HAI ORANG YANG KURANG PERCAYA!

HAI ORANG YANG KURANG PERCAYA!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Maria Vianney, Imam – Senin, 4 Agustus 2014)

pppas0227Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Menjelang malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru, “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Lalu Petrus berkata kepada-Nya, “Tuhan, apabila engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus,”Datanglah!” Lalu Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun reda. Orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret. Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya. Mereka memohon kepada-Nya supaya diperkenankan walaupun hanya menyentuh jumbai jubah-Nya. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. (Mat 14:22-36)

Bacaan Pertama: Yer 28:1-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:29,43,79,80,95,102

Yesus baru saja memberi makan paling sedikit lima ribu orang pada malam sebelumnya dan Ia telah pergi menyendiri untuk berdoa. Sebelum itu Yesus telah mengirimkan para murid-Nya mendahului Dia ke seberang lain dari Danau Genesaret dengan menggunakan perahu.

Sementara perahu yang memuat para murid berada di tengah danau, angin sakal datang menerjang sehingga mengombang-ambingkan perahu yang mereka tumpangi. Di tengah-tengah badai para murid dibuat kaget karena menyaksikan Yesus datang mendatangi mereka dengan berjalan di atas air. Murid-murid tersebut memang sangat terkejut. Belum sampai mereka lupa akan peristiwa mukjizat penggandaan roti dan ikan pada malam sebelumnya, sekarang ada lagi satu peristiwa ajaib.

jesus helping peterDalam keadaan seperti itu, para murid menyangka Yesus yang sedang mendatangi mereka itu hantu. Namun Yesus meyakinkan mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” (Mat 14:27).

Siapa lagi kalau bukan Petrus – yang takut-takut berani – menantang Yesus dengan berkata: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air” (Mat 14:28). Kata Yesus, “Datanglah!” (Mat 14:29).

Petrus kemudian turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus, namun ketika merasakan tiupan angin ia pun menjadi takut dan mulai tenggelam. Yesus mengulurkan tangan-Nya dan memegang Petrus seraya berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Mat 14:31).

Ada banyak pelajaran yang dapat kita petik dari pesan Injil hari ini.

Setelah banyak pekerjaan, suatu hari yang sibuk, paling sedikit setelah satu pekan yang penuh kesibukan, kita butuh berdoa. Itulah contoh yang diberikan oleh Yesus. Dia pergi sendirian untuk berdoa.

Di tengah laut kehidupan kita yang penuh badai, kita harus memiliki iman bahwa Yesus Kristus senantiasa menyertai kita, karena Dia adalah sang Imanuel (Mat 1:23; 28:20). Apabila laut atau danau diterpa badai, kita yakin bahwa Yesus sedang berjalan di atas air mendatangi kita. Hal ini seharusnya memberikan kepada kita suatu keyakinan, sukacita dan damai-sejahtera karena sadar akan kedekatan Kristus dengan kita, kebaikan-Nya, belas kasih-Nya, kuasa ilahi-Nya yang mengalahkan segala badai kehidupan.

Iman adalah fondasi dari segalanya dalam kehidupan kita sebagai umat Kristiani. Apabila kita bertanya kepada diri kita sendiri, “mengapa engkau menyeleweng, mengapa engkau tidak taat kepada-Nya?”, kita tahu bahwa jawabannya selalu, paling sedikit sebagian, adalah “karena iman kita terlalu kecil”, kurang percaya!

DOA: Tuhan Yesus, kehadiran-Mu adalah kekuatanku. Ajarlah aku untuk berjalan dalam dunia ini dengan iman yang teguh kepada-Mu. Tuhan, tolonglah aku, agar aku dapat menjadi murid-Mu yang baik. Amin.

Cilandak, 1 Agustus 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KELIMPAHAN RAHMAT ALLAH ADALAH HAK KITA UNTUK MEMINTA KEPADA-NYA

KELIMPAHAN RAHMAT ALLAH ADALAH HAK KITA UNTUK MEMINTA KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVIII – 3 Agustus 2014)

MUKJIZAT PERLIPATGANDAAN ROTI OLEH YESUS- 001Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak menyendiri dengan perahu ke tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. (Mat 14:13-21)

Bacaan Pertama: Yes 55:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-9,15-18; Bacaan Kedua: Rm 8:35,37-39

Tuhan Yesus tidak memanggil kita sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit, bahkan pada saat-saat yang tidak kita harap-harapkan atau barangkali tidak pernah kita perhatikan. Ia dapat mulai dengan membisikkan beberapa pertanyaan kecil kepada hati kita. Atau barangkali sedikit gangguan kecil dalam kehidupan kita tetap dibiarkan berjalan terus sampai menumpuk, sehingga kita mulai mempertanyakan siapa kita ini sebenarnya dan siapa Allah sesungguhnya. Kita mulai memikirkan perspektif yang bersifat kekal-abadi, bahkan tanpa menyadari bahwa pemikiran-pemikiran sedemikian adalah akibat dari Allah yang bergerak dalam diri kita, yang memanggil kita kepada diri-Nya. Sedikit demi sedikit kita mulai menanggapi dengan cara-cara yang kita tidak akan lakukan sebelumnya. Barangkali kita mulai menghadiri Misa Harian di pagi hari, kita mulai membaca Kitab Suci atau bacaan rohani yang baru kita beli di toko buku kecil di kompleks paroki kita. Seringkali inilah bagaimana kita mulai sebuah perjalanan yang lebih mendalam bersama Yesus, tidak sekadar seturut rancangan kita sendiri, melainkan sebagai hasil dari kasih dan belas kasih (Inggris: mercy) Allah yang sedemikian besar terhadap diri kita.

Feeding_the_5000006“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Allah?” (lihat bacaan kedua). Tidak ada siapa pun yang akan mampu melakukannya. Sepanjang hidup kita, Ia senantiasa berbisik dan memanggil, bahkan kadang-kadang berseru, karena Dia mau berbagi hidup-Nya dengan kita. Kasih Allah bagi kita adalah sedemikian, sehingga jauh melampaui sekadar tindakan memelihara dan menopang kehidupan kita. Dia selalu bekerja untuk membentuk diri kita agar semakin menjadi anak-anak-Nya yang semakin sempurna, yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus dan dipersatukan sebagai satu tubuh di bawah Kristus, Kepala kita.

Yesus menunjukkan karya-Nya yang tetap untuk kita itu ketika Dia membuat mukjizat pergandaan roti dan ikan untuk memberi makan paling sedikit lima ribu orang banyaknya. Para murid mengusulkan kepada Yesus untuk membubarkan orang banyak, namun tidak ada penyelesaian masalah berdasarkan pertimbangan praktis dalam pikiran dan hati-Nya. Kemurahan hati-Nya dan kebaikan-Nya jauh melampaui apa saja yang kita dapat bayangkan, dan Ia dengan bebas memberikan itu semua kepada siapa saja yang datang kepada-Nya. Biar bagaimana pun juga, apa yang dapat kita bayarkan untuk rahmat dan kasih yang berlimpah sepanjang hidup kita – beberapa potong roti dan beberapa ekor ikan?

Kelimpahan rahmat Allah adalah hak kita untuk meminta kepada-Nya. Jika kita datang dengan rendah hati ke meja perjamuan Tuhan hari ini untuk menerima roti kehidupan, baiklah kita minta kepada Yesus segala sesuatu yang ingin diberikan-Nya kepada kita. Hal-hal baik yang ingin diberikan-Nya kepada kita itu tak terbatas dan tidak dapat diukur. Janganlah kita biarkan adanya apa pun yang menghalangi jalan-Nya pada hari ini – tidak ada suara menggerutu, tidak ada kemarahan, tidak ada kepahitan, tidak ada pola dosa yang berulang-ulang. Marilah kita berbalik kepada Allah dan memperkenankan rahmat-Nya menyembuhkan kita dan membuat diri kita seturut rencana-Nya – anak-anak yang mencerminkan kasih-Nya dalam segala yang mereka katakan dan lakukan.

DOA: Bapa surgawi, kami menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Mu. Semoga rahmat-Mu menyembuhkan kami semua dan membuat diri kami masing-masing seturut rencana-Mu, yaitu menjadi anak-anak-Mu, yang mencerminkan kasih-Mu dalam segala hal yang kami katakan dan lakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:54-58), bacalah tulisan yang berjudul “YESUSLAH YANG MENGUNDANG KITA KEPADA PERJAMUAN-NYA” (bacaan tanggal 3-8-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2014.

Cilandak, 31 Juli 2014 [Peringatan S. Ignasius dr Loyola, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

INSTRUMEN-NYA YANG RENDAH HATI, PENUH IMAN DAN BERANI

INSTRUMEN-NYA YANG RENDAH HATI, PENUH IMAN DAN BERANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Sabtu, 2 Agustus 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Maria Ratu para Malaikat, Portiunkula

97.-JeremiahKemudian berkatalah para imam dan para nabi itu kepada para pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: “Orang ini patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah bernubuat tentang kota ini, seperti yang kamu dengar dengan telingamu sendiri.”

Tetapi Yeremia berkata kepada segala pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: “TUHAN (YHWH)-lah yang telah mengutus aku supaya bernubuat tentang rumah dan kota ini untuk menyampaikan segala perkataan yang telah kamu dengar itu. Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara YHWH, Allahmu, sehingga YHWH menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu. Tetapi aku ini, sesungguhnya, aku ada di tanganmu, perbuatlah kepadaku apa yang baik dan benar di matamu. Hanya ketahuilah sungguh-sungguh, bahwa jika kamu membunuh au, maka kamu mendatangkan darah orang yang tak bersalah atas kamu dan atas kota ini dan penduduknya, sebab YHWH benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu.”

Lalu berkatalah para pemuka dan seluruh rakyat itu kepada imam-imam dan nabi-nabi itu: “Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama YHWH, Allah kita.”

Tetapi Yeremia dilindungi oleh Ahika bin Safan, sehingga ia tidak diserahkan ke dalam tangan rakyat untuk dibunuh. (Yer 26:11-16,24)

Mazmur Tanggapan: Mzm 69:15-16,30-31,33-34; Bacaan Injil: Mat 14:1-12

Seorang bijak pernah berkata bahwa orang-orang itu seperti kantong-kantong teh. Kita tidak pernah tahu betapa kuat kantong-kantong teh itu sesungguhnya sampai kita menaruhnya dalam air panas. Allah telah memanggil Yeremia untuk menjadi seorang nabi pada usianya yang masih muda (Yer 1:4-10). Yeremia merasa enggan untuk menerima panggilan Allah itu karena dia tahu bahwa panggilan tersebut hanya akan membawanya ke dalam banyak kesulitan. Dalam hal ini Yeremia tidak salah! Sepanjang karirnya sebagai seorang jubir Allah, Yeremia dipukuli, dianiaya dlsb. Bahkan para anggota keluarganya sendiri merencanakan pembunuhan atas dirinya. Ada legenda di kalangan Yahudi bahwa Yeremia mati dirajam dengan batu. Namun yang perlu kita ketahui adalah bahwa Yeremia melaksanakan tugas kenabiannya sebagai seorang pribadi yang rendah hati, penuh iman dan juga keberanian.

AAA_3972 RDalam kerendahan hatinya, Yeremia menyadari bahwa dirinya tidak berarti apa-apa kecuali sebagai instrumen di tangan-tangan Allah. Yeremia melihat dirinya sendiri sebagai seseorang yang “hadir dalam dewan musyawarah YHWH, sehingga ia memperhatikan dan mendengar firman-Nya” (Yer 23:18). Keprihatinannya yang utama adalah memimpin umat di Yerusalem untuk kembali kepada Allah, sehingga sekali lagi mereka “menjadi umat, menjadi ternama, terpuji dan terhormat” bagi Allah (Yer 13:11).

Dalam iman, Yeremia mengetahui bahwa apakah dalam keadaan hidup atau mati, dia dapat menaruh kepercayaan pada pemeliharaan Allah. Yeremia kurang memperhatikan dirinya sendiri. Sebaliknya dia sangat prihatin terhadap umat di Yerusalem. Ia tahu bahwa Allah telah berbicara kepadanya dan bahwa pesan Allah harus diproklamasikan. Santo Paulus memiliki kegairahan yang serupa: “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!” (1Kor 9:16).

Akhirnya, Yeremia adalah seorang yang penuh keberanian. Ia tahu bahwa hidupnya dan “nasibnya” berada di tangan-tangan kasih Allah, dan hal inilah yang membuatnya berani ketika dia harus menghadapi penolakan, pemenjaraan, dan ancaman-ancaman kematian.

Saudari-Saudaraku yang dikasihi Kristus, sesungguhnya Allah ingin memberikan kepada kita semua keberanian yang dimiliki oleh Yeremia. Hal ini bukan selalu berarti bahwa Dia ingin agar kita menjadi orang-orang yang suka berbicara lantang di persimpangan jalan pada siang hari bolong, sehingga “mengganggu” banyak orang. Allah ingin agar kita rendah hati, penuh iman dan keberanian yang akan memampukan kita mengikuti Dia ke mana saya Dia memimpin kita. Kebebasan seperti ini datang selagi kita menyerahkan hidup kita ke dalam tanan-tangan-Nya setiap hari dan memperkenankan Dia mengajar dan membentuk kita seturut kehendak-Nya. Kita adalah milik Allah, dan Dia adalah Allah kita, dan tidak ada siapa pun atau apa pun yang dapat mengambil Allah dari kita!

DOA: Bapa surgawi, berikanlah kepadaku rahmat kerendahan hati, iman dan keberanian, sehingga dengan demikian aku dapat berbicara mengenai Kabar Baik Yesus Kristus kepada orang-orang yang Kauhadirkan ke dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “MERANGKUL YESUS DAN AJARAN-NYA” (bacaan tanggal 2-8-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2014.

Cilandak, 31 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DEKAT DENGAN YESUS

DEKAT DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup-Pujangga Gereja – Jumat, 1 Agustus 2014)

YESUS MENGAJAR DI SINAGOGA

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi, dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka menolak Dia. Kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Karena mereka tidak percaya, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ. (Mat 13:54-58)

Bacaan Pertama: Yer 26:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:5,8-10,14

Marilah kita mengawali permenungan bacaan Injil hari ini dengan membaca lagi awal Mat 13: “Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak berbondong-bondong dan mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai” (Mat 13:1-2; bdk. Mrk 3:9). Orang banyak begitu entusias mau mendengar pengajaran-Nya. Bandingkanlah ini dengan penerimaan suam-suam kuku terhadap Yesus dalam sinagoga kampung halamannya sendiri. “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? …… Bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi, dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” (Mat 13:55-56).

YESUS DI SINAGOGA DI NAZARET - 3Bayangkanlah bagaimana kiranya hal tersebut menyakitkan hati Yesus ketika Dia mendengar bisik-bisik atau kasak-kusuk sedemikian di tengah umat yang hadir. Ini sungguh jauh berbeda dengan berbagai reaksi dari orang banyak pada peristiwa-peristiwa sebelumnya, yang dengan penuh gairah memproklamasikan: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel” (Mat 9:33) dan “Ia ini agaknya Anak Daud” (Mat 12:23). Kita mungkin bertanya-tanya berapa banyak orang yang berkumpul dalam sinagoga pada hari itu yang telah mencoba untuk menyelidiki cerita-cerita yang beredar-luas tentang salah seorang warga Nazaret, kampung halaman mereka sendiri. Kita juga dapat berandai-andai berapa banyak dari mereka hanya duduk di rumah saja dan menantikan kedatangan sang “pembuat-mukjizat” di Nazaret, bukannya mencari Yesus di tempat-tempat di mana Dia membuat mukjizat-mukjizat itu.

Inilah yang dialami oleh Yesus selama karya pelayanan-Nya di tengah publik. Ada sejumlah orang dengan tulus mencari dan mengikuti Dia. Mereka disembuhkan dan dibebaskan! Di lain pihak, ada orang-orang yang memperhatikan dan mengawasi Yesus dari kejauhan saja, dan sebagai konsekuensi mereka pun kehilangan kesempatan untuk mengalami perubahan dalam hidup mereka. Yesus tidak ingin kita hanya mengenal-Nya sebagai seorang anak tukang kayu dari Nazaret atau sebagai seseorang yang mati di kayu salib dua ribu tahun lalu. Yesus sungguh ingin agar kita semua mengenal-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, juga Sahabat kita.

Adakah pelajaran yang kita dapat petik dari bacaan Injil hari ini? Tentu ada! Jadikanlah diri kita (anda dan saya) dekat dengan Yesus! Carilah Dia! Marilah kita bergabung dengan orang-orang yang berbondong-bondong dan mengerumuni Yesus begitu dekatnya di pinggir danau sehingga hampir menjatuhkan-Nya ke dalam air danau. Marilah kita bersama Bartimeus juga berseru kepada-Nya: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (Mrk 10:47). Kalau kita sedang membaca Kitab Suci dan anda tidak memahami satu dari perumpamaan Yesus, maka tanpa rasa takut dan sungkan, marilah kita memohon kepada-Nya untuk menjelaskan perumpamaan itu kepada kita. Janganlah kita pernah merasa lelah mendengarkan pengajaran-Nya. Janganlah kiranya kita puas dengan apa yang telah kita ketahui tentang Yesus. Berkat-berkat-Nya senantiasa baru setiap pagi.

DOA: Yesus, aku berdoa agar dapat mengenal Engkau dengan lebih mendalam lagi. Aku ingin mengenal Engkau tidak sekadar sebagai seorang Guru Agung atau seorang Pribadi yang patut dibanggakan. Aku ingin mengenal Engkau sebagai Tuhanku dan Allahku (Yoh 20:28). Aku ingin merasakan kehadiran-Mu di dekatku pada hari ini. Ajarlah aku tentang diri-Mu yang tidak pernah aku tahu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:54-58), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA MEMBATASI KARYA YESUS DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 1-8-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2014.

Cilandak, 30 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SUNGGUH RIIL

SUNGGUH RIIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dr. Loyola – Kamis, 31 Juli 2014)

matthew.13.47

“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53)

Bacaan Pertama: Yer 18:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2-6

Apakah kematian harus terjadi? Ya! Apakah ada surga dan neraka? Ya! Apakah akan ada suatu penghakiman terakhir, suatu pemisahan antara ikan yang baik dan yang buruk, pemisahan antara domba dan kambing (Mat 25:31-46), pemisahan antara gandum dan lalang (Mat 13:24-30)? Ya! Semua perumpamaan yang mengacu pada akhir zaman ini sungguh riil dan semua itu menenangkan hati. Namun, kita harus berhati-hati agar tidak membiarkan pikiran tentang akhir zaman itu memenuhi diri kita dengan rasa takut yang tak perlu. Sebagai umat Kristiani, kita tahu dan seharusnya yakin bahwa Allah adalah “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita. Dia memberikan kepada kita apa saja yang kita butuhkan agar tetap berdiri tegak penuh keyakinan dalam hari penghakiman terakhir.

PARABLE OF THE DRAGNETKitab Suci tidak bosan- bosannya mengingatkan kita bahwa mereka yang hidup dalam Kristus adalah “ciptaan baru” (2Kor 5:17) dan mereka yang percaya kepada Yesus telah berpindah dari kematian ke kehidupan dan “tidak turut dihukum” (Yoh 5:24). Kebenaran yang membebaskan dari Injil adalah bahwa apabila kita tetap hidup dalam Kristus, kita menjadi “ikan-ikan yang baik”. Dalam Dia kita adalah “domba-domba” dan bukan “kambing-kambing”, “gandum” dan bukan “lalang”.

Apakah keniscayaan akan adanya penghakiman terakhir menakutkan anda? Atau apakah anda menghindarkan diri dari isu atau topik sekitar penghakiman terakhir, dan kemudian menyibukkan diri anda dengan kesibukan sehari-hari? Untuk dua situasi ini, jawabnya terletak pada suatu pernyataan yang lebih dalam dari Yesus. Ia akan menunjukkan kepada anda bahwa anda tidak perlu takut akan penghakiman terakhir. Ia juga akan menolong anda menempatkan hal-hal dalam kehidupan anda secara teratur sehingga dengan demikian anda dapat memusatkan perhatian anda pada hari di mana anda akan memandangnya muka ketemu muka.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, selagi kita (anda dan saya) datang kepada Yesus dalam doa dan pembacaan serta permenungan sabda-Nya dalam Kitab Suci, maka Dia akan menunjukkan kepada kita betapa berharga harta yang kita miliki dalam Dia, dan Ia pun akan menunjukkan kepada kita bagaimana hidup dengan cara-cara yang menyenangkan hati-Nya.

Allah ingin agar kita mengetahui bahwa baptisan hanyalah awal dari relasi kita dengan diri-Nya. Dia ingin menopang kita setiap hari dengan Roh Kudus-Nya. Dia ingin mengajar kita bagaimana hidup “dalam Kristus” setiap hari sehingga dengan demikian apa pun yang kita hadapi dalam perjalanan hidup kita, kita dapat berpegang pada janji-janji keselamatan-Nya dan tetap yakin bahwa kita ditebus dalam Dia. Setiap hari Yesus ingin memberikan diri-Nya kepada kita sehingga kita dapat memberikan diri kita sendiri kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin dipersatukan dengan Engkau. Usirlah kekhawatiranku tentang kematian dan penghakiman terakhir. Tolonglah aku untuk memusatkan perhatianku pada tujuan untuk memandang Engkau muka ketemu muka dan hadir dalam pesta perjamuan di dalam kerajaan surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yer 18:1-6), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “SEPERTI TANAH LIAT DI TANGAN TUKANG PERIUK” (bacaan tanggal 31-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Cilandak, 29 Juli 2014 [Peringatan S. Marta]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARTA YANG ADALAH ALLAH SENDIRI

HARTA YANG ADALAH ALLAH SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Rabu, 30 Juli 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46)

Bacaan Pertama: Yer 15:10,16-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 59:2-5,10-11,17-18

Ada seorang laki-laki yang mempunyai hobi koleksi benda-benda bekas yang bagus (lukisan dll.) dengan harga yang relatif lebih murah. Dia biasanya “berkelana” dari garage sale yang satu ke garage sale lainnya sehingga dikenal sebagai pengunjung tetap acara obral sedemikian. Pada suatu hari orang itu menemukan beberapa butir batu berharga yang bernilai tinggi dan mahal. Orang itu bergembira sedemikian rupa sehingga mengingatkan kita akan orang-orang dalam dua perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini, yaitu tentang “harta yang terpendam di ladang” dan tentang “mutiara yang sangat berharga” (Mat 13:44,46).

PERUMPAMAAN TTG MUTIARA YANG HILANGTentu saja dua perumpamaan Yesus ini berbicara melampaui benda-benda berharga yang ada di dunia. Perumpamaan-perumpamaan Yesus ini berbicara mengenai sukacita yang tidak dapat ditekan atau ditahan-tahan karena berhasil menemukan harta yang bernilai tanpa batas. Harta itu adalah Kerajaan Allah yang pada hakekatnya adalah “kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus” (Rm 14:17). Kegembiraan penuh sukacita karena menemukan harta sangat berharga itu adalah sesuatu yang ingin Tuhan berikan kepada kita masing-masing! Sayangnya, banyak umat Kristiani terbaptis tidak mengetahui di mana harta itu dapat ditemukan. Mencari dan mencari, mereka seringkali gagal menemukan, seperti yang diajarkan Yesus sendiri, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:20-21).

Sekarang masalahnya adalah apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa melalui karunia Roh Kudus, kita mempunyai hidup baru dalam Kristus dan suatu sumber kuasa dan rahmat yang ada di kedalaman hati kita? Dalam pembaptisan kita dibuat menjadi “ciptaan baru” (2Kor 5:17). Kita masing-masing menjadi seorang anak angkat Allah (bdk. Gal 4:5-7) dan ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi (2Ptr 1:4), seorang anggota Kristus (bdk. 1Kor 6:15;12:27) dan pewaris bersama-Nya (Rm 8:17), dan kanisah Roh Kudus” (bdk. 1Kor 6:19)(Katekismus Gereja Katolik, 1265). Hal-hal indah ini mungkin saja bertahun-tahun lamanya tertutupi oleh karena kelalaian, kekurangan atau ketiadaan pemahaman, bahkan dapat juga disebabkan kelemahan moral dan dosa. Namun kebenarannya masih tetap ada: Kerajaan Allah ada di dalam diri kita dengan segala kuasa dan keindahannya.

download (1)Itulah sebabnya mengapa doa, pertobatan, dan tindakan kasih dan belas kasih (Inggris: mercy) begitu penting. Santo Paulus mengatakan: “… harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor 4:7). Jika kita ingin mengetahui harta yang ada di dalam diri kita, kita harus menyingkirkan segala harta lainnya yang selama ini mengikat dan membatasi gerak-gerik kita. Memang tidak mudah, tetapi kita harus ingat selalu bahwa Allah mengundang kita untuk menemukan sukacita sejati karena kita membuat diri-Nya harta kita yang teramat berharga. “Apabila Yang Mahakuasa menjadi timbunan emasmu, dan kekayaan perakmu, maka sungguh-sungguh engkau akan bersenang-senang karena Yang Mahakuasa, dan akan menengadah kepada Allah” (Ayb 22:25-26).

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, Engkau jauh lebih berharga daripada emas dan perak. Dalam Engkau-lah ada segala kesenanganku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan yang berjudul “HARTA YANG TAK TERNILAI DI MATA YESUS” (bacaan tanggal 30-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGUAN ALKITABIAH JULI 2014

Cilandak, 28 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU PERCAYA

AKU PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Marta – Selasa, 29 Juli 2014)

MARY MARTHA AND JESUSDi situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Lalu kata Marta kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Kata Yesus kepada Marta, “Saudaramu akan bangkit.” Kata Marta kepada-Nya, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Jawab Yesus kepada, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akah hal ini?” Jawab Marta, “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia.” (Yoh 11:19-27)

Bacaan Pertama: Yer 14:17-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 79:8-9,11,13; Bacaan Injil Alternatif: Luk 10:38-42

Marta dan saudara-saudarinya – Lazarus dan Maria – adalah sahabat-sahabat dekat Yesus dan juga pengikut-Nya. Dalam bahasa Aram “Marta” berarti “nyonya”. Sifat pribadinya memang cocok dengan perannya sebagai nyonya, karena Marta menyambut Yesus ke dalam rumahnya (Luk 10:38-42), jelas sebagai sang kepala rumah tangga. Lukas menggambarkan Marta sebagai seorang yang sibuk melayani dalam rumah, barangkali dalam mempersiapkan makanan dan minuman dan melihat apa yang dibutuhkan oleh para tamunya.

Bacaan Injil hari ini berlatar-belakang kematian Lazarus. Yohanes menggambarkan Marta pergi mendapatkan Yesus dan menyapa-Nya dengan suatu pernyataan iman (Yoh 11:21-22). Di sini tidak ada kata-kata “menegur” Yesus seperti yang diucapkan kepada-Nya sebelumnya (lihat Luk 10:38-42). Yang ada hanyalah penerimaan kenyataan akan ketidak-hadiran-Nya ditambah dengan suatu kepercayaan akan kuat-kuasa-Nya. Di sini Yohanes Penginjil menggambarkan seorang perempuan yang sudah lebih matang/dewasa dalam imannya ketimbang yang digambarkan oleh Lukas dalam Luk 10:38-42. Yesus telah mengajarkan kepada Marta tentang pentingnya berupaya mengenal hal-hal surgawi.

THE RAISING OF LAZARUSMarta telah sampai kepada pemahaman bahwa Yesus mempunyai suatu relasi istimewa dengan Bapa-Nya di surga. Yesus mencoba untuk mengembangkan iman-kepercayaan perempuan ini dengan berkata: “Saudaramu akan bangkit” (Yoh 11:23). Marta mengetahui tentang hal kebangkitan dari kepercayaan yang meluas di antara orang-orang Yahudi saleh pada zaman itu bahwa akan ada suatu kebangkitan pada akhir zaman: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman” (Yoh 11:24). Namun Yesus menanggapi ucapan Marta tersebut dengan berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup, siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh 11:25-26). Mendengar kata-kata Yesus itu, Marta membuat suatu lompatan iman yang besar dengan mengatakan: “Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 11:27).

Kiranya inilah pesan bagi kita pada hari ini. Apabila kita duduk bersimpuh di dekat kaki Yesus dan belajar dari diri-Nya, iman kita akan bertumbuh selagi Dia mengajar kita jalan-jalan-Nya. Waktu yang kita luangkan bersama Yesus dalam doa, pembacaan dan permenungan Sabda-Nya dalam Kitab Suci, dan Ekaristi akan menolong memperdalam iman-kepercayaan kita selagi kita diajar oleh Yesus dan menyimpan sabda-Nya dalam hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami datang menghadap Engkau dan duduk bersimpuh di dekat kaki-Mu untuk mendapat pengajaran dari-Mu. Semoga kami semua terbuka bagi sabda-Mu yang disampaikan kepada kami dalam doa-doa kami, selagi kami membaca dan merenungkan sabda-Mu dalam Kitab Suci, dan dalam Ekaristi. Tolonglah kami agar dapat merangkul ajaran-Mu sehingga dengan demikian kami dapat percaya bahwa Engkau adalah sungguh kebangkitan dan hidup. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 11:19-27), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN KEPERCAYAAN SEJATI” (bacaan tanggal 29-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014.

Cilandak, 26 Juli 2014 [Peringatan S. Yoakim dan Anna, Orangtua SP Maria]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS