Archive for June, 2019

BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI SEBUAH TEMPAT TINGGAL YANG COCOK BAGI TUHAN?

BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI SEBUAH TEMPAT TINGGAL YANG COCOK BAGI TUHAN?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Senin, 1 Juli 2019)

Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Mat 8:18-22) 

Bacaan Pertama: Kej 18:16-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-11

Lagi dan lagi, Injil Matius “memaksa” kita untuk bertanya, “Apa artinya menjadi seorang murid Yesus? Sementara kita terbiasa untuk memberikan jawaban-jawaban dari perspektif kita sendiri – saya harus melakukan ini, atau saya harus mengubah itu – Yesus menjungkir-balikkan segala sesuatu dengan mengatakan kepada para murid-Nya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). 

Pernyataan Yesus ini terdengar menyedihkan. Bagaimana pun juga, Yesus adalah Putera Allah yang tunggal dan dalam Dialah alam semesta ini diciptakan (lihat Kol 1:16) – namun Ia tidak diterima oleh dunia. Yesus rindu untuk mempunyai sahabat dengan siapa Dia dapat berdiam dalam kesatuan. Sepanjang hidup-Nya, Yesus menunjukkan hasrat Allah untuk membuat kita sebagai satu keluarga dengan-Nya. Bahkan dari dalam surga, Dia berbicara kepada setiap jiwa, “Aku ingin hidup dalam diri-Mu. Aku ingin engkau hidup dalam Aku.” Sayangnya, begitu sering tidak ada tempat bagi-Nya dalam hati kita. Hal ini sungguh menyedihkan; Allah ingin memberikan diri-Nya sendiri kepada setiap orang, namun hanya sedikit orang saja yang mau melakukan apa yang diperlukan untuk mempersembahkan kepada-Nya hati mereka guna menjadi tempat bagi-Nya untuk meletakkan kepala-Nya.

Bagaimana kita dapat menjadi sebuah tempat tinggal yang cocok bagi Tuhan? Kita tidak pernah boleh puas dengan relasi yang tidak memuaskan dengan Bapa surgawi. Satu kunci penting adalah doa. Komunikasi antar-pribadi dalam relasi manusia sangatlah penting, demikian pulalah halnya komunikasi dengan Allah. Sebuah hati yang mau mencurahkan isinya kepada Allah dan terbuka bagi suara-Nya menjadi semacam kanvas bagi Dia untuk bekerja menorehkan sabda-Nya. Kitab Suci juga menyatakan pikiran Allah. Kebenaran-kebenaran-Nya dapat membentuk hati kita asal kita mau merenungkan semua itu. Para dokter membaca jurnal-jurnal di bidang medis; para pemimpin dunia bisnis mempeljari trend-trend industri. Demikian pula, anak-anak Allah harus mengetahui dan mengenal sabda-Nya kepada para pengikut-Nya.

Hati kita juga dapat dibuka lewat partisipasi aktif kita dalam Misa Kudus dan kesempatan-kesempatan lain seperti rekoleksi, retret, studi Alkitab dll. Secara khusus, penerimaan sakramen-sakramen Ekaristi dan Rekonsiliasi dapat memperkuat pengembangan otot-otot kita. Mereka yang sedang bertempur mengatasi krisis-iman harus giat mencari pertolongan dari sumber yang benar dan tidak boleh cepat puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan dengan cepat dan instan. Pertanyaan yang sangat penting adalah: “Apakah aku ingin menjadi sebuah tempat kediaman yang cocok bagi Tuhan?”, karena Dia memang sangat menginginkan untuk berdiam dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa aku dapat bertumbuh semakin dekat dengan Engkau. Tolonglah ketidakpercayaanku, ya Tuhan. Patahkanlah segala resistensi yang berasal dari diriku sehingga dengan demikian aku dapat mempersilahkan Engkau untuk tinggal dalam diriku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “MENGIKUTI JEJAK KRISTUS” (bacaan tanggal 1-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 28 Juni 2019 [HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGIKUTI YESUS KRISTUS ITU SAMA SEKALI TIDAK MUDAH

MENGIKUTI YESUS KRISTUS ITU SAMA SEKALI TIDAK MUDAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIII [Tahun C] – 30 Juni 2019)

Ketika hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!”  Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:51-62) 

Bacaan Pertama: 1Raj 19:16b,19-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: Gal 5:1,13-18 

Bacaan Injil hari ini dibuka dengan suatu pernyataan yang cukup membingungkan (Luk 9:51). Dikatakan bahwa “ketika hampir tiba waktu Yesus diangkat ke surga”. Bukankah lebih tepat jika dikatakan: “Ketika sudah tiba waktunya Yesus ditangkap, diadili dan disalibkan, berangkatlah Ia ke Yerusalem”? Mengapa langsung saja dikatakan “naik ke surga”? Kiranya sang penginjil ingin menekankan bahwa misteri Paskah Kristus adalah misteri kemenangan dan kemuliaan (bdk. Luk 9:31). Salib adalah jalan kepada kemuliaan. Untuk itu Yesus “mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Luk 9:51).

Yesus tahu bahwa jalan ke sana akan menyakiti, namun Dia juga tahu bahwa Dia akan pulang dan akan membuka rumah-Nya bagi kita semua. Dia berangkat tanpa gentar dan kiranya ingin segera sampai ke tempat itu karena ternyata Dia mengambil jalan yang lebih pendek, yakni mengambil jalan yang lebih pendek – melalui wilayah orang Samaria. Biasanya para peziarah dari Galilea mengambil jalan yang lebih panjang, yakni melalui daerah seberang timur sungai Yordan.

Kalau kita baca keteguhan hati Yesus, kita dapat membayangkan bahwa Dia cuma menggertakkan gigi-Nya dan kemudian mengundurkan diri ke tujuan-Nya. Namun ketika Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, Ia tidak hanya melihat kematian dan kebangkitan. Ia juga melihat kenaikan-Nya ke surga dan kita yang bergabung dengan-Nya di sana.

Itulah mengapa Yesus menyerukan kepada para murid-Nya untuk meninggalkan segala sesuatu di belakang dan mengikut Dia. Dia ingin membakar hati kita dengan hasrat akan “hadiah panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:14). Kita bukanlah sekadar warga dunia ini. “… kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia”  (Flp 3:20-21). Dengan surga dalam hati kita, kita pun dapat mengarahkan pandangan kita kepada Allah dengan penuh pengharapan.

Dalam perjalanan keliling-Nya melayani, Yesus menghadapi begitu banyak tentangan, perlawanan, sakit dan bahkan kematian, namun Dia tidak pernah mundur. Ia tahu bahwa kita pun menghadapi halangan-halangan yang sama dalam hidup kita, oleh karena itu Dia ingin membuka mata hati kita terhadap pancaran warisan kekal kita dan membuatnya menjadi kekuatan pendorong di belakang ketetapan hati kita. Allah selalu siap untuk menunjukkan kepada kita bahwa kita sangat berharga di mata-Nya, sudah ditentukan (“ditakdirkan”) untuk mengambil bagian dalam kemuliaan kerajaan-Nya. Melalui doa-doa harian, perhatian serius atas Kitab Suci, rahmat sakramen-sakramen, kita semua dapat diperkuat dalam perjalanan kita. Marilah kita menghadap Yesus hari ini dan membuka hati kita.

DOA: Bapa surgawi, bukalah mata hati kami terhadap kemuliaan rumah surgawi kami. Semoga visi ini mendorong kami melangkah ke depan selagi kami mencari Yesus, mutiara yang begitu berharga. Yesus, kami sungguh ingin bersama-Mu selama-selamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:51-62), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGARAHKAN PANDANGAN-NYA KE YERUSALEM” (bacaan tanggal 30-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019. 

Cilandak, 28 Juni 2019 [HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BEBERAPA CATATAN TENTANG S. PETRUS DAN S. PAULUS

BEBERAPA CATATAN TENTANG S. PETRUS DAN S. PAULUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Sabtu, 29 Juni 2019)

Kira-kira pada waktu itu Raja Herodes mulai bertindak keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. Ketika ia melihat bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia selanjutnya menyuruh menahan Petrus juga. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi. Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak. Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai, sedangkan di depan pintu, para pengawal sedang menjaga penjara itu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam kamar penjara itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya, “Bangunlah segera!” Lalu gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Kemudian kata malaikat itu kepadanya, “Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!” Ia pun berbuat demikian. Setelah itu, malaikat itu berkata kepadanya, “Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!” Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan. Setelah mereka melalui tempat penjagaan pertama dan tempat penjagaan kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. Setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata, “Sekarangt tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapakan orang Yahudi.” (Kis 12:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Kedua: 2Tim 4:6-8,17-18; Bacaan Injil: Mat 16:13-19

Paling sedikit sejak tahun 354 hari ini  sudah ditetapkan oleh Gereja untuk menghormati Santo Petrus dan Santo Paulus. Kenangan akan dua rasul agung ini dan rasa hormat kita terhadap karya rahmat dalam kehidupan mereka telah menggores hati umat beriman sejak saat itu. Dari semua orang yang pernah hidup, dua orang ini dipilih untuk menjadi rasul untuk orang-orang Yahudi dan juga orang-orang non-Yahudi (baca: kafir).

Dalam diri Petrus kita melihat seorang nelayan tanpa latar belakang pendidikan tinggi dan berdarah panas, yang kemudian ditransformasikan menjadi seorang pengkhotbah/ pewarta dan seorang pastor (gembala) yang berani serta mampu mengendalikan diri. Petrus sedemikian ditransformasikan oleh Roh Kudus sehingga dia mampu tidur nyenyak walaupun sedang menghadapi maut. Lukas menceritakan kepada kita sebuah insiden di mana Herodus menahan Petrus dengan maksud memenggal kepalanya (Kis 12:1-4). Rasa percaya Petrus kepada Allah dan penerimaannya akan rencana Allah itu sedemikian total dan lengkap sehingga dalam penjara – yang sebenarnya dapat menjadi malamnya yang terakhir – Petrus  mampu tidur sebagai seorang bayi. Malaikat Tuhan yang diutus Allah untuk menyelamatkan Petrus harus menepuknya untuk membangunkannya (Kis 12:7).

Pada satu titik dalam jalan kehidupan-Nya, Paulus menggambarkan dirinya sebagai minyak yang dicurahkan dalam upacara kurban bagi Tuhan (lihat Flp 2:17). Mantan Farisi ini yang sebelum pertobatannya giat mengejar dan menghukum mati para murid Yesus, begitu diubah sehingga dia dapat menerima kematiannya dan mempersembahkannya bagi Tuhan sebagai tindakan penyembahan (lihat 2Tim 4:6). Paulus rela menyerahkan hidupnya demi Injil Yesus Kristus yang diwartakannya. Ketika “nasib”-nya sudah pasti, Paulus tetap tenang, menerima dan terus menaruh kepercayaannya pada kesetiaan Allah.

Kuat-kuasa Allah untuk mentransformasikan kita – sebagaimana Dia mentransformasi-kan Petrus dan Paulus – adalah tidak terbatas. Jika dua orang ini mampu mengubah seluruh dunia, mengapa harus ada perbedaan dengan kita, anda dan saya? Allah senantiasa mengundang kita semua  untuk ikut ambil bagian dalam panggilan sebagai rasul: untuk mengajar, menjadi saksi Injil, mengasihi dengan kasih Yesus, ikut serta dalam pertandingan sampai garis akhir seperti ditulis Paulus (lihat 2Tim 4:6-8).

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus. Marilah sekarang kita berdoa untuk Gereja, agar Allah membangkitkan kita dan memenuhi diri kita dengan kuat-kuasa Roh Kudus.

DOA: Tuhanku dan Allahku, utuslah Roh-Mu untuk bekerja dalam hati kami masing-masing dan mentransformasikan diri kami seperti Engkau mentransformasikan Petrus dan Paulus. Bangkitkanlah para pengkhotbah/pewarta seperti dua orang rasul-Mu yang agung itu agar dapat memproklamasikan Injil-Mu dan menjadi saksi-saksi-Mu yang hidup di tengah dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (2Tim 4:6-8,17-18), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA TETAP FOKUS PADA KASIH YESUS” (bacaan tanggal 29-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013)

Cilandak, 26 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUHAN YESUS ADALAH GEMBALA KITA

TUHAN YESUS ADALAH GEMBALA KITA

(Mazmur Tanggapan dalam Misa Kudus, HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS [TAHUN C] – Jumat, 28 Juni 2019)

FSGM: Pelindung Utama Tarekat

SCJ: Pesta Nama Tarekat

TUHAN (YHWH) adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;

Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Engkau menyediakan  hidangan bagiku, di hadapan lawanku;

Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumum hidupku;

dan aku akan diam dalam rumah YHWH sepanjang masa. (Mzm 23) 

 Bacaan Pertama: Yeh 34:11-16; Bacaan Kedua: Rm 5:5b-11; Bacaan Injil: Luk 15:3-7

Pada hari ini kita merayakan “Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus”, suatu gambaran indah guna mengingatkan kita semua akan kasih Yesus kepada kita yang berkelimpahan. Pada tingkat spiritual, hati Yesus inilah yang dengan bebas memilih untuk mati bagi kita agar kita dapat datang kembali kepada Bapa surgawi. Pada tingkat fisik, hati Yesus inilah yang dilukai oleh tusukan tombak, dan hati ini pulalah yang menumpahkan darah ke bumi agar luka-luka kita dapat disembuhkan dan kita pun dapat ditinggikan dari bumi.

Hati Kudus Yesus memiliki kuat-kuasa yang luar biasa, namun begitu mudah bagi kita untuk melupakan bahwa kasih ilahi masih tetap mengalir ke luar dari HATI itu. Apakah kita adalah ibu-ibu rumahtangga atau pastor paroki, eksekutif bisnis, buruh harian tetap atau tenaga kerja out-sourcing, dll., kita semua menghadapi tuntutan-tuntutan yang terkadang terasa begitu mengambil waktu, tenaga dan pikiran. Apabila kita membiarkan tuntutan-tuntutan tersebut mengambil tempat dalam hidup kita, maka kita dapat luput melihat kenyataan bahwa Yesus senantiasa ada bersama kita, dan Ia begitu berhasrat untuk mencurahkan kasih-Nya kepada kita, mengangkat beban-beban hidup kita, dan memberikan kepada kita sukacita dan pengharapan.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, Yesus ingin ada bersama kita dalam setiap langkah sepanjang perjalanan kita. Dia ingin menjadi Gembala seperti digambarkan dalam Mazmur 23. Yesus ingin tetap berada bersama kita betapa dalamnya pun lembah atau bagaimana pun pekatnya kekelaman yang kita alami. Dia ingin memberi kita makan dan memelihara kita, bahkan ketika kita merasa dikepung oleh musuh.

Mazmur 23 ini memang indah dan sangat dikenal oleh umat Kristiani pada umumnya, namun mazmur ini bukanlah sekadar sebuah puisi indah, bahkan jauh lebih bermakna. Mazmur ini adalah sebuah pernyataan kebenaran. Yesus sesungguhnya adalah Gembala kita semua. Dia sungguh ingin memimpin/membimbing kita ke tempat di mana kita dapat beristirahat – Hati-Nya yang Mahakudus! Ia senantiasa menanti-nantikan kita untuk menyerahkan diri kepada-Nya. Tentu saja kita suka merasa ragu apakah kita cukup baik bagi Yesus. Tentu saja kita bertanya-tanya apakah yang akan terjadi apabila kita menyerahkan diri kepada-Nya. Tentu saja kita mengalami rasa takut akan sesuatu yang kita belum/tidak ketahui dan kenal (Istilah dalam manajemen perubahan: fear of the unknown). Namun Yesus mengetahui kelemahan-kelemahan dan keragu-raguan kita. Itulah sebabnya mengapa Dia memperkenankan hati-Nya (lambung-Nya) ditusuk tombak. Pada hari belas kasih dan rahmat ilahi ini, marilah kita memperkenankan Yesus menunjukkan kepada kita kedalaman kasih-Nya. Marilah kita memandang Hati Kudus-Nya dan memperkenankan kasih-Nya meluluhkan hati kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk Hati Kudus-Mu. Terima kasih Tuhan, Engkau mengasihi diriku dengan begitu mendalam.  Buatlah diriku menjadi milik-Mu sepenuhnya. Buatlah diriku menjadi suatu pencerminan hati-Mu kepada dunia di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:3-7), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA CINTA” (bacaan tanggal 28-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 25 Juni 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMBILAN AYAT TERAKHIR DARI KHOTBAH DI BUKIT

SEMBILAN AYAT TERAKHIR DARI KHOTBAH DI BUKIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Kamis, 27 Juni 2019)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan  berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29) 

Bacaan Pertama: Kej 16:1-12,15-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

Bacaan Injil hari ini adalah ayat-ayat terakhir yang tercatat dalam bagian Injil yang dikenal sebagai “Khotbah di Bukit” (Mat 5:1 – 7:29). Kita telah sampai kepada puncak khotbah, klimaknya yang kuat-mengesan di hati dan sungguh menantang, dan sekarang pula sampailah kita pada akhirnya.

Di sini Yesus mengatakan kepada kita untuk tidak menipu diri sendiri atau mencoba untuk menipu Dia. Janganlah kita pernah berpikir bahwa dengan memproklamasikan diri-Nya sebagai Tuhan dengan ucapan kita semata – tanpa mengisinya dengan tindakan-tindakan nyata dalam hal melakukan kehendak Bapa-Nya – akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bahkan ketika kita telah menerima berbagai karunia Roh, misalnya karunia-karunia untuk bernubuat atau menyembuhkan, hal ini bukanlah jaminan terhadap kekudusan atau kesucian kita. Santo Paulus mengatakan hal yang sama: “… tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna” (1Kor 13: 2; bdk. 13:1,3).

Sekadar mendengar dan memahami pesan-pesan Yesus bukanlah tanggapan yang cukup. Kita harus menjadi “pelaku sabda” (bdk. Yak 1:22-25; 2:14-26). Yesus dengan jelas memberikan sebuah tantangan serius bagi kita. Kegagalan dalam melaksanakan sabda-Nya tidak ubahnya dengan upaya membangun sebuah rumah di atas pasir. Ujung-ujungnya kita akan mengalami bencana, segalanya berantakan secara total.

Tes sesungguhnya adalah melakukan kehendak Bapa. Yesus mengklaim dan menerima seorang pribadi sebagai seorang saudara dan seorang sahabat-Nya hanya dia yang taat, yang melakukan kehendak Bapa-Nya, yang mempraktekkan sabda-Nya dalam hidup sehari-harinya. Apabila anda atau saya tidak melakukannya, maka janganlah kaget apabila  mendengar Ia berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Mat 7:23).

Ini adalah kata-kata Yesus yang sungguh keras! Memang keras, namun kata-kata itu diterima oleh orang banyak karena Dia mengajar mereka dengan kuasa dan penuh wibawa, tidak seperti para ahli Taurat.

Kita sekarang mempunyai sebuah pelajaran dari orang banyak itu. Apakah kita menerima para pemimpin Gereja yang dengan otoritas dan berwibawa mengajarkan sabda-sabda Yesus yang keras demi kebenaran? Atau apakah kita lebih suka atau lebih cenderung menerima ajaran-ajaran penuh kompromi, tidak ada salib dan enak didengar telinga, yang kurang memberi tantangan bagi kita?

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau mengatakan, “Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya” (Yoh 14:21). Terima kasih Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21-29), bacalah tulisan yang berjudul “MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA YESUS TANPA RESERVE” (bacaan tanggal 27-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUAH-BUAH YANG BAIK MENGANDAIKAN AKAR-AKAR YANG BAIK

BUAH-BUAH YANG BAIK MENGANDAIKAN KEBERADAAN AKAR-AKAR YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 26 Juni 2019)

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20) 

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Pada waktu Yohanes Pembaptis mengirimkan sebuah pesan lewat murid-muridnya untuk menanyakan kepada Yesus, apakah Dia adalah sang Mesias yang dinantikan, Yesus sebenarnya dapat saja menjawab “ya”. Namun pada kenyataannya Dia mengatakan kepada para murid Yohanes untuk mempertimbangkan bukti-bukti yang ada: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22) Dengan kata lain, Yohanes diminta untuk menerapkan pada diri Yesus tolok ukur yang diajarkan Yesus untuk membedakan nabi-nabi yang baik-benar dari nabi-nabi palsu.

Sepanjang sejarah selalu ada saja nabi-nabi palsu. Bagaimana mereka pada hari ini? Bagaimana kita dapat mengenali mereka? Bagaimana kita mengetahui perbedaan antara nabi-nabi palsu dan nabi-nabi yang benar? Dari perbuatan-perbuatan mereka, dari buah-buah yang mereka hasilkan! Yesus bersabda: “Dari buah-buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16). Apakah yang dimaksudkan “dari perbuatan-perbuatan mereka?” Maksudnya, dari kesetiaan mereka mendengarkan dan melaksanakan ajaran-ajaran Yesus Kristus dalam kitab-kitab Injil, karena Allah dinyatakan kepada kita dalam Kristus dan hanya dalam Dia kita mempunyai jalan yang pasti kepada Bapa surgawi.

Apabila kita mencoba untuk memiliki mata dan telinga yang sehat untuk Injil, mengenalnya melalui pembacaan dan doa, dengan pertolongan Roh Kudus kita akan bertumbuh dalam kemampuan kita untuk melakukan discernment terhadap sentimentalitas yang menyelewengkan ajaran-ajaran Kristus menjadi semacam etika cintakasih yang mudah tanpa disiplin atau pengorbanan. Kita akan mampu untuk mengenali sikap permisif yang  mengaburkan antara benar dan salah, juga legalisme yang seringkali lebih menaruh respek pada huruf-huruf hukum daripada roh suatu peraturan.

Tidak ada sesuatu pun yang lebih baik daripada mencari bimbingan dari Roh Kudus. Bilamana kita berada dalam tekanan untuk menemukan keamanan dan kepastian yang sedang kita cari-cari, marilah kita menggantungkan diri sepenuhnya pada Roh Allah untuk membawa kepada kita buah-buah-Nya. Tentang buah-buah Roh ini, Santo Paulus menulis, “… buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Kita dapat memastikan diri bahwa nabi palsu tidak ada, jika kita menemukan hal-hal yang disebutkan di atas.

Buah-buah yang baik mengandaikan keberadaan akar-akar yang baik. Yesus ingin agar kita berakar-kuat dalam diri-Nya setiap hari, tidak hanya melalui doa dan Kitab Suci, melainkan juga dengan memperkenankan diri-Nya membersihkan kita (bdk. Yoh 15:2). Lewat upaya mendengarkan yang serius dan aktif, berkat rahmat Allah kita dapat menangkap bisikan suara Roh Kudus yang lemah-lembut. Janganlah kita mengabaikan suara lembut Roh Kudus ketika Dia berbicara mengenai hal-hal yang perlu kita ubah atau singkirkan. Marilah kita hidup dengan cara yang akan membuat kita menjadi saksi-saksi profetis dalam dunia ini. Dengan demikian kita  semua akan menghasilkan buah yang berlimpah – buah yang tetap (lihat Yoh 15:16).

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahatahu, selidikilah hatiku. Tolonglah aku mencabut sampai ke akar-akarnya segala dosa yang Kaunyatakan. Pimpinlah aku dalam jalan hidup yang berbuah, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK” (bacaan tanggal 26-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMPITLAH PINTU DAN SESAKLAH JALAN YANG MENUJU KEPADA KEHIDUPAN

SEMPITLAH PINTU DAN SESAKLAH JALAN YANG MENUJU KEPADA KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 25 Juni 2019)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: Kej 13:2,5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5

“Sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.(Mat 7:14)

Yesus Kristus – Tuhan dan Juruselamat kita – tidak pernah berjanji bahwa kehidupan Kristiani akan mudah. Ia tidak pernah mengatakan bahwa keberadaan kita akan bebas dari masalah, bilamana kita memilih untuk mengikut Dia melalui pintu yang sempit dan jalan yang sesak. Memang kita memakluminya. Setiap hari kita menghadapi godaan-godaan yang beraneka-ragam: mengasihi atau membenci sesama kita, menolong seseorang yang memerlukan bantuan atau mengabaikannya, mentaati perintah-perintah Allah atau mengabaikan perintah-perintah itu, menjadi instrumen-instrumen perdamaian atau aktif dalam provokasi serta mendorong terjadinya perpecahan. Bahkan sebagian orang akan menghadapi pengejaran serta penganiayaan secara langsung karena telah memilih “pintu yang sempit dan jalan yang sesak” dari Kristus.

Apakah yang harus kita lakukan? Bagaimana seharusnya kita berpikir mengenai Yesus dan hidup-Nya sendiri yang telah diberikan-Nya kepada kita? Berartikah pengorbanan Yesus itu? Apabila kita harus melontarkan pertanyaan ini kepada semua generasi umat Kristiani yang mendahului kita, maka mereka akan menanggapi pertanyaan kita itu dengan suara yang nyaring dan penuh syukur: “Ya!” Banyak dari mereka telah menjalani jalan yang sesak dan bertekun melalui penderitaan-penderitaan yang jauh lebih berat dan menyakitkan daripada apa yang kita alami pada zaman modern ini.

Mengapa mereka tetap bertahan dengan penuh iman? Karena mereka tahu bahwa Yesus berjalan bersama mereka. Kenyataan yang satu inilah yang membuat perbedaan antara frustrasi tanpa harapan dan kenyamanan, antara kekalahan dan kemenangan.

Baiklah kita bersama-sama menyadari, bahwa setiap langkah yang kita ambil berarti kita berjalan bersama Yesus. Kita harus percaya bahwa Putera Allah sendiri telah membuka jalan bagi kita dan memberikan kepada kita segalanya yang kita perlukan untuk mengikuti Dia. Selagi kita berjalan di jalan yang telah dibuka oleh Allah bagi kita, maka hidup kita dapat dipenuhi dengan makna dan tujuan – hanya apabila karena kita menjadi menjadi duta-duta Yesus dan bejana-bejana Roh Kudus yang semakin dipenuhi dengan kuasa-Nya. Manakala kita mencoba untuk hidup tanpa Yesus, maka martabat dan nilai-nilai yang kita anut tidak akan bertambah besar, melainkan menyusut.

Yesus telah berjanji kepada semua murid-Nya di segala zaman bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka. Tidak pernah! Walaupun kita terlibat dalam kedosaan serius sekali, Yesus tetap berada bersama kita. Kerahiman-Nya akan meliputi diri kita, dan kekuatan-Nya akan memberdayakan kita. Oleh karena itu, marilah pada hari ini kita mengambil keputusan definitif untuk menaruh kepercayaan kepada kuat-kuasa Yesus untuk tetap mentransformir diri kita menjadi hamba-hamba atau pelayan-pelayan penuh kuasa dri Injil-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah berjanji untuk senantiasa ada bersamaku sampai akhir zaman. Terima kasih untuk menyerahkan hidup-Mu sendiri bagiku. Tolonglah aku agar tetap setia kepada-Mu, seperti Engkau setia kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 24 Juni 2019 [HR KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS