Posts tagged ‘HARI BIASA PEKAN BIASA XVII’

YOHANES PEMBAPTIS SETIA TERHADAP PANGGILAN ALLAH KEPADANYA

YOHANES PEMBAPTIS SETIA TERHADAP PANGGILAN ALLAH KEPADANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Sabtu, 3 Agustus 2019)

HARI SABTU IMAM

Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya, “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Memang Herodes  telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya. Karena Yohanes berkali-kali menegurnya, katanya, “Tidak boleh engkau mengambil Herodias!” Walaupun Herodes ingin membunuhnya, ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyenangkan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata, “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah piring.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala itu pun dibawa orang di sebuah piring besar, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. (Mat 14:1-12) 

Bacaan Pertama: Im 25:1,8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,7-8

Ketika Herodes Antipas mendengar laporan-laporan mengenai Yesus, ia pun menjadi yakin bahwa Dia sesungguhnya adalah Yohanes Pembaptis – yang telah dipenggal kepalanya atas dasar perintahnya – yang kembali dari alam maut. Di sini kita lihat betapa dalamnya kesan yang diberikan oleh kehidupan Yohanes Pembaptis, ajaran-ajarannya, dan karya-karyanya atas diri Herodes. Bahkan sebelum kelahiran Yohanes Pembaptis, seorang malaikat telah menampakkan diri kepada bapanya, Zakharia, dan mengatakan kepadanya akan dipenuhi dengan Roh Kudus dan “ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka” (Luk 1:16).

Pada saat kelahiran Yohanes Pembaptis, dengan segala latar belakang kehamilan ibunya yang sudah tua dan penuh misteri, banyak orang bertanya-tanya dalam hati: “Menjadi apakah anak ini nanti?” (Luk 1:66). Dengan segala tanda seperti penampakan malaikat Tuhan, dikandungnya secara ajaib, doa profetis sang ayah (lihat Benedictus; Luk 1:68-79), tentunya mereka mempunyai ekspektasi akan hal-hal besar dari diri Yohanes Pembaptis ini. Kita dapat membayangkan banyak orang di tempat keluarga Zakharia dan Elizabet tinggal (Ain Karim) merasa sedikit kecewa dan menggeleng-gelengkan kepala mereka sambil menggerutu, ketika Yohanes yang sudah dewasa malah pergi ke padang gurun dan hidup sebagai seorang pertapa. Reaksi yang tidak jauh berbeda dapat saja terjadi dalam situasi serupa pada zaman modern ini.

Namuuuuun, Yohanes bersikap dan berperilaku benar dan setia terhadap panggilan Allah kepadanya ketika dia pergi ke padang gurun untuk belajar mendengar suara Allah. Justru di padang gurunlah Yohanes Pembaptis dibuat sadar bahwa dirinya akan menjadi “sahabat mempelai laki-laki” (Yoh 3:29), yang akan meratakan jalan bagi sang Mesias. Yohanes Pembaptis mengabdikan seluruh hidupnya untuk satu tujuan ini. Dalam ketaatan yang penuh kasih, dia menyerahkan hidupnya kepada kehendak Allah, dengan demikian ia menjadi seorang saksi yang terang bercahaya terhadap kebesaran yang melampaui semua itu dari Dia yang datang setelah dirinya.

Seperti Yohanes Pembaptis, kita masing-masing diciptakan untuk suatu tujuan unik. Roh Kudus akan mengajar kita berkaitan dengan misi kita jika kita mencari Allah melalui doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan berbagai ajaran Gereja. Kita dapat seperti Yohanes dan menyerahkan hati kita demi kemajuan Kerajaan Allah. Kita juga dapat menjadi sahabat-sahabat mempelai laki-laki selagi kita berdiri di kaki salib Yesus dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya. Allah akan menunjukkan kepada kita apa misi kita itu jika kita bertanya kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ambillah dan terimalah hidupku sebagai persembahan dariku. Engkau telah memberikan kepadaku kehormatan tertinggi sebagai seorang “anak Allah” dan sahabat-Mu sendiri. Berikanlah kepadaku rahmat agar mau dan mampu mendengar panggilan-Mu dan memberi tanggapan terhadap panggilan itu dengan segenap kekuatan dan segenap hatiku. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “PERISTIWA TRAGIS-MENGERIKAN PADA HARI ULANG TAHUN HERODES” (bacaan tanggal 3-8-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015)

Cilandak, 1 Agustus 2019 [Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup Pujangga Gereja 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KITA MENGUNCI YESUS

JANGANLAH KITA MENGUNCI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Jumat, 2 Agustus 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Maria Ratu para Malaikat, Portiunkula

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi, dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka menolak Dia. Kemudian Yesus berkata  kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Karena mereka tidak percaya, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ. (Mat 13:54-58)  

Bacaan Pertama: Im 23:1,4-11,15-16,27,34-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:3-6,10-11 

Yesus mengajar orang-orang melalui kata-kata dan perbuatan, dan banyak orang mulai mengikuti-Nya. Sejumlah orang memberi tanggapan kepada-Nya secara positif selagi mereka mengalami kasih-Nya dan merangkul kebenaran yang diajarkan-Nya. Di sisi lain ada juga orang-orang yang kemudian meninggalkan diri-Nya karena mereka merasakan ajaran-ajaran-Nya terlalu berat bagi mereka. Inilah yang dihadapi oleh Yesus di tempat asal-Nya.

Nazaret adalah sebuah kota kecil yang terletak cukup jauh dari jalan yang biasanya ramai dilalui orang-orang yang melakukan perjalanan. Di kota kecil seperti itu, orang saling mengenal. Orang-orang Nazaret tergolong miskin dan harus bekerja keras untuk mencari nafkah agar dapat bertahan hidup. Ini adalah tempat di mana Yesus tinggal di masa kecil-Nya dan bertumbuh menjadi dewasa. Ia telah meninggalkan Nazaret untuk memulai karya pelayanan-Nya di depan publik. Ketika Dia kembali, ada dua hal yang terjadi – keduanya telah dinubuatkan dalam Kitab Suci. Ia menunjukkan pengetahuan dan hikmat yang besar … dan Dia ditolak (Yes 11:2; 8:14).

Apa yang sesungguhnya terjadi? Tentunya orang-orang senang bertemu dengan Yesus, karena biar bagaimana pun juga mereka telah mengenal Dia bertahun-tahun lamanya. Mereka barangkali dipenuhi hasrat untuk mendengar Dia berbicara, dan memang pada awalnya mereka takjub mendengar kata-kata yang diucapkan-Nya. Namun, sayangnya ketakjuban mereka tidak mampu membuka hati mereka atau memimpin mereka kepada kepercayaan. Mereka seakan mengunci Yesus ke dalam kerangka pengetahuan dan pengenalan mereka sendiri tentang Dia dan, dengan melakukan hal seperti itu, mereka membatasi apa yang dapat dilakukan oleh-Nya di dalam hati mereka. Teman-teman-Nya dan keluarga-Nya mengenal diri-Nya dengan begitu baik (atau menurut pikiran mereka memang begitu), dan memandang diri-Nya terlalu seperti mereka sendiri sehingga sebenarnya tidak memperkenankan Yesus menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri mereka.

Cobalah renungkan sekarang, betapa  sering kita melakukan hal yang sama; kita mengikat Yesus dengan pengetahuan/pengenalan dan pengalaman kita sendiri yang terbatas. Kita tidak memperkenankan Yesus memimpin kita ke dalam hidup baru untuk mana Dia memanggil kita. Sebaliknya, kita mencoba untuk mencocok-cocokkan (menyesuaikan) diri-Nya dan ajaran-ajaran-Nya ke dalam cara kita percaya. Bukannya kita menyerupakan diri kita dengan diri-Nya, kita malah mencoba untuk membuat diri-Nya menjadi serupa dengan kita. Walaupun demikian, kita tetap dapat mempunyai pengharapan: Bapa surgawi telah memberikan Roh Kudus kepada kita untuk mengajar kita kebenaran tentang siapa Yesus ini (lihat Yoh 15:26) dan memberdayakan serta memampukan kita agar dapat memperluas pandangan kita yang sempit tentang diri-Nya, sehingga dengan demikian hati kita pun akan terbuka lebar bagi sentuhan kasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, ampunilah kami karena membatasi karya-Mu dalam diri kami masing-masing. Ampunilah kami untuk ketidakpedulian kami, prasangka kami, kebutaan kami yang membatasi keterbukaan kami bagi-Mu. Datanglah, ya Roh Kudus, terangilah kegelapan pikiran kami dan ajarlah kami bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:54-58), bacalah tulisan yang berjudul “KECUALI DI TEMPAT ASALNYA  SENDIRI” (bacaan tanggal 2-8-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 31 Juli 2019 [Peringatan S. Ignatius dr Loyola, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEMISAHAN ANTARA MEREKA YANG BERGUNA DAN MEREKA YANG TIDAK BERGUNA

PEMISAHAN ANTARA MEREKA YANG BERGUNA DAN MEREKA YANG TIDAK BERGUNA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup Pujangga Gereja  – Kamis, 1 Agustus 2019)

Kongregasi CSsR [Redemptorist]: HR Pendiri Tarekat

“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53) 

Bacaan Pertama: Kel 40:16-21,34-38; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11

“Perumpamaan tentang jala besar” (Mat 13:47-52) adalah yang terakhir dari serangkaian pengajaran oleh Yesus dengan menggunakan perumpamaan dalam Injil Matius. Perumpamaan ini serupa dengan “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30; lihat penjelasannya dalam Mat 13:36-43).

Dalam perumpamaan ini Kerajaan Surga (Kerajaan Allah) diumpamakan sebagai sebuah jala besar yang penuh berisi dengan segala jenis ikan, ada yang dapat dimakan dan ada yang tidak dapat dimakan. Yang baik – artinya ikan yang dapat dimakan – disimpan. Sisanya, yang tidak baik – artinya yang tidak dapat dimakan – dibuang. Begitu pula halnya dengan Kerajaan Allah di atas bumi, baik dilihat sebagai Gereja secara keseluruhan, atau satu bagiannya yang kecil, misalnya sebuah paroki atau sebuah komunitas Kristiani, mengumpulkan segala jenis orang. Orang-orang itu dikumpulkan sampai datangnya hari penghakiman ketika “yang baik” akan dipisahkan dari “yang jahat” (Mat 13:49; bdk. Mat 25:31-46).

Sebagai individu-individu kita merupakan warga Kerajaan Surga. Kita adalah bagian dari Gereja, sebuah paroki, atau sebuah komunitas Kristiani. Sekarang masalahnya, kita berada di sebelah mana? Apakah kita merupakan anggota-anggota yang berarti, yang berguna? Tidak ada yang “setengah-setengah” dalam hal ini. Jadi, apakah kita merupakan orang-orang Kristiani yang berkomitmen atau orang-orang yang tidak berguna dalam Kerajaan.

Baik “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” maupun “perumpamaan tentang jala besar” dengan cukup jelas mengajar kita bahwa tidak dapat dicapai kedamaian lengkap dalam hidup ini. Yesus mengatakan dengan sangat jelas bahwa kedamaian lengkap hanya mungkin terjadi pada hari penghakiman akhir. Namun Ia bersabda: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”  (Mat 5:9). Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencoba membawa lebih banyak orang kepada suatu komitmen yang sejati kepada Kristus, untuk menjadi anggota-anggota Kerajaan yang berarti.

Apakah kita memahami semua ini? Apabila jawab kita terhadap pertanyaan ini adalah “ya”, maka Yesus berkata bahwa kita akan mampu untuk merekonsiliasikan hal-hal yang lama dengan hal-hal yang baru. Kita akan mampu untuk melihat bahwa dalam Kerajaan Allah segalanya yang memiliki nilai sejati mempunyai tempat, apakah Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, apakah yang tradisional dalam Gereja atau wawasan-wawasan baru. Apakah pikiran dan hati kita terbuka kepada hal-hal yang berarti, entah di mana ditemukannya? Atau, kita cenderung untuk mendiskreditkan apa saja hanya karena hal itu merupakan sesuatu yang baru, atau hanya karena hal itu merupakan sesuatu yang lama/kuno?

DOA: Ya Bapa, Allah Yang Mahapengasih, sampaikanlah kasih-Mu kepada semua anggota Kerajaan-Mu. Bahkan kepada para anggota yang Engkau pandang tidak berguna sekali pun, berikanlah juga kepada mereka rahmat agar dapat berubah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:47-53), bacalah tulisan yang berjudul  “BAGAIMANA HIDUP DALAM KRISTUS SETIAP HARI” (bacaan tanggal 1-8-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015)

Cilandak, 30 Juli 2019 [Peringatan S. Petrus Krisologus, Uskup Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARTA YANG TERPENDAM DAN MUTIARA YANG INDAH

HARTA YANG TERPENDAM DAN MUTIARA YANG INDAH  

Peringatan S. Ignatius dr Loyola, Imam – Rabu, 31 Juli 2019

Serikat Yesus: HR S. Ignatius dr Loyola, Imam Pendiri Tarekat

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46) 

Bacaan Pertama: Kel 34:29-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-7,9

Ada seorang laki-laki yang mempunyai hobi koleksi benda-benda bekas yang bagus (lukisan dll.) dengan harga yang relatif lebih murah. Dia biasanya “berkelana” dari garage sale yang satu ke garage sale lainnya sehingga dikenal sebagai pengunjung tetap acara obral sedemikian. Pada suatu hari orang itu menemukan beberapa butir batu berharga yang bernilai tinggi dan mahal. Orang itu bergembira sedemikian rupa sehingga mengingatkan kita akan orang-orang dalam dua perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini, yaitu tentang “harta yang terpendam di ladang” dan tentang “mutiara yang sangat berharga” (Mat 13:44,46).

Tentu saja dua perumpamaan Yesus ini berbicara melampaui benda-benda berharga yang ada di dunia. Perumpamaan-perumpamaan Yesus ini berbicara mengenai sukacita yang tidak dapat ditekan atau ditahan-tahan karena berhasil menemukan harta yang bernilai tanpa batas. Harta itu adalah Kerajaan Allah yang pada hakekatnya adalah “kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus” (Rm 14:17). Kegembiraan penuh sukacita karena menemukan harta sangat berharga itu adalah sesuatu yang ingin Tuhan berikan kepada kita masing-masing! Sayangnya, banyak umat Kristiani terbaptis tidak mengetahui di mana harta itu dapat ditemukan. Mencari dan mencari, mereka seringkali gagal menemukan, seperti yang diajarkan Yesus sendiri, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:20-21).

Sekarang masalahnya adalah apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa melalui karunia Roh Kudus, kita mempunyai hidup baru dalam Kristus dan suatu sumber kuasa dan rahmat yang ada di kedalaman hati kita? Dalam pembaptisan kita dibuat menjadi “ciptaan baru” (2Kor 5:17). Kita masing-masing menjadi seorang anak angkat Allah (bdk. Gal 4:5-7) dan ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi (2Ptr 1:4), seorang anggota Kristus (bdk. 1Kor 6:15;12:27) dan pewaris bersama-Nya (Rm 8:17), dan kanisah Roh Kudus” (bdk. 1Kor 6:19)(Katekismus Gereja Katolik, 1265). Hal-hal indah ini mungkin saja bertahun-tahun lamanya tertutupi oleh karena kelalaian, kekurangan atau ketiadaan pemahaman, bahkan dapat juga disebabkan kelemahan moral dan dosa. Namun kebenarannya masih tetap ada: Kerajaan Allah ada di dalam diri kita dengan segala kuasa dan keindahannya.

Itulah sebabnya mengapa doa, pertobatan, dan tindakan kasih dan belas kasih (Inggris: mercy) begitu penting. Santo Paulus mengatakan: “… harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor 4:7). Jika kita ingin mengetahui harta yang ada di dalam diri kita, kita harus menyingkirkan segala harta lainnya yang selama ini mengikat dan membatasi gerak-gerik kita. Memang tidak mudah, tetapi kita harus ingat selalu bahwa Allah mengundang kita untuk menemukan sukacita sejati karena kita membuat diri-Nya harta kita yang teramat berharga. “Apabila Yang Mahakuasa menjadi timbunan emasmu, dan kekayaan perakmu, maka sungguh-sungguh engkau akan bersenang-senang karena Yang Mahakuasa, dan akan menengadah kepada Allah”  (Ayb 22:25-26).

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, Engkau jauh lebih berharga daripada emas dan perak. Dalam Engkau-lah ada segala kesenanganku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan yang berjudul “PENEMUAN HARTA TERPENDAM DAN MUTIARA” (bacaan tanggal 31-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGUAN ALKITABIAH JULI 2019 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 28 Juli 2019 [HARI MINGGU BIASA XVII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGAN MENGHAKIMI ORANG LAIN

JANGAN MENGHAKIMI ORANG LAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Selasa, 30 Juli 2019)

Keuskupan Agung Semarang: HR Pemberkatan Katedral Semarang

Peringatan (Fakultatif): S. Petrus Krisologus, Uskup Pujangga Gereja

Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Kel 33:7-11;34:5-9,28; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:6-13

Bacaan Injil hari ini adalah penjelasan Yesus atas “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30). Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Menurut Dr. William Barclay (THE DAILY STUDY BIBLE – The Gospel of Matthew – Volume 2 – Chapters 11-28, Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1975 [Revised Edition], hal. 74), dalam hal pelajaran-pelajaran yang diberikan maka ini adalah salah satu perumpamaan yang paling praktis yang pernah diajarkan oleh Yesus. Berikut ini adalah saduran bebas saya dari pemikiran Dr. William Barclay yang tertuang dalam buku termaksud, hal. 74-75.

  1. Perumpamaan ini mengajar kita bahwa selalu akan ada suatu kekuasaan jahat di dalam dunia, yang berupaya dan menantikan saatnya untuk menghancurkan benih yang baik. Dari pengalaman dapat dilihat adanya dua jenis pengaruh yang bekerja dalam kehidupan kita. Yang pertama adalah pengaruh yang menolong benih-benih dunia menjadi subur dan bertumbuh, dan yang kedua adalah pengaruh yang berupaya untuk menghancurkan benih yang baik, bahkan sebelum benih itu dapat menghasilkan buah.
  1. Perumpamaan ini mengajar kita betapa sulit untuk membedakan antara mereka yang ada dalam Kerajaan dan mereka yang tidak. Seorang pribadi manusia dapat kelihatan baik namun faktanya dia buruk. Sebaliknya, seseorang dapat kelihatan jelek/buruk namun pada kenyataannya dia baik. Kita terlalu cepat mengklasifikasikan orang-orang dan memberi mereka “label” baik atau buruk tanpa mengetahui semua fakta.
  1. Perumpamaan ini mengajar kita untuk tidak cepat-cepat menilai/menghakimi orang. Apabila para penuai bekerja menurut kehendak mereka sendiri, maka mereka akan langsung saja mencoba untuk mencabut lalang, dengan demikian mereka akan mencabut juga gandum yang ada. Penghakiman harus menanti saat tuaian. Seorang pribadi manusia pada akhirnya akan dihakimi, tidak oleh satu-dua tindakannya semasa hidupnya, melainkan oleh keseluruhan hidupnya. Penghakiman baru dapat terlaksana pada titik akhir. Seseorang dapat saja membuat suatu kesalahan besar, kemudian menyesali perbuatannya itu, dan oleh rahmat Allah dia melakukan pertobatan yang membuat sisa hidupnya menjadi sebuah persembahan yang indah bagi Allah. Sebaliknya, seseorang dapat saja menjalani hidup saleh, namun kemudian mengalami kehancuran hidup disebaban keruntuhan akhlak serta kejatuhannya ke dalam jurang dosa. Tidak ada seorang pun yang hanya melihat sebagian saja dari satu keseluruhan dapat memberi penilaian atas keseluruhan tersebut. Tidak ada seorang pun yang mengetahui hanya sebagian saja dari kehidupan seseorang dapat memberi penilaian atas keseluruhan pribadi orang tersebut.
  1. Perumpamaan ini mengajar bahwa penghakiman datang pada titik akhir. Penghakiman tidak datang dengan tergesa-gesa, tetapi pasti datang. Berbicara secara manusiawi, seseorang dapat saja seorang pendosa yang menghindari konsekuensi-konsekuensi dosanya, namun ada kehidupan yang akan datang. Berbicara secara manusiawi, kebaikan tidak pernah kelihatan akan memperoleh ganjarannya, tetapi ada sebuah dunia baru untuk memperbaiki ketidakseimbangan di masa lampau.
  1. Perumpamaan ini mengajar bahwa satu-satunya Pribadi yang berhak untuk menghakimi adalah Allah. Allah saja-lah yang dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Hanya Allah-lah yang melihat semua aspek/bagian dari seorang manusia dan seluruh kehidupannya. Hanya Allah-lah yang dapat menghakimi.

Dengan demikian, pada akhirnya dapat dikatakan bahwa perumpamaan ini mempunyai dwifungsi: (1) sebagai peringatan agar kita tidak menghakimi orang lain; dan (2) sebagai peringatan bahwa pada akhirnya datanglah penghakiman dari Allah sendiri.

DOA:  Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengingatkan lagi kepada kami ajaran-Mu yang menekankan bahwa kami tidak boleh menghakimi orang lain. Penghakiman adalah hak Bapa surgawi semata. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “GANDUM DAN LALANG DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 30-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015) 

Cilandak, 28 Juli 2019 [HARI MINGGU BIASA XVII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RAHMAT ADALAH PERTOLONGAN DARI ALLAH UNTUK KITA

RAHMAT ADALAH PERTOLONGAN DARI ALLAH UNTUK KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan Wajib S. Marta – Senin, 29 Juli 2019)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35) 

Bacaan Pertama: Kel 32:15-24,30-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23 

Tentu sebagian besar dari kita mempunyai wéker (Inggris: alarm clock) dalam salah satu bentuknya, apalagi dengan tersedianya berbagai peralatan yang semakin modern ini (smart phones dlsb.). Kita memang membutuhkan peralatan seperti itu, karena pada waktu yang ditetapkan oleh kita, alat itu akan berbunyi dan membuat kita “keluar” dari tidur kita. Namun alat itu tidak akan mampu membangkitkan kita dari tempat tidur kita. Banyak dari kita tentunya dikagetkan oleh bunyi wéker pada jam 4 pagi, namun langsung tidur lagi setelah mematikannya.

Semoga contoh wéker ini dapat menggambarkan “ragi” yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini, “adonan” Kerajaan Allah yang adalah “rahmat”, adonan sesungguhnya dalam hidup seorang Kristiani. Rahmat sesungguhnya dapat menyentuh kita setiap saat dalam satu hari kehidupan kita, seperti tiupan angin sepoi-sepoi basa di musim panas, atau seperti hujan badai yang disertai sambaran kilat yang sambung menyambung. Atau, rahmat itu datang kepada kita melalui kata-kata penuh hikmat yang diucapkan oleh seorang sahabat, atau sebuah gambar, dlsb.

Jadi, apakah yang dimaksudkan dengan “adonan indah” atau rahmat ini? Rahmat sesungguhnya adalah pertolongan dari Allah untuk kita agar dapat hidup sebagai orang-orang Kristiani yang sejati. Kita menerima rahmat ini banyak kali dalam sehari. Ini adalah bantuan batiniah yang diberikan Allah untuk memperkuat diri kita ketika kekuatan memang dibutuhkan oleh kita, untuk memberikan sukacita, keberanian, pengharapan kepada kita yang melampaui kemampuan manusiawi kita. Jadi, seperti bunyi wéker yang bordering-dering di dalam diri kita, Tetapi lebih dari wéker biasa, karena rahmat tidak saja mengingatkan kita untuk bangun dari tidur, melainkan juga memberikan dorongan kepada kita, rahmat menolong kita untuk bangkit ke luar dari kedosaan kita, untuk bangkit dari hal-hal yang sekadar natural.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Filipi, “…… Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp 2:13). Inilah rahmat yang sesungguhnya. Rahmat tidak hanya menginspirasikan kita akan hal yang baik, melainkan juga menolong kita untuk mewujudkannya. Kita hanya akan menghasrati hal-hal yang baik apabila pikiran kita dicerahkan. Kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan “baik”. Jadi kita tidak dapat menutup diri terhadap rahmat pengetahuan. Kita harus membuka diri terhadap sang Terang, berkemauan untuk melakukan pembacaan bacaan yang baik (Kitab Suci dlsb.), untuk berpikir dan memikirkan hal-hal yang baik, untuk berdoa. Kita harus senantiasa memohon kepada Allah untuk menerangi kegelapan hati kita.

Namun demikian, walaupun kita telah dicerahkan untuk mengenal mana yang benar ketimbang mana yang salah, kita membutuhkan “adonan rahmat” guna membangkitkan kita agar melakukan hal-hal yang baik. Allah memberikan pertolongan ini, kekuatan ini, dorongan dan hasrat untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Kita semua pasti pernah mengalami desakan-desakan dalam batin kita untuk memikirkan, mengambil sikap dan/atau melakukan hal-hal tertentu yang baik, namun seringkali kita tidak mempedulikan desakan-desakan batiniah tersebut.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah Yang Mahatahu. Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku (Mzm 139:8-10). Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan dan Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “DUA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN SURGA” (bacaan tanggal 29-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahaun 2015) 

Cilandak, 26 Juli 2019 [Pesta S. Yoakim dan Anna, Orangtua SP Maria] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KECUALI DI TEMPAT ASAL-NYA SENDIRI

KECUALI DI TEMPAT ASALNYA SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Jumat, 3 Agustus 2018)

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi, dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka menolak Dia. Kemudian Yesus berkata  kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Karena mereka tidak percaya, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ. (Mat 13:54-58) 

Bacaan Pertama: Yer 26:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:5,8-10,14 

“Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya” (Mat 13:57).

Penduduk Nazaret – kota asal Yesus – kelihatannya marah terhadap seorang pribadi yang mereka kenal betul dan mereka pikir orang biasa-biasa saja dan sekarang “berpretensi” menjadi seorang rabi.  Jadi, di sini familiaritas penduduk Nazaret dengan Yesus tidak menjadi asset, melainkan merupakan suatu liability bagi mereka. Justru karena mengenal Yesus dengan baik, mereka menempatkan Yesus dalam kerangka pemikiran yang dipenuhi dengan preconceived ideas tentang diri-Nya. Ketidakpercayaan mereka terkulminasi dalam kemarahan; bagi mereka keberadaan Yesus sebagai seorang guru agama yang mencuat dalam popularitas  (sedang naik daun) adalah sebuah skandal.

Matius menempatkan cerita ini langsung setelah pengajaran-pengajaran Yesus dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan (Mat 13:1-52) dengan maksud untuk mengkontraskan antara “orang banyak yang datang berbondong-bondong dan mengerumuni Dia di pantai” (lihat Mat 13:1-2) dengan “mereka yang mendengar pewartaan-Nya di rumah ibadat (sinagoga) di kampung-Nya sendiri – Nazaret” (Mat 13:54), yaitu orang-orang yang mempunyai sikap EGP – tidak peduli – tidak mau spesial susah-susah mencari diri-Nya. Perbedaannya terletak di sini: Mereka yang berkumpul di sekeliling Yesus adalah memang orang-orang yang mencari suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah, sedangkan mereka yang mendengar pengajaran-Nya di sinagoga di Nazaret adalah orang-orang yang memiliki keinginan tahu tapi suam-suam kuku. Di ujung cerita, orang-orang yang suam-suam kuku inilah yang menolak Yesus. Para murid – rendah hati, berdosa, memiliki rasa takut akan Allah – mendengarkan Dia, kemudian ditransformasikan menjadi bejana-bejana yang penuh kuat-kuasa.

Bagaimana “familiaritas” dengan Yesus dapat menghalangi kita, bahkan menggiring kita kepada ketidakpercayaan? Dengan mudah kita dapat meyakinkan diri kita sendiri: “Allah itu kan begitu besar, begitu agung, dan Ia begitu sibuk, jadi bagaimana mempunyai waktu untuk memperhatikan persoalan-persoalanku yang kecil-kecil ini?” Kita juga dapat berpikir: “Tidak mungkin Dia mau melakukan sesuatu yang baik dalam hidupku hari ini. Aku begitu berdosa, begitu lemah, terlalu jauh dari diri-Nya.” Barangkali kegairahan kita untuk mengenal Dia, yang mungkin pernah kita miliki, telah memudar, atau karena kekecewaan-kekecewaan hidup, telah berubah menjadi apatisme.

Dalam kondisi apa pun kita sekarang, marilah kita tetap berdiri di dekat Yesus, berpegang pada diri-Nya dengan segala kekuatan kita. Kita harus tetap berupaya mengenal Dia secara lebih mendalam. Tidak cukuplah hanya mengagumi-Nya dari jarak jauh. Kita harus terus berupaya untuk mendekati-Nya, meminta, mencari dan mengetuk, agar Ia mau menyatakan diri-Nya lebih dan lebih lagi kepada kita. Baiklah kita membuka hati dan memperkenankan-Nya berbicara kepada hati kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, tariklah diriku kepada-Mu. Aku menolak segala ketidakpercayaan dan familiaritas palsu dengan diri-Mu. Aku percaya bahwa mereka yang mencari Engkau akan menemukan diri-Mu. Buatlah mukjizat dalam hatiku, ya Tuhan. Dengarlah kerinduan hatiku kepada-Mu. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:54-58), bacalah tulisan yang berjudul “DIHORMATI DI MANA-MANA, TETAPI TIDAK DI KAMPUNG/RUMAH SENDIRI” (bacaan tanggal 3-8-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 1 Agustus 2018   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS