Posts from the ‘MARIA’ Category

BAGAIMANA IBLIS DAPAT MENGUSIR IBLIS?

BAGAIMANA IBLIS DAPAT MENGUSIR IBLIS?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA X [Tahun B], 10 Juni 2018)

Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Orang banyak datang lagi berkerumun, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi. Ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata, “Ia kerasukan Beelzebul,” dan, “Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan.” Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan, “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya endiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat  apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni. Tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat ldosa yang kekal.” Ia berkata demikian karena mereka mengatakan bahwa Ia kerasukan roh jahat. 

Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Jawab Yesus kepada mereka, “Siapa ibu-Ku and siapa saudara-saudara-Ku?” Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.” (Mrk 3:20-35) 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8; Bacaan Kedua: 2Kor 4:13 – 5:1

Kegiatan sehari-hari dari Yesus sebagai seorang Rabi keliling yang begitu padat – mengajar para murid dan orang banyak, menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit, mengusir roh-roh jahat dari dalam diri banyak orang dlsb.  Tidak mengherankanlah apabila keluarga-Nya (termasuk ibu-Nya sendiri) menganggap Yesus sudah tidak waras lagi, sehingga mereka datang hendak mengambil Dia (Mrk 3:21). Pada waktu itu Yesus sedang melayani di sebuah rumah.

Di sisi lain, kuat-kuasa Yesus untuk mengusir roh-roh jahat yang selama ini sudah dialami dan disaksikan oleh tidak sedikit warga masyarakat, kiranya menjadi perhatian para pemimpin/pemuka agama Yahudi (Yudaisme). Para pemimpin Yudaisme di Yerusalem ini mengutus beberapa ahli Taurat untuk memeriksa Yesus. Komentar para ahli Taurat ini tentang Yesus sungguh mengagetkan kita: “Ia kerasukan Beelzebul”, “Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan” (Mrk 3:22). Yesus menanggapi komentar/tuduhan para ahli Taurat tersebut dengan tenang: “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?” (Mrk 3:23).

Karena alasan praktis, baiklah dalam kesempatan ini kita hanya menyoroti bagian bacaan Injil yang memuat cerita tentang tuduhan para pemimpin/pemuka Yudaisme tentangan kaitan antara Yesus dan Beelzebul (Mrk 3:20-30). Bacaan Injil selanjutnya (Mrk 3:31-35) yang berurusan dengan hubungan Yesus dan Ibu serta para saudara-Nya akan dibahas dalam kesempatan lain.

Kiranya Yesus heran begitu mendengar komentar para ahli Taurat di atas yang terasa bodoh sekali. Bagaimana mungkin kerajaan Iblis dapat bertahan jika mereka bersaing dan berperang satu sama lain? Kalau begitu halnya, keruntuhan kerajaan itu pasti sudah di ambang pintu. Di sisi lain kita semua perlu memahami bahwa meruntuhkan kerajaan Iblis itu tidaklah mudah karena “orangnya” kuat. Dia harus diikat lebih dahulu sebelum kerajaannya dirampok. Nah, memang Yesus lebih kuat dari Iblis karena Dia telah dipenuhi oleh Roh Kudus (lihat Mrk 1:9-11).

Oleh karena itu dosa dan hujat para ahli Taurat dan “bos-bos” di Yerusalem yang mengutus mereka tidak dapat diampuni, karena merupakan dosa melawan Roh Kudus. Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Semua dosa dan hujat apa pun yang diucapkan anak-anak manusia akan diampuni. Tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa yang kekal” (Mrk 3:28-29). Mengapa? Karena mereka tegar hati dan keras kepala. Mereka mengatakan bahwa Yesus kerasukan roh jahat (Mrk 3:30; bdk. 3:22). Mereka menghujat Yesus dengan sangat mengerikan. Ia yang diutus ke tengah dunia oleh Bapa surgawi – Allah Yang Mahakudus; sang Khalik langit dan bumi – untuk mengusir kuasa jahat justru dianggap dikuasai oleh kekuatan jahat itu sendiri.

Para ahli Taurat dan para pemuka/pemimpin Agama di Yerusalem yang mengutus mereka, berdosa terhadap Roh Kudus yang menerangi hati dan budi mereka. Mereka berdosa terhadap Roh yang berkarya dalam peristiwa-peristiwa. Mereka mempunyai mata, namun tidak mau melihat; mereka mempunyai telinga, namun tidak mau mendengar. Mereka  tegar hati dan keras kepala. Mereka berbuat “dosa kekal” karena tegar hati dan tidak mau percaya kepada Yesus sampai mati.

DOA: Bapa surgawi, Engkau sangat mengetahui bahwa komitmenku untuk melakukan kehendak-Mu seringkali goyah. Melalui Roh-Mu yang kudus, tolonglah dan bimbinglah diriku agar dapat mempersembahkan seluruh hidupku kepada-Mu dan menjadi anggota yang melayani dengan setia keluarga Putera-Mu, Yesus Kristus yang kuimani sebagai Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:20-35), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA IBU-KU DAN SIAPA SAUDARA-SAUDARA-KU?” (bacaan tanggal 10-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

Cilandak, 7 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

DUA HAL YANG BERBEDA, NAMUN SALING BERHUBUNGAN

DUA HAL YANG BERBEDA, NAMUN SALING BERHUBUNGAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet – Kamis, 31 Mei 2018)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18a atau Rm 12:9-16b; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

Maria mengepak barang-barangnya dan kemudian bergegas pergi ke Ain Karem untuk mengunjungi saudaranya, Elisabet. Ia pergi untuk membantu Elisabet menyiapkan kelahiran bayinya justru pada umurnya yang sudah tua. Barangkali Maria juga berniat untuk bertanya-tanya kepada Elisabet tentang kehamilannya yang dipenuhi keajaiban itu.

Pada waktu Maria sampai di tempat tinggal Elisabet, dia memberi salam kepada saudaranya dengan rangkulan tradisional, namun Elisabet merespons dengan cara yang sangat non-tradisional. Bayi dalam rahimnya melonjak kegirangan, dan Elisabet pun kemudian berkata: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42).

Sedikit banyak, kiranya Elisabet mengetahui apa yang telah terjadi dengan diri Maria yang masih muda usia itu. Barangkali dia mendengar tentang kehamilan Maria dari “kabar burung” atau gosip, atau melalui sepucuk surat dari Maria sendiri. Barangkali juga dia telah mendengar tentang perjumpaan Maria dengan malaikat Gabriel yang penuh misteri itu. Akan tetapi, “pengetahuan” Elisabet tentang situasi yang dihadapi Maria sebenarnya melebihi daripada sekadar sebagai akibat mempelajari berbagai fakta. Lukas menceritakan kepada kita, bahwa ketika Elisabet melihat Maria, dia “penuh dengan Roh Kudus” (Luk 1:41) dan menyerukan dengan suara nyaring kata-kata yang sekarang begitu familiar di telinga kita: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42; dalam doa “Salam Maria”). Mengetahui dan memahami sesuatu hal/peristiwa secara intelektual dan mengetahuinya oleh kuasa Roh Kudus merupakan dua yang hal berbeda, namun berhubungan.

Cerita ini menunjukkan bagaimana Allah rindu untuk menyatakan diri-Nya dan rencana-Nya kepada umat-Nya. Kemampuan kita untuk memahami kebenaran-kebenaran alkitabiah dan prinsip-prinsip moral adalah sebuah karunia dari Allah yang penting, namun ini hanyalah sebagian dari warisan kita. Kita juga mampu untuk menerima pernyataan spiritual dan penerangan dari Allah mengenai kebenaran-kebenaran dan prinsip-prinsip ini.

Santo Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus, bahwa Allah ingin menyatakan kepada mereka hikmat-Nya yang tersembunyi, “apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia” (1Kor 2:9-10; ayat 9 bdk. Yes 64:4). Santo Paulus juga berdoa bagi jemaat di Efesus, agar Allah menjadikan mata hati mereka terang, agar mereka mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang besar, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus (Ef 1:18-20).

Demikian pula, Allah ingin berbicara kepada kita. Dia ingin mengatakan kepada kita betapa mendalam Dia mengasihi kita. Dia ingin menyatakan kepada kita rencana penyelamatan-Nya yang mulia dan peranan kita dalam rencana itu. Marilah kita mohon agar Allah menerangi diri kita pada hari ini sehingga kita dapat mengenal Dia dalam hati kita, sehingga dengan demikian kita dapat merangkul rencana-Nya yang agung-mulia itu secara lebih penuh lagi.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan terangilah hatiku pada hari ini. Bukalah Kitab Suci bagiku. Tunjukkanlah kepadaku kasih Bapa. Penuhilah hatiku dengan sukacita-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA MEMULIAKAN TUHAN” (bacaan tanggal 31-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 27 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

FIAT SP MARIA YANG SANGAT MENENTUKAN DALAM SEJARAH KESELAMATAN UMAT MANUSIA

FIAT SP MARIA YANG SANGAT MENENTUKAN DALAM SEJARAH KESELAMATAN UMAT MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KABAR SUKACITA – Sabtu, 24 Maret 2018)

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10

“Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk 1:34)

Ini adalah sebuah pertanyaan lugu dari seseorang yang sungguh sedang merasa ragu-ragu. Keraguan seperti ini sah-sah saja karena sangat manusiawi. Malah kalau kita coba sedikit berimajinasi dalam konteks, tentu masih banyak keragu-raguan lain dalam diri Maria pada waktu itu. Misalnya, apakah Yusuf akan percaya dengan pengakuannya, bagaimana sikap masyarakat setempat yang memang tunduk kepada hukum Taurat dengan hukum rajamnya, dan lain-lain.

Malaikat Gabriel menanggapi pertanyaan Maria dengan penjelasan tentang karya Roh Kudus dalam diri Maria, siapa sebetulnya anak yang akan dikandung, keajaiban serupa (tapi tak sama) yang dialami oleh Elisabet, kemudian ditutup dengan pernyataan singkat-jelas: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (1:37). Jawaban Gabriel ini menyejukkan hati Maria, dan iman-kepercayaannya pun semakin diperteguh, sehingga dia pun mampu berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (1:38). Fiat Maria ini sangat menentukan dalam sejarah keselamatan umat manusia.

Fiat ini juga menunjukkan bahwa Maria menempatkan kehendak Allah sebagai top priority-nya. Dia lebih memprioritaskan kehendak Allah daripada hidupnya sendiri, harapan dan masa depannya. Mendahulukan kehendak Allah, teristimewa dalam situasi berat mendung-berawan dan penuh ketidakpastian adalah dasar iman Kristiani yang kokoh-mendalam. Maria memang sempurna dalam hal menyusun skala prioritas dan mengambil keputusan dalam hidupnya, baik yang menyangkut hidup di dunia ini maupun di akhirat. Bagaimana dengan kita? Ingatlah bahwa memprioritaskan kehendak Allah tidak semudah diucapkan, karena sikap dan perilaku seperti itu menuntut keterbukaan hati dan berserah diri secara total kepada rencana dan kehendak-Nya seperti yang telah ditunjukkan oleh Maria. Sikap dan perilaku sedemikian itulah yang senantiasa harus kita ambil.

Maria menyebut dirinya seorang “hamba Tuhan”; hal ini berarti bahwa dia menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah dan kekuatan sabda-Nya. Maria tergolong kaum anawim, orang-orang miskin Allah, yang percaya sepenuhnya akan janji kedatangan Mesias, sang Raja-Penyelamat. Apa yang kita dapat pelajari dari Maria dalam hal ini? Sebagai orang Kristiani yang mendasarkan hidup pada kekuatan sabda Allah, kita pun seharusnya tekun membaca dan  merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, kemudian kita mengolah pengalaman hidup konkret kita dengan kaca mata iman. Dengan demikian pentingnya Kitab Suci atau Alkitab janganlah dibatasi hanya pada waktu kita terlibat dalam berbagai kegiatan pendalaman Kitab Suci saja, misalnya dalam ruang lingkup lingkungan, wilayah atau paroki.

DOA: Bapa di surga, dengan sikap dan perilaku keterbukaan dan penyerahan diri, Maria mendahulukan kehendak-Mu di atas segalanya, bahkan dengan segala macam risiko sosial yang dihadapinya. Pada waktu itu dia merasa bingung dan belum sepenuhnya memahami segala yang Kaukehendaki dalam rangka rencana keselamatan-Mu atas umat manusia, namun dia menerima dan mengatakan “YA”, suatu tanda ketundukan seorang hamba kepada Tuannya. Karena Fiat  Maria ini kami dapat bertemu dengan Putera-Mu Yesus Kristus dan menjadi murid dan saudara-Nya, dan kami pun dapat menyapa-Mu sebagai Bapa. Ya Allah, Engkau sungguh baik hati, terimalah persembahan pujian kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:36-48), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT GABRIEL” (bacaan tanggal 24-3-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 21 Maret 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ADA IKATAN KEKELUARGAAN YANG LEBIH AGUNG

ADA IKATAN KEKELUARGAAN YANG LEBIH AGUNG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa III – Selasa, 23 Januari  2018)

Hari Keenam Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.”  Jawab Yesus kepada mereka, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”  Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.”  (Mrk 3:31-35)

Bacaan Pertama: 2Sam 6:12b-15,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10

Bacaan Injil hari ini yang menyinggung ibunda Yesus dan saudara-saudara-Nya kadang-kadang menyebabkan kesulitan berkaitan dengan doktrin “Maria tetap perawan”. Apabila Yesus mempunyai saudari dan saudara, bukankah hal itu dapat diartikan bahwa Maria mempunyai anak-anak lain di samping Yesus? Jadi, Ibu Maria bukan seorang perawan dong?! Hal ini tidak dapat disimpulkan dari bacaan Injil Markus hari ini, karena kata dalam bahasa Yunani yang digunakan di sini untuk “saudari dan saudara” juga dapat digunakan untuk “saudara sepupu”. Jadi, hal ini tidak perlu menyebabkan terjadinya kelumpuhan iman di antara kita.

Kita memang dapat saja menjadi sedikit terkejut ketika kepada Yesus diberitahukan bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya ada di luar dan berusaha menemui Dia (lihat Mrk 3:32), kemudian Yesus menanggapinya dengan mengatakan, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku? (Mrk 3:33). Pertanyaan Yesus yang tidak memerlukan jawaban ini memang sekilas terasa kasar, malah menyakitkan bagi telinga yang “super-sensi”. Namun kita harus melihatnya begini: Dalam situasi ini Yesus mengambil kesempatan untuk mengajar mereka suatu pelajaran penting. Sambil memandang orang-orang yang duduk di sekelilingnya, Yesus berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mrk 3:34-35).

Di sini Yesus samasekali tidak menyangkal hubungan kekeluargaannya dari sudut manusiawi, dan segala tugas-kewajiban-Nya dalam hal mencintai seiring dengan hubungan kekeluargaan tersebut, namun secara radikal Yesus menempatkan semua itu di bawah suatu ikatan kekelurgaan yang lebih tinggi, yaitu tali persaudaraan sebagai anak-anak Allah, Bapa kita semua. Kerajaan Allah yang berdiam dalam diri kita menuntut komitmen kita, yang terkadang harus melampaui dan berada di atas ikatan kekeluargaan kita secara manusiawi di dunia, kesukuan dan etnisitas, bahkan nasionalitas.

Memang harus kita akui bahwa hubungan darah itu membentuk ikatan yang erat. Bahkan seringkali hal tersebut dapat membuat seseorang bersedia melanggar perintah-perintah Allah, misalnya dengan berbohong besar agar tetap berada dekat dengan anggota keluarganya yang telah melakukan kesalahan, dan membelanya di hadapan (petugas) hukum.

Kadang-kadang keluarga-keluarga, para orangtua, mempunyai ikatan yang begitu erat dengan anak-anak mereka sehingga mereka tidak bersedia untuk merelakan anak-anak mereka bekerja melayani Kerajaan Allah (misalnya menanggapi panggilan untuk menjadi seorang imam). Mereka tidak menyadari bahwa ada ikatan kekeluargaan yang lebih kuat, lebih besar dan lebih agung, yaitu ikatan spiritual antara Kristus dan anak-anak mereka, antara anak-anak mereka dan orang-orang lain yang mendedikasikan hidup mereka bagi Kristus. Dan ikatan-ikatan seturut Kristus dalam bacaan Injil hari ini harus didahulukan dan dipandang lebih penting daripada hubungan kekeluargaan karena ikatan darah. Yang sedemikianlah sesungguhnya sifat keluarga Allah.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahabaik, sumber segala kebaikan, satu-satunya  yang baik, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu: karena kasih-Mu, Engkau mengutus Yesus ke tengah dunia. Dia mati untuk menebus dosa-dosa kami, dan oleh karena penebusan-Nya lewat kematian dan kebangkitan-Nya, hubungan kami dengan Engkau pun diperdamaikan. Dengan demikian kami menjadi anak-anak-Mu, dan Yesus Kristus menjadi saudara kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Sam 6:12b-15,17-19), bacalah tulisan  yang berjudul “MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH” (bacaan tanggal 23-1-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com;

kategori: 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014)

 Cilandak, 21 Januari 2018 [HARI MINGGU BIASA III – TAHUN B]

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MARIA: BUNDA ALLAH DAN BUNDA KITA SEMUA

MARIA: BUNDA ALLAH DAN BUNDA KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa pada Hari Raya SP Maria Bunda Allah, Oktaf Natal – Senin, 1 Januari 2018)

HARI PERDAMAIAN SEDUNIA

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Ketika melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkataan itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Kemudian kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Luk 2:16-21) 

Bacaan Pertama: Bil 6:22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5-6,8; Bacaan Kedua: Gal 4:4-7

Selagi masa Natal berjalan dari hari demi hari, Roh Kudus terus mengundang kita untuk merenungkan peristiwa-peristiwa di sekitar kelahiran Yesus. Pesta yang dirayakan Gereja hari ini secara khusus penting karena memusatkan perhatian kita pada kenyataan bahwa Maria mengandung Putera Allah dalam rahimnya. Sejak saat dikandung, Yesus dari Nazaret – dalam pribadi-Nya – memegang segala kepenuhan kasih Allah, rahmat-Nya dan kuasa-Nya.

Tidak lama setelah melahirkan Yesus, para gembala berdatangan ke tempat di mana Yesus, Maria dan Yusuf berada. Mereka memberikan sebuah laporan (secara lisan tentunya) tentang malaikat yang mengumumkan kelahiran Mesias. Maria mendengarkan dengan penuh perhatian segala yang dikatakan para gembala itu. Bagi dirinya semua ini adalah sebuah misteri tentunya: segala perkataan itu  disimpan Maria di dalam hatinya dan direnungkannya (lihat Luk 2:19). Maria tidak rewel tentang bahaya-bahaya yang akan dihadapi oleh keluarga kecilnya. Dia juga tidak merasa cemas tentang apa yang kiranya akan terjadi di masa depan, atau menyesali apa yang seharusnya terjadi di masa lampau seandainya dia dan Yusuf tidak diminta memelihara Putera Allah. Sebaliknya, Maria dengan penuh perhatian mengamati segala cara kerja Allah sementara dia mengandung, melahirkan Yesus dan membesarkan-Nya. Maria tidak membiarkan firman dan tindakan Allah menjadi sekadar sekumpulan kenangan yang secara perlahan akan hilang; dia menyimpan semua itu tetap hidup dalam hatinya.

Demikian pula, Allah tidak ingin kebenaran-kebenaran-Nya menghilang dari pikiran kita. Allah menginginkan agar kita meniru Maria dengan memegang janji-janji-Nya dalam hati kita masing-masing sepanjang tahun. Sesungguhnya Allah memberikan tahun baru ini sebagai suatu kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam pengenalan kita akan kasih-Nya. Tentu saja Maria tidak hanya mempunyai kenangan akan peristiwa-peristiwa di masa lalu. Yesus selalu berada bersama Yesus, hari demi hari. Sekarang, lewat kuasa Roh Kudus kita pun dapat mengalami kehadiran Yesus dari hari ke hari. Ini adalah bagian dari janji Injil: Semakin banyak kita merenungkan dalam suasana doa siapa Yesus itu dan apa yang telah dilakukan-Nya, semakin dekat pula Dia menarik kita kepada diri-Nya.

Dalam tahun baru ini, marilah kita membangun niat dalam resolusi khusus, yaitu untuk menyisihkan waktu yang lebih banyak lagi setiap hari untuk kegiatan doa dan pembacaan/renungan Kitab Suci. Selagi anda berupaya dengan serius, anda pun akan mengalami bahwa firman Yesus menjadi firman hidup yang bekerja dalam dirimu dan mentransformasikan dirimu menjadi lebih serupa lagi dengan diri-Nya. Perkenankanlah hal itu terjadi. Biarlah tahun 2018 ini menjadi tahun bagi anda untuk merenungkan Yesus, sang Putera Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah diriku agar aku dapat memusatkan perhatianku pada Tuhan Yesus Kristus pada tahun 2018 ini. Jadikanlah sang Imanuel hidup dalam hatiku sementara aku menyimpan firman-Nya dalam hati, merenungkannya dan mewujudkannya dalam hidupku sehari-hari, walaupun di tengah hingar-bingar politik dalam masyarakat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA ADALAH THEOTOKOS” (bacaan tanggal 1-1-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010)

Cilandak, 29 Desember 2017 (Peringatan S. Thomas Becket, Uskup-Martir) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HANA DAN MARIA

HANA DAN MARIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 22 Desember 2017)

 

Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia, dengan seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN (YHWH) di Silo. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu. Setelah mereka menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli; lalu kata perempuan itu: “Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada YHWH. Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan YHWH telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya Maka akupun menyerahkannya kepada YHWH; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada YHWH.” Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada YHWH. (1Sam 1:24-28) 

Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1,4-7; Bacaan Injil: Luk 1:46-56 

Hana sungguh melakukan pengorbanan yang tidak kecil. Bertahun-tahun lamanya dia menanggung malu diejek-ejek dan diolok-olok oleh orang-orang. Mengapa? Karena dia mandul. Yang senantiasa menyakiti hatinya adalah ejekan serta penghinaan yang diterimanya dari Penina, istri kedua dari suaminya, Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim (lihat 1Sam 1:-8). Pada suatu kali Hana bernazar, bahwa apabila dia diberkati dengan seorang anak laki-laki, maka dia akan memberikan anaknya itu kepada YHWH-Allah untuk seumur hidupnya dan pisau cukur  tidak akan menyentuh kepala anaknya itu (lihat 1Sam 1:9-18).

YHWH-Allah menjawab doanya, dan setahun kemudian Hana pun melahirkan seorang bayi laki-laki. Hana memberi nama Samuel – artinya Aku telah memintanya dari pada YHWH – kepada anak itu (lihat 1Sam 1:20). Hana menyusui anaknya sampai disapihnya. Setelah Hana menyapih anaknya, maka anak itu diberikan kepada Imam Eli agar dapat bertumbuh dewasa di dalam tempat kudus di Silo (1Sam 1:23 dsj.). Samuel bertumbuh terus sampai akhirnya menjadi salah seorang nabi terbesar dalam sejarah Israel.

Hati Hana  tergetar ketika mengalami intervensi Allah dalam hidupnya, dan dengan rasa syukur yang mendalam akan belas kasihan Allah, dia mendedikasikan Samuel kepada Allah. Kerelaan hati Hana mengesampingkan hasrat alaminya untuk membesarkan  sendiri anaknya, menempatkan Samuel dalam posisi untuk dididik dan dilatih dalam suatu karya pelayanan bagi umat Allah. Yang menarik adalah, bahwa sebagaimana Hana berketetapan hati untuk memuliakan YHWH-Allah dengan hidupnya, puteranya pun akan bertumbuh menjadi seorang yang sangat setia kepada kehendak Allah – bahkan sampai mencopot (lengser keprabon?) Raja Saul dari takhtanya dan menunjuk Daud sebagai penggantinya (lihat 1Sam 15:26 dsj.; 16:1 dsj.).

Dalam kerelaan hatinya memperkenankan Allah mencapai tujuan rencana-Nya melalui anaknya, Hana sebenarnya menjadi seorang tokoh pendahulu yang mengingatkan kita kepada Santa Perawan Maria. Seperti juga Hana yang menyanyikan puji-pujian kepada YHWH-Allah (1Sam 2:1-10), dengan penuh sukacita Maria melambungkan kidung pujian Magnificat-nya (Luk 1:46-55), sebagai kesaksian akan karunia istimewa yang diterimanya dari Allah. Seperti Hana, Maria juga tahu bahwa Puteranya ini akan didedikasikan secara total kepada Allah. Pada suatu hari kelak, Maria akan berdiri di bawah salib Puteranya dan ikut ambil bagian dalam kurban diri-Nya kepada Bapa di surga. Baik Hana maupun Maria memperkenankan Allah menuliskan rencana-rencana-Nya dalam hati mereka masing-masing. Kedua perempuan ini menyingkirkan agenda-agenda mereka sendiri, diri mereka dan diri anak-anak mereka, untuk pencapaian tujuan-tujuan Allah.

Demikian pula dengan kita! Allah juga mempunyai rencana bagi kita masing-masing. Hana dan Maria telah menunjukkan kepada kita apa artinya melayani Allah dan melakukan kehendak-Nya. Seperti kedua perempuan suci itu kita perlu siap-siaga setiap saat untuk menyingkirkan agenda-agenda kita sendiri dan memperkenankan Allah memenuhi kehendak-Nya melalui diri kita masing-masing. Dengan mengambil dua orang perempuan ini sebagai “model” kita, marilah kita mohon kepada Allah untuk menuliskan atau mengukir rencana-rencana-Nya dalam hati kita masing-masing. Marilah kita bekerja sama dengan Allah, sehingga Dia dapat mewujudkan hal-hal besar lewat diri kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kami menyerahkan hidup kami kepada-Mu. Terima kasih penuh syukur senantiasa kami haturkan kepada-Mu karena Engkau rela mati di kayu salib untuk kami semua, agar supaya kami dapat hidup kekal bersama-Mu. Tolonglah kami agar dapat mengesampingkan rencana-rencana kami sendiri dan memberikan diri kami sepenuhnya kepada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:46-56), bacalah tulisan yang berjudulJIWAKU MEMULIAKAN TUHAN, DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH JURUSELAMATKU” (bacaan tanggal 22-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 19 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TANDA-TANDA ROH KUDUS DI SEKELILING KITA

TANDA-TANDA ROH KUDUS DI SEKELILING KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 21 Desember 2017)

Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam Pujangga Gereja

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Tidak sedikit orang yang pada saat menerima hadiah Natal (atau hadiah Ulang Tahun) dari anggota keluarga mereka melakukan – mungkin secara tidak sadar – tindakan-tindakan seperti berikut ini: mula-mula menggoyang-goyangkannya sedikit, merasakan bentuk barang yang di dalamnya, mungkin dengan mencium aroma/baunya, tentunya semuanya untuk memperoleh petunjuk tentang apa kiranya barang yang di dalam bungkusan hadiah itu, hal mana juga meningkatkan antisipasi orang yang melakukannya.

Pada saat Elisabet melihat Maria, karunia-karunia anak-anak dalam rahim mereka masing-masing saling menanggapi kehadiran satu sama lain. Bayi dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan, dan Elisabet sendiri juga dipenuhi dengan Roh Kudus. Ini adalah sebuah kasus di mana tidak perlu kita menebak-nebak karunia yang dibawa oleh Maria. Dalam hatinya, Elisabet mengenali bahwa Maria sedang membawa dalam rahimnya sang Mesias sendiri.

Inilah cara bekerja Roh Kudus. Ia berjumpa dengan kita di mana kita berada dan – bilamana kita memperkenan-Nya – menarik kita ke dalam hidup ilahi untuk mana kita dilahirkan. Hati kita dapat melonjak dengan penuh sukacita pada saat kita bergerak dari titik mengetahui kebenaran-kebenaran Injil secara intelektual ke mengalaminya sendiri dalam roh kita. Orang-orang yang biasa melayani dengan penuh kasih para lansia atau anak-anak tuna netra dlsb. menyadari berkat-berkat yang mengalir ke dalam diri mereka dari tanggung jawab pelayanan yang mereka rangkul ini. Bilamana mereka berbicara tentang bagaimana kerja mereka mengajar dan memberkati mereka, kita mengetahui bahwa mereka berbicara dari pengalaman, bukan sekadar teori. Hal yang sama dapat terjadi dengan dengan kita apabila kita berupaya terus untuk mengenal Tuhan.

Dalam Perayaan Ekaristi kita dapat mengetahui dalam “kepala/pikiran” kita bahwa roti dan anggur setelah dikonsekrir oleh imam selebran menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Bukankah itu yang telah diajarkan kepada kita dalam pelajaran agama Katolik, sejak SR/SD sampai dengan SMA/SMU? Namun Allah ingin memberikan kepada kita lebih daripada sekadar suatu pengamatan eksternal dari mukjizat-Nya. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus bergerak di dalam diri kita, maka kita dapat mengalami Yesus secara pribadi dalam Komuni Kudus. Kita dapat diliputi dengan kasih berlimpah-limpah dari Allah, yang mengaruniakan Anak-Nya sendiri ke tengah dunia untuk mati dan bangkit demi keselamatan kita. Suatu pengalaman seperti ini akan menggerakkan kita untuk sujud menyembah Allah dengan segala kerendahan hati. Hal yang sama juga akan menggerakkan kita untuk mengasihi Kristus dalam diri orang-orang lain dengan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sama yang telah ditujukkan oleh-Nya kepada kita.

Roh Kudus tidak menginginkan kita sekadar menggoyang-goyangkan “hadiah” (karunia) yang kita terima dari Allah. Ia ingin kita mengalami  semua yang disediakan Allah bagi kita. Belajar mengenali gerakan-gerakan-Nya akan memenuhi diri kita dengan sukacita, seperti yang dialami oleh Elisabet. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada janji-janji Allah, maka kita pun akan melihat tanda-tanda Roh Kudus di sekeliling kita.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin mengenal Engkau lebih dalam lagi. Tolonglah aku untuk mengalami sukacita yang ingin dinyatakan oleh Roh Kudus dalam kehadiran-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “IA YANG PERCAYA ADALAH YANG BERBAHAGIA” (bacaan tanggal 21-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 19 Desember 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS