Posts from the ‘20-04 BACAAN HARIAN APRIL 2020’ Category

SEBUAH CONTOH NYATA KARYA ROH KUDUS DALAM EVANGELISASI

SEBUAH CONTOH NYATA KARYA ROH KUDUS DALAM EVANGELISASI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Kamis, 30 April 2020)

Peringatan Fakultatif S. Pius V, Paus

OFMCap. (Kapusin): Peringatan Fakultatif B. Benediktus dr Urbino, Biarawan

Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, “Bangkitlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.” Jalan itu jalan yang sunyi. Lalu Filipus bangkit dan berangkat. Adalah seorang Etiopia, seorang pejabat istana, pembesar dan kepada perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kita Nabi Yesaya. Lalu kata Roh kepada Filipus, “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!” Filipus bergegas ke situ dan mendengar pejabat istana itu sedang membaca membaca kitab Nabi Yesaya. Kata Filipus, “Mengertikan Tuan apa yang Tuan baca itu?” Jawabnya, “Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. Nas yang dibacanya itu berbunyi sebagai berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. Dalam kehinaan-Nya, keadilan tidak diberikan kepada-Nya; siapa yang akan menceritakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi.

Lalu kata pejabat istana itu kepada Filipus, “Aku bertanya kepadamu, tentang siapa nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?” Filipus pun mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air; apakah ada halangan bagiku untuk dibaptis?” [Sahut Filipus, “Jika Tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya, Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”] Orang  Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun pejabat istana itu, lalu Filipus membaptis dia. Setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba membawa Filipus pergi dan pegawai istana itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. Ternyata Filipus sudah berada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea. (Kis 8:26-40)

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:8-9,16-17,20; Bacaan Injil: Yoh 6:44-51

Lukas menceritakan bahwa seorang malaikat Tuhan menginstruksikan Filipus (salah seorang dari tujuh orang diakon pertama Gereja perdana) untuk mengambil jalan di padang gurun di tengah siang hari yang sangat panas. Tidak ada seorang pun yang “normal” pikirannya mau berjalan di saat-saat yang paling panas seperti itu. Nyatanya, dibutuhkan seorang malaikat untuk membuat Filipus sampai ke tujuan secara tepat waktu, guna bertemu dengan pejabat istana Etiopia yang sedang dalam perjalanan pulang ke negerinya.

Apakah yang menyebabkan Filipus mengambil langkah dalam iman? Karena dia mengenal kasih Yesus, dan ia ingin menyebarkan kasih itu ke mana-mana. Filipus ingin memanfaatkan setiap kesempatan untuk bercerita kepada orang-orang lain tentang kuat-kuasa dan kemerdekaan Injil. Kelihatannya Filipus sudah biasa dengan Roh Kudus yang memimpin dirinya dan memberi arahan-arahan kepadanya.

Seperti juga Santa Perawan Maria yang percaya pada apa yang dikatakan malaikat agung Gabriel kepadanya tentang rencana penyelamatan Allah, Filipus juga percaya kepada pesan malaikat Tuhan yang memberikan instruksi kepadanya. Oleh karena itu, Filipus mengambil jalan yang sepi di siang hari bolong itu dalam iman yang lengkap, walaupun ia tidak mengetahui siapa atau apa yang akan dijumpainya. Dapatkah kita (anda dan saya) membayangkan betapa kelihatan bodoh dirinya di mata setiap orang yang pulang ke rumah atau warung mereka sehingga dapat berteduh dari sengat matahari di siang hari bolong itu?

Filipus terkejut melihat seorang pejabat asing sedang melakukan perjalanan sambil membaca keras-keras dari Kitab Yesaya, dan juga tidak terlalu jelas apa yang harus dilakukannya. Sekali lagi sang malaikat berbicara kepada Filipus, mendorongnya untuk memulai percakapan. Selebihnya adalah sejarah. Pejabat istana Etiopia itu tidak hanya merasa haus dan lapar akan sabda Allah, dia juga siap untuk menerima Injil dan dibaptis. Tradisi mengatakan bahwa orang Etiopia itu kembali ke negerinya dan menginjili bangsanya juga – semuanya karena keterbukaan Filipus bagi Tuhan dan karya-Nya.

Roh Kudus ingin bekerja melalui diri kita seperti yang terjadi dengan Filipus. Apabila kita mendengarkan desakan-desakan-Nya dalam hati kita, maka Dia  akan menunjukkan kepada kita di mana dan bagaimana seharusnya kita berbicara tentang Kristus. Apabila Allah menggerakkan hati kita dengan sabda-Nya dari Kitab Suci bagi seseorang, maka kita harus bertindak …… berbicara kepada orang itu. Kita tidak pernah tahu kejutan-kejutan apa yang telah disiapkan Tuhan bagi kita semua. Apabila kita memperkenankan-Nya, maka Dia akan memimpin kita kepada orang-orang yang sedang sangat merindukan sabda Allah. Oleh karena itu, janganlah kita menutup terang dari dalam diri kita atau merasa takut untuk men-sharing-kan Kabar Baik Yesus Kristus dengan orang-orang lain. Bayangkanlah betapa banyaknya orang yang akan berterima kasih penuh syukur kepada Tuhan karena langkah kecil kita dalam proses evangelisasi.

DOA: Bapa surgawi, semoga Roh-Mu membimbingku dan memberikan keberanian dan keyakinan kepadaku untuk menyebarkan Kabar Baik Yesus Kristus kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:44-51), bacalah tulisan dengan judul “SANG ROTI KEHIDUPAN YANG DIBERIKAN KEPADA UMAT-NYA” (bacaan tanggal 30-4-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun  2013) 

Cilandak, 28 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TETAP MENGARAHKAN PANDANGAN KITA KE SURGA

TETAP MENGARAHKAN PANDANGAN KITA KE SURGA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Katarina dr Siena, Perawan Pujangga Gereja – Rabu, 29 April 2020)

Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.

Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitahukannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh  dan orang timpang disembuhkan. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu. (Kis 8:1b-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7; Bacaan Injil: Yoh 6:35-40)

Bacaan hari ini menggambarkan masa/zaman di mana Gereja Kristus mengalami pengejaran dan penganiayaan disertai berbagai bentuk kekerasan pada usianya yang masih sangat muda. Para anggota Gereja yang saleh baru saja menguburkan martirnya yang pertama, Diakon Stefanus. Sekarang, muncullah seorang Farisi yang bernama Saulus dari Tarsus yang dengan semangat berapi-api bertekad untuk menghancurkan “sekte” keagamaan yang baru berkembang tersebut. Hal ini merupakan ancaman terhadap umat Kristiani di mana-mana.

Segalanya kelihatan gelap. Namun demikian, walaupun di tengah-tengah masa-masa sulit sedemikian, Gereja bertumbuh-kembang secara relatif cepat, dan tanpa menggunakan kekerasan tentunya. Pengejaran, penganiayaan dan kemartiran kelihatannya malah memperkokoh iman umat Kristiani perdana. Allah membuat mukjizat-mukjizat lewat umat-Nya. Kelihatannya tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan dunia untuk menghentikan pertumbuhan Gereja yang cepat itu.

Dalam artian tertentu, Gereja di Indonesia tercinta ini juga mengalami penganiayaan, walaupun masih jauh lebih ringan daripada yang pernah dialami umat di negara-negara lain, misalnya negara-negara Komunis. Namun demikian, kita terkadang memandang kehidupan kita dan melihat tidak ada apa-apa selain suatu horison yang gelap. Barangkali kita sedang menderita karena adanya skandal dalam paroki atau keuskupan kita. Kehilangan pekerjaan, penyakit yang serius dan mematikan, atau relasi yang patah – semua ini dan banyak lagi – dapat merampas pengharapan yang kita perlukan. Akan tetapi, seperti ditunjukkan oleh bacaan di atas, walau pun dalam saat-saat kegelapan, terang Kristus dapat tetap terang bercahaya dalam hati kita. Kita masih aman di tangan-tangan ‘seorang’ Allah Mahakuasa yang mengasihi kita dengan lemah lembut, kasih yang tak mengenal akhir.

Kita harus mengingat bahwa Allah senantiasa lebih besar secara tak terhingga ketimbang kejahatan sebesar apa pun yang mau ditimpakan kepada kita, umat-Nya dan …… anak-anak-Nya sendiri. Memang kita terkadang merasa “sunyi-sepi-sendiri” dan tertekan dalam kesendirian kita itu, namun kenyataannya adalah bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan kita atau Gereja-Nya. Kita merasa ditinggalkan apabila kita menaruh seluruh pengharapan kita pada manusia, apakah mereka dokter, imam, orangtua, atau bahkan pasangan hidup kita. Tidak ada seorang pun yang tidak rentan terhadap dosa atau kelemahan dalam berbagai bentuknya. Sebaliknya, Allah itu sempurna, dan Ia mengikat diri-Nya sendiri kepada kita dalam suatu ikatan-kasih yang bersifat kekal abadi.

Marilah kita mendorong satu sama lain untuk tetap mengarahkan pandangan kita ke surga pada hari ini. Bapa surgawi senantiasa ada bersama kita untuk melindungi dan membimbing kita. Marilah kita mendorong dan menguatkan satu sama lain untuk menaruh kepercayaan kepada janji-janji yang telah dibuat-Nya. Allah sepenuhnya dapat dipercaya. Dia bahkan akan menggunakan saat-saat kita mengalami pencobaan untuk membuktikan kekuatan-Nya dan membuat kokoh iman kita kepada-Nya. Oleh karena itu, kita tidak pernah boleh menyerah, karena Allah ada di pihak kita!

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku memberikan hatiku kepada-Mu dan meletakkan segala ketidakpercayaanku di dekat kaki-kaki-Mu. Engkau adalah Allahku, dan aku tidak akan merasa takut karena Engkau adalah Imanuel, selalu ada bersamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:35-40), bacalah tulisan yang berjudul “MENCICIPI KEBAIKAN DAN KASIH TUHAN” (bacaan tanggal 29-4-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 26 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKULAH ROTI KEHIDUPAN

AKULAH ROTI KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Selasa, 28 April 2020)

Peringatan Fakultatif S. Petrus Chanel, Imam Martir

Peringatan Fakultatif S. Ludovikus Maria Grignion de Montfort, Imam

Ordo Ketiga Fransiskan Regular/Sekular: Peringatan Fakultatif B. Lukhesius

Sebab itu, kata mereka kepada-Nya, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Lalu kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang  memberikan kamu roti yang  benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. (Yoh 6:30-35)

Bacaan Pertama: Kis 7:51-8:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6-8,17,21

Sungguh aneh, bukan? Pada suatu hari Yesus memberi makan sekitar 5.000 orang laki-laki (artinya jumlah sesungguhnya jauh lebih besar kalau ditambah perempuan dan anak-anak) dengan hanya lima roti dan dua ekor ikan, dan keesokan harinya orang-orang yang sama menuntut agar dapat menyaksikan Dia membuat “tanda” sehingga mereka dapat percaya kepada-Nya. Sebagian besar dari orang banyak itu kelihatannya mengharapkan untuk memperoleh apa saja yang dapat diberikan oleh Yesus – dalam hal ini lebih banyak roti lagi. Yesus berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang” (Yoh 6:26).

Berapa banyak dari mereka yang sungguh memahami bahwa roti yang dilipatgandakan hanyalah sebuah tanda dari suatu karunia yang jauh lebih memiliki kuat-kuasa? Perlipatgandaan roti dimaksudkan untuk menunjuk kepada Yesus, “roti yang benar dari surga” yang “memberi hidup kepada dunia” (Yoh 6:33). Pastinya, karunia roti dunia menyatakan bela rasa Yesus bagi diri orang-orang yang mempunyai kebutuhan-kebutuhan fisik. Akan tetapi, Yesus ingin memberikan kepada mereka makanan yang jauh lebih bernilai, yaitu berupa roti rohani (spiritual) untuk perjalanan mereka menuju kehidupan kekal.

Allah juga membuat tanda-tanda indah dari kehadiran-Nya, kasih-Nya dan kuat-kuasa-Nya dengan banyak cara: dalam dunia natural, dalam relasi-relasi kita, dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi setiap hari. Sekarang, bagaimana kita melihat berbagai anugerah ini? Apakah kita melihat anugerah-anugerah ini sebagai papan penunjuk jalan menuju kebaikan-kebaikan serta realitas-realitas yang lebih tinggi? Atau apakah kita hanya memandang anugerah-anugerah itu sebagai hal-hal yang biasa-biasa saja dan ujung-ujungnya menyusutkan signifikansi dan kuat-kuasa spiritual dari anugerah-anugerah tersebut?

Pada hari ini, selagi kita masing-masing membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, marilah kita mencoba hal berikut ini. Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Mengapa aku melakukan hal ini? Apakah prioritas pertama dan utamaku adalah membiarkan Kitab Suci memberi makanan rohani kepadaku, sehingga aku dapat semakin serupa dengan Yesus dan mengikut Dia menuju kehidupan kekal? Atau mungkinkah aku sekadar menginginkan agar Allah memberkati urusan-urusanku di dunia, namun tidak untuk mentransformasikan hatiku?

Kebutuhan-kebutuhan kita di dunia memang penting, namun Allah ingin membuka mata kita untuk suatu visi yang jauh lebih besar dan agung ketimbang impian dunia apa pun yang dapat kita bayangkan. Allah mempunyai impian surgawi bagi kita dan bagi semua orang yang Dia ingin panggil untuk diri-Nya melalui diri kita. Oleh karena itu, kita tidak pernah boleh mengabaikan tujuan-tujuan Allah yang lebih tinggi, pada saat-saat kita berdoa untuk diberikan roti harian kita. Marilah kita memusatkan pandangan kita pada Yesus, sang Roti Kehidupan, satu-satunya Pribadi yang dapat memuaskan setiap rasa lapar kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah sang Roti Kehidupan. Bukalah mataku agar dapat melihat kehadiran-Mu dalam tanda-tanda di sekeliling diriku. Bukalah telingaku agar dapat mendengar suara-Mu. Biarlah sabda-Mu dalam Kitab Suci dan roti Ekaristi yang kumakan sungguh mengubah hatiku. Biarlah kasih-Mu yang mengalir dalam diriku menggerakkan aku untuk menghayati hidup Injili dan memimpin orang-orang lain kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:30-35), bacalah tulisan yang berjudul “ROTI KEHIDUPAN YANG MEMBERI MAKAN, MEMELIHARA DAN MEMPERKUAT KITA” (bacaan tanggal 28-4-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 26 April 2020 [HARI MINGGU PASKAH III – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 27 April 2020)

Serikat Yesus: Peringatan Wajib S. Petrus Kanisius, Imam Pujangga Gereja

Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Di dekat laut (danau) Galilea, Yesus menyembuhkan orang-orang sakit dan mengajarkan sabda Allah kepada orang banyak, banyak dari mereka datang dari tempat-tempat yang jauh. Pada akhir hari – karena keprihatinan-Nya pada orang banyak itu – Yesus membuat mukjizat berupa penggandaan roti dan dua ekor ikan, untuk dapat memberi makan kepada ribuan orang yang berkumpul untuk mendengarkan pengajaran-Nya dan mendapatkan kesembuhan dari diri-Nya dlsb. Jadi, tidak mengherankanlah apabila keesokan harinya mereka datang lagi untuk mencari Yesus, barangkali dengan pengharapan untuk menikmati mukjizat lain lagi (Yoh 6:22).

Pada awalnya, kata-kata Yesus terdengar “keras”: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang” (Yoh 6:26). Akan tetapi, sebenarnya Yesus sangat memperhatikan orang-orang itu pada tingkat yang lebih dalam daripada yang mereka sendiri sadari. Yesus ingin agar mereka masing-masing sungguh menjalin relasi pribadi dengan Allah Bapa seperti yang ditawarkan oleh-Nya kepada mereka. Yesus mengundang mereka melakukan pekerjaan untuk mendapatkan makanan yang akan membawa kehidupan kekal. Ia mengatakan kepada mereka: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa…… Inilah yang pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:27,29).

Memang benarlah bahwa iman adalah karunia atau anugerah dari Allah. Namun sekali kita menerima karunia ini, adalah tanggung-jawab kita untuk menghayatinya dalam kehidupan kita sehari-hari. Percaya kepada Yesus menuntut upaya yang riil dan serius dari diri kita. Setiap hari, dari saat kita bangun tidur sampai saat kita pergi tidur, kita menghadapi situasi-situasi yang menantang pikiran dan hati kita. Kita menghadapi pilihan untuk menyerah terhadap godaan, rasa takut, keragu-raguan, kemarahan dan kecemasan – atau rasa percaya pada Allah sendiri. Sementara Roh Kudus memberikan kepada kita rahmat serta kekuatan untuk memilih dengan baik dan benar, maka tetap tergantung kepada diri kita sendirilah untuk menerima rahmat-Nya dan dibimbing oleh iman.

Selagi kita menghadapi situasi kehidupan kita sehari-hari, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita percaya kepada Pribadi Yesus sebagaimana Dia sendiri menjelaskan tentang diri-Nya. Dalam setiap situasi, Yesus mengundang kita untuk berseru kepada-Nya sehingga Dia dapat menunjukkan kepada kita kuat-kuasa-Nya dan mengajar kita untuk mengasihi dan lebih menaruh kepercayaan kepada-Nya. Apabila kita mengalami kegagalan, Dia tetap menginginkan agar kita mulai baru lagi lagi. Kalau kita bertekun dalam perjuangan ini, maka hal ini berarti fighting the good fight dalam hal iman.

DOA: Yesus, aku percaya bahwa Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku untuk lebih lagi menaruh kepercayaan kepada-Mu, karena imanku kelihatannya lemah. Ajarlah aku untuk percaya sepenuhnya kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “JANJI KEBANGKITAN KE DALAM HIDUP BARU” (bacaan tanggal 27-4-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH  APRIL 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 26 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERISTIWA EMAUS: MELIHAT YESUS DALAM EKARISTI

PERISTIWA EMAUS: MELIHAT YESUS DALAM EKARISTI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH III [TAHUN A] – 26 April 2020

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35) 

Bacaan Pertama: Kis 2:14,22-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Kedua: 1Ptr 1:17-21 

Pernahkah anda mempunyai suatu pengalaman pada Misa Kudus, ketika anda merasa sangat dekat dengan Tuhan Yesus, serasa Dia sedang duduk di samping anda? Pikiran anda terfokus, tubuh anda rileks dan hati anda berkobar-kobar dengan cintakasih kepada Yesus. Pada saat-saat seperti ini setiap hal diletakkan pada perspektif yang layak dan anda pun yakin bahwa Allah memegang kendali atas setiap situasi. Seperti inilah yang dialami oleh Kleopas dan temannya ketika berjalan menuju Emaus, pada waktu Yesus menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci.

Cerita perjalanan menuju Emaus ini pun telah menjadi ilustrasi mengenai apa yang kita semua dapat terima apabila kita merayakan Ekaristi. Seperti hati kedua murid yang berkobar-kobar pada waktu Yesus menjelaskan Kitab Suci kepada mereka, hati kita juga berkobar-kobar manakala sabda Allah diwartakan. Kemudian kita siap untuk Yesus menyatakan diri-Nya kepada kita dalam pemecahan roti dalam upacara Komuni Kudus.

Oleh karena itu bagaimana kita dapat melihat Yesus dalam Ekaristi? Barangkali satu dari cara-cara terbaik adalah dengan membaca Kitab Suci. Dalam gereja perdana, perayaan Ekaristi berlangsung berjam-jam lamanya. Arti positifnya di sini adalah bahwa ada cukup waktu untuk Kitab Suci, untuk persekutuan dan untuk doa sembah bakti setelah Komuni. Pada zaman sekarang, Misa Kudus hari Minggu di kota-kota besar berlangsung selama satu jam lebih sedikit, karena Misa yang satu akan disusul oleh Misa lainnya. Memang banyak umat yang senang kalau Misa Kudus yang dihadirinya itu “singkat-padat”, khotbah imam yang tak bertele-tele dan sebagainya, namun kita harus sadari bahwa banyak juga orang yang merindukan untuk waktu yang lebih panjang, misalnya untuk adorasi Sakramen Mahakudus setelah Misa.

Bagaimana kita dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan waktu ini? Dengan menyiapkan diri kita sebaik-baiknya sebelum menghadiri Misa Kudus. Satu cara yang sangat efektif adalah pada hari Sabtu malam kita membaca dan merenungkan bacaan-bacaan Kitab Suci untuk Misa Kudus keesokan harinya.

Mulailah dengan mohon kepada Roh Kudus untuk membuka hati kita bagi pewahyuan-Nya. Bacalah nas-nas Kitab Suci itu secara perlahan-lahan dan dalam suasana doa. Anda malah dapat membaca kitab tafsir atau panduan studi untuk membantumu memahami bacaan-bacaan yang ada. Setelah selesai membaca dan meditasi, dengan rendah hati mohonlah kepada Yesus untuk mencurahkan cintakasih-Nya atas diri anda, supaya anda siap untuk bertemu dengan-Nya dan mengasihi-Nya lebih penuh lagi dalam Misa Kudus pada keesokan harinya. Ingatlah bahwa Yesus selalu berkeinginan untuk berbicara kepada hati anda. Dia hanya menanti anda untuk datang kepada-Nya!

DOA  Tuhan Yesus Kristus, datanglah dan ajarlah aku. Biarlah sabda-Mu berkobar-kobar dalam hatiku. Bukalah mata hatiku sehingga aku dapat melihat-Mu dalam Ekaristi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan yang berjudul  “PERSEKUTUAN YANG AKRAB DENGAN YESUS” (bacaan tanggal 26-4-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 24 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANTO MARKUS: PENULIS INJIL YANG PALING TUA

SANTO MARKUS: PENULIS INJIL YANG PALING TUA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO MARKUS, Penulis Injil – Sabtu, 25 April 2020)

Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.” Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu bahwa semua saudara seimanmu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala anugerah, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. Dialah yang punya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Dengan perantaraan Silwanus yang kuanggap sebagai seorang saudara seiman yang dapat dipercayai, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan meyakinkan kamu bahwa ini adalah anugerah yang benar-benar dari Allah. Berdirilah dengan teguh di dalamnya!

Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon dan juga dari Markus, anakku. Berilah salam seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus. Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus. Amin. (1Ptr 5:5b-14) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,6-7,16-17; Bacaan Injil: Mrk 16:15-20 

Pada hari ini, tanggal 25 April, Gereja merayakan pesta Santo Markus. Orang kudus ini adalah salah seorang dari umat Kristiani awal yang ikut ambil bagian dalam masa-masa yang sungguh exciting menyusul peristiwa Pentakosta Kristiani yang pertama, ketika penyebaran Kekristenan (Kristiani) dimulai ke segala penjuru dunia.

Markus menemani Paulus dan Barnabas pada perjalanan misioner mereka yang pertama, dan dia bergabung dengan Barnabas dalam perjalanan-perjalanan lainnya dan pergi ke Roma di mana dia bekerja dengan Petrus, yang memandang dirinya sebagai anaknya sendiri (lihat 1 Ptr 5:13). Menurut tradisi, Petruslah yang minta kepada Markus untuk menulis Injil yang dikenal sebagai “Injil Markus” itu.

Boleh dikatakan bahwa selama berabad-abad Injil Markus merupakan kitab Injil yang kurang diperhitungkan. Hal itu tentu saja disebabkan oleh bermacam-macam alasan. Dapat disebut misalnya: Injil Markus adalah yang paling pendek dari ke empat kitab Injil (terdiri dari 16 bab; bdk. Injil Matius yang terdiri dari 28 bab dst.) Hampir seluruh bahan yang ditemukan dalam Injil Markus ditemukan juga dalam Injil Matius dan/atau Injil Lukas. Maka dari sudut bahan, Injil Markus tidak mempunyai keistimewaan apa pun” (lihat I. Suharyo Pr, Pengantar Injil Sinoptik, Yogyakarta: Lembaga Biblika Indonesia/Penerbit Kanisius, 1989, hal. 49).

Sembilan belas abad lamanya Injil Markus ini sempat tidak/kurang dikenal karena Markus dipandang sebagai penulis Injil yang kurang berarti, naif, dan tak lebih daripada seorang tukang kumpul-cerita yang ditumpuk-tumpuk begitu saja tanpa rencana dan tujuan, meskipun diakui kelincahan caranya bercerita menggambarkan kisah kehidupan Yesus, Injilnya lama sekali tidak ada yang merasa perlu memberi komentar, bahkan paling kurang/sedikit disitir baik dalam tulisan-tulisan maupun dalam liturgi. Malah Injil Markus dianggap sebagai suatu ringkasan dari Injil Matius.

Namun sejak awal abad ke-20, hal ini mengalami perubahan total, sejak W. Wrede (seorang pakar Kitab Suci Kristen Protestan) pada tahun 1901 mengumumkan penemuannya yang baru mengenai analisis-teks dari struktur Injil Markus seperti yang kita kenal sekarang (lihat A. Brotodarsono SJ, “Indjil Santo Markus”, Yogjakarta: Majalah Bulanan untuk Kehidupan Rohani”, Tahun XIV, Nomor 4, Mei 1967).

Sekilas lintas saja, riwayat hidup singkat Markus ini sudah memberi kesan betapa “hebatnya” orang ini. Dia pernah menjadi asisten rasul-rasul agung! Namun, seperti kita, Markus juga hidup tidak tanpa pencobaan yang digunakan Allah untuk “melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan” (1 Ptr 5:10). Markus pergi meninggalkan Paulus dan Barnabas pada awal-awal perjalanan misioner yang pertama dan kemudian dia menjadi sumber ketegangan antara Paulus dan Barnabas (Kis 15:36-41).

Oh, betapa indahnya dan nyamannya apabila kita dapat mempelajari segala sesuatu yang kita perlukan dari pembacaan buku-buku, berbagai macam koran/majalah, atau tulisan-tulisan lewat internet di mana kita tidak perlu mengalami rasa sakit akibat komunikasi antar-pribadi, bukankah begitu? Namun, dalam hikmat-Nya, “Allah, sumber segala anugerah” (1 Ptr 5:10) mengajar kita kerendahan hati dengan memperkenankan pengalaman-pengalaman hidup yang terkadang sungguh pahit.

Allah melihat gambar besarnya dan pengetahuan-Nya tak mengenal batas (janganlah kita pernah mencoba-coba untuk membandingkan pengetahuan kita dengan pengetahuan sang Mahatahu). Allah mampu untuk mendatangkan berkat-berkat-Nya dalam situasi-situasi yang menurut penilaian kita sudah tidak berpengharapan. Allah mengggunakan setiap situasi untuk mendekatkan kita kepada diri-Nya, untuk menyiapkan diri kita dalam menghadapi peristiwa-peristiwa di masa depan, dan untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Dia tidak pernah menguji kita melampau kekuatan kita, dan ketika Dia memulihkan kita, kita tidak lagi  sama karena Dia telah “melengkapi, meneguhkan, menguatkan  dan mengokohkan kita” (1 Ptr 5:10).

Seringkali kita mencoba untuk mengambil jalan kita sendiri dalam kehidupan ini dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri saja. Ujung-ujungnya kita mendapatkan diri kita terjerat dalam kecemasan dan stres. Beberapa saat kemudian barulah kita menyadari bahwa kita telah membuang tenaga dan memeras otak kita untuk sesuatu yang “nol besar”, karena sesungguhnya Allah sudah bekerja dalam diri kita selama itu. Di sinilah perlunya bagi kita untuk belajar semakin berserah diri kepada-Nya, langkah demi langkah dalam kehidupan kita. Sukacita sejati kita alami selagi kita melihat Allah “mengangkat diri kita pada saat-Nya” dan “memulihkan kita” kepada damai-sejahtera-Nya setelah mengalami suatu periode yang penuh dengan ketegangan, rasa was-was, kegalauan, kekhawatiran, ketakutan dan sejenisnya. Seperti Santo Markus, marilah kita belajar untuk merendahkan diri kita di hadapan Allah dan menanti dengan sabar saat di mana Dia mengangkat kita.

Santo Markus ternyata tidak seperti yang diperkirakan sebelumnya. Markus bukanlah seorang penulis Injil yang kurang bermutu apabila dibandingkan para penulis Injil lainnya. Dia adalah penulis dari Injil yang tertua, yang ingin menampilkan wajah asli Yesus dari Nazaret yang sungguh Anak Allah. Ayat pertama dari Injil-nya berbunyi: “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk 1:1). Kemudian waktu kepala pasukan (tentara Romawi yang kafir) yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat-Nya menghembuskan napas terakhir seperti itu, berkatalah ia, “Sungguh orang ini Anak Allah!” (Mrk 15:39). Sungguh catatan kesaksian yang luarbiasa, mengingat bahwa Injil Markus ditujukan untuk jemaat di Roma.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah kami mempercayai hasrat-Mu untuk mengajar kami dalam setiap situasi kehidupan kami. Kami mempersembahkan kepada-Mu kesulitan-kesulitan kami agar Engkau dapat menguatkan kami dan memenuhi diri kami dengan hidup-Mu sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Ptr 5:5b-14), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO MARKUS: SEORANG PEWARTA INJIL SEJATI” (bacaan tanggal 25-4-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.worpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020) 

Cilandak, 24 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUAT-KUASA DARI NAMA YESUS

KUAT-KUASA DARI NAMA YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 24 April 2020)

Peringatan Fakultatif S. Fidelis dr Sigmaringen, Imam-Martir

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan Wajib/Pesta/Hari Raya S. Fidelis dr Sigmaringen, Imam-Martir

Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang pengajar hukum Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, berdiri dan meminta, supaya orang-orang disuruh keluar sebentar. Sesudah itu ia berkata kepada sidang itu, “Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini! Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya sebagai orang yang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan tercerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap. Sesudah dia, pada waktu sensus penduduk muncullah Yudas, orang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan tercerai-berailah seluruh pengikutnya. Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah. Nasihat itu diterima. Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu mencambuk mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan.

Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Setiap hari mereka mengajar di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias. (Kis 5:34-42)

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Injil: Yoh 6:1-15

Para rasul mengakui dan menerima keberadaan kuat-kuasa nama Yesus dalam penyembahan mereka, dalam kegiatan evangelisasi mereka, ketika mereka mendoakan orang-orang sakit, orang yang berada dalam kesusahan, dlsb., dan pada waktu mereka melakukan upacara memecah-mecahkan roti mereka (Ekaristi). Nama Yesus memperkuat mereka, menghibur mereka, dan menyembuhkan mereka selagi mereka bekerja membangun Gereja.  Penuh kesadaran akan ketangguhan dan keperkasaan nama Yesus, mereka dengan berani memproklamasikan Injil  dalam nama Yesus, walaupun Mahkamah Agama telah melarang mereka mengajar dalam nama Yesus (lihat Kis 5:40-42).  Walaupun mereka telah dicambuki, rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus (Kis 5:40-41).

Nama Yesus merepresentasikan siapa sesungguhnya diri-Nya – kodrat-Nya yang sejati. Jika kita berdoa dalam nama Yesus, hal ini berarti bahwa kita berseru kepada segenap keberadaan-Nya – keilahian-Nya, kemuliaan-Nya, kuasa-Nya, karakter-Nya, kasih-Nya. Bilamana kita berdoa dalam nama Yesus, kita mempersatukan diri kita dengan Dia.  Hasrat-hasrat-Nya menjadi hasrat-hasrat kita. Tujuan-tujuan-Nya menjadi tujuan-tujuan kita. Kehidupan-Nya yang penuh rahmat dan kuasa mengambil alih kehidupan kita yang penuh dengan rasa takut dan dosa. Yesus berjanji, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7). Selagi kita tinggal dalam Yesus melalui doa dan ketaatan, kita akan menyaksikan kuat-kuasa daru \nama-Nya mencapai tujuan-tujuan Allah dalam kehidupan kita dan dalam diri mereka yang kita doakan.

Melalui contoh dari kehidupan doa-Nya sendiri, Yesus mengajar kita bagaimana seharusnya berdoa. Dalam doa, Yesus mencari hikmat-kebijaksanaan Bapa-Nya, kuat-kuasa-Nya dan bimbingan-Nya, sebelum melakukan sesuatu. Dan, Bapa surgawi selalu menjawab doa-doa Yesus. Jadi, apabila kita berdoa dalam nama Yesus, kita dapat mengharapkan bahwa rencana-rencana Allah akan dipenuhi. Dalam setiap situasi – apakah sebuah persoalan kecil di tempat kerja atau di rumah, atau suatu krisis besar seperti penderitaan sakit-penyakit serius, kecelakaaan besar yang menelan ratusan jiwa, bencana alam, kematian dlsb. – maka kita dapat  menyerukan nama Yesus dengan penuh keyakinan dan pengharapan. Oleh nama-Nya semua kuasa-kegelapan, semua rasa takut, dan sejenisnya akan “kabur-pergi”.

Yesus ingin menghibur kita dengan kehadiran-Nya, kasih-Nya dan damai-sejahtera-Nya. Yesus ingin agar kita sungguh mengakui dan menaruh kepercayaan pada otoritas dan kuat-kuasa dari nama-Nya. Dosa dan kegelapan akan lari ketika nama Yesus diserukan dengan penuh iman. Sebagai murid-murid-Nya di Gereja Perdana, kita pun patut untuk mempunyai keyakinan yang sama.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku mencintai nama-Mu karena belas-kasih-Mu, kemuliaan-Mu, otoritas tertinggi dari-Mu, kasih-Mu yang penuh pengorbanan. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sumber segala kebaikan, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:34-42), bacalah tulisan yang berjudul “SUATU MOMEN PENTING DALAM KEHIDUPAN GEREJA” (bacaan tanggal 244-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 22 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH TIDAK AKAN MENGECEWAKAN ORANG-ORANG YANG MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA-NYA

ALLAH TIDAK AKAN MENGECEWAKAN ORANG-ORANG YANG MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Kamis,  23 April 2020)

Peringatan Fakultatif S. Georgius, Martir

Peringatan Fakultatif S. Adalbertus, Uskup – Msrtir

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan Fakultatif B. Egidius dr. Assisi, Biarawan

Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata tentang hal-hal di bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya. Ia bersaksi tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tidak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi siapa saja yang tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap tinggal di atasnya.” (Yoh 3:31-36).

Bacaan Pertama: Kis 5:27-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9,17-20 

Injil Yohanes diisi dengan pernyataan-pernyataan tentang perbedaan antara “atas” dan “bawah/bumi” (Yoh 3:31; 8:23), antara “kegelapan” dan “terang” (Yoh 3:19; 8:12; 12:35,46), antara “daging/jasmani” dan “roh” (Yoh 3:6;6:63). Seperti para orangtua yang mengingatkan anak-anak mereka tentang bahaya riil kehidupan – dan konsekuensi-konsekuensi dari pengambilan keputusan yang buruk – demikian pula Allah, Bapa kita di surga, mengingatkan kita tentang realitas surga dan neraka. Ada suatu perbedaan yang dapat dibeda-bedakan antara dua “jalan” ini, dan Allah senantiasa memanggil kita untuk mengikuti jalan-Nya.

Bagaimana kita dapat mengetahui apakah kita sedang mengikuti “jalan kehidupan” atau “jalan kematian”? Jaminan apakah yang kita dapatkan bahwa kita kita sedang berada dalam jalan yang benar? Sebelum segalanya yang lain, kita perlu menyandarkan diri pada kasih Allah, Bapa kita di surga. Dia memberikan Roh-Nya tanpa ditahan-tahan lagi, apabila kita meminta kepada-Nya (Yoh 3:34; Luk 11:13). Allah ingin agar kita ada bersama diri-Nya; Dia menginginkan memenuhi diri kita dengan kasih-Nya dan perlindungan-Nya. Melalui Kitab Suci, Dia telah memberikan kepada kita perintah-perintah-Nya untuk menjaga kita tetap dalam jalan kehidupan; Dia tidak akan membuang mereka yang mengandalkan diri kepada bimbingan-Nya.

Kita telah ditebus oleh darah Yesus, dan dosa serta kesalahan kita telah dicuci-bersih dalam air baptisan. Kita telah menerima Roh Kudus yang telah dijanjikan, yang dicurahkan secara berlimpah. Kita adalah anak-anak Allah, dan Bapa ingin mengajar kita dan melindungi kita. Selagi kita terus menerima kesaksian Yesus, kita akan mampu untuk mengatakan, “Allah adalah benar!” (Yoh 3:33). Kita akan dipenuhi dengan keyakinan akan kuasa Allah, dan dan penuh kemauan untuk mengikuti Yesus …… ke mana saja Dia memimpin kita. Bahkan ketika sulit bagi kita untuk mentaati-Nya, kita akan mengetahui bahwa Allah sungguh dapat dipercaya, dan kita akan mencari kekuatan Roh agar tetap setia.

Pada masa Paskah yang penuh sukacita ini, marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar membuka hati kita masing-masing lebih lebar lagi bagi kesaksian Yesus. Marilah kita datang ke dalam terang kasih Allah dan mohon kerendahan-hati dan kekuatan yang diperlukan untuk mengikuti “jalan kehidupan”. Kita melayani ‘seorang’ Allah yang berbelas-kasih dan murah-hati. Dia tidak akan mengecewakan orang-orang yang menaruh kepercayaan kepada-Nya.

DOA: Bapa surgawi, kami mohon kepada-Mu pencurahan rahmat yang lebih besar lagi bagi seluruh Gereja-Mu. Semoga setiap langkah yang kami buat akan membawa kami menjadi lebih dekat kepada Kerajaan-Mu, di mana kami akan dipersatukan secara kekal dengan Engkau melalui Putera-Mu, Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:31-36), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG DATANG DARI ATAS ADALAH DI ATAS SEMUANYA” (bacaan tanggal 23-4-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 21 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BETAPA BESAR KASIH ALLAH ITU

BETAPA BESAR KASIH ALLAH ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Rabu, 22 April 2020

Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada  di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab siapa saja yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak; tetapi siapa saja yang melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” (Yoh 3:16-21) 

Bacaan Pertama: Kis 5:17-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9 

Allah menyatakan kasih-Nya secara penuh pada waktu peristiwa inkarnasi, sang Sabda –  Putera-Nya – menjadi manusia (lihat Yoh 1:14). Dalam suatu pencurahan kasih yang luarbiasa, suatu karunia yang jauh melampaui kemampuan manusia untuk membayangkannya, Allah mengutus Yesus untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian (maut). Hal ini dapat kita lihat dari sabda Yesus sendiri kepada Nikodemus: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Ayat Kitab Suci ini barangkali merupakan ayat yang paling dikenal dan paling sering dipetik dari Kitab Suci. Dari abad ke abad, tak terhitung banyaknya orang Kristiani yang telah memeditasikan kata-kata dalam ayat ini dan berterima kasih penuh syukur kepada Allah untuk karunia Putera-Nya. Kasih yang begitu agung dan indah sebagaimana ditunjukkan oleh kasih Allah sendiri pantas kita serukan dari atap-atap rumah dan/atau dari puncak-puncak gunung. Kasih seperti itu pantas untuk didengar oleh setiap orang yang diam di kolong langit. Kasih seperti itu sungguh sangat pantas untuk ditunjukkan dan ditularkan oleh anak-anak-Nya yang telah menerima kasih itu, kepada orang-orang lain yang dijumpai oleh mereka …… secara heroik maupun “konyol” dalam pandangan orang-orang dunia. Marilah kita sekarang melihat sebuah contoh nyata, sebuah peristiwa yang sungguh terjadi pada tahun 1941.

Dalam kamp konsentrasi Auschwitz pada waktu itu ada seorang imam Fransiskan Konventual Polandia yang bernama P. Maximilian Kolbe OFMConv. [1894-1941]. Imam ini menyerahkan hidupnya agar seorang tahanan lain – Sersan Gajowniczek yang telah ditentukan untuk dihukum mati – dapat tetap hidup dan bertemu dengan istri dan anak-anaknya (ingat Yoh 15:13). Pater Maximilian dan beberapa orang lain yang telah dijatuhi hukuman mati ditempatkan dalam sebuah ruangan khusus tanpa diberi makan-minum agar supaya mati kelaparan. Pater Maximilian mampu bertahan sebagai korban terakhir dalam kurungan, sehingga dapat menguatkan iman kawan-kawan sependeritaan, dan mengisi diri mereka dengan pengharapan akan kebangkitan. Sebagai korban terakhir, Pater Maximilian mati diinjeksi racun oleh seorang petugas kamp konsentrasi Nazi Jerman di Auschwitz itu. Kasih ilahi yang telah memenuhi diri Pater Maximilian tak dapat ditahan-tahan, …… kasih itu mengalir dari dirinya kepada orang-orang lain. Inilah contoh cara bagaimana Allah bekerja. Selama hidupnya, Pater Maximilian adalah seorang rasul tangguh di bidang percetakan/pers/media, dan orang kudus ini pernah melakukan karya kerasulannya di Jepang. Bersama Beato John Duns Scotus OFM [1266-1308], ia adalah salah seorang anggota keluarga besar Fransiskan pembela-gigih doktrin “Maria yang dikandung tanpa noda dosa”.

Bagaimana kita dapat menjelaskan kasih Allah yang sedemikian besar itu? Sukarlah bagi kita untuk menjelaskannya, namun kita dapat membayangkannya. Misalnya dalam pekan suci BEBERAPA lalu setelah selesai Misa, dalam sebuah warteg yang terletak di dekat gereja: Ketika istriku sedang memesan makanan untuk dibawa pulang, saya sempat melihat seorang ibu dengan penuh kasih sayang sedang membawa (Betawi: diempo) dengan kain seorang anak laki-lakinya sambil duduk memberi makan kepadanya. Ibu itu berasal dari daerah Minahasa dan kelihatannya baru ke luar dari gereja juga. Walaupun ukuran anak itu hanya sedikit lebih besar dari ukuran seorang bayi namun dari wajahnya kelihatan bahwa kondisinya tidaklah normal, karena kelihatan relatif tua. Ketika saya menanyakan tentang umur anak itu, ibu itu mengatakan bahwa anak itu sudah berumur 17 tahun. Kata-kata saja tidak akan mampu menggambarkan afeksi yang dikomunikasikan oleh bahasa tubuh sang ibu kepada anaknya. Begitu besar kasih sayang sang ibu kepada anaknya, karena 17 tahun bukanlah waktu yang singkat. Bagaimana dengan kedalaman kasih Allah kepada kita? Anak ibu itu tidak dapat banyak memberontak, tidak seperti kita yang tidak jarang memberontak kepada Allah yang senantiasa sangat mengasihi kita.

Sekarang, tidak salahlah apabila kita membayangkan diri kita sedang duduk di pangkuan Allah Bapa dengan penuh rasa aman karena kita tahu bahwa Dia tidak akan membuang kita. Kasih Allah meresap seperti sinar matahari yang menopang kehidupan bumi kita. Kasih Allah itu mencakup serta meliputi kita semua seperti oksigen yang membuat kita tetap hidup. Kasih Allah itu kuat seperti angin dan kobaran api. Dan yang sepantasnya kita imani adalah, bahwa kasih Allah itu dapat kita mohonkan setiap saat dan di mana saja.

DOA: Bapa surgawi, tunjukkanlah kepadaku bagaimana mengasihi dengan segenap hatiku. Penuhilah diriku dengan kasih-Mu agar aku dapat menjadi sebuah bejana berisikan berkat-berkat-Mu bagi setiap orang di sekelilingku. Terima kasih, ya Bapa, karena Engkau mengasihiku dengan kasih yang membawa diriku ke dalam kehidupan dan keutuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:16-21), bacalah tulisan yang  berjudul “KARENA ALLAH BEGITU MENGASIHI DUNIA INI” (bacaan tanggal 20-4-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 20 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DILAHIRKAN KEMBALI

DILAHIRKAN KEMBALI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Selasa, 21 April 2020)

Peringatan Fakultatif S. Anselmus, Uskup – Pujangga Gereja

Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus, “Engkau guru orang Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-erkata kepadamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal surgawi? Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:7-15) 

Bacaan Pertama: Kis 4:32-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 93: 1-2,5 

“Kamu harus dilahirkan kembali.” (Yoh 3:7)

Nikodemus jelas dibuat cukup bingung seperti halnya sedang menghadapi sebuah teka-teki yang sulit. Tokoh Farisi ini tidak mempunyai ide sedikit pun mengapa Yesus mengatakan bahwa seseorang harus dilahirkan kembali agar dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Walaupun Yesus kelihatan berbicara dengan penuh teka-teki, Dia sungguh memaksudkan apa yang dikatakan-Nya. Sebagai umat Kristiani – teristimewa kita yang Katolik – kita dapat mengambil sikap waspada bila mendengar kata-kata “lahir baru”. Dalam hal beberapa orang dari kita, alasannya barangkali ketika dahulu kala (ketika berjalan pulang dari kantor) pernah mengalami peristiwa di mana secara mendadak ditanya oleh seorang bule tak dikenal yang membawa Alkitab: “Apakah kamu sudah ‘lahir baru’?” atau “Apakah kamu sudah ‘terima Yesus’?”

Ketika kita dibaptis di sebuah gereja Kristiani, hal itu berarti bahwa kita sudah lahir kembali! Inilah arti sesungguhnya dari pembaptisan, yaitu kelahiran kembali dalam Kristus. Melalui air baptis kita mati bersama Yesus dan kemudian bangkit bersama-Nya ke dalam suatu kehidupan baru yang dipenuhi dengan Roh Kudus. Hidup lama yang kita warisi sebagai anak-anak Adam dan Hawa berakhir, dan hidup baru bersama Yesus dimulailah.

Kita mungkin saja bertanya: “Jika aku lahir kembali dan hidup lamaku sudah mati, mengapa dosa masih aktif dalam diriku? Mengapa aku harus terus berjuang melawan kemarahan, rasa bersalah, rasa iri, cemburu dlsb. apabila bagian gelap dari diriku ini sudah mati pada saat pembaptisanku? Jawabannya adalah, bahwa hidup baru kita dalam Kristus tidak bekerja secara otomatis.  Hal itu menjadi riil-nyata dalam pengalaman kita selagi kita mempraktekkan iman dalam kehidupan yang kita telah terima.

Apabila ada seseorang memperlakukan diri kita dengan buruk pada hari ini dan mulai timbul rasa marah-besar dalam diri kita, maka kita harus berhenti di sana dan mulai berdoa. Dalam kasus sedemikian, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kekuatan kepada kita untuk mengampuni. Marilah kita berbicara kepada (dalang) “hidup-lama” yang sedang mencoba kembali menguasai diri kita: “Engkau tidak mempunyai kuasa atas diriku lagi. Aku sekarang dipenuhi dengan Roh Kudus, dan rahmat-Nya untuk menolongku sekarang lebih besar daripada hasratmu untuk menjatuhkan aku kembali.”

Selagi kita melakukan hal ini, maka hidup-baru Yesus dalam diri kita menjadi semakin nyata, baik bagi diri kita sendiri maupun orang-orang lain. Pada waktu bersamaan, daya kekuatan “hidup-lama” akan menjadi semakin lemah. Memang hal itu (dia) tidak bisa habis secara tuntas dalam kehidupan kita, namun kita akan menyaksikan kemenangan-kemenangan yang signifikan, jika kita menaruh iman-kepercayaan dalam hidup Kristus di dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah membuat diri kami suatu ciptaan baru. Curahkanlah Roh Kudus-Mu ke atas diri kami dengan segala kekuatan, sehingga kami sungguh dapat menghayati (menjalani) hidup-Mu yang baru, dan meninggalkan hidup lama kami yang penuh dosa. Tuhan Yesus, berikanlah kepada kami suatu kesempatan untuk berbagi hidup-baru ini dengan siapa saja yang kami jumpai pada hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS INILAH YANG AKAN MENYATAKAN SIAPA YESUS SEBENARNYA” (bacaan tanggal 21-4-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 20 April 2020

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS