Posts from the ‘MASA PRAPASKAH DAN PASKAH’ Category

YESUS DAN BAPA DI SURGA ADALAH SATU

YESUS DAN BAPA DI SURGA ADALAH SATU  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Selasa, 24 April 2018)

Keluarga Besar Frasiskan: Peringatan S. Fidelis dr Sigmaringen, Imam Martir

OFMCap Provinsi Sibolga: Hari Raya S. Fidelis dr Sigmaringen, Imam Martir

Tidak lama kemudian tibalah hari raya Penahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo, Lalu orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya, “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Yesus menjawab mereka, “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:22-30)

Bacaan Pertama: Kis 11:19-26;  Mazmur Tanggapan: Mzm  87:1-7

“Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:30)

Ini adalah sebuah pernyataan yang bukan main-main dan sangat mendalam! Kita dapat membayangkan bagaimana reaksi yang bermunculan di kalangan para pendengar sabda Yesus ini. Bagaimana tanggapan mereka terhadap kebenaran hakiki ini! Sejumlah orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus yang mengklaim diri-Nya setara dengan Allah (Yoh 10:31; bdk. Yoh 5:18). Di lain pihak barangkali ada juga orang-orang yang begitu terkejut sehingga mereka mulai merenungkan apa yang baru saja dikatakan  dan dilakukan oleh Yesus dalam terang klaim tersebut.

Tidak ada seorang pun dari para pendengar Yesus yang dapat membayangkan untuk berjumpa dengan Allah sendiri secara “muka ketemu muka” (face-to-face). Namun Yesus memegang janji akan terjalinnya relasi yang akan berdampak atas kehidupan mereka selamanya. Dia berkata kepada Filipus murid-Nya: “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9). Dalam setiap hal yang dikatakan-Nya dan dilakukan-Nya, Yesus menyatakan satu lagi dimensi Allah – Bapa surgawi dari mereka.

Setiap kali Yesus menyembuhkan penyakit seorang manusia, Dia menyatakan/mengungkapkan bela-rasa Bapa surgawi (Mat 9:2-8; Mrk 10:46-52; Luk 7:11-15). Yesus mengungkapkan belas-kasih atau kerahiman Bapa surgawi yang tak mengenal batas ketika Dia mengampuni perempuan yang tertangkap basah sedang berzinah (Yoh 8:1-11) and menawarkan air hidup kepada seorang perempuan Samaria (Yoh 4:1-42). Yesus menunjukkan kuat-kuat Allah yang mahadahsyat ketika Dia membuat tenang amukan angin topan yang mengancam dan membuat takut para murid-Nya ketika mereka berada dalam perahu (Mrk 4:36-41). Yesus berada di atas hukum alam, ketika dia berjalan di atas air mendekati perahu yang ditumpangi para murid-Nya dan sedang terombang-ambing oleh gelombang karena angin sakal (Mat 14:25-27). Ia juga melewati tembok kokoh ketika menemui para murid setelah kebangkitan-Nya (Yoh 20:19). Yesus menunjukkan kebenaran Allah ketika Dia membalikkan meja-meja para penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dalam Bait Allah di Yerusalem (Mrk 11:15-17). Yesus juga senantiasa mengungkapkan hikmat Allah selagi Dia menjawab/menanggapi upaya-upaya para pemimpin agama Yahudi untuk menjebak diri-Nya (Mat 22:23-32; Mrk 12:14-17; Luk 5:20-25).

Dengan kebenaran-kebenaran indah demikian di hadapan kita, kita dapat merasa nyaman. Melalui Yesus, tidak hanya kita dapat mengenal Bapa surgawi secara pribadi, kita dapat menjadi milik-Nya pribadi – sekarang dan selamanya. Marilah sekarang kita mendengarkan janji Yesus berikut ini: “Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yoh 10:29).

DOA: Bapa surgawi, kami membuka hati kami bagi-Mu. Ajarlah kami apa artinya menjadi anak-anak-Mu, yang dilindungi dan dipelihara serta dirawat oleh Putera-Mu terkasih, sang “Gembala yang Baik”. Tolonglah kami agar senantiasa dekat dengan Yesus karena memang Dialah satu-satunya andalan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENYERAHKAN HIDUP-NYA BAGI KITA” (bacaan tanggal 24-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 22 April 2018 [HARI MINGGU PASKAH IV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MENDENGAR SUARA SANG GEMBALA BAIK

MENDENGAR SUARA SANG GEMBALA BAIK  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Senin, 23 April 2018

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan B. Egidius dr Assisi, Biarawan

“Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Siapa yang masuk ke dalam kandang domba tanpa melalui pintu, tetapi dengan memanjat dari tempat lain, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka akan lari dari orang itu, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

Yesus mengatakan kiasan ini kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

Karena itu Yesus berkata lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Akulah pintu bagi domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan Ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, mempunyainya dengan berlimpah-limpah.  (Yoh 10:1-10)

Bacaan Pertama: Kis 11:1-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2-3;43:3-4

Para gembala dan kawanan domba mereka adalah gambaran yang familiar di tengah daerah perbukitan atau dataran tinggi di Yudea. Seperti para penulis Perjanjian Lama (lihat Mzm 23,  Yes 40:11; Yeh 34:16), Yesus melihat bahwa alamiah-lah untuk menggunakan imaji gembala yang memelihara kawanan dombanya sebagai ilustrasi tentang cara Allah memperhatikan serta memelihara umat-Nya.

Domba-domba teristimewa dipelihara untuk dicukur bulunya (wool) dan baru kemudian untuk dagingnya, dan domba-domba itu dipelihara untuk bertahun-tahun lamanya, sehingga dapat mengenali suara gembala mereka dengan akrab. Apabila karena sesuatu hal sang gembala absen, maka domba-domba peliharaannya dapat menjadi ketakutan dan bingung. Hanya setelah mendengar suara gembala mereka, maka domba-domba itu dapat menjadi tenang kembali. Atas dasar kenyataan inilah maka tugas penggembalaan dari seorang gembala secara tetap menuntut kewaspadaan, keberanian dan kesabaran dalam memperhatikan serta memelihara kawanan dombanya. Jadi tidak mengherankanlah apabila Yesus mengibaratkan diri-Nya sebagai seorang gembala baik, yang rela mati untuk kawanan domba-Nya (lihat Yoh 10:11).

Apakah anda mengenal serta mengalami Yesus sebagai gembalamu yang baik? Apakah anda telah memutuskan untuk menyediakan waktu bersama-Nya, belajar cara-cara-Nya dan menjadi familiar dengan suara-Nya? Apabila kita memiliki kemampuan untuk mendengar suara-Nya ketika Dia berbicara, maka kita pun akan terlindungi dari daya pikat banyak suara lainnya yang mengaburkan pemusatan perhatian kita. Walaupun penting bagi kita untuk mempelajari doktrin Kristiani – sabda Yesus – hal ini tidaklah cukup. Kata-kata Yesus dapat dimanipulasi, disalahtafsirkan dengan sengaja maupun tidak, dengan demikian disalahpahami. Kita juga perlu sekali menjadi familiar dengan suara Yesus selagi Dia berbicara kepada hati kita. Hanya dengan begitu pengenalan kita menjadi kasih. Hanya setelah mengalami-Nya seperti itu maka kita akan mampu mengasihi orang-orang lain dengan cara yang sungguh mencerminkan kasih-tanpa batas dari Yesus kepada mereka.

Sebagai anak-anak Allah yang dibaptis, maka keakraban dengan Yesus seperti ini adalah hak kita sejak lahir. Yesus menginginkan kita untuk mengenal-Nya sebagaimana Dia mengenal kita – secara pribadi dan mendalam. Dalam doa-doa pada hari ini, baik di dalam gereja maupun di rumah dan di mana saja, marilah kita menenangkan hati kita. Dalam keheningan baiklah kita mendengar suara Tuhan Yesus. Anda mungkin mencoba mendengarkan musik untuk mengiringi meditasi atau membaca mazmur dengan bersuara agar dapat menyingkiran segala pelanturan yang ada. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar menarik kita lebih dekat lagi kepada  Yesus. Semoga suara Yesus menghangatkan hati kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku mengenal suara-Mu sehingga aku dapat tetap berada dengan aman di tengah kawanan domba-Mu, yaitu umat-Mu sendiri. Terima kasih penuh syukur  kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang senantiasa penuh kesetiaan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGENAL DOMBA-DOMBA-NYA, DAN DOMBA-DOMBA-NYA MENGENAL DIA” (bacaan tanggal 23-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 18 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HANYA YESUS YANG DAPAT MENYELAMATKAN KITA

HANYA YESUS YANG DAPAT MENYELAMATKAN KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH IV [TAHUN B], 22 April 2018)

HARI MINGGU PANGGILAN

Lalu Petrus, yang penuh dengan Roh Kudus, menjawab mereka, “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu perbuatan baik kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa mana orang itu disembuhkan, maka ketahuilah  oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati – bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dalam keadaan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri – namun ia telah menjadi batu penjuru. Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:8-12) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,21-23,26,28-29; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-2; Bacaan Injil: Yoh 10:11-18 

“Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4:12)

Ada pesan indah yang terdapat dalam cerita tentang seorang lumpuh yang disembuhkan dalam nama Yesus (lihat Kis 3:1-10; bacaan pertama Misa Kudus, Hari Rabu dalam Oktaf Paskah). Orang itu lumpuh sejak lahir dan sudah berumur 40 tahun. Setelah disembuhkan, akhirnya dia mampu masuk ke dalam Bait Allah, sambil melompat-lompat serta memuji-muji Allah (lihat Kis 3:8). Karena mukjizat itu orang-orang berkumpul, dan Petrus pun mulai berkhotbah. Dia berbicara kepada orang-orang itu tentang keselamatan yang dari Yesus dan memberi kesaksian yang berani perihal kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Kita dapat membayangkan betapa hati para pendengar yang menjadi percaya begitu dipenuhi oleh sukacita dan pengharapan.

Namun demikian, para pemuka agama Yahudi tidak mau menerima Kabar Baik tersebut, mereka malah menolaknya mentah-mentah. Kendati pun ada bukti jelas perihal kesembuhan orang lumpuh yang sekarang jelas-jelas sehat berdiri di depan mereka dan mereka pun menerima terlibatnya kuat-kuasa tertentu di luar kekuatan yang bersifat alamiah dalam “keajaiban” tersebut, para pemuka agama Yahudi itu tetap saja menolaknya.

Dengan Wafat dan Kebangkitan-Nya, Yesus telah menyelamatkan kita semua (bdk. Tit 3:5). Untuk menerima anugerah keselamatan ini, kita harus percaya kepada Yesus (Ef 2:8). Kita juga harus mengakui kebutuhan kita untuk diselamatkan. Kita semua telah berdosa (Rm 3:23), dan kita tidak bisa serta tidak mampu untuk memberi silih atas satu dosa saja dari segala dosa kita, sebab akibat dari dosa itu sangat fatal dan merusak. Maka untuk mengakui adanya kebutuhan untuk diselamatkan, kita harus mulai menyadari betapa buruk dan besarnya dosa-dosa kita, kemudian mengakui kesalahan-kesalahan kita.

Apabila kita menahan rasa salah atau malahan menyangkalnya, atau begitu tidak manusiawi karena memandang diri kita tidak dapat berbuat salah, maka kita tidak akan pernah menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita. Mengapa? Karena kita tidak mau menerima kenyataan adanya kebutuhan kita untuk diselamatkan.

Itulah sebabnya mengapa Petrus – pada hari Pentakosta dan setelahnya – mengkhotbahkan pesan adanya kesalahan dan dosa-dosa kita-manusia selain pesan tentang adanya penyelamatan. Sang Rasul berkata kepada para pemuka agama Yahudi: “…… Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, ……” (Kis 4:10; bdk. 2:23). “Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri – namun ia telah menjadi batu penjuru” (Kis 4:11; bdk. Mzm 118:22). “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis 2:23). “Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telaah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu. Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan dia dari antara orang mati, dan tentang hal itu kami adalah saksi” (Kis 3:13-15), “…… karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu diampuni” (Kis 3:19).

Sekarang, marilah kita mengingat berbagai dosa dan kesalahan kita masing-masing. Baiklah kita mengakui bahwa kita masing-masing sebenarnya ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara, penyaliban sampai mati dari Yesus itu. Tujuan akhir dari proses ini adalah pertobatan, keselamatan dan hidup baru dalam Kristus yang bangkit.

DOA: Bapa surgawi, dikuduskanlah nama-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, jadikanlah aku seorang pribadi yang dapat merasakan diri bersalah karena hal ini sehat dan berikanlah kepadaku iman agar dapat sungguh selamat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:11-18), bacalah tulisan yang berjudul “IA MEMBERIKAN NYAWANYA BAGI DOMBA-DOMBANYA” (bacaan tanggal 22-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

Cilandaak, 18 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELALUI ROH KUDUS, YESUS MENGULURKAN TANGAN-NYA KEPADA KITA

MELALUI ROH KUDUS, YESUS MENGULURKAN TANGAN-NYA KEPADA KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu, 21 April 2018) 

Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.

Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang tinggal di Lida. Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Kata Petrus kepadanya, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangkitlah orang itu. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita – dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Karena Lida dekat dengan Yope, murid-murid yang mendengar bahwa Petrus ada di Lida, menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan, “Segeralah datang ke tempat kami.”  Lalu berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata, “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka bahwa perempuan itu hidup. Peristiwa itu tersebar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. (Kis 9:31-42)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 116: 12-17; Bacaan Injil: Yoh 6:60-69 

Pada bagian yang awal dari “Kisah para Rasul”, Lukas menggambarkan pengejaran dan penganiayaan terhadap Gereja di Yerusalem (Kis 8:1-3). Akan tetapi pada hari ini kita membaca Gereja “berada dalam keadaan damai”, …. “dibangun”(Kis 9:31). Mengapa terjadi perubahan seperti itu? Bagian akhir dari ayat ini memberikan alasannya: “hidup dalam takut akan Tuhan dan bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus” (Yoh 9:31). Bilamana kita (anda dan saya) disentuh Roh Kudus, maka kita akan bergerak dalam hidup kita secara bebas dan dengan penuh keyakinan.

Kita melihat kebebasan ini dalam diri Petrus, seorang mantan nelayan biasa yang membuat mukjizat-mukjizat yang serupa dengan mukjizat-mukjizat Yesus sendiri. Apakah Petrus merasa gugup ketika menghadapi kelumpuhan yang diderita Eneas dan/atau kematian Tabita (Dorkas)? Dari bacaan di atas, tidak nampak adanya tanda-tanda kegugupan dalam diri Petrus dalam situasi-situasi yang dihadapinya. Daripada membiarkan dirinya dihinggapi rasa bingung apa yang harus dikatakannya atau bagaimana mengatakannya, rasa percaya Petrus pada Yesus memampukannya untuk bertindak secara bebas dan dengan kesederhanaan yang besar dan mengagumkan. Petrus menggunakan kata-kata sehari-hari yang tidak muluk-muluk. Kepada Eneas yang sudah 8 tahun lamanya terbaring di tempat karena lumpuh, Petrus berkata: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” (Kis 9:34). Kepada Tabita yang sudah menjadi mayat, Petrus berkata; “Tabita, bangkitlah!” (Kis 9:40). Tentu Petrus berdoa sebelum melakukan mukjizat, seperti dalam kasus Tabita di mana tercatat Petrus menyuruh semua orang ke luar, lalu ia berlutut dan berdoa (Kis 9:40). Petrus membuat banyak mukjizat yang memimpin orang banyak berbalik kepada Tuhan (Kis 9:35,42).

Mengamati bagaimana Yesus bertindak melalui Petrus seharusnya membuat kita berpikir. Petrus ini bukanlah seseorang yang mempunyai reputasi sebagai seorang yang fasih berbicara atau berpidato dan juga bukanlah orang yang dapat mengontrol diri. Sebaliknya dia dikenal sebagai orang yang suka berbicara tanpa pikir-pikir terlebih dahulu, seorang yang suka bertindak secara impulsif. Apabila seseorang yang jauh dari sempurna itu dipanggil untuk melakukan pekerjaan Tuhan, maka apakah tidak mungkin apabila Yesus pun ingin menggunakan kita juga? Bukankah tetap ada kemungkinan bagi kita untuk dapat melayani Dia tanpa harus menjadi sempurna atau sepenuhnya yakin bagaimana harus melangkah selanjutnya?

Kita dapat mencoba mengikuti arahan/pimpinan dari Roh Kudus, namun bagaimana kalau hasilnya tidak positif? Contoh-contoh dari Petrus menunjukkan bahwa Kristus hidup dalam diri kita masing-masing. Secara tetap Dia menawarkan keberanian dan pengharapan. Jadi, kalau memang diperlukan, kita bertobat dan mengakui dosa-dosa kita, kemudian mendengarkan suara Yesus yang lemah-lembut yang akan menolong kita kembali ke rel ….. membangun Kerajaan-Nya. Melalui Petrus, Yesus mengulurkan tangan-Nya sendiri kepada Tabita dan membantunya untuk bangkit berdiri. Demikian pula, melalui Roh Kudus-Nya, Yesus mengulurkan tangan-Nya kepada kita. Oleh karena itu marilah kita bangkit dalam setiap peristiwa, kita berbicara bebas tentang Kabar Baik kepada setiap orang yang kita jumpai, tentunya seturut dorongan Roh Kudus.

DOA: Tuhan Yesus, dengan kekuatanku sendiri aku tidak akan pernah mampu melakukan hal-hal yang Kaulakukan. Namun demikian Engkau sangat bermurah-hati. Engkau telah membagikan Roh Kudus-Mu sendiri dengan diriku dan memberdayakanku untuk melakukan pekerjaan-Mu. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Bentuklah hatiku. Aku sungguh ingin menjadi seperti Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:60-69), bacalah tulisan dengan judul “YESUS ADALAH YANG KUDUS DARI ALLAH” (bacaan untuk tanggal 21-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013)

Cilandak, 18 April 2018    

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SAULUS BERTOBAT

SAULUS BERTOBAT

(Bacaan Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Jumat, 20 April 2018)

Sementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikut Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanan ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?”  Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah  ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Teman-teman seperjalanannya pun termangu-mangu karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang pun. Saulus bangkit berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Selama tiga hari ia tidak dapat melihat dan selama itu juga ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan, “Ananias!”  Jawabnya, “Ini aku, Tuhan!”  Firman tuhan, “Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Jawab Ananias, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagi pula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.”  Tetapi firman Tuhan kepadanya, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk  ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”  Seketika itu juga seolah-oleh selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. (Kis 9:1-20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Yoh 6:52-59

Cerita mengenai pertobatan Santo Paulus barangkali merupakan salah satu yang paling dramatis dari cerita-cerita yang termuat dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Cerita itu pun merupakan undangan istimewa bagi kita semua untuk mengingatkan kita pada pertobatan kita masing-masing. Beberapa dari kita telah mempunyai pengalaman dramatis di mana kita merasakan perubahan yang terjadi secara instan. Akan tetapi, orang-orang lain mempunyai pengalaman perubahan yang terjadi secara tahap demi tahap sementara terang Kristus dengan perlahan-lahan terbit di atas diri kita. Apa pun yang terjadi, bukti telah terjadinya pertobatan atau conversio adalah hidup yang berubah. Apabila kita (anda dan saya) mencoba hidup bagi Yesus setiap hari dan berupaya untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri, maka dalam hal ini ada conversio. Seperti yang ditulis oleh Santo Paulus sendiri: “…… tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus” (1Kor 12:3).

Bilamana anda merasa kurang yakin apakah anda telah melakukan pertobatan atau conversio, maka cobalah melakukan exercise berikut ini. Ambillah secarik kertas. Tulislah di bagian kiri: SEBELUM KRISTUS, dan tulislah di bagian kanan: SESUDAH PERTOBATAN. Tutuplah mata anda sejenak dan renungkanlah bagaimana hidup anda sebelum anda sampai pada iman-kepercayaan yang sungguh-sungguh kepada Kristus. Setelah itu anda mulai menuliskan kata-kata atau frase-frase untuk menggambarkannya. Di bawah judul SEBELUM KRISTUS, anda dapat menulis kata-kata atau frase-frase seperti berikut ini (ini hanyalah contoh-contoh): hidup yang berpusat pada diri sendiri, merasa takut, sombong, hidup tanpa tujuan yang jelas, didorong oleh hasrat akan kenikmatan duniawI, gelisah, sering marah. Sekarang renungkanlah sejenak kehidupanmu sekarang (SESUDAH PERTOBATAN): Kata-kata atau frase-frase seperti hidup yang berpusat pada Allah, penuh sukacita, merasa diampuni oleh Allah, berbahagia, merasa damai, menaruh kepercayaan kepada orang lain, sabar. Apa pun yang ditulis di sebelah kiri atau kanan, kita masing-masing harus mampu mengindentifikasikan bagaimana daftar sebelah kiri telah semakin sedikit dan singkat dan daftar di sebleh kanan telah semakin banyak dan panjang.

Dalam Wasiatnya yang dibuat menjelang kematiannya, Santo Fransikus dari Assisi menggambarkan pertobatannya dengan singkat dan menarik: “Beginilah Tuhan menganugerahkan kepadaku, Saudara Fransiskus, untuk mulai melakukan pertobatan. Ketika aku dalam dosa, aku merasa amat muak melihat orang kusta. Akan tetapi Tuhan sendiri menghantar aku ke tengah mereka dan aku merawat mereka penuh kasihan. Setelah aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa memuakkan, berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan badan; dan sesudahnya aku sebentar menetap, lalu aku meninggalkan dunia” (Wasiat 1-3). Dari sini kita lihat bahwa inisiatif selalu berada di pihak Allah. Dia-lah yang memberikan karunia/anugerah kepada seseorang untuk melakukan pertobatan. Tugas orang bersangkutan adalah membuka diri bagi anugerah Allah itu.

Khotbah-khotbah Paulus, baik dalam “Kisah para Rasul” maupun banyak suratnya yang terdapat dalam Kitab Suci Perjanjian Baru dipenuhi dengan acuan-acuan kepada awal pertobatannya – hari di mana Paulus mulai memberikan hidupnya kepada Yesus. Baiklah bagi kita semua untuk mencoba hal yang sama. Baiklah bagi kita masing-masing menulis secara singkat “cerita pertobatan” kita sendiri. Bagaimana kita mulai sungguh mengenal dan mengalami Yesus sebagai penebus dan Tuhan (Kyrios) dari alam tercipta? Apa yang memotivasi diri kita masing-masing memberikan hati kita kepadanya dan menyambut Dia ke dalam hidup kita? Kita juga harus sering melakukan review atau tinjauan-ulang, dan mengamati pertumbuhan rohani kita selagi Roh Kudus mengisi diri kita dengan keyakinan akan kuat-kuasa Allah untuk memberi hal-hal baik bagi umat-Nya yang setia.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau membawa diriku untuk beriman kepada-Mu. Aku mohon kepada-Mu agar aku Kauberikan kesempatan untuk syering/berbagi dengan orang lain bagaimana Engkau telah membuat perubahan dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:52-59), bacalah tulisan yang berjudul “ROTI KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 20-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013)

Cilandak, 17 April 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MENAWARKAN ROTI KEHIDUPAN KEPADA KITA

YESUS MENAWARKAN ROTI KEHIDUPAN KEPADA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Kamis, 19 April 2018)

Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: ‘Mereka semua akan diajar oleh Allah.’ Setiap orang, yang telah mendengar dan belajar dari Bapa, datang kepada-Ku. Hal itu tidak berarti bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, dialah yang telah melihat Bapa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Siapa saja yang percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.

Akulah roti kehidupan. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari surga: Siapa saja yang memakannya, ia tidak akan mati. Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia. (Yoh 6:44-51)

Bacaan Pertama: Kis 8:26-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:8-9.16-17,20

“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa.” (Yoh 6:44)

Apakah yang menarik orang kepada Yesus? Mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nyakah? Pengusiran roh-roh jahat yang dramatis itukah? Membangkitkan orang matikah? Barangkali tidak! Orang-orang Yahudi sudah terbiasa dengan konsep mukjizat dan tanda heran lainnya. Pada zaman Musa ada manna yang turun dari surga di tengah-tengah padang gurun. Elia telah menghentikan hujan untuk tidak turun selama tiga tahun dan mendatangkan api dari surga.

Orang-orang berduyun-duyun mendatangi Yesus karena Dia menawarkan kepada mereka sesuatu yang lebih daripada sekadar tanda-tanda ajaib dari surga. Yesus menawarkan kepada mereka “Roti Kehidupan” – makanan spiritual dan relasi pemberian-hidup yang vital dengan Allah. Yesus menunjukkan kepada orang-orang bahwa mereka tidak perlu pergi mencari di atas gunung yang sunyi terpencil atau sebuah kuil untuk menemukan kehadiran Allah. Allah selalu ada beserta mereka, bekerja dalam situasi sehari-hari kehidupan mereka. Yang mereka butuhkan adalah mengenali suara-Nya dalam ucapan kata-kata pengampunan, kata-kata pemberian dukungan, kata-kata penghiburan, kata-kata peneguhan dari orang-orang yang penuh perhatian. Juga merasakan sentuhan-Nya dalam sentuhan  tangan-tangan orang yang memperhatikan dengan penuh kasih, dan mengalami kebaikan-Nya dalam karya pelayanan kasih orang-orang yang berprihatin terhadap situasi mereka.

Santo Martinus dari Tours [316-397] memberi separuh dari jubahnya kepada seorang pengemis yang sedang menggigil kedinginan. Dalam suatu penglihatan, dia disadarkan bahwa pengemis itu adalah Yesus sendiri, yang menjadi miskin demi kita manusia berdosa. Pada waktu Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] merangkul dan mencium seorang kusta, ternyata dia disadarkan bahwa dia sebenarnya melihat Yesus yang tersalib demi keselamatan kita. Ketika Santa Bunda Teresa dari Kalkuta [1910-1997] membawa seorang tunawisma yang hampir mati di pinggir jalan ke dalam rumah penampungan yang diasuhnya, sebenarnya dia berjumpa dengan Yesus, yang tidak memiliki rumah dan kenyamanan demi meringankan serta menghilangkan penderitaan kita-manusia karena keterpisahan dari Allah.

Apakah kiranya yang menggerakkan hati seorang ibu untuk merawat bayinya sepanjang malam hari dan/atau menghibur seorang anaknya yang sedang sakit? Apakah yang mendesak seorang pekerja tambang yang sudah keletihan untuk menolong sepanjang malam seorang rekan kerjanya yang terjebak karena tanah longsor? Apakah yang membuat orang melawan bahaya yang mengancam dirinya sendiri untuk menyelamatkan seseorang yang terjebak dalam sebuah rumah yang sedang terbakar hebat, atau orang yang hampir tenggelam? Mengapa terdapat begitu banyak sukarelawati-sukarelawan yang bekerja berjam-jam seharinya untuk menolong anak-anak yang mengalami cacat fisik ataupun mental; juga dalam bidang pendidikan, perawatan orang sakit, perumahan yang layak dlsb. Jawaban untuk semua pertanyaan di atas: kasih Allah!

Allah senantiasa ada di  belakang setiap tindakan kebaikan, bahkan ketika tidak seorang pun mengenali kehadiran-Nya. Oleh karena itu dunia ini tidaklah tanpa pengharapan. Kehadiran-Nya yang tidak terlihat diungkapkan dalam setiap senyum penuh persahabatan, setiap pekerjaan baik yang dilakukan, setiap pengampunan atas hutang, setiap relasi-pribadi terluka yang disembuhkan. Allah menggunakan “bejana-bejana tanah liat”, bahkan juga “orang yang tidak percaya”, untuk menunjukkan kemuliaan dan kebaikan-Nya kepada sebuah dunia yang membutuhkan kasih dan belas kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, kebaikan-Mu memenuhi seluruh bumi. Semoga kebaikan hati-Mu mencairkan hati kami dengan puji-pujian dan ketakjuban. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 8:26-40) bacalah tulisan yang berjudul  “FILIPUS MEWARTAKAN INJIL DENGAN KUAT-KUASA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 19-4-18) situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 16 April 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUSLAH YANG BEKERJA DALAM DAN LEWAT DIRI PARA MURID/RASUL

ROH KUDUSLAH YANG BEKERJA DALAM DAN LEWAT DIRI PARA MURID/RASUL

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III – Rabu, 18 April 2018)

Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.

Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitahukannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh  dan orang timpang disembuhkan. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu. (Kis 8:1b-8)

Mazmur Tanggapan:  Mzm 66:1-3a,4-7a; Bacaan Injil: Yoh 6:35-40

Seperti Stefanus dan para murid/rasul yang lain, Filipus juga orang biasa-biasa saja, seperti kita. Hanya ada satu rahasia dari Filipus ini … dia menyerahkan dirinya sepenuh-penuhnya kepada Yesus. Karena dirinya dipenuhi Roh Kudus, maka Filipus mampu untuk membuat mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya, juga mewartakan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus.

Stefanus dan Filipus adalah “orang-orang biasa” yang melakukan “hal-hal luarbiasa” oleh kuat-kuasa Roh Kudus dalam diri mereka. Pada setiap zaman, Allah mencari orang-orang biasa yang mau memberikan diri mereka kepada Yesus dan menjadi alat-alat-Nya dalam dunia.

Berbagai mukjizat, tanda heran, dan penyembuhan, merupakan bagian-bagian hakiki dari Injil. Allah tidak bermaksud bahwa peristiwa-peristiwa istimewa ini hanya terjadi pada zaman Yesus di tanah Palestina dulu. Semua itu juga bukan merupakan “bumbu pemanis” dalam kitab-kitab Injil, bukan dongeng atau pun mitos, yang disusun oleh Gereja Perdana untuk tujuan pengajaran. Dalam setiap generasi Allah melakukan hal-hal yang dipenuhi keajaiban melalui pelayan-pelayan-Nya yang nota bene  adalah orang-orang biasa. Berbagai mukjizat, tanda-tanda heran lainnya, pengusiran roh-roh jahat dan penyembuhan merupakan suatu bagian integral dari setiap kegiatan evangelisasi.

Dari bacaan Injil kita dapat melihat, bahwa Yesus membuat mukjizat, mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan orang-orang sakit secara tetap, namun bukan maksud Yesus untuk memperagakan showmanship atau “tebar pesona”. Samasekali bukan! Yesus bukan tukang sulap, bukan seorang entertainer dan bukan pula seorang stage performer (pemain panggung) pada umumnya. Setiap mukjizat yang dibuat Yesus dimaksudkan untuk menarik orang-orang kepada diri-Nya dan kepada Bapa-Nya yang berbelas-kasih. Kuasa Allah menakjubkan yang bekerja dalam diri dan melalui Filipus seyogianya menjadi pelajaran sangat berguna bagi kita semua, bahwa kita dapat mengandalkan diri pada rahmat Allah untuk hal-hal yang tidak terbatas pada kebutuhan kita sehari-hari. Mukjizat-mukjizat terjadi setiap hari manakala Allah bergerak. Ia pun memiliki hasrat mendalam agar berbagai mukjizat menjadi bagian dari pengalaman hidup kita juga.

Allah memberikan karunia-karunia berbeda-beda kepada masing-masing kita (lihat 1Kor 12 dan 14; bdk. Ef 4). Akan tetapi karya Roh Kudus dapat terhambat apabila kita dibatasi/membatasi diri dengan ide-ide yang sudah ada dalam pikiran kita tentang apa yang dapat kita harapkan dari Allah. Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar kita dapat memahami Injil dan kuasa pesan Injil itu secara lebih mendalam. Tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dilakukan oleh Allah. Kita harus yakin bahwa Allah melakukan apa saja untuk memulihkan kita – dalam roh, pikiran dan fisik kita. Baiklah kita menghadap Dia setiap hari dengan ketaatan yang penuh kerendahan-hati. Kita persilahkan kuasa-Nya yang menakjubkan untuk bekerja dalam diri kita.

DOA: Roh Kudus, tolonglah aku membuka pintu hatiku lebar-lebar bagi-Mu. Datanglah, ya Roh Kudus dan ubahlah aku. Tolonglah aku agar dapat menerima karunia-karunia yang kaukehendaki untuk dianugerahkan kepadaku, sehingga dengan demikian aku dapat mewartakan Injil Tuhan Yesus Kristus dengan efektif. Perkenankanlah aku mengalami kuat-kuasa-Mu yang menakjubkan itu dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 8:1b-8), bacalah tulisan yang berjudul “KEBERANIAN SEBAGAI SAKSI-SAKSI KRISTUS” (bacaan tanggal 18-4-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 16 April 2018  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS