KITA AKAN DIHAKIMI KELAK ATAS DASAR KASIH KITA

KITA AKAN DIHAKIMI KELAK ATAS DASAR KASIH KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Kamis, 6 Juni 2013)

FatherDamien.jpegLalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?” Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.” Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28b-34)

Bacaan Pertama: Tb 6:10-11; 7:1,9-17;8:4-9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5

Adakah sesuatu yang lebih penting dalam hidup ini daripada panggilan untuk mengasihi? Tidak ada! Dalam bacaan Injil hari ini kita dapat melihat bahwa Yesus dengan begitu jelas mengatakan bahwa perintah yang terutama adalah “mengasihi” Allah dan sesama. Kasih adalah”jantung” dan fondasi dari kehidupan kita sebagai murid-murid Yesus. Kasih adalah panggilan Allah bagi semua orang, bukan hanya bagi umat Kristiani. Itulah sebabnya mengapa sabda Yesus tentang kasih meresap ke dalam hati si ahli Taurat. Yesus dapat melihat bahwa karena si ahli Taurat mengakui sentralitas kasih dalam rencana Allah, maka dia sudah sangat dekat dengan Kerajaan Allah (lihat Mrk 12:34).

Sebagai umat Kristiani, kita telah seringkali mendengar perintah Yesus untuk mengasihi. Bagaimana dengan kita yang mengklaim diri kita sebagai murid-murid Kristus? Sampai seberapa dalam/serius kita mengasihi dalam tindakan nyata dan kebenaran, dan tidak hanya sebatas ucapan bibir? Marilah kita renungkan apa yang ditulis dalam salah satu surat Yohanes: “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1Yoh 3:18). Kasih sejati mengandung “biaya”. Terkadang sungguh sulitlah bagi kita untuk mengasihi orang lain, teristimewa musuh-musuh kita, mereka yang iri-hati atau cemburu terhadap diri kita dlsb. Akan tetapi, Yesus dapat membesarkan hati kita; Roh Kudus-Nya dapat menolong kita untuk mengasihi melampaui kapasitas terbatas kita sebagai manusia untuk mengasihi.

Tetapi, ada lagi satu pertanyaan lain: Bagaimana kita melihat orang-orang yang bukan pengikut Yesus namun mereka melakukan upaya-upaya untuk mengasihi? Apakah kita memandang mereka dengan bela-rasa dan bahkan dengan rasa kagum, walaupun mereka bukan umat Kristiani? Orang-orang yang tidak setuju atas kepercayaan kita tentang Allah, malah mereka yang mempunyai beberapa pandangan yang sangat keliru tentang Allah, biar bagaimana pun juga dapat menemukan sebuah tempat dalam hati mereka bagi ajaran Yesus. Seperti si ahli Taurat dalam bacaan Injil hari ini, mereka pun dapat saja tidak jauh dari Kerajaan Allah.

MOTHER TERESA HELPING SICK PEOPLEMengasihi Allah dan sesama kita adalah suatu hal yang paling penting yang dapat kita lakukan. Santo Yohanes dari Salib [1542-1591] pernah berkata, “Pada senja hari kehidupan {kita], kita akan dihakimi atas dasar kasih kita.” Yesus ingin kehidupan kita ditandai dengan suatu kasih yang mencari kebaikan pada diri orang-orang lain dan berkemauan untuk mengambil posisi pelayanan yang rendah hati. Dari hari ke hari, Yesus memberikan kepada kita berbagai kesempatan untuk mengasihi, dan rahmat untuk mengambil kesempatan-kesempatan ini. Selagi kita mengasihi dengan kasih-Nya, kita tidak mempunyai ide tentang cara-cara mana kita dapat mempengaruhi orang lain di sekeliling kita. Siapa yang tahu? Barangkali upaya-upaya kita untuk mengasihi akan mendorong seorang lain untuk mengambil langkah-langkah yang membawanya secara penuh ke dalam Kerajaan Allah.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita berdoa untuk setiap orang yang berjuang untuk mengasihi dalam perbuatan dan kebenaran.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Berikanlah kepadaku suatu kapasitas untuk mengasihi. Tolonglah diriku agar mau dan mampu untuk mengasihi sebagaimana Engkau mengasihi. Tolonglah agar mereka yang tidak jauh dari Kerajaan-Mu untuk menanggapi secara lebih penuh lagi panggilan-Mu untuk mengasihi. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu untuk selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?” (bacaan tanggal 6-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013, Bacalah juga tulisan yang berjudul “ENGKAU TIDAK JAUH DARI KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 7-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Di sebelah kiri-atas tulisan ini adalah foto dari S. Damian de Veuster [1840-1889], seorang imam asal Belgia yang mendedikasikan hidupnya di tengah-tengah orang kusta di Molokai, Hawaii. Beliau dibeatifikasikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1995 dan dikanonisasikan sebagai seorang santo oleh Paus Benediktus XVI pada tahun 2009.

Cilandak, 23 Mei 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KITA MEMBUAT KESALAHAN YANG SAMA

JANGANLAH KITA MEMBUAT KESALAHAN YANG SAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Rabu, 5 Juni 2013)

Peringatan Santo Bonifasius, Uskup & Martir

JesandSadducees_1179-48Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan hal ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang istri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itju dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati tanpa meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, ketika mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab bilamana mereka bangkit dari antara orang mati, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga. Juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam cerita tentang semak duri, bagaimana Allah berfirman kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!” (Mrk 12:18-27)

Bacaan Pertama: Tb 3:1-11a,16-17a; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:2-9

Orang-orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan dari alam maut. Ketika mereka mendatangi Yesus dengan pertanyaan mereka, sebenarnya hal tersebut bukanlah datang dari hasrat yang tulus untuk belajar tentang kebangkitan atau untuk mengubah pendapat mereka sendiri. Sebaliknya, mereka berharap dapat mendiskreditkan Yesus di depan orang banyak. Yesus mengetahui benar isi hati mereka yang busuk itu, namun Ia mengambil waktu untuk menjawab pertanyaan orang-orang Saduki itu dengan cara yang mudah dimengerti, dengan harapan mereka akan berbalik dan menjadi percaya.

Kitab Suci satu-satunya yang dipercayai oleh orang-orang Saduki adalah Kitab Taurat (lima kitab pertama dalam Kitab Suci). Oleh karena itu Yesus menanggapi pertanyaan mereka berdasarkan ajaran yang terdapat dalam Kitab Taurat. Yesus mengutip sabda Allah kepada Musa yang tercatat dalam Kitab Keluaran: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Kel 3:6). Jelaslah bahwa Allah di sini berbicara tentang orang-orang ini seakan masih ada/hidup, dan seakan Dia adalah tetap Allah mereka, artinya bahwa mereka masih hidup setelah kematian mereka.

Orang-orang Saduki telah gagal memahami sepenuhnya suatu misteri yang tersembunyi dalam inti terdalam Kitab Taurat. Perjanjian Allah dengan umat-Nya menjanjikan kehidupan, dan Ia adalah mahasetia, sehingga pasti setia dalam pemenuhan janji-janji yang dibuat-Nya. Jikalau maut dapat menghancurkan orang-orang yang hidup dalam perjanjian dengan Allah, maka di manakah kuasa Allah itu? Allah tidak memperkenankan kematian/maut menjadi “jawaban terakhir”. Oleh karena itu Allah merancang suatu rencana yang penuh kekuatan bagi umat manusia, rencana yang menyatakan kedalaman hikmat dan belas-kasih-Nya. Dengan mengutus Putera-Nya sebagai kurban demi pengampunan dosa umat manusia, Allah membuka jalan bagi orang-orang untuk menerima warisan yang telah dijanjikan.

Walaupun orang-orang Saduki membaca Kitab Suci dengan teliti, mata (hati) mereka dibutakan, sehingga mereka tidak mampu mempersepsikan kehidupan sebagaimana yang dimaksudkan dan disampaikan oleh Kitab Suci. Hati mereka tertutup terhadap pernyataan kasih Allah yang tersedia bagi mereka melalui sabda-Nya dalam Kitab Suci.

Apakah yang dapat kita pelajari dari bacaan Injil hari? Janganlah kita sampai “bernasib” seperti orang-orang Saduki atau membuat kesalahan yang sama. Oleh karena itu, marilah kita menyediakan waktu yang cukup setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci, dengan keterbukaan bagi pernyataan diri Allah kepada kita. Semoga kita tidak membiarkan satu hari pun berlalu tanpa upaya mencari sentuhan pribadi dari Allah yang hidup! Dengan demikian kita akan diberdayakan untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang diambil kembali dari alam maut ke dalam kehidupan.

DOA: Roh Kudus Allah, terangilah kegelapan hati dan pikiranku hari ini, sehingga dengan demikian isi Kitab Suci menjadi hidup bagi dan dalam diriku. Teguhkanlah pengharapanku akan kehidupan kekal yang telah disiapkan Allah bagiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:18-27), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU BENAR-BENAR SESAT!” (bacaan tanggal 5-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “KEHIDUPAN BARU YANG DITAWARKAN OLEH YESUS” (bacaan tanggal 6-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 22 Mei 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEPADA ALLAH DAN WONG CILIK

KEPADA ALLAH DAN WONG CILIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Selasa, 4 Juni 2013)

KAISAR DAN ALLAH - MRK 12Kemudian beberapa orang Farisi dan pendukung Herodes disuruh kepada Yesus supaya mereka menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar tentang jalan Allah. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak? Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka, “Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah kepada-Ku satu dinar supaya Kulihat!” Mereka pun membawanya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Mereka sangat heran mendengar Dia. (Mrk 12:13-17)

Bacaan Pertama: Tb 2:9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 1112:1-2,7-9

Para pemimpin dan pemuka agama Yahudi di Yerusalem sudah melakukan “perlawanan” terhadap Yesus untuk beberapa waktu lamanya. Sekarang, Yesus sudah berada di kota suci Yerusalem. Rencana jahat untuk melawan Yesus semakin memanas dalam hati dan kepala orang-orang munafik itu. Orang-orang Farisi yang pada dasarnya menentang pemerintahan/penjajah Romawi dan para pendukung Herodes (kaum Herodian) yang adalah para kolaborator pemerintahan Roma, justru kali ini bergabung bersama untuk melawan Yesus, “musuh bersama” mereka.

Pada awalnya mereka “memuji-muji” Yesus, sang Rabi dari Nazaret: “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar tentang jalan Allah” (Mrk 12:14). Pertanyaan ini adalah untuk menjebak Yesus. Lalu barulah pertanyaan kedua (pertanyaan penjebak sesungguhnya) dilontarkan oleh mereka kepada Yesus: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak” (Mrk 12:14). Jika Yesus menjawab “ya”, hal itu akan mendiskreditkan diri-Nya sendiri di depan publik yang pada umumnya menentang penjajahan Romawi. Sebaliknya, apabila Yesus menjawab “tidak”, maka cepat atau lambat Dia akan akan berada dalam posisi sulit berhadapan dengan penjajah Romawi.

Namun, Yesus bukanlah Yesus jika Dia sampai terjebak! Sebaliknya …… Dia menggiring pembicaraan mereka ke luar dari dari ranah politik dan meletakkannya di ranah iman. Yesus mengakui otoritas sipil Kaisar untuk menarik pajak, namun Yesus juga dengan jelas mengungkapkan kenyataan misi-Nya bahwa Dia bukan datang untuk mendirikan sebuah kerajaan dunia sebagaimana diharapkan banyak orang dari sang Mesias.

Yesus membedakan antara pajak yang diberikan kepada Kaisar dan apa yang menjadi hak Allah dalam bentuk devosi atau sembah-bakti, ketaatan, dan kasih. Uang logam kekaisaran Roma memuat gambar Kaisar, sedangkan kita manusia yang percaya adalah gambaran Allah sendiri. Gambaran seperti inilah yang memprihatinkan Yesus di atas segalanya yang lain. Ia mengetahui bahwa apabila kita menghormati gambaran-Nya dalam diri kita dan berupaya untuk mengembangkan keserupaan kita dengan diri-Nya, maka segalanya yang lain akan menjadi beres.

Uang memang diperlukan untuk menghidupi keluarga-keluarga kita dan untuk menolong orang-orang lain. Akan tetapi Yesus mengundang kita untuk tidak melihat segala sesuatu sekadar dari sudut keuangan. Memang kita harus menjadi pengurus (Inggris: stewards) dari berbagai sumber daya yang kita miliki, namun kita juga harus memberikan hati kita sendiri – siapa diri kita sebenarnya – kepada Allah. Yesus ingin agar kita memandang segala masalah melampaui urusan-urusan dunia dan mengembangkan kemurahan-hati penuh rasa syukur, baik kepada Allah maupun kepada “wong cilik”. Selagi kita bertumbuh dalam mencurahkan hati kita dalam kasih dan pelayanan kepada Allah, maka damai-sejahtera-Nya akan menggantikan rasa letih-lesu kita. Masalah-masalah yang tadinya menjadi beban berat terasa mulai berkurang. Kita pun akan menemukan energi dan hasrat untuk senantiasa menyenangkan Allah yang kita tidak pernah pikir kita dapat melakukannya.

DOA: Yesus, aku memberikan hidupku kepada Engkau saja, Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku menghormati dan memuliakan Engkau dengan memenuhi tanggung-jawabku untuk senantiasa setia kepada-Mu serta perintah-perintah-Mu. Ajarlah aku untuk menggunakan kehidupanku di atas muka bumi ini seperti Engkau sendiri lakukan, yaitu untuk melayani kedatangan Kerajaan Allah. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 11:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA KAMU MENCOBAI AKU ???” (bacaan tanggal 4-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “KAISAR DAN ALLAH” (bacaan tanggal 5-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 22 Mei 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA ADALAH KEBUN ANGGUR YESUS

KITA ADALAH KEBUN ANGGUR YESUS!

(Bacaan Injil Misa, Peringatan S. Karolus Lwanga dkk. Martir – Senin, 3 Juni 2013)

PERUMPAMAAN - WICKED HUSBANDMENLalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan, “Ada seseorang membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian Ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh lagi seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang lagi seorang hamba lain, dan orang ini mereka bunuh. Demikian juga dengan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Masih ada satu orang lagi padanya, yakni anaknya yang terkasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi baru penjuru: Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena tahu bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak. Mereka membiarkan Dia, lalu mereka pergi. (Mrk 12:1-12)

Bacaan Pertama: Tb 1:3;2:1a-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-6

Tidak seorang pun dapat menyangkal betapa kaya perumpamaan-perumpamaan Yesus itu. Cerita-cerita singkat yang diceritakan-Nya sekitar 2.000 tahun lalu, tetap saja berbicara kepada kita pada zaman modern ini – tetap aktual dan dengan begitu banyak cara!

VINEYARDPada tingkatan tertentu, “kebun anggur” dalam perumpamaan ini melambangkan umat Allah (lihat Yes 5:1-7), dan para penggarap melambangkan orang-orang yang dalam kedosaan mereka menolak Tuhan dan perintah-perintah-Nya – malah termasuk mereka yang menyalibkan Yesus. Pada tingkatan yang lain, kitalah “kebun anggur” itu, dan para penggarap adalah kekuatan-kekuatan di dalam diri kita – dosa, Iblis, sikap dan perilaku keduniawian kita – yang mencoba untuk merampas kita dari rahmat yang telah dicurahkan Allah ke dalam kehidupan kita.

vineyards_ranch2Apabila kita membaca perumpamaan ini sekilas lintas, maka baris-baris terakhir dapat cukup menakutkan, teristimewa jika kita mengingat-ingat dosa kita dan berbagai cara yang berbeda-beda bagaimana kita tidak/kurang memenuhi syarat dan tidak mentaati perintah-perintah Allah. Biar bagaimana pun juga siapa sih yang ingin menderita karena kutuk Allah? Namun apabila kita membaca lagi perumpamaan Yesus itu, maka akhir dari perumpamaan itu dapat menjadi pendorong dan penyemangat, hal-hal yang membebaskan, yang mungkin tidak pernah kita dengar sebelumnya. Kita adalah “kebun anggur” Yesus! Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia mengutus Putera-Nya sendiri untuk membebaskan kita dari para lawan yang memusuhi kita! (bdk. Yoh 3:16).

Yesus minta kepada kita untuk melihat dengan mendalam ke dalam hati kita masing-masing dan memperkenankan-Nya untuk melanjutkan karya salib-Nya. Allah ingin mentransformasikan diri kita. Dia ingin tidak ada sesuatu pun yang menghalangi diri-Nya untuk memeluk diri kita dengan penuh kasih kebapaan. Ia sungguh ingin memerdekakan kita dari setiap musuh yang senantiasa mau menjatuhkan anak-anak-Nya.

ROHHULKUDUSMarilah kita senantiasa menyediakan saat-saat hening di mana kita dapat menghaturkan permohonan kepada Roh Kudus untuk mengungkapkan dosa-dosa kita agar – dalam semangat penyesalan dan pertobatan – kita dapat membawa dosa-dosa itu ke bawah kaki salib Kristus. Di situlah, di hadapan sang Tersalib, dosa-dosa kita diampuni. Pada saat-saat kita, menghadapi godaan, maka senantiasa baik jika kita berdoa agar darah Yesus menyelimuti kita dan melindungi kita. Dengan demikian, marilah kita memenuhi hati dan pikiran kita dengan sabda-Nya yang ada dalam Kitab Suci agar mampu menolak godaan Iblis dan/atau roh-roh jahat dengan menggunakan kebenaran Allah sebagaimana dilakukan oleh Yesus ketika digoda di padang gurun (lihat Luk 4:4,8,12). Kita pun tidak boleh lupa untuk selalu memohon kepada Roh Kudus untuk menolong kita mengenali dan melawan janji-janji palsu dari berbagai falsafah duniawi, termasuk “pepesan kosong” yang sering diajarkan oleh sebagian dari mereka yang menamakan diri “motivator”, yang tidak jarang bermunculan akhir-akhir ini.

DOA: Yesus, aku ingin salib-Mu menumpas habis sehabis-habisnya segala sesuatu yang dapat merampas diriku dari kehadiran-Mu. Engkau adalah sang Pembebas umat manusia, termasuk diriku. Engkau adalah pengharapanku dan kekuatanku. Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku pribadi. Aku sungguh mengasihi-Mu dan berketetapan hati untuk mengasihi-Mu lebih dan lebih lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT” (bacaan tanggal 3-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “SEMOGA KELAK KITA DIDAPATI OLEH-NYA SEBAGAI PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG BAIK” (bacaan tanggal 4-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 22 Mei 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA MEMBERITAKAN KEMATIAN YESUS SAMPAI IA DATANG

KITA MEMBERITAKAN KEMATIAN YESUS SAMPAI IA DATANG

(Bacaan Injil Misa, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS – Minggu, 2 Juni 2013)

FIVE THOUSAND FEDIa menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan. Pada waktu hari mulai malam datanglah kedua belas murid-Nya kepada-Nya dan berkata, “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan makanan, karena di sini kita berada di tempat yang terpencil. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Kamu harus memberi mereka makan!” Mereka menjawab, “Yang ada pada kami tidak lebih daripada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.” Sebab di situ ada kira-kira lima ribu orang laki-laki. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang sekelompok.” Murid-murid melakukannya dan menyuruh semua orang banyak itu duduk. Setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya disajikan kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian dikumpulkan potongan-potongan roti yang lebih sebanyak dua belas bakul. (Luk 9:11b-17)

Bacaan Pertama: Kej 14:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 1101-4; Bacaan Kedua: 1Kor 11:23-26

Kematian Yesus pada kayu salib merupakan suatu tindakan paling signifikan yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Walaupun Yesus wafat ketika masih muda usia, Dia telah melakukan segalanya yang harus dikerjakan-Nya. Pada kenyataannya, seluruh makna hidup-Nya mencapai klimaksnya pada zaat akhir hidup-Nya. Pada dasarnya Yesus datang ke tengah dunia sebagai seorang Juruselamat, untuk menghancurkan maut dan dosa lewat kematian-Nya sendiri di kayu salib. Karena kebangkitan-Nya dari antara orang mati kita mengetahui bahwa kematian-Nya bukanlah suatu kekalahan yang disebabkan ulah para musuh-Nya, melainkan sebuah kemenangan yang mulia dan membahagiakan.

Lagipula, kematian Yesus tidak datang tanpa desain dari pihak-Nya sendiri. Kematian-Nya adalah sesuatu yang diterima oleh-Nya dengan kebebasan penuh. Orang-orang biasa, seberapa dalam pun kebencian mereka terhadap diri Yesus atau seberapa kuatnya pun sumber daya dan kekuasaan yang mereka miliki, semuanya tidak akan mampu menyeret-Nya kepada kematian. Dalam beberapa peristiwa para lawan-Nya malah telah mencoba untuk membunuh Yesus, namun karena waktu Allah belum tiba, maka para lawan-Nya pun kehilangan kekuatan mereka (Luk 4:29; Yoh 5:18; Mrk 14:1 dll.).

Pada hari Kamis Putih, malam sebelum kematian-Nya, Yesus mengetahui dengan pasti bahwa Dia akan mati dalam waktu yang dekat. Ia telah menanti-nantikan dan menyiapkan segala sesuatu dengan baik untuk saat itu. Selama melakukan pelayanan publik, Yesus telah memberikan tanda-tanda berkaitan dengan apa yang akan dilakukan-Nya. Dalam bacaan Injil hari ini, pemberian makanan berupa roti dan ikan yang telah digandakan kepada paling sedikit 5.000 orang merupakan salah satu dari tanda-tanda itu. Pada Perjamuan Terakhir, dengan memikirkan para pengikut-Nya yang akan mendatang, Ia mengambil roti dan cawan berisi anggur dan mengucapkan kata-kata yang mengingatkan kita kepada kata-kata kreatif Allah sendiri pada awal waktu: “Inilah tubuh-Ku … Inilah darah-Ku” Kemudian Ia mengucapkan kata-kata yang kaya dengan makna bagi kita: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19).

Yesus telah memberikan kepada para rasul dan kepada semua pengikut-Nya di segala abad, tubuh dan darah-Nya sendiri, sebagai kenangan akan kematian-Nya yang penuh kemenangan. Dalam bacaan kedua hari ini, kita membaca catatan tentang Perjamuan Terakhir yang paling kuno, lebih tua daripada yang terdapat dalam kitab-kitab Injil sinoptik. Setelah memberikan catatan tentang institusi Ekaristi, Santo Paulus menambahkan kata-kata berikut ini: “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26). Dalam kenangan akan kematian Yesus dalam Misa Kudus, kita memproklamasikannya, kita menyerukannya, karena kematian-Nya adalah kabar baik dari penyelamatan kita. Ekaristi adalah sarana kita merayakan kematian-Nya dengan penuh sukacita dan rasa bahagia. Kematian Yesus adalah suatu awal, suatu permulaan, bukan suatu akhir. Kehidupan dunia diganti ke dalam hidup mulia melalui kebangkitan-Nya.

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada zaman dahulu pernah dirayakan pada hari Kamis, karena Perjamuan Akhir terjadi pada hari Kamis malam. Namun, karena Ekaristi begitu penting bagi kita, maka perayaan ini telah diubah menjadi pada hari Minggu agar lebih banyak orang yang dapat ikut ambil bagian. Setiap Misa Kudus adalah perayaan kematian Yesus Kristus, namun pada hari raya “Corpus Christi” ini secara istimewa kita ingin memproklamasikan, menyerukan dengan penuh sukacita, kematian Yesus – Tuhan dan Juruselamat kita – selagi kita menantikan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan.

DOA: Bapa surgawi. Kami percaya bahwa Ekaristi adalah cerita bagaimana Sabda Bapa yang kekal diungkapkan dalam kehidupan Yesus dalam daging, terus hadir dan operatif dalam kehidupan kami melalui roti dan anggur yang telah dikonsekrasikan. Jagalah kepercayaan kami ini agar tidak pernah goyah, ya Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:11b-17), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA SEMUANYA MAKAN SAMPAI KENYANG” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013.

Cilandak, 21 Mei 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DALAM YESUS KRISTUS

DALAM YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yustinus, Martir – Sabtu, 1 Juni 2013)

THE HOLY BIBLE IN MY LIFE

Maka dari itu aku hendak bersyukur kepada-Mu serta memuji Engkau dan memuji nama Tuhan.
Ketika aku masih muda dan sebelum mengadakan perjalananku, maka kebijaksanaan telah kucari dengan sungguh dalam sembahyangku.
Di depan Bait Allah telah kupohonkan dan sampai akhir hidup akan kukejar.
Hatiku bersukacita atas kebijaksanaan, karena bunganya yang bagaikan buah anggur yang masak. Kakiku melangkah di jalan yang lurus, dan sejak masa mudaku telah kuikuti jejaknya.
Hanya sedikit saja kupasang telingaku, lalu mendapatinya, dan memperoleh banyak pengajaran bagi diriku.
Aku maju di dalamnya dan kuhormati orang yang memberikan kebijaksanaan kepadaku.
Sebab aku berniat melakukannya, dengan rajin kucari apa yang baik dan aku tidak dikecewakan.
Hatiku memperjuangkan kebijaksanaan, dan dengan teliti kulaksanakan hukum Taurat. Tanganku telah kuangkat ke surga, dan aku menyesal karena kurang tahu akan dia.
Hatiku telah kuarahkan kepada kebijaksanaan, dan dengan kemurnian hati telah kutemukan.
Sejak awal mula kuikatkan hatiku padanya, dan karenanya aku tidak ditinggalkan. (Sir 51:12-20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11; Bacaan Injil: Mrk 11:27-33

Sirakh memberikan kepada kita suatu perspektif yang indah tentang bagaimana mencari kebenaran Allah – dia rendah hati, menaruh kepercayaan, menaruh hormat, dan lapar akan kebijaksanaan dan rahmat. Para imam kepala dan ahli Taurat pada zaman Yesus justru menunjukkan kepada kita sikap yang benar-benar kebalikannya (lihat Mrk 11:27-33). Mereka banyak menuntut, merasa curiga dan menuduh, senantiasa mencari-cari bukti lanjutan tentang keilahian Yesus. Sirakh mencerminkan rasa percaya dan pengharapan, sedangkan para imam kepala dan ahli Taurat mencerminkan ketidakpercayaan dan rasa takut. Sementara tentunya kita lebih suka untuk mengidentifikasikan diri kita dengan Sirakh, kehidupan doa kita kadang-kadang menunjukkan keraguan dan kegelisahan.

Hati kita mencerminkan Sirakh bilamana waktu-waktu doa kita ditandai dengan penyembahan, suatu pencaharian akan kebijaksanaan (hikmat) Allah, dan hati penuh tobat yang dipenuhi dengan pengharapan dan rasa terima kasih penuh syukur. Hati kita mencerminkan para imam kepala dan ahli Taurat bilamana kita terus berkeluh kesah tentang pencobaan-pencobaan yang kita alami dan dengan marah menuntut dari Tuhan alasan-alasan dari penderitaan-penderitaan kita. Dalam kondisi seperti ini, bukannya berupaya untuk melakukan kehendak-Nya, kita malah menuntut Allah untuk melakukan kehendak kita. Pada saat-saat seperti ini, kita malah dapat menyelesaikan doa kita dengan lebih banyak pertanyaan daripada memperoleh jawaban-jawaban.

Allah menyatakan/mengungkapkan disposisi-disposisi mendalam kita dengan menguji kita dalam berbagai situasi, teristimewa dalam doa kita. Ketika kita berjuang untuk berdoa, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri dengan otoritas siapa kita sedang mencoba untuk mendekati Allah? Apakah berdasarkan performa/kinerja kita sendiri, atau berdasarkan kebaikan-kebaikan dari kematian dan kebangkitan Yesus? Orang-orang yang telah berhenti mencoba membuktikan kepantasan mereka di hadapan Allah dan kemudian menerima belas kasih dan cintakasih tanpa syarat yang berlimpah-limpah akan mengalami keintiman dengan Allah yang jauh melampaui ekspektasi manusiawi kita. Hati mereka mengalami kedamaian dan nurani mereka pun menjadi jernih.

Dalam Yesus Kristus, kita telah dibebaskan dari roh ketakutan dan menerima Roh yang menjadikan kita anak-anak Allah (bdk. Rm 8:15). Sekarang, melalui iman yang semakin dalam kepada Yesus, kita dapat mengenal Allah sebagai Bapa yang sangat mengasihi kita. Kita dapat belajar untuk memberi lebih lagi dari hati kita kepada-Nya dan bertumbuh dalam keyakinan bahwa Dia akan memperhatikan segala kebutuhan kita. Seperti Sirakh, doa-doa kita akan naik ke surga dan menurunkan berkat-berkat kepada kita yang menjadi milik kita dalam Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau yang maha-mengetahui. Aku percaya bahwa apa pun yang terjadi pada hari ini, Engkau akan berkemenangan. Aku tidak dapat menyelamatkan diriku sendiri, namun percaya sepenuhnya bahwa Engkau mampu menyelamatkanku. Tuhan Yesus, Engkaulah andalanku. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 11:27-33), bacalah tulisan yang berjudul “KUASA YESUS” (bacaan tanggal 1-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MENGAKUINYA” (bacaan tanggal 2-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 21 Mei 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBAWA KRISTUS

MEMBAWA KRISTUS

(Bacaan Injil Misa, Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet – Jumat, 31 Mei 2013)

VISITASI - MARIA MENGUNJUNGI ELISABET - 1Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:39-56)

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18 atau Rm 12:9-16b; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

Perwira Nazi yang menyaksikan peristiwa itu sungguh merasa terkejut. Pater Maximilian Kolbe, seorang imam Katolik dari ordo Fransiskan Konventual berkebangsaan Polandia di kamp konsentrasi Auschwitz, baru saja secara sukarela menyerahkan diri untuk dihukum mati guna menggantikan seorang tawanan lain yang mempunyai anak-istri. Walaupun Pater Kolbe menanggung penderitaan luarbiasa, dia tetap tenang-hening sepanjang waktu penghukuman tanpa makan-minum itu. Kematian Pater Kolbe – tulis seorang tawanan lain – merupakan suatu shock yang dipenuhi dengan pengharapan, membawa hidup dan kekuatan baru …… seperti sorotan sinar terang dalam kegelapan kamp konsentrasi itu.”

FR. MAXIMILIAN KOLBE - 003Walaupun dalam kematiannya, Pater Kolbe mengubah segalanya, karena dia membawa sukacita, pengharapan – dan kejutan – yaitu Kristus dalam dirinya. Bukankah itu seperti cerita kunjungan Maria kepada Elisabet, saudaranya? Pada saat Maria sampai di rumah Elisabet, bukankah yang dikatakannya hanyalah “Halo” atau “Apa Kabar?” Dan Elisabet pun – dipenuhi dengan Roh Kudus – dan ia mulai bernubuat. Bayi yang dalam kandungannya tidak hanya menendang, melainkan juga melonjak kegirangan (Luk 1:41). Hal seperti itu tentunya cukup mengejutkan bagi seorang perempuan yang sedang hamil!

Terkadang kita dapat merasa sebagai orang biasa-biasa saja, namun sebenarnya kita juga membawa hidup Kristus yang penuh keajaiban dalam diri kita masing-masing. Semoga kita tidak pernah meminimalisir besarnya arti kenyataan ini. Sebaliknya, marilah kita melihat potensi luarbiasa yang kita miliki untuk mempengaruhi situasi-situasi di mana kita berada dan mengubah hati sesama kita. Dapatkah kita memperkenankan Tuhan untuk menggunakan kita melakukan sesuatu yang luarbiasa? Hal ini tidak perlu berarti melakukan evangelisasi kepada ratusan orang (mungkin saja memang begitu). Akan tetapi, renungkanlah: bukankah suatu keajaiban apabila sekadar kehadiran kita akan mampu membawa pengharapan kepada seorang pribadi yang (misalnya) sedang tidak memiliki pengharapan sama sekali?

Siapa yang Tuhan minta kita kunjungi pada hari ini? Barangkali seorang kawan yang sedang menderita sakit, yang sudah cukup lama kita tidak kunjungi. Ataukah seorang tetangga yang akan senang kalau kita mengunjungi rumahnya? Ataukah seorang rekan kerja kita, atau bahkan salah seorang anggota keluarga kita sendiri yang hidup di bawah satu atap? Kita tidak boleh berpikir bahwa kehadiran kita tidak berarti, karena mungkin saja kehadiran kita itu merupakan satu-satunya berkat yang mereka cari-cari. Jika saja kita memperkenankan Tuhan untuk bekerja melalui diri kita, maka kita boleh mengharapkan terjadinya mukjizat-mukjizat. Kepada kita telah diberikan Roh yang sama, yang telah membangkitkan Lazarus dari kematian (Yoh 11:1-44) dan memberikan penglihatan kepada Bartimeus yang buta (Mrk 10:46-52). Ingatlah apa yang dikatakan Malaikat Agung Gabriel kepada Maria: “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:38).

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku sebuah hati yang mengatakan “YA” kepada-Mu pada hari ini. Buatlah aku seperti Maria, siap untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan perintah-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-56), bacalah tulisan yang berjudul “RAHMAT-NYA TURUN-TEMURUN ATAS ORANG YANG TAKUT AKAN DIA” (bacaan tanggal 31-5-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2013.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “ALLAH RINDU UNTUK MENYATAKAN DIRI-NYA DAN RENCANA-NYA” (bacaan tanggal 31-5-12) dan tulisan yang berjudul “JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN” (bacaan tanggal 31-5-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.
Ada juga beberapa tulisan lain mengenai perikop ini, misalnya: “SEKALI PERISTIWA DI AIN KAREM” dan “MAGNIFICAT ANIMA MEA DOMINUM”; semuanya dapat dibaca dan diunduh dari situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 21 Mei 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 153 other followers