Posts from the ‘16-06 BACAAN HARIAN JUNI 2016’ Category

YESUS YANG MENYEMBUHKAN DAN MEMBERI PENGAMPUNAN

YESUS YANG MENYEMBUHKAN DAN MEMBERI PENGAMPUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 30 Juni 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Raymundus Lullus, Martir (OFS)

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH YANG DI TURUNKAN DARI LOTENGSesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8) 

Bacaan Pertama: Am 7:10-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11

Sepanjang karya pelayanan-Nya di depan publik, Yesus secara tetap mencari kesempatan-kesempatan untuk mengajar dan mewartakan pesan dan misi-Nya kepada orang banyak. Pada banyak kesempatan Ia menunjukkan keilahian-Nya dengan memanifestasikan kuat-kuasa-Nya dan keprihatinan-Nya atas sakit-penyakit yang menimpa umat manusia, baik fisik, kejiwaan maupun rohaniah.

Yesus menggunakan setiap kesempatan untuk menunjukkan kepada para murid-Nya bahwa Dia mempunyai kuat-kuasa ilahi atas dosa dan mampu mengalahkan segala kuasa kegelapan. Dia ingin mereka mengetahui bahwa diri-Nya dapat mengampuni dosa-dosa, karena memang mempunyai hak untuk itu. Salah satu ceritanya dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini.

Jikalau kita melihat padanan perikop ini dalam Injil Markus (Mrk 2:1-12) maka kita dapat mengatakan bahwa mukjizat penyembuhan oleh Yesus yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini terjadi di Kapernaum, basis operasi Yesus dan para murid-Nya. Seorang lumpuh dibawa kepada-Nya. Yesus melihat iman orang-orang yang menggotong si lumpuh ke TKP dan tentunya iman si lumpuh sendiri. Kemudian Ia berkata kepada si lumpuh: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mat 9:2). Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah” (Mat 9:3).  

Inti cerita dalam bacaan ini terfokus pada otoritas Yesus untuk mengampuni dosa-dosa, sebuah pokok masalah yang diungkapkan oleh ketidaksetujuan sejumlah ahli Taurat yang hadir (lihat Mat 9:3). Para ahli Taurat itu menghakimi (dalam hati mereka) bahwa Yesus telah menghujat Allah. Meskipun masih dalam hati, Yesus mengetahui apa yang ada dalam pikiran mereka dan bertanya kepada mereka: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?” Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”  Kemudian Yesus berkata kepada si lumpuh: “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mat 9:4-6). Orang itu pun bangun lalu pulang (Mat 9:7). Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa Dia memiliki kuat-kuasa ilahi untuk menyembuhkan manusia secara instan. Tentunya Dia juga mempunyai kuat-kuasa untuk mengampuni dosa. Keduanya mensyaratkan kuasa ilahi.

Sekali lagi: penyembuhan si lumpuh bukan saja merupakan bukti dari klaim Yesus, melainkan juga sesungguhnya merupakan sebuah manifestasi yang kasat mata dari kuat-kuasa-Nya untuk mengampuni dosa-dosa. Sebagaimana halnya dengan kasus eksorsisme, pelepasan dari kuasa jahat: dosa dan sakit-penyakit saling berkaitan – namun tidak perlu selalu dalam artian bahwa sakit-penyakit seseorang merupakan suatu penghukuman atas dosa pribadinya, melainkan sebagai gejala-gejala berbeda dari maut yang merusak ciptaan. 

Reaksi orang banyak adalah ketakjuban,  lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia (Mat 9:8), kelihatannya ingin mengatakan bahwa cerita mukjizat ini juga menunjukkan kuasa untuk mengampuni yang diberikan kepada komunitas Kristiani (lihat Mat 18:18). Kuasa untuk mengampuni dosa ada di dalam Gereja (lihat Yoh 20:22-23) – dalam Sakramen Rekonsiliasi dan juga dalam tindakan-tindakan pengampunan yang dilakukan oleh umat Kristiani terhadap dunia yang memusuhi mereka. Dari waktu ke waktu kita harus bertanya, apakah kita sungguh menghargai Sakramen Pengampunan Dosa (Sakramen Tobat/Sakramen Rekonsiliasi) ini dengan cukup wajar? Sakramen Rekonsiliasi adalah sebuah tanda bahwa Gereja masih terus melanjutkan pelayanan penyembuhan dari Yesus. Bukankah begitu? 

DOA: Tuhan Allah kami, Engkau telah banyak sekali mengampuni kami. Berikanlah kepada kami keberanian untuk menjadi pembawa damai di dalam dunia yang telah terkoyak-koyak oleh berbagai macam kekerasan dan permusuhan. Perkenankanlah Roh Kudus-Mu membentuk kami menjadi murid-murid Yesus yang tangguh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “KESEMBUHAN DAN PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 30-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

Cilandak, 28 Juni 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SEBUAH CATATAN TENTANG PETRUS DAN PAULUS

SEBUAH CATATAN TENTANG PETRUS DAN PAULUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Rabu, 29 Juni 2016)

augustineshomilyonthe

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu  akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19) 

Bacaan Pertama: Kis 12:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Kedua: 2Tim 4:6-8,17-18

Di dekat kota Kaisarea Filipi yang terletak di bagian utara sekali dari Israel, Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang bersifat sangat fundamental kepada para murid-Nya sehubungan pendapat orang tentang diri-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (Mat 16:13). Pendapat umum tentang Yesus itu sudah tinggi pada saat itu, namun tidak seorang pun mengakui Dia sebagai sang Mesias. Yesus sudah dikait-kaitkan dengan Yohanes Pembaptis dan para nabi besar Perjanjian Lama, a.l. Elia, Yeremia, dll.

Lalu Yesus bertanya  kepada para murid-Nya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat 16:15). Sekarang giliran para muridlah untuk menjawab apa pendapat mereka sendiri tentang Yesus yang telah mereka ikuti untuk kurun waktu yang cukup lama. Seperti biasanya, Petrus mengambil fungsi sebagai “jubir” para murid (rasul), Petrus menjawab: Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Jawaban Petrus ini adalah pengakuan penuh akan Yesus sebagai Mesias – utusan Allah yang sudah lama dinanti-nantikan – dan Anak (Putera) Allah yang hidup – artinya seorang Pribadi yang memiliki relasi intim dan istimewa dengan Allah Bapa dan menyatakan kasih Allah kepada orang-orang di dunia.

Pengakuan Petrus ini mempunyai tempat istimewa dalam Injil Matius. Ayat-ayat Mat 16:17-19 hanya terdapat dalam Injil Matius ini. Pengakuan Petrus ini adalah akibat dari pernyataan dari Allah Bapa sendiri (Mat 16:17), dan Yesus menjanjikan kepada sang pemimpin para rasul ini suatu peranan penting dalam pembentukan komunitas Kristiani yang kita sebut Gereja (Mat 16:18). Yesus akan memberikan kepada Petrus kunci Kerajaan Surga: Apa yang kauikat akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16:19; suatu kemungkinan alusi dengan Yes 22:15-25). 

Orang biasa mengatakan, bahwa sementara kepada Petrus diberikan kunci-kunci kepada Kerajaan Surga dan otoritas untuk menggembalakan Gereja yang masih muda usia itu, maka Paulus dipanggil untuk mewartakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi dan membangun Gereja. Walaupun begitu, kita tidak boleh mengandaikan bahwa Petrus hanyalah seorang administrator atau Paulus hanyalah seorang pengkhotbah. Karya pelayanan yang dilakukan oleh kedua pribadi rasul ini memiliki unsur-unsur, baik dari peranan administrator maupun dari peranan pengkhotbah. Kedua orang itu mewartakan Injil dan dua-duanya juga bekerja untuk memperkuat gereja-gereja lokal. Yang utama dalam hati kedua orang ini adalah keprihatinan pembentukan serta kesejahteraan Tubuh Kristus.

Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja (Mat 16:18). Hal ini telah terbukti kebenarannya. Tidak ada satu kekuatan pun, betapa jahat atau gelapnya, yang pernah berhasil menghancurkan Gereja yang didirikan oleh Kristus. Meskipun begitu, Gereja dapat diperlemah, teristimewa apabila umatnya tidak mengenal kebenaran Injil. Apabila hal ini terjadi, maka orang-orang Kristiani tidak dapat menghayati kehidupan yang sudah menjadi warisan mereka. Dan dunia pun mendapat kesan bahwa Allah itu jauh, mungkin hanya sekadar ide abstrak yang tidak atau sedikit saja memiliki nilai praktis.

Bilamana orang-orang tidak mengenal kuasa Injil, maka apa yang dapat mereka lakukan adalah meratapi kondisi dunia; mereka tidak dapat datang dengan solusi. Dengan berbicara mengenai dosa-dosa di dunia namun tidak mampu untuk mencerminkan kemuliaan Kristus, maka kita mencabut dunia dari kepenuhan firman Allah. Dengan memberikan solusi-solusi atas penyakit-penyakit sosial tanpa memproklamasikan kebenaran dan kasih Kristus, kita mencabut orang dari solusi-solusi yang berlaku untuk waktu lama. Gereja dimaksudkan sebagai kehadiran Kristus di dalam dunia. Kita semua dipanggil untuk menjadi Tubuh Kristus hari ini; kita melakukannya dengan mewartakan Injil dan menghayati kehidupan yang saleh dan suci. Oleh karena itu baiklah kita mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus sedemikian sehingga orang-orang memandang Gereja sebagaimana semula diniatkan oleh Allah.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengingatkanku lagi ketika membaca Injil hari ini bahwa Engkau juga mengajukan pertanyaan yang sama kepadaku: “Siapakah Aku ini?” Aku percaya bahwa Engkau adalah Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk bekerja di dalam hatiku dan mengubah diriku seperti Engkau telah mengubah Petrus dan Paulus. Bangkitkanlah para pelayan Sabda seperti para rasul agung ini, untuk pergi mewartakan Kabar Baik-Mu dan menjadi saksi-saksi dari kuasa-Mu yang mampu mengubah manusia. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini [Kis 12:1-11], bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP PETRUS DAN PAULUS YANG DITRANSFORMASIKAN” (bacaan tanggal 29-6-16 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 27 Juni 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMBENTAK ANGIN DAN DANAU ITU

YESUS MEMBENTAK ANGIN DAN DANAU ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ireneus, Uskup dan Martir – Selasa, 28 Juni 2016) 

JamesSeward-PeaceBeStill

Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditelan gelombang, tetapi Yesus tidur. Lalu datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus membentak angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali. Orang-orang itu pun heran dan berkata, “Orang seperti apa Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat pada-Nya?” (Mat 8:23-27) 

Bacaan Pertama: Am 3:1-8; 4:11-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 5:5-8

“Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” (Mat 8:26). Dengan kata-kata ini Tuhan Yesus menegur para murid-Nya. Namun sebenarnya kata-kata-Nya itu ditujukan kepada kita juga. Yesus juga menegur kita karena mempunyai rasa takut terhadap begitu banyak hal. Ini adalah pelajaran yang bagus sekali. Dia sungguh ingin mengajar kita. Betapa sering kita merasa khawatir dan gelisah tentang begitu banyak hal, tanpa sedikit pun ada keyakinan akan kebaikan Allah dan kuasa-Nya.

Kita tidak perlu membuktikan bahwa rasa takut itu sudah sungguh menyebar-luas. Orang-orang miskin merasa takut bahwa besok mereka tidak dapat makan. Orang-orang kaya merasa takut akan kehilangan kekayaan mereka di pasar modal. Orang-orang yang kurang berpendidikan merasa takut terlibat dalam pembicaraan dengan orang-orang yang lebih berpendidikan karena khawatir dipermalukan. Orang-orang yang terdidik seringkali merasa takut kehilangan posisi dan prestise sosial mereka. Kemudian jangan lupa adanya begitu banyak orang yang percaya kepada hal-hal yang bersifat takhyul, takut ini dan takut itu.

Orang-orang yang tidak beragama atau iman-kepercayaan tertentu merasa takut terhadap ketidakpastian hidup dan teristimewa ketidakpastian berkaitan dengan hari-H kematian. Yang sangat menyedihkan serta mengejutkan adalah apabila kita berjumpa dengan orang-orang yang beriman, saleh dalam melakukan kewajiban agama mereka, namun masih saja dihinggapi rasa takut yang kosong dan sia-sia.

Orang-orang yang disebutkan terakhir ini adalah seperti para murid dalam bacaan Injil hari ini. Walaupun Tuhan Yesus sendiri ada di sana bersama mereka di dalam perahu ketika tiba-tiba diterpa amukan angin ribut, mereka tetap saja membangunkan Dia dan berseru dengan penuh ketakutan: Tuhan, tolonglah, kita binasa” (Mat 8:25). Dalam kebaikan-Nya Yesus menenangkan angin ribut di danau itu, namun Ia menegur ketiadaan iman para murid-Nya dan ketakutan mereka walaupun jelas-jelas Dia hadir di tengah-tengah mereka: “Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” (Mat 8:26).

Yesus juga menujukan teguran-Nya yang sama kepada kita untuk rasa takut kita yang kecil-kecil dan terkadang terasa tolol. Kita lupa bahwa Dia adalah Imanuel yang selalu hadir dalam kehidupan kita (Mat 1:23; 28:20). Kita takut dan khawatir akan kondisi kesehatan kita, takut dan waswas akan “nasib” anak-cucu kita, khawatir akan rumah tinggal kita dst.

Memang ada yang dikenal sebagai rasa takut yang sehat (healty fears atau healthy concerns). Kita harus mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk kehidupan kita, keluarga kita, untuk kesejahteraan moral dan untuk kesejahteraan spiritual orang-orang yang kita kasihi. Kita juga harus mempunyai rasa takut (yang sehat) terhadap dosa.

Akan tetapi, pada kenyataannya ada begitu banyak rasa takut yang tolol, yang menghalang-halangi pekerjaan kita, kebahagiaan dan kehidupan spiritual kita. Inilah rasa takut untuk mana Tuhan menegur kita dan minta agar kita mengingat bahwa Dia senantiasa hadir di tengah-tengah kita. Dia tidak akan tinggal diam apabila kita menghadapi berbagai tantangan yang membahayakan eksistensi kita.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku menaruh kepercayaanku sepenuhnya pada diri-Mu, dengan demikian Kaubebaskan dari rasa takut yang tidak perlu. Aku percaya bahwa Engkau adalah Imanuel, Allah yang senantiasa menyertai para pengikut-Mu dan selalu siap menolongku. Terima kasih, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:23-27), bacalah tulisan yang berjudul “DANAU ITU MENJADI TEDUH SEKALI” (bacaan tanggal 28-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini  bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 26 Juni 2016 [HARI MINGGU BIASA XIII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI MURID YESUS YANG SETIA

MENJADI MURID YESUS YANG SETIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Senin, 27 Juni 2016)

Peringatan S. Sirilus dr Aleksandria, Uskup Pujangga Gereja 

YESUS DAN KEDUABELAS MURID-NYAKetika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Mat 8:18-22). 

Bacaan Pertama: Am 2:6-10,13-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:16-23

Sebagaimana diterangkan dalam bacaan Injil hari ini, Yesus “tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). Sejak kecil Yesus sudah mengalami dan memahami apa artinya penderitaan. Ia dilahirkan di kandang hewan di sebuah gua, Dia harus dilarikan dari cengkeraman seorang raja kejam sebelum berusia genap dua tahun. Ia menderita apa yang diderita oleh kedua orangtua-Nya di sebuah negeri yang asing bagi mereka, Mesir. Ia tahu, atau paling sedikit Ia merasakan rasa sunyi mereka di sana.

Yesus mengalami apa artinya menjadi orang miskin dan tidak disukai, tanpa kawan, tanpa keamanan dan kenyamanan yang dapat diberikan oleh dunia. Dia kembali ke Galilea bersama kedua orangtuanya sebagai orang miskin, dan mereka tinggal dalam rumah yang miskin juga. Sejak masa muda Ia sudah belajar apa artinya kerja keras dan kasar itu. Sampai berapa sering kita mengheningkan diri untuk berpikir bahwa sebagian besar dari kehidupan Yesus bukanlah membuat mukjizat dan tanda heran lainnya, melainkan dalam melakukan pekerjaan yang tidak ribut-ribut dan tidak diketahui orang, melakukan pekerjaan-Nya dengan jujur namun membosankan?  Lalu kita mengatakan bahwa kita tidak dapat mengikuti jejak-Nya sebagai murid?

Yesus tentunya adalah salah seorang pekerja paling keras di Nazaret, karena pekerjaan tukang kayu adalah pekerjaan sepanjang hari. Setiap saat Ia dapat dipanggil untuk menolong seorang petani membetulkan bajaknya yang rusak, kuk/gandarnya, peralatannya, bangunan rumahnya, kandang hewannya dlsb. Pekerjaan Yesus adalah pekerjaan berat dengan bayaran yang ringan/kecil. Orang-orang Nazaret memandang statusnya dalam masyarakat itu rendah, dan mereka menjadi mendongkol ketika Dia muncul di depan publik sebagai seorang pemimpin. “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? (Mat 13:55 bdk. Mrk 6:3;  bacalah Mat 13:53-58).

Yesus tidak tertipu oleh kemuliaan yang diberikan dunia, juga kehormatan yang diberikan manusia terhadap diri-Nya. Secara terus menerus Dia mengalami oposisi dan juga kritik-kritik, demikian pula kebencian dari orang-orang Farisi dan lain-lain pemuka agama yang seharusnya paling menerima Dia. Masihkah kita sekarang mengatakan bahwa Salib-Nya berada di luar lingkup kehidupan kita?

Bagaimana dengan beban-beban-Nya yang lain? Kita mengetahui dari kitab-kitab Injil bahwa Yesus juga menderita kelelahan, malam-malam tanpa tidur, malam hari yang dipakai oleh-Nya untuk berdoa setelah Dia berlelah-lelah sepanjang hari menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat dan mengajar orang banyak. Ia mengalami apa artinya sikap dan perilaku tidak tahu terima kasih dari banyak orang, juga setiap macam perlakuan yang tidak adil. Sukar bagi kita untuk memikirkan salib manusia yang tidak dipikul-Nya di depan kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Apabila aku dapat mengingat bagaimana Engkau menjalani kehidupan-Mu, barangkali beban-bebanku akan terasa jauh lebih ringan, dan hidupku pun akan menjadi lebih suci dan lebih berbahagia. Tuhan, jadikanlah aku murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “PANGGILAN KITA KEPADA KEMURIDAN” (bacaan tanggal 27-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 24 Juni 2016 [HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MENGARAHKAN PANDANGAN-NYA KE YERUSALEM

YESUS MENGARAHKAN PANDANGAN-NYA KE YERUSALEM

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIII [Tahun C] – 26 Juni 2016)

 c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989

Ketika hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!”  Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:51-62) 

Bacaan Pertama: 1Raj 19:16b,19-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: Gal 5:1,13-18 

Lukas menggunakan perjalanan Yesus ke Yerusalem untuk mengajar kita tentang jalan Kekristenan. Perjalanan itu merupakan sebuah rute menuju kemuliaan, baik bagi Yesus (yang akan dijemput oleh Bapa-Nya) dan  bagi Gereja yang akan mengikut-Nya. Sejak semula Allah senantiasa berniat agar umat-Nya berpartisipasi dalam kehidupan-Nya sendiri dan dalam kemuliaan surgawi (Ibr 2:10; Yoh 17:22-23). Inilah yang ada dalam pikiran-Nya bagi kita sebagai tujuan dan puncak kehidupan kita.

Manakala kita merenungkan perjalanan Yesus ke Yerusalem, maka kita harus mengingat kemuliaan semua hal yang telah terjadi di sana: Sengsara dan kematian-Nya yang menyatakan kasih-Nya yang sempurna kepada Bapa dan bagi kita, umat-Nya; kebangkitan-Nya dari antara orang mati dan sejumlah penampakan yang menyusul kebangkitan-Nya tersebut; dan kenaikan-Nya ke surga dalam kemuliaan di sebelah kanan Bapa-Nya. Waktu-Nya di Yerusalem yang sudah mendekat adalah waktu untuk pemenuhan rencana Allah demi menyelamatkan umat-Nya dan membawa mereka ke hadirat-Nya yang mulia.

Yesus mengarahkan pandangan-Nya dengan ketetapan hati untuk menyelesaikan perjalanan ini, meskipun hal tersebut mencakup juga penolakan dan penderitaan sengsara. Pada waktu orang-orang Samaria menolak Dia, Yesus tidak membiarkan diri-Nya terbawa kemarahan sehingga dapat menyimpang dari tujuan-Nya yang pokok dan utama, walaupun dua orang murid terdekat-Nya, yaitu Yohanes dan Yakobus menjadi marah dan naik pitam. Kita dapat melihat di sini sebuah “model” bagi kehidupan kita sendiri yang penuh pencobaan dan kekecewaan. Akan tetapi Allah ingin agar kita memusatkan perhatian kita pada kemuliaan yang merupakan tujuan panggilan-Nya kepada kita, sehingga dalam setiap situasi kita dapat tetap bergerak dengan mantap menuju tempat tujuan kita yang mulia.

Perhatikanlah bagaimana Yesus mempraktekkan sendiri apa yang diajarkan-Nya! LEADERSHIP BY EXAMPLE !!! (Sebuah corak atau gaya kepemimpinan yang sangat langka di dunia). Dia telah mengajar para murid untuk mengasihi musuh-musuh mereka, untuk memberkati orang-orang yang mengutuk mereka, mendoakan orang-orang yang berbuat jahat kepada mereka, dan untuk memberi pipi yang lain apabila pipi yang satu ditampar (Luk 6:27-31). Dalam kasus ini, Yesus tidak memperkenankan murid-murid-Nya untuk melepaskan kemarahan mereka terhadap sebuah desa Samaria yang penduduknya tidak mau menerima Yesus dan rombongan-Nya. Memang kadang-kadang kita merasa frustrasi apabila orang-orang lain tidak setuju dengan kita, apabila  mereka menolak kebenaran Allah yang kita imani. Biarpun begitu, Yesus tidak ingin kita memakai kemarahan atau kekuatan kekerasan dalam mencoba “membujuk” orang-orang lain agar menerima Kabar Baik keselamatan yang kita wartakan. Sebagai murid-murid-Nya di abad ke-21 ini, kita pun harus meneladan Yesus yang berbicara kebenaran dalam kasih dan tidak pernah memaksa orang-orang yang tidak mau menerima pesan-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, berikanlah kepada kami suatu visi tentang kemuliaan dari Allah bagi Gereja, dan tolonglah kami untuk mengikuti jejak Yesus Kristus dengan penuh ketetapan hati dan sukacita sejati. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:51-62), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENAWARKAN HIDUP BARU KEPADA SETIAP ORANG” (bacaan tanggal 26-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 23 Juni 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN-KEPERCAYAAN YANG KUAT

IMAN-KEPERCAYAAN YANG KUAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Sabtu, 25 Juni 2016) 

Jes_w_Centurion_7-30Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Setibanya di rumah Petrus, Yesus melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangun dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan semua orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Mat 8:5-17) 

Bacaan Pertama: Rat 2:2,10-14,18-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 74:1-7,20-21

Memang luarbiasa besar iman yang dimiliki oleh si perwira itu. Rasa percayanya kepada Yesus begitu kuat sehingga Yesus sampai memproklamirkan kepada orang-orang yang di situ: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10). Marilah kita membayangkan bagaimana orang ini menanti dengan penuh hasrat saat di mana dia dapat mendekati Yesus dan mengajukan permohonannya. Ingatlah bahwa perwira dengan pangkat centurion (sekarang: komandan kompi) ini tentulah bukan seorang Yahudi. Oleh rahmat Allah, kita juga telah menerima karunia iman. Kita pun dapat melakukan pendekatan kepada Yesus dengan pengharapan yang sama seperti yang dimiliki si perwira pasukan Romawi itu. Sekarang tergantung kepada kita untuk memutuskan apakah kita akan mempraktekkan iman ini.

HEALING OF THE MOTHER IN LAW OF PETER - 3Percayakah anda bahwa tidak ada yang terlalu besar bagi Allah? Otoritas-Nya mencakup dunia dari kekal sampai kekal. Ketika Dia berjalan di antara kita manusia, Yesus mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan orang-orang yang menderita segala macam sakit-penyakit dan Ia juga mengampuni para pendosa. Sekarang Ia sudah ditinggikan ke sebelah kanan Allah Bapa, Dia siap untuk bertindak dengan kuat-kuasa yang sama, pada hari ini. Benarlah bahwa Yesus telah naik ke surga, namun Ia telah memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya – Allah sendiri yang berdiam dalam diri kita masing-masing dan dalam dunia.

Manakala anda berdoa, apakah – seperti si perwira Romawi – anda melakukan terobosan di tengah-tengah kerumunan orang banyak yang mempunyai iman yang kecil, lalu menempatkan kebutuhan-kebutuhan anda langsung di hadapan Yesus? Pertimbangkanlah rasa percaya (trust) dan iman si perwira: dalam upayanya agar kebutuhannya diketahui oleh Yesus, tidak ada yang dapat menghalanginya. Sekarang lihat hasilnya: Si perwira melihat dengan matanya sendiri bahwa tidak ada apa dan siapa pun di atas muka bumi ini yang dapat menyaingi kuat-kuasa dan kasih Kristus. Hambanya yang tadinya lumpuh dan kemudian menjadi sembuh tentunya adalah seorang saksi hidup atas kuasa penyembuhan yang mahadahsyat dari Allah. Seperti Bunda Maria, dia pun kiranya dapat melambungkan kidungnya: “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya” (Luk 1:49).

Kuasa penyembuhan ilahi yang sama juga telah menyembuhkan ibu mertua Petrus yang sakit demam. Setelah disembuhkan dia pun langsung melayani Yesus. Menjelang malam Yesus mengusir roh jahat yang telah merasuki banyak orang. Mereka pun dibebaskan dari pengaruh roh jahat, demikian pula banyak orang sakit yang disembuhkannya semua.

Iblis memang akan senang sekali kalau kita merasa ragu apakah Allah masih ingin bekerja dengan cara ini di dunia. Dalam hal ini baiklah kita yakini bahwa Allah masih sama kuat-kuasa penyembuhan-Nya dan belas kasihan-Nya sekarang seperti 2.000 tahun lalu. Memang susah bagi kita untuk mengerti bagaimana Allah berniat untuk bekerja dalam dan lewat diri kita. Yang kita butuhkan adalah menaruh kepercayaan atas kebaikan-Nya dan mempraktekkan iman yang telah diberikan-Nya kepada kita. Marilah sekarang kita berdoa agar Allah memanifestasikan kasih-Nya dalam sebuah dunia yang begitu membutuhkan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami tak pantas datang ke hadapan-Mu, namun Engkau menerima kami dengan tangan terbuka. Dalam kehidupan semua orang yang paling membutuhkan Engkau, ya Tuhan, sebutkanlah sepatah kata saja, dan biarlah terjadi pada kami semua menurut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-17), bacalah tulisan yang berjudul “DIALAH YANG MEMIKUL KELEMAHAN KITA DAN MENANGGUNG PENYAKIT KITA” (bacaan tanggal 25-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 22 Juni 2016 [Peringatan S. Yohanes Fisher, Uskup & S. Tomas More, Mrt] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

RENCANA INDAH ALLAH BAGI KITA MASING-MASING

RENCANA INDAH ALLAH BAGI KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Jumat,  24 Juni 2016) 

YOHANES PEMBAPTIS DIBERI NAMAKemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80) 

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26

Santo Yohanes Pembaptis adalah yang terbesar dari semua nabi sebelum Yesus. Orang ini berkonfrontasi dengan para pemimpin agama Yahudi, menghibur para pemungut cukai/pajak dan juga para WTS. Ia menjalani suatu kehidupan yang diabdikan kepada doa, puasa dan mati-raga. Namun yang lebih penting lagi adalah, bahwa Yohanes Pembaptis ini adalah seorang bentara yang mengumumkan kedatangan sang Mesias. Yohanes berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya” (Yoh 3:28). Ia bahkan menamakan dirinya “sahabat mempelai laki-laki” (Yoh 3:29).

Apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Allah juga mempunyai sebuah rencana indah bagi kita masing-masing seperti yang dibuatnya bagi Yohanes Pembaptis? Memang sulit untuk dipercaya bahwa bahkan sebelum kita melihat terang suatu hari yang baru, Allah telah menentukan suatu jalan atau cara bagi kita untuk turut memajukan Kerajaan-Nya. Barangkali kita berpikir bahwa diri kita tidak berarti, tidak signifikan ……, namun ingatlah bahwa itu bukanlah cara Allah memandang seorang pribadi. Bagaimana kiranya kalau doa-doa syafaat kita merupakan kekuatan di belakang suatu karya Allah di bagian lain dari dunia ini? Bagaimana kiranya apabila kita dipanggil untuk membesarkan anak-anak untuk menjadi suara-suara profetis di dalam Gereja atau di tengah dunia?

Jadi, kita semua harus belajar untuk memandang segala sesuatu dari sudut pandang Allah sendiri. Lihatlah betapa tidak jelasnya kehidupan Yohanes Pembaptis. Sampai saat ia menampakkan dirinya kepada publik di Israel, Yohanes Pembaptis hidup dalam kesunyian padang gurun. Kita pun bisa saja sedang menunggu di padang gurun, akan tetapi kita tidak boleh berputus asa. Sebaliknya, kita harus menghargai waktu ketersembunyian kita sebagai suatu kesempatan bagi Allah untuk mengajar kita – suatu waktu bagi-Nya untuk mengembangkan dalam diri kita masing-masing karunia-karunia untuk melakukan syafaat, evangelisasi, bahkan penyembuhan. Pada saat-Nya yang tepat, Allah akan mencapai hati orang-orang yang tepat dan menyentuh hati-hati itu melalui diri kita.

Kebanyakan dari kita adalah “anak-anak panah yang tersembunyi”. Kita tidak boleh berhenti memohon kepada Tuhan untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya melalui diri kita. Bayangkanlah bagaimana kelihatannya Gereja apabila kita memperkenankan Allah bekerja dalam diri kita sebagaimana yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Seperti begitu banyaknya orang datang kepada Yohanes Pembaptis untuk dibaptis-tobat, maka kesaksian kita, doa kita, pendekatan kita yang dipenuhi kasih-Nya dapat melembutkan dan mengubah hati banyak orang. Yang penting kita camkan adalah, bahwa janganlah kita pernah menganggap rendah Allah dan kuat-kuasa Roh-Nya yang berdiam dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, biarlah rencana-Mu bagi hidupku sungguh terwujud. Tunjukkanlah kepadaku ke mana Engkau ingin membawaku dan mengajarku untuk menghargai waktu ketersembunyianku. Bentuklah diriku, ya Tuhan Allah, dan gunakanlah aku sebagai alat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “SEDIKIT CATATAN TENTANG YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan tanggal 24-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 22 Juni 2016 [Peringatan S. Yohanes Fisher, Uskup dan S. Tomas More, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS