Posts from the ‘MARIA’ Category

BEBERAPA CATATAN TENTANG MARIA SEBAGAI BUNDA GEREJA

BEBERAPA CATATAN TENTANG MARIA SEBAGAI BUNDA GEREJA

(Bacaan Injil Misa – Peringatan Wajib SP Maria, Bunda Gereja – Senin, 1 Juni 2020)

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”  Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Sesudah itu, karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia – supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci – , “Aku haus!” Di situ ada suatu bejana penuh anggur asam. Lalu mereka melilitkan suatu spons, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengulurkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia, “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-nya.

Karenaa haari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib – sebab Sabat itu hari yang besar – maka datanglah para pemuka Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. Lalu datanglah prajurit-prajurit dan mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. (Yoh 19:25-34) 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15,20 atau Kis 1:12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 87:1-2,3,5,6-7 (Ref. ayat 3)

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” (Yoh 19:26-27)

Kata-kata yang diucapkan oleh Yesus yang tergantung di kayu salib kepada ibu-Nya menyatakan keibuan dari perawan Nazaret yang melahirkan Kristus ini menemukan kelanjutan baru di dalam Gereja dan melalui seluruh Gereja, yang dilambangkan dan dihadirkan oleh Yohanes. Dengan cara ini, Maria yang sebagai orang yang “penuh rahmat” dibawa ke dalam misteri Kristus agar menjadi Bunda-Nya dan Bunda Kudus Allah, melalui Gereja ada dalam misteri itu, sebagai “perempuan” yang dibicarakan oleh Kitab Kejadian (Kej 3:15) pada awal, dan oleh Kitab Wahyu (12:1) pada akhir sejarah keselamatan. Sesuai dengan dengan rencana kekal Penyelenggaraan Ilahi, keibuan ilahi Maria akan dituangkan ke atas Gereja, seperti ditunjukkan oleh pernyataan-pernyataan tradisi, berdasarkan “keibuan Gereja Maria adalah refleksi dari perluasan dari keibuannya untuk Putera Allah. (lihat Redemptorist Mater, 24).

Yohanes mewakili Gereja seluruh umat manusia. Yesus melepaskan bunda-Nya untuk menyerahkannya kepada Gereja. Dan Maria melepaskan Yesus, mau menyediakan seluruh dirinya bagi Gereja. Jadi, Gereja – anda dan saya – mendapat Maria sebagai bunda. Ini bukan perkara yang kebetulan atau tidak berarti, sesuatu yang dapat kita tolak atau gunakan sesuka hati kita. Menolak ibu-Nya selalu berakibat buruk. Yohanes “menerimanya di dalam rumahnya (Yoh 19:27). Ketika menutup sesi ketiga Konsili Vatikan II, Paus Paulus VI memproklamasikan SP Maria sebagai Bunda Gereja. Sungguh merupakan suatu momen bersejarah! Santo Paus Paulus VI [1897-1978; masa pontifikat 21 Juni 1963 – 6 Agustus 1978 – dikanonisir menjadi seorang santo oleh Paus Fransiskus pada tanggal 14 Oktober 2018.]. Dengan proklamasi tersebut Paus Paulus VI mengukuhkan suatu kebenaran yang sudah sepanjang sejarahnya menguatkan hidup Gereja dan yang sudah dimulai sejak di kaki salib. Pada saat Yohanes mengundang Maria untuk tinggal bersama dia, Gereja mengakui Maria sebagai bundanya.

Sewaktu mengiringi Yesus memberitakan Kabar Baik ke sana ke mari, Yohanes  bersama saudaranya Yakobus disebut oleh Yesus sebagai “Boanerges” (anak-anak guruh; lihat Mrk 3:17). Ketika orang-orang Samaria tidak mau menerima Yesus di kampung mereka, dua putera Zebedeus ini berkata kepada Yesus: “Tuhan, apakah Engkau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka? (lihat Luk 9:54). Mereka berdua juga masih memegang paham yang salah tentang Mesias dan ambisi mereka akan kekuasan dunia masih besar (ingatlah permintaan mereka untuk menjadi pejabat tinggi  yang duduk di sebelah kiri dan kanan Yesus (Mat 20:20-28; bdk. Mrk 10:35-45). Yohanes sangat berubah, sebelum ia menjadi masak dan matang untuk menulis surat-suratnya mengenai cinta-kasih. Mungkin sekali dia tidak pernah menjadi rasul cinta-kasih, seandainya dia tidak dibantu oleh Maria dengan caranya tidak mencolok itu, Sudah barang tentu kelembutan dan kehalusan keibuannya menyumbang banyak dalam melembutkan hati Yohanes sedikit demi sedikit. Kita percaya bahwa Yesus adalah 100% ilahi dan 100% insani. Maria memiliki andil besar dalam mengasuh dan mendidik Yesus dan membentuk hati-Nya – teristimewa pada masa kanak-kanak dan remaja-Nya – sehingga kelak Yesus dapat berkata: “… Aku lemah lembut dan rendah hati …” (Mat 11:29).

Kiranya Maria melakukan tugas keibuan yang serupa dalam membentuk pribadi Yohanes selagi dia hidup bersama Yohanes. Nama “Boarnerges” lama kelamaan boleh ditanggalkan, karena sudah tidak cocok lagi Yohanes yang baru. Nyatanya bila di kemudian hari Yohanes berbicara tentang dirinya sendiri, dia memakai suatu nama yang berlawanan sekali dengan “Boanerges”, yaitu “murid yang dikasihi Yesus”. Kita boleh berusaha membayangkan sukacita penuh damai yang ada dalam hati Maria dan Yohanes selama mereka bergaul dan hidup bersama. Betapa sering mereka berbicara bersama-sama tentang Yesus. Dari berbagai pembicaraan itu, Maria dan Yohanes semakin jelas mengerti yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus. Jadi, tidak mengherankanlah apabila Injil Yohanes lebih mendalam ketimbang Injil Sinoptik, dan para mistisi suka menimba dari Injil Keempat itu, dahulu dan sekarang. Maria memiliki kasih sayang seorang ibu yang sejati, cinta yang mempersatukan para anggota keluarganya. Dengan demikian, apabila kita merindukan kesatuan dalam Gereja Kristus, maka kita tidak dapat mengabaikan Maria yang mengikat seluruh keluarga menjadi satu.

Untuk mengakhiri permenungan ini, pada pidatonya di Vatikan pada tanggal 29 Agustus 1980, Santo Paus Yohanes Paulus II berkata: “Kata terakhirku adalah harapan dan doa kepada Maria, Bunda Gereja. Semoga ia memampukan kita semua untuk memusatkan pandangan kita secara terus-menerus pada Putera-Nya, Yesus Kristus, Imam Agung dan Gembala Gereja Allah” (diambil dari Margaret R. Bunson, Ungkapan hati Paus Yohanes Paulus II tentang Maria, Jakarta: Penerbit Obor, 2004, hal. 80). Semoga para pakar teologi (baik eklesiologi maupun mariologi) berhenti memperdebatkan layak tidaknya gelar itu dipakai dalam Gereja untuk Bunda Maria.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena dari atas kayu salib, ketika Engkau merasa ditinggalkan Bapa dan Ibu Maria merasa di tinggalkan oleh-Mu, Engkau justru memberikan dia kepada Yohanes sebagai Bundanya, artinya kepada umat-Mu, Gereja-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 19:25-34), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA BUNDA GEREJA” (bacaan tanggal 1-6-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2020.

Cilandak, 31 Mei [HARI RAYA PENTAKOSTA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARI JUMAT AGUNG MERUPAKAN TITIK SENTRAL DALAM SEJARAH MANUSIA

HARI JUMAT AGUNG MERUPAKAN TITIK SENTRAL DALAM SEJARAH MANUSIA

(Bacaan Injil dalam Liturgi Sabda, HARI JUMAT AGUNG – 10 April 2020)

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”  Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Sesudah itu, karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia – supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci – , “Aku haus!” Di situ ada suatu bejana penuh anggur asam. Lalu mereka melilitkan suatu spons, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengulurkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia, “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-nya. (Yoh 19:25-30) 

Bacaan Pertama: Yes 52:13-53:12; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2,6,12-13,15-17,25; Bacaan Kedua: Ibr 4:14-16;5:7-9; Bacaan Injil: Yoh 18:1-19:42 

Bagi umat Kristiani, hari Jumat Agung akan selamanya menjadi titik sentral dalam sejarah manusia – suatu hari duka mendalam namun pada saat bersamaan merupakan suatu hari yang penuh dengan sukacita. Mengapa? Karena pada hari kita memperingati tindakan kasih yang paling agung dalam sejarah: salib Yesus Kristus. Salib merupakan klimaks dari segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus selama Dia hidup di dunia sebagai Yesus dari Nazaret – sumber segala hikmat, permenungan, dan puji-pujian yang tidak pernah akan mengering.

Hari Jumat Agung adalah pusat kisaran kepadanya semua hal-ikhwal sejarah ditarik, dan dari mana semua sejarah yang telah ditransformasikan selamanya mengalir ke luar. Ciptaan yang baik dari Allah disapu sampai kepada titiknya yang paling rendah pada saat kematian Yesus – hanya untuk menemukan kebaikannya yang sempurna di seberang sana, ketika Yesus bangkit dari alam maut. Allah tidak pernah begitu dekat dengan umat manusia daripada apa yang dilakukan-Nya dengan inkarnasi Yesus dan segala sesuatu yang merupakan konsekuensi dari misteri inkarnasi tersebut. Namun justru karena manusia begitu dekat dengan Yesus, maka penolakan manusia dan perlawanan mereka terhadap diri-Nya menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Penderitaan sengsara dan kematian Yesus  merupakan ilustrasi paling jelas dari kasih-Nya yang tanpa batas bagi kita semua.

Yesus samasekali tidak bersalah, sepenuhnya bebas dari dosa. Namun Ia menanggung semua dosa kita dan segala ketidakadilan yang menimpa diri-Nya, selagi Dia tergantung pada kayu salib. Kemenangan berjaya dari Yesus mengungkapkan tujuan perjalanan kita yang terletak bukan di dunia ini, melainkan di surga. Dia yang paling dapat membuat dunia ini sebuah tempat yang indah dan dipenuhi cintakasih justru tidak pernah diberikan tempat yang penting dalam sistem-dunia. Akan tetapi, pada hari ketiga Yesus bangkit. Di sini Dia menunjukkan bahwa peristiwa ini adalah kemenangan-Nya atas dosa dan maut – dan memberdayakan semua umat beriman untuk melakukan hal yang sama. Ada contoh-contoh yang tak terbilang banyaknya terkait dengan perubahan permanen yang disebabkan oleh hari Jumat Agung. Bahkan cara kita membagi sejarah – S.M. dan A.D. –  pun mengalir dari kedatangan sang Juruselamat ke tengah dunia!

Pada hari ini marilah kita secara istimewa bermeditasi di depan Salib Kristus. Pandanglah Yesus dalam segala kerendahan-Nya – babak belur berdarah-darah karena disiksa. Lihatlah Dia, yang menderita, ditolak dan sendiri(an) tanpa kawan. Dengarlah seruan doa-Nya yang terakhir “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46; Mrk 15::34; bdk. Mzm 22:2). Rasakanlah cintakasih-Nya kepada kita semua, bahkan pada saat Ia sekarat tergantung di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Marilah kita memandang Dia yang telanjang di kayu salib itu dengan tangan dan kaki terpaku, dan yang ditikam lambung-Nya dengan tombak, sehingga mengalir keluar darah dan air, semua ini untuk menebus ketidak-taatan kita kepada kehendak Allah – dosa-dosa kita yang merusak relasi kita dengan sang Pencipta. Bersembah-sujudlah dengan penuh hormat selagi kita mengkontemplasikan makna lengkap hari yang suci ini, suatu hari di mana Putera Allah merendahkan diri-Nya sedemikian rupa sehingga menjadi begitu miskin, agar kita semua dapat menjadi kaya secara luarbiasa. Santo Paulus menulis: “Yesus Kristus … sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor 8:9). Terpujilah Dia yang sekarang mengisyaratkan kita untuk “menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya (Ibr 4:16).

Salib Kristus mengungkapkan kasih yang agung! Ini adalah “kasih perjanjian” (Inggris: covenant love), kasih yang bersumberkan pada janji abadi Yesus sendiri untuk mengasihi dan melindungi kita. Kasih perjanjian selalu bersifat setia, siap untuk mati agar orang-orang lain dapat hidup. Suatu kasih abadi, yang ditulis dalam/dengan darah Kristus sendiri.

Selagi kita melakukan meditasi di depan “Anak Domba yang disembelih”, renungkanlah “betapa besarnya” Salib Kristus. Bukan dalam arti besarnya ukuran Salib Kristus secara fisik, namun betapa besar dampak kematian Kristus di kayu salib sebagai kurban persembahan sehingga mampu mendatangkan kerahiman dan rahmat Allah yang tidak mampu tertandingi oleh tindakan-kasih yang mana pun. Apakah ada kurban persembahan lain yang mampu mencuci-bersih setiap dosa manusia, baik sudah maupun yang akan datang? Adakah tindakan-kasih lain yang mampu mengalahkan semua kerja Iblis yang penuh kebencian dan kejahatan dalam dunia?

Dalam meditasi kita, marilah kita merenungkan implikasi-implikasi dari kematian Yesus. Renungkanlah kenyataan bahwa Putera Allah yang kekal sesungguhnya datang ke tengah dunia guna membawa kita kembali kepada Bapa-Nya – dan hal itu itu dilakukan-Nya lewat kekejian salib. Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, janganlah kita pernah menolak Yesus Kristus dengan cara dan alasan apapun. Kasih-Nya adalah kasih yang penuh kesetiaan dan sejati.

Bagaimana kita dapat membuat Salib Kristus menjadi riil dalam kehidupan kita? Tentunya dengan menunjukkan kepada orang-orang yang kita kasihi, “kasih perjanjian” sama sebagaimana yang telah ditunjukkan Yesus kepada kita. Kiranya Yesus akan sangat bersukacita melihat buah-buah manis keluar dari Salib-Nya. Ada kebenaran tak terbantahkan bagi kita semua dalam hal ini: “Setiap kali anda dan saya mengasihi orang-orang lain seperti Yesus Kristus mengasihi, maka kita menghadirkan Yesus Kristus ke dalam dunia!”

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami berterima kasih penuh syukur untuk segala sesuatu yang telah Kau capai – lewat kata-kata dan tindakan-tindakan-Mu – selama hidup-Mu di atas bumi ini, teristimewa pada hari terakhir hidup-Mu. Di atas kayu salib Engkau merasa ditinggalkan oleh Bapa [Mzm 22:2; Mzm 31:23], namun Engkau mengumpulkan nafas-Mu yang terakhir dan menyerahkan nyawa-Mu kepada Bapa [Mzm 31:6]. Engkau tetap yakin bahwa persembahan kurban-Mu memiliki nilai tak terbatas bagi kami semua. Oleh Roh Kudus-Mu buatlah agar kami lebih memahami lagi makna dari kematian-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 18:1-19:42; versi pendek: Yoh 19:25-30), bacalah tulisan yang berjudul “KITA MENJADI MANUSIA BEBAS-MERDEKA KARENA KASIH KRISTUS BAGI KITA” (bacaan tanggal 18-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 9 April 2020 [HARI KAMIS DALAM PEKAN SUCI] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PUN DIPANGGIL UNTUK MENGATAKAN “YA” KEPADA ALLAH

KITA PUN DIPANGGIL UNTUK MENGATAKAN “YA” KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KABAR SUKACITA – Rabu, 25 Maret 2020)

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14;8:10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10 

Bayangkanlah iman yang diperlukan oleh Maria untuk menjawab selagi dia dengan kebebasan penuh menyerahkan dirinya kepada apa yang diminta Allah dari dirinya. Maria berkata, “Ya!” “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Rasa percaya, iman, pengharapan, kerendahan-hati, ketaatan, dan kasih, semuanya menyatu-padu dalam kata-kata yang diucapkan Maria, dan sejak saat mahapenting itu, dunia dan sejarah umat manusia pun berubah, … untuk selamanya.

Cerita dari Injil Lukas ini yang memimpin Santo Fransiskus dari Assisi – satu dari banyak orang kudus lainnya dengan pengalaman serupa – untuk menyapa Maria sebagai “mempelai Roh Kudus” (Ibadat Sengsara Tuhan; Antifon Santa Perawan Maria, 2). Akan tetapi kita tidak boleh membatasi gambaran ini sekadar pada saat terkandungnya Yesus. Roh Kudus menaungi Maria tidak hanya pada saat itu, melainkan juga pada setiap langkah yang diambilnya pada perjalanan ziarahnya selama hidup di atas bumi ini. Banyak sekali hidup iman Maria yang patut dicatat disamping saat ia diperkandung oleh Roh Kudus. Sepanjang hidupnya Maria bertumbuh dalam ketergantungannya kepada Roh Kudus dan menjadi seorang saksi yang lebih besar (daripada saksi-saksi lain) terkait dengan hidup baru yang telah dibawa oleh Yesus bagi kita semua.

Seperti juga Maria, kita pun dipanggil untuk mengatakan “ya” kepada Allah, tidak sekali saja, tapi lagi dan lagi. Seperti Maria, kita pun telah diundang ke dalam suatu relasi akrab dengan Roh Kudus – untuk menjadi tempat kediaman-Nya, untuk mendengarkan Dia, untuk bertindak di bawah bimbingan-Nya, untuk membawa Kristus ke tengah dunia. Seperti Maria, kita pun dapat bertanya-tanya dalam hati kita, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” (bdk. Luk 1:34).

Santo Augustinus dari Hippo [354-430] menulis, “Ibunda Kristus membawa Dia dalam rahimnya. Semoga kita membawa Dia dalam hati kita. Sang perawan menjadi hamil dengan inkarnasi Kristus. Semoga hati kita pun mengandung dengan iman kepada Kristus. Dia (Maria) membawa sang Juruselamat. Semoga jiwa kita membawa keselamatan dan puji-pujian.”

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar dapat mendengar panggilan-Mu untuk mengasihi dan melayani. Tolonglah diriku agar dapat mengatakan “ya” kepada Engkau. Utuslah Roh Kudus-Mu kepadaku, sehingga dengan demikian Yesus dapat dilahirkan dalam hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “PERAWAN MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT GABRIEL” (bacaan tangggal 25-3-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 24 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BETLEHEM – MESIR – NAZARET

BETLEHEM – MESIR – NAZARET

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA KELUARGA  KUDUS, YESUS, MARIA, YUSUF –  Minggu, 29 Desember 2019)

Setelah orang-orang majus itu berangkat, tampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Yusuf pun bangun, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya digenapi apa yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”  

Setelah Herodes mati, tampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati. Lalu Yusuf pun bangun, diambilnya Anak serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel. Tetapi setelah didengarnya bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui nabi-nabi bahwa Ia akan disebut “Orang Nazaret”. (Mat 2:13-15,19-23) 

Bacaan Pertama: Sir 3:2-6,12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5; Bacaan Kedua: Kol 3:12-21

Raja Herodes yang berkedudukan di Yerusalem, telah mendengar dari para majus bahwa sang Mesias, “Raja orang Yahudi” telah lahir. Raja Herodes melihat bahwa kelahiran Mesias ini merupakan bahaya bagi posisinya sebagai penguasa. Oleh karena itu dia memutuskan bahwa Mesias yang baru lahir ini tidak akan sampai duduk di singgasana-Nya. Melalui malaikat-Nya Allah memberitahukan Yusuf untuk membawa sang Bayi dan ibu-Nya ke Mesir guna menyelamatkan diri dari bahaya. Perjalanan ke Mesir sendiri itu kira-kira 300 mil jauhnya, melelahkan, penuh bahaya dan menakutkan. Lagipula tidak mudah bagi Yusuf untuk mencari kerja di negeri yang tidak bersahabat itu.

Pada waktu Herodus mati, sekali lagi Yusuf diberitahukan untuk kembali ke Israel. Mereka kembali ke Israel, tetapi tidak ke Betlehem, karena pengganti Herodes adalah Arkhelaus yang memiliki reputasi tidak lebih baik daripada Herodes. Mereka kembali ke Nazaret di Galilea dan di Nazaret inilah Keluarga Kudus menetap, hidup secara secara sederhana dengan Yusuf sebagai pencari nafkah. Tidak diketahui kapan sebenarnya Yusuf meninggal dunia, tetapi Maria dan Yesus melanjutkan tinggal di Nazaret sampai saat Dia harus mulai dengan hidup pelayanan-Nya di tengah publik, yaitu pada waktu berumur sekitar 30 tahun (Luk 3:23).

Matius yang menulis Injilnya bagi umat Kristiani asal Yahudi dan calon Kristiani yang Yahudi bahwa nubuatan Perjanjian Lama dipenuhi dalam diri Yesus Kristus. Kembalinya Keluarga Kudus dari Mesir merupakan pemenuhan nubuat dalam Hosea 11:1. Nubuat  nabi Hosea sesungguhnya mengacu kepada Exodus/Keluaran, ketika Alah membawa orang-orang Israel ke luar dari Mesir dan membuat mereka menjadi Umat Terpilih dan anak-anak-Nya. Kedatangan Yesus merupakan Exodus kedua dan Exodus yang sesungguhnya. Mengapa? Karena dengan kedatangan-Nya dibentuklah Umat Terpilih sesungguhnya, karena membuat semua orang menjadi anak-anak Allah dalam artian yang sesungguhnya.

Selama masa Natal ini, Yesus, Maria dan Yusuf harus sering diingat oleh setiap orang Kristiani. Untuk menolong kita mengingat mereka dan di atas segalanya untuk berjuang dalam meniru hidup mereka, Gereja telah mendedikasikan hari Minggu ini kepada memori Keluarga Kudus. Walaupun mereka adalah sahabat terdekat dari Allah, dan walaupun mereka adalah keluarga paling kudus dari semua keluarga yang pernah hidup dan akan hidup di dunia ini, mereka tetap mengalami banyak penderitaan.

Allah memperkenankan semua ini terjadi demi kita semua. Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal ke tengah umat manusia – sebagai manusia seperti kita – untuk membawa kita ke surga. Dengan contoh hidup miskin dan penuh penderitaan Keluarga Kudus di kepala mereka, keluarga Kristiani tidak dapat mengatakan bahwa berbagai penderitaan dan kesulitan hidup yang mereka alami adalah lebih daripada apa yang dapat dituntut Allah dari mereka. Tidak ada seorang Kristiani yang benar-benar beriman Kristiani boleh berkata bahwa Kristus menuntut dari dirinya lebih daripada tuntutan-Nya terhadap diri-Nya sendiri, ibunda-Nya dan Yusuf.

Memang ada keluarga-keluarga di dunia ini (kiranya tidak banyak) yang tidak perlu menghadapi kesulitan hidup. Namun demikian iman Kristiani dan juga keyakinan kuat kita mengatakan bahwa kehidupan kita yang relatif singkat di dunia hanyalah ajang pembuktian, suatu persiapan untuk suatu kehidupan kekal penuh damai dan kebahagiaan yang akan datang. Hal itu saja seharusnya memberikan kekuatan yang dibutuhkan untuk menanggung segala beban yang ada.

Pesan Injil hari ini adalah sebuah pesan penghiburan dan juga untuk menguatkan kita semua. Jika keluarga yang paling suci dan paling agung yang pernah hidup di dunia mengalami berbagai penderitaan dan kesulitan hidup demi keselamatan umat manusia, kita harus siap dan bersedia untuk menderita juga, karena semua itu demi kesejahteraan kekal-abadi kita sendiri.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu berikanlah kepada keluargaku kemauan dan kemampuan untuk memperbaiki apa saja yang harus diperbaiki dalam hidup berkeluarga. Biarlah keluarga kudus dari Nazaret senantiasa menjadi contoh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Sir 3:2-6,12-14) bacalah tulisan yang berjudul “MENGHORMATI ORANG TUA” (bacaan tanggal 29-12-19), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 19-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2019.  

Cilandak, 27 Desember 2019 [Pesta S. Yohanes, Rasul Penulis Injil]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERENDAHAN DIRI ALLAH

PERENDAHAN DIRI ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus Siang, Hari Raya Natal – Rabu, 25 Desember 2019)

Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya melalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya. Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran. Yohanes bersaksi tentang Dia dan berseru, “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian daripada aku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”  Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah; sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yoh 1:1-18)  

Bacaan Pertama: Yes 52:7-10; Mazmur Tanggapan: 98:1-6; Bacaan Kedua: Ibr 1:1-6

O, betapa rendah hati Allah kita! Dia datang ke tengah dunia yang “tidak mengenal-Nya” (Yoh 1:10) untuk menebus umat milik-Nya namun yang “tidak menerima-Nya” (Yoh 1:11). Dia datang ke dunia tanpa dikelilingi oleh hadiah-hadiah indah-mahal, atau ditangani oleh para dokter serta perawat terbaik; …… tidak ada para pelayan yang siap melayani dan sebagai Bayi kecil, Dia juga tidak mengenakan pakaian halus layaknya seorang bayi  yang lahir di tengah keluarga para bangsawan dan/atau orang kaya-raya. Sebaliknya, Yesus dilahirkan di tengah suasana kemiskinan, diletakkan di dalam palungan di sebuah kandang hewan, dan dibungkus dengan kain lampin (lihat Luk 2:12).

Namun demikian, kepada Yesus diberikan satu hal yang paling berharga di mata Allah: KASIH. Dengan mengatakan “ya” kepada Allah, maka Maria dan Yusuf mengesampingkan rencana-rencana manusiawi mereka sendiri guna menyambut kedatangan-Nya ke tengah dunia. Kedatangan-Nya disambut oleh para gembala yang sederhana dan tidak memiliki latar belakang pendidikan, mereka pun berstatus rendah dalam masyarakat. Para gembala itu percaya kepada pesan yang diberikan oleh malaikat-malaikat, dengan demikian diberikan privilese untuk melihat sang Mesias secara langsung, muka ketemu muka.

Mengapa Bapa surgawi merencanakan suatu penampilan yang begitu dina bagi sang Sabda yang telah berada bersama-Nya sejak sediakala? Tentunya kemiskinan di sekeliling Yesus menyatakan sampai mana Ia akan menyelamatkan kemanusiaan. Namun  kedinaan dari tempat kelahiran Yesus juga menyatakan sesuatu tentang diri kita. Tanpa Dia, kita adalah orang-orang sungguh miskin – terbuang dan hilang, rentan terhadap serangan-serangan dari pihak musuh, yaitu Iblis. Yesus dilahirkan dalam sebuah gua tempat kandang hewan yang dingin, gelap dan sungguh menyedihkan, tidak ubahnya dengan hati kita sebelum kita memperkenankan Yesus dilahirkan di dalam hati kita.

“Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14) untuk membawa kita kembali kepada Bapa surgawi, memenuhi diri kita dengan rahmat dan kebenaran. Ia datang untuk membersihkan kita oleh darah-Nya dan mengangkat kita naik ke surga. Kita telah menerima yang terbesar dari segala karunia. Bagaimana kita dapat menghaturkan terima kasih kita kepada Tuhan? Dengan merendahkan diri kita di hadapan palungan tempat sang Bayi berbaring! Marilah kita menyambut Yesus masuk ke dalam hati kita seperti yang dilakukan oleh Maria, yaitu dengan menyerahkan hidup kita kepada Allah secara lengkap-total. Oleh karena itu, marilah kita mengundang Roh Kudus untuk mentransformasikan diri kita masing-masing menjadi sebuah tempat tinggal yang layak dan pantas bagi “sang Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yes 9:5).

DOA: O Firman Allah, sang Sabda, Engkau merendahkan diri-Mu guna menebus kami, orang-orang berdosa, guna memenuhi diri kami dengan hikmat ilahi dan memberikan kepada kami hidup kekal. Segala pujian, terima kasih penuh syukur, kemuliaan dan kehormatan hanya bagi-Mu saja, ya Tuhan dan Allahku yang Mahasempurna. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil Siang hari ini (Yoh 1:1-18), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MENYAMBUT TUHAN DAN SAUDARA KITA” (bacaan tanggal 25-12-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 23 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PILIHAN ALLAH SENDIRI

PILIHAN ALLAH SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 20 Desember 2019)

Image result for IMAGES OF LUKE 1:26-38"

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Banyak dari kita berpikir bahwa kita mempunyai hak untuk dibuat bahagia, seakan-akan tugas-kewajiban setiap orang lainlah untuk membuat hari kita terang-benderang dan cerah sekali, dengan melakukan hal-hal yang tepat sama seperti dihasrati oleh perasaan kita.

Jikalau ada pesan yang sangat jelas di dalam Kitab Suci, maka beginilah bunyinya: mereka yang paling dikasihi Allah sebenarnya dikelilingi oleh berbagai kesedihan, kesulitan dan pencobaan hidup, bahkan tragedi-tragedi yang lebih hebat lagi. Namun mereka tetap berbahagia secara mendalam, dan mereka berbicara dan menyanyikan lagu pujian kepada Allah dengan penuh sukacita. Mereka memuji-muji Allah karena kebaikan hati-Nya, dan mereka berterima kasih penuh syukur kepada-Nya untuk hal-hal yang malah akan menyebabkan banyak dari kita melontarkan keluhan-keluhan yang penuh dengan kepahitan.

Maria, ibunda Yesus, hidup dalam kemiskinan yang jauh dari “wah-wahnya” gaya hidup orang-orang kalangan atas dalam masyarakat Yahudi. Allah – lewat malaikat agung Gabriel – telah menjanjikan rahmat-Nya kepada sang perawan, bahwa dia akan menjadi ibunda dari sang Penebus dunia, namun hal ini tidak akan membuatnya bertambah kaya dalam bentuk harta-benda pribadi atau penghargaan serta puji-pujian dari manusia di dunia ini, juga tidak ada jaminan bahwa dia akan menerima berbagai penghormatan dan perhatian dunia. Sesungguhnya, ketika dia membawa anaknya ke Bait Suci, seorang tua yang bernama Simeon bernubuat di hadapan Maria: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang”  (Luk 2:34-35).

MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT TUHAN

Ketika kabar suka-cita dari sang malaikat sampai ke telinga Maria, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus ……”; memang Maria sejenak merasa terkejut karena status keperawanannya, namun setelah dijelaskan oleh sang malaikat  bahwa “bagi Allah tidak ada yang mustahil”, maka Maria berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Lalu Maria tidak membuang-buang waktu untuk memberi selamat kepada dirinya sendiri sambil menuntut sesuatu kepada Allah dan/atau berlari ke sana ke mari menceritakan status istimewa yang baru diterimanya dari Allah, kepada para tetangganya di Nazaret. Sebaliknya, Maria justru dipenuhi keprihatinan memikirkan orang-orang lain. Saudara sepupunya yang tinggal di Ain-Karem di pegunungan Yehuda – Elisabet, istri Zakharia – sedang mengandung tua pada usianya yang jauh dari muda. Oleh karena itu Maria melakukan perjalanan jauh dari Nazaret di Galilea menuju Ain-Karim di pegunungan Yehuda. Tiga bulan lamanya Maria dengan penuh sukacita melayani kedua anggota keluarganya yang sudah tua-tua itu dan yang baru mendapatkan seorang bayi laki-laki, Yohanes!

Sebagaimana Maria, siapa saja dari kita yang mau mengalami sukacita sejati harus menemukannya dalam diri kita sendiri. Tidak ada orang yang mampu memberikan sukacita sejati kepada kita! Namun apabila kita (anda dan saya) sungguh ingin memperolehnya, maka kita harus senantiasa mengingat bahwa sukacita sejati hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri, yang menjanjikannya kepada siapa saja yang mencarinya:

DOA: Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantian perempuan yang memakai perhiasannya. Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa-bangsa (Mzm 61:10-11). Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “FIAT SEORANG PERAWAN NAZARET”  (bacaan  tanggal 20-12-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 18 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBAGAI PUJI-PUJIAN BAGI KEMULIAAN-NYA

SEBAGAI PUJI-PUJIAN BAGI KEMULIAAN-NYA

(Bacaan Kedua Misa, HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA – Senin, 9 Desember 2019)

Keluarga besar Fransiskan: HARI RAYA PELINDUNG DAN RATU TAREKAT

Image result for MARY IMMACULATE CONCEPTION"

Catatan: Hari Raya khusus ini dirayakan pada hari ini karena tanggal 8 Desember 2019 bertepatan dengan hari Minggu Adven II.

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah anugerah-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami diberi warisan – kita yang dari semula sudah dipilih-Nya sesuai dengan maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya – supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. (Ef 1:3-6,11-12)

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Luk 1:26-38 

Memang mudahlah untuk melihat bahwa Maria dipisahkan untuk hidup yang dipenuhi pujian bagi kemuliaan Allah: Ia dikandung oleh tanpa dosa! Biar bagaimana pun juga, bukankah hal ini yang kita rayakan pada hari ini? Juga mudahlah untuk menganggap atau mengandaikan bahwa Allah memberi izin Maria untuk dikandung dengan cara ini karena Dia berpikir bahwa Maria itu memang istimewa.  Di belakang asumi ini ini adalah pikiran kita yang tidak diungkapkan dalam kata-kata, bahwa kiranya kita kurang istimewa di mata Allah. Ini tidak benar! Kita pun telah ditentukan untuk hidup sebagai puji-pujian bagi kemuliaan Allah (Ef 1:12).

Kita masing-masing telah ditentukan, sebelum segala waktu, oleh kehendak ilahi Allah untuk menjadi anak-anak-Nya. Allah memilih kita. Ia merencanakan  bahwa kita akan menjadi milik-Nya – anak-anak-Nya – yang sangat berharga di mata-Nya: “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN (YHWH), Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh YHWH, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya” (Ul 7:6), juga kudus dan tak bercacat di mata-Nya (Ef 1:4). Hal itu bukan sekadar kehendak-Nya, melainkan juga kesenangan-Nya (lihat Ef 1:5). Allah sejak kekal sudah berkomitmen terhadap diri kita.

Agar dapat menyelamatkan kita dari dosa yang sudah menjerat kita, Allah memerlukan sebuah bejana yang murni untuk mengandung Putera-Nya, Penebus kita. Itulah sebabnya mengapa Maria dikandung tanpa dosa. Karena telah memilih dan menciptakan dan menentukan kita untuk menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya, maka Allah menyediakan suatu jalan bagi kita untuk kembali kepada relasi yang akrab dan penuh kasih yang senantiasa ingin dinikmati-Nya dengan kita masing-masing. Dan Maria yang dikandung tanpa noda dosa merupakan bagian dari rencana Allah itu.

Apa pesannya bagi hidup kita? Kita adalah istimewa bagi Allah! Bahwa kita dapat menggantungkan diri secara penuh kepada-Nya untuk segala sesuatu. Bahwa Dia tidak akan membuang atau meninggalkan diri kita tanpa menunjukkan jalan untuk bertemu dengan-Nya. Allah mengerjakan segala seuatu seturut tujuan kehendak-Nya (Ef 1:11). Allah mengasihi kita masing-masing tanpa pandang bulu, sama-sama istimewa, dan sama-sama uniknya.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, pada hari ini baiklah kita mohon kepada-Nya agar kita dikaruniai perspektif yang lebih luas berkaitan dengan kasih-Nya kepada kita dan betapa besar nilai kita masing-masing di mata-Nya.

DOA: Allah yang Mahamulia, Engkau sungguh dahsyat dalam kuat-kuasa dan kasih-Mu. Engkau Mahasetia dan tidak pernah berubah. Engkau senantiasa mencapai apa yang Kauinginkan. Rencana-rencana-Mu berdiri tegak tanpa berubah, tak terganggu sepanjang zaman. Engkau sungguh agung, ya Allahku. Kutinggikan dan kuagungkan nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalam Bacaan  Injil hari ini (Luk 1:26-38),  bacalah  tulisan yang berjudul “TANPA NODA DOSA” (bacaan tanggal 9-12-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 5 Desember 2019   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS