SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2014 – KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA

Lambang_Uskup_Agung_Jkt_Mgr_Ign_SuharyoSURAT GEMBALA PRAPASKAH 2014

(Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1/2 Maret 2014)

“DIPILIH UNTUK MELAYANI”

Para Ibu/Bapak,
Suster/Bruder/Frater,
Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

1. Bersama dengan seluruh Gereja, kita akan memasuki masa Prapaskah pada Hari Rabu Abu, tanggal 5 Maret yang akan datang. Menjelang masa Prapaskah ini, kita terhenyak oleh rentetan bencana alam yang datang bertubi-tubi: banjir yang melanda banyak tempat, letusan gunung-gunung, tanah longsor dan gempa bumi membuat kita semua prihatin dan berduka. Semua bencana itu menyisakan kesengsaraan ratusan ribu orang yang kehilangan sanak-saudara, rumah, harta-benda, dan mata pencaharian. Hati kita sesak melihat saudari-saudara kita itu harus hdiup di tempat-tempat pengungsian sambil menatap dengan khawatir masa depan mereka. Bencana alam ini seringkali terkait erat dengan bencana moral seperti keserakahan, korupsi, kebohongan publik, rekayasa politik kekuasaan yang pasti tak kalah mengkhawatirkan dan membahayakan negara dan bangsa.

2. Sabda Tuhan pada hari ini berbicara mengenai kekhawatiran. “Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai” (Mat 6:25), Bagaimanakah sabda Tuhan ini kita mengerti? Bukankah hidup kita senantiasa diwarnai dengan kekhawatiran? Bukankah kekhawatiran itu merupakan tanda kepedulian kita terhadap persoalan hidup? Para pengungsi mengkhawatirkan masa depan hidup mereka. Kita pun mengkhawatirkan mereka dan juga masa depan kita sendiri dan anak-anak kita. Kita khawatir akan kemiskinan yang semakin meningkat, kejahatan yang merajalela, moralitas yang semakin rendah. Kita khawatir akan krisis kemanusiaan, krisis kepemimpinan, dan krisis-krisis yang lain, termasuk krisis ekologi yang mengancam lingkungan hidup kita. Kekhawatiran semacam ini merupakan akibat dari sikap peduli yang berasal dari Tuhan yang menyentuh hati kita, menggugah keprihatinan, dan mendorong kita untuk melakukan sesuatu.

3. Lalu apa yang dimaksud dengan “khawatir” dalam sabda Tuhan hari ini? Pada bagian awal kutipan dinyatakan bahwa kesetiaan kepada Allah tidak mungkin dipegang bersamaan dengan kesetiaan kepada Mamon. “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat 6:24). Dengan latar belakang ini kita sampai pada kesimpulan bahwa kekhawatiran yang dimaksud di dalam sabda Tuhan adalah kekhawatiran yang menggeser kepercayaan kita kepada Allah dan menggantikannya dengan Mamon, yaitu harta milik, uang. Banyak orang begitu khawatir akan masa depan mereka sehingga bersikap serakah dengan mengambil keuntungan setinggi-tingginya dalam usaha, mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta dengan cara apapun, termasuk cara yang tidak terpuji. Kekhawatiran yang membawa kepada keserakahan mencerminkan ketidakpercayaan kita kepada Allah. Hidup tidak lagi diabdikan untuk kesejahteraan bersama, tetapi untuk menimbun harta; orang bekerja bukan untuk hidup, tetapi untuk mengumbar keserakahan yang adalah berhala (bdk. Ef 5:5). Kepada orang-orang yang khawatir dan bersikap serakah semacam ini. Yesus bersabda: “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga.” Kekhawatiran yang memicu keserakahan tidak akan memunculkan kepedulian, tetapi justru akan menumpulkan kepekaan sosial, membunuh hati nurani dan menjauhkan siapa pun dari Tuhan dan sesama.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

4. Sejalan dengan keinginan kita untuk menjalani tahun ini sebagai tahun pelayanan, tema yang dipilih untuk Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2014 pada masa Prapaskah ini ialah “Dipilih Untuk Melayani”. Tema ini bisa dibaca dalam dua konteks.

4.1. Dalam konteks gerejawi, memilih dan melayani adalah dua kata yang amat dekat dengan jati diri kita sebagai murid-murid Kristus. Seperti halnya para murid Yesus yang pertama, kita semua adalah pribadi yang terpanggil dan terpilih (bdk. Mat 4:18-22). Kita tidak pernah boleh mengatakan, “kebetulan saya juga Katolik”. Keyakinan bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang dipilih dan dipanggil seharusnya membuat kita menjadi warga Gereja yang bangga dengan jati diri kita sebagai murid-murid Kristus. Sementara itu kita juga sadar bahwa kita dipanggil dan dipilih tidak demi kepentingan diri kita sendiri, melainkan untuk mengikuti Yesus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan hidup demi sesama, demi kebaikan bersama (bdk. Mat 20:28). Semoga pesan-pesan iman yang disampaikan lewat tema APP 2014 ini mendorong kita semua untuk “khawatir” dalam arti yang positif, untuk mengasah suara hati dan mengembangkan kepedulian sosial yang berbuah dalam bentuk-bentuk pelayanan yang semakin kreatif.

4.2. Dalam konteks tahun politik, tema itu dikaitkan dengan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden-Wakil Presiden yang akan dilaksanakan pada tahun 2014 ini. Diharapkan semua umat Katolik menggunakan hak pilihnya sebagai bentuk tanggug jawab sebagai warga negara yang baik. Kita memilih dengan cerdas dan menurut suara hati calon-calon yang jelas akan melayani kepentingan atau kebaikan bersama, bukan yang lain. Semoga mereka yang akan terpilih tidak menggantikan Pancasila dengan mamon. Semoga mereka terdorong oleh kekhawatiran yang melahirkan kepedulian dan kemurahan hati, bukan kekhawatiran yang melahirkan keserakahan.

4.3. Sementara itu kita perlu yakin juga bahwa status kita sebagai warga negara Indonesia adalah juga pilihan dan panggilan. Keyakinan ini akan mendorong kita semua untuk semakin menyadari bahwa kita merupakan bagian dari suatu Bangsa dan Negara, yaitu Indonesia. Kita hidup di alam Indonesia sebagai satu bangsa, menggunakan satu bahasa pemersatu walaupun kita berbeda satu sama lain. Sebagai bangsa, kita dipersatukan oleh sejarah yang sama di masa lampau dan cita-cita yang sama mengenai masa depan. Kita juga tahu bahwa cita-cita bangsa Indonesia termuat dalam kelima sila Pancasila. Oleh karena itu setiap bentuk kegiatan atau pelayanan untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila yang amat mulia dan luhur, pastilah juga merupakan bentuk perwujudan iman kita.

5. Untuk memperkaya bekal kita memasuki masa Prapaskah, kita juga ingin belajar dari pesan Paus Fransiskus untuk Masa Prapaskah ini. Judul pesan Paus adalah “Ia telah menjadi miskin supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (bdk. 2Kor 8:9). Ini adalah landasan rohani yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus agar mereka murah hati dalam membantu saudari-saudara mereka di Gereja Induk Yerusalem yang membutuhkan bantuan karena mereka miskin. Menurut Paus, selain kemiskinan material, berkembang juga pada jaman kita ini kemiskinan moral dan kemiskinan spiritual. Miskin material berarti tidak terpenuhinya hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Miskin moral berarti menjadi budak dosa. Miskin spiritual berarti meninggalkan Allah dan mengabdi Mamon serta kawan-kawannya. Dalam ketiga lapangan kemiskinan itu, kita diundang untuk menjadi “hamba-hamba Kristus dan pengurus rahasia Allah” (1Kor 4:1), artinya menjadi saksi-saksi kekayaan Kristus yang seluruh hidup-Nya dijalani demi keselamatan manusia seutuhnya dan kemuliaan Allah.

6. Akhirnya bersama-sama dengan para imam dan semua pelayan umat saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/Frater/Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak sekalian, yang dengan peran berbeda-beda telah ikut mengemban tanggung jawab sejarah Keuskupan Agung Jakarta. Para perintis dan pendahulu kita telah menulis sejarah – artinya meletakkan dasar dan mengembangkan – Keuskupan kita tercinta ini menjadi seperti sekarang ini. Sekarang kitalah yang mesti mengemban tanggung jawab sejarah itu. Marilah berbagai pelayanan sederhana yang kita lakukan dan prakarsa-prakarsa kreatif yang kita usahakan, kita hayati sebagai wujud pelayanan dan pertobatan kita yang terus-menerus, khususnys di masa Prapaskah ini. Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda sekalian, keluarga-keluarga dan komunitas Anda.

+ I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta

Catatan: Disalin oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS dari selebaran yang dibagikan kepada umat.

JIKA KITA MEMPERSIAPKAN DIRI DENGAN BAIK

JIKA KITA MEMPERSIAPKAN DIRI DENGAN BAIK

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Selasa, 4 Maret 2014)

PETRUS - 1 PEGANG DUA KUNCIKeselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang anugerah yang diuntukkan bagimu. Mereka pun meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya bersaksi tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Kepada mereka telah dinyatakan bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan orang-orang, yang oleh Roh Kudus yang diutus dari surga menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.

Sebab itu, siapkanlah akal budimu, waspadalah dan berharaplah sepenuhnya pada anugerah yang akan diberikan kepadamu pada saat Yesus menyatakan diri-Nya kelak. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. (1Ptr 1:10-16)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Mrk 10:28-31

Pada malam hari ketika orang-orang Israel pergi meninggalkan Mesir, Allah memerintahkan mereka bagaimana melakukan rituale makan Paskah: “Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu, buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN (YHWH)” (Kel 12:11). Mereka harus siap untuk bergerak begitu diperintahkan oleh Allah. Demikian juga halnya dengan kita sendiri. Allah ingin agar kita senantiasa siap untuk mewartakan Injil kapan saja muncul kesempatan untuk itu. Allah pun berjanji bahwa apabila kita mempersiapkan diri kita dengan baik, maka Dia akan menunjukkan kuasa dan kasih-Nya melalui diri kita.

spiritual readingJikalau kita mempersiapkan diri kita dengan baik, maka kita akan melihat orang-orang mengalami kasih Allah dengan cara yang radikal dan mengubah-hidup. Jika kita mempersiapkan diri dengan baik, maka walaupun orang-orang lain menyakiti kita, kita akan mengalami suatu kemampuan untuk mengampuni dan mengasihi sedemikian rupa sehingga dapat mengejutkan bahkan diri kita sendiri. Tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dilakukan oleh Allah dalam hati mereka yang memiliki akal budi waspada dan siap untuk menerima sabda-Nya.

Bilamana kita berpikir tentang prospek Allah bekerja melalui diri kita, maka mudahlah untuk percaya bahwa kita harus menggali dalam-dalam di hati kita untuk menemukan iman, bahkan iman yang paling kecil sekali pun. Namun, janganlah kita pernah melupakan fakta bahwa sebenarnya Roh Kudus ingin memberikan iman kepada kita sebagai suatu karunia/anugerah. Roh Kudus ini ingin memberdayakan kita melampaui kemampuan yang kita miliki sendiri. Roh Kudus dapat melakukan hal ini selagi kita bersimpuh di hadapan hadirat Yesus setiap hari dalam doa. Semakin kita merasa yakin sehubungan dengan Injil-Nya, semakin kita yakin tentang kebaikan-Nya, dan semakin kita yakin akan kemampuan-Nya untuk memberkati, maka semakin siap pula kita untuk melayani, untuk membagikan kasih-Nya kepada orang-orang lain, dan juga untuk mensyeringkan pesan-Nya yang penuh rahmat.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, marilah kita (anda dan saya) setiap hari menyediakan waktu untuk Tuhan Yesus dalam doa dan pembacaan serta permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci. Ini adalah cara-cara terbaik untuk menerima pewahyuan dari Roh Kudus. Pewahyuan atau pernyataan ilahi tersebut adalah makanan bagi jiwa kita, dan semakin kita mencari dan berharap agar Roh Kudus berbicara kepada kita, maka kita pun menjadi semakin efektif dalam melakukan perjuangan melawan dosa dan dalam kemampuan kita untuk bersaksi tentang Injil Yesus Kristus. Kita pun akan melihat diri kita semakin mempunyai pengharapan dan penuh sukacita karena Yesus sendiri yang membuka mata kita.

DOA: Roh Kudus Allah, aku ingin melihat Yesus. Ajarlah aku bagaimana caranya agar dapat mendengar suara-Nya dan bagaimana mentaati perintah-perintah-Nya. Tolonglah aku agar senantiasa siap untuk menerima apa saja yang akan diberikan Yesus kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:28-31); bacalah tulisan yang berjudul “MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 4-3-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2014.

Cilandak, 1 Maret 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA

TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Senin, 3 Maret 2014)

KEMURIDAN - RICH YOUNG MAN AND CHRIST - 02Pada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27)

Bacaan Pertama: 1Ptr 1:3-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,5-6,9-10

Yesus baru saja memberi peringatan kepada para murid-Nya untuk tidak membuat diri mereka menjadi penghalang terhadap upaya mereka untuk mengasihi Allah. Yesus mengingatkan buruknya kesombongan/keangkuhan dan iri hati. Kiranya Dia mengatakan, “Jagalah dirimu agar tetap kecil!” Yesus bersabda, “Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk 10:15-16).

Sekarang Yesus juga memperingatkan kita berkaitan dengan menempatkan hal-hal yang menghalangi aliran kasih Allah kepada umat-Nya. Orang yang datang kepada Yesus (anak muda kaya) dalam bacaan Injil hari ini ingin mengetahui apa yang harus diperbuatnya untuk memperoleh hidup yang kekal (Mrk 10:17). Yesus mengingatkan dia bahwa ada “panduannya”, yaitu perintah-perintah Allah. Orang itu menjawab: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku” (Mrk 10:20).

Yesus memandang pakaian halus dan intan-permata mahal yang dikenakan orang itu. Orang itu boleh dikatakan cukup tulus, tetapi belum di-tes (diuji). Ia berpakaian baik, makan-minum dengan baik pula, cukup terlindungi dari beratnya beban kehidupan. Sekarang tibalah saatnya bagi dia untuk menghadapi realitas: moment of truth. Yesus memandang orang itu dengan kasih dan berkata kira-kira begini: “Sahabatku, engkau membutuhkan satu hal lagi. Engkau berada dalam bahaya karena membiarkan kerajaan dunia menghalangi jalanmu menuju Kerajaan Allah.” …… “Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mrk 10:21-22). Hal ini dapat diartikan: “Pilihlah kemiskinan secara sukarela, pemberian-diri yang lengkap-total; percaya sepenuhnya kepada Allah untuk kebutuhan-kebutuhanmu di dunia.”

Mendengar jawaban Yesus, orang itu sungguh merasa terkejut. Jadi, kita dapat mengira bahwa dia tidak meminta Yesus untuk menantangnya, melainkan sekadar menyetujui “hidupnya yang baik” selama ini. Yesus telah membuka pintu lebar-lebar agar orang itu mengalami pertumbuhan spiritual. Namun terang-Nya begitu jelas datang melalui pintu yang terbuka itu, dan terang-Nya itu menunjukkan dengan jelas bahwa orang itu sangat terlekat pada harta miliknya. Dia dirantai, terbelenggu dan tak berdaya untuk membebaskan dirinya untuk mengikut Yesus.

Para murid Yesus selalu berpikir bahwa harta kekayaan adalah berkat dari Allah! Mereka bertanya: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Jawaban Yesus kiranya berbunyi begini: “Orang tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri. Namun Allah dapat berbuat apa saja”. “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:27 bdk. Luk 1:37).

DOA: Tuhan Yesus, betapa bebas Engkau dan bagaimana orang kaya itu terbelenggu tak berdaya. Dia pergi dengan sedih hati karena banyak hartanya. Engkau memandang dia, kiranya sambil menggeleng-gelengkan kepala-Mu. Dan, ketika Engkau berpaling kepada para murid-Mu, Engkau berkata bahwa alangkah sukarnya bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Yesus, jagalah agar kami tetap setia sebagai murid-murid-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMANDANG ANDA DAN SAYA” (bacaan tanggal 3-3-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2014.

Cilandak, 26 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERDOA, BEKERJA DAN BEREKREASI

BERDOA, BEKERJA DAN BEREKREASI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VIII (Tahun A), 2 Maret 2014)

KHOTBAH DI BUKIT - 500“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

“Karena itu, aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Mengapa kamu khawatir mengenai pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Karena itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:24-34).

Bacaan Pertama: Yes 49:14-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:2-3,6-9; Bacaan Kedua: 1Kor 4:1-5

Ada sebuah pepatah Latin kuno yang berbunyi: “Age quod agis”. Secara harfiah kalimat ini berarti, “Lakukanlah apa yang anda lakukan”. Ada beberapa contoh untuk menunjukkan bagaimana pepatah itu harus diterapkan.

Misalnya ketika kita datang ke gereja, kita harus datang dengan niat untuk berdoa kepada Allah dan memperdalam iman-kepercayaan kita. Datang ke gereja berarti waktu untuk menyanyikan berbagai madah, mendengarkan bacaan dari Kitab Suci, menerapkan apa yang dipesankan dalam homili, mengulurkan tangan penuh damai dan menerima Komuni Kudus. Ini adalah waktu bagi kita untuk sungguh-sungguh melakukan segala sesuatu apa yang kita niati untuk melakukannya di gereja. Hal yang sama berlaku untuk pekerjaan kita. Kita harus melakukan pekerjaan satu hari kerja penuh untuk upah/gaji untuk satu hari kerja. Ketika kerja harian kita selesai, maka kita harus melibatkan diri kita secara lengkap dalam kegiatan-kegiatan lainnya.

Apabila kita pergi menonton film di bioskop, maka kita harus melibatkan diri kita dalam “plot” yang sedang kita tonton, lalu menimbang-nimbang apa yang ingin dilakukan oleh sang sutradara – ke mana dia ingin membawa kita, juga baik-tidaknya para aktor dan aktris dalam memainkan peranan mereka masing-masing dalam film tersebut. Ada seorang ibu yang merasa kesal dengan suaminya yang selalu mengeluh selama film diputar dan selalu mau pulang sebelum film selesai dengan alasan agar tidak terjebak dalam kemacetan ketika berusaha keluar dari tempat parkir. Inilah satu contoh lagi seseorang yang tidak melakukan apa yang (harus) dilakukannya.

Sejak lama orang-orang mengakui, bahwa (1) berdoa, (2) bekerja dan (3) berekreasi adalah tiga unsur hakiki dari ritme kehidupan. Inilah yang dengan jelas dikhotbahkan oleh Santo Benediktus [480-547] dan dimasukkan olehnya ke dalam peraturan hidup ordo yang didirikannya. Kita tidak diharapkan untuk melakukan secara berlebihan atau dalam takaran yang kurang, salah satu dari ketiga unsur ini, namun jika sedang melakukan salah satu dari tiga kegiatan tadi, maka kita harus melakukannya dengan perhatian penuh.

Yesus mengatakan sesuatu yang menyemangati hati kita, kira-kira begini: “janganlah khawatir tentang hari esok, kita harus harus hidup untuk hari ini”. Singkatnya, Yesus mengatakan, “Age quod agis”.

Dalam bacaan Injil hari, Yesus menjelaskan bahwa burung-burung di udara menunjukkan akal sehat (common sense) yang lebih baik daripada sementara orang. Burung-burung itu melakukan pekerjaan harian mereka dengan baik, memperbaiki sangkar mereka, memberi makan anak-anak mereka, mengusir para predator dan kemudian tidur dengan penuh damai. Yesus mengatakan, bahwa burung-burung itu bersikap “don’t worry – be happy!”, dan Ia menasihati kita untuk mencontoh burung-burung tersebut.

LILIES OF THE FIELD - 5Demikian pula dengan bunga-bunga bakung yang menghias lembah-lembah dan lereng-lereng gunung dan tidak pernah menggerutu satu sama lain tentang siapa yang paling indah. Oleh karena itu, bukankah ini saatnya bagi kita untuk membebaskan pikiran kita dari kompetisi terus-menerus dan tidak sehat dalam berupaya mencari uang, meningkatkan status-sosial kita dalam masyarakat, dlsb.? Bukankah ini saatnya untuk menikmati keindahan alam di sekeliling kita? Bukankah kita perlu menyediakan waktu untuk melihat burung-burung yang berterbangan di udara dan hinggap di dahan pohon yang terletak di pekarangan kita? Bukankah ini saatnya bagi kita untuk menikmati indah dan harumnya bunga-bunga di depan mata kita? Dengan demikian kita tetap tidak lari dari realitas dan tetap hidup harmonis dengan Allah dan sesama. Janganlah kita pernah berpikir bahwa hanya para penyair saja, para seniman saja dan para invcntor saja yang membutuhkan waktu rileks – kita semua memerlukannya.

Bacaan Injil hari ini adalah salah satu teks yang paling indah dalam “Khotbah di Bukit”, malah dalam Kitab Suci secara keseluruhan. Pesan Yesus ini mengalir dengan gaya yang bebas dan terbuka, yang menasihati kita untuk rileks, berhenti “worrying” dan menikmati damai-sejahtera-Nya. Inilah cara Yesus untuk mengatakan, “Have a good day!” kepada kita.

DOA: Bapa surgawi, kasih dan perhatian-Mu terhadap kami sungguh tak terhingga; sungguh total-lengkap, intim dan mempribadi bagi kami masing-masing – anak-anak-Mu dalam Yesus Kristus. Dosa-dosa kami telah Kaubersihkan, dan Engkau telah melakukan semua dengan kasih-sayang yang hanya dapat diberikan oleh seorang ayah yang sejati. Oleh karena itu, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, jauhkanlah kami dari kekhawatiran akan hari esok, dan perkenankanlah kami agar memiliki kebijaksanaan dalam memakai waktu kami untuk berdoa, bekerja dan berekreasi dengan seimbang. Kami sungguh membutuhkan tangan-Mu yang kuat untuk menuntun kami berjalan setiap hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:24-34), bacalah tulisan yang berjudul “ANDA MENGABDI KEPADA TUAN YANG MANA ???” (bacaan tanggal 2-3-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2014.

Cilandak, 26 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERDOALAH!

BERDOALAH!

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Sabtu, 1 Maret 2014)

DOA PRIBADIKalau ada seseorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seseorang yang bergembira baiklah ia bermazmur! Kalau ada seseorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu, hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, sangat besar kuasanya dan ada hasilnya. Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa lagi dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya.

Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seseorang yang membuat dia berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa. (Yak 5:13-20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 141:1-3,8; Bacaan Injil: Mrk 10:13-16

Pesan Yakobus dalam petikan suratnya di atas sudah jelas: berdoalah! Dalam segala macam situasi dan kondisi, berdoalah. Pada waktu menderita sakit atau mengalami kesusahan, berdoalah! Pada saat-saat penuh sukacita, berdoalah (doa syukur)! Tidak ada saat dalam kehidupan kita di mana doa itu tidak diperlukan. Yakobus juga mengemukakan suatu kenyataan penting perihal doa: “Doa orang yang benar, sangat besar kuasanya dan ada hasilnya” (Yak 5:16).

Yakobus juga menyoroti masalah apa yang harus kita lakukan bilamana ada seseorang yang meninggalkan iman-kepercayaannya. Apakah yang dapat kita lakukan untuk menolong orang-orang seperti ini? Berdoalah! Kita juga melakukan hal-hal lain: Mengasihi mereka, tidak menghukum mereka, dan mengampuni orang-orang untuk kesulitan atas diri kita sebagai akibat ulah mereka. Namun, yang pertama dan terutama adalah kita harus berdoa untuk mereka.

Barangkali salah seorang dari anak-anak kita menolak iman-kepercayaan yang sudah dirangkulnya sejak kecil. Barangkali pasangan hidup kita telah memendam akar kepahitan sehingga tidak mau lagi untuk percaya. Seorang saudari atau saudara, seorang sahabat dekat, bahkan mitra doa kita dalam komunitas kita, mungkin pada hari ini telah meninggalkan Tuhan. Kita dipanggil untuk mendoakan orang-orang ini, dan kita tahu bahwa doa-doa kita tidaklah akan sia-sia.

Saint-Augustine-And-Saint-MonicaKita tidak pernah boleh menerima pandangan bahwa seseorang sudah terlalu jauh meninggalkan imannya, sehingga percumalah untuk mendoakannya. Kita semua dapat belajar sesuatu dari Santa Monika. Monika adalah seorang Kristiani, tetapi suaminya adalah seorang kafir yang tidak peduli terhadap pendidikan moral anaknya. Tidak mengherankanlah apabila anaknya itu bertumbuh menjadi seorang kafir juga. Dia sangat terpelajar namun sangat duniawi juga.

Monika terus berdoa untuk anaknya, dan rasa percayanya pada Allah pada akhirnya menghasilkan buah. Pada usianya yang 39 tahun, anaknya bertobat dan menjadi seorang Kristiani yang kuat. Ia terus bertumbuh dalam iman dan kesalehan sampai-sampai diangkat menjadi seorang uskup, seorang penulis yang terkenal, seorang ahli teologi yang dihormati, dan seorang pujangga Gereja. Buku-bukunya masih dibaca sampai sekarang. Namanya adalah Santo Augustinus dari Hippo.

Allah tidak menjawab doa-doa Monika karena dia adalah seorang kudus. Sebaliknya, fakta bahwa Monika menjadi seorang kudus sebagiannya adalah karena fakta bahwa dia tekun berdoa, dari tahun ke tahun, untuk anaknya itu. Kita juga dapat menghujani surga dengan doa-doa kita bagi orang-orang yang kita kenal, dengan ekspektasi akan dapat melihat hasil-hasilnya dalam hidup ini, juga dalam hidup yang akan datang.

DOA: Bapa surgawi, aku percaya bahwa tidak ada halangan yang terlampau besar bagi-Mu. Aku percaya bahwa Engkau dapat memancarkan terang-Mu ke dalam hati semua orang, bahkan hati yang paling gelap sekali pun. Dengarkanlah doa kami pada hari ini selagi kami membawa orang-orang yang jauh dari-Mu ke hadapan hadirat-Mu. Ya Tuhan, bukalah hati mereka! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “MENYAMBUT KERAJAAN ALLAH SEPERTI SEORANG ANAK KECIL” (bacaan tanggal 1-3-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2014.

Cilandak, 25 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERSUNGUT-SUNGUT DAN SALING MEMPERSALAHKAN

BERSUNGUT-SUNGUT DAN SALING MEMPERSALAHKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Jumat, 28 Februari 2014)

CAIJSPMBSaudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kita menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.
Tetapi yang terutama, Saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi surga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman. (Yak 5:9-12)

Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-9,11-12; Bacaan Injil: Mrk 10:1-12

Kita mungkin saja tergoda untuk melewatkan bacaan berupa nasihat-nasihat dari Yakobus tentang bersungut-sungut dan lain-lainnya, namun bagi Yakobus semua itu sungguh merupakan sesuatu yang serius. Kita seringkali berpikir bahwa bersungut-sungut merupakan kegiatan yang secara relatif tidak berbahaya, bagian dari hidup berelasi dengan orang lain. Bersungut-sungut itu dapat mengambil banyak bentuk: pengungkapan rasa kesal, jengkel, marah, mengeluh, mendongkol dan sejenisnya. Kita bahkan dapat bersungut-sungut secara “diam-diam” tanpa suara namun menunjukkan ketidaksenangan kita melalui tindakan-tindakan kita, melalui ekspresi wajah dan bahasa tubuh kita lainnya. Semua tindakan ini sebenarnya merupakan tanda perpecahan …… ketiadaan persatuan dan kesatuan, sesuatu yang sangat serius di mata Tuhan Yesus.

Marilah kita meneliti sikap hati kita masing-masing. Bagaimana pun juga, di sanalah letaknya awal dari perilaku-perilaku kita yang kelihatan. Yesus bersabda, “Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat 15:11,18).

Seringkali rasa iri, rasa curiga, rasa tidak berterima kasih, atau tidak-percaya berada pada akar ketidakpuasan kita. Kita dapat merasa bahwa kita dapat menangani situasi tertentu dengan lebih baik daripada bagaimana situasi tersebut sedang ditangani sekarang, atau bahwa kita lebih mampu untuk memberi arahan, atau bahwa talenta-talenta kita kurang dihargai atau digunakan. Mungkin saja ada benih kebenaran dalam pengamatan pribadi kita, namun akan menjadi berbahaya apabila kita memperkenankan hal-hal tersebut mendominir pemikiran-pemikiran kita dan mengisolir kita dari orang-orang lain.

Sebelumnya, Yakobus telah menasihati para pembaca suratnya: “Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!” (Yak 5:8). Karena kemenangan Yesus di atas kayu salib, maka ada harapan bagi kita. Kita dapat diubah. Kita dapat mengatasi kesombongan pribadi yang terluka dan sikap serta perilaku yang mementingkan diri sendiri yang kelihatan begitu dalam berakar dalam diri kita. Kita dapat datang melihat bahwa hal-hal yang memisahkan kita dapat diatasi oleh kuat-kuasa dari kasih Allah. Allah dapat mencairkan perbedaan-perbedaan kita dan mentransformasikan hati kita. Yang diminta oleh-Nya hanyalah agar kita menyambut Dia masuk ke dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mohon ampun untuk cara-caraku yang telah menyebabkan perpecahan di dalam tubuh-Mu. Ampunilah sikap tidak berterima kasih yang kupertontonkan selama ini. Dalam belas kasih-Mu, sembuhkanlah kerusakan apa saja yang telah kusebabkan. Dengan bebas aku juga mengampuni semua orang yang pernah menggerutu terhadap aku. Aku ingin agar semua relasiku bertandakan belas kasih dan cintakasih dari-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS TIDAK AKAN TINGGAL DIAM” (bacaan tanggal 28-2-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2014.

Cilandak, 25 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPUNYAI GARAM DALAM DIRI KITA

MEMPUNYAI GARAM DALAM DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Kamis, 27 Februari 2014)

YESUS DAN ANAK-ANAK - YESUS SAYANG KEPADA ANAK-ANAKSesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”

“Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan buntung daripada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika matamu menyebabkan engkau berdosa, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulatnya tidak mati dan api tidak terpadamkan.

Karena setiap orang akan digarami dengan api.

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?

Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain.” (Mrk 9:41-50)

Bacaan Pertama: Yak 5:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 49:14-20

“Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain” (Mrk 9:50).

Pada zaman Yesus dahulu, garam adalah suatu komoditas yang sangat berharga dan dinilai sangat tinggi. Salah satu penggunaan garam oleh orang-orang Israel adalah untuk menempatkannya dalam persembahan untuk ritus pemurnian (lihat Im 2:13). Nabi Elisa memurnikan air yang tidak baik dengan memasukkan garam ke dalamnya (2Raj 2:19-21). Bahkan bayi-bayi yang baru dilahirkan juga digosok dengan garam (lihat Yeh 16:4). Garam juga berfungsi sebagai pengawet, sesuatu yang istimewa-penting bagi orang-orang yang tinggal dalam iklim yang panas dan kering tanpa mesin pendingin pada zaman itu. Perjanjian Lama mengacu kepada “perjanjian garam” yang dibuat Allah dengan umat Israel sebagai suatu kondisi yang permanen (Bil 18:19). Jadi, garam sebagai pengawet melambangkan kontrak yang berlaku selama-lamanya antara Allah dan umat-Nya.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa setiap orang akan “digarami” dengan api, setelah baru saya Dia selesai memperingatkan mereka bahwa dosa adalah suatu halangan besar bagi seseorang untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, sehingga lebih baiklah bagi dirinya kehilangan sebagian dari tubuhnya daripada membiarkan dosa itu tetap ada dalam dirinya (Mrk 9:42-48). Dengan demikian kita dapat mengandaikan bahwa janji Yesus sehubungan dengan pemurnian melalui garam merupakan satu cara lain dalam bernubuat mengenai kematian-Nya di atas kayu salib, yang akan membersihkan kita dari semua dosa.

Yesus mengingatkan para pengikut-Nya, “Garam memang baik” (Mrk 9:50), namun apabila garam itu menjadi hambar, maka garam itu menjadi tidak berguna. Pada waktu kita hidup sebagai umat Allah, artinya merangkul berkat-berkat dan tuntutan-tuntutan perjanjian-Nya, maka kita menjadi manusia yang otentik. Kita dipulihkan dari akibat kejatuhan Adam dan Hawa serta “dijaga” terhadap dosa-dosa di kemudian hari. Dengan kita semakin bertumbuh dekat Tuhan Yesus, semakin lebih pula kita digarami (diauri garam) oleh-Nya dan menjadi semakin serupa dengan diri-Nya. Hal ini membuat diri kita menarik bagi orang-orang lain karena selagi Yesus hidup dalam diri kita, maka kita mencerminkan kodrat-Nya. Kita menjadi seperti Kristus bagi saudari-saudari dan saudara-saudara kita. Inilah yang terjadi dengan para kudus, misalnya Santo Fransiskus dari Assisi yang sampai-sampai dikatakan banyak orang bahwa dia adalah sebagai seorang “Kristus yang lain” (alter Christus).

Yesus lalu mengambil kesimpulan: “Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain” (Mrk 9:50). Kodrat Allah sendiri yang mentransformasikan diri kita, akan menolong kita untuk hidup harmonis dengan setiap orang yang ditaruh Allah dalam kehidupan kita. Yesus mengatakan bahwa kita adalah “garam bumi” (Mat 5:13), untuk berdiri tegak di tengah orang banyak dengan mencerminkan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, marilah kita membuka diri bagi garam Allah yang akan memurnikan kita serta menjaga kita dalam rahmat-Nya.

DOA: Bapa surgawi, kami berketetapan hati untuk menjadi umat-Mu yang setia kepada perjanjian yang Kaubuat dengan kami. Perkenankanlah kami untuk memperoleh rahmat-Mu secara berkelimpahan, agar supaya kami dapat menjadi seperti Kristus bagi orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:38-40), bacalah tulisan yang berjudul “CARA-CARA PRAKTIS MELAWAN DOSA” (bacaan tanggal 27-2-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2014.

Cilandak, 25 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS