Posts tagged ‘AHLI TAURAT’

PERINTAH UNTUK MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

PERINTAH UNTUK MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, 24 Maret 2017) 

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.”  Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17

Literatur Yahudi bercerita tentang seseorang yang pada suatu hari bertanya kepada Rabbi Hillel untuk meringkas 613 peraturan Perjanjian Lama selagi dia berdiri atas satu kakinya, artinya secara singkat saja! Hillel menjawab: “Apa yang kamu benci bagi dirimu sendiri, janganlah lakukan kepada sesamamu. Ini adalah keseluruhan hukum; selebihnya adalah tafsir/komentar” (lihat Tob 4:15a; bdk. Mat 7:12).

Rupanya ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil kali ini tidak tergolong mayoritas para pemuka agama Yahudi yang ingin mempermalukan, mencelakakan, malah menghabiskan Yesus. Ia melontarkan pertanyaan yang sama (baca Luk 10:25 dsj.), namun terkesan tulus: “Perintah manakah yang paling utama?” (12:28). Kebanyakan ahli Taurat memandang Yesus sebagai sebagai seorang rabi yang merupakan saingan, … sebagai ancaman! Lain halnya dengan ahli Taurat yang satu ini: dia memandang Yesus sebagai suatu kesempatan untuk belajar. Oleh karena itu secara sopan dia mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang mencerminkan suatu keprihatinan yang tertanam dalam-dalam di setiap hati anak manusia.

Pertanyaan ahli Taurat ini mencerminkan sebuah hati yang mencari – kalau mungkin, untuk memahaminya – suatu prinsip tunggal sederhana yang mendasari kompleksitas hukum yang berlaku. Perintah mendasar mana yang dapat memberikan arti kepada pelbagai ketetapan dan peraturan tentang hidup keagamaan yang lebih kecil? Apakah ada kunci yang dapat membongkar teka-teki kehidupan kita dan membimbing kita melalui kompleksitas baik di sekeliling kita maupun di dalam diri kita sendiri? Kita semua merindukan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas.

Perintah untuk mengasihi Allah dan sesama bukan sekadar suatu perintah atau tugas. Bagaimana pun juga tidak ada orang yang dapat mengasihi hanya karena dia diperintahkan untuk melakukan begitu! Akhirnya, mengasihi Allah adalah suatu privilese, suatu relasi yang dimulai oleh Allah sendiri (lihat 1Yoh 4:19) pada saat kita dibaptis dan yang bertumbuh sementara kita menerima  sabda Allah dan membuka hati kita untuk mengalami kasih-Nya. Hal ini bertumbuh sementara kita berupaya terus untuk menyelaraskan kehendak-kehendak kita dengan perintah Allah yang paling utama ini, membuat keputusan-keputusan harian untuk meminta Allah mengajarkan kepada kita bagaimana mengasihi dan taat kepada-Nya.

Allah selalu mau berada dekat dengan kita, dan setiap kali kita berpaling kepada-Nya, kita dapat menerima kasih-Nya dengan lebih mendalam lagi. Pengalaman akan kasih-Nya kemudian  kita terapkan untuk mengasihi-Nya dan untuk membagikan kasih ini dengan sesama kita. Benarlah, bahwa kita harus memutuskan mencari Allah dan menanggapi sapaan-Nya, namun keputusan-keputusan ini dimaksudkan mengalir dari relasi penuh cintakasih yang dikehendaki Allah dengan kita, suatu relasi yang bertumbuh seiring dengan cinta kasih yang disyeringkan.

DOA: Bapa surgawi, gerakkanlah aku dengan kasih-Mu untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu. Teristimewa pada masa Prapaskah ini, tolonglah aku agar dapat melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul  “MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA” (bacaan tanggal 24-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 21 Maret 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JENIS INI TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA

JENIS INI TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Senin, 20 Februari 2017) 

stdas0568-christ-heals-epileptic-boyKetika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka. Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Jawab seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya berkertak dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, ia segera mengguncang-guncangkan anak itu, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang muloutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api untuk membinasakannya. Tetapi jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu: Jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegur roh jahat itu dengan keras, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah daripada anak ini dan jangan merasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebat. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia berdiri.

Ketika Yesus masuk ke rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka kepada-Nya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa.” (Mrk 9:14-29) 

Bacaan Pertama: Sir 1:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5

Begitu turun dari gunung bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes, Yesus menghadapi kegagalan murid-murid-Nya yang lain dalam melakukan pelepasan (deliverance) atas diri seorang anak yang sudah lama dirasuki roh jahat. Setelah meratapi ketiadaan iman mereka, Yesus mengusir roh jahat itu, lalu mengatakan kepada para murid-Nya ketika sendirian dengan Dia, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa” (Mrk 9:29). Jelas di sini, bahwa iman dan doa merupakan dua hal vital agar dapat melihat Allah bekerja dengan penuh kuat-kuasa.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan sebagai berikut: “Ini merupakan kekuatan doa, karena ‘tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya’ (Mrk 9:23) dan ‘tidak bimbang’ (Mat 21:21) dalam iman ini. Yesus bersedih hati karena ‘ketidakpercayaan’ (Mrk 6:6) sanak keluarga dan ‘orang yang kurang percaya’ di antara murid-murid-Nya (Mat 8:26), dan Ia amat kagum akan ‘iman besar’ dari perwira Roma (Mat 8:10) dan wanita Kanaan (bdk. Mat 15:28)” (KGK, 2610).

Apa yang dimaksudkan dengan iman? Sebagaimana seekor burung yang merasakan kedatangan cahaya matahari dan kemudian bernyanyi untuk menyapa terbitnya matahari sementara keadaan masih gelap, maka iman adalah suatu kepercayaan akan Allah yang mengetahui bahwa kita akan melihat hasil-hasilnya, walaupun dalam keadaan yang kelihatannya tidak memberikan harapan. Sekarang, apa yang dimaksudkan dengan doa? Doa dapat dikatakan sebagai suatu keterbukaan dan tanggapan penuh kepercayaan terhadap kehadiran dan kehendak Allah, dalam kerendahan hati.

Apabila kita ingin mengalami kemerdekaan sejati dalam kehidupan kita, atau ingin melihat seorang sahabat atau anggota keluarga kita disembuhkan dan dibuat menjadi utuh, maka kita harus percaya dengan sepenuh hati kita dan berdoa sekuat tenaga kita. Yesus telah datang untuk membebas-merdekakan segenap umat-Nya. Yesus tidak suka melihat penderitaan kita. Kita harus percaya bahwa Dia ingin menyembuhkan dan membebaskan kita. Dia mau membebaskan kita dari segala keterikatan pada dosa. Kita juga tidak pernah boleh mengabaikan doa, bahkan sampai akhir hayat kita. Kita harus tetap konsisten dan mencoba terus. Kita harus percaya, bahwa sementara kita menyerahkan situasi-situasi yang kita hadapi kepada Yesus, maka Dia akan bertindak seturut hikmat dan kuasa-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyelamatkan dan membebaskan aku dari dosa. Ajarlah aku untuk percaya lebih mendalam lagi dan berdoa dengan lebih penuh keyakinan lagi. Tuhan, Engkau tahu situasi yang sedang kuhadapi. Perkenankanlah aku melihat karya-Mu yang penuh kuasa pada hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:14-29), bacalah tulisan yang berjudul “AKU PERCAYA” (bacaan tanggal 20-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak,  17 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ESENSI HUKUM ALLAH ADALAH CINTAKASIH

ESENSI HUKUM ALLAH ADALAH CINTAKASIH

(Bacaan Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Selasa, 7 Februari 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Koleta dari Corbie, Ordo II

jesus_christ_picture_013Orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah -, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” (Mrk 7:1-13)

Bacaan Pertama: Kej 1:20 – 2:4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:4-9

Bayangkan seorang anak muda pada hari ulang tahunnya yang ke-21 berkata kepada ayah dan ibunya, “Aku telah mencintai bapak dan ibu sampai titik yang dituntut dari diriku. Namun sekarang jasa bapak dan ibu sudah tidak lagi kubutuhkan, dengan demikian aku tidak mempunyai kewajiban apa-apa lagi kepada bapak dan ibu.”  Siapa saja tentunya akan kaget bercampur sedih mendengar pernyataan “kurang ajar” seperti itu. Namun sejumlah pemuka agama Yahudi pada zaman Yesus menggunakan dasar-dasar teknis di bidang hukum untuk membenarkan seorang anak yang bertumbuh dewasa menetapkan suatu batas tertentu dalam hal mereka memelihara orangtua mereka yang sudah tua usia (Mrk 7:11-12).

Meskipun mereka menjunjung tinggi hukum Allah dengan seksama, orang-orang Farisi melupakan nilai sentralnya, yaitu cintakasih. Lalu, kalau mereka tak mampu memahami panggilan Allah kepada cintakasih-tanpa-batas dalam keluarga, bagaimana mereka akan mampu memahami cintakasih-Nya bagi seluruh umat manusia? Juga ironislah bahwa orang-orang Farisi menetapkan suatu batas mengenai cintakasih dalam keluarga, karena hubungan antara orangtua dan anak-anak adalah salah satu dari gambaran yang mendalam dari hubungan antara Allah dan umat-Nya. Seperti orangtua yang mengasihi anak-anaknya tak akan merasa ragu sedetik pun untuk mengorbankan segalanya bagi anak-anaknya, demikian pula Bapa surgawi tidak akan meninggalkan kita.

Pengorbanan-pengorbanan keuangan, fisik dan emosional yang dibuat oleh para orangtua bagi anak-anak mereka memberikan kepada kita gambaran yang hidup dari cintakasih Bapa surgawi bagi kita. Di sisi lain, cintakasih kita kepada orangtua kita adalah salahsatu  pengungkapan yang paling alamiah mengenai cintakasih kita bagi Allah. Karena orangtua kita telah memainkan suatu peranan yang hakiki dalam anugerah kehidupan Allah bagi kita, maka menghormati dan memperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang merupakan satu cara untuk menunjukkan rasa hormat dan syukur kita kepada Allah, yakni Dia yang adalah Sang Pemberi kehidupan bagi kita. Jadi, Yesus menuntut dengan tegas bahwa, apapun tradisi atau kesepakatan-kesepakatan sosial yang sedang menjadi mode, perintah-Nya untuk menghormati orangtua kita tetap berlaku. Dan kita harus mengasihi mereka, bukan dengan cintakasih yang dibatasi dengan kepentingan diri, tetapi tanpa reserve. Kita harus mengasihi mereka tanpa syarat, seperti juga Allah mengasihi kita.

Bagaimana kita dapat mengasihi seperti itu? Dengan menerima cintakasih Allah bagi kita, sebagai anak-anak-Nya dan dengan mengesampingkan apa saja yang menjauhkan atau memisahkan kita daripada-Nya. Oleh karena itu mendekatlah kepada Allah sekarang juga, apa pun yang sedang anda lakukan. Perkenankanlah Dia mengasihimu sebagai seorang Bapa yang penuh kasih, sehingga pada gilirannya nanti anda pun dapat membagikan cintakasih itu dengan orang-orang lain – dengan orangtuamu, keluargamu dan siapa saja yang membutuhkan.

DOA: Bapa surgawi, berkatilah semua orangtua. Biarlah anak-anak menunjukkan cintakasih mendalam kepada mereka. Biarlah semua orang akhirnya mengenal dan mengalami cintakasih kebapaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 7:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN OMDO” (bacaan tanggal 7-2-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 3 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERINTAH PALING UTAMA DALAM HUKUM TAURAT

PERINTAH PALING UTAMA DALAM HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Kamis, 2 Juni 2016)

OFMCap.: Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Biarawan 

560jesus

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.”  Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34) 

Bacaan Pertama: 2Tim 2:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14 

“Perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mrk 12:28). Kelihatannya ahli Taurat yang melontarkan pertanyaan ini ingin mengetahui pendapat Yesus mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Dari 613 perintah yang ada dalam Perjanjian Lama, yang manakah yang pantas untuk ditaati secara paling ketat? Perintah mana, kalau dilanggar, akan membuat sulit orang bersangkutan? Mungkin saja si penanya mencari lubang dari mana dia dapat menjebak Yesus. Mungkin sah-sah saja untuk mengajukan pertanyaan seperti ini dengan pengharapan akan memperoleh jawaban terinci, langkah demi langkah dst. Namun Yesus mempunyai cara yang lebih baik!

Walaupun motif ahli Taurat itu dapat dipertanyakan, mungkin saja dia sesungguhnya ingin mengetahui apakah yang dipikirkan Yesus berada pada jantung Kitab Suci. Ternyata jawaban Yesus mengerucut pada “kasih”.

Jika anda yang ditanya, bagaimana anda akan menanggapi pertanyaan si ahli Taurat? Menurut anda, apa sih jantung Kitab Suci? Bagaimana pun anda mengungkapkannya, jawaban anda seharusnya tidak menunjuk kepada “apa”, melainkan kepada “siapa” – kepada Dia, yang adalah inkarnasi sempurna dari kasih Allah. Mengikuti pemikiran Hugo dari S. Viktor, Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan: “Seluruh Kitab Suci adalah satu buku saja dan buku yang satu ini adalah Kristus, karena seluruh Kitab ilahi ini berbicara tentang Kristus, dan seluruh Kitab ilahi terpenuhi dalam Kristus” (KGK, 134). Yesus adalah sang Sabda Allah. Dalam diri Yesus ini, Allah mengekspresikan diri-Nya secara lengkap dan sempurna. Hal ini berarti bahwa kitab-kitab Injil adalah jantung Kitab Suci. Kitab-kitab itu adalah sumber mendasar tentang hidup dan ajaran Yesus. Oleh karena itu, tidak mengherankanlah apabila Santo Hieronimus [340-420] mengatakan, “Tidak kenal Kitab Suci, maka tidak kenal Kristus!” (Ignoratio scripturarum, ignoratio Christi est!).

Apabila anda mengasihi seseorang, tentunya anda ingin mengetahui segala sesuatunya tentang dia. Selagi anda meluangkan waktu bersama orang itu, maka anda pun bahkan mengambil alih beberapa dari karakteristik orang itu. Itulah sebabnya mengapa Allah ingin agar kita membaca kitab-kitab Injil secara teratur. Allah ingin agar kita mendalami relasi kita dengan Yesus sehingga kita dapat menjadi lebih serupa dengan Dia. Pengalaman mengatakan kepada kita bahwa tidak cukuplah untuk mempunyai pengetahuan samar-samar dan umum saja tentang Yesus. Seperti dalam relasi akrab yang mana saja, kita harus menjadi begitu familiar dengan kata-kata-Nya dan tindakan-tindakan-Nya, sehingga semua itu secara alamiah muncul dalam pikiran kita manakala kita menghadap situasi-situasi yang berbeda-beda dalam kehidupan kita. Karena Kitab Suci adalah sabda Allah yang hidup, maka kita selalu dapat mengharapkan bahwa Yesus akan berbicara kepada kita secara langsung melalui Kitab Suci itu – menghibur kita dan mencerahkan kita, namun juga menggerakkan kita untuk kemudian bertindak selagi kita secara serius berupaya turut serta membangun kerajaan-Nya.

ROHHULKUDUSSaudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus. Apakah anda melakukan pendekatan terhadap Kitab Suci dengan penuh hasrat dan ekspektasi bahwa anda akan mendengar suara Allah dan berjumpa dengan Yesus? Dalam Misa Kudus hari ini atau dalam doa pribadi anda, perkenankanlah Roh Kudus membuka hati anda bagi kata-kata (sabda) yang Yesus ingin ucapkan kepada anda secara pribadi. Hal-hal yang penuh kuat-kuasa dapat terjadi sebagai akibatnya.

Apabila kita kembali kepada bacaan Injil hari ini, kita dapat  melihat bahwa kesederhanaan tanggapan Yesus kepada si ahli Taurat menunjukkan betapa vitalnya untuk memperkenankan Roh Kudus bekerja dalam diri kita. Roh Kudus tidak hadir untuk menekankan keterbatasan-keterbatasan kita, melainkan untuk membuat kita bebas mengasihi Allah dan sesama secara total-lengkap. Dengan membuka diri bagi kehadiran Roh Kudus, kita dapat menerima kekuatan ilahi, yang memampukan kita untuk bergerak dalam kuasa-Nya. Jiwa kita akan dipenuhi oleh kasih-Nya – sebuah kasih yang mendaging (mewujudkan diri) dalam tindakan-tindakan kita sehari-hari. Bahkan pikiran-pikiran kita akan dilindungi oleh “baju zirah rohani” sebagaimana kulit melindungi organ-organ kita.

Tanpa Roh Kudus, kita hanya mempunyai hukum. Namun dengan Roh Kudus, hukum yang sama dapat membawa kita ke dalam kehidupan yang kekal. Daripada menanggapi pertanyaan-pertanyaan si ahli Taurat dengan memberikan sebuah daftar yang berisikan hal-hal yang bersifat mengikat, harus ini dan harus itu, Yesus justru mengingatkan kita akan keharusan untuk mengantisipasi tindakan cintakasih kepada Allah dan sesama yang bersifat tanpa batas. Dengan Roh Kudus dalam kehidupan kita, tidak perlulah untuk menanyakan berapa banyak yang harus kita lakukan. Roh Kudus ada bersama kita justru untuk menunjukkan kepada kita segalanya yang harus dan dapat kita lakukan. Bersama sang pemazmur kita pun dapat mengatakan: “TUHAN HIDUP! Terpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah Penyelamatku” (Mzm 18:47).

DOA: Roh Kudus Allah, hembuskanlah nafas hidup-Mu ke dalam diriku. Ambillah hal-hal yang tidak berkenan kepada-Mu dari diriku dan penuhilah diriku ini dengan hidup-Mu sendiri. Berdayakanlah aku untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan segenap hatiku, pikiranku dan jiwaku. Datanglah, ya Roh Kudus dan curahkanlah kasih-Mu yang tanpa batas itu ke dalam hatiku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?” (bacaan tanggal 2-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2012. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 1 Juni 2016 [Peringatan S. Yustinus Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HUKUM KASIH

HUKUM KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius X, Paus – Jumat, 21 Agustus 2015)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKetika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Rut 2:1-3,8-11; 4:13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:34-40

Seorang Farisi yang ahli hukum bertanya untuk mencobai Yesus lewat suatu diskusi mengenai perintah Allah mana yang harus dinilai sebagai hukum yang terutama. Dari 613 perintah-perintah yang ada, yang manakah yang harus paling ditaati? Ini adalah suatu isu yang memang sering diperdebatkan di kalangan para rabi pada masa itu. Tantangan dari orang Farisi itu dijawab oleh Yesus dengan memberikan “ringkasan agung” dari segala ajaran-Nya. Sebenarnya jawaban yang diberikan oleh Yesus itu tidak diformulasikan oleh-Nya sendiri. Bagian pertama: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37) diambil dari Kitab Ulangan (Ul 6:5); sedangkan bagian kedua: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39) diambil dari Kitab Imamat (Im 19:18). Banyak rabi juga mengakui bahwa kedua ayat ini merupakan jantung atau hakekat dari hukum Taurat.

Seperti kita akan lihat selanjutnya, keunikan ajaran Yesus dalam hal ini adalah penekanan yang diberikan oleh-Nya pada “hukum kasih” dan kenyataan bahwa Dia membuatnya menjadi prinsip dasar dari tafsir-Nya atas keseluruhan Kitab Suci: “Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:40).

Mengasihi Allah dengan segenap energi yang kita miliki dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri! Hampir dipastikan hanya sedikit saja orang yang akan memperdebatkan keindahan dari “cita-cita” ini. Namun menghayatinya seperti yang telah dilakukan oleh Yesus sendiri dalam kehidupan-Nya sebagai sang Rabi dari Nazaret, sungguh membutuhkan komitmen yang pantang mundur dan kemurahan hati tanpa batas. Kita bertanya kepada diri sendiri: “Dapatkah aku mempraktekkan kasih seperti itu?”

PETER PREACHINGSalah satu cara terbaik bagi kita untuk memenuhi perintah-perintah Allah ini adalah untuk menawarkan kepada sesama kita anugerah yang sama yang telah mengubah hati kita, yaitu INJIL TUHAN YESUS KRISTUS! Kita mengasihi sesama kita dengan menunjukkan kepada mereka jalan menuju keselamatan dalam Yesus, dan kita mengasihi Allah dengan berjuang terus untuk memanisfestasikan kebaikan-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita.

Syering Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus adalah keharusan bagi kita semua, namun tidaklah semudah itu melaksanakannya, apalagi kalau kita bukan merupakan pribadi yang outgoing, yang mudah bersosialisasi. Kita juga bisa dilanda rasa waswas atau khawatir bahwa orang-orang akan menuduh kita sebagai orang Kristiani yang “ekstrim” (Saya tidak memakai kata “radikal” atau “fanatik”, karena kedua kata ini pada dasarnya  baik menurut pandangan pribadi saya). Akan tetapi, apabila kita memohon Roh Kudus untuk memimpin kita, maka evangelisasi adalah satu dari pengalaman paling indah yang dapat kita miliki, dan menjadi bagian dari kehidupan kita. Pada kenyataannya, aspek evangelisasi yang paling penting terjadi sebelum kita mengucapkan satu patah kata sekali pun kepada siapa saja. Hal ini dimulai pada waktu kita menyediakan waktu dengan Tuhan Allah dalam keheningan, dan mohon kepada-Nya untuk menunjukkan kehendak-Nya: suatu proses discernment. Misalnya, kita dapat berdoa agar Tuhan Allah menerangi kegelapan hati kita dan menganugerahkan kepada kita iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna; juga kita mohon agar kita diberikan perasaan yang peka dan akal budi yang cerah, sehingga kita senantiasa dapat mengenali dan melaksanakan perintah-perintah atau kehendak Allah yang kudus dan tidak menyesatkan.

Dalam suasana doa inilah Allah dapat menolong kita menunjukkan siapa saja di antara anggota keluarga kita atau para teman dan sahabat kita yang terbuka bagi pemberitaan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus. Kita juga tidak boleh lupa untuk berdoa agar orang-orang kepada siapa kita diutus menerima sentuhan Roh Kudus yang akan membuka hati mereka bagi Injil, bahkan sebelum bibir kita mengucapkan kata yang pertama. Kemudian, selagi kita mulai melakukan evangelisasi, kita akan menemukan orang-orang yang memberikan kesaksian mengenai  pengalaman-pengalaman mereka tentang kasih Allah yang kita sendiri sedang wartakan kepada mereka. Allah senang menyiapkan hati orang-orang secara demikian. Lalu, agar kita dapat menjadi instrumen-instrumen penyebaran Injil yang baik dan efektif, sangatlah penting bagi kita untuk mengabdikan diri dalam doa-doa syafaat bagi orang-orang lain. Seorang pewarta Injil atau pelayan sabda yang tidak akrab dengan doa merupakan fenomena yang boleh dipertanyakan.

teresa-webSelagi kita melakukan penginjilan – memberikan kesaksian tentang kasih Kristus kepada orang-orang lain – kita harus senantiasa menyadari bahwa cintakasih itu senantiasa mengatasi dosa. Dengan demikian janganlah sampai kita hanya berbicara kepada mereka yang kita Injili. Yang juga sangat penting adalah bahwa kita pun harus mengasihi orang-orang itu. Kita harus memperhatikan dan menunjukkan bela rasa kepada mereka. Kita memberikan saran-saran mengenai tindakan-tindakan yang perlu mereka lakukan. Dengan sukarela marilah kita menawarkan bantuan kepada  mereka, dan hal ini bukan selalu berarti bantuan keuangan. Lebih pentinglah bagi kita untuk memperkenankan Yesus mengasihi orang-orang lain melalui diri kita daripada menjelaskan Injil secara intelektual kepada mereka, meskipun hal sedemikian penting juga. Selagi kita memperkenalkan dan menawarkan kasih Yesus lewat kata-kata yang kita ucapkan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan, kita harus menyadari bahwa kita mensyeringkan anugerah Allah yang terbesar bagi manusia: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita sendiri! Dengan demikian, kita pun akan mengasihi sesama kita dengan kasih Kristus sendiri!

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sudah memakai diriku untuk membawa orang-orang lain ke dalam kasih perjanjian-Mu. Tolonglah aku agar mampu mengenali privilese yang besar ini selagi Engkau membuat diriku menjadi bentara Injil-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang  berjudul “KASIH YANG SEJATI” (bacaan tanggal 21-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 19 Agustus 2015 [Peringatan S. Ludovikus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, 13 Maret 2015)

OFM: Peringatan B. Ludovikus dr Casoria, Imam 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Lalu seorang  ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17 

Ahli Taurat ini datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang seringkali merupakan topik perdebatan dalam sekolah-sekolah para rabi. Dalam Yudaisme terdapat kecenderungan ganda. Ada kecenderungan untuk meluaskan hukum secara tanpa batas ke dalam ratusan dan bahkan ribuan peraturan. Di sisi lain ada juga kecenderungan untuk mencoba merumuskan hukum itu ke dalam satu kalimat, sebuah pernyataan umum yang akan menjadi ringkasan dari keseluruhan pesan. Hillel sekali diminta oleh seorang pengikut baru untuk mengajarkan kepadanya seluruh hukum sementara dia berdiri dengan satu kaki saja. Jawaban Hillel: “Apa yang kamu benci bagi dirimu sendiri, janganlah lakukan pada sesama. Ini adalah seluruh hukum, selebihnya adalah tafsiran. Pergilah dan belajarlah.” Simon sang Budiman telah berkata, “Dunia berdiri di atas tiga hal – atas hukum, atas penyembahan, dan atas karya-karya kasih.”

Sammlai telah mengajarkan bahwa Musa menerima 613 aturan/ajaran di Gunung Sinai, 365 sesuai dengan jumlah hari dalam satu tahun matahari, dan 248 sesuai dengan jumlah generasi manusia. Daud mengurangi jumlah 613 itu menjadi 11 saja dalam Mazmur 15:

TUHAN (YHWH), siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?

  1. Dia yang berlaku tidak bercela,
  2. yang melakukan apa yang adil,
  3. dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
  4. yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya,
  5. yang tidak berbuat jahat terhadap temannya,
  6. yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya,
  7. yang memandang hina (terjemahan LAI: orang yang tersingkir) bajingan (Inggris RSV: reprobate),
  8. tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN,
  9. yang berpegang teguh pada sumpah, walaupun rugi;
  10. yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba,
  11. dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.

12Yesaya mengurangi semua itu menjadi 6 aturan/ajaran (baca sendiri: Yes 33:15); Mikha mengurangi 6 aturan/ajaran ini menjadi 3 (baca sendiri: Mi 6:8); sekali lagi Yesaya mengurangi 3 aturan/ajaran menjadi 2 (baca sendiri: Yes 56:1); dan akhirnya Habakuk datang dengan satu saja aturan/ajaran: “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Hab 2:4).

Di sini kita dapat melihat kecerdikan/kelihayan dari sekolah atau tradisi para rabi. Dalam hal ini ada dua arus pemikiran, yang pertama adalah mereka yang percaya adanya hal-ikhwal hukum yang lebih ringan dan ada pula hal-ikhwal hukum lebih berat yang sangat-sangat penting untuk dipahami. Di lain pihak ada yang berpandangan bahwa setiap prinsip – betapa kecil sekalipun – sama-sama mengikatnya, dan percobaan untuk menimbang-nimbang pentingnya prinsip-prinsip itu secara relatif sungguh berbahaya. Nah, ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus sesungguhnya mengajukan pertanyaan tentang suatu isu yang hidup dalam pemikiran di kalangan Yahudi dan diskusi yang terkait.

Untuk menjawab pertanyaan ahli Taurat itu, Yesus mengambil dua perintah besar dan menggabungkan kedua perintah itu.

  • “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN (YHWH) itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ul 6:4).

Kalimat ini adalah kredo nyata dari Yudaisme dan dinamakan syema (shema), kata kerja dalam bahasa Ibrani yang berarti mendengar. Keseluruhan kalimat disebut syema, diambil dari kata pertama dalam kalimat. Kalimat ini digunakan dalam tiga hal.

  1. Setiap kebaktian di sinagoga senantiasa dimulai dengan kalimat syema ini. Syema yang lengkap terdapat dalam Ul 6:4-9, 11:13-21; Bil 15:37-41. Ini adalah deklarasi bahwa Allah adalah satu-satunya Allah, dasar dari monotheisme Yahudi.
  2. Teks syema dimasukkan ke dalam kotak-kotak kecil yang terbuat dari kulit (phylacteries) yang dikenakan oleh orang Yahudi saleh pada dahinya dan pergelangan tangannya pada saat dia berdoa. Selagi dia berdoa, dia mengingatkan dirinya akan kredonya. Kewajiban untuk mengenakan kotak-kotak kecil kulit itu dapat dilihat dalam Ul 6:8.
  3. Teks syema juga dimasukkan ke dalam sebuah kotak kecil berbentuk silindris yang dinamakan Mezuzah yang dipasang pada pintu setiap rumah orang Yahudi dan juga pada pintu setiap ruangan yang ada dalam rumah itu, guna mengingatkan orang Yahudi akan Allah ketika dia ke luar dan pada waktu dia masuk.
  • “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18). Dalam hal ini Yesus melakukan sesuatu yang inovatif. Dalam konteksnya yang asli, yang dimaksudkan dengan “sesama manusia” adalah sesama Yahudi. Jadi samasekali tidak ada urusannya dengan orang non-Yahudi (baca: kafir), yang malah boleh-boleh saja dibenci. Yesus mengartikan “sesama” tanpa kualifikasi dan tanpa batas-batas tertentu. Jadi, Yesus mengambil hukum lama dan mengisinya dengan suatu makna baru.

Hal baru yang dilakukan Yesus adalah untuk menaruh dua perintah secara bersama-sama. Tidak pernah ada rabi mana pun yang pernah melakukan hal seperti yang dilakukan Yesus ini. Memang sekitar tahun 100 SM, pernah disusun serangkaian traktat (risalat) yang dinamakan “Warisan 12 Bapa bangsa” di dalam mana seorang penulis tak dikenal menaruh ke dalam mulut para bapa bangsa tersebut beberapa ajaran yang sangat baik. Dalam “Warisan Isakhar” (5:2) kita membaca: “Kasihilah Tuhan dan kasihilah sesamamu, berbela-rasalah terhadap orang-orang miskin dan lemah.” Dalam warisan yang sama (7:6) kita membaca: “Aku mengasihi Tuhan, demikian pula setiap orang dengan segenap hatiku.”  Dalam “Warisan Dan” (5:3) kita membaca: “Kasihilah Tuhan sepanjang hidupmu, dan kasihilah satu sama lain dengan suatu hati yang benar.”

Childrens-Home-of-the-Immaculate-Heart-babyNamun demikian, tidak ada seorang pun kecuali Yesus yang menempatkan kedua perintah secara bersama-sama dan membuat dua perintah itu menjadi satu. Agama menurut Yesus adalah mengasihi Allah dan mengasihi manusia. Menurut Dia jalan satu-satunya seseorang dapat membuktikan bahwa dia mengasihi Allah ialah dengan menunjukkan bahwa dia mengasihi manusia sesamanya.

Ahli Taurat menerima dengan baik jawaban Yesus itu dan dia juga mengatakan bahwa mengasihi Allah dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya (Mrk 12:32-33). Dalam hal ini ahli Taurat itu berada dalam tingkat tertinggi pemikiran umat Yahudi. Berabad-abad sebelumnya Samuel berkata, “Apakah TUHAN itu berkenan kepada kurban bakaran dan kurban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada daripada kurban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1Sam 15:22). Hosea telah mendengar Allah bersabda: “… Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan” (Hos 6:6).

Namun demikian, adalah kenyataan bahwa senantiasa lebih mudahlah untuk membiarkan segala macam rituale lahiriah menggantikan kasih yang sejati. Selalu lebih mudahlah membuat penyembahan sejati menjadi soal membangun Gereja daripada kehidupan secara menyeluruh. Dalam perumpamaan “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37), imam dan orang Lewi dapat melewati seorang Yahudi yang babak belur terkapar di jalan karena kedua “pejabat” agama itu berpandangan bahwa menjalankan “rituale keagamaan” di Bait Allah adalah jauh lebih penting daripada memikirkan “nasib” sesamanya yang baru “dikerjain”  oleh para pembegal di jalan antara Yerusalem dan Yerikho. Nah ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil hari ini sudah melampaui para rekan sezamannya. Itulah sebabnya mengapa dia bersikap positif penuh simpati terhadap sang Rabi dari Nazaret.

Kita dapat membayangkan adanya pandangan penuh kasih pada mata Yesus ketika Dia berkata kepada ahli Taurat itu: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” (Mrk 12:34).

Sumber: William Barclay, THE DAILY STUDY BIBLE – THE GOSPEL OF MARK, Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1975 (Revised Edition), pages 292-297.

DOA: Bapa surgawi, jikalau aku pada saat ini mengatakan bahwa aku mengasihi Engkau, tetapi aku membenci saudaraku, maka aku adalah seorang pendusta. Karena jika aku tidak mengasihi saudaraku yang kelihatan tak mungkinlah bagiku untuk mengasihi Engkau yang tidak kelihatan (1Yoh 4:20). Biarlah Roh-Mu menggerakkan hatiku untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu yang sejati. Teristimewa pada masa Prapaskah ini, tolonglah aku agar dapat semakin serupa dengan Guruku – Yesus Kristus – sehingga mampu melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hos 14:2-10), bacalah tulisan yang berjudul “DIA ADALAH ALLAH YANG MAHASETIA” (bacaan tanggal 13-3-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “DIA ADALAH ALLAH YANG MAHAKASIH DAN MAHAPENGAMPUN” (bacaan tanggal 8-3-13)  dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “ENGKAU TIDAK JAUH DARI KERAJAAN ALLAH”  (bacaan tanggal 16-3-12) dan “KASIH YANG SEJATI” (bacaan tanggal 28-3-14) keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. Juga tulisan yang berjudul “PERINTAH MANAKAH YANG PALING UTAMA?” (bacaan tanggal 16-3-12) dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak, 25 Maret 2014 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGARUH DOSA ATAS KEHIDUPAN KOMUNITAS

PENGARUH DOSA ATAS KEHIDUPAN KOMUNITAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 16 Januari 2015) 

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk. Martir-martir pertama Fransiskan

DARI ATAS LOTENGKemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12) 

Bacaan pertama: Ibr 4:1-5,11; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,6-8

Kebanyakan dari kita terlalu terbiasa untuk berpikir bahwa pertobatan bersifat sangat privat, suatu masalah pribadi. Dosa, pengampunan dan reparasi diri sesungguhnya merupakan urusan-urusan pribadi (personal affairs), tetapi pada saat yang sama juga merupakan urusan-urusan komunitas (community affairs).   

Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang seorang lumpuh yang disembuhkan oleh Yesus dan yang dosa-dosanya diampuni oleh-Nya. Melihat iman orang-orang yang telah bersusah payah menolong si lumpuh, Yesus berkata: “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5). Orang lumpuh ini telah menjadi beban bagi para tetangganya. Bayangkanlah bagaimana susahnya mereka ketika menurunkan si lumpuh dari atap di atas Yesus untuk disembuhkan oleh-Nya. Mengapa sampai-sampai lewat atap rumah? Karena tidak  mungkin lagi bagi mereka untuk masuk ke rumah itu secara normal melalui pintu.

Penyakit yang diderita orang lumpuh itu jelas merupakan keprihatinan komunitasnya. Yesus menyembuhkan dirinya dan mengirim seorang pribadi yang “normal” kembali ke komunitasnya. Akan tetapi, di tempat itu hadir juga beberapa ahli Taurat. Mereka berpikir dalam hati bahwa Yesus menghujat Allah, karena Allah sendirilah yang dapat mengampuni dosa seorang pribadi (Mrk 2:6-7). Namun Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya pikiran para ahli Taurat tersebut (Mrk 2:8).

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH YANG DIBAWA DARI LOTENG - 650Isunya sekarang apakah manusia dapat mengampuni orang lain dalam nama Allah? Yesus mengatakan: “Ya, boleh!” dan Ia menggunakan peristiwa mukjizat penyembuhan orang lumpuh dalam rumah itu untuk menggambarkan pendapat-Nya.

Kita pun dapat menerapkan peristiwa ini terhadap diri kita masing-masing dalam artian bahwa oleh dosa, oleh keadaan penuh dosa kita, kita tidak mampu untuk menolong diri kita sendiri seperti orang lumpuh itu. Tetapi kita adalah anggota sebuah komunitas. Komunitas kita, Gereja yang adalah komunitas spiritual, harus memiliki keprihatinan terhadap kebutuhan-kebutuhan kita. Gereja dalam nama Yesus Kristus seharusnya memiliki keprihatinan terhadap penyembuhan segala penyakit spiritual para anggotanya.

Kita semua adalah anggota atau bagian sebuah bagian dari komunitas Allah, kita semua terlibat dalam pengampunan dosa. Apabila seseorang – walaupun jika dia tidak sadar akan keseriusan dosa-dosanya – mengakui dosa-dosanya di hadapan seorang imam dalam Sakramen Tobat/Rekonsiliasi, sebenarnya dirinya sedang memberikan kesaksian bahwa dia adalah seorang anggota Gereja pertobatan – sebuah Gereja di mana pertobatan adalah  bagiannya yang hakiki.  Orang itu memberi kesaksian bahwa dia sedang melakukan  reparasi diri, melakukan pertobatan, dengan mengakui dosa-dosanya bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga bagi mereka yang gagal memberi tanggapan terhadap undangan Allah.

Sesungguhnya dosa kita adalah suatu serangan terhadap semua anggota Gereja. Dengan berdosa kita telah gagal untuk mempraktekkan kemampuan kita untuk membuat saudari-saudara kita menjadi lebih baik, untuk membawa rahmat dari tindakan-tindakan kita kepada Gereja secara keseluruhan. Jadi, sebenarnya kita menyakiti setiap orang. Dengan demikian dapat dijelaskan adanya kebutuhan akan pertobatan dalam komunitas Kristiani, sebagai suatu cara untuk mengubah sikap kita. Pertobatan harus ditindak-lanjuti: sikap dan perlakuan penuh kebaikan hati terhadap mereka yang telah kita sakiti, koreksi atas kritik-kritik kita yang tidak fair, kerja ekstra untuk melakukan reparasi terhadap waktu yang telah kita buang percuma dan segala jenis reparasi lainnya. Dosa mempunyai segala jenis reaksi dan dampak pada komunitas. Oleh karena itulah maka pertobatan kita harus berorientasi pada komunitas.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah membuat kami sadar akan dimensi komunal dari pertobatan dan pengampunan. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “PENYEMBUHAN OLEH YESUS” (bacaan tanggal 16-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 4:1-5,11), bacalah tulisan yang berjudul “BAIKLAH KITA BERUSAHA MASUK KE DALAM PERHENTIAN ITU” (bacaan tanggal 19-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 10 Januari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS