Posts from the ‘MARIA’ Category

MARIA: BUNDA ALLAH DAN BUNDA KITA SEMUA

MARIA: BUNDA ALLAH DAN BUNDA KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa pada Hari Raya SP Maria Bunda Allah, Oktaf Natal – Senin, 1 Januari 2018)

HARI PERDAMAIAN SEDUNIA

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Ketika melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkataan itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Kemudian kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Luk 2:16-21) 

Bacaan Pertama: Bil 6:22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5-6,8; Bacaan Kedua: Gal 4:4-7

Selagi masa Natal berjalan dari hari demi hari, Roh Kudus terus mengundang kita untuk merenungkan peristiwa-peristiwa di sekitar kelahiran Yesus. Pesta yang dirayakan Gereja hari ini secara khusus penting karena memusatkan perhatian kita pada kenyataan bahwa Maria mengandung Putera Allah dalam rahimnya. Sejak saat dikandung, Yesus dari Nazaret – dalam pribadi-Nya – memegang segala kepenuhan kasih Allah, rahmat-Nya dan kuasa-Nya.

Tidak lama setelah melahirkan Yesus, para gembala berdatangan ke tempat di mana Yesus, Maria dan Yusuf berada. Mereka memberikan sebuah laporan (secara lisan tentunya) tentang malaikat yang mengumumkan kelahiran Mesias. Maria mendengarkan dengan penuh perhatian segala yang dikatakan para gembala itu. Bagi dirinya semua ini adalah sebuah misteri tentunya: segala perkataan itu  disimpan Maria di dalam hatinya dan direnungkannya (lihat Luk 2:19). Maria tidak rewel tentang bahaya-bahaya yang akan dihadapi oleh keluarga kecilnya. Dia juga tidak merasa cemas tentang apa yang kiranya akan terjadi di masa depan, atau menyesali apa yang seharusnya terjadi di masa lampau seandainya dia dan Yusuf tidak diminta memelihara Putera Allah. Sebaliknya, Maria dengan penuh perhatian mengamati segala cara kerja Allah sementara dia mengandung, melahirkan Yesus dan membesarkan-Nya. Maria tidak membiarkan firman dan tindakan Allah menjadi sekadar sekumpulan kenangan yang secara perlahan akan hilang; dia menyimpan semua itu tetap hidup dalam hatinya.

Demikian pula, Allah tidak ingin kebenaran-kebenaran-Nya menghilang dari pikiran kita. Allah menginginkan agar kita meniru Maria dengan memegang janji-janji-Nya dalam hati kita masing-masing sepanjang tahun. Sesungguhnya Allah memberikan tahun baru ini sebagai suatu kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam pengenalan kita akan kasih-Nya. Tentu saja Maria tidak hanya mempunyai kenangan akan peristiwa-peristiwa di masa lalu. Yesus selalu berada bersama Yesus, hari demi hari. Sekarang, lewat kuasa Roh Kudus kita pun dapat mengalami kehadiran Yesus dari hari ke hari. Ini adalah bagian dari janji Injil: Semakin banyak kita merenungkan dalam suasana doa siapa Yesus itu dan apa yang telah dilakukan-Nya, semakin dekat pula Dia menarik kita kepada diri-Nya.

Dalam tahun baru ini, marilah kita membangun niat dalam resolusi khusus, yaitu untuk menyisihkan waktu yang lebih banyak lagi setiap hari untuk kegiatan doa dan pembacaan/renungan Kitab Suci. Selagi anda berupaya dengan serius, anda pun akan mengalami bahwa firman Yesus menjadi firman hidup yang bekerja dalam dirimu dan mentransformasikan dirimu menjadi lebih serupa lagi dengan diri-Nya. Perkenankanlah hal itu terjadi. Biarlah tahun 2018 ini menjadi tahun bagi anda untuk merenungkan Yesus, sang Putera Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah diriku agar aku dapat memusatkan perhatianku pada Tuhan Yesus Kristus pada tahun 2018 ini. Jadikanlah sang Imanuel hidup dalam hatiku sementara aku menyimpan firman-Nya dalam hati, merenungkannya dan mewujudkannya dalam hidupku sehari-hari, walaupun di tengah hingar-bingar politik dalam masyarakat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA ADALAH THEOTOKOS” (bacaan tanggal 1-1-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010)

Cilandak, 29 Desember 2017 (Peringatan S. Thomas Becket, Uskup-Martir) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

HANA DAN MARIA

HANA DAN MARIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 22 Desember 2017)

 

Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia, dengan seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN (YHWH) di Silo. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu. Setelah mereka menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli; lalu kata perempuan itu: “Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada YHWH. Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan YHWH telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya Maka akupun menyerahkannya kepada YHWH; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada YHWH.” Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada YHWH. (1Sam 1:24-28) 

Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1,4-7; Bacaan Injil: Luk 1:46-56 

Hana sungguh melakukan pengorbanan yang tidak kecil. Bertahun-tahun lamanya dia menanggung malu diejek-ejek dan diolok-olok oleh orang-orang. Mengapa? Karena dia mandul. Yang senantiasa menyakiti hatinya adalah ejekan serta penghinaan yang diterimanya dari Penina, istri kedua dari suaminya, Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim (lihat 1Sam 1:-8). Pada suatu kali Hana bernazar, bahwa apabila dia diberkati dengan seorang anak laki-laki, maka dia akan memberikan anaknya itu kepada YHWH-Allah untuk seumur hidupnya dan pisau cukur  tidak akan menyentuh kepala anaknya itu (lihat 1Sam 1:9-18).

YHWH-Allah menjawab doanya, dan setahun kemudian Hana pun melahirkan seorang bayi laki-laki. Hana memberi nama Samuel – artinya Aku telah memintanya dari pada YHWH – kepada anak itu (lihat 1Sam 1:20). Hana menyusui anaknya sampai disapihnya. Setelah Hana menyapih anaknya, maka anak itu diberikan kepada Imam Eli agar dapat bertumbuh dewasa di dalam tempat kudus di Silo (1Sam 1:23 dsj.). Samuel bertumbuh terus sampai akhirnya menjadi salah seorang nabi terbesar dalam sejarah Israel.

Hati Hana  tergetar ketika mengalami intervensi Allah dalam hidupnya, dan dengan rasa syukur yang mendalam akan belas kasihan Allah, dia mendedikasikan Samuel kepada Allah. Kerelaan hati Hana mengesampingkan hasrat alaminya untuk membesarkan  sendiri anaknya, menempatkan Samuel dalam posisi untuk dididik dan dilatih dalam suatu karya pelayanan bagi umat Allah. Yang menarik adalah, bahwa sebagaimana Hana berketetapan hati untuk memuliakan YHWH-Allah dengan hidupnya, puteranya pun akan bertumbuh menjadi seorang yang sangat setia kepada kehendak Allah – bahkan sampai mencopot (lengser keprabon?) Raja Saul dari takhtanya dan menunjuk Daud sebagai penggantinya (lihat 1Sam 15:26 dsj.; 16:1 dsj.).

Dalam kerelaan hatinya memperkenankan Allah mencapai tujuan rencana-Nya melalui anaknya, Hana sebenarnya menjadi seorang tokoh pendahulu yang mengingatkan kita kepada Santa Perawan Maria. Seperti juga Hana yang menyanyikan puji-pujian kepada YHWH-Allah (1Sam 2:1-10), dengan penuh sukacita Maria melambungkan kidung pujian Magnificat-nya (Luk 1:46-55), sebagai kesaksian akan karunia istimewa yang diterimanya dari Allah. Seperti Hana, Maria juga tahu bahwa Puteranya ini akan didedikasikan secara total kepada Allah. Pada suatu hari kelak, Maria akan berdiri di bawah salib Puteranya dan ikut ambil bagian dalam kurban diri-Nya kepada Bapa di surga. Baik Hana maupun Maria memperkenankan Allah menuliskan rencana-rencana-Nya dalam hati mereka masing-masing. Kedua perempuan ini menyingkirkan agenda-agenda mereka sendiri, diri mereka dan diri anak-anak mereka, untuk pencapaian tujuan-tujuan Allah.

Demikian pula dengan kita! Allah juga mempunyai rencana bagi kita masing-masing. Hana dan Maria telah menunjukkan kepada kita apa artinya melayani Allah dan melakukan kehendak-Nya. Seperti kedua perempuan suci itu kita perlu siap-siaga setiap saat untuk menyingkirkan agenda-agenda kita sendiri dan memperkenankan Allah memenuhi kehendak-Nya melalui diri kita masing-masing. Dengan mengambil dua orang perempuan ini sebagai “model” kita, marilah kita mohon kepada Allah untuk menuliskan atau mengukir rencana-rencana-Nya dalam hati kita masing-masing. Marilah kita bekerja sama dengan Allah, sehingga Dia dapat mewujudkan hal-hal besar lewat diri kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kami menyerahkan hidup kami kepada-Mu. Terima kasih penuh syukur senantiasa kami haturkan kepada-Mu karena Engkau rela mati di kayu salib untuk kami semua, agar supaya kami dapat hidup kekal bersama-Mu. Tolonglah kami agar dapat mengesampingkan rencana-rencana kami sendiri dan memberikan diri kami sepenuhnya kepada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:46-56), bacalah tulisan yang berjudulJIWAKU MEMULIAKAN TUHAN, DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH JURUSELAMATKU” (bacaan tanggal 22-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 19 Desember 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TANDA-TANDA ROH KUDUS DI SEKELILING KITA

TANDA-TANDA ROH KUDUS DI SEKELILING KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 21 Desember 2017)

Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam Pujangga Gereja

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Tidak sedikit orang yang pada saat menerima hadiah Natal (atau hadiah Ulang Tahun) dari anggota keluarga mereka melakukan – mungkin secara tidak sadar – tindakan-tindakan seperti berikut ini: mula-mula menggoyang-goyangkannya sedikit, merasakan bentuk barang yang di dalamnya, mungkin dengan mencium aroma/baunya, tentunya semuanya untuk memperoleh petunjuk tentang apa kiranya barang yang di dalam bungkusan hadiah itu, hal mana juga meningkatkan antisipasi orang yang melakukannya.

Pada saat Elisabet melihat Maria, karunia-karunia anak-anak dalam rahim mereka masing-masing saling menanggapi kehadiran satu sama lain. Bayi dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan, dan Elisabet sendiri juga dipenuhi dengan Roh Kudus. Ini adalah sebuah kasus di mana tidak perlu kita menebak-nebak karunia yang dibawa oleh Maria. Dalam hatinya, Elisabet mengenali bahwa Maria sedang membawa dalam rahimnya sang Mesias sendiri.

Inilah cara bekerja Roh Kudus. Ia berjumpa dengan kita di mana kita berada dan – bilamana kita memperkenan-Nya – menarik kita ke dalam hidup ilahi untuk mana kita dilahirkan. Hati kita dapat melonjak dengan penuh sukacita pada saat kita bergerak dari titik mengetahui kebenaran-kebenaran Injil secara intelektual ke mengalaminya sendiri dalam roh kita. Orang-orang yang biasa melayani dengan penuh kasih para lansia atau anak-anak tuna netra dlsb. menyadari berkat-berkat yang mengalir ke dalam diri mereka dari tanggung jawab pelayanan yang mereka rangkul ini. Bilamana mereka berbicara tentang bagaimana kerja mereka mengajar dan memberkati mereka, kita mengetahui bahwa mereka berbicara dari pengalaman, bukan sekadar teori. Hal yang sama dapat terjadi dengan dengan kita apabila kita berupaya terus untuk mengenal Tuhan.

Dalam Perayaan Ekaristi kita dapat mengetahui dalam “kepala/pikiran” kita bahwa roti dan anggur setelah dikonsekrir oleh imam selebran menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Bukankah itu yang telah diajarkan kepada kita dalam pelajaran agama Katolik, sejak SR/SD sampai dengan SMA/SMU? Namun Allah ingin memberikan kepada kita lebih daripada sekadar suatu pengamatan eksternal dari mukjizat-Nya. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus bergerak di dalam diri kita, maka kita dapat mengalami Yesus secara pribadi dalam Komuni Kudus. Kita dapat diliputi dengan kasih berlimpah-limpah dari Allah, yang mengaruniakan Anak-Nya sendiri ke tengah dunia untuk mati dan bangkit demi keselamatan kita. Suatu pengalaman seperti ini akan menggerakkan kita untuk sujud menyembah Allah dengan segala kerendahan hati. Hal yang sama juga akan menggerakkan kita untuk mengasihi Kristus dalam diri orang-orang lain dengan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sama yang telah ditujukkan oleh-Nya kepada kita.

Roh Kudus tidak menginginkan kita sekadar menggoyang-goyangkan “hadiah” (karunia) yang kita terima dari Allah. Ia ingin kita mengalami  semua yang disediakan Allah bagi kita. Belajar mengenali gerakan-gerakan-Nya akan memenuhi diri kita dengan sukacita, seperti yang dialami oleh Elisabet. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada janji-janji Allah, maka kita pun akan melihat tanda-tanda Roh Kudus di sekeliling kita.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin mengenal Engkau lebih dalam lagi. Tolonglah aku untuk mengalami sukacita yang ingin dinyatakan oleh Roh Kudus dalam kehadiran-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “IA YANG PERCAYA ADALAH YANG BERBAHAGIA” (bacaan tanggal 21-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 19 Desember 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ENGKAU BEROLEH ANUGERAH DI HADAPAN ALLAH

ENGKAU BEROLEH ANUGERAH DI HADAPAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Rabu, 20 Desember 2017)

 

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia (Luk 1:26-38). 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Jauh sebelum kelahiran Yesus di Betlehem, nabi Yesaya sudah mengucapkan kata-kata ini kepada Ahas, raja Yehuda: “Tuhan sendiri lah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda. Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan mealhirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14). Walaupun nubuatan ini dapat diterapkan pada situasi yang sedang dihadapi pada waktu itu, makna yang lebih luas dan mendalam akan datang pada waktunya kelak. Allah yang Mahakuasa pada waktu itu sedang menyiapkan peristiwa-peristiwa yang luarbiasa – bahkan terasa tidak mungkin dari sudut pemikiran manusia semata – untuk menghantar orang ke dalam zaman penyelamatan/keselamatan yang sudah lama dinanti-nantikan.

Pada waktu malaikat Gabriel memberi kabar kepada Maria, umur gadis Nazaret ini masih sangat muda. Bahkan ada para ahli yang memperkirakan  bahwa umur Maria pada waktu itu tidak lebih dari 13 tahun. Tidak ada bukti sedikitpun yang menunjukkan bahwa Maria pernah mengalami suatu perjumpaan ilahi sebelum peristiwa tersebut. Dengan demikian, bukanlah main-main apabila orang mengatakan bahwa peristiwa pemberitahuan yang diawali oleh sapaan sang malaikat “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28), sungguh mengagetkan gadis kecil dari Nazaret itu. Mungkin dalam hatinya, dia bertanya: “Siapakah makhluk yang misterius ini? Apa yang diinginkannya dari diriku? Mengapa hal ini terjadi justru dengan diriku? Dst.”

“Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah dihadapan Allah” (Luk 1:30); inilah ucapan malaikat Gabriel untuk menenangkan serta meyakinkan Maria. Sementara malaikat Gabriel mengungkapkan rencana Allah yang luarbiasa, Maria tentunya diliputi rasa terpesona bercampur kebingungan. Putera dari Allah yang Mahakuasa akan menjadi manusia/daging dalam dirinya? Mendengar tentang rencana Allah dan keterlibatan dirinya dalam perkara yang sangat besar dan agung ini, Maria hanya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana: “Bagaimana hal itu mungkin akan terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk 1:34). Maksudnya kira-kira begini: Bagaimana akan mencapai apa yang direncanakan-Nya, yang secara manusiawi tak mungkin? Malaikat Gabriel memberi sedikit sekali hal-hal yang spesifik, namun Maria puas dengan jaminan sang malaikat, bahwa segalanya berlangsung seturut kehendak Allah dan oleh kuasa-Nya. Maria berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).

Jawaban apakah yang akan kita berikan seandainya Allah berbicara kepada kita pada hari ini? Apakah kita siap untuk menerima sabda-Nya dengan kesederhanaan dan rasa percaya sebagaimana yang  telah ditunjukkan oleh Maria? Apakah kita sadar – seperti halnya Maria – bahwa Allah sepenuhnya mampu memberdayakan kita untuk memenuhi  kehendak-Nya bagi hidup kita? Tentu kita bukanlah dipanggil untuk melahirkan bayi Yesus seperti halnya Maria, namun kita ditugaskan untuk membawa Dia ke tengah-tengah dunia dengan cara-cara yang lain. Nah, selagi kita mengatakan “ya” kepada rencana-rencana Allah serta hasrat-hasrat-Nya bagi kita, dan berupaya mewujudkannya oleh kuasa Roh Kudus, maka kita akan menunjukkan kehadiran-berkesinambungan dari Allah yang Mahakuasa; bagi-Nya memang tidak ada yang mustahil.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk rencana penyelamatan-Mu yang indah dan sangat mengagumkan. Biarlah Roh Kudus-Mu menolong kami agar dapat berpartisipasi dalam rencana-Mu ini selagi kami meniru keterbukaan penuh kerendahan hati dari Ibunda Yesus, Bunda Maria.  Biarlah Roh Kudus-Mu memberdayakan kami juga untuk dapat mengatakan: “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berdjul “CERITA TENTANG SEORANG PEREMPUAN YAHUDI PILIHAN ALLAH” (bacaan tanggal 20-12-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 17 Desember 2017 [HARI MINGGU ADVEN III – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HAWA YANG BARU

HAWA YANG BARU

(Bacaan Pertama Misa, HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA – Jumat, 8 Desember 2017)

[Keluarga besar Fransiskan: HARI RAYA PELINDUNG DAN RATU TAREKAT]

 

Tetapi TUHAN (YHWH) Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman itu, aku menjadi takut karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kau-tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah YHWH Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memberdayakan aku, maka kumakan.” Lalu berfirmanlah YHWH Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan peutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. (Kej 3:9-15,20) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Kedua: Ef 1:3-6,11-12; Bacaan Injil: Luk 1:26-38 

Pada “Hari Raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa dosa” ini, kita membaca cerita tentang kejatuhan Adam dan Hawa dan janji keselamatan dari Allah melalui seorang keturunan Hawa. Selagi dia membaca potongan bacaan dari Kitab Kejadian ini, Santo Hieronimus [342-420] memahami bahwa seorang Hawa yang barulah yang akan meremukkan kepala si ular. Sebagaimana Hawa yang pertama, Hawa yang baru ini akan dipanggil sebagai “ibu semua yang hidup” karena dia akan melahirkan Yesus Kristus yang akan membebaskan diri kita dari maut dan menjadikan kita yang percaya kepada-Nya sebagai ciptaan baru.

Terkandungnya Maria tanpa dosa menandakan awal dari ciptaan baru dalam Kristus. Pada awalnya Allah menciptakan segala sesuatu, demikian pula sekarang bersama Maria Dia mulai menciptakan kembali segala sesuatu, memperbaharui seluruh surga dan bumi melalui penebusan yang akan dicapai oleh Putera-Nya. Sepanjang masa Maria telah dikenal sebagai Hawa yang baru. Tanggapan “ya” (fiat) Maria (lihat Luk 1:38) telah menggantikan “tidak”-nya Hawa yang pertama, seperti Yesus – sang Adam yang baru – yang melayani dalam kehidupan baru dalam Roh bagi umat Allah (lihat 1Kor 15:22; 15:45). Dalam kerendahan hati dan kesetiaannya, Maria berdiri tegak sebagai sebuah tanda ciptaan baru ini.

Pada hari raya yang istimewa ini, kita secara khusus memandang kekudusan Maria yang secara unik dipilih sebelum dunia dijadikan, supaya kudus dan tak bercela di hadapan Allah (Ef 1:4). Dijaga dari noda dosa asal, Maria secara khusus terbuka bagi karya Roh Kudus dalam dirinya. Kata-katanya, “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38), merupakan suatu pengudusan mendalam yang tidak pernah ditarik kembali, melainkan hanya semakin mendalam dan mendalam lagi sepanjang sisa hidupnya di dunia.

Marilah kita memperkenankan Roh Kudus untuk membuang segala penghalang yang akan merintangi karya-Nya dalam diri kita masing-masing. Semoga kita semua dapat memberi tanggapan “ya” secara sempurna seperti yang dilakukan Maria, dengan demikian mengenal serta mengalami berkat-berkat Allah dan kasih karunia-Nya. Allah sedang memperbaharui seluruh ciptaan, demikian pula Dia ingin memperbaharui setiap dan masing-masing kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah Mahapencipta, kami mohon agar Engkau terus menciptakan kami kembali menurut gambar dan rupa-Mu. Tolonglah kami agar dapat menjadi seperti Maria, yang dengan rendah hati merangkul kehendak-Mu dan bersukacita dalam kasih-Mu. Penuhilah diri kami dengan kehadiran-Mu, sementara kami menantikan kedatangan hari di mana kami akan dapat memandang Engkau – muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami  Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38),  bacalah  tulisan yang berjudul “RENCANA AGUNG DAN MAHASEMPURNA DARI ALLAH” (bacaan tanggal 8-12-17) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 6 Desember 2017 [Peringatan S. Nikolaus, Uskup]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI

BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Berdukacita – Jumat, 15 September 2017)

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”  Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yoh 19:25-27) 

Bacaan Pertama: Ibr 5:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2-6,15-16,20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 2:33-35 

Maria sangat menderita ketika berdiri di dekat salib Yesus di bukit Kalvari selagi dia menyaksikan kematian Anaknya yang mengerikan. Ia menunjukkan kepada Anaknya cintakasih-Nya dengan satu-satunya cara yang ia dapat lakukan, yaitu dengan kehadirannya bersama Anaknya. Oleh rahmat Roh Kudus, Maria memiliki mata iman yang percaya bahwa rencana Allah akan berbuah, walaupun tidak ada tanda-tandanya yang kelihatan. Maria menangisi ketidakadilan yang  berlangsung di depan matanya, namun ia percaya bahwa kuasa Allah akan mengalahkan kematian/maut.

Dikelilingi oleh para penganiaya Yesus, Maria merasa dirinya dipanggil untuk bergabung dengan Yesus dalam doa-Nya; “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Seandainya ada rasa marah dan dendam dalam dirinya, Maria tidak akan bersatu dengan Yesus. Hanya dengan berpaling kepada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, Maria dapat mengampuni dan memberkati dalam menghadapi situasi ketidakadilan, penuh dengan kebencian dan kekerasan.

Kita semua akan mengalami sikap dan perlakuan kasar dari orang-orang lain dalam hidup kita. Dapatkah kita tetap berada di dekat salib Kristus bersama Maria dan mengampuni mereka yang telah menyakiti kita dengan kata-kata maupun perbuatan-perbuatan mereka? Maria menerima undangan Yesus untuk mengambil “murid yang dikasihi-Nya” sebagai anaknya, dan dengan melakukan hal itu, dia menerima semua murid-Nya sebagai anggota-anggota keluarganya. Bahkan pada saat itu, 33 tahun setelah  menerima pemberitahuan dari malaikat agung Gabriel, sekali lagi Maria diminta untuk mengesampingkan ide-idenya sendiri perihal keluarga dan apa yang diinginkannya dalam hidupnya. Dan sekali lagi, ketaatan Maria merupakan buah Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya.

Kita semua juga dipanggil untuk mengasihi semua orang yang menamakan diri mereka orang Kristiani dan juga mereka yang memiliki iman berbeda. Apakah kita siap untuk mengikuti jejak Maria dan merangkul semua anggota keluarga Allah, dan mengesampingkan  segala rasa praduga dan prasangka?

Banyak orang yang dekat dengan diri kita, bahkan kita sendiri pun, akan menghadapi dan mengalami penderitaan. Kita akan melihat betapa sulit bagi kita untuk memahami mengapa hal-hal yang begitu tidak adil dan menyakitkan terjadi atas diri kita dan juga atas orang-orang yang kita kasihi? Peringatan gerejawi hari ini mengingatkan kita akan rahmat Allah yang bekerja dalam diri Maria selagi dia ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara Yesus. Maria mendorong dan menyemangati kita agar mau dan mampu menghadapi serta menanggung kesedihan kita juga, tentunya dengan pertolongan Roh Kudus.

DOA: Roh Kudus Allah, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Aku membutuhkan Engkau, seperti juga halnya dengan Maria pada waktu ia berada di dekat Salib Kristus. Aku merindukan penghiburan dari pada-Mu dan juga kekuatan-Mu. Tolonglah diriku agar dapat memiliki rasa percaya kepada Allah dan tetap mengasihi-Nya dan sesamaku, bahkan di tengah-tengah penderitaanku. Berilah kepadaku keyakinan bahwa Yesus telah mengalahkan kuasa maut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 19:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “BERDIRI BERSAMA BUNDA MARIA DI DEKAT SALIB YESUS” (bacaan tanggal 15-9-17) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 13 September 2017 [Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PESTA KELAHIRAN BUNDA YESUS KRISTUS

PESTA KELAHIRAN BUNDA YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Kelahiran SP Maria – Jumat, 8 September 2017)

Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi seerupa dengan gambaran Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya (Rm 8:28-30)

Bacaan Pertama alternatif: Mi 5:1-4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:6; Bacaan Injil: Mat 1:1-16.18-23

Latar belakang Sejarah: Pesta Kelahiran Maria barangkali berasal-usul di Yerusalem  sekitar abad ke-6. Namun sejak sekitar abad ke-5 terdapat bukti adanya sebuah gereja yang didedikasikan kepada Santa Ana, sebelah utara Bait Suci di Yerusalem. Sophronius, Patriarkh (Beatrik) Yerusalem menyatakan pada tahun 602, bahwa gereja itu didirikan di atas tempat kelahiran S.P. Maria. Pilihan yang dijatuhkan pada sebuah hari di bulan September kiranya berasal dari kenyataan bahwa di Konstantinopel tahun penanggalan di mulai pada tanggal 1 September – yang masih berlaku di Gereja Timur. Tanggal 8 September ini kemudian menentukan tanggal “Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Dosa” yang jatuh pada tanggal 8 Desember, yaitu 9 (sembilan) bulan sebelumnya. Pesta Kelahiran Maria mulai diperkenalkan di Roma menjelang abad ke-7. Sumber: Christopher O’Donnell O.Carm., AT WORSHIP WITH  MARY – A Pastoral and Theological Study. 

Lebih sempurna dari siapa saja, Maria memenuhi gambaran yang diberikan Santo Paulus tentang bagaimana Allah mengerjakan kebaikan dalam kehidupan semua orang yang “mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya” (lihat Rm 8:28). Dalam hikmat kekal-abadi, Allah menakdirkan Maria sejak awal untuk menjadi ibu Putera-Nya. Katekismus Gereja Katolik [KGK] mengatakan: “Untuk tugas menjadi ibu Putera-Nya, Allah telah memilih sejak kekal seorang puteri Israel, seorang puteri Yahudi dari Nasaret di Galilea” (KGK, 488). Melalui sebuah mukjizat rahmat Allah, dia (Maria) “sudah ditebus sejak ia dikandung” (KGK, 491), oleh karenanya menjadi “dibenarkan” di hadapan Allah. Dan, pada akhir kehidupannya di dunia, Maria dimuliakan pada waktu dia diangkat ke surga, tubuh dan jiwanya.

Maria berdiri di atas garis pemisah antara Perjanjian Lama (=Perjanjian Pertama) dan Perjanjian Baru. Tanggapannya yang positif (“ya”=persetujuan=fiat) terhadap panggilan untuk menjadi ibu dari Putera-Nya: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38), menandakan secara resmi kepenuhan waktu yang selama itu dinanti-nantikan seluruh umat manusia.

Santo Paulus menulis: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Membawa sang Sabda yang menjadi daging, Maria melahirkan sang Juruselamat, dengan demikian menjadi baik Bunda Allah maupun “Bunda kita semua.” Konsili Vatikan II menyatakan sebagai berikut: “Sehubungan dengan penjelmaan Sabda ilahi Santa Perawan sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah. Berdasarkan rencana Penyelenggaraan ilahi ia di dunia ini menjadi Bunda Penebus ilahi yang mulia, secara sangat istimewa mendampingi-Nya dengan murah hati, dan menjadi hamba Tuhan yang rendah hati. Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita dengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru Selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta-kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita” (Lumen Gentium, 61).

Kehormatan besar yang diberikan Allah kepada Maria telah membuat dirinya menjadi “mahkota ciptaan”. Dalam dirinya kita mempunyai suatu “pengingat-ingat’ yang kelihatan akan segalanya yang Allah telah janjikan kepada kita semua. Hidup Maria bukanlah suatu kehidupan yang enak-enak, namun dia tetap setia kepada Allah dan dia terus merangkul panggilan yang telah diberikan Allah kepadanya. Sekarang Maria yang telah dimuliakan di surga senantiasa siap untuk – untuk kepentingan umat yang masih hidup di dunia – melakukan pengantaraan (syafaat) kepada Yesus, Allah Putera.

Maria adalah suatu tanda pengharapan bagi setiap anggota Gereja, karena kita semua telah dipilih dan ditakdirkan dalam Kristus. Konsili Vatikan II menyatakan: “Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang. Begitu pula di dunia ini ia menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan” [lihat 2Ptr 3:10] (Lumen Gentium, 68).

DOA:  Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh rasa syukur atas karya-Mu dalam diri Maria, bunda-Mu. Oleh karena dia bersedia bekerja sama dalam rencana penyelamatan Allah, maka dia menjadi bunda kami semua. Terima kasih untuk pemeliharaan dan perhatian keibuannya yang telah diberikannya kepada kami, anak-anaknya, yang masih berziarah di atas bumi ini; juga untuk teladannya dalam hal iman, pengharapan dan cintakasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “DIA YANG DITENTUKAN ALLAH SEJAK SEDIAKALA” (bacaan tanggal 8-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 6 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS