DUNIA MEMBENCI YESUS DAN PARA MURID-NYA

DUNIA MEMBENCI YESUS DAN PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Sabtu, 20 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Bernadinus dr Siena, Imam  

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh 15:18-21)

Bacaan Pertama: Kis 16:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-3,5 

Cukup sering Yesus menyebut kata “dunia”: “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu”  (Yoh 15:18). Di sini Yesus tidak memaksudkan “dunia”’ dalam artiannya yang konkret sebagai tempat tinggal manusia, melainkan sebagai kemanusiaan yang telah jatuh ke dalam dosa. Dalam tulisan-tulisan Yohanes, “dunia” mewakilkan suatu sistem dari yang jahat, yang dikendalikan oleh kuasa-kuasa kegelapan. Setiap hal yang ada di dalam sistem itu bertentangan/berlawanan dengan pemerintahan Allah. Dengan tegas Yesus mengatakan kepada para murid-Nya: “Karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yoh 15:19).

Yesus mengalami sendiri apa artinya kebencian itu. Oleh karena itu Dia wanti-wanti mengingatkan para murid-Nya: “Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu” (Yoh 15:20). Nubuatan Yesus ini telah terbukti benar pada segala zaman melalui kisah hidup para kudus.

Yohanes (Don) Bosco [1815-1888] adalah seorang imam praja anggota Ordo III sekular St. Fransiskus yang kemudian mendirikan Serikat Salesian (SDB). Ia dikenal di seluruh Italia untuk karya pelayanannya bagi anak-anak miskin dan yatim-piatu. Namun kebaikan dan kemurahan hatinya samasekali tidak membebaskan dirinya dari penganiayaan. Situasi politik Italia pada zaman Don Bosco sangatlah anti Katolik, dan imam ini seringkali difitnah oleh media surat kabar. Don Bosco juta selamat dari beberapa kali serangan fisik yang dilakukan oleh preman bayaran. Pada suatu hari dia ditembak oleh seorang pembunuh bayaran, namun selamat. Peluru yang ditembakkan nyaris mengenai dirinya, hanya membuat bolong jubah luar yang sedang dikenakannya. Ada catatan tentang orang kudus ini sebagai berikut: Don Bosco tidak pernah memperkenankan kemalangan merusak sukacitanya dalam melayani Kristus.

Maximilian Kolbe [1894-1941] adalah seorang imam Fransiskan Konventual Polandia. Imam ini barangkali menghadapi salah satu bentuk kejahatan yang paling sistematik di abad ke-20: Naziisme dari Hitler. Dengan berani dia menolak paham Naziisme pada tahun-tahun menjelang pecahnya Perang Dunia II. Pada waktu pasukan Nazi Jerman berhasil menduduki Polandia, mereka pun menjebloskan Pater Kolbe ke kamp konsentrasi Auschwitz. Para saksi mata memberi kesaksian bahwa para penjaga kamp konsetrasi seringkali memperlakukan imam yang lemah fisik ini secara di luar perikemanusiaan, namun mereka tidak pernah dapat menghancurkan damai-sejahtera yang ada dalam batin Pater Kolbe, atau mencegah dia menolong para tahanan lainnya yang membutuhkan pertolongan. Kasihnya kepada Kristus begitu besar sehingga secara sukarela imam ini menggantikan seorang tahanan lain yang akan dihukum mati karena dia mempunyai keluarga. Para pejabat dan petugas Nazi kemudian menghukum mati orang Kristiani ‘kepala batu’ yang bernama Maximilian Kolbe ini, pada tanggal 14 Agustus 1941.

Putera Allah datang ke dalam dunia tepatnya karena dunia merupakan sebuah tempat yang dipenuhi kegelapan. Ia datang untuk membebaskan semua orang yang berada dalam cengkeraman si Jahat dan tidak tahu sedikit pun tentang kasih Allah: “Mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh 15:21). Ia memilih para pengikut-Nya dari dunia ini untuk menjadi terang dalam kegelapan. Dengan melakukan hal itu, Yesus mengatakan bahwa mereka akan mengalami penganiayaan; namun Ia juga menjamin bahwa mereka akan menyaksikan “kasih mengalahkan kebencian”, “kehidupan akan menang atas kematian”.

DOA: Tuhan Yesus, dengan mencontoh pengorbanan diri-Mu, kami para murid-Mu, menjadikan diri kami suatu sakramen hidup dari ‘Tuhan Kehidupan’ yang sungguh bangkit dan telah mengalahkan kegelapan dunia. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “JADILAH SEPERTI YESUS” (bacaan tanggal 20-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 17 Mei 2017 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA HARUS SALING MENGASIHI, SEPERTI YESUS TELAH MENGASIHI KITA

KITA HARUS SALING MENGASIHI, SEPERTI YESUS TELAH MENGASIHI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Jumat, 19 Mei 2017)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan S. Kripinus dr Viterbo, Bruder 

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku  tidak menyebut  kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang terhadap yang lain. (Yoh 15:12-17)

Bacaan Pertama: Kis 15:22-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 57:8-12

Pada waktu Yesus memerintahkan kita untuk saling mengasihi seperti Dia telah mengasihi kita (Yoh 15:12), maka Yesus sebenarnya menggunakan kata “kasih” itu secara lebih spesifik daripada yang kita suka gunakan sehari-hari.  Apa yang dimaksud oleh Yesus dengan kasih?

Kasih yang Yesus bicarakan mempunyai makna yang melampaui sekadar perasaan dan emosi. Meskipun melibatkan emosi-emosi, pada intinya kasih sedemikian adalah suatu keputusan untuk mencari kebaikan dalam diri orang lain. Mengasihi seperti Yesus berarti mengasihi setiap orang tanpa syarat. Ingatlah bahwa Yesus begitu mengasihi ciptaan Bapa, sampai-sampai dia memberikan nyawa-Nya sendiri, sehingga kita semua dapat direkonsiliasikan dengan Allah, artinya hubungan kita-manusia dengan Allah yang sudah rusak dapat dipulihkan kembali dan dibebaskan dari dosa dan kematian.

Setiap hari, kita harus merenungkan kasih yang terdapat pada inti pengorbanan Yesus, karena itulah sumber kemampuan kita untuk mengasihi Allah dan saling mengasihi di antara kita. Kita juga harus membawa kepada Tuhan segala dalih dan argumentasi mengapa kita memandang diri kita tidak mungkin untuk mengasihi orang-orang tertentu. Dengan begitu kita dapat menerima dari Allah terang belas kasih-Nya dan kemurahan hati-Nya. Yesus yang dikhianati, disiksa dan ditolak demi kita tentu saja akan memberikan kasih-Nya sendiri untuk disyeringkan dengan orang-orang lain, ……… asal kita mau melakukannya.

Bagaimana dengan diri kita? Marilah kita periksa kasih yang ada pada diri kita hari ini, dan kita juga mencari jalan untuk bertindak berdasarkan perintah Yesus: mengasihi seperti Dia mengasihi. Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Bagaimana aku mengungkapkan kasihku bagi orang-orang dalam kehidupanku – teristimewa mereka yang  kupandang sulit untuk dikasihi? Apakah yang aku dapat lakukan hari ini yang membantu diriku menjadi sedikit lebih serupa lagi dengan Yesus bagi mereka? Apakah ada tindakan-tindakan pelayanan yang aku dapat lakukan? Apakah ada sakit hati yang dapat   kuampuni? Kebaikan-kebaikan apa saja yang dapat kulakukan bagi mereka hari ini?

Jangan menyerah!!! Tetap dekatlah pada Tuhan Yesus dan bertekunlah dalam mematuhi panggilan atau perintah-Nya untuk mengasihi. Percayalah bahwa upaya anda, kerja keras anda akan berubah menjadi sukacita!!!!! Halleluya!

DOA: Bapa di surga, Allah Mahapengasih dan Mahapenyayang. Aku berterima kasih penuh syukur dan memuji Engkau untuk Putera-Mu Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku yang tinggal berdiam dalam diriku dan memenuhi diriku dengan kasih akan Dikau dan bagi siapa saja di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:12-17), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH YESUS KEPADA PARA SAHABAT-NYA” (bacaan tanggal 19-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 17 Mei 2017 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TIGA HAL: KASIH, KETAATAN DAN SUKACITA

TIGA HAL: KASIH, KETAATAN DAN SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Kamis, 18 Mei 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Bruder Kapusin

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitamu menjadi penuh.” (Yoh 15:9-11)

Bacaan Pertama: Kis 15:7-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10

Kasih, Ketaatan dan Sukacita!!! Pertimbangkanlah konteks kata-kata Yesus yang ditujukan-Nya kepada para murid-Nya. Dia baru saja menyelesaikan perjamuan terakhir dengan orang-orang yang sangat dikasihi-Nya. Tidak lama lagi Dia akan menyelesaikan pekerjaan Bapa di atas bumi. Hati-Nya penuh, demikian juga hati para murid. Kata-kata Yesus ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan dan menyemangati para murid dengan kehidupan dan pengharapan.

Yesus baru saja mengajar dan menjelaskan “perumpamaan tentang pokok anggur yang benar”: Aku menginginkan kehidupan bagimu semua; inilah caranya untuk memperoleh kehidupan itu; peganglah kata-kata-Ku ini dan hiduplah seturut kata-kata yang kuucapkan itu.

Sebenarnya Injil Yohanes menunjukkan kepada kita lebih daripada sekadar “Yesus historis”. Injil ini mengedepankan Allah-manusia yang dalam diri-Nya kita memiliki kehidupan. Kehidupan kekal tidak digambarkan sebagai suatu kejadian di masa depan, melainkan sebagai sebuah realitas yang kita cicipi, bahkan sekarang juga ketika kita percaya kepada Yesus dan hidup sesuai dengan kepercayaan itu. Kata-kata kasih, ketaatan dan sukacita memanggil kita kepada kehidupan tersebut dan memampukan kita untuk menghayatinya. Inilah pesan dari Petrus: “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu” (1 Ptr 1:22).

Yesus berbicara kepada para murid-Nya tentang kasih dan mengkaitkan kasih itu dengan ketaatan. Yesus mengalami kasih Bapa-Nya secara kekal dan Dia mengasihi para murid-Nya dengan kasih yang sama. Yesus jelas dan singkat tentang bagaimana kita seharusnya mengasihi Dia dan Bapa-Nya, dan bagaimana kita seharusnya mengalami kasih-Nya: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku” (Yoh 15:10). Sementara kita taat kepada-Nya, kita akan tinggal dalam Dia dan kasih-Nya akan mengalir kepada orang-orang lain melalui kehidupan kita. Posisi Yohanes tegas dan tanpa keraguan sedikit pun mengenai hubungan antara kasih dan ketaatan. Buah ketaatan bagi kita adalah kasih dan kehidupan baru.

Apa yang mencirikan kehidupan baru ini? Sukacita! Sebuah buah Roh Kudus (lihat Gal 5:22), bukan hasil kerja daging, dan tidak dapat muncul dengan sendirinya. Selagi kita tinggal dalam Yesus melalui ketaatan, kita menjadi turut serta dalam sukacita ini. Sukacita ini mengisi diri kita dan mentransformasikan diri kita dan memberikan kita kesempatan untuk mencicipi kepenuhan hidup surgawi, bahkan sekarang juga.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah mengurapi kami dengan minyak sukacita. Kami yakin sekali bahwa Engkau saja yang dapat memuaskan setiap kebutuhan kami. Sungguh penuh sukacita kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 15:7-21), bacalah tulisan yang berjudul “PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA” (bacaan tanggal 18-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

Cilandak, 15 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JIKA KITA BERBUAH BANYAK, BAPA PUN DIMULIAKAN

JIKA KITA BERBUAH BANYAK, BAPA PUN DIMULIAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Rabu, 17 Mei 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Paskalis Baylon, Bruder Fransiskan Observanti tak berkasut

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8)

Bacaan Pertama: Kis 15:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

Dalam Perjanjian Lama, Israel seringkali diibaratkan sebagai pohon anggur. Allah menanam pohon anggur itu dan memeliharanya, namun pohon anggur itu menjadi jelek dan akhirnya diinjak-injak: “Aku telah membuat engkau tumbuh sebagai pokok anggur pilihan, sebagai benih yang sungguh murni. Betapa engkau berubah menjadi pohon berbau busuk, pohon anggur liar!” (Yer 2:21). Sebagai perbandingan, bacalah juga Mzm 80:8-15; Yes 5:1-7; Yeh 19:10-14.

Yesus menyatakan diri-Nya bahwa Dialah “pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya” (Yoh 15:1). Dalam diri Yesus dan para pengikut-Nya, Bapa akan menemukan jenis buah anggur yang dihasrati-Nya. Tugas kita adalah untuk tetap terhubungkan dengan pokok anggur yang merupakan sumber makanan dari Kristus sendiri. Adalah tugas Bapa surgawi untuk memelihara pokok anggur agar dapat berbuah banyak. Pernyataan ini terdengar begitu eksplisit sehingga kita dapat luput melihat kebesaran dari tantangan dan janji yang diberikannya.

Dalam mengikuti Kristus, kecenderungan kita adalah mengambil tindakan yang bersifat pre-emptive terhadap pekerjaan Allah dengan mengambil gunting besar pemotong tangkai anggur dan melakukan pengguntingan sendiri; dengan demikian kita menggantikan pekerjaan ilahi-Nya dengan sesuatu yang kita rancang berdasarkan pemikiran kita sendiri. Kita merancang proyek-proyek menolong diri-sendiri (self-help projects) yang cenderung memusatkan perhatian pada kekurangan-kekurangan dalam kehidupan pribadi yang memalukan kita (dilihat dari mata dunia). Jadi, kita tidak pernah sampai kepada perubahan hati yang lebih mendalam yang Allah inginkan bekerja dalam diri kita. Ini adalah justru perubahan-perubahan yang kita perlukan guna mengalami kehidupan baru; sebagai buah tindakan Allah dan kerja sama kita, tidak sekadar tindakan kita sendiri.

Apabila Allah bekerja dalam kehidupan seseorang, maka orang tersebut bercahaya seperti sebuah bintang di tengah-tengah dunia yang semakin menggelap ini. Dengan menggunakan kata-kata Paulus: “anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga …… bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (Flp 2:15). Pada kenyataannya kita kadang-kadang dapat menghadapi berbagai pencobaan dan kesulitan hidup yang disebabkan oleh keterlekatan-keterlekatan pada hal-hal yang bukan berasal dari Allah; namun apabila semuanya itu diserahkan ke dalam tangan Allah, maka kelekatan-kelekatan ini dapat dipangkas sehingga kita dapat berbuah. Tidak ada upaya berdasarkan kekuatan sendiri, juga studi atau devosi yang dapat di bandingkan dengan sentuhan-pangkasan halus dari Allah sendiri.

Jesus berjanji bahwa Bapa surgawi sendirilah yang akan memangkas setiap ranting pohon anggur yang tidak berbuah dan membersihkan setiap ranting yang berbuah, agar pohon anggur itu berbuah lebih banyak lagi. Apabila kita mengakui kebenaran ini, maka kita pun memiliki keyakinan yang luarbiasa besarnya. Siapa lagi yang lebih dapat diandalkan, lebih sabar, lebih mengasihi dan lebih memiliki hasrat akan pertumbuhan kita daripada Bapa kita sendiri yang begitu mengasihi kita, anak-anak-Nya?

DOA: Bapa surgawi, pangkaslah dari diri kami carang-carang kelekatan duniawi kami dan kuatkanlah kami agar dapat menghasilkan panen berlimpah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 15:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “BERBUAH BANYAK” (bacaan tanggal 17-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

(Tulisan bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 15 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DAMAI SEJAHTERA-KU KUBERIKAN KEPADAMU

DAMAI SEJAHTERA-KU KUBERIKAN KEPADAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Selasa, 16 Mei 2017)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Margareta dr Cortona, Wanita Kudus (OFS)

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku, tetapi dunia harus tahu bahwa aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku. (Yoh 14:27-31a)

Bacaan Pertama: Kis 14:19-28; Mazmur Tanggapan: 145:10-13,21

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan dan gentar hatimu.” (Yoh 14:27)

Selama hidup-Nya di muka bumi, Yesus menyatakan damai sejahtera dari Allah sendiri – suatu damai sejahtera yang melampaui segala pemahaman. Menjelang awal pelayanan-Nya, Yesus dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun di mana Dia digoda oleh Iblis. Walaupun menghadapi serangan-serangan dari si Jahat, Yesus tetap teguh berpegang pada kasih dan kebenaran Bapa-Nya (Luk 4:1-13).

Seringkali Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa dan mendengarkan suara Bapa-Nya. Selama saat-saat yang istimewa ini, Yesus akan menerima rahmat dan damai-sejahtera yang dicurahkan oleh Bapa atas diri-Nya. Ketika bersama para murid/rasul-Nya di dalam perahu dan kemudian badai mengamuk dengan hebatnya, Yesus tetap tidur di buritan, seakan tak terganggu dengan apa yang terjadi. Ketika Dia dibangunkan oleh para murid yang sudah ketakutan itu,  Yesus membentak angin badai itu agar menjadi reda dan tenang. Hal tersebut mengingatkan para murid pada Allah dan kuat-kuasa-Nya (Mrk  4:35-41).

Ke mana saja Yesus pergi, orang banyak berdesak-desakan mengikuti-Nya agar dapat menerima kesembuhan dan pelepasan/pembebasan dari kuasa roh-roh jahat, namun Yesus tidak pernah merasa kewalahan. Ia selalu kembali berpaling kepada Bapa-Nya, mengandalkan diri-Nya pada hikmat dan kekuatan Allah Bapa. Yesus menunjukkan ketaatan, memberi respons hanya seturut apa yang diperintahkan oleh Bapa-Nya, maka Dia mampu untuk tetap berada dalam damai sejahtera Allah.

Hati Yesus penuh dengan kasih-Nya kepada Bapa, menaruh kepercayaan pada diri-Nya, dan mengandalkan sepenuhnya kepada kuat-kuasa-Nya. Bahkan ketika Dia meninggalkan/memberikan damai sejahtera-Nya kepada para murid-Nya, Yesus mengetahui bahwa saat-Nya Dia memanggul salib sudah semakin dekat.
Walaupun begitu, Yesus mendeklarasikan bahwa kebesaran/keagungan Bapa-Nya: “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh 14:28); “Aku pergi kepada Bapa-Ku” (Yoh 14:28); “Aku mengasihi Bapa” (Yoh 14:31).

Kita semua tentunya menghadapi pencobaan, mengalami kekecewaan-kekecewaan dan rasa khawatir serta takut, misalnya ketika dijebloskan ke dalam penjara secara tidak adil, seperti yang sedang dialami seorang pribadi yang kita semua kenal. Namun ingatlah bahwa Yesus bersabda: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” (Yoh 14:27).

Walaupun pada saat-saat kita tidak mengalami banyak kesusahan, Yesus terus saja mengucapkan kata-kata ini kepada kita. Dia ingin memenuhi hati kita dengan kehadiran-Nya. Dia rindu untuk menarik kita semua kepada Bapa sehingga kita dapat mengenal damai sejahtera yang tidak tergantung pada situasi-situasi di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah sang Raja Damai. Datanglah memerintah dalam hati kami. Ingatkanlah kami akan kasih dan kerahiman sempurna Bapa. Roh Kudus, kuatkanlah rasa percaya kami akan Bapa surgawi,  sehingga dengan demikian kami akan berjalan setiap hari dalam damai sejahtera dan kehadiran Allah Tritunggal Mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 14:19-28), bacalah tulisan yang berjudul “PEKERJAAN YANG BELUM SELESAI” (bacaan tanggal 16-5-17) dalam  situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan pada tulisan saya di tahun 2013) 

Cilandak, 15 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BUKAN UNTUK MENARIK PERHATIAN ORANG BANYAK KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI

BUKAN UNTUK MENARIK PERHATIAN ORANG BANYAK KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 15 Mei 2017)

Tetapi orang banyak di kota itu terpecah menjadi dua: Ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada rasul-rasul itu. Lalu mulailah orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka berusaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu. Mengetahui hal itu, menyingkirlah rasul-rasul itu ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil.

Di Listra ada seorang laki-laki yang duduk saja, karena kakinya lemah dan lumpuh sejak lahir dan belum pernah dapat berjalan. Ia mendengarkan Paulus yang sedang berbicara. Paulus menatap dia dan melihat bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring, “Berdirilah tegak!” Orang itu pun melonjak berdiri, lalu mulai berjalan kian ke mari. Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berteriak dalam bahasa Likaonia, “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.” Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena dialah yang berbicara. Lalu datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan kurban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu. Mendengar itu rasul-rasul itu, yaitu Barnabas dan Paulus, mengoyakkan pakaian mereka, lalu menerobos ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru, “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Pada zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai perbuatan baik, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.” Walaupun rasul-rasul itu berkata demikian, mereka hampir-hampir tidak dapat mencegah orang banyak mempersembahkan kurban kepada mereka. (Kis  14:5-18) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16; Bacaan Injil: Yoh 14:21-26

Adalah satu hal yang baik bahwa entusiasme Paulus dan Barnabas untuk mewartakan Kabar Baik secara kokoh telah didasarkan pada Kristus sendiri, bukannya tergantung bagaimana pesan mereka itu diterima oleh orang banyak. Bayangkanlah bagaimana perubahan suasana hati yang akan mereka alami, seandainya mereka menaruh kepercayaan serta mengandalkan diri pada opini publik ketika mereka membawa Injil ke Listra (lihat Kis 14:6). Pujian kepada mereka disusul dengan cepat oleh sikap permusuhan yang dipenuhi dengan ide kekerasan. Perpecahan di antara orang banyak di Ikonium karena pewartaan dan berbagai mukjizat dan tanda heran yang mereka lakukan telah mengakibatkan timbulnya usaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu (lihat Kis 14:3-6). Dengan demikian kedua rasul itu harus menyingkir ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil (lihat Kis 15:6-7).

Di Listra inilah terjadi sebuah peristiwa yang menarik. Misi Paulus dan Barnabas adalah untuk mendesak orang banyak agar kembali kepada jalan Allah. Kedua rasul itu tidak pernah bermaksud untuk menarik perhatian orang banyak kepada diri mereka sendiri. Suatu sikap yang benar sebagai pewarta! Inilah yang terjadi, meskipun setelah Paulus memandang orang lumpuh yang mendengarkan khotbahnya itu sungguh memiliki iman untuk dapat disembuhkan. Kiranya cukup mengejutkan bagi Paulus dan Barnabas ketika orang banyak memandang kesembuhan orang lumpuh itu bukan sebagai tanda konfirmasi atas kuasa Allah, melainkan bukti bahwa mereka adalah dua sosok dewa yang menjelma menjadi manusia (lihat Kis 14:11-13).

Kita, orang zaman modern ini, mungkin saja tertawa terpingkal-pingkal apabila kita menyaksikan bahwa  imam dewa Zeus pun sampai-sampai mengambil keputusan untuk mempersembahkan kurban persembahan kepada dua orang orang misionaris perdana ini. Akan tetapi bagi Paulus dan Barnabas hal itu samasekali bukanlah sesuatu yang lucu-menggelikan. Diidolakan (idola=berhala) sangatlah bertentangan dengan yang mereka cari dan cita-citakan. Ingatlah apa yang ditulis sang pemazmur: “Bukan kepada kami, ya TUHAN (YHWH), bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu” (Mzm 115:1). Itulah kiranya juga yang menjadi pegangan kedual rasul Yesus Kristus itu. Tidak lama kemudian, suasana hati orang banyak memang menjadi berubah. Karena dihasut oleh orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium, maka orang banyak itu pun berpihak kepada para penghasut itu. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka dia telah mati. Keesokan harinya Paulus dan Barnabas berangkat ke Derbe (lihat Kis 14:19). Semua itu terjadi hanya dalam satu hari. Pagi hari mereka menerima pujian, siang hari mereka menerima cacian dan siksaan! Bukankah Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, juga telah mengalami hal yang sama? Hari ini ‘mubarak’ (Minggu Palma), besok ‘salibkan Dia’ (Jumat Agung) [Ingat pembelaan Mr. Yap Thiam Hien pada perkara Dr. Soebandrio berkaitan dengan peristiwa Gestapu, di tahun 1966]

Sebagai seorang Kristiani kita masing-masing tentunya juga mengalami naik-turunnya kehidupan, namun tidak sampai begitu ekstrim sebagaimana yang dialami oleh Paulus dan Barnabas. Dua rasul ini memberikan contoh bagus tentang kesetiaan secara ‘kepala-batu’ (keras kepala) terhadap panggilan mereka, yang menurut mata dunia mungkin saja dipandang sebagai suatu kebodohan. Patutlah kita catat bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang dapat mengendalikan berbagai macam reaksi yang akan kita terima ketika kita memberi kesaksian tentang Tuhan. Ada yang akan mengasihi kita dan tidak sedikit pula yang akan membenci kita, dan tentunya ada juga yang akan mendewa-dewakan kita. Hal yang disebutkan terakhir ini penting dicamkan oleh setiap orang Kristiani yang melakukan pelayanan dalam bidang pewartaan, apakah imam, pendeta atau kaum awam. Ingatlah bahwa kita hanyalah seperti keledai yang ditunggangi Yesus ketika memasuki Yerusalem pada hari Minggu Palma dan mendengar orang banyak mengelu-elukan-Nya. Kalau kita “gila hormat” karena merasakan bahwa kitalah yang dielu-elukan dan tiba-tiba mengangkat kaki depan karena kegirangan, maka Yesus bisa-bisa menjadi terjatuh ke tanah.

Sehubungan dengan naik-turunnya apa yang kita alami sebagai pelayan sabda-Nya, yang penting bagi kita adalah untuk senantiasa berpegang teguh pada panggilan Allah kepada kita. Percayalah, bahwa Allah akan dan dapat membereskan hal-hal lainnya.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat selalu berada pada kaki-kaki-Mu dan secara kokoh-kuat berakar dalam diri-Mu. Kapan pun, ya Tuhan Yesus, semoga aku dapat menerima sabda kehidupan kekal dari-Mu dan menyampaikannya juga kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 14:21-26), silahkan baca tulisan yang berjudul “TUGAS SANG PENOLONG” (bacaan tanggal 15-5-17 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 12 Mei 2017 [Peringatan S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TUJUH DIAKON PERTAMA DALAM GEREJA

TUJUH DIAKON PERTAMA DALAM GEREJA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V [Tahun A], 14 Mei 2017

Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang orang-orang Ibrani, karena pembagian keperluan sehari-hari. Kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata, “Tidak baik jika kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, Saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan  pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan menumpangkan tangan di atas mereka.Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.  (Kis 6:1-7)

Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19; Bacaan Kedua: 1Ptr 2:4-9; Bacaan Injil: Yoh 14:1-12 

Keduabelas rasul – seperti Yesus juga – semuanya berasal dari Galilea dan sehari-harinya berbicara dalam bahasa Aram. Akan tetapi, di Yerusalem pada abad pertama tahun Masehi, ada dua kelompok orang Yahudi: (1) Mereka yang berbicara dalam bahasa Aram Palestina, dan (2) Para imigran yang berbicara dalam bahasa Yunani yang  datang ke Yerusalem dari Diaspora, untuk tinggal di Tanah Terjanji. Orang-orang Yahudi yang bahasa dasar sehari-harinya bahasa Yunani, dinamakan ‘orang-orang Yahudi helenis(tis)’, dengan demikian mereka dari kelompok ini yang menjadi Kristiani disebut ‘orang-orang Kristiani Yahudi helenis(tis)’.  Orang-orang ini dalam banyak hal memang berbeda dengan saudara-saudari mereka Yahudi Palestina yang berbicara dalam bahasa Aram. Secara sekilas lintas, kita dapat melihat/merasakan adanya perbedaan itu dalam bacaan hari ini.

Panggilan Yesus untuk melakukan evangelisasi (lihat Mat 28:16 dsj.; Mrk 16: 15 dsj.; Luk 24:47 dsj.)  ditanggapi oleh para rasul, pertama-tama kepada bangsa mereka sendiri: bangsa Yahudi, baik yang berbahasa Aram maupun yang berbahasa Yunani, dengan demikian umat Kristiani bertumbuh-kembang secara relatif pesat. Pada saat yang bersamaan semakin bertumbuh juga ketegangan antara kedua kelompok orang Yahudi itu. Dengan berjalannya waktu juga semakin dirasakan perlunya akan tambahan dalam jumlah pemimpin umat yang ada, agar Gereja dapat tetap dapat berfungsi dengan lancar.

Para rasul kemudian memutuskan untuk mengangkat tujuh orang diakon (pelayan) – semuanya orang Kristiani Yahudi Helenis(tis) – karena adanya konflik antara anggota-anggota jemaat yang orang-orang Yahudi Palestina dengan warga jemaat yang Yahudi Helenis(tis).  Para janda Yahudi Helenis(tis) mengeluh bahwa kebutuhan-kebutuhan mereka tidak diperhatikan oleh otoritas Gereja yang adalah orang-orang Yahudi Palestina.

Tentunya tidak sulit bagi kita untuk melihat bagaimana suatu ‘perselisihan’ dapat terjadi apabila kita melihat begitu banyak konflik yang terjadi dalam gereja-gereja kita di seluruh dunia  pada  zaman kita ini, dikarenakan perbedaan dalam bahasa dan budaya. Tantangan yang dihadapi oleh para rasul sebenarnya sama seperti yang kita hadapi pada zaman modern ini,  yaitu bahwa kita harus mencari/memperoleh jalan keluar dari konflik-konflik dalam Gereja seturut rencana Allah bagi umat-Nya. Walau pun permasalahan yang timbul itu disebabkan oleh ‘kekurang-tanggapan’ mereka sendiri, para pemimpin jemaat Kristiani awal kemudian mengakui akan adanya kebutuhan dalam Gereja, dan mereka pun menanggapinya dengan kerendahan hati dan kemudian mengambil keputusan yang efektif.

Para pemimpin jemaat Kristiani awal itu terbuka terhadap Roh Kudus dan mereka memiliki keprihatinan terhadap umat. Oleh karena itu terjadilah perkembangan yang yang sangat penting, yaitu bahwa pada akhirnya tugas orang-orang Kristiani yang berbicara dalam bahasa Yunani tidaklah terbatas pada pelayanan kepada para janda mereka, namun ke luar juga mewartakan Kabar Baik kepada saudari-saudara mereka yang berbahasa Yunani, baik di Palestina maupun di luar Palestina. Contohnya adalah apa yang terjadi dengan Stefanus (lihat Kis 6:8). Mulai dari titik inilah Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus tidak lagi terbatas pada ruang lingkup orang-orang Yahudi Palestina, akan tetapi menyebar ke mana-mana … merangkul setiap bangsa, ras, golongan etnik dan bahasa.

DOA: Yesus, Tuhan dan Guru kami. Ajarlah kami untuk menjadi peka terhadap saudari-saudara seiman kami yang berbicara dalam bahasa yang lain atau yang berlatar-belakang budaya lain daripada kami sendiri, agar supaya tubuh Kristus tidak terpecah-belah lebih lanjut. Tolonglah kami agar terbuka terhadap pekerjaan yang ingin Kaulakukan di antara kawanan domba-Mu. Bagaimana pun kami tidak ingin menghalangi rencana-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya ya Tuhan dan Juruselamat kami! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGHADAP-NYA DENGAN HATI TERBUKA DAN PENUH RASA PERCAYA” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 11 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS