Posts tagged ‘ALLAH BAPA’

HATI MEREKA TERSAYAT

HATI MEREKA TERSAYAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH, 18 April 2017)

 

Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka tersayat, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain, “Apa yang harus kami perbuat, Saudara-saudara?” Jawab Petrus kepada mereka, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” Dengan banyak perkataan lain lagi ia bersaksi dan mendesak mereka, katanya, “Berilah dirimu diselamatkan dari orang-orang yang jahat ini.”

Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. (Kis 2:36-41). 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 33:4-5,18-20,22; Bacaan Injil: Yoh 20:11-18 

Allah kita sungguh murah hati! Dia ingin menyelamatkan kita. Dia ingin memenuhi diri kita dengan kehidupan ilahi! Dia telah memanggil kita kepada suatu kehidupan baru dalam Diri-Nya. Dalam khotbah “perdana”-nya, Petrus mengatakan kepada orang-orang yang hadir bahwa Allah telah membuat Yesus, yang mereka salibkan itu, menjadi “Tuhan” dan “Kristus” (Mesias). Dua kata ini begitu akrab bagi telinga kita, namun kita dapat membayangkan, betapa dua kata itu mengagetkan dan menggoncang hati orang-orang pada hari Minggu Pentakosta yang sangat bersejarah itu. Bayangkan, Petrus sang nelayan berbicara di hadapan audiensi yang berciri multi-nasional, mengatakan kepada mereka bahwa Allah telah menganugerahkan dua gelar ini – Tuhan (Yunani: Kyrios) dan Kristus (Mesias) kepada putera seorang tukang kayu sederhana dari Nazaret.

Pada waktu orang-orang mendengar khotbah Petrus ini, “hati mereka tersayat” karena mereka menjadi sadar bahwa pemikiran-pemikiran dan gaya hidup mereka jauh masih sangat jauh dari suatu persekutuan penuh dengan Allah (lihat Kis 2:37). Setelah melakukan pertobatan, mereka pun dibaptis ke dalam suatu kehidupan baru melalui Roh Kudus.

Karunia pertobatan merupakan sebuah langkah indah dalam proses perubahan dan transformasi. Allah mempunyai banyak karunia (anugerah) dan berkat dalam “gudang”-Nya bagi mereka yang berbalik dari kehidupan dosa dan berupaya untuk menghayati suatu kehidupan baru. Dia menyediakan pengampunan, karunia Roh Kudus, dan melalui Yesus, pemenuhan segala janji-Nya. Kita hanya perlu mengambil keputusan untuk mengubah arah hati kita, berbalik kepada Allah dan mohon kepada-Nya agar membebas-merdekakan kita dari setiap dosa yang selama ini telah memisahkan kita dari Allah.

Pada kayu salib, Yesus telah menanggung sendiri segala beban dosa-dosa kita, dan Ia memberdayakan kita agar dapat berjalan dengan penuh martabat sebagai anak-anak Allah. Sebagai tanggapan terhadap pertobatan dan iman kita, Dia memberikan kepada kita Roh Kudus yang akan menyadarkan kita akan dosa kita serta meyakinkan kita akan dahsyatnya karya penebusan Yesus Kristus. Roh Kudus ini juga memberdayakan kita untuk menghayati suatu kehidupan baru. Roh Kudus selalu beserta kita, meyakinkan kita bahwa sementara kita masuk secara lebih mendalam lagi ke dalam kehidupan baru sebagai anak-anak Allah, maka kita dapat menerima kepenuhan janji-janji-Nya.

Pada hari ini, perkenankanlah agar “hati kita tersayat”, dipenuhi hasrat mendalam akan karunia pertobatan. Allah begitu ingin mengampuni kita dan membawa kita ke dalam kerajaan-Nya. Ketika kita bertobat, Ia melakukan suatu karya dahsyat dalam diri kita, menawarkan kepada kita suatu cara hidup yang baru dan berbeda, kaya dengan berkat-berkat-Nya.

Sekarang, apakah anda sedang mengalami kebebasan dari dosa? Apakah anda mengenal karunia-karunia Roh Kudus seperti damai-sejahtera, kesabaran, kebaikan hati dan kasih? Apabila kita tidak melihat kepenuhan kuat-kuasa Allah bekerja dalam kehidupan kita, maka marilah kita memohon kepada-Nya untuk memimpin kita kepada suatu pertobatan yang lebih mendalam dan kepenuhan Roh-Nya. Allah sungguh merindukan untuk memberikan kepada kita segala hal yang kita perlukan untuk hidup dalam iman dan rahmat setiap hari.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih untuk kesetiaan dan berbagai karunia dari-Mu yang sungguh menakjubkan. Penuh tobat aku datang menghadap hadirat-Mu – dalam upayaku untuk menghayati kehidupan dalam Engkau. Tolonglah aku agar dapat mengalami kebaharuan total dalam Roh Kudus-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:11-18), bacalah tulisan yang berjudul “TUBUH KRISTUS” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 17 April 2017 [HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DATANG KE SUNGAI YORDAN UNTUK DIBAPTIS

YESUS DATANG KE SUNGAI YORDAN UNTUK DIBAPTIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA PEMBAPTISAN TUHAN –  Senin, 9 Januari 2017)

baptisan-yesus-yesus-dipermandikan-oleh-yohanes-pembaptisKemudian datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?” Lalu jawab Yesus kepadanya, “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Yohanes pun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:13-17)

Bacaan Pertama: Yes 42:1-4,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1-4,9-10; Bacaan Kedua: Kis 10:34-38

Sebenarnya ada dua peristiwa luarbiasa terangkum dalam petikan Injil di atas yang terdiri dari lima ayat saja.

Yang pertama adalah bahwa Yesus menggabungkan diri dengan orang-orang berdosa dan menerima baptisan tobat dari Yohanes Pembaptis. Yohanes sendiri tidak dapat menyembunyikan rasa herannya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?” (Mat 3:14). Yohanes sendiri adalah seorang pendosa. Dia yang berkhotbah dan menyerukan pertobatan kepada orang banyak juga membutuhkan khotbah pertobatan dari Dia. Bukankah seorang imam yang bertugas melayani Sakramen Rekonsiliasi dan mengampuni dosa umat juga  harus menerima absolusi? Tidak seorang pun kudus selain Allah sendiri. Dan …… setiap orang – sebagai pendosa – harus dikuduskan oleh Allah.

Kita semua hanyalah mata rantai dari rantai yang sama, tangkai dari batang yang berdosa, gelombang-gelombang dalam aliran dosa yang sama. Hanya ada satu kekecualian, yaitu Dia yang lain dari yang lain; sang Mahalain yang datang dari surga, dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Perawan Maria. Oleh karena itu,  tanggapan Yesus terhadap pertanyaan Yohanes Pembaptis terasa mengherankan: “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat 3:15). Dengan demikian hak Allah dipulihkan apabila Dia – yang satu-satunya tanpa noda-dosa – menggabungkan diri dengan orang-orang berdosa. Allah Yang Mahaadil menuntut silih untuk dosa manusia. Yesus menceburkan diri-Nya diri dalam aliran dosa, menjadi anggota dari bangsa manusia yang berdosa.

Benarlah apa yang dikatakan oleh sang penulis “Surat kepada Orang Ibrani”: “… Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Yesus turun/datang ke sungai Yordan sesungguhnya merupakan lambang dari apa yang telah terjadi karena misteri Inkarnasi: Tuhan sendiri turun ke tengah bangsa manusia yang penuh dosa, menjadi sama dengan kita. Bacaan Injil di atas menegaskan bahwa Yesus segera keluar dari sungai Yordan. Dengan demikian untuk pertama kalinya kekuatan dosa dipatahkan. Yesus adalah satu-satunya yang tidak binasa dalam dosa dan tidak dihanyutkan oleh dosa itu, namun dengan kekuatan-Nya sendiri naik lagi ke atas dan membawa yang lain-lain beserta diri-Nya ke atas. Pada waktu wafat Ia akan samasekali tenggelam dalam aliran dosa yang gelap itu, agar supaya pada waktu kebangkitan dapat naik lagi dan membawa serta yang lain-lain masuk ke dalam hidup baru.

Setelah semua itu berlangsunglah peristiwa yang kedua: surga terbuka !!! Dosa telah menutut pintu surga, namun kemenangan Kristus atas dosa telah membuka pintu dosa tersebut. Roh Kudus turun. Dosa – dan di belakangnya adalah si iblis – telah mengusir Roh Kudus dari manusia. Tetapi Kristus yang dikandung dan dilahirkan dari Roh Kudus, membawa Roh Allah dalam Diri-Nya. Karena Yesus-lah maka Roh Kudus turun lagi atas manusia. Roh yang melayang-layang di atas samudera, di sini dalam bentuk seekor merpati melayang-layang di atas sungai Yordan dan dalam kepenuhan-Nya hinggap di atas Yesus dan sekaligus di atas semua orang yang dikuduskan dalam dan karena Dia. Suara Bapa surgawi pun terdengar pula: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

Karena dosa, keputeraan ilahi manusia hilang. Akan tetapi, Yesus Kristus yang telah menanggung dosa di atas pundak-Nya telah membinasakannya, telah mengembalikan keputeraan ilahi tersebut kepada para pendosa. Oleh dan melalui Yesus – sang Putera – mereka menjadi anak-anak Bapa lagi. Di sini Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus tampak jelas sebagai Tritunggal. Roh Kudus adalah cintakasih antara Bapa dan Putera, dan karenanya keluar dari Bapa dan Putera. Kedatangan Putera ke tengah dunia sekaligus adalah pengutusan Roh Kudus. “Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya” (Mat 3:16). Di sini secara tampak dan dahsyat Yesus mengalami bahwa Ia adalah Putera Bapa dan membawa serta dalam Diri-Nya kepenuhan Roh Kudus. Pengalaman ini demikian dahsyatnya, sehingga Ia tidak dapat tinggal lebih lama di sini, melainkan dengan segera dibawa oleh Roh itu juga ke dalam kesunyian, di mana Ia berada sendirian dengan Bapa dan Roh Kudus, lahiriah seorang diri, tetapi batiniah dalam kepenuhan Tritunggal Mahakudus.

Bapa tidak bersabda: “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mu Aku berkenan” melainkan “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nya Aku berkenan” (Mat 3:17). Dari sini nyatalah bahwa hal ini bukan wahyu kepada Kristus, melainkan kepada orang-orang, … kepada kita semua. Inilah pemberian kesaksian resmi dari Bapa surgawi atas perutusan Kristus. Saat turun-Nya ke tengah kedosaan manusia sekaligus merupakan saat pengangkatan, yaitu karena Bapa memberi kesaksian tentang cintakasih-Nya dan Roh Kudus  tentang kediaman-Nya dalam Kristus. Perkenaan Bapa ada pada Kristus dan pada sekalian orang yang termasuk milik-Nya.

Inilah sungguh suatu peristiwa besar yang tidak dapat dipahami. Terang yang memancar di sini akan bercahaya di atas seluruh hidup Yesus. Suara yang terdengar di sini tidak akan berhenti bergema. Keadilan yang telah diperkosa manusia, dipulihkan kembali oleh Allah. Yesus memikul segala ketidak-adilan untuk membuat mereka yang tidak adil menjadi adil kembali. Dengan demikian keadilan telah disilih.

DOA: Allah yang kekal dan kuasa, Engkau telah memaklumkan Kristus sebagai Anak-Mu yang terkasih, ketika Ia dibaptis di sungai Yordan, sementara Roh Kudus turun atas-Nya. Kami mohon, semoga kami selalu setia sebagai anak-anak-Mu, karena sudah dilahirkan kembali dalam air dan Roh Kudus. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus Kristus, Anak-Mu yang terkasih, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 3:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES” (bacaan tanggal 9-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs..wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Pokok tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan Richard Gutzwiller, Renungan tentang Mateus, jilid I, hal. 24-27) 

Cilandak, 7 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ALLAH SENANTIASA MELINDUNGI ANAK-ANAK-NYA

ALLAH SENANTIASA MELINDUNGI ANAK-ANAK-NYA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Jumat, 11 Maret 2016) 

Benediction_of_God_the_Father_by_Luca_Cambiaso,_c._1565,_oil_on_wood_-_Museo_Diocesano_(Genoa)_-_DSC01566

Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau berkeliling di Yudea, karena di sana para pemuka Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.

Tetapi, sesudah Saudara-saudara-Nya berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan melainkan diam-diam.

Kemudian beberapa orang Yerusalem berkata, “Bukankah Dia ini yang mau mereka bunuh? Namun lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu bahwa Dialah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, sebaliknya bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.” Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru, “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.”

Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba. (Yoh 7:1-2,10,25-30) 

Bacaan Pertama: Keb 2:1a,12-22, Mazmur Tanggapan:  Mzm 34:17-21,23

“Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba”  (Yoh 7:30).

Beberapa kali Yesus tampil di muka umum dan di tengah mereka ada para lawan-Nya yang selalu mencari kesempatan untuk menjebak dan mencelakakan diri-Nya, namun Yesus tetap tegar mewartakan sabda Allah. Sampai-sampai ada beberapa orang Yerusalem yang berkata: “Bukankah dia ini yang mau mereka bunuh? Namun lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya” (Yoh 7:25-26).  Kunci dari keberanian dan ketegaran Yesus adalah:

  • Hubungan atau relasi-Nya dengan Allah Bapa. Yesus mengetahui bahwa Bapa surgawi mengasihi-Nya (Yoh 5:20). Yesus mempunyai keyakinan kuat bahwa Bapa surgawi melindungi diri-Nya, sampai tiba saat-Nya untuk menderita (Yoh 7:30; 12:27);
  • Kesadaran-Nya bahwa Dia diutus oleh Bapa surgawi untuk mewartakan sabda Allah. Yesus mengetahui bahwa kuasa penuh dari Allah Bapa secara penuh mendukung-Nya (Mat 28:18; Yoh 5:36; 7:16). Yesus mencari kemuliaan Bapa surgawi yang mengutus-Nya dan tidak mencari kemuliaan diri-Nya sendiri (Yoh 7:18). Hati-Nya menyala oleh semangat bukannya untuk melindungai diri.
  • Kasih-Nya. Sebab “di dalam kasih, tidak ada ketakutan; kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 Yoh 4:18).

Sekarang Yesus bersabda kepada kita: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21). Marilah kita (anda dan saya) mengambil tempat kita masing-masing di dalam Kerajaan Allah dengan penuh keyakinan. Kemungkinan besar kita akan ditentang sebagaimana dialami oleh Yesus sendiri. Namun Allah akan memberi kita kekuatan juga di hadapan para lawan kita: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31). Allah melindungi kita, karena Dia mengasihi kita anak-anak-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, aku menyadari bahwa tidak ada gunanya untuk merasa takut. Tambahkanlah kepercayaanku kepada-Mu; dan usirlah segala rasa takutku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:1-2,10,25-30), bacalah tulisan yang berjudul “AKU DATANG DARI DIA DAN DIALAH YANG MENGUTUS AKU (bacaan tanggal 11-3-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKIABIAH MARET 2016. 

Cilandak, 8 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DAN BAPA-NYA

YESUS DAN BAPA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Jumat, 27 Maret 2015) 

Jesus_w_PharSekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Mu Allah. Kata Yesus kepada mereka, “Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu: Aku telah berfirman: Kamu adalah ilah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut ilah – sedangkan Kitab Suci tidak dapat dibatalkan – masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali-kali mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.

Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda mukjizat pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini memang benar.” Lalu banyak orang di situ percaya kepada-Nya. (Yoh 10:31-42) 

Bacaan Pertama: Yer 20:10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-7

Ketika Yesus berada di Yerusalem dalam rangka Hari Raya Penahbisan Bait Allah terjadi suatu diskursus antara Dia dengan orang-orang Yahudi yang berkumpul di Serambi Salomo di mana Dia mengklaim bahwa Dia dan Bapa-Nya adalah satu (Yoh 10:30). Orang-orang Yahudi menjadi marah, naik pitam, dan mereka memungut batu-batu untuk dilemparkan kepada-Nya karena menurut mereka Yesus telah menghujat Allah. Namun Yesus menjawab: “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh 10:37-38).

YESUS DITANYAI OLEH ORANG FARISISepanjang sejarah, Allah telah menyatakan (mewahyukan) diri-Nya melalui karya-karya-Nya. Perjanjian Lama dipenuhi dengan catatan-catatan tentang karya-karya Allah yang besar dan agung: pembebasan/pemerdekaan umat Israel dari perbudakan di Mesir, mukjizat-mukjizat yang dilakukan Allah selagi mereka berkelana di padang gurun menuju tanah terjanji, dan juga akhirnya umat mulai menetap di tanah terjanji tersebut. Allah juga senantiasa dipuji untuk karya-Nya: penciptaan alam semesta (langit, bumi dll.) dan segala makhluk. Semua ini menggambarkan kemahakuasaan Allah dan kepantasan-Nya untuk dipuji serta disembah, namun juga menyatakan kasih-Nya yang tak terhingga  bagi segala ciptaan-Nya.

Niat Bapa surgawi adalah senantiasa untuk menjalin suatu relasi yang akrab dengan ciptaan-Nya, termasuk kita masing-masing. Dengan demikian, ketika kita memberontak dan meninggalkan Allah, Dia tidak akan meninggalkan kita, namun karena kasih-Nya Dia  siap untuk menebus kita. Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal ke tengah dunia guna menebus dosa-dosa kita dengan menderita hukuman yang sebenarnya pantas untuk kita terima, dengan demikian membebaskan kita dari dosa dan maut.

Misi Yesus adalah untuk memuliakan Bapa dengan menyelesaikan karya penyelamatan Bapa (Yoh 17:4). Semua karya Kristus di atas bumi adalah bagian dari rencana Bapa dan tidak hanya dimeteraikan Allah Bapa (Yoh 6:27), melainkan juga merupakan suatu perwahyuan Bapa (Yoh 14:9-11). Melalui karya-karya-Nya, Yesus membuktikan kenyataan bahwa Dia bukan hanya sang Mesias, namun juga Putera Allah, karena karya-karya-Nya adalah karya-karya Bapa surgawi.

DOA: Bapa surgawi, terangilah hati dan pikiranku agar aku dapat memiliki iman-kepercayaan dalam karya-karya Yesus sebagai sebuah tanda bahwa Engkau dan Yesus adalah satu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:31-42), bacalah tulisan yang berjudul “AKU DAN BAPA ADALAH SATU” (bacaan tanggal 27-3-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul  “JIKALAU AKU TIDAK MELAKUKAN PEKERJAAN-PEKERJAAN BAPAKU, JANGANLAH PERCAYA KEPADA-KU” (bacaan tanggal 30-3-12), “YESUS MENGHUJAT ALLAH?” (bacaan tanggal 22-3-13) dan “YESUS DAN ORANG-ORANG YAHUDI” (bacaan tanggal 11-4-14), ketiganya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 23 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBUAH KONSEP YANG REVOLUSIONER

SEBUAH KONSEP YANG REVOLUSIONER

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN – Minggu, 5 Januari 2014)

HARI ANAK MISIONER SEDUNIA

the_magi_henry_siddons_mowbray_1915-zkq72e2

Memang kamu telah mendengar tentang penyelenggaraan anugerah Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasia itu diberitahukan kepadaku melalui wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat.
…… yang pada zaman orang-orang dahulu tidak diberitahukan kepada anak-anak manusia, tetapi sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. (Ef 3:2-3,5-6)

Bacaan Pertama: Yes 60:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,10-13; Bacaan Injil: Mat 2:1-12

Hari ini adalah Hari Raya Penampakan Tuhan atau Hari Raya Epifani. Epifani berasal dari kata Yunani yang berarti “manifestasi”. Apakah yang dimanifestasikan atau dibuat jelas kepada orang-orang majus yang datang dari Timur guna menyembah Mesias Yahudi (Mat 2:1-2)? Mereka tahu bahwa bagaimana pun juga mereka termasuk dalam janji tentang Dia yang lahir sebagai raja orang Yahudi (Mat 2:2). Orang-orang majus ini bukan orang Yahudi (baca: kafir). Mereka adalah pemenuhan pertama dari apa yang diproklamasikan dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus: Dengan kedatangan Yesus, Mesias orang Yahudi, Allah membawa orang-orang non- Yahudi sebagai bagian dari umat-Nya (Ef 2:5-6).

Ini adalah sebuah konsep yang revolusioner, jika kita mempertimbangkan arah dari karya Allah dalam sejarah sampai saat itu. Allah telah mendasarkan umat pilihan-Nya mula-mula melalui Abraham dan bapak-bapak bangsa lainnya, Ishak dan Yakub. Ia membentuk sebuah umat yang diselamatkan-Nya dari perbudakan di negeri Mesir untuk masuk ke dalam suatu perjanjian dengan Dia di Gunung Sinai. Kemudian, Ia memberikan kepada mereka Tanah Terjanji, Israel. Dengan berjalannya waktu, Allah mengangkat raja-raja atas mereka, termasuk raja Daud dan keturunannya.

Kemudian, umat pilihan Allah ini digiring ke tempat pembuangan di negeri orang lain, sebagai suatu hukuman atas ketidaktaatan mereka kepada-Nya dan perjanjian yang dibuat-Nya dengan mereka. Dalam kasih-Nya kepada umat-Nya, Allah membawa mereka kembali dari tempat pembuangan dan membiarkan kemuliaan-Nya bercahaya di atas mreka (Yes 50:1). Allah berjanji kepada umat Israel bahwa “bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu” (Yes 60:3). Allah akan berada bersama umat pilihan yang dikasihi-Nya, dan kehadiran-Nya yang penuh kemuliaan akan menarik bangsa-bangsa (non Yahudi) kepada mereka (bangsa Yahudi).

20101216193236!Journey_of_the_Magi

Dalam kelahiran Mesias bangsa Yahudi ini, janji Allah dipenuhi: Orang-orang non- Yahudi yang diwakilkan oleh orang-orang majus datang untuk menyembah Dia. Memang pada awalnya Yesus hanya memanggil orang-orang Yahudi guna menjadi rasul-rasul-Nya, dan seluruh Gereja awal terdiri dari orang-orang Yahudi saja. Akan tetapi, dengan pertobatan Kornelius dan seisi rumahnya, orang-orang non-Yahudi mulai masuk menjadi anggota-anggota jemaat Kristiani (Gereja) yang baru lahir dan mulai berkembang itu (Kis 10:34-48). Pada waktu Paulus memulai perjalanan-perjalanan misionernya, di setiap tempat dia selalu pertama-tama mengunjungi sinagoga-sinagoga Yahudi, dan baru setelah itu dia bertemu dengan orang-orang non-Yahudi. Pada akhirnya Gereja dan Israel berpisah. Hal ini tentunya menyedihkan hati Allah, yang mengutus Yesus ke tengah dunia sebagai Mesias untuk dunia, dengan maksud bahwa semua orang akan dipersatukan dalam Putera-Nya, baik Yahudi maupun non-Yahudi.

Pada hari ini, ketika kita merayakan manifestasi dari Mesias bangsa Yahudi kepada bangsa-bangsa non-Yahudi, marilah kita berdoa agar kita dipersatukan dengan segala bangsa, teristimwa saudai-saudara tua kita dalam iman, bangsa Yahudi.

DOA: Bapa surgawi, kami percaya bahwa karena kasih-Mu kepada seisi dunia Engkau mengutus Putera-Mu yang tunggal ke tengah dunia. Putera-Mu itu, Yesus, wafat di kayu salib bukan hanya untuk menebus umat Yahudi, tetapi juga semua umat manusia yang terdiri dari berbagai macam bangsa. Pada hari raya Epifani ini, persatukanlah kami dengan segala bangsa, teristimewa dengan saudari-saudara kami bangsa Yahudi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-12), bacalah tulisan dengan judul “MOMENTUM YANG MENENTUKAN” (bacaan untuk tanggal 5-1-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 3 Januari 2014 [Peringatan Nama Yesus Yang Tersuci]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RENCANA ALLAH YANG SEMPURNA DIPENUHI MELALUI YESUS

RENCANA ALLAH YANG SEMPURNA DIPENUHI MELALUI YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Jumat, 3 Januari 2014)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Nama Yesus Yang Tersuci

Vandyck - JOHN THE EVANGELISTJikalau kamu tahu bahwa Ia benar, kamu harus tahu juga bahwa setiap orang yang melakukan kebenaran lahir dari Dia.

Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu, dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. Saudara-saudaraku yang terkasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi, kita tahu bahwa apabila Kristus dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia adalah suci. Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah. Dan kamu tahu bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa. Setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa, tidak pernah melihat dan tidak pernah melihat dan tidak pernah mengenal Dia. (1Yoh 2:29-3:6)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,3-6; Bacaan Injil: Yoh 1:29-34

“Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia adalah suci” (1Yoh: 3:3).

Pengharapan kita adalah Tuhan Allah. Dia, yang tidak pernah melanggar janji-janji-Nya, tentunya akan memberikan kepada kita segala sesuatu yang dapat kita harapkan. Kata dalam bahasa Yunani untuk pengharapan adalah elpo, yang berarti “mengantisipasi”, “mengekspektasi”, untuk menaruh “rasa percaya”. Kata “pengharapan” ini bukanlah soal “kemungkinan”, melainkan menyangkut “kepastian”. Bilamana kita menaruh pengharapan kita dalam tangan-tangan Tuhan, maka kita dapat memastikan diri bahwa Dia tidak akan mengecewakan kita. Allah adalah seorang Pribadi yang sangat dapat dipercaya dan Ia Mahasetia. Allah pasti akan memenuhi janji-janji-Nya. Sekarang, apakah yang diminta-Nya dari kita masing-masing? Sederhana saja: Ia minta agar kita percaya, dan menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada-Nya.

TRITUNGGAL MAHAKUDUS - 100Kita berpengharapan bahwa pada suatu hari kita akan begitu dipenuhi dengan hidup dan kasih Allah, sehingga kita sebenarnya dapat menjadi serupa dengan Yesus sendiri (lihat 1Yoh 3:2). Pada hari itu, kita akan dibawa ke hadapan takhta Allah Bapa, dalam keadaan “kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya” (lihat Kol 1:22). Tanggapan kita selagi kita dengan penuh gairah menanti-nantikan pemenuhan janji-janji-Nya, adalah untuk sungguh menghargai sabda-Nya. Janji-janji Allah itu benar dan akan terwujud. Bapa surgawi telah memenuhi rencana-Nya yang sempurna melalui Yesus, sang Juruselamat umat manusia.

Kita dapat percaya kepada janji-janji Allah, bahkan ketika dosa dan situasi-situasi sulit sungguh membuat hati kita menciut. Tentu saja kita tidak akan melihat hasil-hasilnya secara langsung dan segera: Kita masih melihat dosa, dan kita akan senantiasa ingin melihat lebih banyak lagi perubahan. Tidak ada seorang pun yang sempurna. Namun sebagai anak-anak-Nya, dengan penuh rasa percaya kita dapat menaruh pengharapan kita dalam tangan-tangan Allah, yang senantiasa setia pada kata-kata-Nya sendiri. Oleh kuasa Roh Kudus-Nya, Yesus telah memampukan kita untuk menjadi sempurna seperti Ia dan Bapa-Nya adalah sempurna (lihat Mat 5:48).

Sekarang, marilah kita menaruh pengharapan kita dalam Yesus. Apa pun yang lain tidak akan memadai untuk mencapai kepenuhan hidup yang Allah ingin berikan kepada kita. Selagi kita belajar untuk mengandalkan diri kepada-Nya dan janji-janji-Nya yang besar dan agung, maka hidup kita pun akan berubah. Kita akan merasa aman berada di bawah perlindungan Allah. Dia tidak akan pernah mengecewakan kita, tidak pernah membiarkan kita putus-asa. Sebaliknya, Dia akan memampukan kita untuk menghadapi kedosaan kita dan kelemahan-kelemahan kita dengan pengharapan dan kesadaran bahwa Yesus telah memenangkan penebusan penuh bagi kita.

DOA: Roh Kudus Allah, bangunkanlah pengharapan kami kepada Yesus, sang Batu Penjuru. Yesus telah memenangkan sebuah tempat bagi kami di hadapan takhta Allah Bapa dan Ia (Yesus) senantiasa bekerja dalam diri kami masing-masing. Tolonglah kami untuk percaya pada janji-janji Allah, dan untuk memproklamasikan semua itu kepada orang-orang lain. Terpujilah nama Yesus yang tersuci, yang hidup bersama Bapa dan dalam persekutuan dengan Engkau sendiri, ya Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:29-34), bacalah tulisan yang berjudul “KARUNIA UNTUK MEMBEDA-BEDAKAN ROH” (bacaan tanggal 3-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 2 Januari 2014 [Peringatan S. Basilius Agung & S. Gregorius dr Nanzianze, Uskup & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TANDA KEKELUARGAAN KITA

TANDA KEKELUARGAAN KITA

(Bacaan Kedua Misa Kudus, PESTA KELUARGA KUDUS, YESUS, MARIA DAN YUSUF- Minggu, 29 Desember 2013)

holy-family

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, perbuatlah juga demikian. Di atas semuanya itu: Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil dalam satu tubuh. Dan bersyukurlah. Hendaklah perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain sambil menyanyikan mazmur dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu menucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah, Bapa kita.

Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.
Hai suami-suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang berkenan kepada Tuhan.
Hai bapak-bapak, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. (Kol 3:12-21)

Bacaan Pertama: Sir 3:2-6,12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5; Bacaan Injil: Mat 2:13-15,19-23

KELUARGA KUDUS - 008Bayangkanlah betapa mudah bagi Yesus untuk bertumbuh sebagai seorang pemuda yang sempurna. Dia diasuh dan dibesarkan oleh dua orang kudus, Maria dan Yusuf. Sekarang bayangkanlah hal yang sebaliknya: betapa mudah bagi Maria dan Yusuf untuk menjadi orangtua yang kudus, hanya karena Yesus Kristus, Putera Allah adalah anak mereka di dunia. Tidak ada masalah, memang! Kecuali kondisi kehidupan yang sungguh sulit, baik di Betlehem, Mesir, maupun di Nazaret. Kesulitan lain adalah pada waktu mereka kehilangan Yesus di Yerusalem, yang pada akhirnya ditemukan di Bait Suci dan soal mis-komunikasi yang terjadi. Atau ketika Maria “memaksa” Anak-nya bertindak dalam pesta perkawinan di Kana; juga rasa pedih dan malu Maria karena menyaksikan Anak-Nya ditangkap sebagai seorang kriminal; dan rasa kehilangan yang mendalam pada waktu Anak-nya wafat di kayu salib. Setiap keluarga mempunyai masalah-masalah, dan hal ini tidak dapat dipungkiri, bahkan dalam keluarga yang terbaik!

Biar bagaimana pun juga “Keluarga Kudus” memang istimewa. Para ahli sosiologi dewasa ini akan mengajukan suatu alasan tambahan mengapa keluarga Yusuf dari dari Nazaret adalah istimewa: karena keluarga itu adalah sebuah keluarga Yahudi. Statistik menunjukkan bahwa dari antara kelompok-kelompok etnis yang ada di Amerika Serikat, keluarga-keluarga keturunan Yahudi menunjukkan angka terendah dalam hal tingkat kenakalan anak-anak. Barangkali gaya hidup keluarga Yahudi dapat menjadi sebuah petunjuk. Anak-anak Yahudi bertumbuh sejak kecil sampai dewasa dengan mengalami orangtua laki-laki mereka sebagai wakil Allah dalam keluarga. Banyak hari raya atau pesta Yahudi adalah saat-saat perayaan keluarga dan bapak keluargalah yang memimpin doa-doa. Sebagai wakil Allah, sang bapak keluarga memberkati anak-anaknya. Setelah bertumbuh dewasa, anak-anak dapat saja menyesali mengapa kepala ayah mereka menjadi botak atau mengapa bapak mereka tidak menjadi bintang oleh-raga, namun mereka tidak pernah dapat menyangkal kenyataan bahwa ayah mereka adalah seorang wakil Allah.

Sekarang tentang kita sendiri, umat Kristiani yang Katolik. Berapa banyak bapak keluarga yang Katolik memimpin keluarga mereka dalam doa-doa di dalam keluarga masing-masing, atau memberkati anak-anak mereka sebelum pergi tidur? Tanpa membuat ringan peranan seorang ibu dalam keluarga, lebih banyak bapak keluarga dapat mengakui otoritas yang diberikan Allah kepada mereka sebagai seorang guru keluarga, seorang pemimpin doa keluarga. Kebanyakan bapak keluarga mencoba dari hari ke hari untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga mereka. Mereka pun menjadi “pahlawan-pahlawan tak dikenal” karena tidak hadir dalam keluarga untuk sebagian besar waktu yang ada setiap hari. Akan tetapi betapa mengesankan kiranya bagi keluarga yang mana pun untuk mengalami kehadiran bapak keluarga sebagai pengingat yang menggembirakan akan kehadiran Allah, sebagaimana Yusuf mengingatkan keluarganya akan kehadiran Allah Bapa. Semua bapak keluarga tidak ada yang sempurna, namun masing-masing mencerminkan kasih dan perlindungan Bapa surgawi. Setiap bapak keluarga mempunyai Pelindung di surga, yaitu Allah Bapa, dan harus menghaturkan permohonan-permohonan kepada-Nya. Dan apabila lebih banyak lagi keluarga dapat mengandalkan diri pada berkat-berkat yang mengalir dari kepala keluarga, maka barangkali lebih sedikit perpecahan dan rasa tidak mempercayai yang akan terjadi.

KELUARGA KUDUS - 003Para ibu dan bapak keluarga bekerja keras mencoba untuk membuat hidup keluarga mereka mengalami kebahagiaan. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit keluarga yang tidak ubahnya seperti sebuah neraka di dunia. Namun demikian, apakah kita mempunyai sebuah keluarga yang bersituasi sempurna atau tidak, pada akhirnya kita semua dapat berbahagia dalam keluarga yang lebih besar di mana kita adalah anggota-anggotanya, yaitu Gereja, yang adalah Umat Allah. Santo Paulus menulis bahwa kita adalah “orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya” (Kol 3:12). Semua umat Kristiani yang sudah dibaptis adalah anak-anak angkat Allah Bapa. Semua cintakasih yang dicurahkan oleh orangtua angkat atas anak-anak yang sudah lama dinanti-nantikan, sekarang menjadi milik kita. Kasih dan keprihatinan Allah Bapa atas diri kita, harus mendorong kita untuk mengenakan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kol 3:12). Kita harus “sabar seorang terhadap yang lain, mengampuni seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain: sama seperti Tuhan telah mengampuni kita” (lihat Kol 3:13).

Masa Natal adalah masa untuk perayaan keluarga. Jadi, sungguh sedih apabila ada orang yang berada dalam kesendirian pada masa Natal. Seseorang boleh saja bertapa dan melakukan meditasi dengan baik dalam sebuah gua di puncak gunung yang tinggi, namun apabila ingin merayakan Natal maka dia harus bergabung dan berbaur dengan orang-orang lain. Dan, tanda kekeluargaan kita adalah bahwa kita berkumpul di sekeliling meja Bapa dalam perayaan Ekaristi. Sebagai sebuah keluarga, kita menyanyikan mazmur dan lagu-lagu pujian dalam perayaan Ekaristi ini dari kedalaman hati kita. Dan kepada kita Bapa surgawi menyediakan makanan yang memberikan kehidupan: Yesus Kristus, Putera-Nya sendiri. Martabat kita sebagai anak-anak Allah bertumbuh dari Misa yang satu ke Misa berikutnya.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah keluarga-keluarga kami agar menjadi lebih hidup dalam kasih-Mu. Kami ingin menemukan kepenuhan dalam Kerajaan-Mu. Tolonglah kami agar dapat membuat keluarga-keluarga kami menjadi sari-pati kasih-Mu. Buatlah keluarga-keluarga kami agar menjadi pencerminan yang hidup dari Tritunggal Mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Sir 3:2-6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGHORMATI KEDUA ORANG TUA-NYA DI DUNIA” (bacaan tanggal 29-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 27 Desember 2013 [ Pesta S. Yohanes, Rasul & Penginjil]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS