AGAR SUPAYA KITA MENGGANTUNGKAN DIRI PADA ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja – Senin, 15 Juli 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak  bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut  seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Mat 10:34-11:1) 

Bacaan Pertama: Kel 1:8-14,22; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:1-8 

“Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku.(Mat 10:37)

Yesus menantang kita untuk memeriksa status dari relasi-relasi kekeluargaan kita. Mengapa? Keluar dari hasrat-Nya supaya kita semua bergabung dengan Dia pada meja perjamuan Bapa-Nya, Yesus memperingatkan kita untuk menaruh cintakasih kita pada diri-Nya lebih daripada cintakasih kita kepada keluarga kita. Yesus mengatakan ini bukan supaya kita mengabaikan keluarga kita, melainkan agar dengan demikian cintakasih kita kepada keluarga kita dimurnikan untuk mencerminkan kasih-Nya kepada mereka.

O, betapa menggodanya untuk “menyenangkan” atau “membahagiakan” keluarga kita dengan mengorbankan pesan-pesan Injil Yesus Kristus. Betapa menggodanya bagi kita untuk melarikan diri dari aspek-aspek cintakasih yang lebih sulit dan lebih banyak tuntutan-tuntutannya. Secara tidak sadar kita seringkali didorong oleh hasrat-hasrat yang didasarkan pandangan sempit, oleh dosa-dosa yang kita tidak ingin akui, dan oleh nilai-nilai duniawi dan sikap-sikap yang menyertainya. Pengaruh-pengaruh ini dapat memperkenalkan motif-motif yang berpusat pada diri sendiri ke dalam relasi-relasi kita, dan sebagai akibatnya kita mengalami frustrasi karena suatu kehidupan keluarga yang jauh lebih buruk daripada yang kita harap-harapkan.

Allah sungguh ingin memurnikan cintakasih kita bagi mereka yang terdekat dengan diri kita dengan mengajar kita agar supaya menggantungkan diri pada Roh Kudus untuk hikmat-kebijaksanaan dan bimbingan dalam relasi kita. Dengan cara ini, kita akan mampu untuk mengasihi dan menghargai mereka sebagai anugerah dari Allah, tanpa mempertimbangkan apa yang telah mereka berikan kepada kita atau tidak berikan. Selagi kita memperkenankan warisan kita sebagai anak-anak Allah menjadi fondasi kita yang sejati, maka kita akan menjadi bebas mengasihi dan melayani keluarga kita dan orang-orang lain, dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih.

Yesus adalah contoh kita yang sempurna. Dia mengasihi kita bukan untuk apa saja yang kita berikan kepada-Nya, melainkan untuk pencerminan dari gambaran Allah untuk mana kita dimaksudkan sejak semula. Yesus mengasihi Bapa di atas segalanya, dan melalui cintakasih itu Dia memberikan hidup-Nya sendiri bagi kita. Dalam keluarga, cintakasih macam ini akan membawa suatu respek, kerjasama, sukacita dan damai-sejahtera yang akan tegak berdiri menghadapi pencobaan apa saja. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk mengajar kita bagaimana pertama-tama mengasihi Yesus sehingga dengan demikian kita dapat mengasihi keluarga kita sepenuh-penuhnya seperti Dia mengasihi kita

DOA: Bapa surgawi, utuslah Roh Kudus-Mu kepada kami untuk menyembuhkan luka-luka dosa yang menyebabkan kami secara tidak pantas menggantungkan diri pada orang-orang yang paling dekat dengan diri kami. Dirikanlah kasih ilahi-Mu di dalam diri kami, sehingga dengan demikian semua relasi kami dapat disembuhkan dan ditransformasikan. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:34-11:1), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI DUTA-DUTA YESUS KRISTUS DI ZAMAN NOW” (bacaan tanggal 15-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 12 Juli 2019 [Peringatan S. John Jones & S. John Wall, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements