TIDAK ADA SESUATU PUN YANG TERSEMBUNYI YANG TIDAK AKAN DIKETAHUI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Jumat, 19 Oktober 2018)

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya, “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tetapi Aku akan menunjukkan kepada kamu siapa yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang  setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang  ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah lima ekor burung pipit dijual seharga dua receh terkecil? Sungguh pun demikian tidak seekor pun yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit. (Luk 12:1-7) 

Bacaan Pertama: Ef 1:11-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,12-13 

“Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.” (Luk 12:2)

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berbicara mengenai ragi orang Farisi. Yesus mengingatkan para murid-Nya untuk waspada terhadap kemunafikan orang-orang Farisi tersebut. Berbagai pekerjaan dan tindakan mereka dalam mematuhi segala macam hukum dan peraturan keagamaan sesungguhnya tidak bernilai karena mereka tidak mempunyai iman-kepercayaan yang diperlukan. Ada kehampaan/kekosongan dalam diri mereka. Jadi, tidak seperti Abraham, kekosongan dalam diri mereka itu membuat segala hal yang mereka perbuat – termasuk praktek “kesalehan” dalam mentaati hukum Taurat – adalah tanpa iman.

Religiositas orang-orang Farisi bersifat sintetis (seperti halnya barang-barang palsu) dan kenyataan seperti itu tidak dapat disembunyikan untuk selamanya. Sebagaimana ragi, religiositas sintetis tersebut akan menunjukkan “keaslian”-nya, cepat atau lambat. Praktek agama yang bagaikan sandiwara itu tidak akan menyelamatkan, mentransformasikan atau memberi makna atas penderitaan seseorang.

Relasi kita dengan Allah adalah relasi yang paling serius dalam hidup kita, dan samasekali bukanlah sebuah game. Itulah sebabnya mengapa kepada kita diingatkan agar “takut akan Allah” (lihat Kej 42:18; 2Taw 26:5; Ayb 1:1; Mzm 66:16; Ams 19:23 dll.). Kita tahu bahwa kehendak Allah akan terwujud dengan satu cara atau lainnya. Allah tidak akan dapat ditipu oleh mereka yang bersandiwara walaupun bahasa yang dipakai adalah bahasa agama yang paling suci. Orang dapat menipu seorang gembala umat, namun tidak akan dapat menipu Allah. Yesus bersabda: “Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui” (Luk 12:2).

Kenyataan bahwa Allah mampu melihat hati kita yang terdalam dapat merupakan suatu penghiburan karena walaupun kita tidak sempurna, Allah melihat motif-motif kita yang sesungguhnya.  Sebaliknya, kemampuan Allah untuk melihat hati kita dapat merupakan sebuah sumber teror yang luarbiasa menakutkan jika orang-orang lain memandang kita sebagai “orang suci” sementara kita juga tahu bahwa Dia sangat mengetahui motif-motif pribadi kita yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Di atas disebutkan ketiadaan iman-kepercayaan orang munafik. Baiklah dalam kesempatan saya menyinggung sedikit soal iman ini. Seperti juga tubuh kita, iman kita juga mempunyai siklus dengan tahapan-tahapannya. Ada iman masa kecil yang terasa indah; ada iman yang penuh turbulensi, tanda-tanya dan sering membingungkan pada waktu kita menjalani masa remaja dst. Iman kita tidaklah bersifat linear dan selalu bertumbuh ke arah yang lebih baik, iman juga dapat turun-naik. Iman kita adalah sesuatu yang hidup, yang dipengaruhi oleh berbagai turbulensi dalam hidup kita. Di bawah setiap hal yang muncul dalam kesadaran kita, iman adalah fondasi di atas mana kita membangun sistem-sistem nilai, kepercayaan dan falsafah hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memuji Engkau dan aku meninggikan Engkau. Engkau adalah batu karangku dan tempat pengungsianku. Semoga aku senantiasa berpegang erat-erat pada-Mu sebagai seorang anak yang senantiasa berpegang erat-erat pada bapanya. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Jadikanlah hatiku seperti hatimu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN PERTOLONGAN ALLAH KITA DAPAT MENGATASI RASA TAKUT KITA” (bacaan tanggal 19-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10  PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

Cilandak, 16 Oktober 2018 [Peringatan S. Margareta Maria Alacoque] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements