Posts from the ‘KEMURIDAN’ Category

YESUS DATANG UNTUK MENGUBAH HATI PARA PENDOSA

YESUS DATANG UNTUK MENGUBAH HATI PARA PENDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Sabtu sesudah Rabu Abu – 17 Februari 2018)

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang  bernama Lewi, sedang duduk di tempat pemungutan cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Lewi pun bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

Kemudian Lewi mengadakan perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya, “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:27-32) 

Bacaan Pertama: Yes 58:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:31-32)

Lewi memang seorang pendosa. Dia adalah seorang pemungut cukai dan di Israel pada waktu itu dia akan dipandang sebagai yang paling rendah dari orang-orang rendah dalam masyarakat. Hampir semua pemungut cukai pada masa itu dikenal sebagai bajingan karena mengambil keuntungan untuk diri sendiri dalam menjalankan tugasnya. Kalau begitu, mengapa Yesus bisa-bisanya minta kepada orang sedemikian untuk mengikuti-Nya. Alasan Yesus sama seperti yang diberikan-Nya kepada para lawannya: Dia datang untuk mengubah hati para pendosa.

Memang perubahan inilah yang terjadi! Perubahan dalam diri Lewi merupakan suatu keputusan yang berakar dalam pertobatan. Bagaimana bisa seseorang seperti ini tiba-tiba mengubah cara-cara hidupnya dan kemudian mengikuti sang Putera Allah? Jawabnya adalah rahmat pertobatan yang diberikan Roh Kudus kepada siapa saja yang membuka hatinya. Ini adalah rahmat untuk melakukan yang tak terpikirkan karena cara Yesus telah “menangkap” hati anda. Dan, kabar baiknya adalah bahwa rahmat yang sama yang telah membantu Lewi mengubah hidupnya secara begitu drastis tersedia juga bagi kita dalam Sakramen Rekonsiliasi.

Pada masa Prapaskah ini, mengapa kita (anda dan saya) tidak berupaya untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan dosa menjadi kebiasaan-kebiasaan kebenaran? Allah sedang menunggu. Dia sedang memanggil kita semua kepada pertobatan sehingga Dia dapat memberikan kepada kita masing-masing sebuah hati yang baru dan memberikan suatu jalan yang baru untuk kehidupan kita. Barangkali hal ini kedengaran tidak mungkin bagi sebagian dari kita, namun ini masih merupakan apa yang dijanjikan Allah kepada kita: “Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN (YHWH) akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! (Yes 58:9). Jadi, kita boleh yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah tidak hanya akan mengampuni kita apabila kita bertobat, melainkan juga Dia akan datang ke dalam hati kita dan mengubah diri kita.

Allah sesungguhnya senantiasa mengincar hati kita. Dalam bacaan pertama hari ini kita mendengar bagaimana Allah akan memberkati orang-orang Israel apabila mereka sungguh berbalik kepada-Nya. Allah tidak ingin lip service, artinya sekadar ucapan kita yang tidak diiringi dengan tindakan nyata. Allah ingin melihat tindakan-tindakan kita mencerminkan buah-buah pertobatan. Oleh karena itu, marilah kita berupaya untuk merangkul pertobatan sejati dan mengalami kuasa Allah dalam kita yang dapat mengubah-hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahapengasih dan Mahapengampun. Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk karunia Sakramen Rekonsiliasi. Tolonglah aku untuk cepat bertobat dan untuk menjalani kehidupan yang diubah bagi Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA MELALUI KASIH DAN KESETIAAN ALLAH” (bacaan tanggal 17-2-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak,  13 Februari 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MATIUS MENYADARI DAN MENGAKUI BAHWA YESUS DAPAT MENYEMBUHKAN DIRINYA

MATIUS MENYADARI DAN MENGAKUI BAHWA YESUS DAPAT MENYEMBUHKAN DIRINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Sabtu, 13 Januari 2018)

 

Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”  Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”  Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Mrk 2:13-17)

Bacaan Pertama: 1Sam 9:1-4,17-19;10:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

Pernahkah anda berada dalam posisi membutuhkan seorang dokter, tetapi tidak mengakuinya? Meskipun didesak-desak oleh keluarga dan teman-teman, anda menolak untuk mengunjungi seorang dokter sampai penyakit yang anda derita itu akhirnya menjadi begitu serius sehingga anda pun terpaksa pergi ke dokter. Kita dapat mempunyai kesulitan yang sama, karena kita tidak mau menerima kenyataan bahwa kita menderita penyakit spiritual.

Yesus berkata kepada orang Farisi: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Mat 9:12). Yesus tidak memaksudkan di sini bahwa para pemungut pajak dan orang berdosa menderita sakit secara spiritual sementara orang Farisi sehat-sehat saja. Para pemungut pajak dan orang berdosa dengan jelas dapat melihat dan menerima keadaan mereka. Orang-orang Farisi juga sakit, namun tidak mau mengakuinya, maka  tidak mau pergi ke sang Dokter Agung agar mereka dapat memperoleh kehidupan dan kesehatan yang baru.

Dunia ini tidak terdiri dari dua jenis manusia – para pendosa dan orang-orang benar. Yang benar adalah bahwa semua orang adalah pendosa. Ada orang-orang yang mengetahui dan mengakui kenyataan ini. Dengan segala kebutuhan yang ada mereka datang kepada Yesus. Ada juga orang-orang yang menolak untuk mengakui kenyataan ini, maka mereka tidak datang kepada Yesus guna menerima belaskasihan dan kesembuhan. Matius menyadari akan kebutuhannya, dan dia berpaling kepada Yesus.

Ketika  Paulus menulis tentang keadaan orang-orang di hadapan Allah, maka dia mengambil ucapan sang pemazmur: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak” (Rm 3:10-12; bdk. Mzm 14:1-3). Paulus ingin agar kita semua menyadari bahwa kita tidak dapat mengandalkan pada kebaikan kita sendiri: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23).

Selama kita masih merasa bahwa diri kita “tidak terlalu jelek”, maka hal itu berarti bahwa kita masih mencoba mengandalkan diri pada “kebaikan” kita sendiri. Dengan demikian kita tidak dapat mengalami keselamatan yang terwujud hanya melalui Yesus. Marilah kita sekarang bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah aku sungguh memandang diriku sebagai seorang pendosa yang membutuhkan penebusan melalui darah Yesus?” Mungkin kita masih harus membuang kecenderungan untuk berpikir bahwa selama ini kita oke-oke saja. Misalnya kita berkata: “Kita kan cuma manusia biasa, bukan malaikat?” Kita juga dapat memandang enteng arti dosa, misalnya dengan berkata: “Allah kan Mahamengerti?” Matius datang kepada Yesus karena dia menyadari dan mengakui bahwa Yesus dapat menyembuhkan dirinya. Semoga begitu juga halnya dengan kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengakui kedosaanku di hadapan-Mu sekarang ini. Engkau telah membayar harga dosa-dosaku di atas kayu salib sehingga aku dapat diperdamaikan dengan Allah Bapa. Tuhan, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu dengan segenap hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DATANG JUSTRU UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA” (bacaan  tanggal 13-1-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

Cilandak, 10 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEMENANGAN SALIB KRISTUS ADALAH KEMENANGAN KASIH-NYA YANG MAHA-SEMPURNA

KEMENANGAN SALIB KRISTUS ADALAH KEMENANGAN KASIH-NYA YANG MAHA-SEMPURNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Rabu, 8 November 2017)

Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS): Peringatan Arwah Semua Anggota Tarekat 

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 

Bacaan Pertama: Rm 13:8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,4-5,9 

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan, “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:27). Seorang penyair pernah menulis, bahwa “dia yang ingin sesuatu yang berharga haruslah menyerahkan/ mengorbankan sesuatu yang berharga pula.” Hal itu berarti, bahwa kita tidak dapat memiliki kasih yang sejati tanpa disiplin-diri yang sama riilnya. Para dokter, musisi, artis, ilmuwan, pengarang, guru, inventor, dlsb. – semua telah menyadari bahwa kebesaran (Inggris: greatness) hanya datang dengan disiplin-diri. Pekerjaan jujur adalah sebuah salib yang berat, namun hal itu diterima dengan penuh sukacita demi cinta akan tujuan yang ingin dicapai. Spiritualisasikanlah kebenaran ini, dan kita pun akan mempunyai salib sehari-hari yang dibicarakan Yesus. Yesus menyerahkan segalanya untuk mengejar kasih-Nya yang besar dan agung, rencana Bapa perihal penebusan. Santo Paulus menulis: “ (Yesus) ……telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:7-8).

Salib sehari-hari adalah ungkapan kasih. Kasih yang sejati membuat seseorang “menyangkal dirinya” dan mengikut Kristus (lihat Luk 9:23), karena kasih membuat dirinya menyerahkan/melepaskan segalanya yang mengganggu upayanya untuk mengejar orang yang dikasihi. Cinta-diri membuat seseorang memandang segala gangguan – betapa kecilnya sekalipun gangguan itu – sebagai “salib sehari-hari”. Pandangan salah sedemikian hanyalah membuat orang “termanja” dalam self-pity. Sesungguhnya sebagian besar dari kesulitan-kesulitan kecil yang kita pertimbangkan sebagai pengorbanan besar adalah ungkapan dari sikap kita yang mementingkan-diri sendiri. Kita membesar-besarkan perasaan tidak enak yang kecil-kecil dan memproyeksikan semua itu menjadi salib-salib yang bersifat artifisial. Jika kita mau berpegang teguh pada kebenaran, maka seharusnya kita memandang semua kesulitan kecil itu sebagai sekadar keratan-keratan kayu yang kecil atau serbuk gergaji yang jatuh di sana-sini dari kayu salib. Tetapi semua itu bukanlah salib itu sendiri, melainkan tanda-tanda kasar-sederhana dari kelemahan kita.

Salib yang dipikul oleh Yesus dan yang diminta-Nya untuk kita pikul adalah hidup dari kasih Kristiani itu sendiri, “baptisan” besar/agung ke mana keseluruhan hidup-Nya diarahkan. Salib adalah status kehidupan kita: kerasulan kita, tugas-tugas harian kita, perkawinan kita, keluarga kita, tugas mengajar kita (kalau kita guru), tugas perawatan kita (kalau kita perawat), studi kita, pekerjaan kita – apa pun kerja kasih yang tidak mementingkan-diri dan pengabdian  yang telah diberikan Allah kepada kita. Kejengkelan hati sehari-hari yang kecil-kecil hanyalah bayangan dari salib yang besar, karena salib itu bagaikan sebatang pohon tinggi, dari pohon mana kasih Allah dicurahkan secara berkelimpahan. Salib agung itulah “hal berharga” untuknya segala “hal berharga” lainnya akan kita serahkan/lepaskan dengan penuh sukacita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kemenangan Salib-Mu adalah kemenangan kasih-Mu yang maha-sempurna. Jagalah agar kami agar dapat tetap menjadi murid-murid-Mu yang baik, yang senantiasa mau dan mampu memikul salib kami masing-masing dan mengikut Engkau dengan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “MENGASIHI DAN MEMBENCI” (bacaan tanggal 8-11-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2017. 

Cilandak, 6 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu Rosario – Sabtu, 7 Oktober 2017)


Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”  (Luk 10:17-24) 

Bacaan Pertama: Bar 4:5-12,27-29; Mazmur 69:33-37 

Baru saja kembali dari misi mereka, para murid Yesus bersukacita karena kuasa luarbiasa yang telah diberikan Yesus kepada mereka untuk menolong orang-orang yang sakit dan tertindas. Namun Yesus dengan cepat mengingatkan para murid-Nya yang terdiri dari 70 orang itu, bahwa janganlah mereka sibuk memikirkan apa yang telah diberikan oleh-Nya untuk memberdayakan mereka. Yang benar adalah, bahwa mereka bersukacita karena Dia, sumber kuat-kuasa yang sekarang ada dalam diri mereka dan juga pencinta jiwa-jiwa mereka.

Yesus ingin agar para misionaris “yunior” ini menghargai nilai-tertinggi keberadaan mereka bersama dengan diri-Nya. Para murid ini mempunyai privilese berdiam berjam-jam lamanya mendengarkan pengajaran-Nya dan belajar mengenai cintakasih-Nya. Para murid memiliki sukacita mengetahui bahwa Yesus telah membuka “jalan kepada Bapa” bagi mereka. Nama-nama mereka telah “terdaftar di surga” (Luk 10:20). Bukankah hal ini merupakan sebuah alasan yang jauh lebih besar dan penting untuk kegembiraan mereka?

Santa Bunda Teresa dari Kalkuta pada suatu kesempatan mengatakan, “Panggilanku didasarkan pada fakta bahwa aku milik Yesus. Hal itu berarti mengasihi Dia dengan perhatian dan kesetiaan yang tak terpecah-pecah. Pekerjaan yang kami lakukan tidak lebih daripada suatu sarana untuk mentransformir kasih kami kepada Kristus ke dalam sesuatu yang konkret.”

Sebagaimana para murid Yesus, kita pun seringkali mengalami kesulitan berurusan dengan tegangan antara melaksanakan tugas-tugas yang telah diberikan Allah kepada kita dan mengembangkan relasi kita dengan Yesus. Seringkali kita mengalami tegangan yang sama dalam hal relasi kita dengan orang-orang lain: Kita tergoda untuk menerapkan cara-cara fungsional dalam memecahkan masalah-masalah dengan pasangan hidup kita, anak-anak kita, para sahabat terdekat kita ……; padahal bertumbuh dalam kasih dan persatuan harus menjadi prioritas lebih utama daripada sekadar melaksanakan tugas-tugas kita.

Apabila kita membuka hidup kita bagi Yesus dan memperkenankan pernyataan diri-Nya meresap ke dalam hati dan pikiran kita, maka kita akan mulai mengenal kekayaan hikmat-Nya dan kasih-Nya. Sabda Allah dalam Kitab Suci akan terbuka bagi kita. Pola-pola pemikiran dan tindakan yang keliru akan disembuhkan. Kita akan berpaling kepada Roh-Nya untuk memohon pertolongan-Nya dalam mengambil keputusan-keputusan penting sepanjang hari. Kita yang lemah dapat menjadi kuat melalui relasi kita dengan Yesus. Kita yang miskin dapat menjadi kaya. Kita yang tuli dapat mendengar. Dan kita yang buta dapat melihat.

Marilah kita mulai pada hari ini. Marilah kita membuka hati kita bagi Yesus dalam doa-doa kita dan dalam pembacaan dan permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Marilah kita menyambut-Nya ke dalam setiap aspek kehidupan kita dan mohon kepada-Nya untuk mencerminkan kehadiran-Nya kepada setiap orang yang kita jumpai.

DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mataku lebih lebar lagi agar dapat melihat Yesus. Tolonglah aku untuk memandang Yesus sebagai Pribadi di atas segala segalanya yang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “AKU BERSYUKUR KEPADA-MU, BAPA, TUHAN LANGIT DAN BUMI” (bacaan tanggal 7-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 5 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KOMITMEN KRISTIANI HARUS BERSIFAT PERMANEN

KOMITMEN KRISTIANI HARUS BERSIFAT PERMANEN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dr Assisi – Rabu, 4 Oktober 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Hari Raya S. Fransiskus dr Assisi, Pendiri Tarekat

 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!”  Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:57-62) 

Bacaan Pertama: Neh 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 137:1-5 

Yesus mempunyai cara-Nya sendiri dalam berkomunikasi dengan para murid atau calon murid-Nya, menstimulir mereka untuk berpikir. Di sini Yesus berbicara mengenai persyaratan untuk menjadi murid-Nya dan bahasa yang digunakan cukup keras. Namun terasa bahwa sekali-sekali Yesus berkomunikasi dengan melakukan permainan kata-kata yang sungguh merangsang imajinasi orang yang mendengar pesan-Nya dan membuat orang itu bertanya-tanya tentang makna dari pesan yang disampaikan-Nya. “Biarlah orang mati menguburkan orang mati” (Luk 9:60). Maknanya, tentunya, adalah membiarkan orang-orang yang mati-rohani menguburkan orang mati-fisik. Pekerjaan kita adalah dengan orang-orang yang hidup; pesan kita adalah pesan kehidupan, kehidupan baru. Saya sendiri sekian tahun lalu mengalami betapa berbahayanya sabda Yesus seperti ini apabila ditafsirkan secara harfiah. Pada waktu ayah mertua saya meninggal dunia, seorang anak laki-lakinya yang menganut paham Kristiani yang fundamentalistis, tidak mau hadir ke rumah duka, padahal dia adalah anak laki-laki tertua. Alasan yang dikemukakannya sama dengan ayat tadi. Menyedihkan, memang!

Satu hal lainnya yang ditekankan Yesus adalah “kesulitan” yang dialami seseorang untuk menjadi murid-Nya, ada “biaya”-nya. “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58). Yesus memang tidak pernah “menipu”/”menjebak” orang dengan janji-janji yang indah-indah dan romantis, agar mau mengikuti diri-Nya. Yesus membeberkan fakta seadanya walaupun terkesan keras didengar.

Satu hal lagi yang disampaikan di sini: Komitmen para murid Yesus harus bersifat permanen: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk 9:62). Yesus mengingatkan kita bahwa kita-manusia mempunyai kecenderungan untuk merasa terlalu risau tentang kerja, kita terlalu banyak memikirkan sukses …… sukses duniawi! Kita menjadi begitu mudah disibukkan dengan urusan pekerjaan dan rekreasi, dan lupa komitmen kita untuk melayani Allah dan sesama (bukan hanya orang Kristiani) sebagai orang-orang Kristiani sejati.

Komitmen Kristiani bukanlah sekadar urusan suci-suci pada hari Minggu saja, doa, bahkan senantiasa hadir dalam Misa Harian. Komitmen Kristiani yang sejati jauh lebih dari itu semua. Komitmen Kristiani sejati menyangkut penghayatan iman dalam tindakan, di tempat kerja, pada waktu berekreasi, dalam bisnis, dalam dunia politik, dalam segala kontak kita dengan sesama manusia tanpa memandang perbedaan agama, bangsa/etnis, status sosial-ekonomi dalam masyarakat. Komitmen Kristiani bukanlah sesuatu yang dapat kita “mati-hidupkan” seenaknya seperti pesawat radio. Komitmen Kristiani yang sejati harus bersifat permanen dan harus meliputi seluruh segi kehidupan kita.

DOA: Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. Amin. (Mzm 63:2-3,5,9)

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:57-62), bacalah tulisan yang berjudul “MERANGKUL SEPENUHNYA JALAN TUHAN’” (bacaan tanggal 4-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 3 Oktober 2017 [Transitus Bapak Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DATANG UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

YESUS DATANG UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul Penginjil – Kamis, 21 September 2017) 

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Andaikan anda sedang memulai sesuatu yang baru, barangkali suatu bisnis yang baru (apabila anda seorang pengusaha atau pemimpin di bidang bisnis), atau sedang menyusun organisasi pemerintahan yang baru (apabila anda seorang presiden sebuah republik), bukankah anda ingin memperoleh orang-orang terbaik untuk mengisi posisi-posisi puncak yang ada, misalnya untuk anggota direksi perusahaan anda atau sebagai anggota kabinet dan berbagai posisi kunci lainnya dalam pemerintahan anda? Bukankah anda sebagai seorang pribadi pemimpin yang waras akan mencari orang-orang yang berlatar pendidikan terbaik dan para go-getters yang akan get the job done, bukannya para “yes men” atau para penjilat “ABS” yang oportunis?

Walaupun “waras” dalam artian sesungguhnya, Yesus lain sekali dengan para pemimpin sekular atau keagamaan yang hidup di dunia. Yesus menemukan para rasul-Nya di perahu-perahu nelayan, bahkan di “kantor pajak/cukai”, seperti halnya dengan Lewi atau Matius ini (Mat 9:9). Kelihatannya Yesus suka memilih calon-calon yang dapat dijadikan sahabat-sahabat intim bagi diri-Nya dan kepada mereka Dia akan mempercayakan Gereja-Nya.

Pilihan Yesus atas diri Matius barangkali membingungkan orang-orang. Sebuah teka-teki pada zamanya. Pada abad pertama di Israel, para pemungut cukai tidak memiliki status dalam masyarakat Yahudi. Mereka dihina karena mereka bekerja untuk kekaisaran Roma dan biasanya mereka memperagakan kekayaan pribadi yang mencolok, tentunya lewat “pemerasan” atas diri anggota masyarakat. Di sisi lain pilihan Matius atas diri Yesus juga sama penuh teka-tekinya. Perubahan dirinya yang secara mendadak, dari seorang pemungut cukai yang tidak patut dipercaya menjadi seorang murid yang penuh gairah tentunya mengejutkan setiap orang yang mengenalnya. Mengapa dia mau melepaskan pekerjaannya yang “basah” itu demi mengikuti seorang tukang kayu dari Nazaret yang menjadi seorang rabi? Tentunya, dalam hal ini “uang” bukanlah motifnya!

Keputusan Matius untuk meninggalkan segalanya memberikan petunjuk kepada kita mengapa Yesus memanggil dirinya. Yesus memandang ke dalam hati Matius dan melihat di hati itu adanya rasa haus dan lapar akan Allah dan potensi untuk mengenali harta surgawi. Matius membuktikan Yesus benar ketika Dia menerima undangannya untuk merayakan kehidupan barunya dalam sebuah perjamuan di rumahnya, di mana para pemungut cukai yang lainpun dan orang-orang berdosa dapat bertemu dengan Tuhan (Mat 9:10).

Sejak saat itu, Matius tak henti-hentinya menawarkan harta-kekayaan Injil yang tak ternilai harganya itu secara bebas-biaya, semua free-of-charge. Tradisi mengatakan bahwa Matius mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus di tengah-tengah orang-orang Yahudi selama 15 tahun setelah kebangkitan Yesus, kemudian dia pergi ke Makedonia, Siria dan Persia. Di Persia inilah dikatakan  bahwa Matius mengalami kematian sebagai martir Kristus.

Iman dan devosi yang terbukti nyata dalam diri Matius adalah kualitas-kualitas pribadi yang diinginkan oleh Yesus dari kita juga yang hidup pada zaman modern ini. Jangan ragu-ragu! Apabila Allah dapat mengubah Matius, Petrus dan yang lainnya menjadi rasul-rasul, bayangkanlah apa yang dapat dilakukan-Nya atas diri kita. Yesus dapat mengangkat segala halangan yang merintangi diri kita untuk dipakai oleh-Nya. Yang diminta-Nya hanyalah bahwa kita percaya pada kasih-Nya yang penuh kerahiman dan kita menaruh kepercayaan pada kuat-kuasa dan rahmat-Nya.

DOA:  Tuhan Yesus, di atas segalanya, kuingin mengenal dan mengalami kasih-Mu, yang melampaui segala sesuatu yang ada. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “MATIUS SI PEMUNGUT CUKAI” (bacaan tanggal 21-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011. 

Cilandak, 20 September 2017 [Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang, dkk. Martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEORANG PRIBADI TANPA KEPALSUAN

SEORANG PRIBADI TANPA KEPALSUAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Bartolomeus, Rasul – Kamis, 24 Agustus 2017) 

Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”  Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”  Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”  Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”  Kata Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”  Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.”  Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia”  (Yoh 1:45-51) 

Bacaan Pertama: Why 21:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18 

Rasul Bartolomeus – dalam Injil hari ini dipanggil dengan namanya yang lain, Natanael –  memutuskan bahwa dia harus mengikut seorang pribadi yang bernama Yesus dari Nazaret ini karena Dia mengenal dirinya, luar dan dalam. Bagaimana Yesus sampai dapat menunjukkan bahwa diri-Nya mengenal Natanael secara begitu mendalam?

Pada waktu Natanael  duduk bermeditasi, kita dapat membayangkan dirinya mencatat di mana dia sedang berada: di bawah sebatang pohon ara. Terasa bahwa Natanael adalah seorang pribadi yang memahami Kitab Suci dengan baik. Tidak mengherankanlah apabila dia mulai merefleksikan beberapa nubuatan Perjanjian Lama berkaitan dengan pohon ara. Dalam Kitab Zakharia, ada tercatat bahwa Iblis mendakwa imam besar Yosua, akan tetapi Allah memberikan pakaian pesta kepada Yosua. Kepada Yosua juga diberitahukan, bahwa apabila dia berjalan dalam jalan Allah, maka dia dapat memerintah umat dan mengurus pelataran-Nya. Kemudian YHWH Allah berjanji akan mendatangkan hamba-Nya, yakni SANG TUNAS. YHWH  semesta alam akan menghapuskan kesalahan Israel dalam satu hari saja. Pada hari itu, demikianlah firman YHWH semesta alam, “setiap orang dari padamu akan mengundang temannya duduk di bawah pohon anggur dan di bawah pohon ara” (Za 3:10).

Bagi nabi Mikha pun, pohon ara melambangkan pemulihan (restorasi). Walaupun Ia meratapi tidak adanya buah awal (orang-orang baik dan saleh), Ia juga menjanjikan bahwa Bait Allah akan direstorasi sebagai gunung tertinggi, tempat pengadilan yang adil; perang akan berhenti, dan setiap orang akan duduk tanpa takut di bawah pohon anggur dan pohon ara (Mi 4:1-4; 7:1-2). Kita dapat membayangkan betapa Natanael merindukan saat dipenuhinya nubuatan tersebut.

Maka, ketika Yesus berkata, “Aku melihat engkau di bawah pohon ara” (Yoh 1:48), Natanael tentunya menyadari bahwa semua permenungannya dan kerinduannya ternyata merupakan “sebuah buku yang terbuka” bagi Yesus. Artinya tidak ada rahasia yang tidak diketahui Yesus tentang isi hatinya. Jadi, Yesus mestinya adalah Mesias yang dijanjikan dan dinanti-nantikan itu! Namun kemudian, Yesus dengan lemah lembut mengundang dia untuk memperluas visinya. Ada lebih banyak lagi yang harus diketahui seseorang tentang kerajaan Allah daripada dia sekadar menikmati keteduhan karena berada di bawah pohon aranya. Tangga Yakub (Yoh 1:51; Kej 28:10-17) menunjukkan bahwa rencana Allah itu bersifat kosmik, mampu mengalahkan maut dan kuasa-kuasa kegelapan. Apabila dia memilihnya, maka Bartolomeus (Natanael) pun dapat ikut ambil bagian dalam mendirikan kerajaan Allah.

Sampai seberapa sering kita menyadari bahwa Allah sesungguhnya melihat/membaca segala pikiran kita? Sampai berapa serius kemauan kita mengundang Dia agar mendengarkan pikiran-pikiran kita, menolong kita dalam membuat jelas pikiran-pikiran kita itu, dan membentuk pikiran-pikiran yang benar selagi kita mengenakan pikiran-Nya? Oleh karena itu, baiklah pada hari kita mencoba untuk tidak mendengarkan radio, menonton televisi untuk setengah jam saja dan memakai waktu setengah jam itu untuk bersimpuh di hadapan hadirat-Nya. Selama setengah jam itu, baiklah kita benar-benar membuat suasana menjadi sungguh hening (lahir dan batin) sehingga kita dapat mendengarkan “suara Tuhan”. Insya Allah!

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengenalku luar-dalam. Aku mengundang Engkau untuk berpikir bersamaku dan menarik aku ke dalam visi-Mu tentang bagaimana seharusnya membangun kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:45-51), bacalah tulisan yang berjudul “AKAN MELIHAT HAL-HAL YANG LEBIH BESAR ” (bacaan tanggal 24-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

Cilandak, 22 Agustus 2017 [Peringatan SP Maria, Ratu] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS