Posts tagged ‘BIAYA KEMURIDAN’

MENANGGAPI SECARA POSITIF PANGGILAN YESUS

MENANGGAPI SECARA POSITIF PANGGILAN YESUS  

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA III [TAHUN A] – 26 Januari 2020)

Tetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, – bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang  besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak itu Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu, Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang di angara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan mereka. (Mat 4:12-23) 

Bacaan Pertama: Yes 8:23b-9:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Kedua: 1Kor 1:10-13,17

Selagi kita menjalani hari-hari kehidupan kita, banyaklah tantangan dan tanggung jawab yang kita hadapi, dan kita merasakan bahwa melalui semua itu, Yesus ingin menyentuh hati kita, menyapa kita, dan menyatakan kasih-Nya kepada kita secara lebih lagi. Namun demikian, ada juga hari-hari di mana kita lupa akan keberadaan Allah, karena begitu sibuknya melakukan kegiatan sehari-hari kita. Kita pun tergoda untuk berpikir bahwa agak mustahillah bagi kita untuk melepaskan diri dari cengkeraman rutinitas kita, dan meluangkan waktu dengan Allah dalam doa sekali lagi.

Bacaan Injil hari ini memberikan terang yang kita perlukan dalam menghadapi tantangan-tantangan ini. Yesus datang untuk mendirikan Kerajaan Surga (lihat Mat 4:17). Dia datang untuk menghancurkan penindasan dosa dan maut, dominasi dari Iblis dan kedagingan. Dia datang untuk memancarkan terang kasih-Nya ke dalam hati kita yang gelap (lihat Mat 4:16).

Sementara kita semakin dekat kepada Yesus, Dia pun menjadi semakin menarik bagi kita. Dengan demikian, sebagaimana murid-murid-Nya yang pertama, kita pun rela  meninggalkan segalanya untuk dapat hidup bersama-Nya. Injil-Nya menjadi begitu indah sehingga hati kita pun terbakar untuk berbagi dengan orang-orang yang kita temui. Cerita tentang murid-murid Yesus yang pertama menunjukkan kepada kita apa yang dapat kita harapkan kalau kita menanggapi secara positif panggilan Yesus. Hal ini  bukan selalu berarti kita harus meninggalkan tugas-pekerjaan kita sekarang, melainkan di tengah-tengah kesibukan kita dengan tugas-tugas kita sehari-hari, kita akan mampu mendengar suara-Nya, mengasihi-Nya dan mengikuti Dia.

Apakah pada pada waktu itu mudah  bagi Simon Petrus dan/atau Yohanes untuk mengikuti Yesus? Kiranya tidak! Setiap orang tentu mengalami kesulitan dalam usahanya mengikuti Yesus, bahkan para murid-Nya yang paling dekat sekali pun mengalami kesulitan termaksud. Namun demikian, kabar baik keselamatan dalam Yesus memberikan kepada mereka pengharapan yang mereka butuhkan untuk terus meninggalkan dosa-dosa mereka dan menjadi semakin dekat kepada-Nya. Setiap hari para murid Yesus yang awal itu menghadapi pilihan sama seperti yang mereka hadapi pada waktu pertama kali berjumpa dan dipanggil oleh Yesus: “mendengar suara Yesus dan mengikuti Dia”. Kita pun sekarang menghadapi pilihan yang sama – meskipun ketika sedang berada di tengah-tengah kesibukan kita melaksanakan tugas sehari-hari: “mendengar suara Yesus dan mengikuti Dia”.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih Engkau telah memancarkan terang kasih-Mu ke dalam hidupku yang dipenuhi kegelapan ini. Di tengah-tengah kesibukan sehari-hariku, tolonglah aku agar dapat mengikuti-Mu dengan semangat yang berapi-api sebagaimana yang telah ditujukkan oleh para murid-Mu yang pertama. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 4:12-23), bacalah tulisan yang berjudul “BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!”  (bacaan tanggal 26-1-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak,  25 Januari 2020 [Pesta Bertobatnya S. Paulus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMANGGIL LEWI

YESUS MEMANGGIL LEWI  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Sabtu, 18 Januari 2020)

PEMBUKAAN PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di tempat pemungutan cukai lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”  Lewi pun bangkit lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”  Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Mrk 2:13-17)

Bacaan Pertama: 1Sam 9:1-4,17-19;10:1a; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

Lewi bin Alfeus adalah satu lagi pribadi yang membuktikan apa yang dapat terjadi juga dengan diri kita masing-masing – hanya jika kita mau dan siap untuk menanggung biaya kemuridan/pemuridan yang tidak kecil.

Yesus melihat Lewi yang sedang duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!”. Lewi mempunyai banyak kesamaan dengan orang muda kaya kepada siapa Yesus membuat undangan yang sama, namun anak muda kaya itu menolak undangan atau tawaran Yesus itu karena dia tidak dapat meninggalkan harta kekayaannya (Mrk 10:17-22; untuk lengkapnya bacalah Mrk 10:17-27).

Lewi juga samasekali bukan seorang miskin, apabila kita lihat profesinya sebagai seorang pemungut cukai. Para pemungut cukai dibenci oleh orang banyak – sebagian karena rasa iri hati dan dengki. Orang-orang yang dikenakan pajak/cukai berlebih oleh Matius kiranya akan bersedia tukar-tukaran kerja dengannya. Lewi cukup kaya untuk menyelenggarakan perjamuan makan besar-besaran untuk Yesus dan para murid-Nya, sambil mengundang juga para pemungut cukai dan “orang berdosa” lainnya. Lewi sudah sekian lama menjadi budak-uang dan dosa, dan sekarang kebebasannya yang baru memang pantas untuk dirayakan. Dapat dikatakan bahwa pesta perjamuan ini adalah sebuah pesta perpisahan dengan kehidupan lama yang penuh dosa.

Namun selalu saja ada orang-orang yang iri hati. Mereka mengangkat diri sendiri menjadi tukang kritik, dan suasana pesta perjamuan yang penuh dengan kegembiraan pun bisa saja menjadi rusak karena ulah tukang kritik itu. Seandainya pun ada orang yang berani mencoba untuk menjelaskan secara benar, tukang kritik seperti itu sukar menerimanya. Sukar bagi mereka untuk tidak mengkritisi apa saja yang kiranya tidak sejalan dengan apa yang mereka hayati dalam hidup mereka sendiri.

Yesus menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskan alasan kedatangan-Nya, juga alasan tentang perjamuan makan tersebut. Ia datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk mengampuni. Dia bukan datang untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Jikalau kita sukar melihat seorang sahabat, anggota keluarga atau tetangga dekat menjadi sukses dalam artiannya yang baik; apabila kita merasa iri hati terhadap kebahagiaan hidup yang dinikmati oleh seorang sahabat – teristimewa jika kita melihat bahwa dia tidak pantas menikmati hidup seperti itu – maka kita patut mengingat kata-kata Tuhan Yesus, bahwa Dia datang ke tengah dunia untuk membawa damai dan sukacita serta pengampunan kepada orang-orang lain di samping kita sendiri.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, dalam “Khotbah di Bukit” Engkau bersabda, “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belaskasihan” (Mat 5:7). Engkau tahu, ya Tuhan dan Allahku, bahwa aku senantiasa berupaya untuk menjadi seorang pendengar yang baik dari sabda-sabda-Mu. Dengan tulus hati aku berharap bahwa “Sabda-sabda Bahagia-Mu” akan menjadi kenyataan dalam hidupku sebagai murid-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 9:1-4,17-19), bacalah tulisan dengan judul “SAUL: SEORANG YANG GAGAL UNTUK MENYADARI KEBUTUHANNYA AKAN RAHMAT ALLAH” (bacaan  tanggal 18-1-20), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 15 Januari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI PENJALA MANUSIA

MENJADI PENJALA MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Senin, 13 Januari 2020)

Peringatan Fakultatif S. Hilarius, Uskup Pujangga Gereja

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, Ia melihat Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia. (Mrk 1:14-20) 

Bacaan Pertama: 1Sam 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-14,17-19

Yesus memulai karya pelayanan-Nya di Galilea dengan memberitakan Kabar Baik: “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”  (Mrk 1:15). Kata-kata ini begitu akrab terdengar bagi telinga kita, sehingga terdapat bahaya bahwa kita dengan mudah mendengarnya sekadar pada tingkat permukaan saja – superficial – tanpa mencoba untuk merenungkannya dengan lebih mendalam lagi perihal makna kata-kata itu. Namun demikian, sebenarnya Allah ingin menyatakan kepada kita misteri-misteri kerajaan-Nya apabila kita mau berusaha memahaminya.

Titik awal yang baik adalah mengembangkan kebiasaan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah selagi kita membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci. Misalnya apa yang dimaksudkan dengan “saatnya telah genap” dan “kerajaan Allah sudah dekat”? Dan, apa pula maksudnya “Injil”  atau “Kabar Baik” itu? Yesus memproklamasikan bahwa pemerintahan Allah telah mulai berkuasa pada saat Dia masuk ke dalam dunia  dan memulai pelayanan-Nya di muka bumi ini. Yesus sendiri sebenarnya adalah Kabar Baik Allah sebagai seorang pribadi. Kabar Baik sebenarnya adalah bahwa demi cinta kasih-Nya yang demikian besar kepada kita, Putera Allah datang untuk menyelamatkan kita dari kuasa-kuasa kegelapan, dosa dan maut. Secara pribadi Dia membayar harga dosa-dosa kita lewat kematian-Nya di kayu salib dan membangkitkan kita ke dalam suatu hidup baru dengan Dia.

Yesus mengatakan kepada Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”  (Mrk 1:17). Panggilan kepada pemuridan ini tentunya sangat menarik dan sangat menantang bagi para penjala ikan itu. Yesus minta mereka untuk melepaskan segalanya yang familiar dan nyaman – gaya hidup keseharian mereka, daerah tempat tinggal mereka, bahkan keluarga-keluarga mereka – untuk mengikuti Dia. Tidak salahlah apabila kita memuji para murid Yesus yang pertama ini; tanggapan mereka begitu langsung dan total. Mereka meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus dan memang ternyata pada gilirannya mereka sungguh menjadi para penjala manusia.

Yesus memanggil masing-masing dari kita untuk menjadi murid-Nya. Hal ini dapat meresahkan kita karena kita tidak tahu dengan pasti ke mana kita akan dibawa oleh-Nya. Tetapi Yesus menjanjikan bahwa Dia akan selalu menyertai kita (Mat 28:20). Yang diminta oleh-Nya hanyalah jawaban “YA” dari kita kepada-Nya setiap hari. Kemudian, karena diberdayakan oleh Roh Kudus, kita pun mampu menjadi penjala manusia, menjadi pewarta-pewarta Injil yang tangguh.

DOA: Tuhan Yesus, kami menyerahkan hati kami kepada jamahan penyembuhan-Mu. Kami menyambut Engkau ke dalam hati kami dan berkata “ya” kepada panggilan-Mu untuk mengikuti jejak-Mu dan untuk menarik orang-orang lain mengenal-Mu, mengasihi-Mu dan melayani-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:14-20), bacalah tulisan dengan judul “KAMU AKAN KUJADIKAN PENJALA MANUSIA” (bacaan untuk tanggal 13-1-20), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 20-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2020.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 10 Januari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEGALA SESUATU HARUS DILEPASKAN UNTUK MENGIKUT YESUS

SEGALA SESUATU HARUS DILEPASKAN UNTUK MENGIKUT YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI – Rabu, 6 November 2019)

Image result for IMAGES OF LUKE 14:25-33

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 

Bacaan Pertama: Rm 13:8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,4-5,9 

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berbicara mengenai “kemuridan”. Segala sesuatu harus dilepaskan untuk mengikut sang Kristus: “… tiap-tiap orang di antara kamu yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:33). Namun kemuridan seharusnya tidak  didorong oleh sesuatu yang bersifat impulsif. Yesus mengajar kita untuk melakukan suatu pengujian yang penuh kehati-hatian dan cerdas atas tuntutan-tuntutan kemuridan yang otentik. Hal ini menjelaskan bahwa dua perumpamaan yang menyusul pernyataan Yesus tentang “memikul salib” (Luk 14:27)  memang merupakan kesatuan dengan topik kemuridan ini, bukan tidak ada hubungannya dengan masalah kemuridan (Luk 14:28-30 dan Luk 14:31-32).

Jadi, kemuridan memerlukan penerimaan yang hati-hati dan penuh kesadaran dari pihak si murid. Ini adalah pesan dari perumpamaan-perumpamaan tentang pentingnya melakukan perencanaan dengan kalkulasi tepat-jitu, baik dalam usaha membangun sebuah menara maupun persiapan pertempuran dengan raja lain. Yang membuat bacaan-bacaan ini menjadi satu itu  – yang kesan awalnya tidak berhubungan satu sama lain –  adalah kenyataan bahwa kehidupan spiritual dan kemuridan membutuhkan metode. Singkatnya, perencanaan berdasarkan prinsip kehati-hatian adalah bagian dari upaya serius untuk menjadi pengikut seorang Tokoh seperti Yesus Kristus.

Untuk mengikuti jejak Yesus Kristus dengan efektif sebagai murid menuntut adanya perencanaan guna mengintegrasikan iman kita ke  dalam berbagai sektor dari kehidupan kita. Kalau tidak demikian halnya, maka upaya integrasi kita akan berantakan, malah terasa sebagai ilusi belaka. “Integrasi” yang ada mudah rapuh dan  dibuang sebagai sesuatu yang tidak dapat dipraktekkan.

RABI DARI NAZARET - 1Begitu pula, hidup spiritual kita bukanlah sesuatu yang bersifat kebetulan. Hidup spiritual kita pun membutuhkan metode dan perencanaan. Kita harus mempunyai pengetahuan yang akurat tentang diri kita sendiri dan mengetahui pelajaran-pelajaran apa yang dapat ditarik dari sejarah spiritualitas. Kalau tidak demikian halnya, maka bisa-bisa kita mengunci-diri  ke dalam pendekatan terhadap pertumbuhan spiritual yang keliru atau secara psikologis tidak cocok untuk kita. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita agar bijaksana dalam jalan-jalan jiwa/kerohanian seperti juga dalam jalan-jalan dunia.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, jagalah kami agar dapat tetap menjadi murid-murid-Mu yang patuh pada perintah-perintah-Mu, yang senantiasa mau memikul salib kami masing-masing dan mengikut Engkau dengan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “SALIB KRISTUS YANG AGUNG” (bacaan tanggal 6-11-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2019. 

Cilandak, 5 November 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH KITA HARI INI SUDAH SIAP MENGHADAPI TANTANGAN PANGGILAN KRISTUS?

APAKAH KITA HARI INI SUDAH SIAP MENGHADAPI TANTANGAN PANGGILAN KRISTUS?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII [Tahun C] – 8 September 2019)

Image result for IMAGES OF LUKE 14:25-33

Pada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.  (Luk 14:25-33) 

Bacaan Pertama: KebSal 9:13-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17; Bacaan Kedua: Flm 9b-10.12-17 

Orang-orang miskin, orang-orang buta, orang-orang lumpuh, orang-orang yang sekadar mau tahu saja, para murid yang sungguh bersemangat, dan orang-orang banyak yang dari segala penjuru berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Yesus mengundang mereka agar datang dan berhimpun di sekeliling-Nya. Entusiasme mereka terasa tinggi dan banyak dari mereka condong untuk sungguh menjadi para pengikut-Nya. Yesus tidak mau menakut-nakutI siapa pun juga, namun Ia ingin membuat jelas bahwa Dia  ingin para pengikut-Nya memahami implikasi-implikasinya apabila seseorang ingin menjadi pengikut-Nya. Pemuridan/kemuridan Kristiani ada “biaya”-nya. Para murid dipanggil untuk mempolakan hidup mereka seturut kehidupan Yesus sendiri dan mengikut Dia, bahkan sampai ke Salib.

Yesus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem, dan Ia siap untuk mati di Kalvari. Dia mengundang para murid untuk meneladan-Nya dalam memikul salib. Lukas menggunakan kata Yunani bastazo (memikul), kata sama yang digunakan oleh Yesus dalam memikul salib-Nya ke Kalvari (Luk 14:27; Yoh 19:17). Para pengikut (murid) Yesus dipanggil untuk mengikut Dia dalam penderitaan sengsara dan kematian-Nya selagi mereka menjalani kehidupan di dunia ini. Mereka dipanggil untuk mengabdi kepada sang Guru sampai suatu tingkat di mana mereka ditolak, bahkan oleh para anggota keluarga mereka sendiri. Seorang murid Yesus yang sejati tidak dapat atau tidak boleh memilih alternatif  “cinta murahan” yang tidak didasarkan pada pengorbanan-diri dan tidak berakar pada kehendak Allah sendiri.

Agar kita mampu menempatkan Yesus sebagai yang pertama dan utama dalam segala relasi kita dan untuk menilai diri-Nya lebih tinggi dari segala apa yang kita miliki sungguh menuntut suatu hikmat yang hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri. Apa yang tertulis dalam Kitab Kebijaksanaan Salomo hari ini mengungkapkan kerendahan hati yang kita butuhkan: “Siapa gerangan sampai mengenal kehendak-Mu, kalau Engkau sendiri tidak menganugerahkan kebijaksanaan (hikmat), dan jika Roh Kudus-Mu dari atas tidak Kauutus?” (KebSal 9:17).

Mengenal kehendak Allah adalah masalah membeda-bedakan Roh, masalah discernment. Discernment ini adalah karunia/anugerah, jadi bukan suatu ilmu praktis. Dengan teratur setiap pagi kita dapat berdoa mohon kepada-Nya agar Ia berkenan menerangi kegelapan hati kita, memberi kita iman yang benar, pengharapan yang teguh dan cintakasih yang sempurna; kita juga mohon agar diberikan oleh-Nya perasaan yang peka dan akal budi yang cerah, sehingga kita senantiasa dapat mengenal dan melaksanakan kehendak-Nya (perintah-perintah-Nya) yang kudus dan tidak menyesatkan. Dengan berjalannya waktu, kesetiaan kita mendoakan secara teratur permohonan seperti itu, maka kita pun akan dibuat-Nya menjadi semakin peka dan peka lagi dalam mengenal kehendak Allah dalam hidup kita sehari-hari.

Hikmat pengenalan akan kehendak Allah membebaskan kita dari pemikiran-pemikiran secara dunia, juga memerdekakan kita dari kesia-siaan karena terjebak dalam kesibukan mengurusi  hal-hal yang ujung-ujungnya adalah untuk kepentingan diri kita sendiri. Hikmat pengenalan akan kehendak Allah akan membuat kita memandang dunia ini dalam terang kekekalan-abadi, dan hati kita pun terdorong untuk bersama sang pemazmur melambungkan doa kepada-Nya: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm 90:12).

Apakah kita hari ini sudah siap menghadapi tantangan panggilan Kristus? Ataukah kita seperti seseorang yang berniat mendirikan sebuah menara tanpa membuat anggaran biaya dulu, atau seorang raja yang mau berangkat perang tanpa menghitung-hitung kekuatan sendiri dan lawannya dulu? Apabila kita sungguh-sungguh mau menjadi murid-murid Yesus yang sejati, maka kita juga harus mau menerima segala “risiko”-nya, segala “biaya”-nya dan segala “beban”-nya. Ketika kita menerima “biaya kemuridan” itu, kita juga harus menaruh kepercayaan bahwa Allah dalam Kristus akan selalu mendampingi dan menguatkan kita (lihat Mat 28:20). Yesus Kristus adalah Imanuel, Allah menyertai kita (lihat Mat 1:23).

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus, karena pada hari ini Engkau mengingatkanku lagi akan adanya “biaya kemuridan” apabila aku mengikut Engkau sebagai murid-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, berdayakanlah aku agar selalu mengutamakan Engkau di atas segalanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “ADA KONSEKUENSI-KONSEKUENSI JIKA MAU MENGIKUT YESUS ” (bacaan tanggal 8-9-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini besumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 5 September 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH INGIN MEMBERIKAN KEPADA KITA SUATU KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK

ALLAH INGIN MEMBERIKAN KEPADA KITA SUATU KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Senin, 19 Agustus 2019)

Fransiskan Conventual: Peringatan S. Ludovikus, Uskup

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Hak 2:11-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:34-37,39-40,43-44

Mungkin sekali bagi orangtua yang mempunyai anak gadis siap-nikah, orang yang datang kepada Yesus ini adalah seorang calon “menantu yang ideal”. Mengapa? Karena kalau kita membaca cerita tentang orang itu dalam ketiga Injil Sinoptik, maka dia itu masih muda usia (Mat 19:20,22); dia memiliki banyak harta (Mat 19:22; Mrk 10:22; Luk 18:23); dia memegang jabatan sebagai seorang pemimpin (Luk 18:18). Wah, luar biasa: muda, kaya dan seorang eksekutif lagi, walaupun misalnya hanya pemimpin sinagoga. Apalagi orang itu itu taat  kepada perintah-perintah Allah. Pokoknya, dia adalah seseorang yang patut dicontoh perikehidupannya. Dia malah datang kepada Yesus menanyakan perbuatan baik apakah yang harus dilakukannya untuk memperoleh hidup yang kekal (Mat 19:16). Injil Markus malah mencatat sesuatu tentang sikap Yesus terhadap orang itu: “Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya” (Mrk 10:21). Ini hanya terdapat dalam Injil Markus.

Walaupun nyaris sempurna, orang ini masih mempunyai suatu kekurangan. Yesus menerobos melalui ilusi “hidup nyaman” orang itu ketika Dia menantangnya untuk menyerahkan segala harta miliknya dan mengikuti Dia sebagai murid-Nya. Pada saat itu hati orang muda itu pun terekspos. Ternyata hartanya ada di dunia. Dia merasa takut untuk menaruh imannya pada harta surgawi yang ditawarkan oleh Yesus.

Apakah yang dimaksudkan dengan harta surgawi ini? Apakah kita memperoleh angka di surga untuk setiap perbuatan baik yang kita lakukan atau setiap hal yang kita serahkan/lepaskan? Atau, apakah kita bertumbuh dalam pengenalan dan kasih akan Allah dalam doa kita, melalui pekerjaan kita sehari-hari, dan selagi kita mencfoba untuk melihat Allah dalam diri sesama kita? Bukankah relasi dengan Allah merupakan harta paling besar yang mungkin kita miliki? Bukankah milik kita yang paling berharga adalah janji Yesus bahwa kita dapat ikut ambil bagian dalam hidup ilahi Allah, bahkan sekarang … di sini juga?

Apakah pemikiran anda yang pertama-tama ketika anda bangun dari tidur pada pagi hari ini? Apakah anda menyusun daftar dari apa saja yang harus anda lakukan pada hari ini …… artinya tugas-tugas pekerjaan anda? Apakah anda mengingat-ingat hal terburuk yang terjadi kemarin atau merasa gelisah akan hal terburuk yang kiranya akan terjadi pada hari ini? Atau, apakah anda bangkit dari tempat tidur pagi ini penuh dengan antisipasi akan setiap hal yang menanti anda selagi anda syering hari ini dengan Bapa surgawi?

Allah ingin memberikan kepada kita suatu kehidupan yang lebih baik, suatu kehidupan yang berpusat pada diri-Nya dan janji-janji-Nya. Hal ini bukan berarti bahwa kita harus berhenti bekerja melalui tantangan-tantangan atau mengabaikan tanggung-jawab kita sehari-hari. Sama sekali tidak! Allah ingin kita pergi menghadap hadirat-Nya dengan tantangan-tantangan yang sedang kita hadapi dan menyerahkan semua itu pada kaki-kaki-Nya. Jika harta kekayaan kita ada dalam Allah, maka setiap hal yang kita lakukan menjadi suatu kesempatan untuk bertumbuh dalam kasih-Nya dan kita pun dapat memberikan kasih yang sama kepada sesama kita.

DOA: Tuhan Yesus, lembutkanlah hatiku dan bawalah diriku ke dalam hidup Allah lebih dalam lagi. Aku ingin ikut ambil bagian dalam pemikiran-pemikiran-Mu, perasaan-perasaan-Mu, dan kehendak-Mu bagi hidupku. Aku ingin mengenal diri-Mu dalam semua hal yang kulakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan yang berjudul “RELASI KITA DENGAN YESUS ADALAH YANG UTAMA” (bacaan tanggal 19-8-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak,  16 Agustus 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI SEBUAH TEMPAT TINGGAL YANG COCOK BAGI TUHAN?

BAGAIMANA KITA DAPAT MENJADI SEBUAH TEMPAT TINGGAL YANG COCOK BAGI TUHAN?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Senin, 1 Juli 2019)

Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Mat 8:18-22) 

Bacaan Pertama: Kej 18:16-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8-11

Lagi dan lagi, Injil Matius “memaksa” kita untuk bertanya, “Apa artinya menjadi seorang murid Yesus? Sementara kita terbiasa untuk memberikan jawaban-jawaban dari perspektif kita sendiri – saya harus melakukan ini, atau saya harus mengubah itu – Yesus menjungkir-balikkan segala sesuatu dengan mengatakan kepada para murid-Nya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). 

Pernyataan Yesus ini terdengar menyedihkan. Bagaimana pun juga, Yesus adalah Putera Allah yang tunggal dan dalam Dialah alam semesta ini diciptakan (lihat Kol 1:16) – namun Ia tidak diterima oleh dunia. Yesus rindu untuk mempunyai sahabat dengan siapa Dia dapat berdiam dalam kesatuan. Sepanjang hidup-Nya, Yesus menunjukkan hasrat Allah untuk membuat kita sebagai satu keluarga dengan-Nya. Bahkan dari dalam surga, Dia berbicara kepada setiap jiwa, “Aku ingin hidup dalam diri-Mu. Aku ingin engkau hidup dalam Aku.” Sayangnya, begitu sering tidak ada tempat bagi-Nya dalam hati kita. Hal ini sungguh menyedihkan; Allah ingin memberikan diri-Nya sendiri kepada setiap orang, namun hanya sedikit orang saja yang mau melakukan apa yang diperlukan untuk mempersembahkan kepada-Nya hati mereka guna menjadi tempat bagi-Nya untuk meletakkan kepala-Nya.

Bagaimana kita dapat menjadi sebuah tempat tinggal yang cocok bagi Tuhan? Kita tidak pernah boleh puas dengan relasi yang tidak memuaskan dengan Bapa surgawi. Satu kunci penting adalah doa. Komunikasi antar-pribadi dalam relasi manusia sangatlah penting, demikian pulalah halnya komunikasi dengan Allah. Sebuah hati yang mau mencurahkan isinya kepada Allah dan terbuka bagi suara-Nya menjadi semacam kanvas bagi Dia untuk bekerja menorehkan sabda-Nya. Kitab Suci juga menyatakan pikiran Allah. Kebenaran-kebenaran-Nya dapat membentuk hati kita asal kita mau merenungkan semua itu. Para dokter membaca jurnal-jurnal di bidang medis; para pemimpin dunia bisnis mempeljari trend-trend industri. Demikian pula, anak-anak Allah harus mengetahui dan mengenal sabda-Nya kepada para pengikut-Nya.

Hati kita juga dapat dibuka lewat partisipasi aktif kita dalam Misa Kudus dan kesempatan-kesempatan lain seperti rekoleksi, retret, studi Alkitab dll. Secara khusus, penerimaan sakramen-sakramen Ekaristi dan Rekonsiliasi dapat memperkuat pengembangan otot-otot kita. Mereka yang sedang bertempur mengatasi krisis-iman harus giat mencari pertolongan dari sumber yang benar dan tidak boleh cepat puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan dengan cepat dan instan. Pertanyaan yang sangat penting adalah: “Apakah aku ingin menjadi sebuah tempat kediaman yang cocok bagi Tuhan?”, karena Dia memang sangat menginginkan untuk berdiam dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa aku dapat bertumbuh semakin dekat dengan Engkau. Tolonglah ketidakpercayaanku, ya Tuhan. Patahkanlah segala resistensi yang berasal dari diriku sehingga dengan demikian aku dapat mempersilahkan Engkau untuk tinggal dalam diriku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “MENGIKUTI JEJAK KRISTUS” (bacaan tanggal 1-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 28 Juni 2019 [HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS