Posts tagged ‘DIAKON’

TUJUH DIAKON PERTAMA DALAM GEREJA

TUJUH DIAKON PERTAMA DALAM GEREJA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V [Tahun A], 14 Mei 2017

Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang orang-orang Ibrani, karena pembagian keperluan sehari-hari. Kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata, “Tidak baik jika kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, Saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan  pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan menumpangkan tangan di atas mereka.Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.  (Kis 6:1-7)

Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19; Bacaan Kedua: 1Ptr 2:4-9; Bacaan Injil: Yoh 14:1-12 

Keduabelas rasul – seperti Yesus juga – semuanya berasal dari Galilea dan sehari-harinya berbicara dalam bahasa Aram. Akan tetapi, di Yerusalem pada abad pertama tahun Masehi, ada dua kelompok orang Yahudi: (1) Mereka yang berbicara dalam bahasa Aram Palestina, dan (2) Para imigran yang berbicara dalam bahasa Yunani yang  datang ke Yerusalem dari Diaspora, untuk tinggal di Tanah Terjanji. Orang-orang Yahudi yang bahasa dasar sehari-harinya bahasa Yunani, dinamakan ‘orang-orang Yahudi helenis(tis)’, dengan demikian mereka dari kelompok ini yang menjadi Kristiani disebut ‘orang-orang Kristiani Yahudi helenis(tis)’.  Orang-orang ini dalam banyak hal memang berbeda dengan saudara-saudari mereka Yahudi Palestina yang berbicara dalam bahasa Aram. Secara sekilas lintas, kita dapat melihat/merasakan adanya perbedaan itu dalam bacaan hari ini.

Panggilan Yesus untuk melakukan evangelisasi (lihat Mat 28:16 dsj.; Mrk 16: 15 dsj.; Luk 24:47 dsj.)  ditanggapi oleh para rasul, pertama-tama kepada bangsa mereka sendiri: bangsa Yahudi, baik yang berbahasa Aram maupun yang berbahasa Yunani, dengan demikian umat Kristiani bertumbuh-kembang secara relatif pesat. Pada saat yang bersamaan semakin bertumbuh juga ketegangan antara kedua kelompok orang Yahudi itu. Dengan berjalannya waktu juga semakin dirasakan perlunya akan tambahan dalam jumlah pemimpin umat yang ada, agar Gereja dapat tetap dapat berfungsi dengan lancar.

Para rasul kemudian memutuskan untuk mengangkat tujuh orang diakon (pelayan) – semuanya orang Kristiani Yahudi Helenis(tis) – karena adanya konflik antara anggota-anggota jemaat yang orang-orang Yahudi Palestina dengan warga jemaat yang Yahudi Helenis(tis).  Para janda Yahudi Helenis(tis) mengeluh bahwa kebutuhan-kebutuhan mereka tidak diperhatikan oleh otoritas Gereja yang adalah orang-orang Yahudi Palestina.

Tentunya tidak sulit bagi kita untuk melihat bagaimana suatu ‘perselisihan’ dapat terjadi apabila kita melihat begitu banyak konflik yang terjadi dalam gereja-gereja kita di seluruh dunia  pada  zaman kita ini, dikarenakan perbedaan dalam bahasa dan budaya. Tantangan yang dihadapi oleh para rasul sebenarnya sama seperti yang kita hadapi pada zaman modern ini,  yaitu bahwa kita harus mencari/memperoleh jalan keluar dari konflik-konflik dalam Gereja seturut rencana Allah bagi umat-Nya. Walau pun permasalahan yang timbul itu disebabkan oleh ‘kekurang-tanggapan’ mereka sendiri, para pemimpin jemaat Kristiani awal kemudian mengakui akan adanya kebutuhan dalam Gereja, dan mereka pun menanggapinya dengan kerendahan hati dan kemudian mengambil keputusan yang efektif.

Para pemimpin jemaat Kristiani awal itu terbuka terhadap Roh Kudus dan mereka memiliki keprihatinan terhadap umat. Oleh karena itu terjadilah perkembangan yang yang sangat penting, yaitu bahwa pada akhirnya tugas orang-orang Kristiani yang berbicara dalam bahasa Yunani tidaklah terbatas pada pelayanan kepada para janda mereka, namun ke luar juga mewartakan Kabar Baik kepada saudari-saudara mereka yang berbahasa Yunani, baik di Palestina maupun di luar Palestina. Contohnya adalah apa yang terjadi dengan Stefanus (lihat Kis 6:8). Mulai dari titik inilah Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus tidak lagi terbatas pada ruang lingkup orang-orang Yahudi Palestina, akan tetapi menyebar ke mana-mana … merangkul setiap bangsa, ras, golongan etnik dan bahasa.

DOA: Yesus, Tuhan dan Guru kami. Ajarlah kami untuk menjadi peka terhadap saudari-saudara seiman kami yang berbicara dalam bahasa yang lain atau yang berlatar-belakang budaya lain daripada kami sendiri, agar supaya tubuh Kristus tidak terpecah-belah lebih lanjut. Tolonglah kami agar terbuka terhadap pekerjaan yang ingin Kaulakukan di antara kawanan domba-Mu. Bagaimana pun kami tidak ingin menghalangi rencana-Mu. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya ya Tuhan dan Juruselamat kami! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “MENGHADAP-NYA DENGAN HATI TERBUKA DAN PENUH RASA PERCAYA” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 11 Mei 2017

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI

BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA S. LAURENSIUS, DIAKON-MARTIR – Rabu, 10 Agustus 2016) 

Palma_il_Giovane_-_The_Martyrdom_of_St_Lawrence_-_WGA16903

Sesungguhnya Aku berkata berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Siapa saja yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Siapa saja yang melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. (Yoh 12:24-26) 

Bacaan Pertama: 2Kor 9:6-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,5-9

“Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24).

Imaji tentang biji gandum tentunya berlaku untuk Santo Laurensius, seorang diakon Gereja awal yang dibunuh sebagai martir Kristus pada masa pengejaran Kaisar Valerian pada tahun 258 M. Memang ayat ini berlaku untuk para martir, namun tidak kurang berlakunya bagi kita semua.

Catatan-catatan tradisi abad ke-4 menceritakan tentang tanggapan berani dari Santo Laurensius terhadap permintaan antek-antek Valerian untuk memberikan harta-kekayaan Gereja. Keesokan harinya, Laurensius muncul dengan banyak sekali orang miskin dan cacat dari kota Roma – semua yang dilayani oleh diakon Laurensius. Di hadapan para pejabat kekaisaran, Laurensius menyatakan: “Inilah harta-kekayaan Gereja”. Untuk “keberanian” (kekurangajaran?) ini, Laurensius dibakar hidup-hidup.

Jika darah para martir merupakan benih bagi Gereja, di mana tempat kita sekarang? Tidak terlalu banyak dari kita akan dipanggil oleh-Nya untuk menumpahkan darah sebagai martir Kristus. Dengan demikian, bagaimana kita dapat membantu Gereja untuk berakar dan bertumbuh? Jawabannya: Dengan sukarela merangkul “kemartiran” kecil-kecilan sebagai bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

P. Raniero Cantalamessa OFMCap. sekali menjelaskan begini: “Seorang ibu … pulang ke rumah dan memulai harinya yang terdiri dari seribu hal-hal kecil. Hidupnya praktis direduksi menjadi remah-remah, tetapi apa yang dilakukannya bukanlah hal yang kecil: Itu adalah Ekaristi bersama Yesus! Seorang biarawati … di pagi hari pergi untuk melakukan tugas pekerjaannya sehari-hari di tengah-tengah orang-orang tua, orang-orang sakit, dan anak-anak. Hidupnya juga kelihatan dapat dipecah-pecah oleh banyak hal yang kecil sehingga pada malam hari seakan tidak berbekas – terasa seperti satu hari lagi yang sia-sia. Akan tetapi hidup sang biarawati juga adalah Ekaristi; dia telah “menyelamatkan” hidupnya sendiri … Tidak ada seorang pun boleh mengatakan: “Apa gunanya hidupku ini? Kita ada di dunia untuk alasan yang paling agung, yaitu menjadi suatu kurban yang hidup. Artinya menjadi Ekaristi bersama Yesus.”

Apabila kita memilih untuk menyangkal atau mengesampingkan diri kita sendiri untuk menolong orang-orang lain, atau ketika kita memutuskan untuk berdiri tegak demi Injil Yesus Kristus, maka kita pun dapat dikatakan bergabung dengan para martir seperti Laurensius pada waktu kita ikut ambil bagian dalam kurban Yesus bagi dunia. Kita sungguh dapat berbuah bagi Kerajaan Allah!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mau dan mampu untuk memilih mengikuti Engkau dengan sepenuh hidupku. Aku ingin untuk mengosongkan diriku sendiri agar dengan demikian aku dapat melayani orang-orang lain. Aku mau berbuah banyak bagi Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:24-26), bacalah tulisan yang berjudul “DISALIBKAN DENGAN KRISTUS” (bacaan tanggal 10-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABAIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 10-8-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 8 Agustus 2016 [Peringatan S. Dominikus, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DISALIBKAN DENGAN KRISTUS

DISALIBKAN DENGAN KRISTUS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA S. LAURENSIUS, DIAKON-MARTIR – Senin, 10 Agustus 2015)

 

Jacopo Palma il Giovane, Martirio di San Lorenzo, 1581-2

Jacopo Palma il Giovane, Martirio di San Lorenzo, 1581-2

Sesungguhnya Aku berkata berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Siapa saja yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Siapa saja yang melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. (Yoh 12:24-26) 

Bacaan Pertama: 2Kor 9:6-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,5-9

Pada hari ini Gereja merayakan pesta Santo Laurensius, seorang diakon Gereja Roma yang mati sebagai martir pada masa penindasan Kaisar Valerian. Pada waktu pejabat bawahan Valerian menuntut agar Laurensius menyerahkan kepadanya harta kekayaan, Laurensius malah mengumpulkan banyak sekali orang miskin yang didukung oleh Gereja. Laurensius berkata: “Inilah harta kekayaan dari Gereja.” Pejabat tersebut menjadi marah sekali, lalu menangkapnya. Laurensius diikat pada alat pemanggang, kemudian dibakar hidup-hidup.

Cerita yang menyentuh dari para martir Gereja di segala zaman adalah contoh dari sabda Yesus: “Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24). Di satu sisi Yesus membuat acuan terselubung kepada kematian dan kebangkitan-Nya, akan tetapi Dia juga berbicara  untuk kematian macam apa sebenarnya Dia memanggil semua pengikut-Nya – suatu kematian yang memampukan Laurensius untuk mempersembahkan hidupnya secara penuh bagi/demi umat Allah.

LawrencefhalfEmailJika kita sungguh ingin berbuah untuk Tuhan, maka “kulit luar” dari kodrat kita yang cenderung berdosa harus dibuat menjadi mati. Syukurlah, hal ini terjadi pada saat kita dibaptis (lihat Rm 6:4). Kodrat kita yang lama, yang diperbudak oleh dosa, disalibkan bersama Kristus, dan kita menerima  benih dari suatu hidup yang keseluruhannya baru. Kita menjadi “ciptaan baru”! Sekarang, setiap hari, kita dapat mengidentifikasikan diri kita sebagai mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Setiap hari kita dapat “mati” dengan Yesus dan diberdayakan untuk menghasilkan buah Kerajaan-Nya: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23).

Selagi kita mendeklarasikan: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20), maka kita akan mulai mengambil oper secara sedikit demi sedikit karakter Yesus sendiri. Kita akan memiliki bela rasa terhadap orang-orang miskin di sekeliling kita dan membutuhkan pertolongan karena kita memahami bela rasa Yesus bagi kita. Kita akan menginginkan memberikan hidup kita untuk melayani orang-orang yang menanggung beban hidup dan menderita, sebagaimana Yesus menyerahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban persembahan guna menebus dosa-dosa dan membebaskan kita dari maut.

Saudari dan Saudaraku, pada hari ini – malah setiap hari – marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita kuat-kuasa dari salib Kristus, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi pelayan-pelayan yang rendah hati dari pencurahan rahmat-Nya bagi dunia.

DOA: Tuhan Yesus, biarlah diriku ditanam ke dalam kematian-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menghasilkan buah bagi-Mu. Buatlah aku menjadi alat rahmat-Mu, agar semua orang yang miskin – baik secara spiritual maupun fisik – dapat menemukan hidup baru dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:24-26), bacalah tulisan yang berjudul “BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI” (bacaan tanggal 10-8-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-08 PERMENUNGAN ALKITABAIAH AGUSTUS 2015. 

Cilandak, 5 Agustus 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA

SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA, Oktaf Natal – Jumat, 26 Desember 2014)

 Stoning_of_Saint_Stephen

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap anaknya. Anak-anak akan memberontak terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. (Mat 10:17-22) 

Bacaan Pertama: Kis 6:8-10; 7:54-59; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6,8,16-17

Yesus menubuatkan pengejaran dan penganiayaan yang akan menimpa para pengikut-Nya: “… ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. …… Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap anaknya …… Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat 10:17-18,21,22).

STEFANUS DIRAJAM DENGAN BATUSanto Stefanus, yang pestanya kita rayakan pada hari ini, adalah contoh apa artinya ketekunan dalam mengikuti jejak Kristus. Ia adalah seorang saksi Kristus yang memahami semangat perjuangan Yesus secara penuh. Memberi seperti Yesus memberi – pemberian Natal kepada orang lain – bagi Stefanus berarti memberikan hidupnya sendiri. Stefanus menghadapi oposisi dan penganiayaan (lihat Kis 7:54-59), seperti telah dikatakan (dinubuatkan) oleh Yesus kepada para murid-Nya: Stefanus, salah seorang dari tujuh orang diakon yang ditahbiskan oleh para rasul (lihat Kis 6:1-7), adalah martir pertama dalam era Kekristenan. Ia tegak membela iman-kepercayaannya sampai saat akhir hidupnya, karena ketekunannya – kemampuannya untuk berada di Jalan Tuhan. Ia mampu bertahan bukan karena kekuatan-kemauannya sendiri, melainkan karena pengharapannya akan janji-janji Allah yang tak tergoyahkan. Secara sekilas lintas kelihatannya diakon yang kudus ini tidak menerima pemberian duniawi apapun sebagai balasan. Para lawannya menutup telinga mereka karena tidak tahan lagi mendengar testimoni yan diberikan Stefanus tentang kasih Allah (lihat Kis 7:56), lalu mereka pun mulai merajam sang diakon (Kis 7:57-58).

Stefanus kemudian mempersembahkan pemberian Natal-nya yang paling besar dan indah: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis 7:59), hal mana membuat kuasa Allah bekerja. Kita dapat membayangkan betapa penuh sukacita Stefanus di surga tatkala dia melihat Allah menganugerahan karunia-karunia-Nya secara berlimpah ke atas bumi, sebuah pemberian yang tidak diharap-harapkan olehnya, suatu pemberian yang jauh melebihi apa yang diberikan olehnya,, yaitu hidup-Nya sendiri.

Salah seorang dari orang-orang muda radikal yang berdiri gembira menonton sambil menjaga jubah-jubah yang dititipkan kepadanya ketika Stefanus dirajam dengan batu sampai mati adalah seorang Farisi muda bernama Saulus (lihat Kis 7:58). Diri Saulus begitu dipenuhi dengan kebencian mendengar apa yang dikatakan Stefanus dalam kesaksiannya. Inilah pemicu gerakan pengejarannya  terhadap para murid Kristus di mana saja. Saulus ini menjadi sedemikian terkenal dan ditakuti sebagai pengejar dan penganiaya orang-orang Kristiani. Kita dapat membayangkan jika Saulus terlihat di jalan, maka orang-orang Kristiani secara otomatis mengunci rumah mereka.

Sekarang, lihatlah apa yang telah diberikan Tuhan kepada Stefanus sebagai balasan atas kemartirannya: hidup seorang Saulus yang bertobat, seorang Paulus yang menjadi misionaris terbesar di dunia bagi Yesus.

the-stoning-of-saint-stephen-by-adam-elsheimer1Saudari dan Saudaraku, kita tidak pernah mengetahui siapa saja sahabat-sahabat kita, atau siapa-siapa saja yang akan menjadi sahabat kita di masa depan. Hari ini dia adalah Saulus, musuh umat Kristiani yang ditakuti, besok – setelah disentuh tanan-tangan kasih Yesus – dia adalah Paulus, misionaris terbesar yang membaktikan hidupnya tanpa reserve untuk mewartakan Injil Yesus Kristus.

Bersama Yesus, menjadi serupa dengan-Nya, melaksanakan misi-Nya, menderita bersama-Nya agar dapat bangkit bersama Dia. Itulah sebabnya, mengapa Yesus memanggil kita masing-masing untuk bertekun …… bertahan! Akan tetapi hal itu hanya mungkin apabila kita menempatkan pengharapan kita pada hidup Roh Kudus dalam diri kita. Dan, hal itu hanya mungkin apabila kita memusatkan pandangan mata kita pada kemuliaan yang akan datang. Walaupun kita dapat mengalami penderitaan atau oposisi selagi kita mengikuti Yesus, pada akhirnya kita akan ikut ambil bagian dalam kehidupan kekal-Nya apabila kita bertekun dan tetap bersatu dengan-Nya.

Ketika masih hidup di dunia sebagai Yesus dari Nazaret, Ia mendesak para murid-Nya untuk mempercayakan diri mereka pada pemeliharaan Allah: “Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat 10:22). Janji ini benar bagi para murid-Nya pada zaman Gereja Perdana, termasuk Santo Stefanus dan Santo Paulus. Namun janji Yesus ini juga sungguh benar bagi kita – para murid-Nya yang hidup pada abad ke-21 ini.

Sekarang, marilah kita menatap tahun baru yang sudah di depan mata ini dengan penuh keyakinan, bahwa dipenuhi oleh Roh Kudus kita akan mampu bertekun melalui segala pengharapan dan rasa sakit, kemenangan dan pencobaan yang menantikan kita di tahun depan.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Anugerahkanlah kepadaku keberanian untuk mengikuti jejak-Mu. Aku bertekad untuk senantiasa setia walaupun pada saat-saat jalan yang kutempuh dipenuhi banyak halangan dan aku pun menjadi takut. Tanamkanlah pengharapan yang baru dalam diriku oleh Roh Kudus-Mu. Aku menaruh hidupku ke dalam tangan-tangan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:8-10, 7:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI ANAK-ANAK ALLAH YANG DIPENUHI ROH KUDUS” (bacaan tanggal 26-12-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014.

Cilandak, 23 Desember 2014

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIDUP YANG SENANTIASA DIPENUHI DAN DIPIMPIN OLEH ROH KUDUS

HIDUP YANG SENANTIASA DIPENUHI DAN DIPIMPIN OLEH ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA, Oktaf Natal – Rabu, 26 Desember 2012)

STEFANUS DIRAJAM DENGAN BATUStefanus, yang penuh dengan anugerah dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut Orang-orang Merdeka – mereka berasal dari Kirene dan Aleksandria – bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Mereka berdebat dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Tetapi berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” (Kis 6:8-10; 7:54-59)

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6,8,16-17; Bacaan Injil: Mat 10:17-22

Pada hari ini, hanya satu hari setelah Hari Raya Natal, kita menghormati Santo Stefanus, murid Yesus pertama yang mati sebagai martir-Nya. Stefanus adalah salah satu dari 7 (tujuh) orang diakon pertama dalam Gereja awal, yang ditugaskan untuk melayani distribusi keperluan sehari-hari kepada umat sebagian umat Gereja Yerusalem, yaitu para janda yang berasal dari orang-orang Yahudi yang berbicara dalam bahasa Yunani (Kis 6:1-6). Apakah job qualification bagi Stefanus dan enam orang lainnya untuk menjadi diakon dalam Gereja? “Terkenal baik dan penuh Roh dan hikmat” (Kis 6:3). Tentang Stefanus, “Kisah para Rasul” mencatat: “… mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus …” (Kis 6:5). Stefanus begitu dipenuhi dengan Roh Kudus, sehingga dengan penuh keberanian berkhotbah di jalan-jalan dan membuat mukjizat-mukjizat sebagaimana telah diperbuat oleh Yesus.

Ketika Stefanus ditangkap dan dibawa ke hadapan Mahkamah Agama, Roh Kudus memberikan kepadanya kata-kata pembelaan diri untuk diucapkan, seperti yang telah dijanjikan oleh Yesus kepada setiap murid-Nya: “Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis di rumah-rumah ibadat atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu khawatir bagaimana kamu harus membela diri dan apa yang harus kamu katakan. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan” (Luk 12:11-12; bdk. Mat 10:19-20). Bahkan ketika dia sedang ditimpuki batu oleh para penganiayanya, sesaat sebelum kematiannya, Stefanus masih mampu (dimampukan) untuk berbicara kebenaran dan memberitakan belas kasih Allah terhadap para musuhnya: “Tuhan, janganlah tanggung dosa ini kepada mereka!” (Kis 7:60).

Kata-kata terakhir yang diserukan oleh Stefanus ini tidak datang kepadanya secara ajaib. Kata-kata ini adalah ekspresi terakhir dari seseorang yang hidupnya secara total bergantung pada Roh Kudus, dan kata-kata itu adalah suatu pencerminan dari apa yang Roh Kudus ingin lakukan untuk kita. Roh Kudus ingin mentransformir kita ke dalam keserupaan dengan Yesus. Selagi kita belajar untuk menyerahkan mindsets kita, asumsi-asumsi kita, rencana-rencana kita, bahkan afeksi-afeksi kita pada Tuhan, kita pun akan dibentuk dan diubah oleh Roh Kudus-Nya. Kita akan menemukan kuat-kuasa yang kita perlukan untuk dapat ke luar dalam kasih dan berjumpa dengan orang-orang lain, bahkan para “musuh” kita, yang mendzolomi kita, yang membenci kita.

Yesus datang ke tengah dunia untuk mengundang kita ke dalam hidup yang senantiasa dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus (Inggris: A Spirit filled and Spirit led life). Sesungguhnya kita sudah memiliki potensi untuk hal ini dalam hati kita. Allah yang hidup berdiam dalam diri kita oleh kuasa Roh Kudus. Ia telah ada di sana, menantikan kita untuk berbalik kepada-Nya dan menerima kuat-kuasa-Nya. Hadiah Natal apa lagi yang lebih baik yang mungkin kita terima?

Setiap pagi, baiklah kita memberikan hati kita kepada Roh Kudus. Dan dengan berjalannya hari, kita tidak boleh lengah mendengarkan bisikan-bisikan Roh Kudus, kata-kata-Nya yang penuh kasih, bimbingan-Nya dan koreksi-koreksi-Nya atas berbagai kesalahan/dosa kita. Selagi kita melakukan semua ini, kita pun akan melihat terjadinya perubahan dalam diri kita. Kita menjadi lebih sabar, berbicara dengan lebih lemah lembut, membuang sikap yang suka menghakimi orang lain, bahkan dimampukan untuk mengasihi mereka yang mendzolomi diri kita, yang tidak memahami kita, yang membenci kita – semua ini dimungkinkan karena kita telah mendengarkan suara Roh Kudus.

DOA: Roh Kudus Allah, Engkau adalah sumber kekuatanku, pengharapanku, dan kasihku. Lebarkanlah pintu gerbang hatiku sehingga sang Raja Damai dapat masuk ke dalamnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:17-22), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU AKAN DIBENCI SEMUA ORANG OLEH KARENA NAMA-KU” (bacaan tanggal 26-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2012.

Cilandak, 18 Desember 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS