HUMOR ILAHI

HUMOR ILAHI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Jumat, 15 Mei 2015)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. (Yoh 16:20-23a) 

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7

Yesus bersabda: “… dukacitamu akan berubah menjadi sukacita”  (Yoh 16:20).

Bagaimana kita menjelaskan sukacita para kudus yang berada di bawah penderitaan karena penganiayaan, penindasan dll.? Bagaimana kita (anda dan saya) dapat menjelaskan perasaan Santo Paulus ketika dia bergembira di tengah-tengah segala kesulitan dan penderitaannya? Di mana letak kelucuannya, dalam penderitaan dan pencobaan yang dihadapi para kudus? Bagaimana seorang martir  dapat mempersembahkan dirinya dengan penuh sukacita?

Kita harus melakukan investigasi atas “humor ilahi” para kudus. Lagipula, apa sih yang dapat membuat sesuatu menjadi lucu? Apa yang menyebabkan kita tertawa? Mengapa kita tertawa melihat seorang laki-laki kerdil sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang perempuan yang tegap dan bertubuh tinggi? Yang lucu kiranya adalah karena ketiadaan proporsionalitas antara kedua orang itu. Ngak cocok! Nah, humor seringkali bertumbuh karena adanya sesuatu yang tidak proporsional.

Inilah yang dinamakan “humor ilahi” para kudus. Ini adalah paradoks yang dikatakan Yesus ketika Dia berbicara kepada para murid-Nya, “dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.” Para kudus melihat ini sebagai suatu lelucon ilahi: mereka menyadari begitu sedikit yang mereka harus bayar untuk memperoleh Kerajaan Surga. Mereka bergembira penuh sukacita karena mereka telah menemukan sesuatu yang sangat bernilai dengan “harga” yang sangat murah. Memang di sana sini para murid Yesus menghadapi penghinaan, pengejaran, penganiayaan, penindasan dan sejenisnya, malah ada curahan darah yang berharga – namun semua itu dapat dikatakan murah harganya, dengan kata lain tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan surga penuh kemuliaan yang telah disediakan oleh Bapa. Seandainya Yesus bertanya kepada kita, apakah yang dapat kita berikan sebagai sebagai pengganti jiwa kita, maka jawaban apakah yang dapat kita berikan kepada-Nya? Paling-paling kita hanya dapat tertawa (nyengar-nyengir), karena apakah yang dapat ditukarkan dari pihak kita dengan keselamatan yang diberikan oleh-Nya?

Barangkali hanya para kudus yang dapat sungguh-sungguh mentertawai segala penderitaan dan kesulitan hidup yang mereka alami. Mengapa? Karena hanya merekalah yang dapat melihat dan sungguh menyadari bahwa segala penderitaan dan kesulitan hidup itu sungguh kecil, sungguh tidak proporsional, dengan apa yang akan mereka peroleh. Para kudus ini mampu berkata seperti Santo Paulus: “… aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18).

DOA: Yesus, Engkau mengatakan bahwa segala dukacita kami akan berubah menjadi sukacita. Engkau berjanji untuk menunjukkan kepada kami kemuliaan yang telah Kausediakan bagi mereka yang dapat tertawa karena menyadari betapa sedikit dan kecilnya harga yang diminta dari kami untuk membayar semua yang akan kami peroleh itu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:20-23a), bacalah tulisan yang berjudul “SEBAGAI SEORANG PEREMPUAN YANG SEDANG MENGALAMI PROSES MELAHIRKAN” (bacaan tanggal 15-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 18:9-18), bacalah tulisan yang berjudul “PELAYANAN PAULUS DI KORINTUS” (bacaan tanggal 3-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 13 Mei 2015 [Peringatan Santa Perawan Maria dari Fatima] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KENAIKAN TUHAN KITA

KENAIKAN TUHAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN – Kamis, 14 Mei 2015)

 www-St-Takla-org___Jesus-Ascention-07

Lalu Ia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam  bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun yang mematikan, mereka tidak akan mendapat celaka; merek akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. (Mrk 16:15-20) 

Bacaan Pertama: Kis 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,6-9; Bacaan Kedua: Ef 4:1-13 

Catatan awal: Uraian berikut adalah terjemahan bebas dari khotbah Santo Augustinus dari Hippo [354-430]. 

Pada hari ini Tuhan kita Yesus Kristus naik ke surga; maka biarlah hati kita naik bersama dengan Dia. Dengarkanlah sang Rasul: “… apabila kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi” (Kol 3:1-2). Yesus selalu berada bersama kita walaupun setelah kenaikan-Nya ke surga (catatan: lewat kehadiran Roh Kudus-Nya), dengan demikian kita pun dapat dikatakan sudah di surga bersama dengan-Nya, walaupun yang telah dijanjikan kepada kita belum dipenuhi dalam tubuh kita.

Mengapa kita di atas bumi tidak berjuang untuk menemukan tempat peristirahatan bersama Dia bahkan sekarang juga, melalui iman, pengharapan, dan kasih yang mempersatukan kita dengan diri-Nya? Sementara di surga Dia berada bersama kita; dan sementara di atas bumi kita juga berada bersama dengan Dia. Yesus tidak meninggalkan surga manakala Dia turun untuk berada bersama dengan kita; Dia juga tidak meninggalkan kita ketika Dia naik lagi ke surga. Fakta bahwa Dia ada di surga walaupun ketika Dia berada di atas bumi telah dikatakan-Nya sendiri kepada Nikodemus: “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia” (Yoh 3:13).

Kristus adalah Kepala kita, dan kita adalah tubuh-Nya. Tidak ada seorang pun telah naik ke surga kecuali Kristus karena kita juga adalah Kristus: Ia adalah Anak Manusia oleh persatuan-Nya dengan kita, dan oleh/melalui persatuan kita dengan-Nya kita adalah anak-anak Allah. Jadi, sang Rasul berkata: “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan semua anggota tubuh itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus” (1Kor 12:12). Ia juga mempunyai banyak anggota, walaupun satu tubuh.

Karena bela rasa-Nya bagi kita, Dia turun dari surga, dan walaupun Ia naik ke surga sendiri, kita juga naik, karena kita ada dalam Dia oleh rahmat. Jadi, tidak ada siapa pun kecuali Kristus yang turun dari surga dan tidak ada seorang pun yang kecuali Kristus yang naik ke surga. Hal ini bukan dikarenakan bahwa tidak ada perbedaan antara kepala dan tubuh, tetapi karena tubuh sebagai suatu kesatuan tidak dapat dipisahkan dari kepala.

DOA: Tuhan Yesus, kami bergembira dalam kesatuan dan persatuan intim dengan Engkau. Engkau telah membuka pintu-pintu surga, dan kami bergembira bahwa sekarang kami duduk bersama dengan Engkau – dan dalam Engkau – di sebelah kanan Bapa surgawi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Ef 1:17-23), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TELAH NAIK DENGAN DIIRINGI SORAK-SORAI” (bacaan tanggal 14-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak, 12 Mei 2015 [Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS MEMBERI KEHIDUPAN

ROH KUDUS MEMBERI KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 13 Mei 2015)

Peringatan Santa Perawan Maria dari Fatima 

Holy Spirit 8

Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang akan diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Kis 17:15,22-18:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14

Injil Yohanes – seperti juga setiap kitab Injil – berisikan pesan Allah yang ditujukan kepada kita masing-masing. Melalui Roh Kudus, Allah memberikan inspirasi kepada para penulis Injil sedemikian rupa sehingga kata-kata yang ditulis mereka adalah sungguh kata-kata yang berasal dari diri-Nya, katakanlah kata-kata-Nya sendiri. Apakah kita sungguh-sungguh menyadari akan hal itu ketika kita mendengar  bacaan Injil dibacakan kepada kita dalam Misa Kudus, dalam liturgi-liturgi sakramen lainnya, dalam pertemuan pendalaman Kitab Suci, atau ketika kita (anda dan saya) membaca sendiri Kitab Suci secara pribadi dalam keheningan? Itulah yang dimaksudkan dengan kharisma dari inspirasi Kitab Suci.

Jikalau Allah adalah pengarang/penulis Injil, bagaimana Dia dapat tidak berhasil menggerakkan hati kita secara langsung ketika kita mendengar Sabda-Nya dan mengekspos diri kita sendiri terhadap pengaruh-Nya? Yesus bersabda, “Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh 16:13). Janji Yesus ini – yang diberikan-Nya pada Perjamuan Terakhir – menunjukkan bahwa Roh Kudus akan melanjutkan membuat jelas sabda Yesus di dalam hati kita, asal saja kita terbuka bagi-Nya. Roh Kudus akan terus memberikan kepada sabda Yesus sebuah impuls baru dan suatu kuat-kuasa yang vital. Alasannya adalah karena Yesus memang memaksudkan bahwa kita hidup oleh/seturut sabda-Nya setiap hari.

Apabila kita mendengar sabda Allah dibacakan kepada kita, atau apabila kita sendiri membaca Kitab Suci, maka kita harus melihatnya bukan sebagai suatu teks bacaan abstrak yang harus dibedah terlebih dahulu. Kita harus melihat bahwa itu adalah Allah sendiri yang datang ke dalam kemah kita untuk berbicara kepada kita face to face, sebagai seorang sahabat yang hendak bercakap-cakap dengan kita.

Jika kita mendengarkan Tuhan dalam kerangka pemikiran ini, maka sabda-Nya akan hidup dan aktif di dalam diri kita; memberikan hasil-hasil, akan menyembuhkan sakit-penyakit kita, dan membangkitkan kita dari “kematian”. Bilamana kita menerima sabda-Nya oleh kuasa Roh Kudus, maka sabda-Nya akan memberikan asupan nutrisi rohani dan memperkuat kita sepanjang hari, seperti “roti hidup” yang memberi makan kita agar menjadi kuat.

DOA: Datanglah Roh Kudus, buatlah kami hidup dengan iman dan kepercayaan, perkenankanlah kami terpesona melihat pengaruh yang Engkau perbuat atas diri kami. Berikanlah kepada kami damai sejahtera-Mu, sukacita-Mu dan kekuatan-Mu, sehingga semua itu sungguh-sungguh dapat hidup terwujud oleh kuat-kuasa sabda-Mu. Ya Roh Kudus, datanglah. Datanglah dan masuklah ke dalam hati kami. Bawalah terang-Mu dan pertolongan-Mu yang penuh rahmat. Kuatkanlah jiwa kami, yang telah Kauciptakan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 17:15,22-18:1), bacalah tulisan yang berjudul “MEWARTAKAN INJIL SEPERTI YESUS DAN PAULUS” (bacaan tanggal 13-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BELAJAR DARI SANTO PAULUS” (bacaan tanggal 16-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 11 Mei 2015 [Peringatan S. Ignatius dr Laconi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANG PARAKLETOS

SANG PARAKLETOS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 12 Mei 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin [+1942]

 pentecost-canada

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Sementara Yesus terus berbicara dengan para murid (rasul)-Nya tentang diri-Nya yang akan  meninggalkan mereka untuk pergi kepada Bapa surgawi yang mengutus-Nya, Dia melihat bahwa mereka dikuasai oleh kesedihan. Mereka kelihatannya tidak memahami mengapa Yesus harus pergi. Yesus juga dengan terus terang berbicara kepada mereka tentang kebenaran. Apabila Dia tidak pergi, maka Parakletos, Roh Kudus, tidak akan datang kepada para murid. Jadi, Dia akan pergi dan mengutus Roh Kudus kepada mereka.

Apakah yang akan dilakukan oleh Roh Kudus apabila Dia datang? Ia akan menjadi penasihat mereka, penghibur mereka. Dia akan membimbing dan memberdayakan  mereka dalam relasi mereka, dalam perjumpaan mereka dengan dunia.

Roh Kudus akan membuktikan bahwa dunia salah tentang dosa, tentang keadilan, tentang penghukuman. Ia (Roh Kudus) akan menunjukkan lewat kehidupan Gereja yang ilahi, adil dan kudus yang akan dibimbingnya, Kristus yang tanpa dosa, bahwa Dia adil, bahwa Dia tidak pantas dihukum. Orang-orang yang menolak untuk percaya kepada-Nya, untuk mentaati perintah-perintah-Nya, adalah mereka yang salah. Merekalah yang tidak adil dan patut dihukum.

Sekarang, kita berada di pihak yang mana? Apakah kita orang-orang yang ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi dengan iman, ketaatan dan cinta kasih kita? Apakah kita termasuk orang-orang adil dan benar dari Kristus? Apakah kehidupan kita memberi kesaksian tentang kekudusan Kristus, tubuh-Nya (Gereja), di mana kita semua adalah para anggotanya?

Ketika dibaptis, kita telah menerima Roh Kudus seperti yang telah dialami oleh para rasul. Ia adalah penasihat kita juga. Dia adalah pembimbing dan penghibur kita. Dia memberikan kepada kita berbagai instruksi, bimbingan dan kekuatan, keberanian untuk hidup dengan/bersama Kristus, dengan/dalam Gereja-Nya. Kita tidak perlu menderita penghukuman. Dunialah yang dihukum setiap kali kita bersaksi – oleh/dengan kuasa Roh Kudus tentang Kristus sebagai Tuhan kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengutus Roh Kudus-Mu kepada kami. Semoga Dia menolong kami untuk hidup kudus dan dan benar dalam kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “MENGALAMI ROH KUDUS, SANG PENOLONG” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05  PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak, 11 Mei 2015 [Peringatan S. Ignatius dr Laconi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENOLONG YANG DIUTUS YESUS

PENOLONG YANG DIUTUS YESUS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Senin, 11 Mei 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Ignatius dr Laconi [1701-1781], Biarawan Fransiskan Kapusin 

LAST SUPPER - 09

“Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.”

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.” (Yoh 15:26-16:4a) 

Bacaan Pertama: Kis 16:11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Yesus berjanji kepada para murid/rasul-Nya bahwa Dia akan mengutus Roh Kudus kepada mereka. Roh Kudus itu akan mengajar mereka segala kebenaran dan menolong mereka untuk mengingat apa yang telah dikatakan-Nya. Hal ini dapat diartikan bahwa para murid/rasul belum memahami sepenuhnya maksud kedatangan-Nya ke tengah dunia, dan mereka belum mampu menghargai apa yang telah dilakukan-Nya bagi mereka dan bagi kita semua. Para murid Yesus yang awal ini adalah yang pertama-tama harus menerima kenyataan bahwa mereka sungguh belum memahami sepenuhnya hal ikhwal kehadiran Yesus di tengah-tengah dunia.

Hanya setelah Roh Kudus turun pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, maka mereka mulai memahami peranan mereka dalam karya penebusan Kristus. Roh Kebenaran menunjukkan kepada mereka apa yang telah dilakukan oleh kasih Kristus bagi mereka, dan apa yang dapat dilakukan oleh kasih mereka kepada sesama, untuk ikut ambil bagian dalam karya Kristus menyelamatkan dunia. Roh Kudus mengajarkan para murid/rasul nilai mereka sendiri, potensi mereka sendiri, dan ruang lingkup dari tantangan besar yang mereka harus hadapi.

ROHHULKUDUSInilah yang ingin dilakukan Roh Kudus bagi kita juga. Ia ingin agar kita ambil bagian dalam kasih agung dari Tritunggal Mahakudus dengan melihat hal-hal baik yang ada dalam diri sesama kita. Kasih sejati seperti ditunjukkan oleh Kristus membuat orang-orang menjadi baik. Pertolongan kita yang penuh kemurahan hati, kebaikan hati, penuh perhatian kepada orang-orang lain membuat kita lebih baik, dan mempunyai efek terhadap setiap orang di sekeliling kita.

Seringkali kita bersikap terlalu kritis satu sama lain dengan cara yang samasekali tidak ada gunanya. Jika kita meruntuhkan sebuah gedung tua tanpa membangunnya kembali, apakah kita sungguh melakukan perbaikan? Para murid/rasul sebenarnya adalah pribadi-pribadi yang jauh dari sempurna: mereka lemah, mementingkan diri sendiri dll., namun Yesus membangun mereka dengan apa yang dilakukan-Nya. Teladan-Nya dan kritik-kritik-Nya bersifat konstruktif; Ia menolong mereka bertumbuh.

Kita pun dapat menjadi seperti Kristus dalam mengasihi orang-orang lain. (Tidak hanya menyukai mereka secara emosional.) Kita merasa senang melihat hal-hal baik yang ada dalam diri orang lain, dan orang lain juga begitu. Ini harus terus dibangun. Kasih harus memberi, bukan mengambil. Apabila kita menghargai orang-orang lain dengan penuh respek, maka kita membuat mereka lebih baik, seperti yang dilakukan Kristus. Dengan kemurahan hati kita membuat diri kita dan orang-orang lain menjadi lebih baik. Memang hal itu memakan waktu – tidak dapat dilakukan dalam sekejab mata – bahkan dapat bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi, pada akhirnya hal itu pun akan terealisir. Keprihatinan kita terhadap orang lain seperti yang ditunjukkan oleh Kristus akan menghasilkan banyak kebaikan.

Kita telah melihat dari “Kisah para Rasul” dan dokumen-dokumen kuno lainnya apa sebenarnya yang terjadi dengan para murid/rasul Kristus. Didorong oleh kasih-Nya dan dibawa bimbingan Roh Kudus-Nya, dengan berani mereka pergi ke segala penjuru dunia untuk memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus. Hasilnya dapat kita rasakan sekarang. Dan …… kita semua harus meneruskan pekerjaan mereka … “Kamu juga harus bersaksi!”  (Yoh 15:27).

DOA: Roh Kudus Allah, jadilah kekuatan kami dan sukacita kami selagi kami memberikan kesaksian tentang Yesus. Kami juga berdoa untuk saudari-saudara kami yang menderita karena mengalami pengejaran dan penganiayaan karena iman mereka kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Hiburlah mereka dalam perjuangan mereka memajukan Kerajaan-Mu di atas bumi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 16:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH DAPAT MEMILIH KITA JUGA” (bacaan tanggal 11-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak, 7 Mei 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TINGGALLAH DI DALAM KASIH-KU

TINGGALLAH DI DALAM KASIH-KU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VI [TAHUN B], 10 Mei 2015)

 OLYMPUS DIGITAL CAMERA

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitamu menjadi penuh.”

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku  tidak menyebut  kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang terhadap yang lain. (Yoh 15:9-17) 

Bacaan Pertama: Kis 10:25-26,34-35,44-48; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Kedua: 1Yoh 4:7-10)

Bacaan Injil hari ini melanjutkan pelajaran dari “perumpamaan pokok anggur dan carang-carangnya” (“Pokok Anggur yang benar”). Apa yang ada dalam batang pohon mengalir ke cabang-cabang sampai ke ranting-rantingnya yang paling kecil sekali pun. Jadi, di sini Yesus menjelaskan bahwa hidup yang ada dalam Dia akan mengalir ke dalam diri para murid-Nya yang sejati.

Apa yang paling istimewa tentang Yesus adalah relasi-Nya dengan Bapa-Nya. Yesus adalah Putera Bapa yang terkasih, sabda (firman) Bapa. Kasih yang besar dan agung dari Bapa bagi Putera-Nya – sang Pokok Anggur – sekarang dialirkan ke cabang-cabang dan ranting-rantingnya. “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu” (Yoh 15:9). Rahasia hidup Kristiani adalah untuk “tinggal di dalam kasih Yesus”. Kasih Bapa, yang ditunjukkan kepada kita dalam diri Yesus Kristus, adalah dasar dari falsafah hidup kita: fondasi dari segala pengharapan kita: rumah tempat kita pulang, di mana kita tahu bahwa kita dipahami dan diterima.

ST. THOMAS AQUINASKasih ilahi datang kepada kita dalam tiga tahapan. Semua dimulai dalam penciptaan kehidupan oleh Bapa. Mengapa Allah pusing-pusing menciptakan kita? Santo Tomas Acquinas mengemukakan alasan ini: kasih tidak mengizinkan Allah untuk hidup sendiri. O, sungguh indahnya! Jadi, awal mula dari kehidupan manusia … dari kehidupan kita (anda dan saya) … adalah suatu tindakan penciptaan oleh Bapa. Tahapan kedua adalah peragaan kasih Allah kepada kita lewat hidup Yesus Kristus. Ia mengasihi kita sampai akhir dan memanggil para murid-Nya ke dalam persahabatan yang intim. Tahapan ketiga adalah karunia Roh Kudus yang menanamkan kasih Allah dalam diri kita sehingga dengan demikian kita dapat meneruskannya kepada orang-orang lain. Santo Paulus menulis: “… kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Kita dapat meringkaskan ulasan mengenai kasih ilahi ini sebagai berikut: kasih mulai di dalam diri Allah Bapa; ditunjukkan kepada kita dalam diri Yesus Kristus; dan ditanamkan ke dalam diri kita oleh Roh Kudus.

Kasih Allah itu praktis. Dalam pemahaman Yohanes Penginjil, hidup Kristiani adalah memperkenankan Allah bertindak melalui diri kita. Satu-satunya bukti adanya tindakan Allah adalah buah kasih. Kasih Allah bukanlah suatu teori yang membuat diri kita merasa nyaman, bukan juga rangkaian kata-kata indah yang enak didengar. Kasih Allah adalah suatu peristiwa yang bersifat konstan, tindakan tanpa  akhir yang meresapi setiap saat dalam hidup kita. Betapa indahnya hidup kita ini apabila kita mempercayai sepenuhnya semua ini. Kita tinggal dalam kasih-Nya dan percaya bahwa kasih Allah itu hadir dalam segala hal dan melalui segala hal. Yesus bersabda, “… tinggallah di dalam kasih-Ku itu” (Yoh 15:9); artinya jadilah kerasan dengan kepercayaan ini, berakarlah pada kasih ini, dan timbalah semua energimu dari kasih ini.

Yesus juga bersabda: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12). Di sini kita dipanggil untuk mengasihi, yaitu dengan kasih yang lebih daripada sekadar “kasih kodrati”, melainkan “kasih adikodrati” (bersifat supernatural), yaitu suatu syering dalam kasih ilahi. Dalam bacaan kedua hari ini, Yohanes menulis, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita”  (1Yoh 4:10). Kasih tertinggi yang dalam bahasa Latin disebut caritas bukanlah cinta kasih seperti yang secara alamiah kita kenal, melainkan kasih Allah yang hidup dalam diri kita dan bertindak melalui diri kita.

Kasih kodrati membutuhkan suatu dasar dalam hal daya tarik, kepentingan bersama, komplementaritas dari karakter-karakter, bahkan rasa kasihan, yang mendorong seorang pribadi untuk pergi keluar menemui pribadi yang lain. Sebaliknya kasih adikodrati dicirikan oleh sumbernya. Sumbernya adalah kasih Allah sendiri yang hidup dalam diri kita melalui berdiamnya Roh Kudus dalam diri kita.

YESUS KRISTUS - 10Dengan demikian, kasih Kristiani yang sejati akan menunjukkan karakteristik-karakteristik kasih Yesus sendiri. Kasih Kristus ini tidak terbatas untuk orang-orang yang disenangi-Nya saja. Seperti Bapa surgawi “yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang tidak benar” (lihat Mat 5:45), demikian pula kasih Kristus tidak bersifat diskriminatif. Kasih-Nya menolak untuk diracuni oleh kesalahan-kesalahan dan luka-luka (batin) mereka. Pengampunan-Nya mengatasi setiap luka pribadi. Yesus sendiri memberi contoh pengorbanan diri-Nya sampai mati di kayu salib, semuanya guna menyelamatkan umat manusia, termasuk tentunya diri kita sendiri. Pola dari kasih Kristus adalah “model” bagi semua orang Kristiani. “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12).

Kasih kodrati selalu terbatas kepada orang-orang tertentu saja; kasih seperti ini mengesampingkan orang-orang lain dan praktis tidak memungkinkan dilakukannya pengampunan secara total. Di lain pihak, kasih adikodrati – karena merupakan suatu partisipasi dalam kasih ilahi, dapat mengatasi kendala-kendala yang disebutkan di atas. Kasih adikodrati ini berasal dari pemahaman ilahi dan bela rasa ilahi guna menemukan kemampuan mengampuni mereka yang telah mendzolimi kita.

Jika ada seseorang yang merasakan tidak mungkinlah baginya untuk mengampuni seorang lain, maka hal ini menunjukkan bahwa orang itu belum menemukan Roh Kudus dalam dirinya, Roh yang diberikan kepada kita ketika dibaptis. Kasih kodrati terpusat kepada orang yang tidak dapat kita kasihi. Kasih adikodrati kurang memfokuskan perhatiannya terhadap pihak lain … melainkan lebih-lebih kepada sumber kasih ilahi di dalam diri kita.  Kita harus menyerahkan segala masalah pengampunan kepada Allah yang tinggal dalam diri kita. Kita harus mengaku kepada Allah bahwa kemampuan alamiah kita telah mencapai batasnya. Setelah itu kita mengundang Allah yang berdiam dalam diri kita untuk berpikir dalam pikiran kita dan untuk mengasihi melalui hati kita.

Yesus memanggil para murid untuk dimurnikan oleh ajaran-Nya, dengan demikian mereka masuk ke dalam titik pandang mental-Nya. Dengan demikian mereka tidak akan bertindak-tanduk seperti hamba, melainkan sebagai sahabat-sahabat-Nya yang sejati. Yesus bersabda: “Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku”  (Yoh 15:15). Para murid dipilih sendiri oleh Yesus dan diberi amanat untuk melanjutkan pekerjaan-Nya dan menyampaikan dan menyebarluaskan kasih-Nya di seluruh dunia.

Saudari dan Saudara terkasih, baiklah kita ingat selalu bahwa kasih sejati dimulai dalam Allah sang Maha Pencipta. Kasih itu ditunjukkan dalam pemberian-diri secara total dari Putera Bapa. Kasih itu ditanamkan ke dalam diri kita oleh Roh Kudus. Hidup Kristiani adalah mengetahui apa yang kita telah terima …… kita berdiam di dalamnya …… dan menyampaikannya atau menyebarluaskannya kepada orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, cintakasih kami lemah dan hati kami kecil. Namun sebelum kami mengasihi-Mu, Engkau telah mengasihi kami dan memberikan hidup-Mu bagi kami. Bukalah hati kami lebar-lebar dan biarlah kasih-Mu memenuhi diri kami secara berlimpah. Kami ingin menunjukkan kepada dunia apa yang dapat dilakukan oleh kasih-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-17), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SUNGGUH MENGASIHI KITA” (bacaan tanggal 10-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015.

Cilandak, 7 Mei 2015  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUNIA TELAH LEBIH DAHULU MEMBENCI YESUS

DUNIA TELAH LEBIH DAHULU MEMBENCI YESUS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Sabtu, 9 Mei 2015) 

10TheLastSupper

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh 15:18-21) 

Bacaan Pertama: Kis 16:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-3,5

“Jikalau dunia membenci kamu ……”  (Yoh 15:18).

Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan kata “dunia”? Dalam bagian Injil Yohanes lainnya, Yesus memproklamasikan kasih Bapa-Nya akan dunia dengan tindakan mengutus Putera-Nya yang tunggal guna menyelamatkannya (Yoh 3:16). Namun penggunaan kata “dunia”  dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus itu mengacu kepada semua mereka yang menghuni bumi, puteri dan putera Bapa. Akan tetapi, pada bacaan Injil hari ini Yesus berbicara mengenai “dunia” sebagai sistem kemanusiaan yang tidak tunduk kepada Allah, melainkan yang berada di bawah pengaruh Iblis. Kalau Yesus berbicara mengenai “dunia” yang membenci para murid-Nya, maka Dia mengacu pada pertempuran antara kegelapan dan terang.

Yesus berkata-kata kepada para murid-Nya guna menyadarkan mereka (Yoh 15:8). Sampai berapa sadarkah kita bahwa jalan-jalan atau cara-cara dunia bukanlah jalan-jalan atau cara-cara Allah? Apabila kita hidup sebagai anak-anak Allah, maka kata-kata kita dan tindakan-tindakan kita di sana sini akan “bertabrakan” dengan “dunia”. Oleh karena itu baiklah bagi kita untuk senantiasa mengingat hal ini, sehingga dengan demikian kita tidak akan menjadi terkejut jika kita menghadapi oposisi selagi kita berupaya untuk melakukan kehendak Bapa surgawi.

YESUS KRISTUS - 11Hidup sebagai anak-anak Allah menyangkut tindakan melepaskan nilai-nilai “dunia” yang umumnya berlaku, misalnya mendahulukan kepentingan pribadi kita dlsb. Sebagai anak-anak Allah, cara kita menjalin relasi harus didasarkan atas pemberian-diri dan rekonsiliasi. Kita tidak akan mencari-cari kesempatan untuk membalas dendam, namun akan menyerahkan tindakan penghakiman kepada Allah saja dan berdoa bagi para “musuh” kita (= orang-orang yang mendzolimi diri kita). Sikap dan perilaku kita haruslah berdasarkan ajaran Yesus dalam “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7) dan hukum kasih. Karena itu, kita kadang-kadang akan menemukan diri kita dalam posisi “sendiri” dalam prinsip-prinsip kita, bahkan barangkali sampai diasingkan, dimusuhi, didzolimi oleh orang-orang lain, justru karena mau menjadi seorang “tanda lawan”.

Saudari dan Saudaraku, bagaimana seharusnya kita menangani “kebencian” yang harus dihadapi oleh semua pengikut Yesus? Pertama, baiklah kita memeriksa diri kita sendiri untuk melihat apakah diri kita terprovokasi oleh tindakan kita guna melakukan kehendak Allah atau oleh kesombongan dan kekerasan kepala kita. Roh Kudus dapat menolong kita untuk menentukan apakah ada sesuatu dalam tindakan-tindakan kita atau motif-motif yang melatar-belakangi tindakan-tindakan kita tersebut yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Kedua, marilah kita meneladan Yesus dan kerendahan hati-Nya. Yesus mengasihi dan bahkan mengampuni mereka yang menyalibkan diri-Nya, dan Dia mengajak kita untuk memiliki sikap yang sama terhadap siapa saja yang memusuhi kita, menyakiti hati kita dlsb. karena kesaksian Kristiani kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku berdoa bagi para misionaris yang menderita karena pengejaran dan penganiayaan, demikian pula bagi umat Kristiani biasa-biasa saja yang berdiam di seluruh dunia yang mengalami penindasan dalam berbagai bentuk karena iman Kristiani mereka. Berikanlah kekuatan dan daya tahan kepada mereka. Tolonglah diriku agar dapat meniru keberanian mereka. Tuhan, jadikanlah aku senantiasa setia kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 15:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN CARA-CARA BIASA MAUPUN CARA-CARA LUARBIASA” (bacaan tanggal 9-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 BACAAN HARIAN MEI 2015. 

Cilandak, 6 Mei 2015 

Sdr F.X. Indrapradja, OFS