Posts from the ‘EVANGELISASI’ Category

KITA PERLU MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK PENUH PERHATIAN MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS

KITA PERLU MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK PENUH PERHATIAN MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 8 Juli 2016)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Gregorius Grassie, Marie dkk – Martir 

jesus-christ-super-star“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,8-9,12-14,17 

Yesus melanjutkan pemberian instruksi-instruksi-Nya kepada para rasul/murid dalam rangka mempersiapkan mereka untuk karya misioner di masa depan. Ia menceritakan kepada para murid-Nya itu tentang pengejaran dan penganiayaan serta penderitaan yang dapat/akan menimpa mereka selagi mereka mewartakan Injil kepada dunia. Yesus juga mengintruksikan mereka perihal sikap yang harus mereka ambil terhadap orang-orang yang melawan mereka. Pada saat yang sama, Yesus menjamin lagi kepada mereka tentang kehadiran Roh Kudus untuk menolong mereka menghadapi pencobaan-pencobaan dengan keberanian dan pengharapan (Mat 10:20). Perintah Yesus diikuti dengan sebuah janji: “… orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat 10:22).

Barangkali para murid-Nya merasa sangat terkejut ketika Yesus menggambarkan perlawanan yang akan mereka alami – tidak hanya di tangan para penguasa, melainkan juga dari para anggota keluarga mereka sendiri. Setiap murid yang sejati akan ikut ambil bagian dalam penderitaan Kristus dalam kehidupan ini agar supaya ikut serta dalam sukacita keselamatan kekal. Santo Paulus mengalami penderitaan yang berat dan menghadapi oposisi dalam perjalanan-perjalanan misionernya, namun dia menulis: “Aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18). Sikap sedemikian hanya dapat dicapai apabila kita mengingat kebenaran bahwa Yesus Kristus telah memberi amanat kepada kita dan berjanji untuk menguatkan kita pada saat kita mengalami penderitaan. Pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya Dia bersabda: “Dalam dunia kamu menderita penganiyaan, tetapi kuatkan hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

pentecost-canadaMelalui Yesus Allah memberikan Roh Kudus kepada kita guna memampukan kita melaksanakan amanat yang telah kita terima untuk mewartakan Injil kepada sebuah dunia yang sangat membutuhkan kasih Kristus. Roh Kudus adalah buah pertama dari Kerajaan yang akan datang, yang berbicara kepada kita kata-kata Kristus sendiri. Santo Augustinus mengatakan bahwa ketika kita menderita, maka Roh Kudus berbicara, “Daging menderita dan Roh berbicara; ketika Roh berbicara, tidak hanya kejahatan terkutuk melainkan juga kelemahan diperkuat” (Sermons, 276).

Kita mendengar kata-kata Roh dalam doa-doa kita, dalam Kitab Suci, dan dalam Misa Kudus, ketika kita mendengar sabda Allah. Pada akhir perjalanan misionernya, Yesus berkata kepada Pilatus: “Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengar suara-Ku” (Yoh 18:37). Di tengah-tengah kehidupan kita yang penuh kesibukan ini, kita perlu menyediakan waktu untuk penuh perhatian pada Roh Kudus yang dalam diri kita berbicara kepada kita. Hanya dengan demikian kita penuh keyakinan bahwa walaupun kita sedang menghadapi situasi-situasi sulit, Roh Kudus akan memberikan kepada kita kata-kata untuk diucapkan.

DOA: Yesus Kristus, Engkaulah Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku agar mau dan mampu mewartakan Injil-Mu tanpa rasa takut, sebagai garam bumi dan terang dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “DIUTUS SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA (bacaan tanggal 8-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 6 Juli 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUHAN, JADIKANLAH AKU ALAT KEBAIKAN-MU

TUHAN, JADIKANLAH AKU ALAT KEBAIKAN-MU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Kamis, 7 Juli 2016) 

YESUS MENGUTUS - MISI YANG DUABELASPergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15) 

Bacaan Pertama: Hos 11:1,3-4,8c-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16 

Kedua belas murid Yesus telah menyaksikan Guru mereka menghadapi berbagai situasi rakyat yang menyedihkan selama kerja pelayanan-Nya, dan dalam banyak kasus para murid melihat Yesus menarik kepada Allah orang-orang dengan bermacam-macam kebutuhan, lewat penyembuhan, pengampunan dan pelepasan yang dilakukan-Nya. Mereka juga telah melihat bagaimana kuasa Yesus dapat terhalang oleh ketidak-percayaan, seperti yang terjadi di kampung-Nya sendiri, Nazaret. Sekarang Yesus mengutus mereka melakukan tugas pelayanan kepada orang-orang lain. Mereka sungguh harus melangkah dalam iman dan menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada sang Guru.

Yesus mengerti sekali kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh orang-orang yang melakukan perjalanan. Ia sendiri telah berjalan kaki berkilometer-kilometer jauhnya, dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Jadi, Yesus tahu benar apa saja yang dibutuhkan bagi seseorang kalau mau melakukan perjalanan jauh. Namun demikian, ketika mengutus para murid-Nya Yesus malah memberi instruksi kepada mereka untuk praktis tidak membawa apa-apa kecuali tongkat, dan seterusnya (Mat 10:9-10). Bukankah hal-hal tersebut justru dibutuhkan dalam sebuah perjalanan jauh? Memang Ia memberikan kekuatan dan kuasa untuk menguasai roh-roh jahat, untuk menyembuhkan penyakit-penyakit serta untuk mewartakan pertobatan, akan tetapi berbagai kebutuhan sehari-hari yang bersifat praktis tetap harus diperhatikan, bukan? Sungguh tidak dapat diterima oleh akal-sehat manusia. Namun kenyataannya adalah, bahwa 800 tahun lampau ayat padanan dari Mat 10:10 (Luk 9:3) ini merupakan salah satu ayat Kitab Suci yang memberi petunjuk kepada Fransiskus dari Assisi di awal-awal pertobatannya, bagaimana dia dan saudara-saudaranya harus melakukan tugas pelayanan mereka. Tidak lama kemudian lahirlah sebuah keluarga rohani yang sekarang merupakan keluarga rohani terbesar dalam Gereja.

Kalau kita merenungkan ini semua, kita pun dapat bertanya dalam hati kita masing-masing: “Apakah perlu Allah yang Mahakuasa membuat mukjizat-mukjizat melalui manusia biasa? Mengapa Yesus harus tergantung kepada manusia untuk mewartakan kerajaan-Nya? Mengapa Dia harus memilih kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat supernatural? Allah ingin agar kita semua ikut ambil bagian dalam segala aspek kehidupan-Nya. Pada waktu kita dibaptis, setiap kita diberi amanat untuk memproklamasikan Injil-Nya. Berbagai halangan yang ada dalam diri kita atau orang lain bagi Yesus tetap merupakan kesempatan bagi kasih dan kuasa-Nya untuk menang. Bagaimana pun juga Dia datang untuk memanggil para pendosa seperti kita. Allah sangat senang bekerja lewat hati yang merendah dan tunduk, melalui orang-orang yang sadar akan privilese menjadi instrumen-Nya di dunia ini. Allah memang sesungguhnya ingin menunjukkan kuat-kuasa-Nya kepada kita, dan membuat kita menjadi instrumen-instrumen (alat-alat), lewat instrumen-instrumen mana kuasa-Nya dimanifestasikan ke seluruh dunia. Allah menginginkan agar kita, anak-anak-Nya, menjadi saluran berkat-Nya. Doa “Jadikanlah aku pembawa damai” dapat mengajarkan kita sikap macam apa yang patut kita miliki apabila kita sungguh berkehendak untuk melayani orang-orang lain dan menularkan belaskasih Allah kepada mereka: “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai … dst.” Fransiskus tahu, bahwa dia hanya dapat menjadi efektif apabila dia memperkenankan Allah bekerja lewat dirinya. Seperti kedua belas rasul, dia berjalan ke sekeliling Assisi mewartakan kuasa Injil kepada siapa saja yang mau menerima Kabar Baik itu.

Allah menaruh kepercayaan kepada kita karena Dia telah memberikan kepada kita segala rahmat yang kita perlukan guna melaksanakan misi-Nya. Masalahnya sekarang, apakah kita sendiri menaruh kepercayaan kepada Allah? Maka kalau ada seseorang memberitahukan anda tentang sakit-penyakit yang dideritanya, berdoalah dalam iman agar orang itu disembuhkan. Bukan anda yang menyembuhkan, melainkan Allah sendiri. Kita semua hanyalah instrumen-instrumen yang dipakai Allah untuk kebaikan. Kalau terjadi konflik rumah-tangga, berdoalah – dalam nama Yesus – dan berharaplah terjadinya mukjizat. Allah menginginkan agar “tanda-tanda heran”-Nya menjadi suatu bagian normal kehidupan kita. Kalau anda sungguh percaya akan pernyataan ini, maka mulailah berdoa dan menantikan Allah bekerja dalam diri anda.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya Engkau mendengar setiap doa kami. Buatlah kami agar menjadi bentara-bentara kasih dan damai-sejahtera-Mu kepada orang-orang lain. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HARUS MEMILIKI EKSPEKTASI ADANYA PENOLAKAN TERHADAP KARYA KERASULAN KITA” (bacaan tanggal 7-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-7-11 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 5 Juli 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

 

YESUS MEMILIH DUA BELAS RASUL

YESUS MEMILIH DUA BELAS RASUL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Rabu, 6 Juli 2016)

Peringatan S. Maria Goretti, Perawan Martir 

YESUS DAN KEDUABELAS MURID-NYAYesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. (Mat 10:1-7) 

Bacaan Pertama: Hos 10:1-3,7-8,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

Menanggapi seruan-Nya sendiri bahwa “tuaian itu memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat 9:37), Yesus mengumpulkan kedua belas murid-Nya (rasul) dan mempersiapkan mereka untuk diutus menjadi misionaris-misionaris. “Diskursus misioner” dalam Matius 10 hampir pasti merupakan sebuah sebuah koleksi instruksi-instruksi berbeda-beda yang diberikan oleh Yesus dalam pelayanan-Nya, yang digabung menjadi satu oleh Matius sebagai sebuah presentasi singkat berkaitan dengan “panggilan kepada pemuridan/kemuridan”. Ini adalah sebuah panggilan yang berlaku untuk setiap orang di segala zaman.

Yesus mengawali instruksi-Nya dengan memberikan kepada kedua belas rasul-Nya kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan (Mat 10:1). Kuasa yang diberikan Yesus ini adalah wujud nyata bahwa seorang murid-Nya haruslah mengambil bagian dalam kuasa/otoritas-Nya sendiri sebagai Tuhan (Kyrios) yang berdaulat. Kata Yunani untuk otoritas dalam bacaan ini – exousia – bukan sekadar berbicara mengenai kuasa atau kemampuan, melainkan juga yurisdiksi dan pengaturan – hak yang legitim untuk memberi perintah.

Yang paling mencolok tentang Yesus adalah bahwa Dia menggunakan otoritas-Nya itu dengan suatu “kasih yang sempurna” di mana Dia datang untuk menyelamatkan dan bukan untuk menghakimi (lihat Yoh 3:16-17). Tidak seperti para penguasa dunia pada zaman-Nya, Yesus datang untuk melayani, bukan untuk dilayani, untuk menyerahkan hidup-Nya sendiri bagi kita, agar kita dapat diperdamaikan dengan Bapa surgawi (Mat 20:28). Sikap rendah hati (kedinaan) dan kasih merupakan sumber otoritas Yesus; inilah yang memberikan kepada-Nya hak untuk mempraktekkan kuasa-Nya seperti kita lihat.

Apa makna semua ini bagi kita, para murid Yesus di zaman sekarang? Maknanya adalah bahwa melalui keputusan kita sehari-hari untuk mengikuti jejak Yesus dan menyatukan diri kita dengan diri-Nya, kita akan mengalami Dia memberi kepada kita otoritas atas dosa, sakit-penyakit, dan roh-roh jahat, teristimewa untuk kebaikan orang-orang lain. Namun hakekat otoritas ini adalah bahwa kita masing-masing, seperti Yesus,  memiliki sebuah hati yang penuh kasih (bahasa kerennya: a heart of love). Allah menginginkan agar kita menyerukan nama Yesus, mohon kepada-Nya untuk memberikan hati yang penuh kasih dan berorientasi pada pelayanan bagi sesama, hati yang dibentuk oleh hati-Nya sendiri yang penuh kasih itu. Kita akan mengenal dan mengalami kuasa Yesus itu tergantung pada sampai berapa dalam kita memperkenankan Roh Kudus untuk menyatukan kita dengan Kristus yang bangkit, artinya sampai berapa besar kita mau membuka diri bagi karya Roh Kudus dalam diri kita. Apabila kita mati bersama Kristus, maka kita dapat bangkit dengan Dia untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah dilakukan-Nya (Yoh 14:12).

Yesus mendelegasikan otoritas-Nya kepada para rasul-Nya untuk mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat (Mat 10:7). Matius menulis Injilnya menjelang akhir abad I. Dia ingin agar para pembaca Injilnya di segala zaman menyadari bahwa tugas dan tanggung jawab pewartaan itu pun telah menjadi tugas dan tanggung jawab mereka juga, artinya termasuk kita semua. Namun kita harus selalu mengingat, bahwa tidak ada karya Kristus yang dapat pernah dilakukan oleh siapa pun, kecuali oleh seseorang yang  kepadanya telah didelegasikan otoritas untuk itu oleh-Nya sendiri. Ini adalah prinsip manajemen yang sederhana.

DOA: Bapa surgawi, ajarlah kami tentang perbedaan antara otoritas duniawi dan otoritas surgawi. Ajarlah kami untuk berbela rasa dan berbelas kasihan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Oleh Roh Kudus-Mu, berdayakanlah kami agar dapat menunjukkan bela rasa yang telah ditunjukkan oleh Yesus kepada kami masing-masing pada waktu Dia wafat di kayu salib agar supaya kami dapat kembali berdamai dengan Engkau. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “DUA BELAS RASUL DIPILIH OLEH YESUS” (bacaan tanggal 6-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 4 Juli 2016 [Peringatan S. Elisabet dr Portugal, Ratu – OFS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

FOKUS, FOKUS, FOKUS !!!

FOKUS, FOKUS, FOKUS !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIV [Tahun C] – 3 Juli 2016) 

70Apostles - 000Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.”

Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku telah melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.” (Luk 10:1-12, 17-20) 

Bacaan Pertama: Yes 66:10-14c; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7,16,20; Bacaan Kedua: Gal 6:14-18; Bacaan Injil alternatif: Luk 10:1-9 

“Fokus, fokus, fokus!” Para manager, kapten sebuah kesebelasan sepak bola, para guru, dlsb. senantiasa mendesak orang-orang yang dipimpinnya untuk berkonsentrasi pada tugas pekerjaan di depan mereka. Akan tetapi, tidak seorang pun perlu untuk mengatakan kepada Yesus untuk tetap fokus. Yesus tidak pernah memperkenankan apa pun sehingga dapat berakibat pada distraksi dari tugas yang harus dilakukan-Nya dalam rangka perutusan-Nya oleh Bapa. Sejak awal waktu, Yesus telah syering dengan Bapa-Nya suatu kerinduan untuk menyatakan kehadiran Allah yang menyelamatkan – “kerajaan-Nya” – kepada setiap orang. Hasrat ini berkobar-kobar dalam diri Yesus. Ketika orang-orang-Nya mengusulkan kepada Yesus agar Ia membatasi perhatian pada satu kota saja, maka Yesus mengatakan kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 4:43).

YESUS MENGUTUS MURID-MURID PERGI BERDUA-DUASelagi Yesus mengutus 70 (tujuh puluh) murid-Nya untuk mempersiapkan orang-orang akan kedatangan-Nya, Dia mendesak mereka untuk ikut ambil bagian dalam hasrat-Nya bahwa pada akhirnya Gereja didirikan. Para murid tidak boleh terpengaruh oleh distraksi-distraksi; mereka tidak boleh kehilangan energi karena memikirkan baju apa yang harus dipakai atau meladeni hasrat untuk menikmati makanan yang lebih enak (Luk 10:4,7). Yesus ingin agar para murid-Nya melakukan dengan cara paling baik melayani pengharapan Injil di kota-kota antara Samaria dan Yerusalem. Mereka harus menolong orang-orang lain menemukan kuat-kuasa Allah untuk membebaskan mereka dari dosa-dosa, menghancurkan pekerjaan Iblis, mengisi kekosongan mereka, dan merekonsiliasikan mereka dengan Bapa.

Yesus memberdayakan para murid-Nya agar dapat melaksanakan misi ini (Luk 10:9). Ia juga memperingatkan mereka bahwa mereka akan menghadapi oposisi: “Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Luk 10:3). Di tengah pertempuran spiritual yang intens seperti ini, situasi para murid dapat berbahaya. Mereka harus bergantung kepada-Nya secara tetap.

Semua ini adalah suatu pemberian dorongan/semangat kepada kita dari Tuhan yang mengasihi kita. Melalui baptisan Yesus telah mengutus kita juga untuk membawa rahmat Injil ke tengah dunia. Hal ini menempatkan diri kita, seperti 70 murid-Nya, di tengah-tengah suatu pertempuran spiritual. Akan tetapi apabila kita berada tetap dekat dengan Yesus dalam doa, kasih dan ketaatan, maka kita akan mampu untuk membuat mukjizat dan tanda heran lainnya. Apabila kita memusatkan perhatian kita pada Yesus, maka kita akan mampu untuk tetap fokus pada misi yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, berdayakanlah kami agar mampu menyebarkan kabar baik Kerajaan-Mu. Belalah kami dalam pertempuran spiritual. Di atas segalanya, tolonglah kami agar memusatkan pandangan kami pada Engkau saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10-1-12,17-20), bacalah tulisan yang berjudul “KARYA ALLAH SENANTIASA MENDATANGKAN SUKACITA (bacaan tanggal 3-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016.

Cilandak, 30 Juni 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH PENGORBANAN YESUS MEMPUNYAI ARTI?

APAKAH PENGORBANAN YESUS MEMPUNYAI ARTI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Aloisius Gonzaga, Biarawan Yesuit – Selasa, 21 Juni 2016)

 05-sermon-on-the-mount-1800

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: 2Raj 19:9b-11,14-21,31-35a,36; Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-4,10-11

“Sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Mat 7:14).

Yesus Kristus – Tuhan dan Juruselamat kita – tidak pernah berjanji bahwa kehidupan Kristiani akan mudah. Ia tidak pernah mengatakan bahwa keberadaan kita akan bebas dari masalah, bilamana kita memilih untuk mengikut Dia melalui pintu yang sempit dan jalan yang sesak. Memang kita memakluminya. Setiap hari kita menghadapi godaan-godaan yang beraneka-ragam: mengasihi atau membenci sesama kita, menolong seseorang yang memerlukan bantuan atau mengabaikannya, mentaati perintah-perintah Allah atau mengabaikan perintah-perintah itu, menjadi instrumen-instrumen perdamaian atau aktif dalam provokasi serta mendorong terjadinya perpecahan. Bahkan sebagian orang akan menghadapi pengejaran serta penganiayaan secara langsung karena telah memilih “pintu yang sempit dan jalan yang sesak” dari Kristus.

Apakah yang harus kita lakukan? Bagaimana seharusnya kita berpikir mengenai Yesus dan hidup-Nya sendiri yang telah diberikan-Nya kepada kita? Apakah pengorbanan Yesus mempunyai arti, jadi tidak sia-sia? Apabila kita harus melontarkan pertanyaan ini kepada semua generasi umat Kristiani yang mendahului kita, maka mereka akan menanggapi pertanyaan kita itu dengan suara yang nyaring dan penuh syukur: “Ya!” Banyak dari mereka telah menjalani jalan yang sesak dan bertekun melalui penderitaan-penderitaan yang jauh lebih berat dan menyakitkan daripada apa yang kita alami pada zaman modern ini.

Mengapa mereka tetap bertahan dengan penuh iman? Karena mereka tahu bahwa Yesus berjalan bersama mereka. Kenyataan yang satu inilah yang membuat perbedaan antara frustrasi tanpa harapan dan kenyamanan, antara kekalahan dan kemenangan.

Baiklah kita bersama-sama menyadari, bahwa setiap langkah yang kita ambil berarti kita berjalan bersama Yesus. Kita harus percaya bahwa Putera Allah sendiri telah membuka jalan bagi kita dan memberikan kepada kita segalanya yang kita perlukan untuk mengikuti Dia. Selagi kita berjalan di jalan yang telah dibuka oleh Allah bagi kita, maka hidup kita dapat dipenuhi dengan makna dan tujuan – hanya apabila karena kita menjadi menjadi duta-duta Yesus dan bejana-bejana Roh Kudus yang semakin dipenuhi dengan kuasa-Nya. Manakala kita mencoba untuk hidup tanpa Yesus, maka martabat dan nilai-nilai baik yang kita anut tidak akan bertambah besar, melainkan menyusut.

Yesus telah berjanji kepada semua murid-Nya di segala zaman bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka. Tidak pernah! Walaupun kita terlibat dalam kedosaan serius sekali, Yesus tetap berada bersama kita. Kerahiman-Nya akan meliputi diri kita, dan kekuatan-Nya akan memberdayakan kita. Oleh karena itu, marilah pada hari ini kita mengambil keputusan definitif untuk menaruh kepercayaan kepada kuat-kuasa Yesus untuk tetap mentransformasikan diri kita menjadi hamba-hamba atau pelayan-pelayan penuh kuasa dari Injil-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah berjanji untuk senantiasa ada bersamaku sampai akhir zaman. Terima kasih untuk menyerahkan hidup-Mu sendiri bagiku. Tolonglah aku agar tetap setia kepada-Mu, seperti Engkau setia kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN MEMBERDAYAKAN KITA” (bacaan tanggal 21-6-16 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 19 Juni 2016  [HARI MINGGU BIASA XII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS

KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Rabu, 13 April 2016)

KEBERANIAN PETRUS DAN YOHANES - KIS 4Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.

Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitahukannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh  dan orang timpang disembuhkan. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu (Kis 8:1b-8).

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7; Bacaan Injil: Yoh 6:30-35

Setelah pembunuhan Stefanus secara brutal, mulailah penganiayaan yang hebat terhadap umat Kristiani di Yerusalem. Kecuali para rasul, umat tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria (lihat Kis 8:1). Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil mewartakan Injil Yesus Kristus (lihat Kis 8:4).

“Yesus telah bangkit, dan kita adalah saksi-saksi-Nya (lihat Kis 1:8; 2:32; 3:15; 4:33; 10:41; 13:31). Dalam Masa Paskah ini, apakah kita (anda dan saya) patuh pada Yesus yang telah bangkit dengan memberikan kesaksian tentang diri-Nya?

Paulus menulis kepada jemaat di Tesalonika: “Janganlah padamkan Roh” (1 Tes 5:19). Jikalau kita (anda dan saya) tidak memberikan kesaksian atau tidak begitu memberikan kesaksian, berarti kita mencekik Roh Kudus, dan kita membiarkan diri kita:

  • direkayasa agar supaya takut ditertawakan orang lain (Kis 2:12-13);
  • ditakut-takuti dengan ancaman (Kis 4:18);
  • sibuk dengan masalah pribadi, keluarga atau komunitas kita sendiri (Kis 6:1 dsj.);
  • mengalami trauma atas kematian dari salah seorang yang kita kasihi (Kis 8:2), atau
  • tergoncang oleh adanya pengejaran dan penganiyaan (Kis 8:1,3).

Adalah suatu kenyataan bahwa Iblis terus-menerus menentang upaya kita untuk bersaksi. Dari kenyataan ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa memberi kesaksian tentang Yesus memang mempunyai kuat-kuasa yang sanggup mengubah hidup orang dan mengubah dunia.

Tuhan Yesus telah memberikan kepada kita kuat-kuasa untuk mengalahkan segala gangguan dan upaya perlawanan dari si Jahat. Seperti ditulis oleh penulis surat Yohanes: “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yoh 4:4). Rahmat Allah jauh lebih dari cukup! Seperti jawab Tuhan kepada Santo Paulus: “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9).

Saudari dan Saudaraku, marilah kita berdoa untuk menerima karunia yang akan membuat kita berani untuk bersaksi tentang Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.

DOA: Bapa surgawi, aku percaya bahwa Engkau menganugerahkan kepada anak-anak-Mu bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Dengan demikian aku tidak akan malu bersaksi tentang Tuhan Yesus dan ikut menderita bagi Injil-Nya (2 Tim 1:7-8). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:35-40), bacalah tulisan yang berjudul “KUAT KUASA UNTUK MENYEMBUHKAN” (bacaan tanggal 13-4-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2016. 

Cilandak, 11 April 2016 [Peringatan S. Stanislaus, Uskup Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA IKUT AMBIL BAGIAN DALAM PENYALIBAN YESUS

KITA IKUT AMBIL BAGIAN DALAM PENYALIBAN YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Jumat dalam Oktaf Paskah – 1 April 2016) 

KEBERANIAN PETRUS DAN YOHANES - KIS 4Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki mendatangi mereka. Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. Mereka ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam. Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki.

Keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dari Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar. Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini, “Dengan kuasa mana atau dalam nama siapa kamu melakukan hal itu?” Lalu Petrus, yang penuh dengan Roh Kudus, menjawab mereka, “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu perbuatan baik kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa mana orang itu disembuhkan, maka ketahuilah  oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati – bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dalam keadaan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri – namun ia telah menjadi batu penjuru. Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:1-12) 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2,4,22-27; Bacaan Injil: Yoh 21:1-14 

“Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12).

Untuk menerima karunia keselamatan, kita harus percaya kepada Yesus (Ef 2:8). Kita juga harus harus mengakui kebutuhan kita akan keselamatan. Kita semua telah berdosa (Rm 3:23); dan kita tidak dapat memberi silih atas satu dosa pun dari dosa-dosa kita, sebab akibat dari dosa itu sangatlah fatal dan merusak. Dengan demikian, untuk mengakui adanya kebutuhan akan keselamatan, kita harus mulai menyadari betapa buruk dan besarnya dosa-dosa kita, dan kemudian mengakui kesalahan-kesalahan kita. Jika kita menekan rasa bersalah kita atau malah menyangkalnya, atau begitu tidak manusiawi karena merasa tidak pernah berbuat slah, maka kita tidak akan pernah dapat  menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita. Mengapa? Karena kita tidak mau mengakui atau menerima kenyataan bahwa kita memang mempunyai kebutuhan untuk diselamatkan.

Itulah sebabnya mengapa Petrus, pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama dan setelahnya, dalam khotbahnya menyampaikan pesan tentang adanya kesalahan dan dosa-dosa kita selain pesan adanya penyelamatan. Petrus dengan bahasa yang lugas berkata kepada para anggota Mahkamah Agama Yahudi bahwa mereka telah menyalibkan Yesus, tetapi Yesus telah dibangkitkan oleh Allah. Dalam nama Yesus yang telah bangkit itulah orang lumpuh dalam kisah sebelumnya disembuhkan (lihat Kis 3:1-10), yang pada saat itu juga hadir dalam sidang. Petrus juga mengatakan, bahwa Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang bangunan – yaitu para pemuka agama Yahudi – namun Ia telah menjadi batu penjuru (Kis 4:11; bdk. Mzm 118:22).

Dalam khotbahnya pada hari Pentakosta, Petrus malah berkata: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis 2:23). Dalam khotbahnya di Serambi Salomo, Petrus berkata: “Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita  telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu. Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi” (Kis 3:13-15).

Saudari dan Saudaraku, marilah sekarang kita (anda dan saya) hening sejenak guna memeriksa berbagai kesalahan kita. Marilah kita mengakui bahwa kita telah ikut ambil bagian dalam penyaliban Yesus. Tujuan akhir dari pemeriksaan ini adalah pertobatan, keselamatan dan hidup baru dalam Kristus yang sudah bangkit.

DOA: Bapa surgawi, berilah keberanian kepada diriku untuk mengakui kesalahan dan dosaku. Berikanlah juga kepadaku karunia iman agar diriku selamat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “SUATU HARI DI DANAU TIBERIAS: MEMATUHI SABDA YESUS” (bacaan tanggal 1-4-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2016. 

Cilandak, 29 Maret 2016 [HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS