MELALUI YESUS KITA SAMPAI KEPADA BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa V – Kamis, 13 Februari 2020)

Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak ingin seorang pun mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anak perempuannya kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan sujud di depan kaki-nya. Perempuan itu seorang Yunani keturunan Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anak perempuannya. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Lalu kata Yesus kepada perempuan itu, “Karena kata-katamu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur dan  setan itu sudah keluar. (Mrk 7:24-30) 

Bacaan Pertama: 1Raj 11:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:3-4,35-37,40

Taboo untuk berhubungan dengan orang kafir menambah makna dari bacaan Injil hari ini. Episode yang menggambarkan pertemuan Yesus dengan seorang perempuan Yunani keturuan Siro-Fenisia itu (Mrk 7:26) menjadi luarbiasa dalam beberapa hal. Pertama, dia adalah seorang kafir (non-Yahudi). Kedua, dia adalah seorang perempuan. Tanpa ragu Yesus berbicara kepadanya walaupun dia kafir dan perempuan. Ketiga, perempuan itu mohon kepada Yesus suatu penyembuhan dari jarak jauh, yang sungguh dilakukan oleh Yesus tanpa susah-susah dan untuk pertama kali dinarasikan dalam Injil Markus. Kuat-kuasa Yesus tidak berkurang walaupun ada hal-hal  yang kelihatan sebagai kendala tersebut.

Kota-kota Tirus dan Sidon terletak di luar perbatasan Israel, namun demikian orang-orang di sana mendengar tentang mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran yang dibuat oleh Yesus. Di kota Tirus ini Yesus didekati oleh seorang perempuan non-Yahudi yang tinggal di situ. Anak perempuan itu kerasukan roh jahat dan pengharapan satu-satunya adalah sang rabi Yahudi dari Nazaret ini yang “ahli” membuat mukjizat. Tindakan perempuan “kafir” ini dilakukan tanpa rasa malu dan dengan berani pula. Perempuan pada zaman itu tidak diperbolehkan untuk berbicara dengan orang-orang asing. Lagipula, dia adalah seorang Yunani keturunan Siro-Fenisia, artinya dipandang sebagai orang kafir yang tidak bersih oleh orang Yahudi.

Dengan maksud menguji iman perempuan itu, Yesus menanggapi permohonan perempuan itu dengan berkata: Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing” (Mrk 7:27). Kata-kata Yesus ini terasa pedas-menyakitkan bagi telinga yang cukup sensitif, namun kelihatannya tidak mengejutkan bagi telinga perempuan itu. Kiranya kata-kata Yesus itu malah menguatkan ketetapan hatinya untuk mengandalkan diri sepenuhnya pada Yesus. Menanggapi secara positif sekali tantangan yang diberikan Yesus di hadapannya, perempuan itu bertekun dalam iman dan menolak untuk mundur. Bahkan dengan kerendahan hati dan keberanian yang sama bobotnya, dia menanggapi kata-kata Yesus: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak” (Mrk 7:28).

Ini adalah suatu “model iman” yang berlaku sepanjang masa!  Perempuan itu tidak memperkenankan apa atau siapa pun menghalangi dirinya untuk mendekat kepada sang Mesias – bukan status sosialnya yang rendah, bukan pula kondisi dirinya yang tidak bersih sebagai seorang “kafir”, bahkan bukan komentar awal dari Yesus yang terasa menghinanya. Perempuan itu dengan sadar mengetahui bahwa ada pembedaan historis dalam rencana Allah antara orang Yahudi dan Kafir yang sekarang sudah ditransenden (diatasi) oleh Yesus. Kenyataan ini membenarkan Gereja yang bertumbuh-kembang sampai ke Antiokhia dan Roma ke tengah orang kafir juga.

Iman-kepercayaan yang dimiliki perempuan itu samasekali tidak mengecewakan dirinya, karena akhirnya dia pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur dan roh jahat yang mengganggunya juga sudah pergi (lihat Mrk 7:30). Sikap dan perilaku perempuan Sino-Fenisia itu sungguh bertentangan dengan kekerasan hati yang ditunjukkan oleh orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat yang mengecam Yesus dan para murid-Nya yang tidak mengindahkan adat istiadat Yahudi yang berlaku (lihat Mrk 7:1-13). Dengan caranya sendiri, perempuan Siro-Fenisia itu telah menantang asumsi-asumi buatan manusia – sebagaimana Yesus telah berkonfrontasi dengan para pemimpin Israel yang sangat terikat pada tradisi, kemudian membuktikan iman manakah yang benar.

Siapa diantara kita yang kiranya merasa tak pantas untuk mendekat kepada Yesus? Di mata Allah, kita bukanlah bersih atau murni, demikian pula perempuan Siro-Fenisia itu. Terima kasih penuh syukur seharusnya kita haturkan kepada Yesus, karena berkat pengantaraan-Nya kita mempunyai akses kepada takhta Allah. Yesus hidup di tengah-tengah kita, menanggung sendiri segala dosa manusia sepanjang masa, dan membebaskan kita dari dosa dan maut. Tidak ada seorang pun yang berada di luar kuat-kuasa-Nya. Oleh karena itu, marilah kita menjalani hidup kita sehari-hari penuh kepercayaan akan kasih-Nya dan hasrat-Nya untuk membebaskan kita.

Sebagai penutup baiklah kita catat bahwa sepanjang Injil Markus, kita lihat Yesus mematahkan berbagai macam taboo – terhadap  orang-orang kusta, seorang perempuan yang menderita sakit pendarahan, makanan yang najis dan sekarang seorang perempuan kafir.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah datang ke tengah dunia guna menyembuhkan jiwa-jiwa umat manusia. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 7:24-30), bacalah tulisan dengan judul “SEORANG PEREMPUAN NON-YAHUDI DENGAN IMAN YANG MENGAGUMKAN” (bacaan tanggal 13-2-20), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2020. 

Cilandak,  11 Februari 2020 [Peringatan Fakultatif SP Maria di Lourdes 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS