Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

ANGGUR BARU DALAM KANTONG BARU

ANGGUR BARU DALAM KANTONG BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Sabtu, 5 Juli 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada yang baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” (Mat 9:14-17)

Bacaan Pertama: Am 9:11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9,11-14

Ketika para murid Yohanes Pembaptis bertanya kepada Yesus tentang hal-ikhwal berpuasa, Yesus menanggapi mereka dengan membandingkan diri-Nya dengan seorang mempelai laki-laki: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?” (Mat 9:15). Sebagai seorang mempelai laki-laki, Yesus adalah Dia – sang Mesias – yang mereka nanti-nantikan dengan penuh persiapan – dengan berpuasa. Sekarang Ia sudah berada di tengah-tengah mereka, datang untuk mengklaim mempelai perempuan sebagai milik-Nya sendiri.

Dengan berbicara mengenai “anggur yang baru dan kantong yang baru” (Mat 9:16-17), Yesus sebenarnya menunjuk kepada kebaharuan dari hidup ilahi yang akan diberikan-Nya kepada umat-Nya. Karena anggur yang baru akan mengalami fermentasi, berkembang semakin matang, maka anggur baru itu membutuhkan kantong anggur yang “baru” pula, yaitu kantong yang lunak-lentur dan dapat berkembang bersama anggur baru itu. Demikian pula halnya orang-orang yang ingin merangkul Yesus serta panggilan hidup-Nya kepada mereka, perlu menjadi lentur – menjadi fleksibel – mau untuk diajar cara berpikir dan bertindak yang baru.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Seperti juga juice dari buah anggur menjadi air anggur, dan dengan berjalannya waktu menjadi air anggur yang semakin baik, maka kita pun ditransformasikan oleh Roh Kudus selagi Dia bekerja dalam diri kita dari hari ke hari. Roh Kudus ini mengajar kita secara makin mendalam bagaimana kita harus pergi meninggalkan dosa dan kemudian merangkul hidup Kristus sendiri. Memang pada awalnya pertobatan terdengar tidak menarik bagi telinga manusia, namun pertobatan sesungguhnya adalah suatu privilese dan penghiburan yang besar. Melalui pertobatan hati kita dapat diperlunak, dan kita pun belajar bagaimana menjadi “terbuka” dan “lentur” di hadapan Tuhan. Pada kenyataannya, pertobatan merupakan dasar sikap dan tindakan kita ketika kita memperkenankan Yesus mentranformasikan diri kita masing-masing menjadi “anggur yang baru”.

Pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, orang banyak yang menyaksikan para murid akhirnya berkesimpulan bahwa mereka itu sedang mabuk oleh “anggur yang baru” (terjemahan TB dan Perjanjian Baru TB II-LAI: “anggur yang manis”). Dalam artian tertentu, orang banyak itu benar, karena Roh Kudus telah membuat kasih Allah yang penuh kerahiman menjadi suatu realitas penuh kuat-kuasa dalam hati para murid. Dalam khotbahnya kepada orang banyak itu, Petrus mempoklamasikan bahwa sukacita yang sedang dialaminya pada saat itu juga tersedia bagi siapa saja yang mau bertobat dan dibaptis; “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus” (Kis 2:38).

Sebagaimana para murid Yesus yang pertama, kita pun dapat bersukacita dalam kehadiran Yesus – mempelai laki-laki kita – selagi kita terus berjalan meninggalkan dosa dan mengarahkan hati kita secara lebih mendalam lagi kepada Allah, Tuhan Kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengenali dan mengalami kehadiran-Mu. Semoga puasa dan doaku menjadi saat-saat di mana keintiman dengan Engkau menjadi semakin bertumbuh selagi aku menantikan pemenuhan dari janji-janji-Mu. Semoga hidup pertobatanku dan ketaatanku terhadap perintah-perintah Allah mengalir ke luar dari sebuah hati yang dipenuhi dengan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-17), bacalah tulisan yang berjudul “ANGGUR BARU” (bacaan tanggal 5-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 6-7-13 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 29 Juni 2014 [Peringatan B. Raymundus Lullus, Martir – OFS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH SEGALA-GALANYA

YESUS ADALAH SEGALA-GALANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Kamis, 26 Juni 2014)

HOUSES ON THE ROCK AND SANDBukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.
Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29)

Bacaan Pertama: 2Raj 24:8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,30-31

Tanpa keraguan sedikit pun kita dapat menyatakan bahwa tujuan yang paling penting dalam hidup kita adalah untuk mengenal Allah dan mengalami-Nya. Kita sebenarnya diciptakan untuk kehidupan kekal, dan kita semua akan menghadapi takhta pengadilan Kristus, “supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2Kor 5:10).

Kita dapat menjalani kehidupan kita dan menentukan bagi diri kita sendiri apa yang baik dan jahat dan barangkali mengklaim diri kita sendiri sebagai warga masyarakat yang patuh pada hukum. Akan tetapi, apabila kita tidak mencari kehendak Allah, pada akhirnya Yesus akan berkata kepada kita: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahaan!” (Mat 7:23).

Itulah sebabnya mengapa Gereja dengan konsisten mengingatkan umat akan bahaya dari humanisme sekular atau “isme-isme” lainnya yang menjanjikan sejumlah jenis kepenuhan dan/atau kepuasan, namun yang terpisah dari Yesus, bahkan samasekali tidak terkait dengan Yesus. Seringkali, falsafah-falsafah yang terdengar bagus, menarik dan memikat ini berdiri berhadap-hadapan dengan dan/atau samasekali bertentangan dengan kabar baik dari Injil Tuhan kita Yesus Kristus. Dengan demikian, bagaimana kita dapat yakin apakah kita sungguh melakukan kehendak Allah, bukannya hanya berseru-seru “Tuhan, Tuhan” (Mat 7:21)? Dalam kesempatan lain, Yesus menjelaskan apa yang sesungguhnya diperlukan: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29).

KHOTBAH DI BUKIT - 11Bacaan Injil hari ini adalah bagian akhir dari “Khotbah di Bukit” dengan pesan sederhana: Yesus adalah segala-galanya. Kepercayaan kita kepada Yesus dapat mentransformasikan hidup kita dan membawa kita kepada pengenalan serta pengalaman akan Allah. Pengalaman kita dengan Yesus dalam doa-doa akan mengangkat kita melampaui hal-hal yang biasa-biasa, dan akan membawa kita ke dalam tahapan “berjalan dalam Roh” yang dipenuhi dengan berkat ilahi.

Yesus ingin agar kita mengenal diri-Nya. Yesus ingin agar kita menjalin relasi akrab penuh kepercayaan dan kasih dengan diri-Nya. Yang dirindukan oleh Yesus adalah seruan dari diri kita yang disampaikan dengan rendah hati: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk 9:24). Selagi kita memproklamasikan iman kita akan Yesus dan memohon kepada-Nya supaya menyatakan diri-Nya kepada kita dengan lebih penuh lagi, maka kita akan mengalami kuat-kuasa kasih-Nya dan kehadiran-Nya secara nyata-berwujud. Inilah hakikat dari Kekristenan.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau ingin menyatakan diri-Mu kepada kami. Oleh karena itu tolonglah kami supaya dapat mengenal-Mu dengan lebih mendalam lagi. Tolonglah kami untuk menyerahkan segalanya kepada-Mu – ketakutan-ketakutan kami, pengharapan-pengharapan kami, pergumulan-pergumulan kami, demikian pula segala sukacita kami. Ajarlah kami memohon dari-Mu dan menerima hidup berkelimpahan yang Engkau sediakan bagi kami. Buatlah kami menjadi para pembangun rumah yang berakar dan didasarkan pada kasih-Mu sehingga kami dapat berdiri tegak dalam menghadapi badai yang melanda, karena mengetahui bahwa Engkau senantiasa menyertai kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21-29), bacalah tulisan yang berjudul “DUA MACAM DASAR” (bacaan tanggal 26-6-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2014.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS ADALAH FONDASI UNTUK MEMBANGUN KEHIDUPAN KITA” (bacaan tanggal 27-6-13) dan “APAKAH KEHENDAK ALLAH BAGI KITA?” (bacaan tanggal 28-6-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 24 Juni 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KAMU MENGUMPULKAN HARTA BAGI DIRIMU DI BUMI

JANGANLAH KAMU MENGUMPULKAN HARTA BAGI DIRIMU DI BUMI

(Bacaan Kudus Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Jumat, 20 Juni 2014)

YESUS KRISTUS - 11“Janganlah kamu mengumpulkan harta bagi dirimu di bumi; di bumi ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi, jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Mat 6:19-23)

Bacaan Pertama: 2Raj 11:1-4,9-18,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11-14,17-18

Setelah menyelesaikan uraian terkait bagian Kristiani dari tradisi-tradisi Yahudi tentang pemberian derma, doa dan puasa, Matius sekarang mengumpulkan sejumlah kata-kata atau sabda-sabda Yesus, semua itu merupakan konsekuensi-konsekuensi praktis dari martabat Allah sebagai seorang Bapa sebagaimana diproklamasikan dalam doa “Bapa Kami”. Jika ada satu tema yang terus berjalan sampai akhir “Khotbah di Bukit” ini, maka temanya adalah ini: Apabila Allah adalah Bapamu, maka percayalah kepada-Nya dan tunjukkanlah bahwa rasa percayamu dengan cara hidupmu.

Musuh pertama dari rasa percaya (trust) dimaksud adalah nafsu akan harta-kekayaan. Ironinya adalah bahwa harta benda duniawi, bahkan uang itu sendiri adalah barang-barang yang tidak tahan lama dan mudah menjadi rusak, bagaimana pun ketatnya kita menjaga semua itu. Di banyak negera terkebelakang masih ada praktek luas di mana orang-orang menguburkan harta-benda mereka di bawah lantai rumah mereka, atau membuatnya menjadi perhiasan yang dipakai sehari-hari. Apakah bank-bank atau bursa saham dewasa ini lebih aman? Inti masalahnya adalah bahwa bagaimana pun besarnya harta benda atau betapa amannya penyimpanan atau investasi, rasa cemas tentang semua itu mengklaim hati kita. Yesus tidak menyalahkan atau katakanlah “mengutuk” pencarian nafkah secara jujur. Yesus memperingatkan bahaya dari pengumpulan dan penumpukan harta-kekayaan, yang menguras energi dan menjauhkannya dari upaya pengumpulan harta-kekayaan spiritual yang tidak pernah akan rusak.

YESUS MENGAJAR DI DEKAT DANAURasa cemas akan kepemilikan materiil dan kebutuhan sehari-hari memang seharusnya tidak menghabiskan waktu dan energi seorang murid Yesus, dan menyimpangkan dirinya dari tanggung-jawabnya sebagai seorang anak Allah. Secara total terserap dalam hal pengejaran hal-hal duniawi berarti tidak menaruh kepercayaan kepada Allah. Prioritas seorang beriman haruslah mencari Kerajaan Allah dengan ketaatan terhadap kehendak Allah (Mat 6:33).

Dalam konteks inilah Matius menempatkan “perumpamaan tentang mata sebagai pelita tubuh” (Mat 6:22-23). Jika mata memberikan terang yang mengarahkan seluruh pribadi seseorang, maka iman akan ajaran Yesus tentang rasa percaya, dan ketidaklekatan akan hal-hal duniawi, akan memenuhi diri seorang murid dengan terang dan panduan-panduan untuk segala tindakannya. Tanpa ini semua berarti sang “murid” berjalan sambil meraba-raba dalam sebuah dunia kegelapan.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, tolonglah aku agar dapat mengenal diriku sendiri, untuk mempunyai mata yang baik dan menjadi anak-anak Bapa surgawi yang senantiasa taat kepada kepada kehendak-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:19-23), bacalah tulisan yang berjudul “MATA ADALAH PELITA TUBUH” (bacaan tanggal 20-6-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 BACAAN HARIAN JUNI 2014.

Cilandak, 17 Juni 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK TINGGAL DALAM DIA

YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK TINGGAL DALAM DIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Rabu, 21 Mei 2014)

Valentin_de_Boulogne_-_The_Last_Supper_-_WGA24244

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8)

Bacaan Pertama: Kis 15:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh 15:4).

BUAH ANGGURIni adalah sebuah janji Yesus yang sungguh luarbiasa! Kita adalah milik Yesus dan Ia milik kita, tidak ubahnya ranting-ranting adalah milik pokok anggur dan pokok anggur adalah milik dan sekaligus sumber kehidupan ranting-rantingnya. Walaupun dalam kehidupan kita yang penuh dengan kesibukan sehingga kita seringkali tidak menyadari akan kehadiran-Nya, Dia tetap ada bersama kita, mengasihi kita, memperkuat kita, berdoa syafaat kepada Bapa sebagai Pengantara kita (lihat Ibr 9:11 dsj), siap untuk memberikan kepada kita hikmat-kebijaksanaan dan hidup. Ia tidak membuang atau meninggalkan kita pada masa-masa pencobaan atau kesulitan atas diri kita. Bahkan pada saat-saat kita meninggalkan diri-Nya (menyeleweng atau melanggar perintah-perintah-Nya), Yesus tetap siap menerima pertobatan kita dan membersihkan kita dari dosa-dosa kita.

Sebagaimana Dia tinggal dalam kita, Yesus mengundang kita untuk tinggal dalam Dia – dalam hati-Nya yang terluka. Karena kita dikasihi oleh-Nya dengan begitu mendalam dan tanpa syarat, kita dapat beristirahat dengan aman dan penuh kedamaian dalam hati Yesus. Dalam Dia kita adalah suatu ciptaan baru, segala dosa kita diampuni dan diperdamaikan dengan Bapa surgawi.

Selagi kita tetap tinggal dalam Yesus, kita akan memahami bahwa Dia melihat semua orang dengan kasih sama seperti yang diberikan-Nya kepada kita. Kita sebenarnya tidak pantas untuk mendapatkan posisi istimewa sedemikian. Kita ditebus oleh rahmat Allah semata – rahmat yang diberikan oleh-Nya kepada semua orang. Kita juga dapat mengasihi secara tanpa syarat, hanya apabila kita mengalami kehadiran Yesus yang tinggal di dalam diri kita. Bila kita memperkenankan Yesus menyatakan diri-Nya kepada kita, misalnya ketika kita berdoa, ketika kita membaca dan merenungkan sabda Tuhan dalam Kitab Suci, ketika kita menerima sakramen-sakramen, maka hidup-Nya akan mengalir dari diri kita kepada orang-orang lain dan memampukan kita untuk berbuah yang menyenangkan hati Allah dan menyegarkan orang-orang lain (lihat Yoh 15:8). Kristus dalam diri kita menjadi harapan akan kemuliaan, tidak hanya bagi diri kita, melainkan juga untuk setiap orang yang yang hidupnya kita sentuh.

1280px-Vines_in_the_Okanagan_ValleySaudari-Saudara yang terkasih. Apakah anda merasa seakan tidak dapat melanjutkan fungsi anda sebagai penyalur kasih-Nya? Apakah anda menghadapi kesulitan untuk mengampuni orang-orang yang telah mendzolimi anda, yang telah membuat anda menderita? Inilah saatnya bagi anda untuk menyerahkan diri kepada kehadiran Kristus dalam diri anda dan memperkenankan Dia untuk memberi asupan makanan kepada anda, seperti sebuah ranting menerima hidup dari pokok anggur. Yesus bersabda, “Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalu kamu tidak tinggal di dalam Aku” (Yoh 15:4).

Tuhan telah memberikan kepada kita masing-masing berbagai karunia dan talenta. Kita masing-masing mempunyai peranan yang harus kita mainkan dalam memajukan Kerajaan Allah. Oleh karena itu, baiklah pada hari ini kita berseru kepada Tuhan memohon kehadiran-Nya untuk menguasai diri kita, memperbaharui diri kita, memperdalam kapasitas kita untuk tinggal dalam Dia.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan diriku kepada Engkau. Bersihkanlah diriku dengan darah-Mu yang kudus, penuhilah diriku dengan pemikiran-pemikiran dan hasrat-hasrat-Mu. Aku ingin mengalami kehadiran-Mu secara lebih penuh pada hari ini dan berbuah bagi-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 15:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “BERDAMAI DENGAN ALLAH MELALUI IMAN KITA KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 21-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:1-8), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “JIKALAU KAMU TINGGAL DI DALAM AKU” (bacaan tanggal 9-5-12), dan “POKOK ANGGUR DAN RANTING-RANTINGNYA” (bacaan tanggal 1-5-13), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 18 Mei 2014 [HARI MINGGU PASKAH V]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKULAH GEMBALA YANG BAIK

AKULAH GEMBALA YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Minggu Paskah IV- Senin, 12 Mei 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam

gb-23Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan menceraiberaikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Tetapi Aku juga mempunyai domba-domba lain yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah perintah yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (Yoh 10:11-18)

Bacaan Pertama: Kis 11:1-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2-3; 43:3-4

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh 10:11).

Kita semua tahu bahwa kita harus senantiasa bersikap rendah hati. Biar bagaimana pun juga kita tidak menciptakan diri kita sendiri, dan kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri dari cengkeraman dosa. Kita semua – dari saat lahir sampai kematian kita – tergantung sepenuhnya pada belas kasih (kerahiman) Allah. Bagaimana halnya dengan Yesus? Mengapa Yesus harus bersikap dan berperilaku sebagai seorang Pribadi yang sungguh rendah hati? Bukankah segala sesuatu diciptakan bagi-Nya, dan Ia pun syering kemuliaan ilahi bersama Bapa sebelum alam semesta diciptakan?

IA MENEBUS DOSA KITABagi Yesus, kerendahan hati (kedinaan)-Nya tentunya tidak muncul hanya karena adanya suatu hasrat untuk memberikan kepada kita contoh/teladan bagaimana kita seharusnya menjalani kehidupan kita sehari-hari. Kerendahan hati adalah suatu pilihan Yesus yang dibuat-Nya dengan bebas bersumberkan pada ketaatan-Nya kepada Bapa surgawi. Yesus berkata, “Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri” (Yoh 10:17-18). Santo Paulus menulis bahwa Yesus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:7-8). Kerendahan hati Yesus membuktikan bahwa diri-Nya sebagai seorang yang paling kuat dan perkasa yang pernah hidup di atas bumi ini.

Kadang-kadang susah bagi kita untuk bangun dari tempat tidur di pagi hari, bukankah begitu? Dapatkah kita membayangkan apa saja yang dibutuhkan untuk menyerahkan hidup kita dan menderita sakit dan penghinaan seperti yang dialami oleh Yesus? Hal itu terjadi bukan karena Yesus takut dihukum oleh Allah Bapa, juga bukanlah karena Yesus adalah seorang korban dari kebingungan karena berpikiran terlalu sederhana. Sama sekali tidak! Yesus mengetahui benar apa yang dilakukan-Nya. Dengan kehendak bebas Ia menyerahkan hidup-Nya untuk menyatakan kekudusan Bapa-Nya dan menyelamatkan kita dari maut.

Kerendahan hati seperti ini – yang dipenuhi dengan kehormatan dan martabat – sangatlah menarik hati. Namun keutamaan ini hanya datang apabila kita membuat pilihan untuk menyerahkan hidup kita dalam ketaatan kepada Allah. Sekarang, tergantung pada diri kitalah apakah kita mau mengenakan kerendahan-hati atau mencari solusi-solusi yang ditandai dengan ketinggian hati (atau yang merupakan ungkapan keangkuhan kita) dalam kehidupan kita sehari-hari. Tergantung kepada kitalah apakah kita akan menyerahkan diri kita kepada sentuhan-sentuhan/ dorongan-dorongan Roh Kudus atau hidup sesuai dengan hikmat kita sendiri, kekuatan kita sendiri dan hasrat-hasrat kita sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, Engkaulah Gembala yang baik. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menunjukkan kepadaku jalan kerendahan hati. Karena Engkau sudi menyerahkan hidup-Mu bagi manusia, termasuk diriku, maka sekarang aku memilih untuk menyerahkan hidupku bagi orang-orang di sekelilingku. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah aku semakin serupa dengan diri-Mu dan perkenankanlah diriku agar dapat memperhatikan orang-orang lain yang membutuhkan pertolongan, seperti yang biasa Engkau lakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 11:1-18), bacalah tulisan yang berjudul “DOA DAN KETAATAN KEPADA TUHAN ALLAH” (bacaan tanggal 12-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:11-18), bacalah tulisan dengan judul “GEMBALA YANG BAIK” (bacaan tanggal 29-4-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM dan “GEMBALA YANG BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA BAGI DOMBA-DOMBANYA (bacaan tanggal 29-4-12) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 9 Mei 2014 [Peringatan S. Katarina dari Bologna, Perawan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKULAH PINTU BAGI DOMBA-DOMBA ITU

AKULAH PINTU BAGI DOMBA-DOMBA ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH IV [Tahun A], 11 Mei 2014)

[HARI MINGGU PANGGILAN]

2496the-good-shepherd-posters“Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Siapa yang masuk ke dalam kandang domba tanpa melalui pintu, tetapi dengan memanjat dari tempat lain, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka akan lari dari orang itu, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”
Yesus mengatakan kiasan ini kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.
Karena itu Yesus berkata lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Akulah pintu bagi domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan Ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, mempunyainya dengan berlimpah-limpah. (Yoh 10:1-10)

Bacaan Pertama: Kis 2:14a,36-41; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6; Bacaan Kedua: 1Ptr 2:20b-25

Bagi banyak dari kita yang lahir dan dibesarkan di kota besar, jarang sekali kita dapat melihat seekor domba yang hidup (kecuali di kebun binatang atau kebetulan melihat sebuah truk di jalan raya yang penuh berisikan domba-domba menuju pembantaian), apalagi sosok seorang gembala. Jadi, tidak mengherankanlah apabila tidak mudah bagi kita untuk memahami dan menghargai kekayaan gambaran gembala dan domba seperti ditunjukkan dalam Kitab Suci. Cara satu-satunya untuk memahaminya adalah dengan mempelajari berbagai fakta tentang kehidupan seorang gembala dan makna spiritualnya dari Kitab Suci.

Para bapak bangsa Israel hidup dalam suatu masyarakat yang belum menetap, melainkan sebagai bangsa yang masih hidup berpindah-pindah sebagai pengembara (Ul 26:5), … mereka belum menetap (sedenter) di satu tempat. Habel digambarkan sebagai seorang gembala kambing domba (Kej 4:2). Dengan demikian metafora tentang gembala yang memimpin kawanan dombanya mencerminkan dengan sangat jelas dua aspek otoritas yang biasanya berbeda satu sama lain: Sang gembala adalah seorang pemimpin dan seorang teman dalam arti companion. Ia adalah seorang yang kuat dan siap membela kawanan kambing dombanya terhadap ancaman binatang-binatang liar, sebagaimana dicontohkan oleh Daud yang menghajar singa maupun beruang yang menyerang (lihat 1Sam 17:34-37). Di sisi lain sang gembala menjalin hubungan penuh kasih sayang dengan kawanan dombanya, dia mengenal hewan-hewan peliharaannya satu per satu, mengetahui kondisi hewan-hewan itu dan menyesuaikan dirinya pada berbagai kebutuhan hewan-hewan tersebut, seperti ditunjukkan oleh Yakub ketika melakukan pertemuan rekonsiliasi dengan Esau, saudaranya: “Tuanku maklum, bahwa anak-anak ini masih kurang kuat, dan bahwa beserta aku ada kambing domba dan lembu sapi yang masih menyusui, jika diburu-buru, satu hari saja, maka seluruh kumpulan binatang itu akan mati …… dan aku mau dengan hati-hati beringsut maju menurut langkah hewan, yang berjalan di depanku …” (Kej 33:13-14). Otoritas dari seorang gembala didasarkan pada pengabdiannya dan cintanya kepada kawanan hewan yang dipimpinnya.

Dalam Perjanjian Lama YHWH adalah Pemimpin dan Bapa dari kawanan/umat-Nya. Julukan “gembala” relatif jarang digunakan, dengan beberapa kekecualian, misalnya:
1. Yakub memberkati Efraim dan Manasye dengan kata-kata sebagai berikut: “Nenekku dan ayahku, Abraham dan Ishak, telah hidup di hadapan Allah; Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang …… (Kej 48:15-16).
2. Atau, ketika Yakub memberkati Yusuf: “… oleh pertolongan Yang Mahakuat pelindung Yakub, oleh sebab gembalanya Gunung Batu Israel, …” (Kej 49:24).

8287~The-Good-Shepherd-PostersMemang relasi antara Allah dan umat-Nya paling baik digambarkan dengan relasi-relasi antara seorang gembala dan kawanan hewan yang dipimpinnya. Kita memulai ibadat harian kita dengan Mazmur 95 di dalam mana ada ayat-ayat untuk mengajak kita menyembah-Nya: “Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN (YHWH) yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya” (Mzm 95:6-7). Ada juga ayat lain dari Mazmur: “… disuruh-Nya umat-Nya berangkat seperti domba-domba, dipimpin-Nya mereka berangkat seperti domba-domba, dipimpin-Nya mereka seperti kawanan hewan di padang gurun” (Mmz 78:52). Satu mazmur yang telah kita kenal dengan baik adalah Mazmur 23: “TUHAN (YHWH) adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang …” Dalam kitab Nabi Yesaya dapat juga kita kutip satu ayat yang menggambarkan YHWH sebagai gembala: “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati” (Yes 40:11).

YHWH-Allah mempercayakan umat-Nya/kawanan-Nya kepada para hamba-Nya sebagai gembala-gembala. Musa dan Harun adalah contoh dari gembala-gembala sedemikian: “Engkau telah menuntun umat-Mu seperti kawanan domba dengan perantaraan Musa dan Harun” (Mzm 77:21). Ketika Musa berdoa kepada YHWH menjelang ajalnya agar Dia dapat mengangkat seorang pemimpin pengganti dirinya, dia berkata: “… supaya umat YHWH jangan hendaknya seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala” (Bil 27:17). Kemudian Musa pun diperintahkan untuk menumpangkan tangan-tangan-Nya atas Yosua (Bil 27:18-20). Tentang Allah dan Daud, sang pemazmur berkata: “Ia membangun tempat kudus-Nya setinggi langit, laksana bumi yang didasarkan-Nya untuk selama-lamanya; dipilih-Nya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba; dari tempat domba-domba yang menyusui didatangkan-Nya dia, untuk menggembalakan Yakub, umat-Nya, dan Israel, milik-Nya sendiri. Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya” (Mzm 78:69-72). YHWH bersabda kepada Daud lewat nabi Natan: “Beginilah firman YHWH semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel” (2Sam 7:8).

Para hakim, para pemimpin umat (Yer 2:8; 25:34-38; Yes 44:28) disebut gembala-gembala. Raja-raja tidak secara langsung disebut sebagai gembala, namun mereka memegang peranan sebagai gembala (1Raj 22:17; Yer 23:1-2). Pada umumnya para gembala yang disebutkan ini tidak setia kepada misi mereka. Mereka mencoba untuk memperkaya diri dengan mengorbankan domba-domba mereka, artinya umat Israel. Salah satu dari kata-kata yang keras barangkali kita dapat temukan dalam kitab nabi Yehezkiel: “Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya di gembalakan oleh gembala-gembala itu? Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. Domba-domba-Ku berserak, tanpa seorang pun yang memperhatikan atau yang mencarinya” (Yeh 34:2-6; bacalah keseluruhan Yeh 34:1-10). Apakah nubuatan ini terasa asing bagi kita yang hidup di Indonesia tercinta dewasa ini?

GEMBALA YANG BAIK - 111YHWH akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Nya dari segala negeri (Yer 23:3; Mi 4:6), mengembalikan Israel ke padang rumputnya (Yer 50:19). YHWH akan mengangkat bagi Israel gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Nya, yang akan memberi makan kepada umat dengan pengetahuan dan pengertian (Yer 3:15; 23:4). Pada akhirnya hanya akan ada satu gembala, Daud yang baru: “Aku akan mengangkat satu orang gembala atas mereka, yang akan menggembalakannya, yaitu Daud, hamba-Ku; dia akan menggembalakan mereka, dan menjadi gembalanya” (Yeh 34:23).

Yesus adalah sang Gembala Baik. Ada banyak karakteristik pribadi Yesus dalam Perjanjian Baru yang mengantisipasi alegoria Yohanes. Ia mencari domba yang tidak mempunyai gembala (Mat 9:36) dan dengan demikian mengutus para rasul-Nya. Yesus melihat diri-Nya sendiri sebagai diutus oleh Bapa surgawi ke tengah domba-domba yang hilang dari Israel (Mat 15:24; Luk 19:10). Kawanan Yesus adalah “kawanan kecil” (Luk 12:32) yang tidak boleh takut karena Kerajaan Surga telah dijanjikan kepada mereka. Kawanan-Nya akan mengalami penganiayaan oleh serigala-serigala dari luar (Mat 10:16) maupun dari dalam (Mat 7:15). Kawanan-Nya akan dicerai-beraikan, ketika gembalanya dibunuh (Mat 26:31; lihat Za 13:7). Akan tetapi, Dia akan memimpin kembali jiwa-jiwa yang tercerai-berai, disembuhkan lewat kematian-Nya, sehingga dengan demikian kita dapat kembali kepada sang Gembala Baik dan Pemelihara jiwa kita (1Ptr 2:24-25). Yesus adalah sang “Gembala Agung segala domba” (Ibr 13:20).

Yohanes Penginjil mengumpulkan catatan-catatan yang berserakan dalam berbagai tulisan Perjanjian Baru ke dalam suatu gambaran indah sekali dalam Yohanes 10. Pertama-tama Yesus menceritakan dua buah perumpamaan, yaitu tentang pintu kandang domba Yoh 10:1-3a) dan tentang gembala (Yoh 10:3b-5). Kemudian Yesus menjelaskan secara alegoris dua perumpamaan ini: Yesus adalah pintu (Yoh 10:7-10), Dia adalah gembala (Yoh 10:11-18), tidak ada seorangpun dapat mengambil domba dari tangan Kristus (Yoh 10:26-30). Bacaan Injil hari ini membatasi diri pada sepuluh ayat pertama dari Yoh 10.

Hanya ada satu pintu untuk keluar-masuk domba-domba. Seorang penjaga pintu akan menjaga. Dalam hal ada beberapa gembala, maka mereka akan menjaga secara bergiliran. Di malam hari ada binatang-binatang buas yang mencoba untuk memangsa domba-domba yang ada. Ada pula pencuri-pencuri yang akan mencoba untuk mencuri domba-domba itu.

GEMBALA YANG BAIK - 01Yesus menyamakan diri-Nya dengan pintu bagi domba-domba itu (Yoh 10:7). Pintu adalah satu-satunya jalan masuk ke tempat kawanan domba. Tidak ada seorangpun gembala yang diperkenankan untuk masuk kalau dia bukan gembala yang sungguh-sungguh. Pencuri-pencuri akan mencoba untuk memanjat dari tempat lain. Banyak pemimpin Israel yang datang sebelum Kristus adalah pencuri-pencuri seperti itu. Mereka tidak mempunyai minat sungguhan perihal keberadaan domba-domba, melainkan hanya memikirkan keuntungan saja. Tuduhan ini juga berlaku bagi para pemuka agama dan pemimpin Yahudi lainnya pada masa Kristus. Banyak orang Yahudi merasakan adanya perbedaan antara Yesus dan para tua-tua Yahudi tersebut. Yesus berkata, “Domba-domba itu tidak mendengarkan mereka” (Yoh 10:8). Ingatlah kembali orang yang buta sejak lahirnya yang disembuhkan oleh Yesus (Yoh 9), Walaupun orang-orang Farisi mencoba dengan keras untuk membuat orang itu berpihak kepada mereka lewat berbagai tipu-daya dan intimidasi, ancaman dan malah mengusirnya keluar dari komunitas Yahudi, dan menyebutnya sebagai seorang pendosa, orang buta yang telah disembuhkan itu hanya berkata: “Jikalau orang ini (Yesus) tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 9:33).

Tidak seorang pun dapat masuk ke kandang domba kecuali melalui pintunya, dan tidak ada seorang pun dapat menjadi gembala kawanan Kristus kalau tidak dipanggil dan diberi wewenang oleh Kristus sendiri. Kristus adalah pintu satu-satunya untuk umat Allah, dan hanya Dia sendirilah yang dapat memanggil seseorang untuk mengurusi kawanan-Nya. Tidak ada hasil pekerjaan baik kita sendiri yang dapat membuat kita mempunyai akses kepada umat Allah.

Yesus adalah pintu bagi domba-domba-Nya masuk-keluar kandang. Hanya apabila domba-domba telah masuk kandang maka mereka aman selama malam hari. Di tanah Palestina pada masa itu ada banyak binatang buas yang kesana-kemari mencari makan. Seekor domba yang berjalan sendiri di malam hari akan sangat rentan terhadap serangan predator-predator itu. Di samping itu bagaimana seekor domba ke luar untuk mencari makan di padang yang hijau jika tidak melalui pintu kandang dan mengikuti tuntunan sang gembala.

Banyak pemimpin palsu (abal-abal) menjanjikan segala macam hal kepada masyarakat yang seharusnya dipimpinnya dengan baik: kepuasan, kebahagiaan, … pokoknya yang enak-enak dan nikmat-nikmat. Namun hasilnya seringkali berupa kekecewaan masyarakat karena merasa tertipu. Kita akan menemukan damai-sejahtera hanya dalam diri Yesus Kristus, dalam hikmat dan pemahaman sejati. Kehidupan sejati akan menjadi milik kita hanya apabila melalui Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita. Kristus adalah pintu bagi kita, domba-domba-Nya.

Yesus juga mengibaratkan diri-Nya sebagai gembala. Kita akan melihatnya dalam kesempatan lain, yaitu dalam Bacaan Injil Hari Minggu Paskah IV (Tahun B). Perumpamaan singkat dalam Yoh 10:3b-5 di atas mengantisipasi suatu penjelasan alegoris dalam Yoh 10:11-18 pada hari Minggu termaksud. Pada hari ini, yang harus kita camkan adalah, bahwa Yesus mengenal domba-domba-Nya. Dan domba-domba-Nya mengenal Dia. Ini bukanlah sekadar pengetahuan teoritis, melainkan pengetahuan yang berasal dari cintakasih. Kristus mengenal kita lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Apakah kita sungguh mengenal Dia?

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku mengenal suara-Mu sehingga aku dapat tetap berada dengan aman di tengah kawanan domba-Mu, yaitu umat-Mu sendiri. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang senantiasa penuh kesetiaan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:1-10), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “TUHAN YESUS KRISTUS ADALAH GEMBALA YANG BAIK” (bacaan tanggal 15-5-11), “MENDENGAR SUARA YESUS SANG GEMBALA BAIK” (bacaan tanggal 30-4-12) dan “BUKALAH TELINGA KITA BAGI SUARA YESUS !!!” (bacaan tanggal 22-4-13), ketiganya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 8 Mei 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUA TANGGAPAN MANUSIA TERHADAP KARUNIA KESELAMATAN

DUA TANGGAPAN MANUSIA TERHADAP KARUNIA KESELAMATAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Sabtu, 29 Maret 2014)

Pharisee-and-Publican

Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus menyampaikan perumpamaan ini. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Luk 18:9-14)

Bacaan Pertama: Hos 6:6:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,18-21

Orang Farisi yang berdiri di hadapan Allah dengan sikap angkuh dan penuh kepercayaan-diri ternyata terjatuh juga dalam perangkap menjadi seseorang yang suka mengeritik dan menghakimi sesamanya. Di lain pihak, si pemungut cukai dengan sikap hormat menyadari adanya jarak antara dirinya sebagai seorang pendosa besar dan kekudusan Allah, dia memukul/menepuk dadanya dan dengan demikian ia malah dibawa semakin dekat kepada Allah dalam pertobatan. Kerendahan hati sedemikian membuka pintu bagi aliran deras kerahiman ilahi.

Dalam perumpamaan ini Yesus menghadirkan kepada kita dua tanggapan manusia terhadap karunia keselamatan dari Bapa surgawi yang Maharahim. Lukas membuat jelas bahwa Yesus menyampaikan cerita ini secara khusus kepada mereka yang menaruh kepercayaan pada diri mereka sendiri, bukan kepada Allah (Luk 18:9). Kita tidak perlu terkejut bilamana Roh Kudus menunjukkan kepada kita dalam doa kita bahwa perumpamaan Yesus ini juga ditujukan kepada kita. Sebagai manusia, kodrat kita sebenarnya adalah pribadi-pribadi yang angkuh … sombong. Hanya dengan kuasa yang mencerahkan dari Roh Kudus-lah maka mata kita akan terbuka terhadap kondisi berdosa diri kita sendiri dan … kebutuhan kita akan pengampunan Allah (lihat Yoh 16:8). Ajaran Yesus dalam perumpamaan ini dapat menjadi cermin bagi sikap dan perilaku kita selagi kita melakukan pemeriksaan batin dan melakukan komitmen kembali atas resolusi-resolusi spiritual yang kita buat pada awal masa Prapaskah beberapa minggu lalu.

Apabila kita setia dalam melakukan doa-doa harian kita dan juga dalam pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, maka Roh Kudus menghidupkan roh kita supaya menggoncangkan kita dari rasa nyaman yang salah, dan kita juga dilunakkan oleh realisasi kasih Allah, dan dengan rendah hati melakukan pertobatan. Allah ingin agar kita memperkenankan kasih-Nya bergerak dalam hati kita dan mengubah sikap-sikap tidak sudi mengampuni dalam keluarga dan di tempat kerja kita. Allah ingin menggantikan rasa-aman palsu kita yang berdasarkan kekuatan diri kita sendiri dan hasil persetujuan manusia lain. Menggantikan dengan apa? Dengan sukacita karena menemukan atau disadarkan akan martabat kita sebagai anak-anak Allah. Praktek-praktek doa kita serta pergumulan dengan sabda-Nya dalam Kitab Suci yang kita lakukan dari hari ke hari seturut komitmen kita sendiri kepada-Nya, akan menolong kita bertumbuh dalam kerendahan-hati seperti diinginkan oleh Yesus sendiri.

Dalam masa Prapaskah yang penuh rahmat ini kita dapat melihat pertumbuhan spritual dalam diri kita, jika kita mau membuka mata hati kita dan tetap setia pada komitmen yang kita buat sendiri berkenan dengan pertumbuhan spiritual tersebut. Pemeriksaan batin yang kita lakukan setiap malam akan menunjukkan kepada kita situasi kita yang sesungguhnya: ketidakmampuan kita untuk membebas-merdekakan diri kita sendiri dari jerat kesombongan dan dosa lainnya. Di sisi lain kita akan memfokuskan perhatian dan kegiatan kita untuk menjadi murid Yesus yang lebih baik lagi dalam mengikuti jejak-Nya. Diri kita akan dipenuhi dengan kasih dan rasa kagum akan kerendahan hati Yesus sedemikian rupa sehingga akan menyebabkan kita terdorong untuk berseru memohon belas kasih-Nya. Percayalah Saudari dan Saudaraku, Yesus tidak akan mengecewakan kita!

DOA: Yesus Kristus, berikanlah kepada kami karunia kerendahan hati sebagai bagian dari karya-Mu dalam mentransformasikan diri kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 18:9-14), bacalah tulisan yang berjudul “DUA SIKAP YANG SANGAT BERBEDA” (bacaan tanggal 29-3-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “YA ALLAH, KASIHANILAH AKU ORANG YANG BERDOSA INI” (bacaan tanggal 17-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hos 6:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENANGGAPI KASIH ALLAH KEPADA KITA” (bacaan tanggal 9-3-13), dalam situs PAX ET BONUM.

Cilandak, 27 Maret 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 153 other followers