Posts from the ‘MASA ADVEN, NATAL & TAHUN BARU’ Category

PESAN YOHANES PEMBAPTIS MASIH AKTUAL HARI INI DAN KESAKSIAN HIDUPNYA MASIH MENJADI CONTOH BAGI KITA

PESAN YOHANES PEMBAPTIS MASIH AKTUAL HARI INI DAN KESAKSIAN HIDUPNYA MASIH MENJADI CONTOH BAGI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Rabu, 23 Desember 2015)

YOHANES PEMBAPTIS DIBERI NAMA - 000Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. (Luk 1:57-66)

Bacaan pertama: Mal 3:1-4; 4:5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14

Dalam hal kelahiran Yohanes Pembaptis, acuan-acuan terselubung dan nubuatan-nubuatan penuh misteri yang sudah berumur berabad-abad, akhirnya mengambil rupa seorang manusia. Mengapa? Karena dialah sang bentara, sang nabi yang akan “mempersiapkan jalan di hadapan-Ku. Ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah” (Mal 3:1; 4:6). Pada hari ini pun pesan Yohanes Pembaptis dapat berbicara kepada hati kita, seperti juga kesaksian hidupnya dapat menjadi sebuah contoh bagi hidup kita.

Yohanes Pembaptis diumumkan secara ilahi dan diberikan nama di tengah tanda-tanda heran yang ajaib, Yohanes menjadi suara yang berseru-seru di padang gurun: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN (YHWH), luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! (Yes 40:3). Ia menghibur umat yang sudah lama menantikan pemenuhan janji-janji Allah. Yohanes Pembaptis memproklamasikan akhir dari hidup penuh sengsara mereka dan bahwa kesalahan umat ini telah diampuni (Yes 40:2). Sungguh merupakan Kabar Baik! Ia naik ke atas gunung yang tinggi dan berseru dengan suara nyaring, berkata kepada kota-kota Yehuda, “Lihat, itu Allahmu!” (Yes 40:9).

john-baptist-lds-art-parson-39541-printKalau kita merenungkannya dengan serius, sungguh semua ini merupakan “pendahuluan” dari sejarah keselamatan! Bahkan Yesus sendiri berkata tentang Yohanes Pembaptis sebagai berikut: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis” (Mat 11:11). Bagaimana Yohanes Pembaptis sampai memahami dengan benar apa yang direncanakan Allah atas dirinya? Sejak hari-hari awal hidupnya bersama Zakharia dan Elisabet, sampai saat-saat ketika dia menyibukkan diri dengan tulisan-tulisan kenabian, Yohanes Pembaptis belajar mengabdikan dirinya mencari panggilan Allah bagi hidupnya. Karena dia telah mengembangkan suatu hidup doa yang kuat, Yohanes Pembaptis lebih daripada sekadar sebatang buluh yang ditiup angin ke sana ke mari atau seorang nabi akhir zaman yang bermata liar. Yohanes Pembaptis dengan penuh keyakinan sebagai seorang yang dibimbing Allah sendiri, seseorang yang hidupnya didedikasikan bagi Kerajaan Allah yang akan diinaugurasikan. Yesus memberi konfirmasi bahwa Yohanes Pembaptis sesungguhnya adalah “Elia” yang akan datang sebagai seorang pendahulu hari kedatangan Tuhan (lihat Mat 17:10-13).

Saudari dan Saudaraku, seperti halnya dengan Yohanes Pembaptis, Allah memanggil kita, untuk mengkomit hidup kita terhadap kehendak-Nya. Oleh karena itu, marilah kita (anda dan saya) mengabdikan seluruh energi untuk mencari panggilan-Nya dan memohon kepada Roh Kudus-Nya kuat-kuasa untuk melaksanakan hal itu. Dengan penuh kepercayaan, marilah kita maju terus bersama Tuhan, dengan penuh sukacita turut memajukan kerajaan Allah. Bersama-sama, marilah kita berseru: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” (Luk 3:4).

DOA: Datanglah, ya Imanuel – Allah beserta kita – Raja kami, Hakim kami. Selamatkanlah kami, ya Tuhan Allah kami! Hidupkanlah kami dengan Roh Kudus-Mu sehingga kami sungguh dapat mempersiapkan jalan bagi kedatangan-Mu untuk kedua kalinya kelak, sebagaimana Yohanes Pembaptis telah melakukannya untuk kedatangan-Mu yang pertama. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mal 3:1-4;4:5-6), bacalah tulisan yang berjudul “BIARLAH KEDATANGAN-MU DI TENGAH-TENGAH KAMI PADA HARI NATAL MEMURNIKAN DIRI KAMI” (bacaan tanggal 23-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak, 22 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

HIDUP MARIA ADALAH CONTOH DARI KEHIDUPAN YANG INGIN DIBERIKAN ALLAH KEPADA KITA SEMUA

HIDUP MARIA ADALAH CONTOH DARI KEHIDUPAN YANG INGIN DIBERIKAN ALLAH KEPADA KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 22 Desember 2015)

magnificat (1)

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”  Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:46-56)

Bacaan pertama: 1Sam 1:24-28; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1.4-8 

Kidung Maria – Magnificat – adalah sebuah kidung pujian yang indah. Kidung ini mencerminkan kontemplasi penuh kerendahan hati tentang belas kasih Allah yang begitu besar bagi dirinya. Maria mengetahui bahwa orang-orang segala zaman akan menyebutnya berbahagia karena perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan-Nya kepadanya. Maria yakin sepenuhnya bahwa dirinya – orang yang rendah dan lemah – akan ditinggikan oleh kuat-kuasa Allah sebagai suatu testimoni, tidak untuk kebaikan dirinya, melainkan untuk kemampuan Bapa surgawi mentransformasikan siapa saja yang membuka hatinya bagi diri-Nya.

Dalam permenungannya tentang peranan Maria dalam sejarah keselamatan, Santo Efrem [306-373], diakon, penyair dan pujangga Gereja di Siria, menulis sebagai berikut: “Sang Mahatinggi [Allah] … telah membuat diri-Nya kecil dalam diri Santa Perawan Maria agar membuat kita besar” (Madah Kelahiran Kristus). Santo Efrem memahami bahwa Allah ingin membuat kita semua menjadi “besar” seperti Maria. Maria itu “penuh rahmat” (“yang dikaruniai”; Luk 1:28); ia adalah pribadi manusia pertama dari orang-orang yang tak terhitung banyaknya, yang ingin dibangkitkan oleh Allah ke dalam suatu hidup yang baru dan penuh kuat-kuasa dalam kehadiran-Nya.

Satu dari berbagai peranan penting yang dimainkan oleh Maria adalah sebagai suatu contoh dari kehidupan yang ingin diberikan Allah kepada kita semua. Maria hanya muncul beberapa kali saja dalam Kitab Suci, namun ia menunjukkan kerendahan hati yang dapat membuka diri kita bagi rahmat-Nya yang mampu mentransformasikan diri kita masing-masing. Dalam kidungnya, Maria mengatakan: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Luk 1:46-48). Kata-kata Maria dalam kidung tersebut menunjukkan apakah kerendahan hati yang sejati itu. Kerendahan hati yang sejati bukanlah “kelemahan” atau “sifat/sikap takut-takut” atau “mencela diri sendiri”. Kerendahan hati yang sejati adalah kesadaran mengenai kebutuhan kita akan Allah dan suatu pengakuan penuh rasa takjub pada keanggunan-Nya terhadap kita. Kerendahan hati membuat kita cenderung untuk menaruh kepercayaan kepada Dia yang menciptakan kita dan untuk menyerahkan diri kita  kepada-Nya tanpa reserve. 

Saudari dan Saudaraku, Allah ingin mengangkat diri kita jauh melampaui kemampuan-kemampuan manusiawi dan alamiah kita. Ini bukanlah sesuatu yang dapat kita capai dengan kekuatan kita sendiri. Hanya rahmat ilahi dan kuat-kuasa Roh Kudus yang dapat mentransformasikan kita selagi kita bekerja sama dengan Dia. Hanya apabila kita memahami betapa mulia kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita, maka kita pun – seperti Maria – akan benar-benar menjadi rendah hati, karena diliputi rasa penuh syukur atas kemurahan hati-Nya yang tanpa batas itu. Marilah kita (anda dan saya) memohon kepada Tuhan untuk meluaskan visi kita tentang bagaimana Dia ingin bekerja dalam hidup kita oleh kuasa Roh Kudus-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau datang mengangkat orang yang rendah dan lemah. Angkatlah juga diriku oleh rahmat-Mu. Biarlah aku mengetahui tujuan hidup yang Engkau rencanakan bagiku. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 1:46-56), bacalah tulisan yang berjudul “PEMENUHAN JANJI-JANJI BAPA SURGAWI DALAM DIRI YESUS” (bacaan tanggal 22-12-15) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori 15-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2015. 

Cilandak, 19 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMANGAT NATAL

SEMANGAT NATAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 21 Desember 2015)

Peringatan S. Petrus Kanisius, Imam & Pujangga Gereja

VISITASI - MARIA MENGUNJUNGI ELISABET - 1Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Apabila salah seorang anak kita menunjukkan wajah yang bersungut-sungut menjelang hari Natal ini, tentu kita akan bertanya: “Ada apa dengan kamu? Tidakkah engkau memiliki semangat Natal?” Kita memang tidak dapat mendefinisikan secara rinci apa yang dimaksudkan dengan “semangat Natal” atau Christmas Spirit itu, namun kita tahu hal itu berarti kita mengesampingkan keserakahan kita, menekan sifat dan sikap “mau menang sendiri” kita, menahan diri dari dorongan-dorongan tidak baik, dan pada saat yang sama kita lebih giat mengulurkan tangan-tangan kita untuk menolong orang-orang lain.

Dalam bacaan Injil hari ini kita melihat sebuah contoh indah dari makna penuh “semangat Natal”, contoh mana diberikan oleh Maria sendiri. Pada waktu dia mendengar bahwa saudaranya yang sudah tua, Elisabet, telah mengandung, maka Maria pun tidak membuang-buang waktu. Langsung saja dia pergi ke tempat tinggal Zakharia dan Elisabet di Ain Karim yang terletak di pegunungan Yehuda. Perjalanan ini cukup jauh (sekitar 112 km) dan juga cukup membahayakan (tidak ada highway patrol pada zaman itu). Mungkin Maria bergabung dengan sebuah rombongan (kafilah) dari Nazaret (Galilea) yang sedang menuju daerah Yudea. Bayangkanlah bagaimana khawatir dan risau hati Yusuf memikirkan perjalanan Maria ini. Mungkin Yusuf mengajukan protes, tetapi Maria maju terus … untuk membantu Elisabet yang sudah tua dan waktu itu adalah bulan keenam dia mengandung (Luk 1:36).

Patut dicatat bahwa pada waktu itu Maria juga sudah mengandung. Ketika Elisabet melihat Maria, kepadanya diberikan rahmat untuk mampu memandang betapa beda dirinya dengan perempuan muda yang datang mengunjunginya itu. Kepada Elisabet diberikan rahmat untuk mampu mengenali Maria sebagai seorang perempuan yang terberkati di antara semua perempuan, karena Bayi yang dikandungnya. Maria datang ke Ain Karim untuk memberikan pelayanan, dan apa yang dilakukannya sesungguhnya adalah membawa Kristus sendiri kepada Elisabet dan kepada Yohanes yang ada dalam kandungannya. Seperti Maria, kita pun dengan penuh kemauan dan tanpa pamrih harus memberikan pelayanan kepada orang-orang lain – dengan membawa Kristus sendiri kepada mereka. Inilah yang dinamakan “semangat Natal”.

visitation-ukraine-450 (1)Nabi Zefanya adalah seorang nabi yang dapat disebut pesimis, boleh dikatakan termasuk prophets of doom. Penduduk Yerusalem telah jatuh lagi ke dalam penyembahan berhala. Mereka menyembah matahari, bulan dan bintang-bintang, bukan YHWH sang Pencipta.  Meskipun nabi Zefanya telah mengingatkan tentang suatu hari kemurkaan Allah, imannya kepada Allah tidak membiarkan dirinya tetap bersikap negatif.  Ia berjanji bahwa Allah dalam kerahiman-Nya akan menjaga dan memelihara sisa Israel yang suci. Bacaan dari Kitab Nabi Zefanya hari ini mengungkapkan kesimpulan yang optimistis dari sang nabi. Di sini dia mendorong umat beriman untuk bersukacita karena YHWH, Allah mereka, sang Penyelamat yang mahaperkasa berada di tengah-tengah mereka: “Raja Israel, yakni YHWH, ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan” (Zef 3:15).

Kembali kepada teks Injil di atas, kita lihat Elisabet juga berperan sebagai seorang nabiah yang mengumumkan berita positif yang penuh harapan dan sukacita. Sapaannya kepada Maria menjadi bagian dari sebuah doa favorit umat beriman dalam menghormati Maria: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42). Yesus dinamakan Imanuel – Allah yang menyertai kita. Oleh iman kita percaya bahwa Dia hidup di tengah-tengah kita dan dalam diri kita. Kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita dan dalam diri kita inilah yang merupakan penyebab sikap penuh sukacita kita yang kita namakan “semangat Natal”.

DOA: Roh Kudus Allah, jagalah agar kami tetap memiliki “semangat Natal” yang sejati dan – seperti Bunda Maria – membawa Yesus kepada orang-orang lain yang kami jumpai. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA: PERAWAN DAN IBU” (bacaan tanggal 21-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah adaptasi dari tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 18 Desember 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA DAN ELISABET BERTEMU DI AIN KARIM

MARIA DAN ELISABET BERTEMU DI AIN KARIM

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN IV [TAHUN C] – 20 Desember 2015) 

visitation-1

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Bacaan Pertama: Mi 5:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19, Bacaan Kedua: Ibr 10:5-10

Kita semua tentunya sudah merasa “familiar” dengan apa yang digambarkan oleh Lukas dalam bacaan Injil berikut ini: “Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya” (Luk 1:39-41). Para pelukis dari zaman ke zaman telah mencoba menggambar peristiwa “Maria mengunjungi Elisabet” ini dengan seakurat-akuratnya guna menyampaikan pesan pengharapan penuh sukacita ketika Elisabet menyuarakan seruan umat manusia segala zaman kepada Maria: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42).

Pada peristiwa bersejarah yang sungguh istimewa ini, hukum “mengalah” kepada janji Allah, dan berbagai nubuatan para nabi bertemu dengan pemenuhan janji-janji ilahi, dan yang “lama” tunduk kepada yang “baru”. Elisabet yang mandul – tak mampu untuk menghasilkan kehidupan – dikasihi dan diberkati oleh Allah. Dan, dan dalam upayanya untuk mengasihi Dia sebagai balasan, Elisabet hidup dalam antisipasi, yang selalu terbuka terhadap sang Pemberi-Hidup. Jadi, “Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus” (Luk 1:41) dan mengakui Maria sebagai bejana keselamatan Allah. Tanpa kepahitan dan iri hati – tetapi dengan penuh sukacita – Elisabet pun menyetujui untuk memberi tempat lebih tinggi kepada Maria, “ibu Tuhanku” (Luk 1:43). Kemudian Elisabet memuji Maria dan semua orang yang percaya: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).

Maria yang tidak banyak bicara dan masih muda usia itu mengunjungi Elisabet, saudaranya yang sudah tua untuk syering hal baru yang telah dilakukan Allah. Kedatangannya meneguhkan “kesiap-siagaan dalam doa” dari para hamba YHWH yang setia. Datang untuk merayakan “nasib baik” sepupunya, Maria malah menjadi sarana pembawa rahmat dan sukacita bagi semua yang ada di situ. Dengan rendah hati Maria menerima kehormatan yang diberikan kepadanya oleh Elisabet dan langsung mengembalikan kepada “Tuhan yang dimuliakan jiwanya” (lihat Luk 1:46).

Peristiwa ini mengambil tempat di Ain Karim yang terletak di daerah pegunungan di luar kota Yerusalem. Sekitar sepuluh tahun lalu istri saya dan saya sempat diajak oleh sahabat kami untuk mengunjungi Tanah Suci (bukan tanah suci di Saudi Arabia), a.l. dengan mengunjungi Ain Karim ini. Ain Karim bukanlah sebuah bukit biasa, ini adalah sebuah tempat dengan pemandangan yang indah tetapi juga sangat melelahkan untuk dicapai dengan berjalan kaki dari kaki bukit. Kami membayangkan betapi sulit bagi Bunda Maria dalam kondisinya yang sedang mengandung untuk melakukan perjalanan bersejarah itu. Dengan segala ketidaknyamanan yang jauh lebih banyak daripada yang kita alami pada abad ke-21 ini, Maria melakukan perjalanan ini dengan ketetapan hati yang sangat mengagumkan. Ini adalah contoh sempurna dari hidup Kristiani: penuh perhatian, berkomitmen penuh terhadap kesejahteraan orang-orang lain. Ternyata Maria bukanlah seperti banyak prima dona, yang mengetahui dirinya diistimewakan namun cenderung untuk menjadi sombong dan menjadi self-centered serta tidak peduli pada kebutuhan-kebutuhan orang lain.

Pada setiap masa Adven, Gereja mengundang kita untuk menyaksikan sekali lagi momen dramatis yang terjadi di Ain Karim sekitar 2000 tahun lalu. Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita menyempatkan diri untuk melangkah ke luar – teristimewa dalam masa Adven ini – untuk menjumpai saudari-saudara kita yang sering terlupakan, misalnya para lansia, para napi yang berada dalam lembaga pemasyarakatan (penjara), mereka yang sakit? Atau, apakah kita hanya menyediakan waktu bagi mereka yang berstatus ekonomi dan sosial relatif tinggi, misalnya para boss (bukan “Bekas Orang Sakit Syaraf), orang terkemuka, para “Yang Mulia” dlsb. Lalu, kita juga datang dengan luka-luka dan dosa-dosa setahun penuh paling sedikit. Maukah kita menahan diri dari dosa-dosa yang baru, karena takut kecewa dan frustrasi dipandang sebagai “sok suci” oleh teman-teman kita? Atau, apakah kita mau meniru Elisabet dan dengan penuh sukacita menyambut kedatangan sang Juruselamat di tengah-tengah kita?

Hanya dalam beberapa hari lagi saja kita akan merayakan hari kelahiran Yesus Kristus. Dalam hal ini kita tidak pernah boleh melupakan peranan Bunda Maria, hamba Tuhan yang sejati. Kebesaran Maria justru terletak pada pelayanannya yang penuh rendah hati dalam melakukan setiap hal dalam nama Puteranya, Yesus Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, kami letakkan di dekat kaki-kaki-Mu segala rasa takut kami, segala kesedihan kami dan segala dosa kami. Kami menyambut hidup baru yang Engkau tawarkan kepada kami. “Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat!” (Mzm 80:3). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “DALAM DIRI MARIA, ALLAH MEMENUHI JANJI-NYA” (bacaan tanggal 20-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak, 17 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS JUGA INGIN MEMBUAT KITA MENJADI BERBUAH

YESUS JUGA INGIN MEMBUAT KITA MENJADI BERBUAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Sabtu, 19 Desember 2015)

zachariahPada zaman Herodes, raja Yudea, ada seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.

Pada suatu kali, waktu tiba giliran kelompoknya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk  ke dalam Bait Suci dan membakar dupa di situ. Pada waktu pembakaran dupa, seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Lalu tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran dupa. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan. Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan dia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya dan ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka. Ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Dengan demikian ia menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu, “Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.” Jawab malaikat itu kepadanya, “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara kepadamu untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai hari ketika semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya kepada perkataanku yang akan dipenuhi pada waktunya.” Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, dan ia tetap bisu. Ketika selesai masa pelayanannya, ia pulang ke rumah.

Beberapa lama kemudian Elisabet, istrinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.” (Luk 1:5-25)

Bacaan pertama: Hak 13:2-7.24-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:5-6,16-17

Apakah kiranya yang ada dalam pikiran Zakharia dan Elisabet selagi mereka merenungkan kabar dari malaikat Tuhan bahwa mereka akan diberkati dengan seorang anak laki-laki? Tentunya mereka merasa gembira dan penuh sukacita, namun pada saat yang sama juga merasa khawatir, takut dan heran. Akan menjadi apakah kiranya anak ini? Apakah yang ada dalam rencana Allah bagi umat-Nya sehingga Dia melakukan perbuatan yang ajaib? Peranan apakah yang kiranya akan mereka mainkan dalam rencana-Nya tersebut?

Kitab Suci menceritakan kepada kita bahwa pasutri lansia ini adalah orang-orang benar di hadapan Allah. Mereka melakukan segala sesuatu berdasarkan ketaatan kepada Allah, namun mereka tidak mempunyai anak karena Elisabet mandul. Kedua orang ini hidup di tepi Perjanjian Baru. Mereka berdua adalah tanda-tanda dari sesuatu yang akan datang, namun hal itu belum memanifestasikan diri: hidup berbuah limpah sebagai suatu bagian normal dari kehidupan dalam Kristus. Untuk segala kebenaran hidup mereka, mereka hanya mampu menjadi berbuah melalui intervensi penuh kuat-kuasa dari Allah. Tanpa tindakan Allah dalam kehidupan mereka, mereka akan tetap mandul.

Cerita tentang Elisabet dan Zakharia ini membantu mengungkap suatu kebenaran yang sangat penting tentang hidup dalam Kristus. Yesus datang ke dunia untuk memberikan kepada kita jauh lebih daripada sekadar suatu hidup ketaatan dan jujur-tulus. Ia juga ingin membuat kita menjadi berbuah. Ia ingin memberdayakan kita agar mengasihi sebagaimana Dia mengasihi, untuk mengampuni sebagaimana Dia mengampuni, dan sebagai agen-agen penyembuhan dan rekonsiliasai, sebagaimana Dia ketika masih hidup di atas bumi. Ini adalah warisan penuh kita dalam Kristus. Itulah sebabnya mengapa Yesus datang ke tengah-tengah kita sebagai seorang manusia.

Oleh kuasa Roh Kudus, kita dapat membawa dampak pada pekerjaan, di rumah, dan di lingkungan tempat tinggal kita. Kita dapat bergabung dalam petualangan besar millennium baru ini, yaitu membawa orang-orang kepada Kristus. Hidup kita dapat membuat suatu perbedaan. Allah dapat menggunakan kesaksian kita guna membawa pengharapan kepada banyak hati manusia yang selama ini dipenuhi kegelapan. Oleh kuasa Roh Kudus, kata-kata kita dapat menenangkan hati-hati manusia yang dipenuhi kecemasan dan hati-hati manusia yang menderita. Yesus telah mengamanatkan kita untuk ikut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Oleh karena itu, Saudari-Saudaraku, marilah kita bergabung dengan Yesus dan menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, kami berdoa untuk semua orang yang belum mengalami warisan mereka yang penuh dalam Engkau. Semoga mereka mengenal Engkau sebagai Juruselamat mereka dan mereka pun menjadi instrumen-instrumen Injil-Mu. Tuhan Yesus, oleh Roh Kudus-Mu berdayakanlah kami masing-masing agar kami mempunyai hidup yang berbuah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:5-25), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUAT BANYAK ORANG ISRAEL BERBALIK KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 19-12-15) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 15-12  PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015 

Cilandak, 17 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DEMI TUHAN YANG HIDUP

DEMI TUHAN YANG HIDUP

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 18 Desember 2015) 

JEREMIAH

Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN (YHWH), bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: YHWH – keadilan kita.

Sebab itu, demikianlah firman YHWH, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa orang tidak lagi mengatakan: Demi YHWH yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!, melainkan; Demi YHWH yang hidup yang menuntun dan membawa pulang keturunan kaum Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah menceraiberaikan mereka!, maka mereka akan tinggal di tanahnya sendiri. (Yer 23:5-8) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,12-13,18-19; Bacaan Injil: Mat 1:18-24 

Betapa terbekatinya kita hidup dalam masa di mana para nabi hanya dapat berharap dari jauh saja! Visi nabi Yeremia akan pembebasan di masa depan sampai kepada kita yang hidup berabad-abad setelah hidupnya sendiri: “Demi TUHAN (YHWH) yang hidup yang menuntun dan membawa pulang keturunan kaum Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah menceraiberaikan mereka!, maka mereka akan tinggal di tanahnya sendiri”  (Yer 23:8).

“Demi TUHAN yang hidup!” (Yer 23:7). Bagi kita, kata-kata ini memproklamasikan bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati dan membimbing kita keluar dari keterikatan pada dosa dan ke dalam tanah terjanji Perjanjian Baru. Yesus adalah sang “Tunas adil” (Yer 23:5), “Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel!” (Yes 48:17). Ia adalah pemenuhan dari setiap janji Allah yang pernah dibuat-Nya kepada umat-Nya.

“Demi TUHAN yang hidup”, kita telah dibebaskan dan diberikan hidup dalam Kristus. Kita mempunyai suatu pengharapan akan masa depan – bagi diri kita sendiri dan bagi anak-anak kita dan anak-anak mereka. “Demi TUHAN yang hidup”, Iblis dikalahkan dan Kerajaan Allah didirikan di atas bumi.

Sejak dari awal waktu, Allah telah menggelar rencana keselamatan-Nya secara berhati-hati dan penuh niat. Tidak ada sesuatu pun, bahkan dosa manusia sekali pun, dapat mengganggu rencana Allah tersebut. Allah akan mempunyai mempelai perempuan, Gereja, bagi diri-Nya sendiri. Dia akan akan memenangkan hati semua orang yang menerima tindakan kasih-Nya yang tertinggi – kematian dari Putera-Nya Yesus, yang  membayar harga/biaya dosa-dosa kita. “Demi TUHAN yang hidup”, demikian pula kita akan hidup!

Alangkah menakjubkan, Allah sendiri mengundang kita masing-masing untuk ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan-Nya! Apakah kita (anda dan saya) pernah membayangkan atau memikirkan kenyataan bahwa kita memiliki “saham” dalam membangun Kerajaan Allah? Setiap kali kita berdoa syafaat untuk orang-orang lain, melakukan tindakan kebaikan, menolak kecenderungan untuk melakukan sesuatu yang mementingkan diri sendiri, atau mengatakan “tidak” kepada segala yang jahat, kita sebenarnya memperlebar perbatasan-perbatasan Kerajaan Allah dan mengalahkan Iblis. “Demi TUHAN, yang hidup”, kita dapat melanjutkan rencana-Nya karena Kristus hidup dalam diri kita. Tidak ada seorang pun dapat mencerminkan Yesus secara unik seperti kita masing-masing. Oleh karena itu marilah kita maju terus dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan, dan menggunakan hari ini sebagai suatu kesempatan sebagai suatu terang dalam sebuah dunia yang gelap. “Demi TUHAN yang hidup”, Ia membuat diri kita masing-masing sebagai milik-Nya sendiri!

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mempersiapkan diriku untuk membawa Yesus dalam hatiku dan tindakan-tindakanku. Tolonglah diriku agar dapat menjadi sebuah bejana yang berarti guna menampung di dalamnya segala kekayaan rohani ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 1:18-24), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH ENGKAU TAKUT MENGAMBIL MARIA SEBAGAI ISTRIMU” (bacaan tanggal 18-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak, 16 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SILSILAH YESUS KRISTUS (5)

SILSILAH YESUS KRISTUS (5)

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 17 Desember 2015)

Genealogy_of_Jesus_mosaic_at_Chora_(1) 

Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham mempunyai anak, Ishak; Ishak mempunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda mempunyai anak, Peres dan Zerah dari Tamar, Peres mempunyai anak, Hezron; Hezron mempunyai anak, Ram; Ram mempunyai anak, Aminadab; Aminadab mempunyai anak, Nahason; Nahason mempunyai anak, Salmon; Salmon mempunyai anak, Boas dari Rahab, Boas mempunyai anak, Obed dari Rut, Obed mempunyai anak, Isai; Isai mempunyai anak, Raja Daud. Daud mempunyai anak, Salomo dari istri Uria, Salomo mempunyai anak Rehabeam; Rehabeam mempunyai anak, Abia; Abia mempunyai anak, Asa; Asa mempunyai anak, Yosafat; Yosafat mempunyai anak, Yoram; Yoram mempunyai anak, Uzia; Uzia mempunyai anak, Yotam; Yotam mempunyai anak, Ahas; Ahas mempunyai anak, Hizkia; Hiskia mempunyai anak, Manasye; Manasye mempunyai anak, Amon; Amon mempunyai anak, Yosia; Yosia mempunyai anak, Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya mempunyai anak, Sealtiel; Sealtiel mempunyai anak Zerubabel; Zerubabel mempunyai anak, Abihud; Abihud mempunyai anak, Elyakim; Elyakim mempunyai anak, Azor; Azor mempunyai anak, Zadok; Zadok mempunyai anak, Akhim; Akhim mempunyai anak, Eliud; Eliud mempunyai anak, Eleazar; Eleazar mempunyai anak, Matan; Matan mempunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Jadi, seluruhnya ada empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus. (Mat 1:1-17) 

Bacaan Pertama: Kej 49:2,8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:3-4,7-8,17 

Mulai tanggal 17 Desember pada masa Adven bacaan-bacaan liturgis dipusatkan pada kedatangan Putera Allah sebagai anak manusia di tengah dunia, …… Natal. Hari ini kita merenungkan silsilah Yesus Kristus.

Karena bacaan ini merupakan silsilah, maka mudahlah untuk mengabaikan unsur-unsur mendetil yang membentuk keseluruhannya agar kita dapat langsung menyoroti hal-hal yang “baik-baik” saja. Akan tetapi, jika kita melihat dengan lebih teliti lagi, maka Matius tidak hanya mencatat silsilah Yesus di dunia ini. Matius ingin mengingatkan suatu pematahan hubungan dengn masa lalu, walaupun Yesus berada dalam garis keturunan Abraham dan Daud.

Sekilas lintas kita dapat mengatakan bahwa Matius menulis suatu silsilah sama saja seperti para ahli silsilah pada zamannya: Ia mengakarkan Yesus dalam warisan umat-Nya dan menyoroti kelanjutan-Nya dengan/bersama tokoh-tokoh besar Israel. Namun kalau kita melihat secara lebih dekat lagi, maka kelihatanlah bahwa Matius mematahkan hubungan dengan tradisi. Daripada sekadar mengikuti para bapa bangsa, Matius menyebutkan empat orang perempuan juga: Tamar, Rahab, Rut dan Batsyeba (istri Uria yang diselingkuhi oleh Daud). Yang lebih “mengejutkan” lagi adalah kenyataan bahwa empat orang perempuan yang disebutkan tadi memiliki sejarah pribadi yang tidak selalu mencerminkan cita-cita Yahudi perihal martabat perempuan. Satu orang dari perempuan-perempuan itu dikenal sebagai seorang pelacur, seorang lagi menjadi hamil karena bersetubuh dengan mertua laki-lakinya sendiri. Paling sedikit tiga orang dari mereka bukanlah orang Yahudi; dan satu orang dapat merupakan korban nafsu laki-laki atau seorang mitra dalam hubungan perselingkuhan (sama-sama mau) dan dalam konspirasi pembunuhan.

Matius memasukkan nama-nama perempuan ini sebagai suatu cara untuk mengejutkan para pembaca Injilnya. Sang penginjil ingin menunjukkan kepada mereka bahwa dalam Kristus Allah secara radikal telah memisahkan diri dari ekspektasi-ekspektasi manusia dan akan membawakan sesuatu yang baru dan berbeda.

Selama masa persiapan Adven ini, dalam doa-doa kita boleh bertanya kepada Allah bagaimana Dia akan mengejutkan kita. Adakah orang-orang atau situasi-situasi yang kita tidak dapat bayangkan bahwa Allah adalah bagian dari itu semua? Kita dapat melihat lagi. Dia mungkin ingin memberdayakan kita guna mengasihi orang tertentu yang selama ini selalu membuat diri kita susah. Ia mungkin ingin menunjukkan kepada kita bahwa Dia dapat membuat mukjizat-mukjizat penyembuhan, baik untuk kesembuhan fisik maupun kesembuhan rohani melalui doa-doa. Dia mungkin ingin membuat diri kita (anda dan saya) sebagai alat damai-Nya di mana ada kekacauan atau keresahan.

Natal tinggal sembilan hari lagi, jadi belum terlambatlah bagi kita untuk bersiap-siap. Baiklah kita memikirkan situasi-situasi luarbiasa dalam hidup kita dan memohon kepada Allah untuk memberikan kepada kita perspektif yang baru. Baiklah juga kita mengharapkan Dia memanifestasikan diri tidak hanya ketika kita berdoa dan menghadiri Misa, melainkan sepanjang hari – bahkan dalam momen-momen penuh kegelapan. Biarlah “silsilah rohani” kita memiliki unsur-unsur yang mengejutkan juga seperti “silsilah fisik Yesus”!

DOA: Kami menyembah Engkau Tuhan Yesus Kristus dan segala puji-pujian adalah milik-Mu saja. Kami mengasihi Engkau, sang Pengarang dan Penyempurna iman kami. Hidup kami masing-masing beristirahat dalam Engkau saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 1:1-17), bacalah tulisan yang berjudul “SILSILAH YESUS KRISTUS (4)” (bacaan tanggal 17-12-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-12  PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2015. 

Cilandak, 16 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS