Posts from the ‘KEMURIDAN’ Category

MENGHASILKAN BUAH-BUAH YANG BAIK

MENGHASILKAN BUAH-BUAH YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ireneus, Uskup & Martir – Rabu, 28 Juni 2017)

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20)

Bacaan Pertama: Kej 15:1-12,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Pada waktu Yohanes Pembaptis mengirim pesan kepada Yesus dengan perantaraan dua orang murid-Nya apakah Dia adalah sang Mesias, Yesus sebenarnya dapat saja mengatakan secara sederhana dan singkat: “Ya”. Ternyata Yesus mengundang Yohanes Pembaptis untuk mempertimbangkan bukti-bukti yang ada: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar; Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dari kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22). Dengan perkataan lain, kepada Yohanes Pembaptis diberitahukan agar menerapkan pada diri Yesus tolok ukur yang telah diajarkan Yesus sebagai cara untuk membedakan antara nabi-nabi yang baik dan nabi-nabi palsu: Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16).

Pengujian “buah-buah” merupakan suatu reality check yang baik juga bagi kita. Kita semua mengetahui bahwa kita seharusnya menjadi “terang dunia” (Mat 5:14). Namun kita juga tahu bahwa sekadar berbicara itu sangatlah mudah. Masalah sesungguhnya adalah, apakah tindakan-tindakan kita mendukung kata-kata yang kita ucapkan. Dalam kesaksian di dalam keluarga kita sendiri dan bagi dunia sekeliling kita, apakah terdapat kecocokan antara apa yang kita ucapkan dengan apa yang kita lakukan secara nyata? Apabila kita adalah orangtua yang sedang membesarkan anak-anak, apakah kita mempraktekkan apa yang kita khotbahkan?

Apabila kita berbicara mengenai pembentukan nurani, ekspektasi, dan kebiasaan anak-anak kita, maka keteladanan orangtua itu penting secara unik. Akan tetapi, bagi anak-anak untuk benar-benar memahami pesannya, maka pesan itu harus dikomunikasikan oleh orang-orang dewasa lainnya. Jadi apabila diriku adalah seorang kakek, bibi atau paman, pendidik, atau sekadar seorang dewasa yang mempunyai keprihatinan terhadap generasi mendatang, apakah “buah-buah” dari teladan yang kuberikan itu konsisten dengan kata-kata yang kuucapkan? Apakah aku berdoa bagi kehidupan keluarga? Bagaimana pula dengan kontak-kontakku dengan tetangga-tetanggaku, para kolegaku di tempat kerja dan sahabat-sahabatku? Apabila aku ingin agar mereka mengetahui dan mengenal kebesaran kasih Allah, maka bagaimana penghayatan hidupku sehari-hari harus mengungkapkan hal itu? Terkait dengan pokok ini, Santo Bonaventura dan Beato Thomas dari Celano menulis tentang Santo Fransiskus dari Assisi seperti berikut: “Karena dia sendiri mempraktekkan lebih dahulu dalam perbuatan apa yang hendak dianjurkannya kepada orang-orang lain dalam khotbahnya, maka ia tidak takut akan pengecam dan mewartakan kebenaran dengan penuh keyakinan” (LegMaj XII:8; bdk. 1Cel 36).

Buah-buah yang baik berarti akar-akar yang baik. Yesus ingin agar kita berakar dalam diri-Nya setiap hari, tidak hanya melalui doa-doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, juga dengan memperkenankan Dia memangkas kita layaknya ranting-ranting anggur. Dengan mempraktekkan cara mendengarkan secara aktif, kita dapat tetap menangkap bisikan Roh Kudus. Janganlah sampai kita mengabaikan suara-Nya ketika Dia berbicara mengenai hal-hal yang perlu kita ubah atau tinggalkan! Baiklah kita hidup dalam cara yang membuat kita saksi-saksi profetis di tengah dunia! Dengan demikian kita semua akan menghasilkan buah secara berlimpah – buah yang tetap (Yoh15:16).

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahatahu, selidikilah hatiku. Tolonglah aku mencabut sampai ke akar-akarnya segala dosa yang Kaunyatakan. Pimpinlah aku dalam jalan hidup yang berbuah, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “WASPADALAH TERHADAP SERIGALA-SERIGALA BERBULU DOMBA” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 26 Juni 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PINTU YANG SEMPIT DAN JALAN YANG SESAK

PINTU YANG SEMPIT DAN JALAN YANG SESAK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 27 Juni 2017)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14)

Bacaan Pertama: Kej 13:2,5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5

“Sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:14)

Apakah agama Kristiani merupakan suatu misteri yang hanya diperuntukkan bagi sekelompok kecil manusia saja? Sekelompok kecil murid yang mengelilingi sang Guru? Hanya berjumlah 144.000 saja? (lihat Why 14:1). Kalau demikian halnya, bagaimanakah mungkin Yesus Kristus, menjelang kenaikan-Nya ke surga memberi amanat agung-Nya yang terkenal: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:18-20). Ada sejumlah ayat lagi di samping petikan ini. Apakah terdapat ayat-ayat yang saling bertentangan dalam Kitab Suci sendiri, karena teks yang satu mengatakan sedikit, sedangkan teks lainnya mengatakan banyak? Jika demikian halnya, Kitab Suci tidak pantas disebut sebagai sabda Allah. Sebagai kata-kata manusia saja tidak mungkin ada pertentangan dalam perkara yang sedemikian pentingnya. Mengapa? Karena pokok pembicaraan dalam Kitab Suci adalah justru keselamatan umat manusia.

Dalam Khotbah di Bukit, Yesus samasekali tidak bermaksud untuk memberikan ajaran dogmatis-teoritis, seperti misalnya jumlah orang yang terpilih. Yesus ingin mengajak manusia untuk mencari jalan keselamatan dengan segenap hati, serta bertekun di dalamnya. “Masuklah”. Itulah kata pertama yang dikatakan-Nya dan kata itu bersifat “menentukan”.

Untuk menerangkan betapa pentingnya upaya untuk mencari, menemukan, dan masuk ini, Yesus melukiskan pertentangan antara pintu yang kecil dan besar, antara jalan yang luas dan jalan yang sempit. Pertentangan ini tidak mengandung wahyu tentang berapa sih jumlah mereka yang menemukannya, tetapi hanya dasar perintah untuk mencari keselamatan ini dengan sungguh-sungguh. Hanya dengan demikian saja sabda ini ada hubungannya dengan seluruh Khotbah di Bukit. Bahwasanya upaya untuk mencari ini amat penting, sudah jelas karena Dia adalah “Jalan” (Yoh 14:6) dan “Pintu” (Yoh 10:7). Jadi, upaya “menemukan” Yesus Kristus sungguhlah penting. Barangsiapa menemukan Dia akan selamat, dan barangsiapa tidak menemukan Dia akan binasa.

Dengan demikian, yang dimaksudkan di sini adalah agar manusia mencari Yesus Kristus dan sabda-Nya. Jika diambil keseluruhannya, memang di Israel hanya sedikit saja orang yang sungguh menemukan-Nya, oleh karena itu semua manusia harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh peringatan Tuhan Yesus ini, agar supaya dari seluruh umat manusia banyak juga yang menemukan-Nya.

Inilah tuntutan Yesus yang memang berat – namun menentukan – bagi umat manusia. Oleh karena itu marilah kita berupaya dengan sungguh serius agar supaya termasuk dalam jumlah kecil orang yang mencari dengan tulus-jujur serta sungguh-sungguh, yang memilih dengan tegas dan terang-terangan dan yang selanjutnya memperkenankan Allah berbuat seturut kerahiman-Nya terhadap mereka.

DOA: Bapa surgawi, kami bertekad untuk menjadi murid Kristus, Putera-Mu, yang setia dan taat. Oleh kerahiman-Mu, biarlah Roh Kudus-Mu senantiasa membimbing kami dalam menjalani hidup ini dan melakukan perintah Yesus untuk membuat pilihan-pilihan yang benar di mata-Mu, agar dapat masuk ke dalam surga dan menikmati hidup kekal bersama Allah Tritunggal dan para kudus serta semua makhluk surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH PENGORBANAN YESUS MEMPUNYAI ARTI?” (bacaan tanggal 27-6-17 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017.

Cilandak, 26 Juni 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JANGAN KAMU MENGHAKIMI, ……

JANGAN KAMU MENGHAKIMI, ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Senin, 26 Juni 2017)

 

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Mat 7:1-5) 

Bacaan Pertama: Kej 12:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:12-13,18-20,22

Pada malam sebelum wafat-Nya, Yesus berdoa untuk kesatuan/persatuan semua orang yang percaya kepada-Nya (lihat Yoh 17:21). Selama 1.000 tahun pertama, walau pun terdapat banyak halangan, Gereja mampu untuk memelihara kesatuan/persatuannya. Akan tetapi millennia kedua Kristianitas (Kekristenan) ditandai dengan terjadinya perpecahan-perpecahan yang mendalam dan menyakitkan. Sebagai akibat dari apa yang terjadi sekitar 1.000 tahun lalu, sangatlah menggoda bagi seseorang untuk memandang orang Kristiani dari denominasi yang berbeda dengan cara-cara yang justru dapat memperuncing perbedaan yang sudah ada.

Seingat saya, pada tahun 1950’an, kita (Kristiani yang Katolik di Indonesia) merasa bangga dan nyaman karena kita memiliki kebenaran penuh dan merasakan sedikit saja keterikatan dengan umat Kristiani lainnya. Namun demikian, bukankah mereka juga menyembah Allah Tritunggal? Bukankah mereka juga memiliki Roh Kristus melalui Baptisan? Bukankah hal-hal yang memisahkan kita jauh lebih sedikit daripada hal-hal yang mempersatukan kita? Memang sekarang sudah ada banyak perbaikan di bidang ekumene, misalnya dengan menerbitkan Alkitab bersama dalam Lembaga Alkitab Indonesia, melakukan kegiatan “baksos” bersama antar-gereja dlsb., namun upaya perbaikan atas dasar “kehendak baik” masih terus diperlukan.

Dalam Injil, kita diminta oleh Yesus untuk melakukan penghakiman/penilaian yang benar tentang situasi-situasi di mana kita berada, tentang orang-orang di sekeliling kita, juga tentang hati kita sendiri. Akan tetapi kita harus sadar bahwa penghakiman-penghakiman/penilaian-penilaian kita juga memiliki keterbatasan. Ketika Yesus bersabda: “Janganlah kamu menghakimi”, sebenarnya Dia mengingatkan kita untuk tidak pernah boleh memainkan peran sebagai Allah, karena hanya Allah sendirilah yang dapat menjatuhkan hukuman atau membebaskan seseorang. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa kita boleh bersikap masa bodoh terhadap kebenaran atau menghindari untuk berdiri membela apa yang kita percayai. Hal ini hanya berarti bahwa daripada  sikap kita diwarnai penghukuman, kita seharusnya secara tetap memiliki pengharapan akan terwujudnya rekonsiliasi.

Keselamatan dalam Kristus adalah untuk semua orang, dan Ia memberi amanat agung kepada para murid-Nya untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil kepada semua bangsa. Barangkali alasan yang paling mendesak adalah meningkatkan kesaksian kita di depan mereka yang membutuhkan pertobatan kepada Kristus. Sebagaimana perpecahan itu menghancurkan umat Israel (2Raj 17), maka perpecahan menjadi penghalang serius bagi kesaksian kita kepada dunia.

Dengan berjalan seturut bimbingan Roh Kudus, kita masing-masing dapat menjadi kekuatan signifikan untuk terciptanya persatuan dan rekonsiliasi. Setiap tindakan kerendahan hati, tindakan pertobatan, atau tindakan mulia demi kebaikan sesama manusia akan membuka lebih lebar lagi pintu rahmat dari Allah. Oleh karena itu kita tidak pernah boleh menyerah. Kita tidak boleh menghakimi, namun tetap bekerja sampai tibanya hari besar, ketika semua orang percaya berkumpul bersama sebagai satu umat yang dipersatukan dalam pujian serta penyembahan kepada satu Allah yang benar.

DOA: Bapa surgawi, persatukanlah kami dalam Kristus. Satukanlah kami sehingga melalui kesatuan/persatuan kami dunia dapat melihat kuat-kuasa dan belas kasih-Mu dan menjadi percaya bahwa Yesus adalah sungguh Anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:1-5), bacalah tulisan dengan judul “UNDANGAN YESUS KEPADA KEBEBASAN SEJATI” (bacaan tanggal 26-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

Cilandak, 24 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MEMPERKENANKAN YESUS MENGUNGKAPKAN KEGELAPAN DIRI KITA

MEMPERKENANKAN YESUS MENGUNGKAPKAN KEGELAPAN DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XII [TAHUN A], 25 Juni 2017) 

“Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:26-33) 

Bacaan Pertama: Yer 20:10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:8-10,14,7,33-35; Bacaan Kedua: Rm 5:12-15 

“Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang.” (Mat 10:27) 

Selagi Dia menyiapkan para murid-Nya untuk pekerjaan misioner, Yesus dengan berhati-hati menguatkan mereka untuk sebuah tugas yang memang mudah terbuka untuk diserang, dikritik, bahkan dijadikan objek kebencian. Apa kiranya strategi Yesus dalam hal ini? Apakah yang dikatakan-Nya kepada mereka? “… apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah” (Mat 10:27). Apa yang diharapkan Yesus dari mereka untuk mendengar “dalam gelap”? Siapakah yang akan membisikkan kata-kata kepada mereka? Bagaimana seharusnya mereka mengatakannya dalam terang?

Ada banyak cara yang berbeda-beda untuk dapat memahami sabda Yesus ini, namun ada satu tafsir yang membawa dampak tidak hanya pada karya misioner melainkan juga pada setiap relasi di mana kita terlibat. Adalah “dalam gelap” – dalam keheningan hati kita –  Yesus menunjukkan kepada kita betapa kuat kodrat manusiawi kita yang cenderung untuk berdosa itu dan betapa dalam kita membutuhkan penyembuhan dan penebusan dari Dia. Kita semua telah mengetahui saat-saat di mana Roh Kudus telah membawa kita berhadapan-hadapan – muka ketemu muka – dengan kegelapan dalam diri kita, dan kita semua juga telah mengetahui saat-saat di mana kita menerima penghiburan dari Roh yang sama – penghiburan dan jaminan akan belas kasih-Nya dan pengampunan-Nya. Hal-hal inilah yang dimaksudkan bagi kita untuk diwartakan dari atas rumah: kasih Bapa yang melimpah-melimpah atas semua pendosa!

Ketika kita berhadapan dengan “Sang Tersalib”, maka pandangan mata kita harus diarahkan ke atas karena posisi salib itu lebih tinggi daripada kita semua yang berdiri di dekat kaki salib. Apabila kita sungguh ingin menjadi saksi Kristus yang memiliki kredibilitas, maka kita harus jujur perihal ketergantungan kita kepada-Nya. Lalu kita dapat menyatakan, “Aku sakit dan Yesus menyembuhkan diriku. Aku tuli dan Ia membuka telingaku. Aku terikat dan Ia membebaskan diriku.” Tidak ada seorang pun ingin mendengar tentang bagaimana menjadi “baik” bilamana mereka mengetahui betapa sulitnya hal itu. Akan tetapi setiap orang ingin mendengar tentang kuat-kuasa Allah untuk menyembuhkan dan mengubah para pendosa. Setiap orang ingin mendengar bahwa mereka juga dapat menjadi pengikut-pengikut Yesus.

Kabar baik dari Injil adalah bahwa Yesus itu lebih besar daripada apa saja yang kita lihat ada di dalam diri kita. Yesus dapat membebaskan, menyembuhkan dan menyelamatkan kita! Ia ingin melakukan hal itu! Oleh karena itu marilah kita memperkenankan Yesus untuk menunjukkan kepada kita segala kegelapan diri/hati kita, bukan hanya untuk kebaikan kita, melainkan demi pemberian kesaksian kita tentang Yesus kepada orang-orang lain.

DOA: Roh Kudus Allah, selidikilah hatiku. Berbisiklah kepadaku tentang kegelapan yang ada di dalam hatiku. Semoga terang-Mu menyinari kegelapan hatiku itu dan membebaskan aku, sehingga dengan demikian aku dapat berbagi dengan orang-orang lain tentang kabar baik rekonsiliasi diriku dengan Bapa surgawi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA DIALAH YANG HARUS DITAKUTI” (bacaan tanggal 25-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 22 Juni 2017 [Peringatan S. John Fisher, Uskup & S. Thomas More, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENGAMPUNI DALAM NAMA YESUS

MENGAMPUNI DALAM NAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan Biasa XI – Kamis, 22 Juni 2017)

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15)

Bacaan Pertama: 2Kor 11:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-4,7-8

“Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15).

Di sini Yesus mengatakan bahwa satu halangan besar bagi setiap orang yang sedang disembuhkan oleh-Nya adalah ketiadaan pengampunan orang itu terhadap orang yang telah bersalah kepadanya. Agar kita dapat disembuhkan secara spiritual, secara mental, secara emosional, malah secara fisik dalam beberapa kasus, kita harus mengampuni, sungguh mengampuni orang atau orang-orang yang telah bersalah kepada kita: “Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Pengampunan itu begitu hakiki, namun terkadang (atau malah seringkali?) tidaklah mudah. Oleh karena itu marilah kita menghaturkan doa permohonan kepada-Nya agar kita dianugerahi karunia pengampunan, suatu rahmat yang sungguh kita perlukan dari Dia:

Bapa surgawi, aku berterima kasih kepada-Mu untuk Putera-Mu Yesus, yang telah menanggung banyak derita dan sengsara bagiku. Selagi Putera-Mu terkasih, Yesus, tergantung di kayu salib, Ia berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka” (Luk 23:34). Ia berdoa bagi mereka yang telah menyebabkan segala derita sengsara-Nya, dan Ia pun mengampuni mereka untuk segala kesalahan mereka.

Yesus, Engkau mengajar kami untuk mengampuni, tidak tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali (Mat 18:22). Engkau juga mengampuni setiap pendosa yang datang kepada-Mu. Tuhan Yesus, aku merasa sulit untuk mengampuni orang-orang tertentu yang telah menyakiti diriku. Lukaku serasa sangat dalam. Yesus, Tuhanku dan Allahku, di mana aku tidak mampu mengampuni, curahkanlah Roh pengampunan-Mu ke dalam hatiku. Aku memang masih jauh dari sempurna, ya Tuhan, karenanya tidak mudah bagiku untuk melupakan luka-luka yang disebabkan kesalahan orang lain terhadapku. Namun Engkau, ya Yesusku yang baik, Engkau adalah Putera yang sangat taat kepada Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp 2:8), Engkau juga tetap mengampuni sampai menjelang wafat-Mu (Luk 23:34), penuhilah hatiku dengan kasih-Mu yang penuh kuat-kuasa. Kemurahan hati-Mu, ya Yesus, adalah cintakasih yang mengampuni, cintakasih yang membasuh bersih setiap dosa, betapa pun besarnya dosa itu.

Yesus, manakala aku tidak dapat mengampuni, masuklah ke dalam hatiku, ubahlah aku, dan penuhilah diriku dengan cintakasih-Mu yang penuh pengampunan itu. Tuhan Yesus, ambillah tanganku, letakkanlah tanganku itu di tangan mereka yang telah menyakiti diriku. Engkau mengasihi mereka bagiku, dan dengan demikian Engkau akan mengajar aku untuk mengampuni dalam Nama-Mu.

Untuk diselamatkan dalam Nama-Mu berarti belajar untuk mengampuni dalam Nama-Mu. Aku masih ingat, ya Tuhan Yesus, bagaimana Engkau menjawab pertanyaan para murid-Mu yang pertama dahulu, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” (Mrk 10:26), dan Engkau menjawab: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikan bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27). Apabila aku merasa hampir tidak mungkin untuk mengampuni dan tetap mengampuni, aku akan meletakkan masalahku pada tangan-Mu, ya Tuhanku dan Allahku. Karena dengan Allah segalanya mungkin. Terima kasih, ya Tuhan Yesus yang penuh kasih, karena Engkau telah mengajar aku bagaimana mengampuni. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGAJARKAN DOA BAPA KAMI” (bacaan tanggal 22-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseeorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 19 Juni 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA TIDAK MELAWAN KARENA ADA KASIH

KITA TIDAK MELAWAN KARENA ADA KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Senin, 19 Juni 2017)

 

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. (Mat 5:38-42) 

Bacaan Pertama: 2Kor 6:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

“Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.” (Mat 5:39)

Seriuskah Yesus ketika mengatakan ini? Bagaimana dengan sahabatku yang telah mengkhianatiku? Walaupun Yesus telah berbicara tentang menghindari tindakan balas dendam, apa yang dikatakan-Nya itu sulit untuk diterima. Apakah Yesus sungguh serius ketika Dia mengatakan bahwa kita harus memberikan pipi kiri kita masing-masing apabila pipi kanan kita ditampar?

Ini sungguh merupakan ajaran keras! Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa perintah Yesus ini harus kita abaikan. Apalagi, Yesus sendiri tidak menghindar dari hal seperti ini. Yesus telah menunjukkan bahwa pengampunan yang bersifat radikal tetap mungkin untuk dilakukan. Yesus menunjukkan contoh bagaimana mencapainya, yaitu dengan kasih. Kasihlah yang senantiasa mendorong serta menguatkan Yesus untuk tanpa lelah mewartakan Kerajaan Allah. Kasih juga yang memungkinkan diri-Nya untuk mengampuni, bahkan ketika Dia tergantung pada kayu salib. Dan apabila kita memutuskan untuk menerima ajaran keras-Nya, kasih Kristus yang bekerja dalam diri kita akan menolong kita untuk mempraktekkannya juga.

Memang, memahami motivasi Yesus bukanlah hal yang mudah. Namun ada langkah-langkah kecil yang dapat kita ambil selagi kita berusaha untuk memberi respons. Kita dapat tetap berdoa agar dapat dipenuhi dengan perspektif kasih-Nya. Memandang orang lain dengan mata yang berbelas kasih adalah sejalan dengan memangkas kecenderungan kita untuk membalas dendam. Barangkali dalam pekan ini kita dapat membuat kasih menjadi suatu tindakan dengan paling sedikit mencoba satu tindakan kebaikan terhadap seseorang yang telah menyakiti hati kita atau katakanlah telah mendzolomi kita. Barangkali kita dapat menjadi lebih serius dalam mengikuti desakan Roh Kudus – teristimewa yang menyentuh relasi-relasi yang sulit bagi kita. Berdoa syafaat untuk orang-orang yang berniat jahat terhadap kita juga dapat membantu menumbuhkan suatu sikap mengampuni seperti kita sendiri telah diampuni.

Langkah-langkah kecil ini pun membutuhkan upaya yang serius, demikian pula rahmat-Nya! Namun Allah telah mencurahkan Roh Kudus untuk membuat mungkin segala yang tidak mungkin. Yang perlu kita lakukan adalah tetap mencoba, dengan kesadaran bahwa Dia yang telah mulai suatu pekerjaan baik dalam diri kita akan menyelesaikannya.

DOA: Tuhan Yesus, walaupun aku melihat bahwa sebagian dari ajaran-Mu itu sangat sulit untuk diikuti, aku ingin dengan setia mengikuti Engkau sepanjang jalan-Mu. Aku menempatkan rasa percayaku dalam diri-Mu dan dalam kuasa-Mu yang menyelamatkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini  (Mat 5:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “BUKTI BAHWA KITA BENAR-BENAR ANAK BAPA SURGAWI” (bacaan tanggal 16-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)  

Jakarta, 16 Juni 2017 [Peringatan B. Anisetus Koplin, Imam dkk. Martir Polandia] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

GARAM BUMI DAN TERANG DUNIA

GARAM BUMI DAN TERANG DUNIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja – Selasa, 13 Juni 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja

 

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (Mat 5:13-16) 

Bacaan Pertama: 2Kor 1:18-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:129-133,135

Dalam tulisan ini, terjemahan yang digunakan oleh LAI “garam dunia”, saya ganti dengan “garam bumi” (salt of the earth) sesuai dengan semua versi terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris.

Salah satu penggunaan utama dari garam pada zaman alkitabiah dulu adalah untuk menjaga (mengawetkan) makanan agar jangan cepat rusak. Ketika Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa mereka adalah garam bumi, maka sebenarnya Dia mengatakan kepada mereka (dan kita sekarang), bahwa mereka akan memainkan suatu peranan yang vital dalam menjaga bumi dari proses pembusukan karena efek-efek dosa. Yesus juga mengatakan, bahwa mereka (dan kita sekarang) adalah terang dunia karena harus menghalau kegelapan maut dan ketidakpercayaan dari orang-orang yang mereka (kita) temui.

Kedengarannya tidak mudah, kan? Bagaimanakah kita dapat menjadi garam bumi dan terang dunia? Apakah kita harus sedemikian impresif atau mengesankan agar “terang kita bercahaya di depan orang …” (lihat Mat 5:16)? Apakah kita mendominasi dunia untuk menyelamatkannya? Jawabannya adalah “tidak”, paling sedikit tidak dalam artian duniawinya. Dunia kita seringkali terkesan pada orang-orang yang cantik, kaya-raya, mempunyai kekuasaan, pintar-cerdas, atletis, atau artistik dlsb. Dalam dunia ini, mereka yang sombong dan self-assertive  adalah orang-orang yang dominan. Akan tetapi, kualitas-kualitas pribadi yang paling penting di mata Allah – kualitas-kualitas yang paling hakiki untuk keberadaan kita sebagai garam dan terang – adalah keutamaan-keutamaan (kebajikan-kebajikan) seperti lemah lembut, kerendahan hati, dan pelayanan penuh kasih kepada orang-orang lain.

Bagaimana orang-orang dengan kualitas pribadi ini dapat memainkan suatu peranan efektif di dalam dunia? Orang-orang yang lemah lembut dan rendah hati seringkali malah diabaikan – atau diinjak-injak. Marilah kita mencamkannya lagi, bahwa hal ini adalah kemuliaan Injil. Justru pada waktu kita rendah hati dan berbelas kasih, maka kuasa penyelamatan Allah bercahaya melalui diri kita, karena ini semua adalah kualitas-kualitas pribadi Yesus sendiri (1Kor 1:26-30). Justru pada saat kita mengampuni dan mengasihi maka kita membawa rasa asinnya garam – artinya vitalitas – Injil kepada teman-teman maupun musuh-musuh kita.

Yesus – yang selalu baik hati dan rendah hati – mengundang kita untuk belajar dari diri-Nya. Sukacita yang telah disediakan di depan kita tidak kurang dari ikut ambil bagian dalam keselamatan dunia. Yesus bersabda: “Akulah terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan” (Yoh 8:12). Nah, Saudari dan Saudaraku, Yesus, sang Terang sejati – ingin membuat diri-Nya dikenal melalui kita, sehingga orang-orang di sekeliling kita akan melihat perbuatan-perbuatan baik kita – yang mencerminkan Dia sendiri – dan memuliakan Bapa di surga (lihat Mat 5:16).

DOA: Bapa surgawi, aku membutuhkan rahmat-Mu untuk membentuk diriku menjadi gambar (imaji) Putera-Mu terkasih, Yesus. Kuatkanlah aku agar iman-kepercayaanku tidak akan goyah. Aku ingin mengenal, mengasihi dan melayani Dikau dengan lebih baik lagi. Semoga aku dapat bersinar terang seperti sebuah bintang demi kemuliaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 5:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “PERANAN KEPEMIMPINAN DARI MURID-MURID YESUS” (bacaan tanggal 13-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 11 Juni 2017 [HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS