IMAN YANG RENDAH HATI

IMAN YANG RENDAH HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Senin, 1 Desember 2014)

YESUS DAN CENTURION - 3Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga. (Mat 8:5-11)

Bacaan Pertama: Yes 2:1-5 atau Yes 4:2-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-9

Kiranya para murid dan orang banyak yang mengikuti Yesus menjadi terkejut melihat “ulah” Yesus, baik sikap-Nya maupun apa yang dilakukan-Nya. Yesus tidak hanya bersedia berbicara dengan seorang perwira pasukan Romawi, melainkan juga Dia menyembuhkan hamba dari perwira itu dan menggunakan iman sang perwira sebagai sebuah contoh untuk memperingatkan orang-orang yang tidak percaya tentang “para pewaris Kerajaan” – umat terpilih dari Israel! Yesus datang untuk membawa dan memberitakan Injil kepada semua orang: Yahudi maupun non-Yahudi, “pantas” maupun “tak pantas”, para pendosa maupun orang-orang saleh.

Yesus adalah pemenuhan dari nubuatan Yesaya bahwa “gunung tempat rumah TUHAN (YHWH) akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung” dan “segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana” (lihat Yes 2:2). Setiap orang dapat menerima undangan untuk pergi ke rumah YHWH dan bersukacita karenanya (lihat Mzm 122:1).

Syarat satu-satunya untuk menerima penyembuhan dan hidup dari Yesus adalah iman, iman yang rendah hati sebagaimana ditunjukkan oleh sang perwira Romawi. Ketika perwira itu datang menghadap Yesus dan menyapa-Nya sebagai “Tuan” dan mengakui otoritas-Nya untuk mengusir pergi penyakit dari seseorang, maka sebenarnya dia memberi contoh bagaimana menaruh kepercayaan kepada-Nya. Inilah sikap dan perilaku yang dirindukan oleh Yesus ada dalam semua pengikut-Nya.

Panggilan universal dari Injil yang diproklamasikan oleh Yesus masih berlanjut sampai hari ini. Sesungguhnya, dunia di dalam mana kita hidup dipenuhi dengan beraneka-ragam orang, sehingga hanya iman dalam/kepada Yesus yang dapat mengumpulkan kita bersama dalam pesta perjamuan surgawi. Setiap orang mampu mengenal kebutuhannya dan kemudian berseru kepada Yesus agar diselamatkan. Dan, kepada setiap orang ditawarkan anugerah bebas penebusan dan janji akan hidup kekal dalam hadirat Allah.

Selagi kita mengawali masa Adven ini, marilah kita merenungkan kasih Allah, yang memanggil semua bangsa kepada-Nya melalui Kristus. Kita dapat mendengar panggilan Yesus, dan kita dapat melihat bahwa panggilan yang sama juga ditujukan ke seluruh dunia. Oleh karena itu marilah kita berdoa untuk suatu pencurahan Roh Kudus secara berlimpah, agar dengan demikian semua orang dari semua bangsa akan mendengar dan menanggapi panggilan universal dari Injil dengan iman yang rendah hati dalam Kristus. Sementara kita mempersiapkan kelahiran Yesus, semoga kita melihat pemenuhan nubuat-nubuat bahwa semua bangsa akan berkumpul bersama Tuhan yang dimuliakan di atas gunung-Nya yang kudus.

DOA: Roh Kudus, penuhilah diri kami dengan iman yang rendah hati sebagaimana ditunjukkan oleh sang perwira Romawi. Biarlah kami digerakkan oleh kasih Allah yang memanggil setiap orang kepada diri-Nya, sehingga dengan demikian kami akan berbagi iman kami dengan orang-orang lain dan berdoa untuk pertobatan semua orang. Kami sungguh ingin melihat semua bangsa pada pesta perjamuan surgawi kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-11), bacalah tulisan berjudul “PUSAT KERAJAAN DAMAI” (bacaan tanggal 2-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014.

Cilandak, 27 November 2014 [Peringatan S. Fransiskus Antonius Pasani, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MASA PENANTIAN DAN BERJAGA-JAGA

MASA PENANTIAN DAN BERJAGA-JAGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN I [Tahun B], 30 November 2014)

KESIAPSIAGAAN - LUK 12 35-40Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu kapan saatnya tiba. Keadaannya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penjaga pintu supaya berjaga-jaga. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu kapan tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah! (Mrk 13:33-37)

Bacaan Pertama: Yes 63:16b-17; 64:1,3b-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19; Bacaan Kedua: 1Kor 1:3-9

Masa Adven adalah suatu masa sangat istimewa bagi umat Kristiani. Masa Adven adalah masa penantian dan berjaga-jaga. Seruan Yesus dalam Mrk 13 – bahwa kita harus berjaga-jaga dalam menantikan kedatangan-Nya – semakin diperkuat oleh fakta bahwa sekarang kita sedang memasuki suatu masa penuh rahmat yang dicurahkan dan mengalir dari takhta Allah. Sebagaimana seorang penjaga pintu tidak dapat terus berjaga-jaga sendiri untuk selamanya, maka kita juga membutuhkan pertolongan untuk tetap berjaga dalam menantikan kedatangan Tuhan kita.

Pada awal masa Adven ini, Gereja berseru kepada umatnya untuk menantikan dengan antisipasi besar kedatangan kembali Yesus Kristus yang ingin menarik kita kepada hati-Nya. Fokus kita untuk berada semakin dekat dengan Putera-Nya dan mempersiapkan hati kita untuk menyambut-Nya pada hari Natal sangatlah menyenangkan hati Allah.

pppas0594Bagaimana seharusnya kita (anda dan saya) berjaga-jaga dalam menantikan Yesus? Bagaimana kita harus mempersiapkan masa Adven kita? Baiklah kita mengawalinya dengan suatu pemeriksaan jujur atas jalan kehidupan spiritual kita selama ini. Baiklah kita bertanya kepada Roh Kudus untuk menunjukkan rencana-rencana-Nya bagi kita dan memberikan bimbingan-bimbingan khusus terkait bagaimana kita dapat memenuhi panggilan-Nya. Apakah Dia minta kepada kita untuk pergi ke luar guna menemui dan melayani orang-orang lain yang juga warga komunitas kita? Apakah Dia memanggil kita untuk bergabung dengan saudari-saudara Kristiani lainnya dan berdoa bersama guna terciptanya pembaharuan dalam hidup menggereja? Apakah Dia mengundang kita untuk menyediakan lebih banyak waktu lagi untuk membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci?

Apa pun yang diminta Allah dari kita, kita harus melakukannya, dan kita pun akan melihat perubahan-perubahan dalam hidup kita dan kehidupan dari mereka yang hidup di sekeliling kita. Marilah kita menjadi semakin dekat dengan Yesus dan memperbaharui komitmen pribadi kita masing-masing terhadap kehendak-Nya. Selagi kita mempersiapkan masa Adven ini dengan sebaik-baiknya, baiklah kita membuka diri kita bagi pelimpahan rahmat yang luarbiasa oleh Bapa surgawi, dan juga membuka diri bagi Roh Kudus. Marilah kita juga jangan lupa untuk senantiasa berdoa dengan penuh pengharapan akan kedatangan kembali Yesus pada akhir zaman.

DOA: Bapa surgawi, utuslah Roh Kudus-Mu untuk memperbaharui Gereja-Mu. Semoga kami semua bertumbuh dalam iman, dalam kesetiaan dan dalam kesalehan selagi kami menjalani masa Adven tahun ini. Perbaharuilah kami semua dengan kuat-kuasa-Mu yang mahabesar. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 13:33-37), bacalah tulisan yang berjudul “HATI-HATILAH DAN BERJAGA-JAGALAH!” (bacaan tanggal 30-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 26 November 2014 [Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELAJAR UNTUK MENERIMA DARI YESUS

BELAJAR UNTUK MENERIMA DARI YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Biarawan-Martir Indonesia – Sabtu, 29 November 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta Semua Orang Kudus Tarekat

the-holy-lamb-of-god-with-the-seven-rivers-tempera-on-wood-42-x-30cm-salesians-church-turin-italy-2002Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir keluar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. Tidak akan ada lagi yang terkutuk. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka. Malam pun tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.
Lalu Ia berkata kepadaku, “Perkataan-perkataan ini dapat dipercaya dan benar, dan Tuhan, Allah yang memberi roh kepada para nabi, telah mengutus malaikat-Nya untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi.” “Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!” (Why 22:1-7).

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 95:1-7; Bacaan Injil: Luk 21:34-36

Mengapa begitu sulit bagi kita untuk menerima karunia-karunia dari Allah ataupun hadiah-hadiah dari orang lain? Seringkali kita merasa bahwa apabila seseorang bermurah hati kepada kita, maka kita berutang kepadanya. Kita harus membayar kembali kepadanya. Memang sulit untuk menerima suatu pemberian dengan lapang dada dan percaya bahwa sang pemberi hanya ingin mengungkapkan kasihnya kepada kita. Semua imaji yang digunakan oleh Yohanes dari pulau Patmos pada akhir Kitab Wahyu berbicara – satu dan lainnya – tentang Allah yang melayani umat-Nya, dan umat-Nya tersebut menerima pelayanan-Nya dengan penuh kegairahan dan syukur.

Inilah inti pokok dari Injil, yaitu tentang Allah Yang Mahamurah dan yang berbelas kasih, yang memberi kepada orang-orang yang membutuhkan. Injil bukanlah tentang orang-orang baik yang melakukan pekerjaan baik dan kemudian memperoleh ganjaran. Injil bukanlah sebuah daftar peraturan dan perintah yang akan membuat kita dapat diterima oleh Allah pada saat kita meninggal dunia. Injil adalah mengenai siapa saja yang dibuat benar di hadapan Allah, diampuni oleh-Nya, dikasihi oleh-Nya …… tanpa syarat, tanpa pamrih. Karunia-karunia dari Allah yang diberikan kepada kita secara bebas inilah yang harus kita terima, sambil berkata “Terima kasih, Bapa,” selagi Dia membebaskan kita dari kuasa dosa.

John's_vision_14-607Semakin banyak kita belajar untuk menerima dari Yesus, semakin dekat pula kita dengan diri-Nya, dan semakin penuh kita didesak untuk mengasihi orang-orang lain dan taat kepada perintah-perintah-Nya. Kelihatannya begitu sulit untuk menerima dari Yesus. Kita dapat merasa tak pantas dan berdosa. Kita dapat merasa tidak ada cara apapun yang dapat membuat Dia mengasihi kita dengan begitu mendalam. Namun Yesus mengasihi kita semua, bahkan yang paling buruk dari para pendosa. Yesus senantiasa berdiri dengan sikap siap untuk memberikan kasih-Nya dalam kepenuhan, tanpa peduli siapa kita atau apa yang telah kita lakukan.

Pada saat yang bersamaan, bacaan Injil hari ini memperingatkan kita tentang hal-hal yang menghalangi kita menerima sesuatu pemberian dari Yesus: “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari …” (Luk 21:34). Jika kita tidak waspada, kita dapat saja luput melihat dan mengalami kehadiran Yesus. Tidak adanya kewaspadaan dapat menghalangi aliran rahmat dan menyebabkan kita menjadi tidak peka terhadap suara Roh Kudus. Hari Minggu besok kita memasuki Masa Adven, masa pengharapan dan antisipasi penuh sukacita. Marilah kita mengkomit diri kita masing-masing untuk menerima dari Yesus setiap hari.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku memberikan diriku kepada-Mu. Aku datang kepada-Mu untuk menerima segala sesuatu yang Engkau ingin berikan kepadaku. Aku tidak ingin fokus pada apa yang dapat kubawa kepada-Mu hari ini, melainkan aku akan fokus pada penerimaan kasih-Mu dan bimbingan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 21:34-36), bacalah tulisan yang berjudul “NASIHAT-NASIHAT YESUS SEHUBUNGAN DENGAN AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 29-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 22:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAHAGIALAH ORANG YANG MENURUTI PERKATAAN-PERKATAAN NUBUAT KITAB INI !!!” dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 26 November 2014 [Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Jumat, 28 November 2014)

Keluarga OFM & OFM Coventual: Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam

RABI DARI NAZARET - 1Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33)

Bacaan Pertama: Why 20:1-4,11 – 21:2; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8

Ketika Yesus mengajar perumpamaan ini, dalam waktu yang relatif tidak lama lagi Dia akan mempersembahkan hidup-Nya demi keselamatan dunia. Yesus hampir sampai ke titik akhir dari pelayanan-Nya di muka bumi, dan kematian-Nya serta kebangkitan-Nya akan menjadi tanda inaugurasi dari Kerajaan Allah dan kelahiran Gereja. Walaupun menghadapi penolakan dan oposisi, Yesus dengan penuh keyakinan memproklamirkan bahwa keselamatan kita sudah mendekat. Selagi kita menantikan kedatangan kembali Yesus, kita – sebagai Gereja – harus bertumbuh dan semakin matang dalam kuasa Roh Kudus.

Yesus menginginkan agar kita menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya dengan penuh keyakinan. Kita akan mengalami oposisi, pengejaran dan penganiayaan, namun sebagaimana Yesus berkemenangan, kita pun akan meraih kemenangan, selagi kita menaruh kepercayaan pada sabda-Nya. Kita tidak boleh merasa susah dan ciut hati pada masa-masa penderitaan. Sebaliknya, selagi kesulitan-kesulitan semakin bertumbuh dalam intensitas, semua itu harus dilihat sebagai indikasi-indikasi positif bahwa manifestasi final dan penuh kemuliaan dari keselamatan kita sudah semakin dekat. Yesus mengumpamakan semua itu dengan pohon ara yang bertunas di musim semi, yang memberi jaminan kepada kita bahwa musim panas sudah dekat.

Kita menghadapi pilihan setiap hari. Kita dapat mempertimbangkan apa yang telah dilakukan oleh Yesus untuk menebus dan menyembuhkan kita serta menaruh kepercayaan pada kata-kata-Nya sehubungan dengan manifestasi kemuliaan-Nya secara penuh pada saat kedatangan-Nya untuk kedua kali pada akhir zaman. Atau, kita dapat melihat berbagai penderitaan di bumi yang terasa tidak habis-habisnya, sehingga kita dengan cepat jatuh ke dalam jurang penuh rasa takut dan cemas. Manakala kita menghadap Tuhan dalam doa dan memperkenankan sabda-Nya yang penuh pengharapan dan memberi semangat untuk menyentuh hati kita dan mengarahkan pemikiran kita, maka diri kita akan diangkat, dipenuhi dengan sukacita dan damai-sejahtera, dan dimampukan untuk melihat melampaui sikon yang kita hadapi. Sabda-Nya menggerakkan kita secara batiniah dan kita pun dapat percaya bahwa dalam Dia semua hal menjadi mungkin.

Pada zaman modern ini banyak umat Kristiani menderita di bawah rezim-rezim totaliter, anti-Kristiani, korup dlsb. Sekilas lintas memang kelihatan bahwa kegelapan telah menang. Namun dari pengalaman di Eropa Timur beberapa dasawarsa lalu, kita diyakinkan bahwa tangan-tangan Allah selalu bekerja, dan Ia senantiasa melindungi Gereja-Nya. Pada hari ini umat Kristiani adalah saksi-saksi hidup dari sabda Yesus: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Luk 21:33).

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami agar mau dan mampu mengenal kuat-kuasa dan kebenaran sabda-Mu. Biarlah sabda-Mu menjadi batu karang dan benteng pelindung di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan ini. Biarlah sabda-Mu menjadi pelita yang menerangi jalan kami, sehingga dengan demikian kami dapat menantikan kedatangan-Mu pada akhir zaman dengan ekspektasi penuh hasrat dan pengharapan penuh sukacita. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “MENYAMBUT KEDATANGAN YESUS UNTUK KEDUA KALINYA” (bacaan tanggal 28-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 25 November 2014 [Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN ANAK MANUSIA YANG ADALAH SANG MESIAS

KEDATANGAN ANAK MANUSIA YANG ADALAH SANG MESIAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Kamis, 27 November 2014)

Keluarga OFM Conventual: Peringatan S. Fransiskus Antonius Pasani, Imam

2ndcoming2

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”
“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.” (Luk 21:20-28)

Bacaan Pertama: Why 18:1-2,21-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Salah satu unsur dari kepercayaan umat Yahudi pada zaman Yesus dahulu adalah bahwa YHWH akan membangkitkan seorang Mesias guna menyelamatkan umat-Nya. Ada orang-orang yang membayangkan sang Mesias sebagai seorang tokoh politik yang akan memerdekakan bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa Romawi. Ada orang-orang lain yang mengharapkan agar Musa atau Elia kembali dan memimpin bangsa Yahudi seperti mereka lakukan dalam masa Perjanjian Lama. Ada juga orang-orang yang mengharapkan seorang Mesias imamiyah yang akan membawa umat kembali ke suatu penyembahan kepada YHWH yang benar.

Yesus berbicara kepada orang banyak tentang akhir zaman. Setelah bernubuat mengenai keruntuhan Yerusalem, Yesus mengatakan bahwa akan ada tanda-tanda kosmik, peristiwa-peristiwa besar yang akan membuat orang-orang menjadi takut. Namun tanda yang paling besar akan menyusul: “Pada waktu itu orang akan meihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27).

Siapa sebenarnya “Anak Manusia” ini? Dalam penglihatannya tentang akhir zaman, Daniel melihat seorang seperti anak manusia datang dengan awan-awan dari langit. Ia datang kepada Yang Lanjut Usianya, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah (Dan 7:13-14).

Anak Manusia adalah Mesias dan pada saat yang sama juga Hakim. Ia berbeda dengan jenis-jenis Mesias yang biasa diharapkan oleh orang-orang Yahudi. Mengapa? Karena Anak Manusia datang dari surga dan tidak hanya seorang manusia, melainkan juga sangat dekat dengan YHWH di surga. Kepada Mesias ini – Anak Manusia ini – diberikan kekuasaan dan wewenang atas seluruh bumi serta isinya, dan segenap ciptaan lainnya, dan kekuasaannya adalah kekal-abadi.

Yesus adalah sang Mesias, Anak Manusia. Bilamana Dia datang, maka Dia sungguh-sungguh akan menghakimi bumi. Dia menyemangati serta mendorong umat yang percaya: “Bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat” (Luk 21:28). Oleh karena itu, janganlah kita merasa takut akan akhir zaman dan kedatangan Anak Manusia, Yesus, karena Dia adalah seorang Hakim yang adil (bdk. Mat 25:31-46).

DOA: Tuhan Yesus, segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Mu. Datanglah dan dirikanlah kerajaan-Mu secara penuh dengan datang kembali kelak dalam kemuliaan. Tolonglah kami untuk menjadi murid-murid-Mu yang setia dan taat kepada perintah-perintah-Mu, sehingga dengan demikian kami dapat berdiri dengan kepala tegak pada saat kedatangan-Mu kembali pada akhir zaman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan yang berjudul “MISTERI KEDATANGAN YESUS UNTUK KEDUA KALINYA” (bacaan tanggal 27-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2013.

Cilandak, 25 November 2014 [Peringatan B. Elisabet dr Reute]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN ……

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Rabu, 26 November 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Leonardus dr Porto Mauritio, Imam

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIA“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19)

Bacaan Pertama: Why 15:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-3,7-9

Tahun 1942. Di negeri Belanda yang ketika itu diduduki oleh pasukan Nazi Jerman, ada seorang biarawati Karmelites yang bernama Edith Stein [1891-1942]. Berulang kali biarawati ini dipanggil ke markas besar Nazi. Dia harus ke luar dari biaranya, padahal dia adalah seorang biarawati kontemplatif. Di dalam markas Nazi tersebut dia mengalami interogasi-interogasi yang lama dan penuh intimidasi, difitnah dengan tuduhan-tuduhan palsu. Keselamatan dirinya dan orang-orang yang dikasihinya juga diancam, …… karena dia adalah seorang keturunan Yahudi. Semua itu dilakukan pihak Nazi dengan harapan agar dapat menghancurkan semangatnya, namun mereka gagal menaklukkan perempuan tangguh ini.

Suster Edith Stein bukanlah biarawati sembarangan. Sebelum menjadi seorang katolik di tahun 1922, dia adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Jerman, yaitu di Universitas Freiburg dan dia adalah pemegang gelar doktor filsafat dari Universitas Göttingen [1918]. Sebelum itu Edith juga pernah bekerja sebagai perawat rumah sakit. Pada waktu masuk Gereja Katolik, Edith berniat masuk biara Karmelites a.l. karena dipicu oleh bacaannya atas tulisan-tulisan Santa Teresa dari Avila, yang bersama Santo Yohanes dari Salib adalah para pembaharu Ordo Karmelit. Namun para mentor spiritualnya tidak mendorongnya. Kemudian Edith bekerja sebagai guru di sebuah sekolah Katolik di Münster.

S. EDITH STEIN - BBKarena kebijakan rasialisme dari pihak Nazi, dia harus meninggalkan pekerjaannya sebagai guru pada tahun 1933 dan bergabung dengan biara suster-suster Karmelites tak berkasut (OCD) di Cologne pada tahun 1934. Nama biaranya adalah Suster Benedikta dari Salib. Demi keamanan mereka, pada tahun 1938 Suster Benedikta dari Salib dan Suster Rosa, saudarinya, dipindahkan ke biara Karmelites di Echt, Belanda.

Pada bulan Agustus tahun 1942, sebagai balasan terhadap pernyataan para uskup Belanda yang memprotes kebijakan Nazi terhadap orang-orang Belanda keturunan Yahudi, maka semua orang Katolik keturunan Yahudi di Belanda ditangkapi dan dideportasi. Ketika pihak Nazi datang ke biara untuk menangkap Edith, dengan tenang dia berkata kepada Suster Rosa yang juga ditangkap: “Mari, kita akan pergi ke umat kita.” Dalam perjalanan penuh penderitaan selama tujuh hari ke Auschwitz, Edith menguatkan dan menghibur semua orang yang ada dalam rombongannya dan mereka semua akan terkejut sekali ketika sampai pada akhir perjalanan.

Edith Stein wafat di kamar gas di kamp konsentrasi Auschwitz pada tanggal 9 Agustus 1942, dan sisa-sisa jenazahnya dikremasikan bersama sisa-sisa jenazah ribuan orang lainnya yang dibinasakan pada hari itu. Banyak cerita yang belakangan diceritakan oleh orang-orang yang masih hidup ketika perang usai dan menjadi saksi-saksi dari hari-hari terakhir Edith Stein. Damai-sejahtera yang dibawakannya kepada orang-orang tahanan lainnya, bela rasanya bagi mereka yang menderita di sekeliling dirinya, dan kemampuannya untuk menanggung penderitaan adalah hal-hal yang dicatat tentang dirinya.

S, EDITH STEIN - AACerita tentang Edith Stein melukiskan bagaimana kata-kata Yesus yang disampaikan kepada para murid-Nya tidak terbatas pada umat Kristiani abad pertama. Semua umat beriman yang mencari dan berupaya untuk memajukan rencana Bapa bagi umat-Nya akan mengalami peristiwa-peristiwa serupa dalam hidup mereka. Sesungguhnya, semua pencobaan yang kita alami sebagai umat Kristiani (besar ataupun kecil) adalah tanda-tanda dari sifat dunia ini yang tidak permanen dan juga sifat permanen dari “dunia” yang akan datang – sebuah dunia yang penuh dengan pengharapan, damai sejahtera dan sukacita yang bertentangan dengan rencana-rencana dari orang-orang yang terikat pada dunia yang penuh dengan keterbatasan ini.

Dalam setiap zaman Gereja mengalami pengejaran dan penganiayaan, baik dari dalam maupun dari dalam. Setiap zaman mempunyai cerita-cerita tentang para pahlawan seperti Edith Stein, namun juga tentang peristiwa-peristiwa yang kita semua hadapi setiap hari. Dalam setiap sikon yang kita hadapi, dalam setiap orang yang kita temui, kepada kita diberi kesempatan untuk memancarkan sinar terang benderang seperti yang terjadi dengan Edith Stein, apabila kita memperkenankan Tuhan untuk memperkuat diri kita dan menolong agar kita mengetahui kata-kata apa yang harus kita ucapkan dan bagaimana untuk mengsihi. Dalam setiap peristiwa, kita dapat mengalami janji Yesus yang besar dan sangat berharga: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19).

DOA: Tuhan Yesus, buatlah diriku agar menjadi murid-Mu yang setia seperti Edith Stein, sehingga aku dapat bertahan dalam segala pencobaan dan pengejaran. Aku ingin menerima “mahkota kehidupan” yang Kaujanjikan kepada orang-orang yang mengasihi Engkau (Yak 1:12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “BERTEKUNLAH !!!” (bacaan tanggal 26-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 24 November 2014 [Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk & Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA TERUS DIPERSIAPKAN OLEH-NYA UNTUK AKHIR ZAMAN

KITA TERUS DIPERSIAPKAN OLEH-NYA UNTUK AKHIR ZAMAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Selasa, 25 November 2014)

OSF Sibolga: Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati

pppas0594Lalu aku melihat: Sesungguhnya, ada suatu awan putih, dan di atas awan itu duduk seorang seperti Anak Manusia dengan sebuah mahkota emas di atas kepala-Nya dan sebilah sabit tajam di tangan-Nya. Seorang malaikat lain keluar dari Bait Suci; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada dia yang duduk di atas awan itu, “Ayunkanlah sabit-Mu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian di bumi sudah masak.” Lalu Ia, yang duduk di atas awan itu, mengayunkan sabit-Nya ke atas bumi, dan bumi pun dituailah.
Kemudian seorang malaikat lain keluar dari Bait Suci yang di surga; juga padanya ada sebilah sabit tajam. Seorang malaikat yang lain lagi datang dari mezbah; ia berkuasa atas api dan ia berseru dengan suara nyaring kepada malaikat yang memegang sabit tajam itu, katanya, “Ayunkanlah sabitmu yang tajam itu dan potonglah buah-buah pohon anggur di bumi, karena buahnya sudah masak.” Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam gilingan besar, yaitu murka Allah. (Why 14:14-19)

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:10-13; Bacaan Injil: Luk 21:5-11

Walaupun segala imaji apokaliptis yang disajikan dalam Kitab Wahyu terasa agak aneh bin ajaib, semua itu sebenarnya terkait erat dengan tradisi kenabian Perjanjian Lama dan juga perumpamaan-perumpamaan Yesus. Misalnya, nabi Yoel memproklamirkan bahwa YHWH akan menghakimi bangsa- bangsa seperti menyabit tuaian yang sudah masak (Yl 3:13). Yesaya juga berbicara mengenai seorang tokoh mesianis gagah yang akan melakukan penghakiman, yang berpakaian merah, yang berkata: “Akulah yang menjanjikan keadilan dan yang berkuasa untuk menyelamatkan!” (lihat Yes 63:1-3).

Dua buah nubuatan di atas sejajar dengan visi Yohanes dari pulau Patmos dalam Kitab Wahyu: “Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam gilingan besar, yaitu murka Allah” (Why 14:19). Yesus juga membanding-bandingkan akhir zaman dengan waktu panenan, dan menerapkan imaji ini, malah dengan tingkat kedaruratan yang lebih. Jangkauan pandangan Yesus jauh melampaui sejarah umat manusia, dan pandangan-Nya itu langsung sampai kepada saat di mana Bapa surgawi akan mencapai kemenangan akhir: “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh 4:35).

pppas0250Saat “menuai” mengacu kepada kulminasi dari suatu langkah maju yang teratur namun panjang. Pertama-tama, tanah harus dicangkul atau dibajak, kemudian ditanamlah benih-benih. Lahan itu pun kemudian diairi dan diberi pupuk serta dirawat dengan baik. Hanya apabila tanaman sudah berbuah dan buah-buah itu sudah masak, maka tibalah saatnya untuk mengambil buah-buah itu. Dalam urut-urutan seperti ini para penulis Kitab Suci yang diinspirasikan oleh Roh Kudus menemukan lambang tangan-tangan Allah yang membimbing sejarah manusia. Seorang petani mempersiapkan segala sesuatu untuk masa menuai yang mau tidak mau akan tiba, walaupun hal ini menyangkut masa depan yang cukup jauh. Demikian pula secara tetap Allah mempersiapkan umat-Nya untuk akhir zaman.

Hanya dengan/oleh iman kita dapat percaya bahwa dunia ini akan berakhir, tidak melalui perubahan besar tanpa makna, melainkan melalui pendirian Kerajaan Allah secara penuh. Prosesnya sendiri sudah dimulai. Walaupun hari demi hari kita berjuang melawan si Jahat dan para roh jahatnya yang tidak pernah merasa jemu menggoda kita, adalah kenyataan bahwa kita bergerak semakin dekat dengan saat kedatangan kembali Kristus yang penuh kemenangan pada akhir zaman. Kitab Wahyu mengingatkan bahwa kita harus yakin seyakin-yakinnya akan kemenangan akhir Allah seperti si petani merasa yakin akan kedatangan saat untuk menuai.

Yesus mengundang kita untuk berpartisipasi secara aktif dalam menuai panenan: “Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat 9:48). Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Allah untuk memberikan kepada kita rahmat untuk bekerja dengan-Nya selagi Dia “mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal” (Yoh 4:36).

DOA: Bapa surgawi, kami berdoa untuk semua orang yang Engkau ingin kumpulkan dalam Gereja-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu tolonglah kami untuk menjadi hamba-hamba-Mu yang setia, yang menyiapkan jalan bagi kedatangan kembali Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA SAMPAI DIKUASAI OLEH RASA TAKUT” (bacaan tanggal 25-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 NOVEMBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 14:14-19), bacalah tulisan yang berjudul “TUAIAN DI BUMI” (bacaan tanggal 27-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 24 November 2014 [Peringatan S. Andreas Dung La, Imam dkk & Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS