Posts from the ‘AKHIR ZAMAN, PAROUSIA & ESKATOLOGI’ Category

MERAYAKAN KEDATANGAN TUHAN KITA YESUS KRISTUS

MERAYAKAN KEDATANGAN TUHAN KITA YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN I [Tahun B], 3 Desember 2017) 

Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu kapan saatnya tiba. Keadaannya  sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penjaga pintu supaya berjaga-jaga. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu kapan tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah! (Mrk 13:33-37) 

Bacaan Pertama: Yes 63:16b-17; 64:1,3b-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19; Bacaan Kedua: 1Kor 1:3-9

Masa Adven adalah masa bagi kita untuk merayakan kedatangan Tuhan Kita Yesus Kristus. Pertama adalah kedatangan-Nya dalam sejarah yang sudah lampau, yaitu pada waktu Dia dilahirkan sebagai seorang anak manusia; kedua adalah kedatangan-Nya pada waktu sekarang, yaitu kedatangan-Nya pada Hari Raya Natal; ketiga adalah kedatangan-Nya di masa yang akan datang, yaitu ketika Dia datang kembali ke dunia pada akhir zaman.

Bacaan Pertama dari Kitab Yesaya berbicara mengenai penantian Perjanjian Lama akan “hari-hari yang akan datang” ketika sang Mesias akan datang membawa hikmat-kebijaksanaan, terang dan damai sejahtera. Yesus memenuhi ekspektasi ini ketika Dia datang sebagai seorang manusia, suatu peristiwa yang merupakan hal masa lampau bagi kita.

Bacaan Injil hari ini membuat suatu lompatan besar ke masa depan ketika Yesus berbicara mengenai kedatangan-Nya pada akhir zaman. Selagi kita menantikan kedatangan-Nya ini, Yesus mendesak kita untuk bersiap-siap, karena kedatangan-Nya akan terjadi pada waktu yang kita tidak sangka-sangka.

Dalam artian tertentu, kedatangan kembali Yesus Kristus di masa mendatang dan bersifat final ini adalah sebuah proses, sesuatu yang akan dimulai bagi kita secara pribadi pada waktu kita meninggal dunia dan waktu berakhir bagi kita. Untuk sementara waktu, kita masih hidup dalam semacam “masa transisi”, yaitu masa antara kedatangan Yesus Kristus dalam sejarah masa lampau sebagai anak manusia (ambil bagian dalam kemanusiaan kita) dan satu titik di masa depan pada saat di mana Dia datang untuk memimpin kita ke dalam kemuliaan surgawi.

“Masa transisi” yang dimaksudkan di atas haruslah kita jaga agar tidak “kosong dan tanpa makna”, dengan demikian kita sungguh merayakan suatu Masa Adven yang memuncak dalam Hari Raya Natal setiap tahunnya untuk mengenang mengapa kita menanti-nanti dan siapakah yang kita nanti-nantikan itu.

“Menantikan” memainkan suatu peranan besar dalam kehidupan kita, dengan demikian pentinglah bagi kita untuk belajar bagaimana melakukan penantian. Anak-anak kecil serasa tidak sabar dalam menanti-nantikan saatnya mereka bertumbuh menjadi besar agar mereka dapat tidur lebih malam. Anak-anak remaja serasa tidak sabar dalam menanti-nantikan saatnya di mana mereka dapat mengendara mobil sendiri. Demikian pula orang-orang dewasa yang sudah bertunangan dalam menanti-nantikan saatnya mereka menikah. Masing-masing kita mempunyai sesuatu yang dinanti-nantikan: berakhirnya satu hari kerja yang penuh kesibukan, mulainya akhir pekan; suatu penyakit untuk berakhir atau mulainya waktu untuk bergembira bersama keluarga; berakhirnya belanja Natal atau mulainya melakukan dekorasi Natal di rumah.

Sebagai manusia kita selalu melakukan penantian karena hidup kita tidak pernah lengkap dalam dirinya sendiri. Selalu ada saja hal baru yang akan datang. Salah satu tujuan Masa Adven adalah mengajar kita bagaimana melakukan penantian – dengan penuh kesabaran, ekspektasi dan optimisme. Dan …… sementara kita menanti-nanti, kita tidak perlu membuang-buang waktu. Kita dapat berdoa, atau membuat perencanaan-perencanaan, atau sekadar rileks dan melakukan refleksi.

Satu tujuan lain dari Masa Adven adalah mengajar kita bagaimana mengenali kedatangan Tuhan kita – dalam tugas-tugas yang kita laksanakan, atau dalam hal-hal yang terjadi atas diri kita, atau dalam diri orang-orang yang kita temui.

Kedatangan Tuhan yang tidak terduga-duga tidak hanya terjadi pada saat kematian atau pada akhir dunia.  Tuhan kita datang secara tanpa disangka-sangka bahkan ketika kita sedang menunggu giliran diperiksa oleh dokter, atau ketika berdiri di depan kasir sebuah toko swalayan, di sebuah stasiun kereta atau di sebuah terminal bandara.

Dalam Masa Adven ini kita harus mendisiplinkan diri sendiri agar dapat melihat Yesus Kristus dalam diri setiap orang dan setiap situasi. Dengan demikian penantian kita bukanlah suatu “penantian penuh frustrasi”, melainkan suatu “penantian yang penuh kesiapan dan antisipasi”.

DOA: Datanglah, ya Tuhan Yesus! Kejutkanlah diriku dengan berbagai anugerah-Mu dalam masa Adven ini. Buatlah aku mampu mengenali dan mengalami kehadiran-Mu dalam diri saudari-saudara yang kulayani, dalam Kitab Suci sebagaimana dialami oleh Bapak Fransiskus dari Assisi, dalam kegiatan-kegiatanku mempersiapkan hari Natal, dalam Sakramen Rekonsiliasi, dan teristimewa dalam Perayaan Ekaristi. Biarlah aku mensyeringkan anugerah-anugerah ini dengan saudari-saudaraku yang lain – termasuk mereka yang beriman lain, sehingga mereka semua pun dapat mengenal Engkau, Tuhan dan Juruselamat semua orang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 13:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “MASA PENANTIAN DAN BERJAGA-JAGA” (bacaan tanggal 3-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

Cilandak, 30 November 2017 [Pesta S. Andreas, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

NASIHAT YESUS UNTUK SENANTIASA BERJAGA-JAGA SAMBIL BERDOA

NASIHAT YESUS UNTUK SENANTIASA BERJAGA-JAGA SAMBIL BERDOA

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Sabtu, 2 Desember 2017)

OSCCap.: Peringatan B. Maria Angela Astorch, Biarawati Ordo Klara Kapusin 

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:34-36) 

Bacaan Pertama: Dan 7:15-27; Mazmur Tanggapan: Dan 3:82-87 

Hari ini adalah hari terakhir dari tahun liturgi (Tahun A/1). Apa lagi yang lebih cocok bagi kita daripada membaca dan merenungkan nasihat Yesus untuk berjaga-jaga senantiasa sambil berdoa, supaya kita beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kita tahan berdiri di hadapan Anak Manusia (lihat Luk 21:36).

Kita sekarang sudah berada pada tahun ketujuh dekade kedua dari milenium ketiga. Bagaimana kita dapat lebih menyerupai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri” (1Ptr 2:9) yang dikatakan Kitab Suci kepada kita tentang jati diri kita yang sesungguhnya dan seharusnya? Masih jauhkah posisi kita dari apa yang digambarkan dalam surat Santo Petrus itu?

Barangkali yang muncul pertama dalam pikiran kita adalah untuk melakukan latihan rohani yang akan menjamin pertumbuhan spiritual kita. Sesungguhnya, Allah dapat memimpin kita untuk mengambil beberapa langkah praktis. Akan tetapi, janganlah sampai kita melupakan tujuan dari latihan rohani sedemikian, yaitu agar melalui latihan-latihan tersebut kita akan memperkenankan kasih Allah untuk meresapi kegelapan hati kita dan kegelapan dunia ini. Di atas segalanya, Dia ingin mengutus Roh Kudus-Nya untuk mengajar kita dan membentuk kita agar semakin seturut gambar dan rupa Kristus.

Setiap hari, Roh Kudus ingin membimbing kita satu langkah lebih dekat lagi kepada kekudusan. Setiap hari, sesuatu hal lain akan terjadi – apakah dalam hati kita, atau dalam keadaan-keadaan hari itu – itu adalah sebuah undangan lain lagi dari Roh Kudus agar kita menerima rahmat Allah. Selagi kita memperkenankan Yesus membebas-merdekakan kita dari dorongan-dorongan yang berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, sementara kita menyambut Roh Kudus masuk ke dalam kehidupan kita melalui doa-doa dan ketaatan, maka sedikit demi sedikit kita pun akan ditransformasikan. Pada akhirnya kita dapat mempersiapkan diri kita untuk hari di mana kita akhirnya akan “berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36).

Marilah sekarang kita bergegas menghadap Yesus dan menaruh hidup kita di hadapan-Nya. Hanya melalui bimbingan Roh Kudus kita dapat sungguh membuat diri kita siap bagi pencurahan rahmat ilahi. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita. Semoga kita semua akan berdiri di hadapan Putera Allah dan mempermaklumkan dengan penuh iman bahwa “Yesus adalah Tuhan!”

DOA: Tuhan Yesus, kerajaan-Mu dipenuhi dengan segala kekayaan surgawi – jauh lebih daripada yang dapat kubayangkan. Buatlah hatiku terbakar berkobar-kobar dengan realitas kasih dan kuasa-Mu! Biarlah kasih-Mu mengalir masuk ke dalam diriku. Siapkanlah aku untuk semua hal yang Engkau inginkan untuk kulakukan dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:34-36), bacalah tulisan berjudul “PESAN YESUS PADA AKHIR TAHUN GEREJA” (bacaan tanggal 2-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 29 November 2017 [Pesta Semua Orang Kudus Keluarga Besar Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENTINGNYA MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN

PENTINGNYA MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN

(Bacaan Injil Misa,  Peringatan B. Dionisius & Redemptus, Biarawan Martir Indonesia – Jumat, 1 Desember 2017) 

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33) 

Bacaan Pertama: Dan 7:2-14; Mazmur Tanggapan: Dan 3:75-81 

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa sebagaimana pohon ara atau pohon-pohon lainnya yang sudah bertunas menandakan sudah dekatnya musim panas, demikian pula akan ada tanda-tanda yang pasti bahwa kerajaan Allah sudah dekat. Metafora yang digunakan Yesus dipahami dengan baik oleh para pendengar-Nya yang adalah orang-orang Yahudi. Mereka memahami bahwa pohon ara akan berbuah dua kali dalam satu tahun – pada awal musim semi dan pada musim gugur. Kitab Talmud mengatakan bahwa buah pertama dimaksudkan untuk datang pada hari setelah Paskah – saat di mana orang-orang Israel percaya bahwa Mesias akan melayani dalam kerajaan Allah.

Dengan mengajarkan perumpamaan ini, Yesus sebenarnya menjelaskan pentingnya bagi orang-orang untuk membaca “tanda-tanda zaman” seperti para petani harus mendengarkan dan memahami prakiraan cuaca agar berhasil dalam bercocok-tanam, maka kita pun harus mampu untuk mendengar dan mengerti tanda-tanda dari Allah dan karya-karya-Nya dalam kehidupan kita sehingga kita dapat siap untuk kedatangan kerajaan-Nya.

Allah berbicara dengan banyak cara: lewat pembacaan dan permenungan Kitab Suci, lewat ajaran-ajaran Gereja, lewat kata-kata yang diucapkan saudari-saudara Kristiani lainnya, dalam hati kita, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia. Akan tetapi, bagaimanakah kiranya kita dapat mengenali suara-Nya di tengah-tengah suara-suara lainnya yang menarik perhatian kita? Rasa percaya (trust) yang didasarkan pada kerendahan hati dan rasa sesal mendalam atas dosa-dosa kita dapat mulai membuka telinga-telinga kita. Mengambil risiko-risiko kecil, senantiasa memohon Roh Kudus agar mengajar kita, semua ini dapat menolong kita bertumbuh dalam keyakinan bahwa Allah tidak ingin meninggalkan kita dalam kegelapan. Jadi, selalu ada kemungkinan bagi kita untuk belajar bagaimana memandang dengan mata iman, mendengarkan dengan telinga-telinga pengharapan, dan memberi tanggapan dengan hati penuh cintakasih.

Kita tidak mengetahui kapan hari akhir itu akan datang, akan tetapi Yesus mengatakan kepada kita: “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36). Yesus juga memberikan kepada kita tanda-tanda untuk menolong kita agar berjaga-jaga dan dipenuhi hasrat mendalam akan kedatangan kerajaan-Nya. Setiap hari kita dapat menyambut Yesus masuk ke dalam hati kita dan mohon kepada-Nya untuk menunjukkan sedikit lagi rencana-Nya. Allah ingin memenuhi diri kita dengan antisipasi penuh gairah selagi kita menantikan kedatangan-Nya kembali. Marilah kita mendengarkan ketukan-Nya pada pintu hati kita dan menyambut kedatangan kerajaan-Nya dalam kepenuhannya. Peganglah senantiasa kata-kata-Nya: “Perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Luk 21:33).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mampu mengenali tanda-tanda-Mu hari ini. Apakah yang Kauinginkan untuk kulihat? Bukalah pintu surga, ya Tuhan, agar aku dapat memperoleh pandangan sekilas dari kerajaan-Mu selagi aku berdiri siap untuk menyapa Engkau pada saat kedatangan-Mu kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:29-33), bacalah tulisan berjudul “LANGIT DAN BUMI AKAN BERLALU, TETAPI PERKATAAN-KU TIDAK AKAN BERLALU” (bacaan tanggal 1-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

Cilandak, 29 November 2017 [Pesta Semua Orang Kudus Tarekat keluarga besar Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PANGGILAN KEPADA KEKUDUSAN

PANGGILAN KEPADA KEKUDUSAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 29 November 2017]

Keluarga Fransiskan Conventual: Pesta S. Fransiskus-Antonius Pasani, Imam 

“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19) 

Bacaan Pertama: Dan 5:1-6,13-14,16-17,23-28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:62-67

Masih ingatkah Saudari dan Saudara betapa ramainya nubuatan-nubuatan tentang akhir zaman pada saat-saat menjelang tahun 2000? Prediksi-prediksi tentang perubahan besar yang akan terjadi menimbulkan reaksi-reaksi yang beraneka ragam, dari excitement, rasa takut, bahkan sampai tidak peduli sama sekali, … Don’t worry. Be happy! 

Orang-orang di Yerusalem yang mendengar nubuatan-nubuatan Yesus tentang akhir zaman, penghancuran kota Yerusalem, dan pengejaran serta penganiayaan yang akan menimpa para murid-Nya barangkali bereaksi lebih-lebih dengan rasa takut daripada excitement. Memang tidak salahlah begitu! Pada tahun 70, pemberontakan orang-orang Yahudi yang gagal melawan pemerintahan Roma mengakibatkan kematian beribu-ribu orang yang tidak bersalah, kelaparan yang berskala luas, dan penghancuran Bait Suci. Hanya setelah Ia menggambarkan segala kesengsaraan yang akan menimpa, Yesus mengingatkan para pengikut-Nya bahwa bahkan sebelum peristiwa-peristiwa mengerikan itu terjadi, mereka akan menderita karena pengejaran dan penganiayaan.

Jadi, di manakah “kabar baiknya” kalau di sana-sini yang ada hanyalah bencana, kesedihan, penganiayaan dlsb.? Di sinilah pentingnya sabda Yesus: Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan” (Luk 21:19). Yang dapat dilakukan oleh manusia – bertekun – akan membawa berkat yang jauh lebih melampaui kemampuan-kemampuan manusiawi kita: keselamatan penuh dan hidup kekal di hadapan hadirat Allah Yang Mahakuasa.

Sebagaimana orang-orang Yahudi pada abad pertama, kita – umat Kristiani yang hidup dalam milenium ketiga – tidak dijanjikan suatu kehidupan yang nyaman-menyenangkan. Sebaliknya, Yesus menawarkan kepada kita sesuatu yang lebih besar. Ia berjanji untuk membawa mereka yang tetap setia kepada-Nya kembali pulang dengan aman ke Kerajaan-Nya yang tidak dapat dihancurkan oleh kekuatan jahat manapun. Namun untuk itu kita dituntut untuk bertekun. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan: “Jadi jelaslah bagi semua, bahwa semua orang Kristiani, dari status atau jajaran apa pun dipanggil kepada kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cintakasih” (Lumen Gentium 40). Semua orang dipanggil kepada kekudusan: Karena itu haruslah kamu sempurna, seperti Bapa-Mu yang di surga adalah sempurna” (Mat 5:48). “Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikaruniakan oleh Kristus, supaya …… mereka melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah terbukti dengan cemerlang melalui hidup sekian banyak orang kudus” (Lumen Gentium 40) (KGK, 2013).

Panggilan Allah kepada kekudusan sungguh bukan hal yang main-main. Untuk itu kita akan melangkah di jalan yang benar dengan tetap menaruh kepercayaan kepada Dia yang begitu mengasihi kita sehingga rela mati untuk kita semua. Marilah kita dengan penuh perhatian mendengarkan nasihat-nasihat yang diberikan oleh Roh Kudus dan melatih mata kita agar mampu melihat “hadiah” berupa Yerusalem surgawi yang sedang menantikan kita.

DOA: Tuhan Yesus, melalui badai-badai yang mengamuk di dalam kehidupan ini, aku ingin berpegang teguh pada janji-janji-Mu tentang kehidupan kekal, Dengan pertolongan Roh Kudus-Mu, aku berjanji untuk mengikuti-Mu ke mana saja Engkau memimpin aku. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “TETAP BERTAHAN SUPAYA MEMPEROLEH KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 29-11-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2017. 

Cilandak, 27 November 2017 [Pesta S. Fransiskus-Antonius Pasani, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HENDAKLAH KAMU JUGA SIAP SEDIA

HENDAKLAH KAMU JUGA SIAP SEDIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN I [TAHUN A] – 27 November 2016)

 1-0-jesus-christ-returns

“Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu apa-apa, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu giling, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. 

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (Mat 24:37-44) 

Bacaan Pertama Yes 2:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-9; Bacaan Kedua : Rm 13:11-14 

 “Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga …… Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Mat 24: 43,44).

Di sini Yesus menggunakan sebuah gambaran tidak seperti biasanya dalam berbicara mengenai diri-Nya sendiri – seperti seorang pencuri yang datang di malam hari.  Pokok yang mau disampaikan-Nya di sini adalah, bahwa “pencuri” tidak dapat membuat kita terkejut, apabila kita siap-siaga menyambut kedatangannya. Beberapa kalimat kemudian Yesus mengatakan bahwa “pencuri” yang akan mengejutkan hamba di rumah sebenarnya adalah tuannya, yang berminat untuk melihat apa yang dilakukan oleh para hambanya. Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang, …… sebaliknya, celakalah hamba yang jahat membuang-buang waktu dan  kedapatan sedang bermabuk-mabukan ketika tuannya datang.

Solusinya? Jangan biarkan Anak Manusia datang kepada kita (anda dan saya) sebagai seorang asing, sebagai seseorang yang kedatangannya kita tidak harapkan atau nanti-nantikan. Seandainya kita bertanya kepada Yesus, “Bagaimana kita dapat sungguh-sungguh bersiap-siaga?” Kiranya Yesus akan menjawab, “Berjaga-jagalah dan berdoalah”, bukankah begitu? Jika kita mengenal Yesus dengan baik dalam doa-doa harian pada waktu-waktu tertentu yang telah kita sediakan, tentunya kita tidak akan menjadi terkaget-kaget bilamana Dia datang menemui kita. Kita dapat berkata kepada-Nya: “Aku baru saja berbicara dengan Engkau, Tuhan. Selamat datang Sahabatku!”

Apabila kita telah berhadapan dengan Yesus secara jujur, lewat waktu-waktu teratur sehari-hari bersama dengan-Nya, maka kita telah memperkenankan Dia menyiapkan diri kita bagi kedatangan-Nya dalam kemuliaan pada akhir zaman.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau ingin agar aku senantiasa bersiap-siaga menantikan kedatangan-Mu, seperti hamba yang baik itu. Biarlah Roh Kudus-Mu  senantiasa membimbingku dan mengingatkan aku akan hal ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:37-44), bacalah tulisan yang berjudul “NASIHAT SUPAYA BERJAGA-JAGA” (bacaan tanggal 27-11-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 24 November 2016 [Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk. Martir-martir Vietnam)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

LANGIT DAN BUMI AKAN BERLALU, TETAPI PERKATAAN-KU TIDAK AKAN BERLALU

LANGIT DAN BUMI AKAN BERLALU, TETAPI PERKATAAN-KU TIDAK AKAN BERLALU

(Bacaan Injil Misa,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Jumat, 25 November 2016) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Lalu Yesus mengatrakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33) 

Bacaan Pertama: Why 20:1-4,11-21:2; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8

Semakin dekat saatnya bagi Yesus untuk mempersembahkan hidup-Nya demi keselamatan dunia. Dia hampir menyelesaikan kerja pelayanan-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya sudah di depan mata dan hal ini menandakan ‘peresmian’ Kerajaan Allah serta kelahiran Gereja. Meskipun menghadapi penolakan, penganiayaan dan oposisi,  Yesus memproklamasikan dengan penuh keyakinan bahwa keselamatan kita sudah dekat. Sementara kita menantikan Yesus datang kembali, kita – sebagai Gereja – harus bertumbuh dalam kedewasaan  dalam kuasa Roh Kudus.

Yesus ingin agar kita memiliki keyakinan penuh, selagi menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya. Kita akan mengalami oposisi dan penganiayaan, akan tetapi seperti Yesus telah berjaya, kita pun akan berjaya, kalau kita percaya pada firman-Nya. Kita tidak perlu merasa gundah atau ciut-hati di kala kita mengalami kesengsaraan atau kemalangan. Sebaliknya, kalau kesulitan-kesulitan bertumbuh dalam intensitas, maka semua itu harus dilihat sebagai indikasi-indikasi positif bahwa perwujudan final dan penuh kemuliaan dari keselamatan kita sudah semakin dekat. Yesus mengumpamakan semua itu sebagai pohon ara yang kalau sudah bertunas menjamin bahwa musim panas sudah dekat.

pohon-ara-1Setiap hari kita menghadapi pilihan-pilihan. Kita dapat mempertimbangkan apa yang telah dilakukan Yesus untuk menebus dan menyembuhkan kita. Kita menaruh kepercayaan pada firman-Nya untuk manifestasi kemuliaan-Nya secara penuh pada saat kedatangan-Nya untuk kedua kali. Atau, kita dapat melihat penderitaan kita di dunia dan dengan cepat menjadi takut dan khawatir. Apabila kita datang menghadap Tuhan dalam doa dan memperkenankan firman-Nya yang memberi pengharapan dan dorongan untuk menyentuh hati kita dan mengarahkan pemikiran-pemikiran kita, maka kita akan diangkat dan dipenuhi dengan sukacita dan damai-sejahtera, dan memampukan kita untuk melihat lebih daripada sekadar keadaan kita sendiri. Firman-Nya menggerakkan batin kita dan kita dapat percaya bahwa dalam Dia semua hal adalah mungkin.

Pada zaman modern ini banyak orang Kristiani masih menderita di bawah rezim-rezim atheis dan totaliter. Terkadang situasi sedemikian memberi kesan bahwa kuasa kegelapan telah menang dan berjaya. Namun munculnya kembali Kristianitas di Eropa Timur misalnya, membuktikan bahwa masih berlakunya kata-kata Yesus bahwa Dia akan melindungi Gereja-Nya. Pada zaman ini orang-orang Kristiani adalah saksi-saksi hidup atas ucapan Yesus ini: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Luk 21:33).

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami kuasa dan kebenaran firman-Mu. Biarlah firman-Mu menjadi batu karang dan benteng di tengah-tengah keributan kehidupan. Biarlah firman-Mu menjadi pelita bagi langkah kami, sehingga kami dapat menantikan kedatangan-Mu dengan pengharapan penuh sukacita. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “MELIHAT KE DEPAN” (bacaan tanggal 25-11-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 23 November 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ANAK MANUSIA DATANG DALAM KEMULIAAN-NYA

ANAK MANUSIA DATANG DALAM KEMULIAAN-NYA

(Bacaan Injil Misa, Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk. Martir-martir Vietnam – Kamis, 24 November 2016)

00-the-second-coming-39618-gallery“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”  (Luk 21:20-28)

Bacaan Pertama: Why 18:1-2,21-23;19:1-3,9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5  

“Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat”  (Luk 21:28).

Bagaimana Yesus dapat mengharapkan kita untuk memberi tanggapan terhadap pergolakan di akhir zaman dengan penuh keyakinan dan pengharapan? Dalam menghadapi penderitaan, peperangan, dan berbagai bencana alam yang digambarkan oleh Yesus, penarikan/pengunduran diri dengan penuh yang diliputi ketakutan kelihatannya merupakan suatu reaksi yang lebih cocok! Bagaimana pun juga, di manakah adanya pengharapan dalam segala kesusahan yang dinubuatkan oleh-Nya?

Yesus mengatakan kepada kita bahwa kita dapat mempunyai pengharapan pada waktu kita melihat tanda-tanda akhir ini karena tanda-tanda tersebut juga merupakan tanda-tanda dari penebusan yang telah lama kita nanti-nantikan. Kita akan melihat “Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27)! Kita dapat yakin dan mempunyai pengharapan, karena kita tahu kita aman dalam Kristus. Darah-Nya adalah perlindungan kita terhadap si Jahat, dan Roh Kudus-Nya adalah down payment kita untuk tempat kita di surga kelak.

Kita harus mengetahui kebenaran ini sedalam-dalamnya sehingga hidup kita tidak dapat digoncangkan oleh berbagai gejolak yang berlangsung pada akhir zaman. Setiap hari Allah memberikan kepada kita kesempatan-kesempatan untuk “bereksperimen” dengan iman kita, situasi-situasi di mana kita dapat memegang sabda Allah seperti apa adanya dan memperhatikan Dia mengerjakan keajaiban-keajaiban bagi kita. Misalnya iman kita mengatakan, bahwa baptisan kita ke dalam Kristus telah membebaskan kita dari keterikatan pada dosa. Ketika godaan-godaan datang, kepada kita diberi kesempatan untuk datang ke kaki salib Yesus di Kalvari dan mempersatukan diri kita dengan Sang Tersalib sambil berkata “tidak” terhadap godaan-godaan tersebut. Apabila kita tidak tahu bagaimana seharusnya bereaksi dalam suatu situasi tertentu, kita dapat mencoba untuk memandang hal-hal yang kita hadapi dari perspektif surgawi dan memperkenankan Roh Kudus memberikan bimbingan serta hikmat-Nya kepada kita. Semakin sering kita melakukan praktek-praktek seperti ini, semakin yakin dan berpengharapan pula kita jadinya, apa pun situasi yang kita hadapi.

Pada saat Yesus datang kembali kelak, setiap hal akan diserahkan kepada-Nya sebagai Tuhan. Dalam doa-doa kita pada hari ini, marilah kita merenungkan karunia keselamatan yang telah kita terima dalam Kristus. Kita dapat memohon kepada Roh Kudus agar Ia meningkatkan kerinduan kita masing-masing untuk memandang Yesus muka-ketemu-muka. Semakin “aman” kita dalam rangkulan belas kasihan Allah, semakin keras pula kita akan berseru, “Datanglah, Tuhan Yesus!” (Why 22:20).

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahabesar, Khalik langit dan bumi! Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk karunia keselamatan yang Kauanugerahkan kepadaku. Apa yang tidak dapat kulakukan sendiri bagi diriku, telah dilakukan oleh Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Buanglah segala rasa takut dan kekhawatiran yang masih ada dalam diriku. Tidak ada keyakinan dan pengharapan lebih besar yang kumiliki daripada fakta bahwa aku tersalib bersama Yesus dan akan bangkit bersama Dia pula. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan berjudul “SALAH SATU MISTERI IMAN” (bacaan tanggal 24-11-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2016.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 22 November 2016 [Peringatan S. Sesilia, Perawan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS