JANGANLAH KITA MEMATUHI PERATURAN AGAMA TANPA KASIH

JANGANLAH KITA MEMATUHI PERATURAN AGAMA TANPA KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 22 Januari 2014)

HARI KELIMA PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

YESUS -1MENYEMBUHKAN ORANG YANG MATI TANGAN KANANNYAKemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!” Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: 1Sam 17:32-33,37,40-51; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-2,9-10

Allah memerintahkan orang-orang Yahudi untuk mengingat dan menguduskan hari
Sabat (Kel 20:8). Untuk menguduskan hari Sabat sesuai perintah Allah itu, orang-orang Yahudi menyusun suatu sistem hukum guna melindungi kesuciannya. Melakukan peraturan tentang hari Sabat penting karena hal itu membedakan mereka dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Yesus menguatkan klaim-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat (Mrk 2:28) pada saat Ia menyembuhkan seorang yang mati satu tangannya. Yesus mengetahui bahwa orang-orang Farisi berharap akan menjebak diri-Nya sebagai seseorang yang melanggar hukum Sabat jikalau Ia menyembuhkan orang itu. Oleh karena itu Yesus mengkonfrontir orang-orang Farisi itu dengan bertanya: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4). Ketika Yesus menyembuhkan orang itu, orang-orang Farisi secara murni legalistis memandang tindakan-Nya sebagai “kejahatan” karena Yesus telah membuat “profan” hari Sabat yang yang semestinya “sakral”, dengan melanggar hukum yang melarang penyembuhan pada hari Sabat, kecuali untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Di sisi lain, orang-orang Farisi itu memandang tindakan-tindakan mereka untuk menghancurkan Yesus sebagai hal yang “baik”, karena Yesus merupakan ancaman terhadap pemahaman mereka akan Allah.

Yesus adalah pemenuhan janji-janji Allah, yang menghantar kita ke dalam Kerajaan Allah. Bapa surgawi memberikan kuasa kepada Yesus untuk menyembuhkan, mengajar, dan mengampuni dosa-dosa. Karena Yesus itu memiliki belarasa dan belas kasih (Mrk 3:4-5), Yesus menempatkan martabat dan nilai manusia di atas hukum Sabat. Dalam menyembuhkan orang itu, Yesus menyatakan diri-Nya sendiri sebagai pemberi kehidupan yang sejati – sang Mesias, Putera Allah. Cerita penyembuhan orang lumpuh yang diturunkan dari atas atap rumah (Mrk 2:1-12), panggilan Lewi (Mrk 2:13-17), pertanyaan mengenai puasa (Mrk 2:18-22), dan isu mengenai bekerja di hari Sabat (Mrk 2:23-28), semua menunjuk kepada Yesus sebagai Mesias dari Allah yang menghantar kita menuju Kerajaan Allah.

Karena Yesus memiliki hasrat mendalam agar semua orang mengalami penyelamatan-Nya, maka penolakan orang-orang Farisi atas dirinya sungguh membuat diri-Nya sedih. Jika kita memilih untuk percaya kepada ide-ide kita sendiri dan bukannya percaya kepada kebenaran tentang siapa Yesus ini, maka kita pun membuat hati Yesus sedih. Sebagai seorang gembala yang baik, Yesus sungguh sedih apabila ada domba-Nya yang mengabaikan panggilan-Nya dan berjalan semaunya sendiri. Yesus sungguh menyadari bahwa si Jahat – layaknya seekor serigala – senantiasa menunggu kesempatan untuk menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba gembalaan. Dengan wafat di kayu salib dan bangkit dari antara orang mati, Yesus memberikan hidup-Nya agar kita “mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Lewat bimbingan Roh Kudus-Mu, buatlah agar kami senantiasa mematuhi hukum kasih-Mu sepanjang hidup kami. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 17:32-33,37,40-51), bacalah tulisan dengan judul “BELAJAR DARI CERITA ‘DAUD VS GOLIAT’” (bacaan untuk tanggal 22-1-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 20 Januari 2014 [Peringatan S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam-Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMETIK BULIR GANDUM PADA HARI SABAT

MEMETIK BULIR GANDUM PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Agnes, Perawan-Martir – Selasa, 21 Januari 2014)

HARI KEEMPAT PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN KRISTIANI

MURID-MURID YESUS MEMETIK GANDUM PADA HARI SABATPada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.” (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: 1Sam 16:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,27-28

“Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat” (Mrk 2:28). Kata-kata Yesus ini merupakan tantangan bagi orang-orang Farisi. Mereka mengajukan pertanyaan yang kelihatan legitim (Inggris: legitimate) berkaitan dengan tindakan-tindakan para murid Yesus yang jelas bertentangan dengan hukum Sabat. Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengkonfrontir kekerdilan pemikiran mereka tentang diri-Nya dan karya pelayanan-Nya. Yesus juga mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat.

Tindakan para murid memetik bulir gandum di hari Sabat jelas merupakan suatu pelanggaran peraturan-peraturan Yahudi berkaitan dengan hari Sabat. Ketika orang-orang Farisi itu mempertanyakan tindakan-tindakan para murid-Nya, Yesus menanggapinya dengan menyatakan otoritas-Nya dengan dua cara. Pertama, Ia memberi contoh dari Perjanjian Lama, yaitu pada waktu Daud dan para pengikutnya memakan roti suci yang ada di Rumah Allah. Dalam hal ini Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan Daud. Sebagaimana Daud mengizinkan para pengikutnya memuaskan rasa lapar mereka dengan mengorbankan kepatuhan yang ketat terhadap hukum, demikian pula Yesus dapat memperkenankan para murid-Nya untuk memuaskan rasa lapar mereka dengan memetik bulir gandum pada hari Sabat. Daud adalah pralambang dari Mesias yang dinanti-nantikan. Sudah diterima secara umum dalam masyarakat Yahudi bahwa sang Mesias yang dinanti-nantikan itu adalah seorang keturunan Daud. Jadi, Yesus mempunyai semacam hak prerogatif untuk mengupayakan agar kebutuhan-kebutuhan para murid-Nya terpenuhi; mereka yang telah meninggalkan segala milik mereka untuk mengikuti sang Rabi dari Nazaret dalam pelayanan-Nya kepada orang banyak.

Kedua, Yesus memproklamasikan bahwa Allah menciptakan hari Sabat agar dapat bermanfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Barangkali juga Yesus sedang memikirkan Kel 20:8-11 ketika Dia berkata: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk 2:27). Oleh karena itu hukum harus ditafsirkan dan diamati dalam terang dwi-perintah untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Yesus meringkas otoritas-Nya dalam pernyataan final-Nya bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:28). Dengan melakukan itu, Yesus tidak membatalkan hukum Sabat, melainkan menafsirkannya dalam terang karya penyelamatan-Nya.

Cerita tentang konfrontasi ini mengundang kita untuk melihat terobosan dari Kerajaan Allah. Sebagaimana pra-konsepsi orang-orang Farisi tentang karya pelayanan Yesus dan hukum dipertanyakan, maka kita pun ditantang untuk memahami bahwa Yesus jauh lebih daripada sekadar seorang manusia atau seorang guru yang baik. Anak Manusia adalah Tuhan atas segala sesuatu, bahkan atas hari Sabat!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu melihat dengan jelas otoritas dan martabat-Mu sebagai Tuhan. Engkau harus makin besar, tetapi kami harus makin kecil (bdk. Yoh 3:30). Kami ingin hidup seturut hukum kasih-Mu dan di bawah kekuasan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 16:1-13), bacalah tulisan dengan judul “DAUD DIURAPI MENJADI RAJA” (bacaan tanggal 21-1-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 19 Januari 2014 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MURID-MURID YESUS DAN HAL IKHWAL BERPUASA

MURID-MURID YESUS DAN HAL IKHWAL BERPUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Senin, 20 Januari 2014)

Keluarga Fransiskan Konventual (OFMConv.): Peringatan S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam-Martir

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAPada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.” (Mrk 2:18-22)

Bacaan Pertama: 1Sam 15:16-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9;16-17,21,23

Hari “puasa besar” dalam liturgi agama Yahudi adalah “Hari Raya Pendamaian” (Inggris: Day of Atonement; A day of Solemn Rest; Ibrani: Yom Kipur). Bagi orang Yahudi, berpuasa pada hari itu merupakan suatu syarat untuk termasuk dalam atau tergolong sebagai umat Allah (Im 23:26-29). Orang-orang Yahudi juga berpuasa pada hari-hari lainnya karena devosi pribadi. Baik para murid Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi berpuasa (Mrk 2:18), malah ada juga sebagian dari orang Farisi berpuasa dua kali seminggu. Orang-orang menjadi penasaran mengapa murid-murid Yesus tidak mengikuti contoh orang-orang Farisi.

Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang itu dengan mengibaratkan para murid-Nya sebagai para sahabat mempelai laki-laki dalam sebuah pesta pernikahan. Dengan mengidentifikasikan diri-Nya sebagai sebagai sang mempelai laki-laki, maka Yesus sebenarnya mengidentifikasikan diri-Nya dengan seorang tokoh mesianis dan mengindikasikan bahwa dalam Dia Allah ada bersama dengan mereka, yaitu para murid-Nya. Kehadiran sang mempelai laki-laki merupakan penyebab bagi mereka untuk bersukacita. Yohanes datang untuk menyerukan pertobatan sehubungan dengan penghakiman yang akan datang. Puasa yang dilakukan oleh para murid Yohanes menunjukkan antisipasi yang diungkapkan dalam simbol-simbol rasa sedih dan pertobatan. “Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka” (Mrk 2:20). Ini merupakan alegoria dari kematian Yesus, pada saat mana para murid-Nya akan berpuasa sebagai suatu tanda berkabung sampai saat Ia datang kembali dalam kemuliaan.

Perumpamaan tentang “kain baru dan baju tua” serta “anggur baru dan kantong kulit tua” menggambarkan hubungan yang ada antara segala sesuatu yang diberikan oleh Allah guna mempersiapkan orang-orang akan kedatangan Yesus sebagai Mesias dan “orde baru” yang didirikan dengan kedatangan-Nya. Dalam Yesus, “orde baru” itu telah datang. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang itu kepada Yesus mencerminkan ketegangan spiritual yang ada antara “yang lama” dan “yang baru”. Yesus menggunakan perumpamaan dengan menggunakan kain dan anggur sebagai sebagai gambaran. Yesus mengajarkan bahwa kegunaan “yang lama” janganlah sampai dirusak oleh “yang baru”, sehingga dua-duanya terbuang. Mengikutsertakan “yang lam” dan “yang baru” harus dilakukan sedemikian rupa sehingga menjaga hal apa saja yang baik dari “yang lama” dan tidak kehilangan kebaikan dari “yang baru”.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah mempelai laki-laki yang telah menghantar kami untuk sampai ke Kerajaan Allah, dan dalam Engkau, Allah ada bersama dengan kami. Semoga Roh Kudus-Mu mengajar kami untuk menghargai segala sesuatu yang baik, lama maupun baru, sehingga dengan demikian kami tidak menolak apa pun yang diberikan guna memajukan Kerajaan Allah di atas bumi dan kami pun dapat sepenuhnya merangkul hidup baru yang Kauberikan kepada kami. amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “HAL BERPUASA” (bacaan tanggal 20-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 17 Januari 2014 [Peringatan S. Antonius, Abas]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK DOMBA ALLAH

ANAK DOMBA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun A] – 19 Januari 2014)

HARI KEDUA PEKAN DOA SEDUNIA

BAPTISAN YESUS - 1Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksudkan ketika kukatakan: Kemudian daripada aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun dulu tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”
Selanjutnya Yohanes bersaksi, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun dulu tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34)
Bacaan Pertama: Yes 49:3,5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-10; Bacaan Kedua: 1Kor 1:1-3

Setiap kali kita merayakan Ekaristi Kudus, maka kata-kata Yohanes Pembaptis ini diingat kembali: “Inilah Anak Domba Allah yang telah menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya!” Para penulis Kitab Suci tidak merasa ragu untuk mencampur-aduk metafora mereka. Kadang-kadang Yesus adalah gembala dari kawanan domba dan kadang-kadang Ia sendiri dilihat sebagai anak domba.

Gambaran Yesus sebagai anak domba bertumbuh dari pemikiran Yahudi yang kaya serta kompleks namun terselubung. Darah anak domba yang dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan ambang atas pintu setiap rumah orang Yahudi (Kel 12:7,22) menjelang “keluaran” bangsa Yahudi dari perbudakan di tanah Mesir merupakan tanda untuk menyelamatkan mereka dari tulah TUHAN atas keluarga-keluarga Mesir. Peringatan tahunan atas pembebasan ini menjadi apa yang dinamakan Pesta Paskah, klimaks dari penanggalan Yahudi. Anak domba berumur satu tahun yang berjumlah besar disembelih dan kelompok-kelompok keluarga makan daging anak domba dalam perjamuan suci yang mengikat mereka bersama dalam persekutuan sangat erat satu sama lain dan dengan Allah sendiri. Mereka makan bersama sambil berdiri, dan berpakaian seperti hendak melakukan perjalanan.

Dalam kronologi Injil Yohanes, kematian Yesus mengambil tempat tepat pada saat ketika anak-anak domba Paskah sedang disembelih. Dan rituale instruksi mengenai kurban anak domba yang dipersembahkan berlaku juga untuk Yesus: “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan” (Yoh 19:36).

Komunitas Kristiani sangat menyukai lambang anak domba sejak awal sejarah Gereja. Lebih dari 20 tahun sejak kematian Yesus Kristus, suatu acuan kepada sepucuk surat Paulus menyarankan bahwa para pembacanya sudah familiar dengan lambang ini: “Sebab anak domba Paskah kita, yaitu Kristus, juga telah disembelih” (1Kor 5:7).

LAMB OF GOD - 13Satu lagi gagasan penting di belakang lambang anak domba ini adalah praktek mempersembahkan kurban berupa hewan sebagai ganti apa yang menjadi utang orang kepada Allah. Melalui persembahan kurban hewan, rasa terima kasih penuh syukur dikembalikan kepada Allah untuk kelahiran dari anak sulung. Melalui persembahan kurban itu dibayarlah tebusan atas nama seorang pendosa. Ide pembayaran melalui substitusi berasal dari kata-kata di dalam surat Petrus yang pertama: “Sebab kamu tahu bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1Ptr 1:18-19).

Pilihan Yesaya 49 untuk bacaan pertama hari ini mengundang kita untuk menafsirkan bacaan Injil hari dalam terang gambaran Yesaya tentang Hamba YHWH. Sesungguhnya, para ahli Kitab Suci mengatakan kepada kita bahwa kata “Anak Domba Allah” dapat diartikan juga sebagai “Hamba YHWH (Allah)”. Dalam terang “Nyanyian Hamba YHWH yang menderita” dalam kitab Yesaya, Yesus dipahami sebagai seekor anak domba lemah lembut dan tidak bersalah yang dibawa ke tempat pembantaian sebagai ganti orang-orang lain: “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaaran kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi YHWH telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa kepembantaian……” (Yes 53:4-7).

Ketika Hosti Suci diangkat di depan mata kita pada waktu Misa Kudus, maka kata-kata Yohanes Pembaptis terdengar lagi untuk mengungkapkan iman-kepercayaan kita: “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia.” Sungguh terberkati dan berbahagilah mereka yang dipanggil ke perjamuan ini. Dalam Ekaristi Yesus adalah sang Anak Domba Paskah yang daging-Nya dimakan oleh mereka yang siap untuk melakukan perjalanan guna meninggalkan perbudakan dosa.

Yesus adalah sang Anak Domba Allah yang menggantikan kita dan dalam darah-Nya pakaian baptis kita dicuci bersih lagi. Yesus adalah Anak Domba Allah yang lemah lembut dan tak bersalah, kepada diri-Nya kuasa Roh Kudus dan burung merpati perdamaian datang berdiam.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Engkau adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia. Engkau wafat di kayu salib guna menebus dosa-dosa kami. Kasihanilah kami, ya Kristus. Jadikanlah kami murid-murid-Mu yang setia sehingga dengan demikian kami dapat syering cintakasih-Mu kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:29-34), bacalah tulisan yang berjudul “KITA ADALAH UMAT PILIHAN ALLAH YANG BARU” (bacaan tanggal 19-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 16 Januari 2014 [Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Protomartir Fransiskan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KISAH PANGGILAN LEWI

KISAH PANGGILAN LEWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Sabtu, 18 Januari 2014)

PEMBUKAAN PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUS - 1Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mrk 2:13-17)

Bacaan Pertama: 1Sam 9:1-4,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

Lewi bin Alfeus adalah satu lagi pribadi yang membuktikan apa yang dapat terjadi juga dengan diri kita masing-masing – hanya jika kita mau dan siap untuk menanggung biaya kemuridan/pemuridan yang tidak kecil.

Yesus melihat Lewi yang sedang duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!”. Lewi mempunyai banyak kesamaan dengan orang muda kaya kepada siapa Yesus membuat undangan yang sama, namun anak muda kaya itu menolak undangan atau tawaran Yesus itu karena dia tidak dapat meninggalkan harta kekayaannya (Mrk 10:17-22; untuk lengkapnya bacalah Mrk 10:17-27).

Lewi juga samasekali bukan seorang miskin, apabila kita lihat profesinya sebagai seorang pemungut cukai. Para pemungut cukai dibenci oleh orang banyak – sebagian karena rasa iri hati dan dengki. Orang-orang yang dikenakan pajak/cukai berlebih oleh Matius kiranya akan bersedia tukar-tukaran kerja dengannya. Lewi cukup kaya untuk menyelenggarakan perjamuan makan besar-besaran untuk Yesus dan para murid-Nya, sambil mengundang juga para pemungut cukai dan “orang berdosa” lainnya. Lewi sudah sekian lama menjadi budak-uang dan dosa, dan sekarang kebebasannya yang baru memang pantas untuk dirayakan. Dapat dikatakan bahwa pesta perjamuan ini adalah sebuah pesta perpisahan dengan kehidupan lama yang penuh dosa.

Namun selalu saja ada orang-orang yang iri hati. Mereka mengangkat diri sendiri menjadi tukang kritik, dan suasana pesta perjamuan yang penuh dengan kegembiraan pun bisa saja menjadi rusak karena ulah tukang kritik itu. Seandainya pun ada orang yang berani mencoba untuk menjelaskan secara benar, tukang kritik seperti itu sukar menerimanya. Sukar bagi mereka untuk tidak mengkritisi apa saja yang kiranya tidak sejalan dengan apa yang mereka hayati dalam hidup mereka sendiri.

Yesus menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskan alasan kedatangan-Nya, juga alasan tentang perjamuan makan tersebut. Ia datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk mengampuni. Dia bukan datang untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Jikalau kita sukar melihat seorang sahabat, anggota keluarga atau tetangga dekat menjadi sukses dalam artiannya yang baik; apabila kita merasa iri hati terhadap kebahagiaan hidup yang dinikmati oleh seorang sahabat – teristimewa jika kita melihat bahwa dia tidak pantas menikmati hidup seperti itu – maka kita patut mengingat kata-kata Tuhan Yesus, bahwa Dia datang ke tengah dunia untuk membawa damai dan sukacita serta pengampunan kepada orang-orang lain di samping kita sendiri.

DOA: Yesus Kristus, dalam “Khotbah di Bukit” Engkau bersabda, “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belaskasihan” (Mat 5:7). Engkau tahu, ya Tuhan dan Allahku, bahwa aku senantiasa berupaya untuk menjadi seorang pendengar yang baik dari sabda-sabda-Mu. Dengan tulus hati aku berharap bahwa “Sabda-sabda Bahagia-Mu” akan menjadi kenyataan dalam hidupku sebagai murid-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 9:1-4,17-19), bacalah tulisan dengan judul “BUKALAH HATI KITA BAGI KEHADIRAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 18-1-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 16 Januari 2014 [Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Protomartir Fransiskan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMANG MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

YESUS MEMANG MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas – Jumat, 17 Januari 2014)

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH YANG DI TURUNKAN DARI LOTENGKemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.” (Mrk 2:1-12)

Bacaan pertama: 1Sam 8:4-7,10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:16-19<a

Narasi Injil yang cukup dramatis ini adalah mengenai bagaimana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah oleh empat orang yang membawanya ke tempat itu. Cerita tentang penyembuhan orang lumpuh ini adalah yang pertama dari lima cerita konflik dalam Injil Markus (2:1-3:6), yang menyoroti perlawanan para pemuka agama Yahudi terhadap pernyataan siapa diri Yesus itu. Dengan berpegang teguh pada ide-ide kuno mereka sendiri, para ahli Taurat dan orang Farisi gagal mengalami bela rasa dan kasih Allah yang dimanifestasikan dalam diri Yesus.

Ada beberapa pokok konflik yang muncul antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi selama berlangsungnya proses penyembuhan. Yang pertama terjadi ketika Yesus mendeklarasikan bahwa dosa-dosa orang itu diampuni (Mrk 2:5). Dalam Perjanjian Lama, kuasa untuk mengampuni dosa hanya milik Allah saja (Kel 34:6-7; Yes 43:25). Lalu Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10). Tradisi Yahudi pada waktu itu memahami bahwa yang dimaksudkan dengan “anak manusia” (Dan 7:13-14) mengacu kepada sang Mesias yang akan membawa umat ke dalam Kerajaan Allah. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan tokoh mesianis ini untuk mulai menyatakan diri-Nya dan mempersiapkan umat bagi pekerjaan yang akan dilaksanakan-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Tanggapan umat yang hadir terhadap peristiwa penyembuhan orang lumpuh ini merupakan sebuah kontras yang tajam terhadap ketakutan yang melumpuhkan dari para ahli Taurat (Mrk 2:7). Orang banyak takjub dan memuliakan Allah, sambil berkata: “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Mereka memberi tanggapan positif terhadap kebaikan dan belas kasih Allah. Kiranya tidak sedikit dari orang banyak itu kemudian menjadi murid-murid Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa orang banyak dapat mengenali siapa Yesus itu, sementara para pemimpin agama Yahudi buta sehingga tidak mampu melihat siapa sebenarnya Yesus? Jawabnya terletak pada iman mereka. Yesus melihat iman dari mereka yang membawa orang lumpuh dan juga iman si lumpuh sendiri (Mrk 2:5). Walaupun kuat-kuasa dan belas kasih Yesus begitu terlihat oleh mereka yang percaya (beriman), ketidak-percayaan telah membutakan mata (terutama mata hati) para pemuka agama Yahudi tersebut. Para pemuka agama Yahudi itu tidak mau mengubah mindset mereka, juga tidak mempunyai keberanian untuk keluar dari comfort zone mereka. Bukankah implisit dalam pengertian apa iman itu, terdapat unsur-unsur keberanian dan perubahan diri?

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bukalah mata kami agar mampu melihat karya-Mu dengan lebih jelas dalam hidup kami. Sembuhkanlah kami dari berbagai cara berpikir kami yang membatasi – bahkan menghalangi – pemahaman kami tentang rencana penyelamatan Bapa surgawi atas segenap umat manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 8:4-7,10-22a), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH ‘NGOTOT’ DENGAN IDE-IDE KITA SENDIRI” (bacaan tanggal 17-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 16 Januari 2014 [Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Protomartir Fransiskan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG KUSTA

YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG KUSTA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 16 Januari 2014)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Protomartir Fransiskan

Jesus_heals_leper_1140-152Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.” Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45)

Bacaan Pertama: 1Sam 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 44:10-11,14-15,24-25

Kapernaum adalah sebuah kota kecil yang terletak di pantai Laut (Danau) Galilea. Seperti diceritakan dalam Injil Markus, di sana Yesus mengajar pada hari Sabat, mengusir roh-roh jahat dari seorang laki-laki di sinagoga (rumah ibadat), bahkan Ia juga menyembuhkan begitu banyak orang sakit yang mencari Dia di rumah Petrus (Mrk 1:21-34). Hari itu adalah satu hari yang tidak akan terlupakan oleh penduduk Kapernaum, karena pada hari itu kota kecil Kapernaum dapat dicari dalam peta.

Pada waktu Yesus melayani di depan publik, Kapernaum hanyak sebuah kampung nelayan yang tidak ramai. Apa yang akan terjadi jika Yesus ke luar dari “kandang”-Nya di Nazaret dan kemudian berkiprah di tempat-tempat lain? Sama saja – itulah yang terjadi. Sejak awal Injil Markus, kita membaca tentang otoritas Yesus untuk menyembuhkan segala sakit penyakit, dan betapa banyak orang yang menjadi percaya kepada misi-Nya. Pada kenyataannya, begitu banyak orang datang mencari Yesus, sehingga Yesus tidak mampu untuk bergerak dengan bebas dari kota ke kota (Mrk 1:45).

Nah, peristiwa yang menandai permulaan dari pelayanan Yesus yang lebih luas adalah penyembuhan seorang kusta (Mrk 1:40 dsj.). Aspek pertama dari peristiwa ini adalah bahwa kita harus mengenali belarasa Yesus terhadap orang kusta ini. Seorang yang menderita penyakit kusta mempunyai kondisi kulit yang melarang kehadirannya di area-area publik. Ketika orang kusta yang satu ini melanggar peraturan yang berlaku dan muncul di depan Yesus, sang “Dokter Agung” malah menanggapi hal tersebut dengan menyentuh kulit orang itu, artinya Yesus membuat diri-Nya menjadi tidak bersih/tahir di mata hukum yang berlaku. Penyembuhan ini memberi tanda kepada orang banyak tentang kuat-kuasa ilahi yang dimiliki Yesus, namun kemauan-Nya untuk menyentuh orang ini merupakan suatu tanda tentang cintakasih dan belarasa-Nya yang demikian besar.

Akhir kejadian itu terasa sedikit aneh. Atas dasar alasan tertentu, Yesus mengatakan kepada orang itu untuk tidak menceritakan kepada siapa-siapa tentang kesembuhannya, jadi sebagai suatu kerahasiaan, namun orang itu tidak mematuhinya (Mrk 1:43-44). Para pakar Kitab Suci paling sedikit mengemukakan tiga penjelasan yang berbeda-beda untuk hal ini. Yang pertama adalah tafsir yang mengatakan bahwa orang kusta yang telah disembuhkan itu langsung saja tidak mematuhi sabda Yesus. Yang kedua adalah tafsir yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan “dia” (dalam teks bahasa Indonesia dikatakan “orang itu”) yang pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, adalah Yesus sendiri, bukan si kusta (Mrk 1:45). Skenario ketiga adalah bahwa Yesus meminta agar orang kusta itu tidak mengungkapkan sarana yang digunakan untuk menyembuhkan dirinya, karena Yesus mengetahui benar bahwa mukjizat itu dengan sendirinya akan menjadi pengetahuan publik.

Bagaimana pun kita mau membaca cerita penyembuhan orang kusta ini atau apa pun tafsir kita, mukjizat-mukjizat Yesus menuntut kita untuk mematuhi kata-kata-Nya secara serius. Kerajaan Allah menerobos masuk ke dalam dunia dalam diri Yesus. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menanggapi perintah Yesus dengan kesetiaan, apakah kata-kata itu berbunyi “Pergilah, perlihatkanlah dirimu ……” (Mrk 1:44) atau “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15).

DOA: Bapa surgawi, ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku (Mam 143:10). Terpujilah nama-Mu selalu! Anin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “RAHASIA MESIANIS DAN KETEGANGAN-KETEGANGAN” (bacaan tanggal 16-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 14 Januari 2014 [Peringatan B. Odorikus dr Pordenone, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS