Posts from the ‘EVANGELISASI’ Category

KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS

KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Rabu, 13 April 2016)

KEBERANIAN PETRUS DAN YOHANES - KIS 4Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.

Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitahukannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh  dan orang timpang disembuhkan. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu (Kis 8:1b-8).

Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7; Bacaan Injil: Yoh 6:30-35

Setelah pembunuhan Stefanus secara brutal, mulailah penganiayaan yang hebat terhadap umat Kristiani di Yerusalem. Kecuali para rasul, umat tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria (lihat Kis 8:1). Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil mewartakan Injil Yesus Kristus (lihat Kis 8:4).

“Yesus telah bangkit, dan kita adalah saksi-saksi-Nya (lihat Kis 1:8; 2:32; 3:15; 4:33; 10:41; 13:31). Dalam Masa Paskah ini, apakah kita (anda dan saya) patuh pada Yesus yang telah bangkit dengan memberikan kesaksian tentang diri-Nya?

Paulus menulis kepada jemaat di Tesalonika: “Janganlah padamkan Roh” (1 Tes 5:19). Jikalau kita (anda dan saya) tidak memberikan kesaksian atau tidak begitu memberikan kesaksian, berarti kita mencekik Roh Kudus, dan kita membiarkan diri kita:

  • direkayasa agar supaya takut ditertawakan orang lain (Kis 2:12-13);
  • ditakut-takuti dengan ancaman (Kis 4:18);
  • sibuk dengan masalah pribadi, keluarga atau komunitas kita sendiri (Kis 6:1 dsj.);
  • mengalami trauma atas kematian dari salah seorang yang kita kasihi (Kis 8:2), atau
  • tergoncang oleh adanya pengejaran dan penganiyaan (Kis 8:1,3).

Adalah suatu kenyataan bahwa Iblis terus-menerus menentang upaya kita untuk bersaksi. Dari kenyataan ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa memberi kesaksian tentang Yesus memang mempunyai kuat-kuasa yang sanggup mengubah hidup orang dan mengubah dunia.

Tuhan Yesus telah memberikan kepada kita kuat-kuasa untuk mengalahkan segala gangguan dan upaya perlawanan dari si Jahat. Seperti ditulis oleh penulis surat Yohanes: “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yoh 4:4). Rahmat Allah jauh lebih dari cukup! Seperti jawab Tuhan kepada Santo Paulus: “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9).

Saudari dan Saudaraku, marilah kita berdoa untuk menerima karunia yang akan membuat kita berani untuk bersaksi tentang Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.

DOA: Bapa surgawi, aku percaya bahwa Engkau menganugerahkan kepada anak-anak-Mu bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Dengan demikian aku tidak akan malu bersaksi tentang Tuhan Yesus dan ikut menderita bagi Injil-Nya (2 Tim 1:7-8). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:35-40), bacalah tulisan yang berjudul “KUAT KUASA UNTUK MENYEMBUHKAN” (bacaan tanggal 13-4-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2016. 

Cilandak, 11 April 2016 [Peringatan S. Stanislaus, Uskup Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA IKUT AMBIL BAGIAN DALAM PENYALIBAN YESUS

KITA IKUT AMBIL BAGIAN DALAM PENYALIBAN YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Jumat dalam Oktaf Paskah – 1 April 2016) 

KEBERANIAN PETRUS DAN YOHANES - KIS 4Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki mendatangi mereka. Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. Mereka ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam. Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki.

Keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dari Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar. Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini, “Dengan kuasa mana atau dalam nama siapa kamu melakukan hal itu?” Lalu Petrus, yang penuh dengan Roh Kudus, menjawab mereka, “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu perbuatan baik kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa mana orang itu disembuhkan, maka ketahuilah  oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati – bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dalam keadaan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri – namun ia telah menjadi batu penjuru. Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:1-12) 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2,4,22-27; Bacaan Injil: Yoh 21:1-14 

“Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12).

Untuk menerima karunia keselamatan, kita harus percaya kepada Yesus (Ef 2:8). Kita juga harus harus mengakui kebutuhan kita akan keselamatan. Kita semua telah berdosa (Rm 3:23); dan kita tidak dapat memberi silih atas satu dosa pun dari dosa-dosa kita, sebab akibat dari dosa itu sangatlah fatal dan merusak. Dengan demikian, untuk mengakui adanya kebutuhan akan keselamatan, kita harus mulai menyadari betapa buruk dan besarnya dosa-dosa kita, dan kemudian mengakui kesalahan-kesalahan kita. Jika kita menekan rasa bersalah kita atau malah menyangkalnya, atau begitu tidak manusiawi karena merasa tidak pernah berbuat slah, maka kita tidak akan pernah dapat  menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita. Mengapa? Karena kita tidak mau mengakui atau menerima kenyataan bahwa kita memang mempunyai kebutuhan untuk diselamatkan.

Itulah sebabnya mengapa Petrus, pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama dan setelahnya, dalam khotbahnya menyampaikan pesan tentang adanya kesalahan dan dosa-dosa kita selain pesan adanya penyelamatan. Petrus dengan bahasa yang lugas berkata kepada para anggota Mahkamah Agama Yahudi bahwa mereka telah menyalibkan Yesus, tetapi Yesus telah dibangkitkan oleh Allah. Dalam nama Yesus yang telah bangkit itulah orang lumpuh dalam kisah sebelumnya disembuhkan (lihat Kis 3:1-10), yang pada saat itu juga hadir dalam sidang. Petrus juga mengatakan, bahwa Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang bangunan – yaitu para pemuka agama Yahudi – namun Ia telah menjadi batu penjuru (Kis 4:11; bdk. Mzm 118:22).

Dalam khotbahnya pada hari Pentakosta, Petrus malah berkata: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis 2:23). Dalam khotbahnya di Serambi Salomo, Petrus berkata: “Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita  telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu. Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi” (Kis 3:13-15).

Saudari dan Saudaraku, marilah sekarang kita (anda dan saya) hening sejenak guna memeriksa berbagai kesalahan kita. Marilah kita mengakui bahwa kita telah ikut ambil bagian dalam penyaliban Yesus. Tujuan akhir dari pemeriksaan ini adalah pertobatan, keselamatan dan hidup baru dalam Kristus yang sudah bangkit.

DOA: Bapa surgawi, berilah keberanian kepada diriku untuk mengakui kesalahan dan dosaku. Berikanlah juga kepadaku karunia iman agar diriku selamat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “SUATU HARI DI DANAU TIBERIAS: MEMATUHI SABDA YESUS” (bacaan tanggal 1-4-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2016. 

Cilandak, 29 Maret 2016 [HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMUA ORANG YANG MENYENTUH-NYA MENJADI SEMBUH

SEMUA ORANG YANG MENYENTUH-NYA MENJADI SEMBUH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Senin, 8 Februari 2016) 

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH DAN BUTASetibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Lalu berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tikarnya kemana saja mereka dengar Yesus berada. Kemana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. (Mrk 6:53-56) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 8:1-7,9-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:6-10 

Mukjizat penggandaan roti dan ikan (lihat Mrk 6:30-44) telah berhasil meningkatkan antusiasme orang banyak. Dari bacaan Injil kelihatan seakan-akan Yesus dan para murid-Nya bermain “petak-umpet” dengan orang banyak. Setelah peristiwa penggandaan roti, mereka mencoba “melarikan diri” (menyingkir) dari orang banyak, dengan menyeberangi danau, dari tepi yang satu ke tepi yang lain. Akan tetapi, seperti biasanya setiap kali Yesus dan para murid keluar dari perahu orang banyak mengenali mereka dan harus dilayani. Istirahat soal belakangan, menjadi nomor dua!

Kemana pun Yesus pergi, Dia dihadapkan dengan orang-orang sakit yang memerlukan penyembuhan. Yesus melayani mereka dan mereka pun disembuhkan. Pada zaman modern ini, perawatan dan penyembuhan orang sakit (fisik dan psikis) tergantung pada profesi medis. Namun semua peradaban kuno memberikan suatu arti religius pada sakit-penyakit dan penyembuhan.

Pada zaman modern ini, terutama di kota-kota besar, reaksi pertama orang yang terkena penyakit adalah pergi menemui dokter atau tabib. Tidak demikian halnya pada zaman Yesus. Untuk dapat disembuhkan dari penyakit yang dideritanya, seseorang harus mohon pertolongan Allah. Dengan demikian apakah “Yang Ilahi” tidak terlibat dalam proses penyembuhan modern? Tentu saja tetap terlibat, karena perawatan dan penyembuhan penyakit tetap merupakan “karunia dari Allah”, akan tetapi yang disalurkan melalui tangan-tangan, intelek dan hati manusia. Dengan demikian pelayanan para dokter, perawat dan petugas medis lainnya adalah profesi mulia dan indah ……… guna melayani umat manusia.

Sakit-penyakit dan penderitaan yang menyertainya membuat orang-orang tidak merasa aman. Hal ini melambangkan kerentanan kondisi manusiawi kita, yang begitu terbuka terhadap bahaya yang dapat datang secara tiba-tiba tanpa disangka-sangka. Sakit-penyakit mengkontradiksikan hasrat kita untuk memiliki kekuatan fisik yang kita semua nikmati. Maka sakit-penyakit tetap mempunyai arti religius – bahkan bagi orang-orang modern sekali pun.

Rasa tidak aman yang bersifat radikal tidak dapat disembuhkan oleh para dokter. Hanya Yesus sendirilah yang dapat menyembuhkan “penyakit” seperti itu ……… melalui iman, selagi kita menantikan penyembuhan terakhir di luar dunia yang kita tempati sekarang.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah dokter agung umat manusia. Berkatilah mereka yang melayani sesama di bidang medis, seperti para dokter, perawat, para-medik, dan lain-lainnya. Murnikanlah motif mereka dalam melaksanakan tugas pelayanan mereka itu, sehingga pelayanan mereka demi kesejahteraan masyarakat menjadi optimal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:53-56), bacalah tulisan yang berjudul “BERLARI-LARI KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 8-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITBIAH FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 5 Februari 2016 [Peringatan S. Agata, Perawan-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPERKENANKAN ALLAH BEKERJA MELALUI DIRI KITA

MEMPERKENANKAN ALLAH BEKERJA MELALUI DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Kamis, 4 Februari 2016)

Fransiskan Kapusin (OFMCap): Peringatan S. Yosef dr Leonisa, Imam-Biarawan 

YESUS MENGUTUS - MISI YANG DUABELASIa memanggil kedua belas murid itu dan mulai mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat saja, roti pun jangan, kantong perbekalan pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas-kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka, “Kalau di suatu tempat kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Kalau ada suatu tempat  yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka. (Mrk 6:7-13) 

Bacaan Pertama:1 Raj 2:1-4,10-12; Mazmur Tanggapan: 1 Taw 29:10-12 

Kedua belas murid Yesus telah menyaksikan Guru mereka menghadapi berbagai situasi rakyat yang menyedihkan selama kerja pelayanan-Nya, dan dalam banyak kasus para murid melihat Yesus menarik kepada Allah orang-orang dengan bermacam-macam kebutuhan, lewat penyembuhan, pengampunan dan pelepasan yang dilakukan-Nya. Mereka juga telah melihat bagaimana kuasa Yesus dapat terhalang oleh ketidak-percayaan, seperti yang terjadi di “kandang”-Nya sendiri, Nazaret. Sekarang Yesus mengutus mereka melakukan tugas pelayanan kepada orang-orang lain. Mereka sungguh harus melangkah dalam iman dan menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada sang Guru.

Yesus memahami sekali kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh orang-orang yang melakukan perjalanan. Ia sendiri telah berjalan kaki berkilometer-kilometer jauhnya, dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Jadi, Yesus tahu benar apa saja yang dibutuhkan bagi seseorang kalau mau melakukan perjalanan jauh. Namun demikian, ketika mengutus para murid-Nya Yesus malah memberi instruksi kepada mereka untuk praktis tidak membawa apa-apa kecuali tongkat, dan seterusnya (Mrk 6:8-9). Bukankah hal-hal tersebut justru dibutuhkan dalam sebuah perjalanan jauh? Memang Ia memberikan kekuatan dan kuasa untuk menguasai roh-roh jahat, untuk menyembuhkan penyakit-penyakit serta untuk mewartakan pertobatan, akan tetapi berbagai kebutuhan sehari-hari yang bersifat praktis kan tetap harus diperhatikan? Sungguh tidak dapat diterima oleh akal-sehat manusia. Namun kenyataannya adalah, bahwa 800 tahun lampau ayat padanan dari Mrk 6:8 (Luk 9:3) ini merupakan salah satu ayat Kitab Suci yang memberi petunjuk kepada Santo Fransiskus dari Assisi di awal-awal pertobatannya, bagaimana dia dan saudara-saudaranya harus melakukan tugas pelayanan mereka. Tidak lama kemudian lahirlah sebuah keluarga rohani yang sekarang merupakan keluarga rohani terbesar dalam Gereja.

Kalau kita merenungkan ini semua, kita pun dapat bertanya dalam hati kita masing-masing: “Apakah perlu Allah yang Mahakuasa membuat mukjizat-mukjizat melalui manusia biasa? Mengapa Yesus harus tergantung kepada manusia untuk mewartakan kerajaan-Nya? Mengapa Dia harus memilih kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat supernatural? Jawabannya adalah bahwa Allah ingin agar kita semua ikut ambil bagian dalam segala aspek kehidupan-Nya. Pada waktu kita dibaptis, setiap kita diberi amanat untuk memproklamasikan Injil-Nya. Berbagai halangan yang ada dalam diri kita atau orang lain bagi Yesus tetap merupakan kesempatan bagi kasih dan kuasa-Nya untuk menang. Bagaimana pun juga Dia datang untuk memanggil para pendosa seperti kita. Allah sangat senang bekerja lewat hati yang merendah dan tunduk, melalui orang-orang yang sadar akan privilese menjadi instrumen-Nya di dunia ini. Allah memang sesungguhnya ingin menunjukkan kuat-kuasa-Nya kepada kita, dan membuat kita menjadi instrumen-instrumen, lewat instrumen-instrumen mana kuasa-Nya dimanifestasikan ke seluruh dunia. Allah menginginkan agar kita, anak-anak-Nya, menjadi saluran berkat-Nya. Doa “Jadikanlah aku pembawa damai” dapat mengajarkan kita sikap macam apa yang patut kita miliki apabila kita sungguh berkehendak untuk menyalurkan belaskasih Allah kepada orang-orang lain: “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai … dst.” Fransiskus tahu, bahwa dia hanya dapat menjadi efektif apabila dia memperkenankan Allah bekerja lewat dirinya. Seperti kedua belas rasul, dia berjalan ke sekeliling Assisi mewartakan kuasa Injil kepada siapa saja yang mau menerima Kabar Baik itu.

Allah menaruh kepercayaan kepada kita karena Dia telah memberikan kepada kita segala rahmat yang kita perlukan guna melaksanakan misi-Nya. Masalahnya sekarang, apakah kita sendiri menaruh kepercayaan kepada Allah? Maka kalau ada seseorang memberitahukan anda tentang sakit-penyakit yang dideritanya, berdoalah dalam iman agar orang itu disembuhkan. Bukan anda yang menyembuhkan, melainkan Allah sendiri. Kita semua hanyalah instrumen-instrumen yang dipakai Allah untuk kebaikan. Kalau terjadi konflik rumah-tangga, berdoalah – dalam nama Yesus – dan berharaplah terjadinya mukjizat. Allah menginginkan agar “tanda-tanda heran”-Nya menjadi suatu bagian normal kehidupan kita. Kalau kita sungguh percaya akan pernyataan ini, maka kita dapat mulai berdoa dan menantikan Allah bekerja dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya Engkau mendengar setiap doa kami. Buatlah kami agar menjadi bentara-bentara kasih dan damai-sejahtera-Mu kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:7-13), bacalah tulisan yang berjudul “TERBUKA BAGI PENYEMBUHAN” (bacaan tanggal 4-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 31 Januari 2016 [HARI MINGGU BIASA IV – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA DALAM KASIH INJIL DAPAT DIPROKLAMASIKAN

HANYA DALAM KASIH INJIL DAPAT DIPROKLAMASIKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA IV [TAHUN C], 31 Januari 2016

YESUS MENGAJAR - DALAM SINAGOGA DI NAZARETLalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”  Semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka, “Bukankah Ia ini anak Yusuf?”  Kemudian berkatalah Ia kepada mereka, “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!”  Kata-Nya lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Lagi pula, Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Pada zaman Nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang disembuhkan selain Naaman, orang Siria itu. Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. (Luk 4:21-30)

Bacaan Pertama: Yer 1:4-5,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17; Bacaan Kedua: 1 Kor 12:31-13:13

Orang-orang Yahudi mengerti bahwa Allah telah memilih mereka untuk menjadi milik-Nya sendiri melalui nenek moyang mereka Abraham. Mereka menjaga baik-baik pengetahuan itu. Walaupun begitu, kabar baik dalam Yesus Kristus harus diproklamasikan kepada semua bangsa, sebuah pesan yang telah dideklarasikan oleh para nabi. Karena umat pilihan (Yahudi) tidak mau menerima secara penuh ajaran Yesus, Injil sekarang menyebar juga ke tengah-tengah orang-orang non-Yahudi (baca: kafir). Yesus mengingatkan mereka bahwa Elia dan Elisa telah diutus ke tengah-tengah orang-orang non Yahudi juga (Luk 4:26,27).

“Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu” (Luk 4:28). Kemarahan mereka lebih dapat dipahami kalau dilihat dari sudut kedalaman keyakinan mereka, namun komentar-komentar Yesus tidak sepenuhnya merupakan konsep yang baru. TUHAN (YHWH) telah bersabda kepada Yeremia: “Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi para bangsa” (Yer 1:5). Melalui nabi Yoel, TUHAN telah mendeklarasikan: “Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia” (Yl 2:28). Melalui Yesaya, TUHAN memproklamasikan: “Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu” (Yes 60:3).

Yesus mendeklarasikan kepenuhan dari ucapan TUHAN lewat para nabi-Nya ini dan juga berbagai nubuatan serupa dalam Kitab Suci. Yesus memproklamasikan misi-Nya dan misi dari Gereja yang berkumpul dalam nama-Nya. Tanpa membuang orang-orang Yahudi (lihat Rm 11:25-32), Gereja dipanggil untuk memproklamasikan kabar baik kepada seluruh dunia. Semua orang perlu mendengar pesan Injil!

Kata-kata Yesus tidak kalah pentingnya bagi kita pada hari ini. Kabar Baik Yesus Kristus masih perlu diproklamasikan secara luas. Kita tidak perlu bersikap selektif dalam menentukan siapa yang harus mendengar pesan Injil. Injil bukanlah diperuntukkan bagi kelompok tertentu, bangsa tertentu atau kebudayaan tertentu. Dalam evangelisasi kita, kita harus membedakan antara hal-hal yang hakiki dalam pesan Yesus dan unsur-unsur budaya yang – walaupun terasa “familiar” – tidak intrinsik bagi Kristianitas.

Paulus menghadap suatu tantangan serupa dengan jemaat di Korintus. Gereja di Korintus kaya dengan karunia/anugerah, namun tumpul dalam soal relasi antara warganya. Jawaban terhadap situasi sedemikian – sampai hari ini juga – adalah melakukan pendekatan terhadap setiap hal dalam kasih. Paulus menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan kasih, dan mengapa kasih itu perlu (1 Kor 13). Hanya dalam kasih Injil dapat diproklamasikan; dan hanya dengan begitu dunia akan menerimanya.  Selagi hidup kita memberikan kesaksian tentang kasih Allah yang bekerja dalam diri kita, maka kebenaran Injil akan menarik orang-orang lain. Pewartaan kita tidak akan menjadi seperti “gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (1 Kor 13:1), melainkan proklamasi keselamatan dalam Kristus Yesus yang bersifat efektif.

DOA: Roh Kudus, hari ini Kauingatkan diriku bahwa Injil Yesus Kristus harus terus disebar-luaskan, namun dunia akan menerimanya hanya apabila Injil itu diwartakan dalam kasih. Penuhilah diriku dengan kasih ilahi dan bentuklah diriku agar menjadi semakin serupa dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:21-30), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH KITA PUN MENCOBA UNTUK MEMBUNGKAM YESUS?” (bacaan tanggal 31-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-01  PERMENUNGAN ALKITABIAH  FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 28 Januari 2016 [Peringatan S. Tomas Aquino, Imam-Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI YESUS DAN MEMBAGIKAN-NYA KEPADA ORANG LAIN

MENJADI YESUS DAN MEMBAGIKAN-NYA KEPADA ORANG LAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa III [Tahun C] – 24 Januari 2016

Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia 

YESUS MENGAJAR DI SINAGOGA

Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.

Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Lalu tersebarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Kitab Suci. Kepada-Nya diberikan kitab Nabi Yesaya dan setelah membuka kitab itu, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”  Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Luk 1:1-4; 4:14-21) 

Bacaan Pertama: Neh 8:3-5-7,9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15; Bacaan Kedua: 1Kor12:12-30 (1Kor 12:12-14,27) 

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku” (Luk 4:18)

Pada zaman Perjanjian Lama, raja-raja, imam-imam, dan kadang-kadang para nabi diurapi dengan minyak sebagai tanda bahwa Allah telah menetapkan mereka untuk suatu tugas tertentu. Dengan berjalannya waktu, umat Israel mulai mengharapkan kedatangan seseorang yang akan memimpin mereka kepada kebebasan yang lengkap, yaitu seorang tokoh yang mereka namakan “sang terurapi” – “Mesias” (Inggris: Messiah; Ibrani: Mâsyiah) atau “Kristus” (Inggris: Christ;  Yunani: Khristos).

Sebagai umat Kristiani, kita mengetahui bahwa Yesus memenuhi ekspektasi ini. Yesus datang sebagai seorang raja, imam dan nabi yang sempurna bagi umat Allah. Ia adalah sang Mesias, yang diurapi tidak dengan minyak, melainkan dengan Roh Kudus, dan dalam kuat-kuasa Roh Kudus Ia membuat mukjizat-mukjizat, mewartakan Injil, dan mengasihi tanpa batas.

Karena kita telah dibaptis ke dalam Kristus, kita masing-masing dapat berkata dengan penuh keyakinan: “Roh Tuhan  ada padaku” (Luk 4:18). Walaupun Roh Kudus berdiam dalam diri kita, selalu ada yang lebih dari Dia yang dapat kita terima – walaupun barangkali kita tidak boleh berkata kita menerima lebih lagi Roh Kudus, melainkan Dia menerima lebih dari kita!

Bapa surgawi sangat senang untuk mencurahkan Roh-Nya ke dalam hati kita masing-masing. Apakah kita (anda dan saya) membutuhkan lebih lagi hikmat untuk hidup kita? Roh Kudus membawa karunia-karunia hikmat dan pengertian (lihat Yes 11:2-3; 1 Kor 12:7-8). Dapatkah kita lebih menggunakan kasih, sukacita, atau damai sejahtera? Dengan kehadiran Roh Kudus datanglah buah-buah Roh (lihat Gal 5:22-23).

Beata Bunda Teresa dari Kalkuta mendefinisikan evangelisasi sebagai tindakan untuk “menjadi Yesus, membagikan Yesus” (Inggris: Be Jesus, share Jesus). Inilah yang ingin dibuat mungkin oleh Roh Kudus bagi kita. Instrumen yang paling efektif dari evangelisasi adalah testimoni dari apa yang diberikan oleh hidup kita kepada Yesus. Pengamatan Paus Paulus VI adalah sebagai berikut: “Melalui kesaksian tanpa kata-kata ini orang-orang Kristiani membangkitkan pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dihalang-halangi dalam hati orang-orang, yang melihat bagaimanakah orang-orang Kristiani hidup Mengapakah mereka hidup secara  demikian ini? Apa atau siapakah yang mengilhami mreka? Sebab apakah mereka ada di tengah-tengah kita? Kesaksian semacam ini sudah merupakan suatu pewartaan Kabar Baik dengan secara diam-diam dan suatu hal yang sangat berpengaruh dan efektif” (Imbauan Apostolik EVANGELII NUNTIANDI (Mewartakan Injil) tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern; 8 Desember 1975, 21). Berbagai upaya untuk menginjili dapat saja gagal, tetapi apa saja yang kita lakukan dalam kasih tidak akan gagal, karena kasih tidak (pernah) gagal.

Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, marilah kita berjuang untuk “menjadi Yesus dan membagikan Yesus”, dengan senantiasa mengingat bahwa Roh Tuhan ada pada kita!

DOA: Roh Kudus, milikilah hatiku dengan semakin mendalam. Buatlah diriku semakin serupa dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamatku! Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Neh 8:3-5a, 6-7,9-11), bacalah tulisan yang berjudul “HARI INI ADALAH HARI KUDUS BAGI TUHAN ALLAH” (bacaan tanggal 24-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 21 Januari 2016 [Peringatan S. Agnes, Perawan-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KESELAMATAN DARI YESUS

KESELAMATAN DARI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 13 Januari 2016

JESUS HEALS THE SICK - 001Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: 1 Sam 3:1-10,19-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,5,7-10

Pernahkah anda berhenti dan berpikir tentang cara yang luarbiasa bagaimana Allah menciptakan kita (anda dan saya)? Bilamana kita sedang menanggung derita dalam satu aspek kehidupan kita – apakah itu penderitaan spiritual/rohani, psikologis/kejiwaan, atau fisik/badani – maka setiap hal lainnya dapat menjadi tidak seimbang … out of balance!  Pikirlah dan bayangkanlah bagaimana orang-orang yang menderita karena relasi yang terluka cenderung untuk lebih rentan terhadap sakit-penyakit. Pikirlah dan bayangkanlah bagaimana sehatnya dan wajah yang berseri-seri memancarkan kebahagiaan seorang pengantin perempuan pada hari pernikahannya. Sungguh mentakjubkan jika kita sungguh merenungkan betapa kompleksnya kita sebagai manusia.

Bayangkanlah ibu mertua Petrus yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya karena sakit demam. Pikiran-pikiran apa yang kiranya berkecamuk dalam kepalanya? Kenyataan bahwa seorang rabi muda usia yang populer datang berkunjung ke rumahnya, dan ia tidak mampu untuk menyambut dan melayani dengan penuh hospitalitas kepada “tamu agung” tersebut? Apakah perempuan itupun menjadi frustrasi karena ketidakmampuannya untuk bergabung dengan orang banyak guna mendengar pengajaran-Nya? Apakah kekhawatirannya akan fisiknya yang semakin lemah karena penyakitnya? Akan tetapi, dengan perintah yang sederhana (namun penuh dengan kuat-kuasa) yang diucapkan Yesus, ia pun disembuhkan. Demamnya langsung hilang, dan ia pun menerima rahmat untuk meninggalkan segala kesusahan hatinya dan menyediakan diri sepenuhnya untuk melayani para tamu yang datang ke rumahnya.

IBU MERTUA PETRUS DISEMBUHKANDari sejak awal Yesus menunjukkan bahwa Ia datang ke tengah dunia untuk membawa keselamatan penuh – kesembuhan dalam artiannya yang lengkap. Yesus tidak hanya muncul satu hari, wafat di kayu salib, dan kembali ke surga. Tiga tahun lamanya Yesus berkeliling di tanah Galilea, Yudea dll. guna melakukan karya pelayanan di tengah masyarakat. Ia mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan kepada orang banyak (Ingat peristiwa terang yang ketiga dalam doa Rosario). Berjam-jam setiap harinya Yesus menyembuhkan orang-orang sakit dan membuat berbagai tanda heran lainnya, seperti mengusir roh-roh jahat yang merasuki pribadi manusia, memulihkan penglihatan orang dan Ia tak bosan-bosannya menawarkan pengharapan kepada orang-orang yang sedang dilanda kekhawatiran dan rasa takut (lihat Luk 4:18-19; bdk. Yes 61:1-2). Yesus datang untuk membawa suatu restorasi lengkap-total bagi kepribadian kita masing-masing, sesuatu yang dimulai dalam hidup ini dan mencapai kepenuhannya pada waktu kita dipersatukan dengan Dia pada akhir zaman.

Sekarang, apakah kita (anda dan saya) sungguh percaya bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan kita? Apakah kita percaya bahwa Dia dapat menyembuhkan berbagai kenangan/ingatan yang menyakitkan, memulihkan relasi-relasi yang berantakan, dan membuang sakit-penyakit fisik yang kita derita?

Saudari dan Saudaraku dalam Kristus, marilah kita melangkah dalam iman untuk menghadap Dia. Percayalah bahwa Dia baik. Iman seperti ini dapat memindahkan penghalang-penghalang, bahkan penghalang yang besar seperti sebuah gunung (lihat Mat 17:20). Iman seperti ini dapat membuat kita menjadi mengakar kuat dalam kasih Kristus. Dengan demikian, apakah kita telah disembuhkan secara sempurna atau belum, kita akan tetap mengalami damai-sejahtera karena kita tahu bahwa pada akhirnya kita akan mengalami restorasi secara penuh.

DOA: Tuhan Yesus, aku menaruh semua perkaraku dan keprihatinanku di dekat kaki-kaki-Mu dan percaya sepenuhnya bahwa Engkau akan memperhatikan semua itu. Oleh Roh Kudus-Mu, ajarlah diriku bagaimana memahami dengan penuh dan benar kepenuhan dari keselamatan yang Engkau rencanakan bagiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 3:1-10.19-20), bacalah tulisan yang  berjudul “BERBICARALAH TUHAN, SEBAB HAMBA-MU INI MENDENGARKAN(bacaan tanggal 13-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 11 Januari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS