Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

KASIH BAPA SURGAWI KEPADA KITA

KASIH BAPA SURGAWI KEPADA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 10 Oktober 2013)

LUKE 11 5-13Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13)

Bacaan Pertama: Mal 3:13-20a; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6

Di sini Yesus mengajar tentang kebutuhan bagi para murid-Nya untuk bertekun dalam doa, yakin sepenuhnya akan karunia Roh Kudus dari Bapa surgawi kepada mereka yang meminta.

Pernahkah kita berhenti sebentar dari kesibukan rutin kita sehari-hari dan berpikir betapa indahnya kehidupan kita karena Allah mengasihi kita? Bapa surgawi melihat semua ketidaksempurnaan kita dan pikiran kita yang suka mendua dan “akal-akalan”. Ia mengetahui sekali segala kekecewaan hidup dan luka-luka batin kita, ketidaksetiaan kita dan pergumulan-pergumulan batin kita. Namun demikian, Ia tetap mengasihi kita lebih daripada seorang ayah biasa (manusia) mengasihi anak-anaknya. Allah ingin memelihara kita dengan penuh kasih sayang lebih daripada para ibu yang menyayangi anak-anak mereka. Siapakah yang dapat memahami sepenuhnya kasih Allah yang sedemikian? Siapakah yang pernah secara sempurna merefleksikan kemurahan-hati Allah yang sedemikian?

Apabila Allah mengetahui segalanya yang kita butuhkan, mengapa Yesus mengajarkan para murid-Nya untuk meminta, mencari dan mengetuk? Apakah hal ini guna mengingatkan Allah akan sesuatu yang Ia telah lupakan? Rasa-rasanya bukan itulah kasusnya karena Allah itu mahatahu, bukan? Doa-doa dan permohonan-permohonan kita mengingatkan betapa dalam kita membutuhkan pertolongan-Nya. Doa-doa dan permohonan-permohonan kita itu merupakan bukti nyata bahwa kita tidaklah “mandiri”, melainkan kita sungguh tergantung pada Bapa kita di surga.

Apabila kita “berhemat” (atau “kikir”?) dengan doa-doa kita, artinya hanya berdoa untuk sesuatu yang sungguh istimewa, atau hanya berpaling kepada-Nya jika kita sedang berada dalam situasi-situasi yang ekstrim saja, maka kita sungguh “tidak menghormati Allah” dan hal tersebut sangat merugikan diri kita sendiri.

Para orangtua pada umumnya mengetahui bahwa ketika anak-anak mereka masih kecil, maka anak-anak itu meminta segala hal. Anak-anak itu tidak membedakan antara permintaan-permintaan besar atau permintaan-permintaan kecil. Hanya apabila mereka telah bertambah umur – dan barangkali bertambah sinis – maka mereka belajar untuk hanya meminta sesuatu yang sungguh-sungguh istimewa. Anak-anak itu mencari berbagai jalan agar dapat memperoleh apa yang mereka inginkan (untuk memperoleh uang saku yang lebih besar) dengan menawarkan berbagai jasa, misalnya membantu mengasuh adiknya yang lebih kecil, memotong rumput di pekarangan dlsb. Memang dengan begitu anak-anak belajar tentang tanggung-jawab pribadi mereka masing-masing, namun tidakkah kita memiliki kerinduan akan masa-masa ketika anak-anak itu masih kecil-kecil dan sepenuhnya bergantung pada kita sebagai orangtua?

Allah menginginkan agar kita terus datang kepada-Nya secara innocent sebagai anak-anak kecil yang datang meminta sesuatu kepada orangtua mereka. Allah tidak akan berhenti memperhatikan kita dan dengan penuh kasih sayang memberikan hal-hal yang baik kepada kita. Pengorbanan dari Anak-Nya yang tunggal di atas kayu salib merupakan suatu bukti nyata dari kasih-Nya kepada kita. Sebenarnya Allah dapat meninggalkan kita dan Ia tidak perlu menyelamatkan kita-manusia yang sudah bergelimang dalam dosa. Hanya karena kasih-Nya yang penuh kemurahan hati bagi kitalah maka Dia memperkenankan Anak-Nya untuk mati sebagai penebus kita.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Bapa terbaik yang pernah kami kenal, Abba, ayah tercinta. Engkau mengasihi kami jauh melebihi ekspektasi kami. Telinga-Mu senantiasa terbuka untuk mendengarkan permintaan-permintaan kami, bahkan permintaan kecil sekalipun. Kami menaruh segala kebutuhan kami di hadapan-Mu sekarang, dengan penuh keyakinan bahwa Engkau akan melakukan apa yang terbaik bagi kami dan seturut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:5-13), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH YANG SENANTIASA BERMURAH HATI” (bacaan tanggal 10-19-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “IA AKAN MEMBERIKAN ROH KUDUS KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA” (bacaan tanggal 6-10-11) dalam situs/blog SANG SABDA. Juga tulisan dengan judul “MINTALAH, CARILAH, KETUKLAH !!!” (bacaan tanggal 6-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 6 Oktober 2013 [HARI MINGGU BIASA XXVII]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI SESAMA DARI ORANG-ORANG YANG MENDERITA

MENJADI SESAMA DARI ORANG-ORANG YANG MENDERITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu Rosario – Senin, 7 Oktober 2013)

044-044-TheGoodSamaritan-full

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37)

Bacaan Pertama: Yun 1:1-2:1,11; Mazmur Tanggapan: Yun 2:2-5,8

Walaupun niat si ahli Taurat adalah untuk mencobai Yesus, kiranya kita perlu berterima kasih kepadanya, karena dialah yang bertanya kepada Yesus tentang “siapakah sesama kita”, dan jawaban Yesus kepadanya mengambil bentuk sebuah perumpamaan yang sangat menyentuh hati dan sangat instruktif serta jelas-gamblang: “Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati”. Perumpamaan ini dengan terang-benderang mencerahkan pemikiran kita tentang kasih Kristiani yang sesungguhnya. Perumpamaan Yesus ini mengkonfrontasikan kita dengan pertanyaan apakah kita juga adalah orang-orang Samaria yang baik hati.

Kita tahu tentang hukum kasih. Kita juga mengetahui bahwa vonis yang dijatuhkan sang Hakim Agung pada pengadilan terakhir akan tergantung pada kasih kita kepada sesama kita. Jadi, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita biasanya bersikap dan berperilaku sebagai “orang-orang Samaria yang baik hati” terhadap sesama kita yang sudah lansia, yang sedang sakit, yang miskin? Ataukah kita dengan cepat melewati “orang-orang susah” itu seakan-akan tidak melihat mereka, tidak merasa bahwa mereka membutuhkan pertolongan kita, tentunya dengan dalih-dalih atau alasan-alasan guna mendukung sikap kita yang “tidak mau tahu” dan tentunya perilaku kita sebagai pengungkapan sikap kita. “Biarlah orang lain menolong orang-orang itu. Saya masih sibuk sekarang – Saya masih mempunyai keluarga saya sendiri untuk diperhatikan – Saya akan terlambat sampai ke kantor dan terkena hukuman seandainya saya menolong orang yang terkapar di pinggir jalan itu.” Wah, banyak sekali dalih atau alasan berisikan kebohongan – dari yang berbobot ringan sampai berat – yang dapat dikemukakan.

Banyak orang-orang Kristiani “baik-baik”, yang ketika mendengarkan khotbah tentang Sengsara dan Salib Kristus, menjadi berbela-rasa dan mengatakan kepada Tuhan Yesus bahwa mereka akan melakukan apa saja untuk meringankan penderitaan-Nya. Tuhan Yesus memberikan kepada mereka tes atas ketulusan mereka ketika Dia mengatakan kepada kita, “Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (Mat 25:45).

“Orang-orang yang paling hina” di mata Yesus; mereka yang lapar, yang miskin, dlsb. tidak sulit untuk ditemukan di sekeliling kita dan tidak sulit juga untuk dijangkau oleh setiap orang Kristiani yang berkehendak baik. Masalahnya bukanlah jumlah uang atau waktu yang kita abdikan untuk menolong, menghibur mereka yang sedang mengalami berbagai kesusahan. Pengorbanan yang kita buat dari berbagai berkat yang Allah telah berikan kepada kita, inilah yang penting. Bahkan yang paling miskin ataupun yang paling sibuk sekalipun di antara kita dapat menemukan kesempatan untuk menolong seseorang yang dibutuhkan. Kita semua dapat dan harus menjadi orang-orang Samaria yang baik. Ini tidak dapat ditawar-tawar lagi, karena inilah yang diajarkan oleh Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita sendiri. Dari ke waktu Allah akan memberikan kepada kita moments of truth, saat-saat di mana kita dapat membuktikan sendiri siapa diri kita sebenarnya: si imam, si orang Lewi atau “orang Samaria yang baik hati”.

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh berbahagia penuh syukur karena Kaupercayakan sebagai saluran-saluran kasih-Mu dan berkat-berkat-Mu, juga untuk menjadi sentuhan tangan-tangan-Mu yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:25-37), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG SAMARIA YANG MURAH HATI” (bacaan tanggal 7-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI” (bacaan tanggal 3-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 5 Oktober [Keluarga Fransiskan: Peringatan Arwah semua saudara, sanak saudara, dan penderima)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMI HAMBA-HAMBA YANG TIDAK BERGUNA

KAMI HAMBA-HAMBA YANG TIDAK BERGUNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVII [Tahun C] – 6 OKTOBER 2013)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIALalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak tanah atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepda hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata; Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” (Luk 17:5-10)

Bacaan Pertama: Hab: 1:2-3; 2;2-4; Mzm 95:1-2, 6-9; Bacaan Kedua: 2Tim 1:6-8, 13-14

Menurut Yesus, iman – betapa pun kecilnya – adalah kunci yang membuka kuasa dari surga. Kuasa ini, tentunya, bukanlah suatu kekuatan yang dapat kita manipulasikan seturut keinginan atau kesukaan kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa Yesus menggambarkan hati dari orang-orang yang mengenal dan mengasihi Bapa-Nya: Mereka memandang diri mereka sendiri sebagai “hamba-hamba yang tidak berguna” (Luk 17:10).

Ide sebagai “hamba-hamba yang tidak berguna” pada awalnya tentu terasa keras. Apakah Yesus benar-benar menginginkan kita untuk merasa tidak berguna, tidak berarti? Bukan begitu! Allah menciptakan kita dalam kasih, dan Ia sendiri melihat kita “sungguh amat baik” (Kej 1:31). Yesus memberikan perumpamaan ini sebagai potret seorang hamba yang begitu berdedikasi kepada tuannya dan mencintai tuannya itu dengan mendalam, sehingga dia melayani dan sungguh menghormatinya. Hamba ini tidak puas dengan hanya melakukan “persyaratan minimum” tugas pekerjaannya, tetapi dia ikhlas untuk membuang segalanya demi menyenangkan tuannya.

Kerendahan hati atau kedinaan sedemikian – yang membuka kunci kuat-kuasa Allah dalam hidup kita – datang selagi kita memohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita dengan lebih mendalam lagi akan keagungan, kesempurnaan, dan kekudusan Allah yang kita layani. Pernyataan/perwahyuan ini dapat mengubah hidup kita dan menggerakkan kita untuk memberikan keseluruhan hidup kita kepada-Nya. Kebaikan-Nya kepada kita dapat mencairkan hati kita: Dia mengetahui semua dosa dan kelemahan kita, namun Ia mengasihi kita secara lengkap dan tanpa syarat sedikit pun. Allah adalah Tuhan yang harus kita layani dengan penuh syukur dan kasih, bukan dengan rasa takut dan rasa benci terhadap diri kita sendiri karena dosa-dosa kita.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus, “Kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor 5:14-15). Hidup untuk Kristus akan menempatkan kita pada posisi yang sangat dekat dengan hasrat-hasrat-Nya. Sebagai akibatnya, doa-doa kita dan kata-kata kita akan mengalir dari kehendak-Nya dan hati-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, keagungan-Mu memenuhi surga dan bumi, namun Engkau merendahkan diri-Mu demi menyelamatkan diriku dari maut karena dosa-dosaku. Engkau layak dan pantas untuk menerima semua afeksi dan ketaatanku. Tuhan Yesus, dengan rendah hati aku memberikan kepada-Mu seluruh hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:5-10), bacalah tulisan yang berjudul “TAMBAHKANLAH IMAN KAMI !!!” (bacaan tanggal 6-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAHOKTOBER 2013.

Cilandak, 3 Oktober 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK HANYA KESAKSIAN MUSA DAN PARA NABI

TIDAK HANYA KESAKSIAN MUSA DAN PARA NABI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI [Tahun C] – 29 September 2013)

LAZARUS DAN ORANG KAYA LUK 16“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak Bapak Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31)

Bacaan Pertama: Am 6:1a,4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:1-10; Bacaan Kedua 1Tim 6:11-16

Abraham mengatakan kepada orang yang kaya itu bahwa mukjizat yang paling spektakuler sekali pun tidak akan mampu untuk mengubah hati atau pikiran orang. Hanya sabda Allah sajalah yang dapat melakukannya. “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Luk 16:31). Tujuan Yesus mengatakan ini adalah untuk menggaris-bawahi adanya suatu kuat-kuasa riil dalam sabda Allah. Apabila kita sungguh mendengarkan sabda Allah itu, jika kita mengesampingkan ide-ide dan hasrat-hasrat kita sendiri, maka Kitab Suci dapat mengubah diri kita secara mendalam.

LECTIO DIVINAMendengarkan sabda Allah dalam Kitab Suci dengan cara yang dapat mengubah hati kita menyangkut lebih daripada sekadar membaca dan/atau mendengar sabda Allah. Bagaimana pun juga orang kaya dalam perumpamaan ini mempunyai Kitab Taurat dan Kitab para Nabi, dan hal itu tidak membuat perubahan atas dirinya. Untuk mendengar sabda Allah, pertama-tama kita harus menenangkan hati dan pikiran kita. Kita harus membuat hening segala macam suara/kebisingan yang dapat dengan cepat menjadi distraksi/pelanturan: pikiran-pikiran tentang hal-hal lain apa saja yang harus kita lakukan, apa saja yang ingin kita lakukan, atau apa saja yang kita telah lupa lakukan. Yang diminta oleh Allah hanyalah bahwa kita memusatkan perhatian kita kepada-Nya untuk hanya beberapa menit lamanya.

Apabila kita telah menenangkan pikiran kita dengan cara begini, janganlah merasa terkejut untuk menemukan rasa bersalah, kemarahan, penolakan, atau dosa yang selama ini terhambat atau tertutupi oleh urusan-urusan lain sehari-hari dan tidak dapat muncul ke atas permukaan dengan segera. Sesungguhnya ada banyak sekali “jaringan laba-laba” yang harus dibersihkan terlebih dahulu melalui pertobatan. Pertobatan akan menghancurkan berbagai halangan yang berdiri antara kita dan Allah. Pertobatan membebaskan diri kita untuk mendengar dari Dia tanpa gangguan atau distorsi dan memampukan kita untuk membuka hati kita lebar-lebar guna menerima sabda-Nya.

Sekarang, kitapun siap untuk memohon kepada Roh Kudus untuk berbicara kepada kita selagi kita membaca Kitab Suci. Kita harus membacanya dengan tidak terburu-buru. Baiklah bagi kita untuk berhenti bilamana ada sepatah kata atau frase yang menarik perhatian kita, atau katakalah menyentuh hati kita. Sekali-kali kita harus berhenti dan memohon kepada Roh Kudus untuk membantu kita memahami apa yang dikatakan-Nya kepada kita. Kita harus menaruh kepercayaan bahwa Dia akan menjawab. Walaupun apa yang dikatakan Roh Kudus itu tidak menyenangkan, kita harus menyadari bahwa hal itu adalah demi kebaikan kita (lihat Yer 29:11). Apabila kita mencoba cara ini setiap hari sepanjang dua minggu, maka berkat Tuhan kita akan merasakan adanya perubahan dalam hati kita. Kita tidak hanya memiliki Musa dan para nabi, melainkan juga Yesus dan Roh Kudus. Biarlah kata-kata mereka merobek hati kita.

DOA: Roh Kudus Allah, berikanlah kepadaku telinga untuk mendengar Engkau, agar aku dapat mengenal Engkau dan mengasihi Engkau dan melayani Engkau hari ini dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN” (bacaan tanggal 29-9-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-6-10) dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 25 September 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KESELAMATAN DARI YESUS ADALAH UNTUK SETIAP ORANG

KESELAMATAN DARI YESUS ADALAH UNTUK SETIAP ORANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Senin, 23 September 2013)

Peringatan S. Padre Pio dr. Pietrelcina, Imam

Jesus_109“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga.” (Luk 8:16-18)

Bacaan Pertama: Ezr 1:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6

Injil Lukas menghadirkan kehidupan Yesus sejak saat dikandung-Nya oleh Roh Kudus, kelahiran-Nya lewat rahim Maria di Betlehem, persiapan-Nya sebelum terjun ke lapangan untuk melayani di depan publik, pelayanan-Nya di Galilea, dan perjalanan-Nya ke Yerusalem untuk disalibkan. Pelajaran singkat dari Yesus tentang “menjadi terang bagi orang-orang lain” ini (Luk 8:16-28) diberikan oleh-Nya langsung setelah pengajaran-Nya lewat “perumpamaan tentang seorang penabur” (Luk 8:4-15), dan ditempatkan selama Yesus berkhotbah di Galilea. Di situ ditunjukkan bahwa Yesus menarik orang Yahudi dan non-Yahudi (baca: Kafir) bersama-sama untuk menjadi “Israel milik Allah” (Gal 6:16).

Tema sentral dari pewartaan Injil Yesus dalam Injil Lukas adalah, bahwa keselamatan yang dibawa oleh Yesus dimaksudkan untuk setiap orang, jadi bukan hanya untuk orang Yahudi saja. Oleh karena itu, adalah wajib bagi kita semua untuk mensyeringkan kabar baik Yesus Kristus ini dengan orang-orang lain, apa pun status dan kondisi mereka. Terang yang telah kita terima bukanlah sekadar untuk penerangan kita sendiri, melainkan juga untuk memenuhi sabda profetis (kenabian) dari Dia yang berkata: “Akulah terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan” (Yoh 8:12). Jadi, Yesus adalah sumber segala terang. Ia akan menyingkapkan apa yang tersembunyi dan membuat segala yang rahasia menjadi diketahui (Luk 8:17). Yesus tidak menyusut dari proklamasi pesan-Nya dan misi-Nya untuk memberi penerangan pada dunia.

Pada tataran yang lain, tubuh Kristus – Gereja – adalah pelita yang harus menolong orang-orang lain agar dapat melihat terang itu. Gereja seharusnya memberi penerangan atas jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang mencari kebenaran, memimpin mereka kepada Dia yang merupakan pernyataan/perwahyuan Bapa surgawi. Kita adalah Gereja, jadi masih pada tataran lainnya, kita masing-masing bertanggung-jawab secara pribadi untuk menjadi pelita yang membawa terang Kristus kepada dunia. Terang kita harus disyeringkan dengan semua orang yang kita temui, karena terang itu bukanlah sekadar diperuntukkan bagi sekelompok kecil orang.

Tidak seorang pun dari kita – awam, imam, diakon, birawati atau biarawan – dapat menghasilkan terang dari diri kita sendiri. Kita hanya dapat memperkenankan terang Yesus bercahaya melalui diri kita karena Dialah terang yang sejati yang menerangi dunia. Yesus adalah terang dari Bapa yang menerangi setiap orang yang datang ke dalam dunia. Kita tidak boleh menjadi “tempayan” yang menutupi terang itu atau tempat tidur yang menyembunyikannya. Sebaliknya kita dipanggil untuk menjadi “kaki pelita” dari mana terang Yesus itu bercahaya ke segala arah.

DOA: Tuhan Yesus, terangilah dunia ini, terangilah Gereja-Mu, terangilah pikiran dan hati kami. Usirlah kegelapan dosa dan pimpinlah kami kepada Bapa surgawi. Yesus, kami percaya bahwa Engkau adalah terang dunia! Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG MEMPUNYAI, KEPADANYA AKAN DIBERI” (bacaan tanggal 23-9-13) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “PERHATIKANLAH CARA KAMU MENDENGAR” (bacaan tanggal 24-9-12), “PERUMPAMAAN TENTANG PELITA” (bacaan tanggal 19-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2011.

Cilandak, 18 September 2013 [Peringatan S. Yosef dr. Copertino]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH AKU LEBIH BAIK DARI ORANG-ORANG FARISI?

APAKAH AKU LEBIH BAIK DARI ORANG-ORANG FARISI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV [TahunC] – 22 September 2013)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?
Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Luk 16:10-13)

Bacaan Pertama: Am 8:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-2,4-8; Bacaan Kedua: 1Tim 2:1-8; Bacaan Injil (versi panjang): Luk 16:1-13

Yesus mempunyai cara-Nya sendiri untuk mengkaitkan prinsip-prinsip teoritis dengan hidup-praktis, hal mana terkadang membuat orang merasa tidak nyaman. Pada zaman kita sekarang, misalnya, banyak orang merasa tidak nyaman kalau masalah keuangan dimunculkan berbareng dengan hal-ikhwal hidup rohani. Hidup Kristiani menuntut bagaimana kita harus berurusan dengan uang dan selalu memeriksa batin kita apakah ada keserakahan dalam keputusan yang kita ambil dalam bidang keuangan.

Ada hal-hal yang kita tidak ingin periksa karena bersifat terlalu pribadi; hal-hal tersebut menyentuh kita dengan begitu mendalam. Sebagian besar dari kita sebenarnya memiliki sifat self-focuced, self-centered, berpusat pada diri sendiri; berpikir, bersikap dan bertindak-tanduk demi kepentingan pribadi. Hal seperti ini jelas akan membatasi kemampuan kita untuk melihat diri kita sebagai anggota-anggota dari sebuah komunitas yang lebih besar, sebuah komunitas yang mencakup baik orang-orang miskin maupun kaya. Kata-kata Yesus di atas sungguh relevan untuk para murid-Nya yang dapat digolongkan sebagai kaum miskin, demikian pula untuk mereka yang kaya. Kata-kata-Nya tetap berlaku pada zaman kita ini, berlaku bagi setiap orang.

Yesus memberi peringatan, bahwa harta-kekayaan berkemungkinan besar menjadi TUAN kita. Kebanyakan orang mau berpikir bahwa mereka memiliki sikap rasional terhadap peranan harta-kekayaan. Namun pada kenyataannya kuasa uang lebih kuat, sehingga menjadi tuan. Kita tidak dapat menyangkal bahwa uang memiliki kuasa yang begitu kuat, sehingga secara relatif mudah dapat memperbudak orang-orang. Ingatlah rekaman pembicaraan telepon-tersadap yang masih menjadi isu hangat pada hari-hari ini. Lihat bagaimana para pejabat negara yang biasanya tampak angker-menakutkan di depan rakyat kebanyakan, terasa tidak lebih dari budak-budak di hadapan seorang pengusaha-gelap yang mempunyai uang.

Tanyakanlah kepada siapa saja yang anda temui, siapa yang merasa sudah cukup mempunyai uang? Yesus mengatakan bahwa orang-orang Farisi itu adalah hamba-hamba uang (Luk 16:14), meskipun mereka menyangkal kenyataan itu. Nah, pertanyaan yang pantas kita tanyakan kepada diri kita masing-masing sekarang: “Apakah aku lebih baik dari orang-orang Farisi?” Sampai hari ini peringatan dari Yesus tentang kenyataan bahwa uang itu berkompetisi dengan Allah untuk menjadi tuan kita, tetap menggelisahkan banyak orang. Tidak sedikit orang merasa terganggu karena pernyataan Yesus ini, oleh karena itu diam-diam berpindah ke agama/kepercayaan yang lebih dapat mengakomodir keyakinannya tentang fungsi harta-kekayaan dalam kehidupan seseorang.

Sebagai seorang Kristiani kita harus menghadapi isu ini dengan berdiri-tegak. Apakah harta-kekayaan yang sesungguhnya menjadi tuan kita, dan bukannya Allah? Apakah tidak adanya uang menjadi suatu halangan bagi kita dalam menghayati hidup Kristiani? Tidak ada jawaban yang sama untuk setiap situasi. Dari waktu ke waktu kita dapat memiliki sikap yang mendua. Oleh karena itu perlulah untuk kita melakukan pemeriksaan batin di hadapan Allah setiap hari, teristimewa dalam Ibadat Penutup, mohon ampun atas dosa-dosa kita dan berketetapan hati untuk kembali kepada-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, terangilah kegelapan hatiku, ubahlah hatiku dan berikanlah kepadaku hati dan pikiran Kristus. Amin.

Cilandak, 18 September 2013 [Peringatan S. Yosef dr. Copertino]

Sdr. F.X. Indrapradja OFS

SUKACITA DI SURGA

SUKACITA DI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIV – 15 September 2013)

Lost_Sheep_1158-39Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:1-10)

Bacaan Pertama: Kel 32:7-11,13-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,17,19; Bacaan Kedua: 1Tim 1:12-17; Bacaan Injil (Versi Panjang): Luk 15:1-32

Pada hari Minggu ini, marilah kita mengambil versi pendek/singkat Bacaan Injil, yaitu Luk 15:1-10, satu dan lain hal karena keterbatasan ruang yang tersedia. “Perumpamaan tentang anak yang hilang” (Luk15:11-32) dapat dibaca dalam uraian-uraian di blog SANG SABDA maupun PAX ET BONUM.

Perumpamaan-perumpamaan yang diajarkan Yesus dalam bacaan Injil hari ini jelas merupakan pelajaran tentang pengharapan dan keyakinan akan belas kasih Allah yang besar. Bukankah kita semua adalah para pendosa? Bukankah kita semua pernah “hilang” seperti domba yang hilang dalam perumpamaan itu?

Apabila kita hanya berurusan dengan keadilan Allah, maka kita dapat menjadi berputus-asa. Kelihatannya tidak ada pengharapan lagi bagi kita semua. Namun dalam sejarah yang menyangkut hubungan Allah dan umat manusia seperti tercatat dalam Perjanjian Lama, kita melihat bahwa keadilan Allah senantiasa dibarengi dengan belas kasih-Nya (kerahiman-Nya).

DIRHAM YANG HILANG - 01Klimaks dan tindakan puncak dari belas kasih Allah adalah Inkarnasi …… “Sabda menjadi daging” …… “Firman telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Putera Allah yang tunggal, Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus, Allah sendiri datang ke dunia dan dilahirkan sebagai seorang anak manusia. Sebagai Yesus dari Nazaret, Ia hidup sebagai manusia dari keluarga sederhana dan mengajar umat tentang belas-kasih Allah dan kasih-Nya, mati di kayu salib untuk membuka kembali surga bagi kita dan Ia sendiri yang memimpin kita ke sana. Yesus mengutus Roh Kudus untuk memberdayakan kita serta mewariskan Gereja-Nya untuk mengajar kita. Yesus juga memberikan sakramen-sakramen di mana Dia masih berkarya di tengah kita dan merekonsiliasikan kita dengan Bapa surgawi.

Pikirkanlah para pendosa yang dijumpai Yesus semasa hidup-Nya: para pencuri dan perampok, para pezinah, para pemungut cukai. Bahkan di antara para murid-Nya yang pertama, ada Simon Petrus yang menyangkal diri-Nya dan Yudas Iskariot, si pengkhianat. Namun, dari bacaan Injil, kita melihat bahwa Yesus tidak pernah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan kepada para pendosa itu, kecuali para pemuka agama Yahudi yang munafik.

Tidak ada seorang pendosa akan “hilang” hanya karena dosanya. Para pendosa menjadi “hilang” karena mereka tidak mau atau tidak mampu lagi untuk berbalik kepada Bapa yang berbelas-kasih untuk mohon pengampunan-Nya karena sudah begitu terjerat dalam kedosaan. Bapa surgawi senantiasa memanggil para pendosa dengan penuh belas-kasih dan mendesak mereka untuk kembali kepada diri-Nya.

Kita semua sebenarnya adalah para pendosa, tentunya dengan gradasi yang berbeda-beda. Dengan demikian, kita pun harus mencoba untuk mendengar panggilan Allah untuk melakukan pertobatan dan menjalin relasi kasih yang lebih intim dengan diri-Nya. Panggilan Allah ini selalu ada di sana; dalam Kitab Suci, dalam sakramen-sakramen, bahkan pada saat-saat kita berdoa.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengatakan kepada kami bahwa ada sukacita di dalam surga karena seorang pendosa bertobat. Kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengatakan hal itu kepada kami. Kami berterima kasih pula untuk belas-kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “DUA BUAH PERUMPAMAAN YESUS” (bacaan tanggal 15-9-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG DOMBA DAN DIRHAM YANG HILANG” (bacaan tanggal 3-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-11-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 12 September 2013 [Peringatan Nama Maria yang Tersuci]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers