Posts from the ‘MASA ADVEN, NATAL & TAHUN BARU’ Category

KOMUNIKASI DENGAN SANG KHALIK DI PENGHUJUNG TAHUN

KOMUNIKASI DENGAN SANG KHALIK DI PENGHUJUNG TAHUN

(Bacaan Kitab Suci dalam Misa, Hari ketujuh dalam Oktaf Natal – Selasa, 31 Desember 2013)

Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang itu, supaya melalui dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus bersaksi tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan melalui Dia, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik-Nya, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya. Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari keinginan jasmani, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran. Yohanes bersaksi tentang Dia dan berseru, “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian daripada aku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah; sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yoh 1:1-18)

Bacaan Pertama: 1Yoh 2:18-21; Mazmur Tanggapan: 96:1-2,11-13

Allah Yang Mahakuasa, Mahakudus, Mahatinggi dan Mahaluhur, Bapa yang kudus dan adil, Tuhan raja langit dan bumi, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau sendiri, sebab dengan kehendak-Mu yang kudus, dan oleh Putera-Mu yang tunggal bersama Roh Kudus, Engkau telah menciptakan segala sesuatu. Kami telah Kauciptakan menurut gambar dan rupa-Mu sendiri (Kej 1:26,27).

Bapa, Allah yang berbelas kasih, hari ini adalah hari terakhir tahun 2013. Hanya tinggal beberapa jam saja bagi kami semua untuk melangkah ke dalam tahun yang baru, tahun 2014. Kami memandang kembali tahun 2013 dengan segala pengharapan kami yang tulus kepada Engkau saja, baik pengharapan yang telah Kaupenuhi maupun yang tidak/belum Kauprnuhi. Kami berterima kasih penuh syukur untuk pemeliharaan dan perlindungan-Mu yang penuh cintakasih kepada kami semua selama tahun 2013.

Bapa, kami berani berdoa kepada-Mu seraya memohon agar Engkau sudi memberikan damai-sejahtera yang Engkau janjikan kepada siapa saja yang mengasihi-Mu – kedamaian yang tidak hanya terbatas pada tingkat pribadi, melainkan juga di dalam dunia. Kemarin perang saudara di Siria, Lebanon dan Sudan Selatan, hari ini pergolakan penuh kekerasan di Ukraina dan Turki. Aksi kekerasan juga masih saja terjadi di negeri kami setiap hari: di lapangan sepak bola, antar-kampung/desa, antar-universitas, antar-fakultas dalam perguruan tinggi yang sama dlsb. Kemiskinan yang semakin mewabah di tengah “wong cilik” di tengah kekayaan alam yang melimpah-ruah; korupsi di segala tingkat pemerintahan (dari atas ke-bawah) dan ketiga cabangnya: eksekutif, legislatif maupun yudikatif; pembohongan publik; ketidakadilan sosial; hukum yang hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas dan bersifat tebang-pilih. dan banyak lagi keluhan kami. Semua itu tentu tidak pernah terjadi di luar pengamatan-Mu, ya Allah yang Mahakuasa, Mahatahu dan Mahamendengar.

Dilahirkan baru sebagai anak-anak-Mu dan diurapi dengan Roh Kebenaran-Mu, kami sungguh rindu untuk melihat melampaui peristiwa-peristiwa; yang bersifat eksternal dan melihat tangan-Mu mengerjakan tujuan eksternal berkaitan dengan restorasi segalanya kepada diri-Mu sendiri. Hanya dalam iman kami dapat diyakinkan bahwa terang-Mu tetap bercahaya dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1:5).

O Khalik langit dan bumi yang Mahaperkasa. Dengan penuh rasa takjub, kami memuji-muji-Mu karena Engkau tidak mentolerir adanya jarak antara diri-Mu dan anak-anak-Mu. Sebaliknya, Putera-Mu sendiri – sang Sabda – menjadi manusia (Yoh 1:14) dan tinggal di antara kami, untuk ikut ambil bagian dalam penderitaan kami, kebingungan serta kegamangan kami, kekhawatiran kami dan kesalahpahaman kami.

Yesus, Engkau masuk ke tengah dunia kami dengan kuat-kuasa untuk mengubah segala sesuatu, namun Engkau memilih untuk bekerja agar transformasi terwujud melalui kemanusiaan kami yang diperbaharui. Dengan rasa takut dan gemetar, kami menerima tantangan untuk ditransformasikan menjadi gambar dan rupa-Mu sendiri, agar dengan demikian kami dapat menjadi agen-agen-Mu di dalam dunia ini, untuk membawa damai-sejahtera-Mu. Karena kami telah mengalami pencurahan rahmat demi rahmat dari-Mu, maka kami pun dapat meneruskan penyampaian kasih-Mu yang sangat dibutuhkan oleh dunia.

Dengan datangnya tahun yang baru ini, perkenankalah kami untuk memadahkan kidung pujian baru yang memproklamasikan apa yang telah kami alami berkenaan dengan penyelamatan-Mu dan dengan berani kami memohon kepada-Mu agar memperluas Kerajaan-Mu dalam diri kami dan melalui kami. Kami bernyanyi, ya Tuhan, karena Engkau akan datang untuk menghakimi bumi dengan kebenaran-Mu. Kami tidak takui akan penghakiman-Mu; sebaliknya kami menyambut pertobatan dari musuh-musuh kami, baik para musuh di sekeliling kami maupun “musuh-musuh” di dalam hati kami.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami ingin senantiasa berada dekat dengan diri-Mu dan mengalami kemuliaan-Mu sebagai Putera terkasih dari Bapa surgawi. Semoga tahun 2014 yang tinggal beberapa jam lagi ini merupakan tahun rahmat bagi kami semua, sebuah tahun di mana kami akan melihat Engkau bergerak dengan penuh kuat-kuasa untuk mencapai tujuan-tujuan-Mu di dalam dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 2:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA DUSTA YANG BERASAL DARI KEBENARAN” (bacaan tanggal 31-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 30 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERTEMPURAN SPIRITUAL MELAWAN SI JAHAT

PERTEMPURAN SPIRITUAL MELAWAN SI JAHAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari keenam dalam Oktaf Natal – Senin, 30 Desember 2013)

YESUS GURU KITA

Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. Aku menulis kepada kamu, hai bapak-bapak, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapak-bapak, karena kamu mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah tinggal di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya. (1Yoh 2:12-17)

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:7-10; Bacaan Injil: Luk 2:36-40

Dunia perwayangan, film-film cerita koboi (western) dan banyak cerita lainnya, bahkan karya J.R.R. Tolkien yang tentunya dikenal banyak orang (The Lord of the Rings) menyuguhkan kepada kita adegan-adegan pertarungan antara kekuatan baik melawan kekuatan jahat di mana pada akhirnya kekuatan baiklah yang menang, walaupun bukan tanpa pengorbanan.

“Surat Yohanes yang Pertama” juga menyuguhkan hal serupa, yaitu pertempuran spiritual. Yohanes memberi jaminan kepada kita bahwa kita dapat bertempur dengan penuh kepercayaan melawan Iblis karena Yesus telah memberdayakan kita dengan sabda-Nya dan Roh-Nya (1Yoh 2:14). Namun Yohanes juga mengingatkan kita akan sebuah kekuatan lainnya yang dapat menjerat hati kita: cinta kepada dunia. Yohanes menulis: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu” (1Yoh 2:15). Cinta jenis ini memang sangat merugikan, karena hanya akan menodai dan akhirnya memperbudak siapa saja yang memeluknya.

THE ARMOR OF GOD - SPIRITUAL BATTLE - 01Ketika Yohanes menulis bahwa kita tidak boleh mencintai dunia, sebenarnya dia tidak mengacu kepada dunia ciptaan Allah yang baik. Dengan kata “dunia”, Yohanes memaksudkan segala sesuatu yang teralienasi (terasingkan) dari Allah dan termasuk wilayah pengaruh yang dikendalikan oleh Iblis, sang “penguasa dunia” (lihat Yoh 12:31). Dalam artian seperti ini, “dunia” adalah bagian dari masyarakat manusia yang didorong oleh kesombongan dan hasrat-hasrat tak teratur yang berdiri berhadap-hadapan dengan Allah sendiri sebagai oposisi melawan Dia.

Allah memberikan kepada kita kebebasan untuk memilih apa yang akan kita cintai. Namun kebebasan kita tidaklah lengkap selama kita memperkenankan apa saja yang lain – termasuk hasrat-hasrat atau kecanduan-kecanduan yang merusak – untuk menggeser tempat kasih Allah sebagai sumber dan objek dari hasrat-hasrat kita yang terdalam. Iblis adalah “pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran. … ia adalah pendusta dan bapak pendusta” (Yoh 8:44). Bilamana dia tidak dapat membujuk kita untuk menyangkal Allah/Yesus, maka dia akan mencoba untuk menyeret kita agar menjauh dari Allah/Yesus, sedikit demi sedikit, dengan janji-janji kosong dan rasa aman yang palsu dalam hal-hal yang tidak dapat bertahan lama.

Hanya Yesuslah yang dapat memuaskan kerinduan dan hasrat hati kita yang terdalam. Jika kita membuat Yesus sebagai “Harta Kekayaan” kita, maka kita akan memperoleh kekuatan riil untuk mengalahkan Iblis.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah aku kuat dalam pertempuran spiritual melawan si Iblis dan para pengikutnya, juga agar aku mau dan mampu memilih apa yang baik dan menolak yang jahat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 2:12-17), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KAMU MENGASIHI DUNIA” (bacaan tanggal 30-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 27 Desember 2013 [Pesta S. Yohanes, Rasul & Penginjil]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANDA KEKELUARGAAN KITA

TANDA KEKELUARGAAN KITA

(Bacaan Kedua Misa Kudus, PESTA KELUARGA KUDUS, YESUS, MARIA DAN YUSUF- Minggu, 29 Desember 2013)

holy-family

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, perbuatlah juga demikian. Di atas semuanya itu: Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil dalam satu tubuh. Dan bersyukurlah. Hendaklah perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain sambil menyanyikan mazmur dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu menucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah, Bapa kita.

Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.
Hai suami-suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang berkenan kepada Tuhan.
Hai bapak-bapak, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. (Kol 3:12-21)

Bacaan Pertama: Sir 3:2-6,12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5; Bacaan Injil: Mat 2:13-15,19-23

KELUARGA KUDUS - 008Bayangkanlah betapa mudah bagi Yesus untuk bertumbuh sebagai seorang pemuda yang sempurna. Dia diasuh dan dibesarkan oleh dua orang kudus, Maria dan Yusuf. Sekarang bayangkanlah hal yang sebaliknya: betapa mudah bagi Maria dan Yusuf untuk menjadi orangtua yang kudus, hanya karena Yesus Kristus, Putera Allah adalah anak mereka di dunia. Tidak ada masalah, memang! Kecuali kondisi kehidupan yang sungguh sulit, baik di Betlehem, Mesir, maupun di Nazaret. Kesulitan lain adalah pada waktu mereka kehilangan Yesus di Yerusalem, yang pada akhirnya ditemukan di Bait Suci dan soal mis-komunikasi yang terjadi. Atau ketika Maria “memaksa” Anak-nya bertindak dalam pesta perkawinan di Kana; juga rasa pedih dan malu Maria karena menyaksikan Anak-Nya ditangkap sebagai seorang kriminal; dan rasa kehilangan yang mendalam pada waktu Anak-nya wafat di kayu salib. Setiap keluarga mempunyai masalah-masalah, dan hal ini tidak dapat dipungkiri, bahkan dalam keluarga yang terbaik!

Biar bagaimana pun juga “Keluarga Kudus” memang istimewa. Para ahli sosiologi dewasa ini akan mengajukan suatu alasan tambahan mengapa keluarga Yusuf dari dari Nazaret adalah istimewa: karena keluarga itu adalah sebuah keluarga Yahudi. Statistik menunjukkan bahwa dari antara kelompok-kelompok etnis yang ada di Amerika Serikat, keluarga-keluarga keturunan Yahudi menunjukkan angka terendah dalam hal tingkat kenakalan anak-anak. Barangkali gaya hidup keluarga Yahudi dapat menjadi sebuah petunjuk. Anak-anak Yahudi bertumbuh sejak kecil sampai dewasa dengan mengalami orangtua laki-laki mereka sebagai wakil Allah dalam keluarga. Banyak hari raya atau pesta Yahudi adalah saat-saat perayaan keluarga dan bapak keluargalah yang memimpin doa-doa. Sebagai wakil Allah, sang bapak keluarga memberkati anak-anaknya. Setelah bertumbuh dewasa, anak-anak dapat saja menyesali mengapa kepala ayah mereka menjadi botak atau mengapa bapak mereka tidak menjadi bintang oleh-raga, namun mereka tidak pernah dapat menyangkal kenyataan bahwa ayah mereka adalah seorang wakil Allah.

Sekarang tentang kita sendiri, umat Kristiani yang Katolik. Berapa banyak bapak keluarga yang Katolik memimpin keluarga mereka dalam doa-doa di dalam keluarga masing-masing, atau memberkati anak-anak mereka sebelum pergi tidur? Tanpa membuat ringan peranan seorang ibu dalam keluarga, lebih banyak bapak keluarga dapat mengakui otoritas yang diberikan Allah kepada mereka sebagai seorang guru keluarga, seorang pemimpin doa keluarga. Kebanyakan bapak keluarga mencoba dari hari ke hari untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga mereka. Mereka pun menjadi “pahlawan-pahlawan tak dikenal” karena tidak hadir dalam keluarga untuk sebagian besar waktu yang ada setiap hari. Akan tetapi betapa mengesankan kiranya bagi keluarga yang mana pun untuk mengalami kehadiran bapak keluarga sebagai pengingat yang menggembirakan akan kehadiran Allah, sebagaimana Yusuf mengingatkan keluarganya akan kehadiran Allah Bapa. Semua bapak keluarga tidak ada yang sempurna, namun masing-masing mencerminkan kasih dan perlindungan Bapa surgawi. Setiap bapak keluarga mempunyai Pelindung di surga, yaitu Allah Bapa, dan harus menghaturkan permohonan-permohonan kepada-Nya. Dan apabila lebih banyak lagi keluarga dapat mengandalkan diri pada berkat-berkat yang mengalir dari kepala keluarga, maka barangkali lebih sedikit perpecahan dan rasa tidak mempercayai yang akan terjadi.

KELUARGA KUDUS - 003Para ibu dan bapak keluarga bekerja keras mencoba untuk membuat hidup keluarga mereka mengalami kebahagiaan. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit keluarga yang tidak ubahnya seperti sebuah neraka di dunia. Namun demikian, apakah kita mempunyai sebuah keluarga yang bersituasi sempurna atau tidak, pada akhirnya kita semua dapat berbahagia dalam keluarga yang lebih besar di mana kita adalah anggota-anggotanya, yaitu Gereja, yang adalah Umat Allah. Santo Paulus menulis bahwa kita adalah “orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya” (Kol 3:12). Semua umat Kristiani yang sudah dibaptis adalah anak-anak angkat Allah Bapa. Semua cintakasih yang dicurahkan oleh orangtua angkat atas anak-anak yang sudah lama dinanti-nantikan, sekarang menjadi milik kita. Kasih dan keprihatinan Allah Bapa atas diri kita, harus mendorong kita untuk mengenakan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kol 3:12). Kita harus “sabar seorang terhadap yang lain, mengampuni seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain: sama seperti Tuhan telah mengampuni kita” (lihat Kol 3:13).

Masa Natal adalah masa untuk perayaan keluarga. Jadi, sungguh sedih apabila ada orang yang berada dalam kesendirian pada masa Natal. Seseorang boleh saja bertapa dan melakukan meditasi dengan baik dalam sebuah gua di puncak gunung yang tinggi, namun apabila ingin merayakan Natal maka dia harus bergabung dan berbaur dengan orang-orang lain. Dan, tanda kekeluargaan kita adalah bahwa kita berkumpul di sekeliling meja Bapa dalam perayaan Ekaristi. Sebagai sebuah keluarga, kita menyanyikan mazmur dan lagu-lagu pujian dalam perayaan Ekaristi ini dari kedalaman hati kita. Dan kepada kita Bapa surgawi menyediakan makanan yang memberikan kehidupan: Yesus Kristus, Putera-Nya sendiri. Martabat kita sebagai anak-anak Allah bertumbuh dari Misa yang satu ke Misa berikutnya.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah keluarga-keluarga kami agar menjadi lebih hidup dalam kasih-Mu. Kami ingin menemukan kepenuhan dalam Kerajaan-Mu. Tolonglah kami agar dapat membuat keluarga-keluarga kami menjadi sari-pati kasih-Mu. Buatlah keluarga-keluarga kami agar menjadi pencerminan yang hidup dari Tritunggal Mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Sir 3:2-6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGHORMATI KEDUA ORANG TUA-NYA DI DUNIA” (bacaan tanggal 29-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 27 Desember 2013 [ Pesta S. Yohanes, Rasul & Penginjil]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUATU KEBENARAN BAGI KERAJAAN ALLAH

SUATU KEMENANGAN BAGI KERAJAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA KANAK-KANAK SUCI, MARTIR, Oktaf Natal- Sabtu, 28 Desember 2013)

PROTOMARTIR DI BETLEHEM

Setelah orang-orang majus itu berangkat, tampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Yusuf pun bangun, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya digenapi apa yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” [1]

Ketika Herodes tahu bahwa ia telah diperdaya oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang ditanyakannya dengan teliti kepada orang-orang majus itu. Dengan demikian digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yeremia, “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi .” [2] (Mat 2:13-18)

[1] bdk. Hos 11:1; [2] Lihat Yer 31:15

Bacaan Pertama: 1Yoh 1:5-2:2; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:2-5,7-8

Menyingkirnya Keluarga Kudus ke Mesir dan pembunuhan anak-anak tak bersalah oleh Herodus merupakan suatu ilustrasi ang dramatis tentang pertempuran antara kegelapan dan terang. Walaupun seluruh hidup Yesus, dari Betlehem sampai ke bukit Kalvari, ditandai oleh penganiayaan, namun tidak ada kuasa apa pun – baik kuasa manusia maupun kuasa Iblis – yang dapat menggagalkan pekerjaan yang harus diselesaikan-Nya. “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1:5).

Mengapa Herodus takut kepada bayi kecil ini? Karena raja ini tidak tahu bahwa Yesus datang ke tengah dunia untuk menaklukkan hati dan jiwa manusia, bukan merebut negeri dan takhta para raja. Untuk membunuh seorang anak kecil, Herodus tidak merasa ragu sedikit pun untuk memerintahkan kematian banyak anak yang tidak bersalah. Ia menghancurkan anak-anak yang lemah dan tidak dapat membela diri karena rasa takut telah menghancurkan hatinya sendiri. Untuk memperpanjang kehidupannya sendiri, Herodus mencoba untuk membunuh Kehidupan itu sendiri.

holy-innocents-le-massacre-des-innocents-francois-joseph-navezWalaupun Herodus menggunakan kekuatan dan kekejaman untuk mewujudkan tujuan-tujuan jahatnya, Yesus membalikkan tragedi ini menjadi suatu kemenangan bagi Kerajaan Allah. Kanak-kanak Suci di Betlehem menjadi saksi dari kuat-kuasa rahmat Allah. Mereka mati untuk Kristus, sang Mesias, meskipun mereka tidak mengetahuinya. Walaupun mereka tidak dapat berbicara, Yesus membuat mereka menjadi saksi-saksi bagi diri-Nya yang layak dan pantas. Yesus membebaskan jiwa-jiwa mereka dari cengkeraman Iblis dan membuat mereka anak-anak angkat Allah. Mereka ikut ambil bagian dalam kemuliaan dan pemerintahan-Nya yang penuh kemenangan.

Santo Paulus mengingatkan kita bahwa kita pun ikut ambil bagian dalam kemenangan Yesus, bahkan ketika kita merasa dikalahkan. “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28). Kemunduran, kegagalan, dlsb., tidak ada sesuatu pun yang kita harus hadapi dalam hidup ini yang harus/dapat memisahkan kita dari Kristus. Kasih-Nya dapat berjaya di atas segalanya, baik dalam kehidupan pribadi kita dan dalam dunia secara keseluruhan.

Pada zaman ini, kita menghadapi suatu kejahatan yang melampaui kejahatan pembunuhan massal gaya Herodus: pembunuhan anak-anak yang belum sempat dilahirkan dalam jumlah yang tidak terhitung banyaknya. Apa yang dapat membalikkan arus dari perkembangan budaya kematian ini? Kasih Allah dapat dan akan menang, bahkan dalam hal ini. Ya, suatu kejahatan sangat besar sedang terjadi. Ya, kita harus berdoa untuk melawannya dan berupaya untuk mengubah “trend” dalam budaya modern kita ini. Namun demikian, baiklah kita menghindari tindakan kekerasan dan melakukan perjuangan kita bukan karena rasa frustrasi, keputus-asaan, atau kebencian terhadap mereka yang melawan kita. Ingatlah bahwa tidak ada apa atau siapa pun yang dapat menghalangi dan menggagalkan pekerjaan Yesus, sang Terang Dunia (Yoh 8:12; 9:5).

DOA: Bapa surgawi, hiburlah semua anak-anak korban aborsi. Bawalah mereka langsung menghadap takhta-Mu. Terima kasih, ya Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 2:13-18) bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA SAMPAI BUTA SEPERTI HERODUS” (bacaan tanggal 28-12-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 26 Desember 2013 [Pesta S. Stefanus, Martir Pertama]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MURID YANG DIKASIHI YESUS

MURID YANG DIKASIHI YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA YOHANES RASUL-PENULIS INJIL, Oktaf Natal – Jumat, 27 Desember 2013)

st-john-the-evangelist-1620 (1)

Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Lalu berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai ke kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi, ia tidak masuk ke dalam. Kemudian datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain. Sesudah itu, masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. (Yoh 20:2-8)

Bacaan Pertama: 1Yoh 1:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6.11-12

Seorang imam muda telah beberapa tahun melayani sebagai pastor pembantu di sebuah paroki. Untuk kurun waktu yang cukup lama, imam yang memang berwajah muda belia (katakanlah, baby face) itu membuat sejumlah warga paroki cenderung untuk “menghakimi” dia sebagai naif dan tidak berpengalaman. Barangkali mis-persepsi serupa mempengaruhi bagaimana sebagian dari kita memandang Santo Yohanes Penginjil yang pestanya dirayakan oleh Gereja pada hari ini.

Menurut tradisi, Yohanes disebut sebagai “murid yang dikasihi Yesus” (lihat Yoh 20:2). Orang kudus ini juga dilukiskan sebagai seorang rasul muda-usia yang menaruh kepalanya di atas punggung Yesus pada waktu Perjamuan Terakhir. Namun gambaran seperti ini tentang Yohanes dapat saja menutupi kekuatan pribadi sang rasul yang datang dari relasi penuh keintiman sedemikian dengan diri Yesus.

PETRUS AND YOHANES BERLARI KE KUBURInjil mencatat, “… ia melihatnya dan percaya” (Yoh 20:8). Ini adalah dasar dari kedekatan Yohanes dengan Yesus, yaitu kasihnya dan imannya bahwa Yesus wafat dan bangkit untuk kita-manusia. Kasih yang ditunjukkan oleh Yohanes di kubur pada hari Minggu Paskah tidak bersifat statis, melainkan terus membawanya sepanjang masa hidupnya yang diperkirakan sangat panjang. Karena Yohanes cukup rendah hati untuk memperkenankan keakrabannya dengan Yesus bertumbuh, maka dikatakan bahwa dia telah menunjukkan kekuatan yang luarbiasa ketika mengalami pencobaan-pencobaan berat dalam hidupnya. Memang kita tidak memiliki kepastian mengenai kehidupan Yohanes, namun beberapa tulisan yang berasal dari abad kedua dan ketiga kelihatannya memberi kesaksian yang mendukung komitmen tak-tergoyahkan dari sang rasul terhadap Yesus walaupun pada saat-saat dia menanggung penderitaan: dipenjara, percobaan pembunuhan atas dirinya dengan memasukkannya ke dalam sebuah ketel yang berisikan minyak mendidih, dan pengasingan sementara dirinya dari kota Efesus. Melalui itu semua, Yohanes memberi contoh tentang iman yang tak tergoyahkan dalam kuat-kuasa Tuhan Yesus yang telah bangkit.

Dari abab ke abad, berbagai tradisi menyangkut Yohanes Penginjil disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya: dari Santo Ireneus (c.125-c.201) yang mengenal Santo Polykarpus (c.69-c.155) yang adalah seorang murid dari Santo Yohanes. Inilah bagaimana Injilnya sampai kepada kita juga. Selama 2.000 tahun, umat Kristiani yang setia telah menyampaikan kabar-kabar bahwa Yesus datang untuk menyatakan kasih Bapa surgawi yang bersifat intim. Sekarang, kita harus mengambil peranan dalam rangkaian komunikasi tersebut. Marilah kita masing-masing meneladan Santo Yohanes dengan bertumbuh dalam keintiman dengan Yesus dan memperkenankan Kabar Baik tentang Kasih Allah disampaikan melalui kita kepada generasi yang akan datang.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin terhitung sebagai salah seorang murid Yesus Kristus yang dikasihi oleh-Nya. Aku ingin bertumbuh dalam keintiman relasi dengan Yesus, untuk lebih mengenal lagi Allah Tritunggal Mahakudus, dan dengan kasih dalam hidupku …… untuk syering Injil dengan generasi-generasi yang akan datang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 1:1-4), bacalah tulisan berjudul “BAGI YOHANES, YESUS ADALAH HIKMAT ALLAH” (bacaan tanggal 27-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 26 Desember 2013 [Pesta S. Stefanus, Martir Pertama]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI ANAK-ANAK ALLAH YANG DIPENUHI ROH KUDUS

MENJADI ANAK-ANAK ALLAH YANG DIPENUHI ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA, Oktaf Natal – Kamis, 26 Desember 2013)

St_Stephen_Martyrdom

Stefanus, yang penuh dengan anugerah dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut Orang-orang Merdeka – mereka berasal dari Kirene dan Aleksandria – bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Mereka berdebat dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Tetapi berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” (Kis 6:8-10; 7:54-59)

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6,8,16-17; Bacaan Injil: Mat 10:17-22

Setelah segala perayaan berkaitan dengan kedatangan sang Raja Damai, pada hari ini kita dihadapkan dengan cerita tentang martir Kristiani yang pertama: Santo Stefanus. Sungguh suatu perubahan suasana yang tidak main-main! Kita dipanggil untuk mengakui bahwa damai-sejahtera yang dibawa oleh Yesus bagi kita dengan kedatangan-Nya ke tengah dunia sesungguhnya mengandung biaya yang sangat tinggi: Darah-Nya dan darah semua martir sepanjang segala abad. Dari sejak awal, kita telah belajar bahwa damai-sejahtera yang sejati hanya dapat menjadi kenyataan, apabila kita merangkul Dia yang mati untuk kita dan memperkenankan salib-Nya untuk “merasuki” hidup kita.

Stefanus mencerminkan kebenaran-kebenaran ini dengan baik sekali. Dalam menceritakan kisah Stefanus ini, Lukas (pengarang Kisah Para Rasul) menekankan secara istimewa keserupaan Stefanus dengan Yesus. Sang diakon penuh dengan rahmat dan kuat-kuasa; dia berbicara dengan hikmat dari Roh Kudus sendiri (Kis 6:8,10). Selagi dia dihukum rajam, Stefanus berdoa: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis 7:59), dan ia pun mengampuni: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis 7:60).

ROHHULKUDUSItulah sebabnya mengapa Yesus datang ke tengah dunia: untuk membuat kita menjadi anak-anak Allah yang dipenuhi dengan kuat-kuasa Roh Kudus. Pada saat kita bertobat dan dibaptis, kita pun menerima Roh Kudus. Namun selagi kita berada di tengah kesibukan kita sehari-hari, bukan mustahillah kita disibukkan pula dengan berbagai pelanturan atau distraksi dan urusan-urusan duniawi. Dosa, pengaruh-pengaruh dari Iblis, dan segala hasrat untuk hal-hal duniawi dapat menguasai hati kita dengan cepat. Itulah sebabnya mengapa kita perlu berdoa setiap hari: “Datanglah, ya Roh Kudus. Penuhilah diri kami, transformasikanlah diri kami, dan buatlah kami semakin serupa dengan Yesus.”

Segala sesuatu yang dialami oleh Stefanus dan semua murid Yesus yang awal juga tersedia bagi kita pada hari ini. Pada masa Natal ini, marilah kita mengundang Tuhan Yesus untuk bekerja dalam hidup kita secara lebih mendalam lagi. Marilah kita memperkenankan Dia membebaskan diri kita dari dosa, memberikan kepada-Nya ruangan yang lebih luas lagi dalam hati kita; menyediakan waktu yang lebih banyak lagi untuk membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci; membuka hati kita lebih lebar lagi ketika kita menerima tubuh-Nya dalam perayaan Ekaristi. Ini semua adalah cara-cara dengan mana kita dapat menempatkan diri kita dalam tangan-tangan-Nya yang penuh kasih, kemudian dipenuhi dengan hidup dan kasih Allah sendiri. Apabila kita dipenuhi Roh Kudus seperti halnya Stefanus, kita pun akan mencerminkan kemuliaan Allah dan menjadi proklamator-proklamator Injil yang berani.

DOA: Roh Kudus Allah, penuhilah diri kami seperti Engkau telah memenuhi diri para pengikut Kristus yang awal. Buatlah kami agar semakin serupa dengan Yesus. Berdayakanlah kami agar dapat melakukan pekerjaan baik yang telah Engkau rencanakan bagi kami masing-masing. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:8-10; 7:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP YANG SENANTIASA DIPENUHI DAN DIPIMPIN OLEH ROH KUDUS” (bacaan tanggal 26-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:17-22), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU AKAN DIBENCI SEMUA ORANG OLEH KARENA NAMA-KU” (bacaan tanggal 26-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 22 Desember 2013 [HARI MINGGU ADVEN IV]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PESAN NATAL BERSAMA PGI AND KWI TAHUN 2013

PESAN NATAL BERSAMA PGI DAN KWI TAHUN 2013

“Datanglah, ya Raja Damai” (Bdk. Yes. 9:5)

Saudara-saudari terkasih, segenap umat Kristiani Indonesia,

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus

Kita kembali merayakan Natal, peringatan kelahiran Yesus Kristus Sang Juruselamat di dunia. Perayaan kedatangan-Nya selalu menghadirkan kehangatan dan pengharapan Natal bagi segenap umat manusia, khususnya bagi umat Kristiani di Indonesia. Dalam peringatan ini kita menghayati kembali peristiwa kelahiran Yesus Kristus yang diwartakan oleh para Malaikat dengan gegap gempita kepada para gembala di padang Efrata, komunitas sederhana dan terpinggirkan pada jamannya (bdk. Luk. 2:8-12). Selayaknya, penyampaian kabar gembira itu tetap menggema dalam kehidupan kita sampai saat ini, dalam keadaan apapun dan dalam situasi bagaimanapun.

Tema Natal bersama PGI dan KWI kali ini diilhami suatu ayat dalam Kitab Nabi Yesaya 9:5 “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita; seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang; Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”.

Kekuatan pesan sang nabi tentang kedatangan Mesias dibuktikan dari empat gelar yang dijabarkan dalam nubuat tersebut, yaitu: 1). Mesias disebut “Penasihat Ajaib”, karena Dia sendiri akan menjadi keajaiban adikodrati yang membawakan hikmat sempurna dan karenanya, menyingkapkan rencana keselamatan yang sempurna. 2). Dia digelari “Allah yang Perkasa”, karena dalam Diri-Nya seluruh kepenuhan keallahan akan berdiam secara jasmaniah (bdk. Kol. 2:9, bdk. Yoh. 1:1.14). 3). Disebut “Bapa yang Kekal” karena Mesias datang bukan hanya memperkenalkan Bapa Sorgawi, tetapi Ia sendiri akan bertindak terhadap umat-Nya secara kekal bagaikan seorang Bapa yang penuh dengan belas kasihan, melindungi dan memenuhi kebutuhan anak-anak-Nya (Bdk. Mzm. 103:3). 4). Raja Damai, karena pemerintahan-Nya akan membawa damai dengan bagi umat manusia melalui pembebasan dari dosa dan kematian (bdk. Rm. 5:1; 8:2).

Seiring dengan semangat dan tema Natal tahun ini, kita menyadari bahwa Natal kali ini tetap masih kita rayakan dalam suasana keprihatinan untuk beberapa situasi dan kondisi bangsa kita. Kita bersyukur bahwa Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan beragama. Namun, dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara, kita masih merasakan adanya tindakan-tindakan intoleran yang mengancam kerukunan, dengan dihembuskannya isu mayoritas dan minoritas di tengah-tengah masyarakat oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan kekuasaan. Tindakan intoleran ini secara sistematis hadir dalam berbagai bentuknya.
Selain itu, di depan mata kita juga tampak perusakan alam melalui cara-cara hidup keseharian yang tidak mengindahkan kelestarian lingkungan seperti kurang peduli terhadap sampah, polusi, dan lingkungan hijau, maupun dalam bentuk eksploitasi besar-besaran terhadap alam melalui proyek-proyek yang merusak lingkungan.

Hal yang juga masih terus mencemaskan kita adalah kejahatan korupsi yang semakin menggurita. Usaha pemberantasan sudah dilakukan dengan tegas dan tidak pandang bulu, tetapi tindakan korupsi yang meliputi perputaran uang dalam jumlah yang sangat besar masih terus terjadi.

Hal lain yang juga memprihatinkan adalah lemahnya integritas para pemimpin bangsa. Bahkan dapat dikatakan bahwa integritas moral para pemimpin bangsa ini kian hari kian merosot. Disiplin, kinerja, komitmen dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat digerus oleh kepentingan politik kekuasaan. Namun demikian, kita bersyukur karena Tuhan masih menghadirkan beberapa figur pemimpin yang patut dijadikan teladan. Kenyataan ini memberi secercah kesegaran di tengah dahaga dan kecewa rakyat atas realitas kepemimpinan yang ada di depan mata. 3. Karena itu, Gema tema Natal 2013 “Datanglah, Ya raja Damai” menjadi sangat relevan. Nubuat Nabi Yesaya sungguh memiliki kekuatan dalam ungkapannya. Seruan ini mengungkapkan sebuah doa permohonan dan sekaligus harapan akan datangnya sang pembawa damai dan penegak keadilan (bdk. “Penasihat Ajaib”).

Doa ini dikumandangkan berangkat dari kesadaran bahwa dalam situasi apapun, pada akhirnya “Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal,” Dialah yang memiliki otoritas atas dunia ciptaan-Nya. Dengan demikian, semangat Natal adalah semangat merefleksikan kembali arti Kristus yang sudah lahir bagi kita, yang telah menyatakan karya keadilan dan perdamaian dunia, dan karenanya pada saat yang sama, umat berkomitmen untuk mewujudkan kembali karya itu, yaitu karya perdamaian di tengah konteks kita. Tema ini sekaligus mengacu pada pengharapan akan kehidupan kekal melalui kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai Hakim yang Adil. Semangat tema ini sejalan dengan tekad Gereja-gereja sedunia yang ingin menegakkan keadilan, sebab kedamaian sejati tidak akan menjadi nyata tanpa penegakan keadilan.

Karena itu, dalam pesan Natal bersama kami tahun ini, kami hendak menggarisbawahi semangat Kedatangan Kristus tersebut dengan sekali lagi mendorong Gereja-gereja dan seluruh umat Kristiani di Indonesia untuk tidak jemu-jemu menjadi agen-agen pembawa damai di mana pun berada dan berkarya. Hal itu dapat kita wujudkan antara lain dengan:

a) Terus mendukung upaya-upaya penegakkan keadilan, baik di lingkungan kita maupun dalam lingkup yang lebih luas. Hendaklah kita menjadi pribadi-pribadi yang adil dan bertanggung jawab, baik dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, gereja, masyarakat dan di mana pun Allah mempercayakan diri kita berkarya. Penegakkan keadilan, niscaya diikuti oleh sikap hidup yang berintegritas, disiplin, jujur dan cinta damai.
b) Terus memberi perhatian serius terhadap upaya-upaya pemeliharaan, pelestarian dan pemulihan lingkungan. Mulailah dari sikap diri yang peduli terhadap kebersihan dan keindahan alam di sekitar kita, penghematan pemakaian sumber daya yang tidak terbarukan, serta bersikap kritis terhadap berbagai bentuk kegiatan yang bertolak belakang dengan semangat pelestarian lingkungan. Dengan demikian kita juga berperan dalam memberikan keadilan dan perdamaian terhadap lingkungan serta generasi penerus kita.
c) Semangat cinta damai dan hidup rukun menjadi dasar yang kokoh dan modal yang sangat penting untuk menghadapi agenda besar bangsa kita, yaitu Pemilu legislatif maupun Pemilu Presiden-Wakil Presiden tahun 2014 yang akan datang.

Saudara-saudara terkasih,

Marilah kita menyambut kedatangan-Nya sambil terus mendaraskan doa Santo Fransiskus dari Asisi:
Tuhan, Jadikanlah aku pembawa damai, Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang,
Tuhan semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur,
Memahami dari pada dipahami, mencintai dari pada dicintai,
Sebab dengan memberi aku menerima
Dengan mengampuni aku diampuni
Dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya.
Amin

SELAMAT NATAL 2013 DAN TAHUN BARU 2014

Jakarta, 18 November 2013

Atas nama
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA
Pdt. Dr. A. A. Yewangoe (Ketua Umum)
Pdt. Gomar Gultom, M.Th. (Sekretaris Umum)
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA
Mgr Ignatius Suharyo (Ketua Umum)
Mgr J. M. Pujasumarta (Sekretaris Jenderal)

Sumber: KOMPASIANA

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers