Posts from the ‘MASA PRAPASKAH DAN PASKAH’ Category

TRANSFIGURASI PENUH KEMULIAAN DI ATAS SEBUAH GUNUNG YANG TINGGI

TRANSFIGURASI PENUH KEMULIAAN DI ATAS SEBUAH GUNUNG YANG TINGGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH II [Tahun B] – 25 Februari 2018)

Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilauan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat memutihkan pakaian seperti itu. Lalu tampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Rabi, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Biarlah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Lalu datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia.” Tiba-tiba sewaktu memandang sekeliling, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan itu sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan “bangkit dari antara orang mati”. (Mrk 9:2-10) 

Bacaan Pertama: Kej 22:1-2,9a,10-13,15-18; Mazmur Tanggapan: 116:10,15-19; Bacaan Kedua: Rm 8:31b-34 

Pernahkah anda merenungkan bagaimana kiranya gejolak dalam hati dan pikiran yang dialami ketiga murid “lingkaran-dalam” ini ketika menyaksikan transfigurasi Yesus, apalagi ketika peristiwa penuh kemuliaan tersebut terjadi tidak lama setelah Yesus untuk pertama kalinya memberitahukan kepada para murid tentang penderitaan-Nya (Mrk 8:31-33).

Kebenarannya adalah, bahwa setiap hari – dalam doa – kita mempunyai kesempatan untuk mengalami suatu transfigurasi juga, meskipun dalam skala mini. Semuanya ini berawal ketika kita memperkenankan Yesus berada berdua bersama kita masing-masing. Kita dapat saja berpikir bahwa hal seperti itu merupakan peristiwa yang jarang sekali terjadi, namun hal itu akan benar-benar terjadi apabila kita menyediakan suatu waktu yang khusus untuk berdoa setiap harinya, waktu yang bebas dari berbagai gangguan, waktu di mana kita mampu untuk membuka hati kita di hadapan Tuhan.

Yesus akan menyatakan kemuliaan-Nya kepada kita apabila kita memusatkan hati dan pikiran kita kepada kehadiran-Nya – apakah lewat meditasi atas sepotong bacaan Kitab Suci, membayangkan peristiwa yang diceritakan dalam Injil, atau dengan sederhana mengulang-ulangi nama-Nya terus menerus dalam hati kita. Selagi kita menyerahkan diri kepada-Nya, maka Dia akan menunjukkan diri-Nya kepada kita sebagai Tuhan dan Guru, sekaligus “seorang” Allah yang sangat mempribadi, yang tahu dan memperhatikan setiap detil kehidupan kita. Kasih-Nya yang besar sekali namun intim itu dapat begitu melingkupi diri sehingga membuat kita berlutut dalam ketakjuban penuh hormat. Tidak heranlah kalau Petrus ingin diam di atas gunung saja, agar dapat bersenang-senang dalam kemuliaan Tuhan.

Sementara kita duduk di hadapan hadirat-Nya, kita dapat mendengarkan selagi Tuhan berbicara kepada hati kita. Dia mungkin ingin memberikan kepada kita pernyataan kasih-Nya atau belas kasihan-Nya secara lebih mendalam. Ia mungkin menunjukkan suatu pola dosa yang selama ini menghalangi kita untuk mengalami kebebasan yang dimenangkan-Nya bagi kita di kayu salib. Ia mungkin mau berbicara kepada kita, atau memanggil kita ke dalam suatu kerja pelayanan bagi umat-Nya yang lebih mendalam. Sebagaimana ketiga murid-Nya suatu suara dari surga, kita pun dapat mendengar Yesus dalam keheningan hati dan pikiran kita.

Yesus sangat suka untuk memberikan kepada kita pemandangan-pemandangan sekilas tentang kemuliaan-Nya sehingga dengan penuh semangat kita dapat bergerak terus bersama-Nya dan menjadi seorang pribadi sesuai dengan rencana penciptaan-Nya bagi kita. Seperti Petrus, Yakobus dan Yohanes, kita pun dapat ditinggikan ke hadapan hadirat Tuhan dan mendengar suara-Nya. Selagi kita belajar untuk menenangkan hati kita dalam doa, maka setiap hari dapat menjadi suatu transfigurasi-mini. Hari ini, marilah kita datang menghadap dengan pengharapan besar akan apa yang ingin dilakuka-Nya dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah segalanya bagi diriku. Tunjukkanlah kemuliaan-Mu kepadaku hari ini, ya Tuhan. Berbicaralah kepada hatiku sedemikian, sehingga aku tanpa ragu lagi dapat mengatakan bahwa aku telah mendengar suara-Mu. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mau bersamaku hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 9:2-10), bacalah tulisan yang berjudul “TUJUAN AKHIR KITA BUKANLAH UNTUK MATI” (bacaan tanggal 25-2-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

Cilandak, 21 Februari  2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KITA TIDAK AKAN MAMPU MENGASIHI MUSUH KITA APABILA KITA HANYA MENGANDALKAN KEKUATAN KITA SENDIRI

KITA TIDAK AKAN MAMPU MENGASIHI MUSUH KITA APABILA KITA HANYA MENGANDALKAN KEKUATAN KITA SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Sabtu, 24 Februari 2018)

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: Ul 26:16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,7-8  

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Mat 5:44)

Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus di sini? Tidak peduli apakah yang dilakukan seseorang atas diri kita, tidak peduli bagaimana orang itu memperlakukan kita, tidak peduli sampai berapa dalam dia telah menghina kita, melukai hati kita dan/atau membuat kita sedih, kita tidak pernah boleh memperkenankan setiap macam kepahitan terhadap orang itu melanda hati kita, melainkan memandang orang itu dengan kemauan baik dan mendoakan yang terbaik bagi orang itu. Yesus mengajarkan/memerintahkan kepada para murid-Nya untuk mengasihi siapa saja, kasih yang bersifat praktis dan asli yang keluar dari dalam hati (misalnya ungkapan seperti ini: “berdoalah bagi mereka”). Dengan cintakasih sedemikian, seorang pengikut/murid Yesus menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang anak sejati dari Allah, Allah yang tidak pandang bulu dalam mencurahkan berbagai kebaikan kepada umat manusia, orang baik ataupun jahat. Yang dimaksudkan sebagai “musuh Allah” pada zaman Yesus adalah orang-orang non Yahudi (baca: kafir) atau orang-orang Yahudi yang tidak menepati hukum Taurat, dengan demikian dinilai pantas untuk diasingkan dari urusan orang Yahudi yang setia.

Bacaan ini menunjukkan kepada kita ajaran Yesus yang sungguh revolusioner: mengasihi musuh-musuh kita! Ini adalah puncak (antitesis keenam) dari serangkaian antitesis sebelumnya yang dimulai pada Mat 5:21. Apakah Yesus memaksudkan agar kita  mengasihi musuh-musuh kita dengan cara yang sama kita mengasihi para anggota keluarga kita atau sahabat-sahabat kita? Cintakasih kita kepada para sahabat kita adalah sesuatu yang lahir dari emosi-emosi hati kita. Secara normal kita memiliki perasaan cintakasih di bagian terdalam diri kita, namun mengasihi seorang musuh adalah sesuatu yang menyangkut hati. Jadi, lebih daripada sekadar masalah kehendak. Ini adalah sesuatu di mana kehendak kita harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ini adalah suatu determinasi pikiran kita untuk mengasihi mereka yang sebenarnya kita tidak sukai dan yang mungkin juga tidak menyukai kita.

Sesungguhnya kita tidak akan pernah dapat mengembangkan cintakasih seperti ini apabila kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri. Kita perlu minta kepada Yesus untuk memberikan kepada kita rahmat yang akan memampukan kita untuk mengatasi kecenderungan alami kita untuk marah dan memendam kepahitan, dan menumbuhkan kemauan baik terhadap musuh-musuh kita. Hanya apabila Kristus hidup dalam hati kita, maka kepahitan akan mati dan cintakasih ini bersemi dalam kehidupan kita.

Walaupun kita tidak boleh membiarkan kepahitan dan kemarahan melanda hati kita, cintakasih Kristiani menuntut kita untuk memperkenankan orang-orang (musuh-musuh kita) melihat dan menyadari kesalahan-kesalahan mereka. Tidak seorang pun dapat mengatakan bahwa orangtua tertentu sungguh mengasihi anaknya apabila dia membiarkan anaknya melakukan apa saja yang dikehendakinya. Apabila kita memandang seorang pribadi dengan cintakasih Kristiani, hal itu berarti bahwa kita memperkenankan dia menyadari akan kesalahan-kesalahannya, dan kita melakukannya dengan pasti, bukan untuk membalas dendam melainkan untuk membantu membuat dirinya menjadi seorang pribadi yang lebih baik.

Bacaan Injil hari ini berurusan dengan relasi pribadi kita dengan keluarga kita, dengan para sahabat kita, para tetangga kita dan orang-orang yang kita temui setiap hari. Tentu saja hal ini jauh lebih mudah untuk diucapkan mulut/bibir kita daripada diwujud-nyatakan dalam perbuatan. Bukankah jauh lebih mudah bagi kita untuk mengatakan bahwa tidak boleh ada peperangan antara bangsa-bangsa daripada duduk bersama seorang musuh lama kita yang telah begitu menyakiti hati kita?

Pesan Injil bagi kita semua adalah: cintakasih kita kepada anggota keluarga yang paling dekat adalah sesuatu yang natural dalam diri kita, tertanam dalam perasaan/emosi kita. Namun untuk mengarahkan pikiran kita sampai mengasihi seseorang – apalagi seorang musuh – sungguh sulit, dan menjadi lebih sulit lagi apabila mencapai tingkatan/tataran hati.

Antitesis terakhir – mengasihi musuh kita – menunjukkan kepada kita bahwa prinsip fundamental yang mendasari tuntutan-tuntutan Yesus adalah cintakasih: suatu cintakasih kepada Allah yang diterjemahkan ke dalam suatu ketaatan penuh kesetiaan kepada kehendak-Nya, cintakasih kepada sesama yang tidak mengenal diskriminasi. Singkatnya, seorang murid Yesus dipanggil untuk meneladan Kristus Yesus: menjadi alter Christus! 

Keseluruhan bacaan Injil yang berisikan 6 (enam) antitesis ini (Mat 5:21-48) ditutup dengan sabda Yesus yang kiranya merupakan tuntutan-Nya yang paling tinggi, yaitu untuk menjadi “sempurna sama seperti Bapa yang di surga sempurna” (lihat Mat 5:48). “Sempurna” di sini bukanlah berarti suatu status kemurnian moral, melainkan berorientasi pada tindakan. Seorang murid Yesus “sempurna” apabila dia memberikan segalanya untuk tetap setia pada apa yang diminta Allah dari dirinya (lihat Mat 19:21).

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Tolonglah kami agar mau dan mampu mengasihi orang-orang yang kami pandang sebagai musuh. Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah kami sehingga dapat menjadi pribadi-pribadi yang  pantas untuk menyapa Allah sebagai Bapa kami. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “AGAR KITA DAPAT MENCERMINKAN KASIH ALLAH KEPADA MUSUH-MUSUH KITA” (bacaan tanggal 24-2-18) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 21 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA BERPEGANG TEGUH PADA PERSATUAN DAN KESATUAN KRISTIANI

MARILAH KITA BERPEGANG TEGUH PADA PERSATUAN DAN KESATUAN KRISTIANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah – Jumat, 23 Februari 2018)

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: Yeh 18:21-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8

Tafsir Yesus tentang hukum Musa tentunya telah mengejutkan para pendengar-Nya. Bagi Yesus, kemarahan, caci-maki dan penghinaan dengan mengata-ngatai “jahil” sudah berada di luar batas, sudah kelewatan. Bukan hanya apa yang kita lakukan yang penting, melainkan juga apa yang ada dalam pikiran kita. Sekarang, mengapa Yesus  begitu menekankan pentingnya relasi atau hubungan? Karena kita adalah anak-anak Allah, dengan kita bersaudara satu sama lain. Kita begitu erat diikat bersama, sehingga setiap perpecahan akan merusak seluruh tubuh Kristus.

Sebagai orang-orang Kristiani, kita ditantang untuk memelihara, melestarikan dan membangun persatuan dan kesatuan kita dalam Kristus. Tantangan ini berlaku sampai kepada setiap interaksi dengan orang-orang lain. Misalnya, bagaimana kita berelasi dengan para anggota keluarga kita sendiri, para tetangga, dan para kolega kita di tempat kerja? Apakah kita baik hati? Apakah kita memperlakukan mereka dengan adil? Apakah kita memperhatikan mereka yang mempunyai berbagai kebutuhan, teristimewa saudari dan saudara kita yang miskin dan berada dalam kesendirian.

Kita begitu erat berhubungan satu sama lain dalam tubuh Kristus (Gereja), sehingga dosa apa saja yang kita komit mempunyai konsekuensi-konsekuensi tidak hanya atas diri kita, melainkan terhadap orang-orang lain juga. Persatuan dan kesatuan kita bersifat integral sehubungan dengan kehidupan dalam Kristus! Kita hanya dapat menjadi pihak yang turut ambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus (Trinitas) sejauh kita terikat satu sama lain. Inilah rencana Bapa surgawi bagi kita semua. Di lain pihak, apa bila kita berdosa melawan sesama kita atau melawan Allah, maka kita mengaburkan relasi kita dengan para anggota tubuh Kristus lainnya. Celakanya, perseteruan kita dengan sesama dan/atau Allah inilah yang diinginkan oleh Iblis. Itulah sebabnya, mengapa pengampunan dan perdamaian (rekonsiliasi) itu penting.

Dengan demikian, marilah kita berpegang teguh pada persatuan dan kesatuan Kristiani, satu-satunya pengharapan kita akan sukacita dan damai-sejahtera. Seringkali kesombongan dan kekerasan kepala dan hati kita menghalangi kita untuk mengakui keikutsertaan atau peranan negatif kita yang telah mengakibatkan suatu relasi menjadi rusak,  bahkan sampai berantakan. Kita harus belajar untuk menggantungkan diri pada Allah guna menolong kita melihat dengan mata yang baru situasi-situasi yang kita hadapi, teristimewa relasi-relasi. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk menunjukkan kepada kita apa yang dapat kita lakukan untuk menjadi agen-agen guna tercapainya rekonsiliasi,  bukan perpecahan.

Bahkan dalam situasi-situasi di mana rekonsiliasi terasa sulit untuk tercapai, kita tetap dapat membuat suatu perbedaan dengan menyerahkan segala perasaan yang mengandung kepahitan dan penolakan kepada Allah, dan mohon kepada-Nya dari kedalaman hati kita agar mengampuni kita.

DOA: Roh Kudus Allah, inspirasikanlah dalam diriku suatu hasrat mendalam untuk bersatu secara dekat serta erat dengan saudari-saudari dan saudara-saudaraku. Persatukanlah semua orang Kristiani ke dalam sebuah keluarga dan ciptakanlah ikatan cintakasih yang tidak dapat dipatahkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMERINTAHKAN KITA UNTUK MENGAMPUNI” (bacaan  tanggal 23-2-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 19 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TANDA NABI YUNUS ???

TANDA NABI YUNUS ???

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Rabu, 21 Februari  2018)

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Yun 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,18-19 

Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan “tanda Nabi Yunus”? Injil Lukas memahami tanda ini sebagai pewartaan atau pemberitaan tentang pertobatan (Luk 11:29,32). Tidak seperti penulis Injil Matius, dia tidak membuat allusi kepada Yunus yang tiga hari tiga malam lamanya berada dalam perut ikan paus (lihat Mat 12:40).

Yesus mengatakan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, bahwa tanda satu-satunya yang akan diberikan oleh-Nya adalah tanda Nabi Yunus. Ia sendiri sebenarnya cukup sebagai tanda bagi mereka, seperti Yunus adalah sebuah tanda bagi orang-orang Niniwe. Pada waktu Yunus datang membawakan berita pertobatan yang sederhana kepada penduduk kota kafir ini, maka mereka menanggapi pemberitaannya dengan melakukan pertobatan secara mendalam dan iman yang mendalam kepada Allah. Yesus mewartakan pesan pertobatan yang sama kepada orang banyak yang mengikuti-Nya. Dengan menyebut mereka “generasi jahat” (lihat Luk 11:29) Yesus mengingatkan mereka, bahwa mereka akan dihakimi untuk kekerasan-kepala dan ketidak-percayaan mereka. Siapa yang menghakimi? Orang-orang Niniwe yang telah bertobat karena pemberitaan Yunus, karena “sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus” (Luk 11:32).

Kata “tanda” mengacu pada sebuah peringatan atau petuah, juga dapat berarti suatu tanda atau indikasi tentang “alam surgawi”. Yesus adalah “tanda” untuk generasi-Nya karena Dia membawa Kerajaan Allah, “alam surgawi”, ke tengah-tengah orang banyak. Dalam ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan-Nya, Yesus adalah contoh paling sempurna, dia menantang ketidak-kudusan dengan hidup-nya yang murni dan kudus sebagai Putera Allah. Setiap hal yang dilakukan dan dikatakan Yesus menunjuk pada Bapa-Nya. Jauh lebih daripada Yunus, Yesus adalah suatu “tanda” yang mewujudkan Kerajaan Allah dan menyerukan agar orang-orang untuk melakukan pertobatan. Kehadiran-Nya membuat setiap orang berada dalam situasi krisis, karena sebagai Terang Dunia Yesus mengungkap kondisi hatinya yang terdalam. “Tanda” ini dimaksudkan untuk memanggil orang-orang kembali kepada Allah.

Yesus adalah suatu “tanda” bagi kita pada zaman ini juga. Kata-kata-Nya (sabda-Nya; firman-Nya) masih dapat dibaca dalam Kitab Suci. Firman-Nya itu memiliki kuat-kuasa yang sama bagi kita seperti dua ribu tahun lalu, karena diberdayakan oleh Roh Allah yang kekal-abadi. Marilah kita renungkan apa yang ditulis dalam “Surat kepada Orang Ibrani” : “… firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup menilai pikiran dan niat hati kita” (Ibr 4:12). Marilah kita memperkenankan firman Yesus menjadi pedang ini, yang memotong sampai ke hati-terdalam kita dan mengungkapkan tanggapan terhadap Allah yang seharusnya kita buat.

DOA: Tuhan Yesus, perkenankanlah Roh Kudus-Mu membuat hatiku tidak keras-alot terhadap-Mu. Tembuslah hatiku dengan firman-Mu agar aku dapat menanggapi pesan pertobatan yang Kauberitakan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:29-32), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA MEMINTA SUATU TANDA” (bacaan tanggal 21-2-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009) 

Cilandak, 18 Februari 2018 [HARI MINGGU PRAPASKAH I – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOA BAPA KAMI YANG DIWARISKAN OLEH YESUS SENDIRI

DOA BAPA KAMI YANG DIWARISKAN OLEH YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Selasa, 20 Februari 2018)

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: Yes 55:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:4-7,16-19

Kadang-kadang kita dibuat sadar bahwa kata-kata Yesus yang paling sederhana juga berisikan jawaban terhadap keadaan-keadaan kehidupan kita yang paling menantang. Demikian pula dengan doa “Bapa Kami” ini. Karena sedemikian seringnya kita mendoakan doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri ini, maka kita dapat saja luput menangkap maknanya yang begitu kaya.

Mendoakan doa “Bapa Kami” dapat membawa pengharapan kepada kita dan juga kesembuhan  Doa ini juga dapat membuka pintu bagi suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah, suatu relasi yang dapat menjadi begitu mendalam sehingga mencerminkan kasih dan keintiman antara Yesus dan Bapa-Nya. Melalui doa ini, kita semua dapat mengalami berkat yang indah: Allah menawarkan kepada kita kasih-Nya, yaitu kasih sama dengan yang diberikan-Nya kepada Yesus, Putera-Nya yang terkasih (lihat Yoh 17:26).

Kata-kata pertama dari doa ini, “Bapa kami”, memperkenalkan kita kepada kasih Allah bagi kita. Dapatkah kita membayangkan seorang pribadi yang begitu berkuasa di dunia ini menawarkan diri untuk memelihara serta memperhatikan segala kebutuhan kita, sebagai anak-anaknya? Namun TUHAN semesta alam, yang kilat-kilat-Nya menerangi dunia dan yang keadilan-Nya diberitakan oleh surga/ langit (Mzm 97:4-6), …… Ia mengundang kita semua untuk memanggil diri-Nya “Bapa”. Betapa kecil pun kita merasakan diri kita di hadapan-Nya, betapa tidak berartinya kita, betapa tidak berharganya, faktanya adalah bahwa kita adalah anak-anak-Nya yang sungguh sangat berharga di mata Dia, sangat dikasihi-Nya, sejak permulaan waktu.

Manakala kita mengatakan “jadilah kehendak-Mu”, kita tidak sekadar menyerahkan diri kita kepada “seorang” Allah yang suka mengambil keputusan dengan sewenang-wenang. Sebaliknyalah, dengan mengatakan “jadilah kehendak-Mu” kita secara aktif merangkul segalanya yang telah disediakan oleh Bapa untuk kita. Kita menaruh kepercayaan kita dalam diri seorang pribadi yang rencana-Nya bagi kita jauh melampaui harapan kita yang seringkali terbatas. Selagi kita mengalami iman seperti ini, kita pun belajar tentang kebenaran janji-janji Allah. Ia menunjukkan kepada kita, hari lepas hari, bahwa rencana-rencana-Nya bagi kita adalah untuk/demi kebaikan kita, “yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan” (lihat Yer 29:11).

Allah, Bapa surgawi, tidak pernah meninggalkan kita dan tidak pernah Dia merencanakan sesuatu yang jahat atas diri kita, sesuatu yang akan mencelakakan diri kita. Kasih-Nya sempurna. Oleh karena itu, hari ini selagi kita berdoa “Bapa kami”, baiklah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membawa kita kepada suatu relasi yang lebih mendalam lagi dengan Allah. Kita adalah anak-anak-Nya yang sangat dikasihi-Nya, dan hanya Dialah yang dapat memenuhi semua kebutuhan dan harapan kita. Daripada percaya kepada segala sumber daya  kita sendiri yang serba terbatas, marilah kita mencari pertolongan-Nya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita hari ini. Pada waktu kita berdoa, baiklah kita mohon agar diberikan hati seperti Hati Yesus, selagi kita mengatakan “jadilah kehendak-Mu”.

DOA: Roh Kudus Allah, ajarlah kami untuk berdoa seperti yang diajarkan Yesus kepada kami. Bukalah diri kami agar dapat sampai pada suatu relasi yang lebih mendalam dengan Bapa surgawi. Penuhilah diri kami dengan pengetahuan akan martabat kami sebagai anak-anak-Nya yang sangat dikasihi-Nya. Oleh kuasa-Mu, mampukanlah kami untuk menyerahkan hidup kami ke dalam pemeliharaan-Nya yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH DOA YANG DIAJARKAN OLEH YESUS SENDIRI KEPADA PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 20-2-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010)

Cilandak, 18 Juni 2018 [HARI MINGGU PRAPASKAH I – TAHUN B]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELIHAT YESUS DALAM DIRI ORANG-ORANG KECIL DAN MENDERITA

MELIHAT YESUS DALAM DIRI ORANG-ORANG KECIL DAN MENDERITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah – Senin, 19 Februari 2018)

 

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:31-46) 

Bacaan Pertama: Im 19:1-2,11-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Adalah seorang eksekutif muda di Jakarta – katakanlah namanya Budiono yang sering dipanggil Budi – yang sudah  cukup lama merasa gelisah karena kehidupan spiritualnya. Budi merasa bahwa dirinya selama beberapa bulan belakangan ini sering diingatkan bahwa dia hanya “baik” pada hari Minggu saja, yaitu ketika menghadiri Misa Kudus, padahal di hari-hari lainnya dirinya tidaklah demikian. Kemudian Budi memutuskan bahwa sudah tibalah saat baginya untuk membuat perubahan. Pada suatu pagi hari dia berdoa yang intinya adalah sebagai berikut: “Tuhan Yesus, nyatakanlah kehadiran-Mu kepadaku secara ajaib pada hari ini.” Doanya sangat intens dan dipenuhi pengharapan, dan dia juga merasakan bahwa sesuatu yang penting akan terjadi dengan berjalannya waktu pada hari itu. Dengan demikian, Budi pun menyiapkan hari itu dengan ekspektasi yang besar.

Benar saja, sesuatu pun terjadi! Pada waktu Budi ke luar dari mobilnya di tempat parkir dekat kantornya, seorang laki-laki tua mendekatinya dan berkata, “Pak, saya orang baru di kota Jakarta. Dapatkah Bapak menunjukkan kepada saya di manakah apotik yang terdekat?” Tugas itu tidak susah, sehingga permintaan orang itu pun dikabulkan oleh Budi dengan baik. Ia menghantarkan orang tua itu sampai ke pinggir jalan besar dan menunjukkan apotik yang memang terletak tidak jauh dari tempat itu. Kemudian, pada jam makan siang, seorang rekan kerjanya (perempuan) mengatakan kepada Budi bahwa dia “merasa tidak enak badan” dan berencana untuk pergi ke dokter setelah makan siang. Rekan kerjanya itu berkata kepada Budi: “Mas Bud, doakan aku, ya!” Budi pun meyakinkan rekan-kerjanya itu bahwa dia akan mendoakannya. Dan ia memang kemudian berdoa untuk pemulihan kesehatan teman perempuannya itu. Pada sore harinya ketika menuju tempat parkir, Budi bertemu dengan seorang teman sekolahnya di SMA Kanisius dulu yang sudah kehilangan pekerjaannya sejak tiga bulan sebelumnya. Budi mengajak temannya itu ke ATM yang tidak jauh dari situ dan “meminjamkan sejumlah uang” sesuai permintaan temannya itu. Pada malam harinya Budi merenungkan apa saja yang telah terjadi dengan dirinya. Kelihatan seakan doanya belum dikabulkan, namun kegalauan spiritualnya sudah terasa terobati.

Yesus mengatakan kepada kita, bahwa Dia hadir manakala kita menyambut orang-orang asing, manakala kita membantu serta merawat orang-orang sakit, manakala kita membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Akan tetapi Budi percaya bahwa doanya untuk mengalami kehadiran Yesus pada hari itu tidak memperoleh jawaban. Barangkali doanya dijawab, namun dengan cara-cara yang begitu biasa sehingga luput dari persepsi si Budi yang memegang ijazah S2 bidang administrasi bisnis dari NYU ini. Maklum kehidupan spiritualnya belumlah seperti kehidupan spiritual orang kudus seperti Santa Teresa dari Lisieux [1873-1897] yang dianugerahi kemampuan untuk melihat karya kasih Allah dalam hal-hal yang kecil sekali pun.

Nah, Saudari dan Saudaraku! Kita mungkin tergoda untuk memandang diri kita sebagai seorang kudus yang super, padahal yang diminta Allah adalah, bahwa kita menjadi orang Kristiani yang lebih baik dari hari ke hari. Hal ini justru terjadi melalui/pada peristiwa-peristiwa yang terasa sepele dalam kehidupan kita. Justru dalam hal-hal yang kelihatan/terasa sepele itulah – dengan bantuan rahmat Allah – kita diberi kesempatan untuk menikmati betapa baik Allah itu…… sungguh menakjubkan! Tindakan kasih Allah lewat para saksi-Nya di tengah-tengah umat-Nya seringkali luput dari pandangan mata hati kita karena kita cenderung mengagumi hal-hal yang bersifat spektakuler, bukan hal-hal yang sepele tanpa arti. Kita tidak jarang berkata, “Wah hebat sekali Romo A atau Pendeta B itu, begitu banyak orang sakit yang disembuhkannya”. Tak sengaja kita pun cukup sering mengagung-agungkan Romo atau Pak Pendeta, bukan Yesus! Di lain pihak kita memandang remeh atau biasa-biasa saja seorang imam cukup tua-usia yang  khotbah-khotbahnya tidak “jos”, namun begitu setia setiap hari melayani umat, bepergian dengan mengendara sepeda ontelnya, dan dia melayani umat yang menderita sakit-penyakit tanpa banyak mengeluh. Dia  bukan doktor teologi lulusan Jerman atau Roma, namun sangat menghayati tugasnya sebagai pelayan Kristus – sang Gembala Baik. Tanpa banyak kesempatan untuk membaca buku-buku, Romo ini memahami betul arti sejati dari SERVANTHOOD. Boro-boro memiliki smart-phone android atau akrab dengan istilah-istilah jejaring sosial seperti WA, Instagram face-book atau twitter; selain “gaptek”,  yang ada dalam hati dan pikirannya hanyalah melayani Kristus dalam diri orang-orang kecil dan menderita dalam masyarakat yang semrawut  dan penuh penderitaan ini. Dari wajahnya terpancarlah kasih Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita! Dengan demikian, ia adalah seorang alter Christus, seperti yang diinginkan Yesus sendiri.

Memang Yesus seringkali adalah tamu yang terkamuflase. Santo Fransiskus dari Assisi, misalnya, berjumpa dengan Kristus dalam diri seorang kusta di tengan jalan. Kita seringkali berdoa agar terjadi mukjizat-mukjizat, namun sebenarnya yang perlu kita minta dalam doa kita adalah agar diberikan KASIH itu sendiri – suatu mukjizat tanpa tandingan!

DOA: Tuhan Yesus yang baik, Engkau yang tersembunyi dalam diri orang-orang kecil dan menderita dalam masyarakat. Engkau senantiasa membuat diri-Mu miskin sehingga kami menjadi kaya. Tolonglah kami agar pada hari ini, kami dapat mengenali-Mu. Terima kasih Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:31-46), bacalah tulisan yang berjudul “TERIMALAH KERAJAAN YANG TELAH DISEDIAKAN BAGIMU SEJAK DUNIA DICIPTAKAN” (bacaan tanggal 19-2-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,  17 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PUASA YANG DIKEHENDAKI ALLAH

PUASA YANG DIKEHENDAKI ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, hari Jumat sesudah Rabu Abu – Jumat, 16 Februari 2018)

Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka! Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allah-nya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya: “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetapi mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukuli dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini  suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada YHWH? Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan YHWH barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan YHWH akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! (Yes 58:1-9a) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,18-19; Bacaan Injil: Mat 9:14-15 

Seringkah kita mengalami yang berikut ini? Kita menepati segala praktek keagamaan – misalnya berpuasa dan/atau berpantang – namun kemudian menyadari bahwa hati kita tidak ada dalam tindakan kita itu! Barangkali kita diganggu oleh distraksi-distraksi, oleh rasa susah, barangkali karena kita sedang sakit sehingga tidak merasa nyaman secara fisik, barangkali karena kita sedang lelah. Apapun alasannya, kita dibebani dengan perasaan bahwa kita telah gagal membangun relasi yang berarti dengan Allah. Sebagaimana halnya dengan semua upaya menepati aturan-aturan keagamaan, tujuan puasa adalah untuk menjadi bejana-bejana yang lebih terang, lebih murni bagi kehidupan di dalam jalan Allah, bukannya untuk memastikan bahwa kita melakukan “semua hal-hal yang benar”.

Berpuasa yang ditentang Allah dalam Kitab Yesaya termasuk kategori yang diuraikan di atas. Orang-orang Israel memenuhi yang tersurat dalam hukum, namun itu hanyalah tindakan menepati aturan secara eksternal, hal mana tidak menyenangkan Allah. “Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi” (Yes 58:4). TUHAN (YHWH) menginginkan puasa yang menghasilkan perubahan-perubahan yang konkret dalam kehidupan orang-orang. Ia ingin agar mereka  “menjinakkan” nafsu mereka yang berpusat pada  pemuasan diri sendiri, sehingga mereka dapat menjadi terbuka untuk menerima belarasa-Nya terhadap orang-orang lapar, para tuna wisma, dan mereka yang tertindas. Ia menginginkan agar puasa mereka membuka mata mereka terhadap kebutuhan-kebutuhan anak-anak-Nya.

Selagi kita mengosongkan diri kita dari hasrat-hasrat untuk mementingkan diri sendiri  dan pada saat bersamaan memberikan ruangan bagi Roh Kudus dalam kehidupan kita, maka kita pun akan diubah. Kita akan menjadi bejana-bejana belas kasihan Allah selagi kita memusatkan perhatian kita pada kebutuhan-kebutuhan orang lain lebih daripada kebutuhan-kebutuhan dan hasrat-hasrat kita sendiri.

Sekarang, langkah-langkah apa saja yang dapat kita ambil selama masa Prapaskah ini untuk menyangkal atau menolak kecenderungan-kecenderungan egosentris yang selama ini telah menghalangi kita untuk keluar bertemu dengan para saudari dan saudara kita yang lain? Kita dapat menyediakan ruangan dalam hati kita bagi Yesus lewat puasa. Kita juga dapat menyediakan waktu yang sedikit lebih panjang daripada biasanya untuk membaca dan merenungkan sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci ketimbang waktu untuk menonton televisi. Barangkali kita dapat menyumbangkan sebagian dari “waktu bebas” kita untuk berperan serta dalam kegiatan sosial di tingkat paroki, wilayah atau lingkungan dlsb. Barangkali kita juga dapat pantang marah dan ngomel-ngomel. Apapun kegiatan yang kita pilih, apabila kita memalingkan hati kita kepada Allah, maka sebagaimana diproklamasikan oleh sang nabi, terang kita akan merekah seperti fajar (lihat Yes 58:8).

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh berkeinginan untuk menyenangkan-Mu. Anugerahilah kami dengan rahmat-Mu pada masa Prapaskah ini untuk menjinakkan nafsu kami akan hal-hal yang dimaksudkan untuk pemuasan diri kami sendiri, sehingga kami hanya merasa lapar dan haus akan kasih-Mu saja. Transformasikanlah hati kami sehingga yang ada di dalamnya hanyalah kerinduan untuk melakukan kehendak Bapa surgawi dan memuliakan nama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-15), bacalah tulisan yang berjudul “BERPUASA DENGAN PENUH SUKACITA” (bacaan tanggal 16-2-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,  13 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS