Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

APAKAH AKU LEBIH BAIK DARI ORANG-ORANG FARISI?

APAKAH AKU LEBIH BAIK DARI ORANG-ORANG FARISI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV [TahunC] – 22 September 2013)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu?
Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Luk 16:10-13)

Bacaan Pertama: Am 8:4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-2,4-8; Bacaan Kedua: 1Tim 2:1-8; Bacaan Injil (versi panjang): Luk 16:1-13

Yesus mempunyai cara-Nya sendiri untuk mengkaitkan prinsip-prinsip teoritis dengan hidup-praktis, hal mana terkadang membuat orang merasa tidak nyaman. Pada zaman kita sekarang, misalnya, banyak orang merasa tidak nyaman kalau masalah keuangan dimunculkan berbareng dengan hal-ikhwal hidup rohani. Hidup Kristiani menuntut bagaimana kita harus berurusan dengan uang dan selalu memeriksa batin kita apakah ada keserakahan dalam keputusan yang kita ambil dalam bidang keuangan.

Ada hal-hal yang kita tidak ingin periksa karena bersifat terlalu pribadi; hal-hal tersebut menyentuh kita dengan begitu mendalam. Sebagian besar dari kita sebenarnya memiliki sifat self-focuced, self-centered, berpusat pada diri sendiri; berpikir, bersikap dan bertindak-tanduk demi kepentingan pribadi. Hal seperti ini jelas akan membatasi kemampuan kita untuk melihat diri kita sebagai anggota-anggota dari sebuah komunitas yang lebih besar, sebuah komunitas yang mencakup baik orang-orang miskin maupun kaya. Kata-kata Yesus di atas sungguh relevan untuk para murid-Nya yang dapat digolongkan sebagai kaum miskin, demikian pula untuk mereka yang kaya. Kata-kata-Nya tetap berlaku pada zaman kita ini, berlaku bagi setiap orang.

Yesus memberi peringatan, bahwa harta-kekayaan berkemungkinan besar menjadi TUAN kita. Kebanyakan orang mau berpikir bahwa mereka memiliki sikap rasional terhadap peranan harta-kekayaan. Namun pada kenyataannya kuasa uang lebih kuat, sehingga menjadi tuan. Kita tidak dapat menyangkal bahwa uang memiliki kuasa yang begitu kuat, sehingga secara relatif mudah dapat memperbudak orang-orang. Ingatlah rekaman pembicaraan telepon-tersadap yang masih menjadi isu hangat pada hari-hari ini. Lihat bagaimana para pejabat negara yang biasanya tampak angker-menakutkan di depan rakyat kebanyakan, terasa tidak lebih dari budak-budak di hadapan seorang pengusaha-gelap yang mempunyai uang.

Tanyakanlah kepada siapa saja yang anda temui, siapa yang merasa sudah cukup mempunyai uang? Yesus mengatakan bahwa orang-orang Farisi itu adalah hamba-hamba uang (Luk 16:14), meskipun mereka menyangkal kenyataan itu. Nah, pertanyaan yang pantas kita tanyakan kepada diri kita masing-masing sekarang: “Apakah aku lebih baik dari orang-orang Farisi?” Sampai hari ini peringatan dari Yesus tentang kenyataan bahwa uang itu berkompetisi dengan Allah untuk menjadi tuan kita, tetap menggelisahkan banyak orang. Tidak sedikit orang merasa terganggu karena pernyataan Yesus ini, oleh karena itu diam-diam berpindah ke agama/kepercayaan yang lebih dapat mengakomodir keyakinannya tentang fungsi harta-kekayaan dalam kehidupan seseorang.

Sebagai seorang Kristiani kita harus menghadapi isu ini dengan berdiri-tegak. Apakah harta-kekayaan yang sesungguhnya menjadi tuan kita, dan bukannya Allah? Apakah tidak adanya uang menjadi suatu halangan bagi kita dalam menghayati hidup Kristiani? Tidak ada jawaban yang sama untuk setiap situasi. Dari waktu ke waktu kita dapat memiliki sikap yang mendua. Oleh karena itu perlulah untuk kita melakukan pemeriksaan batin di hadapan Allah setiap hari, teristimewa dalam Ibadat Penutup, mohon ampun atas dosa-dosa kita dan berketetapan hati untuk kembali kepada-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, terangilah kegelapan hatiku, ubahlah hatiku dan berikanlah kepadaku hati dan pikiran Kristus. Amin.

Cilandak, 18 September 2013 [Peringatan S. Yosef dr. Copertino]

Sdr. F.X. Indrapradja OFS

SUKACITA DI SURGA

SUKACITA DI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIV – 15 September 2013)

Lost_Sheep_1158-39Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:1-10)

Bacaan Pertama: Kel 32:7-11,13-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,17,19; Bacaan Kedua: 1Tim 1:12-17; Bacaan Injil (Versi Panjang): Luk 15:1-32

Pada hari Minggu ini, marilah kita mengambil versi pendek/singkat Bacaan Injil, yaitu Luk 15:1-10, satu dan lain hal karena keterbatasan ruang yang tersedia. “Perumpamaan tentang anak yang hilang” (Luk15:11-32) dapat dibaca dalam uraian-uraian di blog SANG SABDA maupun PAX ET BONUM.

Perumpamaan-perumpamaan yang diajarkan Yesus dalam bacaan Injil hari ini jelas merupakan pelajaran tentang pengharapan dan keyakinan akan belas kasih Allah yang besar. Bukankah kita semua adalah para pendosa? Bukankah kita semua pernah “hilang” seperti domba yang hilang dalam perumpamaan itu?

Apabila kita hanya berurusan dengan keadilan Allah, maka kita dapat menjadi berputus-asa. Kelihatannya tidak ada pengharapan lagi bagi kita semua. Namun dalam sejarah yang menyangkut hubungan Allah dan umat manusia seperti tercatat dalam Perjanjian Lama, kita melihat bahwa keadilan Allah senantiasa dibarengi dengan belas kasih-Nya (kerahiman-Nya).

DIRHAM YANG HILANG - 01Klimaks dan tindakan puncak dari belas kasih Allah adalah Inkarnasi …… “Sabda menjadi daging” …… “Firman telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Putera Allah yang tunggal, Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus, Allah sendiri datang ke dunia dan dilahirkan sebagai seorang anak manusia. Sebagai Yesus dari Nazaret, Ia hidup sebagai manusia dari keluarga sederhana dan mengajar umat tentang belas-kasih Allah dan kasih-Nya, mati di kayu salib untuk membuka kembali surga bagi kita dan Ia sendiri yang memimpin kita ke sana. Yesus mengutus Roh Kudus untuk memberdayakan kita serta mewariskan Gereja-Nya untuk mengajar kita. Yesus juga memberikan sakramen-sakramen di mana Dia masih berkarya di tengah kita dan merekonsiliasikan kita dengan Bapa surgawi.

Pikirkanlah para pendosa yang dijumpai Yesus semasa hidup-Nya: para pencuri dan perampok, para pezinah, para pemungut cukai. Bahkan di antara para murid-Nya yang pertama, ada Simon Petrus yang menyangkal diri-Nya dan Yudas Iskariot, si pengkhianat. Namun, dari bacaan Injil, kita melihat bahwa Yesus tidak pernah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan kepada para pendosa itu, kecuali para pemuka agama Yahudi yang munafik.

Tidak ada seorang pendosa akan “hilang” hanya karena dosanya. Para pendosa menjadi “hilang” karena mereka tidak mau atau tidak mampu lagi untuk berbalik kepada Bapa yang berbelas-kasih untuk mohon pengampunan-Nya karena sudah begitu terjerat dalam kedosaan. Bapa surgawi senantiasa memanggil para pendosa dengan penuh belas-kasih dan mendesak mereka untuk kembali kepada diri-Nya.

Kita semua sebenarnya adalah para pendosa, tentunya dengan gradasi yang berbeda-beda. Dengan demikian, kita pun harus mencoba untuk mendengar panggilan Allah untuk melakukan pertobatan dan menjalin relasi kasih yang lebih intim dengan diri-Nya. Panggilan Allah ini selalu ada di sana; dalam Kitab Suci, dalam sakramen-sakramen, bahkan pada saat-saat kita berdoa.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengatakan kepada kami bahwa ada sukacita di dalam surga karena seorang pendosa bertobat. Kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengatakan hal itu kepada kami. Kami berterima kasih pula untuk belas-kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “DUA BUAH PERUMPAMAAN YESUS” (bacaan tanggal 15-9-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG DOMBA DAN DIRHAM YANG HILANG” (bacaan tanggal 3-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-11-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 12 September 2013 [Peringatan Nama Maria yang Tersuci]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SATU-SATUNYA ORANG YANG QUALIFIED

SATU-SATUNYA ORANG YANG QUALIFIED

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup-Pujangga Gereja – Jumat, 13 September 2013)

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASYesus menyampaikan lagi suatu perumpamaan kepada mereka, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang? Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi siapa saja yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapa engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Luk 6:39-42)

Bacaan Pertama: 1Tim 1:1-2,12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1,2,5,7-8,11

Terutama dalam masa ketidakpastian seperti sekarang ini, tidak mengherankanlah apabila jumlah “guru-guru kebijaksanaan”, “guru-guru spiritual” dan teristimewa para “motivator” menjadi semakin banyak saja yang beroperasi dalam masyarakat kita untuk menawarkan jasa-jasa “baik” dan mengajarkan “kiat-kiat” menuju “sukses” kehidupan, menurut versi mereka masing-masing tentunya. Di Pulau Dewata, misalnya, ada seorang guru spiritual yang berasal dari India yang mengajar dan mempunyai sekelompok murid.

Di lain pihak, ada juga iklan-iklan di TV dan media massa lainnya dan tulisan-tulisan dalam berbagai surat-kabar yang mencoba mempengaruhi kita, tidak hanya berkaitan dengan barang/jasa apa yang harus kita beli melainkan juga bagaimana seharusnya kita berpikir, memilih dan berelasi satu sama lain. Dalam keadaan hiruk-pikuk seperti ini siapakah yang dapat kita percayai? Di manakah kita dapat menemukan bimbingan spiritual yang sejati? Guru manakah yang sungguh qualified? Yesus melontarkan sebuah pertanyaan sangat relevan yang harus membuat kita berpikir dan menanggapinya: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?” (Luk 6:39).

PAULUS - 2Dalam hal ini Santo Paulus memberikan sebuah petunjuk penting. Ia menyebut dirinya sendiri sebagai seorang “rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah” (1Tim 1:1), namun kualifikasi dirinya yang ditulisnya untuk pelayanannya sebagai rasul mengejutkan juga. Bukannya suatu “litani” dari berbagai gelar akademis yang berhasil diraihnya dan juga berbagai capaian lainnya selama hidupnya, Paulus memberi gelar kepada dirinya sebagai seorang penghujat, penganiaya dan ganas yang telah menerima belas kasih dan rahmat dari Tuhan (1Tim 1:13-14). Sebagaimana Paulus melihatnya, satu-satunya orang yang qualified sebagai seorang pengurus (steward) dari belas kasih Allah adalah orang yang telah mengalami belas kasih itu. Pengalaman akan Allah/Yesus (experience of God/Jesus) memang merupakan suatu hal yang bersifat hakiki dalam hidup Kekristenan yang sejati. Lihatlah riwayat hidup para kudus seperti S. Augustinus dari Hippo [354-430], S. Fransiskus dari Assisi [1181-1226], S. Bonaventura [1221-1274], S. Thomas More [1478-1535], S. Ignatius dari Loyola [1491-1556], S. Teresa dari Lisieux [1873-1897] dan begitu banyak lagi para kudus lainnya.

Hal-hal yang membuat orang banyak merasa tertarik kepada Paulus adalah dedikasinya, kejujurannya, integritasnya, dan kemampuannya untuk menjadi segalanya bagi semua orang. Bukankah pembimbing spiritual seperti ini yang menarik dan sungguh kita butuhkan? Bukannya mereka yang pergi ke sana ke mari hanya untuk tebar pesona dan membingungkan kita dengan rupa-rupa gelar akademis serta janji-janji yang tidak realistis, atau menyerang orang-orang lain dengan kata-kata tajam yang tidak membangun. Kita ditarik untuk mendekat kepada mereka yang berjalan bersama-sama dalam perjalanan kita, mereka yang menyemangati dan mendorong kita untuk bertekun, dan mengatakan kepada kita bagaimana sang Gembala Baik telah mendampingi mereka melalui “lembah-lembah kekelaman” (lihat Mzm 23). Pemberian semangat dan dorongan positif ini lebih meyakinkan lagi, teristimewa jika Allah juga belum selesai dengan perkara mereka sendiri, namun mereka sangat menyadari bahwa Allah belum menyerah dalam perkara mereka dan terus menyembuhkan, mengampuni dan mentransformasikan mereka dalam Kristus. Inilah orang-orang yang dinamakan oleh P. Henri Nouwen sebagai wounded healer, “penyembuh yang terluka”.

Orang-orang seperti ini tidak akan banyak berbicara mengenai kelemahan-kelemahan kita (“serpihan kayu”; Luk 6:41-42). Sebaliknya, mereka akan banyak syering tentang bagaimana Allah sedang bekerja mengampuni dan mengatasi “balok-balok” dalam hidup mereka. Mereka tidak menunjuk-nunjuk dosa kita, melainkan dengan lemah lembut berbicara berkaitan dengan hal-hal yang berada di bawah permukaan, yaitu rasa haus dan lapar kita akan Allah, kerinduan kita akan kasih-Nya yang tanpa syarat, pengampunan-Nya, serta suatu awal yang baru dan menyegarkan. Orang-orang itu adalah pemimpin-pemimpin sejati dalam Tubuh Kristus, dan pemimpin-pemimpin seperti itulah yang menjadi murid-murid Kristus “yang sama dengan Gurunya” (lihat Luk 6:40).

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang berbelas kasih. Kami telah menerima bela-rasa dan pengampunan dari-Mu. Buatlah kami kembali menjadi seturut citra-Mu. Apabila kami tergoda untuk mengkritisi atau menghakimi orang-orang lain, bukalah mata kami agar mampu melihat kedalaman cintakasih-Mu – bagi mereka dan bagi kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:39-42), bacalah tulisan yang berjudul “AJARAN TENTANG KASIH” (bacaan tanggal 13-9-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpdress.com; kategori: 13-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013.

Cilandak, 9 September 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ADA BIAYA YANG HARUS DIPERHITUNGKAN

ADA BIAYA YANG HARUS DIPERHITUNGKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII [Tahun C] – 8 September 2013)

BIAYA PEMURIDANPada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku. (Luk 14:25-33)

Bacaan Pertama: KebSal 9:13-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17; Bacaan Kedua: Flm 9b-10.12-17

Membenci bapaknya dan ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan (Luk 14:26)? Bukankah Yesus mewartakan tentang kasih, bukan kebencian?

Tentu saja, Yesus memanggil kita untuk mengasihi setiap orang seperti dilakukan-Nya, termasuk keluarga kita sendiri. Namun Yesus juga dengan jelas menyatakan bahwa “keterikatan atau kelekatan” – walaupun pada keluarga sendiri – tidak dapat menjadi preseden terhadap pengabdian penuh kepada diri-Nya. Seperti telah dicontohkan oleh kehidupan banyak orang kudus, menjadi murid Yesus kadang kala menghadapi oposisi dari seorang atau lebih anggota keluarga. Apabila hal seperti ini terjadi, kita harus menolak tekanan-tekanan dari pihak yang menentang, walaupun kita harus terus mengasihi mereka.

Yesus menjanjikan kehidupan kekal dalam kerajaan-Nya bagi mereka yang mengikuti-Nya. Namun apabila kita ingin berhasil dalam mengikuti Yesus sampai akhir, kita harus secara realistis melakukan “kalkulasi biaya”. Bayangkanlah kita sedang membangun sebuah rumah idaman. Berapa biaya konstruksinya? Apakah kita memiliki berbagai sumber daya yang diperlukan? Kemungkinan besar kita harus mengorbankan pengeluaran-pengeluaran uang untuk keperluan lain, agar tersedia cukup dana untuk pembangunan rumah idaman kita ini. Penyusunan anggaran dan pengawasannya menjadi hakiki dalam hal ini, kalau kita tidak ingin keteteran dalam hal keuangan sehingga jangan-jangan memaksa kita untuk menjual rumah yang baru setengah jadi, dengan merugi lagi!

Croke_Transition_Team2Kita mengetahui pentingnya perencanaan untuk masa depan kita di dunia ini. Ada beberapa ungkapan dalam dunia bisnis yang menekankan pentingnya perencanaan, misalnya “Failing to plan, you are planning to fail!” dan “Plan ahead, it wasn’t raining when Noah built the Ark”. Sekarang masalahnya adalah, apakah kita melakukan perencanaan masa depan kita di dalam Kerajaan Allah? Apakah kita melakukan investasi dalam surga atau hanya dalam hal-hal yang bersifat sementara saja? Kita harus mempertimbangkan faktor waktu, berbagai karunia dan talenta, serta segala sesuatu yang lain yang telah diberikan Allah kepada kita. Apakah kita (anda dan saya) menggunakan semua hadiah “gratis” dari Allah itu untuk melayani-Nya, …… untuk mengumpulkan bagi kita harta di surga (Mat 6:19-20)? Apakah kita (anda dan saya) bersedia menyerahkan/melepaskan apa saja yang diminta Allah dari kita demi cintakasih kita kepada-Nya?

Jikalau menjadi seorang murid Kristus mendatangkan kesusahan bagi kita dari waktu ke waktu, barangkali hal itu justru mengindikasikan bahwa kita berada di jalan yang benar. Ini adalah jalan yang sama yang dijalani oleh Yesus ketika menuju bukit Kalvari. Seperti juga Kristus, kita tidak perlu takut. Kita sungguh tidak memerlukan suatu polis asuransi atau “Plan B” atau suatu “exit strategy” apabila urusan pemuridan/kemuridan ini gagal di tengah jalan. Kita harus senantiasa ingat bahwa Allah kita adalah Allah yang Mahasetia. Dia tidak pernah akan meninggalkan kita sendiri selagi kita menghadapi tantangan-tantangan hidup sebagai pengikut Kristus. Bahkan ketika mengikuti Kristus ini menjadi “mahal”, kita tetap harus mengingat bahwa Yesus adalah “Imanuel” yang senantiasa menyertai kita (Mat 1:23; 28:20). Kita dibantu oleh Roh Kudus-Nya, dan segala sumber daya yang dimiliki-Nya tidak akan pernah habis.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar menjadi murid Kristus yang sejati, walaupun pada saat-saat biayanya kelihatan mahal. Melalui pertolongan Roh Kudus-Mu, aku memilih untuk mengikuti Kristus setiap hari dalam hidupku di dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SAJA YANG TIDAK MEMIKUL SALIBNYA DAN MENGIKUT AKU, IA TIDAK DAPAT MENJADI MURID-KU” (bacaan tanggal 8-9-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori:13-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013.

Cilandak, 3 September 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERENDAHAN DIRI YESUS KRISTUS DAN KEMULIAAN-NYA

PERENDAHAN DIRI YESUS KRISTUS DAN KEMULIAAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXII – 1 September 2013)

HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL

YESUS DI MEJA PERJAMUAN DENGAN ORANG FARISIPada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat bagaimana para undangan memilih tempat-tempat kehormatan, Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat daripada engkau, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di tempat yang lebih terhormat. Dengan demikian, engkau akan menerima hormat di depan mata semua orang yang makan bersamamu. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Lalu Yesus berkata juga orang yang mengundang Dia, “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau lagi dan dengan demikian engkau mendapat balasannya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk 14:1.7-14)

Bacaan Pertama: Sir 3:17-18,20,28-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:4-7,10-11; Bacaan Kedua: Ibr 12:18-19,22-24

“Besarlah kekuasaan Tuhan, dan oleh yang hina-dina Ia dihormati” (Sir 3:20).

Di mana pun tidak ada bukti yang lebih jelas tentang pengungkapan kebesaran Allah, kecuali dalam SALIB KRISTUS. Yesus, Raja Alam Ciptaan (lihat Yoh 1:3), yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Jadi Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal mengambil “jalan menurun” untuk masuk ke dalam dunia ciptaan-Nya sendiri sebagai seorang anak manusia. Bukankah terasa ironis namun menakjubkan bahwa inilah cara bagaimana Yesus memuliakan Allah Bapa? Bukankah menakjubkan bilamana kita menyadari bahwa karena perendahan diri Yesus itu, maka Allah Bapa mengaruniakan kepada-Nya NAMA di atas segala nama? …… supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan”, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (lihat Flp 2:6-11).

KOMUNI KUDUS - 111Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, setiap kali kita menghadiri Misa Kudus, sebenarnya kita memperingati dua hal: “perendahan diri” (kedinaan) Yesus Kristus dan pada saat yang sama “kemuliaan”-Nya. Kita diundang untuk datang ke meja perjamuan Tuhan dengan segala kerendahan hati untuk melambungkan puji-pujian bagi nama-Nya – dan dalam prosesnya kita sendiri pun diangkat ke surga. Sang pemazmur mengatakan bahwa Allah adalah “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda” dan …… Ia memberi tempat tinggal-Nya sendiri kepada orang-orang yang sebatang kara. Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia …” (Mzm 68:6,7); bagi kita hal ini dapat diartikan mencapai kebebasan suatu hidup baru dalam Kristus.

Allah kita adalah Allah yang sangat menakjubkan. Allah kita jauh lebih besar daripada sebuah gunung yang menyemburkan api yang menyala-nyala disertai angin badai, bunyi suara sangkakala yang menakutkan (lihat Ibr 12:18-19). Namun demikian Allah memanggil kita yang lemah dan berdosa ini ke dalam hati-Nya. Dalam Misa Kudus kita dapat menghadap hadirat-Nya, bergabung dengan para malaikat yang sangat banyak, yang memuji-muji kemuliaan Allah dan bersuka-ria dalam kasih-Nya – semua karena Dia merendahkan diri-Nya dan menawarkan kepada kita bagian dari warisan-Nya.

Apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Kerajaan Allah, dalam segala kemuliaan dan kuasanya itu hadir pada setiap perayaan Ekaristi? Hidup-Nya, rahmat-Nya, belas kasih-Nya, dan kasih-Nya, semuanya terkandung dalam hosti kudus yang kita sambut. Bagaimana kemuliaan ilahi yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata itu dapat terkandung dalam roti yang begitu sederhana, baik dalam bentuk maupun substansi fisiknya? Apa lagi yang dapat dihasrati oleh kita selain Yesus yang berdiam dalam diri kita dan mengangkat kita bersama-Nya?

DOA: Tuhan Yesus, sekarang dan di tempat ini, aku bersembah sujud di hadapan hadirat-Mu karena kenyataan bahwa Engkau wafat dan bangkit untuk diriku dan sesamaku. Aku ingin menaruh hidupku dan segala sesuatu yang berharga di mataku di dekat kaki-Mu, agar dengan demikian aku dapat menyembah Engkau, satu-satunya yang pantas menerima kemuliaan dan kehormatan dan kuasa. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Cilandak, 30 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KITA SEPERTI HAMBA YANG JAHAT DAN MALAS

JANGANLAH KITA SEPERTI HAMBA YANG JAHAT DAN MALAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Sabtu, 31 Agustus 2013)

PERUMPAMAAN TENTANG TALENTA

“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” (Mat 25:14-30)

Bacaan Pertama: 1Tes 4:9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9

PERUMPAMAAN TENTANG TALENTA - 01Riset-riset ilmiah yang dilakukan, dari sidik jari sampai DNA, dari identifikasi suara sampai profil psikologis, membuat para ahli semakin merasa diyakinkan akan kebenaran Kitab Suci yang telah diketahui berabad-abad lamanya: Setiap pribadi adalah unik, bagian yang tidak dapat digantikan dalam alam ciptaan. Kita mengetahui bahwa Allah telah memberikan kepada kita seperangkat karunia alamiah dan talenta yang khusus untuk kita masing-masing, misalnya keterampilan di bidang atletik, di bidang musik, di bidang tulis-menulis, di bidang seni lukis dlsb. Bagian dari tantangan kita selagi kita bertumbuh semakin matang adalah untuk mengidentifikasikan talenta-talenta kita dan mengembangkan semua itu dengan cara yang akan membantu kita dan menguntungkan orang-orang di sekeliling kita.

Namun kita juga harus menyadari bahwa kepada kita masing-masing Allah telah menganugerahkan karunia-karunia spiritual – berbagai talenta yang menolong kita untuk bekerja sama dengan Allah dalam membangun Kerajaan-Nya. Karunia-karunia ini dapat berupa karunia untuk menasihati, karunia untuk melayani, karunia untuk mengajar, karunia untuk membagi-bagikan dengan dengan hati yang ikhlas, karunia untuk berbela rasa, dlsb. Barangkali kita (anda dan saya) dianugerahi iman yang kuat, karunia untuk menyembuhkan, dlsb (1Kor 12:8-11). Allah menganugerahkan karunia-karunia ini, dan Ia mengundang kita untuk bekerja bersama diri-Nya dengan cara-cara yang jauh melampaui kapasitas-kapasitas ilmiah yang kita miliki.

Marilah kita melihat perumpamaan Yesus tentang talenta ini sebagai suatu dorongan untuk bertanya kepada Tuhan, karunia-karunia apakah yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita dan bagaimana seharusnya kita menggunakan semua karunia-karunia itu. Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa Gereja, tubuh-Nya di atas bumi, hanya dapat bertumbuh apabila kita masing-masing menanggapi panggilan-Nya. Yesus tidak ingin kita seperti hamba yang jahat dan malas, yang menyembunytikan talentanya dalam tanah.

Ada baiknya bagi kita masing-masing untuk mengambil waktu pada hari ini membuat daftar dari karunia-karunia yang kita pikir Allah telah anugerahkan kepada kita, baik yang bersifat alamiah (natural) maupun yang spiritual. Apakah kita memiliki keprihatinan terhadap orang-orang miskin dan membutuhkan pertolongan? Apakah ada dorongan keras dalam hati kita untuk mengunjungi orang-orang yang menderita sakit-penyakit? Apakah mudah bagi kita untuk syering dengan orang-orang lain tentang Yesus? Ini adalah contoh-contoh yang dapat menjadi indikasi dari karunia-karunia dari Allah sedang menanti-nanti untuk dikembangkan. Oleh karena itu, marilah kita membuka pintu hati kita masing-masing bagi-Nya dan lihatlah ke mana Dia akan memimpin kita.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mata hatiku agar dapat melihat karunia-karunia yang telah dianugerahkan Bapa surgawi bagiku. Oleh Roh Kudus-Mu, berikanlah keberanian kepadaku untuk mengambil langkah guna mengikuti ke mana Engkau memimpinku. Dengan penuh syukur aku ingin kembali kepada-Mu, ya Tuhan, demi segala kebaikan yang Engkau telah lakukan atas diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mat 25:14-30), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH KRISTIANI ADALAH KASIH PERSAUDARAAN” (bacaan tanggal 31-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:14-30), bacalah juga tulisan yang berjudul “PERLIPAT-GANDAKANLAH TALENTAMU” (bacaan tanggal 1-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 29 Agustus 2013 [Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERJAGA-JAGA DALAM MENANTIKAN KEDATANGAN-NYA

BERJAGA-JAGA DALAM MENANTIKAN KEDATANGAN-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Jumat, 30 Agustus 2013)

PERUMPAMAAN TTG SEPULUH GADIS - 003“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedang gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam botol mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! Tetapi ia menjawab: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya. (Mat 25:1-13)

Bacaan Pertama: 1Tes 4:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,10-12

Pada saat parousia dan penghakiman terakhir, maka situasi menanti-nantikan Kerajaan Surga kiranya serupa atau mirip dengan cerita perumpamaan Yesus ini. Karena peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam perumpamaan ini sejalan dengan praktek perkawinan yang dikenal di Timur Tengah, hampir semua ahli Kitab Suci berpendapat bahwa perumpamaan ini adalah sebuah alegoria yang diciptakan oleh pengarangnya di mana detil-detil yang ada bersifat simbolik.

Sepuluh gadis itu barangkali sedang menunggu di rumah mempelai laki-laki. Mereka menanti-nantikan kedatangan sang mempelai laki-laki yang telah pergi menjemput mempelai perempuan dari rumah orangtuanya. Hal ini tidak hanya cocok dengan imaji Perjanjian Baru tentang Kerajaan Surga sebagai sebuah pesta perjamuan nikah (lihat Mat 22:1-14; Why 19:9), tetapi juga dengan Yesus sebagai sang mempelai laki-laki (Mat 9:15) dan Gereja sebagai mempelai perempuan (Why 21:2,9; Ef 5:25-26). Sepuluh gadis itu menanti-nantikan sang mempelai laki-laki, namun tidak semua siap dalam menghadapi situasi seandainya terjadi keterlambatan kedatangannya.

Lima orang gadis yang “bodoh” itu berbeda dengan “hamba yang jahat” dalam perumpamaan sebelumnya (Mat 24:45-51). Dalam perumpamaan itu – ketika melihat tuannya belum pulang-pulang juga, dia malah melakukan hal-hal yang tidak baik, yaitu memukul hamba-hamba yang lain, dan makan minum bersama-sama para pemabuk (Mat 24:49). Sebaliknya, “kesalahan” lima orang gadis yang “bodoh” adalah, bahwa mereka tidak memperhitungkan dengan serius adanya kemungkinan keterlambatan. Lima gadis yang “bijaksana” memperhitungkan kemungkinan terjadinya keterlambatan kedatangan sang mempelai laki-laki dengan sikap serius, dengan demikian mereka membawa minyak ekstra dalam botol untuk berjaga-jaga (Mat 25:4). Waktu berjalan terus dan hari pun semakin malam dan sang mempelai laki-laki tidak datang-datang juga, maka gadis-gadis itu pun tertidur.

PERUMPAMAAN - SEPULUH PERAWANKetika lima gadis yang “bodoh” menyadari bahwa mereka tidak memiliki cukup minyak, maka mereka memintanya dari lima gadis yang “bijaksana”. Kelima gadis yang “bijaksana” dengan bijaksana pula menunjuk pada kenyataan bahwa berbagi minyak mereka pada titik itu malah akan menimbulkan risiko tidak akan ada pelita yang menyala samasekali karena semuanya akan kehabisan minyak (Mat 25:9), jadi malah merusak acara pesta. Selagi gadis-gadis yang “bodoh” pergi membeli minyak, gadis-gadis yang “bijaksana” pergi menyambut dan ikut serta dalam prosesi untuk mengiringi rombongan pengantin ke dalam ruang pesta. Kemudian pintu rumah ditutup dan digembok, ini adalah perlambangan penghakiman terakhir. Masuk melalui pintu tidak hanya sulit (Mat 7:13-14), tetapi sudah tidak mungkin lagi pada saat yang crucial itu. Lima gadis “bodoh” yang baru kembali dari membeli minyak berseru: “Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!” (Mat 25:11), Ini adalah juga seruan para murid yang digambarkan Yesus dalam Mat 7:21-22; mereka mengharapkan diperbolehkan masuk ke dalam Kerajaan Surga karena nubuatan-nubuatan dan mukjizat-mukjizat yang mereka buat dalam nama Yesus. Namun, kepada mereka – seperti juga kepada lima orang gadis yang “bodoh” – Tuhan berkata: “Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu” (Mat 25:12; bdk. Mat 7:23).

Dalam “Khotbah di Bukit” itu Yesus pada dasarnya mencap mereka sebagai murid-murid “palsu” karena tidak menghasilkan buah yang baik (lihat Mat 7:15-20), artinya tidak melakukan kehendak Bapa-Nya, yaitu melakukan pekerjaan belas kasih (lihat Mat 25:31-46). Seperti juga para ahli Taurat dan Farisi yang berkhotbah namun tidak mempraktekkan sendiri apa yang mereka khotbahkan (Mat 23:3); dan orang bodoh yang mendirikan rumahnya di atas pasir, yang mendengarkan sabda Yesus, tetapi tidak melakukan apa-apa atas sabda itu (Mat 7:26-27); maka lima orang gadis yang “bodoh” itu tidak melakukan “agenda” yang telah ditetapkan oleh Yesus bagi para murid-Nya. Dalam “Khotbah di Bukit”, “pelita yang diletakkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang” (Mat 5:14-16) adalah gambaran (imaji) dari pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh para murid-Nya di mata dunia. Minyak dalam perumpamaan sepuluh gadis ini digunakan untuk pelita agar apinya tetap menyala, artinya pekerjaan-pekerjaan baik. Perintah yang terakhir dari Yesus dalam perumpamaan ini adalah agar kita senantiasa berjaga-jaga, bersiap-siap lewat pekerjaan-pekerjaan baik kita dalam menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kali, yang kita tidak pernah tahu kapan akan terjadi.

DOA: Tuhan Yesus, selagi aku menanti-nantikan kedatangan-Mu, aku hanya dapat melakukan hal-hal yang biasa saja, kadang-kadang hal-hal yang monoton yang tersedia dalam hidupku ini. Akan tetapi, ya Tuhanku dan Allahku, aku dapat melakukan hal-hal kecil tersebut secara istimewa demi cintakasihku kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Tes 4:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “NASIHAT SUPAYA HIDUP KUDUS” (bacaan tanggal 30-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG SEPULUH GADIS” (bacaan tanggal 31-8-12) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 23 Agustus 2013 [Peringatan S. Monika]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers