Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

DIBERI BANYAK, DITUNTUT BANYAK PULA

DIBERI BANYAK, DITUNTUT BANYAK PULA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Rabu, 23 Oktober 2013)

Peringatan/Pesta Santo Yohanes dr Kapestrano, Imam – Saudara Dina, Pelindung para Pastor/Perawat Rohani Angkatan Bersenjata

KESIAPSIAGAAN - LUK 12 35-40Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” Kata Petrus, “Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?” Jawab Tuhan, “Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya, ‘Tuanku tidak datang-datang,’ lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan memenggalnya dan membuatnya senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya.” (Luk 12:39-48)

Bacaan Pertama: Rm 6:12-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:1-8

“Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya” (Luk 12:48).

Inilah kalimat terakhir dari Bacaan Injil hari ini. Aplikasinya secara langsung berkaitan dengan tanggung-jawab para pemimpin agama kepada siapa Yesus Kristus memberikan lebih banyak rahmat, namun Ia juga mengharapkan lebih dari mereka dibandingkan dengan orang-orang biasa.

Kita juga dapat dan harus menerapkan kata-kata ini atas banyak karunia yang telah kita terima dari Allah. Kita telah diberkati secara berlimpah dalam hal materi. Kristus menginginkan kita menggunakan hal-hal baik ini, karena Allah menciptakan semua itu dan semuanya baik. Akan tetapi, hanya sebagian saja dari yang baik-baik itu kita gunakan secara bertanggung-jawab. Cara kita menggunakan karunia-karunia Allah ditentukan oleh komitmen dan sikap dasar kita terhadap Allah dan sesama kita.

Sikap dasar ini harus kelihatan nyata dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak demikian halnya, maka tidak riil jadinya. Ini bukanlah sekadar masalah doa-berdoa. Sebagian jalan menuju Allah adalah melalui dunia, dunia kerja, kehidupan keluarga, orang-orang yang tinggal dekat dengan rumah kita. Mengapa? Karena di area-area inilah kita menggunakan karunia-karunia Allah dan mengembalikan karunia-karunia itu kepada-Nya seturut tuntutan-Nya.

Kekayaan-kekayaan kita, talenta-talenta kita, berbagai energi dan upaya kita, semuanya adalah karunia dari Allah. Kita harus memberi sesuai dengan apa yang telah kita terima. Sesama kita membutuhkan kita. Apabila kita memiliki lebih daripada yang secara wajar kita butuhkan, maka orang-orang miskin mempunyai hak atas “surplus” kita. Apabila kita memiliki talenta dalam bidang kepemimpinan, maka komunitas kita harus merasakan manfaat dari kualitas-kualitas kepemimpinan yang kita miliki. Kita harus memberikan kontribusi bagi perkembangan dunia ciptaan melalui kerja yang energetik dan penuh gairah. Ini adalah bagian dari rencana Allah.

Kita harus menempatkan semangat dari bacaan Injil hari ini ke dalam praktek kehidupan kita sehari-hari. Marilah kita menanggapi pesan Kristus dan memberi sesuai dengan ukuran berapa yang telah kita terima.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah memenuhi diri kami dengan berkat melimpah. Semua kerja kami adalah untuk kemuliaan-Mu dan puji-pujian bagi-Mu, juga untuk membangun umat-Mu dalam Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 6:12-18), bacalah tulisan yang berjudul “HENDAKLAH DOSA JANGAN BERKUASA LAGI DI DALAM TUBUHMU YANG FANA” (bacaan untuk tanggal 23-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 12:39-48), bacalah juga tulisan yang berjudul “PENGURUS RUMAH YANG SETIA DAN BIJAKSANA” (bacaan tanggal 19-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 14 Oktober 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HAI ENGKAU YANG BODOH!

HAI ENGKAU YANG BODOH!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Senin, 21 Oktober 2013)

Ordo Santa Ursula (OSU): HARI RAYA SANTA URSULA

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASSeorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21)

Bacaan Pertama: Rm 4:20-25; Mazmur Tanggapan: Luk 1:1:69-75

Harta kekayaan terbesar apakah yang dapat dimiliki oleh seseorang? Dalam perumpamaan ini, tuan tanah kaya begitu jauh dari jawaban benar sehingga Allah memberikan kepadanya teguran yang mengagetkan: “Hai engkau yang bodoh” (Luk 12:20). Biasanya kita membaca firman Allah ini sebagai suatu penghinaan. Tetapi barangkali firman Allah ini dimaksudkan lebih sebagai suatu ratapan – suatu ungkapan rasa sedih karena kebutaan “orang-orang bodoh” yang “menghina hikmat dan didikan” (Ams 1:7). Barangkali Allah bersabda: “Aku ingin agar engkau hidup berbahagia dan mengalami sukses yang benar! Betapa pedihnya melihat anda mencari sesuatu yang berbahaya dan bodoh bagi hidup anda, bukannya sesuatu yang baik!”

Mengapa Yesus menggambarkan si tuan tanah kaya sebagai seorang yang tidak bijaksana atau bodoh? Bukan untuk kerajinannya berusaha, melainkan untuk egoisme dan ketamakannya. Seperti dalam perumpamaan Yesus lainnya, yaitu tentang “Lazarus dan seorang kaya” (Luk 16:19-31), orang kaya dalam perumpamaan Yesus Injil hari ini telah kehilangan kapasitasnya untuk berbelas-kasih dan berbela-rasa dengan orang-orang lain. Hidupnya habis dipakai untuk mengurusi kepemilikannya, harta-kekayaannya; dan kepentingannya hanyalah dirinya sendiri. Kematiannya adalah kehilangan jiwanya yang bersifat final.

PERUMPAMAAN TTG ORANG KAYA YANG BODOHPerumpamaan Yesus tentang orang kaya yang bodoh ini adalah sebuah pelajaran mengenai kepemilikan. Yesus mengingatkan kita agar tidak menjadi posesif. Pada saat bersamaan Ia berjanji kepada kita bahwa Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang mencari harta dalam diri-Nya. Allah itu murah hati, dan Ia menginginkan agar kita menaruh kepercayaan kepada penyelenggaraan ilahi-Nya. Itulah sebabnya mengapa mengatakan kepada kita untuk tidak perlu merasa susah atau khawatir tentang hidup kita, karir kita atau masa depan kita (Luk 123:22-31). Yesus menawarkan kepada kita jaminan tentang kebutuhan kita sehari-hari, sementara mengajak kita untuk memusatkan perhatian kita pada sebuah harta-kekayaan yang tak ternilai, yaitu suat5u hidup berkelimpahan dan kebahagiaan bersama Allah, sekarang dan selama-lamanya.

Sekarang, di manakah harta-kekayaan kita (anda dan saya)? Dapatkah kita dengan rendah hati memperkenankan Yesus menjamah hati kita, pusat dari segala hasrat dan kerinduan kita, pusat dari kehendak dan fokus kita? Apa saja yang paling menjadi pusat perhatian dalam hati kita adalah harta-kekayaan kita yang paling tinggi. Apakah Yesus Kristus merupakah harta-kekayaan kita yang paling tinggi?

DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah diriku dari keinginan untuk memiliki harta kekayaan dunia sebanyak-banyaknya, sehingga dengan demikian aku dapat mengenal dan mengalami sukacita karena mempunyai Engkau sebagai harta kekayaanku. Anugerahkanlah kepadaku sebuah hati yang pemurah. Tolonglah aku agar dapat menggunakan dengan baik segala berkat-berkat materiil yang telah Engkau anugerahkan kepadaku untuk kemuliaan-Mu dan kebaikan bagi orang-orang lain, teristimewa mereka yang membutuhkan pertolongan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “…… JIKALAU IA TIDAK KAYA DI HADAPAN ALLAH” (bacaan tanggal 21-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “ORANG KAYA YANG BODOH” (bacaan tanggal 17-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Catatan tambahan: Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam ‘Sabda Bahagia’ terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ di atas.

Cilandak, 13 Oktober 2013 [HARI MINGGU BIASA XXVIII]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERDOA TANPA JEMU-JEMU

BERDOA TANPA JEMU-JEMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIX – 20 Oktober 2013)

HARI MINGGU EVANGELISASI

HAKIM YANG JAHAT DAN SANG JANDAYesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Katanya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang yang datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8)

Bacaan Pertama: Kel 17:8-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 121:1-8; Bacaan Kedua: 2Tim 3:14-4:2

Sadar akan kenyataan bahwa dia tidak mempunyai seorang pelindung laki-laki dan juga berbagai sumber daya yang diperlukannya, janda dalam perumpamaan ini mencari seseorang yang dapat menolongnya. Kenyataan bahwa ada “seseorang” seperti hakim itu tidak menghalangi janda itu sedikit pun untuk mendatanginya dan mohon pertolongan dari sang hakim. Bagaimana pun juga dia cuma datang agar hak-haknya dibela. Keyakinan kuat dari janda itu akan apa yang benar dan salah memberinya keberanian. Dia tidak pernah terganggu oleh rasa waswas dan takut, tetapi terus maju sampai tercapai keadilan.

Pelajarannya bagi kita jelas: Kalau seorang pribadi yang lemah tetapi pantang menyerah dapat “memaksa” seorang hakim seperti itu agar membuat suatu keputusan yang adil, betapa yakin kita semua bahwa Allah yang Mahaadil akan campur tangan dalam perkara mereka yang datang kepada-Nya mohon pertolongan dan “siang malam berseru kepada-Nya”! Yesus meyakinkan kita, Ia akan segera membenarkan mereka” (Luk 18:7.8).

Segera? Ini bukanlah kata yang akan dipilih oleh kebanyakan dari kita untuk menggambarkan bagaimana Allah menjawab doa-doa kita. “Di mata Allah seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam” (Mzm 90:4). Namun bagi kita satu hari dapat terasa seperti seribu tahun lamanya – teristimewa pada waktu kita menantikan jawaban Allah atas doa-doa kita. Akan tetapi di sisi lain, “penundaan” ini memberi keuntungan bagi kita, dalam arti memberikan kesempatan berulang-ulang kepada kita untuk mengangkat pikiran dan hati kita dan mempersembahkan semua itu kepada Bapa surgawi. Allah Bapa tentu sangat mengetahui apa yang kita butuhkan sebelum kita minta, namun melalui doa kita yang tidak kenal lelah kita menerima lebih daripada yang kita harapkan atau impikan. Doa memperluas harapan-harapan kita.

Perumpamaan ini mengajak kita untuk “selalu berdoa tanpa jemu-jemu” (Luk 18:1). Perumpamaan ini mendesak kita untuk tidak memusatkan perhatian atas keterbatasan-keterbatasan kita, tetapi untuk dengan berani datang kepada hadirat Bapa untuk menghaturkan doa-doa syafaat bagi orang-orang lain, keluarga kita, negara dan bangsa kita, situasi dunia dll. dan bahkan bagi para musuh dan lawan kita. Bapa surgawi senang kalau kita bergabung dengan Putera-Nya dan semua malaikat dan orang kudus yang berseru kepada-Nya siang dan malam, karena tahu bahwa Dia akan datang membawa keadilan. Selagi kita berdoa seperti ini, Dia akan menjawab doa-doa kita dalam cara-cara yang tak pernah mampu kita bayangkan. Dalam proses itu, Dia akan membentuk kita ke dalam umat yang dipenuhi iman, yang akan dicari oleh Anak Manusia pada saat Ia datang lagi ke bumi (Luk 18:8).

DOA: Terima kasih Bapa surgawi karena Engkau mendengarkan seruanku. Engkau adalah Tuhan atas segala ciptaan dan penjaga jiwaku. Engkau tidak pernah tertidur. Aku menaruh kepercayaanku sepenuhnya dalam diri-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “DOA ADALAH AWAL DARI KEHIDUPAN SURGAWI” (bacaan tanggal 20-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG HAKIM YANG TIDAK ADIL” (bacaan tanggal 14-11-09) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 13 Oktober 2013 [HARI MINGGU BIASA XXVIII]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KASIH BAPA SURGAWI KEPADA KITA

KASIH BAPA SURGAWI KEPADA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 10 Oktober 2013)

LUKE 11 5-13Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13)

Bacaan Pertama: Mal 3:13-20a; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6

Di sini Yesus mengajar tentang kebutuhan bagi para murid-Nya untuk bertekun dalam doa, yakin sepenuhnya akan karunia Roh Kudus dari Bapa surgawi kepada mereka yang meminta.

Pernahkah kita berhenti sebentar dari kesibukan rutin kita sehari-hari dan berpikir betapa indahnya kehidupan kita karena Allah mengasihi kita? Bapa surgawi melihat semua ketidaksempurnaan kita dan pikiran kita yang suka mendua dan “akal-akalan”. Ia mengetahui sekali segala kekecewaan hidup dan luka-luka batin kita, ketidaksetiaan kita dan pergumulan-pergumulan batin kita. Namun demikian, Ia tetap mengasihi kita lebih daripada seorang ayah biasa (manusia) mengasihi anak-anaknya. Allah ingin memelihara kita dengan penuh kasih sayang lebih daripada para ibu yang menyayangi anak-anak mereka. Siapakah yang dapat memahami sepenuhnya kasih Allah yang sedemikian? Siapakah yang pernah secara sempurna merefleksikan kemurahan-hati Allah yang sedemikian?

Apabila Allah mengetahui segalanya yang kita butuhkan, mengapa Yesus mengajarkan para murid-Nya untuk meminta, mencari dan mengetuk? Apakah hal ini guna mengingatkan Allah akan sesuatu yang Ia telah lupakan? Rasa-rasanya bukan itulah kasusnya karena Allah itu mahatahu, bukan? Doa-doa dan permohonan-permohonan kita mengingatkan betapa dalam kita membutuhkan pertolongan-Nya. Doa-doa dan permohonan-permohonan kita itu merupakan bukti nyata bahwa kita tidaklah “mandiri”, melainkan kita sungguh tergantung pada Bapa kita di surga.

Apabila kita “berhemat” (atau “kikir”?) dengan doa-doa kita, artinya hanya berdoa untuk sesuatu yang sungguh istimewa, atau hanya berpaling kepada-Nya jika kita sedang berada dalam situasi-situasi yang ekstrim saja, maka kita sungguh “tidak menghormati Allah” dan hal tersebut sangat merugikan diri kita sendiri.

Para orangtua pada umumnya mengetahui bahwa ketika anak-anak mereka masih kecil, maka anak-anak itu meminta segala hal. Anak-anak itu tidak membedakan antara permintaan-permintaan besar atau permintaan-permintaan kecil. Hanya apabila mereka telah bertambah umur – dan barangkali bertambah sinis – maka mereka belajar untuk hanya meminta sesuatu yang sungguh-sungguh istimewa. Anak-anak itu mencari berbagai jalan agar dapat memperoleh apa yang mereka inginkan (untuk memperoleh uang saku yang lebih besar) dengan menawarkan berbagai jasa, misalnya membantu mengasuh adiknya yang lebih kecil, memotong rumput di pekarangan dlsb. Memang dengan begitu anak-anak belajar tentang tanggung-jawab pribadi mereka masing-masing, namun tidakkah kita memiliki kerinduan akan masa-masa ketika anak-anak itu masih kecil-kecil dan sepenuhnya bergantung pada kita sebagai orangtua?

Allah menginginkan agar kita terus datang kepada-Nya secara innocent sebagai anak-anak kecil yang datang meminta sesuatu kepada orangtua mereka. Allah tidak akan berhenti memperhatikan kita dan dengan penuh kasih sayang memberikan hal-hal yang baik kepada kita. Pengorbanan dari Anak-Nya yang tunggal di atas kayu salib merupakan suatu bukti nyata dari kasih-Nya kepada kita. Sebenarnya Allah dapat meninggalkan kita dan Ia tidak perlu menyelamatkan kita-manusia yang sudah bergelimang dalam dosa. Hanya karena kasih-Nya yang penuh kemurahan hati bagi kitalah maka Dia memperkenankan Anak-Nya untuk mati sebagai penebus kita.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Bapa terbaik yang pernah kami kenal, Abba, ayah tercinta. Engkau mengasihi kami jauh melebihi ekspektasi kami. Telinga-Mu senantiasa terbuka untuk mendengarkan permintaan-permintaan kami, bahkan permintaan kecil sekalipun. Kami menaruh segala kebutuhan kami di hadapan-Mu sekarang, dengan penuh keyakinan bahwa Engkau akan melakukan apa yang terbaik bagi kami dan seturut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:5-13), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH YANG SENANTIASA BERMURAH HATI” (bacaan tanggal 10-19-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “IA AKAN MEMBERIKAN ROH KUDUS KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA” (bacaan tanggal 6-10-11) dalam situs/blog SANG SABDA. Juga tulisan dengan judul “MINTALAH, CARILAH, KETUKLAH !!!” (bacaan tanggal 6-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 6 Oktober 2013 [HARI MINGGU BIASA XXVII]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI SESAMA DARI ORANG-ORANG YANG MENDERITA

MENJADI SESAMA DARI ORANG-ORANG YANG MENDERITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu Rosario – Senin, 7 Oktober 2013)

044-044-TheGoodSamaritan-full

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37)

Bacaan Pertama: Yun 1:1-2:1,11; Mazmur Tanggapan: Yun 2:2-5,8

Walaupun niat si ahli Taurat adalah untuk mencobai Yesus, kiranya kita perlu berterima kasih kepadanya, karena dialah yang bertanya kepada Yesus tentang “siapakah sesama kita”, dan jawaban Yesus kepadanya mengambil bentuk sebuah perumpamaan yang sangat menyentuh hati dan sangat instruktif serta jelas-gamblang: “Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati”. Perumpamaan ini dengan terang-benderang mencerahkan pemikiran kita tentang kasih Kristiani yang sesungguhnya. Perumpamaan Yesus ini mengkonfrontasikan kita dengan pertanyaan apakah kita juga adalah orang-orang Samaria yang baik hati.

Kita tahu tentang hukum kasih. Kita juga mengetahui bahwa vonis yang dijatuhkan sang Hakim Agung pada pengadilan terakhir akan tergantung pada kasih kita kepada sesama kita. Jadi, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita biasanya bersikap dan berperilaku sebagai “orang-orang Samaria yang baik hati” terhadap sesama kita yang sudah lansia, yang sedang sakit, yang miskin? Ataukah kita dengan cepat melewati “orang-orang susah” itu seakan-akan tidak melihat mereka, tidak merasa bahwa mereka membutuhkan pertolongan kita, tentunya dengan dalih-dalih atau alasan-alasan guna mendukung sikap kita yang “tidak mau tahu” dan tentunya perilaku kita sebagai pengungkapan sikap kita. “Biarlah orang lain menolong orang-orang itu. Saya masih sibuk sekarang – Saya masih mempunyai keluarga saya sendiri untuk diperhatikan – Saya akan terlambat sampai ke kantor dan terkena hukuman seandainya saya menolong orang yang terkapar di pinggir jalan itu.” Wah, banyak sekali dalih atau alasan berisikan kebohongan – dari yang berbobot ringan sampai berat – yang dapat dikemukakan.

Banyak orang-orang Kristiani “baik-baik”, yang ketika mendengarkan khotbah tentang Sengsara dan Salib Kristus, menjadi berbela-rasa dan mengatakan kepada Tuhan Yesus bahwa mereka akan melakukan apa saja untuk meringankan penderitaan-Nya. Tuhan Yesus memberikan kepada mereka tes atas ketulusan mereka ketika Dia mengatakan kepada kita, “Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (Mat 25:45).

“Orang-orang yang paling hina” di mata Yesus; mereka yang lapar, yang miskin, dlsb. tidak sulit untuk ditemukan di sekeliling kita dan tidak sulit juga untuk dijangkau oleh setiap orang Kristiani yang berkehendak baik. Masalahnya bukanlah jumlah uang atau waktu yang kita abdikan untuk menolong, menghibur mereka yang sedang mengalami berbagai kesusahan. Pengorbanan yang kita buat dari berbagai berkat yang Allah telah berikan kepada kita, inilah yang penting. Bahkan yang paling miskin ataupun yang paling sibuk sekalipun di antara kita dapat menemukan kesempatan untuk menolong seseorang yang dibutuhkan. Kita semua dapat dan harus menjadi orang-orang Samaria yang baik. Ini tidak dapat ditawar-tawar lagi, karena inilah yang diajarkan oleh Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita sendiri. Dari ke waktu Allah akan memberikan kepada kita moments of truth, saat-saat di mana kita dapat membuktikan sendiri siapa diri kita sebenarnya: si imam, si orang Lewi atau “orang Samaria yang baik hati”.

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh berbahagia penuh syukur karena Kaupercayakan sebagai saluran-saluran kasih-Mu dan berkat-berkat-Mu, juga untuk menjadi sentuhan tangan-tangan-Mu yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:25-37), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG SAMARIA YANG MURAH HATI” (bacaan tanggal 7-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI” (bacaan tanggal 3-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 5 Oktober [Keluarga Fransiskan: Peringatan Arwah semua saudara, sanak saudara, dan penderima)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMI HAMBA-HAMBA YANG TIDAK BERGUNA

KAMI HAMBA-HAMBA YANG TIDAK BERGUNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVII [Tahun C] – 6 OKTOBER 2013)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIALalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak tanah atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepda hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata; Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” (Luk 17:5-10)

Bacaan Pertama: Hab: 1:2-3; 2;2-4; Mzm 95:1-2, 6-9; Bacaan Kedua: 2Tim 1:6-8, 13-14

Menurut Yesus, iman – betapa pun kecilnya – adalah kunci yang membuka kuasa dari surga. Kuasa ini, tentunya, bukanlah suatu kekuatan yang dapat kita manipulasikan seturut keinginan atau kesukaan kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa Yesus menggambarkan hati dari orang-orang yang mengenal dan mengasihi Bapa-Nya: Mereka memandang diri mereka sendiri sebagai “hamba-hamba yang tidak berguna” (Luk 17:10).

Ide sebagai “hamba-hamba yang tidak berguna” pada awalnya tentu terasa keras. Apakah Yesus benar-benar menginginkan kita untuk merasa tidak berguna, tidak berarti? Bukan begitu! Allah menciptakan kita dalam kasih, dan Ia sendiri melihat kita “sungguh amat baik” (Kej 1:31). Yesus memberikan perumpamaan ini sebagai potret seorang hamba yang begitu berdedikasi kepada tuannya dan mencintai tuannya itu dengan mendalam, sehingga dia melayani dan sungguh menghormatinya. Hamba ini tidak puas dengan hanya melakukan “persyaratan minimum” tugas pekerjaannya, tetapi dia ikhlas untuk membuang segalanya demi menyenangkan tuannya.

Kerendahan hati atau kedinaan sedemikian – yang membuka kunci kuat-kuasa Allah dalam hidup kita – datang selagi kita memohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita dengan lebih mendalam lagi akan keagungan, kesempurnaan, dan kekudusan Allah yang kita layani. Pernyataan/perwahyuan ini dapat mengubah hidup kita dan menggerakkan kita untuk memberikan keseluruhan hidup kita kepada-Nya. Kebaikan-Nya kepada kita dapat mencairkan hati kita: Dia mengetahui semua dosa dan kelemahan kita, namun Ia mengasihi kita secara lengkap dan tanpa syarat sedikit pun. Allah adalah Tuhan yang harus kita layani dengan penuh syukur dan kasih, bukan dengan rasa takut dan rasa benci terhadap diri kita sendiri karena dosa-dosa kita.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus, “Kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor 5:14-15). Hidup untuk Kristus akan menempatkan kita pada posisi yang sangat dekat dengan hasrat-hasrat-Nya. Sebagai akibatnya, doa-doa kita dan kata-kata kita akan mengalir dari kehendak-Nya dan hati-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, keagungan-Mu memenuhi surga dan bumi, namun Engkau merendahkan diri-Mu demi menyelamatkan diriku dari maut karena dosa-dosaku. Engkau layak dan pantas untuk menerima semua afeksi dan ketaatanku. Tuhan Yesus, dengan rendah hati aku memberikan kepada-Mu seluruh hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:5-10), bacalah tulisan yang berjudul “TAMBAHKANLAH IMAN KAMI !!!” (bacaan tanggal 6-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAHOKTOBER 2013.

Cilandak, 3 Oktober 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK HANYA KESAKSIAN MUSA DAN PARA NABI

TIDAK HANYA KESAKSIAN MUSA DAN PARA NABI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI [Tahun C] – 29 September 2013)

LAZARUS DAN ORANG KAYA LUK 16“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak Bapak Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31)

Bacaan Pertama: Am 6:1a,4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:1-10; Bacaan Kedua 1Tim 6:11-16

Abraham mengatakan kepada orang yang kaya itu bahwa mukjizat yang paling spektakuler sekali pun tidak akan mampu untuk mengubah hati atau pikiran orang. Hanya sabda Allah sajalah yang dapat melakukannya. “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Luk 16:31). Tujuan Yesus mengatakan ini adalah untuk menggaris-bawahi adanya suatu kuat-kuasa riil dalam sabda Allah. Apabila kita sungguh mendengarkan sabda Allah itu, jika kita mengesampingkan ide-ide dan hasrat-hasrat kita sendiri, maka Kitab Suci dapat mengubah diri kita secara mendalam.

LECTIO DIVINAMendengarkan sabda Allah dalam Kitab Suci dengan cara yang dapat mengubah hati kita menyangkut lebih daripada sekadar membaca dan/atau mendengar sabda Allah. Bagaimana pun juga orang kaya dalam perumpamaan ini mempunyai Kitab Taurat dan Kitab para Nabi, dan hal itu tidak membuat perubahan atas dirinya. Untuk mendengar sabda Allah, pertama-tama kita harus menenangkan hati dan pikiran kita. Kita harus membuat hening segala macam suara/kebisingan yang dapat dengan cepat menjadi distraksi/pelanturan: pikiran-pikiran tentang hal-hal lain apa saja yang harus kita lakukan, apa saja yang ingin kita lakukan, atau apa saja yang kita telah lupa lakukan. Yang diminta oleh Allah hanyalah bahwa kita memusatkan perhatian kita kepada-Nya untuk hanya beberapa menit lamanya.

Apabila kita telah menenangkan pikiran kita dengan cara begini, janganlah merasa terkejut untuk menemukan rasa bersalah, kemarahan, penolakan, atau dosa yang selama ini terhambat atau tertutupi oleh urusan-urusan lain sehari-hari dan tidak dapat muncul ke atas permukaan dengan segera. Sesungguhnya ada banyak sekali “jaringan laba-laba” yang harus dibersihkan terlebih dahulu melalui pertobatan. Pertobatan akan menghancurkan berbagai halangan yang berdiri antara kita dan Allah. Pertobatan membebaskan diri kita untuk mendengar dari Dia tanpa gangguan atau distorsi dan memampukan kita untuk membuka hati kita lebar-lebar guna menerima sabda-Nya.

Sekarang, kitapun siap untuk memohon kepada Roh Kudus untuk berbicara kepada kita selagi kita membaca Kitab Suci. Kita harus membacanya dengan tidak terburu-buru. Baiklah bagi kita untuk berhenti bilamana ada sepatah kata atau frase yang menarik perhatian kita, atau katakalah menyentuh hati kita. Sekali-kali kita harus berhenti dan memohon kepada Roh Kudus untuk membantu kita memahami apa yang dikatakan-Nya kepada kita. Kita harus menaruh kepercayaan bahwa Dia akan menjawab. Walaupun apa yang dikatakan Roh Kudus itu tidak menyenangkan, kita harus menyadari bahwa hal itu adalah demi kebaikan kita (lihat Yer 29:11). Apabila kita mencoba cara ini setiap hari sepanjang dua minggu, maka berkat Tuhan kita akan merasakan adanya perubahan dalam hati kita. Kita tidak hanya memiliki Musa dan para nabi, melainkan juga Yesus dan Roh Kudus. Biarlah kata-kata mereka merobek hati kita.

DOA: Roh Kudus Allah, berikanlah kepadaku telinga untuk mendengar Engkau, agar aku dapat mengenal Engkau dan mengasihi Engkau dan melayani Engkau hari ini dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN” (bacaan tanggal 29-9-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-6-10) dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 25 September 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers