Posts from the ‘EVANGELISASI’ Category

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 21 Oktober 2017)

Ordo Santa Ursula (OSU): Hari Raya S. Ursula, Perawan, Pelindung Tarekat 

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Rm 4:13,16-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:6-9,42-43 

Kebaktian gereja di Munich, Jerman, telah selesai, ketika tiba-tiba perempuan itu melihat laki-laki itu; mantan prajurit SS Nazi yang bertugas menjaga di dekat pintu kamar mandi di kamp konsentrasi Ravensbruck. Banyak tahun telah berlalu, namun memori-memori membanjiri pikiran perempuan itu – ruangan yang penuh berisi laki-laki yang mengolok-olok dirinya, tumpukan baju, rasa takut yang bercampur dengan marah dan malu. Pada suatu hari, setelah baru saja menyelesaikan ceramahnya, seorang laki-laki muncul dari antara orang-orang yang hadir dan mendatanginya dan berkata kepada perempuan itu, “Betapa penuh syukur saya mendengar pesan anda, …… berpikir bahwa Yesus telah membasuh bersih dosa-dosaku!”

Mula-mula perempuan ini, yang sudah begitu sering berceramah tentang betapa perlunya mengampuni, tidak mau mengulurkan tangannya ketika laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk menyalaminya. Merasakan keengganan dirinya, kemudian perempuan itu memohon kepada Yesus untuk menolongnya mengampuni laki-laki itu. Tanpa mampu tersenyum sedikit pun, perempuan itu berdoa lagi: “Yesus, aku tidak dapat. Berikanlah pengampunanmu kepadaku.” Pada akhirnya, selagi dia berjabatan tangan dengan laki-laki itu, “terjadilah suatu hal yang luar biasa. Dari pundakku terus melewati lengan dan tanganku, terasa adanya sesuatu yang mengalir dari diriku kepada orang itu, sementara dari ke dalam hatiku mengalirlah keluar cintakasih bagi orang asing ini, hal mana hampir membuat aku ‘kewalahan’ karena karena rasa gembira yang penuh ketakjuban.”

Perempuan itu adalah Corrie ten Boom. Siapa yang dapat menyalahkan Corrie untuk sikapnya yang tidak mau mengampuni? Keluarganya dihabiskan oleh para penguasa Nazi hanya karena mereka adalah orang-orang Kristiani yang menyembunyikan orang-orang Yahudi dari pengejaran para penguasa Nazi tersebut. Akan tetapi, melalui rahmat Allah yang bersifat supernatural, Corrie dimampukan untuk dapat melihat melampaui rasa sakit hatinya dan berpaling kepada Yesus dalam momen pengambilan keputusan yang krusial.  Sebagai bukti kebenaran-kebenaran dari hal-hal yang telah disyeringkan olehnya kepada orang-orang lain, sikap dan tindakan sederhana Corrie terhadap mantan-penganiayanya menunjukkan, bahwa belas-kasih dapat menang-berjaya atas penghakiman.

Apakah mereka mengetahuinya atau tidak – dan apakah kita mempersepsikannya atau tidak – sebenarnya setiap insan (Nazi, komunis, atheis, agnostik dlsb.) memiliki kerinduan untuk mengenal Injil. Itulah sebabnya, mengapa Allah memanggil kita masing-masing untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Itulah sebabnya, mengapa Dia memberikan kepada kita berbagai kesempatan setiap hari untuk menyebarkan Kabar Baik-Nya kepada para anggota keluarga kita, para sahabat kita, para rekan-kerja kita dll. Evangelisasi tidak perlu sulit-sulit amat! Evangelisasi dapat sama sederhananya dengan percakapan sehari-hari. Dengan tetap berada dekat dengan Yesus membuat kita terus terbuka bagi gerakan-gerakan Roh-Nya. Dengan demikian, Injil yang kita hayati dalam kehidupan kita akan menarik banyak orang kepada Allah. Marilah kita menjaga diri kita agar tetap terbuka bagi Roh Kudus dan senantiasa mengingat kebenaran yang satu ini: yaitu bahwa Roh Kudus inilah yang melakukan evangelisasi, bukan kita. Roh Kudus Allah-lah yang sesungguhnya merupakan SANG PEWARTA, Dia yang senantiasa bekerja di belakang layar.

DOA: Roh Kudus yang penuh kuasa dan kasih, berikanlah kepadaku hati seorang penginjil. Semoga diriku senantiasa mencerminkan kebenaran-kebenaran Injil. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “KERAJAAN ALLAH HADIR APABILA ROH KUDUS MEMILIKI KEBEBASAN UNTUK BEKERJA” (bacaan tanggal 21-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 18 Oktober 2017 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

SANG TABIB PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL

SANG TABIB PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Lukas, Penulis Injil – Rabu, 18 Oktober 2017)

 

Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” (Luk 10:1-9) 

Bacaan Pertama: 2Tim 4:10-17b; Mazmur: Mzm 145:10-13,17-18

Hari ini kita merayakan Pesta Santo Lukas, penulis “Injil Lukas” dan “Kisah para Rasul”. Dari sedikit informasi yang kita miliki tentang Lukas, dapat dikatakan bahwa dia bukanlah seorang Yahudi, dia berpendidikan tinggi dan berlatar-belakang budaya helenis (Yunani), dan seorang dokter/tabib. Ia menanggapi dengan sepenuh hati panggilan Tuhan. Jelas Lukas bukan salah satu dari dua belas rasul, namun dia tabah dan setia dalam mengikuti jejak Tuhan dan dengan berupaya sepenuh hati untuk belajar lebih tentang Tuhan Yesus Kristus dari para saksi mata (lihat Luk 1:1-4). Lukas menjadi seorang beriman Kristiani lewat Kabar Baik yang diberitakan para murid Yesus yang lebih “senior” daripada dirinya sendiri. Kemudian, setelah diberdayakan oleh Roh Kudus, Lukas berpartisipasi dalam pelaksanaan Amanat Agung Kristus yang sudah bangkit (Mat 28:18-20).  Lukas melakukan perjalanan misi bersama Santo Paulus sebagai seorang anggota tim-misionarisnya dan membuat Yesus dikenal di Timur Dekat dan Eropa, dengan biaya yang cukup tinggi, yaitu karirnya sendiri sebagai seorang tabib.

Dalam kehidupan pelayanan-Nya di dunia, Yesus mengutus 70 (tujuh puluh) orang murid-Nya, malah ada manuskrip-manuskrip kuno yang mengatakan 72 [tujuh puluh dua] orang. Mereka diutus untuk apa? Untuk mengumumkan, bahwa: “Kerajaan Allah sudah dekat padamu” (Luk 10:1-9). Lukas menanggapi seruan itu dengan sebuah hati yang terbuka, dia memperkenankan Roh Kudus untuk mengubah hidupnya. Ketika Tabib Lukas menyadari bahwa Kerajaan Allah sudah datang, dia berbalik dari suatu kehidupan nyaman dan sukses sebagai tabib profesional, dan kemudian mengabdikan dirinya kepada karya evangelisasi sesuai dengan panggilan Allah.

Kita semua juga dipanggil oleh Allah. Adalah suatu kepastian bahwa Allah mempunyai sebuah rencana bagi kita masing-masing. Ketika berkhotbah dalam rangka perayaan Santo Lukas pada tahun 1985, almarhum Paus Yohanes Paulus II (sekarang sudah seorang Santo) mengatakan: “Setiap orang Kristiani harus sadar bahwa dia adalah seorang pesuruh dan seorang rasul, seorang yang menyebar-luaskan iman-kepercayaan.” Kepada siapa? Tidak hanya kepada orang-orang lain yang jauh. Di rumah kita masing-masing, di lingkungan gereja kita masing-masing, di tempat kerja kita masing-masing, di tempat kita masing-masing berbelanja: di mana saja dan kapan saja, kita dipanggil untuk menjadi rasul-rasul. Sri Paus mengatakan lagi: “Setiap orang harus sadar bahwa dia adalah seorang pribadi yang di dalam dirinya api iman telah dinyalakan – api yang … di-‘takdir’-kan untuk bersinar sehingga semua orang dapat memperoleh terang cahaya dan panas daripadanya.”

Kita harus ingat selalu, bahwa panggilan kita adalah dari Allah yang mahakuasa. Pada malam sebelum sengsara dan kematian-Nya, Yesus bersabda kepada para murid-Nya: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu……… , supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh 15:16). Lukas dipanggil untuk melakukan perjalanan jauh bersama Santo Paulus; di bawah naungan Roh Kudus dia membuat catatan yang dapat dipertanggung-jawabkan tentang kelahiran Kekristenan, dan menurut tradisi dia pun mengalami kematian sebagai seorang martir Kristus di Akhaya, tidak lama setelah kemartiran Santo Paulus.

Kita memang sudah tahu bahwa kita dipanggil oleh Allah, namun seringkali kita masih saja mempunyai pikiran yang bernada negatif: “Aku tidak pernah dapat menjadi Santo Lukas. Dia kan lain. Dia hidup pada zaman yang lain samasekali!” Dalam hal ini mungkin kata-kata penuh hikmat yang pernah diucapkan oleh Bunda Teresa dari Kalkuta (sekarang sudah seorang Santa) dapat menolong kita. Seorang pengunjung di Kalkuta berkata kepada Bunda Teresa: “Bunda, engkau telah melakukan sedemikian banyak bagi orang-orang miskin. Engkau membawa Injil cintakasih kepada orang-orang lain dengan begitu banyak cara. Saya tidak pernah akan sanggup melakukan hal-hal seperti yang telah Bunda lakukan.” Bunda Teresa menjawab: “Mungkin saya melakukan apa yang anda tidak dapat lakukan, namun anda dapat melakukan hal-hal yang saya tidak dapat lakukan. Bersama-sama kita dapat melakukan sesuatu yang indah bagi Allah.” Sejalan dengan jawaban Bunda Teresa tadi, almarhum Paus Yohanes Paulus II juga mengatakan: “Kita dipanggil, masing-masing dengan cara yang berlainan, untuk pergi dan menghasilkan buah; untuk masuk ke dalam suatu relasi cintakasih dengan Yesus, sebagai murid yang aktif dan setia.”  Marilah kita menanggapi panggilan Allah itu dengan sepenuh-hati, dengan keikhlasan, dengan ketulusan hati yang tidak perlu diragukan lagi. Sebagai orang Kristiani kita diutus oleh Yesus untuk menyebar-luaskan Kabar Baik, bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Allah memiliki hasrat untuk memasukkan kita ke dalam barisan para pekerja ke kebun anggur-Nya. Yang perlu kita lakukan hanyalah membuka hati kita dan berkata: “Ya Tuhan, aku mau melakukan kehendak-Mu.”

Kalau demikian halnya, bagaimana harus kita memulainya? Kita harus mulai bersama Yesus sendiri. Memberitakan kepada orang-orang lain tentang Tuhan berarti bangkit keluar dari relasi kita sendiri dengan Dia. Kalau kita setiap hari menyediakan waktu cukup untuk berdoa kepada-Nya, mendengarkan apa yang dikatakan-Nya kepada kita serta mempraktekkannya, maka upaya kita untuk berbicara tentang Dia kepada orang lain menjadi suatu tindakan yang natural. Dalam kesempatan ini ingatlah bahwa seseorang tidak dapat memberikan “sesuatu” kepada orang-orang lain, kalau dia sendiri tidak memiliki “sesuatu” itu. Kalau kita gantikan kata “sesuatu” itu dengan “Yesus”, maka kita dapat menyadari pentingnya arti “pengalaman akan Allah/Yesus” sebagai syarat awal setiap upaya seseorang untuk mulai melakukan evangelisasi.

Kita tidak perlu melakukan perjalanan jauh-jauh seperti yang telah dilakukan oleh Santo Lukas dan Santo Paulus sekitar 1.900 tahun lalu, karena kita mempunyai banyak sekali peluang untuk memberitakan Injil. Setiap hari kita mempunyai kesempatan untuk memberikan diri kita sendiri, untuk bercerita kepada orang-orang lain bahwa Allah mengasihi mereka,  kita berdoa untuk mereka dan berbagi iman-kepercayaan kita dengan mereka. Romo Gino Henriques CSsR, Director dari ‘Evangelization 2000’ untuk Asia-Oceania, yang berkedudukan di Singapura, mempunyai sejumlah cerita aktual tentang upaya umat dalam evangelisasi. Hal-hal kecil yang dilakukan sungguh dapat menghasilkan buah. Satu cerita: ada seorang perempuan setengah baya yang bekerja di dapur pastoran. Pada suatu hari Romo Gino bertemu dengan perempuan itu di halaman Gereja yang kelihatan sedang bergegas mau pergi. “Ketangkap basah”’, perempuan itu mulai “mengaku dosa”. Sebenarnya, dia sedang mau pergi menemui seseorang yang memerlukan pendampingan rohani, karena dalam keadaan sangat sulit. Perempuan itu mengaku, bahwa manakala pelajaran evangelisasi sedang berlangsung di aula paroki, secara diam-diam dia juga mencuri-dengar apa yang diajarkan dan didiskusikan di dalam kelas. Dia juga mencatat apa-apa yang perlu. Ternyata perempuan yang akan dikunjunginya bukanlah “pasiennya” yang pertama. Perempuan petugas dapur pastoran yang tidak berpendidikan tinggi itu ternyata seorang penginjil kaliber jawara. Sungguh agung karya Roh Kudus!

Seperti halnya dengan Santo Lukas dan semua misionaris Gereja Perdana, kita tidak pernah boleh merasa takut dan ciut. Ingatlah bahwa Dia menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman (Mat 28:20). Marilah kita terus bertekun dalam upaya kita memberitakan Injil kepada orang-orang di sekeliling kita. Ingatlah yang satu ini, yaitu bahwa Injil atau Kabar Baik adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm 1:16).

DOA: Ya Allah, ya Tuhan kami, Engkau telah memilih Santo Lukas untuk mewartakan dengan lisan dan tulisan rahasia cintakasih-Mu kepada kaum miskin dan papa. Semoga kami pun dapat bermegah dalam nama-Mu dan bertekun sehati dan sejiwa, supaya semua bangsa melihat keselamatan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk melihat uraian tentang Bacaan Pertama hari ini (Rm 4:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA LUKAS YANG TINGGAL DENGAN AKU” (bacaan tanggal 18-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009) 

Cilandak, 16 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu Rosario – Sabtu, 7 Oktober 2017)


Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”  (Luk 10:17-24) 

Bacaan Pertama: Bar 4:5-12,27-29; Mazmur 69:33-37 

Baru saja kembali dari misi mereka, para murid Yesus bersukacita karena kuasa luarbiasa yang telah diberikan Yesus kepada mereka untuk menolong orang-orang yang sakit dan tertindas. Namun Yesus dengan cepat mengingatkan para murid-Nya yang terdiri dari 70 orang itu, bahwa janganlah mereka sibuk memikirkan apa yang telah diberikan oleh-Nya untuk memberdayakan mereka. Yang benar adalah, bahwa mereka bersukacita karena Dia, sumber kuat-kuasa yang sekarang ada dalam diri mereka dan juga pencinta jiwa-jiwa mereka.

Yesus ingin agar para misionaris “yunior” ini menghargai nilai-tertinggi keberadaan mereka bersama dengan diri-Nya. Para murid ini mempunyai privilese berdiam berjam-jam lamanya mendengarkan pengajaran-Nya dan belajar mengenai cintakasih-Nya. Para murid memiliki sukacita mengetahui bahwa Yesus telah membuka “jalan kepada Bapa” bagi mereka. Nama-nama mereka telah “terdaftar di surga” (Luk 10:20). Bukankah hal ini merupakan sebuah alasan yang jauh lebih besar dan penting untuk kegembiraan mereka?

Santa Bunda Teresa dari Kalkuta pada suatu kesempatan mengatakan, “Panggilanku didasarkan pada fakta bahwa aku milik Yesus. Hal itu berarti mengasihi Dia dengan perhatian dan kesetiaan yang tak terpecah-pecah. Pekerjaan yang kami lakukan tidak lebih daripada suatu sarana untuk mentransformir kasih kami kepada Kristus ke dalam sesuatu yang konkret.”

Sebagaimana para murid Yesus, kita pun seringkali mengalami kesulitan berurusan dengan tegangan antara melaksanakan tugas-tugas yang telah diberikan Allah kepada kita dan mengembangkan relasi kita dengan Yesus. Seringkali kita mengalami tegangan yang sama dalam hal relasi kita dengan orang-orang lain: Kita tergoda untuk menerapkan cara-cara fungsional dalam memecahkan masalah-masalah dengan pasangan hidup kita, anak-anak kita, para sahabat terdekat kita ……; padahal bertumbuh dalam kasih dan persatuan harus menjadi prioritas lebih utama daripada sekadar melaksanakan tugas-tugas kita.

Apabila kita membuka hidup kita bagi Yesus dan memperkenankan pernyataan diri-Nya meresap ke dalam hati dan pikiran kita, maka kita akan mulai mengenal kekayaan hikmat-Nya dan kasih-Nya. Sabda Allah dalam Kitab Suci akan terbuka bagi kita. Pola-pola pemikiran dan tindakan yang keliru akan disembuhkan. Kita akan berpaling kepada Roh-Nya untuk memohon pertolongan-Nya dalam mengambil keputusan-keputusan penting sepanjang hari. Kita yang lemah dapat menjadi kuat melalui relasi kita dengan Yesus. Kita yang miskin dapat menjadi kaya. Kita yang tuli dapat mendengar. Dan kita yang buta dapat melihat.

Marilah kita mulai pada hari ini. Marilah kita membuka hati kita bagi Yesus dalam doa-doa kita dan dalam pembacaan dan permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Marilah kita menyambut-Nya ke dalam setiap aspek kehidupan kita dan mohon kepada-Nya untuk mencerminkan kehadiran-Nya kepada setiap orang yang kita jumpai.

DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mataku lebih lebar lagi agar dapat melihat Yesus. Tolonglah aku untuk memandang Yesus sebagai Pribadi di atas segala segalanya yang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “AKU BERSYUKUR KEPADA-MU, BAPA, TUHAN LANGIT DAN BUMI” (bacaan tanggal 7-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 5 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MEMUSATKAN PERHATIAN KITA PADA YESUS

MEMUSATKAN PERHATIAN KITA PADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Kamis, 5 Oktober 2017)

 

Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Luk 10:1-12) 

Bacaan Pertama: Neh 8:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11 

“Fokus, fokus, fokus!” Para manager, kapten sebuah kesebelasan sepak bola, para guru, dlsb. senantiasa mendesak orang-orang yang dipimpinnya untuk berkonsentrasi pada tugas pekerjaan di depan mereka. Akan tetapi, tidak seorang pun perlu untuk mengatakan kepada Yesus untuk tetap fokus. Yesus tidak pernah memperkenankan apa pun sehingga dapat berakibat pada distraksi dari tugas yang harus dilakukan-Nya dalam rangka perutusan-Nya oleh Bapa. Sejak awal waktu, Yesus telah syering dengan Bapa-Nya suatu kerinduan untuk menyatakan kehadiran Allah yang menyelamatkan – “kerajaan-Nya” – kepada setiap orang. Hasrat ini berkobar-kobar dalam diri Yesus. Ketika orang-orang-Nya mengusulkan kepada Yesus agar Ia membatasi perhatian pada satu kota saja, maka Yesus mengatakan kepada mereka, “Di kota-kata lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 4:43).

Selagi Yesus mengutus 70 (72) murid-Nya untuk mempersiapkan orang-orang akan kedatangan-Nya, Dia mendesak mereka untuk ikut ambil bagian dalam hasrat-Nya bahwa pada akhirnya Gereja didirikan. Para murid tidak boleh terpengaruh oleh distraksi-distraksi; mereka tidak boleh kehilangan energi karena memikirkan baju apa yang harus dipakai atau meladeni hasrat untuk menikmati makanan yang lebih enak (Luk 10:4,7). Yesus ingin agar para murid-Nya melakukan dengan cara paling baik melayani pengharapan Injil di kota-kota antara Samaria dan Yerusalem. Mereka harus menolong orang-orang lain menemukan kuat-kuasa Allah untuk membebaskan mereka dari dosa-dosa, menghancurkan pekerjaan Iblis, mengisi kekosongan mereka, dan merekonsiliasikan mereka dengan Bapa.

Yesus memberdayakan para murid-Nya agar dapat melaksanakan misi ini (Luk 10:9). Ia juga memperingatkan mereka bahwa mereka akan menghadapi oposisi: “Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Luk 10:3). Di tengah pertempuran spiritual yang intens seperti ini, situasi para murid dapat berbahaya. Mereka harus bergantung kepada-Nya secara tetap.

Semua ini adalah suatu pemberian dorongan/semangat kepada kita dari Tuhan yang mengasihi kita. Melalui baptisan Yesus telah mengutus kita juga untuk membawa rahmat Injil ke tengah dunia. Hal ini menempatkan diri kita, seperti 70 (72) murid-Nya, di tengah-tengah suatu pertempuran spiritual. Akan tetapi apabila kita berada tetap dekat dengan Yesus dalam doa, kasih dan ketaatan, maka kita akan mampu untuk membuat mukjizat dan tanda heran lainnya. Apabila kita memusatkan perhatian kita pada Yesus, maka kita akan mampu untuk tetap fokus pada misi yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, berdayakanlah kami agar mampu menyebarkan kabar baik Kerajaan-Mu. Belalah kami dalam pertempuran spiritual. Di atas segalanya, tolonglah kami agar memusatkan pandangan kami pada Engkau saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10-1-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI PEKERJA-PEKERJA UNTUK TUAIAN ITU” (bacaan tanggal 5-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-10-13 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 3 Oktober 2017 [Transitus Bapak Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA PUN DIUTUS OLEH-NYA PADA HARI INI

KITA PUN DIUTUS OLEH-NYA PADA HARI INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Vinsensius a Paulo, Imam – Rabu, 27 September 2017) 

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, kata-Nya kepada mereka, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau kantong perbekalan, roti atau uang, atau dua helai baju. Apabila kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi desa-desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. (Luk 9:1-6) 

Bacaan Pertama: Ezr 9:5-9; Mazmur Tanggapan: Tb 13:2-5,8 

Selagi Yesus mulai bergerak menuju Yerusalem, Ia mengakhiri misi di Galilea dengan mengutus kedua belas murid-Nya untuk mewartakan Injil dan menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita dan juga untuk menguasai roh-roh jahat. Apakah para murid sudah sepenuhnya siap dan memenuhi syarat (qualified) untuk itu?

Menarik bagi kita untuk mencatat bahwa bahkan dalam cerita pengutusan para murid ini, Yesus tetap berada di pusat. Yesus-lah yang memanggil kedua belas murid-Nya (Luk 9:1), seperti Ia pada awalnya telah memanggil masing-masing murid itu untuk datang dan mengikut-Nya. Dengan berjalannya waktu, Yesus telah menyatakan diri-Nya dan mensyeringkan hidup-Nya dengan mereka. Mereka ini bukanlah rasul-rasul yang mengangkat diri mereka sendiri, dan mereka pun bukanlah pribadi-pribadi yang memiliki kharisma dan kemampuan secara alamiah. Satu-satunya hal yang membedakan diri mereka dengan orang-orang lain adalah relasi mereka dengan Yesus.

Sebelum Ia mengutus mereka, Yesus memberikan kepada kedua belas murid-Nya itu kekuasaan dan otoritas atas semua roh jahat dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit (Luk 9:1). Semuanya datang dari dari Yesus. Para murid-Nya tidak pernah pergi ke sekolah teologi dan mereka pun belum mempunyai banyak pengalaman dalam melakukan penyembuhan penyakit dan pengusiran roh-roh jahat. Malah mereka kelihatannya mudah merasa takut dan tidak mempunyai iman yang diperlukan. Namun Yesus memberikan kekuasaan dan otoritas atas realitas-realitas fisik maupun spiritual! Dalam menggambarkan pengutusan Yesus ini, Lukas menggunakan kata Yunani apostello bagi para rasul itu, yang berarti “seorang yang diutus oleh orang lain” (Inggris: apostle). Para rasul tidak menawarkan diri mereka secara sukarela untuk misi yang dipercayakan kepada mereka. Inisiatif ada pada Yesus! Mereka sekadar diutus untuk memberi kesaksian siapa Yesus itu, dan untuk memberikan kesaksian tentang kuasa Allah melalui tindakan-tindakan mereka.

Ternyata tidak ada bedanya pada hari ini. Yesus yang sama, yang memanggil kedua belas murid-Nya sekitar 2.000 tahun lalu, pada hari ini juga memanggil kita masing-masing secara pribadi. Yesus yang sama ini memberikan kepada kita otoritas atas roh-roh jahat dan sakit-penyakit hari ini. Yesus yang sama ini mengutus kita untuk pergi mewartakan Injil Kerajaan Allah secara sederhana, menyembuhkan orang-orang yang sakit, baik fisik maupun spiritual, dan mengasihi tanpa syarat siapa saja yang dijumpai sebagaimana Yesus mengasihi. Kita tidak melangkah maju berdasarkan kemampuan, kesempurnaan kita, atau kuat-kuasa yang kita miliki, melainkan sekadar dalam nama dan kuasa Yesus Kristus. Sang Guru dan Tuhan kita itu telah memilih kita dan memperlengkapi kita agar dapat melakukan kehendak-Nya oleh kuasa Roh Kudus yang hidup di dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat mengenali panggilan-Mu, menerima kuat-kuasa dan otoritas-Mu, dan setia dalam mewartakan Kerajaan Allah seturut kehendak-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, perkenankanlah kami meneruskan anugerah kesembuhan dari-Mu kepada semua orang yang membutuhkannya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUA ORANG HARUS MEMBUAT PILIHAN” (bacaan tanggal 27-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 26 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG PETANI YANG MENABURKAN BENIHNYA

PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG PETANI YANG MENABURKAN BENIHNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius dr Pietrelcina [Padre Pio] – Sabtu, 23 September 2017)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Pesta S. Pius dr Pietrelcina [Padre Pio]

 

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri dengan Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan, “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang-orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang-orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk 8:4-15) 

Bacaan Pertama: 1Tim 6:2c-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-4 

Perumpamaan ini sungguh merupakan sebuah tantangan besar. Sekali firman Allah ditanam dalam hati kita, kita mempunyai pilihan bagaimana kita akan menanggapi firman tersebut. Yesus mengajar dengan jelas: Apabila benih gagal berakar dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu bertahan ketika menghadapi kesulitan. Tanah yang baik adalah “hati yang baik dan jujur serta taat” (lihat Luk 8:15). Kalau firman Allah bertemu dengan hati yang demikian, maka firman itu akan tumbuh dan berbuah. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa kita dapat memupuk hati kita sehingga, ketika sang penabur menaburkan benihnya ke dalam diri kita, maka kita akan siap untuk menerima benih itu dan memberi makan kepada benih itu agar dapat hidup dan tumbuh dalam diri kita.

Bagaimana kita dapat menjadi tanah yang baik dan subur? Kita dapat mulai dengan memohon kepada Roh Kudus untuk mengisi diri kita dengan suatu hasrat yang tulus akan firman Allah dan suatu keterbukaan terhadap kuasa firman Allah itu untuk mentransformasikan kita. Kita juga dapat membuat diri kita tersedia bagi Allah sehingga ‘benih’ di dalam diri kita dapat menghasilkan akar yang dalam serta kuat, dan dapat menghasilkan buah secara berlimpah-limpah. Melalui doa-doa harian, bacaan dan studi Kitab Suci serta partisipasi aktif dalam Misa Kudus, kita dapat membawa makanan bagi diri kita secara konstan, menciptakan suatu keadaan di mana benih firman Allah dapat bertumbuh dan menjadi produktif.

Disamping hati yang baik, jujur dan taat, kita juga membutuhkan kesabaran kalau mau melihat tanaman itu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat. Selagi kita berjalan melalui kehidupan kita ini, pastilah kita mengalami berbagai godaan, masalah dan kesulitan. Barangkali kita tertarik pada kekayaan dan kenikmatan hidup (Luk 8:14). Namun Allah memerintah dalam hati yang kuat berakar pada firman-Nya. Allah akan melihat kita melalui waktu-waktu di mana kita tergoda untuk mengambil jalan-mudah, atau ketika kita  mengalami distraksi (pelanturan) yang disebabkan oleh berbagai tuntutan atas waktu dan perhatian kita. Yesus, sang Firman Allah, akan menjaga hati kita tetap lembut dan lunak. Kalau kita menantikan-Nya dengan sabar, maka Dia tidak akan mengecewakan kita.

Marilah kita menerima firman Allah dengan kesabaran dan penuh kepercayaan. Marilah kita minta kepada Roh Kudus untuk menanam firman-Nya dalam-dalam pada diri kita, sehingga tidak ada yang dapat mencabutnya, apakah Iblis, atau godaan-godaan, atau kekayaan, atau kenikmatan-kenikmatan yang ditawarkan dunia. Baiklah kita memusatkan pikiran dan hati kita pada firman-Nya, mohon kepada Roh Kudus untuk membawa firman-Nya ke dalam diri kita. Baiklah kita membuat Kitab Suci sebagai fondasi kita yang kokoh-kuat.

DOA: Bapa surgawi, kuduslah nama-Mu ya Allah-ku. Bapa, berkat rahmat-Mu buatlah agar hidupku berbuah demi kemuliaan-Mu. Tumbuhkanlah dalam hati kami suatu hasrat untuk menerima firman-Mu. Ubahlah hati kami supaya menjadi tanah yang baik dan subur bagi firman-Mu untuk tumbuh dan berbuah. Jagalah terus hati kami agar firman-Mu jangan sampai terhimpit mati di dalamnya seakan terhimpit di tengah semak duri, jangan sampai menjadi kering di dalamnya seakan jatuh ke atas tanah yang berbatu-batu, jangan sampai sia-sia seperti benih yang jatuh di pinggir jalan kemudian diambil oleh Iblis. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:4-15), bacalah tulisan yang  berjudul “MENJADI TANAH YANG BAIK BAGI BENIH SABDA-NYA” (bacaan tanggal 23-9-17) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009)

Cilandak, 22 September 2017 [Peringatan S. Ignasius dr Santhi, Imam Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 14 Juli 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam 

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Kej 46:1-7,28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-4,18-19,27-28,39-40

Bilamana kita setia melaksanakan hidup Injili sehari-harinya, kita pun boleh memastikan bahwa kita akan menghadapi kesulitan atau oposisi. Dalam situasi pengejaran dan penganiayaan, ke mana kita akan mencari sebuah jangkar atau sauh sebagai pegangan kita? Apa yang dapat menopang kehidupan kita? Jangkar kita adalah keyakinan bahwa Roh Kudus Allah berdiam dalam diri kita dan Ia mau dan mampu untuk membimbing kita dalam segala macam situasi yang kita hadapi.

Ketika Yesus memberikan peringatan-peringatan dan wejangan-wejangan kepada kedua belas rasul (artinya kepada kita juga yang hidup pada zaman sekarang) dalam rangka mengutus mereka sebagai misionaris-misionaris, sebenarnya Yesus berbicara berdasarkan pengalaman-Nya sendiri. Sadar akan tidak dapat dihindarkannya kesalahpahaman dan penganiayaan, Yesus terus-menerus memasrahkan hati-Nya pada kuasa Roh Kudus dan kasih dan perlindungan Bapa-Nya. Demikian pula, para murid tidak perlu merasa gelisah atau khawatir tentang bagaimana dan apa yang mereka harus katakan pada waktu mereka diserahkan kepada para penguasa karena kesaksian mereka tentang Kristus, karena Yesus mengatakan kepada mereka: “Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat 10:20).

Yesus dibenci, dikhianati, diadili dalam pengadilan dagelan yang terbesar pada zaman itu, dan akhirnya dijatuhi hukuman mati karena kesaksian-Nya. Akan tetapi, pada setiap saat Yesus mencari kekuatan dan bimbingan dari Roh Kudus. Walaupun pada saat para musuh-Nya berpikir mereka menang atau berada di atas angin, Yesus tetap setia berpegang teguh pada pengetahuan-Nya tentang kasih Allah Bapa bagi diri-Nya. Dia tahu bahwa diri-Nya tidak akan dipermalukan.

Roh Kudus yang sama mencurahkan kasih Allah yang sama ke dalam hati kita masing-masing dan memberikan kepada kita keyakinan ketika kita menghadapi oposisi (lihat Rm 5:1-5). Penganiayaan mungkin tidak dapat dihindari, namun lebih pasti lagi adalah kuasa Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita melalui pembaptisan. Ia sangat berhasrat untuk menguatkan diri kita selagi kita melangkah ke luar dalam ketaatan-penuh-setia kepada Allah, dengan penuh kemauan untuk membayar harga kesaksian kita tentang kebesaran Yesus Kristus. Langkah-langkah kecil ketaatan kita dibuat kecil oleh kesetiaan Allah dengan janji-Nya untuk memberikan kita bimbingan dan dorongan oleh Roh-Nya. Tidak ada keyakinan yang lebih besar di sini, karena tidak ada sahabat yang lebih setia menemani kita daripada Roh Kudus sendiri. Oleh karena itu marilah kita mengambil sikap Yesus dan taat kepada Bapa di surga sementara kita dengan penuh keyakinan menanti-nantikan tanggapan penuh setia dari Roh Kudus-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kami keberanian untuk menjadi saksi-saksi-Mu yang berani dan tangguh. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “KITA PERLU MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK PENUH PERHATIAN MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 14-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 10 Juli 2017 [Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk. Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS