Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

MEMPELAI DATANG! SAMBUTLAH DIA!

MEMPELAI DATANG! SAMBUTLAH DIA!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Jumat, 26 Agustus 2016 

PERUMPAMAAN - SEPULUH PERAWAN“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedang gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam botol mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! Tetapi ia menjawab: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya.” (Mat 25:1-13) 

Bacaan Pertama: 1Kor 1:17-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,10-11 

“Mempelai datang! Sambutlah dia!” (Mat 25:6).

Sebagaimana juga para gadis dalam perumpamaan di atas, kita pun sesungguhnya sedang menanti-nantikan kedatangan sang Mempelai laki-laki yang akan mengundang kita masuk guna turut serta dalam perjamuan nikah-Nya. Dan seperti juga gadis-gadis itu, tidak seorangpun dari kita yang mengetahui kapan Ia akan datang. Namun kita tidak perlu meniru lima orang gadis yang bodoh itu, yang pelitanya padam karena kehabisan minyak. Allah telah memberikan kepada kita pasokan minyak lebih dari cukup agar pelita kita tidak padam – Roh Kudus.

Pada saat kita menerima Sakramen Penguatan, kita diurapi dengan minyak krisma pada saat mana Uskup atau penggantinya mengatakan: “Dimeteraikanlah engkau dengan karunia Roh Kudus”. Hari lepas hari, seberapa lama pun kita harus menantikan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya di dunia, setiap saat kita dapat menghubungi Roh Kudus. Paulus menulis bahwa Allah telah “memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita” (2Kor 1:22). Jadi, kita sungguh dapat mengandalkan Roh Kudus untuk mendapatkan bantuan-Nya kapan saja dan di mana saja.

Roh Kudus senantiasa hadir bagi kita, dan Ia sungguh rindu untuk bekerja dalam kehidupan kita. Roh Kudus adalah Roh Kebenaran yang akan membuat kita memahami sabda Allah dalam Kitab Suci dll. (lihat Yoh 16:13-15). Roh Kudus adalah sang Penolong, yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan akan mengingatkan kita akan semua yang telah Yesus katakan kepada kita (lihat Yoh 14:26), dan Roh Kudus adalah Roh Kasih yang dicurahkan ke dalam hati kita (lihat Rm 5:5) sehingga dengan demikian kita dapat mengasihi orang-orang lain.

Seperti juga minyak mampu melicinkan serta luka-luka di tubuh kita, maka Roh Kudus mampu memulihkan kesehatan kita manakala kita menderita luka-luka karena dosa. Sebagaimana minyak dapat membuat tubuh seorang penggulat menjadi “lentur” sebelum pertandingan, Roh Kudus pun mampu memperkuat kita dalam perjuangan menghadapi berbagai pencobaan dan godaan. Seperti minyak dapat membuat pelita terus menyala, maka Roh Kudus dapat mengobarkan kerinduan kita akan Tuhan.

Selagi kita menantikan sang Mempelai laki-laki, marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar Ia menjaga hati kita untuk tetap berkobar-kobar. “Berjaga-jagalah dengan hati, berjaga-jagalah dengan iman, berjaga-jagalah dengan cintakasih”, demikian tulis Santo Augustinus. “Bersiaplah dengan pelita-pelitamu. Maka, sang Mempelai laki-laki akan merangkulmu dengan penuh kasih dan membawamu ke dalam ruangan perjamuan-Nya, di tempat mana pelitamu tidak pernah akan padam.”

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau berdiam dalam diriku. Kobarkanlah dalam diriku api cintakasih-Mu. Segarkanlah kembali diriku, sehinga dengan demikian aku sungguh siap untuk bertemu dengan Yesus pada saat Ia kembali ke dunia untuk kedua kalinya, yaitu pada akhir zaman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “SEPULUH GADIS” (bacaan tanggal 26-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

Cilandak, 24 Agustus 2016 [Pesta S. Bartolomeus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

YESUS MEMINTA AGAR KITA TERUS BERJAGA-JAGA

YESUS MEMINTA AGAR KITA TERUS BERJAGA-JAGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Kamis, 25 Agustus 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Ludovikus IX [1214-1270], Raja – Orang Kudus Pelindung OFS 

KESIAPSIAGAAN - LUK 12 35-40“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

“Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” (Mat 24:42-51) 

Bacaan Pertama: 1Kor 1:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-7 

Yesus meminta kita terus berjaga-jaga dan siap sedia karena kita sungguh tidak akan mengetahui saat kedatangan-Nya dalam kemuliaan kelak. (Mat 24:42-44). Yesus juga mendorong kita semua untuk terus melayani-Nya, meski dihadapkan dengan berbagai kesulitan dan godaan yang seberat apa pun juga. Dia mengatakan: “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang” (Mat 24:46). Memang perintah Yesus ini tidaklah mudah untuk dilaksanakan. Seperti hal-hal lainnya dalam kehidupan kita, kita pun dapat merasa lelah, kita ingin agar ada orang-orang lain yang menggantikan kita, atau hati kita menjadi ciut manakala hasil kerja itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun Yesus berjanji, apabila kita terus menekuni pekerjaan kita sebagai pelayan-Nya, maka kita semua akan diberkati.

Yesus tergantung kepada kita masing-masing untuk melanjutkan misi-Nya. Dia tidak lagi hadir di tengah-tengah kita secara fisik dan harus menggantungkan diri pada kita sebagai perpanjangan kaki dan tangan-Nya dalam dunia. Bukankah kita disebut ‘tubuh Kristus’? Tanpa keterlibatan kita yang aktif, kerajaan-Nya tidak akan bertumbuh-kembang secara optimal. Allah telah menganugerahkan kepada kita masing-masing seperangkat karunia dan talenta untuk kita gunakan dalam melakukan tugas pelayanan kita, namun kita tetap masih dapat memilih sendiri bagaimana akan menggunakan berbagai karunia dan talenta tersebut. Kita dapat saja menggunakan karunia dan talenta yang dianugerahkan kepada kita itu sebagaimana yang dilakukan “hamba yang jahat” (lihat Mat 24:48), yaitu untuk memuaskan diri-sendiri, atau kita dapat seperti “hamba yang setia dan bijaksana” (lihat Mat 24:45), yang bekerja sama dengan Roh Kudus dalam tugas besar membuat dunia ini siap untuk kedatangan kembali Yesus dalam kemuliaan-Nya pada akhir zaman.

jesus-christ-super-starAllah memanggil kita kepada suatu cara atau gaya hidup yang unik. Dunia mengagung-agungkan sukses dan kenikmatan duniawi tentunya, sehingga fokus perhatian orang-orang adalah pada sukses dan kenikmatan duniawi itu. Akan tetapi, Dia memanggil kita untuk memfokuskan perhatian kita kepada keberadaan kita sebagai “garam bumi” dan “terang dunia”. Yesus mengingatkan kita untuk tetap berjaga-jaga dan siap sedia untuk melayani, menghayati kehidupan kita seakan inilah hari terakhir, bukan karena rasa takut kita sedang tidak siap pada waktu Dia datang kembali, melainkan karena cintakasih kita dan hasrat mendalam untuk mengalami hidup kekal bersama Dia. Selama hidup-Nya di dunia Yesus banyak sekali membuat mukjizat dan tanda heran dan Ia mengatakan bahwa kita akan mampu melakukan bahkan hal-hal yang lebih besar daripada apa yang dilakukan-Nya (lihat Yoh 14:12). Yang harus kita lakukan cukup sederhana, yaitu belajar untuk bekerja sama dengan Roh Kudus dan memperkenankan-Nya membimbing kita dalam perjalanan hidup sehari-hari.

Anda mau pilih menjadi hamba yang seperti apa? Menjadi “hamba yang setia dan bijaksana” atau “hamba yang jahat”? Menjadi “hamba yang setia dan bijaksana” berarti menjadi seorang pribadi yang menyebarkan kebaikan Yesus kepada orang-orang lain. Anda telah dianugerahi kehendak bebas oleh Allah, sehingga sungguh bebas untuk memilih. Namun, ingatlah kata-kata Yesus, bahwa hamba yang didapatinya sedang melakukan pekerjaannya pada waktu Dia datang kembali, akan diberkati-Nya. Oleh karena itu, berjaga-jagalah selalu dan siap sedia. Carilah selalu kesempatan-kesempatan untuk melayani Tuhan kita!

DOA: Tuhan Yesus, aku telah mendengar seruan-Mu untuk tetap berjaga-jaga dan menjadi hamba yang baik dan bijaksana. Dengan pertolongan Roh Kudus-Mu, aku percaya bahwa aku tidak akan mengecewakan Engkau. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 24:42-51), bacalah tulisan yang berjudul “HAMBA YANG SETIA DAN BIJAKSANA” (bacaan tanggal 25-8-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 23 Agustus 2016 [Peringatan B. Berardus dari Offida, Biarawan Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARUS MENGENAKAN PAKAIAN PESTA

HARUS MENGENAKAN PAKAIAN PESTA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Kamis, 18 Agustus 2016)

PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN KAWIN - MENGUNDANG ORANG MISKINLalu Yesus berbicara lagi dalam perumpamaan kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh lagi hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya, hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Lalu pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:1-14) 

Bacaan Pertama: Yeh 36:23-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-15,18-19

Dalam kerahiman-Nya yang berlimpah, Allah telah mengundang semua orang untuk menghadiri pesta perkawinan kerajaan antara Putera-Nya dengan Gereja. Nabi Yesaya mengumumkan undangan Allah ini: “TUHAN (YHWH) semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya” (Yes 25:6). Dalam ‘perumpamaan tentang perjamuan kawin’ hari ini, kita kembali membaca tentang suatu perjamuan kawin yang terbuka untuk semua orang, sebuah pesta di mana tidak seorang pun dikecualikan (Mat 22:1-14).

PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN KAWIN - TANPA BAJU PESTAYesus menekankan bahwa undangan Tuhan itu bukanlah sebuah undangan untuk menghadiri sebuah peristiwa yang akan dihadiri oleh kaum elit saja (jadi, bukan a high-society event). Semua orang diundang tanpa melihat status kehidupan mereka, posisi dalam masyarakat, kekayaan materi, ras, umur dst. Pencampuran kelompok-kelompok sosial merupakan suatu konsep yang radikal pada masa Yesaya, Yesus dan juga pada masa kita. Orang-orang Farisi pada masa Yesus, misalnya memandang hina para pemungut cukai dan pendosa, namun para “pendosa” ini sering diterima oleh Yesus  di depan orang-orang Farisi yang memandang diri paling benar itu (Mat 9:10-12). Pada zaman modern ini, orang-orang yang terdidik dan berkecukupan dalam segi keuangan seringkali menghindar dari Injil, sementara orang-orang miskin dan wong cilik justru memeluk Injil itu dengan penuh gairah.

Dalam Sakramen Ekaristi, Allah mengundang semua orang untuk mencicipi kasih-Nya yang besar dan agung. Selagi kita berpartisipasi dalam liturgi Ekaristi, Allah meningkatkan hasrat kita dan kesiap-siagaan kita dalam menghadapi perjamuan surgawi yang akan datang. Bagaimana kita akan menanggapi undangan Allah untuk perjamuan kawin Putera-Nya? Akankah kita begitu disibukkan dengan berbagai masalah dunia sehingga tidak mudah untuk dapat menerima undangan itu dengan rendah hati? Atau akankah kita menanggapi undangan itu secara spontan dengan hati yang dipenuhi cintakasih dan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia penyegaran-Nya dan kesempatan untuk berdiam dalam rumah-Nya sepanjang masa (Mzm 23:3,6)?

Yesus bersabda: “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (Mat 22:14). Raja menolak orang yang tidak mengenakan pakaian pesta karena orang itu tidak memandang undangannya sebagai suatu kehormatan besar. Artinya, dia tidak peduli untuk “mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef 4:24). Sebaliknya, para tamu yang mengenakan pakaian pesta adalah orang-orang yang dapat mengenali kerahiman (belas kasihan) dan kasih Allah yang berlimpah-limpah sebagai sumber kekuatan dan pengharapan mereka satu-satunya, sehingga dengan demikian mereka sendiri dapat mengenakan baju belas-kasihan Allah ini.

Marilah kita merangkul karunia kasih Allah dan rahmat-Nya dalam Ekaristi Kudus. Dengan melakukannya sedemikian, Ia akan memampukan kita menerima dengan sepenuh hati undangan-Nya untuk bergabung dalam perayaan pesta kawin sang Anak Domba.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar sungguh siap untuk ikut-serta dalam pesta perjamuan surgawi kelak. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu buatlah aku agar tidak ragu menanggapi undangan-Mu. Ingatkanlah aku juga agar tidak lupa mengenakan pakaian pestaku. Amin. 

Catatan: Untuk memperdalam bacaan Injil hari ini (Mat 22:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “BERPAKAIAN DARAH ANAK DOMBA” (bacaan tanggal 18-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 16 Agustus 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAMPUNI DENGAN SEGENAP HATI

MENGAMPUNI DENGAN SEGENAP HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Klara, Perawan – Kamis, 11 Agustus 2016)

Keluarga Fransiskan: Pesta S. Klara dari Assisi, Perawan 

THE UNFORGIVING SERVANTKemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1) 

Bacaan Pertama: Yeh 12:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-59,61-62

Pernahkah kita masing-masing mencoba untuk memahami betapa luas serta mendalam makna segalanya yang terjadi di Kalvari sekitar 2000 tahun lalu? Ambillah waktu untuk merenungkan peristiwa itu, dan janganlah mengambil sikap “minimalis”: cukup sekali saja atau cukup pada masa Prapaskah saja! Allah memberi kesempatan sangat cukup kepada kita dalam kehidupan penuh kesibukan ini. Ia menyediakan waktu yang cukup bagi kita untuk merenungkan peristiwa agung ini.

Di sana, di Kalvari, Yesus menanggung sendiri beban dosa-dosa manusia di seluruh dunia. Setiap dosa manusia yang pernah ada (tidak hanya yang telah diperbuat, melainkan juga yang disebabkan oleh pemikiran, ucapan kata-kata dan kelalaian), setiap dosa yang sekarang dan setiap dosa di masa depan; semua dosa sepanjang zaman telah dipaku di kayu salib dan diampuni oleh Bapa surgawi. Tidak ada seorang pun yang dikecualikan, seperti ditulis oleh Santo Paulus: “Di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka” (1Kor 5:19). Apakah yang menggerakkan Allah untuk begitu bermurah-hati, dengan mengorbankan Putera-Nya sendiri? KASIH !!! Ini motivasi satu-satunya, karena Dia adalah Kasih itu sendiri (lihat 1Yoh 4:8.16). Santo Paulus menulis: “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Itulah sebabnya, mengapa kita berani mengucapkan Pengakuan Iman: “Aku percaya akan …… pengampunan dosa …..” (Syahadat Para Rasul).

Kalau “pengampunan”-Nya telah dimenangkan untuk setiap orang, diberikan tanpa diskriminasi kepada semua orang, siapakah kita ini sampai-sampai tidak mau mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita dalam rupa-rupa bentuknya, misalnya fitnah atau pun “pembunuhan karakter”? Yesus mengajarkan kepada Petrus pelajaran mengenai pengampunan ini lewat sebuah perumpamaan tentang dua macam hutang. Orang pertama adalah seorang hamba raja yang berhutang sangat banyak kepada sang raja, jumlah hutangnya lebih besar daripada total penghasilan sebuah provinsi dalam kekaisaran Romawi dan lebih dari cukup untuk menebus seorang raja yang disandera oleh musuh. Setelah memohon-mohon kepada sang raja, hamba ini pun diampuni karena belas kasihan raja. Namun hamba itu tidak mau mengampuni seorang hamba lain yang berhutang kepadanya dalam jumlah yang jauh lebih sedikit ketimbang hutangnya sendiri kepada raja (catatan: 1 talenta = 6000 dinar).

Mengapa begitu sulit bagi kita untuk mengampuni orang lain? Mungkin karena ada rasa bangga yang terlukai, kemasabodohan, atau pun juga prasangka.  Mungkin karena “kesalahan” dari pihak orang “yang bersalah kepada kita” begitu besar , atau telah melukai kita begitu mendalam. Atau kita sedang menunggu dia datang dan datang mohon maaf dan/atau mohon diampuni dan memberi “ganti-rugi” atas “kejahatan”-nya kepada kita. Kalau kita masih berpikir, bersikap dan berperilaku seperti itu, maka ingatlah bahwa di mata Allah, keadilan tanpa belas kasihan adalah sesuatu yang tidak dapat ditoleransi. Memang kita membutuhkan cukup waktu untuk mengubah pikiran, sikap serta perilaku kita, dan memang hal ini tidaklah mudah. Kita tidak mempunyai opsi lain, kecuali untuk mengampuni.

Tentang pengampunan ini Paus Yohanes Paulus II menulis, “Pengampunan menunjukkan kehadiran kasih yang lebih kuat daripada dosa” (Dives in Misericordia, 7). Belas kasihan Allah tidak diskriminatif, tidak membeda-bedakan orang apakah miskin atau kaya, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, pengemudi angkot atau pengusaha konglomerat, pemeluk agama Kristiani atau bukan dst. Dengan demikian, belas kasihan Allah itu tidak eksklusif, dan Ia pun ingin melihat sikap kita yang tidak “tebang pilih”, selalu inklusif dalam mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Pada waktu Engkau mengajar DOA BAPA KAMI kepada para murid-Mu, Engkau mengatakan: “Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga” (Mat 6:14). Tolonglah aku maju selangkah lagi untuk dapat mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami. Tuhan Yesus, aku ingin seperti Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), bacalah tulisan dengan judul “TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI” (bacaan tanggal 11-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016.

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 8 Agustus 2016 [Peringatan S. Dominikus, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HAMBA YANG SETIA DAN BIJAKSANA

HAMBA YANG SETIA DAN BIJAKSANA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XIX [Tahun C], 7 Agustus 2016 

KESIAPSIAGAAN - LUK 12 35-40Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berilah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di surga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusak ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetuk pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Apabila ia datang pada tengah malam atau pada dini hari dan mendapati mereka berbuat demikian, maka berbahagialah mereka. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Kata Petrus, “Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?” Jawab Tuhan, “Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya, ‘Tuanku tidak datang-datang,” lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan memenggalnya dan membuatnya senasib dengan orang-orang yang tidak setia.

Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya.” (Luk 12:39-48) 

Bacaan Pertama: Keb 18:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1,12,18-20,22; Bacaan Kedua: Ibr 11:1-2,8-19; Bacaan Injil (versi singkat: Luk 12:35-40 

Petrus bertanya kepada Yesus apakah ajaran-Nya tentang pelayanan yang penuh dedikasi dimaksudkan untuk kedua belas murid-Nya saja, atau untuk semua pengikut-Nya (Luk 12:41). Jawaban Yesus bersifat cukup umum sehingga dapat berlaku bagi kedua belas murid-Nya dan juga bagi para pengikut-Nya yang lain; tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari panggilan untuk melayani Yesus Kristus dengan perhatian dan kesiap-siagaan total.

Kata dalam bahasa Yunani untuk hamba/pelayan adalah doulos (Luk 12:43.45.46.47). Seorang doulos dalam zaman Yesus lebih merupakan hamba (dalam arti budak belian) daripada seorang pelayan yang dibayar. Kata doulos ini mengandung arti adanya kepemilikan total di pihak sang tuan, dan hal ini menuntut ketaatan total terhadap kehendak sang tuan. Pelayanan seorang hamba bersifat tak bersyarat dan pengabdiannya kepada sang tuan sudah merupakan suatu asumsi. Dengan menggunakan kata doulos ini, Lukas menggambarkan pelayanan seturut panggilan Allah kepada kita. Dalam segala keadaan –  dalam paroki-paroki, dalam hubungan kita di tempat kerja, dalam keluarga-keluarga kita atau kelompok-kelompok lainnya – Allah menginginkan kita untuk mengkontribusikan waktu, energi, dan pengetahuan kita secara tanpa pamrih. Allah memanggil kita untuk melayani tanpa mengeluh dan tanpa reserve, dengan penuh kasih, memandang lebih jauh daripada kenyamanan kita sendiri, kepada kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain dan keprihatinan-keprihatinan Gereja. Yesus bersabda: “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya” (Luk 12:48). 

Kita telah dibaptis ke dalam kekayaan Kristus, ke dalam warisan yang berlimpah, tetapi yang tidak  hanya dimaksudkan untuk keamanan dan kenyamanan kita sendiri. Yesus telah memberikan segalanya kepada kita sehingga kita dapat mensyeringkan dengan orang-orang lain apa yang kita telah terima itu. Kita dapat saja berpikir bahwa terlalu banyak yang dituntut dari diri kita, namun di sinilah Yesus secara total mentransformasikan konsep pelayanan. Ia memanggil orang-orang untuk memberikan diri mereka sendiri kepada-Nya tanpa syarat, untuk menjadi milik-Nya sebagai umat dan pelayan-pelayan-Nya, hidup guna memenuhi hasrat sang Tuan (Yunani: Kyrios). Namun demikian, pelayanan kepada Kristus tidak bersifat sepihak. Selagi kita memberikan diri kita kepada-Nya, dengan murah-hati Yesus memberikan kepada kita suatu pengetahuan tentang cintakasih dan penyelamatan-Nya. Tuhan Yesus tidak memaksa agar kita bekerja sampai setengah mati karena kelelahan. Yang diminta oleh-Nya adalah agar kita menguduskan hidup kita, seperti yang telah dilakukan-Nya. Dia telah menjanjikan kepada kita, bahwa apabila kita menolak cara-cara kita yang mementingkan diri-sendiri dan kemudian memikul kuk/gandar pelayanan-Nya, maka kita akan mengalami suatu kepenuhan hidup dan damai-sejahtera yang tidak akan pernah kita capai dengan kekuatan sendiri.

DOA:  Tuhan Yesus, perkenankanlah Roh Kudus-Mu membentuk kami menjadi pelayan-pelayan-Mu yang sejati seturut kehendak-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:32-48), bacalah tulisan yang berjudul “MENIMBUN HARTA SURGAWI VS MENIMBUN HARTA DUNIAWI” (bacaan untuk tanggal 7-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 4 Agustus 2016 [Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG KAYA YANG BODOH

ORANG KAYA YANG BODOH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVIII [Tahun C], 31 Juli 2016) 

parable of the rich foolSeorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah  terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21) 

Bacaan Pertama: Pkh 1:2; 2:21-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17; Bacaan Kedua: Kol 3:1-5.9-11

Dalam perumpamaan tentang “Orang kaya yang bodoh”, Yesus menunjukkan bahwa hidup sejati bukan berarti memiliki harta milik dengan berkelimpahan, akan tetapi kaya di mata Allah. Rasul Paulus juga menunjukkan hal yang sama ketika dia berkata: “Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi” (Kol 3:2).

Cinta akan harta milik duniawi – dan hasrat yang tak kunjung henti untuk memperoleh lebih banyak lagi harta duniawi – hanya akan merugikan dalam jangka panjang. Yesus tahu bahwa semakin jelas kita memahami siapa diri kita ini sebenarnya dan mengapa kita ada di sini, semakin penuh pula kita akan mencari harta hidup surgawi bersama Dia.

jesus-christ-super-starOrang kaya dalam perumpamaan Yesus di atas terlambat belajar bahwa kepemilikan harta duniawi tidak akan pernah mampu memberikan hidup sejati. Tentu saja, harta milik duniawi kita adalah anugerah dari Allah – berbagai sumber daya untuk mana Dia menginginkan kita menjadi pengurus yang baik. Kalau Allah memberkati kita dengan barang-barang duniawi secara berkelimpahan, kita harus bersyukur kepada-Nya dan berupaya untuk menggunakan semua itu dengan cara terbaik dalam melayani-Nya dan orang-orang lain. Selagi kita belajar menjadi “kaya di hadapan Allah”1) dengan cara ini (Luk 12:21), hati kita pun dapat menjadi lebih terbuka bagi kasih Yesus dan kita pun dapat dipenuhi dengan harta kekayaan kerajaan Allah.

Harta kekayaan yang paling agung yang dapat kita terima adalah anugerah Roh Kudus, karena Roh Kuduslah yang memimpin kita kepada kekayaan kerajaan Allah. Melalui Roh Kudus, kita dapat belajar bagaimana menempatkan kasih akan Allah dan kasih akan sesama lebih dahulu dari cinta-diri dan keuntungan-keuntungan duniawi. Roh Kudus dapat mengajar kita untuk pertama-tama mencari kerajaan Allah dan mempercayai bahwa Bapa surgawi yang penuh kasih akan menyediakan bagi kita segalanya yang kita perlukan di dunia ini (Mat 6:33). Ada tiga hal yang sungguh bertahan lama, yaitu iman, harapan dan kasih (1Kor 13:13). Apabila kita dipenuhi dengan anugerah-anugerah Allah yang tak ternilai harganya ini, maka pasti kita tak akan kekurangan sesuatu pun.

DOA: Roh Kudus Allah, datanglah memasuki hidup kami dengan lebih penuh lagi; ajarlah kami untuk menghargai kekayaan kerajaan Allah dan kemudian memilikinya. Tolonglah kami untuk mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain, sebelum kebutuhan-kebutuhan kami sendiri. Jagalah kami agar  selalu memusatkan perhatian kami pada hal-hal yang di atas, bukan hal-hal dunia ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21),  bacalah tulisan yang berjudul “KAYA DI HADAPAN ALLAH” (bacaan tanggal 31-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009)

Cilandak, 27 Juli 2016 [Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

1) Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan “kaya di hadapan Allah” (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam “Sabda Bahagia” terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan “kaya di hadapan Allah” di atas.

PADA AKHIR ZAMAN ORANG JAHAT DIPISAHKAN DARI ORANG BENAR

PADA AKHIR ZAMAN ORANG JAHAT DIPISAHKAN DARI ORANG BENAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Kamis, 28 Juli 2016) 

TANGKAPAN IKAN LUK 5“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53) 

Bacaan Pertama:Yer 18:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2-6

Apa kiranya yang akan kita rasakan pada saat ajal kita tiba? Apakah kita dibebani dengan rasa takut tak terhingga berkaitan dengan apa yang akan terjadi dengan diri kita? Atau akankah kita penuh dengan antisipasi pada pemikiran bahwa sebentar lagi kita bertemu dengan Tuhan secara face to face, muka ketemu muka? Nah, jawaban kita akan banyak mengungkapkan status atau kondisi iman kita. Tanpa iman yang kuat pada kasih Allah dan kerahiman-Nya, kita dapat menjadi takut. Kita dapat merasa takut tidak ada apa-apa lagi setelah kematian kita, atau lebih buruk lagi …… akan terjadi penghakiman yang keras atas kehidupan kita.

Yesus mengakhiri rangkaian pengajaran yang terdiri dari tujuh perumpamaan dengan kalimat tentang “akhir zaman” (Mat 13:49-50). Kata-kata Yesus tidak meninggalkan rasa ragu sedikit pun bahwa akan ada pengadilan terakhir kelak, ketika Dia datang kembali dalam kemuliaan. “Katekismus Gereja Katolik” (KGK) mengatakan, bahwa “pengadilan terakhir akan membuka sampai ke akibat-akibat yang paling jauh, kebaikan apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh setiap orang selama hidupnya di dunia ini” (KGK, 1039). Walaupun terdengar menakutkan, kita harus ingat juga bahwa “pengadilan terakhir akan membuktikan bahwa keadilan Allah akan menang atas segala ketidakadilan yang dilakukan oleh makhluk ciptaan-Nya, dan bahwa cintakasih-Nya lebih besar daripada kematian” (KGK, 1040).

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Kematian dan penghakiman adalah topik-topik yang biasanya dihindari oleh sebagian besar orang. Namun kita pun kiranya memahami bahwa dua hal tersebut akan terjadi atas diri kita masing-masing. Jadi, kembali di sini muncul masalah pilihan. Life is a choice, hidup adalah pilihan! Kita dapat menghayati suatu kehidupan yang mempersiapkan tujuan kekal kita, atau kita dapat memperkenankan tuntutan-tuntutan sehari-hari kehidupan kita menjadi pusat perhatian kita sehingga dengan demikian mengaburkan masa depan kita. Pengadilan/penghakiman terakhir pada hakikatnya adalah suatu panggilan untuk melakukan pertobatan. Allah ingin agar kita termasuk golongan orang-orang benar, dan untuk itu Dia memberikan kepada kita segala kesempatan/peluang untuk datang kepada-Nya dalam doa dan pertobatan. Ia mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk mati di kayu salib bagi kita sehingga kita dapat menikmati kehidupan kekal-abadi.

Apabila kita telah mengalami kehadiran Allah dalam kehidupan kita di dunia dan kita sungguh telah bertobat dari dosa-dosa kita, maka kita dapat percaya bahwa kerahiman atau belas-kasih Allah akan membawa kita ke dalam kehadiran-Nya yang abadi di surga. Selagi kita mencari Yesus dalam doa, Dia akan memberikan kepada kita suatu perspektif ilahi dan menolong kita untuk memusatkan pandangan kita pada akhir zaman, pada saat mana kita akan dipersatukan dengan diri-Nya untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Tuhan untuk meningkatkan iman kita agar pada saat kematian kita, kita akan sungguh menyadari tanpa ragu sedikit pun, bahwa Tuhan Yesus sedang menanti-nanti untuk menyambut kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah jalan, kebenaran dan hidup. Usirlah rasa takut kami akan kematian dan penghakiman/pengadilan terakhir. Kami menyadari bahwa Engkau adalah Tuhan Allah yang penuh kasih dan kami sungguh rindu untuk memandang-Mu muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:47-53), bacalah tulisan yang berjudul  “YANG BERGUNA ATAU YANG TIDAK BERGUNA” (bacaan tanggal 28-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 26 Juli 2016 [Peringatan S. Yoakim dan Anna, Orangtua SP Maria]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS