Posts from the ‘KEMURIDAN’ Category

HENDAK SEMPURNA?

HENDAK SEMPURNA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius X, Paus – Senin, 21 Agustus 2017)

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Hak 2:11-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:34-37,39-40,43-44

Selagi Yesus dan rombongan-Nya berada dalam perjalanan menuju Yerusalem, seorang muda mendatangi Yesus dengan pertanyaan yang tentunya ada dalam hati kita semua: “Perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mat 19:16). Jawaban Yesus cukup sederhana: Kita harus mengenal Dia, satu-satunya yang baik (yakni Allah sendiri), dan kita harus mematuhi segala perintah-Nya, termasuk perintah untuk mengasihi sesama kita. Otoritas perintah-perintah Allah itu jelas – siapa saja yang ingin masuk Kerajaan-Nya wajib untuk mematuhi perintah-perintah-Nya.

Dalam hatinya yang terdalam anak muda ini merasa sangat lapar. Walaupun dia kaya raya dan dengan tulus telah menepati perintah-perintah Allah (hal ini tidak mudah untuk dilakukan oleh siapa saja), tetap saja dia merasakan kekosongan dalam kehidupannya. Hal ini sungguh merupakan suatu blessing in disguise, bahwa boleh menikmati kekayaan dunia atau menghayati suatu kehidupan moral yang baik samasekali tidaklah memuaskan rasa rindu yang ada dalam hati kita. Kita memang diciptakan untuk hal yang jauh lebih besar! Kita diciptakan untuk mengenal dan menikmati suatu persatuan yang erat dengan Allah.  Santo Augustinus mengatakan: “Kaubuat kami mengarah kepadamu. Hati kami tak kunjung tenang sampai tenang di dalam diri-Mu” (Pengakuan-Pengakuan, terjemahan Indonesia terbitan BPK/Kanisius, I.1). Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia menaruh dalam diri kita suatu rasa lapar akan kesempurnaan ini.

Yesus berkata kepada anak muda itu: “Jikalau  engkau hendak sempurna” (Mat 19:21). Hal ini harus kita pahami sebagai undangan Allah kepada semua orang. Melebihi upaya yang tulus dalam menepati perintah-perintah Allah, Yesus mengundang kita masing-masing kepada suatu pemuridan yang intim/akrab. Hanya persekutuan yang erat dengan Kristus seperti inilah yang dapat memuaskan rasa lapar yang ada dalam hati kita. Kita masing-masing dapat menjadi seorang murid Yesus, dapat mengikuti jalan kesempurnaan; undangan-Nya adalah untuk kita semua. Marilah kita menjawab dengan berani: “Ya, aku ingin menjadi sempurna,” dan memperkenankan Yesus mengajar kita untuk mengikuti jejak-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Episode ini terjadi pada waktu Yesus dengan penuh keyakinan sedang berada dalam perjalanan-Nya menuju sengsara dan kematian-Nya di Yerusalem. Kita semua juga sebenarnya sedang berada dalam suatu perjalanan: suatu perjalanan kemuridan/ pemuridan (a journey of discipleship). Setiap hari kita dapat mendekatkan diri kepada Yesus dalam doa, melalui pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan melalui keikutsertaan kita dalam liturgi, teristimewa dalam Perayaan Ekaristi. Selagi kita melakukan semua itu, kita akan belajar mengikuti-Nya secara dekat. Baiklah kita kesampingkan banyak-banyak hal – apakah yang bernilai atau tidak – yang memenuhi hati dan pikiran kita secara tidak semestinya, dan memusatkan hasrat dan perhatian kita sepenuhnya pada Yesus. Dia adalah sang Guru. Oleh karena itu, marilah kita mendengarkan Dia!

DOA: Roh Kudus Allah, tunjukkanlah kepada kami sukacita yang sempurna dan damai sejahtera yang sejati karena mengikuti jejak Yesus Kristus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan yang berjudul “ADA YANG MASIH KURANG PADA DIRI ANAK MUDA INI” (bacaan tanggal 20-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori:  17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak,  18 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEPERTI ANAK KECIL, TETAPI BUKAN KEKANAK-KANAKAN

SEPERTI ANAK KECIL, TETAPI BUKAN KEKANAK-KANAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Selasa, 15 Agustus 2017)

 

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

“Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikan juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang.” (Mat 18:1-5,10,12-14) 

Bacaan Pertama: Ul 31:1-8; Mazmur Tanggapan: Ul 32:3-4a,7-9,12 

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” (Mat 18:3)

Apakah anda percaya bahwa Allah sungguh menginginkan kita menjadi seperti anak-anak kecil? Jawabannya adalah “Ya”! Mengapa? Ini adalah suatu konsep kehidupan yang memiliki kebenaran, karena orang-orang yang menjadi seperti anak-anak kecil-lah yang dipandang oleh-Nya sebagai “besar” di Kerajaan-Nya. Hakekat dari keberadaan seseorang seperti seorang anak kecil di hadapan Allah adalah “ketergantungan orang itu secara total kepada-Nya”.

Bagi Yesus, anak-anak adalah model-model kekudusan dan kerendahan hati yang justru harus diagungkan, dihormati dan dilindungi. Bahkan Ia sendiri, sang Penguasa alam semesta, sudi merendahkan diri-Nya masuk ke tengah-tengah dunia sebagai seorang anak kecil. Secara umum kita dapat mengatakan bahwa anak-anak lebih mudah melaksanakan perintah untuk mengasihi Allah dan sesama. Kelihatannya mereka dapat menerima tanpa syarat, tersenyum tanpa alasan, mengampuni dan melupakan (sebaliknya orang dewasa seringkali bersikap: ‘to forgive, ‘Yes’; but to forget, ‘Never’), menaruh kepercayaan tanpa kecurigaan atau tes-tes dulu, percaya kepada ‘nasihat’ atau ‘ocehan’ kita orang-orang dewasa dengan sepenuh hati.

Tentu saja ada suatu perbedaan yang besar antara “menjadi seperti anak kecil” (Inggris: childlike) dan bersikap serta berperilaku “kekanak-kanakan” (Inggris: childish). Orang yang bersikap dan berperilaku kekanak-kanakan menuntut cara sendiri (semau gue); merasa bahwa dia memiliki hak untuk mengungkapkan kekesalan dan kegusarannya apabila dirinya tidak memperoleh apa yang diinginkannya. Sebaliknya orang “yang seperti anak kecil” seperti dimaksudkan oleh Yesus, mengakui bahwa dia samasekali tidak mempunyai klaim terhadap Allah. Orang seperti itu menaruh kepercayaan kepada Bapa surgawi untuk segala kebutuhannya. Orang itu percaya bahwa Allah secara bebas telah memberikan Putera-Nya sendiri guna menebus dosa-dosanya, dan Putera-Nya inilah jalan baginya untuk dapat datang menghadap hadirat Bapa di surga. Orang itu juga percaya segala rahmat dari-Nya adalah gratis (Rahmat dalam bahasa Latin = gratia; gratis !!!).

Dalam sebuah dunia yang sangat mengagung-agungkan capaian-capaian yang bersifat individual dan juga kemandirian, maka pandangan tentang ketergantungan total kepada Allah susah untuk diterima. Bagaimana kita dapat bersikap dan berperilaku seperti anak kecil setelah sedemikian lama diajarkan (sehingga menjadi keyakinan pribadi), bahwa kita harus mandiri, harus berdikari dalam segala hal? Jawaban atas pertanyaan ini terletak pada pemahaman kita tentang kasih Allah. Yesus adalah sang Gembala Baik! Ia terus mencari kita, domba-domba-Nya yang hilang, untuk membawa kita kembali kepada Bapa di surga.

Semakin kita memahami kasih Allah seperti ini, semakin terbuka pula diri kita untuk sepenuhnya menggantungkan diri kepada-Nya. Rasa percaya kepada Allah seperti yang ditunjukkan oleh anak kecil pada dasarnya adalah suatu tanggapan terhadap kasih dari ‘seorang” Allah yang menunjukkan diri-Nya sebagai Allah yang dapat diandalkan sepenuhnya, karena “Dia adalah satu-satunya Allah yang benar; Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi; Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut; Dialah satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus”.

Oleh karena itu marilah kita memohon kepada Yesus untuk menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Kita tidak perlu takut untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada-Nya dan mengungkapkan kepada-Nya segala masalah yang membuat kita sulit menaruh kepercayaan kepada-Nya. Semakin banyak waktu yang kita sediakan dan gunakan untuk berada bersama Yesus dan merenungkan sabda-Nya, semakin mendalam pula Roh Kudus-Nya akan meyakinkan diri kita akan kasih-Nya, dan kita pun menjadi semakin seperti anak anak kecil, baik dalam sikap maupun perilaku di hadapan Allah Tritunggal Mahakudus, seperti yang diajarkan oleh Yesus dalam bacaan Injil hari ini.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau senantiasa mencari daku, ketika diriku “hilang”. Terima kasih, ya Tuhan, karena Engkau telah mengajarku agar sepenuhnya menggantungkan diri kepada-Mu. Engkau memang andalanku, ya Yesus. Aku menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk pemenuhan segala sesuatu yang kubutuhkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5,10,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA ORANG RENDAH HATI SAJA YANG TERBUKA BAGI RAHMAT ALLAH” (bacaan tanggal 15-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan pada tahun 2011) 

Cilandak, 14 Agustus 2017 [Peringatan S. Maximilianus Maria Kolbe, Imam Martir 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA YANG MAU MENYELAMATKAN NYAWANYA, ……

SIAPA YANG MAU MENYELAMATKAN NYAWANYA, ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S.Klara, Perawan – Jumat, 11 Agustus 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan – Ordo II 

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (Mat 16:24-28) 

Bacaan Pertama: Ul 4:32-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 77:12-16,21

“Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mat 16:25)

Pernyataan Yesus ini dapat menimbulkan rasa takut kita atau dapat juga menimbulkan penyangkalan, bahwa Yesus dalam hal ini tidak memaksudkan “kehilangan nyawa” secara harfiah. Hal itu cukup radikal dan kebanyakan dari kita telah bekerja keras untuk apa yang kita miliki sekarang. Rumah, kendaraan roda empat maupun roda dua, pendidikan yang baik, pekerjaan/karir yang baik, dan makanan-minuman lezat yang dihidangkan di atas meja makan setiap hari. Sedikit saja dari kita yang memperoleh ini semua tanpa upaya, dan kebanyakan dari kita ingin “bertahan” pada apa yang kita telah miliki, lakukan dan kasihi.

Namun inilah justru apa yang dimaksudkan oleh Yesus. “Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya” berarti “siapa saja menghasrati pembebasan – materiil, pembebasan dunia ini – dari bahaya, penderitaan, sakit-penyakit, dlsb., akan kehilangan semua itu. Hal itu berarti bahwa siapa saja yang hidup demi kenyamanan hidup, kepemilikan, dan capaian-capaian duniawi akan berakhir dengan kehilangan semua itu.

Akan tetapi … bukankah tidak salah untuk menginginkan hal-hal tersebut? Apakah salahnya dengan hidup yang nyaman, makmur-sejahtera, dan “sukses”? Sama sekali tidak salah! Pertanyaan yang harus ditimbulkan oleh kata-kata Yesus dalam diri kita adalah, apakah itu saja yang kita ingin capai secara mati-matian? Apakah kegairahan hidup kita? Allah menginginkan banyak lagi dari diri kita masing-masing daripada sekadar mempertahankan status quo atau membuat sedikit perbaikan di sana-sini dalam kehidupan kita. Allah mengetahui sekali apa yang kita butuhkan dan Dia akan memperhatikan serta memenuhi kebutuhan kita itu (Luk 12:22-34), dengan demikian membebaskan diri kita agar dapat mengurus diri kita sendiri dengan apa yang diinginkan-Nya – hidup untuk Kerajaan-Nya.

Bagaimana kita dapat sampai ke sana? Pertama-tama kita dapat menggunakan pikiran kita. Marilah kita membuat daftar dari segala hal yang kita ketahui tentang Bapa surgawi, yang mahapengasih, mahatahu, mahakuasa, mahabijaksana, penuh bela rasa, penuh belas kasih dan mahapengampun. Apabila ingatan kita sudah mulai memudar, marilah kita membuka Kitab Suci untuk menemukan lebih banyak lagi. Kemudian, baiklah kita membuat daftar dari apa saja yang telah dilakukan oleh-Nya, misalnya menciptakan dunia dari ketiadaan, membebaskan bangsa Yahudi dari perbudakan Mesir dan membangkitkan Yesus dari alam maut. Lalu, marilah kita menggunakan hati kita. Kita menyediakan saat-saat tenang untuk mengingat-ingat apa yang telah dilakukan Allah bagi kita secara pribadi, dan kita mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita rasa syukur yang mendalam untuk semua itu. Kita harus seringkali mengingat-ingat tindakan-tindakan Allah yang penuh kuasa dalam kehidupan kita dan perkenankanlah semua itu menggerakan hati kita dengan kasih. Kita sungguh tidak dapat mengatakan bahwa terlalu seringlah kita mengingat-ingat apa yang telah dilakukan oleh Allah atas diri kita, dan marilah kita masing-masing sekarang juga mengatakan bahwa “untuk Dialah aku rela kehilangan nyawaku!”

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya pada kasih-Mu, kebaikan hati-Mu, dan hikmat-Mu bagiku. Ingatkanlah aku senantiasa siapa Engkau sebenarnya dan apa yang telah Kaulakukan untuk umat manusia. Aku ingin memberikan hidupku kepada-Mu, agar aku dapat memperoleh hidup kekal bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:24-28), bacalah tulisan yang berjudul “BIAYA KEMURIDAN DALAM MENGIKUT YESUS” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 9 Agustus 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIPANGGIL UNTUK SAKSI KEHIDUPAN BARU

DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI KEHIDUPAN BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Senin, 17 Juli 2017)

FSGM: Peringatan wafat Pendiri Kongregasi 

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak  bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut  seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Mat 10:34-11:1) 

Bacaan Pertama: Kel 1:8-14,22; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:1-8 

Seorang murid Kristus dipanggil untuk menjadi saksi dari suatu kehidupan baru – untuk memberi kesaksian – baik dengan kata-kata maupun teladan hidup – bahwa Yesus telah mengalahkan dosa dan meresmikan (menginaugurasikan) Kerajaan Allah. Selagi Dia menjelaskan mengenai panggilan ini, Yesus juga mengingatkan para murid-Nya bahwa kehidupan baru yang akan dimanifestasikan oleh para murid-Nya itu secara radikal berbeda dari kehidupan yang terpisah dari Allah. Pemisahan yang dikatakan Yesus bukanlah sebuah agenda radikal di mana segala sesuatu – bahkan yang sedikit saja bertentangan dengan Kristus – harus ditolak. Sebaliknya, pemisahan itu terjadi selagi terang dalam diri kita menjadi semakin bercahaya, dan kegelapan di sekeliling kita dan di dalam diri kita semakin terekspos.

Apabila kita ingin agar terang Kristus bersinar, maka kegelapan harus disingkirkan, dan hal ini kadang-kadang menyakitkan. Akan tetapi, panggilan seorang murid adalah teristimewa untuk mempertahankan relasinya dengan Yesus, dan memperkenankan sabda Kristus – seperti sebilah pedang bermata-dua – memisahkan kegelapan dari terang. Namun pada saat yang sama, Yesus tidak pernah meninggalkan para murid-Nya tanpa penghiburan kasih-Nya dan rasa nyaman,  bahwa dengan ikut ambil bagian dalam salib-Nya kita juga dengan indahnya ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya – sekarang dan pada akhir zaman.

DIETRICH-BONHOEFFER Photo courtesy Joshua Zajdman, Random House

Dietrich Bonhoeffer [1906-1945] adalah seorang pastor Lutheran berkebangsaan Jerman yang sangat dihargai oleh para teolog Katolik. Dietrich Bonhoeffer menentang kebijakan-kebijakan Jerman Nazi, yang kemudian menjebloskannya ke dalam kamp konsetrasi dan kemudian membunuhnya pada tahun 1945. Berkaitan dengan pokok bahasan kita kali ini, Bonhoeffer mengatakan: “Keputusan terakhir harus dibuat selagi kita masih berada di atas bumi. Damai Yesus adalah salib. Namun salib adalah pedang yang digunakan Allah di atas bumi. Pedang ini menciptakan pemisahan. Anak laki-laki terhadap ayahnya, anak perempuan terhadap ibunya, anggota rumahtangga terhadap kepala rumahtangga – semua ini terjadi dalam nama Kerajaan Allah dan damai-sejahtera-Nya. Inilah karya yang dikerjakan Yesus Kristus di atas bumi.”

“Kasih Allah itu berbeda ketimbang cinta manusia pada tubuh dan darah mereka sendiri. Kasih Allah bagi manusia berarti salib dan jalan kemuridan. Namun salib itu dan jalan itu dua-duanya adalah kehidupan dan kebangkitan. “Ia yang kehilangan nyawanya demi aku akan menemukannya.” Dalam janji ini kita mendengar suara Dia yang memegang kunci-kunci kematian, sang Putera Allah, yang pergi ke salib dan kebangkitan, dan bersama Dia dibawa-Nyalah milik-Nya.” (Biaya Kemuridan; Inggris: The Cost of Discipleship).

DOA: Tuhan Yesus, hidup Kristiani dapat dengan mudah terkesampingkan bagi banyak dari kami. Kami kurang serius, tidak memiliki komitmen! Seperti benih yang jatuh ke atas tanah berbatu, Sabda-Mu menjadi mati karena kebebalan kami. Kami mohon ampun, ya Tuhan, atas segala dosa dan kekurangan kami. Melalui Roh Kudus-Mu, kami diyakinkan bahwa Injil menuntut komitmen total dari kami untuk mengasihi Allah dan sesama kami. Tuhan, ubahlah rasa takut kami menjadi iman yang berani untuk mewartakan Kabar Baik-Mu. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:34-11:1), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH YANG PERTAMA DAN UTAMA” (bacaan tanggal 17-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 14 Juli 2017 [Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEORANG MURID MENJADI SAMA SEPERTI GURUNYA, ……

SEORANG MURID MENJADI SAMA SEPERTI GURUNYA, ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan/Pesta S. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja – Sabtu, 15 Juli 2017) 

“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Kej 49:29-32; 50:15-26a; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-7 

“Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya.” (Mat 10:25)

Panggilan Yesus kepada para murid-Nya – dari dahulu sampai sekarang – pertama-tama dan terutama adalah sebuah panggilan untuk menjadi seperti diri-Nya. Pada saat Ia memanggil Andreas dan Simon Petrus, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa Dia akan menjadikan mereka penjala manusia (Mat 4:19). Dengan mengikuti Dia, para murid akan ditransformasikan menjadi serupa dengan diri-Nya. Hati Yesus akan menjadi hati mereka; seperti Guru mereka pula, mereka akan merindukan hari di mana semua orang akan mendengar Kabar Baik dan menerima pesan Injil.

Yesus juga mengingatkan para murid-Nya bahwa ikut ambil bagian dalam kehidupan sang Guru bukanlah tanpa tantangan-tantangan dan kesulitan-kesulitan: “Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya” (Mat 10:25). Pada saat yang sama, Yesus berulang-ulang kali mengatakan kepada mereka untuk tidak menjadi takut akan apa yang akan terjadi atas diri mereka (Mat 10:26,28,31). Dengan keyakinan seseorang yang diri-Nya sendiri telah menjadi objek kebencian, ancaman, dijadikan korban jebakan oleh komplotan orang jahat, Yesus mengetahui benar apa artinya mengalami situasi-situasi yang menakutkan dan kemudian mengatasinya.

Karena kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus, kita semua ikut ambil bagian dalam kemenangan-Nya atas si Jahat. Hal ini tidak berarti bahwa kita akan secara penuh bebas dari daya-upaya si Iblis, karena semua itu merupakan bagian kehidupan semua murid dalam dunia ini yang masih menjadi subjek kematian. Kita tidak pernah boleh menyerah, bagaimana pun dahsyatnya serangan yang datang atau betapa pun lemahnya kita rasakan diri kita. Guru kita – Tuhan Yesus Kristus – ada dalam diri kita untuk menghibur dan memperkuat diri kita. Dia adalah hikmat kita dan akan memberikan kepada kita segalanya yang kita butuhkan selagi kita menghadap-Nya dalam iman yang rendah hati (Mat 10:19-12).

Pada zaman modern ini, dimana kita melihat bahwa percaya kepada Allah dan ketaatan pada perintah-perintah-Nya semakin menjadi sasaran serangan-serangan gencar, kita dapat memiliki pengharapan dan terus menjalani jalan kemuridan. Kristus ada dalam diri kita dan kasih-Nya melingkupi diri kita, dan Ia tidak akan meninggalkan kita. Dia akan mengakui kita di hadapan Bapa surgawi apabila kita tetap setia kepada-Nya. Oleh karena itu kita tidak boleh berkecil hati, karena Roh yang ada dalam diri kita itu lebih besar daripada roh yang ada dalam dunia (1Yoh 4:4).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk percaya pada kehadiran-Mu di dalam diri kami masing-masing. Kami ingin menjadi seperti Engkau dan menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KAMU TAKUT, KARENA KAMU LEBIH BERHARGA DARIPADA BANYAK BURUNG PIPIT” (bacaan tanggal 15-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 12 Juli  2017 [Peringatan S. John Jones & John Wall, Martir) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MATIUS DIPANGGIL UNTUK MENGIKUT YESUS

MATIUS DIPANGGIL UNTUK MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Jumat, 7 Juli 2017) 

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Kej 23:1-4,19; 24:1-8,62-67; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

Dalam setiap peristiwa yang diceritakan di dalamnya, Injil Matius senantiasa langsung menunjuk kepada inti kebenaran spiritual dari peristiwa tersebut. Narasi tentang panggilan Lewi (Matius) adalah sebuah contoh yang baik. Apa yang perlu kita pahami dengan benar dari narasi dalam bacaan Injil hari ini adalah bahwa dalam terang  proklamasi Yesus tentang Kerajaan Allah, Matius melihat kerapuhan dari cara hidupnya yang lama dan ia pun mengambil keputusan cepat-tepat untuk berbalik dari cara hidupnya yang lama itu dan kemudian mengikut Yesus. Seperti dinarasikan dalam bacaan Injil, keputusan Matius ini seakan tidak berdasarkan keputusan yang matang, semuanya terasa spontan dan instan. Harapan manusiawi kita: mungkin akan lebih jelas kiranya apabila bacaan Injil tentang panggilan Matius ini memuat sedikit detil di sana sini untuk membantu para pembaca memahaminya dengan lebih tepat.

Di sisi lain, rasanya tidak mungkinlah apabila Yesus merupakan orang yang sama sekali asing di mata Matius. Yesus telah cukup dikenal di seluruh Galilea (Mat 4:23-25); lagi pula orang banyak senantiasa mengikuti ke mana saja Dia pergi; bahkan mengikuti Dia dari kota ke kota. Sebagai seorang pemungut cukai – seorang petugas yang biasa berhubungan dengan publik – Matius tentunya pernah mendengar tentang Yesus. Barangkali dia juga pernah hadir di satu atau lebih acara pengajaran/khotbah dan/atau acara penyembuhan orang-orang sakit serta pengusiran roh-roh jahat oleh Yesus.

Cintakasihnya kepada Allah bisa saja telah bekerja dalam diri Matius melalui apa yang telah diterimanya dari pesan-pesan yang disampaikan oleh Yesus “plus-plus” (misalnya dia menyaksikan penyembuhan ilahi, berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya yang dibuat oleh Yesus). Namun, rasa ragu dan bimbang serta rasa takut mungkin saja belum hilang sama sekali dari dirinya. Yesus memiliki wawasan spiritual yang sempurna ke dalam hati orang. Maka, bayangkanlah apa yang terjadi ketika Matius yang sedang sibuk memungut cukai di tengah-tengah hiruk pikuk pasar yang penuh kesibukan, bertemu dengan Dia – muka ketemu muka. Kita harus senantiasa mengingat apa yang ditulis oleh Uskup Fulton Sheen (Life of Christ – Kristus), bahwa perjumpaan dengan Yesus senantiasa terjadi di tempat yang kita tidak duga-duga dan pada waktu yang tidak kita sangka-sangka.

Undangan pribadi dari Yesus kepada si Matius pemungut cukai ini sangat singkat dan sederhana: “Ikutlah Aku” (Mat 9:9). Undangan Yesus ini membawa Matius kepada suatu titik pengambilan keputusan yang menentukan, dan – terpujilah Allah – ia memilih untuk memberi tanggapan positif dan sepenuh hati terhadap undangan ini, tentunya berdasarkan pertimbangan pengalamannya sendiri atas apa saja yang pernah didengar dan dilihatnya sebelum saat menentukan itu.

Apa yang hebat-mengagumkan dari pribadi seorang Matius ini? Matius bukanlah seorang insan yang mau hidup suci-suci sendiri. Dia mengundang para pemungut cukai dan pendosa untuk menghadiri perjamuan makan di rumahnya. Pesan Yesus tentang pertobatan dan pengampunan memiliki daya tarik bagi mereka yang mengetahui bahwa diri mereka adalah para pendosa. Jadi, sungguh merupakan suatu kesempatan besar bagi para pemungut cukai dan para pendosa lainnya untuk mengalami persekutuan dengan Yesus dan para murid-Nya lewat sebuah perjamuan makan di rumahnya (Mat 9:10). Dalam salah satu khotbahnya, Santo Bede [c.673-735] mengatakan: “Betapa profetisnya dia (Matius) yang [di kemudian hari] akan menjadi seorang rasul dan guru bangsa-bangsa. Pada jam pertobatannya, dia menarik sekelompok pendosa kepadanya untuk bersama-sama menuju keselamatan. Melalui dirinya yang belum menjadi seorang percaya yang sesungguhnya itu, dia sudah harus melaksanakan tugas evangelisasi yang akan menjadi tugasnya sebagai seorang yang sudah memiliki keutamaan/kebajikan yang matang” [terjemahan bebas dari Bahasa Inggris, Homilies, 21].

Lihatlah, Tuhan mampu untuk membuat kehidupan orang-orang yang mau dan mampu mengakui kedosaan mereka, untuk menghasilkan buah-buah yang baik! Ya Allah, Engkau sungguh baik hati, terimalah persembahan pujian kami!

DOA: Tuhan Yesus, jamahlah aku sekarang dengan kasih-Mu yang menyembuhkan, agar dengan demikian aku dapat menjadi saluran rahmat-Mu serta belarasa-Mu bagi orang-orang di sekelilingku yang membutuhkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “MATIUS PUN BANGKIT DAN MENGIKUT DIA” (bacaan tanggal 7-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 3 Juli 2017 [PESTA S. TOMAS, RASUL] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KOMITMEN YANG BERSIFAT TOTAL

KOMITMEN YANG BERSIFAT TOTAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIII [TAHUN A], 2 Juli 2017) 

“Siapa saja yang mengasihi bapa dan ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankaan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyabut seorang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.” (Mat 10:37-42) 

Bacaan Pertama: 2Raj 4:8-11,14-16a; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,16-19; Bacaan Kedua: Rm 6:3-4,8-11 

Ada 3  (tiga) ayat (Mat 10:34-36) yang tidak merupakan bacaan Injil hari ini, namun merupakan bagian tak terpisahkan dari bacaan Injil hari ini. Oleh karena itu saya akan menyinggung juga 3 ayat ini dalam tulisan ini.

Memang kata-kata Tuhan Yesus dalam Injil ini cukup mengejutkan (atau sangat mengejutkan?). Yesus berkata bahwa Dia datang bukan untuk membawa damai di atas bumi, melainkan perpecahan. Raja Damai mengatakan bahwa dia datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya (lihat Mat 10:34-36). Sungguh aneh. Sungguh, hampir tidak dapat dipercaya bahwa semua kata itu ke luar dari mulut Yesus sendiri. Memang kita dapat maklumi, jika seseorang sudah all out dalam mengikuti jejak Kristus, namun anggota keluarganya yang lain tidak begitu, hal itu bukanlah salah Kristus.

Yesus menuntut dari kita masing-masing suatu komitmen total: Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Yesus, maka ia tidak layak bagi Yesus dst. Seseorang yang hanya mau menyelamatkan dirinya sendiri hanya akan menggiring dirinya kepada kematian. Sebaliknya, siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Yesus, maka dia akan memperolehnya (lihat Mat 10:37,39). Yesus membuat jelas bahwa orang yang mencari-selamat sendiri bukanlah tipe orang yang layak sebagai pengikut-Nya.

Kata-kata Yesus tentang mengikut Dia dan hubungannya dengan salib di atas sangatlah jelas. Yesus tidak menawarkan kekayaan duniawi, Dia menawarkan salib. Rakyat penduduk Galilea pada zaman Yesus tahu betul macam apa salib itu. Pada waktu jendral Romawi, Varus, telah menumpas  pemberontakan yang dipimpin oleh Yudas dari Galilea, dia memerintahkan pasukannya untuk menyalibkan 2.000 orang Yahudi, dan menegakkan orang-orang yang tersalib di sepanjang jalan menuju Galilea. Pada zaman kuno seorang penjahat memanggul sendiri salibnya ke tempat penyaliban dan orang-orang yang sedang mendengarkan Yesus berkhotbah telah melihat sendiri bagaimana para “penjahat” itu menderita ketika memanggul kayu salib mereka, juga betapa mendalam penderitaan mereka ketika menghadapi ajal di atas kayu salib.

Begitu banyak orang sepanjang sejarah Gereja/Kekristenan yang telah mengorbankan hidup mereka demi Kristus yang dipercayai oleh mereka sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Tanggal 22 Juni lalu kita baru saja memperingati S. Thomas More [1480-1535], seorang pejabat tinggi Kerajaan Inggris  anggota Ordo III Sekular S. Fransiskus yang rela dipancung karena kesetiaannya kepada Kristus Sang Raja sejati. Tanggal 30 Juni kemarin kita juga memperingati seorang martir Kristus lainnya, B. Raymundus Lullus [1236-1314], seorang turunan bangsawan yang juga seorang anggota Ordo III Sekular S. Fransiskus. Orang kudus itu dilempari batu oleh ketika melakukan tugas pelayanan misionernya di Bougie, Afrika Utara. Beliau menghembuskan napasnya yang terakhir dalam perjalanan pulang dengan kapal laut, ketika tiba di dekat Mallorca. Ini adalah dua contoh tentang apa artinya memanggul salib dan mengikut Yesus, …… kehilangan nyawa demi/karena Yesus.

Seorang Kristiani (pengikut/murid Kristus) mungkin harus mengorbankan ambisi-ambisi pribadinya, kemudahan dan kenyamanan yang mungkin dapat dinikmatinya, karir yang mungkin dapat dicapainya, harus mengesampingkan mimpi-mimpinya karena disadarkan bahwa semua itu bukanlah untuk dirinya. Yang pasti adalah bahwa dia harus mengorbankan kehendaknya, karena tidak seorang Kristiani pun dapat melakukan apa yang dikehendakinya, tetapi apa yang dikehendaki oleh Yesus Kristus. Dalam Kekristenan (Kristianitas) salib selalu hadir, karena Kristianitas memang sejatinya adalah agama salib.

Kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini jelas menunjukkan bahwa Dia tidak menginginkan ada orang memelintir ajaran-Nya tentang kasih. Yesus memperhadapkan orang-orang dengan pilihan-pilihan yang jelas: untuk Dia atau melawan Dia. Jadi jelaslah bahwa ikatan keluarga bukanlah alasan untuk tidak mengikut Yesus.

Sekarang pertanyaannya: Apakah kita sungguh-sungguh orang Kristiani yang otentik? Pahamkah kita bahwa ajaran Yesus tentang kasih dapat menyebabkan terjadinya perpecahan di antara teman-teman terdekat. Apakah kita cukup berani untuk menghadapi orang-orang lain dan membawa pesan Injil kepada mereka? Apakah kita mau menjalani kehidupan ini sedemikian rupa sehingga dapat bertentangan dengan pandangan orang-orang yang kita kasihi? Kristianitas bukanlah diperuntukkan bagi orang yang suka menghindari tugas. Kristianitas menuntut komitmen, menuntut pelayanan, pelayanan yang murah hati, bagi sesama manusia, teristimewa mereka miskin dan tertindas.

Namun demikian, di sini juga terletak ganjarannya, penemuan diri kita yang sejati. Hal ini dikatakan oleh Yesus sendiri: “Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya” (Mat 10:42; bdk. Mrk 9:41).

DOA: Ingatlah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada TUHAN: “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!” (Mazmur Daud 16:1-2). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Rm 6:3-4,8-11), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU TELAH MATI TERHADAP DOSA, TETAPI KAMU HIDUP BAGI ALLAH DALAM KRISTUS YESUS” (bacaan tanggal 2-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

Cilandak, 29 Juni 2017 [HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS