Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

MENGENAL KASIH ALLAH SECARA PRIBADI DAN AKRAB ADALAH DASAR DARI PENGHARAPAN KITA

MENGENAL KASIH ALLAH SECARA PRIBADI DAN AKRAB ADALAH DASAR DARI PENGHARAPAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 8 Oktober 2015) 

YESUS KRISTUS - 11Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13) 

Bacaan Pertama: Mal 3:13-20a; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6

Memang dapat membuat diri kita menjadi ciut hati jika kita meminta sesuatu secara berulang-ulang. Dari lepas hari, bulan lepas bulan, tahun lepas tahun, dan kita pun menjadi kehilangan semangat. Dan ketika kita membaca kata-kata Yesus dalam Injil: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat, ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu”  (Luk 11:9), maka kita hampir samasekali tidak bereaksi. Kita mungkin berpikir, Bukankah sungguh-sungguh hebat jika kata-kata itu sungguh-sungguh benar?” Atau, “Ah, aku telah meminta, mencari, dan mengetuk. Ternyata tidak ada sesuatu pun yang terjadi.”

Tidak ada yang terjadi? Bagaimana mungkin? Kita mempunyai sabda Yesus sendiri dalam Kitab Suci bahwa setiap orang yang meminta, maka akan diberikan kepadanya. Setiap orang. Tidak terbatas pada orang-orang yang sangat kudus, tidak hanya orang-orang yang sangat terberkati atau orang-orang yang “pantas dan layak”, juga bukan saja orang-orang yang telah belajar mengajukan permintaan yang benar. Kita masing-masing –tanpa kecuali –  telah dijanjikan oleh Yesus sendiri. Siapa saja yang meminta, maka dia akan menerima, titik. Sabda Allah adalah benar. Kita harus bergantung pada fakta ini, teristimewa ketika pengalaman kita tidak cocok dengan apa yang dikatakan dalam Kitab Suci.

MALAM-MALAM DATANG MINTA TOLONG - LUK 11 5-13Perspektif kita tentang jawaban-jawaban Allah kepada kita, ekspektasi kita  bahwa kita akan menerima dari Tuhan, bahkan kepercayaan kita sendiri, tergantung pada penerimaan akan fakta ini. Apa yang memampukan kita untuk berpegang erat-erat pada kepercayaan ini? Pengetahuan dan pengalaman akan kasih Allah, yang dicurahkan ke dalam hati kita (Rm 5:5). Mengenal kasih itu secara pribadi dan akrab adalah dasar dari pengharapan kita. Ini bukanlah sesuatu yang kita dapat kumpulkan sendiri. Ini adalah suatu karunia yang dianugerahkan secara bebas oleh Pencipta yang tak diciptakan (Inggris: the uncreated Creator) dan Sang Pencinta jiwa-jiwa kita. Apabila kita mencari Yesus – bahkan jika kita hanya menginginkan Dia untuk memecahkan sebuah masalah, mengampuni dosa, atau memuaskan suatu kerinduan dalam hati kita – maka kita akan menemukan Dia. Dia akan menjawab ketukan kita pada pintu-Nya.

Saudari dan Saudaraku yang terkasih, pada hari ini, marilah kita mengetuk pintu Yesus dalam doa kita. Marilah kita menyediakan waktu ekstra guna memohon rahmat agar kita mau dan mampu percaya kepada apa yang dikatakan di dalam Kitab Suci. Mintalah lagi agar ada hasrat dalam hati kita masing-masing, dan dalam keheningan dengarkanlah tanggapan-Nya. Dia akan menjawab. Apabila bukan hari ini, barangkali besok atau hari berikutnya. Dalam hikmat-Nya dan saat-Nya, Dia akan menjawab semua kebutuhan kita, membuat diri kita seperti pohon-pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya (Mzm 1:3).

DOA: Bapa surgawi, ini aku lagi yang sedang mengetuk pintu-Mu. Tolonglah aku untuk mau dan mampu percaya bahwa sabda-Mu adalah benar. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu dan pengenalan akan kasih-Mu. Segarkanlah kembali dan hidupkanlah kembali diriku selagi aku berupaya untuk mengenal Engkau, mengasihi Engkau dan melayani Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:69-75), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERKENANKAN ALLAH UNTUK MEMBENTUK KITA MENJADI BEJANA-BEJANA BAGI KEMULIAAN-NYA” (bacaan tanggal 8-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2015. 

Cilandak, 6 Oktober 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YUNUS DAN ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI

YUNUS DAN ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI

2291324_orig

Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Senin, 5 Oktober 2015 

Datanglah firman TUHAN (YHWH) kepada Yunus bin Amitai, demikian: “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.” Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan YHWH; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan YHWH.

Tetapi YHWH menurunkan angin rebut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur. Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak. Datanglah nahkoda mendapatkannya sambil berkata: “Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa.” Lalu berkatalah mereka satu sama lain: “Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini.” Mereka membuang undid an Yunuslah yang kena undi.

Berkatalah mereka kepadanya: “Beritahukan kepada kami, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang, apa negerimu dan dari bangsa manakah engkau?” Sahutnya kepada mereka: “Aku seorang Ibrani; aku takut akan YHWH, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan.” Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya: “Apa yang telah kauperbuat?” – sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan YHWH. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka. Bertanyalah mereka: “Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi, sebab laut semakin bergelora.” Sahutnya kepada mereka: “Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu.” Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka. Lalu berserulah mereka kepada YHWH, katanya: “Ya YHWH, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, YHWH, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki.” Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk. Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada YHWH, lalu mempersembahkan kurban sembelihan bagi YHWH serta mengikrarkan nazar.

Maka atas penentuan YHWH datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.

Lalu berfirmanlah YHWH kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat. (Yun 1:1-17; 2:10) 

Mazmur Tanggapan: Yun 2:2-5,8; Bacaan Injil: Luk 10:25-37

ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI - 012Kota kuno Niniwe terletak di seberang sungai Tigris dari kota Mosul di Irak modern yang sejak beberapa waktu lalu menjadi tempat berkecamuknya konflik gara-gara ISIS. Pada mulanya, Yunus menolak panggilan Allah dan ia mencoba melarikan diri sejauh mungkin dari Niniwe. Namun “nasib” Yunus jauh dari apa yang diharapkannya. Bukannya aman-tenteram di Tarsis, dia malah “terdampar” di dalam perut seekor ikan besar untuk tiga hari dan tiga malam lamanya.

Yunus tidak mau pergi ke Niniwe sesuai dengan perintah Allah. Mengapa? Karena Yunus berpikir bahwa orang-orang Niniwe tidak senilai dengan pengorbanan waktu dan tenaganya. “EGP, emangnya gue pikirin?”, kata Yunus dalam hatinya. Dalam pikiran Yunus, orang-orang Niniwe tidak pantas untuk mendengar kabar baik tentang belas kasih Allah. Yunus akan lebih berbahagia apabila melihat mereka menderita karena murka Allah daripada mendengar pewartaan tentang belas kasih-Nya, tentang pertobatan, dan kemudian dibebaskan dari malapetaka yang hendak didatangkan-Nya (lihat Yun 4:2-3). Yunus mengetahui bahwa Allah akan menyelamatkan orang-orang Niniwe jika mereka melakukan pertobatan, dan ini adalah hal yang tidak ingin dilihat oleh Yunus.

Sungguh menarik mengapa cerita tentang Yunus ini dikedepankan pada hari ini bersama-sama dengan “perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Dalam perumpamaan Yesus yang hanya terdapat dalam Injil Lukas ini, seseorang yang pasti tidak disenangi oleh Yunus – seorang Samaria – justru menjadi pahlawannya, seseorang yang menunjukkan belarasa dan kasih (seperti kasih Kristus) terhadap seorang musuh tradisional – seorang Yahudi – yang dirampok dan mengalami penganiayaan sehingga tergeletak tak berdaya menantikan kematiannya, jika tidak ada yang menolong dirinya. Seperti cerita Yunus, dalam perumpamaan ini sekali lagi kita melihat bahwa orang-orang yang pada awalnya dengan mudah kita cap sebagai “sampah” yang tak berharga justru mengejutkan kita, dan malah mengingatkan kita akan ketiadaan belarasa atau kemurahan hati dalam diri kita.

Bagaimana kita menanggapi cerita-cerita ini dengan cara yang terbaik? Dengan mempraktekkan belas kasih yang ditunjukkan oleh orang Samaria yang baik hati itu, yaitu belas kasih yang justru tidak diinginkan oleh Yunus untuk dicurahkan atas orang-orang Niniwe. Barangkali satu cara lain untuk menanggapi cerita-cerita ini adalah dengan mendoakan semua orang yang telah menderita karena peperangan, misalnya para pengungsi yang membanjiri Eropa karena ulah ISIS dlsb. Allah ingin agar kita mencontoh-Nya dalam menaruh perhatian penuh kasih terhadap orang-orang yang berasal dari segala latar belakang: sebagai bagian dari ciptaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah diriku agar mau dan mampu mengasihi dan mengampuni seturut dengan contoh-Mu sendiri. Bentuklah diriku agar dapat menjadi sebuah instrumen penyembuhan-Mu dalam setiap situasi di mana Engkau menempatkan diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:25-37), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA?” (bacaan tanggal 5-10-15) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015.

Cilandak, 2 Oktober 2015 [Peringatan Para Malaikat Pelindung] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEGALA REFORMASI HARUS BERAWAL DARI DALAM DIRI SENDIRI

SEGALA REFORMASI HARUS BERAWAL DARI DALAM DIRI SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Jumat, 11 September 2015) 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Yesus menyampaikan lagi suatu perumpamaan kepada mereka, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang? Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi siapa saja yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapa engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Luk 6:39-42) 

Bacaan Pertama: 1 Tim 1:1-2,12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-8,11

“Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Luk 6:41). Kata-kata ini adalah sebagian dari instruksi-instruksi Yesus tentang perlunya kasih. Dalam berbagai kesempatan, Yesus secara tetap kembali dan kembali lagi kepada tema pengajaran ini.

Yesus tidak memaksudkan bahwa sikap dan perilaku saling menghargai harus buta terhadap dosa atau bahaya-bahaya dosa. Yang dikatakan Yesus kurang lebih adalah seperti berikut: “Marilah kita memandang diri kita sendiri dengan kritis, sebelum kita menilai orang-orang lain.” Pertanyaan-pertanyaan tertentu harus berulang-ulang datang ke dalam pikiran kita: apakah kritik-kritik saya terhadap orang-orang lain sungguh konstruktif dan kreatif, ataukah didasarkan pada iri-hati yang sempit? Apakah ketidaksabaran saya terhadap orang-orang  sungguh melekat  pada sifat pribadi saya? Apakah penilaian saya terhadap orang-orang lain merupakan penilaian yang matang? Apakah semangat saya dan hasil-hasilnya benar-benar superior ketimbang orang-orang lain, ataukah sudah meluntur menjadi konformisme gaya baru yang sudah nyata terlihat? Bukankah saya terlibat dalam kesalahan sama seperti yang saya tuduhkan kepada orang-orang lain?

Kita sekali-kali tidak boleh lupa bahwa ide kita sendiri pun dapat salah. Hasil-hasil terbaik akan senantiasa datang melalui kritik-diri sendiri yang jujur dan tindakan kasih kepada orang-orang lain yang dilatarbelakangi keterbukaan hati dan pikiran. Segala reformasi harus berawal dari dalam diri sendiri. Tanpa pengenalan diri sendiri dan rasa saling  menghormati, maka perubahan besar-besaran akan tanpa makna, malah dapat berakibat dengan hal-hal yang lebih buruk lagi.

Tuhan Yesus sendiri, satu-satunya Pribadi yang boleh berbangga, mengatakan bahwa hanya orang-orang yang rendah hatilah yang akan ditinggikan. Betapa sering kita mendengar orang berkata: “Satu hal yang saya selalu perhatikan tentang orang-orang yang sungguh besar. Mereka selalu kelihatan sangat rendah hati juga. Tidak ada kesombongan, tidak ada rasa superior, tidak ada sikap seakan-akan mengetahui segala sesuatu.” Hal ini dapat dipahami. Mengapa? Karena siapa – selain orang-orang jenius –  yang mampu melihat dengan  lebih baik betapa sedikit yang sesungguhnya kita ketahui sebagai manusia.

Hikmat yang sejati selalu disertai dengan rasa hormat mendalam terhadap Allah, terhadap sesama manusia, terhadap dunia. Orang-orang besar yang sejati telah belajar untuk “takut akan Allah” dan “menghormati semua orang.”

DOA: Bapa surgawi, kasihanilah dan berkatilah kami, anak-anak-Mu. Banjirilah kami dengan kemuliaan wajah-Mu. Semoga seluruh isi bumi mencari rahmat-Mu yang menyelamatkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:39-42), bacalah tulisan yang berjudul “BAHAYA DARI KETIDAKSADARAN AKAN KEANGKUHAN KITA” (bacaan tanggal 11-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpdress.com; kategori: 15-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 

Cilandak, 8 September 2015 [Pesta Kelahiran SP Maria] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PARA AWAM JUGA DIPANGGIL

PARA AWAM JUGA DIPANGGIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Rabu, 19 Agustus 2015)

OFM Conventual: Peringatan Keluarga Fransiskan; Peringatan S. Ludovikus, Uskup 

jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoom“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 

Bacaan Pertama: Hak 9:6-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

“Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku” (Mat 20:7).

Seorang imam di luar negeri pernah mengungkapkan bahwa gambaran Gereja kita pada hari ini adalah bagaikan pertandingan sepak bola kelas dunia. Puluhan ribu orang penonton di stadion berteriak-teriak sambil menabuh genderang guna menyemangati kesebelasan masing-masing, sedangkan di lapangan  22 orang sedang bertarung mati-matian. Puluhan ribu penonton membutuhkan olah raga yang sungguhan, sedangkan yang bertarung memerlukan istirahat! Sebagian besar pekerjaan dalam Gereja dikerjakan oleh kaum berjubah yang berjumlah relatif sedikit kalau dilihat dari jumlah keseluruhan umat. Mungkin pernyataan imam itu benar dan mungkin juga salah. Namun dapat dikatakan bahwa hal ini benar sekali pada masa sebelum Konsili Vatikan II [1962-1965]. Pasca Konsili – dengan berjalannya waktu – keadaannya membaik tahap demi tahap, walaupun masih jauh dari yang diharapkan. Bukankah Allah menginginkan kita agar pergi juga ke kebun anggur-Nya? (Mat 20:7).

vingårdenSalah satu dokumen terpenting hasil Konsili Vatikan II adalah “Dekrit Apostolicam Actuositatem tentang Kerasulan Awam [AA]”. Dokumen ini dapat dikatakan merupakan sebuah terobosan berkaitan dengan peran kaum awam dalam Gereja. Dokumen itu a.l. mengatakan: “Dalam Gereja terdapat keanekaan pelayanan, tetapi kesatuan perutusan. Para Rasul serta para pengganti mereka oleh Kristus diserahi tugas mengajar, menyucikan dan memimpin atas nama dan kuasa-Nya. Sedangkan kaum awam ikut serta mengemban tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus, menunaikan bagian mereka dalam perutusan segenap Umat Allah dalam Gereja dan di dunia” (AA, 2; lihat juga “Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja [LG], 31). Dokumen AA ini juga mengatakan: “Kristus yang diutus oleh Bapa menjadi sumber dan asal seluruh kerasulan Gereja. Maka jelaslah kesuburan kerasulan awam tergantung dari persatuan mereka dengan Kristus yang memang perlu untuk hidup, menurut sabda Tuhan: ‘Barang siapa tinggal dalam aku dan Aku dalam dia, ia menghasilkan buah banyak, sebab tanpa aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa’ ” (Yoh 15:5; AA,4).

Sebenarnya kita semua telah dipanggil dan diberdayakan untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, berdoa untuk/dengan orang sakit, menyampaikan ajaran-ajaran Yesus, dan mendirikan keadilan dan kedamaian di masyarakat di mana kita tinggal. Pertanyaan yang harus diajukan oleh kita masing-masing adalah: “Bagaimana aku menanggapi undangan ini?”

Barangkali kita (anda dan saya) meragukan panggilan kita. Kita mungkin saja merasa tidak pantas, atau kurang berpendidikan, atau tidak kompeten. Kita dapat merasa bahwa hanya imam-imam tertahbis saja yang harus dipercayakan dengan pekerjaan-pekerjaan gerejawi. Memang ada pelayanan yang hanya dapat dilakukan oleh imam tertahbis, jadi tidak dapat digantikan oleh seorang awam. Namun demikian pula halnya dengan panggilan kita sebagai umat awam, juga tidak dapat digantikan oleh orang lain. Panggilan Allah tidaklah terbatas pada pribadi-pribadi yang sangat terdidik. Ingatlah bahwa para rasul Kristus sendiri pada awalnya hanyalah orang-orang biasa tanpa latar belakang pendidikan yang hebat. Demikian pula panggilan Tuhan tidaklah ditujukan kepada orang-orang yang ultra-suci. Bahkan Santo Paulus sendiri – sang Rasul – menamakan dirinya orang “yang paling berdosa” (1 Tim 1:15).

Allah tidak memanggil orang-orang yang qualified, melainkan Ia membuat orang-orang yang dipanggil-Nya menjadi qualified. Nah, kita semua dipanggil! Selagi kita pergi ke luar dan “bereksperimen”, maka kita semua dapat belajar bagaimana mendengarkan Roh-Nya dan tetap patuh terhadap Roh-Nya tersebut. Allah akan menunjukkan kepada kita (anda dan saya) bagaimana membantu mendirikan Kerajaan-Nya di sini, di atas bumi. Dengan berpaling kepada-Nya dalam iman, kita dapat belajar bagaimana memperkenankan hidup Yesus memenuhi hati kita sedemikian sehingga berlimpah dengan kasih yang secara alamiah memberikan kehidupan bagi orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, di sini aku yang dengan rendah hati datang menghadap-Mu. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah aku. Aku akan pergi ke mana saja seturut kehendak-Mu. Aku akan melakukan apa saja seturut kehendak-Mu. Aku akan berbicara apa saja yang Engkau inginkan aku bicarakan kepada orang-orang lain. Tuhan Yesus, berjanjilah kepadaku hanya satu hal ini – kehadiran-Mu sepanjang pekerjaan melayani mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yang berjudul “IRI HATIKAH ENGKAU, KARENA AKU MURAH HATI?” (bacaan tanggal 19-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 16 Agustus 2015 [HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI

TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Kamis, 13 Agustus 2015)

Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Markus dr Aviano, Imam 

PERUMPAMAAN - PENGAMPUNAN MAT 18 21 DST 001Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1) 

Bacaan Pertama: Yos 3L7-10a,11,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 114:1-6

“Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”  (Mat 18:22).

Karena Allah itu Mahasempurna, maka pengampunan-Nya bersifat langsung dan permanen. Sayangnya, tidak demikian halnya dengan kita! Karena kita adalah manusia dan jauh dari sempurna, maka pengampunan dapat menjadi sangat sulit bagi kita. Barangkali itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa dia harus mengampuni sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali.

Pikirkanlah hal berikut ini: Jika dapat mencapai rekonsiliasi dengan orang yang bersalah kepada kita setelah dua atau tiga kali bertemu, maka relasi-relasi dengan sesama kita akan jauh lebih mudah dipelihara. Bukankah begitu?

Differences-in-Why-People-Forgive-and-Why-It-MattersMengampuni seseorang yang telah melukai hati kita seringkali merupakan sebuah proses yang berjalan secara bertahap. Misalnya, kita dapat saja mengampuni seseorang pada awalnya, namun beberapa hari kemudian kita menjadi marah dan kesal lagi. Dalam hal ini kita harus “mendirikan kembali bangunan” pengampunan kita. Ada juga kasus-kasus lain di mana kita sudah mengampuni, namun kita tidak mau lagi berada dekat orang itu. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu (dalam bilangan jam, hari, atau pekan) kita secara perlahan-lahan mampu untuk let go sakit hati kita sehingga kita pun dapat berinteraksi lagi dengan orang tersebut. Situasi apapun yang kita hadapi, hal yang terpenting adalah senantiasa mengambil langkah maju, bukan menjauhi pengampunan yang lengkap dalam setiap situasi.

Apakah kiranya hal-hal yang perlu kita (anda dan saya) lakukan untuk mengambil langkah selanjutnya dalam mengupayakan rekonsiliasi dengan orang lain? Yang pertama, berdoalah untuk orang itu. Marilah kita membayangkan bahwa kita sudah berdamai dengan orang itu. Kedua, marilah kita mengambil keputusan untuk mengampuni, dan terus membuat keputusan itu jika memang diperlukan. Kita harus ingat –seturut sabda Yesus – karena mungkin saja kita benar-benar butuh melakukan ini sebanyak 30, 50 atau 70 kali; dan hal itu oke, oke saja. Ketiga, marilah kita melihat bahwa Yesus mengasihi orang itu seperti Dia juga mengasihi kita masing-masing. Jika kita menjadi lebih merasa pahit atau marah, hal itu berarti bahwa kita membutuhkan waktu yang lebih banyak/lama lagi. Yang penting, kita harus terus mengampuni dalam hati kita sebaik-baiknya seturut kemampuan kita, dan memohon kepada Yesus untuk menolong kita.

Saudari dan Saudaraku, apapun yang kita lakukan, kita tidak boleh menyerah. Yesus pasti akan memberkati sekecil apapun langkah yang kita ambil menuju rekonsiliasi. Di atas segalanya, kita harus ingat bahwa pengampunan bukan tindakan manusiawi semata. Kita membutuhkan rahmat Roh Kudus untuk menolong kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengampuni setiap dosaku. Sekarang, ya Tuhan, tolonglah diriku agar mau dan mampu mengampuni mereka yang bersalah kepadaku. Dari DOA BAPA KAMI yang Kauajarkan, aku menyadari bahwa bagian dari pertukaran agar dosa-dosaku diampuni adalah persyaratan bahwa aku pun harus mengampuni orang yang bersalah kepadaku (Mat 6:12; lihat juga Mat 6:14-15). Tolonglah agar aku mempraktekkan salah satu Sabda Bahagia yang Kaudeklarasikan: “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan” (Mat 5:7). Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), bacalah tulisan dengan judul “PENGAMPUNAN TIDAK MENGENAL BATAS” (bacaan tanggal 13-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 8 Agustus 2015 [Peringatan S. Dominikus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG BERGUNA ATAU YANG TIDAK BERGUNA

YANG BERGUNA ATAU YANG TIDAK BERGUNA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Kamis, 30  Juli  2015) 

PARABLE OF THE NET - 01“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53) 

Bacaan Pertama: Kel 40:16-21,34-38; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6.8,11

“Perumpamaan tentang jala besar” (Mat 13:47-52) adalah yang terakhir dari serangkaian pengajaran oleh Yesus dengan menggunakan perumpamaan dalam Injil Matius. Perumpamaan ini serupa dengan “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30; lihat penjelasannya dalam Mat 13:36-43).

Dalam perumpamaan ini Kerajaan Surga (Kerajaan Allah) diumpamakan sebagai sebuah jala besar yang penuh berisi dengan segala jenis ikan, ada yang dapat dimakan dan ada yang tidak dapat dimakan. Yang baik – artinya ikan yang dapat dimakan – disimpan. Sisanya, yang tidak baik – artinya yang tidak dapat dimakan – dibuang. Begitu pula halnya dengan Kerajaan Allah di atas bumi, baik dilihat sebagai Gereja secara keseluruhan, atau satu bagiannya yang kecil, misalnya sebuah paroki atau sebuah komunitas Kristiani, mengumpulkan segala jenis orang. Orang-orang itu dikumpulkan sampai datangnya hari penghakiman ketika “yang baik” akan dipisahkan dari “yang jahat” (Mat 13:49; bdk. Mat 25:31-46).

Sebagai individu-individu kita merupakan warga Kerajaan Surga. Kita adalah bagian dari Gereja, sebuah paroki, atau sebuah komunitas Kristiani. Sekarang masalahnya, kita berada di sebelah mana? Apakah kita merupakan anggota-anggota yang berarti, yang berguna? Tidak ada yang “setengah-setengah” dalam hal ini. Jadi, apakah kita merupakan orang-orang Kristiani yang berkomitmen atau orang-orang yang tidak berguna dalam Kerajaan.

PARABLE OF THE DRAGNETBaik “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” maupun “perumpamaan tentang jala besar” dengan cukup jelas mengajar kita bahwa tidak dapat dicapai kedamaian lengkap dalam hidup ini. Yesus mengatakan dengan sangat jelas bahwa kedamaian lengkap hanya mungkin terjadi pada hari penghakiman akhir. Namun Ia bersabda: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”  (Mat 5:9). Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencoba membawa lebih banyak orang kepada suatu komitmen yang sejati kepada Kristus, untuk menjadi anggota-anggota Kerajaan yang berarti.

Apakah kita memahami semua ini? Apabila jawab kita terhadap pertanyaan ini adalah “ya”, maka Yesus berkata bahwa kita akan mampu untuk merekonsiliasikan hal-hal yang lama dengan hal-hal yang baru. Kita akan mampu untuk melihat bahwa dalam Kerajaan Allah segalanya yang memiliki nilai sejati mempunyai tempat, apakah Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, apakah yang tradisional dalam Gereja atau wawasan-wawasan baru. Apakah pikiran dan hati kita terbuka kepada hal-hal yang berarti, entah di mana ditemukannya? Atau, kita cenderung untuk mendiskreditkan apa saja hanya karena hal itu merupakan sesuatu yang baru, atau hanya karena hal itu merupakan sesuatu yang lama/kuno?

DOA: Ya Bapa, Allah Yang Mahapengasih, sampaikanlah kasih-Mu kepada semua anggota Kerajaan-Mu. Bahkan kepada para anggota yang Engkau pandang tidak berguna sekali pun, berikanlah juga kepada mereka rahmat agar dapat berubah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:47-53), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul  “SUNGGUH RIIL” (bacaan tanggal 30-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015.

Cilandak, 27 Juli 2015 [Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Selasa, 28 Juli 2015)

PERUMPAMAAN GANDUM DAN ILALANG MAT 13 24-43Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Kel 33:7-11;34:5-9,28; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:6-13

Bacaan Injil hari ini adalah penjelasan Yesus atas “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30). Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Menurut Dr. William Barclay (THE DAILY STUDY BIBLE – The Gospel of Matthew – Volume 2 – Chapters 11-28, Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1975 [Revised Edition], hal. 74), dalam hal pelajaran-pelajaran yang diberikan maka ini adalah salah satu perumpamaan yang paling praktis yang pernah diajarkan oleh Yesus. Berikut ini adalah saduran bebas saya dari pemikiran Dr. William Barclay yang tertuang dalam buku termaksud, hal. 74-75.

  1. Perumpamaan ini mengajar kita bahwa selalu akan ada suatu kekuasaan jahat di dalam dunia, yang berupaya dan menantikan saatnya untuk menghancurkan benih yang baik. Dari pengalaman dapat dilihat adanya dua jenis pengaruh yang bekerja dalam kehidupan kita. Yang pertama adalah pengaruh yang menolong benih-benih dunia menjadi subur dan bertumbuh, dan yang kedua adalah pengaruh yang berupaya untuk menghancurkan benih yang baik, bahkan sebelum benih itu dapat menghasilkan buah.
  1. Perumpamaan ini mengajar kita betapa sulit untuk membedakan antara mereka yang ada dalam Kerajaan dan mereka yang tidak. Seorang pribadi manusia dapat kelihatan baik namun faktanya dia buruk. Sebaliknya, seseorang dapat kelihatan jelek/buruk namun pada kenyataannya dia baik. Kita terlalu cepat mengklasifikasikan orang-orang dan memberi mereka “label” baik atau buruk tanpa mengetahui semua fakta.
  1. Perumpamaan ini mengajar kita untuk tidak cepat-cepat menilai/menghakimi orang. Apabila para penuai bekerja menurut kehendak mereka sendiri, maka mereka akan langsung saja mencoba untuk mencabut lalang, dengan demikian mereka akan mencabut juga gandum yang ada. Penghakiman harus menanti saat tuaian. Seorang pribadi manusia pada akhirnya akan dihakimi, tidak oleh satu-dua tindakannya semasa hidupnya, melainkan oleh keseluruhan hidupnya. Penghakiman baru dapat terlaksana pada titik akhir. Seseorang dapat saja membuat suatu kesalahan besar, kemudian menyesali perbuatannya itu, dan oleh rahmat Allah dia melakukan pertobatan yang membuat sisa hidupnya menjadi sebuah persembahan yang indah bagi Allah. Sebaliknya, seseorang dapat saja menjalani hidup saleh, namun kemudian mengalami kehancuran hidup disebaban keruntuhan akhlak serta kejatuhannya ke dalam jurang dosa. Tidak ada seorang pun yang hanya melihat sebagian saja dari satu keseluruhan dapat memberi penilaian atas keseluruhan tersebut. Tidak ada seorang pun yang mengetahui hanya sebagian saja dari kehidupan seseorang dapat memberi penilaian atas keseluruhan pribadi orang tersebut.
  1. Perumpamaan ini mengajar bahwa penghakiman datang pada titik akhir. Penghakiman tidak datang dengan tergesa-gesa, tetapi pasti datang. Berbicara secara manusiawi, seseorang dapat saja seorang pendosa menghindari konsekuensi-konsekuensi dosanya, namun ada kehidupan yang akan datang. Berbicara secara manusiawi, kebaikan tidak pernah kelihatan akan memperoleh ganjarannya, tetapi ada sebuah dunia baru untuk memperbaiki ketidakseimbangan di masa lampau.
  1. Perumpamaan ini mengajar bahwa satu-satunya Pribadi yang berhak untuk menghakimi adalah Allah. Allah saja-lah yang dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Hanya Allah-lah yang melihat semua aspek/bagian dari seorang manusia dan seluruh kehidupannya. Hanya Allah-lah yang dapat menghakimi.

Dengan demikian, pada akhirnya dapat dikatakan bahwa perumpamaan ini mempunyai dwifungsi: (1) sebagai peringatan agar kita tidak menghakimi orang lain; dan (2) sebagai peringatan bahwa pada akhirnya datanglah penghakiman dari Allah sendiri.

DOA:  Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengingatkan lagi kepada kami ajaran-Mu yang menekankan bahwa kami tidak boleh menghakimi orang lain. Penghakiman adalah hak Bapa surgawi semata. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “KITA ADALAH KEDUA-DUANYA: GANDUM DAN LALANG” (bacaan tanggal 28-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak, 25 Juli 2015 [Pesta S. Yakobus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS