DIUTUS UNTUK MEWARTAKAN KERAJAAN ALLAH

DIUTUS UNTUK MEWARTAKAN KERAJAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, PERINGATAN SANTO BARNABAS, RASUL – Senin, 11 Juni 2012)

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kami telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.
Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. (Mat 10:7-13)

Bacaan Pertama: Kis 11:12b; 13:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6

Yesus mendelegasikan wewenang (dan tanggung jawab yang menyertai wewenang itu) kepada keduabelas rasul-Nya untuk mewartakan bahwa Kerajaan Surga (=Kerajaan Allah) telah dekat (Mat 10:7). Sebelum itu Yesus wanti-wanti menandaskan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah ke domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat 10:5-6). Jadi, masih terbatas pada lingkup bangsa Israel.

Matius yang diperkirakan menulis Injilnya menjelang akhir abad pertama Masehi, ingin agar pembaca Injilnya menyadari bahwa tanggung jawab itu telah menjadi tanggung jawab mereka juga. Sekarang tanggung jawab tersebut jatuh kepada kita, para murid-Nya di zaman modern ini.

Mat 10:9-10 memberikan nasihat kepada para murid untuk melakukan perjalanan layaknya backpackers, yaitu “to travel light”! Suatu nasihat yang praktis masih berlaku sampai hari ini. Barangkali anda juga sudah mengetahui bahwa pesan dalam Mat 10:9-10 memberi inspirasi kepada Fransiskus dari Assisi [1181-1226] dan satu-dua pengikutnya untuk mulai menghayati hidup Kristianinya sebagai pengkhotbah keliling, komunitas mana berkembang sampai menjadi keluarga terbesar di dalam Gereja Katolik. Bahkan gereja Kristen Lutheran, Anglikan, Methodis memiliki komunitas-komunitas Fransiskan juga. Namun kedua ayat itu tidaklah berarti bahwa setiap murid Yesus harus menjadi Fransiskan. Kerajaan Allah yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi akan tiba pada akhir zaman, telah datang di tengah umat manusia dengan perantaraan Yesus. Tidak ada yang lebih penting daripada mewartakan hal itu. Yesus hanyalah menginstruksikan keduabelas murid-Nya untuk meninggalkan segala sesuatu yang akan membebani dan mengganggu kegiatan kerasulan mereka.

Dalam memberi instruksi kepada keduabelas murid-Nya ini, Yesus tidak memasukkan satu tugas ke dalam misi mereka, yaitu tugas “mengajar”. Walaupun “pengajaran” memegang peran yang sentral dalam penggambaran Matius tentang Yesus, hal ini tidak disebutkan. Kelihatannya tugas “pengajaran” dicadangkan sampai “Amanat Agung” yang disampaikan sebelum kenaikan-Nya ke surga. Pada waktu itu kepada sebelas rasul (12 orang minus Yudas Iskariot), Yesus memberikan amanat agung (great commission): “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:18-20).

Dalam perjalanan sejarah Gereja, great commission ini sering kali menjadi great ommission (sebuah kelalaian besar), padahal “mewartakan Injil sesungguhnya merupakan rahmat dan penggilan yang khas bagi Gereja, merupakan identitasnya yang terdalam. Gereja ada untuk mewartakan Injil, yakni untuk berkhotbah dan mengajar, menjadi saluran karunia rahmat, untuk mendamaikan para pendosa dengan Allah dan untuk mengabadikan kurban Kristus di dalam Misa, yang merupakan kenangan akan kematian dan kebangkitan-Nya yang mulia” (Paus Paulus VI, Imbauan Apostolik EVANGELII NUNTIANDI, 8 Desember 1975, #14).

Pada hari ini Gereja memperingati Santo Barnabas, Rasul, mitra kerja Santo Paulus, dua orang pewarta besar dalam sejarah Gereja, teristimewa pada masa Gereja Perdana. Dua orang pewarta besar tersebut melaksanakan Amanat Agung dari Kristus di atas dengan setia, taat dan penuh keberanian. Jerih payah mereka sangat berbuah, sebagaimana dapat kita lihat dalam sejarah Gereja yang sudah berumur 2.000 tahun ini. Penjelasan lebih lengkap tentang orang kudus ini dapat dilihat dalam Bacaan Kedua (Kis 11:21b;13:1-3).

DOA: Roh Kudus Allah, bentuklah aku agar dapat menjadi pewarta KABAR BAIK Yesus Kristus yang efektif, berani serta tetap taat kepada Gereja-Nya yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 11:21b;13:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG PEWARTA KABAR BAIK YANG SEJATI” tanggal yang sama dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2012.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-6-11)

Cilandak, 26 Mei 2012 [Peringatan S. Filipus Neri, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBAHAGIALAH KITA YANG DIUNDANG KE PERJAMUAN-NYA

BERBAHAGIALAH KITA YANG DIUNDANG KE PERJAMUAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS – Minggu, 10 Juni 2012)

Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya, “Ke mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan, “Pergilah ke kota; di sana seorang yang membawa kendi berisi air akan menemui kamu. Ikutilah dia dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: Di manakah ruangan tempat Aku akan makan Paskah bersama-sam a dengan murid-murid-Ku? Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!” Kedua murid itu pun berangkat dan setibanya di kota, mereka dapati semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, “Ambillah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.” (Mrk 14:12-16,22-26)

Bacaan Pertama:: Kel 24:3-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Kedua: Ibr 9:11-15

Pater Brennan Manning adalah seorang imam Fransiskan berkebangsaan Amerika. Pada suatu hari romo ini berkisah mengenai ibunya, pada waktu itu sudah berumur sekitar 70 tahun, yang tinggal di Brooklyn, New York City. Kehidupan Nyonya Manning berpusat pada Ekaristi secara harian. Karena ibu tua itu menjadi seorang sukarelawati pada sebuah “drug detoxification center” yang bertugas setiap hari mulai jam 7.30, maka satu-satunya Misa yang dapat didengarnya setiap hari adalah Misa jam 5.30 pagi.

Di seberang rumahnya tinggallah seorang ahli hukum (lawyer) yang sangat sukses, yang berumur sekitar 30 tahun; dia menikah dan mempunyai dua orang anak. Ahli hukum itu tidak beragama dan secara khusus suka mengkritisi orang-orang yang suka mendengar/mengikuti Misa Harian. Pada suatu pagi di bulan Januari, jam 5, ketika mengendara mobil pulang ke rumahnya dari sebuah pesta, dan jalan sangat licin karena es, ia berkata kepada istrinya: “Taruhan yu, nenek tua itu pasti tidak keluar rumah pagi ini”, maksudnya Nyonya Manning. Namun alangkah terkejutnya sang ahli hukum, ketika kelihatan dari kejauhan Ibu Manning sedang tertatih-tatih berjuang menghadapi jalan licin yang menanjak menuju gereja. Tangan-tangannya pun digunakan untuk bergerak maju.

Sesampainya di rumah Bapak Pengacara itu mencoba untuk tidur, namun tidak dapat. Sekitar jam 9 pagi dia bangkit, pergi ke pastoran di sana dan minta bertemu dengan seorang imam. Ia berkata kepada imam di hadapannya: “Padre, aku bukan anggota umatmu. Aku tidak beragama. Akan tetapi, dapatkah kiranya anda menceritakan kepadaku apa yang anda miliki di dalam sana yang mampu membuat seorang perempuan tua merangkak dengan tangan dan lutut pada suatu pagi yang begitu dingin dan jalan begitu licin.” Inilah awal dari pertobatan sang ahli hukum, bersama istri dan anak-anaknya.

Seperti ibuku sendiri dahulu, Nyonya Manning adalah salah seorang umat kebanyakan di Gereja yang tidak pernah mempelajari buku-buku keagamaan/rohani yang dalam-dalam. Ia juga tidak pernah mengetahui serta mengenal istilah-istilah teologis yang keren-keren, namun ia mengetahui apa artinya berjumpa dengan Yesus Kristus dalam Komuni Kudus.

Kita mempunyai segalanya yang kita butuhkan dalam Komuni Kudus. Yesus Kristus adalah roti kehidupan kita. Apa lagi yang kita inginkan? Kita tidak membutuhkan sistem-sistem yang rumit, kata-kata atau istilah-istilah mentereng, tempat-tempat ziarah yang jauh-jauh, program-program psikologis atau sejenisnya apabila kita memiliki suatu iman yang sederhana namun kuat dalam Ekaristi Kudus. Ekaristi adalah Yesus sendiri: Ekaristi adalah segalanya!

Dalam Liturgi Ekaristi ada dua kalimat yang pantas untuk direnungkan. Kalimat pertama adalah: “Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya” yang diucapkan imam selebran (Persiapan Komuni). Sungguh bahagialah, sungguh terberkatilah siapa saja yang diundang ke perjamuan Tuhan dan menerima tubuh-Nya (dan darah-Nya). Kalimat kedua adalah tanggapan umat: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh” (Persiapan Komuni). Komuni Kudus bukanlah sebuah hadiah karena seseorang itu baik hidupnya. Kita juga tidak berpura-pura untuk menjadi pantas. Kita datang ke Misa karena kita adalah para pendosa yang terus berjuang untuk memperbaiki diri. Kita datang ke meja perjamuan bukan karena kita sudah kenyang, melainkan sesungguhnya karena kita merasa lapar dan lemah. Yesus tidak mengambil sekeping medali emas sebagai tempat persembunyiannya melainkan roti dan anggur … makanan dan minuman … makanan dan perayaan.

Berbahagialah kita yang mempunyai segalanya di sana …… Yesus Kristus …… Roti Kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, dalam Ekaristi Kudus Engkau datang kepadaku dalam rupa roti untuk menjadi makananku hari ini, sebagai seorang Sahabat yang akan mendampingiku, sebagai Terang yang akan membimbingku. Engkau adalah kekuatanku melawan godaan, energiku untuk bekerja dalam nama-Mu, dan tantanganku untuk membawa kasih-Mu kepada orang-orang yang akan kujumpai pada hari ini dan hari-hari selanjutnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 14:12-16,22-26), bacalah tulisan yang berjudul “MISA KUDUS TELAH DATANG KEPADA ANDA” (bacaan tanggal 10-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2012.

Cilandak, 25 Mei 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANDA INI MEMBERI DARI KEKURANGANNYA

JANDA INI MEMBERI DARI KEKURANGANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Sabtu, 9 Juni 2012)

Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata, “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat yang terbaik di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda dan mereka mengelabui mata orang dengan mengucapkan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua uang tembaga, yaitu uang receh terkecil. Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:38-44)

Bacaan Pertama: 2Tim 4:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:8-9,14-17,22

Pada suatu kali Yesus dan para murid-Nya duduk-duduk di Bait Allah di dekat kotak kolekte sambil memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam kotak kolekte tersebut. Datanglah banyak orang kaya memberi persembahan dalam jumlah besar. Mungkin ada dari orang-orang kaya itu mengangkat tangannya tinggi –tinggi sebelum memasukkan uang peraknya ke dalam kotak kolekte tersebut, tentunya agar orang-orang lain dapat melihatnya dan mendengar gemerincing uang logam persembahannya.

Kemudian, tanpa banyak ribut, datanglah seorang janda miskin. Dia mencoba memberikan uang persembahannya secara sembunyi-sembunyi karena dia hampir tidak mempunyai apa-apa lagi untuk diberikan. Ia memasukkan dua keping uang tembaga dengan perlahan-lahan. Semua tindakan janda miskin itu tidak luput dari perhatian Yesus, dan Ia ingin agar para murid-Nya untuk memperhatikan apa yang dilakukan oleh janda miskin itu. Yesus memanggil para murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya” (Mrk 12:43-44). Janda itu memberikan kekurangannya … dari kemiskinannya, segalanya yang dibutuhkan olehnya untuk hidup! Sebaliknya orang-orang kaya itu memberi dari kelimpahannya, sedangkan si janda memberikan uang-uang logam terakhir yang dimilikinya. Inilah cintakasih: hakikat atau jiwa dari tindakan memberi.

“Memberi sampai sakit” dilakukan oleh orang-orang miskin, bukan orang-orang kaya. Memang hal ini adalah kenyataan hidup yang menyedihkan yang ada pada segala zaman dalam sejarah manusia. Seandainya saja orang-orang yang kaya memiliki kemurahan-hati seperti orang-orang miskin, maka tidak akan ada seorang pun yang berkekurangan. Dengan demikian, tidak mengherankanlah apabila Yesus seringkali berbicara dengan kata-kata keras tentang bahayanya kekayaan (lihat misalnya Mrk 10:23-27). Yesus memiliki preferensi terhadap orang-orang miskin dan Ia sendiri pun memilih menjadi orang miskin. Ini adalah sebuah tanda kemurahan-hati-Nya yang tanpa batas.

Yesus tidak menentang atau mengutuk orang-orang yang memiliki harta-kekayaan lebih daripada orang kebanyakan. Namun Ia memperingatkan mereka dengan serius tentang keserakahan, ketamakan, sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri. Kita tentunya familiar dengan perumpamaan-perumpamaan Yesus tentang “Orang kaya dan Lazarus”, juga tentang orang kaya-bodoh yang membangun tempat menyimpan gandumnya, lalu mati (). Di mata Yesus, kepemilikan harta-kekayaan tanpa diiringi dengan kemauan untuk berbagi dengan orang lain adalah suatu kejahatan.

Ingatlah, bahwa mayoritas dari para pengikut Kristus adalah orang-orang miskin, karena mereka lebih mau untuk mendengarkan Dia. Orang-orang kaya merasa takut bahwa mereka kehilangan kuasa dan pengaruh apabila mereka mengikuti contoh yang diberikan Yesus. Hal ini berarti bahwa mereka tidak mau menaruh kepercayaan kepada Allah. Mereka lebih suka menaruh kepercayaan pada kekuasaan dan kekayaan.

Mengasihi senantiasa berarti memberi diri kita, bukan memberikan sesuatu yang tidak berarti bagi diri kita sendiri. Mengasihi berarti memberikan sesuatu dari diri kita sendiri: perhatian dan keprihatinan kita, waktu kita, talenta kita, keterampilan kita, minat dalam kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, kami semua miskin di hadapan-Mu. Mengapa kami harus takut untuk berbagi dengan orang-orang lain, segala hal yang telah kami terima? Apakah kami tidak menaruh kepercayaan kepada-Mu. Tidakkah kami yakin bahwa balasan dari-Mu selalu lebih besar daripada pemberian kami yang kecil? Tuhan, tolonglah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:38-40), bacalah tulisan yang berjudul “PERSEMBAHAN JANDA YANG MISKIN” (bacaan tanggal 9-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-06 PERMENUNGGAN ALKITABIAH JUNI 2012.

Cilandak, 24 Mei 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KALPATARU 2012, PATER SAMUEL DAN ‘RUMAH PELANGI’

KALPATARU 2012, PATER SAMUEL DAN ‘RUMAH PELANGI’

Lahan seluas 90 hektare, yang terletak di Dusun Gunung Benuah, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sei Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, itu awalnya lahan terlantar bekas kebakaran. Kini lahan berupa bukit dan rawa itu menghijau berkat kerja keras Pastor Samuel dan komunitasnya. “Ini merupakan bagian dari spiritualitas Fransiskan Kapusin, menyayangi alam sebagai tanda hormat dan bakti kita kepada Sang Pencipta,” kata Samuel. (“Kalpataru bagi Rumah Pelangi”, Koran TEMPO, Rabu, 6 Juni 2012, hal. A12)

KAPALTARU 2012

Penghargaan Kalpataru, Adipura, dan Adiwiyata setiap tahunnya diberikan bertepatan dengan HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA pada tanggal 5 Juni. Tema Hari Lingkungan Hidup tahun 2012 ini adalah GREEN ECONOMY: DOES IT INCLUDE YOU? Dalam konteks Indonesia artinya “Ekonomi Hijau: Ubah Perilaku, Tingkatkan Kualitas Lingkungan”.

Makna mendasar dari tema ini adalah urgensi seluruh umat manusia mengubah pola konsumsi dan produksi atau gaya hidup menuju perubahan perilaku yang berkelanjutan. Tema ini juga mengangkat United Nations Conference on Sustainable Development atau dikenal Rio+20 yang akan diselenggarakan pada pertengahan Juni mendatang di Brasil.

Kapaltaru diberikan untuk kategori Pembina Lingkungan, Perintis Lingkungan, Pengabdi Lingkungan, dan Penyelamat Lingkungan. Salah seorang penerima Kapaltaru 2012 untuk kategori Pembina Lingkungan adalah Pater Samuel Oton Sidin OFMCap. seorang imam Fransiskan Kapusin. Panitia Penghargaan menulis tentang imam ini: “Dia melakukan penanaman pada lahan kritis, melestarikan binatang asli Kalimantan dan berbagai jenis tumbuhan, serta penyuluhan lingkungan” (“Kalpataru bagi Rumah Pelangi”, Koran TEMPO, Rabu, 6 Juni 2012, hal. A12).

PATER SAMUEL OTON SIDIN, OFMCAP.

Pater Samuel Oton Sidin, OFM. Cap. lahir di Peranuk, Bengkayang, 12 Desember 1954. Pada tahun 1984, ia ditahbiskan menjadi imam dari Ordo Fransiskan-Kapusin. Setahun kemudian, ia berangkat ke Roma, Italia, untuk menempuh pendidikan doktorat di bidang spiritualitas Fransiskan. Pada tahun 1990, pendidikan untuk memperoleh gelar doktor dari Universitas Antonianum, Roma, diselesaikannya dengan disertasi berjudul: The Role of Creatures in Saint Francis’ Praising of God. Pakar “Fransiskanologi” ini terlibat lama dalam bidang pendidikan calon imam Kapusin di Parapat dan Pematangsiantar, Sumatera Utara. Kiprahnya dalam pelestarian alam merupakan salah satu wujud penghayatan teladan hidup Fransiskus dari Assisi (pendiri ordo fransiskan) yang terkenal sebagai pelindung ekologi.

Saya sendiri belum lama kenal dengan “pejuang lingkungan” ini. Pertama kali saya berkenalan secara pribadi dengan Pater Samuel adalah di dalam ruang Sakristi gereja Santo Stefanus, Cilandak, Jakarta Selatan, ketika bersiap-siap untuk tugas pelayanan sebagai salah seorang prodiakon pada Misa Kudus pada sore/senja hari Sabtu tanggal 19 Mei 2012. Imam yang memberi kesan sebagai seorang pribadi sederhana itu bertugas melayani sebagai Imam Selebran pada kesempatan itu, secara bergiliran di Dekenat Selatan dalam rangka Novena Roh Kudus.

Ketika mengetahui bahwa beliau adalah seorang Kapusin, saya langsung memberi salam “Pace e Bene” (bahasa Italia yang kurang lebih berarti!” “Damai sejahtera dan segalanya Baik bagimu!”) dan mengatakan bahwa saya adalah seorang anggota OFS (ada seorang prodiakon lain yang anggota OFS untuk tugas hari itu). Beliau pun dengan ramah berkata: “Pace e Bene!” Saya cukup terharu menyaksikan beliau mengatakan kepada seorang prodiakon yang sedang berkenalan sambil menoleh kepada saya dan mengatakan: “Ini adalah saudara saya, seorang Fransiskan Sekular”. Baru setelah Misa Kudus usai, ketika saya minta e-mail address Pater Samuel, membaca nama ‘Oton Sidin’ yang ditulisnya sendiri, dan beliau mengatakan suka menulis di surat kabar, baru teringatlah saya bahwa saya sudah pernah membaca tulisan-tulisan beliau juga.

Dengan penuh syukur saya membaca berita di Harian TEMPO tentang penganugerahan Kalpataru oleh Presiden R.I. kepada beliau, yang adalah saudara saya. Saya lihat di harian KOMPAS hari/tanggal sama, berita tentang peristiwa itu sangatlah singkat apabila dibandingkan dengan berita tentang Romo Carolus sebelumnya.

LATAR BELAKANG PENDIRIAN “RUMAH PELANGI”

Pembalakan liar dan ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat telah merambah kawasan tangkapan air. Bencana kekeringan dan kekurangan air bersih saat kemarau serta banjir saat musim hujan menjadi ancaman serius setiap tahun. Ordo Fransiskan Kapusin yang berkarya di daerah tersebut, yang khawatir akan ketersediaan air bersih bagi masyarakat, mulai menggagas gerakan sosial untuk menyelamatkan sebuah kawasan yang langsung terkait dengan masyarakat. Pada tahun 1998, kegiatan pembalakan liar dan ekspansi perkebunan kelapa sawit mulai marak. Pada waktu itu Ordo Fransiskan Kapusin Provinsi Pontianak dipimpin Pater Samuel Oton Sidin, OFM Cap. [1997-2003]. Catatan: Pater Samuel terpilih kembali menjadi Minister Provinsial untuk periode 2009-2012.

Para Fransiskan Kapusin ini menilai bahwa sebuah bukit di Teluk Bakung, yang kemudian dikenal dengan nama Bukit Tunggal masih mungkin diselamatkan. Dengan demikian para Fransiskan Kapusin itu berencana untuk menghutankan kembali Bukit Tunggal secara swadaya. Dengan biaya dari ordo, Pater Samuel mulai membeli lahan di Bukit Tunggal sedikit demi sedikit dari warga setempat. Tempat ini sekarang dikenal sebagai ‘Rumah Pelangi’, sebuah kawasan konservasi hutan dan lahan seluas 90 hektar di Dusun Gunung Benuah, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Kawasan ini berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Pontianak ke arah Tayan.

Ketika Pater Samuel membeli kawasan di hamparan seluas 70 hektar pada tahun 2000, sebagian besar lahan di perbukitan dan rawa-rawa itu merupakan lahan yang rusak. Sisi utara dan selatan area tersebut banyak yang terbakar, sementara di sebelah barat nyaris tanpa pohon karena sudah ditebang. Keanekaragaman hayati sebagai kekayaan alam yang tersimpan di bumi khatulistiwa, turut lenyap dengan musnahnya hutan. Sedikit demi sedikit, kawasan yang rusak itu direhabilitasi. Secara bertahap, area lahan lain seluas 20 hektar juga dibeli sehingga kawasan konservasi bertambah luas.

Pada tahun 2003, lahan yang dibeli para Fransiskan Kapusin itu telah mencapai beberapa puluh hektar. Mulailah Pater Samuel dan beberapa anggota Kapusin menanami lahan itu sambil terus membeli lahan di sekitarnya. Sebuah rumah yang diberi nama ‘Rumah Pelangi’ didirikan di sana sebagai tempat tinggal beberapa anggota komunitas. ‘Rumah Pelangi’ juga menjadi tempat singgah masyarakat yang ingin mengunjungi Bukit Tunggal.

Walaupun sedang melayani sebagai Minister Provinsial OFM Kapusin Pontianak dengan wilayah kerja Pulau Kalimantan, KAJ dan sebagian Sulawesi hingga 2011 lalu, Pater Samuel tetap turun langsung dalam upaya penghijauan Bukit Tunggal. Sejak dari pembenihan bibit hingga penanaman, Pater Samuel terlibat langsung, tentu di sela-sela tugasnya sebagai pimpinan.

RUMAH PELANGI

Soal Nama. Nama ‘Rumah Pelangi’ terinspirasi dari kisah Nabi Nuh dalam Kitab Suci (Kej 6:9-9:28). Setelah 40 hari 40 malam banjir raya menimpa manusia, muncul pelangi di cakrawala. Menurut Pater Samuel, pelangi adalah tanda perdamaian dengan semua; damai dengan alam, manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Ia berharap, kehadiran konservasi Rumah Pelangi bisa menjadi seruan bagi kita semua untuk mewujudkan perdamaian dengan alam seperti tersirat dalam simbol pelangi.

Rumah Pelangi dirintis oleh Pater Samuel pada tahun 2003. Kendati luas konservasi sangat kecil dibandingkan dengan luas lahan kritis yang ada, apa yang dilakukan ‘Rumah Pelangi’ merupakan seruan etis kepada khalayak ramai untuk memulai suatu habitus (paradigma) baru yang lebih bersahabat dan ramah terhadap alam. Selama ini wacana pelestarian lingkungan hanya tinggal wacana lip service tanpa tindakan nyata. Berbagai seminar tentang “Global Warming” terselenggara tanpa tindak lanjut yang jelas. Dengan prinsip “mulai dari diri sendiri”, Pater Samuel merealisasi kecintaan dan hormatnya terhadap alam melalui proyek ‘Rumah Pelangi’ ini. Action ‘Rumah Pelangi’ yang “kecil” lebih bernilai daripada berbagai gagasan dan statement ekologis yang hanya tinggal jargon semata. “Magnum in parvo”: bernilai besar dalam hal-hal kecil. Itulah yang dilakukan ‘Rumah Pelangi’.

Kawasan konservasi sekaligus tempat pembelajaran masyarakat. Selain menjadi kawasan konservasi, ‘Rumah Pelangi’ juga mendidik masyarakat bagaimana mengolah lahan yang baik, mengembangkan bibit tanaman, dan mengembangkan usaha produktif dari bercocok tanam. Salah satu metode yang dikembangkan adalah membuat percontohan saluran irigasi dan sawah serta pelestarian mata air. Pater Samuel membuat sebuah bendungan kecil untuk mengaliri sawah sekitar satu hektare. Selain menjadi sumber air bagi ‘Rumah Pelangi’, bendungan itu juga turut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar.

Dalam upaya penyadaran dan pembelajaran terhadap masyarakat sekitar, Pater Samuel memakai prinsip inside-out. Kesadaran harus ditumbuhkan dari dalam. Ia mengkampanyekan pelestarian alam bukan dengan menyalahkan atau melarang masyarakat sekitar yang kebanyakan menebang pohon demi asap dapur. Ia menggugah kesadaran dan rasa hormat terhadap alam melalui contoh teladan dan pendekatan persuasif.
Upaya konservasi ‘Rumah Pelangi’ dilakukan dengan menanam kembali tanaman asli Kalimantan. Ratusan jenis tanaman buah dan pepohonan asli Kalimantan dikembangkan di kawasan itu. Dapat disebut antara lain pohon asam (18 jenis), bambu (15 jenis), pohon keras (14 jenis, misalnya belian, tapang, sengaon, gaharu), dan berbagai jenis buah-buahan seperti rambutan, mangga, langsat, jambu, nangka, dan durian. Sejumlah bunga juga ditemukan seperti pelbagai jenis anggrek dan kantung semar. Rumah Pelangi juga menangkar hewan landak yang makin langka.

Hal yang menarik untuk diketahui adalah Pater Samuel memberi perhatian khusus untuk tanaman alam (hutan) yang tidak memberikan nilai ekonomis. Menurutnya, masyarakat cenderung memusnahkannya dan menggantikannya dengan tanaman yang laku di pasar. Pertimbangan masyarakat tentu bisa dimaklumi. Pater Samuel justru melestarikannya agar generasi-generasi mendatang tidak hanya sekedar mendengar cerita, melainkan masih dapat melihatnya. Berbagai tanaman langka itu antara lain mangga hutan, asam bawang, bacang, rambutan hutan, kandis, dan gandaria.

Seorang anak rohani Bapak Fransiskus. Sdr. Lianto dari “Duta” sempat melakukan wawancara dengan Pater Samuel, sang “Pendekar dari Gunung Benuah” itu pada tahun 2010 atau 2009, dan bertanya kepada Pater Samuel tentang gagasan apa yang ada di balik ‘Rumah Pelangi’. Pater Samuel menjawab: “Keberadaan ‘Rumah Pelangi’ tidak terlepas dari upaya untuk ikut secara nyata melestarikan lingkungan hidup. Ada banyak dasar untuk melakukan hal tersebut. Pertama, sebagai bagian dari kemanusiaan atau masyarakat manusia, bumi adalah satu-satunya tempat tinggal manusia. Siapa pun dia, punya tanggung jawab untuk memelihara ‘rumah’ tempat tinggalnya ini. Kedua, sebagai orang beriman, kita menerima warta Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam Kejadian 21:8; Allah memberi ‘kuasa’ kepada manusia atas segala makhluk. Dalam perintah itu terkandung suatu tanggung-jawab pemanfaatan, pengelolaan, dan pelestarian alam seturut kehendak Allah. Selanjutnya, dalam kaitan dengan penebusan [Perjanjian Baru], manusia beserta seluruh alam ditebus: menjadi manusia dan alam baru. Seharusnya dengan itu, manusia dengan ‘rumah’-nya kembali pada posisi dan kondisi firdaus di mana mereka hidup dalam harmoni. Ketiga, sebagai Fansiskan, beliau dan komunitasnya mengikuti spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi. Semua Fransiskan dipanggil mencintai dan menyayangi alam. Bumi dengan segala isinya adalah buah karya Allah. Hormat dan cinta akan Allah tercermin dalam hormat dan cinta akan hasil karya-Nya. Keempat, Pater Samuel dan komunitasnya mencoba menyimak kehidupan aktual kita. Kita berada pada saat bumi mengalami pemanasan global akibat berbagai ulah manusia. Pada kenyataannya, bumi, rumah kita telah rusak. Sekecil apa pun upaya perbaikan dan pemeliharaan yang kita lakukan, sudah punya arti. Karya riil memang lebih bernilai daripada hanya wacana. Nah, dengan ‘Rumah Pelangi’, diharapkan Kapusin bisa tinggal menyatu dengan alam dalam upaya mewujudnyatakan hal-hal yang saya sebutkan tadi.

Konkretisasi gagasan. Ketika ditanyakan bagaimana gagasan itu direalisasikan secara konkret, Pater Samuel menjawab: “Pertama, kita tinggal dalam hutan. Kedua, kita melindungi hutan yang masih ada. Ketiga, kita menanam pohon-pohon, terutama pohon buah-buahan dan pohon-pohon khas Kalimantan agar berbagai jenisnya dapat dilestarikan. Keempat, kita mendirikan pusat pendidikan ekologis. Di ‘Rumah Pelangi’ kita punya gedung pertemuan sederhana. Ada camping ground, tempat orang dengan leluasa menyatu dengan alam. Kita juga buat program pendidikan informal melalui rekoleksi, konferensi singkat, atau retret ekologis. Kelima, kelak kita akan menjandikan “Rumah Pelangi” sebagai tempat wisata rohani dan ekologis”.

Reaksi masyarakat. Menjawab pertanyaan mengenai reaksi atau respons masyarakat sekitar apa yang dilakukannya di ‘Rumah Pelangi’, Pater Samuel menjawab: “Masyarakat setempat masih sederhana. Pemahaman akan ekologi juga terbatas. Sebagian mendukung dan ambil bagian aktif melestarikan alam, sebagian lagi acuh tak acuh”. Dengan dianugerahinya Kalpataru kepada Pater Samuel dengan ‘Rumah Pelangi’-nya, kita semua mengharapkan tentunya sikap acuh tak acuh yang disebutkan tadi akan berangsur-angsur hilang.

Kesulitan dan Tantangan. Dari wawancara yang sama, kita dapat melihat bahwa dalam melakukan konservasinya, Pater Samuel menghadapi tidak sedikit kesulitan dan tantangan. Pertama, berhadapan dengan para penebang pohon: pohon-pohon di lahan kita pernah ditebang oleh orang luar. Pater Samuel coba mendatangi yang bersangkutan dan memberikan pemahaman agar tidak meneruskan kegiatannya di lahan ‘Rumah Pelangi’. Di luar lahan ‘Rumah Pelangi’, penebangan jalan terus, termasuk pengambilan cerucuk. Kedua, kesulitan keuangan. ‘Rumah Pelangi’ tidak mendapat bantuan finansial dari mana pun., namun mencoba jalan terus semampunya. Ketiga, sikap acuh tak acuh masyarakat. Sebagian besar masyarakat belum menangkap makna pelestarian lingkungan hidup. Hal itu terbukti dari penebangan yang tiada hentinya, termasuk penjualan tanah, eksploitasi tambang yang merusak alam, pembukaan lahan hutan tanaman industri, dan perkebunan sawit yang merambah hutan resapan air. Keempat, sikap yang kurang proaktif dari pemerintah, baik propinsi maupun kabupaten, sehingga Pater Samuel dan para saudaranya merasa seperti berjalan sendiri saja. Semoga banyak perbaikan telah terjadi sejak wawancaras beberapa tahun lalu itu.

CATATAN PENUTUP

Ada tiga hal yang membanggakan dan menyemangati hati saya sebagai seorang Kristiani Indonesia, khususnya dalam dua pekan terakhir ini: Pertama, penganugerahan Maarif Award 2012 dari Maarif Institute kepada Romo Carolus (Pater Charles Patrick Edward Burrows OMI) pada hari Sabtu tanggal 26 Mei 2012. Kedua, yang saya kedepankan dalam tulisan ini, yaitu penganugerahan Kalpataru 2012 kepada Pater Samuel Oton Sidin OFMCap. pada hari Selasa tanggal 5 Juni 2012. Ketiga, tentunya film SOEGIJA yang saya tonton bersama begitu banyak umat di Studio 21 Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, kemarin 7 Juni 2012.

Walaupun kekudusan pribadi adalah tujuan seorang Kristiani, dia tidak boleh hanya suci-suci sendiri secara terisolasi, melainkan harus hidup juga dengan saudari-saudara lainnya sebagai seorang anggota Tubuh Kristus dengan kepedulian yang serius. Dengan penuh kepedulian pula dia harus melangkah keluar dari komunitas Kristianinya untuk berinteraksi dengan saudari-saudara lainnya dalam masyarakat, sebagai garam bumi dan terang dunia, membawa kasih Kristus ke tengah dunia dan memperbaiki dunia itu, sebuah dunia yang adalah “rumah” kita semua. “Tuhan telah memberikan alam kepada umat manusia. Alam itu rumah kita. Kalau tidak bisa memeliharanya, maka rumah itu akan rusak,” kata Pater Samuel Oton Sidin, OFMCap.

Teguh Imam Wibowo mencatat pada tanggal 20 Mei 2007, bahwa luas lahan kritis di Kalimantan Barat pada saat itu mencapai lima juta hektar atau lebih dari sepertiga total wilayah Kalimantan Barat. Seandainya seluruh lahan kritis itu dikonversi menjadi lapangan sepakbola, akan ada lebih dari 6 juta lapangan sepakbola baru ukuran standar internasional. “Mungkin akan dihasilkan ribuan pesepakbola handal di Tanah Air, kata Pater Samuel.

Bagi Pater Samuel, lahan kritis yang tersebar di bekas pembalakan liar dan penambangan emas tanpa izin itu, bukan hal yang dapat diabaikan. Upaya konservasi menjadi mutlah demi kehidupan anak-cucu yang lebih baik. Secara pribadi imam Fransiskan Kapusin ini merasa sangat tersiksa melihat kerusakan lahan dan hutan yang terjadi di Kalimantan Barat. Oleh karena itu, dengan sekuat tenaga beliau melakukan konservasi, walaupun bagaikan setitik dalam luasan lahan yang rusak.

Sumber Tulisan:
1. Untung Widyanto, “Kalpataru bagi Rumah Pelangi” , Koran TEMPO, Rabu, 6 Juni 2012.
2. Lianto Limbong dari ‘Dian’, “Pastor Doktor Samuel Oton Sidin – Bentara Ekologi Rumah Pelangi”, blog Clara et Distincta, posting tanggal 19 Januari 2010.
3. Lianto Limbong dari ‘Dian’, “Berdamai dengan Alam”, blog Clara et Distincta, posting tanggal 19 Januari 2010.
4. Teguh Imam Wibowo, “Konservasi dari Rumah Pelangi”, antaranews.com, 20 Mei 2007.
5. Agustinus Handoko, “Menghindarkan Masyarakat dari Bencana”, Kompasiana, 11 Mei 2012.

Jakarta, 8 Juni 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HUBUNGAN ANTARA YESUS DAN DAUD

HUBUNGAN ANTARA YESUS DAN DAUD

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Jumat, 8 Juni 2012)

Keluarga Kapusin: Peringatan B. Nikolaus Gesturi, Imam Biarawan Kapusin

Ketika Yesus sedang mengajar di Bait Allah, Ia berkata, “Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri dengan pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuhmu Kutaruh di bawah kakimu [1]. Daud sendiri menyebut Dia ‘Tuan’, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan senang hati. (Mrk 12:35-37)

Bacaan Pertama: 2Tim 3:10-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:157,160-161,165-166,168
[1] Mzm 110:1

Ketika mengajar di Bait Allah, Yesus bertanya, “Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan bahwa Mesias adalah anak Daud?” (Mrk 12:35).Di sini Yesus memetik nubuatan di mana Daud menamakan Mesias sebagai “Tuan”-nya (Mzm 110:1). Yesus mengetahui bahwa tibalah saat bagi-Nya untuk menunjukkan kepada orang banyak bahwa mereka telah disesatkan oleh para guru agama tentang Mesias. Para guru agama itu telah mencoba untuk mendiskreditkan Yesus sebagai seorang nabi dengan kemungkinan diri-Nya sebagai Mesias dengan memasang perangkap bagi-Nya.

Orang-orang Farisi mencoba menjebak Yesus di bidang politik dengan mengajukan pertanyaan kepada-Nya apakah dari sudut hukum diperbolehkan bagi seorang Yahudi untuk membayar pajak kepada Kaisar Roma. Mereka mencoba menjerat Yesus dalam isu keagamaan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kontroversial tentang kebangkitan dari kematian dan pentingnya secara relatif berbagai perintah Allah. Dalam setiap kasus yang dihadapi-Nya, Yesus mengejutkan orang-orang culas itu dengan jawaban-jawaban-Nya yang penuh hikmat.

Yesus seakan bertanya kepada mereka, “Sudah jelaskah bagimu siapa Mesias itu? Apa yang kamu ketahui tentang Dia yang akan datang itu?” Inti pertanyaan-pertanyaan-Nya: “Bagaimana kamu dapat mengangkat dirimu sebagai hakim-hakim yang memutuskan siapa yang dapat menjadi Mesias dan siapa yang tidak bisa?” Para pemuka agama yang munafik itu menginginkan seorang Mesias menurut gambar dan rupa mereka sendiri, bukannya menurut gambar dan rupa Allah yang mengutus-Nya, memilih-Nya dan mengurapi-Nya untuk karya penyelamatan-Nya di tengah dunia.

Orang-orang Farisi mencoba permainan mereka yang kejam dengan membuat Yesus sebagai bahan tertawaan lewat perangkap-perangkap mereka. Namun merekalah yang sesungguhnya patut menjadi bahan tertawaan. Mesias dari Allah samasekali bukanlah Mesias buatan manusia. Kejutan besarnya adalah bahwa sang Penebus adalah pribadi yang dipilih oleh Allah sendiri, bukan pilihan manusia, karena alasan sederhana: “manusia sesungguhnya tidak mengetahui bagaimana memilih dengan bijaksana”.

Mesias buatan manusia dibayangkan sebagai seorang tokoh yang sangat kaya-raya dan mempunyai pengaruh politik. Di lain pihak, Mesias pilihan Allah adalah seorang tukang kayu sederhana, seorang pekerja, seorang miskin, yang tidak datang dengan iringan suara sangkakala dan pasukan tentara yang berlaksa-laksa jumlahnya dan semangat membalas dendam. Mesias dari Allah datang ke tengah dunia pada saat dan di tempat yang tak disangka-sangka oleh orang-orang pintar dan bijak dari dunia ini. Nama-Nya adalah: “Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai” (Yes 9:5). Inilah jawaban Allah terhadap standar-standar kita manusia.

DOA: Tuhan Yesus, siapkanlah hati dan pikiranku yang kecil dan sempit ini bagi kejutan-kejutan besar yang datang dari-Mu. Apakah aku harus senantiasa menemukan diri-Mu pada saat-saat dan di tempat-tempat yang tidak pernah kuperkirakan sebelumnya? Dalam dunia di sekelilingku yang penuh dengan kekerasan dan kebohongan ini, perkenankanlah diriku untuk senantiasa dekat dan dibimbing oleh-Mu, ya Raja Damai, Mesias dari Allah, Tuhanku dan Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:35-37), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG BANYAK YANG BESAR JUMLAHNYA MENDENGARKAN DIA DENGAN SENANG HATI” (bacaan tanggal 8-6-12) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori 12-06 BACAAN HARIAN JUNI 2012.

Cilandak, 21 Mei 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?

PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Kamis, 7 Juni 2012)

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?” Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34)

Bacaan Pertama: 2Tim 2:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14

“Perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mrk 12:28). Kelihatannya ahli Taurat yang melontarkan pertanyaan ini ingin mengetahui pendapat Yesus mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Dari 613 perintah yang ada dalam Perjanjian Lama, yang manakah yang pantas untuk ditaati secara paling ketat? Perintah mana, kalau dilanggar, akan membuat sulit orang bersangkutan? Mungkin saja si penanya mencari lubang dari mana dia dapat menjebak Yesus. Mungkin sah-sah saja untuk mengajukan pertanyaan seperti ini dengan pengharapan akan memperoleh jawaban terinci, langkah demi langkah dst. Namun Yesus mempunyai cara yang lebih baik! Ia menjawab pertanyaan ahli Taurat dengan singkat-jelas: “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini” (Mrk 12:29-31).

Ahli Taurat itu lalu berkata kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya” (Mrk 12:32-33). Yesus memuji ahli Taurat itu untuk pemahamannya atas apa yang dikatakan-Nya, bahwa “mengasihi” adalah perintah Allah yang paling penting. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita – ini adalah perintah-perintah besar dan agung; dan ahli Taurat itu setuju dengan sepenuh hatinya.

Mengasihi tidaklah semudah diucapkan bibir atau semudah kedengarannya. Kasih yang sejati adalah suatu tantangan besar bagi orang-orang yang sudah tergolong mapan, teristimewa mereka yang hidup di kota-kota besar. Mereka telah mempunyai begitu banyak kenikmatan materiil, dan hal itu cenderung membuat mereka menjadi serakah dan tamak. Sebaliknyalah dengan orang-orang kecil yang di kota-kota kecil atau pedesaan. Anak-anak harus bekerja membantu di sawah atau ladang untuk menunjang kebutuhan keluarga; keluarga-keluarga juga harus memberi dengan penuh kemurahan-hati tidak sedikit waktu, tenaga dan sumber daya lainnya guna membangun gereja-gereja dan pusat-pusat komunitas. Memang tidak selalu berjalan lancar dan cukup “memakan waktu”, namun hal seperti ini adalah pemberian-diri yang asli, suatu tanggapan manusia, kerja-sama demi pemenuhan kebutuhan bersama. Hal seperti itu juga mengembangkan suatu rasa tanggung-jawab.

Sekarang kita tidak otomatis merasakan adanya kebutuhan satu sama lain. Namun sesungguhnya begitu banyak orang yang mengalami kesendirian dan sangat merindukan kasih sejati. Serbuan bertubi-tubi dalam rupa berbagai tulisan (termasuk lewat internet) yang menyesatkan memberikan sebuah gambaran yang salah tentang apa cintakasih manusiawi itu. Misalnya, apabila anda tidak memiliki gigi yang putih berkilau-kilauan dan rambut yang lembut dan parfum tertentu, maka tidak ada seorang pun yang akan mencintai anda. Kita memang suka tertawa dalam menanggapi iklan-iklan itu, namun tak terasa semua itu memasuki dan malah merasuki pikiran kita. Iklan-iklan seperti itu membuat kita ingin “memperoleh” sesuatu, bukan “memberi”. Jika demikian halnya, maka cintakasih hanyalah suatu daya tarik di permukaan saja yang tidak ada urusannya samasekali dengan kasih yang sejati.

Adalah suatu tragedi apabila sebuah rumah yang indah dengan segala macam perlengkapannya, misalnya dua buah mobil mewah, sebuah kolam renang, taman yang luas-indah, beberapa televisi besar, kamar-kamar mandi yang mewah dlsb., namun bukan merupakan rumah yang membahagiakan bagi para penghuninya, karena kasih yang sejati tidak ada. Tidak ada cintakasih sejati yang tidak terbuka, tidak dipenuhi kemurahan-hati, tidak memiliki unsur pengorbanan dan disiplin yang baik. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8,16), dan hanya mereka yang hidup dalam kasih sejati dapat hidup dalam Allah. Cintakasih yang sejati mengalir ke luar dari diri sendiri kepada orang-orang lain. Apabila cintakasih yang asli tidak secara aktif bertumbuh dengan subur dalam keluarga, maka bagaimana hal itu dapat mengalir ke luar kepada orang-orang lain? Di sinilah letak tanggung jawab pertama dari para orangtua: untuk mengajar cintakasih yang sejati kepada anak-anak mereka, agar mereka masing-masing memilikinya sendiri juga. Mereka harus belajar mengasihi agar dapat belajar tentang Allah, karena Allah adalah kasih.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah kasih. Ajarlah kami untuk mengasihi-Mu dan sesama kami manusia dengan benar, seturut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “ENGKAU TIDAK JAUH DARI KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 7-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2012.

Cilandak, 20 Mei 2012 [HARI MINGGU PASKAH VII – HARI KOMUNIKASI SEDUNIA]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMU BENAR-BENAR SESAT!

KAMU BENAR-BENAR SESAT!

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa IX, Rabu 6 Juni 2012)

Peringatan Santo Norbertus [1082-1134], Uskup dan pendiri Ordo Premonstratens

Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan hal ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang istri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itju dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati tanpa meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, ketika mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab bilamana mereka bangkit dari antara orang mati, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga. Juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam cerita tentang semak duri, bagaimana Allah berfirman kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!” (Mrk 12:18-27)

Bacaan Pertama: 1Tim 1:1-3,6-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 123:1-2

Orang-orang Saduki adalah sekelompok pemimpin agama yang – seperti orang-orang Farisi – menentang Yesus. Tidak seperti orang-orang Farisi, kaum Saduki tidak percaya akan kebangkitan setelah kematian. Mereka berpegang pada hukum Musa yang tertulis sebagai satu-satunya sumber otoritas. Mereka lebih ketat daripada orang-orang Farisi dalam kepercayaan dan praxis hidup kerohanian. Mereka ‘sungguh tersinggung’ oleh tafsir Yesus atas Kitab Suci yang kelihatan radikal di satu sisi, dan di sisi lain diterimanya Yesus oleh khalayak ramai.

Ketika Yesus mulai mengajar di pelataran Bait Allah, orang-orang Saduki mengutus beberapa orang anggotanya untuk mencoba menjebak-Nya dan dengan demikian dapat mendiskreditkan Dia dan ajaran/pesan-Nya. Yang mereka ajukan adalah persoalan hipotetis berkaitan dengan hukum Levirat (lihat Ul 25:5). Masalah hipotetis ini hanyalah semacam umpan agar Yesus terjebak. Apakah ada kebangkitan dari kematian? Kalau begitu, bagaimana ajaran Musa bisa-bisanya memberi ruang untuk adanya suatu situasi yang penuh teka-teki ini?

Yesus mengetahui apa yang ada di benak orang-orang Saduki itu. Yesus menjawab pertanyaan mereka seturut pengertian mereka sendiri, namun pada saat yang bersamaan Ia berupaya mengangkat pikiran mereka kepada kebenaran-kebenaran surgawi. Oleh karena itu, seperti yang biasa dilakukan oleh para rabi, Yesus mempresentasikan sebuah pernyataan yang berisikan ikhtisar dari ajaran-Nya. Guna mendukung pernyataan-Nya Yesus memetik ayat dari Taurat sendiri (Kel 3:6; Mrk 12:26), karena itulah satu-satunya sumber yang diterima oleh kaum Saduki.

Bukanlah Yesus kalau Dia berhenti di situ, karena tidak cukuplah bagi-Nya untuk menunjukkan bahwa diri-Nya benar. Memang forma tanggapan Yesus itu sejalan dengan tradisi mereka, namun isinya atau substansinya adalah suatu perpisahan radikal dari tradisi tersebut. Yesus mengatakan bahwa orang-orang benar tidak hanya diangkat ke dalam suatu kehidupan baru, melainkan juga diangkat menjadi “anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Mrk 12:25). Allah Bapa tidak hanya memberikan kehidupan kepada bumi, melainkan Dia juga menopang dan bahkan mentransformasikan kehidupan sesudah kubur. Karena kematian telah dikalahkan, maka anak-anak kebangkitan “tidak dapat mati lagi”; dihadapan Allah mereka hidup (Mrk 12:25,27) dalam suatu kehidupan baru yang mentransenden kehidupan yang mereka alami di atas bumi. Dengan demikian jawaban Yesus melampaui pertanyaan-pertanyaan orang Saduki, dengan maksud untuk mengungkapkan kasih dan rahmat Bapa surgawi. Sebagai anak-anak kebangkitan, kita dapat mengalami kehidupan Yesus sendiri, bebas dari kematian dan hidup bagi Allah (lihat Rm 6:5-11). Dengan dibersatukannya kita dengan Yesus dalam iman dan dibaptis ke dalam kematian-Nya, maka kita dapat mengalami kebebasan dari dosa dan kematian, buah pertama dari kehidupan surgawi yang menantikan kita.

DOA: Bapa surgawi, Engkaulah pengarang dan penopang semua kehidupan. Oleh kematian dan kebangkitan Putera-Mu, Engkau telah menjanjikan kepada kami suatu kehidupan yang telah ditransformasikan dalam kehadiran-Mu. Melalui Roh-Mu, tolonglah kami untuk tetap setia sementara kami mengantisipasi sukacita kehidupan abadi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:18-27), bacalah tulisan yang berjudul “KEHIDUPAN BARU YANG DITAWARKAN OLEH YESUS” (bacaan tanggal 6-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2012.

Cilandak, 19 Mei 2012 [Peringatan S. Krispinus dr Viterbo, Biarawan Kapusin]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers