SETIAP SAAT KITA DAPAT BERPALING KEPADA ROH KUDUS

SETIAP SAAT KITA DAPAT BERPALING KEPADA ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 8 Juni 2014)

PENTAKOSTA - ROH KUDUS TURUN ATAS PARA RASULKetika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. Waktu itu di Yerusalem tinggal orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika terdengar bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka terkejut karena mereka masing-masing mendengar orang-orang percaya itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa tempat kita dilahirkan; kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Prigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (Kis 2:1-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua: 1Kor 12:3-7,12-13; Bacaan Injil: Yoh 20:19-23

Dalam Perjamuan Terakhir, beberapa kali Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa lebih baik bagi-Nya untuk meninggalkan mereka – dan setiap kali, para murid tidak dapat menerima kata-kata-Nya itu. Akan tetapi, pada hari Pentakosta, sepuluh hari setelah Yesus benar-benar meninggalkan mereka dan naik ke surga, akhirnya mereka memahami pesan yang disampaikan oleh Yesus sebelumnya. Sekarang, karena Roh Kudus telah datang, Yesus tidak saja berada bersama mereka, Dia juga berdiam di dalam diri mereka !

Inilah kebenaran besar yang kita diminta oleh Gereja untuk merayakannya pada hari inil Melalui Roh Kudus, kita masing-masing mempunyai Yesus yang berdiam di dalam diri kita, mentransformasikan diri kita menjadi serupa dengan Kristus, menjadi gambaran-Nya, citra Kristus. Roh Kudus itu pula yang memberdayakan kita untuk membuat mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya.

Oleh sebab itu, dalam hari raya Gereja yang besar dan agung ini, kita semua harus bertanya kepada diri kita sendiri: “Tahukah aku dalam hatiku yang terdalam bahwa aku adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam diriku?” (lihat 1Kor 16). “Tahukah aku bahwa tubuhku adalah bait Roh Kudus yang tinggal di dalam aku, Roh Kudus yang kita peroleh dari Allah – dan kita bukanlah milik kita sendiri?” (1Kor 6:19). “Apakah aku mengalami kuat-kuasa-Nya dan kasih-Nya bekerja dalam diriku?”

Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa diri kita sedang mengalami Roh Kudus dalam ukuran yang semakin besar? Ada banyak cara, namun pada hari ini baiklah kita memusatkan perhatian kita pada dua bacaan Kitab Suci dalam Misa Kudus hari ini. Pertama-tama, kita akan mengenali kehadiran Roh Kudus selagi kita menjadi semakin merasa yakin bahwa Yesus sesungguhnya adalah Tuhan. Santo Paulus menulis: “Karena itu, aku mau meyakinkan kamu bahwa tidak seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata, ‘Terkutuklah Yesus!’ dan tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus” (1Kor 12:3). Akan tetapi martabat Yesus sebagai Tuhan yang kita alami dari Yesus jauh berbeda dengan jenis otoritas menurut ekspektasi kita. Yesus bukanlah seorang penguasa yang jauh dan tak peduli akan situasi umat-Nya. Yesus tidak mendirikan berbagai rintangan dan penghalang untuk memisahkan antara diri-Nya dan umat-Nya, seperti yang telah dilakukan para raja dan kaisar sepanjang sejarah. Sebaliknya, martabat Yesus sebagai Tuhan lebih menyerupai gambaran alkitabiah seorang gembala yang dengan lemah lembut menjaga dan merawat domba-dombanya dengan penuh kasih sayang, dan berpayah-payah mencari seekor domba yang hilang (lihat Mat 18:12-14).

ROHHULKUDUSRoh Kudus ingin menunjukkan kepada kita – lebih dan lebih lagi – bahwa betapa patut dihasrati oleh kita untuk hidup di bawah otoritas Yesus. Ia ingin meyakinkan kita bahwa hidup untuk diri kita sendiri hanyalah membawa kita kepada “patah hati” dan situasi “sunyi-sepi-sendiri”. Sebaliknya hidup bagi Yesus dan umat-Nya memimpin kita kepada suatu kehidupan “petualangan jasmani-rohani”, “kepenuhan” dan “pencapaian hasil yanag berbuah limpah”. Yesus ingin menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang yang ada dalam Kristus adalah “ciptaan baru”, dan ciptaan baru ini memiliki kapasitas untuk melakukan hal-hal yang dilakukan oleh Yesus pada masa Dia berjalan di tengah publik (lihat 2Kor 5:17; Yoh 14:12).

Cara kedua yang membuat kita dapat mengetahui bahwa Roh Kudus bekerja dalam diri kita adalah ketika yakin bahwa dosa-dosa kita diampuni (1Yoh 1:9). Roh Kudus ingin menunjukkan kepada kita bahwa setiap kesalahan/dosa kita dicuci-bersih dalam darah Yesus. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus untuk menyadarkan kebenaran ini kepada kita, maka tidak sesuatu pun yang akan mampu untuk menghalangi kita mengakui dan menyesali dosa-dosa kita dan menerima pengampunan dari Yesus yang telah dimenangkan oleh-Nya di kayu salib. Pada kenyataannya, kita akan belajar datang kepada Yesus dengan semua sisi gelap kita, dengan penuh semangat untuk mengenal dan mengalami kuat-kuasa-Nya guna membersihkan dan menyembuhkan diri kita.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus. Adakah bagian dalam kehidupan anda di mana anda merasa tak berdaya untuk mengubahnya? Apakah anda masih saja dibebani oleh rasa bersalah dan malu sebagai akibat tindakan anda di masa lampau yang sebenarnya anda sekarang sudah sesali? Kalau begitu, dengarkanlah baik-baik pesan pribadi dari Roh Kudus bagi anda: Dosa-dosa anda telah diampuni. Titik! Jangan takut mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan anda, dosa-dosa anda, dan kelemahan-kelemahan anda kepada Tuhan. Janganlah membiarkan Iblis meyakinkan anda bahwa diri anda tidak dapat ditebus, artinya melampaui daya-penebusan Yesus Kristus.

Nah, apakah sekarang kebesaran karunia Roh Kudus dari Yesus telah meresap ke dalam hati dan pikiran anda? Tahukah anda bahwa setiap saat anda dapat berpaling kepada Roh Kudus dan menerima kasih-Nya, sukacita-Nya, dan kuat-kuasa-Nya? Hari ini adalah suatu hari besar dengan janji yang besar pula. Dalam perayaan Ekaristi hari ini, mohonlah kepada Yesus untuk membenamkan anda dalam Roh-Nya. Mohonlah kepada-Nya untuk memberikan kepada anda suatu pengalaman baru akan Roh dan keyakinan mendalam akan kasih-Nya bagi anda. Percayalah bahwa hidup anda dapat berubah pada hari penuh sukacita ini.

DOA: Roh Kudus Allah, aku memuji Engkau dan memuliakan Engkau. Aku percaya bahwa Engkau telah datang untuk hidup dalam diriku dan untuk memberdayakan aku agar dapat hidup untuk Yesus. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah meyakinkan diriku bahwa segala dosaku telah diampuni. Datanglah, ya Roh Kudus, dan penuhilah diriku dan segenap Gereja dengan kasih Yesus dan sukacita-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Kor 12:3-7,12-13), bacalah tulisan yang berjudul “KITA SEMUA DIBERI MINUM DARI SATU ROH” (bacaan tanggal 8-6-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kisah 2:1-11), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “TUJUH KARUNIA ROH KUDUS!” (bacaan tanggal 27-5-12) dan “DATANGLAH, ROH KUDUS” (bacaan tanggal 19-5-13), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 5 Juni 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERKONSENTRASI PADA RENCANA-RENCANA ALLAH UNTUK HIDUP KITA

BERKONSENTRASI PADA RENCANA-RENCANA ALLAH UNTUK HIDUP KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Sabtu, 7 Juni 2014)

Tiberias_from_En_Gev,_tb011700Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25)

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7

Yesus menegur dengan keras Petrus karena murid-Nya yang satu ini ingin mengetahui sesuatu tentang seorang murid-Nya yang lain. Jawaban Yesus adalah bahwa kehendak Dia-lah yang penting, apa pun yang dikehendaki-Nya atas dari “murid yang dikasihi-Nya” bukanlah urusan Petrus. Yesus menginginkan agar Petrus berkonsentrasi pada rencana-rencana Allah untuk hidupnya sendiri. Apabila Petrus terus saja mau tahu tentang orang-orang lain di sekeliling dirinya, dan bukan secara langsung memusatkan perhatiannya pada Yesus dan sabda-Nya, maka dia akan luput melihat jalan yang telah disediakan Yesus bagi dirinya.

Sesungguhnya, Allah mempunyai sebuah rencana indah bagi diri kita masing-masing. Inilah pelajaran yang pada akhirnya dipahami oleh George Baily dalam film yang berjudul “It’s a Wonderful Life.” Dalam film ini, George Baily menderita depresi yang terus meningkat dalam intensitasnya, semua disebabkan oleh jalan hidupnya sendiri. Kemudian, seorang malaikat menampakkan diri dan menunjukkan kepadanya apa saja yang hilang dari kehidupan orang-orang jika George Baily tidak pernah dilahirkan ke dalam dunia. Pada akhirnya George Baily menyadari betapa penting dan terberkati hidupnya itu.

Cima_da_Conegliano,_God_the_FatherMemang mudah bagi kita untuk merasa iri hati atau cemburu terhadap orang-orang yang kelihatan memiliki segalanya, mereka yang begitu mudah dan alamiah dapat menghayati hidup atau memahami apa-apa saja yang bersifat rohaniah. Namun apabila kita merasa tergoda untuk berpikir bahwa Yesus telah membuat mudah bagi orang-orang lain untuk mengikuti diri-Nya, maka kehidupan Petrus dapat memberikan pelajaran penuh pengharapan kepada kita semua. Petrus jelas berjuang, bergumul disertai takut; kadang-kadang ia pun secara total tidak dapat memahami Yesus. Walaupun demikian, Allah mempunyai suatu peranan yang bersifat vital untuk dimainkan oleh Petrus, dan sang rasul sungguh memainkan peranan yang diberikan Allah kepadanya itu sampai pada akhir hayatnya. Pada akhirnya, Petrus memutuskan untuk menerima peranan yang harus dimainkannya, karena dia telah belajar apa artinya memberikan hatinya kepada Yesus, berapa pun biayanya.

Saudari dan Saudariku. Jika kita senantiasa memusatkan perhatian kita atas kelemahan-kelemahan kita, maka kita akan luput melihat talenta-talenta indah yang ada dalam diri kita, dan juga martabat yang telah dianugerahkan Bapa surgawi kepada kita sebagai anak-anak-Nya. Dia telah membuat sebagian dari kita menjadi guru-guru yang baik, sebagian lain menjadi pelayan-pelayan sabda-Nya, misionaris-misionaris ke seluruh muka bumi dlsb. Kepada sebagian besar dari kita, Allah memberikan rumah tangga sebagai fokus pelayanan kita. Apa pun panggilan kita, Allah yang Mahakuasa ingin menggunakan kita agar dapat turut mewartakan tentang rencana-Nya guna menyelamatkan umat manusia. Memang kita tidak dapat menyangkal bahwa kadang-kadang kita menghadapi kesulitan, satu dan lain hal adalah karena kekurangan-kekurangan kita sendiri. Namun, baiklah kita ingat selalu bahwa Yesus melengkapi apa saja yang kita tidak miliki. Dia akan memperbaiki kekurangan-kekurangan kita. Yang diinginkan Yesus dari diri kita masing-masing adalah sebuah hati yang memiliki kemauan, dan Ia pun akan ada bersama kita untuk menolong kita.

DOA: Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu, ya Tuhan Yesus, karena rencana-rencana-Mu yang indah bagi diriku. Aku lemah dan tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Engkau. Penuhilah hatiku dengan kasih bagi-Mu, dan akupun merasa yakin bahwa selebihnya akan menyusul – seperti halnya yang terjadi dalam kehidupan Petrus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “MASIH BANYAK LAGI HAL-HAL LAIN YANG DIPERBUAT OLEH YESUS” (bacaan tanggal 6-6-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2014.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “MENGASIHI YESUS SETIAP HARI DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA” (bacaan tanggal 18-5-13) dan “ITU BUKAN URUSANMU !!!” (bacaan tanggal 26-5-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 5 Juni 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU? (2)

APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU? (2)

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 6 Juni 2014)

PETER RESTOREDSesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19)

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20

Untuk ketiga kalinya Yesus bertanya kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:17). Di sini kita kembali melihat Yesus sebagai seorang Guru spiritual besar. Petrus merasa sedih dan dipenuhi rasa bersalah yang luarbiasa. Petrus membutuhkan penyembuhan batin (inner healing). Dia merasa galau, tegang dan sedih mengingat dosa-Nya karena menyangkal Yesus tiga kali pada Kamis Putih malam.

Namun, terpujilah Allah, karena Yesus adalah juga Yesus yang menyembuhkan dan Yesus yang mengampuni dosa-dosa manusia. Walaupun Petrus mungkin tidak/belum memahami makna dari ketegangan-ketegangan dalam dirinya dan rasa bersalahnya, Yesus mengetahuinya. Oleh karena itu Dia bertanya tiga kali kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” (Yoh 21:15; bdk. 21:16,17).

PETRUS APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU YOHTanggapan Petrus terhadap pertanyaan Yesus itu: “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh 21:15,16; bdk. 21:17). Kemudian Yesus menyembuhkan Petrus dan mengutus dia untuk menyembuhkan kita semua: “Peliharalah anak-anak domba-Ku” (Yoh 21:15,16,17). Kita lihat bagaimana Petrus (waktu itu bersama Yohanes) melanjutkan penyampaian Kabar Baik Yesus Kristus melalui tindakan penyembuhan atas seorang lumpuh di Bait Allah di dekat Gerbang Indah (lihat Kis 3:1-10). Petrus mengatakan kepada orang lumpuh itu: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah!” (Kis 3:6). Orang lumpuh itu disembuhkan dan tanggapannya begitu indah. Lukas (pengarang “Kisah para Rasul”) menulis: “Ia melompat berdiri lalu berjalan ke sana ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, sambil berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah” (Kis 3:8).

Inilah seharusnya jalan cerita hidup kita juga! Apa pun dosa dan kesalahan kita, bagaimana pun lemahnya keadaan yang telah kita lalui di masa lampau, atau bagaimana pun bodohnya kita sehingga bisa-bisanya kita menyangkal Yesus dalam hidup kita, Petrus menunjukkan kepada kita bahwa ada penyembuhan bagi kita oleh/lewat kasih dan kuat-kuasa Yesus. Inilah pada hakikatnya yang dinamakan Kabar Baik Injil.

Sekarang, sungguh percayakah kita bahwa Yesus dapat menyembuhkan kita? Percayakah kita bahwa Yesus dapat menyembuhkan orang-orang yang mengalami relasi buruk dalam keluarga-keluarga kita? Percayakah kita bahwa Yesus dapat membakar habis dorongan-dorongan keserakahan/ketamakan dan dorongan-dorongan buruk lainnya dalam diri kita yang telah merusak hidup kita? Kita seringkali ingin menjadi dokter sendiri guna menyembuhkan berbagai permasalahan/penyakit dalam kehidupan kita, bukankah begitu?

Mengapa kita tidak belajar kebenaran yang lebih besar ini dari Yesus sendiri? “Ke mana aku pergi, aku dapat mengajak Yesus untuk pergi bersamaku, dan hal itu menyembuhkan setiap hal buruk yang menimpa diriku.” Ini sungguh kabar baik. Yesus mengasihi aku, dan Ia memiliki kuat-kuasa untuk menyelamatkan diriku dari kerusakan dalam hidupku karena ulahku sendiri.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku! Engkau dapat mengubah diriku, karena hanya Engkaulah yang mempunyai kuat-kuasa dan kasih yang diperlukan untuk menyembuhkan diriku. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA KALI” (bacaan tanggal 6-6-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2014.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “SETIAP HARI YESUS BERTANYA KEPADA KITA MASING-MASING: ‘APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU?’” (bacaan tanggal 17-5-13), “GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU” (bacaan tanggal 25-5-12) dan “APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU?” (bacaan tanggal 10-6-11), ketiganya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 4 Juni 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS TERUS SAJA BERDOA SYAFAAT BAGI KITA

YESUS TERUS SAJA BERDOA SYAFAAT BAGI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bonifasius, Uskup-Martir – Kamis, 5 Juni 2014)

LAST SUPPER - INILAH TUBUHKU

Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” (Yoh 17:20-26)

Bacaan Pertama: Kis 22:30;23:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11

Apabila kita berdiri di depan sebuah cermin besar, maka kita melihat pantulan diri kita sendiri. Kita mungkin merasa senang dengan apa yang kita lihat, namun seringkali kita melihat kekurangan diri kita di sana-sini. Jika kita membaca Kitab Suci, kita mungkin memberikan reaksi yang serupa, karena kita fokus hanya pada kegagalan-kegagalan atau kekurangan-kekurangan kita dalam melaksanakan sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci, artinya gagal untuk hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya. Akan tetapi, Yesus ingin menunjukkan kepada kita bagaimana Dia melihat diri kita. Yesus ingin mengangkat kita ke atas agar dapat melihat segala sesuatu untuk mana Dia memanggil kita, dan segala sesuatu yang direncanakan untuk dilakukan-Nya dalam diri kita selagi kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang berada di luar kuasa-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang lebih besar daripada hasrat-Nya untuk melihat diri kita dimuliakan bersama-Nya.

IMAM BESAR AGUNG - 2Marilah kita membayangkan surga sekarang. Marilah kita mencoba membayangkan Yesus sedang berdiri di hadapan Bapa-Nya dan memohon kepada-Nya agar mencurahkan kasih-Nya yang berlimpah kepada kita. Bahkan 2.000 tahun setelah Dia diangkat ke surga, Yesus terus saya melakukan doa syafaat bagi kita: “Bapa, aku ingin setiap orang hidup dalam kita setiap hari. Aku ingin agar mereka mengenal kasih-Mu sebagaimana Aku mengenalnya. Aku ingin agar mereka berjalan dengan kita.” O sungguh indah untuk mengetahui juga bahwa Bapa surgawi sangat senang untuk menjawab doa-doa dari Putera-Nya yang terkasih.

Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membuka pintu gerbang surga bagi kita. Kita dimasukkan ke dalam tubuh Kristus ketika kita mendengar sabda kebenaran – Injil keselamatan kita – dan dibaptis dalam nama Allah Tritunggal Mahakudus. Sebagai orang-orang yang disambut dalam Kristus, kita memegang janji Roh Kudus. Ia akan bekerja dalam diri kita untuk terus menyerupakan kita dengan Kristus. Karena kita telah memberikan hati kita kepada Yesus, maka kita “telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambaran Penciptanya” (Kol 3:10).

Apabila kita memandang cermin, marilah kita memandang diri seperti Allah sendiri memandang kita. Apakah kita melihat diri kita sangat dikasihi oleh-Nya? Apakah kita melihat bahwa Allah mempunyai kuat-kuasa untuk mengubah hal-hal dalam diri kita yang tidak menyenangkan hati-Nya? Apakah kita melihat kehadiran Allah dan menyadari bahwa Dia mampu untuk menenuhi diri kita? Apakah kita melihat proses penyembuhan yang sedang dikerjakan Allah dalam diri kita? Selagi kita memandang diri kita di depan cermin ini, maka marilah kita senantiasa menanti-nanti dengan pengharapan, karena Allah sedang menyelesaikan pekerjaan-Nya dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh indah. Kasih-Mu kekal-abadi. Aku ingin menjadi satu dengan diri-Mu dan juga dengan sesamaku, sehingga dengan demikian nama-Mu dapat dipuji-puji di seluruh dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “GAMBARAN KASIH YESUS DALAM DOA-NYA” (bacaan tanggal 5-6-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 BACAAN HARIAN JUNI 2014.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “MERENUNGKAN KASIH YESUS KEPADA KITA LEWAT DOA-NYA” (bacaan tanggal 16-5-13) dan “SUPAYA MEREKA MENJADI SATU” (bacaan tanggal 24-5-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 22:30;23:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “KUATKANLAH HATIMU” (bacaan tanggal 9-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 3 Juni 2014 [Peringatan S. Karolus Lwanga dkk. Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAGAIMANA MENJALIN RELASI DENGAN ALLAH

BAGAIMANA MENJALIN RELASI DENGAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Rabu, 4 Juni 2014)

YESUS KRISTUS - 11Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran. (Yoh 17:11b-19)

Bacaan Pertama: Kis 20:28-38; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:29-30,33-36

“Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu” (Yoh 17:11).

Kita sungguh memperoleh privilese karena dapat melihat hidup doa dari Yesus, walaupun secara sekilas lintas saja. Dalam doa-Nya, Yesus mengajar para murid-Nya (termasuk kita sekarang) bagaimana kiranya menjalin relasi dengan Allah. Bukankah sungguh mengagumkan kenyataan, bahwa bahkan pada saat-saat persekutuan-Nya yang akrab dengan Bapa-Nya, Yesus berdoa untuk kita? Tidak cukuplah bagi Yesus untuk berdoa bahwa kita akan dilindungi dalam dunia ini. Yesus juga ingin agar kita mengenal dan mengalami keakraban yang sama dengan Bapa surgawi seperti yang dimiliki-Nya. Seakan-akan Yesus ingin agar tidak ada perbedaan antara kasih Allah yang dialami-Nya dan kasih Allah yang tersedia bagi kita. Bagaimana kiranya Bapa surgawi menolak doa-doa yang dipanjatkan oleh Putera-Nya yang terkasih? Tentu saja Allah akan memberikan kepada kita apa yang didoakan oleh Yesus.

Cima_da_Conegliano,_God_the_FatherYesus berdoa bahwa Bapa akan menjaga dan melindungi kita oleh nama-Nya. Pada zaman Yesus, sebuah nama memiliki makna lebih daripada sekadar sebutan bagi seseorang. Sebuah nama mewakilkan seluruh pribadi seseorang – kehadirannya, personalitasnya, setiap hal mengenai dirinya. Jadi, ketika Yesus berdoa bahwa semoga Bapa akan menjaga kita dalam nama-Nya, maka sebenarnya Dia tidak hanya berdoa untuk kuasa yang bersifat abstrak guna melindungi kita. Yesus memohon kepada Bapa agar menjaga kita semua berada dalam diri-Nya. Yesus sebenarnya memohon kepada sang Pencipta langit dan bumi agar menjaga kita.

Seandainya hal ini terdengar sebagai sesuatu yang terlalu baik dan melampaui ekspektasi normal, Yesus masih mempunyai sesuatu lagi untuk kita. Yesus menguduskan diri-Nya untuk kita. Dengan begitu, Yesus mendedikasikan diri-Nya untuk menjadi Penebus kita, Juruselamat kita untuk sepanjang segala masa. Selagi Yesus melanjutkan berdoa syafaat bagi kita dan untuk hidup dalam diri kita oleh kuasa Roh Kudus, maka diri kita dapat dijaga dari pengaruh si Jahat setiap saat.

Doa Yesus kepada Bapa-Nya mengungkapkan hal-hal yang ada dalam hati-Nya yang terdalam. Sungguh indah bila kita merenungkan bahwa kita adalah objek dari keprihatinan-keprihatinan-Nya dan bahwa kita adalah orang-orang yang paling dikasihi-Nya. O betapa berbahagianya kita! Sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang dapat kita percayai lebih daripada Yesus. Oleh karena itu, marilah kita memberikan kepada-Nya hidup kita dan segalanya yang membentuk diri kita. Yesus telah memberikan segala sesuatu yang dimiliki-Nya – termasuk hidup-Nya – untuk menebus kita – lewat kematian-Nya di kayu salib. Marilah kita terus mati terhadap diri kita, sehingga dengan demikian keilahian-Nya yang sempurna dapat mengalir dalam diri kita dan melalui kita ke tengah-tengah dunia.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh merasa bahagia penuh takjub ketika menyadari betapa Engkau mengasihi diriku. Dengan ini aku menyerahkan diriku kepada-Mu dengan penuh kebebasan dan sukacita, agar dengan demikian aku dapat mengenal dan mengasihi Engkau dengan lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH YANG DAPAT KITA HARAPKAN DARI ROH KUDUS?” (bacaan tanggal 4-6-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH HARIAN JUNI 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “SUPAYA MEREKA PUN DIKUDUSKAN DALAM KEBENARAN” (bacaan tanggal 23-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 20:28-38), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “PERPISAHAN PAULUS DENGAN PARA PENATUA DI EFESUS [SAMBUNGAN]” (bacaan tanggal 23-5-12) dan “LEBIH BERBAHAGIA MEMBERI DARIPADA MENERIMA” (bacaan tanggal 8-6-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 3 Juni 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGENAL ALLAH

MENGENAL ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Karolus Lwanga dkk. Martir – Selasa, 3 Juni 2014)

LAST SUPPER - 0101Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenai Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a)

Bacaan Pertama: Kis 20:17-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:10-11.20-21

Setelah mengatakan segala sesuatu yang ingin dikatakan-Nya kepada para murid-Nya, Yesus kemudian berdoa kepada Bapa-Nya. Doa syafaat yang didoakan-Nya terdengar sebagai semacam surat wasiat, …… sebuah warisan. Doa ini dihaturkan oleh Yesus kepada Bapa-Nya hanya beberapa waktu sebelum Ia ditangkap dan menderita sengsara. Kata-kata yang digunakan Yesus dalam doa ini mengungkapkan isi hati Yesus yang terdalam – kasih-Nya kepada Bapa-Nya di surga yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun, dan hasrat-Nya untuk membagikan kasih ini dengan semua umat-Nya. Inilah kiranya apa yang dimaksudkan dengan “mengenal” Allah (Yoh 17:3).

Ketika kita mengenal seseorang secara akrab, maka kita mengenal orang itu lebih daripada sekadar namanya dan berbagai statistik pribadinya. Kita berbicara dengan orang itu, kita bekerja bersama dengan dia, dan malah kita menikmati saat-saat rileks bersama dengannya; saling berjumpa, baik dalam situasi-situasi suka maupun duka, sedikit demi sedikit sampai kepada penghargaan atas kekuatan-kekuatan maupun kelemahan-kelemahan yang membentuk seseorang menjadi pribadi yang unik. Kita pun kemudian dapat menjalin relasi yang lebih mendalam lagi dan menjadi sahabatnya.

YESUS BERDOA UNTUK PARA MURID-NYA  YOH 17Demikian pula halnya dengan Allah. Kita hidup dalam zaman setelah kenaikan Yesus ke surga, dengan demikian kita dapat menikmati berkat dari relasi persahabatan yang akrab dengan Allah seturut apa yang dinyatakan oleh Roh Kudus kepada kita. Pada kenyataannya ini adalah hasrat Allah yang terbesar, yaitu bahwa kita mengenal diri-Nya secara pribadi. Inilah alasannya mengapa Dia mengutus Putera-Nya terkasih, Yesus Kristus, guna menebus kita. Pada hari ini kita dapat berjalan dengan martabat sebagai anak-anak dari Bapa surgawi (Yoh 1:12). Dan, Yesus sendiri pun tidak malu untuk memanggil sebagai saudari dan saudara-Nya (lihat Ibr 2:11).

Kita sampai kepada pengenalan akan Allah karena Roh Kudus menyatakan-Nya kepada kita. Apakah hal ini merupakan suatu pernyataan yang berproses secara gradual/bertahap, atau suatu pengalaman pertobatan penuh kuasa dari “kegelapan-ke-terang” sebagaimana dialami oleh Saulus dalam perjalanan menuju Damsyik (lihat Kis 9:1 dsj.), hasilnya adalah bahwa kita mengalami kasih Allah dalam hati kita dan menyadari tanpa ragu-ragu lagi bahwa kita adalah sungguh anak-anak Allah. Allah begitu berkeinginan agar kita mengenal diri-Nya sehingga Dia pun memberikan banyak cara/jalan bagi kita untuk berjumpa dengan diri-Nya.

Kita dapat melihat “tangan-tangan” Allah bekerja dalam sejarah umat manusia. Dia berbicara kepada kita melalui Kitab Suci dan melalui ajaran Gereja, dan Dia senantiasa menopang kehidupan umat-Nya dari masa ke masa. Dalam berbagai sakramen, kita berjumpa dengan-Nya melalui tanda-tanda dan liturgi. Dalam doa-doa pribadi, kita pun dapat sampai kepada pengalaman akan kasih-Nya dengan cara/jalan yang akrab dan istimewa. Dengan segala cara/jalan ini, kita dapat mengenal Allah dengan akrab, sesuatu yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Santo Augustinus dari Hippo mengalami kasih-Nya, demikian pula halnya dengan Santo Fransiskus dari Assisi dan Santa Klara dari Assisi, semua dengan jalan/cara yang khas. Santo Ignatius dari Loyola mempunyai pengalaman juga, dan banyak umat “biasa” pun mempunyai pengalaman akan kasih Allah. Allah memang sangat merindukan agar kita mengenal-Nya dan mengalami kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, selagi kami menantikan saat pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, buatlah kami agar dapat mengenal Engkau lebih mendalam lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 20:17-27), bacalah tulisan berjudul “PERPISAHAN PAULUS DENGAN PARA PENATUA DI EFESUS” (bacaan tanggal 3-6-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2014.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “DOA SYAFAAT YESUS UNTUK PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 22-5-12) dan “ALLAH DIMULIAKAN DI BUMI KALAU KITA MENYELESAIKAN TUGAS PEKERJAAN YANG DIBERIKAN-NYA KEPADA KITA” (bacaan tanggal 7-6-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 2 Juni 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA OLEH KUAT-KUASA ROH KUDUS

HANYA OLEH KUAT-KUASA ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Senin, 2 Juni 2014)

PAULUS DI EFESUSKetika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajahi daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka, “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?” Akan tetapi, mereka menjawab dia, “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Lalu kata Paulus kepada mereka, “Kalau begitu, dengan baptisan mana kamu telah dibaptis?” Jawab mereka, “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus, “Baptisan Yohanes adalah baptisan tobat dan ia berkata kepada orang banyak bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian daripadanya, yaitu Yesus.” Ketika mereka mendengar hal itu mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat. Mereka semua berjumlah kira-kira dua belas orang.

Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan berbicara dengan berani serta berdebat dengan mereka untuk meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (Kis 19:1-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7; Bacaan Injil: Yoh 16:29-33

Santo Paulus menjelaskan kepada para murid di Efesus perbedaan antara baptisan tobat dari Yohanes Pembaptis dan pembaptisan dalam Roh Kudus oleh Yesus. Walaupun para murid ini memahami realitas dosa dan kebutuhan akan pertobatan, mereka tidak mengenal Roh Kudus dan karunia hidup baru-Nya. Pandangan mereka tentang kesalehan hidup hanya terbatas pada upaya untuk tidak melanggar perintah Allah dan bertobat seandainya mereka terlibat dalam dosa. Mereka tidak tahu bahwa Injil juga mencakup kuat-kuasa Roh Kudus untuk mengangkat mereka kepada suatu cara hidup yang baru.

Dengan cara serupa, kita pun dapat mereduksi hidup Kristiani yang sekadar menjauhi kesulitan, mencoba untuk berbuat kebaikan, dan bertobat apabila kita bersalah. Namun sebenarnya Yesus memanggil kita untuk terlibat dalam suatu misi yang jauh lebih besar dalam dunia ini. Misi apakah ini? Secara sederhana: Yesus! Di mana pun Allah menempatkan anda: dalam komunitas religius anda, dalam keluarga anda, di tempat kerja anda, di sekolah, di paroki anda, di lingkungan anda, di kawasan tempat tinggal anda.

ROHHULKUDUSInilah tantangan-tantangannya: Untuk mengasihi pada saat kita tidak terdorong untuk mengasihi, dan melayani ketika kita tidak merasa bahwa hal tersebut membutuhkan rahmat dari Roh Kudus. Kasih memerlukan hikmat-kebijaksanaan dan kreativitas –kualitas-kualitas yang tidak pernah kita miliki secara mencukupi. Roh Kudus ingin memperluas kemampuan-kemampuan kita dengan karunia hikmat, karunia membeda-bedakan roh, dan karunia iman, sehingga dengan demikian kita dapat menemukan jalan terbaik untuk membangun satu sama lain dalam kasih sejati. Ajaran Gereja tetap sama, yaitu bahwa hanya oleh kuat-kuasa Roh Kudus kita dapat memenuhi misi yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kita masing-masing.

Apakah anda melihat diri anda sebagai seorang pribadi dengan suatu misi? Tidakkah anda mengetahui bahwa Yesus telah memberi “amanat agung” kepada anda untuk membangun Kerajaan-Nya. Janganlah perkenankan Iblis membuat anda memusatkan perhatian atas dosa-dosa anda! Juga janganlah memperkenankan diri anda disibukkan dengan upaya untuk melakukan setiap hal secara sempurna! Semakin banyak kita bereksperimen dengan karunia-karunia Roh dan membawa kasih Yesus dan kehadiran-Nya ke tengah dunia, semakin banyak pula kita menemukan diri kita secara alamiah diangkat kepada takhta Allah.

DOA: Datanglah Roh Kudus dan penuhilah diriku dengan kehadiran-Mu. Tolonglah aku agar mau dan mampu membuang berbagai penghalang terhadap karya-Mu dalam hidupku. Aku berketetapan hati untuk mengandalkan kuat-kuasa-Mu dan menggunakan berbagai karunia yang telah Kauberikan kepadaku untuk melakukan kebaikan bagi sesamaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYAKAH KAMU SEKARANG?” (bacaan tanggal 2-6-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “SUPAYA KAMU BEROLEH DAMAI SEJAHTERA DALAM AKU” (bacaan tanggal 21-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 19:1-8), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS, KETIKA KAMU PERCAYA?” ( bacaan tanggal 6-6-11) dan “MENJADI YESUS DI DALAM DUNIA” (bacaan tanggal 13-5-13), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 31 Mei 2014 [Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS