Posts from the ‘MARIA’ Category

BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI

BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Berdukacita – Jumat, 15 September 2017)

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”  Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yoh 19:25-27) 

Bacaan Pertama: Ibr 5:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2-6,15-16,20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 2:33-35 

Maria sangat menderita ketika berdiri di dekat salib Yesus di bukit Kalvari selagi dia menyaksikan kematian Anaknya yang mengerikan. Ia menunjukkan kepada Anaknya cintakasih-Nya dengan satu-satunya cara yang ia dapat lakukan, yaitu dengan kehadirannya bersama Anaknya. Oleh rahmat Roh Kudus, Maria memiliki mata iman yang percaya bahwa rencana Allah akan berbuah, walaupun tidak ada tanda-tandanya yang kelihatan. Maria menangisi ketidakadilan yang  berlangsung di depan matanya, namun ia percaya bahwa kuasa Allah akan mengalahkan kematian/maut.

Dikelilingi oleh para penganiaya Yesus, Maria merasa dirinya dipanggil untuk bergabung dengan Yesus dalam doa-Nya; “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Seandainya ada rasa marah dan dendam dalam dirinya, Maria tidak akan bersatu dengan Yesus. Hanya dengan berpaling kepada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, Maria dapat mengampuni dan memberkati dalam menghadapi situasi ketidakadilan, penuh dengan kebencian dan kekerasan.

Kita semua akan mengalami sikap dan perlakuan kasar dari orang-orang lain dalam hidup kita. Dapatkah kita tetap berada di dekat salib Kristus bersama Maria dan mengampuni mereka yang telah menyakiti kita dengan kata-kata maupun perbuatan-perbuatan mereka? Maria menerima undangan Yesus untuk mengambil “murid yang dikasihi-Nya” sebagai anaknya, dan dengan melakukan hal itu, dia menerima semua murid-Nya sebagai anggota-anggota keluarganya. Bahkan pada saat itu, 33 tahun setelah  menerima pemberitahuan dari malaikat agung Gabriel, sekali lagi Maria diminta untuk mengesampingkan ide-idenya sendiri perihal keluarga dan apa yang diinginkannya dalam hidupnya. Dan sekali lagi, ketaatan Maria merupakan buah Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya.

Kita semua juga dipanggil untuk mengasihi semua orang yang menamakan diri mereka orang Kristiani dan juga mereka yang memiliki iman berbeda. Apakah kita siap untuk mengikuti jejak Maria dan merangkul semua anggota keluarga Allah, dan mengesampingkan  segala rasa praduga dan prasangka?

Banyak orang yang dekat dengan diri kita, bahkan kita sendiri pun, akan menghadapi dan mengalami penderitaan. Kita akan melihat betapa sulit bagi kita untuk memahami mengapa hal-hal yang begitu tidak adil dan menyakitkan terjadi atas diri kita dan juga atas orang-orang yang kita kasihi? Peringatan gerejawi hari ini mengingatkan kita akan rahmat Allah yang bekerja dalam diri Maria selagi dia ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara Yesus. Maria mendorong dan menyemangati kita agar mau dan mampu menghadapi serta menanggung kesedihan kita juga, tentunya dengan pertolongan Roh Kudus.

DOA: Roh Kudus Allah, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Aku membutuhkan Engkau, seperti juga halnya dengan Maria pada waktu ia berada di dekat Salib Kristus. Aku merindukan penghiburan dari pada-Mu dan juga kekuatan-Mu. Tolonglah diriku agar dapat memiliki rasa percaya kepada Allah dan tetap mengasihi-Nya dan sesamaku, bahkan di tengah-tengah penderitaanku. Berilah kepadaku keyakinan bahwa Yesus telah mengalahkan kuasa maut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 19:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “BERDIRI BERSAMA BUNDA MARIA DI DEKAT SALIB YESUS” (bacaan tanggal 15-9-17) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 13 September 2017 [Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

PESTA KELAHIRAN BUNDA YESUS KRISTUS

PESTA KELAHIRAN BUNDA YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Kelahiran SP Maria – Jumat, 8 September 2017)

Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi seerupa dengan gambaran Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya (Rm 8:28-30)

Bacaan Pertama alternatif: Mi 5:1-4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:6; Bacaan Injil: Mat 1:1-16.18-23

Latar belakang Sejarah: Pesta Kelahiran Maria barangkali berasal-usul di Yerusalem  sekitar abad ke-6. Namun sejak sekitar abad ke-5 terdapat bukti adanya sebuah gereja yang didedikasikan kepada Santa Ana, sebelah utara Bait Suci di Yerusalem. Sophronius, Patriarkh (Beatrik) Yerusalem menyatakan pada tahun 602, bahwa gereja itu didirikan di atas tempat kelahiran S.P. Maria. Pilihan yang dijatuhkan pada sebuah hari di bulan September kiranya berasal dari kenyataan bahwa di Konstantinopel tahun penanggalan di mulai pada tanggal 1 September – yang masih berlaku di Gereja Timur. Tanggal 8 September ini kemudian menentukan tanggal “Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Dosa” yang jatuh pada tanggal 8 Desember, yaitu 9 (sembilan) bulan sebelumnya. Pesta Kelahiran Maria mulai diperkenalkan di Roma menjelang abad ke-7. Sumber: Christopher O’Donnell O.Carm., AT WORSHIP WITH  MARY – A Pastoral and Theological Study. 

Lebih sempurna dari siapa saja, Maria memenuhi gambaran yang diberikan Santo Paulus tentang bagaimana Allah mengerjakan kebaikan dalam kehidupan semua orang yang “mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya” (lihat Rm 8:28). Dalam hikmat kekal-abadi, Allah menakdirkan Maria sejak awal untuk menjadi ibu Putera-Nya. Katekismus Gereja Katolik [KGK] mengatakan: “Untuk tugas menjadi ibu Putera-Nya, Allah telah memilih sejak kekal seorang puteri Israel, seorang puteri Yahudi dari Nasaret di Galilea” (KGK, 488). Melalui sebuah mukjizat rahmat Allah, dia (Maria) “sudah ditebus sejak ia dikandung” (KGK, 491), oleh karenanya menjadi “dibenarkan” di hadapan Allah. Dan, pada akhir kehidupannya di dunia, Maria dimuliakan pada waktu dia diangkat ke surga, tubuh dan jiwanya.

Maria berdiri di atas garis pemisah antara Perjanjian Lama (=Perjanjian Pertama) dan Perjanjian Baru. Tanggapannya yang positif (“ya”=persetujuan=fiat) terhadap panggilan untuk menjadi ibu dari Putera-Nya: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38), menandakan secara resmi kepenuhan waktu yang selama itu dinanti-nantikan seluruh umat manusia.

Santo Paulus menulis: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Membawa sang Sabda yang menjadi daging, Maria melahirkan sang Juruselamat, dengan demikian menjadi baik Bunda Allah maupun “Bunda kita semua.” Konsili Vatikan II menyatakan sebagai berikut: “Sehubungan dengan penjelmaan Sabda ilahi Santa Perawan sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah. Berdasarkan rencana Penyelenggaraan ilahi ia di dunia ini menjadi Bunda Penebus ilahi yang mulia, secara sangat istimewa mendampingi-Nya dengan murah hati, dan menjadi hamba Tuhan yang rendah hati. Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita dengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru Selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta-kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita” (Lumen Gentium, 61).

Kehormatan besar yang diberikan Allah kepada Maria telah membuat dirinya menjadi “mahkota ciptaan”. Dalam dirinya kita mempunyai suatu “pengingat-ingat’ yang kelihatan akan segalanya yang Allah telah janjikan kepada kita semua. Hidup Maria bukanlah suatu kehidupan yang enak-enak, namun dia tetap setia kepada Allah dan dia terus merangkul panggilan yang telah diberikan Allah kepadanya. Sekarang Maria yang telah dimuliakan di surga senantiasa siap untuk – untuk kepentingan umat yang masih hidup di dunia – melakukan pengantaraan (syafaat) kepada Yesus, Allah Putera.

Maria adalah suatu tanda pengharapan bagi setiap anggota Gereja, karena kita semua telah dipilih dan ditakdirkan dalam Kristus. Konsili Vatikan II menyatakan: “Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang. Begitu pula di dunia ini ia menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan” [lihat 2Ptr 3:10] (Lumen Gentium, 68).

DOA:  Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh rasa syukur atas karya-Mu dalam diri Maria, bunda-Mu. Oleh karena dia bersedia bekerja sama dalam rencana penyelamatan Allah, maka dia menjadi bunda kami semua. Terima kasih untuk pemeliharaan dan perhatian keibuannya yang telah diberikannya kepada kami, anak-anaknya, yang masih berziarah di atas bumi ini; juga untuk teladannya dalam hal iman, pengharapan dan cintakasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “DIA YANG DITENTUKAN ALLAH SEJAK SEDIAKALA” (bacaan tanggal 8-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 6 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

HARUS DILIHAT DARI PERSPEKTIF SURGAWI

HARUS DILIHAT DARI PERSPEKTIF SURGAWI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA – Minggu, 13 Agustus 2017)

 

Lalu terbukalah Bait Suci Allah yang di surga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat.

Kemudian tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. 

Lalu tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi.

Lalu naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ selama seribu dua ratus enam puluh hari.

Lalu aku mendengar suara yang nyaring di surga berkata, “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. (Why 11:19;12:1,3-6,10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 45:10-12,16; Bacaan Kedua: 1Kor 15:20-26; Bacaan Injil: Luk 1:39-56

“Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:45)

Diangkatnya SP Maria ke surga adalah suatu kepercayaan yang dalam-tertanam di dalam kesadaran Katolik dan dijadikan dogma Gereja oleh Paus Pius XII di tahun 1950, dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus. Doktrin tentang “Maria diangkat ke surga” merupakan salah satu penghalang terbesar bagi saudari-saudara kita umat Kristiani. Terkadang, dalam menghadapi keluhan dan/atau tantangan bahwa doktrin ini tidak sesuai dengan Alkitab, orang-orang Katolik akan setuju, namun kemudian mengatakan bahwa doktrin ini berasal (atau bertumpu pada) dari tradisi, bukan dari Kitab Suci.

Tanggapan orang-orang Katolik seperti ini memang dapat dipahami, akan tetapi gagal untuk “menangkap” sesuatu yang signifikan berkaitan dengan kepercayaan ini. Keyakinan akan kebenaran kepercayaan ini berasal dari kalangan para pendoa, teristimewa para rahib dan rubiah di biara-biara monastik, yaitu mereka yang menyediakan bagian waktu terbanyak kehidupan sehari-hari mereka untuk memeditasikan sabda Allah dalam Kitab Suci. Jadi akan lebih akurat dan menolong apabila kita melakukan pendekatan terhadap doktrin “Maria diangkat ke surga” dengan memandangnya sebagai sesuatu yang didasarkan atas Kitab Suci, namun dengan cara yang berbeda dengan hal-hal lainnya untuk mana kita dapat menunjuk suatu teks khusus sebagai bukti.

Kepercayaan akan “Maria diangkat ke surga” konsisten dengan data alkitabiah dengan jangkauan  yang luas. Maria adalah perempuan yang dengannya Allah mengadakan permusuhan dengan si Ular Tua atau Iblis (Kej 3:15). Lalu, memang ada beberapa orang kudus Perjanjian Lama yang diangkat ke surga secara fisik, misalnya Henokh (Kej 5:24) dan Elia (2Raj 2:11-12). Maria sendiri dibandingkan dengan tabut perjanjian; ia adalah pribadi di dalam rahimnya Putera Allah dikandung oleh Roh Kudus dan berdiam. Maria juga adalah perwujudan Puteri Sion (Zef 3:14; Za 9:9; Mat 21:5; Yoh 12:15), yang mempersonifikasikan Israel, dia yang membalikkan kutukan atas Hawa dengan tindakan penuh kepercayaan kepada utusan surgawi (malaikat agung Gabriel; lihat Luk 1:21-38).

Diangkatnya Maria ke surga harus dilihat dari perspektif kekal sebagai bagian dari rencana Allah baginya untuk menjadi ibunda dari Putera ilahi-Nya. Fiat atau “ya”-nya Maria kepada pemberitahuan malaikat agung Gabriel diucapkan olehnya dalam pandangan akan kemuliaan akhir surga. Tujuan final ini di samping Yesus yang dimuliakan adalah buah penuh dari kata-kata Elisabet: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).

Perspektif surgawi ini harus diterapkan atas bacaan dari kitab Wahyu hari ini. Tentulah bukan suatu kebetulan bahwa visi/penglihatan perempuan yang berselubungkan matahari dan mengenakan sebuah mahkota dengan dua belas bintang menyusul terbukanya Bait Suci Allah dan suatu pemandangan tentang tabut perjanjian Allah (Why 11:19). Dalam penglihatan ini ini, baik Israel dan Maria direpresentasikan; yaitu dari Israel, khususnya dari Maria-lah bayi-Mesias dilahirkan.

Pada hari raya ini, marilah kita mengangkat hati dan pikiran kita ke surga untuk mengkontemplasikan rencana Allah yang mulia dan pemenuhannya dalam diri Maria, orang Kristiani yang pertama.

DOA: Bapa surgawi, Engkau memahkotai SP Maria pada hari dia diangkat ke surga dengan suatu kemuliaan yang tiada bandingnya. Engkau memandang kerendahan hatinya dan membuatnya ibu dari Tuhan kami Yesus Kristus, Putera-Mu yang tunggal. Bentuklah kami semua menjadi pribadi-pribadi yang rendah hati sesuai dengan teladan hidup SP Maria, agar kami pun dapat diselamatkan oleh misteri penebusan Yesus Kristus dan ikut ambil bagian bersamanya dalam kemuliaan kehidupan kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN” (bacaan tanggal 13-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEDUA ORANGTUA SP MARIA

KEDUA ORANGTUA SP MARIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria Rabu, 26 Juli 2017)

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.

Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetapi tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah. (Sir 44:1,10-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mat 13:16-17 

Pada hari ini, tanggal 26 Juli, Gereja memperingati Yoakim dan Anna, orangtua dari SP Maria. Memang tidak ada catatan mendetil, baik historis maupun alkitabiah, yang diketahui tentang kehidupan dua orang kudus ini, namun banyak umat beriman dalam suasana doa melakukan permenungan atas kehidupan mereka dan bagaimana mereka sebagai orangtua membesarkan anak mereka yang satu hari kelak dipilih untuk menjadi Ibunda Putera Allah. Hal ini disebutkan dalam tulisan-tulisan di awal abad kedua dan telah banyak digambarkan dalam karya seni abad pertengahan. Gereja memilih bacaan pertama hari ini dari Kitab Yesus bin Sirakh guna menyampaikan pujian dan hormat yang memang pantas diberikan kepada kedua orangtua saleh seperti Yoakim dan Anna yang kita sedang peringati.

Kedua orangtua Maria ini memiliki rasa tanggungjawab yang mendalam untuk melakukan karya suci mendidik dan melatih anak perempuan mereka. Kita dapat mengandaikan bahwa mereka melakukan tugas panggilan mereka setelah didahului dengan banyak doa, yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah – yang telah memanggil mereka menjadi orangtua – , bahwa Dia akan memberikan segala hikmat-kebijaksanaan dan kekuatan yang mereka perlukan. Buah dari ketaatan mereka kepada Allah terlihat jelas dalam tanggapan Maria ketika dia diberitahukan oleh malaikat Gabriel bahwa Roh Kudus akan turun atas dirinya dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi dirinya; sebab itu anak yang akan dilahirkannya itu disebut kudus, Anak Allah: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:35,38).

Kehidupan orangtua harus dikuduskan bagi Allah dan pelayanan kepada-Nya. Dikuduskan berarti dipisahkan secara khusus, untuk mengabdikan diri kepada Allah. Orangtua yang dikuduskan adalah seorang pribadi saleh yang memenuhi perannya dalam kehidupan dengan mind set melakukan apa yang menyenangkan Allah, bukan dunia. Komitmen ini menciptakan atmosfir spiritual di mana seorang anak akan subur dan bertumbuh dalam kasih dan pelayanan bagi Allah. Orangtua yang dikuduskan bagi Allah mengajar anak-anak mereka melalui kata-kata dan contoh, bahwa mereka harus percaya dan diselamatkan dan bahwa mereka juga dipanggil untuk melayani.

Para orangtua yang dikuduskan dan saleh akan memperoleh pujian (lihat Sir 44:1); keturunan mereka akan mewarisi kebenaran mereka dan tetap setia kepada Allah karena teladan baik mereka (Sir 44:11); dan keturunan mereka akan tetapi tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus  (Sir 44:13) dan gereja di atas bumi akan menghormati mereka (Sir 44:14).

DOA: Bapa surgawi, kami berdoa untuk semua orangtua agar supaya mereka dapat terbuka bagi rahmat yang Kauberikan untuk mengurus keluarga mereka bagi-Mu. Berikanlah kepada kami segala rahmat untuk menguduskan diri kami bagi-Mu dalam peranan apapun yang Kauberikan kepada kami dalam kehidupan ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Sir 44:1,10-15), bacalah tulisan yang berjudul “BEBERAPA CATATAN UNTUK PARA KAKEK-NENEK” (bacaan tanggal 26-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Juli 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA TIDAK PERNAH BOLEH KEHILANGAN PENGHARAPAN

KITA TIDAK PERNAH BOLEH KEHILANGAN PENGHARAPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Sabtu, 24 Juni 2017) 

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80) 

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26

Dalam usia mereka yang sudah tidak muda lagi, Zakharia dan Elisabet tetap sangat menginginkan untuk mempunyai seorang anak, teristimewa ketika mereka melihat keluarga-keluarga di RT mereka bertumbuh. Namun demikian, bagaimana pun dalamnya hasrat pasutri  Zakharia dan Elisabet untuk mempunyai seorang anak, keinginan Allah adalah agar iman mereka kepada-Nya menjadi lebih dalam lagi. Yohanes Pembaptis merupakan buah dari masa penantian mereka yang lama agar Tuhan memenuhi impian mereka. Hari demi hari, selagi mereka berdoa agar dianugerahi seorang anak, mereka ditantang untuk melanjutkan pengharapan mereka akan kebaikan Allah. Setiap hari, mereka menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah Allah dapat dipercaya? Apakah Dia sungguh mengasihi kita? Apakah Dia akan memperhatikan dan memenuhi segala kebutuhan kita?” Setiap kali mereka menjawab “ya” terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, maka iman mereka pun bertumbuh sedikit lebih kuat lagi.

Ketika Zakharia dibuat menjadi bisu oleh malaikat Tuhan (Luk 1:20), sesungguhnya dia memasuki suatu saat-saat berkat dari Tuhan yang intens. Allah ingin mengajar Zakharia agar nanti dia dapat mengajar anaknya tentang apa artinya menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah. Pada waktu Yohanes dilahirkan, tanggapan Zakharia merupakan kesaksian atas buah dari ketidakmampuannya berbicara selama sembilan bulan. Dipenuhi dengan Roh Kudus, Zakharia memproklamasikan kesetiaan Allah dan menubuatkan berkat-berkat besar atas diri puteranya.

Betapa pentingnya waktu ini bagi Zakharia – dan keseluruhan sejarah penyelamatan! Yohanes “ditakdirkan” untuk bertahun-tahun lamanya hidup sendiri di padang gurun, mendengarkan suara Allah dan menantikan waktu kapan dia harus muncul di depan publik dan mengumumkan kedatangan sang Mesias. Kemudian, ketika dia sedang ditahan dalam penjara oleh Herodes dan menanti-nanti nasibnya, lagi-lagi Yohanes perlu ditopang dengan segala hal yang telah dijanjikan oleh Allah. Di mana dia telah belajar kesabaran dan rasa percaya yang sedemikian, kalau bukan dari Zakharia dan Elisabet?

Kita semua mempunyai hasrat-hasrat dan pengharapan-pengharapan yang belum terpenuhi. Sebagai anak-anak terkasih Allah, kita tidak pernah boleh kehilangan pengharapan. Kita dapat menaruh kepercayaan kepada Dia yang telah memanggil kita dengan nama kita masing-masing (bdk. Yes 43:1) dan mendengar setiap doa yang datang dari hati kita (bdk. Mzm 65:3). Selagi kita menanti-nanti Tuhan, marilah kita memohon kepada-Nya agar membentuk karakter kita dan membuat kita semakin serupa dengan-Nya. Pada akhirnya, kita akan melihat bahwa rencana-Nya jauh lebih baik daripada rencana kita. Seperti yang terjadi dengan Zakharia, kita akan dimampukan untuk menyanyikan kidung yang memproklamasikan bahwa bukan karena kuat-kuasa manusiawi kita mengalami hal-hal indah dalam hidup kita, melainkan karena kuat-kuasa ilahi Allah saja yang bekerja dalam diri kita dan situasi kehidupan di mana kita berada (lihat Nyanyian Pujian Zakharia: Luk 1:67-79). Kidung Zakharia ini senantiasa kita nyanyikan dalam Ibadat Pagi, bukan?

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengetahui segalanya tentang diriku. Engkau tidak pernah berhenti berpikir tentang diriku dan mengelilingi aku dengan kasih-Mu. Engkau tahu apa yang sesungguhnya akan memenuhi diriku dan memberikan kepadaku damai-sejahtera. Jalan dan cara-Mu memang indah, ya Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “RENCANA INDAH ALLAH BAGI KITA MASING-MASING” (bacaan tanggal 24-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 21 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MARIA MEMULIAKAN TUHAN

MARIA MEMULIAKAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S.P. Maria Mengunjungi Elisabet – Rabu, 31 Mei 2017)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18a atau Rm 12:9-16b; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

Ada tiga kidung dari Injil Lukas yang setiap hari kita doakan/daraskan/nyanyikan dalam Ibadat Harian kita, yaitu ‘Kidung Zakharia’ [Benedictus; Luk 1:68-79] untuk Ibadat Pagi, ‘Kidung Maria’ [Magnificat; Luk 1:46-55] untuk Ibadat Sore, dan ‘Kidung Simeon’ [Nunc Dimittis; Luk 2:29-32] untuk Ibadat Penutup. Dalam kesempatan ini marilah kita soroti apa yang termuat dalam ‘Kidung Maria’ itu, sebuah kidung yang dinyanyikan olehnya pada waktu mengunjungi Elisabet, saudaranya.

Kita dapat membayangkan sejenak apa kiranya yang ada dalam hati dan pikiran Maria setelah melakukan perjalanan jauh dari Nazaret, Galilea ke Ain Karem di dataran tinggi Yudea itu. Pikirkan bagaimana dia begitu bersukacita penuh syukur ketika memikirkan kebaikan Allah yang begitu luarbiasa atas dirinya. Dan, ia memang telah mempercayakan affair-nya dengan Roh Kudus sepenuhnya kepada Allah Perjanjian, teristimewa perihal pertumbuhan jabang bayi yang ada dalam rahimnya. Kidung Maria yang indah ini adalah buah dari permenungan Maria sepanjang perjalanan jauh tersebut. Elisabet meneguhkan siapa sesungguhnya Maria ketika dia digerakkan oleh Roh Kudus untuk berseru, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang ada di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:42-45). Kidung Maria menunjukkan kepada kita beberapa prinsip bagi doa-doa yang kita panjatkan.

Kidung Maria adalah sebuah ‘doa iman’, seperti Maria sendiri adalah ‘model iman’ dan juga merupakan doa bagi kita semua. Kidung Maria ini barangkali merupakan doa yang paling dipenuhi kerendahan hati, seperti termuat dalam Kitab Suci. Dalam Magnificat, Maria mengakui kebenaran tentang siapa Allah itu dan siapa dirinya di hadapan Allah. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan kepada kita bahwa “kerendahan hati adalah dasar doa” (KGK, 2559). Pasti kerendahan hati menjadi fondasi dari Kidung Maria ini, ketika dia mengakui bahwa Allah “telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya … karena yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku” (Luk 1:48,49).

Kidung Maria ini pun merupakan sebuah doa yang mencerminkan iman-kepercayaan seseorang yang sangat mendalam. Maria mempercayai apa yang akan dilakukan oleh Allah baginya. Sepanjang hidupnya Maria tetap penuh percaya pada kerahiman dan kebaikan hati Allah (lihat Luk 1:50). Dia percaya bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang rendah dalam dunia ini dan Dia akan setia pada segala janji-Nya (Luk 1:52-53.55). Kidung Maria merupakan sebuah contoh indah tentang kenyataan bahwa kita tidak perlu melakukan perbuatan-perbuatan besar di mata publik untuk menyenangkan Allah atau menguraikan secara terinci suatu isu teologis yang mendalam. Dengan mengikuti teladan Maria dalam mengasihi Allah, mempercayai Dia dan dengan rendah hati berjalan bersama-Nya, kita semua pun dapat menyenangkan Allah.

Selagi anda datang menghadap sang Mahatinggi setiap hari dalam doa pribadi, cobalah untuk mengingat contoh kerendahan hati dan iman-kepercayaan Bunda Maria. Bersama dia dan dalam kuasa Roh Kudus, kita pun akan mampu mendeklarasikan bahwa, “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya” (Luk 1:49).

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah memilih puteri-Mu Maria untuk menjadi Bunda Putera-Mu yang tunggal, Yesus. Tolonglah aku untuk senantiasa menghadap-Mu dalam kerendahan hati dan rasa percaya penuh kasih, seperti telah ditunjukkan oleh Bunda Maria. Oleh kuasa Roh-Mu, penuhilah diriku dengan iman yang mendalam sebagaimana yang dimiliki Bunda Maria. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “KERINDUAN ALLAH UNTUK MENYATAKAN DIRI DAN RENCANA-NYA” (bacaan tanggal 31-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010)

Cilandak, 28 Mei 2017 [HARI MINGGU PASKAH VII – TAHUN A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SATU ABAD FATIMA [13 MEI 1917 – 13 MEI 2017]

SATU ABAD FATIMA [13 Mei 1917 – 13 Mei 2017]

Pada hari ini Gereja memperingati penampakan Bunda Maria 100 tahun lalu, yaitu pada tahun 1917 kepada tiga orang anak desa Fatima, Portugal. Nama tiga orang anak itu adalah Lucia dos Santos, dan dua orang sepupunya: Francisco Marto dan Jacinta. Penampakannya sendiri terjadi di dekat Fatima, di dataran yang bernama Cova da Iria.

Saya masih ingat ketika masih sekolah di SR Budi Mulia, Jalan Mangga Besar di tahun 50-an, pada suatu malam banyak sekali anak-anak yang menonton film hitam putih tentang peristiwa Fatima ini di halaman terbuka Gereja Mangga Besar (S. Petrus dan Paulus) yang masih bangunan darurat – dengan menggunakan layar tancap. Sebuah film yang bagus, mengasyikkan dan sungguh membekas.

Selama penampakan-penampakannya, Bunda Maria memberi instruksi kepada anak-anak itu untuk melaksanakan prosesi guna menghormati Maria yang dikandung tanpa noda dan untuk mempromosikan doa Rosario agar sering-sering dilakukan, berdoa untuk pertobatan Rusia, dan beberapa instruksi lainnya. Pada penampakannya yang terakhir, tanggal 13 Oktober, Maria menyatakan dirinya sebagai “Ratu Rosario”: di hadapan 50.000 – 70.000 orang yang hadir, dan sebuah mukjizat yang telah dijanjikannya terjadi, yaitu suatu gejala alam yang dijuluki sebagai matahari yang berputar-putar.

Bunda Maria berjanji, bahwa jika permintaan-permintaannya diikuti, maka Rusia akan bertobat, sebuah peperangan dahsyat akan dapat dihindari, banyak jiwa akan diselamatkan, dan perdamaian dunia dapat tercapai. Francisco meninggal dunia di tahun 1919, disusul oleh Jacinta di tahun 1920. Lucia, yang belakangan masuk Ordo Karmelites, menerima penampakan yang ke tujuh kalinya pada tanggal 18 Juni 1921.

Setelah penyelidikan selama tujuh tahun, pada tahun 1930, para uskup Portugal mendeklarasikan bahwa penampakan-penampakan Bunda Maria di Fatima sebagai otentik. Persetujuan diberikan atas devosi kepada S.P. Maria dari Fatima dengan judul Ratu Rosario.

Sekarang pertanyaannya, “Mengapa Maria justru menampakkan dirinya di Fatima?” Pada awal abad ke-20, Fatima, sebuah desa kecil di negeri Portugal, praktis tidak dikenal oleh dunia. Mengapa? Karena desa itu tidak memiliki signifikansi apa pun bagi dunia luar. Bahkkan desa ini pun tidak ada dalam peta yang biasa digunakan oleh masyarakat Portugis sendiri. Fatima terletak di daerah pegunungan yang bernama Serra de Aire, sebuah desa penuh damai seakan tak tersentuh oleh dunia luar yang hiruk pikuk. Nama Fatima sendiri adalah kenangan akan masa lampau di mana bangsa Moor (Islam) masih berkuasa di negeri itu.

Pada hari ini, apa yang dikatakan di atas semuanya telah berubah. Pada hari ini Fatima tidak mengenal perbatasan. Orang-orang percaya dari seluruh dunia berlutut dan bersembah sujud di sana. Kemasyhurannya dan kemuliaannya dipublikasikan dalam hampir seluruh bahasa nasional yang ada di dunia. Mengapa hal ini sampai terjadi perubahan yang begitu besar? Karena di sana pada tahun 1917, S.P. Maria tak bernoda (Maria Imakulata), Ratu Surga, datang secara pribadi ke tempat terpencil yang miskin ini untuk berbicara dengan manusia yang murni, jiwa-jiwa pilihan, dengan kata-kata penuh afeksi, penuh simpati, memberi nasihat-nasihat dan janji, bahkan juga peringatan. Namun pada dasarnya Bunda Maria mengunjungi Fatima sebagai seorang bentara damai dan kasih.

Gereja di Fatima hanyalah sebuah gereja paroki yang kecil, dan sejak tahun 1920 berada di bawah Keuskupan Leiria yang sangat miskin, kurang lebih 75 mil sebelah utara Lisboa (ibu kota Portugal). Kalau diperhatikan dengan baik, Fatima yang berlokasi di provinsi Estremadura, berada hampir di titik pusat Portugal. Dari semua provinsi di Portugal, provinsi Estremadura menyajikan topografi yang paling luarbiasa. Landskapnya sangat tidak beraturan. Setiap aspek wilayah ini mempunyai karakteristik yang khusus, yang jelas kelihatan berpengaruh atas temperamen dan adat-kebiasaan penduduknya.

Orang yang berangkat dari Lisboa ke arah utara dapat menikmati keindahan panorama sampai ke Alcobaca. Lalu, membentanglah lembah Batalha dan Leiria yang indah. Namun, begitu orang itu memasuki jalan yang langsung menuju Fatima, pemandangan berubah secara drastis menjadi kebalikan dari yang sebelumnya. Tanahnya menjadi semakin tidak rata, lebih gersang dan pemandangan pun tak lagi penuh warna-warni. Serra da Aire mulai terlihat. Pemandangan yang suram, tanah kering dan tidak produktif. Kawanan domba dapat terlihat di sana-sini, namun tak ada banyak tetumbuhan, kecuali kelompok-kelompok tipis pohon ek dan pohon zaitun di sepanjang punggung bukit, hal mana membantu meringankan monotomi yang menekan. Di lereng gunung, di tempat tinggi di Serra, terletak desa kecil yang bernama Fatima diliputi suasana kesendirian yang mendalam, seakan tempat bagi orang-orang yang terbuang. Di dekat situ ada dataran bebatuan yang dikenal sebagai Cova da Iria. Tempat ini dikuduskan oleh kehadiran Ratu Surga dan dipilih oleh Penyelenggaraan Ilahi untuk memancarkan cinta kasih dan berkat ke segala penjuru dunia sebagai balasan terhadap devosi kepada Maria Imakulata.

Penduduk pegunungan yang di tinggal di Fatima berbicara sedikit, terasa dingin tanpa hati. Akan tetapi seluruh hidup mereka berpusat pada tiga cinta kasih yang besar: cinta kasih kepada Allah, keluarga, pekerjaan kasar (bukan pekerjaan di belakang meja). Rumah-rumah mereka kecil dan kasar dengan jendela-jendela yang rendah dan sempit/kecil. Dapur dalam rumah mereka sederhana yang tidak berisikan apa-apa kecuali sebuah meja kayu, tempat untuk menaruh peralatan masak dan perapian. Ruang keluarga dan ruang tidur juga sederhana. Di sebelah luar, tetapi masih berhubungan dengan rumah adalah tempat untuk kawanan domba, barangkali ada juga sebatang pohon ara atau pohon zaitun atau sejumah pohon ek di dekat rumah.

Kehidupan penduduk Fatima itu keras. Mereka bekerja di gunung atau di ladang dengan penghasilan minim. Pakaian mereka layaknya orang miskin, kecuali pada hari pesta di mana mereka memakai topi, jas pendek dengan bordiran, dan celana panjang ketat di pinggang namun semakin lebar ke bawah. Para perempuan bertugas mengatur rumah. Mereka menyiapkan makanan, memintal dan melakukan tugas-tugas rumah tangga dan memperhatikan dengan serius pertumbuhan fisik maupun spiritual dari anak-anak mereka.

Pekerjaan menggembalakan domba dipegang oleh anak-anak. Mereka meninggalkan rumah pagi-pagi sekali sambil membawa makanan siang mereka. Mereka tak akan kembali ke rumah sampai sore ketika lonceng memanggil mereka untuk berdoa Angelus (Malaikat Tuhan). Sedikit dari mereka yang pernah belajar membaca dan menulis. “Sekolah” mereka hanyalah terdiri dari pengetahuan elementer dan kebenaran-kebenaran menyangkut agama, dan keterampilan-keterampilan rumah tanggal yang diturunkan oleh sang ibu rumah tangga.

Hanya untuk waktu singkat di malam hari, setelah makan malam dan pekerjaan yang melelahkan sepanjang hari, semua anggota keluarga menikmati keintiman hidup berkeluarga. Mengapa? Karena mereka harus  tidur cepat agar dapat cukup beristirahat dan disegarkan kembali untuk bekerja di esok hari. Ada adat-kebiasaan umum bahwa sebelum tidur seluruh keluarga bersama-sama berdoa Rosario. Sang ayah memimpin doa dengan perlahan-lahan dan dengan sikap penuh hormat, sementara sang ibu dan anak menanggapi dengan semangat penuh pengabdian yang sama. Doa Rosaria disusul dengan doa-doa memohon berkat Allah atas keluarga. Akhirnya didoakan “De Profundis” (Mzm 130). Kehidupan seperti ini, devosi yang bersifat konstan seperti ini, kemurnian dan kesederhanaan hidup inilah yang kiranya menarik ke bawah afeksi dari Maria, Ratu Rosario dari atas sana.

Bagian dari bumi yang kecil ini, bagian dari Portugal yang tidak signifikan ini, dipisahkan dan dipilih oleh Hikmat ilahi yang tak mungkin kita mengerti berdasarkan akal budi semata, seperti Israel di masa lampau, guna membantu – sebagai sebuah instrumen yang kuat – untuk melanjutkan penebusan Allah dan pengudusan-Nya atas dunia melalui Maria, ibunda-Nya, yang dikandung tanpa noda dosa.

Kardinal Emanuel Goncalves Cerejeira, Patriarkh dari Lisboa pada tahun 1931 mengatakan: “Ratu Surga turun ke tanah yang adalah miliknya sejak awal, suatu negeri yang dikonsekrasikan kepadanya dengan kelahiran bangsa dan dinamakan Terra de Santa Maria, tanah dari Santa Maria.” Bunda Allah bersedia menampakkan dirinya dengan kelemahlembutan yang luarbiasa kepada umat yang cinta pada tugas mereka ini. Bunda Maria berhasrat untuk menempatkan orang-orang seperti itu ke bawah perlindungannya yang penuh kuat-kuasa. Bunda Maria memang senantiasa dekat dengan orang-orang yang tidak pernah lelah menghormatinya dalam doa Rosario yang indah itu.

Bunda Maria berketetapan hati untuk mendirikan takhtanya di Fatima, di dalam teritori yang telah menjadi miliknya sejak berabad-abad. Dari takhta penuh kemuliaan tersebut ia ingin mengirimkan sebuah pesan universal: bahwa tidak hanya Portugal, melainkan semua bangsa harus didekasikan kepadanya; bahwa dia akan mendengarkan seruan-seruan dari dunia yang bertobat dan sudah lelah dengan keributan dan memberikan perdamaian bagi bangsa-bangsa yang saling berperang – suatu perdamaian besar dan tahan lama setelah penghukuman dijatuhkan atas orang karena kekerasan hatinya.

Akan tetapi Bunda Maria juga mengingatkan akan bencana-bencana lebih besar yang  akan menimpa dunia apabila umat manusia terus saja sibuk dengan sensualitas yang semakin merosot, dan juga “nasib” buruk dari para pendosa yang pantas diadili oleh sang Hakim kekal.

Akhirnya, Bunda Maria datang untuk memberitahukan dunia bahwa hatinya yang penuh cintakasih dan tak bernoda senantiasa merupakan tempat perlindungan yang aman bagi jiwa-jiwa yang tersobek-sobek oleh goncangan-goncangan dan kesedihan, dan bahwa dia tidak pernah tidak akan menolong orang-orang yang mencari pertolongannya dengan memanggilnya sebagai “Santa Perawan dari Fatima”, “Hati Maria yang tak bernoda”, dan “Ratu Rosario.”

Sumber: (1) Alphonse M. Cappa, S.S.P, (terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh William H. Lyden), “FATIMA – Cove of Wonders”, Boston, Ma.: St. Paul Editions, 1979, hal. 18-23; (2) Matthew Bunson (Illustrated by Margaret Bunson; foreword by: Archbishop Oscar H. Lipscomb), “Our Sunday Visitor’s Encyclopedia of Catholic History”, Huntington, Indiana: Ou Sunday Visitor, Inc., 1955, hal. 312-313.

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2016 yang berjudul “FATIMA” dengan beberapa perubahan kecil.)

Jakarta, 13 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS