YESUS SUNGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

YESUS SUNGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 12 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dr Corleone, Biarawan

 

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: 1Sam 8:4-7,10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:16-19

Ini adalah sebuah “adegan” yang sungguh konkret. Cerita ini mengungkapkan great expectations dari orang kebanyakan, suatu hasrat kuat dan sangat manusiawi untuk memperoleh kesembuhan fisik. Datang saja ke acara kebangunan rohani atau “Misa Penyembuhan” untuk menyaksikan dengan mata-kepala  sendiri, malah kita mungkin mengalami  sendiri kesembuhan itu. Kesembuhan-kesembuhan terjadi, meskipun yang disembuhkan belum tentu datang karena didorong motif yang sepenuhnya spiritual. Cerita ini juga menggambarkan, bahwa sepanjang sejarah manusia Allah menghendaki, bahkan memiliki hasrat besar, untuk mengampuni pendosa yang bertobat. Kita tentu percaya bahwa hal ini benar karena iman kita akan kerahiman atau belaskasih Allah. Namun dengan kedatangan Yesus ke tengah-tengah umat manusia, pengampunan dosa itu mengambil sebuah bentuk pengungkapan manusia yang baru, yang membawa kita kepada suatu kepastian.

Berkat-berkat serta karunia-karunia Allah tidak selalu menyangkut hal-ikhwal yang bersifat badani. Pekerjaan-pekerjaan menakjubkan dari Allah ada dalam hati manusia. Karunia agung dari Allah adalah pemerdekaan/pembebasan dari dosa-dosa. Bisa saja orang lumpuh ini, yang membutuhkan pertolongan dan sepenuhnya menggantungkan diri pada orang-orang lain yang boleh dikatakan “nekat”, merupakan seorang pribadi yang lebih siap untuk menerima pengampunan. Kita maklumi ada cukup banyak orang menolak pengampunan Allah karena sebuah alasan tunggal, yaitu bahwa mereka tidak mau “menerima” pengampunan itu lewat orang lain. “Mohon pengampunan Allah” mensyaratkan bahwa orang bersangkutan mengakui keterbatasan-keterbatasan dirinya dan menghaturkan permohonan dengan sangat akan turunnya Kerahiman Ilahi ke atas dirinya, namun kesombongan tersembunyi dapat menghalangi dia untuk mengambil langkah seperti itu. Banyak orang berpikir bahwa dirinya “mandiri”, sefl sufficient, mereka mau keluar dari kesusahan hanya berdasarkan kekuatan mereka sendiri. Yesus mengampuni dosa-dosa orang lumpuh dengan mengucapkan kata-kata manusia: “Hai anakKu, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5). Ketika para pemuka agama menolak cara pemberian pengampunan seperti ini, Yesus menanggapi dengan suatu tanda yang mudah dilihat oleh mata manusia: Dia menyembuhkan orang lumpuh itu melalui firman yang keluar dari mulut-Nya, untuk menunjukkan bahwa Dia memiliki kuasa mengampuni dosa melalui firman-Nya. Apa yang diucapkan Yesus ini sama kuatnya dengan kata-kata: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mrk 2:11)

Reaksi negatif para pemuka agama juga menunjukkan bahwa mereka sebetulnya belum siap untuk menerima keselamatan. Mereka telah membangun bagi diri mereka sendiri sebuah “agama yang penuh dengan kebenaran moral”, dan berpikir bahwa hanya mereka sendirilah yang akan berjaya merebut keselamatan dengan mengikuti kehendak mereka sendiri. Kita sering mengalami keraguan untuk menerima sakramen tobat dari seorang imam yang mewakili Kristus (lihat Yoh 20:21-23). Mungkin kita memiliki sikap yang agak mirip dengan para pemuka agama pada zaman Yesus itu. Di batin kita yang paling dalam, kita merasa takut, karena kita selalu kembali dan kembali lagi ke dalam dosa-dosa yang sama. Di kedalaman hati kita mungkin saja ada suatu hasrat ambisius untuk menjadi seorang yang “adil”, sehingga tidak perlu lagi mohon pengampunan dari Allah – artinya “kita bisa dan mampu melakukan apa saja tanpa Allah!”  Ada juga yang mengatakan, “Tetapi, apakah Allah tidak dapat mengampuni dosa-dosaku, bahkan dosa yang paling jelek sekali pun, apabila aku mohon pengampunan dari Dia secara langsung?” Tanggapan saya: “Iman saya mengatakan, bahwa Allah dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya, namun biasanya dalam kehidupan Gereja di mana saya adalah anggotanya, pengampunan atas dosa-dosa yang sungguh serius diperoleh melalui Sakramen Tobat.”

Wajah sejati Allah adalah “‘Kasih yang mengampuni” dan bukanlah “Hakim yang senang menghukum”. Inilah mukjizat besar yang tak henti-hentinya dibuat oleh Allah. Namun untuk menunjukkan bahwa mukjizat yang tak kelihatan ini sungguh riil adanya, maka Yesus menggaris-bawahinya dengan sebuah mukjizat yang berwujud. Inilah inti bacaan Injil hari ini!

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur atas pengampunan dan kesembuhan yang begitu sering Kauberikan kepadaku. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, roh sukacita dan puji-pujian, sehingga segala karunia Roh yang diberikan kepadaku dapat kupersembahkan kembali kepada-Mu lewat pengabdianku kepada sesamaku, semua seturut kehendak-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA” (bacaan tanggal 12-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

Cilandak, 9 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

HIDUP SETURUT KEHENDAK ALLAH

HIDUP SETURUT KEHENDAK ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 11 Januari 2018)

 

Orang Israel maju berperang melawan orang Filistin dan berkemah dekat Eben-Haezer, sedang orang Filistin berkemah di Afek. Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu. Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: “Mengapa  TUHAN (YHWH) membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian YHWH, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.” Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, lalu mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian YHWH semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub; kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu. Segera setelah tabut perjanjian YHWH sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar. Dan orang Filistin yang mendengar bunyi sorak itu berkata: “Apakah bunyi sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?” Ketika diketahui mereka, bahwa tabut YHWH telah sampai ke perkemahan itu, ketakutanlah orang Filistin, sebab kata mereka: “Allah mereka telah datang ke perkemahan itu,” dan mereka berkata: “Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu. Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun. Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!” Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki. Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas. (1Sam 4:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 44:10-11,14-15,24-25; Bacaan Injil: Mrk 1:40-45

Walaupun YHWH sungguh hadir di tengah-tengah pertempuran antara orang Israel dan orang Filistin, pasukan Israel tetap saja kalah dengan begitu banyak korban jiwa. Mengapa Allah membiarkan hal seperti itu sampai terjadi? Apakah Ia tidak cukup memiliki kuat-kuasa untuk melindungi orang Israel? Apakah Ia tidak lagi peduli pada orang Yahudi yang bertempur dan juga keluarga-keluarga mereka?

Apabila kita melihat ke belakang dalam Kitab 1Samuel kita akan menemukan sebuah petunjuk. Bertahun-tahun lamanya, Hofni dan Pinehas – imam-iman yang memainkan suatu peranan utama dalam kekacauan itu – telah menjadikan bait suci YHWH di Silo menjadi sebuah tempat  berbagai tindakan korupsi dan tindakan a susila. Kitab Suci dengan jelas menyebut anak-anak Eli ini sebagai orang-orang dursila (bacalah keseluruhan 1Sam 2:12-36). Mereka menggunakan persembahan kurban kepada YHWH sebagai kesempatan untuk kenikmatan jasmani dlsb. Sebuah petunjuk lainnya terdapat dalam bacaan hari ini. Pada waktu orang Israel kalah dalam pertempuran pertama, mereka bertanya kepada diri sendiri mengapa Allah telah membiarkan hal itu terjadi – namun mereka tidak menanti sampai datang jawaban dari Allah. Barangkali melalui kekalahan mereka Allah mencoba untuk menarik perhatian mereka, untuk menunjukkan sejumlah ketidaksetiaan yang telah merusak hubungan dengan-Nya, seperti halnya yang terjadi dengan Hofni dan Pinehas. Namun, bukannya melakukan pemeriksaan batin, mereka malah menyuruh orang mengambil tabut perjanjian YHWH dari Silo: “Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian YHWH, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita” (1Sam 4:3).

Allah tidak akan mau digunakan oleh manusia, apalagi disalahgunakan! Tabut perjanjian bukanlah dimaksudkan sebagai sebuah jimat yang secara otomatis akan mengusir segala kejahatan. Orang Israel percaya akan kehadiran Allah dalam tabut perjanjian tanpa mau memeriksa dan melihat kehadiran Allah dalam hati dan tindakan-tindakan mereka sendiri. Mereka memperlakukan tabut perjanjian seperti sebuah benda magic namun mereka mengabaikan keharusan untuk menyatukan pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan mereka dengan kehendak Allah. Itulah sebabnya, mengapa mereka dikalahkan oleh orang Filistin.

Inginkah kita menjadi pemenang dalam kehidupan kita? Untuk itu kita harus taat kepada Tuhan! Inginkah kita dibebaskan dari suatu pola dosa atau suatu penolakan yang menyakitkan terhadap seseorang? Untuk itu kita harus menaruh kehidupan kita sejalan dengan kehendak Allah. Dengan demikian kita dapat mengenal dan mengalami perlindungan-Nya dan kuasa-Nya, bukan karena kita melakukan segala sesuatu dengan benar, melainkan karena kita telah menyerahkan kendali atas hidup kita sendiri kepada Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita semua. Allah kita itu bukan seperti seorang yang gila hormat, Ia tidak membutuhkan segala empty gestures dari pihak manusia. Allah senantiasa mencari kesempatan untuk mentransformasikan kita menjadi orang-orang yang telah direncanakan-Nya ketika diciptakan. Untuk itu yang diperlukan dari kita adalah hati yang terbuka bagi-Nya. Oleh karena itu marilah kita menghadap Dia dalam ketaatan kepada-Nya, untuk sepenuhnya mengandalkan diri kita pada kuasa Roh-Nya. Inilah jalan menuju kebebasan yang sejati.

DOA: Bapa surgawi, aku menempatkan hidupku dalam tangan-tangan-Mu, percaya sepenuhnya pada kasih-Mu. Semoga kehendak-Mu terjadi atas diriku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan dengan judul “HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN” (bacaan untuk tanggal 11-1-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 8 Januari 2018 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PUN SEMAKIN SEDIKIT BERBICARA DAN LEBIH BANYAK MEMAKAI WAKTU KITA UNTUK MENDENGARKAN SUARA TUHAN

KITA PUN SEMAKIN SEDIKIT BERBICARA DAN LEBIH BANYAK MEMAKAI WAKTU KITA UNTUK MENDENGARKAN SUARA TUHAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 10 Januari 2018)

 

Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN (YHWH) di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu firman YHWH jarang; penglihatan-penglihatan tidak sering.

Pada suatu hari Eli, yang matanya mulai kabur dan tidak dapat melihat dengan baik, sedang berbaring di tempat tidurnya. Lampu rumah Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur di dalam bait suci YHWH, tempat tabut Allah. Lalu YHWH memanggil: “Samuel! Samuel!”, dan ia menjawab: “Ya, bapa.” Lalu berlarilah ia kepada Eli, serta katanya: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Tetapi Eli berkata: “Aku tidak memanggil; tidurlah kembali.” Lalu pergilah ia tidur. Dan YHWH memanggil Samuel sekali lagi. Samuel pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta berkata: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” tetapi Eli berkata berkata: “Aku tidak memanggil, anakku; tidurlah kembali.” Samuel belum mengenal YHWH; firman YHWH belum pernah dinyatakan kepadanya. Dan YHWH memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Ia pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Lalu mengertilah Eli, bahwa YHWH lah yang memanggil anak itu. Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, YHWH, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya. Lalu datanglah YHWH, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”

Dan Samuel makin besar dan YHWH menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi YHWH. (1Sam 3:1-10,19-20) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,5,7-10; Bacaan Injil: Mrk 1:29-39

Samuel muda sudah diserahkan oleh Hana kepada imam Eli untuk dibimbing oleh sang imam sebagai seorang pelayan YHWH, di tempat bait suci YHWH di Silo. Hana – ibu dari Samuel – menepati nazarnya kepada Allah, bahwa apabila kepadanya dikaruniai seorang anak laki-laki, maka dia akan mempersembahkan anak itu untuk bekerja melayani Allah. Pada bacaan hari ini kita melihat bagaimana Allah memanggil Samuel ke dalam sebuah tugas pelayanan yang lebih –luas-mendalam lagi daripada yang dia atau ibunya telah bayangkan selama itu. Mengikuti nasihat yang diberikan oleh Eli – seorang yang dipenuhi hikmat dan sudah cukup umur – Samuel menanggapi sapaan Allah dengan sederhana: “Berbicaralah, ya YHWH, sebab hamba-Mu ini mendengarkan” (lihat 1Sam 3:9,10).

Kata-kata nasihat imam Eli kepada Samuel adalah hikmat-kebijaksanaan bagi kita juga yang hidup di abad ke-21 ini. Ketika kita memulai hidup spiritual kita, kebanyakan dari kita berada dalam situasi penuh takjub karena mengetahui bahwa kita dapat berbicara kepada Tuhan Allah – Sang Pencipta langit dan bumi – dan Ia mendengar dan menjawab doa-doa kita. Sungguh merupakan suatu berkat untuk datang menghadap hadirat-Nya dan menyampaikan segala kebutuhan, rasa takut, masalah, rasa syukur dan sukacita kita. Ketika untuk pertama kalinya kita sadar akan hal ini, kita cenderung untuk lebih banyak berbicara dan mengajukan permohonan-permohonan kita, seakan-akan kita berkata: “Dengarlah Tuhan, hamba-Mu ini sedang berbicara!” 

Namun dengan bertumbuhnya kehidupan doa kita, maka setahap demi setahap kita pun semakin kurang berbicara dan lebih banyak memakai waktu kita untuk mendengarkan suara Tuhan Allah. Kita memperkenankan Allah sebagai pihak yang membuat rencana kerja-Nya atau agenda-Nya bagi diri kita. Kita percaya bahwa Dia mengetahui berbagai kebutuhan kita, sehingga kita tidak lagi terus-menerus mengemukakan semua itu kepada-Nya. Kita akan bersukacita karena mengalami kehadiran-Nya dalam keheningan; kita merasa takjub dan mulai menyembah-Nya sebagaimana apa adanya Dia. Kita menikmati sabda-Nya dan merenungkannya di bagian terdalam hati kita. Kita memperkenankan Dia mengubah kita, bukannya mencoba agar Dia mengubah situasi yang sedang kita hadapi.

Marilah kita terus mencoba “bereksperimen” mendengarkan Yesus selagi kita berdoa, membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, memilih sebuah tempat yang hening di mana kita dapat menenangkan pikiran dan roh kita. Kita dapat membuat catatan apa saja yang kita dengar. Kemudian kita menentukan bagaimana seharusnya kita bertindak seturut sabda Allah kepada kita itu. Ingatlah bahwa Allah begitu rindu untuk berbicara kepada kita masing-masing, umat-Nya. Ia hanya menantikan kita untuk cukup mengheningkan diri agar dapat mendengarkan suara-Nya. “Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada YHWH” (Mzm 40:5).

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, aku akan hening di hadapan hadirat-Mu dan menanti dengan sabar untuk dapat mendengarkan panggilan-Mu. Berbicaralah, ya Tuhanku dan Allahku. Ucapkanlah sabda kebenaran-Mu kepadaku, sehingga aku sungguh dapat mengenal Engkau, melayani Engkau, dan berbuah demi Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan dengan judul “MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS” (bacaan untuk tanggal 11-1-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 12-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2012. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 7 Januari 2018 [HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEHIDUPAN ITU ADALAH KARUNIA DARI ALLAH YANG SANGAT BERHARGA

KEHIDUPAN ITU ADALAH KARUNIA DARI ALLAH YANG SANGAT BERHARGA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Selasa, 9 Januari 2018)

 

Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN (YHWH), dan dengan hati pedih ia berdoa kepada YHWH sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: “YHWH semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada YHWH untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan YHWH, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk. Lalu kata Eli kepadanya: “Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah diri dari pada mabukmu.” Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur atau pun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan YHWH. Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama.” Jawab Eli: “Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya.” Sesudah itu berkatalah perempuan itu: “Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu.” Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi.

Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan YHWH; kemudian pulanglah mereka ke rumahnya di Rama. Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, YHWH ingat kepadanya. Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada YHWH.” (1Sam 1:9-20) 

Mazmur Tangggapan: 1Sam 2:1,4-7; Bacaan Injil: Mrk 1:21-28 

Dalam sebuah dunia di mana anak-anak yang belum sempat dilahirkan diperlakukan sebagai “barang” yang dapat dibuang begitu saja dan di mana anak-anak yang tak diinginkan dibiarkan hidup tanpa rumah/tempat tinggal dan dibiarkan hidup sebagai anak-anak jalanan di kota-kota, maka kerinduan Hana untuk dapat mempunyai seorang anak laki-laki dapat terasa seakan suatu hembusan angin segar. Inilah seorang pribadi manusia yang begitu menghargai kehidupan sebagai suatu karunia yang sangat berharga dari Allah, sehingga dia berjanji untuk mengabdikan anaknya kembali kepada Allah, hanya apabila dia dapat memperoleh seorang anak laki-laki. Hasratnya untuk memperoleh seorang anak laki-laki begitu mendalam sehingga dia bersedia untuk tidak bersama anaknya itu lagi sepanjang hidupnya, agar supaya anaknya itu dapat melayani Allah dan umat-Nya secara purna-waktu.

Sekarang, marilah kita berpikir sejenak mengenai anak-anak di seluruh dunia yang dibuang, tidak diperhatikan, karena faktor kemiskinan maupun karena memang tidak diinginkan oleh para orangtua mereka. Pikirkanlah juga anak-anak yang terbunuh lewat tindakan aborsi atau yang menderita karena terjebak dalam rumah tangga yang suka melecehkan mereka, entah dalam bentuk KDRT atau pelecehan seksual oleh anggota keluarga yang lebih dewasa. Bukankah dunia kita ini akan sangat berbeda apabila anak-anak tidak dilecehkan, diabaikan, atau dieksploitasi, melainkan diajar tentang kasih Allah, diperhatikan dengan penuh afeksi, dan diperlakukan dengan respek dan hormat yang sepantasnya mereka terima? Dengan demikian berapa banyak lagi kita mempunyai hamba-hamba Allah pada hari ini! Berapa banyak lagi orang-orang – baik perempuan maupun laki-laki – yang produktif, berbela-rasa dan berkepribadian stabil yang akan memberikan kontribusi bagi kebaikan Gereja maupun keamanan masyarakat dunia!

Paus Santo Yohanes Paulus II menulis: “Apabila keluarga begitu penting bagi peradaban kasih, maka hal itu disebabkan oleh kedekatan dan intensitas khusus dari ikatan-ikatan yang terwujud di antara pribadi-pribadi dan generasi-generasi di dalam keluarga” (Letters to Families, 1994). Allah menginginkan umat manusia menjadi sebuah keluarga dari keluarga-keluarga yang bersatu dalam diri-Nya. Sebaliknya, Iblis senantiasa berupaya untuk memecah-belah dan menghancurkan kesatuan dan persatuan umat manusia. Target/sasaran utama si Iblis adalah kehidupan keluarga. Iblis mengetahui, bahwa apabila dia dapat menyerang sebuah generasi anak-anak secara keseluruhan, maka dia akan secara serius membawa dampak buruk atas masa depan Gereja dan dunia.

Kita harus senantiasa mengingat, bahwa pertempuran guna melindungi generasi ini hanya dapat diperjuangkan melalui kuasa Roh Kudus.dengan menggunakan senjata-senjata spiritual (lihat Ef 6:10-18). Allah memanggil kita untuk secara berkelanjutan melakukan doa-doa pengantaraan (syafaat) untuk anak-anak yang tidak sempat dilahirkan karena aborsi, juga untuk anak-anak yang hidup sekarang, yang tidak diinginkan, yang ditelantarkan, atau korban berbagai macam pelecehan. Melalui doa-doa yang dilakukan dengan tekun –  seperti dicontohkan oleh Hana dalam bacaan hari ini – kita pun dapat melawan kegelapan yang begitu pekat ini, dan ikut ambil bagian dalam menyelamatkan suatu generasi secara keseluruhan.

DOA: Tuhan Allah, Engkau adalah pemberi seluruh kehidupan. Kami mohon, lindungilah semua anak-anak. Berkatilah dan kuatkanlah semua orangtua. Biarlah api Roh-Mu datang ke atas generasi ini sehingga mereka dapat bertumbuh dalam hikmat-kebijaksanaan dan semangat untuk mengikuti Putera-Mu terkasih, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:21-28), bacalah tulisan dengan judul “SUATU AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA” (bacaan tanggal 9-1-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 7 Januari 2018 [HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ENGKAULAH ANAK-KU YANG TERKASIH

ENGKAULAH ANAK-KU YANG TERKASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Pembaptisan Tuhan – Senin, 8 Januari 2018)

Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11) 

Bacaan Pertama: Yes 55:1-11 atau Kis 10:34-38; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: 1Yoh 5:1-9

“Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Mrk 1:11) 

Kata-kata ini terdengar pada saat pembaptisan Yesus, tidak lama sebelum Ia mengawali pelayanan-Nya di muka umum. Ada yang mengatakan  bahwa mungkin saja kata-kata yang sama terdengar-ulang namun dengan nada suara yang lebih menyedihkan, pada saat akhir karya pelayanan Yesus, yakni ketika Dia terpaku di kayu salib, lalu “menghembuskan napas terakhir-Nya” (Mrk 16:37). Yang mau dikemukakan di sini adalah bahwa sepanjang hidup-Nya Yesus sungguh adalah “Anak terkasih Bapa dan sungguh berkenan kepada-Nya”.

Itulah mengapa tidak hanya Perjanjian Baru tetapi juga Perjanjian Lama menunjuk kepada Yesus dan memandang kepada-Nya. Ketika untuk pertama kalinya dia berkhotbah di depan Kornelius dan keluarganya, Petrus memproklamasikan martabat ketuhanan Yesus di atas segalanya – bagaimana Allah mengurapi-Nya dengan Roh Kudus dan kuasa (Kis 10:36-38). Namun jauh sebelum Petrus, nabi Yesaya dengan fasihnya telah bernubuat mengenai Sang Mesias sebagai seseorang yang dipilih Allah dan kepadanya Dia berkenan: “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa”  (Yes 42:1).

Bagaimana dengan kita sendiri? Kita juga perlu memandang Yesus, memusatkan hidup kita pada-Nya dan belajar “Siapa Dia sebenarnya”. Terlalu sering pusat hidup kita adalah diri kita sendiri, bahkan dalam spiritualitas kita …… kita berusaha untuk menjadi lebih baik, lebih suci, lebih penuh sukacita. Namun sukacita Bapa surgawi terletak pada Yesus; sukacita Roh Kudus adalah untuk mengajar kita siapa Yesus itu. Yesus adalah sungguh dan sepenuhnya manusia, namun Ia juga sungguh dan sepenuhnya ilahi. Dalam kemanusiaan-Nya, Yesus adalah contoh sempurna bagaimana kita seharusnya menjadi – hidup sepenuhnya, terbuka sepenuhnya kepada Allah, sadar sepenuhnya tentang potensi kita sebagai mahluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26).

Yohanes Pembaptis tahu bahwa Yesus berbeda, namun memerlukan Roh Kudus untuk mengajarkan kepadanya sampai dia dapat mengatakan: “Ia inilah Anak Allah” (Yoh 1:34). Para murid hidup beberapa tahun dengan Yesus dan hanya secara perlahan-lahan mereka pun baru menyadari apa yang membuat Dia begitu berbeda dengan mereka, dalam cara berpikir, berkata-kata dan bertindak. Namun hanya setelah Roh Kudus turun atas diri mereka pada hari Pentakosta-lah para murid mampu untuk mulai berkhotbah kepada orang-orang lain mengenai “Siapa Yesus itu” (Kis 2:1-40).

Selagi kita merayakan turun-Nya Roh Kudus pada waktu pembaptisan Yesus, baiklah kita berdoa agar supaya Roh Kudus turun ke atas diri kita secara baru, bahwa Dia akan memperdalam perwahyuan akan Yesus, kepada siapa Allah berkenan. Baiklah kita mohon kepada Roh Allah untuk mendaftarkan kita ke dalam Sekolah Kristus, sehingga kita dapat belajar dari Yesus sang Guru. Kita mau mohon agar ke-aku-an kita semakin mengecil sehingga dengan demikian Kristus pun dapat semakin meningkat besar dalam diri kita. Pada suatu saat kelak, ketika Bapa surgawi memandang kita, semoga Dia melihat kita sebagai para murid Yesus yang sudah menjadi seperti Anak-Nya sendiri, dan kita pun berkenan kepada-Nya. 

DOA: Allah yang Mahakasih dan Penyayang, tolonglah kami agar dapat menjadi murid sejati dari Anak-Mu, Yesus Kristus sehingga kami dapat selalu mengikuti kehendak-Mu yang kudus. Berikanlah kepada kami kekuatan untuk mengikuti panggilan-Mu sehingga kebenaran-Mu dapat berdiam dalam hati kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “PEMBAPTISAN TUHAN YESUS” (bacaan tanggal 8-1-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

Cilandak, 4 Januari 2018 [Peringatan S. Angela dr Foligno, Ordo III S. Fransiskus) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ORANG-ORANG MAJUS DATANG MENGHADAP SANG RAJA SEGALA RAJA

ORANG-ORANG MAJUS DATANG MENGHADAP SANG RAJA SEGALA RAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN – Minggu, 7 Januari 2018)

[HARI ANAK MISIONER SEDUNIA]

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur  ke Yerusalem dan bertanya-tanya, “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Ketika Raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Lalu dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, kemudian dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya, “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari engkalah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka kapan bintang itu tampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya, “Pergi dan carilah Anak itu dengan teliti dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika melihat bintang itu, mereka sangat bersukacita. Mereka masuk ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, dupa dan mur. Kemudian karena diperingatkan dalam mimpi, syupaya jangan kembali kepada Herodes, pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain. (Mat 2:1-12) 

Bacaan Pertama: Yes 60:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,10-13; Bacaan Kedua: Ef 3:2-3a,5-6

Inkarnasi Putera Allah begitu agung, di mana ciptaan Allah seperti sebuah bintang pun dijadikan saksi oleh-Nya atas peristiwa tersebut. Bintang terang itu muncul di langit pada malam hari, menandakan pemenuhan janji Allah untuk mengutus seorang Juruselamat ke tengah-tengah umat manusia di dunia.

Di sini kita dapat melihat bahwa para ahli bintang non-Yahudi yang berada di luar perjanjian dengan YHWH-Allah juga dilibatkan oleh-Nya. Hati mereka digerakkan oleh-Nya agar terdorong untuk mencari Raja yang baru ini. Walaupun mereka belum sampai memahami sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi dalam peristiwa kelahiran Anak laki-laki ini, apalagi di tengah keluarga sepasang suami-istri dari Galilea yang sederhana dan miskin. Oleh karunia-iman yang penuh misteri, para majus ini mengenali otoritas yang ada dalam diri sang Anak. Mereka sujud menyembah Dia dengan khusyuk. Setting yang penuh kesederhanaan dari tempat tinggal keluarga kecil itu dan kedinaan yang sederhana dari ayah dan ibu Anak ini memang bagaikan awan yang menutupi martabat rajawi dari sang Anak, namun Allah membuat para majus itu mampu melihat kebenaran yang sesungguhnya, dan mereka dipenuhi sukacita (lihat Mat 2:10-11).

Hari ini adalah kesempatan sempurna bagi kita masing-masing untuk mohon kepada Roh Kudus agar Dia sudi membuka mata (hati) kita  agar mampu melihat Yesus dengan suatu cara yang baru. Dia bukan lagi seorang anak kecil yang sederhana. Dia adalah seorang Pribadi yang hidup di dunia sebagai seorang manusia penuh, menderita, mati, bangkit lagi, dan sekarang memerintah di sebelah kanan Allah dalam kemuliaan dan keagungan. Ia adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuan, dan Dia telah mencurahkan Roh Kudus-Nya guna memberikan pewahyuan mengenai Diri-Nya, sehingga kita pun akan sujud menyembah-Nya.

Yesus dari Nazaret mengajar kita, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, carilah, maka kamu akan mendapat” (Mat 7:7). Para majus jelas mengalami kebenaran dari sabda Yesus ini. Mereka menyelidiki dan mencari makna dari bintang terang itu, dan Allah membimbing mereka sampai berjumpa dengan Yesus sendiri. Marilah kita dengan sungguh mencari Yesus setiap hari, dan mendengarkan bisikan suara Roh Kudus seserius para Majus itu. Dengan demikian, sebagaimana para majus itu, kita pun akan dipenuhi dengan sukacita karena kita telah melihat Yesus sebagaimana Dia sesungguhnya.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuan. Dengan segala kerendahan hati aku menempatkan diriku sepenuhnya di bawah otoritas-Mu, ya Tuhan. Aku sujud menyembah-Mu sebagai Tuhan dan Juruselamatku, sekarang dan selama-lamanya. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 2:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “HARI RAYA EPIFANI” (bacaan tanggal 7-1-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 4 Januari 2018 [Peringatan S. Angela dr Foligno, Ordo III S. Fransiskus]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES

YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Sabtu, 6 Januari 2018

Keluarga OFMCap.: Peringatan B. Didakus Yosef dr Sadiz, Imam

HARI SABTU IMAM 

Ia memberitakan demikian, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, langsung Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga, “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan.”(Mrk 1:7-11) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20; Bacaan Injil Alternatif: Luk 3:23-38 

Pada waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Ia melihat langit terkoyak dan misteri “Allah Tritunggal Mahakudus” (Trinitas) dibuat menjadi nyata. Ia mendengar suara Bapa-Nya yang mencurahkan berkat-Nya atas diri-Nya, dan Roh Kudus seperti burung merpati turun ke atas diri-Nya.

Yesus dari Nazaret seorang manusia tanpa dosa (lihat Ibr 4:15), mengidentifikasikan diri-Nya dengan manusia berdosa dengan cara menerima pembaptisan-tobat. Karena ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa bagi diri-Nya, karena kemauan-Nya untuk memeluk dosa-dosa kita dan menghancurkan semua itu pada kayu salib, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Putera Allah yang setia. Yesus menunjukkan bahwa diri-Nya adalah hamba Tuhan yang kematian-Nya akan berakibat terwujudnya pencurahan Roh Kudus atas diri kita semua.

Setelah dibenamkan dalam kehidupan yang telah “ditakdirkan” oleh Allah bagi diri-Nya, Yesus masuk ke tengah dunia memproklamasikan Kerajaan Allah dan membuat banyak mukjizat serta tanda heran lainnya. Karena kelimpahan Roh dalam diri-Nya, Yesus mampu untuk melakukan segala keajaiban ini dan untuk memanifestasikan kasih Allah secara begitu lengkap. Ia menyiapkan para pengikut-Nya untuk menerima Roh Kudus yang sama.

Kita yang telah dibaptis ke dalam Kristus telah menerima Roh Kudus ini. Kita pun dapat mendengar Bapa surgawi berkata tentang diri kita masing-masing: “Ini adalah anak-Ku yang terkasih.” Kita dapat mengenal dan memberi kesaksian tentang kasih dan kuat-kuasa Allah yang aktif dalam kehidupan kita. Pater Raniero Cantalamessa OFMCap., pengkhotbah untuk rumahtangga Kepausan pada masa Paus Yohanes Paulus II (sekarang seorang santo) menulis dalam sebuah bukunya: “Kita telah diselamatkan sehingga pada gilirannya kita akan mampu untuk melakukan – melalui rahmat dan iman – pekerjaan-pekerjaan baik yang Allah telah persiapkan sebelumnya bagi kita yang adalah buah-buah Roh” (Mary Mirror of the Church, hal. 71). Satu lagi: “Api Roh diberikan kepada kita pada saat Baptisan. Kita harus membuang abu yang telah membuat-Nya kurang dapat bernapas, agar dengan demikian dapat berkobar lagi dan membuat kita mampu mengasihi” (Life in the Lordship of Jesus Christ, hal. 154).

Hari ini, marilah kita memeriksa kembali baptisan kita dalam terang pembaptisan Yesus bagi kita. Kita dibaptis ke dalam kematian Yesus. Apabila kita mati bersama Kristus, maka kita juga bangkit bersama dengan-Nya, diampuni dan dipenuhi dengan kehidupan ilahi. Semuanya telah diberikan kepada kita dalam Kristus! Yang kita harus lakukan hanyalah dari hari ke hari menyerahkan diri kita kepada Tuhan dan mencari pekerjaan Roh dalam kehidupan kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa, Engkau telah memaklumkan Kristus sebagai Putera-Mu yang terkasih, pada waktu Dia dibaptis di Sungai Yordan, sementara Roh Kudus turun atas diri-Nya. Kami mohon, semoga kami selalu setia sebagai anak-anak-Mu, karena sudah dilahirkan kembali dalam air dan Roh Kudus. Kami menghaturkan doa ini dalam nama Yesus Kristus, Putera-Mu yang hidup bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:7-11), bacalah tulisan dengan judul “PADA SAAT PEMBAPTISAN TUHAN YESUS” (bacaan tanggal 6-1-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 18-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 3 Januari 2018 [Peringataan Nama Yesus Yang Tersuci] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS