Posts from the ‘EVANGELISASI’ Category

DENGAN CUMA-CUMA KITA MEMPEROLEH, DENGAN CUMA-CUMA PULA KITA HARUS MEMBERIKAN

DENGAN CUMA-CUMA KITA MEMPEROLEH, DENGAN CUMA-CUMA PULA KITA HARUS MEMBERIKAN 

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Sabtu, 5 Desember 2015)

YESUS MENGUTUS - MISI YANG DUABELASDemikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan membertakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan.

Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kami telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.  (Mat 9:35-10:1,6-8) 

Bacaan Pertama: Yes 30:19-21,23-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:1-6

Yesus mengutus para rasul untuk pergi ke seluruh penjuru dunia guna melanjutkan karya-Nya mengajar, menyembuhkan dan memproklamasikan Kerajaan Allah. Ini menandakan suatu langkah penting dalam rencana Allah bagi umat-Nya. Hal ini memungkinkan Kabar Baik tersedia bagi jumlah orang yang lebih besar, yang terlalu jauh bagi Yesus sendiri untuk secara pribadi melakukannya. Pada akhirnya hal ini telah mengakibatkan Injil disebarkan secara berkesinambungan dari tahun ke tahun, untuk lebih dari dua puluh abad lamanya setelah peristiwa Yesus dan murid-murid-Nya pertama kali terjadi.

Mereka yang mewartakan Injil dipanggil untuk bekerja melalui kuat-kuasa Roh Kudus guna membawa kepada kita arahan Allah bagi hidup kita. Itu adalah kepenuhan janji yang dibuat Yesaya: “Telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: ‘Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya, entah kamu menganan atau mengiri’” (Yes 30:21).

Pada waktu Yesus mengutus para rasul-Nya untuk pergi mewartakan Injil Kerajaan Surga, Dia memberikan kepada mereka otoritas yang riil atas roh-roh jahat dan juga untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan kelemahan (Mat 10:1; 6-8). Otoritas ini merupakan suatu kesaksian terhadap kebenaran dari proklamasi Kerajaan Surga. Seseorang dapat saja berpikir bahwa jika setelah 2000 tahun pewartaan Injil dilakukan seperti ini, maka seluruh dunia akan dipertobatkan! Namun sayangnya, seperti dikemukakan oleh Yesus, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat 9:37). Bahkan dari pekerja yang sedikit itu, mereka yang pernah dengan lantang mewartakan Kabar Baik kemudian – karena satu dan lain hal – menjadi semakin menyusut dalam pengaruhnya sebagai pewarta. Kadang-kadang hal ini sebagai akibat dari kesalahan mereka sendiri; akan tetapi seringkali karena Kabar Baik Kerajaan Allah yang mereka wartakan harus berhadapan dengan perlawanan yang tidak jarang mengambil cara-cara kekerasan, penolakan atau sikap apatis.

Paus Santo Gregorius Agung [540-604] – seorang pujangga Gereja – pernah menulis sebagai berikut: Kejahatan dari sang pengkhotbah/pewarta tetap dapat lidahnya sendiri …… namun kejahatan para pendengarnya juga dapat membungkam suara sang pengkhotbah/pewarta, seperti diindikasikan oleh TUHAN ketika Dia berkata kepada Yehezkiel: “Aku akan membuat lidahmu melekat pada langit-langit mulutmu dan engkau akan menjadi bisu dan tidak mengucapkan nasihat, karena umat ini memprovokasi kemurkaan-Ku.” Seakan Dia berkata,  “Aku mengambil (kembali) kuasamu untuk berkhotbah/mewartakan karena umat ini membuat Aku marah dengan tindakan-tindakan mereka dan tidak pantas untuk mendengar kebenaran” (Homili 17).

Kita perlu memeriksa sikap-sikap kita supaya yakin bahwa hati kita terbuka bagi Injil, di mana pun Injil itu diwartakan dan diproklamasikan. Kita tidak boleh memperkenankan distraksi (pelanturan), rasa lelah, atau bahkan prasangka pribadi mencegah kita mendengar apa yang Allah coba katakan kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar memiliki kerinduan akan bimbingan-Mu. Buatlah agar telinga kami berhasrat untuk mendengar sabda-Mu dan hati kami haus akan kebenaran-Mu, di mana saja hal itu diwartakan/dikhotbahkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari (Mat 9:35-10:1,6-8), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI PEKERJA-PEKERJA UNTUK TUAIAN TUHAN” (bacaan tanggal 5-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak, 3 Desember 2015 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Pelindung Misi]   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU BERSYUKUR KEPADA-MU, BAPA, TUHAN LANGIT DAN BUMI

AKU BERSYUKUR KEPADA-MU, BAPA, TUHAN LANGIT DAN BUMI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Sabtu, 3 Oktober 2015) 

stdas0609Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”  (Luk 10:17-24) 

Bacaan Pertama: Bar 4:5-12,27-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:33-37

Lukas menggambarkan kegembiraan Yesus pada waktu para murid-Nya kembali dari misi  mereka mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Yesus menunjukkan kepada para murid-Nya bagaimana seharusnya mereka memuji-muji Bapa-Nya di surga. Lalu kita pun dapat melihat sekilas lintas gaya doa Yesus: pujian penuh sukacita dalam Roh Kudus kepada Bapa: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, ……” (Luk 10:21).

Doa yang paling sejati adalah doa pujian dan syukur; ini adalah bentuk komunikasi yang paling meluas. Hal ini benar dalam relasi kita satu sama lain. Suatu sikap memuji, sikap menghargai, sikap mengasihi yang ditujukan kepada orang lain, adalah yang paling sehat bagi ke dua belah pihak dalam berkomunikasi. Lebih benar lagi adalah sikap kita terhadap Allah. Kita berkomunikasi secara paling baik jika kita mengenal orang lain dengan siapa kita berkomunikasi dan juga siapa kita ini. Allah adalah segalanya yang besar, agung dan indah. Yesus adalah yang paling besar dan agung! Dengan demikian puji-pujian adalah bentuk komunikasi dengan Dia yang paling nyata dan alamiah.  Puji-pujian mengungkapkan secara paling akurat perasaan-perasaan kita yang benar dalam berbicara dengan Dia dan juga dalam mendengarkan Dia. Kita tidak boleh lupa bahwa “mendengarkan” sudah merupakan separuh (yang lebih baik) dari komunikasi yang kita lakukan. Mendengarkan dengan puji-pujian dan rasa syukur kepada Tuhan!

Puji-pujian dapat mengambil banyak bentuk, bahkan dalam keheningan maupun lagu pujian. Lagu pujian membuka diri kita terhadap Allah dan juga perasaan-perasaan kita yang paling dalam tentang diri-Nya. Ada banyak doa pujian dalam Kitab Suci, Buku Doa Allah, dan banyak dari doa-doa itu adalah dalam bentuk lagu.

Baiklah bagi kita kalau sungguh menikmati lagu-lagu pujian dan menyanyikan lagu-lagu itu juga. Berdoa dengan menyanyikan lagu pujian adalah berkomunikasi dengan Tuhan, mengatakan kepada-Nya apa yang kita rasakan tentang diri-Nya, mengatakan kepada-Nya apa yang membuat kita mengasihi Dia dan berterima kasih penuh syukur kepada-Nya dan menaruh kepercayaan kepada-Nya, serta membuat Dia sebagai pusat kehidupan kita. Doa yang berbentuk lagu, jika kita masuk ke dalamnya dengan sikap ini, meluaskan kita dan membuat kita bertumbuh secara spiritual. Doa-lagu seperti ini menyelamatkan kita dari bentuk doa yang sempit dan terasa sekadar mohon ini-itu, menggunakan Allah sebagai seorang sugar-Daddy atau Sinterklas yang harus memberikan kepada kita apa saja yang kita minta. Dengan doa permohonan yang terlalu bersifat sepihak, sepertinya kita bertransaksi dengan Allah. Kita melakukan tawar-menawar yang sungguh tidak sehat. Doa yang jauh lebih bijak adalah doa pujian. “Biar bagaimana pun juga, puji Tuhan! Apapun yang terjadi, marilah kita memuji Tuhan” adalah motto yang hebat. Motto ini mengajar kita bagaimana membalikkan setiap hal menjadi suatu berkat bagi hidup kita.

DOA: Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MENYATAKAN SEMUA ITU KEPADA ORANG KECIL” (bacaan tanggal 3-10-15) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 

Cilandak, 30 September 2015 [Peringatan S. Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SETIAP ORANG HARUS MEMBUAT PILIHAN

SETIAP ORANG HARUS MEMBUAT PILIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Padre Pio dari Pietrelcina, Imam – Rabu, 23 September 2015) 

Keluarga Fransiskan Kapusin (OFMCap. & OSCCap.): Pesta S. Padre Pio dari Pietrelcina, Imam

YESUS MENGUTUS - MISI YANG DUABELASYesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, kata-Nya kepada mereka, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau kantong perbekalan, roti atau uang, atau dua helai baju. Apabila kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi desa-desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. (Luk 9:1-6) 

Bacaan Pertama: Ezr 9:5-9; Mazmur Tanggapan: Tb 13:2-5,8

Bacaan Injil hari ini adalah tentang misi yang harus diemban oleh kedua belas murid Yesus. Yesus mengutus mereka ke tengah dunia untuk membuat orang-orang menghadapi kehidupan mereka, membuat keputusan-keputusan tentang diri mereka sendiri dan dunia di mana mereka hidup, dan untuk membuat mereka dapat melihat nilai-nilai kehidupan yang mereka anut selama itu.

Para Rasul Kristus – yang hidup dalam semangat kemiskinan – “tidak membawa apa-apa dalam perjalanan mereka” – memberikan mereka lebih banyak otoritas untuk berbicara, dimaksudkan untuk sedikit mendorong orang-orang, untuk mengkonfrontir mereka, untuk meminta mereka membuat pilihan-pilihan yang sejalan dengan Injil Yesus Kristus. Para Rasul itu diberi tugas untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Pertobatan berarti tidak hanya rasa sesal-sedih karena dosa, melainkan “membereskan” kembali seluruh kehidupan seseorang. Artinya, ada pembalikan 180 derajat, dari jalan-dosa ke jalan Allah. Dengan demikian kita harus bertanya kepada diri sendiri dan menjawabnya: Hidup macam apakah yang sesungguhnya saya inginkan? Keputusan-keputusan hidup mendasar apa saja yang harus saya buat berkaitan dengan karir saya, pekerjaan saya, relasi saya dengan anggota keluarga saya, bagaimana dengan cara membesarkan anak-anak saya?

Yesus seringkali meminta orang-orang agar mereka membuat pilihan-pilihan seperti itu. Yesus bersabda a.l.: “Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku”  (Luk 11:23). “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk 16:13). “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23). Jadi, setiap orang harus membuat pilihan!

YESUS KRISTUS - 11Dalam artian yang praktis, hal ini berarti menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini: Bagaimana kiranya saya akan menerima berita bahwa saya (atau seseorang yang saya kasihi) terkena penyakit kanker? Apakah saya akan jatuh dalam depresi  tanpa kesudahan? Apakah saya akan membuat diri saya pusat perhatian keluarga saya sehingga menyusahkan mereka semua? Atau, apakah saya akan mengambil kesempatan untuk menggunakan waktu saya yang tersisa dengan baik, memberikan contoh kegembiraan dan penerimaan yang rendah hati dan ikhlas terhadap kehendak Allah atas diri saya?

Bagaimana saya dapat menerima kenyataan bahwa saya di-PHK oleh perusahaan saya? Kemarahan dan penolakan? Iri hatikah saya? Atau saya dengan pemahaman yang dipenuhi kasih dan keberanian mengevaluasi masalahnya dan kemudian menerima suatu masa depan yang baru dengan penuh keyakinan akan kemampuan saya yang dianugerahkan Allah bagi diri saya? Percayakah saya pada penyelenggaran ilahi?

Semua itu adalah masalah nilai-nilai. Apakah yang sesungguhnya saya inginkan dari hidup saya ini? Kedua belas Rasul diutus untuk mengkonfrontir orang banyak dengan keputusan-keputusan sedemikian. Bacaan Injil hari ini dan para pelayan sabda yang bertugas untuk mewartakan Injil masih mengkonfrontir kita pada hari ini. Apakah tanggapan kita?

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa “apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal 6:7). Tolonglah kami agar supaya kami hanya menabur benih-benih Injil selama masa hidup kami di dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “KUASA UNTUK MENGALAHKAN IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT” (bacaan tanggal 23-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 24-9-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 19 September 2015 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH SUNGGUH INGIN BEKERJA DALAM HIDUP KITA

ALLAH SUNGGUH INGIN BEKERJA DALAM HIDUP KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Selasa, 1 September 2015) 

James_Tissot_Healing_Of_A_Demoniac_in_the_Synagague_400Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Lalu tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. (Luk 4:31-37)

Bacaan Pertama: 1 Tes 5:1-6,9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

Pelayanan Yesus menyangkut baik pengajaran dan juga peragaan kuat-kuasa-Nya. Yesus mewartakan kebenaran sehingga dengan demikian kita dapat mulai memahami-Nya dan misi-Nya. Yesus juga memperagakan kuat-kuasa-Nya (bukan untuk pamer) sehingga dengan demikian kita mempunyai bukti yang berwujud bahwa Allah sungguh ingin bekerja dalam hidup kita guna membebaskan kita dari dosa, sakit-penyakit, dan kematian/maut. Kasih Yesus sungguh mencakup segenap aspek hidup kita. Dia ingin agar kita melihat kuat-kuasa-Nya dimanifestasikan dengan cara-cara yang sangat riil dan praktis!

Orang-orang Kapernaum sungguh dibuat takjub dan terkesima oleh otoritas yang dimiliki Yesus, baik dalam ucapan kata-kata maupun tindakan-tindakan-Nya (Luk 4:32,36). Marilah kita membayangkan seakan kita adalah penduduk Kapernaum yang hadir mendengarkan khotbah Yesus yang menawan hati. Yesus berbicara dengan kuat-kuasa yang mampu menarik orang-orang untuk datang kepada-Nya dan merasa bahwa mereka dapat mempercayai-Nya. Ketika Yesus menghardik dan mengusir roh jahat itu, kata-kata yang diucapkan-Nya sungguh memiliki otoritas guna memaksa roh-roh jahat tersebut pergi dari orang yang dirasukinya. Mengapa Yesus memiliki otoritas sedemikian? Dari mana datangnya otoritas tersebut? Sepanjang Injilnya, Lukas menekankan ketergantungan Yesus kepada Bapa dalam doa-doa-Nya, dan keterbukaan-Nya bagi kuat-kuasa Roh Kudus. Karena disposisi-Nya yang penuh kerendahan hati, Yesus mampu untuk menjadi saluran sempurna dari kuat-kuasa Allah untuk menyelamatkan.

ROHHULKUDUSKarena Yesus telah mencurahkan Roh-Nya ke dalam hati kita, maka kita pun dapat mengenal otoritas atas dosa dan kegelapan. Kita dapat mengenal kuat-kuasa dari kata-kata Yesus guna memperlunak hati kita dan membuat kita menjadi saluran-saluran rahmat-Nya bagi orang-orang lain. Selagi kita tetap berada dekat Yesus melalui doa dan ketaatan yang penuh kerendahan hati, maka kita memperkenankan Roh Kudus untuk membentuk karakter Kristus sendiri dalam diri kita. Kita dapat menjadi serupa dengan Yesus dan melakukan hal-hal sama seperti yang telah dilakukan-Nya (lihat Yoh 14:12)! “Kisah para Rasul” berisikan cerita-cerita para murid Yesus yang terdiri dari orang-orang yang biasa-biasa saja, yang mampu melakukan hal-hal luarbiasa karena iman mereka kepada Yesus dan hasrat mereka untuk menyebar-luaskan Injil-Nya.

Allah hanya meminta kita supaya menyerahkan hidup kita kepada Putera-Nya dan dengan rendah hati memperkenankan Roh Kudus bekerja melalui diri kita. Dengan demikian Ia dapat mencurahkan kuat-kuasa-Nya ke dalam diri kita sehingga dengan demikian kita dapat mengalami otoritas-Nya dalam hidup kita dan mendatangkan sukacita dan hidup yang sama kepada orang-orang lain. Ia ingin melakukan hal ini bagi kita semua.

DOA: Tuhan Yesus, kami bergembira dalam otoritas yang Kaumiliki dan kami kagum atas hasrat-Mu untuk memberikan otoritas yang sama kepada kami melalui Roh Kudus-Mu. Tolonglah kami agar dapat tetap rendah hati setiap hari selagi kami belajar menjadi lebih dekat lagi dengan-Mu. Yesus, kami bertekad untuk menjadi murid-murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS VS IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT” (bacaan tanggal 1-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 

Cilandak, 30 Agustus 2014 [HARI MINGGU BIASA XXII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HUKUM KASIH

HUKUM KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius X, Paus – Jumat, 21 Agustus 2015)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKetika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Rut 2:1-3,8-11; 4:13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:34-40

Seorang Farisi yang ahli hukum bertanya untuk mencobai Yesus lewat suatu diskusi mengenai perintah Allah mana yang harus dinilai sebagai hukum yang terutama. Dari 613 perintah-perintah yang ada, yang manakah yang harus paling ditaati? Ini adalah suatu isu yang memang sering diperdebatkan di kalangan para rabi pada masa itu. Tantangan dari orang Farisi itu dijawab oleh Yesus dengan memberikan “ringkasan agung” dari segala ajaran-Nya. Sebenarnya jawaban yang diberikan oleh Yesus itu tidak diformulasikan oleh-Nya sendiri. Bagian pertama: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37) diambil dari Kitab Ulangan (Ul 6:5); sedangkan bagian kedua: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39) diambil dari Kitab Imamat (Im 19:18). Banyak rabi juga mengakui bahwa kedua ayat ini merupakan jantung atau hakekat dari hukum Taurat.

Seperti kita akan lihat selanjutnya, keunikan ajaran Yesus dalam hal ini adalah penekanan yang diberikan oleh-Nya pada “hukum kasih” dan kenyataan bahwa Dia membuatnya menjadi prinsip dasar dari tafsir-Nya atas keseluruhan Kitab Suci: “Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:40).

Mengasihi Allah dengan segenap energi yang kita miliki dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri! Hampir dipastikan hanya sedikit saja orang yang akan memperdebatkan keindahan dari “cita-cita” ini. Namun menghayatinya seperti yang telah dilakukan oleh Yesus sendiri dalam kehidupan-Nya sebagai sang Rabi dari Nazaret, sungguh membutuhkan komitmen yang pantang mundur dan kemurahan hati tanpa batas. Kita bertanya kepada diri sendiri: “Dapatkah aku mempraktekkan kasih seperti itu?”

PETER PREACHINGSalah satu cara terbaik bagi kita untuk memenuhi perintah-perintah Allah ini adalah untuk menawarkan kepada sesama kita anugerah yang sama yang telah mengubah hati kita, yaitu INJIL TUHAN YESUS KRISTUS! Kita mengasihi sesama kita dengan menunjukkan kepada mereka jalan menuju keselamatan dalam Yesus, dan kita mengasihi Allah dengan berjuang terus untuk memanisfestasikan kebaikan-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita.

Syering Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus adalah keharusan bagi kita semua, namun tidaklah semudah itu melaksanakannya, apalagi kalau kita bukan merupakan pribadi yang outgoing, yang mudah bersosialisasi. Kita juga bisa dilanda rasa waswas atau khawatir bahwa orang-orang akan menuduh kita sebagai orang Kristiani yang “ekstrim” (Saya tidak memakai kata “radikal” atau “fanatik”, karena kedua kata ini pada dasarnya  baik menurut pandangan pribadi saya). Akan tetapi, apabila kita memohon Roh Kudus untuk memimpin kita, maka evangelisasi adalah satu dari pengalaman paling indah yang dapat kita miliki, dan menjadi bagian dari kehidupan kita. Pada kenyataannya, aspek evangelisasi yang paling penting terjadi sebelum kita mengucapkan satu patah kata sekali pun kepada siapa saja. Hal ini dimulai pada waktu kita menyediakan waktu dengan Tuhan Allah dalam keheningan, dan mohon kepada-Nya untuk menunjukkan kehendak-Nya: suatu proses discernment. Misalnya, kita dapat berdoa agar Tuhan Allah menerangi kegelapan hati kita dan menganugerahkan kepada kita iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna; juga kita mohon agar kita diberikan perasaan yang peka dan akal budi yang cerah, sehingga kita senantiasa dapat mengenali dan melaksanakan perintah-perintah atau kehendak Allah yang kudus dan tidak menyesatkan.

Dalam suasana doa inilah Allah dapat menolong kita menunjukkan siapa saja di antara anggota keluarga kita atau para teman dan sahabat kita yang terbuka bagi pemberitaan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus. Kita juga tidak boleh lupa untuk berdoa agar orang-orang kepada siapa kita diutus menerima sentuhan Roh Kudus yang akan membuka hati mereka bagi Injil, bahkan sebelum bibir kita mengucapkan kata yang pertama. Kemudian, selagi kita mulai melakukan evangelisasi, kita akan menemukan orang-orang yang memberikan kesaksian mengenai  pengalaman-pengalaman mereka tentang kasih Allah yang kita sendiri sedang wartakan kepada mereka. Allah senang menyiapkan hati orang-orang secara demikian. Lalu, agar kita dapat menjadi instrumen-instrumen penyebaran Injil yang baik dan efektif, sangatlah penting bagi kita untuk mengabdikan diri dalam doa-doa syafaat bagi orang-orang lain. Seorang pewarta Injil atau pelayan sabda yang tidak akrab dengan doa merupakan fenomena yang boleh dipertanyakan.

teresa-webSelagi kita melakukan penginjilan – memberikan kesaksian tentang kasih Kristus kepada orang-orang lain – kita harus senantiasa menyadari bahwa cintakasih itu senantiasa mengatasi dosa. Dengan demikian janganlah sampai kita hanya berbicara kepada mereka yang kita Injili. Yang juga sangat penting adalah bahwa kita pun harus mengasihi orang-orang itu. Kita harus memperhatikan dan menunjukkan bela rasa kepada mereka. Kita memberikan saran-saran mengenai tindakan-tindakan yang perlu mereka lakukan. Dengan sukarela marilah kita menawarkan bantuan kepada  mereka, dan hal ini bukan selalu berarti bantuan keuangan. Lebih pentinglah bagi kita untuk memperkenankan Yesus mengasihi orang-orang lain melalui diri kita daripada menjelaskan Injil secara intelektual kepada mereka, meskipun hal sedemikian penting juga. Selagi kita memperkenalkan dan menawarkan kasih Yesus lewat kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan, kita harus menyadari bahwa kita mensyeringkan anugerah Allah yang terbesar bagi manusia: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita sendiri! Dengan demikian, kita pun akan mengasihi sesama kita dengan kasih Kristus sendiri!

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sudah memakai diriku untuk membawa orang-orang lain ke dalam kasih perjanjian-Mu. Tolonglah aku agar mampu mengenali privilese yang besar ini selagi Engkau membuat diriku menjadi bentara Injil-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang  berjudul “KASIH YANG SEJATI” (bacaan tanggal 21-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 19 Agustus 2015 [Peringatan S. Ludovikus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANGAN-TANGAN KRISTUS

TANGAN-TANGAN KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XV [Tahun B] – 12 Juli 2015) 

YESUS MENGUTUS - MISI YANG DUABELASIa memanggil kedua belas murid itu dan mulai mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat saja, roti pun jangan, kantong perbekalan pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas-kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka, “Kalau di suatu tempat kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Kalau ada suatu tempat  yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka. (Mrk 6:7-13) 

Bacaan Pertama:  Am 7:12-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14; Bacaan Kedua: Ef 1:3-14

Ia memanggil kedua belas murid itu dan mulai mengutus mereka berdua-dua (Mrk 6:7-13).

Sudah cukup banyak umat yang memahami bahwa panggilan Yesus ini ditujukan kepada keseluruhan Gereja: kita semua, yaitu anda dan saya. Sayangnya, tidak sedikit pula umat yang percaya bahwa panggilan Yesus tersebut ditujukan khusus kepada para rasul dan penerus-penerus mereka: para uskup, para imam dan biarawati/biarawan. Pemahaman seperti ini digabung dengan mentalitas manja menggiring mereka untuk bersikap dan berperilaku “romo sentris”: sedikit-sedikit saja romo, apa-apa saja romo. Pokoknya pemegang inisiatif adalah kaum berjubah, umat cukup pasif saja. Masalahnya menjadi bertambah rumit apabila hal yang baru disebutkan di atas bertemu dan bercampur dengan pemikiran kaum berjubah yang tidak memandang diri mereka sebagai pelayan umat, yang menganggap diri mereka lebih berpengetahuan dan berhikmat daripada kaum awam sehingga harus dan pantas disanjung-sanjung, malah yang memandang umat awam sebagai orang-orang bodoh, dlsb. dst.

Pokok persoalan sebenarnya adalah, bahwa semua orang Kristiani – lewat baptisan mereka – dipanggil untuk melaksanakan karya pelayanan kasih dan keadilan di tengah dunia. Salah satu dokumen Konsili Vatikan II, “Dekrit ‘Apostolicam Actuositatem’ (AA) tentang Kerasulan Awam” menyatakan: “Kaum awam menerima tugas serta haknya untuk merasul berdasarkan persatuan mereka dengan Kristus Kepala. Sebab melalui Baptis mereka disaturagakan dalam tubuh mistik Kristus, melalui Penguatan mereka diteguhkan oleh kekuatan Roh Kudus, dan dengan demikian oleh Tuhan sendiri ditetapkan untuk merasul” (AA, 3). Jadi, apakah kita (anda dan saya) adalah seorang ahli hukum, akuntan, dokter dlsb. – kita semua diutus untuk “mewartakan, mengajar, menyembuhkan dan bersaksi terkait Kabar Baik Yesus Kristus”, singkatnya: untuk melakukan evangelisasi.

Bagaimana kaum awam dapat berpartisipasi dalam melanjutkan karya Kristus? Dalam hal ini, dokumen Konsili Vatikan II yang sama mengajar: “Bagi kaum awam terbukalah amat banyak kesempatan untuk melaksanakan kerasulan pewartaan Injil dan pengudusan. Kesaksian hidup Kristiani sendiri beserta amal baik yang dijalankan dengan semangat adikodrati, mempunyai daya-kekuatan untuk menarik orang-orang kepada iman dan kepada Allah” (AA, 6).

Pesan yang disampaikan oleh Dekrit “Apostolicam Actuositatem” adalah, bahwa seorang Kristiani Katolik sejati mempunyai suatu tanggung jawab misioner ke tengah dunia dan bertugas juga untuk memperkuat dan menumbuhkan motivasi saudari-saudaranya yang Kristiani dalam hal penghayatan iman mereka. Tetapi pertanyaannya sekarang, sampai berapa banyak yang telah kita lakukan selama ini? Walaupun kiranya sudah banyak terjadi perbaikan, kita harus akui masih ada banyak orang Katolik yang merasa enggan untuk berbicara mengenai iman mereka dan berbagi pengalaman rohani mereka dengan orang-orang lain. Dalam hal ini tidak ada salahnya kalau kita meminjam sedikit semangat, dedikasi dan entusiasme saudari-saudara Kristiani lainnya dalam mewartakan Injil.

Dalam Perang Dunia II, pasukan Amerika Serikat memasuki sebuah desa Italia yang sudah hancur-hancuran, yang baru saja ditinggalkan oleh pasukan Nazi Jerman yang sedang mundur. Desa ini seperti kebanyakan desa di Italia di bangun di sekeliling sebuah piazza dengan sebuah gereja di satu sisi dan balai desa di sisi lain. Di dalam gereja, umat telah mendirikan sebuah patung Kristus sang Pekerja. Sementara desa itu mengalami penghancuran, patung Kristus ini telah jatuh dari batu penyangganya/tumpuannya, sehingga terpecah-belah menjadi ribuan keping. Untuk meningkatkan semangat penduduk, para serdadu Amerika Serikat melakukan “rekonstruksi” patung Kristus tersebut. Keping demi keping pecahan patung disemen kembali dengan sangat hati-hati, kecuali kedua tangan patung Kristus. Salah seorang serdadu Amerika Serikat tersebut – seorang Katolik yang sungguh beriman Kristiani dengan benar – membuat sebuah plakat di mana dia menulis: “Anda adalah tangan-tangan Kristus.” Siapa saja yang berkesempatan untuk mengunjungi gereja ini masih dapat melihat patung Kristus ini. Plakatnya masih ada dengan kata-kata yang mengingatkan kita apa artinya menjadi orang Kristiani yang Katolik.

Secara fisik Kristus sudah tidak lagi bersama kita. Namun karya evangelisasi-Nya berjalan terus – dalam dan melalui diri kita – karena kita (anda dan saya) sebenarnya adalah “tangan-tangan Kristus”.

DOA: Bapa surgawi, berdayakanlah diriku agar dapat ikut ambil bagian dalam misi Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Ajarlah daku agar dapat peka terhadap bimbiingan Roh Kudus. Bekerjalah dengan penuh kuasa melalui diriku, ya Allahku, karena bagi-Mu tidak ada yang mustahil. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:7-13), bacalah tulisan dengan judul “SEBAGAI RASUL, KITA PUN DIUTUS OLEH-NYA” (bacaan tanggal 12-7-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak, 8 Juli 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIUTUS SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

DIUTUS SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 10 Juli 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Veronika Yuliani, Ordo II (OSCCap.)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk.- Martir 

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Kej 46:1-7,28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-4,18-19,27-28,39-40 

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat 10:16).

Mengikut Yesus banyak memakan “biaya”, mengikut Yesus bukanlah seperti orang berlenggang kangkung. Pesan kepada para murid yang diutus ini adalah pesan kepada Gereja sepanjang masa juga. Menjalani hidup Injili merupakan tantangan langsung bagi kekuatan-kekuatan maut. Oleh karena itu para murid diingatkan untuk membuka mata mereka lebar-lebar dan bersikap serta bertindak bijak.

Sebagian besar bacaan Injil hari ini diambil dari “Khotbah tentang Akhir Zaman” yang diambil dari Injil Markus (lihat Mrk 13:9-13), di mana kata-kata profetis dari Yesus mengingatkan komunitas Kristiani akan segala kerusuhan yang harus mereka ekspektasikan pada hari-hari terakhir dunia ini. Dalam Injil Matius kata-kata Yesus yang sama digunakan dalam pengajaran berkaitan dengan perutusan para rasul guna membantu mengungkapkan berbagai pengalaman negatif yang telah dialami oleh Gereja Perdana, dan dapat diekspektasikan akan terus terjadi selagi Gereja melaksanakan misinya. Penganiayaan, penolakan, perpecahan dalam keluarga: ini kadang-kadang merupakan “biaya”-nya jika kita mau melakukan pewartaan dengan penuh integritas.

Memang untuk menjalani suatu hidup Kristiani yang sejati seringkali berarti menantang dunia dan nilai-nilainya, dengan demikian mengundang cemooh, olok-olok, bahkan pengejaran dan penganiayaan. Seandainya Kekristenan kita kelihatannya atau terasa terlalu nyaman, maka sangat baiklah bagi kita bertanya kepada diri kita sendiri apa yang terjadi selama ini? Bagaimana caranya kita telah berhasil menghindar dari dampak kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini?

Bacaan Injil hari tidak hanya berbicara tentang penderitaan, penganiayaan dan hal-hal yang buruk saja. Mewartakan Injil pada akhirnya juga ikut menikmati sukacita dan keyakinan seperti yang dialami Yesus sendiri. Roh Bapa akan berkata-kata di dalam diri kita sehingga fasih berbicara (Mat 10:20), dan tugas para murid akan berakhir dengan kedatangan kembali “Anak Manusia” ke dunia (Mat 10:23).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah diriku agar mau dan mampu mewartakan Injil-Mu dengan berani, sebagai garam bumi dan terang dunia bagi orang-orang yang kujumpai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN MENUJU KEMULIAAN YANG BERLIKU-LIKU” (bacaan tanggal 10-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak, 7 Juli 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 153 other followers