IA HIDUP SENANTIASA UNTUK MENJADI PENGANTARA KITA

IA HIDUP SENANTIASA UNTUK MENJADI PENGANTARA KITA

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Kamis, 22 Januari 2015)

HARI KELIMA PEKAN DOA SEDUNIA 

IMAM BESAR AGUNG -1Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi daripada tingkat-tingkat surga. Ia tidak seperti imam-imam besar itu yang setiap hari harus mempersembahkan kurban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa-dosa umat. Sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri. Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah yang diucapkan sesudah hukum Taurat, menetapkan Anak yang telah dijadikan sempurna sampai selama-lamanya.

Inti semua yang kita bicarakan itu ialah: Kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di surga, dan melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan kurban dan persembahan dan karena itu Imam Besar itu perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan. Sekiranya Ia berada di bumi ini, Ia sama sekali tidak akan menjadi imam, karena di sini telah ada orang-orang yang mempersembahkan persembahan mereka menurut hukum Taurat. Mereka melayani dalam kemah yang menjadi gambaran dan bayangan dari apa yang ada di surga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah, “Perhatikanlah,” demikian firman-Nya, “bahwa engkau harus membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.” Tetapi sekarang Ia telah mendapat pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih mulia pula. (Ibr 7:25-8:6)

Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17; Bacaan Injil: Mrk 3:7-12

“Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka”  (Ibr 7:25).

YESUS KRISTUS - 0000Marilah kita membayangkan petikan bacaan di atas. Yesus – Imam Besar Agung kita – selalu berada di hadirat Allah, dan melakukan syafaat bagi kita. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan: “Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi daripada tingkat-tingkat surga” (Ibr 7:26). Artinya seorang Imam Besar Agung, …… yang sempurna. Hal ini seharusnya memberikan kepada kita pengharapan yang besar!

Yesus mengetahui apa yang kita butuhkan, sehingga dengan mudah kita dapat menggabungkan doa-doa kita dengan doa-Nya dan yakin bahwa doa-doa itu akan didengar (Ibr 4:15-16). Hal ini berarti bahwa kita dapat dengan berani datang menghadap hadirat Allah dan berdoa dengan penuh keyakinan. Sabda Allah dalam Kitab Suci juga menjanjikan bahwa jika kita tetap bersama Yesus, dan jika kita memperkenankan sabda-Nya tetap diam dalam hati kita, maka kita dapat meminta apa saya yang kita butuhkan, dan Ia akan menjawab, artinya menanggapi kebutuhkan kita itu (Yoh 15:7). Hal ini semata-mata karena kita milik Kristus, dan pengorbanan-Nya telah membuat sempurna penebusan atas dosa-dosa kita.

Kita tidak usah merasa khawatir doa syafaat kita tidak didengar karena bersifat terlalu spesifik dan Allah barangkali tidak akan mendengarkan doa kita itu. Karena kita memiliki keyakinan teguh bahwa Yesus melakukan pekerjaan sebagai Pengantara bagi kita dan bersama kita, maka kita pun berani untuk spesifik dalam doa-doa syafaat kita. Selagi kta menggabungkan kehendak-kehendak kita dengan kehendak dari Dia yang sangat mengasihi kita dan menyerahkan hidup-Nya bagi kita, maa kita tidak perlu takut membawa kebutuhan-kebutuhan kita di hadapan hadirat Bapa surgawi yang mengasihi kita.

Ketika kita “bereksperimen” dengan doa-doa syafat, janganlah terkejut ketika kita menyadari bahwa Roh Kudus lah yang memimpin doa-doa kita. Roh Allah inilah yang menggerakkan hati kita untuk mendoakan teman kita yang sedang sekarat di rumah sakit, berdoa untuk salah seorang anak kita yang sedang bertugas membuat “business presentation” di hadapan anggota-anggota Direksi perusahaan pelanggannya. Dst. Dlsb.

DOA PRIBADIKita sudah terbiasa untuk mendoakan mereka yang paling dekat dengan kita. Sekarang, janganlah terkejut apabila Roh Kudus membimbing kita untuk memperluas jangkauan doa-doa syafaat kita. Dengan demikian kita memperluas ruang lingkup doa-doa kita menjadi melampaui batas-batas keluarga, misalnya mendoakan para korban kecelakaan pesawat AIRASIA dst., bahkan ke luar dari batas-batas negara kita. Misalnya: untuk para korban penyakit Ebola di beberapa negara di Afrika, untuk para korban terorisme di Perancis maupun di Nigeria, untuk rekonsiliasi di Sri Lanka seperti dipelopori oleh Bapa Suci Fransiskus beberapa hari lalu, untuk kedamaian di Belgia, untuk bencana alam di banyak tempat di dunia  (India dlsb.). Jadi, ketika kita menonton/memirsa berita di TV, kita pun jangan sampai tidak peduli pada bisikan Roh Kudus untuk berdoa dengan hening dalam hati kita untuk banyak ujud yang Dia ingin kita doakan. Santa Teresa dari Lisieux menjadi orang kudus pelindung misi bersama Santo Fransiskus Xaverius, walaupun suster ini adalah seorang Karmelites Tak Berkasut (OCD) yang tugas pelayanannya adalah berdoa dari dalam sel biaranya (seorang biarawati kontemplatif).

Saudari dan Saudariku yang terkasih. Dalam doa, marilah kita (anda dan saya) menghadap Bapa surgawi membawakan ujud-ujud kita dengan berani dan penuh keyakinan. Paulus menulis: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Flp 4:19). Marilah kita senantiasa berupaya untuk berdoa dalam kesatuan dengan Yesus, “Dia yang sempurna”, maka kita pun dapat yakin seyakin-yakinnya bahwa Dia akan melakukan pekerjaan-Nya sebagai Pengantara dengan sempurna.

DOA: Terima kasih penuh syukur, ya Yesus, karena Engkau menjadi Imam Besar Agung bagi diriku dan para murid-Mu yang lain. Terima kasih Engkau hidup selama-lamanya untuk melakukan syafaat bagiku. Aku menaruh rasa percayaku dan pengharapanku pada-Mu saja, dan aku percaya bahwa Engkau mengetahui apa saja yang kubutuhkan, lebih baik daripada apa yang kuketahui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:7-12), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH KITA SEPERTI ORANG BANYAK ITU?” (bacaan tanggal 22-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 7:25-8:6), bacalah tulisan yang berjudul “IA SANGGUP MENYELAMATKAN DENGAN SEMPURNA SEMUA ORANG YANG MELALUI DIA DATANG KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 24-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 16 Januari 2015 [Peringatan S. Berardus, Imam dkk. Martir-martir pertama Fransiskan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

IMAM UNTUK SELAMA-LAMANYA, MENURUT ATURAN MELKISEDEK

IMAM UNTUK SELAMA-LAMANYA, MENURUT ATURAN MELKISEDEK

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Agnes, Perawan & Martir – Rabu, 21 Januari 2015)

HARI KEEMPAT PEKAN DOA SEDUNIA 

Melchizedek_Abraham

Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong dan memberkati Abraham ketika Abraham kembali dari peperangan mengalahkan raja-raja. Kepada dia pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Nama Melkisedek pertama-tama berarti raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera. Ia tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.

Hal itu jauh lebih nyata lagi, jikalau ditetapkan seorang imam lain seperti Melkisedek, yang mengjadi imam bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusiawi, tetapi berdasarkan kuasa hidup yang tidak dapat binasa. Sebab tentang Dia diberi kesaksian, “Engkaulah Imam untuk selama-lamanya, menurut aturan Melkisedek. (Ibr 7:1-3,15-17)

Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4; Bacaan Injil: Mrk 3:1-6

Melkisedek adalah Raja Salem dan sekaligus imam Allah Yang Mahatinggi, yang memberkati Abraham (Abram; Kej 14:17-18) ketika dia kembali dari pertempuran mengalahkan Raja Kedorlaomer dkk. Dalam hukum Yahudi, jabatan imam disediakan bagi mereka yang memiliki garis keturunan  Lewi, dimulai dengan keluarga Harun (lihat Im 8:1-13). Sekali ditahbiskan, seorang imam Yahudi tetap dalam jabatannya sampai akhir hayatnya. Akan tetapi, imamat Melkisedek berbeda dengan imamat Yahudi dalam dua hal: Ia bukan dari garis keturunan Lewi (yang malah belum dilahirkan), dan dikatakan dia tidak pernah mati.

Bagaimana jadinya kalau begitu? Seturut tradisi para rabi (Inggris: rabbinic tradition), apa saja yang tidak disebutkan dalam Taurat (lima kitab pertama dalam Kitab Suci Perjanjian Lama) berarti tidak pernah ada. Dalam Taurat itu memang tidak disebutkan tentang nenek moyang, kelahiran, atau kematian Melkisedek. Berdasarkan tradisi ini, kita mau tidak mau harus mengambil kesimpulan bahwa imamat Melkisedek bersifat kekal dan telah diberikan langsung oleh Allah sendiri. Dengan demikian imamatnya itu lebih baik atau lebih tinggi martabatnya ketimbang imamat Lewi dalam hukum Taurat. “Ia tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya” (Ibr 7:3).

IMAM BESAR AGUNG -1Orang Yahudi pada umumnya akrab/familiar dengan tradisi sehubungan dengan Melkisedek ini, dan penulis “Surat kepada Orang Ibrani” menggunakan ini untuk menggambarkan besar dan agungnya imamat Yesus. Seperti Melkisedek, Yesus menjadi seorang imam “bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusiawi, tetapi berdasarkan kuasa hidup yang tidak dapat binasa” (Ibr 7:16). Yesus bukan berasal dari garis keturunan Harun bahkan didalam garis keturunan di atas bumi ini; Dia turun ke tengah dunia dari takhta-Nya di surga. Setelah Yesus melakukan penebusan atas dosa-dosa kita secara sempurna dengan mencurahkan darah-Nya dari atas kayu salib, maka Dia kembali ke takhta-Nya untuk memerintah sebagai Raja dan Imam Besar Agung untuk selama-lamanya.

Para Imam Besar Yahudi dari keturunan Lewi ikut ambil bagian dalam dosa-dosa umat (lihat Ibr 5:2-3), dengan demikian mereka tidak dapat berdamai dengan Allah sekali dan selama-lamanya. Mereka tidak dapat mempersembahkan suatu kurban yang sempurna kepada Allah sekali dan untuk selama-lamanya. Yesus adalah Imam Besar Agung yang jauh lebih besar dan agung daripada imam besar Yahudi, karena Dia mencurahkan darah-Nya sendiri yang tidak dinodai dosa. Yesus sendiri adalah kurban sempurna bagi Allah untuk menebus semua dosa manusia sepanjang masa!

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Imam Besar Agung kekal yang telah menebus dosa kami. Imamat-Mu melakukan apa yang tidak pernah dapat dilakukan oleh imam Yahudi: imamat-Mu memberikan kepada kami kesempatan untuk hidup kekal. Kami memberikan hidup kami dalam kasih untuk melayani Engkau dan Gereja-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA MEMATUHI PERATURAN AGAMA TANPA KASIH” (bacaan tanggal 21-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 7:1-3,15-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH IMAM UNTUK SELAMA-LAMANYA, MENURUT ATURAN MELKISEDEK” (bacaan tanggal 23-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 15 Januari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH MELIHAT SEMUA PEKERJAAN PELAYANAN KITA

ALLAH MELIHAT SEMUA PEKERJAAN PELAYANAN KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Selasa, 20 Januari 2015)

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA

Keluarga OFMConv.: Peringatan S. Yohanes Pembaptis dari Triquerie, Imam Martir 

abrahamAllah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasih yang kamu tunjukkan demi nama-Nya dengan melayani orang-orang kudus, seperti yang terus kamu lakukan. Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk mewujudkan kepastian pengharapanmu sampai akhir, agar kamu jangan menjadi lamban, melainkan meneladani mereka yang oleh iman dan kesabaran mewarisi janji-janji itu.

Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi daripada-Nya, kata-Nya, “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.” Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala perbantahan. Karena itu, ketika Allah bermaksud menunjukkan dengan lebih meyakinkan kepastian rencana-Nya kepada para ahli waris janji itu, Ia menjamin dengan sumpah, supaya melalui dua kenyataan yang tidak berubah-ubah – dalam hal ini Allah tidak mungkin berdusta – kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk berpegang pada pengharapan yang terletak di depan kita. Pengharapan itu sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya, menurut aturan Melkisedek. (Ibr 6:10-20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,4-5,9-10; Bacaan Injil: Mrk 2:23-28

“TUHAN (YHWH) itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya” (Mzm 145:8). Dalam Dia “kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman” – untuk keuntungan kita (lihat Mzm 85:11). Seringkali, Dia memperhatikan kita dengan lebih baik hati daripada kita sendiri. Kadang-kadang kita merasa sulit untuk percaya bahwa Allah senang sekali mencurahkan kasih-Nya atas diri seseorang yang membuka diri bagi diri-Nya. Namun – tidak perlu kita ragukan lagi –  Allah memang berada di pihak kita. Dia tidak memiliki catatan buruk tentang kita. Tidak ada hal yang tersembunyi bagi Allah. Dia melihat segala hal yang kita lakukan – baik yang salah maupun hal-hal benar  yang kita lakukan. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan: “Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasih yang kamu tunjukkan demi nama-Nya dengan melayani orang-orang kudus, seperti yang terus kamu lakukan” (Ibr 6:10). 

Di sini, seperti juga dalam bagian-bagian lain Perjanjian Baru, yang dimaksudkan dengan “orang-orang kudus” adalah umat Allah pada umumnya – setiap orang yang telah dipisahkan untuk Tuhan melalui iman dan baptisan. Kita adalah “orang-orang kudus”. Anak-anak kita adalah “orang-orang kudus”. Orang yang berada di sebelah kita menghadiri Misa Kudus di gereja adalah “orang-orang kudus”. Sekarang, sampai berapa sering kita memandang orang-orang ini sebagai “orang-orang kudus” – dan memikirkan cara-cara rutin yang kita lakukan untuk “melayani orang-orang kudus” ini (Ibr 6:10)? Tidak pernahkah? Sekali-sekali sajakah? Inilah kebenarannya, bahwa kita yang dipanggil menjadi murid Kristus dinamakan “orang-orang kudus”.

Membesarkan anak-anak, mengajar dalam program katekese atau bina iman, sebagai petugas menghantar dan mencarikan tempat kosong bagi orang-orang yang terlambat datang ke Misa Kudus – tidak ada satu pun dari pekerjaan-pekerjaan yang kelihatan sepele ini yang tidak dihargai oleh Allah. Juga semua itu tidak pernah tergantung sepenuhnya pada kemampuan kita sendiri tanpa pertolongan-Nya. Tidak! Allah melihat kita. Dia mengetahui pelayanan kita dan Dia senantiasa siap untuk mencurahkan rahmat-Nya ke atas diri kita masing-masing.

Jadi, janganlah kita kecil hati! Allah melihat pekerjaan kita, betapa kecil pun kelihatannya pekerjaan kita itu. Sesungguhnya Dia sendiri mendorong kita untuk melakukan segala sesuatu guna melayani sesama kita. Kita patut bergembira, karena Allah senang melihat kebaikan kita yang paling kecil sekalipun yang kita kerjakan dalam nama-Nya. Dia akan memberkati kita selagi kita memperhatikan orang-orang lain dan mencoba memberitakan Injil kepada mereka, lewat kata-kata dan perbuatan-perbuatan kita. Allah tidak menunggu sampai kita mendapat setiap hal yang baik sebelum Dia memberikan berkat-Nya kepada kita. Dia melihat hati kita. Dia dekat dengan kita, seperti yang ditulis sang pemazmur: “TUHAN (YHWH) dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan”  (lihat Mzm 145:18). Ia ingin menunjukkan kasih-Nya kepada orang-orang lan melalui diri kita. Oleh karena itu, marilah kita menjadi bagian dari orang-orang “yang oleh iman dan kesabaran mewarisi janji-janji itu” (Ibr 6:12).

DOA: Bapa surgawi, berkatilah semua orang yang melakukan pewartaan Injil dengan berbagai cara. Curahkanlah kasih-Mu atas diri mereka. Penuhilah semangat dalam upaya mereka mewartakan kebenaran-Mu dalam Yesus Kristus. Penuhilah diri mereka dengan pengharapan yang teguh akan pemenuhan janji-janji-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:23-28), bacalah tulisan yang  berjudul “MEMETIK BULIR GANDUM PADA HARI HARI SABAT” (bacaan tanggal 20-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 6:1-20), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH SAUH TEMPAT KITA BERPEGANG” (bacaan tanggal 22-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 15 Januari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SEBAGAI IMAM BESAR AGUNG

YESUS SEBAGAI IMAM BESAR AGUNG

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Senin, 19 Januari 2015)

HARI KEDUA PEKAN DOA SEDUNIA 

IMAM BESAR AGUNG -1Sebab setiap imam besar yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Ia harus dapat mengerti orang-orang yang tidak tahu apa-apa dan sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan, yang mengharuskannya untuk mempersembahkan kurban untuk menebus dosa-dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Dan tidak seorang pun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, melainkan dipanggil oleh Allah untuk itu, seperti yang telah terjadi dengan Harun.

Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya, “Engkaulah Anak-Ku! Engkau telah menjadi Anak-Ku pada hari ini”, sebagaimana Allah berfirman dalam nas yang lain, “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya menurut aturan Melkisedek.”

Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya dan sesudah Ia disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan yang abadi bagi semua orang yang  taat kepada-Nya dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut aturan Melkisedek. (Ibr 5:1-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4; Bacaan Injil: Mrk 2:18-22 

Setelah orang-orang Israel keluar (exodus) dari perbudakan di Mesir, Allah memerintahkan kepada Musa untuk mentahbiskan saudara laki-lakinya – Harun dari bani/suku Lewi – dan anak-anak lelakinya sebagai imam (Im 8:1-13; bdk. Kel 40:12-16). Menurut Hukum Yahudi, peranan utama seorang imam adalah untuk menjadi pengantara antara Allah dan umat-Nya, mempersembahkan kurban harian dan melakukan syafaat di hadapan Allah atas nama umat-Nya. Yang paling penting, setahun sekali pada Hari Raya Pendamaian, Imam Besar atau Imam Agung – pengantara tertinggi – masuk ke dalam tempat kudus di belakang tabir, dan mempersembahkan kurban penghapus dosa-dosa Israel (lihat Im 16).

IMAM BESAR AGUNG - 2Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan bahwa karena dia sendiri penuh dengan kelemahan, maka imam besar harus “mempersembahan kurban untuk menebus dosa-dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri” (Ibr 5:2-3). Itulah sebabnya mengapa – seturut “Surat kepada Orang Ibrani – Yesus adalah Imam Besar Agung yang melampaui serta mentransenden imamat Perjanjian Lama. Yesus bertindak lebih daripada seorang pengantara, Dia mempersembahkan hidup-Nya sendiri bagi kita. “Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya dan sesudah Ia disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan yang  abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut aturan Melkisedek” (Ibr 5:8-10).

Santo John Fisher – uskup dan martir bersama S. Thomas More pada zaman raja Henry VIII berkuasa di negeri Inggris – menulis: “Imam Besar kita adalah Kristus, kurban kita adalah tubuh-Nya yang kudus. … Kristus pertama-tama mempersembahkan kurban di sini di atas bumi, ketika Dia mengalami kematian-Nya yang paling pahit. Kemudian, dengan mengenakan pakaian baru imortalitas, dengan darah-Nya sendiri Dia masuk ke dalam “tempat kudus”, yaitu surga. Di sana Dia juga memperlihatkan – di hadapan takhta Bapa surgawi – darah tak ternilai harganya yang telah dicurahkan-Nya demi penebusan orang berdosa (Komentar atas Mazmur).

Saudari dan Saudaraku yang terkasih, marilah pada hari ini kita berterima kasih penuh syukur karena mempunyai seorang Imam Besar Agung! Walaupun tanpa dosa, Yesus mengetahui dan memahami semua kelemahan dan sakit kita. Yesus hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara kita di depan takhta Allah, menggabungkan doa-doa kita dengan doa-Nya sendiri dan membawa kita ke hadapan Allah (lihat Ibr 7:25; 9:24).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau adalah Imam Besar penuh belas kasih dan kekal, yang menyerahkan hidup-Mu sendiri bagiku. Engkau juga membuka jalan bagiku dan para murid-Mu yang lain untuk dapat menghadap Bapa melaluyi kurban-Mu yang kudus dan sempurna. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “MURID-MURID YESUS DAN HAL-IKHWAL BERPUASA” (bacaan tanggal 19-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 5:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH KESELAMATAN KITA, SUMBER PENGHARAPAN DAN DAMAI-SEJAHTERA BAGI KITA SEMUA” (bacaan tanggal 21-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 15 Januari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUNJUNGAN PAUS FRANSISKUS KE FILIPINA [15-19 JANUARI 2015]

pope-philippines-t_3168211k

Cilandak, 18 Januar1 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

LIHATLAH ANAK DOMBA ALLAH!

LIHATLAH ANAK DOMBA ALLAH!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun B], 18 Januari 2015)

PEMBUKAAN PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI 

LIHATLAH ANAK DOMBA ALLAHKeesokan harinya Yohanes berdiri di situ lagi dengan dua orang muridnya. Ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka, “Apa yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya, “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan dia, waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula menemui Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:35-42) 

Bacaan Pertama: 1Sam 3:3b-10,19; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-10; Bacaan Kedua: 1Kor 6:13-15,17-20 

Marilah kita mencoba suatu pendekatan yang berbeda terhadap bacaan Injil hari ini. Marilah kita memohon Roh Kudus untuk membimbing kita (anda dan saya) selagi kita membayangkan ceritanya seakan terjadi di depan kita. Bayangkanlah Andreas. Dia adalah seorang murid dari Yohanes Pembaptis, namun dia juga adalah seorang nelayan. Kiranya Andreas adalah seorang yang sangat sibuk, namun dia masih menyediakan waktu untuk memelihara kehidupan spiritualnya karena dia dengan penuh semangat menanti-nantikan kedatangan sang Mesias. Itulah sebabnya mengapa Andreas begitu tertarik kepada Yohanes Pembaptis. Walaupun untuk itu dibutuhkan pengorbanan waktu dan juga upaya-upaya, Andreas merangkul ajaran Yohanes Pembaptis tentang pertobatan dalam rangka mempersiapkan suatu kunjungan istimewa dari Allah.

Sekarang, apa yang dikejarnya sudah semakin terasa dekat selagi Yohanes mendeklarasikan: “Lihatlah Anak Domba Allah!”  (Yoh 1:36). Dengan seorang murid Yohanes lainnya, Andreas lalu pergi mengikut Yesus (Yoh 1:37). Ia ingin menyediakan waktu bersama Yesus sehingga dengan demikian ia dapat mengkonfirmasikan dalam pikirannya apa yang telah dideklarasikan oleh Yohanes.

Marilah kita melanjutkan imajinasi kita selagi kita membayangkan Yesus berbincang-bincang sampai larut malam dengan Andreas dan murid Yohanes yang lainnya itu tentang ajaran Yohanes Pembaptis. Bayangkanlah Yesus mengkonfirmasi kata-kata yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis, namun Ia juga menyatakan kepada mereka berdua secara mendalam dan dengan kuasa, hal-hal yang belum pernah dipahami oleh mereka. Andreas dan kawannya kelihatannya telah diyakinkan oleh kata-kata Yesus, oleh sikap-Nya, dan oleh kehadiran-Nya. Barangkali masih banyak lagi yang harus dipelajari oleh Andreas dan kawannya, namun kiranya sudah cukuplah bagi mereka untuk diyakinkan bahwa Yesus memang layak dan pantas untuk diikuti.

the-holy-lamb-of-god-with-the-seven-rivers-tempera-on-wood-42-x-30cm-salesians-church-turin-italy-2002Sekarang, marilah kita membayangkan diri kita (anda dan saya) sedang berbicara dengan Yesus. Baiklah kita memformulasikan beberapa pertanyaan kita sendiri dan menuliskan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam buku catatan kita, lalu membayangkan Yesus menjawab pertanyaan-pertanyaan kita itu. Marilah kita menggunakan Kitab Suci untuk menambah “panas” imajinasi kita. Misalnya, bayangkanlah bahwa Yesus mengatakan kepada kita tentang segala janji Allah yang ada dalam Kitab Suci; tentang pembebasan dari dosa; atau tentang karunia Roh Kudus. Agar dapat mendengarkan kata-kata-Nya kita harus membuat hening pikiran kita. Segala sesuatu yang dialami oleh Andreas dan kawannya pada saat-saat mereka bersama Yesus dapat kita alami juga bila kita “datang dan melihat” (Yoh 1:39) dalam Perayaan Ekaristi dan dalam doa kita.

Allah sungguh ingin membuka hati kita bagi kasih-Nya sehingga dengan demikian kita – seperti Andreas dan kawannya – akan didorong untuk menemui para saudari-saudara kita lainnya dan berkata: “Kami telah menemukan Mesias” (Yoh 1:41), kemudian membawa mereka yang kita temui itu kepada Yesus. Untuk perbandingan, baiklah saudari-saudara mengingat apa yang dilakukan oleh perempuan Samaria setelah bertemu dengan Kristus di dekat sumur Yakub (Yoh 4:28-29). Allah dapat memberdayakan kita menjadi pewarta-pewarta Kabar Baik, asal saja hati kita terbuka bagi sentuhan-Nya yang penuh kasih.

DOA: Yesus, Engkau bertanya kepadaku mengapa aku mencari-Mu. Curahkanlah rahmat-Mu ke dalam diriku sekarang dan tunjukkanlah kepadaku jawaban dari jiwaku. Sembuhkanlah aku di mana saja aku perlu disembuhkan sehingga aku dapat mengikut Engkau dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatanku, kemudian membawa orang-orang lain kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:35-42), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH DAN KAMU AKAN MELIHATNYA” (bacaan tanggal 18-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Cilandak, 11 Januari 2015 [Pesta Pembaptisan Tuhan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG PEMUNGUT CUKAI MENJADI MURID YESUS

SEORANG PEMUNGUT CUKAI MENJADI MURID YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abbas – Sabtu, 17 Januari 2015) 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUSSesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”  Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”  Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Mrk 2:13-17) 

Bacaan Pertama: Ibr 4:12-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Andaikan anda sedang memulai sesuatu yang baru, barangkali suatu bisnis yang baru (apabila anda seorang pengusaha atau pemimpin di bidang bisnis), bukankah anda ingin memperoleh orang-orang terbaik untuk mengisi posisi-posisi puncak yang ada, misalnya untuk anggota direksi perusahaan anda dan posisi kunci lainnya dalam perusahaan anda? Bukankah anda sebagai seorang pribadi pemimpin yang waras akan mencari orang-orang yang berlatar pendidikan terbaik dan para go-getters yang akan get the job done, bukannya para “yes men” atau para penjilat “ABS” yang oportunis?

Walaupun “waras” dalam artian sesungguhnya, Yesus lain sekali dengan para pemimpin sekular atau keagamaan yang hidup di dunia. Yesus menemukan para rasul-Nya di perahu-perahu nelayan, bahkan di “kantor pajak/cukai”, seperti halnya dengan Lewi anak Alfeus atau Matius ini (Mrk 2:14). Kelihatannya Yesus suka memilih calon-calon yang dapat dijadikan sahabat-sahabat akrab/intim bagi diri-Nya dan kepada mereka Dia akan mempercayakan Gereja-Nya.

Pilihan Yesus atas diri Lewi barangkali membingungkan orang-orang. Sebuah teka-teki pada zaman-Nya. Pada abad pertama di Israel, para pemungut cukai tidak memiliki status dalam masyarakat Yahudi. Mereka dihina karena mereka bekerja untuk kekaisaran Roma dan biasanya mereka memperagakan kekayaan pribadi yang mencolok, tentunya lewat “pemerasan” atas diri anggota masyarakat. Di sisi lain pilihan Matius atas diri Yesus juga sama penuh teka-tekinya. Perubahan dirinya yang secara mendadak, dari seorang pemungut cukai yang tidak patut dipercaya menjadi seorang murid yang penuh gairah tentunya mengejutkan setiap orang yang mengenalnya. Mengapa dia mau melepaskan pekerjaannya yang “basah” itu demi mengikuti seorang tukang kayu dari Nazaret yang menjadi seorang rabi? Tentunya, dalam hal ini “uang” bukanlah motifnya!

Keputusan Lewi untuk meninggalkan segalanya dan langsung mengikut Yesus memberikan petunjuk kepada kita mengapa Yesus memanggil dirinya. Yesus memandang ke dalam hati Lewi dan melihat di hati itu adanya rasa haus, kerinduan akan Allah dan potensi untuk mengenali harta surgawi. Lewi membuktikan Yesus benar ketika Dia menerima undangannya untuk merayakan kehidupan barunya dalam sebuah perjamuan di rumahnya, di mana para pemungut cukai yang lainpun dan orang-orang berdosa dapat bertemu dengan Tuhan (Mrk 2:15).

Sejak saat itu, Lewi tak henti-hentinya menawarkan harta-kekayaan Injil yang tak ternilai harganya itu secara bebas-biaya, semua free-of-charge. Tradisi mengatakan bahwa Lewi atau Matius ini mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus di tengah-tengah orang-orang Yahudi selama 15 tahun setelah kebangkitan Yesus, kemudian dia pergi ke Makedonia, Siria dan Persia. Di Persia inilah dikatakan  bahwa Matius mengalami kematian sebagai martir Kristus.

Iman dan devosi yang terbukti nyata dalam diri Matius adalah kualitas-kualitas pribadi yang diinginkan oleh Yesus dari kita juga yang hidup pada zaman modern ini. Jangan ragu-ragu! Apabila Allah dapat mengubah Matius, Petrus dan yang lainnya menjadi rasul-rasul, bayangkanlah apa yang dapat dilakukan-Nya atas diri kita. Yesus dapat mengangkat segala halangan yang merintangi diri kita untuk dipakai oleh-Nya. Yang diminta-Nya hanyalah bahwa kita percaya pada kasih-Nya yang penuh kerahiman dan kita menaruh kepercayaan pada kuat-kuasa dan rahmat-Nya.

DOA:  Tuhan Yesus, di atas segalanya, kuingin mengenal dan mengalami kasih-Mu, yang melampaui segala sesuatu yang ada, seperti yang dialami oleh Matius, rasul-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “KISAH PANGGILAN LEWI” (bacaan  tanggal 17-1-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 4:12-16), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MENGHADAP TAKHTA ANUGERAH-NYA” (bacaan tanggal 9-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 10 Januari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS