BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI SEBUAH TEMPAT TINGGAL YANG COCOK BAGI TUHAN?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Senin, 1 Juli 2019)

Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Mat 8:18-22) 

Bacaan Pertama: Kej 18:16-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-11

Lagi dan lagi, Injil Matius “memaksa” kita untuk bertanya, “Apa artinya menjadi seorang murid Yesus? Sementara kita terbiasa untuk memberikan jawaban-jawaban dari perspektif kita sendiri – saya harus melakukan ini, atau saya harus mengubah itu – Yesus menjungkir-balikkan segala sesuatu dengan mengatakan kepada para murid-Nya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). 

Pernyataan Yesus ini terdengar menyedihkan. Bagaimana pun juga, Yesus adalah Putera Allah yang tunggal dan dalam Dialah alam semesta ini diciptakan (lihat Kol 1:16) – namun Ia tidak diterima oleh dunia. Yesus rindu untuk mempunyai sahabat dengan siapa Dia dapat berdiam dalam kesatuan. Sepanjang hidup-Nya, Yesus menunjukkan hasrat Allah untuk membuat kita sebagai satu keluarga dengan-Nya. Bahkan dari dalam surga, Dia berbicara kepada setiap jiwa, “Aku ingin hidup dalam diri-Mu. Aku ingin engkau hidup dalam Aku.” Sayangnya, begitu sering tidak ada tempat bagi-Nya dalam hati kita. Hal ini sungguh menyedihkan; Allah ingin memberikan diri-Nya sendiri kepada setiap orang, namun hanya sedikit orang saja yang mau melakukan apa yang diperlukan untuk mempersembahkan kepada-Nya hati mereka guna menjadi tempat bagi-Nya untuk meletakkan kepala-Nya.

Bagaimana kita dapat menjadi sebuah tempat tinggal yang cocok bagi Tuhan? Kita tidak pernah boleh puas dengan relasi yang tidak memuaskan dengan Bapa surgawi. Satu kunci penting adalah doa. Komunikasi antar-pribadi dalam relasi manusia sangatlah penting, demikian pulalah halnya komunikasi dengan Allah. Sebuah hati yang mau mencurahkan isinya kepada Allah dan terbuka bagi suara-Nya menjadi semacam kanvas bagi Dia untuk bekerja menorehkan sabda-Nya. Kitab Suci juga menyatakan pikiran Allah. Kebenaran-kebenaran-Nya dapat membentuk hati kita asal kita mau merenungkan semua itu. Para dokter membaca jurnal-jurnal di bidang medis; para pemimpin dunia bisnis mempeljari trend-trend industri. Demikian pula, anak-anak Allah harus mengetahui dan mengenal sabda-Nya kepada para pengikut-Nya.

Hati kita juga dapat dibuka lewat partisipasi aktif kita dalam Misa Kudus dan kesempatan-kesempatan lain seperti rekoleksi, retret, studi Alkitab dll. Secara khusus, penerimaan sakramen-sakramen Ekaristi dan Rekonsiliasi dapat memperkuat pengembangan otot-otot kita. Mereka yang sedang bertempur mengatasi krisis-iman harus giat mencari pertolongan dari sumber yang benar dan tidak boleh cepat puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan dengan cepat dan instan. Pertanyaan yang sangat penting adalah: “Apakah aku ingin menjadi sebuah tempat kediaman yang cocok bagi Tuhan?”, karena Dia memang sangat menginginkan untuk berdiam dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa aku dapat bertumbuh semakin dekat dengan Engkau. Tolonglah ketidakpercayaanku, ya Tuhan. Patahkanlah segala resistensi yang berasal dari diriku sehingga dengan demikian aku dapat mempersilahkan Engkau untuk tinggal dalam diriku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “MENGIKUTI JEJAK KRISTUS” (bacaan tanggal 1-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 28 Juni 2019 [HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements