YESUS DITUDUH MENGUSIR SETAN DENGAN KUASA PEMIMPIN SETAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Fakultatif S. Angela Merici, Perawan – Senin, 27 Januari 2020)

Ordo Santa Ursula: Hari Raya S. Angela Merici, Pendiri Tarekat (seorang anggota OFS)

Ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata, “Ia kerasukan Beelzebul,”  dan, “Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan.”  Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan, “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni. Tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal.” Ia berkata demikian karena mereka mengatakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.  (Mrk 3:22-30)

Bacaan Pertama: 2Sam 5:1-7,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,25-26

Para ahli Taurat datang dari Yerusalem dan menuduh Yesus sebagai agen Iblis. Logika mereka bersifat linear dan berdimensi tunggal.  Para ahli Taurat itu mengatakan bahwa Yesus kerasukan Beelzebul (gelar untuk penguasa roh jahat yang berarti “tuan dari lalat-lalat”). Mereka menuduh Yesus mengusir roh-roh jahat dengan menggunakan kuasa dari “penguasa roh-roh jahat” itu, dan mereka juga menuduh Yesus, bahwa Dia “kerasukan roh jahat” (Mrk 3:22,30). Selama ini diri-Nya terus diamati oleh para petinggi/pemuka agama Yahudi, ternyata tidak jarang melanggar hukum, misalnya menyembuhkan/membuat mukjizat pada hari Sabat, makan tanpa melakukan rituale pembasuhan tangan sebelum makan dlsb. Secara hukum, Yesus tidak “bersih”. Dengan demikian, segala mukjizat-Nya tidak dapat dikatakan datang dari Allah.

Tentu saja Yesus tidak melanggar hukum dalam artian yang sesungguhnya. Malah dapat dikatakan Dia memenuhinya/menggenapinya. “Pelanggaran” yang dilakukan oleh Yesus adalah kesepakatan para rabi (rabbinic convention) dan Dia mempertanyakan tafsir atas Hukum, namun bukan keabsahan Hukum itu sendiri. Berbagai eksorsisme yang dilakukan oleh Yesus mengindikasikan keruntuhan kekuasaan Iblis. Yesus mendobrak rumah/Kerajaan Iblis untuk menyelamatkan mereka yang terperangkap di dalamnya.

Yesus menyingkapkan tidak masuk akalnya tuduhan para ahli Taurat itu dengan sebuah pertanyaan akal-sehat: “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?”  (Mrk 3:23).  Karena kecemburuan atau sikap benar-sendiri, para ahli Taurat itu menjadi buta terhadap hal-hal yang sudah jelas dan gamblang: Melalui pengusiran roh-roh jahat dan penyembuhan orang-orang sakit Yesus sebenarnya sedang melakukan perusakan/penghancuran Kerajaan Iblis, bukan membangunnya. Secara implisit Yesus sebenarnya mengatakan bahwa Dia telah datang untuk membangun Kerajaan Allah dengan pertama-tama menjarah rumah dari si “orang kuat” (Mrk 3:27).

Kepada para lawan yang menuduhnya, Yesus mengingatkan: “Siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal” (Mrk 3:29). Konteksnya di sini bersifat signifikan. Yesus sedang memperingatkan para pemimpin/pemuka agama Yahudi yang menyatakan karya penyelamatan Allah sebagai pekerjaan si Iblis. Mereka memutar-balikkan kebenaran, menolak karunia keselamatan Allah dan menempatkan orang-orang dalam posisi berisiko juga. Yesus mengingatkan bahwa penolakan mereka terhadap pekerjaan yang jelas-jelas dari Allah adalah dosa yang tidak dapat diampuni. Pemikiran melenceng yang mengatakan kegelapan sebagai terang dan terang sebagai kegelapan tidak dapat diampuni karena pemikiran sedemikian telah mematikan hati nurani dan akal budi, yaitu jalan yang disediakan (oleh Allah) bagi seorang manusia menuju kebenaran.

Sebelumnya, bagian pertama dari pernyataan Yesus berbunyi sebagai berikut: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni” (Mrk 3:28). Hal ini menandai sebuah langkah lagi dalam pernyataan progresif dari Anak Manusia: Dialah yang mempunyai kuasa untuk mengampuni.

Markus mengkombinasikan cerita penolakan ini dengan serangkaian tanggapan-tanggapan yang bersifat skeptis. Urut-urutannya menyediakan suatu efek kumulatif. Identitas Yesus muncul secara lebih jelas karena Dia membuktikan bahwa tuduhan negatif para lawan-Nya itu salah. Pada saat yang bersamaan, Markus menunjukkan kontradiksi yang mencolok: Para ahli Taurat dan otoritas keagamaan Yahudi menolak Dia (padahal ekspektasi kita adalah sebaliknya, yaitu mereka akan menyambut baik diri-Nya). Bahkan keluarga-Nya pun mempertanyakan tindak-tanduk Yesus (Mrk 3:21). Para murid dan orang banyak terdiri dari orang-orang sederhana dan miskin – barangkali karena kebutuhan riil mereka, namun pasti karena keterbukaan mereka – memandang Yesus sebagai sang Mesias yang dengan penuh kuasa meresmikan kedatangan Kerajaan Allah.

Ingatlah bahwa hati nurani dan akal budi adalah jejak-jejak Allah di dalam diri kita masing-masing. Apabila kedua hal itu diberi “energi” oleh Roh Kudus, maka jalan ke “hidup baru” dimulailah.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, seperti orang-orang yang telah bertemu dengan Engkau, aku sering disusahkan dengan rasa ragu, rasa takut dan prasangka-prasangka. Namun ketika Roh-Mu menyentuh diriku, aku tahu bahwa Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku, ya Tuhan Yesus, supaya aku dapat mengenal Engkau secara lebih mendalam lagi, sehingga aku dapat menyerahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:22-30), bacalah tulisan yang berjudul  “SEBUAH PERMENUNGAN TENTANG YESUS KRISTUS DAN TANGGAPAN KITA TERHADAP SEGALA KEBAIKAN-NYA” (bacaan tanggal 27-1-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.com; kategori: 20-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2020. 

Cilandak,  26 Januari 2020 [HARI MINGGU BIASA III – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS