BELAS KASIH ALLAH YANG MENGIKUTI PERTOBATAN SEJATI

BELAS KASIH ALLAH YANG MENGIKUTI PERTOBATAN SEJATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Rabu, 20 Februari 2013)

The-bread-of-lifeKetika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!” (Luk 11:29-32)

Bacaan Pertama: Yun 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,18-19

“Kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus” (Luk 11:29).

Apakah yang dimaksudkan dengan tanda nabi Yunus? Apakah “tanda nabi Yunus” itu ikan besar yang menelannya (Yun 1:17)? Tentu saja bukan! Malah bukan pula kata-kata keras yang diucapkan sang nabi kepada penduduk kota Niniwe: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan” (Yun 3:4). Tanda riil dari Yunus adalah cara dengan mana Allah menanggapi pertobatan dari orang-orang Niniwe.

Yunus telah tidak taat kepada Allah dan ia malah telah mencoba melarikan diri daripada-Nya. Akan tetapi, dalam perut ikan besar itu – menyadari bahwa hidupnya sedang berada dalam bahaya besar – Yunus berdoa kepada YHWH dengan hati yang dipenuhi pertobatan, dan YHWH-Allah pun membebaskan dia. Demikian pula, ketika orang-orang Niniwe bertobat, mereka pun diselamatkan dari penghakiman Allah. Jadi, tanda nabi Yunus yang sesungguhnya adalah belas-kasih Allah yang mengikuti pertobatan sejati. Belas-kasih yang sama terletak pada jantung setiap tanda yang dibuat oleh Yesus – setiap penyembuhan, setiap pelepasan dari pengaruh roh jahat, setiap penggandaan makanan dan perbuatan-perbuatan baik lainnya. Secara paling istimewa, belas-kasih ini ada pada inti atau jantung tanda paling besar dari semua tanda – kematian Yesus di atas kayu salib.

Sejak sediakala Allah ingin untuk menjalin suatu relasi dengan umat-Nya, sampai hari ini! Kasih-Nya bertahan selama-lamanya! Seperti diungkapkan sang pemazmur: “Bersyukurlah kepada TUHAN (YHWH), sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm 136:1; bacalah seluruh Mazmur 136 ini). Janji-janji yang dideklarasikan oleh para nabi Perjanjian Lama sekarang dibuat mungkin melalui pertobatan dan iman kepada Yesus Kristus. Melalui salib-Nya masing-masing kita telah dibebaskan dari maut dan direkonsiliasikan dengan Allah. Kita telah dibebaskan untuk mengasihi Allah dan saling mengasihi dengan sesama kita. Kita telah diampuni secara lengkap-total dan kepada kita telah ditawarkan suatu hidup baru yang diciptakan seturut citra Yesus. Betapa besar dan agung belas-kasih Allah yang dicurahkan atas diri kita.

Sekarang apa yang anda lihat ketika anda memandang sang Tersalib? Apakah anda melihat kekudusan, kasih dan belas-kasih (kerahiman) Allah? Apakah anda melihat seseorang yang sangat mengasihi anda dan ingin membangun suatu relasi pribadi dengan anda? Atau, apakah anda melihat penghukuman dan standar tinggi yang hampir tidak mungkin dipenuhi yang dipakai untuk menghakimi anda? Dalam kedinaan/kerendahan-hati, melalui pertobatan dan rasa percaya, marilah kita membuka hati kita bagi Dia yang mengasihi kita tanpa batas. Marilah kita bergegas kepada-Nya untuk memperoleh berkat-Nya. Selagi kita melakukannya, maka Yesus akan menunjukkan kepada anda belas-kasih-Nya yang tak dapat dibayangkan oleh pikiran kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memuji Engkau untuk belas-kasih-Mu. Engkau adalah kebaikan yang tak mungkin dapat ditangkap oleh pemahamanku. Engkau adalah kasih yang melampaui segala pengharapanku. Semoga Engkau meningkatkan belas-kasih-Mu untuk semua umat-Mu dan melindungi umat-Mu dari gangguan-gangguan si Jahat sampai Engkau datang kembali dalam kemuliaan kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yun 3:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA SEORANG PUN YANG BERADA DI LUAR JANGKAUAN BELAS KASIHAN-NYA YANG BESAR” (bacaan tanggal 20-2-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2013.

Berkaitan dengan Bacaan Injil hari ini (Luk 11:29-31), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA TIDAK AKAN DIBERIKAN TANDA SELAIN TANDA NABI YUNUS” (bacaan tanggal 29-2-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 26 Januari 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOA YANG DIAJARKAN TUHAN YESUS SENDIRI

DOA YANG DIAJARKAN TUHAN YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Selasa, 19 Februari 2013)

KHOTBAH DI BUKIT- 10Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15)

Bacaan Pertama: Yes 55:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:4-7,16-19

Sejak awal Kekristenan, Gereja telah memandang “Doa Bapa Kami” sebagai doa yang paling berharga, sebagai kekayaannya yang tak ternilai. Doa yang menyangkut kepercayaan, ketaatan dan kasih ini sesungguhnya mencerminkan hati Yesus sendiri selagi Dia berjalan bersama dengan Bapa-Nya. Doa ini juga merupakan sebuah doa bagi semua anak Allah yang datang menghadap hadirat Bapa mereka dan menaruh hidup mereka dalam tangan-tangan-Nya, percaya bahwa pada saat-Nya, seturut jalan-Nya, Dia akan memberikan kepada mereka “roti” apa pun yang mereka butuhkan.

Pentinglah bagi kita untuk melihat bahwa setiap permohonan dalam “Doa Bapa Kami” diungkapkan dalam bentuk jamak: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat” (Mat 6:11-13). “Doa Bapa Kami” yang paling penuh mengungkapkan hati Yesus kepada Bapa ini, adalah sebuah doa yang dimaksudkan untuk didoakan secara bersama. Masing-masing kita memiliki privilese untuk mengenal dan mengalami suatu relasi yang akrab dan mesra dengan Allah sebagai Bapa kita, namun keakraban ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menjadi relasi yang terisolir dan sekadar bersifat individual. Kita digabungkan ke dalam sebuah ikatan oleh Roh Kudus dan membentuk sebuah keluarga Allah, dan bersama-sama kita menghaturkan doa terdalam hati kita kepada-Nya.

Doa kita juga harus digabungkan dengan doa orang-orang dari segala bangsa dan bahasa, dan permohonan-permohonan kita harus mencakup kebutuhan-kebutuhan dari semua orang yang mencari Allah sebagai Bapa mereka. Pada saat kita berdoa “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”, maka kita berdoa agar semua anak Allah akan mampu menerima rahmat dan berkat apa saja yang sudah disediakan-Nya bagi mereka. Ketika kita berdoa mohon pengampunan, maka kita berdoa dengan sebuah hati yang murni, yaitu mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita dan juga kepada orang lain di mana saja mereka berada. Tanpa persekutuan (communio) persatuan satu sama lain ini, dibebaskan dari tuduhan atau penolakan, kita membatasi pengalaman kita sendiri akan rahmat dan pengampunan-Nya.

Santo Siprianus dari Karthago (200-258) menulis tentang “Doa Bapa Kami” ini a.l. sebagai berikut: “Allah, Guru damai dan keharmonisan, yang mengajar kita tentang persatuan, ingin agar kita berdoa untuk semua orang, seperti Dia sendiri menanggung semua dalam diri pribadi-Nya …… Allah, yang telah membuat orang-orang menjadi satu pikiran dalam keluarga (rumah tangga) yang sama hanya akan menerima ke dalam keluarga-Nya (rumah tangga-Nya) yang abadi mereka yang satu pikiran dalam doa” (Tentang Doa Bapa Kami).

FA PENYAYANG BINANTANGSanto Fransiskus dari Assisi [1181-1226], dalam tulisannya yang berjudul “URAIAN DOA BAPA KAMI”, mengatakan: “Agar kami mengasihi sesama kami seperti juga diri kami sendiri, sambil mendorong mereka semua sekuat tenaga untuk mengasihi Engkau, dan bergembira karena yang lain beroleh untung seperti kalau kami sendiri beroleh untung, dan sambil ikut bersedih bersama mereka yang ditimpa kemalangan, serta tidak menyebabkan seorang pun tersandung. …… Dan ampunilah kesalahan kami: karena belaskasih-Mu yang tak terperikan, karena daya kekuatan sengsara Putera-Mu yang terkasih, …… Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami: apa yang tidak kami ampuni sepenuhnya, buatlah, ya Tuhan, agar kami ampuni sepenuhnya; agar kami sungguh-sungguh mengasihi musuh kami karena Engkau dan dengan bakti berdoa bagi mereka di hadapan-Mu, dan tidak membalas kejahatan seorang pun dengan kejahatan, tetapi mengusahakan apa yang menguntungkan bagi semuanya di dalam Engkau” (UrBap 7,8 dalam Karya-Karya Fransiskus dari Asisi, hal.282-283).

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, selagi kita berdoa “Bapa Kami” hari ini, marilah kita memohon kepada Bapa surgawi agar diberikan rahmat yang lebih mendalam berkaitan dengan persatuan dan cinta kasih kepada semua orang.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Maharahim, dikuduskanlah nama-Mu. Semoga kami semua dipenuhi hasrat untuk senantiasa mendoakan “Doa Bapa Kami” sebagai suatu kesatuan dengan saudari-saudara kami di mana saja mereka berada, karena doa itu adalah pencerminan belas-kasih dan bela-rasa Yesus, Putera-Mu yang telah membuat kami menjadi anak-anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 55:10-11), bacalah tulisan dengan judul “FIRMAN ALLAH SELALU BERBUAH DAN JANJI-NYA SELALU DITEPATI” (bacaan untuk tanggal 28-2-12), dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2012.

Berkaitan dengan Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “BAPA KAMI YANG DISURGA” (bacaan tanggal 28-2-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 26 Januari 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SENIN PEKAN PERTAMA PRAPASKA

SENIN PEKAN PERTAMA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen)

KRISTUS RAJA - 1Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan … Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Mat 25:34-35,40)

Sepintas lalu kata hospitalitas (= dari kata hospes yang berarti tamu; hospitalitas berarti sikap sebagai tuan rumah yang baik) sering diartikan sebagai keramahtamahan orang yang suka menjamu, akrab dan dapat menciptakan suasana santai. Pengertian semacam itu mungkin sekali disebabkan oleh pengaruh kebudayaan di dalam masyarakat kita, sehingga arti yang sebenarnya hilang. Hospitalitas cenderung dipakai dalam lingkungan di mana diharapkan suasana nyaman, bukan sebagai suatu sikap yang menunjukkan usaha untuk menggali spiritualitas hidup Kristiani yang kokoh. Hospitalitas harus dikembalikan kepada makna yang sebenarnya, sehingga dari situ akan terjelma kemungkinan-kemungkinan hidup yang baru. Hospitalitas sebenarnya memuat gagasan alkitabiah yang sangat kaya, yang dapat memperluas dan memperdalam pandangan kita mengenai hubungan kita dengan orang lain. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru kecuali menunjukkan tanggung jawab kita yang besar untuk menerima orang asing di rumah kita, juga menyatakan bahwa para tamu sebenarnya membawa pemberian yang bernilai, yang akan mereka serahkan kepada tuan rumah yang baik, yang rela menerima mereka. Ketika Abraham menerima tiga orang asing di Mamre, dan memberi mereka air, roti dan daging lembu yang empuk, tamu-tamu itu menyatakan diri sebagai Tuhan yang menyatakan bahwa Sara istrinya akan melahirkan seorang anak (Kej 18:1-15). Waktu janda di Sarfat memberikan makanan dan tumpangan kepada Elia, ia menyatakan diri sebagai utusan Allah yang memberikan minyak dan makanan berlimpah-limpah, dan juga membangkitkan anaknya dari mati (1Raj 17:9-24). Waktu dua orang murid pulang ke Emaus dan mengundang seorang asing yang mereka jumpai di jalan untuk tinggal dan menginap di rumah mereka, tamu itu menyatakan diri dalam pemecahan roti sebagai Tuhan dan Penyelamat (Luk 24:13-35).

Kalau sikap bermusuhan diubah menjadi hospitalitas, orang-orang asing akan menjadi tamu yang menyatakan janji-janji yang dibawanya serta kepada tuan rumah. Lalu pemisahan antara tamu dan tuan rumah hilang, tidak ada lagi dan muncullah satu ikatan kesatuan yang baru. Dengan demikian kisah-kisah dan Kitab Suci ini tidak hanya menyadarkan kita bahwa hospitalitas adalah keutamaan yang penting, tetapi juga bahwa dalam rangka itu tamu dan tuan rumah dapat saling memberikan rahmat dan saling memberikan kehidupan yang baru.

* * * * *

Tetap benar bahwa kesepian seringkali membuat orang bersikap memusuhi dan keheningan adalah tempat bertumbuhnya hospitalitas. Kalau kita merasa sepi kita merasa begitu perlu disenangi dan dicintai orang sehingga kita menjadi terlalu perasa terhadap berbagai macam hal di sekeliling kita dan menjadi sangat mudah mengambil sikap bermusuhan terhadap orang yang kita anggap menolak diri kita. Tetapi kalau kita sudah menemukan pusat hidup dalam hati kita dan menerima kesendirian kita bukan sebagai nasib melainkan sebagai panggilan, lalu kita akan mampu menawarkan kebebasan kepada orang lain. Kalau kita sudah melepaskan keinginan kita untuk memperoleh kepenuhan hidup seutuhnya, kita dapat menawarkan kekosongan kepada orang lain. Kalau kita sudah menjadi miskin, kita dapat menjadi tuan rumah yang baik. Kemiskinan adalah suatu sikap batin yang memungkinkan kita merobohkan tembok-tembok pertahanan diri kita dan membuat musuh-musuh kita menjadi sahabat. Orang asing kita pandang sebagai musuh hanya selama kita mempunyai sesuatu yang harus kita pertahankan. Tetapi kalau kita berkata, “Silahkan masuk – rumahku adalah juga rumahmu, kegembiraanku adalah juga kegembiraanmu, kesusahanku adalah juga kesusahanmu, hidupku adalah juga hidupmu”, lalu kita tidak mempunyai apa-apa lagi untuk kita pertahankan karena kita tidak dapat kehilangan apa-apa melainkan membagikan segalanya.

“Memberikan pipi yang lain kalau pipi yang satu ditampar” (bdk. Luk 6:29) berarti menunjukkan kepada musuh-musuh kita bahwa mereka hanya dapat menjadi musuh kita karena mengandaikan kita begitu mempertahankan milik pribadi kita, apa pun wujudnya: pengetahuan, nama baik, tanah, uang, dan harta lain yang sudah kita tumpuk. Tetapi siapakah yang masih akan merampok kita kalau segala yang ia inginkan dapat diambil sebagai hadiah cuma-cuma dari kita untuk dirinya? Siapa masih akan menipu kita kalau hana kebenaran yang akan bermanfaat bagi dia? Siapa yang masih mau masuk lewat pintu belakang kalau pintu depan kita terbuka lebar-lebar?

Semangat kemiskinan membuat seseorang menjadi tuan rumah yang baik. Pernyataan paradoksal ini masih membutuhkan keterangan lebih lanjut. Agar kita dapat secara bebas terlibat dalam kehidupan orang lain, dua bentuk kemiskinan menjadi sangat penting, yaitu kemiskinan dalam budi dan dalam hati.

DOA: Tuhan, aku mencintai-Mu. Tunjukkanlah kepadaku kebaikan dan kelembutan-Mu, Engkau yang lemah lembut dan rendah hati. Begitu sering aku berkata kepada diriku sendiri “Tuhan mencintaiku” namun begitu sering pula kebenaran ini tidak masuk ke dalam pusat batinku. Biarlah minggu-minggu ini menjadi kesempatan bagiku untuk membongkar semua hambatan yang menghalangi diriku mengalami kasih-Mu dan menjadi kesempatan bagi-Mu untuk menyampaikan panggilan bagiku untuk semakin dekat dengan-Mu. Amin.

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 23-26.

Cilandak, 18 Februari 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AGAR MEREKA MENJADI KUDUS

AGAR MEREKA MENJADI KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Senin, 18 Februari 2013)

God the FatherTUHAN (YHWH) berfirman kepada Musa: “Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, YHWH, Allahmu, kudus.

Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya. Jangan kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah YHWH. Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya. Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah YHWH. Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah YHWH.

Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau menuntut balas dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah YHWH. (Im 19:1-2,11-18)

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15; Bacaan Injil: Mat 25:31-46

Pada waktu Allah (YHWH) membentuk bangsa Israel, tujuan-Nya adalah agar mereka menjadi kudus (Im 19:1-2). Demikian pula halnya, ketika Allah Bapa karena kasih-Nya mengutus Yesus ke tengah dunia, tujuan-Nya adalah bahwa setiap orang akan menyembah Allah Israel dan menjadi kudus. Allah menciptakan kita masing-masing karena kasih, dan telah memanggil kita untuk hidup dalam kasih dengan Dia dan antara manusia satu sama lain (Im 19:18; Mat 22:37). Jadi, kita harus menjadi kudus tidak hanya dalam relasi kita dengan Allah, melainkan juga dalam relasi kita satu sama lain sebagai manusia (lihat 1Yoh 3:11).

Oleh karena cara kita memperlakukan satu sama lain memberikan indikasi tentang keadaan relasi kita dengan Allah, maka tindakan-tindakan kita dalam kehidupan ini juga mempengaruhi kehidupan macam apa yang akan kita terima pada pengadilan terakhir. Jika kita mempraktekkan hidup kekudusan, misalnya dengan menolong orang-orang miskin, orang-orang yang kesepian dan kaum marjinal, maka kita akan menanggapi panggilan Allah. Akan tetapi, apabila kita gagal dalam menanggapi panggilan Allah akan kekudusan, maka kita akan menghadapi risiko kehilangan warisan kekal-abadi (Mat 25:34,40-41,45). Kita bertumbuh dalam kekudusan bukan karena kita takut akan kutukan, melainkan karena kasih kita kepada Allah mendesak kita untuk mengasihi sesama manusia seperti Dia telah mengasihi kita (lihat Yoh 15:12).

Seorang tokoh rabi, yaitu Rabi Tanhuma bar Abba (abad ke-4) bertanya mengapa sang pemazmur mengibaratkan seorang yang benar dan jujur sebagai sebatang pohon korma dan pohon aras di Libanon (Mzm 92:13). Ia mengatakan bahwa dari jauh, anda tidak dapat mengatakan jenis pohon apa pohon yang lain-lain itu, karena pohon-pohon tidak tinggi. Akan tetapi karena pohon korma dan pohon aras itu tinggai, maka anda dapat mengenalinya walaupun dari jarak jaruh. Demikian pula, setiap orang setiap orang dapat berdiri di bawah pohon-pohon itu dan memandang ke atas guna mengagumi kokoh-kuatnya pohon-pohon itu. Jadi, orang-orang benar dan jujur itu seperti sebatang pohon korma dan pohon aras karena Allah meninggikan pohon-pohon itu di dalam dunia sehingga orang-orang dapat melihatnya dari jarak jauh.

Kata Ibrani untuk “perbuatan baik” adalah mitzvah, sepatah kata yang arti aslinya adalah “perintah”. Apabila kita melakukan perbuatan baik, maka hal itu berarti kita mematuhi perintah Allah, teristimewa perintah-Nya agar terang kita bercahaya di hadapan orang-orang lain sehingga mereka pun akan memuji Bapa surgawi (Mat 5:16). Oleh karena itu kita menyadari efek dari menjalani (menghidupi) suatu kehidupan yang kudus. Kita dapat mempengaruhi orang-orang lain secara baik atau buruk, dan kemampuan kita untuk mengenali konsekuensi-konsekuensi ini membuat tindakan-tindakanan kita sangat berarti.

DOA: Bapa surgawi, buatlah agar aku senantiasa menjadi instrumen kehendak-Mu, yaitu membawa kebaikan ke tengah dunia dan meningkatkan kekudusan umat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:31-46), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS DALAM DIRI ORANG-ORANG KECIL” (bacaan tanggal 18-2-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2013.

Berkaitan dengan Bacaan Injil hari ini (Mat 25:31-46), bacalah tulisan dengan judul “PENGHAKIMAN TERAKHIR” (bacaan untuk tanggal 27-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM ini.

Cilandak, 25 Januari 2013 [Pesta Bertobatnya Santo Paulus]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KONFRONTASI DENGAN IBLIS

KONFRONTASI DENGAN IBLIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH I – 17 Februari 2013)

DIGODA IBLIS - 18Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari Sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ empat puluh hari lamanya Ia dicobai Iblis. Selama hari-hari itu Ia tidak makan apa-apa dan setelah itu Ia lapar. Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Jawab Yesus kepadanya, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.” Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya, “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Karena itu, jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di puncak Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menerima Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu. Yesus menjawabnya, “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari hadapan-Nya dan menunggu saat yang baik. (Luk 4:1-13)

Bacaan Pertama: Ul 26:4-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-2,10-15; Bacaan Kedua: Rm 10:8-13

Sebelum kedatangan Yesus ke dunia ini, tidak seorang pun – bahkan para nabi Allah yang paling dicintai – pernah berhasil dalam melawan semua godaan dan mengikuti perintah Tuhan dengan sempurna. Jadi, bagaimana Yesus berhasil sedangkan begitu banyak orang lain gagal? Memang mudah untuk berpikir tentang Yesus sebagai seorang yang istimewa karena Dia adalah Putera Allah, tetapi Kitab Suci mengatakan kepada kita bahwa Yesus sama seperti kita, hanya saja Ia tidak berbuat dosa (lihat Ibr 4:15).

Setelah Ia dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan, Yesus dipimpin oleh Roh Kudus kepada suatu konfrontasi yang bersifat face-to-face dengan Iblis. Dalam ketaatan-Nya kepada Roh, Yesus sesungguhnya mengambil posisi ofensif melawan godaan, bukan menghindarinya. Di sini, di awal-awal pelayanan-Nya, Yesus menyerang kuasa Iblis dengan sabda Allah sendiri, “pedang Roh” (Ef 6:17). Selama empat puluh hari di padang gurun Yudea, Yesus tetap setia dan tabah, menggantungkan diri pada janji-janji Bapa semata.

Pikirkan sekarang bagaimana selama empat puluh hari puasa ini, Yesus menghidupkan kembali sejarah umat-Nya (Israel). Seperti para leluhur-Nya – yang berkelana selama empat puluh tahun di padang gurun – Yesus digoda untuk berelasi dengan Allah hanya dalam batas ukuran-ukuran kebutuhan manusia, atau samasekali membuang-Nya. Orang-orang Israel gagal, tetapi Yesus berhasil. Seperti ditulis sang pemazmur, Yesus “duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi” dan Tuhan adalah “tempat perlindungan-Nya dan kubu pertahanan-Nya” (Mzm 91:1-2).

Syukur kepada Allah bahwa Yesus telah datang! Dia telah menjungkir-balikkan pola kemanusiaan yang penuh dosa, membebaskan kita dari ikatan dosa dan maut! Hari ini, karena Yesus, kita dapat mengetahui kemenangan yang sama, yang diketahui-Nya. Karena kita telah menerima Roh-Nya, kita dapat menghadapi masa-masa godaan dengan sabar, menggantungkan diri pada kuasa Allah dalam diri kita. Kalaupun kita gagal, kita memiliki anugerah pertobatan yang sangat berharga, yang langsung memperbaiki hubungan kita dengan Allah, serta kasih-Nya dan perlindungan-Nya. Dengan meneladan kerendahan hati Yesus dan kepercayaan-Nya pada Bapa, kita dapat belajar berdiri tegak pada saat-saat menghadapi godaan dan mengambil bagian dalam kemenangan-Nya.

DOA: Roh Kudus, penuhi diri kami dengan kuasa-Mu dan sabda-Mu sehingga kami dapat melawan godaan. Buatlah kami semakin seperti Yesus, anak-anak taat yang menyenangkan Bapa surgawi mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua (Rm 10:8-13), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BERSERU KEPADA NAMA YESUS” (bacaan tanggal 17-2-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2013.

Cilandak, 23 Januari 2013 [HARI KEENAM PEKAN DOA SEDUNIA]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH DAPAT MEMBERIKAN HATI YANG BARU KEPADA KITA

ALLAH DAPAT MEMBERIKAN HATI YANG BARU KEPADA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Sabtu sesudah Rabu Abu – 16 Februari 2013)

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUS - 1Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di tempat pemungutan cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Lewi pun bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.
Kemudian Lewi mengadakan perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya, “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:27-32)

Bacaan Pertama: Yes 58:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk 5:31-32).

Lewi memang seorang pendosa. Dia adalah seorang pemungut cukai dan di Israel pada waktu itu dia akan dipandang sebagai yang paling rendah dari orang-orang rendah dalam masyarakat. Hampir semua pemungut cukai pada masa itu dikenal sebagai bajingan karena mengambil keuntungan untuk diri sendiri dalam menjalankan tugasnya. Kalau begitu, mengapa Yesus bisa-bisanya minta kepada orang sedemikian untuk mengikuti-Nya. Alasan Yesus sama seperti yang diberikan-Nya kepada para lawannya: Dia datang untuk mengubah hati para pendosa.

Memang perubahan inilah yang terjadi! Perubahan dalam diri Lewi merupakan suatu keputusan yang berakar dalam pertobatan. Bagaimana bisa seseorang seperti ini tiba-tiba mengubah cara-cara hidupnya dan kemudian mengikuti Putera Allah? Jawabnya adalah rahmat pertobatan yang diberikan Roh Kudus kepada siapa saja yang membuka hatinya. Ini adalah rahmat untuk melakukan yang tak terpikirkan karena cara Yesus telah “menangkap” hati anda. Dan kabar baiknya adalah bahwa rahmat yang sama yang telah membantu Lewi mengubah hidupnya secara begitu drastis tersedia juga bagi kita dalam Sakramen Rekonsiliasi.

Pada masa Prapaskah ini, mengapa kita tidak berupaya untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan dosa menjadai kebiasaan-kebiasaan kebenaran? Allah sedang menunggu. Dia sedang memanggil kita semua kepada pertobatan sehingga Dia dapat memberikan kepada kita masing-masing sebuah hati yang baru dan memberikan suatu jalan yang baru untuk kehidupan kita. Barangkali hal ini kedengaran tidak mungkin bagi sebagian dari kita, namun ini masih merupakan apa yang dijanjikan Allah kepada kita: “Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN (YHWH) akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! (Yes 58:9). Jadi, kita boleh yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah tidak hanya akan mengampuni kita apabila kita bertobat, melainkan juga Dia akan datang ke dalam hati kita dan mengubah kita.

Allah sesungguhnya senantiasa mengincar hati kita. Dalam bacaan pertama hari ini kita mendengar bagaimana Allah akan memberkati orang-orang Israel apabila mereka sungguh berbalik kepada-Nya. Allah tidak ingin lip service, artinya sekadar ucapan kita yang tidak diiringi dengan tindakan nyata. Allah ingin melihat tindakan-tindakan kita mencerminkan buah-buah pertobatan. Oleh karena itu, marilah kita berupaya untuk merangkul pertobatan sejati dan mengalami kuasa Allah dalam kita yang dapat mengubah-hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahapengasih dan Mahapengampun. Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk karunia Sakramen Rekonsiliasi. Tolonglah aku untuk cepat bertobat dan untuk menjalani kehidupan yang diubah bagi Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 58:9b-14), bacalah tulisan dengan judul “MENJADI TUKANG REPARASI” (bacaan untuk tanggal 16-2-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “MENJADI TUKANG REPARASI TEMBOK DAN JALAN” (bacaan untuk tanggal 22-2-10) dalam situs/blog SANG SABDA.

Berkaitan dengan Bacaan Injil hari ini (Luk 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP ORANG DAPAT DIPIMPIN KEPADA KEBENARAN HANYA MELALUI KASIH DAN KESETIAAN ALLAH” (bacaan tanggal 25-2-12) dalam situs PAX ET BONUM.

Cilandak, 22 Januari 2012 [HARI KELIMA PEKAN DOA SEDUNIA]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JUMAT SESUDAH RABU ABU

JUMAT SESUDAH RABU ABU

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen)

MARIA DAN YOHANES DI KAKI SALIB YESUSSebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Rm 8:38-39)

Kasih Allah telah menjadi nyata dalam Yesus. Bagaimana kasih itu menjadi kenyataan melalui Yesus? Kasih itu dinyatakan dalam gerak turun. Inilah misteri agung inkarnasi (=penjelmaan). Allah telah turun kepada kita manusia untuk menjadi manusia bersama kita; dan sebagai manusia, masih merendahkan diri lagi sampai rela dihukum mati. Tidaklah mudah sebenarnya merasakan dan mengerti dari dalam jalan perendahan Yesus ini. Pikiran manusiawi kita tidak dapat menerimanya. Kita rela setiap kali memberi perhatian kepada orang miskin. Namun turun dan sendiri menjadi miskin bersama dengan orang miskin, kita tidak rela. Namun itulah jalan yang dipilih oleh Yesus untuk memperkenalkan Allah……

Jalan Allah hanya dapat ditangkap dalam doa. Semakin banyak kita mendengarkan Allah yang berbicara dalam hati kita, semakin mudah juga kita mendengar suara yang mengundang kita untuk mengikuti jalan Yesus. Karena jalan Yesus adalah jalan Allah dan jalan Allah tidak hanya bagi Yesus tetapi juga bagi setiap orang yang benar-benar mencari Allah. Di sini kita berjumpa dengan suatu kebenaran yang sulit kita terima: jalan Yesus yang turun adalah juga jalan yang harus kita tempuh untuk bertemu dengan Allah. Yesus tidak pernah merasa ragu-ragu sedikit pun untuk menjadikannya jelas.

* * * * *

Oleh karena itu misteri kehadiran Allah hanya dapat disentuh oleh kesadaran yang mendalam akan ketidakhadiran-Nya. Dalam kerinduan kita terhadap Allah yang tidak hadir itu kita dapat menemukan jejak-jejak-Nya dan menyadari bahwa kerinduan hati kita untuk mencintai Allah lahir dari kasih-Nya yang telah menyentuh kita. Dalam menantikan dengan sabar pribadi yang kita cintai, kita sadar bahwa sebenarnya pribadi itu sudah memenuhi kehidupan kita. Seperti halnya kasih seorang ibu terhadap anaknya dapat berkembang menjadi lebih dalam ketika anak itu berada jauh, seperti halnya seorang anak dapat belajar lebih menghargai orangtuanya sesudah ia pergi dari rumah, seperti halnya pribadi-pribadi yang saling mencintai dapat lebih saling mengenal ketika mereka lama berpisah, demikian juga hubungan kita dengan Allah dapat menjadi lebih dalam dan matang melalui pengalaman ketidakhadiran-Nya yang memurnikan. Dengan mendengarkan kerinduan-kerinduan hati kita, kita mendengar Allah yang menciptakan kerinduan-kerinduan itu. Dengan menyentuh pusat-pusat kehidupan kita, kita merasa bahwa kita sudah disentuh oleh belaian tangan kasih-Nya. Dengan memperhatikan secara teliti keinginan kita yang tidak pernah kering untuk mencintai, kita sampai kepada kesadaran yang semakin dalam bahwa kita dapat mencintai karena kita telah lebih dahulu dicintai, dan bahwa kita dapat menawarkan persahabatan hanya karena kita sudah dilahirkan dari dalam haribaan Allah sendiri.

Zaman kita adalah zaman kekerasan. Di dalamnya penghancuran terhadap kehidupan tampak sangat mengerikan dan luka-luka kemanusiaan terlihat begitu jelas. Dalam keadaan seperti ini, tidak mudah untuk bertahan dalam pengalaman akan keditakhadiran Allah yang memurnikan dan terus membuka hati untuk dengan sabar mempersiapkan jalan bagi-Nya. Kita digoda untuk mencari penyelesaian yang cepat, bukannya menjernihkan soal-soalnya sendiri. Kecenderungan kita untuk menukarkan iman dengan tawaran yang menjanjikan penyembuhan yang cepat begitu besar, sehingga tidak mengherankan kalau aliran-aliran berbagai macam pengalaman rohani menjamur di mana-mana dan dicari orang sebagai barang dagangan. Banyak orang berduyun-duyun ke tempat-tempat atau orang-orang tertentu yang menjanjikan pengalaman kebersamaan yang mendalam, ketenangan batin dan kegembiraan yang membebaskan orang dari beban-beban kehidupan, membuat orang merasa naik masuk ke sorga tingkat ketujuh. Diri kita yang mendambakan kepenuhan dan usaha kita yang bersungguh-sungguh untuk masuk ke dalam pengalaman pribadi dan mesra dengan Allah, membuat kita mudah tergoda untuk menciptakan sendiri pengalaman-pengalaman rohani kita. Dalam kebudayaan kita yang mau serba cepat dan tidak memberi tempat kepada kesabaran, menjadi sangat sulit untuk menemukan keselamatan dalam menunggu.

Meskipun demikian …… Allah yang menyelamatkan tidak dibuat oleh tangan manusia. Ia mengatasi batasan-batasan psikologis antara “sudah” dan “belum”, kehadiran dan ketidakhadiran, pergi dan kembali. Hanya dalam penantian yang sabar penuh harpaqn, kita dapat meninggalkan mimpi-mimpi kita dan berdoa sebagaimana dilakukan oleh pendoa mazmur.

DOA: Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih-setia-Mu lebih baik daripada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji.

Aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam. Sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku dan dalam naungan sayap-Mu akau bersorak-sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu tangan kanan-Mu menopang aku (Mzm 63:1-8)

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 14-17.

Cilandak, 15 Februari 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 153 other followers