Posts from the ‘EVANGELISASI’ Category

ALLAH MENYATAKAN SEMUA ITU KEPADA ORANG KECIL

ALLAH MENYATAKAN SEMUA ITU KEPADA ORANG KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dr Assisi – Sabtu, 4 Oktober 2014)

Keluarga Fransiskan: Hari Raya Santo Fransiskus dari Assisi

70ApostlesKemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”
Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Luk 10:17-24)

Bacaan Pertama: Ayb 42:1-3,5-6,12-16; Mazmur 119:66,71,75,91,125,130

Tidak meragukan lagi bahwa Yesus bergembira bersama para murid-Nya ketika mereka pulang dari perjalanan misi mereka mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Biar bagaimana pun juga para murid-Nya ini adalah orang-orang sederhana dengan latar belakang bervariasi yang baru saja berhasil membuat mukjizat-mukjizat penyembuhan, mengusir roh-roh jahat yang menakutkan, dan tentunya berbagai tanda heran lainnya. Namun, seperti anak-anak yang energinya harus disalurkan ke arah yang benar, maka para murid-Nya juga harus menyadari di mana sebenarnya letak sumber sukacita mereka. Yesus dengan jelas mengatakan kepada para murid-Nya bahwa kuat-kuasa apa pun yang berhasil mereka peragakan sehingga mengalahkan roh-roh jahat, tidak ada yang dapat dibandingkan dengan kenyataan bahwa nama-nama mereka terdaftar di surga.

Namun tidak cukuplah bagi Yesus untuk memberi koreksi atas ungkapan sukacita para murid-Nya. Yesus juga terus menunjukkan kepada mereka jenis sukacita yang harus mencirikan para pengikut-Nya: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” (Luk 10:21).

Marilah kita membayangkan bagaimana Putera Allah bersukacita dalam Roh Kudus pada saat itu. Tidak salahlah bagi kita untuk membayangkan juga Tritunggal Mahakudus yang penuh kegembiraan menari dan merayakan bersama setiap kali mereka melihat anak-anak kecil seperti kita membuka hati terhadap perwahyuan dari surga. Pengalaman akan surga yang terbuka – pengalaman akan perwahyuan/pernyataan diri Allah dalam hati kitalah – yang sesungguhnya menggerakkan hati kita untuk memuji dan bersukacita. Pada kenyataannya, karena mengetahui bahwa Allah menaruh diri kita di telapak tangan-Nya dapat memimpin kita kepada suatu hidup sukacita yang bersifat menyeluruh. Hal sedemikian dapat menggerakkan kita untuk bersukacita melihat keindahan bintang-bintang yang bertaburan di malam hari, atau relasi dengan orang-orang yang sangat kita kasihi, seperti juga kita bersukacita karena mengetahui bahwa nama-nama kita terdaftar di surga.

8x10-stfrancis-corgi-pem-newSanto Fransiskus dari Assisi, yang pestanya kita rayakan pada hari ini, adalah seorang pribadi yang menyadari betapa terberkati dirinya karena telah disentuh oleh Allah. Dalam “Gita Sang Surya” (Kidung/Nyanyian Saudara Matahari), Fransiskus menyanyikan dengan penuh sukacita caranya dia menemukan kasih Allah dan keindahan-Nya dalam segenap ciptaan. Tidak ada sesuatu pun, bahkan tidak juga penolakan oleh keluarganya (kecuali ibundanya yang tidak menolaknya), atau hidup pertobatan yang keras bersama para saudaranya, atau hidup miskin seturut panggilan-Nya, berhasil mengalahkan dan merenggut sukacita sejati yang ada dalam dirinya. Marilah kita belajar dari Fransiskus bagaimana menyerahkan diri kita sepenuhnya (artinya tanpa reserve) kepada Yesus. Semoga dengan begitu, hidup kita menjadi sebuah madah pujian dan syukur kepada Dia yang begitu mengasihi kita semua!

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah diriku agar dapat merayakan dengan penuh sukacita kasih yang Kaucurahkan kepadaku. Semoga aku dapat menjalani hidupku dengan selalu memuji-muji kehadiran-Mu dalam diriku dan dalam diri orang-orang di sekelilingku. Bimbinglah aku senantiasa sehingga aku pantas dinamakan seorang anak Bapa di surga dan murid Yesus Kristus yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA” (bacaan tanggal 4-10-14) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 2 Oktober 2014 [Peringatan Para Malaikat Pelindung]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUASA UNTUK MENGALAHKAN IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT

KUASA UNTUK MENGALAHKAN IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Rabu, 24 September 2014)

YESUS MENGUTUS - MISI YANG DUABELASYesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, kata-Nya kepada mereka, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau kantong perbekalan, roti atau uang, atau dua helai baju. Apabila kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.” Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi desa-desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. (Luk 9:1-6)

Bacaan Pertama: Ams 30:5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29,72,89,101,104,163

“Yesus … memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang-orang sakit” (Luk 9:1-2).

Mengapa Yesus harus bersusah-payah memberikan otoritas kepada kedua belas murid-Nya untuk mengalahkan roh-roh jahat? Bukankah Yesus dapat sekadar memberdayakan mereka untuk menyembuhkan sakit-penyakit dan mewartakan Injil? Bukankah itu sudah cukup? Kelihatannya tidak! Yesus menyadari bahwa keberadaan roh-roh jahat adalah riil, dan Ia juga tahu bahwa roh-roh jahat itu merupakan ancaman riil terhadap hidup orang banyak. Kita bisa saja membayangkan Iblis sebagai makhluk berwarna merah menyeramkan, bertanduk, berekor dengan ujung tajam, dan memiliki kaki seperti seekor kambing, namun kenyataannya tidaklah sedemikian. Kita bahkan mungkin saja berpikir bahwa cukuplah bagi kita untuk percaya kepada Yesus dan mengakui keberadaan si Jahat di dunia tanpa menerima kenyataan bahwa dia adalah makhluk spiritual yang bertujuan untuk menghancurkan kita.

Posisi yang disebutkan di atas adalah posisi yang berbahaya. Iblis itu riil, dan tindakan-tindakannya terlihat di dunia dan bahkan dalam hidup kita. Dengan dusta dan kebenaran-kebenaran yang setengah-setengah, Iblis mempengaruhi kita dengan bujukan-bujukannya, rayuan-rayuannya dlsb. bahwa Allah tidaklah seluruhnya baik dan mengasihi. Iblis juga menggunakan hal-hal yang jelas-jelas dosa dan ketidakpedulian secara halus untuk memimpin kita kepada mindsets yang bertentangan dengan pesan Injil. Dijuluki “pendusta dan bapak pendusta” (Yoh 8:44). Iblis ingin menghalang-halangi siapa saja untuk mengenal belas kasih Allah dan menerima pengampunan serta rahmat-Nya.

Untunglah bahwa ini bukanlah akhir dari cerita kita! Dengan kematian Yesus di kayu salib, Iblis telah dikalahkan. Kemampuan yang di berikan oleh Yesus kepada para murid-Nya yang pertama untuk mengalahkan Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya bukanlah karunia yang diberikan satu kali saja. Semua orang Kristiani dapat menerima kuasa untuk menolak dusta Iblis, godaan-godaannya, dan keraguan-raguan yang disebabkan olehnya. Kita tidak perlu merasa tak berdaya dan tertindas, dirampas sukacita penebusan kita yang adalah milik kita dalam Kristus. Apabila kita dipersatukan dengan Yesus dalam pembaptisan dan disalibkan bersama Dia, maka kita ikut ambil bagian dalam buah-buah kebangkitan-Nya.

Marilah kita merenungkan kebenaran berikut ini: Bagian lama dari diri kita (anda dan saya) yang berada di bawah pengaruh Iblis telah dihancurkan melalui salib Kristus. Kita harus memperkenankan realitas ini mengendap dalam pikiran dan hati kita, sehingga dengan demikian kita dapat berkonfrontasi dengan Iblis dan roh-roh jahatnya setiap hari dengan penuh kepercayaan diri. Kita pun akan berjalan dengan keyakinan yang lebih besar lagi dalam hidup baru yang adalah milik kita dalam Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, aku bergembira penuh sukacita akan kemenangan-Mu atas Iblis! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepadaku kuasa-Mu untuk mengenali dan menolak sengat Iblis. Terpujilah Engkau, ya Yesus, Engkau adalah Tuhan yang tersalib dan bangkit, yang telah memenangkan pertempuran sekali dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUA ORANG HARUS MEMBUAT PILIHAN” (bacaan tanggal 24-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 19 September 2014 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Comporosso, Biarawan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG SETIA

PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG SETIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Jumat, 19 September 2014)

Keluarga Fransiskan: Peringatan: S. Fransiskus Maria dr Comporosso, Biarawan

stdas0158-FAITHFUL WOMENTidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 8:1-3)

Bacaan Pertama: 1Kor 15:12-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,6-8,15

Kita lihat dalam Injil Lukas bahwa, tidak seperti para rabi di masa-Nya, Yesus mempunyai perempuan-perempuan juga sebagai para murid-Nya. Pada kenyataannya, perempuan-perempuan itu adalah para pengikut-Nya yang paling setia dan penuh bakti kepada sang Guru. Lukas menceritakan betapa setia perempuan-perempuan tersebut kepada Yesus. Mereka bahkan melayani rombongan Yesus dengan harta milik mereka (Luk 8:3).

Para murid Yesus yang perempuan bersimpati dengan Yesus dan mengikuti-Nya dengan setia. Mereka menangisi dan meratapi-Nya selagi Dia memanggul salib-Nya menuju bukit Kalvari (Luk 23:27). Baik Lukas maupun Yohanes menceritakan kepada kita tentang perempuan-perempuan yang berdiri bersama Maria – ibu-Nya – di dekat salib Yesus dan menolong pada saat penguburan-Nya. Markus menyinggung hal ini juga dalam Injilnya. Keempat penginjil menceritakan kepada kita bahwa perempuan-perempuan ini adalah orang-orang pertama yang melihat Yesus yang sudah bangkit pada pagi hari Paskah, kiranya ganjaran untuk devosi mereka kepada Yesus dengan penuh ketekunan.

Kita menemukan penekanan istimewa atas kualitas-kualitas kesetiaan dari perempuan-perempuan Kristiani dalam tulisan-tulisan Lukas – Injilnya dan juga “Kisah para Rasul”. Lukas menggambarkan dalam tulisan-tulisannya apa yang ditulis Paulus kepada jemaat di Galatia (Gal 3:28): “Dalam hal ini tiak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28).

Lukas senantiasa mensejajarkan cerita-cerita yang berkaitan dengan seorang laki-laki dan yang berkaitan dengan seorang perempuan. Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Zakharia (Luk 1:5 dsj.) dan kepada Maria (Luk 1:26 dsj.), dan Maria keluar sebagai juara tak terbantahkan dalam hal ini. Elisabet juga memiliki iman yang kuat ketimbang suaminya Zakharia. Laki-laki tua Simeon disejajarkan dengan Hana. Yesus menyembuhkan hamba perwira Romawi yang sakit (Luk 7:1-11), tetapi Dia membangkitkan anak tunggal dari janda dari Nain dari kematiannya (Luk 7:11-17).

Yesus memuji kasih yang dimiliki oleh orang Samaria yang murah hati dalam perumpamaannya (Luk 10:25-37), tetapi Dia langsung memuji devosi dari Maria, saudari dari Marta dan Lazarus (Luk 10:38-42). Lukas acapkali mengingatkan kita bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama, dan mereka – tanpa pandang bulu – dianugerahi dengan berbagai karunia oleh Allah.

Perempuan-perempuan yang dimunculkan dalam bacaan Injil hari ini telah disembuhkan dari pengaruh roh-roh jahat dan juga dari berbagai penyakit, karena mereka memang ingin disembuhkan. Kita ikuti tanggapan mereka terhadap Yesus dan kemajuan spiritual mereka dalam Injil. Dengan membantu Yesus dan misi-Nya dengan harta milik mereka, sebenarnya perempuan-perempuan itu ikut ambil bagian dalam penderitaan Yesus sendiri, sehingga dengan demikian mereka juga ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan. Mereka pun menjadi pewarta-pewarta pertama dari Kabar Baik: Yesus telah bangkit! Ia telah mengalahkan maut dan sekarang hidup dalam kemuliaan.

DOA: Tuhan Yesus, berilah kepadaku rahmat yang diperlukan agar aku dapat menjadi murid-Mu yang sungguh setia. Tolonglah aku agar dapat melihat kebutuhanku akan pengampunan dari-Mu seperti yang terjadi dengan para perempuan yang mengikuti Engkau dengan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “PEREMPUAN-PEREMPUAN PENGIKUT YESUS YANG SETIA” (bacaan tanggal 19-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 16 September 2014 [Peringatan S. Kornelius, Paus & S. Siprianus, Uskup-Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDUKUNG RENCANA ALLAH BAGI KELUARGA KITA

MENDUKUNG RENCANA ALLAH BAGI KELUARGA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Rabu, 23 Juli 2014)

The-Prophet-Jeremiah

Inilah perkataan-perkataan Yeremia bin Hilkia, dari keturunan imam yang ada di Anatot di tanah Benyamin.

Firman TUHAN (YHWH) datang kepadaku, bunyinya: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” Tetapi YHWH berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman YHWH.”

Lalu YHWH mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; “YHWH berfirman kepadaku: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataanku ke dalam mulutmu. Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan juntuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.” (Yer 1:1,4-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17; bacaan Injil: Mat 13:1-9

Sabda Allah kepada nabi Yeremia adalah sabda sama dengan yang Ia katakan kepada kita masing-masing: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau” (Yer 1:5). Allah sungguh mengenal diri kita – baik kekuatan-kekuatan maupun kelemahan-kelemahan kita, disposisi-disposisi hati kita, preferensi-preferensi kita dll. – lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Allah bahkan mengetahui apa saja yang dengan bebas kita akan pilih untuk dilakukan dalam kehidupan kita. Allah mempunyai sebuah rencana bagi kita, namun setiap saat kita dapat pergi dengan bebas memilih jalan hidup kita sendiri atau merangkul rahmat-Nya dan karya indah yang telah dipersiapkan-Nya untuk kita lakukan.

imagesDalam kasus Yeremia, rencana Allah adalah menjadikannya seorang nabi. Yeremia dapat saja mengabaikan panggilan tersebut dan menolak rahmat Allah. Apa yang mendorongnya untuk menanggapi panggilan Allah tersebut secara positif? Walaupun Kitab Suci tidak menjelaskannya, kita dapat membayangkan bahwa “formasi” yang dilakukan oleh para orangtuanya atas diri Yeremia memainkan peran yang cukup signifikan dalam penerimaan Yeremia atas tantangan-tantangan hidup seorang nabi.

Seperti Yeremia, kita (anda dan saya) pun dipanggil untuk menerima panggilan Allah bagi kita masing-masing untuk memproklamasikan Injil-Nya kepada generasi selanjutnya, sehingga dengan demikian mereka pun akan terbuka bagi panggilan Allah. Teristimewa jika kita adalah orangtua, nenek-kakek, atau seorang pendidik, maka kita mempunyai suatu peranan istimewa dalam hal ini. Allah menginginkan kita untuk menghormati orang-orang muda dalam kehidupan kita. Allah ingin agar kita mengakui karunia-karunia yang dimiliki orang-orang muda itu, juga untuk menghargai kebenaran bahwa mereka diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya (lihat Kej 1:26,27). Allah tahu bahwa semakin banyak yang kita lakukan, semakin serius pula orang-orang muda itu akan berpikir tentang apa yang diinginkan Allah untuk mereka lakukan dengan hidup mereka.

Jika kita adalah para orangtua yang mempunyai anak-anak, maka pikirkanlah tentang bagaimana kehidupan rumah tangga kita dapat mencerminkan dan mendukung rencana Allah bagi keluarga kita. Rumah tangga atau keluarga kita adalah semacam “gereja mini”; gereja domestik atau ecclesia domestica. Para orangtua dikuduskan untuk membawa Kabar Baik Keselamatan kepada anak-anak mereka. Tanyalah kepada diri kita masing-masing: Apakah aku berbicara kepada anak-anakku tentang Allah dan bercerita kepada mereka tentang Yesus, Putera-Nya yang tunggal, Tuhan kita? Apakah selama ini aku berupaya untuk mencari petunjuk berkaitan dengan apa yang dilakukan Allah dalam hati mereka?

Saudari dan Saudaraku terkasih. Allah ingin melakukan hal-hal besar melalui dan dalam diri anak-anak kita (anda dan saya). Oleh karena itu marilah kita upayakan suatu suasana yang kondusif bagi keterbukaan spiritual dalam rumah tangga kita masing-masing. Semoga hal tersebut akan memampukan anak-anak kita mendengar dan menanggapi panggilan Allah kapan saja hal itu datang.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahabaik. Memang mudahlah bagiku untuk merasa tidak layak dan pantas jika hal itu menyangkut mensyeringkan sabda-Mu dengan orang-orang muda dalam hidupku. Namun aku percaya bahwa rahmat-Mu dapat memberdayakan diriku untuk bertekun dan berhasil pada akhirnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “DAPATKAH KITA MENJADI TANAH YANG BAIK DAN SUBUR?” (bacaan tanggal 23-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 19 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA MAGDALENA HIDUP HANYA UNTUK MELAYANI-NYA

MARIA MAGDALENA HIDUP HANYA UNTUK MELAYANI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maria Magdalena – Selasa, 22 Juli 2014)

OSF: Pesta S. Maria Magdalena, nama pendiri tarekat: Sr. Magdalena Daemen

He-is-risen

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. (Yoh 20:1-2,11-18)

Bacaan Pertama: Kid 3:1-4a atau 2Kor 5:14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6,8-9

MMAntiochanchurchYang diinginkan oleh Maria Magdalena hanyalah berada di dekat-Nya. Karena Yesus telah membebaskannya dari tujuh roh jahat, Maria Magdalena hidup hanya untuk melayani-Nya (Luk 8:1-2). Sekarang, setelah memberitahukan Petrus dan Yohanes bahwa jenazah Gurunya telah dicuri orang, Maria Magdalena kembali ke kubur Yesus untuk mengungkapkan rasa dukanya. Itulah saatnya di mana Yesus – Tuhan yang bangkit dan Penguasa Alam Semesta, mendekati Maria Magdalena dan menyebutkan namanya “Maria” (Yoh 20:16). Dengan sepatah kata itu, Maria Magdalena mengenali Dia. Maria telah menunjukkan ketekunannya dalam mencari Yesus, dan sebagaimana yang dilakukannya kepada semua orang yang mencari-Nya, Yesus menyatakan diri-Nya kepada Maria Magdalena secara sangat pribadi.

Namun Yesus belum menyelesaikan perjalanan-Nya: “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa” (Yoh 20:17). Yesus tidak ingin Maria Magdalena hanya mengetahui fakta tentang kebangkitan-Nya, melainkan juga kemuliaan-Nya bersama-sama Bapa di surge. Yesus ingin membuat jelas bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya kita pun telah menjadi anak-anak Allah. Ini adalah sukacita-Nya yang paling besar, suatu sukacita yang ingin diproklamasikan-Nya ketika Dia meminta Maria menceritakannya kepada rasul-rasul: “Sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu” (Yoh 20:17).

Namun demikian, mengapa Yesus menampakkan diri kepada perempuan ini, yang kelihatannya memainkan peran yang kecil saja dalam kitab-kitab Injil? Mengapa Yesus memberikan kepadanya kehormatan untuk berperan (seperti dikatakan oleh Gereja Ortodoks) sebagai “rasul bagi para rasul”? Mengapa Yesus tidak menampakkan diri-Nya kepada Petrus, or Nikodemus, atau bahkan Raja Herodes? Jawaban sederhana atas pertanyaan ini: Karena pesan yang mengubah seluruh dunia harus disampaikan oleh seorang perempuan rendah hati yang hanya dikenal untuk cintakasihnya yang besar dan juga kesetiaannya.

Tidak banyak dari kita yang dianugerahi secara istimewa sebagai pengkhotbah ulung atau teolog-teolog terpelajar, namun kita pun dapat melakukan evangelisasi. Yang dilakukan oleh Maria Magdalena “hanyalah” bercerita tentang apa yang dilihatnya dan dialaminya, dan melalui kesaksiannya Roh Kudus mengubah dunia. Hal yang sama juga benar bagi kita. Yesus telah melakukan banyak hal dalam kehidupan kita masing-masing: Kita telah dikasihi-Nya, kita telah disembuhkan oleh-Nya, kita telah diampuni oleh-Nya, kita telah diperdamaikan, dan kita telah dibebaskan dari segala keterikatan pada hal-hal yang buruk. Dalam terang ini, kita pun dapat menjadi berani, karena kapan saja Yesus diproklamasikan, Roh-Nya bergerak.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku keberanian seperti yang telah Kauberikan kepada Maria Magdalena. Bukalah mulutku agar dapat mengevangelisasi, karena aku tahu bahwa sabda-Mu akan menghasilkan buah dalam banyak hati manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:1-2,11-18), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP HARI KITA DAPAT MENDENGAR SUARA YESUS” (bacaan tanggal 22-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 18 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEWARTAKAN INJIL YESUS KRISTUS

MEWARTAKAN INJIL YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Kamis, 10 Juli 2014)

Keluarga Fransiskan: S. Veronika Yuliani, Perawan dan S. Nikolaus Pick, dkk. Martir

YESUS KRISTUS - 11Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15)

Bacaan Pertama: Hos 11:1,3-4,8-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16

Yesus sangat memahami kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh orang-orang yang melakukan perjalanan. Ia sendiri telah berjalan kaki berkilometer-kilometer jauhnya, dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Jadi, Yesus tahu benar apa saja yang dibutuhkan bagi seseorang kalau mau melakukan perjalanan jauh. Namun demikian, ketika mengutus para murid-Nya Yesus malah memberi instruksi kepada mereka untuk tidak membawa apa-apa, tidak membawa tongkat, dan seterusnya (Mat 10:9 dsj.). Bukankah hal-hal tersebut justru dibutuhkan dalam sebuah perjalanan jauh? Memang Ia memberikan kekuatan dan kuasa untuk menguasai roh-roh jahat, untuk menyembuhkan penyakit-penyakit serta untuk mewartakan Kerajaaan Allah, akan tetapi kebutuhan-kebutuhan sehari-hari yang bersifat praktis tetap harus diperhatikan, bukankah begitu? Sungguh tidak dapat diterima oleh akal-sehat manusia. Namun kenyataannya adalah, bahwa 800 tahun lampau ayat Mat 10:9 ini merupakan salah satu ayat Kitab Suci yang memberi petunjuk kepada Santo Fransiskus dari Assisi di awal-awal pertobatannya, bagaimana dia dan saudara-saudaranya harus melakukan tugas pelayanan mereka (lihat 1 Celano 22). Tidak lama kemudian lahirlah sebuah keluarga rohani yang sekarang merupakan keluarga rohani terbesar dalam Gereja.

Kalau kita merenungkan ini semua, kita pun dapat bertanya dalam hati kita masing-masing: “Apakah perlu Allah yang Mahakuasa membuat mukjizat-mukjizat melalui manusia biasa? Mengapa Yesus harus tergantung kepada manusia untuk mewartakan kerajaan-Nya? Mengapa Dia harus memilih kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat supernatural?

YESUS MENGAJAR - HE WAS THE TEACHERAllah sesungguhnya ingin menunjukkan kuat-kuasa-Nya kepada kita, dan membuat kita menjadi instrumen-instrumen, lewat instrumen-instrumen mana kuasa-Nya dimanifestasikan ke seluruh dunia. Allah menginginkan agar kita, anak-anak-Nya, menjadi saluran berkat-Nya. Seperti halnya dengan Santo Fransiskus dari Assisi, tugas kita hanyalah menanggapi dengan iman dan rasa percaya yang memperkenankan kuat-kuasa-Nya bekerja dalam diri kita. Yesus memang tidak main-main (memang Ia tidak pernah main-main) dalam hal ini. Dalam suatu kesempatan lain Dia bersabda kepada para murid: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12). Kalau kita mengkontemplasikan Allah sebagai Kasih itu sendiri, maka Dia memang memasok segala hal yang kita butuhkan.

Allah menaruh kepercayaan kepada kita karena Dia telah memberikan kepada kita segala rahmat yang kita perlukan guna melaksanakan misi-Nya. Masalahnya sekarang, apakah kita sendiri menaruh kepercayaan pada Allah? Maka kalau ada seseorang memberitahukan anda tentang sakit-penyakit yang dideritanya, berdoalah dalam iman agar orang itu disembuhkan. Bukan anda yang menyembuhkan, melainkan Allah sendiri. Kita semua hanyalah instrumen-instrumen yang dipakai Allah untuk kebaikan. Kalau terjadi konflik rumah-tangga, berdoalah – dalam nama Yesus – dan berharaplah terjadinya mukjizat. Allah menginginkan agar “tanda-tanda heran”-Nya menjadi suatu bagian normal kehidupan kita. Kalau anda sungguh percaya akan pernyataan ini, maka mulailah berdoa dan menantikan Allah bekerja dalam diri anda.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang maharahim, berdayakanlah semua anak-anak-Mu agar dapat menjadi saksi-saksi Kerajaan Allah yang tangguh. Di bawah bimbingan Roh Kudus-Mu, bantulah kami agar dapat menerima firman-Mu dengan baik dan menerima segala rahmat ilahi yang Kau-berikan kepada kami dengan sikap terbuka dan tulus. Ya Bapa, jadikanlah kami duta-duta kasih-Mu. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus – Tuhan dan Juruselamat kami – yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “MEWARTAKAN KABAR BAIK YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 10-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 8 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIPANGGIL MENJADI MURID YESUS BERARTI JUGA DIPANGGIL SEBAGAI UTUSAN-NYA

DIPANGGIL MENJADI MURID YESUS BERARTI JUGA DIPANGGIL SEBAGAI UTUSAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Rabu, 9 Juli 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Antonius Fantosat, Gregorius Grassi, S. Hermina, S. Augustinus Zhao Rong dkk., Martir-martir Tiongkok

RABI DARI NAZARET - 1Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.
Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. (Mat 10:1-7)

Bacaan Pertama: Hos 10:1-3,7-8,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

Kita dapat membayangkan betapa hati kedua belas murid yang dipanggil oleh Yesus itu terbakar oleh kegembiraan penuh gairah. Sebenarnya mereka belum lama bersama Yesus, namun Yesus telah memanggil mereka “dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan” (lihat Mat 10:1). Sungguh suatu keistimewaan luar biasa untuk dapat diberikan peranan sedemikian. Akan tetapi, ternyata masih banyak yang mereka harus pelajari mengenai arti sesungguhnya menjadi murid Yesus.

Kita lihat juga bahwa Yesus sungguh tidak mengenal favoritisme. Para rasul yang dipanggil-Nya berasal dari berbagai macam segmen masyarakat: ada nelayan, ada pemungut cukai, ada (mantan) anggota gerakan revolusioner Zeloti dari Galilea, dan lain-lain. Pokoknya Yesus tidak memandang bulu dalam memilih murid atau rasul! (Bacalah buku bagus karangan P. John Wijngaards, I have No Favorites – Jesus Accepts Followers Unconditionally, New York and Mahwah, N.J.: Paulist Press, 1992, 208 halaman).

Dalam bab 18 Injilnya, Matius mencatat bahwa para murid bertanya kepada Yesus mengenai siapa di antara mereka yang paling besar dalam kerajaan surga (Mat 18:1). Yesus mengetahui sekali latar belakang dari pertanyaan para murid itu. Mungkin sebelumnya telah terjadi perdebatan di antara para murid dan Yesus pun sadar akan konsekuensi perpecahan di antara mereka. Oleh karena itu Yesus mengajarkan kepada mereka suatu pelajaran yang fundamental tentang apa artinya menjadi murid-murid-Nya. Kedua belas murid ini kelihatannya telah saling membandingkan diri satu sama lain, barangkali didasarkan atas gagasan mengenai kekudusan/kesucian diri: berapa banyak mukjizat yang dilakukan, perbuatan baik apa saja yang dilakukan dan seterusnya. Yesus membuang jauh-jauh perbandingan-perbandingan seperti itu. Sambil memegang seorang anak kecil di tengah-tengah para murid, Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Mat 18:2-5).

YESUS MENGUTUS - MISI YANG DUABELASTeguran Yesus itu dimaksudkan untuk mengingatkan para murid-Nya agar tidak mencari-cari kemuliaan seturut standar atau ukuran dunia ini, tetapi agar menjadi seperti anak-anak kecil, yang penuh keinginan untuk menerima rahmat dan berkat dari Allah yang mahamurah. Menimba dari Bapa surgawi dalam segala hal akan mengajar kedua belas murid itu bahwa pada dasarnya “kemuridan” (discipleship) adalah mengakui Yesus sebagai pokok anggur, dalam Dia-lah para murid menimba kehidupan (lihat Yoh 15:5). Segala mukjizat dan tanda heran yang dilakukan mereka sesungguhnya hanyalah buah dari hubungan mereka dengan Yesus. Jadi jangan sampai para murid-Nya mencuri kemuliaan Allah, sehingga “bernasib” sama seperti Musa yang karena kesalahannya sampai dihukum tak dapat masuk ke tanah terjanji (baca: Bil 20:2-13, teristimewa 20:10-12). Bukan kuasa Musa yang berhasil mengeluarkan pancaran air dari bukit batu, melainkan kuasa YHWH sendiri. Peristiwa di Masa dan Meriba ini (lihat kel 17:1-7) sepantasnya diingat terus oleh para hamba Allah sepanjang masa, para pelayan Sabda atau para pewarta mimbar yang “hebat-hebat”, yang nyaris disanjung-sanjung oleh umat, jangan sampai mereka sendiri tidak diperkenankan untuk sampai ke tanah terjanji surgawi. Oleh karena itu, jangan sampai seorang pun dari kita ini mencuri kemuliaan Yesus!

Yesus juga telah membuka jalan bagi kita dan telah memanggil kita masing-masing untuk menjadi murid-murid-Nya. Yesus tidak lagi menyapa kita sebagai orang asing, akan tetapi sahabat dan saudari-saudara. Kepada kita masing-masing Yesus telah memberikan hak istimewa untuk mengenal Dia secara pribadi. Kepada kita masing-masing Ia telah memberikan anugerah-anugerah unik untuk membangun Gereja-Nya di atas muka bumi ini, misalnya karunia untuk menyembuhkan orang sakit dll. Namun demikian, marilah kita tetap waspada agar jangan sampai tergoda untuk membandingkan diri kita dan berbagai karunia atau anugerah yang ada pada kita dengan orang-orang lain. Marilah kita menolak kesombongan yang meletakkan diri kita pada tempat yang lebih tinggi daripada saudari-saudara kita yang berlainan gereja (bahkan mereka yang beriman-kepercayaan lain), yang hanya akan menyebabkan timbulnya kecurigaan dan perpecahan. Martabat kita tidak terletak pada berbagai kemampuan kita, tetapi dalam kenyataan bahwa Yesus telah memanggil kita dengan nama kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu jadikanlah kami murid-murid-Mu yang setia. Utuslah kami juga sebagai garam bumi dan terang dunia dalam mewartakan Kabar Baik-Mu kepada orang-orang yang kami jumpai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan pertama hari ini (Hos 10:1-3,7-8,12), bacalah tulisan yang berjudul “MENABURLAH BAGIMU SESUAI DENGAN KEADILAN, MENUAILAH MENURUT KASIH SETIA !!!” (bacaan tanggal 9-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 8 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers