YESUS DAN YOHANES PEMBAPTIS

YOHANES PEMBAPTIS DI PENJARA - 2YESUS DAN YOHANES PEMBAPTIS

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III [Tahun A], 15 Desember 2013)

Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh mudid-muridnya bertanya kepada-Nya, “Engkaulah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku.”

Setelah murid-murid Yohanes pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes, “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan anginkah? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat ornag yang berpakaian haluskah? Orang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. Jadi, untuk apakah kamu pergi? Melihat nabikah? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih daripada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu.

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada dia. (Mat 11:2-11)

Bacaan Pertama: Yes 35:1-6,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:6-10; Bacaan Kedua: Yak 5:7-10

Salah satu peristiwa yang paling berkesan dalam seluruh sejarah Israel adalah “Keluaran” atau “Exodus”. Peristiwa keluaran ini mengkonfirmasi kasih Allah yang unik bagi satu bangsa ini dan menunjukkan determinasi-Nya untuk melindungi mereka. Manakala mereka merasa ragu akan kebaikan tanpa batas dari Allah, maka yang mereka lakukan adalah mengingat kembali peristiwa Exodus ini dan rasa percaya mereka yang suci kepada Allah dibangun kembali.

Yesaya juga sangat terkesan dengan peristiwa Exodus ini, namun dia lebih merasa takjub dengan apa yang akan terjadi di masa depan – kedatangan sang Mesias. Ia melihat peristiwa spektakuler ini sebagai suatu Exodus yang baru dan lebih besar dan sang Mesias sebagai pribadi yang baru dan lebih besar daripada Musa, yang akan memimpin orang-orang keluar dari perbudakan spiritual. Tidak hanya mereka yang terjerat oleh dosa, melainkan juga orang-orang buta dan tuli akan dibebaskan agar dapat menikmati kepenuhan hidup.

YESUS GURU KITABaik Yohanes Pembaptis maupun Yesus sama-sama sadar akan nubuatan optimistis dari nabi Yesaya. Jadi, ketika Yohanes Pembaptis – lewat para murid-Nya – mencari tahu tentang identifikasi-Nya, maka Yesus mengatakan kepada para murid Yohanes Pembaptis untuk pergi melapor kepada sang guru bahwa nubuat-nubuat nabi Yesaya sedang dipenuhi. Menanggapi pertanyaan para murid Yohanes, Yesus tidak mengeluarkan KTP-Nya (kalau ada pada waktu itu) dan menunjukkan KTP itu kepada para murid Yohanes: nama: Yesus dari Nazaret, tempat lahir: Betlehem, Yudea, pekerjaan: Mesias, dst. Yesus mengungkapkan apa yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya tentang Mesias ini: “orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Yes 35:5-6,61:1). Singkatnya, sang Mesias yang dinanti-nantikan sejak lama itu akhirnya datang dan Exodus baru sekarang sedang bergerak maju.

Baik Yesaya maupun Yohanes tidak menyadari betapa lengkap “Musa Baru” akan menggantikan Musa yang lama. Siapakah yang mengira bahwa Yesus secara pribadi mempersembahkan diri-Nya sendiri untuk keselamatan umat-Nya?

Jadi, apabila kita mulai merasa ragu mengenai kasih-Nya yang unik bagi kita, maka kita hanya perlu mengingat salib yang penuh darah di bukit Kalvari dan kubur yang kosong. Dengan demikian, rasa percaya kita pada persahabatan-Nya dan kasih-Nya dibangun kembali. Tindakan penebusan-Nya begitu mendalam dan sungguh menggoncang bumi sehingga terus saja terasa getarannya di seluruh dunia sampai hari ini. Setiap hari kita dapat mendengar dan merasakannya, yang senantiasa mengundang kita masing-masing agar melangkah ke luar dari keterikatan dosa dan kegelapan dan masuk ke dalam suatu kebebasan baru dalam Kristus.

Liturgi masa Adven mengingatkan kita betapa pentingnya arti kedatangan Tuhan. Yohanes, seperti dikatakan oleh Yesus, adalah pribadi yang paling besar di hadapan-Nya. Namun kita masing-masing dapat lebih besar daripada Yohanes, karena kita adalah para penerima dari karunia yang jauh lebih sempurna.

Ya, memang begitulah, Yesus adalah Dia yang akan datang. Kita tidak perlu untuk mencari seorang pribadi yang lain. Setelah 20 abad lamanya, kita masih dapat mendengar dengan jelas sabda-Nya, dan masih terkesima dengan segala mukjizat-Nya dan penuh rasa syukur menerima sentuhan kesembuhan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diri kami dengan air hidup. Datanglah ke padang gurun kehidupan kami dan segarkanlah kami sehingga kami dapat menjadi tanda-tanda kehidupan-Mu bagi dunia. Dalam Engkau, kami menaruh kepercayaan dan tidak lagi merasa haus, karena Engkau adalah air kehidupan. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Yak 5:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “TURUTILAH TELADAN PENDERITAAN DAN KESABARAN PARA NABI YANG TELAH BERBICARA DEMI NAMA TUHAN !!!” (bacaan tanggal 15-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 12 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ELIA SUDAH DATANG

ELIA SUDAH DATANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes dr Salib, Imam-Pujangga Gereja – Sabtu, 14 Desember 2013)

RABI DARI NAZARET - 1Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13)

Bacaan pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19

Elia adalah nabi besar dari kerajaan utara Israel pada zaman pemerintahan Raja Ahab dan permaisurinya yang jahat, Izebel. Izebel menyembah ilah Baal dan telah menyuruh nabi-nabi Israel lainnya dibunuh (baca 1Raj 17:1 – 2Raj 2:13). Pelayanan nabi Elia termasuk penggandaan makanan dan membangkitkan orang mati (1Raj 17:7-24); hal mana dengan jelas menunjukkan kedaulatan “seorang” Allah yang benar.

Allah berbicara kepada Elia di Gunung Horeb (Sinai), seakan dia adalah seorang Musa baru yang akan memimpin orang-orang Israel meninggalkan kemurtadan mereka. Pentingnya nabi Elia dicerminkan dengan jelas ketika dia meninggalkan dunia dalam kereta berapi (2Raj 2:11-12). Pada zaman nabi kecil yang bernama Maleakhi [c.475 SM], orang-orang Yahudi mengharapkan nabi Elia (yang mereka percayai tidak pernah mati) akan datang kembali ke bumi dan berfungsi sebagai pembuka jalan dalam zaman Mesias: “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN (YHWH) yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah” (Mal 4:5-6). Kepercayaan bahwa nabi Elia akan datang ke bumi ini dicerminkan dalam Kitab Sirakh (Sir 4:1-11) dan dalam kitab Makabe yang pertama, di mana Matatias menjelaskan bahwa nabi Elia diangkat ke surga secara istimewa karena kegiatan-kegiatannya yang penuh semangat untuk Hukum Taurat (1Mak 2:58).

Pada hari ini dan selama dua ribu tahun sejak Yerusalem diporak-porandakan oleh pasukan Romawi pada tahun 70, orang-orang Yahudi di seluruh dunia memperingati Paskah, “keluaran” orang-orang Israel dari perbudakan di tanah Mesir. Mereka menyediakan secangkir anggur untuk Elia dan membuka pintu rumah mereka bagi sang nabi untuk masuk, dalam antisipasi akan kedatangan sang Mesias. Pada makan Paskah, orang Yahudi akan berkata , “Tahun depan di Yerusalem”, mengkaitkan kedatangan Elia dengan penebusan nasional.

Komentar Yesus tentang Elia secara langsung berkaitan dan melanjutkan peristiwa transfigurasi, di mana Yesus tampil di hadapan Petrus, Yakobus dan Yohanes di atas gunung tinggi, bersama-sama dan bercakap-cakap dengan Musa dan Elia, dan Allah Bapa bersabda kepada mereka dari dalam awan: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat 17:5). Ketika Yesus mengidentifikasikan Yohanes Pembaptis sebagai Elia (tidak secara literer/hurufiah, melainkan secara fungsional sebagai bentara Kristus/Mesias) yang telah diantisipasi oleh orang-orang Yahudi pada akhir zaman, Ia mengkonfirmasikan kata-kata Allah Bapa bahwa Dia – Yesus – adalah Yang Diurapi, Kristus (Ibrani: Meshiakh atau Mesias). Allah memegang kata-kata-Nya dengan memenuhi nubuat-nubuat Yahudi.

DOA: Bapa surgawi, penuh syukur kami berterima kasih kepada-Mu karena Engkau telah mengutus nabi-nabi seperti Musa, Elia dan Yohanes Pembaptis untuk memimpin kami kepada pertobatan dan kepada sang Mesias yang tidak hanya telah menebus Israel, melainkan juga seluruh dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:10-13), bacalah tulisan yang berjudul “SANG MESIAS DAN BENTARA-NYA” (bacaan tanggal 14-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “ELIA SUDAH DATANG DAN DIA ADALAH YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan tanggal 15-12-12) dan “ELIA SUDAH DATANG, TETAPI ORANG TIDAK MENGENAL DIA” (bacaan tanggal 10-12-11) keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM
Cilandak, 11 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DALAM YESUS KITA MEMPUNYAI SEORANG PENGANTARA

DALAM YESUS KITA MEMPUNYAI SEORANG PENGANTARA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Lusia, Perawan-Martir – Jumat, 13 Desember 2013)
YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA
Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19)

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-6

Kita hampir dapat membayangkan suara yang keluar dari mulut Yesus ketika mengucapkan kata-kata di atas, teristimewa dengan mengingat orang banyak yang menolak untuk menerima kebenaran, tidak peduli siapa yang mengumumkan kebenaran itu. Orang-orang yang tidak percaya adalah seperti anak-anak yang keras kepala, menolak apa saja yang ditawarkan kepada mereka …… serba salah!

Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus datang ke tengah orang-orang Yahudi untuk mengumumkan apa yang mereka (sebagai umat) selama berabad-abad telah merindukannya, yaitu kedatangan sang Mesias, Putera Daud, Raja Israel! Seperti anak-anak yang disebutkan di atas, ada saja orang-orang Yahudi yang menghina Yohanes Pembaptis dan pesannya dan menuduhnya sebagai seorang yang kerasukan setan. Ketika Yesus datang – seorang yang datang setelah Yohanes dan lebih besar daripada Yohanes (lihat Mat 3:11-12) – mereka menolaknya pula, mencapnya sebagai seorang visioner yang risau, yang bersahabat dengan para pendosa.

Begitu sering kita mendengar orang-orang menolak pesan Kristus/Kristiani dengan berbagai alasan yang tidak rasional, misalnya: “Aku mengenal terlalu banyak anggota gereja yang munafik, yang duduk di bangku bagian depan setiap hari Minggu!” Atau komentar seperti ini: “Gereja ada di dalam hatiku; aku tidak membutuhkan siapa pun untuk mengajarku tentang apa yang harus kulakukan!” Lagi: “Jika Allah adalah kasih, maka Dia tidak akan menghukum orang yang melakukan yang terbaik yang dapat dilakukannya!” Kita telah mendengar rasionalisasi-rasionalisasi atau pembenaran-pembenaran yang diungkapkan oleh orang-orang itu. Kalau mau jujur, sekali-sekali kita pun – dalam perjalanan hidup kita – suka juga melakukan hal yang sama dalam situasi-situasi di mana tidak nyamanlah bagi kita untuk bersikap jujur dan benar terhadap pesan Injil Yesus Kristus.

Matius mencatat bahwa sejarah akan menjadi hakim atas siapa yang benar dan siapa yang salah: “Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya” (Mat 11:19). Kata-kata sang pemazmur itu benar pada hari ini seperti juga benar pada zaman Yesus mewartakan Kerajaan Surga dan menyerukan pertobatan ketika masih hidup di atas muka bumi: “Orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman …” (Mzm 1:5).

Allah adalah Allah yang Mahasetia; Dia tidak akan membuang orang-orang yang tetap setia kepada-Nya. Dalam Yesus, kita mempunyai seorang Pengantara yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa, yang tak henti-hentinya melakukan doa syafaat bagi mereka yang menyerukan nama-Nya. Kita harus memperkenankan rahmat dan kasih Allah dicurahkan atas diri kita untuk bekerja dalam hidup kita, jikalau kita mau mengalami sukacita dan memperoleh pemenuhan janji menyangkut keanggotaan kita dalam keluarga Allah.

DOA: Yesus, Engkau sungguh indah! Aku ingin lebih mengenal Engkau lagi. Aku ingin memberikan kepada-Mu seluruh hidupku. Aku ingin agar Engkau menolongku untuk berjalan bersama-Mu dan menjaga aku untuk senantiasa kembali kepada-Mu, bila karena sesuatu sebab aku menjadi tersesat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:16-19), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN APAKAH AKAN KUUMPAMAKAN ORANG-ORANG ZAMAN INI?” (bacaan tanggal 13-12-13) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2013.

Cilandak, 11 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CARA KERJA ALLAH YANG MENGAGUMKAN

CARA KERJA ALLAH YANG MENGAGUMKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Kamis, 12 Desember 2013)

YESAYA - 45Sebab Aku ini, TUHAN (YHWH), Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: “Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.” Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman YHWH, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel. Sesungguhnya, aku membuat engkau menjadi papan pengirik yang tajam dan baru, dengan gigi dua jajar; engkau akan mengirik gunung-gunung dan menghancurkannya, dan bukit-bukitpun akan kaubuat seperti sekam. Engkau akan menampi mereka, lalu angin akan menerbangkan mereka, dan badai akan menyerakkan mereka. Tetapi engkau ini akan bersorak-sorak di dalam YHWH dan bermegah di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel.

Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air, tetapi tidak ada, lidah mereka kering kehausan; tetapi Aku, YHWH, akan menjawab mereka, dan sebagai Allah orang Israel Aku tidak akan meninggalkan mereka. Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya, supaya semua orang melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan YHWH yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya. (Yes 41:13-20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:9-13; Bacaan Injil: Mat 11:11-15

Pada waktu orang-orang Israel merasa takut dan ciut-hati selama berada dalam pembuangan di Babel, YHWH mengucapkan kata-kata penghiburan dan janji kepada mereka lewat mulut nabi Yesaya: “Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN (YHWH), dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel” (Yes 41:14). YHWH meyakinkan mereka bahwa pertolongan-Nya akan begitu besar sehingga ketika mereka akhirnya kembali ke negeri mereka, bahkan bangsa-bangsa kafir pun akan mengakui bahwa semua itu adalah karya Allah. Pembebasan-Nya akan begitu terlihat sehingga setiap orang akan “melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan YHWH yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya” (Yes 41:20).

Sepanjang masa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Allah seringkali memanifestasikan kuat-kuasa-Nya dengan mengangkat orang-orang kecil/rendahan, mentransformasikan kelemahan menjadi kekuatan, atau menggunakan instrumen-instrumen yang kelihatan mustahil untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya. Dia telah melanjutkan karya ini sepanjang sejarah Gereja dan di tengah umat-Nya dewasa ini. Santo Yohanes Maria Vianney [1786-1859] hanyalah satu testimoni dari kuat-kuasa Allah.

Saint_John_VianneyVianney tidak menunjukkan kemajuan yang meyakinkan sehubungan dengan studinya untuk menjadi seorang imam dan bahkan dia dikeluarkan dari Seminari Tinggi di Lyons, Perancis karena kebebalannya. Namun setelah berjuang untuk lulus ujian-ujian, akhirnya dia ditahbiskan juga dan kemudian dikirim ke sebuah paroki di sebuah desa yang terletak jauh dari dunia ramai, yaitu tempat yang bernama Ars. Di tempat inilah kata-kata dan kesaksian imam yang kelihatan “tidak ada apa-apanya ini” berhasil memenangkan begitu banyak jiwa sehingga mereka kembali kepada Allah. Tahun demi tahun, ribuan orang berduyun-duyun datang kepada imam ini untuk mengaku dosa dan meminta nasihat. Pada tahun 1859, tahun Romo Vianney meninggal dunia, lebih dari 100.000 peziarah telah datang ke desa Ars itu, mencari penyembuhan ilahi atas penyakit mereka, baik yang spiritual maupun fisik, lewat Romo Yohanes Maria Vianney.

Seperti Allah membangkitkan “si cacing Yakub (Israel)” (Yes 41:14) dan seorang pribadi yang tak diharap-harapkan di depan mata dunia seperti Yohanes Maria Vianney, Dia juga ingin membuat kita masing-masing menjadi tanda-tanda yang kelihatan dari kuasa penebusan-Nya yang bersifat sepenuhnya inklusif. Allah ingin agar kita menjadi saksi-saksi hidup dari kuat-kuasa Yesus untuk memulihkan, menyembuhkan, dan mentransformasikan. Oleh karena itu, marilah kita menaruh kepercayaan pada belas kasih Yesus – tidak hanya bagi diri kita sendiri, melainkan juga untuk setiap orang di sekeliling kita. Biarlah hidup kita menjadi suatu tanda yang kelihatan dari kuat-kuasa Allah, yang mengarahkan orang-orang kepada Yesus Kristus, sang Penyembuh dan Penebus jiwa-jiwa kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Penebusku. Aku menyembah Engkau dan memuji Engkau. Curahkanlah Roh-Mu ke dalam hatiku untuk memperbaharui dan mentransformasikan diriku. Jadikanlah aku suatu tanda kasih-Mu dan kuat-kuasa-Mu bagi mereka yang ada di sekelilingku yang rindu untuk mengenal Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “KERAJAAN SURGA DISERBU” (bacaan tanggal 13-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 9 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK MEMIKUL GANDAR-NYA DAN BELAJAR DARI DIA

YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK MEMIKUL GANDAR-NYA DAN BELAJAR DARI DIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Rabu, 11 Desember 2013)

Jesus_109“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30)

Bacaan Pertama: Yes 40:25-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10

Dalam setiap zaman dan kondisi, orang-orang tentu pernah mengalami situasi yang letih-lesu dan merasakan hidup yang berbeban berat. Sekarang pun kita mengalaminya. Kerja keras, keringat, air mata, kegagalan dan kesia-siaan dlsb. adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, dari awal sejarah sampai hari ini dan seterusnya. Beban ini sungguh riil dan tak kunjung padam, dan kita masing-masing tentunya dari waktu ke waktu pernah mengalami berjalan sempoyongan karena harus memikul beban kehidupan yang berat. Sayangnya, seringkali bukannya menerima beban yang harus kita pikul, kita malah mencari penghiburan atau pelipur lara dalam hal-hal yang duniawi. Bahkan ketika kita mempersiapkan diri untuk hari Natal, kita dapat mencari penghiburan (dengan sadar maupun tidak sadar), dalam perayaan-perayaan atau pesta-pesta dan acara-acara yang sesungguhnya didominir oleh materialisme.

Yesus mengetahui tentang beban-beban kehidupan kita. Dia juga mengetahui tentang kerinduan kita akan kenyamanan dan pembebasan dari beban-beban kehidupan. Oleh karena itu Dia memanggil kita: “Datanglah kepadaku; Aku sendiri memberikan kelegaan yang engkau cari. Aku menawarkan kepadamu kelemah-lembutan karena engkau telah mengalami perlakuan yang kasar atas dirimu; sebuah hati yang penuh kerendahan sebagai tempat pengungsian dari kerusakan-kerusakan akibat keangkuhan; kekuatan dalam keletih-lesuanmu; jaminan kembali di hadapan semua ketakutanmu; pelepasan dari rasa bersalah karena dosa-dosamu, dan kasih-Ku yang berlimpah untuk memberi pasokan bagi setiap keinginanmu dan memenuhi setiap hasratmu.”

GANDAR ATAU KUK - MAT 11 25-30Yesus mengundang kita untuk memikul gandar-Nya dan belajar dari Dia, di mana berdiamlah segala hikmat Allah (lihat Kol 1:9). Hikmat-Nya menyegarkan kita kembali dan memberikan kepada kita hidup Allah sendiri. Undangan-Nya adalah sebagai berikut: untuk menyerahkan diri kepada pelatihan-Nya, untuk menundukkan diri kepada kehendak-Nya, untuk memperkenankan Dia memerintah dan mengajar serta memimpin kita. Ini bukanlah beban! Beban adalah apabila kita mencoba untuk hidup menolak kehendak-Nya dan pelatihan serta pimpinan-Nya – untuk mencoba mengasihi Allah dan orang-orang lain tanpa memenuhi undangan Yesus tadi.

Yesus mengatakan dengan cukup lugas: “Gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-ku pun ringan (Mat 11:30). Yesus hanya berbicara mengenai kebenaran. Allah memberikan kekuatan dan sukacita untuk melakukan hal itu. Kristus membawa kita dengan lemah lembut dan memenuhi setiap kebutuhkan kita. Ia yang menciptakan segala sesuatu dengan kuat-kuasa-Nya yang mahadahsyat, yang memegang segala hal yang ada (lihat Yes 40:26), menawarkan kepada kita apa yang kita butuhkan dalam setiap situasi yang kita hadapi. Dia menjanjikan bahwa mereka yang menanti-nantikan diri-Nya akan diperbaharui dalam kekuatan dan tidak akan menjadi letih-lesu (lihat Yes 40:31). Yang diminta-Nya adalah bahwa kita datang kepada-Nya dan belajar dari diri-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, gerakkanlah hati kami agar mau datang kepada-Mu dan belajar dari-Mu mengenai kelemah-lembutan diri-Mu dan kasih-Mu. Tolonglah kami agar menyerahkan diri kepada-Mu dengan sepenuh-penuhnya dan memperkenankan Engkau untuk mengajar kami, agar dengan demikian kami dapat disegarkan kembali oleh hikmat-Mu dan dikuatkan oleh sukacita-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30) bacalah tulisan yang berjudul “REHAT KOPI ROHANI” (bacaan tanggal 11-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “AKU LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI” (bacaan tanggal 7-12-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 9 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH GEMBALA KITA SEMUA

YESUS ADALAH GEMBALA KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan II Adven – Selasa, 10 Desember 2013)

Lost_Sheep_1158-39“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak yang hilang.” (Mat 18:12-14)

Bacaan Pertama: Yes 40:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13

Kita dapat saja berpikir bahwa seorang gembala akan bersungut-sungut karena harus “membuang-buang” energi hanya untuk mencari seekor domba yang hilang. Namun hal ini bukanlah yang terjadi dengan sang gembala dalam perumpamaan Yesus. Gembala ini begitu berkomitmen pada setiap ekor dombanya sehingga dia ikhlas berlelah-lelah untuk menyelamatkan domba mana pun yang mengalami kesulitan atau hilang. Gembala ini pun akan merasa bahagia apabila domba yang mengalami kesulitan atau hilang itu dapat diselamatkan.

Para nabi Perjanjian Lama seringkali mengibaratkan TUHAN (YHWH) Allah sebagai seorang gembala dalam cara-Nya menjaga Israel: “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanaan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati” (Yes 40:11). Yesus juga menggunakan gambaran “gembala yang baik” bagi diri-Nya: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh 10:11) dan mencari domba yang hilang (lihat Luk 15:4-5). Santo Gregorius Agung [540-604] menulis bahwa Yesus bahkan “memanggul domba di atas bahunya karena dengan mengambil kodrat manusia, Dia membebani diri-Nya dengan dosa-dosa kita.”

GEMBALA YANG BAIK - 16Inilah sesungguhnya makna terdalam dari ungkapan “Yesus adalah gembala kita semua”: Yesus menanggung sendiri dosa-dosa kita semua, bukan hanya segelintir orang yang mencoba untuk menjadi baik, atau sejumlah kecil orang yang telah memiliki kecenderungan-kecenderungan religius. Yesus tidak menolak orang-orang yang dikenal sebagai para pendosa. Yesus tidak menghindari orang-orang yang dipandang rendah oleh orang-orang “terhormat” pada zamannya. Yesus senantiasa mencari kesempatan untuk pergi mencari orang-orang berdosa dan hina dalam masyarakat pada waktu itu. Sebagai akibat dari perjumpaan orang-orang itu dengan Yesus, hidup mereka pun diubah secara dramatis.

Kita tentu masih ingat akan cerita tentang pertobatan Zakheus, bukan? (Luk 19:1-10). Kita pun tentunya tidak akan pernah melupakan cerita tentang perempuan yang kedapatan berzinah (Yoh 8:1-11), dan cerita tentang seorang penjahat yang disalibkan bersama Yesus, namun kemudian bertobat (Luk 23:42-43). Yesus minta kepada kita – para murid-Nya – agar mau ke luar menemui orang-orang seperti tiga orang yang disebutkan di atas. Yesus ingin kita untuk memberkati setiap orang yang kita jumpai, berdoa syafaat bagi mereka, dan mau menunjukkan kepada mereka bela-rasa-Nya bilamana ada kesempatan untuk itu. Teristimewa dalam masa Adven ini dengan segala macam pertemuan dalam lingkungan dlsb., kita akan mempunyai banyak kesempatan untuk berinter-aksi dengan orang-orang yang memiliki latar-belakang berbeda-beda dengan diri kita sendiri. Kita harus berhati-hati agar jangan cepat-cepat menghakimi mereka, tetapi menyambut setiap orang ke dalam hati kita. Marilah kita memohon kepada Yesus agar mengirimkan “domba-domba yang hilang” kepada kita. Selagi kita melakukannya, maka kita pun akan menemukan diri kita semakin serupa dengan Dia.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau sudi menjadi Gembala yang Baik bagi kami. Selamatkanlah kami semua – domba-domba-Mu, sehingga tidak seorangpun dari kami akan terpisahkan dari-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:12-14), bacalah tulisan yang berjudul “KITA ADALAH DOMBA-DOMBA HILANG YANG DISELAMATKAN OLEH YESUS” (bacaan tanggal 10-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13/12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG DOMBA YANG HILANG” (bacaan tanggal 11-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 8 Desember 2013 [HARI MINGGU ADVEN II]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARI ANTI-KORUPSI INTERNASIONAL [9 DESEMBER 2013]

HARI ANTI-KORUPSI INTERNASIONAL [9 DESEMBER 2013]

1263557575-jakarta-international-anticorruption-day-rally199140_199140

Hari ini – tanggal 9 Desember 2013 – adalah HARI ANTI-KORUPSI INTERNASIONAL. Di banyak sekali negara di dunia ini, hari ini diwarnai dengan berbagai kegiatan anti-korupsi seturut anjuran dan/atau arahan badan PBB yang bernama “United Nations Office on Drugs and Crime” (UNODC). Korupsi itu sendiri tidak asing lagi bagi telinga dan mata kita. Dimulai dari tingkat RT/RW sampai terus ke atas, dan tidak ada hari tanpa berita tentang korupsi dan koruptor tentunya. Nama-nama seperti Gayus (ini nama yang diambil dari Alkitab), Nazruddin, Angie, Akil, Atut dlsb. adalah nama-nama yang kita dengar dan/atau baca setiap hari, …… sudah menjadi household names. Nama Gayus, misalnya, beberapa tahun lalu telah berhasil menduduki peringkat pertama (dalam box office) sampai berbulan-bulan lamanya, demikian pula dengan nama Nazruddin, di samping nama-nama seperti Bank Century, Hambalang dll.

Corruption_300x234Memang korupsi adalah sebuah isu yang melibatkan semua negara di seluruh dunia. Korupsi dapat mengacu kepada perusakan kejujuran seorang pribadi manusia, atau melecehkan serta merusak integritas moral atau tindakan dengan menggunakan suatu cara yang menunjukkan ketiadaan integritas atau kejujuran. Korupsi juga mengacu kepada orang-orang yang menggunakan suatu posisi kekuasaan atau posisi tumpuan kepercayaan orang, untuk memperoleh keuntungan secara tidak jujur. Korupsi melecehkan dan merusak demokrasi, menciptakan pemerintahan-pemerintahan yang tidak stabil, dan menyebabkan kemunduran-kemunduran dalam bidang ekonomi, bahkan nilai-nilai etika-moral yang berlaku. Korupsi dapat mengambil berbagai macam wajah, seperti sogok-menyogok atau suap-menyuap, pelanggaran hukum tanpa penanganan dan penyelesaian dengan cara yang adil, secara tidak adil membengkokkan proses pemilihan dan/atau perhitungan suara, menutup-nutupi kesalahan-kesalahan atau membungkam para whistleblowers , yaitu mereka yang membongkar korupsi dengan harapan akan ada keadilan …… dlsb.

Dengan resolusi 58/4 tanggal 31 Oktober 2003, Sidang Umum PBB menetapkan tanggal 9 Desember sebagai Hari Anti-Korupsi Internasional. Keputusan ini dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran serta kewaspadaan kita terhadap jahatnya korupsi, dan juga peranan Konvensi PBB dalam melawan korupsi, baik memeranginya maupun melakukan upaya pencegahan terhadap korupsi itu. Sidang Umum pada waktu itu mendesak semua negara dan organisasi-organisasi regional yang kompeten menyangkut integrasi ekonomi untuk menandatangani dan mensahkan Konvensi PBB melawan Korupsi (UNCAC: United Nations Covention against Corruption) untuk menjamin kecepatan proses perlawanan terhadap korupsi ini. UNCAC ini merupakan instrumen anti-korupsi pertama yang mengikat secara hukum, yang memberikan kesempatan bagi adanya suatu respons global terhadap korupsi.

Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, dalam pesannya menyambut Hari Anti-Korupsi Internasional 2013, mengatakan, antara lain:

BAN KI-MOON“Korupsi adalah sebuah halangan untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan milennium ini dan harus diperhitungkan dalam mendefinisikan dan mengimplementasikan agenda pembangunan yang sehat-kuat pasca 2015. Konvensi PBB melawan korupsi, yang dimulai sejak satu dasawarsa yang lalu, adalah kerangka global yang terpenting dalam upaya mencegah dan memerangi korupsi. Implementasi penuh tergantung sekali pada upaya pencegahan yang efektif, law enforcement, kerja sama internasional dan asset recovery. Pada Hari Anti-Korupsi Internasional ini, saya mendesak pemerintah-pemerintah, sektor swasta dan masyarakat sipil untuk tegak bersatu melawan penyakit sosial, politis dan ekonomis yang kompleks ini, yang telah mewabah di semua negara. Agar dapat mencapai masa depan yang lebih adil, inklusif dan lebih makmur bagi semua orang, maka kita harus membantu perkembangan suatu budaya integritas, transparansi, akuntabilitas dan good governance.”

Pada hari ini, “Harian Media Indonesia” tampil dengan editorialnya yang berjudul “Mendaki Melawan Korupsi”. Sebuah editorial yang baik dan patut menjadi bahan permenungan kita semua. Editorial tersebut diawali dengan satu kalimat yang dengan gamblang menggambarkan kondisi korupsi di negara tercinta Indonesia: “PERANG melawan korupsi di negeri ini seperti peperangan tanpa akhir. Ibarat perjalanan, upaya menuju Indonesia yang bersih dari korupsi merupakan perjalanan mendaki di jalan yang amat terjal dan berliku.” Jadi merupakan suatu up-hill battle, kalau kita mau menggunakan istilah militer. Korupsi di Indonesia sudah sedemikian rupa terajut sebagai “budaya” sehingga kebanyakan orang memandangnya oke-oke saja; sudah bertumbuh-liar seperti kanker mematikan, lintas lembaga, lintas suku, lintas agama dst.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, sebagai umat Kristiani selalu baiklah bagi kita untuk melibatkan diri kita dalam kegiatan-kegiatan anti-korupsi, namun kita harus menghindarkan diri dan tindakan kekerasan, tanpa catatan/syarat apa pun. Jalan Yesus Kristus adalah jalan tanpa-kekerasan! Dan, janganlah lupa untuk senantiasa mendoakan negara dan bangsa kita serta para pemimpin di segala bidang (termasuk Gereja), agar mereka masing-masing mempunyai hati seorang gembala dan sadar bahwa tugas pekerjaan mereka adalah melayani, bukan dilayani!

Cilandak, 9 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS