Posts from the ‘17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017’ Category

YESUS KRISTUS TETAP SAMA, BAIK KEMARIN MAUPUN HARI INI DAN SAMPAI SELAMA-LAMANYA

YESUS KRISTUS TETAP SAMA, BAIK KEMARIN MAUPUN HARI INI DAN SAMPAI SELAMA-LAMANYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Jumat, 3 Februari 2017)

1-0-jesus_christ_image_219

Peliharalah kasih persaudaraan! Jangan kamu lalai memberi tumpangan  kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat. Ingatlah orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Ingatlah juga orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini. Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab Allah akan menghakimi orang-orang sundal dan pezina. Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah yang berfirman, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata, “Tuhan adalah Penolongku, aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan teladanilah iman mereka. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. (Ibr 13:1-8) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,3,5,8-9; Bacaan Injil: Mrk 6:14-29

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

Yesus Kristus: penuh hikmat, penuh kebaikan, penuh kuasa, tidak pernah berubah! Dalam dunia di mana nilai-nilai dan moral berubah-ubah sesuai “tiupan angin perubahan”. Yesus tetap merupakan batu karang kestabilan dan permanensi kita. Sebagai umat Kristiani kita hidup di dalam dunia, namun Allah memanggil kita untuk memusatkan pandangan kita pada sebuah dunia lain – sebuah dunia yang kebenaran-kebenaran abadinya telah mencerahkan jalan para kudus yang tak terbilang banyaknya sepanjang masa. Para perempuan dan laki-laki memberikan hati mereka kepada Allah dan mereka diberi amanat oleh-Nya untuk melakukan pelayanan kasih-Nya. Karena percaya kepada Yesus, mereka menaruh pengharapan mereka dalam janji-Nya: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5).

st_john_boscoTermasuk kelompok itu adalah seorang laki-laki yang bernama Santo Yohanes Bosco yang kita peringati tanggal 31 Januari yang baru lalu. Yohanes Bosco dilahirkan di tengah keluarga Italia miskin pada tahun 1815. Diinspirasikan oleh sebuah mimpi pada masa mudanya, Rm. Yohanes Bosco, yang juga anggota Ordo III-Sekular Santo Fransiskus, mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengurusi anak-anak lelaki yang keras, tak terdidik dan berasal dari kelas rendahan dalam masyarakat. Orang Kudus ini mendirikan Serikat Salesian Don Bosko (SDB). Kisah hidupnya dipenuhi dengan contoh-contoh indah bagaimana Allah menolongnya selagi dia berjuang untuk mengatasi berbagai penghalang yang merintangi misinya – kemiskinan, oposisi dari pihak para klerus (Gereja) dan oposisi dari pihak pemerintah juga.

ddsq10Pada awal abad ke-20 di Amerika Serikat ada seorang perempuan yang bernama Dorothy Day. Perempuan ini merasakan dirinya dipanggil Yesus untuk mengurusi para imigran miskin dan para tuna wisma di New York City. Sebagai seorang jurnalis, Dorothy menulis laporan-laporan yang bermutu tentang kehidupan para imigran miskin dan tuna wisma, namun dia sendiri merasa tidak puas. Oleh karena itu dia kemudian hidup di tengah-tengah mereka dan mendirikan sebuah tempat penampungan yang dipenuhi damai-sejahtera,kasih dan perhatian di tengah-tengah kemiskinan yang begitu menggerogoti martabat manusia. Dengan menunjukkan hospitalitas Kristiani yang sejati kepada begitu banyak orang, maka sesungguhnya Dorothy “tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat” (Ibr 13:2).

Bagaimana kita menanggapi panggilan kasih Kristiani pada masa kini? Hanya dalam kekuatan Tuhan. “Tuhan adalah Penolongku, aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Ibr 13:6; bdk. Mzm 118:6). Apabila kita memperkenankan diri kita dipenuhi setiap hari dengan kasih Tuhan, maka kasih itu tentunya akan mengalir juga ke orang-orang lain yang kita temui. Ini adalah tugas dan privilese kita. Apabila kita mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita bagaimana menjadi setia setiap hari terhadap perintah-Nya untuk mengasihi, maka kita akan takjub pada kebutuhan-kebutuhan yang akan kita lihat – dan pada rahmat yang akan kita miliki untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan itu. Kita sungguh mempunyai Allah yang Mahalain dalam segala sesuatu yang baik. Allah kita ini memperkenankan kita untuk saling bekerja sebagai para pelayan rahmat-Nya: satu terhadap yang lain. Jadi, “peliharalah kasih persaudaraan! (Ibr 13:1).

DOA: Yesus yang baik, panggilan-Mu sepanjang masa adalah sama. Aku menyerahkan diriku kepada panggilan-Mu – untuk mengenal Engkau, dan melalui Engkau kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 6:14-29), bacalah tulisan yang berjudul “KITA JUGA DIPANGGIL ALLAH SEPERTI YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan tanggal 3-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 1 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

MOHON DIBERIKAN TELINGA YANG MAU DAN MAMPU MENDENGARKAN SUARA YESUS

MOHON DIBERIKAN TELINGA YANG MAU DAN MAMPU MENDENGARKAN SUARA YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Bosko, Imam – Selasa, 31 Januari 2017) 

yesus-menyembuhkan-putri-yairusSesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sementara Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, sujudlah ia de depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya, “Anak perempuanku sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jubah-Nya. Sebab katanya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah berhentilah pendarahannya dan ia merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada saat itu juga Yesus mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berbalik di tengah orang banyak dan bertanya, “Siapa yang menyentuh jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menyentuh Aku?” Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan sujud di depan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang terjadi. Lalu kata-Nya kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!”

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah meninggal, untuk apa engkau masih menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan taku, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk Ia berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia.

Semua orang itu disuruh-Nya keluar, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu serta mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya, “Talita kum,” yang berarti, “Hai anak perempuan, aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan. (Mrk 5:21-43) 

Bacaan Pertama: Ibr 12:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:26-28,30-32 

Bayangkanlah sejenak apa yang kiranya terjadi dalam pikiran si pemimpin sinagoga yang bernama Yairus itu, sebelum dia akhirnya menemui Yesus untuk memohon pertolongan-Nya. Sebagai seorang pemimpin sinagoga, posisinya cukup penting dalam komunitas lokal Yahudi. Mungkin dia telah sekian lama bergumul dengan pemikiran-pemikiran seperti berikut: “Seseorang dengan posisiku tidak dapat meminta-minta pertolongan kepada seorang tukang kayu dari Nazaret yang sekarang menjadi pengkhotbah keliling! Bukankah aku harus ja-im (jaga image)?” Bagaimana dengan perempuan yang menderita pendarahan? Setelah 12 tahun lamanya menderita penyakit, bagaimana kiranya dia harus mengatasi ketiadaan harapan dan rasa takut sebelum “meneroboskan” dirinya  melalui orang banyak yang berdesak-desakan di sekeliling Yesus yang sedang berjalan menuju rumah Yairus, kemudian mengambil kesempatan yang ada untuk menyentuh jubah Yesus?

yesus-menyembuhkan-wanita-yang-kena-plagueApa pun tantangan-tantangan yang mereka hadapi, baik Yairus maupun perempuan yang menderita pendarahan itu telah memilih untuk percaya kepada Yesus dengan membuat langkah iman yang berani. Karena mereka percaya pada sesuatu yang belum mereka lihat (lihat Ibr 11:1), maka mereka pun menerima ganjarannya: Yairus melihat anak perempuannya dibangkitkan dari kematian oleh Yesus, dan perempuan yang menderita pendarahan itu pun secara instan disembuhkan dan disuruh pergi dengan iringan berkat dari Putera Allah sendiri! Sungguh indah semuanya ini!

Kedua pribadi manusia ini, Yairus dan perempuan yang menderita pendarahan, memberikan kepada kita dua contoh dari iman yang diminta oleh Yesus untuk kita tumbuh-kembangkan dalam diri kita masing-masing. Bukankah kita semua telah mengalami situasi-situasi di mana sebelumnya kita begitu merasa ragu-ragu atau takut mengambil tindakan karena hal itu berarti mengambil risiko? Barangkali kita memang belum siap untuk melangkah keluar dari “zona kenyamanan” (comfort zone) kita. Barangkali kita merasa khawatir apa yang ada dalam pikiran orang-orang tentang diri kita. Barangkali kita takut gagal. Bagaimana dengan menawarkan diri untuk mendoakan doa kesembuhan untuk seorang tetangga yang sedang sakit? Apakah kita akan melakukannya bila kita menyadari bahwa Yesus lah yang meminta kita untuk melakukannya? Dari waktu ke waktu Yesus memberikan inspirasi kepada kita lewat sentuhan-sentuhan-Nya pada hati kita masing-masing! Apabila kita membuat langkah-iman sambil menghadapi risiko yang ada, maka kita sering menemukan bahwa orang-orang menerima pencurahan cintakasih Tuhan lewat diri kita ini dengan gembira dan terbuka. Apabila kita memperkenankan Roh Kudus bekerja dalam diri kita, maka kita akan menyaksikan bahwa  Allah menyentuh orang-orang lain melalui doa-doa kita dan kesaksian hidup kita dalam Yesus.

Hari ini, perkenankanlah Yesus mengetahui bahwa Saudari-Saudara sedang mencari inspirasi apa yang dikehendaki-Nya untuk diberikan kepada anda. Katakanlah kepada Tuhan Yesus  bahwa anda sungguh ingin mengatasi rasa takut dan ragu-ragu yang selama ini menekan diri anda, dan sungguh mau bertindak mengatasinya. Mohonlah rahmat untuk melangkah dalam iman sebagaimana ditunjukkan oleh-Nya. Ketuklah, maka pintu pun akan dibuka untuk anda – pintu yang akan memimpin anda ke dalam iman yang lebih mendalam dan intim dengan Yesus, supaya menjadi berkat bagi orang-orang lain juga.

DOA: Tuhan Yesus, berbicaralah kepada hatiku pada hari ini. Berikanlah kepadaku telinga yang mau dan mendengarkan suara-Mu dan mengenali arahan dari-Mu. Tolonglah aku agar mampu bertumbuh dalam iman yang aktif, penuh keyakinan, dan berani mengambil risiko. Aku menaruh kepercayaan pada kebaikan dan belas kasihan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 5:21-43), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN DAN RASA TAKUT” (bacaan tanggal 31-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 30 Januari 2017 [Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan Ordo III S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS     

PENGUSIRAN ROH JAHAT DARI ORANG GERASA

PENGUSIRAN ROH JAHAT DARI ORANG GERASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV –  Senin, 30 Januari 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan Ordo III 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. Orang itu tinggal di sana dan tidak ada seorang pun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantai itu diputuskannya dan belenggu itu dipatahkannya, sehingga tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak, “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!” Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya, “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!” Kemudian Ia bertanya kepada orang itu, “Siapa namamu?” Jawabnya, “Namaku Legion, karena kami banyak.” Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir mereka keluar dari daerah itu.

Di lereng bukit itu banyak sekali babi sedang mencari makan, lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, “Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!” Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan merasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati lemas di dalamnyal

Penjaga-penjaga babi itu lari dan menceritakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan Legion itu. Mereka pun merasa takut. Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceritakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. Lalu mereka mulai mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan ini meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu, “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” Orang itu pun pergi dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala sesuatu yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran (Mrk 5:1-20) 

Bacaan Pertama: Ibr 11:32-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:20-24 

Banyak kebudayaan kuno jelas percaya akan keberadaan roh-roh jahat. Dikisahkan bahwa roh-roh jahat itu berdiam dalam tempat-tempat gelap dan terpencil seperti kawasan hutan, padang gurun dan makam-makam, tidak banyak bedanya dengan tempat di mana Yesus bertemu dengan orang yang sangat menderita karena berada di bawah pengaruh buruk roh-roh jahat seperti digambarkan dalam bacaan Injil hari ini. Pertemuan itu sendiri bersifat dramatis, seakan-akan suatu legenda kuno. Bagaimana dengan kita sekarang? Dapatkah kita mengenali pengaruh Iblis dan roh-roh jahat lainnya pada zaman modern ini? Apakah kita hanya mau mencari aspek dramatisnya saja, dan kalau kita tidak mampu menemukannya lalu kita mengklaim bahwa Iblis dan roh-roh jahat itu sebenarnya tidak ada? Kalau demikian halnya, maka kita sudah hampir terjebak oleh tipu-dayanya yang licin dan licik.

gadarene-swine2Inilah sebenarnya apa yang diinginkan si Iblis! Dia tahu benar bahwa apabila kita menyangkal keberadaannya, maka dia pun akan bebas meraja-lela dalam pekerjaan jahatnya menipu manusia, karena kita sudah tidak peduli lagi untuk menggunakan otoritas pemberian Allah yang ada pada kita atas mereka. Sebagai akibatnya, kita akan tetap terikat pada dosa, siksaan mental dan berbagai kelemahan. Kita memang tidak dapat menggunakan Iblis dan roh-roh jahat lainnya sebagai dalih untuk setiap masalah yang kita hadapi, namun pentinglah untuk mengakui cara-cara licin dan licik yang digunakan Iblis dan roh-roh jahat lainnya untuk mempengaruhi pemikiran kita. Misalnya, pernahkah kita terjebak dalam suatu situasi  tertentu, begitu banyak waktu yang kita gunakan (terbuang), kita menjadi  cemas secara tak terkendalikan mengenai anak-anak kita, terus-menerus kita meragukan pengampunan Allah atas dosa-dosa yang kita sudah akui di depan imam Kristus, atau tanpa dasar mencurigai motif orang lain? Bagaimana dengan flashbacks sehubungan dengan peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan di masa lampau, atau luka-luka lama? Hal-hal sedemikian dapat merupakan kerja si Jahat yang memang bertujuan untuk merampas kita dari sukacita, damai-sejahtera, pengharapan, dan iman.

Sebagian besar dari kita tentunya tidak mau bergumul sampai-sampai akhirnya memukuli diri dengan batu seperti orang Gerasa itu, namun kita dapat menderita karena pikiran-pikiran yang menyiksa. Marilah kita memerangi Iblis dan roh-roh jahat lainnya dengan menempatkan kepercayaan kita pada diri Yesus. Ia jauh lebih berkuasa daripada si Iblis (lihat 1Yoh 4:4). Pembebasan akan datang pada  waktu kita mengklaim perlindungan-Nya dan pengampunan-Nya atas dosa-dosa apapun yang telah membuat kita rentan terhadap serangan Iblis dan roh-roh jahatnya. Iblis adalah pendusta. Begitu kita mengenali dustanya, maka kita dapat menolak dan mengabaikan dia dan begundal-begundalnya. Yesus telah merebut kemenangan atas si Jahat, maka dalam Dialah kita dapat sungguh-sungguh dibebaskan.

DOA: Tuhan Yesus, selagi aku merangkul hidup baru dalam Engkau, perkenankanlah aku lebih berakar lagi dalam rahmat-Mu. Aku tidak ingin melakukan apa saja yang berada di luar bimbingan-Mu. Yesus Engkau adalah segalanya bagiku. Betapa rindu aku menceritakan kepada siapa saja yang aku temui tentang tanda-tanda heran yang telah Kauperbuat. Tuhan Yesus, aku sekarang dan selama-lamanya akan bersyukur kepada-Mu untuk segalanya yang Kauperbuat atas diriku dan dunia sekelilingku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 5:1-20), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN SATU PERINTAH SAJA” (bacaan tanggal 30-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010)

Cilandak, 27 Januari 2017 [Peringatan S. Angela Merici, Pendiri OSU]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

WARISAN YESUS BAGI KITA

WARISAN YESUS BAGI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA IV [TAHUN A], 29 Januari 2017)

03-sermon-on-the-mount-1800

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah-lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan harus akan kehendak Allah, karena akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas-kasihan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:1-12) 

Bacaan Pertama: Zef 2:3;3:12-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:1,710; Bacaan Kedua: 1Kor 1:26-31

Yesus memberikan kepada kita “Sabda-sabda Bahagia” sebagai resep-resep untuk memperoleh kebahagiaan sejati. Secara bersama-sama, “Sabda-sabda Bahagia” itu membentuk suatu sketsa karakter dari kehidupan Kristiani – kehidupan yang memimpin kita kepada kebahagiaan karena didasarkan pada Kristus sendiri. Kita salah memahami “Sabda-sabda Bahagia” jikalau kita memandangnya sebagai seperangkat persyaratan. Yesus tidak mengatakan, “Engkau harus miskin, engkau harus lemah-lembut.” Yesus mengatakan, “Engkau akan berbahagia apabila engkau menjadi miskin, berbahagia apabila engkau menjadi lemah-lembut.”

Setiap “Sabda Bahagia” menggambarkan suatu aspek berbeda dari kehidupan Allah. Allah-lah yang bersedih-hati melihat dosa-dosa kita, Allah yang merindukan keadilan, Allah yang membawa damai-sejahtera. Dilihat dengan cara seperti itu, “Sabda-sabda Bahagia” adalah undangan-undangan kepada kita untuk ikut ambil bagian dalam kehidupan Allah. Apabila “Sabda-sabda Bahagia” itu merupakan tuntutan-tuntutan, maka “Sabda-sabda Bahagia” itu akan menciutkan hati saja. Siapa yang dapat memenuhi “tuntutan-tuntutan” seperti itu, siapa yang dapat lulus? Namun sebagai undangan-undangan, maka “Sabda-sabda Bahagia” itu merupakan suatu sumber pengharapan, karena Yesus ingin agar kita ikut ambil bagian dalam kebahagiaan-Nya dan kepenuhan-berkat-Nya. Hasrat utama Yesus adalah agar kita – bersama-Nya – menjadi pewaris-pewaris dari hidup Allah.

“Sabda-sabda Bahagia” berbicara mengenai warisan yang kita terima apabila kita bersatu dengan Yesus. Selagi kita menyediakan waktu bersama Yesus dalam doa, maka Dia memberikan kepada kita suatu hasrat yang lebih besar terhadap diri-Nya. Hasrat kepada Yesus ini membuat kita lebih berkemauan untuk menjalani suatu kehidupan yang mencerminkan “Sabda-sabda Bahagia”. Kita memulai suatu siklus pertumbuhan, di mana pernyataan diri Yesus membimbing kita kepada pertumbuhan dalam keserupaan dengan Kristus, yang pada gilirannya membuka diri kita bagi pernyataan diri-Nya yang lebih dalam lagi. Semua itu bermula ketika kita mencari wajah Yesus Kristus dalam doa, teristimewa dalam Perayaan Ekaristi. Ketika kita menemukan Dia, maka kita dapat sedikit mencicipi kehidupan-Nya, dan icip-icip itu terasa manis bagi hati kita, sehingga kita pun akan terdorong untuk merasakan lebih lagi. Kita menjadi bersedia menanggung kesusahan, untuk menyingkiran kekayaan-kekayaan palsu, untuk berbelas kasih lewat kata-kata dan tindakan-tindakan baik kita kepada orang-orang lain. Mengapa? Karena kita merasa yakin bahwa tidak ada yang dapat melampaui hidup Yesus Kristus dalam diri kita.

Oleh karena itu, marilah kita berketetapan hati untuk mencari wajah Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. Marilah kita menyediakan waktu yang cukup untuk ada bersama Dia dalam doa. Sangat tidak salah apabila kita menyediakan satu hari tersendiri untuk melakukan retret pribadi agar dapat berada bersama Yesus. Perkenankanlah Yesus mengajar kita (anda dan saya) tentang siapa sebenarnya Dia. Perkenankanlah Dia memberikan kepada kita lebih lagi dari hidup terberkati – hidup bahagia – yang berasal dari kenyataan bahwa kita dapat memandang wajah-Nya lebih jelas lagi dalam hati kita. Janganlah pernah lupa, Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, bahwa warisan surgawi itu memang diperuntukkan bagi kita. Oleh karena itu, marilah kita menerimanya – melalui Dia, Tuhan dan Juruselamat kita!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan warisan kepada kami melalui Yesus Kristus, Putera-Mu, Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih untuk segala kebahagiaan yang telah Engkau sediakan bagi kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAHAGIALAH ORANG YANG ……” (bacaan tanggal 29-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2013) 

Cilandak, 28 Januari 2017 [Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS SANGAT PEDULI

YESUS SANGAT PEDULI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Thomas Aquino, Imam & Pujangga Gereja –  Sabtu, 28 Januari 2017) 

0-0-yesus-menenangkan-danauPada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak  dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? Ia pun bangun, membentak angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa  kamu begitu  takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-41) 

Bacaan Pertama: Ibr 11:1-2,8-19 Mazmur Tanggapan: Luk 1:69-75 

“Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:41).

Para murid masih dilanda ketidakpastian. Kebingungan telah membawa diri mereka kepada kesalahpahaman mereka tentang Yesus, misi-Nya dan niat-Nya. Mereka telah menyaksikan sendiri roh-roh jahat secara ajaib diusir dari orang-orang, sakit-penyakit disembuhkan secara menakjubkan, dan misteri-misteri Kerajaan Allah dijelaskan kepada mereka. Namun ketika topan mengamuk dengan dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu mereka, segala sesuatu yang telah mereka saksikan dan dengar dari Yesus ternyata belum cukup mampu menopang kepercayaan mereka pada Allah.

Ternyata kita juga mirip-mirip – katakanlah tidak berbeda jauh – dengan para murid Yesus yang pertama. Kita telah mengenal dan mengalami campur-tangan Allah dalam kehidupan kita, telah mendengar kesaksian Kitab Suci,  telah menerima kesembuhan dan pembebasan (pelepasan) dari Yesus, dan mengenal kasih-Nya. Walaupun  begitu pada saat badai yang terkadang menerpa dalam kehidupan kita, dalam kepanikan kita berteriak: “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? (Mrk 4:38).

Tentu saja Yesus sangat peduli, …… bahkan sampai hari ini dan di masa depan sekalipun! “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Yesus begitu mengasihi para murid-Nya (termasuk kita semua), sehingga Dia memperkenankan mereka mengalami amukan dahsyat topan dan ombak besar agar Dia dapat memanifestasikan diri-Nya, secara dramatis, siapakah Dia sebenarnya. Dengan menenangkan angin topan dan ombak dahsyat, Yesus menunjukkan bahwa Dia memegang kendali atas alam ciptaan, dengan demikian mengidentifikasikan diri-Nya dengan YHWH-Allah Perjanjian Lama, Dia yang memiliki otoritas atas alam ciptaan (Mrk 4:41; lihat juga Kel 14:21). Pada hari ini Yesus masih mencari kesempatan untuk menenangkan angin topan yang membuat diri kita merasa takut. Ia begitu mengasihi kita sehingga Dia mau menyatakan diri-Nya kepada semua orang yang mencari-Nya.

st-teresa-dari-avilaSanta Teresa dari Avila [1515-1582] sangat terinspirasi oleh cerita “Yesus menenangkan angin topan dan ombak di danau” ini. Pada saat-saat merasa takut dan khawatir, suster Karmelites yang suci ini dan juga tokoh pembaharu tarekatnya, seringkali merenungkan bacaan Injil ini. Dia bertanya kepada dirinya sendiri: “Siapa sebenarnya Orang ini, sehingga segenap pancainderaku mentaati-Nya – Dia yang sebentar memancarkan sinar terang ke tengah kegelapan yang begitu pekat, melembutkan sebuah hati yang kelihatannya terbuat dari batu, dan mengirimkan air berupa tetesan-tetesan airmata ke tempat yang sudah begitu lama mengalami kekeringan? …… Siapakah yang memberikan keberanian ini?” Jawaban atas pertanyaan orang kudus ini bersifat implisit: Allah sendiri! Sebelumnya Santa Teresa dari Avila telah menulis: “Di sini aku, dibuat tenang bukan oleh apa pun juga, melainkan oleh sabda Allah, dan dianugerahi ketabahan dan keberanian dan keyakinan dan ketenangan …… Sabda-Nya adalah perbuatan-perbuatan” (Life, 25).

Para murid belajar bahwa sabda (kata-kata) Yesus adalah perbuatan-perbuatan. Yesus ingin agar kita mengetahui, mengenal dan menggantungkan diri pada kenyataan ini juga. Yang harus kita lakukan adalah berdoa dan memohon kepada-Nya agar supaya kita menerima jaminan yang berasal dari Dia sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, jagalah agar kami selalu sadar akan keberadaan berbagai anugerah-Mu dan tolonglah kami agar dapat bertumbuh dalam iman sehingga dapat menghadapi berbagai pencobaan dengan penuh ketenangan. Bukalah mata-hati kami terhadap kehadiran-Mu sebagai Imanuel di tengah-tengah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:35-41), bacalah tulisan dengan judul “ALLAH INGIN KITA SEMUA MEMILIKI IMAN AKAN KASIH-NYA SEPERTI DICONTOHKAN OLEH YESUS” (bacaan tanggal 28-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 25 Januari 2017 [Pesta Bertobatnya S. Paulus – Penutupan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KERAJAAN ALLAH ADALAH UNTUK SETIAP ORANG

KERAJAAN ALLAH ADALAH UNTUK SETIAP ORANG

(Bacaan Injil Misa Kudus – Hari Biasa Pekan Biasa III – Jumat, 27 Januari 2017)

Ordo Santa Ursula (OSU): HARI RAYA S. ANGELA MERICI, Pendiri Tarekat 

parable-of-the-mustard-seed-3Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai  sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan,  benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mark 4:26-34) 

Bacaan Pertama: Ibr 10:32-39; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,23-4,39-40

Yesus memilih perumpamaan-perumpamaan-Nya dengan hati-hati sekali. Ia ingin agar orang banyak yang mengikuti-Nya ke mana-mana itu memahami pesan-Nya yang hakiki, yaitu bahwa “Kerajaan Allah adalah untuk setiap orang!” Kerajaan Allah bukanlah hanya untuk orang-orang Farisi atau anggota Sanhedrin, orang-orang berkuasa dalam sistem pemerintahan dan agama Yahudi. Kerajaan Allah yang diinaugurasikan oleh Yesus itu dimaksudkan untuk setiap orang yang ada. Tidak ada seorang pun yang terlalu kecil atau tidak signifikan di mata Allah.

Puncak Injil, kebenaran yang dinyatakan oleh Yesus, bersandar pada satu hal ini, yaitu bahwa Kerajaan Allah terbuka bagi semua orang. Kerajaan itu dimulai di salah sudut dunia yang tidak dikenal, di tengah sebuah bangsa kecil, pada titik waktu dalam sejarah di mana belum dikenal apa yang dinamakan komunikasi global. Ini adalah sebuah misteri, tanda heran dari karya Allah di tengah umat-Nya. Namun apa yang pada awalnya kelihatan tidak berarti dapat memberikan hasil yang besar dan sungguh luar biasa.

Dalam rumah atau  tempat pekerjaan kita yang kadang-kadang terasa sibuk dengan urusan dunia, dalam tugas-tugas rutin kita, kita tidak boleh memandang rendah apa yang dapat dilakukan oleh Tuhan melalui diri kita selagi kita terus menanggapi dengan penuh ketaatan bisikan suara-Nya. Kebanyakan dari kita, dalam hati, memandang diri kita sebagai orang-orang biasa saja, dan apa yang kita lakukan relatif tidak signifikan dalam keseluruhan rancangan besar kekal-abadi dari Allah. Namun bagi Allah kita sangatlah berharga, pribadi lepas pribadi, dan kita masing-masing merupakan bagian hakiki dari tubuh Kristus. Dengan mempersamakan signifikansi dengan pengakuan, kita jatuh ke dalam perangkap pemikiran bahwa apa yang kita lakukan tidaklah begitu penting.

Ini bukanlah cara Allah berpikir! Bayangkan saja bagaimana Dia melayani dalam Kerajaan-Nya di atas bumi, melalui seorang tukang kayu miskin dari sebuah negeri kecil di Timur Tengah. Bayangkanlah juga bagaimana Dia membentuk orang-orang kudus besar, a.l. Santa Angela Merici, seorang anggota OFS yang kemudian mendirikan Ordo Santa Ursula; Santa Teresa dari Lisieux, seorang biarawati kontemplatif yang tersembunyi dalam sebuah biara Karmelites; atau bagaimana Dia membuat mercu suar kasih-Nya menyinari dunia lewat Santa Bunda Teresa dari Kalkuta, seorang biarawati yang berusia tidak muda lagi. Banyak orang kudus pada kenyataannya berasal dari keluarga-keluarga sederhana yang menaruh kepercayaan mereka kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Oleh karena itu kita pun harus bertekun dan membiarkan biji sesawi dan ragi dalam dan dari hidup kita bertumbuh dan menjadi daya transformasi yang dahsyat dalam memajukan Kerajaan-Nya.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, tidak ada pribadi yang terlalu kecil bagi-Mu untuk dibentuk. Pertumbuhan hidup-Mu dalam diriku dan Kerajaan-Mu di atas bumi adalah seluruhnya karya-Mu. Berikanlah rahmat-Mu kepadaku agar aku percaya bahwa Engkau senantiasa bekerja, bahkan pada saat-saat aku tidak dapat melihatnya sendiri. Berikanlah juga kepadaku iman dan visi untuk percaya  bahwa apabila aku senantiasa taat kepada-Mu, maka tidak ada yang tidak dapat Kaulakukan atas diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan yang berjudul “SATU LAGI PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 27-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 29-1-16 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 24 Januari 2017 [Peringatan S. Fransiskus dr Sales, Uskup Pujangga Gereja – Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENGHADAP ALLAH DENGAN HATI YANG TULUS DAN IMAN YANG TEGUH

MENGHADAP ALLAH DENGAN HATI YANG TULUS DAN IMAN YANG TEGUH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup – Kamis, 26 Januari 2017)

imam-besar-agung-1Jadi, Saudara-saudara, kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, oleh darah Yesus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tirai, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang imam agung sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu, marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita berpegang teguh pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pebuatan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, terlebih lagi sementara kamu melihat hari Tuhan semakin mendekat. (Ibr 10:19-25) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Injil: Mrk 4:21-25

Kalau kita mempelajari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru secara serius-menyeluruh, maka akan terungkaplah mercu suar kebenaran yang memancarkan sinar cahaya dari awal sampai akhir, yaitu bahwa Allah mengasihi kita masing-masing dan Ia tidak pernah berhenti memanggil kita untuk datang kepada-Nya. Hal ini adalah kebenaran yang sangat mengejutkan apabila dilihat dalam terang kekudusan Allah dan kedosaan kita.

Allah sepenuhnya sadar akan dosa-dosa kita – bahkan lebih daripada kita sendiri. Namun Ia ingin membersihkan kita, menyembuhkan kita dan menguatkan kita. Dia mengutus Putera-Nya ke tengah-tengah dunia untuk kemudian mencurahkan darah-Nya dari kayu salib bagi kita semua. Inilah contoh betapa dalamnya kasih Bapa surgawi bagi kita.

Melalui kematian Yesus dan kebangkitan-Nya, dosa-dosa kita diampuni dan kita pun menerima kuasa untuk berubah. Sekarang, terbukalah jalan bagi kita untuk “menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh” (Ibr 10: 22) dari hari ke hari. Rasa percaya dan ketaatan kepada Bapa yang telah ditunjukkan oleh Yesus di kayu salib sekarang tersedia bagi kita sehari-hari selagi kita membuka hati kita untuk menerima kasih-Nya.

Sesungguhnya sebelum kita berdosa melawan Dia – bahkan sebelum kita lahir ke dunia – Bapa surgawi sudah berniat untuk mengutus Putera-Nya agar kita dipenuhi dengan kehidupan dan kasih ilahi. Dosa-dosa kita tidak akan menghentikan Allah mengasihi kita atau mengundang kita masuk ke hadapan hadirat-Nya. Paulus menulis: “…… tetapi di mana dosa bertambah banyak, di sana anugerah menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian anugerah akan berkuasa oleh pembenaran untuk hidup yang kekal, melalui Yesus Kristus, Tuhan kita” (Rm 5:20-21).

Dengan Allah yang sedemikian penuh empati dan kasih, mengapa kita begitu sering bergumul sendiri dan merasa ragu-ragu menghadap Dia untuk mohon pertolongan dan bimbingan-Nya? Barangkali pandangan kita tentang Allah telah dibuat melenceng oleh suatu ide duniawi: Pandangan bahwa kita harus membuat diri kita pantas dikasihi oleh Allah, telah berhasil menyusup ke dalam hati kita. Hal ini menyebabkan kita meninggalkan Tuhan. Barangkali luka-luka dalam keluarga kita telah membuat kita menjadi enggan untuk mempercayai orang lain. Sesungguhnya realitas yang indah adalah, bahwa Allah dapat menyembuhkan hati kita dan memenuhi diri kita dengan kasih dari hati-Nya. Dia dapat melakukan hal ini setiap kali kita berdoa. Jesus selalu berdoa syafaat bagi kita, melingkupi kita dengan kasih-Nya. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan: “Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr 7:25). Oleh karena itu marilah “kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, oleh darah Yesus” (Ibr 10:19). “Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni” (Ibr 10:22). Kasih-Nya kepada kita tidak pernah luntur!

DOA: Tuhan Yesus, aku memuji-muji Engkau dengan penuh rasa syukur karena Engkau telah mencurahkan darah di kayu salib bagiku dan sesamaku. Aku berterima kasih kepada-Mu karena aku dapat menghadap Engkau setiap saat untuk mohon pertolongan-Mu, penghiburan dari-Mu dan pengampunan-Mu. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:21-25), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGAJAR JUGA LEWAT PEMBACAAN DAN PERMENUNGAN SABDA ALLAH DALAM KITAB SUCI” (bacaan tanggal 26-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 23 Januari 2017 [Hari Keenam Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS