Posts from the ‘17-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2017’ Category

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 18 Januari 2017)

Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 

jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: Ibr 7:1-3,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

Inkarnasi Yesus menandakan: (1) sudah berlalunya hukum dosa serta maut dan (2) datangnya kerajaan Allah. Yesus adalah Anggur yang baru, …. hidup baru. Allah telah lama mempersiapkan umat-Nya untuk menerima hidup baru ini. Akan tetapi, meskipun Yesus memberikan kepada orang banyak kesembuhan, pengampunan dan cintakasih, para pemimpin agama memandang dan memperlakukan Dia sebagai lawan dan objek cemoohan.

Konflik itu, yang dimulai ketika Yesus menyembuhkan seorang lumpuh (Mrk 2:1-12), malah meningkat ketika Dia menyembuhkan seorang lain yang tangannya mati sebelah (Mrk 3:1-6). Sampai saat ini, orang-orang Farisi selalu melontarkan kritik dan mempertanyakan tindakan-tindakan Yesus. Sekarang, Yesus ganti bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, yang menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4). Orang-orang Farisi diam saja. Mereka tetap mempertahankan kedegilan hati mereka di hadapan kebaikan Allah. Tidak adanya tanggapan dari mereka membuat Yesus marah dan sekaligus sedih. Dalam kerahiman-Nya, Yesus menyembuhkan tangan si sakit, sekali lagi menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:27-28). Orang-orang Farisi marah sekali karena Yesus telah melanggar pembatasan-pembatasan hari Sabat. Oleh karena itu mereka pun mulai bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk menghancurkan Yesus (Mrk 3:6).

Mengapa sampai ada orang yang mau membunuh Yesus yang justru datang melakukan kebaikan? Sikap mandiri yang salah dan ketergantungan pada pemikiran manusia semata-mata seringkali membutakan kita terhadap kebenaran Allah dan malah menyebabkan kita menentang Dia, bahkan pada saat kita tidak menyadari apa yang kita perbuat. Kodrat manusia yang cenderung jatuh ke dalam dosa selalu menghindari sikap penyerahan diri kepada Allah. Akan tetapi, seperti kita ketahui, untuk menerima keselamatan, kita harus berserah-diri kepada-Nya. Apabila kita menolak kebaikan Allah, maka kita – seperti juga orang-orang Farisi – akan menilai lebih tinggi berbagai aturan, ketimbang kebutuhan-kebutuhan saudari-saudara kita. Sikap mandiri yang keliru akan menghalangi kita untuk mengakui Yesus sebagai Juruselamat dan membatasi pengalaman kita akan kehadiran-Nya.

Sebaliknya, kalau kita bersikap seperti anak-anak, kita akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan demikian kita pun akan mampu menerima kerahiman-Nya dan hidup baru-Nya. Yesus akan mengubah hati dan pikiran kita sehingga hasrat-hasrat-Nya dan pikiran-pikiran-Nya menjadi hasrat-hasrat dan pikiran-pikiran kita. Dia akan mengajarkan kepada kita jalan-Nya dan memberdayakan kita agar supaya taat kepada firman-Nya. Kalau anak-anak Allah terbuka untuk menerima kebaikan dan kerahiman Tuhan, maka Dia dapat menyembuhkan segala perpecahan yang ada di antara mereka, sehingga bersama-sama mereka akan mencerminkan kepenuhan kemuliaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ubahlah hati kami agar dapat semakin serupa dengan hati-Mu. Biarlah kasih-Mu memancar ke dalam hati kami dan melalui hati kami kepada orang-orang di sekeliling kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu menyediakan waktu dan energi bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 18-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.worpress.com;  17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 16 Januari 2017 [Peringatan para Protomartir Ordo S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA, BUKAN SEBALIKNYA

HARI SABAT DIADAKAN UNTUK MANUSIA, BUKAN SEBALIKNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas – Selasa, 17 Januari 2017) 

pppas0345Pada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”  Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.”  (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: Ibr 6:10-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,4-5,9-10

“Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat” (Mrk 2:28). Kata-kata Yesus ini merupakan tantangan bagi orang-orang Farisi. Mereka mengajukan pertanyaan yang kelihatan legitim (Inggris: legitimate) berkaitan dengan tindakan-tindakan para murid Yesus yang jelas bertentangan dengan hukum Sabat. Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengkonfrontir kekerdilan pemikiran mereka tentang diri-Nya dan karya pelayanan-Nya. Yesus juga mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat.

Tindakan para murid memetik bulir gandum di hari Sabat jelas merupakan suatu pelanggaran peraturan-peraturan Yahudi berkaitan dengan hari Sabat. Ketika orang-orang Farisi itu mempertanyakan tindakan-tindakan para murid-Nya, Yesus menanggapinya dengan menyatakan otoritas-Nya dengan dua cara. Pertama, Ia memberi contoh dari Perjanjian Lama, yaitu pada waktu Daud dan para pengikutnya memakan roti suci yang ada di Rumah Allah. Dalam hal ini Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan Daud. Sebagaimana Daud mengizinkan para pengikutnya memuaskan rasa lapar mereka dengan mengorbankan kepatuhan yang ketat terhadap hukum, demikian pula Yesus dapat memperkenankan para murid-Nya untuk memuaskan rasa lapar mereka dengan memetik bulir gandum pada hari Sabat. Daud adalah pralambang dari Mesias yang dinanti-nantikan. Sudah diterima secara umum dalam masyarakat Yahudi bahwa sang Mesias yang dinanti-nantikan itu adalah seorang keturunan Daud. Jadi, Yesus mempunyai semacam hak prerogatif untuk mengupayakan agar kebutuhan-kebutuhan para murid-Nya terpenuhi; mereka yang telah meninggalkan segala milik mereka untuk mengikuti sang Rabi dari Nazaret dalam pelayanan-Nya kepada orang banyak.

Kedua, Yesus memproklamasikan bahwa Allah menciptakan hari Sabat agar dapat bermanfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Barangkali juga Yesus sedang memikirkan Kel 20:8-11 ketika Dia berkata: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk 2:27). Oleh karena itu hukum harus ditafsirkan dan diamati dalam terang dwi-perintah untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Yesus meringkas otoritas-Nya dalam pernyataan final-Nya bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:28). Dengan melakukan itu, Yesus tidak membatalkan hukum Sabat, melainkan menafsirkannya dalam terang karya penyelamatan-Nya.

Cerita tentang konfrontasi ini mengundang kita untuk melihat terobosan dari Kerajaan Allah. Sebagaimana pra-konsepsi orang-orang Farisi tentang karya pelayanan Yesus dan hukum dipertanyakan, maka kita pun ditantang untuk memahami bahwa Yesus jauh lebih daripada sekadar seorang manusia atau seorang guru yang baik. Anak Manusia adalah Tuhan atas segala sesuatu, bahkan atas hari Sabat!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu melihat dengan jelas otoritas dan martabat-Mu sebagai Tuhan. Engkau harus makin besar, tetapi kami harus makin kecil (bdk. Yoh 3:30). Kami ingin hidup seturut hukum kasih-Mu dan di bawah kekuasan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mrk 2:23-28), bacalah tulisan dengan judul “TUJUAN HARI SABAT: BERADA BERSAMA YESUS” (bacaan tanggal 17-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2014) 

Cilandak, 15 Januari 2017 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ANGGUR BARU SEHARUSNYA DISIMPAN DALAM KANTONG KULIT BARU

ANGGUR BARU SEHARUSNYA DISIMPAN DALAM KANTONG KULIT BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Senin, 16 Januari 2017)

Keluaga Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk. Protomartir Ordo Fransiskan

jesus-christ-super-starPada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”   Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Mrk 2:18-22) 

Bacaan Pertama: Ibr 5:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

Puasa, latar belakang pesta perkawinan, kain penambal dan baju tua, anggur dan kantong kulit penyimpan anggur, semua ini diramu menjadi satu dengan indahnya. Inilah contoh betapa kreatif cara mengajar Yesus, Sang Guru. Bagi para murid, bersama Yesus, sang mempelai laki-laki yang sudah sekian lama dinanti-nantikan, sudah barang tentu tidak seperti pengalaman-pengalaman mereka sebelumnya. Menerima Yesus, bagi para murid juga samasekali tidak seperti yang selama itu mereka tahu. Semua kategori yang lama, aturan-aturan yang lama, dan bahkan harapan-harapan yang lama tidak berlaku lagi.

Kita semua diciptakan dengan kapasitas – dan kebutuhan – yang luarbiasa untuk menerima cintakasih, terutama sekali kasih Allah. Namun karena efek-efek dosa dalam hidup kita, kapasitas kita untuk menerima kasih Allah menjadi banyak terhalang, dengan kata lain menjadi semakin menciut. Karenanya kita mungkin berupaya memenuhi kebutuhan kita akan afeksi ilahi dengan mencari kepuasan-diri, dengan mencoba agar kita dapat diterima oleh orang-orang lain, dengan mencoba melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, atau dengan mengumpulkan harta benda kekayaan. Akan tetapi dalam hati, kita merasa bahwa tidak ada satu pun dari upaya yang disebutkan tadi, yang sungguh dapat mengisi kehampaan diri kita, meski kita telah menaruh harapan pada berbagai upaya tersebut. HANYA ALLAH YANG DAPAT MEMENUHI KEBUTUHAN-KEBUTUHAN KITA YANG PALING DALAM.

kantong-anggur-yang-baruDalam perumpamaan-Nya tentang anggur yang baru dan kantong kulit yang baru, Yesus seakan-akan mengatakan kepada orang-orang, “Aku adalah Anggur yang baru untuk-Nya kamu semua merasa haus. Bapa-Ku menciptakan kamu dengan rasa haus akan Daku ini. Rayakanlah kehadiran-Ku di tengah-tengah kamu, karena Akulah Mempelai laki-laki yang telah lama dinanti-nantikan. Makanlah tubuh-Ku, minumlah darah-Ku, terimalah cintakasih-Ku bagimu. Kalau Aku pergi, apabila kamu berpuasa dan berdoa dan meminta kepada Bapa, maka Dia akan mengutus Roh Kudus yang dijanjikan, yang akan memperbaiki kapasitasmu yang indah untuk menerima Aku dengan lebih lagi. Dia akan membuat kamu menjadi bejana-bejana yang dapat berisikan hidup-Ku sendiri. Kamu akan sungguh menjadi kantong kulit anggur baru yang dipenuhi Aku, Anggur yang baru.”

Yesus, sang Mempelai laki-laki, telah datang. Dia adalah Anggur yang baru, bukan seperti anggur manapun yang pernah kita cicipi. Yesus minta agar kita membuka diri kita bagi suatu cara hidup yang samasekali baru dalam Dia. Kini kita masih berpuasa, akan tetapi sekarang dengan hasrat untuk membuang jauh-jauh hidup dosa lama kita, kategori-kategori hidup yang lama dalam dunia ini, untuk menyiapkan diri kita bagi hari pada saat mana Yesus akan datang kembali untuk mengambil kita kepada diri-Nya sendiri dan mempersatukan kita sebagai satu umat dalam hadirat-Nya.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh-Mu, tingkatkanlah kapasitas kami untuk menerima Yesus, mempelai laki-laki kami. Semoga darah-Nya menyembuhkan luka-luka kami dan menyatukan Gereja-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “ANGGUR BARU” (bacaan tanggal 16-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010)

Cilandak, 12 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS ADALAH SANG ANAK DOMBA ALLAH

YESUS ADALAH SANG ANAK DOMBA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun A] –  15 Januari 2017)

0-0-lamb-of-go-bqimxlc

Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksudkan ketika kukatakan: Kemudian daripada aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun dulu tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”

Selanjutnya Yohanes bersaksi, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun dulu tidak mengenal-Nya, tetapi dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku. Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34) 

Bacaan Pertama: Yes 49:3,5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-10; Bacaan Kedua: 1Kor 1:1-3

Saat yang sudah sekian lama dinanti-nantikan akhirnya tiba bagi Yohanes Pembaptis. Ia telah berseru-seru di padang gurun, “Luruskanlah jalan Tuhan”. Akhirnya sekarang ia dapat membuat deklarasi: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29).  Kita dapat membayangkan betapa hati Yohanes dipenuhi sukacita dan rasa syukur. Misinya telah selesai ketika dia memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah – Seseorang yang sebelumnya tidak dikenalinya, yang Allah telah nyatakan kepada-Nya pada akhirnya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya” (Yoh 1:32).

Dengan menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah”, Yohanes sebenarnya memenuhi sabda Allah dalam Kitab Suci yang berbicara mengenai sang Mesias sebagai seekor anak domba – lemah lembut dan rendah hati, namun pada saat yang sama kuat dan agung. Yesus adalah “anak domba yang dibawa yang dibawa ke pembantaian” (Yes 53:7), namun Ia juga “ditakdirkan” untuk memimpin umat Allah, membebaskan mereka dari para lawan mereka dan memerintah mereka. Kita dapat melihat imaji-ganda ini secara paling jelas dalam Kitab Wahyu di mana Yesus digambarkan sebagai “Singa dari suku Yehuda” yang telah berkemenangan, dan sebagai Anak Domba, hanya Dialah yang dapat membuka gulungan kitab penghakiman Allah (Why 5:5-14).

Dalam saat penuh berkat, Yohanes Pembaptis dimampukan untuk melihat Yesus tidak seperti sebelum-sebelumnya. Barangkali dalam masa seperti ini kita pun dapat mempunyai saat-saat penuh berkat seperti Yohanes Pembaptis. Seperti Yohanes Pembaptis, kita pun dapat menerima pernyataanj/perwahyuan ilahi yang akan menggetarkan hati kita. Roh Kudus yang sama, yang telah memberdayakan Yesus dan membuka pikiran Yohanes Pembaptis berdiam dalam diri kita. Kita menerima Roh Kudus pada saat kita dibaptis. Nah, sekarang Roh Kudus ini menantikan kita untuk memanggil-Nya sebagai Guru dan Penghibur kita. Dalam doa kita hari ini, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita lebih lagi tentang sang Anak Domba Allah yang memenuhi janji-janji Allah itu.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu yang tunggal untuk menyerahkan hidup-Nya agar kami dapat mengenal dan mengalami kasih-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, terangilah kami agar dapat melihat kuat-kuasa dan keindahan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang perkasa – dibantai namun memerintah dengan jaya sebagai Raja segala raja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:29-34), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK DOMBA ALLAH” (bacaan tanggal 15-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 12 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DATANG JUSTRU UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

YESUS DATANG JUSTRU UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Sabtu, 14 Januari 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Beato Odorikus dari Pordenone, Imam Biarawan 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUSSesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”  Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”  Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Mrk 2:13-17)

Bacaan Pertama: Ibr 4:12-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,13

Pada saat-saat tertentu di masa lampaunya Lewi telah mengambil langkah yang salah dalam kehidupannya. Dia memilih kekayaan dan kekuasaan, bukannya solidaritas dengan saudari-saudarinya sebangsa, yaitu orang-orang Yahudi. Dia menjadi seorang pemungut cukai untuk kepentingan pihak penguasa Romawi, penjajah yang sangat dibenci oleh rata-rata orang Yahudi. “Biaya sosial” yang harus ditanggung sebagai akibat pilihannya atas pekerjaannya sebagai seorang pemungut cukai memang tidak kecil. Sejak saat dia memutuskan untuk menjadi “antek Romawi”, dia tidak lagi dipandang sebagai one of us oleh masyarakat Yahudi, malah dianggap sebagai seorang pengkhianat bangsa, … seorang musuh. Barangkali teman-temannya hanyalah terdiri dari orang-orang yang berprofesi sama dengan dirinya, sampai Yesus mengundang Lewi untuk menegikuti-Nya (Mrk 2:14).

Yesus mengundang Lewi secara langsung, “Ikutlah Aku”, malah setelah itu malah “lebih heboh” lagi, karena Dia duduk makan bersama di rumah Lewi, yang dipenuhi juga dengan para undangan yang terdiri dari para pemungut cukai dan orang berdosa (Mrk 2:15). Dalam kebudayaan Yahudi persekutuan pada meja perjamuan melambangkan persahabatan yang intim. Orang-orang Farisi percaya bahwa kekudusan mensyaratkan penghindaran diri seseorang dari kontak dengan orang-orang yang tidak murni-suci. Itulah sebabnya mengapa mereka bertanya kepada para murid Yesus, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Mrk 2:16). Orang-orang Farisi mempertanyakan solidaritas Yesus dengan “para pendosa”. Yesus sebenarnya tidak sepenuhnya tidak setuju dengan pandangan orang-orang Farisi itu. Dia menerima kenyataan, bahwa Lewi dan orang-orang sejenisnya adalah orang-orang  yang “sakit” di tingkat spiritual, dengan demikian membutuhkan penyembuhan spiritual.

Lewat pekerjaan Roh Kudus dalam hatinya, Lewi juga sampai pada kesimpulan yang sama. Selama itu Dia telah mendengarkan Yesus yang mewartakan sabda rekonsiliasi dan mengakui bahwa dia membenci rasa malu dan isolasi yang ditanggungnya selama itu. Akan tetapi Lewi bukanlah seperti orang-orang Farisi, karena dia tidak berhenti sampai di sana. Dengan menyambut tangan-tangan Yesus dalam persahabatan sejati, Lewi berhasil membuang rasa bersalahnya memerdekaan nuraninya yang sudah lama menderita tekanan. Lewi masuk ke dalam pertukaran ilahi. Artinya dia menyerahkan independensinya dari Allah dan mendirikan suatu hidup ketaatan dengan mengikuti Yesus. Dengan demikian Lewi memperoleh bagian yang lebih baik, pengampunan dari-Nya yang indah.

Kita pun dapat melakukan hal yang sama. Kita tidak perlu merasa kaget apabila kita melihat dosa dalam kehidupan kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah berpaling kepada-Nya dan mengakui kebutuhan-kebutuhan kita akan pengampunan dan penyembuhan. Seperti dikatakan oleh P. Raniero Cantalamessa OFMCap., sekarang ini posisi kita secara spiritual tidak ubahnya dengan “roh-roh yang terpenjara di tempat penantian”, yang menanti-nantikan kedatangan sang Juruselamat. Oleh karena itu marilah kita berseru dengan keras dari kedalaman ruang penjara kedosaan kita, dalam tempat mana kita sudah sekian lama terbelenggu sebagai tawanan. Kita sudah tahu bahwa ada pertolongan dan ada obat penyembuh bagi sakit-penyakit kita, karena Allah mengasihi kita (Life in Christ, hal. 33). Marilah kita menyesali dan mengakui dosa-dosa kita kepada Allah yang Maharahim.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah membuang rasa bersalah dan rasa malu kami, dan Engkau telah mewujud-nyatakan kasih Allah ke tengah dunia yang penuh dengan kedosaan ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERKATA KEPADA LEWI: IKUTLAH AKU!” (bacaan  tanggal 14-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 11 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 13 Januari 2017) 

stdas0592-jesus-heals-the-palsied-manKemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: Ibr 4:1-5,11; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,6-8 

Narasi Injil yang cukup dramatis ini adalah mengenai bagaimana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah oleh empat orang yang membawanya ke tempat itu. Cerita tentang penyembuhan orang lumpuh ini adalah yang pertama dari lima cerita konflik dalam Injil Markus (2:1-3:6), yang menyoroti perlawanan para pemuka agama Yahudi terhadap pernyataan siapa diri Yesus itu. Dengan berpegang teguh pada ide-ide kuno mereka sendiri, para ahli Taurat dan orang Farisi gagal mengalami bela rasa dan kasih Allah yang dimanifestasikan dalam diri Yesus.

Ada beberapa pokok konflik yang muncul antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi selama berlangsungnya proses penyembuhan. Yang pertama terjadi ketika Yesus mendeklarasikan bahwa dosa-dosa orang itu diampuni (Mrk 2:5). Dalam Perjanjian Lama, kuasa untuk mengampuni dosa hanya milik Allah saja (Kel 34:6-7; Yes 43:25). Lalu Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10). Tradisi Yahudi pada waktu itu memahami bahwa yang dimaksudkan dengan “anak manusia” (Dan 7:13-14) mengacu kepada sang Mesias yang akan membawa umat ke dalam Kerajaan Allah. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan tokoh mesianis ini untuk mulai menyatakan diri-Nya dan mempersiapkan umat bagi pekerjaan yang akan dilaksanakan-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Tanggapan umat yang hadir terhadap peristiwa penyembuhan orang lumpuh ini merupakan sebuah kontras yang tajam terhadap ketakutan yang melumpuhkan dari para ahli Taurat (Mrk 2:7). Orang banyak takjub dan memuliakan Allah, sambil berkata: “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Mereka memberi tanggapan positif terhadap kebaikan dan belas kasih Allah. Kiranya tidak sedikit dari orang banyak itu kemudian menjadi murid-murid Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa orang banyak  dapat mengenali siapa Yesus itu, sementara para pemimpin agama Yahudi buta sehingga tidak mampu melihat siapa sebenarnya Yesus? Jawabnya terletak pada iman mereka. Yesus melihat iman dari mereka yang membawa orang lumpuh dan juga iman si lumpuh sendiri (Mrk 2:5). Walaupun kuat-kuasa dan belas kasih Yesus begitu terlihat oleh mereka yang percaya (beriman), ketidak-percayaan telah membutakan mata (terutama mata hati) para pemuka agama Yahudi tersebut. Para pemuka agama Yahudi itu tidak mau mengubah mindset  mereka, juga tidak mempunyai keberanian untuk keluar dari comfort zone mereka. Bukankah implisit dalam pengertian apa iman itu, terdapat unsur-unsur keberanian dan perubahan diri?

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bukalah mata kami agar mampu melihat karya-Mu dengan lebih jelas dalam hidup kami. Sembuhkanlah kami dari berbagai cara berpikir kami yang membatasi – bahkan menghalangi – pemahaman kami tentang rencana penyelamatan Bapa surgawi atas segenap umat manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG LUMPUH” (bacaan tanggal 13-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2014] 

Cilandak, 10 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 12 Januari 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dari Cordeone, Biarawan Kapusin

006-lumo-man-leprosy

Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.”  Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”  Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”  Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45) 

Bacaan Pertama: Ibr 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:6-11

Kita dapat saja berspekulasi mengenai apa yang dipikirkan oleh orang kusta itu ketika Yesus menyembuhkannya tetapi memberinya peringatan keras untuk tidak “membocorkan info” sehubungan dengan peristiwa mukjizat ini (lihat Mrk 1:44). Barangkali orang kusta yang baru disembuhkan itu tidak tahan lagi menahan entusiasme yang melanda dirinya, lalu dia pun pergi ke mana-mana menceritakan peristiwa yang baru dialaminya. Mungkin saja dia berpikir, dengan menyebarkan informasi ini ke mana-mana, dia melakukan sesuatu yang baik bagi Yesus. Markus menggunakan kisah ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan terlihat sepanjang Injilnya, yakni pertama: Yesus meminta dengan tegas dipegangnya “rahasia mesianis” dan kedua: ketegangan yang segera akan mengelilingi-Nya.

007-lumo-man-leprosyDalam seluruh Injil-nya, Markus menggambarkan Yesus yang “enggan” menyandang gelar “Mesias” (lihat Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan “keengganan” Yesus ini untuk mengajar para pembaca, bahwa bukan segala mukjizat itulah yang menyatakan/mewahyukan diri-Nya sebagai Mesias. Mukjizat-mukjizat itu menunjuk kepada suatu perwahyuan yang lebih penuh, yakni: Dia yang diurapi Allah akan membebaskan kita dari dosa oleh kematian-Nya di kayu salib. Oleh karena itu siapa saja yang mau menjadi murid sang Mesias ini harus memanggul salibnya dan mengikuti-Nya (lihat Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Orang kusta yang disembuhkan itu mengabaikan perintah Yesus, namun – seperti diterangkan di atas – bisa saja atas dasar “maksud baik” manusiawi. Tetapi dengan demikian dia membawa masuk segala ketegangan yang akan mempengaruhi pelayanan-pelayanan Yesus selanjutnya. Sebelum itu semuanya berjalan lancar dan fantastis: mukjizat-mukjizat, pengusiran roh-roh jahat dsb. Akan tetapi tiba-tiba muncul kerumitan: “…Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota”  (Mrk 1:45). Perubahan suasana ini memberi petunjuk mengenai konfrontasi yang akan dialami Yesus dengan orang-orang Farisi dll. – suatu konfrontasi yang akhirnya akan membawanya ke kayu salib (lihat Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus mengetahui benar bahwa pelayanan-Nya akan menyebabkan timbulnya konflik. Orang kusta yang disembuhkan itu tidak kooperatif, dia mengabaikan perintah Yesus atau mungkin juga berpikir untuk “memperbaiki” rencana Allah. Serupa halnya dengan kodrat manusia pada sisi buruknya, mau tidak mau akan berkonflik dengan Kerajaan Allah. Namun Yesus tidak pernah membiarkan konflik ini menjadi penghalang bagi-Nya untuk memanggil orang-orang datang kepada-Nya. Yesus menerima biaya/harga dari konflik, meski maut sekali pun, demi membebaskan kita.

008-lumo-man-leprosyMarilah kita mengikuti Mesias kita yang dengan rendah hati begitu taat kepada Bapa surgawi dalam segala hal. Janganlah kita dengan “seenaknya” mengambil dan memilih yang mau kita taati saja (artinya ada yang kita tidak ambil dan tidak pilih untuk ditaati). Sebaliknya berikanlah kepada Yesus keseluruhan hati kita. Hanya dengan demikian kita akan mengalami sukacita sesungguhnya dari suatu relasi yang lebih mendalam dengan-Nya.

Betapa pun catatan negatif yang ada pada kita tentang orang kusta itu, kita harus sangat menghargai imannya yang begitu kuat (namun tanpa memaksa-maksa Tuhan), seperti tercermin dalam kata-kata permohonannya kepada Yesus: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku” (Mrk 1:40). Permohonan penuh iman inilah yang menggerakkan hati Yesus oleh belas kasihan, dan Yesus pun menyembuhkan orang itu (lihat Mrk 1:41-42). Sungguh patut kita teladani!

DOA: Ya Tuhan Yesus, melakukan kehendak-Mu adalah sukacitaku. Terima kasih Tuhan, Engkau membebaskan aku sehingga dapat melayani-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “TETAPI ORANG ITU PERGI MEMBERITAKAN PERISTIWA ITU SERTA MENYEBARKANNYA KE MANA-MANA” (bacaan  tanggal 12-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 9 Januari 2017 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS