Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

MASUK MELALUI PINTU YANG SEMPIT

MASUK MELALUI PINTU YANG SEMPIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Rabu, 29 Oktober 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Lalu ada seseorang yang berkata kepada-Nya, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetuk-ngetuk pintu sambil berkata, ‘Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!’ dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu, ‘Aku tidak tahu dari mana kamu datang.’ Lalu kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi, ketika kamu melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang pertama dan ada orang yang pertama yang akan menjadi orang yang terakhir. (Luk 13:22-30)

Bacaan Pertama: Ef 6:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-14

Yesus tidak pernah “ngalor-ngidul” pada saat Ia menggambarkan penghakiman yang kita semua akan hadapi pada akhir hidup kita. Yesus menggunakan perumpamaan yang jelas guna menolong kita memahami dan mempersiapkan diri untuk peristiwa sangat penting itu. Manakala kita membaca dan mencoba merenungkan tentang ditutupnya “pintu yang sempit” pada hari penghakiman, maka mudahlah bagi kita untuk membayangkan perasaan takut yang menimpa seorang pribadi ketika mendengar Yesus berkata: “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Luk 13:27). Yesus berkata bahwa ada orang-orang yang sebenarnya akan mendengar kata-kata-Nya yang “keras” tersebut dan menjadi terkejut karena mereka sebenarnya sudah mengenal diri-Nya dan ajaran-ajaran-Nya (Luk 13:26).

Yesus tidak memoles Injil-Nya agar terasa manis seperti sepotong kembang gula. Dia juga tidak menakut-nakuti para pendengar-Nya dengan konsekuensi-konsekuensi yang menyeramkan, kecuali bagi mereka yang tidak mempedulikan perintah-perintah-Nya. Orang-orang yang menerima sabda-Nya dalam hati mereka akan mengalami keselamatan dari diri-Nya. Oleh karena itu, “Surat kepada orang Ibrani” mengatakan: “… kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus” (Ibr 2:1). Tanggapan kita haruslah seperti yang diungkapkan oleh pada pendengar khotbah Petrus pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama: “Apa yang harus kami perbuat, Saudara-Saudara?” (Kis 2:37).

Pertama-tama kita harus merasa pasti dalam hati kita bahwa kita telah sungguh “masuk melalui pintu yang sempit”. Tanpa memperkenankan perasaan “harga diri” mengganggu analisis kita, kita perlu memohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita kondisi sesungguhnya diri kita di hadapan Allah. Sekali kita telah mengakui beratnya dosa kita dan kedalaman kebutuhan kita akan Yesus, maka kita dapat dengan aman menaruh pengharapan kita dalam Dia, “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia” (Yoh 3:17).

Setelah masuk melalui pintu sempit iman kepada/dalam Kristus, maka kita pun akan aman berada dalam benteng pertahanan Allah, seperti dikatakan Yesus, “Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yoh 3:18). Dengan percaya kepada-Nya, kita tidak perlu lagi merasa takut akan hari di mana sang pemilik rumah akan menutup pintunya agar kita tidak dapat masuk. Mengapa? Karena kita sudah berada di dalam rumah itu!

Jadi, tujuan kita bukanlah untuk masuk ke dalam rumah, melainkan untuk tetap berada di dalam rumah. Iblis sangat berkemungkinan akan menyerang kita – dengan rasa ragu-ragu, rasa takut, penolakan, rasa kecil-minder, menjadi objek berbagai dakwaan dan banyak lagi. Iblis mungkin mencoba membujuk serta meyakinkan kita bahwa kita masih berada di luar rumah dan merasa kedinginan. Kekuasaan dan kenikmatan duniawi juga tetap dapat menumpulkan hasrat kita akan kehidupan yang ditawarkan oleh Yesus. Jadi, kita harus mengandalkan diri pada jati diri kita sebagai seorang Kristiani sejati untuk dapat berdiri teguh dalam iman! Jika kita berdiam dalam Kristus, kita tidak perlu merasa takut. Santo Yohanes Penginjil menulis: “Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: Iman kita” (1Yoh 5:4).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengatakan bahwa Engkau selalu melakukan kehendak Bapa surgawi. Kami percaya, bahwa kami membutuhkan disiplin-diri guna mengembangkan karakter kami sebagai murid-murid-Mu yang sejati, agar dengan demikian kami pun mampu masuk melalui pintu yang sempit yang akan membawa kami ke dalam Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “MELALUI PINTU YANG SEMPIT” (bacaan tanggal 29-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 27 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELAS KASIH ALLAH YANG DIBALAS DENGAN RASA TAK TAHU TERIMA KASIH

BELAS KASIH ALLAH YANG DIBALAS DENGAN RASA TAK TAHU TERIMA KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Senin, 20 Oktober 2014)

PERUMPAMAAN TTG ORANG KAYA YANG BODOHSeorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21)

Bacaan Pertama: Ef 2:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Pesan Yesus dalam bacaan Injil hari ini jelas: “Hindarilah ketamakan/keserakahan dalam segala bentuknya. Seseorang dapat saja kaya dengan harta-benda duniawi, namun miliknya itu tidak dapat memberi kehidupan kekal baginya.”

Seorang pribadi yang rendah hati dan memiliki kemurahan hati, yang hidupnya berpusat pada Allah dan menanggapi dengan baik karunia iman yang dianugerahkan-Nya kepada dirinya akan melihat kehampaan dari segala keuntungan materiil. Memang kesombongan kita senantiasa menyebabkan rasa haus akan keuntungan materiil tersebut, tambah ini dan tambah itu. Namun kiranya rasa haus tersebut adalah sesuatu yang sia-sia tanpa kesudahan. Bahkan seorang yang tidak memiliki iman kepada/akan Yesus akan melihat kehampaan yang dihasilkan oleh sekadar harta kekayaan yang bersifat materiil. Ia akan belajar dari pengalamannya betapa tak berharganya dan penuh frustrasi-nya “kebahagiaan” (palsu) yang diperolehnya dari penyembahannya kepada “mamon” dalam upaya pengejarannya akan kepuasan/kenikmatan dalam harta benda dll. yang bersifat duniawi.

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASJika kita terus saja berputar-putar di sekeliling upaya pencarian harta kekayaan, maka imajinasi kita dapat disesatkan dan kita pun dapat dibuat yakin bahwa Allah itu berada jauh di sana, bahkan keberadaan-Nya itu jauh dari riil. Tujuan-tujuan materiil yang jauh dan tak dapat dicapai itu sungguh dapat menyesatkan karena terasa dekat dan mudah dicapai. Kita menjadi semakin ngotot dalam mengejar kekayaan duniawi! Mengejar dan terus mengejar! Akhirnya, seperti orang kaya yang bodoh dalam perumpamaan Yesus, kita berkata: “Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (Luk 12:19).

Jadi, ketamakan akhirnya menguasai diri kIta. Allah sesungguhnya dekat dengan kita, namun imajinasi yang penuh beban hampir tidak dapat melihat Dia dari kejauhan. Harta-kekayaan dan kenikmatan hidup menjadi realitas kita dan kelihatannya senantiasa berada dalam jangkauan kita. Kita berkata kepada diri kita sendiri: “Satu lagi saja keuntungan yang kuperoleh, maka aku pun memperoleh apa yang kukehendaki.” Jika aku cukup beruntung untuk memperolehnya, maka api keserakahan pun berkobar lagi. “Satu lagi! Satu lagi! Satu lagi!, tetapi tanpa henti. Setiap sukses baru menjadi lebih pahit daripada sukses sebelumnya, sampai akhirnya kita sampai kepada tingkat keserakahan yang sudah gila-gilaan. Benarlah pepatah Inggris yang berbunyi: Greed begets greed!

Sementara kita melanjutkan mengundang hukuman dan penghancuran atas diri kita yang disebabkan oleh sikap kita yang tidak tahu terima kasih dan juga ketamakan, belas kasih Allah terus berlanjut. Kesabaran Allah yang tak mengenal batas itu senantiasa mengejar kita.

DOA: Tuhan Yesus, semoga belas kasih-Mu pada akhirnya mengalahkan sikap kami yang tidak tahu berterima kasih kepada-Mu, walaupun tidak mudah kami bagi kami untuk mengubah sikap buruk kami itu. Kami juga ingat, Tuhan, bahwa penderitaan karena lapar si “anak hilang” (Luk 15:11-32) bukanlah suatu pengalaman yang mudah baginya, namun hal itu membawanya balik pulang ke rumah ayahnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “HAI ENGKAU YANG BODOH!” (bacaan tanggal 20-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Catatan tambahan: Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam ‘Sabda Bahagia’ terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ di atas.

Cilandak, 15 Oktober 2014 [Peringatan S. Teresia dr Avila, Perawan & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENANGGAPI UNDANGAN YANG KITA TERIMA

MENANGGAPI UNDANGAN YANG KITA TERIMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVIII [Tahun A], 12 Oktober 2014)

PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN KAWIN - TANPA BAJU PESTALalu Yesus berbicara lagi dalam perumpamaan kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh lagi hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya, hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Lalu pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.
Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:1-14)

Bacaan Pertama: Yes 25:6-10a; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6; Bacaan Kedua: Flp 4:12-14,19-20

Perumpamaan tentang perjamuan kawin kerajaan menceritakan tentang undangan Allah kepada keselamatan dan tanggapan orang terhadap undangan tersebut. Pesta perkawinan adalah imaji yang sangat cocok karena kita dipanggil untuk mengasihi Allah, untuk dipersatukan dengan Dia dalam pikiran dan hati, dan untuk menjalani kehidupan di atas bumi yang mengantisipasi surga. Dalam Bacaan Pertama hari ini, Yesaya menjanjikan sebuah perjamuan pesta penuh sukacita dan hidup di atas Gunung Tuhan.

Matius dengan piawai mengkombinasikan cerita mengenai pesta perkawinan dan baju pesta sebagai sebuah pelajaran tentang sejarah keselamatan bagi Gereja Kristiani pada masa dia menulis Injilnya.

Bagian pertama dari sejarah keselamatan menyangkut orang-orang Yahudi sebagai Umat Pilihan. Dalam perumpamaan Yesus, mereka digambarkan sebagai orang-orang yang pertama-tama menerima undangan untuk pesta perjamuan kerajaan. Tetapi mereka tidak mau datang dengan berbagai alasan, pendeknya mereka lebih berminat untuk menyibukkan diri dengan urusan mereka masing-masing. Lalu raja pun mengutus lebih banyak lagi hambanya untuk mengundang orang-orang. Hamba-hamba ini menggambarkan para nabi, yang ditangkap, disiksa, bahkan ada yang dibunuh. Dalam menggambarkan reaksi keras sang raja, Matius menafsirkan hal tersebut sebagai suatu hukuman dari Allah, perusakan Yerusalem oleh pasukan Romawi, walaupun peristiwa tersebut baru akan terjadi beberapa tahun saja sebelum dia menulis Injilnya.

Kemudian, tentang bagian kedua dari sejarah keselamatan. Pesta perkawinan itu menggambarkan pernikahan antara Allah dengan umat manusia yang terjadi ketika Putera Allah menjadi manusia seperti kita. Kita mendengar sang raja berkata “Perjamuan telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu” (Mat 22:8-9). Para hamba pada titik ini dalam cerita adalah para rasul Kristiani yang diutus ke persimpangan-persimpangan jalan dunia untuk mengundang setiap orang kepada perjamuan perkawinan surgawi. Undangan tersebut tidak lagi terbatas pada sebuah bangsa pilihan. Juga tidak diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak terkontaminasi atau murni/bersih secara ritual Yahudi. Setiap orang diundang, yang bagus maupun yang jelek, Banyak pelajaran Injil yang lalu-lalu kembali teringat. Allah, yang mengasihi semuanya, membuat matahari bersinar dan hujan turun, baik bagi orang baik maupun bagi orang jahat, jujur maupun tidak jujur (Mat 5:45). Kerajaan Allah adalah bagaikan sebidang tanah yang dipenuhi lalang di antara gandum (Mat 13:24-30), atau sebuah jala besar yang berisikan ikan baik maupun ikan yang tidak baik (Mat 13:47-52).

Namun sekarang ada sebuah peringatan bagi Gereja Kristiani. Orang-orang yang menerima undangan Allah harus mengenakan pakaian pesta. Ini dapat berarti mengenakan baju hari Minggu mereka yang terbaik, atau sesuatu yang istimewa untuk peristiwa penting kerajaan. Dilihat dari sudut pandang sejarah keselamatan, kegagalan untuk mengenakan pakaian pesta dapat dipahami dengan dua cara.

Pertama. Penerimaan ke dalam Gereja melalui pembaptisan tidaklah mencukupi kalau seseorang tidak menjalani kehidupan yang serupa dengan Kristus seperti dilambangkan oleh baju putih pada waktu penerimaan sakramen baptis. “… kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru … Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kol 3:9-12). Surat/Sertifikat Baptisan/Permandian hampir tidak ada gunanya tanpa suatu kehidupan yang menunjukkan buah-buah rahmat.

Kedua. Dalam interpretasi kedua tentang pakaian pesta, jika kita memandangnya sebagai sebuah tanda istimewa dari suatu peristiwa kerajaan yang penting, maka pakaian pesta itu menunjukkan perlunya rahmat ilahi selain upaya manusiawi kita. Siapa pun yang menganggap remeh kebutuhan akan rahmat ilahi dan mengabaikan sarana rahmat yang biasa seperti doa dan sakramen, maka orang itu dapat dinilai sebagai kedapatan tidak mengenakan pakaian istimewa untuk pesta.

Allah mengutus Putera-Nya, Yesus Kristus, untuk merangkul dunia dalam pesta perkawinan keselamatan. Undangan itu ditujukan kepada semua orang untuk datang dan merayakan perjamuan kawin. Namun cerita keselamatan pribadi masing-masing adalah interaksi yang penuh misteri antara undangan ilahi dan tanggapan bebas dari manusia. Agar dapat memberi tanggapan, kita harus mendengarkan panggilan, menerimanya dengan penuh perhatian dan respek, dan tidak memperkenankan kepentingan-kepentingan kita sendiri menjadi penghalang di tengah jalan. Kita menerima baju pesta rahmat dalam sakramen-sakramen, namun kita harus mengenakan baju ini dalam hidup yang menyerupai Kristus.

DOA: Bapa surgawi, kami bekerja keras untuk memperoleh keselamatan seakan-akan hal ini tergantung pada upaya kami sendiri. Kemudian kami menyadari bahwa hal itu bermula dan berakhir dalam suatu karunia dari-Mu saja. Oleh Roh Kudus-Mu, ingatkanlah kami senantiasa bahwa keselamatan adalah kombinasi dari undangan ilahi dan upaya manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 22:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA LUPA UNTUK MENGENAKAN PAKAIAN PESTA” (bacaan untuk tanggal 12-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 9 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MOVE TERAKHIR SANG PEMILIK KEBUN ANGGUR

MOVE TERAKHIR SANG PEMILIK KEBUN ANGGUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVII, 5 Oktober 2014)

PERUMPAMAAN - WICKED HUSBANDMEN“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktkunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. (Mat 21:33-43)

Bacaan Pertama: Yes 5:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:9,12-16,19-20; Bacaan Kedua: Flp 4:6-9

Ini adalah perumpamaan Yesus yang sangat kaya makna dengan ajaran-Nya yang bersifat paling komprehensif dalam Injil sinoptik tentang Yesus dan kematian-Nya yang menyelamatkan dalam sejarah keselamatan. Ayat pembukaannya yang menggambarkan seorang tuan tanah yang memiliki kebun anggur, mengingatkan orang Yahudi yang mana saja akan “Nyanyian tentang kebun anggur” dari kitab Yesaya: “Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur, Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam” (Yes 5:1-2).

Bacaan dari Kitab Yesaya mengidentifikasikan kebun anggur sebagai “kaum Israel” (rumah Israel). Jadi, kebun anggur di sini melambangkan Israel (Yes 5:7). Namun jika dalam Kitab Yesaya penghakiman Allah dijatuhkan atas kebun anggur karena tidak mampu menghasilkan buah anggur yang baik, maka dalam perumpamaan Yesus hari ini fokus-nya adalah pada para penggarap yang menghalang-halangi sang pemilik kebun anggur untuk memperoleh anggur hasil kebunnya. Yang dimaksudkan sebagai para penggarap jahat ini adalah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Akhirnya mereka mengerti bahwa diri merekalah yang dimaksud oleh Yesus (Mat 21:45). Hal ini penting karena di bagian lain Injil Matius para pembaca memperoleh kesan bahwa Yesus ditolak oleh seluruh orang Yahudi, padahal pada kenyataannya para pemimpin korup Yahudilah yang menentang-Nya habis-habisan, walaupun sebagaimana sering terjadi dalam sejarah dunia, para pemimpin sedemikian mendatangkan tragedi atas bangsa mereka sendiri.

VineBranchGrapesPada zaman Yesus adalah hal biasa apabila kita menemukan adanya pemilik kebun anggur yang tidak menilik kebunnya dari hari ke hari (Inggris: absentee landlords). Secara periodik dia akan mengutus “inspektur” dan pada saat panen mengirim agennya untuk mengklaim bagian sang pemilik kebun anggur. Dalam perumpamaan ini, para hamba yang diutus oleh sang pemilik kebun untuk mengklaim bagiannya mengalami pemukulan, dilempari batu, atau dibunuh. Tidak ada manusia yang menjadi pemilik kebun akan dapat bersabar menghadapi kejahatan para penggarap kebunnya seperti ini. Namun apabila yang dimaksudkan dengan “hamba-hamba”-nya adalah para nabi (lihat Am 3:7; Yer 7:25; 25:4; Za 1:6), maka sang pemilik kebun anggur adalah Dia yang kesabaran-Nya dan penderitaan-Nya yang lama sungguh-sungguh ilahi. Artinya, sang pemilik kebun anggur itu adalah Allah sendiri.

Akhirnya sang pemilik kebun anggur melakukan move terakhir, yaitu mengutus anaknya sendiri. Tidak akan ada lagi move lain! Begitu besar hasrat sang pemilik kebun anggur itu untuk memperoleh anggur hasil dari kebun anggurnya sehingga dia bersedia menanggung risiko mengutus anaknya sendiri. Pikirnya, tentu para penggarap akan menghormati sang anak, yang sama baiknya dengan sang pemilik kebun anggur (Mat 21:37). Anaknya itu bukanlah seorang hamba. Dengan demikian, jelaslah bahwa Yesus (Anak Bapa) itu lebih dari sekadar seorang nabi (hamba)! Ketika melihat sang anak, maka para penggarap yang jahat itu jelas berasumsi bahwa sang pemilik kebun anggur sudah meninggal dunia dan sang anak telah mewarisi kebun anggur itu (mereka memanggil sang anak sebagai “ahli waris”; lihat Mat 21:38). Para penggarap itu menangkap sang anak dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Yesus juga dibunuh pada kayu salib di luar Yerusalem. Kematian sang anak adalah klimaks dari cerita perumpamaan ini. Yesus “meramalkan” kematian-Nya sendiri di tangan mereka kepada siapa Dia menceritakan perumpamaan ini, walaupun baru pada ayat 45-lah kiranya mereka memahami ceritanya.

Yesus bersabda bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari bangsa Israel dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu (Mat 21:43). “Buah” seringkali digunakan dalam Injil Matius untuk “pekerjaan-pekerjaan baik”, tanda dari kebenaran lebih besar yang diproklamasikan Yesus dan diharapkan oleh-Nya dari para murid-Nya. Yesus bersabda: “Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:20).

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Maharahim, setiap kali aku hendak menghakimi seseorang yang membalas kebaikanku kepadanya dengan kejahatan, perkenankanlah Roh Kudus-Mu menyadarkan diriku akan kebenaran bahwa apa yang kulakukan kepada Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, juga tidak lebih baik. Ini kulakukan kepada-Nya – sadar maupun tidak sadar – dari hari ke hari. Inilah balasanku terhadap rahmat yang Kaucurahkan kepadaku. Bapa, ampunilah aku anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG PENGGARAP-PENGGARAP KEBUN ANGGUR” (bacaan tanggal 5-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 2 Oktober 2014 [Peringatan Para Malaikat Pelindung]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BEKERJA DI KEBUN ANGGUR ALLAH

BEKERJA DI KEBUN ANGGUR ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI [Tahun A] – 28 September 2014)

vineyard

“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal dan pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Anak itu menjawab: Baik, Bapa, tetapi ia tidak pergi. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka, “Yang pertama.” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur percaya kepadanya. Meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.” (Mat 21:28-32)

Bacaan pertama: Yeh 18:25-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: Flp 2:1-11

Bacaan Injil pada hari Minggu lalu (Hari Minggu Biasa XXV) berupa sebuah perumpamaan yang mengambil TKP-nya di sebuah kebun anggur. Kejadian yang digambarkan dalam perumpamaan itu adalah tidak puasnya para pekerja yang bekerja lebih lama terhadap para pekerja yang datang belakangan, namun menerima upah yang sama. Ketidakpuasan tersebut juga dialamatkan kepada sang pemilik kebun anggur. Rahmat Allah yang berlimpah kepada semua orang tanpa diskriminasi, dilihat oleh mata manusia sebagai suatu ketidakadilan. Dalam bacaan Injil hari ini – juga sebuah perumpamaan – kita lihat seorang pemilik kebun anggur menemui anak laki-lakinya yang sulung dan memerintahkannya untuk bekerja di kebun anggur. Anak itu mengatakan “tidak mau”, namun kemudian ia pergi juga ke kebun anggur untuk bekerja. Bapak itu memerintahkan putera bungsunya untuk melakukan hal yang sama. Anaknya itu mengatakan “ya, Bapa”, namun ia tidak pergi ke kebun anggur.

two-sonsNah, apabila kita diminta oleh Allah untuk bekerja di kebun anggurnya, kita pun harus mau dan rela tangan-tangan kita menjadi kotor. Lain sekali sikap orang-orang Farisi yang pada umumnya munafik itu. Mereka takut tangan-tangan mereka menjadi kotor atau terkontaminasi. Sebagai “orang-orang yang terpisah”, orang-orang Farisi membuat hidup beragama yang tidak terkontaminasi oleh kesalahan-kesalahan orang-orang lain. Penjagaan-diri menjadi ideal mereka. Di mata mereka, para pendosa sungguh tidak mempunyai pengharapan. No hope! Inilah yang membuat Yesus menjadi marah.

Panenan di kebun anggur atau ladang Allah sudah siap untuk dituai. Misi Yohanes Pembaptis menunjukkan bahwa ada banyak pendosa yang siap untuk memberi tanggapan terhadap orang-orang yang akan memberikan kesempatan kedua dalam hidup mereka. Yohanes Pembaptis menawarkan kepada mereka air, pembasuhan, pembaharuan, suatu halaman baru yang bersih dan menyegarkan.

Sebagaimana dikatakan Yohanes (Luk 3:16-17), Yesus datang dengan Roh Kudus dan api. Yesus melakukan “blusukan” ke mana-mana dan Ia berjumpa dengan orang-orang yang sakit, para pendosa, orang-orang yang tertindas dan tersisihkan, … wong cilik! Yesus membawa kesembuhan kepada mereka, Dia juga memberikan sebuah akhir dan sebuah awal baru dalam kehidupan mereka, air mata ungkapan kelegaan, bahkan makanan bagi mereka (Mat 14:13-21;15:32-39). Orang-orang Farisi tidak tahan menyaksikan sikap penuh bela rasa dan tindak-tanduk Yesus yang penuh belas kasih. Yesus memang benar ketika mengajar dengan perumpamaan bahwa “anggur baru tidak dapat dimasukkan kedalam kantong kulit yang tua” (Mat 9:17). Di mata orang-orang Farisi, Yesus adalah sebuah skandal!

Untuk menjadi pengikut/murid Yesus Kristus, seseorang dipanggil untuk menjadi misioner dan apostolik: untuk bekerja di ladang-Nya dan tangan-tangan pun menjadi kotor juga. Para murid Yesus bukanlah mereka yang banyak berdoa hanya untuk kepentingan bisnis mereka sendiri, berdoa untuk keselamatan diri sendiri, tetapi tidak mau tangan mereka menjadi kotor dan tidak mau jadual kehidupan mereka yang nyaman dirusak.

Misi orang Kristiani dapat digambarkan dengan sederhana: cara terbaik untuk menjadi seorang sahabat Yesus adalah membawa seorang sahabat kepada Yesus!

Red Grapes on the VineDi ladang Allah pada hari ini ada banyak sekali panenan yang siap untuk dituai. Ada banyak sekali jiwa yang belum pernah disentuh oleh Kabar Baik tentang Yesus Kristus, mereka melangkah tanpa tujuan di atas jalan tanpa makna: mereka merasa bosan, marah dan agresif, mereka menjadi letih-lesu dan sakit karena sensualitas. Mereka hidup tanpa pengharapan. Jika orang-orang merasa down dan susah, hal terahir yang ingin mereka dengar adalah suatu khotbah yang menyalah-nyalahkan mereka. Yang mereka butuhkan adalah tangan-tangan terulur guna mengangkat diri mereka.

Sebenarnya orang-orang zaman modern ini bukannya tidak/belum pernah mendengar tentang Yesus. Apa yang terjadi dengan banyak orang adalah sedikit pengalaman tentang agama yang mereka terima begitu negatif, sehingga efeknya hanya membuat mereka menjadi imun terhadap realitas sesungguhnya. Kuasa Roh Kudus dan api dari hati belum mencapai mereka. Mereka ditinggal tanpa pengharapan, energi, atau rasa percaya diri. Dan siapakah yang dapat membawa pengharapan kepada mereka? Marilah kita berdoa kepada Bapa surgawi untuk mengirimkan para pekerja untuk tuaian yang ada (lihat Luk 10:2; Mat 9:37-38). Namun, janganlah kita (anda dan saya) sekadar berdoa untuk orang-orang lain agar disentuh. Janganlah kita takut tangan-tangan kita menjadi kotor. Untuk membawa seorang sahabat kepada Allah, kita tidak dapat melakukannya dari jarak jauh. Kita juga diminta oleh Allah untuk menjadi saksi yang hidup dan efektif dari kasih Allah. Ketika anda berdoa “jadikanlah aku pembawa damai-Mu”, bersiaplah untuk terlibat, untuk menerima kenyataan bahwa rutinitas kita yang sudah mapan dan nyaman menjadi terganggu. Jika dikatakan kita harus siap melihat tangan-tangan kita menjadi kotor, kita akan menyadari bahwa tanah di ladang Allah itu sesuatu yang kotor namun bersih.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau senantiasa menerima pertobatan anak-anak-Mu, mencurahkan belas kasih-Mu kepada para pendosa yang bertobat dan menarik mereka semua untuk masuk ke dalam Kerajaan-Mu. Ya Bapa, oleh Roh Kudus bentuklah aku menjadi murid Yesus yang setia, siap terlibat dan mengotori tangan-tanganku, untuk membawa para sahabatku kepada-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 21:28-32), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG DUA ORANG ANAK YANG TIDAK SEMPURNA” (bacaan tanggal 28-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Tulisan ini adalah adaptasi dari P. Silvester O’Flynn OFMCap., The Good News of Matthew’s Year, Dublin, Ireland: Cathedral Books/The Columba Press, 1989/1992 [second printing], hal. 235-238.

Cilandak, 24 September 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUPAYA SEMUA ORANG DAPAT MELIHAT CAHAYANYA

SUPAYA SEMUA ORANG DAPAT MELIHAT CAHAYANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Senin, 22 September 2014)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan S. Ignatius dr Santhi, Imam

670px-Oil_lamps_in_heraldry2.svg

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga.” (Luk 8:16-18)

Bacaan Pertama: Ams 3:27-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5

“Perumpamaan tentang pelita” dalam bacaan Injil hari ini, menurut pandangan Bernard C. Mischke OSC dan Fritz Mischke OSC (Pray Today’s Gospel) jelas mengacu pada pelita yang dibiarkan menyala di gerbang masuk rumah-rumah orang berkebudayaan Helenistis (Yunani), sehingga dengan demikian memancarkan cahaya bagi orang-orang yang masuk di tengah kegelapan malam. Aplikasinya yang langsung cukup jelas. Pelita itu dimaksudkan untuk memberikan cahaya kepada orang-orang non-Yahudi (baca: kafir) yang juga datang guna memasuki Kerajaan Allah.

Orang-orang Yahudi yang menjadi Kristiani tidak boleh memegang terang iman hanya bagi mereka sendiri. Mereka tidak boleh menyembunyikannya sehingga tidak ada yang dapat melihatnya, melainkan menempatkannya di atas kaki pelita, artinya membuatnya diketahui, dapat dengan mudah diakses oleh semua orang.

Kepada kita pun telah diberikan terang iman. Perumpamaan hari ini juga berlaku bagi kita semua. Apakah iman kita memancar-terang dalam hidup kita sehingga dengan demikian dapat dengan mudah dilihat oleh orang-orang lain, teristimewa oleh mereka yang berada di batas-batas pinggiran masyarakat? Apakah hidup dan kasih Kristiani yang kita miliki menarik banyak orang untuk melihat pengaruh iman kita dalam hidup kita?

Kita mengetahui bahwa “actions speak louder than words.” Dengan demikian “omdo” (omong doang) dan/atau “nato” (no action, talk only) sungguh tidak laku di mata orang banyak. Kita tahu kekuatan nyata dari pemberian teladan yang baik. Perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini mengatakan kepada kita bahwa kita berkewajiban untuk memberikan teladan yang baik, untuk memiliki terang hidup kita sebagai umat Kristiani yang terang bercahaya. Alangkah indahnya jika melalui teladan hidup kita yang baik, melalui iman kita yang hidup, orang-orang dapat mengenal Yesus dan kemudian menjadi murid-murid-Nya seperti kita juga.

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya” (Luk 8:16)

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh ingin agar hidupku menjadi suatu kesaksian dari Kabar Baik-Mu. Tolonglah aku agar dapat menjadi Injil yang hidup, yang dapat dilihat oleh orang banyak. Terpujilah nama-Mu, ya Tuhan Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18), bacalah tulisan yang berjudul “KESELAMATAN DARI YESUS ADALAH UNTUK SETIAP ORANG” (bacaan tanggal 22-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKLITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 18 September 2013 [Peringatan S. Yosef dr. Copertino, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA MASING-MASING SAMA BERHARGANYA DI MATA ALLAH

KITA MASING-MASING SAMA BERHARGANYA DI MATA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV, 21 September 2014)

YESUS KRISTUS - 11“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapti orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk gterakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16)

Bacaan Pertama: Yes 55:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,8-9,17-18 Bacaan Kedua: Flp 1:20c-24,27a

BUAH ANGGURDalam liburan mereka, sebuah keluarga yang terdiri dari suami, istri dan seorang anak laki-laki mereka yang masih duduk di kelas 3 SD mengunjungi sebuah kebun anggur. Karena dirasakan tepat setting-nya, maka sang ayah bercerita mengenai perumpamaan Yesus tentang para pekerja kebun anggur yang ada dalam bacaan Injil hari ini. Anaknya yang masih kecil itu berseru, “Sangat tidak adil!” Kalau kita jujur, kita dapat menerima kenyataan bahwa kita pun akan bereaksi serupa. Biar bagaimana pun, para pekerja yang datang paling akhir boleh dikatakan hampir belum bekerja sama sekali. Mengapa mereka diberi upah sama dengan para pekerja yang bekerja di bawah terik matahari sepanjang hari?

Dalam perumpaman ini Yesus mengajarkan, bahwa sebenarnya tidak seorang pun pantas untuk masuk ke dalam surga. Kita semua telah berdosa dan kehilangan hak kita sebagai pewaris surga. Namun karena rahmat Allah yang berlimpah-limpah, maka pintu surga sekali lagi terbuka bagi kita semua. Semua orang yang datang dengan suatu iman-hidup kepada Yesus dapat ikut ambil bagian dalam belas kasih-Nya yang berkelimpahan – yang terakhir sama banyaknya dengan yang pertama.

Allah tidak menilai kita untuk apa yang kita lakukan bagi-Nya atau berapa banyak kita berkontribusi kepada masyarakat. Itu adalah cara/jalan kita, bukan cara/jalan-Nya. Denggan perumpamaan ini Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana Allah memandang dan menilai diri kita. Allah memandang dan menilai kita sebagai anak-anak-Nya sendiri – anggota-anggota Kristus yang dirajut menjadi sepotong permadani hiasan dinding yang sangat indah penuh warna-warni. Jika ada satu benang saja yang hilang, seluruh permadani tersebut kehilangan sesuatu dari nilainya. Kita masing-masing sama penting dan berharganya di mata Allah, sama bernilainya sampai Putera Allah sendiri rela mati untuk kita, masing-masing sedemikian berharga sehingga dapat menjadi tempat kediaman Roh Kudus.

VineyardJoy1Sekarang masalahnya adalah, apakah kita (anda dan saya) menyadari akan hal ini? Apakah kita mengawali dan mengakhiri setiap hari dengan pikiran ini? Apakah pengetahuan ini muncul ke permukaan setiap saat kita gagal dalam tugas-pekerjaan kita, memaki-maki pasangan hidup dan/atau anak-anak kita, atau tergelincir lagi ke dalam kedosaan? Dalam hal ini kita harus senantiasa mengingat bahwa kita dapat menerima kasih Kristus yang “sama bobot”-nya dengan yang diterima S. Fransiskus dari Assisi, S. Antonius dari Padua, Beata Bunda Teresa dari Kalkuta, atau orang-orang kudus yang kita dapat sebutkan namanya. Jika kita sungguh menyadari akan kebenaran ini, maka – seperti Yesus – kita pun dapat mengampuni orang-orang lain yang telah menyakiti hati atau mendzolimi kita. Kita pun akan mampu untuk melihat gambar dan rupa Allah dalam diri mereka. Oleh karena itu, marilah kita tidak memohon kepada Allah agar diperlakukan secara adil, melainkan memohon agar kepada kita diberikan hati yang dapat memperlakukan orang-orang lain sebagaimana Bapa surgawi memperlakukan kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahapengampun. Tolonglah aku agar mau dan mampu mengampuni orang-orang yang telah menyakiti dan mendzolimi diriku. Transformasikanlah kami semua dengan kasih-Mu yang berlimpah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yag berjudul “TIDAK ADA PENGANGGURAN DALAM TUBUH KRISTUS” (bacaan tanggal 21-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 18 September 2014 [Peringatan S. Yosef dr. Copertino, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 157 other followers