YESUS DAN IBLIS

YESUS DAN IBLIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Kamis, 23 Maret 2017) 

Pada suatu kali Yesus mengusir dari seseorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak. Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  (Luk 11:14-23)  

Bacaan Pertama: Yer 7:23-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-9

Di abad ke-21 ini seringkali dianggap keterlaluanlah kalau kita memandang kejahatan sebagai akibat dari kekuatan-kekuatan Iblis dan roh-roh jahat. Berbicara mengenai Iblis, setan dan roh jahat pada zaman modern ini terasa sebagai takhyul yang jauh dari “keindahan” logika. Namun demikian, oleh iman dan perwahyuan dalam Kitab Suci kita tahu bahwa Iblis itu sungguh riil. Lihatlah “bacaan singkat”’ yang kita baca dan renungkan ketika mendoakan “Ibadat Penutup”’ setiap Selasa malam: “Waspadalah dan berjagalah! Sebab setan, musuhmu, berkeliling seperti singa yang mengaum-ngaum mencari mangsanya. Lawanlah dia, teguh dalam iman” (1Ptr 5:8-9; teks diambil dari Ofisi Ilahi). Untuk apa Santo Petrus menyinggung soal setan kalau hal itu hanyalah khayalan manusia belaka? Iblis dan para pengikutnya adalah memang musuh kita.

Tujuan Iblis dan roh-roh jahat adalah untuk menyerang Yesus dengan menyerang umat Allah – kita. Iblis tahu  benar bahwa kalau dia dapat mengganggu damai-sejahtera kita, kesatuan dan persatuan kita dan kepercayaan kita pada Allah, maka dia akan sangat melemahkan Gereja-Nya. Seperti yang telah dilakukannya ketika pertama kali memberontak melawan Allah (lihat Why 12:7 dsj.), Iblis dan para pengikutnya terus saja melakukan manuver-manuver di atas muka bumi ini, dengan mencoba merampas dari Allah sebanyak mungkin anak-anak-Nya. Kalau saya mengatakan anak-anak-Nya, hal ini berarti termasuk juga para rohaniwan, biarawan dan biarawati, karena secara jujur tidak ada yang kebal terhadap serangan dari si “pangeran kegelapan” dan pasukannya. Jubah religius warna apa pun yang dipakai sungguh tidak akan menjamin. Dengan berbagai cara, halus maupun kasar, Iblis dan roh-roh jahat pendukungnya akan mengganggu serta menggoda agar kita ragu-ragu atau berpikiran lain atas berbagai butir kebenaran yang selama ini kita telah terima dari Kitab Suci dan Gereja. Rasa percaya kita pada cintakasih Bapa surgawi serta pemeliharaan-Nya atas diri kita semua, terus saja digerogoti dengan berbagai macam cara oleh si Jahat dan kawan-kawannya itu.

Dalam Injilnya, Santo Lukas melukiskan gambaran-gambaran jelas tentang realitas dan kuasa Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya, namun dia juga dengan cepat menunjukkan bahwa mereka bergetar ketakutan di hadapan hadirat Yesus, bermohon-mohon untuk dikasihani. Dengan kata lain, sejago-jagonya Iblis, jauh lebih hebat dan penuh kuasalah Yesus kita. Yesus datang ke dunia untuk membawa kita dengan aman ke dalam kerajaan Allah dengan membebaskan kita dari Iblis, “pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran … ia adalah pendusta dan bapak pendusta” (Yoh 8:44). Dari Injil kita dapat melihat bahwa kehidupan Yesus di depan publik hampir terus menerus merupakan perjuangan melawan Iblis dan dosa yang diinspirasikan olehnya. Sepanjang karya pelayanan publik-Nya Yesus membebaskan orang-orang yang dirasuki Iblis dan menyembuhkan orang-orang yang sakit, sambil memproklamasikan: “Sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20).

Kebangkitan Yesus dari maut menandakan kekalahan Iblis. Dosa dan kematian – dua senjata pamungkas miliknya – telah kehilangan kuasanya. Namun demikian, apakah Iblis sudah pergi dan tak mengganggu lagi? Tentu saja dia belum pergi! Kita tidak akan melihat pembebasan sepenuhnya sampai Yesus datang kembali kelak guna mengumpulkan para murid-Nya sepanjang masa. Sementara Iblis dan para pengikutnya akan berupaya terus untuk menghancurkan kerajaan Allah, dan dia menggunakan dosa-dosa kita dan kodrat manusia yang cenderung jatuh ke dalam dosa. Misalnya, kita tahu benar bahwa kita harus berdoa dan semakin dekat kepada Allah. Maka kita membaca Kitab Suci, kita pergi ke gereja dll., kita berketetapan untuk hidup seturut firman Allah. Akan tetapi, pengalaman kita menunjukkan bahwa Iblis dan roh-roh jahat selalu menggoda kita dengan kenikmatan dunia dan lain sebagainya; pokoknya untuk menjauhkan kita dari Allah.

Yesus memahami perjuangan kita melawan godaan-godaan seperti itu. Yesus sendiri telah mengalami cobaan dan godaan Iblis agar Ia tidak percaya pada kuasa Bapa-Nya, menaruh hasrat pada kekuasaan, mengejar hal-hal duniawi dan mempunyai ambisi untuk kepentingan diri-sendiri (lihat Luk 4:1-13). Namun karena kasih-setia-Nya kepada Allah, Yesus memenangkan “pertempuran”-Nya dengan Iblis pada waktu itu. Atas dasar fakta inilah kita harus datang kepada-Nya kalau kita digoda. Jika kita rasakan ada sesuatu yang menghalangi jalan kita kepada Allah, tidak salahlah kalau kita menduga bahwa Iblis dan kawan-kawannya sedang melakukan sesuatu atas diri kita. Janganlah takut karena Yesus telah mengalahkan Iblis. Iblis memang riil, akan tetapi Yesus adalah sang Pembebas yang telah membuktikan kemenangan-Nya atas Iblis itu. Kepada Dia sajalah kita harus mohon pertolongan dalam melawan Iblis dan roh-roh jahat.

DOA: Roh Kudus Allah, Engkau datang untuk menyingkap kesalahan dunia. Ungkapkanlah di mana kami telah memperkenankan menancapkan kaki-kakinya dalam dalam kehidupan kami. Bebaskanlah kami dari yang jahat. Bawalah kami dengan aman ke dalam Kerajaan Allah. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:14-23), bacalah tulisan yang berjudul “YANG BERSAMA YESUS PASTI MENANG” (bacaan tanggal 23-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 21 Maret 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

UNTUK MENGGENAPI HUKUM TAURAT DAN KITAB PARA NABI

UNTUK MENGGENAPI HUKUM TAURAT DAN KITAB PARA NABI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Rabu, 22 Maret 2017) 

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19)  

Bacaan Pertama Ul 4:1,5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-13,15-16,19-20

Yesus tidak memperkenankan diri-Nya ditempatkan sebagai oposisi terhadap Hukum Taurat dan kitab para Nabi (Mat 5:17). Melalui sarana-sarana ini, Allah berbicara kepada para kekasih-Nya, umat pilihan. Yesus membuat jelas, bahwa ajaran-ajaran-Nya dan mukjizat-mukjizat-Nya sepenuhnya sejalan dengan Hukum Taurat, dan Ia adalah penggenapannya – Dia yang akan menyempurnakan Hukum Taurat sesempurna-sempurnanya.

Yesus menyempurnakan Hukum Taurat dengan memenuhi tujuan Allah dalam memberikan hukum itu pertama kalinya, yaitu bahwa kita akan mampu untuk berelasi dengan Allah secara murni dan benar, demikian pula halnya dengan relasi dengan sesama. Dengan mendamaikan kita dengan Bapa surgawi lewat kemenangan-Nya di atas kayu salib, Yesus membuat setiap orang dimungkinkan untuk berdiri di hadapan hadirat Allah, bersih dan bebas dari kesalahan. Ditebus oleh darah-Nya dan dibawa ke dalam suatu kehidupan baru dalam air baptis, kita dapat dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus-Nya, yang membentuk hati kita serta mengajar kita jalan ketaatan.

Dibebaskan dari rasa takut akan dihukum, semakin yakin akan kasih Allah kepada kita, sekarang kita dapat menerima kehidupan ilahi. Dari kuasa kehidupan itulah, kita dapat menyenangkan Dia lewat/oleh tindakan-tindakan iman kita. Hukum tetap diperlukan karena perjuangan terus menerus berlangsung antara daging dan roh, namun tujuannya telah dinaikkan kepada suatu tingkatan yang jauh lebih tinggi. Kristus telah memberikan kepada kita hidup baru yang mentransformasikan diri kita, menarik kita semakin jauh lagi dari dosa dan semakin dekat kepada Bapa surgawi.

Jika kita ke luar sedikit dari bacaan Injil hari ini (namun masih tetap dalam kerangka “Khotbah di Bukit”), maka dapat kita katakan bahwa ketika Yesus menggemakan dan menggenapi perintah-perintah berkaitan dengan pembunuhan, perzinahan, dan perceraian (lihat Mat 5:21,27,31), Ia tidak hanya memanggil kita untuk menghayati kehidupan moral yang lebih baik, melainkan juga mengundang kita ke dalam inti kehidupan Allah sendiri, yang dimulai sekarang di dunia ini.

DOA: Yesus, Engkaulah pemenuhan segala hukum Allah. Engkau adalah Guru Agung, Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus-Mu, bentuklah diri kami agar tetap menjadi murid-murid-Mu yang setia, dan dari hari ke hari kami dapat menjadi semakin serupa dengan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “KRISTUS ADALAH IMAM BESAR AGUNG PERJANJIAN BARU” (bacaan tanggal 22-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 20 Maret 2017 [HARI RAYA S. YUSUF, SUAMI SP MARIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SAMPAI BERAPA KALI AKU HARUS MENGAMPUNI?

SAMPAI BERAPA KALI AKU HARUS MENGAMPUNI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Selasa, 21 Maret 2017) 

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35) 

Bacaan Pertama: Dan 3:25,34-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9

Kebanyakan kita tentunya setuju, bahwa mengampuni orang yang bersalah kepada kita bukanlah hal yang gampang untuk dilakukan. Namun demikian, dalam perumpamaan di atas Yesus menjelaskan, bahwa pengampunan adalah salah satu aspek kehidupan yang fundamental dalam kerajaan Allah. Pada kenyataannya, Yesus mengatakan bahwa apabila kita ingin mengetahui, mengenal serta mengalami damai-sejahtera dan sukacita kerajaan Allah, maka kita harus mengampuni siapa saja yang bersalah kepada kita, dan mengampuni seringkali.

Ajaran Yesus selalu saja menantang pemikiran-pemikiran “normal” manusia, misalnya “kasihilah musuh-musuhmu”, atau “siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” dan lain-lain sebagainya. Sekarang, mengenai pengampunan. Mengapa begini? Karena hidup Kristiani itu dialaskan pada pengampunan yang dengan bebas diberikan kepada orang-orang yang sesungguhnya “tak pantas” untuk diampuni, yaitu kita semua. Belas kasih adalah konstitusi dan piagam kerajaan Allah, dan tidak ada seorang pun dari kita yang dapat mengalami berkat-berkat kerajaan itu tanpa ikut saling mengampuni satu sama lain, pengampunan yang begitu bebas diberikan oleh-Nya kepada kita masing-masing.

Kata-kata Yesus tentang pengampunan bukan sekadar teoritis. Kalau kita tidak/belum mengampuni seseorang, maka pada saat kita mengingat orang itu kita pun akan mengalami perubahan-perubahan fisik. Denyut jantung kita menjadi lebih cepat. Napas kita juga menjadi lebih cepat. Tubuh kita menjadi tegang, dan wajah kita pun tampak tambah jelek-loyo. Dalam pikiran kita pun bermunculanlah “flashbacks” peristiwa atau peristiwa-peristiwa ketika kita didzolimi, berulang-ulang. Bermunculanlah lagi alasan-alasan mengapa orang itu sesungguhnya tidak pantas untuk kita ampuni. Mulailah datang segala macam pemikiran negatif bahwa  semua anggota keluarga dan teman orang itu pun jahat semua. Bayangkanlah apa yang terjadi dengan diri kita pada tingkat spiritual. Pikirkanlah betapa sulitnya untuk menaruh kepercayaan pada kasih Allah. Juga betapa sulitnya untuk mengalami damai-sejahtera Kristus atau merasakan gerakan-gerakan Roh Kudus; semuanya karena kita tidak mau mengampuni.

Memang ini merupakan suatu gambaran yang suram, namun jangan sampai membuat kita frustrasi. Yang diminta Allah dari kita sebenarnya hanyalah untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar kita dapat sampai pada tindakan pengampunan, teristimewa pada masa Prapaskah ini. Sediakanlah beberapa menit setiap hari untuk memandang Salib Kristus dalam keheningan, sambil merenungkan bahwa Yesus menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk memperoleh pengampunan bagi kita.

Mohonlah kepada Roh Kudus untuk menolong anda menemukan jalan untuk sampai pada damai-sejahtera, restorasi relasi dan rekonsiliasi dengan Sang Mahatinggi. Katakanlah pada-Nya bahwa anda sungguh mencoba. Dia tahu bahwa dapat saja anda tidak sampai menuntaskan segalanya dalam jangka waktu yang singkat, namun dengan mengambil beberapa langkah ke arah yang benar, anda akan memberikan kesempatan kepada Allah untuk melakukan mukjizat dalam kehidupan anda.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau adalah perwujudan belas kasih Allah sendiri. Oleh Roh Kudus-Mu, ajarlah aku untuk berjalan di jalan belas kasih-Mu, agar akupun dapat mengalami kebebasan-Mu sendiri. Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk mengampuni mereka yang  bersalah kepadaku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-35), bacalah tulisan yang berjudul  “KARUNIA/ANUGERAH PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 21-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 20 Maret 2017 [HARI RAYA S. YUSUF, SUAMI SP MARIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YUSUF PUTERA DAUD

YUSUF PUTERA DAUD

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SANTO YUSUF, SUAMI SP. MARIA – Senin, 20 Maret 2017)

SANTO YUSUF

Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau  akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. (Mat 1:16.18-21.24a)

Bacaan Pertama: 2Sam 7:4-5a,12-14a,16; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27-29; Bacaan Kedua: Rm 4:13.16-18,22

Pada hari ini Gereja menghormati salah seorang yang paling rendah hati dalam Kitab Suci. Walaupun cerita Yusuf (Yosef) hanya ada sedikit sekali dalam narasi-narasi Injil, kebenaran dirinya terang bercahaya di setiap ayat yang menyangkut dirinya.

Allah memang selalu bekerja dengan cara-cara yang indah namun penuh misteri. Dalam kasus ini Allah memilih seorang tukang kayu sederhana dari Nazaret untuk menjadi “ayah angkat” bagi Putera-Nya yang tunggal, yang berasal dari keabadian. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Seorang sederhana diberi tugas untuk memelihara dan mendidik Putera Allah? Sebagian besar dari semua ini adalah misteri, namun kita tahu bahwa bilamana Allah memanggil seseorang untuk melakukan sesuatu, maka Dia akan mencurahkan segala rahmat yang diperlukan untuk melaksanakan tugas itu.

Yusuf adalah seorang pribadi yang mempunyai iman matang, yang percaya sepenuhnya kepada penyelenggaran ilahi. Terasa bahwa Yusuf bukanlah orang yang suka banyak bicara, namun tindakan-tindakannya speak louder ketimbang khotbah-khotbah, wejangan-wejangan dan berfalsafah tentang sejarah Kristianitas. Pada awal kehidupan Yesus di dunia, ketika penebusan kita-manusia sudah di depan mata, kita membaca tentang seorang laki-laki yang kekuatannya, dapat dipercayanya, dan kerendahan hatinya berdiri tegak sebagai sebuah tanda ciptaan baru yang akan dibuat mungkin oleh Yesus bagi kita semua melalui salib-Nya.

Allah berbicara kepada Yusuf lewat seorang malaikat dalam mimpi-mimpi, dan setiap kali Yusuf mendengar dari sang malaikat, dia segera mengikuti arahan-arahan dari Allah (lihat Mat 1:20-24; 2:1-23). Situasi-situasi yang dihadapi oleh Yusuf sangatlah sulit. Pada saat kunjungan malaikat yang pertama, Allah memberitahukan Yusuf tentang Maria yang mengandung dari Roh Kudus, dan bahwa dia tak usah merasa takut untuk mengambil anak dara ini sebagai istrinya. Tentu saja dia telah mengalami godaan untuk merasa ragu dan prihatin mengenai apa yang akan dipikirkan dan dikatakan oleh orang-orang lain. Akan tetapi, tanpa bertanya-tanya agar lebih memahami masalah yang dihadapi – tanpa satu pertanyaan pun, Yusuf bertindak secara menentukan.

Sebagaimana halnya dengan Yusuf, kita juga dipanggil untuk menjadi para penerima rahmat Allah, kuasa-Nya yang memampukan kita taat kepada-Nya. Marilah kita membuka diri kita bagi kehendak Allah. Kita dapat mendengar Allah berbicara kepada kita pada waktu kita berdoa, ketika kita membaca serta merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci, dan pada waktu kita berpartisipasi dalam perayaan liturgi, terutama Misa Kudus. Kadang kala situasi-situasi yang kita hadapi memang sulit dan kita tergoda untuk meragukan Allah. Namun kita semua yang sudah dibaptis mempunyai Roh Kudus, yang senang sekali mengajar kita untuk hidup di jalan Allah. Bilamana kita melakukan apa saja seturut kehendak Allah, maka iman kita, pengharapan kita dan keakraban kita dengan Allah akan menjadi matang, dan kita  pun menjadi lebih mampu untuk melaksanakan tugas yang disiapkan-Nya bagi kita.

DOA:  Bapa kami yang di surga, Engkau mengasihi kami dan mempunyai rencana sempurna bagi kehidupan kami. Dalam kasih Engkau memberitahukan rencana-Mu kepada kami; memberikan kepada kami rahmat untuk mendengarkan. Kami tahu bahwa Engkau mempunyai tugas-pekerjaan yang kami harus laksanakan. Berikanlah kepada kami kekuatan untuk menjadi hamba-Mu atau pelayan-Mu yang taat. Amin. 

Catatan: Tulisan ini dipersembahkan kepada Sdr. Yosef Sunarwinto, temanku sejak di SMA Kanisius (1959-1962) dan sekarang sama-sama menjadi warga Lingkungan S. Yudas Tadeus, Gereja S. Stefanus, Cilandak, Jakarta Selatan.

Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Rm 4:13,16-18,22), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN ABRAHAM DAN YUSUF” (bacaan tanggal 20-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 17 Maret 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERJUMPA DENGAN YESUS DI DEKAT SUMUR YAKUB

BERJUMPA DENGAN YESUS DI DEKAT SUMUR YAKUB

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH III [Tahun A], 19 Maret 2017) 

Lalu sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih karena perjalanan, sebab itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Lalu datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya, “Berilah Aku minum.” Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Kata perempuan Samaria itu kepada-Nya, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) Jawab Yesus kepadanya, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu, ‘Berilah aku minum!’ niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Apakah Engkau lebih besar daripada bapak leluhur kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?” Jawab Yesus kepadanya, “Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal.” Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.” Kata perempuan itu, “Aku tidak mempunyai suami.” Kata perempuan itu, “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya, “Tepat katamu bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau telah berkata benar.” Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” Kata Yesus kepadanya, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba bahwa kamu akan meyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa mencari orang-orang yang menyembah Dia secara demikian. Allah itu Roh dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Jawab perempuan itu kepada-Nya, “Aku tahu bahwa Mesias yang disebut juga Kristus, akan datang; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” Kata Yesus kepadanya, “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.”

Banyak orang Samaria dari kota percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu yang bersaksi, “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal dengan mereka; dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya. Karena perkataan-Nya, lebih banyak lagi orang yang percaya, dan mereka berkata kepada perempuan itu, “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” (Yoh 4:5-26,39-42) 

Bacaan Pertama: Kel 17:3-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-9; Bacaan Kedua: Rm 5:1-2,5-8

Catatan awal: Bacaan Injil hari ini sebenarnya adalah Yoh 4:5-42 atau versi yang agak lebih singkat: Yoh 4:5-15,19b-26, 40-42. Petikan di atas adalah mengikuti versi yang lebih singkat, namun dengan tetap memasukkan ayat 16-18 ke dalamnya. 

Yesus sangat letih dan haus pada saat Ia berhenti dan duduk di dekat sumur Yakub di tengah padang gurun Yudea. Yesus tidak membawa apa-apa yang dapat membantu-Nya untuk menimba air dari dalam sumur, oleh karena itu Dia menunggu seseorang yang datang ke sumur itu untuk mengambil air.

Orang pertama yang muncul di TKP adalah seorang perempuan Samaria yang gaya hidup “bebas-liar”-nya menyebabkan dirinya dijauhi oleh masyarakat. Melihat perempuan ini Yesus melakukan sesuatu yang tak terpikirkan, yaitu menawarkan “air hidup” kepada perempuan itu. Air hidup yang ditawarkan oleh Yesus itu memiliki kuat-kuasa untuk membersihkan diri perempuan tersebut dan membuat dirinya utuh. Dengan cara-Nya sendiri, Yesus memberi “rasa haus yang luarbiasa akan Allah” kepada perempuan itu, suatu rasa haus yang tidak dapat ditolaknya. Sebelumnya, tidak ada seorang pun yang pernah bicara begitu dengan dirinya.

Apakah yang dimaksud dengan “air yang dapat mengubah hidup” itu? Santo Hipolitus [+235] menjelaskannya seperti berikut: “Ini adalah air Roh … Ini adalah air dari baptisan Kristus; ini adalah hidup kita. Apabila anda pergi dengan iman ke sumber air yang memperbaharui ini … maka anda berhenti menjadi seorang budak dan menjadi seorang anak angkat; anda datang dengan memancarkan sinar cahaya seperti matahari dan dipenuhi dengan keadilan; anda datang sebagai seorang anak Allah dan mitra-pewaris bersama Kristus” (Tentang Epifani).

Keindahan dari “air hidup” adalah bahwa “air hidup” ini tetap mengalir. Dari saat kita dibaptis ke dalamnya, “air hidup” tersebut itu tersedia bagi kita setiap hari. Ini merupakan hal yang baik juga. Hidup di dunia ini memang menghadapkan kita pada berbagai tantangan. Demikian pula godaan dan dosa sungguh mengancam sehingga kita tidak jarang merasa hampir putus asa, bahkan sampai jatuh kedalamnya. Di lain pihak kita sungguh dapat merasa nyaman karena mengetahui fakta bahwa diri kita dapat disegarkan kembali setiap saat kita berbalik kepada Tuhan.

Hal luarbiasa mengenai meminum “air hidup” dari Yesus adalah bahwa walaupun Ia memuaskan rasa haus kita, pada saat yang sama Dia juga secara misterius meningkatkan rasa haus kita. Jika kita minum satu teguk saja “air hidup” dari Yesus itu, maka kita ingin minum satu teguk lagi dst. Kasih Yesus begitu memberi kepuasan, sehingga kita ingin meminumnya lagi dalam jumlah sebanyak-banyaknya, seakan-akan tidak pernah cukup.

Semoga kita semua tidak pernah berhenti meminum dari sumber “air hidup” ini, karena hanya dari Sumber itulah kita akan memperoleh penyembuhan dan penyegaran kembali yang begitu kita dambakan.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena “air hidup” yang Kauberikan kepada kami. Dalam perayaan Ekaristi pada hari Minggu ini, aku ingin meminumnya dalam iman dan penuh penyerahan-diri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 4:5-42), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DAN PEREMPUAN SAMARIA” (bacaan tanggal 19-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

Cilandak, 16 Maret 201 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG AYAH YANG SANGAT MENGASIHI ANAK-ANAKNYA

PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG AYAH YANG SANGAT MENGASIHI ANAK-ANAKNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Sabtu, 18 Maret 2017) 

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan saehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3.11-32) 

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4.9-12 

Perumpamaan yang indah ini mengajarkan kepada kita betapa mendalamnya kasih Bapa surgawi kepada kita semua, juga relasi macam apa yang Ia kehendaki terjalin dengan kita. Meskipun anak yang bungsu “jauh” dari ayahnya dan anak yang sulung “dekat”, sesungguhnya kedua-duanya tidak mengalami secara penuh kasih ayah mereka. Anak yang bungsu memang pada akhirnya melihat dan mengalami sendiri betapa ayahnya sangat mengasihi dirinya. Dalam kasus anak yang lebih tua, halnya tidaklah begitu jelas.

Sang ayah menyapa anaknya yang sulung dengan kata “anakku” (lihat Luk 15:31). Si anak sulung ini malah memandang dirinya terlebih-lebih sebagai seorang hamba sahaya/pekerja daripada sebagai seorang putera ayahnya (lihat Luk 15:29). Dia bekerja untuk upah, bukan karena mengasihi ayahnya. Meskipun dia adalah seorang anak sulung “boss” (dalam hal ini “boss” bukan berarti “bekas orang sakit syaraf”), suatu hal luput dari pengamatannya, yaitu segala kebaikan yang diperolehnya karena mempunyai seorang ayah yang begitu mengasihi anak-anaknya. Demikianlah, dengan cara yang serupa, Allah menginginkan kita untuk mengetahui dan menikmati suatu relasi dengan Dia sebagai Bapa yang sangat mengasihi kita sebagai anak-anak-Nya. Ini memang adalah niat-Nya bagi kita sejak sebelum dunia dijadikan (lihat Ef 1:5; Gal 4:5; 1Yoh 3:1). Sekarang kita dapat bertanya kepada diri kita masing-masing, berapa seringnya sih kita secara sukarela sungguh datang menghadap Allah untuk mengalami hubungan seperti ini? Sebagai anak-anak yang sangat dikasihi ayah kita? Kepada anaknya yang sulung sang ayah juga berkata: “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku” (Luk 15:31). Allah menginginkan agar kita mengetahui bahwa Dia hadir di tengah-tengah kita senantiasa. Dia sungguh rindu agar kita – anak-anak-Nya – diam bersama-Nya selama-lamanya, agar Dia dapat melimpahkan kasih-Nya kepada kita, seperti yang telah dilakukan sang ayah terhadap anaknya bungsu yang telah kembali kepadanya. Mengenal dan mengalami kasih Allah dapat menghasilkan sukacita dan kebebasan dalam diri kita, sesuatu yang akhirnya disadari oleh si anak bungsu. Akhirnya, sang ayah berkata kepada si anak sulung: “Segala milikku adalah milikmu” (Luk 15:31). Dalam Yesus, Allah telah memberikan kepada kita hak untuk turut mengambil bagian dalam kehidupan-Nya. Allah telah memberikan segalanya kepada kita – tidak hanya yang kita butuhkan demi keselamatan. Ia menginginkan agar kita mempunyai suatu relasi personal dengan diri-Nya melalui Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Marilah kita memuji Allah Bapa kita untuk segalanya yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita, dan marilah kita berdoa agar dapat mengalami apa yang dikehendaki oleh Bapa atas diri kita sejak semula.

DOA: Bapa surgawi, kami menyembah Dikau, memuji Dikau, dan bersyukur kepada-Mu karena Dikau memperlakukan kami sebagai anak-anak-Mu terkasih, karena kami dapat diam bersama-Mu untuk selama-lamanya, juga karena Dikau telah memberikan segalanya kepada kami. Oleh Roh Kudus-Mu, tolonglah kami agar dapat menerima kasih-Mu dengan rendah hati dan terbuka. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK YANG HILANG ” (bacaan tanggal 18-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 15 Maret 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT

PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Jumat, 17 Maret 2017)

“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktkunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. Mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi. (Mat 21:33-43,45-46)

Bacaan Pertama: Kej 37:3-4,12-13,17-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21 

Apakah yang anda akan lakukan apabila Direktur Utama merangkap CEO sebuah perusahaan besar dan sukses di mana anda bekerja sebagai anggota Direksi mendelegasikan otoritasnya secara khusus kepada anda, di mana kepada anda diberikan kendali penuh atas operasi perusahaan menggantikan dirinya selama dia menjalani cuti panjang yang cukup lama  ke Eropa dan Amerika Serikat? Setelah berhasil keluar dari shock anda, bukankah anda akan bekerja keras dan sebaik-baiknya untuk membuat operasi perusahaan anda mencapai tujuannya dengan baik, misalnya dalam hal pertumbuhan penjualan, laba perusahaan dlsb.? Paling sedikit untuk memberi kesan yang baik di mata sang CEO, bukan? Pokoknya anda akan berupaya to work hard and smart!

Kepengurusan sebuah perusahaan adalah suatu tugas terhormat, apalagi kepengurusan (stewardship) kebun anggur Allah sendiri, yang lebih terhormat lagi. Sulit untuk membayangkan bagaimana seseorang yang dipercayakan dengan tugas terhormat seperti itu dapat menyalahgunakan privilese-privilese tugas tersebut dan kemudian malah berbalik melawan sang CEO (Chief Executive Officer – Eksekutif puncak, contohnya Presiden R.I. dalam hal Republik kita tercinta). Justru inilah masalah yang dikemukakan oleh Yesus dalam perumpamaan ini, ketika Dia bercerita mengenai para penggarap kebun anggur yang jahat itu.

Sejarah telah menunjukkan kepada kita saat-saat di mana para pemimpin Gereja gagal dalam memenuhi panggilan mereka, dan setiap kali terjadi hal seperti itu, setiap warga Gereja menderita. Akan tetapi, daripada kita menghakimi para pemimpin Gereja, barangkali lebih baik bagi kita untuk mempertimbangkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh para pemimpin Gereja tersebut. Terkadang sungguh menggoda jadinya apabila seseorang mengikut arus daripada berdiri tegak atas standar moral yang kokoh! Seringkali karena harus menanggung berat pekerjaan yang dibebankan ke atas diri mereka, terasa merasa harus memikul beban seluruh dunia di atas pundak mereka. Mereka mengetahui bahwa mereka harus mendengarkan bisikan Roh Kudus, namun berbagai macam tuntutan dari orang-orang dan tugas-tugas kadang-kadang menghalangi kemampuan mereka untuk mendengar “suara kecil” yang berbicara dalam doa dan Kitab Suci.

Apabila kita tetap memikirkan berbagai kesulitan yang dihadapi oleh para pemimpin Gereja, maka kita akan kurang berkecenderungan untuk mengkritisi mereka yang telah dipanggil Allah untuk menjaga serta memperhatikan umat-Nya. Tentu saja kita akan mampu untuk menyebutkan contoh-contoh uskup, prelat dan imam yang telah “gagal” dalam mewujudkan panggilan Allah bagi mereka masing-masing. Namun daripada mengutuk-ngutuk atau pun bergosip-gosip ria, marilah kita mendukung mereka, berdoa bagi kedamaian dan perlindungan-Nya atas diri mereka.

Barangkali kita juga dapat melakukan hal-hal tertentu guna mendukung pribadi-pribadi yang dipanggil untuk menjadi pemimpin-pemimpin Gereja. Bagaimana? Dengan menghadapi dan menjalani kehidupan Kristiani kita sepenuh mungkin. Bayangkanlah hal-hal baik yang dapat berdampak positif terhadap hati para pemimpin kita karena melihat umat awam menghayati dengan serius kehidupan Injili dengan cara yang mampu mentransformasikan kehidupan. Maka, bersama dengan para pemimpin Gereja, marilah kita menjadi warga-warga Kerajaan Allah yang berbuah, sehingga Gereja akan menjadi terang yang sungguh cemerlang, yang mampu menarik orang-orang kepada kasih Kristus.

DOA: Bapa surgawi, kami mohon perlindungan-Mu atas semua pemimpin Gereja. Kami menyadari segala kesulitan dan godaan yang mereka hadapi. Oleh karena itu, kami mohon Engkau sudi mendorong serta menyemangai mereka dan memperbaiki mereka lewat Roh Kudus-Mu, sehingga mereka dapat memimpin segenap umat-Mu dalam kekudusan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43,45-46), bacalah tulisan yang berjudul “KERENDAHAN HATI, KETEKUNAN DAN KETETAPAN HATI” (bacaan untuk tanggal 17-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 13  Maret 2017 [Peringatan B. Ludovikus dr Casoria, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS