REALITAS KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN

REALITAS KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Selasa, 18 September 2012)

Keluarga Fransiskan: Peringatan/Pesta Santo Yosef dari Copertino

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17)

Bacaan Pertama: 1Kor 12:12-14,27-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Santo Lukas, penulis peristiwa “Yesus membangkitkan anak muda di Nain” ini, adalah seorang tabib (dokter zaman dahulu). Dalam semangat profesinya yang sejati, dia adalah seorang pribadi yang sangat sensitif terhadap penderitaan sesama manusia. Itulah sebabnya mengapa Lukas memberi lebih banyak perhatian pada keadaan menyedihkan dari sang janda yang baru kehilangan anak laki-lakinya yang adalah seorang anak tunggal, daripada mukjizat Yesus membangkitkan anak laki-laki tersebut.

Anak laki-laki tunggal dari janda itu mati dalam usia muda. Pada waktu itu tidak ada pensiun untuk para janda, tidak ada asuransi jiwa, tidak ada santunan dalam rangka kesejahteraan sosial, dan tidak ada pekerjaan yang menarik bagi pada perempuan. Kehidupan dapat menjadi sangat berat dan keras bagi seorang janda yang berumur separuh baya.

Yesus cepat sekali menyadari tragedi situasinya. Lukas mencatat singkat: “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Luk 7:13), lalu Dia berkata kepada janda itu untuk tidak menangis. Lalu Yesus memberikan kehidupan kepada orang muda tersebut, anak satu-satunya dari sang janda.

Apa sebenarnya pesan dari Injil hari ini? Tentunya tentang bela rasa dan penuh-pengertian Kristus terhadap seorang pribadi manusia yang sangat membutuhkan pertolongan, walaupun tidak diungkapkan dengan kata-kata. Dengan demikian, bagi sang janda, realitas dari kasih Allah tidak pernah lagi sekadar teori. Janda dari Nain itu sungguh mengalami kasih Allah itu secara riil.

Dan pada hari ini – bagaimana kasih Allah dibuat riil pada hari ini? Tidak ada cara lain kecuali lewat diri kita masing-masing yang adalah Tubuh Kristus. Bagi orang-orang sakit, orang-orang lansia, orang-orang miskin, bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan – kasih Kristus menjadi riil/nyata hanya melalui bela-rasa kita, kebaikan hati kita, pertolongan kita untuk memenuhi berbagai kebutuhan mereka.

Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri sampai berapa dalam kesadaran kita akan berbagai kebutuhan orang-orang di sekeliling kita. Kebutuhan-kebutuhan mereka mungkin tidak besar – mungkin yang mereka butuhkan adalah sepatah kata penghiburan atau malah hanya sebuah senyum yang tulus – mungkin mereka butuh didengarkan dengan kesabaran dan penuh pengertian. Walaupun dalam hal-hal sederhana seperti itu, kehadiran kita bagi mereka dapat berarti pengalaman akan kasih Kristus, dan inilah yang penting.

DOA: Tuhan Yesus, tanamkanlah kesadaran dalam diriku senantiasa, bahwa tangan-tanganku dan kaki-kakiku adalah perpanjangan dari tangan-tangan-Mu dan kaki-kaki-Mu, dalam segala tindakan yang kulakukan sebagai anggota Tubuh-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan berjudul “YESUS MEMBANGKITKAN ANAK MUDA DI NAIN” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “MUKJIZAT ITU MEMANG ADA !!!” (bacaan tanggal 13-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2011.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-8-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 5 September 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN SEJATI DI KAPERNAUM

IMAN SEJATI DI KAPERNAUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 17 September 2012)

Keluarga Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10)

Bacaan Pertama: 1Kor 11:17-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17

Perwira Romawi dalam cerita Injil Lukas ini berpangkat Centurion yang membawahi seratus orang prajurit, katakanlah sekarang namanya komandan kompi. Perwira ini adalah seorang yang memiliki iman yang kokoh, iman yang mencerminkan keyakinannya yang bersifat total dan mutlak kepada Yesus. Sikap dan perilaku perwira ini tanpa banyak ribut mengakui otoritas Yesus atas segala aspek kehidupan. Dihadapkan dengan penyakit serius yang diderita oleh hambanya yang sangat dihargainya, sang perwira menggantungkan pengharapannya pada Yesus saja. Ternyata perwira ini adalah seorang pribadi yang mengasihi bangsa Yahudi, malah membangun rumah ibadat (sinagoga) bagi masyarakat Yahudi setempat (Luk 7:4-5).

Perwira itu minta tolong kepada beberapa orang tua-tua Yahudi agar dapat menghadap Yesus dan mohon pertolongan-Nya guna menyembuhkan hambanya. Nampaknya dia tidak merasa layak untuk datang sendiri menghadap Yesus (bdk. Mat 8:5). Perwira itu mencari otoritas yang ada pada sabda Yesus, sebagai solusi yang jelas terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

Surat Pertama Santo Petrus memuji iman dari mereka yang menerima dan percaya kepada Yesus setelah wafat dan kebangkitan-Nya. Dalam surat itu Petrus menulis: “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira dengan ras sukacita yang mulia dan tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1Ptr 1:8-9). Di sini kita dapat melihat betapa tulisan Petrus ini menggambarkan iman dari sang perwira dalam bacaan Injil Lukas hari ini.

Sang perwira merasa tidak layak untuk menghadap Yesus secara pribadi, maka dia mengutus dua rombongan; yang pertama adalah para tua-tua Yahudi seperti sudah diutarakan di atas dan kemudian rombongan kedua yang terdiri dari para sahabatnya (lihat Luk 7:3,6). Baginya, Yesus jelaslah seorang Pribadi yang dalam diri-Nya Tuhan Allah berdiam, seseorang yang memiliki otoritas melampau batas-batas insani. Oleh karena itu, dengan ketulusan hati yang tak perlu diragukan lagi, sang perwira menilai dirinya tidak layak untuk menerima Yesus dalam rumahnya. Begitu tinggi rasa hormatnya terhadap Yesus, sehingga dia membutuhkan sepatah kata saja dari Yesus agar hambanya itu disembuhkan: “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Luk 7:7). Hamba yang sakit keras itu pun sembuh – lewat kuasa dari Yesus dan iman sang perwira.

Peristiwa ini dapat menolong memperkuat kita dalam zaman ini yang juga banyak menyaksikan penyembuhan dan mukjizat ilahi, dunia di mana banyak sekali sikon yang dihadapi orang-orang membuat mereka stres dan patah semangat karena menyadari ketidak-mampuan mereka menghadapi berbagai sikon tersebut. Marilah kita ingat selalu bahwa otoritas Yesus tidak pernah mengalami erosi sejak dahulu. Penulis surat kepada orang Ibrani mengatakan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Janji Yesus sama absahnya hari ini seperti dua ribu tahun lalu: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7)

DOA: Tuhan Yesus, tingkatkanlah imanku kepada-Mu, teristimewa pada saat-saat aku berada dalam ketegangan dan keragu-raguan, agar dengan demikian aku dapat dengan penuh keyakinan bertumpu pada sabda-Mu sebagai sumber kekuatanku yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 11:17-26), bacalah tulisan yang berjudul “EKARISTI MEMPERSATUKAN KITA SEMUA DALAM KRISTUS” (bacaan tanggal 17-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan dengan judul “IMAN SEBESAR INI TAK PERNAH AKU JUMPAI” (bacaan tanggal 12-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2011.

Cilandak, 5 September 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENYALIBAN KRISTUS ADALAH PERISTIWA SENTRAL DALAM SEJARAH UMAT MANUSIA

PENYALIBAN KRISTUS ADALAH PERISTIWA SENTRAL DALAM SEJARAH UMAT MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIV – 16 September 2012)

Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke desa-desa di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?” Jawab mereka kepada-Nya, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan: Seorang dari para nabi.” Ia bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Engkaulah Mesias!” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras. Lalu berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia menegur Petrus dengan keras, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mrk 8:27-33)

Bacaan Pertama: Yes 50:5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-6,8-9; Bacaan Kedua: Yak 2:14-18

Petrus adalah seorang pribadi “ceplas-ceplos” apabila berbicara. Sejak pertemuannya pertama kali dengan Yesus, ia menunjukkan kesungguhan hati yang memang membedakannya dengan para murid yang lain. Ia cepat berbicara, spontan …, dan ia juga cepat mengakui kesalahannya …… bertobat! Petrus adalah seorang pribadi yang transparan. Pada saat Petrus dengan benar memproklamasikan Yesus sebagai sang Mesias, maka Yesus pun memuji dirinya. Namun beberapa saat kemudian Petrus sudah ditegur keras oleh Yesus yang diakuinya sebagai Mesias itu. Di mana letak kesalahan Petrus?

Seperti kita semua, Petrus pun seorang pendosa dan tidak sempurna – suka berpikir, bersikap dan berperilaku salah juga. Bagaimana Petrus dapat berpikir bahwa dia mengetahui apa yang terbaik bagi Yesus, apalagi berkaitan dengan suatu isu yang begitu penting? Apabila memikirkan bahwa Yesus dapat menjadi sang Mesias yang menolak salib, maka hal itu berarti meminimalisir kebutuhan umat manusia akan keselamatan. Petrus harus menerima penghakiman salib atas hidup lamanya yang penuh dosa jikalau dia sungguh ingin mengenal dan mengalami kebebasan yang akan dibawakan oleh Yesus – dan hal sedemikian memang sulit untuk diterima.

Apakah kita (anda dan saya) sepenuhnya memahami semua yang dilakukan bagi kita oleh Yesus di atas kayu salib? Penyaliban Kristus adalah peristiwa sentral dalam sejarah umat manusia. Di sana, di bukit Kalvari, kemanusiaan dibebaskan sekali dan selamanya dari kematian kekal dan belenggu si Iblis. Dosa menjadi kehilangan kuat-kuasanya! Tindakan penebusan oleh Yesus mendatangkan keadilan bagi Bapa surgawi dan janji surga bagi semua orang percaya.

Memahami penebusan Yesus barangkali merupakan salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan Kristiani, namun hal itu juga merupakan “hakekat” dari berkat-berkat-Nya bagi kita. Selagi kita merenungkan betapa luasnya dan dalamnya intervensi ilahi ini, kita pun berhadapan dengan kasih Allah yang tak dapat diukur. Kita berhadapan – muka ketemu muka – dengan ‘seorang’ Bapa yang tidak peduli akan berapa “biaya” yang harus dikeluarkan oleh-Nya guna menyelamatkan kita dari dosa.

Pada hari ini, baiklah kita merenungkan makna Salib Kristus dan memperkenankan diri kita untuk disalibkan bersama Dia sehingga kita pun dapat mengalami keintiman relasi dengan Allah. Marilah kita memandangi “Sang Tersalib” dengan hati yang terbuka sehingga keajaiban dari kehadiran-Nya akan memenuhi diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, biarlah salib-Mu menembus hatiku supaya kehadiran-Mu dapat memenuhi diriku. Buatlah diriku suatu ciptaan baru dalam Engkau, sehingga aku pun dapat mengenal dan mengalami sukacita hidup dalam sabda-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:27-33), bacalah tulisan dengan judul “ENGKAULAH MESIAS!” (bacaan untuk tanggal 16-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “SIAPAKAH AKU INI?” (bacaan untuk tanggal 16-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2012.

Cilandak, 4 September 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAPATKAH KITA TETAP BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI?

DAPATKAH KITA TETAP BERADA DI DEKAT SALIB KRISTUS BERSAMA MARIA DAN MENGAMPUNI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Berdukacita – Sabtu, 15 September 2012)

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya (Yoh 19:25-27).

Bacaan Pertama 1Kor 10:14-12 atau Ibr 5:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2-6,15-16; Bacaan Injil Alternatif: Luk 2:33-35

Maria sangat menderita ketika berdiri di dekat salib Yesus di bukit Kalvari selagi dia menyaksikan kematian Anaknya yang mengerikan. Ia menunjukkan kepada Anaknya cintakasih-Nya dengan satu-satunya cara yang ia dapat lakukan, yaitu oleh kehadirannya bersama Anaknya. Oleh rahmat Roh Kudus, Maria memiliki mata iman yang percaya bahwa rencana Allah akan berbuah, walaupun tidak ada tanda-tandanya yang kelihatan. Maria menangisi ketidakadilan yang berlangsung di depan matanya, namun ia percaya bahwa kuasa Allah akan mengalahkan kematian/maut.

Dikelilingi oleh para penganiaya Yesus, Maria merasa dirinya dipanggil untuk bergabung dengan Yesus dalam doa-Nya; “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Seandainya ada rasa marah dan dendam dalam dirinya, Maria tidak akan bersatu dengan Yesus. Hanya dengan berpaling kepada Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya, Maria dapat mengampuni dan memberkati dalam menghadapi situasi ketidakadilan, penuh dengan kebencian dan kekerasan.

Kita semua akan mengalami sikap dan perlakuan kasar dari orang-orang lain dalam hidup kita. Dapatkah kita tetap berada di dekat salib Kristus bersama Maria dan mengampuni mereka yang telah menyakiti kita dengan kata-kata maupun perbuatan-perbuatan mereka? Maria menerima undangan Yesus untuk mengambil “murid yang dikasihi-Nya” sebagai anaknya, dan dengan melakukan hal itu, dia menerima semua murid-Nya sebagai anggota-anggota keluarganya. Bahkan pada saat itu, 33 tahun setelah menerima pemberitahuan dari malaikat agung Gabriel, sekali lagi Maria diminta untuk mengesampingkan ide-idenya sendiri perihal keluarga dan apa yang diinginkannya dalam hidupnya. Dan sekali lagi, ketaatan Maria merupakan buah Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya.

Kita semua juga dipanggil untuk mengasihi semua orang yang menamakan diri mereka orang Kristiani dan juga mereka yang memiliki iman berbeda. Apakah kita siap untuk mengikuti jejak Maria dan merangkul semua anggota keluarga Allah, dan mengesampingkan segala rasa praduga dan prasangka?

Banyak orang yang dekat dengan diri kita, bahkan kita sendiri pun, akan menghadapi dan mengalami penderitaan. Kita akan melihat betapa sulit bagi kita untuk memahami mengapa hal-hal yang begitu tidak adil dan menyakitkan terjadi atas diri kita dan juga atas orang-orang yang kita kasihi. Peringatan gerejawi hari ini mengingatkan kita akan rahmat Allah yang bekerja dalam diri Maria selagi dia ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara Yesus. Maria mendorong dan menyemangati kita agar mau dan mampu menghadapi serta menanggung kesedihan kita juga, tentunya dengan pertolongan Roh Kudus.

DOA: Roh Kudus Allah, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Aku membutuhkan Engkau, seperti juga halnya dengan Maria pada waktu ia berada di dekat Salib Kristus. Aku merindukan penghiburan dari-Mu dan juga kekuatan-Mu. Tolonglah diriku agar dapat memiliki rasa percaya kepada Allah dan tetap mengasihi-Nya dan sesamaku, bahkan di tengah-tengah penderitaanku. Berilah kepadaku keyakinan bahwa Yesus telah mengalahkan kuasa maut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 19:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA KITA DAPAT BERDIRI BERSAMA BUNDA MARIA DI DEKAT SALIB YESUS?” (bacaan tanggal 15-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERINGATAN SANTA PERAWAN MARIA BERDUKACITA” (bacaan untuk tanggal 15-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2011.

Cilandak, 3 September 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PESTA SALIB SUCI (6)

PESTA SALIB SUCI (6)

(Bacaan Kedua Misa Kudus, Pesta Salib Suci – Jumat, 14 September 2012)

Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11)

Bacaan Pertama: Bil 21:4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2,34-38; Bacaan Injil: Yoh 3:13-17

Pesta gerejawi yang kita rayakan pada hari ini mempunyai sebuah sejarah yang panjang. Penemuan salib Kristus di tanah suci oleh Santa Helena, untuk pertama kali dirayakan dalam Gereja pada tanggal 14 September 365. Perayaan itu diselenggarakan dalam gereja yang dibangun atas perintah putera Helena, Kaisar Roma Konstantinus, di situs Golgota dan makam Yesus. Perayaan untuk memperingati ini menyebar luas dengan cepat di tengah umat Kristiani di seluruh dunia, dan pada abad ke-7, pesta ini digabungkan dengan pesta berkenaan dengan restorasi dari relikwi salib itu yang direbut dari orang-orang Persia – lalu dinamakan “Pesta Kemenangan Salib” atau “Pesta Peninggian Salib” dalam kalender liturgi Gereja Roma.

Dunia kuno sungguh merasa ngeri menyaksikan kematian lewat penyaliban – sebuah praktek pemberian hukuman mati yang mengerikan dan memalukan. Akan tetapi, orang-orang Kristiani menghormati salib, baik sebagai tanda penderitaan Yesus maupun piala kemenangan-Nya atas Iblis, dosa dan maut. Kita menghormati salib Kristus karena melalui salib-Nya kita sampai pada pengenalan dan pengalaman akan kasih Yesus kepada kita yang begitu besar dan agung, dan melalui bilur-bilur-Nya kita telah diselamatkan dan disembuhkan (Yes 53:5; bdk. 1Ptr 2:24). Rupert dari Dreutz, seorang rahib dan abas Benediktin pada abad ke-12 mempermaklumkan dengan mengharukan:

“Kita menghormati salib sebagai penjaga iman, penguat harapan, dan takhta kasih. Salib adalah tanda belas kasih, bukti pengampunan, sarana rahmat, dan pataka damai-sejahtera. Kita menghormati salib (Kristus) karena salib itu telah mematahkan kesombongan kita, mencerai-beraikan rasa iri kita, menebus dosa-dosa kita dan menjadi silih terhadap hukuman atas diri kita…….

“Salib Krisktus adalah pintu ke surga, kunci masuk ke dalam firdaus, kejatuhan Iblis, pengangkatan umat manusia, konsolasi/penghiburan atas keberadaan kita dalam penjara, hadiah bagu kebebasan kita …… Para tiran dihukum oleh salib (Kristus) dan orang-orang berkuasa dikalahkan oleh salib (Kristus) itu. Salib mengangkat orang-orang susah dan menghormati orang-orang miskin. Salib adalah akhir dari kegelapan, penyebaran terang, kaburnya maut, kapal kehidupan dan kerajaan keselamatan…….

“Apa pun yang kita capai bagi Allah, apa pun yang berhasil kita capai dan harapkan, adalah buah dari penghormatan kita terhadap salib (Kristus). Oleh Salib, Kristus menarik segala sesuatu kepada diri-Nya. Itu adalah kerajaan Bapa, tongkat lambang kekuasaan dari sang Putera, dan meterai Roh Kudus, suatu saksi bagi Tritunggal Mahakudus secara total.”

DOA: Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di sini dan di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia; dan kami memuji Engkau, sebab dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia. Amin.

Catatan: Bacalah juga tulisan-tulisan dengan judul “PESTA SALIB SUCI (1)”, “PESTA SALIB SUCI (2)”, “PESTA SALIB SUCI (3), “PESTA SALIB SUCI (4)”, dan ‘PESTA SALIB SUCI (5); semuanya terdapat dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com.

Cilandak, 3 September 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGASIHI MUSUH KITA?

MENGASIHI MUSUH KITA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup & Pujangga Gereja – Kamis, 13 September 2012)

“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu. Siapa saja yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan siapa saja yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada yang mengambil kepunyaanmu. Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari dia, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Luk 6:27-38)

Bacaan Pertama: 1Kor 8:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-14,23-24

“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu” (Luk 6:27-28).

Kata-kata Yesus ini senantiasa menjadi pesan yang menantang untuk didengar; malah terdengar absurd, tidak masuk akal dan melawan setiap kecenderungan natural manusia. Namun perintah dari Yesus ini secara istimewa menjadi sarat dengan makna sebelas tahun lalu, justru ketika sabda ini diproklamasikan dalam misa-misa yang diselenggarakan hari itu di seluruh dunia, hampir 3.000 orang meninggal dunia sebagai korban serangan teroris di New York, Washington D.C. dan Pennsylvania bagian barat. Pada hari itu semua orang di seluruh dunia ditantang untuk memberkati dan bukan mengutuk! Melihat perkembangan selanjutnya dari peristiwa 9/11 itu, kita tergoda untuk berpikir bahwa keadaan di seluruh dunia menjadi semakin buruk. Sejak hari itu kita melihat serangan-serangan serupa terjadi di mana-mana di seluruh dunia: peristiwa bom Bali, serangan terhadap sinagoga-sinagoga di Istanbul, Turki; pecahnya peperangan di Irak dan banyak lagi.

Semua peristiwa yang menyedihkan ini dapat menyebabkan kita hidup dalam ketakutan atau membiarkan kemarahan dan dorongan hati untuk membalas dendam menguasai hati kita. Akan tetapi, Yesus tetap berbicara dengan jelas dan lemah-lembut: “Ampunilah mereka yang menganiaya engkau; kasihilah mereka yang membencimu!” Walaupun terdengar tak mungkin, … sesuatu yang mustahil, adalah sebuah kebenaran bahwa Allah tidak akan meminta kita melakukan sesuatu untuk mana Ia sendiri belum melengkapi kita dengan peralatan yang diperlukan. Ia mengundang kita – bahkan menantang kita – untuk memperkenankan kasih-Nya menerobos tembok-tembok pemisah dan kebencian dalam hati kita. Dia minta kepada kita untuk meletakkan rasa sakit kita dan/atau rasa takut kita agar Dia dapat menggantikannya dengan belas kasih-Nya dan berkat-Nya.

Marilah kita bersama mendoakan doa pengampunan bagi mereka yang memusuhi kita, mohon kepada Allah untuk mengatasi semua kebencian dan rasa permusuhan yang ada pada diri kita. Bahkan apabila kita belum sepenuhnya berbelas kasih, kita tetap dapat berdoa, mohon kepada Allah untuk mengubah hati kita juga. Semoga kita tidak memandang enteng kuat-kuasa dari doa-doa seperti ini.

DOA: Bapa surgawi, sebagai umat-Mu kami mohon kepada-Mu agar menyembuhkan segala kebencian dan perpecahan. Sebagai anak-anak-Mu, kami ingin mengikuti Yesus dengan memberkati semua orang yang menyakiti hati kami, mengampuni semua orang berbuat salah kepada kami, dan menunjukkan cintakasih kepada mereka yang membenci kami. Datanglah, ya Tuhan, dan jadikanlah kami satu!. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 8:1-7,11-13), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH LEBIH UTAMA DARI SEGALANYA” (bacaan tanggal 13-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “KASIHILAH MUSUHMU” (bacaan tanggal 10-9-09) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 09-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2009.

Cilandak, 29 Agustus 2012 [Peringatan wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBAHAGIALAH, HAI KAMU YANG SEKARANG INI MENANGIS

BERBAHAGIALAH, HAI KAMU YANG SEKARANG INI MENANGIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Rabu, 12 September 2012)

Peringatan Falkutatif: Nama Maria yang Tersuci

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata,
“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.
Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.
Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.
Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.
Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.” (Luk 6:20-26)

Bacaan Pertama: 1Kor 7:25-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 45:11-12,14-17

“Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa” (Luk 6:21).

Tanggal 11 September, sebelas tahun lalu, World Trade Center di New York dihancurkan oleh teroris dengan menggunakan pesawat terbang, juga Pentagon di Washington, D.C. diserang oleh sebuah pesawat terbang, dan sebuah pesawat lagi jatuh di Pennsylvania bagian barat. Inilah peristiwa yang kita kenang sebagai peristiwa 9-11. Bagi kita yang menyaksikan peristiwa itu lewat TV, kita melihat bagaimana kebencian yang merusak dan kejahatan luarbiasa diperagakan, namun kita melihat juga bagaimana para anggota pemadam kebakaran kota New York, polisi dll. bekerja keras untuk menyelamatkan para korban tanpa hitung-hitung untung-rugi – suatu peragaan iman dan keberanian.

Tentu banyak (rupa-rupa) pelajaran yang dapat kita ambil atas peristiwa 9-11 tersebut. Apapun pelajaran itu, satu hal yang pasti: Allah tidak akan pernah meninggalkan kita. Kasih-Nya senantiasa mempunyai kuasa untuk mengusir rasa takut kita. Kasih-Nya selalu mampu untuk membebaskan kita untuk mengampuni dan membalas kejahatan dengan kebaikan.

Tidak ada seorang pun dari kita yang dapat melarikan diri dari rasa sakit hati, penderitaan, atau sakit-penyakit. Namun dalam “Sabda-sabda Bahagia”, Yesus menawarkan suatu cara kebahagiaan yang mentransenden rasa sedih yang bagaimana pun yang mungkin kita alami. Para murid Yesus telah memilih untuk meninggalkan segala sesuatu untuk dapat mengikuti-Nya. Tentu saja kadang-kadang mereka merasa rindu pada rumah mereka, kenyamanan yang mereka nikmati sebelumnya. Tentu ada saat-saat di mana mereka menderita karena dihina dan diancam oleh orang-orang yang membenci mereka dan Guru mereka. Namun Yesus berjanji bahws pengalaman ikut ambil bagian dalam kehidupan Allah jauh lebih nikmat daripada penderitaan yang mereka tanggung karena menjadi pengikut Yesus.

Ini adalah salah satu paradoks terbesar dari Kristianitas. Dengan mati, kita menemukan kehidupan; dengan memberi, kita menerima; dengan mengampuni, kita diampuni. Yesus berjanji bahwa kita sungguh dapat menemukan kebahagiaan di tengah-tengah kemiskinan, kelaparan, kesedihan – bahkan terorisme sekalipun. Bagaimana? Dengan memperkenankan diri kita dikosongkan dari segala hal yang menentang Allah, sehingga diri kita dapat dipenuhi secara berlimpah dengan hidup ilahi.

Allah ingin memberi kita damai-sejahtera yang melampaui pemahaman kita, suatu rasa aman berada dalam diri-Nya yang memampukan kita untuk mengampuni dan mengasihi walaupun kita diserang, gereja (tempat ibadat) kita dirusak atau dibakar. Ia berjanji bahwa semua orang yang telah meninggalkan hidup lama mereka seperti yang dilakukan oleh para murid Yesus, akan dipenuhi dengan pengharapan yang teguh. Mereka akan mengenal dan mengalami sukacita surgawi, bahkan ketika masih hidup di dunia ini. Sukacita itu akan jauh lebih nikmat daripada setiap musibah dan pencobaan yang kita akan pernah alami.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah pengharapanku. Penuhilah hatiku dan hati setiap orang dengan damai-sejahtera dan sukacita. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 6:20-26), bacalah tulisan dengan judul “BAPAMU TELAH BERKENAN MEMBERIKAN KERAJAAN ITU” (bacaan tanggal 12-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “UCAPAN BAHAGIA DAN PERINGATAN” (bacaan tanggal 7-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2011.

Cilandak, 29 Agustus 2012 [Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis]]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 150 other followers