DIJADIKAN BAPA BANYAK BANGSA, NAMA ABRAM DIGANTI MENJADI ABRAHAM

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Kamis, 2 April 2020)

Peringatan Fakultatif S. Fransiskus dr Paolo, Pertapa

Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya: “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.”

Lagi firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.” (Kej 17:3-9) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 105:4-9; Bacaan Injil: Yoh 8:51-59 

Sungguh suatu perjumpaan yang luarbiasa dengan Allah! Tidak saja Allah menampakkan diri kepada Abram (Kej 17:1); Ia juga membuat sebuah perjanjian dengan Abram – sebuah perjanjian di dalam mana Dia berjanji untuk memberkati Abram dan turunannya untuk selama-lamanya.

Sekarang marilah kita pertimbangkan situasi yang dihadapi Abram. Bertahun-tahun lamanya, Abram dan istrinya Sarah (yang mandul itu) hidup dengan ayahnya, saudara laki-lakinya, dan semua istri dan anak mereka di tanah Ur. Ia belum pernah mendengar tentang YHWH-Allah. Seperti semua nenek moyangnya sebelum dia, Abram menyembah dewa-dewa lain. Lalu tiba-tiba saja Allah menyatakan diri-Nya dan memanggil Abram untuk meninggalkan rumahnya dan melakukan perjalanan ke sebuah tanah asing (Kej 12:1). Inilah yang diketahui oleh Abram pada awalnya – dia bahkan tidak tahu ke mana Allah menginginkan dia pergi. Namun, dia tetap pergi! Dalam iman dan rasa percayanya yang seperti anak-anak, Abram menunjukkan ketaatannya, dia berpegang pada janji Allah: Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat” (Kej 12:2)

Sekarang, setelah menjalani 25 tahun masa penantian yang penuh dengan rasa percaya dan pembelajaran tentang cara-cara YHWH bekerja, Dia muncul di hadapannya dan mengatakan kepadanya, “Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa” (Kej 17:4). Abraham (nama barunya yang diberikan oleh Allah; lihat Kej 17:5) tetap menaruh rasa percayanya pada YHWH, bahkan ketika Dia menjanjikan apa yang kelihatannya tidak mungkin, bahwa Sarah yang telah berumur 90 tahun akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang harus dinamai Ishak (Kej 17:15-19).

Ketika akal budi manusia memprotes melawan sabda Allah yang kelihatan absurd, Abraham percaya. Melalui iman dan rasa percayanya, Abraham mengembangkan suatu relasi yang akrab dengan Allah yang Mahatinggi dan Mahakuasa, suatu relasi yang dimeteraikan dalam janji-janji perjanjian. Seperti yang telah dilakukan oleh-Nya dengan Abraham, Allah juga ingin masuk ke dalam relasi perjanjian (covenant relationship) dengan anda dan saya. Allah ingin menunjukkan kepada kita kemuliaan-Nya dan membuat janji-janji-Nya diwujudkan menjadi realitas dalam kehidupan kita. Oleh karena itu marilah kita belajar berjalan bersama Allah sebagai sahabat kita. Dia sungguh ingin memberikan kepada kita suatu masa depan dan suatu pengharapan, janji hidup kekal, sukacita dan hidup yang berbuah, dan jaminan akan kasih-Nya yang tak akan berakhir.

Saudari dan Saudariku, pada hari ini marilah kita (anda dan saya) dengan mata batin masing-masing membaca janji-janji Allah tersebut dari Kitab Suci, dan marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar membuat janji-janji itu hidup dalam hati kita masing-masing. Allah sangat mengasihi anda dan saya, dan Ia berdiri dan siap untuk mencurahkan kebaikan tanpa batas kepada kita semua!

DOA: Bapa surgawi, tariklah kami agar semakin dekat dengan Engkau dan tingkatkanlah iman kami kepada-Mu. Kami ingin mengalami persahabatan yang akrab dengan Engkau, sebagai umat-Mu, teristimewa sebagai anak-anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 8:51-59), bacalah tulisan berjudul “YESUS MENGASIHI KITA DENGAN KASIH YANG DIMULAI SEBELUM PENCIPTAAN” (bacaan tanggal 10-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak,  1 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS