Archive for August, 2019

YANG MERENDAHKAN DIRI AKAN DITINGGIKAN

YANG MERENDAHKAN DIRI AKAN DITINGGIKAN

Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXII [Tahun C], 1 September 2019

HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan seksama.

Karena Yesus melihat bagaimana para undangan memilih tempat-tempat kehormatan, Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat daripada engkau, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di tempat yang lebih terhormat. Dengan demikian, engkau akan menerima hormat di depan mata semua orang yang makan bersamamu. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 14:1.7-14) 

Bacaan Pertama: Sir 3:17-18,20,28-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:4-7,10-11; Bacaan Kedua: Ibr 12:18-19,22-24 

Kalau ada satu sikap yang secara konsisten dicemoohkan oleh dunia, maka sikap itu adalah “kerendahan hati” dan hal itu terutama terjadi karena dunia tidak memahami apa arti sebenarnya dari kerendahan hati. Yang pertama dan utama adalah bahwa kerendahan hati itu menyangkut suatu “ketergantungan penuh kepercayaan” pada Allah. Lawannya adalah “kesombongan”, yang pada hakekatnya merupakan suatu penjauhan diri dari Allah (Sir 10:12). Kerendahan hati percaya bahwa Allah adalah baik, maka menemukan kekuatan untuk bertekun di bawah pelbagai godaan dan pencobaan. Di sisi lain kesombongan yang melarikan diri dari Allah hanya menggiring orang kepada sikap mementingkan diri sendiri, dan tidak mempunyai kekuatan untuk menanggung kesulitan-kesulitan – atau memahami arti penderitaan.

Jantung atau intisari dari kerendahan hati adalah pengetahuan dan keyakinan bahwa kita adalah penerima kerahiman Allah yang berlimpah, yang sebenarnya kita tak pantas untuk menerimanya. Ketika kita mengalami kasih Yesus yang murah hati dan penuh pengampunan, kita dibuat menjadi rendah hati dan dalam diri kita mulai berkembanglah suatu kemurahan hati yang bersifat ilahi. Dalam terang pengalaman kita akan kasih Allah, kita pun menyadari bahwa kita sendiri hanyalah para pengemis dan tidak berbeda dengan orang-orang yang dicampakkan oleh dunia. Kita sadar bahwa siapa saja di muka bumi ini adalah saudari-saudara dan kita dipanggil untuk berdiri bersama dengan mereka yang berada di “tempat yang paling rendah” (Luk 14:10) dan berbagi dengan mereka kasih ilahi yang baru kita terima itu.

Yesus adalah teladan paling sempurna dari kerendahan hati. Dia cukup rendah hati untuk menamakan diri-Nya sebagai saudara kita, untuk mengidentifikasikan diri-Nya dengan kita yang penuh dosa dan kelemahan, dan bahkan sampai menjadi sama seperti kita, agar dapat menyelamatkan kita. Dengan cara yang sama, Yesus minta kepada kita untuk cukup rendah hati agar dapat memandang setiap orang yang membutuhkan di sekeliling kita sebagai saudari atau saudara, dan agar kita pun melayani orang-orang itu.  Seperti Yesus selalu memperhatikan kepentingan kita, Dia memanggil kita juga untuk memperhatikan kepentingan-kepentingan sesama kita (Flp 2:4).

Dalam Misa Kudus hari ini, marilah kita mohon kepada Tuhan Yesus untuk menunjukkan harga yang telah dibayar oleh-Nya untuk membebaskan kita masing-masing dari dosa dan mengangkat kita – meninggikan kita – untuk sampai kepada takhta Allah Bapa. Biarlah kasih-Nya menggerakkan kita untuk men-sharing-kan kasih itu dengan orang-orang di sekeliling kita. Semoga kita semua membuat komitmen dalam diri kita sendiri untuk mengangkat saudari-saudara kita, hingga bersama-sama kita dapat memuliakan Yesus, Penebus kita yang rendah hati!

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk menaruh kepercayaan kepada penyelenggaraan ilahi hari ini dan tolonglah aku untuk mengasihi dan memperhatikan siapa saja yang Kautempatkan pada jalan hidupku hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:1,7-14), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SENANTIASA BERPIHAK PADA ORANG KECIL” (bacaan tanggal 28-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 28 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Augustinus, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KITA MENIRU PERILAKU HAMBA YANG JAHAT DAN MALAS ITU

JANGANLAH KITA MENIRU PERILAKU HAMBA YANG JAHAT DAN MALAS ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Sabtu, 31 Agustus 2019)

“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.”  (Mat 25:14-30) 

Bacaan Pertama: 1Tes 4:9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9 

Riset-riset ilmiah yang dilakukan, dari sidik jari sampai DNA, dari identifikasi suara sampai profil psikologis, membuat para ahli semakin merasa diyakinkan akan kebenaran Kitab Suci yang telah diketahui berabad-abad lamanya: Setiap pribadi adalah unik, bagian yang tidak dapat digantikan dalam alam ciptaan. Kita mengetahui bahwa Allah telah memberikan kepada kita seperangkat karunia alamiah dan talenta yang khusus untuk kita masing-masing, misalnya keterampilan di bidang atletik, di bidang musik, di bidang tulis-menulis, di bidang seni lukis dlsb. Bagian dari tantangan kita selagi kita bertumbuh semakin matang adalah untuk mengidentifikasikan talenta-talenta kita dan mengembangkan semua itu dengan cara yang akan membantu kita dan menguntungkan orang-orang di sekeliling kita.

Namun kita juga harus menyadari bahwa kepada kita masing-masing Allah telah menganugerahkan karunia-karunia spiritual – berbagai talenta yang menolong kita untuk bekerja sama dengan Allah dalam membangun Kerajaan-Nya. Karunia-karunia ini dapat berupa karunia untuk menasihati, karunia untuk melayani, karunia untuk mengajar, karunia untuk membagi-bagikan dengan dengan hati yang ikhlas, karunia untuk berbela rasa, dlsb. Barangkali kita (anda dan saya) dianugerahi iman yang kuat, karunia untuk menyembuhkan, dlsb (1Kor 12:8-11). Allah menganugerahkan karunia-karunia ini, dan Ia mengundang kita untuk bekerja bersama diri-Nya dengan cara-cara yang jauh melampaui kapasitas-kapasitas ilmiah yang kita miliki.

Marilah kita melihat perumpamaan Yesus tentang talenta ini sebagai suatu dorongan untuk bertanya kepada Tuhan, karunia-karunia apakah yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita dan bagaimana seharusnya kita menggunakan semua karunia-karunia itu. Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa Gereja, tubuh-Nya di atas bumi, hanya dapat bertumbuh apabila kita masing-masing menanggapi panggilan-Nya. Yesus tidak ingin kita seperti hamba yang jahat dan malas, yang menyembunytikan talentanya dalam tanah.

Ada baiknya bagi kita (anda dan saya juga) masing-masing untuk mengambil waktu pada hari ini membuat daftar dari karunia-karunia yang kita pikir Allah telah anugerahkan kepada kita, baik yang bersifat alamiah (natural) maupun yang spiritual. Apakah kita memiliki keprihatinan terhadap orang-orang miskin dan membutuhkan pertolongan? Apakah ada dorongan keras dalam hati kita untuk mengunjungi orang-orang yang menderita sakit-penyakit? Apakah mudah bagi kita untuk berbagi dengan orang-orang lain tentang Yesus? Ini adalah contoh-contoh yang dapat menjadi indikasi dari karunia-karunia dari Allah sedang menanti-nanti untuk dikembangkan. Oleh karena itu, marilah kita membuka pintu hati kita masing-masing bagi-Nya dan lihatlah ke mana Dia akan memimpin kita.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mata hatiku agar dapat melihat karunia-karunia yang telah dianugerahkan Bapa surgawi bagiku. Oleh Roh Kudus-Mu, berikanlah keberanian kepadaku untuk mengambil langkah guna mengikuti ke mana Engkau memimpinku. Dengan penuh syukur aku ingin kembali kepada-Mu, ya Tuhan, demi segala kebaikan yang Engkau telah lakukan atas diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:14-30), bacalah tulisan yang berjudul “MENGGUNAKAN SEGALA KARUNIA/ANUGERAH DARI ALLAH SECARA BIJAKSANA” (bacaan tanggal 31-8-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 28 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Augustinus, Uskup Pujangga Gereja]

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA SEMUA JUGA HARUS BERJAGA-JAGA DALAM MENANTIKAN KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS

KITA SEMUA JUGA HARUS BERJAGA-JAGA DALAM MENANTIKAN KEDATANGAN KEMBALI YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Jumat, 30 Agustus 2019)

“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedang gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam botol mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! Tetapi ia menjawab: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya. (Mat 25:1-13) 

Bacaan Pertama: 1Tes 4:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,10-12   

Pada saat parousia dan penghakiman terakhir, maka situasi menanti-nantikan Kerajaan Surga kiranya serupa atau mirip dengan cerita perumpamaan Yesus ini. Karena peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam perumpamaan ini sejalan dengan praktek perkawinan yang dikenal di Timur Tengah, hampir semua ahli Kitab Suci  berpendapat bahwa perumpamaan ini adalah sebuah alegoria yang diciptakan oleh pengarangnya di mana detil-detil yang ada bersifat simbolik.

Sepuluh gadis itu barangkali sedang menunggu di rumah mempelai laki-laki. Mereka menanti-nantikan kedatangan sang mempelai laki-laki yang telah pergi menjemput mempelai perempuan dari rumah orangtuanya. Hal ini tidak hanya cocok dengan imaji Perjanjian Baru tentang Kerajaan Surga sebagai sebuah pesta perjamuan nikah (lihat Mat 22:1-14; Why 19:9), tetapi juga dengan Yesus sebagai sang mempelai laki-laki (Mat 9:15) dan Gereja sebagai mempelai perempuan (Why 21:2,9; Ef 5:25-26). Sepuluh gadis itu menanti-nantikan sang mempelai laki-laki, namun tidak semua siap dalam menghadapi situasi seandainya terjadi keterlambatan kedatangannya.

Lima orang gadis yang “bodoh” itu berbeda dengan “hamba yang jahat” dalam perumpamaan sebelumnya (Mat 24:45-51). Dalam perumpamaan itu – ketika melihat tuannya belum pulang-pulang juga, dia malah melakukan hal-hal yang tidak baik, yaitu memukul hamba-hamba yang lain, dan makan minum bersama-sama para pemabuk (Mat 24:49). Sebaliknya, “kesalahan” lima orang gadis yang “bodoh” adalah, bahwa mereka tidak memperhitungkan dengan serius adanya kemungkinan keterlambatan. Lima gadis yang  “bijaksana” memperhitungkan kemungkinan terjadinya keterlambatan kedatangan sang mempelai laki-laki dengan sikap serius, dengan demikian mereka membawa minyak ekstra dalam botol untuk berjaga-jaga (Mat 25:4). Waktu berjalan terus dan hari pun semakin malam dan sang mempelai laki-laki tidak datang-datang juga, maka gadis-gadis itu pun tertidur.

Ketika lima gadis yang “bodoh” menyadari bahwa mereka tidak memiliki cukup minyak, maka mereka memintanya dari lima gadis yang “bijaksana”. Kelima gadis yang “bijaksana” dengan bijaksana pula menunjuk pada kenyataan bahwa berbagi minyak mereka pada titik itu malah akan menimbulkan risiko tidak akan ada pelita yang menyala samasekali karena semuanya akan kehabisan minyak (Mat 25:9), jadi malah merusak acara pesta. Selagi gadis-gadis yang “bodoh” pergi membeli minyak, gadis-gadis yang “bijaksana” pergi menyambut dan ikut serta dalam prosesi untuk mengiringi rombongan pengantin masuk ke dalam ruang pesta. Kemudian pintu rumah ditutup dan digembok, ini adalah perlambangan penghakiman terakhir. Masuk melalui pintu tidak hanya sulit (Mat 7:13-14), tetapi sudah tidak mungkin lagi pada saat yang crucial itu. Lima gadis “bodoh” yang baru kembali dari membeli minyak berseru: “Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!” (Mat 25:11), Ini adalah juga seruan para murid yang digambarkan Yesus dalam Mat 7:21-22; mereka mengharapkan diperbolehkan masuk ke dalam Kerajaan Surga karena nubuatan-nubuatan dan mukjizat-mukjizat yang mereka buat dalam nama Yesus. Namun, kepada mereka – seperti juga kepada lima orang gadis yang “bodoh” – Tuhan berkata: “Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu” (Mat 25:12; bdk. Mat 7:23).

Dalam “Khotbah di Bukit” itu Yesus pada dasarnya mencap mereka sebagai murid-murid “palsu” karena tidak menghasilkan buah yang baik (lihat Mat 7:15-20), artinya tidak melakukan kehendak Bapa-Nya, yaitu melakukan pekerjaan belas kasih (lihat Mat 25:31-46). Seperti juga para ahli Taurat dan Farisi yang berkhotbah namun tidak mempraktekkan sendiri apa yang mereka khotbahkan (Mat 23:3); dan orang bodoh yang mendirikan rumahnya di atas pasir, yang mendengarkan sabda Yesus, tetapi tidak melakukan apa-apa atas sabda itu (Mat 7:26-27); maka lima orang gadis yang “bodoh” itu tidak melakukan “agenda” yang telah ditetapkan oleh Yesus bagi para murid-Nya. Dalam “Khotbah di Bukit”, “pelita yang diletakkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang” (Mat 5:14-16) adalah gambaran (imaji) dari pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh para murid-Nya di mata dunia. Minyak dalam perumpamaan sepuluh gadis ini digunakan untuk pelita agar apinya tetap menyala, artinya pekerjaan-pekerjaan baik. Perintah yang terakhir dari Yesus dalam perumpamaan ini adalah agar kita senantiasa berjaga-jaga, bersiap-siap lewat pekerjaan-pekerjaan baik kita dalam menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kali, yang kita tidak pernah tahu kapan akan terjadi.

DOA: Tuhan Yesus, selagi aku menanti-nantikan kedatangan-Mu, aku hanya dapat melakukan hal-hal yang biasa saja, kadang-kadang hal-hal yang monoton yang tersedia dalam hidupku ini. Akan tetapi, ya Tuhanku dan Allahku, aku dapat melakukan hal-hal kecil tersebut secara istimewa demi cintakasihku kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG SEPULUH GADIS” (bacaan tanggal 31-8-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 28 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Augustinus, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS XXII

YOHANES PEMBAPTIS BERDIRI SEBAGAI PENDAHULU KRISTUS

YOHANES PEMBAPTIS BERDIRI SEBAGAI PENDAHULU KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir – Kamis, 29 Agustus 2019)

Sebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:17-29) 

Bacaan Pertama: Yer 1:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17 

Yohanes Pembaptis dapat dikatakan sebagai pengejawantahan atau perwujudan dari radikalisme. Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan (Mrk 1:6), dan Ia menyiapkan jalan bagi Yesus dengan secara berani memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa (Mrk 1:4). Sepanjang hidupnya, Yohanes berdiri sebagai pendahulu dari Yesus, yang “menggembar-gemborkan” kedatangan-Nya. Seorang malaikat memberitahukan terlebih dahulu tentang kelahiran mereka dan memberi nama kedua orang itu juga (Luk 1:13,31; Yes 49:1). Mereka berdua dikandung sebagai akibat intervensi ajaib (Luk 1:24-25,35). Bahkan ketika mereka baru dilahirkan, orang-orang mengenali tangan Allah menyertai mereka (Luk 1:66; 2:18-19).

Baik Yohanes maupun Yesus “bertambah besar dan makin kuat dalam roh”, dan masing-masing meluangkan waktu untuk berada sendiri sebelum memulai pelayanan di muka publik (Luk 1:80;2:40; Mrk 1:12-13). Allah membuat mulut-mulut mereka seperti pedang-pedang panjang (Yes 49:2) yang mampu membelah desepsi pemikiran manusia dengan kebenaran-kebenaran pertobatan, pengampunan, dan panggilan penuh kasih dari Allah untuk menghasilkan “buah-buah yang sesuai dengan pertobatan” (Luk 3:8; Mat 7:21). Yohanes dengan ikhlas menderita dan mati untuk Kristus – “jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6) – seperti Yesus yang mati supaya semua orang dapat menjadi anak-anak Allah (Yoh 1:12; Rm 8:14).

Santo Beda Venerabilis [673-735] berkata tentang Yohanes Pembaptis sebagai berikut: “Itulah kualitas dan kekuatan dari seorang laki-laki yang menerima akhir kehidupannya sekarang dengan menumpahkan darahnya.” Walaupun ia “digembok dalam kegelapan penjara … [dia] pantas dinamakan sebuah lampu yang terang dan bercahaya” oleh Kristus sang “Terang kehidupan” (Homilies, 23).

Sebagai Bait Roh Kudus (1Kor 6:19), kita juga dipanggil untuk menjadi terang yang bercahaya, yang memuliakan Kristus dalam sebuah dunia yang dibuat gelap oleh dosa (Mat 5:16). Walaupun kita barangkali tidak akan mengalami kematian sebagai martir, kita dapat meniru Kristus setiap hari dengan mengikuti bimbingan Roh Kudus, bukan mengikuti kencenderungan-kecenderungan kedagingan kita. Keradikalan kita dapat berakibat dalam penderitaan, namun hati kita akan dipenuhi dengan sukacita, selagi Roh Kudus memampukan kita (seperti Yesus) untuk berjaya mengalahkan maut. Walaupun menghadapi kesulitan-kesulitan, kita akan bersukacita selagi kita melihat Yesus lahir kembali ke dalam dunia melalui kesaksian kita.

DOA: Bapa surgawi, Engkau memanggil Yohanes Pembaptis untuk menjadi bentara dari kelahiran dan kematian Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Yohanes menyerahkan hidupnya sendiri sebagai saksi bagi kebenaran dan keadilan. Oleh karena itu kami pun akan berusaha untuk mempermaklumkan iman kami akan Injil kepada dunia di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:17-29), bacalah tulisan berjudul “IA AKAN SENANTIASA BERADA BERSAMA KITA DAN IA AKAN MEMPERKUAT KITA” (bacaan tanggal 29-8-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 27 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Monika] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANTO PAULUS DIDORONG OLEH KASIH KRISTUS

SANTO PAULUS DIDORONG OLEH KASIH KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Augustinus, Uskup Pujangga Gereja – Rabu, 28 Agustus 2019) 

Sebab kamu masih ingat, Saudara-saudara, akan usaha dan jerih payah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu. Kamulah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu yang percaya. Kamu tahu, betapa kami, seperti bapak terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.

Karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi – dan memang sungguh-sungguh demikian – sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya. (1Tes 2:9-13) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 139:7-12; Bacaan Injil: Mat 23:27-32

 

“Kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi – dan memang sungguh-sungguh demikian – sebagai firman Allah.”  (1Tes 2:13)

Apakah yang memotivasi Paulus untuk bekerja tanpa lelah mewartakan Injil? Tentunya bukan demi keuntungan pribadi bagi dirinya! Oleh karena itu, agar tidak membebani orang-orang lain, maka Paulus mendukung dirinya dan para misionaris lainnya dalam hal keuangan lewat bekerja dengan tangan-tangannya sendiri sebagai seorang pembuat tenda. Kita dapat membayangkan bagaimana Paulus berkhotbah dengan semangat yang berkobar-kobar oleh kuasa Roh Kudus dengan tangan dan jari-jari kasar karena kerja kerasnya yang dengan mudah terlihat oleh para pendengarnya.

Seandainya Paulus bekerja demi ambisi pribadi dan kemashyuran nama, sangat mungkinlah dengan cepat dia meninggalkan pekerjaan misionernya. Akan tetapi ada “sesuatu yang lebih dalam” sedang terjadi, dan itulah sebabnya mengapa pesan Paulus sangat mengesankan orang-orang di mana saja dia berkhotbah. Ada orang-orang yang menerima pewartaan Injil Paulus dengan keterbukaan hati dan pikiran, sementara ada juga orang-orang yang bereaksi keras terhadap pewartaannya. Tidak jarang Paulus harus lari dari kota yang satu dan pergi ke kota yang lain karena ancaman-ancaman riil atas dirinya.

Dengan demikian, apakah sebenarnya yang memotivasi Paulus untuk menanggung risiko ancaman terhadap hidupnya sendiri demi Injil Yesus Kristus? …… Kasih Kristus telah menangkap hatinya dan kasih ini begitu menular … tak terbendung, tak dapat dipegang untuk dirinya sendiri (lihat 2Kor 5:14; Kitab Suci Vulgata: Caritas enim Christi urget nos). Injil – bahkan  seluruh Kitab Suci – sesungguhnya adalah surat cinta Allah kepada dunia. Kitab Suci adalah Sabda hidup yang mengungkapkan belas kasih dan penyelamatan Allah yang tanpa batas. Ini adalah karunia atau anugerah yang sungguh luarbiasa. Namun demikian ada begitu banyak orang di sekeliling kita yang tidak pernah  mendengar Injil atau telah menerima penjelasan tentang Injil itu. Kita tidak pernah mengetahui bahwa mungkin saja kita merupakan saluran satu-satunya bagi mereka untuk mendengar Kabar Baik Yesus Kristus dan kasih-Nya yang menebus.

Kita adalah duta-duta Yesus Kristus (lihat 2 Kor 5:20). Kita adalah tangan-tangan-Nya dan kaki-kaki-Nya, mata-Nya dan telinga-Nya bagi dunia. Kemungkinan besar kita belum/tidak pernah belajar teologi atau ahli dalam hal-ikhwal Kitab Suci, namun kepada kita telah diberikan karunia yang luarbiasa, yaitu sabda Allah sendiri. Barangkali sepatah kata sederhana atau kesaksian sederhana atau sebuah undangan kepada orang lain untuk menghadiri pertemuan pendalaman Kitab Suci atau persekutuan doa merupakan satu-satunya yang diperlukan untuk menyulut percikan iman dalam diri orang lain.

Apa yang biasanya menahan diri kita untuk berbagi (syering) dengan orang-orang lain adalah rasa takut. Barangkali saja mereka akan merasa terganggu atau tidak menyukai testimoni kita. Doa dan kasih adalah penyembuhan Allah. Selagi kita mengasihi orang lain, maka akan timbul keinginan dalam diri kita untuk berbagi dengan mereka kasih dan sukacita yang kita miliki dalam Kristus. Kasih senantiasa mencmukan suatu jalan untuk mencapai hati dari orang yang kita kasihi.

DOA: Tuhan Yesus, aku mohon kepada-Mu agar dianugerahi sukacita dan keberanian untuk berbagi sabda-Mu dengan orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk memperdalam Bacaan Injil hari ini (Mat 23:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “CELAKALAH, HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK” (bacaan tanggal 28-8-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 26 Agustus 2019  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK

HAI KAMU ORANG-ORANG MUNAFIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Selasa, 27 Agustus 2019)

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin pemimpin buta, nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.

Celakalah kamu, hai ahli-hali Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. (Mat 23:23-26) 

Bacaan Pertama: 1Tes 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-6

Bacaan Injil hari ini memuat dua cercaan Yesus terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Farisi sehubungan dengan kemunafikan mereka. Pertama-tama Yesus menyerang ajaran para tokoh/pemuka agama Yahudi ini: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan” (Mat 23:23). Hal-hal yang kecil-kecil diikuti dengan teliti dan ketat, sementara hal-hal yang yang lebih penting seperti keadilan dan belas kasih diabaikan! Yesus lalu menambahkan sebuah contoh yang memang terdengar keras: “Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” (Mat 23:24).

LEGALISME dapat menyesatkan dan menjerumuskan orang ke dalam detil-detil kecil sehingga orang lupa menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang paling penting: pertanyaan-pertanyaan tentang kewajaran, keadilan, kesopanan, kasih. Tidak ada hukum apa pun harus membuat kita bersikap dan berperilaku tidak adil atau melawan keadilan.

Cercaan kedua adalah sehubungan dengan tindakan pembersihan dan pembasuhan seremonial secara tradisional seturut tradisi dan hukum Yahudi. Yesus tidak menyalahkan tindakan-tindakan seremonial ini. Yang dicerca-Nya adalah ekstrimisme dengan mana mereka kadang-kadang mentaati hal tersebut tanpa banyak acuan terhadap makna dan simbolisme semua itu. Cawan, pinggan, ini adalah metafora dari pribadi orangnya. Cercaan keras Yesus ditujukan kepada sikap dan perilaku yang lebih mementingkan “kebenaran-tepat” (Inggris: correctness) yang bersifat eksternal tanpa banyak memikirkan disposisi batiniah yang mau dilambangkan dan diwujudkannya.

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAYesus bersabda: “…, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih” (Mat 23:26). Tentunya, yang dimaksudkan oleh Yesus, adalah bahwa bila disposisi batiniah kita baik, utuh, sungguh Kristiani dan berorientasi pada Injil Yesus Kristus, maka bagian luar kita yang kelihatan oleh orang lain, hidup kita, tindakan-tindakan kita, kontak-kontak kita dengan sesama kita juga akan sungguh Kristiani.

Tidak ada banyak gunanya kita baik secara lahiriah, sopan, “beradab”, kalau segalanya yang batiniah tidak sungguh-sungguh menjadi asal-usul dan dasar dari tindakan-tindakan kita. Kalau tidak demikian halnya, maka semuanya adalah kemunafikan, dan kita tidak lebih baik daripada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Jujur terhadap diri sendiri tidak hanya merupakan good mental health, melainkan juga menandakan bahwa kita adalah orang Kristiani dalam artian sebenarnya.

DOA: Tuhan Yesus, pandanglah hati kami sedalam-dalamnya. Engkau mengetahui rancangan-Mu atas diri kami masing-masing. Bersihkanlah kami dari segalanya yang bukan berasal dari-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:23-30), bacalah tulisan berjudul “MARILAH KITA MELIHAT ISI HATI KITA SENDIRI” (bacaan tanggal 27-8-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015) 

Cilandak, 25 Agustus 2019 [HARI MINGGU BIASA XXI – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

INILAH BERBAGAI SERUAN CELAKA DARI YESUS

INILAH BERBAGAI SERUAN CELAKA DARI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Senin, 26 Agustus 2019)

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda dan kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Karena itu, kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan, untuk membuat satu orang saja menjadi penganut agamamu  dan sesudah hal itu terjadi, kamu menjadikan dia calon penghuni neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri.

Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, manakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, manakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu, siapa saja yang bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Siapa saja yang bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang tinggal di situ. Siapa saja yang bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya. (Mat 23:13-22)  

Bacaan Pertama: 1Tes 1:2b-5. 8b-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9 

Mengapa Yesus memilih untuk “mengutuk” para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang nota bene adalah para pemimpin agama pada zamannya? Walaupun pada umumnya mereka dipandang memiliki kuasa, tanpa tedeng aling-aling Yesus melontarkan kritik-kritik-Nya terhadap praktek keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu. Kepedihan-Nya melihat peri kehidupan para pemuka agama tersebut, menggerakkan hati-Nya untuk menyerukan kata-kata “celaka” yang kita baca dalam Injil hari ini. Dalam seruan-Nya, Yesus dengan jelas memperingatkan mereka tentang konsekuensi-konsekuensi negatif dari perilaku mereka. Yesus melihat bagaimana orang-orang “suci” itu menggunakan agama sebagai sekadar tameng atau topeng, artinya demi pencapaian tujuan-tujuan mereka sendiri, meninggikan diri mereka sendiri dan sebenarnya menolak agama yang benar. Yesus juga terpaksa mengkonfrontir dosa-dosa mereka – yang jika tidak dijaga – akan berakibat dalam kematian spiritual.

Dalam dua seruan “celaka”-Nya, Yesus menuduh para ahli Kitab dan orang-orang Farisi sebagai menghalang-halangi orang-orang untuk sungguh dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Mat 23:13,15). Mereka tidak hanya memilih untuk tidak masuk, melainkan juga menghalangi orang-orang lain dengan penolakan mereka terhadap Kristus. Yesus juga menunjuk kemunafikan mereka pada waktu mengklaim memimpin orang-orang kepada Allah, namun gagal untuk mendorong agar tercapai kekudusan. Sebaliknya mereka datang dengan ide-ide mereka  sendiri yang sudah tidak lurus lagi, sehingga membuat kondisi spiritual orang-orang lain menjadi lebih buruk lagi.

Pada akhirnya, Yesus menamakan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu sebagai “orang-orang buta yang menuntun orang-orang buta”, karena mereka melarang orang-orang bersumpah demi benda-benda suci namun menyetujui sumpah-sumpah yang diucapkan demi hal-hal yang kurang penting (Mat 23:16). Mereka menjadi buta terhadap nilai sejati dari kehadiran Allah di antara mereka. Seruan “celaka” ini menggemakan pernyataan Yesus dalam “Khotbah di Bukit” yang melarang sumpah dan mendorong para pengikut-Nya untuk hidup jujur dan murni (Mat 5:33-37).

Seruan-seruan “celaka” Yesus ini kiranya mengikuti contoh yang terdapat dalam Kitab Yesaya (Yes 5:8-22), yang menyatakan kehancuran dari orang-orang – yang melalui ketamakan dan ketidakbenaran – mendistorsikan keadilan dan kebenaran yang sejati. Dalam Injil, Yesus menggambarkan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi sebagai orang-orang yang menggunakan agama untuk memperoleh kekuasaan dan telah menukarkan kebenaran Allah dengan sekadar ide-ide manusia tentang agama. Matius menggunakan bacaan Injil kita hari ini untuk memperingatkan komunitas Kristiani awal akan kecenderungan-kecenderungan serupa di antara mereka. Kita juga dapat mengambil kata-kata keras Yesus ini sebagai suatu peringatan dalam situasi-situasi yang kita hadapi. Marilah sekarang kita bertanya kepada Roh Kudus, Roh Kebenaran, untuk menunjukkan kepada kita bagaimana kita sendiri telah mendistorsi Injil demi memenuhi kebutuhan/kepentingan kita sendiri.

DOA: Roh Kudus, bukalah mata kami agar dapat melihat bagaimana kami telah menggunakan agama demi kepentingan kami sendiri. Ampunilah kami karena upaya kami – sadar maupun tak sadar – untuk mengendalikan sabda Allah, dan bukannya memperkenankan sabda Allah itu merobek hati kami dan membawa kami kepada kekudusan, sehingga dapat semakin dekat lagi dengan Allah Tritunggal Mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 23:13-22), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS SENANTIASA BEKERJA DI TENGAH-TENGAH KITA, KADANG-KADANG DENGAN CARA-CARA BARU DAN BERBEDA” (bacaan tanggal 26-8-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 21 Agustus 2019  [Peringatan Wajib S. Pius X, Paus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS