Posts from the ‘EVANGELISASI’ Category

DALAM NAMA ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS

DALAM NAMA ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS – Minggu, 27 Mei 2018)

Kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat 28:16-20) 

Bacaan Pertama: Ul 4:32-34,39-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:4-6,9,18-20,22; Bacaan Kedua: Rm 8:14-17

“… pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus …” (Mat 28:19)

Injil Matius ditutup dengan sebuah pemandangan yang agung-menakjubkan, yang menegaskan lagi fundamental-fundamental dari pesan yang disampaikan Matius. Ada sejumlah ahli Kitab Suci modern yang malah mengatakan bahwa perikop ini merupakan “kunci” bagi pemahaman Injil Matius: Apa yang ingin dikatakan oleh Matius dalam Injilnya adalah, bahwa Kristus adalah seorang Pribadi kepada siapa segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan, dan pada gilirannya Dia mendelegasikan kuasa ini kepada para murid, mengutus mereka untuk mewartakan Injil kepada semua bangsa, melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh-Nya.

Dalam Mat 1-9 kuasa Yesus disoroti. Singkatnya, Injil Matius bergravitasi di sekitar kuasa/otoritas Yesus dan otoritas para rasul sebagai pemimpin-pemimpin Israel sejati. Sekarang, kesebelas rasul pergi ke sebuah bukit di Galilea untuk menyaksikan kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Dalam Injil Matius bukit/gunung adalah tempat untuk perwahyuan yang istimewa (“Khotbah di Bukit” [Mat 5-7], “Transfigurasi” [Mat 17:1-13] dan perikop ini).  Hal ini terlebih-lebih merupakan ungkapan teologis ketimbang ungkapan geografis. Ketika Yesus muncul, beberapa orang ragu-ragu, tetapi mereka menyembah-Nya (Mat 28:17).

Kekuasaan penuh telah diberikan oleh Bapa kepada Yesus karena kebangkitan-Nya dan pemuliaan-Nya. Sekarang Ia mengutus para murid-Nya untuk mewartakan Injil kepada semua bangsa (artinya tidak hanya kepada bangsa Yahudi). Semua orang diajak untuk menjadi murid-murid-Nya, para pengikut Kristus. “Kekuasaan penuh” yang dimiliki oleh Kristus yang bangkit, mengingatkan kita semua kepada Anak Manusia yang dimuliakan dalam Kitab Daniel: “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah” (Dan 7:13-14).

Kristus yang memegang kekuasaan penuh inilah yang memberi “amanat agung” kepada para murid-Nya, Ia mengutus mereka ke segala bangsa dan menjadikan mereka menjadi murid-Nya. Jadi para murid dituntut untuk menjadikan orang-orang lain murid-murid juga. Memang dalam dunia Kekristenan/Kristianitas hanya ada seorang Guru saja, yaitu Yesus Kristus. Para murid diminta untuk mengajar seperti Yesus mengajar, dan membentuk sebuah komunitas yang para anggotanya adalah murid-murid Kristus. Komunitas yang disebut Gereja, Tubuh Kristus, dengan Yesus Kristus sebagai Kepalanya. Kepada “segala bangsa”, karena misi Gereja bersifat universal; tidak ada Gereja yang khusus diperuntukkan bagi satu bangsa atau bangsa-bangsa tertentu saja. Kepada komunitas ini dijanjikan kehadiran terus-menerus dari “Tuhan yang Bangkit” sampai akhir zaman (Mat 28:20; bdk. Mat 1:23; Mat 18:20).

Mereka yang diajar oleh para murid itu kemudian dibaptis “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” dan kepada mereka juga diajarkan untuk melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan Yesus kepada para murid yang awal. Rumusan Trinitarian/Trinitaris “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” mungkin saja  bukan kata-kata yang diucapkan Kristus, melainkan merupakan rumusan Gereja Perdana. Dalam Kis 2:38; 8:16; 10:48; 19:5 disebutkan suatu baptisan “dalam nama Tuhan Yesus” atau “dalam nama Yesus Kristus”; hal mana tidak bertentangan dengan Mat 28:19. “Dalam nama” berarti oleh/dengan otoritas seseorang. Para rasul membaptis oleh/dengan otoritas Yesus Kristus, seperti telah diperintahkan oleh-Nya. Membaptis dalam nama Yesus Kristus secara implisit juga bersifat Trinitaris (Trinitarian), karena Yesus Kristus adalah sang Mesias yang diutus oleh Bapa surgawi dan Ia adalah Pribadi yang memenuhi karya-Nya melalui Roh Kudus.

Sebagai bagian penutup dari tulisan ini, baiklah kita merenungkan beberapa hal. Rasa hormat mendalam kepada pribadi Yesus, suatu penekanan atas hikmat-kebijaksanaan yang terkandung dalam ajaran Yesus, keprihatinan untuk membangun Gereja (bukan gedung gereja), dan suatu masa depan yang penuh kepastian akan kehadiran sang Imanuel – tema-tema ini telah menjadi menjadi begitu familiar bilamana kita membaca dan merenungkan Injil Matius. Ketika kita mau menutup Injil Matius, ada satu ayat yang kiranya muncul dalam pikiran dan hati kita: “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu” (Mat 7:24). 

DOA: Allah Yang Mahakuasa, kekal, adil dan berbelaskasihan, perkenankanlah kami yang malang ini, demi Engkau sendiri, melakukan apa yang setahu kami Engkau kehendaki, dan selalu menghendaki apa yang berkenan kepada-Mu, agar setelah batin kami dimurnikan dan diterangi serta dikobarkan oleh api Roh Kudus, kami mampu mengikuti jejak Putera-Mu yang terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, dan berkat rahmat-Mu semata-mata sampai kepada-Mu, Yang Mahatinggi, Engkau yang dalam tritunggal yang sempurna dan dalam keesaan yang sederhana, hidup dan memerintah serta dimuliakan, Allah yang Mahakuasa sepanjang segala masa. Amin. [Doa Santo Fransiskus dari Assisi] 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 28:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “KEMULIAAN KEPADA ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS” (bacaan tanggal 27-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 22 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PERINTAH YESUS KEPADA PARA MURID-NYA UNTUK MEMBERITAKAN INJIL

PERINTAH YESUS KEPADA PARA MURID-NYA UNTUK MEMBERITAKAN INJIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN [Tahun B] – Kamis, 10 Mei 2018)

Lalu Ia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam  bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun yang mematikan, mereka tidak akan mendapat celaka; merek akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. (Mrk 16:15-20) 

Bacaan Pertama: Kis 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,6-9; Bacaan Kedua: Ef 4:1-13 

Di antara berbagai misteri agung dalam kehidupan Yesus Kristus, “Hari Raya Kenaikan Tuhan” cenderung diabaikan. Kita merayakan kelahiran Yesus secara besar-besaran dalam semangat sukacita Natal. Lihatlah pula betapa gedung-gedung gereja penuh sesak pada upacara hari Jumat Agung, tatkala umat memperingati kematian Yesus di kayu salib. Kita juga merayakan kebangkitan-Nya dalam kemuliaan Paskah. Bagaimana dengan Kenaikan-Nya ke surga? Di banyak negara, hari besar ini “dirayakan” di tengah-tengah hari kesibukan kerja, yaitu pada hari Kamis. Walaupun dalam kalender-kalender Indonesia hari ini adalah hari berwarna merah, artinya hari libur, tokh tidak semua umat dapat menyempatkan diri untuk mengikuti Misa Kudus pada hari penting itu.

Bacaan hari ini adalah tentang kenaikan Tuhan Yesus. Kita hanya dapat memahami peristiwa kenaikan Tuhan ini, apabila kita melihatnya dalam kaitan dengan peristiwa-peristiwa sentral lainnya dalam kehidupan Yesus Kristus.

Karena kasih Bapa surgawi, Yesus Kristus diutus ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian kekal. Ia lahir sebagai salah seorang dari kita, umat manusia, di tengah-tengah kemiskinan. Lewat kematian-Nya di kayu salib, Yesus menang-berjaya atas dosa dan kematian kekal, dan kemenangan-Nya itu dimanisfestasikan dalam kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan. Yesus mengalami kegelapan dunia kematian, dan pada hari ketiga Dia bangkit dengan jaya. Namun Yesus tidak bangkit hanya untuk mengambil kembali keberadaan-Nya di atas muka bumi yang telah dimulai-Nya pada saat kelahiran-Nya di Betlehem. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan, bahwa dia bangkit dari kematian dan masuk ke dalam suatu kehidupan surgawi yang baru. Kenaikan Tuhan Yesus ke surga berarti kembali-Nya kepada Bapa, pemuliaan-Nya di surga di sebelah kanan Bapa, peninggian-Nya sebagai Tuhan Kehidupan.

Jadi kenaikan Tuhan Yesus adalah suatu bagian integral dari kebangkitan-Nya, sebagai buah yang adalah bagian dari sebatang pohon. Kenaikan Tuhan Yesus menunjukkan kebaharuan dan kepenuhan dari hidup kebangkitan-Nya. Kita memang tidak dapat membayangkan macam apa hidup kebangkitan itu. Bahkan kita tidak mempunyai kata yang pas untuk menggambarkannya. Namun ada sepatah kata yang kita dengar dan akan dengar lagi dari waktu ke waktu dalam Misa dan doa-doa: KEMULIAAN! Memang kata ini bukanlah kata yang memadai, tetapi inilah kata satu-satunya yang terdapat dalam perbendaharaan kata kita. Yesus naik ke suatu kehidupan yang penuh kemuliaan.

Kenaikan Tuhan Yesus penting bagi kita karena kehidupan ini begitu berharga. Kita berpegang pada kehidupan di dunia ini, meskipun banyak mengalami kesusahan, frustrasi dan bermacam-macam penderitaan lainnya. Kita berpegang pada kehidupan dunia ini karena inilah satu-satunya yang kita ketahui. Di sisi lain kita pun tidak menginginkan kehidupan seperti ini untuk selama-lamanya. Sebenarnya dalam hati setiap insan terdapat kerinduan akan suatu kehidupan sempurna yang tidak mengenal akhir, kehidupan yang penuh kemuliaan.  Di zaman kuno, orang-orang mencari sumber air yang mampu membuat awet muda dan tidak akan mati. Kedengaran agak sedikit naive bagi telinga orang-orang pada zaman modern kita ini. Namun para ilmuwan zaman modern ini pun hampir sama naive-nya ketika mereka mencoba menyelidiki proses penuaan, dengan harapan dapat menemukan suatu cara untuk memperpanjang hidup manusia dan akhirnya dapat mencegah kematian itu sendiri. Kita harus percaya, bahwa kehidupan yang merupakan tujuan dari penciptaan kita tidaklah terdapat dalam dunia ini, tetapi di dalam surga. Kita memang harus menemukan kehidupan surgawi itu.

Seperti Kristus, kita juga harus jalan melalui dunia kematian sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Kita telah dipanggil kepada suatu pengharapan besar dalam Kristus. Dalam dia kodrat manusia yang lemah telah dibangkitkan kepada kemuliaan. Pada suatu hari warisan-Nya yang mulia akan menjadi milik kita juga. Kita tidak perlu takut akan proses penuaan secara fisik yang pada satu titik kelak akan membawa kita berjumpa dengan Saudari Maut (badani). Yang perlu kita ketahui dan waspadai adalah kuasa dosa yang sangat merusak dan dapat menghancurkan kita sehabis-habisnya.

Sebelum kenaikan-Nya ke surga, Yesus memberikan Amanat kepada para murid-Nya untuk mewartakan Injil kepada semua makhluk dan menjanjikan segala kuasa serta tanda heran yang akan menyertai mereka. Para misionaris Kristiani adalah contoh konkret dari para murid yang taat dan patuh kepada amanat Yesus itu. Mereka mewartakan Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus ke segenap penjuru dunia, termasuk Indonesia kita yang tercinta. Pewartaan para misionaris itu biasanya disertai dengan berbagai kuasa Roh berupa mukjizat dan tanda heran lainnya.

DOA: Allah, penyelamat umat manusia, berbagai bangsa Kaujadikan milik-Mu berkat pewartaan. Semoga semangat kerasulan para misionaris berkobar-kobar dalam hati semua orang beriman, sehingga di mana-mana umat-Mu dapat berkembang subur. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 16:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “KENAIKAN TUHAN KITA” (bacaan tanggal 10-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 8 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELAJAR DARI PAULUS DALAM BER-EVANGELISASI

BELAJAR DARI PAULUS DALAM BER-EVANGELISASI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 9 Mei 2018

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Katarina dr Bologna, Perawan – Klaris

Orang-orang yang mengiringi Paulus mengantarnya sampai di Atena, lalu kembali dengan pesan kepada Silas dan Timotius, supaya mereka selekas mungkin datang kepadanya.

Paulus berdiri di hadapan sidang Aeropagus dan berkata, “Hai orang-orang Atena, aku lihat bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak tinggal dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan napas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Allah dan mudah-mudahan mencari-cari dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini keturunan-Nya juga. Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir dalam keadaan ilahi serupa dengan emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Tanpa memandang lagi zaman kebodohan, sekarang Allah memerintahkan semua orang di mana saja untuk bertobat. Karena Ia telah menetapkan suatu hari ketika Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu jaminan tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata, “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.” Lalu Paulus meninggalkan mereka. Tetapi beberapa orang menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionidius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.

Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. (Kis 17:15,22-18:1) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14; Bacaan Injil: Yoh 16:12-15

Dalam perjalanan misionernya yang kedua, Paulus pertama-tama sampai di Atena, setelah menghadapi berbagai tantangan dan mengalami berbagai kesulitan/persekusi, termasuk penganiayaan, pemukulan dan bahkan sampai dipenjarakan. Walaupun begitu, pekerjaan evangelisasi Paulus menghasilkan buah yang banyak.

Sebagaimana biasanya, Paulus bekerja di dua front: di rumah-rumah ibadat (sinagoga) dengan orang-orang Yahudi, dan di tengah-tengah tempat ramai dengan siapa saja yang lewat dan mau mendengarkan – “evangelisasi jalanan”. Di Atena, Paulus juga melakukan evangelisasi kepada orang-orang Yunani di tempat pertemuan akademis terbuka yang dinamakan Aeropagus.

Di Aeropagus, Paulus memuji orang-orang Atena untuk kesalehan mereka dalam melaksanakan praktek keagamaan, hal mana kelihatan dalam begitu banyak patung dewa-dewi yang ada. Secara khusus Paulus memperhatikan sebuah mezbah dengan catatan: “Kepada Allah yang tidak dikenal”. Ia menjelaskan kepada mereka, bahwa “Allah yang tidak dikenal” inilah yang diwartakan olehnya. Karena orang-orang non-Yahudi (baca: kafir) itu tidak familiar dengan Kitab Suci Ibrani, maka pendekatan Paulus adalah dengan menggunakan “teologi alamiah”, dengan menggunakan bukti-bukti dari alam ciptaan bahwa Allah itu ada. Paulus menyatakan bahwa pujangga-pujangga mereka sendiri mengatakan bahwa ada “seorang”  di atas dewa-dewi lain, di dalam Dia “kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis 17:28).

Kata-kata Paulus kepada para filsuf Atena masih relevan sampai hari ini. Alam dan hati nurani kita menggerakkan kita untuk mencari Allah. Dalam kasih-Nya, Allah mengutus seorang Manusia untuk menghakimi dunia dalam kebenaran, dan sekarang Ia memanggil setiap orang untuk melakukan pertobatan. Dengan membangkitkan Yesus dari dunia orang mati, Allah telah memberikan kepada kita jaminan penebusan yang tidak usah diragukan lagi. Mendengar soal “kebangkitan orang mati” dari bibir Paulus sendiri, para filsuf Yunani menginterupsi, ada yang mengejeknya, namun ada juga yang mau mendengar lebih banyak lagi dan menjadi percaya.

Ini adalah tantangan kita pada hari ini. Cara kita menghayati kehidupan kita sungguh akan mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang bersifat kekal-abadi. Kita dapat bertanya kepada diri-sendiri: “Apakah pemikiran tentang pengadilan terakhir menakutkan anda? Apakah anda merasa worry bahwa anda akan kedapatan “masih kurang” pada saat kedatangan Yesus untuk kedua kalinya?” Ada dua alasan yang mungkin untuk hal ini: Bisa saja kita masih mempunyai dosa yang belum kita sesali dan mohon pengampunan-Nya atau bisa juga karena visi kita tentang Allah terlalu sempit. Oleh karena itu marilah kita menghadap Allah dan mengakui dosa-dosa kita. Marilah kita mohon pengampunan-Nya, percaya kepada janji-Nya untuk memulihkan kita. Allah tidak pernah berbohong dan Ia tidak akan menolak siapa saja yang datang kepada-Nya dengan hati yang remuk redam mohon pengampunan-Nya.

DOA: Tuhan, aku percaya bahwa Engkau ingin agar aku mengetahui betapa mendalam Engkau mengasihiku. Engkau menghendaki yang terbaik dari diriku. Aku menyerahkan diriku kepada kuat-kuasa-Mu agar aku dapat tetap melakukan hal-hal yang benar di mata-Mu. Penuhilah diriku dengan jaminan akan kasih-Mu dan gerakkanlah aku agar dapat dengan efektif membagikan kasih-Mu kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Yoh16:12-15), bacalah tulisan yang berjudul “IA AKAN MEMBERITAKAN KEPADAMU APA YANG DITERIMA-NYA DARI AKU” (bacaan tanggal 9-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 7 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS: DUA ORANG RASUL KRISTUS

SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS: DUA ORANG RASUL KRISTUS

(Bacaan  Injil Misa Kudus, Pesta S. Filipus dan Yakobus, Rasul – Kamis, 3 Mei 2018)

Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat dia.”

Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh 14:6-14) 

Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Pada hari ini Gereja merayakan pesta Santo Filipus dan Yakobus, dua dari 12 orang rasul Kristus. Tidak banyak yang kita ketahui tentang Filipus dan Yakobus (yang bukan saudara Yohanes, anak-anak Pak/Bu Zebedeus) ini. Menurut Injil Yohanes, Filipus berasal dari Betsaida, kota asal Andreas dan Simon Petrus, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa dia adalah mitra-usaha kedua kakak-beradik itu (Yoh 1:44). Sebelum Yesus membuat mukjizat pergandaan roti dan ikan untuk kepentingan orang banyak, Ia bertanya kepada Filipus di mana mereka dapat membeli roti, supaya orang banyak dapat makan. Filipus – “sang usahawan” – langsung saja menunjukkan kepiawaiannya dalam hal “kalkulasi biaya” sekalipun pada waktu itu belum ada kalkulator: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja” (lihat Yoh 6:5-7).

Berkata-kata tanpa tedeng aling-aling rupanya sudah merupakan sifat yang melekat pada diri Filipus. Ingatkah anda ketika dia membujuk Natanael agar menemui Yesus? Ketika temannya itu meragukan credentials yang dimiliki Yesus dengan sebuah ungkapan klasik, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”, Filipus hanya mengatakan begini kepada Natanael: “Mari dan lihatlah!” (lihat Yoh 1:43-47). Injil Yohanes juga bercerita mengenai Filipus yang membawa beberapa orang Yunani kepada Yesus dengan bantuan Andreas (Yoh 12:20-22). Di samping beberapa catatan di atas, nama Filipus hanya muncul beberapa kali saja dalam kitab-kitab Injil sinoptik (Mat 10:3; Mrk 3:18; Luk 6:14). Patut diingat bahwa Rasul Filipus tidak sama dengan Filipus yang melayani sebagai seorang diakon di dalam Gereja Perdana (Kis 6:5;8:6).

Tentang Rasul Yakobus yang bukan anak Zebedeus lebih sedikit lagi yang kita ketahui. Rasul ini disebut juga Yakobus anak Alfeus. Ada beberapa catatan singkat dalam kitab-kitab Injil sinoptik tentang perutusannya sebagai rasul Kristus (Mat 10:3; Mrk 3:18; Luk 6:15). Untuk membedakannya dengan Yakobus anak Zebedus (yang mati dibunuh oleh Herodus; Kis 12:1-2), Yakobus kita hari ini juga suka dinamakan “Yakobus kecil” atau “Yakobus muda”. Ada tradisi-tradisi gerejawi yang melihat dia sebagai Yakobus sama yang mempimpin komunitas awal di Yerusalem (Kis 15; Gal 1:19; 2:9), namun identitasnya yang sejati tetap saja tidak/belum jelas.

Kita tidak perlu merasa heran, bahwa kendati begitu sedikit informasi yang kita miliki tentang kedua orang kudus yang kita rayakan pada hari ini, Gereja tetap menilai mereka sebagai rasul-rasul Kristus yang sejati. Biar bagaimana pun juga Yesus tidak memilih mereka karena kemampuan kepemimpinan mereka atau banyaknya pengetahuan teologis yang mereka miliki. Yesus memanggil orang-orang biasa yang sedang bekerja, mempunyai rumah kediaman dan keluarga. Dan ketika mereka menanggapi panggilan Yesus, hidup mereka pun “dijungkir-balikkan” karena mereka telah berjumpa dengan sang Putera Allah sendiri. Sejak saat itu, kehidupan mereka pun samasekali berbeda karena secara berkesinambungan Roh Kudus membuat mereka semakin serupa dengan gambaran Yesus yang mereka layani.

Sebagai umat yang sudah dibaptis, kita pun ikut ambil bagian dalam panggilan untuk menjadi rasul-rasul masa kini. Kata Yunani apostolos  berarti “orang yang diutus pergi” (untuk suatu misi tentunya), dan dalam Kristus kita semua diberi amanat untuk membawa terang Injil ke tengah dunia. Ketika kita berjumpa dengan Kristus yang sudah bangkit dalam doa, pembacaan serta permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci, dan sakramen-sakramen, maka kita pun kemudian diutus sebagai saksi-saksi Kristus, seperti halnya dengan Filipus dan Yakobus, ke dunia di sekeliling kita, lewat kata-kata dan pola kehidupan kita sehari-hari.

DOA: Tuhan Yesus, Filipus minta kepada-Mu, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yoh 14:8), dan Engkau pun menyatakan siapa Diri-Mu kepadanya. Selagi kami bersembah-sujud di hadapan-Mu, tunjukkanlah kebaikan-Mu yang penuh kasih, dan berdayakanlah kami agar mau dan mampu menjadi saksi-saksi-Mu di tengah-tengah para saudari dan saudara kami lainnya yang belum mengenal Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:6-14), bacalah tulisan yang berjudul “FILIPUS DAN YAKOBUS: DUA RASUL YANG KURANG DIKENAL” (bacaan tanggal 3-5-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 1 Mei 2018 [Peringatan S. Yusuf Pekerja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUSLAH YANG BEKERJA DALAM DAN LEWAT DIRI PARA MURID/RASUL

ROH KUDUSLAH YANG BEKERJA DALAM DAN LEWAT DIRI PARA MURID/RASUL

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III – Rabu, 18 April 2018)

Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.

Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitahukannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh  dan orang timpang disembuhkan. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu. (Kis 8:1b-8)

Mazmur Tanggapan:  Mzm 66:1-3a,4-7a; Bacaan Injil: Yoh 6:35-40

Seperti Stefanus dan para murid/rasul yang lain, Filipus juga orang biasa-biasa saja, seperti kita. Hanya ada satu rahasia dari Filipus ini … dia menyerahkan dirinya sepenuh-penuhnya kepada Yesus. Karena dirinya dipenuhi Roh Kudus, maka Filipus mampu untuk membuat mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya, juga mewartakan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus.

Stefanus dan Filipus adalah “orang-orang biasa” yang melakukan “hal-hal luarbiasa” oleh kuat-kuasa Roh Kudus dalam diri mereka. Pada setiap zaman, Allah mencari orang-orang biasa yang mau memberikan diri mereka kepada Yesus dan menjadi alat-alat-Nya dalam dunia.

Berbagai mukjizat, tanda heran, dan penyembuhan, merupakan bagian-bagian hakiki dari Injil. Allah tidak bermaksud bahwa peristiwa-peristiwa istimewa ini hanya terjadi pada zaman Yesus di tanah Palestina dulu. Semua itu juga bukan merupakan “bumbu pemanis” dalam kitab-kitab Injil, bukan dongeng atau pun mitos, yang disusun oleh Gereja Perdana untuk tujuan pengajaran. Dalam setiap generasi Allah melakukan hal-hal yang dipenuhi keajaiban melalui pelayan-pelayan-Nya yang nota bene  adalah orang-orang biasa. Berbagai mukjizat, tanda-tanda heran lainnya, pengusiran roh-roh jahat dan penyembuhan merupakan suatu bagian integral dari setiap kegiatan evangelisasi.

Dari bacaan Injil kita dapat melihat, bahwa Yesus membuat mukjizat, mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan orang-orang sakit secara tetap, namun bukan maksud Yesus untuk memperagakan showmanship atau “tebar pesona”. Samasekali bukan! Yesus bukan tukang sulap, bukan seorang entertainer dan bukan pula seorang stage performer (pemain panggung) pada umumnya. Setiap mukjizat yang dibuat Yesus dimaksudkan untuk menarik orang-orang kepada diri-Nya dan kepada Bapa-Nya yang berbelas-kasih. Kuasa Allah menakjubkan yang bekerja dalam diri dan melalui Filipus seyogianya menjadi pelajaran sangat berguna bagi kita semua, bahwa kita dapat mengandalkan diri pada rahmat Allah untuk hal-hal yang tidak terbatas pada kebutuhan kita sehari-hari. Mukjizat-mukjizat terjadi setiap hari manakala Allah bergerak. Ia pun memiliki hasrat mendalam agar berbagai mukjizat menjadi bagian dari pengalaman hidup kita juga.

Allah memberikan karunia-karunia berbeda-beda kepada masing-masing kita (lihat 1Kor 12 dan 14; bdk. Ef 4). Akan tetapi karya Roh Kudus dapat terhambat apabila kita dibatasi/membatasi diri dengan ide-ide yang sudah ada dalam pikiran kita tentang apa yang dapat kita harapkan dari Allah. Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar kita dapat memahami Injil dan kuasa pesan Injil itu secara lebih mendalam. Tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dilakukan oleh Allah. Kita harus yakin bahwa Allah melakukan apa saja untuk memulihkan kita – dalam roh, pikiran dan fisik kita. Baiklah kita menghadap Dia setiap hari dengan ketaatan yang penuh kerendahan-hati. Kita persilahkan kuasa-Nya yang menakjubkan untuk bekerja dalam diri kita.

DOA: Roh Kudus, tolonglah aku membuka pintu hatiku lebar-lebar bagi-Mu. Datanglah, ya Roh Kudus dan ubahlah aku. Tolonglah aku agar dapat menerima karunia-karunia yang kaukehendaki untuk dianugerahkan kepadaku, sehingga dengan demikian aku dapat mewartakan Injil Tuhan Yesus Kristus dengan efektif. Perkenankanlah aku mengalami kuat-kuasa-Mu yang menakjubkan itu dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 8:1b-8), bacalah tulisan yang berjudul “KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS” (bacaan tanggal 18-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 16 April 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SUATU MOMEN PENTING DALAM KEHIDUPAN GEREJA

SUATU MOMEN PENTING DALAM KEHIDUPAN GEREJA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 13 April 2018)

Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang pengajar hukum Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, berdiri dan meminta, supaya orang-orang disuruh keluar sebentar. Sesudah itu ia berkata kepada sidang itu, “Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini! Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya sebagai orang yang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan tercerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap. Sesudah dia, pada waktu sensus penduduk muncullah Yudas, orang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan tercerai-berailah seluruh pengikutnya. Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah. Nasihat itu diterima. Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu mencambuk mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan.

Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan sukacita, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Setiap hari mereka mengajar di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias. (Kis 5:34-42)

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Injil: Yoh 6:1-15. 

“Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah.” (Kis 5:38-39)

Kata-kata ini diucapkan oleh salah seorang anggota Mahkamat Agama Yahudi (Sanherin) – Gamaliel – ketika menutup pemberian nasihatnya yang penuh hikmat dalam sidang Mahkamah Agama sehubungan dengan “ulah” Petrus dan para rasul lainnya dalam pelayanan evangelisasi mereka di tengah masyarakat Yerusalem. Berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya terjadi di tengah masyarakat Yahudi ketika Petrus dan para rasul/murid lainnya memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus. Orang yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus pun semakin bertambah (lihat Kis 5:14). Karena itu, terdorong oleh rasa iri, Imam Agung dan para pengikutnya (orang Saduki) mulai bertindak dengan melakukan penangkapan para rasul dan menjebloskan mereka ke dalam penjara umum (Kis 5:17-18).

Rasa iri orang-orang yang memegang kekuasaan karena merasa tersaingi dalam kedudukan, pengaruh dll. memang dapat membuat gelap-mata mereka. Jika begitu halnya, maka tindakan untuk melampiaskan dendam dan hal-hal jahat lainnya akan dengan mudah mengalahkan pertimbangan-pertimbangan bijaksana.

Gamaliel adalah seorang Farisi pengajar hukum Taurat yang sangat dihormati. Dia berbicara kepada sidang Sanhedrin mengenai Petrus dan para rasul (Kis 5:34). Gamaliel adalah cucu dari Rabi Hillel yang terkenal. Para rabi kuno mengajarkan bahwa ada seorang dari antara mereka yang pantas menjadi tempat kehadiran Allah seperti yang telah dialami oleh Musa – dan rabi itu adalah Rabi Hillel. Dalam kisah di atas terasa bahwa Gamaliel pun diinspirasikan oleh Yang Ilahi, justru pada saat-saat genting yang sedang dihadapi oleh para rasul. Dia disapa sebagai Rabban (Guru kami) dan dia adalah guru dari Santo Paulus (lihat Kis 22:3).

Bukannya setuju dengan keinginan sejumlah anggota Sanhedrin untuk membunuh Yesus (Kis 5:33), Gamaliel malah memberi nasihat para anggota Sanhedrin untuk menunggu dan melihat apakah para pengikut Yesus berasal dari Allah (Kis 5:35-39). Ini adalah suatu posisi bijaksana mengingat bahwa pada saat itu dia tidak mengetahui apa yang dikehendaki Allah dan dia ingin berhati-hati agar tidak mengambil langkah yang salah, atau bertindak secara sembarangan sehingga bisa-bisa malah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Usul atau nasihat yang dikemukakan Gamaliel kepada sidang sebenarnya untuk mengambil sikap menunggu namun dengan kesiap-siagaan rohani. Hal ini sebenarnya mempunyai preseden dalam Kitab Suci. YHWH berkata kepada nabi Habakuk: “… penglihatan itu masih menanti saatnya ……apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh” (Hab 2:3). Kebijaksanaan para rabi juga memahami apa yang tertulis dalam kitab Ratapan dalam terang yang sama: “YHWH adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan YHWH” (Rat 3:25-26). Dengan demikian sikap wait & see yang dianjurkan oleh Rabi Gamaliel adalah sikap yang bijaksana karena berakar kuat pada Kitab Suci Ibrani dan tradisi para rabi.

Gamaliel mengambil sikap wait & see karena dia tidak yakin mengenai rencana Allah. Meskipun dia adalah seorang beriman, dia tidak dapat melihat dengan perspektif yang kita miliki sekarang, yaitu bahwa Roh Kudus telah diutus untuk menolong kita. Oleh kerja Roh Kudus, kita mengetahui bahwa kehendak Allah adalah untuk mengutus Putera-Nya yang tunggal, agar kita memperoleh kehidupan melalui Dia. Kita juga mengetahui bahwa adalah kehendak Allah agar Gereja Kristus didirikan. Dalam terang kebenaran ini, Roh Kudus dapat membimbing kita pada waktu kita melakukan discernment.

Nasihat Gamaliel itu diterima oleh Mahkamah Agama (lihat Kis 5:39). Para rasul disiksa, kemudian disuruh pergi disertai larangan untuk memberitakan Kabar Baik dalam nama Yesus. Mereka rela/ikhlas disiksa dengan penuh sukacita karena diperbolehkan menderita demi Yesus. Mereka tidak takut, malah justru dengan gigih memberitakan Injil ke mana-mana tentang Yesus yang adalah Mesias (Kis 5:41-42).

Sesungguhnya ini adalah suatu momen yang penting dalam kehidupan Gereja. Dalam lima bab pertama dari “Kisah para Rasul” kita telah melihat Petrus dan Yohanes berkhotbah memberitakan Kabar Baik, menyembuhkan orang sakit, menjawab pertanyaan/tuduhan para anggota Mahkamah Agama, melarikan diri dari penjara dengan bantuan “seorang” malaikat Tuhan; hidup bersama dalam komunitas; penjualan tanah miliknya oleh Barnabas; peristiwa Ananias dan Safira. Dalam semua hal ini, Gereja masih merupakan sebuah Gereja Yahudi. Gereja ini seluruhnya terdiri dari orang-orang Yahudi setia yang masih berdoa di Bait Allah dan memandang Yesus sebagai pemenuhan/penggenapan janji-janji Perjanjian Lama.

Sekarang kita berada pada ambang transformasi Gereja dari sebuah Gereja Yahudi di Yerusalem menjadi sebuah Gereja segala bangsa yang mendunia, yang kelak berpusat di kota Roma.

Sisa selanjutnya dari “Kisah para Rasul” bercerita tentang universalisme. Para rasul telah memenuhi perintah Tuhan Yesus. Mereka memberitakan Injil yang dimulai di Yerusalem (Luk 24:47). Para rasul memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus kepada masyarakat Yahudi dahulu sebelum bergerak ke luar, yaitu orang-orang non-Yahudi.

DOA: Bapa yang mahakasih, yang oleh terang Roh Kudus-Mu mengajar umat beriman. Semoga melalui Roh Kudus-Mu kami dapat bertumbuh dalam kebijaksanaan dan discernment, agar dapat mengetahui serta mengenali apa sesungguhnya kehendak-Mu dalam situasi tertentu, kemudian melaksanakannya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI DAN IKAN” (bacaan tanggal 13-4-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

Cilandak, 8 April 2018 [HARI MINGGU PASKAH II – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SUATU PERJANJIAN YANG BARU

SUATU PERJANJIAN YANG BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH I [Tahun B] 18 Februari 2018)

Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu selama empat puluh hari Ia dicobai oleh Iblis. Ia tinggal bersama dengan binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:12-15)

Bacaan Pertama: Kej 9:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: 1Ptr 3:18-22

Sebelum dunia dijadikan, Allah mengenal kita, mengasihi kita dan Dia memanggil kita untuk mengenal dan mengasihi-Nya. Perjanjian Lama menggambarkan sejumlah perjanjian yang dibuat Allah dengan umat-Nya untuk menyiapkan mereka agar dapat menerima kehidupan-Nya secara lebih penuh. Akan tetapi, lagi-lagi umat Allah gagal memelihara perjanjian Allah dengan mereka. Sebagai konsekuensinya, mereka memisahkan diri dari kasih Allah dan perlindungan-Nya.

Namun demikian Allah sedemikian mengasihi dunia sehingga ketika saat-Nya tiba Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal, untuk mengajar, untuk menyembuhkan mereka yang sakit dan akhirnya untuk mati; dengan demikian mengadakan perjanjian yang baru dan kekal dalam darah-Nya. Ini adalah perjanjian baru yang dijanjikan oleh Allah melalui nabi Yehezkiel: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya”  (Yeh 36:26-27).

Kita masuk ke dalam perjanjian yang baru ini pada waktu dibaptis; dan lewat hidup iman kita memperkenankan Roh Kudus untuk mempersatukan kita dengan Yesus lebih penuh lagi setiap hari. Kita menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Dengan mati bersama Dia, bukan kita lagi yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri kita (lihat Gal 2:20).

Mukjizat baptisan ke dalam suatu perjanjian yang baru ini telah digambarkan jauh hari sebelumnya oleh Perjanjian  Lama dengan banyak cara. Akan tetapi tidak ada yang lebih berwarna-warni daripada kisah Nuh (lihat bacaan pertama: Kej 9:8-15; baca juga keseluruhan Kej 6-9). Dari hari-hari awalnya, Gereja telah melihat dalam banjir yang dikisahkan itu suatu jenis air baptis, yang menyingkirkan dosa-dosa daging dan memberikan umat manusia suatu awal yang baru.

Yang dimaksudkan dengan awal baru kita dalam baptisan adalah keikutsertaan dalam hidup Yesus sendiri. Seperti ketika Yesus dicobai di padang gurun selama 40 hari, kita juga akan mengalami saat pencobaan dan pertumbuhan. Allah memberikan kepada kita saat-saat seperti itu untuk mengajarkan kita melakukan penyerahan diri kita kepada-Nya secara lebih penuh, dan menunjukkan betapa setia Dia pada janji-janji-Nya. Dia begitu mengasihi kita sehingga tak akan pernah membuang kita. Yang diminta oleh-Nya hanyalah bahwa kita menaruh kepercayaan kepada-Nya – seperti telah ditunjukkan oleh Nuh dan keluarganya – untuk menjaga kita di tengah-tengah hujan badai.

DOA: Bapa surgawi, ucapkanlah kata-kata perjanjian cinta kasih-Mu kepada kami pada saat teduh ini. Oleh Roh-Mu tolonglah kami untuk menaruh kepercayaan secara lebih penuh kepada-Mu, sehingga – seperti Putera-Mu Yesus, kami dapat menjadi bentara-bentara kerajaan-Mu di muka bumi ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:12-15), bacalah tulisan yang berjudul “SAATNYA TELAH GENAP; KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT” (bacaan tanggal 18-2-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

Cilandak,  15 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS