Posts tagged ‘AHLI TAURAT’

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, 13 Maret 2015)

OFM: Peringatan B. Ludovikus dr Casoria, Imam 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Lalu seorang  ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17 

Ahli Taurat ini datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang seringkali merupakan topik perdebatan dalam sekolah-sekolah para rabi. Dalam Yudaisme terdapat kecenderungan ganda. Ada kecenderungan untuk meluaskan hukum secara tanpa batas ke dalam ratusan dan bahkan ribuan peraturan. Di sisi lain ada juga kecenderungan untuk mencoba merumuskan hukum itu ke dalam satu kalimat, sebuah pernyataan umum yang akan menjadi ringkasan dari keseluruhan pesan. Hillel sekali diminta oleh seorang pengikut baru untuk mengajarkan kepadanya seluruh hukum sementara dia berdiri dengan satu kaki saja. Jawaban Hillel: “Apa yang kamu benci bagi dirimu sendiri, janganlah lakukan pada sesama. Ini adalah seluruh hukum, selebihnya adalah tafsiran. Pergilah dan belajarlah.” Simon sang Budiman telah berkata, “Dunia berdiri di atas tiga hal – atas hukum, atas penyembahan, dan atas karya-karya kasih.”

Sammlai telah mengajarkan bahwa Musa menerima 613 aturan/ajaran di Gunung Sinai, 365 sesuai dengan jumlah hari dalam satu tahun matahari, dan 248 sesuai dengan jumlah generasi manusia. Daud mengurangi jumlah 613 itu menjadi 11 saja dalam Mazmur 15:

TUHAN (YHWH), siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?

  1. Dia yang berlaku tidak bercela,
  2. yang melakukan apa yang adil,
  3. dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
  4. yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya,
  5. yang tidak berbuat jahat terhadap temannya,
  6. yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya,
  7. yang memandang hina (terjemahan LAI: orang yang tersingkir) bajingan (Inggris RSV: reprobate),
  8. tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN,
  9. yang berpegang teguh pada sumpah, walaupun rugi;
  10. yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba,
  11. dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.

12Yesaya mengurangi semua itu menjadi 6 aturan/ajaran (baca sendiri: Yes 33:15); Mikha mengurangi 6 aturan/ajaran ini menjadi 3 (baca sendiri: Mi 6:8); sekali lagi Yesaya mengurangi 3 aturan/ajaran menjadi 2 (baca sendiri: Yes 56:1); dan akhirnya Habakuk datang dengan satu saja aturan/ajaran: “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab 2:4).

Di sini kita dapat melihat kecerdikan/kelihayan dari sekolah atau tradisi para rabi. Dalam hal ini ada dua arus pemikiran, yang pertama adalah mereka yang percaya adanya hal-ikhwal hukum yang lebih ringan dan ada pula hal-ikhwal hukum lebih berat yang sangat-sangat penting untuk dipahami. Di lain pihak ada yang berpandangan bahwa setiap prinsip – betapa kecil sekalipun – sama-sama mengikatnya, dan percobaan untuk menimbang-nimbang pentingnya prinsip-prinsip itu secara relatif sungguh berbahaya. Nah, ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus sesungguhnya mengajukan pertanyaan tentang suatu isu yang hidup dalam pemikiran di kalangan Yahudi dan diskusi yang terkait.

Untuk menjawab pertanyaan ahli Taurat itu, Yesus mengambil dua perintah besar dan menggabungkan kedua perintah itu.

  • “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN (YHWH) itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ul 6:4).

Kalimat ini adalah kredo nyata dari Yudaisme dan dinamakan syema (shema), kata kerja dalam bahasa Ibrani yang berarti mendengar. Keseluruhan kalimat disebut syema, diambil dari kata pertama dalam kalimat. Kalimat ini digunakan dalam tiga hal.

  1. Setiap kebaktian di sinagoga senantiasa dimulai dengan kalimat syema ini. Syema yang lengkap terdapat dalam Ul 6:4-9, 11:13-21; Bil 15:37-41. Ini adalah deklarasi bahwa Allah adalah satu-satunya Allah, dasar dari monotheisme Yahudi.
  2. Teks syema dimasukkan ke dalam kotak-kotak kecil yang terbuat dari kulit (phylacteries) yang dikenakan oleh orang Yahudi saleh pada dahinya dan pergelangan tangannya pada saat dia berdoa. Selagi dia berdoa, dia mengingatkan dirinya akan kredonya. Kewajiban untuk mengenakan kotak-kotak kecil kulit itu dapat dilihat dalam Ul 6:8.
  3. Teks syema juga dimasukkan ke dalam sebuah kotak kecil berbentuk silindris yang dinamakan Mezuzah yang dipasang pada pintu setiap rumah orang Yahudi dan juga pada pintu setiap ruangan yang ada dalam rumah itu, guna mengingatkan orang Yahudi akan Allah ketika dia ke luar dan pada waktu dia masuk.
  • “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18). Dalam hal ini Yesus melakukan sesuatu yang inovatif. Dalam konteksnya yang asli, yang dimaksudkan dengan “sesama manusia” adalah sesama Yahudi. Jadi samasekali tidak ada urusannya dengan orang non-Yahudi (baca: kafir), yang malah boleh-boleh saja dibenci. Yesus mengartikan “sesama” tanpa kualifikasi dan tanpa batas-batas tertentu. Jadi, Yesus mengambil hukum lama dan mengisinya dengan suatu makna baru.

Hal baru yang dilakukan Yesus adalah untuk menaruh dua perintah secara bersama-sama. Tidak pernah ada rabi mana pun yang pernah melakukan hal seperti yang dilakukan Yesus ini. Memang sekitar tahun 100 SM, pernah disusun serangkaian traktat (risalat) yang dinamakan “Warisan 12 Bapa bangsa” di dalam mana seorang penulis tak dikenal menaruh ke dalam mulut para bapa bangsa tersebut beberapa ajaran yang sangat baik. Dalam “Warisan Isakhar” (5:2) kita membaca: “Kasihilah Tuhan dan kasihilah sesamamu, berbela-rasalah terhadap orang-orang miskin dan lemah.” Dalam warisan yang sama (7:6) kita membaca: “Aku mengasihi Tuhan, demikian pula setiap orang dengan segenap hatiku.”  Dalam “Warisan Dan” (5:3) kita membaca: “Kasihilah Tuhan sepanjang hidupmu, dan kasihilah satu sama lain dengan suatu hati yang benar.”

Childrens-Home-of-the-Immaculate-Heart-babyNamun demikian, tidak ada seorang pun kecuali Yesus yang menempatkan kedua perintah secara bersama-sama dan membuat dua perintah itu menjadi satu. Agama menurut Yesus adalah mengasihi Allah dan mengasihi manusia. Menurut Dia jalan satu-satunya seseorang dapat membuktikan bahwa dia mengasihi Allah ialah dengan menunjukkan bahwa dia mengasihi manusia sesamanya.

Ahli Taurat menerima dengan baik jawaban Yesus itu dan dia juga mengatakan bahwa mengasihi Allah dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya (Mrk 12:32-33). Dalam hal ini ahli Taurat itu berada dalam tingkat tertinggi pemikiran umat Yahudi. Berabad-abad sebelumnya Samuel berkata, “Apakah TUHAN itu berkenan kepada kurban bakaran dan kurban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada daripada kurban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1Sam 15:22). Hosea telah mendengar Allah bersabda: “… Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan” (Hos 6:6).

Namun demikian, adalah kenyataan bahwa senantiasa lebih mudahlah untuk membiarkan segala macam rituale lahiriah menggantikan kasih yang sejati. Selalu lebih mudahlah membuat penyembahan sejati menjadi soal membangun Gereja daripada kehidupan secara menyeluruh. Dalam perumpamaan “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37), imam dan orang Lewi dapat melewati seorang Yahudi yang babak belur terkapar di jalan karena kedua “pejabat” agama itu berpandangan bahwa menjalankan “rituale keagamaan” di Bait Allah adalah jauh lebih penting daripada memikirkan “nasib” sesamanya yang baru “dikerjain”  oleh para pembegal di jalan antara Yerusalem dan Yerikho. Nah ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil hari ini sudah melampaui para rekan sezamannya. Itulah sebabnya mengapa dia bersikap positif penuh simpati terhadap sang Rabi dari Nazaret.

Kita dapat membayangkan adanya pandangan penuh kasih pada mata Yesus ketika Dia berkata kepada ahli Taurat itu: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” (Mrk 12:34).

Sumber: William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE – THE GOSPEL OF MARK, Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1975 (Revised Edition), pages 292-297.

DOA: Bapa surgawi, jikalau aku pada saat ini mengatakan bahwa aku mengasihi Engkau, tetapi aku membenci saudaraku, maka aku adalah seorang pendusta. Karena jika aku tidak mengasihi saudaraku yang kelihatan tak mungkinlah bagiku untuk mengasihi Engkau yang tidak kelihatan (1Yoh 4:20). Biarlah Roh-Mu menggerakkan hatiku untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu yang sejati. Teristimewa pada masa Prapaskah ini, tolonglah aku agar dapat semakin serupa dengan Guruku – Yesus Kristus – sehingga mampu melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hos 14:2-10), bacalah tulisan yang berjudul “DIA ADALAH ALLAH YANG MAHASETIA” (bacaan tanggal 13-3-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “DIA ADALAH ALLAH YANG MAHAKASIH DAN MAHAPENGAMPUN” (bacaan tanggal 8-3-13)  dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “ENGKAU TIDAK JAUH DARI KERAJAAN ALLAH”  (bacaan tanggal 16-3-12) dan “KASIH YANG SEJATI” (bacaan tanggal 28-3-14) keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. Juga tulisan yang berjudul “PERINTAH MANAKAH YANG PALING UTAMA?” (bacaan tanggal 16-3-12) dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak, 25 Maret 2014 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGARUH DOSA ATAS KEHIDUPAN KOMUNITAS

PENGARUH DOSA ATAS KEHIDUPAN KOMUNITAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 16 Januari 2015) 

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk. Martir-martir pertama Fransiskan

DARI ATAS LOTENGKemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12) 

Bacaan pertama: Ibr 4:1-5,11; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,6-8

Kebanyakan dari kita terlalu terbiasa untuk berpikir bahwa pertobatan bersifat sangat privat, suatu masalah pribadi. Dosa, pengampunan dan reparasi diri sesungguhnya merupakan urusan-urusan pribadi (personal affairs), tetapi pada saat yang sama juga merupakan urusan-urusan komunitas (community affairs).   

Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang seorang lumpuh yang disembuhkan oleh Yesus dan yang dosa-dosanya diampuni oleh-Nya. Melihat iman orang-orang yang telah bersusah payah menolong si lumpuh, Yesus berkata: “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5). Orang lumpuh ini telah menjadi beban bagi para tetangganya. Bayangkanlah bagaimana susahnya mereka ketika menurunkan si lumpuh dari atap di atas Yesus untuk disembuhkan oleh-Nya. Mengapa sampai-sampai lewat atap rumah? Karena tidak  mungkin lagi bagi mereka untuk masuk ke rumah itu secara normal melalui pintu.

Penyakit yang diderita orang lumpuh itu jelas merupakan keprihatinan komunitasnya. Yesus menyembuhkan dirinya dan mengirim seorang pribadi yang “normal” kembali ke komunitasnya. Akan tetapi, di tempat itu hadir juga beberapa ahli Taurat. Mereka berpikir dalam hati bahwa Yesus menghujat Allah, karena Allah sendirilah yang dapat mengampuni dosa seorang pribadi (Mrk 2:6-7). Namun Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya pikiran para ahli Taurat tersebut (Mrk 2:8).

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH YANG DIBAWA DARI LOTENG - 650Isunya sekarang apakah manusia dapat mengampuni orang lain dalam nama Allah? Yesus mengatakan: “Ya, boleh!” dan Ia menggunakan peristiwa mukjizat penyembuhan orang lumpuh dalam rumah itu untuk menggambarkan pendapat-Nya.

Kita pun dapat menerapkan peristiwa ini terhadap diri kita masing-masing dalam artian bahwa oleh dosa, oleh keadaan penuh dosa kita, kita tidak mampu untuk menolong diri kita sendiri seperti orang lumpuh itu. Tetapi kita adalah anggota sebuah komunitas. Komunitas kita, Gereja yang adalah komunitas spiritual, harus memiliki keprihatinan terhadap kebutuhan-kebutuhan kita. Gereja dalam nama Yesus Kristus seharusnya memiliki keprihatinan terhadap penyembuhan segala penyakit spiritual para anggotanya.

Kita semua adalah anggota atau bagian sebuah bagian dari komunitas Allah, kita semua terlibat dalam pengampunan dosa. Apabila seseorang – walaupun jika dia tidak sadar akan keseriusan dosa-dosanya – mengakui dosa-dosanya di hadapan seorang imam dalam Sakramen Tobat/Rekonsiliasi, sebenarnya dirinya sedang memberikan kesaksian bahwa dia adalah seorang anggota Gereja pertobatan – sebuah Gereja di mana pertobatan adalah  bagiannya yang hakiki.  Orang itu memberi kesaksian bahwa dia sedang melakukan  reparasi diri, melakukan pertobatan, dengan mengakui dosa-dosanya bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga bagi mereka yang gagal memberi tanggapan terhadap undangan Allah.

Sesungguhnya dosa kita adalah suatu serangan terhadap semua anggota Gereja. Dengan berdosa kita telah gagal untuk mempraktekkan kemampuan kita untuk membuat saudari-saudara kita menjadi lebih baik, untuk membawa rahmat dari tindakan-tindakan kita kepada Gereja secara keseluruhan. Jadi, sebenarnya kita menyakiti setiap orang. Dengan demikian dapat dijelaskan adanya kebutuhan akan pertobatan dalam komunitas Kristiani, sebagai suatu cara untuk mengubah sikap kita. Pertobatan harus ditindak-lanjuti: sikap dan perlakuan penuh kebaikan hati terhadap mereka yang telah kita sakiti, koreksi atas kritik-kritik kita yang tidak fair, kerja ekstra untuk melakukan reparasi terhadap waktu yang telah kita buang percuma dan segala jenis reparasi lainnya. Dosa mempunyai segala jenis reaksi dan dampak pada komunitas. Oleh karena itulah maka pertobatan kita harus berorientasi pada komunitas.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah membuat kami sadar akan dimensi komunal dari pertobatan dan pengampunan. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PENYEMBUHAN OLEH YESUS” (bacaan tanggal 16-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 4:1-5,11), bacalah tulisan yang berjudul “BAIKLAH KITA BERUSAHA MASUK KE DALAM PERHENTIAN ITU” (bacaan tanggal 19-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 10 Januari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SAMA SEPERTI KUBURAN YANG DICAT PUTIH

SAMA SEPERTI KUBURAN YANG DICAT PUTIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Augustinus, Uskup-Pujangga Gereja – Rabu, 28 Agustus 2013)

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASCelakalah kamu, hal ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dicat putih, yang sebelah luarnya memang indah tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kelaliman.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, lengkapilah juga apa yang sudah dilakukan nenek moyangmu! (Mat 23:27-32)

Bacaan Pertama: 1Tes 2:9-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:7-12

Kita semua memiliki pandangan-pandangan atau gambaran-gambaran tertentu tentang seorang “pribadi yang baik” dan kita cenderung untuk menilai satu sama lain seturut pandangan-pandangan atau gambaran-gambaran termaksud. Akan tetapi, seringkali kita tidak berhenti sejenak untuk berpikir tentang dari mana datangnya ide kita itu: misalnya dari para sahabat, dari acara-acara radio/televisi, dari keluarga, atau dari guru-guru kita, dlsb. Beberapa pandangan malah datang/berasal dari bagaimana kita berpikir mengenai diri kita sendiri! Kita harus bersyukur bahwa Allah memandang kita dan menilai kita dengan kejernihan hati yang sempurna, dan penilaian-Nya tak akan mampu digoyahkan oleh angin badai sekali pun.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSNah, orang-orang Farisi dan para ahli Taurat dipandang sebagai “orang-orang baik” dan terhormat dalam masyarakat Yahudi. Namun Yesus berulang kali mengoreksi dan bahkan menegur mereka dengan keras. Memang secara lahiriah terlihat-mata, mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah, namun secara batiniah mereka tidak lebih daripada orang-orang yang senantiasa menganggap diri mereka sendirilah yang paling benar dan orang-orang lain yang “tidak sama” dengan diri mereka sebagai orang-orang “tidak benar”. Mereka tidak memiliki cintakasih dan belarasa. Mereka lebih mementingkan bagaimana penampilan diri mereka di tengah publik. (Pada abad ke-21 ini pun orang-orang seperti ini masih sangat banyak berkeliaran dalam masyarakat di segenap penjuru dunia). Mereka munafik, “sama seperti kuburan yang dicat putih, yang sebelah luarnya memang indah tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran” (Mat 23:27). Ketika Yesus mengkonfrontir mereka, bukannya mereka menghadapi kebenaran dan bertobat, mereka malah menjadi marah dan berniat untuk menghancurkan Yesus.

Tentunya kita semua ingin mempunyai perasaan baik dan nyaman tentang diri kita sendiri. Kita akan mencari jalan untuk membenarkan pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan kita. Ketika kita dikonfrontir dengan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa kita, kita bahkan mencoba mengimbangi hal-hal negatif itu dengan melakukan perbuatan “baik” atau paling sedikit mencoba untuk tampil “kurang berdosa” atau “lebih baik sedikit” ketimbang orang-orang berdosa. Dengan perkataan lain, kita mencoba “membeli” kasih Allah dan respek dari orang-orang lain. Semua itu memang jauh lebih mudah daripada menghadapi Yesus dengan hati yang bertobat. Barangkali kita juga merasa takut bahwa kita tidak akan mampu untuk berubah dan dengan demikian kita kembali menyusut ketika Roh Kudus membongkar aspek-aspek gelap kehidupan kita.

Hanya karya Allah dalam diri kitalah yang dapat menolong kita memahami dan menilai pemikiran-pemikiran dan niat-niat kita. Adalah vital bagi kita untuk memahami bahwa bilamana Yesus menyatakan motivasi kita yang sesungguhnya, maka Dia juga menawarkan kepada kita “penyembuhan dan pembebasan”. Kita tidak akan pernah dapat menentukan sendiri kapan kita sudah pantas – karena upaya-upaya dengan menggunakan kekuatan kita sendiri – untuk dapat datang menghadap hadirat Allah. Hanya oleh darah Yesus yang menyelamatkan kita dapat menikmati hidup kekal, dan hanya oleh kuasa salib-Nya kita dapat dibebaskan dari dosa yang selama ini membelenggu kita. Dalam kedinaan dan keterbukaan hati, marilah kita berlari kepada Yesus dan memohon dari Dia agar menyatakan area-area dalam hidup kita yang membutuhkan sentuhan kasih-Nya. Yesus akan senantiasa menyambut kedatangan kita dan berurusan dengan kita secara lemah lembut penuh kasih.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau memiliki kuat-kuasa untuk membebaskan diriku dari dosa dan keterikatan lainnya. Aku menyambut kedatangan Roh Kudus untuk bekerja dalam diriku dan menilai pikiran-pikiran dan niat-niatku. Bebaskanlah aku dan bawalah aku ke hadapan takhta Bapa di surga. Amin.

Catatan: Untuk memperdalam Bacaan Pertama hari ini (1Tes 2:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH KRISTUSLAH YANG MENDORONG PAULUS” (bacaan tanggal 28-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2013.

Cilandak, 26 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERSIHKANLAH DAHULU SEBELAH DALAM CAWAN ITU!

BERSIHKANLAH DAHULU SEBELAH DALAM CAWAN ITU!

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Monika – Selasa, 27 Agustus 2013)

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - DENGAN KUASA MANA ENGKAU ...Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin pemimpin buta, nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.

Celakalah kamu, hai ahli-hali Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. (Mat 23:23-26)

Bacaan Pertama: 1Tes 2:1-8; Mazmur Tanggapan: 139:1-6; Bacaan Injil alternatif: Luk 7:11-17

“Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih” (Mat 23:26).

Kita masing-masing (anda dan saya) adalah cawan yang dimaksud! “Sebelah dalam” cawan adalah hati kita, inti terdalam keberadaan kita. “Sebelah luar” cawan adalah apa yang dapat dilihat dan diamati oleh orang lain – kata-kata kita, tindakan-tindakan kita, dan perilaku kita pada umumnya. Kata-kata Yesus ini menunjukkan kepada kita bahwa Dia ingin agar kita masing-masing memiliki sebuah hati yang bersih, yang kebaikannya memancar ke luar, sehingga setiap hal tentang diri kita menyenangkan Allah.

Sekarang muncullah sebuah pertanyaan, “Bagaimana aku membersihkan hatiku? Kebenarannya adalah bahwa kita tidak dapat membersihkan hati kita sendiri! Hal ini hanya Allah-lah yang dapat melakukannya. Adalah benar bahwa kita harus bekerja sama dengan Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita. Walaupun begitu, akhirnya, hati kita dapat dibuat bersih dan murni hanya melalui kegiatan Roh Kudus, Allah sendiri.

Kalau begitu halnya, bagaimana kita dapat menjadi lebih sensitif terhadap Roh Kudus sehingga kita dapat mendeteksi gerakan-gerakan-Nya dalam hati kita dan bekerja sama dengan Dia? Dengan/melalui doa-doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, seringkali menerima Sakramen-sakramen, dan menggunakan kharisma, atau karunia/anugerah yang telah diberikan kepada kita oleh-Nya. Kita juga dapat belajar banyak tentang karya Roh Kudus dengan/melalui sebuah rencana yang baik untuk studi atas ajaran-ajaran Gereja dan pembacaan dan permenungan atas riwayat orang-orang kudus. Di atas segalanya, secara sederhana kita dapat mohon Roh Kudus untuk masuk ke dalam hati kita semakin dalam lagi. Selagi relasi kita dengan Roh Kudus itu semakin bertumbuh-kembang, kita mun akan menjadi semakin sensitif terhadap bimbingan-Nya. Kita akan mengalami Dia memurnikan hati kita, yang pada gilirannya akan mempunyai suatu efek pembersihan atas kata-kata dan tindakan-tindakan kita.

Akhirnya sebuah catatan dari saya: selagi anda bekerja membangun/memperbaiki relasi anda dengan Roh Kudus, ambillah Ibu Maria, ibunda Yesus sebagai “model” yang anda dapat teladani. Sejak saat pemberitahuan oleh malaikat agung Gabriel, ketika dia dinaungi oleh Roh Kudus sampai pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, di mana dia pun hadir bersama para rasul pada saat pencurahan Roh Kudus, Bunda Maria menunjukkan kepada kita apa dan bagaimana kerendahan hati, ketaatan, dan rasa percaya (trust) dapat membuat diri kita tetap terbuka bagi Roh Kudus. Bilamana kita ingin hati kita – “sebelah dalam cawan” – menjadi bersih dan murni, perkenankanlah Bunda Maria menunjukkan jalannya bagaimana kita menjadi lebih terbuka bagi karya Roh Allah dalam diri kita.

DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mata dan telinga hatiku terhadap tindakan-Mu dan bimbingan-Mu. Datanglah, ya Roh Kudus, dan penuhilah diriku sehingga – seperti Bunda Maria – aku pun dapat memiliki sebuah hati yang bersih-murni. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Tes 2:1-8), bacalah tulisan berjudul “PERKENANKANLAH ALLAH MEMERIKSA HATI KITA!!!” (bacaan tanggal 27-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2013.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 28-8-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 25 Agustus 2013 [HARI MINGGU BIASA XXI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CARA-CARA YANG BARU DAN BERBEDA

CARA-CARA YANG BARU DAN BERBEDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Senin, 26 Agustus 2013)

CELAKALAH KAMU HATI ORANG FARISI - James_Tissot

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda dan kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Karena itu, kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan, untuk membuat satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah hal itu terjadi, kamu menjadikan dia calon penghuni neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri.

Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, manakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, manakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu, siapa saja yang bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Siapa saja yang bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang tinggal di situ. Siapa saja yang bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya. (Mat 23:13-22)

Bacaan Pertama: 1Tes 1:2b-5. 8b-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi” (Mat 23:13).

Memang mudahlah bagi kita berpendapat bahwa orang-orang Farisi adalah sekelompok orang yang bersikap legaslistik dan sombong yang ingin menghancurkan Kerajaan Allah. Sebenarnya mereka bukanlah orang-orang yang paling buruk. Pengabdian mereka kepada Allah dalam artian tertentu sungguh luarbiasa dan mereka senantiasa siap untuk melakukan pengorbanan demi Allah yang mereka sembah dan umat-Nya (Ingatlah apa yang dilakukan oleh Saulus sebelum ia bertobat dan kemudian bernama Paulus). Hasrat mereka yang utama adalah melindungi Yudaisme dari penyusupan oleh sumber-sumber asing seperti kekafiran Roma. Dengan “mati-matian” mereka mempertahankan Kitab Suci dan berupaya untuk menjaga agama mereka agar tetap murni. Inilah segala kualitas mereka yang bagus, dan tentunya mereka adalah orang-orang yang mengesankan sehingga mampu menarik banyak pengikut.

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASMasalahnya adalah bahwa ada sejumlah orang Farisi yang begitu mati-matian ingin memelihara dan mempertahankan Yudaisme sebagaimana mereka pahami sendiri sehingga mereka samasekali menutup diri terhadap kemungkinan bagi Allah untuk melakukan hal-hal yang baru. Sungguh tak diduga oleh mereka penyelamatan Allah dapat datang melalui seorang tukang kayu miskin dari Nazaret yang “dekat” dengan para pemungut cukai dan para pendosa serta orang-orang tak beriman lainnya. Bagaimana mungkin Allah menggunakan orang yang tidak sependapat dengan keyakinan mereka?

Dengan mengingat hal ini, kita dapat melihat hati Yesus secara lebih jelas ketika Dia mengutuk orang-orang Farisi. Yesus bukan merasa muak dengan mereka, hati-Nya patah dan hancur melihat kedegilan hati dan sikap sok suci mereka. Bayangkan Yesus mengucapkan kata-kata yang keras dengan air mata berlinang dan suara yang serak. Inilah sekelompok orang yang begitu penuh pengabdian kepada Allah seturut versi mereka sendiri, namun mata mereka dibutakan terhadap rahmat yang tersedia bagi mereka. Sungguh tragis melihat mereka yang tidak mampu mengenali Yesus dan menolak Yesus sebagai sang Mesias yang dinanti-nantikan!

Cerita tentang orang-orang Farisi ini dapat menjadi pelajaran guna mengingatkan kita. Sementara kebenaran-kebenaran teologis tidak pernah berubah, Roh Kudus senantiasa bekerja di tengah-tengah kita, kadang-kadang dengan cara-cara yang baru dan berbeda. Sungguh mudahlah, namun sungguh berbahaya juga, bagi kita untuk mempunyai Allah yang sudah didefinisikan secara pasti. Yesus dapat saja mengundang kita kepada suatu dimensi baru dalam relasi kita dengan diri-Nya. Kita tidak boleh melarikan diri dari hal seperti itu karena hal itu berbeda daripada apa yang selama ini kita ketahui. Marilah kita menggunakan hikmat dan discernment, namun kita juga harus senantiasa siap dan terbuka bagi cara-cara doa yang tidak familiar, mendengar bisikan Roh Kudus yang tidak familiar, dan menunjukkan cintakasih kita kepada umat Allah dengan cara yang tidak familiar juga.

DOA: Roh Kudus Allah, lembutkanlah hatiku. Aku tidak ingin luput melihat diri-Mu selagi Engkau bergerak dalam hidupku dengan cara-cara baru pada hari ini. Aku tidak ingin menjadi terbatas dalam perspektifku tentang Siapa Engkau sebenarnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 23:13-22), bacalah tulisan yang berjudul “CELAKALAH KAMU, HAI AHLI-AHLI TAURAT DAN ORANG-ORANG FARISI !!!” (bacaan tanggal 26-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2013.

Cilandak, 22 Agustus 2013 [Peringatan SP Maria, Ratu]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Jumat, 23 Agustus 2013)

Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Berardus dr Offida, Biarawan

RABI DARI NAZARET - 1Ketika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Rut 1:1,3-6,14b-16,22; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:5-10

Hukum Yahudi, bahkan pada masa Yesus hidup dan berkarya di Palestina, sangat jelimet …… rumit! Perwahyuan dan tradisi selama berabad-abad telah menghasilkan perintah-perintah, instruksi-instruksi dan panduan-panduan yang mengatur hampir setiap aspek kehidupan dan iman, sampai-sampai kepada hal-hal seperti “pembayaran persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran” (Luk 11:42). Di samping itu, berbagai kelompok seperti kaum Farisi, Saduki, Eseni dan kelompok lainnya masing-masing menafsirkan dan mengajarkan tentang hukum tersebut dengan cara yang berbeda dan kadang-kadang saling bertentangan. Jadi, tidak mengherankanlah apabila tidak sedikit orang menjadi bingung.

Pada waktu orang-orang Farisi yang menentang Yesus bertanya kepada-Nya tentang perintah-perintah yang paling utama, kita merasakan bahwa sebenarnya mereka tidak mencari kebenaran yang sejati. Malah sebaliknya, karena mengetahui adanya berbagai kemungkin tafsir yang berbeda-beda, mereka berharap Yesus akan mengatakan sesuatu yang akan menjebak diri-Nya …. Yesus akan terperangkap dalam kontroversi, malah akan mendiskreditkan diri-Nya sebagai seorang Rabi, …… kehilangan profesi-Nya sebagai seorang Rabi, dipermalukan dlsb.

Dalam jawaban-Nya Yesus mengingatkan para pendengar-Nya bahwa cintakasih terletak pada jantung Yudaisme, artinya dalam Injil-Nya juga. Allah menciptakan kita-manusia karena Dia mengasihi kita, Dia “telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Ef 1:4). Allah senantiasa mengasihi kita (lihat Mzm 100:5). Ini adalah suatu cintakasih yang membawa kehidupan, merangkul kehidupan secara keseluruhan dan tetap setia pada kehidupan itu sampai akhir.

Yesus mengajar bahwa karena Allah mengasihi kita, maka kita pun harus mengasihi-Nya dan juga sesama kita. Bagaimana hal itu mungkin terjadi? Ada hari-hari di mana kelihatan sukar bagi kita untuk mengasihi diri kita sendiri dengan sepenuh hati, apalagi orang-orang lain – atau bahkan Allah sekalipun. Namun Allah mengetahui bagaimana Dia menciptakan kita. Dia tidak pernah memberikan mission impossible kepada kita. Yang perlu kita lakukan adalah memohon kepada-Nya agar memenuhi hati kita masing-masing dengan kasih-Nya. Kemudian, kasih itu akan mulai mengalir kembali kepada-Nya dalam rupa adorasi dan puji-pujian kepada-Nya. Kasih itu pun akan mengalir ke luar kepada orang-orang lain dan diwujudkan dalam penerimaan terhadap orang-orang yang dahulu tidak mau/sudi kita lihat atau sentuh, pengampunan kepada orang-orang yang bersalah kepada kita, dan pelayanan kepada sesama yang miskin dan menderita.

Tidaklah terlalu sulit bagi Allah untuk melembutkan sebuah hati yang keras-membatu, untuk menghangatkan sebuah hati yang dingin-membeku, untuk memulihkan sebuah hati yang patah, atau untuk menghembuskan nafas kehidupan ke dalam sebuah hati yang tak mampu memberi tanggapan samasekali. Pada kenyataannya, Allah sangat senang melakukan semua hal itu. Yang perlu adalah kita memohon pertolongan-Nya dengan keterbukaan dan kerendahan hati sebagai anak-anak-Nya. Tidak ada doa-doa istimewa yang diperlukan. Doakanlah permohonan kita (anda dan saya) dengan kata-kata sederhana, tidak perlu diucapkan keras-keras karena Dia adalah Allah yang Mahamendengar, bahkan doa hening pun sangat mencukupi Mengapa begitu mudah? Karena Allah kita adalah Allah yang baik dan benar, seperti dikatakan oleh sang pemazmur: “TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat” (Mzm 25:8)

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus Allah, dan penuhilah hatiku hari ini. Aku ingin mengasihi Engkau dengan segalanya yang ada di dalam diriku, dan mengasihi sesamaku, namun aku membutuhkan kasih-Mu untuk dapat mengasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “HUKUM YANG TERUTAMA” (bacaan tanggal 23-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PADA KEDUA PERINTAH INILAH TERGANTUNG SELURUH HUKUM TAURAT DAN KITAB PARA NABI” (bacaan tanggal 19-8-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 21 Agustus 2013 [Peringatan S. Pius X, Paus]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERGILAH, DAN PERBUATLAH DEMIKIAN!

PERGILAH, DAN PERBUATLAH DEMIKIAN!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XV [Tahun C] – 14 JULI 2013)

Master_of_the_Good_Samaritan_001

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37)

Bacaan Pertama: Ul 30:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:14,17,30-31,33-34,36-37 atau Mzm 19:8-11; Bacaan Kedua: Kol 1:15-20

Injil hari ini mencatat bahwa maksud si ahli Taurat mengajukan pertanyaan kepada Yesus adalah untuk mencobai-Nya (Luk 10:25). Namun ketika bertanya-jawab dengan Yesus, ahli Taurat ini mengungkapkan suatu kepekaan yang jarang terjadi terhadap kata-kata yang diucapkan oleh Yesus dan terhadap panggilan Allah dalam hatinya. Tidak seperti para ahli lainnya dalam hal Hukum Musa – biasanya mereka merupakan lawan-lawan Yesus yang sangat membenci Dia dan ajaran-Nya – ahli Taurat yang satu ini – ketika ditanya balik oleh Yesus – mampu sampai kepada inti dari keseluruhan rencana Allah dengan dua perintah sederhana: “Mengasihi Allah dan mengasihi sesamamu!” (Luk 10:27). Dalam jawabannya kepada Yesus, ahli Taurat itu menunjukkan apa yang telah dikatakan oleh Musa kepada umat Israel berabad-abad sebelumnya: “… firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:14). Ahli Taurat itu menunjukkan bahwa jalan Allah ditulis hampir secara genetika, di dalam impuls-impuls kodrat manusiawi kita, dan untuk jawabannya ini dia memperoleh persetujuan dari Yesus.

Seperti ditunjukkan dalam percakapan Yesus dengan ahli Taurat itu, Injil tidaklah sulit untuk dimengerti. Injil bukanlah seperangkat rumusan teologis yang kompleks, dan kita tidak memerlukan pendidikan bertahun-tahun lamanya hanya untuk sampai kepada inti pesan Injil itu. Dengan penuh belas kasih Allah telah menulis dalam hati kita, dan dalam kedalaman nurani kita masing-masing kita semua mengetahui dan mengenal kebenaran itu. Akan tetapi ada sesuatu yang lebih dalam bacaan Injil hari ini daripada sekadar cerita seorang ahli Taurat yang menunjukkan kesalehan. Yesus tidak hanya mengatakan kepada ahli Taurat itu bahwa dia benar, melainkan juga mengatakan kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” (Luk 10:28).

HATI KUDUS YESUS - 099Dengan hati yang lega kita dapat menutup “episode” ini. Tetapi ternyata untuk membenarkan dirinya ahli Taurat itu bertanya lagi kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” (Luk 10:29). Sebuah “kalimat tanya tak bertanya” … sudah tahu jawabnya namun masih bertanya juga! Ataukah memang hanya orang Yahudi sajakah yang merupakan sesamanya? Tanggapan Yesus terhadap pertanyaan ini berupa sebuah perumpaman yang sangat indah dan tidak akan mudah untuk kita lupakan, yaitu “perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:30-35). Untuk memahami dengan lebih tepat perumpamaan ini, kita harus mengingat bagaimana mendalamnya orang Yahudi dan Samaria itu saling membenci satu sama lain, disebabkan oleh perbedaan ras, politik dan agama. Pada zaman ini dapatkah kita membayangkan seorang Kristiani Katolik Irlandia menolong seorang Kristiani Protestan dari Ulster, Irlandia Utara; atau seorang Amerika kulit hitam membantu anggota Ku Klux Klan?

Tidak seperti orang Samaria yang murah hati itu, imam dan orang Lewi dua-duanya melihat orang yang tergeletak setengah mati itu, namun melewatinya … lanjut saja! Seandainya orang orang yang menjadi korban keganasan penyamun itu telah mati, maka jika mereka menyentuhnya, … mereka menjadi tidak murni secara rituale untuk acara penyembahan di bait Allah. Jadi, kelihatannya mereka lebih merasa prihatin tentang abc-nya liturgi daripada mengambil risiko menolong seseorang yang sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan serius.

Marilah sekarang kita bertanya kepada diri sendiri: Apabila kita menempatkan diri kita dalam perumpamaan Yesus itu, maka kita (anda dan saya) tergolong kategori yang mana? Imam? Orang Lewi? Orang Samaria? Korban perampokan yang tergeletak setengah mati? Selagi kita melakukan perjalanan dari Yerikho kita masing-masing menuju Yerusalem, bagaimanakah kita bereaksi terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita di sepanjang jalan? Katakanlah mereka bukan orang-orang yang jauh-jauh, mereka adalah para tetangga kita, anggota lingkungan [wilayah, paroki] kita, rekan kerja kita, anggota keluarga kita, karena jarak antara Yerikho dan Yerusalem bisa saja hanya berkisar sejauh kamar tidur dan dapur kita dalam rumah yang sama. Bilamana kita berjumpa dengan orang-orang yang menderita karena berbagai hal, hanya ada dua alternatif pilihan bagi kita: Kita melihat mereka tanpa bela rasa dan kemudian melanjutkan perjalanan kita, atau kita tergerak oleh kasih dan belas kasih-Nya dan kemudian memberikan pertolongan. Muncul kembali dalil klasik, bahwa “hidup adalah pilihan”!

Mengapa Injil ini merupakan sebuah tantangan besar? Mengapa hanya ada sedikit saja “orang Samaria yang murah hati” yang dapat ditemukan di dunia ini? Karena Injil di samping sederhana, juga banyak menuntut. Tidak cukuplah bagi kita untuk memahami kebenaran. Seperti ditunjukkan oleh tanggapan Yesus terhadap si ahli Taurat, pemahaman kita akan kebenaran harus menggiring kita kepada tindakan melakukan kebenaran itu sebaik-baiknya seturut kemampuan kita masing-masing.

Apabila kita membaca Kitab Suci – dan teristimewa pada saat kita mendengarnya dibacakan dalam Misa – maka Yesus mengatakan kepada kita: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:37). Yesus minta kepada kita untuk merangkul kesederhanaan pesan-Nya dan untuk membungkam suara-suara penolakan dalam batin kita yang mencoba untuk membuat sabda-Nya menjadi semakin rumit dan membuat dalih-dalih pembenaran diri mengapa sabda-Nya itu terlalu keras untuk kita praktekkan Musa ternyata benar: sabda itu sama sekali tidak jauh dari kita. Roh Kudus – cintakasih dan kuat-kuasa Allah sendiri – senantiasa ada bersama kita.

Catatan tambahan untuk direnungkan: Pada akhir perumpamaan ini Yesus bertanya kepada si ahli Taurat: “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu? (Luk 10:36). Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” (Luk 10:37). Sebuah jawaban yang samasekali tidak salah, namun lebih elok kiranya kalau dia menambahkan jawabannya dengan kata-kata berikut: “yaitu si orang Samaria!”

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah menuliskan sabda-Mu pada hatiku. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, berikanlah kepadaku keberanian dan kerendahan-hati, agar aku dapat pergi dan melakukan pekerjaan-pekerjaan Injil-Mu. Yesus, buatlah hatiku semakin serupa dengan hati-Mu. Amin.

Cilandak, 9 Juli 2013 [Peringatan martir-martir Tiongkok]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers