Posts from the ‘KEMURIDAN’ Category

IA AKAN MEMBERITAKAN KEPADAMU APA YANG DITERIMA-NYA DARI AKU

IA AKAN MEMBERITAKAN KEPADAMU APA YANG DITERIMA-NYA DARI AKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 24 Mei 2017)

Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Kis 17:15,22 – 18:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14

Kadang-kadang timbul keinginan dalam hati kita bahwa Yesus sendirilah yang mengatakan kepada kita pada Perjamuan Terakhir semua hal yang dikatakan oleh-Nya akan diajarkan oleh Roh Kudus setelah Ia sendiri pergi, bukankah begitu? Tidak pernahkah kita mengalami frustrasi dalam upaya kita mencari kehendak Allah berkaitan dengan suatu keputusan sangat penting, namun ketika kita selesai berdoa kita masih  saja tidak yakin apakah suara yang menjawab doa kita di kepala kita itu sungguh suara Allah atau hanya imajinasi kita sendiri? Lalu kita berkata kepada diri kita sendiri: “Ah, kalau saja Roh Kudus berbicara kepada kita dengan jelas seperti pada waktu Yesus berbicara dengan para murid-Nya!” …… “Kalau saja Dia dapat menggunakan kata-kata sederhana yang mudah dimengerti, sehingga aku tidak perlu mengira-ngira, tak perlu menebak-nebak apa yang dimaksudkan oleh-Nya!”

Namun Yesus mengatakan kepada kita – dengan kata-kata yang mudah dimengerti – bahwa lebih berguna bagi kita kalau Dia pergi kembali kepada Bapa surgawi (Yoh 16:7). Mengapa? Karena dengan demikian Dia dapat mengutus Roh Kudus kepada kita untuk menyucikan kita dan memimpin kita ke dalam segala kebenaran. Dalam hati kita dapat saja ingin agar kita memiliki kedekatan dengan Yesus seperti halnya para rasul/murid-Nya yang pertama. Akan tetapi, kita juga harus ingat bahwa meski begitu dekat dengan Yesus, tetap saja tidak dapat mencegah para rasul/murid untuk merasa takut akan nyawa mereka sendiri; tidak dapat mencegah mereka untuk melarikan diri justru pada waktu sang “Tuhan dan Guru” ditangkap oleh pasukan para penguasa pada waktu itu.

Kapan sebenarnya kita berada paling dekat dengan Yesus? Tentunya pada waktu kita menyambut Dia dalam Komuni Kudus – setelah kita mendengar suara-Nya dalam Liturgi Sabda. Juga dalam Komuni Kudus Yesus paling mampu untuk membagikan diri-Nya dengan kita dan untuk menyentuh kita dengan penyembuhan-Nya, dengan hikmat-Nya dan dengan kasih-Nya. Yang diminta oleh-Nya dari kita hanyalah hati yang terbuka lebar-lebar bagi Dia dan pikiran-hening yang hanya tertuju kepada-Nya.

Oleh karena itu janganlah kita membuang-buang waktu sedemikian, yaitu saat-saat kebersatuan dengan Allah secara mendalam, ketika suara kecil hampir tak terdengar dari Roh Kudus dapat terdengar paling jelas dalam hati kita. Tentu saja kita tidak keluar dari Misa Kudus dengan sebuah dokumen sepanjang 2-3 halaman folio berisikan kata-kata yang didiktekan oleh Roh Kudus berkaitan dengan pilihan penting yang harus kita buat. Namun demikian, kita akan membawa dalam diri kita efek-efek dari kehadiran-Nya, laksana suatu cara pengobatan/terapi radiasi yang menembus bagian luar diri kita dan membakar sabda-Nya, kasih-Nya, dan kuasa-Nya masuk ke dalam bagian-bagian diri kita yang paling dalam.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, ucapkanlah sabda-sabda-Mu yang hidup kepadaku setiap hari – sabda-sabda-Mu yang akan menembus dalam-dalam diriku dan menolong mengarahkan semua pikiranku, juga kata-kataku dan tindakan-tindakanku. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, pimpinlah aku ke dalam kebenaran-Mu saja. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan pertama hari ini (Kis 17:15,22 – 18:1), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN LUPA PERANAN SALIB” (bacaan tanggal 24-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS PERGI KEPADA BAPA YANG TELAH MENGUTUS-NYA

YESUS PERGI KEPADA BAPA YANG TELAH MENGUTUS-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 23 Mei 2017)

 

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Hati para murid terasa hancur ketika memikirkan bahwa Yesus akan meninggalkan mereka. Namun Yesus mengatakan kepada mereka bahwa lebih berguna bagi mereka apabila Dia pergi, dan rasa sedih mereka akan berganti menjadi sukacita (Yoh 16:22). Apakah yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yesus dengan kata-kata itu? Apakah Dia sungguh mau meninggalkan mereka? Samasekali tidak! Yesus selalu mengarahkan hati-Nya kepada Bapa serta menyediakan hati-Nya bagi tujuan-tujuan Bapa, dan Ia tahu bahwa begitu Dia naik ke surga setelah menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya bagi kita, maka Bapa dapat mencurahkan Roh Kudus atas para murid-Nya.

Sebagai seorang manusia, Yesus hadir bagi para murid dalam cara yang terbatas, secara fisik. Melalui Roh Kudus, kehadiran-Nya  dapat lebih bersifat intim/akrab dan penuh kuasa selagi Dia datang untuk hidup dalam diri semua orang beriman dalam suatu cara yang belum ada presedennya. Dia akan berdiam dalam diri semua orang pada waktu yang sama – memimpin, menghibur dan mengasihi mereka. Sungguh merupakan suatu karunia yang mahadahsyat mempunyai Allah kekal, sang Khalik alam semesta, berdiam dalam diri kita!

Yesus ingin mencurahkan Roh Kudus yang telah dijanjikan itu atas diri semua orang, agar melalui Roh Kudus itu, diri-Nya dapat dinyatakan sebagaimana apa adanya Dia. Karya Roh Kudus adalah senantiasa untuk menyatakan Yesus,  mengungkapkan siapa Dia sebenarnya. Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita menunjukkan kepada kita bahwa dosa sesungguhnya adalah ketidakpercayaan kepada Allah; bahwa keadilan telah dicapai oleh kebangkitan Yesus karena Dia lah yang membayar “denda” untuk dosa-dosa kita, dan bahwa Allah Bapa hanya tertarik untuk menghukum Iblis, bukan anak-anak-Nya (Yoh 16:8-11).

Pada hari ini kita dapat merenungkan misteri perihal siapa Yesus itu karena Roh Kudus berdiam dalam diri kita, menanti-nanti dengan penuh kerinduan untuk menyatakan Yesus dalam segala kemuliaan-Nya. Yesus adalah titik pusat dan tujuan dari segenap ciptaan (Kol 1:15-20). Selagi kita membuka hati kita bagi Roh Kudus dan minta kepada-Nya untuk menyatakan Yesus kepada kita secara lebih penuh, kita akan jatuh cinta secara lebih mendalam lagi dengan Yesus dan berkeinginan untuk hidup hanya bagi Dia dan tujuan-tujuan-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, liputilah diriku dengan pernyataan siapa Yesus itu dan apa yang telah dicapai-Nya. Penuhilah diriku dengan jaminan dan damai-sejahtera yang hanya dapat diberikan oleh-Mu, dan gerakkanlah hatiku untuk mengasihi Yesus dengan lebih bergairah lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “SANG PARAKLETOS” (bacaan tanggal 23-5-17 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KETAATAN YESUS KEPADA BAPA DAN KETAATAN KITA KEPADA PERINTAH-PERINTAH YESUS

KETAATAN YESUS KEPADA BAPA DAN KETAATAN KITA KEPADA PERINTAH-PERINTAH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VI [Tahun A], 21 Mei 2017)

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.

Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukan-Nya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” (Yoh 14:15-21)

Bacaan Pertama: Kis 8:5-8,14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7,16-20; Bacaan Kedua: 1Ptr 3:15-18

Keakraban relasi antara Bapa surgawi dan Putera (Anak)-Nya, Yesus, adalah berlandaskan kehidupan yang saling disyeringkan. Hal ini dinyatakan kepada kita oleh ketaatan sang Putera, oleh konformitas total dari kehendak-Nya kepada kehendak Bapa. Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya, sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh 5:19; bdk. 5:30; 7:17,28; 8:28; 14:10). Itulah sebabnya mengapa, “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia …” (Yoh 8:28). Dalam kematian sang Putera di kayu salib itulah kita baru mampu memahami makna sesungguhnya dari ketaatan-Nya kepada Bapa. Dari peristiwa kematian-Nya tersebut kita akan mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia mengatakan: “Aku di dalam Bapa-Ku” (Yoh 14:20).

Sebagai akibat yang wajar dari pernyataan ini, ungkapan “pada waktu itulah” akan juga dipahami oleh para murid bahwa mereka akan di dalam Yesus dan Yesus di dalam mereka (Yoh 14:20). Akan tetapi, keakraban sedemikian antara umat yang percaya dan Tuhan mereka yang sudah bangkit bersifat mutualistis dan timbal-balik secara istimewa. Keberadaan-Nya dalam diri mereka berarti bahwa mereka hidup karena Dia sendiri hidup (Yoh 14:19). Namun demikian, walaupun mereka hidup karena Dia, “Aku di dalam kamu”, kebalikannya, yaitu “kamu di dalam Aku” tidak dapat diartikan bahwa Yesus hidup karena mereka. Yesus adalah seperti apa adanya Dia karena Dia adalah untuk mereka, karena Dia adalah Wahyu Bapa bagi mereka. Hanya melalui iman-kepercayaan kita kepada Yesus, hanya dengan menghidupi kehidupan mereka dalam diri-Nya, maka mereka dapat hidup. Tentu saja, menghayati kehidupan di dalam Dia berarti taat kepada perwahyuan yang dibawakan oleh-Nya, taat kepada kehendak-Nya seperti disabdakan/diperintahkan oleh-Nya.

Jadi, ketaatan kepada perintah-perintah Yesus sesungguhnya merupakan satu-satunya sarana yang tersedia bagi umat yang percaya untuk mengungkapkan kasih mereka kepada-Nya. Tidak ada sarana lainnya. Hanya dengan mentaati perintah-perintah Yesus umat yang percaya menunjukkan kepada dunia bahwa Dia (Yesus) ada di dalam mereka dan mereka di dalam Dia (Yoh 14:20); bahwa mereka adalah para murid-Nya (Yoh 13:35). Mereka akan menunjukkan kepada dunia bahwa mereka sungguh hidup karena Dia, Tuhan yang sudah bangkit, hidup (Yoh 14:19).

Mereka yang ingin selalu dekat dengan Yesus, yang senantiasa memiliki hasrat melihat Bapa (Yoh 14:8), yang merindukan kelangsungan dari kehadiran Yesus di atas bumi ini, semuanya dirujuk kepada perintah Yesus kepada para murid-Nya untuk saling mengasihi (Yoh 13:34,35). Tidak ada jalan lain, tidak ada sarana lain, untuk mendapatkan kasih Bapa (“akan dikasihi oleh Bapa-Ku”; Yoh 14:21) dan kasih Yesus sendiri (“Aku pun akan mengasihi dia”; Yoh 14:21). Hanya lewat ketaatan kepada perintah-perintah Yesus kita dapat memahami sepenuhnya perwahyuan yang dibawa oleh-Nya: “… akan menyatakan diri-Ku kepadanya” (Yoh 14:21).

Ini adalah alasan mengapa beberapa waktu sebelumnya Yesus mengingatkan Nikodemus bahwa “… manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat” (Yoh 3:19). Sebaliknya, perbuatan-perbuatan mereka yang percaya kepada Yesus sebagai “terang dunia”, yaitu orang-orang yang mempunyai “terang kehdupan” (Yoh 8:12) akan taat kepada perintah-Nya untuk saling mengasihi.

Singkatnya, ketaatan kepada sabda/perintah-Yesus adalah syarat satu-satunya untuk berdiamnya Bapa dan Putera-Nya dalam diri umat yang percaya: “Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23).

DOA: Terima kasih Roh Kudus, Engkau adalah Penolong yang lain, Engkaulah Roh Kebenaran yang mengingatkan diri kami senantiasa bahwa ketaatan kepada perintah-perintah Yesus adalah satu-satunya jalan, satu-satunya sarana yang tersedia bagi kami – umat yang percaya – untuk mengungkapkan kasih kami kepada-Nya; demikian pula untuk berdiamnya Bapa dalam diri kami dan juga Yesus Kristus – Putera Bapa – Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:15-21), bacalah tulisan yang  berjudul “KEHADIRAN YESUS SECARA BARU” (bacaan tanggal 21-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

Cilandak, 18 Mei 2017 [Peringatan S. Feliks dr Cantalice] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DUNIA MEMBENCI YESUS DAN PARA MURID-NYA

DUNIA MEMBENCI YESUS DAN PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Sabtu, 20 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Bernadinus dr Siena, Imam  

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh 15:18-21)

Bacaan Pertama: Kis 16:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-3,5 

Cukup sering Yesus menyebut kata “dunia”: “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu”  (Yoh 15:18). Di sini Yesus tidak memaksudkan “dunia”’ dalam artiannya yang konkret sebagai tempat tinggal manusia, melainkan sebagai kemanusiaan yang telah jatuh ke dalam dosa. Dalam tulisan-tulisan Yohanes, “dunia” mewakilkan suatu sistem dari yang jahat, yang dikendalikan oleh kuasa-kuasa kegelapan. Setiap hal yang ada di dalam sistem itu bertentangan/berlawanan dengan pemerintahan Allah. Dengan tegas Yesus mengatakan kepada para murid-Nya: “Karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yoh 15:19).

Yesus mengalami sendiri apa artinya kebencian itu. Oleh karena itu Dia wanti-wanti mengingatkan para murid-Nya: “Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu” (Yoh 15:20). Nubuatan Yesus ini telah terbukti benar pada segala zaman melalui kisah hidup para kudus.

Yohanes (Don) Bosco [1815-1888] adalah seorang imam praja anggota Ordo III sekular St. Fransiskus yang kemudian mendirikan Serikat Salesian (SDB). Ia dikenal di seluruh Italia untuk karya pelayanannya bagi anak-anak miskin dan yatim-piatu. Namun kebaikan dan kemurahan hatinya samasekali tidak membebaskan dirinya dari penganiayaan. Situasi politik Italia pada zaman Don Bosco sangatlah anti Katolik, dan imam ini seringkali difitnah oleh media surat kabar. Don Bosco juta selamat dari beberapa kali serangan fisik yang dilakukan oleh preman bayaran. Pada suatu hari dia ditembak oleh seorang pembunuh bayaran, namun selamat. Peluru yang ditembakkan nyaris mengenai dirinya, hanya membuat bolong jubah luar yang sedang dikenakannya. Ada catatan tentang orang kudus ini sebagai berikut: Don Bosco tidak pernah memperkenankan kemalangan merusak sukacitanya dalam melayani Kristus.

Maximilian Kolbe [1894-1941] adalah seorang imam Fransiskan Konventual Polandia. Imam ini barangkali menghadapi salah satu bentuk kejahatan yang paling sistematik di abad ke-20: Naziisme dari Hitler. Dengan berani dia menolak paham Naziisme pada tahun-tahun menjelang pecahnya Perang Dunia II. Pada waktu pasukan Nazi Jerman berhasil menduduki Polandia, mereka pun menjebloskan Pater Kolbe ke kamp konsentrasi Auschwitz. Para saksi mata memberi kesaksian bahwa para penjaga kamp konsetrasi seringkali memperlakukan imam yang lemah fisik ini secara di luar perikemanusiaan, namun mereka tidak pernah dapat menghancurkan damai-sejahtera yang ada dalam batin Pater Kolbe, atau mencegah dia menolong para tahanan lainnya yang membutuhkan pertolongan. Kasihnya kepada Kristus begitu besar sehingga secara sukarela imam ini menggantikan seorang tahanan lain yang akan dihukum mati karena dia mempunyai keluarga. Para pejabat dan petugas Nazi kemudian menghukum mati orang Kristiani ‘kepala batu’ yang bernama Maximilian Kolbe ini, pada tanggal 14 Agustus 1941.

Putera Allah datang ke dalam dunia tepatnya karena dunia merupakan sebuah tempat yang dipenuhi kegelapan. Ia datang untuk membebaskan semua orang yang berada dalam cengkeraman si Jahat dan tidak tahu sedikit pun tentang kasih Allah: “Mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh 15:21). Ia memilih para pengikut-Nya dari dunia ini untuk menjadi terang dalam kegelapan. Dengan melakukan hal itu, Yesus mengatakan bahwa mereka akan mengalami penganiayaan; namun Ia juga menjamin bahwa mereka akan menyaksikan “kasih mengalahkan kebencian”, “kehidupan akan menang atas kematian”.

DOA: Tuhan Yesus, dengan mencontoh pengorbanan diri-Mu, kami para murid-Mu, menjadikan diri kami suatu sakramen hidup dari ‘Tuhan Kehidupan’ yang sungguh bangkit dan telah mengalahkan kegelapan dunia. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “JADILAH SEPERTI YESUS” (bacaan tanggal 20-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 17 Mei 2017 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA HARUS SALING MENGASIHI, SEPERTI YESUS TELAH MENGASIHI KITA

KITA HARUS SALING MENGASIHI, SEPERTI YESUS TELAH MENGASIHI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Jumat, 19 Mei 2017)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan S. Kripinus dr Viterbo, Bruder 

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku  tidak menyebut  kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang terhadap yang lain. (Yoh 15:12-17)

Bacaan Pertama: Kis 15:22-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 57:8-12

Pada waktu Yesus memerintahkan kita untuk saling mengasihi seperti Dia telah mengasihi kita (Yoh 15:12), maka Yesus sebenarnya menggunakan kata “kasih” itu secara lebih spesifik daripada yang kita suka gunakan sehari-hari.  Apa yang dimaksud oleh Yesus dengan kasih?

Kasih yang Yesus bicarakan mempunyai makna yang melampaui sekadar perasaan dan emosi. Meskipun melibatkan emosi-emosi, pada intinya kasih sedemikian adalah suatu keputusan untuk mencari kebaikan dalam diri orang lain. Mengasihi seperti Yesus berarti mengasihi setiap orang tanpa syarat. Ingatlah bahwa Yesus begitu mengasihi ciptaan Bapa, sampai-sampai dia memberikan nyawa-Nya sendiri, sehingga kita semua dapat direkonsiliasikan dengan Allah, artinya hubungan kita-manusia dengan Allah yang sudah rusak dapat dipulihkan kembali dan dibebaskan dari dosa dan kematian.

Setiap hari, kita harus merenungkan kasih yang terdapat pada inti pengorbanan Yesus, karena itulah sumber kemampuan kita untuk mengasihi Allah dan saling mengasihi di antara kita. Kita juga harus membawa kepada Tuhan segala dalih dan argumentasi mengapa kita memandang diri kita tidak mungkin untuk mengasihi orang-orang tertentu. Dengan begitu kita dapat menerima dari Allah terang belas kasih-Nya dan kemurahan hati-Nya. Yesus yang dikhianati, disiksa dan ditolak demi kita tentu saja akan memberikan kasih-Nya sendiri untuk disyeringkan dengan orang-orang lain, ……… asal kita mau melakukannya.

Bagaimana dengan diri kita? Marilah kita periksa kasih yang ada pada diri kita hari ini, dan kita juga mencari jalan untuk bertindak berdasarkan perintah Yesus: mengasihi seperti Dia mengasihi. Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Bagaimana aku mengungkapkan kasihku bagi orang-orang dalam kehidupanku – teristimewa mereka yang  kupandang sulit untuk dikasihi? Apakah yang aku dapat lakukan hari ini yang membantu diriku menjadi sedikit lebih serupa lagi dengan Yesus bagi mereka? Apakah ada tindakan-tindakan pelayanan yang aku dapat lakukan? Apakah ada sakit hati yang dapat   kuampuni? Kebaikan-kebaikan apa saja yang dapat kulakukan bagi mereka hari ini?

Jangan menyerah!!! Tetap dekatlah pada Tuhan Yesus dan bertekunlah dalam mematuhi panggilan atau perintah-Nya untuk mengasihi. Percayalah bahwa upaya anda, kerja keras anda akan berubah menjadi sukacita!!!!! Halleluya!

DOA: Bapa di surga, Allah Mahapengasih dan Mahapenyayang. Aku berterima kasih penuh syukur dan memuji Engkau untuk Putera-Mu Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku yang tinggal berdiam dalam diriku dan memenuhi diriku dengan kasih akan Dikau dan bagi siapa saja di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:12-17), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH YESUS KEPADA PARA SAHABAT-NYA” (bacaan tanggal 19-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 17 Mei 2017 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JIKA KITA BERBUAH BANYAK, BAPA PUN DIMULIAKAN

JIKA KITA BERBUAH BANYAK, BAPA PUN DIMULIAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Rabu, 17 Mei 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Paskalis Baylon, Bruder Fransiskan Observanti tak berkasut

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8)

Bacaan Pertama: Kis 15:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

Dalam Perjanjian Lama, Israel seringkali diibaratkan sebagai pohon anggur. Allah menanam pohon anggur itu dan memeliharanya, namun pohon anggur itu menjadi jelek dan akhirnya diinjak-injak: “Aku telah membuat engkau tumbuh sebagai pokok anggur pilihan, sebagai benih yang sungguh murni. Betapa engkau berubah menjadi pohon berbau busuk, pohon anggur liar!” (Yer 2:21). Sebagai perbandingan, bacalah juga Mzm 80:8-15; Yes 5:1-7; Yeh 19:10-14.

Yesus menyatakan diri-Nya bahwa Dialah “pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya” (Yoh 15:1). Dalam diri Yesus dan para pengikut-Nya, Bapa akan menemukan jenis buah anggur yang dihasrati-Nya. Tugas kita adalah untuk tetap terhubungkan dengan pokok anggur yang merupakan sumber makanan dari Kristus sendiri. Adalah tugas Bapa surgawi untuk memelihara pokok anggur agar dapat berbuah banyak. Pernyataan ini terdengar begitu eksplisit sehingga kita dapat luput melihat kebesaran dari tantangan dan janji yang diberikannya.

Dalam mengikuti Kristus, kecenderungan kita adalah mengambil tindakan yang bersifat pre-emptive terhadap pekerjaan Allah dengan mengambil gunting besar pemotong tangkai anggur dan melakukan pengguntingan sendiri; dengan demikian kita menggantikan pekerjaan ilahi-Nya dengan sesuatu yang kita rancang berdasarkan pemikiran kita sendiri. Kita merancang proyek-proyek menolong diri-sendiri (self-help projects) yang cenderung memusatkan perhatian pada kekurangan-kekurangan dalam kehidupan pribadi yang memalukan kita (dilihat dari mata dunia). Jadi, kita tidak pernah sampai kepada perubahan hati yang lebih mendalam yang Allah inginkan bekerja dalam diri kita. Ini adalah justru perubahan-perubahan yang kita perlukan guna mengalami kehidupan baru; sebagai buah tindakan Allah dan kerja sama kita, tidak sekadar tindakan kita sendiri.

Apabila Allah bekerja dalam kehidupan seseorang, maka orang tersebut bercahaya seperti sebuah bintang di tengah-tengah dunia yang semakin menggelap ini. Dengan menggunakan kata-kata Paulus: “anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga …… bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (Flp 2:15). Pada kenyataannya kita kadang-kadang dapat menghadapi berbagai pencobaan dan kesulitan hidup yang disebabkan oleh keterlekatan-keterlekatan pada hal-hal yang bukan berasal dari Allah; namun apabila semuanya itu diserahkan ke dalam tangan Allah, maka kelekatan-kelekatan ini dapat dipangkas sehingga kita dapat berbuah. Tidak ada upaya berdasarkan kekuatan sendiri, juga studi atau devosi yang dapat di bandingkan dengan sentuhan-pangkasan halus dari Allah sendiri.

Jesus berjanji bahwa Bapa surgawi sendirilah yang akan memangkas setiap ranting pohon anggur yang tidak berbuah dan membersihkan setiap ranting yang berbuah, agar pohon anggur itu berbuah lebih banyak lagi. Apabila kita mengakui kebenaran ini, maka kita pun memiliki keyakinan yang luarbiasa besarnya. Siapa lagi yang lebih dapat diandalkan, lebih sabar, lebih mengasihi dan lebih memiliki hasrat akan pertumbuhan kita daripada Bapa kita sendiri yang begitu mengasihi kita, anak-anak-Nya?

DOA: Bapa surgawi, pangkaslah dari diri kami carang-carang kelekatan duniawi kami dan kuatkanlah kami agar dapat menghasilkan panen berlimpah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 15:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “BERBUAH BANYAK” (bacaan tanggal 17-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

(Tulisan bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 15 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH

YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu, 6 Mei 2017) 

Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Yesus yang di dalam hati-Nya tahu bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka, “Apakah perkataan itu mengguncangkan kamu? Bagaimana jika kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata, “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Mulai saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Lalu kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:60-69) 

Bacaan Pertama: Kis 9:31-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-17

TUHAN (YHWH) bersabda lewat mulut sang Nabi: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu., dan jalanmu bukanlah jalan-Ku … Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:8,9). Sepanjang hidup-Nya, Yesus menyatakan beberapa dari pemikiran-pemikiran agung dan tinggi yang diungkapkan-Nya dalam bab 6 Injil Yohanes. Ia berbicara, baik mengenai relasi-Nya dengan Bapa-Nya dan relasi-Nya dengan kita sebagai “roti kehidupan”. Mereka yang mendengar Dia, menerima pandangan sekilas Yesus sebagai “AKU ADALAH AKU” (Kel 3:14), yang mentransenden segala batasan eksistensi yang membatasi dan menentukan kemanusiaan kita.

Kedalaman pengajaran-pengajaran-Nya ini menjadi batu sandungan bagi banyak orang yang mendengar Yesus memproklamasikannya. Mereka mencoba untuk memahami hal-hal ilahi dari Allah hanya dengan intelek manusia. Sebagai akibatnya, tibalah saat yang tidak dapat dicegah lagi ketika kata-kata Yesus (khususnya tentang Ekaristi) menjadi tidak mungkin untuk dicerna otak manusia dan diterima (Yoh 6:66). Banyak yang mengundurkan diri sebagai pengikut-Nya. Sungguh suatu tragedi! Justru ajaran yang ditolak oleh mereka adalah pemberian Yesus mengenai satu cara lain untuk dikuatkan dalam mengikuti Dia.

Dalam awal Injil Yohanes, Yesus digambarkan sebagai Sabda (Firman) Allah (Yoh 1:1). Dalam membawa sabda Allah kepada kita, Yesus memberikan kepada kita hikmat yang kita perlukan untuk menghayati kehidupan seturut niat Allah atas diri kita. Dalam membawa hikmat, Yesus datang dalam sabda dan sakramen; Ia memberikan diri-Nya kepada kita secara lengkap. Dengan memberikan kepada kita sabda dan Ekaristi, Dia memberikan kepada kita “makanan penguat penuh gizi” yang kita perlukan untuk menghayati suatu hidup Kristiani di dunia. Dalam hal ini Yesus sungguh membuat diri-Nya menjadi sumber kehidupan sejati agar kita dapat memperoleh hidup kekal.

Walaupun begitu, ada sejumlah pengikut-Nya yang pergi meninggalkan-Nya karena mereka tidak memperkenankan kebenaran menyentuh hati mereka. Santo Bernardus dari Clairvaux [1090-1153] menulis: “Bagi sebagian orang jelas bahwa kata-kata Yesus adalah roh dan hidup, dengan demikian mereka dapat mengikuti Dia; sedangkan orang-orang yang lain menilai kata-kata-Nya terlalu keras dan mereka mencari penghiburan sial-menyedihkan di tempat lain” (Sermons on Various Occasions, 5). Kita semua dihadapkan pada pilihan yang sama – Yesus atau dunia ini!

Kita mempunyai bukti nyata karya Roh Kudus dalam hati kita, apabila kita dapat berkata bersama Petrus: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:68-69).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah roti yang turun dari surga untuk mengangkat kami ke surga. Engkau menyisihkan mahkota kemuliaan-Mu di surga dan datang ke tengah-tengah kami di dunia sebagai manusia dina dan miskin, menawarkan kepada kami keikutsertaan dalam kehidupan kekal. Bahkan sekarang pun – setiap hari – Engkau memberikan Ekaristi kepada kami. Engkau datang untuk menemui kami dalam doa dan dalam sabda-Mu dalam Kitab Suci, menguatkan kami dan mencurahkan kasih-Mu ke atas diri kami setiap hari. Tolonglah agar kami dapat memegang segala karunia sangat berharga yang telah Kauberikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 9:31-42), bacalah tulisan dengan judul “YESUS KRISTUS ADALAH SUMBERNYA” (bacaan tanggal 6-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 4 Mei 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS