Posts from the ‘KEMURIDAN’ Category

SEORANG SAMPAH MASYARAKAT DIPANGGGIL MENJADI MURID YESUS

SEORANG SAMPAH MASYARAKAT DIPANGGGIL MENJADI MURID YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil – Senin, 21 September 2020)

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5

Matius adalah salah seorang dari duabelas pilar besar Gereja, dan dia adalah penulis dari salah satu Kitab Injil yang kita kenal sebagai Injil Matius. Ia menulis Injilnya dalam bahasa Aram. Matius lahir di Kapernaum, barangkali beberapa tahun setelah kelahiran Yesus. Dia dikenal dengan nama Lewi. Barangkali Yesus sendiri yang memberi nama Matius kepadanya, seperti Dia memberi nama Petrus kepada Simon, Matius (Matthaios dalam bahasa Yunani) berasal dari kata Aram Mathai atau Matthatya dalam bahasa Ibrani) yang berarti “pemberian/anugerah YHWH”.

Lewi atau Matius kelihatannya bukanlah seorang kandidat yang cocok untuk memenuhi panggilan Yesus sebagai seorang murid-Nya. Matius adalah seorang pemungut cukai dan kolaborator dengan penguasa Romawi, penjajah dan penindas bangsa Yahudi, karenanya dia dipandang hina, dibenci dan dikutuk oleh bangsanya sendiri serta diperlakukan sebagai seorang pendosa dan “sampah masyarakat”. Namun demikian, Yesus tokh mengundang pendosa ini guna mengikuti jejak-Nya dan kemudian memberi amanat kepadanya untuk  menyebar-luaskan Injil Yesus Kristus ke seluruh dunia. Matius merasa sangat berterima kasih penuh syukur karena Yesus menunjukkan kasih-Nya dan penerimaan-Nya terhadap dirinya. Oleh karena itu Matius secara all-out dan penuh entusiasme mempersembahkan seluruh hidupnya guna memenuhi panggilan Yesus terhadap dirinya.

Di bagian terakhir Injil Matius kita membaca Yesus memberi amanat agung (great commission) kepada para murid-Nya: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:18-20). Matius menaruh kepercayaan besar pada kata-kata Yesus ini. Dia memahami bahwa sementara dirinya belum sempurna, Yesus memiliki kuat-kuasa untuk bekerja melalui dirinya. Seperti kita ketahui, dengan berjalannya waktu, great commission dari Yesus ini berubah menjadi great omission, artinya suatu “kelalaian besar” dari sebagian besar umat Kristiani yang lupa akan tugas utama mereka untuk mewartakan Injil Tuhan Yesus Kristus.

Matius bukanlah sekadar seorang pendosa biasa-biasa saja, namun seorang pendosa yang dikenal umum dan dipandang hina dalam masyarakat. Barangkali Matius pernah berpikir, bahwa kalau begitu halnya, maka siapa yang akan mendengarkan pewartaan Injil olehnya? Tentu saja Matius menyadari akan hal itu. Oleh karena itu, ketika dia menerima panggilan Yesus, Matius menyadari bahwa dia harus menggantungkan seluruh hidupnya kepada Yesus.

Walaupun kemampuan dan keterampilan yang dimiliki Matius adalah di bidang pemungutan cukai/pajak, dia menerima secara tanpa syarat rencana Allah bagi hidupnya. Matius meninggalkan ide-idenya sendiri tentang profesi dan mengabdikan sisa hidupnya dengan mewartakan Kabar Baik Yesus. Kepadanya telah diberikan panggilan yang khusus dan ia melakukannya seturut apa yang diperintahkan Allah.

Dalam bacaan pertama hari ini, Paulus menjelaskan bagaimana kita masing-masing – seperti juga Matius – dipanggil oleh Allah untuk suatu tugas khusus. Paulus memahami bahwa pengabdian yang lengkap-total kepada Yesus itu diperlukan. Untuk itu dia menasihati para pembaca suratnya, “supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (Ef 4:1).

 

Saudari dan Saudara, marilah sekarang kita berpaling kepada Yesus dan memperkenankan Dia menunjukkan kepada kita misi kita yang khas – walaupun misi tersebut kelihatan sama di mata kita sendiri kalau di bandingkan dengan misi kepada orang lain, atau melampaui kemampuan manusiawi kita. Dalam iman, marilah kita mengikuti contoh yang diberikan oleh Matius – selagi kita dengan rendah hati memandang Yesus dalam iman.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku menerima panggilan-Mu dengan “rendah hati, lemah lembut, dan sabar” (Ef 4:2). Tunjukkanlah kepadaku peran yang harus kujalankan dalam membangun Kerajaan-Mu. Kuatkanlah diriku dengan kehadiran-Mu. Berdayakanlah aku agar dapat memproklamasikan kebenaran-Mu seperti yang telah dilakukan oleh Santo Matius”. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “AKU DATANG BUKAN UNTUK MEMANGGIL ORANG BENAR, MELAINKAN ORANG BERDOSA” (bacaan tanggal 21-9-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2020.

Jakarta, 20 September 2020 [HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG PENGIKUT YESUS DAN SALIB

SEORANG PENGIKUT YESUS DAN SALIB

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXII [TAHUN A], 30 Agustus 2020)

Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahl-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau.” Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. (Mat 16:21-27) 

Bacaan Pertama: Yer 20:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6,8-9; Bacaan Kedua: Rm 12:1-2 

Crucifix cross at sunset background, crucifixion of Jesus Christ

Menjadi  murid/pengikut Yesus berarti siap menjadi nabi. Seorang nabi, dalam artian Alkitab adalah orang yang dengan segala macam cara menyuarakan kehendak Allah. Ia berbicara dangan cara yang hidup dan konsisten, baik dalam kata-kata maupun perbuatan-perbuatannya. Seluruh dirinya menyadarkan orang-orang lain bahwa pikiran manusia seringkali tidak sejalan dengan pikiran Allah (lihat Mat 16:23), sehingga pola hidup yang berlaku di dunia ini harus senantiasa ditinjau ulang dan disesuaikan dengan apa yang dikehendaki Allah. Seorang nabi dalam artian yang demikian, jelas bukanlah seorang yang disukai oleh semua orang. Yang menyukainya hanyalah orang-orang yang yang hidup dalam ketergantungan dari Allah.

Tidak salah apabila kita mengatakan bahwa “nasib” setiap nabi sama saja. Pada satu titik dalam kehidupannya sang nabi akan dihina, dikucilkan, disengsarakan, bahkan ujung-ujungnya akan disingkirkan (disalibkan). Yesus bersabda bahwa Dia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari para pemuka masyarakat, dan lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga Mat 16:21). Sebagai nabi sejati, Yesus menerima hidup sedemikian. Jadi, mengikut Yesus berarti membiarkan diri diresapi oleh pikiran Allah, lalu meneruskannya kepada dunia.

Kepada para murid-Nya, Yesus membuat jelas bahwa hanya melalui salib-Nya-lah kita akan mampu menerima kehidupan-Nya di dalam diri kita. Mengapa? Karena ada suatu perbedaan besar antara pemahaman manusiawi tentang tingkah laku yang baik dan standar kekudusan ilahi. Dalam bacaan Injil pekan lalu (Mat 16:13-20), misalnya Petrus memahami sebagian pemikiran Allah ketika dia berkata: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16), namun di sisi lain dia masih tidak mampu menerima aspek kehendak Allah lebih lanjut ketika dia “menegur” Yesus yang baru saja bernubuat tentang kematian-Nya di atas kayu salib.

Santo Paulus sering berbicara mengenai ajaran Yesus bagi para murid-Nya untuk memikul salib mereka. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma yang menjadi bacaan kedua hari ini, rasul ini menulis: “Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna” (Rm 12:1-2).

Sebagaimana Petrus, Paulus juga belajar melalui pengalaman-pengalaman praktis bahwa akal budinya dan tindakan-tindakannya harus diselaraskan dengan kerendahan hati atau kedinaan, ketaatan, dan rasa percaya yang dimanifestasikan oleh Yesus di bukit Kalvari.

Setiap hari Roh Kudus mencari peluang untuk mengubah diri kita sedikit demi sedikit, dengan mengangkat pemikiran-pemikiran natural dan manusiawi kita agar sampai kepada suatu cara pemikiran dan bertindak-tanduk secara ilahi. Ia tidak hanya hadir dan bekerja serta mendorong kita pada saat-saat kita berdoa. Ia juga mendorong kita agar dapat terus maju, teristimewa melalui pencobaan-pencobaan hidup. Segala pencobaan dan konflik sebenarnya mengungkapkan di area-area mana saja kita tidak mampu untuk mengasihi dan melayani, atau mengampuni sebagaimana telah dicontohkan oleh Yesus sendiri. Ada dalil sederhana yang tidak pernah boleh kita lupakan: Kita tidak akan pernah dapat merefleksikan kehidupan dan kepribadian Yesus tanpa pertolongan dari Roh Kudus!

Ketika anda dan saya siap untuk melawan serta mengalahkan kelemahan-kelemahan kita masing-masing, janganlah takut atau berkecil hati. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk bergegas menghadap Allah dan mohon pertolongan-Nya. Pada kesempatan itu kita dapat mohon kepada-Nya untuk mematikan segala sesuatu dalam diri kita yang bertentangan dengan Yesus, setiap oposisi terhadap panggilan-Nya bagi untuk mengasihi tanpa pamrih. Kemudian, apabila kita melihat terjadi perubahan dalam hati kita – betapa kecil pun perubahan itu, marilah kita bersukacita! Dengan mempersatukan diri kita dengan kematian Yesus, maka kita pun akan menyerupai Dia dalam kehidupan-Nya yang dibangkitkan dan kekal.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, pada hari ini aku mempersembahkan kepada-Mu situasi-situasi di mana aku merasa sulit sekali untuk bersikap dan berperilaku yang mencerminkan kehendak-Mu. Matikanlah perlawanan diriku dalam bentuk apa saja terhadap cara-cara atau jalan-jalan-Mu. Aku ingin agar hidup kebangkitan-Mu ada dalam diriku. Tolonglah aku, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:21-27), bacalah tulisan yang berjudul “BIAYA KEMURIDAN” (bacaan tanggal 30-8-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2020. 

Cilandak, 28 Agustus 2020 [Peringatan Wajib S. Augustinus, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERTOBAT DAN MENJADI SEPERTI ANAK KECIL

BERTOBAT DAN MENJADI SEPERTI ANAK KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Klara, Perawan – Selasa, 11 Agustus 2020)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan

Klaris (OSC dab OSCCap.): Hari Raya S. Klara dr Assisi, Perawan Pelindung Ordo II

Khusus FMM: Pesta S. Klara, Perawan, Pelindung Para Suster Kaul Kekal

MC (Misionaris Claris dr Sakramen Yang Mahakudus): Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

“Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikan juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang.” (Mat 18:1-5,10,12-14) 

Bacaan Pertama: Yeh 2:8-3:4; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:14,24,72,103,111,131 

Di sektor-sektor tertentu dalam masyarakat, anak-anak dipandang sebagai warga kelas dua. Mereka dipandang sebagai sekadar beban  atau liability  dan seringkali diabaikan atau dilecehkan. Namun dalam Kerajaan Surga anak-anak adalah warga kelas satu. Pada kenyataannya sifat seperti anak-anak dalam arti childlikeness merupakan syarat mutlak agar dapat masuk ke dalam surga: “Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:3). Bagi Yesus, anak-anak adalah “model kekudusan dan kerendahan hati” yang harus dihargai, dihormati, dan dilindungi. Bahkan Yesus sendiri – TUHAN alam semesta, merendahkan diri-Nya untuk masuk ke dalam dunia ini sebagai seorang anak kecil.

Apakah hal yang menyangkut anak-anak kecil sehingga menyebabkan mereka menjadi syarat mutlak agar dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga? Barangkali kemampuan anak-anak kecil untuk melaksanakan perintah Allah untuk mengasihi Allah dan sesama. Anak-anak kecil kelihatannya menerima tanpa syarat, tersenyum tanpa alasan, mengampuni dan melupakan dengan mudah, dan menaruh kepercayaan tanpa mencoba mengetesnya terlebih dahulu, menerima apa yang dikatakan orang-orang dewasa dengan mudah.

Seringkali kita berpikir bahwa anak-anak kecil harus berubah dan lebih kompleks serta sophisticated layaknya orang-orang dewasa. Sebaliknyalah yang benar dalam Kitab Suci yang meneguhkan tempat kehormatan bagi anak-anak kecil dalam Kerajaan Allah.

Kitab Suci seringkali mengkaitkan anak-anak kecil dengan keharmonisan zaman yang akan datang. Misalnya, Yesaya menggambarkan firdaus sebagai sebuah tempat di mana seorang anak kecil akan bermain-main dekat liang ular tedung, tanpa dilukai, malah memiliki kuasa atas hewan/binatang yang kejam seperti serigala dan macan tutul dlsb. (lihat Yes 11:6-9).

Sementara bacaan Injil hari ini “memaksa” kita untuk mempertimbangkan “sifat anak-anak” kita sendiri (bukan sifat kekanak-kanakan atau childishness), marilah kita memperkenankan sabda Yesus untuk beberapa saat memindahkan dulu perhatian kita terhadap pertumbuhan spiritual kita sendiri, dan kita berdoa untuk semua anak-anak yang tidak sempat lahir ke dunia ini karena aborsi, sehingga mereka tidak dapat mengalami apa yang ingin Yesus berikan kepada mereka sesuai dengan pertumbuhan mereka sampai menjadi dewasa. 

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bentuklah diriku agar kembali seperti anak kecil, sehingga dengan demikian aku pun dapat masuk ke dalam Kerajaan-Mu. Jadikanlah aku seorang pribadi yang sungguh memiliki kerendahan-hati dan berkenan kepada-Mu. Dengan terang-Mu, pimpinlah jalanku untuk melayani orang-orang lain menjadi murid-murid-Mu juga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5,10,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH ALLAH ITU SEORANG TIRAN?” (bacaan tanggal 11-8-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 10 Agustus 2020 [Pesta S. Laurensius, Diakon Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Virus-free. www.avast.com

 

YESUS MELAKUKAN PENYEMBUHAN SPIRITUAL ATAS DIRI LEWI SI PEMUNGUT CUKAI

YESUS MELAKUKAN PENYEMBUHAN SPIRITUAL ATAS DIRI LEWI SI PEMUNGUT CUKAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Sabtu sesudah Rabu Abu – 29 Februari 2020)

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang  bernama Lewi, sedang duduk di tempat pemungutan cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Lewi pun bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

Kemudian Lewi mengadakan perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya, “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:27-32) 

Bacaan Pertama: Yes 58:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6

Sebelum mengikut Yesus, Lewi atau Matius adalah seorang pejabat yang serakah, suka memperkaya diri, “orang pajak”, seorang pemungut cukai yang dibenci oleh kebanyakan orang Yahudi. Pada zaman itu, pejabat-pejabat seperti Lewi dapat “menilep” uang pajak yang telah mereka kumpulkan. Cara-cara kotor yang mereka lakukan untuk memperkaya diri sungguh menyakitkan hati banyak orang.

Marilah kita (anda dan saya) membayangkan bagaimana pada suatu hari Yesus mendekati “kantor cukai/pajak” Pak Lewi. Yesus mengetahui bahwa hanya ada satu hal saja yang dapat dilakukan-Nya atas  diri seorang pejabat pajak yang korup: “cabut dia dari kedudukannya!” Itulah sebabnya mengapa Yesus berkata kepada Lewi: “Ikutlah Aku!” (Luk 5:27). Mungkin saja sebelum berkata dengan sedemikian singkat, Yesus juga berkata: “Lewi, Aku mempunyai pekerjaan baru bagimu. Uangnya jauh lebih sedikit dari penghasilanmu sekarang, namun pensiunmu bersifat surgawi.”

Kita semua mengetahui bahwa Yesus melakukan suatu penyembuhan spiritual dalam kehidupan Lewi, yang menjadi “Matius”, rasul dan penginjil ulung. Dan Matius adalah salah seorang yang dalam menulis Kabar Baik (Injil) memberikan kepada kita rahasia-rahasia Yesus dalam hal penyembuhan. Yesus mengatakan kepada kita bagaimana kita dapat disembuhkan secara spiritual, secara mental, secara emosional, dan bahkan secara fisik. Mengapa kita dapat menggabungkan segala kesembuhan ini? Karena sebagai manusia, kita masing-masing, mempunyai kodrat manusiawi yang sama. Apabila ada orang yang  mengatakan bahwa 60% dari sakit-penyakit kita adalah stress mental dan emosional, maka hal ini tidak perlu mengagetkan kita. Mengapa? Karena kita tidak dapat memisahkan tubuh dan jiwa dalam kehidupan ini!

Rumusan atau formula rahasia untuk menerima kesembuhan dapat merupakan suatu kejutan bagi kita. Yesus bersabda pada waktu “Khotbah di Bukit: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar”  (Mat 5:44-45). Apakah kita dapat memahami apa yang dikatakan oleh Yesus ini? Bapa surgawi, Allah Yang Mahakuasa dan Yang Mahasempurna menawarkan kuat-kuasa-Nya untuk menyembuhkan kita semua: orang baik maupun orang jahat.

Nah, sekarang marilah kita menggabungkan ayat-ayat di atas dengan “Doa Bapa Kami” seperti yang diajarkan Yesus kepada kita (lihat Mat 6:9-13). Yesus menambahkan sesuatu yang sangat penting dalam ayat selanjutnya: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15).

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami menyadari bahwa kebencian dan penolakan bersifat merusak, sementara cintakasih dan pengampunan adalah rumusan untuk memperoleh kesembuhan yang paling mujarab. Engkau menunjukkan semua ini dalam kehidupan-Mu sendiri, dan kami akan mengalaminya dalam kehidupan kami, begitu kami sungguh melaksanakan rumusan itu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 58:9b-14), bacalah tulisan dengan judul “MENGABDIKAN DIRI BAGI PEKERJAAN BELAS KASIH YANG LEBIH BESAR LAGI” (bacaan tanggal 29-2-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015) 

Cilandak,  27 Februari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI PENJALA MANUSIA

MENJADI PENJALA MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Senin, 13 Januari 2020)

Peringatan Fakultatif S. Hilarius, Uskup Pujangga Gereja

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, Ia melihat Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia. (Mrk 1:14-20) 

Bacaan Pertama: 1Sam 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-14,17-19

Yesus memulai karya pelayanan-Nya di Galilea dengan memberitakan Kabar Baik: “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”  (Mrk 1:15). Kata-kata ini begitu akrab terdengar bagi telinga kita, sehingga terdapat bahaya bahwa kita dengan mudah mendengarnya sekadar pada tingkat permukaan saja – superficial – tanpa mencoba untuk merenungkannya dengan lebih mendalam lagi perihal makna kata-kata itu. Namun demikian, sebenarnya Allah ingin menyatakan kepada kita misteri-misteri kerajaan-Nya apabila kita mau berusaha memahaminya.

Titik awal yang baik adalah mengembangkan kebiasaan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah selagi kita membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci. Misalnya apa yang dimaksudkan dengan “saatnya telah genap” dan “kerajaan Allah sudah dekat”? Dan, apa pula maksudnya “Injil”  atau “Kabar Baik” itu? Yesus memproklamasikan bahwa pemerintahan Allah telah mulai berkuasa pada saat Dia masuk ke dalam dunia  dan memulai pelayanan-Nya di muka bumi ini. Yesus sendiri sebenarnya adalah Kabar Baik Allah sebagai seorang pribadi. Kabar Baik sebenarnya adalah bahwa demi cinta kasih-Nya yang demikian besar kepada kita, Putera Allah datang untuk menyelamatkan kita dari kuasa-kuasa kegelapan, dosa dan maut. Secara pribadi Dia membayar harga dosa-dosa kita lewat kematian-Nya di kayu salib dan membangkitkan kita ke dalam suatu hidup baru dengan Dia.

Yesus mengatakan kepada Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”  (Mrk 1:17). Panggilan kepada pemuridan ini tentunya sangat menarik dan sangat menantang bagi para penjala ikan itu. Yesus minta mereka untuk melepaskan segalanya yang familiar dan nyaman – gaya hidup keseharian mereka, daerah tempat tinggal mereka, bahkan keluarga-keluarga mereka – untuk mengikuti Dia. Tidak salahlah apabila kita memuji para murid Yesus yang pertama ini; tanggapan mereka begitu langsung dan total. Mereka meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus dan memang ternyata pada gilirannya mereka sungguh menjadi para penjala manusia.

Yesus memanggil masing-masing dari kita untuk menjadi murid-Nya. Hal ini dapat meresahkan kita karena kita tidak tahu dengan pasti ke mana kita akan dibawa oleh-Nya. Tetapi Yesus menjanjikan bahwa Dia akan selalu menyertai kita (Mat 28:20). Yang diminta oleh-Nya hanyalah jawaban “YA” dari kita kepada-Nya setiap hari. Kemudian, karena diberdayakan oleh Roh Kudus, kita pun mampu menjadi penjala manusia, menjadi pewarta-pewarta Injil yang tangguh.

DOA: Tuhan Yesus, kami menyerahkan hati kami kepada jamahan penyembuhan-Mu. Kami menyambut Engkau ke dalam hati kami dan berkata “ya” kepada panggilan-Mu untuk mengikuti jejak-Mu dan untuk menarik orang-orang lain mengenal-Mu, mengasihi-Mu dan melayani-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:14-20), bacalah tulisan dengan judul “KAMU AKAN KUJADIKAN PENJALA MANUSIA” (bacaan untuk tanggal 13-1-20), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 20-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2020.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 10 Januari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEGALA SESUATU HARUS DILEPASKAN UNTUK MENGIKUT YESUS

SEGALA SESUATU HARUS DILEPASKAN UNTUK MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Rabu, 6 November 2019)

Image result for IMAGES OF LUKE 14:25-33

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 

Bacaan Pertama: Rm 13:8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,4-5,9 

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berbicara mengenai “kemuridan”. Segala sesuatu harus dilepaskan untuk mengikut sang Kristus: “… tiap-tiap orang di antara kamu yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:33). Namun kemuridan seharusnya tidak  didorong oleh sesuatu yang bersifat impulsif. Yesus mengajar kita untuk melakukan suatu pengujian yang penuh kehati-hatian dan cerdas atas tuntutan-tuntutan kemuridan yang otentik. Hal ini menjelaskan bahwa dua perumpamaan yang menyusul pernyataan Yesus tentang “memikul salib” (Luk 14:27)  memang merupakan kesatuan dengan topik kemuridan ini, bukan tidak ada hubungannya dengan masalah kemuridan (Luk 14:28-30 dan Luk 14:31-32).

Jadi, kemuridan memerlukan penerimaan yang hati-hati dan penuh kesadaran dari pihak si murid. Ini adalah pesan dari perumpamaan-perumpamaan tentang pentingnya melakukan perencanaan dengan kalkulasi tepat-jitu, baik dalam usaha membangun sebuah menara maupun persiapan pertempuran dengan raja lain. Yang membuat bacaan-bacaan ini menjadi satu itu  – yang kesan awalnya tidak berhubungan satu sama lain –  adalah kenyataan bahwa kehidupan spiritual dan kemuridan membutuhkan metode. Singkatnya, perencanaan berdasarkan prinsip kehati-hatian adalah bagian dari upaya serius untuk menjadi pengikut seorang Tokoh seperti Yesus Kristus.

Untuk mengikuti jejak Yesus Kristus dengan efektif sebagai murid menuntut adanya perencanaan guna mengintegrasikan iman kita ke  dalam berbagai sektor dari kehidupan kita. Kalau tidak demikian halnya, maka upaya integrasi kita akan berantakan, malah terasa sebagai ilusi belaka. “Integrasi” yang ada mudah rapuh dan  dibuang sebagai sesuatu yang tidak dapat dipraktekkan.

RABI DARI NAZARET - 1Begitu pula, hidup spiritual kita bukanlah sesuatu yang bersifat kebetulan. Hidup spiritual kita pun membutuhkan metode dan perencanaan. Kita harus mempunyai pengetahuan yang akurat tentang diri kita sendiri dan mengetahui pelajaran-pelajaran apa yang dapat ditarik dari sejarah spiritualitas. Kalau tidak demikian halnya, maka bisa-bisa kita mengunci-diri  ke dalam pendekatan terhadap pertumbuhan spiritual yang keliru atau secara psikologis tidak cocok untuk kita. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita agar bijaksana dalam jalan-jalan jiwa/kerohanian seperti juga dalam jalan-jalan dunia.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, jagalah kami agar dapat tetap menjadi murid-murid-Mu yang patuh pada perintah-perintah-Mu, yang senantiasa mau memikul salib kami masing-masing dan mengikut Engkau dengan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “SALIB KRISTUS YANG AGUNG” (bacaan tanggal 6-11-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2019. 

Cilandak, 5 November 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU DATANG BUKAN UNTUK MEMANGGIL ORANG BENAR, MELAINKAN ORANG BERDOSA

AKU DATANG BUKAN UNTUK MEMANGGIL ORANG BENAR, MELAINKAN ORANG BERDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil – Sabtu, 21 September 2019)

Image result for IMAGES OF JESUS CALLING MATTHEW TO BECOME HIS DISCIPLE

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Pernahkah Saudari/Saudara merasakan bahwa diri anda yang sedang menderita sakit sungguh membutuhkan seorang dokter namun anda tetap tidak mau, bahkan anda tidak mau mengakui bahwa diri anda sedang mengidap  penyakit serius. Walaupun anggota keluarga anda, para sahabat anda menganjurkan (malah mendesak) anda untuk pergi memeriksakan diri kepada dokter, anda tetapi berkeras kepala dan hati untuk tidak pergi ke dokter, sampai penyakit anda begitu seriusnya sehingga mau-tidak-mau anda dengan terpaksa pergi juga ke dokter. Kita semua dapat mempunyai kesulitan yang sama untuk mengakui bahwa kita menderita penyakit spiritual … penyakit rohani!

Yesus bersabda kepada orang-orang Farisi: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Mat 9:12). Di sini Yesus bukan mengartikan bahwa para pemungut cukai dan orang-orang yang jelas berdosa adalah orang-orang yang sakit rohani, sementara orang-orang Farisi adalah orang-orang sehat secara rohani. Para pemungut cukai dan pendosa dapat dengan jelas melihat dan menerima kondisi mereka. Di sisi lain orang-orang Farisi juga menderita sakit, akan tetapi mereka tidak mau mengakuinya, dengan demikian mereka samasekali tidak berniat untuk datang kepada sang Dokter Agung agar dapat memperoleh hidup dan kesehatan rohani yang baru.

Dunia ini sebenarnya tidaklah terdiri dari dua jenis/macam orang – para pendosa dan orang-orang benar. Sebaliknya, semua orang adalah pendosa-pendosa. Ada yang mengetahui, mengakui kondisi rohani mereka dan kemudian berbalik kembali kepada Yesus dalam kebutuhan mereka, sementara ada juga yang menolak untuk menerima kondisi rohani diri mereka – walaupun sudah parah, jadi mereka tidak menghadap sang Juruselamat untuk menerima belas kasih dan kesembuhan dari-Nya. Matius – si pemungut cukai – tahu akan kebutuhannya dan ia berbalik kepada Yesus.

Ketika Paulus menulis tentang kondisi orang-orang di hadapan Allah, dia memetik dari Mazmur 14: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak” (Rm 3:10-12; bdk. Mzm 14:1-3). Paulus ingin agar kita menyadari bahwa kita tidak dapat mengandalkan diri pada kebaikan kita sendiri, karena “… semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23).

MATIUS PELINDUNG PARA BANKIRSelama kita merasa bahwa diri kita tidaklah begitu jelek, maka sesungguhnya kita sedang mencoba untuk mengandalkan kebaikan diri kita sendiri. Jadi, kita akan gagal menggantungkan diri kita sepenuhnya kepada Allah atau mengalami penyelamatan-Nya yang akan datang hanya melalui Yesus. Marilah kita menanyakan kepada diri kita sendiri pada hari ini: “Apakah aku melihat diriku sendiri sebagai seorang pendosa yang membutuhkan penebusan melalui darah Yesus?” Kita mungkin membutuhkan untuk let go segala kecenderungan kita untuk berpikir bahwa selama ini kita telah melakukan segala sesuatu dengan cukup baik (Kita mengatakan, “Biar bagaimana pun juga, kita kan manusia biasa?). Matius menanggapi panggilan Yesus secara positif untuk mengikuti-Nya karena dia mengerti kondisi dirinya sendiri dan melihat bahwa Yesus dapat menyembuhkannya.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengakui kedosaanku di hadapan hadirat-Mu. Engkau telah membayar biaya untuk dosa-dosaku dan semua orang di atas kayu salib agar aku dan orang-orang lain juga dapat diperdamaikan dengan Bapa di surga. Yesus, Engkaulah andalanku! Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu, ya Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “IKUTLAH AKU!” (bacaan tanggal 21-9-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 19 September 2019 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH KITA HARI INI SUDAH SIAP MENGHADAPI TANTANGAN PANGGILAN KRISTUS?

APAKAH KITA HARI INI SUDAH SIAP MENGHADAPI TANTANGAN PANGGILAN KRISTUS?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII [Tahun C] – 8 September 2019)

Image result for IMAGES OF LUKE 14:25-33

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 

Bacaan Pertama: KebSal 9:13-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17; Bacaan Kedua: Flm 9b-10.12-17 

Orang-orang miskin, orang-orang buta, orang-orang lumpuh, orang-orang yang sekadar mau tahu saja, para murid yang sungguh bersemangat, dan orang-orang banyak yang dari segala penjuru berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Yesus mengundang mereka agar datang dan berhimpun di sekeliling-Nya. Entusiasme mereka terasa tinggi dan banyak dari mereka condong untuk sungguh menjadi para pengikut-Nya. Yesus tidak mau menakut-nakutI siapa pun juga, namun Ia ingin membuat jelas bahwa Dia  ingin para pengikut-Nya memahami implikasi-implikasinya apabila seseorang ingin menjadi pengikut-Nya. Pemuridan/kemuridan Kristiani ada “biaya”-nya. Para murid dipanggil untuk mempolakan hidup mereka seturut kehidupan Yesus sendiri dan mengikut Dia, bahkan sampai ke Salib.

Yesus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem, dan Ia siap untuk mati di Kalvari. Dia mengundang para murid untuk meneladan-Nya dalam memikul salib. Lukas menggunakan kata Yunani bastazo (memikul), kata sama yang digunakan oleh Yesus dalam memikul salib-Nya ke Kalvari (Luk 14:27; Yoh 19:17). Para pengikut (murid) Yesus dipanggil untuk mengikut Dia dalam penderitaan sengsara dan kematian-Nya selagi mereka menjalani kehidupan di dunia ini. Mereka dipanggil untuk mengabdi kepada sang Guru sampai suatu tingkat di mana mereka ditolak, bahkan oleh para anggota keluarga mereka sendiri. Seorang murid Yesus yang sejati tidak dapat atau tidak boleh memilih alternatif  “cinta murahan” yang tidak didasarkan pada pengorbanan-diri dan tidak berakar pada kehendak Allah sendiri.

Agar kita mampu menempatkan Yesus sebagai yang pertama dan utama dalam segala relasi kita dan untuk menilai diri-Nya lebih tinggi dari segala apa yang kita miliki sungguh menuntut suatu hikmat yang hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri. Apa yang tertulis dalam Kitab Kebijaksanaan Salomo hari ini mengungkapkan kerendahan hati yang kita butuhkan: “Siapa gerangan sampai mengenal kehendak-Mu, kalau Engkau sendiri tidak menganugerahkan kebijaksanaan (hikmat), dan jika Roh Kudus-Mu dari atas tidak Kauutus?” (KebSal 9:17).

Mengenal kehendak Allah adalah masalah membeda-bedakan Roh, masalah discernment. Discernment ini adalah karunia/anugerah, jadi bukan suatu ilmu praktis. Dengan teratur setiap pagi kita dapat berdoa mohon kepada-Nya agar Ia berkenan menerangi kegelapan hati kita, memberi kita iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna; kita juga mohon agar diberikan oleh-Nya perasaan yang peka dan akal budi yang cerah, sehingga kita senantiasa dapat mengenal dan melaksanakan kehendak-Nya (perintah-perintah-Nya) yang kudus dan tidak menyesatkan. Dengan berjalannya waktu, kesetiaan kita mendoakan secara teratur permohonan seperti itu, maka kita pun akan dibuat-Nya menjadi semakin peka dan peka lagi dalam mengenal kehendak Allah dalam hidup kita sehari-hari.

Hikmat pengenalan akan kehendak Allah membebaskan kita dari pemikiran-pemikiran secara dunia, juga memerdekakan kita dari kesia-siaan karena terjebak dalam kesibukan mengurusi  hal-hal yang ujung-ujungnya adalah untuk kepentingan diri kita sendiri. Hikmat pengenalan akan kehendak Allah akan membuat kita memandang dunia ini dalam terang kekekalan-abadi, dan hati kita pun terdorong untuk bersama sang pemazmur melambungkan doa kepada-Nya: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm 90:12).

Apakah kita hari ini sudah siap menghadapi tantangan panggilan Kristus? Ataukah kita seperti seseorang yang berniat mendirikan sebuah menara tanpa membuat anggaran biaya dulu, atau seorang raja yang mau berangkat perang tanpa menghitung-hitung kekuatan sendiri dan lawannya dulu? Apabila kita sungguh-sungguh mau menjadi murid-murid Yesus yang sejati, maka kita juga harus mau menerima segala “risiko”-nya, segala “biaya”-nya dan segala “beban”-nya. Ketika kita menerima “biaya kemuridan” itu, kita juga harus menaruh kepercayaan bahwa Allah dalam Kristus akan selalu mendampingi dan menguatkan kita (lihat Mat 28:20). Yesus Kristus adalah Imanuel, Allah menyertai kita (lihat Mat 1:23).

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus, karena pada hari ini Engkau mengingatkanku lagi akan adanya “biaya kemuridan” apabila aku mengikut Engkau sebagai murid-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, berdayakanlah aku agar selalu mengutamakan Engkau di atas segalanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “ADA KONSEKUENSI-KONSEKUENSI JIKA MAU MENGIKUT YESUS ” (bacaan tanggal 8-9-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini besumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 5 September 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

NATANAEL: SEORANG MURID DAN MARTIR KRISTUS SEJATI

NATANAEL: SEORANG MURID DAN MARTIR KRISTUS SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Bartolomeus, Rasul – Sabtu, 24 Agustus 2019) 

FILIPUS DAN NATANAEL - 001Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”  Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”  Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”  Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata  Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”  Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.”  Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia”  (Yoh 1:45-51) 

Bacaan Pertama: Why 21:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18    

Sedikit sekali yang diketahui tentang rasul Bartolomeus. Pada umumnya para pakar setuju dan percaya bahwa Bartolomeus adalah Natanael dalam Injil Yohanes. Tradisi-tradisi dan legenda-legenda populer menceritakan bahwa Natanael mewartakan Injil di sejumlah negeri yang paling keras menentang penyebaran agama Kristiani di Timur, seperti India, Etiopia dan Persia – dan pada akhirnya Armenia di mana rasul ini mati sebagai martir Kristus. Apakah yang membuat Natanael tetap tegar dalam menghadapi berbagai pengejaran, penganiayaan dlsb. selagi melayani Tuhan dan Gurunya?

Bagi Natanael dan sebagian besar orang-orang Yahudi yang hidup di abad pertama, gelar “Anak Allah” tidak sama dengan apa yang kita pahami pada hari ini. Bagi mereka, “Anak Allah” berarti seseorang yang diurapi atau yang dipilih, orang yang sungguh istimewa di antara umat Israel. Pengakuan Natanael yang spontan itu memang hebat (Yoh 1:50), namun seperti Yesus sendiri berjanji, itu hanyalah awal. Ia akan melihat “langit terbuka  dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia” (Yoh 1:51).

Pada kayu salib Yesus membuka “pintu air” surga dan dengan demikian membuat mungkin adanya suatu persekutuan hidup antara surga dan bumi. Apa yang diproklamasikan oleh Natanael karena rasa hormat/respek kepada Yesus menjadi suatu pernyataan iman yang didasarkan pada perwahyuan Roh Kudus – perwahyuan yang mendesaknya untuk memberikan keseluruhan hidupnya bagi Tuhan.

POHON ARA - 4 - SUBURKabar baiknya adalah bahwa janji Yesus untuk membuka pintu surga adalah untuk semua orang – seperti Natanael – yang berbalik kepada-Nya. Ketika surga terbuka dan kita menerima pewahyuan dari Roh Kudus, maka kita “melihat” kemuliaan dan keagungan Yesus dalam hati kita. Kita berlutut dan bersembah sujud dan menyerahkan hidup kita kepada aturan-aturan-Nya dan pemerintahan-Nya. Selagi rahmat-Nya dan belas kasih-Nya memenuhi hati kita, kita dibebaskan dari upaya keras untuk hidup berdasarkan peraturan hidup yang kita susun sendiri. Dengan berdiam-Nya Roh Kudus dalam diri kita, maka kita menjadi diberdayakan guna menjalani hidup Kristiani kita yang dimotivasikan oleh kasih dan diisi dengan kasih.

Namun, janganlah kita memakai waktu kita sepanjang hari untuk mencari sekadar pengetahuan intelektual tentang Yesus. Marilah kita memuat resolusi untuk memakai waktu dengan Dia dalam keheningan dan meminta kepada-Nya agar membuka surga bagi kita. Allah sungguh memiliki begitu banyak hal bagi orang-orang yang sungguh berharap kepada-Nya. Selagi Yesus menyatakan diri-Nya kepada kita, hati kita akan terbakar dengan kasih kepada-Nya dan kita pun akan memiliki suatu hasrat mendalam untuk membawa orang-orang lain kepada-Nya.

DOA: Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah semesta langit. Kasih-Mu yang penuh gairah menyentuh semua orang yang menyerukan nama-Mu dari dalam hati. Engkau adalah kemuliaan dari kekuatan kami. Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih-setia-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:45-51), bacalah tulisan berjudul “TIDAK ADA KEPALSUAN DALAM DIRI ORANG INI” (bacaan tanggal 24-8-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015) 

Cilandak, 21 Agustus 2019 [Peringatan Wajib S. Pius X, Paus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH INGIN MEMBERIKAN KEPADA KITA SUATU KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK

ALLAH INGIN MEMBERIKAN KEPADA KITA SUATU KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Senin, 19 Agustus 2019)

Fransiskan Conventual: Peringatan S. Ludovikus, Uskup

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Hak 2:11-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:34-37,39-40,43-44

Mungkin sekali bagi orangtua yang mempunyai anak gadis siap-nikah, orang yang datang kepada Yesus ini adalah seorang calon “menantu yang ideal”. Mengapa? Karena kalau kita membaca cerita tentang orang itu dalam ketiga Injil Sinoptik, maka dia itu masih muda usia (Mat 19:20,22); dia memiliki banyak harta (Mat 19:22; Mrk 10:22; Luk 18:23); dia memegang jabatan sebagai seorang pemimpin (Luk 18:18). Wah, luar biasa: muda, kaya dan seorang eksekutif lagi, walaupun misalnya hanya pemimpin sinagoga. Apalagi orang itu itu taat  kepada perintah-perintah Allah. Pokoknya, dia adalah seseorang yang patut dicontoh perikehidupannya. Dia malah datang kepada Yesus menanyakan perbuatan baik apakah yang harus dilakukannya untuk memperoleh hidup yang kekal (Mat 19:16). Injil Markus malah mencatat sesuatu tentang sikap Yesus terhadap orang itu: “Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya” (Mrk 10:21). Ini hanya terdapat dalam Injil Markus.

Walaupun nyaris sempurna, orang ini masih mempunyai suatu kekurangan. Yesus menerobos melalui ilusi “hidup nyaman” orang itu ketika Dia menantangnya untuk menyerahkan segala harta miliknya dan mengikuti Dia sebagai murid-Nya. Pada saat itu hati orang muda itu pun terekspos. Ternyata hartanya ada di dunia. Dia merasa takut untuk menaruh imannya pada harta surgawi yang ditawarkan oleh Yesus.

Apakah yang dimaksudkan dengan harta surgawi ini? Apakah kita memperoleh angka di surga untuk setiap perbuatan baik yang kita lakukan atau setiap hal yang kita serahkan/lepaskan? Atau, apakah kita bertumbuh dalam pengenalan dan kasih akan Allah dalam doa kita, melalui pekerjaan kita sehari-hari, dan selagi kita mencfoba untuk melihat Allah dalam diri sesama kita? Bukankah relasi dengan Allah merupakan harta paling besar yang mungkin kita miliki? Bukankah milik kita yang paling berharga adalah janji Yesus bahwa kita dapat ikut ambil bagian dalam hidup ilahi Allah, bahkan sekarang … di sini juga?

Apakah pemikiran anda yang pertama-tama ketika anda bangun dari tidur pada pagi hari ini? Apakah anda menyusun daftar dari apa saja yang harus anda lakukan pada hari ini …… artinya tugas-tugas pekerjaan anda? Apakah anda mengingat-ingat hal terburuk yang terjadi kemarin atau merasa gelisah akan hal terburuk yang kiranya akan terjadi pada hari ini? Atau, apakah anda bangkit dari tempat tidur pagi ini penuh dengan antisipasi akan setiap hal yang menanti anda selagi anda syering hari ini dengan Bapa surgawi?

Allah ingin memberikan kepada kita suatu kehidupan yang lebih baik, suatu kehidupan yang berpusat pada diri-Nya dan janji-janji-Nya. Hal ini bukan berarti bahwa kita harus berhenti bekerja melalui tantangan-tantangan atau mengabaikan tanggung-jawab kita sehari-hari. Sama sekali tidak! Allah ingin kita pergi menghadap hadirat-Nya dengan tantangan-tantangan yang sedang kita hadapi dan menyerahkan semua itu pada kaki-kaki-Nya. Jika harta kekayaan kita ada dalam Allah, maka setiap hal yang kita lakukan menjadi suatu kesempatan untuk bertumbuh dalam kasih-Nya dan kita pun dapat memberikan kasih yang sama kepada sesama kita.

DOA: Tuhan Yesus, lembutkanlah hatiku dan bawalah diriku ke dalam hidup Allah lebih dalam lagi. Aku ingin ikut ambil bagian dalam pemikiran-pemikiran-Mu, perasaan-perasaan-Mu, dan kehendak-Mu bagi hidupku. Aku ingin mengenal diri-Mu dalam semua hal yang kulakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan yang berjudul “RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG UTAMA” (bacaan tanggal 19-8-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak,  16 Agustus 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS