Posts tagged ‘AHLI TAURAT’

GURU, PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?

GURU, PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXX [TAHUN A], 29 Oktober 2017) 

Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Kel 22:21-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4,47,51; Bacaan Kedua 1Tes 1:5-10

Seorang Farisi yang ahli hukum bertanya untuk mencobai Yesus lewat suatu diskusi mengenai perintah Allah mana yang harus dinilai sebagai hukum yang terutama. Ini adalah suatu isu yang memang sering diperdebatkan di kalangan para rabi pada masa itu. Tantangan dari orang Farisi itu dijawab oleh Yesus dengan memberikan “ringkasan agung” dari segala ajaran-Nya. Sebenarnya jawaban yang diberikan oleh Yesus itu tidak diformulasikan oleh-Nya sendiri. Bagian pertama: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”(Mat 22:37) diambil dari Kitab Ulangan (Ul 6:5); sedangkan bagian kedua: “”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39) diambil dari Kitab Imamat (Im 19:18). Banyak rabi juga mengakui bahwa kedua ayat ini merupakan jantung atau hakekat dari hukum Taurat.

Seperti kita akan lihat selanjutnya, keunikan ajaran Yesus dalam hal ini adalah penekanan yang diberikan oleh-Nya pada “hukum kasih” dan kenyataan bahwa Dia membuatnya menjadi prinsip dasar dari tafsir-Nya atas keseluruhan Kitab Suci: “Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:40).

Mengasihi Allah dengan segenap energi yang kita miliki dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri! Hampir dipastikan hanya sedikit saja orang yang akan memperdebatkan keindahan dari “cita-cita” ini. Namun menghayatinya seperti yang telah dilakukan oleh Yesus sendiri dalam kehidupan-Nya sebagai sang Rabi dari Nazaret, sungguh membutuhkan komitmen yang pantang mundur dan kemurahan hati tanpa batas. Kita bertanya kepada diri sendiri: “Dapatkah aku mempraktekkan kasih seperti itu?”

Salah satu cara terbaik bagi kita untuk memenuhi perintah-perintah Allah ini adalah untuk menawarkan kepada sesama kita anugerah yang sama yang telah mengubah hati kita, yaitu INJIL TUHAN YESUS KRISTUS! Kita mengasihi sesama kita dengan menunjukkan kepada mereka “jalan menuju keselamatan dalam Yesus”, dan kita mengasihi Allah dengan berjuang terus untuk memanisfestasikan kebaikan-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita.

Berbagi (Inggris: sharing; saya Indonesiakan menjadi syering) Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus adalah keharusan bagi kita semua, namun tidaklah semudah itu melaksanakannya, apalagi kalau kita bukan merupakan pribadi yang outgoing, yang mudah bersosialisasi. Kita juga bisa dilanda rasa waswas atau khawatir bahwa orang-orang akan menuduh kita sebagai orang Kristiani yang “ekstrim” (Saya tidak memakai kata “radikal” atau “fanatik”, karena kedua kata ini pada dasarnya  baik menurut pandangan pribadi saya). Akan tetapi, apabila kita memohon Roh Kudus untuk memimpin kita, maka evangelisasi adalah satu dari pengalaman paling indah yang dapat kita miliki, dan menjadi bagian dari kehidupan kita. Pada kenyataannya, aspek evangelisasi yang paling penting terjadi sebelum kita mengucapkan satu patah kata sekali pun kepada siapa saja. Hal ini dimulai pada waktu kita menyediakan waktu dengan Tuhan Allah dalam keheningan, dan mohon kepada-Nya untuk menunjukkan kehendak-Nya: suatu proses discernment. Misalnya, kita dapat berdoa agar Tuhan Allah menerangi kegelapan hati kita dan menganugerahkan kepada kita iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna; juga kita mohon agar kita diberikan perasaan yang peka dan akal budi yang cerah, sehingga kita senantiasa dapat mengenali dan melaksanakan perintah-perintah atau kehendak Allah yang kudus dan tidak menyesatkan.

Dalam suasana doa inilah Allah dapat menolong kita menunjukkan siapa saja di antara anggota keluarga kita atau para teman dan sahabat kita yang terbuka bagi pemberitaan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus. Kita juga tidak boleh lupa untuk berdoa agar orang-orang kepada siapa kita diutus menerima sentuhan Roh Kudus yang akan membuka hati mereka bagi Injil, bahkan sebelum bibir kita mengucapkan kata yang pertama. Kemudian, selagi kita mulai melakukan evangelisasi, kita akan menemukan orang-orang yang memberikan kesaksian mengenai  pengalaman-pengalaman mereka tentang kasih Allah yang kita sendiri sedang wartakan kepada mereka. Allah senang menyiapkan hati orang-orang secara demikian. Lalu, agar kita dapat menjadi instrumen-instrumen penyebaran Injil yang baik dan efektif, sangatlah penting bagi kita untuk mengabdikan diri dalam doa-doa syafaat bagi orang-orang lain. Seorang pewarta Injil atau pelayan sabda yang tidak akrab dengan doa merupakan fenomena yang boleh dipertanyakan.

Selagi kita melakukan penginjilan – memberikan kesaksian tentang kasih Kristus kepada orang-orang lain – kita harus senantiasa menyadari bahwa cintakasih itu senantiasa mengatasi dosa. Dengan demikian janganlah sampai kita hanya berbicara kepada mereka yang kita Injili. Yang juga sangat penting adalah bahwa kita pun harus mengasihi orang-orang itu. Kita harus memperhatikan dan menunjukkan bela rasa kepada mereka. Kita memberikan saran-saran mengenai tindakan-tindakan yang perlu mereka lakukan.

Dengan sukarela marilah kita menawarkan bantuan kepada  mereka, dan hal ini bukan selalu berarti bantuan keuangan. Lebih pentinglah bagi kita untuk memperkenankan Yesus mengasihi orang-orang lain melalui diri kita daripada menjelaskan Injil secara intelektual kepada mereka, meskipun hal sedemikian penting juga. Selagi kita memperkenalkan dan menawarkan kasih Yesus lewat kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan, kita harus menyadari bahwa kita mensyeringkan anugerah Allah yang terbesar bagi manusia: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita sendiri! Dengan demikian, kita pun akan mengasihi sesama kita dengan kasih Kristus sendiri!

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau memakai diriku untuk membawa orang-orang lain ke dalam kasih perjanjian-Mu. Tolonglah aku agar mampu mengenali privilese yang besar ini selagi Engkau membuat diriku menjadi bentara Injil-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 22:34-40), bacalah tulisan yang berjudul “MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA” (bacaan tanggal 29-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 25 Oktober 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

PENEKANAN PADA HUKUM KASIH

PENEKANAN PADA HUKUM KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Jumat, 25 Agustus 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Ludovikus IX, Raja – Ordo III (Salah satu dari dua orang kudus Pelindung OFS 

Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40) 

Bacaan Pertama: Rut 1:1,3-6,14b-16,22; Mazmur Tanggapan: 146:5-10

Seorang Farisi yang ahli hukum bertanya untuk mencobai Yesus lewat suatu diskusi mengenai perintah Allah mana yang harus dinilai sebagai hukum yang terutama. Ini adalah suatu isu yang memang sering diperdebatkan di kalangan para rabi pada masa itu. Tantangan dari orang Farisi itu dijawab oleh Yesus dengan memberikan “ringkasan agung” dari segala ajaran-Nya. Sebenarnya jawaban yang diberikan oleh Yesus itu tidak diformulasikan oleh-Nya sendiri. Bagian pertama: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37) diambil dari Kitab Ulangan (Ul 6:5); sedangkan bagian kedua: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39) diambil dari Kitab Imamat (Im 19:18). Banyak rabi juga mengakui bahwa kedua ayat ini merupakan jantung atau hakekat dari hukum Taurat.

Seperti kita akan lihat selanjutnya, keunikan ajaran Yesus dalam hal ini adalah penekanan yang diberikan oleh-Nya pada “hukum kasih” dan kenyataan bahwa Dia membuatnya menjadi prinsip dasar dari tafsir-Nya atas keseluruhan Kitab Suci: “Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:40).

Mengasihi Allah dengan segenap energi yang kita miliki dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri! Hampir dipastikan hanya sedikit saja orang yang akan memperdebatkan keindahan dari “cita-cita” ini. Namun menghayatinya seperti yang telah dilakukan oleh Yesus sendiri dalam kehidupan-Nya sebagai sang Rabi dari Nazaret, sungguh membutuhkan komitmen yang pantang mundur dan kemurahan hati tanpa batas. Kita bertanya kepada diri sendiri: “Dapatkah aku mempraktekkan kasih seperti itu?”

Salah satu cara terbaik bagi kita untuk memenuhi perintah-perintah Allah ini adalah untuk menawarkan kepada sesama kita anugerah yang sama yang telah mengubah hati kita, yaitu INJIL TUHAN YESUS KRISTUS! Kita mengasihi sesama kita dengan menunjukkan kepada mereka “jalan menuju keselamatan dalam Yesus”, dan kita mengasihi Allah dengan berjuang terus untuk memanisfestasikan kebaikan-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita.

Menyebarkan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus adalah keharusan bagi kita semua, namun tidaklah semudah itu melaksanakannya, apalagi kalau kita bukan merupakan pribadi yang outgoing, yang mudah bersosialisasi. Kita juga bisa dilanda rasa waswas atau khawatir bahwa orang-orang akan menuduh kita sebagai orang Kristiani yang “ekstrim” (Saya tidak memakai kata “radikal” atau “fanatik”, karena kedua kata ini pada dasarnya  baik menurut pandangan pribadi saya). Akan tetapi, apabila kita memohon Roh Kudus untuk memimpin kita, maka “evangelisasi” adalah satu dari pengalaman paling indah yang dapat kita miliki, dan menjadi bagian dari kehidupan kita. Pada kenyataannya, aspek evangelisasi yang paling penting terjadi sebelum kita mengucapkan satu patah kata sekali pun kepada siapa saja. Hal ini dimulai pada waktu kita menyediakan waktu dengan Tuhan Allah dalam keheningan, dan mohon kepada-Nya untuk menunjukkan kehendak-Nya: suatu proses discernment (membeda-bedakan roh). Misalnya, kita dapat berdoa agar Tuhan Allah menerangi kegelapan hati kita dan menganugerahkan kepada kita iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna; juga kita mohon agar kita diberikan perasaan yang peka dan akal budi yang cerah, sehingga kita senantiasa dapat mengenali dan melaksanakan perintah-perintah atau kehendak Allah yang kudus dan tidak menyesatkan.

Dalam suasana doa inilah Allah dapat menolong kita menunjukkan siapa saja di antara anggota keluarga kita atau para teman dan sahabat kita yang terbuka bagi pemberitaan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus. Kita juga tidak boleh lupa untuk berdoa agar orang-orang kepada siapa kita diutus menerima sentuhan Roh Kudus yang akan membuka hati mereka bagi Injil, bahkan sebelum bibir kita mengucapkan kata yang pertama. Kemudian, selagi kita mulai melakukan evangelisasi, kita akan menemukan orang-orang yang memberikan kesaksian mengenai  pengalaman-pengalaman mereka tentang kasih Allah yang kita sendiri sedang wartakan kepada mereka. Allah senang menyiapkan hati orang-orang secara demikian. Lalu, agar kita dapat menjadi instrumen-instrumen penyebaran Injil yang baik dan efektif, sangatlah penting bagi kita untuk mengabdikan diri dalam doa-doa syafaat bagi orang-orang lain. Seorang pewarta Injil atau pelayan sabda yang tidak akrab dengan doa merupakan fenomena yang boleh dipertanyakan.

Selagi kita melakukan penginjilan – memberikan kesaksian tentang kasih Kristus kepada orang-orang lain – kita harus senantiasa menyadari bahwa cintakasih itu senantiasa mengatasi dosa. Dengan demikian janganlah sampai kita hanya berbicara kepada mereka yang kita Injili. Yang juga sangat penting adalah bahwa kita pun harus mengasihi orang-orang itu. Kita harus memperhatikan dan menunjukkan bela rasa kepada mereka. Kita memberikan saran-saran mengenai tindakan-tindakan yang perlu mereka lakukan. Dengan sukarela marilah kita menawarkan bantuan kepada  mereka, dan hal ini bukan selalu berarti bantuan keuangan. Lebih pentinglah bagi kita untuk memperkenankan Yesus mengasihi orang-orang lain melalui diri kita daripada menjelaskan Injil secara intelektual kepada mereka, meskipun hal sedemikian penting juga. Selagi kita memperkenalkan dan menawarkan kasih Yesus lewat kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan, kita harus menyadari bahwa kita mensyeringkan anugerah Allah yang terbesar bagi manusia: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita sendiri! Dengan demikian, kita pun akan mengasihi sesama kita dengan kasih Kristus sendiri!

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sudah memakai diriku untuk membawa orang-orang lain ke dalam kasih perjanjian-Mu. Tolonglah aku agar mampu mengenali privilese yang besar ini selagi Engkau membuat diriku menjadi bentara Injil-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 22:34-40), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT” (bacaan tanggal 25-8-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 23 Agustus 2017 [Peringatan B. Berardus dr Offida, Biarawan Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDENGARKAN YESUS DENGAN SENANG HATI

MENDENGARKAN YESUS DENGAN SENANG HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Jumat, 9 Juni 2017)

Ketika Yesus sedang mengajar di Bait Allah, Ia berkata, “Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri dengan pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuhmu Kutaruh di bawah kakimu (Mzm 110:1). Daud sendiri menyebut Dia ‘Tuan’, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan senang hati. (Mrk 12:35-37)

Bacaan Pertama: Tob 11:5-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2,7-10 

“Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan senang hati.” (Mrk 12:37)

Ambillah waktu beberapa menit untuk mengingat-ingat para guru yang pernah mengajar anda pada zaman sekolah dulu. Bagi kebanyakan dari kita, paling sedikit ada seorang guru yang menonjol dan mempunyai pengaruh sangat besar atas diri kita. Guru ini mampu menangkap imajinasi kita atau memiliki talenta luarbiasa untuk menjelaskan hal-hal yang pelik. Ini biasanya guru yang menantang kita untuk bekerja keras dan menguasai mata pelajaran yang diberikan olehnya. Pada masa saya bersekolah di SR/SMP Bruderan Budi Mulia di tahun 1950-an, saya mempunyai seorang guru yang bernama Ibu Sudjilah, seorang laskar pejuang revolusi dan lulusan sekolah suster-suster di Mendut yang terkenal itu. Rasa nasionalisme yang berhasil ditanamkannya dalam diri saya dan murid-murid yang lain masih berbekas sampai hari ini. Ibu guru ini juga sangat baik dalam mengajar. Seorang guru sejati! Ibu guru ini tidak murah dalam memberi angka, namun kebanyakan kami sungguh ingin belajar dari beliau dan selalu bersemangat pada waktu pengajaran beliau. Beliau pun selalu bersemangat dalam mengajar; meskipun menumpang di rumah saudaranya di Jalan Djambu, Menteng, dan beliau harus mengajar di kawasan Mangga Besar. Setiap hari dengan gagah (meskipun kelihatannya sedang mengidap penyakit) beliau mengendarai sebuah sepeda kumbang merek “mobilette”. Sempat terserang penyakit TBC, beliau bangkit lagi dan maju terus setelah pulih-sembuh dari penyakitnya. Seorang Kristiani teladan!

Inilah satu cara untuk memahami ikhtisar yang diberikan oleh Markus dalam Mrk 12:37 di atas. Yesus tentunya adalah seorang guru yang banyak memberi tantangan, yang juga berpengharapan besar pada para pendengar-Nya. Yesus tidak mempunyai masalah untuk mengkonfrontasikan orang-orang dengan dosa mereka dan kemudian memanggil/mengajak mereka untuk menghayati hidup bersih yang berstandar sangat tinggi dan tidak mudah dicapai. Akan tetapi, bagaimana pun juga banyak orang mendengarkan Dia dengan senang hati (Mrk 12:37).

Mengapa kata-kata Yesus dapat membawa kegembiraan/kesenangan bagi orang-orang, walaupun kata-kata ini mendesak mereka untuk melakukan pertobatan atau menuntut sesuatu yang sulit? Sebabnya adalah, karena Dia mampu mencapai ke luar melampaui batas penolakan-penolakan kodrat kita yang cenderung berdosa dan berbicara langsung kepada hati kita. Oleh kuasa Roh-Nya Yesus dapat menyentuh bagian terdalam diri kita dan memancarkan terang-Nya atas hasrat-hasrat sejati hati kita – hasrat untuk menyenangkan Allah, hasrat untuk dibebaskan dari dosa, dan hasrat untuk menjadi instrumen-instrumen kasih-Nya dalam dunia ini. Bagaimana pun juga kita merasa bahwa kata-kata Yesus yang diucapkan-Nya kepada kita adalah kata-kata yang kita perlu dengar, walaupun kata-kata itu tidak mudah untuk ditanggapi.

Dengan demikian, betapa pentinglah bagi kita untuk tetap terbuka agar mampu mendengar kata-kata Yesus, kata-kata keras dan juga kata-kata yang mudah dan lembut! Pada akhirnya, semua kata-kata Yesus dimaksudkan untuk membawa kesembuhan dan pemulihan (restorasi), bagaimana pun sulit atau menyakitkan kedengarannya bagi kita pada mulanya. Kita bahkan dapat menentang/ menolak manakala Yesus mulai menyentuh dan berurusan dengan titik-titik rawan dalam kehidupan kita. Namun demikian, di samping Yesus gigih Ia juga sabar sebagai sebagai seorang guru. Yang diminta-Nya dari kita hanyalah agar kita memelihara sebuah hati yang terbuka dan sepenuhnya mengandalkan kuasa Roh Kudus-Nya saja untuk mengubah kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Berikanlah kepadaku telinga-telinga yang terbuka agar dapat mendengar suara-Mu. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang menghargai kata-kata-Mu dan dengan rendah hati menerima segala sesuatu yang Engkau katakan kepadaku. Berbicaralah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Tob 11:5-17), bacalah tulisan yang berjudul “MATA TOBIT DISEMBUHKAN (bacaan tanggal 9-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010)

Cilandak, 7 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERTANYAAN YANG MENCERMINKAN SEBUAH HATI YANG MENCARI

PERTANYAAN YANG MENCERMINKAN SEBUAH HATI YANG MENCARI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX Kamis, 8 Juni 2017)

OFMCap.: Peringatan B. Nikolaus Gesturi, Imam 

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.”  Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28b-34) 

Bacaan Pertama: Tob 6:10-11; 7:1,6,8-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5 

Literatur Yahudi bercerita tentang seseorang yang pada suatu hari bertanya kepada Rabbi Hillel untuk meringkas 613 peraturan Perjanjian Lama selagi dia berdiri atas satu kakinya, artinya secara singkat saja! Hillel menjawab: “Apa yang kamu benci bagi dirimu sendiri, janganlah lakukan kepada sesamamu. Ini adalah keseluruhan hukum; selebihnya adalah tafsir/komentar” (lihat Tob 4:15a; bdk. Mat 7:12).

Rupanya ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil kali ini tidak tergolong mayoritas para pemuka agama Yahudi yang ingin mempermalukan, mencelakakan, malah menghabiskan Yesus. Ia melontarkan pertanyaan yang sama (baca Luk 10:25 dsj.), namun terkesan tulus: “Perintah manakah yang paling utama?” (12:28). Kebanyakan ahli Taurat memandang Yesus sebagai sebagai seorang rabbi yang merupakan saingan, … sebagai ancaman! Lain halnya dengan ahli Taurat yang satu ini: dia memandang Yesus sebagai suatu kesempatan untuk belajar. Oleh karena itu secara sopan dia mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang mencerminkan suatu keprihatinan yang tertanam dalam-dalam di setiap hati anak manusia.

Pertanyaan ahli Taurat ini mencerminkan sebuah hati yang mencari – kalau mungkin, untuk memahaminya – suatu prinsip tunggal sederhana yang mendasari kompleksitas hukum yang berlaku. Perintah mendasar mana yang dapat memberikan arti kepada pelbagai ketetapan dan peraturan tentang hidup keagamaan yang lebih kecil? Apakah ada kunci yang dapat membongkar teka-teki kehidupan kita dan membimbing kita melalui kompleksitas baik di sekeliling kita maupun di dalam diri kita sendiri? Kita semua merindukan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas.

Perintah untuk mengasihi Allah dan sesama bukan sekadar suatu perintah atau tugas. Bagaimana pun juga tidak ada orang yang dapat mengasihi hanya karena dia diperintahkan untuk melakukan begitu! Akhirnya, mengasihi Allah adalah suatu privilese, suatu relasi yang dimulai oleh Allah sendiri (lihat 1Yoh 4:19) pada saat kita dibaptis dan yang bertumbuh sementara kita menerima  sabda Allah dan membuka hati kita untuk mengalami kasih-Nya. Hal ini bertumbuh sementara kita berupaya terus untuk menyelaraskan kehendak-kehendak kita dengan perintah Allah yang paling utama ini, membuat keputusan-keputusan harian untuk meminta Allah mengajarkan kepada kita bagaimana mengasihi dan taat kepada-Nya.

Allah selalu mau berada dekat dengan kita, dan setiap kali kita berpaling kepada-Nya, kita dapat menerima kasih-Nya dengan lebih mendalam lagi. Pengalaman akan kasih-Nya kemudian  kita gunakan untuk mengasihi-Nya dan untuk membagikan kasih ini dengan sesama kita. Benarlah, bahwa kita harus memutuskan mencari Allah dan menanggapi sapaan-Nya, namun keputusan-keputusan ini dimaksudkan mengalir dari relasi penuh cintakasih yang dikehendaki Allah dengan kita, suatu relasi yang bertumbuh seiring dengan cinta kasih yang disyeringkan.

DOA: Bapa surgawi, gerakkanlah aku dengan kasih-Mu untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu. Sekarang, tolonglah aku agar dapat melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin. 

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH PALING UTAMA DALAM HUKUM TAURAT” (bacaan tanggal 8-6-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 5 Juni 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERINTAH UNTUK MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

PERINTAH UNTUK MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, 24 Maret 2017) 

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.”  Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17

Literatur Yahudi bercerita tentang seseorang yang pada suatu hari bertanya kepada Rabbi Hillel untuk meringkas 613 peraturan Perjanjian Lama selagi dia berdiri atas satu kakinya, artinya secara singkat saja! Hillel menjawab: “Apa yang kamu benci bagi dirimu sendiri, janganlah lakukan kepada sesamamu. Ini adalah keseluruhan hukum; selebihnya adalah tafsir/komentar” (lihat Tob 4:15a; bdk. Mat 7:12).

Rupanya ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil kali ini tidak tergolong mayoritas para pemuka agama Yahudi yang ingin mempermalukan, mencelakakan, malah menghabiskan Yesus. Ia melontarkan pertanyaan yang sama (baca Luk 10:25 dsj.), namun terkesan tulus: “Perintah manakah yang paling utama?” (12:28). Kebanyakan ahli Taurat memandang Yesus sebagai sebagai seorang rabi yang merupakan saingan, … sebagai ancaman! Lain halnya dengan ahli Taurat yang satu ini: dia memandang Yesus sebagai suatu kesempatan untuk belajar. Oleh karena itu secara sopan dia mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang mencerminkan suatu keprihatinan yang tertanam dalam-dalam di setiap hati anak manusia.

Pertanyaan ahli Taurat ini mencerminkan sebuah hati yang mencari – kalau mungkin, untuk memahaminya – suatu prinsip tunggal sederhana yang mendasari kompleksitas hukum yang berlaku. Perintah mendasar mana yang dapat memberikan arti kepada pelbagai ketetapan dan peraturan tentang hidup keagamaan yang lebih kecil? Apakah ada kunci yang dapat membongkar teka-teki kehidupan kita dan membimbing kita melalui kompleksitas baik di sekeliling kita maupun di dalam diri kita sendiri? Kita semua merindukan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas.

Perintah untuk mengasihi Allah dan sesama bukan sekadar suatu perintah atau tugas. Bagaimana pun juga tidak ada orang yang dapat mengasihi hanya karena dia diperintahkan untuk melakukan begitu! Akhirnya, mengasihi Allah adalah suatu privilese, suatu relasi yang dimulai oleh Allah sendiri (lihat 1Yoh 4:19) pada saat kita dibaptis dan yang bertumbuh sementara kita menerima  sabda Allah dan membuka hati kita untuk mengalami kasih-Nya. Hal ini bertumbuh sementara kita berupaya terus untuk menyelaraskan kehendak-kehendak kita dengan perintah Allah yang paling utama ini, membuat keputusan-keputusan harian untuk meminta Allah mengajarkan kepada kita bagaimana mengasihi dan taat kepada-Nya.

Allah selalu mau berada dekat dengan kita, dan setiap kali kita berpaling kepada-Nya, kita dapat menerima kasih-Nya dengan lebih mendalam lagi. Pengalaman akan kasih-Nya kemudian  kita terapkan untuk mengasihi-Nya dan untuk membagikan kasih ini dengan sesama kita. Benarlah, bahwa kita harus memutuskan mencari Allah dan menanggapi sapaan-Nya, namun keputusan-keputusan ini dimaksudkan mengalir dari relasi penuh cintakasih yang dikehendaki Allah dengan kita, suatu relasi yang bertumbuh seiring dengan cinta kasih yang disyeringkan.

DOA: Bapa surgawi, gerakkanlah aku dengan kasih-Mu untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu. Teristimewa pada masa Prapaskah ini, tolonglah aku agar dapat melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul  “MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA” (bacaan tanggal 24-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 21 Maret 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JENIS INI TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA

JENIS INI TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Senin, 20 Februari 2017) 

stdas0568-christ-heals-epileptic-boyKetika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka. Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Jawab seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya berkertak dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, ia segera mengguncang-guncangkan anak itu, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang muloutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api untuk membinasakannya. Tetapi jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu: Jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegur roh jahat itu dengan keras, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah daripada anak ini dan jangan merasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebat. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia berdiri.

Ketika Yesus masuk ke rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka kepada-Nya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa.” (Mrk 9:14-29) 

Bacaan Pertama: Sir 1:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5

Begitu turun dari gunung bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes, Yesus menghadapi kegagalan murid-murid-Nya yang lain dalam melakukan pelepasan (deliverance) atas diri seorang anak yang sudah lama dirasuki roh jahat. Setelah meratapi ketiadaan iman mereka, Yesus mengusir roh jahat itu, lalu mengatakan kepada para murid-Nya ketika sendirian dengan Dia, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa” (Mrk 9:29). Jelas di sini, bahwa iman dan doa merupakan dua hal vital agar dapat melihat Allah bekerja dengan penuh kuat-kuasa.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan sebagai berikut: “Ini merupakan kekuatan doa, karena ‘tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya’ (Mrk 9:23) dan ‘tidak bimbang’ (Mat 21:21) dalam iman ini. Yesus bersedih hati karena ‘ketidakpercayaan’ (Mrk 6:6) sanak keluarga dan ‘orang yang kurang percaya’ di antara murid-murid-Nya (Mat 8:26), dan Ia amat kagum akan ‘iman besar’ dari perwira Roma (Mat 8:10) dan wanita Kanaan (bdk. Mat 15:28)” (KGK, 2610).

Apa yang dimaksudkan dengan iman? Sebagaimana seekor burung yang merasakan kedatangan cahaya matahari dan kemudian bernyanyi untuk menyapa terbitnya matahari sementara keadaan masih gelap, maka iman adalah suatu kepercayaan akan Allah yang mengetahui bahwa kita akan melihat hasil-hasilnya, walaupun dalam keadaan yang kelihatannya tidak memberikan harapan. Sekarang, apa yang dimaksudkan dengan doa? Doa dapat dikatakan sebagai suatu keterbukaan dan tanggapan penuh kepercayaan terhadap kehadiran dan kehendak Allah, dalam kerendahan hati.

Apabila kita ingin mengalami kemerdekaan sejati dalam kehidupan kita, atau ingin melihat seorang sahabat atau anggota keluarga kita disembuhkan dan dibuat menjadi utuh, maka kita harus percaya dengan sepenuh hati kita dan berdoa sekuat tenaga kita. Yesus telah datang untuk membebas-merdekakan segenap umat-Nya. Yesus tidak suka melihat penderitaan kita. Kita harus percaya bahwa Dia ingin menyembuhkan dan membebaskan kita. Dia mau membebaskan kita dari segala keterikatan pada dosa. Kita juga tidak pernah boleh mengabaikan doa, bahkan sampai akhir hayat kita. Kita harus tetap konsisten dan mencoba terus. Kita harus percaya, bahwa sementara kita menyerahkan situasi-situasi yang kita hadapi kepada Yesus, maka Dia akan bertindak seturut hikmat dan kuasa-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyelamatkan dan membebaskan aku dari dosa. Ajarlah aku untuk percaya lebih mendalam lagi dan berdoa dengan lebih penuh keyakinan lagi. Tuhan, Engkau tahu situasi yang sedang kuhadapi. Perkenankanlah aku melihat karya-Mu yang penuh kuasa pada hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:14-29), bacalah tulisan yang berjudul “AKU PERCAYA” (bacaan tanggal 20-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak,  17 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ESENSI HUKUM ALLAH ADALAH CINTAKASIH

ESENSI HUKUM ALLAH ADALAH CINTAKASIH

(Bacaan Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Selasa, 7 Februari 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Koleta dari Corbie, Ordo II

jesus_christ_picture_013Orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah -, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” (Mrk 7:1-13)

Bacaan Pertama: Kej 1:20 – 2:4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:4-9

Bayangkan seorang anak muda pada hari ulang tahunnya yang ke-21 berkata kepada ayah dan ibunya, “Aku telah mencintai bapak dan ibu sampai titik yang dituntut dari diriku. Namun sekarang jasa bapak dan ibu sudah tidak lagi kubutuhkan, dengan demikian aku tidak mempunyai kewajiban apa-apa lagi kepada bapak dan ibu.”  Siapa saja tentunya akan kaget bercampur sedih mendengar pernyataan “kurang ajar” seperti itu. Namun sejumlah pemuka agama Yahudi pada zaman Yesus menggunakan dasar-dasar teknis di bidang hukum untuk membenarkan seorang anak yang bertumbuh dewasa menetapkan suatu batas tertentu dalam hal mereka memelihara orangtua mereka yang sudah tua usia (Mrk 7:11-12).

Meskipun mereka menjunjung tinggi hukum Allah dengan seksama, orang-orang Farisi melupakan nilai sentralnya, yaitu cintakasih. Lalu, kalau mereka tak mampu memahami panggilan Allah kepada cintakasih-tanpa-batas dalam keluarga, bagaimana mereka akan mampu memahami cintakasih-Nya bagi seluruh umat manusia? Juga ironislah bahwa orang-orang Farisi menetapkan suatu batas mengenai cintakasih dalam keluarga, karena hubungan antara orangtua dan anak-anak adalah salah satu dari gambaran yang mendalam dari hubungan antara Allah dan umat-Nya. Seperti orangtua yang mengasihi anak-anaknya tak akan merasa ragu sedetik pun untuk mengorbankan segalanya bagi anak-anaknya, demikian pula Bapa surgawi tidak akan meninggalkan kita.

Pengorbanan-pengorbanan keuangan, fisik dan emosional yang dibuat oleh para orangtua bagi anak-anak mereka memberikan kepada kita gambaran yang hidup dari cintakasih Bapa surgawi bagi kita. Di sisi lain, cintakasih kita kepada orangtua kita adalah salahsatu  pengungkapan yang paling alamiah mengenai cintakasih kita bagi Allah. Karena orangtua kita telah memainkan suatu peranan yang hakiki dalam anugerah kehidupan Allah bagi kita, maka menghormati dan memperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang merupakan satu cara untuk menunjukkan rasa hormat dan syukur kita kepada Allah, yakni Dia yang adalah Sang Pemberi kehidupan bagi kita. Jadi, Yesus menuntut dengan tegas bahwa, apapun tradisi atau kesepakatan-kesepakatan sosial yang sedang menjadi mode, perintah-Nya untuk menghormati orangtua kita tetap berlaku. Dan kita harus mengasihi mereka, bukan dengan cintakasih yang dibatasi dengan kepentingan diri, tetapi tanpa reserve. Kita harus mengasihi mereka tanpa syarat, seperti juga Allah mengasihi kita.

Bagaimana kita dapat mengasihi seperti itu? Dengan menerima cintakasih Allah bagi kita, sebagai anak-anak-Nya dan dengan mengesampingkan apa saja yang menjauhkan atau memisahkan kita daripada-Nya. Oleh karena itu mendekatlah kepada Allah sekarang juga, apa pun yang sedang anda lakukan. Perkenankanlah Dia mengasihimu sebagai seorang Bapa yang penuh kasih, sehingga pada gilirannya nanti anda pun dapat membagikan cintakasih itu dengan orang-orang lain – dengan orangtuamu, keluargamu dan siapa saja yang membutuhkan.

DOA: Bapa surgawi, berkatilah semua orangtua. Biarlah anak-anak menunjukkan cintakasih mendalam kepada mereka. Biarlah semua orang akhirnya mengenal dan mengalami cintakasih kebapaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 7:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN OMDO” (bacaan tanggal 7-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 3 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS