GELAR YANG DIMILIKI OLEH YHWH SAJA

GELAR YANG DIMILIKI OLEH YHWH SAJA
(Bacaan Injil Misa Kudus, Pekan II Paskah, Sabtu 21-4-12)
Keluarga Fransiskan: Peringatan Santo Konradus dari Parzham (Biarawan Kapusin)

Ketika hari mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Hari sudah gelap dan Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sementara laut bergelora karena tiupan angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira lima atau enam kilometer jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Mereka pun ketakutan. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Inilah Aku, jangan takut!” Karena itu, mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika itu juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tuju. (Yoh 6:16-21).
Bacaan Pertama: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19

Orang banyak begitu terkesan oleh mukjizat-mukjizat Yesus sehingga mereka ingin (dengan paksa) membuat Dia menjadi Raja (Yoh 6:15), dengan demikian akan menempatkan diri-Nya sebagai oposisi yang berhadap-hadapan dengan Herodes yang pada umumnya dipandang sebagai pengkhianat bangsa (dia memang bukan bangsa Yahudi). Namun Yesus tidak mau menerima hal tersebut. Tidak hanya tindakan seperti itu akan memprovokasi intervensi militer dari pihak Romawi; namun juga yang lebih penting adalah, bahwa apabila dinobatkan sebagai seorang raja dunia maka hal tersebut akan merupakan tafsiran yang salah samasekali dari Kerajaan yang hendak didirikan Yesus dengan kedatangan-Nya. Di hadapan Pilatus, Yesus menyatakan dengan penuh empati bahwa Kerajaan-Nya bukanlah dari dunia ini (lihat Yoh 18:36). Oleh karena itu Yesus menyingkir ke gunung seorang diri, dan para murid-Nya naik perahu menyeberang ke Kapernaum; sebenarnya untuk menghindar dari konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan.

Kita akan lihat, bahwa kesulitan para murid tidak berhenti sekali mereka berhasil “melarikan diri” dari orang banyak. Danau Galilea ini dalam teks Injil beberapa versi bahasa Inggris disebut “Sea of Galilee” (“Laut Galilea”: misalnya dalam Revised Standard Version; Christian Community Bible – Catholic Pastoral Edition; The New American Bible; The New Jerusalem Bible). “Laut” dipandang sebagai sebuah tempat “khaos” (Inggris: chaos), tempat tinggal roh-roh jahat dan kekuatan-kekuatan berbahaya yang harus dengan kuat ditahan oleh Allah. Misalnya dalam “Ucapan Ilahi terhadap Asyur”: Wahai! Ributnya banyak bangsa-bangsa, mereka ribut seperti ombak laut menderu! Gaduhnya suku-suku bangsa, mereka gaduh seperti gaduhnya air yang hebat! Suku-suku bangsa gaduh seperti gaduhnya air yang besar; tetapi TUHAN (YHWH) menghardiknya, sehingga mereka lari jauh-jauh, terburu-buru seperti sekam di tempat penumbukan dihembus angin, dan seperti dedak ditiup puting beliung” (Yes 17:12-13; lihat juga Mzm 18:16-17). Jadi, walaupun berhasil menghindar dari tekanan orang banyak, para murid Yesus sekarang mendapatkan diri mereka berkonfrontasi dengan kuasa-kuasa yang tak dapat mereka hindari atau kendalikan.

Pada titik krisis ini, ketika segala kekuatan lahir dan batin para murid hampir terkuras habis, muncullah Yesus yang berjalan di atas air. Melihat kenyataan itu, mereka sungguh merasa takut! Sang Guru, yang mampu melipat-gandakan roti dan ikan, sekarang “mendemonstrasikan” kuat-kuasa yang jauh lebih dahsyat, yang menunjukkan otoritas yang menentukan atas air danau yang mengamuk. Pada saat Yesus berbicara, kata-kata-Nya tidak hanya menghibur – “Jangan takut” (Yoh 6:20). Namun Yesus juga bersabda, “Inilah Aku”, kata-kata yang dengan cepat ditangkap oleh para murid-Nya sebagai gelar yang dimiliki oleh YHWH saja, satu-satunya Allah yang benar (Kel 3:14; bdk. Yoh 8:58).

Dalam cerita ini dengan berbagai cara Yesus memanifestasikan kuat-kuasa Allah, kuasa yang mencakup kendali (kontrol) atas kuasa-kuasa kegelapan dan pada saat sama keamanan dan proteksi bagi mereka yang telah dipanggil-Nya. Lebih lanjut Ia terus berbicara mengenai perlunya bagi semua orang untuk ikut ambil bagian dalam hidup-Nya sampai satu titik di mana kita sungguh-sungguh makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya. Namun sebelum kita mulai merenungkan kebenaran-kebenaran yang indah ini, kita masih mempunyai kesempatan untuk beristirahat di pantai danau dan merenungkan keagungan Allah dan belas kasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkaulah Allah yang Mahakudus, Mahakuasa, Raja atas segala raja dan sempurna dalam kasih. Oleh rahmat-Mu, tolonglah kami untuk menempatkan iman dan kepercayaan kami dalam Engkau. Semoga kami senantiasa terbuka bagi kasih dan kerahiman-Mu, dan semoga hati kami menjadi tenang dalam kehadiran-Mu seperti yang telah Kaulakukan atas air danau itu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “INILAH AKU, JANGAN TAKUT !!!” (bacaan tanggal 21-4-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “PENGANGKATAN TUJUH ORANG DIAKON YANG PERTAMA” (bacaan tanggal 7-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2011.

Cilandak, 10 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGAMBIL ROTI ITU, MENGUCAP SYUKUR DAN MEMBAGI-BAGIKANNYA KEPADA MEREKA

YESUS MENGAMBIL ROTI ITU, MENGUCAP SYUKUR DAN MEMBAGI-BAGIKANNYA KEPADA MEREKA
(Bacaan Injil Misa Kudus, Pekan II Paskah, Jumat 20-4-12)

Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15).
Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

Bab 6 dalam Injil Yohanes memusatkan perhatiannya pada kebenaran sentral bahwa Yesus adalah “Roti Kehidupan”. Penggandaan roti dan ikan (satu-satunya cerita mukjizat yang tercatat dalam keempat kitab Injil) menolong para pembaca untuk memahami selebihnya dari Bab 6 ini.

Hari Raya Paskah sudah dekat (Yoh 6:4), dengan demikian di sini kita diingatkan akan pekerjaan besar Allah di masa lalu dan roti tak beragi yang dimakan oleh orang Yahudi pada hari raya sangat istimewa ini. Yesus sedang akan menyatakan sesuatu tentang karya-karya baru Allah dan roti Paskah baru yang diberikan-Nya kepada kita. Orang banyak mengikuti Yesus ke sebuah tempat yang terisolasi, ke atas gunung yang hijau menyegarkan. Sebuah tempat kehidupan, bukan tempat kematian, karena ada banyak rumput di mana orang-orang itu dapat duduk (lihat Yoh 6:10). Dalam suatu situasi yang serupa dengan situasi yang dialami Musa di padang gurun, timbullah keprihatinan bagaimana memberi makan kepada begitu banyak orang. Allah memberi makan manna kepada bani Israel yang mengembara di padang gurun; Yesus menggandakan roti dan ikan.

Hal ini memimpin kita kepada isu sentralnya – penggandaan. Seluruh kisah ini disajikan dalam suatu kerangka liturgis atau kerangka rituale. Sebagaimana dilakukan oleh para imam tertahbis dalam perayaan Ekaristi berabad-abad lamanya, Yesus “mengambil” roti, “mengucap syukur” (Yunani: eucharistesas), dan “membagi-bagikannya” kepada mereka yang duduk di situ (lihat Yoh 6:11). Penggandaan roti dilakukan dalam konteks doa syukur kepada Allah untuk segala anugerah-Nya, namun teristimewa untuk karunia kehidupan (yang dilambangkan oleh roti) yang datang hanya dari Dia.

Respons orang banyak memiliki signifikansi di sini: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 6:14), suatu alusi pada nabi yang akan dibangkitkan oleh Allah dari antara umat (Ul 18,15,18). Sebagaimana Musa – melalui karya Allah) telah memberikan bani Israel manna di padang gurun, demikian pula Yesus (sang nabi) memberikan anugerah kehidupan yang bahkan lebih besar.

Anugerah yang lebih besar ini adalah Yesus sendiri. Alusi-alusi ke masa lampau ditambah dengan mukjizat hari ini membuat praandaian tentang sesuatu lebih besar yang akan datang: Yesus sebagai “roti kehidupan”. “Inilah roti yang turun dari surga: Siapa saja yang memakannya, ia tidak akan mati. Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Yoh 6:50-51). Penggandaan ini menunjuk kepada kehidupan kekal. Setelah selesai makan, sisa-sisa makanan yang terkumpul berjumlah dua belas bakul, jauh lebih besar daripada jumlah “modal” pertama sejumlah lima roti jelai dan dua ekor ikan (Yoh 6:13). Yesus memberikan kepada kita hidup-Nya secara berlimpah!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, karena Engkau memberikan kepada kami anugerah Yesus – roti kehidupan kekal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG” (bacaan tanggal 20-4-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 12-04 PERMENUNGAN ALIKITABIAH APRIL 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:34-42), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH BERTINDAK APA-APA TERHADAP ORANG-ORANG INI” (bacaan tanggal 6-5-11) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-05 BACAAN HARIAN MEI 2011.

Cilandak, 9 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA SAJA YANG PERCAYA KEPADA ANAK, IA BEROLEH HIDUP YANG KEKAL

SIAPA SAJA YANG PERCAYA KEPADA ANAK, IA BEROLEH HIDUP YANG KEKAL
(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah, Kamis 19-4-12)

Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata tentang hal-hal di bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya. Ia bersaksi tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tidak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi siapa saja yang tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap tinggal di atasnya.” (Yoh 3:31-36).
Bacaan Pertama: Kis 5:27-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9,17-20

Yohanes Pembaptis sangat dihormati oleh umat Kristiani pada tahun-tahun formatif Gereja – begitu dihormati orang ini sehingga Yohanes Penginjil menyediakan ruangan yang cukup untuk menulis sehubungan dengan Yohanes Pembaptis ini, dan menekankan bahwa Yesus itu lebih tinggi apabila dibandingkan dengan Yohanes Pembaptis (lihat Yoh 3:22-36). Dengan menggunakan bahasa yang terkadang sulit dipahami, Yohanes menulis bahwa Yesus (yang datang atas/surga) berada di atas Yohanes Pembaptis (yang datang dari bumi) (lihat Yoh 3:31). Dunia menolak testimoni surgawi dari Yesus, akan tetapi “siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku bahwa Allah adalah benar” (Yoh 3:32,33); dengan demikian kepercayaan tidak menggiring orang kepada penghukuman melainkan kehidupan kekal.

Yohanes Pembaptis dipenuhi dengan Roh Kudus sebelum kelahirannya (Luk 1:15), akan tetapi Yesus-lah yang menerima Roh Kudus tanpa batas (lihat Yoh 3:34). Yohanes Pembaptis sendiri memberi kesaksian tentang relasi yang unik antara Yesus dengan Roh Kudus setelah baptisan-Nya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya” (Yoh 1:32).

Satu pelajaran kunci bagi kita adalah memahami kebutuhan bagi kita untuk percaya (Yoh 3:36). Banyak orang pada zaman kita ini menyangkal untuk percaya karena hal itu membuat diri mereka merasa bersalah. Ironinya dalam hal ini adalah bahwa kepercayaan memimpin kita kepada kehidupan kekal; kepercayaan sebenarnya adalah satu-satunya jalan keluar dari penghukuman (Yoh 3:18).

Hal ini tidak hanya benar dalam membawa kita kepada Kristus, melainkan juga dalam upaya-upaya kita untuk mengikuti jejak-Nya dari hari ke hari. Kadang-kadang kita merasa ragu untuk berdoa karena takut Yesus akan menunjukkan dosa-dosa kita dan membuat kita merasa bersalah. Namun di sini kita harus ingat bahwa iman kepada Allah tidak pernah memimpin kita kepada penghukuman; bahkan ketika perasaan sedih karena berdosa diperlukan, pertobatan pada akhirnya membawa kita kepada kepenuhan hidup.

Santa Katarina dari Siena [1347-1380] adalah seorang mistikus dari Sienna, Italia yang bersentuhan dengan realitas-realitas surgawi dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari. Dalam kurun waktu 1377-1378, perempuan suci ini mengarang “buku” yang berjudul “Dialog”, suatu “percakapan” antara Allah dan dirinya. Selagi kita mulai doa kita pada hari ini, marilah kita merenungkan sebuah kutipan dari tulisannya (Allah yang berbicara):

“Orang bodoh mengambil untuk kematian apa yang Aku berikan untuk kehidupan, dan dengan demikian mereka kejam terhadap diri mereka sendiri. …… Sekarang, bagaimana pun besarnya dosa orang, mereka dapat menemukan kepuasan yang sempurna apabila mereka mau kembali kepada-Ku dalam hidup mereka, karena engkau telah menerima kepuasan sempurna melalui persatuan antara Aku dengan umat manusia. …… Penyelenggaraan-Ku telah memberikan kepadamu makanan untuk memperkuat engkau selagi engkau menjadi peziarah dalam kehidupan ini” (Section 135; terjemahan bahasa Inggris).

DOA: Bapa surgawi, dengan penuh keyakinan aku berdiri di hadapan hadirat-Mu dalam kebebasan yang telah dimenangkan oleh Yesus bagi diriku. Aku menolak pemikiran apa saja yang akan menyangkal belas-kasih-Mu yang besar terhadap diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:31-36), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG PERCAYA KEPADA KRISTUS, DIA BEROLEH HIDUP YANG KEKAL” (bacaan tanggal 19-4-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:27-33), bacalah tulisan yang berjudul “HARUS LEBIH TAAT KEPADA ALLAH DARIPADA KEPADA MANUSIA” (bacaan tanggal 5-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2011.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-5-11)

Cilandak, 9 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH SENANTIASA MENGASIHI KITA

ALLAH SENANTIASA MENGASIHI KITA
(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah, Rabu 18-4-12)

Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab siapa saja yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak; tetapi siapa saja yang melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” (Yoh 3:16-21).
Bacaan Pertama: Kis 5:17-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9

Sepanjang masa Paskah, Gereja merefleksikan kehidupan Yesus dan pemenuhan rencana penyelamatan Allah melalui diri Yesus. Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya tentang niat Bapa surgawi, bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nyalah keselamatan dimenangkan bagi semua orang dan mereka akan memperoleh kehidupan kekal melalui diri-Nya.

Yesus bersabda: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Bahkan ketika kita tidak mengasihi Allah atau merasa perlu untuk mencari-Nya, Dia tetap mengasihi kita. Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal agar kita tidak sampai binasa, melainkan dapat memperoleh kehidupan kekal. Di atas kebenaran inilah kita menaruh pengharapan kita. Kita tahu bahwa pengharapan ini tidaklah sia-sia apabila kita memperkenankan Allah mentransformasikan hidup kita.

Bapa surgawi memberikan kepada kita seorang Penebus untuk membebaskan kita dari kematian (maut). Ia adalah terang yang mengalahkan segala kegelapan, kebohongan dan tipu-daya Iblis dan menunjukkan bahwa “siapa saja yang melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah” (Yoh 3:21). Melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita, kita dapat menjadi menjadi pemenang atas pola-pola kedosaan dalam kehidupan kita.

Apabila kita harus berbagi (syering; Inggris: sharing) dalam kehidupan ini, kita harus merangkul apa yang kita terima melalui iman dan baptisan. Selagi kita berdiri atas kebenaran bahwa kita telah mati dan bangkit bersama Kristus Yesus, kita akan mengalami kehidupan itu. Kuasa hidup baru datang dari Roh Kudus yang telah ditanamkan ke dalam diri kita dan memberdayakan kita untuk mengalami suatu hidup kebangkitan. Selagi kita menyerahkan diri kita kepada Allah, kita akan melihat bahwa kuat-kuasa yang sama juga bekerja dalam diri kita; kuat-kuasa yang membangkitkan Yesus dari alam maut.

Kita akan memiliki kuat-kuasa untuk mengalahkan dosa, kuasa untuk dengan gigih bertahan dalam menghadapi godaan. Yesus memanifestasikan semua ciri hidup baru sebagai ciptaan baru. Warisan kita sebagai sebagai anak-anak Bapa surgawi adalah untuk memperoleh Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita agar membuat hidup kita semakin serupa dengan Kristus.

DOA: Bapa surgawi, Engkau begitu mengasihi dunia sehingga Engkau mengutus Putera-Mu agar kami semua dapat memperoleh kehidupan kekal. Tolonglah kami agar dapat berjalan dalam Roh pada hari ini, dan setiap hari; bersukacita dalam kemenangan dan kebebasan hidup yang telah dimenangkan oleh Yesus bagi kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA ALLAH BEGITU MENGASIHI DUNIA INI” (bacaan tanggal 18-4-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kis 5:17-26), bacalah tulisan berjudul “KALAU KUAT-KUASA ROH KUDUS ADA DALAM DIRI KITA, MAKA ……” (bacaan tanggal 4-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori 11-05 BACAAN HARIAN MEI 2011.

Cilandak, 9 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

LAHIR DARI ROH

LAHIR DARI ROH
(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah, Selasa 17-4-12)

Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Dengan demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus, “Engkau guru orang Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal surgawi? Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:7-15)
Bacaan Pertama: Kis 4:32-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 93: 1-2,5

Apa yang dimaksudkan dengan “lahir dari Roh” (Yoh 3:8)? Barangkali cara terbaik untuk memahami arti ungkapan itu adalah dengan melihat orang-orang yang lahir dari Roh.

Sebelum Yesus naik ke surga, Ia bersabda kepada para rasul/murid, “Kamu akan menerima kuasa-Nya bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku” (Kis 1:8). Para murid kepada siapa Yesus membuat janji yang indah ini adalah sekelompok orang-orang yang lemah dan sedang dihinggapi rasa takut. Kelihatannya mereka tidak melakukan pelayanan apa pun sementara mereka menanti-nantikan dipenuhinya janji di atas, di ruang atas di Yerusalem. Akan tetapi, pada waktu Roh Kudus datang ke atas mereka pada hari Pentakosta, mereka pun ditransformasikan menjadi saksi-saksi Kristus yang berani. Akhirnya mereka mewartakan Injil ke seluruh dunia, bahkan dengan risiko dibunuh sebagai martir-martir.

Demikian pula, Saulus dari Tarsus mengejar dan menganiaya umat Kristiani sampai saat Kristus yang bangkit menampakkan diri kepadanya dan seorang Kristiani yang bernama Ananias berdoa baginya “agar dipenuhi dengan Roh Kudus” (Kis 9:17). Hal ini mengubah arah kehidupan Saulus. Berganti nama menjadi Paulus, ia menjadi seorang saksi Kristus yang berani, menderita dan pada akhirnya mati demi iman-kepercayaannya.

Sepanjang sejarah Gereja kita melihat begitu banyak umat (baik orang-orang kudus yang resmi maupun umat biasa) telah ditransformasikan oleh Roh Kudus. Sebagaimana halnya dengan murid-murid Yesus yang awal, kita seringkali merasa tak berdaya apabila berhadapan dengan situasi di mana kita harus mensyeringkan/mewartakan Injil Yesus Kristus. Barangkali hal ini disebabkan karena kita menggantungkan diri pada kekuatan kita sendiri, bukannya mengandalkan diri pada kuasa Roh Kudus.

Berita baiknya adalah, bahwa Roh Kudus yang sekitar 2.000 tahun lalu turun atas para rasul pada hari Pentakosta, dan yang turun atas umat Kristiani pada segala zaman juga tersedia bagi kita masing-masing, hari ini dan di sini juga. Roh Kudus ini ingin memberdayakan kita. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus setiap hari agar memenuhi diri kita dan membuat kita menjadi pewarta-pewarta yang berani dari Kabar Baik Yesus Kristus.

DOA: Bapa surgawi, aku mengakui kelemahanku apabila terpisah dari-Mu. Aku membutuhkan Roh Kudus-Mu untuk memampukan diriku menjalani kehidupan yang menyenangkan-Mu. Aku ingin dipenuhi lagi dengan Roh Kudus-Mu. Aku ingin diberdayakan oleh Roh-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi lebih serupa dengan Putera-Mu dan menjadi saksi-Nya yang berani. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 4:32-37), bacalah tulisan yang berjudul “SEHATI DAN SEJIWA” (bacaan tanggal 17-4-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2012.

Cilandak, 3 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JIKA SESEORANG TIDAK DILAHIRKAN DARI AIR DAN ROH …

JIKA SESEORANG TIDAK DILAHIRKAN DARI AIR DAN ROH …

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah, Senin 16-4-12) 

KFS/OSF/SFD/SFS: Pembaruan Kaul

Ada seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata, “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” Yesus menjawab, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimana mungkin seseorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan secara jasmani bersifat jasmani dan apa yang dilahirkan dari Roh bersifat rohani. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh. (Yoh 3:1-8)

Bacaan Pertama: Kis 4:23-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:1-9 

Nikodemus, seorang Farisi dan anggota Sanhedrin, datang menemui Yesus di malam hari. Orang Yahudi yang “saleh” ini menyadari bahwa Yesus adalah “seorang guru (rabi) yang diutus Allah” (Yoh 3:2), namun ia datang untuk lebih mengetahui Yesus secara lebih mendalam lagi. Yesus menggiring percakapan langsung ke inti masalahnya ketika Dia berkata kepada Nikodemus, “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah” (Yoh 3:3). Ketika Nikodemus bertanya bagaimana mungkin seseorang dilahirkan, kalau ia sudah tua; dapatkah ia masuk ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi, maka Yesus menjawab bahwa jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh 3:4-5).

Gereja telah sampai kepada pemahaman atas kata-kata Yesus di atas ini sebagai sebuah refleksi atas baptisan dan iman. Hidup Allah diberikan kepada kita pada waktu baptisan, namun kita tetap perlu memberi tanggapan kepada Allah dalam iman agar supaya kehidupan ini bertumbuh. Yang kita terima sebagai sebutir benih dalam baptisan perlu diberi asupan-bergizi dengan suatu “hidup-iman” sehingga benih itu dapat bertunas, bertumbuh dan berbuah. Tanggapan kita terhadap Allah perlu mencakup upaya-upaya kita untuk menempatkan diri kita dalam suatu posisi yang siap menerima kehidupan yang dianugerahkan Allah sendiri – seperti keiikut-sertaan aktif dan sering dalam liturgi dan sakramen-sakramen, doa pribadi dan pembacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci. Kalau tidak demikian halnya, maka iman kita tidak akan bertumbuh menjadi matang.

Yesus menekankan sifat radikal dari transformasi yang terjadi dalam diri kita sementara hidup-Nya bertumbuh dalam diri kita dengan mengkontraskan antara “jasmani” (“daging”) dan “roh” (Yoh 3:6; 6:63).  Hasrat-hasrat kedosaan dari kedagingan kita dan bujukan memikat dunia ini harus disingkirkan agar hidup Allah dapat bertumbuh dalam diri kita (lihat Rm 6:3-11). Hal ini tidaklah berarti sekadar membuktikan kekuatan kehendak kita melawan dosa, melainkan merangkul Kristus yang ditinggikan di atas kayu salib untuk mengalahkan dosa dan maut (baca Yoh 3:14-15).

Nikodemus pada waktu itu mengakui Yesus sebagai seorang guru yang diutus Allah, namun ia masih belum dapat memahami kedalaman karya Allah dalam diri Yesus (Yoh 3:2-4). Akan tetapi mereka yang “dilahirkan dari atas” membuka diri mereka bagi karya Allah melalui Roh Kudus yang menyatakan kebenaran Allah. Orang-orang seperti itu memperkenankan karya Allah mulai pada saat baptisan sampai mencapai kematangan sehingga mereka menajdi rohani (spiritual) dan lebih mampu dalam mengenal gerakan Roh dalam rangka mengetahui kehendak Allah. Roh Kudus yang kita terima pada waktu baptisan dan krisma (penguatan) menyatakan pikiran Allah bagi kita dan menolong kita untuk hidup sebagai umat-Nya (1Kor 2:12-16).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk senantiasa bersyukur atas rahmat baptisan kami. Ajarlah kami untuk menanggapi Engkau dalam iman sehingga hidup baru yang Kauberikan dapat bertumbuh mencapai kepenuhannya dalam diri kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kis 4:23-31), bacalah tulisan dengan judul “DOA JEMAAT” (bacaan tanggal 16-4-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 12-04 BACAAN HARIAN APRIL 2012. 

Cilandak, 3 April 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBAHAGIALAH MEREKA YANG TIDAK MELIHAT, NAMUN PERCAYA

BERBAHAGIALAH MEREKA YANG TIDAK MELIHAT, NAMUN PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH II, Minggu Kerahiman Ilahi, 15-4-12)

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada para penguasa Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Lalu kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Tetapi Tomas, salah seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, “Kami telah melihat Tuhan!”  Tetapi Tomas berkata kepada mereka, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Memang masih banyak tanda mujizat lain yang diperbuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya. (Yoh 20:19-31)

Bacaan Pertama:  Kis 4:32-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:2-4,16-18,22-24; Bacaan Kedua: 1Yoh 5:1-6 

Para rasul/murid Yesus untuk sekian lama berkumpul dalam ruang tertutup pada bagian atas sebuah bangunan di Yerusalem. Mereka diliputi rasa khawatir apakah sebentar lagi tibalah giliran mereka untuk ditangkap dan diadili serta dijatuhi hukuman. Ditengah-tengah kekhawatiran dan kegalauan mereka muncullah Yesus. Kehadiran Yesus ini membuat mereka bersukacita dan penuh damai. Hanya seorang rasul yang tidak hadir, yaitu Tomas. Pengkhianatan dan penyaliban atas diri Yesus membuat Tomas patah hati, dan kelihatannya dalam kesedihannya dia memilih isolasi, bukannya suatu persekutuan yang memberi penghiburan dari para rasul/murid yang lain.

Bayangkanlah betapa terkejutnya Tomas ketika Yesus secara tiba-tiba muncul lagi satu pekan kemudian. Dikelilingi oleh para saudari dan saudara seiman, Tomas akhirnya melihat dengan matanya sendiri Tuhan yang telah bangkit, dan keragu-raguannya semula berganti menjadi keyakinan iman yang kokoh, dan ia juga mengalami sukacita yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tomas tidak hanya melangkah dari “ketidakpercayaan kepada kepercayaan”, dia juga melangkah dari “isolasi” kepada “komunitas”. Ungkapan iman Tomas singkat saja namun tak meragukan sedikitpun: “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28). Jawaban Yesus kepada Tomas dalam menanggapi pernyataan imannya adalah “pegangan-abadi” bagi kita semua: “Karena engkau telah melihat aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Tentang karya kerasulan Tomas sesudah itu, Kitab Suci tidak menyebutkan apa-apa lagi. Juga tidak ada surat (epistola) peninggalan Tomas yang sampai kepada kita. Menurut tradisi, Tomas menyebarkan Kabar Baik Yesus Kristus ke arah timur dengan mengikuti jalan para pedagang, yaitu ke Siria, Armenia, Persia dan India. Orang kudus ini mengalami kematian sebagai seorang martir sejati. Sisa potongan tombak yang dipakai untuk membunuhnya ditemukan kembali sewaktu makamnya di Mailapur dekat kota Malabar, India dibuka kembali pada tahun 1523.

Paus Santo Gregorius Agung [540-601] pernah menulis, bahwa Allah “mentakdirkan murid yang tak percaya itu, ketika dia menyentuh luka-luka Gurunya, untuk menyembuhkan luka-luka ketidakpercayaan dalam diri kita”. Orang kudus ini lebih lanjut mengatakan, bahwa keragu-raguan Tomas dapat menolong kita untuk lebih percaya ketimbang iman para murid yang percaya. Mengapa? Karena kita tahu bahwa kita tidak sendiri. Ada Tomas, seorang dari 12 rasul yang dipilih oleh Yesus sendiri – juga seperti kita …… tidak sempurna!

Apakah anda sekarang mengenal seseorang yang sedang mengalami kegoncangan dalam imannya atau merasa ditinggalkan oleh Allah? Baiklah anda berdoa agar Tuhan Yesus “muncul” di depan orang itu dan meyakinkan dirinya, menghiburnya, menyemangatinya, serta menguatkannya dengan kehadiran-Nya. Barangkali kita (anda dan saya) juga merasakan adanya “jarak” yang mengganggu antara diri kita dengan Tuhan, atau kita merasa galau, bingung karena kita telah melakukan sesuatu yang menurut kita tidak akan dapat diampuni oleh-Nya. Dalam hal ini patutlah kita ingat, bahwa keberadaanYesus senantiasa disertai belas-kasih-Nya dan rahmat-Nya.

Dalam Misa Kudus hari ini, selagi kita sujud menyembah bersama saudari-saudara kita lainnya, Tuhan Yesus ingin menunjukkan betapa mendalam Ia mengasihi kita masing-masing. Ia selalu siap untuk berbicara kepada kita, bahkan pada saat-saat kita merasa sangat tertekan oleh berbagai masalah/kesulitan kehidupan ini; ketika kita merasa ditinggalkan oleh para sahabat yang kita kasihi dan percayai; atau ketika kita berada di tengah-tengah godaan serius. Marilah kita membuka hati kita dan memperkenankan Dia memperkuat iman kita seperti yang telah dilakukan-Nya atas diri Tomas.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa kemenangan-Mu atas dosa dan maut dapat membebaskan setiap orang dari ketidakpercayaannya. Anugerahilah karunia iman kepada orang-orang yang hampir putus-asa dan tanpa harapan sebagai pengikut-Mu, sehingga dengan demikian setiap orang dapat menemukan kehidupan, kedamaian dan sukacita karena kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “BERSAMA TOMAS KITA BERKATA ‘YA TUHANKU DAN ALLAHKU’” (bacaan tanggal 15-4-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2012. 

Cilandak, 4 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers