Posts from the ‘EVANGELISASI’ Category

SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 14 Juli 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam 

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Kej 46:1-7,28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-4,18-19,27-28,39-40

Bilamana kita setia melaksanakan hidup Injili sehari-harinya, kita pun boleh memastikan bahwa kita akan menghadapi kesulitan atau oposisi. Dalam situasi pengejaran dan penganiayaan, ke mana kita akan mencari sebuah jangkar atau sauh sebagai pegangan kita? Apa yang dapat menopang kehidupan kita? Jangkar kita adalah keyakinan bahwa Roh Kudus Allah berdiam dalam diri kita dan Ia mau dan mampu untuk membimbing kita dalam segala macam situasi yang kita hadapi.

Ketika Yesus memberikan peringatan-peringatan dan wejangan-wejangan kepada kedua belas rasul (artinya kepada kita juga yang hidup pada zaman sekarang) dalam rangka mengutus mereka sebagai misionaris-misionaris, sebenarnya Yesus berbicara berdasarkan pengalaman-Nya sendiri. Sadar akan tidak dapat dihindarkannya kesalahpahaman dan penganiayaan, Yesus terus-menerus memasrahkan hati-Nya pada kuasa Roh Kudus dan kasih dan perlindungan Bapa-Nya. Demikian pula, para murid tidak perlu merasa gelisah atau khawatir tentang bagaimana dan apa yang mereka harus katakan pada waktu mereka diserahkan kepada para penguasa karena kesaksian mereka tentang Kristus, karena Yesus mengatakan kepada mereka: “Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat 10:20).

Yesus dibenci, dikhianati, diadili dalam pengadilan dagelan yang terbesar pada zaman itu, dan akhirnya dijatuhi hukuman mati karena kesaksian-Nya. Akan tetapi, pada setiap saat Yesus mencari kekuatan dan bimbingan dari Roh Kudus. Walaupun pada saat para musuh-Nya berpikir mereka menang atau berada di atas angin, Yesus tetap setia berpegang teguh pada pengetahuan-Nya tentang kasih Allah Bapa bagi diri-Nya. Dia tahu bahwa diri-Nya tidak akan dipermalukan.

Roh Kudus yang sama mencurahkan kasih Allah yang sama ke dalam hati kita masing-masing dan memberikan kepada kita keyakinan ketika kita menghadapi oposisi (lihat Rm 5:1-5). Penganiayaan mungkin tidak dapat dihindari, namun lebih pasti lagi adalah kuasa Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita melalui pembaptisan. Ia sangat berhasrat untuk menguatkan diri kita selagi kita melangkah ke luar dalam ketaatan-penuh-setia kepada Allah, dengan penuh kemauan untuk membayar harga kesaksian kita tentang kebesaran Yesus Kristus. Langkah-langkah kecil ketaatan kita dibuat kecil oleh kesetiaan Allah dengan janji-Nya untuk memberikan kita bimbingan dan dorongan oleh Roh-Nya. Tidak ada keyakinan yang lebih besar di sini, karena tidak ada sahabat yang lebih setia menemani kita daripada Roh Kudus sendiri. Oleh karena itu marilah kita mengambil sikap Yesus dan taat kepada Bapa di surga sementara kita dengan penuh keyakinan menanti-nantikan tanggapan penuh setia dari Roh Kudus-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kami keberanian untuk menjadi saksi-saksi-Mu yang berani dan tangguh. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “KITA PERLU MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK PENUH PERHATIAN MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 14-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 10 Juli 2017 [Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk. Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENJADI SEPERTI YESUS

MENJADI SEPERTI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Kamis, 13 Juli 2017) 

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15) 

Bacaan Pertama: Kej 44:18-21,23b-29; 45:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21 

Pada waktu Yesus mengutus kedua belas rasul-Nya itu memberitakan Injil kepada orang-orang lain, Ia menekankan bahwa mereka harus menjadi seperti diri-Nya sendiri.  Hanya apabila mereka bertumbuh dalam keserupaan dengan diri-Nya maka mereka dapat melakukan pekerjaan pelayanan mereka dengan efektif. Ketika Yesus bersabda: Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8), sebenarnya Dia sedang mengajarkan para murid-Nya (rasul) lebih daripada sekadar bagaimana melayani orang-orang lain.

Yesus sendiri adalah yang paling besar dan paling rendah hati daripada segala hamba. Satu-satunya cara agar para murid Yesus dapat memberi  dengan bebas adalah menjadi seperti Yesus, yang selalu berdoa kepada Bapa-Nya. Karena Dia percaya bahwa Allah akan memenuhi segala kebutuhan-Nya, maka Yesus dengan bebas dan penuh kemurahan hati memberikan semuanya yang telah diterima-Nya dari Bapa-Nya di surga. Atas dasar alasan inilah Yesus mengatakan kepada kedua belas rasul-Nya untuk tidak menerima upah uang atau membawa pakaian ekstra. Allah akan menyediakan apa saja yang mereka butuhkan (Mat 10:9-10).

Karena Yesus begitu pasrah akan pemeliharaan Bapa surgawi dan begitu yakin akan kehadiran-Nya, maka Dia bebas untuk datang dan pergi, untuk mengucapkan kata-kata dan berbuat, seturut arahan dari Allah sendiri. Yesus mengetahui bahwa Bapa-Nya akan memperhatikan-Nya, dan Ia mengambil risiko-risiko yang orang-orang lain tidak merasa bebas untuk mengambilnya karena mereka mengandalkan kekuatan manusia semata.

Yesus menginstruksikan para murid-Nya untuk mempraktekkan kebebasan yang sama, yaitu menentukan rumah mana yang “layak” dan mana yang “tidak layak” untuk dihuni oleh mereka dalam rangka melaksanakan pekerjaan misioner mereka (Mat 10:11-12). Mereka hanya dapat membuat pilihan selama mereka tetap rendah hati dan peka trerhadap pimpinan Allah.

Kita barangkali merasa kewalahan karena tidak mempunyai waktu yang cukup untuk keluarga, apalagi untuk orang-orang lain. Namun Yesus menginstruksikan para murid-Nya (termasuk kita, bukan?) untuk mewartakan Injil, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan mengusir roh-roh jahat (Mat 10:7-8). Allah telah memilih kita masing-masing untuk melayani-Nya. Apakah kita berfungsi sebagai orangtua, guru, biarawati atau biarawan, klerus, atau awam biasa seperti saya ini; kita semua sebenarnya dipanggil untuk menaruh hidup kita di tangan-tangan Yesus dan menaruh kepercayaan bahwa Dia akan memperhatikan setiap kebutuhan kita.  Semakin kita belajar mengenai kebenaran fundamental ini, semakin efektif kiranya kita dalam melaksanakan panggilan kita untuk mengasihi dan melayani sesama kita.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan berdiamlah dalam diri kami. Biarlah hidup-Mu dalam diri kami bertumbuh sehingga dengan demikian kami dapat menjadi lebih serupa dengan-Mu. Tolonglah kami mencari Engkau dalam doa agar kami dapat belajar menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk segala kebutuhan kami. Tolonglah kami untuk senantiasa mewartakan Kabar Baik-Mu kepada orang-orang lain secara cuma-cuma. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “TUHAN, JADIKANLAH AKU ALAT KEBAIKAN-MU” (bacaan tanggal 13-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 10 Juli 2017 [Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk. Martir) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

CERITA TENTANG DUA ORANG RASUL KRISTUS

CERITA TENTANG DUA ORANG RASUL KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Rabu, 12 Juli 2017)

Peringatan S. John Jones & John Wall, Martir 

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. (Mat 10:1-7) 

Bacaan Pertama: Kej 41:55-57; 42:5-7a,17-24a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,10-11,18-19

Bacaan Injil hari ini adalah tentang panggilan dan perutusan para rasul Yesus yang berjumlah 12 (dua belas) orang itu, namun saya akan menyoroti dua orang saja, yaitu Yudas Iskariot dan Simon Petrus.

Setiap kali Kitab Suci menyajikan daftar para rasul, maka Simon Petrus selalu disebut pertama, sedangkan Yudas Iskariot disebut terakhir dengan ditambah embel-embel “yang mengkhianati Dia” atau “yang kemudian menjadi pengkhianat” (lihat Mat 10:4; bdk. Mrk 3:19; Luk 6:16). Bayangkanlah bagaimana jadinya seorang pribadi manusia jika sepanjang masa dirinya dikenal seorang rasul-pengkhianat.

Kesalahan apa yang mungkin telah terjadi? Biar bagaimana pun juga Yudas Iskariot adalah salah seorang yang diutus oleh Yesus dan telah melakukan pekerjaan-pekerjaan besar besar dan menakjubkan sesuai perintah dari Yesus sendiri. Yudas Iskariot telah melihat dan mendengar sendiri segala hal yang dilihat dan didengar oleh sebelas murid lainnya. Lagipula, Yudas Iskariot bukanlah satu-satunya rasul Yesus yang telah berdosa.

Semua rasul Yesus yang tinggal berjumlah sebelas orang ini melarikan diri ketika Yesus ditangkap di taman Getsemani. Kita juga tahu bagaimana Simon Petrus menyangkal sampai tiga kali bahwa dia mengenal Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah: Mengapa Petrus maju terus sampai dia dipercaya oleh Yesus untuk memimpin keseluruhan Gereja, sedangkan Yudas Iskariot pada akhirnya menggantung dirinya sendiri? Sebagian dari jawabannya datang dari cara Petrus menanggapi dosanya apabila dibandingkan dengan cara Yudas Iskariot menanggapi dosanya. Pada waktu Roh Kudus menunjukkan kepada Petrus kesalahan apa saja yang telah dilakukannya, maka jiwa Petrus menjadi hancur dan hatinya patah dan remuk (lihat Mzm 51:19), dan ia pun menangis penuh dengan air mata pertobatan. Selagi dia berdoa memohon belas kasih Allah, Petrus mulai memahami bahwa begitu mendalam Yesus mengasihi dirinya dan Yesus pun telah mengampuninya.

Sebaliknyalah yang terjadi dengan Yudas Iskariot. Ketika rasul ini menyadari bahwa dia telah mengkhianati seorang yang tidak bersalah, dia tidak dapat melupakan rasa bersalahnya dan kebenciannya pada dirinya sendiri agar dapat merangkul belas kasih Allah. Yudas Iskariot tidak percaya bahwa Allah akan pernah dapat mengampuni dirinya. Dia tidak dapat mengatasi serangan gencar dari rasa bersalahnya yang digunakan Iblis untuk menggodanya agar supaya akhirnya berputus-asa.

Apakah pelajarannya bagi kita semua? Kesadaran bahwa kita semua adalah para pendosa. Kitaa semua telah mengkhianati Tuhan sekian kali dalam hidup kita. Namun rahasianya adalah untuk mampu mengakui dosa kita ketika Roh Kudus memancarkan terang-Nya atas dosa itu dan mendorong kita untuk menyesali serta memohon pengampunan Allah dalam pertobatan. Sekali kita kita mengakukan dosa kita, kita pun diampuni, betapa besar pun dosa kita. Pada kenyataannya tidak ada dalam segenap ciptaan-Nya yang begitu besar atau begitu menakutkan yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang tanpa syarat dan belas kasih-Nya yang melimpah-limpah.

Tidak ada gunanya bagi kita untuk menunda-nunda, atau membiarkan rasa bersalah atau rasa malu kita menjadi berlarut-larut. Tentu kita juga tidak boleh berputus-asa. Allah mengetahui dan mengenal kelemahan-kelemahan kita, dan bagaimana pun juga Dia mengasihi kita. Allah yang kita sembah adalah “seorang” Pribadi yang Mahapengampun, Mahakasih, Mahapengampun, …… Mahalain, sehingga tak ada kata-kata yang mampu menggambarkan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku merasa takjub ketika menyadari bahwa Engkau masih dapat mengasihi diriku. Walaupun aku lemah dan penuh dosa, Engkau telah berbelaskasih dan baik hati terhadapku. Pancarkanlah terang Roh Kudus-Mu atas area-area dalam diriku di mana aku sungguh membutuhkan belas kasih-Mu. Biarlah rasa penyesalanku yang benar di hadapan-Mu menghidupkan aku kembali, sehingga dengan demikian aku dapat melanjutkan hidupku sebagai sebagai murid Yesus Kristus yang setia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMILIH DUA BELAS RASUL” (bacaan tanggal 12-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

Cilandak, 9 Juli 2017 [HARI MINGGU BIASA XIV – TAHUN A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TERGERAKLAH HATI YESUS OLEH BELAS KASIHAN

TERGERAKLAH HATI YESUS OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Benediktus, Abas – Selasa, 11 Juli 2017) 

Sementara kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan itu diusir, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak, katanya, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata, “Dengan kuasa pemimpin setan ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38) 

Bacaan Pertama: Kej 32:22-32; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1-3,6-8,15 

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mat 9:36). 

Bayangkanlah kerinduan yang ada dalam hati Yesus agar para murid-Nya dikirim untuk menjadi pekerja-pekerja tuaian di seluruh dunia. Bayangkanlah betapa rindu hati-Nya untuk melihat semua orang menerima dan merangkul Injil-Nya. Ia ingin agar kita (anda dan saya) berdoa kepada Bapa surgawi agar Bapa mengirimkan lebih banyak lagi “pekerja-pekerja untuk tuaian”. Ia juga menginginkan agar kita masing-masing juga siap untuk menjadi salah seorang dari pekerja-pekerja tuaian yang akan dikirim oleh-Nya ke ladang tuaian.

Kebutuhan akan para murid yang akan membuat Yesus dikenal oleh segala bangsa sama besarnya, bahkan jauh lebih besar daripada pada saat ketika Dia memanggil para murid-Nya yang pertama. Sebagamana dinyatakan oleh Paus Yohanes Paulus II (sekarang Santo): “Tugas perutusan Kristus sang Penebus, yang dipercayakan kepada Gereja, masih sangat jauh dari penyelesaian……. suatu pandangan menyeluruh atas umat manusia memperlihatkan bahwa tugas perutusan ini masih saja ditahap awal, dan bahwa kita harus melibatkan diri kita sendiri dengan sepenuh hati untuk melakukan tugas perutusan ini” (Surat Ensiklik REDEMPTORIS MISSIO (Tugas Perutusan Sang Penebus), 7 Desember 1990). Kebutuhannya sangat besar! Yesus memanggil kita semua, anda semua dan saya juga!

Bagaimana kita dapat mempersiapkan diri kita untuk menjadi pekerja-pekerja bagi Kerajaan-Nya? Bagaimanakah kita dapat menjadi lebih efektif dalam panggilan kita masing-masing untuk membawa orang-orang lain kepada Injil Yesus Kristus, agar mengenal Injil itu dan menyambut Yesus ke dalam hati mereka? Ada tiga unsur yang bersifat crucial, yaitu (1) doa; (2) pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci; dan (3) “Eksperimentasi”.

Yang pertama, dan inilah yang paling penting, adalah perlu adanya persekutuan (communio) dengan Allah (Tuan yang empunya tuaian; Mat 9:38) melalui doa. Dengan mempelajari hati Allah dalam doa, maka kita akan lebih lagi dipenuhi dengan kasih-Nya. Kemudian, kita pun akan mampu untuk lebih siap mengasihi orang-orang lain dengan kasih Allah.

Yang kedua, pentinglah untuk mempelajari sabda Allah dalam Kitab Suci. Di dalam Alkitab-lah kita belajar hikmat-kebijaksanaan Allah dan menjadi terilhami dengan pikiran-Nya, sehingga kita sungguh mengenal Pribadi yang akan kita perkenalkan kepada orang-orang lain itu.

Yang ketiga (terakhir), menemukan nilai dari “eksperimentasi” selagi kita melakukan evangelisasi kepada orang-orang lain dan melayani mereka. “Evangelisasi Baru” yang dicanangkan oleh Paus Yohanes Paulus II dimaksudkan agar kita kreatif dalam metode dan pelaksanaan evangelisasi itu. Kita harus mencoba hal-hal yang baru dan berbeda (tidak seperti biasanya). Dalam melakukan evangelisasi – seperti Yesus sendiri – kita harus berani mengambil risiko. Kita harus menaruh kepercayaan kepada Roh Kudus untuk menolong kita selagi kita berupaya membawa orang-orang lain kepada Yesus Kristus. Ingatlah bahwa Yesus senantiasa menyertai kita (Mat 28:20); Dia adalah Imanuel!  Ia akan memurnikan kita selagi kita mengikut Dia, sehingga Dia akan memperoleh banyak pekerja tuaian yang bekerja di ladang tuaian-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Tuhan yang empunya tuaian. Utuslah kami ke tengah-tengah dunia untuk menjadikan bangsa-bangsa murid-murid Putera-Mu, Yesus Kristus. Utuslah dan berdayakanlah kami oleh Roh Kudus-Mu agar dapat bekerja dengan penuh sukacita dan efektif bagi Kerajaan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:32-38), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS INGIN MENYEMBUHKAN KITA SEMUA” (bacaan tanggal 11-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 9 Juli 2017 [HARI MINGGU BIASA XIV – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

FILIPUS AND YAKOBUS: DUA RASUL YANG KURANG DIKENAL

FILIPUS DAN YAKOBUS: DUA RASUL YANG KURANG DIKENAL

(Bacaan  Injil Misa Kudus, Pesta S. Filipus dan Yakobus – Rabu, 3 Mei 2017)

 

Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh 14:6-14) 

Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Hari ini kita merayakan pesta Rasul Santo Filipus dan Santo Yakobus. Kalau Injil menceritakan sekali-kali tentang Filipus, tidak demikian halnya dengan Yakobus anak Alfeus (lihat Mat 10:3). Gereja perdana mempunyai tradisi menamakan dia “Yakobus yang kecil”  untuk membedakannya dengan Yakobus (saudara Yohanes) anak Zebedeus. Ada juga tradisi yang menyamakan dia dengan Yakobus pemimpin komunitas Kristiani awal di Yerusalem. Hal ini juga dirasakan kurang tepat karena Yakobus di Yerusalem ini adalah saudara Yesus (lihat Gal 1:19; 2:9). Dengan demikian, siapa sebenarnya Yakobus bin Alfeus ini tetap saja tidak jelas, namun yang jelas ialah bahwa dia adalah salah seorang 12 rasul Kristus.

Seperti telah dikatakan di atas, Filipus muncul beberapa kali dalam Injil. Injil Yohanes menempatkan Filipus sebagai salah seorang murid pertama yang dipanggil Yesus. Filipus berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus (Yoh 1:44). Pada saat Yesus memanggilnya, Filipus langsung menemui Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret” (Yoh 1:45). Natanael yang masih ragu melontarkan pertanyaannya yang “terkenal” itu: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Terhadap kalimat bertanya-tak-bertanya itu, Filipus hanya berkata kepada Natanael: “Mari dan lihatlah!” (Yoh 1:47).

Belakangan, ketika beberapa orang Yunani mendekati Filipus dengan permintaan untuk bertemu dengan Yesus, Filipus langsung memberitahukannya Andreas; lalu Andreas dan Filipus menyampaikannya kepada Yesus. Ada pendapat, mungkin sekali Filipus-lah yang mengundang orang-orang Yunani seperti pada waktu dia mengajak Natanael: “Mari dan lihatlah!” (lihatlah Yoh 12:21-22).  Nama Filipus disebut dalam peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki, dan dia memang memegang peranan juga dalam peristiwa itu (lihat Yoh 6:5-7). Seperti ditunjukkan dalam petikan bacaan di atas, nama Filipus pun tercatat pada waktu Yesus memberi pengajaran-pengajaran pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya (Yoh 14:8-9). Filipus juga hadir bersama para rasul yang lain di ruang atas di Yerusalem untuk berdoa bersama dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus dan saudara-saudara Yesus (lihat Kis 1:12-14). Ada tradisi yang mengatakan bahwa Filipus menjadi rasul yang diutus ke Phrygia (di Turki sekarang), di mana dia melanjutkan misinya memimpin orang-orang lain kepada Yesus: “Mari dan lihatlah!”

Sebagai seorang duta Kristus, seorang rasul tidak hanya membawa/menyampaikan sebuah pesan, melainkan juga mewakili Pribadi yang mengutusnya. Filipus dan dan Yakobus bin Alfeus mengenal Yesus dengan baik, baik sebelum maupun setelah kebangkitan-Nya. Sebelum kenaikan-Nya ke surga Yesus memberi amanat kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15). Dalam melaksanakan amanat agung ini Filipus dan Yakobus bin Alfeus serta para rasul  lainnya sesungguhnya mewakili Yesus dan meneruskan pesan ini kepada orang-orang lain juga. Dua ribu tahun kemudian, kita menjadi mengetahui tentang Tuhan yang bangkit, sebagian melalui kesaksian mereka. Sekarang kitalah yang dipanggil untuk melanjutkan misi mereka. Oleh karena itu – seperti Filipus dan Yakobus bin Alfeus yang kita rayakan pestanya hari ini – marilah kita mohon kepada Allah agar Roh Kudus-Nya memberikan keberanian untuk mewartakan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus, dan menyiapkan hati mereka kepada siapa kita akan mewartakan Kabar Baik itu.

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau memberikan kepadaku Roh Kudus-Mu sehingga aku dapat menjadi saksi-Mu. Berikanlah kepadaku keberanian untuk mengundang orang-orang lain datang dan berjumpa dengan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “RASUL FILIPUS DAN RASUL YAKOBUS” (bacaan tanggal 3-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkaan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 1 Mei 2017 [Peringatan S. Yusuf Pekerja]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TAAT KEPADA ALLAH ATAU TAAT KEPADA MANUSIA?

TAAT KEPADA ALLAH ATAU TAAT KEPADA MANUSIA?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Kamis, 27 April 2017)

Mereka membawa rasul-rasul itu dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Lalu Imam Besar mulai menanyai mereka, katanya, “Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami.” Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus yang kamu bunuh dengan menggantung-Nya pada kayu salib. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Perintis dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Kamilah saksi dari peristiwa-peristiwa itu, kami dan Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati Dia.” Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu. (Kis 5:27-33)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2,9,17-20; Bacaan Injil: Yoh 3:31-36. 

Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, belas kasih Allah dibuat tersedia bagi kita dengan berlimpah … tanpa batas. Belas kasih Allah – perlakuan Yesus yang baik dan penuh bela rasa terhadap para pendosa – terus mengalir kepada kita secara berlimpah-limpah, selalu dapat dicapai oleh kita. Belas kasih atau kerahiman ilahi ini membebaskan kita dari belenggu penjara dan mengembalikan kita kepada diri kita sendiri, dari kebohongan-kebohongan Iblis dan dari berbagai filsafat dunia yang berlawanan dengan rencana Allah. Belas kasih-Nya membawa kita kepada kebebasan dari ketakutan, penolakan, kemarahan dan sikap mementingkan diri sendiri – pokoknya apa saja yang menghadang jalan kita untuk menjalin relasi dengan Allah.

Para rasul telah disentuh oleh belas kasih Allah, dengan demikian sudah dibuat menjadi suatu ciptaan baru. Karena para murid begitu diubah oleh kehadiran Roh Kudus “yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati dia” (Kis 5:32), maka mereka mampu untuk memberi kesaksian tentang kebangkitan Yesus dan tentang segala janji Allah yang sekarang dipenuhi dalam Putera-Nya (lihat Kis 5:28). Bagi para rasul, Yesus bukanlah sekadar Allah yang jauh tinggal di surga sana. Dia hidup dan aktif dalam hati mereka, dan kehadiran-Nya dalam diri mereka masing-masing mendesak, katakanlah “memaksa” mereka untuk syering Kabar Baik Yesus Kristus dengan semua orang yang memiliki rasa haus akan firman yang hidup.

Sebagai orang Kristiani yang percaya dan telah dibaptis, kita juga mempunyai akses terhadap kuasa dan kasih Allah melalui Roh Kudus-Nya. Belas kasih yang sama tersedia bagi kita sementara kita mengarahkan hati kita kepada Yesus. Allah minta kepada kita agar menyatukan diri kita dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, untuk melakukan pertobatan karena dosa-dosa kita, dan untuk mempersilahkan Dia bekerja dalam diri kita dengan cara-Nya sendiri. Dengan percaya kepada Yesus, menyerahkan hidup kita kepada-Nya dan dipenuhi dengan Roh Kudus, maka kita pun menjadi ciptaan baru.

Yesus taat kepada kehendak Bapa sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8). Maka kita pun harus taat kepada Yesus sampai mati, dengan demikian Ia dapat hidup dalam diri kita melalui kuasa Roh Kudus. Bersama Yesus, kita dipanggil untuk berdoa kepada Bapa surgawi, “jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi” (lihat Luk 22:42).

Apabila Roh Kudus hidup dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu menampung dan menahan sendiri sukacita kita. Seperti para rasul di depan orang banyak dan Sanhedrin, kita pun tidak akan mampu berhenti berbicara tentang apa yang telah dikerjakan atas diri kita.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu sentuhlah hatiku dengan kasih-Mu, agar aku dapat “dipaksa” untuk hidup sehari-harinya sebagai saksi-Mu yang penuh keyakinan mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus kepada semua orang yang kutemui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:31-36), bacalah tulisan yang berjudul “KEMATIAN YESUS PADA KAYU SALIB ADALAH CONTOH MURKA ALLAH DAN SEKALIGUS KERAHIMAN-NYA” (bacaan tanggal 27-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 22 April 2017 [HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANG PENULIS INJIL KEDUA

SANG PENULIS INJIL KEDUA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO MARKUS – Selasa, 25 April 2017)

 

Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.” Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu bahwa semua saudara seimanmu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala anugerah, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. Dialah yang punya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Dengan perantaraan Silwanus yang kuanggap sebagai seorang saudara seiman yang dapat dipercayai, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan meyakinkan kamu bahwa ini adalah anugerah yang benar-benar dari Allah. Berdirilah dengan teguh di dalamnya!

Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon dan juga dari Markus, anakku. Berilah salam seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus. Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus. Amin. (1Ptr 5:5b-14) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,6-7,16-17; Bacaan Injil: Mrk 16:15-20 

Pada hari istimewa yang didedikasikan kepada Santo Markus, kita dapat tergoda untuk bertanya apa yang kiranya dapat kita pelajari dari seorang “tokoh” zaman kuno. Apabila kita melihat “Kisah para Rasul”, khususnya bab 13 dan 15, kita dapat merasa sedikit terhibur karena mengetahui bahwa ternyata Santo Markus adalah seorang manusia seperti kita juga; bahwa dia juga rentan terhadap kelemahan dan kesalahan-kesalahan. Dan semua itu bukanlah sekadar kesalahan-kesalahan kecil: Di Pamfilia dia melakukan “desersi”, melarikan diri dari tugasnya membantu Paulus dan Barnabas, dan kembali ke Yerusalem, …… semua ini terjadi di tengah sebuah perjalanan misioner untuk mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus (Kis 13:13).

“Desersi” Markus begitu serius sehingga menyebabkan timbulnya selisih pendapat apakah masih mau mengambilnya kembali seturut usulan Barnabas atau tidak (Kis 15:35-41). Walaupun Paulus merasa ragu, Markus sungguh pergi melakukan hal-hal besar untuk Kerajaan-Nya, diantaranya menulis sebuah kitab Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.

Sekarang, apakah yang kita pelajari dari seorang Santo Markus? Bahwa Allah tidak pernah menyerah, lalu membuang kita. Dalam Mazmur secara tetap kita mendengar bagaimana Allah menegakkan orang benar, dan dalam “Surat kepada jemaat di Roma”, Paulus menulis bahwa “tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm 8:1). Markus mengalami kebenaran-kebenaran tangan pertama selagi dia bergumul dengan rasa takut yang menimpa dirinya dan juga dosa-dosanya. Dengan rasa percaya yang semakin bertumbuh berkaitan dengan belas kasih Allah dan kuat-kuasa-Nya untuk mentransformir diri setiap pribadi, maka Markus belajar untuk tidak memperkenankan masa lalunya mendikte masa depannya. Sebagai akibatnya, Markus mampu menjadi salah seorang tokoh Kristiani awal yang paling penting.

Cerita tentang Markus seharusnya memacu kita untuk terus mengasihi Allah dan sesama serta melakukan pekerjaan-pekerjaan baik. Ketika kita menyadari bahwa Allah telah mengampuni kita dan bahwa Dia akan terus menunjukkan belas kasih-Nya kepada kita, kita pun harus melakukan yang sama. Ketika kita mulai memahami bahwa Allah telah melimpahkan ke atas diri kita rahmat-Nya yang sebenarnya tak pantas kita terima, pandangan kita tentang orang lain akan menjadi seperti pandangan Barnabas tentang Markus:  sangat ingin memberikan kesempatan kedua dan mengisinya dengan harapan akan masa depan. Kita semua – dengan cara kita masing-masing – sebenarnya telah melakukan “desersi” – kita meninggalkan Allah, namun Ia tidak akan meninggalkan kita. Dia akan selalu memberikan kepada kita kesempatan lagi, karena rencana-rencana-Nya dan pengharapan-pengharapan-Nya kepada kita sangatlah besar. Semoga kita tidak berputus-asa pada saat kita jatuh atau dengan cepat menyalahkan orang lain. Rahmat Allah cukup bagi kita semua!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mampu melihat seperti Engkau melihat, agar aku tidak menghakimi orang-orang lain atau diriku sendiri. Semoga hatiku dapat menjadi hati-Mu, ya Yesus, hati yang mau mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Amin.

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya di tahun 2013) 

Cilandak, 22 April 2017 [HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS