KELOMPOK TIGA

KELOMPOK TIGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Sabtu, 18 Februari 2017)- 

transfigurasi-12Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilauan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat memutihkan pakaian seperti itu. Lalu tampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Rabi, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Biarlah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Lalu datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia.” Tiba-tiba sewaktu memandang sekeliling, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan itu sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan “bangkit dari antara orang mati”. Lalu mereka bertanya kepada-Nya, “Mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihina? Tetapi Aku berkata kepadamu: Memang Elia sudah datang dan orang memperlakukan dia menurut kehendak mereka, sesuai dengan yang ada tertulis tentang dia.” (Mrk 9:2-13) 

Bacaan Pertama:  Ibr 11:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-5,10-11 

Yesus mengatakan kepada tiga orang murid-Nya agar tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat di atas gunung, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati (Mrk 9:9). Sekarang Yesus telah bangkit, maka kita tentunya dapat berbicara tentang hal itu secara bebas. Yesus naik ke sebuah gunung yang tinggi dengan membawa serta tiga orang murid-Nya: Petrus, Yakobus dan Yohanes. Di sana mereka menyaksikan Musa dan Elia muncul dan berbicara dengan Yesus. Tiga orang rasul/murid tersebut terkejut penuh rasa takjub dan mereka sujud menyembah. Apakah sebenarnya makna dari semua ini?

Yesus sering naik ke atas sebuah bukit/gunung untuk berdoa. Setelah mukjizat penggandaan roti dan ikan untuk memberi makan lebih dari lima ribu orang, Yesus pergi ke bukit untuk berdoa (Mrk 6:46). Semalam sebelum Ia memberikan janji besar tentang Roti Kehidupan kepada orang banyak, Yesus berada di atas bukit seorang diri (Yoh 6:15). Untuk apa “sorangan wae”? Tentunya untuk berdoa kepada Bapa-Nya di surga. Orang banyak dengan paksa mau menjadikan-Nya seorang raja dunia; dan Yesus tahu bahwa misi-Nya di dunia bukanlah untuk itu. Matius menulis: “Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Menjelang malam Ia sendirian di situ” (Mat 14:23).

Seringkali dalam cerita-cerita yang tercatat dalam Kitab Suci, naik ke atas bukit/gunung sendirian berarti masuk ke dalam persekutuan yang erat dan intim dengan Allah. Di atas gunung seseorang menjauhi kebisingan dan hiruk-pikuk serta distraksi, dan di atas bukit itulah kita dapat mengalami suatu perasaan istimewa adanya kedekatan dengan Allah.

Musa naik ke atas gunung untuk berdoa dan belajar tentang Kehendak Allah. Dalam Kel 24:17 kita membaca: “Tampaknya kemuliaan TUHAN (YHWH) sebagai api yang menghanguskan di puncak gunung itu pada pemandangan orang Israel.” Namun Musa masuk ke tengah-tengah awan itu dengan mendaki gunung itu. Lalu tinggallah ia di atas gunung itu empat puluh hari dan empat puluh malam lamanya (lihat Kel 24:18). Hal ini tentunya mengingatkan kita kepada Yesus yang sendirian berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam di padang gurun (lihat misalnya dalam Mat 4:1-11; bdk. Mrk 1:12-13; Luk 4:1-13).

Ketika Ratu Izebel (istri Raja Ahab) – lewat seorang suruhannya – mengancam untuk membunuh nabi Elia dalam waktu dua puluh empat jam, maka karena takut Elia pun melarikan diri ke padang gurun (lihat 1Raj 19:1-4). Karena rasa lapar dan haus, Elia tidak dapat meneruskan perjalanannya, namun Allah mengutus malaikat-Nya untuk membawa roti dan minuman agar dapat melanjutkan perjalanannya ke Gunung Horeb, di mana Allah berbicara kepadanya dan mengatakan apa yang harus dilakukan olehnya (bacalah keseluruhan cerita yang menarik: 1Raj 19:1-18).

“Kelompok 3” ini – Yesus, Musa dan Elia – penuh dengan makna. Itulah sebabnya mengapa Yesus ingin agar tiga orang murid-Nya yang istimewa ini (lingkaran pertama) untuk berada di atas gunung bersama dengan-Nya. Sah-sah saja apabila kita bertanya: Apa sih yang sebenarnya terjadi di atas gunung itu? Sebuah pertemuan/persekutuan doa yang luarbiasa! Sebuah kelompok datang bersama untuk berdoa, untuk bercakap-cakap dengan Allah Tritunggal Mahakudus. Dalam doa kita datang untuk berbicara dengan Yesus, dengan Bapa surgawi, dengan Roh Kudus, juga bersama dengan para malaikat-Nya, Musa, Elia, para rasul, dan para kudus lainnya. Yesus bersabda: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau juga senantiasa mengundang kami ke dalam suatu persekutuan doa yang sangat luarbiasa, yaitu Perayaan Ekaristi. Dalam puncak perayaan iman itu kami Engkau undang untuk menyaksikan lagi penghadiran kembali wafat-Mu pada kayu salib di bukit Kalvari dan diberi tubuh-Mu sendiri sebagai makanan rohani bagi kami. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:2-13) bacalah tulisan yang berjudul “JANJI TRANSFIGURASI:  KITA SEMUA DAPAT MENYAKSIKAN KEMULIAAN YESUS” (bacaan tanggal 18-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02  PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2015) 

Cilandak, 16 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SALIB SEBAGAI TOLOK UKUR

SALIB SEBAGAI TOLOK UKUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Jumat, 17 Februari 2017) 

KEMURIDAN - SIAPA YANG MAU MENJADI MURIDKULalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab siapa saja yang malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah orang-orang yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, bersama dengan malaikat-malaikat kudus.

Kata-Nya lagi kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah  telah datang dengan kuasa.” (Mrk 8:34-9:1) 

Bacaan Pertama:  Kej 11:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:10-15

“Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mrk 8:34).

Menariklah bagi kita untuk mencatat bahwa bacaan Injil hari ini memproklamasikan doktrin Salib, langsung setelah Petrus membuat pengakuan imannya bahwa “Yesus sebagai Mesias (Mrk 8:29). Setelah mendengar dan menerima pengakuan iman dari Petrus (yang mewakili juga para murid-Nya yang lain), Yesus mulai mengajarkan  dengan terus terang bahwa Ia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (Mrk 8:31-32). Hal ini mengagetkan Petrus, karena – seperti juga kebanyakan orang Yahudi lainnya – dia mengharapkan kedatangan sang Mesias yang sangat berbeda. Petrus juga kiranya mengharapkan sebuah Kerajaan yang berbeda di mana dirinya akan duduk di sebelah kanan Kristus yang akan menjadi sang Raja. Kiranya Petrus berkata dalam hatinya bahwa apa yang diajarkan Yesus itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karena itulah dia menegur Yesus dengan keras (Mrk 8:32). Yesus menanggapi teguran Petrus dengan sebuah teguran yang tidak kalah kerasnya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mrk 8:33).

Tidak lama setelah episode ini barulah Yesus mengajarkan kepada para murid apa artinya menjadi warga Kerajaan-Nya. Salib dimaksudkan untuk setiap orang, tidak hanya untuk Diri-Nya dan sekelompok kecil orang. Yesus membuat jelas bahwa Salib adalah bagian hakiki dari kehidupan Kristiani. Bagaimanapun juga, apa yang dimaksudkan oleh-Nya ketika Yesus bersabda, “Jika seseorang mau mengikut Aku, …” (Mrk 8:34)? Maksudnya sederhana saja: “Jika seseorang mau menjadi seorang Kristiani!” 

Namun, mengapa menjadi seorang Kristiani – seorang Kristiani sejati? Apabila kita mempunyai iman, dengarkanlah apa yang dikatakan Yesus: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mrk 8:36-37).

Yesus bersabda lagi: “… siapa saja yang malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah orang-orang yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabia Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, bersama dengan malaikat-malaikat kudus” (Mrk 8:38). Ini adalah kata-kata Yesus yang “keras” dan penuh kuat-kuasa. Sekarang, apakah pandangan kita tentang pengejaran dan penganiayaan atas para murid-Nya? Apakah pandangan kita tentang salib, tentang kesulitan hidup? Sebagai murid-murid Kristus, siapkah kita untuk kehilangan nyawa dalam arti manusiawi untuk memperoleh “posisi” sebagai murid-murid Yesus?

Yang diajarkan oleh Yesus adalah bahwa pemenuhan sejati datang dari pengosongan diri sendiri, bukan dari upaya penuh kesadaran untuk mencapai kepenuhan tersebut. Kita paling banyak memperoleh keuntungan justru dengan kurang mencari. Kita memperoleh paling banyak dengan memberi paling banyak.

Ajaran tentang Salib, karena dalam praktek sebenarnya adalah “Jalan Cintakasih”, adalah tolok ukur dari kehidupan Kristiani. Sabda Yesus: “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mrk 8:34).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu, karena Engkau mengundangku untuk mengikut-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:34-9:1), bacalah tulisan yang berjudul “NILAI TERTINGGI DARI KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 17-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

Cilandak, 15 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SI PENGGODA BERBICARA LEWAT MULUT SEORANG SAHABAT

SI PENGGODA BERBICARA LEWAT MULUT SEORANG SAHABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Kamis, 16 Februari 2017) 

jesus_asking_peter-siapakah-aku-iniKemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke desa-desa di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?”  Jawab mereka kepada-Nya, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan: Seorang dari para nabi.”  Ia bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”  Jawab Petrus, “Engkaulah Mesias!”  Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras. Lalu berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia menegur Petrus dengan keras, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mrk 8:27-33) 

Bacaan Pertama:  Kej 9:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:16-23,29

Ketika Yesus mengkaitkan ke-Mesias-an dengan penderitaan dan penolakan oleh para tua-tua, imam-iman kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh, maka sebenarnya Dia membuat pernyataan-pernyataan yang bagi para murid-Nya tidak dapat dimengerti karena tidak sesuai dengan pandangan umum tentang pribadi macam apa seorang Mesias itu. Sepanjang hidup mereka, para murid telah mempunyai pandangan bahwa sang Mesias adalah seorang pendekar perang, seorang penakluk, seorang pembebas bangsa dari penindasan bangsa Romawi. Sekarang, mereka dihadapkan dengan ide yang mengagetkan. Itulah sebabnya mengapa Petrus memprotes keras. Bagi dirinya, semua itu tidak mungkin, …… sungguh tidak mungkin.

Mengapa Yesus menegur Petrus dengan tidak kalah keras? Karena dalam tegurannya Petrus mengungkapkan kata-kata godaan yang justru sering mengganggu Yesus. Yesus tidak ingin mati. Dia mengetahui bahwa diri-Nya memiliki kuat-kuasa yang dapat digunakan-Nya untuk menaklukkan. Pada saat Petrus menegur-Nya dengan keras, sebenarnya Yesus melakukan perlawanan lagi terhadap godaan-godaan seperti sebelumnya, yaitu ketika Dia dicobai oleh Iblis di padang gurun. Ya, pada saat itu Iblis menggoda-Nya lagi agar jatuh dan menyembah Iblis, untuk mengikut jalannya, bukan jalan Allah.

Sungguh merupakan hal yang aneh, dan kadang-kadang juga menjijikkan bahwa si penggoda terkadang berbicara kepada kita dengan menggunakan suara seorang sahabat yang bermaksud baik. Kita dapat saja selama menjalani kehidupan kita ini memilih jalan yang menurut kita “benar” namun pada titik tertentu juga membuat diri kita susah, kerugian, ketidakpopuleran, pengorbanan. Dan ada teman yang bermaksud baik mencoba dengan niatnya yang terbaik untuk menghentikan kita. Memang ada kemungkinan bagi seseorang untuk mengasihi kita sedemikian rupa sehingga dia menginginkan kita menghindari kesulitan dan berjalan secara aman-aman saja (to play safe).

Jurus si penggoda (Iblis) yang paling berbahaya justru apabila dia menggunakan suara dari mereka yang mengasihi kita dan yang berpikir bahwa mereka hanya berniat baik dan berperilaku demi kebaikan kita saja. Inilah yang terjadi dengan Yesus pada hari itu. Itulah sebabnya mengapa Yesus menjawab teguran Petrus itu dengan teguran yang keras pula. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menghentikan suara Allah yang bersifat mutlak.

Kita sungguh membutuhkan karunia untuk membeda-bedakan roh. Suara Allah atau suara si Iblis, dst.?

DOA: Bapa surgawi, terangilah kegelapan hatiku dan berilah kepadaku iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna. Berikanlah perasaan yang peka dan akal budi yang cerah agar supaya aku dapat mengenal dan melaksanakan kehendak-Mu yang kudus dan tidak menyesatkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:27-33), bacalah tulisan yang berjudul “YESUSLAH SANG MESIAS!” (bacaan tanggal 16-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

Cilandak,  14 Februari 2017 [Peringatan S. Sirilus, Pertapa dan Metodius, Uskup 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEORANG BUTA BELAJAR UNTUK MELIHAT

SEORANG BUTA BELAJAR UNTUK MELIHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Rabu, 15 Februari 2017) 

Healing of a Blind Man in Bethsaida Mark 8:22-25

Healing of a Blind Man in Bethsaida Mark 8:22-26

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Lalu orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menyentuh dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar desa. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya kepadanya, “Sudahkah kaulihat sesuatu?”  Orang itu memandang ke depan, lalu berkata, “Aku melihat orang-orang seperti pohon-pohon, namun aku melihat mereka berjalan-jalan.”  Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Lalu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata, “Jangan masuk ke desa itu!” (Mrk 8:22-26) 

Bacaan Pertama: Kej 8:6-13,20-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-15,18-19 

Sampai hari ini kebutaan masih merupakan salah satu “kutukan” besar di banyak negara di dunia. Kebutaan ini sebagian disebabkan oleh “ophthalia” dan sebagian oleh sinar matahari yang tidak mengenal kasihan. Hal ini diperburuk oleh kenyataan bahwa banyak rakyat kebanyakan tidak mengetahui apa-apa soal kesehatan dan kebersihan, terutama karena kemiskinan yang melanda.

Hanya Markus yang menulis cerita penyembuhan orang buta ini, hal mana dapat menyebabkan kita merasa bahwa bacaan ini tidak/kurang penting. Karena hanya ada dalam Injil ini, maka kita harus lebih terangsang untuk mendalami bacaan tersebut.

Ada beberapa hal yang sungguh menarik dalam bacaan Injil ini: Pertama-tama kita melihat bagaimana pertimbangan-pertimbangan Yesus senantiasa bersifat unik. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar desa (Mrk 8:23). Mengapa? Karena dengan demikian Ia dapat berdua saja dengan orang buta itu. Mengapa? Coba pikirkan. Orang itu buta dan kelihatannya dia buta sejak lahir. Apabila kepadanya diberikan penglihatan secara instan di tengah-tengah orang banyak, maka matanya yang baru saja melihat akan melihat banyak sekali orang dan hal-hal lainnya yang berwarna-warni. Ini sungguh akan mengagetkan orang bersangkutan. Yesus mengetahui bahwa jauh lebih baiklah bagi Diri-Nya untuk membawa orang buta ke sebuah tempat di mana mata yang baru dapat melihat itu tidak secara mendadak melihat banyak hal.

Setiap dokter dan guru yang hebat memiliki ciri pribadi yang sungguh luarbiasa. Dokter yang hebat mampu untuk masuk ke dalam pikiran dan hati pasiennya; dia memahami ketakutan-ketakutan yang melanda si pasien, juga harapan-harapannya. Dokter ini bersimpati, berempati dan menderita bersama si pasien. Guru yang hebat juga mampu masuk ke dalam pikiran dan hati muridnya. Guru itu melihat persoalan-persoalan muridnya, kesulitan-kesulitannya, berbagai penghalang yang dihadapinya. Itulah sebabnya mengapa Yesus itu adalah sungguh seorang Dokter dan Guru yang sangat hebat. Yesus mampu untuk masuk ke dalam pikiran dan hati orang yang ingin ditolong-Nya. Yesus dapat membuat pertimbangan-pertimbangan dengan sangat baik, karena Dia dapat berpikir dengan pikiran mereka dan merasakan sesuatu seperti mereka merasakannya. Allah menganugerahkan kepada kita karunia-karunia seperti yang dimiliki Yesus ini.

Kedua, Yesus menggunakan metode-metode yang dapat dimengerti oleh orang-orang. Dunia kuno percaya akan kuat-kuasa untuk menyembuhkan dari air liur/ludah. Kepercayaan seperti itu tidak begitu aneh jika kita mengingat naluri pertama kita adalah memasukkan jari kita yang terluka (karena teriris pisau atau terbakar) ke dalam mulut kita agar meringankan rasa sakit kita. Tentu saja si buta mengetahui hal ini, dan Yesus menggunakan suatu metode penyembuhan yang dikenal olehnya. Yesus memiliki hikmat ilahi. Dia tidak memulai proses penyembuhan dengan kata-kata dan dan metode-metode yang jauh melampaui pengertian orang-orang kecil bersahaja. Yesus berbicara kepada mereka dan melakukan tindakan atas diri mereka dengan menggunakan cara yang dapat dipahami  oleh orang-orang yang memiliki pikiran sederhana.

Ketiga. Dalam satu hal mukjizat penyembuhan kebutaan ini bersifat unik – ini adalah mukjizat satu-satunya yang dapat dikatakan terjadi secara bertahap. Biasanya mukjizat-mukjizat Yesus terjadi secara instan dan lengkap. Dalam mukjizat ini, penglihatan orang buta ini mengalami kesembuhan secara bertahap.

Ada kebenaran yang bersifat simbolis di sini. Tidak ada seorang pun melihat seluruh kebenaran Allah sekaligus. William Barclay, seorang pendeta dari Skotlandia yang terkenal, pernah menulis bahwa salah satu dari bahaya-bahaya evangelisme jenis tertentu adalah bahwa pewartaan sedemikian mendorong ide bahwa apabila seseorang telah memutuskan untuk mengikut Kristus, maka dia adalah seorang Kristiani yang dewasa-penuh (lihat THE DAILY STUDY BIBLE – The Gospel of Mark, hal.191). Dengan menjadi Kristiani bukanlah berarti seseorang sudah sampai di akhir perjalanan, melainkan baru saja mulai di awal perjalanan. Seorang Kristiani harus melakukan pertobatan  terus menerus, dari hari ke hari. Dia harus terus menerus bertumbuh dalam rahmat dan di bawah bimbingan Roh Kudus belajar untuk semakin serupa dengan Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin mengalami kesembuhan yang penuh. Tunjukkanlah kepadaku apa saja yang sedang kulakukan atau telah lakukan, yang akan menghalang-halangi karya penyembuhan-Mu dalam diriku. Tuhan, tolonglah aku agar menjadi semakin serupa dengan Engkau! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:22-26), bacalah tulisan yang berjudul “SECARA BERTAHAP” (bacaan tanggal 15-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

Cilandak, 13 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERTANYAAN-PERTANYAAN SEORANG GURU KEPADA PARA MURID-NYA

PERTANYAAN-PERTANYAAN SEORANG GURU KEPADA PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Sirilus, Pertapa & S. Metodius, Uskup –  Selasa, 14 Februari 2017) 

jesus_christ_picture_013Murid-murid Yesus lupa membawa roti, kecuali satu roti saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”  Mereka pun memperbincangkan di antara mereka bahwa mereka tidak mempunyai roti. Ketika Yesus mengetahui hal itu, Ia berkata, “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Belum pekakah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Dua belas bakul.”  “Pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Tujuh bakul.”  Lalu kata-Nya kepada mereka, “Belum mengertikah kamu?”  (Mrk 8:14-21) 

Bacaan Pertama: Kej 6:5-8,7:1-5,10; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1-4,9-10  

Yesus memperingatkan para murid tentang ragi orang Farisi dan ragi Herodes (Mrk 8:15). Ia minta mereka agar mereka waspada dan berjaga-jaga terhadap sikap dan perilaku dari orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya. Ragi adalah suatu gambaran yang cukup tepat untuk mereka yang memusuhi Kristus, karena kata ini menyarankan suatu kontras antara kata-kata dan substansi. Apabila kita menambahkan ragi pada adonan, maka hasilnya bukanlah lebih banyak roti, tetapi lebih banyak udara di dalam roti yang sudah ada. Dengan perkataan lain ragi membuat bengkak … membuat gembung! Ragi tidak menambahkan substansi! Sebaliknya, Yesus datang untuk membawa roti sejati – sesuatu yang diingatkan-Nya kepada para murid, sewaktu Dia merujuk kepada kemampuan-Nya untuk memberi makan kepada ribuan orang dalam suatu mukjizat pergandaan (Mrk 8:19-20).

Yesus datang untuk membuat perubahan-perubahan yang substansial dan radikal dalam diri kita. Ia datang untuk memungkinkan kita turut ambil bagian dalam hidup ilahi. Yesus tidak berminat untuk “menggembungkan” hidup kita – membuat kita sedikit lebih menyenangkan, atau sedikit lebih sabar, atau sedikit lebih bersahabat. Ia mau mencabut dari kita sifat mementingkan diri sendiri dan memberikan kepada kita hati yang dipenuhi dengan cintakasih kepada Allah dan hasrat serta rasa rindu untuk melayani umat-Nya.

Tentu saja Yesus senang manakala kita menjadi lebih penuh pertimbangan dalam berhubungan dengan pasangan hidup kita atau menjadi lebih sabar dengan anak-anak kita. Tetapi visi Yesus bagi kita adalah jauh melampaui hal seperti ini. Ia berniat untuk mengubah kita sehingga kita menjadi laki-laki dan perempuan spiritual – orang-orang yang mengenal damai-sejahtera secara mendalam, memiliki sukacita dan harapan, meski dalam situasi-situasi yang paling sulit sekalipun. Yesus ingin membuat kita menjadi sebuah tanda bagi dunia, yaitu tanda dari hidup yang ditawarkan Allah kepada setiap orang yang berpaling kepada-Nya dan mengikuti jalan-Nya.

Tentu saja, dengan kekuatan sendiri kita tidak mungkin membuat perubahan seperti itu, … powerless. Akan tetapi Yesus yang telah membuktikan diri-Nya mampu melakukan mukjizat pergandaan makanan untuk ribuan orang, Dia memiliki kuat-kuasa untuk membuat kita menjadi baru.

Para murid tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh Yesus karena mereka tidak dapat melihat lebih jauh dari roti yang bersifat material (Mrk 8:16). Mereka berpikir Yesus berbicara mengenai perut mereka, bukan hati mereka. Bukankah kita kadang-kadang juga membatasi perhatian kita pada keprihatinan-keprihatinan dan kesusahan-kesusahan sehari-hari kita yang bersifat keduniaan, dan kita luput melihat Yesus dengan kuat-kuasa-Nya yang mampu mengubah kita. Marilah hari ini – teristimewa dalam Ekaristi – kita sambut Yesus untuk masuk ke dalam hati kita, dan kita mohon kepada-Nya untuk melanjutkan karya transformasi-Nya. Jangan sampai Dia bertanya kepada kita sama seperti yang ditanyakan-Nya kepada para murid-Nya yang awal: “Belum mengertikah kamu?” (Mrk 8:21).

DOA:  Datanglah Roh Kudus, penuhilah diriku dengan hidup Kristus. Aku ingin menjadi seorang ciptaan baru oleh kuasa transformasi-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “RAGI ROH KUDUS YANG MENTRANSFORMASIKAN HIDUP KITA” (bacaan tanggal 14-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak,  10 Februari 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ORANG FARISI MEMINTA DARI YESUS SUATU TANDA DARI SURGA

ORANG FARISI MEMINTA DARI YESUS SUATU TANDA DARI SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Senin, 13 Februari 2017) 

jesus-christ-super-starKemudian muncullah orang-orang Farisi dan mulai berdebat dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari Dia suatu tanda dari surga. Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”  Ia meninggalkan mereka, lalu Ia naik lagi ke perahu dan bertolak ke seberang. (Mrk 8:11-13) 

Bacaan Pertama: Kej 4:1-15,25; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:1,8,16-17,20-21

Menghadapi “tuntutan” dari sejumlah orang Farisi akan suatu “tanda dari surga”, Yesus mendesah dalam hati-Nya. Bukankah Ia telah memberi lebih dari cukup tanda-tanda? Tidak sedikit orang yang disembuhkan secara ajaib, misalnya orang kusta disembuhkan (1:40-45); orang lumpuh disembuhkan (2:1-12); demikian pula angin ribut diredakan (4:35-41); roh-roh jahat diusir pergi (5:1-20); lima roti dan dua ikan dilipat-gandakan untuk memberi makan ribuan orang (6:30-44); dan lain-lain mukjizat lagi.  Malah anak perempuan  seorang kepala rumah ibadat (Yairus) yang telah meninggal pun dihidupkan-Nya kembali (5:21-24.35-43). Bukankah sekarang begitu jelas bahwa Allah – dengan segala kuasa-Nya – sedang datang mengunjungi umat-Nya melalui Yesus?

Kelihatan letak persoalannya bukanlah apakah Yesus tidak memberikan cukup banyak tanda atau tidak. Orang-orang Farisi tidak mampu dan/atau tidak mau membaca tanda-tanda yang telah diberikan oleh-Nya. Mengapa orang-orang Farisi tidak dapat memahami apa yang kelihatan jelas-nyata di depan mata dan kepala mereka? Suatu religiositas yang terlalu kaku, cupat, sempit? Kesombongan rohani? Barangkali. Atau barangkali karena yang dilakukan Yesus begitu baru bagi mereka, begitu asingnya, sehingga mereka sungguh tidak tahu bagaimana menafsirkannya. Sepertinya hampir berdasarkan naluri mereka berpegang erat-erat pada asumsi-asumsi mereka sendiri tentang bagaimana Allah akan berkarya … dengan demikian ‘tanda-tanda’ yang telah diberikan Yesus selama ini tidaklah cocok, … tidak memenuhi syarat atau tolok ukur yang telah mereka tetapkan sendiri.

Bagaimana dengan kehidupan modern di abad ke-21 ini? Apakah Yesus masih terus melakukan mukjizat-mukjizat? Apakah masih terjadi peristiwa-peristiwa penyembuhan, pengusiran roh-roh jahat dan lain sebagainya? Apakah terjadi pertobatan-pertobatan yang disebabkan kehadiran Allah? Jawabnya adalah YA! Namun pada saat yang sama, sikap skeptis dan tidak percaya juga jelas terasa dan terlihat di antara umat Kristiani sendiri. Banyak orang yang mendasarkan diri pada pendekatan-pendekatan terhadap dunia yang bersifat “ilmiah” atau ‘rasional’; mereka menutup diri terhadap adanya kemungkinan bahwa Allah akan mau melakukan intervensi secara ajaib dalam kehidupan orang-orang. Ada juga orang-orang yang ingin menyangkal atau menghindarkan diri dari hal-hal yang berbau mukjizat atau dimanifestasikan oleh “tanda-tanda heran”, karena takut kalau-kalau dituntut sesuatu dari mereka. Akan tetapi kita tidak dapat menyangkal, bahwa “tanda-tanda heran” seperti itu selalu ada di sekeliling kita. Saya ulangi: Selalu ada, karena “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

Bagaimana dengan anda? Apakah anda percaya bahwa pada hari ini pun Yesus masih bekerja dengan penuh kuat-kuasa? Apakah anda percaya bahwa Yesus mengasihimu, sama seperti Dia mengasihi para murid-Nya yang pertama? Apakah anda percaya bahwa Dia cukup mengasihimu sehingga menyembuhkanmu atau membebaskanmu dari dosa?

Sebaiknya anda mohon kepada Roh Kudus untuk membuka hatimu bagi tanda-tanda supernatural dari kehadiran-Nya. Lakukanlah hari ini juga, karena hidupmu tidak pernah akan sama lagi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku menjadi lebih fleksibel sehingga aku dapat menaruh kepercayaan pada-Mu. Bukalah mataku agar dapat melihat cintakasih-Mu kepadaku yang penuh keajaiban. Terpujilah nama-Mu yang terkudus, ya Yesus! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 8:11-13), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA ORANG-ORANG ZAMAN INI MEMINTA TANDA?” (bacaan tanggal 13-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak,  10 Februari 2017 [Peringatan S. Skolastika, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS MENGGENAPI HUKUM TAURAT

YESUS KRISTUS MENGGENAPI HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VI [TAHUN A] – 12 Februari 2017) 

1-0-sermon_on_the_mount_carl_bloch-e1296500203637

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. Aku berkata kepada: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku  berkatamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal  dari si jahat. (Mat 5:17-37)  

Bacaan Pertama: Sir 15:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,17-18,33-34; Bacaan Kedua: 1Kor 2:6-10  

Taurat (Hukum atau Instruksi) adalah lima kitab pertama yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Orang Yahudi mengakui Taurat sebagai perwahyuan Allah. Taurat mengungkapkan pikiran-pikiran Allah yang intim mengenai diri-Nya sendiri dan mengenai jalan hidup suci yang ditawarkan-Nya kepada umat-Nya. Pada zaman lampau, apabila para rabbi Yahudi ditanya: “Apakah yang dilakukan Allah di surga?”; maka para rabbi itu akan menjawab: “Membaca Taurat!” Terdengar lucu sekarang, namun itulah faktanya.

Bagaimana Yesus memandang Taurat? Ia mengatakan kepada para pengikut-Nya bahwa Dia diutus oleh Bapa-Nya di surga untuk menggenapi hukum, agar Taurat menjadi berbuah. Itulah sebabnya mengapa Khotbah Yesus di Bukit memusatkan perhatian pada “hati” atau “niat batin” yang ada di belakang perintah-perintah kuno yang ada dalam Taurat. Misalnya, Yesus menjelaskan bahwa tidak cukuplah untuk menghindari tindakan mencederai orang lain secara fisik. Apabila kita mengasihi dari hati kita, kita harus belajar hidup dengan orang-orang lain dalam damai juga. Juga tidak cukuplah untuk menghindari pencurian dan perzinahan. Kita harus membuang hasrat untuk memiliki sesuatu yang menjadi hak milik orang lain; termasuk istri orang lain.

Meskipun Ia meningkatkan tuntutan perintah-perintah Allah, Yesus tidak menggambarkan Allah sebagai seorang hakim kejam yang siap untuk menghukum kita karena dosa-dosa kita. Allah mengasihi kita dan mengundang kita untuk merangkul kasih-Nya itu. Allah ingin mengubah kita oleh kuasa Roh Kudus-Nya, agar kita dapat mengasihi apa/siapa saja yang dikasihi-Nya, dengan demikian kita dapat meninggalkan kedosaaan kita.

Kasih Allah adalah seperti kobaran api yang menyala-nyala dengan sempurna, karena membakar habis hasrat-hasrat jahat kita dan memenuhi diri kita dengan suatu kerinduan untuk menyenangkan-Nya dan meletakkan hidup kita dalam pelayanan yang rendah hati bagi sesama. Santo Augustinus pernah berkata: “Penuhilah perintah-perintah Allah karena kasih. Dapatkah seseorang menolak untuk mengasihi Allah, yang begitu melimpah belas kasih-Nya, yang begitu adil dalam segala jalan-Nya?  Dapatkah seseorang menolak untuk mengasihi Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi kita walaupun kita masih terbelenggu dalam ketidakadilan dan kesombongan?”

Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk memurnikan pikiran-pikiran kita  dan memenuhi hati kita dengan kasih Allah. Dengan demikian kita akan mulai hanya menghasrati apa yang disenangi Allah.

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus, karena Engkau telah memberikan kepadaku Roh Kudus-Mu. Penuhilah hatiku dengan kasih-Mu yang tak terbatas dan membuat diriku kudus sebagaimana Engkau kudus adanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-37), bacalah tulisan yang berjudul “JAGALAH HATI DAN PIKIRAN KITA AGAR TETAP BERSIH” (bacaan tanggal 12-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 9 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS