Posts from the ‘KEMURIDAN’ Category

MENJADI DUTA-DUTA YESUS KRISTUS DI ZAMAN NOW

MENJADI DUTA-DUTA YESUS KRISTUS DI ZAMAN NOW

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Senin, 16 Juli 2018)

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak  bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut  seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Mat 10:34-11:1) 

Bacaan Pertama: Yes 1:11-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23 

“Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku.” (Mat 10:40)

Bacaan Injil hari ini muncul pada akhir “diskursus misioner” – sejenis sesi pelatihan untuk para murid terdekat Yesus berkaitan dengan tugas pelaksanaan Misi-Nya. Seperti seorang kepala negara yang sedang memberi briefing kepada para duta dan duta besarnya sebelum mengutus mereka ke berbagai ibu kota negara asing, Yesus menginstruksikan para murid-Nya itu sebelum Ia melepas mereka untuk mewakili diri-Nya ke kota-kota di Galilea. Misi mereka itu serupa dengan misi-Nya sendiri.

Bayangkanlah betapa erat Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan para murid-Nya. Dia mengatakan kepada mereka bahwa apabila orang-orang mau menyambut para murid-Nya dalam daging, maka hal itu berarti bahwa mereka pun siap untuk menerima diri-Nya dalam roh. Sebaliknya, apabila orang-orang itu menolak para murid-Nya, maka hal itu berarti bahwa orang-orang itu menolak tawaran-Nya akan pengampunan.

Sebagai perwakilan-perwakilan resmi dari negara mereka, para duta atau duta besar menjunjung tinggi kehormatan pemerintah mereka dan bangsa yang mereka wakili. Demikian pula di tengah-tengah masyarakat manusia, kehormatan Kristus juga ada di tangan kita karena kita adalah para utusan-Nya … para duta-Nya. Dapatkah kita (anda dan saya) percaya bahwa Yesus memandang kita dengan hormat sampai-sampai Dia mempercayakan kita dengan tugas panggilan yang sedemikian luhur? Kita mungkin adalah orang-orang biasa saja dan kita berpikir bahwa tidak banyak yang dapat kita berikan kepada Yesus. Namun pada kenyataannya Yesus seringkali memanggil orang-orang biasa-biasa saja untuk melakukan karya-karya yang luar biasa.

Pikirkanlah dan renungkanlah bagaimana Yesus memanggil 12 orang yang biasa-biasa saja untuk menjadi inti dari karya misioner-Nya ke ujung-ujung bumi. Pada awal abad ke-13 Yesus juga memanggil seorang anak muda yang berlatar belakang pendidikan sekolah rendah paroki saja – Fransiskus dari Assisi – untuk tugas memperbaharui Gereja yang memang dalam kondisi memprihatinkan pada masa itu. Tidak seperti sahabatnya – Santo Dominikus – Fransiskus tidak pernah menjadi seorang imam. Memang kemudian ia ditahbiskan sebagai seorang diakon untuk memungkinkan dirinya berkhotbah dalam gereja-gereja.

Ingatlah, Saudari dan Saudaraku terkasih, sebagai para awam dan klerus, kita bersama-sama membentuk Gereja Kristus. Bersama-sama pula kita dipanggil untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia. Kita seharusnya menanggapi panggilan itu dengan rendah hati, bukan menampiknya karena rendah-diri atau disebabkan kerendahan hati yang palsu!

Selagi kita menerima misi kita sebagai duta-duta Yesus Kristus pada zaman NOW, kita dapat menaruh kepercayaan bahwa Roh-Nya akan memberdayakan kita. Kita akan mengambil oper keprihatinan-keprihatinan dan rencana-rencana Yesus, bahkan karakter-Nya sendiri. Kehadiran-Nya akan memancar dari diri kita, dan kita pun akan menjadi “Kristus-Kristus kecil” – seorang Kristus yang lain – bagi keluarga kita masing-masing, bagi para sahabat, bagi para rekan kerja dan tetangga kita. Lalu, orang-orang yang menerima kita sesungguhnya akan menerima Yesus ke dalam hati mereka.

DOA: Tuhan Yesus, aku bersembah sujud di hadapan hadirat-Mu dalam kedinaan. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah memilih untuk berdiam dalam diriku. Aku menyerahkan hidupku kepada-Mu agar dengan demikian aku dapat menjadi terang keserupaan dengan-Mu  bagi dunia di sekelilingku. Amin. 

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:34-11:1), bacalah tulisan yang berjudul “DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI KEHIDUPAN BARU” (bacaan tanggal 16-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 13 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YESUS ITU LEBIH BESAR DARIPADA APA SAJA YANG KITA LIHAT ADA DALAM DIRI KITA

YESUS ITU LEBIH BESAR DARIPADA APA SAJA YANG KITA LIHAT ADA DALAM DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Sabtu, 14 Juli 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam

“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Yes 6:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5 

“Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang.” (Mat 10:27) 

Selagi Dia menyiapkan para murid-Nya untuk pekerjaan misioner, Yesus dengan berhati-hati menguatkan mereka untuk sebuah tugas yang memang mudah terbuka untuk diserang, dikritik, bahkan dijadikan objek kebencian. Apa kiranya strategi Yesus dalam hal ini? Apakah yang dikatakan-Nya kepada mereka? “… apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah” (Mat 10:27). Apa yang diharapkan Yesus dari mereka untuk mendengar “dalam gelap”? Siapakah yang akan membisikkan kata-kata kepada mereka? Bagaimana seharusnya mereka mengatakannya dalam terang?

Ada banyak cara yang berbeda-beda untuk dapat memahami sabda Yesus ini, namun ada satu tafsir yang membawa dampak tidak hanya pada karya misioner melainkan juga pada setiap relasi di mana kita terlibat. Adalah “dalam gelap” – dalam keheningan hati kita –  Yesus menunjukkan kepada kita betapa kuat kodrat manusiawi kita yang cenderung untuk berdosa itu dan betapa dalam kita membutuhkan penyembuhan dan penebusan dari Dia. Kita semua telah mengetahui saat-saat di mana Roh Kudus telah membawa kita berhadapan-hadapan – muka ketemu muka – dengan kegelapan dalam diri kita, dan kita semua juga telah mengetahui saat-saat di mana kita menerima penghiburan dari Roh yang sama – penghiburan dan jaminan akan belas kasih-Nya dan pengampunan-Nya. Hal-hal inilah yang dimaksudkan bagi kita untuk diwartakan dari atas rumah: kasih Bapa yang melimpah-melimpah atas semua pendosa!

Ketika kita berhadapan dengan “Sang Tersalib”, maka pandangan mata kita harus diarahkan ke atas karena posisi salib itu lebih tinggi daripada kita semua yang berdiri di dekat kaki salib. Apabila kita sungguh ingin menjadi saksi Kristus yang memiliki kredibilitas, maka kita harus jujur perihal ketergantungan kita kepada-Nya. Lalu kita dapat menyatakan, “Aku sakit dan Yesus menyembuhkan diriku. Aku tuli dan Ia membuka telingaku. Aku terikat dan Ia membebaskan diriku.” Tidak ada seorang pun ingin mendengar tentang bagaimana menjadi “baik” bilamana mereka mengetahui betapa sulitnya hal itu. Akan tetapi setiap orang ingin mendengar tentang kuat-kuasa Allah untuk menyembuhkan dan mengubah para pendosa. Setiap orang ingin mendengar bahwa mereka juga dapat menjadi pengikut-pengikut Yesus.

Kabar baik dari Injil adalah bahwa Yesus itu lebih besar daripada apa saja yang kita lihat ada di dalam diri kita. Yesus dapat membebaskan, menyembuhkan dan menyelamatkan kita! Ia ingin melakukan hal itu! Oleh karena itu marilah kita memperkenankan Yesus untuk menunjukkan kepada kita segala kegelapan diri/hati kita, bukan hanya untuk kebaikan kita, melainkan demi pemberian kesaksian kita tentang Yesus kepada orang-orang lain.

DOA: Roh Kudus, selidikilah hatiku. Berbisiklah kepadaku tentang kegelapan yang ada di dalam hatiku. Semoga terang-Mu menyinari kegelapan hatiku itu dan membebaskan aku, sehingga dengan demikian aku dapat berbagi dengan orang-orang lain tentang kabar baik rekonsiliasi diriku dengan Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG MURID MENJADI SAMA SEPERTI GURUNYA, ……” (bacaan tanggal 14-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 11 Juli  2018 [Peringatan S. Benediktus, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMANGGIL LEWI UNTUK MENJADI MURID-NYA

YESUS MEMANGGIL LEWI UNTUK MENJADI MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Jumat, 6 Juli 2018)

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13)

Bacaan Pertama: Am 8:4-6,9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:2,10,20,30,40,131

“… Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:13)

Ada seorang Kristiani yang sedang melakukan ziarah di Tanah Suci. Pada suatu malam orang itu berada sendirian di taman Getsemani. Ada banyak sekali bintang di langit dan orang itu sungguh menikmati malam yang indah itu. Karena terharu, dia pun mulai berlinang air mata. Dia berlutut dan berdoa dengan suara keras: “Tuhan, janganlah pernah membiarkan aku berdosa terhadap-Mu.” Malam itu sungguh sunyi senyap. Tiba-tiba terdengar suara dari kegelapan yang berkata: “Anak-Ku, Engkau minta kepada-Ku untuk tidak pernah membiarkan Engkau berdosa terhadap-Ku. Apabila Aku memenuhi permintaan doa-Mu bagi semua anak-Ku di dunia, bagaimana Aku dapat menunjukkan belas kasih-Ku kepada mereka?”

Cerita di atas mengingatkan kita bahwa kita semua adalah pendosa-pendosa. Ada saat-saat di mana masing-masing kita – seberapa baiknya pun diri kita – berdosa melawan Allah. Apabila hal seperti ini terjadi dengan diri kita, kita tidak perlu ciut hati – seperti halnya pengalaman Yudas Iskariot. Kita harus menyesali dosa kita dan memohon  pengampunan, seperti yang telah dilakukan oleh Petrus.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita semua bahwa Dia datang untuk orang-orang berdosa. Dia datang untuk orang-orang yang menyadari bahwa selama ini mereka melangkah di jalan yang tidak benar dan ingin mencari rekonsiliasi …… berdamai lagi dengan Allah.

Ada perbedaan antara orang bersalah yang telah kehilangan kemampuan untuk membedakan antara benar dan salah dalam kehidupannya, dan seorang pribadi yang sadar bahwa dia telah berdosa dan sekarang mencari kekuatan untuk mulai melangkah di atas jalan yang benar.

Kasus Lewi (Matius) merupakan contoh dari insiden di atas yang disebut belakangan. Kasus ini mengingatkan kita akan karunia/anugerah hebat yang diberikan oleh Allah kepada manusia, yaitu anugerah yang disebut nurani, dan bagi kita yang telah dibaptis, adalah kehadiran Roh Kudus dalam diri kita masing-masing. Bagi orang Kristiani yang Katolik juga termasuk ajaran Gereja. Ini adalah faktor-faktor yang dapat membantu kita memperbaharui dan mengubah hidup kita, seberat apapun pelanggaran kita terhadap-Nya di masa lalu.

Kita dapat memperlawankan (mengkontraskan) ini dengan kasus seseorang yang kehidupannya – dilihat dari keseriusannya maupun dari sudut moral – sudah dapat dikatakan mengalami kondisi disfungsional, namun celakanya dia bahkan samasekali tidak menyadari kenyataan tersebut. Seorang pribadi seperti itu hidup tanpa menyadari penyakit “kanker” yang selama ini menggerogoti dirinya sampai semuaya sudah terlambat.

Kita semua – masih jauh atau sudah dekat – semua masih berada di bawah garis kemuliaan Allah. Jika kita menyadari kebenaran itu, inilah tanda awal dari pertumbuhan dalam hidup spiritual kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengakui kedosaanku di hadapan-Mu sekarang ini. Engkau telah membayar harga dosa-dosaku di atas kayu salib sehingga aku dapat diperdamaikan dengan Allah Bapa. Tuhan, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu dengan segenap hatiku. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “MATIUS DIPANGGIL UNTUK MENGIKUT YESUS” (bacaan tanggal 6-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018.

Cilandak, 3 Juli 2018 [PESTA S. TOMAS, RASUL]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGIKUTI JEJAK KRISTUS

MENGIKUTI JEJAK KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Senin, 2 Juli 2018)

Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Mat 8:18-22) 

Bacaan Pertama: Am 2:6-10,13-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:16-23

Sekilas lintas perikop ini seakan “salah tempat” dalam Injil Matius bab 8 yang berisikan serangkaian mukjizat Yesus. Setelah selesai bercerita mengenai penyembuhan ibu mertua Petrus dan banyak mukjizat lainnya (Mat 8:14-17) dan sebelum menarasikan serangkaian mukjizat lagi (Mat 8:23-9:8), maka seperti “sandwich”, Matius menyelipkan dua sabda Yesus mengenai “komitmen” dan “kemuridan” yang sangat penting untuk dihayati. Mengapa Matius menyelipkan ajaran Yesus yang keras ini di tengah-tengah cerita-cerita mengenai mukjizat-mukjizat Yesus?

Ada pakar Kitab Suci yang berpandangan bahwa Matius menyelipkan bagian ini (Mat 8:18-22) karena dia sedang memikirkan Yesus sebagai “Hamba YHWH yang menderita”. Matius baru saja memetik Yes 53:4, “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat 8:17), maka wajarlah apabila gambaran itu memimpin pemikiran Matius pada gambaran Anak Manusia yang tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat 8:20). Kehidupan Yesus di dunia di mulai dalam kandang hewan pinjaman dan berakhir dalam makam pinjaman pula (Plummer, dalam William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE: The Gospel of Matthew – Volume 1, Chapters 1-10, Edinburgh: The Saint Andrew Press, p. 311).  Jadi “teori” ini mengatakan, bahwa Matius menyelipkan bacaan sebanyak lima ayat ini karena bacaan ini dan ayat-ayat sebelumnya menunjukkan Yesus sebagai Hamba YHWH yang menderita.

“Teori” ini bisa saja benar, namun William Barclay berpendapat lebih berkemungkinanlah apabila penyelipan ini terjadi karena Matius melihat adanya satu mukjizat dalam perikop ini, Yang ingin mengikut Yesus dalam kisah ini adalah seorang ahli Taurat, dan ia menyapa Yesus dengan gelar kehormatan tertinggi, yaitu “Guru” (Yunani: didaskalos; Ibrani: Rabbi). Menurut pandangan si ahli Taurat, Yesus adalah guru terbesar yang pernah dilihatnya, dan ajaran-Nya adalah yang paling  berkesan ketimbang ajaran-ajaran yang pernah didengarkannya. Sungguh sebuah “mukjizat” apabila seorang ahli Taurat memberikan gelar “Guru” kepada Yesus, dan ia sendiri ingin menjadi pengikut sang Guru! Yesus dan ajaran-ajaran-Nya sangat menentang “legalisme” sempit di atas mana dibangun agama yang murni berdasarkan Hukum Taurat. Jadi, ajaran Yesus sangat bertentangan dengan pandangan umum yang ada di kalangan para ahli Taurat. Dengan demikian sungguh sebuah mukjizat-lah apabila seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan melihat ada sesuatu yang indah dalam diri-Nya dan ajaran-ajaran-Nya. Kiranya ini adalah mukjizat berkaitan dengan dampak personalitas Yesus Kristus atas orang-orang lain.

Berikut inilah ceritanya! Seorang ahli Taurat dengan begitu meyakinkan mengatakan bahwa dia akan mengikut Yesus kemana saja Dia pergi. Tentu dalam hati banyak orang yang ada di situ berharap bahwa Yesus akan mempergunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Akhirnya, Dia akan mempunyai seorang murid yang dapat dijadikan “asisten” yang handal, …… ahli Taurat gitu lho! Sedikitnya dapat meningkatkan “pamor” kolese para murid di mata khalayak ramai. Bukankah para murid-Nya yang awal baru terdiri dari beberapa orang nelayan saja: Simon Petrus, Andreas, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya?

Namun hal sebaliknyalah yang terjadi. Jawaban Yesus sungguh mengejutkan kita semua. Seakan-akan Yesus berkata, “Sebelum mengikut Aku – pikir dulu apa yang engkau lakukan. Sebelum engkau mengikut Aku, hitunglah dulu ‘biaya’-nya!” Yesus tidak ingin orang mengikuti jejak-Nya karena emosi-sesaat (misalnya karena terbenam dalam “Tabor experience” untuk beberapa saat lamanya. Yesus menginginkan seorang murid atau pengikut yang sungguh menyadari apa  yang dilakukannya. Dalam kitab Injil yang sama tercatat Yesus pernah bersabda: “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:38; bdk. Mat 16:24; Mrk 8:34;Luk 9:23).

Juga ternyata menjadi murid Yesus tidak hanya berarti mempunyai pikiran dan ide-ide yang sama dengan Dia, tetapi menuntut suatu penyerahan diri yang mutlak. Siapa saja yang mempunyai keinginan untuk masuk ke dalam lingkungan akrab sebagai murid-murid-Nya harus menjadi milik Yesus Kristus, jadi harus membuang segala sesuatu yang bukan Yesus Kristus. Seorang murid Yesus hanya boleh mempertahankan apa yang diketahuinya seturut kehendak Yesus …… kepasrahan diri yang sempurna.

Rubah mempunyai liang tempat tinggal. Apabila ada bahaya, rubah itu dapat melarikan diri ke dalam liangnya. Bilamana udara dingin, liang adalah tempat untuk menghangatkan tubuhnya. Burung mempunyai sarang, tempat mereka beristirahat. Akan tetapi Anak Manusia tidak mempunyai apa-apa untuk meletakkan kepala-Nya. Dia tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai tempat berlindung yang aman. Sesungguhnya hidup Anak Manusia tidak tetap dan tidak mempunyai kepastian. Demikian pulalah seharusnya kehidupan para murid-Nya. Menjadi murid Yesus Kristus berarti meninggalkan kepastian, maka merupakan gambaran kehidupan umat Kristiani sepanjang masa. Yesus memperingatkan bahwa kehidupan kita di dunia ini hanyalah merupakan “jalan seberangan” saja, yaitu bertentangan dengan segala keterlekatan pada hal-hal duniawi, segala keinginan untuk tetap tinggal di dunia ini serta tak ingin maju lebih lanjut. Hidup di dunia berarti mengalir terus dalam arus yang tak henti-hentinya menderas menuju samudera keabadian (Richard Gutzwiller, RENUNGAN TENTANG MATEUS I, Ende, Flores: 1968, hal.136-138).

Sekarang, marilah kita soroti seorang pribadi yang lain. Yang menjadi penghalang bagi orang ini bukanlah keterlekatannya pada hal-hal duniawi, melainkan keterlekatan pada keluarganya. Permintaannya kepada Yesus nampaknya wajar karena merupakan kewajiban terhadap orangtua; apalagi kalau kita memahami bahwa mengurus penguburan orangtua merupakan tugas suci dalam Yudaisme. Tetapi dalam kasus ini permohonan si murid berhadap-hadapan dengan tuntutan Yesus sendiri yang tidak dapat ditawar, bahwa Injil, mengikut Yesus, harus ditempatkan di atas segala sesuatu. Yesus adalah the way of life; yang kurang dari itu sama saja bergabung dengan orang mati. Di sini Yesus mengajukan tuntutan-Nya yang ilahi dan segala tuntutan manusia haruslah menyisih …… mengalah! Apabila suara panggilan Allah diarahkan kepada seseorang, maka dia hanya boleh mengarahkan perhatiannya kepada Allah saja dan tidak boleh menoleh ke belakang lagi. Allah yang hidup sedemikian agungnya, sehingga kalau dibandingkan dengan Dia, segala sesuatu tampak bagi mati dan tak berarti sama sekali.

Juga di sini yang menentukan adalah pandangan akan yang kekal-abadi, sebab dalam hidup kekal tak ada hubungan perkawinan. Mereka tidak kawin, tidak pula dikawinkan (lihat Mat 22:30). Dengan demikian hubungan manusiawi dari hubungan cinta yang duniawi belaka, akan lenyap juga. Oleh karena itu, bagi para murid Yesus hubungan tadi sudah harus ditiadakan. Tempat seorang murid Yesus bukan lagi dalam lingkup keluarga yang kecil, sebab dirinya telah ditarik ke dalam pengabdian dalam Keluarga Allah yang besar, yang terdiri dari orang-orang yang sudah ditebus. Sebagaimana Yesus meninggalkan Nazaret untuk berada dalam perkara-perkara Bapa-Nya, demikian pula para murid Yesus harus meninggalkan Nazaret (zona kenyamanan) hidup kekeluargaannya, untuk menemukan hubungan kekeluargaan dalam Allah.

Mengikuti Yesus Kristus bukanlah merupakan sebagian saja dari kehidupan kita, melainkan suatu totalitas, meliputi seluruh hidup kita, jadi merupakan penyerahan diri secara sempurna. Penyerahan diri sempurna ini merupakan jawaban satu-satunya yang mungkin terhadap panggilan istimewa Allah.

Kedua sabda Yesus dalam bacaan Injil di atas merupakan tuntutan dan jelas bernada “perintah”. Di satu pihak karena Yesus memang sesungguhnya Tuhan, satu-satunya Pribadi yang dapat meminta hal yang sedemikian dan juga benar- benar menuntutnya. Dia menguasai manusia sebagai milik-Nya. Di sisi lain tuntutan-Nya bersifat menentukan sekali karena Dia tahu betapa berat bagi manusia untuk melepaskan diri dari segala sesuatu. Oleh karena itu bagi manusia merupakan suatu keringanan apabila tali pengikat diputuskan samasekali oleh tuntutan yang radikal itu. Si murid harus membongkar jembatan yang dilaluinya serta membakar perahu yang telah ditumpanginya, agar pada saat-saat kelemahan ia tidak kembali lagi. Yesus Kristus menghendaki penyelesaian yang nyata dan jelas-tegas.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepada kami keikhlasan untuk sungguh-sungguh mengikut Engkau, ke mana pun Engkau akan memimpin kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI MURID YESUS YANG SETIA” (bacaan tanggal 2-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012] 

Cilandak, 29 Juni 2018 [HARI RAYA S. PETRUS & PAULUS, RASUL] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUKAN UNTUK DILAYANI, MELAINKAN UNTUK MELAYANI

BUKAN UNTUK DILAYANI, MELAINKAN UNTUK MELAYANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII Rabu, 30 Mei 2018)

OSCCap. (Ordo Klaris Kapusin): Peringatan B. Baptista Varani, Biarawati

Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya. “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa lain, dan Ia akan diolok-olok, diludahi, dicambuk dan dibunuh, tetapi sesudah tiga hari Ia akan bangkit.”  

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami harap Engkau melakukan apa pun yang kami minta dari Engkau!” Jawab-Nya kepada mereka, “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?”  Lalu kata mereka, “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”  Tetapi kata Yesus kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum atau dibaptis dengan baptisan yang harus kuterima?”  Jawab mereka, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya hal itu telah disediakan.”  Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Lalu Yesus memanggil mereka dan berkata, “Kamu tahu bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”  (Mrk 10:32-45) 

Bacaan Pertama: 1Ptr 1:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Lagi-lagi di sini kita membaca bahwa Yesus menubuatkan penderitaan-Nya dalam upaya-Nya membuat para Rasul-Nya memahami Kerajaan macam apa yang didirikan-Nya.

Yakobus dan Yohanes, dua dari tiga Rasul-Nya yang tergolong “lingkaran dalam”, menyatakan bahwa mereka siap untuk dibaptis dalam penderitaan dan meminum cawan yang telah disediakan bagi mereka. Mereka siap untuk mati bersama Yesus. Namun dengan satu syarat, yaitu jika Dia menjanjikan kepada mereka posisi tertinggi dalam Kerajaan-Nya. Yesus dengan gembira menerima janji mereka, namun Ia mengatakan bahwa hal duduk di sebelah kanak-Nya atau di sebelah kiri-Nya, Dia sendiri tidak berhak memberikannya.

Jika kita menangkap pernyataan Yesus ini pada tingkat permukaannya saja, maka pernyataan-Nya tersebut terkesan aneh dan bertentangan dengan keilahian-Nya. Mengapa Yesus tidak dapat memberikan posisi kehormatan kepada dua orang Rasul-Nya yang tergolong “lingkaran dalam” (yang seorang lagi adalah Simon Petrus) ini? Jawaban atas pertanyaan ini terletak pada kenyataan bahwa Dia adalah Allah. Allah mengganjar yang baik, menghukum yang jahat. Allah penuh belas kasih namun Ia juga mahaadil.

Klaim terbesar Kristus atas cintakasih dan kehormatan kita terletak atas tindakan pengosongan diri-Nya yang lengkap-total bagi umat manusia – pelayanan-Nya yang lengkap. Demikian pula kemuliaan paling besar para Rasul terletak pada karya pelayanan mereka kepada orang-orang lain, bukannya kemuliaan yang disebabkan otoritas apa saja yang diterimanya karena diperkenankan duduk di sebelah kanan atau kiri Yesus. Sabda Yesus jelas dalam hal ini: “Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk 10:43-44). Jadi Kristus tidak dapat memberikan tempat pertama kepada siapa saja. Hanya apabila kita menghayati suatu kehidupan pelayanan bagi orang-orang lain, maka kita dapat mengharapkan ganjaran besar baik dalam kehidupan di dunia dan dalam Kerajaan kekal yang akan datang.

INDIA – OCTOBER 01: Mother Teresa and the poor in Calcutta, India in October, 1979. (Photo by Jean-Claude FRANCOLON/Gamma-Rapho via Getty Images)

Pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang melayani orang-orang yang dipimpinnya dalam upaya mencapai tujuan bersama. Inilah “servant-leadership”; atau “servanthood” yang merupakan pola kepemimpinan sebagaimana dicontohkan Yesus sendiri dan  banyak para kudus yang memang mengikuti jejak-Nya. “Pengaruh dan Kepemimpinan” adalah dua hal yang sangat berkaitan. Seseorang pantas disebut pemimpin jika dia mampu mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya untuk mau dan mampu mencapai tujuan bersama termaksud. Santa Bunda Teresa dari Kalkuta [1910-1997] adalah contoh dari pemimpin yang sedemikian pada abad ke-20.

Sekarang, lihatlah salah seorang kudus besar dalam Gereja, Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226]. Tidak sedikit kalangan dalam Gereja yang menilai gaya kepemimpinan Fransiskus tidak efektif, karena pada masa hidupnya saja ordonya sudah mengalami “konflik intern” antara berbagai “fraksi” yang ada dalam ordonya. Sesungguhnya gaya kepemimpinannya itulah yang kita namakan “servant-leadership”. Kita perlu mengetahui bahwa dalam keluarga Fransiskan tidak dikenal kata “superior” bagi para pemimpin, melainkan “minister” yang nota bene berarti “pelayan” yang harus melayani mereka yang dipimpinnya, malah sebagai “seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya”. Bagi Fransiskus, Minister Jenderal ordonya adalah Roh Kudus sendiri. Seorang “menteri” kabinet atau “abdi negara” lainnya juga adalah seorang “minister”, seorang pelayan. Hanya sayangnya maknanya sudah sangat “kabur” dalam praktek, seperti sudah kita ketahui semua: Yang harus melayani malah menjadi pihak yang harus dilayani oleh rakyat banyak!

DOA: Bapa surgawi, berikanlah rahmat kepadaku agar dapat hidup untuk melayani orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:32-45), bacalah tulisan yang berjudul “PEMIMPIN YANG MELAYANI” (bacaan tanggal 30-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 27 Mei 2018 [HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPERSEMBAHKAN KESELURUHAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

MEMPERSEMBAHKAN KESELURUHAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Selasa, 29 Mei 2018)

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang karena aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, atau saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau ibunya atau bapanya, atau anak-anaknya atau ladangnya, orang itu pada zaman ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mrk 10:28-31) 

Bacaan Pertama: 1Ptr 1:10-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

Ketika orang kaya itu – setelah mendengar nasihat Yesus – pergi dengan kecewa karena banyak hartanya (Mrk 10:21-22), para murid-Nya tentu merasa terheran-heran, apa saja lagi yang harus mereka lakukan untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Bukankah, anak muda yang kaya itu kelihatannya telah melakukan segala hal yang baik, namun Yesus tetap menuntut lebih, yaitu untuk menjual harta miliknya dan memberikan hasilnya kepada orang-orang miskin, lalu mengikut Dia. Setelah mendengar semua itu, para murid tentunya bertanya-tanya apakah yang mereka lakukan selama ini sudah cukup baik?

Yesus menenangkan para murid-Nya dengan mengatakan bahwa berbagai pengorbanan yang telah mereka lakukan tentu akan memperoleh ganjaran yang setimpal. Yesus mengetahui segalanya yang dikorbankan oleh para murid-Nya, dan Ia juga tahu berapa jauh lagi mereka masih dapat melakukan pengorbanan-pengorbanan itu. Berapa pun besarnya lagi yang dituntut dari para murid, Yesus ingin menjelaskan bahwa Dia tidak akan meninggalkan para murid-Nya. Namun begitu, Dia mengundang para murid untuk memberikan kepada-Nya setiap situasi, setiap detil, setiap aspek dari kehidupan mereka.

Yesus juga mengetahui setiap pengorbanan yang telah kita buat. Setiap saat kita memutuskan untuk mentaati perintah-perintah-Nya, maka kita  memampukan Dia untuk hidup dalam diri kita dan melalui kita sedikit lebih dalam lagi. Setiap perhatian dan keprihatinan yang kita tunjukkan satu sama lain merupakan suatu berkat bagi Tuhan dan suatu berkat atas diri kita. Semua pertempuran dan perjuangan kita melawan kodrat kita yang cenderung berdosa – bahkan di mana kita kalah – dapat diberikan kepada Tuhan untuk kemuliaan kekal. Yesus senantiasa bersama kita, dan Ia menyiapkan kita untuk Kerajaan-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita mempersembahkan keseluruhan hidup kita kepada Yesus. Dalam hal ini janganlah kita menyembunyikan sesuatu pun. Yesus melihat setiap hal yang kita lakukan. Ia menghargai setiap keputusan yang kita ambil untuk meninggalkan kehidupan lama kita dan kemudian mengikuti Dia. Yesus melihat setiap saat kita berkata “tidak” terhadap godaan dan setiap saat kita pergi ke luar guna menolong orang lain. Ia mendengar setiap doa yang kita haturkan kepada Allah dan melihat juga setiap saat kita menghadapi pertempuran antara daging dan roh. Tidak ada yang berlangsung tanpa diketahui oleh Yesus dan tidak ada yang tak diberkati-Nya. Oleh karena itu marilah kita menghadap hadirat Allah yang Mahabaik ini dan mempersembahkan keseluruh hidup kita kepada-Nya – bukan hanya sebagian dari diri kita – melainkan seluruh keberadaan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena kasih-Mu yang sempurna yang telah mengusir rasa takut dari diriku. Terima kasih untuk kesetiaan-Mu kepadaku walaupun ketika aku tidak setia kepada-Mu. Kasih-Mu dan kesetiaan-Mu itu memampukan diriku untuk berdiri dengan teguh di tengah godaan dan tragedi. Tolonglah aku untuk memberikan kepada-Mu setiap situasi agar dengan demikian Engkau dapat tinggal dalam diriku semakin penuh lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:28-31); bacalah tulisan yang berjudul “IA AKAN MENERIMA HIDUP YANG KEKAL” (bacaan tanggal 29-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs..wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 27 Mei 2018 [HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KELEKATAN PADA HAL-HAL DUNIAWI

KELEKATAN PADA HAL-HAL DUNIAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Senin, 28 Mei 2018)

OFS: Peringatan S. Maria Ana dr Paredes, Perawan Ordo III S. Fransiskus

Pada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27) 

Bacaan Pertama: 1Ptr 1:3-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,5-6.9,10c 

Kalau kita melihat bacaan-bacaan sejajar yang terdapat dalam Mat 19:16-26 dan Luk 18:18-27, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa orang yang mendatangi Yesus itu adalah seorang yang kaya (Mrk 10:22; Mat 19:22, Luk 18:24), masih muda-usia (Mat 19:20), memegang kuasa kepemimpinan (Luk 18:18), dan hidup kerohaniannya juga baik (Mrk 10:20; Mat 19:20; Luk 18:21). Sekilas lintas, kelihatannya orang itu sudah mempunyai segalanya. Kalau belum menikah, tentu dialah calon menantu laki-laki yang ideal. Akan tetapi pandangan sedemikian hanyalah benar apabila dilihat dari sudut dunia semata.

Sayang seribu sayang, orang kaya ini tidak mampu menanggapi ajakan Yesus yang meminta agar dia melepaskan harta kekayaannya, kalau dirinya sungguh mau mencapai kesempurnaan spiritual. Para murid kaget karena disadarkan bahwa tidak cukuplah mematuhi perintah-perintah Allah yang tersurat. Yesus minta agar orang itu melepaskan kelekatannya pada harta-kekayaan. Yesus ingin agar orang itu juga mematuhi perintah-perintah Allah yang tersirat. Perintah Allah: “Jangan ada padamu allah (ilah) lain di hadapan-Ku” (Kel 20:3). Ternyata orang itu masih menyembah ilah yang lain, yaitu harta kekayaan. Inilah yang diminta oleh Yesus untuk dilepaskan.

Orang kaya ini menanggapi permintaan Yesus kepadanya (Mrk 10:21) dengan muka yang muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya (Mrk 10:22). Bagi banyak dari kita tentunya ini adalah salah satu ayat paling menyedihkan hati yang terdapat dalam Injil. Yesus memandang orang itu dan menaruh kasih kepadanya (Mrk 10:21; catatan: kalimat ini hanya ada dalam perikop Injil Markus, tidak dalam Injil Matius atau Injil Lukas). Sayang, kelekatan orang itu pada harta kekayaannya menghalangi kasih Yesus untuk memasuki hatinya. Dia tidak mempunyai hikmat ilahi. Dia tidak mengetahui identitas Yesus meskipun Yesus telah mengindikasikan keilahian-Nya ketika Dia berkata: “Tak seorang pun yang baik selain Allah saja” (Mrk 10:22). Kelekatan kita pada hal-hal yang duniawi membelenggu hati kita dan menghalangi kasih Allah untuk masuk ke dalam hati kita. Hanya hikmat ilahi-lah yang dapat melepaskan kelekatan kita dan membebaskan hati kita sehingga dapat menerima cintakasih-Nya. Seperti penulis Kebijaksanaan Salomo, kita perlu meminta agar dianugerahi hikmat ilahi: “Maka itu aku berdoa dan akupun diberi pengertian, aku bermohon lalu roh kebijaksanaan datang kepadaku” (KebSal 7:7).

Beberapa saat setelah orang kaya itu pergi, Yesus mengajar para murid-Nya: “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mrk 10:23). Para murid bertanya: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” (Mrk 10:26). Yesus tetap teguh pada pendirian-Nya, bahwa siapa saja yang ingin mengikuti-Nya secara paling sempurna harus – dengan pertolongan Allah – melepaskan keterikatannya pada hal-hal duniawi, agar dapat mempunyai hidup kerajaan. Ia memberikan kata-kata penuh harapan kepada mereka: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27). Bukankah ini adalah gema dari jawaban malaikat Gabriel kepada Maria tiga dasawarsa sebelumnya (Luk 1:37)?

DOA: Bapa surgawi, lepaskanlah kelekatan kami pada hal-hal duniawi, tunjukkanlah jalan bagaimana kami dapat dibebaskan dari ikatan yang selama ini telah membelenggu kami. Berikanlah kuasa firman-Mu yang dapat menembus hati kami dan mewahyukan Yesus kepada kami. Tumbuh-kembangkanlah iman kami untuk percaya bahwa firman-Mu dapat menyatakan realitas Yesus dan kasih-Nya bagi kami. Kami sadar, ya Allahku, bahwa iman berarti menerima kebenaran dari apa yang dikatakan firman-Mu, mengandalkan diri padanya dan bertindak atasnya. Hanya apabila kami mencari perwahyuan dari firman-Mu, maka kami dapat mengikuti cara Yesus untuk tidak mempunyai kelekatan tertentu pada hal-hal duniawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “KUNCI MASUK KE DALAM KEBAHAGIAAN KEKAL” (bacaan tanggal 28-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

Cilandak, 24 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS