Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

KARENA SATU ORANG BERDOSA YANG BERTOBAT

KARENA SATU ORANG BERDOSA YANG BERTOBAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Kamis, 7 November 2013)

DOMBA YANG HILANG LUK 15Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:1-10)

Bacaan Pertama: Rm 14:7-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menggerutu, bersungut-sungut di antara mereka sendiri melihat bahwa Yesus akrab dengan orang-orang berdosa; bahkan makan bersama-sama dengan mereka. Implikasi dari pandangan seperti ini adalah bahwa apabila Yesus sungguh kudus, maka diri-Nya tidak akan terlihat berada di tengah-tengah orang-orang berdosa tersebut. Sebagai tanggapan terhadap sungut-sungut mereka, Yesus menyampaikan tiga buah perumpamaan; domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang. Tidak seperti orang-orang Farisi, Yesus tidaklah memandang para pendosa sebagai orang-orang yang berada dalam kedosaan dan tidak dapat ditolong lagi, melainkan sebagai pribadi-pribadi yang hilang, yang perlu ditemukan kembali.

Yesus bertanya: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” (Luk 15:4). Yesus melontarkan pertanyaan ini dengan pengharapan akan mendatangkan tanggapan positif: “Kita semua akan mencari domba yang hilang itu!” Namun barangkali tidak seorang pun akan melakukannya, karena dari sudut “kalkulasi” manusia, hal sedemikian sungguh tidak masuk akal. “Masa sih yang 99 ekor harus ditinggalkan terlantar hanya untuk mencari seekor yang hilang?” Bukankah lebih baik melindungi yang 99 ekor domba itu dan bukannya menelantarkan mereka?

PERUMPAMAAN TTG PEREMPUAN YANG KEHILANGAN 10 DIRHAM - 2Lagipula, siapakah yang pernah mendengar tentang seorang gembala yang berpesta-ria karena telah menemukan seekor dombanya yang hilang? Kita akan bereaksi bahwa ini berkelebihan, …… lebai! Demikian pula halnya dengan perempuan yang kehilangan sekeping dirhamnya. Kita tentu memahami bagaimana dia akan berupaya untuk menemukan dirhamnya, namun setelah menemukannya sungguh terasa berlebihanlah apabila dia memanggil tetangga-tetangganya untuk bersama-sama bergemberia-ria.

Pada titik ini kita melihat pengaruh penuh dari apa yang Yesus coba ajarkan kepada orang-orang Farisi dan kita semua. Apa yang kelihatan tidak masuk akal dan bahkan keterlaluan dilihat dari mata manusia tidaklah absurd di mata Allah. Di mata-Nya setiap orang berdosa adalah tetap seorang pribadi yang berharga, begitu berharga sehingga Allah mencari setiap pendosa dengan segenap hati-Nya. Allah Bapa mengutus Yesus – sang Gembala Baik – ke tengah dunia untuk mencari kita. Jika kita memperkenankan Yesus menemukan diri kita melalui pertobatan, maka akan ada sukacita di dalam surga. “Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat” (Luk 15:10). Tidak ada apa pun yang membawa sukacita kepada Bapa surgawi dan sekalian makhluk surgawi daripada kembalinya seorang pendosa yang bertobat.

DOA: Tuhan Yesus, seperti gembala yang menggendong dombanya yang baru ditemukannya, Engkau menarik kami semakin dekat dengan diri-Mu dalam kasih dan afeksi tak terhingga. Kami bertobat atas dosa-dosa kami dan memohon Engkau untuk menemukan kami sekalian. Kami juga berdoa supaya semua orang yang hilang dapat ditemukan kembali oleh-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 14:7-12), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUA ORANG AKAN BERTEKUK LUTUT DI HADAPAN-KU” (bacaan tanggal 7-11-13) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-10), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “SUKACITA DI SURGA” (bacaan tanggal 8-11-12), “PERUMPAMAAN TENTANG DOMBA DAN DIRHAM YANG HILANG” (bacaan tanggal 3-11-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM; juga tulisan yang berjudul “DUA BUAH PERUMPAMAAN YESUS” (bacaan tanggal 8-11-12) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 28 Oktober 2013 [Pesta S. Simon dan Yudas, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELALUI PINTU YANG SEMPIT

MELALUI PINTU YANG SEMPIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Rabu, 30 Oktober 2013)

Keluarga Kapusin: Peringatan B. Angelus dr Acri, Imam Biarawan

NARROW GATE - 01

Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Lalu ada seseorang yang berkata kepada-Nya, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetuk-ngetuk pintu sambil berkata, ‘Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!’ dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu, ‘Aku tidak tahu dari mana kamu datang.’ Lalu kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi, ketika kamu melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang pertama dan ada orang yang pertama yang akan menjadi orang yang terakhir. (Luk 13:22-30)

Bacaan Pertama: Rm 8:26-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:4-6

“Pintu sempit” yang dikatakan Yesus adalah pintu yang memimpin kepada kerahiman (belas kasih) dan kasih Allah. Sepanjang Injilnya, Lukas memberi banyak gambaran dari orang-orang yang datang kepada Yesus melalui pintu sedemikian. Perempuan berdosa yang membawa sebuah botol minyak wangi tidak mempedulikan apa yang ada dalam pikiran orang-orang yang hadir pada perjamuan makan di rumah orang Farisi. Sambil menangis dia mengambil tempat di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu (lihat Luk 7:37-50). Maria saudara perempuan dari Marta, duduk pada kaki Yesus dan mendengarkan setiap perkataan yang diucapkan-Nya (Luk 10:39), hidupnya terpusat pada Yesus.

Karena si pemungut cukai memandang dirinya sebagai seorang pendosa, maka dia berdoa mohon kerahiman Allah atas dirinya, dan dia pulang ke rumah sebagai orang yang dibenarkan (Luk 18:13-14). Ia menggantungkan diri pada belas kasih Allah dan bukan pada kebenarannya sendiri. Di jalan menuju Yerikho, seorang buta berseru kepada Yesus memohon belas kasih-Nya dan ia menolak untuk dibungkam oleh orang-orang di sekelilingnya (Luk 18:35-43). Orang buta merasa sangat membutuhkan Yesus. Akhirnya, Yesus sendiri juga mempermaklumkan: “Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya” (Luk 18:17).

Cerita-cerita ini semua menunjukkan bahwa apabila kita datang ke “pintu sempit” ini dengan rendah hati dan dengan hati yang menunjukkan adanya kebutuhan, maka di sebelah sana (sebelah dalam dari pintu) kita pun akan bertemu dengan rahmat dan kemurahan hati Bapa surgawi.

YESUS KRISTUS - 0000Karena pintu tersebut sempit, maka kita tidak dapat memasukinya dengan membawa kopor berukuran besar yang berisikan berbagai rencana kita sendiri berkaitan dengan disiplin-diri dan perbaikan-diri. Kita dipanggil untuk masuk dalam keadaan seperti adanya kita, artinya dengan segala kelemahan kita, tanpa membawa apa pun untuk membuktikan sesuatu kepada Bapa surgawi yang mengasihi kita. Hanya dengan begitulah maka Roh Kudus dapat menghibur kita dan membuat kita menjadi semakin menyerupai gambaran Yesus.

Setiap hari, Allah memanggil kita melalui pintu yang sempit ini, untuk lebih dalam lagi merasuk ke dalam kehidupan Kerajaan-Nya. Setiap hari, Dia memanggil kita ke dalam kehadiran-Nya sehingga dengan demikian Ia dapat memenuhi diri kita dengan Roh Kudus-Nya, yang memberikan kepada kita hasrat hati-Nya, dan memperkuat kita dengan kasih-Nya. Untuk menerima hal ini, apa yang kita butuhkan hanyalah kerendahan hati dan rasa percaya, karena mengetahui bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28). Semoga kita masing-masing menjadi contoh hidup dari kuat-kuasa yang mengalir melalui kelemahan dan kekuatan yang yang kita alami dengan mengikuti kebijakan Yesus tentang “pintu sempit”.

DOA: Bapa surgawi, kami mendekati pintu sempit menuju takhta-Mu dengan hanya membawa hati kami. Yesus, Engkau sendiri berjalan melewati pintu sempit itu, dan Engkau ada di sana untuk memberikan kepada kami segalanya yang kami butuhkan. Roh Kudus, kami meninggalkan kesombongan kami dan rasa takut dan khawatir kami di belakang kami dan hanya menggantungkan diri kepada hidup-Mu dalam diri kami saja. Ajarlah kami, ya Roh Kasih, agar kami mengasihi Bapa surgawi sebagaimana Yesus mengasihi-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:26-30), bacalah tulisan yang berjudul “SEBAB KITA TIDAK TAHU, “BAGAIMANA SEBENARNYA HARUS BERDOA” (bacaan tanggal 30-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:22-30), bacalah juga tulisan yang berjudul “BERJUANGLAH UNTUK MASUK MELALUI PINTU YANG SEMPIT” (bacaan tanggal 26-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM, dan “PINTU YANG SEMPIT” (bacaan tanggal 31-10-12) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 18 Oktober 2013 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BIJI SESAWI DAN RAGI

BIJI SESAWI DAN RAGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Selasa, 29 Oktober 2013)

PERUMPAMAAN RAGI - MAT 13Lalu kata Yesus, “Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung bersarang pada cabang-cabangnya.” Ia berkata lagi, “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Kerajaan itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.” (Luk 13:18-21)

Bacaan Pertama: Rm 8:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6

Dalam bacaan Injil yang relatif singkat hari ini, secara berturut-turut Yesus mengajarkan dua perumpamaan sarat-makna tentang Kerajaan Allah, yaitu pertama diumpamakan sebagai biji sesawi yang ditanam di kebun, dan kedua diumpamakan dengan ragi yang diadukkan ke dalam tepung terigu.

Di tangan seorang guru atau rabi yang “jago”, perumpamaan-perumpamaan dapat menjadi sarana-sarana berguna untuk memicu pemikiran dan permenungan tentang sebuah pokok pengajaran. Melalui gambaran-gambaran yang sederhana namun kaya, perumpamaan-perumpamaan menantang para pendengarnya untuk menggeluti suatu subjek pada tingkat yang berbeda-beda. Yesus seringkali menggunakan perumpamaan-perumpamaan untuk meluaskan pemahaman para murid-Nya tentang Kerajaan Allah.

Setelah dalam beberapa bab digambarkan Kerajaan Allah dan makna dari jalan Kristiani, Lukas kemudian merangkumnya dengan perumpamaan-perumpamaan tentang biji sewati dan ragi. Perumpamaan-perumpamaan ini diberikan seiring dengan semakin bertambahnya oposisi terhadap Yesus, termasuk penolakan terhadap dirinya oleh orang orang-orang Samaria (Luk 9:51-53), pengakuan terhadap penolakan itu (Luk 12:51) dan suatu panggilan kepada pertobatan secara universal (Luk 13:5).

MUSTARD SEEDSDalam terang oposisi ini, Yesus mengundang para murid-Nya untuk memandang Kerajaan Allah dari suatu perspektif global: “Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung bersarang pada cabang-cabangnya ……Seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya” (Luk 13:18-21).

Dua perumpamaan ini memberikan gambaran-gambaran tentang cara sederhana dengan mana Kerajaan Allah itu mulai ketika pertama kali diumumkan oleh seorang tukang kayu dari Nazaret yang tidak dikenal, kepada sekelompok orang yang kebanyakan terdiri dari mereka yang tidak berstatus penting dalam masyarakat, …… “wong cilik”. Namun demikian, justru dari kelompok tak berarti inilah Kerajaan Allah yang tak terbatas bertumbuh-kembang dengan pesat di dalam dunia kita yang terbatas. Menghadapi perlawanan atau tidak, Kerajaan Allah akan terus berlanjut di dalam dunia ini, sampai Kristus datang kembali dalam kemuliaan pada akhir zaman.

Yesus juga meminta agar para murid-Nya menerapkan dua perumpamaan ini pada tingkat personal. Apabila kita melihat dengan cara begini, maka kita menyaksikan bahwa bahkan hal-hal kecil sekali pun yang kita lakukan untuk membuat diri kita sebagai sarana Allah untuk turut membangun Kerajaan-Nya akan membawa dampak tidak kecil. Siapa yang dapat menyangka bahwa seorang biarawati-guru keturunan Albania dengan postur tubuh kecil dan bekerja di India – Bunda Teresa dari Kalkuta – pada suatu hari dalam kehidupannya akan mampu mendirikan sebuah kongregasi religius yang begitu berdedikasi pada “wong cilik” di Kalkuta. Kongregasi ini bertumbuh-kembang dengan cepat dan diberkati oleh Allah secara berlimpah untuk menjadi “garam bumi” dan “terang dunia” di tengah masyarakat yang sebagian besar terdiri dari saudari-saudara yang beriman lain. Sekarang kongregasi ini telah menjadi kongregasi multi-nasional yang mengagumkan dalam spiritualitas maupun karya kerasulan mereka. Ini adalah bukti bahwa Allah menggunakan “biji sesawi” dan “ragi” yang ada dalam seorang Bunda Teresa dari Kalkuta guna mencapai karya kasih-Nya secara gemilang. Pelajaran yang kita dapat tarik dari dua perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hariini adalah bahwa Kerajaan Allah mulai di hati kita secara kecil-kecilan, namun dapat bertumbuh menjadi sesuatu yang dapat mentransformasikan dunia.

DOA: Bapa surgawi, Engkau tidak menetapkan batas sampai mana Kerajaan-Mu akan berkembang. Melalui ketaatanku, datanglah Kerajaan-Mu, dalam hidupku dan dalam hidup orang-orang di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:18-25), bacalah tulisan yang berjudul “PENGHARAPAN ANAK-ANAK ALLAH” (bacaan tanggal 29-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 13:18-21), bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG BIJI SESAWI DAN RAGI” (bacaan tanggal 25-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM, dan/atau “BIJI SESAWI YANG BENAR (bacaan tanggal 30-10-12) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 18 Oktober 2013 (Pesta S. Lukas, Penulis Injil]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA SEMUA MEMBUTUHKAN RAHMAT DAN KERAHIMAN ALLAH

KITA SEMUA MEMBUTUHKAN RAHMAT DAN KERAHIMAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXX [Tahun C], 27 Oktober 2013)

Pharisee and Tax-collector

Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus menyampaikan perumpamaan ini. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Luk 18:9-14)

Bacaan Pertama: Sir 35:12-14,16-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,17-19,23; Bacaan Kedua: 2Tim 4:6-8,16-18

Bayangkan situasi yang digambarkan Yesus dalam perumpamaan-Nya ini. Pada waktu berdoa sang pemungut cukai berdiri di belakang orang-orang lain, dengan kepala tertunduk dan mata yang memandang ke bawah dengan tangan yang memukul-mukul dadanya, karena dia sadar akan ketidaklayakan dirinya. Dirinya dipenuhi rasa penyesalan mendalam dan dia datang ke Bait Allah untuk berdamai dengan Allah dan mohon pengampunan dari-Nya. Di depannya berdirilah seorang Farisi, seorang pengunjung tetap Bait Allah. Orang Farisi ini jelas “merasa nyaman dan senang” dengan dirinya sendiri dan dia mengharapkan Allah juga senang. Sebagai doanya orang Farisi ini mempersembahkan segala hal yang telah dicapainya dalam bidang kerohanian. Dia berterima kasih kepada Allah bahwa pekerjaannya telah menempatkan dirinya di atas orang-orang lain – teristimewa di atas sang pemungut cukai yang penuh dosa itu.

Akan tetapi Yesus mengatakan bahwa justru sang pemungut cukai itulah yang pulang ke rumah sebagai orang yang dibenarkan Allah (Luk 18:14). Apa yang membuat Yesus begitu senang pada ‘orang berdosa’ ini?

Seperti anda masih ingat, sekali peristiwa ketika Yesus dikritik karena Dia makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa, Yesus mengatakan bahwa bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit (Luk 5:31-32). Tentunya ada begitu banyak yang sakit secara rohani dan sungguh membutuhkan pertolongan Yesus. Akan tetapi hanya mereka yang rendah hati dan datang dengan hati yang penuh penyesalan akan mengenali dan mengakui dosa-dosa mereka. Orang-orang seperti orang Farisi itu memandang diri mereka sehat secara rohani – dan semua itu dicapai melalui upaya mereka sendiri! Mereka berada dalam bahaya terkena penghakiman Allah karena mereka percaya bahwa upaya-upaya mereka telah membuat mereka layak di mata Allah. Mereka gagal melihat kekosongan rohani dalam diri mereka sendiri, dengan demikian tidak melihat adanya kebutuhan akan rahmat dan kerahiman Allah.

FARISI DAN PEMUNGUT PAJAKBagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita memandang diri kita sebagai pendosa yang sangat membutuhkan rahmat dan pengampunan Allah? Ataukah kita memandang diri kita begitu sucinya dan selalu benar di mata Allah (apalagi karena kolekte kita setiap kali bukanlah kecil-kecilan) sehingga hanya memerlukan perbaikan karakter sedikit saja dan sesekali saja?

Memang kelihatannya aneh bahwa kita menjadi sehat justru ketika kita mengakui adanya kebutuhan kita, tetapi memang inilah jalan satu-satunya. Kalau kita mengandalkan diri sepenuhnya pada Kristus dan bukan pada kebaikan-kebaikan menurut persepsi kita sendiri, maka kita dapat sampai kepada suatu kesadaran bahwa “jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor 12:10). Sebaliknyalah yang akan terjadi kalau kita menaruh kepercayaan sepenuhnya pada “kemandirian” kita.

Dalam Perayaan Ekaristi Kudus hari ini, perkenankanlah darah Yesus membasuh kita dan memenuhi kita dengan kerahiman-Nya. Dengan penuh kerendahan hati marilah kita mengakui dosa-dosa kita, seraya percaya bahwa Allah akan sangat senang dalam mengangkat kita dan mengirim kita pulang “dibenarkan” oleh-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kasihanilah aku karena aku sangat membutuhkan Engkau. Aku melihat dosa-dosaku dan mau dilepaskan dari dosa-dosa itu selamanya. Bersihkanlah aku ya Tuhan, agar aku dapat melakukan kehendak-Mu. Aku cinta pada-Mu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:9-14), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG YANG DIBENARKAN ALLAH” (bacaan tanggal 27-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Cilandak, 15 Oktober 2013 [Peringatan S. Teresia dr Avila, Perawan & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIBERI BANYAK, DITUNTUT BANYAK PULA

DIBERI BANYAK, DITUNTUT BANYAK PULA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Rabu, 23 Oktober 2013)

Peringatan/Pesta Santo Yohanes dr Kapestrano, Imam – Saudara Dina, Pelindung para Pastor/Perawat Rohani Angkatan Bersenjata

KESIAPSIAGAAN - LUK 12 35-40Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” Kata Petrus, “Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?” Jawab Tuhan, “Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya, ‘Tuanku tidak datang-datang,’ lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan memenggalnya dan membuatnya senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya.” (Luk 12:39-48)

Bacaan Pertama: Rm 6:12-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:1-8

“Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya” (Luk 12:48).

Inilah kalimat terakhir dari Bacaan Injil hari ini. Aplikasinya secara langsung berkaitan dengan tanggung-jawab para pemimpin agama kepada siapa Yesus Kristus memberikan lebih banyak rahmat, namun Ia juga mengharapkan lebih dari mereka dibandingkan dengan orang-orang biasa.

Kita juga dapat dan harus menerapkan kata-kata ini atas banyak karunia yang telah kita terima dari Allah. Kita telah diberkati secara berlimpah dalam hal materi. Kristus menginginkan kita menggunakan hal-hal baik ini, karena Allah menciptakan semua itu dan semuanya baik. Akan tetapi, hanya sebagian saja dari yang baik-baik itu kita gunakan secara bertanggung-jawab. Cara kita menggunakan karunia-karunia Allah ditentukan oleh komitmen dan sikap dasar kita terhadap Allah dan sesama kita.

Sikap dasar ini harus kelihatan nyata dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak demikian halnya, maka tidak riil jadinya. Ini bukanlah sekadar masalah doa-berdoa. Sebagian jalan menuju Allah adalah melalui dunia, dunia kerja, kehidupan keluarga, orang-orang yang tinggal dekat dengan rumah kita. Mengapa? Karena di area-area inilah kita menggunakan karunia-karunia Allah dan mengembalikan karunia-karunia itu kepada-Nya seturut tuntutan-Nya.

Kekayaan-kekayaan kita, talenta-talenta kita, berbagai energi dan upaya kita, semuanya adalah karunia dari Allah. Kita harus memberi sesuai dengan apa yang telah kita terima. Sesama kita membutuhkan kita. Apabila kita memiliki lebih daripada yang secara wajar kita butuhkan, maka orang-orang miskin mempunyai hak atas “surplus” kita. Apabila kita memiliki talenta dalam bidang kepemimpinan, maka komunitas kita harus merasakan manfaat dari kualitas-kualitas kepemimpinan yang kita miliki. Kita harus memberikan kontribusi bagi perkembangan dunia ciptaan melalui kerja yang energetik dan penuh gairah. Ini adalah bagian dari rencana Allah.

Kita harus menempatkan semangat dari bacaan Injil hari ini ke dalam praktek kehidupan kita sehari-hari. Marilah kita menanggapi pesan Kristus dan memberi sesuai dengan ukuran berapa yang telah kita terima.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah memenuhi diri kami dengan berkat melimpah. Semua kerja kami adalah untuk kemuliaan-Mu dan puji-pujian bagi-Mu, juga untuk membangun umat-Mu dalam Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 6:12-18), bacalah tulisan yang berjudul “HENDAKLAH DOSA JANGAN BERKUASA LAGI DI DALAM TUBUHMU YANG FANA” (bacaan untuk tanggal 23-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 12:39-48), bacalah juga tulisan yang berjudul “PENGURUS RUMAH YANG SETIA DAN BIJAKSANA” (bacaan tanggal 19-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 14 Oktober 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HAI ENGKAU YANG BODOH!

HAI ENGKAU YANG BODOH!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Senin, 21 Oktober 2013)

Ordo Santa Ursula (OSU): HARI RAYA SANTA URSULA

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASSeorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21)

Bacaan Pertama: Rm 4:20-25; Mazmur Tanggapan: Luk 1:1:69-75

Harta kekayaan terbesar apakah yang dapat dimiliki oleh seseorang? Dalam perumpamaan ini, tuan tanah kaya begitu jauh dari jawaban benar sehingga Allah memberikan kepadanya teguran yang mengagetkan: “Hai engkau yang bodoh” (Luk 12:20). Biasanya kita membaca firman Allah ini sebagai suatu penghinaan. Tetapi barangkali firman Allah ini dimaksudkan lebih sebagai suatu ratapan – suatu ungkapan rasa sedih karena kebutaan “orang-orang bodoh” yang “menghina hikmat dan didikan” (Ams 1:7). Barangkali Allah bersabda: “Aku ingin agar engkau hidup berbahagia dan mengalami sukses yang benar! Betapa pedihnya melihat anda mencari sesuatu yang berbahaya dan bodoh bagi hidup anda, bukannya sesuatu yang baik!”

Mengapa Yesus menggambarkan si tuan tanah kaya sebagai seorang yang tidak bijaksana atau bodoh? Bukan untuk kerajinannya berusaha, melainkan untuk egoisme dan ketamakannya. Seperti dalam perumpamaan Yesus lainnya, yaitu tentang “Lazarus dan seorang kaya” (Luk 16:19-31), orang kaya dalam perumpamaan Yesus Injil hari ini telah kehilangan kapasitasnya untuk berbelas-kasih dan berbela-rasa dengan orang-orang lain. Hidupnya habis dipakai untuk mengurusi kepemilikannya, harta-kekayaannya; dan kepentingannya hanyalah dirinya sendiri. Kematiannya adalah kehilangan jiwanya yang bersifat final.

PERUMPAMAAN TTG ORANG KAYA YANG BODOHPerumpamaan Yesus tentang orang kaya yang bodoh ini adalah sebuah pelajaran mengenai kepemilikan. Yesus mengingatkan kita agar tidak menjadi posesif. Pada saat bersamaan Ia berjanji kepada kita bahwa Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang mencari harta dalam diri-Nya. Allah itu murah hati, dan Ia menginginkan agar kita menaruh kepercayaan kepada penyelenggaraan ilahi-Nya. Itulah sebabnya mengapa mengatakan kepada kita untuk tidak perlu merasa susah atau khawatir tentang hidup kita, karir kita atau masa depan kita (Luk 123:22-31). Yesus menawarkan kepada kita jaminan tentang kebutuhan kita sehari-hari, sementara mengajak kita untuk memusatkan perhatian kita pada sebuah harta-kekayaan yang tak ternilai, yaitu suat5u hidup berkelimpahan dan kebahagiaan bersama Allah, sekarang dan selama-lamanya.

Sekarang, di manakah harta-kekayaan kita (anda dan saya)? Dapatkah kita dengan rendah hati memperkenankan Yesus menjamah hati kita, pusat dari segala hasrat dan kerinduan kita, pusat dari kehendak dan fokus kita? Apa saja yang paling menjadi pusat perhatian dalam hati kita adalah harta-kekayaan kita yang paling tinggi. Apakah Yesus Kristus merupakah harta-kekayaan kita yang paling tinggi?

DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah diriku dari keinginan untuk memiliki harta kekayaan dunia sebanyak-banyaknya, sehingga dengan demikian aku dapat mengenal dan mengalami sukacita karena mempunyai Engkau sebagai harta kekayaanku. Anugerahkanlah kepadaku sebuah hati yang pemurah. Tolonglah aku agar dapat menggunakan dengan baik segala berkat-berkat materiil yang telah Engkau anugerahkan kepadaku untuk kemuliaan-Mu dan kebaikan bagi orang-orang lain, teristimewa mereka yang membutuhkan pertolongan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “…… JIKALAU IA TIDAK KAYA DI HADAPAN ALLAH” (bacaan tanggal 21-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “ORANG KAYA YANG BODOH” (bacaan tanggal 17-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Catatan tambahan: Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam ‘Sabda Bahagia’ terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ di atas.

Cilandak, 13 Oktober 2013 [HARI MINGGU BIASA XXVIII]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERDOA TANPA JEMU-JEMU

BERDOA TANPA JEMU-JEMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIX – 20 Oktober 2013)

HARI MINGGU EVANGELISASI

HAKIM YANG JAHAT DAN SANG JANDAYesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Katanya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang yang datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8)

Bacaan Pertama: Kel 17:8-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 121:1-8; Bacaan Kedua: 2Tim 3:14-4:2

Sadar akan kenyataan bahwa dia tidak mempunyai seorang pelindung laki-laki dan juga berbagai sumber daya yang diperlukannya, janda dalam perumpamaan ini mencari seseorang yang dapat menolongnya. Kenyataan bahwa ada “seseorang” seperti hakim itu tidak menghalangi janda itu sedikit pun untuk mendatanginya dan mohon pertolongan dari sang hakim. Bagaimana pun juga dia cuma datang agar hak-haknya dibela. Keyakinan kuat dari janda itu akan apa yang benar dan salah memberinya keberanian. Dia tidak pernah terganggu oleh rasa waswas dan takut, tetapi terus maju sampai tercapai keadilan.

Pelajarannya bagi kita jelas: Kalau seorang pribadi yang lemah tetapi pantang menyerah dapat “memaksa” seorang hakim seperti itu agar membuat suatu keputusan yang adil, betapa yakin kita semua bahwa Allah yang Mahaadil akan campur tangan dalam perkara mereka yang datang kepada-Nya mohon pertolongan dan “siang malam berseru kepada-Nya”! Yesus meyakinkan kita, Ia akan segera membenarkan mereka” (Luk 18:7.8).

Segera? Ini bukanlah kata yang akan dipilih oleh kebanyakan dari kita untuk menggambarkan bagaimana Allah menjawab doa-doa kita. “Di mata Allah seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam” (Mzm 90:4). Namun bagi kita satu hari dapat terasa seperti seribu tahun lamanya – teristimewa pada waktu kita menantikan jawaban Allah atas doa-doa kita. Akan tetapi di sisi lain, “penundaan” ini memberi keuntungan bagi kita, dalam arti memberikan kesempatan berulang-ulang kepada kita untuk mengangkat pikiran dan hati kita dan mempersembahkan semua itu kepada Bapa surgawi. Allah Bapa tentu sangat mengetahui apa yang kita butuhkan sebelum kita minta, namun melalui doa kita yang tidak kenal lelah kita menerima lebih daripada yang kita harapkan atau impikan. Doa memperluas harapan-harapan kita.

Perumpamaan ini mengajak kita untuk “selalu berdoa tanpa jemu-jemu” (Luk 18:1). Perumpamaan ini mendesak kita untuk tidak memusatkan perhatian atas keterbatasan-keterbatasan kita, tetapi untuk dengan berani datang kepada hadirat Bapa untuk menghaturkan doa-doa syafaat bagi orang-orang lain, keluarga kita, negara dan bangsa kita, situasi dunia dll. dan bahkan bagi para musuh dan lawan kita. Bapa surgawi senang kalau kita bergabung dengan Putera-Nya dan semua malaikat dan orang kudus yang berseru kepada-Nya siang dan malam, karena tahu bahwa Dia akan datang membawa keadilan. Selagi kita berdoa seperti ini, Dia akan menjawab doa-doa kita dalam cara-cara yang tak pernah mampu kita bayangkan. Dalam proses itu, Dia akan membentuk kita ke dalam umat yang dipenuhi iman, yang akan dicari oleh Anak Manusia pada saat Ia datang lagi ke bumi (Luk 18:8).

DOA: Terima kasih Bapa surgawi karena Engkau mendengarkan seruanku. Engkau adalah Tuhan atas segala ciptaan dan penjaga jiwaku. Engkau tidak pernah tertidur. Aku menaruh kepercayaanku sepenuhnya dalam diri-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “DOA ADALAH AWAL DARI KEHIDUPAN SURGAWI” (bacaan tanggal 20-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG HAKIM YANG TIDAK ADIL” (bacaan tanggal 14-11-09) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 13 Oktober 2013 [HARI MINGGU BIASA XXVIII]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers