BAGAIMANA HAL ITU MUNGKIN TERJADI?

BAGAIMANA HAL ITU MUNGKIN TERJADI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KABAR SUKACITA, Senin 26-3-12) 

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14;8:10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10 

Pada peristiwa “Maria diberi kabar oleh Malaikat Tuhan”,  malaikat agung Gabriel mengundang Maria untuk bekerja sama dalam rencana penyelamatan Allah. Ketika sang perawan dari Nazaret bertanya bagaimana panggilan agung sedemikian mungkin terjadi karena dia belum bersuami (Luk 1:34), maka Gabriel menjelaskan bahwa Maria tidak akan mengandung karena cinta seorang manusia lain, melainkan oleh Roh Kudus: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk 1:35).

Bayangkan iman yang diperlukan Maria untuk memberikan jawaban dengan menyerahkan dirinya dengan bebas kepada kehendak Allah atas dirinya. “Ya,” kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Kepercayaan, iman, pengharapan, kerendahan hati/kedinaan, ketaatan, dan kasih, semua bercampur dan terangkum dengan indah dalam kata-kata sederhana yang diucapkan oleh Maria. Dan dunia pun diubah untuk selama-lamanya karena kata-kata yang diucapkan oleh perawan Nazaret ini.

Cerita dari Injil Lukas inilah Santo Fransiskus dari Assisi dan banyak orang kudus lainnya, menyapa Maria sebagai “mempelai Roh Kudus” (“Antifon Santa Perawan Maria” dalam Ibadat Sengsara Tuhan). Akan tetapi kita tidak boleh membatasi gambaran ini sekadar pada saat  Yesus dikandung dalam rahim Perawan Maria oleh Roh Kudus. Roh Kudus “menaungi” Maria tidak hanya pada saat awal peziarahannya di atas muka bumi ini. Ada demikian banyak lagi peristiwa yang dialami oleh Maria dalam kehidupan imannya. Sepanjang hidupnya, Maria bertumbuh dalam ketergantungannya pada Roh Kudus dan menjadi seorang saksi yang lebih besar atas hidup baru yang dibawa oleh Yesus dengan kedatangan-Nya di tengah umat manusia.

Sebagaimana halnya dengan Maria, kita juga dipanggil untuk mengatakan “ya” kepada Allah tidak sekali saja, melainkan lagi, lagi dan lagi. Seperti sang perawan dari Nazaret kitapun telah diundang ke dalam relasi yang erat dengan Roh Kudus – untuk menjadi tempat kediaman-Nya, mendengarkan-Nya, bertindak-tanduk di bawah bimbingan-Nya, dan membawa Kristus ke tengah dunia. Seperti Maria, kita pun dapat juga bertanya: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” Santo Augustinus pernah menulis, “Ibunda  Kristus membawa-Nya dalam rahimnya. Semoga kita membawa-Nya dalam hati kita. Sang perawan menjadi hamil dengan inkarnasi Kristus. Semoga hati kita menjadi hamil dengan iman dalam Kristus. Ia (Maria) membawa sang Juruselamat. Semoga jiwa-jiwa kita membawa keselamatan dan puji-pujian”.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar dapat mendengar panggilan-Mu untuk mengasihi dan melayani. Tolonglah aku untuk berkata “ya” kepada Dikau. Utuslah Roh Kudus-Mu kepadaku, sehingga Yesus sungguh dapat hadir dalam hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan dengan judul “HARI RAYA KABAR SUKACITA” (bacaan untuk tanggal 26-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2012. Bacalah juga  tulisan berjudul “MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT TUHAN” (bacaan tanggal 25-3-11) dalam situs/blog SANG SABDA ini; kategori: 11-03 BACAAN HARIAN MARET 2011.  

Cilandak, 18 Maret 2012 [HARI MINGGU PRAPASKAH IV] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEPERTI BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH, MATI DAN MENGHASILKAN BANYAK BUAH

SEPERTI BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH, MATI DAN MENGHASILKAN BANYAK BUAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH V [Tahun B], 25-3-12) 

Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani. Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya, “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; lalu Andreas dan Filipus menyampaikannya kepada Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Telah tiba saat Anak Manusia dimuliakan. Sesungguhnya Aku berkata berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Siapa saja yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Siapa saja yang melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Lalu terdengarlah suara dari surga, “Aku telah memuliakannya, dan Aku akan memuliakannya lagi!” Orang banyak yang berdiri di situ dan mendengarkannya berkata bahwa itu bunyi guntur. Ada pula yang berkata, “Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia.” Jawab Yesus, “Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu. Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: Sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.  (Yoh 12:20-33)

Bacaan Pertama: Yer 31:31-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-15; Bacaan Kedua: Ibr 5:7-9

“Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24).

Yesus memilih untuk mati di kayu salib agar supaya kita dapat hidup. Ini adalah hakekat terdalam pesan Injil. Ia adalah sang “biji gandum” yang jatuh ke dalam tanah dan mati, yang menhasilkan banyak buah. Sekarang, kita yang telah dibaptis ke dalam kematian dan kebangkitan-Nya dipanggil untuk menyerahkan hidup kita kepada-Nya – untuk mati terhadap hidup kedosaan – agar supaya kita pun banyak menghasilkan buah.

Pemikiran tentang mati seperti sebutir biji gandum terkadang dapat menjadi menakutkan. Kita takut terhadap “biaya kemuridan/pemuridan” (cost of discipleship). Bahkan Yesus, Putera Bapa sendiri, “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan?” (Yoh 12:27 LAI-TB II). Beberapa contoh terjemahan bahasa Inggrisnya adalah: “Now is My soul troubled. And what shall I say?” (RSV); “My soul is troubled now, yet what should I say?” (NAB); “Now My heart is troubled – and what shall I say?” (TEV); “Now My soul is troubled. What I shall I say?” (NJB). Jadi, jiwa Yesus lebih daripada sekadar “terharu” (mungkin kata “galau” atau “merasa susah” lebih tepat), dan ini dikatakan-Nya tidak lama sebelum mengalami sengsara di taman Getsemani. Namun demikian, Yesus mengetahui sekali bahwa kematian dan kebangkitan-Nya akan mampu menarik banyak orang ke dalam kerajaan Bapa-Nya (lihat Yoh 12:32).

Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengungkapkan pergumulan Yesus dengan  mengatakan: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis and air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya dan sesudah Ia disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya” (Ibr 5:7-9).

Ini adalah buah dari penyaliban Yesus, “saat” untuk mana Dia telah datang. Oleh kematian-Nya, Yesus membatalkan hutang dosa kita dan memenangkan kehidupan kekal bagi kita. Allah Bapa menunjukkan kedalaman kasih-Nya bagi kita dalam hasrat-Nya untuk membuat suatu perjanjian baru dengan kita, suatu perjanjian yang ditulis dalam hati kita (lihat Yer 31:33). Tidak seperti perjanjian yang lama, yang dipatahkan oleh orang-orang Israel, perjanjian baru ini tidak dapat dipatahkan karena memang tidak tergantung pada kelemahan hati manusia. Perjanjian yang baru adalah berdasarkan pada kuat-kuasa Roh Kudus, yang akan memberikan rahmat kepada siapa saja yang berbalik kepada-Nya dengan rendah hati dan penuh kepercayaan.

DOA: Tuhan Yesus, oleh Roh Kudus-Mu, mampukanlah kami mengatasi rasa takut kami akan kematian. Seperti sebutir biji gandum, mampukanlah kami untuk mati terhadap diri kami sendiri, sehingga dengan demikian kami dapat menghasilkan banyak buah bagi-Mu selagi kami membangun kerajaan-Mu di atas muka bumi ini.  Seperti Engkau memuliakan Bapa-Mu oleh ketaatan-Mu pada kehendak-Nya, semoga kehendak kami untuk taat kepada-Nya dapat membawa kemuliaan dan kehormatan bagi-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:20-33), bacalah tulisan dengan judul “JIKA BIJI GANDUM TIDAK JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI” (tulisan untuk tanggal 25-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2012. 

Cilandak, 16 Maret 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KERASKAN HATI KITA

JANGANLAH KERASKAN HATI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah, Sabtu 24-3-12) 

Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata, “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Bukankah Kitab Suci mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal?” Lalu timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh-Nya.

Kemudian penjaga-penjaga itu kembali kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu, “Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!” Lalu jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka, “Apakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, salah seorang dari mereka, yang dahulu datang kepada-Nya, berkata kepada mereka, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukan-Nya?” Jawab mereka, “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. (Yoh 7:40-53)

Bacaan Pertama: Yer 11:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 7:2-3,9-12

Apakah Yesus itu Mesias? Apakah Ia sang nabi yang telah dinubuatkan dalam Kitab Ulangan? Apabila Yesus berasal dari Galilea, bagaimana mungkin Ia adalah seorang nabi sejati? Ini adalah berbagai reaksi orang-orang Yahudi setelah Yesus masuk ke dalam Bait Suci terhadap apa yang dikatakan-Nya pada hari terakhir pesta penting itu: “ Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” (Yoh 7:37-38).

Setelah mendengar kata-kata Yesus ini, beberapa di antara orang banyak mulai berpikir jangan-jangan Dia memang benar-benar nabi yang akan datang, malah sang Mesias yang dinanti-nantikan. Namun ada juga yang meragukan hal itu karena Dia berasal dari Nazaret di Galilea (lihat Yoh 7:40-42). Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak, malah ada yang mau mengangkap Dia, namun tidak seorang pun yang menyentuh-Nya (lihat Yoh 7:43-44). Sosok pribadi Yesus mengingatkan orang banyak akan gambaran seorang nabi seperti dinubuatkan oleh Musa: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN (YHWH), Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. Lalu berkatalah YHWH kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini;  Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban” (Ul 18:15,17-19).

Berkaitan dengan argumentasi tentang asal-usul seorang nabi dari Nazaret di Galilea, kita diingatkan kembali kepada komentar Natanael kepada Filipus yang mengajaknya pertama kali bertemu dengan sang Rabi dari Nazaret itu: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46). Komentar Natanael itu mengindikasikan kesulitan yang dihadapi banyak orang, jikalau mereka tidak mengetahui bahwa Yesus sebenarnya lahir di Betlehem, sehingga dengan demikian memenuhi nubuatan-nubuatan tentang asal-usul Mesias (Mi 5:2; Mat 2:4-6).

Seringkali orang-orang ini hanya melihat asal-usul manusiawi Yesus dan luput  melihat asal-usul ilahi-Nya yang diperlihatkan melalui kata-kata dan perbuatan-perbuatan-Nya, teristimewa berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat-Nya. Sang Pemazmur mencatat ungkapan yang kiranya cocok dalam hal ini (sebenarnya kita daraskan/nyanyikan setiap kali kita mengawali Ibadat Harian setiap pagi: “Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun”  (Mzm 95:7-8). Kata-kata sang Pemazmur ini dapat kita jadikan kata-kata kita sendiri pada hari ini, sehingga dengan demikian kita tidak akan menolak kebenaran yang diproklamasikan oleh Yesus. Kita akan akan terbuka dan memperkenankan kebenaran-Nya mentransformasikan diri kita. Itulah tantangan yang kita hadapi dan tanggapi, baik dalam masa Prapaskah maupun hari-hari lainnya dalam kehidupan kita.

DOA: Bapa surgawi, oleh Roh Kudus-Mu bimbinglah kami senantiasa dalam belas kasih-Mu. Tolonglah kami untuk mendengar suara-Mu, karena kami tidak ingin mengeraskan hati kami terhadap apa saja yang Engkau ingin katakan kepada kami. Kami sungguh ingin menjadi murid-murid yang baik dan berbuah dari Putera-Mu, Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:40-53), bacalah tulisan yang berjudul “SUATU BERKAT YANG LUARBIASA DARI KEMATIAN YESUS” (bacaan tanggal 24-3-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “BELUM PERNAH SEORANG PUN BERKATA-KATA SEPERTI YESUS” (bacaan tanggal 9-4-11) dalam situs/blog SANG SABDA ini; kategori: 11-04 BACAAN HARIAN APRIL 2011. 

Cilandak, 10 Maret 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEMIKIRAN-PEMIKIRAN ORANG-ORANG JAHAT

PEMIKIRAN-PEMIKIRAN ORANG-ORANG JAHAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV, Jumat 23-3-12)

Karena angan-angannya tidak tepat maka berkatalah mereka satu sama lain: “Pendek dan menyedihkan hidup kita ini, dan pada akhir hidup manusia tidak ada obat mujarab. Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita. Ia membanggakan mempunyai pengetahuan tentang Allah, dan menyebut dirinya anak Tuhan, Bagi kita ia merupakan celaan atas anggapan kita, hanya melihat dia saja sudah berat rasanya bagi kita. Sebab hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah lakunya. Kita dianggap olehnya sebagai yang tidak sejati, dan langkah laku kita dijauhinya seolah-olah najis adanya. Akhir hidup orang benar dipujinya bahagia, dan ia bermegah-megah bahwa bapanya ialah Allah. Coba kita lihat apakah perkataannya benar dan ujilah apa yang terjadi waktu ia berpulang. Jika orang yang  benar itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya. Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya. Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan.”

Demikianlah mereka berangan-angan, tapi mereka sesat, karena telah dibutakan oleh kejahatan mereka. Maka mereka tidak tahu akan rahasia-rahasia Allah, tidak yakin akan ganjaran kesucian, dan tidak menghargakan kemuliaan bagi jiwa yang murni. (Keb 2:1a,12-22)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:17-21,23; Bacaan Injil: Yoh 7:1-2,10,25-30 

Sekitar satu abad sebelum kelahiran Kristus, seorang cendikiawan Yahudi menulis sebuah kitab dalam tradisi Raja Salomo (malah mengatas namakan Salomo), raja Israel yang penuh hikmat itu. Penulis ini adalah seorang yang terdidik baik dalam hikmat alkitabiah dan juga filsafat Yunani. Dia menulis Kitab Kebijaksanaan (Salomo) ini untuk menolong komunitas Yahudi memahami iman-kepercayaan mereka di bawah tekanan untuk berkompromi dengan pandangan-pandangan kafir tentang kehidupan. Penulis ini menyalahkan orang-orang yang membuang iman-kepercayaan mereka dan kemudian memeluk budaya Yunani.

Dalam diskursus imajiner yang mengungkapkan pemikiran-pemikiran orang-orang jahat sedemikian selagi mereka membuat rancangan untuk mencelakakan seorang Yahudi yang saleh, sang penulis mengamati kesalahan dan ketidakpercayaan yang melatarbelakangi kemurtadan mereka: mereka buta terhadap kebenaran mendasar bahwa Allah memberi ganjaran kepada “jiwa yang murni” (Keb 2:22).

Tradisi masa puasa atau Prapaskah Kristiani menafsirkan bacaan ini sebagai suatu meditasi kenabian (profetis) atas rencana jahat orang-orang Yahudi untuk membunuh Yesus. Mereka yang berkomplot untuk membunuh Yesus merasakan bahwa ajaran-ajaran-Nya sungguh menantang cara-cara atau jalan-jalan mereka yang bersifat legalistik: “Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita” (Keb 2:12). Mereka marah ketika mendengar Yesus menyapa/memanggil Allah sebagai Bapa-Nya (Keb 2:13). Otoritas mereka terancam oleh sikap dan perilaku terbuka Yesus yang anti kemunafikan (Keb 2:16).

Biar bagaimana pun juga, ketulusan dan kebenaran pesan Yesus membuat diri-Nya sebagai suatu teguran/celaan terhadap nurani mereka yang tidak beres. Pikiran mereka sendiri yang menuduh diri mereka, kapan dan di mana saja mereka bertemu dengan Yesus (Keb 2:14,15). Mereka “ngotot” untuk menolak kebenaran Yesus, malah memandang Yesus sebagai “gangguan dan menentang pekerjaan mereka” (lihat Keb 2:12). Dengan memelintir atau memutar-balikkan ayat-ayat Kitab Suci, para lawan/musuh Yesus mencobai-Nya dan berkata: “Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya” (Keb 2:18). Mereka mencobai kelembutan hati dan daya tahan Yesus, dan akhirnya menyiksa Dia sampai mati di kayu salib.

Pada tataran yang berbeda, diskursus ini dapat juga membimbing kita dalam memeriksa hati kita sendiri. Apakah kita menghakimi atau memperlakukan orang-orang lain dengan kekerasan, lalu merasionalisasikannya untuk membenarkan tindakan kita itu? Apakah bagi kita ajaran-ajaran Yesus itu sebagai teguran/celaan terhadap diri kita? Apakah Kristus yang berdiam dalam diri kita membuat kita menjadi tidak nyaman? Apakah wejangan/nasihat-Nya terasa sebagai teguran/celaan, sesuatu yang kita abaikan ketika tidak menyenangkan hati kita? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini harus timbul selagi kita berjuang untuk menangkap setiap pemikiran akan Kristus. Kebenaran tentang kecenderungan-kecenderungan kita untuk berdosa tidak seharusnya membuat kita menjadi tertekan dan berdaya, karena kita mengetahui benar bahwa Yesus mati di kayu salib untuk setiap orang, bahkan untuk para lawan/musuh-Nya juga.

Marilah kita dalam masa Prapaskah ini secara khusus membawa segala pikiran dan perbuatan kita ke hadapan “sang Kebenaran” (lihat Yoh 14:6) dan 100% percaya akan apa yang pernah disabdakan-Nya: “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat” (Luk 15:10).

DOA: Tuhan Yesus, ampunilah segala dosaku karena kemunafikan diriku, kesombongan pribadi dan ke-sok-suci-an-ku. Terima kasih Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:1-2,10,25-30), bacalah tulisan yang berjudul “AKU DIUTUS OLEH DIA YANG BENAR YANG TIDAK KAMU KENAL” (bacaan  tanggal 23-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2012. 

Cilandak, 9 Maret 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMIS PEKAN KEEMPAT PRAPASKA – HENRI J.M. NOUWEN

KAMIS PEKAN KEEMPAT PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

“Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa” (Yoh 5:44).

Sedikit demi sedikit saya menjadi sadar betapa pentingnya kata kemuliaan dalam Injil Yohanes. Disebut mengenai kemuliaan Allah, kemuliaan yang benar yang membawa orang kepada kehidupan. Ada juga kemuliaan manusiawi, kemuliaan yang sia-sia yang membawa orang kepada kematian. Sepanjang Injilnya Yohanes menunjukkan bagaimana kita digoda untuk memilih kemuliaan yang sia-sia, bukan kemuliaan yang datang dari Allah.

Kemuliaan manusiawi dalam arti tertentu selalu dihubungkan dengan persaingan. Kemuliaan manusia disebabkan oleh anggapan bahwa ia lebih baik, lebih cepat, lebih cantik, lebih berkuasa atau lebih berhasil daripada orang lain. Kemuliaan yang diberikan oleh orang adalah kemuliaan karena dianggap lebih daripada orang lain. Semakin baik nilai yang kita dapatkan dalam papan kehidupan kita, semakin besar kemuliaan yang kita peroleh. Kemuliaan ini membuat kita bergerak naik. Semakin tinggi kita naik tangga keberhasilan, semakin banyak kemuliaan yang kita kumpulkan. Namun kemuliaan seperti ini juga mendatangkan kegelapan dalam hidup kita. Kemuliaan manusiawi yang dilandaskan pada persaingan, melahirkan permusuhan; permusuhan adalah awal kekerasan; dan kekerasan adalah pintu masuk ke kematian. Kemuliaan manusiawi ini ternyata sia-sia, palsu dan membawa kematian.

Kalau demikian bagaimana kita dapat melihat dan menerima kemuliaan Allah? Dalam Injilnya Yohanes menunjukkan bahwa Allah mengambil jalan perendahan untuk menyatakan kemuliaan-Nya kepada kita. Inilah kabar gembira, yang sekaligus mengganggu. Dalam kebijaksanaan-Nya yang tanpa batas, Allah menyatakan keilahian-Nya kepada kita tidak melalui jalan persaingan melainkan dalam kemurahan hati-Nya, yaitu dalam penderitaan-Nya bersama kita. Allah memilih jalan turun. Setiap kali Yesus berbicara mengenai pemuliaan diri-Nya dan memuliakan Bapa, Ia selalu menghubungkannya dengan perendahan dan kematian-Nya. Melalui salib Yesus memuliakan Allah, menerima kemuliaan dari Allah dan menyatakan kemuliaan Allah kepada kita. Kemuliaan kebangkitan tidak pernah dapat dipisahkan dari kemuliaan di salib. Tuhan yang bangkit selalu menunjukkan luka-luka-Nya kepada kita.

Dengan demikian kemuliaan Allah bertolak belakang dengan kemuliaan manusia. Manusia mencari kemuliaan dengan bergerak naik, sedang Allah menyatakan kemuliaan-Nya dengan bergerak turun. Kalau kita sungguh-sungguh mau melihat kemuliaan Allah, kita harus bergerak turun bersama Yesus. Inilah alasan yang paling dasar untuk hidup dalam kesetiakawanan dengan orang miskin, tertindas dan cacat. Dalam diri orang-orang seperti itulah kemuliaan Allah menyatakan diri kepada kita. Mereka menunjukkan jalan menuju Allah, jalan keselamatan.

DOA: Betapa sering dalam minggu-minggu ini saya menjalani hidup tanpa memberi banyak perhatian terhadap matiraga, puasa dan doa? Betapa sering saya merasa tidak mampu memetik buah-buah rohani yang ditawarkan pada masa khusus ini, tanpa menyadarinya? Bagaimana saya dapat merayakan Paska tanpa menjalani masa Prapaska? Bagaimana saya akan bergembira karena kebangkitan-Mu kalau saya enggan untuk ikut serta dalam kematian-Mu?

Benar Tuhan, saya harus mati bersama-Mu, dalam diri-Mu dan melalui diri-Mu sehingga saya dapat mengenal-Mu kembali kalau Engkau menampakkan diri sesudah kebangkitan-Mu.

Begitu banyak hal yang harus mati dalam diriku: berbagai keterikatan yang keliru, kemarahan, ketidaksabaran, kesempitan hati, kepicikan.  Tuhan, hidupku terpusat pada diriku sendiri, hanya memikirkan diriku sendiri, masa depanku, nama baikku, kedudukanku.

Sekarang aku melihat, betapa aku tidak rela mati bersama-Mu, tidak rela mengikuti jalan-Mu dan setia dalam jalan itu. Tuhan, buatlah masa Prapaska ini berbuah lebat bagi hidupku. Biarlah saya menemukan Dikau lagi. Amin.

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 95-97. 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU DATANG DALAM NAMA BAPA-KU DAN KAMU TIDAK MENERIMA AKU

AKU DATANG DALAM NAMA BAPA-KU DAN KAMU TIDAK MENERIMA AKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah, Kamis 22-3-12) 

Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku  bahwa Bapa telah mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih terhadap Allah. Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa? Jangan kamu menyangka bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa yang kepadanya kamu menaruh pengharapan. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya kepada apa yang ditulisnya, bagaimana kamu akan percaya kepada apa yang Kukatakan?” (Yoh 5:31-47)

Bacaan Pertama: Kel 32:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23 

Teguran Yesus kepada orang-orang Yahudi mengungkapkan “jurang” yang ada antara pandangan mereka sendiri tentang kesalehan dalam hidup berke-Tuhan-an dan hasrat paling akhir dari Bapa surgawi untuk mencurahkan hidup-Nya sendiri bagi umat-Nya. Sungguh mengejutkan, bahwa walaupun Yesus sedang menghadapi oposisi yang sangat keras dari lawan-lawannya, Dia tetap mengundang mereka untuk memilih keselamatan, hidup baru, dan dipermuliakan oleh Allah.

Cintakasih Yesus bagi domba-domba-Nya yang hilang mendesak diri-Nya bekerja tanpa lelah untuk membawa mereka kembali ke dalam Kerajaan Bapa-Nya. Yesus bahkan sangat rindu untuk melihat para pendakwa-Nya percaya pada testimoni-testimoni berkaitan dengan kuasa dan kasih-Nya – dari/lewat Bapa surgawi; Yohanes Pembaptis; karya-karya-Nya sendiri, penyembuhan-penyembuhan, dan banyak mukjizat serta tanda-heran lainnya yang diperbuat-Nya melalui kuasa Bapa; Kitab Suci dan kata-kata Musa – agar dengan demikian mereka akan percaya, melakukan pertobatan, dan menerima keselamatan. Cintakasih dan belas kasih (kerahiman) Yesus terus berlanjut bahkan pada hari ini, walaupun kita menentangnya. Allah memiliki hasrat mendalam untuk menyelamatkan setiap orang dari dosa dan kematian (maut).

Dalam hal ini, Santo Maximus [c.580-662], berkomentar sebagai berikut: “Kehendak Allah adalah menyelamatkan kita, dan tiada sesuatu pun yang menyenangkan-Nya selain kita kembali kepada-Nya dengan pertobatan sejati……. Sabda Allah Bapa yang ilahi hidup di tengah kita dalam daging (catatan: sebagai manusia) dan Ia melakukan, menderita, dan mengatakan semua yang diperlukan untuk mendamaikan kita dengan Allah Bapa, pada waktu kita berseteru dengan-Nya, dan untuk memulihkan kita kepada hidup penuh berkat dari mana kita sempat dibuang. Ia menyembuhkan sakit-penyakit fisik kita lewat mukjizat-mukjizat; Ia membebas-merdekakan kita dari dosa-dosa kita …… lewat penderitaan sengsara dan kematian-Nya, menanggung semuanya sendiri, seakan-akan Dialah yang bertanggung jawab, padahal Ia tanpa dosa” (diambil dari Epistola 11, teks bahasa Inggris).

Bilamana kita kembali kepada kawanan kita melalui pertobatan dan iman akan Allah, maka Bapa yang Maharahim tidak pernah ribut-ribut memarahi kita karena dosa-dosa masa lampau kita, melainkan Ia akan merangkul kita, memeluk kita erat-erat, memulihkan martabat kita sebagai anak-anak-Nya. Maka, tidak pernah akan terlambat bagi kita untuk kembali kepada-Nya. Dengan sabar Ia akan terus mencari kita, domba-domba yang hilang. Ketika Dia menemukan kita, maka Dia pun akan bergembira penuh sukacita. Apabila kita sudah lemas karena kelelahan, maka Yesus akan menggendong kita di atas pundak-Nya. Allah Tritunggal Mahakudus dan seluruh isi surga akan bergembira penuh sukacita setiap kali ada anak domba yang hilang kembali ke kawanannya.  Yesus bersabda: “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Luk 15:7).

DOA: Tuhan Yesus, kami semua diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri, namun kami telah berlumuran dosa. Tuhan, kami mengakui dan menyesali segala dosa kami di hadapan-Mu dan bertobat. Kami menerima undangan-Mu untuk menerima kehidupan sejati, kesembuhan, dan pengampunan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 5:31-47), bacalah tulisan yang berjudul “KITAB SUCI MEMBERIKAN KESAKSIAN TENTANG YESUS” (bacaan tanggal 22-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kel 32:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “AKU HANYALAH YANG KETIGA!” (bacaan tanggal 7-4-11) dalam situs/blog SANG SABDA ini; kategori: 11-04 BACAAN HARIAN APRIL 2011). 

Cilandak, 6 Maret 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAPA-KU BEKERJA SAMPAI SEKARANG, MAKA AKU PUN BEKERJA JUGA

BAPA-KU BEKERJA SAMPAI SEKARANG, MAKA AKU PUN BEKERJA JUGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah, Rabu 21-3-12) 

Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Sebab itu, para pemuka Yahudi makin berusaha untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia melanggar peraturan Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.

Lalu Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Allah sama seperti mereka menghormati Bapa. Siapa saja yang tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia.

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.

Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yoh 5:17-30)

Bacaan Pertama: Yes 49:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-9,13-14,17-18

Ketika Yesus mempermaklumkan, “Bapa-ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga”  (Yoh 5:17), maka sebenarnya Dia membuktikan kuasa ilahi-Nya dan otoritas-Nya untuk melakukan kehendak Bapa surgawi. Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yoh 5:24). Kita dapat mengklaim posisi istimewa ini sebagai milik kita juga selagi mengingat relasi kita dengan Yesus. Melalui iman dalam Yesus, kita telah dibawa dari kematian ke kehidupan. Dosa-dosa kita dihapus, dan kita disatukan lagi dengan Allah Bapa.

“Pindah dari dalam maut ke dalam hidup” berarti bahwa kita tidak lagi menjadi warga dunia di bawah otoritas Iblis. Melalui baptisan ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus, kita telah mati terhadap dunia dan menjadi warga Kerajaan Allah. Sekarang kita hidup di bawah otoritas Yesus, Raja segala ciptaan. Kita ikut ambil bagian dalam kemuliaan surgawi dengan para malaikat dan orang kudus. Kita adalah anak-anak Allah yang dipilih dan ditebus.

Sebagai anak-anak Allah, kehidupan kita diberdayakan oleh Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Setiap hari, Roh Kudus ingin menyatakan hidup baru ini kepada kita secara lebih mendalam sementara kita mengalami damai-sejahtera, sukacita, pengharapan, dan kasih yang mengalir dari relasi pribadi kita dengan Allah. Yesus telah melakukan segalanya yang diperlukan guna memampukan kita menerima hidup baru dalam Dia. Sekarang Ia memanggil kita untuk menanggapi Allah dengan cara-cara yang telah ditunjukkan-Nya kepada kita. Kita dapat memberi tanggapan secara kontinu melalui doa-doa harian kita dan pembacaan Kitab Suci, dengan menghadiri perayaan Ekaristi, dan dalam memberikan diri kita sendiri lewat pelayanan kepada orang-orang lain.

Kita juga bertumbuh dalam hidup baru secara istimewa melalui Sakramen Rekonsiliasi. Allah ingin agar kita memandang “Pengakuan Dosa” lebih daripada sekadar menyebutkan satu-persatu dosa-dosa kita dan suatu harapan agar dosa-dosa itu diampuni. Selagi kita meninggalkan kedosaan kita, Allah “berdiri” menantikan kita membuka hati kita untuk menerima Yesus secara lebih penuh, untuk memohon kepada-Nya agar mencurahkan hidup dan kasih-Nya kepada kita secara lebih mendalam lagi. Sakramen Rekonsiliasi sungguh dapat mengubah diri kita dengan indahnya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau memperkenankan kami menglami hidup baru yang telah dimenangkan Yesus bagi kami. Semoga kami dapat terus mengakui bahwa Engkau mengasihi kami dan mempunyai sebuah rencana sempurna bagi kami masing-masing, yaitu sebuah rencana yang mencakup kepenuhan hidup ilahi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 5:17-30), bacalah tulisan dengan judul “BAPA TELAH MENYERAHKAN PENGHAKIMAN KEPADA ANAK” (bacaan tanggal 21-3-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2012. Bacalah juga tulisan dengan judul “YESUS KRISTUS ADALAH PUTERA ALLAH YANG TUNGGAL” (bacaan untuk tanggal 6-4-11), dalam situs/blog SANG SABDA ini; kategori: 11-04 BACAAN HARIAN APRIL 2011. 

Cilandak, 5 Maret 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers