Posts from the ‘EVANGELISASI’ Category

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 11 Januari 2017) 

ca17b1c8Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Yesus menyembuhkan setiap orang yang datang kepada-Nya di Kapernaum. Dia menerima setiap orang, bahkan orang-orang yang mungkin dipertimbangkan sebagai orang-orang yang tak masuk hitungan. Bagi Yesus, tidak ada orang yang dibuang. Yesus membuat jelas bahwa Dia datang untuk menjungkir-balikkan pekerjaan Iblis serta roh-roh jahat pengikutnya, dan membereskan perusakan/kerusakan akibat dosa. Melalui jamahan penyembuhan-Nya, Yesus mengundang setiap orang untuk mengikuti Dia dan memperkenankan Dia memerintah dalam hati mereka.

Ibu mertua Simon Petrus adalah seorang dari mereka yang menerima undangan Yesus itu. Begitu dia menerima jamahan penyembuhan dari Yesus, dia mulai melayani-Nya dan para murid yang ikut serta dengan-Nya (Mrk 1:31). Kelihatan di sini tidak ada keragu-raguan di pihak sang ibu mertua: Dia begitu bersyukur atas apa yang dilakukan Tuhan Yesus baginya, sehingga setelah disembuhkan langsung saja dia bangkit berdiri untuk melayani-Nya.

Melalui Yesus, kerajaan Allah telah datang kepada kita – suatu sentuhan surga pada bumi. Yesus menawarkan penyembuhan kepada masing-masing dari kita – tubuh, pikiran dan roh – sehingga kita pun akan menanggapi dengan penuh sukacita, melayani Dia dan umat-Nya dalam cintakasih. Ibu mertua Simon memberikan kepada kita sebuah contoh cara pelayanan Kristiani. Seandainya dia tidak disembuhkan terlebih dahulu, maka dia pun tidak akan mampu untuk melayani. Tetapi, sekali dia mengalami kerahiman dan penyembuhan ilahi dari Tuhan, dia pun bebas untuk memberikan dirinya sendiri secara penuh bagi Tuhan.

yesus-menyembuhkan-jesus-heals-the-sick-mat-9-35Yesus memanggil kita semua untuk melayani Allah dan sesama. Akan tetapi, sebelum kita menjadi pelayan-Nya, adalah vital bahwa kita mengalami karya penyembuhan-Nya dulu dalam hidup kita. Kita semua telah dilukai oleh efek-efek dosa, dan kita membawa tanda-tandanya dalam tubuh dan hati kita. Sampai berapa jauh kita memperkenankan Tuhan melayani kita dengan menyembuhkan diri kita, sampai sebegitu jauh pula kita akan mampu bergabung dengan-Nya dalam pekerjaan membangun kerajaan-Nya di muka bumi ini. Melayani Tuhan bukanlah sesuatu yang kita kerahkan dari kebaikan kita sendiri. Ini adalah sesuatu yang bertumbuh dalam diri kita selagi kita menyerahkan hidup kita kepada tangan-tangan penyembuhan sang Guru dan Dokter Agung. Marilah kita membawa luka-luka dan sakit-penyakit kita kepada Yesus dan mohon kepada-Nya agar menyembuhkan kita, sehingga kita dapat menjadi pelayan-pelayan-Nya yang penuh sukacita.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan sembuhkanlah kami sehingga Kerajaan-Mu akan datang ke muka bumi ini dalam kepenuhan dan kuat-kuasa. Kami menyerahkan hidup kami kepada-Mu agar supaya kami dapat mengasihi-Mu, melayani-Mu dan bersama dengan-Mu, dengan demikian dapat menjadi perpanjangan tangan-Mu bagi dunia di sekeliling kami. Terpujilah Nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan yang berjudul “KESELAMATAN DARI YESUS” (bacaan tanggal 11-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 9 Januari 2017 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JIKA KITA MEMBERITAKAN INJIL, TIDAK ADA ALASAN BAGI KITA UNTUK MEMEGAHKAN DIRI

JIKA KITA MEMBERITAKAN INJIL, TIDAK ADA ALASAN BAGI KITA UNTUK MEMEGAHKAN DIRI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam – Sabtu, 3 Desember 2016)

St Paul Icon 4Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil! Andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang dipercayakan kepadaku. Jika demikian, apakah upahku? Upahku ialah ini: Bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak menggunakan hakku sebagai pemberita Injil. Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat memenangkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka. Semuanya ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian di dalamnya. (1Kor 9:16-19,22-23) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Mrk 16:15-20

Cinta S. Paulus kepada Yesus Kristus diawali pada waktu dia dalam perjalanan ke Damsyik di mana dia mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus yang bangkit (Kis 9:1-9). Pada waktu itu dia masih bernama Saulus. Selama tiga hari setelah peristiwa tersebut, Paulus mengalami kebutaan. Dia tidak makan atau pun minum selagi dia – lewat doa-doanya dalam keheningan – berupaya untuk memahami apa yang telah dan sedang dikerjakan Tuhan atas dirinya. Bayangkanlah betapa berat beban dosa yang dirasakan menindih dirinya, teristimewa ketika dia mengingat dosa yang menyangkut pengejaran dan penganiayaan atas umat Kristiani yang diperintahkan olehnya dan di mana dia sendiri turut ambil bagian di dalamnya. Akan tetapi, begitu dia dibaptis, kesadaran Paulus akan kasih Allah dan kuasa Yesus yang bangkit langsung saja menggerakkan dia untuk mulai mewartakan Kabar Baik bahwa Yesus adalah Putera Allah (Kis 9:17-20).

Pengabdian Paulus yang penuh gairah kepada Yesus memampukan dirinya menanggung kesusahan dan oposisi terhadap dirinya karena dia mewartakan Injil. Paulus akan menanggung apa saja asal dia dapat memenangkan orang-orang kepada cintakasih Kristus – cintakasih yang telah mentransformir hidupnya sendiri. Paulus dapat melihat bahwa umat di Korintus cenderung untuk melakukan segala hal dengan semangat berapi-api – meski terkadang terasa berlebihan. Mereka merasa tertarik pada pengkhotbah-pengkhotbah (pewarta-pewarta) tertentu, lalu membentuk kelompok-kelompok yang sayangnya menjadi saling bersaing satu sama lain, agar memperoleh reputasi tertinggi. Dalam entusiasme itu, mereka kehilangan “kerendahan-hati” dan “cintakasih persaudaraan”. Paulus berupaya menyatukan mereka itu kembali.

Inilah sebabnya mengapa Paulus mengatakan kepada umat di Korintus: “Aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. …… Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka” (1Kor 9:19.22). Kemauan Paulus untuk berbagi Kabar Baik Yesus Kristus dengan siapa saja yang mau mendengarkan, sungguh mengena di jantung kesombongan dan sikap serta perilaku orang-orang Korintus yang suka terpecah-pecah dan saling bersaing secara tidak sehat.

Cintakasihnya kepada Kristus begitu berdampak pada dirinya, sehingga memungkinkan Paulus mengatasi masalah pemisahan antara orang Yahudi dan bukan-Yahudi (Yunani; kafir), hamba dan orang merdeka, perempuan dan laki-laki, karena dia sudah mempunyai keyakinan teguh bahwa semua adalah satu dalam Kristus Yesus (lihat Gal 3:28). Bagi Paulus, satu-satunya garis pemisah adalah antara mereka yang mengenal serta mengalami kasih Allah yang dicurahkan dalam Kristus, dan mereka yang belum mendengar mengenai Sang Juruselamat atau mengalami sentuhan-Nya. Bagi Paulus, hal-hal lainnya tidak perlu dipikirkan, demikian pula seharusnya dengan sikap yang harus diambil oleh umat di Korintus dan kita yang telah membaca suratnya ini.

st-francis-xavier-with-cross-thumb-250x337-7849Fransiskus Xaverius. Pada hari ini Gereja (anda dan saya) merayakan pesta S. Fransiskus Xaverius [1506-1552], yang bersama-sama dengan S. Teresa dari Lisieux [1873-1897] adalah orang-orang kudus pelindung Misi. S. Fransiskus Xaverius adalah misionaris terbesar yang dikenal Gereja sejak rasul Paulus. Tidak lama setelah Ignatius dari Loyola mendirikan Serikat Yesus, Fransiskus Xaverius mengikuti jejak kawan sekamarnya, Petrus Faber, bergabung dengan Serikat Yesus. Hatinya digerakkan oleh Roh Kudus untuk bergabung karena pertanyaan penuh tantangan yang diajukan oleh S. Ignatius dari Loyola: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).

Kegiatan misioner S. Fransiskus Xaverius di Asia sudah diketahui dengan baik oleh banyak orang, termasuk kepulauan Maluku di Indonesiia. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila nama baptis Fransiskus Xaverius juga sudah menjadi nama “pasaran” (sangat populer) di kalangan umat Katolik di Indonesia.

Sebelum sempat melakukan tugas misionernya di daratan Tiongkok, pada tanggal 21 November 1552 Fransiskus Xaverius jatuh sakit demam serta terkurung di pondok rindangnya di pantai pulau kecil San Jian. Dia dirawat oleh Antonio, seorang pelayan Cina yang beragama Katolik. Beberapa tahun kemudian, Antonio menulis sebuah laporan tentang hari-hari terakhir hidup orang kudus itu di dunia. Fransiskus meninggal dunia pada tanggal 3 Desember dan jenazahnya dikuburkan di pulau itu. Pada musim semi tahun berikutnya jenazahnya dibawa ke Malaka untuk dimakamkan di sebuah gereja Portugis di sana. Beberapa tahun kemudian sisa-sisa tubuhnya dibawa lagi ke Goa di India untuk dimakamkan di Gereja Bom Jesus.

DOA: Bapa surgawi, tunjukkanlah kasih-Mu kepada kami sehingga hidup kami dapat ditransformasikan. Kami ingin menjadi seperti Paulus dan Fransiskus Xaverius, para pewarta Kabar Baik sejati yang menjadi segala-galanya bagi semua orang, sehingga kami juga dapat menunjukkan apa artinya menjadi anak-anak Allah dan pewaris Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 16:15-20), bacalah tulisan berjudul “AMANAT YANG DIBERIKAN YESUS KEPADA PARA MURID-NYA” (bacaan  tanggal 3-12-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 1 Desember 2016 [Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Martir Indonesia]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS [nama penguatan: Paulus]

ORANG TIDAK PERNAH DAPAT MEMBENDUNG PEWARTAAN KABAR BAIK

ORANG TIDAK PERNAH DAPAT MEMBENDUNG PEWARTAAN KABAR BAIK

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Kamis, 22 September 2016)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan S. Ignatius dr Santhi, Imam Biarawan 

51918-_john_the_baptist_rebukes_king_herod_

Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan bahwa Yohanes telah dibangkitkan dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata, “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus. (Luk 9:7-9) 

Bacaan Pertama: Pkh 1:2-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6,12-14,17 

Yohanes Pembaptis telah dipenggal kepalanya atas perintah raja Herodes Antipas, antara lain untuk “membebaskan” diri Herodes dari pesan “pertobatan dan rekonsiliasi dengan Allah” yang disampaikan oleh Yohanes. Yohanes berbicara mengenai sabda Allah dengan begitu jelasnya sehingga Herodes merasakan dirinya begitu bersalah, begitu berdosa, teristimewa hubungan “perkawinan haramnya” (baca: perselingkuhannya) dengan ipar perempuannya sendiri (lihat Luk 3:19-20). Bukannya melakukan pertobatan dan kembali ke jalan Allah setelah mendengar pemberitaan Yohanes, Herodes malah menyuruh para algojo membunuh Yohanes, dengan harapan pesannya terkubur bersama sang bentara pesan pertobatan itu.

Karena rasa bersalahnya yang tak kunjung hilang dan rasa takut yang melanda dirinya, kemudian datang lagi berita bertubi-tubi tentang para murid Yesus yang berkarya memberitakan Kerajaan Allah sambil melakukan penyembuhan orang-orang sakit, maka  Herodes semakin dikuasai oleh “rasa takut yang melumpuhkan” terhadap Yesus dan para murid-Nya. Apabila membunuh sang bentara tidak berhasil menghapus pesan yang disampaikan, bagaimana dia dapat melarikan diri? Herodes merasa bingung karena tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat mencegah pesan keselamatan Allah itu diwartakan. Di bagian belakang Injil Lukas ini kita membaca bahwa Herodus sekali lagi menghadapi dua alternatif pilihan, yaitu (1) mendengarkan sang bentara yang membawa pesan, ataukah (2) menghukumnya sampai mati agar pesannya juga dibuat bungkam (lihat Luk 23:7-12). Bukannya belajar dari pengalamannya dalam kasus Yohanes Pembaptis, Herodes malah memilih untuk menjadi bagian dalam penyaliban Yesus.

antipas-1Dalam kedua kasus itu Herodes melihat apa yang terjadi apabila kuasa Allah mengubah secara dahsyat kematian menjadi kehidupan. Kuasa Allah-lah yang memampukan Yohanes Pembaptis untuk tetap setia kepada panggilannya, bahkan sampai kematiannya. Kuasa ilahi yang sama pulalah yang memampukan Yesus untuk mengampuni orang-orang yang menghukumnya dan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan-Nya di sebelah kanan Bapa surgawi. Ini adalah kuasa ilahi yang dicurahkan ke atas para murid pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama. Kuasa ini memampukan para murid untuk mewartakan Injil dengan berani dan penuh keyakinan. Abad berganti abad, Allah telah bertindak dengan penuh kuasa, membangun kerajaan-Nya melalui para pelayan-Nya. Dari zaman ke zaman juga ada kekuatan-kekuatan yang ingin membungkam penyebaran pemberitaan pesan penyelamatan Allah ini dengan membungkam para bentara-Nya (para pelayan sabda-Nya), tetapi selalu saja tidak berhasil.

Kedua belas murid berkeliling (bukan untuk tebar pesona) untuk melakukan pekerjaan yang sama seperti pekerjaan yang telah dibuat Yesus. Nah, kita pun dapat menjadi seperti Guru kita, Yesus.  Tidak peduli betapa besarnya pun oposisi yang kita hadapi, apabila kita sudah berketetapan hati, seperti Yesus, untuk mengasihi setiap orang dan mengampuni setiap orang yang mendzolomi kita, maka kita akan mampu ikut memajukan kerajaan-Nya di muka bumi ini. Baiklah kita mohon kepada Roh Kudus agar membuat kita lebih serupa lagi dengan Yesus Kristus, mewartakan Kabar Baik keselamatan kemana saja kita pergi.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin memuliakan Engkau dalam segala yang kami ucapkan dan kami buat. Oleh Roh Kudus-Mu, berdayakanlah kami agar sungguh dapat menjauhkan diri dari dosa dan merangkul kehidupan-Mu sepenuhnya, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi lebih serupa lagi dengan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:7-9), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU ???” (bacaan tanggal 22-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http:/catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 20 September 2016 [Peringatan S. Andreas Kim Tae-gon, Imam dan Paulus Chong Ha-san dkk. – para martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PERLU MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK PENUH PERHATIAN MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS

KITA PERLU MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK PENUH PERHATIAN MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 8 Juli 2016)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Gregorius Grassie, Marie dkk – Martir 

jesus-christ-super-star“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,8-9,12-14,17 

Yesus melanjutkan pemberian instruksi-instruksi-Nya kepada para rasul/murid dalam rangka mempersiapkan mereka untuk karya misioner di masa depan. Ia menceritakan kepada para murid-Nya itu tentang pengejaran dan penganiayaan serta penderitaan yang dapat/akan menimpa mereka selagi mereka mewartakan Injil kepada dunia. Yesus juga mengintruksikan mereka perihal sikap yang harus mereka ambil terhadap orang-orang yang melawan mereka. Pada saat yang sama, Yesus menjamin lagi kepada mereka tentang kehadiran Roh Kudus untuk menolong mereka menghadapi pencobaan-pencobaan dengan keberanian dan pengharapan (Mat 10:20). Perintah Yesus diikuti dengan sebuah janji: “… orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat 10:22).

Barangkali para murid-Nya merasa sangat terkejut ketika Yesus menggambarkan perlawanan yang akan mereka alami – tidak hanya di tangan para penguasa, melainkan juga dari para anggota keluarga mereka sendiri. Setiap murid yang sejati akan ikut ambil bagian dalam penderitaan Kristus dalam kehidupan ini agar supaya ikut serta dalam sukacita keselamatan kekal. Santo Paulus mengalami penderitaan yang berat dan menghadapi oposisi dalam perjalanan-perjalanan misionernya, namun dia menulis: “Aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18). Sikap sedemikian hanya dapat dicapai apabila kita mengingat kebenaran bahwa Yesus Kristus telah memberi amanat kepada kita dan berjanji untuk menguatkan kita pada saat kita mengalami penderitaan. Pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya Dia bersabda: “Dalam dunia kamu menderita penganiyaan, tetapi kuatkan hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

pentecost-canadaMelalui Yesus Allah memberikan Roh Kudus kepada kita guna memampukan kita melaksanakan amanat yang telah kita terima untuk mewartakan Injil kepada sebuah dunia yang sangat membutuhkan kasih Kristus. Roh Kudus adalah buah pertama dari Kerajaan yang akan datang, yang berbicara kepada kita kata-kata Kristus sendiri. Santo Augustinus mengatakan bahwa ketika kita menderita, maka Roh Kudus berbicara, “Daging menderita dan Roh berbicara; ketika Roh berbicara, tidak hanya kejahatan terkutuk melainkan juga kelemahan diperkuat” (Sermons, 276).

Kita mendengar kata-kata Roh dalam doa-doa kita, dalam Kitab Suci, dan dalam Misa Kudus, ketika kita mendengar sabda Allah. Pada akhir perjalanan misionernya, Yesus berkata kepada Pilatus: “Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengar suara-Ku” (Yoh 18:37). Di tengah-tengah kehidupan kita yang penuh kesibukan ini, kita perlu menyediakan waktu untuk penuh perhatian pada Roh Kudus yang dalam diri kita berbicara kepada kita. Hanya dengan demikian kita penuh keyakinan bahwa walaupun kita sedang menghadapi situasi-situasi sulit, Roh Kudus akan memberikan kepada kita kata-kata untuk diucapkan.

DOA: Yesus Kristus, Engkaulah Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku agar mau dan mampu mewartakan Injil-Mu tanpa rasa takut, sebagai garam bumi dan terang dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “DIUTUS SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA (bacaan tanggal 8-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 6 Juli 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUHAN, JADIKANLAH AKU ALAT KEBAIKAN-MU

TUHAN, JADIKANLAH AKU ALAT KEBAIKAN-MU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Kamis, 7 Juli 2016) 

YESUS MENGUTUS - MISI YANG DUABELASPergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15) 

Bacaan Pertama: Hos 11:1,3-4,8c-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16 

Kedua belas murid Yesus telah menyaksikan Guru mereka menghadapi berbagai situasi rakyat yang menyedihkan selama kerja pelayanan-Nya, dan dalam banyak kasus para murid melihat Yesus menarik kepada Allah orang-orang dengan bermacam-macam kebutuhan, lewat penyembuhan, pengampunan dan pelepasan yang dilakukan-Nya. Mereka juga telah melihat bagaimana kuasa Yesus dapat terhalang oleh ketidak-percayaan, seperti yang terjadi di kampung-Nya sendiri, Nazaret. Sekarang Yesus mengutus mereka melakukan tugas pelayanan kepada orang-orang lain. Mereka sungguh harus melangkah dalam iman dan menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada sang Guru.

Yesus mengerti sekali kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh orang-orang yang melakukan perjalanan. Ia sendiri telah berjalan kaki berkilometer-kilometer jauhnya, dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Jadi, Yesus tahu benar apa saja yang dibutuhkan bagi seseorang kalau mau melakukan perjalanan jauh. Namun demikian, ketika mengutus para murid-Nya Yesus malah memberi instruksi kepada mereka untuk praktis tidak membawa apa-apa kecuali tongkat, dan seterusnya (Mat 10:9-10). Bukankah hal-hal tersebut justru dibutuhkan dalam sebuah perjalanan jauh? Memang Ia memberikan kekuatan dan kuasa untuk menguasai roh-roh jahat, untuk menyembuhkan penyakit-penyakit serta untuk mewartakan pertobatan, akan tetapi berbagai kebutuhan sehari-hari yang bersifat praktis tetap harus diperhatikan, bukan? Sungguh tidak dapat diterima oleh akal-sehat manusia. Namun kenyataannya adalah, bahwa 800 tahun lampau ayat padanan dari Mat 10:10 (Luk 9:3) ini merupakan salah satu ayat Kitab Suci yang memberi petunjuk kepada Fransiskus dari Assisi di awal-awal pertobatannya, bagaimana dia dan saudara-saudaranya harus melakukan tugas pelayanan mereka. Tidak lama kemudian lahirlah sebuah keluarga rohani yang sekarang merupakan keluarga rohani terbesar dalam Gereja.

Kalau kita merenungkan ini semua, kita pun dapat bertanya dalam hati kita masing-masing: “Apakah perlu Allah yang Mahakuasa membuat mukjizat-mukjizat melalui manusia biasa? Mengapa Yesus harus tergantung kepada manusia untuk mewartakan kerajaan-Nya? Mengapa Dia harus memilih kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat supernatural? Allah ingin agar kita semua ikut ambil bagian dalam segala aspek kehidupan-Nya. Pada waktu kita dibaptis, setiap kita diberi amanat untuk memproklamasikan Injil-Nya. Berbagai halangan yang ada dalam diri kita atau orang lain bagi Yesus tetap merupakan kesempatan bagi kasih dan kuasa-Nya untuk menang. Bagaimana pun juga Dia datang untuk memanggil para pendosa seperti kita. Allah sangat senang bekerja lewat hati yang merendah dan tunduk, melalui orang-orang yang sadar akan privilese menjadi instrumen-Nya di dunia ini. Allah memang sesungguhnya ingin menunjukkan kuat-kuasa-Nya kepada kita, dan membuat kita menjadi instrumen-instrumen (alat-alat), lewat instrumen-instrumen mana kuasa-Nya dimanifestasikan ke seluruh dunia. Allah menginginkan agar kita, anak-anak-Nya, menjadi saluran berkat-Nya. Doa “Jadikanlah aku pembawa damai” dapat mengajarkan kita sikap macam apa yang patut kita miliki apabila kita sungguh berkehendak untuk melayani orang-orang lain dan menularkan belaskasih Allah kepada mereka: “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai … dst.” Fransiskus tahu, bahwa dia hanya dapat menjadi efektif apabila dia memperkenankan Allah bekerja lewat dirinya. Seperti kedua belas rasul, dia berjalan ke sekeliling Assisi mewartakan kuasa Injil kepada siapa saja yang mau menerima Kabar Baik itu.

Allah menaruh kepercayaan kepada kita karena Dia telah memberikan kepada kita segala rahmat yang kita perlukan guna melaksanakan misi-Nya. Masalahnya sekarang, apakah kita sendiri menaruh kepercayaan kepada Allah? Maka kalau ada seseorang memberitahukan anda tentang sakit-penyakit yang dideritanya, berdoalah dalam iman agar orang itu disembuhkan. Bukan anda yang menyembuhkan, melainkan Allah sendiri. Kita semua hanyalah instrumen-instrumen yang dipakai Allah untuk kebaikan. Kalau terjadi konflik rumah-tangga, berdoalah – dalam nama Yesus – dan berharaplah terjadinya mukjizat. Allah menginginkan agar “tanda-tanda heran”-Nya menjadi suatu bagian normal kehidupan kita. Kalau anda sungguh percaya akan pernyataan ini, maka mulailah berdoa dan menantikan Allah bekerja dalam diri anda.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya Engkau mendengar setiap doa kami. Buatlah kami agar menjadi bentara-bentara kasih dan damai-sejahtera-Mu kepada orang-orang lain. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HARUS MEMILIKI EKSPEKTASI ADANYA PENOLAKAN TERHADAP KARYA KERASULAN KITA” (bacaan tanggal 7-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-7-11 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 5 Juli 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

 

YESUS MEMILIH DUA BELAS RASUL

YESUS MEMILIH DUA BELAS RASUL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Rabu, 6 Juli 2016)

Peringatan S. Maria Goretti, Perawan Martir 

YESUS DAN KEDUABELAS MURID-NYAYesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. (Mat 10:1-7) 

Bacaan Pertama: Hos 10:1-3,7-8,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

Menanggapi seruan-Nya sendiri bahwa “tuaian itu memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat 9:37), Yesus mengumpulkan kedua belas murid-Nya (rasul) dan mempersiapkan mereka untuk diutus menjadi misionaris-misionaris. “Diskursus misioner” dalam Matius 10 hampir pasti merupakan sebuah sebuah koleksi instruksi-instruksi berbeda-beda yang diberikan oleh Yesus dalam pelayanan-Nya, yang digabung menjadi satu oleh Matius sebagai sebuah presentasi singkat berkaitan dengan “panggilan kepada pemuridan/kemuridan”. Ini adalah sebuah panggilan yang berlaku untuk setiap orang di segala zaman.

Yesus mengawali instruksi-Nya dengan memberikan kepada kedua belas rasul-Nya kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan (Mat 10:1). Kuasa yang diberikan Yesus ini adalah wujud nyata bahwa seorang murid-Nya haruslah mengambil bagian dalam kuasa/otoritas-Nya sendiri sebagai Tuhan (Kyrios) yang berdaulat. Kata Yunani untuk otoritas dalam bacaan ini – exousia – bukan sekadar berbicara mengenai kuasa atau kemampuan, melainkan juga yurisdiksi dan pengaturan – hak yang legitim untuk memberi perintah.

Yang paling mencolok tentang Yesus adalah bahwa Dia menggunakan otoritas-Nya itu dengan suatu “kasih yang sempurna” di mana Dia datang untuk menyelamatkan dan bukan untuk menghakimi (lihat Yoh 3:16-17). Tidak seperti para penguasa dunia pada zaman-Nya, Yesus datang untuk melayani, bukan untuk dilayani, untuk menyerahkan hidup-Nya sendiri bagi kita, agar kita dapat diperdamaikan dengan Bapa surgawi (Mat 20:28). Sikap rendah hati (kedinaan) dan kasih merupakan sumber otoritas Yesus; inilah yang memberikan kepada-Nya hak untuk mempraktekkan kuasa-Nya seperti kita lihat.

Apa makna semua ini bagi kita, para murid Yesus di zaman sekarang? Maknanya adalah bahwa melalui keputusan kita sehari-hari untuk mengikuti jejak Yesus dan menyatukan diri kita dengan diri-Nya, kita akan mengalami Dia memberi kepada kita otoritas atas dosa, sakit-penyakit, dan roh-roh jahat, teristimewa untuk kebaikan orang-orang lain. Namun hakekat otoritas ini adalah bahwa kita masing-masing, seperti Yesus,  memiliki sebuah hati yang penuh kasih (bahasa kerennya: a heart of love). Allah menginginkan agar kita menyerukan nama Yesus, mohon kepada-Nya untuk memberikan hati yang penuh kasih dan berorientasi pada pelayanan bagi sesama, hati yang dibentuk oleh hati-Nya sendiri yang penuh kasih itu. Kita akan mengenal dan mengalami kuasa Yesus itu tergantung pada sampai berapa dalam kita memperkenankan Roh Kudus untuk menyatukan kita dengan Kristus yang bangkit, artinya sampai berapa besar kita mau membuka diri bagi karya Roh Kudus dalam diri kita. Apabila kita mati bersama Kristus, maka kita dapat bangkit dengan Dia untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah dilakukan-Nya (Yoh 14:12).

Yesus mendelegasikan otoritas-Nya kepada para rasul-Nya untuk mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat (Mat 10:7). Matius menulis Injilnya menjelang akhir abad I. Dia ingin agar para pembaca Injilnya di segala zaman menyadari bahwa tugas dan tanggung jawab pewartaan itu pun telah menjadi tugas dan tanggung jawab mereka juga, artinya termasuk kita semua. Namun kita harus selalu mengingat, bahwa tidak ada karya Kristus yang dapat pernah dilakukan oleh siapa pun, kecuali oleh seseorang yang  kepadanya telah didelegasikan otoritas untuk itu oleh-Nya sendiri. Ini adalah prinsip manajemen yang sederhana.

DOA: Bapa surgawi, ajarlah kami tentang perbedaan antara otoritas duniawi dan otoritas surgawi. Ajarlah kami untuk berbela rasa dan berbelas kasihan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Oleh Roh Kudus-Mu, berdayakanlah kami agar dapat menunjukkan bela rasa yang telah ditunjukkan oleh Yesus kepada kami masing-masing pada waktu Dia wafat di kayu salib agar supaya kami dapat kembali berdamai dengan Engkau. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “DUA BELAS RASUL DIPILIH OLEH YESUS” (bacaan tanggal 6-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 4 Juli 2016 [Peringatan S. Elisabet dr Portugal, Ratu – OFS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

FOKUS, FOKUS, FOKUS !!!

FOKUS, FOKUS, FOKUS !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIV [Tahun C] – 3 Juli 2016) 

70Apostles - 000Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.”

Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku telah melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.” (Luk 10:1-12, 17-20) 

Bacaan Pertama: Yes 66:10-14c; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7,16,20; Bacaan Kedua: Gal 6:14-18; Bacaan Injil alternatif: Luk 10:1-9 

“Fokus, fokus, fokus!” Para manager, kapten sebuah kesebelasan sepak bola, para guru, dlsb. senantiasa mendesak orang-orang yang dipimpinnya untuk berkonsentrasi pada tugas pekerjaan di depan mereka. Akan tetapi, tidak seorang pun perlu untuk mengatakan kepada Yesus untuk tetap fokus. Yesus tidak pernah memperkenankan apa pun sehingga dapat berakibat pada distraksi dari tugas yang harus dilakukan-Nya dalam rangka perutusan-Nya oleh Bapa. Sejak awal waktu, Yesus telah syering dengan Bapa-Nya suatu kerinduan untuk menyatakan kehadiran Allah yang menyelamatkan – “kerajaan-Nya” – kepada setiap orang. Hasrat ini berkobar-kobar dalam diri Yesus. Ketika orang-orang-Nya mengusulkan kepada Yesus agar Ia membatasi perhatian pada satu kota saja, maka Yesus mengatakan kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 4:43).

YESUS MENGUTUS MURID-MURID PERGI BERDUA-DUASelagi Yesus mengutus 70 (tujuh puluh) murid-Nya untuk mempersiapkan orang-orang akan kedatangan-Nya, Dia mendesak mereka untuk ikut ambil bagian dalam hasrat-Nya bahwa pada akhirnya Gereja didirikan. Para murid tidak boleh terpengaruh oleh distraksi-distraksi; mereka tidak boleh kehilangan energi karena memikirkan baju apa yang harus dipakai atau meladeni hasrat untuk menikmati makanan yang lebih enak (Luk 10:4,7). Yesus ingin agar para murid-Nya melakukan dengan cara paling baik melayani pengharapan Injil di kota-kota antara Samaria dan Yerusalem. Mereka harus menolong orang-orang lain menemukan kuat-kuasa Allah untuk membebaskan mereka dari dosa-dosa, menghancurkan pekerjaan Iblis, mengisi kekosongan mereka, dan merekonsiliasikan mereka dengan Bapa.

Yesus memberdayakan para murid-Nya agar dapat melaksanakan misi ini (Luk 10:9). Ia juga memperingatkan mereka bahwa mereka akan menghadapi oposisi: “Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Luk 10:3). Di tengah pertempuran spiritual yang intens seperti ini, situasi para murid dapat berbahaya. Mereka harus bergantung kepada-Nya secara tetap.

Semua ini adalah suatu pemberian dorongan/semangat kepada kita dari Tuhan yang mengasihi kita. Melalui baptisan Yesus telah mengutus kita juga untuk membawa rahmat Injil ke tengah dunia. Hal ini menempatkan diri kita, seperti 70 murid-Nya, di tengah-tengah suatu pertempuran spiritual. Akan tetapi apabila kita berada tetap dekat dengan Yesus dalam doa, kasih dan ketaatan, maka kita akan mampu untuk membuat mukjizat dan tanda heran lainnya. Apabila kita memusatkan perhatian kita pada Yesus, maka kita akan mampu untuk tetap fokus pada misi yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, berdayakanlah kami agar mampu menyebarkan kabar baik Kerajaan-Mu. Belalah kami dalam pertempuran spiritual. Di atas segalanya, tolonglah kami agar memusatkan pandangan kami pada Engkau saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10-1-12,17-20), bacalah tulisan yang berjudul “KARYA ALLAH SENANTIASA MENDATANGKAN SUKACITA (bacaan tanggal 3-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016.

Cilandak, 30 Juni 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS