MULAI SEKARANG, JANGAN BERBUAT DOSA LAGI

MULAI SEKARANG, JANGAN BERBUAT DOSA LAGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Prapaskah V – Senin, 7 April 2014)

PEREMPUAN YANG BERZINAH

Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Lalu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika dia sedang berzinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu. Bagaimana pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk lagi dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka?” Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tuan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.” (Yoh 8:1-11)

Bacaan Pertama: Dan 13:1-9,15-17,19-30,33-62 (Dan 13:41c-62); Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

“Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:11).

YESUS CORAT-CORET DI ATAS TANAHSetiap hari Yesus mengasihi kita dengan kasih yang sama yang telah ditunjukkan-Nya kepada perempuan yang kedapatan berzinah dalam bacaan Injil hari ini. Maka, sepatutnyalah kita berterima kasih penuh syukur kepada-Nya. Dari antara orang-orang yang hadir pada hari itu, barangkali Yesus sajalah yang dapat melemparkan batu pertama kepada perempuan itu. Namun Yesus tidak memperhitungkan dosa perempuan itu. Kita harus berterima kasih penuh syukur kepada Yesus karena memandang diri kita yang berdosa ini tidak berbeda dengan pada saat Ia memandang perempuan yang kedapatan berzinah itu sekitar 2.000 tahun lalu. Ya, kita harus senantiasa mengingat bahwa Yesus tidak mencintai dosa kita, namun Ia sungguh sangat mengasihi kita. Kasih seperti ini memang tidak mudah untuk dipahami oleh pikiran manusia.

Kasih Yesus penuh dengan bela rasa. Perempuan ini menyadari bahwa dirinya berdosa – barangkali dia pun menyesali dosanya dan bertobat – namun ia tidak menerima apa-apa selain cemoohan dan caci-maki dari para ahli Taurat dan tua-tua Yahudi. Sementara para tokoh agama Yahudi itu menekankan keharusan diterapkannya keadilan tanpa mempertimbangkan belas kasih, Yesus malah melimpahkan belas kasih-Nya kepada perempuan itu.

Ketika Yesus mengatakan kepada perempuan itu, “Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi,” sebenarnya Yesus memberikan kepadanya kemampuan untuk melepaskan masa kegelapan dari kehidupannya. Kita juga harus berterima kasih kepada Yesus karena Dia pun melakukan yang sama bagi diri kita masing-masing. Tidak ada dosa sebesar apa pun yang tidak dapat ditaklukkan oleh Yesus! Tidak ada kegelapan yang jatuh di luar kuasa dan terang kasih Yesus. Manakala Yesus menunjukkan dosa-dosa kita, Dia juga menawarkan pengampunan yang lengkap. Kombinasi sedemikian membuat hati kita terbakar dengan sukacita dan memenuhi diri kita dengan suatu hasrat untuk meninggalkan dosa dan melangkah maju mendekati terang kehadiran-Nya.

Teristimewa dalam masa Prapaskah ini, marilah kita memohon agar Tuhan Yesus menguatkan hati dan pikiran kita agar mampu menolak segala godaan dan dakwaan Iblis dan roh-roh jahatnya. Marilah kita mohon kepada Yesus untuk menutup telinga kita terhadap segala ocehan dan gangguan si Jahat dan lari kepada-Nya untuk menerima hikmat dan semangat serta dorongan dari sang Mesias. Memang kasih Yesus menyadarkan kita akan kedosaan kita namun Dia tidak menuduh-nuduh dan menghukum kita. Kasih Yesus memisahkan kita secara khusus dari segalanya yang tidak menghormati diri-Nya. Kasih Yesus meyakinkan diri kita bahwa kita dapat mengalami kehidupan penuh dalam kehadiran-Nya. Kasih Yesus membuktikan kepada kita bahwa kita dapat berjalan bersama-Nya setiap saat dalam kehidupan kita.

DOA: Yesus, aku mengasihi Engkau dengan segenap hatiku. Biarlah api cintakasih-Mu berkobar-kobar dalam diriku. Utuslah Roh Kudus-Mu agar membimbingku di jalan kebenaran-Mu. Aku menyadari bahwa seringkali aku jatuh ke dalam dosa. Namun bersama saudariku yang dikenal sebagai “perempuan yang berzinah”, Aku bergembira dalam/karena belas kasih-Mu, cintakasih-Mu dan belarasa-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Dan 13:41c-62), bacalah tulisan yang berjudul “KISAH SUSANA DAN DANIEL” (bacaan tanggal 7-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 13-3-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 4 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEBANGKITAN KITA PADA AKHIR ZAMAN

KEBANGKITAN KITA PADA AKHIR ZAMAN

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH V, 6 April 2014)

LAZARUS - KELUARLAHAda seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus, dari Betania, desa Maria dan saudaranya, Marta. Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya; Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu pun mengirim kabar kepada Yesus, “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” Tetapi ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata, “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, supaya melalui penyakit itu Anak Allah dimuliakan.” Yesus memang mengasihi Marta dan saudaranya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat Ia berada; tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya, “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” Jawab Yesus, “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. Tetapi jikalau seseorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena tidak ada terang di dalam dirinya.” Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka, “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.” Lalu kata murid-murid itu kepada-Nya, “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” Tetapi sebenarnya Yesus berbicara tentang kematian Lazarus, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. Karena itu Yesus berkata dengan terus-terang, “Lazarus sudah mati; tetapi aku bersukacita, Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.”

LAZARUS - YESUS DI KUBURAN LAZARUSKetika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira tiga kilometer jauhnya. Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Lalu kata Marta kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Kata Yesus kepada Marta, “Saudaramu akan bangkit.” Kata Marta kepada-Nya, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Jawab Yesus kepadanya, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” Jawab Marta, “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia.” Sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya, “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. Tetapi waktu itu Yesus belum sampai di desa itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria segera bangkit dan pergi keluar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, sujudlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”

Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka sedihlah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata, “Di manakah kamu baringkan dia?” Jawab mereka, “Tuhan, marilah dan lihatlah!” Lalu menangislah Yesus. Kata orang-orang Yahudi, “Lihatlah, Ia sungguh mengasihi dia!” Tetapi beberapa orang di antaranya berkata, “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” Yesus sekali lagi sangat terharu, lalu pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. Kata Yesus, “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya, “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” Jawab Yesus, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Mereka pun mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata, “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras, “Lazarus, marilah keluar!” Orang yang telah mati itu datang keluar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka, “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.”

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. (Yoh 11:1-45)

Bacaan Pertama: Yeh 37:12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8; Bacaan Kedua: Rm 8:8-11

Raising_Lazarus001Dibangkitkannya Lazarus dari kematian oleh Yesus adalah sebuah tanda yang mengandung makna-ganda. Tanda ini pertama-tama menunjuk kepada kebangkitan kita pada akhir zaman. Kedua, tanda ini juga menunjuk pada hidup yang diberikan Yesus kepada kita sekarang melalui sakramen pembaptisan.

Ketika Yesus mengatakan kepada Marta bahwa Lazarus akan dibangkitkan, perempuan itu menjawab: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada orang-orang bangkit pada akhir zaman” (Yoh 11:24). Walaupun Marta merasa ragu, Yesus langsung melanjutkan langkah-Nya untuk membangkitkan Lazarus. Seperti Marta, kita kadang-kadang “mendorong” kuat-kuasa Allah begitu jauh ke masa depan sehingga kita tidak dapat mengakui kuat-kuasa-Nya sedang bekerja dalam diri kita, di sini, di tempat ini juga, dan sekarang, pada saat ini juga. Dia memberikan hidup kepada kita sekarang melalui baptisan dan suatu hidup iman, sama jelasnya seperti ketika Dia membangkitkan Lazarus dari kuburnya.

Dalam pembaptisan kita bangkit bersama Yesus untuk memulai sebuah perjalanan di mana kita pun akan mengalami kematian, namun kita juga akan bangkit – tubuh dan jiwa – kepada kehidupan kekal pada pengadilan terakhir. Lazarus adalah saksi yang kuat sekali tentang kuat-kuasa Yesus untuk memberikan kehidupan sehingga membuat para pemimpin Yahudi ingin membunuhnya, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus (Yoh 12:10-11). Berkomentar tentang hal ini, Santo Augustinus dari Hippo [354-430] menulis, bahwa seandainya mereka membunuh Lazarus, maka Yesus pun akan membangkitkan Lazarus lagi (Homili-homili tentang Yohanes, 50.14).

Hampir 600 tahun sebelum kelahiran Yesus, nabi Yehezkiel mendapatkan visi yang kuat tentang Roh Allah yang membangkitkan umat-Nya ke hidup yang baru. Di lembah tulang-tulang kering, sang nabi bernubuat, “Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali” (Yeh 37:9). Seperti kebangkitan Lazarus, visi Yehezkiel menubuatkan hidup baru yang Allah berikan kepada kita pada hari ini seperti juga kebangkitan kita dari maut yang bersifat final. Bagaimana dengan kita sendiri? Ya, kita harus menerima rahmat baptisan jika kita ingin rahmat Allah kuat berakar dalam kehidupan kita.

Seorang rabi Yahudi – Rabi Judah ben Simon – berkomentar tentang visi nabi Yehezkiel tentang tulang-tulang kering guna mengajar bahwa adalah tanggung jawab kitalah untuk mendengarkan suara Allah: “[Allah] mula-mula bersabda kepada mereka, “Dengarlah firman TUHAN (YHWH), hai kaum keturunan Yakub, hari segala kaum keluarga keturunan Israel” (Yer 2:4), dan engkau tidak mendengarkan; namun sekarang engkau telah mendengarkan. Ketika engkau hidup, engkau tidak mendengarkan, namun sekarang ketika engkau mati, engkau telah mendengarkan!’” (Ecclesiastes Rabba, IV.3.1). Dengan kata lain, sang rabi mengajarkan bahwa kita harus mendengarkan dan menerima panggilan Allah dalam kehidupan ini karena kita tidak akan mempunyai pilihan kecuali mendengarkan suara penghakiman Allah pada akhir zaman.

DOA: Ya Allah, semoga pada akhir zaman kami akan dibangkitkan bersama orang-orang benar untuk menikmati kehidupan kekal di surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 11:1-45), bacalah tulisan yang berjudul “YA TUHAN, AKU PERCAYA” (bacaan tanggal 6-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-04 BACAAN HARIAN APRIL 2014.

Cilandak, 3 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELUM PERNAH SEORANG PUN BERKATA SEPERTI ORANG ITU!

BELUM PERNAH SEORANG PUN BERKATA SEPERTI ORANG ITU!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Sabtu, 5 April 2014)

YESUS MENGAJAR DI BAIT ALLAH - MRK 12 ABeberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata, “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata, “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Bukankah Kitab Suci mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal?” Lalu timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh-Nya.

Kemudian penjaga-penjaga itu kembali kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu, “Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!” Lalu jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka, “Apakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, salah seorang dari mereka, yang dahulu datang kepada-Nya, berkata kepada mereka, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukan-Nya?” Jawab mereka, “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun (Yoh 7:40-53).

Bacaan Pertama: Yer 11:18-20; Mazmur: Mzm 7:2-3,9-12

Selagi Yesus melanjutkan mewartakan sabda Allah dan menyatakan tanda-tanda Kerajaan Allah, banyak orang di Yerusalem percaya kepada-Nya – bahkan mereka yang diperkirakan sebelumnya akan melawan Dia. Para penjaga Bait Suci dan Nikodemus adalah dua contoh. Dalam banyak cara yang berbeda-beda dan dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi pula, kepada orang-orang ini Yesus mewartakan Kabar Baik-Nya. Rahmat Allah sudah mulai bekerja dalam diri mereka dan minat mereka akan Yesus jelas semakin besar. Para penjaga Bait Suci dikirim untuk menangkap Yesus sebagai seorang kriminal, namun mereka tidak dapat membawa-Nya. Ajaran-ajaran Yesus telah berhasil mencairkan hati mereka. Inilah seorang pribadi yang berbicara mengenai “mengasihi Allah dan sesama”. Pesan-pesannya juga tidak menyangkut sekadar pada tuntutan-tuntutan yang bersifat legaslistis. Bagaimana mereka dapat menangkap sang rabi dari Nazaret ini, yang kata-kata-Nya telah menembus jiwa mereka masing-masing dengan kebenaran ilahi? Di sisi lain, ada Nikodemus yang sebelumnya hanya berani bertemu dengan Yesus di malam hari (lihat Yoh 3:1-21), namun sekarang berani berdiri membela Yesus melawan rekan-rekannya sekaum, yaitu orang-orang Farisi. Dalam kedua hal ini, kita melihat orang-orang yang sedang mengalami proses pertobatan kepada Kristus.

ROHHULKUDUSAda begitu banyak cara orang-orang dapat mendengar Injil dan mulai percaya kepada Yesus. Kita (anda dan saya) mungkin saja hari ini berjumpa dengan seseorang untuk diinjili. (Patut saya catat lagi di sini bahwa Pribadi yang sesungguhnya mewartakan Injil kepada orang itu adalah Roh Kudus sendiri, kita hanyalah instrumen-Nya. Jadi, jangan salah!) Kalau orang itu sudah “tertangkap” oleh Roh Kudus dalam proses penginjilan-Nya, maka bagaimana pun kita menyajikan Injil kepadanya tidaklah merupakan soal utama. Hatinya mengalami conversio kepada Yesus dan gaya hidup-Nya. Rahmat Allah sedang bekerja dalam hati dan pikirannya. Bagaimana kita dapat mengatakan begitu? Barangkali, seperti Nikodemus, dia akan membuat sebuah pernyataan positif mengenai Yesus atau berbicara untuk membela-Nya. Barangkali – seperti juga para penjaga Bait Suci – dia mulai mempertanyakan asumsi-asumi yang selama ini diyakininya. Di jalan apa pun orang sedang melangkah, kita haruslah mengambil sikap yang sensitif terhadap tanda-tanda pertobatan batin (conversio) yang diperagakan olehnya, fungsi kita hanyalah membantu orang untuk melangkah lebih lanjut dalam hidup pertobatannya.

Apabila kita mendeteksi adanya tanda-tanda rahmat Allah sedang bekerja dalam diri seseorang, maka apakah yang harus kita lakukan? Hal pertama dan paling baik untuk dilakukan oleh kita adalah mulai mendoakan orang tersebut. Dalam doa itu kita memohon Roh Kudus untuk bertindak dalam hidupnya, menyatakan lebih lagi kebenaran tentang Yesus. Kita berdoa agar orang itu akan diperkuat oleh Allah agar mampu mengatasi penolakan-penolakan atau tindakan-tindakan kekerasan dari orang-orang yang tidak percaya maupun yang bersikap skeptis.

Kita juga layak dan pantas memanjatkan permohonan kepada Roh Kudus untuk membimbing kita (anda dan saya) agar siap mengatakan atau melakukan hal-hal yang benar pada saat-saat yang benar pula. Di atas segalanya, kita harus sungguh-sungguh mengasihi orang tersebut dengan kasih yang ke luar dari dalam hati kita. Kita harus senantiasa mengingat, bahwa Allah ingin agar setiap orang datang dalam iman kepada-Nya, dan Ia akan menolong kita dalam menjalankan tugas yang telah diberikan-Nya kepada kita dalam proses pertobatan orang itu.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku agar mampu melihat tanda-tanda kehadiran-Mu dalam hati orang-orang di sekelilingku. Aku percaya bahwa melalui Engkau, Allah siap menolongku dalam memainkan peran yang diberikan-Nya kepadaku dalam proses pertobatan seseorang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:40-53), bacalah tulisan yang berjudul “MELANGKAH DALAM KETAATAN KEPADA KEHENDAK-NYA” (bacaan tanggal 5-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.

Cilandak, 3 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBEDA DENGAN KEBANYAKAN ORANG LAIN

BERBEDA DENGAN KEBANYAKAN ORANG LAIN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV – Jumat, 4 April 2014)

BOOK OF WISDOM

Karena angan-angannya tidak tepat maka berkatalah mereka satu sama lain: “Pendek dan menyedihkan hidup kita ini, dan pada akhir hidup manusia tidak ada obat mujarab. Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita. Ia membanggakan mempunyai pengetahuan tentang Allah, dan menyebut dirinya anak Tuhan, Bagi kita ia merupakan celaan atas anggapan kita, hanya melihat dia saja sudah berat rasanya bagi kita. Sebab hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah lakunya. Kita dianggap olehnya sebagai yang tidak sejati, dan langkah laku kita dijauhinya seolah-olah najis adanya. Akhir hidup orang benar dipujinya bahagia, dan ia bermegah-megah bahwa bapanya ialah Allah. Coba kita lihat apakah perkataannya benar dan ujilah apa yang terjadi waktu ia berpulang. Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya. Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya. Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan.”
Demikianlah mereka berangan-angan, tapi mereka sesat, karena telah dibutakan oleh kejahatan mereka. Maka mereka tidak tahu akan rahasia-rahasia Allah, tidak yakin akan ganjaran kesucian, dan tidak menghargakan kemuliaan bagi jiwa yang murni. (Keb 2:1a,12-22)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:17-21,23; Bacaan Injil: Yoh 7:1-2,10,25-30

Kitab Kebijaksanaan (Salomo) adalah sebuah kitab yang relatif belakangan dimasukkan ke dalam Kitab Suci. Kapan? Tanggal/waktu yang banyak diterima sehubungan dengan munculnya Kitab Kebijaksanaan ini adalah sekitar tahun 50 S.M. Hanya versi dalam bahasa Yunani saja yang berhasil diketemukan, walaupun ada pakar-pakar yang percaya bahwa sebagian dari Kitab ini mungkin disusun dalam bahasa Ibrani. Tidak adanya suatu versi dalam bahasa Ibrani adalah salah satu alasan mengapa sejumlah tradisi iman telah menolak dimasukkannya Kitab Kebijaksanaan ini dalam kanon Kitab Suci.

Dalam Kitab ini ada suatu proklamasi kenabian tentang bagaimana orang akan bereaksi terhadap “orang yang baik” di mana ketidakbersalahannya akan mengungkap dosa-dosa mereka (Keb 2:12). Dengan memproklamasikan dirinya sebagai anak Tuhan/Allah (Keb 2:13,16), maka orang-orang memandang-Nya sebagai suatu beban “sebab hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah laku-Nya” (Keb 2:15). “Orang benar” ini akan mengalami aniaya dan siksa (Keb 2:19), dan dirinya pun akan dijatuhi hukuman mati keji (Keb 2:20). Sungguh suatu “ramalan” yang jitu bagaimana orang-orang akan bereaksi terhadap Yesus!

Dua ribu tahun kemudian, kita dapat bertanya apakah sikap-sikap manusia telah banyak berubah, dengan catatan bahwa sekarang kita telah mempunyai banyak kesaksian tentang siapa “orang benar” itu sebenarnya. Bukankah sekarang masih ada banyak orang yang memandang jalan-jalan/cara-cara Yesus sangat tidak nyaman, malah seperti beban saja? Bukankah banyak orang merasa takut bahwa diri mereka akan dilihat oleh orang-orang lain sebagai “orang aneh” jika mereka mencoba untuk hidup seturut ajaran-ajaran-Nya? Tentunya anda sekalian masih ingat bagaimana Santo Fransiskus dari Assisi diolok-olok dan diejek-diejek serta dipermalukan pada saat-saat dia memutuskan untuk mengikuti jejak Yesus Kristus? Demikian pula dengan banyak orang kudus lainnya. Memang mengikuti jejak Yesus mengandung “biaya pemuridan/kemuridan” yang tidak kecil. Atas dasar alasan inilah tidak sedikit orang yang meninggalkan diri-Nya atau batal mengikuti jejak-Nya.

Ada suatu peristiwa kecil yang saya alami sendiri di bandara Surabaya di tahun 1990an, ketika saya mau pulang ke Jakarta dari sebuah perjalanan dinas yang melelahkan. Di tempat itu saya berjumpa dengan beberapa teman anggota direksi sebuah bank milik keluarga Cendana. Kami ngobrol ke sana ke mari sambil jalan karena ternyata akan berada dalam flight yang sama. Ketika mereka mau masuk “lounge” khusus penumpang “business class” saya meneruskan jalan saya untuk menuju ruang tunggu penumpang kelas ekonomi yang ramai seperti pasar itu. Seorang dari mereka berseru dengan suara keras kira-kira begini: Kenapa naik economy class, kan lu direktur bank? Apakah bank elu mau bangkrut? Menanggapi “teriakan” itu saya hanya tersenyum dan melanjutkan jalan saya. Tidak sedikit orang yang mendengar teriakan sombong dari teman saya itu. Sebagai direktur-eksekutif sebuah bank swasta nasional, memang saya berhak untuk naik “business class” atau “first class”, tapi saya berupaya untuk mengikuti teladan kesederhanaan yang diberikan oleh Yesus dan orang-orang kudus-Nya, seperti bapak rohani saya, Santo Fransiskus. Waktu berjalan terus sampai saat datang krisis ekonomi. Bank teman saya itu ditutup, tetapi bank di mana saya bekerja masih tetap ada sampai hari ini. Pengalaman serupa tapi tak sama saya alami beberapa kali di tempat dan waktu yang berbeda.

Hikmat-kebijaksanaan khusus apakah yang dimiliki Yesus, sehingga memampukan diri-Nya untuk hidup secara berbeda dengan kebanyakan orang lain? Yesus begitu yakin akan kasih dan perlindungan Bapa-Nya, sehingga Dia mampu menemui orang-orang dan memberikan kasih Allah Bapa kepada mereka semua – bahkan mereka yang menentang-Nya, melawan-Nya, memusuhi-Nya, mendzolimi-Nya. Yesus adalah puncak kepenuhan nubuat sang nabi: “Aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu” (Yes 50:7). Hikmat-Nya adalah buah dari pengenalan-Nya akan kasih Bapa surgawi, menaruh kepercayaan pada kasih itu, dan berkeinginan untuk membagikan kasih itu dengan setiap orang. Yesus tidak pernah goyah dalam menjalani panggilan-Nya untuk mewujudkan penebusan bagi kita semua.

Selagi kita semakin mengenal kasih Bapa surgawi bagi kita yang diwujudkan dalam kematian Yesus di kayu salib, kita semakin penuh menanggapi kehadiran Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita, kita pun akan mulai mengenakan “pikiran Kristus” (1Kor 2:16; bdk. Flp 2:5). Diberdayakan oleh Roh Allah sendiri, kita pun akan mampu bertumbuh dalam keserupaan dengan Yesus, Tuhan kita, sang “Orang benar”.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh kepada-Mu karena Engkau sudi mati di kayu salib demi kami, sehingga kami dapat menerima kasih Bapa surgawi. Melalui Roh Kudus-Mu, penuhi diri kami dengan hikmat-Mu, ya Tuhan, karena kami sungguh ingin menjadi serupa dengan diri-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:1-2,10,25-30), bacalah tulisan yang berjudul “ASAL USUL YESUS” (bacaan tanggal 4-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Keb 2:1a,12-22), bacalah tulisan yang berjudul “PEMIKIRAN-PEMIKIRAN ORANG-ORANG JAHAT” (bacaan tanggal 15-3-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 2 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH SENANTIASA MEMANGGIL KITA

ALLAH SENANTIASA MEMANGGIL KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Kamis, 3 April 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku bahwa Bapa telah mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih terhadap Allah. Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa? Jangan kamu menyangka bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa yang kepadanya kamu menaruh pengharapan. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya kepada apa yang ditulisnya, bagaimana kamu akan percaya kepada apa yang Kukatakan?” (Yoh 5:31-47)

Bacaan Pertama: Kel 32:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23

ROHHULKUDUSDengan begitu banyak cara, Allah terus-menerus memberi kesaksian kepada kita tentang Putera-Nya – Yesus – agar supaya kita dapat datang kepada-Nya untuk menerima kepenuhan hidup. Allah mengetahui bahwa jika kita tidak datang kepada Yesus, maka kita akan tetap buta, bersikap masa bodoh, dan berjalan menuju kehancuran diri kita sendiri. Oleh karena itu Yesus berseru, “Datanglah kepadaku” (bdk. Yoh 5:40; Yes 55:3). Yesus memanggil kita melalui Gereja dan dalam Kitab Suci. Suara-Nya terdengar berulang-ulang melalui berbagai penyembuhan ajaib dan pewartaan penuh inspirasi dari para pelayan-Nya. Melalui bisikan Roh Kudus-Nya dalam batin kita, Yesus menyatakan kerinduan-Nya untuk berbicara kepada pikiran kita dan juga menembus hati kita dengan kesadaran akan kedosaan kita dan pengampunan dari Allah.

Allah senantiasa memanggil kita, dan Ia meminta agar kita menanggapi panggilan-Nya dengan iman, yang adalah “dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1). Iman bersifat hakiki karena kehidupan yang ingin diberikan Allah tidaklah datang dari dunia ini – suatu kehidupan yang dapat kita lihat, kita rasakan dan kita sentuh. Kalau begitu, kehidupan dari mana? Kehidupan dari atas sana! Yesus bersabda: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini” (Yoh 8:23). Artinya, hal ini melampaui pemahaman manusia. Mengapa? Karena hati mereka tertuju pada hal-hal yang kelihatan, maka sulitlah bagi orang-orang Farisi untuk menerima kesaksian Allah tentang Yesus (lihat Yoh 5:43). Akan tetapi, apabila kita mempersiapkan hati kita untuk menerima kehidupan dari “atas”, maka kesaksian Allah tersebut akan bercahaya dalam diri kita.

CAIJSPMBDalam upaya mereka untuk memahami hukum-hukum Allah, orang-orang Farisi mempelajari Kitab Suci secara intens (Yoh 5:39-40). Kadang-kadang kita dapat tergoda untuk mempelajari Kitab Suci dengan cara serupa, yaitu mengandalkan pada kekuatan intelektual dengan harapan bahwa melalui pemahaman kita, maka kita dapat memiliki kuasa Allah. Sebenarnya Allah meminta kita untuk cukup mengheningkan jiwa kita untuk memperkenankan sabda-Nya menembus hati kita. Allah ingin agar kita menerima hidup-Nya, tidak hanya memahami-Nya, karena jika kita menerima dari Dia sendiri, Dia akan memberdayakan kita untuk menyampaikan sabda-Nya kepada orang-orang lain.

Saudari dan Saudaraku, sekarang marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk membuka hati kita bagi semua hal yang memberi kesaksian tentang kemuliaan Yesus Kristus. Marilah kita belajar untuk mengheningkan pikiran kita, selagi kita berdoa agar kita dapat menerima “hal-hal yang tidak kelihatan” yang datang dari takhta Allah.

DOA: Yesus, kami datang menghadap hadirat-Mu dan mohon diberikan kehidupan. Transformasikanlah setiap aspek kehidupan kami dengan kehidupan ilahi-Mu sehingga dengan demikian kami dapat menyembah-Mu dan juga memuliakan Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 5:31-47), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUKA DIRI BAGI ALLAH” (bacaan tanggal 3-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kel 32:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “AKU HANYALAH YANG KETIGA!” (bacaan tanggal 7-4-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 31 Maret 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPAKAH YESUS INI?

SIAPAKAH YESUS INI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Rabu, 2 April 2014)

YESUS MENGAJAR - HE WAS THE TEACHERTetapi Ia berkata kepada mereka, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Sebab itu, para pemuka Yahudi makin berusaha untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia melanggar peraturan Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.

Lalu Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Siapa saja yang tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa yang mengutus Dia.

Jesus-Christ-3103 putri yairusSesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.

Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yoh 5:17-30)

Bacaan Pertama: Yes 49:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-9,13-14,17-18

IA MENEBUS DOSA KITABayangkanlah diri anda sebagai salah seorang Yahudi yang baru saja menyaksikan Yesus menyembuhkan orang lumpuh di dekat kolam Betesda. Mukjizat itu membuat anda merasa takjub dan sungguh menarik perhatian anda. Namun sekarang anda mendengar Yesus mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri yang “membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya”, serta menyebut diri-Nya sebagai Anak yang juga “menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya” dan menerima wewenang dari Bapa untuk melakukan semua “penghakiman” atas manusia (Yoh 5:21-22). Tradisi Yahudi anda mengajarkan bahwa hanyalah Allah yang membangkitkan orang-orang mati, memberikan kehidupan dan juga menghakimi. Oleh karena itu anda mulai bertanya dalam hati, siapakah Yesus ini? Apakah Ia sungguh mengklaim diri-Nya sebagai Allah? Apakah Ia sang Mesias yang telah dijanjikan Allah? Ataukah Ia hanya seorang nabi palsu, seorang yang berpikiran tidak waras?

Pada zaman modern ini, sekitar 2.000 tahun setelah peristiwa ini terjadi, pertanyaan tentang “Siapakah Yesus ini?” masih ada. Perwahyuan melalui kuasa Roh Kudus, kesaksian dari kepercayaan-kepercayaan dan tradisi-tradisi, bukti-bukti sejarah – semuanya menunjukkan kepada kita arah yang benar, namun tidak mengecualikan kita dari kewajiban untuk menjawab pertanyaan itu bagi diri kita sendiri. Masing-masing kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah aku sungguh percaya bahwa Yesus adalah sang Mesias (Kristus), Dia yang dijanjikan, Anak (Putera) Allah, Dia yang satu dengan Bapa? Apakah aku percaya bahwa Dia wafat dan bangkit dari antara orang mati seturut Kitab Suci dan sekarang Dia duduk di sebelah kanan Bapa? Apakah aku percaya bahwa Yesus ingin mensyeringkan hidup-Nya sendiri dengan diriku dan menjalin relasi pribadi dengan diriku melalui kuasa Roh Kudus-Nya.

KEBANGKITAN - 4Masa Prapaskah adalah masa untuk memusatkan perhatian kita secara baru pada kematian dan kebangkitan Yesus. Ini adalah masa bagi suatu pandangan segar pada ketaatan tanpa kompromi dari Yesus pada rencana Bapa surgawi untuk menyelamatkan dan menebus kita. Hanya dengan mempercayai sepenuh hati bahwa Yesus adalah menurut apa yang dikatakan-Nya tentang diri-Nya sendiri, maka kita akan mulai memahami rencana besar keselamatan ini.

Pada masa Prapaskah ini, marilah kita mengakui dengan lebih mendalam bahwa Yesus adalah Tuhan atas hidup kita. Marilah kita juga mengungkapkan iman-kepercayaan kita bahwa Yesus adalah sungguh sang Juruselamat dan janji-janji-Nya benar. Marilah kita menggantungkan diri pada-Nya sepenuhnya, berharap pada-Nya saja. Yesus adalah sungguh andalan kita!

DOA: Yesus, Engkau adalah Putera Allah yang diutus oleh Bapa surgawi untuk membangkitkan orang-orang mati dan memberi kehidupan kepada mereka. Aku percaya bahwa Engkau hidup dan aktif dalam kehidupanku sekarang, dan bahwa pada suatu hari kelak aku akan berjumpa dengan Engkau – muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 5:17-30), bacalah tulisan yang berjudul “MENURUTI KEHENDAK DIA YANG MENGUTUS-NYA” (bacaan tanggal 2-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.

Cilandak, 31 Maret 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AGAR TETAP ‘TENGGELAM’ DALAM AIR RAHMAT-NYA

AGAR TETAP ‘TENGGELAM’ DALAM AIR RAHMAT-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Selasa, 1 April 2014)

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH DEKAT KOLAM BETSAIDASesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. [Mereka menantikan guncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan mengguncangkan air itu; siapa saja yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah guncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun penyakitnya.] Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat itu berbaring di situ dan karena Ia tahu bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya, “Maukah engkau sembuh?” Jawab orang sakit itu kepada-Nya, “Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu ketika airnya mulai terguncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu orang lain sudah turun mendahului aku.” Kata Yesus kepadanya, “Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tikarnya dan berjalan.

Tetapi hari itu hari Sabat. Karena itu, para pemuka Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu, “Hari ini hari Sabat dan engkau tidak boleh mengangkat tikarmu.” Akan tetapi, ia menjawab mereka, “Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Mereka bertanya kepadanya, “Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tikarmu dan berjalanlah?’ Tetapi orang yang baru disembuhkan itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya, “Ingat, engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya jangan terjadi yang lebih buruk lagi padamu.” Orang itu keluar, lalu menceritakan kepada para pemuka Yahudi bahwa Yesus-lah yang telah menyembuhkan dia. Karena itu, para pemuka Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat. (Yoh 5:1-16)

Bacaan Pertama: Yeh 47:1-9,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9

“Tuan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu ketika airnya mulai terguncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku” (Yoh 5:7).

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIASudah 38 tahun lamanya orang ini menderita sakit lumpuh, dan kelihatannya fakta ini tidak mendapatkan perhatian semestinya. Dia memiliki hasrat yang besar untuk disembuhkan, namun tidak pernah sekali pun dapat masuk ke kolam di Betesda itu. Dia tidak mampu untuk untuk bergerak sendiri dan masuk ke dalam kolam pada waktunya. Sungguh merupakan suatu situasi yang penuh tekanan baginya, namun ia tidak pernah kehilangan pengharapan. Apatisme adalah suatu epidemi yang membuat orang miskin tetap saja miskin, tunawisma tetap saja menjadi tunawisma, orang lapar tetap saja menjadi orang lapar dlsb.

Kitab Suci mengatakan, “Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?” (Rm 10:13-14). Orang lumpuh di Betesda tidak akan dapat disembuhkan kalau tidak ada orang yang menolongnya. Demikian pula orang lumpuh di Kapernaum tidak akan mengalami penyembuhan kalau tidak ada 4 (empat) orang yang dalam iman mau bersusah-payah menggotongnya lewat atap rumah untuk sampai kepada Yesus (lihat Mrk 2:1-12). Nah, demikian pula tidak akan ada orang yang mengenal Yesus kalau tidak ada murid Yesus yang mewartakan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus kepada orang itu.

Pertobatan adalah karya Allah, namun tergantung pada kita untuk membawa orang-orang lain kepada Yesus – sang air hidup – (lihat Yoh 4:1 dsj.) sehingga mereka dapat mengalami karunia pertobatan. Kesaksian kita bersifat dua lapis: suatu kesaksian hidup dan kesaksian kata-kata. Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata: “Jadilah Yesus, bagikanlah Yesus.” Santo Fransiskus dari Assisi juga berkata: “Beritakanlah Injil setiap saat. Gunakan kata-kata kalau diperlukan.” Hal ini berarti bahwa dalam penghayatan sehari-hari hidup Kristus dalam diri kita-lah maka kita menjadi saksi-saksi bagi orang-orang di sekeliling kita.

Yesus bersabda: “Kamu adalah garam dunia. …… Kamu adalah terang dunia. …” (Mat 5:13-14), namun semuanya tentulah dalam takaran yang pas dan pada waktu yang pas pula. Garam yang terlalu sedikit membuat orang menjadi haus, tetapi kebanyakan garam akan membuat orang jatuh sakit. Terang yang pas akan membawa kehangatan, namun terang yang berkelebihan malah dapat membakar dan membutakan mata. Demikian pula halnya dengan evangelisasi. Evangelisasi dimaksudkan untuk mewartakan kebenaran dengan cara yang menarik dan memikat, bebas dari tekanan atau superioritas moral. Seorang pewarta harus membuang jauh-jauh kesombongan rohani dari dirinya. Dalam evangelisasi ini kita mengundang orang-orang untuk berbagi pengalaman kita sendiri yang dibersihkan dan disegarkan kembali oleh Allah. Dan satu-satunya cara untuk melakukan hal ini adalah menjaga diri kita agar tetap “tenggelam” dalam air rahmat-Nya dan kuasa penyembuhan-Nya. Kemudian kita pun dapat mengatakan kepada orang-orang lain: “Masuklah ke dalam air ini juga, air ini terasa nyaman”.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk rahmat-Mu. Bawalah setiap orang, teristimewa mereka yang haus, lapar, dan lumpuh karena ketidakpercayaan, ke dalam sungai kehidupan-Mu. Melalui kuat-kuasa Roh Kudus-Mu semoga kami semua menjadi saksi-saksi yang berbuah, baik dalam hidup maupun kata-kata yang kami ucapkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama (Yeh 47:1-9,12), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH-NYA SEPERTI SUNGAI, KASIH-NYA SEPERTI SUNGAI …” (bacaan tanggal 1-4-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAHBACAAN HARIAN APRIL 2014.

Cilandak, 31 Maret 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS