Posts from the ‘17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017’ Category

DIPANGGIL UNTUK MENGHAYATI KEHIDUPAN TERSALIB

DIPANGGIL UNTUK MENGHAYATI KEHIDUPAN TERSALIB

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Hieronimus, Imam Pujangga Gereja – Sabtu, 30 September 2017) 

Ketika semua orang itu masih heran karena segala sesuatu yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Namun mereka segan menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. (Luk 9:43b-45) 

Bacaan Pertama: Za 2:1-5,10-11a; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13 

Yesus telah mengatakan kepada para murid-Nya bahwa diri-Nya akan mengalami banyak penderitaan dan ditolak oleh para pemuka agama Yahudi, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (Luk 9:22). Sekarang Ia mengatakan kepada mereka lagi bahwa diri-Nya akan diserahkan ke dalam tangan manusia (Luk 9:44). Mereka (para murid-Nya) sungguh tidak mengerti!

Dalam Injil yang ditulisnya, Lukas ingin mengemukakan bahwa kebutaan atau kebebalan para murid itu tidaklah lepas dari rancangan Allah itu sendiri. Bagaimana pun juga Pentakosta belum datang, artinya para murid belum menerima Roh Kudus yang akan menyatakan kepada mereka arti sepenuhnya dari Kalvari. Lukas juga mencatat bahwa para murid merasa takut untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Yesus. Seakan-akan dia mau mengungkapkan bahwa para murid tidak tahu karena mereka tidak ingin/mau tahu (Luk 9:45).

Dalam proses menuju kepada pengenalan akan Allah, bukankah kita juga seringkali dihinggapi rasa takut atau menghindarkan diri dari apa yang kita pikir Allah mungkin mencoba katakan kepada kita? Dengan demikian, betapa indah jadinya untuk mengetahui bahwa kita dapat mengenal Yesus secara pribadi. Melalui Dia kita mengetahui bahwa kita mempunyai seorang Bapa di surga yang kasih-Nya dapat alami setiap hari. Barangkali hal yang pada awalnya agak tidak mudah untuk kita pahami namun setahap demi setahap dapat kita pahami dan imani (semuanya di bawah pengaruh Roh Allah) adalah bahwa “karena Tuhan yang kita ikuti disalibkan, maka kita pun dipanggil untuk menghayati kehidupan tersalib”, suatu crucified life. Sebagai man of the Cross, Santo Fransiskus dari Assisi tahu benar apa makna dari “kehidupan tersalib” itu, yang dihayatinya dengan setia sejak saat pertobatannya sampai saat kematiannya.

Tuhan Yesus tidak hanya membawa serta dosa-dosa kita ke atas kayu salib, Ia juga membawa-serta kita juga: “Aku telah disalibkan dengan Kristus”, tulis Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia (Gal 2:19). Setiap hari kita harus mempasrahkan diri kita kepada karya Roh Kudus Allah selagi kita berupaya untuk mati terhadap kebiasaan-kebiasaan lama kita, dosa-dosa kita, sikap dan perilaku mementingkan diri-sendiri, agar kita dapat menjadi “ciptaan baru”, yang dijiwai dengan hidup Kristus sendiri.

Santo Yohanes dari Salib [1542-1591], seorang pembaharu Ordo Karmelit, menulis tentang bagaimana Allah memurnikan dan membersihkan mereka yang ingin menjadi matang/dewasa sebagai orang Kristiani: “Ah, Tuhanku dan Allahku! Berapa banyak orang datang kepada-Mu mencari penghiburan dan kepuasan bagi mereka sendiri dan menghasrati bahwa Engkau memberikan kebaikan-kebaikan dan karunia-karunia, namun alangkah sedikitnya orang-orang yang ingin memberikan kepada-Mu kesenangan dan sesuatu yang menimbulkan biaya bagi mereka sendiri, mengesampingkan kepentingan mereka sendiri” (Malam Gelap).

Nah, marilah kita tanpa rasa takut mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah tentang makna salib Kristus atau bagaimana kita dapat menyenangkan diri-Nya.

DOA: Bapa surgawi, biarlah salib Putera-Mu berlaku pada setiap bagian dari keberadaanku – kecerdikanku, rasa percaya-diriku, simpati-simpatiku, afeksi-afeksiku, selera-seleraku, perasaan-perasaanku, ambisi-ambisiku, pemikiran-pemikiran duniawiku, kemalasanku, pengabaian doaku, keinginan tahu diriku yang tidak sehat, sifat pemarahku, ketidakpercayaanku, kecepatanku dalam mengkritisi orang lain, dan apa saja yang merupakan penghinaan terhadap kekudusan-Mu dan suatu kesempatan yang dapat digunakan Iblis untuk maksud jahatnya. Terima kasih, Bapa! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:43b-45), bacalah juga tulisan yang berjudul “UNTUK KEDUA KALINYA YESUS MENGUNGKAPKAN REALITAS SENTRAL DARI MISI-NYA” (bacaan untuk tanggal 30-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 29 September 2017 [Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

TIGA PELAYAN ALLAH YANG GAGAH PERKASA

TIGA PELAYAN ALLAH YANG GAGAH PERKASA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung – Jumat, 29 September 2017)

 

Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar; suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-Kitab.

Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah. (Dan 7:9-10,13-14) 

Bacaan Pertama alternatif: Why 12:7-12;  Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-5; Bacaan Injil: Yoh 1:47-51 

Hari ini Gereja merayakan Pesta Santo Mikael, Gabriel dan Rafael, Malaikat Agung, para pelayan Allah gagah-perkasa, yang memainkan peranan penting dalam rencana-penyelamatan-Nya. Saudari-saudara Kristiani yang bukan Katolik tentu hanya mengenal dua nama saja. Nama Rafael muncul dalam Kitab Tobit yang tidak ada dalam Alkitab mereka. Menurut tradisi Yahudi ada tujuh Malaikat Agung, yaitu Uriel, Rafael, Raguel, Mikael, Sariel, Gabriel dan Remiel (kalau ada waktu, silahkan membaca tentang hal itu di Encyclopaedia Britannica). Rafael memperkenalkan dirinya kepada Tobit dengan berkata: Aku ini Rafael, satu dari ketujuh malaikat di hadapan Tuhan yang mulia” (Tob 12:15).

Dalam zaman modern di mana kita manusia cenderung untuk mempertimbangkan hampir segalanya (kalau tidak mau dikatakan ‘segala-galanya’) dari  suatu perspektif duniawi, maka pesta seperti ini mengingatkan kita akan keberadaan malaikat dan/atau berbagai makhluk surgawi yang disebut “singgasana, kerajaan, pemerintah dan penguasa” (lihat Kol 1:16), juga tentang “roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang akan mewarisi keselamatan” (Ibr 1:14).

Sampai berapa seringkah kita berpikir tentang para malaikat, yang dikatakan oleh sejumlah orang kudus mempunyai tingkatan-tingkatan itu? Mungkin karena pengaruh film-film horor, rasanya lebih mudahlah untuk menerima realitas Iblis dan roh-roh jahatnya (sesungguhnya adalah para mantan malaikat yang  berontak) daripada makhluk-makhluk surgawi ini yang setia kepada Allah. Akan tetapi, sementara kita merayakan pesta para malaikat agung pada hari ini, baiklah kita mempertimbangkan peranan yang mereka mainkan seperti yang dikemukakan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK): “Bahwa ada makhluk rohani tanpa badan, yang oleh Kitab Suci biasanya dinamakan ‘malaikat’, adalah suatu kebenaran iman. …… Sampai Kristus datang kembali, pertolongan para malaikat yang penuh rahasia dan kuasa itu sangat berguna bagi seluruh kehidupan Gereja” (KGK 328, 334).

Malaikat adalah pelayan dan pesuruh Allah, yang selalu memandang wajah Bapa di surga (Mat 18:10), sehingga sang pemazmur menulis: “Pujilah TUHAN (YHWH), hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya” (Mzm 103:20; lihat KGK 329). Sebagai makhluk rohani murni mereka mempunyai akal budi dan kehendak mereka adalah wujud pribadi dan tidak dapat mati. Mereka melampaui segala makhluk yang kelihatan dalam kesempurnaan (KGK 330). Karena para malaikat dipanggil untuk membantu memajukan kerajaan Allah, maka tidak salah kalau kita berkesimpulan bahwa mereka mempunyai peranan juga dalam kehidupan umat Allah – anda dan saya.

Pada kenyataannya, apakah kita menyadarinya atau tidak, kehidupan kita dikelilingi oleh para malaikat, apakah melalui bisikan nurani kita atau saat-saat berkat yang tidak kita sangka-sangka dan harap-harap atau perlindungan. “Sejak masa anak-anak sampai pada kematiannya malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan perlindungan dan doa permohonan (doa syafaat)” (KGK 336).

Apabila kita mempertimbangkan bagaimana para malaikat memandang wajah Allah (lihat Mat 18:10), maka kita; akan melihat doa kita dari terang yang berbeda. Bayangkanlah, setiap kali and berdoa dan sujud menyembah Allah, para malaikat ada di sana, berdoa bersama anda. Sebagaimana para gembala melihat sejumlah besar bala tentara surga yang memuji Allah berkaitan dengan kelahiran Yesus Kristus (Luk 2:8-14), kita pun bergabung menyanyikan lagu penyembahan bersama mereka setiap kali kita merayakan Ekaristi Kudus (KGK 335). Banyak sekali malaikat menggabungkan diri dengan suara kita dalam paduan suara surgawi setiap kali kita dalam Misa kita bernyanyi: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa. Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu. Terpujilah Engkau di surga. Terberkatilah yang datang atas nama Tuhan. Terpujilah Engkau di surga!” (lihat Yes 6:3; bdk. Why 4:8).

Para malaikat dapat menjadi mata rantai yang menghubungkan kita dengan surga, maka pandanglah ke atas! Doa-doa anda mempunyai nilai yang besar. Anda dapat menggabungkan diri dengan sejumlah besar malaikat yang sujud menyembah Allah, apakah dalam Misa Kudus atau pada saat anda berdoa secara pribadi, dan doa anda itu dapat membawa “hujan berkat” dari Allah ke atas bumi.

DOA: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah semesta alam. Dengan penuh ketakjuban dan hormat, kami semua sujud menyembah Engkau dalam kemuliaan-Mu. Perkenankanlah suara kami bergabung dengan paduan suara surgawi para malaikat dalam memuji-muji kemuliaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 12:7-12a), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA PELAYAN DAN PESURUH ALLAH YANG AGUNG” (bacaan tanggal 29-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

Cilandak, 28 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ITU SIAPA SEBENARNYA?

YESUS ITU SIAPA SEBENARNYA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Kamis, 28 September 2017)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan B. Inosensius dr Bertio, Imam Biarawan 

Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan bahwa Yohanes telah dibangkitkan dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata, “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus. (Luk 9:7-9) 

Bacaan Pertama: Hag 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9b 

“Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” (Luk 9:9)

Herodes mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat baik, walaupun ia telah mengeraskan hatinya terhadap jawaban atas pertanyaan itu. Sekarang, apakah yang kita sendiri ketahui tentang Yesus? Allah mempunyai niat agar kita menjalin suatu hubungan yang akrab dan mempribadi dengan Putera-Nya, bahkan sebelum Ia menciptakan kita-manusia, dan Ia tidak pernah membatalkan niatnya ini. Allah sangat senang dalam menyatakan kasih-Nya, rencana-Nya, keberadaan-Nya kepada mereka yang duduk dalam keheningan di hadapan hadirat-Nya dan mohon kepada-Nya untuk mengajar mereka.

Bagaimana kita dapat merenungkan Allah yang tidak kelihatan? Tanda-tanda ada di sekeliling kita, hanya apabila kita mencoba mencarinya. Misalnya, Santo Paulus menulis: “Sifat-sifat-Nya yang tidak tampak, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak dan dipahami dari karya-Nya sejak dunia diciptakan” (Rm 1:20). Sang pemazmur juga mendeklarasikan, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm 19:1). Apabila kita menyaksikan pemandangan indah matahari yang sedang terbit atau terbenam, atau memandang bintang-bintang di langit pada malam hari dan banyak lagi hal lain yang menyangkut alam ciptaan, maka semua itu akan banyak menyingkapkan kebaikan dan kasih Allah.

Pada abad ke-17 ada seorang imam di Perancis yang bernama P. François Fénelon. Imam ini dilahirkan pada tahun 1651. Ia mengabdikan dirinya untuk merenungkan kebenaran-kebenaran Allah dan mengajar orang-orang lain bagaimana melakukan hal yang sama. Dia membagi waktunya antara memperhatikan serta merawat orang-orang miskin serta mereka yang menderita sakit-penyakit, dan membesarkan cucu laki-laki dari Raja Ludovikus XIV (Louis XIV) dalam rangka mempersiapkan cucu raja itu menjadi raja pada suatu hari kelak.  Baik ketika dia berada di tengah-tengah orang-orang dalam istana raja maupun ketika dia sedang berada di tengah-tengah para fakir miskin dan wong cilik pada umumnya, P. Fénelon menggunakan pengaruhnya untuk mengajar orang-orang tentang nilai penting untuk memberikan setiap waktu yang tersedia bagi Allah.

Fénelon sangat menyadari adanya tekanan-tekanan atas kehidupan sehari-hari, akan tetapi dia tetap mengajar, “Anda tidak boleh menanti sampai datangnya waktu senggang; ketika anda dapat menutup pintumu dan dan tidak melihat seorang pun ….. langsung arahkan hatimu kepada Allah, dengan sederhana, dengan akrab, dan dengan penuh kepercayaan.” Ia juga mengajar, “Kemana saja Allah akan memimpin anda, di situ engkau akan menemukan-Nya, dalam urusan yang paling mengganggu seperti juga dalam doa yang paling hening.” Sebagaimana Fénelon, kita juga dapat belajar bagaimana menyaring berbagai distraksi/pelanturan yang datang “mengganggu” kita setiap hari, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah yang menyelidik tentang Diri-Nya. Dan seperti Fénelon, kita juga dapat menemukan kuasa yang mengubah-kehidupan dengan mengenal Yesus semakin dalam dan dalam lagi dari hari ke hari.

DOA: Bapa surgawi, seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allahku. Curahkanlah rahmat dan kasih-Mu kepadaku. Tanpa Engkau diriku hampa belaka. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:7-9), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG TIDAK PERNAH DAPAT MEMBENDUNG PEWARTAAN KABAR BAIK” (bacaan tanggal 28-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http:/catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017.

Cilandak, 26 September 2017 [Peringatan S. Elzear & Delfina] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA PUN DIUTUS OLEH-NYA PADA HARI INI

KITA PUN DIUTUS OLEH-NYA PADA HARI INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Vinsensius a Paulo, Imam – Rabu, 27 September 2017) 

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, kata-Nya kepada mereka, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau kantong perbekalan, roti atau uang, atau dua helai baju. Apabila kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi desa-desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. (Luk 9:1-6) 

Bacaan Pertama: Ezr 9:5-9; Mazmur Tanggapan: Tb 13:2-5,8 

Selagi Yesus mulai bergerak menuju Yerusalem, Ia mengakhiri misi di Galilea dengan mengutus kedua belas murid-Nya untuk mewartakan Injil dan menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita dan juga untuk menguasai roh-roh jahat. Apakah para murid sudah sepenuhnya siap dan memenuhi syarat (qualified) untuk itu?

Menarik bagi kita untuk mencatat bahwa bahkan dalam cerita pengutusan para murid ini, Yesus tetap berada di pusat. Yesus-lah yang memanggil kedua belas murid-Nya (Luk 9:1), seperti Ia pada awalnya telah memanggil masing-masing murid itu untuk datang dan mengikut-Nya. Dengan berjalannya waktu, Yesus telah menyatakan diri-Nya dan mensyeringkan hidup-Nya dengan mereka. Mereka ini bukanlah rasul-rasul yang mengangkat diri mereka sendiri, dan mereka pun bukanlah pribadi-pribadi yang memiliki kharisma dan kemampuan secara alamiah. Satu-satunya hal yang membedakan diri mereka dengan orang-orang lain adalah relasi mereka dengan Yesus.

Sebelum Ia mengutus mereka, Yesus memberikan kepada kedua belas murid-Nya itu kekuasaan dan otoritas atas semua roh jahat dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit (Luk 9:1). Semuanya datang dari dari Yesus. Para murid-Nya tidak pernah pergi ke sekolah teologi dan mereka pun belum mempunyai banyak pengalaman dalam melakukan penyembuhan penyakit dan pengusiran roh-roh jahat. Malah mereka kelihatannya mudah merasa takut dan tidak mempunyai iman yang diperlukan. Namun Yesus memberikan kekuasaan dan otoritas atas realitas-realitas fisik maupun spiritual! Dalam menggambarkan pengutusan Yesus ini, Lukas menggunakan kata Yunani apostello bagi para rasul itu, yang berarti “seorang yang diutus oleh orang lain” (Inggris: apostle). Para rasul tidak menawarkan diri mereka secara sukarela untuk misi yang dipercayakan kepada mereka. Inisiatif ada pada Yesus! Mereka sekadar diutus untuk memberi kesaksian siapa Yesus itu, dan untuk memberikan kesaksian tentang kuasa Allah melalui tindakan-tindakan mereka.

Ternyata tidak ada bedanya pada hari ini. Yesus yang sama, yang memanggil kedua belas murid-Nya sekitar 2.000 tahun lalu, pada hari ini juga memanggil kita masing-masing secara pribadi. Yesus yang sama ini memberikan kepada kita otoritas atas roh-roh jahat dan sakit-penyakit hari ini. Yesus yang sama ini mengutus kita untuk pergi mewartakan Injil Kerajaan Allah secara sederhana, menyembuhkan orang-orang yang sakit, baik fisik maupun spiritual, dan mengasihi tanpa syarat siapa saja yang dijumpai sebagaimana Yesus mengasihi. Kita tidak melangkah maju berdasarkan kemampuan, kesempurnaan kita, atau kuat-kuasa yang kita miliki, melainkan sekadar dalam nama dan kuasa Yesus Kristus. Sang Guru dan Tuhan kita itu telah memilih kita dan memperlengkapi kita agar dapat melakukan kehendak-Nya oleh kuasa Roh Kudus yang hidup di dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat mengenali panggilan-Mu, menerima kuat-kuasa dan otoritas-Mu, dan setia dalam mewartakan Kerajaan Allah seturut kehendak-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, perkenankanlah kami meneruskan anugerah kesembuhan dari-Mu kepada semua orang yang membutuhkannya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUA ORANG HARUS MEMBUAT PILIHAN” (bacaan tanggal 27-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 26 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENJADI PELAKU FIRMAN ALLAH

MENJADI PELAKU FIRMAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Selasa, 26 September 2017)

Ordo Fransiskan Sekular: Peringatan S. Elzear dan Delfina 

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mendekati Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya, “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21) 

Bacaan Pertama: Ezr 6:7-8,12b,14-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

Dalam bagian Injil Lukas ini tercatat pengajaran Yesus tentang kemuridan/pemuridan. Mengikuti Yesus berarti mendengar sabda Allah dan berbuah (Luk 8:4-15). Murid Yesus yang sejati harus memiliki terang yang bercahaya dan tidak boleh tersembunyi (Luk 8:16). Para murid Yesus dapat mempunyai iman kepada Yesus dan tidak perlu takut terhadap angin ribut dalam kehidupan mereka (Luk 8:22-25). Sekali lagi, Yesus mengusir roh jahat dari seorang laki-laki di Gerasa dan atas dasar perintah Yesus sendiri, orang itu pun dengan penuh sukacita pergi ke seluruh kota dan memberitahukan segala sesuatu yang telah diperbuat Yesus atas dirinya (Luk 8:39).

Sekarang, marilah kita membayangkan sejenak apa yang terjadi seturut bacaan Injil hari ini. Banyak orang berkumpul di sekeliling Yesus untuk mendengar apa yang akan/sedang dikatakan oleh rabi dari Nazaret ini, walaupun mereka tidak selalu memahami perumpamaan-perumpamaan-Nya. Kemudian, muncullah Ibu Maria dan saudara-saudara Yesus, dan karena padatnya orang-orang yang berkumpul di situ, mereka tidak dapat mendekati  Yesus. Jadi, tidak mengherankanlah apabila ada orang yang memberitahukan kepada Yesus: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau” (Luk 8:20). Jawab Yesus: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk 8:21).

Apakah kiranya yang dimaksudkan Yesus dengan jawaban-Nya itu? Apakah ini berarti bahwa Yesus tidak merasa peduli pada ibu dan keluarga-Nya? Tentu saja tidak! Siapa yang lebih baik dalam memahami kata-kata Yesus itu selain Maria, yang memiliki hasrat tetap untuk melakukan kehendak Bapa surgawi (Luk 1:38)? Lukas tidak mencatat apa yang dilakukan oleh Yesus selanjutnya, namun akal sehat kita mengatakan bahwa tentulah Dia menyambut ibu dan saudara-saudara-Nya, kalau pun tidak langsung ketika mengajar orang banyak itu. Bagi Yesus, menempatkan orang-orang lain sebagai lebih penting daripada keluarga-Nya sendiri sebenarnya bertentangan dengan yang kita ketahui sebagai benar tentang Allah dan juga melawan seluruh ajaran tentang keluarga yang terdapat dalam Kitab Suci (bacalah “Sepuluh Perintah Allah”, khususnya Kel 20:12).

Dalam tanggapan-Nya, Yesus menyatakan bahwa “mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” akan menjadi dekat dengan Yesus seperti para anggota keluarga-Nya sendiri. Ini adalah sebuah janji pengharapan dan sukacita. Kita sendiri dapat mempunyai keintiman yang sama dengan Yesus, kedekatan yang sama, dan relasi kasih yang sama seperti yang dimiliki-Nya dengan ibu dan semua anggota keluarga-Nya. Kita bukan hanya akan menjadi dekat dengan Yesus, melainkan juga – seperti halnya dengan setiap keluarga – kita pun mulai kelihatan seperti Dia. Kita akan mengambil oper karakter-Nya dan mulai berpikir dan bertindak seperti Yesus. Ini adalah janji bagi kita yang berdiam dalam sabda Allah dan senantiasa berupaya untuk mewujudkan sabda-Nya menjadi tindakan nyata.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau menjanjikan kepada kami suatu relasi yang intim dan penuh kasih dengan diri-Mu. Tolonglah kami agar dapat mengalami kasih-Mu selagi kami menjalani hari-hari kehidupan kami untuk melakukan kehendak Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:19-21), bacalah tulisan yang berjudul “PENDENGAR DAN PELAKU FIRMAN ALLAH” (bacaan tanggal 26-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 25 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA HARUS MEMPERHATIKAN CARA KITA MENDENGAR

KITA HARUS MEMPERHATIKAN CARA KITA MENDENGAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Senin, 25 September 2017) 

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga.” (Luk 8:16-18) 

Bacaan Pertama: Ezr 1:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6 

“Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar.(Luk 8:18)

Kata-kata dalam Kitab Suci adalah seperti benih-benih. Apabila lingkungannya – teristimewa tanahnya –  cocok, benih-benih tersebut dapat bertumbuh dan membuahkan hasil yang berlimpah. Menghubungkan hal ini dengan apa yang dijanjikan Yesus bahwa Allah akan memberi kepada yang sudah mempunyai (Luk 8:18), kita dapat membayangkan apa yang akan terjadi apabila kita membaca kata-kata dalam potongan bacaan Kitab Suci: Selagi kita merenungkannya dan mewujudkannya dalam tindakan, maka “benih firman” itu dapat bertumbuh dan bertumbuh.

Pada suatu hari dalam Misa hari Minggu, seorang pemuda kaya yang baru berumur 20 tahun tersentuh oleh sebuah ayat Injil Matius yang dibacakan pada hari itu: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Mat 19:21). Hati pemuda itu tergerak untuk mematuhi perintah itu secara harafiah. Dengan cepat ia membagi-bagikan harta-kekayaan dan uangnya, menahan sedikit saja guna menopang hidupnya dan saudara perempuannya.

Dalam Misa kemudian setelah itu, pemuda itu mendengar satu ayat lagi yang menyentuh hatinya lagi: “Janganlah kamu khawatir tentang hari esok” (Mat 6:34). Sejak saat itu, dia “lompatan iman”. Setelah menyisihkan segala sesuatu yang diperlukan untuk saudara perempuannya, dia memberikan segala sesuatu yang tersisa dari harta-kekayaannya kepada orang-orang miskin, lalu pindah sebuah pondok kecil yang letaknya terisolasi di mana dia dapat mengabdikan dirinya untuk berdoa dan menopang kehidupannya dengan membuat alat-alat rumah tangga yang sederhana. Di mana? Di padang gurun Libia. Sepanjang hari berdoa, belajar dan bekerja kasar, sekadar cukup untuk hidup pada hari itu. Siapa nama orang yang “aneh” itu? Namanya Antonius (Yunani: Antonios) Pertapa atau Antonius dari padang gurun [251-356], kelahiran dekat Memphis (Mesir), bapa monastisisme.

Antonius tidak jarang mendapat godaan, baik rohani maupun jasmani. Namun berkat rahmat Tuhan yang dilimpah-limpahkan atas dirinya, dia sanggup mengatasi godaan-godaan tersebut. Ada catatan, bahwa pada waktu umat Kristiani dikejar-kejar dan dianiaya oleh Kaisar Maximinus, ia mengunjungi orang-orang yang disekap dalam penjara dan menguatkan iman dan pengharapan mereka. Untuk bertahun-tahun lamanya, Antonius hidup sendiri dalam kemiskinan. Akan tetapi, hari lepas hari dia menerima semakin banyak kehidupan Allah sendiri. Pada suatu saat, reputasinya menarik orang-orang lain, dan mereka datang mohon didoakan dan nasihat-nasihatnya yang penuh hikmat. Bahkan banyak yang lalu bergabung dengan dirinya dalam gaya-hidup seperti itu. Kemudian mereka membentuk kelompok pertapa dengan aturan hidup yang sedikit lebih longgar, sedangkan Antonius sendiri hampir selalu menyendiri.

Pada usia 60-an tahun, Antonius pergi ke Alexandria memberikan nasihat dan semangat kepada S. Atanasius (Atanasios) temannya dan para penentang bid’ah Arianisme. Antonius adalah pertapa yang bijaksana dan bukan seorang “bonek”. Kehidupan rohaninya sangat mendalam dan seluruh hidupnya diarahkan demi mengabdi Tuhan secara radikal. Sementara itu para pengikutnya semakin banyak: ribuan orang mengundurkan diri dari kehidupan kota-kota besar yang penuh dengan godaan nafsu duniawi. Mereka menyepi di gurun pasir mengejar panggilan kesempurnaan sebagai orang Kristiani.

Pada saat wafatnya, 85 tahun setelah untuk pertama kalinya dia menanggapi secara positif sabda yang hidup dalam Kitab Suci, pekerjaan Antonius telah memperbaharui seluruh Gereja. Pada kenyataannya, dampaknya atas kehidupan Gereja tak dapat diukur sampai hari ini. Santo Antonius Pertapa mengambil sedikit saja kata-kata yang ada dalam Kitab Suci lalu dihayatinya dengan sungguh-sungguh, dan lebih banyak lagi yang diberikan kepadanya. Sekitar sembilan abad kemudian, di Italia terjadi peristiwa yang serupa (tapi tak sama), yaitu panggilan pertobatan Santo Fransiskus dari Assisi yang juga berdampak sangat luas dan dalam dalam kehidupan Gereja untuk masa-masa selanjutnya. Sekitar 2000 tahun yang lalu, Yesus sudah bersabda, “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar” (Luk 8:18).

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita menjadi “pendengar yang baik” dan “pelaku firman” (Yak 1:22 dsj.). Santo Antonius Pertapa, Santa Fransiskus dari Assisi mengambil hanya sedikit saja nas-nas Kitab Suci ke dalam hati mereka masing-masing dan mereka menerima lebih banyak lagi dari Dia yang begitu baik, sumber segala kebaikan. Semoga ada sedikit ayat Kitab Suci yang berakar dalam diri kita masing-masing, sehingga kita pun dapat menerima lebih banyak lagi dari Sang Pemberi.

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau berbicara kepadaku melalui kata-kata yang ada dalam Kitab Suci. Semoga berkat kuasa-Mu, semakin banyak lagi kata-kata dalam Kitab Suci menjadi sabda yang hidup bagi diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18), bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN YESUS TENTANG PELITA YANG MENYALA” (bacaan untuk tanggal 25-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 September 2017 [HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YANG TERAKHIR AKAN MENJADI YANG PERTAMA DAN YANG PERTAMA AKAN MENJADI YANG TERAKHIR

YANG TERAKHIR AKAN MENJADI YANG PERTAMA DAN YANG PERTAMA AKAN MENJADI YANG TERAKHIR

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN A, 24 September 2017) 

“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk gterakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 

Bacaan Pertama: Yes 55:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,8-9,17-18; Bacaan Kedua: Flp 1:20c-24,27a

Bayangkanlah seseorang bekerja sepanjang hari untuk upah yang berjumlah sama dengan seorang lainnya yang bekerja hanya untuk satu jam lamanya. Rasa keadilan kita akan sungguh terusik. Dilihat dari kacamata dunia – keprihatinan-keprihatinan dan peraturan-peraturannya berkaitan dengan keadilan – tidak sulitlah bagi orang untuk berpihak pada para pekerja yang berpikir bahwa karena mereka bekerja untuk waktu yang lebih lama, maka mereka harus menerima upah yang lebih banyak daripada para pekerja yang bekerja untuk waktu yang lebih sedikit. Hal inilah yang dinilai adil dan benar! Kelompok pekerja yang pertama mulai bekerja pada jam 6 pagi. Mereka bekerja di kebun anggur sekitar 12 jam lamanya dan menjelang tengah hari dan di siang hari mereka sungguh bekerja di bawah terik matahari yang panasnya sungguh menyengat tubuh. Mereka semua bekerja untuk upah sebesar 1 denarius, sebuah uang logam Romawi yang bernilai satu hari kerja. Kelompok pekerja yang terakhir datang ke kebun anggur – yang bekerja untuk satu jam saja – juga menerima upah dalam jumlah yang sama.

Sungguh alamiah bagi kita untuk berpikir seperti itu, namun yang kita luput pertimbangkan adalah bahwa Yesus sedang menceritakan sebuah perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Keadilan bukan merupakan isu di sini. Tidak seorang pun dari kita pantas menerima sesuatu dari Allah karena perbuatan baik atau jasa kita. Tidak ada seorang pun dari kita yang berhak membuat Allah berhutang kepada kita. Segala sesuatu yang kita miliki – bahkan hidup kita sendiri – adalah karunia atau anugerah dari Allah, pemberian “gratis” dari Dia. Kita tidak pernah dapat memperoleh hak untuk berelasi secara pribadi dengan Allah disebabkan oleh pekerjaan baik kita. Dalam melayani Allah, kita menerima jauh lebih banyak daripada apa yang pernah kita berikan kepada-Nya. Bekerja di kebun anggur, di dalam Kerajaan Allah, bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah privilese! Jika kita menanggapi panggilan Allah sejak dini, hal itu tidaklah berarti kita disalah-gunakan melainkan dikaruniai. Apabila kita menanggapi panggilan Allah di kala hari sudah sore menjelang senja, kita pun dikaruniai!

Santa Teresa dari Avila [1515-1582] mengungkapkannya seperti berikut ini: “Kita harus melupakan jumlah tahun kita telah melayani Dia, karena jumlah dari semua yang dapat kita lakukan tidaklah bernilai apabila dibandingkan dengan setetes darah yang telah ditumpahkan oleh Tuhan bagi kita. … Semakin banyak kita melayani Dia, semakin dalam pula kita jatuh ke dalam hutang (kepada)-Nya.”

Yesus menceritakan perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur selagi Dia melakukan perjalanan ke Yerusalem. Kematian dan kebangkitan-Nya telah mentransformasikan dunia, memenuhinya dengan kasih-Nya. Pada waktu kita mengenal dan mengikut Yesus, kita juga akan mengenal privilese melayani tanpa reserve dalam kebun anggur-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, nyalakanlah dalam hatiku api cintakasih-Mu yang mendorong Engkau memikul salib sampai ke bukit Golgota dan wafat di atas kayu salib di tempat itu. Bakarlah hatiku dengan hasrat guna melayani di kebun anggur-Mu untuk waktu yang lama dan dengan penuh pengabdian. Bebaskan diriku dari kesalahan membanding-bandingkan pelayananku dengan orang-orang lain yang Engkau telah panggil juga untuk bekerja di kebun anggur-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yag berjudul “KITA MASING-MASING SAMA BERHARGANYA DI MATA ALLAH” (bacaan tanggal 24-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

Cilandak, 22 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS