MARILAH KITA MENANGGAPI KEBAIKAN YESUS DENGAN KETERBUKAAN HATI YANG DATANG DARI IMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Senin, 8 Juli 2019)

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata, “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangun dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia, “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu disuruh keluar, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Dan tersebarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu. (Mat 9:18-26) 

Bacaan Pertama: Kej 28:10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-4,14-15 

Yesus ingin menarik kita mendekat kepada-Nya, menyentuh-Nya agar kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah (lihat Yoh 10:10). Dalam dua tindakan penyembuhan dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat Yesus keluar bertemu dengan orang banyak untuk menyembuhkan mereka yang sakit, dan di pihak lain orang-orang datang kepada-Nya dalam iman. Narasi-narasi tentang mukjizat-mukjizat penyembuhan oleh Yesus ini menambah satu lagi dimensi pada pemahaman kita tentang Yesus, sang Mesias.

Pada tataran yang sangat mendasar, kita melihat bahwa Mesias dari Allah mengasihi semua orang, bahkan mereka yang tersingkirkan dalam masyarakat, … kaum marjinal. Kita juga melihat bahwa walaupun Yesus adalah sang Mesias dari Allah, Ia tetap dapat didekati dan kita perlu memberi tanggapan terhadap undangan-Nya.

Anak perempuan dari pemimpin sinagoga dan perempuan yang sudah dua belas tahun menderita sakit pendarahan itu tergolong anggota-anggota masyarakat yang paling marjinal. Kedua orang itu adalah perempuan yang berstatus sosial yang sangat rendah dalam dunia Semitis. Anak perempuan itu semakin termarjinalisasi karena dia adalah seorang anak yang masih hidup dalam rumah ayahnya. Perempuan yang sakit pendarahan juga semakin termarjinalisasi karena aliran darah dari dalam tubuhnya membuat dirinya tidak bersih secara permanen di bawah hukum Yahudi (lihat Im 15:25-30). Kenyataan bahwa Yesus mau menyembuhkan serta memulihkan kedua perempuan itu mengindikasikan bahwa nilai-nilai-Nya tentang orang yang patut diperhitungkan memang berbeda dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat manusia.

Dalam kedua kasus tersebut kita juga melihat orang-orang yang mendatangi Yesus dalam iman. Si pemimpin sinagoga merujuk pada keilahian Yesus dalam permohonannya agar Yesus mau meletakkan tangan-Nya atas anak perempuannya, dengan demikian ia akan hidup (Mat 9:18). Hanya Allah yang dapat melakukan hal yang dimohon olehnya, dalam hal ini adalah sebuah tanda bahwa si pemimpin sinagoga melihat dalam diri Yesus suatu pencerminan Allah. Dengan cara yang serupa, perempuan yang menderita sakit pendarahan datang kepada Yesus (dengan diam-diam) karena dia mengetahui dan percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan dirinya. Dengan mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya, perempuan itu mengungkapkan disposisi hatinya.

Yesus adalah Mesias, pelaku perbuatan-perbuatan yang memberikan hidup kepada semua orang. Bagian dari penerimaan hidup ini adalah keterbukaan kita bagi-Nya, suatu keterbukaan yang datang dari iman. Oleh karena itu, marilah kita berdoa agar hati kita masing-masing terbuka bagi Mesias dari Allah dan bagi hidup yang dijanjikan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Mesias dari Allah yang memberikan hidup kepada semua orang, baik orang besar maupun kecil di mata masyarakat. Aku menaruh kepercayaanku pada janji-Mu dan datang kepada-Mu dalam iman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:18-26), bacalah tulisan yang berjudul “SENTUHAN KRISTUS DAN IMAN AKAN SENTUHAN-NYA” (bacaan tanggal 8-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 4 Juli 2019 [Peringatan S. Elisabet dr Portugal, Ratu – OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements