Posts tagged ‘DOSA-DOSAMU SUDAH DIAMPUNI’

KESEMBUHAN DAN PENGAMPUNAN

KESEMBUHAN DAN PENGAMPUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 6 Juli 2017)

Peringatan S. Maria Goretti, Perawan Martir

Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8) 

Bacaan Pertama: Kej 22:1–19; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:1-6,8-9

Ini adalah sebuah “adegan” yang sungguh konkret. Cerita ini mengungkapkan great expectations dari orang kebanyakan, suatu hasrat kuat dan sangat manusiawi untuk memperoleh kesembuhan fisik. Datang saja ke acara kebangunan rohani atau “Misa Penyembuhan” untuk menyaksikan dengan mata-kepala  sendiri, malah kita mungkin mengalami  sendiri kesembuhan itu. Kesembuhan-kesembuhan terjadi, meskipun yang disembuhkan belum tentu datang karena didorong motif yang sepenuhnya spiritual. Cerita ini juga menggambarkan, bahwa sepanjang sejarah manusia Allah menghendaki, bahkan memiliki hasrat besar, untuk mengampuni pendosa yang bertobat. Kita tentu percaya bahwa hal ini benar karena iman kita akan kerahiman atau belas kasih Allah. Namun dengan kedatangan Yesus ke tengah-tengah umat manusia, pengampunan dosa itu mengambil sebuah bentuk pengungkapan manusia yang baru, yang membawa kita kepada suatu kepastian.

Berkat-berkat serta karunia-karunia Allah tidak selalu menyangkut hal-ikhwal yang bersifat badani. Pekerjaan-pekerjaan menakjubkan dari Allah ada dalam hati manusia. Karunia agung dari Allah adalah pemerdekaan/pembebasan dari dosa-dosa. Bisa saja orang lumpuh ini, yang membutuhkan pertolongan dan sepenuhnya menggantungkan diri pada orang-orang lain, merupakan seorang pribadi yang lebih siap untuk menerima pengampunan. Kita maklumi ada cukup banyak orang menolak pengampunan Allah karena sebuah alasan tunggal, yaitu bahwa mereka tidak mau “menerima” pengampunan itu lewat orang lain. “Mohon pengampunan Allah” mensyaratkan bahwa orang bersangkutan mengakui keterbatasan-keterbatasan dirinya dan menghaturkan permohonan dengan sangat akan turunnya Kerahiman Ilahi ke atas dirinya, namun kesombongan tersembunyi dapat menghalangi dia untuk mengambil langkah seperti itu. Banyak orang berpikir bahwa dirinya “mandiri”, self- sufficient, mereka mau keluar dari kesusahan hanya berdasarkan kekuatan mereka sendiri. Yesus mengampuni dosa-dosa orang lumpuh dengan mengucapkan kata-kata manusia: “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mat 9:2). Ketika para pemuka agama menolak cara pemberian pengampunan seperti ini, Yesus menanggapi dengan suatu tanda yang mudah dilihat oleh mata manusia: Dia menyembuhkan orang lumpuh itu melalui firman yang keluar dari mulut-Nya, untuk menunjukkan bahwa Dia memiliki kuasa mengampuni dosa melalui firman-Nya. Apa yang diucapkan Yesus ini sama kuatnya dengan kata-kata: “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mat 9:6).

Reaksi negatif para pemuka agama juga menunjukkan bahwa mereka sebetulnya belum siap untuk menerima keselamatan. Mereka telah membangun bagi diri mereka sendiri sebuah “agama yang penuh dengan ‘kebenaran’ moral”, dan berpikir bahwa hanya mereka sendirilah yang akan berjaya merebut keselamatan dengan mengikuti kehendak mereka sendiri. Kita sering mengalami keraguan untuk menerima sakramen tobat dari seorang imam yang mewakili Kristus (lihat Yoh 20:21-23). Mungkin kita memiliki sikap yang agak mirip dengan para pemuka agama pada zaman Yesus itu. Di batin kita yang paling dalam, kita merasa takut, karena kita selalu kembali dan kembali lagi ke dalam dosa-dosa yang sama. Di kedalaman hati kita mungkin saja ada suatu hasrat ambisius untuk menjadi seorang pribadi yang “adil”, sehingga tidak perlu lagi mohon pengampunan dari Allah – artinya “kita bisa dan mampu melakukan apa saja tanpa Allah!”

Ada juga yang mengatakan, “Tetapi, apakah Allah tidak dapat mengampuni dosa-dosaku, bahkan dosa yang paling jelek sekali pun, apabila aku mohon pengampunan dari Dia secara langsung?” Tanggapan saya: “Iman saya mengatakan, bahwa Allah dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya, namun biasanya dalam kehidupan Gereja di mana saya adalah anggotanya, pengampunan atas dosa-dosa yang sungguh serius diperoleh melalui Sakramen Tobat.”  Wajah sejati Allah adalah “Kasih yang mengampuni” dan bukanlah “Hakim yang senang menghukum”. Inilah mukjizat besar yang tak henti-hentinya dibuat oleh Allah. Namun untuk menunjukkan bahwa mukjizat yang tak kelihatan ini sungguh riil adanya, maka Yesus menggaris-bawahinya dengan sebuah mukjizat yang berwujud. Inilah inti bacaan Injil hari ini!

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur atas pengampunan dan kesembuhan yang begitu sering Kauberikan kepadaku. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, roh sukacita dan puji-pujian, sehingga segala karunia Roh yang diberikan kepadaku dapat kupersembahkan kembali kepada-Mu lewat pengabdianku kepada sesamaku, semua seturut kehendak-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS YANG MENYEMBUHKAN DAN MEMBERI PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 6-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 30-6-16 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 4 Juli 2017 [Peringatan S. Elisabet dr Portugal, Ratu, Ordo III S. Fransiskus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 13 Januari 2017) 

stdas0592-jesus-heals-the-palsied-manKemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: Ibr 4:1-5,11; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,6-8 

Narasi Injil yang cukup dramatis ini adalah mengenai bagaimana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah oleh empat orang yang membawanya ke tempat itu. Cerita tentang penyembuhan orang lumpuh ini adalah yang pertama dari lima cerita konflik dalam Injil Markus (2:1-3:6), yang menyoroti perlawanan para pemuka agama Yahudi terhadap pernyataan siapa diri Yesus itu. Dengan berpegang teguh pada ide-ide kuno mereka sendiri, para ahli Taurat dan orang Farisi gagal mengalami bela rasa dan kasih Allah yang dimanifestasikan dalam diri Yesus.

Ada beberapa pokok konflik yang muncul antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi selama berlangsungnya proses penyembuhan. Yang pertama terjadi ketika Yesus mendeklarasikan bahwa dosa-dosa orang itu diampuni (Mrk 2:5). Dalam Perjanjian Lama, kuasa untuk mengampuni dosa hanya milik Allah saja (Kel 34:6-7; Yes 43:25). Lalu Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10). Tradisi Yahudi pada waktu itu memahami bahwa yang dimaksudkan dengan “anak manusia” (Dan 7:13-14) mengacu kepada sang Mesias yang akan membawa umat ke dalam Kerajaan Allah. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan tokoh mesianis ini untuk mulai menyatakan diri-Nya dan mempersiapkan umat bagi pekerjaan yang akan dilaksanakan-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Tanggapan umat yang hadir terhadap peristiwa penyembuhan orang lumpuh ini merupakan sebuah kontras yang tajam terhadap ketakutan yang melumpuhkan dari para ahli Taurat (Mrk 2:7). Orang banyak takjub dan memuliakan Allah, sambil berkata: “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Mereka memberi tanggapan positif terhadap kebaikan dan belas kasih Allah. Kiranya tidak sedikit dari orang banyak itu kemudian menjadi murid-murid Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa orang banyak  dapat mengenali siapa Yesus itu, sementara para pemimpin agama Yahudi buta sehingga tidak mampu melihat siapa sebenarnya Yesus? Jawabnya terletak pada iman mereka. Yesus melihat iman dari mereka yang membawa orang lumpuh dan juga iman si lumpuh sendiri (Mrk 2:5). Walaupun kuat-kuasa dan belas kasih Yesus begitu terlihat oleh mereka yang percaya (beriman), ketidak-percayaan telah membutakan mata (terutama mata hati) para pemuka agama Yahudi tersebut. Para pemuka agama Yahudi itu tidak mau mengubah mindset  mereka, juga tidak mempunyai keberanian untuk keluar dari comfort zone mereka. Bukankah implisit dalam pengertian apa iman itu, terdapat unsur-unsur keberanian dan perubahan diri?

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bukalah mata kami agar mampu melihat karya-Mu dengan lebih jelas dalam hidup kami. Sembuhkanlah kami dari berbagai cara berpikir kami yang membatasi – bahkan menghalangi – pemahaman kami tentang rencana penyelamatan Bapa surgawi atas segenap umat manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG LUMPUH” (bacaan tanggal 13-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2014] 

Cilandak, 10 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS YANG MENYEMBUHKAN DAN MEMBERI PENGAMPUNAN

YESUS YANG MENYEMBUHKAN DAN MEMBERI PENGAMPUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 30 Juni 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Raymundus Lullus, Martir (OFS)

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH YANG DI TURUNKAN DARI LOTENGSesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8) 

Bacaan Pertama: Am 7:10-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11

Sepanjang karya pelayanan-Nya di depan publik, Yesus secara tetap mencari kesempatan-kesempatan untuk mengajar dan mewartakan pesan dan misi-Nya kepada orang banyak. Pada banyak kesempatan Ia menunjukkan keilahian-Nya dengan memanifestasikan kuat-kuasa-Nya dan keprihatinan-Nya atas sakit-penyakit yang menimpa umat manusia, baik fisik, kejiwaan maupun rohaniah.

Yesus menggunakan setiap kesempatan untuk menunjukkan kepada para murid-Nya bahwa Dia mempunyai kuat-kuasa ilahi atas dosa dan mampu mengalahkan segala kuasa kegelapan. Dia ingin mereka mengetahui bahwa diri-Nya dapat mengampuni dosa-dosa, karena memang mempunyai hak untuk itu. Salah satu ceritanya dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini.

Jikalau kita melihat padanan perikop ini dalam Injil Markus (Mrk 2:1-12) maka kita dapat mengatakan bahwa mukjizat penyembuhan oleh Yesus yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini terjadi di Kapernaum, basis operasi Yesus dan para murid-Nya. Seorang lumpuh dibawa kepada-Nya. Yesus melihat iman orang-orang yang menggotong si lumpuh ke TKP dan tentunya iman si lumpuh sendiri. Kemudian Ia berkata kepada si lumpuh: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mat 9:2). Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah” (Mat 9:3).  

Inti cerita dalam bacaan ini terfokus pada otoritas Yesus untuk mengampuni dosa-dosa, sebuah pokok masalah yang diungkapkan oleh ketidaksetujuan sejumlah ahli Taurat yang hadir (lihat Mat 9:3). Para ahli Taurat itu menghakimi (dalam hati mereka) bahwa Yesus telah menghujat Allah. Meskipun masih dalam hati, Yesus mengetahui apa yang ada dalam pikiran mereka dan bertanya kepada mereka: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?” Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”  Kemudian Yesus berkata kepada si lumpuh: “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mat 9:4-6). Orang itu pun bangun lalu pulang (Mat 9:7). Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa Dia memiliki kuat-kuasa ilahi untuk menyembuhkan manusia secara instan. Tentunya Dia juga mempunyai kuat-kuasa untuk mengampuni dosa. Keduanya mensyaratkan kuasa ilahi.

Sekali lagi: penyembuhan si lumpuh bukan saja merupakan bukti dari klaim Yesus, melainkan juga sesungguhnya merupakan sebuah manifestasi yang kasat mata dari kuat-kuasa-Nya untuk mengampuni dosa-dosa. Sebagaimana halnya dengan kasus eksorsisme, pelepasan dari kuasa jahat: dosa dan sakit-penyakit saling berkaitan – namun tidak perlu selalu dalam artian bahwa sakit-penyakit seseorang merupakan suatu penghukuman atas dosa pribadinya, melainkan sebagai gejala-gejala berbeda dari maut yang merusak ciptaan. 

Reaksi orang banyak adalah ketakjuban,  lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia (Mat 9:8), kelihatannya ingin mengatakan bahwa cerita mukjizat ini juga menunjukkan kuasa untuk mengampuni yang diberikan kepada komunitas Kristiani (lihat Mat 18:18). Kuasa untuk mengampuni dosa ada di dalam Gereja (lihat Yoh 20:22-23) – dalam Sakramen Rekonsiliasi dan juga dalam tindakan-tindakan pengampunan yang dilakukan oleh umat Kristiani terhadap dunia yang memusuhi mereka. Dari waktu ke waktu kita harus bertanya, apakah kita sungguh menghargai Sakramen Pengampunan Dosa (Sakramen Tobat/Sakramen Rekonsiliasi) ini dengan cukup wajar? Sakramen Rekonsiliasi adalah sebuah tanda bahwa Gereja masih terus melanjutkan pelayanan penyembuhan dari Yesus. Bukankah begitu? 

DOA: Tuhan Allah kami, Engkau telah banyak sekali mengampuni kami. Berikanlah kepada kami keberanian untuk menjadi pembawa damai di dalam dunia yang telah terkoyak-koyak oleh berbagai macam kekerasan dan permusuhan. Perkenankanlah Roh Kudus-Mu membentuk kami menjadi murid-murid Yesus yang tangguh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “KESEMBUHAN DAN PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 30-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

Cilandak, 28 Juni 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUASA ATAS DOSA

KUASA ATAS DOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 2 Juli 2015)

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH YANG DIBAWA DARI LOTENG - 650Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8) 

Bacaan Pertama: Kej 22:1-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:1-6,8-9

Sepanjang kehidupan-Nya di depan publik, Yesus terus mencari kesempatan untuk mengajarkan pesan dan misi-Nya kepada umat manusia. Dalam banyak peristiwa,  Yesus menunjukkan keilahian-Nya dengan memanifestasikan kuat-kuasa-Nya atas sakit-penyakit tubuh manusia, artinya penyakit fisik. Namun seringkali secara bersamaan Dia juga menunjukkan kuasa-Nya dan keprihatinan-Nya atas sakit-penyakit yang bukan fisik, artinya yang menyangkut jiwa dan roh.

Yesus memakai setiap kesempatan untuk menunjukkan kepada para pengikut-Nya bahwa Dia memiliki kuasa ilahi atas dosa. Yesus ingin agar para murid-Nya itu mengetahui bahwa Dia dapat mengampuni dosa-dosa dari diri-Nya sendiri.

Salah satu peristiwa itu tercatat dalam bacaan Injil hari ini. Seorang lumpuh dibawa ke hadapan-Nya. Yesus melihat iman orang itu dan iman mereka yang membawa dia, dan langsung saja Dia berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni” (Mat 9:2).

Mendengar kata-kata Yesus itu, beberapa orang ahli Taurat – dalam hati mereka – menuduh Yesus menghujat Allah (Mat 9:3). Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi sypaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” (Mat 9:4-6). Lalu berkatalah Yesus kepada orang lumpuh itu, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mat 9:6). Yesus menunjukkan kepada orang-orang yang hadir bahwa diri-Nya memiliki kuasa ilahi untuk menyembuhkan orang lumpuh itu secara instan, dan bahwa Dia juga memiliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosa manusia. Keduanya membutuhkan kuasa ilahi.

Sesungguhnya adalah sesuatu yang menghibur ketika kita mengetahui bahwa Yesus Kristus memiliki kuasa untuk mengampuni dan Ia memberikan kuasa (mendelegasikan wewenang) ini kepada Petrus dan para Rasul-Nya yang lain serta para penerus mereka. Pada hari Minggu Paskah pertama, Yesus menampakkan diri-Nya di tengah-tengah para murid dalam sebuah ruang terkunci, dan Ia berkata, “Damai sejahtera bagi kamu”, kemudian menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada. Perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang telah bangkit ini mendatangkan sukacita bagi para murid-Nya (lihat Yoh 20:19-20). Lalu kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:21-23). Sejak hari itu, sampai hari ini dan selanjutnya, Gereja mempraktekkan kuasa yang indah ini melalui pelayanan para imam tertahbis dalam Sakramen Rekonsiliasi.

Sekarang, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita sungguh menghargai Sakramen Rekonsiliasi atau Sakramen Tobat ini. Apakah kita tidak melihat sakramen ini sebagai suatu peristiwa di mana Tuhan Yesus Kristus menggunakan kuasa-Nya untuk melakukan penyembuhan spiritual?

DOA: Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih-setia-Nya (Mzm 136:1). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “YANG DIMINTA OLEH YESUS HANYALAH AGAR KITA PERCAYA KEPADA-NYA” (bacaan tanggal 2-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-7-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 27 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YANG DIMINTA OLEH YESUS HANYALAH AGAR KITA PERCAYA KEPADA-NYA

YANG DIMINTA OLEH YESUS HANYALAH AGAR KITA PERCAYA KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 4 Juli 2013)

Ordo Fransiskan Sekular: Santa Elisabet dari Portugal, Ratu

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH YANG DIBAWA DARI LOTENG - 650Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8)

Bacaan Pertama: Kej 22:1-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:1-6,8-9

“Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni” (Mat 9:2).

Ketika Yesus sampai ke kota-Nya sendiri, para ahli Taurat mengamati anak Yusuf tukang kayu dari Nazaret yang sederhana ini membuat mukjizat-mukjizat, bahkan mengampuni dosa. Tentunya mereka merasa bingung juga: Siapa sebenarnya orang ini? Melalui sarana apakah Dia menyembuhkan orang sakit? Dengan otoritas dan kuasa siapakah Dia mengampuni dosa? Para ahli Taurat itu tidak dapat memahami otoritas yang dimiliki Yesus; mereka malah menilai-Nya menghujat Allah. Biar bagaimana pun juga Yesus kan hanya seorang anak tukang kayu di sebuah kota kecil? Apalagi orang-orang Yahudi pada umumnya percaya bahwa tidak ada sesuatu yang baik datang dari Nazaret (Yoh 1:46).

Kita percaya bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa dan otoritas mutlak atas segala hal di surga dan bumi. Dia datang ke tengah dunia untuk menyelamatkan umat manusia. Sebagai kurban sempurna yang diberikan dengan bebas oleh Allah untuk menebus dosa-dosa kita-manusia, otoritas Yesus datang melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Sepanjang Injilnya, Matius mengungkapkan keilahian Yesus: Yesus menyembuhkan orang kusta (Mat 8:1-4), yang sakit demam (Mat 8:14-15), yang lumpuh (Mat 9:1-8) dlsb. Ia memiliki kuasa atas alam seperti ditunjukkan-Nya ketika menenangkan angin ribut yang berkecamuk (Mat 8:23-27). Otoritas-Nya dalam bidang spiritual memanifestasikan dirinya selagi Dia mengusir roh-roh jahat (Mat 8:28-34) dan mengampuni dosa (Mat 9:2).

Bahkan pada hari ini pun Yesus memiliki otoritas atas dosa yang merupakan sebab-musabab penderitaan kita. Yang diminta oleh Yesus hanyalah agar kita percaya kepada-Nya. Kematian-Nya pada kayu salib merupakan pukulan mematikan terhadap dosa. Keporak-porandaan karena dosa tidak perlu mendominasi kehidupan kita. Sebaliknya, dalam Yesus, kepada kita telah diberikan kuasa dan otoritas untuk menjadi bebas-merdeka dari ikatan-ikatan dosa, rasa takut, kemarahan, dan depresi. Oleh kuasa yang kita peroleh melalui kematian Yesus di kayu salib, kita dapat mengalami kuasa untuk menjadi bebas-merdeka dari berbagai hal yang disebutkan di atas dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dengan mengundang Yesus untuk hidup-berdiam dalam diri kita, kita sebenarnya ikut ambil bagian dalam kodrat-Nya. Setiap orang percaya yang dibaptis ke dalam Kristus dapat menjadi seorang pelayan dari rahmat-Nya, penyembuhan-Nya, dan kuat-kuasa-Nya atas dosa. Tentu saja kita sendiri bukanlah pembuat mukjizat. Yesus-lah sang Pembuat mukjizat! Sementara kita memperkenankan Yesus masuk semakin dalam ke dalam hati kita, maka kita mengambil oper karakter-Nya, dengan demikian menjadi “instrumen-instrumen” rahmat-Nya. Seperti ditulis oleh Santo Paulus, “… aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita bergantung sepenuhnya pada janji-janji Yesus bagi kita agar dengan demikian kita dapat memanifestasikan kuat-kuasa-Nya dan otoritas-Nya di muka bumi ini.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin mengenal Engkau lebih mendalam lagi dan menjadi lebih dekat lagi dengan diri-Mu. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyerahkan hidup-Mu sendiri agar kami dapat memperoleh kehidupan bersama Engkau dan Bapa surgawi selama-lamanya. Kami memuliakan Engkau, karena Engkau sendirilah yang dapat membebas-merdekakan kami dari dosa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH SANG MESIAS !!!” (bacaan tanggal 4-7-13) dalam situs/ blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “KUASA ATAS DOSA” (bacaan tanggal 5-7-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 2 Juli 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS