Posts from the ‘17-05 BACAAN HARIAN MEI 2017’ Category

MARIA MEMULIAKAN TUHAN

MARIA MEMULIAKAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S.P. Maria Mengunjungi Elisabet – Rabu, 31 Mei 2017)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18a atau Rm 12:9-16b; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

Ada tiga kidung dari Injil Lukas yang setiap hari kita doakan/daraskan/nyanyikan dalam Ibadat Harian kita, yaitu ‘Kidung Zakharia’ [Benedictus; Luk 1:68-79] untuk Ibadat Pagi, ‘Kidung Maria’ [Magnificat; Luk 1:46-55] untuk Ibadat Sore, dan ‘Kidung Simeon’ [Nunc Dimittis; Luk 2:29-32] untuk Ibadat Penutup. Dalam kesempatan ini marilah kita soroti apa yang termuat dalam ‘Kidung Maria’ itu, sebuah kidung yang dinyanyikan olehnya pada waktu mengunjungi Elisabet, saudaranya.

Kita dapat membayangkan sejenak apa kiranya yang ada dalam hati dan pikiran Maria setelah melakukan perjalanan jauh dari Nazaret, Galilea ke Ain Karem di dataran tinggi Yudea itu. Pikirkan bagaimana dia begitu bersukacita penuh syukur ketika memikirkan kebaikan Allah yang begitu luarbiasa atas dirinya. Dan, ia memang telah mempercayakan affair-nya dengan Roh Kudus sepenuhnya kepada Allah Perjanjian, teristimewa perihal pertumbuhan jabang bayi yang ada dalam rahimnya. Kidung Maria yang indah ini adalah buah dari permenungan Maria sepanjang perjalanan jauh tersebut. Elisabet meneguhkan siapa sesungguhnya Maria ketika dia digerakkan oleh Roh Kudus untuk berseru, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang ada di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:42-45). Kidung Maria menunjukkan kepada kita beberapa prinsip bagi doa-doa yang kita panjatkan.

Kidung Maria adalah sebuah ‘doa iman’, seperti Maria sendiri adalah ‘model iman’ dan juga merupakan doa bagi kita semua. Kidung Maria ini barangkali merupakan doa yang paling dipenuhi kerendahan hati, seperti termuat dalam Kitab Suci. Dalam Magnificat, Maria mengakui kebenaran tentang siapa Allah itu dan siapa dirinya di hadapan Allah. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan kepada kita bahwa “kerendahan hati adalah dasar doa” (KGK, 2559). Pasti kerendahan hati menjadi fondasi dari Kidung Maria ini, ketika dia mengakui bahwa Allah “telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya … karena yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku” (Luk 1:48,49).

Kidung Maria ini pun merupakan sebuah doa yang mencerminkan iman-kepercayaan seseorang yang sangat mendalam. Maria mempercayai apa yang akan dilakukan oleh Allah baginya. Sepanjang hidupnya Maria tetap penuh percaya pada kerahiman dan kebaikan hati Allah (lihat Luk 1:50). Dia percaya bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang rendah dalam dunia ini dan Dia akan setia pada segala janji-Nya (Luk 1:52-53.55). Kidung Maria merupakan sebuah contoh indah tentang kenyataan bahwa kita tidak perlu melakukan perbuatan-perbuatan besar di mata publik untuk menyenangkan Allah atau menguraikan secara terinci suatu isu teologis yang mendalam. Dengan mengikuti teladan Maria dalam mengasihi Allah, mempercayai Dia dan dengan rendah hati berjalan bersama-Nya, kita semua pun dapat menyenangkan Allah.

Selagi anda datang menghadap sang Mahatinggi setiap hari dalam doa pribadi, cobalah untuk mengingat contoh kerendahan hati dan iman-kepercayaan Bunda Maria. Bersama dia dan dalam kuasa Roh Kudus, kita pun akan mampu mendeklarasikan bahwa, “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya” (Luk 1:49).

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah memilih puteri-Mu Maria untuk menjadi Bunda Putera-Mu yang tunggal, Yesus. Tolonglah aku untuk senantiasa menghadap-Mu dalam kerendahan hati dan rasa percaya penuh kasih, seperti telah ditunjukkan oleh Bunda Maria. Oleh kuasa Roh-Mu, penuhilah diriku dengan iman yang mendalam sebagaimana yang dimiliki Bunda Maria. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “KERINDUAN ALLAH UNTUK MENYATAKAN DIRI DAN RENCANA-NYA” (bacaan tanggal 31-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010)

Cilandak, 28 Mei 2017 [HARI MINGGU PASKAH VII – TAHUN A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

YANG ALLAH INGINKAN KITA LAKUKAN HANYALAH SEBAGIAN DARI SESUATU YANG JAUH LEBIH BESAR

YANG ALLAH INGINKAN KITA LAKUKAN HANYALAH SEBAGIAN DARI SESUATU YANG JAUH LEBIH BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah Selasa, 30 Mei 2017)

Ordo Santa Clara: B. Baptista Varani, Perawan Ordo II

 

Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenai Yesus Kristus yang  telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan  kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a)

Bacaan Pertama: Kis 20:17-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:10-11.20-21. 

Ada suatu kesejajaran antara kata-kata Yesus dalam bacaan Injil di atas dengan kata-kata Paulus dalam bacaan pertama dari “Kisah para Rasul”. Baik Yesus maupun Paulus sudah mendekati akhir pelayanan mereka di dunia, dan dua-duanya merenungkan cara mereka menanggapi panggilan mereka. Yesus mengetahui bahwa Dia telah mengakhiri tugas pekerjaan yang telah diberikan Allah Bapa kepada-Nya. Demikian juga halnya dengan Paulus. Rasul Kristus ini merasa bahwa dia pun telah melaksanakan amanah yang diberikan Tuhan Yesus kepadanya dengan sebaik mungkin sesuai kemampuannya.

Namun demikian, lihatlah apa yang ada ketika Yesus melihat ke sekeliling meja perjamuan pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya? Yang ada hanyalah segelintir murid-Nya, satu di antaranya malah akan mengkhianati-Nya, seorang lagi akan menyangkal Dia (mengaku tidak kenal dengan diri-Nya), dan kebanyakan dari mereka akan melarikan diri karena ditimpa rasa takut pada waktu Dia ditangkap. Kalau orang melihat sekadar dari sudut pandang manusia, maka legacy-Nya  tidak  terlihat sangat mengesankan pada waktu itu. Malah sebaliknyalah, semuanya terasa seakan sudah berada di tepi jurang kehancuran. Akan tetapi kelihatannya Yesus tidak merasa susah dan cemas. Ia telah memberitahukan para murid-Nya perihal apa yang akan terjadi, tetapi Dia sendiri tidak kelihatan tertekan. Mengapa? Karena Yesus merasa yakin bahwa Dia telah datang ke dunia untuk meresmikan kerajaan Allah lewat berbagai khotbah/pewartaan dan banyak mukjizat serta tanda-heran yang dibuat-Nya; teristimewa melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Yesus tahu benar bahwa kerajaan Allah akan menyebar-luas setelah Dia pulang-kembali ke surga, karena kedatangan Roh Kudus. Yesus tidak perlu melihat semua itu terjadi sebelum Ia wafat. Ia tahu benar bahwa Dia telah melakukan bagian yang ditugaskan kepada-Nya, dan itu cukup bagi-Nya.

Demikian pula, Allah telah memberikan kepada kita masing-masing sesuatu untuk kita lakukan dalam kehidupan ini. Sumbangan yang Ia inginkan kita lakukan hanyalah sebagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Barangkali benih-benih kerajaan-Nya yang kita taburkan akan berakar dan bertumbuh melalui pelayanan yang dilakukan oleh orang lain. Barangkali hal-hal kecil yang kita lakukan untuk orang miskin akan berkembang menjadi suatu sumber penghiburan bagi banyak orang. Kita hanyalah dipanggil untuk melakukan pekerjaan yang diberikan oleh Yang Mahatinggi dan tidak melakukan tugas pekerjaan yang tidak diperuntukkan bagi kita.

Baiklah kita setia pada hal-hal kecil yang telah diberikan Allah kepada kita untuk kita kerjakan. Allah sangat menilai tinggi semua itu. Yesus adalah bukti bahwa Dia dapat melakukan banyak hal dengan suatu hati yang penuh penyerahan.

DOA: Roh Kudus Allah, berdayakanlah aku agar dapat melaksanakan semua pekerjaan pelayanan yang telah dipercayakan kepadaku dan jagalah hatiku agar tidak merasa gelisah tentang masa depanku sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 20:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “SEPENUHNYA DIPIMPIN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 30-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABAH MEI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010)

Cilandak, 28 Mei 2017  [HARI MINGGU PASKAH VII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AKU TELAH MENGALAHKAN DUNIA

AKU TELAH MENGALAHKAN DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Senin, 29 Mei 2017)

OFS: Peringatan S. Maria Ana dr Paredes, Perawan Ordo III Sekular

 

Kata murid-murid-Nya, “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya bahwa Engkau datang dari Allah.” Jawab Yesus kepada mereka, “Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya akan datang, bahkan sudah datang, ketika kamu akan diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:29-33) 

Bacaan Pertama: Kis 19:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7 

Yesus mencoba mempersiapkan para murid-Nya untuk suatu peristiwa yang akan terjadi tidak lama lagi, yaitu sengsara dan kematian-Nya di atas kayu salib (Yoh 16:4). Para murid mengungkapkan keyakinan mereka bahwa Yesus sungguh datang dari Allah, namun mereka masih belum juga mampu memahami sepenuhnya makna pesan Yesus tentang penderitaan sengsara dan kematian-Nya di atas kayu salib. Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka akan menderita karena kesalahpahaman orang-orang, mereka juga akan menderita kepedihan dan penolakan dari banyak orang. Namun demikian, di sisi lain para murid juga akan memperoleh sukacita karena Yesus akan melihat mereka lagi (Yoh 16:22) dan Bapa surgawi akan memberikan apa saja yang diminta para murid dalam nama Yesus (Yoh 16:23). Yesus juga meramalkan tentang “pengkhianatan” para murid terhadap diri-Nya (Yoh 16:32).

Injil Yohanes mempunyai suatu cara yang unik dalam menyampaikan pesan yang memberikan pertanda dan pada saat yang sama mengungkapkan pengharapan. Pengharapan itu mencakup kenyataan bahwa Bapa menyertai Yesus (Yoh 16:32), oleh karena itu Yesus telah mengalahkan dunia: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

Bagaimana kiranya Kristus mengalahkan dunia? Melalui karya salib-Nya. Melalui salib Kristus, dosa, Iblis dan dunia telah dikalahkan. Oleh penderitaan sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah menundukkan segala kuasa kejahatan dan kegelapan di bawah otoritas-Nya. Allah tidak pernah membuat kita membuang kebebasan kita. Oleh karena itu, walaupun Yesus telah menang, kita masih dapat memilih kejahatan dan kegelapan dalam keputusan-keputusan dan relasi-relasi kita. Akan tetapi, bilamana kita bersatu dengan Yesus – sebuah persatuan yang dimulai sejak saat kita dibaptis dan bertumbuh melalui kehidupan iman – maka kita pun dapat mengenal dan mengalami kemenangan.

Inilah pengharapan kita sebagai umat Kristiani; dalam Kristus kita berkemenangan. Kalau kita bersatu dengan Yesus Kristus, kita dapat mengalahkan rasa takut, penolakan, penganiayaan dan segala hal yang dari dunia ini yang akan merampas dari kita damai sejahtera, sukacita dan cintakasih. Selagi kita memperhatikan dengan penuh kasih segenap anggota keluarga kita, melakukan pekerjaan kita, melayani Tuhan dalam berbagai kegiatan kerasulan, menolong anggota keluarga, teman-sahabat dan komunitas di dalam mana kita adalah anggotanya, maka baiklah kita mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita karunia ketabahan agar kita dapat dengan tekun dalam iman dan dalam kegiatan pelayanan kita kepada Allah dan sesama kita.

DOA: Datanglah ya Roh Kudus dan berikanlah kepada kami karunia ketabahan. Jagalah jiwa kami pada saat-saat yang sulit dan berbahaya, jagalah juga segala upaya kami dalam mengejar kekudusan serta kuatkanlah kami agar dapat mengatasi kelemahan-kelemahan kami. Berikanlah kepada kami keberanian untuk melawan serangan-serangan dari para musuh kami, yaitu Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya, agar kami tidak akan pernah dapat dikalahkan oleh mereka dan dipisahkan dari-Mu, ya Roh Kudus Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 19:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS?” tanggal 29 Mei 2017 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 26 Mei 2017 [Peringatan S. Filipus Neri, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MENDOAKAN PARA MURID-NYA DI HADAPAN BAPA-NYA

YESUS MENDOAKAN PARA MURID-NYA DI HADAPAN BAPA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VII [Tahun A], 28 Mei 2017)

HARI KOMUNIKASI SEDUNIA

 

Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah
Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a) 

Bacaan Pertama: Kis 1:12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,7-8; Bacaan Kedua: 1Ptr 4:13-16 

Bacaan Injil hari ini adalah bagian dari doa Yesus untuk para murid-Nya. Yesus berdoa kepada Bapa surgawi dan mohon kepada-Nya untuk melindungi para murid-Nya – bukan untuk mengambil mereka dari dunia, melainkan untuk melindungi mereka dari yang jahat (lihat Yoh 17:15). Ketika Yesus mengatakan bahwa “dunia” membenci para pengikut/murid-Nya, maka yang dimaksudkan oleh-Nya dengan “dunia” adalah keduniawian, ketiadaan Allah dalam pikiran dan hati manusia, ketiadaan iman. Karena para murid-Nya bukan milik “dunia” yang sedemikian, maka mereka pun dibenci (lihat Yoh 17:14). Akan tetapi, mereka harus tetap berada di dalam dunia, di tengah-tengah yang baik dan yang jahat, menjadi sebuah pengaruh yang baik, menjadi sebuah contoh dan mengingatkan orang-orang, untuk membawa segala sesuatu (termasuk manusia) kembali kepada Allah.

Tentu saja ada faktor risiko dalam hal ini. Buah apel yang busuk yang tercampur dengan buah-buah apel lainnya dalam sebuah tong akan merusak seluruh buah apel dalam tong itu. Nila setitik rusak susu sebelanga! Contoh yang buruk dapat secara negatif mempengaruhi orang-orang yang baik. Oleh karena itu Yesus berdoa bagi para murid-Nya (termasuk kita) kepada Bapa surgawi: “supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat” (Yoh 17:15)…… melindungi mereka dengan kebenaran …… firman Allah sendiri (lihat Yoh 17:17). Kemudian Yesus melanjutkan: “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia” (Yoh 17:18).

Pada hari ini, dalam Liturgi Sabda, dalam Ekaristi, Yesus berdoa bagi kita seperti yang dilakukan-Nya bagi para murid-Nya yang pertama. Dia berdoa kepada Bapa surgawi untuk melindungi kita, untuk menguduskan kita dalam kebenaran (lihat Yoh 17:19), untuk menjaga kita jangan sampai mengambil jalan yang salah walaupun bahaya selalu ada. Dalam doanya Yesus mengingatkan kita bahwa kita dapat dibenci karena mengambil sikap benar sebagai orang Kristiani di tengah-tengah dunia yang tidak sejalan dengan kita, juga karena kita memandang hal dan peristiwa di kehidupan kita dalam terang ajaran Kristus, bukannya berdasarkan pertimbangan dunia. Hal seperti ini tidak perlu sampai mengganggu kita selama kita bekerja dan bertindak dengan cintakasih Kristiani yang sejati.

Selagi kita semakin dekat dengan Hari Raya Pentakosta,  baik sekali bagi kita untuk mengingat apa yang ditulis oleh Yohanes dalam suratnya yang pertama: “Siapa yang menuruti segala perintah-Nya (Kristus), ia ada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dengan inilah kita ketahui bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu dengan Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” (1Yoh 3:24). Karunia-karunia Roh Kudus kepada kita adalah damai-sejahtera, sukacita, kekuatan, keberanian dan pengertian. Tak ada apa dan/atau siapa pun yang perlu kita takuti, apabila kita membuka diri bagi Roh Kudus dan hidup dalam Roh.

(Uraian di atas didasarkan pada bacaan yang lebih panjang, yaitu Yoh 17:1-19.)

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus. Curahkanlah terang-Mu yang penuh keajaiban ke atas diri kami, dan penuhilah hati kami dengan api cintakasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “DOA YESUS BAGI PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 28-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 25 Mei 2017 [HARI RAYA KENAIKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MINTA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS

MINTA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Sabtu, 27 Mei 2017)

 

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:23b-28).

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,8-10

 “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.” (Yoh 16:23b). 

Ini adalah sebuah janji besar dari Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita! Janji ini seharusnya membuat kita semua berlutut dan memanjatkan permohonan kepada Bapa surgawi untuk semua ujud yang ada dalam pikiran kita. Akan tetapi, marilah kita sejenak melakukan permenungan apakah memang kita memahami apakah yang dimaksudkan dengan berdoa “dalam nama Yesus” itu.

Berdoa dalam nama Yesus bukanlah sebuah rumusan ajaib (magic formula). Berdoa dalam nama Yesus bukanlah seperti seseorang  yang mendekati pintu rumah terkunci rapat-rapat, lalu dia berseru dengan suara keras: “Sim salabim, terbukalah hai pintu!” Berdoa dalam nama Yesus adalah berdoa dengan cara yang sama seperti Yesus sendiri melakukannya:  berdoa dengan iman yang sama, kasih yang sama kepada Bapa surgawi, dan semangat yang sama dengan semangat Yesus sendiri (lihat Luk 6:12). Berdoa dalam nama Yesus berarti kita terbenam dalam kehidupan Yesus sendiri. Doa sedemikian mencerminkan hasrat kita untuk ambil bagian dalam persatuan antara Yesus dan Bapa-Nya di surga, dengan demikian kita memiliki rasa percaya yang mutlak bahwa Bapa surgawi mendengar dan akan menjawab doa-doa kita – bahkan apabila kita tidak melihat hasilnya secara langsung.

Berdoa dalam nama Yesus menyangkut sebuah komitmen untuk mencontoh kehidupan Yesus, yang menghasrati ketaatan kepada Bapa surgawi dalam segala hal, seperti halnya Yesus. Hal itu berarti menghaturkan permohonon kepada Roh Kudus untuk menolong kita “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp 2:5), sehingga dengan demikian ujud-ujud doa kita kepada Bapa surgawi menyerupai intensi-intensi yang dipersembahkan Yesus ketika Dia masih hidup di dunia ini, dan sekarang tetap dilakukannya di dalam surga (lihat Ibr 8:6 dll.).

Kita akan melihat bahwa doa-doa kita diperlebar untuk mencakup permohonan-permohonan bahwa semua orang  akan sampai ke iman kepada Yesus, bahwa kuasa-kuasa kegelapan akan dijauhkan, bahwa Gereja akan dipersatukan sebagai sebuah terang bagi mereka yang berjalan dalam kegelapan. Doa-doa kita akan menjadi lebih daripada sekadar permohonan-permohonan untuk mendapatkan pertolongan, misalnya agar supaya dapat lulus ujian, atau berhasil dalam karir, agar cepat mendapat cucu dlsb. Tentu Tuhan memperhatikan detil-detil kehidupan kita yang paling intim sekalipun; Ia sungguh mendengar dan menjawab doa-doa yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan kita. Namun demikian, dalam kesempatan ini kita harus memperhatikan tulisan Yakobus yang mengingatkan kita untuk memanjatkan doa permohonan tanpa hasrat hati untuk mementingkan diri sendiri: “Kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak 4:3).

DOA: Bapa surgawi, Allah, khalik langit dan bumi. Dikuduskanlah nama-Mu. Kami mohon, ya Bapa, agar Kaupenuhi hasrat-hasrat hati kami. Semoga hati kami masing-masing bertumbuh dalam persatuan dan kesatuan dengan Yesus Kristus agar hasrat-hasrat kami mencerminkan juga hasrat-hasrat Yesus Kristus sendiri. Kami percaya Engkau akan mengabulkan doa kami ini karena kami memanjatkannya dalam nama Yesus, Putera-Mu terkasih, yang hidup dan meraja bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami perikop Injil hari ini (Yoh 16:23b-28), bacalah tulisan yang berjudul “BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU” tanggal 27 Mei 2017 dalam blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Mei  2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

 

KAMU AKAN BERDUKACITA, TETAPI DUKACITAMU AKAN BERUBAH MENJADI SUKACITA

KAMU AKAN BERDUKACITA, TETAPI DUKACITAMU AKAN BERUBAH MENJADI SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Filipus Neri, Imam – Jumat, 26 Mei 2017)

HARI PERTAMA NOVENA PENTAKOSTA

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. (Yoh 16:20-23a) 

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7

Sekarang kita berada dalam masa istimewa antara HARI RAYA KENAIKAN TUHAN dan HARI RAYA PENTAKOSTA; dan tidak sedikit pula umat Katolik yang mengikuti Novena Pentakosta yang dimulai hari ini. Selama kita berada dalam periode singkat namun khusus ini, marilah kita memusatkan perhatian kepada penyambutan Roh Kudus ke dalam hati kita masing-masing dan ke dalam Gereja dengan penuh kuat-kuasa, karena Dia adalah pengharapan kita. Selama kita masih hidup di atas bumi ini, maka kita seringkali “menangis dan meratap” (Yoh 16:20); kita bergumul dengan dosa dan berbagai macam godaan, dengan rasa sakit, dan penyakit yang diderita serta kematian atau maut itu sendiri. Namun demikian pengharapan kita terletak dalam diri Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita!  Roh Kudus yang datang untuk tinggal dalam hati umat beriman pada hari Pentakosta merupakan bukti bahwa Yesus telah memulihkan relasi kita dengan Bapa surgawi dan mengalahkan Iblis oleh kematian dan kebangkitan-Nya.

Pada waktu Yesus “mohon pamit” kepada para murid-Nya, Ia mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan mengalami kesedihan dan rasa sakit dalam dunia ini, namun para murid tidak boleh sampai kehilangan pengharapan. Yesus membandingkan rasa sakit dan dukacita dalam dunia ini dengan rasa sakit dan dukacita seorang perempuan pada saat-saat sebelum melahirkan bayinya, pada saat-saat mana sukacita karena kelahiran seorang anak manusia jauh lebih besar daripada rasa sakit dan dukacita yang dialami selama proses kelahiran itu sendiri. Dalam artian yang sama, penderitaan yang kita alami dalam kehidupan ini bersifat sementara, sementara sukacita surgawi menantikan orang-orang yang percaya kepada Allah (dan menaruh kepercayaan kepada-Nya).

Hidup kita terjamin dalam tangan-tangan Bapa surgawi. Sebagaimana para murid-murid Yesus yang awal, kita juga dapat meratapi dosa kita dan juga kegelapan dalam dunia. Namun pada saat yang sama kita dapat bergembira dalam kuasa dan kasih Allah kita. Kita dapat bergembira karena kita mengenal Dia yang menjadi tumpuan kepercayaan kita. Dengan penuh keyakinan kita percaya bahwa Dia mampu menjaga apa yang telah kita percayakan kepada-Nya sampai pada akhir zaman. Paulus menulis: “Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2Tim 1:11-12). Sebagaimana seorang ibu yang mengantisipasi kelahiran anaknya sejak saat perkandungannya, kita juga dapat memandang ke depan …… kepada sukacita abadi pada saat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya, walaupun kita banyak menanggung derita karena iman-kepercayaan kita sekarang.

Yesus Kristus mengalahkan dosa, kematian (maut) dan dunia. Kita dapat menghadapi tantangan-tantangan kita setiap hari dengan penuh pengharapan karena hidup kita telah dibeli dan dibayar lunas oleh darah Juruselamat kita. Karena kita menjadi milik Yesus Kristus, maka tidak ada siapa pun atau apa pun yang dapat merampas kita dari pengharapan kita. Walaupun kegelapan dunia membuat kita sedih, pengharapan kita tetap berada di tangan kuasa dan kasih Allah. Kita mempunyai keyakinan kuat, bahwa apabila Yesus datang kembali kelak, setiap kebutuhan kita akan dipenuhi dan segala penderitaan kita akan berakhir.

DOA: Roh Kudus Allah, kami menyambut Dikau. Penuhilah diri kami, umat-Mu, dengan pengharapan bahwa kami dapat menanggung penderitaan kami pada masa ini, dan menghadap ke depan, yaitu kepada sukacita abadi dalam hadirat Allah pada akhir zaman. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 16:20-23a), bacalah tulisan yang berjudul “AKU AKAN MELIHAT  KAMU LAGI” (bacaan tanggal 26-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KUNCI BAGI PEMAHAMAN INJIL MATIUS

KUNCI BAGI PEMAHAMAN INJIL MATIUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN [Tahun A] – Kamis, 25 Mei 2017

Kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat 28:16-20)

Bacaan Pertama: Kis 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,6-9; Bacaan Kedua: Ef 1:17-23

Injil Matius ditutup dengan sebuah pemandangan yang agung-menakjubkan, yang menegaskan lagi fundamental-fundamental dari pesan yang disampaikan Matius. Ada sejumlah ahli Kitab Suci modern yang malah mengatakan bahwa perikop ini merupakan “kunci” bagi pemahaman Injil Matius: Apa yang ingin dikatakan oleh Matius dalam Injilnya adalah, bahwa Kristus adalah seorang Pribadi kepada siapa segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan, dan pada gilirannya Dia mendelegasikan kuasa ini kepada para murid, mengutus mereka untuk mewartakan Injil kepada semua bangsa, melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh-Nya.

Dalam Mat 1-9 kuasa Yesus disoroti. Singkatnya, Injil Matius bergravitasi di sekitar kuasa/otoritas Yesus dan otoritas para rasul sebagai pemimpin-pemimpin Israel sejati. Sekarang, kesebelas rasul pergi ke sebuah bukit di Galilea untuk menyaksikan kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Dalam Injil Matius bukit/gunung adalah tempat untuk perwahyuan yang istimewa (“Khotbah di Bukit” [Mat 5-7], “Transfigurasi” [Mat 17:1-13] dan perikop ini).  Hal ini terlebih-lebih merupakan ungkapan teologis ketimbang ungkapan geografis. Ketika Yesus muncul, beberapa orang ragu-ragu, tetapi mereka menyembah-Nya (Mat 28:17).

Kekuasaan penuh telah diberikan oleh Bapa kepada Yesus karena kebangkitan-Nya dan permuliaan-Nya. Sekarang Ia mengutus para murid-Nya untuk mewartakan Injil kepada semua bangsa (artinya tidak hanya kepada bangsa Yahudi). Semua orang diajak untuk menjadi murid-murid-Nya, para pengikut Kristus. “Kekuasaan penuh” yang dimiliki oleh Kristus yang bangkit, mengingatkan kita semua kepada Anak Manusia yang dimuliakan dalam Kitab Daniel: “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah” (Dan 7:13-14).

Kristus yang memegang kekuasaan penuh inilah yang memberi “amanat agung” kepada para murid-Nya, mengutus mereka ke segala bangsa dan menjadikan mereka menjadi murid-Nya. Jadi para murid dituntut untuk menjadikan orang-orang lain murid-murid juga. Memang dalam dunia Kekristenan/Kristianitas hanya ada seorang Guru saja, yaitu Yesus Kristus. Para murid diminta untuk mengajar seperti Yesus mengajar, dan membentuk sebuah komunitas yang para anggotanya adalah murid-murid Kristus. Komunitas yang disebut Gereja, Tubuh Kristus, dengan Yesus Kristus sebagai Kepalanya. Kepada “segala bangsa”, karena misi Gereja bersifat universal; tidak ada Gereja yang khusus diperuntukkan bagi satu bangsa atau bangsa-bangsa tertentu saja. Kepada komunitas ini dijanjikan kehadiran terus-menerus dari “Tuhan yang Bangkit” sampai akhir zaman (Mat 28:20; bdk. Mat 1:23; Mat 18:20).

Mereka yang diajar oleh para murid itu kemudian dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan kepada mereka juga diajarkan untuk melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan Yesus kepada para murid yang awal. Rumusan Trinitarian “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” mungkin saja  bukan kata-kata yang diucapkan Kristus, melainkan merupakan rumusan Gereja Perdana. Dalam Kis 2:38; 8:16; 10:48; 19:5 disebutkan suatu baptisan “dalam nama Tuhan Yesus” atau “dalam nama Yesus Kristus”; hal mana tidak bertentangan dengan Mat 28:19. “Dalam nama” berarti oleh/dengan otoritas seseorang. Para rasul membaptis oleh/dengan otoritas Yesus Kristus, seperti telah diperintahkan oleh-Nya. Membaptis dalam nama Yesus Kristus secara implisit juga bersifat Trinitaris (Trinitarian), karena Yesus Kristus adalah sang Mesias yang diutus oleh Bapa surgawi dan Ia adalah Pribadi yang memenuhi karya-Nya melalui Roh Kudus.

Sebagai bagian penutup dari tulisan ini, baiklah kita merenungkan beberapa hal. Rasa hormat mendalam kepada pribadi Yesus, suatu penekanan atas hikmat-kebijaksanaan yang terkandung dalam ajaran Yesus, keprihatinan untuk membangun Gereja (bukan gedung gereja), dan suatu masa depan yang penuh kepastian akan kehadiran sang Imanuel – tema-tema ini telah menjadi menjadi begitu familiar bilamana kita membaca dan merenungkan Injil Matius. Ketika kita mau menutup Injil Matius, ada satu ayat yang kiranya muncul dalam pikiran dan hati kita: “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu” (Mat 7:24).

DOA: Tuhan Yesus, tranformasikanlah diri kami dengan sabda kehidupan dari-Mu. Dimuliakanlah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 1:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “INKARNASI YESUS DAN GEREJA” (bacaan tanggal 25-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS