MARILAH KEPADA-KU ……

MARILAH KEPADA-KU ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Kamis, 19 Juli 2012)

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30)

Bacaan Pertama: Yes 26:7-9,12,16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:13-21

“Marilah kepada-Ku ……” (Mat 11:28). Walaupun ditolak oleh orang-orang kampung-Nya sendiri dan beberapa tempat lainnya, seperti Khorazim, Betsaida dan Kapernaum (Mat 11:21-23), Yesus tetap menyampaikan undangan besar-Nya kepada semua orang dari setiap bangsa dan generasi. Yesus menginginkan agar semua orang datang kepada-Nya dan belajar dari diri-Nya bagaimana menghayati kehidupan di dunia. Dia ingin memberikan kepada kita suatu visi yang akan memampukan kita mencintai surga dan memusatkan perhatian kita pada surga itu, seperti halnya para peziarah dalam suatu perjalanan ziarah.

Dalam perjalanan ini kita seringkali menjadi letih-lesu dari segala pencobaan yang kita hadapi. Lagipula hidup ini kelihatannya membuat kita berbeban berat. Kadang-kadang perasaan ini disebabkan oleh pilihan-pilihan yang kita buat sendiri atau langkah-langkah yang telah kita ambil sendiri, yang menjauhkan kita dari Allah. Pada kesempatan lain, kita dihadapkan dengan sakit-penyakit dan kesulitan-kesulitan yang kita sendiri tentunya tidak akan pilih. Apa pun kasusnya, Yesus mengundang kita untuk dipasangkan kuk/gandar bersama-Nya dan belajar dari sang Guru. Dengan demikian barulah kita akan menemukan kelegaan.

Sekali kita mengambil langkah yang menentukan ini, maka kita akan mengenal dan mengalami damai-sejahtera dari sang “Raja Damai” (Yes 9:5). Dipersatukan dengan Yesus, kita akan siap untuk belajar dari Dia. Apabila beban-berat yang kita tanggung itu disebabkan oleh dosa-dosa kita sendiri, Dia akan mengajar kita bagaimana memilih jalan yang baru. Apabila beban-berat itu disebabkan oleh sesuatu yang berada di luar kontrol atau kekuasaan kita, maka Dia akan memberikan kepada kita pengharapan akan suatu realitas di mana tidak akan ada lagi tangis dan kesedihan. Sebagaimana Yesus menyerahkan hidup-Nya dan kehendak-Nya kepada Bapa surgawi dan dipersatukan dengan diri-Nya, maka kita yang telah dipasangkan kuk/gandar bersama Yesus akan mengenal dan mengalami kesatuan dan damai-sejahtera yang datang dari hal tersebut.

Bilamana kita mengambil untuk menyerahkan segala cara/jalan kita dan belajar dari Yesus, maka walaupun kita masih menanggung beban, kita akan disegarkan kembali karena kita menerima kehidupan. Kehidupan yang kita terima seringkali mencakup kesembuhan dan pelepasan/pembebasan yang merupakan sebuah tanda kepenuhan final keselamatan. Memandang kehidupan kita dalam terang kasih Allah membangun hasrat dalam diri kita untuk bersatu dengan-Nya. Kuk/gandar Yesus itu ringan-menyenangkan …… karena Yesus memikul bebannya bersama kita.

DOA: Yesus, Engkaulah Kyrios yang berdaulat atas segenap alam ciptaan (Flp 2:9-11), namun demikian Engkau lemah lembut dan rendah hati. Engkau telah mengutus Roh-Mu sendiri untuk berdiam dalam diriku, dan Engkau ingin menyatakan Bapa surgawi kepadaku. Tuhan Yesus, lindungilah diriku dari kekacauan pikiranku sendiri yang timbul karena aku – dalam kesombonganku – mencari jawaban-jawaban untuk kehidupanku tanpa mengindahkan Engkau. Lindungilah aku, ya Tuhan, dari domain pengaturan diri-sendiri. Sebaliknya, tempatkanlah diriku di bawah pemerintahan-Mu, ke mana Engkau telah memberi isyarat kepadaku untuk datang. Pasanglah kuk/gandar atas diriku, agar aku dapat memikulnya bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “KUK YANG MENYENANGKAN DAN BEBAN YANG RINGAN” (bacaan tanggal 19-7-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “AKU LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI” (bacaan tanggal 14-7-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 12-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2012.

Cilandak, 10 Juli 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENARUH KEPERCAYAAN PADA-NYA DALAM SETIAP SITUASI DAN TERBUKA BAGI SABDA-NYA

MENARUH KEPERCAYAAN PADA-NYA DALAM SETIAP SITUASI DAN TERBUKA BAGI SABDA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Rabu 18 Juli 2012)

Pada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”(Mat 11:25-27)

Bacaan Pertama: Yes 10:5-7,13-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:4-10,14-15

Yesus ditolak oleh banyak orang sezaman-Nya. Orang-orang di kota-kota di mana Ia membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya menolak untuk mengubah diri, dan banyak dari mereka malah mengambil sikap bermusuhan terhadap diri-Nya (Mat 11:16-24). Para pemimpin Yahudi mencoba untuk mendiskreditkan diri-Nya di depan publik dan bahkan membuat rencana jahat untuk membunuh-Nya (Mat 12:3,14).

Walaupun Yesus menghadapi banyak rintangan, Ia masih mampu bersyukur kepada Bapa-Nya karena kehendak Allah sedang dalam proses pemenuhan (Mat 11:25-26). Yesus mengetahui bahwa Allah masih memegang kendali atas segala hal dan apa pun perlawanan yang ada terhadap-Nya, Kerajaan Allah akan tetap didirikan di atas bumi. Persoalannya adalah dalam hati orang-orang yang menolak Dia.

Kita menghadapi suatu situasi yang serupa pada hari ini, dan bagaimana kita tergantung pada sikap hati kita terhadap Yesus. Allah ingin menyatakan (mewahyukan) diri-Nya kepada kita, namun suatu disposisi batin tertentu tetap dibutuhkan dari pihak kita untuk menerima pesan-Nya. Kontrol Yesus atas orang yang mengenal Bapa (Mat 11:27) tidak membatasi kebebasan kita memilih untuk percaya atau tidak percaya, Ia tidak menghalangi kemampuan kita untuk memahami kebenaran Allah, dan Ia juga tidak membebaskan kita dari tanggungjawab kita untuk taat kepada-Nya. Allah adalah sosok orangtua yang melakukan apa saja guna menyiapkan anak-anak-Nya untuk menjadi orang dewasa, namun akhirnya tergantung pada anak-anak-Nya sendiri bagaimana mereka akan hidup.

Orang-orang yang “percaya-diri” seringkali terjerat oleh hikmat dan pengetahuan mereka sendiri. Allah tidak dapat dipahami berdasarkan ukuran-ukuran manusia. Kita hanya dapat sampai ke titik pengenalan akan Allah apabila kita membuang segala preconceived ideas tentang Dia. “Orang kecil” yang menerima perwahyuan (pernyataan diri) Allah (Mat 11:25) adalah mereka yang menaruh kepercayaan pada-Nya dalam setiap situasi dan terbuka bagi sabda-Nya. Hal ini tidak berarti mengabaikan dan/atau mematikan kekuatan kita untuk berpikir. Hal ini berarti percaya kepada Allah yang benar terhadap sabda-Nya, bersikap reseptif terhadap-Nya, dan membuat tanggapan sesuai kemampuan kita yang terbaik.

Kita harus memperkenankan diri kita diajar oleh sabda Allah seperti dapat ditemukan dalam Kitab Suci dan diwartakan oleh Gereja, mohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan artinya kepada kita. Secara bertahap kita akan mengembangkan suatu pikiran spiritual yang menghargai kebenaran-kebenaran Allah dan terbuka bagi kuasa yang bersifat transformatif dari kasih pribadi Allah bagi kita. Tujuannya bukanlah semata-semata pengetahuan kita secara intelektual, melainkan menemukan keutuhan dalam Kristus dalam tubuh-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, engkau memiliki otoritas penuh atas segala hal. Ajarlah aku untuk menyingkirkan segala sesuatu yang bukan dari-Mu dan oleh rahmat-Mu bukalah pikiranku bagi kepenuhan kebenaran-Mu yang mulia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “ENGKAU NYATAKAN KEPADA ORANG KECIL” (bacaan tanggal 18-7-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “ENGKAU NYATAKAN KEPADA ORANG KECIL” (bacaan tanggal 13-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-07 BACAAN HARIAN JULI 2011.

Cilandak, 5 Juli 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KECAMAN YESUS KEPADA TIGA KOTA

KECAMAN YESUS KEPADA TIGA KOTA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Selasa, 17 Juli 2012)

Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di sini Ia paling banyak melakukan mukjizat-mukjizat-Nya, “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu.” (Mat 11:20-24)

Bacaan Pertama: Yes 7:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-8

Kecaman Yesus terhadap kota-kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum pasti keluar dari sebuah hati yang menderita sakit-rindu …… rindu untuk melihat umat-Nya kembali kepada Allah dan percaya kepada keselamatan yang telah dibawa-Nya dari Bapa surgawi. Seruan Yesus ini mengingatkan kita pada ratapan Yesus sebelum memasuki kota Yerusalem untuk terakhir kali sebelum wafat di kayu salib: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Mat 23:37).

Kapernaum terletak dalam teritori Naftali dan Zebulon, dan Kapernaum inilah tempat Yesus memulai pelayanan-Nya di muka publik. Nabi Yesaya telah bernubuat tentang kedatangan sang Mesias ke tempat-tempat ini: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. …… Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya.” (Yes 9:1,5-6).

Nubuatan ini menjadi sebuah realitas dalam diri Yesus, namun orang-orang di kota-kota yang disebutkan di atas menolak untuk merangkul Yesus dan pesan kehidupan-Nya. Orang mati dibangkitkan; orang lumpuh dibuat berjalan kembali; orang buta dicelikkan matanya, dan pesan keselamatan diwartakan kepada mereka; namun telinga-telinga mereka tetap tertutup dan hati mereka tetap keras. “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung” (Mat 11:21). Hal penting yang tersirat dalam pesan Yesus ini adalah: semakin besar pernyataan/perwahyuan yang diterima, semakin besar pula akuntabilitas, sebuah prinsip yang kita dapat lihat di bagian-bagian lain dalam Perjanjian Baru.

Kita ditantang untuk melihat ke dalam hati kita sendiri dan bertanya: “Bagaimana aku menanggapi harta-kekayaan besar yang telah diberikan kepadaku dalam Kristus?” Kita pantas berdoa kepada Roh Kudus agar Ia menunjukkan kepada kita pentingnya kehidupan kita dengan Yesus dan memperdalam hidup itu dalam diri kita. Marilah kita mendoakan doa itu setiap hari agar dapat mengenal kasih Allah yang besar bagi kita dan menghaturkan terima kasih penuh syukur kita atas keselamatan kita yang telah dimenangkan oleh Kristus Yesus.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan dunia. Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa mengingatkan kami tentang apa saja yang telah dilakukan oleh Yesus bagi kami. Semoga kami selalu terbuka bagi sabda kebenaran-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:20-24), bacalah tulisan dengan judul “APAKAH SIKAP KITA TERHADAP YESUS SAMA DENGAN SIKAP PENDUDUK KHORAZIM, BETSAIDA DAN KAPERNAUM?” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS MENGECAM BEBERAPA KOTA” (bacaan tanggal 12-7-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2011.

Cilandak, 4 Juli 2012 [Peringatan S. Elisabet dari Portugal, Ratu, OFS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEGELAPAN HARUS DISINGKIRKAN, WALAUPUN KADANG-KADANG HAL INI MENYAKITKAN

KEGELAPAN HARUS DISINGKIRKAN, WALAUPUN KADANG-KADANG HAL INI MENYAKITKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Senin, 16 Juli 2012)

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Mat 10:34-11:1)

Bacaan Pertama: Yes 1:11-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23

Seorang murid Kristus dipanggil untuk menjadi saksi dari suatu kehidupan baru – untuk memberi kesaksian – baik dengan kata-kata maupun teladan hidup – bahwa Yesus telah mengalahkan dosa dan meresmikan (menginaugurasikan) Kerajaan Allah. Selagi Dia menjelaskan mengenai panggilan ini, Yesus juga mengingatkan para murid-Nya bahwa kehidupan baru yang akan dimanifestasikan oleh para murid-Nya itu secara radikal berbeda dari kehidupan yang terpisah dari Allah. Pemisahan yang dikatakan Yesus bukanlah sebuah agenda radikal di mana segala sesuatu – bahkan yang sedikit saja bertentangan dengan Kristus – harus ditolak. Sebaliknya, pemisahan itu terjadi selagi terang dalam diri kita menjadi semakin bercahaya, dan kegelapan di sekeliling kita dan di dalam diri kita semakin terekspos.

Apabila kita ingin agar terang Kristus bersinar, maka kegelapan harus disingkirkan, dan hal ini kadang-kadang menyakitkan. Akan tetapi, panggilan seorang murid adalah teristimewa untuk mempertahankan relasinya dengan Yesus, dan memperkenankan sabda Kristus – seperti sebilah pedang bermata-dua – memisahkan kegelapan dari terang. Namun pada saat yang sama, Yesus tidak pernah meninggalkan para murid-Nya tanpa penghiburan kasih-Nya dan rasa nyaman, bahwa dengan ikut ambil bagian dalam salib-Nya kita juga dengan indahnya ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya – sekarang dan pada akhir zaman.

Dietrich Bonhoeffer [1906-1945] adalah seorang pastor Kristiani Lutheran berkebangsaan Jerman yang sangat dihargai oleh para teolog Katolik. Dietrich Bonhoeffer menentang kebijakan-kebijakan Jerman Nazi, yang kemudian menjebloskannya ke dalam kamp konsentrasi dan kemudian membunuhnya pada tahun 1945. Berkaitan dengan pokok bahasan kita kali ini, Bonhoeffer mengatakan: “Keputusan terakhir harus dibuat selagi kita masih berada di atas bumi. Damai Yesus adalah salib. Namun salib adalah pedang yang digunakan Allah di atas bumi. Pedang ini menciptakan pemisahan. Anak laki-laki terhadap ayahnya, anak perempuan terhadap ibunya, anggota rumahtangga terhadap kepala rumahtangga – semua ini terjadi dalam nama Kerajaan Allah dan damai-sejahtera-Nya. Inilah karya yang dikerjakan Yesus Kristus di atas bumi.”

“Kasih Allah itu berbeda ketimbang cinta manusia pada tubuh dan darah mereka sendiri. Kasih Allah bagi manusia berarti salib dan jalan kemuridan. Namun salib itu dan jalan itu dua-duanya adalah kehidupan dan kebangkitan. ‘Ia yang kehilangan nyawanya demi aku akan menemukannya.’ Dalam janji ini kita mendengar suara Dia yang memegang kunci-kunci kematian, sang Putera Allah, yang pergi ke salib dan kebangkitan, dan bersama Dia dibawa-Nyalah milik-Nya.” (Biaya Pemuridan; Inggris: The Cost of Discipleship).

DOA: Tuhan Yesus, hidup Kristiani dapat dengan mudah terkesampingkan bagi banyak dari kami. Kami kurang serius, tidak memiliki komitmen! Seperti benih yang jatuh ke atas tanah berbatu, Sabda-Mu menjadi mati karena kebebalan kami. Kami mohon ampun, ya Tuhan, atas segala dosa dan kekurangan kami. Melalui Roh Kudus-Mu, kami diyakinkan bahwa Injil menuntut komitmen total dari kami untuk mengasihi Allah dan sesama kami. Tuhan, ubahlah rasa takut kami menjadi iman yang berani untuk mewartakan Kabar Baik-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:34-11:1), bacalah tulisan yang berjudul “YANG HARUS MENJADI YANG PERTAMA DAN UTAMA DALAM SKALA PRIORITAS PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 16-7-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “MASALAH PILIHAN (1)” (bacaan tanggal 11-7-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2012.

Cilandak, 3 Juli 2012 [Pesta Santo Tomas, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBAGAI RASUL, KITA PUN DIUTUS OLEH-NYA

SEBAGAI RASUL, KITA PUN DIUTUS OLEH-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XV – 15 Juli 2012)

Ia memanggil kedua belas murid itu dan mulai mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat saja, roti pun jangan, kantong perbekalan pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas-kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka, “Kalau di suatu tempat kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka. (Mrk 6:7-13)

Bacaan Pertama: Am 7:12-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14; Bacaan Kedua: Ef 1:3-14

Dalam kehidupan modern zaman ini, kita menjadi (sangat) tergantung pada keamanan-keamanan di bidang materiil, yang dinilai hakiki bagi keberadaan rutin kita. Hal ini teristimewa terlihat bilamana kita sedang siap-siap untuk berpergian jauh dan sedang menentukan barang apa saja yang harus kita bawa. Biasanya kita membawa terlalu banyak barang, maksudnya untuk jaga-jaga …… karena kita mengantisipasi berbagai situasi yang mungkin dihadapi. Salah satu alasan mengapa kita suka membawa barang secara berlebihan adalah, bahwa kita enggan untuk mengubah pola kita yang sudah mapan. Semuanya mau enak dan nyaman! Mau berlibur akhir pekan ke sebuah “desa” di Jabar saja terasa bagasi kendaraan kita sudah dipenuhi segala macam bahan makanan, seperti “mini super-market” saja.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan kepada para murid-Nya apa yang harus dibawa dalam suatu perjalanan misioner. Pada hakikatnya Dia mengatakan kepada para murid-Nya itu untuk membawa pesan Injil dan tidak perlu membawa yang ekstra-ekstra lainnya – bahkan hal-hal yang hakiki dan pokok dalam kehidupan manusia seperti makanan dan uang. Jadi, yang penting adalah melayani orang-orang dengan mewartakan Injil. Akan ada orang-orang yang menerima mereka dan memperhatikan kebutuhan mereka akan makan-minum dan sejenisnya.

Banyak orang – dalam kurun waktu berabad-abad sejak Yesus naik ke surga – yang telah mengikuti perintah-Nya ini secara harfiah dan meninggalkan segala keamanan materiil untuk hidup bagi Kerajaan Allah. Yang paling tersohor adalah seorang kudus kelahiran Assisi yang bernama Fransiskus [1181-1226]. Pada saat masih muda usia, dia meninggalkan kehidupan mewah untuk kemudian hidup secara miskin-sederhana seperti Tuhan dan Guru-Nya, dengan demikian diberkati dengan rahmat dan kasih ilahi-Nya. Di luar agama Kristiani, hal seperti ini pun terjadi. Seorang pemimpin Hindu di abad ke-20, Mahatma Gandhi melakukan hal yang serupa dan menemukan damai-sejahtera. Mahatma Gandhi adalah seorang pencinta Yesus, namun ia membenci orang Kristiani pada umumnya – penjajah bangsanya adalah orang Inggris – karena tidak meneladan Yesus dalam kehidupan mereka. Yesus adalah seorang miskin juga, dan Ia melayani orang miskin karena mereka percaya kepada-Nya. Orang kaya seringkali percaya kepada kekuasaan dan harta-kekayaan mereka sendiri.

Seperti juga ajaran-ajaran Yesus lainnya dalam Kitab Suci, maka ajaran Yesus dalam bacaan Injil hari ini membutuhkan permenungan yang mendalam. Namun kita tidak dapat menyangkal bahwa bacaan ini adalah suatu tantangan terhadap gaya hidup kita yang begitu terkungkung dalam suatu “zona kenyamanan”, hal mana sesungguhnya dapat menjauhkan kita dari kebebasan dan mobilitas yang kita butuhkan.

Bagaimana para rasul Kristus melakukan perjalanan misioner mereka, jauh di sana dan tanpa “logistik” yang diperlukan? Jawabnya adalah: baik-baik saja! Semuanya berjalan sesuai dengan prediksi Yesus. Tidak ada seorang pun yang mati karena kelelahan, terabaikan atau kelaparan. Pada kenyataannya, pelayanan yang dilaksanakan oleh para rasul bernilai tinggi, artinya sungguh bermutu. Dalam kaitan ini Injil mencatat: “mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka” (Mrk 6:12-13).

DOA: Bapa surgawi, terangilah mata hati kami, agar kami dapat melihat betapa besar dan mulia tugas-pelayanan yang dipercayakan kepada kami masing-masing sebagai para rasul Kristus pada zaman modern ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:7-13), bacalah tulisan dengan judul “KITA HANYALAH INSTRUMEN-INSTRUMEN-NYA” (bacaan tanggal 15-7-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2012.

Cilandak, 3 Juli 2012 [Pesta Santo Tomas, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI SERUPA DENGAN YESUS

MENJADI SERUPA DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Sabtu, 14 Juli 2012)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam

“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33)

Bacaan Pertama: Yes 6:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5

“Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya” (Mat 10:25).

Panggilan Yesus kepada para murid-Nya – dari dahulu sampai sekarang – pertama-tama dan terutama adalah sebuah panggilan untuk menjadi seperti diri-Nya. Pada saat Ia memanggil Andreas dan Simon Petrus, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa Dia akan menjadikan mereka penjala manusia (Mat 4:19). Dengan mengikuti Dia, para murid akan ditransformasikan menjadi serupa dengan diri-Nya. Hati Yesus akan menjadi hati mereka; seperti Guru mereka pula, mereka akan merindukan hari di mana semua orang akan mendengar Kabar Baik dan menerima pesan Injil.

Yesus juga mengingatkan para murid-Nya bahwa ikut ambil bagian dalam kehidupan sang Guru bukanlah tanpa tantangan-tantangan dan kesulitan-kesulitan: “Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya” (Mat 10:25). Pada saat yang sama, Yesus berulang-ulang kali mengatakan kepada mereka untuk tidak menjadi takut akan apa yang akan terjadi atas diri mereka (Mat 10:26,28,31). Dengan keyakinan seseorang yang diri-Nya sendiri telah menjadi objek kebencian, ancaman, dijadikan korban jebakan oleh komplotan orang jahat, Yesus mengetahui benar apa artinya mengalami situasi-situasi yang menakutkan dan kemudian mengatasinya.

Karena kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus, kita semua ikut ambil bagian dalam kemenangan-Nya atas si Jahat. Hal ini tidak berarti bahwa kita akan secara penuh bebas dari daya-upaya si Iblis, karena semua itu merupakan bagian kehidupan semua murid dalam dunia ini yang masih menjadi subjek kematian. Kita tidak pernah boleh menyerah, bagaimana pun dahsyatnya serangan yang datang atau betapa pun lemahnya kita rasakan diri kita. Guru kita – Tuhan Yesus Kristus – ada dalam diri kita untuk menghibur dan memperkuat kita. Dia adalah hikmat kita dan akan memberikan kepada kita segalanya yang kita butuhkan selagi kita menghadap-Nya dalam iman yang rendah hati (Mat 10:19-12).

Pada zaman modern ini, dimana kita melihat bahwa percaya kepada Allah dan ketaatan pada perintah-perintah-Nya semakin menjadi sasaran serangan-serangan gencar, kita dapat memiliki pengharapan dan terus menjalani jalan kemuridan. Kristus ada dalam diri kita dan kasih-Nya melingkupi diri kita, dan Ia tidak akan meninggalkan kita. Dia akan mengakui kita di hadapan Bapa surgawi apabila kita tetap setia kepada-Nya. Oleh karena itu kita tidak boleh berkecil hati, karena Roh yang ada dalam diri kita itu lebih besar daripada roh yang ada dalam dunia (1Yoh 4:4).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk percaya pada kehadiran-Mu di dalam diri kami masing-masing. Kami ingin menjadi seperti Engkau dan menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HANYALAH ALAT-NYA” (bacaan tanggal 14-7-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “JANGANLAH KAMU TAKUT !!!” (bacaan tanggal 9-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA ini; kategori 11-07 BACAAN HARIAN JULI 2011.

Cilandak, 3 Juli 2012 [Pesta Santo Tomas, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG YANG BERTAHAN SAMPAI PADA KESUDAHANNYA AKAN SELAMAT

ORANG YANG BERTAHAN SAMPAI PADA KESUDAHANNYA AKAN SELAMAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 13 Juli 2012)

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23)

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,8-9,12-14,17

Yesus melanjutkan pemberian instruksi-instruksi-Nya kepada para rasul/murid dalam rangka mempersiapkan mereka untuk karya misioner di masa depan. Ia menceritakan kepada para murid-Nya itu tentang pengejaran dan penganiayaan serta penderitaan yang dapat/akan menimpa diri mereka selagi mereka mewartakan Injil kepada dunia. Yesus juga mengintruksikan mereka perihal sikap yang harus mereka ambil terhadap orang-orang yang melawan mereka. Pada saat yang sama, Yesus menjamin lagi kepada mereka tentang kehadiran Roh Kudus untuk menolong mereka menghadapi pencobaan-pencobaan dengan keberanian dan pengharapan (Mat 10:20). Perintah Yesus diikuti dengan sebuah janji: “… orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat 10:22).

Barangkali para murid-Nya merasa sangat terkejut ketika Yesus menggambarkan perlawanan yang akan mereka alami – tidak hanya di tangan para penguasa, melainkan juga dari para anggota keluarga mereka sendiri. Setiap murid yang sejati akan ikut ambil bagian dalam penderitaan Kristus dalam kehidupan ini agar supaya ikut serta dalam sukacita keselamatan kekal. Santo Paulus mengalami penderitaan yang berat dan menghadapi oposisi dalam perjalanan-perjalanan misionernya, namun dia menulis: “Aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18). Sikap sedemikian hanya dapat dicapai apabila kita mengingat kebenaran bahwa Yesus Kristus telah memberi amanat kepada kita dan berjanji untuk menguatkan kita pada saat kita mengalami penderitaan. Pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya Dia bersabda: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkan hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

Melalui Yesus, Allah memberikan Roh Kudus kepada kita guna memampukan kita melaksanakan amanat yang telah kita terima untuk mewartakan Injil kepada sebuah dunia yang sangat membutuhkan kasih Kristus. Roh Kudus adalah buah pertama dari Kerajaan yang akan datang, yang berbicara kepada kita dengan kata-kata Kristus sendiri. Santo Augustinus mengatakan bahwa ketika kita menderita, maka Roh Kudus berbicara, “Daging menderita dan Roh berbicara; ketika Roh berbicara, tidak hanya kejahatan terkutuk melainkan juga kelemahan diperkuat” (Sermons, 276).

Kita mendengar kata-kata Roh dalam doa-doa kita, dalam Kitab Suci, dan dalam Misa Kudus, ketika kita mendengar sabda Allah. Pada akhir perjalanan misionernya, Yesus berkata kepada Pilatus: “Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengar suara-Ku” (Yoh 18:37). Di tengah-tengah kehidupan kita yang penuh kesibukan ini, kita perlu menyediakan waktu untuk penuh perhatian pada Roh Kudus yang dalam diri kita berbicara kepada kita. Hanya dengan demikian kita penuh keyakinan bahwa walaupun kita sedang menghadapi situasi-situasi sulit, Roh Kudus akan memberikan kepada kita kata-kata untuk diucapkan.

DOA: Yesus Kristus, Engkaulah Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku agar mau dan mampu mewartakan Injil-Mu tanpa rasa takut, sebagai garam bumi dan terang dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hos 14:2-10), bacalah tulisan yang berjudul “DIA ADALAH ALLAH YANG MAHAKASIH DAN MAHAPENGAMPUN” (bacaan tanggal 13-7-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2012. Bacalah juga tulisan berjudul “AKU MENGUTUS KAMU SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA” (bacaan tanggal 8-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA ini; kategori: 11-07 BACAAN HARIAN JULI 2011.

Cilandak, 1 Juli 2012 [HARI MINGGU BIASA XIV]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers