Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

CERITA TENTANG KEBUN ANGGUR YESUS

CERITA TENTANG KEBUN ANGGUR YESUS

(Bacaan Injil Misa, Peringatan S. Yustinus, Martir [+165] – Senin, 1 Juni 2015)

 vineyard-photos-020_1

Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan, “Ada seseorang membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian Ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh lagi seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Demikian juga dengan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Masih ada satu orang lagi padanya, yakni anaknya yang terkasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi baru penjuru: Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena tahu bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak. Mereka membiarkan Dia, lalu mereka pergi. (Mrk 12:1-12) 

Bacaan Pertama: Tb 1:3;2:1a-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-6 

PERUMPAMAAN - WICKED HUSBANDMENDari Yesaya (5:1-7) kita mendengar nubuatan tentang kebun anggur terpilih, … dinanti sang pemilik kebun anggur untuk menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam (Yes 5:2) … “Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?” (Yes 5:4). Rencana TUHAN (YHWH) terdapat dalam Yes 5:5-6). … “Sebab kebun anggur YHWH semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran” (Yes 5:7).

Demikianlah halnya dengan perumpamaan Yesus yang menjadi bacaan Injil kita hari ini,  ..…. seperti “air susu yang dibalas dengan air tuba” (Mrk 12:1-8). Yesus bertanya: “Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu?” …… “Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain” (Mrk 12:9).

Seperti umat terpilih yang sedang berjalan di padang gurun menuju tanah terjanji, kita pun makan makanan rohani yang sama dan minum minuman rohani yang sama, diberi makan dan minum dari batu karang rohani yang adalah Kristus. Sekarang, haruskah apa yang ditulis oleh Santo Paulus berlaku juga bagi kita:  “Sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada sebagian besar dari mereka”? (lihat 1 Kor 10:3-5).

Sekarang, lihatlah diri kita (anda dan saya) sendiri. Begitu seringnya kita merasa tersinggung  (katakanlah: sakit hati) ketika perbuatan (bahkan niat baik) kita dibalas dengan sikap dan tindakan yang sebaliknya. Dalam hati kita mengharapkan bahwa mereka yang telah menerima kebaikan dari kita seharusnyalah membalasnya dengan sikap dan perbuatan baik. Wah, ini pamrih namanya, namun itulah yang biasanya terjadi. Orang yang tidak berterima kasih dengan cara sepantasnya sungguh menyakitkan hati, sekali pun kita masih mengingat “Sabda Bahagia” Yesus dan ajaran-ajaran-Nya dalam “Khotbah di Bukit”.

YESUS KRISTUS - 0000Memang sah-sah saja bagi kita (anda dan saya) untuk “merasa sakit” karena sikap dan perlakuan yang mencerminkan tidak adanya rasa terima kasih dari para sahabat, teman, anggota keluarga besar atau komunitas kita, bahkan saudara kandung kita sendiri. Mengapa saya katakan: “sah-sah saja”?  Karena dalam “rasa sakit” ini kita dapat belajar tentang segala “rasa sakit” orang-orang lain yang disebabkan oleh kita masing-masing. Dalam sikap tidak tahu terima kasih orang-orang lain terhadap kita tercerminlah sikap dan perilaku kita yang suka tidak berterima kasih atas apa saja kebaikan yang diberikan orang lain kepada kita. Jadi dalam sakit yang kita rasakan, kita belajar tentang berbagai rasa sakit dengan intensitas berbeda-beda pada orang-orang yang telah disebabkan oleh kesalahan kita.

Saudari-Saudara yang dikasihi Kristus, setiap kali kita berpikir dan bersikap negatif terhadap orang-orang yang membalas dengan air tuba untuk air susu yang kita berikan kepada mereka – seperti para penggarap kebun anggur yang jahat itu – maka marilah kita berkata dengan segala kebenaran: “Itulah gambaran diriku. Itulah yang kulakukan kepada-Mu, ya Tuhan, dari hari ke hari. Itulah balasanku terhadap rahmat yang telah Kaulimpah-limpahkan kepadaku.

DOA: Bapa surgawi, aku mohon ampun kepada-Mu karena seringkali aku tidak menerima sikap dan perilaku tidak berterima kasih dari orang-orang yang pernah aku tolong dengan penuh kebaikan. Namun Engkau tetap mengasihi umat-Mu walaupun mereka bertumbuh menjadi pemberontak dan pembangkang. Kasih-Mu memang tidak mengenal batas/akhir. Engkau mengutus sendiri Putera-Mu yang tunggal ke tengah dunia untuk memperbaiki segala kerusakan yang terjadi, bahkan sampai mati di kayu salib, dengan demikian manusia dapat diperdamaikan dengan Engkau dan menjadi anak-anak-Mu yang Kaukasihi. Oleh kuasa Roh Kudus, perbaikilah diriku agar menjadi insan yang tahu berterima kasih kepada Penciptanya. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “KITA ADALAH KEBUN ANGGUR YESUS!” (bacaan tanggal 1-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

Cilandak, 29 Mei 2015 [Peringatan S. Maria Anna dr Paredes, Perawan Ordo III] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MURID YESUS YANG BERBUAH BANYAK

MURID YESUS YANG BERBUAH BANYAK

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V [Tahun B], 3 Mei 2015)

VineBranchGrapes“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8)  

Bacaan Pertama: Kis 9:26-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:26-28,30-32; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:18-24

Dalam Perjanjian Lama, Israel seringkali diibaratkan sebagai pohon anggur. Allah menanam pohon anggur itu dan memeliharanya, namun pohon anggur itu menjadi jelek dan akhirnya diinjak-injak: “Aku telah membuat engkau tumbuh sebagai pokok anggur pilihan, sebagai benih yang sungguh murni. Betapa engkau berubah menjadi pohon berbau busuk, pohon anggur liar!” (Yer 2:21). Sebagai perbandingan, bacalah juga Mzm 80:8-15; Yes 5:1-7; Yeh 19:10-14. Pohon anggur liar memang sangat berbeda dengan pohon anggur yang dipelihara dalam kebun anggur. Pohon anggur liar menghasilkan buah-buah anggur berukuran kecil dan pahit sedangkan pohon anggur yang dipelihara dalam kebun anggur menghasilkan buah-buah anggur yang relatif berukuran besar dan terasa manis.

Yesus menyatakan diri-Nya bahwa Dialah “pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya” (Yoh 15:1). Dalam diri Yesus dan para pengikut-Nya, Bapa akan menemukan jenis buah anggur yang dihasrati-Nya. Tugas kita adalah untuk tetap terhubungkan dengan pokok anggur yang merupakan sumber makanan dari Kristus sendiri. Adalah tugas Bapa surgawi untuk memelihara pokok anggur agar dapat berbuah banyak. Pernyataan ini terdengar begitu eksplisit sehingga kita dapat luput melihat kebesaran dari tantangan dan janji yang diberikannya.

Tanaman besar (bukan tanaman perdu) tidak hanya bertunas dan bertumbuh, namun harus menghasilkan buah. Yesus bersabda, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, ……  Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku” (Yoh 15:5-8).

Kristianitas bukanlah sebuah agama negatif yang terdiri dari peraturan-peraturan “jangan ini/itu atau tidak boleh ini/itu” atau sekadar menghindari dosa, melainkan sebuah agama yang berisikan ajaran untuk melakukan hal-hal yang baik dan positif. Yesus dengan jelas menghendaki kita – para pengikut-Nya – untuk menghasilkan buah secara berlimpah, yaitu buah-buah dari pekerjaan-pekerjaan baik kita. Santo Paulus menulis: “… bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mepunyai arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih” (Gal 5:6). Jadi menghasilkan buah dapat disingkat sebagai upaya pelayanan sederhana menolong, memperhatikan, berbagi dengan orang-orang lain.

KEDATANGANNYA UNTUK KEDUA KALINYA - 4Dalam “perumpamaan tentang penghakiman terakhir” (Mat 25:31-46), Yesus mengatakan bahwa hanya mereka yang dengan setia menjalankan tugas pelayanan Kristiani mereka dalam menolong, memperhatikan dan berbagi dengan “orang-orang yang hina-dina”, yang akan mengalami “hidup kekal”.

Ketika kita (anda dan saya) menghadapi moment of truth “penghakiman terakhir”, maka kepada kita sang Hakim tidak akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini: Berapa kali kamu telah menghadiri Perayaan Ekaristi? Berapa banyak doa yang telah kamu panjatkan ke hadirat Allah? Berapa banyak dosa yang telah kamu berhasil hindari? Sebaliknya, kepada kita akan ditanyakan satu pertanyaan penting dan menentukan: “Apa yang telah kamu lakukan untuk orang-orang yang hina-dina?”

Dengan demikian, apakah kehadiran dalam Misa Kudus, kegiatan doa, dan ketaatan kepada Gereja tidak penting? Penting, namun buah dari doa-doa kita, buah dari keikutsertaan kita dalam liturgi gerejawi, buah dari studi Alkitab kita, pencaharian akan kebenaran yang kita lakukan lewat studi teologi dlsb., di ujung-ujungnya harus terwujud dalam pelayanan kasih kepada sesama.

Ada cerita tentang seorang yang membayangkan dirinya sedang “antri” mau masuk surga. Dia berkata, “Apa yang kutakuti adalah jika aku harus berhadapan face to face dengan Allah dalam kehidupan yang akan datang. Bunda Teresa dari Kalkuta datang melapor dan Allah berkata, ‘Teresa, seharusnya engkau melakukan lebih banyak lagi pekerjaan baik.’ Dan bayangkan, saya berdiri tepat di belakang Bunda Teresa!”

Kita diajar untuk taat kepada kehendak Allah – melakukan apa yang diperintahkan oleh-Nya – yang  adalah jalan satu-satunya untuk berhasil dalam hidup ini. Bibir kita mengucapkan semua ini hari demi hari, namun sampai berapa seringkah kita bertindak seturut apa yang kita ucapkan? Walk the talk! Atau hanya sekadar “nato” atau “omdo”?

Saudari dan Saudaraku terkasih. Kita semua mempunyai niat-niat baik terhadap orang-orang lain. Kita mempunyai niat mengampuni. Kita mempunyai niat untuk berdamai. Kita mempunyai niat untuk memperbaiki komunikasi. Kita mempunyai niat untuk setia kepada pasangan hidup kita. Kita mempunyai niat untuk memberikan donasi kepada sebuah karya karitatif. Kita mempunyai niat untuk mengunjungi anggota keluarga yang sudah lama kita tidak kunjungi. Kita mempunyai niat memberikan sedekah, dlsb. Pada hari Minggu ini, marilah kita lupakan semua niat itu, kecuali satu saja. Lalu kita laksanakan! JUST DO IT!

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau  berbagi kehidupan ilahi-Mu dengan kami masing-masing. Biarlah segala sesuatu yang kami lakukan  dipimpin oleh pengenalan akan kebenaran-Mu. Ingatkanlah kami, ya Tuhan, bahwa sebagai murid-murid-Mu – umat Kristiani – berarti kami harus banyak melakukan pekerjaan baik, teristimewa bagi mereka yang hina-dina.  Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “AKULAH POKOK ANGGUR YANG BENAR” (bacaan tanggal 3-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak, 29 April 2015 [Peringatan S. Katarina dr Siena, Perawan Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG FARISI DAN SEORANG PEMUNGUT CUKAI

SEORANG FARISI DAN SEORANG PEMUNGUT CUKAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Sabtu, 14 Maret 2015) 

PERUMPAMAAN TENTANG DOA - FARISI DAN PEMUNGUT CUKAIKepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus menyampaikan perumpamaan ini. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Luk 18:9-14) 

Bacaan Pertama: Hos 6:6:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,18-21

Orang Farisi dalam perumpamaan Yesus ini datang menghadap Allah dengan tangan-tangan yang penuh. Ia telah mengumpulkan segala puasanya, persepuluhan yang dilakukannya, dan ketaatannya kepada hukum Musa dan menunjukkan semuanya kepada Allah. Katanya: “Lihatlah Tuhan, lihatlah segala kebaikanku.” Tentunya Allah melihat semua yang dihaturkan kepada-Nya itu. Dia tidak dapat menyangkal segala puasa, persepuluhan dan ketaatan orang Farisi itu kepada hukum Musa. Masalahnya adalah bahwa tangan-tangan orang Farisi itu sudah penuh, sehingga tidak ada ruang kosong lagi bagi belas kasih Allah. Sesungguhnya, dengan memusatkan perhatiannya pada perbuatan-perbuatan baiknya sendiri, kelihatannya dia tidak membutuhkan belas kasih Allah sama sekali.

Bagaimana dengan kita (anda dan saya)? Apakah kita melihat diri kita sendiri sekali-kali tersandung dalam perjalanan kita menuju hidup kesalehan dan merasa hanya butuh untuk mencoba lebih keras lagi? Atau, apakah kita melihat bahwa dalam diri kita terdapat ketidakmampuan fundamental untuk mengasihi Allah dan sesama kita tanpa banyak pengampunan dan pertolongan dari Allah? Dua pandangan ini sangat berbeda satu sama lain. Pandangan pertama mengakui keberadaan dosa-dosa dalam diri kita, namun gagal untuk melihat kuasa dosa yang bekerja dalam hati kita.

Bahaya dari hanya melihat dosa-dosa adalah bahwa kita dapat menjadi seperti orang Farisi dalam perumpamaan ini, yang berharap bahwa perbuatan-perbuatan baik kita akan menghapus dosa-dosa dan berbagai hal buruk dalam  diri kita. Mentalitas melihat “neraca pembukuan” seperti itu mengabaikan kebutuhan kita akan Yesus dan salib-Nya yang akan mematikan kuasa dosa dalam diri kita. Hal itu juga mengabaikan kebutuhan kita agar hati kita diarahkan kembali kepada jalan Kristus.

Kita semua akan berdosa hari ini, baik dengan pikiran, perkataan, perbuatan maupun kelalaian kita. Tidak ada jalan untuk berbalik kecuali melalui kuat-kuasa rahmat Allah. Membereskan segala dosa dan kesalahan kita tidak dapat dilakukan dengan cara mengimbangi atau menghapusnya dengan perbuatan-perbuatan baik kita. Kita harus melihat dosa-dosa kita sebagai bukti-bukti bahwa kita membutuhkan rahmat Allah. Dosa-dosa harus memacu kita untuk berseru kepada Allah, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini!” (Luk 18:13). Dengan demikian kita dapat mengenal dan mengalami sukacita pengampunan dari Allah. Dia senantiasa siap untuk mengambil kita kembali ke sisi-Nya.

Saudari-Saudara terkasih, pada saat kita melakukan pemeriksaan batin malam ini, marilah kita (anda dan saya) memohon kepada Roh Kudus untuk menolong kita. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk mematikan kuasa dosa dalam diri kita masing-masing dan memberikan kepada kita hati yang baru. Apabila kita menggantungkan diri kepada-Nya, maka Dia akan membebaskan kita.

DOA: Roh Kudus, biarlah terang-Mu bercahaya dalam hatiku. Nyatakanlah segala hal dalam diriku yang Engkau ingin ubah. Datanglah, Roh Kudus, dan angkatlah diriku kepada suatu hidup baru dalam Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 18:9-14), bacalah tulisan yang berjudul “DUA TANGGAPAN MANUSIA TERHADAP KARUNIA KESELAMATAN” (bacaan tanggal 14-3-15)  dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hos 6:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENANGGAPI KASIH ALLAH KEPADA KITA” (bacaan tanggal 9-3-13), dalam situs PAX ET BONUM. 

Cilandak, 10 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARUNIA/ANUGERAH PENGAMPUNAN

KARUNIA/ANUGERAH PENGAMPUNAN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Selasa, 10 Maret 2015) 

70 x 7

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35) 

Bacaan Pertama: Dan 3:25,34-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9

2.3.Unforgiving Servant - The Unforgiving Servant - CefkidsBerapa kali kiranya kita (anda dan saya) berada dalam posisi seperti Petrus, yang menetapkan batasan-batasan sehubungan dengan berapa kali kita harus mengampuni seorang pribadi yang telah bersalah kepada kita? Dalam hal pengalaman saya sendiri, tidak sekali dua kali tetapi cukup banyak, walaupun saya sudah tahu apa yang diajarkan Yesus. Pergumulan batin yang satu disusul dengan pergumulan batin yang baru, dst.

Memang ajaran Yesus tentang pengampunan ini merupakan salah satu ajaran Yesus yang paling memberi tantangan: mengampuni tanpa batas. Namun Yesus mengetahui benar bahwa hal itu mungkin karena pengampunan bukanlah sesuatu yang kita lakukan berdasarkan berbagai sumber daya kita sendiri. Sesungguhnya kemauan dan kemampuan kita untuk mengampuni orang lain tergantung pada keterbukaan kita untuk menerima belas kasih Allah dalam hidup kita.

Berapa kalikah kita telah marah terhadap seseorang dan tidak mampu mengatasi kemarahan tersebut? Hal seperti itu dapat menggerus keberadaan kita sebagai seorang pribadi yang utuh. Bagaimana dengan luka batin, rasa cemas, atau depresi yang dapat timbul karena kita disakiti oleh orang yang dekat dengan kita? Yesus samasekali tidak ingin melihat kita hidup seperti ini. Yesus ingin menunjukkan kepada kita betapa penuh kuat-kuasa pengampunan itu dalam mematahkan kemarahan, rasa kesal, depresi dst. yang selama ini mencengkeram kita.

Iblis akan sangat senang untuk membiarkan kita tidak mau dan mampu mengampuni orang yang bersalah kepada kita, terus terjerat oleh ikatan memori-memori yang menyakitkan dll. Hal terakhir yang diinginkan oleh Iblis adalah tindakan kita untuk kembali kepada Allah dan menerima penyembuhan-Nya serta menerima kuat-kuasa untuk mengampuni. Namun Yesus ingin meningkatkan kita kepada suatu tingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat belas kasih yang berkelimpahan. Hal ini akan terjadi apabila kita telah mengenal dan mengalami betapa berbelas kasih Allah itu terhadap kita masing-masing. Allah akan mengangkat kita dengan menunjukkan kepada kita betapa siap Dia  untuk mengampuni dosa dan kesalahan kita, dari yang paling kecil sampai yang paling  berat.

Allah akan mengangkat kita dengan meyakinkan kita bahwa pengampunan bukanlah sesuatu yang kita peroleh karena upaya atau kerja keras kita sendiri, melainkan suatu karunia/anugerah yang diberikan oleh-Nya kepada para pendosa – seperti anda dan saya – yang sesungguhnya tidaklah layak untuk menerima karunia/anugerah dimaksud. Jika kita telah diangkat kepada tingkat yang baru ini, kita pun akan menunjukkan kesiapan kita untuk menerima anugerah yang sebenarnya tidak pantas mereka terima: karunia/anugerah kerahiman ilahi.

stdas0084Masa Prapaskah ini menawarkan kepada kita suatu kesempatan sempurna datang menghadap Yesus dan mengalami pengampunan dan damai sejahtera dari Dia. Masa Prapaskah ini adalah masa yang sempurna untuk membuang segala amarah dan penolakan dari diri kita. Masih adakah seseorang yang kita (anda dan saya) masih ragu-ragu untuk mengampuninya? Marilah kita memohon kepada Yesus untuk menolong kita mengambil satu langkah lagi dalam belas kasih. Walaupun kita belum mampu sepenuhnya mengampuni orang itu, marilah kita mengatakan kepada Yesus bahwa kita akan datang semakin dekat dengan orang itu.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau memungkinkan kami untuk mengalami belas kasih/kerahiman-Mu yang sempurna. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus, buatlah diri kami masing-masing menjadi bejana-bejana kasih-Mu dan kerahiman-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-35), bacalah tulisan yang berjudul  “MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI” (bacaan tanggal 10-3-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “SAMPAI BERAPA KALI AKU HARUS MENGAMPUNI SAUDARAKU?” (bacaan tanggal 13-3-12) dan “PERUMPAMAAN TENTANG HAMBA YANG TAK BERBELAS KASIH” (bacaan tanggal 5-3-13), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 7 Februari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SABTU PEKAN KEDUA PRAPASKA – HENRI J.M. NOUWEN

SABTU PEKAN KEDUA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

640px-Rembrandt_Harmensz_van_Rijn_-_Return_of_the_Prodigal_Son_-_Google_Art_Project

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia”  (Luk 15:18-20)

Ini adalah kisah mengenai berbalik kembali. Setiap kali saya semakin menyadari pentingnya berbalik kembali. Hidup saya menjauh dari Allah. Saya harus kembali … Berbalik kembali adalah perjuangan sepanjang hidup.

Saya tertarik pada kembalinya si anak itu karena yang mendorongnya adalah kepentingannya sendiri. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan! Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku”. Ia tidak kembali karena rasa cintanya yang baru kepada ayahnya. Bukan, ia kembali sekedar supaya tidak mati kelaparan. Ia sadar bahwa jalan yang telah ia pilih ternyata membawanya kepada kematian. Kembali kepada bapanya adalah perlu agar ia tetap hidup. Ia sadar bahwa telah berdosa, namun kesadaran ini dirasakan karena dosa telah membawanya ke ambang kematian.

Saya terkesan melihat bahwa bapanya tidak menuntut motivasi yang lebih tinggi. Cintanya begitu utuh dan tanpa syarat dan begitu saja ia menerima anaknya kembali ke rumah.

Gagasan ini sangat membesarkan hati. Allah tidak menuntut hati yang murni sebelum menyambut dan memeluk kita. Juga seandainya kita kembali hanya karena jalan yang sudah kita pilih sendiri ternyata tidak membawa kebahagiaan. Allah tetap akan menerima kita kembali. Juga seandainya kita kembali karena hidup sebagai orang Kristen ternyata memberikan rasa damai yang lebih dalam daripada hidup sebagai hidup sebagai orang kapir, Allah tetap akan menerima kita. Seandainya kita kembali hanya karena dosa-dosa kita tidak dapat memberikan kepuasan seperti kita bayangkan, Allah tetap akan menerima kita. Seandainya kita kembali karena ternyata saya tidak sanggup melakukannya sendiri, Allah akan menerima kita. Cinta Allah tidak menuntut supaya kita menjelaskan alasan kita kembali. Allah bergembira karena melihat kita kembali ke rumah dan rela memberikan semua yang kita inginkan agar tetap tinggal di rumah.

Dalam batinku aku melihat lukisan Rembrant yang berjudul “Kembalinya Si Anak Hilang”. Bapa yang sudah tua dan matanya redup menyambut anaknya yang kembali, memeluknya dalam cinta tanpa syarat … Tampaknya ia hanya memikirkan satu hal: Ia sudah kembali, dan saya begitu gembira karena ia berada dekat padaku lagi”.

+++++++

Suara keputusasaan berkata, “Saya berdosa dan berdosa lagi. Sesudah berkali-kali saya mengucapkan janji kepada diri saya sendiri dan kepada orang lain bahwa saya akan hidup lebih baik, ternyata saya kembali lagi ke tempat-tempat yang gelap. Sudah bosan saya berusaha untuk mengubah diri. Saya sudah mencobanya bertahun-tahun. Ternyata saya tidak berhasil dan tidak akan pernah berhasil. Rasanya lebih baik kalau saya pergi, dilupakan orang, hilang ditelan kematian”.

Suara ini aneh tetapi menarik karena tampaknya dapat menghapus segala ketidakpastian dan mengakhiri seluruh perjuangan. Dengan sangat jelas suara itu berpihak kepada kegelapan dan menawarkan yang pintas.

Yesus datang untuk membuka telinga kita agar dapat mendengar suara yang berkata, “Aku adalah Allahmu. Aku membentukmu dengan tangan-Ku dan Aku mencintai ciptaan-Ku. Aku mencintaimu dengan cinta yang tidak kenal batas, karena Aku mencintaimu sebagaimana Aku dicintai. Jangan melarikan diri dari pada-Ku. Kembalilah kepada-Ku – bukan hanya sekali, dua kali tetapi selalu dan setiap kali. Engkau adalah anak-Ku. Bagaimana mungkin engkau ragu-ragu bahwa Aku akan menerimamu lagi, memelukmu, menciummu dan membelai-belaimu? Aku adalah Allahmu – Allah yang berbelas kasih dan murah hati, Allah yang mengampuni dan mencintai, Allah yang lemah lembut dan baik hati. Janganlah mengatakan bahwa Aku tidak dapat tahan melihatmu lagi, bahwa tidak ada jalan untuk kembali. Itu semua tidak benar. Aku sangat merindukan agar engkau dekat pada-Ku. Aku mengenal seluruh pikiranmu. Aku mendengar semua yang kaukatakan. Aku melihat segala yang kaukerjakan. Dan Aku mencintaimu karena engkau agung, diciptakan serupa dengan gambar-Ku sendiri dan merupakan ungkapan cinta-Ku yang paling dalam. Jangan mengadili dirimu sendiri. Jangan menghukum dirimu sendiri. Jangan menolak dirimu sendiri. Biarlah cinta-Ku menyentuh sudut-sudut hatimu yang paling tersembunyi dan menyatakan kepada dirimu keagunganmu sendiri. Engkau sudah tidak melihat lagi keagungan itu. Namun dalam terang kerahiman-Ku engkau akan melihatnya kembali. Datanglah, Aku akan mengusap air matamu dan membisikkan di telingamu, “Aku mencintaimu, mencintaimu, mencintaimu”.

Inilah suara yang diinginkan Yesus untuk kita dengar. Inilah suara yang memanggil kita agar kita selalu kembali kepada Dia yang telah menciptakan kita dalam cinta dan berkenan menciptakan kita kembali dalam kerahiman.

DOA: Tuhan, Tuhanku, bantulah aku agar mampu mendengarkan suara-Mu dan mengalami kerahiman-Mu. 

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 59-61. 

Cilandak, 7 Maret 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK YANG HILANG

ANAK YANG HILANG

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Sabtu, 7 Maret 2015) 

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAPara pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3,11-32) 

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 103:1-4.9-12

ANAK YANG HILANG - 01Perumpamaan di atas sungguh merupakan cerita tentang seorang ayah yang penuh pengampunan. Yesus menceritakan perumpamaan ini guna menunjukkan kepada kita bagaimana Allah merasakan isi hati siapa saja dari kita yang menyadari bahwa dirinya adalah pendosa, namun mengambil keputusan untuk kembali kepada Bapa. Allah sungguh mengasihi kita dan ingin merayakan kembalinya kita dengan penuh kebahagiaan kepada-Nya bersama dengan kita.

Bab 15 dari Injil Lukas memuat pengajaran Yesus lewat tiga buah perumpamaan secara berturut-turut: [1] Perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk 15:3-7); [2] Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10); [3] Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). Sungguh menarik untuk dicatat apa yang terjadi sebelum Yesus mengajar dengan tiga perumpamaan ini. Lukas mencatat bahwa para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia” (Luk 15:1). Mengapa?  Apakah yang telah dikatakan dan dilakukan oleh Yesus sehingga memikat para pendosa, padahal mereka dinilai rendah sekali oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dan membuat para pemuka agama tersebut bersungut-sungut? (lihat Luk 15:2).

Kiranya di sini Yesus mengundang para pendengar-Nya dan pada saat sama mengemukakan sebuah tantangan. Yesus telah mengajar para pendengar-Nya dengan perumpamaan tentang perjamuan besar (perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih; Luk 14:15-24). Dalam perumpamaan itu Allah yang diibaratkan sebagai seorang raja mengundang banyak orang, namun mereka mengemukakan berbagai alasan untuk tidak hadir. Oleh karena sang raja mengutus para hambanya untuk mengundang orang-orang lain. Setelah perumpamaan ini, Yesus menantang para pendengar-Nya untuk berani menjadi murid-murid-Nya, karena mereka harus memikul salib bersama dengan-Nya (lihat Luk 14:25-27). Hal inilah yang menarik para pendosa untuk datang kepada Yesus! Yesus mengundang mereka dan pada saat sama menantang mereka untuk masuk ke dalam suatu hidup baru, suatu kehidupan yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka kenal selama ini.

Sekiranya ada dari para pendosa yang mendengarkan Yesus ini bertanya-tanya: “Apakah aku yang dimaksudkan oleh-Nya?”, maka Yesus datang dengan “Perumpamaan tentang anak yang hilang”, sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu. Perumpamaan ini mengajarkan: “Biar bagaimana pun juga engkau berpikir bahwa engkau telah gagal, Bapamu di surga akan menerima engkau kembali dengan penuh kasih, dan Ia mengundang engkau masuk ke dalam suatu hidup baru dalam Dia dan bersama Dia.”

LUK 15 ANAK YANG HILANG KEMBALIItulah undangan dan tantangan yang diberikan oleh Yesus kepada kita masing-masing. Kasih Allah kepada kita masing-masing tidak pernah luntur dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan kasih Allah itu digambarkan dalam perumpamaan anak yang hilang ini. Kita harus mencatat peranan dari si anak dalam cerita ini. Sang  ayah tidak dapat mengampuni anaknya apabila dia tidak kembali kepada ayahnya guna menerima pengampunan itu. Anak laki-laki itu terbuka dan siap menerima pengampunan, karena dia cukup jujur untuk melihat dirinya sebagai apa adanya. Dia melihat bahwa hidupnya sungguh kosong, bahwa dia telah melempar jauh-jauh berkat-berkat nyata yang diterimanya dan menggantikannya dengan “berkat-berkat palsu”, kemudian menyadari bahwa dirinya akan lebih baik tanpa batas jika kembali kepada Bapanya.

DOA: Tuhan Yesus, lewat perumpamaan ini kami disadarkan bahwa kami adalah orang-orang berdosa dan kami sungguh membutuhkan belas kasih Bapa surgawi. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “MENELADANI SANG BAPAK ATAU SI ANAK SULUNG?” (bacaan tanggal 7-3-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN ANAK YANG HILANG” (bacaan tanggal 10-3-12),  “PERKENANKANLAH DIA MERANGKUL ANDA ERAT-ERAT DENGAN BELAS KASIH-NYA” (bacaan tanggal 2-3-13), dan “KASIH BAPA SURGAWI YANG BEGITU BESAR” (bacaan tanggal 22-3-14), ketiganya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 4 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KERENDAHAN HATI, KETEKUNAN DAN KETETAPAN HATI

KERENDAHAN HATI, KETEKUNAN DAN KETETAPAN HATI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Jumat, 6 Maret 2015) 

PERUMPAMAAN - WICKED HUSBANDMEN“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi. (Mat 21:33-43,45-46) 

Bacaan Pertama: Kej 37:3-4,12-13,17-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21 

“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mat 21:42; Mzm 118:22).

Sepanjang sejarah penyelamatan (keselamatan), kita lihat bahwa banyak “batu” telah ditolak, namun kemudian justru menjadi “batu penjuru” yang dipercaya dan dicintai. Manakala kita berpikir tentang “batu penjuru”, kita mungkin berpikir tentang tokoh-tokoh seperti Yusuf, Daud, atau Yeremia. Kita mungkin berpikir mengenai orang-orang kudus seperti Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] atau Santa Teresa Benedicta dr Salib (Edith Stein) [1891-1942]. Tentunya kita juga berpikir tentang Yesus sendiri. Tetapi, bagaimana dengan diri kita sendiri (anda dan saya)? Pernahkah kita berpikir tentang diri kita sendiri sebagai sebuah batu penjuru?

Saudara-saudara Yusuf menolak dia dan menjualnya sehingga menjadi budak di Mesir (lihat Kej 37:23-28). Namun kerendahan hati Yusuf dan kemauannya untuk menggantungkan diri sepenuhnya pada Allah memungkinkan dirinya untuk bangkit keluar dari jeratan perbudakan dan menjadi batu penjuru yang menyelamatkan keluaganya dan seluruh Mesir.

FA NGPBROL DENGAN BURUNG2Karena dia berupaya untuk menghayati hidup Injili, Santo Fransiskus ditolak dan tidak diwarisi apa-apa oleh ayahnya (catatan: ayahnya adalah saudagar kaya di Assisi). Namun karena ketergantungannya pada Allah, Fransiskus mampu untuk mengabdikan hidupnya guna menyebarkan sabda Allah dengan penuh sukacita. Cinta kasihnya kepada Allah menolong dirinya mengatasi penolakan dari keluarganya (kecuali ibundanya) dan menjadi batu penjuru bagi Gereja pada abad pertengahan.

Dalam situasi-situasi ini dan banyak lagi, bukan penolakanlah yang crucial, melainkan kerendahan hati dan ketekunan dan ketetapan hati dari orang-orang yang ditolak. Inilah yang membuat orang-orang itu menjadi batu-batu penjuru iman dan saksi-saksi Injil.

Nah, apakah kita (anda dan saya) siap menjadi batu penjuru? Barangkali kita berpikir bahwa Allah tidak dapat menggunakan kita karena kita tidak cukup baik, tidak pintar-pintar amat, atau tidak cukup kaya. Akan tetapi, sesungguhnya kita tidak perlu mempunyai kekuasaan atau keberanian untuk melayani Allah. Yang kita butuhkan adalah kerendahan hati dan juga mau dan mampu untuk diajar. Atau, barangkali kita takut mengalami penolakan, seperti Yusuf dan Santo Fransiskus dari Assisi? Namun kita juga harus mengingat bahwa Allah berjanji bahwa Dia tidak akan pernah memperkenankan kita dicobai melampaui kemampuan kita untuk bertahan – dengan catatan kita bersandar pada-Nya dan kuat-kuasa-Nya (lihat 1Kor 10:13).

Saudari dan Saudaraku, dengan penuh keyakinan bahwa Allah senantiasa menyediakan segala kebutuhan kita dan dipenuhi hasrat untuk ikut membangun Gereja-Nya, marilah kita menaruh hidup kita di hadapan Tuhan Yesus dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita ingin mengabdikan hidup kita untuk upaya memajukan Kerajaan-Nya di dunia ini.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Buatlah diriku seperti Engkau, sebuah pilar iman bagi orang-orang di sekelilingku. Aku ingin agar senantiasa mau bergantung pada-Mu. Bukalah mata dan telingaku, sehingga dengan demikian aku dapat lebih waspada guna menanggapi panggilan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43,45-46), bacalah tulisan yang berjudul “BATU YANG DIBUANG TELAH MENJADI BATU PENJURU”  dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kej 37:3-4,12-13,17-28), bacalah tulisan yang berjudul “KISAH YUSUF BIN YAKUB” (bacaan untuk tanggal 9-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 3 Maret 2015  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS