NUBUATAN MELAWAN RAJA TIRUS

NUBUATAN MELAWAN RAJA TIRUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Pius X – Selasa, 21 Agustus 2012)

Maka datanglah firman TUHAN (YHWH) kepadaku: “Hai anak manusia, katakanlah kepada raja Tirus: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena engkau menjadi tinggi hati, dan berkata: Aku adalah Allah! Aku duduk di takhta Allah di tengah-tengah lautan. Padahal engkau adalah manusia, bukanlah Allah, walau hatimu menempatkan diri sama dengan Allah. Memang hikmatmu melebihi hikmat Daniel; tiada rahasia yang terlindung bagimu. Dengan hikmatmu dan pengertianmu engkau memperoleh kekayaan. Emas dan perak kaukumpulkan dalam perbendaharaanmu. Karena engkau sangat pandai berdagang engkau memperbanyak kekayaanmu, dan karena itu engkau jadi sombong. Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena hatimu menempatkan diri sama dengan Allah maka, sungguh, Aku membawa orang asing melawan engkau, yaitu bangsa yang paling ganas, yang akan menghunus pedang mereka, melawan hikmatmu yang terpuja; dan semarakmu dinajiskan. Engkau diturunkannya ke lobang kubur, engkau mati seperti orang yang mati terbunuh di tengah lautan. Apakah engkau masih akan mengatakan di hadapan pembunuhmu: Aku adalah Allah!? Padahal terhadap kuasa penikammu engkau adalah manusia, bukanlah Allah. Engkau akan mati seperti orang tak bersunat oleh tangan orang asing. Sebab Aku yang mengatakannya, demikinalah firman Tuhan ALLAH.” (Yeh 28:1-10)

Mazmur Tanggapan: Ul 32:26-28,30,35-36; Bacaan Injil: Mat 19:23-30

Walaupun para pengungsi Yahudi merasa seperti tersambar petir pada saat kejatuhan Yerusalem, banyak dari mereka yang masih (dengan sia-sia) mengharapkan bahwa perlawanan dari orang-orang Tirus melawan Babel dapat mengubah keadaan menjadi menguntungkan bagi Tirus. Tugas dari Yehezkiel adalah untuk melawan optimisme tanpa dasar ini dengan kebenaran bahwa orde lama harus pergi sebelum hari baru keselamatan dan berkat dapat terbit di atas umat pilihan Allah.

Yehezkiel mengingatkan para pengungsi Yahudi bahwa hanya Tuhan Allah-lah yang berdaulat. Raja Tirus, hanyalah seorang manusia lemah yang keberhasilannya dalam bidang komersial menyebabkan dia berpikir bahwa dirinya memiliki kodrat ilahi: sama dengan Allah. Karena kesombongannya, dia harus ditaruh di tempatnya dengan cara yang menentukan. Rasa-amannya dan kesejahteraannya yang didasarkan pada sumber-daya ekonomi akan dicerai-beraikan oleh peristiwa-peristiwa politik yang sepenuhnya berada di bawah kendali Tuhan Allah.

Sejarah telah menunjukkan bahwa kebenaran ini tidak terbatas pada masa lampau. Kebenaran itu tentunya masih relevan pada zaman modern ini di mana ada begitu banyak pemimpin sombong (Adolf Hitler, misalnya) berpretensi sebagai pribadi-pribadi yang memiliki kodrat ilahi dan menyebabkan banyak penderitaan atas rakyat mereka sendiri dan juga bangsa-bangsa lainnya, sampai mereka sendiri ditaklukkan lewat peperangan-peperangan yang sangat berdarah dan sangat mahal.

Menjelang Perang Dunia II, keprihatinan-keprihatinan seperti itu mendorong Paus Pius XI [1922-1939] untuk menulis kepada para uskup Jerman (1937) tentang bahaya-bahaya pengagung-agungan cita-cita kekafiran oleh rezim Nazi sebagai substitusi/pengganti dari Allah yang benar: “Hati-hatilah, Saudara-Saudaraku yang terkasih, terhadap semakin bertumbuhnya penyalahgunaan, dalam pidato maupun dalam tulisan, tentang nama Allah seakan merupakan label yang tidak mempunyai arti …… Allah kita adalah Allah Pribadi, supernatural, mahakuasa, sempurna tanpa batas, satu dalam Trinitas Pribadi-Pribadi, tiga pribadi dalam kesatuan hakikat ilahi, Pencipta segala yang ada, Tuhan, Raja …… yang tidak dapat mentoleransi seorang ilah saingan di samping-Nya” (dalam Mit Brennender Sorge; saya ambil dari terjemahan dalam Bahasa Inggrisnya).

DOA: Bapa surgawi, kami berdoa agar bangsa-bangsa di dunia akan merendahkan diri di hadapan hadirat-Mu. Semoga para pemimpin negara dan bangsa kami tidak sombong hati dan berupaya untuk membuang-Mu. Ya Tuhan dan Allah kami, semoga semua bangsa dan para pemimpin akan menyerahkan hidup mereka kepada-Mu dan menyadari bahwa Engkau saja sang Pencipta dan Tuhan alam semesta. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:23-30 ), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BELAJAR DARI UNTA” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “AKAN MENERIMA KEMBALI SERATUS KALI LIPAT” (bacaan tanggal 16-8-11) dalam situs/blog SANG SABDA ini; kategori 11-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2011.

Bagi anda yang ingin mengenal lebih lagi Santo Pius X yang kita peringati hari ini, silahkan baca ceritanya dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: ORANG-ORANG KUDUS FRANSISKAN.

Cilandak, 15 Agustus 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH SEMUA HAL YANG LAIN ITU LEBIH PENTING BAGI KITA DARIPADA RELASI KITA DENGAN YESUS?

APAKAH SEMUA HAL YANG LAIN ITU LEBIH PENTING BAGI KITA DARIPADA RELASI KITA DENGAN YESUS?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bernardus, Abas & Pujangga Gereja – Senin, 20 Agustus 2012)

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)

Bacaan Pertama: Yeh 24:14-24; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21

Barangkali cerita tentang orang muda yang kaya ini adalah tentang sikap kita terhadap uang. Namun karena ada peristiwa-peristiwa lain yang diceritakan dalam Kitab Suci, misalnya tentang para perempuan yang menggunakan uang/harta-milik mereka untuk mendukung Yesus dan karya pelayanan-Nya (lihat Luk 8:1-3), maka lebih tepatlah apabila kita mengatakan bahwa bacaan Injil hari ini adalah tentang sikap dan disposisi kita yang tidak hanya berkaitan dengan masalah uang.

Ada sesuatu dalam sikap orang muda-kaya ini yang tidak benar. Yesus melihatnya dan berupaya untuk mengangkat masalahnya ke atas permukaan, agar supaya orang muda-kaya ini dapat bebas menerima kasih-Nya. Yesus melihat bahwa orang muda-kaya ini telah memperkenankan harta-kekayaannya menjadi berhala, yang mempunyai suatu posisi yang lebih tinggi daripada Allah sendiri.

Cerita dari Matius ini dapat menggerakkan kita untuk mengajukan suatu pertanyaan yang serupa. Apakah ada sikap kita terhadap uang, pengakuan/penghargaan dari orang lain, kepenuhan-diri, atau kekuasaan – yang menduduki tempat yang lebih tinggi daripada Allah? Apakah disposisi-disposisi ini begitu berarti bagi kita sehingga menyebabkan kita meminimalisir atau malah menghilangkan atau melupakan samasekali cara yang diinginkan Allah bagi kehidupan kita? Apakah semua itu lebih penting bagi kita daripada relasi kita dengan Yesus?

Bagi Yesus, hidup kita dengan-Nya bukanlah berdoa pada waktu-waktu tertentu secara teratur, menghadiri Misa, pekerjaan apa yang kita lakukan, atau cara kita hidup. Memang benar Tuhan Yesus menginginkan kita hidup dengan cara tertentu – dipenuhi dengan tindakan-tindakan positif penuh keutamaan. Akan tetapi mungkinlah untuk melakukan segala hal yang benar dan tetap menjalani kehidupan yang terfokus kepada (kepentingan)diri kita sendiri dan bukan pemberian kemuliaan dan kehormatan bagi Allah.

Saudari-saudara yang dikasihi Kristus, Allah menginginkan hati kita. Dia menginginkan kita menjadi kurban yang hidup bagi-Nya. Kita perlu jelas bahwa Bapa surga lebih menyukai umat yang memiliki komitmen penuh pada Putera-Nya – walaupun umat ini juga bisa saja tidak sempurna, lemah, rentan terhadap godaan dan dosa, dan tidak setia. Bapa surgawi mempunyai kesulitan yang jauh lebih besar dengan umat yang mungkin “nyaris-sempurna” namun yang juga berpegang teguh pada independensi mereka, kemandirian mereka dan pemenuhan-diri. Mereka yang lemah namun mengasihi Yesus lebih menarik bagi Allah daripada orang-orang hebat yang lebih mengasihi diri mereka sendiri ketimbang Putera-Nya, Yesus!

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan hatiku kepada-Mu. Anugerahkanlah kepadaku suatu hasrat untuk menyingkirkan setiap halangan yang merintangi diriku dapat berjalan bersama-Mu. Aku mengasihi Engkau, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan dengan judul “JIKALAU ENGKAU HENDAK SEMPURNA” (bacaan tanggal 20-8-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “APALAGI YANG MASIH KURANG?” (bacaan tanggal 15-8-11), dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2011.

Cilandak, 14 Agustus 2012 [Peringatan Santo Maximilian Kolbe]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA

ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XX – Minggu, 19 Agustus 2012)

“Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51-58)

Bacaan Pertama: Ams 9:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,10-15; Bacaan Kedua Ef 5:15-20

“Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh 6:57). Di sini Yesus mengatakan bahwa Bapa surgawi adalah “Bapa yang hidup”, dan diri-Nya sendiri “hidup oleh Bapa”. Allah Bapa adalah sumber segala kehidupan. Itulah sebabnya mengapa Dia dinamakan “Bapa”. Sejak awal mula Allah telah memberikan kehidupan kepada Putera-Nya. Bagi Putera-Nya, untuk menjadi “Putera” berarti Dia memperoleh kehidupan dari Bapa. Kabar Baik di sini adalah bahwa kita dapat ikut ambil bagian dalam hidup kekal yang bersifat ilahi dari Bapa dan Putera secara berwujud. Bagaimana dapat begitu?

Yesus memproklamasikan diri-Nya sebagai “roti kehidupan yang telah turun dari surga” (Yoh 6:51). Perhatikan frase unik “roti kehidupan” ini. Kita berpikir mengenai roti yang memberikan kehidupan bagi kita, namun kita tidak biasa menyebut roti itu hidup. Yesus adalah roti kehidupan berdasarkan dua alasan. Pertama-tama, Yesus memiliki hidup ilahi dari Bapa surgawi. Kedua, Bapa surgawi telah membangkitkan Yesus dan membuat-Nya menjadi Tuhan Kehidupan yang bangkit. Bapa telah memberikan Yesus kehidupan kekal sebagai Allah dan sebagai manusia yang bangkit.

Yesus adalah roti kita yang sejati karena Dia turun dari surga dari Bapa; Dia menjadi manusia. Yesus adalah pemberian kehidupan dari Bapa bagi dunia. Dalam Ekaristi, Bapa melanjutkan memberikan Yesus sebagai roti yang memberikan kehidupan. Dalam Ekaristi, kita makan tubuh dan minum darah Yesus. Putera ilahi, sekarang Tuhan yang bangkit, menjadi makanan kita untuk kehidupan kekal.

Inilah sebabnya mengapa Yesus begitu penuh empati di tengah-tengah keraguan orang-orang Yahudi. “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:54). Dengan makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya, kita tinggal di dalam Yesus dan Ia dalam kita (lihat Yoh 6:56). Dengan berdiam dalam Yesus kita juga tinggal dalam Bapa, yang merupakan sumber kehidupan.

Ekaristi mempunyai efek yang sangat penuh kuat-kuasa. Ekaristi memberikan kepada kita kehidupan kekal di sini dan sekarang selagi kita ikut ambil bagian dalam keilahian Yesus. Kehidupan kekal bukan saja sesuatu yang kita terima pada saat kematian kita; karena kita telah memilikinya. Lagi pula, tubuh dan darah Yesus membuat diri kita imun terhadap kematian atau maut. Karena kita hidup dalam Yesus sekarang, maka kita akan hidup bersama-Nya untuk kehidupan kekal.

Ekaristi adalah suatu misteri agung karena dengan mengambil bagian di dalamnya kita ditransformasikan ke dalam keserupaan dengan Kristus. Kita menjadi ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya. Kita menjadi berdiam dalam Putera dan hidup sebagai anak-anak Bapa surgawi, walaupun kita samasekali tidak pantas menerima anugerah yang sedemikian besar dan agung.

DOA: Bapa surgawi, kami percaya bahwa dengan memakan tubuh Kristus dan minum darah-Nya dalam Ekaristi, maka kami akan tinggal di dalam Dia dan Ia dalam kami. Dengan berdiam di dalam Dia, maka kami pun akan tinggal di dalam Engkau, sumber segala kehidupan. Terima kasih Bapa untuk anugerah Ekaristi bagi umat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:51-58), bacalah tulisan yang berjudul “AKULAH ROTI KEHIDUPAN YANG TELAH TURUN DARI SURGA” (bacaan tanggal 26-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 11-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2011. Untuk pendalaman pribadi atas tema “Roti Kehidupan” ini, saya menganjurkan anda membaca tulisan berjudul “YESUS KRISTUS ADALAH ROTI KEHIDUPAN” tanggal 14 Januari 2010; “CORPUS CHRISTI” tanggal 6 Juni 2010; dan “AKULAH ROTI KEHIDUPAN” tanggal 10 Mei 2011; dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com. Carilah dalam kategori: EKARISTI, IMAM DAN IMAMAT.

Cilandak, 13 Juni 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGASIHI ANAK-ANAK KITA

MENGASIHI ANAK-ANAK KITA

Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Sabtu, 18 Agustus 2012)

Ordo Salib Suci: Peringatan Santa Helena, Ratu dan Janda

Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang punya Kerajaan Surga.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya di atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ. (Mat 19:13-15)

Bacaan Pertama: Yeh 18:1-10,13,30-32; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-15,18-19

Setiap hari, Yesus berseru: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku”, dan setiap hari pula tangan-tangan-Nya terbuka lebar-lebar siap untuk menyambut mereka. Para orangtua yang baik menyadari bahwa keprihatinan utama mereka haruslah kebahagiaan anak-anak mereka. Oleh karena itulah mereka sangat memperhatikan kesehatan mereka, pendidikan mereka dan kesejahteraan mereka dengan pengharapan bahwa mereka berkembang menjadi orang-orang dewasa yang matang dan bertanggung-jawab. Para orangtua Kristiani juga menyadari bahwa mereka harus membantu anak-anak mereka mencapati kebahagiaan akhir kehidupan kekal. Lebih dari apa pun juga yang lain, mereka ingin membantu anak-anak mereka berjalan bersama Yesus.

Salah satu penghalang terbesar yang dihadapi para orangtua dalam panggilan ini adalah pendefinisian kembali dari kata “kasih”. Apa artinya mengasihi anak-anak kita? Apakah itu sekadar berarti membantu mereka memperoleh hal terbaik yang dapat ditawarkan oleh dunia, atau yakinkah kita bahwa ada suatu “alam surgawi” yang merupakan tujuan akhir dari peziarahan kita di atas bumi? Apakah kita sungguh percaya bahwa anak-anak kita tidak akan selamat sampai mereka mengenal Yesus? Hal inilah yang akan menentukan bagaimana kita akan “mengasihi” anak-anak kita.

Tentu saja kesehatan, reputasi baik, dan stabilitas dalam hal materi semuanya penting, namun Yesus adalah yang paling penting dari apa/siapa saja yang ada karena Dialah tujuan dari setiap kehidupan manusia. Sebagai para orangtua, apakah kita (anda dan saya) menginginkan Yesus menjadi Tuhan, Juruselamat, dan Pelindung semua anak kita? Apakah kita percaya bahwa dalam Sakramen Perkawinan, Allah telah memberikan kepada kita rahmat luarbiasa guna memampukan kita menjadi saksi, berdoa bagi anak-anak kita dan membentuk anak-anak kita sesuai dengan Injil? Apakah kita mengetahui bahwa Yesus berdiri di dekat kita senantiasa dan siap untuk membimbing kita selagi kita mencari hikmat?

Walapun kita sudah lama tidak aktif dalam bisnis, tidak bekerja untuk mencari uang lagi, dan hidup jauh dari anak-anak kita, kita tetap mempunyai kewajiban untuk mendorong serta menyemangati anak-anak kita dan berdoa bagi mereka. Kita tidak boleh sungkan-sungkan atau takut untuk mengatakan kepada mereka agar memusatkan pandangan mata (hati) mereka pada Yesus. Kita juga tidak boleh lupa syering dengan mereka bagaimana Allah bekerja dalam kehidupan kita masing-masing. Selagi anak-anak kita semakin mengenal Allah, maka kita pun akan merasakan bahwa anak-anak kita pun menjadi semakin dekat dengan kita …… karena Yesus memang sungguh senang memberikan berkat-Nya kepada keluarga-keluarga. Marilah kita membantu semua anak-anak kita agar mengenal kasih Yesus pada setiap saat kehidupan mereka.

DOA: Tuhan Yesus, biarlah Roh-Mu membentuk diri kami masing-masing agar supaya doa-doa kami, teladan hidup kami, apa yang kami katakan dan perbuat, dapat menarik anak-anak lebih dekat kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 19:13-15), bacalah tulisan dengan judul “ORANG-ORANG SEPERTI ITULAH YANG PUNYA KERAJAAN SURGA” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 12-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS MEMBERKATI ANAK-ANAK” (bacaan tanggal 14-8-10), dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 10-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2010.

Cilandak, 13 Agustus 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERIKANLAH KEPADA KAISAR APA YANG WAJIB KAMU BERIKAN KEPADA KAISAR [2]

BERIKANLAH KEPADA KAISAR APA YANG WAJIB KAMU BERIKAN KEPADA KAISAR [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA – Jumat, 17 Agustus 2012)

Kemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:15-21).

Bacaan Pertama: Sir 10:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,6-7; Bacaan Kedua: 1Ptr 2:13-17

Seperti seringkali dilakukan mereka sebelumnya, orang-orang Farisi bermaksud untuk menjebak Yesus. Mereka mulai menyapa Yesus dengan kata penuh hormat – namun terasa “lebai” atau overloaded – dengan harapan Yesus akan berbicara secara bebas dan terbuka: “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka” (Mat 22:16). Kalimat ini langsung dilanjutkan dengan sebuah pertanyaan dilematis: “Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (Mat 22:17). Dalam Theokrasi suci bangsa Yahudi, YHWH adalah Raja bangsa Yahudi dan sebagai tanda akan hal tersebut mereka harus membayar pajak untuk Bait Allah. Akan tetapi sejak diturunkannya Arkhelaus (putera Herodes Agung) dari takhtanya pada tahun 6 M, ada satu pajak lagi, yaitu bagi perbendaharaan kekaisaran. Pajak yang disebutkan belakangan ini mengingatkan orang-orang Yahudi dari masa ke masa akan ketergantungan mereka pada Roma.

Orang-orang Saduki membayar pajak Roma ini tanpa banyak “cing-cong”, orang-orang Farisi membayar pajak itu dengan setengah hati, orang-orang Zeloti (militan) samasekali tidak membayar pajak tersebut, karena membayar pajak untuk kepentingan Roma tersebut mereka pandang sebagai suatu penyangkalan terhadap theokrasi Allah. Walaupun pajak termaksud relatif tidak besar, pembayaran tersebut dapat dipandang sebagai suatu pengakuan terhadap penguasaan Roma atas umat Allah, sehingga dengan demikian menjadi suatu pertanyaan keagamaan. Kekaisaran Roma cukup cerdik untuk memperkenankan para penguasa bonekanya membuat mata uang logam dari tembaga/perunggu, sedangkan Roma sendiri membuat uang logam perak (seberat 3,85 gram) yang dinamakan dinar (Latin: denarius; Yunani: dènarion) dan di atasnya tertera tulisan dan gambar Kaisar Tiberius.

Para lawan Yesus bertanya apakah (1) diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar, dan apabila diperbolehkan, (2) apakah seseorang harus membayarnya. Mereka berpikir pertanyaan itu akan menjadi sebuah dilema bagi Yesus: Apabila Yesus mengatakan “tidak”, maka Dia melawan para pendukung Herodes dan terlebih lagi melawan penguasa Roma; maka dengan senang hati orang-orang Farisi yang hadir (tentunya juga orang-orang Saduki – kalau ada di tempat itu) dan para pendukung Herodes itu akan menggiring Yesus kepada penguasa Romawi. Namun apabila Yesus mengatakan “ya”, maka Dia adalah seorang pengkhianat bangsa Yahudi. Seperti buah simalakama, bukan?

Yesus bukanlah Yesus kalau tidak mampu mengatasi dilema semacam itu. Yesus membuat para lawannya menjawab sendiri pertanyaan mereka. Yesus minta diperlihatkan mata uang logam yang digunakan untuk membayar pajak. Ia sendiri tidak mempunyainya, namun para lawannya mempunyai uang logam tersebut dengan gambar Kaisar Tiberius. Yang mau menjebak Yesus sekarang menjadi pihak yang terjebak, karena ada sebuah hukum tak tertulis yang mengatakan bahwa uang siapa yang kugunakan berarti pemerintahannya kuakui dengan sukarela maupun tidak.

Bagian pertama pertanyaan para lawan Yesus tentang kebaikan moral membayar pajak kepada Kaisar dijawab oleh Yesus dengan mengatakan: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar” (Mat 22:21). Hal ini tidak bertentangan dengan kewajiban kita terhadap Allah: “… dan (berikan) kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21). Jawaban penuh hikmat ilahi tersebut membuat mereka heran – merasa bodoh sendiri – lalu “nyelonong” pergi meninggalkan Yesus (lihat Mat 22:22). Ingat lagu lama dari the Bee Gees? “I started a joke” ……… dan akhirnya: “and the joke was on me!”

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar” berarti bahwa setiap orang harus mempunyai keprihatinan tertentu terhadap kesejahteraan sosial-politik negaranya dan harus taat sebagai seorang warganegara. Namun hal ini tidak berlaku atas setiap klaim dari otoritas politik (pemerintah) yang bersifat ilahi. Pemerintah harus melaksanakan suatu tanggung-jawab yang berasal dari Allah. “Berikanlah kepada Kaisar apa yang kamu berikan kepada Kaisar” juga berarti kesetiaan kepada Allah karena Allah berkehendak agar kita menaruh perhatian pada masyarakat kita. Pada gilirannya hal ini merupakan suatu pemenuhan sebagian dari tugas mendasar kita, yaitu untuk memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya. Memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya merupakan suatu hal yang senantiasa lebih penting daripada memberikan kepada Kaisar apa yang menjadi miliknya. Mengapa? Karena “di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi …” (Sir 10:4).

Bacaan Pertama yang diambil dari Kitab Yesus bin Sirakh (Sir 10:1-8) dan Bacaan Kedua (1Ptr 2:13-17) sarat dengan nasihat-nasihat bagi para penguasa pemerintahan. Nasihat-nasihat tersebut sangat relevan untuk situasi negara dan bangsa kita yang pada hari ini merayakan ulang tahun kemerdekaan yang ke-67, dan semuanya dapat dibaca dan direnungkan oleh anda masing-masing. Semuanya sudah self-explanatory sehingga tidak memerlukan tafsir yang sulit-sulit.

DOA: Bapa surgawi, Engkau memanggil setiap orang kepada kemerdekaan dalam Yesus Kristus, Putera-Mu. Maka pada hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ini kami mohon kepada-Mu: lindungilah tanah air kami, agar tetap dapat menikmati kemerdekaan sejati dan aman sentosa, agar di seluruh wilayahnya berkuasalah keadilan dan damai sejahtera, perikemanusiaan, kerukunan dan cintakasih yang sejati. Ingatkanlah kepada para penguasa negara dan bangsa kami, baik di bidang eksekutif, legislatif dan eksekutif maupun para pemimpin masyarakat lainnya misalnya para pemimpin keagamaan, agar mereka senantiasa mengingat bahwa di tangan-Mulah sebenarnya terletak segala kuasa atas bumi. Berikanlah hikmat kepada para penguasa yang rendah hati, tidak lupa daratan, memiliki cinta-tulus kepada “wong cilik”dan mengakui bahwa Engkau sajalah Tuhan alam semesta. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:15-21), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP YANG TEPAT TERHADAP ALLAH ADALAH JAWABANNYA” (bacaan tanggal 17-8-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “BERIKANLAH KEPADA KAISAR APA YANG WAJIB KAMU BERIKAN KEPADA KAISAR” (bacaan untuk tanggal 17-8-11), dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2012.

Sebagai tambahan, bacalah tulisan yang berjudul “KEMERDEKAAN ANAK-ANAK ALLAH” dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: PERCIKAN-PERCIKAN TEOLOGI ALKITABIAH; tanggal posting: 16 Agustus 2010.

Cilandak, 12 Agustus 2012 [HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA]]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AJARAN YESUS TENTANG PENGAMPUNAN

AJARAN YESUS TENTANG PENGAMPUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Kamis, 16 Agustus 2012)

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1)

Bacaan Pertama: Yeh 12:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-59,61-62

“Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22).

Petrus bertanya kepada Yesus tentang batas pemberian pengampunan dan dia juga menyebut, sampai tujuh kali-kah? Angka “tujuh” yang disebut oleh Petrus adalah angka kemurahan-hati karena ajaran para rabi Yahudi mengindikasikan batas kesabaran adalah sampai empat kali didzolimi (sumber: Donald Senior C.P., Read and Pray – Gospel of St. Matthew, Chicago, Illinois; Franciscan Herald Press, 1974, hal. 63). Namun kita lihat di sini, Yesus menolak untuk menetapkan batasan sama sekali, malah menyebut angka simbolis yang menggambarkan ketidakterbatasan, hal mana merupakan penjungkir-balikan seruan Lamekh untuk melakukan pembalasan dendam berdarah (lihat Kej 4:24). Seruan untuk melakukan rekonsiliasi digambarkan dalam sebuah perumpamaan (Mat 18:21-35) yang merupakan bacaan Injil kita hari ini, dan perumpamaan ini hanya ada dalam Injil Matius. Perumpamaan itu mengidentifikasikan mengapa pengampunan itu harus menjadi satu karakteristik kehidupan dalam Kerajaan Allah. Setiap anggota komunitas adalah seperti hamba telah banyak diampuni oleh Allah, yang didorong oleh bela rasa yang murni (Mat 18:27). Karena kita telah diampuni, kita harus cukup peka untuk mau dan mampu berekonsiliasi dengan seorang saudara kita (Mat 18:33,35).

Karena Allah itu adalah kasih dan Ia sempurna, maka pengampunan-Nya langsung dan permanen. Sayang sekali, tidak begitu halnya dengan kita! Karena kita manusia yang tidak sempurna, pengampunan menjadi sangat sulit bagi kita. Barangkali itulah mengapa Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa dia harus mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali. Cobalah kita pikirkan hal berikut ini: Apabila kita berhasil berekonsiliasi dengan seorang saudara atas satu isu setelah proses pemecahan masalah sebanyak dua atau tidak kali pertemuan, maka kita pun akan merasakan bahwa relasi kita dengan orang itu akan jauh lebih mudah terjalin dan terpelihara.

Mengampuni seseorang yang telah menyakiti kita seringkali merupakan sebuah proses yang berlangsung secara bertahap. Misalnya, pada awalnya kita dapat saja mengampuni seseorang, namun beberapa hari kemudian muncul lagi rasa kesal dan marah. Jadi, kita harus “membangun” kembali pengampunan kita. Ada juga kasus-kasus di mana kita sungguh mengampuni seseorang, namun kita tidak mau lagi berada dekat orang itu. Akan tetapi, setelah berjalannya waktu – cepat atau lambat – perlahan-lahan kita pun mampu “mengusir” rasa sakit-hati yang kita alami sehingga kita dapat berinteraksi lagi dengan orang tersebut. Dalam situasi apa pun, yang paling penting adalah untuk maju terus menuju pengampunan yang lengkap dan total.

Apa saja yang dapat kita (anda dan saya) lakukan dalam hal berekonsiliasi dengan orang yang bersalah kepada kita? Pertama-tama tentunya kita harus mendoakan orang itu. Kita bayangkan bahwa kita telah berekonsiliasi dengannya … sudah berdamai. Kedua, kita harus mengambil keputusan untuk mengampuni orang tersebut, dan tetap mengambil keputusan untuk mengampuni selama diperlukan. Kita harus senantiasa mengingat, bahwa kita harus melakukannya sampai sebanyak “tujuh puluh kali tujuh kali”. Ketiga, kita harus melihat bahwa Yesus mengasihi orang itu seperti Dia mengasihi kita masing-masing. Kalau kita menjadi semakin pahit atau marah, maka kita masih membutuhkan waktu yang lebih banyak. Kalau begitu halnya, maka yang harus kita lakukan adalah melanjutkan pemberian pengampunan dalam hati kita sebaik-baiknya sambil terus memohon pertolongan dari Yesus.

Apapun yang kita lakukan, kita tidak pernah boleh menyerah. Yesus akan memberkati setiap langkah yang kita ambil guna tercapainya rekonsiliasi dengan orang yang bersalah kepada kita – walaupun langkah itu kecil saja. Yang terakhir: Kita harus senantiasa mengingat dan menyadari bahwa pengampunan bukanlah sekadar suatu tindakan manusia. Kita memerlukan rahmat Roh Kudus guna menolong kita mengampuni orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengampuni dosa-dosaku. Tolonglah aku untuk mau dan mampu mengampuni mereka yang telah berbuat salah kepadaku. Aku menyadari bahwa aku pun harus mengampuni mereka agar diriku dapat diampuni oleh-Mu. Tolonglah aku untuk senantiasa menghayati sabda bahagia-Mu: “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan berolah belas kasihan” (Mat 5:7). Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), bacalah tulisan dengan judul “SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI !!!” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2012. Bacalah juga tulisan berjudul “SAMPAI BERAPA KALI AKU HARUS MENGAMPUNI SAUDARAKU?” (bacaan tanggal 11-8-11), dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2011.

Cilandak, 7 Agustus 2012 [Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam-Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENTINGNYA PENGAMPUNAN

PENTINGNYA PENGAMPUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Rabu, 15 Agustus 2012)

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Lagi pula Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:15-20)

Bacaan Pertama: Yeh 9:1-7;10:18-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-6

Apakah kunci dari relasi yang baik? Kepercayaan (trust), penerimaan (acceptance), respek dan cintakasih tentunya diperlukan. Namun setiap hari kita menghadapi berbagai dosa dan godaan yang akan menghalang-halangi kita memberikan dan menerima cintakasih dan respek yang begitu bersifat vital. Pengalaman juga menunjukkan betapa mudahnya bagi kita menyerah kepada godaan-godaan ini – dan sementara proses itu berlangsung kita menyakiti orang-orang yang kita kasihi.

Itulah sebabnya mengapa ajaran Yesus tentang saling mengampuni satu sama lain mengandung arti yang sangat penting. Pengampunan memperlembut keadilan dengan belas kasih. Pengampunan membebaskan kita dari akar kepahitan, sakit hati, dendam, rasa dengki dlsb. dan secara bersamaan membuka diri kita untuk berbagi cintakasih yang kita semua tahu kita butuhkan. Mengampuni seseorang yang melakukan kesalahan terhadap diri kita adalah seperti membatalkan suatu utang. Pada awalnya mengandung biaya, namun manfaatnya dalam jangka panjang sungguh tak ternilai: ada rekonsiliasi, damai-sejahtera, persatuan dan suatu kasih yang telah diuji oleh api.

Ada cerita dari riwayat hidup Santo Fransiskus dari Assisi yang menggambarkan kuat-kuasa dari pengampunan. Hal ini dikisahkan dalam tulisan yang berjudul “Cermin Kesempurnaan” (Latin: Speculum Perfectionis; Inggris: Mirror of Perfection). Pada suatu hari di Celle, Perugia, Fransiskus bertemu dengan seseorang yang terlihat sedang mengalami kesulitan. Fransiskus bertanya kepadanya: “Saudara, apa yang terjadi dengan dirimu?” Orang itu langsung berkata-kata kasar terhadap/tentang tuannya, “Terima kasih kepada tuanku – Semoga Allah mengutuknya! – Saya tidak punya apa-apa, kecuali nasib buruk. Ia telah mengambil segalanya yang kumiliki.”

Mendengar itu Fransiskus dipenuhi dengan rasa kasihan terhadap orang itu, lalu berkata, “Saudara, ampunilah tuanmu demi kasih kepada Allah, dan bebaskanlah jiwamu sendiri; ada kemungkinan bahwa dia akan mengembalikan kepadamu apa saja yang telah diambilnya darimu. Kalau tidak demikian, maka engkau telah kehilangan harta-bendamu dan akan kehilangan jiwamu juga.” Namun orang itu berkata, “Aku tidak dapat sepenuhnya mengampuninya kalau dia tidak mengembalikan apa yang telah diambilnya dariku.” Fransiskus menjawab, “Lihatlah, aku akan memberikan jubahku kepadamu; namun aku mohon agar engkau mengampuni tuanmu demi cintakasih kepada Tuhan Allah.” Hati orang itu menjadi luluh dan tersentuh oleh kebaikan hati Fransiskus, dan ia pun mengampuni tuannya. [Sumber: Mirror of Perfection, 33 dalam Marion A.Habig OFM (Editor), St. Francis of Assisi – Omnibus of Sources, Quincy, Illinois: Franciscan Press – Quincy College, hal. 1158-1159. Terjemahan Leo Sherley-Price. Introduksi dalam bahasa Perancis oleh P. Théophile Desbonnets OFM diterjemahkan oleh Paul Oligny].

Seperti Santo Fransiskus, kita pun dapat menjadi pembawa (juru) damai (Inggris: peace maker; pembuat damai) dan saluran rahmat Allah. Bilamana kita berdoa bagi orang-orang yang menyakiti hati kita, maka hal itu membebaskan kita untuk mengasihi seperti Allah mengasihi. Rahmat Allah mempunyai kuat-kuasa tidak hanya untuk mengubah diri kita, melainkan juga mereka yang telah mendzolimi kita.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku bagaimana mengampuni. Semoga semua orang yang telah menyakiti diriku atau menyebabkan aku bersedih hati mengenal kuasa dan kebebasan dari belas kasih dan kasih dari-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:15-20), bacalah tulisan berjudul “TENTANG MENASIHATI SESAMA SAUDARA” (bacaan tanggal 15-8-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2012. Bacalah juga tulisan berjudul “DI MANA DUA ATAU TIGA ORANG BERKUMPUL DALAM NAMA-KU” (bacaan tanggal 4-9-11) dalam situs/blog SANG SABDA ini; kategori: 11-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2011.

Cilandak, 6 Agustus 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 149 other followers