TINDAKAN BERBICARA LEBIH KERAS DARIPADA SEKADAR UCAPAN KATA-KATA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Selasa, 4 September 2018)

OFS: Peringatan S. Rosa dr Viterbo, Perawan – Ordo III Santo Fransiskus

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Lalu tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. (Luk 4:31-37)

Bacaan Pertama: 1Kor 2:10b-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-14

Ada sebuah pepatah dalam bahasa Inggris yang berbunyi: “Actions speak louder than words”, artinya “tindakan itu berbicara lebih keras daripada kata-kata”; jangan hanya omong saja, buktikanlah dengan tindakan nyata, jangan NATO! Narasi Lukas tentang orang yang kerasukan roh jahat di Kapernaum merupakan ilustrasi bagus sekali atas pepatah dalam bahasa Inggris di atas. Lukas menceritakan kepada kita bahwa ketika Yesus membebaskan orang yang kerasukan roh jahat itu, semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar” (Luk 4:36). Dalam peristiwa ini Yesus menunjukkan otoritas (kuasa) kata-kata yang diucapkan-Nya dengan melakukan pekerjaan yang menakjubkan, dan orang-orang pun menjadi terkesan.

Dalam zaman modern ini pun tindakan berbicara lebih keras daripada sekadar ucapan kata-kata. Orang-orang lebih berkemungkinan untuk percaya kepada “seorang” Allah yang penuh kasih jikalau mereka melihat perbedaan yang dibuat-Nya dalam kehidupan orang, khususnya umat-Nya. Edith Stein [1891-1942] adalah seorang berkebangsaan Jerman keturunan Yahudi. Dia adalah seorang filsuf (bergelar doktor) dan kemudian menjadi seorang biarawati Karmelites OCD (Ordo Karmelit tak berkasut) dan meninggal dalam kamar gas Nazi di Kamp Konsentrasi Auschwitz. Salah satu penyebab mengapa Edith Stein tertarik kepada agama Kristiani adalah contoh yang diberikan oleh seorang temannya yang beragama Kristiani. Temannya itu mengalami kematian suami dan menanggung “musibah” itu dengan penuh kedamaian, bukannya kepahitan, rasa sedih yang begitu menindih, atau self-pity. Temannya ini menunjukkan bahwa dirinya dengan penuh ketenangan memiliki pengharapan. Malah dia memiliki kekuatan batin untuk menghibur teman-temannya yang lain yang sedang mengalami kesedihan. Iman perempuan ini menjadi suatu tanda-yang-menggerakkan bagi Edith Stein tentang kebenaran dan kuasa Kekristenan. Tidak lama kemudian Edith Stein masuk ke dalam Gereja Katolik.

Edith Stein meninggal dalam sebuah kamp konsentrasi di tanah Polandia, yang menjadi salah satu kenangan buruk era Nazi Jerman di sepanjang masa. Akan tetapi sejak kematiannya, cerita tentang Edith Stein membawa dampak besar terhadap banyak orang melalui contoh keberaniannya, imannya dan keyakinannya. Dirinya sendiri menjadi suatu tanda bagi orang-orang lain berkaitan dengan pesan Injil Yesus Kristus.

Allah telah menempatkan kita dalam dunia untuk menjadi duta-duta Kristus (lihat 2Kor 5:20). Ia telah memanggil kita untuk menyebarkan kabar baik Yesus Kristus ke tengah dunia (Mat 28:19-20). Kita semua memiliki potensi untuk mempengaruhi orang-orang lewat cara/gaya hidup kita. Jikalau kita merangkul Yesus yang tersalib, seperti yang dilakukan oleh S. Edith Stein, S. Fransiskus dari Assisi dan banyak sekali orang kudus lainnya, maka terang Allah akan menjadi terlihat dalam hidup kita. Jadi, dengan pertolongan-Nya, marilah kita siap untuk mengampuni, untuk berbagi dengan orang-orang miskin, untuk bergerak dengan penuh kedamaian melalui berbagai kesulitan hidup ini.  Semoga hidup kita meneguhkan kata-kata yang kita ucapkan tentang Allah dan memberikan bukti kepada orang-orang lain bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Imanuel, “Allah beserta kita” (Mat 1:23; bdk. 28:20).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menganugerahkan kepada kami Karunia-Mu yang paling besar dan agung, yaitu Roh Kudus-Mu sendiri, yang mengajar dan melatih kami untuk melaksanakan tugas kami sebagai garam bumi dan terang dunia, agar dengan demikian dunia dapat percaya bahwa Engkau datang ke tengah dunia untuk menyelamatkan kami dan memberikan kepada kami semua di dunia kehidupan kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS PENUH WIBAWA DAN KUASA” (bacaan tanggal 4-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 3 September 2018 [Perigatan S. Gregorius Agung, Paus – Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements