Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

MELIHAT KE DEPAN

MELIHAT KE DEPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Jumat, 27 November 2015)

Keluarga OFM Coventual: Pesta S. Fransiskus-Antonius Pasani, Imam 

Jesus_181Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33) 

Bacaan Pertama: Dan 7:2-14; Mazmur Tanggapan: Dan 3:75-81

“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:33)

Yesus seringkali berbicara tentang “akhir zaman”, artinya kedatangan-Nya untuk kedua kalinya. Kedatangan kembali “Anak Manusia” adalah suatu suatu saat yang bersifat pribadi dalam kehidupan kita masing-masing, suatu saat di masa mendatang yang menginspirasikan baik pengharapan maupun rasa takut. Kita berupaya untuk melupakan masa depan tersebut, walaupun saat itu merupakan keniscayaan.

Raja Louis IX atau Ludovikus IX [1214-1270] dari Perancis adalah seorang kudus dan seorang raja yang dicintai rakyatnya. Raja ini adalah seorang anggota Ordo Fransiskan Sekular, dan bersama St. Elisabet dari Hungaria [1207-1231] mereka menjadi orang-orang kudus pelindung OFS. Raja ini pernah mengungkapkan rahasia keberhasilannya sebagai seorang penguasa negeri dan pada saat sama seorang Kristiani. Di tengah-tengah taman istananya, yang terlihat nyata dari dalam kamar tidurnya dan ruangan-ruangan kenegaraan lainnya, raja Louis IX membangun sebuah kapel, di dalam kapel tersebut dia menguburkan jenazah para nenek moyangnya. Jadi, setiap saat dalam satu hari, raja dapat mencari tempat di mana jenazahnya kelak dapat dikuburkan. Jadi, setiap hari dia dapat melihat wajah kematiannya sendiri.

Salah satu turunannya, Louis XIV, bertanya mengapa hal untuk mengingat-ingat yang tidak mengenakkan itu dibangun begitu dekat dengan istana. Para penasihatnya menjawab, “Ayahanda paduka raja dan buyut baginda menggunakannya untuk bermeditasi di tempat itu, tempat mereka dikuburkan. Pada suatu hari, baginda juga akan berada di sana!” Raja Louis XIV menjawab: “Hancurkanlah tempat itu. Aku tidak ingin mati! Jauhkanlah semua itu dari pandanganku!”

eGc1ZHphMTI=_o_louix-ix-saint-louis-roi-de-franceAkan tetapi semua pekerja menolak; mereka sangat terganggu dengan pemikiran untuk memindahkan kapel yang berisikan kuburan tersebut. Tempat itu kudus bagi seorang kudus (Louis IX) dan ia dikuburkan di kapel tersebut. Menurut mereka memindahkan kuburannya sungguh merupakan suatu sakrilegi.

Pembangkangan terhadap perintah raja ini malah semakin menakutkan raja Louis XIV. Ia kemudian memerintahkan para pembantunya untuk membangun sebuah istana baru di lokasi berbeda untuk melarikan diri dari pemikiran tentang kematian. Sejalan dengan itu, hidupnya pun dipenuhi keserakahan, ketamakan, menyedihkan, dan juga sangat berisi dengan segala hal yang menyangkut kenikmatan duniawi.

Sebaliknyalah dengan buyutnya – raja Louis IX – tempat pengingat kematian ini juga membuat sang raja menjadi seorang kudus yang dicintai oleh semua orang, seorang pendoa, seorang kepala negara yang penuh hikmat dan penderma yang baik. Santo Ignatius dari Loyala pernah memberi nasihat, “Pilihlah panggilanmu dari sudut pandang kematianmu.” Saudari dan Saudaraku yang terkasih, marilah kita hidup untuk dunia yang akan datang, dan kita pun akan lebih berbahagia dalam dunia ini.

DOA: Tuhan Yesus, jagalah kami agar menantikan kedatangan-Mu untuk kedua kali dengan penuh iman, pengharapan dan kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT” (bacaan tanggal 27-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

Cilandak, 25 November 2015 [Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SETIAP ORANG YANG MEMPUNYAI, KEPADANYA AKAN DIBERI

SETIAP ORANG YANG MEMPUNYAI, KEPADANYA AKAN DIBERI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Rabu, 18 November 2015)

OSCCap. (Ordo Klaris Kapusin): Peringatan B. Solomea, Perawan 

PERUMPAMAAN TENTANG TALENTA

Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Lalu Ia berkata, “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Lalu hamba yang lain datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut kepada Tuan, karena Tuan orang yang kejam; Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau  sudah tahu bahwa  aku orang yang keras yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kau kaumasukkan ke bank (orang yang menjalankan uang)? Jadi, pada waktu aku kembali, aku dapat mengambilnya dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil. Akan tetapi, semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”

Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. (Luk 19:11-28) 

Bacaan Pertama: 2Mak 7:1,20-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1,5-6,8b,15 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL PARA MURIDNYADalam episode sebelum ini, Yesus memproklamasikan keselamatan sebagai suatu realitas hari ini juga, keselamatan yang telah datang ke  rumah Zakheus “hari ini” karena tanggapan penuh iman dari sang kepala pemungut cukai/pajak. Sekarang, Yesus masih berbicara dengan audiensi yang sama, dan dalam kesempatan itu Dia mengajar dengan menggunakan “perumpamaan tentang uang mina”. Lewat perumpamaan ini, Yesus mengembangkan dua buah pemikiran. Pertama, Yesus berbicara tentang sebuah Kerajaan yang tidak akan muncul dalam waktu dekat, namun yang hanya akan muncul ketika seorang bangsawan bepergian ke sebuah negeri yang jauh untuk menerima peneguhan sebagai raja dan kemudian kembali untuk menghakimi mereka yang telah menolak dirinya. Kedua, selama ketidakhadirannya, bangsawan itu mempercayakan para hambanya untuk mengkapitalisasikan uang mina yang telah mereka terima; mereka yang terbukti produktif akan diberikan imbalan, sedangkan mereka yang tidak berusaha untuk menggunakan dan mengembangkan uang mina yang telah mereka terima akan ditolak.

Dalam introduksi editorialnya terkait perumpamaan ini, Lukas menjelaskan bahwa Yesus memilih untuk menceritakan perumpamaan ini karena Dia sudah dekat Yerusalem, dan karena para pendengar-Nya mempunyai anggapan bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Sesuai dengan ekspektasi-ekspektasi populer, perwujudan Kerajaan Allah akan mengambil tempat di Yerusalem dalam waktu dekat; namun Lukas berargumentasi bahwa Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk membaurkan/mengacaukan ekspektasi-ekspektasi akan parousia yang kedatangannya sudah pasti dengan menunjuk kepada suatu “penangguhan”. Yesus justru sedang dalam perjalanan pergi, bukan datang; dan krisis yang akan mengambil tempat dalam waktu dekat adalah kematian Yesus sendiri.

Ayat-ayat 12, 14, 15a, dan 27 dari bacaan Injil kita hari ini berbicara mengenai perpisahan Yesus yang sudah dekat saatnya, yang tidak akan diakui sebagai Raja sampai kedatangan-Nya kembali. Sementara Dia pergi, umat-Nya sendiri akan membuat susah misi-Nya dengan menolak diri-Nya, namun mereka akan menghadapi penghakiman pada saat kedatangan-Nya kembali. Ayat-ayat lainnya dapat membentuk sebuah perumpamaan lengkap yang serupa dengan “perumpamaan tentang talenta” (Mat 25:14-30).

Perumpamaan ini dibuka dengan cerita tentang seorang bangsawan yang melakukan perjalanan ke negeri yang jauh untuk menerima kekuasaan sebagai seorang raja. Hal ini menunjukkan kesejajaran mencolok dengan sejarah pada zaman itu. Herodus Agung harus pergi ke Roma sebelum martabatnya sebagai raja dikukuhkan oleh kaisar di Roma. Ketika dia wafat pada tahun 4 SM, kerajaannya dibagi-bagi antara para anggota keluarganya sesuai dengan fatwa warisnya, namun pembagian tersebut tidak diakui sebelum dikukuhkan oleh Kaisar Agustus. Arkhelaus pergi ke Roma untuk menyampaikan klaim dirinya sebagai raja Yudea. Namun sebuah delegasi sebanyak 50 orang Yahudi juga pergi Roma dengan tujuan membujuk Kaisar Agustus untuk menunda pengangkatan Arkhelaus. Delegasi tersebut berhasil sebagian: kepada Arkhelaus diberikan separuh dari kerajaan tetapi kepadanya tidak diberikan gelar raja; sisa kerajaan ex ayah mereka kemudian dibagi dua antara Filipus dan Antipas.

With_His_Disciples005Dalam perumpamaan ini sang bangsawan memanggil 10 orang hambanya dan mempercayakan kepada masing-masing hambanya uang dengan jumlah uang yang sama, yaitu 1 mina – upah seorang pekerja untuk 3 bulan. Sang bangsawan menginstruksikan para hambanya itu untuk menggunakan uang mina tersebut untuk usaha, dan dia percaya kepada cara mereka masing-masing menjalankan uang mina itu. Lalu fokus-nya bergeser dari para hambanya ke orang-orang yang mengutus sebuah delegasi untuk menghentikan kenaikan sang bangsawan ke takhta sebagai raja. Akhirnya sang bangsawan kembali ke negerinya sebagai raja; ternyata para anggota delegasi tidak berhasil melaksanakan misi mereka.

Raja yang baru ini memanggil para hambanya untuk melihat bagaimana mereka telah menjalankan uang mina yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Muncullah 3 orang hambanya. Dua hamba yang pertama telah meresapi semangat sang bangsawan yang biasa mengambil risiko untuk menumbuh-kembangkan uangnya. Mereka berhasil membuat laba sebesar 900% dan 400%, dan mereka pun diberi ganjaran setimpal dengan tanggung jawab lebih lagi. Sekarang hamba yang ketiga …… yang menyimpan uang mina yang dipercayakan kepadanya dalam sapu tangan. Hamba yang ketiga ini mencoba untuk membenarkan apa yang telah dilakukannya dengan fokus pada kekejaman tuannya, bukan kebodohan atau kemalasan dirinya sendiri. Dia menempatkan masalahnya pada sang raja, tidak pada dirinya sendiri. Sang raja kemudian menghukum hamba ketiga ini sesuai dengan pandangan hamba itu sendiri: jika dia memandang tuannya begitu, mengapa dia tidak melakukan hal yang paling mudah, yaitu memperoleh bunga dari rentenir yang menjalankan uang yang dipercayakan kepadanya?

Kemudian Yesus berkata kepada orang-orang yang berdiri di situ: “Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu” (Luk 19:24). Sekilas keputusan sang raja tidak adil. Tidak heranlah apabila mereka memprotes karena yang sudah mempunyai banyak malah ditambahkan dengan jumlah yang sedikit, hal mana akan menyebabkan hamba yang ketiga tidak mempunyai apa-apa lagi. Orang-orang itu berkata: “Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina” (Luk 19:25). Jawab sang raja: “Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil” (Luk 19:26). Pelajaran apa yang  dapat kita tarik dari keputusan sang raja ini?

Hamba yang ketiga masih saja tidak mampu melihat bahwa kepadanya telah dipercayakan uang mina milik tuannya, dan bahwa urusan bisnis yang penuh risiko adalah urusan saling percaya (mutual trust). Hamba ketiga ini tidak berjalan di atas azas saling percaya ini; melainkan dia tetap berdiam pada rasa takutnya. Orang-orang yang berjalan berdasarkan kepercayaan yang diberikan kepada mereka akan diberi ganjaran dengan lebih lagi. Sebaliknya mereka yang kejahatan rohnya sedemikian rupa, sehingga mereka menyimpan kepercayaan yang diberikan kepada mereka sungguh tidak pantas menerima ganjaran. Akhirnya, sang raja memindahkan perhatiannya kepada para musuhnya yang menentang pengangkatannya dan memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh para musuhnya tersebut di depan matanya (Luk 19:27).

Perumpamaan ini mengindikasikan bahwa perpisahan Yesus dengan para murid-Nya terasa tidak lama lagi, setelah mana para murid-Nya (termasuk kita) akan menjalani masa penantian yang tidak seorang pun tahu panjang atau pendeknya, sebelum kedatangan-Nya untuk kedua kali pada saat mana akan berlangsung penghakiman terakhir atas diri kita semua. Yesus telah mengambil risiko untuk syering dengan para murid-Nya kebaikan-kebaikan-Nya, kehidupan-Nya sendiri, kepercayaan-Nya sendiri, nilai-nilai-Nya sendiri. Apa jadinya apabila para pengikut-Nya tidak mau membuat segala apa yang disyeringkan itu bertumbuh dan bekerja?

DOA: Tuhan Yesus, selagi kami menantikan kedatangan-Mu untuk kedua kali kelak, biarlah Roh Kudus-Mu terus membentuk kami sehingga menjadi mau dan mampu untuk membuat segala kebaikan, hidup, kepercayaan dan nilai-nilai yang Engkau syeringkan dengan kami, menjadi bertumbuh dan bekerja dalam diri kami masing-masing. Dengan demikian kami pun dapat turut ambil bagian dalam memajukan Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Mak 7:1,20-31), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN SEORANG IBU DAN TUJUH ORANG ANAKNYA” (bacaan tanggal 18-11-15) dalam situs/blog PAX EET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 19-11-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 15 November 2015 [HARI MINGGU BIASA XXXIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEREMPUAN YANG PENUH KETEKUNAN

PEREMPUAN YANG PENUH KETEKUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Sabtu, 14 November 2015)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. Martir 

HAKIM YANG JAHAT DAN SANG JANDAYesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu. Kata-Nya, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah Ia akan mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8) 

Bacaan Pertama: Keb 18:14-16,19:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-3,36-37,42-43

Santa Marie Marguerite d’Youville [1701-1771] adalah orang kudus kelahiran Kanada yang pertama. Ia lahir di Varennes, Quebec pada tanggal 15 Oktober 1701. Ia dibeatifikasikan oleh  Paus Yohanes XXIII pada tahun 1959 dan dikanonisasikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1990. Orang kudus ini pasti mengetahui bagaimana kiranya “selalu berdoa tanpa jemu-jemu” (Luk 18:1). Seperti sang janda dalam perumpamaan Yesus di atas, Marguerite penuh ketetapan hati dan ketekunan – dan dirinya pun seorang janda.

Ayahnya meninggal dunia ketika Marguerite masih kecil. Walaupun hidup dalam kemiskinan, pada usia 11 tahun dia mampu masuk biara Ursulin selama dua tahun sebelum pulang ke rumah untuk mengajar adik-adiknya. Pada tahun 1722, di Montreal, Marguerite menikah dengan François d’Youville, seorang bootlegger yang bekerja menjual miras secara ilegal kepada orang-orang Indian. Dari perkawinan ini mereka dikaruniai 6 orang anak, namun ternyata perkawinan mereka jauh dari sempurna. Pada tahun 1730, suaminya meninggal dunia. Pada usia 30 tahun, Marguerite telah kehilangan bapaknya, suaminya dan 4 orang anaknya yang meninggal ketika masih kecil-kecil. Marguerite mengalami pembaharuan rohani selama hidup perkawinannya dan hal ini berlanjut setelahnya juga. Dalam penderitaannya, dia bertumbuh dalam kepercayaannya akan kehadiran Allah dalam hidupnya dan akan kasih-Nya yang penuh kelembutan bagi setiap pribadi manusia. Pada gilirannya, Marguerite ingin agar kasih penuh belarasa dari Allah dikenal oleh orang-orang lain. Ia melakukan banyak karya karitatif dengan rasa percaya yang lengkap-total akan Allah yang dikasihinya sebagai “seorang” ayah yang baik.

800px-Sanctuaire_Marguerite_d'YouvilleRasa percaya Marguerite pada pemeliharaan penuh kasih dari Bapa surgawi dan doa syafaat yang dilakukannya dengan penuh keyakinan adalah hal-hal penting dalam hidupnya. Setelah kematian suaminya, Marguerite melakukan berbagai pekerjaan karitatif dengan menaruh kepercayaan total-lengkap kepada kebaikan Allah. Sementara itu dia membiayai pendidikan dua orang anak laki-lakinya, dua-duanya kemudian menjadi imam. Sementara itu dia menerima seorang perempuan buta ke dalam rumahnya.

Kemudian tiga orang perempuan datang bergabung dengannya dan bersama-sama mereka melakukan pelayanan terhadap orang-orang sakit dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan lainnya, … “wong cilik”. Pada tanggal 31 Desember 1737 empat orang perempuan itu berjanji kepada Allah untuk melayani-Nya dalam diri orang-orang miskin, …  dan ini terjadi di kota Montreal pada abad ke-18. Seperti halnya sang janda dalam perumpamaan Yesus di atas yang mencari keadilan dari seorang hakim yang tidak adil … “tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun” (Luk 18:2-5), Marguerite harus tekun dalam mengajukan permohonannya kepada lembaga hukum di Montreal itu – termasuk para pejabat gerejawi – guna membela karya karitatif kelompoknya.

Marguerite dkk. dengan penuh ketekunan terus melayani orang-orang miskin walaupun menghadapi tidak sedikit halangan. Ketika dia berada dalam kondisi kurang sehat dan sedang berduka karena kematian salah seorang rekannya meninggal dunia, rumah mereka terbakar. Peristiwa ini tidak mengecilkan hati Marguerite, melainkan justru memperkuat komitmennya terhadap orang-orang miskin. Pada tanggal 2 Februari 1745, Marguerite dan 2 orang rekannya berikrar untuk mulai kepemilikan bersama agar mampu menolong lebih banyak orang lagi yang membutuhkan pertolongan. Dua tahun kemudian, Marguerite yang sudah dikenal sebagai “Ibunda orang-orang miskin” (mother of the poor), diminta untuk menjadi direktur dari Charon Brothers Hospital di Montreal yang sedang menuju kebangkrutan karena terlalu banyak berutang.

Pada waktu dipercayakan pengelolaan rumah sakit tersebut, Marguerite memohon kepada Allah untuk menyediakan segala sesuatu untuk proyek yang baru ini. Sebagai akibatnya, rumah sakit tersebut bertambah baik. Sekali peristiwa, setelah memeriksa pembukuan rumah sakit tersebut, Marguerite menemukan bahwa dia hanya mempunyai sekeping uang logam perak kecil di dalam sakunya. Pada saat itu seorang perempuan miskin datang untuk mengklaim “upah”-nya merawat seorang bayi yang ditinggal di rumah komunitas mereka – jumlahnya/nilainya tepat sama dengan uang logam perak yang ada dalam sakunya. Ketika Marguerite merogoh sakunya untuk membayar perempuan miskin itu, ternyata ada banyak uang logam dalam sakunya. Marguerite menjadi terkagum-kagum. Ia merogoh kantongnya yang satu lagi, dan sungguh mengagumkan, … ada banyak lagi uang logam!

marguerite d'YouvilleDengan pertolongan rahmat Allah, Marguerite dan para saudarinya membangun kembali rumah sakit tersebut dan mereka merawat orang-orang yang sangat menderita. Dengan pertolongan para saudarinya/susternya dan orang-orang yang menjadi kolaborator, Marguerite meletakkan fondasi pelayanan kepada orang-orang miskin dengan segala macam bentuknya.

Rumah sakit yang dikelola oleh Marguerite dan rekan-rekannya menjadi tempat kelahiran sebuah tarekat religius baru, ketika – setelah bertahun-tahun bertekun dalam doa – dia dan rekan-rekannya diakui sebagai sebuah kongregasi religius. Dengan demikian, lahirlah “the Sisters of Charity of Montreal” (Suster-Suster Kharitas dari Montreal), juga dikenal sebagai “the Grey Nuns” (Para biarawati berbaju warna abu-abu).

Pada tahun 1765, rumah sakit tersebut terbakar, namun tidak ada apa atau siapa pun yang dapat merusak iman penuh keberanian dari Marguerite. Pada usia 64 tahun dia memimpin rekonstruksi bangunan untuk orang-orang miskin yang menderita tersebut. Marguerite meninggal dunia pada tanggal 23 Desember 1771, dan senantiasa dikenang sebagai seorang ibu penuh kasih yang melayani Kristus dalam diri orang-orang miskin.

Yesus mengajar kita untuk berdoa dengan penuh ketekunan. Jika seorang hakim yang tidak adil pada akhirnya “menyerah” kepada ketekunan seorang janda miskin, maka tentunya lebih-lebih lagi Bapa surgawi yang penuh belas kasih dalam menanggapi permohonan kita. Kehidupan Santa Marie Marguerite d’Youville menjamin kita bahwa kita sungguh dapat mengandalkan Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita untuk memelihara kita selagi kita menyampaikan kepada-Nya berbagai kebutuhan kita dalam doa-doa kita yang penuh iman.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena demikian besar kasih-Mu kepadaku dan orang-orang lain. Tolonglah diriku agar mau dan mampu menaruh kepercayaan kepada-Mu dan dengan penuh keyakinan hidup sebagai seorang pribadi seturut kehendak-Mu pada waktu Engkau menciptakan diriku, yaitu sebagai seorang anak dari “seorang” Allah yang Mahapemurah, yang sangat memperhatikan segala kebutuhan semua anak-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “IA AKAN MEMBENARKAN ORANG-ORANG PILIHAN-NYA” (bacaan tanggal 14-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

Cilandak, 11 November 2015 [Peringatan S. Martinus dari Tours, Uskup

 

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG BENDAHARA/MANAJER YANG BRILIAN

SEORANG BENDAHARA/MANAJER YANG BRILIAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Jumat, 6 November 2015) 

jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoomKemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terima surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”  (Luk 16:1-8) 

Bacaan Pertama: Rm 15:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

Alkisah ada seorang eksekutif sebuah perusahaan – katakanlah namanya Edwin – yang dipercayakan dengan kontrak-kontrak perusahaan paling besar dan memiliki otoritas untuk mengelola uang perusahaan dalam jumlah yang besar. Keberhasilan Edwin mencapai posisi eksekutif dengan tanggung jawab besar ini tidak dapat dilepaskan dari kerja kerasnya selama lebih dari 7 tahun di perusahaan tersebut. Sebagai akibat dari keberhasilan dalam karirnya, Edwin hidup nyaman dengan status sosial yang baik. Kemudian, Direktur Utama merangkap pemegang saham perusahaan mendengar desas desus yang kurang/tidak baik tentang Edwin. Sekarang integritas Edwin dipertanyakan dan dalam waktu yang relatif singkat jabatannya akan diisi oleh salah seorang pejabat senior lainnya. Tidak ada banyak perusahaan yang menawarkan lowongan kerja untuk tingkat eksekutif seperti yang dijabat oleh Edwin. Lagipula Edwin tidak memiliki keterampilan teknis untuk sukses dalam bidang-bidang lainnya. Sementara itu keluarganya tidak dapat melakukan adjustment dengan mudah dalam menanggapi perubahan seperti itu. Pendeknya, dunia seakan berantakan di mata Edwin. Apakah yang harus dilakukannya?

Edwin tidak dapat mengambil uang dalam jumlah banyak untuk kepentingan pribadinya, karena sang direktur utama sudah menaruh curiga terhadap dirinya. Sang direktur utama juga sudah siap untuk bertindak tegas. Nah, Edwin hanya memiliki waktu satu minggu saja untuk melakukan sesuatu, artinya dia harus bertindak super-cepat. Dalam waktu satu jam mendatang Edwin ada appointment dengan seorang pelanggan (debitur) guna mendiskusikan utang yang harus dibayarnya. Tiba-tiba Edwin mendapat ide brilian. Mengapa dia tidak merancang suatu deal yang tidak terlalu “menekan/memberatkan” pelanggan terbesar perusahaannya? Misalnya, dengan menghapuskan jumlah komisi bagi dirinya dan laba bagi perusahaannya. Perusahaannya akan mendapatkan kembali “pokok” utang, dan Edwin juga memperoleh “kawan baru” yang memang sangat dibutuhkannya. Edwin berpikir, “Biarlah merugi dalam jangka pendek, guna menjamin suatu pekerjaan apabila diriku dipecat.” Harus kita akui di sini, bahwa yang ada dalam pikiran Edwin adalah memang suatu ide yang brilian.

Cerita di atas pada hakekatnya adalah mengisahkan kembali (dalam konteks yang lebih modern) tentang “perumpamaan Yesus tentang si eksekutif atau manajer yang lihai”. Dalam perumpamaan ini, Yesus kembali (Luk 12:13-34) kepada pertanyaan tentang kekayaan dan mengajar para pengikut-Nya tentang penggunaan uang secara bijaksana.

Etika dari Edwin dalam cerita di atas jelas buruk, namun etika bukanlah fokus  dari pengajaran Yesus kali ini. Yesus memuji si bendahara/manajer karena dia menganalisis sikon yang dihadapinya dengan cermat dan bertindak dengan cepat untuk mengambil keuntungan bagi masa depan dirinya.

Sebagai umat Kristiani, kita mengetahui tentang hidup kekal dan kebenaran-kebenaran yang harus membentuk keputusan-keputusan kita di sini dan pada saat ini. Pada waktu kita harus bekerja guna mencapai keselamatan kita – artinya hidup kita di atas bumi – apakah kita – seperti juga si bendahara/manajer – melihat inti-pokok masalahnya sejernih yang dilakukan oleh si bendahara/manajer? Apakah kita akan menindak-lanjutinya dengan tindakan-tindakan yang menjamin posisi masa depan kita dalam surga?

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku agar dapat menggunakan uangku dengan bijaksana. Berikanlah kepadaku hati untuk mengkomit uang dan waktu yang ada padaku hanya bagi proyek-proyek yang akan mengagungkan nama-Mu. Tanamkanlah dalam hatiku setiap hari kepastian tentang kehidupan kekal bagiku, dan berikanlah kepadaku ketetapan hati untuk menjalani kehidupan di dunia ini sambil menatap surga yang ada di depanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG BENDAHARA YANG CERDIK” (bacaan tanggal 6-11-15) dalam situs/blog http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

Cilandak, 4 November 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA MASING-MASING SANGAT BERHARGA DI MATA-NYA

KITA MASING-MASING SANGAT BERHARGA DI MATA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Kamis, 5 November 2015) 

Jesus-Good-Shepherd-13Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Luk 15:1-10) 

Bacaan Pertama: Rm 14:7-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

stdas0736Kadang-kadang sulitlah bagi kita untuk percaya bahwa Yesus menilai kita masing-masing sedalam seorang gembala yang menilai domba-dombanya atau seorang janda yang menilai uang dirhamnya yang hilang. Namun pada kenyataannya kita adalah memang sangat berharga di mata-Nya. Seperti sang gembala yang meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari seekor yang hilang, maka Yesus pun akan meninggalkan setiap orang di belakang guna menyelamatkan satu jiwa yang sedang “salah jalan” pada hari ini.

Apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa setiap pribadi di atas bumi ini diciptakan menurut gambar dan rupa Allah? (lihat Kej 1:26,27). Setiap pribadi manusia tak ternilai harganya di mata Allah, betapa keras kepalanya sekalipun orang itu dalam melawan pesan Kabar Baik (Injil) Yesus Kristus, walaupun betapa berdosa mereka menurut pandangan kita. Jalan Yesus bukanlah “jalan pintas” – Ia memanggul salib-Nya sampai ke Golgota dan di salibkan di bukit itu untuk menebus kita semua – bahkan orang-orang miskin, orang-orang buangan/termarjinalisasi, orang-orang yang tidak masuk hitungan. Kebenaran ini dapat menjadi suatu sumber kepercayaan diri bagi kita, dan suatu sumber belarasa sejati terhadap orang-orang lain. Jika Yesus mengasihi setiap orang dengan begitu mendalam, maka bukankah kita pun harus memiliki hasrat untuk melihat orang-orang lain direstorasikan agar menjadi pribadi-pribadi yang utuh dan bermartabat?

Mother-Teresa-2Beata Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata, “Yesus datang untuk bertemu dengan kita. Guna menyambut Dia, marilah kita pergi menemui-Nya.” Yesus datang tidak hanya dalam kehangatan suatu waktu doa yang baik, melainkan juga dalam rupa seorang yang lapar, seorang yang sedang sunyi-sepi-sendiri, seorang penderita narkoba atau HIV-AIDS, seorang yang membutuhkan pertolongan, dlsb. Dia datang kepada kita dalam diri seorang anggota keluarga yang merasa diabaikan dan kurang diperhatikan. Ia datang kepada kita dalam diri seorang pengemis di sudut jalan dlsb. Apakah kita mengenali kehadiran-Nya? Bunda Teresa dari Kalkuta menulis, “Orang-orang miskin datang kepada kita. Kita harus sadar akan kehadiran mereka agar dapat mengasihi mereka.” 

Manakala kita mengenali orang-orang yang membutuhkan pertolongan, kita dapat menanggapi kebutuhan mereka seturut kemampuan yang kita miliki. Tentu kita semua mempunyai sumber daya yang terbatas, namun kita mempunyai sesuatu yang dapat kita berikan kepada setiap orang: doa kita. Apakah ada seseorang yang lapar, telanjang, tidak mempunyai tempat berteduh? Dalam hal ini kita dapat memohon kepada Bapa surgawi yang memiliki sumber daya berlimpah agar menyediakan makanan, pakaian dan tempat berteduh. Apakah ada seseorang yang menderita sakit atau sedang ketagihan narkoba? Dalam hal ini kita dapat memanggil dan memohon pertolongan dari sang Dokter ilahi. Kita pun dapat melakukan pertempuran atau perang roh bagi mereka yang sedang menderita. Selagi kita melakukan semua itu kita akan bertemu dengan Yesus – dan demikian pula dengan orang-orang yang kita doakan.

DOA: Yesus, aku mengetahui bahwa Engkau menghitung setiap pribadi sebagai milik-Mu yang tak ternilai harganya. Buatlah diriku, ya Tuhan, agar mau dan mampu menaruh perhatian terhadap berbagai kebutuhan orang-orang yang berada di sekelilingku. Tolonglah aku untuk membuka tangan-tanganku guna melayani dan membuka hatiku untuk melakukan doa-doa syafat (pengantaraan) bagi orang-orang yang memerlukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “SATU EKOR DOMBA DAN UANG LOGAM SENILAI SATU DIRHAM” (bacaan tanggal 5-11-15) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

Cilandak,  3 November 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENANGGAPI UNDANGAN ALLAH SECARA POSITIF

MENANGGAPI UNDANGAN ALLAH SECARA POSITIF

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Selasa, 3 November 2015)

Ordo-ordo S. Fransiskus: Peringatan Arwah sanak saudara dan para penderma 

YESUS DI MEJA PERJAMUAN DENGAN ORANG FARISIMendengar itu berkatalah salah seorang yang sedang makan itu kepada Yesus, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ada seseorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka semua, satu demi satu, mulai meminta  maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan harus pergi melihatnya, aku minta maaf. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu dan harus pergi mencobanya; aku minta maaf. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Lalu kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Tuan rumah itu pun murka dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke semua jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lorong dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, supaya rumahku terisi penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.” (Luk 14:15-24) 

Bacaan Pertama: Rm 12:5-16a; Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1-3 

Yesus mengakhiri pengajaran-Nya pada perjamuan makan di rumah seorang pemimpin orang-orang Farisi dengan sebuah perumpamaan yang merupakan ringkasan-kesimpulan dari apa saja yang telah dikatakan-Nya dalam perjamuan tersebut. Yesus menggunakan imaji tradisional dari perjamuan makan yang terdengar akrab di telinga para pendengar-Nya sebagai suatu gambaran Perjanjian Lama yang menandakan inaugurasi dari zaman mesianis.

Perjamuan makan akan dipersiapkan oleh Allah sendiri, dan yang akan diundang menghadiri perjamuan makan tersebut adalah orang-orang yang masuk kategori umat beriman. Pesta perjamuan ini sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya: “TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan mengoyakan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa” (Yes 25:6,8).

Ini merupakan gambaran penuh sukacita dan penghiburan dari “seorang” Allah yang dengan penuh kemurahan hati mengundang semua orang untuk ikut ambil bagian dalam perjamuan-Nya, di mana akan dihidangkan makanan-minuman lezat dan di mana Allah sendiri akan menjamin bahwa tidak akan ada lagi cucuran air mata, dan rasa malu pun akan hilang dari negeri.

Salah seorang dari para hadirin yang sedang makan bersama Yesus berkata kepada-Nya: “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah” (Luk 14:15). Jika orang yang bertanya itu membayangkan dirinya sama baiknya dengan orang yang akan dijamu itu, maka dia akan kecewa. Yesus membuat jelas bahwa imaji tentang perjamuan bukanlah suatu gambaran yang dapat diaplikasikan hanya pada akhir zaman; imaji tentang perjamuan berbicara mengenai waktu sekarang. Undangan-undangan telah disampaikan, dan sekarang para hamba memanggil orang-orang yang menerima undangan itu untuk mulai datang dan mengambil tempat mereka masing-masing dalam perjamuan tersebut. Jika mereka sekarang menolak undangan untuk datang ke pesta, maka orang-orang lainlah yang akan mengambil tempat mereka. Undangan tersebut tidak dapat ditunda-tunda; harus dijawab sekarang juga.

PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN BESAR - 2Dalam perumpamaan yang diceritakan oleh Yesus ini, seseorang menyelenggarakan pesta perjamuan besar yang diperuntukkan bagi banyak orang. Ini adalah adat kebiasaan timur bagi orang-orang “kelas tinggi” untuk mengirim dua undangan: yang pertama adalah untuk mengumumkan akan diselenggarakannya pesta perjamuan, dan undangan kedua adalah untuk mengabarkan kepada mereka yang telah menerima undangan bahwa perjamuan telah siap diselenggarakan. Menerima undangan pertama dan menolak undangan kedua merupakan suatu tindakan yang tidak sopan (dan kurang ajar), dan hal tersebut tidak dapat diterima karena merupakan penghinaan terhadap orang yang mengundang. Tiga orang yang disebutkan dalam perumpamaan Yesus mengatakan kepada hamba dari orang yang mengundang bahwa mereka tidak dapat menerima undangan kedua karena mereka terlalu sibuk, jadi tidak dapat datang. Ketiga orang tersebut memandang urusan mereka sendiri lebih penting daripada menghormat orang yang mengundang diri mereka.

Hamba tersebut kembali ke tuannya dengan kabar yang mengecewakan itu dan sang tuan menjadi marah. Namun ia tidak mau pestanya sepi dari pengunjung. Oleh karena itu dia memerintahkan hambanya untuk pergi dan menelusuri jalan-jalan dan lorong-lorong kota dan membawa orang-orang miskin, buta, dan lumpuh ke rumahnya. Setelah hal ini dilakukan, masih ada ruang yang tersedia untuk sejumlah orang lagi. Untuk mengisi ruang yang tersedia tersebut, orang yang mengundang itu memerintahkan hambanya untuk “memaksa” orang-orang di jalan-jalan dan lorong-lorong yang masih ada untuk datang ke perjamuannya. “Memaksa” di sini tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Si hamba harus membujuk dengan lemah lembut orang-orang yang tinggal di bawah jembatan dlsb. itu untuk ikut dengan dia karena mereka pun tentunya merasa curiga terhadap undangan ke sebuah perjamuan yang datang dengan mendadak, apalagi dari seseorang yang tak dikenal. Orang yang mengundang tersebut membuat jelas bahwa mereka yang menolak undangannya tidak akan mencicipi jamuannya; mereka menjauhkan diri mereka sendiri dari pesta perjamuan yang sangat berarti itu.

Tanpa banyak kesulitan, di sini kita dapat melihat suatu kesejajaran historis antara orang-orang yang pertama-tama diundang dengan umat Israel, antara orang-orang miskin (dan lumpuh serta buta) dengan orang-orang non-Yahudi (baca: kafir). Namun pokok utama dari perumpamaan Yesus ini bukanlah penolakan dari orang-orang yang pertama kali diundang dan bukan juga orang macam apa yang akhirnya duduk pada meja perjamuan. Fokus atau pusat perhatian dari perumpamaan ini adalah kemurahan hati orang yang mengundang. Imaji yang disajikan oleh Yesus adalah “seorang” Allah yang murah hati yang sangat senang menyelenggarakan pesta guna menjamu orang-orang. Ia adalah “seorang” Allah yang ingin bersekutu dengan orang-orang dan Ia tidak terpengaruh jika orang-orang yang diundang-Nya tidak mau datang dan menikmati jamuan-Nya. Ini adalah imaji dari “seorang” Allah sangat rindu untuk makan bersama, “seorang” Allah yang tidak mau duduk pada meja perjamuan dan memulai pesta perjamuan sampai semua tempat diisi oleh para tamu.

Allah yang kita sembah, bukanlah seperti orang kaya dalam perumpamaan “Orang kaya dan Lazarus yang miskin” (Luk 16:19-31), maka tuan rumah yang mengundang orang-orang dalam perumpamaan Yesus hari ini bukanlah seseorang yang senang berpesta-pora dengan mengabaikan orang seperti Lazarus … pokoknya orang kaya itu tidak peduli terhadap nasib “wong cilik”. Allah tidak mau makan enak sendiri saja; Dia memiliki keprihatinan terhadap persekutuan dalam perjamuan bersama dengan orang-orang, jadi tidak mengherankanlah apabila Dia sangat bermurah hati dalam mengundang orang-orang.

Allah mengundang orang-orang miskin, bahkan mereka yang secara fisik dipandang “tidak bersih”, atau katakanlah mereka yang “najis” karena keadaan fisik mereka, dll. Allah tidak mau sendiri dalam Kerajaan-Nya dan Ia mau makan bersama dalam suatu perjamuan dengan manusia ciptaan-Nya. Dia rela menunda pesta perjamuan-Nya sampai semua tempat diisi, …… “seorang” Allah yang lembah lembut.

Kabar baiknya adalah bahwa tidak seorang pun yang harus menunggu sampai akhir zaman sebelum dapat berelasi dengan Allah sebagai Tuan Rumah yang penuh keprihatinan dan kemurahan-hati.  Yesus meminta setiap orang untuk berelasi dengan Allah dengan imaji seperti di atas, bukan Allah yang kejam dan suka membalas dendam dst. Kita harus menerima undangan Allah, jika kita diundang-Nya untuk ikut serta dalam perjamuan-Nya. Sekarang juga!

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena dalam doa kami Engkau telah mengundang kami ke dalam relasi persahabatan dengan diri-Mu. Berbicaralah, ya Tuhan. Kami ada di sini untuk mendengarkan Engkau. Buatlah kami utuh dengan sabda-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 12:5-16a), bacalah tulisan yang berjudul “MELALUI DAN DENGAN KASIH” (bacaan tanggal 3-11-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2015. 

Cilandak,  2 November 2015 [PERINGATAN MULIA ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUAN RUMAHLAH YANG AKAN MENENTUKAN

TUAN RUMAHLAH YANG AKAN MENENTUKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX – Sabtu, 31 Oktober 2015) 

Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004

Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat bagaimana para undangan memilih tempat-tempat kehormatan, Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat daripada engkau, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di tempat yang lebih terhormat. Dengan demikian, engkau akan menerima hormat di depan mata semua orang yang makan bersamamu. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 14:1,7-11) 

Bacaan Pertama: Rm 11:1-2a,11-12,25-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:12-15

Dengan latar belakang perjamuan makan di rumah seorang pemimpin orang-orang Farisi, Lukas melanjutkan pengajaran Yesus tentang pesta. Yesus menceritakan sebuah perumpamaan yang tidak seorang pun dari para hadirin akan mengalami kesulitan untuk memahami perumpamaan tersebut. Kelihatannya perumpamaan itu berada pada tingkat nasihat duniawi tentang bagaimana sampai kepada posisi puncak pada meja dengan mengawalinya dari posisi bawah, dan bagaimana menghindari tindakan memulai di posisi puncak hanya untuk menemukan diri kita digeser ke posisi bawah; namun jika memang itu yang dimaksudkan Yesus, maka hampir dapat dikatakan bahwa itu bukanlah sebuah perumpamaan. Cerita itu bergerak dari hal-hal yang familiar kepada hal-hal yang tidak familiar; Yesus menggiring para pendengar-Nya melalui metafora pesta perkawinan sampai kepada pandangan sekilas lintas tentang Kerajaan Allah, untuk memahami bagaimana kehormatan diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang sungguh rendah hati.

Nasihat yang ditawarkan Yesus bersifat sederhana dan langsung: apabila engkau diundang ke pesta perkawinan, jangan terburu-buru mengambil tempat kehormatan pada meja perjamuan: para tamu terhormat akan tiba di tempat pesta belakangan, dan kita harus memberi tempat kepada mereka; dengan demikian kita berada dalam situasi di mana kita dipermalukan …… berjalan melewati tempat-tempat lain yang telah diisi, dan akhirnya kita mengambil tempat paling bawah pada meja perjamuan. Jadi, daripada memusatkan perhatian kita pada tempat terhormat, ambillah tempat terbawah sehingga dengan demikian ketika tuan rumah masuk ke ruang perjamuan dan melihat kita, maka dia akan menghormati kita di depan para hadirin dengan membimbing kita ke tempat yang lebih tinggi. Karena kita masing-masing adalah tamu pada pesta perjamuan, maka serahkanlah kepada tuan rumah untuk menentukan siapa saja yang pantas menduduki tempat-tempat terhormat, karena ini adalah perjamuannya, maka hal tersebut adalah privilesenya.

YESUS MAKAN BERSAMA ORANG FARISIPada pembacaan awal, kata-kata Yesus kelihatannya menawarkan suatu cara yang terkalkulasi dan cerdik, yang menjamin bahwa kita (anda dan saya) akan memperoleh posisi top jika saja kita memainkan power-game dengan cara yang  cocok-manis, tidak hanya akan membuat kita mencapai posisi top, tetapi setiap orang dengan gamblang akan melihat kita naik sampai ke posisi puncak itu. Kemudian kita dapat duduk dan diam-diam memberi selamat kepada diri kita sendiri karena berhasilnya strategi kita. Namun pendalaman lebih lanjut atas teks Injil ini akan meratakan tafsir yang baru saja dikemukakan tadi: orang yang meninggikan dirinya sendiri – apakah melalui cara-cara kasar dengan merebut posisi  atau secara halus lewat insinuasi – akan direndahkan. Jadi, apabila seseorang mengambil tempat paling rendah bukan karena dia percaya bahwa posisi itu adalah memang diperuntukkan baginya, melainkan sebagai hitung-hitung untuk mempengaruhi sikap tuan rumah untuk memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi, maka orang itu akhirnya akan terdampar dalam posisi yang memalukan, yaitu ditinggalkan dalam posisi terendah tadi. Kerendahan hati bukanlah masalah memainkan power game yang cantik, melainkan masalah mengakui kebenaran bahwa karena kita diundang (artinya sebuah privilese), maka peranan Allah-lah – bukan peranan kita – untuk memilih tempat duduk kita dalam pesta perjamuan yang diadakan.

Di sini Yesus samasekali tidak memberikan sebuah ringkasan kursus tentang “etiket pada perjamuan makan”; Ia mengundang para pendengar-Nya untuk bergerak melalui contoh sebuah pesta perjamuan yang familiar di telinga para pendengar-Nya untuk sampai kepada pemahaman sebenarnya perihal kehormatan sejati dalam Kerajaan Allah. Seorang pribadi yang akan ditinggikan dalam Kerajaan Allah bukanlah orang yang telah merekayasa jalannya menuju posisi puncak, melainkan seseorang yang mengakui bahwa kehormatan dalam Kerajaan Allah akan diperolehnya (datang kepadanya) pada waktu Sang Tuah Rumah (Allah) sendiri mengakui hal tersebut, bukan pada waktu seorang tamu mengganggapnya demikian. Kehormatan dalam Kerajaan Allah dianugerahkan sesuai dengan apa yang sudah diungkapkan dalam Kidung Maria (Magnificat): “(Ia) menceraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (Luk 1:51b-53).

DOA:  Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk menaruh kepercayaan pada penyelenggaraan ilahi hari ini dan tolonglah aku untuk mengasihi dan memperhatikan siapa saja yang Kautempatkan pada jalan hidupku hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:1,7-11), bacalah tulisan yang berjudul “DAPATKAH KITA MENJADI LEBIH SERUPA LAGI DENGAN YESUS?” (bacaan tanggal 31-10-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2015. 

Cilandak, 29 Oktober 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS