Posts from the ‘STUDI ALKITAB’ Category

STUDI ALKITAB TENTANG KITAB-KITAB KEBIJAKSANAAN (3)

KITAB PENGKHOTBAH:  SEBUAH PERKENALAN

 Ecclesiastes-Sermon-Image

Kitab Pengkhotbah

Kitab Pengkhotbah dinamakan juga “Eclesiastes” (terjemahan bahasa Yunani dari kata qohelet). Kata “pengkhotbah” adalah terjemahan kata Ibrani “qohelet” ini. Kata itu kira-kira berarti: orang yang memegang jabatan untuk mengumpulkan, mengetuai dan mengajar jemaat. Jadi “Pengkhotbah” sedikit banyak menerjemahkan kata itu. Jadi, penulis kitab memperkenalkan diri sebagai “pengkhotbah” yang mau mengajar jemaat. Namun selebihnya dia memperkenalkan diri sebagai “anak Daud” dan raja di Yerusalem (Pkh 1:1). Dengan demikian orang melihat Qohelet tidak lain dari pada raja Salomo. Namun hal ini sebenarnya tidak dapat dinilai sebagai sebuah kenyataan. Mengapa? Karena Kitab Pengkhotbah ini ditulis jauh kemudian dari masa raja Salomo, yaitu di zaman sesudah pembuangan, sekitar tahun 400 SM, bahkan ada yang memperkirakan sekitar tahun 250-200 SM. Penulis hanya membayangkan diri sebagai raja Salomo, orang berhikmat. Pada masa tuanya raja merenungkan hasil susah payahnya dan usahanya untuk menjadi bijaksana. Yang disajikan adalah renungan penulis Kitab, yaitu seorang Yahudi di Yerusalem, yang jelas termasuk kalangan atas dalam masyarakat.

Tema Utama

Tema utama Kitab Pengkhotbah adalah “ketiadaan makna dari segala sesuatu yang bersifat duniawi: “Kesia-siaan belaka”, kata sang pengkhotbah, “kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh 1:2,14; 12:8). Gagasan utama ini dikemukakan dengan berbagai macam variasi. Kesia-siaan dan kekosongan adalah akibat dari pencaharian manusia yang konstan akan makna kehidupan. Dia (Qohelet) secara khusus menyadari tidak ada gunanya untuk mencoba memahami misteri dari tujuan ilahi di belakang tatanan dunia seperti yang kita ketahui, akhir tragis dari kematian, alasan-alasan dari sukses dan kegagalan, dan keadilan dari reward & punishment atas perilaku baik dan jahat. Semua ini melampaui kemampuan kita untuk melakukan penemuan sendiri.

ecclesiastes-bookDitulis oleh seorang lanjut-usia yang pesimistis

Qohelet rupanya seorang yang sudah berusia lanjut. Ia meninjau kembali seluruh hidupnya menjelang akhir hidupnya. Dia membuat catatan-catatan dan menuliskan buah pikirannya, juga ucapan-ucapan orang berhikmat lain, walaupun biasanya dia tidak menyetujuinya. Semua catatan dikumpulkannya – mungkin juga oleh orang-orang lain yang menambah kata penutup (lihat Pkh 12:9-11,12-14). Hidup Qohelet cukup berhasil, namun sangat mengecewakan baginya. Dia bertanya: “Apa gunanya?” Selama hidupnya, dia pun mengamati kehidupan orang-orang lain. Sekali lagi dia bertanya: “Apa gunanya?”. Qohelet tidak berhasil menemukan sesuatu yang mantap dan tetap. Dalam kenyataan ia tidak melihat apa yang diajarkan para berhikmat terwujud: Yang baik menjadi bahagia, yang jahat tertimpa celaka. Dirinya sendiri, orang berhikmat, mencoba segala sesuatu, tetapi akhirnya semuanya mengecewakan. Ia tidak merasa bahagia. Ajaran para berhikmat ternyata tidak benar; tidak dapat dipertahankan. Dengan kata lain: Qohelet mengkritisi tradisi hikmat.

Bagi Qohelet, satu-satunya yang mantap dan tetap ialah: semuanya berputar-putar, terulang-ulang dengan tidak tentu ujung pangkalnya. Kesimpulan yang berulang-ulang dari Qohelet adalah: “Kesia-siaan, segala sesuatu adalah sia-sia dan usaha menjaring dan menangkap angin belaka”  (Pkh 1:2,14,17). Kepada orang yang masih muda hanya dapat dikemukakan olehnya nasihat ini: “Cobalah menikmati kehidupan dengan sebaik-baiknya, namun jangan mengharapkan terlalu banyak karena nanti dapat menjadi kecewa” (Pkh 2:24-26; 5:17-18; 9:7-9; 11:9-10; 12:1-2). Kiranya bagi Qohelet tidak ada masa-depan lagi. Kematian semakin mendekat dan habislah perkara. Inilah kiranya nasib semua orang tanpa kekecualian (lihat Pkh 2:16; 3:19; 9:12). Jadi, apa gunanya dan apa maknanya kehidupan manusia, susah-payah, penderitaan, kebahagiaan dan kesenangannya? Pendirian Qohelet yang agak pesimistis dan muram semacam itu jelas tidak menarik bagi orang muda yang bersemangat.

Qohelet beriman dalam kegelapan, karena dia tidak tahu apa-apa tentang hidup baka setelah manusia mati. Dia juga tidak tahu-menahu tentang kebangkitan. Ia sendiri mengatakan bahwa manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya (Pkh 7:14). Pandangannya terkurung dalam batas dunia ini yang berputar-putar terus. Namun demikian Qohelet tidak sampai jatuh ke dalam keputus-asaan, oleh karena  itu dia tetap percaya kepada Allah. Qohelet mengatakan: “Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah”  (Pkh 2:24 bdk. 3:13).

Qohelet percaya bahwa Allah menyelenggarakan segala sesuatu, walaupun ia harus mengakui bahwa “manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pkh 3:11). Kesadaran akan misteri Allah mengilhamkan kepada Qohelet “supaya manusia takut akan Dia” (Pkh 3:14).


ancient-greecePengaruh non-Yahudi

Kitab Pengkhotbah menunjukkan perkembangan perkembangan pemikiran orang Israel yang berasal dari masa sesudah pembuangan, teristimewa dalam keragu-raguan tentang jawaban-jawaban kuno dan serangan-serangannya terhadap pendekatan rasional pemikiran Yunani yang mulai mempengaruhi kawasan Timur Dekat pada masa itu. Dapat dikatakan bahwa Kitab Pengkhotbah menunjukkan adanya pengaruh dari aliran-aliran pemikiran baru yang berasal dari luar, termasuk Yunani.

Akan tetapi, biar bagaimana pun juga Kitab Pengkhotbah memiliki banyak kesamaan dengan sastra kebijaksanaan lainnya. Pengarang Kitab Pengkhotbah (Qohelet) melakukan investigasi atas pengalaman manusia di segala tingkat, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang penciptaan, keadilan, orang bijak vs orang bodoh, adil dan tidak adil, bahkan memetik banyak amsal yang menurutnya akan berlaku dalam hidup ini. Beberapa hal tertentu menjadi jelas bagi dirinya yang bagi orang lain merupakan hal yang tidak diperkenankan. Sementara menerima kenyataan bahwa Allah sungguh mengarahkan segala sesuatu, pengarang dengan kukuh berpendirian bahwa kita tidak dapat mengetahui apa yang dilakukan Allah atau mengapa, dengan demikian tanggapan manusiawi kita yang layak dan pantas adalah menikmati apa yang diberikan Allah kepada kita dengan menggunakannya secara sebaik-baiknya. Seperti ditulisnya: “Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya” (Pkh 5:17).

To everything there is a season: Turn, turn, turn! (The Byrds; lagu ngetop di tahun 60’an)

Bagi Qohelet, segala sesuatu ada waktunya yang cocok: “Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; …. (Pkh 3:2-4), namun “mengapanya” hanya diketahui oleh Allah dan tidak oleh kita. Nasihat Qohelet untuk menikmati hidup kedengarannya tidak suci-suci amat, namun dia memperingatkan agar kita “takut akan Allah” (Pkh 5:6).

Peter-Kreeft-at-Franciscan-UniversityCatatan dari Peter Kreeft

Waktu menulis bukunya yang menjadi salah satu sumber catatan singkat ini, Peter Kreeft adalah seorang profesor filsafat di Boston College. Kreeft mengatakan bahwa Kitab Pengkhotbah memiliki keunikan di antara kitab-kitab yang ada dalam Alkitab. Kitab Pengkhotbah adalah satu-satunya kitab yang berisikan filsafat. Filsafat adalah hikmat dari pemikiran manusia belaka, tanpa bersangkut-paut dengan perwahyuan ilahi. Dalam Kitab Pengkhotbah Allah tidak berbicara. Di kitab-kitab lain, Allah berbicara.

Dalam Kitab Ayub, misalnya, kita mempunyai kitab yang serupa, tentang masalah filsafat yang serupa, yaitu masalah yang menyangkut kekosongan dan ketiadaan makna dari kehidupan ini. Akan tetapi dalam Kitab Ayub, Allah berbicara kepada Ayub. Sebaliknya dalam Kitab Pengkhotbah, Qohelet hanya berbicara kepada Allah, bahkan juga tidak; dia hanya berbicara tentang Allah. Metode yang digunakan sang pengarang adalah metode ilmiah . Kitab Pengkhotbah ini merupakan pertanyaan yang harus dijawab oleh kitab-kitab lainnya.

Siapa pun rabi-rabi Yahudi yang pertama kali memasukkan Kitab Pengkhotbah ke dalam kanon Kitab Suci, mereka adalah pribadi-pribadi yang bijak dan berani, karena pertanyaan dari Kitab Pengkhotbah adalah pertanyaan yang mendalam dan menantang. Hanya keyakinan dalam jawaban lebih mendalam yang ada dalam kitab-kitab lain dalam Alkitab yang tentunya telah mendorong para rabi tersebut untuk menyetujui dimasukkannya Kitab Pengkhotbah dalam kanon Kitab Suci Perjanjian Lama.

Catatan Akhir

Para rabi Yahudi saling berdebat untuk jangka waktu yang lama tentang apakah Kitab Pengkhotbah cocok dimasukkan ke dalam kanon Kitab Suci. Keputusan yang positif dibuat mungkin karena Salomo dipandang sebagai pengarang kitab ini, dan seorang editor/penyunting pada waktu kemudian menambah sebuah catatan saleh dalam Pkh 12:9-14 yang meringkas pesan sang pengkhotbah: “… takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini kewajiban setiap orang” (Pkh 12:13). Sungguh beruntunglah kita bahwa Kitab Pengkhotbah termasuk dalam kanon Kitab Suci, karena Kitab Pengkhotbah mengajarkan jauhnya jarak antara Allah yang transenden dan upaya kita manusia untuk memahami dan “mengendalikan” Dia. Pada akhirnya, pesan Kitab Pengkhotbah mendekati pesan Ayub pada akhir pergumulannya dengan misteri Allah yang tak terjangkau oleh manusia – percaya dan menyerahkan diri kita kepada pemeliharaan penuh kasih dari Allah, walaupun kita tidak tahu mau dibawa ke mana.

Pertanyaan-pertanyaan:

  1. Apa isi dan karakteristik-karakteristik Kitab Pengkhotbah?
  2. Apa yang dimaksudkan dengan Qohelet dalam bahasa Ibrani? 

Sumber:

  1. Lawrence Boadt, READING THE OLD TESTAMENT – AN INTRODUCTION, New York, N.Y.: PAULIST PRESS, 1984, hal. 472-491.
  2. Darmawijaya, Pr., JIWA & SEMANGAT PERJANJIAN LAMA 3 – PESAN PARA BIJAK BESTARI, Jakarta-Yogjakarta: LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA – PENERBIT KANISIUS, 1992.
  3. C. Groenen OFM, PENGANTAR KE DALAM PERJANJIAN LAMA, Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS, Edisi Kedua Cetakan Pertama 1992, hal. 201-204.
  4. Peter Kreeft, YOU CAN UNDERSTAND THE OLD TESTAMENT – A BOOK-BY BOOK GUIDE FOR CATHOLICS, Ann Arbor, Michigan, Servant Publications, 1990, hal. 113-118.
  5. Suharya, Pr., MEMBACA KITA SUCI – MENGENAL TULISAN-TULISAN PERJANJIAN LAMA, Jakarta-Yogyakarta: LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA-PENERBIT KANISIUS, 1995, hal. 83-92. 

Catatan: Pertama kali disusun sebagai hand-out dalam Pertemuan Kitab Suci Kelompok Dei Verbum pada hari Kamis, tanggal 11 Juni 2015 di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya. 

Cilandak, 18 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

STUDI ALKITAB TENTANG KITAB-KITAB KEBIJAKSANAAN (2)

KITAB AMSAL:  SEBUAH PERKENALAN

Prophet-Solomon 

Kitab Amsal

Kitab Amsal ini dinamakan juga Kitab Amsal Salomo. Reputasi Salomo terkait hikmat-kebijaksanaan sungguh besar sehingga Israel memandangnya sebagai pendiri dari tradisi hikmat-kebijaksanaan. Dalam Kitab 1 Raja-Raja ada tertulis:

Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut, sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir. Ia lebih bijaksana dari pada semua orang, dari pada Etan, orang Ezrahi itu, dan dari pada Heman, Kalkol dan Darda, anak-anak Mahol; sebab itu ia mendapat nama di antara segala bangsa sekelilingnya. Ia menggubah tiga ribu amsal, dan nyanyiannya ada seribu lima. Ia bersajak tentang pohon-pohonan, dari pohon aras yang di gunung Libanon sampai kepada hisop yang tumbuh pada dinding batu; ia berbicara juga tentang hewan dan tentang burung-burung dan tentang binatang melata dan tentang ikan-ikan. Maka datanglah orang dari segala bangsa mendengarkan hikmat Salomo, dan ia menerima upeti dari semua raja-raja di bumi, yang telah mendengar tentang hikmatnya itu. (1 Raj 4:29-34)

Atas dasar bacaan Kitab Suci inilah maka Salomo dipercaya sebagai pengarang Kitab Amsal, Kidung Agung dan Pengkhotbah. Bahkan Kitab Kebijaksanaan Salomo (Deuterokanonika) juga dipandang dikarang oleh Salomo. Ada legenda yang menarik tentang Salomo dan (yang katanya) tulisan-tulisannya tersebut: Salomo menulis “Kidung Agung” ketika masih muda-usia, “Amsal” ketika setengah umur dan matang, dan “Pengkhotbah” yang bernada pesimistis ketika sang raja sudah tua renta.

Sebuah kumpulan peribahasa

Kitab Amsal pada dasarnya adalah sebuah kumpulan peribahasa, pepatah, ucapan, nasihat, petuah dan wejangan yang dapat dibeda-bedakan menjadi 7 (tujuh) kelompok, yaitu:

  1. Ams 1:2-9:18 (Amsal Salomo, Putera Daud; berisikan tujuan rupa-rupa wejangan nasihat dll.);
  2. Ams 10:1-22:16 (Kumpulan amsal-amsal Salomo);
  3. Ams 22:17-24:22 (Amsal-amsal orang bijak # 1);
  4. Ams 24:23-34 (Amsal-amsal orang bijak # 2);
  5. Ams 25:1-29:27 (Amsal-amsal Salomo yang dikumpulkan pegawai-pegawai Hizkia, raja Yehuda);
  6. Ams 30:1-33 (Perkataan-perkataan Agur bin Yake);
  7. Ams 31:1-9, 10-31 (Amsal-amsal untuk Lemuel dari ibunya dan Puji-pujian untuk isteri yang cakap).

Kalau diperhatikan dengan baik, Kitab Amsal berisikan banyak peribahasa dlsb. yang pesannya sama tuanya dengan peradaban Sumeria pada tahun 3000 SM, dan tidak ada alasan untuk menyangkal bahwa semua ini dikumpulkan atas dasar perintah Salomo dan disusun menjadi sebuah Kitab. Namun Kitab Amsal yang kita kenal sekarang juga banyak mengalami penambahan yang dilakukan belakangan. Kita lihat di atas ada sekelompok amsal (lihat butir 5) yang dinamakan sebagai amsal-amsal Salomo, namun tidak ditulis/disusun setelah dua abad kemudian, yaitu pada zaman Hizkia meraja di Yehuda. Ada juga koleksi-koleksi kecil yang dikaitkan dengan guru-guru hikmat-kebijaksanaan dan raja-raja lain.

The-Book-of-Proverbs-4056_l_d60fcd45c1f53749Seni Hidup

Dalam kumpulan-kumpulan yang ada dalam Kitab Amsal ditemukan contoh-contoh jitu bahwa mula-mula hikmat-kebijaksanaan merupakan suatu “seni hidup”. Ada berbagai macam peribahasa dan ucapan serta wejangan kecil yang amat praktis dan mengena. Misalnya, amsal yang berbunyi: “Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah dari pada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar” (Ams 25:24). Di lain pihak ada juga puji-pujian kepada isteri seperti sajak dalam Ams 31:10-31.

Peribahasa, ucapan, petuah yang termuat dalam Kitab Amsal merangkum seluruh kehidupan sehari-hari dan semua golongan masyarakat: kaum perempuan maupun para lelaki, raja dan petani, soal mendidik anak, tata-krama dlsb. Banyak nasihat itu amat praktis; tanpa cita-cita yang mengawang. Singkatnya orang diajak dan secara praktis dibimbing untuk mencari kebahagiaannya sendiri.

“Seni Hidup” yang praktis ini terbungkus dalam rasa keagamaan yang mendalam. Namun para penciptanya bukanlah orang yang ingin memperagakan kesalehan mereka atau membanggakan takwa mereka. Mereka selalu diresapi dengan kepercayaan  akan Allah. Beberapa contoh:

  1. “Berkat TUHAN-lah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahnya” (Ams 10:22);
  2. “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari TUHAN” (Ams 16:1);
  3. “Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan” (Ams 15:16);
  4. “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian” (Ams 9:10).

Tuhan adalah sumber hikmat

Hikmat-kebijaksanaan – seni hidup manusia – sebenarnya mempunyai ciri ilahi. Ini adalah keyakinan orang-orang berhikat di Israel yang mewariskan Kitab Amsal kepada umat Allah. Manusia sendiri tidak mampu memperoleh hikmat sejati. Barangkali dia dapat belajar dan menuntut ilmu pengetahuan. Akan tetapi rahasia dunia yang terdalam tidaklah terbuka baginya. Seni hidup sejati, keselarasan hidup dengan dunia sekitar manusia di luar jangkauan orang. Lihatlah dua amsal berikut ini:

  1. “TUHAN-lah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian” (Ams 2:6);
  2. “TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi” (Ams 3:12).

Amsal-amsal tersebut semua terdapat dalam bagian pertama Kitab Amsal (bab 1-9). Bagian ini memang memuat buah hasil renungan orang-orang berhikmat. Bab-bab ini berperan sebagai kata pendahuluan bagi koleksi-koleksi amsal yang menyusul. Dengan jalan itu disingkapkan latar belakang dan dasar hikmat-kebijaksanaan umat Israel. Iman kepercayaan kepada TUHAN membuka rahasia hidup sehari-hari. Bahkan dalam hal-hal yang biasa sekali pun tersembunyi sesuatu yang mengantar kepada TUHAN dan dapat menjalin hubungan mesra dengan sang “Guru” hikmat-kebijaksanaan sejati. Sembilan bab pertama Kitab Amsal ini berasal dari masa sesudah pembuangan.

“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian” (Ams 9:10)

101171240_Prorok_Car_Solomon“Takut akan Allah” yang adalah permulaan dari hikmat-kebijaksanaan bukanlah merupakan suatu hal yang kasar, kejam dlsb., melainkan sesuatu yang tinggi, suci dan bahagia. Ini adalah ketakjuban dari adorasi kepada Allah, keindahan dari tindakan penyembahan kita kepada sang Pencipta. Barangkali alasan utama mengapa hikmat-kebijaksanaan dari Kitab Amsal hilang dari dunia modern adalah karena sumbernya, “takut akan Allah” sudah hilang.

Barangkali bacaan yang paling besar dan paling dalam dalam Kitab Amsal adalah Ams 8:22-31. Isi Kitab Amsal pantas untuk kita baca dan baca lagi, namun teristimewa Ams 8:22-31 ini. Di sini, hikmat-kebijaksanaan – sebagai suatu atribut ilahi – dilihat  sebagai seorang pribadi. Biasanya personifikasi hanya alat dalam sastra, suatu fiksi. Namun dalam hal ini tidak ada fiksi-fiksian, melainkan fakta. Mengapa? Karena hikmat Allah adalah memang seorang Pribadi. Dia adalah Pribadi kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus, yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Jadi, Kitab Amsal bersifat Kristosentris (berpusat pada Kristus) Mengapa? Karena di dalam Kristus-lah “tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kol 2:3).

Kitab Amsal menyatakan bahwa hikmat-kebijaksanaan tersedia-bebas bagi semua orang (Ams 8:1-6,32-35), demikian pula Kristus yang tersedia-bebas bagi semua orang yang memiliki hati terbuka bagi kehadiran-Nya. Janji yang sangat jelas dalam Perjanjian Baru kepada orang Kristiani yang mana saja adalah seperti berikut ini: “… apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah,  –  yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit –, maka hal itu akan diberikan kepadanya”  (Yak 1:5). Kepada kita telah diberikan hikmat-kebijaksanaan karena kepada kita telah diberikan Kristus sendiri. Hikmat-kebijaksanaan sudah ada dalam diri kita. Pada kenyataannya, hikmat-kebijaksanaan tidak hanya ada di dalam Dia, Hikmat adalah Dia sendiri, seperti ditulis oleh Santo Paulus: “… oleh Dia (Allah) kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita” (1Kor 1:30).

Cara membaca Kitab Amsal

Membaca Kitab Amsal seluruhnya terus-menerus pasti terlalu membosankan. Gayanya agak tetap sama dengan tidak banyak variasi. Masing-masing amsalnya kerap sangat padat dan singkat. Berikut ini adalah satu cara membaca Kitab Amsal yang bersifat praktis: Bacalah satu bab misalnya. Lalu isinya dikaitkan dengan hidup pembaca sendiri. Perhatikanlah apakah dalam bagian yang dibaca tidak ada sesuatu yang kena pada diri pembaca dan kehidupannya, keluarganya. Misalnya: “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya” (Ams 10:4). Jadi, kalau orang suka mengeluh tentang keadaan “elit” (ekonomi sulit), baiklah dia bertanya dulu apa sebabnya. Para pedagang juga tidak pernah boleh melupakan amsal ini: “Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat” (Ams 11:1). Jika kita membaca amsal yang ada sepotong-sepotong, maka kita segera akan melihat betapa aktual dan kena “hikmat-kebijaksanaan Salomo” itu.

Kitab Amsal ditutup dengan”Puji-pujian untuk isteri yang cakap” (Ams 31:10-31), yang patut seringkali dibaca oleh para perempuan maupun laki-laki yang sudah berkeluarga (atau berencana untuk memulai hidup berkeluarga).

Pertanyaan-pertanyaan:

  1. Apakah isi dari Kitab Amsal?
  2. Menurut anda, apakah yang dimaksudkan dengan ungkapan “takut akan Allah”?
  3. Jelaskan Ams 8:22-31 dalam kaitannya dengan Yesus Kristus! 

Sumber:

  1. Lawrence Boadt, READING THE OLD TESTAMENT – AN INTRODUCTION, New York, N.Y.: PAULIST PRESS, 1984, hal. 472-491.
  2. Darmawijaya, Pr., JIWA & SEMANGAT PERJANJIAN LAMA 3 – PESAN PARA BIJAK BESTARI, Jakarta-Yogjakarta: LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA – PENERBIT KANISIUS, 1992.
  3. C. Groenen OFM, PENGANTAR KE DALAM PERJANJIAN LAMA, Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS, Edisi Kedua Cetakan Pertama 1992, hal. 197-201.
  4. Peter Kreeft, YOU CAN UNDERSTAND THE OLD TESTAMENT – A BOOK-BY BOOK GUIDE FOR CATHOLICS, Ann Arbor, Michigan, Servant Publications, 1990, hal. 107-112.
  5. Werner H. Schmidt, OLD TESTAMENT – INTRODUCTION, Bombay, India: ST PAUL PUBLICATION, 1992, hal. 371-383.
  6. Suharya, Pr., MEMBACA KITA SUCI – MENGENAL TULISAN-TULISAN PERJANJIAN LAMA, Jakarta-Yogyakarta: LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA-PENERBIT KANISIUS, 1995, hal. 83-92.

Catatan: Pertama kali disusun sebagai hand-out dalam Pertemuan Kitab Suci Kelompok Dei Verbum pada hari Kamis, tanggal 11 Juni 2015 di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya. 

Cilandak, 17 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

STUDI ALKITAB TENTANG KITAB-KITAB KEBIJAKSANAAN (1)

KITAB-KITAB KEBIJAKSANAAN:  SEBUAH PERKENALAN 

proverbs

Kitab-Kitab Kebijaksanaan (Kitab-Kitab Hikmat-Kebijaksanaan)

Apakah yang dimaksudkan dengan Kitab-Kitab Kebijaksanaan? Kitab-Kitab ini mencakup berbagai tulisan yang sering luput dari pengamatan pembaca modern, namun mencerminkan sisi yang sangat penting dalam iman-kepercayaan Yahudi. Rasa hormat di zaman kuno atas hikmat-kebijaksanaan dengan baik digambarkan dalam sebuah insiden yang tercatat dalam 2Sam 15-16, di mana anak laki-laki Daud yang bernama Absalom memimpin sebuah pemberontakan melawan ayahnya. Daud sangat kaget mendengar bahwa kepala penasihatnya, Ahitofel (seorang bijak) bergabung dengan kelompok pemberontak. Daud memohon-mohon kepada Allah agar talenta-talenta Ahitofel dikacaukan, karena “pada waktu itu nasihat yang diberikan Ahitofel adalah sama dengan petunjuk yang dimintakan dari pada Allah; demikianlah dinilai setiap nasihat Ahitofel, baik oleh Daud maupun oleh Absalom” (2 Sam 16:23).

Karakteristik-karakteristik kitab-kitab hikmat-kebijaksanaan

Kitab-Kitab Kebijaksanaan berbeda satu sama lain, baik dalam gaya maupun subjek yang dicakup, namun semuanya mempunyai kesamaan dalam karakteristik-karakteristik tertentu yang membedakan kitab-kitab kebijaksanaan ini dengan kitab-kitab lainnya dalam Kitab Suci:

  1. suatu minat yang minimal dalam hal tindakan-tindakan penyelamatan ilahi sebagaimana diproklamasikan oleh Taurat dan kitab-kitab para nabi;
  2. minat yang kecil atas Israel sebagai sebuah bangsa atau dalam sejarahnya;
  3. suatu sikap yang mempertanyakan tentang persoalan-persoalan kehidupan: mengapa ada penderitaan, ketidakadilan dan kematian, dan mengapa orang-orang jahat-curang juga hidup makmur;
  4. suatu pencaharian untuk mengetahui bagaimana menguasai kehidupan dan memahami bagaimana manusia harus berperilaku di hadapan Allah;
  5. suatu minat besar dalam hal pengalaman-pengalaman manusia yang universal yang mempengaruhi semua orang dan tidak hanya orang-orang yang percaya kepada YHWH;
  6. suatu sukacita dalam kontemplasi tentang ciptaan dan Allah sebagai sang Pencipta.

Terkadang pandangan hikmat-kebijaksanaan kelihatan sebagai pandangan sekular. Banyak amsal-amsal dalam “Kitab Amsal” sama sekali tidak berkaitan dengan iman-kepercayaan akan Allah. Orang-orang atheis pun akan setuju dengan ucapan dalam Ams 10:4. Kisah tentang Yusuf dalam Kej 37-50 juga memberi gambaran tentang seorang pribadi  – yang walaupun belum pernah menerima perwahyuan dari Allah – yang melakukan penilaian dan tindakan dengan penuh hikmat. Dalam setiap peristiwa yang terjadi di sekitar dirinya, Yusuf mempersepsikan rencana dan hikmat Allah.

Kitab-kitab dalam Perjanjian Lama yang tergolong Kitab-Kitab Kebijaksanaan

Kualitas-kualitas seperti ini muncul di sana sini dalam Perjanjian Lama. Akan tetapi sejumlah kecil kitab dalam Perjanjian Lama secara spesifik dapat digolongkan sebagai kitab kebijaksanaan karena kitab-kitab itu secara konsisten fokus pada permenungan intelektual tentang persoalan-persoalan kehidupan, pencaharian akan kebenaran universal, aturan-aturan hidup, dan sifat dari realitas tercipta di hadapan Allah. Kitab-kitab yang dimaksudkan adalah:

  1. Kitab Amsal (Ams)
  2. Kitab Ayub (Ayb)
  3. Kitab Pengkhotbah (Pkh)
  4. Kitab Yesus bin Sirakh (Sir)
  5. Kebijaksanaan Salomo (Keb)

Atas kelima kitab ini harus ditambahkan Kitab Kidung Agung (Kid). Walaupun “Kidung Agung” tidak berisikan hikmat-kebijaksanaan jenis pertanyaan (yang mempertanyakan), kitab ini menghargai keindahan ciptaan dan mengekskpresikan keyakinan dalam hal kehidupan dan kapasitas manusia untuk mencapai kebahagiaan.

Sastra Kebijaksanaan dalam kitab-kitab lain

Beberapa mazmur juga harus diklasifikasikan sebagai sastra kebijaksanaan: Mzm 1, 19:8-15, 37, 49, 73, 111, 119, dan barangkali juga beberapa lagi yang lain. Banyak pakar Kitab Suci mengemukakan adanya unsur-unsur kebijaksanaan dalam kitab-kitab para nabi, teristimewa Yesaya dan Amos. Kedua orang nabi ini menggunakan ungkapan-ungkapan hikmat-kebijasanaan khusus dan juga memiliki keprihatinan untuk mengetahui nasihat-nasihat Allah atau rencana-Nya, namun dalam arti umum saja. Di samping itu ada pula gema-gema dari pemikiran terkait hikmat-kebijaksanaan dalam bacaan-bacaan tentang cerita di Firdaus (Kej 2-3), kehidupan Salomo dalam 1Raj 3-11, narasi tentang Yusuf (Kej 37-50) dan dalam Kitab Daniel.

Asal-usul hikmat-kebijaksanaan di Israel

Hikmat-kebijaksanaan bukanlah monopoli Israel atau orang Yahudi, bukan unik Israel. Malah ada bukti yang menunjukkan bahwa justru Israel yang meminjam dan belajar tentang pertanyaan-pertanyaan hikmat-kebijaksanaan (tetapi bukan jawabannya) dari bangsa-bangsa lain di Timur Dekat kuno. Ada kumpulan amsal dari Sumeria dan Babel tertanggal sebelum 2000 SM. Banyak yang terdengar seperti padanannya dalam Kitab Amsal dlsb.

Menurut para pakar, ada dua sumber dari minat Israel dalam hal hikmat-kebijaksanaan. Yang pertama adalah keluarga. Daftar yang berisikan amsal-amsal khususnya, seringkali berurusan dengan relasi antara para orangtua dan anak-anak, pendidikan, dan instruksi di bidang moral bagi kaum muda. Di sana-sini kita menemukan bukti istimewa bahwa para bapak keluarga meneruskan pengalaman berharga mereka kepada anak-anak mereka. Lihatlah Ul 32:7 dan Ams 4:1 dsj. Sumber kedua adalah pendidikan formal, teristimewa dalam administrasi kerajaan. Baik dalam masyarakat Sumeria maupun Babel ada sekolah-sekolah yang diperuntukkan bagi anak muda untuk mempersiapkan mereka menjadi ahli kitab guna meniti karir di lingkungan istana atau kuil.

Alkitab menunjukkan bahwa Israel mempunyai ahli kitab profesional seperti bangsa-bangsa lain (1Taw 27:32-33, Ams 25:1, dan Sir 38:24-39:11). Ada indikasi-indikasi bahwa raja memakai para penasihat berhikmat yang siap dipanggil oleh raja (lihat 2Sam 15:31; 16:15-17:23; 1Raj 12:6-7). Dalam hal ini Israel mencontoh bangsa-bangsa lain. Alkitab seringkali mengacu kepada para bijak dari Edom dan Mesir, Tirus dan Asyur (lihat Ezr 28:3-4; Yer 49:7).

Raja sebagai pemilik utama hikmat-kebijaksanaan

Raja sendiri dipandang sebagai pemilik utama dari hikmat-kebijaksanaan dan penghakiman dalam kerajaan. Daud dinamakan “tuanku bijaksana” sama seperti malaikat Allah, sehingga mengetahui semua yang terjadi di bumi (2Sam 14:20) dan Salomo terkenal dengan hikmat-kebijaksanaannya. Dalam 1Raj 3-11 pemerintahan Salomo digambarkan sebagai model dari hikmat kerajaan. Salomo pertama-tama mohon hikmat dari Allah, di atas kekayaan atau kekuasaan (1Raj 3). Ia juga menghakimi dengan akurat dan penuh kebijaksanaan dalam kasus dua orang perempuan yang mengklaim seorang anak yang sama (1Raj 3). Bait Suci dan keindahannya dipandang sebagai hasil dari hikmat-Nya (1Raj 6-8), dan banyak penguasa negeri lain datang untuk mendengar hikmat Salomo (1Raj 10). Pemerintahan negerinya digambarkan sebagai pemerintahan yang bijaksana (1Raj 4). Bacalah 1Raj 4:29-34 untuk mengenal lebih lanjut tentang Salomo dan hikmatnya.

King_SolomonSecara tradisional, raja Salomo memang dianggap sebagai yang mengawali sastra kebijaksanaan di Israel. Raja Salomo dianggap sebagai orang yang paling bijaksana di Israel, bahkan di seluruh dunia. Sebagian besar kisah mengenai dirinya yang terdapat dalam Kitab Suci tidak dapat dilepaskan dari kebijaksanaannya. Tidak ada seorang pun yang lebih bijaksana daripada Salomo di Israel, sampai akhirnya Dia (Yesus) berkata: “… dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!”  (Mat 12:42).

Kitab-kitab Amsal, Pengkhotbah, Kebijaksanaan Salomo, dan Kidung Agung dihubungkan dengan raja Salomo. Cara seperti itu biasa dipakai pada waktu itu untuk memberi wibawa besar kepada tulisan-tulisan itu agar dapat meyakinkan pendengarnya. Bagi kita mungkin hal seperti itu dapat dianggap sebagai pemalsuan, namun tidak demikian halnya bagi mereka pada waktu itu. Apalagi tradisi kebijaksanaan memang dianggap berawal dan berasal dari Salomo.

Catatan Akhir

Di atas telah dikatakan bahwa Israel meminjam sastra kebijaksanaan dari bangsa-bangsa lain. Dengan demikian tidak mengherankanlah apabila kebijaksanaan yang terdapat dalam Kitab Suci serupa dengan kebijaksanaan yang ditemukan di negeri-negeri lain. Itulah sebabnya banyak ucapan dan pemikiran yang terdapat di dalamnya tidak sangat bernada keagamaan. Bahkan tidak sedikit yang harus disebut kebijaksanaan yang sangat duniawi atau sekular.

Ketika semakin berkembang di Israel, kebijaksanaan semakin pula menerima muatan keagamaan. Kebijaksanaan dipahami sebagai keutamaan (kebajikan), sedang lawan katanya – kebodohan – dimengerti sebagai cacat. Akhirnya, baik kebijaksanaan maupun keutamaan bermuara pada agama yang sejati, dan orang bijak akan mengatakan, “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN (YHWH)”  (Ams 9:10; bdk. Mzm 111:10).

Tradisi kebijaksanaan memuat pandangan yang luas, bahkan universal. Pernyataan diri Allah tidak dibatasi di Israel, karena kebijaksanaan dapat diperoleh atau dicapai oleh orang-orang bijak dari segala bangsa. Kebijaksanaan itu sendiri datang dari Allah dan membawa orang kepada Allah. Dengan demikian kitab-kitab kebijaksanaan yang kita temukan dalam Kitab Suci menawarkan kesusilaan hidup yang  benar yang dapat dicapai oleh semua orang. Kebijaksanaan tidak diperuntukkan bagi orang-orang Yahudi saja, melainkan bagi semua orang yang bahkan tidak mengenal hukum yang diberikan kepada Musa.

Pertanyaan-pertanyaan:

  1. Bagaimana anda dapat menggambarkan sebuah Kitab Kebijaksanaan? Apa bedanya dengan kitab-kitab lain dalam Kitab Suci (Alkitab)? Sebutkanlah kitab-kitab dalam Perjanjian Lama yang dapat digolongkan sebagai kitab-kitab Kebijaksanaan!
  2. Apakah tradisi kebijaksanaan unik bagi Israel?
  3. Ceritakanlah asal-usul sastra kebijaksanaan di Israel!

Sumber:

  1. Lawrence Boadt, READING THE OLD TESTAMENT – AN INTRODUCTION, New York, N.Y.: PAULIST PRESS, 1984, hal. 472-491.
  2. Darmawijaya, Pr., JIWA & SEMANGAT PERJANJIAN LAMA 3 – PESAN PARA BIJAK BESTARI, Jakarta-Yogjakarta: LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA – PENERBIT KANISIUS, 1992.
  3. C. Groenen OFM, PENGANTAR KE DALAM PERJANJIAN LAMA, Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS, Edisi Kedua Cetakan Pertama 1992, hal. 186-217..
  4. Suharya, Pr., MEMBACA KITA SUCI – MENGENAL TULISAN-TULISAN PERJANJIAN LAMA, Jakarta-Yogyakarta: LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA-PENERBIT KANISIUS, 1995, hal. 83-92.

Catatan: Pertama kali disusun sebagai hand-out dalam Pertemuan Kitab Suci Kelompok Dei Verbum pada hari Kamis, tanggal 11 Juni 2015 di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya. 

Cilandak, 16 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERCAKAPAN DENGAN ALLAH LEWAT KITAB SUCI

PERCAKAPAN DENGAN ALLAH LEWAT KITAB SUCI

“Di dalam Kitab-kitab suci Bapa, yang ada di surga dengan penuh kasih sayang menjumpai putera-puteri-Nya dan berbicara dengan mereka” (Konstitusi Dogmatis DEI VERBUM tentang Wahyu Ilahi, 21)

Tidak ada yang lebih mulia bagi kita daripada melakukan percakapan dengan Allah yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi, bukankah begitu? Sungguh indahlah apabila kita mampu untuk mengetahui apa yang ada dalam hati-Nya dan memahami niat-niat dan hasrat-hasrat-Nya. Seperti yang dikatakan oleh para Bapak Konsili dalam petikan Dei Verbum [DV] di atas, kita mempunyai kesempatan seperti ini setiap kali kita membuka Kitab Suci (Alkitab).

Kitab Suci bukanlah sekadar sebuah koleksi kata-kata untuk dibaca, betapa pun penuh hikmat-kebijaksanaan dan menyentuh kata-kata itu. Kitab Suci adalah sabda Allah – suara-Nya yang penuh keakraban berbicara dengan kita, menyegarkan kita dan mengajar kita. Dalam Kitab Suci, Allah membuka hati-Nya, menganugerahkan suatu martabat tinggi kepada anak-anak-Nya sementara Dia membentuk mereka menjadi serupa dengan diri-Nya sendiri.

Tantangan yang seringkali kita hadapi dalam membaca Kitab Suci adalah memperkenankan kata-kata yang kita baca itu agar mempunyai dampak atas hati kita. Bayangkanlah seorang anak yang sedang bercakap-cakap dengan ayahnya, namun yang dicakup dalam percakapan itu jauh melampaui berbagai fakta dan tugas yang sederhana. Si anak merasa bebas untuk mensyeringkan dengan sang ayah apa saja keberhasilan yang telah dicapainya dan juga apa saja kegagalan yang dialaminya. Anak itu mengetahui bahwa ayahnya memahami harapan-harapannya, kekhawatiran serta ketakutannya, impian-impiannya, cita-citanya dst. Di lain pihak sang ayah juga mengenal anaknya dan dia merasa bahagia bekerja bersama dengan anaknya untuk menolongnya bertumbuh menjadi seorang manusia yang kuat, mengasihi dan bertanggung jawab. Demikian pula kiranya, Allah Bapa kita merindukan untuk mengajar kita dan membentuk kita, dan Ia melakukan hal ini selagi kita membuka hati kita bagi sabda-Nya.

Lectio Divina – Pembacaan Kitab Suci dalam Iman

Tradisi menyediakan suatu cara membaca Kitab Suci yang dikenal sebagai lectio divina (lectio = pembacaan; divina = ilahi). Menurut asal-usulnya lectio divina adalah pembacaan Kitab Suci oleh orang-orang Kristiani untuk memupuk iman, pengharapan dan kasih mereka, sehingga dengan demikian menjiwai jalan mereka. Lectio divina sudah setua Gereja yang hidup dari sabda Allah, yang menjadi tumpuan dan kekuatan bagi Gereja, dan kekuatan iman, santapan jiwa, serta sumber murni dan abadi kehidupan rohani putera-puteri Gereja (lihat DV, 21).

Lectio divina merupakan pembacaan sabda Allah penuh iman dan doa, yang berpangkal pada iman kepada Yesus Kristus yang telah bersabda: (1) “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26); (2) “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh 16:13).

Perjanjian Baru sesungguhnya merupakan hasil pembacaan Perjanjian Lama umat Kristiani perdana dalam terang wahyu baru yang diberikan Allah dalam kebangkitan Yesus Kristus yang hidup di tengah jemaat. Pembacaan Kitab Suci penuh iman dan doa ini senantiasa memupuk Gereja dalam arti seluas-luasnya, religius maupun non-religius. Pada awalnya tidak ada pembacaan yang diorganisir dan sistematik, melainkan mengalir sebagai tradisi yang diteruskan dari generasi ke generasi, melalui praktek umat Kristiani.

Sejatinya, lectio divina dimaksudkan untuk menarik kita dari sabda Allah dalam Kitab Suci kepada Allah sang Sabda – Yesus Kristus sendiri, yang memberikan kepada kepada kita sebagian dari hikmat dan kasih-Nya.

Asal-usul istilah lectio divina. Istilah lectio divina berasal dari Origenes [+185-254]. Ia mengatakan bahwa agar pembacaan Kitab Suci membawa manfaat, maka diperlukanlah perhatian dan kerajinan yang besar. Ia mengatakan, bahwa setiap hari kita harus kembali ke sumber, yaitu Kitab Suci. Hal itu tidak dapat kita capai dengan kekuatan sendiri. Kita harus memohonnya dalam doa, karena adalah mutlak perlu untuk memohon agar kita mampu memahami perkara-perkara kecil. Dengan cara itu, kita akan dapat mengalami apa yang kita harapkan dan kita renungkan.

Empat langkah dalam Lectio Divina. Lectio divina mencakup 4 (empat) langkah atau jenjang, yaitu lectio (pembacaan), meditatio (meditasi), oratio (doa) dan contemplatio (kontemplasi). Sistematisasi lectio divina dalam empat langkah ini baru terjadi pada abad XII. Pada sekitar tahun 1150 Guigo, seorang rahib Kartusian – seorang penulis rohani zaman itu – menggambarkan langkah-langkah ini sebagai berikut: “Pembacaan berarti dengan berhati-hati mempelajari Kitab Suci dengan mengkonsentrasikan segenap kekuatan yang dimiliki. Meditasi adalah kegiatan budi yang sibuk untuk mencari – dengan bantuan akal masing-masing berusaha mengenal kebenaran yang tersembunyi. Doa berarti pembalikan penuh pengabdian hati orang kepada Allah dan memperoleh apa yang baik. Kontemplasi adalah pada waktu budi diangkat kepada Allah dan mengatasi dirinya, sehingga mencicipi sukacita dari kemanisan yang kekal. Katekismus Gereja Katolik (KGK) melanjutkan: “Kalau membaca, carilah dan kamu akan menemukan dalam meditasi; kalau berdoa, ketuklah dan bagimu akan dibukakan melalui kontemplasi” (KGK 2654 versi/terjemahan bahasa Inggris).

Pembacaan dan Meditasi: Sabda dalam Kitab Suci

Pembacaan dan meditasi terutama fokus pada kata-kata aktual yang tersurat dalam Kitab Suci dan maknanya.

Pembacaan. Tahapan yang dinamakan lectio ini menyangkut pembacaan sebuah potongan bacaan Kitab Suci dan memahami apa yang dikatakan di situ. Pada tahapan ini kita harus membaca potongan bacaan itu untuk beberapa kali. Kita harus mencoba membacanya dengan mengeluarkan suara, dan dengan memperhatikan cara kata-kata tersebut seharusnya diucapkan. Barangkali di sini kita ingin membuat garis besar dari butir-butir utama bacaan Kitab Suci itu, atau mencobanya untuk menulis serta mengatakannya dengan kata-kata kita sendiri. Siapakah yang sedang berbicara dan kepada siapa diah berbicara? Mengapa? Apakah berbagai peristiwa atau fakta yang sedang dikomunikasikan? Apa konteks dari potongan bacaan itu? Situasi apa yang menjadi sebab adanya kata-kata itu dalam teks Kitab Suci?

Dalam hal ini diperlukan beberapa sumber bantuan, yaitu buku pengantar dan tafsir kitab bersangkutan, kamus Alkitab, konkordansi Alkitab, Alkitab dalam bahasa asing yang kita kuasai dll., karena semua ini dapat sungguh dapat menolong kita menyingkap lebih banyak lagi dimensi dari kekayaan “terpendam” sabda Allah yang ada dalam Kitab Suci. Tantangan yang akan kita hadapi dalam tahapan ini adalah untuk tetap fokus pada “kata-kata” itu sendiri, bahkan ketika kita sedang merujuk pada pekerjaan-pekerjaan lain berkaitan dengan sabda Allah.

Meditasi. Dalam tahapan meditatio kita bergerak melampaui apa yang dikatakan dalam potongan bacaan yang sedang kita tekuni. Sekarang, kita harus mencoba untuk menyingkap apa maknanya. Kita bergerak dari masa lampau “sejarah” kepada “masa kini” hidup kita. Pada tahapan ini, baiklah kita untuk fokus pada bagian tertentu dari potongan bacaan kita – apakah sepatah kata atau sebuah frase yang menyentuh kita – dan merenungkan bagian tersebut dalam keheningan dan suasana penuh kedamaian.

Kita mulai membuka pikiran kita bagi Roh Kudus dan dimensi surgawi dari kata-kata yang telah kita pilih itu. Biarlah kata atau kata-kata itu berbicara kepada situasi kita sekarang, apakah menantang kita atau menghibur kita, mendorong kita untuk melakukan pertobatan atau memuji-muji dan menyembah Dia. Dalam meditasi, kata-kata yang telah kita baca memberi jalan kepada kebenaran-kebenaran abadi Injil yang memberikan kita kehidupan.

Doa dan Kontemplasi: Sabda dalam Hati kita

Janji indah bagi kita apabila mempelajari Kitab Suci adalah, bahwa studi kita itu tidak berhenti dengan upaya-upaya dari intelek manusiawi kita saja. Dalam doa dan kontemplasi, fokusnya bergerak dari sabda Allah ke Yesus sendiri. Sabda Allah tidaklah sekadar kata-kata tertulis yang terdapat dalam Kitab Suci, melainkan juga Pribadi Yesus sendiri, sang Sabda yang menjadi daging (Firman yang menjadi manusia; Yoh 1:14).

Doa. Dalam tahapan oratio kita menanggapi sabda Allah, memohon kepada Roh Kudus untuk menuliskan kata-kata ini pada hati kita masing-masing. Sebagai anak-anak Allah, kita mempunyai kebebasan untuk berdoa secara sederhana dan spontan, apakah dalam bentuk nyanyian, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah, atau “semata-mata” menyembah-Nya untuk segala kebaikan dan kesempurnaan-Nya. Kita dapat mengakui dosa-dosa kita kepada Tuhan dan mohon kepada-Nya agar mencurahkan rahmat-Nya kepada kita untuk hidup lebih setia lagi kepada sabda-Nya.

Di dalam doalah kita mulai melakukan percakapan dengan Bapa surgawi, percakapan yang terasa di hati. Para Bapak Konsili Vatikan II mengajar kita: “Hendaknya mereka mengingat bahwa doa harus menyertai pembacaan Kitab Suci, agar terjadi dialog antara Allah dan manusia; karena “kita berbicara dengan-Nya ketika kita berdoa, kita mendengarkan-Nya ketika membaca amanat-amanat ilahi” (DV, 25).

Kontemplasi. Dalam tahapan contemplatio kita mengheningkan hati kita di hadapan hadirat Yesus. Kita memperkenankan Dia menyentuh kita, menyembuhkan kita, dan menggerakkan kita. Setelah berjalan melalui pintu Kitab Suci, sekarang kita pun sampai ke ruang di mana Tuhan bertakhta, Dia yang adalah Raja dan Sahabat kita.

Dalam kontemplasi kita memandang-Nya, menatap keindahan dan kemuliaan-Nya, dan menerima dari Dia rahmat dan kekuatan untuk mewujudkan dalam kehidupan kita, sabda yang telah kita baca dan meditasikan. Seperti dua orang murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus, hati kita dapat berkobar-kobar dengan kasih akan Allah selagi Yesus membuka Kitab Suci kepada kita (baca Luk 24:13-32). Allah sangat mengetahui apa yang kita butuhkan, dan melalui kontemplasi kita dapat berada bersama-Nya sebentar dan disemangati dan dikuatkan oleh-Nya.

Hidup dalam Sabda

Dalam Kitab Suci, Allah telah menyediakan sebuah meja perjamuan dengan makanan terbaik dan terpilih bagi jiwa kita. Bagaimana kita dapat menanggapi undangan-Nya untuk datang dan makan bersama-Nya? Secara praktis, pentinglah bagi kita untuk merencanakan suatu waktu yang spesifik setiap harinya, pada waktu mana kita dapat mengabdikan perhatian kita sepenuh-penuhnya bagi sabda-Nya. Juga perlu bagi kita untuk memilih sebuah tempat yang cukup sunyi-hening dan bebas dari berbagai bentuk distraksi, sebuah tempat privat di mana kita dapat merasa nyaman dan damai.

Bagaimana kita dapat mempersiapkan hati kita guna mendengarkan Tuhan? Sebelum kita mulai membaca, kita dapat mengambil waktu sebentar untuk mengingat-ingat kebenaran-kebenaran iman kita: Allah menciptakan kita karena kasih; melalui pembaptisan ke dalam kematian Yesus dan kebangkitan-Nya kita telah menerima pengampunan dan kebebasan; kita semua diundang untuk mengenal Dia secara pribadi melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita masing-masing; Gereja adalah mempelai perempuan yang sangat dikasihi-Nya, tempat berkumpul umat-Nya; Yesus akan datang kembali pada akhir zaman untuk memanggil mempelai perempuan-Nya – Gereja – untuk datang kepada-Nya. Mengingat-ingat kebenaran-kebenaran ini sejak awal dapat membuat pikiran kita tenang dan memberi rasa percaya pada diri kita bahwa Allah sungguh ingin berbicara kepada kita.

Bagaimana kita menentukan potongan bacaan (bacaan singkat) mana yang harus kita baca setiap harinya? Kita bisa saja membaca satu kitab tertentu (misalnya Kitab Kejadian) sedikit demi sedikit. Kita juga bisa melakukan pembacaan sesuai tema alkitabiah tertentu, misalnya kasih, keadilan atau kerajaan Allah. Satu cara lain adalah mengikuti penanggalan liturgi agar dapat mengikuti bacaan-bacaan dalam Misa Kudus, walaupun tidak dapat mengikuti Misa itu secara fisik. Bagi mereka yang mendoakan Ibadat Harian, tentunya semua “bacaan singkat” sudah diatur dengan baik, baik untuk Ibadat Pagi, Ibadat Siang, Ibadat Sore dan Ibadat Penutup, walaupun untuk “Ibadat Bacaan” bacaannya tidaklah dapat dikatakan singkat. Cara apa pun yang kita gunakan, yang penting adalah bahwa kita harus terbuka bagi kuasa Roh Kudus yang akan membuat sabda Allah menjadi hidup dalam hati kita masing-masing.

Sekali kita telah menggunakan waktu kita dengan sabda Allah, sangatlah bijaksana untuk menulis apa yang telah kita pelajari. Hal ini tidak hanya akan membantu kita mengingat-ingat sabda secara lebih baik, melainkan juga akan memampukan kita untuk menoleh ke belakang dan melihat bagaimana Allah telah mengajar kita langkah demi langkah. Selagi kebenaran-kebenaran Tuhan dan karakter-Nya dituliskan dalam hati kita masing-masing, maka kita pun akan mempunyai sebuah khasanah besar yang penuh berisikan harta rohani yang sewaktu-waktu dapat kita “manfaatkan” ketika kita menghadapi godaan dan tantangan dalam kehidupan sehari-hari.

Catatan Penutup

Allah senang untuk mensyeringkan hati-Nya dengan kita semua. Dia menciptakan kita agar dapat hidup penuh keakraban dengan-Nya sebagai anak-anak-Nya dan juga sebagai mempelai perempuan-Nya. Setiap hari, Dia minta kepada kita untuk berada dekat dengan diri-Nya dan menerima sabda kehidupan. Selagi kita membuka diri kita bagi sabda-Nya, kita memperkenankan Allah menyegarkan diri kita dengan menuliskan kebenaran-kebenaran-Nya pada hati kita masing-masing. Setiap kali kita mengambil Kitab Suci, kita dapat memohon agar Roh Kudus mengajar kita bagaimana membaca sabda yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Cilandak, 17 Agustus 2011 [Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS SEBAGAI PARAKLETOS

ROH KUDUS SEBAGAI PARAKLETOS

Pada waktu orang-orang Kristiani memikirkan Roh Kudus, maka seringkali gema-gema jawaban Katekismus bermunculan dalam benak mereka: Pribadi Ketiga dari Tritunggal Mahakudus, satu dalam substansi ilahi dengan Bapa dan Putera. Namun kita harus ingat bahwa doktrin Tritunggal belum didefinisikan secara resmi sampai abad keempat, dan pada hari-hari pertama Kekristenan gambarannya pun masih jauh dari tepat, terutama sehubungan dengan kepribadian Roh Kudus itu.

Sehubungan dengan kesaksian Perjanjian Baru, bagian dari kesulitannya adalah bahwa konsep “roh” itu memiliki banyak segi; roh manusia, roh-roh malaikat, roh-roh jahat dan seterusnya. Sebagai tambahan, kata Yunani untuk “roh”, pneuma, juga dapat diartikan “angin, nafas”. Peran-peran Roh bervariasi: Seperti angin kencang yang menggerakkan para rasul untuk berkhotbah pada hari Pentakosta; memberikan hidup; berseru dalam hati kita, sumber karisma-karisma atau kuasa-kuasa istimewa.

Injil Yohanes banyak berbagi pemikiran dan pengungkapan Perjanjian Baru tentang Roh Kudus; namun Injil ini juga memberikan sumbangannya sendiri yang unik, dengan demikian meningkatkan penghargaan atas Roh dalam hidup orang-orang Kristiani dan gereja.

Hanya dalam Injil Yohanes, Roh Kudus mempunyai gelar Parakletos (Istilah ini muncul sekali lagi dalam 1Yoh 2:1, dan mengacu kepada Yesus). Roh Kudus sebagai Parakletos digambarkan dalam lima bagian, semuanya dalam pengajaran Yesus pada Perjamuan terakhir, cukup sering diiringi dengan gelar “Roh Kebenaran”, yang juga khas terdapat dalam Injil Yohanes.

Seperti kita akan lihat, kata Yunani parakletos mempunyai konotasi yang berbeda-beda, oleh karena itu sulit diterjemahkan. Karena menghadapi banyak terjemahan dalam bahasa Latin kuno untuk kata parakletos ini, maka dalam Kitab Suci Latin Vulgata, Santo Hieronimus menggunakan kata paracletus.

Aspek-aspek Parakletos. Secara literer parakletos berarti “seseorang yang diminta untuk mendampingi,” terutama seseorang yang dipanggil untuk menolong dalam suatu situasi yang menyangkut perkara hukum; seorang pengacara-pembela. Terasa aspek hukum ini kalau kita mendengar istilah lain yang dipakai, yaitu “Advokat” dan “Penasihat”, untuk menerjemahkan kata parakletos ini. Sebenarnya ada suatu nada hukum pada beberapa sabda Yesus dalam Injil Yohanes mengenai Parakletos; namun gambarannya yang lebih tepat adalah sebagai seorang pembela hukum. Yesus akan mati di kayu salib – di mata dunia Dia dinilai bersalah dan dihukum. Namun setelah kematian-Nya, sang Parakletos ini akan datang dan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena dunia tetap tidak percaya kepada Yesus. Singkatnya sang Paracletos ini memutar-balikkan hukuman mati atas diri Yesus ini dan membuktikan bahwa Dia tidak bersalah (Yoh16:8-11). Parakletos ini akan menunjukkan bahwa Yesus tidak berdosa; melainkan dunialah yang berdosa karena tidak percaya kepada Yesus. Yesuslah yang adil atau benar, seperti ditunjukkan oleh fakta bahwa Dia tidak ada dalam kubur, tetapi telah bersama Bapa. Penghakiman yang dilakukan oleh musuh-musuh-Nya dengan menjatuhkan hukuman mati atas diri-Nya tidak mampu mengalahkan-Nya; malah ironisnya yang dikalahkan justru adalah lawan-Nya yang besar, yaitu Iblis sendiri.

Dalam satu bagian terkenal dari salah satu kitab Perjanjian Lama, yaitu Kitab Ayub (19:25), diceritakan bahwa Ayub tahu bahwa dia akan mati dengan tuduhan bersalah oleh semua orang karena penderitaan-penderitaan yang menimpanya; namun dia tahu bahwa yang membela nama baiknya hidup, yakni malaikat yang akan berdiri di kuburnya dan menunjukkan kepada semua orang bahwa Ayub tak bersalah. Roh yang membela itu mempunyai peran sebagai seorang parakletos, dan Yesus sekarang melihat Roh Kudus sebagai Parakletos-Nya.

Namun ada sebuah peranan lain lagi dari “Dia yang diminta untuk mendampingi” itu. Kadang-kadang mereka yang sedang menderita atau merasa sepi-sendiri memerlukan seseorang untuk menghibur mereka. Aspek dari sang Parakletos yang ini, diterjemahkan sebagai “Penghibur” (Inggris: Holy Comforter; Latin: Consolator optime dalam madah untuk Roh Kudus). Dalam konteks Perjamuan Terakhir murid-murid Yesus mengalami rasa sedih yang mendalam karena Dia akan berpisah; maka janji bahwa seseorang yang seperti Yesus akan datang menggantikan tempat-Nya sungguh menghibur mereka.

Walaupun demikian, Yesus dari Perjamuan Terakhir yang menyiapkan para murid-Nya akan kedatangan Roh Kudus, juga realistis. Dunia akan membenci para murid yang telah menerima Roh Kebenaran (Yoh 15:18-19) yang tak dapat diterima dunia, karena dunia tidak melihat atau tidak mengenal Roh itu (Yoh14:17). Para murid akan diusir keluar dari sinagoga-sinagoga dan bahkan dihukum mati (Yoh16:2-3). Namun karena Yesus bersama mereka, mereka pun dapat memperoleh damai sejahtera. “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh16:33).

Parakletos sebagai Yesus yang lain. Penekanan utama dalam perkenalan Injil Yohanes mengenai Parakletos ini adalah keserupaan Roh dengan Yesus yang memampukan Roh itu untuk menggantikan-Nya. (Itulah mengapa Roh Kudus-Parakletos tidak dapat datang sebelum Yesus berpisah.) Baik Yesus maupun Roh Kudus datang dari Bapa; keduanya dianugerahkan atau diutus oleh Bapa; dan dua-duanya ditolak oleh dunia.

Yesus dari Injil Yohanes mengklaim tidak memiliki apa-apa dari diri-Nya sendiri; apa saja yang dikerjakan atau katakan oleh-Nya adalah apa yang didengar-Nya atau dilihat-Nya dari Bapa (Yoh 5:19; 8:28,38; 12:49). Parakletos tidak akan berbicara apa saja dari diri-Nya sendiri; Dia akan mengambil apa yang merupakan kepunyaan Yesus dan kemudian mendeklarasikannya; Dia hanya akan berbicara segala sesuatu yang didengar-Nya (Yoh16:13-15).

Pada waktu Yesus berada di bumi dan Bapa di surga, siapa saja yang melihat Yesus telah melihat Bapa (Yoh 14:9). Pada waktu Yesus telah pergi kepada Bapa, maka siapa saja yang mendengarkan Parakletos akan mendengarkan Yesus. Singkatnya, apa Yesus itu bagi Bapa, adalah apa Parakletos bagi Yesus. Jadi dalam banyak cara Parakletos memenuhi janji Yesus untuk kembali.

Dalam satu bagian bacaan yang bersifat luarbiasa (Yoh 16:7), Yesus mengatakan bahwa lebih baik bagi para murid jika Dia pergi, sebab jikalau Dia tidak pergi Parakletos tidak akan datang kepada mereka. Dalam kemungkinan yang mana sajakah kehadiran Parakletos lebih baik daripada kehadiran Yesus? Barangkali solusinya terletak dalam satu perbedaan besar antara dua kehadiran itu. Dalam Yesus, Sabda menjadi daging; Parakletos tidak menjadi daging. Dalam hidup kemanusiaan Yesus yang nyata-terlihat pada waktu tertentu dan tempat tertentu, kehadiran Allah secara unik dalam dunia, dan kemudian secara badaniah Yesus meninggalkan dunia ini dan pergi kepada Bapa. Kehadiran Parakletos tidak nyata-terlihat, tak dibatasi oleh waktu maupun tempat. Sebaliknya, Parakletos berdiam dalam setiap orang yang mengasihi Yesus dan menuruti perintah-perintah-Nya, sehingga dengan demikian tidak dibatasi oleh waktu (Yoh 14:15-17). Kehadiran Allah sebagai Parakletos berarti tidak ada warganegara kelas dua: Parakletos hadir, dalam diri murid-murid Yesus pada zaman modern sama seperti Dia hadir dalam diri murid-murid Yesus generasi pertama.

Kenyataan itu secara khusus penting apabila kita pertimbangkan satu dari beberapa kegiatan utama sang Parakletos. Parakletos adalah “Roh Kebenaran” yang memberikan bimbingan ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13), Yesus dari Injil Yohanes mempunyai banyak hal yang mau dikatakan-Nya, yang para murid-Nya tidak pernah memahami selagi mereka masih hidup (Yoh 16:12); namun kemudian sang Parakletos datang dan mengambil hal-hal itu dan mendeklarasikannya (Yoh 16:15).

Dengan perkataan lain, Parakletos memecahkan persoalan-persoalan dengan memberikan wawasan-wawasan baru ke dalam suatu perwahyuan yang dibawakan Yesus. Ketika Allah memberikan Anak-Nya, perwahyuan ilahi diperkenankan dalam segala kelengkapannya: Yesus adalah Sang Sabda Allah. Namun di muka bumi ini Sang Sabda berbicara dalam batasan-batasan budaya tertentu dan perangkat isu-isu tertentu. Bagaimana orang-orang Kristiani pada zaman yang berbeda memperoleh bimbingan Allah dalam menangani isu-isu yang sepenuhnya berbeda? Sang Parakletos yang hadir dalam setiap waktu dan budaya tidak membawa perwahyuan baru; melainkan dia mengambil perwahyuan Sang Sabda dan mendeklarasikannya secara baru, dalam menghadapi hal-hal yang akan datang.

Peranan Parakletos dalam Hidup Kristiani. Injil Yohanes selesai ditulis sekitar akhir abad pertama tahun Masehi. Ini adalah waktu di mana sejumlah gereja sedang mengembangkan kuasa mengajar (magisterium) eksternal untuk membimbing mereka yang berada di bawah pemeliharaan pastoral. Misalnya, pidato Paulus dalam Kis 20:28-31 menekankan peranan para penatua (presbiter) di Efesus dalam melindungi umat beriman terhadap penyimpangan-penyimpangan aneh dari kebenaran.

Surat-surat pastoral Paulus juga memimpikan para penatua-uskup yang berpegang pada doktrin yang benar yang mereka telah ajarkan (Tit 1:9) sebagai suatu tolok ukur dalam menilai apa yang absah dalam pendekatan-pendekatan baru yang mana saja.

Akan tetapi Yohanes menekankan berdiamnya Parakletos, pembimbing kepada segala kebenaran, yang dianugerahkan kepada setiap orang percaya, sehingga 1Yoh 2:27 dapat berkata mengenai Roh Kudus, “… di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain.” Ada suatu kecenderungan dalam sejarah Kekristenan untuk memperkenankan salah satu dari pendekatan ini mendominir; namun sebagai pendekatan tunggal, masing-masing memiliki kekurangan.

Para pengajar yang kekuatan satu-satunya adalah berpegang pada tradisi, cenderung untuk memandang semua gagasan baru sebagai hal yang berbahaya. Roh Kudus adalah pembimbing yang penuh semangat dan lebih baik dalam menyesuaikan diri menghadapi hal-hal yang akan datang. Namun manakala dua orang percaya – yang mengklaim mereka dibimbing oleh Parakletos yang berdiam dalam diri mereka masing-masing – saling tidak bersetuju, maka seringkali kedua belah pihak tidak dapat mengakui kemungkinan adanya kesalahan pada pihak masing-masing, dengan demikian cenderung untuk pecah tanpa dapat direkonsiliasikan.

Dalam liturgi menjelang Hari Raya Pentakosta, Gereja membaca Kisah para Rasul bersama dengan Injil Yohanes, jadi secara implisit mengingatkan dirinya sendiri, bahwa bimbingan bagi umat Kristiani menyangkut suatu “proses saling mempengaruhi” antara instruksi eksternal dari para pengajar berpengalaman dan gerakan-gerakan internal dari Parakletos. Kedua faktor ini adalah hakiki untuk memampukan Gereja untuk mengkombinasikan tradisi yang absah dan wawasan-wawasan baru.

Satu isu lagi yang mempengaruhi hidup Kristiani pada akhir abad pertama adalah kesenjangan yang disebabkan oleh kematian generasi para saksi mata yang merupakan mata-rantai hidup antara gereja-gereja dan Yesus dari Nazaret. Bagi komunitas Yohanes, dampak penuh isu ini muncul serta terasa dengan kematian sang “Murid yang dikasihi Yesus”, saksi mata nan sempurna (par excellence) (Yoh 19:35; 21:24), suatu kematian yang kelihatannya terjadi pada saat-saat sebelum Injil-nya tersusun dalam bentuk final. Bagaimana komunitas Yohanes akan survive tanpa kehadiran “mata-rantai hidup utama” dengan Yesus itu?

Konsep Parakletos/Roh memberi jawaban atas persoalan ini. Kalau sang “Murid yang dikasihi” telah memberikan kesaksian tentang Yesus, itu bukanlah hanya disebabkan ingatannya. Bagaimana pun juga, para murid telah melihat Yesus dan tidak mengerti (Yoh 14:9). Hanya anugerah Roh pasca-kebangkitan-lah yang mengajar para murid tentang makna sepenuhnya dari segala sesuatu yang telah mereka lihat (Yoh 2:22; 12:16); dan kesaksian mereka adalah kesaksian sang Parakletos yang berbicara melalui mereka (Yoh 15:26-27).

Secara khusus, penafsiran kembali secara mendalam mengenai pelayanan dan sabda-sabda Yesus yang dilaksanakan di bawah bimbingan sang “Murid yang dikasihi” dan yang sekarang ditemukan dalam Injil Keempat adalah karya sang Parakletos. Sesungguhnya, sang “Murid yang dikasihi” dalam arti figuratif, adalah “inkarnasi” dari Parakletos. Dan sang Parakletos ini tidak akan menghentikan kegiatannya pada waktu para saksi mata telah “pergi”, karena Dia berdiam di dalam diri semua orang Kristiani yang mengasihi Yesus dan mengikuti perintah-perintah-Nya (Yoh 14:17). Sang Parakletos ini adalah mata- rantai yang menghubungi generasi-generasi mendatang dengan Yesus, sehingga secara hakiki orang-orang Kristiani pada berbagai zaman berada dekat dengan Yesus, sama seperti orang-orang Kristiani paling awal.

Isu ketiga adalah kesedihan mendalam yang disebabkan oleh tertundanya kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Dalam periode setelah 70 M, harapan akan kedatangan kembali Yesus mulai memudar. Hal ini telah diasosiasikan dengan penghakiman Allah yang penuh kemurkaan atas Yerusalem (Mrk 13), namun sekarang Yerusalem telah dihancurkan oleh tentara Romawi dan Yesus belum datang-datang juga. Secara khusus, kedatangan kembali Yesus telah diharapkan untuk terjadi dalam masa hidup dari mereka yang telah bersama-sama dengan Dia (Mrk 13:30; Mat 10:23). Ada orang-orang dalam komunitas Yohanes telah mengharapkan kedatangan-Nya kembali sebelum kematian dari sang “Murid yang dikasihi Yesus” (Yoh 21:23); namun sekarang kematian ini akan segera terjadi atau bahkan telah menjadi suatu realita, dan Yesus belum juga datang kembali. Bahwa penundaan ini menyebabkan skeptisisme terlihat dalam 2 Ptr 3:3-8, di mana jawabannya diberikan bahwa berapa lama pun jangka waktunya, kedatangan kembali Tuhan Yesus akan terjadi dalam waktu cepat, karena bagi Tuhan seribu tahun sama dengan satu hari.

Jawaban dari tradisi Yohanes lebih mendalam. Pengarang Injil Yohanes tidak kehilangan iman akan kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya, akan tetapi menekankan bahwa banyak fitur yang diasosiasikan dengan itu sudah merupakan realitas hidup Kristiani (penghakiman, ke-anak-an ilahi, hidup kekal). Dan dengan satu cara yang riil telah datang kembali selama masa hidup para sahabat-Nya, karena Dia telah datang dalam dan melalui sang Parakletos. Orang-orang Kristiani dengan tradisi Yohanes (Johannine Christians) tidak perlu hidup dengan mata yang terus-menerus menatap langit dari mana Anak Manusia akan datang; karena sebagai Parakletos, Yesus hadir dalam diri semua orang percaya: sebagai Penolong mereka, Penghibur mereka, sebagai Pembimbing mereka kepada segala kebenaran.

AYAT-AYAT TENTANG PARAKLETOS

Yoh 14:15-17
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong (Parakletos) yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”

Yoh 14:25-26
“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong (Parakletos), yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Yoh 15:26-27
“Jikalau Penolong (Parakletos) yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.”

Yoh 16:7-11
“Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong (Parakletos) itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.”

Yoh 16:12-15
“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.”

Untuk direnungkan:
 Peran apa yang dimainkan oleh Roh Kudus dalam hidup anda? Bagaimana anda dapat menjadi lebih sadar akan kehadiran sang Parakletos yang membimbing dan menghibur anda?
 Diskusikanlah sikap yang diambil oleh komunitas Yohanes sehubungan dengan kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya. Bagaimana hal ini mempengaruhi kepercayaan anda sendiri tentang kedatangan kembali Tuhan?

Sumber: “The Holy Spirit as Paraclete – The Gift of John’s Gospel”, SCRIPTURE FROM SCRATCH, May 1998 N0598. Terjemahan bebas dilakukan oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS untuk keperluan Studi Alkitab dalam sebuah kelompok beberapa tahun lalu. Pada waktu menulis artikel ini Pater Raymond E. Brown, SS (almarhum) adalah Auburn Distinguished Professor Emeritus of Biblical Studies di Union Theological Seminary, New York. Beliau telah dua kali diangkat sebagai anggota “Komisi Kitab Suci Kepausan”, oleh Paus Paulus VI di tahun 1972 dan oleh Paus Yohanes Paulus II di tahun 1996.

Revisi terakhir: 24 Mei 2012 oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUASA ROH KUDUS DALAM GEREJA PERDANA

KUASA ROH KUDUS DALAM GEREJA PERDANA

Sepanjang “Kisah para Rasul”, pesan terus-menerus yang dapat disimpulkan adalah sangat sederhana: Manakala Roh Kudus turun, maka hidup orang pun diubah. Kita lihat ini dalam hal para rasul, yang bersama-sama dengan Bunda Maria berkumpul dalam ruang atas pada hari Pentakosta. Kita lihat hal yang sama terjadi di kota-kota Samaria, Antiokhia dan Efesus. Bahkan kita melihat itu dalam diri orang-orang yang jauh dari Kristus seperti Saulus dari Tarsus, yang menganiaya gereja. Dalam semua peristiwa ini – dan di banyak peristiwa lain – kita lihat Roh Kudus yang datang dengan kuasa dan menyalakan api yang menyapu dunia pada waktu itu. Dalam tulisan singkat ini kita ingin melihat apa yang dilakukan oleh Roh Kudus untuk mengubah orang-orang biasa menjadi orang-orang yang penuh sukacita, para pengikut Yesus yang penuh komitmen dan pewarta-pewarta Kabar Baik yang tak kenal takut.

Kuasa dari Pernyataan Kasih Allah. Santo Yohanes mengatakan kepada kita bahwa, pada perjamuan terakhir Yesus berjanji pada para murid-Nya, “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23). Beberapa tahun kemudian, ketika merenungkan pengalamannya akan janji ini, Santo Paulus menulis, “… kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Janji Yesus telah dipenuhi! Roh Kudus telah dicurahkan dan pencurahan itu telah memberikan kepada orang-orang Kristiani awal suatu kesadaran penuh kegembiraan yang meluap-luap akan kasih Allah.

Allah sungguh mengasihi mereka! Pernyataan kasih Allah ini mengubah seluruh hidup mereka. Tidak lagi sekadar merupakan suatu pernyataan fakta. Tidak hanya sesuatu yang Yesus telah katakan kepada mereka. Pernyataan kasih Allah begitu riil bagi mereka, sampai-sampai membuang rasa bersalah, membebaskan mereka dari rasa takut dan mengatasi dosa mereka. Kasih Allah menghangatkan hati mereka sehingga mampu menerima satu sama lain – bahkan orang-orang non-Yahudi sekali pun, yang tidak pernah dinilai pantas untuk diperhatikan Allah (lihat Kis 11:18). Begitu besar dan agung kasih Allah yang mereka alami, sehingga saling mengasihi antara mereka diwujudkan dalam tindakan nyata selagi mereka berdoa bersama dan mengurusi orang-orang miskin di tengah-tengah mereka (Kis 2:44-47).

Kasih Allah yang dicurahkan oleh Roh Kudus ini, merupakan fondasi dari seluruh pesan Injil. Ini adalah alasan paling mendasar bagi keberadaan gereja, kunci bagi segala pertanyaan teologis dan jawaban bagi setiap krisis yang dihadapi individu-individu dan bangsa-bangsa. Kasih ini bukan sebagai hasil dari kerja keras seseorang, melainkan suatu afeksi dari Bapa surgawi yang tak kunjung lelah, meski dalam situasi kedosaan dan pemberontakan kita. Seperti ditulis oleh Paulus, “… Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8).

Kisah Para Rasul merupakan sebuah kesaksian tetap tentang fakta bahwa manakala Roh Kudus menyatakan kasih Allah, maka segala aspek kehidupan mengambil suatu perspektif yang baru. Dosa-dosa kita di masa lampau sepenuhnya diampuni. Masa depan kita terjamin. Dan kepada kita diberikan keberanian untuk bekerja melalui hari ini dengan segala keprihatinan dan masalahnya. Karena kita telah mengalami kasih ilahi yang berlimpah, kita “bergembira dengan rasa sukacita yang mulia dan tidak terkatakan” (1 Ptr 1:8), yang meliputi setiap aspek kehidupan kita.

Suatu Hidup Penyerahan Diri. Selagi mereka mengalami berdiamnya Roh dalam diri mereka, para murid dipaksa untuk menyerahkan hidup mereka kepada Yesus dan kepada misi gereja-Nya. Kehidupan batin mereka diubah sampai satu titik di mana mereka memutuskan “untuk tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Kor 5:15). Jadi, tidak cukup hanya mengambil suatu gaya hidup yang baru, yang lebih idealistis. Roh Kudus telah “menyerbu” mereka, sehingga – betapa pun lemah dan berdosa mereka sebelumnya – mereka ingin menyediakan diri secara terpisah bagi Tuhan, mempersembahkan diri mereka sendiri sebagai “kurban persembahan yang hidup” bagi Allah(Rm 12:1).

Santo Paulus menjelaskan penyerahan diri kepada Yesus ini dengan membuat sebuah proklamasi yang masih dapat menyentuh hati kita hari ini: “… bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20).

Bagi Paulus dan semua orang Kristiani awal, Roh Kudus yang meliputi mereka juga meyakinkan mereka untuk berserah diri kepada Yesus setiap hari. Roh Kudus telah menyatakan Yesus kepada mereka, tidak hanya sebagai seseorang yang mengasihi mereka secara mendalam, tetapi juga sebagai Tuhan segala ciptaan, yang memang layak dan pantas ditaati, dikasihi dan disembah. Paulus menggambarkan proses ketaatan itu sebagai berikut: “… apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia …” (Flp 3:7-9).

Paulus, Petrus dan semua murid berusaha untuk membuka setiap aspek hidup mereka bagi Roh Kudus dan memperkenankan kasih yang mereka terima dalam hati mereka untuk memperbaharui pikiran-pikiran mereka, hasrat-hasrat mereka, keputusan-keputusan mereka dan relasi-relasi mereka. Mereka belajar untuk “menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (lihat 2 Kor 10:5), dan memperkenankan diri mereka sendiri diubah “oleh pembaruan budi mereka” (lihat Rm 12:2).

Sampai ke Ujung-ujung Bumi. Meski mereka ditangkap (Kis 4:1-4), dianiaya (Kis 5:40) dan diancam pembunuhan (Kis 9:1), orang-orang Kristiani awal terus melanjutkan permakluman bahwa Yesus Kristus disalibkan dan dibangkitkan dari antara orang mati. Sementara mereka terus membuka hidup mereka bagi kuasa Roh Kudus, mereka mengalami suatu hasrat yang membara untuk berbagi Injil dengan orang-orang lain. Tidak lebih dari dua bulan setelah melihat Guru mereka ditangkap dan disalibkan, dengan berani Petrus mengatakan kepada mereka yang bertanggung jawab atas penyaliban Yesus, “Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36).

Demikian pula dengan para murid yang lain. Setelah melihat bagaimana saudara mereka Stefanus mati di tangan tua-tua Yahudi, semua murid yang melarikan diri dari Yerusalem samasekali tidak berpeluk tangan dan tidak melakukan apa-apa. “Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil” (Kis 8:4). Di Samaria, “orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitakannya itu. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu” (Kis 8:6,8). Kemudian Lukas bercerita kepada kita, “Sementara itu saudara-saudara seiman yang tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus, menyingkir sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi juga” (Kis 11:19). Karena sekelompok kecil laki-laki dan perempuan, api kebangunan baru menyebar ke seluruh Asia Kecil.

Mengapa para murid mengambil risiko begitu besar, risiko dianiaya dan maut? Sekali lagi Paulus memberi jawabannya: “… kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Kor 5:14-15). Pengalaman akan kasih Allah yang semakin mendalam dengan berjalannya waktu ditambah dengan sikap serta tindakan penyerahan hidup mereka kepada Kristus yang terus berlanjut, memimpin para murid untuk berkeinginan memberitakan kepada setiap orang semampu mungkin mengenai keselamatan yang tersedia bagi mereka dalam Yesus.

Datanglah, Tuhan Yesus! Roh Kudus menyentuh hati para murid dengan begitu mendalamnya sehingga mereka mengalami suatu kerinduan untuk dapat bersama Yesus dan memandang-Nya secara muka-ketemu-muka. Roh Kudus ini, yang adalah “jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya” (Ef 1:14), memberikan kepada mereka suatu citarasa bagaimana kiranya hidup kekal bersama Yesus kelak, sehingga gereja awal pun berseru, “Amin, datanglah, Tuhan Yesus” (Why 22:20).

Orang-orang Kristiani awal mengerti bahwa hidup dalam dunia ini hanyalah bersifat sementara, dan bahwa rumah mereka yang benar dan akhir adalah dalam surga, bersatu dengan Tuhan. Pada kenyataannya, iman dan harapan akan kedatangan kembali Yesus inilah yang menopang gereja dalam waktu-waktu sulit dan pengejaran serta penganiayaan: “Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia” (2 Tim 2:12). Apa lagi yang dapat lebih memberikan harapan daripada janji akan hidup kekal dan mulia bersama dengan Dia yang telah mengasihi kita dengan begitu setia?

Orang-orang Biasa Diubah secara Luar Biasa. Sekarang kita mempunyai kesempatan indah untuk membuka hati kita secara lebih penuh lagi bagi kuasa-mengubah dari Roh Kudus. Tujuan-tujuan Allah tidak pernah berubah. Segalanya yang dialami oleh para murid Yesus sekitar 2000 tahun lalu masih tetap tersedia bagi kita hari ini. Sama seperti yang terjadi dengan mereka dulu dapat juga terjadi dengan kita.

Kalau kita ingin mengetahui karya Roh Kudus dalam hidup kita, kita harus memahami bahwa para murid Yesus yang awal bukanlah orang-orang yang luarbiasa. Mereka hanyalah mantan nelayan, mantan pemungut cukai, mantan anggota kaum pejuang zeloti dll. Mereka tidak datang berkumpul, lalu menyusun sebuah rencana untuk mengubah dunia. Mereka adalah orang-orang lemah dan berdosa, seperti kita juga, dan mereka tahu bahwa hanya Roh Kudus yang dapat melakukan pekerjaan yang telah dipercayakan oleh Yesus kepada mereka. Itulah mengapa mereka tidak langsung pergi menginjil ke mana-mana, tetapi mengikuti permintaan Yesus agar mereka tetap berdiam di Yerusalem, berdoa dan menantikan kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan itu (lihat Luk 24:49).

Marilah kita mencontoh para murid Yesus dulu, dengan menyediakan waktu ekstra untuk berdoa. Marilah kita merenungkan sabda Allah dan mohon kepada-Nya untuk memenuhi kita lebih lagi dengan Roh Kudus. Marilah kita menantikan pemenuhan janji Yesus: “… kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8).

Sumber: “The Power of the Spirit in the Early Church” , the WORD among us, Easter 1998, hal. 6-10. Terjemahan dengan sedikit perubahan oleh Sdr. Frans X. Indrapradja, OFS pada tahun 2004 untuk bahan rekoleksi dan studi Alkitab.

STUDI ALKITAB TENTANG KITAB WAHYU (7)

WAHYU KEPADA YOHANES 

Pertemuan ke-4: TUJUH GEREJA DAN MASALAH-MASALAH YANG DIHADAPI 

AWAL DAN PERKEMBANGAN KITAB WAHYU 

Seorang arsitek yang berpengalaman mampu untuk menarasikan sejarah sebuah rumah. Dari pengamatannya yang serius dia dapat mengetahui bahwa serambi di rumah itu adalah tambahan, dapur sudah diperluas dan seterusnya. Why adalah seperti sebuah rumah. Kitab ini telah diperluas secara bertahap, sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan ketujuh komunitas. Seperti sang arsitek berpengalaman di atas, ada juga sejumlah pakar tafsir Kitab Suci yang  setelah mempelajari Why berkesimpulan seperti akan diuraikan berikut ini. 

Yohanes mula-mula menyusun bab-bab 4-11, barangkali di tahun 64M pada waktu pengejaran/penganiayaan oleh kaisar Nero. Pada waktu pengejaran/penganiayaan semakin intensif terasalah bahwa bab-bab 4-11 itu menjadi tidak memadai. Oleh karena itu ‘rumah’ harus diperluas. Umat Kristiani membutuhkan suatu refleksi yang lebih mendalam atas pengejaran/penganiayaan, juga atas politik kekaisaran Roma. Untuk menghadapi masalah ini Yohanes menulis bab-bab 12-22, barangkali pada tahun 95M pada masa pengejaran/ penganiayaan oleh kaisar Domitianus. Akhirnya, Yohanes menambahkan bab-bab 1-3 dan juga membuat lengkap bab 22. 

Anda dapat bertanya bagaimana kita dapat mengetahui hal ini? Saya dapat balik bertanya kepada anda, “Bagaimana sang arsitek mengetahui perkembangan historis dari rumah tertentu?” Anda menjawab, “Karena arsitek itu seorang spesialis.”  Demikian pula halnya dengan Why! Kita mengetahui tentang perkembangan Why secara bertahap juga dari para spesialis di bidang tafsir Kitab Suci. 

Why 1-3 di mana kita dapat menemukan ‘surat-surat kepada tujuh komunitas’ seakan-akan merupakan pintu masuk utama ke dalam kitab ini secara keseluruhan. Ketiga bab pertama ini mengubah Why menjadi sepucuk surat yang hangat dan mengundang. Ketiga bab ini seperti serambi rumah, di mana Yohanes menyambut para anggota komunitas yang teraniaya. Marilah kita memasukinya. 

Judul dan Introduksi (1:1-3) 

Ikhtisar. Judul kitab ini adalah: “Inilah wahyu Yesus Kristus” (1:1). Introduksi (1:1-3) menunjuk pada asal-usul perwahyuan ini: datang dari Allah melalui Yesus (1:1). Di sini dijelaskan nilainya: firman Allah yang dikonfirmasi oleh Yesus (1:2). Diindikasikan juga tuntutannya: perwahyuan ini harus didengarkan dan dipraktekkan (1:3), imbalannya: kebahagiaan [1:3], dan urgensinya: “sebab waktunya sudah dekat” (1:3).

Ayat pertama Why berbunyi: “Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi. Ia telah menyatakannya kepada hamba-nya Yohanes dengan perantaraan malaikat-Nya yang diutus-Nya” [1:1]. Jadi, Yesus adalah sumber perwahyuan ini. Secara tradisional dalam sastra apokaliptis, malaikat adalah utusan Allah. Sebagai ungkapan rasa hormat mereka, orang-orang Yahudi tidak menyebutkan nama Ilahi. Pada awalnya mereka menyebut-Nya dengan nama Elohim, namun nama Allah adalah YHWH. Hanya satu orang saja, setahun sekali – pada hari suci tertinggi – yang diperkenankan untuk menyebut nama YHWH ini. Orang ini adalah Imam Besar, dan tempatnya adalah di dalam bagian  dalam Bait Allah, ‘yang Kudus dari yang Kudus’. Maka dalam literatur kuno Yahudi, malaikat-malaikatlah yang dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan ilahi karena Allah dan nama-Nya begitu suci. Nah, Yohanes menggunakan bentuk penggambaran yang sama. 

Sapaan awal (1:4-8) 

Why 1:4-6. Yohanes memulai kitabnya dengan ucapan semoga karunia (anugerah) dan damai sejahtera Allah Tritunggal Mahakudus menyertai ketujuh komunitas Kristiani itu. Tujuh adalah angka simbolis dalam Why. Angka tujuh atau kelipatannya, atau kombinasinya, berarti kepenuhan atau kesempurnaan. Kadang-kadang angka kombinasinya adalah tiga atau empat, ditambahkan sehingga memberikan hasil angka tujuh, atau dikalikan sehingga memberikan hasil angka dua belas. Maka kalau kita melihat angka 7, 4, 3 atau 12, hal ini berarti kita memiliki lambang kepenuhan atau kesempurnaan. Hal ini berarti kepenuhan Roh Tuhan. 

Kalau kita berbicara mengenai Allah Tritunggal Mahakudus, maka kita mengatakan, “Bapa dan Putera dan Roh Kudus”. Namun Yohanes mengatakan yang sama dengan kata-kata yang berbeda: “Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya, dan dari Yesus Kristus” [1:4-5]. Manakala kita menyebut nama seorang pribadi, kita sesungguhnya telah mengetahui tentang orang itu dan apa yang kita harapkan dari dia. Sekarang kita lihat apa yang dipikirkan Yohanes tentang Allah Tritunggal dan apa yang diharapkan olehnya dari-Nya. 

1.     Bapa: “Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang”  

Pada awal Why Allah Bapa disebut sebagai “Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang” [1:4; 4:8]. Di bagian belakang, nama-Nya adalah “yang ada dan yang sudah ada” [11:17], karena Dia tidak akan datang lagi sebab Dia sudah datang dan menggenapi rencana-nya. Memang Why menggambarkan kedatangan Allah ke dalam sejarah umat-Nya. Dia bukanlah Allah yang jauh, di luar sejarah, melainkan Allah yang ada/hadir dalam sejarah. Dia mempunyai masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Dia sudah ada, Dia ada, dan Dia akan datang. Sejarah Allah adalah sejarah umat Allah. Dia selalu berada dan berjalan bersama umat-Nya. 

Nama panggilan Allah sebagai ‘yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang’ mengingatkan kita pada kata-kata yang digunakan oleh Allah ketika menjelaskan kepada Musa tentang arti dari nama-Nya, YHWH, yaitu “Aku adalah Aku yang ada” [Ibrani: ehyeh ašer ehyeh; Kel 3:14]. Bagi Yohanes, Allah dari komunitas-komunitas Kristiani adalah Allah yang sama dengan Allah yang membebaskan umat-Nya dari perbudakan Mesir, yang memperkenalkan diri kepada Musa sebagai YHWH. Allah yang selalu hadir, Allah sang Pembebas. Firman-Nya kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: YHWH, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun temurun” [Kel 3:15]. 

2.     Roh Kudus: “ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya” 

Roh-roh, artinya tindakan Allah yang tak terlihat dalam kehidupan dan sejarah umat manusia. “… Roh Tuhan memenuhi dunia semesta” [KebSal 1:7]. Mengapa tujuh roh? Karena menunjukkan kepenuhan tindakan Allah dalam dunia untuk melaksanakan rencana-Nya dalam praktek. Roh-roh itu ada ‘di hadapan takhta-Nya’, hal ini berarti bahwa roh-roh itu selalu siap untuk melaksanakan perintah dari Bapa [5:6]. 

3.     Putera: “Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini” 

Dalam Why, kepada Yesus diberikan beberapa nama, masing-masing nama mengungkapkan satu ciri pribadi dari diri-Nya. Saksi yang setia: Yesus memberikan bukti bahwa Allah itu setia dalam memenuhi janji-janji-Nya. Yang pertama bangkit dari orang mati: Yesus – saudara kita yang sulung – telah mengalahkan kematian dan sekarang hidup. Dalam Dia telah dipenuhilah janji yang dibuat Bapa kepada kita semua [1:18]. Yang berkuasa atas raja-raja bumi ini: Yesus memiliki kuasa untuk memenuhi janji Bapa. Raja-raja di bumi, termasuk kaisar Roma, tidak mampu mencegah-Nya. Yesus adalah yang paling kuat, posisi-Nya adalah di atas raja-raja bumi itu, malah Dia menguasai mereka. ‘Gelar-gelar’ atau ‘julukan-julukan’ yang diberikan kepada Yesus ini, kemudian kalau digabung dengan frase ‘yang mengasihi kita dan telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya’ , sebenarnya berbicara mengenai Sengsara, Kebangkitan dan pengangkatan-Nya ke surga, semuanya menunjukkan superioritas-Nya atas raja-raja bumi. Ingatlah bahwa tujuan Why adalah mengingatkan para penguasa di bumi bahwa Yesus adalah sang Pemenang. Oleh karena itu Why sejak awal mengatakan bahwa Yesus-lah – bukan kaisar Roma – yang merupakan Penguasa seluruh dunia [JT, hal. 29]. 

Yesus yang perkasa dan setia ini adalah saudara kita, dan Dia mengasihi kita [1:5]. Sesungguhnya Dia begitu mengasihi kita sehingga menumpahkan darah-Nya guna memerdekakan kita [1:5] dan membuat kita ‘suatu kerajaan imam’ [1:6]. Yesus memiliki ‘kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya’ [1:6]. 

Why 1:7-8. Pada akhir zaman, Yesus akan datang kembali di atas awan-awan dan semua mata akan melihat Dia – bahkan mereka yang telah menyalibkan/menikam Dia dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia [1:7]. “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan” merupakan acuan langsung kepada sebuah ayat Perjanjian Lama: “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia …” [Dan 7:13; bdk. Mat 24:30]. Datang ‘dengan awan-awan’ mengindikasikan kedatangan Mesias, Hakim dunia. 

Firman Tuhan Allah: “Akulah Alfa dan Omega”. Alfa dan Omega adalah huruf-huruf pertama dan terakhir dalam bahasa Yunani – yang melambangkan totalitas. Yesus adalah awal dan akhir. 

Catatan: Sapaan-awal/salam [1:4-8] sebenarnya merupakan ikhtisar singkat dari seluruh Kabar Baik yang mau disampaikan oleh Why

Awal dari Kitab Wahyu: berjumpa dengan Yesus dalam penglihatan [1:9-20] 

Why 1:9-16. Waktu itu hari Minggu, ‘pada hari Tuhan’ [1:10] di pulau Patmos [1:9]. Setelah menjelaskan bagaimana dia sampai ke pulau Patmos, Yohanes menggambarkan penglihatan pertamanya. Dalam penglihatan itu Yohanes bertemu dengan Yesus. Yesus memberi perintah kepada Yohanes sebelum dia berpaling kepada-Nya: “Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia” [1:11] Yohanes melihat ‘seorang yang serupa Anak Manusia’ [1:13] dan menggambarkannya seperti yang dilakukan Daniel dalam Dan 7:9-15. ‘Jubah-Nya  yang panjang sampai di kaki’ melambangkan imamat’ [1:13]; ‘ikat pinggang dari emas’ melambangkan martabat-Nya sebagai raja [1:13]; ‘kepala dan rambut-Nya yang putih seperti bulu domba, seputih salju’ melambangkan keabadian [1:14]; ‘mata-Nya yang bagaikan nyala api’ melambangkan pengetahuan yang tanpa batas [1:14]; ‘kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian’ melambangkan bahwa Dia tidak dapat diubah [1:15]; ‘suara-Nya bagaikan desau air bah’ melambangkan otoritas ilahi [1:15]; ‘sebilah pedang tajam bermata dua’ melambangkan sabda/firman Allah yang akan memberi imbalan dan menghukum pada hari Pengadilan Terakhir [1:16]; dan ‘wajah-Nya yang bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik’ melambangkan keagungan ilahi [1:16]. 

Kita akan lihat, bahwa pada akhir penglihatan Yesus mengulangi perintah yang sama [1:19]. Ini adalah penglihatan yang penting. Oleh karena itu pentinglah untuk mempelajarinya dengan lebih mendalam. 

Why 1:17-18. Yohanes menulis: “Ketika aku melihat Dia, sujudlah aku di depan kaki-Nya.”  Kita pun harus melakukannya dengan penuh kerendahan-hati di hadapan Tuhan. Yesus meletakkan tangan kanan-Nya di atas Yohanes, lalu berkata: “Jangan takut! Akulah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.”  Kata ‘kunci’ merupakan sebuah lambang. Jika kita memiliki kunci, maka kita dapat masuk dan keluar. Kita dapat mengunci dari dalam maupun dari luar. Kita menjadi tuan-tuan dari rumah-rumah kita sendiri karena kita mempunyai kunci yang diperlukan. Yesus adalah Tuan dari alam semesta karena Dia mempunyai kunci-kunci

Why 1:19-20. Yesus berkata lagi kepada Yohanes: “Karena itu, tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.” Ini adalah privilese para nabi. Tuhan menganugerahkan kepada mereka kuasa untuk memandang hal-hal yang terjadi sekarang dan hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang. Akhirnya, pada ayat terakhir bab ini [1:20], Yesus menjelaskan kepada Yohanes arti rahasia dari ketujuh bintang yang dipegang dengan tangan kanan-Nya dan ketujuh kaki pelita emas itu: Ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki pelita itu ialah ketujuh jemaat. Ketujuh bintang merupakan suatu allusi kepada kekuasan kekaisaran pada waktu itu – mahkota-mahkota para kaisar dihiasi dengan tujuh planet dunia, hal mana mengindikasikan bahwa para kaisar tersebut adalah penguasa jagad raya. Akan tetapi Yesus memegang tujuh bintang. Hal ini berarti bahwa Dia memegang kekuasaan penuh atas semua gereja dan juga memberikan perlindungan penuh atas berbagai komunitas Kristiani yang ada. Sesungguhnya Dia memegang seluruh dunia dalam tangan-Nya. 

BEBERAPA CATATAN  

1.     Kunci untuk memahami penglihatan dengan lebih baik menurut P. Carlos Meester 

Suatu penglihatan adalah seperti sebuah mimpi; artinya tidak dapat dipahami secara harfiah, kata demi kata. Di samping itu pemahaman secara harfiah atau literer itu tidaklah mungkin. Bagaimana kita memahami frase-frase seperti ‘kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian’ [1:15], ‘wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik’ [1:16], ‘dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua’ [1:16]? Yohanes lebih merupakan seniman daripada seorang wartawan. Penglihatannya adalah ekspresi dari suatu pengalaman yang tidak dapat diekspresikan. Tentunya Yohanes mempunyai pengalaman mendalam akan kuasa, kasih dan kekudusan Yesus; dan dengan menggunakan gambaran-gambaran (imaji), dia mencoba untuk menyampaikan pengalaman pribadinya kepada orang lain. Yohanes menggunakan gambaran-gambaran yang sudah dikenal baik, yang dapat dimengerti oleh orang-orang biasa. Orang-orang itu dapat saja tidak memahami segala detil dari apa yang disampaikan, namun mereka dapat mengira-ngira arti dari keseluruhannya, karena mereka memiliki iman yang sama akan Yesus Kristus. 

Pater Carlos Meester menyimpulkan sebagai berikut: Untuk memahami penglihatan-penglihatan itu, studi saja tidak cukup. Seseorang harus memiliki iman yang sama dan pengalaman akan Allah dan Yesus yang sama pula. Penglihatan-penglihatan itu merupakan sebuah tantangan riil bagi kita [CM, hal. 56]. 

2.     Beberapa petunjuk untuk memahami dengan lebih baik detil-detil penglihatan menurut P. Carlos Meester[1] 

‘Tujuh kaki pelita dari emas’ [1:12] adalah tujuh komunitas Kristiani/ jemaat/ gereja. ‘Anak Manusia’ [1:13] adalah Yesus, sang Mesias. ‘Jubah panjang’ [1:13] adalah tanda imamat-Nya. ‘Ikat pinggang dari emas’ mengingatkan kita bahwa Dia adalah Raja. ‘Rambut putih’ [1:14] menunjukkan keabadian. ‘Mata-Nya bagaikan nyala api’ [1:14] menunjukkan pengetahuan ilahi-Nya. ‘Kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian’ [1:15] adalah tanda-tanda stabilitas dan kekuatan. ‘Suara-Nya bagaikan desau air bah’ [1:15] mengungkapkan keagungan dan kuasa-Nya. ‘Ketujuh bintang di tangan-Nya [1:16] adalah tujuh koordinator, atau malaikat pelindung dari komunitas-komunitas Kristiani. ‘Sebilah pedang tajam bermata dua’ yang keluar dari mulut-Nya adalah Sabda/Firman yang memiliki Kuasa Allah. ‘Wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik’ [1:16] melambangkan kekuasaan/otoritas-Nya. Di hadapan Yesus, Yohanes ‘bersembah-sujud di depan kaki-Nya seperti orang yang mati’ [1:17]: gesture ini mencerminkan situasi dari komunitas-komunitas Kristiani, yang dicekam rasa takut akan penganiayaan dan kematian. 

Pada titik ini, dalam penglihatan Yohanes, Yesus mulai bertindak. Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atas Yohanes, lalu berkata, “Jangan takut! Akulah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut” [1:17-18]. Carlos Meester mengatakan, bahwa gesture ini dan sabda Yesus ini mengekspresikan jauh lebih banyak daripada penjelasan yang telah diberikan olehnya sebelumnya [CM, hal. 56-57]. 

Tujuh surat kepada tujuh komunitas [2:1-3:22] 

Ini adalah surat-surat yang pendek, sederhana dan bersifat pribadi, yang dialamatkan kepada komunitas-komunitas di Efesus [2:1-7], Smirna [2:8-11], Pergamus [2:12-17], Tiatira [2:18-29], Sardis [3:1-6], Filadelfia [3:7-13] dan Laodikia [3:14-22]. 

Ketujuh surat ini mengambil format yang sama, meskipun dengan sedikit variasi. Ada perbedaan-perbedaan dalam pesan yang disampaikan, namun pada dasarnya surat-surat tersebut mempunyai bidang kepentingan yang serupa. Masing-masing komunitas mempunyai tujuh kekhususan: 

  1. Setiap surat mulai dengan sebuah perintah untuk menulis kepada ‘malaikat komunitas’ masing-masing [2:1.8.12.18; 3:1.7.14].
  2. Semua surat disajikan sebagai pesan Yesus: “Inilah firman dari ……” [2:1.8.12.18; 3:1.7.14].
  3. Pada setiap surat Yesus diberikan suatu gelar, misalnya ‘Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki pelita emas itu’ [2:1]; ‘Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali’ [2:8] dan seterusnya [lihat juga 2:12.18; 3:1.7.14].
  4. Maksud Yohanes  melaporkan ‘pesan profetisnya’ (pesan kenabiannya) adalah untuk  “bersaksi tentang firman Allah dan tentang kesaksian yang diberikan oleh Yesus Kristus” [Why 1:2]. Ungkapan “Aku tahu” mempersonifikasikan  Yesus Kristus:
    1. Kepada jemaat di Efesus: “Aku tahu bahwa engkau tidak dapat sabar …” [2:2].
    2. Kepada jemaat di Smirna: “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu … [2:9].
    3. Kepada jemaat di Pergamus: “Aku tahu di mana engkau tinggal …” [2:13].
    4. Kepada jemaat di Tiatira: “Aku tahu segala pekerjaanmu …” [2:19].
    5. Kepada jemaat di Sardis: “Aku tahu segala pekerjaanmu …” [3:1].
    6. Kepada jemaat di Filadelfia: “Aku tahu segala pekerjaanmu …” [3:8].
    7. Kepada jemaat di Laodikia: “Aku tahu segala pekerjaanmu …” [3:15].

Setelah mengatakan “Aku tahu” Yesus menggambarkan hal-hal yang positif dari komunitas bersangkutan [2:2-3.9.13.19; 3:8]. Kekecualian adalah komunitas di Sardis dan Laodikia.

  1. Kemudian Yesus menggambarkan hal-hal negatif dari masing-masing komunitas dan Ia pun memberikan peringatan kepada mereka [2:4-6. 14-16. 20-25; 3:2-3. 15-19]. Dua komunitas – Smirna dan Filadelfia – tidak menunjukkan sesuatu yang negatif; Yesus menyemangati dan mendorong mereka untuk bertekun [2:10; 3:11]. Dalam komunitas Sardis, hal-hal yang negatif lebih kuat daripada yang positif [3:1-4]. Oleh karena itu Yesus minta agar mereka mengubah way of life mereka: bertobat!
  2. Semua komunitas menerima perintah akhir yang sama, yaitu suatu seruan untuk mendengarkan: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” [2:7.11.17.29; 3:6.13.21]. Seruan ini ditujukan kepada semua gereja (semua umat).
  3. Ketujuh surat itu, semuanya berakhir dengan suatu nasihat untuk bertahan Setiap surat diakhiri dengan suatu janji kepada mereka yang akan mengatasi  situasi dan tetap setia bersama Tuhan, misalnya “Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah” [2:7]; “Siapa yang menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua” [2:11] dan seterusnya [lihat juga 2:17.26-28; 3:5.12.21]. 

Lihatlah lagi butir 4 di atas. Sesungguhnya, apakah yang diketahui oleh Yesus Kristus? Ia menggambarkan situasi masing-masing dan menghargai/memuji atau mengecam/mencela sesuai dengan keadaan masing-masing. Bila perlu, Ia memerintahkan mereka untuk bertobat dan kemudian mengungkapkan kepada mereka apa yang akan terjadi. Dan setiap kali Ia mengatakan bahwa Tuhan akan datang segera, maka pentinglah untuk menempatkan kata-kata ini dalam konteks waktu. Misalnya ketika para murid/rasul mendengar Yesus mengatakan, “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” [Mat 28:20], mereka menganggap bahwa Ia akan datang dalam waktu singkat. Mereka tidak  berpikir bahwa berabad-abad setelah itu, Yesus masih tetap dinanti-nantikan. 

Tujuh petunjuk untuk membaca dan mempelajari ketujuh surat 

1.       Bentuklah pendapat anda tentang berbagai situasi yang dihadapi oleh komunitas-komunitas Kristiani pada waktu itu. 

Hal-hal positif apa saja yang ada dalam masing-masing komunitas? Hal-hal negatif? Dalam hal apa saja masing-masing komunitas itu harus berupaya keras memperbaiki diri? Bahaya-bahaya apa saja yang mengancam? Bandingkanlah situasi masing-masing komunitas dengan situasi kita hari ini? 

2.       Hadapi situasi. 

Dengan cara apa Yohanes meminta kepada komunitas-komunitas itu untuk menghadapi situasi mereka? Berbagai sumber-daya apa saja yang dimiliki setiap komunitas untuk dipakai mengatasi masalah-masalah yang dihadapi? Bagaimana dengan kita sendiri? Bagaimana kita menghadapi masalah-masalah yang kita hadapi hari ini? 

3.       Diperkaya (diberi makan) oleh Perjanjian Lama. 

Bacaan-bacaan dan peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama mana saja yang dipetik atau dibangkitkan dalam setiap surat? Untuk ini rajin-rajinlah melihat catatan kaki dalam Kitab Suci. Unsur-unsur masa lampau apa saja yang dihidupkan oleh Yohanes dalam diri umat? Bagaimana kita hari ini dapat mengingat-ingat memori masa lalu dan menemukan lagi kehadiran Allah dalam sejarah? 

4.       Perdalamlah iman anda kepada Yesus. 

Gelar apakah yang diberikan kepada Yesus dalam setiap surat? Kuasa dan makna apa yang terkandung dalam setiap gelar Yesus bagi kehidupan umat? Bandingkanlah gelar-gelar Yesus dalam Why dengan gelar-gelar Yesus yang biasa kita berikan kepada Yesus dalam zaman kita. 

5.       Nikmatilah berbagai gambaran (imaji) dan metafora yang terdapat dalam Why. 

Metafora dan imaji apa saja yang digunakan dalam masing-masing surat? Dari mana  berbagai metafora dan imaji tersebut diambil? Dari Perjanjian Lama, dari kehidupan, dari alam, dari budaya umat manusia? Dalam janji-janji kepada mereka yang setia sampai akhir, ketujuh surat itu mengindikasikan imaji/gambaran-gambaran seperti berikut: ‘pohon kehidupan’ [2:7], ‘Taman Firdaus Allah’ [2:7], ‘kematian yang kedua’ [2:11], ‘manna yang tersembunyi’ [2:17], ‘batu putih’ [2:17], ‘nama baru’ [2:17; 3:12], ‘tongkat besi’ [2:27], ‘tembikar tukang periuk’ [2:27], ‘bintang timur’ [2:28]. ‘pakaian/jubah putih’ [3:5], ‘tiang di dalam Bait Suci Allah’ [3:12], ‘Yerusalem baru’ [3:12], dan ‘duduk bersama dengan Yesus di atas takhta-Nya’ [3:21]. Beberapa contoh ini memberi suatu ide tentang begitu kayanya imaji/gambaran-gambaran yang termuat dalam ketujuh surat. 

6.       Jadikanlah diri anda berani berdasarkan janji-janji-Nya kepada mereka yang tak terkalahkan. 

Janji-janji apa saja yang dibuat dalam masing-masing surat bagi orang-orang yang setia sampai akhir? Dengan cara bagaimana sebuah janji menolong seseorang untuk melanjutkan perjuangannya dan menanggung beban penderitaan karena pengejaran dan penaniayaan? Janji mana yang mendorong anda hari ini dalam menghadapi situasimu sendiri?

7.       Teladani contoh yang diberikan oleh Yohanes 

Marilah kita mendapatkan informasi perihal situasi konkrit yang dihadapi komunitas-komunitas. Dari waktu ke waktu marilah kita berkumpul bersama dan menulis sepucuk surat pendek kepada sebuah komunitas yang lain yang memerlukan penghiburan. 

PERTANYAAN-PERTANYAAN 

  1. Dalam handout # STUDI ALKITAB/WAHYU KEPADA YOHANES/FXI/03 terdapat pernyataan sebagai berikut: “Why pada dasarnya merupakan sebuah pesan penghiburan dan pengharapan bagi umat Kristiani yang sedang mengalami krisis dan yang iman-kepercayaannya terancam oleh perubahan-perubahan dan pengejaran serta penganiayaan. Tujuan Why adalah untuk menolong umat Kristiani menemukan kembali Allah mereka dan misi mereka. Why dimaksudkan untuk mendorong umat agar tetap berjuang dan ‘mempersenjatai’ mereka guna menghadapi kemungkinan ‘pertempuran-pertempuran’ yang ada di depan mata” [hal. 1]. Setujukah anda dengan pernyataan ini? Jelaskan jawaban anda dengan uraian seperlunya!
  2. Dalam handout  yang sama terdapat juga pernyataan: “Setiap tafsir atas Why yang menabur atau menyebarkan rasa takut dalam hati umat atau melemahkan semangat harus ditepis, harus dinilai sebagai palsu dan keliru. Setujukah anda dengan pernyataan ini? Jelaskan jawaban anda dengan uraian seperlunya!
  3. Why 1:5 menyebutkan beberapa gelar Yesus. Sebutkanlah gelar-gelar itu disertai dengan arti simbolismenya:

a._____________________________________________

b._____________________________________________

c._____________________________________________

 4.  Mengapa surat-surat dalam Why ditujukan kepada tujuh komunitas/jemaat Kristiani (gereja). Apa yang dilambangkan oleh ketujuh jemaat Kristiani itu?

5.  Kepada setiap komunitas yang dikirimi surat, Yesus mengatakan “Aku tahu.”  Apakah sebenarnya yang diketahui Yesus?

6.  Apakah yang dimaksudkan dengan ‘sebilah pedang tajam bermata dua’ ?  Carilah dalam Surat Paulus kepada jemaat di Efesus, ayat yang menunjuk kepada hal yang sama! Istilah apa yang digunakan dalam surat Paulus tersebut?

7.  Sehubungan dengan kehidupan anda sendiri, tulislah tiga cara dengan mana Tuhan mewahyukan/menyatakan diri-Nya dan rencana-Nya kepada anda.

a.___________________________________________

b.___________________________________________

c.____________________________________________ 

DOA PENUTUP PERTEMUAN 

Tuhan Yesus, Engkau memenuhi hati kami dengan sukacita dan damai-sejahtera manakala kami menghayati cara cintakasih-Mu, pengampunan-Mu, belarasa-Mu, dan sikap hidup-Mu untuk saling-menerima satu sama lain. Tolonglah kami agar setiap hari kami dapat mempunyai kuasa untuk meluaskan Kerajaan-Mu melalui tindakan-tindakan kasih dan kebaikan kami. Semoga kami dapat menjadi saksi-saksi-Mu sampai ke ujung-ujung dunia. Kami memuji-muji Engkau selama-lamanya. Datanglah, Tuhan Yesus. Amin. 


[1] Beberapa dari pokok-pokok yang diuraikan di bagian ini sudah disinggung di atas, ketika membahas Why 1:9-16. Terlihat  ada nuansa perbedaan dalam beberapa pokok yang disoroti.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 149 other followers