Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

IA AKAN MEMBENARKAN ORANG-ORANG PILIHAN-NYA

IA AKAN MEMBENARKAN ORANG-ORANG PILIHAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa – Sabtu, 15 November 2014)

FMM: Pesta Wafatnya B. Marie de la Passion, Pendiri Kongregasi FMM

HAKIM YANG JAHAT DAN SANG JANDAYesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8)

Bacaan Pertama: 3Yoh 5-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-6

Yesus mengajar perumpaman tentang janda yang bertekun ini karena Dia ingin para murid-Nya memahami bahwa dengan mengenal kebaikan Allah dan kesetiaan-Nya, maka hal ini akan memampukan mereka mencontoh atau mengikuti jejak-Nya. Melihat betapa lengkap dan total Yesus mengasihi dan taat kepada Bapa-Nya juga dapat memberikan kepada kita jaminan bahwa Allah pantas untuk kita percayai tanpa henti.

Hakim yang tidak takut akan Allah memberikan apa yang diinginkan oleh sang janda supaya dirinya bebas dari gangguan sang janda. Akan tetapi, Hakim kita adalah yang terbaik dari segala bapak dan hakim. Dia hanya menginginkan apa saja yang baik bagi kita. Kita dapat membawa urusan-urusan kita kepada-Nya, dengan keyakinan teguh bahwa Dia mendengar setiap doa kita dan akan memberi tanggapan-Nya dengan cara-cara yang paling baik bagi kita – dan hal inilah yang merupakan tantangan dari perumpamaan Yesus ini.

Dapatkah anda percaya bahwa Allah sungguh ingin membuat diri anda bahagia? Kita masing-masing sungguh berharga di mata-Nya. Yang diminta oleh-Nya adalah bahwa kita mendekati-Nya dengan suatu hasrat untuk menyusun rencana-rencana dengan cara-cara-Nya. Inilah kunci untuk damai sejahtera yang ditemukan oleh sang pemazmur: “Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.” (Mzm 25: 9-10).

Apabila kita membawa berbagai kebutuhkan kita ke hadapan Allah dengan hati yang terbuka dan dengan ketekunan yang dimiliki sang janda, maka kita pun akan mulai mengenali suara-Nya melalui Kitab Suci dan melalui orang-orang lain. Kita akan melihat Dia bekerja di dalam diri kita, dan kita akan merasakan kehadiran-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Kita akan mengalami kuat-kuasa-Nya untuk mengubah hati kita sehingga dengan demikian kita akan mencintai kehendak-Nya daripada kehendak kita sendiri.

Kita mungkin saja tidak dapat melihat atau memahami bagaimana suatu situasi yang khusus sesungguhnya adalah bagian dari rencana Allah, namun kita akan tetap menaruh kepercayaan bahwa Allah akan menjawab doa-doa kita dengan cara-cara yang jauh lebih besar daripada yang dapat kita bayangkan. Ini adalah iman yang dicari Yesus pada saat Ia kembali kelak.

Marilah kita memusatkan perhatian kita terutama pada belas kasih Allah dan kesetiaan-Nya, kemudian pada urusan-urusan kita sendiri. Tidak ada sesuatu pun atau seorang pun yang dapat merenggut sukacita yang kita miliki karena mengenal Kristus, Putera Allah yang Mahasetia, yang memenuhi janji-janji keselamatan seperti tercatat dalam Kitab Suci. Dia pulalah yang akan memimpin kita kepada rumah abadi bersama Bapa.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau selalu mendengarkan doa-doaku dan tidak pernah menjauhkan kasih setia-Mu dari padaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEPERTI IMAN SANG JANDA DAN MARIA” (bacaan tanggal 15-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 11 November 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGABDIAN TOTAL

PENGABDIAN TOTAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Selasa, 11 November 2014)

Peringatan S. Martinus dr Tours, Uskup

jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoom“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. (Luk 17:7-10)

Bacaan Pertama: Tit 2:1-8,11-14; Mazmur Tanggapan: 37:3-4,18,23,27,29

Kata-kata Yesus dalam Bacaan Injil di atas yang dialamatkan kepada para rasul terasa sangat keras. Yesus mengatakan kepada mereka bahwa walaupun mereka telah melakukan segala sesuatu yang diminta-Nya, mereka harus tetap menilai diri mereka sebagai hamba-hamba yang tidak berguna.

Bagaimana kita dapat menjelaskan kata-kata Yesus ini dalam terang kasih-Nya yang besar dan juga kepenuhpengertian-Nya yang besar? Kiranya kita mengetahui bahwa Injil Lukas adalah Injil tentang pengabdian yang total. Perumpamaan singkat ini mengingatkan kita agar tidak henti-hentinya bekerja untuk Kristus. Siapakah kita sehingga boleh begitu saja menghakimi dan mengkritisi Tuhan? Adalah sepenuhnya privilese-Nya untuk menuntut banyak dari kita masing-masing. Tugas kita adalah melakukan kehendak-Nya, melakukan pekerjaan yang diminta-Nya dari kita. Penekanan dari perumpamaan singkat di atas adalah dedikasi atau pengabdian. Kita bekerja apabila Tuhan memintanya, dan kita beristirahat apabila Dia menentukan begitu. Sesungguhnya kita tidak pernah dapat berhenti dan rileks dengan ide bahwa kita telah cukup melakukan segala sesuatu. Keputusan sepenuhnya tergantung pada Allah, Dialah yang menentukan!

Santo Paulus sangat memahami dedikasi total semacam ini. Sang Rasul tidak mencari-cari pujian secara istimewa, ganjaran atau sejenisnya. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus menulis, “… jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!” (1Kor 9:16).

Seperti dikatakan pada awal tulisan ini, kata-kata Yesus ini dialamatkan kepada para rasul. Mereka baru saja memberitahukan kepada-Nya tentang kebutuhan akan suatu peningkatan dalam iman, jika mereka benar-benar mau mengikuti segala perintah-Nya. Ingatlah kata-kata para rasul kepada Yesus: “Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5). Jawaban Yesus sederhana saja, jawaban mana berisikan tuntutan-Nya akan dedikasi total, seakan-akan Ia berkata: “Jika engkau menaruh kepercayaan pada-Ku, lakukanlah segala sesuatu yang Aku minta, imanmu kepada-Ku pun akan bertumbuh; itu sudah cukup.”

Kita (anda dan saya) adalah para rasul pada zaman modern ini. Yesus juga mengharapkan “dedikasi total” dari kita masing-masing. Kita tidak dapat bekerja dan beristirahat “semau gue”. Sesungguhnya kita tidak pernah melakukan sesuatu yang luarbiasa dalam melakukan karya pelayanan seturut perintah-Nya, walaupun seandainya kita telah melakukan apa saja yang diminta/diperintahkan-Nya kepada kita masing-masing. Kita harus bekerja demi kemajuan Kerajaan Allah dan menempatkan rasa percaya kita ke dalam tangan-tangan Yesus yang penuh kasih. Menjelang saat kematiannya, Santo Fransiskus dari Assisi memberi pesan kepada para saudaranya: “Aku telah melakukan apa yang mesti kulakukan, biarlah Kristus mengajar kamu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya” (Legenda Maior XIV:3; bdk. 2Celano 214).

DOA: Tuhan Yesus, kami adalah hamba-hamba-Mu yang tak berguna. Yang kami telah lakukan tidaklah lebih daripada tugas yang Kauberikan kepada kami. Namun, kami menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk meningkatkan iman dan kasih kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “‘MUSIK’ PELAYANAN” (bacaan tanggal 11-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH HARIAN NOVEMBER 2014.

Cilandak, 9 November 2014 [PESTA PEMBERKATAN GEREJA BASILIK LATERAN]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG BENDAHARA YANG CERDIK

SEORANG BENDAHARA YANG CERDIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Jumat, 7 November 2014)

FMM: Peringatan B. Assunta Pallota, Pelindung Suster Kaul Sementara

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terima surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.” (Luk 16:1-8)

Bacaan Pertama: Flp 3:17-4:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

Si bendahara berbuat curang, karena dia berteman dengan uang yang bukan miliknya. Kemudian Yesus berkata: “Tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik” (Luk 16:8). Apakah dalam hal ini Yesus menasihati kita untuk menjadi orang-orang yang tidak jujur? Sama sekali tidak! Mengapa? Karena Yesus menambahkan: “Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang” (Luk 16:8).

Apa yang dikatakan Yesus seakan-akan adalah seperti berikut: “Setiap kamu adalah seorang administratur, seorang manajer, seorang pengelola, bukan seorang pemilik harta benda yang ada bersamamu. Hanya Tuhan Allah-lah sang Pemilik sesungguhnya dari kekayaanmu. Oleh karena itu, mengapa engkau tidak bertindak-tanduk seperti si bendahara dalam perumpamaanku, yang menjalin pertemanan dengan orang-orang lewat kemurahan-hatinya dengan uang sang pemilik?”

A WOMAN PRAYINGPesan pokok dari perumpamaan Yesus ini adalah: “Apa yang kita punya sekarang bersifat temporer, dan sesungguhnya bukan milik kita, melainkan milik Allah. Keberadaan kita sebagai pribadi bersifat permanen. Jika waktu kita habis, maka keberadaan kita yang bersifat internal-lah yang diperhitungkan.

Yesus memandang hidup seseorang dari segala segi, luar dan dalam. Ia memandang segala harta-benda yang kita akumulasikan – artinya segi luar – praktis sebagai tidak ada artinya, namun apa yang terjadi di dalam diri kita (segi dalam) akan tetap berada di dalam dan akan terus bertumbuh dalam diri kita sampai kekal-abadi.

O betapa bahagianya kita jika memiliki hikmat Yesus, sehingga tidak perlu lagi berputar-putar dalam jalan yang salah dan tanpa arah. Kita terlalu sering bertindak seakan-akan realitas diputar-balikkan, seakan-akan hal-hal yang menjadi urusan kita bersifat permanen, dan apa kita dan menjadi apa kita tidak terlalu penting bagi kita. Kita melihat sesama kita juga seturut apa yang mereka miliki, bukan karena keberadaan mereka sebagai pribadi manusia. Kita melihat sukses-sukses duniawi apa saja yang berhasil mereka nikmati, dan kita membuat hal-hal eksternal yang sangat tidak penting itu menjadi standar penilaian kita. O betapa tololnya kita!

Kebenaran sejati terletak “di dalam” diri seseorang, namun hal itu memiliki banyak cara pengungkapan-luar juga. Kebenaran yang harus kita pegang dengan teguh adalah untuk menempatkan Allah sebagai yang pertama dan utama dalam segala hal karena segala sesuatu yang ada pada kita adalah “pinjaman” dari Allah, dan Dia saja yang berarti. Ini adalah kebenaran dari pemberian-diri, bukannya pemuasan-diri, karena ini adalah pelajaran yang diberikan Yesus kepada kita semua dan di mana-mana.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, sumber segala kebaikan, kuduslah nama-Mu. Bapa, kami menyadari bahwa segala sesuatu yang kami miliki di dunia ini bersifat sementara dan bukan milik kami dalam artian sesungguhnya, melainkan milik-Mu. Oleh karena itu kami berketetapan hati, ya Allah, untuk menempatkan Engkau sebagai yang Pertama dan Utama dalam segala hal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG SI BENDAHARA YANG ……” (bacaan tanggal 7-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 5 November 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SATU EKOR DOMBA DAN UANG LOGAM SENILAI SATU DIRHAM

SATU EKOR DOMBA DAN UANG LOGAM SENILAI SATU DIRHAM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Kamis, 6 November 2014)

Lost_Sheep_1158-39Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”
“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:1-10)

Bacaan Pertama: Flp 3:3-8a; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

Menanggapi keluhan dan sungut-sungut orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, Yesus membandingkan diri-Nya dengan seorang gembala yang meninggalkan 99 ekor domba peliharaannya dan mencari seekor domba yang hilang. Kemudian Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai seorang perempuan yang dengan cermat mencari satu dirham yang hilang, walaupun ia masih memiliki 9 dirham. Tidak sedikit orang menyalahkan Yesus karena “membuang” terlalu banyak waktu yang berharga, hanya karena mencari “orang-orang yang hilang” pada masa hidupnya di dunia. Namun Yesus membuat jelas bahwa inilah jalan Allah. Tidak ada sesuatu pun yang dapat membuat diri-Nya lebih bergembira penuh sukacita daripada “menemukan” seseorang yang telah kehilangan jalan, dan membawa orang itu kembali ke pelukan penuh kasih Bapa surgawi.

DIRHAM YANG HILANG - 01Kita cenderung memandang cerita-cerita pertobatan dalam term-term apa yang dilakukan oleh orang yang “ditemukan kembali” itu. Keputusan-keputusan apa saja yang telah dibuat orang itu? Bagaimana dia berbalik dari dosa dan kembali kepada Yesus? Namun jika mendalami dua perumpamaan Yesus ini, kita dapat melihat bahwa suatu dimensi yang sama pentingnya dari pertobatan adalah kegiatan independen dari Yesus dalam mencari kita yang sedang bergelimang dalam dosa, dan kemudian memenangkan jiwa kita.

Marilah kita renungkan dua perumpamaan Yesus ini dalam suasana doa yang hening. Kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, “Sampai seberapa seringkah aku membiarkan diriku ‘ditemukan’ oleh Yesus?” Walaupun kita telah mempunyai pengalaman pertobatan yang dramatis sebelumnya – barangkali pada masa remaja kita atau pada waktu kita menjadi orang dewasa muda – sampai hari ini pun Yesus masih mencari kita. Yesus ingin mempertobatkan kita agar menjadi semakin dekat dengan Dia. Kepercayaan ini berada pada jantung ajaran Gereja tentang “panggilan universal kepada kekudusan”, dan hal itu ditunjukkan dengan berbagai macam cara. Misalnya ketika seorang Benediktin memprofesikan kaul kekal, maka dia membuat ikrar yang dinamakan conversatio morum – yaitu hidup pertobatan/conversio secara berkelanjutan. Kita masing-masing dipanggil kepada proses “mencari” dan “ditemukan” secara berkesinambungan ini sementara kita bertumbuh dalam hidup yang Yesus sediakan bagi kita.

Ini adalah suatu usulan yang bersifat konkret untuk menolong kita merangkul proses pertobatan secara lebih penuh. Sekarang ambillah waktu sejenak, kita pejamkan mata kita, dan mencoba untuk membayangkan Yesus yang sedang mendatangi kita. Dia memang sedang mencari kita. Lihatlah bagaimana Yesus merentangkan kedua tangan-Nya dan tersenyum dengan hangat ketika Dia menemukan diri kita. Kita memperkenankan Dia merangkul kita. Dengan sepenuh hati, kita mencoba untuk menanggapi Yesus dengan menceritakan kepada-Nya apa saja yang ada dalam hati dan pikiran kita. Kita juga mendengarkan apa saja yang ingin dikatakan-Nya kepada kita.

Marilah kita memperkenankan Yesus menemukan diri kita, dengan demikian kita pun akan menemukan diri kita sendiri.

DOA: Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau senantiasa mencariku dan membawa diriku kembali kepada-Mu. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhanku dan Allahku. Engkau sungguh adalah Juruselamatku dan Gembalaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA SATU ORANG BERDOSA YANG BERTOBAT” (bacaan tanggal 6-11-14) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 4 November 2014 [Peringatan S. Carolus Borromeus, Uskup]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PANGGILAN ALLAH UNTUK HIDUP BERSAMA-NYA

PANGGILAN ALLAH UNTUK HIDUP BERSAMA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Carolus Borromeus, Uskup – Selasa, 4 November 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAMendengar itu berkatalah salah seorang yang sedang makan itu kepada Yesus, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ada seseorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka semua, satu demi satu, mulai meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan harus pergi melihatnya, aku minta maaf. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu dan harus pergi mencobanya; aku minta maaf. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Lalu kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Tuan rumah itu pun murka dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke semua jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lorong dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, supaya rumahku terisi penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.” (Luk 14:15-24)

Bacaan Pertama: Flp 2:5-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:26-323

Dalam menarasikan perumpangan tentang perjamuan besar ini, Yesus memberikan kepada para pendengar-Nya sebuah gambaran tentang panggilan Allah untuk hidup bersama-Nya, baik sekarang maupun di surga kelak. Memang sungguh indah serta menakjubkan untuk diundang kepada peristiwa terbesar dalam sejarah. Namun demikian, sungguh menyedihkanlah kalau kita melihat kenyataan bahwa banyak orang yang tidak menghargai kehormatan besar yang diberikan kepada-Nya karena diundang oleh Allah sendiri.

Panggilan kepada kehidupan bersama Allah adalah suatu privilese yang besar. Akan tetapi kita sendirilah yang harus membuat keputusan: Apakah kita akan menerima undangan ini, atau menolaknya? Yesus menawarkan kepada kita sebuah tempat dalam Kerajaan Surga di mana kita akan dibebaskan dari segala dosa dan kematian, dengan prasyarat bahwa kita harus menanggapi panggilan-Nya secara positif dan menerima cara hidup seturut panggilan-Nya tersebut. Undangan ini sendiri tidak menjamin sebuah tempat bagi kita pada perjamuan besar itu. Kita harus memilih untuk datang dan sikap kita dalam datang menghadiri perjamuan tersebut seharusnya adalah sikap penuh syukur untuk segala karunia gratis yang ditawarkan kepada kita. Kita juga harus bersikap rendah hati, karena kita tahu bahwa kita tidak akan pernah dapat memperoleh suatu privilese sedemikian lewat upaya kita sendiri.

PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN BESAR - 3Siapakah yang akan mengakui kebesaran panggilan Kristus? Hanya mereka yang mengetahui kebutuhan mutlak mereka akan Allah. Orang-orang yang menyadari bahwa dosa-dosa mereka telah memisahkan mereka dari Allah, dan yang ingin agar diri mereka dibenarkan dihadapan Bapa surgawi. Inilah orang-orang yang akan menerima undangan Bapa surgawi. Yesus bersabda, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk 5:32). Orang-orang yang pada awalnya diundang dalam perumpamaan di atas mungkin saja mengetahui kebesaran dari panggilan itu, namun ketika tiba saatnya untuk datang menghadiri perjamuan besar itu, mereka malah memilih untuk mengurusi hal-hal lain, dan dengan demikian mereka mengabaikan perjamuan besar yang menantikan mereka. Kepedulian/keprihatinan mereka yang salah arah itu menyebabkan diri mereka memandang rendah kebesaran dari tawaran/undangan Allah dan kebutuhan mereka akan hal itu.

Hal seperti ini dapat terjadi atas diri kita apabila kita mengandalkan segala sumber daya atau kekuatan yang kita miliki sendiri dan memperkenankan kesibukan hidup sehari-hari melanturkan kita dari tujuan mencari cara/kehendak Allah dalam segala hal. Allah sangat mengetahui segala urusan kita. Dia tahu betapa macam-macam tanggung jawab kita membuat diri kita sedemikian sibuk. Akan tetapi di tengah berbagai tuntutan dalam kehidupan kita, Allah ingin memberikan kepada kita sukacita, damai-sejahtera, dan energi. Yang diminta-Nya dari diri kita masing-masing adalah untuk belajar mengenal dan mempraktekkan karunia yang berharga, yaitu kerendahan hati. Allah tidak pernah meninggalkan sebuah hati manusia yang mengetahui kebutuhannya akan Dia dan hasrat untuk dipenuhi dengan hidup-Nya sendiri.

DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah mengundang kami untuk hidup bersama-Mu setiap hari, bahkan ketika kami sedang disibukkan dengan tetek-bengek agenda kerja harian kami. Kami memohon agar Kauanugerahkan kepada kami kerendahan hati sehingga dengan demikian kami memahami hasrat-Mu untuk mencurahkan rahmat-Mu kepada kami secara berlimpah. Jagalah agar kami tidak terjebak dalam kesibukan sehari-hari sehingga kami luput melihat dan/atau mengabaikan panggilan-Mu yang penuh rahmat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Flp 2:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH DOA SYUKUR KEPADA YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 4-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 3 November 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MASUK MELALUI PINTU YANG SEMPIT

MASUK MELALUI PINTU YANG SEMPIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Rabu, 29 Oktober 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Lalu ada seseorang yang berkata kepada-Nya, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetuk-ngetuk pintu sambil berkata, ‘Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!’ dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu, ‘Aku tidak tahu dari mana kamu datang.’ Lalu kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi, ketika kamu melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang pertama dan ada orang yang pertama yang akan menjadi orang yang terakhir. (Luk 13:22-30)

Bacaan Pertama: Ef 6:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-14

Yesus tidak pernah “ngalor-ngidul” pada saat Ia menggambarkan penghakiman yang kita semua akan hadapi pada akhir hidup kita. Yesus menggunakan perumpamaan yang jelas guna menolong kita memahami dan mempersiapkan diri untuk peristiwa sangat penting itu. Manakala kita membaca dan mencoba merenungkan tentang ditutupnya “pintu yang sempit” pada hari penghakiman, maka mudahlah bagi kita untuk membayangkan perasaan takut yang menimpa seorang pribadi ketika mendengar Yesus berkata: “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Luk 13:27). Yesus berkata bahwa ada orang-orang yang sebenarnya akan mendengar kata-kata-Nya yang “keras” tersebut dan menjadi terkejut karena mereka sebenarnya sudah mengenal diri-Nya dan ajaran-ajaran-Nya (Luk 13:26).

Yesus tidak memoles Injil-Nya agar terasa manis seperti sepotong kembang gula. Dia juga tidak menakut-nakuti para pendengar-Nya dengan konsekuensi-konsekuensi yang menyeramkan, kecuali bagi mereka yang tidak mempedulikan perintah-perintah-Nya. Orang-orang yang menerima sabda-Nya dalam hati mereka akan mengalami keselamatan dari diri-Nya. Oleh karena itu, “Surat kepada orang Ibrani” mengatakan: “… kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus” (Ibr 2:1). Tanggapan kita haruslah seperti yang diungkapkan oleh pada pendengar khotbah Petrus pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama: “Apa yang harus kami perbuat, Saudara-Saudara?” (Kis 2:37).

Pertama-tama kita harus merasa pasti dalam hati kita bahwa kita telah sungguh “masuk melalui pintu yang sempit”. Tanpa memperkenankan perasaan “harga diri” mengganggu analisis kita, kita perlu memohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita kondisi sesungguhnya diri kita di hadapan Allah. Sekali kita telah mengakui beratnya dosa kita dan kedalaman kebutuhan kita akan Yesus, maka kita dapat dengan aman menaruh pengharapan kita dalam Dia, “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia” (Yoh 3:17).

Setelah masuk melalui pintu sempit iman kepada/dalam Kristus, maka kita pun akan aman berada dalam benteng pertahanan Allah, seperti dikatakan Yesus, “Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yoh 3:18). Dengan percaya kepada-Nya, kita tidak perlu lagi merasa takut akan hari di mana sang pemilik rumah akan menutup pintunya agar kita tidak dapat masuk. Mengapa? Karena kita sudah berada di dalam rumah itu!

Jadi, tujuan kita bukanlah untuk masuk ke dalam rumah, melainkan untuk tetap berada di dalam rumah. Iblis sangat berkemungkinan akan menyerang kita – dengan rasa ragu-ragu, rasa takut, penolakan, rasa kecil-minder, menjadi objek berbagai dakwaan dan banyak lagi. Iblis mungkin mencoba membujuk serta meyakinkan kita bahwa kita masih berada di luar rumah dan merasa kedinginan. Kekuasaan dan kenikmatan duniawi juga tetap dapat menumpulkan hasrat kita akan kehidupan yang ditawarkan oleh Yesus. Jadi, kita harus mengandalkan diri pada jati diri kita sebagai seorang Kristiani sejati untuk dapat berdiri teguh dalam iman! Jika kita berdiam dalam Kristus, kita tidak perlu merasa takut. Santo Yohanes Penginjil menulis: “Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: Iman kita” (1Yoh 5:4).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengatakan bahwa Engkau selalu melakukan kehendak Bapa surgawi. Kami percaya, bahwa kami membutuhkan disiplin-diri guna mengembangkan karakter kami sebagai murid-murid-Mu yang sejati, agar dengan demikian kami pun mampu masuk melalui pintu yang sempit yang akan membawa kami ke dalam Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “MELALUI PINTU YANG SEMPIT” (bacaan tanggal 29-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Cilandak, 27 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELAS KASIH ALLAH YANG DIBALAS DENGAN RASA TAK TAHU TERIMA KASIH

BELAS KASIH ALLAH YANG DIBALAS DENGAN RASA TAK TAHU TERIMA KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Senin, 20 Oktober 2014)

PERUMPAMAAN TTG ORANG KAYA YANG BODOHSeorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21)

Bacaan Pertama: Ef 2:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Pesan Yesus dalam bacaan Injil hari ini jelas: “Hindarilah ketamakan/keserakahan dalam segala bentuknya. Seseorang dapat saja kaya dengan harta-benda duniawi, namun miliknya itu tidak dapat memberi kehidupan kekal baginya.”

Seorang pribadi yang rendah hati dan memiliki kemurahan hati, yang hidupnya berpusat pada Allah dan menanggapi dengan baik karunia iman yang dianugerahkan-Nya kepada dirinya akan melihat kehampaan dari segala keuntungan materiil. Memang kesombongan kita senantiasa menyebabkan rasa haus akan keuntungan materiil tersebut, tambah ini dan tambah itu. Namun kiranya rasa haus tersebut adalah sesuatu yang sia-sia tanpa kesudahan. Bahkan seorang yang tidak memiliki iman kepada/akan Yesus akan melihat kehampaan yang dihasilkan oleh sekadar harta kekayaan yang bersifat materiil. Ia akan belajar dari pengalamannya betapa tak berharganya dan penuh frustrasi-nya “kebahagiaan” (palsu) yang diperolehnya dari penyembahannya kepada “mamon” dalam upaya pengejarannya akan kepuasan/kenikmatan dalam harta benda dll. yang bersifat duniawi.

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASJika kita terus saja berputar-putar di sekeliling upaya pencarian harta kekayaan, maka imajinasi kita dapat disesatkan dan kita pun dapat dibuat yakin bahwa Allah itu berada jauh di sana, bahkan keberadaan-Nya itu jauh dari riil. Tujuan-tujuan materiil yang jauh dan tak dapat dicapai itu sungguh dapat menyesatkan karena terasa dekat dan mudah dicapai. Kita menjadi semakin ngotot dalam mengejar kekayaan duniawi! Mengejar dan terus mengejar! Akhirnya, seperti orang kaya yang bodoh dalam perumpamaan Yesus, kita berkata: “Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (Luk 12:19).

Jadi, ketamakan akhirnya menguasai diri kIta. Allah sesungguhnya dekat dengan kita, namun imajinasi yang penuh beban hampir tidak dapat melihat Dia dari kejauhan. Harta-kekayaan dan kenikmatan hidup menjadi realitas kita dan kelihatannya senantiasa berada dalam jangkauan kita. Kita berkata kepada diri kita sendiri: “Satu lagi saja keuntungan yang kuperoleh, maka aku pun memperoleh apa yang kukehendaki.” Jika aku cukup beruntung untuk memperolehnya, maka api keserakahan pun berkobar lagi. “Satu lagi! Satu lagi! Satu lagi!, tetapi tanpa henti. Setiap sukses baru menjadi lebih pahit daripada sukses sebelumnya, sampai akhirnya kita sampai kepada tingkat keserakahan yang sudah gila-gilaan. Benarlah pepatah Inggris yang berbunyi: Greed begets greed!

Sementara kita melanjutkan mengundang hukuman dan penghancuran atas diri kita yang disebabkan oleh sikap kita yang tidak tahu terima kasih dan juga ketamakan, belas kasih Allah terus berlanjut. Kesabaran Allah yang tak mengenal batas itu senantiasa mengejar kita.

DOA: Tuhan Yesus, semoga belas kasih-Mu pada akhirnya mengalahkan sikap kami yang tidak tahu berterima kasih kepada-Mu, walaupun tidak mudah kami bagi kami untuk mengubah sikap buruk kami itu. Kami juga ingat, Tuhan, bahwa penderitaan karena lapar si “anak hilang” (Luk 15:11-32) bukanlah suatu pengalaman yang mudah baginya, namun hal itu membawanya balik pulang ke rumah ayahnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “HAI ENGKAU YANG BODOH!” (bacaan tanggal 20-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Catatan tambahan: Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam ‘Sabda Bahagia’ terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan ‘kaya di hadapan Allah’ di atas.

Cilandak, 15 Oktober 2014 [Peringatan S. Teresia dr Avila, Perawan & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS