Posts from the ‘MASA PRAPASKAH DAN PASKAH’ Category

MENGASIHI YESUS DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA

MENGASIHI YESUS DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA

(Bacaan Injil, Peringatan S. Karolus Lwanga dkk. Martir – Sabtu, 3 Juni 2017) 

Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25) 

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7  

Setelah Petrus mengafirmasikan kasihnya kepada Yesus sebanyak tiga kali, hal mana menunjukkan bahwa hatinya berada di tempat yang benar, sang Rasul Kepala ini menunjuk “murid yang dikasihi Yesus” (Yoh 21:20) dan bertanya kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini? Yesus menegur Petrus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku” (Yoh 21:21-22). Dalam artian tertentu, tanggapan Yesus ini adalah suatu “perpanjangan” dari pertanyaan yang diajukan-Nya kepada Petrus sebanyak tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15-17). Mengasihi Allah berarti mengikuti Dia dalam ketaatan, tanpa harus membanding-bandingkan apa yang dilakukan oleh orang-orang lain.

Kita dipanggil untuk mengasihi Yesus dengan ukuran yang sama, namun tidak harus dengan jalan yang sama. Petrus harus memahami bahwa mengikuti Yesus berarti sesuatu yang berbeda bagi dirinya ketimbang “murid yang dikasihi Yesus”. Apabila rasul yang lain itu tidak dipanggil untuk mati sebagai martir Kristus seperti yang dialami oleh Petrus, sudahlah … so be it! Allah mempunyai berbagai karunia dan peranan yang berbeda-beda bagi setiap anggota tubuh Kristus (lihat 1Kor 12:1-31).

Bagaimana halnya dengan kita sendiri? Rasanya, kita juga memiliki “sedikit Petrus” dalam diri kita masing-masing. Tidak pernahkah kita berpikir, “Mengapa orang ini tidak dapat melakukan pekerjaan seperti yang kulakukan?” atau “Mengapa orang itu tidak melakukan pengorbanan-pengorbanan pribadi untuk Tuhan seperti yang kulakukan?” Sebaliknya kalau kita melihat dari suatu perspektif yang lain, apakah kita menjadi ciut-hati karena kita tidak dapat menghayati kehidupan Kristiani – spiritualitas – sehari-hari seperti seorang pribadi lain? Yesus menegaskan di sini, bahwa mengikuti diri-Nya tidaklah berarti harus konform dengan suatu pola atau formula peraturan-peraturan tertentu. Mengikuti jejak Yesus berarti memberikan diri kita sendiri bagi suatu relasi-pribadi yang bersifat batiniah dengan diri-Nya.

Sekarang, marilah kita syeringkan panggilan dan privilese kita untuk boleh mendengar Tuhan Yesus bersabda: “Ikutlah Aku” ini. Yesus dapat memimpin kita ke arah yang baru, bahkan (barangkali) kepada jalan-jalan yang kita sendiri tidak akan pilih. Semua yang diminta adalah bahwa kita mengasihi Kristus setiap hari, tetap setia pada sabda yang telah ditaruh-Nya dalam hati kita masing-masing, dan menyerahkan baik masa lalu maupun masa depan kita kepada penyelenggaraan(-ilahi)-Nya. Hakekat Pentakosta bukanlah membentuk masyarakat yang homogen. Upaya untuk membangun sistem sedemikian akan dapat berujung pada bencana. Allah mencurahkan Roh-Nya untuk mendorong terciptanya persatuan dan kesatuan dan kasih yang riil di tengah berbagai macam ragam perempuan dan laki-laki yang berasal dari berbagai macam bangsa dan budaya. Dia mengumpulkan kita semua yang berasal dari segala macam status kehidupan ke dalam satu umat Allah.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyembah-Mu dan memuji-Mu. Engkau menciptakan aku dalam kasih, menyelamatkan aku melalui kasih, dan memenuhi diriku dengan kasih setiap hari. Pada hari ini aku mengkomit diriku kembali untuk senantiasa taat pada panggilan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:20-25), bacalah tulisan dengan judul “ITU BUKAN URUSANMU !!! [2]” (bacaan tanggal 3-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 1 Juni 2017  [Peringatan S. Yustinus, Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS BERSABDA KEPADA PETRUS: GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU

YESUS BERSABDA KEPADA PETRUS: GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 2 Juni 2017)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Bruder (Saudara Awam)

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19) 

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20 

Dalam Gereja Perdana, kepada Petrus diberikan kedudukan yang penting, yaitu sebagai fondasi dari Gereja dan pemegang peranan pening dalam pelayanan dan otoritas (lihat Mat 16:18). Paulus menulis bahwa setelah kebangkitan-Nya, Yesus “menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya” (1Kor 15:5). Sementara peranan Petrus itu unik baginya, apa yang pertama-tama diterimanya (misalnya berjumpa dengan Kristus yang bangkit) kemudian dibagikan kepada para murid lainnya. Bacaan Injil hari ini sebenarnya menunjukkan masa depan Gereja dan pembentukan sebuah struktur yang didasarkan pada tatanan Allah sendiri, suatu tatanan yang berkelanjutan sampai hari ini melalui Uskup Roma (Paus).

Panggilan Petrus untuk memimpin mengalir dari pengakuannya akan Yesus yang bangkit sebagai Kepala Gereja. Dialog yang dilakukan oleh Yesus dengan Petrus mencerminkan sikap Yesus sendiri terhadap pemeliharaan pastoral atas kawanan domba, yaitu umat Kristiani. Yesus adalah “gembala yang baik” (Yoh 10:11). Bapa surgawi mempercayakan pemeliharaan umat-Nya kepada Yesus karena kasih yang saling mengikat antara Bapa dan Putera. Yesus bersabda: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali” (Yoh 10:17). Ketika Petrus mendeklarasikan cintakasihnya kepada-Nya sampai tiga kali, maka Yesus memberi amanat kepada-Nya untuk melayani sebagai pemimpin Gereja-Nya.

Yesus menunjuk kepada Gereja-Nya sebagai sebuah komunitas di dunia ini, komunitas mana mempunyai sebuah struktur yang kelihatan. Namun Yesus juga menunjuk lebih jauh lagi, yaitu kepada Roh-Nya sendiri yang memberi kehidupan, akan memenuhi diri semua umat beriman, mempersatukan mereka dengan diri-Nya dan mempersatukan mereka satu sama lain. Roh Kudus datang dengan hikmat-Nya, kuasa-Nya dan kasih-Nya, maka para murid diberdayakan agar dapat mewujudkan kasih yang penuh pengorbanan, suatu sacrificial love. Dinamika pelayanan dan otoritas yang mengalir dari kasih, adalah jantung dari penyertaan kita dalam imamat Kristus (imamat umum).

Kita dapat berpartisipasi dalam “misteri persatuan yang mendalam” ini seperti layaknya relasi  cintakasih antara suami dan istri. Paulus menulis sebagai berikut: “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi memelihara dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu, laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Rahasia itu besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat” (Ef 5:28-32).

Melalui/oleh Roh Kudus kita dapat menjadi lebih serupa lagi dengan Yesus. Kita akan dimampukan untuk menanggung pencobaan-pencobaan yang menimpa diri kita seiring dengan pekerjaan kita mewartakan Injil dan/atau upaya saling memperhatikan penuh kasih dalam keluarga yang merupakan gereja domestik, dan dalam  komunitas Kristiani. Dengan pemikiran dan upaya kita sendiri semata-mata, kita tidak akan mampu memahami panggilan kita ini atau mewujudkan panggilan tersebut ke dalam tindakan nyata.

DOA: Datanglah, ya Roh Pengertian, turunlah atas diri kami dan terangilah pikiran kami sehingga kami dapat mengetahui dan percaya akan semua misteri penyelamatan, memahami ajaran Yesus Kristus, dan melaksanakannya dalam hidup kami sehari-hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “PETRUS TIDAK DIUBAH MENJADI SEORANG ‘MAN OF GOD’ DALAM SATU MALAM” (bacaan tanggal 2-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 31 Mei 2017 [Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AGAR SUPAYA MEREKA SEMUA MENJADI SATU

AGAR SUPAYA MEREKA SEMUA MENJADI SATU

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Yustinus, Martir – Kamis, 1 Juni 2017

 

Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan aku di dalam mereka.” (Yoh 17:20-26)

Bacaan Pertama: Kis 22:30;23:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11  

“Kesatuan segenap umat manusia yang terbagi-bagi itulah yang dikehendaki oleh Allah” (Paus Yohanes Paulus II dalam Ensiklik UT UNUM SINT [SEMOGA MEREKA BERSATU], tanggal 25 Mei 1995, # 6).

Selagi kita mempersiapkan diri dalam menyambut HARI RAYA PENTAKOSTA, marilah kita menoleh ke belakang ke saat-saat Yesus menderita sengsara dan doa syafaat-Nya yang terakhir sebelum sengsara dan kematian-Nya. Untuk tiga tahun lamanya Yesus telah hidup segalang-segulung dengan para murid-Nya. Karena tahu bahwa inilah saat-saat terakhir bagi-Nya untuk bersama-sama dengan para murid yang dikasihi-Nya itu, maka Dia berdoa kepada Bapa-Nya di surga untuk terakhir kalinya bagi mereka. Dalam doa syafaat-Nya ini Yesus mempersembahkan mereka kepada Bapa, sambil berkata: “supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku” (Yoh 17:23).

Melalui baptisan, kita direkonsiliasikan dengan Allah, artinya didamaikan kembali, relasi kita dengan Allah dipulihkan. Roh Kudus datang untuk berdiam dalam diri kita masing-masing dan kita menjadi sebagian dari Tubuh Kristus di atas bumi ini. Kita dipersatukan dengan Allah dan dengan umat beriman yang lain sebagai orang-orang yang mengambil bagian dalam rahmat penebusan. Selagi Roh Kudus mengembangkan karya rahmat dalam diri kita, maka Dia membersihkan serta memurnikan kita dari dosa yang selama ini telah memisahkan kita dari Allah dan dari sesama kita. Karya pemurnian ini memampukan kita untuk memberi kesaksian tentang kuasa salib Kristus dan menyiapkan kita dalam menyongsong kedatangan Yesus untik kedua kalinya kelak.

Apabila hari ini kita memandang Gereja Kristus dalam artiannya yang luas, maka hati kita sepantasnya merasa pedih disebabkan ketiadaan kesatuan dan persatuan yang kita lihat. Walaupun banyak kemajuan dalam bidang ekumenisme pada tingkat pimpinan gereja-gereja yang ada, kenyataan sebaliknyalah yang seringkali terlihat pada tingkat akar rumput. Pimpinan gereja setempat yang satu mengkritisi gereja yang lain  dan sebaliknya juga; evangelisasi bagi mereka kiranya bukanlah mewartakan Kabar Baik kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus, melainkan giat mencuri domba-domba dari gereja yang lain lewat daya tarik khotbah yang berapi-api yang sering tanpa menyentuh kata-kata keras Yesus atau penderitaan sengsara dan salib-Nya. Setiap perpecahan yang terjadi dalam Gereja Kristus adalah skandal, bukan kehendak Roh Kudus, karena Roh Allah ini adalah Roh Pemersatu, bukan Roh Pemecah. Dengan demikian seharusnya kita merasa sedih  atas segala perseteruan yang kita lihat, perselisihan yang tidak sehat yang terjadi di dalam dan di antara gereja-gereja, komunitas-komunitas Kristiani, dalam paroki-paroki dan tarekat-tarekat yang ada di dalam Gereja. Dari semua ini yang harus membuat kita paling bersedih adalah perpecahan yang terjadi antara berbagai denominasi-denominasi Kristiani. Sungguh tragislah, manakala mereka yang menyatakan percaya kepada Allah yang sama, percaya kepada karya penyelamatan yang sama dari Putera-Nya, Yesus Kristus, percaya kepada karya Roh Kudus, namun tetapi tidak bersekutu satu sama lain secara penuh dalam artian yang sesungguhnya. Oleh karena itu berbagai macam kegiatan ekumenisme, seperti “baksos bersama”, haruslah kita dukung dengan sepenuh hati.

Selagi kita mempersiapkan kedatangan Roh Kudus pada HARI RAYA PENTAKOSTA, marilah kita mohon dengan sangat kepada-Nya agar membawa rekonsiliasi antara semua orang yang mengakui diri sebagai Kristiani dan semua denominasi Kristiani yang begitu banyak dalam jumlah dan ragam. Marilah kita memeriksa hati kita masing-masing sampai berapa banyak “sumbangan” dari diri kita sendiri ke dalam perpecahan itu – barangkali lewat/oleh cara kita “menghakimi” saudari-saudara Kristiani lainnya, atau oleh cara kita merasa kesal atau dendam tak berkesudahan terhadap kesalahan atau kekeliruan gereja lain di masa lampau. Namun ada satu hal yang harus kita camkan, yaitu bahwa kita dapat diperdamaikan (direkonsiliasikan) satu sama lain hanya apabila diri kita telah diperdamaikan dengan Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, datanglah kepada kami dengan terang-Mu. Bersinarlah di dalam hati kami masing-masing. Curahkanlah rahmat rekonsiliasi dan persatuan atas diri kami semua sehingga dengan demikian kehendak Bapa surga dapat terpenuhi. Biarlah karya-Mu dalam diri kami menjadi saksi dari kasih dan kuasa-Mu agar dunia pun dapat percaya. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “PENTAKOSTA YANG SEJATI” (bacaan tanggal 1-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 31 Mei 2017 [Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YANG ALLAH INGINKAN KITA LAKUKAN HANYALAH SEBAGIAN DARI SESUATU YANG JAUH LEBIH BESAR

YANG ALLAH INGINKAN KITA LAKUKAN HANYALAH SEBAGIAN DARI SESUATU YANG JAUH LEBIH BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah Selasa, 30 Mei 2017)

Ordo Santa Clara: B. Baptista Varani, Perawan Ordo II

 

Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenai Yesus Kristus yang  telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan  kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a)

Bacaan Pertama: Kis 20:17-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:10-11.20-21. 

Ada suatu kesejajaran antara kata-kata Yesus dalam bacaan Injil di atas dengan kata-kata Paulus dalam bacaan pertama dari “Kisah para Rasul”. Baik Yesus maupun Paulus sudah mendekati akhir pelayanan mereka di dunia, dan dua-duanya merenungkan cara mereka menanggapi panggilan mereka. Yesus mengetahui bahwa Dia telah mengakhiri tugas pekerjaan yang telah diberikan Allah Bapa kepada-Nya. Demikian juga halnya dengan Paulus. Rasul Kristus ini merasa bahwa dia pun telah melaksanakan amanah yang diberikan Tuhan Yesus kepadanya dengan sebaik mungkin sesuai kemampuannya.

Namun demikian, lihatlah apa yang ada ketika Yesus melihat ke sekeliling meja perjamuan pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya? Yang ada hanyalah segelintir murid-Nya, satu di antaranya malah akan mengkhianati-Nya, seorang lagi akan menyangkal Dia (mengaku tidak kenal dengan diri-Nya), dan kebanyakan dari mereka akan melarikan diri karena ditimpa rasa takut pada waktu Dia ditangkap. Kalau orang melihat sekadar dari sudut pandang manusia, maka legacy-Nya  tidak  terlihat sangat mengesankan pada waktu itu. Malah sebaliknyalah, semuanya terasa seakan sudah berada di tepi jurang kehancuran. Akan tetapi kelihatannya Yesus tidak merasa susah dan cemas. Ia telah memberitahukan para murid-Nya perihal apa yang akan terjadi, tetapi Dia sendiri tidak kelihatan tertekan. Mengapa? Karena Yesus merasa yakin bahwa Dia telah datang ke dunia untuk meresmikan kerajaan Allah lewat berbagai khotbah/pewartaan dan banyak mukjizat serta tanda-heran yang dibuat-Nya; teristimewa melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Yesus tahu benar bahwa kerajaan Allah akan menyebar-luas setelah Dia pulang-kembali ke surga, karena kedatangan Roh Kudus. Yesus tidak perlu melihat semua itu terjadi sebelum Ia wafat. Ia tahu benar bahwa Dia telah melakukan bagian yang ditugaskan kepada-Nya, dan itu cukup bagi-Nya.

Demikian pula, Allah telah memberikan kepada kita masing-masing sesuatu untuk kita lakukan dalam kehidupan ini. Sumbangan yang Ia inginkan kita lakukan hanyalah sebagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Barangkali benih-benih kerajaan-Nya yang kita taburkan akan berakar dan bertumbuh melalui pelayanan yang dilakukan oleh orang lain. Barangkali hal-hal kecil yang kita lakukan untuk orang miskin akan berkembang menjadi suatu sumber penghiburan bagi banyak orang. Kita hanyalah dipanggil untuk melakukan pekerjaan yang diberikan oleh Yang Mahatinggi dan tidak melakukan tugas pekerjaan yang tidak diperuntukkan bagi kita.

Baiklah kita setia pada hal-hal kecil yang telah diberikan Allah kepada kita untuk kita kerjakan. Allah sangat menilai tinggi semua itu. Yesus adalah bukti bahwa Dia dapat melakukan banyak hal dengan suatu hati yang penuh penyerahan.

DOA: Roh Kudus Allah, berdayakanlah aku agar dapat melaksanakan semua pekerjaan pelayanan yang telah dipercayakan kepadaku dan jagalah hatiku agar tidak merasa gelisah tentang masa depanku sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 20:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “SEPENUHNYA DIPIMPIN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 30-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABAH MEI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010)

Cilandak, 28 Mei 2017  [HARI MINGGU PASKAH VII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AKU TELAH MENGALAHKAN DUNIA

AKU TELAH MENGALAHKAN DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Senin, 29 Mei 2017)

OFS: Peringatan S. Maria Ana dr Paredes, Perawan Ordo III Sekular

 

Kata murid-murid-Nya, “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya bahwa Engkau datang dari Allah.” Jawab Yesus kepada mereka, “Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya akan datang, bahkan sudah datang, ketika kamu akan diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:29-33) 

Bacaan Pertama: Kis 19:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7 

Yesus mencoba mempersiapkan para murid-Nya untuk suatu peristiwa yang akan terjadi tidak lama lagi, yaitu sengsara dan kematian-Nya di atas kayu salib (Yoh 16:4). Para murid mengungkapkan keyakinan mereka bahwa Yesus sungguh datang dari Allah, namun mereka masih belum juga mampu memahami sepenuhnya makna pesan Yesus tentang penderitaan sengsara dan kematian-Nya di atas kayu salib. Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka akan menderita karena kesalahpahaman orang-orang, mereka juga akan menderita kepedihan dan penolakan dari banyak orang. Namun demikian, di sisi lain para murid juga akan memperoleh sukacita karena Yesus akan melihat mereka lagi (Yoh 16:22) dan Bapa surgawi akan memberikan apa saja yang diminta para murid dalam nama Yesus (Yoh 16:23). Yesus juga meramalkan tentang “pengkhianatan” para murid terhadap diri-Nya (Yoh 16:32).

Injil Yohanes mempunyai suatu cara yang unik dalam menyampaikan pesan yang memberikan pertanda dan pada saat yang sama mengungkapkan pengharapan. Pengharapan itu mencakup kenyataan bahwa Bapa menyertai Yesus (Yoh 16:32), oleh karena itu Yesus telah mengalahkan dunia: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

Bagaimana kiranya Kristus mengalahkan dunia? Melalui karya salib-Nya. Melalui salib Kristus, dosa, Iblis dan dunia telah dikalahkan. Oleh penderitaan sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah menundukkan segala kuasa kejahatan dan kegelapan di bawah otoritas-Nya. Allah tidak pernah membuat kita membuang kebebasan kita. Oleh karena itu, walaupun Yesus telah menang, kita masih dapat memilih kejahatan dan kegelapan dalam keputusan-keputusan dan relasi-relasi kita. Akan tetapi, bilamana kita bersatu dengan Yesus – sebuah persatuan yang dimulai sejak saat kita dibaptis dan bertumbuh melalui kehidupan iman – maka kita pun dapat mengenal dan mengalami kemenangan.

Inilah pengharapan kita sebagai umat Kristiani; dalam Kristus kita berkemenangan. Kalau kita bersatu dengan Yesus Kristus, kita dapat mengalahkan rasa takut, penolakan, penganiayaan dan segala hal yang dari dunia ini yang akan merampas dari kita damai sejahtera, sukacita dan cintakasih. Selagi kita memperhatikan dengan penuh kasih segenap anggota keluarga kita, melakukan pekerjaan kita, melayani Tuhan dalam berbagai kegiatan kerasulan, menolong anggota keluarga, teman-sahabat dan komunitas di dalam mana kita adalah anggotanya, maka baiklah kita mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita karunia ketabahan agar kita dapat dengan tekun dalam iman dan dalam kegiatan pelayanan kita kepada Allah dan sesama kita.

DOA: Datanglah ya Roh Kudus dan berikanlah kepada kami karunia ketabahan. Jagalah jiwa kami pada saat-saat yang sulit dan berbahaya, jagalah juga segala upaya kami dalam mengejar kekudusan serta kuatkanlah kami agar dapat mengatasi kelemahan-kelemahan kami. Berikanlah kepada kami keberanian untuk melawan serangan-serangan dari para musuh kami, yaitu Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya, agar kami tidak akan pernah dapat dikalahkan oleh mereka dan dipisahkan dari-Mu, ya Roh Kudus Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 19:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS?” tanggal 29 Mei 2017 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 26 Mei 2017 [Peringatan S. Filipus Neri, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MENDOAKAN PARA MURID-NYA DI HADAPAN BAPA-NYA

YESUS MENDOAKAN PARA MURID-NYA DI HADAPAN BAPA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VII [Tahun A], 28 Mei 2017)

HARI KOMUNIKASI SEDUNIA

 

Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah
Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a) 

Bacaan Pertama: Kis 1:12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,7-8; Bacaan Kedua: 1Ptr 4:13-16 

Bacaan Injil hari ini adalah bagian dari doa Yesus untuk para murid-Nya. Yesus berdoa kepada Bapa surgawi dan mohon kepada-Nya untuk melindungi para murid-Nya – bukan untuk mengambil mereka dari dunia, melainkan untuk melindungi mereka dari yang jahat (lihat Yoh 17:15). Ketika Yesus mengatakan bahwa “dunia” membenci para pengikut/murid-Nya, maka yang dimaksudkan oleh-Nya dengan “dunia” adalah keduniawian, ketiadaan Allah dalam pikiran dan hati manusia, ketiadaan iman. Karena para murid-Nya bukan milik “dunia” yang sedemikian, maka mereka pun dibenci (lihat Yoh 17:14). Akan tetapi, mereka harus tetap berada di dalam dunia, di tengah-tengah yang baik dan yang jahat, menjadi sebuah pengaruh yang baik, menjadi sebuah contoh dan mengingatkan orang-orang, untuk membawa segala sesuatu (termasuk manusia) kembali kepada Allah.

Tentu saja ada faktor risiko dalam hal ini. Buah apel yang busuk yang tercampur dengan buah-buah apel lainnya dalam sebuah tong akan merusak seluruh buah apel dalam tong itu. Nila setitik rusak susu sebelanga! Contoh yang buruk dapat secara negatif mempengaruhi orang-orang yang baik. Oleh karena itu Yesus berdoa bagi para murid-Nya (termasuk kita) kepada Bapa surgawi: “supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat” (Yoh 17:15)…… melindungi mereka dengan kebenaran …… firman Allah sendiri (lihat Yoh 17:17). Kemudian Yesus melanjutkan: “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia” (Yoh 17:18).

Pada hari ini, dalam Liturgi Sabda, dalam Ekaristi, Yesus berdoa bagi kita seperti yang dilakukan-Nya bagi para murid-Nya yang pertama. Dia berdoa kepada Bapa surgawi untuk melindungi kita, untuk menguduskan kita dalam kebenaran (lihat Yoh 17:19), untuk menjaga kita jangan sampai mengambil jalan yang salah walaupun bahaya selalu ada. Dalam doanya Yesus mengingatkan kita bahwa kita dapat dibenci karena mengambil sikap benar sebagai orang Kristiani di tengah-tengah dunia yang tidak sejalan dengan kita, juga karena kita memandang hal dan peristiwa di kehidupan kita dalam terang ajaran Kristus, bukannya berdasarkan pertimbangan dunia. Hal seperti ini tidak perlu sampai mengganggu kita selama kita bekerja dan bertindak dengan cintakasih Kristiani yang sejati.

Selagi kita semakin dekat dengan Hari Raya Pentakosta,  baik sekali bagi kita untuk mengingat apa yang ditulis oleh Yohanes dalam suratnya yang pertama: “Siapa yang menuruti segala perintah-Nya (Kristus), ia ada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dengan inilah kita ketahui bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu dengan Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” (1Yoh 3:24). Karunia-karunia Roh Kudus kepada kita adalah damai-sejahtera, sukacita, kekuatan, keberanian dan pengertian. Tak ada apa dan/atau siapa pun yang perlu kita takuti, apabila kita membuka diri bagi Roh Kudus dan hidup dalam Roh.

(Uraian di atas didasarkan pada bacaan yang lebih panjang, yaitu Yoh 17:1-19.)

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus. Curahkanlah terang-Mu yang penuh keajaiban ke atas diri kami, dan penuhilah hati kami dengan api cintakasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “DOA YESUS BAGI PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 28-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 25 Mei 2017 [HARI RAYA KENAIKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MINTA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS

MINTA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Sabtu, 27 Mei 2017)

 

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:23b-28).

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,8-10

 “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.” (Yoh 16:23b). 

Ini adalah sebuah janji besar dari Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita! Janji ini seharusnya membuat kita semua berlutut dan memanjatkan permohonan kepada Bapa surgawi untuk semua ujud yang ada dalam pikiran kita. Akan tetapi, marilah kita sejenak melakukan permenungan apakah memang kita memahami apakah yang dimaksudkan dengan berdoa “dalam nama Yesus” itu.

Berdoa dalam nama Yesus bukanlah sebuah rumusan ajaib (magic formula). Berdoa dalam nama Yesus bukanlah seperti seseorang  yang mendekati pintu rumah terkunci rapat-rapat, lalu dia berseru dengan suara keras: “Sim salabim, terbukalah hai pintu!” Berdoa dalam nama Yesus adalah berdoa dengan cara yang sama seperti Yesus sendiri melakukannya:  berdoa dengan iman yang sama, kasih yang sama kepada Bapa surgawi, dan semangat yang sama dengan semangat Yesus sendiri (lihat Luk 6:12). Berdoa dalam nama Yesus berarti kita terbenam dalam kehidupan Yesus sendiri. Doa sedemikian mencerminkan hasrat kita untuk ambil bagian dalam persatuan antara Yesus dan Bapa-Nya di surga, dengan demikian kita memiliki rasa percaya yang mutlak bahwa Bapa surgawi mendengar dan akan menjawab doa-doa kita – bahkan apabila kita tidak melihat hasilnya secara langsung.

Berdoa dalam nama Yesus menyangkut sebuah komitmen untuk mencontoh kehidupan Yesus, yang menghasrati ketaatan kepada Bapa surgawi dalam segala hal, seperti halnya Yesus. Hal itu berarti menghaturkan permohonon kepada Roh Kudus untuk menolong kita “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp 2:5), sehingga dengan demikian ujud-ujud doa kita kepada Bapa surgawi menyerupai intensi-intensi yang dipersembahkan Yesus ketika Dia masih hidup di dunia ini, dan sekarang tetap dilakukannya di dalam surga (lihat Ibr 8:6 dll.).

Kita akan melihat bahwa doa-doa kita diperlebar untuk mencakup permohonan-permohonan bahwa semua orang  akan sampai ke iman kepada Yesus, bahwa kuasa-kuasa kegelapan akan dijauhkan, bahwa Gereja akan dipersatukan sebagai sebuah terang bagi mereka yang berjalan dalam kegelapan. Doa-doa kita akan menjadi lebih daripada sekadar permohonan-permohonan untuk mendapatkan pertolongan, misalnya agar supaya dapat lulus ujian, atau berhasil dalam karir, agar cepat mendapat cucu dlsb. Tentu Tuhan memperhatikan detil-detil kehidupan kita yang paling intim sekalipun; Ia sungguh mendengar dan menjawab doa-doa yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan kita. Namun demikian, dalam kesempatan ini kita harus memperhatikan tulisan Yakobus yang mengingatkan kita untuk memanjatkan doa permohonan tanpa hasrat hati untuk mementingkan diri sendiri: “Kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak 4:3).

DOA: Bapa surgawi, Allah, khalik langit dan bumi. Dikuduskanlah nama-Mu. Kami mohon, ya Bapa, agar Kaupenuhi hasrat-hasrat hati kami. Semoga hati kami masing-masing bertumbuh dalam persatuan dan kesatuan dengan Yesus Kristus agar hasrat-hasrat kami mencerminkan juga hasrat-hasrat Yesus Kristus sendiri. Kami percaya Engkau akan mengabulkan doa kami ini karena kami memanjatkannya dalam nama Yesus, Putera-Mu terkasih, yang hidup dan meraja bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami perikop Injil hari ini (Yoh 16:23b-28), bacalah tulisan yang berjudul “BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU” tanggal 27 Mei 2017 dalam blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Mei  2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS