Posts tagged ‘BATU KARANG’

YESUS MEMILIH SEORANG NELAYAN BIASA-BIASA SAJA

YESUS MEMILIH SEORANG NELAYAN BIASA-BIASA SAJA

(Bacaan Injil Misa, PESTA TAKHTA SANTO PETRUS, RASUL – Senin, 22 Februari 2016) 

PETERS CONFESSIONSetelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19) 

Bacaan Pertama: 1Ptr 5:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6 

“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (Mat 16:18).

Pesta Takhta Santa Petrus telah dirayakan sejak masa-masa awal Gereja di Roma. Mula-mula digunakan tanggal 18 Januari sebagai peringatan penuh-syukur akan hari ketika rasul ini memulai pelayanan pertamanya di tengah-tengah umat beriman di Roma. Sejak abad pertengahan ditentukanlah tanggal 22 Februari, yang secara tradisional dilihat sebagai peringatan proklamasi Petrus tentang Yesus sebagai Mesias (Mat 16:16). Dinamakan Pesta Takhta Santo Petrus, karena yang dirayakan adalah kursi (takhtanya) sebagai Uskup Roma, dan sebagai pemimpin pertama Gereja universal.

Yesus memilih Petrus. Mengapa? Rasul ini memang membuat pernyataan iman yang berani, namun dia seringkali juga mengkontradiksikan dirinya seperti yang terjadi beberapa saat saja setelah pernyataan imannya. Baru saja Yesus untuk pertama kalinya memberitahukan kepada para murid-Nya tentang penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya, Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau” (Mat 16:21-22). Jawaban Yesus berupa sebuah teguran keras: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mat 16:23). Lalu pada perjamuan terakhir, Petrus mencoba meyakinkan Yesus dengan pernyataannya, bahwa lebih baik dia mati daripada menyangkal Yesus, namun pada kenyataannya dia menyangkal Yesus juga, malah sampai tiga kali! (lihat Mat 26:30-35,69-75; Mrk 14:26-31,66-72).  Memang Petrus bukanlah seorang pribadi yang sempurna!

PETRUS - 1 PEGANG DUA KUNCIApakah kepemimpinan Gereja Kristus diberikan kepada Petrus karena prestasinya yang luarbiasa? Jelas tidak! Apa yang dilihat Yesus dalam diri Petrus adalah imannya. Memang, keterikatan penuh gairah Petrus kepada Yesus memimpinnya sedemikian rupa sampai pada suatu titik di mana dia membuat janji-janji yang tak mampu dipenuhinya, namun sebenarnya tanpa perlu diragukan lagi Petrus memiliki ketetapan hati untuk percaya. Setiap kali setelah ‘kejatuhannya’, Petrus selalu kembali kepada Yesus untuk pengampunan dan pemulihan dari-Nya. Keterikatan kepada Yesus seperti inilah – ketergantungan kepada-Nya at all costs – yang membuat Simon bin Yunus menjadi “batu karang” (Bahasa Aram: Kepha (Kefas); Yunani: Petrus) di atas mana Yesus mendirikan Gereja-Nya.

Keterikatan penuh gairah kepada Yesus – meskipun kita sendiri penuh dengan kelemahan – adalah yang paling disukai oleh Bapa surgawi. Apakah kita melakukan tindakan salah atau benar, hal sedemikian itu tidak sebegitu penting ketimbang sikap dan kemauan kita untuk selalu kembali datang kepada Allah untuk pengampunan setiap kali kita berdosa. Kita mungkin saja semata-mata melihat ketidakpercayaan dan kejatuhan kita, namun Yesus melihat hasrat-hasrat yang ada dalam hati kita. Baiklah kita meneladan Petrus sebagai contoh iman. Yesus dapat menggunakan bahkan orang-orang yang paling lemah sekali pun, selama mereka menanggapi rahmat iman yang diberikan oleh-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami berdoa untuk mereka yang sedang goyah imannya. Bawalah mereka agar sampai kepada keakraban yang lebih besar dengan-Mu. Janganlah semangat mereka menjadi menyusut karena kegagalan atau kejatuhan dalam dosa, namun selalu mau kembali kepada Allah untuk pengampunan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-19), bacalah tulisan yang berjudul “PETRUS YANG DIPILIH OLEH YESUS” (bacaan tanggal 22-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 21 Februari 2016 [HARI MINGGU PRAPASKAH II – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SIAPAKAH YESUS BAGI DIRIKU?

SIAPAKAH YESUS BAGI DIRIKU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXI – 24 Agustus 2014)

PETERS CONFESSIONSetelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa ia Mesias. (Mat 16:13-20)

Bacaan Pertama: Yes 22:19-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,6,8; Bacaan Kedua: Rm 11:33-36

Siapakah Yesus? Seorang nabikah? Seorang guru moralkah? Pendiri sebuah agama barukah? Jawabannya bervariasi, baik pada zaman Yesus maupun pada zaman modern ini. Bagaimana dengan kita (anda dan saya)? Apakah tanggapan kita terhadap pertanyaan Yesus kepada kita masing-masing: “Siapakah Aku ini?” (Mat 16:15). Barangkali pertanyaan tersebut dapat dirumuskan kembali sebagai berikut: “Bagaimana anda tahu bahwa Yesus adalah Dia yang anda katakan sebagai Dia?”

Petrus berkata kepada Yesus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Tetapi bagaimana Petrus mengetahui tentang hal ini? Oleh perwahyuan Allah. Yesus berkata kepada Petrus, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 16:17). Dalam kasus Yesus, memang manusia dan cara biasa untuk memahami hal-hal tidaklah cukup. Rahmat perwahyuan diperlukan, yang berasal dari Bapa surgawi.

Perwahyuan ilahi dan supernatural bukanlah sesuatu yang diberikan Allah secara sedikit-sedikit, atau hanya sepotong-potong. Allah sangat senang untuk mewahyukan /menyatakan Yesus kepada kita. Bayangkanlah bagaimana para orangtua baru tidak pernah lelah bercerita tentang anak-anak mereka. Sebagai Bapa, Allah tidak banyak berbeda dengan kita. Dia mencurahkan Roh Kudus-Nya pada kita sehingga dengan demikian hasrat kita akan perwahyuan/pernyataan tentang Yesus akan bertumbuh, sampai titik di mana kita akan sungguh mengharapkan dapat melihat tindakan-tindakan Yesus dan mendengar suara-Nya dari hari ke hari. Bahkan jika kita telah mengalami momen-momen perwahyuan di masa lampau, Allah ingin memberikan kepada kita lebih lagi: “pengertian tentang rahasia Kristus” (Ef 3:4), dan keyakinan untuk berjalan dalam kehadiran-Nya sepanjang hari.

Sungguh menyemangati kita semua, ketika kita mengetahui bahwa walaupun mengalami momen perwahyuan, Petrus masih saja agak “ngawur” – bahkan tidak sekali saja! Lebih menyemangati kita lagi adalah ketika kita menyadari bahwa kesalahan-kesalahan Petrus membuat dirinya haus dan lapar akan perwahyuan yang lebih lagi. Seperti Petrus, walaupun ketika kita dengan rasa pedih menyadari akan kelemahan-kelemahan kita, kita tetap dapat memohon lebih lagi pernyataan tentang Yesus dari Bapa di surga. Kita tidak akan sampai kepada kepenuhan kontemplasi wajah Kristus jika kita mengandalkan upaya kita sendiri. Kita harus memperkenankan rahmat Allah untuk bekerja dalam diri kita.

DOA: Bapa surgawi, nyatakanlah Putera-Mu, Yesus, kepadaku secara lebih lagi. Dengan demikian aku akan lebih mengenal Dia lebih dalam lagi dan mengalami kuasa kehadiran-Nya, dan kemudian dapat mensyeringkan kasih-Nya kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:134-20), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH MESIAS, PUTERA ALLAH YANG HIDUP !!!” (bacaan tanggal 24-8-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2014.

Cilandak, 20 Agustus 2014 [Peringatan S. Bernardus, Abas – Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS PUN AKAN BERTANYA KEPADA KITA

YESUS PUN AKAN BERTANYA KEPADA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Kamis, 7 Agustus 2014)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam-Martir

PETERS CONFESSIONSetelah Yesus tiba di daerah Kaesarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan; Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.

Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau.” Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat 16:13-23)

Bacaan Pertama: Yer 31:31-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-15,18-19

Di sini kita berjumpa dengan sebuah titik balik dari Injil, suatu bacaan yang menyatakan tidak hanya siapa Yesus sebenarnya, melainkan juga apa Gereja itu dan peranan Petrus di dalamnya. Ini dilanjutkan dengan prediksi Yesus yang pertama mengenai sengsara dan kematian-Nya.

Di dekat kota Kaesarea Filipi di bagian paling utara dari Israel, Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang bersifat fundamental kepada para murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (Mat 16:13). Beda dengan Injil Markus di mana Yesus menyebut diri-Nya dengan kata “Aku” (lihat Mrk 8:27), di sini Matius mencatat bahwa Yesus menggunakan gelar “Anak Manusia”, yang dalam Injil dipakai untuk menggambarkan Yesus dalam pelayanan-Nya serta sengsara-Nya di atas bumi dan juga kedatangan-Nya kembali ke dunia dalam kemuliaan (bdk. Mat 25:31; Dan 7:13). Pandangan atau pendapat tentang Yesus waktu itu memang tinggi, namun tidak ada yang sampai mengenali atau mengakui-Nya sebagai sang Mesias.

Herodus Antipas telah berbicara mengenai Yesus sebagai Yohanes Pembaptis yang sudah bangkit dari antara orang mati (Mat 14:2). Orang-orang lain berpikir mengenai Elia yang datang kembali dan orang-orang lain lagi berpikiran mengenai nabi Yeremia (hal ini hanya ada dalam Injil Matius). Pada tingkatan tertentu khotbah-khotbah Yesus mungkin mengingatkan orang-orang akan nabi Yeremia, namun pada tahapan suntingan oleh Matius, Yeremia adalah nabi yang menderita yang membuat prediksi tentang kejatuhan Yerusalem dan sang nabi ditolak oleh orang-orang, suatu gambaran awal dari Yesus sendiri. Namun identitas menurut “kata orang” tidak cukup bagi para murid Yesus. Matius secara progresif telah memisahkan para murid dengan orang banyak, dan sekarang sampailah mereka kepada moment of truth yang tidak dapat dihindari…… pengakuan pribadi mereka tentang siapa Yesus itu.

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIASeperti biasanya dalam Injil, Petrus berbicara sebagai juru bicara para murid: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:17). Ini adalah pengakuan penuh bahwa Yesus adalah sang Mesias yang dinanti-nantikan itu. Pengakuan seperti itu belum pernah dibuat oleh murid Yesus yang mana pun sampai saat itu. Namun pemahaman Petrus yang orisinal tentang “Mesias” masih mengandung pengertian-pengertian seturut pemikiran politis dan duniawi masa itu. Hal itu dikoreksi oleh Yesus dengan cepat. Walaupun begitu, pengakuan Petrus itu merupakan pengakuan Kristiani yang benar. Petrus malah menambah dengan frase “Anak Allah yang hidup”. “Allah yang hidup” adalah yang digunakan untuk TUHAN dalam Perjanjian Lama untuk membedakan-Nya dengan ilah-ilah mati dari bangsa-bangsa lain. Pengakuan Petrus ini ditanggapi oleh Yesus dengan memberikan “tugas besar” kepada Yesus yang didahului dengan “ucapan bahagia”: “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. …… Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16:17-19).

Yesus memberi nama Petrus kepada Simon. Petrus (bahasa Aram: Kepha) berarti “batu karang”. Seperti perubahan nama Abram menjadi Abraham, maka perubahan nama Simon menjadi Petrus atau batu karang ini terfokus secara unik pada misinya. Abraham adalah gunung batu yang daripadanya umatnya terpahat, dan lobang penggalian batu yang dari padanya umat tergali (Yes 51:1-2). Petrus akan menjadi batu fondasi di atas mana Yesus akan membangun Gereja-Nya. Matius adalah satu-satunya kitab Injil yang menggunakan kata ekklesia (Gereja dalam bahasa Yunani, dua kali disebut; lihat Mat 18:17). Dalam Septuaginta (Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani), ekklesia berarti sidang umat yang dipanggil ke luar dari Mesir oleh TUHAN. Di antara orang Kristiani kata ekklesia dengan cepat menggantikan kata yang lebih terbatas, yaitu “sinagoga” yang digunakan oleh bangsa Yahudi untuk sidang jemaat lokal mereka.

Pada janji-Nya untuk mendirikan gereja-Nya di atas Petrus, Yesus menambahkan satu janji lainnya yang cukup mengejutkan: “alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18). Di sini Yesus menjanjikan bahwa Gereja-Nya tidak akan mati dari berbagai kekuatan yang memusuhinya, termasuk segala kuasa kegelapan. Kepada Petrus pribadi diberikanlah oleh-Nya “kunci Kerajaan Surga” (Mat 16:19). Sungguh semuanya ini merupakan berkat bagi Petrus.

Setelah itu Yesus mulai memberitahukan kepada murid-murid-Nya untuk pertama kalinya tentang penderitaan-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga (Mat 16:21). Kita semua mengetahui bagaimana Petrus menanggapi pemberitahuan Yesus tersebut (lihat Mat 16:22) dan apa reaksi Yesus (Mat 16:23). Teguran Yesus itu kiranya membuat bingung Petrus. Ia tidak mampu membedakan antara dua tanggapannya. Dalam dua kesempatan itu, Petrus mencoba melakukan hal yang terbaik menurut pikirannya. Namun dua hal itu mengundang dua macam reaksi dari Yesus.
Tidak ada seorang rasul pun yang lebih dekat dengan Yesus daripada Petrus. Ketika peristiwa itu terjadi, Petrus sudah hidup segalang-segulung dengan Yesus untuk hampir tiga tahun lamanya. Akan tetapi, setelah sekian lama hidup bersama Yesus dan sekian banyak pelajaran yang diberikan Yesus, Petrus masih saja tidak selalu dapat membedakan antara suara Allah dan suara Iblis.

PETRUS - 1 PEGANG DUA KUNCIKita tidak tahu apa yang memotivasi Petrus untuk mencoba meyakinkan Yesus agar tidak merangkul salib. Barangkali dia tidak ingin melihat Yesus pergi meninggalkan dirinya. Barangkali dia tidak dapat menanggung beratnya pikiran bahwa Guru-Nya akan menderita secara begitu tidak adil. Kita hanya tahu bahwa seperti juga Petrus, kita semua mempunyai mindsets yang sudah usang, yang walaupun didasarkan niat yang baik, akan tetap mempengaruhi kemampuan kita untuk melakukan discernment guna mendengar suara Allah yang sesungguhnya.

Jadi, apakah yang harus kita lakukan? Jawabnya: ikutilah jejak Petrus! Kita dapat membayangkan bahwa setelah episode ini Petrus secara privat bertemu dengan Yesus dan menanyakan kepada-Nya apa sebenarnya kesalahan yang telah dibuatnya. Kita juga dapat membayangkan bagaimana dengan sabar Yesus menjelaskan kepadanya, membuatnya lebih percaya diri agar dia dapat melakukan discernment terhadap gerakan-gerakan Roh Kudus dalam hati dan pikirannya.

Pertanyaan Yesus yang diajukan kepada para murid-Nya juga akan ditanyakan kepada kita masing-masing, teristimewa selagi kita membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci: “Siapakah Aku ini?” Jawaban terhadap pertanyaan Yesus ini adalah tanggung jawab kita masing-masing sebagai murid-Nya. Untuk menjawab pertanyaan Yesus itu, karunia untuk membeda-bedakan roh (discernment) adalah suatu keniscayaan. Allah memang senantiasa ingin menganugerahkan karunia yang khusus ini, namun hal ini memerlukan ketekunan dari pihak kita. Dalam setiap kesempatan yang ada, marilah kita bertanya kepada Roh Kudus apakah pikiran-pikiran kita dan tindakan-tindakan kita sesuai dengan rencana Allah atau melawan rencana Allah. Dengan berjalannya waktu kita pun dapat menjadi semakin yakin dan mampu melakoni perjalan ziarah kita di atas bumi ini seperti yang telah berhasil dilakukan oleh Petrus dan murid-murid Yesus lainnya.

DOA: Tuhan Yesus, janganlah lewatkan daku. Ajukanlah pertanyaan-Mu kepadaku dan tolonglah aku agar supaya dapat menjawab pertanyaan-Mu sebagai murid-Mu yang baik. Amin.

Cilandak, 5 Agustus 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JAWABAN KITA TIDAK BOLEH BERUPA JAWABAN NETRAL

JAWABAN KITA TIDAK BOLEH BERUPA JAWABAN NETRAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri OP, Imam – Kamis, 8 Agustus 2013)

Keluarga OP: Hari Raya S. Dominikus, Pendiri Tarekat

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bapa Dominikus

Peter_great_confession_C-999Setelah Yesus tiba di daerah Kaesarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan; Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.

Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau.” Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat 16:13-23)

Bacaan Pertama: Bil 20:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-9

“Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat 16:15). Mengapa Yesus ingin mengetahui apa yang dipikirkan para murid tentang diri-Nya? Kiranya Yesus ingin agar para murid-Nya menjadi sadar akan apa yang tersembunyi dalam pikiran dan hati mereka, kemudian mengucapkan dengan bibir mereka apa yang mereka yakini tersebut.

Yesus ingin agar kita menjadi sadar akan apa saja yang yang kita pikirkan dan yakini tentang diri-Nya. Dengan pertanyaan yang sederhana namun tajam ini, Yesus langsung merujuk kepada inti permasalahan. Seakan-akan Ia berkata: “Lupakan saja apa yang dikatakan orang-orang lain tentang diri-Ku. Aku ingin mendengar apa yang kamu katakan tentang diriku.”

Setiap hari kita menghadapi pertanyaan ini: Siapakah Yesus menurut kita (anda dan saya)? Apakah Dia seorang sahabat tempat kita curhat sehari-hari, tempat kita bersandar? Apakah Dia “seorang” Allah yang jauh di sana, yang mempunyai ekspektasi-ekspektasi begitu tinggi terhadap diri kita yang serasa tidak mungkin dapat kita penuhi? Apakah Dia. Apakah Dia sang Hakim Agung yang senantiasa mengamati kesalahan-kesalahan kita? Dst. dlsb.

Yang jelas, jawaban kita tidak boleh berupa “jawaban netral” karena pertanyaan tersebut datang dari hati Yesus sendiri. Dia yang membuka hati-Nya sendiri ingin agar orang yang berada dihadapan-Nya itu tidak menjawab dengan pikirannya saja. Pertanyaan yang datang dari hati Yesus seharusnya menggerakkan hati kita: Siapakah Aku bagimu? Apakah arti diri-Ku bagimu? Apakah kamu sungguh mengenal diri-Ku? Apakah kamu benar saksi-saksi-Ku? Apakah kamu mengasihi Aku?

Tanggapan pribadi kita itu memang penting, namun kita harus ingat bahwa keyakinan kita tidak datang hanya dari dalam diri kita sendiri, karena harus ditunjang oleh pernyataan dari Bapa yang ingin agar kita mengenal Putera-Nya (Mat 16:17). Pentinglah bagi iman kita dan relasi kita dengan Kristus untuk setiap hari membuat pengakuan sederhana seperti pengakuan Petrus: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Atau kita juga dapat berseru seperti rasul Tomas: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28). Pernyataan-pernyataan iman sederhana seperti ini dapat membantu mengakarkan iman kita kepada Kristus, juga membawa kuat-kuasa dan kehadiran Allah guna menunjang diri kita dalam setiap situasi yang dihadapi.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah terang dunia, harapan bagi orang-orang yang tak berpengharapan, dan penghiburan bagi orang-orang yang sedang menderita kesepian. Bebaskanlah diriku dari pandangan-pandangan salah-keliru tentang Engkau dan lanjutkanlah pernyataan diri-Mu kepadaku. Yesus, seperti rasul Tomas, aku pun berseru kepada-Mu: “Ya Tuhan dan Allahku!” Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-23), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “MENGAPA HARUS SALIB?” (bacaan tanggal 9-8-12) dan “PENTINGNYA KARUNIA MEMBEDA-BEDAKAN ROH” (bacaan tanggal 4-8-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 3 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN YANG MEMBAWA KITA KEPADA KERAJAAN KEKAL ABADI

IMAN YANG MEMBAWA KITA KEPADA KERAJAAN KEKAL ABADI

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA TAKHTA SANTO PETRUS, RASUL – Jumat, 22 Februari 2013)

PETRUS MENGAKUI SIAPA YESUSSetelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19)

Bacaan Pertama: 1Ptr 5:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

Pada “Pesta Takhta Santo Petrus, Rasul” yang kita rayakan pada hari ini, tema IMAN jelas terasa dalam liturgi Gereja. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa iman kepada Yesus sebagai “Mesias” (Kristus) dan “Putera (Anak) Allah yang hidup” (Mat 16:16) terletak pada jantung pelayanan Petrus sebagai kepala Gereja di atas bumi dan uskup pertama Roma. Pesta hari ini merayakan iman itu dan menunjuk pada pelayanan Petrus.

Gereja Kristus dibangun di atas batu karang pengakuan iman Petrus. Iman Petrus bahwa Yesus adalah Mesias dan Putera Allah merupakan pemberian Allah sendiri. Tidak ada seorang pun manusia menyatakan ini kepadanya; hal ini diberikan oleh Bapa surgawi sendiri! (Mat 16:17). Iman yang teguh-kokoh kepada Kristus ini merupakan fondasi di atas mana Gereja dibangun, bahkan sampai pada hari ini. Kemampuan Petrus (dan semua penggantinya) untuk menggembalakan kawanan domba seturut cara Kristus tergantung pada iman sedemikian – baik iman sang gembala maupun iman kawanan dombanya.

Iman Petrus kepada Yesus adalah iman yang diajarkan Petrus kepada Gereja; iman yang membawa kita kepada Kerajaan kekal abadi. Tidak ada sesuatu pun di atas bumi yang berkaitan dengan Takhta Petrus – kebesarannya, otoritasnya, bahkan pelayanannya – dapat membawa kita kepada Kerajaan ini kalau tidak bertumpu dan memancar dari batu karang iman.

Gereja dalam pesta ini merenungkan pentingnya jabatan-mengajar Petrus dan juga bagaimana sentralnya iman kepada Yesus dalam jabatan ini. Ini adalah dasar pelayanan Petrus dan para penggantinya, dan untuk kesejahteraan kawanan domba yang digembalakan mereka. Pesta ini harus mendorong kita memeriksa diri kita sendiri apakah kita menghargai karunia pelayanan Petrus kepada Gereja yang diberikan oleh Kristus. Selagi para gembala membawa kawanannya kepada Kristus, apakah kita memiliki hasrat untuk mengikuti jalan Kristus? Selagi Petrus dan para penggantinya memproklamasikan kebenaran Kristus dan bagaimana Dia ingin kita menjalani kehidupan kita seturut kehendak-Nya, apakah kita mendengarkan apa yang mereka ajarkan?

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahapengasihi, kami berdoa untuk Paus Benediktus XVI yang sekarang duduk di takhta Petrus dan para penggantinya nanti. Berkatilah pelayanan setiap Paus dan topanglah dia dalam kebenaran selagi dia menggembalakan umat – kawanan dombanya – menuju Kerajaan kekal abadi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-19), bacalah tulisan yang berjudul “PETRUS YANG JAUH DARI SEMPURNA DIPILIH OLEH YESUS” (bacaan tanggal 22-2-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2013.

Berkaitan dengan Bacaan Pertama (1Ptr 5:1-4), bacalah tulisan berjudul “HENDAKLAH KAMU MENJADI TELADAN BAGI KAWANAN DOMBA ITU” (bacaan tanggal 22-2-10) dalam situ/blog SANG SABDA.

Cilandak, 27 Januari 2013 [HARI MINGGU BIASA III]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS