Posts tagged ‘GALILEA’

TIGA KOTA DI GALILEA YANG DIKECAM YESUS

TIGA KOTA DI GALILEA YANG DIKECAM YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Selasa, 18 Juli 2017)

Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di sini Ia paling banyak melakukan mukjizat-mukjizat-Nya, “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu.” (Mat 11:20-24) 

Bacaan Pertama: Kel 2:1-15a; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:3,14,30-31,33-34 

Kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini mungkin sekali memberikan kesan kepada banyak dari kita sebagai ungkapan ego seseorang yang memandang dirinya begitu penting, namun terluka. Dan, orang ini ingin membalas dendam kepada mereka yang menolak “jasa-jasa baik” yang telah diberikan olehnya. Kita boleh saja mempunyai pikiran seperti itu, akan tetapi kita juga harus menyadari bahwa betapa pun kerasnya kata-kata ini, kata-kata ini diucapkan oleh Yesus: Tuhan dan Juruselamat kita yang penuh cintakasih kepada kita semua.

Yesus dari Nazaret adalah seorang pribadi yang sangat manusiawi. Yesus telah mendatangi kota-kota di Galilea dan kepada para penduduk kota-kota itu Dia mewartakan tentang kedatangan kerajaan Allah. Siang-malam Yesus bekerja untuk menyiapkan hati orang-orang untuk dapat menerima rahmat yang sedang dilimpahkan oleh Bapa dari surga. Tanpa memikirkan diri sendiri dan dengan penuh sukacita Dia mewartakan Kabar Baik, membuat mukjizat-mukjizat serta melakukan kebaikan-kebaikan lainnya. Ia  telah menunjukkan kepada mereka kasih dan bela rasa-Nya lewat banyak sekali perbuatan baik yang dikerjakan-Nya, seperti menyembuhkan berbagai macam sakit-penyakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang dsb. Walaupun begitu, orang-orang di sana tidak menerima diri-Nya. Yesus mengucapkan kata-kata peringatan yang keras ini karena Dia tahu bahwa Kabar Baik yang telah diwartakan-Nya dan segala mukjizat yang telah dilakukan-Nya tidak ditanggapi sebagaimana dihasrati oleh Bapa-Nya. Allah sesungguhnya ingin melihat orang-orang itu menjadi rendah hati dan merasa terpesona akan kenyataan bahwa Dia telah mengutus kepada mereka Mesias yang telah dijanjikan-Nya. Allah ingin melihat orang-orang itu bertobat sehingga hati mereka dibuat siap untuk menerima gelombang rahmat yang yang akan mentransformasikan tanah Israel. Apakah Yesus kecewa? Teristimewa sebagai manusia, tentunya ada kekecewaan itu.

Tentu saja segala karya Yesus yang jelas-jelas menunjukkan kuasa ilahi dan otoritas-Nya semestinya menggerakkan orang-orang Galilea untuk menjadi percaya kepada-Nya. Memang benar orang-orang datang kepada-Nya dalam jumlah yang besar. Injil menggunakan istilah “orang banyak” (baca misalnya Yoh 6:22-24). Namun demikian, mereka tetap tidak tergerak oleh khotbah-khotbah-Nya tentang Kerajaan Allah. Mereka hanya datang kepada-Nya untuk menyaksikan dan memanfaatkan kuasa Yesus untuk menyembuhkan sakit-penyakit, mengusir roh-roh jahat. Hal-hal seperti itu akan menghemat biaya pengobatan dan kesulitan-kesulitan lainnya, kiranya begitu bukan?

Injil kiranya mengindikasikan bahwa Yesus mendapatkan sedikit saja pengikut sejati di Galilea, walaupun di provinsi itu Dia melimpahkan rahmat-rahmat istimewa, baik yang duniawi maupun yang rohaniah. Singkat kata, orang-orang Galilea tidak memberi tanggapan baik terhadap segala kebaikan Yesus. Dalam bacaan Injil hari ini Yesus membuat semacam prediksi bahwa masa depan orang-orang Galilea tidak baik, karena ketiadaan iman mereka.

Siapa dari kita yang berani mengatakan bahwa kita tidak diberkati sebagaimana yang dialami orang-orang Galilea?  Barangkali tidak berupa tanda-tanda heran yang bersifat fisik, akan tetapi berupa karunia-karunia spiritual lainnya  dan juga karunia-karunia yang bersifat alami. Kita memiliki tubuh yang sehat dengan panca indera yang berfungsi dengan normal, kita mempunyai akal budi sehingga mampu berpikir, mempunyai tenaga untuk bekerja. Kita dianugerahi karunia iman, kita memiliki Kitab Suci yang berisikan sabda Allah, kita mempunyai kebebasan untuk menyembah Allah dan berdoa kepada-Nya, kita mempunyai privilese untuk mendengar suara Allah yang berbicara dalam hati kita ketika kita berdoa. Kita sungguh diberkati karena diperkenankan hidup dalam negara yang pemerintah dan mayoritas rakyat menerima kita, walaupun kita adalah minoritas.

Sekarang, apakah tanggapan kita terhadap segala berkat kebaikan Allah itu? Apakah Dia Tuhan dari segala sesuatu dalam kehidupan kita? Apakah kita menggunakan segala karunia yang kita miliki dalam iman serta mensyeringkan karunia-karunia itu dengan orang-orang lain. Apakah kita memiliki keprihatinan terhadap banyak orang yang tidak menikmati karunia-karunia yang kita miliki? Apakah hal itu sungguh mengganggu kita dalam cintakasih Kristiani? Seharusnya memang begitu! Hal tersebut seharusnya membuat kita dikejutkan, sehingga dengan demikian kita pun disadarkan untuk mau syering karunia-karunia kita kepada siapa saja yang kita temui dalam kehidupan kita dengan cara apa pun yang mungkin.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menganugerahi kami dengan berbagai karunia. Semoga kami tidak pernah mengecewakan Engkau. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:20-24), bacalah tulisan yang berjudul “MELUPAKAN TANGGUNG JAWAB, BERSIKAP MASA BODOH DAN TIDAK MELAKUKAN APA-APA” (bacaan tanggal 18-7-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM SABDA http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2017. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 12-7-16 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 16 Juli 2017 [HARI MINGGU BIASA XV – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TANDA-NYA YANG PERTAMA

TANDA-NYA YANG PERTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Masa Natal – Sabtu, 7 Januari 2017) 

cana2

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya, “Mereka kehabisan anggur.”  Kata Yesus kepadanya, “Mau apakah engkau dari Aku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya kira-kira seratus liter. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu, “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Mereka pun mengisinya sampai penuh. Sesudah itu, kata Yesus kepada mereka, “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mencicipi air yang telah menjadi anggur itu – dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya – ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya, “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dilakukan Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. (Yoh 2:1-11)

Bacaan pertama: 1Yoh 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6.9 

“Tanda pertama” dari Yesus ini mengawali karya-Nya. Ini adalah suatu tanda masuknya kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaan dan kehadiran Allah di dunia dalam diri Putera-Nya, Yesus. Apa yang dinyatakan Yesus di Kana tidak sekadar menunjuk pada pesta perkawinan itu, akan tetapi menunjuk pada karya yang akan dimulai dan dicapai Allah melalui Yesus, dalam kematian, kebangkitan sampai kedatangan-Nya kembali nanti apabila semua sudah dilengkapi.

Yesaya 62 memberikan konteks bagi pandangan yang lebih luas perihal mukjizat di Kana ini.  Yesaya mengharapkan akan kedatangan masa Mesias, di mana perjanjian antara Allah dan umat-Nya akan dirayakan sebagai suatu perkawinan. Umat Allah, mempelai-Nya tidak lagi akan disia-siakan atau menderita kesusahan karena efek dosa, tetapi akan berkenan kepada Allah karena efek penyelamatan. Kebaharuan ini dirayakan sebagai suatu pesta perkawinan, di mana pengantin perempuan disiapkan untuk menyambut pengantin laki-laki dan sukacita merekapun akan dirasakan oleh semua orang.

Perjamuan mesianis, di mana semua hal akan dipenuhi dalam Kristus dan umat Allah yang setia akan berpartisipasi dalam kepenuhannya, seringkali digambarkan sebagai suatu pesta perkawinan. Kita mulai ikut ambil bagian dalam perjamuan ini (yang dibuka resmi dengan inkarnasi, kematian dan kebangkitan Yesus) bahkan sekarang juga, tetapi hanya akan tahu kepenuhannya pada saat Yesus mengumpulkan semua orang bersama-sama pada kedatangan-Nya untuk kedua kalinya kelak. Kepenuhan ini digambarkan dalam Kitab Wahyu, di mana pada perkawinan Anak Domba, Yerusalem baru diibaratkan sebagai mempelai perempuan yang diserahkan kepada suaminya (Why 19:7; 21:2).

Yesus menyatakan kemuliaan Allah melalui mukjizat di Kana karena hal itu menunjuk kepada Perjanjian Baru di mana Allah – melalui Yesus – akan mengerjakan sesuatu hal baru yang indah sekali. Yesus menggunakan tempayan-tempayan air yang biasa dipakai orang Yahudi untuk upacara pembersihan (suatu tanda Perjanjian Lama) dan mengubahnya menjadi bejana-bejana “anggur terbaik” (suatu tanda Perjanjian Baru). Mukjizat ini, yang dilakukan Yesus “pada hari ketiga” (Yoh 2:1), menunjuk pada transformasi yang akan terjadi ketika saat-Nya memuliakan Allah telah tiba.

Sebagai orang-orang yang telah diperkenankan ikut ambil bagian dalam hidup baru lewat pembaptisan, marilah kita terus mengusahakan perubahan batiniah yang membawa kita ke dalam hidup Allah.

DOA: Allah Yang Mahamurah, bentuklah kami selalu menjadi murid-urid Kristus yang baik, sehingga pada hari kedatangan-Nya kembali kelak, kami Gereja-Mu diperkenankan untuk ikut ambil bagian dalam pesta surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 5:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “JANJI LUARBIASA KEPADA MEREKA YANG PERCAYA KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 7-1-17) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 5 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Senin, 4 Januari 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Angela dr Foligno, Fransiskan Sekular

YESUS MENYEMBUHKAN BANYAK - 05ORANGTetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” [1]  Sejak itu Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” [2]

Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan mereka. Lalu tersebarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita berbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan setan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Orang banyak pun berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan. (Mat 4:12-17,23-25) 

Bacaan Pertama: 1 Yoh 3:22-4:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:7-8,10-11

Catatan: [1] Yes 8:23-9:1; [2] Lihat Mat 3:2 

“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 4:17).

Pernahkah anda ingin melarikan diri ketika mendengar kata-kata seperti “dosa” atau “bertobat”? Kata-kata sedemikian dapat membuat kita berpikir tentang membuang kebiasaan-kebiasaan buruk, membuat perubahan-perubahan yang terlalu sulit, atau memberikan kepada kita rasa “tak ada harapan” untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Namun kita pun seharusnya tahu bahwa Yesus datang membawa Kabar Baik, bukan kabar yang melumpuhkan semangat, pada waktu Dia memulai pelayanan-Nya di tengah masyarakat dengan seruan agar orang-orang meninggalkan dosa dan bertobat (Mat 4:17).

Kerajaan Allah memang sudah dekat, dan Yesus tidak mau kalau kita tidak mengetahui dan menyadari kenyataan tersebut. Yesus mendesak orang-orang untuk melihat hati mereka masing-masing dan mengidentifikasi cara-cara bagaimana mereka telah menyimpang dari jalan Allah atau telah meninggalkan rencana Allah, sehingga dengan demikian mereka dapat berbalik kepada Allah dalam pertobatan dan kemudian menerima pengampunan-Nya dan berkat-berkat lain yang disediakan Allah bagi dirinya.

Pada saat matahari terbit setiap pagi, sinarnya mencerahkan baik keindahan maupun keburukan dunia. Yesus adalah terang dari Allah sendiri. Dia juga mengungkapkan keindahan dan hal-hal yang tidak begitu indah dalam kehidupan kita. Dalam kehadiran-Nya, kita melihat dosa kita apa adanya – artinya penolakan terhadap Allah dan kasih-Nya, penolakan penuh kepentingan diri sendiri untuk mengasihi orang lain. Selagi Yesus membawakan kepada kita wawasan terhadap sifat dosa, Dia pun membawa kepada kita suatu hasrat untuk memperoleh kebebasan, kemurnian, dan hubungan yang diperbaharui dengan Bapa-Nya di surga.

Familiaritas dari dosa-dosa kita dapat menipu kita untuk berpikir bahwa tidak bergunalah bagi kita untuk bertobat, karena kita sungguh tidak dapat diubah. Siapakah yang akan memilih hidup di bawah perbudakan dosa, padahal Yesus telah membuat kebebasan sebagai sebagai suatu kemungkinan yang sangat riil bagi kita? Adalah kebenaran bahwa tanpa Yesus, dosa akan begitu kuat dan sulit untuk dikalahkan. Yesus telah datang dengan segala kuat-kuasa ilahi untuk menghancurkan kekuasaan dosa dalam hidup kita – suatu kuat-kuasa yang telah ditunjukkan-Nya lewat penyembuhan- penyembuhan orang sakit (Mat 4:23-24).

Pertobatan bukanlah peristiwa sekali seumur hidup. Setiap hari Roh Kudus “mengusik” hati nurani kita guna menyadarkan kita dan menarik kita kepada hidup dengan Kristus yang lebih mendalam lagi. Roh Kudus ingin membentuk cara-cara sehari-hari kita berpikir dan memberi tanggapan terhadap orang-orang di sekeliling kita. Roh Kudus mengenal kita lebih daripada kita mengenal diri kita sendiri, dan Ia dapat membentuk karakter Kristus dalam diri kita masing-masing.

Saudari dan Saudara yang terkasih, marilah sekarang kita memperkenankan Dia (Roh Kudus) untuk membersihkan kita dari dosa-dosa kita, menarik kita ke dalam persekutuan dengan Bapa surgawi, dan memimpin kita ke dalam kasih yang diwujudkan dalam perbuatan-perbuatan baik.

DOA: Bapa surgawi, melalui Roh Kudus-Mu nyatakanlah kepadaku di mana aku telah menyimpang dari jalan-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat melakukan pertobatan. Aku sungguh ingin untuk hidup dalam keindahan dari kehadiran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mat 4:12-17,23-25), bacalah tulisan yang berjudul PEMBERITAAN TENTANG KERAJAAN SURGA OLEH YESUS” (bacaan tanggal 4-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 31 Desember 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUKALAH MATA, TELINGA, DAN HATI KITA

BUKALAH MATA, TELINGA, DAN HATI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Senin, 16 Maret 2015) 

stdas0280Setelah dua hari Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Setelah Ia tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu.

Kemudian Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anak laki-lakinya sedang sakit. Ketika ia mendengar bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Kata Yesus kepadanya, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya.” Pegawai istana itu berkata kepada-Nya, “Tuan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya kepada perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar bahwa anaknya hidup. Karena itu, bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka, “Kemarin siang pukul satu  demamnya hilang.” Ayah itupun teringat bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya, “Anakmu hidup.” Lalu ia dan seluruh keluarganya percaya.

Itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea. (Yoh 4:43-54) 

Bacaan Pertama: Yes 65:17-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2-6, 11-13

“Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya” (Yoh 4:48).

Galilea menginginkan tanda dan mukjizat, bukan pertobatan. Ya, Galilea menginginkan sesuatu yang kelihatan spektakuler, bukannya perubahan hati/batin. Orang-orang datang kepada Yesus seringkali karena mereka merasa putus asa atau karena mereka ingin melihat mukjizat. Ini adalah sebuah contoh dari godaan yang sudah berumur berabad-abad, yang lebih menyenangi apa saja yang hebat, yang kelihatan, yang hiruk pikuk, daripada yang bersifat substantif.

Kebutaan hati terasa begitu tolol, namun kita semua bersalah karena hal itu, lagi dan lagi. Kita terasa senang menolak realitas untuk apa saja yang mudah dan terasa menyenangkan. Seorang laki-laki muda untuk sekian lama menderita penyakit batuk-batuk yang kelihatannya serius. Pada akhirnya dia pergi ke dokter. Paru-parunya diperiksa lewat X-ray, dan dia berhadapan dengan realitas yang suram. Dokter berkata: “Kondisi paru-parumu sangat buruk, anda harus dioperasi. Mungkin sangat sakit dan biayanya mahal pula.” Laki-laki muda itu berkata: “Saya takut, lagipula saya tidak mempunyai uang. Adakah cara yang lebih mudah?” Jawab dokter: “Tentu saja ada, saya tunjukkan saja hasil x-ray ini dekat lampu khusus itu dan mengatakan kepada anda bahwa sekarang semuanya baik-baik saja.”

Seringkali satu-satunya jalan yang mudah untuk keluar dari suatu masalah bersifat superfisial dan kita melupakan realitas yang ada di bawahnya. Kita sekali-kali melihat dengan sekejab mata apa-apa saja yang salah dengan diri kita, namun kita tidak menghadapi kenyataan sebenarnya dengan serius. Kita pejamkan mata kita dan melupakannya.

Membuka mata menjelang atau pada halaman terakhir cerita sungguh sudah terlambat. Dari pesawat terbang kecil yang sedang dikemudikannya, seorang pilot memberi pesan radio kepada menara kontrol di daratan: “Saya kehabisan bahan bakar di atas laut, empat ratus mil dari pantai. Apa yang harus kulakukan? Ini urgent!” Si pilot itu tidak lama kemudian menerima jawaban dari menara kontrol: “Berikut ini adalah instruksi-instruksi untuk anda … Harap anda ulangi apa yang saya katakan, ‘O Allahku, saya menyesal atas segala dosaku …’”

Apakah sungguh perlu bagi kita untuk begitu lama menunda-nunda sebelum melakukan sesuatu untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan kita? Apakah yang kita lakukan dengan berbagai kesempatan yang diberikan Allah kepada kita?

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahabaik, bukalah kedua mataku sehingga aku dapat melihat dan hidup. Bukalah kedua telingaku sehingga aku dapat mendengar dan belajar. Bukalah hatiku sehingga aku sungguh dapat mendengarkan sabda-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 65:17-21), bacalah tulisan yang berjudul “LANGIT DAN BUMI YANG BARU” (bacaan tanggal 16-3-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Cilandak, 11 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA DENGAN SATU KEPUTUSAN

HANYA DENGAN SATU KEPUTUSAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Senin, 12 Januari 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dr Corleone, Biarawan Kapusin 

KEMURIDAN - YESUS MEMILIH KAKAK-BERADIK ANAK ZEBEDEUSSesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, Ia melihat Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia. (Mrk 1:14-20) 

Bacaan Pertama: Ibr 1:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,6-7,9

Simon dan Andreas, orang-orang biasa, pekerja-pekerja keras, yang mencari nafkah mereka dengan melakukan pekerjaan yang mereka ketahui dari hari ke hari, sebagai nelayan di danau Galilea. Yakobus dan Yohanes: anak-anak lelaki dari Pak Zebedeus bekerja dengan ayah mereka dan para pekerja yang lain dalam bisnis keluarga mereka (juga dalam bidang penangkapan ikan). Mereka ini sama saja seperti kita yang pergi ke kantor setiap hari kerja, atau membantu orangtua kita bekerja di warung setiap hari. Semua sibuk dengan rutinitas – sampai suatu saat Yesus datang dan bertemu dengan mereka. Lalu, peristiwa yang luarbiasa terjadilah.

Renungkanlah undangan luarbiasa dari Yesus kepada orang-orang ini: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mrk 1:17). Luarbiasa juga kiranya tanggapan mereka yang diundang oleh Yesus itu. Markus mencatat: “Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikut Dia” (Mrk 1:18). Ada dua momen yang menentukan dalam hal ini – momen undangan dan momen pengambilan keputusan oleh mereka yang diundang; dua-duanya ada dalam gambaran Injil hari ini. Pertama-tama kita melihat Yesus mengundang empat orang itu untuk meninggalkan kehidupan lama mereka, kehidupan yang familiar dan “aman” dan “nyaman”, dan memulai kehidupan baru dalam persekutuan dengan diri-Nya. Lalu kita melihat keempat-empatnya menanggapi panggilan-Nya dengan sangat cepat. Pokoknya mereka bersedia meninggalkan comfort zone mereka, demi mengikut Yesus. Hanya dengan satu keputusan, hidup mereka tidak akan sama lagi. Mereka meninggalkan perahu mereka, lalu mereka pun menjadi murid-murid Yesus, orang-orang pertama dari tak terbilang banyaknya orang yang sejak saat itu menerima undangan yang sama dan kemudian mengikut Dia.

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MURID-MURIDNYA YANG PERTAMAUntuk menanggapi undangan Yesus, dituntut iman dari orang yang diundang. Para murid yang pertama tentunya telah melihat sesuatu tentang Yesus yang secara unik mendesak, sesuatu yang sepenuhnya dapat dipercaya, sehingga mereka pun berani mengambil risiko. Dalam mempertimbangkan usulan financing sebuah proyek (misalnya pendirian sebuah pabrik) yang mengandung berbagai macam risiko, biasanya pihak bank akan menganalisis feasibility study yang diajukan pemohon, menimbang-nimbang kemungkinan keberhasilan proyek tersebut dlsb., kemudian menetapkan syarat-syarat pinjaman. Namun Simon Petrus dan Andreas, Yakobus dan Yohanes memutuskan untuk mengikut Yesus tanpa sedikit pun rasa ragu, apalagi menetapkan syarat-syarat. Kepercayaan mereka pada Yesus memampukan mereka untuk menjadi “dapat diajar” oleh Yesus. Iman mereka kepada-Nya memperkenankan Yesus mentransformasikan hidup mereka.

Sekarang, apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Yesus dapat bekerja dalam diri kita masing-masing sama kuatnya seperti Dia telah bekerja dalam murid-murid-Nya yang pertama? Yesus juga mempunyai undangan bagi anda dan saya. Dia ingin mentransformasikan kita dan menggunakan kita, hanya apabila kita memberikan kesempatan kepada-Nya. Maka, pada hari ini, marilah kita memperkenankan Yesus menyatakan diri-Nya kepada kita masing-masing, berbicara kepada kita masing-masing, dan mengubah hati kita masing-masing. Demi Yesus, kita pantas mengambil risiko. Dengan menerima Yesus ke dalam hati kita masing-masing, maka hidup kita – anda dan saya – tidak akan sama lagi.

DOA: Di sini aku, ya Tuhan Yesus. Aku ingin menjadi murid-Mu yang sejati. Cabut dan buanglah rasa takut dan rasa ragu yang masih ada dalam diriku, dan berikan aku iman agar mampu mengikuti panggilan-Mu dengan sepenuh hati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:14-20), bacalah tulisan yang  berjudul “DARI PENJALA IKAN MENJADI PENJALA MANUSIA” (bacaan tanggal 12-1-15), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama ini (Ibr 1:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “AWAL DARI SEPUCUK SURAT” (bacaan tanggal 14-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 6 Januari 2015 [Peringatan B. Didakus Yosef dr Sadiz, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMILIH UNTUK PERCAYA KEPADA ALLAH

MEMILIH UNTUK PERCAYA KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Senin, 11 Maret 2013)

RABI DARI NAZARET - 1Setelah dua hari Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Setelah Ia tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu.

Kemudian Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anak laki-lakinya sedang sakit. Ketika ia mendengar bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Kata Yesus kepadanya, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya.” Pegawai istana itu berkata kepada-Nya, “Tuan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya kepada perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar bahwa anaknya hidup. Karena itu, bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka, “Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.” Ayah itupun teringat bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya, “Anakmu hidup.” Lalu ia dan seluruh keluarganya percaya.

Itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea. (Yoh 4:43-54)

Bacaan Pertama: Yes 65:17-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2-6, 11-13

Pegawai istana dari Kapernaum menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Siapakah Yesus ini sebenarnya? Apakah mungkin Dia yang hanya seorang tukang kayu dari Nazaret menjadi sang Mesias? Kalau memang begitu, apakah Dia memiliki kuasa ilahi untuk menyembuhkan? Orang ini memilih untuk percaya kepada Yesus, dan kebutuhannya mendorong dirinya untuk melakukan perjalanan sepanjang 32 km ke Kana dan memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anak laki-lakinya. Dengan cukup mengagetkan, Yesus menegur dia, kata-Nya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya” (Yoh 4:48). Melalui pernyataan yang keras ini (yang ditujukan kepada orang-orang yang ada di sekeliling-Nya dan juga pegawai istana itu), Yesus sebenarnya memanggil orang-orang itu kepada iman yang adalah “dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1).

Krisis-krisis menuntut keputusan-keputusan yang menunjukkan apakah kita mempunyai iman ini. Percayakah kita kepada janji-janji Allah, kuat-kuasa-Nya, dan kasih-Nya? Percayakah kita bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm 8:28)? Atau, apakah kita mengandalkan diri pada inteligensia manusia, perspektif kita yang terbatas, dan kemampuan kita yang kecil untuk memanipulasi peristiwa-peristiwa? Jika kita memilih untuk percaya kepada Allah, maka kita membuka diri kita bagi damai-sejahtera-Nya, bahkan di dalam keadaan yang paling membingungkan dan sungguh mengganggu. Apabila kita mengandalkan diri kita hanya pada pemikiran manusia, maka kita mengambil risiko kegagalan dan sejalan dengan itu, kehilangan semangat, keputusasaan, frustrasi dan ketakutan.

YESUS  DENGAN OFFICIAL YANG ANAKNYA SAKITKetika iman kita ditantang, maka banyak dari kita akan menggemakan apa yang dikatakan oleh Tomas, “Sebelum aku melihat ……, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh 20:25). Yesus mengetahui kecenderungan kita untuk tidak percaya dan mengandalkan diri sendiri. Itulah sebabnya mengapa Dia mati untuk kita. Jika kita mengakui ketidakpercayaan kita kepada-Nya dan mohon pertolongan-Nya, maka Dia akan memberdayakan kita dengan karunia iman. Lalu, selagi kita bertumbuh semakin dekat kepada-Nya melalui sakramen-sakramen, doa dan Kitab Suci, maka kita akan mengembangkan rasa percaya seperti anak kecil. Janji-janji-Nya akan pembenaran, pengampunan, rekonsiliasi dengan sesama, dan persatuan abadi dengan Allah akan menjadi hidup bagi kita.

Selagi kita mengakui kerapuhan upaya manusia tanpa bantuan dalam mengatasi godaan-godaan dan pola-pola dosa, kita belajar untuk menggantungkan diri pada janji-janji Allah yang dipenuhi melalui Kristus. Kita menemukan, seperti juga Abraham ketika diminta untuk mengorbankan anak laki-lakinya, bahwa Allah akan memberi (Kej 22:1-18). Karena apa pun yang terjadi, Allah senantiasa pantas untuk dipercayai oleh kita semua.

DOA: Bapa surgawi, Engkau menyediakan segalanya bagiku dan juga pelindungku yang sejati. Engkau menyerahkan Putera-Mu terkasih bagi diriku sehingga semua janji-Mu akan menjadi suatu realitas dalam kehidupanku. Aku mengasihi-Mu, ya Allahku, dan aku mempercayakan hidupku kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 65:17-21), bacalah tulisan yang berjudul “SESUNGGUHNYA AKU MENCIPTAKAN LANGIT DAN BUMI YANG BARU” (bacaan tanggal 11-3-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2013.
Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 4:43-54), bacalah tulisan yang berjudul “PERGILAH, ANAKMU HIDUP !” (bacaan tanggal 4-4-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 3 Maret 2013 [HARI MINGGU PRAPASKAH III]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS