Posts tagged ‘ANAK MANUSIA’

BENTARA SANG MESIAS SUDAH DATANG

BENTARA SANG MESIAS SUDAH DATANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Sabtu, 15 Desember 2018)

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13) 

Bacaan pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19 

Bertahun-tahun lamanya sebelum kelahiran Yesus Kristus, nabi Maleakhi mempermaklumkan bahwa nabi Elia akan datang kembali ke dunia sebelum kedatangan hari YHWH: “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN (YHWH) yang besar dan dahsyat itu” (Mal 4:5). Sekitar 400 (empat ratus) tahun kemudian, Simon Petrus memproklamasikan bahwa “Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Dalam Yesus, “hari TUHAN” sudah dekat. Namun tidak kembali-kembalinya Elia membingungkan para murid. Bukankah Elia harus datang dulu sebelum kedatangan sang Mesias?

Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya bahwa Elia telah datang dan menderita di tangan orang-orang yang tidak percaya (Mat 17:12). Dari kata-kata Yesus, para murid memahami bahwa yang dimaksudkan oleh-Nya adalah Yohanes Pembaptis, bentara Tuhan yang dipenggal kepalanya atas perintah Herodus Antipas (lihat Mat 14:1-12).

Baik Yohanes Pembaptis maupun Elia dipandang sebagai pribadi-pribadi yang “radikal”. Dua-duanya tinggal di padang gurun; menghayati suatu kehidupan yang ekstrim dan keras; tidak memiliki apa-apa, jauh dari hiruk-pikuknya kehidupan kota (lihat Mat 3:4; 1Raj 17:1-7). Dua-duanya adalah nabi-nabi yang berapi-api, yang menolak dengan tegas ketidakadilan dan dosa yang ada dalam kehidupan mereka yang berkuasa. Yohanes Pembaptis melihat dosa Herodes Antipas karena mengambil istri saudaranya sebagai “isteri”, dan Yohanes Pembaptis kemudian mengkonfrontir sang raja (Mat 14:3-5). Di sisi lain Elia mengenali tipu-muslihat para nabi Baal dan sendirian ia menantang para nabi Baal itu dalam sebuah “duel mati-hidup ilahi” (1Raj 18:17-39). Ia juga mengkonfrontir raja Ahab dan istrinya yang bernama Izebel karena pembunuhan atas diri Nabot agar supaya mendapatkan kebun anggurnya (1Raj 21:17-29).

Yohanes Pembaptis dan Elia adalah pribadi-pribadi yang heroik, yang menempatkan diri mereka dalam risiko (Yohanes Pembaptis sampai kehilangan nyawanya) dengan secara setia memproklamirkan sabda Allah. Di atas segalanya, taat kepada Allah adalah hal yang terpenting bagi mereka.

Pada hari ini memang kita tidak makan belalang dan madu, hidup menyendiri di padang gurun, atau sendirian berdiri melawan para penguasa jahat seperti yang dilakukan oleh Elia dan Yohanes Pembaptis. Namun demikian, kita semua dipanggil untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati kita, seperti kedua nabi itu. Dalam kehidupan kita yang lebih “biasa-biasa/normal”, kita dapat mohon kepada Allah agar memberikan kepada kita suatu visi yang lebih besar tentang apa artinya melayani Tuhan dalam situasi kita sehari-hari. Seringkali kita membatasi diri kita karena pandangan yang keliru seperti berikut ini. Kita berpikir, karena kita tidak dapat sehebat atau sebesar para kudus di masa lampau, maka tidak banyaklah yang dapat kita persembahkan. Akan tetapi, apabila kita membuka diri bagi kehendak Bapa, maka Dia dapat bekerja melalui kita sehebat yang telah dilakukan-Nya melalui Elia dan Yohanes Pembaptis.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku menyerahkan pikiranku, kata-kataku, dan perbuatan-perbuatanku kepada-Mu. Aku mengakui bahwa tanpa Engkau aku tidak dapat melakukan sesuatu pun, namun dengan Engkau aku dapat melakukan apa saja yang baik. Biarlah kuasa-Mu mengalir melalui diriku sehingga Engkau dimuliakan pada hari ini dan selamanya. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami lagi Bacaan Injil hari ini (Mat 17:10-13),  bacalah  tulisan yang berjudul “YANG DIMAKSUDKAN DENGAN ELIA ADALAH YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan tanggal 15-12-18) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 13 Desember 2018 [Peringatan S. Lusia, Perawan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MEREKA MENOLAK YOHANES PEMBAPTIS DAN JUGA YESUS

MEREKA MENOLAK YOHANES PEMBAPTIS DAN JUGA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Yohanes dr Salib, Imam Pujangga Gereja – Jumat, 14 Desember 2018)

Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19) 

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-6

Kita hampir dapat membayangkan suara yang keluar dari mulut Yesus ketika mengucapkan kata-kata di atas, teristimewa dengan mengingat orang banyak yang menolak untuk menerima kebenaran, tidak peduli siapa yang mengumumkan kebenaran itu. Orang-orang yang tidak percaya adalah seperti anak-anak yang keras kepala, menolak apa saja yang ditawarkan kepada mereka …… serba salah!

Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus datang ke tengah orang-orang Yahudi untuk mengumumkan apa yang mereka (sebagai umat) selama berabad-abad telah merindukannya, yaitu kedatangan sang Mesias, Putera Daud, Raja Israel! Seperti anak-anak yang disebutkan di atas, ada saja orang-orang Yahudi yang menghina Yohanes Pembaptis dan pesannya dan menuduhnya sebagai seorang yang kerasukan setan. Ketika Yesus datang – seorang yang datang setelah Yohanes dan lebih besar daripada Yohanes (lihat Mat 3:11-12) – mereka menolaknya pula, mencapnya sebagai seorang visioner yang risau, yang bersahabat dengan para pendosa.

Begitu sering kita mendengar orang-orang menolak pesan Kristus/Kristiani dengan berbagai alasan yang tidak rasional, misalnya: “Aku mengenal terlalu banyak anggota gereja yang munafik, yang duduk di bangku bagian depan setiap hari Minggu!” Atau komentar seperti ini: “Gereja ada di dalam hatiku; aku tidak membutuhkan siapa pun untuk mengajarku tentang apa yang harus kulakukan!” Lagi: “Jika Allah adalah kasih, maka Dia tidak akan menghukum orang yang melakukan yang terbaik yang dapat dilakukannya!”  Kita telah mendengar rasionalisasi-rasionalisasi atau pembenaran-pembenaran yang diungkapkan oleh orang-orang itu. Kalau mau jujur, sekali-sekali kita pun – dalam perjalanan hidup kita – suka juga melakukan hal yang sama dalam situasi-situasi di mana tidak nyamanlah bagi kita untuk bersikap jujur dan benar terhadap pesan Injil Yesus Kristus.

Matius mencatat bahwa sejarah akan menjadi hakim atas siapa yang benar dan siapa yang salah: “Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya” (Mat 11:19). Kata-kata sang pemazmur itu benar pada hari ini seperti juga benar pada zaman Yesus mewartakan Kerajaan Surga dan menyerukan pertobatan ketika masih hidup di atas muka bumi: “Orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman …” (Mzm 1:5).

Allah adalah Allah yang Mahasetia; Dia tidak akan membuang orang-orang yang tetap setia kepada-Nya. Dalam Yesus, kita mempunyai seorang Pengantara yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa, yang tak henti-hentinya melakukan doa syafaat bagi mereka yang menyerukan nama-Nya. Kita harus memperkenankan rahmat dan kasih Allah dicurahkan atas diri kita untuk bekerja dalam hidup kita, jikalau kita mau mengalami sukacita dan memperoleh pemenuhan janji menyangkut keanggotaan kita dalam keluarga Allah.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau sungguh indah! Aku ingin lebih mengenal Engkau lagi. Aku ingin memberikan kepada-Mu seluruh hidupku. Aku ingin agar Engkau menolongku untuk berjalan bersama-Mu dan menjaga aku untuk senantiasa kembali kepada-Mu, bila karena sesuatu sebab aku menjadi tersesat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mat 11:16-19), bacalah tulisan yang berjudul “HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH PERBUATANNYA” (bacaan tanggal 14-12-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 11 Desember 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENDERITAAN UMAT KRISTIANI SEBELUM KEDATANGAN-NYA KEMBALI

PENDERITAAN UMAT KRISTIANI SEBELUM KEDATANGAN-NYA KEMBALI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Kamis, 29 November 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta Semua Orang Kudus Tarekat

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”  (Luk 21:20-28) 

Bacaan Pertama: Why 18:1-2,21-23; 19:1-3,9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5 

Bacaan Injil pada hari ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama menceritakan kepada kita tentang pengepungan dan kejatuhan kota Yerusalem pada tahun 70. Bagian kedua “meramalkan” kedatangan Anak Manusia pada akhir zaman.

Santo Lukas menulis Injilnya sekitar tahun 75. Penghancuran Yerusalem telah terjadi dan Lukas menceritakannya seperti apa yang telah terjadi sesungguhnya. Akan tetapi, kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya (Parousia) belum terjadi. Lukas menggambarkan hal ini dengan menggunakan bahasa profetis/kenabian yang mendalam. Dari bacaan ini juga jelas bahwa kedatangan Yesus untuk kedua kalinya tidak akan terjadi dalam waktu yang dekat. Umat Kristiani diingatkan bahwa mereka harus menanti, dan sementara mereka menanti mereka pun akan menderita karena penganiayaan-penganiayaan dari pihak-pihak yang anti-Kristiani. Bagaimana pun Yesus sendiri harus melalui Jalan Salib untuk mencapai kemuliaan-Nya. Tentu saja para murid-Nya tidak boleh mengharapkan sesuatu yang lebih ringan.

Iman akan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, iman akan kemenangan final pada akhir zaman, memberikan dukungan kuat kepada umat Kristiani awal, walaupun kedatangan kemenangan ini masih lama. Iman yang sama harus mendukung kita juga. Pengharapan akan kemenangan final ini adalah alasan dasariah untuk menjalani kehidupan Kristiani, untuk setia terhadap panggilan Yesus.

Yesus bersabda, “… bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat” (Luk 21:28). Kata Yunani yang digunakan di sini adalah apolytrosis, artinya suatu “pembelian kembali”. Dalam kasih-Nya, Allah telah membeli kita kembali, umat-Nya.

Nubuatan ini juga diperuntukkan bagi kita semua. Janji Yesus untuk datang kembali berlaku bagi kita juga. Kita telah dibebaskan, ditebus, dibeli kembali. Pengampunan, penyembuhan, keutuhan dan hidup baru dapat menjadi milik kita dalam sakramen-sakramen kasih Allah yang menebus. Bukti dan tanda penebusan yang final adalah kedatangan kembali Yesus dalam kemuliaan.

Dengan demikian, marilah kita bangkit dan mengangkat kepala kita. Kita adalah anak-anak Allah yang telah ditebus. Allah telah mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. Yang dituntut dari diri kita masing-masing sederhana saja: kita harus tetap setia kepada-Nya!

DOA: Tuhan Yesus, selagi kami menantikan kedatangan-Mu untuk kedua kalinya, kami memuji-muji Engkau untuk pembebasan yang telah Engkau bawa kepada kami dalam Sakramen-sakramen Gereja-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK MANUSIA DATANG DALAM KEMULIAAN-NYA” (bacaan tanggal 29-11-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 28 November 2018 [Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN-NYA KEMBALI PADA AKHIR ZAMAN ADALAH SEBUAH PERISTIWA SUKACITA

KEDATANGAN-NYA KEMBALI PADA AKHIR ZAMAN ADALAH SEBUAH PERISTIWA PENUH SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXXIII [TAHUN B] – 18 November 2018)

“Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Pada waktu itu juga Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit.

Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.

Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” (Mrk 13:24-32) 

Bacaan Pertama: Dan 12:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:5-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:11-14,18 

Kebanyakan orang, bahkan orang-orang Kristiani sekali pun, jarang memikirkan tentang kapan Yesus akan datang kembali kelak, yaitu kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Memikirkan kematian dan bagaimana kiranya kita menghadapi penghakiman, apalagi membayangkan bagaimana Yesus secara tiba-tiba muncul dan menghakimi kita di tempat, semuanya cukup menakutkan. Gereja tidak menghendaki kita bersikap dan berperilaku seperti itu dalam mengantisipasi kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan.

Kedatangan-Nya kembali adalah peristiwa penuh sukacita. Memetik dari kitab Daniel, Yesus mengatakan bahwa kita akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya (Mrk 13:26; Dan 7:13; bdk. Why 1:7). Bagi semua orang yang percaya kepada Yesus, kedatangan-Nya kedua kali akan merupakan sebuah perayaan yang penuh sukacita. Itulah saatnya “raja dan pemimpin” kita datang kembali untuk membebaskan kita sekali dan selamanya dari tangis-sedih serta segala kesusahan lainnya akibat dosa yang telah merusak dunia ini. Dia akan membawa umat beriman ke surga untuk bersama-Nya, jiwa dan raga, selamanya. Inilah yang sebenarnya kita mohonkan kepada Bapa surgawi setiap kali kita berdoa: “Datanglah kerajaan-Mu”  (Mat 6:10; Luk 11:2).

Kenyataan bahwa ada kehidupan lagi setelah kehidupan di dunia ini berakhir, seharusnya merupakan suatu sumber pengharapan besar bagi kita yang percaya. Kalau tidak demikian halnya, maka hidup kita adalah kesia-siaan belaka, yang penuh diisi dengan pengejaran habis-habisan akan kenikmatan-duniawi yang ujung-ujungnya adalah “kehampaan”. Sang pemazmur mencerminkan pengharapan ini ketika dia menyatakan: “Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan” (Mzm 16:9-10).

Sebuah kunci untuk memperoleh disposisi pengharapan dan sukacita berkaitan dengan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, adalah membuat diri kita terbuka bagi karya Roh Kudus dalam diri kita. Roh Kudus memampukan kita untuk menikmati buah pertama dari hasil panen raya kehidupan yang akan datang (lihat Rm 8:23; Gal 5:22-23). Selagi kita dipenuhi hasrat untuk hidup setiap hari dalam hadirat Tuhan, mengasihi-Nya, mengasihi sesama kita dan mengikuti jejak-Nya, kita pun menghasrati  agar Yesus datang guna menyelesaikan apa yang telah dimulai-Nya. Bagi mereka yang tidak mengenal Yesus dan belum pernah mencicipi kehidupan Allah, maka pemikiran tentang kedatangan Yesus untuk kedua kali akan menyebabkan kegelisahan dan ketakutan. Akan tetapi bagi mereka yang telah mengalami Allah (betapa pun sedikitnya), maka kedatangan kembali Yesus untuk kedua kali dipandang sebagai kedatangan saat penting sekali yang selama ini kita harap-harapkan. Namun yang jelas, kita harus selalu berjaga-jaga agar mampu menyambut Dia yang datang dalam kemuliaan-Nya, dalam keadaan siap. Kedatangan-Nya itu tidak dapat diramalkan oleh siapa pun.

Memang kita tidak pernah akan mengetahui kapan sesungguhnya Yesus akan datang dalam kemuliaan-Nya. Oleh karena itu janganlah kita pernah merasa iseng untuk mendengarkan khotbah “penginjil profesional maupun amatir” atau “hamba Tuhan” mana saja yang seakan-akan telah menerima wahyu kapan sesungguhnya akhir zaman itu akan terjadi. Namun di sisi lain, ada lagi sikap dan perilaku berjaga-jaga yang diperlukan oleh kita semua dalam masa Adven yang akan dimulai dua minggu lagi, yaitu berjaga-jaga serta waspada terhadap berbagai kejutan yang akan diberikan Yesus kepada kita.

Sementara kita menantikan kedatangan sang Mesias dengan penuh kewaspadaan, baiklah kita berbagi sukacita dan pengharapan dengan saudari-saudara kita. Dengan penuh iman marilah kita datang ke tengah-tengah mereka dan mengundang mereka juga ke dalam Kerajaan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyembah dan memuji Engkau, teristimewa untuk karya agung-Mu demi menyelamatkan umat manusia. Aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah menjamin keanggotaan kami, para murid-Mu, sebagai warga Kerajaan-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 13:24-32), bacalah tulisan yang berjudul “UMAT PEZIARAH YANG SEDANG MENUJU RUMAH BAPA” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009) 

Cilandak, 14 November 2018 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PADA HARI ANAK MANUSIA DINYATAKAN

PADA HARI ANAK MANUSIA DINYATAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Jumat, 16 November 2018)

Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari Anak Manusia dinyatakan. Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan istri Lot! Siapa saja yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.) Kata mereka kepada Yesus, “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka, “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung-burung nasar.” (Luk 17:26-37) 

Bacaan Pertama: 2Yoh 4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1,2,10-11,17-18 

“Siapa saja yang pada hari itu sedang berada di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali.” (Luk 17:31)

Akhir tahun Kalender Gereja sudah semakin mendekat. Pada hari ini Gereja memberitakan nubuat Yesus tentang akhir zaman. Yesus cukup banyak mengajar tentang akhir zaman sebab manusia memang membutuhkan pemahaman yang benar mengenai masalah ini.

Kita-manusia perlu mengetahui bahwa dunia ini pada akhir zaman tengah berada dalam keadaan seperti biasanya: orang-orang makan dan minum, mereka berjual beli, mereka menanam dan membangun (Luk 17:27-28). Kemudian dunia akan berakhir. Pada hari itu – seperti tercatat dalam “Surat Petrus yang kedua” – langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus oleh nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap (2Ptr 3:10 bdk. 3:12).  Kita perlu mengetahui hal ini sehingga kita tidak akan membiarkan kesejahteraan materi/duniawi menguasai dan menggerogoti hidup kita serta membutakan kita secara rohani. Kita menjadi tidak peduli terhadap sesama yang menderita dlsb. Kita juga perlu mengetahui bahwa dunia kita akan berakhir dalam waktu sekejab. Tidak ada waktu untuk turun dari rumah, atau pulang ke rumah (Luk 17:31]. Jika kita tidak bersiap-siap, kita juga tidak akan mungkin siap selamanya.

Jadi, gambaran yang diberikan oleh Yesus tentang hari-hari menjelang kedatangan-Nya kembali pada akhir zaman sungguh dapat menyebabkan timbulnya rasa takut dalam hati kita. Apabila kita merasa takut, maka kecenderungan alami dari kita adalah untuk mencari rasa aman dalam hal-hal yang sudah familiar bagi kita, yang dapat memberi rasa damai dan stabilitas kepada kita. Namun Yesus mengatakan kepada orang-orang yang mendengarkan pengajaran-Nya, bahwa pada hari kedatangan Tuhan, mereka tidak boleh kembali ke rumah mereka untuk mengumpulkan barang-barang milik mereka. Yesus mendorong mereka – dan kita semua – untuk menemukan keamanan dan damai dalam diri-Nya saja.

Bagi orang-orang yang mengenal Yesus secara pribadi dan akrab/intim, kedatangan-Nya kembali akan merupakan suatu peristiwa yang indah dan menakjubkan. Kita akan begitu tertangkap dalam kasih-Nya dan terpikat oleh pemenuhan semua impian kita yang akan terwujud sebentar lagi, sehingga wajarlah jika kita meninggalkan segalanya di belakang dan berlari untuk menemui Dia. Bagaikan seorang mempelai perempuan maupun mempelai laki-laki, kita akan berkata satu sama lain seperti pada hari pernikahan kita, “Kekasihku sedang mendatangi! Aku tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk berada bersama dengan kekasihku!”

Sekarang kita sedang berada dalam semacam “masa saling mengenal” dengan Yesus. Kita akan sampai pada titik pengenalan betapa mendalam dan memikat kasih-Nya itu. Akan tetapi, pada saat kedatangan-Nya kembali ke dunia, akhirnya kita melihat Dia dalam segala kepenuhan-Nya. Segala selubung akhirnya akan diambil. Selagi kita dari hari ke hari berdiam dalam kasih yang dicurahkan Yesus atas diri kita, kita akan menemukan diri kita sedang melihat ke depan dengan antisipasi besar pada hari di mana kita akan menerima hasil dari apa yang baru saja kita mulai cicipi dalam hidup ini.

Selagi kita berdiam di dekat Yesus dan mengundang Roh Kudus agar menyala-nyala dalam hati kita, maka Yesus akan melayani kita dengan kasih-Nya, hikmat-Nya dan penyembuhan-Nya. Marilah kita tetap taat pada sabda-Nya. Biarlah hati kita senantiasa terbuka bagi-Nya. Selagi kita melakukan hal ini, maka gairah-Nya terhadap diri kita akan menyala menjadi semakin terang benderang sampai hari di mana kita akan berlari untuk bertemu dengan Dia yang kita rindukan. 

DOA: Yesus, wafat-Mu kami kenang, ya Tuhan yang bangkit mulia. Datanglah kami menanti, penuh iman dan harapan. Kami sungguh merindukan Engkau, ya Yesus. Kami berhasrat untuk mengenal-Mu lebih mendalam lagi, hari demi hari. Kami menanti-nantikan saat untuk berada bersama-Mu dan akhirnya dapat bertemu dengan-Mu, muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:26-37), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN KEMBALI YESUS KE DUNIA PADA AKHIR ZAMAN” (bacaan tanggal 16-11-18) dalam situs/blog  http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2018. 

Cilandak, 14 November 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH DAN KERAJAAN-NYA ADALAH MISTERI

ALLAH DAN KERAJAAN-NYA ADALAH MISTERI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXII – Kamis, 15 November 2018)

Peringatan S. Albertus Agung, Uskup & Pujangga Gereja

FMM: Pesta Wafatnya B. Maria de la Passion, Pendiri Kongregasi FMM

Ketika ditanya oleh orang-orang Farisi kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh orang-orang zaman ini. (Luk 17:20-25) 

Bacaan Pertama: Flm 7-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10 

Yesus sungguh ingin kita mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan dan bahwa Kerajaan-Nya ada di sini, ada di antara kita; bahwa Kabar Baik-Nya adalah untuk sekarang ini. Ia mengatakan kepada orang-orang Farisi yang bersikap skeptis dan tidak percaya, “… sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21).

Kalau kita masing-masing mau jujur dengan diri kita sendiri, maka kita harus mengakui bahwa begitu sering manusia (termasuk anda dan saya) berkeinginan untuk mempunyai Allah yang berada di dalam kontrol/kendali mereka, atau paling sedikit masih di dalam jangkauan intelegensia mereka sendiri yang terbatas. Cukup sulitlah untuk hidup dengan nyaman di dalam sebuah dunia yang (kita kira) kita pahami dan kendalikan. Namun lebih sulit lagi kiranya jika kita hidup dengan nyaman, tetapi disertai misteri.

Demikian pula orang-orang Farisi dan semua orang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama; mereka ingin berurusan dengan Kerajaan Allah seperti persoalan-persoalan yang lain, bahkan seperti menangani bencana alam yang dapat diprediksi sebelumnya. Memang sangatlah menghibur/menyenangkan apabila kita mampu menempatkan Kerajaan Allah dalam waktu dan ruang, jadi dalam keadaan siap-siaga guna menyambut Kerajaan itu pada saat kedatangannya – seperti halnya pada waktu kita bersiap-siap menyambut kedatangan angin topan yang akan melanda desa/kota kita; yang sudah diramalkan arah dan kekuatannya dll. oleh BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika).

Satu hal memikat dari iman-kepercayaan yang benar adalah bahwa Allah adalah misteri, demikian pula Kerajaan Allah. Andaikan berbagai pertanyaan yang menyangkut Allah dan Kerajaan-Nya dapat dijawab dengan begitu mudah dan/atau mendapatkan solusi dengan mudah, maka bukan tidak mungkin kita menjadi merasa tertipu oleh para guru agama dan gembala kita. Susahnya dengan orang-orang Farisi, dan dengan kita juga, adalah mengenalinya karena mata kita seringkali dibutakan oleh terlalu banyak urusan lain. Orang-orang Farisi dibutakan oleh “legalisme” mereka. Kita dibutakan oleh semua jenis pertimbangan duniawi.

Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah ada di antara kita. Jelas tidak begitu, bukan? Begitu banyak penderitaan, begitu banyak penindasan dan kekerasan yang kita lihat setiap hari, bukan? Di sisi lain, begitu sedikit cinta kasih yang ada di sekeliling kita.  Apakah Kerajaan Allah cocok (Inggris: compatible) dengan semua penderitaan, kebencian, kemarahan, kekerasan, ketiadaan damai yang kita lihat terus saja berlangsung di sekeliling kita? Tentu saja tidak! Namun ada satu jawaban terhadap segala keburukan yang disebutkan tadi. Kerajaan Allah tidak dipaksakan atas diri siapa saja. Yesus sebagai Tuhan bukanlah seorang diktator, bukan seorang tyrant. Ia tidak akan mengganggu kebebasan kita.

Akan tetapi, apabila kita memperkenankan Dia sebagai Tuhan, kalau kita memperkenankan-pemerintahan-Nya, kerajaan-Nya, mengatur hidup kita, maka damai sejahtera-Nya, kasih-Nya, sukacita-Nya dan segala buah Roh Kudus akan datang ke dalam kehidupan kita.

Apabila semua orang dan semua bangsa mau menerima pemerintahan Allah, menerima kenyataan bahwa Yesus adalah Tuhan atas segalanya, maka kejahatan-kejahatan yang begitu tidak cocok dengan Kerajaan Allah – kemiskinan, penindasan, kekerasan, ketiadaan damai antara bangsa-bangsa, kebencian – semua ini akan menghilang. Paling sedikit semua hal itu akan banyak berkurang dan kita pun akan mampu mengenali pemerintahan Allah di tengah-tengah kita.

Jadi, di mana harus kita mulai? Pertama-tama kita harus mengingat bahwa bangsa-bangsa terdiri dari orang-orang, manusia! Dengan demikian kita harus mulai dengan diri kita sendiri. Hari demi hari kita harus mencoba untuk hidup bersama Yesus sebagai Tuhan. Kehendak-Nya harus menjadi faktor paling penting dalam semua keputusan kita. Apa yang menurut Dia merupakan hukum yang paling utama – mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia – haruslah menjadi hukum yang paling  utama dalam kehidupan kita. Maka kita akan melakukan bagian kita untuk membuat pemerintahan Allah menjadi kelihatan. Dalam hal ini, kita harus menyadari bahwa kita masing-masing diciptakan untuk mengasihi, dan tidak ada misteri yang lebih besar daripada hal itu.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, oleh Roh Kudus tolonglah kami untuk mengasihi-Mu tanpa banyak bertanya ini-itu dan kami sungguh menginginkan agar Engkau menjadi Tuhan dalam hidup kami, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi tanda-tanda kecil dari Kerajaan-Mu. Kami juga berjanji untuk menantikan kedatangan-Mu kembali dengan penuh kepercayaan kepada-Mu, walaupun kami tidak memiliki pengertian sepenuhnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Flm 7-20), bacalah tulisan yang berjudul “SEBAGAI SAUDARI DAN SAUDARA DALAM KRISTUS” (bacaan tanggal 15-11-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2018.

Cilandak, 12 November 2018 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA

MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 20 Oktober 2018)

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Ef 1:15-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2-7 

Yesus melanjutkan pengajaran singkatnya kepada para murid-Nya sebelum Ia mengajar kepada orang banyak. Ia mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka harus kuat dalam menghadapi berbagai pencobaan. Biaya dari kemuridan yang sejati adalah penderitaan dan pengejaran serta penganiayaan, namun kemenangan vital adalah suatu keniscayaan. Dengan gamblang Yesus mengatakan bahwa apabila mereka mengakui-Nya di hadapan manusia, maka Dia akan mengakui mereka di hadapan Allah. Namun apabila mereka menyangkal-Nya di depan manusia, maka dia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah (Luk 12:8-9).

Martir-martir dari Gereja awal mestinya sangat menyadari makna kata-kata Yesus ini. Mereka mengetahui dan percaya akan janji Yesus. Tidak ada siapapun atau apapun yang dapat memisahkan mereka dari Yesus. Santo Paulus menulis, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? ….. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, atau sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35,38-39).

Kita semua dipanggil untuk menjadi murid-murid Kristus. Tidak ada “orang banyak” dalam Kekristenan (Kristianitas) yang sejati (sebagai contoh, bacalah Yoh 6:60-71). Yang ada adalah murid-murid Kristus! Kita semua harus menjadi para murid Kristus, para pengikut Kristus, para pengikut jejak Kristus! Itulah makna sebenarnya jika kita hendak dinamakan umat Kristiani. Kata-kata Yesus ini juga dimaksudkan untuk kita semua yang hidup pada abad ke-21 ini. Barangkali kita tidak “bernasib” sama dengan begitu banyak murid Kristus di abad-abad pertama Gereja, yaitu mengalami kematian sebagai martir, namun kita harus kuat dalam upaya kita menolak semangat duniawi yang sangat kuat-berpengaruh dalam kehidupan kita, dan cara-cara jahat dan nilai-nilai buruk yang diturunkannya. Kita harus menjadi “tanda lawan” dalam masyarakat di mana “materialisme”, “konsumerisme”, “hedonisme”, “individualisme” dan sejenisnya merupakan nilai-nilai yang dianut banyak sekali orang. Kita harus menghayati/ menjalani hidup Kristiani sejati yang penuh dengan sukacita dan cintakasih, yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita di depan orang-orang lain, apakah kita seorang menteri kabinet, seorang anggota DPR-RI, seorang anggota Mahkamah Konstitusi, seorang jenderal, seorang guru sekolah, seorang dokter atau perawat, seorang eksekutif perusahaan, seorang petani, dlsb., apalagi sebagai pemuka Gereja.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya agar mereka siap menghadapi oposisi, pengejaran, penganiayaan serta penindasan dari pihak lawan. Yesus mengasumsikan bahwa para murid-Nya akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman mereka kepada-Nya. Namun Dia seakan-akan berkata, “Don’t worry, be happy! Aku akan menyertai Engkau di mana saja engkau berada atau ke mana saja engkau pergi. Roh Kudus-Ku akan mengajar engkau apa yang harus kaukatakan dan lakukan” (lihat Luk 12:11-12).

Barangkali kita tidak akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman kita kepada Yesus. Namun pasti ada saat-saat dalam kehidupan setiap orang dari kita umat Kristiani, di mana kita harus sungguh berkonfrontasi dengan kejahatan dunia. Inilah moments of truth yang tidak bisa kita hindari! Kita tidak pernah boleh merasa ragu karena Kristus telah berjanji untuk senantiasa menyertai kita [Dia adalah Imanuel (Mat 1:23; 28:20)], memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya untuk mengarahkan dan membimbing kita dalam pertempuran melawan kuasa kejahatan (si Jahat).

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Bersama sang pemazmur kami ingin memanjatkan syukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus: “Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi” (Mzm 58:12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN” (bacaan  tanggal 20-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS