membayar harga/biaya yang tinggi untuk kesetiaannya kepada Allah – yaitu kepalanya sendiri.

Semua orang Kristiani menghadapi tantangan-tantangan serupa dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Yohanes Pembaptis. Siapakah di antara kita yang tidak harus berenang melawan arus budaya yang berlaku … menjadi “tanda lawan” dan membayar biayanya – ketika mencoba untuk mempertahankan komitmen kita kepada Yesus? Walaupun belum mengambil bentuk pengejaran serta penganiayaan dalam skala besar, siapakah di antara kita yang tidak pernah mengalami salah satu bentuk penghinaan, ejekan, olok-olok karena iman-kepercayaan Kristiani kita? Ada yang mengatakan bahwa Yesus tidak hanya datang untuk menolong dan menghibur mereka yang mengalami kesusahan, melainkan juga untuk mendatangkan kesusahan bagi mereka yang hidup nyaman. Bukankah pernyataan ini sedikit banyak menggambarkan kehadiran kita sebagai orang-orang Kristiani di tengah dunia?

Dalam prakteknya, hal ini dapat berarti memegang posisi-posisi yang tidak populer di sekolah atau tempat kerja. Karena iman-kepercayaan kita atau  gaya hidup kita, kita dapat diberi gelar “kuno”, tidak “trendy” dslb. Ketika anda hendak berbagi pesan Injil, anda dapat ditolak atau dituduh melakukan intervensi ke dalam hidup seseorang atau memaksakan kepercayaan anda kepada orang lain. Ini selalu menjadi pengalaman para hamba Allah. Kesetiaan kepada Allah dan menjadi murid Tuhan Yesus yang setia memang mengandung biaya. Inilah biaya kemuridan …… cost of discipleship!

Walaupun ditolak,  bahkan dianiaya – seperti Yeremia dan Yohanes Pembaptis – kita dapat berpegang teguh pada janji Allah, bahwa Dia akan senantiasa berada bersama kita dan Ia akan memperkuat kita. Dia akan menderita dengan mereka yang menderita dan Ia menawarkan penghiburan dan dorongan pemberian semangat tanpa batas. Ia akan terus membentuk diri kita dan mengajar kita bagaimana melayani kebenaran-Nya dengan kasih dan bela rasa, dan Ia terus menguatkan kita untuk apa pun bentuk perjuangan di masa depan. Jika Yohanes Pembaptis dapat bertahan berbulan-bulan lamanya dalam penjara Herodus Antipas, bahkan mengalami kematian sebagai seorang martir, maka kita pun dapat menangani apa saja bentuk pencobaan yang menimpa diri kita – tidak dengan menggunakan kekuatan kita sendiri atau lewat daya tahan kita secara fisik, melainkan dengan berlindung pada Allah yang senantiasa hadir.

DOA: Tuhan Yesus, dengarkanlah doa kami bagi semua orang Kristiani di mana saja mereka berada – di negara-negara Timur Tengah, Afrika dan banyak tempat lain di dunia yang sedang menghadapi pengejaran dan penganiayaan yang disertai dengan kekerasan maupun tersembunyi. Hiburlah mereka oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu. Tuhan, biarlah diri-Mu menjadi kekuatan dan penghiburan bagi mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:17-29), bacalah tulisan berjudul “YOHANES PEMBAPTIS: SANG BENTARA KRISTUS YANG RENDAH HATI” (bacaan tanggal 29-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 26 Agustus 2018 [HARI MINGGU BIASA XXI – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA MELIHAT ISI HATI KITA SENDIRI

MARILAH KITA MELIHAT ISI HATI KITA SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Augustinus, Uskup Pujangga Gereja – Selasa, 28 Agustus 2018)

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin pemimpin buta, nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.

Celakalah kamu, hai ahli-hali Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. (Mat 23:23-26) 

Bacaan Pertama: 2Tes 2:1-3a,13b-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:10-13

Banyak orangtua dengan penuh kesadaran menyediakan sebuah rumah yang nyaman bagi anak-anak mereka dan mereka juga sangat memperhatikan segala kebutuhan anak-anak mereka. Namun apabila para orangtua tersebut membayar les musik bagi anak-anak mereka dan selalu mengadakan perayaan ulang tahun yang mewah bagi anak-anak mereka, sementara mereka gagal mengajar anak-anak mereka tentang integritas, rasa ingin tahu, ambisi, dan bahkan makna kehidupan itu sendiri, apakah mereka merupakan para orangtua yang baik? Apakah mereka setia dengan apa yang diminta oleh Allah dari mereka? Tidak! Adalah suatu ketidakadilan untuk menekankan perilaku eksternal – yang kelihatan orang lain – namun mengabaikan hidup batiniah. Dapat dikatakan bahwa para orangtua yang begini adalah seperti orang-orang Farisi yang diceritakan dalam Injil hari ini.

Orang-orang Farisi itu mengajar orang-orang untuk memberi bobot lebih berat kepada aspek-aspek praktek keagamaan yang kecil dan kurang penting daripada perintah sentral Allah untuk memperlakukan orang-orang lain dengan belas kasih – “nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” , seperti digambarkan oleh Yesus (Mat 23:24). Kerasnya teguran Yesus menunjukkan betapa serius Allah menilai hidup batiniah manusia, bukan yang kelihatan dengan mata. Hal ini  juga menunjukkan bahwa Yesus tidak datang sekadar untuk merekonsiliasikan kita dengan Allah, melainkan antara kita (manusia) satu sama lain juga. Oleh salib-Nya, Dia dapat membebaskan kita dari keserakahan/ketamakan yang telah menyebabkan kita mengabaikan kebutuhan-kebutuhan dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kita.

Marilah kita melihat isi hati kita sendiri. Dapatkah kita (anda dan saya) melihat adanya sifat-sifat orang Farisi dalam diri kita? Tentu saja dapat! Kita mungkin saja ingin untuk setia kepada semangat hukum Allah, namun begitu mudah kita menjadi jatuh dan gagal. Dalam kehidupan kita ini begitu menggoda bagi kita untuk kita salah/keliru menilai, hal-hal yang salah malah kita nilai berharga. Kita fokus pada kepatuhan praktek agama yang bersifat eksternal, yang mudah terlihat oleh orang-orang lain, walaupun pada kenyataannya hati kita penuh dengan noda-noda egoisme, ketamakan, kecemburuan, dlsb. yang tak mampu kita atasi sendiri. Hanya apabila Yesus hidup dalam diri kita maka keadilan Allah dan belas kasih-Nya akan datang ke tengah dunia. Hanya pada saat itulah kita akan mampu untuk membuat pilihan-pilihan yang benar dan bertindak-tanduk seperti seharusnya.

Kemungkinan besar tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan kita tidak akan membenarkan hal-hal yang salah atau ketidakadilan dalam skala besar. Walaupun demikian, apa yang kita lakukan sehari-hari sungguh berarti. Setiap kali kita menunjukkan kebaikan hati kepada para miskin dan “wong cilik” pada umumnya, kita menganggap lunas utang orang kepada kita, tidak menggerutu lagi karena disakiti, maka berkat-berkat besar mengalir ke dalam diri kita. Para malaikat pun bersukacita. Mengapa mereka bersuka-ria? Karena perubahan hati kita tidak hanya menguntungkan kita, melainkan juga sekali lagi secara sekilas menunjukkan kepada dunia  belas kasih, kemuliaan, dan kuasa Allah sendiri.

DOA: Terpujilah Engkau, ya Tuhan Yesus, karena kemenangan-Mu atas ketidakadilan dan kejahatan! Ajarlah kami untuk menimbang-nimbang segala hal seperti yang Kaulakukan, dan untuk mempraktekkan keadilan dengan melayani dan menolong orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 23:23-26), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA ALLAH-LAH YANG DAPAT MEMBERSIHKAN HATI KITA” (bacaan tanggal 28-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 26 Agustus 2018 [HARI MINGGU BIASA XXI – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MUKJIZAT ITU ADALAH FAKTA NYATA

MUKJIZAT ITU ADALAH FAKTA NYATA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Monika – Senin, 27 Agustus 2018)

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 2 Tes 1:1-5,11b-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-5 

“Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah” (Luk 7:16). Dalam artian tertentu, reaksi orang-orang terhadap apa yang mereka lihat terjadi atas diri anak muda dari Nain ini sepenuhnya dapat dipahami. Tidakkah anda akan merasa “ngeri” apabila menyaksikan seorang mati hidup kembali, dia duduk dan mulai berbicara? Akan tetapi, tentunya “ketakutan” yang digambarkan oleh Lukas di sini tidaklah seperti yang kita bayangkan terjadi dengan seseorang yang sedang begitu asyik larut dijerat oleh film horor yang sedang ditontonnya.

Yang ingin digambarkan oleh Lukas adalah reaksi orang-orang itu atas mukjizat yang terjadi: mereka begitu terkesima dan takjub atas kuat-kuasa Allah yang bekerja dalam kehidupan seorang pribadi – suatu rasa takjub yang menggerakkan mereka untuk memuliakan Allah dan menjadi percaya kepada Yesus: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya” (Luk 7:16).

Sebaliknya, banyak orang Farisi tidak bereaksi terhadap mukjizat-mukjizat Yesus secara positif. Tidak ada luapan rasa takjub atau iman yang lebih mendalam. Sejumlah orang Farisi barangkali menyaksikan lebih banyak mukjizat Yesus daripada orang-orang di Nain pada hari itu. Akan tetapi, karena kecurigaan dan kecemburuan mereka, karya ilahi yang ditunjukkan oleh Yesus malah dituding sebagai karya Iblis. Langkah keliru mereka sampai begitu jauh sampai-sampai menuduh Yesus dirasuki oleh Iblis dan mengusir roh-roh jahat dengan menggunakan kuasa Beelzebul, penghulu/pemimpin setan (lihat Luk 11:14-26).

Sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Bagaimana reaksiku terhadap mukjizat-mukjizat  yang terjadi pada masa kini? Bagaimana aku memberi tanggapan bilamana aku mendengar bahwa seseorang telah disembuhkan secara mengherankan dari penyakitnya yang berat, secara dramatis dan tidak dapat dijelaskan dengan akal-budi – setelah menghadiri sebuah Misa Penyembuhan? Apa yang kupikirkan ketika aku mendengar tentang penampakan-penampakan Bunda Maria? Apakah aku memandangnya tidak lebih dari takhyul, atau aku melakukan “investigasi” dengan rendah hati dalam doa? Apakah aku memperkenankan adanya kemungkinan bahwa sesuatu yang ajaib telah terjadi?

Allah masih bekerja pada hari ini dengan melakukan berbagai mukjizat dan tanda heran yang dimaksudkan untuk memimpin orang-orang untuk melakukan pertobatan dan percaya kepada-Nya. Penulis ‘Surat kepada Orang Ibrani’ mengatakan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Apabila Yesus membuat mukjizat di Nain dan di tempat-tempat lain sekitar 2.000 tahun lalu, maka pada saat ini pun Dia masih membuat mukjizat yang sama menakjubkannya. Ia menyembuhkan orang-orang dari penyakit kanker, HIV-Aids, kebutaan dlsb.

Manakala anda mendengar tentang hal-hal seperti itu, janganlah menjadi takut. Janganlah mencoba mencari jawaban yang sepenuhnya berdasarkan akal-budi dan pelajaran-pelajaran yang diperoleh di kelas-kelas teologi. Mukjizat itu memang ada!!! Yang penting adalah, bahwa kita harus membuka hati kita lebar-lebar bagi Roh-Nya untuk bekerja dalam diri kita. Kita harus meluangkan waktu untuk menyimak apa yang kita dengar itu dalam suasana doa yang penuh keheningan. Kita bertanya: Apa buah yang dihasilkan? Apakah hasilnya merupakan suatu peningkatan iman akan Allah dalam diri orang-orang yang memperoleh berkat Tuhan itu? Apakah kesembuhan yang dialami seseorang membuat kasih-Nya kepada Yesus dan sabda-Nya menjadi lebih dalam? Marilah kita mohon kepada Allah agar membuat diri kita terbuka bagi hal-hal yang bersifat supernatural. Selagi kita melakukannya, Dia akan memberikan kepada kita setiap karunia dan berkat indah yang kita perlukan, sehingga kita pun dapat bersukacita atas karya-Nya di dunia ini.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku agar senantiasa terbuka bagi karya-Mu di dunia pada masa kini juga. Berikanlah kepadaku mata iman agar mampu melihat mukjizat-mukjizat yang Kaulakukan. Tolonglah aku agar mampu memberikan tanggapan dengan penuh ketakjuban yang murni datang dari hatiku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “SANG JANDA DI GERBANG KOTA NAIN” (bacaan tanggal 27-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 25 Agustus 2018 [Pesta S. Ludovikus IX, Raja Perancis – Fransiskan Sekular] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENENTUKAN PILIHAN HIDUP KITA

MENENTUKAN PILIHAN HIDUP KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXI [Tahun B] – 26 Agustus 2018)

 

Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Yesus yang di dalam hati-Nya tahu bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka, “Apakah perkataan itu mengguncangkan kamu? Bagaimana jika kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata, “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Mulai saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Lalu kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:60-69) 

Bacaan Pertama: Yos 24:1-2,15-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,16-23; Bacaan Kedua: Ef 5:21-32 

“Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”  (Yoh 6:51)

Petikan sabda Yesus di atas adalah salah satu dari serangkaian kata-kata yang diucapkan-Nya dalam pengajaran tentang Ekaristi dalam rumah ibadat di Kapernaum (Yoh 6:59). Yesus menyatakan diri-Nya sebagai roti kehidupan yang telah turun dari surga. Di samping itu Yesus juga mengemukakan rencana-Nya untuk memberikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai makanan dan minuman bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Banyak orang yang mendengar kata-kata Yesus itu tidak dapat menerimanya. Kiranya mereka menganggap kata-kata itu terlalu kasar, justru karena mereka salah paham. Mereka mengira bahwa Yesus mau memberikan Tubuh dan Darah-Nya untuk dimakan sebagaimana mereka biasa makan daging sapi atau hewan lainnya. Mereka merasa terhina, karena hanya orang-orang primitif dan biadab-lah yang makan daging manusia.

Bagaimana sikap Yesus melihat reaksi mereka? Yesus tidak mundur walaupun berbondong-bondong orang meninggalkan diri-Nya. Kedua belas rasul menjadi bingung. Bagi mereka kata-kata Yesus juga tidak masuk akal dan terlampau keras. Mereka memperhatikan bahwa banyak orang telah pergi meninggalkan Yesus. Apakah mereka sendiri tidak akan diejek, dicerca dan/atau dihina oleh sebagian besar anggota masyarakat karena tetap bersama-sama dengan Yesus? Mereka dihadapkan dengan pilihan: mengikuti orang banyak dan meninggalkan Yesus atau tetap bersama Guru mereka?

Dalam situasi gawat seperti itu, Yesus menantang mereka supaya menyatakan pendirian dengan jelas. Dengan lugas Yesus bertanya kepada mereka: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh 6:67). Petrus – atas nama para murid – menjawab: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69). Ternyata iman-kepercayaan para rasul tahan uji. Mereka mengakui bahwa Yesus adalah “Yang Kudus dari Allah”. Mereka mengakui bahwa hanya “Dialah sabda hidup yang kekal”. Mereka mau tetap bersama-sama Yesus dan mereka pun menyerahkan diri serta hidup mereka ke dalam tangan-Nya.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, jawaban Petrus cs. adalah juga jawaban seluruh Gereja kepada Yesus, jawaban semua orang Kristiani sejak dahulu, sepanjang sejarah, sampai saat ini. Semoga kita semua tetap berpegang teguh pada pilihan yang dibuat oleh pendahulu kita – Petrus – sekalipun harus mengalami kesusahan dan derita dalam hidup ini karena menjadi para pengikut Yesus. Kitaa tiak akan kecewa karena semua itu, karena kita memang sadar, bahwa jika kita mau tetap bersama-Nya, maka kita akan berbagai dalam seluruh hidup-Nya, termasuk dalam sengsara yang telah diderita-Nya untuk menyelamatan umat manusia. Yesus menjadi Roti bagi kita, demikian pula kita hendaknya menjadi diri kita roti bagi orang-orang yang membutuhkan. Sebagai umat Kristiani, kepada kita diminta untuk melanjutkan hidup dan karya Yesus di tengah dunia, walaupun ditanggapi oleh banyak orang sebagai sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal, bahkan dikejar, disiksa dan dianiaya, serta dibunuh.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Limpahkanlah karunia-Mu atas diri kami, agar supaya kami juga dengan segenap hati dan jiwa mau dan mampu berkata bersama rasul Petrus: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi selain kepada Engkau saja? Engkaulah yang kudus dari Allah. Terpujilah nama-Mu ya Yesus, Engkau yang bersama Bapa di surga dan Roh Kudus, satu Allah, hidup dan berkuasa sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:60-69), bacalah tulisan berjudul “SETIAP HARI MANUSIA DIHADAPKAN PADA PILIHAN” (bacaan tanggal 26-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

Cilandak, 24 Agustus 2018 [Pesta S. Bartolomeus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS