SAHABAT-SAHABAT YESUS

SAHABAT-SAHABAT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Jumat 11-5-12)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Santo Ignatius dari Laconi, Biarawan Kapusin

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang terhadap yang lain. (Yoh 15:12-17)

Bacaan Pertama: Kis 15:22-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 57:8-12

Sungguh suatu kehormatan menjadi sahabat-sahabat Yesus! Kita tidak sembarang memakai gelar “sahabat-sahabat Yesus” itu, karena memang diberikan oleh Allah sendiri. Yesus mengasihi kita masing-masing sebagai pribadi dengan kasih yang tak dapat dilampaui oleh kasih yang mana pun juga. Dia bersabda kepada para murid-Nya: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Karena ini adalah yang dilakukan Yesus bagi kita, maka kita dapat sepenuhnya percaya bahwa kita memang adalah para sahabat-Nya.

Yesus adalah seorang sahabat yang paling sempurna dari segala sahabat. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih yang diberikan-Nya kepada kita. Kasih-Nya bukanlah kasih yang bersifat abstrak, melainkan suatu kasih penuh afeksi yang dapat kita alami. Dia menunjukkan kasih-Nya bagi kita dengan cara-cara konkret. Yang paling penuh dengan kuat-kuasa tentunya adalah kerelaan-Nya untuk mati bagi kita. Akan tetapi, setiap hari Dia menawarkan karunia-karunia-Nya: “kesabaran” manakala jiwa kita terancam iritasi sehingga mau berontak; “kelemah-lembutan” manakala kekerasan sudah mulai melanda diri kita; “hikmat-kebijaksanaan” manakala hikmat manusiawi kita mulai habis. Dan akhirnya ada karunia “keselamatan” – pengampunan kita, kelahiran baru kita, dan janji akan hidup kekal!

Pada saat Roh Kudus menuliskan kata “sahabat” pada hati kita, kita mulai mencicipi kasih Yesus bagi kita. Menuduh dan menghukum orang lain – dan diri sendiri – selesailah sudah. Rasa takut, rasa bersalah dan rasa cemas serta was-was digantikan oleh pengampunan, dapat menerima, dan damai-sejahteera. Keyakinan bahwa hidup kita terjaga akan menghilangkan rasa ragu dan takut. Hidup kita pun akan memiliki tujuan yang lebih besar selagi kita menanggapi panggilan Yesus sebagai terang dunia dan garam bumi (Mat 5:13-16). Setiap hal yang diterima oleh Yesus dari Bapa-Nya juga menjadi bagian dalam roh kita, dan kita pun mulai menghasilkan buah (Yoh 15:16).

Setiap hari, banyak kali dalam sehari, Yesus menawarkan kepada kita bukti-bukti kasih-Nya dan persahabatan-Nya. Tidak bagi kita saja – tidak untuk disimpan di bawah bantal atau tabungan rohani – melainkan dimaksudkan agar kita dimampukan untuk mengasihi orang-orang lain sebagaimana kita sendiri dikasih oleh-Nya. Dengan cara ini, kita mematuhi perintah-Nya untuk saling mengasihi, dengan demikian semakin serupa dengan gambaran-Nya (Yoh 15:12). Inilah yang dimaksudkan oleh Yesus bagi Gereja-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah memilih kami sebagai sahabat-sahabat-Mu. Kami sungguh bersukacita dalam persahabatan ini dan dalam transformasi yang dibawa oleh Roh Kudus dalam hidup kami. Kami mengkomit diri kami untuk mengasihi-Mu, melayani-Mu, dan untuk taat kepada-Mu sepanjang hidup kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 15:22-31), bacalah tulisan yang berjudul “RESOLUSI KONFLIK DALAM GEREJA AWAL – LANJUTAN” (bacaan tanggal 11-5-12) dalam situs/ blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012. Bacalah juga tulisan berjudul “PERINTAH DARI SEORANG SAHABAT: SUPAYA KAMU SALING MENGASIHI, SEPERTI AKU TELAH MENGASIHIMU” (bacaan tanggal 27-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012.

Cilandak, 19 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS BERBICARA MENGENAI KASIH BAPA-NYA

YESUS BERBICARA MENGENAI KASIH BAPA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Kamis 10-5-12)

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitamu menjadi penuh.” (Yoh 15:9-11)

Bacaan Pertama: Kis 15:7-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10

Ketika Dia duduk bersama dengan para murid-Nya pada meja perjamuan, Yesus mengetahui bahwa inilah malam terakhir mereka berkumpul bersama sebelum penyaliban-Nya. Dari segala hal yang dapat dikatakan-Nya, Dia berbicara kepada mereka tentang kasih Bapa – kasih yang ditawarkan secara gratis kepada mereka oleh Bapa surgawi. Dapatkah daya pikir manusia memahami secara penuh realitas yang mulia seperti itu? Kasih yang sama dengannya Bapa mengasihi Yesus – kasih yang intim, yang memberikan diri sendiri, kasih kreatif secara berlimpah yang disyering di antara anggot Trinitas – adalah warisan kita melalui Yesus. Ia mengasihi kita sepenuh dan selengkap Bapa mengasihi Dia!

Bagaimana Bapa mengasihi Yesus? Sepanjang sejarah, kita melihat Allah bekerja untuk membawa kemuliaan bagi Putera-Nya, menciptakan alam semesta yang akan mencerminkan keindahan-Nya. Bahkan ketika kita – mahkota ciptaan-Nya – telah jatuh ke dalam dosa dan kegelapan, Allah berjanji untuk menebus kita sehingga Putera-Nya sekali dapat menerima kasih dan penyembahan kita.. Ketika Yesus dengan sukarela mempersembahkan diri-Nya untuk kesalamatan kita, Bapa membangkitkan-Nya dari kematian dan menempatkan-Nya di atas takhta dalam kemuliaan, mencurahkan kepada-Nya kehormatan dan kasih. Hati Yesus yang dipenuhi ketaatan yang rendah hati begitu menyenangkan Bapa sehingga Dia tidak menahan apa saja bagi Putera-Nya.

Inilah kasih Yesus bagi kita! Melalui kebangkitan-Nya, Dia telah membawa kita ke dalam persatuan kasih-Nya yang intim dengan Bapa-Nya. Setiap hal yang dilakukan oleh Yesus, baik dalam sejarah maupun dalam kehidupan kita, berasal dari kasih-Nya kepada kita. Karena Dia sangat senang berbuat baik bagi kita, Yesus secara tetap menawarkan kepada kita sebagian dalam hidup-Nya melalui doa dan sakramen.

Pengalaman akan kasih Yesus kepada kita yang tak pernah goyah itu dapat mencairkan kekerasan apa saja yang ada dalam hati kita. Kasih Yesus itu dapat menggerakkan kita menjadi taat pada perintah-perintah Allah. Kasih Yesus dapat mengajar kita mensyeringkannya dengan orang-orang lain. Selagi kita semakin mengakarkan diri kita secara lebih penuh dalam Kristus, maka hati kita dimurnikan dan perspektif kita pun berubah. Kita belajar untuk menyerahkan diri kita secara lebih lengkap kepada Allah, dan kita melihat dosa dan godaan secara perlahan-lahan menyusut pergi. Sebagai gantinya, kita mengalami sukacita dan pengharapan sebagai anak-anak Allah, sepenuhnya dikasihi, diterima, dan ditebus.

DOA: Tuhan Yesus, nyalakanlah api cintakasih-Mu dalam diri kami. Bukalah hati kami agar dapat menerima kasih yang dimiliki Bapa surgawi bagi kita – kasih sama yang Ia limpah-limpahkan kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-11), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH, KETAATAN DAN SUKACITA !!!” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kis 15:7-21), bacalah tulisan yang berjudul “RESOLUSI KONFLIK DALAM GEREJA AWAL” (bacaan tanggal 26-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2011.

Cilandak, 19 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

POKOK ANGGUR DAN RANTING-RANTINGNYA

POKOK ANGGUR DAN RANTING-RANTINGNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Rabu 9-5-12)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Katarina dari Bologna, Perawan – Ordo II/Klaris

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8).

Bacaan Pertama: Kis 15:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

Di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, teristimewa di kalangan orang-orang muda sudah cukup lama ada gejala yang mengekspresikan pandangan berikut ini: “Yesus ya, tetapi Gereja tidak!” Saya yakin dalam masyarakat kita pun ada hal yang serupa kalau pun tidak sama.

Bagi banyak orang memang terdapat pemisahan yang sungguh riil antara mengikuti Yesus dan menjadi anggota Gereja. Motif-motif mereka cukup banyak. Beberapa yang cukup sering terdengar a.l. adalah: (1) Gereja terlalu besar, formal dan impersonal; (2) Kami pergi ke gereja dan merasa seakan kami berdiri dalam sebuah toserba atau stasiun kereta. Sedikit saja terasa adanya kehangatan, kasih atau persekutuan; (3) Yang kami lakukan dalam gereja hanyalah duduk, berdiri, berlutut dan sekali-kali turut bernyanyi dan menyerukan aklamasi bersama orang-orang lain; (4) Homili atau khotbah-khotbahnya seringkali tidak membumi, jauh dari kenyataan hidup kami sehari-hari; (5) Bacaan-bacaan terasa aneh atau sudah kami kenal baik; (6) Kami merasa sulit mengasosiasikan iman dan cintakasih kami kepada Yesus Kristus dengan Gereja yang begitu melembaga.

Sebaliknya, kami merasa tertarik kepada pribadi Yesus: (1) Pesan kasih Yesus, pelayanan-Nya dalam menyembuhkan serta mengampuni, dan keakraban-Nya dengan Bapa di surga sungguh berkesan di hati kami; (2) Kami ingin menjadi anggota sebuah komunitas di mana kami dikasihi dan diterima; (3) Kami tidak mau dianggap sekadar sebagai satu wajah lain lagi dalam jemaat; (4) Kami ingin merasakan iman kami sebagai suatu kekuatan vital dalam hidup kami sehari-hari: (5) Bukan struktur atau organisasi yang penting, melainkan relasi kami dengan Yesus dan kasih antara kami satu sama lain; (6) Bagi banyak dari kami, struktur adalah batu sandungan bagi pertumbuhan spritualitas.

Suatu pemisahan antara Yesus dan Gereja institusional sungguh ironis. Konsili Vatikan II memakai banyak tenaga dan wawasan dalam mempertimbangkan sifat dan misi Gereja. Pengharapan dari Konsili adalah untuk melibatkan umat beriman dalam kehidupan Gereja. “Umat adalah Gereja” tidak dimaksudkan sebagai sekadar slogan. Diharapkan bahwa umat Allah akan memainkan peranan yang aktif dan bertanggung-jawab dalam kehidupan gereja lokal. Rasa memiliki (sense of belonging) yang lebih besar dan identitas umat sebagai Gereja juga diperkokoh. Visi Konsili Vatikan II masih harus terus diwujudkan. Walaupun begitu, tidak ada orang yang dapat menyangkal bahwa berbagai kemajuan telah berhasil diwujudkan.

Bacaan Injil hari ini memberikan kepada kita sebuah gambaran yang indah dan kuat tentang Gereja sebagai sebuah komunitas iman dan persekutuan (Latin: communio) dengan Yesus. Bukannya memisahkan Gereja dari Yesus, gambaran yang diberikan justru mengasosiasikan para anggota komunitas dengan Pribadi Yesus. Yesus bersabda: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15:5). Gambaran tentang pokok anggur dapat kita lihat dalam Perjanjian Lama (Yes 5:2; Yer 2:21). Pokok anggur dipahami sebagai umat pilihan Allah. Allah mengasihi dan merawat pokok anggur itu agar menghasilkan banyak buah. Hal ini hanya mungkin apabila komunitas itu hidup dalam relasi yang intim dengan Yesus. Yesus berdiam dalam hati para murid-Nya, memberikan kepada mereka rahmat yang diperlukan untuk mendatangkan karya-karya Roh (teristimewa kasih persaudaraan). Di luar Yesus tidak akan ada pertumbuhan yang langgeng dan/atau tahan lama. Tanpa Yesus segala upaya baik yang dilakukan – cepat atau lambat – dapat menjadi rusak disebabkan oleh egoisme dan perpecahan-perpecahan.

Gambaran pokok anggur dan ranting-rantingnya tidaklah bertentangan dengan Gereja sebagai lembaga (institusi). Gambaran ini dapat dipakai sebagai suatu upaya indah untuk mendorong (juga mengoreksi) pertumbuhan lebih lanjut dalam Yesus. Manakala struktur-struktur institusional menjadi tujuan dalam dirinya, maka hal ini sama saja dengan penyembahan berhala (Inggris: idolatry). Struktur-struktur gerejawi tetap diperlukan untuk menjaga ajaran Gereja, penyembahan/tata ibadat, dan nilai-nilai moral. Gereja hari ini jauh lebih besar dan jauh lebih kompleks daripada Gereja Perdana pada abad pertama. Kita membutuhkan struktur-struktur untuk menangani jumlah anggota jemaat yang memang tidak sedikit. Akan tetapi, kita tidak pernah boleh memperkenankan struktur-struktur menjadi begitu dominan sehingga merusak persekutuan dan relasi kita dengan Yesus.

Gambaran pokok anggur dan ranting-rantingnya mendorong serta menyemangati kita untuk mempererat persekutuan dalam komunitas iman. Sebuah komunitas iman yang dipenuhi Roh Kudus adalah sebuah komunitas yang memperkenankan anggotanya untuk mengenal Yesus dengan lebih baik dan untuk para anggotanya saling mengasihi sebagai saudari dan saudara dalam Yesus Kristus. Apabila kita sungguh mengenal Yesus (bukan Yesus sebagai ide, melainkan sebagai seorang Pribadi yang hidup dalam kehidupan kita) dan ada saling mengasihi antara kita, maka karya-karya Roh Kudus menjadi terbukti-nyata.

Kelirulah kalau kita berpandangan “Yesus ya, tetapi Gereja tidak!” Gereja dipanggil untuk menjadi “pengingat” historis-konkret akan kasih Allah yang tanpa syarat kepada semua orang dan ciptaan-Nya. Gereja dipanggil untuk semakin dalam bersatu dengan Yesus dan menghasilkan buah Roh: “kasih, sukacita, damai-sejahtera, persekutuan dan integritas” (bdk. Gal 5:22-23). Kita semua dipanggil untuk membantu membuat Gereja menjadi sebuah komunitas di mana Roh Kudus berdiam dan Yesus dikenal serta dikasihi. Panggilan ilahi sedemikian sungguh sangat menantang dan tidak pernah membosankan.

DOA: Tuhan Yesus, tanpa Engkau kami, para murid-Mu, tidak dapat berbuat apa-apa. Ajarlah kami bagaimana seharusnya kami berdiam dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “JIKALAU KAMU TINGGAL DI DALAM AKU” (bacaan tanggal 9-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012.

Cilandak, 19 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAMAI SEJAHTERA-KU KUBERIKAN KEPADAMU

DAMAI SEJAHTERA-KU KUBERIKAN KEPADAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Selasa 8-5-12)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan Beato Yeremias dari Salakhia

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku, tetapi dunia harus tahu bahwa aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku (Yoh 14:27-31a).

Bacaan Pertama: Kis 14:19-28; Mazmur Tanggapan: 145:10-13,21

Pada “Perjamuan Terakhir”, Yesus meninggalkan damai-sejahtera-Nya bagi para murid-Nya. Damai-sejahtera yang diberikan oleh Yesus ini adalah kasih-Nya yang kekal dan keselamatan daripada-Nya yang kekal pula. Kita memiliki damai-sejahtera ini apabila kehidupan kita berpusat pada Yesus dan relasi-Nya dengan kita yang penuh kasih, sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Sayangnya, ide kita tentang damai-sejahtera tidak selalu sama dengan damai-sejahtera yang diberikan oleh Yesus. Damai-sejahtera bagi kita seringkali berarti menikmati saat hening, bebas dari kecemasan untuk waktu tertentu. “Damai-sejahtera” sedemikian dapat dengan cepat dibuat menjadi berantakan oleh hal-hal kecil yang terjadi pada hari kita – perselisihan, kemacetan di jalan, sakit-penyakit yang tak henti-hentinya. Damai-sejahtera yang terbatas pada bagaimana kita merasakan segala sesuatu pada saat-saat tertentu, dan sementara semuanya baik maka kita tidak merasa cemas, jadi damai-sejahtera seperti ini paling-paling merupakan bayangan dari damai-sejahtera yang diberikan oleh Yesus.

Damai-sejahtera yang diberikan oleh Yesus adalah keselamatan dan kehidupan. Karunia damai-sejahtera dari Yesus tergantung pada hal yang dikatakan-Nya kepada para murid – saling mengasihi (Yoh 13:34), menuruti perintah-perintah-Nya (Yoh 14:15,23). Apabila kita berusaha keras – melalui kuasa Roh Kudus – untuk saling mengasihi Yesus dan mengasihi taat kepada-Nya, kita akan mengenal kepenuhan damai-sejahtera yang diberikan-Nya kepada kita. Damai-sejahtera ini kokoh dan kekal; tidak dapat digoncang oleh pencobaan-pencobaan yang kita hadapi sehari-hari karena dibangun dalam kasih Kristus – dan tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih ini (Rm 8:35-39).

Damai-sejahtera Yesus berasal dari hidup dekat dengan diri-Nya: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku” (Yoh 16:33). Kita tahu bahwa setelah kematian Yesus dan kebangkitan-Nya, para rasul harus menghadapi banyak pencobaan; mereka dijebloskan ke dalam penjara, ditimpuki batu, dianiaya oleh para penguasa. Kendati demikian, mereka terus mewartakan Injil karena kasih mereka kepada Yesus. Damai-sejahtera yang mereka alami terikat pada Kerajaan Allah dan kemajuannya. Karena relasi mereka dengan Yesus, para rasul/murid mampu memiliki damai-sejahtera walaupun menanggung derita dan hidup mereka penuh perjuangan. Hal ini berarti bahwa kita juga dapat mengenal dan mengalami damai-sejahtera bilamana kita memiliki keprihatinan atas upaya memajukan Kerajaan Allah dalam hidup kita sendiri, keluarga kita, gereja kita dan komunitas kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami mengetahui bahwa Engkau sangat mengasihi kami. Engkau ingin memberikan kepada kami damai-sejahtera-Mu. Tolonglah kami untuk mau dan mampu melibatkan diri dalam upaya memajukan Kerajaan-Mu, agar damai-sejahtera-Mu dapat menyebar-luas ke seluruh dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 14:19-28), bacalah tulisan yang berjudul “UNTUK MASUK KE DALAM KERAJAAN ALLAH, KITA HARUS MENGALAMI BANYAK SENGSARA” (bacaan untuk tanggal 8-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012. Untuk mendalami Bacaan Injil (Yoh 14:27-31a), bacalah tulisan yang berjudul “DUNIA HARUS TAHU BAHWA AKU MENGASIHI BAPA” (bacaan tanggal 24-5-11 ) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori 11-05.

Cilandak, 18 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

UNTUK DIPENUHI ROH KUDUS, KITA HARUS TAAT KEPADA ALLAH DAN PERINTAH-PERINTAH-NYA

UNTUK DIPENUHI ROH KUDUS, KITA HARUS TAAT KEPADA ALLAH DAN PERINTAH-PERINTAH-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Senin 7-5-12)

“Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya, “Tuhan, apa sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” Jawab Yesus “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. Siapa saja yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. (Yoh 14:21-26)

Bacaan Pertama: Kis 14:5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16

“Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23).

Janji indah bahwa Allah akan berdiam dalam diri kita dialamatkan kepada orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Allah mengundang kita semua yang percaya untuk dituntun ke dalam hakekat kehidupan Trinitas (Allah Tritunggal Mahakudus) agar dapat ikut ambil bagian dalam keilahian-Nya.

Antara Yesus dan para murid-Nya terjalin suatu relasi yang indah: Yesus mengajar mereka, menghibur mereka, menolong mereka dan menyembuhkan mereka. Dalam kehadiran-Nya, mereka memperoleh kekuatan, hikmat-kebijaksanaan dan pengetahuan. Namun sekarang Yesus akan segera kembali kepada Bapa-Nya. Apakah yang harus mereka lakukan? Siapakah yang akan mengarahkan mereka? Siapakah yang dapat menghibur mereka? Ternyata mereka tidak perlu merasa begitu khawatir, karena meskipun mau pergi meninggalkan para murid-Nya, Dia samasekali tidak melupakan mereka, karena Allah mengutus Roh Kudus dalam nama-Nya (Yoh 14:26).

Dengan memberikan Roh-Nya, Yesus mampu untuk memberikan kasih dan hidup-Nya secara berkesinambungan dan berlimpah walaupun Ia tidak lagi hadir secara fisik di dekat para murid-Nya. Melalui Roh-Nya yang berdiam dalam diri kita, kita tidak perlu merasa terpisahkan lagi dari Yesus. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, dosa – yang memisahkan kita dengan Bapa surgawi – tidak lagi mempunyai kuasa atas diri kita. Dengan menyerahkan diri kita kepada karya Roh Kudus, kita dapat disembuhkan dan ditransformasikan ke dalam gambar dan rupa Allah sesuai rencana semula (Kej 1:26,27).

Akan tetapi, untuk menerima Roh Kudus, kita perlu/harus taat kepada Allah dan perintah-perintah-Nya (Yoh 14:21,23). Sejak awal sejarah manusia, ketika dosa memasuki dunia, maka “ketidaktaatan”-lah – bukan ketaatan – yang lebih sering mencirikan relasi kita dengan Allah. Di sisi lain, Yesus adalah sungguh Putera Allah yang mengajar kita jalan ketaatan kepada Bapa-Nya (Flp 2:8; bacalah keseluruhan Flp 2:5-11) dan melalui ketaatan-Nya kita dibenarkan. Paulus menulis: “Sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar” (Rm 5:19).

Roh Kudus dianugerahkan kepada orang-orang yang taat kepada Allah (lihat Kis 5:32). Ketaatan digambarkan sebagai satu syarat yang diperlukan dari seorang pribadi untuk menerima Roh Kudus (Yoh 14:15-16). Ketaatan ini tidaklah didasarkan pada kekuatan keinginan kita sendiri, melainkan berdasarkan pada penyerahan kita kepada kehendak Allah. Kita dapat mengenal dan mengalami kehadiran Allah dan/atau Yesus selagi kita mentaati perintah-perintah-Nya. Dengan taat kepada Yang Ilahi, kita akan mampu mengalami kehadiran Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita, yang terus mengajar dan menghibur kita.

DOA: Tuhan Yesus, oleh rahmat-Mu tolonglah kami agar senantiasa taat kepada-Mu sebagaimana Engkau taat kepada Bapa di surga. Semoga Roh Kudus selalu memenuhi diri kami masing-masing dengan hidup-Nya. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 14:5-18), silahkan baca tulisan yang berjudul “SENANTIASA BERPEGANG TEGUH PADA PANGGILAN ALLAH” (bacaan tanggal 7-5-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN DIUTUS OLEH BAPA DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 23-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2011.

Cilandak, 18 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKULAH POKOK ANGGUR YANG BENAR

AKULAH POKOK ANGGUR YANG BENAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V, 6-5-12)

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8).

Bacaan Pertama: Kis 9:26-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:26-28,30-32; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:18-24

Yesus bersabda, “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya” (Yoh 15:1). Sebagai pokok anggur yang benar, Yesus adalah penggenapan dari segala sesuatu yang dikatakan tentang Israel sebagai kebun anggur pilihan Allah. Semua hal ini hanyalah bayangan dari realitas yang kita kenal sebagai Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah sungguh Putera terkasih dari Bapa di surga, Sang Terpilih dalam artian yang sangat unik. Relasi intim yang terjalin antara Bapa dan Yesus kemudian “diperpanjang” sampai kepada para murid-Nya: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15:5).

Ini adalah sebuah alegori yang agak berbeda dengan perumpamaan dalam arti parabel (Inggris: parable). Dalam sebuah parabel, hanya poin utama sajalah yang dimaksudkan untuk diterapkan dalam kehidupan. Sebaliknya, dalam sebuah alegori semua detil diterapkan. Selagi alegori pokok anggur diceritakan, para murid mendengar banyak aspek relasi Kristus dengan mereka. Tema-tema seluruh diskursus dalam Perjamuan Terakhir dapat diringkaskan sebagai berikut: (1) Walaupun Yesus sedang berada pada titik siap untuk berpisah secara fisik, pekerjaan-Nya akan berlanjut; (2) para murid akan diberi amanat untuk melanjutkan tugas-Nya; (3) mereka akan menerima energi ilahi untuk melaksanakan tugas itu.

Pekerjaan Bapa sebagai pengusaha adalah memotong ranting yang tidak berbuah dan membersihkan ranting yang berbuah, juga diterapkan pada kehidupan. Pohon anggur adalah sebatang tetumbuhan yang bertumbuh dengan cepat dan harus dipotong, dipangkas secara drastis apabila ingin menghasilkan buah secara berlimpah. Pemangkasan ranting yang tidak berbuah mengingatkan kita bahwa komunitas orang yang sungguh percaya itu dipisahkan dari mereka yang telah “dipangkas” dari Kristus melalui/karena ketidak-percayaan mereka. Pembersihan ranting yang berbuah mengingatkan kita pada proses pemurnian atau pembersihan. Jadi, mengingatkan kita pada peristiwa pembasuhan kaki para murid oleh Yesus sebelum Perjamuan Terakhir, ketika Yesus berkata kepada Petrus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku” (Yoh 13:8). Akan tetapi, sekarang Yesus meyakinkan mereka kembali para murid bahwa mereka telah dibersihkan oleh ajaran-ajaran-Nya …… “karena firman yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 15:3).

Poin berikutnya dalam alegori ini adalah kebenaran yang indah bahwa para murid merasa nyaman dalam Kristus, seperti ranting dengan pokok anggurnya. Rumah adalah tempat di mana kita berdiam dan di mana kita kembali dan kembali lagi setiap kali kita di luar. Inilah bagaimana seorang murid menemukan bahwa hidup-Nya berakar dan bertumpu pada Kristus dan dia selalu kembali kepada Kristus untuk arti, terang dan makanan. Yesus bersabda: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5). Yang dimaksudkan itu buah macam apa? Kita memperoleh jawabannya dalam Bacaan Pertama: “Dan inilah perintah-Nya: supaya kita percaya kepada nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita” (1Yoh 3:23).

Percaya berarti membuat pikiran (akal budi) kita dicerahkan oleh ajaran Yesus, untuk mempunyai kepercayaan kita yang sepenuhnya berakar pada diri-Nya, dan memperoleh damai-sejahtera kita dalam pengampunan ilahi-Nya. Ketika kita begitu berakar dalam Yesus, maka kita dengan sukarela akan membuka hidup kita dalam cinta kasih praktis bagi orang-orang lain dengan kasih Yesus sendiri.

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7). Jawaban atas doa dijamin … namun catatlah syaratnya: “jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu”. Kenyataannya adalah bahwa siapa saja yang begitu kokoh berakar dan bertumpu dalam Kristus hanya akan meminta apa saja yang merupakan kehendak Allah.

Poin terakhir berurusan dengan perpanjangan kemuliaan Bapa. Ada perasaan bahwa di mana karya Allah belum lengkap sampai kita meluaskan Kerajaan-Nya ke setiap bagian masyarakat.

“Alegori tentang pokok anggur dan ranting-rantingnya” ini mengajar kita bahwa menjadi seorang murid Yesus Kristus merupakan suatu panggilan yang agung. Kita ditantang untuk menjadi pelayan-Nya yang menghasilkan buah di tengah dunia dewasa ini. Dengan indah kita dijamin kembali bahwa sukses dalam tugas ini adalah karena energi ilahi yang ada dalam diri kita apabila kita hidup dalam Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau berbagi kehidupan ilahi-Mu dengan kami masing-masing. Biarlah segala sesuatu yang kami lakukan dipimpin oleh pengenalan akan kebenaran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “BAPA SURGAWI DIMULIAKAN JIKA KITA BERBUAH BANYAK” (bacaan tanggal 6-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012.

Cilandak, 17 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA SAJA YANG PERCAYA KEPADA-KU ……

SIAPA SAJA YANG PERCAYA KEPADA-KU ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah, Sabtu 5-5-12)

“Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat dia.” Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (Yoh 14:7-14).

Bacaan Pertama: Kis 13:44-52; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4

“Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu” (Yoh 14:12).

Menanggapi permintaan Filipus agar dapat melihat Bapa, Yesus menantang Filipus untuk percaya akan jalinan-istimewa relasi antara Bapa dan Putera. Percaya kepada Putera membuka pintu kepada kebenaran tentang Siapa Dia sebenarnya, dan sementara kita lebih memahami lagi Siapa Yesus itu, kita pun akan memahami lebih dalam lagi tentang Bapa-Nya.

Yesus berbicara di bawah otoritas dan dengan otoritas Bapa-Nya dan Ia sendiri pun Allah (Yoh 12:49-50; 14:11; 1:1). Satu dari banyak aspek misi-Nya adalah menyatakan Bapa-Nya (Yoh 14:8-10), “bersaksi tentang kebenaran” (Yoh 18:37), dan memberikan kepada kita “kuasa supaya menjadi anak-anak Allah” (Yoh 1:12). Ini semua agar supaya kita dapat ikut ambil bagian dalam persatuan kekal antara Bapa dan Putera (Yoh 17:20-24).

Untuk memuliakan Bapa-Nya, Yesus berjanji kepada para murid-Nya, bahwa setelah kebangkitan-Nya dan Ia akan kembali kepada Bapa, dan apabila para murid-Nya percaya kepada-Nya, maka mereka akan melakukan bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada yang dilakukan-Nya. Karena para murid-Nya melakukan pekerjaan-pekerjaan sama seperti yang dilakukan oleh Yesus – memuliakan Bapa dengan membawa semua orang kembali ke dalam persatuan dengan Bapa dan Putera – maka Yesus akan melakukan apa saja yang mereka minta dalam nama-Nya. Dengan demikian para murid-Nya – seperti Yesus – pada akhirnya melakukan pekerjaan Bapa.

Janji Yesus kepada para murid-Nya yang pertama ini berlaku juga bagi kita semua, para murid-Nya di abad ke-21 ini. Dengan percaya kepada kebangkitan Yesus, kita sebenarnya ikut ambil bagian dalam persatuan antara Bapa dan Putera. Jadi, apa pun yang kita minta dalam nama Yesus, Ia akan melakukannya. Selagi kita mendengarkan suara Yesus, kita melaksanakan pekerjaan Bapa dan memuliakan baik Bapa maupun Putera. Kita memuliakan Bapa apabila kita bersatu dengan Yesus sebagaimana Yesus bersatu dengan Bapa.

Segala hal yang kita lakukan niscaya membawa konsekuensi, karena tindakan-tindakan kita mempunyai signifikansi kekal. Seperti juga Yesus, kita dipanggil untuk melaksanakan pekerjaan Bapa di dunia dengan memproklamasikan Kabar Baik dan turut memajukan Kerajaan Allah sehingga pekerjaan baik kita akan memuliakan Bapa surgawi.

DOA: Tuhan Yesus, kami bersukacita dalam kebangkitan-Mu karena melalui kebangkitan-Mu kami Kaubawa kembali ke dalam persatuan dengan Engkau dan Bapa di surga. Dalam nama-Mu kami bersoa agar karya Bapa tercapai melalui kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SAJA YANG TELAH MELIHAT AKU, IA TELAH MELIHAT BAPA” (bacaan tanggal 5-5-12) dalam situs/ blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “SIAPA SAJA YANG PERCAYA KEPADA-KU ……” (bacaan tanggal 21-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2011.

Cilandak, 17 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 143 other followers