Posts from the ‘MASA ADVEN, NATAL & TAHUN BARU’ Category

TINGGAL DI DALAM KRISTUS

TINGGAL DI DALAM KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregrorius dr Nazianze, Uskup-Pujangga Gereja – Sabtu, 2 Januari 2016

YOHANES-220px-JohnEvangelistReniSiapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias? Inilah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. Sebab siapa yang menyangkal Anak, ia tidak memiliki Bapa. Siapa yang mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa. Dan kamu, apa yang telah kamu dengar sejak semula, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar sejak semula itu tetap tinggal di dalam kamu, maka kamu akan tetapi tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa. Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal.

Semua itu kutulis kepadamu, yaitu mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan kamu. Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu – dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta – dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Jadi sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya. (1 Yoh 2:22-28).

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Yoh 1:19-28 

Ungkapan “tinggal dalam Kristus” beberapa kali muncul dalam petikan bacaan di atas. Kenyataan ini kiranya merupakan tanda betapa penting arti ungkapan itu. Memang sungguh vital bagi kita untuk mempelajari rahasia dari ungkapan “tinggal dalam Kristus” ini – berada bersama Dia sepanjang masa. Yohanes menjelaskan bahwa “pengurapan” (baptis) kita “terima dari dari Dia tinggal dalam diri kita (1 Yoh 2:27). Kita  dapat mengalami saat-saat berdoa yang terasa manis dan indah selagi kita mulai memahami bahwa Yesus sungguh hidup dalam diri kita! Kita merasakan indahnya kehadiran Yesus apabila kita memahami pernyataan/perwahyuan bahwa kita adalah anak-anak Allah!

Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kita sehari-hari, apakah kita (anda dan saya) ingat untuk mencari Juruselamat kita? Apakah kita merasakan betapa hangat kehadiran-Nya pada saat-saat doa yang dipenuhi keheningan? Apakah kita juga merasakan kehangatan kehadiran-Nya itu selagi kita menjalankan tugas-tugas harian kita? Yohanes menjelaskan bahwa Yesus itu begitu riil dan berwujud sehingga hampir dapat merasakan sentuhan-Nya atau mendengar suara-Nya yang lembut. Bisikan kasih-Nya dan bisikan dorongan guna menyemangati kita seharusnya membuat hati kita tenang. Sabda Allah dalam Kitab Suci seharusnya hidup dalam diri kita, memenuhi diri kita dengan sukacita dan pernyataan diri-Nya.

ROHHULKUDUSKadang-kadang memang kita merasa bahwa hubungan kita dengan Yesus suka keluar dari rel. Barangkali karena kita memperkenankan tekanan/beban kehidupan sehari-hari kita membuat kita hampir berputus-asa dan merampas rasa percaya kita akan kehadiran-Nya. Barangkali, selagi kita menghadapi berbagai kesulitan atau pengejaran serta penganiayaan dalam hidup kita, kita bertanya kepada diri kita: “Di mana Allah dalam setiap peristiwa ini? Dalam hal ini kita harus senantiasa tidak boleh lupa bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan kita. Dia memanggil kita kepada suatu iman yang lebih mendalam, suatu pengosongan diri yang lebih mendalam lagi guna memberi ruang yang lebih luas lagi bagi-Nya. Selagi kita bereksperimen dengan iman kita kepada-Nya, kita mulai memahami kasih-Nya dengan lebih mendalam lagi.

“Tinggal di dalam Kristus” berarti kita menerima dalam iman bahwa Yesus telah mencurahkan Roh Kudus-Nya ke dalam diri kita. Tidak pernah ada waktu sedikit pun di mana Dia meninggalkan kita – tidak pernah ada waktu sedikit pun di mana Dia tidak tinggal dalam diri kita. Semakin besar kepercayaan kita pada kebenaran ini, semakin sering pula kita akan mengingat dan menggantungkan hidup kita pada kasih-Nya selagi kita menjalani hidup kita sehari-harinya.

Manakala kita (anda dan saya) merasa terpisah dari Allah, marilah kita memohon kepada-Nya untuk menyatakan kehadiran-Nya dalam hati kita. Marilah kita mengingatkan diri kita bahwa Yesus tidak akan meninggalkan kita. Dia tidak pernah melupakan “kasih setia dan kesetiaan-Nya” (Mzm 98:3).

DOA: Yesus, aku percaya bahwa Engkau ada bersamaku. Dalam iman dan kasih, aku menyerahkan diriku kepada kehendak-Mu. Aku menyatakan dalam iman bahwa Engkau tidak pernah akan meninggalkan diriku. Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku yang sungguh setia, ya Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:19-28), bacalah tulisan yang berjudul “YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan untuk tanggal 1-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUMA http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 30 Desember 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KARENA PUTERA ALLAH MENJADI DAGING DALAM RAHIM MARIA

KARENA PUTERA ALLAH MENJADI DAGING DALAM RAHIM MARIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH – Jumat, 1 Januari 2016)

HARI PERDAMAIAN SEDUNIA

3_ib-402_f

TUHAN (YHWH) berfirman kepada Musa: “Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.” (Bil 6:22-27) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3, 5-6,8; Bacaan Kedua: Gal 4:4-7; Bacaan Injil: Luk 2:16-21

Selagi kita berada di awal tahun yang baru ini, Gereja meneguhkan kembali janji Allah untuk memberkati kita dan melindungi kita (Bil 6:24). Dalam merayakan HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH, kita memproklamasikan kebenaran mulia bahwa dalam rahim Maria-lah Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus menyatukan diri-Nya secara lengkap dengan kemanusiaan kita.

Dalam diri Maria, kita melihat potret dari seseorang yang mengetahui bahwa wajah Allah menyinari dirinya dan Ia memenuhi dirinya dengan rahmat (Bil 6:25). Allah memandang Maria dengan penuh kasih dan mencurahkan dirinya dengan rahmat ilahi, dan Ia mempersiapkan Maria untuk mengatakan “ya” terhadap rencana Allah bahwa dia akan membawa Putera-Nya dalam rahimnya ke tengah dunia. Ketika Maria dalam iman mengucapkan persetujuannya (fiat), maka Bapa surgawi memberikan kepadanya damai-sejahtera-Nya (Bil 6:26), dan secara berkesinambungan mendorong serta menyemangati Maria agar menaruh kepercayaan kepada-Nya selagi dia menyaksikan rencana-Nya bergulir, tahap demi tahap.

Iman kita mengatakan bahwa Maria sangat membutuhkan damai-sejahtera dari Allah, karena dia akan menghadapi situasi-situasi yang berbahaya dan menakutkan (lihat Luk 2:4-7; Mat 2:13-15)! Dalam masing-masing situasi, Maria belajar untuk menaruh kepercayaan secara lebih penuh bahwa Allah memberkati dan melindungi diri-Nya (Bil 6:24).

Karena Putera Allah menjadi daging dalam rahim Maria, kita pun dapat ikut ambil bagian dalam berkat-berkat ilahi yang indah ini. Kita telah dibaptis ke dalam Kristus; artinya kita mengambil bagian dalam keilahian-Nya, dan juga dalam kemanusiaan-Nya. Kita adalah para ahli waris dari berkat-berkat yang diberikan Allah (YHWH) kepada Israel dan secara khusus kepada Maria, sang Puteri Sion yang dikasihi-Nya.

Seperti Maria, kita dapat melangkah dengan penuh keyakinan dalam berkat dan damai-sejahtera dari Allah. Putera Allah, yang meninggalkan takhta-Nya di surga untuk menjadi seorang manusia seperti kita, telah mengalahkan dosa dan maut bagi kita semua. Setiap hari, kita dapat dengan bebas menerima hidup Yesus ke dalam hati kita dengan sekadar menjawab “ya” kepada panggilan Allah, seperti yang dilakukan oleh Maria. Oleh darah Yesus yang menyucikan, kita telah dibuat menjadi bejana-bejana Roh Kudus, dengan demikian memampukan kita untuk berseru “Abba! Bapa!” sebagai anak-anak Allah yang sejati (Gal 4:6-7). Allah kita tidak “jauh-jauh amat” dari tempat kita duduk/berdiri sekarang, malah boleh dikatakan bahwa Dia sungguh dekat, karena Dia berdiam dalam diri kita melalui Roh Kudus-Nya. Sekarang, marilah kita berbalik kepada-Nya dan memperkenankan berkat, rahmat, dan belas kasih-Nya menyinari diri kita.

DOA: Bapa surgawi, utuslah Roh-Mu kepada kami agar membawa kami lebih dekat lagi kepada Putera-Mu terkasih pada tahun yang baru ini. Selagi kami menyambut rahmat-Mu ke dalam hati kami, kami pun akan diperbaharui dan diperkuat agar dapat hidup sebagai saksi-saksi kasih-Mu yang tangguh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Gal 4:4-7), bacalah tulisan yang berjudul “BUNDA ALLAH [2]” (bacaan tanggal 1-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH  JANUARI 2016 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA BUNDA ALLAH” (bacaan tanggal 1-1-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 29 Desember 2015  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERSYUKUR ATAS BERKAT-BERKAT ALLAH PADA TAHUN LALU

BERSYUKUR ATAS BERKAT-BERKAT ALLAH PADA TAHUN LALU

(Bacaan Pertama dalam Misa Kudus, Hari ketujuh dalam Oktaf Natal – Kamis, 31 Desember 2015)

Saint John-420x429Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kami dengar bahwa antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Dari hal inilah kita mengetahui bahwa ini benar-benar waktu yang terakhir. Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, tentu mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya nyata bahwa mereka semua tidak termasuk pada kita. Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya. Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran (1 Yoh 2:18-21). 

Mazmur Tanggapan: 96:1-2,11-13; Bacaan Injil: Yoh 1:1-18

“Waktu ini adalah waktu yang terakhir”  (1 Yoh 2:18).

Hanya tinggal beberapa jam saja – dan tahun 2015 ini akan berakhir dan menjadi sejarah,”  demikian tulis seorang siswa seminari berumur 21 tahun yang bernama Angelo Roncali (belakangan menjadi Paus Yohanes XXIII) dalam catatan hariannya tertanggal 31 Desember 1902. “Aku berlutut di hadapan Allahku dengan mengingat-ingat kebaikan-Nya kepadaku pada tahun ini … berterima kasih kepada-Nya dengan segenap hatiku.” Roncali menambahkan bahwa tahun itu adalah “tahun penuh konflik.” “Aku dapat saja kehilangan panggilanku – dan aku tidak kehilangan hal itu,” catatnya dengan penuh syukur atas rahmat Allah yang menguatkan dan atas perlindungan-Nya.

Seperti Paus Santo Yohanes XXIII, marilah kita pada hari ini bergembira atas segala berkat yang dicurahkan Allah atas diri kita di tahun 2015 ini. Marilah kita juga berterima kasih penuh syukur kepada-Nya untuk rahmat yang membawa kita melalui kesulitan-kesulitan yang kita hadapi. Adalah suatu praktek yang baik jika pada saat-saat menjelang tutup tahun kita menoleh ke belakang dan melihat peristiwa-peristiwa pada tahun 2015 dan merenungkan apa saja yang terjadi selama 12 bulan lalu.

PAUS YOHANES XXIII -7Memang mudah untuk mengingat-ingat hal-hal baik dengan penuh syukur. Akan tetapi, peristiwa-peristiwa yang penuh tantangan dan kesulitan juga pantas untuk diingat. Mungkin kelihatan atau terasa kurang menyenangkan, namun apabila kita melihat semua itu dengan menggunakan mata iman, maka kita akan mampu melihat bagaimana Allah bekerja melalui peristiwa-peristiwa itu guna menjadikan kita lebih dekat lagi kepada-Nya. Semakin kita melihat ke belakang dalam suasana doa dan kehadiran Allah, semakin penuh pula kita akan menjadi yakin bahwa semua hal tersebut sebenarnya bekerja sama untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Santo Paulus menulis, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28).

Pada hari Tahun Baru 1903, Roncali menulis dalam catatan hariannya sebagai berikut: “Aku telah melihat dini hari dari suatu tahun yang baru. Aku menyambutnya dalam nama Tuhan dan aku menguduskannya kepada Hati Kristus yang penuh kasih. Semoga tahun yang baru ini bagiku menjadi suatu tahun yang penuh dengan pekerjaan baik, tahun keselamatanku … Tahun baru telah mulai: Semoga tahun baru ini merupakan suatu tahun kehidupan juga.” 

Tahun baru ini adalah karunia dari Allah. Oleh karena itu, marilah kita menyambutnya dalam nama Tuhan dan menerima segala hal yang disediakan-Nya dalam karunia ini bagi kita masing-masing. Marilah kita dengan penuh keyakinan menaruh kepercayaan  pada kasihsetia Allah dan kebaikan-Nya terhadap kita.

DOA: Bapa surgawi, aku mempersembahkan tahun yang baru berlalu ini kepada belas kasih-Mu dan mendedikasikan tahun baru ini kepada penyelenggaraan-Mu. Semoga tahun 2016 menjadi suatu tahun yang dipenuhi rahmat-Mu secara berlimpah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:1-18), bacalah tulisan yang berjudul “DIA ADALAH TERANG KEHIDUPAN KITA” (bacaan tanggal 31-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak, 28 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SUNGGUH MENGINGINKAN KITA UNTUK MENJADI SAHABAT-SAHABAT-NYA SEPANJANG MASA

YESUS SUNGGUH MENGINGINKAN KITA UNTUK MENJADI SAHABAT-SAHABAT-NYA SEPANJANG MASA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari keenam dalam Oktaf Natal – Rabu, 30 Desember 2015) 

Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004

Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004

Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. Aku menulis kepada kamu, hai bapak-bapak, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapak-bapak, karena kamu mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah tinggal di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya. (1 Yoh 2:12-17) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:7-10; Bacaan Injil: Luk 2:36-40

Melihat adanya potensi perpecahan dalam Gerejanya, Yohanes menulis kepada para anggota jemaatnya, wanti-wanti agar mereka tetap erat dengan Tuhan dan antara satu dengan lainnya. Yohanes menyapa mereka dengan term-term yang biasa digunakan dalam lingkungan keluarga (“anak-anak”, “bapak-bapak”, “orang-orang muda”), Ia mendorong serta menyemangati mereka untuk mengingat apa yang telah dilakukan Yesus dalam hidup mereka. Allah telah mengampuni dosa-dosa mereka, menyatakan diri-Nya, dan mencurahkan kekuatan-Nya untuk mengalahkan kejahatan (si Jahat). Marilah sekarang kita melihat tiga berkat ini secara lebih dekat.

Pada intinya, “diampuni” berarti berdamai dengan Allah – dan hal ini adalah karunia yang diberikan oleh Yesus kepada kita dengan “biaya” berupa darah-Nya sendiri. Dalam Yesus, kita melihat kasih penuh pengorbanan dan belas kasih yang penuh sabar. Dalam salib-Nya, kita melihat jaminan atas keselamatan kita.

Yesus juga menawarkan kepada kita karunia pengenalan akan Allah yang meningkat. Mengenal Allah bukan berarti sekadar masalah fakta dan doktrin. Mengenal Allah menyangkut suatu relasi persahabatan yang intim/akrab dengan Dia. Yohanes berjanji bahwa selagi kita dengan tekun berupaya agar menjadi lebih dekat dengan Yesus dalam doa, kita akan mengalami kasih-Nya. Dan pengalaman itu akan meyakinkan kita bahwa Dia sungguh menginginkan kita untuk menjadi sahabat-sahabat-Nya sepanjang masa.

ST JOHN THE EVANGELIST by Pompeo Batoni (1708-1787) from Basildon Park. The Italian painter born in Lucca was celebrated for his portraits.

ST JOHN THE EVANGELIST by Pompeo Batoni (1708-1787) from Basildon Park. The Italian painter born in Lucca was celebrated for his portraits.

Allah juga memberikan kepada kita kekuatan dan kemenangan dalam pertempuran kita melawan dosa dan godaan. Hari demi hari, Iblis mencoba untuk membujuk-rayu kita dengan kebohongan dan dustanya. Namun jika kita berjalan dengan Yesus sehari-harinya, maka kita mulai mengenali taktik-taktik Iblis dan menjadi lebih kuat dalam melawan Dia dan berkata “tidak” terhadap dosa.

Yohanes mengingatkan para anggota jemaatnya bahwa ada dua pihak yang saling bertentangan yang ingin memiliki hati mereka. Namun pada saat yang sama, ia berbicara tentang bagaimana Yesus memanggil mereka untuk berjalan bersama-Nya di jalan kasih-Nya. Kita pun menghadapi pilihan serupa. Kita dapat mencoba untuk berjalan sendiri dan mengisolasikan diri kita, atau kita dapat berpegang pada kekuatan dan kesatuan serta persatuan yang ditawarkan Yesus dalam tubuh-Nya, yaitu Gereja. Apakah pilihan kita (anda dan saya)? Allah telah menganugerahkan kepada kita masing-masing suatu kehendak bebas.

Saudari dan Saudara yang terkasih, kasih Allah bersifat all-inclusive. Tidak ada seorang pun yang dilupakan dan ditinggalkan oleh-Nya. Kita semua adalah anak-anak-Nya, dan innocence kita telah dipulihkan melalui wafat Kristus di kayu salib. Kita akan menyadari hal ini hanya apabila kita tetap saling berhubungan sebagai saudari dan saudara dalam Kristus. Kemudian, sebagai para orangtua yang penuh tanggung jawab, kita akan menjadi terang bagi dunia, menyatakan kasih Allah kepada siapa saja yang berada di sekeliling kita.

DOA: Tuhan, persatukanlah semua umat-Mu – perempuan maupun laki-laki, yang muda maupun yang tua – dalam kesatuan dan persatuan iman dan kasih yang mengatasi setiap perpecahan dan prasangka. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 2:36-40), bacalah tulisan yang berjudul “PENUH HIKMAT DAN KASIH KARUNIA ALLAH ADA PADA-NYA” (bacaan tanggal 30-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak, 28 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA MENGERJAKAN PEKERJAAN RUMAH KITA

MARILAH KITA MENGERJAKAN PEKERJAAN RUMAH KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari kelima dalam Oktaf Natal – Selasa, 29 Desember 2015)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAInilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Siapa yang berkata, “Aku mengenal Dia”, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi siapa yang menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Dia. Siapa yang mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Saudara-saudara yang terkasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu sejak semula. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun kutuliskan kepada kamu perintah baru juga, yang benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Siapa yang berkata bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudara seimannya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Siapa yang mengasihi saudara seimannya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi siapa yang membenci saudara seimannya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya. (1Yoh 2:3-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,5-6; Bacaan Injil: Luk 1:22-35 

Bayangkanlah seorang siswa yang sedang belajar matematika. Dia mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang diterangkan oleh gurunya tentang beberapa rumus matematika. Siswa tersebut menghafal semua rumus matematika yang dijelaskan oleh gurunya. Namun, kemudian sang guru memberikan kepada para muridnya “PR”, dan “PR” adalah sesuatu yang sangat dibenci oleh siswa tersebut. Tentunya sang guru tidak akan membiarkan siswa ini untuk maju lebih lanjut dalam menggumuli soal-soal matematika yang lebih sulit sampai si siswa menerapkan segalanya yang telah diketahuinya. Pada akhirnya siswa tersebut menurut juga; dia belajar dan mengerjakan “PR”-nya dengan serius dan berbagai kemajuan juga berhasil dicapai.

Kalau kita pikir-pikir, kita semua pun seperti para siswa dalam perjalanan kita bersama Yesus. Agar supaya kita semakin dekat pada-Nya dan maju dalam hidup spiritual kita, kita pun harus mengerjakan “PR” kita dalam mengikuti atau mematuhi perintah-perintahnya dalam hidup kita sehari-hari.

YOHANES-220px-JohnEvangelistReniMenurut Santo Yohanes, “siapa yang menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah” (1 Yoh 2:5). Dengan perkataan lain, bilamana kita menerapkan apa yang kita ketahui tentang Injil, maka kita pun akan menjadi seperti Yesus sendiri. Kita menjadi lebih yakin bahwa kita adalah anak-anak Allah, dan sikap serta tindakan-tindakan kita akan menunjukkan hal itu.

Tentu saja hal ini tidak selalu mudah untuk dilakukan. Seringkali hal ini menuntut disiplin dan energi dari seorang atlit yang penuh dedikasi selagi kita mencoba untuk melakukan “olah rohani” baru termaksud. Bagi seseorang, hal ini dapat berarti memerangi kesombongan dan kekerasan kepalanya. Bagi orang lain, hal ini dapat berarti berjalan ke luar dari “zona kenyamanan”-nya dan mulai melayani orang-orang lain dengan semangat yang lebih tulus dan murni. Bagi orang yang lain lagi, hal ini dapat berarti menyediakan waktunya untuk membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci dan membangun suatu relasi dengan Allah. (Jadi, kita tidak selalu bergerak ke sana-sana kemari pada saat-saat kita tidak tidur.)

Pada setiap saat hidup kita, pentinglah kita untuk senantiasa mengingat bahwa kita tidak pernah sendiri. Roh Kudus akan menolong kita pada saat-saat kita berjuang menghadapi berbagai situasi yang kita hadapi. Dia akan memberikan kita rahmat untuk menaklukkan ketidakberdayaan kita. Dia akan memegang tangan kita dan berjalan bersama kita melalui saat-saat di mana kita mengalami frustrasi, mendorong dan menyemangati kita terus, mengingatkan kita bahwa semua kerja keras kita dan proses pembelajaran kita memang memiliki makna.

Pada hari ini, marilah kita mengkomit diri kita untuk melangkah maju dalam perjalanan kita bersama Yesus. Kita semua telah mengalami damai-sejahtera karena mengenal dan mengalami Yesus sedikit, sehingga dengan demikian kita dapat yakin bahwa dengan kita semakin baik mengenal Dia, kita akan mengalami damai-sejahtera yang lebih besar dan juga kepuasan rohani yang lebih besar selagi melangkah maju di Jalan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh ingin mengikuti jejak-Mu setiap hari dengan segenap hatiku. Aku ingin agar setiap langkahku ada “di dalam Engkau”, mengasihi Engkau dengan mengasihi orang-orang lain dan melayani Engkau dengan melayani orang-orang lain. Tolonglah aku untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1 Yoh 2:3-11), bacalah tulisan yang berjudul “SALING MENGASIHI ORANG KRISTIANI ADALAH SEBUAH TANDA PALING KUAT BAGI DUNIA MENGENAI KASIH ALLAH” (bacaan tanggal 29-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak, 28 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IKUT AMBIL BAGIAN DALAM KEMENANGAN YESUS

IKUT AMBIL BAGIAN DALAM KEMENANGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA KANAK-KANAK SUCI, MARTIR, Oktaf Natal – Senin, 28 Desember 2015)

 Cranach_Massacre_of_the_Innocents_(detail)

Setelah orang-orang majus itu berangkat, tampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Yusuf pun bangun, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya digenapi apa yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” [1]

Ketika Herodes tahu bahwa ia telah diperdaya oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang ditanyakannya dengan teliti kepada orang-orang majus itu. Dengan demikian digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yeremia, “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi .” [2] (Mat 2:13-18) 

[1] bdk. Hos 11:1; [2] Lihat Yer 31:15

Bacaan Pertama: 1Yoh 1:5-2:2; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:2-5,7-8

Mengungsinya Keluarga Kudus ke Mesir untuk menghindari pembunuhan massal atas diri anak-anak tak bersalah di Betlehem adalah suatu ilustrasi dramatis dari pertempuran antara “kegelapan” dan “terang”. Namun demikian, walaupun seluruh hidup Yesus – dari Betlehem sampai bukit Kalvari – ditandai dengan kemiskinan, perlawanan dari orang-orang yang tidak menyukai-Nya – teristimewa para pemuka agama Yahudi – dalam berbagai bentuknya, penderitaan sengsara; tidak ada kekuasaan manusia ataupun roh jahat yang mampu menggagalkan keberhasilan karya-Nya. Seperti tertulis dalam awal Injil Yohanes: “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1:5).

Mengapa Herodes takut pada Bayi kecil ini? Dia tidak mengetahui bahwa Yesus telah datang untuk mengalahkan hati dan jiwa, bukan tanah dan mahkota. Untuk “menghabiskan” nyawa seorang bayi tak berdaya, Herodes tega untuk memerintahkan dilakukannya pembunuhan massal atas dari banyak sekali anak-anak yang lain. Ia menghancurkan kehidupan anak yang lemah dan tak berdaya, yang tidak dapat membela diri karena rasa takut telah menghancurkan hatinya sendiri. Untuk memperpanjang hidupnya sendiri, Herodes mencoba untuk membunuh Hidup itu sendiri.

Walaupun Herodes menggunakan kekuatan dan kekejaman untuk mewujudkan tujuan-tujuannya duniawinya yang mementingkan diri sendiri, Allah mengubah tragedy ini menjadi kemenangan bagi Kerajaan Allah. Anak-anak tak bersalah di Betlehem menjadi saksi-saksi dari kuat-kuasa rahmat Allah. Mereka mati untuk dan demi Yesus Kristus, walaupun mereka sendiri tidak memahaminya. Mereka belum dapat berbicara, namun Yesus membuat mereka menjadi saksi-saksi yang cocok terhadap dirinya. Mereka tidak mampu mengangkat senjata namun sekarang mereka membawa daun palma kemenangan. Yesus membebaskan jiwa-jiwa mereka dari cengkeraman Iblis dan membuat mereka anak-anak angkat Allah sendiri. Sekarang mereka ikut ambil bagian dalam kemuliaan-Nya dan memerintah dengan Dia dalam kemenangan.

Santo Paulus mengingatkan kita bahwa kita juga ikut ambil bagian dalam kemenangan Yesus, walaupun ketika kita merasa kalah. “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”  (Rm 8:28). Kemunduran-kemunduran, kegagalan-kegagalan dlsb. – tidak ada sesuatu pun yang kita hadapi dalam hidup ini perlu memisahkan kita dari Kristus. Kasih-Nya dapat berkemenangan di atas segala sesuatu, baik dalam kehidupan pribadi kita secara pribadi maupun dalam dunia secara keseluruhan.

Pada hari ini kita menghadapi kejahatan yang jauh lebih buruk daripada pembunuhan massal di Betlehem sekitar 2000 tahun lalu. Lihat saja pembunuhan-pembunuhan kejam yang dilakukan oleh ISIS di Timur Tengah serta kelompok-kelompok teroris lainnya di mana-mana, dan juga aborsi atas diri anak-anak yang belum dilahirkan. Bagaimanakah kiranya kita dapat menghentikan dan membalikkan “budaya kematian” seperti ini? Kasih Allah dapat dan akan menang! Memang kejahatan besar sedang berlangsung. Benarlah bahwa kita harus banyak berdoa dan berupaya untuk mengubah “budaya kematian” seperti ini. Akan tetapi, doa-doa kita tidak pernah boleh didasarkan pada rasa frustrasi, keputus-asaan, atau kebencian terhadap mereka yang melakukan kejahatan tersebut. Kita harus ingat bahwa “terang Kristus” tidak pernah dapat dikalahkan oleh apapun dan siapapun.

DOA: Bapa surgawi, hiburlah semua anak yang menjadi korban aborsi dan mereka yang menjadi korban kekejaman para teroris. Bawalah mereka ke hadapan hadirat-Mu di surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 2:13-18) bacalah tulisan yang berjudul “SUATU KEMENANGAN BAGI KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 28-12-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak, 26 Desember 2015 [Pesta S. Stefanus, Martir Pertama] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBUAH CATATAN SINGKAT TENTANG HIDUP BERKELUARGA

SEBUAH CATATAN SINGKAT TENTANG HIDUP BERKELUARGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA KELUARGA KUDUS, YESUS, MARIA, YUSUF, Oktaf Natal – Minggu, 27 Desember 2015)

christchild12a

Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Ketika hari-hari itu berakhir, sementara mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah  mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; ia sedang duduk di tengah-tengah para guru agama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan jawaban-jawaban yang diberikan-Nya. Ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Lihat, bapak-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan tetap hidup dalam asuhan mereka. Ibu-Nya pun menyimpan semua hal itu di dalam hatinya.

Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. (Luk 2:41-52)

Bacaan Pertama: 1Sam 1:20-22,24-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:2-3,5-6,9-10; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-2,21-24

“Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan tetap hidup dalam asuhan mereka. Ibunya pun menyimpan semua hal itu di dalam hatinya. Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya, dan makin dikasihi Allah dan manusia” (Luk 2:51-52).

Pada hari ini, Gereja merayakan Pesta Keluarga Kudus, artinya melibatkan tiga orang pribadi anggota keluarga tersebut: Yesus, Maria dan Yusuf. Santo Lukas telah menyajikan kepada kita gambaran indah yang satu disusul dengan gambaran indah yang lain, dari sang Anak dan kedua orangtua-Nya. Kita hanya dapat mengatakan bahwa Maria dan Yusuf adalah role models yang unggul, bahkan mereka adalah penerima-penerima berkat-berkat luarbiasa dari Allah. Akan tetapi, kita harus senantiasa mengingat bahwa tidak hanya “Keluarga Kudus” yang dinilai amat berharga oleh Allah. Allah juga ingin menawarkan perlindungan-Nya dan berkat-Nya kepada semua keluarga di atas bumi ini! Dia mengundang semua keluarga untuk berbalik datang kepada-Nya agar dapat dibebaskan dari dosa dan diberikan perlindungan dari segala yang jahat di dalam dunia – khususnya kejahatan (si Jahat dan para roh jahat pengikutnya) yang mengancam kesatuan dan persatuan keluarga.

Setiap hari, Allah senantiasa siap sedia untuk mendorong dan menyemangati kita terkait para orangtua kita, saudari dan saudara kita, anak-anak kita, dan bahkan diri kita sendiri. Biar bagaimanapun juga, Dia membentuk kebaikan dalam diri kita semua – suatu kebaikan yang siap untuk mengungkapkan diri. Masalahnya adalah, bahwa luka-luka yang disebabkan dosa telah menodai jiwa kita sehingga memblokir aliran kasih dalam keluarga-keluarga. Allah ingin menyembuhkan semua luka ini, bahkan luka-luka yang berasal dari generasi-generasi sebelumnya. Allah adalah kasih, dan Ia telah datang untuk mengampuni kita dan mengajar kita untuk mengampuni.

Pada hari seperti hari ini, di mana rahmat mengalir secara bebas bagi semua keluarga, marilah kita menggunakan pertanyaan-pertanyaan dan usulan-usulan di bawah ini untuk memeriksa kehidupan keluarga kita dan mencari bimbingan dari Dia: Apakah kita (anda dan saya) ingin mengenal dan mengalami berkat-berkat Allah atas keluarga kita? Hormatilah para orangtua kita. Apakah kita merasa bosan? Melangkahlah keluar dan kasihilah seseorang. Apakah kita memperlakukan anak-anak kita atau para orangtua kita dengan penuh hormat/respek? Secara kreatif, bentuklah suatu sikap doa, respek, dan kasih kepada Alah dan satu sama lain dalam keluarga. Hal ini juga berlaku dalam hidup berkomunitas. Apabila kita (anda dan saya) mempunyai anak-anak, apakah kita merasa ragu untuk mempraktekkan otoritas kita secara pantas atas diri mereka? Dst., dlsb. Marilah kita memperbaiki segala kekurangan yang ada dalam relasi dengan pasangan hidup kita masing-masing. Carilah dukungan dari para professional seiman apabila memang dibutuhkan.

Di atas segalanya, kita harus siap untuk mengampuni, bersikap baik dan murah hati. Saling mendoakanlah satu sama lain. Marilah kita berupaya untuk berdoa bersama. Allah ingin mencurahkan pengampunan dan rahmat-Nya untuk mengubah hidup kita. Dia hanya menanti-nanti kita datang kepada-Nya untuk membentuk suatu lingkungan dalam keluarga di mana kedatangan-Nya disambut dengan baik.

DOA: Tuhan Yesus, dengan ini aku menyerahkan kepada-Mu segala beban dan perasaan-perasaan negatif tentang keluargaku. Biarlah kasih-Mu mengalir melalui diriku kepada setiap anggota keluargaku. Aku juga berdoa untuk semua keluarga di atas bumi. Semoga kasih-Mu yang mengalir melalui umat-Mu akan memenuhi setiap hati yang kosong-hampa, bosan dan berada dalam kesendirian. Amin. 

Cilandak, 24 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS