Posts from the ‘MASA PRAPASKAH DAN PASKAH’ Category

YESUS JUGA MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SAMA KEPADA KITA MASING-MASING

YESUS JUGA MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SAMA KEPADA KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 18 Mei 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Bruder Kapusin

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19) 

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20

Apabila kita mau berempati dengan Petrus, mencoba untuk menempatkan diri kita dalam posisinya, barangkali kita dapat memahami rasa sedih yang dirasakan olehnya ketika Yesus yang sudah bangkit itu bertanya kepada dirinya sebanyak tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15-17). Pertanyaan yang diajukan Yesus sebanyak tiga kali itu sungguh membuat Petrus merasa kecil dan tentunya pedih-sakit dalam hati, namun pertanyaan-pertanyaan Yesus ini juga memberi sinyal bahwa Yesus menerima Petrus sebagai kepala para rasul (Latin: primus inter pares; yang utama dari yang sama). Afirmasi Petrus sebanyak tiga kali mengimbangi penyangkalannya sebanyak tiga kali pula terhadap Yesus sebelum penyaliban-Nya.

Inilah hasil dari pengamatan kita, namun inti masalahnya adalah bahwa Yesus menginginkan kasih dari Petrus, sebagaimana Dia menginginkan kasih kita. Setiap hari, dengan bela rasa yang sama tulusnya, Yesus bertanya kepada diri kita masing-masing, “Apakah engkau mengasihi Aku?” 

Kehidupan kita dapat dengan mudah menjadi penuh dengan rasa cemas, rasa takut dan kekurangan-kekurangan lainnya. Kita dapat begitu disibukkan dengan upaya-upaya untuk menghadapi tantangan-tantangan hidup sampai-sampai kita kehilangan fokus pada apa yang sesungguhnya merupakan persoalan yang paling penting untuk dipecahkan. Di tengah setiap kegiatan, kita harus mohon kepada Roh Kudus untuk mengingatkan kita, bahwa hal yang paling penting adalah apakah kita sungguh mengasihi Yesus.

“Kasih menutupi banyak sekali dosa” (1Ptr 4:8).  Kata-kata ini dipandang sebagai kata-kata Petrus sendiri, tentunya dengan alasan yang baik. Yesus menantang dan membujuk Petrus kembali ke dalam suatu relasi dengan diri-Nya melalui pertanyaan sederhana, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Kasih adalah suatu kharisma ilahi yang memiliki kuasa untuk membuka hati orang-orang agar mampu menerima bahkan kasih yang lebih banyak lagi. Semakin banyak kita mengasihi Allah, semakin banyak pula kita dimurnikan dari kecenderungan-kecenderungan gelap kodrat kedosaan kita. Kasih memperluas perspektif kita dan mengangkat pikiran kita sampai kepada tataran realitas Allah. Kasih bahkan memberikan kepada kita kuasa untuk membebaskan mereka yang diperbudak oleh rasa takut.

Yesus wafat di kayu salib untuk memenangkan kasih kita, bukan ketaatan buta kita. Allah yang sama – yang menciptakan kita masing-masing dengan suatu kehendak bebas – akan mengundang kita menghadap hadirat-Nya dengan suatu pertanyaan yang bersifat terbuka (open-ended question): “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jika kita menjawab “ya”, Dia pun mengutus Roh-Nya secara berlimpah. Kita memasuki suatu relasi yang sebenarnya direncanakan Allah sejak awal dunia ini. Jalannya tidak selalu mulus. Pada kenyataannya, Yesus mengingatkan sebelumnya kepada Petrus “bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah” (Yoh 21:19). Namun demikian kita dapat mengenal dan mengalami suatu sukacita yang istimewa kalau tinggal bersama dengan Tuhan sepanjang hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau. Tolonglah aku bertumbuh semakin dekat dengan diri-Mu, sehingga aku dapat menerima apa saja yang Engkau minta untuk kukerjakan. Aku ingin menjadi pelayan-Mu dan sahabat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERSABDA KEPADA PETRUS: GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU” (bacaan tanggal 18-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 15 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

DOA YANG MENGUNGKAPKAN KASIH YESUS KEPADA PARA MURID-NYA

DOA YANG MENGUNGKAPKAN KASIH YESUS KEPADA PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Kamis, 17 Mei 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Paskalis Baylon, Biarawan (Bruder)

“Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” (Yoh 17:20-26)

Bacaan Pertama: Kis 22:30;23:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11 

Sampai berapa jauh seseorang dapat bersikap tidak mementingkan diri sendiri? Yesus tahu bahwa tidak lama lagi tibalah saat bagi-Nya untuk menderita sengsara dan mengalami kematian yang mengerikan, namun Ia mohon kepada Bapa-Nya untuk mencurahkan kasih ilahi-Nya ke atas diri kita para murid-Nya – kasih sama yang Bapa sendiri yang berikan bagi Yesus dari sejak kekal. Dalam doa-Nya, Yesus berkata: “Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka …… supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka” (Yoh 17:26). Sungguh mengharukan dan membuat diri kita merasa “kecil” tatkala merenungkan bahwa Yesus sungguh mengasihi kita, lebih mementingkan diri kita daripada diri-Nya sendiri pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya itu.

Sekarang, marilah kita mengambil waktu sejenak untuk merenungkan betapa dalam Allah mengasihi Putera-Nya. Karena kasih kepada Putera-Nya itulah Allah menyerahkan seluruh ciptaan kepada Kristus: “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol 1:16). Allah sangat mengasihi-Nya sehingga pada hari baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis, dengan penuh sukacita Ia membuat pengumuman: “Inilah anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

Pengalaman Yesus yang berkelanjutan dan intim akan kasih Bapa yang memotivasi setiap tindakan-Nya selagi Dia berada bersama para murid-Nya: “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; …… Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri” (Yoh 5:19-20). Yesus begitu dipenuhi dengan kasih Bapa sehingga Dia mampu merangkul segala kekejaman dan kepedihan salib untuk memenangkan keselamatan kekal bagi kita.

Oleh kuat-kuasa salib-Nya, Yesus telah menyalibkan kodrat kedosaan kita dan membebaskan kita agar dapat dipenuhi dengan kasih Allah sama yang Dia sendiri alami. Ini adalah suatu kasih yang penuh gairah, yang cukup memiliki kuasa untuk membuat lunak hati yang paling keras sekali pun dan mentransformasikan setiap orang menjadi seorang pencinta Allah. Ini adalah kasih yang bersifat all-inclusive, yang mampu mematahkan setiap penghalang berupa prasangka, penolakan dan rasa curiga yang membuat kita terpisah satu sama lain. Ini adalah kasih yang kekal yang tidak pernah gagal: Allah senantiasa tersenyum memandangi kita, Ia hanya ingin memberkati dan memperkuat diri kita apabila kita kembali kepada-Nya.

DOA: Roh Kudus, pada hari-hari menjelang Hari Raya Pentakosta, penuhilah diri setiap umat Allah dengan pengalaman akan kasih-Nya. Gantikanlah rasa takut dan keserakahan kami dengan kasih kepada Allah Tritunggal Mahakudus, sehingga kami dapat menjadi satu dengan Allah dan satu dengan semua saudari dan saudara kami. Bangkitkanlah kami sebagai saksi-saksi bagi dunia, mengundang setiap orang untuk menemukan kasih yang memiliki daya transformasi dalam diri Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “AGAR SUPAYA MEREKA SEMUA MENJADI SATU” (bacaan tanggal 17-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 15 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TETAP KUAT BERAKAR DALAM YESUS

TETAP KUAT BERAKAR DALAM YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Rabu, 16 Mei 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Margareta dr Cortona, OFS

 “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri. Aku tahu bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa selama tiga tahun, siang malam, aku tanpa henti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. Sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman anugerah-Nya yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu warisan yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya. Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. Lalu menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita terlebih-lebih karena ia mengatakan bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Kemudian mereka mengantar dia ke kapal. (Kis 20:28-38)

Bacaan Injil: Yoh 17:11b-19; Mazmur Tanggapan:68:29-30.33-36

Kis 20:28-35 merupakan bagian dari kata-kata perpisahan Paulus dengan para penatua di Efesus (Kis 20:18-35). Paulus sedang dalam perjalanannya menuju Yerusalem, meskipun dia tahu sekali bahwa perjalanannya kali ini dapat berakibat pada pemenjaraan dirinya demi pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus yang selama ini dilakukannya. Karena perjalanan ini melintas juga ke dekat kota Efesus, maka Paulus memutuskan untuk bertemu dengan para penatua Gereja di sana, agar dia dapat mengucapkan satu-dua patah kata perpisahan kepada mereka. Memang menakjubkanlah untuk melihat Paulus, yang walaupun pada waktu itu sedang menghadapi ancaman riil terhadap hidupnya sendiri, tokh dia masih saja memperhatikan orang-orang yang telah diinjili olehnya daripada kebutuhan dan hasratnya sendiri.

Paulus adalah evangelist sejati! Jelas rasul Kristus ini tidak hanya mengajarkan bahwa lebih berbahagialah memberi daripada menerima, melainkan juga mempraktekkan sendiri apa yang diajarkannya. Inilah leadership by example yang langka terlihat di hampir segala bidang, termasuk bidang keagamaan, dan yang sangat didambakan oleh ‘orang-orang biasa’ di bawah, bahkan pada zaman kita ini. Gaya kepemimpinan ini harus dimiliki oleh setiap pelayan Sabda, tanpa kecuali.

Sejak saat pertobatannya yang dramatis itu, Paulus – tentunya dengan bantuan Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya dan selalu bertindak-tanduk di bawah bimbingan-Nya – terus-menerus berupaya  untuk memajukan kerajaan Allah. Cintakasihnya kepada Yesus merupakan motivasinya guna melakukan perjalanan ke banyak tempat untuk mewartakan Kabar Baik, sambil membuat banyak penyembuhan dan mukjizat serta tanda-heran lainnya, dan … membangun jemaat, yaitu Gereja Kristus. Perjalanan-perjalanan misionernya tidaklah selalu mudah. Berbagai kontroversi dan penganiayaan kelihatannya selalu menyertainya ke mana saja dia pergi – namun bukanlah Paulus kalau dia menjadi gentar.

Dengan penuh iman, Paulus pernah menulis: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan’  [Mzm 44:23]. Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik melaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35-39). Bagi Santo Paulus, demi pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus, segala sakit-penyakit dan penderitaan yang dialaminya memang pantas diterimanya. Bagi Paulus sangat pentinglah dan urgent-lah untuk sharing dengan orang-orang lain perihal kuasa Allah yang telah mengubah hidupnya.

Yesus berjanji bahwa apabila kita melakukan apa saja dalam melayani-Nya, maka kita akan diberikan ganjaran yang luar biasa, baik sekarang maupun di masa depan kelak. Ia malah  telah membangun dalam hati kita suatu hasrat untuk mengasihi dan melayani. Kalau begitu halnya, bagaimana seharusnya kita melayani? Tidak banyak dari kita yang dapat menjadi misionaris-misionaris keliling seperti Paulus. Namun, setiap hari menawarkan kepada kita kesempatan-kesempatan untuk membuang hasrat-hasrat pribadi kita sendiri, dan mulai melayani berbagai kebutuhan orang-orang lain di sekitar kita. Barangkali anda dapat melayani Allah dengan doa-doa syafaat untuk mereka yang sedang sakit, para pemimpin Gereja dlsb.  Mungkin anda dapat menggunakan waktu anda untuk mengunjungi anggota keluarga atau teman yang sedang berbaring sakit di Rumah Sakit.

Di mana pun – seturut petunjuk Roh-Nya – anda melihat ada suatu kebutuhan, penuhilah kebutuhan itu. Kita harus selalu ingat, bahwa pelayanan dapat merupakan manifestasi kasih Allah sendiri. Itulah sebabnya mengapa sangat vital-lah bagi kita semua untuk tetap kuat-berakar dalam Yesus melalui doa dan liturgi. Yakinlah, bahwa dengan Dia berdiam dalam diri kita, kita sungguh dapat ikut membangun kerajaan-Nya di atas bumi ini!

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku sebuah hati yang berbela rasa dan penuh kasih untuk melayani orang-orang lain. Terima kasih, ya Tuhan! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), bacalah tulisan yang berjudul “MENANTIKAN KEDATANGAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 16-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 14 Mei 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DOA YESUS KEPADA BAPA-NYA UNTUK PARA MURID

DOA YESUS KEPADA BAPA-NYA UNTUK PARA MURID

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Selasa, 15 Mei 2018)

Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenai Yesus Kristus yang  telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan  kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a)

Bacaan Pertama: Kis 20:17-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:10-11.20-21

Diskursus terakhir dalam Injil Yohanes adalah sebuah doa syafaat. Dalam doa ini Yesus menegaskan bahwa saatnya telah tiba bagi diri-Nya untuk pergi kepada Bapa-Nya di surga. Yesus berdoa mohon agar Bapa memuliakan diri-Nya karena dengan melakukan hal itu Bapa-Nya pun akan dimuliakan oleh-Nya (Yoh 17:1). Bapa surgawi memberikan kepada Yesus kuasa atas segala yang hidup, dengan demikian Yesus akan memberikan hidup kekal kepada semua orang yang telah diberikan Bapa kepada-Nya. Hidup kekal dicapai melalui persatuan dengan Allah dan dengan Putera-Nya (lihat Yoh 17:3).

Yesus mendasarkan doa-Nya untuk kemuliaan ini pada kenyataan bahwa Dia telah menyelesaikan pekerjaan yang telah diberikan Bapa kepada-Nya untuk mana Dia diutus (Yoh 17:4). Jadi, sekarang Yesus sudah berada dalam tahapan memperoleh kembali kemuliaan yang dimiliki-Nya sejak dunia ada, memang hak-Nya sebagai Putera tunggal Allah (lihat Yoh 1:14), sehingga dengan demikian semua umat beriman dapat ikut ambil bagian dalam kemuliaan-Nya itu (lihat Yoh 17:24).

Yesus berdoa syafaat untuk para murid-Nya yang telah diberikan oleh Bapa kepada-Nya. Para murid tahu  benar-benar bahwa Yesus datang dari Bapa dan mereka percaya bahwa Bapa telah mengutus-Nya, dan mereka menerima firman yang disampaikan oleh-Nya kepada mereka, firman yang telah diterima-Nya dari Bapa (lihat Yoh 17:8). Oleh karena itu para murid layak untuk didoakan oleh-Nya serta diperhatikan oleh Bapa surgawi, walaupun belakangan sebagian besar dari mereka pun goyah dan meninggalkan Yesus ketika menanggung sengsara dan wafat di kayu salib. Para murid itu layak didoakan karena pertimbangan iman-kepercayaan mereka, bukan atas dasar kekuatan mereka.

Doa syafaat Yesus ini adalah bagi para murid-Nya (termasuk semua orang yang kemudian menjadi pengikut-Nya di sepanjang masa) karena mereka adalah satu-satunya yang mengenal Allah melalui Dia yang diutus Allah (lihat Yoh 17:25). Sebaliknya, dunia yang tidak mengenal dan percaya kepada Putera tidak mempunyai klaim atas doa syafaat Yesus itu (lihat Yoh 17:9). Selagi Yesus masih berada di dunia, Dia adalah Pribadi yang menjadi pengikat persatuan dan kesatuan para murid. Sekarang, karena Dia sudah mau pergi meninggalkan mereka dan pergi kepada Bapa-Nya, maka para murid harus memelihara persatuan dan kesatuan antara mereka (Yoh 17:11).

Dalam pekan menjelang Pentakosta ini, selagi kita dikonfrontasikan oleh dosa dan kegelapan dunia seperti serentetan terorisme di tanah air, marilah kita ingat-ingat akan doa syafaat Yesus bagi para murid-Nya ini (termasuk kita juga) dan bergembira penuh sukacita atas kenyataan bahwa Yesus masih terus melakukan doa syafaat bagi kita. Dia telah memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya untuk mengingatkan kita akan hal-hal tersebut, teristimewa mengingatkan kita bahwa Dia – Tuhan dan Juruselamat kita – telah menang bagi kita semua umat beriman.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu dan nyalakanlah api cintakasih-Mu. Baharuilah muka bumi ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “YANG ALLAH INGINKAN KITA LAKUKAN HANYALAH SEBAGIAN DARI SESUATU YANG JAUH LEBIH BESAR” (bacaan tanggal 15-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 14 Mei 2018 [Pesta S. Matias, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RELASI DENGAN BAPA SURGAWI

RELASI DENGAN BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VII [TAHUN B], 13 Mei 2018)

HARI MINGGU KOMUNIKASI SEDUNIA

Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran. (Yoh 17:11b-19)

Bacaan Pertama: Kis 1:15-17,20a,20c-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20; Bacaan Kedua: 1Yoh 4:11-16

“Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu” (Yoh 17:11).

Kita sungguh memperoleh privilese karena dapat melihat hidup doa dari Yesus, walaupun secara sekilas lintas saja. Dalam doa-Nya, Yesus mengajar para murid-Nya (termasuk kita sekarang) bagaimana kiranya menjalin relasi dengan Allah. Bukankah sungguh mengagumkan kenyataan, bahwa bahkan pada saat-saat persekutuan-Nya yang akrab dengan Bapa-Nya, Yesus berdoa untuk kita? Tidak cukuplah bagi Yesus untuk berdoa bahwa kita akan dilindungi dalam dunia ini. Yesus juga ingin agar kita mengenal dan mengalami keakraban yang sama dengan Bapa surgawi seperti yang dimiliki-Nya. Seakan-akan Yesus ingin agar tidak ada perbedaan antara kasih Allah yang dialami-Nya dan kasih Allah yang tersedia bagi kita. Bagaimana kiranya Bapa surgawi menolak doa-doa yang dipanjatkan oleh Putera-Nya yang terkasih? Tentu saja Allah akan memberikan kepada kita apa yang didoakan oleh Yesus.

Yesus berdoa bahwa Bapa akan menjaga dan melindungi kita oleh nama-Nya. Pada zaman Yesus, sebuah nama memiliki makna lebih daripada sekadar sebutan bagi seseorang. Sebuah nama mewakilkan seluruh pribadi seseorang – kehadirannya, personalitasnya, setiap hal mengenai dirinya. Jadi, ketika Yesus berdoa bahwa semoga Bapa akan menjaga kita dalam nama-Nya, maka sebenarnya Dia tidak hanya berdoa untuk kuasa yang bersifat abstrak guna melindungi kita. Yesus memohon kepada Bapa agar menjaga kita semua berada dalam diri-Nya. Yesus sebenarnya memohon kepada sang Pencipta langit dan bumi agar menjaga kita.

Seandainya hal ini terdengar sebagai sesuatu yang terlalu baik dan melampaui ekspektasi normal, Yesus masih mempunyai sesuatu lagi untuk kita. Yesus menguduskan diri-Nya untuk kita. Dengan begitu, Yesus mendedikasikan diri-Nya untuk menjadi Penebus kita, Juruselamat kita untuk sepanjang segala masa. Selagi Yesus melanjutkan berdoa syafaat bagi kita dan untuk hidup dalam diri kita oleh kuasa Roh Kudus, maka diri kita dapat dijaga dari pengaruh si Jahat setiap saat.

Doa Yesus kepada Bapa-Nya mengungkapkan hal-hal yang ada dalam hati-Nya yang terdalam. Sungguh indah bila kita merenungkan bahwa kita adalah objek dari keprihatinan-keprihatinan-Nya dan bahwa kita adalah orang-orang yang paling dikasihi-Nya. O betapa berbahagianya kita! Sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang dapat kita percayai lebih daripada Yesus. Oleh karena itu, marilah kita memberikan kepada-Nya hidup kita dan segalanya yang membentuk diri kita. Yesus telah memberikan segala sesuatu yang dimiliki-Nya – termasuk hidup-Nya – untuk menebus kita – lewat kematian-Nya di kayu salib. Marilah kita terus mati terhadap diri kita, sehingga dengan demikian keilahian-Nya yang sempurna dapat mengalir dalam diri kita dan melalui kita ke tengah-tengah dunia.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh merasa bahagia penuh takjub ketika menyadari betapa Engkau mengasihi diriku. Dengan ini aku menyerahkan diriku kepada-Mu dengan penuh kebebasan dan sukacita, agar dengan demikian aku dapat mengenal dan mengasihi Engkau dengan lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), bacalah tulisan yang berjudul “KITA JUGA DIUTUS KE DALAM DUNIA” (bacaan tanggal 13-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 10 Mei 2018 [HARI RAYA KENAIKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MINTALAH MAKA KAMU AKAN MENERIMA

MINTALAH MAKA KAMU AKAN MENERIMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Sabtu, 12 Mei 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin

OSF: Hari Raya Margaretha Bloching/Pendiri Tarekat, Perawan

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:23b-28) 

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,8-10 

“Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” (Yoh 16:24)

Yesus, yang adalah satu dengan Bapa; mengenal hati Allah secara intim. Setiap hari, Dia ingin berbicara kepada kita tentang kasih Bapa yang begitu besar bagi kita. Dia ingin mengatakan kepada kita tentang hasrat Bapa untuk memberikan kita rahmat dan kekuatan-Nya, dan memberikan kita kebebasan, sebagai anak-anak-Nya, untuk langsung pergi kepada-Nya dengan segala permintaan kita. Oh, kita sungguh mempunyai Allah yang begitu mengasihi kita dan mahamurah. Allah tidak menempatkan penghalang apa pun bagi orang-orang untuk menemui-Nya. Dia telah melakukan segalanya untuk membuka jalan bagi kita untuk datang menghadap hadirat-Nya. Dia bahkan memberikan Anak-Nya sendiri, Yesus, agar kita dapat direkonsiliasikan dengan diri-Nya.

Walaupun demikian, kadang-kadang sikap skeptis manusiawi kita atau keragu-raguan kita untuk melenturkan sikap siap-siaga kita yang kaku akan menghalang-halangi kemampuan kita untuk menerima kasih-Nya. Kita cenderung berpikir bahwa kita perlu melakukan hal yang benar dan menyenangkan Allah sebelum Ia mengasihi kita. Dalam hal ini kita harus senantiasa mengingat kebenaran sederhana, bahwa Allah mengasihi karena Dia membuat/menciptakan kita dan mempermaklumkan kita sebagai “sangat baik” (Kej 1:31). Barangkali kita berpikir: “Allah tidak mengasihi diriku karena dosa-dosaku yang sudah segudang banyaknya ini.”  Di sini kita harus mempercayai sepenuhnya apa yang ditulis oleh Santo Paulus: “Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Kasih-Nya kepada kita tidak pernah luntur, apa pun yang telah kita perbuat.

Thomas Hobbes mengatakan “homo homini lupus”, artinya “manusia adalah serigala bagi manusia lainnya”. Dalam dunia di mana serigala makan serigala seperti ini, maka mengakui kebutuhan kita menunjukkan bahwa kita lemah. Dengan demikian, kita menolak pikiran untuk menceritakan kepada Allah – atau bahkan mengaku kepada diri kita sendiri – betapa banyak kita membutuhkan kasih-Nya. Meskipun begitu, sesungguhnya kita semua lemah dalam banyak hal, maka kita sungguh membutuhkan kasih-Nya.

Allah rindu untuk menarik kita agar berada dekat dengan hati-Nya, untuk mendengar pengakuan kita bahwa kita sungguh membutuhkan Dia. Setiap hari kita dapat berpaling kepada-Nya dalam doa dan mohon kepada-Nya untuk menanamkan realitas kasih-Nya ke dalam hati kita. Kita dapat mendekati Dia setiap saat dan mohon pengampunan-Nya dan sentuhan kesembuhan-Nya. Mengalami kasih-Nya akan mendorong kita untuk mengikuti Dia secara lebih dekat lagi. Marilah kita membuka hati kita bagi Dia pada hari ini dalam doa dan memperkenankan Dia untuk mengisi diri kita dengan kehadiran-Nya.

DOA: Bapa surgawi, lelehkanlah apa saja dalam diri kami yang menghalangi kami menerima kasih-Mu. Kami tidak merasa malu untuk mengakui kebutuhan kami akan Dikau. Datanglah, ya Roh Kudus, dan penuhilah diri kami dengan curahan kasih-Mu pada hari Pentakosta. Semoga kami menjadi sumber air kasih-Mu bagi orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:23b-28), bacalah tulisan yang berjudul  “MINTA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 12-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,10 Mei  2018 [HARI RAYA KENAIKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS BERJANJI BAHWA DIA AKAN BERTEMU KEMBALI DENGAN PARA MURID-NYA

YESUS BERJANJI BAHWA DIA AKAN BERTEMU KEMBALI DENGAN PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Jumat, 11 Mei 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Ignasius dr Laconi, Biarawan

HARI PERTAMA NOVENA PENTAKOSTA

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. (Yoh 16:20-23a) 

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7

Sementara Yesus sudah semakin dekat dengan saat kematian-Nya, Dia masih terus mempersiapkan para murid-Nya agar dapat menghadapi saat perpisahan dengan-Nya dan untuk mensyeringkan pengharapan besar yang tersimpan dalam hati-Nya. Sebagaimana seorang perempuan yang menanggung rasa sakit demi melahirkan bayinya ke tengah dunia, Yesus pun mengetahui bahwa penderitaan sengsara-Nya dan kematian-Nya akan membawa kehidupan baru ke tengah dunia. Ketika seorang perempuan memandang anak yang baru dilahirkannya, maka rasa sakit karena melahirkan itu pun menjadi tidak signifikan. Hati sang ibu dipenuhi dengan ketakjuban ketika memandangi bayi yang baru dilahirkannya itu. Hal serupa – namun tak sama tentunya – terjadi dengan Yesus. Yesus menyadari bahwa salib-Nya akan membawa karunia kehidupan baru yang penuh keajaiban, maka dengan cintakasih-Nya dan antisipasi-Nya yang besarlah Ia bergerak maju untuk wafat di kayu salib.

Para murid sungguh menanggung rasa sedih luarbiasa yang disertai dengan kebingungan selagi mereka menyaksikan Yesus ditangkap, diadili dalam pengadilan “dagelan”, dijatuhi hukuman mati dan mati di kayu salib di bukit Kalvari. Namun Yesus telah berjanji kepada mereka: “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu” (Yoh 16:22). Yesus berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan bertemu dengan mereka lagi; dan para murid akan bergembira karena mereka akan mengenal pandangan penuh kasih dari Yesus kepada mereka. Mereka akan mengenal dan mengalami damai-sejahtera dan aman bilamana terus berada di bawah pandangan penuh siaga dari Yesus, tidak pernah dilupakan atau dibuang. Pengetahuan seperti ini sungguh membawa sukacita besar kepada para murid.

Yesus sangat mengetahui berbagai pergumulan dan pencobaan yang kita alami dan hadapi. Dia mengetahui rasa takut yang sudah cukup lama merasuki diri kita, kekhawatiran yang sudah sekian lama menindih kita, namun juga segala pengharapan dan impian yang selama ini kita simpan sendiri dalam hati. Tidak ada yang luput dari pandangan Yesus. Ia berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan bertemu dengan mereka lagi, demikian pula mata-Nya yang memancarkan kasih akan terus memperhatikan kita. Selagi Dia berdiri di hadapan Bapa untuk melakukan syafaat bagi kita, Dia mampu untuk memenuhi diri kita dengan sukacita akan kehadiran-Nya, membalikkan rasa sedih kita menjadi sukacita karena kita mengenal bela-rasa dan kekuatan-Nya.

Yesus senantiasa siap untuk memberikan hikmat-Nya yang kita memang perlukan untuk menghadapi situasi apa saja. Yang harus kita lakukan adalah dengan rendah hati memanjatkan permohonan kita dan mentaati perintah-perintah-Nya. Kuat-kuasa-Nya yang mahadahsyat dapat membuat keajaiban-keajaiban dalam hati kita yang jauh lebih besar daripada yang kita pernah bayangkan!

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, berikanlah kepada kami mata-iman agar dapat melihat karya Bapa dan Putera dalam kehidupan kami. Lahirkanlah dalam diri kami suatu pengalaman lebih mendalam akan kasih-Mu dan kemauan yang lebih besar untuk dibentuk lke dalam keserupaan dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kami bersukacita dalam hidup baru yang telah Kau berikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:20-23a), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU AKAN BERDUKACITA, TETAPI DUKACITAMU AKAN BERUBAH MENJADI SUKACITA” (bacaan tanggal 11-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 9 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS