JIKALAU ALLAH DEMIKIAN MENGASIHI KITA, MAKA ……

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Rabu, 8 Januari 2020)

Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah demikian mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

Demikianlah kita ketahui bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan dia di dalam kita, karena Ia telah mengaruniakan Roh-Nya kepada kita. Dan kami telah melihat dan bersaksi bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Siapa yang mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.

Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. (1Yoh 4:11-18)

Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,10-13; Bacaan Injil: Mrk 6:45-52. 

“Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah demikian mengasihi kita, maka kita juga  harus saling mengasihi.” (1Yoh 4:11)

Marilah kita menyediakan waktu sejenak untuk merenungkan kasih Allah kepada kita, anak-anak-Nya. Allah menciptakan kita semua karena kasih-Nya, dan karena kasih-Nya pula Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal ke tengah dunia, dan kemudian wafat untuk dosa-dosa kita. Kitab Suci melukiskan kasih Allah sebagai kasih yang hangat dan lemah lembut (lihat Hos 11:8-9), suatu kombinasi antara kasih sayang seorang bapak serta pemberian semangat (lihat Mzm 103:13) dan pelukan penuh penghiburan dari seorang ibu (Yes 66:13). Kasih Allah juga penuh gairah dan sukacita: Seperti seorang mempelai laki-laki bergirang hati karena mempelai perempuan, maka Allah juga bergirang hati karena keberadaan kita (Yes 62:5). Kasih Allah tidak didasarkan pada apa saja yang kita telah lakukan, melainkan karena kodrat-Nya sendiri, yang adalah KASIH. (1Yoh 4:16).

Marilah kita memperkenankan kebenaran-kebenaran ini meresap di dalam hati dan pikiran kita (anda dan saya). Kita juga memperkenankan kasih Allah memperlunak hati kita semua. Selagi kita melakukannya, maka kita pun akan mendapatkan suatu kemampuan baru untuk mengasihi orang-orang lain. Kasih Allah dalam diri kita akan mengalir kepada orang-orang lain, bahkan kepada mereka yang tidak mengasihi diri kita, bahkan juga kepada orang-orang yang telah menyakiti diri kita. Inilah sifat dari kasih ilahi – kasih yang ditunjukkan oleh Yesus, sang Tersalib.

Saudari-saudara sekalian, rasa percaya dan ketergantungan kita pada kasih Allah juga akan memberikan kepada kita suatu keyakinan bahwa kita aman dari penghakiman Allah (lihat 1Yoh 4:17-18). Apabila kita beriman kepada Yesus Kristus dan pengorbanan-Nya di kayu salib yang telah menebus kita, maka kita tidak perlu merasa takut akan hukuman dari Allah. Dengan mengesampingkan rasa takut kita, maka kita dapat bertumbuh dalam kasih kepada Allah dan memusatkan perhatian kita dalam tindakan-tindakan yang menyenangkan hati-Nya. Apa pun situasi dan kondisi yang kita hadapi, kita dapat menjalani kehidupan yang bebas dari rasa takut dan kecemasan yang tidak ada gunanya, karena kita senantiasa dihibur serta dikuatkan oleh firman-Nya: “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku” (Yes 49:16).

Saudari dan saudaraku, pada hari ini dan setiap hari, marilah kita berupaya untuk mengenal dengan lebih mendalam lagi kasih Allah serta mengalaminya. Allah mengasihi kita agar dapat membuat kehadiran-Nya nyata kepada kita semua selagi kita berdoa, membaca dan merenungkan sabda-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci, juga selagi kita ikut ambil bagian dalam kehidupan gerejawi. Selagi kita melakukan semua hal ini, baiklah bagi kita untuk memperkenankan kasih Allah menyegarkan kembali diri kita supaya kita memperoleh kekuatan untuk memberikan kita sendiri kepada orang-orang lain. Marilah kita berseru kepada-Nya dengan segenap hati kita, dan kita pun akan mendengar Dia berbicara di batin kita yang terdalam, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” (Mrk 6:50).

DOA: Roh Kudus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena
Engkau telah mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kami masing-masing. Kami tahu bahwa kasih yang Kaucurahkan itu adalah kasih yang sama, dengan mana Bapa surgawi  senantiasa mengasihi Putera-Nya, Yesus Kristus, yaitu Tuhan dan Juruselamat kami. Tolonglah kami agar dapat mengekspresikan kasih-Mu kepada orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:45-52), bacalah tulisan yang berjudul “HAI UMAT KRISTIANI, MENGAPA HARUS TAKUT?” (bacaan tanggal 8-1-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 6 Januari 2020

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS