UCAPAN BAHAGIA DAN PERINGATAN DARI YESUS

UCAPAN BAHAGIA DAN PERINGATAN DARI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Krisostomus, Uskup Pujangga Gereeja – Rabu, 13 September 2017)

 

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata,

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.

Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.

Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.

Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.

Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”  (Luk 6:20-26) 

Bacaan Pertama: Kol 3:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,11-13ab 

Apabila seseorang mengatakan, menjadi miskin, lapar atau dibenci orang merupakan suatu berkat, maka kita akan berpikir orang ini sungguh tidak waras. Akan tetapi ini memang kata-kata Yesus sendiri, dan Dia hanya mengatakan kebenaran-kebenaran yang dipelajari-Nya dari pengalaman hidup-Nya sendiri. Yesus sendiri lahir di tengah-tengah sebuah keluarga miskin dan ketika sudah besar Dia bekerja sebagai tukang kayu biasa. Pada waktu Yesus berpuasa, Dia tahu benar apa artinya mengalami kelaparan. Yesus tahu apa artinya rasa duka ketika Dia menangisi kedegilan hati orang-orang terhadap Bapa-Nya. Dan seringkali ketika orang-orang melihat kemurnian hati-Nya, mereka malah membenci-Nya.

Namun di tengah-tengah penderitaan-Nya, Yesus tetap berada di hadirat Bapa-Nya. Dia tidak pernah tanpa penghiburan dari Bapa-Nya. Yesus tetap “diberkati” karena Dia tidak pernah lepas fokus dari sumber damai-Nya. Yesus selalu menatap Bapa-Nya, sebagai sumber hidup-Nya, sukacita-Nya dan harapan-Nya, bukan dengan memandang hal-hal lain yang ada di sekeliling-Nya.

Seruan “celaka” yang diucapkan Yesus tidak terlalu menarik – dan seharusnya memang begitu. Tujuannya adalah agar kita membelokkan hati kita menjauh dari segala hasrat yang penuh kepentingan diri, kemudian hati itu diarahkan kepada Allah sehingga kita dapat menerima damai dan cintakasih yang dimiliki-Nya bagi kita. Allah menginginkan kita semua percaya bahwa kita dapat menjadi seperti Yesus; bahwa kita dapat berjalan dalam perlindungan Bapa seperti Yesus juga. Kalau kita mengakarkan diri dalam Yesus, maka kita pun akan memiliki martabat dan cintakasih yang dimiliki Yesus. Tidak ada yang akan menggoyangkan kita. Apabila hati kita menatap Allah dan kerajaan-Nya, maka semua yang lain menjadi sekunder ….. tidak mungkin menjadi yang paling utama lagi.

Marilah kita tidak merasa susah apakah kita miskin, lapar, sedih atau dibenci orang. Seperti juga Yesus, kita dapat berpaling kepada Allah dan kepada orang-orang lain. Dalam penderitaan bagi Yesus, Bapa akan menjaga kita penuh perhatian. Kita dapat memberikan hati kita kepada Yesus dan menerima damai-sejahtera dan cintakasih-Nya, sehingga tidak ada siapa/apa pun yang dapat menggoncang iman kita. Kalau kita menatap Allah dan kerajaan-Nya, tidak ada siapa/apa pun yang dapat merebut tempat kita dalam Kristus; tidak ada siapa/apa pun yang dapat mencampakkan kita dari pemeliharaan Allah yang penuh cintakasih.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku memusatkan pandanganku pada Yesus. Tolonglah aku agar dapat melihat berkat-berkat Allah di tengah-tengah perjuangan hidupku, baik perjuangan hidup dalam diriku, perjuangan hidup dalam keluargaku, perjuangan hidup dalam lingkungan dan masyarakatku, dan perjuangan dalam hidup berbangsa dan bernegara; selagi aku berbalik kepada-Nya, semakin dekat dan dekat lagi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “HARTA SESUNGGUHNYA YANG DISEDIAKAN BAGI KITA DALAM KRISTUS” (bacaan tanggal 13-9-17) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 17-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-9-16 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 11 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

HARTA SESUNGGUHNYA YANG DISEDIAKAN BAGI KITA DALAM KRISTUS

HARTA SESUNGGUHNYA YANG DISEDIAKAN BAGI KITA DALAM KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Krisostomus, Uskup Pujangga Gereja – Rabu, 13 September 2017)

 

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata,

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.

Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.

Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.

Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.

Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”  (Luk 6:20-26) 

Bacaan Pertama: Kol 3:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,10-13 

Manakala kita membaca ajaran Yesus, baiklah kita memegang satu kebenaran dalam pikiran kita: Yesus tidak pernah mengajarkan teori yang samar-samar. Ia selalu mengajar berdasarkan pengalaman hidup-Nya sendiri di hadapan hadirat Allah Bapa dan mencari segala jalan untuk menyenangkan Allah. Dengan demikian, ketika Yesus berkata bahwa “orang yang miskin”, “orang yang lapar”, “orang yang menangis/bersedih hati”, “orang yang dibenci”, “orang yang dianiaya/ dikucilkan” adalah orang-orang yang berbahagia (terberkati), Ia tidak sekadar mempresentasikan suatu agenda teoritis tentang redistribusi kekayaan. Ia berbicara tentang kehidupan orang-orang yang hidup dalam hadirat Allah dan penuh kesadaran akan kehadiran Allah itu, dan seluruh hidupnya dibentuk oleh interaksi dan persekutuan dengan Allah.

Dari pengalaman hidup-Nya sendiri Yesus mengetahui benar apa artinya menjadi orang miskin namun pada saat bersamaan memiliki kerajaan Allah sebagai warisan. Kepada para murid-Nya Yesus berkata: “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk 9:58). Ia memilih hidup miskin-sederhana karena hati-Nya ditujukan pada sasaran-sasaran yang jauh lebih tinggi dan kaya: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33). Ia berdoa semalam-malaman (Luk 6:12), berpuasa selama 40 hari dan 40 malam (Mat 4:2) sehingga diri-Nya menjadi lapar, agar supaya Ia dapat berada bersama Bapa-Nya dalam doa, mencari kehendak-Nya dan menerima kasih-Nya.

Dalam kasus Yesus mengusir roh jahat dari seorang anak yang bisu (yang tidak mampu disembuhkan oleh para murid-Nya; Mrk 9:14-28), Ia sedih dan meratapi ketidakpercayaan para murid-Nya: “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” (Mrk 9:19). Ia juga mengeluh karena penolakan Yerusalem terhadap cintakasih-Nya: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Mat 23:37). Hati Yesus begitu penuh dengan hasrat untuk memberikan kepada para murid-Nya segalanya yang telah diberikan Bapa surgawi kepada-Nya. Ia juga tahu apa artinya menjadi orang yang dibenci, dikucilkan, dipandang hina, dicerca, dicaci-maki dlsb. Ia tahu, seperti para nabi sebelum Dia, bahwa diri-Nya akan dianiaya dan kemudian dibunuh, karena kata-kata-Nya menghantam kekerasan dosa dalam hati manusia. Namun demikian, sebagai para nabi sebelum Dia, diri-Nya tidak dapat berhenti berbicara dengan terus terang karena didorong oleh kasih Allah bagi umat-Nya yang begitu besar.

Kehidupan yang diwujudkan oleh Yesus adalah kehidupan yang sama yang ditawarkan-Nya kepada kita. Pada permukaannya ucapan-ucapan “bahagia” ini dapat terasa sangat mahal atau tidak memiliki daya tarik, namun apabila kita melihatnya secara lebih mendalam maka diungkapkanlah harta sesungguhnya yang disediakan bagi kita dalam Kristus. Kesedihan, penganiayaan, rasa lapar dll. yang digambarkan oleh Yesus dalam bacaan Injil diberikan  kepada kita sesuai dengan persepsi kita akan cintakasih dan kerahiman Allah. Allah hanya akan meminta dari kita apa yang kita siap berikan kepada-Nya secara ikhlas dalam kasih rasa penuh syukur. Marilah kita kita mengkomit diri kita masing-masing pada janji besar yang telah diberikan Yesus kepada kita: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu” (Luk 12:32).

DOA: Tuhan Yesus, biarlah pola dan langkah hidup-Mu menjadi pola dan langkah hidupku. Biarlah hatiku menjadi seperti hati-Mu. Terima kasih, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 6:20-26), bacalah tulisan untuk tanggal 7-9-11 yang berjudul “UCAPAN BAHAGIA DAN PERINGATAN DARI YESUS” (bacaan tanggal 13-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 11 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN OLEH YESUS

MUKJIZAT DAN PENYEMBUHAN OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Selasa, 12 September 2017) 

Pada hari-hari itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yan disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan. Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu. (Luk 6:12-19)

Bacaan Pertama: Kol 2:6-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:1-2,8-11

“Semua orang banyak itu berusaha menyentuh Dia, karena ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu” (Luk 6:19).

Andaikan ada seorang mahasiswa S-2 teologi sedang melakukan survei dalam rangka mempersiapkan tesisnya tentang penyembuhan dan mukjizat Yesus Kristus. Andaikan anda adalah salah seorang responden dalam survei si mahasiswa. Pertanyaan-pertanyaan dalam kuestioner-nya yang akan anda jawab adalah sebagai berikut: Apabila anda sedang sakit dan memerlukan penyembuhan, apakah yang akan anda lakukan?

  • Berdoa agar terjadi mukjizat dan percaya dengan kuat bahwa hal itu akan terjadi?
  • Berdoa agar terjadi mukjizat namun tetap berhati-hati agar anda tidak kehilangan harapan sama sekali?
  • Tidak tahu apakah anda harus berdoa untuk penyembuhan, tetapi menanggung penderitaan anda dengan penuh kesabaran?

Bila anda memilih opsi kedua atau ketiga, barangkali anda tergolong mayoritas. Budaya masyarakat modern kelihatannya berpandangan bahwa penyembuhan dan mukjizat tidaklah sama pada zaman modern ini dengan penyembuhan dan mukjizat pada zaman Yesus. Bahkan dalam banyak lingkungan Kristiani, diasumsikan bahwa jalan terbaik adalah untuk menderita melalui sakit sebagai silih atas dosa-dosa kita.

Ajaran-ajaran Gereja Katolik dan Kitab Suci, keduanya sangat positif dalam membuat pernyataan tegas bahwa penyembuhan-penyembuhan dan mukjizat-mukjizat harus menjadi bagian dalam kehidupan Kristiani. Ketika Yesus naik ke surga, Dia mewariskan kepada kita sakramen-sakramen dan memberikan kepada kita masing-masing Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Ini adalah sesuatu hal yang menakjubkan – kombinasi yang dapat memberikan kita pengharapan besar untuk penyembuhan dan rahmat.

Allah ingin kita mengetahui bahwa diri-Nya tidak senang dengan sakit-penyakit yang diderita siapa saja. Dia ingin kita mengetahui bahwa bahkan dalam situasi-situasi di mana penyembuhan fisik tidak terjadi, hal itu bukanlah disebabkan oleh kutukan-Nya atau ketidakmampuan-Nya untuk menyembuhkan. Kita tidak akan pernah memahami misteri penderitaan, paling sedikit tidak dalam kehidupan ini. Akan tetapi, kita dapat mengatakan bahwa bilamana kita tidak disembuhkan, Allah mencurahkan rahmat berlimpah yang tidak hanya akan menopang kita dalam penderitaan sakit kita, melainkan juga membawa kita ke dalam suatu keintiman yang lebih mendalam dengan Yesus.

Sekarang, apakah kita (anda dan saya) mempunyai suatu kebutuhan akan penyembuhan? Apakah ada seseorang yang dekat dengan kita membutuhkan sentuhan yang menyembuhkan dari Tuhan Yesus? Kalau demikian halnya, marilah kita merenungkan lagi dengan serius ayat terakhir dari bacaan Injil hari ini: “Ada kuasa yang keluar dari Dia dan menyembuhkan semua orang itu” (Luk 6:19). Yesus itu penuh dengan kuat-kuasa. Dia tidak pernah akan meninggalkan kita. Dalam iman dan dengan penuh rasa percaya, marilah kita menghadap Dia dan memperoleh setiap rahmat dan berkat yang ada pada-Nya untuk diberikan kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, sudah sekian lama aku membutuhkan penyembuhan dari-Mu. Datanglah, ya Tuhan, dan bebaskanlah aku. Aku percaya kepada-Mu dan menempatkan pengharapanku dalam janji-janji-Mu yang besar. Datanglah Yesus dan sembuhkanlah diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:12-19), bacalah tulisan yang berjudul “PERANAN SANGAT PENTING DARI DOA DALAM HIDUP KITA” (bacaan tanggal 12-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 11 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MANAKAH YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?

MANAKAH YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 11 September 2017) 

Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Orang itu pun bangun dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Kemarahan mereka meluap, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. (Luk 6:6-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:24 – 2:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:6-7,9

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat terus mengamati gerak-gerik Yesus supaya dapat memperoleh tanda-tanda bahwa Dia melanggar hukum, khususnya yang berkaitan dengan hari Sabat. Banyaknya peraturan sehubungan dengan Sabat membuat para pemuka agama Yahudi tersebut memegang kendali sepenuhnya atas hal-ikhwal (pernak-pernik?) hari Sabat. Mentalitas seperti ini membatasi penyembahan kepada Allah yang menyentuh hati. Yesus, “Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5), akan menunjukkan apa itu sesungguhnya kebaktian/persembahan hari Sabat.

Yesus tidak dapat diintimidasi oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Pendekatan Yesus terhadap upaya memelihara kesucian hari Sabat didasarkan secara kuat pada keyakinan bahwa kasih kepada Allah tidak dapt dipisahkan dari kasih kepada sesama manusia (Luk 10:25-37). Pandangan Yesus ini mencerminkan keyakinan-Nya bahwa ketiadaan hormat kita kepada sesama manusia tidak dapat menghormati Allah.  Juga adalah suatu kejahatan apabila kita membiarkan penderitaan/kesengsaraan berlangsung terus, padahal hal tersebut dapat dihentikan (bahkan pada hari Sabat) dengan suatu perbuatan baik.

Orang-orang Farisi memasukkan Yesus dalam kategori “penyembuh”, dan mereka mengamat-amati Yesus secara ketat, kalau-kalau Dia menyembuhkan pada hari Sabat (Luk 6:7). Tafsir mereka atas hukum memperkenankan intervensi medis pada hari Sabat, hanya untuk kelahiran, penyunatan, dan penyakit mematikan. Melakukan penyembuhan pada hari Sabat untuk alasan apa pun kecuali atas penyakit yang mematikan seperti yang dilakukan oleh Yesus jelas merupakan pelanggaran terang-terangan atas istirahat hari Sabat.

Yesus bukanlah Yesus jika Dia tidak mengetahui isi hati dari orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Yesus memerintahkan orang yang mati tangannya itu untuk maju ke depan, jadi sesungguhnya mengkonfrontir para pemuka agama Yahudi itu ketika Dia bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6:8-9). Dalam pikiran Yesus, apa saja yang membiarkan seseorang tetap menderita tidaklah menghormati Allah, dan Allah seharusnya dihormati, teristimewa pada hari Sabat. Jadi, Yesus memerintahkan orang itu untuk mengulurkan tangannya yang lumpuh. Ia melakukannya sesuai perintah Yesus itu, dan ia pun disembuhkan. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat menjadi marah besar karena sekali lagi Yesus menunjukkan bahwa “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Sekarang marilah kita (anda dan saya) bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah hati dan pikiran kita juga terbelenggu oleh sikap-sikap restriktif menyangkut pokok-pokok berikut ini: Allah, penyembahan kepada-Nya, keluarga, pekerjaan, relasi di dalam komunitas kita? Apakah kita menghayati atau menjalani kehidupan kita dengan cara-cara yang menghormati Allah dan sesama? Ataukah kehidupan spiritual kita sudah menjadi layu seperti tangan orang itu? Yesus, dengan kasih dan bela-rasa, minta kepada kita untuk hidup seperti Dia hidup, … dalam kasih dan bela-rasa.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat melihat kebutuhan kami akan penyembuhan-Mu dalam kehidupan kami. Semoga terang-Mu menyinari diri kami sehingga kami dapat mengasihi Allah dan sesama. Semoga kami Kaujadikan hidup dan bergembira dalam Engkau, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “LAGI-LAGI YESUS MENYEMBUHKAN ORANG PADA HARI SABAT” (bacaan tanggal 11-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 7 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

HAL IKHWAL MENASIHATI SESAMA SAUDARA

HAL IKHWAL MENASIHATI SESAMA SAUDARA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII [TAHUN A], 10 September 2017) 

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa  yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Lagi pula Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:15-20) 

Bacaan Pertama: Yeh 33:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-9; Bacaan Kedua: Rm 13:8-10

Yesus mengajarkan murid-murid-Nya bagaimana mereka masing-masing seharusnya menanggapi suatu situasi di mana seorang anggota lain dari jemaat/Gereja/komunitas iman  berbuat dosa. Keprihatinan utama Yesus bukanlah untuk menghukum si pendosa, melainkan “mendapatkan kembali” orang yang bersalah itu: “Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali” (Mat 18:15).

Pertama-tama, upaya untuk mencapai rekonsiliasi harus dibuat atas dasar 0-0, artinya one-to-one basis, lalu dengan bantuan sepasang saudari atau saudara; kalau belum juga mendengarkan, maka melalui pelayanan Gereja sendiri. Pada setiap tahap, belas kasih harus dilihat sebagai lebih penting (berdiri lebih tinggi) daripada penghakiman. Harus tersedia ruangan untuk pelayanan penyembuhan dari Tuhan, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

Kita semua tahu bahwa ada kuasa besar dalam doa, hikmat besar dalam Kitab Suci, dan perlindungan besar dalam ajaran Gereja. Namun sayangnya seringkali kita membuka diri kita bagi jalan-jalan menuju rekonsiliasi ini hanya pada menit-menit terakhir. Mengapa mesti begini? Yesus menekankan agar kita berbelas kasihan kepada yang telah bersalah. Hal ini dapat diartikan  bahwa Dia mengajar kita agar meninggalkan keinginan kita untuk membalas dendam dan menuntut keadilan yang keras dan tanpa kompromi terhadap orang yang telah bersalah, teristimewa orang yang bersalah kepada diri kita sendiri.

Seluruh pesan Injil didasarkan pada panggilan untuk mengasihi setiap orang secara penuh sebagaimana Allah telah mengasihi kita semua, termasuk mereka yang telah menyakiti kita. Bagian dari Injil Matius ini (Mat 18:10-19:12) dipenuhi dengan pengajaran dan/atau nasihat-nasihat Yesus yang menekankan cintakasih radikal yang sedemikian. Yesus memerintahkan kita untuk tidak menganggap rendah “anak-anak kecil” Allah (Mat 18:10). Ia mengajarkan “perumpamaan tentang domba yang hilang”, yang menggambarkan upaya “tidak logis” seorang gembala untuk mencari seekor domba yang hilang, namun dengan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor yang masih terkumpul sebagai satu kawanan (Mat 18:12-14). Ayat terakhir dari perikop ini memang menunjukkan bahwa perikop ini tak terlepaskan dari perikop yang sedang kita soroti hari ini: “Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak itu hilang” (Mat 18:14). Dalam rangkaian perikop ini, Yesus bahkan mengajar kita untuk mengampuni orang-orang berdosa sebanyak “tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:21-35). Dalam semua pengajaran ini, Yesus seakan “memohon” kepada kita untuk menjalin relasi kita dengan sesama berdasarkan belas kasih yang dilimpah-limpahkan Allah, pada waktu Dia memberikan Putera-Nya yang tunggal untuk melakukan “inaugurasi” sebuah “kerajaan kasih” yang baru.

Sebagai “anak-cucu” Adam dan Hawa, kita tidaklah kebal terhadap kecenderungan-kecenderungan untuk berpikir dan bertindak di mana diri kita, kepentingan kitalah yang menjadi pusat segalanya, bukan Yesus Kristus. Namun demikian Yesus telah mengajarkan kita agar memeriksa cara kita bereaksi dalam situasi-situasi sedemikian. Apakah kecenderungan kita yang pertama adalah mencari hikmat dari Roh Allah sendiri dan nasihat dari Gereja. Atau, apakah dengan cepat kita  menghukum orang “demi keadilan”? Apakah kita mengabaikan, bahkan membuang jauh-jauh, segala penghiburan yang kita rasakan dari doa dan bacaan serta permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci; sehingga hanya mengandalkan diri pada bantuan ilmu-ilmu seperti psikologi? Memang kita tidak boleh mengabaikan begitu saja bantuan-bantuan yang dapat disumbangkan oleh perkembangan terakhir dalam bidang hukum dan psikologi. Akan tetapi, kita tidak pernah boleh memandang rendah kuasa kasih Allah untuk menstransformasikan tragedi dosa menjadi suatu kesempatan untuk penebusan …… kesempatan untuk memperoleh keselamatan dari-Nya.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Setiap saat aku “diserbu” oleh begitu banyak masalah, jagalah agar aku tetap setia dalam iman-kepercayaanku, sementara aku tetap berjalan ke depan untuk memperoleh kepenuhan keselamatan dari-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “TEGURLAH DIA DI BAWAH EMPAT MATA” (bacaan tanggal 10-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 7 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARI SABAT SESUNGGUHNYA ADALAH HARI KEBEBASAN DAN SUKACITA

HARI SABAT SESUNGGUHNYA ADALAH HARI KEBEBASAN DAN SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII –  Sabtu, 9 September 2017)

Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan mereka dan memakannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam? Kata Yesus lagi kepada mereka, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6:1-5)

Bacaan Pertama: Kol 1:21-23 Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-4,6,8

Lukas menulis Injilnya teristimewa bagi orang-orang dengan latar belakang Yunani, yang tidak memiliki pemahaman atau sedikit saja memiliki pemahaman tentang tradisi Yahudi. Oleh karena itu, tidak mengherankanlah apabila Lukas sering menekankan konfrontasi-konfrontasi Yesus dengan orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi lainnya yang pada umumnya berlawanan paham dengan sang Rabi dari Nazaret. Dengan demikian ketika orang-orang Farisi menuduh para murid Yesus melanggar peraturan hari Sabat, maka dengan cepat Yesus membela para murid-Nya dan menunjukkan bahwa tindakan-tindakan mereka masih tetap berada dalam batas-batas hukum. Di sini, dan juga dalam peristiwa-peristiwa lain, Yesus menunjukkan bahwa Dia datang bukan untuk menghapuskan hukum, melainkan untuk menggenapinya. Dengan tegas Yesus menyatakan kepada para lawan-Nya: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Yesus dapat melihat  bagaimana orang-orang Farisi berupaya untuk memegang kendali atas Allah (yang benar kebalikannya, bukan?) dengan menyusun peraturan-peraturan dan panduan-panduan ketat yang seringkali bahkan melampaui tuntutan-tuntutan hukum itu sendiri. Misalnya, tafsiran mereka atas hukum Sabat memusatkan perhatian pada hal-hal yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat itu. Sebaliknya, Yesus ingin mengindentifikasikan hakekat dari hukum itu dan mengundang umat-Nya untuk mengalami kebebasan yang dimungkinkan apabila mereka memahami tujuan sentral dari setiap hukum Allah. Allah menetapkan hari Sabat karena cintakasih-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya kebebasan dari beban-beban kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat datang menghadap hadirat-Nya dan menyembah-Nya. Memusatkan perhatian pada hal-hal yang tidak boleh dilakukan berarti salah sasaran. Artinya, kita kehilangan kesempatan menerima undangan untuk beristirahat dan disegarkan kembali.

Selagi mereka berjalan di ladang gandum, murid-murid Yesus mempunyai kesempatan menikmati jalan bersama dengan Yesus tanpa “gangguan” dari orang banyak. Ini adalah peluang bagi para murid untuk berada dekat Yesus. Mereka dapat berdoa bersama dengan Dia dan menyaksikan serta mengalami betapa dekat Yesus dengan Bapak-Nya. Waktu Sabat untuk beristirahat dalam keheningan merupakan suatu bagian penting dari relasi mereka dengan Yesus. Disegarkan kembali dengan Dia dengan cara ini akan memampukan mereka untuk menjawab berbagai tuntutan pelayanan yang Yesus ingin percayakan kepada mereka.

Bahkan hari ini pun, Allah ingin agar Sabat merupakan hari di mana kita dapat mengalami kebebasan-Nya yang menyelamatkan dan sukacita. Sebagaimana orang-orang Farisi, kita dapat berhenti bekerja guna memuaskan huruf-huruf yang tersurat dalam Hukum, atau  kita dapat membuat hening hati kita dan beristirahat di depan Yesus. Hari ini, selagi kita mempersiapkan Sabat, marilah kita memohon kepada Yesus agar menyatakan hati-Nya yang penuh kasih dan menyegarkan kita kembali dalam persiapan untuk pekan mendatang.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena paling sedikit Engkau menyediakan satu hari setiap pekan agar kami dapat bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DAN HARI SABAT” (bacaan tanggal 3-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-9-16 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 7 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PESTA KELAHIRAN BUNDA YESUS KRISTUS

PESTA KELAHIRAN BUNDA YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Kelahiran SP Maria – Jumat, 8 September 2017)

Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi seerupa dengan gambaran Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya (Rm 8:28-30)

Bacaan Pertama alternatif: Mi 5:1-4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 13:6; Bacaan Injil: Mat 1:1-16.18-23

Latar belakang Sejarah: Pesta Kelahiran Maria barangkali berasal-usul di Yerusalem  sekitar abad ke-6. Namun sejak sekitar abad ke-5 terdapat bukti adanya sebuah gereja yang didedikasikan kepada Santa Ana, sebelah utara Bait Suci di Yerusalem. Sophronius, Patriarkh (Beatrik) Yerusalem menyatakan pada tahun 602, bahwa gereja itu didirikan di atas tempat kelahiran S.P. Maria. Pilihan yang dijatuhkan pada sebuah hari di bulan September kiranya berasal dari kenyataan bahwa di Konstantinopel tahun penanggalan di mulai pada tanggal 1 September – yang masih berlaku di Gereja Timur. Tanggal 8 September ini kemudian menentukan tanggal “Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Dosa” yang jatuh pada tanggal 8 Desember, yaitu 9 (sembilan) bulan sebelumnya. Pesta Kelahiran Maria mulai diperkenalkan di Roma menjelang abad ke-7. Sumber: Christopher O’Donnell O.Carm., AT WORSHIP WITH  MARY – A Pastoral and Theological Study. 

Lebih sempurna dari siapa saja, Maria memenuhi gambaran yang diberikan Santo Paulus tentang bagaimana Allah mengerjakan kebaikan dalam kehidupan semua orang yang “mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya” (lihat Rm 8:28). Dalam hikmat kekal-abadi, Allah menakdirkan Maria sejak awal untuk menjadi ibu Putera-Nya. Katekismus Gereja Katolik [KGK] mengatakan: “Untuk tugas menjadi ibu Putera-Nya, Allah telah memilih sejak kekal seorang puteri Israel, seorang puteri Yahudi dari Nasaret di Galilea” (KGK, 488). Melalui sebuah mukjizat rahmat Allah, dia (Maria) “sudah ditebus sejak ia dikandung” (KGK, 491), oleh karenanya menjadi “dibenarkan” di hadapan Allah. Dan, pada akhir kehidupannya di dunia, Maria dimuliakan pada waktu dia diangkat ke surga, tubuh dan jiwanya.

Maria berdiri di atas garis pemisah antara Perjanjian Lama (=Perjanjian Pertama) dan Perjanjian Baru. Tanggapannya yang positif (“ya”=persetujuan=fiat) terhadap panggilan untuk menjadi ibu dari Putera-Nya: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38), menandakan secara resmi kepenuhan waktu yang selama itu dinanti-nantikan seluruh umat manusia.

Santo Paulus menulis: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Membawa sang Sabda yang menjadi daging, Maria melahirkan sang Juruselamat, dengan demikian menjadi baik Bunda Allah maupun “Bunda kita semua.” Konsili Vatikan II menyatakan sebagai berikut: “Sehubungan dengan penjelmaan Sabda ilahi Santa Perawan sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah. Berdasarkan rencana Penyelenggaraan ilahi ia di dunia ini menjadi Bunda Penebus ilahi yang mulia, secara sangat istimewa mendampingi-Nya dengan murah hati, dan menjadi hamba Tuhan yang rendah hati. Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita dengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru Selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta-kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita” (Lumen Gentium, 61).

Kehormatan besar yang diberikan Allah kepada Maria telah membuat dirinya menjadi “mahkota ciptaan”. Dalam dirinya kita mempunyai suatu “pengingat-ingat’ yang kelihatan akan segalanya yang Allah telah janjikan kepada kita semua. Hidup Maria bukanlah suatu kehidupan yang enak-enak, namun dia tetap setia kepada Allah dan dia terus merangkul panggilan yang telah diberikan Allah kepadanya. Sekarang Maria yang telah dimuliakan di surga senantiasa siap untuk – untuk kepentingan umat yang masih hidup di dunia – melakukan pengantaraan (syafaat) kepada Yesus, Allah Putera.

Maria adalah suatu tanda pengharapan bagi setiap anggota Gereja, karena kita semua telah dipilih dan ditakdirkan dalam Kristus. Konsili Vatikan II menyatakan: “Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang. Begitu pula di dunia ini ia menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan” [lihat 2Ptr 3:10] (Lumen Gentium, 68).

DOA:  Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh rasa syukur atas karya-Mu dalam diri Maria, bunda-Mu. Oleh karena dia bersedia bekerja sama dalam rencana penyelamatan Allah, maka dia menjadi bunda kami semua. Terima kasih untuk pemeliharaan dan perhatian keibuannya yang telah diberikannya kepada kami, anak-anaknya, yang masih berziarah di atas bumi ini; juga untuk teladannya dalam hal iman, pengharapan dan cintakasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 8:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “DIA YANG DITENTUKAN ALLAH SEJAK SEDIAKALA” (bacaan tanggal 8-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 6 September 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS