Posts from the ‘EVANGELISASI’ Category

SUATU PERJANJIAN YANG BARU

SUATU PERJANJIAN YANG BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH I [Tahun B] 18 Februari 2018)

Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu selama empat puluh hari Ia dicobai oleh Iblis. Ia tinggal bersama dengan binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:12-15)

Bacaan Pertama: Kej 9:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: 1Ptr 3:18-22

Sebelum dunia dijadikan, Allah mengenal kita, mengasihi kita dan Dia memanggil kita untuk mengenal dan mengasihi-Nya. Perjanjian Lama menggambarkan sejumlah perjanjian yang dibuat Allah dengan umat-Nya untuk menyiapkan mereka agar dapat menerima kehidupan-Nya secara lebih penuh. Akan tetapi, lagi-lagi umat Allah gagal memelihara perjanjian Allah dengan mereka. Sebagai konsekuensinya, mereka memisahkan diri dari kasih Allah dan perlindungan-Nya.

Namun demikian Allah sedemikian mengasihi dunia sehingga ketika saat-Nya tiba Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal, untuk mengajar, untuk menyembuhkan mereka yang sakit dan akhirnya untuk mati; dengan demikian mengadakan perjanjian yang baru dan kekal dalam darah-Nya. Ini adalah perjanjian baru yang dijanjikan oleh Allah melalui nabi Yehezkiel: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya”  (Yeh 36:26-27).

Kita masuk ke dalam perjanjian yang baru ini pada waktu dibaptis; dan lewat hidup iman kita memperkenankan Roh Kudus untuk mempersatukan kita dengan Yesus lebih penuh lagi setiap hari. Kita menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Dengan mati bersama Dia, bukan kita lagi yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri kita (lihat Gal 2:20).

Mukjizat baptisan ke dalam suatu perjanjian yang baru ini telah digambarkan jauh hari sebelumnya oleh Perjanjian  Lama dengan banyak cara. Akan tetapi tidak ada yang lebih berwarna-warni daripada kisah Nuh (lihat bacaan pertama: Kej 9:8-15; baca juga keseluruhan Kej 6-9). Dari hari-hari awalnya, Gereja telah melihat dalam banjir yang dikisahkan itu suatu jenis air baptis, yang menyingkirkan dosa-dosa daging dan memberikan umat manusia suatu awal yang baru.

Yang dimaksudkan dengan awal baru kita dalam baptisan adalah keikutsertaan dalam hidup Yesus sendiri. Seperti ketika Yesus dicobai di padang gurun selama 40 hari, kita juga akan mengalami saat pencobaan dan pertumbuhan. Allah memberikan kepada kita saat-saat seperti itu untuk mengajarkan kita melakukan penyerahan diri kita kepada-Nya secara lebih penuh, dan menunjukkan betapa setia Dia pada janji-janji-Nya. Dia begitu mengasihi kita sehingga tak akan pernah membuang kita. Yang diminta oleh-Nya hanyalah bahwa kita menaruh kepercayaan kepada-Nya – seperti telah ditunjukkan oleh Nuh dan keluarganya – untuk menjaga kita di tengah-tengah hujan badai.

DOA: Bapa surgawi, ucapkanlah kata-kata perjanjian cinta kasih-Mu kepada kami pada saat teduh ini. Oleh Roh-Mu tolonglah kami untuk menaruh kepercayaan secara lebih penuh kepada-Mu, sehingga – seperti Putera-Mu Yesus, kami dapat menjadi bentara-bentara kerajaan-Mu di muka bumi ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:12-15), bacalah tulisan yang berjudul “SAATNYA TELAH GENAP; KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT” (bacaan tanggal 18-2-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

Cilandak,  15 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

KEDUA BELAS RASUL DIUTUS OLEH YESUS

KEDUA BELAS RASUL DIUTUS OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Kamis, 1 Februari 2018) 

Ia memanggil kedua belas murid itu dan mulai mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat saja, roti pun jangan, kantong perbekalan pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas-kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka, “Kalau di suatu tempat kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Kalau ada suatu tempat  yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka. (Mrk 6:7-13) 

Bacaan Pertama:1 Raj 2:1-4,10-12; Mazmur Tanggapan: 1 Taw 29:10-12 

Sungguh suatu momen yang exciting bagi kedua belas rasul! Yesus memanggil mereka dan mengutus mereka ke luar untuk memulai misi untuk mana Dia memilih mereka. Dua belas rasul itu adalah pribadi-pribadi yang harus melaksana misi Yesus, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang serupa dengan pekerjaan-pekerjaan dalam pelayanan Yesus sendiri: mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, mengusir roh-roh jahat, mengurapi orang sakit dan menyembuhkan mereka (lihat Mrk 6:13).

Dua belas rasul ini sudah sekian lama dekat dengan Yesus – segalang-segulung – praktis sejak awal karya pelayanan-Nya di depan umum. Mereka menyaksikan mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran yang dibuat-Nya, malah diajar secara khusus oleh Yesus dengan penjelasan-Nya secara personal tentang perumpamaan-perumpamaan-Nya. Saat penuh keakraban ini dimaksudkan untuk mempersiapkan dua belas rasul ini guna diutus sebagai wakil-wakil resmi Yesus, membawa hidup-Nya ke tengah dunia. Kata dalam bahasa Yunani apostolos berarti “duta”, atau seorang yang diutus.

Kedekatan persekutuan yang mereka nikmati bersama Yesus dan tanggung-jawab yang dipercayakan Yesus kepada mereka menjadi semakin dipenuhi teka-teki karena fakta menunjukkan bahwa mereka sering tidak memahami siapa diri Yesus. Benih-benih ketidakpahaman ini dapat terlihat  sebelumnya ketika para rasul tidak mampu memahami perumpamaan-perumpamaan Yesus dan bagaimana mereka terheran-heran penuh takjub ketika Yesus menenangkan badai di danau (Mrk 4:35-41). Penjajaran cerita tentang posisi para rasul yang penting dan ketiadaan pemahaman mereka itu jelas sepanjang Injil Markus. Akhirnya terbuktilah bahwa pemahaman benar tentang Yesus hanya datang melalui efek-efek dari kematian dan kebangkitan Yesus sendiri serta pengutusan Roh Kudus.

Yesus mengetahui benar kelemahan-manusiawi dari para rasul-Nya. Oleh karena itu Yesus memberi instruksi kepada dua belas rasul berkaitan dengan misi mereka. Yesus memberi petuah kepada mereka untuk tidak membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, melainkan untuk mengandalkan diri pada Allah  dan hospitalitas orang-orang yang akan mendengar dan menerima pelayanan mereka. Yesus menekankan ketergantungan kepada Allah dan urgency dari karya misioner para rasul (Mrk 6:8-10). Hal ini bertentangan dengan kecenderungan kita yang normal untuk mementingkan kepentingan kita dan menggantungkan diri pada berbagai sumber daya yang kita miliki, bahkan ketika berupaya untuk melayani Allah dan melakukan pekerjaan-Nya. Kondisi manusiawi kita  adalah untuk mencoba mengendalikan Allah dan membuat agar Dia cocok ke dalam hidup kita dan rencana-rencana kita.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus. Bukalah pikiran dan hati kami dan berikanlah kepada kami pemahaman mendalam tentang siapa Yesus itu dan suatu hasrat untuk melaksanakan pekerjaan yang diberikan-Nya kepada kami. Tolonglah kami untuk melepaskan kendali atas hidup kami agar kami dapat lebih penuh lagi menaruh kepercayaan kepda Allah dan perhatian-Nya kepada kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil (Mrk 6:7-13), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERKENANKAN ALLAH BEKERJA MELALUI DIRI KITA” (bacaan tanggal 1-2-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013] 

Cilandak, 28 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA IV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SAATNYA TELAH GENAP; ……

SAATNYA TELAH GENAP; ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA III [TAHUN B],  21 Januari 2018)

Hari Keempat Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” 

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, Ia melihat Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia. (Mrk 1:14-20) 

Bacaan Pertama: Yun 3:1-5,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: 1Kor 7:29-31

Yesus mengawali karya pelayanan-Nya di Galilea dengan memberitakan Kabar Baik: “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”  (Mrk 1:15). Kata-kata ini begitu akrab terdengar bagi telinga kita, sehingga terdapat bahaya kita dengan mudah mendengarnya sekadar pada tingkat permukaan saja – superficial – tanpa mencoba untuk merenungkannya dengan lebih mendalam lagi perihal makna kata-kata itu. Namun demikian, sebenarnya Allah ingin mewahyukan kepada kita misteri-misteri kerajaan-Nya apabila kita mau berusaha memahaminya, seperti ditulis oleh Santo Paulus dalam penutupan salah satu suratnya:

“Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, – menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan penyingkapan rahasia, yang tersembunyi berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman – bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, melalui Yesus Kristus: Segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin”  (Rm 16:25-27).

Titik awal yang baik adalah mengembangkan kebiasaan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah selagi kita membaca dan merenungkan nas-nas Kitab Suci. Misalnya apa yang dimaksudkan dengan “saatnya telah genap” dan “kerajaan Allah sudah dekat”? Dan, apa pula maksudnya “Injil”  atau “Kabar Baik” itu? Yesus memproklamasikan bahwa pemerintahan Allah telah mulai berkuasa pada saat Dia masuk ke dalam dunia  dan memulai pelayanan-Nya di muka bumi ini. Yesus sendiri sebenarnya adalah Kabar Baik Allah sebagai seorang pribadi. Kabar Baik sebenarnya adalah bahwa demi cinta kasih-Nya yang demikian besar kepada kita, Putera Allah datang untuk menyelamatkan kita dari kuasa-kuasa kegelapan, dosa dan maut. Secara pribadi Dia membayar harga dosa-dosa kita lewat kematian-Nya di kayu salib dan membangkitkan kita ke dalam suatu hidup baru dengan Dia.

Yesus mengatakan kepada Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”  (Mrk 1:17). Panggilan pemuridan ini tentunya sangat menarik dan sangat menantang bagi para penjala ikan itu. Yesus minta mereka untuk melepaskan segalanya yang familiar dan nyaman – gaya hidup keseharian mereka, daerah tempat tinggal mereka, bahkan keluarga-keluarga mereka – untuk mengikuti Dia. Tak salah kalau kita memuji para murid Yesus yang pertama ini; tanggapan mereka begitu langsung dan total. Mereka meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus dan memang ternyata pada gilirannya mereka sungguh menjadi para penjala manusia.

Yesus memanggil masing-masing dari kita untuk menjadi murid-Nya. Hal ini dapat meresahkan kita karena kita tidak tahu dengan pasti ke mana kita akan dibawa oleh-Nya. Tetapi Yesus menjanjikan bahwa Dia akan selalu menyertai kita (Mat 28:20). Yang diminta oleh-Nya hanyalah jawaban “YA” dari kita kepada-Nya setiap hari. Kemudian, karena diberdayakan oleh Roh Kudus, kita pun mampu menjadi penjala manusia.

DOA: Tuhan Yesus, kami menyerahkan hati kami kepada jamahan penyembuhan-Mu. Kami menyambut Engkau ke dalam hati kami dan berkata “ya” kepada panggilan-Mu untuk mengikuti jejak-Mu dan untuk menarik orang-orang lain mengenal-Mu, mengasihi-Mu dan melayani-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:14-20), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MEMANGGIL KITA” (bacaan tanggal 21-1-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 18 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOA SYUKUR YESUS DAN KEBENARAN INJIL

DOA SYUKUR YESUS DAN KEBENARAN INJIL

(Bacaan Pertama, Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Selasa, 5 Desember 2017) 

Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”  (Luk 10:17-24) 

Bacaan Pertama: Yes 11:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,7-8,12-13 

Yesus dan para murid-Nya penuh sukacita pada waktu para murid-Nya kembali dari misi mereka, namun berdasarkan alasan yang berbeda. Para murid bergembira karena mengalami kuasa Allah bekerja dalam diri mereka (Luk 10:17). Mereka telah berhasil menyembuhkan orang-orang sakit dan membebaskan mereka yang kerasukan roh-roh jahat. Kita dapat membayangkan bagaimana para murid yang masih merasa takjub akan apa saja yang baru mereka alami, saling berkata satu sama lain: “Hei, Injil memang bukan omong kosong; Injil memang mempunyai kuat-kuasa. Kuat kuasa dari Allah sendiri!”

Karena untuk itulah mereka diutus oleh-Nya (lihat Luk 10:1-12), Yesus tentu juga bergembira mendengar kesuksesan para murid. Namun ternyata Yesus merasa perlu untuk mengoreksi sikap para murid-Nya, karena mereka berada dalam bahaya kehilangan kemampuan melihat apakah alasan yang paling penting bagi mereka untuk bersukacita, yaitu bahwa para murid – dengan berhasilnya menunaikan tugas misi mereka – telah menjadi warga Kerajaan Surga dan akan bersama-Nya selama-lamanya. Yesus bersabda dengan tegas: “ Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga” (Luk 10:20). Berbagai tanda heran yang diperagakan  dalam peristiwa pengusiran roh-roh jahat atau penyembuhan penyakit kadangkala memang bersifat sensasional, namun sebenarnya bukan Kerajaan Surga itu sendiri, melainkan hanya merupakan suatu bagian dari kehidupan Kerajaan Surga.

Tidak seperti para murid-Nya, Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya untuk hal paling penting yang tercapai dalam misi para murid: Kebenaran Injil telah dinyatakan kepada orang-orang, baik lewat kata-kata maupun perbuatan. Kata-kata yang mengoreksi sikap para murid dan doa syukur-Nya kepada Bapa surgawi menunjukkan apa sebenarnya yang ada dalam jantung Kristianitas. Secara dasariah Kristianitas adalah masalah pernyataan Roh Kudus dan kewargaan kita dalam Kerajaan Surga. Segalanya yang lain merupakan perkembangan dari dua karunia yang indah ini. Sebagai seorang Kristiani, kita masing-masing telah dipilih-Nya untuk menjadi seorang warga Kerajaan Surga. Kepada kita masing-masing telah diberikan privilese untuk menerima pernyataan Roh Kudus dan untuk mengetahui sentuhan Allah di hati kita. Kita masing-masing diundang tidak hanya untuk menjadi seorang abdi Allah yang memiliki kuasa-Nya demi Kerajaan Surga, melainkan Dia juga ingin mencurahkan kepada kita afeksi-Nya sebagai seorang Bapa yang memperhatikan serta memelihara anak-anak-Nya. Warisan pertama yang kita dapatkan sebagai murid-murid Yesus adalah mempunyai relasi pribadi dengan Allah sekarang, ketika kita masih berada di bumi ini. Warisan kedua adalah kita mendapat janji untuk hidup bersama dengan Dia selama-lamanya. Semoga warisan-warisan ini membuat kita terus bertekun dalam mengasihi dan melayani Allah.

DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih kepada-Mu karena Engkau telah menulis nama kami masing-masing dalam Kitab Kehidupan. Kami memuji-muji Engkau karena menyatakan diri-Mu kepada kami oleh Roh Kudus-Mu. Kami bersukacita dalam karunia-karunia Roh-Mu. Terima kasih Bapa, untuk kerahiman-Mu dan rahmat-Mu dalam hidup kami masing-masing. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 11:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH DUNIA YANG PENUH KEDAMAIAN” (bacaan tanggal 5-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009) 

Cilandak, 4 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 21 Oktober 2017)

Ordo Santa Ursula (OSU): Hari Raya S. Ursula, Perawan, Pelindung Tarekat 

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Rm 4:13,16-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:6-9,42-43 

Kebaktian gereja di Munich, Jerman, telah selesai, ketika tiba-tiba perempuan itu melihat laki-laki itu; mantan prajurit SS Nazi yang bertugas menjaga di dekat pintu kamar mandi di kamp konsentrasi Ravensbruck. Banyak tahun telah berlalu, namun memori-memori membanjiri pikiran perempuan itu – ruangan yang penuh berisi laki-laki yang mengolok-olok dirinya, tumpukan baju, rasa takut yang bercampur dengan marah dan malu. Pada suatu hari, setelah baru saja menyelesaikan ceramahnya, seorang laki-laki muncul dari antara orang-orang yang hadir dan mendatanginya dan berkata kepada perempuan itu, “Betapa penuh syukur saya mendengar pesan anda, …… berpikir bahwa Yesus telah membasuh bersih dosa-dosaku!”

Mula-mula perempuan ini, yang sudah begitu sering berceramah tentang betapa perlunya mengampuni, tidak mau mengulurkan tangannya ketika laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk menyalaminya. Merasakan keengganan dirinya, kemudian perempuan itu memohon kepada Yesus untuk menolongnya mengampuni laki-laki itu. Tanpa mampu tersenyum sedikit pun, perempuan itu berdoa lagi: “Yesus, aku tidak dapat. Berikanlah pengampunanmu kepadaku.” Pada akhirnya, selagi dia berjabatan tangan dengan laki-laki itu, “terjadilah suatu hal yang luar biasa. Dari pundakku terus melewati lengan dan tanganku, terasa adanya sesuatu yang mengalir dari diriku kepada orang itu, sementara dari ke dalam hatiku mengalirlah keluar cintakasih bagi orang asing ini, hal mana hampir membuat aku ‘kewalahan’ karena karena rasa gembira yang penuh ketakjuban.”

Perempuan itu adalah Corrie ten Boom. Siapa yang dapat menyalahkan Corrie untuk sikapnya yang tidak mau mengampuni? Keluarganya dihabiskan oleh para penguasa Nazi hanya karena mereka adalah orang-orang Kristiani yang menyembunyikan orang-orang Yahudi dari pengejaran para penguasa Nazi tersebut. Akan tetapi, melalui rahmat Allah yang bersifat supernatural, Corrie dimampukan untuk dapat melihat melampaui rasa sakit hatinya dan berpaling kepada Yesus dalam momen pengambilan keputusan yang krusial.  Sebagai bukti kebenaran-kebenaran dari hal-hal yang telah disyeringkan olehnya kepada orang-orang lain, sikap dan tindakan sederhana Corrie terhadap mantan-penganiayanya menunjukkan, bahwa belas-kasih dapat menang-berjaya atas penghakiman.

Apakah mereka mengetahuinya atau tidak – dan apakah kita mempersepsikannya atau tidak – sebenarnya setiap insan (Nazi, komunis, atheis, agnostik dlsb.) memiliki kerinduan untuk mengenal Injil. Itulah sebabnya, mengapa Allah memanggil kita masing-masing untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Itulah sebabnya, mengapa Dia memberikan kepada kita berbagai kesempatan setiap hari untuk menyebarkan Kabar Baik-Nya kepada para anggota keluarga kita, para sahabat kita, para rekan-kerja kita dll. Evangelisasi tidak perlu sulit-sulit amat! Evangelisasi dapat sama sederhananya dengan percakapan sehari-hari. Dengan tetap berada dekat dengan Yesus membuat kita terus terbuka bagi gerakan-gerakan Roh-Nya. Dengan demikian, Injil yang kita hayati dalam kehidupan kita akan menarik banyak orang kepada Allah. Marilah kita menjaga diri kita agar tetap terbuka bagi Roh Kudus dan senantiasa mengingat kebenaran yang satu ini: yaitu bahwa Roh Kudus inilah yang melakukan evangelisasi, bukan kita. Roh Kudus Allah-lah yang sesungguhnya merupakan SANG PEWARTA, Dia yang senantiasa bekerja di belakang layar.

DOA: Roh Kudus yang penuh kuasa dan kasih, berikanlah kepadaku hati seorang penginjil. Semoga diriku senantiasa mencerminkan kebenaran-kebenaran Injil. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “KERAJAAN ALLAH HADIR APABILA ROH KUDUS MEMILIKI KEBEBASAN UNTUK BEKERJA” (bacaan tanggal 21-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 18 Oktober 2017 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SANG TABIB PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL

SANG TABIB PENULIS INJIL DAN KISAH PARA RASUL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Lukas, Penulis Injil – Rabu, 18 Oktober 2017)

 

Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” (Luk 10:1-9) 

Bacaan Pertama: 2Tim 4:10-17b; Mazmur: Mzm 145:10-13,17-18

Hari ini kita merayakan Pesta Santo Lukas, penulis “Injil Lukas” dan “Kisah para Rasul”. Dari sedikit informasi yang kita miliki tentang Lukas, dapat dikatakan bahwa dia bukanlah seorang Yahudi, dia berpendidikan tinggi dan berlatar-belakang budaya helenis (Yunani), dan seorang dokter/tabib. Ia menanggapi dengan sepenuh hati panggilan Tuhan. Jelas Lukas bukan salah satu dari dua belas rasul, namun dia tabah dan setia dalam mengikuti jejak Tuhan dan dengan berupaya sepenuh hati untuk belajar lebih tentang Tuhan Yesus Kristus dari para saksi mata (lihat Luk 1:1-4). Lukas menjadi seorang beriman Kristiani lewat Kabar Baik yang diberitakan para murid Yesus yang lebih “senior” daripada dirinya sendiri. Kemudian, setelah diberdayakan oleh Roh Kudus, Lukas berpartisipasi dalam pelaksanaan Amanat Agung Kristus yang sudah bangkit (Mat 28:18-20).  Lukas melakukan perjalanan misi bersama Santo Paulus sebagai seorang anggota tim-misionarisnya dan membuat Yesus dikenal di Timur Dekat dan Eropa, dengan biaya yang cukup tinggi, yaitu karirnya sendiri sebagai seorang tabib.

Dalam kehidupan pelayanan-Nya di dunia, Yesus mengutus 70 (tujuh puluh) orang murid-Nya, malah ada manuskrip-manuskrip kuno yang mengatakan 72 [tujuh puluh dua] orang. Mereka diutus untuk apa? Untuk mengumumkan, bahwa: “Kerajaan Allah sudah dekat padamu” (Luk 10:1-9). Lukas menanggapi seruan itu dengan sebuah hati yang terbuka, dia memperkenankan Roh Kudus untuk mengubah hidupnya. Ketika Tabib Lukas menyadari bahwa Kerajaan Allah sudah datang, dia berbalik dari suatu kehidupan nyaman dan sukses sebagai tabib profesional, dan kemudian mengabdikan dirinya kepada karya evangelisasi sesuai dengan panggilan Allah.

Kita semua juga dipanggil oleh Allah. Adalah suatu kepastian bahwa Allah mempunyai sebuah rencana bagi kita masing-masing. Ketika berkhotbah dalam rangka perayaan Santo Lukas pada tahun 1985, almarhum Paus Yohanes Paulus II (sekarang sudah seorang Santo) mengatakan: “Setiap orang Kristiani harus sadar bahwa dia adalah seorang pesuruh dan seorang rasul, seorang yang menyebar-luaskan iman-kepercayaan.” Kepada siapa? Tidak hanya kepada orang-orang lain yang jauh. Di rumah kita masing-masing, di lingkungan gereja kita masing-masing, di tempat kerja kita masing-masing, di tempat kita masing-masing berbelanja: di mana saja dan kapan saja, kita dipanggil untuk menjadi rasul-rasul. Sri Paus mengatakan lagi: “Setiap orang harus sadar bahwa dia adalah seorang pribadi yang di dalam dirinya api iman telah dinyalakan – api yang … di-‘takdir’-kan untuk bersinar sehingga semua orang dapat memperoleh terang cahaya dan panas daripadanya.”

Kita harus ingat selalu, bahwa panggilan kita adalah dari Allah yang mahakuasa. Pada malam sebelum sengsara dan kematian-Nya, Yesus bersabda kepada para murid-Nya: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu……… , supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh 15:16). Lukas dipanggil untuk melakukan perjalanan jauh bersama Santo Paulus; di bawah naungan Roh Kudus dia membuat catatan yang dapat dipertanggung-jawabkan tentang kelahiran Kekristenan, dan menurut tradisi dia pun mengalami kematian sebagai seorang martir Kristus di Akhaya, tidak lama setelah kemartiran Santo Paulus.

Kita memang sudah tahu bahwa kita dipanggil oleh Allah, namun seringkali kita masih saja mempunyai pikiran yang bernada negatif: “Aku tidak pernah dapat menjadi Santo Lukas. Dia kan lain. Dia hidup pada zaman yang lain samasekali!” Dalam hal ini mungkin kata-kata penuh hikmat yang pernah diucapkan oleh Bunda Teresa dari Kalkuta (sekarang sudah seorang Santa) dapat menolong kita. Seorang pengunjung di Kalkuta berkata kepada Bunda Teresa: “Bunda, engkau telah melakukan sedemikian banyak bagi orang-orang miskin. Engkau membawa Injil cintakasih kepada orang-orang lain dengan begitu banyak cara. Saya tidak pernah akan sanggup melakukan hal-hal seperti yang telah Bunda lakukan.” Bunda Teresa menjawab: “Mungkin saya melakukan apa yang anda tidak dapat lakukan, namun anda dapat melakukan hal-hal yang saya tidak dapat lakukan. Bersama-sama kita dapat melakukan sesuatu yang indah bagi Allah.” Sejalan dengan jawaban Bunda Teresa tadi, almarhum Paus Yohanes Paulus II juga mengatakan: “Kita dipanggil, masing-masing dengan cara yang berlainan, untuk pergi dan menghasilkan buah; untuk masuk ke dalam suatu relasi cintakasih dengan Yesus, sebagai murid yang aktif dan setia.”  Marilah kita menanggapi panggilan Allah itu dengan sepenuh-hati, dengan keikhlasan, dengan ketulusan hati yang tidak perlu diragukan lagi. Sebagai orang Kristiani kita diutus oleh Yesus untuk menyebar-luaskan Kabar Baik, bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Allah memiliki hasrat untuk memasukkan kita ke dalam barisan para pekerja ke kebun anggur-Nya. Yang perlu kita lakukan hanyalah membuka hati kita dan berkata: “Ya Tuhan, aku mau melakukan kehendak-Mu.”

Kalau demikian halnya, bagaimana harus kita memulainya? Kita harus mulai bersama Yesus sendiri. Memberitakan kepada orang-orang lain tentang Tuhan berarti bangkit keluar dari relasi kita sendiri dengan Dia. Kalau kita setiap hari menyediakan waktu cukup untuk berdoa kepada-Nya, mendengarkan apa yang dikatakan-Nya kepada kita serta mempraktekkannya, maka upaya kita untuk berbicara tentang Dia kepada orang lain menjadi suatu tindakan yang natural. Dalam kesempatan ini ingatlah bahwa seseorang tidak dapat memberikan “sesuatu” kepada orang-orang lain, kalau dia sendiri tidak memiliki “sesuatu” itu. Kalau kita gantikan kata “sesuatu” itu dengan “Yesus”, maka kita dapat menyadari pentingnya arti “pengalaman akan Allah/Yesus” sebagai syarat awal setiap upaya seseorang untuk mulai melakukan evangelisasi.

Kita tidak perlu melakukan perjalanan jauh-jauh seperti yang telah dilakukan oleh Santo Lukas dan Santo Paulus sekitar 1.900 tahun lalu, karena kita mempunyai banyak sekali peluang untuk memberitakan Injil. Setiap hari kita mempunyai kesempatan untuk memberikan diri kita sendiri, untuk bercerita kepada orang-orang lain bahwa Allah mengasihi mereka,  kita berdoa untuk mereka dan berbagi iman-kepercayaan kita dengan mereka. Romo Gino Henriques CSsR, Director dari ‘Evangelization 2000’ untuk Asia-Oceania, yang berkedudukan di Singapura, mempunyai sejumlah cerita aktual tentang upaya umat dalam evangelisasi. Hal-hal kecil yang dilakukan sungguh dapat menghasilkan buah. Satu cerita: ada seorang perempuan setengah baya yang bekerja di dapur pastoran. Pada suatu hari Romo Gino bertemu dengan perempuan itu di halaman Gereja yang kelihatan sedang bergegas mau pergi. “Ketangkap basah”’, perempuan itu mulai “mengaku dosa”. Sebenarnya, dia sedang mau pergi menemui seseorang yang memerlukan pendampingan rohani, karena dalam keadaan sangat sulit. Perempuan itu mengaku, bahwa manakala pelajaran evangelisasi sedang berlangsung di aula paroki, secara diam-diam dia juga mencuri-dengar apa yang diajarkan dan didiskusikan di dalam kelas. Dia juga mencatat apa-apa yang perlu. Ternyata perempuan yang akan dikunjunginya bukanlah “pasiennya” yang pertama. Perempuan petugas dapur pastoran yang tidak berpendidikan tinggi itu ternyata seorang penginjil kaliber jawara. Sungguh agung karya Roh Kudus!

Seperti halnya dengan Santo Lukas dan semua misionaris Gereja Perdana, kita tidak pernah boleh merasa takut dan ciut. Ingatlah bahwa Dia menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman (Mat 28:20). Marilah kita terus bertekun dalam upaya kita memberitakan Injil kepada orang-orang di sekeliling kita. Ingatlah yang satu ini, yaitu bahwa Injil atau Kabar Baik adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm 1:16).

DOA: Ya Allah, ya Tuhan kami, Engkau telah memilih Santo Lukas untuk mewartakan dengan lisan dan tulisan rahasia cintakasih-Mu kepada kaum miskin dan papa. Semoga kami pun dapat bermegah dalam nama-Mu dan bertekun sehati dan sejiwa, supaya semua bangsa melihat keselamatan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk melihat uraian tentang Bacaan Pertama hari ini (Rm 4:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA LUKAS YANG TINGGAL DENGAN AKU” (bacaan tanggal 18-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009) 

Cilandak, 16 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu Rosario – Sabtu, 7 Oktober 2017)


Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”  (Luk 10:17-24) 

Bacaan Pertama: Bar 4:5-12,27-29; Mazmur 69:33-37 

Baru saja kembali dari misi mereka, para murid Yesus bersukacita karena kuasa luarbiasa yang telah diberikan Yesus kepada mereka untuk menolong orang-orang yang sakit dan tertindas. Namun Yesus dengan cepat mengingatkan para murid-Nya yang terdiri dari 70 orang itu, bahwa janganlah mereka sibuk memikirkan apa yang telah diberikan oleh-Nya untuk memberdayakan mereka. Yang benar adalah, bahwa mereka bersukacita karena Dia, sumber kuat-kuasa yang sekarang ada dalam diri mereka dan juga pencinta jiwa-jiwa mereka.

Yesus ingin agar para misionaris “yunior” ini menghargai nilai-tertinggi keberadaan mereka bersama dengan diri-Nya. Para murid ini mempunyai privilese berdiam berjam-jam lamanya mendengarkan pengajaran-Nya dan belajar mengenai cintakasih-Nya. Para murid memiliki sukacita mengetahui bahwa Yesus telah membuka “jalan kepada Bapa” bagi mereka. Nama-nama mereka telah “terdaftar di surga” (Luk 10:20). Bukankah hal ini merupakan sebuah alasan yang jauh lebih besar dan penting untuk kegembiraan mereka?

Santa Bunda Teresa dari Kalkuta pada suatu kesempatan mengatakan, “Panggilanku didasarkan pada fakta bahwa aku milik Yesus. Hal itu berarti mengasihi Dia dengan perhatian dan kesetiaan yang tak terpecah-pecah. Pekerjaan yang kami lakukan tidak lebih daripada suatu sarana untuk mentransformir kasih kami kepada Kristus ke dalam sesuatu yang konkret.”

Sebagaimana para murid Yesus, kita pun seringkali mengalami kesulitan berurusan dengan tegangan antara melaksanakan tugas-tugas yang telah diberikan Allah kepada kita dan mengembangkan relasi kita dengan Yesus. Seringkali kita mengalami tegangan yang sama dalam hal relasi kita dengan orang-orang lain: Kita tergoda untuk menerapkan cara-cara fungsional dalam memecahkan masalah-masalah dengan pasangan hidup kita, anak-anak kita, para sahabat terdekat kita ……; padahal bertumbuh dalam kasih dan persatuan harus menjadi prioritas lebih utama daripada sekadar melaksanakan tugas-tugas kita.

Apabila kita membuka hidup kita bagi Yesus dan memperkenankan pernyataan diri-Nya meresap ke dalam hati dan pikiran kita, maka kita akan mulai mengenal kekayaan hikmat-Nya dan kasih-Nya. Sabda Allah dalam Kitab Suci akan terbuka bagi kita. Pola-pola pemikiran dan tindakan yang keliru akan disembuhkan. Kita akan berpaling kepada Roh-Nya untuk memohon pertolongan-Nya dalam mengambil keputusan-keputusan penting sepanjang hari. Kita yang lemah dapat menjadi kuat melalui relasi kita dengan Yesus. Kita yang miskin dapat menjadi kaya. Kita yang tuli dapat mendengar. Dan kita yang buta dapat melihat.

Marilah kita mulai pada hari ini. Marilah kita membuka hati kita bagi Yesus dalam doa-doa kita dan dalam pembacaan dan permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Marilah kita menyambut-Nya ke dalam setiap aspek kehidupan kita dan mohon kepada-Nya untuk mencerminkan kehadiran-Nya kepada setiap orang yang kita jumpai.

DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mataku lebih lebar lagi agar dapat melihat Yesus. Tolonglah aku untuk memandang Yesus sebagai Pribadi di atas segala segalanya yang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “AKU BERSYUKUR KEPADA-MU, BAPA, TUHAN LANGIT DAN BUMI” (bacaan tanggal 7-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 5 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS