Posts tagged ‘ANAK MANUSIA’

MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA

MENGAKUI YESUS DI HADAPAN MANUSIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Sabtu, 20 Oktober 2018)

Aku berkata kepada-Mu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang yang harus kamu katakan.” (Luk 12:8-12) 

Bacaan Pertama: Ef 1:15-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2-7 

Yesus melanjutkan pengajaran singkatnya kepada para murid-Nya sebelum Ia mengajar kepada orang banyak. Ia mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka harus kuat dalam menghadapi berbagai pencobaan. Biaya dari kemuridan yang sejati adalah penderitaan dan pengejaran serta penganiayaan, namun kemenangan vital adalah suatu keniscayaan. Dengan gamblang Yesus mengatakan bahwa apabila mereka mengakui-Nya di hadapan manusia, maka Dia akan mengakui mereka di hadapan Allah. Namun apabila mereka menyangkal-Nya di depan manusia, maka dia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah (Luk 12:8-9).

Martir-martir dari Gereja awal mestinya sangat menyadari makna kata-kata Yesus ini. Mereka mengetahui dan percaya akan janji Yesus. Tidak ada siapapun atau apapun yang dapat memisahkan mereka dari Yesus. Santo Paulus menulis, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? ….. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, atau sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35,38-39).

Kita semua dipanggil untuk menjadi murid-murid Kristus. Tidak ada “orang banyak” dalam Kekristenan (Kristianitas) yang sejati (sebagai contoh, bacalah Yoh 6:60-71). Yang ada adalah murid-murid Kristus! Kita semua harus menjadi para murid Kristus, para pengikut Kristus, para pengikut jejak Kristus! Itulah makna sebenarnya jika kita hendak dinamakan umat Kristiani. Kata-kata Yesus ini juga dimaksudkan untuk kita semua yang hidup pada abad ke-21 ini. Barangkali kita tidak “bernasib” sama dengan begitu banyak murid Kristus di abad-abad pertama Gereja, yaitu mengalami kematian sebagai martir, namun kita harus kuat dalam upaya kita menolak semangat duniawi yang sangat kuat-berpengaruh dalam kehidupan kita, dan cara-cara jahat dan nilai-nilai buruk yang diturunkannya. Kita harus menjadi “tanda lawan” dalam masyarakat di mana “materialisme”, “konsumerisme”, “hedonisme”, “individualisme” dan sejenisnya merupakan nilai-nilai yang dianut banyak sekali orang. Kita harus menghayati/ menjalani hidup Kristiani sejati yang penuh dengan sukacita dan cintakasih, yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita di depan orang-orang lain, apakah kita seorang menteri kabinet, seorang anggota DPR-RI, seorang anggota Mahkamah Konstitusi, seorang jenderal, seorang guru sekolah, seorang dokter atau perawat, seorang eksekutif perusahaan, seorang petani, dlsb., apalagi sebagai pemuka Gereja.

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya agar mereka siap menghadapi oposisi, pengejaran, penganiayaan serta penindasan dari pihak lawan. Yesus mengasumsikan bahwa para murid-Nya akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman mereka kepada-Nya. Namun Dia seakan-akan berkata, “Don’t worry, be happy! Aku akan menyertai Engkau di mana saja engkau berada atau ke mana saja engkau pergi. Roh Kudus-Ku akan mengajar engkau apa yang harus kaukatakan dan lakukan” (lihat Luk 12:11-12).

Barangkali kita tidak akan dihadapkan ke depan pengadilan karena iman kita kepada Yesus. Namun pasti ada saat-saat dalam kehidupan setiap orang dari kita umat Kristiani, di mana kita harus sungguh berkonfrontasi dengan kejahatan dunia. Inilah moments of truth yang tidak bisa kita hindari! Kita tidak pernah boleh merasa ragu karena Kristus telah berjanji untuk senantiasa menyertai kita [Dia adalah Imanuel (Mat 1:23; 28:20)], memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya untuk mengarahkan dan membimbing kita dalam pertempuran melawan kuasa kejahatan (si Jahat).

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Bersama sang pemazmur kami ingin memanjatkan syukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus: “Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi” (Mzm 58:12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:8-12), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN MENGAJAR KAMU APA YANG HARUS KAMU KATAKAN” (bacaan  tanggal 20-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 17 Oktober 2018 [Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SIAPAKAH AKU INI?

SIAPAKAH AKU INI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Jumat, 28 September 2018)

OFMCap.: Peringatan B. Inosensius dr Bertio, Imam

 

Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah  murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini? Jawab mereka, “Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:18-22) 

Bacaan Pertama: Pkh 3:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-4 

Apabila kita ingin mengikuti jejak Yesus dengan keyakinan yang mantap, maka kita harus mengetahui siapa Dia sebenarnya. Ketika Yesus bertanya: “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?”, maka berbagai jawaban yang diberikan para murid-Nya mencerminkan kepercayaan di tengah masyarakat pada waktu itu (Luk 9:18-19). Semua ini adalah jawaban-jawaban yang menyenangkan, namun tidak berurusan dengan kebenaran sentral bahwa Yesus adalah “Mesias dari Allah” yang datang ke dunia untuk menyelamatkan kita – umat manusia. Yesus mengetahui bahwa para murid-Nya akan sampai pada kepercayaan ini dan dengan demikian Ia mengajukan pertanyaan kepada mereka tentang tingkat iman-kepercayaan mereka.

Yesus baru saja berdoa seorang diri. Urut-urutan pertanyaan yang diajukan oleh-Nya menyarankan bahwa orang banyak hanya melihat sebagian gambaran saja dari Yesus. Petrus – sementara berbicara atas nama seluruh murid – adalah orang pertama yang memberikan kemuliaan kepada Yesus yang memang diterima-Nya dengan mendeklarasikan Yesus sebagai “Mesias dari Allah”. Saat itu adalah saat yang penuh sukacita dan kemenangan bagi mereka. Mengapa setelah deklarasi Petrus itu, Yesus langsung saja dan dengan cepat berbicara mengenai penderitaan dan kematian-Nya?

Yesus mengetahui bahwa para murid telah memiliki pemahaman yang benar tentang diri-Nya, namun mereka tidak memahami implikasi sepenuhnya dari apa yang harus dilakukan oleh-Nya. Walaupun pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta akan menolong para murid untuk memahami secara lebih mendalam lagi, Yesus memimpin untuk memahami bahwa penderitaan dan kematian berada di jantung misi-Nya. Tanpa sengsara dan kematian-Nya, Yesus hanyalah seorang Guru yang memberikan contoh yang baik kepada kemanusiaan yang tidak dapat berubah.

Dengan merangkul salib, cengkeraman Iblis atas diri kita dipatahkan oleh Yesus. Tanpa kuasa dan kebebasan yang datang dari pengorbanan itu, kita tidak mampu untuk hidup sepenuhnya bagi Allah. Karena keilahian-Nya, Yesus mampu untuk melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh Yohanes Pembaptis atau Elia, atau nabi-nabi lain, yaitu mengalahkan dosa dan Iblis dan membawa kehidupan baru bagi umat Allah.

C.S. Lewis [1898-1963] menulis dalam bukunya, Mere Christianity (II,4): “Kita diberitahukan bahwa Kristus dibunuh untuk kita, bahwa kematian-Nya telah mencuci-bersih dosa-dosa kita, dan oleh kematian-Nya Dia membuat kematian menjadi tak berdaya. Itulah rumusannya. Itulah Kristianitas (Kekristenan). Itulah yang harus dipercayai.” Yesus mengetahui apa yang harus dilakukan-Nya bagi umat-Nya yang sudah hilang dan suka memberontak itu. Tindakan-tindakan Yesus mengandung “biaya” yang lebih besar namun membawa kemuliaan yang lebih besar pula daripada apa yang kita dapat bayangkan. Kita sepatutnya bersukacita, bahwa Yesus telah melakukan begitu banyak bagi kita semua!

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh percaya bahwa Engkau adalah Mesias dari Allah. Kami juga percaya bahwa pembebasan kami dari dosa dan maut hanya dimungkinkan lewat penderitaan dan kematian-Mu di kayu salib. Terima kasih, ya Tuhan dan Allahku. Jagalah kami selalu agar kami sungguh dapat menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH YESUS BAGIKU?” (bacaan untuk tanggal 28-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-9-16 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 26 September 2018 [Peringatan S. Elzear & Defina, OFS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG PEMIMPIN PERTAMA-TAMA ADALAH SEORANG PELAYAN

SEORANG PEMIMPIN PERTAMA-TAMA ADALAH SEORANG PELAYAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV [TAHUN B] –  23 September 2018)

Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mrk 9:30-37) 

Bacaan Pertama: Keb 2:12,17-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-6,8; Bacaan Kedua: Yak 3:16-4:3 

Yesus bersabda: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk 9:35). Yesus mengungkapkan disposisi hatinya yang fundamental dengan menggambarkan diri-Nya dan hidup-Nya sendiri sebagai seorang pelayan dari semuanya (Lihat Luk 22:27; bdk. Yoh 13:4-15). Sebagai Putera Allah yang setia dan taat, Ia mau melayani Bapa-Nya dengan memenuhi semua tujuan dan rencana Bapa. Oleh karena itu, dengan penuh kemauan Ia menanggalkan kemuliaan-Nya dan merendahkan diri-Nya untuk menjadi seorang manusia (Flp 2:6-7). Dalam kondisi seperti itulah Yesus dengan sangat senang hati melayani Bapa-Nya – dengan ketaatan seorang hamba – bahkan sampai satu titik di mana Dia menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan umat Allah (Flp 2:8). Sabda Yesus: “… Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang’” (Mrk 10:45).

Dengan mengesampingkan kehendak-Nya sendiri dan memilih hidup sebagai seorang abdi yang taat kepada Bapa-Nya, Yesus tahu benar bahwa semuanya akan membawa-Nya kepada sengsara dan kematian-Nya (lihat Mrk 9:35 di atas). Namun demikian, Yesus dengan penuh kemauan memilih ‘jalan susah’ ini demi sukacita yang disediakan bagi Dia (lihat Ibr 12:2), yaitu ketika Bapa akan membangkitkan-Nya dari alam maut dan membawa-Nya masuk ke dalam kemuliaan di surga. Sebagai seorang abdi paling sempurna (par excellence), Yesus menaruh hidup-Nya secara lengkap dan total ke dalam tangan Bapa-Nya.

Dalam khotbahnya di hari Pentakosta, Petrus mengatakan: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis 2:23). Jadi, Yesus dengan bebas setuju agar diri-Nya diserahkan Bapa-Nya ke dalam tangan orang-orang jahat, karena Dia menaruh kepercayaan penuh bahwa Bapa-Nya akan menyelamatkan Dia dari kematian (baca: KebSal 2:18-20).

Seseorang yang dipilih Yesus dan bersedia mengikuti-Nya juga membuat hatinya menjadi serupa dengan hati-seorang-abdi yang dimiliki Guru dan Tuhan-nya, meneladani kedinaan serta ketaatan-Nya, mengesampingkan kehendaknya sendiri dan membuang segala kecenderungan untuk membuat dirinya menjadi pusat segalanya (self-centeredness). Seorang murid Yesus yang sejati haruslah seseorang yang hidupnya berpusat pada Allah (God-centered). Dalam menanggapi pertengkaran di antara para murid-Nya tentang siapa yang terbesar di antara mereka, Yesus mengajarkan kepada mereka bagaimana menerapkan prinsip ini dalam kehidupan mereka (lihat Mrk 9:33-34 di atas). Yesus mengajarkan bahwa  pikiran para murid, sikap dan perilaku mereka tidak menunjukkan hati seorang abdi/pelayan. Hati mereka penuh dengan ambisi dan rasa-iri serta kedengkian, hal mana menimbulkan perpecahan dan ketidak-teraturan (bdk. Yak 3:16). Ia mengajarkan para murid-Nya begini: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”  (lihat Mrk 9:35). Menjadi besar berarti memperhatikan kepentingan orang lain terlebih dahulu, tanpa merasa khawatir akan keadaan diri sendiri.

Untuk menjadi abdi atau pelayan Allah yang rencah hati, para murid harus berbalik dari hidup lama mereka yang mementingkan diri sendiri (dalam bahasa Inggris ada ungkapan begini: self-glorification dan self-serving ambitions). Menjadi abdi Allah juga berarti bahwa mereka harus menjadi abdi setiap orang – menerima semua orang, apa pun status dan posisi orang-orang itu dalam masyarakat – seperti orang menyambut dan menerima seorang anak yang tidak dapat berbuat apa-apa kepada mereka sebagai balasan (lihat Mrk 9:37 di atas).

Sebagai seorang abdi yang sempurna, Yesus sangat senang-hati kalau ada kesempatan menolong orang-orang yang ada di sekelilingnya. Dipenuhi cintakasih Bapa, Dia hanya menginginkan untuk menyalurkan kasih Bapa itu kepada siapa saja yang ditemui-Nya. Dengan setiap penyembuhan yang dilakukan-Nya dan setiap kata yang disabdakan-Nya, Yesus berupaya untuk menarik orang-orang agar lebih dekat lagi dengan Bapa-Nya. Meskipun sudah mendekati jam kematian-nya sendiri, hasrat utama Yesus adalah untuk berada bersama dengan para murid-Nya (lihat Luk 22:14-15), mengasihi mereka dan menolong mereka agar mampu menaruh kepercayaan kepada Bapa surgawi. Yesus juga mengajar bahwa manakala kita melayani orang lain, kita sesungguhnya melayani Dia (lihat Mat 25:40).

Pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya, setelah acara pembasuhan kaki, Yesus bersabda kepada para murid: “Aku telah memberikan memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15). Yesus meminta kita – para murid-Nya – untuk memiliki hati seorang abdi/pelayan. Artinya kita tidak boleh berupaya menguasai atau mengendalikan orang-orang lain, atau menginginkan agar orang lain melayani kita. Kita juga tidak boleh mengejar-ngejar status, posisi, kehormatan dan lain sebagainya. Sebaliknya kita harus rendah hati dan mengambil jalan perendahan Yesus, memperhatikan kepentingan orang lain terlebih dahulu (Flp 2:4) serta melayani kebutuhan mereka sebelum kebutuhan kita sendiri. Karunia yang dianugerahkan Yesus kepada para murid-Nya adalah hati seorang abdi/pelayan. Maukah saudara-saudari mohon kepada-Nya untuk menjadikan hati anda seperti hati-Nya?

Sampai hari ini Yesus dengan rendah hati masih mengetuk-ngetuk pintu hati kita. Dia begitu ingin melayani kita dengan masuk ke dalam kehidupan kita yang penuh luka ini, agar dapat menyembuhkan luka-luka kita serta membersihkan kita, dan akhirnya memperbaharui kita. Betapa rindu hati Yesus untuk melihat kita menyambut-Nya masuk.

DOA: Tuhan Yesus, Terima kasih untuk cintakasih-Mu yang tak bersyarat sehingga aku pun dapat dicurahi dengan kebaikan dan belaskasih-Mu. Aku sungguh ingin menyambut-Mu ke dalam hatiku. Bentuklah hatiku agar aku dapat melayani sesamaku dengan penuh sukacita, seperti Dikau juga memeliharaku dengan penuh sukacita ilahi. Ya Tuhan Yesus, buatlah agar hatiku menjadi seperti hati-Mu. Buatlah daku menjadi saluran berkat-Mu bagi sesamaku di mana saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:30-37), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS INGIN MENARIK KITA AGAR LEBIH DEKAT KEPADA BAPA” (bacaan tanggal 23-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009) 

Cilandak, 20 September 2018 [Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam & Paulus Chong Hasang dkk – Martir-martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDENGARKAN SUARA ALLAH DAN PERCAYA

MENDENGARKAN SUARA ALLAH DAN PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Rabu, 19 September 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Maria dr Comporroso, Biarawan

Peringatan Falkutatif: Santo Yanuarius, Uskup & Martir

Kata Yesus, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35) 

Bacaan Pertama: 1Kor 12:31-13:13; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-5,12,22 

Tidak sedikit orang yang begitu terbius dengan pembenaran diri sendiri, begitu ketatnya sehingga menutup diri mereka terhadap rahmat Allah. Yesus datang untuk menyampaikan kabar baik keselamatan bagi semua orang. Keempat Injil dipenuhi dengan berbagai narasi tentang orang-orang yang mencari Yesus dan menaruh kepercayaan mereka pada-Nya.

Namun Yesus tidak membatasi diri pada mereka yang mencari Dia. Dalam Bacaan Injil hari Selasa kemarin (Luk 7:11-17) diceritakan bahwa ketika Yesus memasuki kota Nain Ia berpapasan dengan sebuah iringan jenazah. Yang meninggal dunia adalah seorang anak muda dan ibundanya sudah hidup menjanda. Ketika Yesus melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Atas dasar inisiatif-Nya sendiri Yesus menghampiri usungan jenazah dan menyentuhnya. Kemudian Ia menyuruh anak muda yang sudah mati itu untuk bangkit, dan anak muda itu pun hidup lagi.

Syarat satu-satunya yang diperlukan kalau seseorang mau menerima rahmat dari Allah adalah, bahwa dia harus mendengarkan suara-Nya. Kalau kita mendengarkan dan percaya, maka Dia akan menyelesaikan selebihnya. Allah akan memperhatikan agar rahmat yang dicurahkan-Nya berbuah dalam diri orang itu. Tugas orang itu adalah menjaga agar rahmat Allah yang dicurahkan kepadanya dijaga. Siapa saja yang mendengarkan Allah dengan baik akan mencapai hasil yang melampaui kemampuan-kemampuannya sendiri, justru karena kuasa dari rahmat-Nya.

Kita bersyukur karena mengetahui bahwa Yesus mencari setiap orang – bahkan orang yang selalu diabaikan malah dihina oleh mereka yang kaya dan/atau berkuasa. Dalam Luk 7 kita melihat bahwa Yesus mau berjumpa dengan siapa saja, tidak ada diskriminasi dalam bentuk apapun yang dianut oleh-Nya. Ia menyembuhkan hamba seorang perwira Romawi yang kafir (7:1-10); seperti telah disinggung di atas, Yesus membangkitkan anak muda di Nain yang belum pernah dikenalnya (7:11-17); Yesus  menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan  dan dari roh-roh jahat serta mencelikkan mata orang buta (7:21); Ia berdialog dengan murid-murid Yohanes Pembaptis (7:18-20.22-23); Ia mengajar orang banyak, termasuk para pemungut cukai yang dihina dalam masyarakat (7:24-35); dan Yesus diurapi oleh perempuan berdosa (7:36-50). Dewasa ini pun Allah sangat berhasrat untuk menyentuh orang-orang di sekeliling kita. Harapan Kabar Baik Yesus Kristus juga diperuntukkan bagi mereka. Kalau kita peka terhadap sentuhan dan sapaan Roh Kristus, maka Dia akan menunjukkan kepada kita bagaimana berbagi Kabar Baik dengan para sahabat dan teman kita, para tetangga kita, dan para anggota keluarga besar kita. Dia akan mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka yang mendengarkan dan percaya – karena kesetiaan-Nya tidak tergantung pada kebenaran kita, melainkan pada cintakasih-Nya yang tanpa syarat.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang mahatinggi, Engkau adalah sumber segala kebaikan. Hanya Engkau saja yang baik, yang paling baik. Dengan penuh rasa syukur kami berterima kasih kepada-Mu, ya Bapa, karena Engkau memberikan Putera-Mu yang tunggal demi keselamatan kami. Dia setia kepada kami, dengan demikian kami pun bertekad bulat untuk memberitakan Kabar Baik-Nya kepada orang-orang yang kami jumpai. Bapa, perkenankanlah Roh Kudus-Mu menolong kami menaruh kepercayaan sepenuhnya pada kuasa rahmat-Mu agar dapat mengalir melalui diri kami dan terus mengalir kepada orang-orang lain di sekeliling kami. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau, Bapa, dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:31-35), bacalah tulisan yang  berjudul “KITA PUN SERINGKALI SEPERTI ANAK-ANAK ITU” (bacaan tanggal 19-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015) 

Cilandak, 17 September 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGAKUAN SIMON PETRUS

PENGAKUAN SIMON PETRUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIV [TAHUN B] – 16 September 2018)

Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke desa-desa di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Aku ini?”  Jawab mereka kepada-Nya, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan: Seorang dari para nabi.”  Ia bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”  Jawab Petrus, “Engkaulah Mesias!”  Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras. Lalu berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia menegur Petrus dengan keras, “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. (Mrk 8:27-35) 

Bacaan Pertama:  Yes 50:5-9a; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-6,8-9; Bacaan Kedua: Yak 2:14-18 

“Engkaulah Mesias!” (Mrk 8:29)

Ini adalah proklamasi yang sungguh luarbiasa menakjubkan – dan Simon Petrus membuat pernyataan ini setelah Yesus mengalami begitu banyak oposisi dari para pemuka agama Yahudi, dan ajaran-ajaran-Nya pun tidak kurang membingungkan para murid-Nya! Walaupun orang-orang Farisi telah menyaksikan sendiri mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya, mereka tetap meminta agar Yesus memberikan tanda dari surga (lihat Mrk 8:11-13). Kemudian Yesus mencoba mengingatkan para murid-Nya agar waspada terhadap kemunafikan orang-orang Farisi dan Herodes (dan para pendukungnya), namun pesan-Nya tidak dipahami oleh para murid-Nya (lihat Mrk 8:14-21). Akhirnya, ketika Yesus berupaya untuk menyembuhkan seorang buta di Betsaida, Dia hanya dapat menyembuhkan orang buta itu secara bertahap (lihat Mrk 8:22-26). Orang itu tidak langsung dapat melihat secara penuh – demikian pula kiranya Simon Petrus dan murid-murid yang lain dalam memandang siapa Yesus bagi mereka.

Dengan proklamasinya tentang Yesus sebagai sang Mesias (lihat Mrk 8:29), kelihatannya Petrus akhirnya telah sampai kepada pemahaman tentang siapa Yesus sebenarnya dan mengapa Dia datang ke dunia. Namun, seperti orang buta yang belum sepenuhnya disembuhkan, visi Petrus masih belum jelas. Pada saat Yesus mulai menjelaskan bahwa Mesias “ditakdirkan” untuk menderita dan mati, maka Petrus memprotes. Protes Petrus ini membuktikan bahwa dia (dan murid-murid lainnya) tidak/belum memahami implikasi-implikasi sepenuhnya dari apa yang baru saja dipermaklumkannya dengan begitu meyakinkan. Beberapa menit sebelumnya Petrus memproklamasikan Yesus sebagai Mesias (Kristus) – Yang diurapi oleh Allah – sekarang Petrus malah berselisih pendapat dengan Yesus.

Sekarang, bagaimana halnya dengan kita sendiri? Kita sering sekali memproklamasikan Yesus sebagai Kristus, namun masalahnya apakah kita memahami implikasi sepenuhnya dari apa yang kita permaklumkan? Para murid Yesus berpikir bahwa mereka mengetahui apa yang harus diharapkan dari seorang Mesias: peragaan kuasa dan kemuliaan dunia. Mereka tidak memahami bahwa Yesus justru mengalahkan dosa dengan menyerahkan diri-Nya untuk menanggung hukuman yang sebenarnya pantas ditimpakan atas diri kita. Dalam penderitaan sengsara-Nya Tubuh-Nya penuh dengan luka-luka yang merupakan efek-efek dari ketidaktaatan kita.

Sebagian besar dari kita akan setuju bahwa Yesus adalah Mesias. Akan tetapi, sampai berapa jauh kita menghubungkan pernyataan itu dengan kematian-Nya di atas kayu salib? Mungkinkah kita merasa takut untuk melihat ke dalam hati kita sendiri dan melihat kebutuhan kita akan pengampunan dan pembebasan (pelepasan) dari kedosaan kita? Inilah sebenarnya KABAR BAIK YESUS KRISTUS: Yesus telah mengampuni kita; Dia telah memenangkan bagi kita kebebasan kita dari perbudakan dosa. Kita mempunyai seorang Juruselamat yang sangat mengasihi kita, sehingga kita tidak perlu merasa takut untuk melihat ke dalam hati kita, karena Dia sungguh mengetahui apa yang ada di dalam hati kita itu dan Ia pun menawarkan kebebasan dan kasih-Nya kepada kita. Apa yang diminta oleh-Nya dari kita adalah agar kita datang menghadap-Nya dengan rendah hati dan membuka diri kita bagi kasih-Nya yang menyembuhkan.

DOA: Yesus, kami memproklamasikan bahwa Engkau adalah Mesias, Kristus yang datang ke tengah-tengah dunia karena kasih-Mu, dan kemudian menderita karena dosa-dosa kami. Bukalah mata kami lebar-lebar, ya Tuhan! Tolonglah kami agar mau dan mampu percaya bahwa oleh kematian dan kebangkitan-Mu, Engkau telah mematahkan kuasa dosa dan memberikan kesembuhan bagi siapa saja yang datang menghadap Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:27-35), bacalah tulisan yang berjudul “STANDAR-STANDAR YANG DIGUNAKAN ALLAH” (bacaan tanggal 16-9-18) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,  13 September 2018 [Peringatan S. Yohanes Krisostomus, Uskup & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KENISCAYAAN SALIB

KENISCAYAAN SALIB

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Kamis, 9 Agustus 2018) 

Setelah Yesus tiba di daerah Kaesarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan; Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.

Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau.” Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat 16:13-23) 

Bacaan Pertama: Yer 31:31-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-15,18-19 

Setelah Yesus mendengar pernyataan Petrus (sebagai wakil para murid) bahwa diri-Nya adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:15). Yesus kemudian berjanji untuk mendirikan Gereja-Nya dengan Petrus sebagai batu karang dan fondasi: “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan aku berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan diatas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16:17-19).

Kemudian Yesus memberitahukan kepada para murid-Nya bahwa Dia akan menanggung banyak penderitaan dari para pemuka bangsa dan agama Yahudi, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Langsung saja Petrus menanggapi pemberitahuan Yesus itu, bahwa hal sedemikian tidak harus terjadi. Petrus tidak mengerti! Yesus dengan keras menegurnya dan mengatakan kepadanya, bahwa Petrus tidak boleh melakukan penilaian sekadar berdasarkan standar-standar manusia dan bukannya standar-standar Allah (Mat 16:21-23).

Setelah itu Yesus mulai mengajar tentang syarat seseorang untuk menjadi murid-Nya: SALIB! Salib telah menjadi sebuah batu sandungan tidak hanya bagi Petrus, melainkan juga untuk umat manusia secara umum, sampai hari ini. Pertanyaan yang sering diajukan adalah mengapa orang harus menderita? Mengapa harus salib? Mengapa Kristus  harus mengambil jalan yang begitu menyusahkan dan menyakitkan, agar supaya kita dapat menjadi anak-anak Allah?

“Penderitaan dan kematian” tetaplah merupakan sebuah misteri, namun kita dapat melihat terangnya pada peristiwa-peristiwa dalam alam. Kita melihat di sini adanya “kebenaran-aneh”, …… “paradoks”, bahwa kematian menghasilkan kehidupan. Sebutir benih harus mati agar dapat menghasilkan sebatang tetumbuhan baru. Seorang ibu mengalami sakit bersalin yang luarbiasa untuk dapat membawa kehidupan baru … bayinya! Demikian pula, kita tidak dapat mencapai hidup-kekal tanpa sebelumnya mati terhadap hidup ini.

Kematian Kristus memungkinkan terwujudnya kehidupan-kekal bagi kita. Akan tetapi kita pertama-tama harus ikut ambil bagian dalam kematian-Nya dengan mati terhadap diri sendiri. Yesus sangat jelas tentang hal ini: “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat 16:24). Tidak ada plus-minus di sini, tidak ada tawar-menawar pula! Sabda Yesus di sini jelas dan penuh empati. Di mana pun dalam Kitab Suci kita dapat membaca bahwa persatuan kita dengan Kristus dikondisikan oleh konformitas kita dengan diri-Nya dalam penderitaan-penderitaan-Nya di atas bumi.

Sehubungan dengan hal ini, Santo Paulus menulis: “Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya” (Rm 6:3-5). Jadi, alasan mengapa kita harus menderita bersama Kristus adalah bahwa dengan demikian kita dapat dimuliakan bersama-Nya.

Tanpa salib, tidak ada kemuliaan! Tanpa kematian, tidak ada kebangkitan! Tanpa Hari Jumat Agung, tidak ada hari Paskah! Demikian pula dengan Paskah kita, yaitu kebangkitan kita kepada hidup-baru, baik di dunia maupun dalam kehidupan selanjutnya, tergantung pada bagaimana kita menerima hari Jumat Agung kita selama hidup di dunia.

DOA: Tuhan Yesus, jika aku harus menderita dan mati bersama-Mu, aku percaya bahwa aku juga akan hidup bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-23), bacalah tulisan yang  berjudul “KARUNIA MEMBEDA-BEDAKAN ROH” (bacaan tanggal 9-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 6 Agustus 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GANDUM DAN LALANG DALAM DIRI KITA

GANDUM DAN LALANG DALAM DIRI KITA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignatius dr Loyola, Imam – Selasa, 31 Juli 2018)

Serikat Yesus: Hari Raya S. Ignatius dr Loyola, Imam, Pendiri Tarekat

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Yer 14:17-22; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21

Banyak dari perumpamaan-perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Surga menyangkut persoalan “kebaikan dan kejahatan”, dan bagaimana Allah ingin agar keduanya (baik dan jahat) ada dalam kehidupan kita, namun pada akhirnya harus dipisahkan. Dalam perumpamaan ini gandum harus diselamatkan karena satu-satunya yang bernilai. Di lain pihak lalang harus dicabut dan dibakar. Waktu panen/tuain adalah waktu untuk mengambil keputusan, waktu penghakiman, pada waktu mana yang baik harus dipisahkan dari yang jahat.

Dapatkah kita memandang masalah ini secara sempit: gandum itu adalah orang-orang baik, sedangkan lalang adalah orang-orang jahat? Apakah pandangan ini sejalan dengan kebanyakan pengalaman kita? Apakah memang kita menemukan orang-orang yang sepenuhnya baik dan di sisi lain orang-orang yang sepenuhnya jahat? Atau, apakah kita melihat dalam diri kita masing-masing, bahwa kita adalah kedua-duanya: gandum dan lalang, baik dan jahat? Kalau memang demikian halnya, maka cepat atau lambat – sebelum kita menikmati kebahagiaan sejati dan ganjaran surgawi – maka semua lalang atau apa saja yang jahat harus dicabut dari diri kita dan kemudian dibakar habis!

Sayangnya, memang kita masing-masing bertumbuh sebagai tumbuhan mendua, tumbuhan ganda yang terdiri dari gandum yang baik yang bercampur dengan lalang yang jahat. Lalang harus dibakar sebelum gandum itu menjadi cukup baik agar dapat disimpan dalam lumbung kebahagiaan di masa mendatang. Itulah sebabnya mengapa Allah memperkenankan kita menderita, itulah sebabnya mengapa kita harus banyak berkorban, menyangkal diri kita, dan memperbaiki diri dari berbagai kesalahan yang kita buat, termasuk kelalaian kita untuk mematuhi perintah-perintah-Nya. Lalang bertumbuh dan berkembang-biak dalam kebun atau ladang yang tak terurus. Jadi, lalang yang dimaksudkan oleh Yesus dalam perumpamaan ini adalah kejahatan-kejahatan yang bertumbuh-kembang dalam sebuah jiwa yang tak terurus, tak karuan arahnya.

Satu lagi realitas yang kita lihat: banyak dari kita, sayangnya tidak menyelesaikan pekerjaan memotong lalang sebelum Allah memanggil kita dan berkata: “Waktumu sudah habis!” Itulah sebabnya kita percaya akan keberadaan purgatorio – api pencucian – sebuah “tempat” pemurnian. Kita berharap akan adanya sebuah cara di mana sisa lalang yang belum dicabut dapat dibakar habis, agar hanya gandum yang baik sajalah yang tertinggal. Kebahagiaan sempurna adalah bagi orang-orang yang sempurna, sehingga dengan demikian tidak tersisa apa pun yang jahat.

Jadi, ada kebutuhan yang mendesak bagi kita untuk melakukan kebaikan; agar kita dapat mengalami proses pemurnian itu sebanyak mungkin selama kita masih hidup di dunia. Allah menciptakan kita untuk saling menolong. Orang-orang lain juga adalah anak-anak Allah, jadi mereka adalah saudari-saudara kita yang harus ditolong ketika mereka mengalami kesusahan.

“Model” sempurna bagaimana caranya melakukan kebaikan adalah Yesus Kristus sendiri, Saudara tua kita semua. Dengan demikian janganlah kita pernah lupa – teristimewa pada waktu kita berada dalam posisi nyaman – untuk bermurah hati, lemah-lembut, dan tidak “mikiran diri sendiri melulu”. Janganlah kita lupa juga untuk mendoakan orang-orang lain …… termasuk mereka yang telah mendzolimi diri kita. Hidup yang terselamatkan lewat perbuatan baik kita boleh jadi adalah hidup kita sendiri!

DOA: Tuhan Yesus, selagi kami berjalan kembali kepada-Mu, sembuhkanlah hati kami dan perbaharuilah hidup kami. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mat 113:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM [2]” (bacaan tanggal 31-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 30 Juli 2018 [Hari Raya Pemberkatan Katedral Semarang] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS