Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

SUPAYA SEMUA ORANG DAPAT MELIHAT CAHAYANYA

SUPAYA SEMUA ORANG DAPAT MELIHAT CAHAYANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Senin, 22 September 2014)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan S. Ignatius dr Santhi, Imam

670px-Oil_lamps_in_heraldry2.svg

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga.” (Luk 8:16-18)

Bacaan Pertama: Ams 3:27-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5

“Perumpamaan tentang pelita” dalam bacaan Injil hari ini, menurut pandangan Bernard C. Mischke OSC dan Fritz Mischke OSC (Pray Today’s Gospel) jelas mengacu pada pelita yang dibiarkan menyala di gerbang masuk rumah-rumah orang berkebudayaan Helenistis (Yunani), sehingga dengan demikian memancarkan cahaya bagi orang-orang yang masuk di tengah kegelapan malam. Aplikasinya yang langsung cukup jelas. Pelita itu dimaksudkan untuk memberikan cahaya kepada orang-orang non-Yahudi (baca: kafir) yang juga datang guna memasuki Kerajaan Allah.

Orang-orang Yahudi yang menjadi Kristiani tidak boleh memegang terang iman hanya bagi mereka sendiri. Mereka tidak boleh menyembunyikannya sehingga tidak ada yang dapat melihatnya, melainkan menempatkannya di atas kaki pelita, artinya membuatnya diketahui, dapat dengan mudah diakses oleh semua orang.

Kepada kita pun telah diberikan terang iman. Perumpamaan hari ini juga berlaku bagi kita semua. Apakah iman kita memancar-terang dalam hidup kita sehingga dengan demikian dapat dengan mudah dilihat oleh orang-orang lain, teristimewa oleh mereka yang berada di batas-batas pinggiran masyarakat? Apakah hidup dan kasih Kristiani yang kita miliki menarik banyak orang untuk melihat pengaruh iman kita dalam hidup kita?

Kita mengetahui bahwa “actions speak louder than words.” Dengan demikian “omdo” (omong doang) dan/atau “nato” (no action, talk only) sungguh tidak laku di mata orang banyak. Kita tahu kekuatan nyata dari pemberian teladan yang baik. Perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini mengatakan kepada kita bahwa kita berkewajiban untuk memberikan teladan yang baik, untuk memiliki terang hidup kita sebagai umat Kristiani yang terang bercahaya. Alangkah indahnya jika melalui teladan hidup kita yang baik, melalui iman kita yang hidup, orang-orang dapat mengenal Yesus dan kemudian menjadi murid-murid-Nya seperti kita juga.

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya” (Luk 8:16)

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh ingin agar hidupku menjadi suatu kesaksian dari Kabar Baik-Mu. Tolonglah aku agar dapat menjadi Injil yang hidup, yang dapat dilihat oleh orang banyak. Terpujilah nama-Mu, ya Tuhan Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18), bacalah tulisan yang berjudul “KESELAMATAN DARI YESUS ADALAH UNTUK SETIAP ORANG” (bacaan tanggal 22-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKLITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 18 September 2013 [Peringatan S. Yosef dr. Copertino, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA MASING-MASING SAMA BERHARGANYA DI MATA ALLAH

KITA MASING-MASING SAMA BERHARGANYA DI MATA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV, 21 September 2014)

YESUS KRISTUS - 11“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapti orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk gterakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16)

Bacaan Pertama: Yes 55:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,8-9,17-18 Bacaan Kedua: Flp 1:20c-24,27a

BUAH ANGGURDalam liburan mereka, sebuah keluarga yang terdiri dari suami, istri dan seorang anak laki-laki mereka yang masih duduk di kelas 3 SD mengunjungi sebuah kebun anggur. Karena dirasakan tepat setting-nya, maka sang ayah bercerita mengenai perumpamaan Yesus tentang para pekerja kebun anggur yang ada dalam bacaan Injil hari ini. Anaknya yang masih kecil itu berseru, “Sangat tidak adil!” Kalau kita jujur, kita dapat menerima kenyataan bahwa kita pun akan bereaksi serupa. Biar bagaimana pun, para pekerja yang datang paling akhir boleh dikatakan hampir belum bekerja sama sekali. Mengapa mereka diberi upah sama dengan para pekerja yang bekerja di bawah terik matahari sepanjang hari?

Dalam perumpaman ini Yesus mengajarkan, bahwa sebenarnya tidak seorang pun pantas untuk masuk ke dalam surga. Kita semua telah berdosa dan kehilangan hak kita sebagai pewaris surga. Namun karena rahmat Allah yang berlimpah-limpah, maka pintu surga sekali lagi terbuka bagi kita semua. Semua orang yang datang dengan suatu iman-hidup kepada Yesus dapat ikut ambil bagian dalam belas kasih-Nya yang berkelimpahan – yang terakhir sama banyaknya dengan yang pertama.

Allah tidak menilai kita untuk apa yang kita lakukan bagi-Nya atau berapa banyak kita berkontribusi kepada masyarakat. Itu adalah cara/jalan kita, bukan cara/jalan-Nya. Denggan perumpamaan ini Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana Allah memandang dan menilai diri kita. Allah memandang dan menilai kita sebagai anak-anak-Nya sendiri – anggota-anggota Kristus yang dirajut menjadi sepotong permadani hiasan dinding yang sangat indah penuh warna-warni. Jika ada satu benang saja yang hilang, seluruh permadani tersebut kehilangan sesuatu dari nilainya. Kita masing-masing sama penting dan berharganya di mata Allah, sama bernilainya sampai Putera Allah sendiri rela mati untuk kita, masing-masing sedemikian berharga sehingga dapat menjadi tempat kediaman Roh Kudus.

VineyardJoy1Sekarang masalahnya adalah, apakah kita (anda dan saya) menyadari akan hal ini? Apakah kita mengawali dan mengakhiri setiap hari dengan pikiran ini? Apakah pengetahuan ini muncul ke permukaan setiap saat kita gagal dalam tugas-pekerjaan kita, memaki-maki pasangan hidup dan/atau anak-anak kita, atau tergelincir lagi ke dalam kedosaan? Dalam hal ini kita harus senantiasa mengingat bahwa kita dapat menerima kasih Kristus yang “sama bobot”-nya dengan yang diterima S. Fransiskus dari Assisi, S. Antonius dari Padua, Beata Bunda Teresa dari Kalkuta, atau orang-orang kudus yang kita dapat sebutkan namanya. Jika kita sungguh menyadari akan kebenaran ini, maka – seperti Yesus – kita pun dapat mengampuni orang-orang lain yang telah menyakiti hati atau mendzolimi kita. Kita pun akan mampu untuk melihat gambar dan rupa Allah dalam diri mereka. Oleh karena itu, marilah kita tidak memohon kepada Allah agar diperlakukan secara adil, melainkan memohon agar kepada kita diberikan hati yang dapat memperlakukan orang-orang lain sebagaimana Bapa surgawi memperlakukan kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahapengampun. Tolonglah aku agar mau dan mampu mengampuni orang-orang yang telah menyakiti dan mendzolimi diriku. Transformasikanlah kami semua dengan kasih-Mu yang berlimpah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yag berjudul “TIDAK ADA PENGANGGURAN DALAM TUBUH KRISTUS” (bacaan tanggal 21-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 18 September 2014 [Peringatan S. Yosef dr. Copertino, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGELUARKAN BUAH DALAM KETEKUNAN

MENGELUARKAN BUAH DALAM KETEKUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam & Paulus Chong Hasang dkk., Martir-martir Korea – Sabtu, 20 September 2014)

The Sower - Luke 8:4-15

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri dengan Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan, “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang-orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang-orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk 8:4-15)

Bacaan Pertama: 1Kor 15:35-37,42-49; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:10-14

“Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan” (Luk 8:15).

parable of the sower - 02Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita bahwa mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah dua hal: (1) mendengarkan Sabda Allah dan (2) memeliharanya serta melaksanakannya.

Banyak orang Yahudi dalam masa Yesus hidup di dunia sebagai seorang manusia adalah para petani. Mereka memahami hal-ikhwal pertanian, misalnya tentang cara menanam atau menabur benih, tanah yang baik dan tidak baik, pengairan/irigasi dst. Yesus mengatakan bahwa menyebarkan sabda Allah adalah seperti menabur benih, yang harus dilakukan pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dan dengan cara yang tepat pula.

Yesus mengatakan bahwa ada orang-orang yang memang tidak ingin mendengarkan sabda Allah pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dan dengan cara yang tepat pula. Itulah sebabnya mengapa sabda Allah tidak menolong mereka. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak menghasilkan buah. Namun bagi mereka yang sungguh ingin mendengarkan sabda Allah, dunia yang baru benar-benar terbuka! Hal ini memberikan kepada mereka keberanian untuk terus melangkah maju, mencerahkan pikiran-pikiran dan kata-kata yang mereka ucapkan, dan membawa kasih ke dalam tindakan-tindakan mereka.

Bagian yang sungguh penting dari petikan di atas adalah frase “mengeluarkan buah dalam ketekunan”. Memang agak mudahlah untuk menjadi bagian dari orang banyak yang mendengarkan sabda Allah tentang kasih dan keadilan, tentang hak-hak orang lain, tentang tugas-tugas kita dalam hidup ini. Namun untuk melaksanakan semua itu dalam ketekunan dalam hidup kita sehari-hari – hari demi hari – adalah suatu persoalan lain. Masalah “teori vs praktek” ini juga merupakan pembahasan yang cukup hangat dalam pertemuan Kitab Suci di lingkungan kami pada malam tanggal 17 September lalu, ketika kami membahas masalah “hidup untuk melayani”.

Ada juga dari kita – umat Kristiani – yang masih bersikap pilih-pilih. Kita senang mendengarkan kata-kata indah tentang kasih dan hal-hal yang enak didengar lainnya. Akan tetapi, ketika Yesus Kristus berbicara kepada kita tentang dosa-dosa kita, tentang berbagai ketidakadilan yang kita lakukan, atau hukuman macam apa yang pantas kita terima untuk semua itu, maka kita tidak sudi mendengarkan sabda Allah itu. Dalam hal ini kita kelihatannya konsisten. Kita hanya mencari sisi yang mudah saja dari berbagai hal yang kita hadapi.

Kalau kita tidak menerima pesan Allah secara keseluruhan, maka kita sebenarnya tidaklah mendengarkan sabda-Nya. Kalau kita tidak mempraktekkan keseluruhan perintah Allah dengan cara sebaik-baiknya seturut kemampuan kita, maka kita sesungguhnya tidak mengeluarkan buah dalam ketekunan.

DOA: Tuhan Yesus, kubuka hatiku kepada-Mu seperti sebidang tanah yang baik, siap untuk menerima dari-Mu benih-benih sabda-Mu yang Engkau taburkan ke dalam hatiku. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:4-15), bacalah tulisan yang berjudul “BERBUAH SERATUS KALI LIPAT” (bacaan tanggal 20-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 18 September 2014 [Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KETAATAN PENUH KERENDAHAN HATI

KETAATAN PENUH KERENDAHAN HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup & Pujangga Gereja – Sabtu, 13 September 2014)

YESUS KRISTUS - 11“Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan apa yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan apa yang jahat dari perbendaharaan yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.”

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya – Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan – ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi, siapa saja yang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” (Luk 6:43-49)

Bacaan Pertama: 1Kor 10:14-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,17-18

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Luk 6:46).

Karena alasan praktis, marilah kita hanya menyoroti bagian kedua dari bacaan Injil di atas (Luk 6:46-49). Yesus mempunyai beberapa patah kata yang sangat keras untuk diucapkan-Nya berkaitan dengan apa yang akan terjadi pada diri orang-orang yang tidak mentaati apa yang dikatakan-Nya. Ketaatan penuh kerendahan hati terhadap perintah-perintah Allah, kepercayaan kita bahwa Dia memegang kendali atas hidup kita dan memiliki niat yang baik-baik saja bagi kita, merupakan titik sentral untuk kita menerima berkat-berkat-Nya dan menjadi bejana-bejana rahmat-Nya. Sejarah Kekristenan (Kristianitas) penuh dengan contoh-contoh dari orang-orang yang taat kepada Allah dengan hati sederhana, yang menghasilkan mukjizat-mukjizat serta berbagai tanda heran lainnya, pertobatan-pertobatan dan juga restorasi bagi Gereja. Kiranya tidak ada yang dapat menghalangi semua itu.

ROHHULKUDUSDi sisi lain, sejarah – global maupun personal – juga penuh dengan contoh-contoh apa yang terjadi apabila orang-orang mengabaikan perintah-perintah Allah dan melakukan apa saja menurut keinginan mereka masing-masing. Bukankah banyak dari penderitaan yang kita lihat terjadi di dunia disebabkan oleh karena banyak orang memiliki pengetahuan yang sedikit sekali tentang apa yang menyenangkan hati Allah atau tidak menyenangkan-Nya? Betapa banyak hidup manusia telah dilukai oleh ketidaksetiaan, ketiadaan doa, pengkhianatan dan nafsu-nafsu yang tak terkendali! Jelas, jika kita tidak mewujudkan sabda Yesus menjadi praktek hidup kita sendiri, maka kita akan menuai segala konsekuensi dari ketidaktaatan kita (Luk 6:49).

Yesus sama sekali tidak menginginkan kita menjadi robot-robot! Ketaatan bukanlah terutama masalah menentukan berdasarkan kekuatan diri kita sendiri untuk melakukan hal yang benar. Kita tidak dapat mereduksi perintah-perintah-Nya menjadi sebuah daftar yang berisi prinsip-prinsip “do or die”. Kita mebutuhkan kuat-kuasa Allah guna membebaskan kita dari cara-cara hidup kita yang lama, d an untuk memberikan kekuatan kepada kita untuk mewujudkan sabda-Nya dalam praktek kehidupan kita. Kerajaan Surga akan datang kepada orang-orang yang mendengarkan sabda Allah dengan hati, mereka yang bertobat dan percaya. Kita membutuhkan kasih-Nya dalam setiap langkah yang kita ambil, dan kita juga membutuhkan pengampunan-Nya pada saat kita jatuh.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk membuka telinga dan hati kita agar kita dapat merangkul perintah-perintah Yesus. Dengan ketaatan karena iman-kepercayaan kita kepada Yesus, maka kita pun dapat menggali dalam-dalam dan meletakkan fondasi bagi hidup kita di atas batu, sehingga tak tergoyahkan (lihat Luk 6:48). Dengan melakukannya seperti itu, kita pun akan memperoleh berkat dan perlindungan bagi diri kita serta orang-orang yang kita kasihi, Gereja dan dunia.

DOA: Tuhan Yesus, aku bersembah sujud di kaki salib-Mu. Aku sangat berterima kasih penuh syukur untuk hidup baru yang Kaumenangkan untuk para murid-Mu dari masa ke masa. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, hasrat dan kekuatan untuk membangun hidupku di atas fondasi yang sejati, yaitu sabda-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 6:43-49), bacalah juga tulisan berjudul “RUMAH YANG DIDIRIKAN DI ATAS DASAR KOKOH” (bacaan tanggal 13-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 11 September 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAHAYA DARI KETIDAKSADARAN AKAN KEANGKUHAN KITA

BAHAYA DARI KETIDAKSADARAN AKAN KEANGKUHAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Jumat, 12 September 2014)

Blind Faith- Blind leading Blind

Yesus menyampaikan lagi suatu perumpamaan kepada mereka, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang? Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi siapa saja yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapa engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Luk 6:39-42)

Bacaan Pertama: 1Kor 9:16-19,22-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,12

Tidak ada yang menyenangkan hati Bapa surgawi lebih daripada melihat anak-anak-Nya saling memperhatikan satu sama lain dalam kasih dan kerendahan hati. Mengapa? Karena dalam pelayanan kita yang tanpa pamrih kepada saudari dan saudara kita, maka kita sebenarnya mengikuti jejak Putera-Nya, Yesus, secara paling baik. Bayangkanlah bagaimana sedih hati-Nya jika Dia melihat anggota-anggota keluarga-Nya “melayani” satu sama lain, namun berdasarkan motif yang tidak murni. Barangkali kita menilai diri kita sendiri lebih maju dalam kehidupan spiritual ketimbang orang lain. Atau barangkali kita telah “mencoret dari daftar” seorang pribadi sebagai “tidak ada harapan” atau hopeless karena cara berpikirnya tidak sama dengan cara berpikir kita. Renungkanlah, betapa cepatnya sikap menghakimi orang lain terbentuk dalam hati kita – dan kita dapat begitu terbiasa dengan sikap-sikap seperti itu sehingga kita tidak menyadari lagi apa yang kita lakukan.

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAYesus mengingatkan kita akan bahayanya ketidaksadaran akan keangkuhan kita. Dia mengingatkan para murid-Nya untuk membuang “balok” yang ada di mata mereka sebelum mereka mencoba untuk mengeluarkan “serpihan kayu” yang ada di mata orang-orang lain (Luk 6:41-42). Seperti dikatakan oleh Yesus, upaya sedemikian adalah seperti orang buta yang mencoba untuk menuntun orang buta. Tidak akan bermanfaat bagi keduanya!

Jadi, apakah yang harus kita lakukan? Haruskah kita mencoba untuk menolong orang-orang lain sampai kita menjadi kudus secara lengkap dan total? Tidak ada seorang pun pernah menolong jiwa lain (orang lain). Tentu kita harus melanjutkan menolong setiap orang yang kita rasa ditempatkan Allah dalam perjalanan hidup kita. Namun pada saat yang sama, kita harus senantiasa memperkenankan Tuhan memeriksa hati kita dan memberikan kepada kita rahmat pertobatan dan kesembuhan yang lebih mendalam. Bersama sang pemazmur kita dapat berdoa: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm 139:23-24).

Manakala kita (anda dan saya) berada dalam posisi untuk melayani orang-orang lain – dalam keluarga, dalam paroki, dalam lingkungan, atau di tempat kerja dlsb. – maka marilah kita memusatkan pandangan kita pada sang Tersalib, Yesus Kristus. Sebagai seorang hamba YHWH yang menderita (lihat Yes 52:13-53:12), Yesus merangkul segala sakit serta kelemahan umat Allah, bahkan sampai mati di kayu salib. Kasih Yesus begitu tidak mementingkan diri sendiri (tanpa pamrih) sehingga sampai detik ini pun kita tidak dapat melupakan doa yang diucapkan-Nya pada menit-menit terakhir sebelum wafat: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Yesus yang sudah sekarat tidak memohon kepada Bapa-Nya agar orang-orang yang mendzolimi-Nya dihukum, melainkan menyampaikan sebuah doa permohonan pengampunan bagi mereka, artinya termasuk kita semua. Yesus mengalahkan kegelapan dari “cinta-diri” dengan terang dari “pemberian-diri”-Nya. Melalui Roh Kudus-Nya, Dia dapat memberdayakan kita untuk melakukan hal yang sama.

DOA: Yesus, betapa besar kasih-Mu kepada kami, ya Tuhan. Karena Kasih, Engkau datang ke tengah dunia untuk menebus kami, bukan untuk menghakimi kami. Tolonglah kami agar supaya dapat menjadi hamba-hamba yang rendah hati, karena Engkau sendiri adalah seorang hamba yang rendah hati. Ajarlah kami agar dapat menjadi saksi-saksi dari cinta kasih tanpa pamrih sebagaimana telah Kautunjukkan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:39-42), bacalah tulisan yang berjudul “SATU-SATUNYA ORANG YANG QUALIFIED” (bacaan tanggal 12-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpdress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 10 September 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELIPAT-GANDAKAN TALENTA

MELIPAT-GANDAKAN TALENTA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Sabtu, 30 Agustus 2014)

800px-Father_Damien_on_his_deathbed

PERUMPAMAAN TENTANG TALENTA“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” (Mat 25:14-30)

Bacaan Pertama: 1Kor 1:26-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:12-13,18-21

Romo Damien de Veuster, SS.CC. [1840-1889], misionaris asal Belgia, tinggal 16 tahun lamanya di pulau Molokai, Hawaii. Dengan beberapa suster dan pembantu lainnya, Romo Damien merawat orang-orang yang dikirim ke pulau itu untuk mati di sana karena mereka menderita sakit kusta. Bagi orang-orang yang telah kehilangan harapan hidup itu, Damien menunjukkan seperangkat keterampilan yang dimilikinya dan digunakan untuk pekerjaan baiknya.

640px-Father_Damien_in_1873Sebagai seorang imam, Damien rajin dalam mengadministrasikan sakramen-sakramen untuk menguatkan dan menghibur jiwa-jiwa terluka yang ada di depannya. Namun melampaui perannya yang biasa sebagai seorang imam, Damien datang dengan cara-cara yang ditopang banyak akal dan bakat-bakat luarbiasa guna mengangkat semangat para penderita kusta yang dirawatnya. Romo Damien berupaya untuk meringankan rasa sakit tubuh-tubuh para penderita dengan mencuci dan membalut luka-luka mereka. Dia bahkan terlibat dalam pembuatan peti jenazah dan penggalian lubang kubur.

Romo Damien juga mendirikan sebuah gereja dan mencatnya dengan warna-warna yang terang. Ia mengubah kaleng-kaleng bekas menjadi instrumen-instrumen musik, memasang pipa-pipa untuk pasokan air dan mengorganisir festival-festival dan pawai-pawai. Romo Damien menggulung lengan-lengan bajunya dan menggunakan pengetahuan yang dimilikinya untuk setiap tugas pekerjaan yang dihadapinya – baik yang kecil-kecil maupun yang penting-penting – yang dapat mencerahkan hidup para penderita kusta di Molokai. Sebagai akibatnya, seluruh pulau itu mengalami transformasi. Damien sendiri tertular penyakit kusta juga dan kemudian meninggal dunia. Damien dibeatifikasikan sebagai seorang beato oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 4 Juni 1995, dan kemudian dikanonisasikan sebagai seorang Santo pada tanggal 11 Oktober 2009 oleh Paus Benediktus XVI.

Bagaimana dengan kita (anda dan saya)? Allah senang sekali melihat kita menggunakan segala talenta yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita. Sebagai suatu kombinasi yang unik dari berbagai talenta dan kemampuan, kita masing-masing adalah pencerminan kasih Allah dan kreativitas-Nya. Apakah kita menggunakan pengetahuan penuh sumber daya seperti Damien, mengajar para mahasiswa di sekolah tinggi atau mengganti popok bayi kita, semua ini adalah satu lagi dimensi kebaikan Allah yang dapat dimanisfestasikan. Membangun Kerajaan Allah tidaklah terbatas sebagai tugas para uskup dan imam. Para perawat, para spesialis IT di kantor kita, para CEO, para pekerja bangunan harian, para montir, para petani, para atlit dll. (tentunya tidak para tukang gosip) – semua mempunyai peranan penting dalam mengubah kegelapan menjadi terang.

Oleh karena itu marilah kita melipat-gandakan berbagai karunia dan talenta yang telah dianugerahkan Allah kepada kita masing-masing, bukan karena takut akan penghakiman Allah jika kita tidak melakukannya, melainkan karena excitement akan apa yang dapat dicapai – baik untuk diri kita sendiri maupun bagi Allah. Marilah kita memikirkan segala cara yang tersedia bagi kita untuk bergabung dengan Yesus dalam dunia ini. Keberadaan Yesus tidak terbatas pada gereja-gereja, studi-studi Kitab Suci, dan pertemuan-pertemuan doa. Yesus ada di mana-mana, dan Ia ingin agar kita berada bersama-Nya juga.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah melengkapi diriku dengan berbagai karunia dan talenta. Aku akan menggunakan segala karunia dan talenta yang Kauanugerahkan tersebut untuk mensyeringkan kasih-Mu dengan orang-orang di sekelilingku. Satu hari kelak, semoga aku akan mendengar Engkau bersabda, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:14-30), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA SEPERTI HAMBA YANG JAHAT DAN MALAS” (bacaan tanggal 30-8-14) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2014.

Cilandak, 26 Agustus 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERJAGA-JAGALAH SENANTIASA

BERJAGA-JAGALAH SENANTIASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Augustinus, Uskup-Pujangga Gereja – Kamis, 28 Agustus 2014)

KESIAPSIAGAAN - LUK 12 35-40Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.
Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.

Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” (Mat 24:42-51)

Bacaan Pertama: 1Kor 1:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-7

“Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga …… Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Mat 24: 43,44).

Di sini Yesus menggunakan sebuah gambaran tidak seperti biasanya dalam berbicara mengenai diri-Nya sendiri – seperti seorang pencuri yang datang di malam hari. Pokok yang mau disampaikan-Nya di sini adalah, bahwa “pencuri” tidak dapat membuat kita terkejut, apabila kita siap-siaga menyambut kedatangannya. Beberapa kalimat kemudian Yesus mengatakan bahwa “pencuri” yang akan mengejutkan hamba di rumah sebenarnya adalah tuannya, yang berminat untuk melihat apa yang dilakukan oleh para hambanya. Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang, …… sebaliknya, celakalah hamba yang jahat membuang-buang waktu dan kedapatan sedang bermabuk-mabukan ketika tuannya datang.

Solusinya? Jangan biarkan Anak Manusia datang kepada kita (anda dan saya) sebagai seorang asing, sebagai seseorang yang kedatangannya kita tidak harapkan atau nanti-nantikan. Seandainya kita bertanya kepada Yesus, “Bagaimana kita dapat sungguh-sungguh bersiap-siaga?” Kiranya Yesus akan menjawab, “Berjaga-jagalah dan berdoalah”, bukankah begitu? Jika kita mengenal Yesus dengan baik dalam doa-doa harian pada waktu-waktu tertentu yang telah kita sediakan, tentunya kita tidak akan menjadi terkaget-kaget bilamana Dia datang menemui kita. Kita dapat berkata kepada-Nya: “Aku baru saja berbicara dengan Engkau, Tuhan. Selamat datang Sahabatku!”

Apabila kita telah berhadapan dengan Yesus secara jujur, lewat waktu-waktu teratur sehari-hari bersama dengan-Nya, maka kita telah memperkenankan Dia menyiapkan diri kita bagi kedatangan-Nya dalam kemuliaan pada akhir zaman.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau ingin agar aku senantiasa bersiap-siaga menantikan kedatangan-Mu, seperti hamba yang baik itu. Biarlah Roh Kudus-Mu senantiasa membimbingku dan mengingatkan aku akan hal ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan pertama (1Kor 1:1-9), silahkan membaca tulisan yang berjudul “AWAL DARI SEPUCUK SURAT SEORANG GEMBALA UMAT” (bacaan tanggal 28-8-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2014.

(Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-8-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 25 Agustus 2014 [Peringatan/Pesta S. Ludovikus IX, Raja-Pelindung OFS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 156 other followers