KITA SEMUA DIUNDANG UNTUK MENGALAMI KASIH ALLAH  

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA [TAHUN C] – Minggu, 9 Juni 2019)

Karena itu, aku mau meyakinkan kamu bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata- oleh Roh Allah, dapat berkata, “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.

Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh. Ada berbagai pelayanan, tetapi satu Tuhan. Ada pula berbagai perbuatan ajaib, tetapi Allah yang sama juga yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.

Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama.

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan semua  anggota tubuh itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. (1Kor 12:3-7,12-13) 

Bacaan Pertama: Kis 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua alternatif: Rm 8:8-17; Bacaan Injil: Yoh 14:15-16,23-26 

“Kita semua diberi minum dari satu Roh.” (1Kor 12:13)

Lima puluh hari yang lalu kita merayakan kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati. Namun perbedaan apa yang dibuat oleh kebangkitan ini apabila Yesus tidak mencurahkan Roh Kudus-Nya? Roh Kudus-lah yang menyatakan Yesus kepada kita dan membuat penebusan kita menjadi suatu realitas yang hidup dalam hati kita. Adalah Roh Kudus juga yang membuat kita ikut ambil bagian dalam hidup Allah dan memberdayakan kita untuk hidup sebagai anak-anak-Nya.

Siapa sebenarnya Roh Kudus ini? Sebagian besar kita cukup familiar dengan kata-kata berikut ini: Penasihat, Advokat, Penolong, Penghibur, Pribadi Ketiga dari Tritunggal Mahakudus. Akan tetapi Allah ingin agar kita mengenal “Pribadi” di belakang nama-nama itu. Pada hari raya pencurahan Roh Kudus ini, marilah kita menyoroti cara-cara yang diinginkan Allah agar kita mengalami karya Roh Kudus dalam kehidupan kita.

Ketika Santo Paulus menulis bahwa Roh Kudus mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kita (Rm 5:5), maka di sini dia tidak sekadar membuat suatu pernyataan teologis. Paulus menunjuk kepada suatu realitas bahwa kita semua sebenarnya diundang untuk mengalami kasih Allah tersebut. Marilah kita mengingat-ingat kembali perumpamaan Yesus tentang “anak yang hilang”,  bagaimana  ayah dari anak muda itu berlari menyongsong anaknya dan memeluknya ketika anak itu sedang berjalan pulang menuju rumah ayahnya (Luk 15:20). Dengan cara yang sama, Allah – Bapa surgawi – kita juga dengan penuh kerinduan membuka tangan-tangan-Nya lebar-lebar guna menyambut dan memeluk kita. Dan, oleh Roh Kudus-lah kita mengalami pelukan/rangkulan Allah seperti ini.

Roh Kudus ingin membuat hidup segala hal yang diajarkan Yesus tentang kasih Bapa itu; Dia ingin membuat janji-janji Yesus menjadi pembangkit semangat, yang menjiwai dan dengan penuh kuat-kuasa bergerak dalam diri kita. Oleh Roh Kudus, kata-kata dalam Kitab Suci menjadi hidup. “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku” (Yes 49:16). “Dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau” (Yes 54:8). “Anakku telah mati dan menjadi hidup kembali, Ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk 15:24). “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri” (1Ptr 2:9).

Allah mengasihi kita dengan begitu mendalam sehingga walaupun kita mati dalam dosa-dosa, Dia membuat kita hidup dalam Kristus (Ef 2:4-5). Ini adalah belas kasih-Nya yang tak terbandingkan. Setiap hari kita dapat mengalami hal itu secara baru, yaitu melalui doa-doa kita yang dijawab, penyembuhan batin, perlindungan dari segala hal yang membahayakan, dan pengampunan. Roh Kudus menolong kita untuk mengenali serta mengakui kebaikan Allah, yang mungkin saya luput dari pandangan manusiawi kita. Roh Kudus mengingatkan kita akan saat-saat kita menerima kebaikan dari Allah, bahkan barangkali saat-saat ketika kita masih kecil. Dengan membuka mata kita terhadap rahmat Allah dengan cara-cara ini, maka Roh Kudus meyakinkan kita betapa baik dan murah hati Allah kita itu. Demikian pula, Roh Kudus menggerakkan kita untuk men-sharing-kan belas kasih yang sama dengan orang-orang lain. Kita menjadi berbelas kasih karena Allah telah berbelas kasih kepada kita, dan belas kasih ini yang di-sharing-kan antara kita dan saudari-saudara kita dalam Kristus, menyatukan kita semua dalam satu tubuh dalam Kristus.

Kita pernah mengalami hidup terpisah dari Allah, tanpa pengharapan untuk pernah mengenal Dia dan kasih-Nya yang besar bagi diri kita secara pribadi. Sekarang, karena kita telah menerima Roh Kudus, kasih Allah pun hidup dalam diri kita. Kita pernah terjerat dalam dosa, tak mampu mengalami perubahan, walaupun kita menginginkannya. Sekarang, Roh Kudus memberikan kepada kita kuasa dan bahkan motivasi untuk berubah. Kita pernah tidak mampu melihat bagaimana menjalani kehidupan kita dengan cara yang menyenangkan Allah. Sekarang, Roh Kudus membawa kepada kita pemikiran-pemikiran Allah sendiri. Kita tidak perlu lagi menebak-nebak bagaimana mengasihi dan melayani Allah karena Roh Kudus memberikan kepada kita “pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian” (Flp 1:9).

Sekarang, bayangkanlah: Kita tidak perlu merasa heran apabila kita akan hidup selamanya dengan Yesus di surga; kita dapat mempunyai keyakinan bahwa kita mengalami hal tersebut. Pengharapan ini mentransformasikan segalanya yang menyangkut diri kita: cara kita memandang diri kita sendiri dan orang-orang lain, ekspektasi-ekspektasi kita, relasi-relasi kita. Sikap negatif berubah menjadi rasa penuh percaya. Kejauhan berubah menjadi kedekatan. Semua ini adalah karya Roh Kudus yang diutus Yesus, … Roh Allah sendiri yang kita rayakan pada hari ini.

DOA: Terpujilah Engkau, ya Roh Kudus. Engkau adalah kasih antara Bapa dan Putera. Datanglah, ya Roh Kudus, dan hiduplah dalam diri kami. Tunjukkanlah kepada kami belas kasih Allah. Engkau adalah alasan mengapa hidup kami dipenuhi dengan pengharapan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS SECARA SEDERHANA DAN PENUH KERENDAHAN HATI” (bacaan tanggal 9-6-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 7 Juni 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS