Posts tagged ‘DISKURSUS DENGAN LATAR BELAKANG PERJAMUAN TERAKHIR’

AKU TELAH MENGALAHKAN DUNIA

AKU TELAH MENGALAHKAN DUNIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Senin, 29 Mei 2017)

OFS: Peringatan S. Maria Ana dr Paredes, Perawan Ordo III Sekular

 

Kata murid-murid-Nya, “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya bahwa Engkau datang dari Allah.” Jawab Yesus kepada mereka, “Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya akan datang, bahkan sudah datang, ketika kamu akan diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:29-33) 

Bacaan Pertama: Kis 19:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7 

Yesus mencoba mempersiapkan para murid-Nya untuk suatu peristiwa yang akan terjadi tidak lama lagi, yaitu sengsara dan kematian-Nya di atas kayu salib (Yoh 16:4). Para murid mengungkapkan keyakinan mereka bahwa Yesus sungguh datang dari Allah, namun mereka masih belum juga mampu memahami sepenuhnya makna pesan Yesus tentang penderitaan sengsara dan kematian-Nya di atas kayu salib. Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka akan menderita karena kesalahpahaman orang-orang, mereka juga akan menderita kepedihan dan penolakan dari banyak orang. Namun demikian, di sisi lain para murid juga akan memperoleh sukacita karena Yesus akan melihat mereka lagi (Yoh 16:22) dan Bapa surgawi akan memberikan apa saja yang diminta para murid dalam nama Yesus (Yoh 16:23). Yesus juga meramalkan tentang “pengkhianatan” para murid terhadap diri-Nya (Yoh 16:32).

Injil Yohanes mempunyai suatu cara yang unik dalam menyampaikan pesan yang memberikan pertanda dan pada saat yang sama mengungkapkan pengharapan. Pengharapan itu mencakup kenyataan bahwa Bapa menyertai Yesus (Yoh 16:32), oleh karena itu Yesus telah mengalahkan dunia: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

Bagaimana kiranya Kristus mengalahkan dunia? Melalui karya salib-Nya. Melalui salib Kristus, dosa, Iblis dan dunia telah dikalahkan. Oleh penderitaan sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah menundukkan segala kuasa kejahatan dan kegelapan di bawah otoritas-Nya. Allah tidak pernah membuat kita membuang kebebasan kita. Oleh karena itu, walaupun Yesus telah menang, kita masih dapat memilih kejahatan dan kegelapan dalam keputusan-keputusan dan relasi-relasi kita. Akan tetapi, bilamana kita bersatu dengan Yesus – sebuah persatuan yang dimulai sejak saat kita dibaptis dan bertumbuh melalui kehidupan iman – maka kita pun dapat mengenal dan mengalami kemenangan.

Inilah pengharapan kita sebagai umat Kristiani; dalam Kristus kita berkemenangan. Kalau kita bersatu dengan Yesus Kristus, kita dapat mengalahkan rasa takut, penolakan, penganiayaan dan segala hal yang dari dunia ini yang akan merampas dari kita damai sejahtera, sukacita dan cintakasih. Selagi kita memperhatikan dengan penuh kasih segenap anggota keluarga kita, melakukan pekerjaan kita, melayani Tuhan dalam berbagai kegiatan kerasulan, menolong anggota keluarga, teman-sahabat dan komunitas di dalam mana kita adalah anggotanya, maka baiklah kita mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita karunia ketabahan agar kita dapat dengan tekun dalam iman dan dalam kegiatan pelayanan kita kepada Allah dan sesama kita.

DOA: Datanglah ya Roh Kudus dan berikanlah kepada kami karunia ketabahan. Jagalah jiwa kami pada saat-saat yang sulit dan berbahaya, jagalah juga segala upaya kami dalam mengejar kekudusan serta kuatkanlah kami agar dapat mengatasi kelemahan-kelemahan kami. Berikanlah kepada kami keberanian untuk melawan serangan-serangan dari para musuh kami, yaitu Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya, agar kami tidak akan pernah dapat dikalahkan oleh mereka dan dipisahkan dari-Mu, ya Roh Kudus Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 19:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS?” tanggal 29 Mei 2017 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 26 Mei 2017 [Peringatan S. Filipus Neri, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MENDOAKAN PARA MURID-NYA DI HADAPAN BAPA-NYA

YESUS MENDOAKAN PARA MURID-NYA DI HADAPAN BAPA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VII [Tahun A], 28 Mei 2017)

HARI KOMUNIKASI SEDUNIA

 

Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah
Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan. Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari Engkau. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dimuliakan di dalam mereka. Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. (Yoh 17:1-11a) 

Bacaan Pertama: Kis 1:12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,7-8; Bacaan Kedua: 1Ptr 4:13-16 

Bacaan Injil hari ini adalah bagian dari doa Yesus untuk para murid-Nya. Yesus berdoa kepada Bapa surgawi dan mohon kepada-Nya untuk melindungi para murid-Nya – bukan untuk mengambil mereka dari dunia, melainkan untuk melindungi mereka dari yang jahat (lihat Yoh 17:15). Ketika Yesus mengatakan bahwa “dunia” membenci para pengikut/murid-Nya, maka yang dimaksudkan oleh-Nya dengan “dunia” adalah keduniawian, ketiadaan Allah dalam pikiran dan hati manusia, ketiadaan iman. Karena para murid-Nya bukan milik “dunia” yang sedemikian, maka mereka pun dibenci (lihat Yoh 17:14). Akan tetapi, mereka harus tetap berada di dalam dunia, di tengah-tengah yang baik dan yang jahat, menjadi sebuah pengaruh yang baik, menjadi sebuah contoh dan mengingatkan orang-orang, untuk membawa segala sesuatu (termasuk manusia) kembali kepada Allah.

Tentu saja ada faktor risiko dalam hal ini. Buah apel yang busuk yang tercampur dengan buah-buah apel lainnya dalam sebuah tong akan merusak seluruh buah apel dalam tong itu. Nila setitik rusak susu sebelanga! Contoh yang buruk dapat secara negatif mempengaruhi orang-orang yang baik. Oleh karena itu Yesus berdoa bagi para murid-Nya (termasuk kita) kepada Bapa surgawi: “supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat” (Yoh 17:15)…… melindungi mereka dengan kebenaran …… firman Allah sendiri (lihat Yoh 17:17). Kemudian Yesus melanjutkan: “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia” (Yoh 17:18).

Pada hari ini, dalam Liturgi Sabda, dalam Ekaristi, Yesus berdoa bagi kita seperti yang dilakukan-Nya bagi para murid-Nya yang pertama. Dia berdoa kepada Bapa surgawi untuk melindungi kita, untuk menguduskan kita dalam kebenaran (lihat Yoh 17:19), untuk menjaga kita jangan sampai mengambil jalan yang salah walaupun bahaya selalu ada. Dalam doanya Yesus mengingatkan kita bahwa kita dapat dibenci karena mengambil sikap benar sebagai orang Kristiani di tengah-tengah dunia yang tidak sejalan dengan kita, juga karena kita memandang hal dan peristiwa di kehidupan kita dalam terang ajaran Kristus, bukannya berdasarkan pertimbangan dunia. Hal seperti ini tidak perlu sampai mengganggu kita selama kita bekerja dan bertindak dengan cintakasih Kristiani yang sejati.

Selagi kita semakin dekat dengan Hari Raya Pentakosta,  baik sekali bagi kita untuk mengingat apa yang ditulis oleh Yohanes dalam suratnya yang pertama: “Siapa yang menuruti segala perintah-Nya (Kristus), ia ada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dengan inilah kita ketahui bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu dengan Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” (1Yoh 3:24). Karunia-karunia Roh Kudus kepada kita adalah damai-sejahtera, sukacita, kekuatan, keberanian dan pengertian. Tak ada apa dan/atau siapa pun yang perlu kita takuti, apabila kita membuka diri bagi Roh Kudus dan hidup dalam Roh.

(Uraian di atas didasarkan pada bacaan yang lebih panjang, yaitu Yoh 17:1-19.)

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus. Curahkanlah terang-Mu yang penuh keajaiban ke atas diri kami, dan penuhilah hati kami dengan api cintakasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “DOA YESUS BAGI PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 28-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 25 Mei 2017 [HARI RAYA KENAIKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MINTA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS

MINTA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Sabtu, 27 Mei 2017)

 

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:23b-28).

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,8-10

 “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.” (Yoh 16:23b). 

Ini adalah sebuah janji besar dari Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita! Janji ini seharusnya membuat kita semua berlutut dan memanjatkan permohonan kepada Bapa surgawi untuk semua ujud yang ada dalam pikiran kita. Akan tetapi, marilah kita sejenak melakukan permenungan apakah memang kita memahami apakah yang dimaksudkan dengan berdoa “dalam nama Yesus” itu.

Berdoa dalam nama Yesus bukanlah sebuah rumusan ajaib (magic formula). Berdoa dalam nama Yesus bukanlah seperti seseorang  yang mendekati pintu rumah terkunci rapat-rapat, lalu dia berseru dengan suara keras: “Sim salabim, terbukalah hai pintu!” Berdoa dalam nama Yesus adalah berdoa dengan cara yang sama seperti Yesus sendiri melakukannya:  berdoa dengan iman yang sama, kasih yang sama kepada Bapa surgawi, dan semangat yang sama dengan semangat Yesus sendiri (lihat Luk 6:12). Berdoa dalam nama Yesus berarti kita terbenam dalam kehidupan Yesus sendiri. Doa sedemikian mencerminkan hasrat kita untuk ambil bagian dalam persatuan antara Yesus dan Bapa-Nya di surga, dengan demikian kita memiliki rasa percaya yang mutlak bahwa Bapa surgawi mendengar dan akan menjawab doa-doa kita – bahkan apabila kita tidak melihat hasilnya secara langsung.

Berdoa dalam nama Yesus menyangkut sebuah komitmen untuk mencontoh kehidupan Yesus, yang menghasrati ketaatan kepada Bapa surgawi dalam segala hal, seperti halnya Yesus. Hal itu berarti menghaturkan permohonon kepada Roh Kudus untuk menolong kita “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp 2:5), sehingga dengan demikian ujud-ujud doa kita kepada Bapa surgawi menyerupai intensi-intensi yang dipersembahkan Yesus ketika Dia masih hidup di dunia ini, dan sekarang tetap dilakukannya di dalam surga (lihat Ibr 8:6 dll.).

Kita akan melihat bahwa doa-doa kita diperlebar untuk mencakup permohonan-permohonan bahwa semua orang  akan sampai ke iman kepada Yesus, bahwa kuasa-kuasa kegelapan akan dijauhkan, bahwa Gereja akan dipersatukan sebagai sebuah terang bagi mereka yang berjalan dalam kegelapan. Doa-doa kita akan menjadi lebih daripada sekadar permohonan-permohonan untuk mendapatkan pertolongan, misalnya agar supaya dapat lulus ujian, atau berhasil dalam karir, agar cepat mendapat cucu dlsb. Tentu Tuhan memperhatikan detil-detil kehidupan kita yang paling intim sekalipun; Ia sungguh mendengar dan menjawab doa-doa yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan kita. Namun demikian, dalam kesempatan ini kita harus memperhatikan tulisan Yakobus yang mengingatkan kita untuk memanjatkan doa permohonan tanpa hasrat hati untuk mementingkan diri sendiri: “Kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak 4:3).

DOA: Bapa surgawi, Allah, khalik langit dan bumi. Dikuduskanlah nama-Mu. Kami mohon, ya Bapa, agar Kaupenuhi hasrat-hasrat hati kami. Semoga hati kami masing-masing bertumbuh dalam persatuan dan kesatuan dengan Yesus Kristus agar hasrat-hasrat kami mencerminkan juga hasrat-hasrat Yesus Kristus sendiri. Kami percaya Engkau akan mengabulkan doa kami ini karena kami memanjatkannya dalam nama Yesus, Putera-Mu terkasih, yang hidup dan meraja bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami perikop Injil hari ini (Yoh 16:23b-28), bacalah tulisan yang berjudul “BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU” tanggal 27 Mei 2017 dalam blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Mei  2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

 

KAMU AKAN BERDUKACITA, TETAPI DUKACITAMU AKAN BERUBAH MENJADI SUKACITA

KAMU AKAN BERDUKACITA, TETAPI DUKACITAMU AKAN BERUBAH MENJADI SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Filipus Neri, Imam – Jumat, 26 Mei 2017)

HARI PERTAMA NOVENA PENTAKOSTA

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. (Yoh 16:20-23a) 

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7

Sekarang kita berada dalam masa istimewa antara HARI RAYA KENAIKAN TUHAN dan HARI RAYA PENTAKOSTA; dan tidak sedikit pula umat Katolik yang mengikuti Novena Pentakosta yang dimulai hari ini. Selama kita berada dalam periode singkat namun khusus ini, marilah kita memusatkan perhatian kepada penyambutan Roh Kudus ke dalam hati kita masing-masing dan ke dalam Gereja dengan penuh kuat-kuasa, karena Dia adalah pengharapan kita. Selama kita masih hidup di atas bumi ini, maka kita seringkali “menangis dan meratap” (Yoh 16:20); kita bergumul dengan dosa dan berbagai macam godaan, dengan rasa sakit, dan penyakit yang diderita serta kematian atau maut itu sendiri. Namun demikian pengharapan kita terletak dalam diri Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita!  Roh Kudus yang datang untuk tinggal dalam hati umat beriman pada hari Pentakosta merupakan bukti bahwa Yesus telah memulihkan relasi kita dengan Bapa surgawi dan mengalahkan Iblis oleh kematian dan kebangkitan-Nya.

Pada waktu Yesus “mohon pamit” kepada para murid-Nya, Ia mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan mengalami kesedihan dan rasa sakit dalam dunia ini, namun para murid tidak boleh sampai kehilangan pengharapan. Yesus membandingkan rasa sakit dan dukacita dalam dunia ini dengan rasa sakit dan dukacita seorang perempuan pada saat-saat sebelum melahirkan bayinya, pada saat-saat mana sukacita karena kelahiran seorang anak manusia jauh lebih besar daripada rasa sakit dan dukacita yang dialami selama proses kelahiran itu sendiri. Dalam artian yang sama, penderitaan yang kita alami dalam kehidupan ini bersifat sementara, sementara sukacita surgawi menantikan orang-orang yang percaya kepada Allah (dan menaruh kepercayaan kepada-Nya).

Hidup kita terjamin dalam tangan-tangan Bapa surgawi. Sebagaimana para murid-murid Yesus yang awal, kita juga dapat meratapi dosa kita dan juga kegelapan dalam dunia. Namun pada saat yang sama kita dapat bergembira dalam kuasa dan kasih Allah kita. Kita dapat bergembira karena kita mengenal Dia yang menjadi tumpuan kepercayaan kita. Dengan penuh keyakinan kita percaya bahwa Dia mampu menjaga apa yang telah kita percayakan kepada-Nya sampai pada akhir zaman. Paulus menulis: “Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2Tim 1:11-12). Sebagaimana seorang ibu yang mengantisipasi kelahiran anaknya sejak saat perkandungannya, kita juga dapat memandang ke depan …… kepada sukacita abadi pada saat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya, walaupun kita banyak menanggung derita karena iman-kepercayaan kita sekarang.

Yesus Kristus mengalahkan dosa, kematian (maut) dan dunia. Kita dapat menghadapi tantangan-tantangan kita setiap hari dengan penuh pengharapan karena hidup kita telah dibeli dan dibayar lunas oleh darah Juruselamat kita. Karena kita menjadi milik Yesus Kristus, maka tidak ada siapa pun atau apa pun yang dapat merampas kita dari pengharapan kita. Walaupun kegelapan dunia membuat kita sedih, pengharapan kita tetap berada di tangan kuasa dan kasih Allah. Kita mempunyai keyakinan kuat, bahwa apabila Yesus datang kembali kelak, setiap kebutuhan kita akan dipenuhi dan segala penderitaan kita akan berakhir.

DOA: Roh Kudus Allah, kami menyambut Dikau. Penuhilah diri kami, umat-Mu, dengan pengharapan bahwa kami dapat menanggung penderitaan kami pada masa ini, dan menghadap ke depan, yaitu kepada sukacita abadi dalam hadirat Allah pada akhir zaman. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 16:20-23a), bacalah tulisan yang berjudul “AKU AKAN MELIHAT  KAMU LAGI” (bacaan tanggal 26-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IA AKAN MEMBERITAKAN KEPADAMU APA YANG DITERIMA-NYA DARI AKU

IA AKAN MEMBERITAKAN KEPADAMU APA YANG DITERIMA-NYA DARI AKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 24 Mei 2017)

Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Kis 17:15,22 – 18:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14

Kadang-kadang timbul keinginan dalam hati kita bahwa Yesus sendirilah yang mengatakan kepada kita pada Perjamuan Terakhir semua hal yang dikatakan oleh-Nya akan diajarkan oleh Roh Kudus setelah Ia sendiri pergi, bukankah begitu? Tidak pernahkah kita mengalami frustrasi dalam upaya kita mencari kehendak Allah berkaitan dengan suatu keputusan sangat penting, namun ketika kita selesai berdoa kita masih  saja tidak yakin apakah suara yang menjawab doa kita di kepala kita itu sungguh suara Allah atau hanya imajinasi kita sendiri? Lalu kita berkata kepada diri kita sendiri: “Ah, kalau saja Roh Kudus berbicara kepada kita dengan jelas seperti pada waktu Yesus berbicara dengan para murid-Nya!” …… “Kalau saja Dia dapat menggunakan kata-kata sederhana yang mudah dimengerti, sehingga aku tidak perlu mengira-ngira, tak perlu menebak-nebak apa yang dimaksudkan oleh-Nya!”

Namun Yesus mengatakan kepada kita – dengan kata-kata yang mudah dimengerti – bahwa lebih berguna bagi kita kalau Dia pergi kembali kepada Bapa surgawi (Yoh 16:7). Mengapa? Karena dengan demikian Dia dapat mengutus Roh Kudus kepada kita untuk menyucikan kita dan memimpin kita ke dalam segala kebenaran. Dalam hati kita dapat saja ingin agar kita memiliki kedekatan dengan Yesus seperti halnya para rasul/murid-Nya yang pertama. Akan tetapi, kita juga harus ingat bahwa meski begitu dekat dengan Yesus, tetap saja tidak dapat mencegah para rasul/murid untuk merasa takut akan nyawa mereka sendiri; tidak dapat mencegah mereka untuk melarikan diri justru pada waktu sang “Tuhan dan Guru” ditangkap oleh pasukan para penguasa pada waktu itu.

Kapan sebenarnya kita berada paling dekat dengan Yesus? Tentunya pada waktu kita menyambut Dia dalam Komuni Kudus – setelah kita mendengar suara-Nya dalam Liturgi Sabda. Juga dalam Komuni Kudus Yesus paling mampu untuk membagikan diri-Nya dengan kita dan untuk menyentuh kita dengan penyembuhan-Nya, dengan hikmat-Nya dan dengan kasih-Nya. Yang diminta oleh-Nya dari kita hanyalah hati yang terbuka lebar-lebar bagi Dia dan pikiran-hening yang hanya tertuju kepada-Nya.

Oleh karena itu janganlah kita membuang-buang waktu sedemikian, yaitu saat-saat kebersatuan dengan Allah secara mendalam, ketika suara kecil hampir tak terdengar dari Roh Kudus dapat terdengar paling jelas dalam hati kita. Tentu saja kita tidak keluar dari Misa Kudus dengan sebuah dokumen sepanjang 2-3 halaman folio berisikan kata-kata yang didiktekan oleh Roh Kudus berkaitan dengan pilihan penting yang harus kita buat. Namun demikian, kita akan membawa dalam diri kita efek-efek dari kehadiran-Nya, laksana suatu cara pengobatan/terapi radiasi yang menembus bagian luar diri kita dan membakar sabda-Nya, kasih-Nya, dan kuasa-Nya masuk ke dalam bagian-bagian diri kita yang paling dalam.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, ucapkanlah sabda-sabda-Mu yang hidup kepadaku setiap hari – sabda-sabda-Mu yang akan menembus dalam-dalam diriku dan menolong mengarahkan semua pikiranku, juga kata-kataku dan tindakan-tindakanku. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, pimpinlah aku ke dalam kebenaran-Mu saja. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan pertama hari ini (Kis 17:15,22 – 18:1), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN LUPA PERANAN SALIB” (bacaan tanggal 24-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS PERGI KEPADA BAPA YANG TELAH MENGUTUS-NYA

YESUS PERGI KEPADA BAPA YANG TELAH MENGUTUS-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Selasa, 23 Mei 2017)

 

Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, maka hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yoh 16:5-11) 

Bacaan Pertama: Kis 16:22-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,7-8 

Hati para murid terasa hancur ketika memikirkan bahwa Yesus akan meninggalkan mereka. Namun Yesus mengatakan kepada mereka bahwa lebih berguna bagi mereka apabila Dia pergi, dan rasa sedih mereka akan berganti menjadi sukacita (Yoh 16:22). Apakah yang sebenarnya dimaksudkan oleh Yesus dengan kata-kata itu? Apakah Dia sungguh mau meninggalkan mereka? Samasekali tidak! Yesus selalu mengarahkan hati-Nya kepada Bapa serta menyediakan hati-Nya bagi tujuan-tujuan Bapa, dan Ia tahu bahwa begitu Dia naik ke surga setelah menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya bagi kita, maka Bapa dapat mencurahkan Roh Kudus atas para murid-Nya.

Sebagai seorang manusia, Yesus hadir bagi para murid dalam cara yang terbatas, secara fisik. Melalui Roh Kudus, kehadiran-Nya  dapat lebih bersifat intim/akrab dan penuh kuasa selagi Dia datang untuk hidup dalam diri semua orang beriman dalam suatu cara yang belum ada presedennya. Dia akan berdiam dalam diri semua orang pada waktu yang sama – memimpin, menghibur dan mengasihi mereka. Sungguh merupakan suatu karunia yang mahadahsyat mempunyai Allah kekal, sang Khalik alam semesta, berdiam dalam diri kita!

Yesus ingin mencurahkan Roh Kudus yang telah dijanjikan itu atas diri semua orang, agar melalui Roh Kudus itu, diri-Nya dapat dinyatakan sebagaimana apa adanya Dia. Karya Roh Kudus adalah senantiasa untuk menyatakan Yesus,  mengungkapkan siapa Dia sebenarnya. Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita menunjukkan kepada kita bahwa dosa sesungguhnya adalah ketidakpercayaan kepada Allah; bahwa keadilan telah dicapai oleh kebangkitan Yesus karena Dia lah yang membayar “denda” untuk dosa-dosa kita, dan bahwa Allah Bapa hanya tertarik untuk menghukum Iblis, bukan anak-anak-Nya (Yoh 16:8-11).

Pada hari ini kita dapat merenungkan misteri perihal siapa Yesus itu karena Roh Kudus berdiam dalam diri kita, menanti-nanti dengan penuh kerinduan untuk menyatakan Yesus dalam segala kemuliaan-Nya. Yesus adalah titik pusat dan tujuan dari segenap ciptaan (Kol 1:15-20). Selagi kita membuka hati kita bagi Roh Kudus dan minta kepada-Nya untuk menyatakan Yesus kepada kita secara lebih penuh, kita akan jatuh cinta secara lebih mendalam lagi dengan Yesus dan berkeinginan untuk hidup hanya bagi Dia dan tujuan-tujuan-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, liputilah diriku dengan pernyataan siapa Yesus itu dan apa yang telah dicapai-Nya. Penuhilah diriku dengan jaminan dan damai-sejahtera yang hanya dapat diberikan oleh-Mu, dan gerakkanlah hatiku untuk mengasihi Yesus dengan lebih bergairah lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “SANG PARAKLETOS” (bacaan tanggal 23-5-17 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 22 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PARACLETOS ATAU SANG PENOLONG

PARACLETOS ATAU SANG PENOLONG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Senin, 22 Mei 2017)

 “Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.”

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.” (Yoh 15:26-16:4a)

Bacaan Pertama: Kis 16:11-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Roh Kudus disebut sebagai Penolong (Yunani: Paracletos) sebanyak lima kali dalam Perjanjian Baru (Yoh 15:26; 14:16,26; 16:7; 1Yoh 2:1). Dengan menggunakan nama itu Yohanes hendak menggarisbawahi peranan Roh Kudus sebagai “seorang” penasihat – suatu sumber pendorong, penghiburan, pertolongan dan kebenaran.

Pada waktu Yesus hidup di muka bumi ini sebagai seorang manusia, para murid-Nya mempunyai akses yang bebas dan mudah untuk datang kepada-Nya. Mereka dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mohon nasihat kapan saja mereka inginkan. Namun pada  Perjamuan Terakhir, tahu bahwa diri-Nya tidak akan selalu dapat diakses secara fisik, Yesus mempersiapkan para murid-Nya untuk menyambut kedatangan seorang penolong/penasihat yang lain, yaitu Roh Kudus (Yoh 14:16).

Walaupun Yesus tidak akan bersama mereka lagi dalam daging, Roh Kudus – Roh Yesus – akan berdiam di dalam diri mereka. Satu-satunya hal yang lebih baik daripada “Yesus ada bersama dengan kita” adalah “Yesus berada dalam diri kita”.

Dari segala tugas Roh Kudus, satu dari yang paling penting adalah membawa Kitab Suci ke kehidupan di dalam hati kita sehingga diri kita dapat ditransformasikan. Apakah anda pernah berpikir untuk memanggil Dia untuk duduk di sampingmu ketika anda duduk membaca Kitab Suci? Dengan Dia sebagai pemandu dan penasihat, anda tentunya dapat melakukan navigasi melalui bagian-bagian bacaan sulit dalam Kitab Suci dan menemukan kedalaman-kedalaman baru dalam hidup Kristiani yang sebelumnya anda pikir tidak mungkin.

Dalam masa Paskah ini, baiklah anda datang kepada Roh Kudus dengan sebuah hati yang terbuka. Mohonlah kepada-Nya untuk menolongmu dalam kelemahan-kelemahanmu. Sementara anda membaca Kitab Suci dalam keheningan dan suasana doa, biarlah Dia mencerahkan kata-kata yang ada dalam Kitab Suci dan menolong anda menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari anda. Roh Kudus akan mengambil pesan dari Kitab Suci, mengikatnya dengan kehidupan Gereja, dan mencelupkannya dalam-dalam di hati anda, di mana kehendak anda dimotivasi untuk bertindak. Lalu perhatikanlah bahwa kehidupan anda pun berubah.

Santo Hieronimus [347-420] berkata: “Ignoratio Scripturarum, Ignoratio Christi est.”  (Inggris: “Ignorance of Scripture is ignorance of Christ.”), yang artinya kira-kira “Tidak kenal/tahu Kitab Suci, tidak kenal/tahu Kristus. Apakah anda mau mengenal Jesus, sang Sabda Allah? Cobalah kenal dengan Roh Kudus, Penolong anda!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu untuk memulihkan relasi kami dengan Dikau. Terima kasih karena Engkau telah mengirimkan Roh Kudus untuk hidup dalam diri kami dan menolong kami dalam segala kelemahan kami. Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati kami umat-Mu dan nyalakanlah api cintakasih-Mu dalam hati kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Pertama hari ini (Kis 16:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUKA HATI KITA BAGI SEMUA ANGGOTA TUBUH KRISTUS” (bacaan tanggal 22-5-17) dalam blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 18 Mei 2017 [Peringatan S. Feliks dr Cantalice]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS