Posts from the ‘MARIA’ Category

KITA TIDAK PERNAH BOLEH KEHILANGAN PENGHARAPAN

KITA TIDAK PERNAH BOLEH KEHILANGAN PENGHARAPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Sabtu, 24 Juni 2017) 

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80) 

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26

Dalam usia mereka yang sudah tidak muda lagi, Zakharia dan Elisabet tetap sangat menginginkan untuk mempunyai seorang anak, teristimewa ketika mereka melihat keluarga-keluarga di RT mereka bertumbuh. Namun demikian, bagaimana pun dalamnya hasrat pasutri  Zakharia dan Elisabet untuk mempunyai seorang anak, keinginan Allah adalah agar iman mereka kepada-Nya menjadi lebih dalam lagi. Yohanes Pembaptis merupakan buah dari masa penantian mereka yang lama agar Tuhan memenuhi impian mereka. Hari demi hari, selagi mereka berdoa agar dianugerahi seorang anak, mereka ditantang untuk melanjutkan pengharapan mereka akan kebaikan Allah. Setiap hari, mereka menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah Allah dapat dipercaya? Apakah Dia sungguh mengasihi kita? Apakah Dia akan memperhatikan dan memenuhi segala kebutuhan kita?” Setiap kali mereka menjawab “ya” terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, maka iman mereka pun bertumbuh sedikit lebih kuat lagi.

Ketika Zakharia dibuat menjadi bisu oleh malaikat Tuhan (Luk 1:20), sesungguhnya dia memasuki suatu saat-saat berkat dari Tuhan yang intens. Allah ingin mengajar Zakharia agar nanti dia dapat mengajar anaknya tentang apa artinya menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah. Pada waktu Yohanes dilahirkan, tanggapan Zakharia merupakan kesaksian atas buah dari ketidakmampuannya berbicara selama sembilan bulan. Dipenuhi dengan Roh Kudus, Zakharia memproklamasikan kesetiaan Allah dan menubuatkan berkat-berkat besar atas diri puteranya.

Betapa pentingnya waktu ini bagi Zakharia – dan keseluruhan sejarah penyelamatan! Yohanes “ditakdirkan” untuk bertahun-tahun lamanya hidup sendiri di padang gurun, mendengarkan suara Allah dan menantikan waktu kapan dia harus muncul di depan publik dan mengumumkan kedatangan sang Mesias. Kemudian, ketika dia sedang ditahan dalam penjara oleh Herodes dan menanti-nanti nasibnya, lagi-lagi Yohanes perlu ditopang dengan segala hal yang telah dijanjikan oleh Allah. Di mana dia telah belajar kesabaran dan rasa percaya yang sedemikian, kalau bukan dari Zakharia dan Elisabet?

Kita semua mempunyai hasrat-hasrat dan pengharapan-pengharapan yang belum terpenuhi. Sebagai anak-anak terkasih Allah, kita tidak pernah boleh kehilangan pengharapan. Kita dapat menaruh kepercayaan kepada Dia yang telah memanggil kita dengan nama kita masing-masing (bdk. Yes 43:1) dan mendengar setiap doa yang datang dari hati kita (bdk. Mzm 65:3). Selagi kita menanti-nanti Tuhan, marilah kita memohon kepada-Nya agar membentuk karakter kita dan membuat kita semakin serupa dengan-Nya. Pada akhirnya, kita akan melihat bahwa rencana-Nya jauh lebih baik daripada rencana kita. Seperti yang terjadi dengan Zakharia, kita akan dimampukan untuk menyanyikan kidung yang memproklamasikan bahwa bukan karena kuat-kuasa manusiawi kita mengalami hal-hal indah dalam hidup kita, melainkan karena kuat-kuasa ilahi Allah saja yang bekerja dalam diri kita dan situasi kehidupan di mana kita berada (lihat Nyanyian Pujian Zakharia: Luk 1:67-79). Kidung Zakharia ini senantiasa kita nyanyikan dalam Ibadat Pagi, bukan?

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengetahui segalanya tentang diriku. Engkau tidak pernah berhenti berpikir tentang diriku dan mengelilingi aku dengan kasih-Mu. Engkau tahu apa yang sesungguhnya akan memenuhi diriku dan memberikan kepadaku damai-sejahtera. Jalan dan cara-Mu memang indah, ya Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “RENCANA INDAH ALLAH BAGI KITA MASING-MASING” (bacaan tanggal 24-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 21 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MARIA MEMULIAKAN TUHAN

MARIA MEMULIAKAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S.P. Maria Mengunjungi Elisabet – Rabu, 31 Mei 2017)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56) 

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18a atau Rm 12:9-16b; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

Ada tiga kidung dari Injil Lukas yang setiap hari kita doakan/daraskan/nyanyikan dalam Ibadat Harian kita, yaitu ‘Kidung Zakharia’ [Benedictus; Luk 1:68-79] untuk Ibadat Pagi, ‘Kidung Maria’ [Magnificat; Luk 1:46-55] untuk Ibadat Sore, dan ‘Kidung Simeon’ [Nunc Dimittis; Luk 2:29-32] untuk Ibadat Penutup. Dalam kesempatan ini marilah kita soroti apa yang termuat dalam ‘Kidung Maria’ itu, sebuah kidung yang dinyanyikan olehnya pada waktu mengunjungi Elisabet, saudaranya.

Kita dapat membayangkan sejenak apa kiranya yang ada dalam hati dan pikiran Maria setelah melakukan perjalanan jauh dari Nazaret, Galilea ke Ain Karem di dataran tinggi Yudea itu. Pikirkan bagaimana dia begitu bersukacita penuh syukur ketika memikirkan kebaikan Allah yang begitu luarbiasa atas dirinya. Dan, ia memang telah mempercayakan affair-nya dengan Roh Kudus sepenuhnya kepada Allah Perjanjian, teristimewa perihal pertumbuhan jabang bayi yang ada dalam rahimnya. Kidung Maria yang indah ini adalah buah dari permenungan Maria sepanjang perjalanan jauh tersebut. Elisabet meneguhkan siapa sesungguhnya Maria ketika dia digerakkan oleh Roh Kudus untuk berseru, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang ada di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:42-45). Kidung Maria menunjukkan kepada kita beberapa prinsip bagi doa-doa yang kita panjatkan.

Kidung Maria adalah sebuah ‘doa iman’, seperti Maria sendiri adalah ‘model iman’ dan juga merupakan doa bagi kita semua. Kidung Maria ini barangkali merupakan doa yang paling dipenuhi kerendahan hati, seperti termuat dalam Kitab Suci. Dalam Magnificat, Maria mengakui kebenaran tentang siapa Allah itu dan siapa dirinya di hadapan Allah. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan kepada kita bahwa “kerendahan hati adalah dasar doa” (KGK, 2559). Pasti kerendahan hati menjadi fondasi dari Kidung Maria ini, ketika dia mengakui bahwa Allah “telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya … karena yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku” (Luk 1:48,49).

Kidung Maria ini pun merupakan sebuah doa yang mencerminkan iman-kepercayaan seseorang yang sangat mendalam. Maria mempercayai apa yang akan dilakukan oleh Allah baginya. Sepanjang hidupnya Maria tetap penuh percaya pada kerahiman dan kebaikan hati Allah (lihat Luk 1:50). Dia percaya bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang rendah dalam dunia ini dan Dia akan setia pada segala janji-Nya (Luk 1:52-53.55). Kidung Maria merupakan sebuah contoh indah tentang kenyataan bahwa kita tidak perlu melakukan perbuatan-perbuatan besar di mata publik untuk menyenangkan Allah atau menguraikan secara terinci suatu isu teologis yang mendalam. Dengan mengikuti teladan Maria dalam mengasihi Allah, mempercayai Dia dan dengan rendah hati berjalan bersama-Nya, kita semua pun dapat menyenangkan Allah.

Selagi anda datang menghadap sang Mahatinggi setiap hari dalam doa pribadi, cobalah untuk mengingat contoh kerendahan hati dan iman-kepercayaan Bunda Maria. Bersama dia dan dalam kuasa Roh Kudus, kita pun akan mampu mendeklarasikan bahwa, “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya” (Luk 1:49).

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah memilih puteri-Mu Maria untuk menjadi Bunda Putera-Mu yang tunggal, Yesus. Tolonglah aku untuk senantiasa menghadap-Mu dalam kerendahan hati dan rasa percaya penuh kasih, seperti telah ditunjukkan oleh Bunda Maria. Oleh kuasa Roh-Mu, penuhilah diriku dengan iman yang mendalam sebagaimana yang dimiliki Bunda Maria. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “KERINDUAN ALLAH UNTUK MENYATAKAN DIRI DAN RENCANA-NYA” (bacaan tanggal 31-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010)

Cilandak, 28 Mei 2017 [HARI MINGGU PASKAH VII – TAHUN A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SATU ABAD FATIMA [13 MEI 1917 – 13 MEI 2017]

SATU ABAD FATIMA [13 Mei 1917 – 13 Mei 2017]

Pada hari ini Gereja memperingati penampakan Bunda Maria 100 tahun lalu, yaitu pada tahun 1917 kepada tiga orang anak desa Fatima, Portugal. Nama tiga orang anak itu adalah Lucia dos Santos, dan dua orang sepupunya: Francisco Marto dan Jacinta. Penampakannya sendiri terjadi di dekat Fatima, di dataran yang bernama Cova da Iria.

Saya masih ingat ketika masih sekolah di SR Budi Mulia, Jalan Mangga Besar di tahun 50-an, pada suatu malam banyak sekali anak-anak yang menonton film hitam putih tentang peristiwa Fatima ini di halaman terbuka Gereja Mangga Besar (S. Petrus dan Paulus) yang masih bangunan darurat – dengan menggunakan layar tancap. Sebuah film yang bagus, mengasyikkan dan sungguh membekas.

Selama penampakan-penampakannya, Bunda Maria memberi instruksi kepada anak-anak itu untuk melaksanakan prosesi guna menghormati Maria yang dikandung tanpa noda dan untuk mempromosikan doa Rosario agar sering-sering dilakukan, berdoa untuk pertobatan Rusia, dan beberapa instruksi lainnya. Pada penampakannya yang terakhir, tanggal 13 Oktober, Maria menyatakan dirinya sebagai “Ratu Rosario”: di hadapan 50.000 – 70.000 orang yang hadir, dan sebuah mukjizat yang telah dijanjikannya terjadi, yaitu suatu gejala alam yang dijuluki sebagai matahari yang berputar-putar.

Bunda Maria berjanji, bahwa jika permintaan-permintaannya diikuti, maka Rusia akan bertobat, sebuah peperangan dahsyat akan dapat dihindari, banyak jiwa akan diselamatkan, dan perdamaian dunia dapat tercapai. Francisco meninggal dunia di tahun 1919, disusul oleh Jacinta di tahun 1920. Lucia, yang belakangan masuk Ordo Karmelites, menerima penampakan yang ke tujuh kalinya pada tanggal 18 Juni 1921.

Setelah penyelidikan selama tujuh tahun, pada tahun 1930, para uskup Portugal mendeklarasikan bahwa penampakan-penampakan Bunda Maria di Fatima sebagai otentik. Persetujuan diberikan atas devosi kepada S.P. Maria dari Fatima dengan judul Ratu Rosario.

Sekarang pertanyaannya, “Mengapa Maria justru menampakkan dirinya di Fatima?” Pada awal abad ke-20, Fatima, sebuah desa kecil di negeri Portugal, praktis tidak dikenal oleh dunia. Mengapa? Karena desa itu tidak memiliki signifikansi apa pun bagi dunia luar. Bahkkan desa ini pun tidak ada dalam peta yang biasa digunakan oleh masyarakat Portugis sendiri. Fatima terletak di daerah pegunungan yang bernama Serra de Aire, sebuah desa penuh damai seakan tak tersentuh oleh dunia luar yang hiruk pikuk. Nama Fatima sendiri adalah kenangan akan masa lampau di mana bangsa Moor (Islam) masih berkuasa di negeri itu.

Pada hari ini, apa yang dikatakan di atas semuanya telah berubah. Pada hari ini Fatima tidak mengenal perbatasan. Orang-orang percaya dari seluruh dunia berlutut dan bersembah sujud di sana. Kemasyhurannya dan kemuliaannya dipublikasikan dalam hampir seluruh bahasa nasional yang ada di dunia. Mengapa hal ini sampai terjadi perubahan yang begitu besar? Karena di sana pada tahun 1917, S.P. Maria tak bernoda (Maria Imakulata), Ratu Surga, datang secara pribadi ke tempat terpencil yang miskin ini untuk berbicara dengan manusia yang murni, jiwa-jiwa pilihan, dengan kata-kata penuh afeksi, penuh simpati, memberi nasihat-nasihat dan janji, bahkan juga peringatan. Namun pada dasarnya Bunda Maria mengunjungi Fatima sebagai seorang bentara damai dan kasih.

Gereja di Fatima hanyalah sebuah gereja paroki yang kecil, dan sejak tahun 1920 berada di bawah Keuskupan Leiria yang sangat miskin, kurang lebih 75 mil sebelah utara Lisboa (ibu kota Portugal). Kalau diperhatikan dengan baik, Fatima yang berlokasi di provinsi Estremadura, berada hampir di titik pusat Portugal. Dari semua provinsi di Portugal, provinsi Estremadura menyajikan topografi yang paling luarbiasa. Landskapnya sangat tidak beraturan. Setiap aspek wilayah ini mempunyai karakteristik yang khusus, yang jelas kelihatan berpengaruh atas temperamen dan adat-kebiasaan penduduknya.

Orang yang berangkat dari Lisboa ke arah utara dapat menikmati keindahan panorama sampai ke Alcobaca. Lalu, membentanglah lembah Batalha dan Leiria yang indah. Namun, begitu orang itu memasuki jalan yang langsung menuju Fatima, pemandangan berubah secara drastis menjadi kebalikan dari yang sebelumnya. Tanahnya menjadi semakin tidak rata, lebih gersang dan pemandangan pun tak lagi penuh warna-warni. Serra da Aire mulai terlihat. Pemandangan yang suram, tanah kering dan tidak produktif. Kawanan domba dapat terlihat di sana-sini, namun tak ada banyak tetumbuhan, kecuali kelompok-kelompok tipis pohon ek dan pohon zaitun di sepanjang punggung bukit, hal mana membantu meringankan monotomi yang menekan. Di lereng gunung, di tempat tinggi di Serra, terletak desa kecil yang bernama Fatima diliputi suasana kesendirian yang mendalam, seakan tempat bagi orang-orang yang terbuang. Di dekat situ ada dataran bebatuan yang dikenal sebagai Cova da Iria. Tempat ini dikuduskan oleh kehadiran Ratu Surga dan dipilih oleh Penyelenggaraan Ilahi untuk memancarkan cinta kasih dan berkat ke segala penjuru dunia sebagai balasan terhadap devosi kepada Maria Imakulata.

Penduduk pegunungan yang di tinggal di Fatima berbicara sedikit, terasa dingin tanpa hati. Akan tetapi seluruh hidup mereka berpusat pada tiga cinta kasih yang besar: cinta kasih kepada Allah, keluarga, pekerjaan kasar (bukan pekerjaan di belakang meja). Rumah-rumah mereka kecil dan kasar dengan jendela-jendela yang rendah dan sempit/kecil. Dapur dalam rumah mereka sederhana yang tidak berisikan apa-apa kecuali sebuah meja kayu, tempat untuk menaruh peralatan masak dan perapian. Ruang keluarga dan ruang tidur juga sederhana. Di sebelah luar, tetapi masih berhubungan dengan rumah adalah tempat untuk kawanan domba, barangkali ada juga sebatang pohon ara atau pohon zaitun atau sejumah pohon ek di dekat rumah.

Kehidupan penduduk Fatima itu keras. Mereka bekerja di gunung atau di ladang dengan penghasilan minim. Pakaian mereka layaknya orang miskin, kecuali pada hari pesta di mana mereka memakai topi, jas pendek dengan bordiran, dan celana panjang ketat di pinggang namun semakin lebar ke bawah. Para perempuan bertugas mengatur rumah. Mereka menyiapkan makanan, memintal dan melakukan tugas-tugas rumah tangga dan memperhatikan dengan serius pertumbuhan fisik maupun spiritual dari anak-anak mereka.

Pekerjaan menggembalakan domba dipegang oleh anak-anak. Mereka meninggalkan rumah pagi-pagi sekali sambil membawa makanan siang mereka. Mereka tak akan kembali ke rumah sampai sore ketika lonceng memanggil mereka untuk berdoa Angelus (Malaikat Tuhan). Sedikit dari mereka yang pernah belajar membaca dan menulis. “Sekolah” mereka hanyalah terdiri dari pengetahuan elementer dan kebenaran-kebenaran menyangkut agama, dan keterampilan-keterampilan rumah tanggal yang diturunkan oleh sang ibu rumah tangga.

Hanya untuk waktu singkat di malam hari, setelah makan malam dan pekerjaan yang melelahkan sepanjang hari, semua anggota keluarga menikmati keintiman hidup berkeluarga. Mengapa? Karena mereka harus  tidur cepat agar dapat cukup beristirahat dan disegarkan kembali untuk bekerja di esok hari. Ada adat-kebiasaan umum bahwa sebelum tidur seluruh keluarga bersama-sama berdoa Rosario. Sang ayah memimpin doa dengan perlahan-lahan dan dengan sikap penuh hormat, sementara sang ibu dan anak menanggapi dengan semangat penuh pengabdian yang sama. Doa Rosaria disusul dengan doa-doa memohon berkat Allah atas keluarga. Akhirnya didoakan “De Profundis” (Mzm 130). Kehidupan seperti ini, devosi yang bersifat konstan seperti ini, kemurnian dan kesederhanaan hidup inilah yang kiranya menarik ke bawah afeksi dari Maria, Ratu Rosario dari atas sana.

Bagian dari bumi yang kecil ini, bagian dari Portugal yang tidak signifikan ini, dipisahkan dan dipilih oleh Hikmat ilahi yang tak mungkin kita mengerti berdasarkan akal budi semata, seperti Israel di masa lampau, guna membantu – sebagai sebuah instrumen yang kuat – untuk melanjutkan penebusan Allah dan pengudusan-Nya atas dunia melalui Maria, ibunda-Nya, yang dikandung tanpa noda dosa.

Kardinal Emanuel Goncalves Cerejeira, Patriarkh dari Lisboa pada tahun 1931 mengatakan: “Ratu Surga turun ke tanah yang adalah miliknya sejak awal, suatu negeri yang dikonsekrasikan kepadanya dengan kelahiran bangsa dan dinamakan Terra de Santa Maria, tanah dari Santa Maria.” Bunda Allah bersedia menampakkan dirinya dengan kelemahlembutan yang luarbiasa kepada umat yang cinta pada tugas mereka ini. Bunda Maria berhasrat untuk menempatkan orang-orang seperti itu ke bawah perlindungannya yang penuh kuat-kuasa. Bunda Maria memang senantiasa dekat dengan orang-orang yang tidak pernah lelah menghormatinya dalam doa Rosario yang indah itu.

Bunda Maria berketetapan hati untuk mendirikan takhtanya di Fatima, di dalam teritori yang telah menjadi miliknya sejak berabad-abad. Dari takhta penuh kemuliaan tersebut ia ingin mengirimkan sebuah pesan universal: bahwa tidak hanya Portugal, melainkan semua bangsa harus didekasikan kepadanya; bahwa dia akan mendengarkan seruan-seruan dari dunia yang bertobat dan sudah lelah dengan keributan dan memberikan perdamaian bagi bangsa-bangsa yang saling berperang – suatu perdamaian besar dan tahan lama setelah penghukuman dijatuhkan atas orang karena kekerasan hatinya.

Akan tetapi Bunda Maria juga mengingatkan akan bencana-bencana lebih besar yang  akan menimpa dunia apabila umat manusia terus saja sibuk dengan sensualitas yang semakin merosot, dan juga “nasib” buruk dari para pendosa yang pantas diadili oleh sang Hakim kekal.

Akhirnya, Bunda Maria datang untuk memberitahukan dunia bahwa hatinya yang penuh cintakasih dan tak bernoda senantiasa merupakan tempat perlindungan yang aman bagi jiwa-jiwa yang tersobek-sobek oleh goncangan-goncangan dan kesedihan, dan bahwa dia tidak pernah tidak akan menolong orang-orang yang mencari pertolongannya dengan memanggilnya sebagai “Santa Perawan dari Fatima”, “Hati Maria yang tak bernoda”, dan “Ratu Rosario.”

Sumber: (1) Alphonse M. Cappa, S.S.P, (terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh William H. Lyden), “FATIMA – Cove of Wonders”, Boston, Ma.: St. Paul Editions, 1979, hal. 18-23; (2) Matthew Bunson (Illustrated by Margaret Bunson; foreword by: Archbishop Oscar H. Lipscomb), “Our Sunday Visitor’s Encyclopedia of Catholic History”, Huntington, Indiana: Ou Sunday Visitor, Inc., 1955, hal. 312-313.

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2016 yang berjudul “FATIMA” dengan beberapa perubahan kecil.)

Jakarta, 13 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

SALAM KEPADA SANTA PERAWAN MARIA

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, 

Untuk menyambut BULAN MARIA – MEI 2017, marilah kita berdoa bersama S. Fransiskus dari Assisi: 

SALAM KEPADA SANTA PERAWAN MARIA 

Salam, Tuan Puteri, Ratu Suci,

Santa Bunda Allah, Maria;

Engkau adalah perawan yang dijadikan Gereja,

dipilih oleh Bapa Yang Mahakudus di surga, dan

dikuduskan oleh Dia

bersama dengan Putera terkasih-Nya Yang Mahakudus

serta Roh Kudus Penghibur.

Dalam dirimu dahulu dan sekarang

Ada segala kepenuhan rahmat dan segalanya yang baik.

Salam, istana-Nya;

salam, kemah-Nya;

salam, rumah-Nya.

Salam, pakaian-Nya;

salam, hamba-Nya;

salam, bunda-Nya,

serta kamu semua, keutamaan yang suci,

yang oleh rahmat dan penerangan Roh Kudus

dicurahkan ke dalam hati kaum beriman,

untuk membuat mereka yang tidak setia

menjadi setia kepada Allah. 

Catatan: 

  1. Ungkapan “perawan yang dijadikan Gereja” adalah ungkapan yang berakar dalam teologi patristik dan awal abad pertengahan, arus tradisi yang mempengaruhi Fransiskus. Sesudahnya, ungkapan ini jarang dipakai, dan lebih dikenal sebutan “perawan selamanya” (virgo perpetua). Sebutan tentang Maria sebagai “perawan yang dijadikan Gereja” (= virgo ecclesia facta) harus diartikan dalam hubungan dengan ayat berikutnya. 
  1. Maria pastilah orang pertama yang dikuduskan menjadi Gereja oleh Tiga Pribadi Ilahi. Hal itu digarisbawahi oleh ungkapan-ungkapan yang menyusul: istana-Nya, kemah-Nya, rumah-Nya. 
  1. Keutaman-keutamaan diberi salam bersama Maria karena itulah anugerah Roh Kudus yang menghiasi Maria, sehingga menjadi tempat kediaman Allah Tritunggal karena iman dan kesetiaan-Nya. Juga orang beriman dicurahi keutamaan yang sama, agar mereka percaya dan setia kepada Allah seperti Maria, dan dengan demikian juga dalam 1SurBerim 1:10 dan 13; 2 SurBerim 48,53,56. 

(Sumber: KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI, hal. 284-285.)

Cilandak, 1 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT GABRIEL

MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT GABRIEL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Raya Kabar Sukacita – Sabtu, 25 Maret 2017) 

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)  

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14;8:10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10 

“Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan, bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu”, demikianlah bunyi sebagian dari doa Malaikat Tuhan (Angelus), yang kita doakan tiga kali setiap hari di luar masa Paskah (lihat Puji Syukur # 15).

Sekarang marilah kita membayangkan apa yang kiranya terjadi dengan seorang gadis desa berusia 14/16 tahun yang bernama Maria itu sekitar 2.000 tahun lalu: Malaikat Gabriel mengunjungi Maria dan memberi kabar kepada gadis itu bahwa dia telah dipilih untuk mengandung dan melahirkan Putera Allah. Tanggapan Maria atas pemberitahuan malaikat tersebut adalah: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Ini adalah tanggapan dari seorang pribadi manusia yang senantiasa siap sedia untuk dipakai Allah. Sikap dan perilaku yang patut kita contoh.

Sejak Maria mengatakan “ECCE ANCILLA DOMINI FIAT MIHI SECUNDUM VERBUM TUUM” (ini versi Latin dalam Vulgata) ini, semua ciptaan tidak akan pernah sama lagi. Pada saat yang sangat penting dalam sejarah penyelamatan umat manusia itu, Allah yang Mahakuasa menyatakan kedalaman kasih-Nya: Putera-Nya merendahkan diri-Nya, menjadi sama dengan manusia. Putera-Nya taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:7-8). Santo Athanasios Agung (296-373), Uskup dan salah satu dari empat orang Pujangga Gereja Timur, pembela iman yang benar, menulis: “Daripada makhluk ciptaan-Nya hancur-hilang dan karya Bapa bagi kita menjadi sia-sia, Dia mengambil bagi diri-Nya sesosok tubuh manusia seperti kita” (diambil dari tulisannya tentang Inkarnasi).

Yesus berhasrat untuk mengambil kemanusiaan kita bagi diri-Nya agar oleh kematian dan kebangkitan tubuh-Nya, Dia dapat memberikan hidup-Nya sendiri kepada kita. Yesus turut ambil bagian sepenuhnya dalam setiap aspek kemanusiaan kita. Dengan demikian Ia dapat menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya menjalani hidup dalam dunia ini. Sebagai imam besar agung yang penuh belas kasih, yang ‘ditakdirkan’ untuk memikul segala dosa manusia, Yesus menjalani kehidupan manusia sepenuh-penuhnya seperti halnya kita. Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa (Ibr 4:15). Yesus hidup dalam dunia ini yang sudah dirusak oleh dosa. Oleh karena itu Dia mampu untuk menghibur kita dan mengangkat hati kita kepada Bapa surgawi.

Apakah anda pernah mengalami kehilangan orangtua atau orang yang sangat anda kasihi karena kematian? Sebagai manusia Yesus pun telah mengalami kematian “ayah angkat-Nya” Yusuf. Apakah anda mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah relasi tertentu? Sebagai manusia Yesus pun harus belajar bagaimana mengasihi setiap jenis pribadi manusia. Apakah anda merasa terluka pada waktu orang-orang yang dekat padamu justru tidak memahami anda? Sebagai manusia Yesus pun terus menghormati ibu-Nya, bahkan pada saat Maria sang ibu tidak dapat memahami misi-Nya (lihat Luk 2:48-51). Tuhan Yesus mendampingi kita masing-masing dalam setiap situasi, memberikan kepada kita rahmat dan memperkuat kita dengan cintakasih-Nya. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk selalu berada di sisi kita setiap saat. Baiklah kita menerima segala berkat yang tersedia bagi kita melalui keikutsertaan-Nya yang penuh kedinaan dalam kemanusiaan kita.

DOA: Aku mengasihi-Mu, Yesus, Tuhan dan Juruselamatku! Perendahan dan kedinaan-Mu untuk  ikut-serta dalam kemanusiaan sungguh tak mampu tertangkap akal budiku. Terima kasih karena Engkau telah mengambil bagian dalam hidup kemanusiaanku. Terima kasih karena Engkau selalu bersamaku dalam setiap situasi. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “KABAR SUKACITA” (bacaan tangggal 25-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 22 Maret 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dari Sales, Uskup & Pujangga Gereja – Selasa, 24 Januari 2017)

Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 

yesus-mengajar-1000Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.”  Jawab Yesus kepada mereka, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”  Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.”  (Mrk 3:31-35)

Bacaan Pertama: Ibr 10:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-8,10-11 

Apa kiranya yang sampai menyebabkan sanak keluarga Yesus “datang untuk mengambil Dia” dan mengatakan bahwa “Ia tidak waras lagi” (Mrk 3:21)? Agar supaya kita dapat memahami dengan lebih jernih apa yang kiranya ada dalam pikiran sanak saudara-Nya, marilah kita membayangkan diri kita sebagai salah seorang saudara sepupu Yesus. Kita telah melihat terjadinya suatu perubahan signifikan dalam hidup Yesus, ketika pada waktu berusia 30 tahun, Ia menerima pembaptisan tobat dari Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan dan setelah itu menjalani puasa selama 40 hari di padang gurun.

Kemudian, ketika kembali dari padang gurun, Yesus mulai mempermaklumkan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan Ia menyerukan kepada orang-orang untuk bertobat dan percaya kepada Injil. Ia mulai mengumpulkan sekelompok murid-murid di sekeliling-Nya, selagi Dia berkeliling mengusir roh-roh jahat, mengajar dengan penuh wibawa dan kuasa, menyembuhkan orang-orang sakit dan mengatakan kepada orang-orang bahwa dosa-dosa mereka telah diampuni. Ia banyak “membuang” waktu dengan para pendosa dan pemungut cukai. Banyak orang mulai mengikuti Dia. Orang-orang sakit berdesak-desakan untuk mendekati Dia. Dan, orang-orang yang dirasuki roh jahat berteriak dan sujud menyembah Dia. Kerap terjadi, saking sibuknya Dia sampai tak mempunyai waktu untuk makan.

Dari sini kita dapat sedikit memahami mengapa sanak keluarga Yesus menjadi prihatin perihal kesejahteraan-Nya dan dengan demikian berusaha untuk mengambil Dia dan membawa-Nya pulang. Bagaimana pun juga, mereka tidak tahu secara penuh siapa Yesus ini dan misi apa yang diemban-Nya. Bahkan Maria sendiri, betapa pun kudusnya dia, harus mengalami proses pertumbuhan dalam pemahamannya akan kata-kata malaikat kepada Yusuf, bahwa anaknya “akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka”  (Mat 1:21).

Pada waktu sanak keluarga-Nya datang untuk menemui Yesus, Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mrk 3:34-35). Apa yang terdengar sebagai omelan, sesungguhnya adalah sebuah undangan bagi siapa saja untuk menjadi bagian dari keluarga Yesus – untuk menjadi sedekat mungkin dengan-Nya, seperti ibu-Nya dekat dengan-Nya. Betapa membahagiakan hati  untuk mengetahui bahwa kita semua dapat bertumbuh semakin mendalam dalam pemahaman kita akan Yesus dan dalam kemampuan kita untuk mentaati sabda-Nya. Ini adalah alasan utama mengapa Yesus telah memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya – yakni untuk mengajar kita dan memberdayakan kita.

a3045735eb67c4ee5c97c4b5c0c8a7ecBapak Serafik kita, Santo Fransiskus dari Assisi, dalam “Surat Pertama kepada Kaum Beriman”, menulis: O betapa bahagia dan terberkatilah mereka itu, pria maupun wanita, apabila hal-hal itu [1] mereka lakukan dengan tekun; karena Roh Tuhan akan tinggal pada mereka dan Tuhan akan memasang tempat tinggal dan kediaman-Nya pada mereka; maka mereka menjadi anak-anak Bapa Surgawi yang karya-Nya mereka laksanakan; dan menjadi mempelai, saudara dan ibu Tuhan kita Yesus Kristus. Kita menjadi mempelai bila jiwa yang setia disatukan dengan Tuhan kita Yesus Kristus oleh Roh Kudus. Kita menjadi saudara bagi-Nya bila kita melaksanakan kehendak Bapa yang ada di surga. Kita menjadi ibu bila kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih ilahi dan karena suara hati yang murni dan jernih. Kita melahirkan Dia melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain sebagai contoh” (1SurBerim 5-10).

[1] 1. mencintai Tuhan; 2. mencintai sesama; 3.membenci tubuh dengan cacat-cela dan dosa-dosanya; 4. menyambut tubuh dan darah Tuhan Yesus Kristus; 5. menghasilkan buah-buah pertobatan yang pantas (1SurBerim 1-4).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepada kami iman yang hidup dalam Putera-Mu, Yesus Kristus. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah iman-kepercayaan kami menjadi lebih mendalam lagi. Ajarlah kami lebih banyak lagi mengenai Yesus sehingga kami dapat mengasihi-Nya dengan lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “MENERIMA SEMUA UMAT ALLAH KE DALAM  HATI KITA” (bacaan tanggaal 24-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 21 Januari 2017 [Hari Keempat Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TANDA-NYA YANG PERTAMA

TANDA-NYA YANG PERTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Sabtu, 7 Januari 2017) 

cana2

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya, “Mereka kehabisan anggur.”  Kata Yesus kepadanya, “Mau apakah engkau dari Aku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya kira-kira seratus liter. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu, “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Mereka pun mengisinya sampai penuh. Sesudah itu, kata Yesus kepada mereka, “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mencicipi air yang telah menjadi anggur itu – dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya – ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya, “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dilakukan Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. (Yoh 2:1-11)

Bacaan pertama: 1Yoh 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6.9 

“Tanda pertama” dari Yesus ini mengawali karya-Nya. Ini adalah suatu tanda masuknya kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaan dan kehadiran Allah di dunia dalam diri Putera-Nya, Yesus. Apa yang dinyatakan Yesus di Kana tidak sekadar menunjuk pada pesta perkawinan itu, akan tetapi menunjuk pada karya yang akan dimulai dan dicapai Allah melalui Yesus, dalam kematian, kebangkitan sampai kedatangan-Nya kembali nanti apabila semua sudah dilengkapi.

Yesaya 62 memberikan konteks bagi pandangan yang lebih luas perihal mukjizat di Kana ini.  Yesaya mengharapkan akan kedatangan masa Mesias, di mana perjanjian antara Allah dan umat-Nya akan dirayakan sebagai suatu perkawinan. Umat Allah, mempelai-Nya tidak lagi akan disia-siakan atau menderita kesusahan karena efek dosa, tetapi akan berkenan kepada Allah karena efek penyelamatan. Kebaharuan ini dirayakan sebagai suatu pesta perkawinan, di mana pengantin perempuan disiapkan untuk menyambut pengantin laki-laki dan sukacita merekapun akan dirasakan oleh semua orang.

Perjamuan mesianis, di mana semua hal akan dipenuhi dalam Kristus dan umat Allah yang setia akan berpartisipasi dalam kepenuhannya, seringkali digambarkan sebagai suatu pesta perkawinan. Kita mulai ikut ambil bagian dalam perjamuan ini (yang dibuka resmi dengan inkarnasi, kematian dan kebangkitan Yesus) bahkan sekarang juga, tetapi hanya akan tahu kepenuhannya pada saat Yesus mengumpulkan semua orang bersama-sama pada kedatangan-Nya untuk kedua kalinya kelak. Kepenuhan ini digambarkan dalam Kitab Wahyu, di mana pada perkawinan Anak Domba, Yerusalem baru diibaratkan sebagai mempelai perempuan yang diserahkan kepada suaminya (Why 19:7; 21:2).

Yesus menyatakan kemuliaan Allah melalui mukjizat di Kana karena hal itu menunjuk kepada Perjanjian Baru di mana Allah – melalui Yesus – akan mengerjakan sesuatu hal baru yang indah sekali. Yesus menggunakan tempayan-tempayan air yang biasa dipakai orang Yahudi untuk upacara pembersihan (suatu tanda Perjanjian Lama) dan mengubahnya menjadi bejana-bejana “anggur terbaik” (suatu tanda Perjanjian Baru). Mukjizat ini, yang dilakukan Yesus “pada hari ketiga” (Yoh 2:1), menunjuk pada transformasi yang akan terjadi ketika saat-Nya memuliakan Allah telah tiba.

Sebagai orang-orang yang telah diperkenankan ikut ambil bagian dalam hidup baru lewat pembaptisan, marilah kita terus mengusahakan perubahan batiniah yang membawa kita ke dalam hidup Allah.

DOA: Allah Yang Mahamurah, bentuklah kami selalu menjadi murid-urid Kristus yang baik, sehingga pada hari kedatangan-Nya kembali kelak, kami Gereja-Mu diperkenankan untuk ikut ambil bagian dalam pesta surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 5:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “JANJI LUARBIASA KEPADA MEREKA YANG PERCAYA KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 7-1-17) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 5 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS