Posts tagged ‘HARI BIASA PEKAN BIASA XII’

SEPATAH KATA SAJA

SEPATAH KATA SAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Sabtu,30 Juni 2018)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Raimundus Lullus, Martir – OFS

Hari Sabtu Imam

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Pada saat itu juga sembuhlah hambanya. 

Setibanya di rumah Petrus, Yesus melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangun dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan semua orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Mat 8:5-17) 

Bacaan Pertama: Rat 2:2,10-14,18-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 74:1-7,20-21

Kedua bagian dalam bacaan Injil hari ini merupakan cerita-cerita indah sangat relevan dalam proses pematangan iman-kepercayaan kita masing-masing. Yang pertama adalah tentang iman mengagumkan dari seorang perwira (centurion) non-Yahudi yang dipuji oleh Yesus (Mat 8:5-13). Yang kedua adalah tentang penyembuhan ibu mertua Petrus yang sakit demam dan tentang pelayanan Yesus kepada orang banyak (Mat 8:14-17). Saya akan menyoroti bagian pertama, yaitu yang menyangkut sang perwira dan imannya.

Peristiwa yang menyangkut sang perwira itu menunjuk kepada pertobatan kaum non-Yahudi (baca: kafir) di masa setelah Yesus naik ke surga. Yesus dengan jelas mengungkapkan betapa dirinya terkesan sekali dengan iman sang perwira. Bahkan sebelum sang perwira membuktikan imannya, Yesus menunjukkan bahwa Dia bersedia untuk datang dan menyembuhkan hamba sang perwira. Yesus memiliki belarasa terhadap semua orang, apakah mereka Yahudi atau non-Yahudi. Sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah kebaikan hati kita, kesiap-sediaan kita untuk menolong orang lain juga tidak dipengaruhi oleh berbagai prasangka dan praduga, seperti halnya dengan Yesus?” “Atau, apakah kita mempunyai daftar nama-nama dari mereka yang menurut kita tidak pantas untuk kita kasihi?”

Iman sang perwira tidak terbatas, tanpa syarat. Ia berkata, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8). Perwira ini percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkan dari jarak jauh, tanpa harus mengunjungi hambanya di rumah miliknya atau kontak pribadi yang bagaimana pun juga. Ini adalah inti pokok dari cerita Injil hari ini. Di sini ditunjukkan  bahwa sang perwira percaya bahwa Yesus memiliki kuat-kuasa ilahi atas segenap alam ciptaan.

Bacaan Injil di atas menunjukkan bahwa Yesus takjub pada iman-kepercayaan sang perwira. Yesus menggunakan peristiwa itu untuk memberi pengajaran kepada orang banyak. Pertama-tama Yesus mengatakan  bahwa sang perwira memiliki iman-kepercayaan yang lebih besar daripada yang selama itu dijumpai-Nya di kalangan orang-orang Yahudi, yaitu umat pilihan Allah sendiri (lihat Mat 8:11). Kedua, apabila anak-anak pilihan dari Abraham tidak mengambil langkah awal untuk percaya, maka Kerajaan-Nya akan diambil dari mereka untuk diberikan kepada orang-orang non-Yahudi (baca: kafir) seperti sang perwira.

Kita adalah umat Kristiani. Kita telah dipilih untuk menerima sang Sabda, untuk menerima karunia iman dan kasih. Kita adalah warga umat Allah. Kalau begitu, mengapa kita tidak merupakan saksi-saksi Kristus (dan Kabar Baik-Nya) yang lebih baik? Mengapa orang-orang yang tidak percaya tidak menunjuk kepada kita dan berkata: “Ada yang istimewa tentang orang-orang Kristiani itu, marilah kita melihatnya?” (pelajarilah Kis 2:41-47; 4:32-35). Sekadar menjadi anggota Gereja dan rajin menghadiri Misa Kudus pada hari Minggu bukanlah jaminan atas iman kita, bukan juga jaminan atas keanggotaan kita dalam Kerajaan-Nya. Seseorang – sederhana dan tidak mempunyai latar-belakang pendidikan hebat-hebat – yang baru saja masuk menjadi anggota Gereja, sungguh dapat membuat diri kita malu karena melihat iman orang itu yang murni tanpa syarat apapun.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau menanggung segala sakit-penyakitku, memikul segala penderitaanku. Engkau adalah andalanku, ya Yesus. Sembuhkanlah dan kuatkanlah imanku yang lemah ini. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-17), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN BESAR YANG DIMILIKI SANG PERWIRA” (bacaan tanggal 30-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 28 Juni 2018 [Peringatan S. Ireneus, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA YESUS TANPA RESERVE

MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA YESUS TANPA RESERVE

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ireneus, Uskup & Martir – Kamis, 28 Juni 2018)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan  berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29) 

Bacaan Pertama: 2Raj 24:8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 79:1-5,8-9

Yesus mengakhiri “Khotbah di Bukit”-Nya dengan memberi petuah-petuah kepada para pendengar-Nya agar mereka mencari fondasi yang layak untuk membangun kehidupan mereka. Yesus mengilustrasikan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan-pilihan baik atau buruk dengan menceritakan sebuah perumpamaan tentang dua orang yang masing-masing mendirikan rumah. Orang yang bodoh membangun rumahnya di atas pasir, sedangkan yang bijaksana mendirikan rumahnya di atas batu. Pada waktu hujan lebat turun dan datang lah banjir, dengan mudah kita dapat mengira-ngira rumah mana yang survive, yang mampu tetap berdiri, dan rumah mana yang runtuh berkeping-keping. Pesan Yesus jelas: Apabila kamu mendirikan kehidupanmu di atas suatu fondasi berupa asap atau udara, maka bangunanmu akan runtuh.

Yesus sendiri adalah kekal, Sabda Allah yang hidup (Yoh 1:1). Ia adalah sang Sabda yang telah diucapkan oleh Allah sejak awal waktu. Dia adalah “gunung batu yang kekal” (Yes 26:4). Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (1Kor 3:10-11). Setiap hal yang ilahi, dan setiap hal yang dihasrati Allah, menjadi masuk akal dalam terang Yesus dan kasih-Nya. Oleh karena itu, apabila kita ingin mengetahui bagaimana caranya membangun kehidupan kita, maka kita tidak dapat melakukannya secara lebih baik selain mengambil waktu bersama Yesus dan menjadi mengenal Dia secara intim.

Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk menyediakan waktu yang teratur setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda Allah di dalam Kitab Suci – teristimewa kitab-kitab Injil yang adalah “jantung hati” segenap Kitab Suci (lihat “Katekismus Gereja Katolik, 125). Di dalam kitab-kitab Injil ini kita berjumpa dengan Yesus, “sang Sabda yang menjadi daging” (Yoh 1:14). Dalam kitab-kitab Injil inilah Yesus dapat berbicara secara paling langsung kepada hati kita. Dibimbing oleh Roh Kudus selagi kita membaca Kitab Suci, teristimewa kitab-kitab Injil, kurun waktu berabad-abad yang memisahkan kita dengan Yesus dari Nazaret seakan dikompres sampai kita bertemu dengan-Nya secara muka ketemu muka dalam suasana doa.

Kitab Suci jauh lebih luas daripada sekadar kumpulan potongan-potongan informasi. Kitab Suci tidak hanya mengajar kehendak Allah, melainkan juga memberdayakan kita untuk mengikuti jejak Yesus Kristus. Dalam mengikuti jejak-Nya kita akan mengenal dan mengalami kebahagiaan sejati dan pemenuhan hasrat-hasrat kita yang terdalam. Dengan mengenal Yesus secara pribadi dan menyerupakan kehidupan kita dengan kehendak-Nya, kita menjadi seperti orang yang bijaksana yang membangun suatu fondasi yang kokoh. Apapun yang menghalangi jalan kita kita, fondasi ini cukup kuat untuk menangani segala halangan yang menghadang kita. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada Yesus, tanpa reserve. 

DOA: Yesus, Putera Bapa, nyatakanlah diri-Mu kepadaku melalui sabda-Mu. Aku ingin mengenal-Mu dan mengasihi-Mu lebih lagi agar dengan demikian aku dapat membangun kehidupanku di atas fondasi kokoh, yang adalah Engkau sendiri. Aku menaruh kepercayaan kepada-Mu tanpa reserve, ya Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21-29), bacalah tulisan yang berjudul “MELAKUKAN KEHENDAK BAPA SURGAWI” (bacaan tanggal 28-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 26 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SETIAP POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK

SETIAP POHON YANG BAIK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Rabu, 27 Juni 2018)

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat 7:15-20) 

Bacaan Pertama: 2Raj 22:8-13;23:1-3; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:33-37,40

Siapa sih yang tidak ingin mampu memberikan segalanya kepada Allah sebagai tanda terima kasih penuh syukur untuk segala hal yang dilakukan-Nya bagi kita? Akan tetapi, apabila kita memeriksa hidup kita, kita temukan dalam diri kita kelemahan-kelemahan karakter, pola-pola dosa, ketidakmampuan untuk mengasihi seperti Tuhan mengasihi. Bilamana kita membaca kata-kata dalam Kitab Suci seperti ini,  “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16), maka mudah bagi kita untuk menjadi ciut-hati atau  berketetapan hati untuk mencoba lebih keras lagi guna menjadi seorang pribadi yang lebih baik. Akan tetapi, kedua pendekatan itu tidak membantu.

Yesus menawarkan sebuah jalan yang lebih baik ketika Dia berkata: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”  (Yoh 15:5). Hidup yang penuh kasih dan penuh kemurahan hati tidak datang sekadar dari upaya untuk mencoba lebih keras lagi namun mengalir dari relasi kita dengan Yesus dan keterbukaan kita terhadap karya Roh Kudus. Kita menghasilkan buah ilahi, artinya kita mencerminkan karakter Allah apabila kita bertumpu pada fondasi yang adalah Putera-Nya, Yesus Kristus. Kita menghasilkan buah Roh (Gal 5:22,23) jika kita memberikan ruangan untuk Roh Kudus membangun hidup-Nya dalam diri kita.

Kita tidak dapat membereskan kelemahan-kelemahan kita atau menghasilkan buah-buah kehidupan Allah berdasarkan kekuatan kita sendiri. Apabila kita melihat kelemahan-kelemahan dalam diri kita, maka pertama-tama baiklah kita pergi menghadap Tuhan yang tinggal dalam kita melalui pembaptisan dan memohon kepada-Nya agar kita berakar lebih dalam lagi dalam Dia. Hanya Dia yang berurusan dengan segala dosa dan kelemahan dengan mencurahkan darah-Nya dapat berurusan dengan dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita. Hanya salib Kristus yang dapat menjadi senjata ampuh untuk mengatasi kegelapan hati kita. Tentu kita harus taat kepada Allah dan mengatakan “tidak” kepada kecenderungan kita untuk berdosa. Kita harus senantiasa melawan berbagai dorongan batiniah yang bersifat negatif, namun kita harus belajar melakukan perlawanan ini dengan kuasa Allah, bukannya dengan menggunakan kekuatan sendiri.

Oleh karena itu, pada awal setiap hari, marilah kita menguduskan hidup kita kepada Allah, menyetujui pekerjaan-Nya dalam diri kita. Jika kita memperkenankan hidup Allah mengalir di dalam dan melalui diri kita, maka sikap-sikap dan tindakan-tindakan kita akan diarahkan kepada jalan yang benar. Lalu, melalui sutu persatuan yang intim dengan Tuhan, kita akan menghasilkan buah sesuai dengan panggilan-Nya kepada kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku datang kepada-Mu dengan tangan hampa dan penuh kerinduan untuk menerima hidup-Mu sendiri. Aku percaya bahwa Engkau ingin menjadi “pokok anggur” bagi diriku, memegang aku erat-erat, memberi asupan makanan kepadaku, memampukan aku untuk berbuah. Aku ingin berdiam dalam Engkau, karena Aku tahu tanpa Engkau aku tidak dapat berbuat apa-apa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “MENGHASILKAN BUAH-BUAH YANG BAIK” (bacaan tanggal 27-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 23 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH

MANUSIA MENDAMBAKAN UNTUK DIPERLAKUKAN DENGAN PENUH KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Selasa, 26 Juni 2018)

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: 2Raj 19:9b-11,14-21,31-35a,36; Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-4,10-11

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). Ayat ini dalam dunia manajemen dikenal sebagai THE GOLDEN RULE (bdk. Tob 4:15). Memang itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi, yang digenapi oleh Yesus Kristus lewat ajaran-Nya dan kehidupan-Nya sendiri.

Sekarang, siapakah dari kita yang tidak ingin diperlakukan dengan penuh kasih? Kita semua mendambakannya, teristimewa apabila perlakuan penuh kasih itu adalah dari Allah sendiri. Janji akan hidup dalam Roh adalah, apabila kita menghargai kasih Allah – menjaga saat-saat doa dan pembacaan Kitab Suci serta melakukan yang terbaik untuk mengikuti dorongan-dorongan Roh Kudus – maka Dia akan memberdayakan kita untuk melakukan hal-hal yang bahkan tidak mungkin dilakukan secara “normal”. Dengan demikian “pintu yang sempit” dan “jalan yang sesak” menjadi manageable, dan kita pun akan bergembira menghayati suatu kehidupan yang pada faktanya melawan gelombang dunia. Sepanjang zaman, menjadi murid Kristus adalah menjadi “tanda lawan”, yang tidak ikut-ikutan dengan “dunia”.

Apabila kita ingin mampu memperlakukan orang-orang lain dengan kasih sebagaimana kita sendiri dambakan, maka pertama-tama kita harus mengalami belas kasih Allah dan bela rasa-Nya. Kita perlu sekali mengetahui dan mengenal kasih-Nya yang intim bagi kita masing-masing, yaitu bahwa Dia adalah seorang Bapa penuh kasih, yang sungguh berbahagia untuk menyambut kita apabila kita datang menghadap hadirat-Nya. Selagi kita datang kepada-Nya, kita pun akan mengalami kasih-Nya yang dicurahkan oleh-Nya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus-Nya. Pengalaman seperti inilah yang akan memberdayakan kita untuk mengasihi orang-orang di sekeliling kita.

Selagi kita berjalan dengan kasih Allah, maka kasih-Nya itu akan mengalir deras melalui diri kita kepada orang-orang lain. Semakin kita mengenal dan menghargai kasih-Nya, semakin besar pula dorongan yang kita rasakan untuk berbagi kasih-Nya itu dengan siapa saja yang kita temui. Kita akan digerakkan oleh Roh Kudus untuk melakukan tindakan-tindakan kebaikan. Tindakan-tindakan itu tidak perlu mengambil rupa tindakan-tindakan yang spektakular, misalnya “tindakan-tindakan kecil” seperti menjaga dan memelihara seorang anak tetangga, yang ibunya sedang sakit, atau berdoa dengan seorang teman yang kesepian dan baru saja disakiti hatinya; akan tetapi kita harus mencari Tuhan dengan segenap hati kita sehingga Dia dapat menggerakkan kita untuk mengasihi orang lain.

Oleh karena itu, marilah kita mengasihi Tuhan Allah. Baiklah kita berhati-hati untuk tidak melakukan apa saja yang dapat membuat sedih Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita. Dengan pertolongan-Nya, kita dapat melakukan hal-hal yang sebelumnya kita pikir tidak mungkin dapat kita lakukan. “Jalan yang sempit” akan menjadi semakin menarik bagi kita, dan kita semakin mempunyai kerinduan untuk melakukan hal-hal yang akan menyenangkan Allah. Marilah sekarang kita memuji-muji Allah untuk semua cara berbeda-beda yang digunakan-Nya untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Sementara kita semakin dekat kepada Allah dan memperkenankan-Nya menyatakan hati-Nya kepada kita, kita akan menyadari betapa penuh sukacita kita dalam mengikuti jalan kasih-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang Kaucurahkan ke dalam hati kami masing-masing. Oleh Roh Kudus-Mu ajarlah kami untuk mengikuti jejak Kristus lewat pintu yang sempit dan jalan yang penuh sesak. Penuhilah diri kami masing-masing dengan kasih-Mu sehingga, sebagai murid-murid Kristus yang setia, kami dapat menyalurkan kasih-Mu itu secara berlimpah kepada orang-orang di sekeliling kami. Jagalah diri kami agar selalu menyenangkan-Mu, ya Allah kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “PINTU YANG SEMPIT DAN JALAN YANG SESAK” (bacaan tanggal 26-6-18 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 23 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KITA MENGHAKIMI ORANG LAIN

JANGANLAH KITA MENGHAKIMI ORANG LAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan Biasa XII – Senin, 25 Juni 2018)

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Mat 7:1-5) 

Bacaan Pertama: 2Raj 17:5-8,13-15a,18; Mazmur Tanggapan: Mzm 60:3-5,12-13

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” (Mat 7:1)

Ada baiknya untuk bertanya mengapa sulit sekali bagi manusia untuk menghindar dari tindakan menuduh dan menghakimi orang-orang lain.  Sebagian dari jawabannya yang bersifat signifikan terletak pada kenyataan yang menyedihkan namun tak terelakkan, yaitu bahwa kita manusia telah ternodai oleh dosa. Bahkan dalam situasi-situasi yang terbaik pun, kita masing-masing telah menyebabkan orang lain menjadi terluka – dan kita sendiri pun telah dilukai oleh orang-orang lain. Pikirkanlah para anggota keluarga yang saling membenci satu sama lain, atau anak-anak yang pernah sedemikian dicemoohkan oleh saudari-saudara mereka sendiri. Di atas ini semua marilah kita tambahkan kecenderungan kita untuk menyalahkan orang-orang lain, padahal kita sendirilah yang bersalah.

Dengan demikian, apakah yang dapat kita lakukan? Memang benar kita adalah manusia yang memiliki kecenderungan untuk berdosa, namun kita adalah juga anak-anak Allah. Darah Kristus mengalir di dalam hati kita, hal mana membuat kita semua menjadi anggota-anggota satu keluarga. Rahmat-Nya memiliki cukup kuat-kuasa untuk mengubah, bahkan hati-hati yang paling keras sekali pun.

Adalah suatu momen ilahi bilamana kita menolak untuk menghakimi orang-orang lain dan memilih untuk mengasihi mereka. Dari hari ke hari Yesus mengetuk pintu hati kita, dengan sabar Ia menantikan kita mempersilahkan-Nya masuk ke dalam hati kita. Yesus telah mengampuni setiap dosa dalam kehidupan kita – dosa di masa lampau, sekarang dan di masa depan. Ia tidak menghukum kita. Sebaliknya, Dia memberikan kuasa kepada kita untuk mengatasi kelemahan-kelemahan kita. Selagi kita menikmati kerahiman dan rahmat-Nya, kita memperkenankan Dia untuk membentuk personalitas-Nya sendiri dalam diri kita. Pembentukan personalitas-Nya itu menggerakkan kita untuk memohon kepada Roh Kudus agar menunjukkan kepada kita area-area penolakan, kemarahan, dan penghakiman terhadap orang-orang  lain, sehingga kita dapat menjadi sungguh bebas-merdeka.

Banyak dari kita mengalami luka-luka batin mendalam yang menyebabkan kita menjauhkan diri dari orang-orang lain dan menghakimi mereka, bukannya mengasihi mereka. Akan tetapi Allah ingin mencuci-bersih dan membuang dari diri kita segala luka dan kekerasan-kepala kita. Allah tidak ingin melihat apa saja yang menghalangi panggilan-Nya agar kita berbagi kasih-Nya dengan setiap orang yang kita jumpai. Oleh karena itu, marilah kita  menyerahkan Kepada Tuhan memori-memori luka lama kita dan juga kebiasaan untuk menghakimi orang-orang lain. Dengan demikian, kita pun dapat merasa yakin bahwa Roh Kudus-Nya akan menyembuhkan kita dan mengajar kita untuk mengasihi.

DOA: Tuhan Yesus, dengan ini aku menaruh pada kaki-kaki-Mu nama semua orang yang telah menyakiti hatiku. Engkau mengenal mereka masing-masing dan mengetahui juga setiap peristiwa yang menyangkut kami. Basuhlah aku dalam kasih-Mu sehingga aku pun dapat mengampuni mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “JANGAN KAMU MENGHAKIMI, ……” (bacaan tanggal 25-6-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 22 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS