Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

PARA AWAM JUGA DIPANGGIL

PARA AWAM JUGA DIPANGGIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Rabu, 19 Agustus 2015)

OFM Conventual: Peringatan Keluarga Fransiskan; Peringatan S. Ludovikus, Uskup 

jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoom“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 

Bacaan Pertama: Hak 9:6-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

“Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku” (Mat 20:7).

Seorang imam di luar negeri pernah mengungkapkan bahwa gambaran Gereja kita pada hari ini adalah bagaikan pertandingan sepak bola kelas dunia. Puluhan ribu orang penonton di stadion berteriak-teriak sambil menabuh genderang guna menyemangati kesebelasan masing-masing, sedangkan di lapangan  22 orang sedang bertarung mati-matian. Puluhan ribu penonton membutuhkan olah raga yang sungguhan, sedangkan yang bertarung memerlukan istirahat! Sebagian besar pekerjaan dalam Gereja dikerjakan oleh kaum berjubah yang berjumlah relatif sedikit kalau dilihat dari jumlah keseluruhan umat. Mungkin pernyataan imam itu benar dan mungkin juga salah. Namun dapat dikatakan bahwa hal ini benar sekali pada masa sebelum Konsili Vatikan II [1962-1965]. Pasca Konsili – dengan berjalannya waktu – keadaannya membaik tahap demi tahap, walaupun masih jauh dari yang diharapkan. Bukankah Allah menginginkan kita agar pergi juga ke kebun anggur-Nya? (Mat 20:7).

vingårdenSalah satu dokumen terpenting hasil Konsili Vatikan II adalah “Dekrit Apostolicam Actuositatem tentang Kerasulan Awam [AA]”. Dokumen ini dapat dikatakan merupakan sebuah terobosan berkaitan dengan peran kaum awam dalam Gereja. Dokumen itu a.l. mengatakan: “Dalam Gereja terdapat keanekaan pelayanan, tetapi kesatuan perutusan. Para Rasul serta para pengganti mereka oleh Kristus diserahi tugas mengajar, menyucikan dan memimpin atas nama dan kuasa-Nya. Sedangkan kaum awam ikut serta mengemban tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus, menunaikan bagian mereka dalam perutusan segenap Umat Allah dalam Gereja dan di dunia” (AA, 2; lihat juga “Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja [LG], 31). Dokumen AA ini juga mengatakan: “Kristus yang diutus oleh Bapa menjadi sumber dan asal seluruh kerasulan Gereja. Maka jelaslah kesuburan kerasulan awam tergantung dari persatuan mereka dengan Kristus yang memang perlu untuk hidup, menurut sabda Tuhan: ‘Barang siapa tinggal dalam aku dan Aku dalam dia, ia menghasilkan buah banyak, sebab tanpa aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa’ ” (Yoh 15:5; AA,4).

Sebenarnya kita semua telah dipanggil dan diberdayakan untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, berdoa untuk/dengan orang sakit, menyampaikan ajaran-ajaran Yesus, dan mendirikan keadilan dan kedamaian di masyarakat di mana kita tinggal. Pertanyaan yang harus diajukan oleh kita masing-masing adalah: “Bagaimana aku menanggapi undangan ini?”

Barangkali kita (anda dan saya) meragukan panggilan kita. Kita mungkin saja merasa tidak pantas, atau kurang berpendidikan, atau tidak kompeten. Kita dapat merasa bahwa hanya imam-imam tertahbis saja yang harus dipercayakan dengan pekerjaan-pekerjaan gerejawi. Memang ada pelayanan yang hanya dapat dilakukan oleh imam tertahbis, jadi tidak dapat digantikan oleh seorang awam. Namun demikian pula halnya dengan panggilan kita sebagai umat awam, juga tidak dapat digantikan oleh orang lain. Panggilan Allah tidaklah terbatas pada pribadi-pribadi yang sangat terdidik. Ingatlah bahwa para rasul Kristus sendiri pada awalnya hanyalah orang-orang biasa tanpa latar belakang pendidikan yang hebat. Demikian pula panggilan Tuhan tidaklah ditujukan kepada orang-orang yang ultra-suci. Bahkan Santo Paulus sendiri – sang Rasul – menamakan dirinya orang “yang paling berdosa” (1 Tim 1:15).

Allah tidak memanggil orang-orang yang qualified, melainkan Ia membuat orang-orang yang dipanggil-Nya menjadi qualified. Nah, kita semua dipanggil! Selagi kita pergi ke luar dan “bereksperimen”, maka kita semua dapat belajar bagaimana mendengarkan Roh-Nya dan tetap patuh terhadap Roh-Nya tersebut. Allah akan menunjukkan kepada kita (anda dan saya) bagaimana membantu mendirikan Kerajaan-Nya di sini, di atas bumi. Dengan berpaling kepada-Nya dalam iman, kita dapat belajar bagaimana memperkenankan hidup Yesus memenuhi hati kita sedemikian sehingga berlimpah dengan kasih yang secara alamiah memberikan kehidupan bagi orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, di sini aku yang dengan rendah hati datang menghadap-Mu. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah aku. Aku akan pergi ke mana saja seturut kehendak-Mu. Aku akan melakukan apa saja seturut kehendak-Mu. Aku akan berbicara apa saja yang Engkau inginkan aku bicarakan kepada orang-orang lain. Tuhan Yesus, berjanjilah kepadaku hanya satu hal ini – kehadiran-Mu sepanjang pekerjaan melayani mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yang berjudul “IRI HATIKAH ENGKAU, KARENA AKU MURAH HATI?” (bacaan tanggal 19-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 16 Agustus 2015 [HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI

TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Kamis, 13 Agustus 2015)

Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Markus dr Aviano, Imam 

PERUMPAMAAN - PENGAMPUNAN MAT 18 21 DST 001Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1) 

Bacaan Pertama: Yos 3L7-10a,11,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 114:1-6

“Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”  (Mat 18:22).

Karena Allah itu Mahasempurna, maka pengampunan-Nya bersifat langsung dan permanen. Sayangnya, tidak demikian halnya dengan kita! Karena kita adalah manusia dan jauh dari sempurna, maka pengampunan dapat menjadi sangat sulit bagi kita. Barangkali itulah sebabnya mengapa Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa dia harus mengampuni sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali.

Pikirkanlah hal berikut ini: Jika dapat mencapai rekonsiliasi dengan orang yang bersalah kepada kita setelah dua atau tiga kali bertemu, maka relasi-relasi dengan sesama kita akan jauh lebih mudah dipelihara. Bukankah begitu?

Differences-in-Why-People-Forgive-and-Why-It-MattersMengampuni seseorang yang telah melukai hati kita seringkali merupakan sebuah proses yang berjalan secara bertahap. Misalnya, kita dapat saja mengampuni seseorang pada awalnya, namun beberapa hari kemudian kita menjadi marah dan kesal lagi. Dalam hal ini kita harus “mendirikan kembali bangunan” pengampunan kita. Ada juga kasus-kasus lain di mana kita sudah mengampuni, namun kita tidak mau lagi berada dekat orang itu. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu (dalam bilangan jam, hari, atau pekan) kita secara perlahan-lahan mampu untuk let go sakit hati kita sehingga kita pun dapat berinteraksi lagi dengan orang tersebut. Situasi apapun yang kita hadapi, hal yang terpenting adalah senantiasa mengambil langkah maju, bukan menjauhi pengampunan yang lengkap dalam setiap situasi.

Apakah kiranya hal-hal yang perlu kita (anda dan saya) lakukan untuk mengambil langkah selanjutnya dalam mengupayakan rekonsiliasi dengan orang lain? Yang pertama, berdoalah untuk orang itu. Marilah kita membayangkan bahwa kita sudah berdamai dengan orang itu. Kedua, marilah kita mengambil keputusan untuk mengampuni, dan terus membuat keputusan itu jika memang diperlukan. Kita harus ingat –seturut sabda Yesus – karena mungkin saja kita benar-benar butuh melakukan ini sebanyak 30, 50 atau 70 kali; dan hal itu oke, oke saja. Ketiga, marilah kita melihat bahwa Yesus mengasihi orang itu seperti Dia juga mengasihi kita masing-masing. Jika kita menjadi lebih merasa pahit atau marah, hal itu berarti bahwa kita membutuhkan waktu yang lebih banyak/lama lagi. Yang penting, kita harus terus mengampuni dalam hati kita sebaik-baiknya seturut kemampuan kita, dan memohon kepada Yesus untuk menolong kita.

Saudari dan Saudaraku, apapun yang kita lakukan, kita tidak boleh menyerah. Yesus pasti akan memberkati sekecil apapun langkah yang kita ambil menuju rekonsiliasi. Di atas segalanya, kita harus ingat bahwa pengampunan bukan tindakan manusiawi semata. Kita membutuhkan rahmat Roh Kudus untuk menolong kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengampuni setiap dosaku. Sekarang, ya Tuhan, tolonglah diriku agar mau dan mampu mengampuni mereka yang bersalah kepadaku. Dari DOA BAPA KAMI yang Kauajarkan, aku menyadari bahwa bagian dari pertukaran agar dosa-dosaku diampuni adalah persyaratan bahwa aku pun harus mengampuni orang yang bersalah kepadaku (Mat 6:12; lihat juga Mat 6:14-15). Tolonglah agar aku mempraktekkan salah satu Sabda Bahagia yang Kaudeklarasikan: “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan” (Mat 5:7). Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), bacalah tulisan dengan judul “PENGAMPUNAN TIDAK MENGENAL BATAS” (bacaan tanggal 13-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 8 Agustus 2015 [Peringatan S. Dominikus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG BERGUNA ATAU YANG TIDAK BERGUNA

YANG BERGUNA ATAU YANG TIDAK BERGUNA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Kamis, 30  Juli  2015) 

PARABLE OF THE NET - 01“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53) 

Bacaan Pertama: Kel 40:16-21,34-38; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6.8,11

“Perumpamaan tentang jala besar” (Mat 13:47-52) adalah yang terakhir dari serangkaian pengajaran oleh Yesus dengan menggunakan perumpamaan dalam Injil Matius. Perumpamaan ini serupa dengan “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30; lihat penjelasannya dalam Mat 13:36-43).

Dalam perumpamaan ini Kerajaan Surga (Kerajaan Allah) diumpamakan sebagai sebuah jala besar yang penuh berisi dengan segala jenis ikan, ada yang dapat dimakan dan ada yang tidak dapat dimakan. Yang baik – artinya ikan yang dapat dimakan – disimpan. Sisanya, yang tidak baik – artinya yang tidak dapat dimakan – dibuang. Begitu pula halnya dengan Kerajaan Allah di atas bumi, baik dilihat sebagai Gereja secara keseluruhan, atau satu bagiannya yang kecil, misalnya sebuah paroki atau sebuah komunitas Kristiani, mengumpulkan segala jenis orang. Orang-orang itu dikumpulkan sampai datangnya hari penghakiman ketika “yang baik” akan dipisahkan dari “yang jahat” (Mat 13:49; bdk. Mat 25:31-46).

Sebagai individu-individu kita merupakan warga Kerajaan Surga. Kita adalah bagian dari Gereja, sebuah paroki, atau sebuah komunitas Kristiani. Sekarang masalahnya, kita berada di sebelah mana? Apakah kita merupakan anggota-anggota yang berarti, yang berguna? Tidak ada yang “setengah-setengah” dalam hal ini. Jadi, apakah kita merupakan orang-orang Kristiani yang berkomitmen atau orang-orang yang tidak berguna dalam Kerajaan.

PARABLE OF THE DRAGNETBaik “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” maupun “perumpamaan tentang jala besar” dengan cukup jelas mengajar kita bahwa tidak dapat dicapai kedamaian lengkap dalam hidup ini. Yesus mengatakan dengan sangat jelas bahwa kedamaian lengkap hanya mungkin terjadi pada hari penghakiman akhir. Namun Ia bersabda: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”  (Mat 5:9). Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencoba membawa lebih banyak orang kepada suatu komitmen yang sejati kepada Kristus, untuk menjadi anggota-anggota Kerajaan yang berarti.

Apakah kita memahami semua ini? Apabila jawab kita terhadap pertanyaan ini adalah “ya”, maka Yesus berkata bahwa kita akan mampu untuk merekonsiliasikan hal-hal yang lama dengan hal-hal yang baru. Kita akan mampu untuk melihat bahwa dalam Kerajaan Allah segalanya yang memiliki nilai sejati mempunyai tempat, apakah Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, apakah yang tradisional dalam Gereja atau wawasan-wawasan baru. Apakah pikiran dan hati kita terbuka kepada hal-hal yang berarti, entah di mana ditemukannya? Atau, kita cenderung untuk mendiskreditkan apa saja hanya karena hal itu merupakan sesuatu yang baru, atau hanya karena hal itu merupakan sesuatu yang lama/kuno?

DOA: Ya Bapa, Allah Yang Mahapengasih, sampaikanlah kasih-Mu kepada semua anggota Kerajaan-Mu. Bahkan kepada para anggota yang Engkau pandang tidak berguna sekali pun, berikanlah juga kepada mereka rahmat agar dapat berubah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:47-53), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul  “SUNGGUH RIIL” (bacaan tanggal 30-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015.

Cilandak, 27 Juli 2015 [Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Selasa, 28 Juli 2015)

PERUMPAMAAN GANDUM DAN ILALANG MAT 13 24-43Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Kel 33:7-11;34:5-9,28; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:6-13

Bacaan Injil hari ini adalah penjelasan Yesus atas “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30). Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Menurut Dr. William Barclay (THE DAILY STUDY BIBLE – The Gospel of Matthew – Volume 2 – Chapters 11-28, Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1975 [Revised Edition], hal. 74), dalam hal pelajaran-pelajaran yang diberikan maka ini adalah salah satu perumpamaan yang paling praktis yang pernah diajarkan oleh Yesus. Berikut ini adalah saduran bebas saya dari pemikiran Dr. William Barclay yang tertuang dalam buku termaksud, hal. 74-75.

  1. Perumpamaan ini mengajar kita bahwa selalu akan ada suatu kekuasaan jahat di dalam dunia, yang berupaya dan menantikan saatnya untuk menghancurkan benih yang baik. Dari pengalaman dapat dilihat adanya dua jenis pengaruh yang bekerja dalam kehidupan kita. Yang pertama adalah pengaruh yang menolong benih-benih dunia menjadi subur dan bertumbuh, dan yang kedua adalah pengaruh yang berupaya untuk menghancurkan benih yang baik, bahkan sebelum benih itu dapat menghasilkan buah.
  1. Perumpamaan ini mengajar kita betapa sulit untuk membedakan antara mereka yang ada dalam Kerajaan dan mereka yang tidak. Seorang pribadi manusia dapat kelihatan baik namun faktanya dia buruk. Sebaliknya, seseorang dapat kelihatan jelek/buruk namun pada kenyataannya dia baik. Kita terlalu cepat mengklasifikasikan orang-orang dan memberi mereka “label” baik atau buruk tanpa mengetahui semua fakta.
  1. Perumpamaan ini mengajar kita untuk tidak cepat-cepat menilai/menghakimi orang. Apabila para penuai bekerja menurut kehendak mereka sendiri, maka mereka akan langsung saja mencoba untuk mencabut lalang, dengan demikian mereka akan mencabut juga gandum yang ada. Penghakiman harus menanti saat tuaian. Seorang pribadi manusia pada akhirnya akan dihakimi, tidak oleh satu-dua tindakannya semasa hidupnya, melainkan oleh keseluruhan hidupnya. Penghakiman baru dapat terlaksana pada titik akhir. Seseorang dapat saja membuat suatu kesalahan besar, kemudian menyesali perbuatannya itu, dan oleh rahmat Allah dia melakukan pertobatan yang membuat sisa hidupnya menjadi sebuah persembahan yang indah bagi Allah. Sebaliknya, seseorang dapat saja menjalani hidup saleh, namun kemudian mengalami kehancuran hidup disebaban keruntuhan akhlak serta kejatuhannya ke dalam jurang dosa. Tidak ada seorang pun yang hanya melihat sebagian saja dari satu keseluruhan dapat memberi penilaian atas keseluruhan tersebut. Tidak ada seorang pun yang mengetahui hanya sebagian saja dari kehidupan seseorang dapat memberi penilaian atas keseluruhan pribadi orang tersebut.
  1. Perumpamaan ini mengajar bahwa penghakiman datang pada titik akhir. Penghakiman tidak datang dengan tergesa-gesa, tetapi pasti datang. Berbicara secara manusiawi, seseorang dapat saja seorang pendosa menghindari konsekuensi-konsekuensi dosanya, namun ada kehidupan yang akan datang. Berbicara secara manusiawi, kebaikan tidak pernah kelihatan akan memperoleh ganjarannya, tetapi ada sebuah dunia baru untuk memperbaiki ketidakseimbangan di masa lampau.
  1. Perumpamaan ini mengajar bahwa satu-satunya Pribadi yang berhak untuk menghakimi adalah Allah. Allah saja-lah yang dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Hanya Allah-lah yang melihat semua aspek/bagian dari seorang manusia dan seluruh kehidupannya. Hanya Allah-lah yang dapat menghakimi.

Dengan demikian, pada akhirnya dapat dikatakan bahwa perumpamaan ini mempunyai dwifungsi: (1) sebagai peringatan agar kita tidak menghakimi orang lain; dan (2) sebagai peringatan bahwa pada akhirnya datanglah penghakiman dari Allah sendiri.

DOA:  Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengingatkan lagi kepada kami ajaran-Mu yang menekankan bahwa kami tidak boleh menghakimi orang lain. Penghakiman adalah hak Bapa surgawi semata. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “KITA ADALAH KEDUA-DUANYA: GANDUM DAN LALANG” (bacaan tanggal 28-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak, 25 Juli 2015 [Pesta S. Yakobus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ADONAN RAHMAT

ADONAN RAHMAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Senin, 27 Juli 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo [+1737], Biarawati Ordo II (Klaris) 

PERUMPAMAAN RAGI - MAT 13Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35) 

Bacaan Pertama: Kel 32:15-24,30-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23 

Tentu sebagian besar dari kita mempunyai wéker (Inggris: alarm clock) dalam salah satu bentuknya, apalagi dengan tersedianya berbagai peralatan yang semakin modern ini (smart phones dlsb.). Kita memang membutuhkan peralatan seperti itu, karena pada waktu yang ditetapkan oleh kita, alat itu akan berbunyi dan membuat kita “keluar” dari tidur kita. Namun alat itu tidak akan mampu membangkitkan kita dari tempat tidur kita. Banyak dari kita tentunya dikagetkan oleh bunyi wéker pada jam 4 pagi, namun langsung tidur lagi setelah mematikannya.

Semoga contoh wéker ini dapat menggambarkan “ragi” yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini, “adonan” Kerajaan Allah yang adalah “rahmat”, adonan sesungguhnya dalam hidup seorang Kristiani. Rahmat sesungguhnya dapat menyentuh kita setiap saat dalam satu hari kehidupan kita, seperti tiupan angin sepoi-sepoi basa di musim panas, atau seperti hujan badai yang disertai sambaran kilat yang sambung menyambung. Atau, rahmat itu datang kepada kita melalui kata-kata penuh hikmat yang diucapkan oleh seorang sahabat, atau sebuah gambar, dlsb.

Jadi, apakah yang dimaksudkan dengan “adonan indah” atau rahmat ini? Rahmat sesungguhnya adalah pertolongan dari Allah untuk kita agar dapat hidup sebagai orang-orang Kristiani yang sejati. Kita menerima rahmat ini banyak kali dalam sehari. Ini adalah bantuan batiniah yang diberikan Allah untuk memperkuat diri kita ketika kekuatan memang dibutuhkan oleh kita, untuk memberikan sukacita, keberanian, pengharapan kepada kita yang melampaui kemampuan manusiawi kita. Jadi, seperti bunyi wéker yang bordering-dering di dalam diri kita, Tetapi lebih dari wéker biasa, karena rahmat tidak saja mengingatkan kita untuk bangun dari tidur, melainkan juga memberikan dorongan kepada kita, rahmat menolong kita untuk bangkit ke luar dari kedosaan kita, untuk bangkit dari hal-hal yang sekadar natural.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Filipi, “…… Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp 2:13). Inilah rahmat yang sesungguhnya. Rahmat tidak hanya menginspirasikan kita akan hal yang baik, melainkan juga menolong kita untuk mewujudkannya. Kita hanya akan menghasrati hal-hal yang baik apabila pikiran kita dicerahkan. Kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan “baik”. Jadi kita tidak dapat menutup diri terhadap rahmat pengetahuan. Kita harus membuka diri terhadap sang Terang, berkemauan untuk melakukan pembacaan bacaan yang baik (Kitab Suci dlsb.), untuk berpikir dan memikirkan hal-hal yang baik, untuk berdoa. Kita harus senantiasa memohon kepada Allah untuk menerangi kegelapan hati kita.

Namun demikian, walaupun kita telah dicerahkan untuk mengenal mana yang benar ketimbang mana yang salah, kita membutuhkan “adonan rahmat” guna membangkitkan kita agar melakukan hal-hal yang baik. Allah memberikan pertolongan ini, kekuatan ini, dorongan dan hasrat untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Kita semua pasti pernah mengalami desakan-desakan dalam batin kita untuk memikirkan, mengambil sikap dan/atau melakukan hal-hal tertentu yang baik, namun seringkali kita tidak mempedulikan desakan-desakan batiniah tersebut.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah Yang Mahatahu. Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku (Mzm 139:8-10). Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhanku dan Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “BIJI YANG PALING KECIL DAN KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 27-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak, 24 Juli 2015 [Peringatan B. Luisa dr Savoyen, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUJUAN PERUMPAMAAN YESUS

TUJUAN PERUMPAMAAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Kamis, 23 Juli 2015) 

Ordo Santa Klara (OSC): Peringatan B. Kunigunda (Kinga atau Cunegunda dr Polandia; 1224-1292)

YESUS MENGAJAR DARI DALAM PERAHUKemudian datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan? Jawab Yesus, “kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia  berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil daripadanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Jadi, pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak memahami. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. (Mat 13:10-17) 

Bacaan Pertama: Kel 19:1-2,9-11,16-20b; Mazmur Tanggapan: Dan 3:52-54,56

Yesus adalah seorang pengkhotbah yang sungguh hebat. Ia berbicara dengan menggunakan bahasa orang kebanyakan. Ia memakai cerita-cerita, membuat perbandingan-perbandingan, menggunakan contoh-contoh, yang semua diambil dari hidup sehari-hari orang-orang kepada siapa Dia berbicara. Namun, kadang-kadang Yesus menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang sedikit membingungkan seperti suatu teka-teki. Sang Rabi dari Nazaret suka menggunakan bahasa yang membuat seorang pendengar yang baik menjadi berpikir.

perumpamaan-parable-of-the-sower-3Jadi, ketika para murid-Nya bertanya mengapa Yesus berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan, maka jawaban Yesus menunjukkan bahwa Dia menginginkan para pendengar-Nya untuk mendengar pengajaran-Nya dengan hati yang terbuka. Perumpamaan-perumpamaan membuka misteri-misteri Kerajaan Allah bagi orang-orang yang percaya, … yang membuka hati mereka. Akan tetapi, kepada mereka yang tidak terbuka terhadap pesan Yesus, maka perumpamaan-perumpamaan tersebut menjadi semacam “omong kosong” tanpa makna. Yesus sendiri mengatakan bahwa mereka yang memiliki hati tertutup tidak akan mengerti perumpamaan-perumpamaan-Nya – “melihat tetapi tidak melihat, mendengar tetapi tidak mendengar dan tidak mengerti” (lihat Mat 13:13).

Yang penting dalam hal ini adalah suatu tanggapan pribadi. Apabila tidak ada keterbukaan terhadap pesan Yesus, maka sama saja dengan “tidak mendengar apa-apa”. Jikalau tidak ada tanggapan terhadap pesan Yesus yang kita dengar, misalnya melalui homili di perayaan Ekaristi atau pembacaan dan permenungan bacaan Kitab Suci, maka akan begitu saja, … tidak akan tinggal lama dalam pikiran dan hati kita. Iman-kepercayaan sesungguhnya adalah suatu karunia, namun tidak melepaskan tanggung jawab kita untuk membuka hati terhadap Sabda dan memberi tanggapan terhadap Sabda ketika kita mendengarnya.

Kitab Suci memang dapat menjadi seperti teka-teki, samar-samar tidak jelas, jika kita membacanya dengan pikiran dan hati yang dangkal. Kitab Suci harus dibaca dalam suasana doa, dengan keterbukaan yang dapat menerima apa saja yang ingin dinyatakan Roh Kudus kepada kita.

Makanan rohani, pengetahuan rohani, bukanlah seperti makanan fisik. Dalam hal makanan rohani, semakin banyak kita ambil bagian, semakin lapar kita jadinya. Semakin kita membuka diri, semakin banyak wawasan rohani yang kita terima. Di lain pihak. Membaca Kitab Suci seperti sebuah novel ringan akan membuat kita tetap “dingin” dan tanpa sukacita.

13-770x425Sementara kita membaca Kitab Suci, selagi kita mendengar Sabda Allah,kita harus membuka hati terhadap apa saja yang ingin dikatakan-Nya kepada kita. Dan begitu kita mendengar, apabila pesan-Nya jelas, kita pun harus bertindak. Kalau tidak demikian halnya, maka hal tersebut akan diambil dari kita. Pesan hidup Kristiani hanya akan berdiam dalam diri kita apabila kita menjalani hidup itu sepenuh-penuhnya. Kepada kita telah diberikan pesan itu, jelas, seperti juga dalam perumpamaan-perumpamaan-Nya. Sekarang, bagaimana dengan tanggapan kita?

DOA: Tuhan Yesus, aku membuka hatiku bagi Sabda-Mu, untuk mendengarkannya dan juga menjalani kehidupan sebagai murid-Mu yang setia pada ajaran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA YESUS MENGAJAR DENGAN PERUMPAMAAN?” (bacaan tanggal 23-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak, 20 Juli 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG BENIH YANG BERTUMBUH

PERUMPAMAAN YESUS TENTANG BENIH YANG BERTUMBUH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XI, 14 Juni 2015) 

PARABLE OF MUSTARD SEED BY KAZAKHSTAN ARTISTLalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai  sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan,  benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mrk 4:26-34) 

Bacaan Pertama: Yeh 17:22-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 92:2-3,13-16; Bacaan Kedua: 2Kor 5:6-10 

Kita dapat memandang diri kita –  bahkan membanggakan diri kita –  sebagai ahli dalam banyak bidang, namun apabila didesak untuk memberi penjelasan yang mendetil tentang sesuatu, maka tanpa ragu sedikitpun kita tidak akan mampu alias gagal. Banyak dari kita menguasai bagaimana mengendara sebuah mobil, namun masih melihat sebagai sebuah misteri bagaimana sesungguhnya mobil itu bekerja sebagai suatu sistem. Hal yang sama kurang lebih benar untuk benda-benda seperti pesawat radio, pesawat televisi, kalkulator dlsb. Setiap orang dapat menyalakan korek api, namun berapa banyak yang dapat menjelaskan misteri api? Kita melihat jutaan organisme hidup – pepohonan, burung-burung, binatang-binatang lain dan juga manusia – namun siapa yang sungguh dapat menjelaskan tentang misteri kehidupan?

Sifat “pemerintahan Allah” atau “Kerajaan Allah” yang penuh misteri digambarkan dalam bacaan Injil hari ini. Yesus membandingkan Kerajaan Allah ini dengan sebutir benih yang ditanam untuk pertama kalinya, kemudian “mati” dan akhirnya matang menjadi sebatang tanaman yang bertumbuh-penuh. Bahkan, kata Yesus, sebutir biji mustar yang kecil mampu untuk tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya (Mrk 4:32). Bayangkanlah pohon beringin atau pohon besar apa saja yang menjulang tinggi. Bukankah semua pohon besar tersebut berasal dari sebutir benih yang berukuran relatif kecil? Namun, dalam hal ini, baik benihnya maupun kondisi tanahnya bersifat hakiki.

n80Tuhan Yesus mengatakan yang sama juga benar dalam hal sabda-Nya dan tanggapan kita. Kerajaan Allah tidak semata-mata didirikan oleh sabda-Nya atau hanya oleh upaya kita, melainkan oleh sintesa keduanya. Seorang petani tidak memahami mengapa atau bagaimana sebutir benih bertumbuh, karena semuanya kelihatannya terjadi secara otomatis, namun sebenarnya sesuai dengan seperangkat “aturan” (atau katakanlah: proses) yang telah di-“program” oleh sang Pencipta. Jadi, petani itu dapat tidur sementara proses pematangan tanaman terjadi.

Sabda Allah – benih dari hidup Kristiani – telah ditanamkan ke dalam diri kita masing-masing pada waktu kita dibaptis. Dalam hal baptisan anak-anak, hal tersebut tidak diketahui oleh sang anak yang dibaptis namun terus bertumbuh, bahkan pada jam-jam tidur. Demikian pula halnya dengan orang yang dibaptis tatkala dia sudah bukan anak-anak lagi. Namun apabila “tanah” jiwa kita menolak benih tersebut, maka tidak akan ada “hidup baru”. Menerima atau menolak benih yang ditanamkan adalah suatu pilihan yang sepenuhnya berada di bawah kuasa pribadi penuh kesadaran dari seseorang. Allah tidak menciptakan kita sebagai robot, melainkan dengan kehendak bebas.

Karena jam-alam bergerak dengan lambat, maka kita tidak boleh memaksakan diri kita untuk matang di luar “jadual” yang sudah ada. Sebelum kita dapat sepenuhnya berkembang, maka pertama-tama kita harus memperkenankan waktu yang cukup banyak bagi benih yang ditanamkan ke dalam diri kita untuk mengembangkan akar-akar iman, pengharapan, kasih, ketekunan dan keadilan ke dalam tanah jiwa kita. Semakin tinggi kita bertumbuh, semakin dalam pula akar-akar tersebut harus masuk ke dalam tanah jiwa kita.

Saudari dan Saudariku, sabda Allah akan menghasilkan panen berkelimpahan dalam diri kita apabila kita memperkenankannya. Apa yang harus kita lakukan sederhananya adalah menyediakan suatu atmosfir yang cocok bagi penanaman benih, pertumbuhannya dan panenan di ujungnya.

DOA: Ya Tuhan Allah, Engkaulah yang menanamkan benih dalam kehidupan kami, membuat kami bertumbuh dan mendatangkan buah-buah. Tolonglah kami hari ini agar dapat mengenali karya-Mu dan menghargai buah-buah yang dihasilkan. Semoga kami tidak pernah menjadi penghalang terhadap karya-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan dengan judul  “ALLAH JUGA DAPAT MELAKUKANNYA MELALUI DIRI KITA” (bacaan tanggal 14-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

Surabaya, 11 Juni  2015 [Peringatan S. Barnabas, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS