DOA BAPA KAMI [4]

DOA BAPA KAMI [4]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Rabu, 9 Oktober 2013)

JESUS PREACHING TO THE PEOPLEPada suatu kali Yesus berdoa di suatu tempat. Ketika Ia selesai berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. Jawab Yesus kepada mereka, “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” (Luk 11:1-4)

Bacaan Pertama: Yun 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:3-6,9-10

Versi “Doa Bapa Kami” dalam Injil Lukas menekankan eksistensi dari kebutuhan-kebutuhan dan godaan-godaan (disebut sebagai pencobaan-pencobaan) yang kita hadapi sehari-hari. Oleh darah Kristus dosa-dosa kita ditebus, relasi kita dengan Bapa di surga yang selama ini putus karena dosa dipulihkan kembali dan kita pun menjadi anak-anak Bapa yang sangat dikasihi-Nya. Dalam kesempatan ini, marilah kita menggemakan kata-kata yang diucapkan para rasul: “Tuhan, ajarlah kami berdoa” (Luk 11:1). Marilah sekarang kita mengangkat hati kepada Bapa dan memohon kepada-Nya agar memberikan kepada kita hasrat untuk datang kepada-Nya dan menguduskan nama-Nya selagi kita menyembah-Nya, menghormati-Nya, dan berterima kasih penuh syukur kepada-Nya – “Bapa surgawi, Engkau adalah satu-satunya Allah yang benar; Engkaulah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi, penyayang, pemurah, manis dan lembut; Engkaulah satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus, satu-satunya yang pemurah, tak bersalah dan murni dan senantiasa pantas dipuji-puji. Dimuliakanlah nama-Mu, ya Bapa” (adaptasi dari AngTBul XXIII:9).

Marilah kita memohon kepada Allah untuk memerintah, mengatur dan membimbing hidup kita, dan mendirikan Kerajaan-Nya dalam hati kita masing-masing. Kemudian, selagi kita menyerahkan diri kepada otoritas Bapa surgawi, kita akan merasakan kerinduan akan pernyataan penuh dari Kerajaan-Nya pada saat Yesus datang kembali dalam kemuliaan untuk mengalahkan musuh terakhir, yaitu maut. Kita pun berdoa: “Bapa surgawi, kami percaya bahwa adalah kesenangan-Mu yang baik untuk mengajak kami masuk ke dalam Kerajaan Surga. Dengan pengharapan yang dipenuhi sukacita kami menanti-nantikan kepenuhan semua janji-janji-Mu pada saat Yesus datang kembali kelak!”

DOA PRIBADIKita akan belajar bergantung kepada Bapa surgawi untuk roti/makanan yang kita butuhkan. Selagi kita datang kepada-Nya dengan rendah hati dan memang berkebutuhan, maka Dia dapat mentransformasikan diri kita masing-masing dari seorang pribadi yang berpusat pada diri sendiri (self-centered) menjadi seorang pribadi yang berpusat pada Kristus (Christ-centered), dari seorang pencinta diri kita sendiri menjadi seorang pencinta sesama manusia. Roti-Nya – hikmat-Nya dalam Kitab Suci dan makanan-Nya dalam Ekaristi – memiliki kuat kuasa untuk membentuk diri kita menjadi pribadi-pribadi yang rendah hati, taat, yang mengenal kehendak-Nya dan menghasrati kehendak-Nya itu dengan segenap hati kita. Kita pun berdoa: “Bapa surgawi, Engkau memberikan roti yang turun dari surga – Yesus Kristus – bagi kami. Kami membutuhkan Dia – sang Roti Kehidupan – dari hari ke hari guna memenuhi kebutuhan nutrisi rohani kami, untuk menguatkan kami dan memenuhi diri kami dengan Roh Kudus-Mu. Kami adalah milik-Mu, ya Bapa!”

Marilah kita datang menghadap takhta Allah Bapa dengan hati yang remuk redam penuh penyesalan atas dosa-dosa kita. Dalam pertobatan kita mohon pengampunan dari-Nya! Allah sungguh merasa senang dapat mengampuni kita, jikalau kita mengampuni orang-orang yang mendzolomi kita. Dia memberkati kita secara berlimpah karena kita telah berupaya (walaupun masih kecil-kecilan) untuk menjadi bejana-bejana belas-kasih-Nya bagi dunia. Kita pun berdoa: “Bapa surgawi, secara khusus kami memohon agar Engkau sudi mengampuni kami karena tidak sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada-Mu dan juga tidak menggantungkan diri sepenuhnya kepada-Mu untuk semua kebutuhan kami. Semoga kami senantiasa Kauberkati karena mengakui bahwa kekuatan kami adalah dalam Engkau saja!”

DOA: Bapa kami, jagalah kami agar tidak dicobai melampaui kekuatan kami. Oleh darah Kristus, bersihkanlah diri kami dari segala hal yang bukan berasal dari-Mu. Cobailah dan ujilah kami, akan tetapi ingatlah kelemahanku dan berbelas-kasihlah, ya Allahku. Tolonglah diriku mengenal sukacita yang disebabkan oleh keberadaan kami sebagai anak-anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:1-4), bacalah tulisan yang berjudul “DOA BAPA KAMI [3] (bacaan tanggal 9-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “DOA BAPA KAMI” (bacaan tanggal 5-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM dan “DOA BAPA KAMI [2]” (bacaan tanggal 5-10-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Kepada saudari dan saudara anggota keluarga besar Fransiskan, saya menganjurkan agar dalam kesempatan ini membaca dan merenungkan kembali tulisan Santo Fransiskus dari Assisi: “URAIAN DOA BAPA KAMI” yang terdapat dalam Leo Laba Ladjar OFM, KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI”, hal. 280-283.

Cilandak, 6 Oktober 2013 [HARI MINGGU BIASA XXVII]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUDUK PADA KAKI YESUS

DUDUK PADA KAKI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Selasa, 8 Oktober 2013)

MARIA DAN MARTHA - 3Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia.” (Luk 10:38-42)

Bacaan Pertama: Yun 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-4,7-8

Adakah yang lebih baik daripada duduk pada kaki Yesus? Namun demikian, walaupun kepada kita diberikan kesempatan indah sedemikian setiap hari, begitu mudahnya kita membiarkan diri kita menjadi begitu disibukkan dengan urusan tetek-bengek sehari-hari, sehingga tidak ada waktu yang tersedia untuk berada bersama Yesus dalam keheningan. Berapa banyak dari kita yang bersikap dan berperilaku seperti Marta? Kita melihat semua hal yang harus dilakukan dan diselesaikan pada suatu hari tertentu, namun pada hari itu kita sebenarnya kehilangan kesempatan untuk menerima rahmat dari Yesus.

Lama juga Yesus menanti-nanti untuk memberikan rahmat-Nya kepada kita. Namun Ia memberikan rahmat-Nya hanya apabila kita datang kepada-Nya dan duduk dalam keheningan dihadapan hadirat-Nya. Hal ini bukan berarti bahwa kita harus mengabaikan kebutuhan orang-orang lain atau tidak peduli pada tanggung-jawab kita berkaitan dengan dunia di sekeliling kita. Hal utama yang harus dilakukan adalah menjaga prioritas kita agar tetap ditaati dan tidak memperkenankan adanya hal lain yang menghadang jalan kepada kasih kita yang pertama, yaitu Yesus.

Kita semua dapat belajar dari ketekunan Maria. Begitu banyak hal yang dapat membuatnya keluar dari saat-saat istimewanya dengan Yesus. Kelihatannya Marta mengetahui segala sesuatu yang perlu dilakukan dalam rumah tangga mereka. Akan tetapi Maria memiliki rasa lapar dan haus untuk mengenal Tuhan dan dia memilih untuk membuat Tuhan sebagai prioritas tertinggi. Semakin kita merasa lapar dan haus akan Tuhan, maka semakin banyak pula kita mengesampingkan berbagai distraksi (pelanturan) yang menghalangi kita untuk berada bersama-Nya.

Apakah kita (anda dan saya) merasa tidak mempunyai waktu untuk berdoa? Marilah kita memeriksa kembali prioritas-prioritas kita dan melihat apakah ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Apabila telepon berdering ketika kita sedang berdoa, maka sepatutnyalah kita tidak menjawabnya. Kita tentu dapat meminta kepada orang-orang yang tinggal di dalam rumah kita untuk membantu menjaga saat-saat hening kita dengan Tuhan. Apabila pikiran kita dipenuhi dengan begitu banyak distraksi, maka kita dapat membuat catatan perihal distraksi-distraksi tersebut, lalu kita langsung menyingkirkan catatan kita itu. Jikalau datang pemikiran dalam kepala kita bahwa “berdoa” atau “tidak berdoa” sama saja, maka baiklah kita membaca apa yang tercatat dalam Kitab Suci perihal doa, misalnya dari Luk 11:1-13 dan banyak lagi. Kita dapat menggunakan bacaan-bacaan Kitab Suci guna menyemangati dan mendorong serta mengisi diri kita dengan pengharapan.

Maria dari Betania adalah salah seorang contoh penting dalam Kitab Suci kalau kita berbicara mengenai masalah doa-berdoa. Oleh karena itu, baiklah kita memohon kepada Tuhan untuk memberikan kepada kita masing-masing sebuah hati dan ketetapan hati seperti yang dimiliki Maria, saudara perempuan dari Marta dan Lazarus dari Betania.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu buatlah diriku seperti hamba-Mu, Maria dari Betania. Tolonglah aku untuk menghargai setiap menit dari waktuku bersama Engkau. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang sangat menginginkan duduk dalam keheningan di hadapan-Mu, mendengarkan Engkau dalam doa, dan berterima kasih penuh syukur untuk karunia-karunia indah yang telah Kauberikan kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “JAGALAH KESEIMBANGAN ANTARA DOA DAN PELAYANAN” (bacaan tanggal 8-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “MARIA DAN MARTA” (bacaan tanggal 4-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 5 Oktober 2013 [Keluarga Fransiskan: Peringatan Arwah semua saudara, sanak saudara, dan penderma]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI SESAMA DARI ORANG-ORANG YANG MENDERITA

MENJADI SESAMA DARI ORANG-ORANG YANG MENDERITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu Rosario – Senin, 7 Oktober 2013)

044-044-TheGoodSamaritan-full

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37)

Bacaan Pertama: Yun 1:1-2:1,11; Mazmur Tanggapan: Yun 2:2-5,8

Walaupun niat si ahli Taurat adalah untuk mencobai Yesus, kiranya kita perlu berterima kasih kepadanya, karena dialah yang bertanya kepada Yesus tentang “siapakah sesama kita”, dan jawaban Yesus kepadanya mengambil bentuk sebuah perumpamaan yang sangat menyentuh hati dan sangat instruktif serta jelas-gamblang: “Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati”. Perumpamaan ini dengan terang-benderang mencerahkan pemikiran kita tentang kasih Kristiani yang sesungguhnya. Perumpamaan Yesus ini mengkonfrontasikan kita dengan pertanyaan apakah kita juga adalah orang-orang Samaria yang baik hati.

Kita tahu tentang hukum kasih. Kita juga mengetahui bahwa vonis yang dijatuhkan sang Hakim Agung pada pengadilan terakhir akan tergantung pada kasih kita kepada sesama kita. Jadi, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita biasanya bersikap dan berperilaku sebagai “orang-orang Samaria yang baik hati” terhadap sesama kita yang sudah lansia, yang sedang sakit, yang miskin? Ataukah kita dengan cepat melewati “orang-orang susah” itu seakan-akan tidak melihat mereka, tidak merasa bahwa mereka membutuhkan pertolongan kita, tentunya dengan dalih-dalih atau alasan-alasan guna mendukung sikap kita yang “tidak mau tahu” dan tentunya perilaku kita sebagai pengungkapan sikap kita. “Biarlah orang lain menolong orang-orang itu. Saya masih sibuk sekarang – Saya masih mempunyai keluarga saya sendiri untuk diperhatikan – Saya akan terlambat sampai ke kantor dan terkena hukuman seandainya saya menolong orang yang terkapar di pinggir jalan itu.” Wah, banyak sekali dalih atau alasan berisikan kebohongan – dari yang berbobot ringan sampai berat – yang dapat dikemukakan.

Banyak orang-orang Kristiani “baik-baik”, yang ketika mendengarkan khotbah tentang Sengsara dan Salib Kristus, menjadi berbela-rasa dan mengatakan kepada Tuhan Yesus bahwa mereka akan melakukan apa saja untuk meringankan penderitaan-Nya. Tuhan Yesus memberikan kepada mereka tes atas ketulusan mereka ketika Dia mengatakan kepada kita, “Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (Mat 25:45).

“Orang-orang yang paling hina” di mata Yesus; mereka yang lapar, yang miskin, dlsb. tidak sulit untuk ditemukan di sekeliling kita dan tidak sulit juga untuk dijangkau oleh setiap orang Kristiani yang berkehendak baik. Masalahnya bukanlah jumlah uang atau waktu yang kita abdikan untuk menolong, menghibur mereka yang sedang mengalami berbagai kesusahan. Pengorbanan yang kita buat dari berbagai berkat yang Allah telah berikan kepada kita, inilah yang penting. Bahkan yang paling miskin ataupun yang paling sibuk sekalipun di antara kita dapat menemukan kesempatan untuk menolong seseorang yang dibutuhkan. Kita semua dapat dan harus menjadi orang-orang Samaria yang baik. Ini tidak dapat ditawar-tawar lagi, karena inilah yang diajarkan oleh Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita sendiri. Dari ke waktu Allah akan memberikan kepada kita moments of truth, saat-saat di mana kita dapat membuktikan sendiri siapa diri kita sebenarnya: si imam, si orang Lewi atau “orang Samaria yang baik hati”.

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh berbahagia penuh syukur karena Kaupercayakan sebagai saluran-saluran kasih-Mu dan berkat-berkat-Mu, juga untuk menjadi sentuhan tangan-tangan-Mu yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:25-37), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG SAMARIA YANG MURAH HATI” (bacaan tanggal 7-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI” (bacaan tanggal 3-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 5 Oktober [Keluarga Fransiskan: Peringatan Arwah semua saudara, sanak saudara, dan penderima)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAMI HAMBA-HAMBA YANG TIDAK BERGUNA

KAMI HAMBA-HAMBA YANG TIDAK BERGUNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVII [Tahun C] – 6 OKTOBER 2013)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIALalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak tanah atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepda hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata; Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” (Luk 17:5-10)

Bacaan Pertama: Hab: 1:2-3; 2;2-4; Mzm 95:1-2, 6-9; Bacaan Kedua: 2Tim 1:6-8, 13-14

Menurut Yesus, iman – betapa pun kecilnya – adalah kunci yang membuka kuasa dari surga. Kuasa ini, tentunya, bukanlah suatu kekuatan yang dapat kita manipulasikan seturut keinginan atau kesukaan kita sendiri. Itulah sebabnya mengapa Yesus menggambarkan hati dari orang-orang yang mengenal dan mengasihi Bapa-Nya: Mereka memandang diri mereka sendiri sebagai “hamba-hamba yang tidak berguna” (Luk 17:10).

Ide sebagai “hamba-hamba yang tidak berguna” pada awalnya tentu terasa keras. Apakah Yesus benar-benar menginginkan kita untuk merasa tidak berguna, tidak berarti? Bukan begitu! Allah menciptakan kita dalam kasih, dan Ia sendiri melihat kita “sungguh amat baik” (Kej 1:31). Yesus memberikan perumpamaan ini sebagai potret seorang hamba yang begitu berdedikasi kepada tuannya dan mencintai tuannya itu dengan mendalam, sehingga dia melayani dan sungguh menghormatinya. Hamba ini tidak puas dengan hanya melakukan “persyaratan minimum” tugas pekerjaannya, tetapi dia ikhlas untuk membuang segalanya demi menyenangkan tuannya.

Kerendahan hati atau kedinaan sedemikian – yang membuka kunci kuat-kuasa Allah dalam hidup kita – datang selagi kita memohon kepada Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita dengan lebih mendalam lagi akan keagungan, kesempurnaan, dan kekudusan Allah yang kita layani. Pernyataan/perwahyuan ini dapat mengubah hidup kita dan menggerakkan kita untuk memberikan keseluruhan hidup kita kepada-Nya. Kebaikan-Nya kepada kita dapat mencairkan hati kita: Dia mengetahui semua dosa dan kelemahan kita, namun Ia mengasihi kita secara lengkap dan tanpa syarat sedikit pun. Allah adalah Tuhan yang harus kita layani dengan penuh syukur dan kasih, bukan dengan rasa takut dan rasa benci terhadap diri kita sendiri karena dosa-dosa kita.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus, “Kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor 5:14-15). Hidup untuk Kristus akan menempatkan kita pada posisi yang sangat dekat dengan hasrat-hasrat-Nya. Sebagai akibatnya, doa-doa kita dan kata-kata kita akan mengalir dari kehendak-Nya dan hati-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, keagungan-Mu memenuhi surga dan bumi, namun Engkau merendahkan diri-Mu demi menyelamatkan diriku dari maut karena dosa-dosaku. Engkau layak dan pantas untuk menerima semua afeksi dan ketaatanku. Tuhan Yesus, dengan rendah hati aku memberikan kepada-Mu seluruh hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:5-10), bacalah tulisan yang berjudul “TAMBAHKANLAH IMAN KAMI !!!” (bacaan tanggal 6-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAHOKTOBER 2013.

Cilandak, 3 Oktober 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Sabtu, 5 Oktober 2013)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Arwah semua saudara, sanak saudara, dan penderma

70 MURID YAN DIUTUS KEMBALI DENGAN PENUH SUKACITAKemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa atas segala kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”
Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Luk 10:17-24)

Bacaan Pertama: Bar 4:5-12,27-29; Mazmur 69:33-37

Baik Yesus maupun para murid-Nya bergembira ketika mereka (para murid) kembali dari perjalanan misioner mereka, namun berdasarkan alasan-alasan yang berbeda. Para murid Yesus merasa gembira penuh sukacita karena mengalami kuat-kuasa Allah yang bekerja melalui diri mereka (Luk 10:17). Mereka telah berhasil menyembuhkan orang-orang sakit dan membebaskan mereka yang dirasuki roh-roh jahat. Kita dapat membayangkan para murid yang merasa takjub atas keberhasilan “mereka” sendiri dan saling berkata satu sama lain: “Hei, Injil ini sungguh manjur!”

Karena hal inilah yang dikehendaki oleh Yesus untuk dilakukan oleh para murid-Nya dalam misi mereka, maka tentunya Dia juga bergembira mendengar “cerita sukses” para murid-Nya itu. Namun Yesus melihat bahwa perlulah untuk membuat suatu penyesuaian, kasarnya suatu perubahan, dalam sikap-sikap para murid-Nya. Para murid tersebut menghadapi bahaya “luput melihat” alasan yang paling penting untuk bergembira, yaitu bahwa mereka telah menjadi warga-warga Kerajaan-Nya dan akan berada bersama Dia selama-lamanya (Luk 10:20). Peragaan kuat-kuasa ilahi yang mereka alami dan dapat dikatakan bersifat sensasional sebenarnya merupakan sebagian saja dari kehidupan dalam Kerajaan Allah. Mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya bukanlah Kerajaan itu sendiri!

Cukup kontras dengan sikap-sikap yang ditunjukkan para murid-Nya, Yesus berterima kasih penuh syukur kepada Bapa di surga untuk hal terpenting yang dicapai melalui misi para murid-Nya: Kebenaran Injil telah dinyatakan kepada orang-orang, baik dengan kata-kata maupun perbuatan nyata. Kata-kata Yesus yang bersifat koreksi dan doa syukur-Nya menunjukkan apa yang sesungguhnya ada dalam jantung kekristenan (Kristianitas). Secara fundamental, Kristianitas adalah masalah “pernyataan diri/perwahyuan oleh Roh Kudus” dan “kewargaan di dalam Kerajaan Surga”. Segala hal lainnya adalah pertumbuhan selanjutnya dari dua karunia yang indah ini.

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, sadarkah kita (anda dan saya) bahwa Allah telah memilih kita masing-masing untuk menjadi seorang warga Kerajaan-Nya? Dapatkah kita melihat bahwa ada privilese yang tersedia bagi kita – untuk menerima perwahyuan Roh Kudus dan mengenal sentuhan Allah pada hati kita? Kita masing-masing sebenarnya tidak diundang untuk sekadar menjadi seorang hamba Allah, yang menerima kuat-kuasa dari-Nya demi Kerajaan-Nya. Allah ingin membuat diri kita masing-masing menjadi anak-Nya. Allah ingin mencurahkan afeksi-Nya atas diri kita masing-masing, seperti setiap ayah akan memperhatikan anak-anaknya. Menjalin suatu relasi pribadi dengan Allah sekarang dan janji untuk berada bersama-Nya selama-lamanya: Inilah warisan kita masing-masing sebagai seorang murid Yesus. Semoga realisasi dari karunia-karunia Allah membuat kita pantang mundur dalam mengasihi dan melayani Dia.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mendaftarkan namaku di dalam kitab kehidupan. Aku menyembah Engkau dan memuji Engkau karena Engkau telah menyatakan diri-Mu kepadaku. Aku bergembira penuh sukacita dalam karunia Roh Kudus-Mu. Terima kasih, ya Bapa, untuk belas kasih dan rahmat-Mu yang telah Kautunjukkan lewat diri Putera-Mu terkasih, Tuhan dan Juruselamatku, Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA” (bacaan tanggal 5-10-13) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KEMBALINYA KETUJUH PULUH MURID” (bacaan tanggal 6-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 3 Oktober 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANTO FRANSISKUS DARI ASSISI: 4 OKTOBER

SANTO FRANSISKUS DARI ASSISI: 4 OKTOBER

Saint_Francis_of_Assisi_Church_Coyoacan_Federal_District_Mexico019

YESUS MENGUTUK BEBERAPA KOTA

YESUS MENGUTUK BEBERAPA KOTA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dr Assisi – Jumat, 4 Oktober 2013)

Keluarga Fransiskan: HARI RAYA S. FRANSISKUS DR ASSISI, PENDIRI TAREKAT

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGAS“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!

Siapa saja yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan siapa saja yang menolak kamu, ia menolak Aku; dan siapa saja yang menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:13-16)

Bacaan Pertama: Bar 1:15-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 79:1-5,8-9

Dalam Bacaan Injil hari ini kita mendengar Yesus mengutuk beberapa kota di Galilea. Tidak kagetkah kita mendengar kecaman atau kutukan seperti ini keluar dari mulut Yesus? Rasa-rasanya ini bukanlah Yesus yang menegur dua bersaudara anak Zebedeus (Yakobus dan Yohanes) ketika mereka menyarankan kepada Yesus untuk membinasakan penduduk sebuah desa Samaria yang tidak mau menerima Dia (lihat Luk 9:51-55). Yesus ini mengajar kita untuk “mengasihi musuh-musuh kita” dan “mendoakan orang-orang yang berbuat jahat terhadap diri kita” (Luk 6:27).

Dengan Yesus dan semua nabi kita menyadari bahwa segala bahaya dan tragedi berasal dari dosa. Kita berharap bahwa kita akan memberikan hidup kita dan menjauhkan skandal dari orang-orang kecil, “anak-anak muda, mereka yang murni, mereka yang inosen (Inggris: innocent). Kita berharap bahwa kita akan marah ketika orang-orang yang inosen tadi dijahati. Kita akan setuju dengan Kitab Suci bahwa kebencian terhadap kejahatan adalah awal dari hikmat-kebijaksanaan.

Lalu, dapatkah kita sekarang melihat suatu paradoks dalam kutukan-kutukan Yesus? Kata-kata “kutukan” yang diucapkan Yesus itu seperti suatu nubuat yang mengingatkan para pendosa akan konsekuensi-konsekuensi dosa apabila tidak disusul dengan pertobatan. Kata-kata “kutukan” Yesus itu merupakan suatu peringatan kepada kita, yang bisa saja berpikir bahwa diri kita adalah “orang bener” dan/atau “orang yang paling bener”. Kalau begitu halnya, maka apabila kita jatuh ke dalam dosa, kita tidak memiliki kerendahan-hati yang diperlukan agar dapat mengakui kelemahan-kelemahan kita sendiri. Kata-kata “kutukan” Yesus ini juga berfungsi untuk mengingatkan kita bagaimana belas-kasih (kerahiman) Allah yang tak terbatas itu membawa kebaikan berlimpah sehingga kejahatan pun dikalahkan.

Santo Paulus menulis, “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim 3:16). Jadi, Kitab Suci ditulis a.l. untuk melakukan koreksi. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa kata-kata “kutukan” yang diucapkan oleh Yesus itu juga ditulis dalam rangka “koreksi” atas diri kita.

Walaupun kita tidak ingin bahwa para pendosa akan “dihabiskan” (secara literer/harfiah), kita tentunya boleh saja menginginkan agar kemakmuran duniawi merekalah yang “dihabiskan”. Jika diri kita sendiri yang harus dihukum sebagai koreksi atas dosa/kesalahan kita; jika kita menanggung penderitaan sebagai konsekuensi dari dosa-dosa kita dan hal tersebut telah mencerahkan kita serta membawa hikmat-kebijaksanaan dan pertobatan; bukankah kita juga dapat menghasrati rahmat yang sama bagi mereka yang telah mendzolimi kita?

Jadi di sinilah misterinya dan instruksi yang termuat dalam kata-kata “kutukan” Yesus: bukan hanya berkat-berkat dari Allah, namun juga “kutukan-kutukan” yang terinspirasikan tersebut akan menyelamatkan kita, jika kita memiliki hikmat-kebijaksanaan untuk mengacuhkan pesan-pesan yang termuat dalam kata-kata “kutukan” Yesus itu. Semoga kutukan terhadap dosa pada saat ini juga didengar oleh para pendosa, sementara mereka masih mempunyai waktu untuk belajar dan mengambil hikmat daripadanya, dan kemudian melakukan pertobatan.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah, kasihanilah aku, seorang pendosa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 10:13-15), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA KOTA DIKUTUK OLEH YESUS” (bacaan tanggal 4-10-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “CELAKALAH ENGKAU KHORAZIM! CELAKALAH ENGKAU BETSAIDA!” (bacaan tanggal 5-10-12) dalam situs/blog SANG SABDA dan PAX ET BONUM.

Cilandak, 1 Oktober 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS