Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

RAHMAT DAN BELAS KASIH ALLAH

RAHMAT DAN BELAS KASIH ALLAH

(Bacaan Injil Misa KudusHARI MINGGU PRAPASKAH IV [TAHUN C], 6 Maret 2016)

 the prodigal son

 

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk 15:1-3,11-32).

Bacaan Pertama: Yos 5:9a,10-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-7; Bacaan Kedua: 2Kor 5:17-21

“Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka” (Luk 15:2).

Kita dapat membayangkan bagaimana sikap menghina yang diperlihatkan oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat ketika mereka mengucapkan kalimat di atas. Di mata mereka Yesus memang keji, rendah, jahat dan hina, …… seseorang yang menentang konvensi-konvensi mereka dan ikut bersekutu dengan para pendosa yang mereka musuhi. Namun bagi kita semua yang adalah para pendosa, patutlah kita bersyukur bahwa Yesus sungguh dengan tangan terbuka menyambut kita.

“Perumpamaan tentang anak hilang” ini adalah salah satu gambaran yang paling intim tentang rahmat dan belas kasih (kerahiman) Allah. Cerita ini memperlihatkan seorang ayah yang menghadapi sikap dan tindakan kurang ajar dari anak bungsunya, namun ia tidak pernah menolak si anak. Yang kita lihat di sini bukanlah hati sang ayah yang mau membalas dendam, melainkan hati seorang ayah yang penuh belas kasih dan bela rasa, sebuah hati yang hanya ingin disatukan kembalikan dengan anak yang dikasihinya. Bahkan sebelum dia menerima permohonan ampun dari si anak, sang ayah memeluk anaknya itu dan dalam belas kasihnya dia menyuruh hambanya mengenakan baju bagus padanya.

Bayangkan betapa terkejutnya si anak. Bukan kemarahan atau sikap dingin sang ayah yang diterimanya, melainkan dia dicurahi dengan kasih, belas kasih dan penerimaan. Sungguh suatu pengalaman pribadi yang luarbiasa. Bayangkan dalam pikirannya bergemalah apa yang ditulis sang pemazmur: “Aku telah mencari TUHAN (YHWH), lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” (Mzm 34:5).

Di samping menggerakkan hati kita, perumpamaan Yesus ini juga mampu mengingatkan kita sehubungan dengan hidup aktual kita sendiri. Kita masing-masing telah berdosa terhadap Bapa kita di surga dan perlu melakukan perjalanan pulang dalam kedinaan. Apabila kita melakukannya, maka kita akan melihat Dia datang berlari untuk merangkul dan mencium kita.

Dalam pengalaman pengampunan dan pembersihan inilah kita dapat mengenal kebenaran dari kata-kata Santo Paulus: “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor 5:17). Pengampunan yang tersedia bagi kita dalam Kristus begitu memiliki kuat-kuasa sehingga jauh melampaui pemberian maaf atas kesalahan-kesalahan kita. Pengampunan dalam Kristus ini menyangkut suatu penciptaan-kembali hati dan pikiran kita. Pada hari ini, ketika kita (anda dan saya) menerima Yesus dalam Misa, marilah kita memohon kepada Allah Bapa agar membawa kita satu langkah lebih dekat kepada ciptaan baru ini. Biarlah Dia mencurahkan rahmat-Nya yang tidak hanya mengampuni namun juga membuat kita menjadi seorang pribadi yang baru – gambaran Kristus di atas bumi.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena kasih-Mu. Jagalah agar aku tidak pernah melupakan belas kasih-Mu terhadap diriku atau kuat-kuasa-Mu untuk membuat diriku seorang ciptaan baru. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “BAPA YANG SUNGGUH MENGASIHI” (bacaan tanggal 6-3-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-3-13 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 3 Maret 2016   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

DOA YANG DIBENARKAN OLEH ALLAH

DOA YANG DIBENARKAN OLEH ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Sabtu, 5 Maret 2016) 

harold_copping_the_pharisee_and_the_publican_3001Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus menyampaikan perumpamaan ini. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Luk 18:9-14) 

Bacaan Pertama: Hos 6:6:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,18-21

Dalam Hosea 14:3, sang nabi mengajak orang-orang Israel untuk berdoa dan berbalik kembali kepada TUHAN (YHWH). YHWH Allah mendengarkan doa mereka: “Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murka-Ku telah surut dari pada mereka. Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon mawar. Ranting-rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon. Mereka akan kembali dan diam dalam naungan-Ku dan tumbuh seperti gandum; mereka akan berkembang seperti pohon anggur yang termasyhur seperti anggur Libanon” (Hos 14:5-8).

Sebelumnya, Hosea mengajak umat untuk berdoa: “Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN (Hos 6:1). TUHAN menjawab doa mereka dengan “meremukkan mereka dengan perantaraan nabi-nabi; Aku telah membunuh mereka dengan perkataan mulut-Ku” (Hos 6:5). Allah mendengarkan doa yang kurang lebih sama dalam cara yang berbeda, sebab doa dalam Hosea 14 juga berbeda, yakni dengan kesungguhan hati penuh tobat dan penyesalan dari penyembahan berhala (Hos 14:9, lihat juga Hos 14:4); sedangkan doa Hosea dalam bab 6 didoakan oleh umat tanpa kesungguhan hati kepada TUHAN (lihat Hos 6:7) “Siapa memalingkan telinganya untuk tidak mendengarkan hukum, juga dosanya adalah kekejian” (Ams 28:9).

Dalam bacaan Injil hari ini, si orang Farisi menyatakan dirinya berdoa, berpuasa dan memberi sedekah (Luk 18:11-12), sedangkan si pemungut cukai – yang telah menjual dirinya kepada penguasa Romawi demi uang – juga berdoa) (Luk 18:13-14). Hasil akhirnya? Menurut Yesus, si pemungut cukai pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang Farisi itu tidak (lihat Luk 18:14). Mengapa sampai begitu? Karena orang Farisi  itu berdoa dengan hati yang dipenuhi kesombongan, berpusat pada diri sendiri, sedangkan si pemungut cukai itu bertobat dan merendahkan diri ketika berdoa: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (lihat Luk 18:13-14). Yesus mengakhiri perumpamaan-Nya dengan mengatakan begini: “Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk 18:14).

Allah tentu akan mendengarkan dan mengabulkan doa-doa kita. Namun bagaimanakah semangat doa kita itu? Apakah kita akan menerima dari Allah sikap keras dan tegas seperti ditunjukkan-Nya kepada orang yang sombong atau kebaikan seperti ditunjukkan-Nya kepada yang rendah hati? Ingatlah apa yang ditulis dalam surat Petrus yang pertama: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati” (1 Ptr 5:5; bdk. Ams 3:34).

DOA: Ya Yesus, Tuhanku dan Allahku, ajarlah diriku agar dapat berdoa dengan penuh kerendahan hati sebagaimana telah dicontohkan oleh si pemungut cukai dalam perumpamaan-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 18:9-14), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG FARISI DAN SEORANG PEMUNGUT CUKAI” (bacaan tanggal 5-3-16)  dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016. 

Cilandak, 2 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH AKU SUNGGUH MENGAMPUNI?

APAKAH AKU SUNGGUH MENGAMPUNI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Selasa, 1 Maret 2016) 

YESUS KRISTUS - 10Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35) 

Bacaan Pertama: Dan 3:25,34-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9

“Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Mat 18:35).

Kita – umat Kristiani – mengetahui sekali bahwa kita harus mengampuni, kalau tidak demikian maka kita pun tidak akan diampuni oleh Allah. Pada waktu mengajar para murid-Nya tentang “Doa Bapa Kami”, Yesus pun mengajar kita untuk berdoa demikian (lihat Mat 6:12; lihat juga Mat 6:14-15).

Oleh karena itu sering kita – umat Kristiani – mengatakan bahwa kita memaafkan atau mengampuni kesalah orang lain, sebab kita tahu bahwa tidak ada pilihan lain. No other choice !!! Namun masalahnya adalah, apakah kita mengampuni orang lain selaras dengan ukuran Allah? Apakah kita mengamapuni dengan segenap hati?

Jika kita telah sungguh-sungguh telah mengampuni, maka kita:

  • Hendaknya menyadari bahwa pengampunan itu adalah suatu mukjizat dari rahmat Allah, sebab kodrat manusialah untuk bersalah dan kodrat ilahilah untuk mengampuni;
  • Bersedia menerima dengan cinta dan belas kasih, menghargai dan mengembalikan lagi orang-orang yang bersalah terhadap diri kita, sebagaimana perumpamaan tentang seorang ayah terhadap anaknya yang hilang (lihat Luk 15:11-32);
  • Mau menjadi utusan yang melakukan pelayanan rekonsiliasi (pendamaian) yang telah dipercayakan Allah dengan perantaraan Kristus (1 Kor5:18-19);
  • Akan mengakui betapa besar manfaat dari Sakramen Rekonsiliasi, sebab kita mengampuni seperti kita sendiri telah diampuni;
  • Bersedia merangkul kembali orang-orang yang bersalah kepada kita (Luk 15:20);
  • Memperkenankan Allah menyembuhkan dan menyucikan kembali ingatan penuh kebencian, kemarahan, dan keinginan untuk membalas dendam, dan
  • Mengingat kembali tidak hanya dosa-dosa orang lain terhadap diri kita, tetapi khususnya rahmat yang menakjubkan, dengan mana kita memaafkan setiap dosa.

Apabila kita merasa ragu apakah telah mengampuni orang lain, maka sebaiiknya kita pergi menghadap Yesus di muka altar dan mengucapkan doa ini: “Dengan rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, aku memaafkan …… [nama] …… atas …… [kesalahan] …… Doa ini kita ulang-ulang beberapa kali sampai kita merasa telah dimurnikan kembali dari rasa tidak mau mengampuni.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau memungkinkan diriku mengalami belas kasih/kerahiman-Mu yang sempurna. Dalam nama-Mu yang kudus, aku pun menolak Iblis dan roh-roh jahat lainnya yang datang dengan segala bujuk-rayu mereka agar aku tidak mengampuni orang-orang lain yang bersalah kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-35), bacalah tulisan yang berjudul  “KARUNIA/ANUGERAH PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 1-3-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016. 

Cilandak, 28 Februari 2016 [HARI MINGGU PRAPASKAH III – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JIKALAU KAMU TIDAK BERTOBAT ……

JIKALAU KAMU TIDAK BERTOBAT ……

(Bacaan Injil Misa –  HARI MINGGU PRAPASKAH III [Tahun C], 28 Februari 2016) 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur Pilatus dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Yesus berkata kepada mereka, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? “Tidak!”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan semua orang lain yang tinggal di Yerusalem? “Tidak”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian.”

Kemudian Yesus menyampaikan perumpamaan ini, “Seseorang mempunyai pohon ara yang ditanam di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Lihatlah, sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan sia-sia! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:1-9) 

Bacaan Pertama: Kel 3:1-8a,13-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,6-8,11; Bacaan Kedua: 1 Kor 10:1-6,10-12 

Yesus melanjutkan pengajaran kepada para murid-Nya tentang hal-ikhwal mengikuti Dia. Di sini Dia mengajarkan tentang perlunya semua orang untuk bertobat. Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus menghubung-hubungkan bencana dengan hukuman karena dosa. (Sampai hari ini pun sebenarnya hal seperti ini masih ada di antara orang-orang kebanyakan). Beberapa orang minta kepada Yesus untuk mengomentari dua bencana lokal yang terjadi. Jelas ada sejumlah orang Galilea yang sedang mempersembahkan kurban di Bait Suci di Yerusalem dibunuh oleh serdadu Pilatus. Darah mereka dicampur dengan darah hewan yang sedang dipersembahkan sebagai kurban. Bencana kedua barangkali kecelakaan pada waktu konstruksi di Siloam. Yesus tidak menolak kemungkinan terdapatnya hubungan antara dosa dan malapetaka, namun Dia menolak gagasan bahwa derajat kedosaan dapat dikira-kira dari besar-kecilnya malapetaka.

Nasib baik atau bencana bukanlah indikator-indikator yang layak untuk mengukur spiritualitas seseorang, karena Bapa surgawi “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:45). Di lain pihak, penghakiman dapat dipastikan akan dijatuhkan atas orang-orang yang belum bertobat dari dosa-dosa mereka (lihat Luk 13:3.5). Yesus akan selalu mengampuni kita, betapa pun beratnya dosa kita. Dia memberikan kepada kita setiap kesempatan untuk datang kepada-Nya dengan jiwa yang hancur serta hati yang patah dan remuk-redam (lihat Mzm 51:19), untuk menerima pengampunan dan pendamaian (rekonsiliasi). Mereka yang tidak bertobat akan mengalami hukuman pada penghakiman terakhir.

Dosa memisahkan kita dari Allah. Dosa itu mempunyai efek yang dahsyat sekali atas kehidupan dan relasi seorang pribadi manusia dengan Allah. Motif Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dunia adalah “kasih”, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Dia kemudian menderita dan mati di kayu salib sebagai silih atas dosa-dosa kita, manusia. Santo Paulus menulis: “Apakah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidak tahukah engkau bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan (Rm 2:4-5).

Figtree“Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah” (Luk 13:6-9) menggambarkan belarasa Allah dan penghakiman-Nya yang ditunda, untuk memperkenankan kita melakukan pertobatan dan terhindar dari konsekuensi-konsekuensi serius yang disebabkan dosa-dosa kita. Dengan demikian, kita dapat bersukacita dan memuji-muji Tuhan, karena meskipun dosa-dosa kita itu sungguh parah, Dia akan tetap mengampuni. YHWH memang telah berfirman lewat mulut nabi Yesaya: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes 1:18). Namun demikian, kita tidak pernah boleh tetap santai-santai saja, berleha-leha atau menunda-nunda keputusan untuk melakukan pertobatan, agar supaya dapat mencapai rekonsiliasi dengan Allah, berdamai kembali dengan Sang Khalik langit dan bumi.

Sebagai seorang insan yang sungguh-sungguh ingin mengikuti jejak Yesus Kristus, marilah kita  memeriksa batin kita masing-masing dan kemudian berbalik kepada Allah dengan ‘jiwa yang hancur serta hati yang patah dan remuk-redam’ (bdk. Mzm 51:19).

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, aku sungguh menyesal karena telah melukai hati-Mu. Aku membenci dan benar-benar merasa jijik terhadap segala dosaku karena semua itu telah menyakiti hati-Mu. Engkau adalah kasih, dan dalam kasih pula Engkau telah mengampuni aku. Engkau adalah Allah yang baik, kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi. Engkaulah satu-satunya yang baik, satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus, satu-satunya yang pemurah, tak bersalah dan murni. Dari Engkau, oleh Engkau dan dalam Engkaulah segala pengampunan, segala rahmat dan kemuliaan untuk semua orang yang bertobat.  Hari ini, aku berketetapan hati, dengan pertolongan rahmat-Mu, untuk tidak berdosa lagi, baik dengan pikiran, perkataan, perbuatan maupun kelalaianku. Amin.

Catatan: Untuk memperdalam Bacaan Injil hari ini (Luk 13:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “MELAKUKAN PERTOBATAN” (bacaan untuk tanggal 28-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan satu tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 23 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGAMPUNAN ALLAH ITU ADIL

PENGAMPUNAN ALLAH ITU ADIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Sabtu, 27 Februari 2016) 

prodigal son

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3,11-32) 

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 103:1-4.9-12

“Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya”  (Luk 15:28).

Banyak sekali orang yang tidak dapat menerima pesan dari perumpamaan si anak hilang ini. Mereka lebih berpihak kepada saudara yang sulung itu. Mereka menginginkan agar si “anak hilang” itu dihukum saja dan jangan diampuni. Mengapa? Apakah alasan mereka? Karena mengampuni bagi mereka berarti setengah menyetujui dan mengabadikan kejahatan.

Banyak orang memang memandang pengampunan sebagai suatu alasan bagi seorang pendosa untuk menolak tanggung jawab atas dosanya. Mereka melihat pengampunan sebagai tindakan tidak adil terhadap korban akibat dosa dari si pendosa.

Dalam kerahiman-Nya (belas kasih-Nya), Tuhan tidak hanya mengasihi, mengampuni dan menghargai pendosa, tetapi dalam keadilan-Nya Dia juga membenci dosa dan perbuatan dosa. Tuhan mengungkapkan kemarahan-Nya terhadap dosa dengan “menghapuskan kesalahan-kesalahan kita” dan “melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut” (lihat Mi 7:19). Tuhan membuang dosa-dosa kita dan menenggelamkannya ke dalam dasar lautan.

Dengan demikian pengampunan Tuhan tetap adil. Sikap kasih-Nya yang lembut dan penuh ampun kepada para pendosa sebagai alasan sikap memusuhi dosa dan akar-akar dosa. Pada kayu salib, Yesus secara sempurna mengasihi kita – para pendosa – dan membenci serta menghancurkan dosa serta pekerjaan iblis (1 Yoh 3:8). Tuhan membedakan pendosa dari dosanya.

Mengikut jejak Yesus Kristus berarti mengasihi dan mengampuni orang-orang yang berdosa dan tetap tegar membenci dosa serta menghancurkan sumber dosa.

DOA: Bapa surgawi, melalui kuasa Roh-Mu berikanlah kekuatan kepadaku untuk mau dan mampu bergumul melawan dosa sampai mencucurkan darah (Ibr 12:4). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK YANG HILANG” (bacaan tanggal 27-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 23 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HATI YANG SUDAH MEMBATU

HATI YANG SUDAH MEMBATU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Kamis, 25 Februari 2016)

lazarus-dogs-b

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak, Bapak Abraham, tetapi jika seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepada-Nya Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31) 

Bacaan Pertama: Yer 17:5-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6

“Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Luk 16:31).

Hati manusia begitu berliku dan penuh tipu (Yer 17:9) sehingga sebagian besar dari kita ini, walau pun kita hidup di tengah dunia komunikasi yang serba cepat dan canggih, kita sedikit saja atau sama sekali tidak memperhatikan keberadaan banyak orang kelaparan di depan pintu rumah kita sendiri (Luk 16:20).

Kita telah membuat hati kita sendiri begitu mengeras sehingga, seandainya pun ada orang mati bangkit kembali untuk memperingatkan kita, kita tak akan bertobat (Luk 16:31). Kalau pun kita berubah, hal ini hanya mungkin lewat  sabda Allah – yakni dari kelima kitab Taurat Musa (Pentateukh) dan kitab para nabi serta kitab-kitab dan berbagai surat yang ada dalam Kitab Suci.

Secara dramatis sebenarnya Yesus menghayati apa yang Ia sendiri khotbahkan lewat perumpamaan orang kaya dan si miskin Lazarus. Petang hari di hari kebangkitan-Nya, Yesus tahu bahwa kebangkitan-Nya itu hanyalah akan merupakan langkah pertama guna membuka hati manusia yang sudah membatu itu. Sore dan petang hari itu Yesus yang bangkit mulia itu menghabiskan waktunya “menjelaskan kepada dua orang murid yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus tentang apa yang tertulis tentang Dia dari kita-kitab Musa dan segala kitab para nabi” (lihat Luk 24:27). Ia juga membuka pikiran para murid, sehingga mereka mengerti Kitab Suci (lihat Luk 24:45).

Dalam setiap Misa Kudus, Kristus yang bangkit itu mewartakan pesan yang ada dalam Kitab Suci. Misa harian sesungguhnya merupakan kesempatan terbaik untuk memperkenankan Allah mengubah hati kita. Dengan berjalannya waktu, hasilnya tentu bahwa kita akan mengasihi orang-orang miskin dan mengasihi Allah.

Saudari dan Saudaraku, marilah kita membuka hati kita bagi sabda Allah yang diwartakan oleh Kristus yang bangkit dan hadir dalam Ekaristi.

DOA: Bapa surgawi, buatlah hatiku berkobar-kobar pada waktu mendengarkan sabda-Mu seperti yang dialami oleh kedua orang murid yang berjalan menuju Emaus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:19-31), bacalah tulisan yang berjudul  “ORANG KAYA DAN ORANG MISKIN” (bacaan tanggal 25-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 22 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KASIH YANG SESUNGGUHNYA

KASIH YANG SESUNGGUHNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah – Senin, 15 Februari 2016) 

Stefan_Lochner_-_Last_Judgement_-_circa_1435

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:31-46) 

Bacaan Pertama: Im 19:1-2,11-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Dalam lingkup Kekristenan (Kristianitas) kita banyak berbicara mengenai kasih, dan hal ini sah-sah saja dan tidak salah. Tidak diragukan lagi, kasih adalah sesuatu yang hakiki dalam iman Kristiani. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tulisan-tulisan para kudus, teologi zaman kuno maupun modern, umat Kristiani dan juga orang-orang non Kristiani – semua setuju tentang keutamaan kasih.

Namun sayangnya kita suka berbicara dengan begitu ringannya tentang kasih, seakan-akan topik kasih ini sangat sederhana, seakan kasih tidak menuntut apa-apa selain membuang segala sesuatu, seakan-akan suatu obat yang langsung memberi efek kesembuhan segala sakit-penyakit yang diderita. Yang sebenarnya “penyembuh segala” (cure all) adalah apabila itu adalah kasih yang sesungguhnya. Inilah masalah sulit yang kita hadapi: kita tidak dapat lepas dari pengertian kekanak-kanakan bahwa kasih hanyalah sekadar masalah emosi. Hal ini diperkuat dengan cerita-cerita dari majalah, film-film, novel-novel, pokoknya seluruh kompleks budaya tergila-gila akan kenikmatan.

Kita dapat bertanya: bukankah keutamaan seharusnya merupakan sesuatu yang menyenangkan? Jawabnya: Ya dan tidak. Jika kita memperhatikan kecenderungan-kecenderungan kedagingan dari manusia, maka kasih yang sesungguhnya dapat menyenangkan dan dapat pula menyakitkan. Kasih sangat menuntut: pemberian diri kita secara total membutuhkan kesabaran yang luar biasa, kedinaan, dalam keputusan-keputusan yang sulit, dan seringkali berlawanan arah dengan hasrat-hasrat kita yang ingin mementingkan diri sendiri.

Banyak pasutri yang baru menikah, satu pekan saja sejak bulan muda usai … berbagai masalah mulai bermunculan. Jika ada kasih sejati dan kebahagiaan mendalam, maka salah satu dari mereka harus “berkorban”. Pemberian-diri tentunya menjadi sukacita dari cinta kasih, namun siapakah yang dapat menyangkal bahwa hal itu juga berarti ada rasa sakit yang harus dirasakan? Perhatian dan minat atas seorang pribadi yang lain yang dituntut oleh cinta kasih menyebabkan keprihatinan yang berisikan kekhawatiran. Hal ini sangat berlawanan dengan kecemburuan/iri-hati atau bahkan self-pity, namun hal ini tetap merupakan semacam penderitaan yang riil. Cinta kasih yang sejati menderita apa yang diderita oleh pihak yang lain.

DOA: Tuhan Yesus, manakala kami benar-benar menanggapi kasih-Mu dengan melakukan tindakan saling mengasihi dengan para saudari-saudara yang lain, maka sekarang juga – di dalam dunia ini – kami menerima berkat-Mu dalam Injil: “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Mat 25:34). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Im 19:1-2,11-18), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAGAI HUKUM YANG DIBERIKAN ALLAH” (bacaan tanggal 15-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak,  11 Februari 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS