Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

SEJARAH UMAT ALLAH DAN SEJARAH PRIBADI KITA JUGA

SEJARAH UMAT ALLAH DAN SEJARAH PRIBADI KITA JUGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius X, Paus – Kamis, 21 Agustus 2014)

PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN KAWIN - TANPA BAJU PESTALalu Yesus berbicara lagi dalam perumpamaan kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh lagi hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya, hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Lalu pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:1-14)

Bacaan Pertama: Yeh 36:23-28;Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-15,18-19

Dalam bacaan Injil hari ini kita mendengar Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah itu seperti suatu perkawinan, suatu persatuan antara dua pihak, yaitu Allah dan kita. Allah mengutus nabi-nabi-Nya untuk mengundang umat-Nya, namun nabi-nabi itu tidak dipedulikan, bahkan disiksa dan dibunuh. Perumpamaan dalam Injil hari ini adalah tentang sejarah umat pilihan Allah sendiri. Walaupun mendengar banyak panggilan, hanya sedikit saja dari mereka yang menanggapi. Akan tetapi perumpamaan Yesus ini juga merupakan suatu sejarah pribadi dari kita masing-masing. Allah mengundang, namun betapa seringnya kita menolak undangan itu.

Kita bahkan melangkah lebih jauh sampai-sampai takut terhadap undangan Allah tersebut, dengan pikiran bodoh yang membayangkan bahwa Dia akan merusak kesenangan kita. Kita lupa bahwa Dia adalah Pencipta alam semesta dan segala isinya, termasuk diri kita. Dia adalah sang Perancang Agung dan Bapa Yang Mahakasih. Dia mengetahui perbedaan antara kesenangan yang menggiring manusia kepada kebahagiaan sejati dan kesenangan yang memimpin kita kepada kepahitan dan keputusasaan.

Apabila undangan Allah didengarkan dan ditanggapi, maka tujuan kita pun aman, masa depan kita pun penuh kemuliaan, dan hidup kita pun teratur. Kita dapat meninjau kembali sejarah dan melihat hal itu sendiri. Jikalau orang-orang sungguh-sungguh menanggapi panggilan Allah, maka mereka pun bergembira penuh sukacita karena merasakan kuasa Allah bekerja dalam hidup mereka. Namu apabila mereka menutup jalan kepada Allah, maka seringkali mereka takut akan kuasa-Nya. Inilah yang dinamakan fear of the unknown, rasa takut akan hal-hal yang tidak diketahui. Sekali kita menerima undangan-Nya dan sungguh-sungguh menjadi kenal dengan Dia, maka kita tidak pernah akan melupakan kenyataan bahwa kita senantiasa berada dalam tangan-tangan Allah yang penuh kasih.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahakasih, jagalah kami senantiasa dalam tangan-tangan-Mu yang penuh kuasa dan kasih, agar dengan demikian hidup kami akan senantiasa teratur dan berada dalam kedamaian. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yeh 36:23-28), bacalah tulisan yang berjudul “ROH-KU AKAN KUBERIKAN DIAM DI DALAM BATINMU” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2014.

Cilandak, 19 Agustus 2014 [Peringatan S. Ludovikus, Uskup]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IRI HATIKAH ENGKAU, KARENA AKU MURAH HATI?

VineyardJoy1

IRI HATIKAH ENGKAU, KARENA AKU MURAH HATI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bernardus, Abas-Pujangga Gereja – Rabu, 20 Agustus 2014)

vingården“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16)

Bacaan Pertama: Yeh 34:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

“Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur” ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Artinya, perumpamaan ini adalah milik tradisi yang berasal dari orang-orang Kristiani ex-Yahudi awal. Umat Kristiani yang berasal dari orang-orang Yahudi ini barangkali merasa iri melihat orang-orang Kritiani yang berasal dari orang-orang non-Yahudi (baca: kafir), yang diterima belakangan namun dipandang sederajat dengan orang-orang Kristiani yang berlatar belakang Yahudi di Gereja awal.

Penerimaan orang-orang non-Yahudi ke dalam komunitas Kristiani merupakan salah satu kontroversi awal di dalam Gereja Apostolik. Ternyata hal ini menjadi masalah yang tidak kecil. Pada akhirnya kontroversi ini dipecahkan kurang lebih seperti digambarkan dalam perumpamaan hari ini.

Iri hati tentunya merupakan suatu masalah sangat mendasar yang dapat menciptakan kesulitan, baik dalam komunitas maupun dalam diri orang-orang bersangkutan.

WORKERS IN VINEYARD - 01Para pekerja kebun anggur, teristimewa mereka yang telah bekerja hari itu dengan jam kerja yang lebih panjang menunjukkan kelemahan yang fundamental ini (iri hati), keserakahan ini, yaitu dasar dari segala dosa.

Kebaikan, kemurahan hati dan keterbukaan Bapa surgawi terlihat jelas dalam perumpamaan ini. Kita juga dapat melihat – seperti tercermin dalam diri sejumlah pekerja kebun anggur itu – sikap iri hati kita, keserakahan kita, ketiadaan respons terhadap kemurahan hati Allah. Apabila kita cermati cerita ini, tanggapan atau respons yang salah dari mereka terhadap kemurahan sang pemilik kebun anggur itu merupakan penyebab terjadinya perpecahan di antara para pekerja tersebut, mereka merasa iri hati dan mengeluh. Bukankah hal seperti itu mencerminkan diri kita juga? Keserakahan dan kecemburuan atau iri hati menggiring kita kepada perpecahan dalam komunitas, dalam keluarga. Hal-hal buruk itu mendatangkan dosa yang melawan cinta kasih, menimbulkan berbagai prasangka dan praduga buruk terhadap orang lain, dan yang parah juga adalah ketiadaan komunikasi.

Sang pemilik kebun anggur berkata, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat 20:15). Apakah kita (anda dan saya) merasa iri hati karena orang-orang lain dianugerahi karunia-karunia oleh Allah? Bukankah kita harus bergembira penuh sukacita dengan para saudari dan saudara kita jika Allah baik kepada mereka? Mengapa kita harus selalu menginginkan segala hal untuk diri kita sendiri saja dan tidak untuk orang-orang lain, teristimewa mereka yang tidak kita senangi?

Tanggapan kita terhadap kemurahan hati Allah haruslah sama, yaitu kemurahan hati. Kemurahan hati dalam pelayanan kita kepada Allah dan sesama, termasuk mereka yang mungkin telah menyakiti atau mendzolimi kita, mereka yang kelihatannya sulit untuk kita kasihi.

DOA: Bapa surgawi, Engkau sangat baik dan senantiasa bermurah hati terhadap diriku dan juga anak-anak-Mu yang lain. Jagalah diriku agar tidak iri hati kepada orang-orang lain yang Kauanugerahi dengan karunia-karunia-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yeh 34:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “YHWH, GEMBALA ISRAEL YANG BAIK” (bacaan tanggal 20-8-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2014.

Cilandak, 17 Agustus 2014 [HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUNGGUH RIIL

SUNGGUH RIIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dr. Loyola – Kamis, 31 Juli 2014)

matthew.13.47

“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53)

Bacaan Pertama: Yer 18:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2-6

Apakah kematian harus terjadi? Ya! Apakah ada surga dan neraka? Ya! Apakah akan ada suatu penghakiman terakhir, suatu pemisahan antara ikan yang baik dan yang buruk, pemisahan antara domba dan kambing (Mat 25:31-46), pemisahan antara gandum dan lalang (Mat 13:24-30)? Ya! Semua perumpamaan yang mengacu pada akhir zaman ini sungguh riil dan semua itu menenangkan hati. Namun, kita harus berhati-hati agar tidak membiarkan pikiran tentang akhir zaman itu memenuhi diri kita dengan rasa takut yang tak perlu. Sebagai umat Kristiani, kita tahu dan seharusnya yakin bahwa Allah adalah “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita. Dia memberikan kepada kita apa saja yang kita butuhkan agar tetap berdiri tegak penuh keyakinan dalam hari penghakiman terakhir.

PARABLE OF THE DRAGNETKitab Suci tidak bosan- bosannya mengingatkan kita bahwa mereka yang hidup dalam Kristus adalah “ciptaan baru” (2Kor 5:17) dan mereka yang percaya kepada Yesus telah berpindah dari kematian ke kehidupan dan “tidak turut dihukum” (Yoh 5:24). Kebenaran yang membebaskan dari Injil adalah bahwa apabila kita tetap hidup dalam Kristus, kita menjadi “ikan-ikan yang baik”. Dalam Dia kita adalah “domba-domba” dan bukan “kambing-kambing”, “gandum” dan bukan “lalang”.

Apakah keniscayaan akan adanya penghakiman terakhir menakutkan anda? Atau apakah anda menghindarkan diri dari isu atau topik sekitar penghakiman terakhir, dan kemudian menyibukkan diri anda dengan kesibukan sehari-hari? Untuk dua situasi ini, jawabnya terletak pada suatu pernyataan yang lebih dalam dari Yesus. Ia akan menunjukkan kepada anda bahwa anda tidak perlu takut akan penghakiman terakhir. Ia juga akan menolong anda menempatkan hal-hal dalam kehidupan anda secara teratur sehingga dengan demikian anda dapat memusatkan perhatian anda pada hari di mana anda akan memandangnya muka ketemu muka.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, selagi kita (anda dan saya) datang kepada Yesus dalam doa dan pembacaan serta permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci, maka Dia akan menunjukkan kepada kita betapa berharga harta yang kita miliki dalam Dia, dan Ia pun akan menunjukkan kepada kita bagaimana hidup dengan cara-cara yang menyenangkan hati-Nya.

Allah ingin agar kita mengetahui bahwa baptisan hanyalah awal dari relasi kita dengan diri-Nya. Dia ingin menopang kita setiap hari dengan Roh Kudus-Nya. Dia ingin mengajar kita bagaimana hidup “dalam Kristus” setiap hari sehingga dengan demikian apa pun yang kita hadapi dalam perjalanan hidup kita, kita dapat berpegang pada janji-janji keselamatan-Nya dan tetap yakin bahwa kita ditebus dalam Dia. Setiap hari Yesus ingin memberikan diri-Nya kepada kita sehingga kita dapat memberikan diri kita sendiri kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin dipersatukan dengan Engkau. Usirlah kekhawatiranku tentang kematian dan penghakiman terakhir. Tolonglah aku untuk memusatkan perhatianku pada tujuan untuk memandang Engkau muka ketemu muka dan hadir dalam pesta perjamuan di dalam kerajaan surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yer 18:1-6), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “SEPERTI TANAH LIAT DI TANGAN TUKANG PERIUK” (bacaan tanggal 31-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 29 Juli 2014 [Peringatan S. Marta]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARTA YANG ADALAH ALLAH SENDIRI

HARTA YANG ADALAH ALLAH SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Rabu, 30 Juli 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46)

Bacaan Pertama: Yer 15:10,16-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 59:2-5,10-11,17-18

Ada seorang laki-laki yang mempunyai hobi koleksi benda-benda bekas yang bagus (lukisan dll.) dengan harga yang relatif lebih murah. Dia biasanya “berkelana” dari garage sale yang satu ke garage sale lainnya sehingga dikenal sebagai pengunjung tetap acara obral sedemikian. Pada suatu hari orang itu menemukan beberapa butir batu berharga yang bernilai tinggi dan mahal. Orang itu bergembira sedemikian rupa sehingga mengingatkan kita akan orang-orang dalam dua perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini, yaitu tentang “harta yang terpendam di ladang” dan tentang “mutiara yang sangat berharga” (Mat 13:44,46).

PERUMPAMAAN TTG MUTIARA YANG HILANGTentu saja dua perumpamaan Yesus ini berbicara melampaui benda-benda berharga yang ada di dunia. Perumpamaan-perumpamaan Yesus ini berbicara mengenai sukacita yang tidak dapat ditekan atau ditahan-tahan karena berhasil menemukan harta yang bernilai tanpa batas. Harta itu adalah Kerajaan Allah yang pada hakekatnya adalah “kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus” (Rm 14:17). Kegembiraan penuh sukacita karena menemukan harta sangat berharga itu adalah sesuatu yang ingin Tuhan berikan kepada kita masing-masing! Sayangnya, banyak umat Kristiani terbaptis tidak mengetahui di mana harta itu dapat ditemukan. Mencari dan mencari, mereka seringkali gagal menemukan, seperti yang diajarkan Yesus sendiri, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:20-21).

Sekarang masalahnya adalah apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa melalui karunia Roh Kudus, kita mempunyai hidup baru dalam Kristus dan suatu sumber kuasa dan rahmat yang ada di kedalaman hati kita? Dalam pembaptisan kita dibuat menjadi “ciptaan baru” (2Kor 5:17). Kita masing-masing menjadi seorang anak angkat Allah (bdk. Gal 4:5-7) dan ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi (2Ptr 1:4), seorang anggota Kristus (bdk. 1Kor 6:15;12:27) dan pewaris bersama-Nya (Rm 8:17), dan kanisah Roh Kudus” (bdk. 1Kor 6:19)(Katekismus Gereja Katolik, 1265). Hal-hal indah ini mungkin saja bertahun-tahun lamanya tertutupi oleh karena kelalaian, kekurangan atau ketiadaan pemahaman, bahkan dapat juga disebabkan kelemahan moral dan dosa. Namun kebenarannya masih tetap ada: Kerajaan Allah ada di dalam diri kita dengan segala kuasa dan keindahannya.

download (1)Itulah sebabnya mengapa doa, pertobatan, dan tindakan kasih dan belas kasih (Inggris: mercy) begitu penting. Santo Paulus mengatakan: “… harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor 4:7). Jika kita ingin mengetahui harta yang ada di dalam diri kita, kita harus menyingkirkan segala harta lainnya yang selama ini mengikat dan membatasi gerak-gerik kita. Memang tidak mudah, tetapi kita harus ingat selalu bahwa Allah mengundang kita untuk menemukan sukacita sejati karena kita membuat diri-Nya harta kita yang teramat berharga. “Apabila Yang Mahakuasa menjadi timbunan emasmu, dan kekayaan perakmu, maka sungguh-sungguh engkau akan bersenang-senang karena Yang Mahakuasa, dan akan menengadah kepada Allah” (Ayb 22:25-26).

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, Engkau jauh lebih berharga daripada emas dan perak. Dalam Engkau-lah ada segala kesenanganku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan yang berjudul “HARTA YANG TAK TERNILAI DI MATA YESUS” (bacaan tanggal 30-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGUAN ALKITABIAH JULI 2014

Cilandak, 28 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BIJI YANG PALING KECIL DAN KERAJAAN ALLAH

BIJI YANG PALING KECIL DAN KERAJAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Senin, 28 Juli 2014)

Harold_Copping_The_Sermon_On_The_Mount_525Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”
Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35)

Bacaan Pertama: Yer 13:1-11; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21

PARABLE OF MUSTARD SEED BY KAZAKHSTAN ARTISTYesus seringkali mengajar dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang diambil dari kehidupan sehari-hari atau dari alam sekitar. Hal ini dimaksudkan agar dapat menangkap perhatian para pendengar-Nya dan memicu mereka untuk mengajukan lebih banyak lagi pertanyaan tentang pesan Injil dan hidup yang ingin disampaikan-Nya. Untuk memenuhi Mzm 78:2, Yesus berkata, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan” (Mat 13:35). Yesus mengatakan ini karena Dia tahu bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dibutuhkan sesuatu yang lebih daripada sekadar pemahaman intelektual. Perwahyuan ilahi juga dibutuhkan.

Penggunaan perumpamaan-perumpamaan oleh Yesus menerangi kebenaran-kebenaran mendalam tentang Kerajaan Allah kepada orang-orang yang mencari kebenaran-kebenaran tersebut. Perumpamaan-perumpamaan Yesus mengundang mereka untuk merenungkan realitas Kerajaan itu dan relasi dengan sang Raja itu sendiri. Cerita-cerita Yesus bukan sekadar merupakan penjelasan-penjelasan sederhana bagi mereka yang sederhana juga, orang-orang biasa saja yang tidak belajar ilmu agama untuk memahami kebenaran ilahi. Lewat perumpamaan-perumpamaan-Nya, Yesus menarik para pendengar-Nya agar mencari Allah, sehingga kedalaman dan kekayaan keselamatan dapat dinyatakan melalui permenungan-permenungan yang dilakukan dalam suasana doa.

MUSTARD SEEDSYesus rindu untuk menyatakan diri-Nya kepada semua orang yang mencari-Nya. Kita dapat memperdalam relasi kita dengan Allah dan pemahaman kita tentang Kerajaaan-Nya selagi kita merenungkan cerita-cerita dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus. Jika kita datang menghadap Yesus dalam doa dengan hati yang terbuka, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang diri-Nya dan tentang hidup kita sendiri, kita membuka diri kita sehingga Dia dapat memperluas pemahaman kita tentang kehendak-Nya. Dengan berjalannya waktu, Yesus mentransformasikan diri kita untuk menjadi semakin serupa dengan diri-Nya. Dengan lemah lembut namun secara mendesak Yesus mengkonfrontir cara-cara atau jalan-jalan kita yang mementingkan diri sendiri dan menyatakan perspektif-Nya sendiri yang penuh kasih dan bersifat ilahi.

Kepada kita masing-masing telah diberikan iman sebesar “biji sesawi” pada saat kita dibaptis. Apa yang akan kita lakukan dengan benih yang kecil ini? Apabila kita membuka hati kita kepada Allah dengan membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci, apabila kita berdoa, dan datang kepada-Nya dalam Ekaristi, maka secara cukup mengejutkan Dia dapat memperbesar benih iman kita yang kecil itu menjadi suatu pemahaman yang mendalam tentang Kerajaan-Nya. Marilah kita berbalik kepada Yesus sehingga Dia dapat membalikkan hati kita menjadi “tanah yang baik”, yang dibutuhkan oleh iman kita untuk berakar dan bertumbuh. Yesus ingin mengajar kita. Marilah kita tingkatkan hasrat kita untuk sungguh menjadikan diri kita murid-murid-Nya yang baik.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Selagi kami datang menghadap Engkau dalam doa dan permenungan, ajarlah kami dan inspirasikanlah kami. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah iman kami menjadi iman yang hidup, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi perpanjangan tangan-tangan kasih-Mu bagi orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “KERAJAAN ALLAH TERBUKA BAGI SEMUA ORANG” (bacaan tanggal 28-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 25 Juli 2014 [Pesta S. Yakobus, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JALA BESAR YANG MENGUMPULKAN BERBAGAI JENIS IKAN

JALA BESAR YANG MENGUMPULKAN BERBAGAI JENIS IKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVII, 27 Juli 2014)

Teachings_of_Jesus_4_of_40._parable_of_the_dragnet._Jan_Luyken_etching._Bowyer_Bible

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”
“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.
Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” (Mat 13:44-52)

Bacaan Pertama: 1Raj 3:5,7-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:57,72,76-77,127-130; Bacaan Kedua: Rm 8:28-30

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAHanya Allah sajalah yang merupakan harta yang dapat memuaskan kerinduan hati yang terdalam dari seorang manusia. Berbahagialah mereka yang menemukan harta ini dan mau membayar harga penuh yang diminta.

Dalam Bab 13 Injilnya, Matius menyusun serangkaian pengajaran Yesus dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan untuk mencerahkan kita tentang misteri oposisi terhadap Yesus yang semakin gencar dari hari ke hari. Dalam bab ini Matius mempunyai pesan yang kuat bagi Gereja pada zamannya. Dengan mengundang para pembaca Injilnya untuk merenungkan sikap dan perlakuan permusuhan yang telah dialami Yesus, maka mereka akan dapat memahami permusuhan serta campuran antara yang baik dan buruk yang merupakan pengalaman harian mereka.

Alangkah baiknya jika kita mencoba untuk memahami segala peristiwa yang kini sedang dialami oleh saudari-saudara kita di Irak – yang disebabkan oleh sikap dan perilaku bermusuhan yang ditunjukkan oleh ISIS – dalam terang perumpamaan-perumpamaan Yesus hari ini. Demikian pula kritik-kritik terhadap Gereja yang datang dari berbagai pihak! Perumpamaan-perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga seharusnya mengangkat hati kita dalam sukacita jika kita memikirkan segala hal yang telah diberikan kepada kita dalam iman: dukungan-dukungan berbagai sakramen, contoh hidup orang-orang lain dan banyak lagi hal yang mengingatkan kita akan kasih dan pemeliharaan Allah bagi kita.

Di lain pihak, perumpamaan tentang jala besar mengingatkan kita pada keberadaan bermacam-macam orang yang melayani Kerajaan Allah di dunia ini. Kata lain untuk menggambarkan sebuah jala besar yang dapat menampung segala macam ikan dan binatang laut adalah “katolik”. Waktu untuk memisahkan ikan yang baik dan yang jahat belum dilakukan karena perahu masih berada di tengah laut. Sementara badai kritik sedang bertiup kencang dan perahu kita penuh dengan segala macam ikan, apa yang paling dibutuhkan sekarang adalah keseimbangan. Keseimbangan inilah yang didoakan oleh Salomo (lihat bacaan pertama) … hati yang faham menimbang perkara … yang dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Hikmat ini digambarkan oleh seorang Saudara Dina (Richard Rohr OFM) sebagai kemampuan untuk memegang bersama hal-hal yang bertentangan satu sama lain dalam keseimbangan.

dragnetDalam Gereja Katolik terdapat hikmat besar yang selama ini telah mampu menjaga keseimbangan antara “sayap kiri” dan “sayap kanan”, “progresif” dan “konservatif”, dunia pertama, dunia kedua dan dunia ketiga. Dalam artian tertentu Gereja bukanlah dari dunia ini dan jiwa-jiwa besar telah diinspirasikan untuk menarik diri dari hiruk pikuk kota besar untuk kemudian masuk ke dalam padang gurun dan biara-biara. Namun Gereja yang sama adalah garam masyarat dan terang dari pikiran-pikiran yang mendidik, memajukan ilmu pengetahuan dan kesenian, merintis rumah-rumah sakit dan segala macam pelayanan terhadap sesame manusia.

Gereja yang tidak duniawi ini penuh dengan pengertian dan bela rasa terhadap orang-orang berdosa yang hidup di dunia. Misalnya, ideal monogami dan cinta kasih penuh kesetiaan dijunjung tinggi, namun Gereja akan sangat terlibat dalam upayanya mendukung pasangan suami-istri yang sudah bercerai, dan menolong mereka yang menjadi korban penyakit HIV-AIDS. Bahkan mereka yang menderita karena tidak mengikuti peraturan Gereja akan melihat bahwa Gereja yang sama mendukung mereka dalam hal pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mereka. Seperti seorang ibu yang memperingatkan anaknya akan bahaya dari langkahnya yang keliru, sang ibu itu pula yang pertama-tama menolong anaknya yang tidak mengacuhkan peringatan akan bahaya tersebut. Gereja mengkhotbahkan kesempurnaan, namun senantiasa terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang bersumber pada ketidaksempurnaan para anggotanya.

Gereja tidak mempunyai opsi untuk menjadi konservatif atau progresif. Gereja memelihara vitalitasnya hanya dengan menanggapi secara progresif berbagai kebutuhan baru yang timbul dari situasi-situasi yang berubah dari waktu ke waktu. Namun Gereja hanya membuat langkah maju apabila memelihara apa yang benar dan baik dan indah dalam tradisinya. Jadi dalam khasanah Gereja tersimpanlah hal-hal yang baru dan lama.

Dalam Gereja kita menemukan ruangan yang dapat mengakomodir semua ketegangan yang disebabkan berbagai kontradiksi yang kita hadapi. Dalam Gereja kita dapat merasa nyaman dengan berbagai unsur tubuh dan jiwa, keutamaan dan kejahatan, gelak-tawa dan air mata, istirahat dan kegiatan, bertumbuh dan mengalami proses kematian. Gereja adalah sebutir mutiara yang tak ternilai harganya, namun pada saat yang sama merupakan jala besar yang menampung berbagai jenis ikan di dalamnya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena hanya kasih-Mu saja kami Kaupilih untuk menjadi anggota Gereja, yang adalah Tubuh-Mu sendiri. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-52), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN SURGA” (bacaan tanggal 27-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014.

(Tulisan ini merupakan saduran bebas dari tulisan P. Silvester O’Flynn OFMCap., The Good News of Matthew’s Year, Dublin, Ireland: Cathedral Books-The Columbia Press, hal. 193-195)

Cilandak, 24 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVI – 20 Juli 2014)

PERUMPAMAAN GANDUM DAN ILALANG MAT 13 24-43Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30; versi panjang: 13:24-43)

Bacaan Pertama: Keb: 12:13,16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:5-6,9-10,15-16; Bacaan Kedua: Rm 8:26-27

Bacaan Injil untuk hari ini cukup panjang. Saya mengambil versi yang singkat berdasarkan pertimbangan praktis. Dalam “perumpamaan tentang lalang di antara gandum”, Yesus berbicara tidak hanya mengenai orang-orang baik dan orang-orang jahat di dunia, melainkan juga mengenai unsur-unsur terang dan gelap yang ditemukan di dalam Gereja. Suatu pandangan yang realistis tentang Kekristenan (Kristianitas) harus mampu menunjukkan kepada kita bahwa ada orang-orang dalam Gereja yang menjadi sedemikian terbiasa terbawa arus dosa, keduaniawian, dan si Jahat sehingga hal-hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi hidup orang-orang Kristiani lainnya.

Yesus memperingatkan para murid-Nya – dan Ia terus saja memperingatkan kita – tentang kebutuhan-kebutuhan Gereja. Para bapak Konsili Vatikan II mengakui, “Gereja merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri. Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (Lumen Gentium, 8). Namun di sinilah kita harus berhati-hati. Peranan kita bukanlah untuk mulai mengidentifikasikan “lalang-lalang” yang ada dalam paroki atau dalam gereja yang lebih besar dan mencoba sendiri menangani dan berurusan dengan mereka semua. Dengan demikian berarti kita menghakimi mereka. Penghakiman atas diri orang lain barangkali juga merupakan lalang yang sangat bersifat destruktif dan satu dari tanda-tanda yang paling jelas dari karya Iblis, “pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita” (Why 12:10).

Menyadari bahwa betapa cepat kita dapat menghakimi orang-orang lain, Yesus memperingatkan kita agar selalu memperhatikan balok yang ada di mata kita sendiri sebelum kita mencoba mengeluarkan serpihan kayu dari mata saudara kita (Mat 7:1-5). Dalam kenyataannya kita tidak ingin melihat dicabutnya semua “orang jelek”, karena kita sendiri tahu betapa tidak ada artinya diri kita sendiri dalam membangun Kerajaan Allah. Kita masing-masing memiliki “benih-benih buruk” dalam hati kita. Jalan terbaik untuk menjamin perlindungan Gereja adalah memohon kepada Roh Kudus supaya menolong kita memeriksa nurani kita dan membebaskan kita dari dosa.

Allah tidak menginginkan kita untuk tidak berbelas-kasih dalam penilaian kita terhadap orang-orang lain. Sebaliknya, Dia ingin agar kita berdoa bagi diri kita sendiri dan bagi Gereja, dengan demikian menjadi para peniru Yesus, yang selalu melakukan syafaat bagi kita masing-masing di hadapan takhta Bapa (lihat Ibr 7:25). Kita menjadi seperti Anak Domba Allah yang rindu untuk melihat setiap orang dibebaskan dari dosa dan dibawa ke dalam Kerajaan Allah.

DOA: Bapa surgawi, selagi Engkau menyelidiki hati umat-Mu, Engkau melihat lalang-lalang dalam diri kami semua. Akan tetapi Engkau juga melihat Putera-Mu terkasih hidup dalam diri kami. Tolonglah kami menyerahkan diri kami sepenuhnya kepada Yesus sehingga dengan demikian Gereja yang didirikan-Nya di atas bumi dapat menjadi terang yang sejati bagi dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-43 atau versi singkat Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM” (bacaan tanggal 20-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 17 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 154 other followers