PANGGILAN UNTUK MELAYANI ALLAH DAN SESAMA

PANGGILAN UNTUK MELAYANI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Selasa, 14 November 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk – Martir 

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. (Luk 17:7-10) 

Bacaan Pertama: Keb 2:23-3:9; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,16-19 

Seorang ibu bercerita mengenai pengalamannya berkaitan dengan musik. Sebagai seorang gadis yang masih sangat muda usia, perempuan ini harus berjuang dengan pelajaran pianonya. Baginya penting untuk memainkan nada-nada lagu presis sama seperti tertulis dan untuk mengikuti semua nuansa yang diberikan dalam notasi-notasi. Kesalahan-kesalahan dirasakan olehnya sebagai kegagalan pribadi. Menyadari siapa dirinya, perempuan itu hanya bermain piano secara privat, kecuali kalau diminta untuk resital/pertunjukan.

Pengalaman yang “menyakitkan” dengan piano ini datang kembali ketika anak perempuannya mulai belajar piano juga. Namun tidak seperti sang ibu, puterinya itu maju dengan pesat dalam pelajaran pianonya. Perempuan itu mengatakan, bahwa tidak susah baginya untuk melihat mengapa. Cinta anak perempuannya itu pada musik datang dari kedalaman hatinya, dan walaupun setia dengan komposisi sebuah lagu, anak ini mempunyai bakat untuk memperkenankan musiknya mengalir melalui dirinya. “Hasilnya sungguh jauh lebih manis daripada apapun yang pernah kuhasilkan dengan penuh ketaatan pada setiap nada dan instruksi pada setiap lembaran lagu”, ujar sang ibu.

Sebagai para hamba/pelayan Tuhan, kita diundang untuk bermain “musik” juga – “musik pelayanan penuh kasih bagi orang-orang di sekeliling kita”. Apabila kita melaksanakan tugas-tugas kita hanya berdasarkan kewajiban, maka efeknya dapat seperti sesuatu yang dipaksakan dan tanpa roh. Sebaliknya, apabila kita menyerahkan diri kita sepenuhnya ke dalam tangan-tangan penyelenggaraan Allah dan dipenuhi dengan kasih-Nya, maka Dia akan membebaskan kita dari kesibukan  yang membuat musik kehidupan kita begitu melelahkan. Selagi kita  menyediakan waktu untuk bersama dengan Tuhan dalam doa, maka kehangatan kasih-Nya memperlembut hati kita dan mulai mengalir melalui diri kita.

Panggilan kita untuk melayani Allah dan umat-Nya bukanlah seperti musik yang harus kita terus praktekkan agar menjadi sempurna. Sebaliknya, kita belajar bagaimana melayani tanpa mengingat kepentingan kita sendiri dengan sekadar melakukannya, yaitu dengan melakukan pelayanan tanpa pamrih itu. Melodinya menjadi lebih baik setiap kali kita menolong keluarga kita, secara bijaksana bekerja sebagai pembawa damai dalam lingkungan di mana kita hidup, atau dengan sabar mendengarkan curhat dari seorang sahabat yang membutuhkan bantuan, dlsb. Apabila kita mendekat pada kasih Tuhan yang begitu menyegarkan, maka pelayanan kita pun akan jauh lebih baik daripada apa saja yang kita lakukan karena melihatnya sebagai sekadar tugas.

Kita semua adalah para musisi yang tak pantas untuk memainkan madah kasih dari Allah. Namun apabila kita menjaga keseimbangan antar doa dan pelayanan dalam hidup kita, maka Dia akan mentransformasikan cara kita yang lemah/buruk dalam membawakan lagu-Nya menjadi sebuah lagu yang membawa sukacita-Nya ke tengah dunia.

DOA: Yesus, Engkau adalah hamba yang taat dari Bapa surgawi melalui kasih yang sempurna. Tolonglah kami agar dapat mengenal kasih-Mu dalam doa-doa kami dan dalam tindakan-tindakan kami. Berikanlah hati kami kepada kami, sehingga dengan demikian lewat diri kami orang-orang lain dapat mengenal kasih-Mu juga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH KITA INI, TUAN DAN HAMBA?” (bacaan tanggal 14-11-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH HARIAN NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 12 November 2017 [HARI MINGGU BIASA XXXII – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

MENANGGAPI PANGGILLAN YESUS UNTUK MENGAMPUNI

MENANGGAPI PANGGILAN YESUS UNTUK MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Senin, 13 November 2017)

OFM: Peringatan S. Didakus dr Alkala, Biarawan 

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Tidak mungkin tidak akan ada hal yang membuat orang berbuat dosa, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyebabkan salah satu dari orang-orang yang kecil ini berbuat dosa. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan, “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Luk 17:1-6) 

Bacaan Pertama: Keb 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-10 

Menurut standar-standar yang digunakan para rabi Yahudi, apabila seseorang akan mengampuni seorang pribadi sebanyak tiga kali, maka dia akan dipandang sebagai seorang pribadi manusia yang sempurna. Sekarang ada Yesus yang mengajar para murid-Nya bahwa mereka harus mengampuni bukan hanya satu kali, tidak hanya tiga kali, melainkan tujuh kali – yang dapat diartikan senantiasa mengampuni! Di tempat lain, malah Yesus menanggapi pertanyaan Petrus tentang pengampunan: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22). Memang kelihatan tidak mungkin, namun bukankah Yesus telah menunjukkan kepada mereka melalui berbagai mukjizat dan pengajaran-Nya bahwa apa yang kelihatan tidak mungkin bagi manusia sebenarnya mungkin dengan Allah?

Setelah mendengar bahwa mereka harus bertanggung jawab karena tidak mengampuni, para murid pun berseru: “Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5). Seperti para murid Yesus yang awal tersebut, kita pun tahu betapa berat untuk mengatasi rasa sakit hati dan ketidakadilan yang ditimpakan atas diri kita oleh orang lain.

Kadang-kadang memang kelihatan tidak mungkin, namun di kedalaman hati kita, kita tahu betapa luasnya dampak dari kuat-kuasa pengampunan yang ditunjukkan oleh Yesus. Dan, seperti para murid-Nya dahulu, penambahan imanlah yang kita butuhkan. Panggilan untuk mengampuni mungkin kelihatan sama tidak mungkinnya dengan memindahkan sebatang pohon ara hanya dengan satu-dua patah kata. Namun Yesus mengajarkan kepada kita bahwa dengan iman yang paling kecil pun kita dapat mewujudkan hal-hal besar.

Kita dapat minta kepada Yesus untuk menambahkan iman kita dengan membuka mata kita agar dapat memusatkan pandangan kita pada kuat-kuasa-Nya dan kehadiran-Nya dalam diri kita. Semakin kita menginternalisasi kepercayaan kita bahwa diri kita tidak kurang daripada bait-bait Roh Kudus, maka semakin yakinlah kita bahwa menanggapi panggilan-Nya untuk mengampuni merupakan suatu kemungkinan yang memang riil.

Apakah ada sebuah luka lama dlsb. yang menyebabkan kita belum mampu untuk mengampuni seseorang yang mendzolomi diri kita? Kalau begitu halnya, baiklah kita berkata kepada Yesus, “Ini tidak mungkin bagiku! Namun bagi-Mu, Yesus, semua hal adalah mungkin. Kuserahkan isu ini kepada-Mu dan aku mohon Kauberikan rahmat dan kuat-kuasa untuk mengampuni.” Bisa saja pada tahapan awal kita hanya dapat memohon kepada Allah untuk membuat diri kita bersedia untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Yesus akan menolong kita dalam mengambil langkah selanjutanya dalam perjalanan menuju pengampunan yang lengkap.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk belas-kasih-Mu yang begitu besar kepada umat manusia dengan mengutus Putera-Mu yang tunggal. Melalui pengorbanan-Nya yang besar di atas kayu salib, Ia telah mengampuni dan membersihkan diriku secara lengkap. Sekarang, ya Bapa yang baik, aku memohon agar Engkau sudi menolong diriku untuk mengampuni orang-orang lain sepenuh Engkau telah mengampuni diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI BERBELAS KASIH SEPERTI YESUS SENDIRI” (bacaan tanggal 13-11-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM  http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 9 November 2017 [Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG GADIS-GADIS BIJAKSANA DAN GADIS-GADIS YANG BODOH

PERUMPAMAAN TENTANG GADIS-GADIS BIJAKSANA DAN GADIS-GADIS YANG BODOH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXII [TAHUN A], 12 November 2017)

 

“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedang gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam botol mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! Tetapi ia menjawab: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya. (Mat 25:1-13) 

Bacaan Pertama: Keb 6:13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-8; Bacaan Kedua: 1Tes 4:13-18 

Perumpamaan tentang sepuluh gadis ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Perumpamaan ini menekankan lagi pentingnya sikap berjaga-jaga atau kesiap-siagaan dalam masa yang penuh dengan ketidakpastian sebelum kedatangan akhir zaman (bdk. Mat 24:37-44). Dalam merenungkan perumpamaan ini sangatlah baik  bagi kita untuk tidak terjebak dalam mencoba mengartikan arti simbolis yang mendetil dari hal-hal yang ada dalam perumpamaan ini, misalnya “apa arti dari 10 gadis”, mengapa tidak “20 gadis”? Apa signifikansi dari minyak dalam perumpamaan ini? Dst. Yang penting adalah menangkap pesan keseluruhan dari perumpamaan itu.

Kesepuluh gadis itu adalah para pendamping pengantin yang sedang menanti-nantikan kedatangan mempelai laki-laki di rumah keluarga bapak mertuanya untuk menjemput pengantin perempuan. Sangat realistis dan sungguh membumi, karena praktek ini masih dapat diketemukan pada zaman modern ini. Pesta perjamuan kawin akan diselenggarakan di rumah mempelai laki-laki. Para gadis itu akan menjadi bagian dari rombongan arak-arakan pengantin dan ikut serta dalam pesta. Lima orang dari mereka tidak membawa minyak dalam jumlah yang cukup untuk pelita atau “obor” yang digunakan dalam prosesi. Tidak adanya persiapan pada akhirnya menyebabkan mereka  tidak dapat mengikuti acara pesta. Inilah “nasib” mereka yang tidak siap! Tragis!

Seperti juga perumpamaan-perumpamaan Yesus lainnya, perumpamaan tentang sepuluh gadis ini mempunyai makna langsung dan bersifat lokal, di sisi lain juga memiliki arti yang lebih luas dan universal. Signifikansinya yang langsung terarah pada orang-orang Yahudi. Mereka adalah umat terpilih; keseluruhan sejarah mereka seyogianya merupakan suatu persiapan bagi kedatangan Putera Allah; mereka harus dalam kesiapsiagaan guna menyambut diri-Nya apabila Dia datang. Kenyataannya adalah bahwa orang-orang Israel tidak siap menyambut-Nya. Inilah kiranya tragedi yang dialami orang-orang Yahudi karena ketidaksiapan mereka.

Sudah lama dalam Perjanjian Lama hubungan antara TUHAN (YHWH) dan Israel digambarkan sebagai hubungan suami-istri. Kasih YHWH terhadap Israel sebagai mempelai perempuan-Nya dan kasih Israel terhadap YHWH dapat kita jumpai dalam “Kidung Agung”. Yehezkiel menyatakan yang sama, ketika dia menyebut kemurtadan Yerusalem sebagai zinah (baca Yeh 16:1-63). Ketika pemazmur dalam Mzm 45 melambungkan lagu bagi Raja dan Ratu, maka orang-orang memahami bahwa yang dimaksudkan di situ adalah YHWH dan umat-Nya.

Namun demikian, semua itu hanyalah persiapan belaka. Pada kedatangan Yesus Kristus, Israel baru saja memasuki suatu hubungan perkawinan Perjanjian Baru. Kristus adalah sang Mempelai laki-laki dan Gereja sebagai mempelai perempuan. Yohanes Pembaptis menyebut dirinya sebagai sahabat Mempelai laki-laki (Yoh 3:29). Namun sekarang ini masih merupakan pertunangan. Apabila Kristus datang kembali pada akhir zaman (parousia), Ia akan menjemput mempelai perempuan-Nya dan akan mulailah pesta perkawinan yang sesungguhnya. Itulah kiranya mengapa Yesus memakai perumpamaan tentang perjamuan nikah surgawi. Itulah pula sebabnya, mengapa Kitab Wahyu juga menyebut peristiwa yang menyusul akhir zaman sebagai “Perjamuan kawin Anak Domba (baca: Why 19:6-10). Gereja yang telah dibersihkan dan dikuduskan akan berhias untuk menyambut kedatangan sang Mempelai laki-laki. Beberapa kali Santo Paulus menulis mengenai gagasan tersebut. Baginya pertunangan serta perkawinan insani hanyalah gambaran samar-samar saja dari pertunangan serta perkawinan antara Kristus dan Gereja-Nya. Gagasan itu dapat kita jumpai misalnya dalam Surat kepada jemaat di Efesus (lihat Ef 5:22-33).

Kesiapsiagaan adalah yang pertama dan utama. Orang-orang di rumah keluarga mempelai perempuan, termasuk ke sepuluh gadis itu tahu bahwa sang mempelai laki-laki akan datang, namun tidak seorangpun tahu jam berapa tepatnya sang mempelai laki akan tiba. Demikian pula manusia tidak tahu kapan tepatnya Tuhan akan datang menjemputnya pada saat kematian. Manusia juga tidak tahu kepada Tuhan Yesus akan datang dalam kemuliaan-Nya untuk menjemput Gereja dan menjadikannya Gereja yang Berjajya. Namun, karena seluruh pikiran dan perbuatan ditujukan pada saat yang didamba-dambakan kedatangannya itu, maka masuk akallah  apabila dibutuhkan kesiapsiagaan dalam artiannya yang paling serius. Pelita (atau obor) saja tidak cukup, persediaan minyak juga harus selalu mencukupi. Jadi, secara lahiriah seseorang masuk menjadi anggota Gereja belumlah cukup, karena harus pula ada padanya iman yang hidup, rahmat pengudusan dan cintakasih sejati sebagai isinya. Tempat dan perhiasan yang indah-indah tidak ada gunanya, apabila isinya tidak ada. Maka, hanya manusia rohani, yang memiliki kekayaan ilahilah yang benar-benar dapat dinilai siap siaga. Percumalah tubuh yang sehat, kuat dan indah, akal budi yang tajam dan dipenuhi ilmu pengetahuan, kehendak yang kuat dan giat, serta hati yang bernyala-nyala, apabila semua itu tidak diisi oleh rahmat Allah. Lampu yang terbuat dari emas dan diperlengkapi dengan ukiran-ukiran yang indah-indah tak ada gunanya di dalam tempat gelap, jikalau tidak sekaligus diisi dengan minyak yang memberi terang. “Aku tidak mengenal kamu”, demikianlah bunyi jawaban yang akan diberikan Tuhan kepada mereka yang percaya kepada kekuatan, kecantikan, ketajaman budinya, kegiatan, perasaan hati, dan wataknya sendiri, tetapi tidak mempedulikan Allah, sabda-Nya, cintakasih serta rahmat-Nya. Memang orang-orang seperti ini mempunyai pelita (atau obor), tetapi mereka tidak mempunyai persediaan minyak yang diperlukan.

Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak dapat diperoleh pada menit-menit terakhir. Terlambatlah bagi seorang mahasiswa untuk mulai belajar pada hari terakhir menjelang ujian akhir. Juga tidak mungkinlah bagi seseorang untuk memperoleh suatu keterampilan tertentu secara mendadak ketika tugas yang membutuhkan keterampilan tersebut sudah ada di hadapannya. Demikian pula dalam hal mempersiapkan diri kita untuk bertemu dengan Allah. Dari perumpamaan di atas kita juga melihat bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak dapat dipinjam dari orang lain. Gadis-gadis yang bodoh dalam perumpamaan mengalami bahwa tidaklah mungkin untuk meminjam minyak pada waktu mereka membutuhkannya. Demikian pula, seseorang tidak dapat meminjam suatu relasi dengan Allah; dia harus memiliki relasi dengan Allah bagi dirinya sendiri. Jadi ada hal-hal yang harus kita peroleh bagi diri kita sendiri, karena kita tidak dapat meminjamnya dari orang lain.

Kesiapsiagaan harus diperagakan dengan penuh ketekunan. Sebagai Gereja (Tubuh Mistik Kristus), kita berada dalam masa pertunangan dan perkawinan. Sebagai Gereja, kita adalah mempelai perempuan sendiri yang sedang menantikan kedatangan sang Mempelai laki-laki. Maka setiap orang anggota Gereja dan Gereja seluruhnya harus siap sedia menanti-nanti dengan gembira. Memang menurut koderatnya manusia itu takut terhadap kematian dan karenanya berupaya menghindarinya sedapat mungkin. Akan tetapi berdasarkan iman, seseorang mempunyai pandangan lain samasekali terhadap kematian itu. Dalam iman, kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu, melainkan justru merupakah awal sukacita yang besar. Itulah iman Kristiani! Misalnya, bagi Santo Fransiskus dari Assisi dan para anggota ketiga ordonya, kematian adalah seorang Saudari, Saudari Maut (Badani).

Bagi seorang Kristiani sejati, sabda Tuhan Yesus, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya”, tidak lagi merupakan kesiapsiagaan yang dipenuhi rasa khawatir dan takut seperti dengan Nuh yang melihat air bah mendatang, atau seperti tuan rumah yang menantikan kedatangan pencuri. Bagi seorang Kristiani sejati, kesiapsiagaannya merupakan penantian yang penuh kegembiraan. Penantian itu akan merupakan Kabar Baik, Rahasia Cintakasih, sukacita karena pelukan mesra, persatuan antara Allah dan manusia, dan karenanya merupakan pemenuhan segala kerinduan umat yang terpendam selama ini. Mempelai perempuan mengungkapkan kerinduan terdalam itu dengan seruan: “Datanglah, Tuhan Yesus!” Sang Mempelai laki-laki berkata: “Ya, Aku datang segera!” (Why 22:20).

DOA: Tuhan Yesus, apa yang dapat kulakukan untuk mempersiapkan kedatangan Kerajaan-Mu? Aku belum pernah melakukan sebuah karya besar atau sesuatu apa pun yang spektakuler selama hidupku. Aku juga belum pernah melakukan sesuatu hal layaknya seorang kudus. Selagi aku menanti-nantikan kedatangan-Mu, aku hanya dapat melakukan hal-hal yang biasa saja, kadang-kadang hal-hal yang monoton yang tersedia dalam hidupku ini. Akan tetapi, Tuhan, aku dimampukan untuk melakukan hal-hal kecil tersebut secara istimewa demi cintakasihku kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Tes 4:13-18), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN KEMBALI SANG RAJA DI AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 12-11-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 8 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BEBERAPA CATATAN DARI BAB [PASAL] TERAKHIR SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI ROMA

BEBERAPA CATATAN DARI BAB [PASAL] TERAKHIR SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI ROMA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Martinus dr Tours, Uskup – Sabtu, 11 November 2017) 

Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi. Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara seiman yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus. Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu. Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara sebangsaku, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku. Mereka orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan telah hidup dalam Kristus sebelum aku.

Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan. Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi.

Bersalam-salamlah kamu dengan ciuman kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.

Salam dalam Tuhan kepada kamu dari Tertius, yaitu aku yang menulis surat ini.

Salam kepada kamu dari Gayus, yang memberi tumpangan kepadaku, dan kepada seluruh jemaat. Salam kepada kamu dari Erastus, bendahara negeri, dan dari Kwartus, saudara seiman kita.

[Anugerah Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian! Amin.]

[Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, – menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan penyingkapan rahasia yang tersembunyi berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman – bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, melalui Yesus Kristus: Segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.] (Rm 16:3-9,16,22-27) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-5,10-11;  Bacaan Injil: Luk 16:9-15 

Paulus telah bertemu dengan Priskila dan Akwila pada perjalanan misionernya yang pertama ke Korintus, dan telah bekerja dengan mereka dalam bisnis pembuatan tenda. Kita lihat dalam bacaan hari ini bahwa pasutri itu juga telah menjadi “teman-sekerja” Paulus dalam misi Kristiani; mereka menemani Paulus pergi ke Efesus di mana mereka mengajar Apolos tentang “Jalan Allah” (Kis 18:26). Paulus merasa berhutang kepada mereka yang telah menyelamatkan hidupnya, yaitu pada waktu berkonfrontasi dengan Demetrius, seorang tukang perak (Kis 19:23). Priskila dan Akwila bertanggung jawab memimpin komunitas yang berkumpul dalam rumah mereka (1Kor 16:19).

Walau pun Paulus tidak menikah, hubungannya dengan pasutri Priskila dan Akwila tentunya mempengaruhi refleksi teologisnya. Keluarga Kristiani adalah gereja domestik (Latin: ecclesia domestica). Kita patut bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah kita membuat keluarga-keluarga kita menjadi tempat di mana hormat kepada Allah dan saling menghargai satu sama lain membentuk nilai-nilai kita? Apakah kita berpikir dan memandang keluarga kita masing-masing sebagai gereja domestik?

Epenetus disebut Paulus sebagai “buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus” (Rm 16:5), suatu catatan geografis yang menyarankan tentang keberadaan kelompok non-Romawi dalam jemaat di Roma. Dalam bagian akhir dari suratnya ini, Paulus menyebutkan 23 nama dan merujuk kepada keluarga-keluarga yang tidak disebutkan di tempat lain dalam Perjanjian Baru. Banyak dari nama-nama itu adalah nama-nama budak dalam Kekaisaran Romawi. Paulus  menyebut dua orang sebagai rasul, yaitu Andronikus dan Yunias. Istilah rasul di sini bukan dalam artiannya yang sempit, yaitu yang kedua belas. Ingatlah, bahwa Paulus dan Barnabas juga dinamakan “rasul-rasul” (Kis 14:14; Rm 1:1).

Paulus menyebutkan juga “ciuman kudus” (Rm 16:16). Tradisi para rabi Yahudi ini ternyata diambil oper juga oleh umat Kristiani dan dalam liturgi komunitas-komunitas perdana. Liturgi Romawi yang telah direstorasi menempatkan “ciuman kudus” ini sebelum pemecahan roti. Dalam konteks ini, ungkapan penerimaan dan persekutuan merupakan suatu jaminan dedikasi terhadap perdamaian dan persatuan dalam Tubuh Kristus.

Rm 16:20 adalah sebuah berkat, sehingga berbagai salam setelah itu bersifat anti-klimaks. Praktek Paulus menggunakan sekretaris jelas dalam surat ini dengan diselipkannya secara pribadi nama Tertius (Rm 16:22). Praktek penggunaan sekretaris ini memainkan suatu peranan yang signifikan dalam diskusi di antara para pakar Kitab Suci perihal surat-surat mana yang secara otentik adalah karya Paulus sendiri, dan surat-surat mana yang merupakan karya belakangan dari para muridnya.

“Salam kepada kamu dari Erastus, bendahara negeri” (Rm 16:23). Para pengikut “Jalan” mencakup para perempuan dan laki-laki yang berasal dari segala tingkat sosial – dari para budak sampai kepada pribadi-pribadi yang hidup di istana Kaisar (Flp 4:22). Kristus sungguh meruntuhkan tembok pemisah antara orang Yahudi dan non-Yahudi, antara umat pilihan Allah dan orang-orang kafir yang hidup dalam kegelapan (non-Yahudi). Kenyataan ini saja seharusnya membuat kita tidak pernah merasa ragu bahwa Kristus dapat menyembuhkan Gereja-Nya pada hari ini.

Rm 16:25-27 adalah doksologi-akhir yang menurut para ahli, ditambahkan belakangan, meskipun tetap saja dimungkinkan bahwa Paulus sendirilah yang menyusunnya. Injil Paulus adalah proklamasi tentang Yesus sang Mesias tersalib yang dibangkitkan oleh Allah untuk menjadi Tuhan (Yunani: Kyrios), dan akan datang kembali pada akhir zaman untuk mengadili umat manusia. Siapa yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan; yang tidak percaya tidak akan diselamatkan. Misteri yang diungkapkan kepada bangsa-bangsa adalah bahwa Kristus Yesus telah membawa keselamatan kepada orang Yahudi maupun non-Yahudi. Semua orang dapat ikut ambil bagian dalan tindakan ilahi ini, “hikmat Allah” ini melalui “ketaatan iman” (Rm 16:26; lihat juga1Kor 1:24).

“Surat Paulus kepada jemaat di Roma” ditutup dengan sebuah puji-pujian kepada Allah:“Bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, melalui Yesus Kristus: Segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.” (Rm 16:27). Seluruh hidup seorang Kristiani sejati akan mendorongnya untuk senantiasa memuji-muji Allah. Misalnya, “Nyanyian Saudara Matahari” dari Santo Fransiskus dari Assisi adalah sebuah litani puji-pujian: “Yang Mahaluhur, Mahakuasa, Tuhan yang baik, milik-Mulah pujaan, kemuliaan dan hormat dan segala pujian. …… Terpujilah Engkau, Tuhanku, bersama semua makhluk-Mu, terutama Tuan Saudara Matahari; dia terang siang hari, melalui dia kami Kauberi terang …… Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Bulan dan bintang-bintang …… Saudara Angin …… Saudari Air …… Saudara Api …… Saudari kami Ibu Pertiwi …… Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Maut badani, daripadanya tidak akan terluput insan hidup satu pun. Seorang pakar Kitab Suci, Paul Zilonka, CP mengatakan, bahwa hanya seorang Kristiani (sejati) yang dapat memahami frase terakhir tentang kematian dalam “Nyanyian Saudara Matahari” ini.

DOA: Syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan melalui Yesus Kristus, Tuhan kita (1Kor 15:57). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:9-15), bacalah tulisan berjudul “HARTA-KEKAYAAN BERKEMUNGKINAN BESAR MENJADI TUAN KITA” (bacaan untuk tanggal 11-11-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 7 November 2017 [Peringatan B. Assunta Pallota, FMM] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEORANG BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR

SEORANG BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR

Bacaan Injil Misa Kudus – Peringatan S. Leo Agung, Paus Pujangga Gereja – Jumat, 10 November 2017 

Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat hutangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terima surat hutangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”  (Luk 16:1-8) 

Bacaan Pertama: Rm 15:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

Bayangkanlah suatu situasi dalam dunia bisnis. Pak Alex telah bekerja lebih dari sepuluh tahun lamanya dalam sebuah perusahaan kontraktor besar di bidang pelayanan pemeliharaan gedung kantor, pabrik dan gudang. Karirnya ini telah mampu membawanya sampai suatu posisi penting dalam perusahaan itu. Kepada Pak Alex sekarang dipercayakan kontrak-kontrak paling besar termasuk kewenangan dalam aspek keuangannya.

Karena suksesnya ini Pak Alex juga menjalani hidup yang nyaman dan rumahnya pun terletak di lokasi yang tergolong “‘elit” (bukan ekonomi sulit). Namun beberapa tahun kemudian ada gosip beredar yang menyebabkan atasannya mempertanyakan integritas Pak Alex. Tidak lama kemudian Pak Alex akan digeser dari kedudukannya dan digantikan oleh orang lain. Tidak ada banyak perusahaan yang mempunyai lowongan untuk jabatan senior seperti yang dipegang Pak Alex, dan dia tidak mempunyai keterampilan teknis yang diperlukan untuk berhasil di bidang-bidang lain. Juga tidak mudahlah bagi keluarganya beradaptasi dengan suatu perubahan sedemikian. Dunia Pak Alex pun menjadi berantakan. Apakah yang harus dilakukan oleh Pak Alex dalam hal ini? Atasan Pak Alex sudah siap untuk mengambil tindakan terhadap dirinya, dan waktunya tinggal sekitar satu minggu lagi. Pak Alex harus bertindak cepat untuk menyelamatkan dirinya dari situasi kelabu yang sedang dihadapinya.

Hari ini, sekitar satu jam lagi Pak Alex mempunyai business appointment dengan langganan terbesar perusahaannya untuk membahas jumlah hutang perusahaan langganan itu dan pembayarannya. Tiba-tiba dia mendapat ide: mengapa tidak memberikan keringanan yang berarti bagi langganannya itu dengan menetapkan fee yang lebih ringan, bukankah hal ini masih berada dalam kewenangannya? Memang dengan begitu perusahaannya memperoleh pendapatan yang relatif lebih kecil, namun bukankah dengan demikian Pak Alex sudah mempunyai “pegangan” seandainya dia  diberhentikan kerja tidak lama lagi? Karena ada pihak/orang yang “berhutang budi”!

Cerita ini pada hakekatnya merupakan pengulangan dari perumpamaan Yesus tentang bendahara yang tidak jujur. Dalam perumpamaan itu Yesus kembali (Luk 12:13-34) kepada pertanyaan tentang kekayaan dan mengajar para murid-Nya mengenai penggunaan uang.

Dari sudut etika, tidak diragukan lagi bahwa apa yang dilakukan oleh bendahara yang tidak jujur itu tidak dapat diterima, namun justru hal ini bukanlah fokus dari pengajaran Yesus. Yesus memuji sang bendahara karena dengan cerdik dia menilai keadaan yang dihadapinya dan mengambil tindakan dengan cepat guna memperoleh manfaat terbaik untuk masa depannya. Sebagai umat Kristiani kita mengetahui mengenai hidup kekal dan kebenaran-kebenaran yang seharusnya membentuk keputusan-keputusan kita di sini dan sekarang. Pada waktu kita harus bekerja untuk keselamatan kita di dunia, dapatkah kita – seperti si bendahara – melihat inti permasalahannya dengan kejernihan hati? Dapatkah kita mentuntaskan pekerjaan kita dengan tindakan-tindakan yang menentukan, sehingga menjamin posisi kita kelak di surga?

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk menggunakan uangku dengan bijaksana. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang mampu menggunakan uangku dan waktuku untuk proyek-proyek yang akan memuliakan nama-Mu. Setiap hari tanamkanlah dalam diriku kepastian akan ‘takdir’ kekalku, dan berikanlah kepadaku suatu ketetapan hati agar mampu menjalani hidup di bumi ini dengan gambaran surga selalu di hadapanku. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:1-8), bacalah tulisan berjudul “PERUMPAMAAN YESUS TENTANG SEORANG BENDAHARA” (bacaan tanggal 10-11-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahu 2009) 

Cilandak, 7 November 2017 [Peringatan B. Assunta Pallota, FMM) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIRI KITA HARUS MENJADI BAIT ALLAH YANG SEJATI DAN HIDUP

DIRI KITA HARUS MENJADI BAIT ALLAH YANG SEJATI DAN HIDUP

(Bacaan Kedua Misa Kudus, Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran – Kamis, 9 November 2017)

 

Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun diatasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

Tidak tahukah kamu bahwa kamu sekalian adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu sekalian. (1Kor 3:9b-11,16-17) 

Bacaan Pertama: Yeh 47:1-2,8-9,12; Mazmur Tanggapan: Mzm 46:2-3,5-6,8-9; Bacaan Injil: Yoh 2:13-22

Setiap  bangunan gereja adalah sebuah simbol, lambang, sebuah pesan yang disusun dalam bentuk batu-batu, yang menunjuk kepada realitas-realitas spiritual. Pada hari ini Gereja Katolik Roma merayakan dedikasi/pemberkatan sebuah bangunan gereja istimewa, gereja basilik Santo Yohanes Lateran, gereja katedral untuk keuskupan Roma.

Gereja ini adalah sumbangan Kaisar Konstantinus Agung dan didedikasikan pada tanggal 9 November 324. Sampai hari ini gereja Yohanes Lateran tetap berfungsi sebagai gereja katedral Paus dalam kapasitasnya sebagai uskup Roma. Gereja ini melambangkan kesatuan Sri Paus dengan umat di sekelilingnya (yang terdekat) dan juga dengan semua orang Kristiani yang berada dalam persekutuan dengan dirinya di seluruh dunia. Dengan demikian, kita (anda dan saya) merayakan pesta ini bukanlah sebagai pengamat dari luar, melainkan sebagai anggota-anggota dari Tubuh yang satu, yang dipersatukan oleh Roh Kudus dan dipanggil kepada suatu hidup kekudusan.

Berkomentar atas peranan kita sebagai anggota-anggota Gereja Kristus, Santo Caesarius dari Arles (c.470-542) mengatakan sebagai berikut:

“Kita … harus menjadi bait Allah yang sejati dan hidup … Pada saat kelahiran kita yang pertama, kita adalah bejana-bejana kutukan Allah; dilahirkan kembali, kita menjadi bejana-bejana belas kasih-Nya. Kelahiran kita yang pertama membawa kematian bagi kita, sedangkan kelahiran kita yang kedua memulihkan diri kita kepada kehidupan.

Saudari-Saudaraku umat Kristiani, apakah kita ingin merayakan dengan penuh sukacita kelahiran bait ini? Maka marilah kita tidak merusak bait Allah yang hidup dalam diri kita oleh kerja kejahatan … Manakala kita datang ke gereja, kita harus menyiapkan hati kita agar menjadi seindah harapan kita atas gereja tersebut. Apakah anda menginginkan agar basilika ini sungguh bersih tanpa noda? Kalau begitu, janganlah mengotori jiwa anda dengan noda-noda dosa. Apakah anda menginginkan basilika dipenuhi terang cahaya? Allah pun menginginkan agar jiwa anda tidak berada dalam kegelapan, tetapi terang pekerjaan-pekerjaan baik bercahaya dalam diri kita, agar dengan demikian Ia yang berdiam dalam surga akan dimuliakan. Sama seperti anda memasuki bangunan gereja ini, demikian pula Allah ingin masuk ke dalam jiwa anda” (Sermon, 229).

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah mengundang keluarga umat manusia untuk bergabung dalam kawanan-Mu, Gereja. Engkau telah membuat kami masing-masing menjadi bait-Mu dan mengutus Roh Kudus-Mu untuk berdiam dalam diri kami (1Kor 3:16). Kami memuji Engkau untuk semua perbuatan kasih-Mu, dan kami mohon Engkau melanjutkan pencurahan rahmat-Mu ke atas umat-Mu dan memberkati Bapa Suci, yang telah Engkau panggil untuk menjadi pengurus/penjaga “bangunan” (1Kor 3:9). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yeh 47:1-2,8-9,12), bacalah tulisan yang berjudul “PEMENUHAN VISI ALLAH TENTANG BAIT-NYA” (bacaan tanggal 9-11-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 7 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEMENANGAN SALIB KRISTUS ADALAH KEMENANGAN KASIH-NYA YANG MAHA-SEMPURNA

KEMENANGAN SALIB KRISTUS ADALAH KEMENANGAN KASIH-NYA YANG MAHA-SEMPURNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Rabu, 8 November 2017)

Kongregasi Fransiskanes Sambas (KFS): Peringatan Arwah Semua Anggota Tarekat 

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 

Bacaan Pertama: Rm 13:8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,4-5,9 

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan, “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:27). Seorang penyair pernah menulis, bahwa “dia yang ingin sesuatu yang berharga haruslah menyerahkan/ mengorbankan sesuatu yang berharga pula.” Hal itu berarti, bahwa kita tidak dapat memiliki kasih yang sejati tanpa disiplin-diri yang sama riilnya. Para dokter, musisi, artis, ilmuwan, pengarang, guru, inventor, dlsb. – semua telah menyadari bahwa kebesaran (Inggris: greatness) hanya datang dengan disiplin-diri. Pekerjaan jujur adalah sebuah salib yang berat, namun hal itu diterima dengan penuh sukacita demi cinta akan tujuan yang ingin dicapai. Spiritualisasikanlah kebenaran ini, dan kita pun akan mempunyai salib sehari-hari yang dibicarakan Yesus. Yesus menyerahkan segalanya untuk mengejar kasih-Nya yang besar dan agung, rencana Bapa perihal penebusan. Santo Paulus menulis: “ (Yesus) ……telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:7-8).

Salib sehari-hari adalah ungkapan kasih. Kasih yang sejati membuat seseorang “menyangkal dirinya” dan mengikut Kristus (lihat Luk 9:23), karena kasih membuat dirinya menyerahkan/melepaskan segalanya yang mengganggu upayanya untuk mengejar orang yang dikasihi. Cinta-diri membuat seseorang memandang segala gangguan – betapa kecilnya sekalipun gangguan itu – sebagai “salib sehari-hari”. Pandangan salah sedemikian hanyalah membuat orang “termanja” dalam self-pity. Sesungguhnya sebagian besar dari kesulitan-kesulitan kecil yang kita pertimbangkan sebagai pengorbanan besar adalah ungkapan dari sikap kita yang mementingkan-diri sendiri. Kita membesar-besarkan perasaan tidak enak yang kecil-kecil dan memproyeksikan semua itu menjadi salib-salib yang bersifat artifisial. Jika kita mau berpegang teguh pada kebenaran, maka seharusnya kita memandang semua kesulitan kecil itu sebagai sekadar keratan-keratan kayu yang kecil atau serbuk gergaji yang jatuh di sana-sini dari kayu salib. Tetapi semua itu bukanlah salib itu sendiri, melainkan tanda-tanda kasar-sederhana dari kelemahan kita.

Salib yang dipikul oleh Yesus dan yang diminta-Nya untuk kita pikul adalah hidup dari kasih Kristiani itu sendiri, “baptisan” besar/agung ke mana keseluruhan hidup-Nya diarahkan. Salib adalah status kehidupan kita: kerasulan kita, tugas-tugas harian kita, perkawinan kita, keluarga kita, tugas mengajar kita (kalau kita guru), tugas perawatan kita (kalau kita perawat), studi kita, pekerjaan kita – apa pun kerja kasih yang tidak mementingkan-diri dan pengabdian  yang telah diberikan Allah kepada kita. Kejengkelan hati sehari-hari yang kecil-kecil hanyalah bayangan dari salib yang besar, karena salib itu bagaikan sebatang pohon tinggi, dari pohon mana kasih Allah dicurahkan secara berkelimpahan. Salib agung itulah “hal berharga” untuknya segala “hal berharga” lainnya akan kita serahkan/lepaskan dengan penuh sukacita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kemenangan Salib-Mu adalah kemenangan kasih-Mu yang maha-sempurna. Jagalah agar kami agar dapat tetap menjadi murid-murid-Mu yang baik, yang senantiasa mau dan mampu memikul salib kami masing-masing dan mengikut Engkau dengan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “MENGASIHI DAN MEMBENCI” (bacaan tanggal 8-11-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2017. 

Cilandak, 6 November 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS