MEMBERITAKAN BAHWA KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT

MEMBERITAKAN BAHWA KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Kamis, 12 Juli 2018)

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15) 

Bacaan Pertama: Hos 11:1,3-4,8c-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16 

“Pergilah dan beritakanlah: ‘Kerajaan Surga sudah dekat’.(Mat 10:7)

Apakah yang dimaksudkan dengan “Kerajaan Surga” atau “Kerajaan Allah” ini, sehingga Yesus mengutus para murid/rasul-Nya untuk mewartakan Kerajaan itu? Banyak orang Yahudi telah lama berharap akan kedatangan sebuah kerajaan dunia, yang akan mengusir orang-orang Romawi yang selama itu menjajah dan menindas mereka. Akan tetapi Kerajaan Surga yang dimaksudkan oleh Yesus bukanlah sebuah kerajaan yang mengikuti norma-norma sebagaimana ditentukan oleh kekuasaan militer atau politik, melainkan ditentukan oleh kasih dan belas-kasih serta bela-rasa terhadap para pendosa yang terluka, mereka yang menderita sakit-penyakit dan hidup tanpa kerabat dan teman, bagi mereka yang tertimpa rasa takut dan tak berdaya karena terbelenggu oleh kuasa si Iblis.

Sebagai pertanda kedatangan Kerajaan Allah, para murid diperintahkan oleh Yesus untuk “menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang kusta, mengusir roh-roh jahat” (Mat 10:8). Bagaimana mungkin mereka akan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan hebat seperti itu? Bukankah Yesus adalah satu-satunya Pribadi yang memiliki otoritas untuk melakukan segala hal itu? Jawabannya terletak pada satu pernyataan Yesus yang dibuat-Nya kemudian dalam Injil: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:3).

Kerajaan Surga dimaksudkan bagi orang-orang sederhana, yang mempunyai rasa percaya seperti anak-anak (child-like trust, bukan childish) terhadap Bapa surgawi. Yesus memanggil para murid-Nya untuk melakukan hal-hal yang tak mungkin dengan pertolongan Allah. Hanya seorang pribadi sederhana saja yang dapat melakukan hal itu, seorang pribadi yang mengetahui dan menyadari bahwa dirinya tidak berarti samasekali, namun tetap percaya akan kemungkinan-kemungkinan tanpa batas dari Allah yang kekal dan Mahakuasa. Jadi, Yesus membawa sebuah Kerajaan yang dapat diakses oleh orang-orang yang memiliki iman dan rasa percaya yang sederhana.

Apa saja yang akan menjadi tanda-tanda Kerajaan  yang baru ini? Orang-orang akan menolak dosa dan mulai melayani mereka yang berada di sekeliling mereka. Ada juga yang dengan jelas berubah dari wajah muram karena tekanan dosa ke wajah cerah berseri-seri karena dosa yang telah diampuni. Karakteristik-karakteristik Yesus sendiri menjadi nyata terlihat dalam diri para pengikut-Nya selagi mereka mulai hidup dalam kasih, belas-kasih, kebaikan, dan kelemah-lembutan (Gal 5:22-23). Kejahatan akan dikalahkan oleh kebaikan, keserakahan oleh pelayanan yang dilakukan dengan kemurahan hati.

Kerajaan Allah tidak kurang riilnya pada hari ini ketimbang pada waktu Yesus untuk pertama kalinya mengutus para murid-Nya. Yesus terus hadir di tengah-tengah kita, Dia rindu untuk memajukan tujuan-tujuan-Nya dalam diri kita dan melalui kita. Apabila kita datang kepada-Nya dengan rasa percaya, seperti anak-anak kecil, Ia akan menggunakan kita untuk membawa pengampunan bagi para pendosa, pengharapan bagi yang letih-lesu dan berbeban berat, dan kesehatan bagi mereka yang menderita sakit-penyakit.

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing, “Bukankah, sebuah Kerajaan seperti ini sangat pantas bagi seluruh hidupku?”

DOA: Tuhan Yesus, aku adalah murid-Mu. Aku ingin mengalami dan ikut ambil bagian dalam sukacita hidup dalam Kerajaan Surga. Kabulkanlah doaku ini, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI SEPERTI YESUS” (bacaan tanggal 12-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 9 Juli 2018 [Peringatan S. Agustinus Zhao Rong, Imam Martir dkk – Martir Tiongkok] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YESUS MEMANGGIL KEDUA BELAS RASUL DAN MENGUTUS MEREKA

YESUS MEMANGGIL KEDUA BELAS RASUL DAN MENGUTUS MEREKA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Benediktus, Abas – Rabu, 11 Juli 2018)

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama, Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka, “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. (Mat 10:1-7) 

Bacaan Pertama: Hos 10:1-3,7-8,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

Bacaan Injil hari ini adalah tentang panggilan dan pengutusan para rasul Yesus yang berjumlah 12 (dua belas) orang itu.

Sebagaimana daftar (silsilah) nenek moyang Yesus Kristus (Mat 1:1-17), daftar nama para rasul mempunyai pesan penting. Misalnya di antara para pengikut yang dipilih-Nya menjadi rasul terdapat seorang (Lewi atau Matias) mantan pemungut cukai/pajak – orang yang berkolaborasi dengan pemerintahan penjajah di Roma – yang dipanggil oleh Yesus ketika masih aktif bekerja di kantor/pos cukai/pajaknya (Mat 10:3). Ada pula Simon orang Zeloti (Mat 10:4), seorang anggota kelompok yang terdiri dari orang-orang revolusioner yang melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Romawi dengan jalan kekerasan. Ada pula yang tidak jelas latar belakangnya atau asal-usulnya, seperti Yudas Iskariot yang kemudian mengkhianati Dia (Mat 10:4); namun demikian mayoritas yang dipanggil adalah para nelayan.

Yesus memang tidak mengenal favoritisme. Siapa pun atau apa pun mereka sebelum mengenal diri-Nya tidak penting bagi Yesus. Semakin dekat seseorang dengan Yesus dalam komunitas/keluarga-Nya, maka dia pun cepat-lambat akan berubah dan menyadari bahwa dirinya dapat saling bekerja sama dengan orang-orang lain, bahkan yang dulu mereka perlakukan sebagai musuh.

Yesus mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab untuk memberitakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat (Mat 10:7). Matius yang menulis Injilnya menjelang akhir abad I, ingin agar para pembaca Injilnya menyadari bahwa tanggung jawab itu telah menjadi tanggung jawab mereka juga. Dan sekarang tanggung jawab itu jatuh kepada kita, anda dan saya, para murid Yesus zaman now. 

DOA: Bapa surgawi, aku merasa takjub ketika menyadari bahwa Engkau masih dapat mengasihi diriku. Walaupun aku lemah dan penuh dosa, Engkau telah berbelaskasih dan baik hati terhadapku. Pancarkanlah terang Roh Kudus-Mu atas area-area dalam diriku di mana aku sungguh membutuhkan belas kasih-Mu. Biarlah rasa penyesalanku yang benar di hadapan-Mu menghidupkan aku kembali, sehingga dengan demikian aku dapat melanjutkan hidupku sebagai sebagai murid Yesus Kristus yang setia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG DUA ORANG RASUL KRISTUS” (bacaan tanggal 11-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

Cilandak, 9 Juli 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI BEBAS UNTUK MEWARTAKAN KABAR BAIK

MENJADI BEBAS UNTUK MEWARTAKAN KABAR BAIK  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Selasa,  10 Juli 2018)

Keluarga besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Pick, dkk Martir

Sementara kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan itu diusir, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak, katanya, “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata, “Dengan kuasa pemimpin setan ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38) 

Bacaan Pertama: Hos 8:4-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:3-10 

Tujuan Matius menulis Injilnya antara lain adalah untuk menunjukkan bagaimana peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus memenuhi semua yang telah ditulis dalam Perjanjian Lama. Sepanjang Injilnya, Matius berusaha untuk mengkonfirmasi bahwa Yesus adalah pemenuhan janji-janji Allah kepada umat-Nya. Cerita tentang penyembuhan seorang bisu yang kerasukan roh jahat dalam bacaan Injil hari ini mengilustrasikan suatu pemenuhan nubuatan dalam Kitab Yesaya: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai” (Yes 35:5-6).

Matius juga menceritakan bagaimana hati Yesus tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak yang mengikuti diri-Nya. Yesus memahami teriakan minta tolong dalam hati orang-orang itu agar disembuhkan dan Ia memiliki bela-rasa bagi mereka, “karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mat 9:36). Dari kedalaman hati-Nya Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat 9:37-38).

Kelihatannya Matius telah memberikan sebuah tempat yang strategis dalam Injilnya untuk cerita tentang penyembuhan orang bisu yang kerasukan roh jahat ini. Matius menempatkan cerita ini pada bagian akhir dari serangkaian cerita penyembuhan dan tepat sebelum Yesus memanggil kedua belas rasul dan mengutus mereka untuk perjalanan misioner mereka yang pertama (Mat 10:1-15). Dalam konteks ini, Matius telah membuat penyembuhan orang bisu yang kerasukan roh jahat sebagai lambang dari panggilan untuk mewartakan Injil. Dengan diusirnya roh jahat tersebut, maka orang yang kerasukan itu menjadi bebas untuk mewartakan Kabar Baik; artinya dia dapat menjadi salah seorang pekerja yang dikirim untuk tuaian itu (Mat 9: 38).

Dalam artian tertentu, kita sebenarnya seperti orang yang kerasukan itu. Kemampuan kita untuk berkisah tentang Yesus kepada orang-orang lain seringkali terkendala oleh kerja licin-lihai dari si Jahat dan roh-roh jahat pengikutnya melalui rasa takut gagal dlsb. Akan tetapi, Yesus sungguh dapat membebaskan kita dengan sentuhan-Nya yang menyembuhkan selagi kita menghadap-Nya dalam doa dan mencari hikmat-Nya dalam Kitab Suci. Kita dapat memohon kuasa Roh Kudus agar memampukan kita mewartakan Injil, baik lewat kata-kata yang kita ucapkan maupun teladan hidup kita. Marilah kita berdoa, memohon agar Allah sudi mengirimkan lebih banyak pekerja – orang-orang biasa seperti kita – yang telah mengenal dan mengalami kasihYesus dan memang ingin melayani-Nya. Tuaian memang banyak, dan kita semua diundang untuk ikut menuai!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau membebaskan kami dari cengkeraman si Jahat dan memberikan kepada kami hidup yang baru. Tolonglah kami agar senantiasa setia kepada-Mu. Jadikanlah kami pekerja-pekerja untuk tuaian-Mu, membawa banyak orang ke dalam Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:32-38), bacalah tulisan yang berjudul “TERGERAKLAH HATI YESUS OLEH BELAS KASIHAN” (bacaan tanggal 10-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 7 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SENTUHAN KRISTUS DAN IMAN AKAN SENTUHAN-NYA

SENTUHAN KRISTUS DAN IMAN AKAN SENTUHAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Senin, 9 Juli 2018)

Peringatan/Pesta S. Agustinus Zhao Rong, Imam dkk Martir Tiongkok

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata, “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangun dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia, “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu disuruh keluar, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Dan tersebarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu. (Mat 9:18-26) 

Bacaan Pertama: Hos 2:13-15,18-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-9 

Dalam bacaan Injil hari ini kita menemukan dua mukjizat yang dinarasikan. Ada sesuatu yang sangat serupa antara dua mukjizat tersebut, yaitu berkaitan dengan sentuhan Kristus dan iman akan sentuhan-Nya. Seorang pemimpin sinagoga datang kepada Yesus, menyembah-Nya, dan memohon kepada-Nya: “Anak perempuanku baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup” (Mat 9:18). Dengan imannya yang sederhana namun mantap, pemimpin sinagoga itu percaya, bahwa apabila Yesus datang ke rumahnya dan menyentuh anaknya, maka dia akan hidup kembali. Dengan iman pemimpin sinagoga itu melihat bahwa Yesus Kristus mempunyai kuasa atas hidup dan mati. Imannya akan sentuhan Yesus Kristus memperoleh ganjarannya, karena pada saat Ia sampai dan masuk ke dalam rumah si pemimpin sinagoga Yesus “memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu” (Mat 9:23-25).

Di sisi lain, perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita sakit pendarahan menunjukkan iman besar pada sentuhan Yesus Kristus yang menyembuhkan itu. Ia berkata dalam hatinya: “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh” (Msat 9:21). Lagi-lagi imannya yang besar itulah yang menyembuhkan penyakitnya. Yesus bersabda kepada perempuan itu: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat 9:22). Inilah tanggapan Yesus  terhadap iman perempuan itu akan sentuhan-Nya.

Dalam tindakan-tindakan Yesus yang menentukan itu kita melihat bahwa Dia sungguh ingin menyentuh orang-orang secara pribadi dan membawa rahmat dan belas kasih-Nya bagi mereka. Dalam Injil Lukas kita membaca, “Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu” (Luk 6:18-19; bdk. Mat 4:23-24).

Inilah sebabnya mengapa Tuhan kita datang ke tengah dunia, agar iman kita dapat mencapai titik di mana kita dapat menyentuh Dia, agar kuasa-Nya dan kebaikan-Nya dapat keluar untuk menyentuh kita.

Selama hidup-Nya di tengah dunia, Yesus datang berkontak dengan orang-orang beriman lewat kehadiran-Nya secara fisik, sabda-Nya, tindakan-tindakan-Nya. Dia ingin dan merencanakan untuk melanjutkan kehadiran-Nya oleh sabda/kata-kata dan tindakan-tindakan-Nya. Dalam sakramen-sakramen, Yesus melanjutkan sentuhan-sentuhan-Nya; lewat sabda dan tindakan-tindakan-Nya, sama seringnya dengan pendekatan kita kepada-Nya dalam iman.

Dalam Ekaristi Kudus, Kristus ada di tengah-tengah kita untuk menyentuh kita secara fisik, untuk memberi makan kepada kita dan membuat diri kita menjadi kudus. Dalam Sakramen Rekonsiliasi, kata-kata Yesus adalah untuk mengampuni dan menyembuhkan kita. Kita mendengar semua itu melalui seorang imam. Dalam Gereja-Nya, kuasa Yesus Kristus, sabda-Nya, tindakan-tindakan-Nya terus berlanjut untuk menyentuh kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih kepada-Mu untuk kehadiran-Mu dan sentuhan pribadi-Mu dalam sakramen-sakramen. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:18-26), bacalah tulisan yang berjudul “DISELAMATKAN KARENA IMAN” (bacaan tanggal 9-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 5 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS

PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIV [Tahun B] – 8 Juli 2018)

Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan banyak orang takjub mendengar-Nya dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hal-hal itu? Hikmat apakah yang diberikan kepada-Nya? Bagaimanakah mukjizat-mukjizat yang demikian dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada di sini bersama kita?”  Lalu mereka menolak Dia. Kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya. Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya di atas mereka. Ia merasa heran karena mereka tidak percaya.

Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar. (Mrk 6:1-6) 

Bacaan Pertama: Yeh 2:2-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 123:1-4; Bacaan Kedua: 2Kor 12:7-10 

Nazaret adalah kampung halaman Yesus, sang Mesias. Memang terasa agak janggal karena kota kecil itu tidak pernah disebut-sebut dalam Perjanjian Lama seperti halnya Betlehem (Mi 5:1). Nazaret tidak memiliki tradisi keagamaan yang besar. Tentu kita tidak pernah lupa akan komentar Natanael ketika Filipus memberitahukan kepadanya bahwa dia telah menemukan Yesus, anak Yusuf dari Nazaret yang disebut  oleh Musa dalam Kitab Taurat. Inilah komentarnya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh 1:46).

Markus menempatkan kedatangan Yesus ke Nazaret setelah menceritakan kepada para pembaca Injilnya tentang berbagai pengajaran Yesus yang mengesankan dan kuat-kuasa-Nya yang sungguh mengagumkan atas roh-roh jahat, penyakit-penyakit yang ganas, angin ribut di danau, bahkan atas kematian. Hikmat dan kuat-kuasa Yesus memang tak terbantahkan.

Banyak orang takjub mendengar pengajaran penuh hikmat dari Yesus dalam sinagoga kota kecil itu. Namun melangkah lebih jauh daripada sekadar takjub atau terkagum-kagum pada titik ini menghadapi halangan/rintangan yang tidak mudah untuk diatasi. Yesus sudah terlalu familiar bagi mereka, terlalu dikenal oleh mereka. Bermunculanlah berbagai macam pertanyaan: “Dari mana diperoleh-Nya hal-hal itu? Hikmat apakah yang diberikan kepada-Nya? Bagaimanakah mukjizat-mukjizat yang demikian dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada di sini bersama kita?” (Mrk 6:2-3). Lalu orang-orang Nazaret itu pun menolak Dia. Secara manusiawi reaksi seperti ini sah-sah saja. Namun Yesus ingin agar orang-orang itu melangkah lebih jauh daripada sekadar menggunakan pemikiran manusia: langkah yang menerima hal yang tak kelihatan: “langkah iman”. Sayangnya mereka tidak menerima Yesus. Panggilan kepada iman tidak berhasil menembus tembok ketidakpercayaan mereka.

Percaya kepada Yesus Kristus adalah lebih daripada penerimaan secara intelektual terhadap berbagai ajaran: orang-orang Nazaret memang menerima fakta bahwa pengajaran Yesus itu mengesankan (impresif), akan tetapi mereka harus melangkah lebih jauh lagi.

Saya ingin menekankan sekali lagi bahwa percaya itu lebih daripada sekadar menerima kemungkinan hadirnya kuasa supernatural dalam diri Yesus: orang-orang Nazaret itu tidak dapat menyangkal mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya. Tidak ada bedanya dengan banyak orang yang hidup pada zaman “now” ini menerima keberadaan kekuatan-kekuatan supernatural, namun mereka tidak percaya kepada Yesus Kristus. Iman Kristiani berarti secara pribadi menerima dalam diri kita yang terdalam bahwa Yesus Kristus adalah perwahyuan Allah yang unik kepada kita, sebagai jalan otentik satu-satunya kepada Allah, sebagai Penyelamat kemanusiaan kita yang penuh dosa.

Kata dalam bahasa Latin, credere, percaya, berasal dari kata cor-dare, memberikan hati kita, …… kepada Yesus. Inilah yang tidak dilakukan oleh orang-orang Nazaret. Dalam ketiadaan iman dalam diri mereka, Yesus tidak dapat membuat satu mukjizat pun. Komentar Markus sungguh mengejutkan. Hati kita dapat dibuka bagi Allah hanya dari dalam. Kuncinya adalah suatu kombinasi antara “kemauan baik” (goodwill) dan keterbukaan (openness) terhadap kebaikan Allah kapan saja dan di mana saja. Allah sungguh ingin memberikan kepada kita “hadiah” surgawi yang tak ternilai harganya. Iman memampukan kita untuk menerima hikmat-Nya dan kuasa-Nya, akan tetapi ketiadaan iman-kepercayaan akan merusak seluruh proses yang sedang berlangsung.

Yesus bersabda: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Sekali kita menerima-Nya dalam iman, maka Yesus adalah jalan kita, kebenaran kita dan hidup kita. Yesus adalah “jalan” dan seorang beriman tidak perlu mencari jalan lain dalam menjalani hidupnya. Yesus adalah jalan ke tujuan kemanusiaan yang benar dalam melangkah kembali kepada Bapa surgawi. Yesus adalah “kebenaran”. Hati seorang beriman akan senang sekali dalam merenungkan sabda-Nya dan karya-Nya. Pengetahuan lain tak dapat dibandingkan dengan kebenaran-Nya. Yesus adalah “hidup”. Kita tidak akan berupaya mencari apa pun yang akan bertentangan dengan kehidupan-Nya. Kita rindu untuk melakukan segala hal bersama dengan Dia. Kita berjuang untuk mati terhadap cara-cara yang mementingkan diri sendiri sehingga dengan demikian hidup-Nya dapat lebih operatif dalam diri kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, jagalah agar kami tidak menutup telinga terhadap sabda-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah diri kami menjadi pribadi-pribadi yang reseptif terhadap undangan-Mu dan tidak menjadi orang-orang yang keras kepala  dan tegar hati. Kami percaya bahwa iman kepada-Mu memberikan kepada kami hikmat sabda-Mu dan kuat-kuasa-Mu. Terpujilah Engkau selama-lamanya, ya Putera Allah yang tunggal, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK DIHARGAI DI KAMPUNG HALAMAN SENDIRI” (bacaan tanggal 8-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

Cilandak, 5 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HAL IKHWAL BERPUASA

HAL IKHWAL BERPUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Sabtu, 7 Juli 2018)

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada yang baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” (Mat 9:14-17) 

Bacaan Pertama: Am 9:11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:11-14 

Beberapa hal yang dipraktekkan oleh Yesus tidak hanya bertentangan dengan praktek-praktek para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, melainkan juga dengan Yohanes Pembaptis dan para muridnya. Kali ini murid-murid Yohanes lah yang datang kepada Yesus dengan pertanyaan cukup rumit ini.Tanggapan Yesus terhadap pertanyaan para murid Yohanes berfokus pada tindakan berpuasa sebagai suatu tanda berkabung. Namun pertanyaan mereka bersifat lebih umum.

Hanya ada satu puasa yang ditentukan oleh Hukum tertulis, yaitu yang berkaitan dengan Hari Raya Pendamaian: “Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal 10 bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu. Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan TUHAN (YHWH)” (Im 16:29-30). Akan tetapi orang-orang Yahudi saleh juga berpuasa dalam kesempatan-kesempatan lain, dan orang-orang Farisi berpuasa dua kali seminggu (Luk 18:12).

Yesus sendiri juga berpuasa di padang gurun (Luk 4:2). Akan tetapi dalam pelayanan-Nya di depan publik Yesus tidak berpuasa, kiranya karena mengisolasi diri-Nya dari orang-orang lain dapat bertentangan dengan misi-Nya yang bersifat inklusif. Biar bagaimana pun juga berpuasa sebagai pengungkapan perkabungan tidak layak dan pantas selagi Yesus – sang mempelai laki-laki – hadir. Pelayanan Yesus adalah suatu perayaan perkawinan, karena Dia datang untuk mengklaim umat sebagai mempelai-Nya. Namun akan datang saat di mana mempelai laki-laki diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Setelah kebangkitan-Nya, Gereja berpuasa sebagai ungkapan kerinduan akan kedatangan kembali sang mempelai laki-laki pada akhir zaman.

Salah satu persoalan yang dihadapi dalam setiap upaya pembaharuan dalam Gereja adalah mereka yang melihat dan bersikap terhadap usulan-usulan pembaharuan sebagai sekadar window dressing. Mereka bersedia untuk menerima upaya pembaharuan selama perubahannya tidak bersifat radikal. Hal inilah yang dikemukakan oleh Yesus dengan menggunakan gambaran “kain/baju” (baru vs tua) dan “anggur dan kantong kulit untuk anggur” (baru vs tua).

Perubahan yang dicanangkan oleh Yesus adalah perubahan yang bersifat radikal! Perubahan-Nya tidak akan mencoba untuk berkompromi dengan mencampur-baurkan hal yang “lama” dan yang “baru”. Jika dibandingkan dengan ayat padanannya dalam Injil Markus, maka versi Matius memuat suatu tambahan. Kalimat terakhir dalam ayat 17 berbunyi: “Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya”. Kalimat terakhir dalam ayat terakhir  di bacaan Injil Markus (Mrk 2:18-22) hanya berbunyi: “Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula”. Kata-kata yang digarisbawahi di atas tidak ada dalam Injil Markus (Injil tertua dan menjadi sumber dari Injil Matius). Apakah kiranya maksud Matius dengan tambahan tersebut?

Matius adalah seorang gembala umat yang sungguh menghendaki pergerakan komunitasnya ke dalam suatu kebaharuan radikal dari Yesus. Namun Matius juga menyadari bahwa unsur keYahudian dalam komunitasnya memiliki banyak kekayaan yang tidak begitu saja boleh  dibuang dalam upaya mengikuti suatu gaya hidup baru secara grosiran (bdk. Mat 13:52).

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengenali dan mengalami kehadiran-Mu. Semoga puasa dan doaku menjadi saat-saat di mana keintiman dengan Engkau menjadi semakin bertumbuh selagi aku menantikan pemenuhan dari janji-janji-Mu. Semoga hidup pertobatanku dan ketaatanku terhadap perintah-perintah Allah mengalir ke luar dari sebuah hati yang dipenuhi dengan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-17), bacalah tulisan yang berjudul “ANGGUR BARU TIDAK DITUANG KE DALAM KANTONG KULIT TUA” (bacaan tanggal 7-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

Cilandak, 4 Juli 2017 [Peringatan S. Elisabet dr Portugal, Ratu, Ordo III S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMANGGIL LEWI UNTUK MENJADI MURID-NYA

YESUS MEMANGGIL LEWI UNTUK MENJADI MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Jumat, 6 Juli 2018)

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13)

Bacaan Pertama: Am 8:4-6,9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:2,10,20,30,40,131

“… Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:13)

Ada seorang Kristiani yang sedang melakukan ziarah di Tanah Suci. Pada suatu malam orang itu berada sendirian di taman Getsemani. Ada banyak sekali bintang di langit dan orang itu sungguh menikmati malam yang indah itu. Karena terharu, dia pun mulai berlinang air mata. Dia berlutut dan berdoa dengan suara keras: “Tuhan, janganlah pernah membiarkan aku berdosa terhadap-Mu.” Malam itu sungguh sunyi senyap. Tiba-tiba terdengar suara dari kegelapan yang berkata: “Anak-Ku, Engkau minta kepada-Ku untuk tidak pernah membiarkan Engkau berdosa terhadap-Ku. Apabila Aku memenuhi permintaan doa-Mu bagi semua anak-Ku di dunia, bagaimana Aku dapat menunjukkan belas kasih-Ku kepada mereka?”

Cerita di atas mengingatkan kita bahwa kita semua adalah pendosa-pendosa. Ada saat-saat di mana masing-masing kita – seberapa baiknya pun diri kita – berdosa melawan Allah. Apabila hal seperti ini terjadi dengan diri kita, kita tidak perlu ciut hati – seperti halnya pengalaman Yudas Iskariot. Kita harus menyesali dosa kita dan memohon  pengampunan, seperti yang telah dilakukan oleh Petrus.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita semua bahwa Dia datang untuk orang-orang berdosa. Dia datang untuk orang-orang yang menyadari bahwa selama ini mereka melangkah di jalan yang tidak benar dan ingin mencari rekonsiliasi …… berdamai lagi dengan Allah.

Ada perbedaan antara orang bersalah yang telah kehilangan kemampuan untuk membedakan antara benar dan salah dalam kehidupannya, dan seorang pribadi yang sadar bahwa dia telah berdosa dan sekarang mencari kekuatan untuk mulai melangkah di atas jalan yang benar.

Kasus Lewi (Matius) merupakan contoh dari insiden di atas yang disebut belakangan. Kasus ini mengingatkan kita akan karunia/anugerah hebat yang diberikan oleh Allah kepada manusia, yaitu anugerah yang disebut nurani, dan bagi kita yang telah dibaptis, adalah kehadiran Roh Kudus dalam diri kita masing-masing. Bagi orang Kristiani yang Katolik juga termasuk ajaran Gereja. Ini adalah faktor-faktor yang dapat membantu kita memperbaharui dan mengubah hidup kita, seberat apapun pelanggaran kita terhadap-Nya di masa lalu.

Kita dapat memperlawankan (mengkontraskan) ini dengan kasus seseorang yang kehidupannya – dilihat dari keseriusannya maupun dari sudut moral – sudah dapat dikatakan mengalami kondisi disfungsional, namun celakanya dia bahkan samasekali tidak menyadari kenyataan tersebut. Seorang pribadi seperti itu hidup tanpa menyadari penyakit “kanker” yang selama ini menggerogoti dirinya sampai semuaya sudah terlambat.

Kita semua – masih jauh atau sudah dekat – semua masih berada di bawah garis kemuliaan Allah. Jika kita menyadari kebenaran itu, inilah tanda awal dari pertumbuhan dalam hidup spiritual kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengakui kedosaanku di hadapan-Mu sekarang ini. Engkau telah membayar harga dosa-dosaku di atas kayu salib sehingga aku dapat diperdamaikan dengan Allah Bapa. Tuhan, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu dengan segenap hatiku. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “MATIUS DIPANGGIL UNTUK MENGIKUT YESUS” (bacaan tanggal 6-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018.

Cilandak, 3 Juli 2018 [PESTA S. TOMAS, RASUL]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS