Posts tagged ‘HARI BIASA PEKAN BIASA XXIX’

MARILAH MENINJAU KEMBALI HIDUP PERTOBATAN KITA

MARILAH MENINJAU KEMBALI HIDUP PERTOBATAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Sabtu, 27 Oktober 2018)

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur Pilatus dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Yesus berkata kepada mereka, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? “Tidak!”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan semua orang lain yang tinggal di Yerusalem? “Tidak”, kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian.”

Kemudian Yesus menyampaikan perumpamaan ini, “Seseorang mempunyai pohon ara yang ditanam di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Lihatlah, sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan sia-sia! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:1-9) 

Bacaan Pertama: Ef 4:7-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5 

Dalam bagian pertama bacaan Injil hari ini (Luk 13:1-5) tercatatlah dua peristiwa. Yang pertama adalah sebuah peristiwa berdasarkan kehendak seorang pribadi manusia yang bernama Pilatus. Orang yang satu ini memang seorang manusia yang brutal-kejam dan hal ini diteguhkan oleh tulisan-tulisan sejarawan Yosefus. Gubernur Romawi ini telah menghancurkan sebuah pemberontakan orang-orang Zelot dari Galilea yang bertujuan menumbangkan pemerintahan yang berkuasa. Penindasan politis memang terjadi sepanjang sejarah umat manusia di mana-mana, dan kali ini terjadi di Yerusalem. Peristiwa yang kedua sepenuhnya merupakan kecelakaan: sebuah menara runtuh di Yerusalem.

Setiap peristiwa dapat membawa pesan bagi kita. Sebuah “pesan”, apabila kita tahu bagaimana membacanya dengan/dalam iman. Penderitaan sakit ini, kegagalan itu, sukses ini, masa “sunyi-sepi sendiri” itu, persahabatan itu, tanggung jawab ini, musibah itu, anak itu yang memberikan kepadaku sukacita atau anak ini yang membuatku senantiasa merasa khawatir-cemas, sikap dan perilaku istriku, suamiku, dll. – semua ini sesungguhnya merupakan tanda-tanda. Apakah yang Allah ingin beritahukan kepada kita melalui tanda-tanda ini? Apakah tanda yang ingin disampaikan oleh dua peristiwa itu?

Setelah berbicara mengenai dosa manusia berkaitan dengan dua peristiwa itu, dua kali Yesus berkata, “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian” (Luk 13:3,5). Pada zaman Yesus – bahkan sampai pada hari ini – korban-korban suatu peristiwa yang menyedihkan dipandang sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka. Ini adalah jalan mudah untuk membenarkan diri, dan membuat diri seseorang sebagai pribadi yang memiliki “nurani yang baik”. Namun penafsiran Yesus berbeda: segala musibah, bencana dan peristiwa-peristiwa yang tidak membahagiakan bukanlah hukuman dari Allah. Dalam hal ini Yesus bersikap tegas tanpa ragu sedikit pun.

Pada hakikatnya semua musibah dan sejenisnya itu adalah suatu undangan yang diperuntukkan bagi semua orang untuk bertobat. Semua kejahatan yang menimpa diri kita dan sesama kita adalah tanda-tanda kelemahan kita sebagai manusia. Kita tidak boleh menjadi mangsa dari “rasa aman yang keliru”. Seperti peziarah-peziarah, di atas bumi ini kita semua sedang melakukan perjalanan ziarah menuju rumah Bapa, tujuan akhir kita. Oleh karena itu kita harus mengambil posisi yang tegas, tidak plintat-plintut. Peninjauan kembali atas peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita tidak boleh menggiring kita untuk malah menghakimi orang-orang lain (hal sedemikian terlalu mudah untuk kita lakukan), melainkan untuk melakukan pertobatan pribadi.

Luke 13:6-9.

Kemudian Yesus menceritakan “perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah” (Luk 13:6-9). Dalam perumpamaan ini, seseorang mempunyai pohon ara yang ditanam di kebun anggurnya dan ia datang ke kebunnya untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi tidak menemukannya. Pemilik kebun itu berkata kepada pengurus kebun anggur itu: “Lihatlah, sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan sia-sia! (Luk 13: 7). Sekali lagi, di sini Yesus berbicara mengenai suatu kebutuhan mendesak … Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah aku ini sebatang pohon ara yang “steril”, mandul – tidak berbuah – bagi Allahku … dan bagi sesamaku?

Menanggapi perintah si pemilik kebun anggur, si pengurus kebun berkata: “Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:8). Ini adalah unsur paling penting dalam menafsirkan tanda-tanda zaman, yaitu “kesabaran Allah”! Bagaimana pun perlunya bagi kita untuk tidak kehilangan sesaat pun bagi pertobatan kita, kita tetap harus memiliki kesabaran yang besar terhadap orang-orang lain, juga dalam melakukan doa syafaat bagi mereka.

Kita selalu cenderung untuk menghakimi orang-orang lain dengan cepat, mengorbankan mereka tanpa pikir-pikir panjang lagi. Namun demikian, Yesus memberikan kepada kita sebuah contoh: Ia mencangkul tanah di sekeliling pohon ara yang tidak berbuah, memberikannya pupuk. Ini adalah sebuah tanda dari sikap Allah terhadap kita … Ini adalah sikap Yesus terhadap diriku pada HARI INI … “Jika tidak, tebanglah dia!” “Satu tahun lagi” bagiku untuk berbuah! Akhir zaman sudah dekat … sudah dimulai …

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Biarkanlah aku menggunakan dengan baik waktu yang Kauberikan kepadaku. Terima kasih, ya
Tuhan Yesus, Engkau memberikan Roh Kudus untuk menuntun diriku dalam hidup pertobatan ini. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:1-9), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUA ORANG PERLU BERTOBAT” (bacaan tanggal 27-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 24 Oktober 2018 [Peringatan S. Antonius Maria Claret, Uskup]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

HARI LEPAS HARI, YESUS MENAWARKAN PENGAMPUNAN KEPADA KITA MASING-MASING

HARI LEPAS HARI, YESUS MENAWARKAN PENGAMPUNAN KEPADA KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Jumat, 26 Oktober 2018)

Yesus berkata lagi kepada orang banyak, “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: “Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?

Mengapa engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59) 

Bacaan Pertama: Ef 4:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Yesus menasihati kita untuk menyelesaikan perselisihan-perselisihan kita satu sama lain sebelum perkara-perkara yang ada dibawa ke pengadilan. Pengadilan, hakim dan petugas penjara tidaklah begitu berbelas kasih! Mereka akan menuntut keadilan secara ketat. Di sini Yesus langsung mengacu kepada pengadilan/penghakiman ilahi yang akan datang, karena umat-Nya menolak pengampunan, maka hal itu berarti mereka menolak untuk menyelesaikan urusan mereka dengan sang Mesias dalam perjalanan mereka menuju pengadilan/penghakiman ilahi ini.

Yesus menginginkan agar kita masing-masing mengikuti nasihat yang sama. Segala kesempatan yang diberikan kepada kita harus digunakan sekarang! Hari lepas hari, Yesus menawarkan pengampunan kepada kita masing-masing. Ia mengajar kita untuk berdoa kepada Bapa di surga, memohon kepada-Nya agar mengampuni kita, seperti kita mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Pengampunan setiap hari yang kita lakukan satu sama lain inilah yang mempersiapkan hati kita untuk diampuni oleh Allah. Jadi memang kita harus menyelesaikan perkara kita dalam perjalanan hidup kta dengan semangat kasih dan pengampunan. Kalau tidak demikian halnya, maka Tuhanlah yang akan mengambil alih peran sebagai hakim kita, dan hal ini berarti keadilan yang ketat. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita untuk mencari belas kasih Allah pada waktunya. Yesus bersabda bahwa kita tidak akan keluar dari “penjara” sebelum kita membayar hutang kita sampai lunas (Luk 12:58-59).

Setiap hari, dalam diri setiap pribadi yang kita temui, dalam setiap anggota keluarga kita, dalam RT dan lingkungan kita, Allah memberikan kesempatan-kesempatan kepada kita untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut keadilan dan kasih, sehingga dengan demikian kita pun akan siap untuk menghadapi pengadilan/penghakiman atas diri kita sendiri. Yang ingin dipesankan Yesus kepada kita dalam bacaan Injil hari ini adalah: “Jangan lewatkan kesempatan ini. Aku memberikan kepadamu banyak kesempatan. Akan tetapi setiap kesempatan hanya datang sekali saja. Aku pikir akan jauh lebih baiklah bagi kamu untuk menyelesaikan urusan-urusan spiritual-mu sekarang juga, sebelum kamu datang menghadap ke pengadilan terakhir.”

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah hatiku menjadi serupa dengan hati Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, yang penuh kasih dan pengampunan terhadap sesamaku, termasuk yang mendzolimi diriku. Jagalah diriku agar tetap dapat melakukan perjalanan hidupku sebagai seorang murid Kristus yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “CARA BAGAIMANA ROH KUDUS BEKERJA DI ATAS MUKA BUMI” (bacaan tanggal 26-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 24 Oktober 2018 [Peringatan S. Antonius Maria Claret, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMBAWA PEMISAHAN

YESUS MEMBAWA PEMISAHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Kamis, 25 Oktober 2018)

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hati-Ku, sebelum hal itu terlaksana! Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”  (Luk 12:49-53) 

Bacaan Pertama: Ef 3:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,11-12.18-19 

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala!” (Luk 12:49)

Kata-kata Yesus dalam Bacaan Injil hari ini terasa sungguh keras. Yesus berkata bahwa Dia datang untuk membakar kita, agar kita masuk ke dalam hidup bagi Allah; bahwa kita itu seperti api, seperti suatu nyala api yang hampir habis. Iman kita masih menyala namun sangat kecil. Kita secara tetap disibukkan dengan hal-ikhwal dunia ini, dan kita mempunyai sedikit waktu saja untuk menyiram “bensin” ke dalam nyala api kecil dari iman dalam diri kita.

Yesus seakan berkata, “Jangan salah. Aku tidak datang sekadar untuk memasukkan kamu ke dalam surga, untuk membuat dirimu menjadi “Orang Kristiani Hari Minggu”. Aku datang untuk membakar kamu dengan kasih Kristiani, untuk menjadi orang yang penuh hasrat untuk menjadi saksi-saksi-Ku lewat kesaksian hidupmu; juga untuk mati terhadap dirimu sendiri sehingga orang-orang lain dapat hidup. Mengapa kamu tidak membiarkan dirimu dibakar? Inilah hasrat-Ku terhadap dirimu.”

Api ini akan memurnikan kita, jika kita memperkenankannya. Hal itu akan membuat diri kita menjadi murid-murid Kristus sejati, yang siap untuk pergi bersama-Nya ke mana saja Dia memimpin kita. Yesus juga berkata: “Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan, dan betapa susah hatiku, sebelum hal itu terlaksana!” (Luk 12:50). Tentu saja di sini Yesus berbicara mengenai sengsara dan wafat-Nya. Salib-Nya! Hanya melalui penderitaan sengsara dan wafat-Nyalah kita dapat sampai kepada sukacita kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan. Kita pun harus dibaptis dalam Kristus yang tersalib, dalam penderitaan sengsara-Nya. Kita harus mati terhadap diri kita dan bangkit dengan Kristus Yesus. Kita harus menyangkal diri kita dan hidup untuk orang-orang lain. Dan … kita akan terus bersusah hati, … sampai kita tiba di sana.

Banyak orang ingin disembuhkan; mereka ingin bebas dari rantai dalam diri mereka yang erat-erat mengikat mereka: rasa takut, rasa susah, kemarahan, rasa cemas, beberapa di antaranya malah menyebabkan sakit badani (fisik). Akan tetapi mereka tidak mau melalui proses kematian terhadap diri sendiri, yang harus mereka lalui terlebih dahulu. Dengan demikian mereka merasa susah-hati, sampai mereka benar-benar mau melalui proses pembaptisan itu, Selama kepentingan-diri kita memegang kendali atas hidup kita, maka kita akan terus merasa susah-hati, terus berada dalam kesusahan. Namun apabila kita telah mati terhadap diri kita sendiri, maka perkenankanlah Yesus untuk memegang kendali, maka susah-hati kita akan lenyap dan kita pun akan mengalami sukacita penuh kasih, sukacita karena hidup bagi Allah, dan bagi orang-orang lain.

Sebagaimana dikatakan oleh Yesus, api ini, susah-hati ini, baptisan ini, pemurnian ini tidaklah harus membentuk damai yang bersifat duniawi. Hal itu bahkan dapat memisahkan kita dari orang-orang yang kita kasihi. Kesetiaan kepada Kristus akan berarti bahwa kita harus menempatkan kesetiaan-kesetiaan lainnya dalam kehidupan kita menjadi nomor dua. Apabila keputusan kita itu menciptakan pemisahan, biarlah begitu. Yesus harus senantiasa menjadi yang pertama dan utama dalam hidup kita jika kita sungguh ingin memiliki damai-sejahtera yang tahan banting. Lebih baik mengalami suatu damai-sejahtera yang sejati disertai perpecahan-perpecahan daripada suatu damai sejahtera palsu, yang tidak memberikan tempat yang pertama dan utama kepada Kristus dalam hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin berjalan melalui baptisan dalam salib bersama Engkau. Aku ingin menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:49-53), bacalah tulisan yang berjudul “UNTUK MELEMPARKAN API KE BUMI” (bacaan tanggal 25-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 23 Oktober 2018 [Peringatan S. Yohanes dr Kapestrano] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK MANUSIA DATANG PADA SAAT YANG TIDAK KAMU DUGA

ANAK MANUSIA DATANG PADA SAAT YANG TIDAK KAMU DUGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Rabu, 24 Oktober 2018)

Peringatan Santo Antonius Maria Claret, Uskup

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” Kata Petrus, “Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?” Jawab Tuhan, “Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya, ‘Tuanku tidak datang-datang,’ lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan memenggalnya dan membuatnya senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya.” (Luk 12:39-48) 

Bacaan Pertama: Ef 3:2-12; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6

 “Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (Luk 12:39-40)

Dalam dunia modern saja ada “siskamling”, “ronda malam” dlsb. Apa tujuannya? Aman, tidak ada maling/pencuri, tidak ada rumah penduduk yang sampai kebobolan dlsb. Apakah kita mampu dan siap mengantisipasi dengan tepat kedatangan pencuri? Tentu tidak! Kedatangan pencuri yang tidak dapat diduga itu digunakan oleh Yesus untuk menggambarkan kedatangan-Nya kembali ke dunia yang tidak pernah dapat diduga sebelumnya. Yesus memang akan kembali dalam kemuliaan-Nya, entah kapan. Ia bersabda: “Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Luk 12:40).

Yesus meminta kita supaya terus berjaga-jaga dan siap sedia karena kita sungguh tidak akan mengetahui saat kedatangan-Nya dalam kemuliaan kelak. Yesus juga mendorong kita semua untuk terus melayani-Nya, meski dihadapkan dengan berbagai kesulitan dan godaan yang seberat apa pun juga. Dia mengatakan: “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang” (Luk 12:43). Memang perintah Yesus ini tidaklah mudah untuk dilaksanakan. Seperti hal-hal lainnya dalam kehidupan kita, kita pun dapat merasa lelah, kita ingin agar ada orang-orang lain yang menggantikan kita, atau hati kita menjadi ciut manakala hasil kerja itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun Yesus berjanji, apabila kita terus menekuni pekerjaan kita sebagai pelayan-Nya, maka kita semua akan diberkati.

Yesus tergantung kepada kita masing-masing untuk melanjutkan misi-Nya. Dia tidak lagi hadir di tengah-tengah kita secara fisik dan harus menggantungkan diri pada kita sebagai perpanjangan kaki dan tangan-Nya dalam dunia. Bukankah kita disebut “tubuh Kristus”? Tanpa keterlibatan kita yang aktif, kerajaan-Nya tidak akan bertumbuh-kembang secara optimal. Allah telah menganugerahkan kepada kita masing-masing seperangkat karunia dan talenta untuk kita gunakan dalam melakukan tugas pelayanan kita, namun kita tetap masih dapat memilih sendiri bagaimana akan menggunakan berbagai karunia dan talenta tersebut. Kita dapat saja menggunakan karunia dan talenta yang dianugerahkan kepada kita itu sebagaimana yang dilakukan “hamba yang jahat” (lihat Luk 12:45), yaitu untuk memuaskan diri-sendiri, atau kita dapat seperti “hamba yang setia dan bijaksana” (lihat Luk 12:42), yang bekerja sama dengan Roh Kudus dalam tugas besar membuat dunia ini siap untuk kedatangan kembali Yesus dalam kemuliaan-Nya pada akhir zaman.

Allah memanggil kita kepada suatu cara atau gaya hidup yang unik. Dunia mengagung-agungkan sukses dan kenikmatan duniawi tentunya, sehingga fokus perhatian orang-orang adalah pada sukses dan kenikmatan duniawi itu. Akan tetapi, Dia memanggil kita untuk memfokuskan perhatian kita kepada keberadaan kita sebagai “garam bumi” dan “terang dunia” (Mat 5:13-16).

Yesus mengingatkan kita supaya tetap berjaga-jaga dan siap sedia untuk melayani, menghayati kehidupan kita seakan inilah hari terakhir, bukan karena rasa takut kita sedang tidak siap pada waktu Dia datang kembali, melainkan karena cintakasih kita dan hasrat mendalam untuk mengalami hidup kekal bersama Dia. Selama hidup-Nya di dunia Yesus banyak sekali membuat mukjizat dan tanda heran dan Ia mengatakan bahwa kita akan mampu melakukan bahkan hal-hal yang lebih besar daripada apa yang dilakukan-Nya (lihat Yoh 14:12). Yang harus kita lakukan cukup sederhana, yaitu belajar untuk bekerja sama dengan Roh Kudus dan memperkenankan-Nya membimbing kita dalam perjalanan hidup sehari-hari.

Anda mau pilih menjadi hamba yang seperti apa? Menjadi “hamba yang setia dan bijaksana” atau “hamba yang jahat”? Menjadi “hamba yang setia dan bijaksana” berarti menjadi seorang pribadi yang menyebarkan kebaikan Yesus kepada orang-orang lain. Ingatlah kata-kata Yesus, bahwa hamba yang didapatinya sedang melakukan pekerjaannya pada waktu Dia datang kembali, akan diberkati-Nya. Oleh karena itu, berjaga-jagalah selalu dan siap sedia. Carilah selalu kesempatan-kesempatan untuk melayani Tuhan kita!

DOA: Tuhan Yesus, aku telah mendengar seruan-Mu untuk tetap berjaga-jaga dan menjadi hamba yang baik dan bijaksana. Dengan pertolongan Roh Kudus-Mu, aku percaya bahwa aku tidak akan mengecewakan Engkau. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:39-48), bacalah tulisan yang berjudul “TUHAN, KAMIKAH YANG ENGKAU MAKSUDKAN ……?” (bacaan tanggal 24-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

Cilandak, 22 Oktober 2018 [Peringatan S. Yohanes Paulus II, Paus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SELALU BERSIAP-SIAGA UNTUK MENYAMBUT KEDATANGAN KRISTUS

SELALU BERSIAP-SIAGA UNTUK MENYAMBUT KEDATANGAN KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Selasa, 23 Oktober 2018)

Keuskupan TNI-POLRI Pesta S. Yohanes dr Kapestrano, Imam – Pelindung Para Pastor/Perawat Rohani Angkatan Bersenjata

Keluarga Fransiskan Kapusin (OFMCap. & OSCCap.): Peringatan S Yohanes dr Kapestrano, Imam

Ordo Santa Ursula (OSU): Peringatan Para Martir Ursulin dr Valenciennes 

“Hendaklah pinggangmu tetap terikat dan pelitamu tetap menyala. Hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetuk pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Apabila ia datang pada tengah malam atau pada dini hari dan mendapati mereka berbuat demikian, maka berbahagialah mereka.” (Luk 12:35-38) 

Bacaan Pertama: Ef  2:12-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14 

Yesus mengingatkan kita semua agar selalu bersiap-siaga, untuk menyambut kedatangan-Nya.

Jika setiap pencinta sejati di dunia telah menyadari betapa tidak berarti dirinya di hadapan sang Kekasih, maka tentunya lebih mendalam lagi keyakinan para kudus akan kebenaran hal itu! Kita diingatkan akan cerita tentang Santa Perpetua, martir [+203]. Ia dilempar dan dibanting oleh seekor binatang buas di tengah arena, dia bangkit berdiri lagi, menyisir rambutnya, dan membereskan pakaiannya, karena dia tidak ingin pergi masuk ke dalam kemuliaan ilahi dalam keadaan tidak rapih.

Jiwa-jiwa yang telah berpisah dari kita mengetahui bahwa mereka telah sampai ke hadapan hadirat Allah dengan banyak urusan dunia yang masih melekat pada diri mereka. Mereka sepenuhnya menyadari bahwa mereka tidak dapat tetap berada di dekat Allah tanpa harus melewati proses pemurnian. Santa Katarina dari Genoa [1447-1510] menjelaskan bagaimana jiwa-jiwa yang telah berpisah dari kita dengan gembira menyambut kesempatan untuk dibersihkan. Orang kudus ini menulis bahwa jiwa di Api Pencucian, adalah seperti sebutir berlian yang baru saja dipotong. Jiwa tersebut sungguh merupakan satu dari makhluk-makhluk ciptaan Allah yang indah, dan ketika diarahkan kepada Allah tidak kehilangan keindahannya yang utama. Namun tetap saja jiwa itu masih jauh dari sempurna. Sang ahli pekerjaan-tangan Ilahi (=Allah) harus terus melakukan pekerjaan membersihkan jiwa itu seperti menggosok dan memoles berlian sehingga mencapai potensinya yang penuh. Inilah proses pemurnian.

Pengalaman kita semua belum sampai melampaui batas dunia ini. Kita pun mengetahui bahwa kita sendiri tidak akan datang menghadap seorang tokoh besar dunia – raja, pangeran, atau presiden – tanpa mandi dulu, atau tanpa mengenakan pakaian yang pantas dan bersih. Kalau pun secara tidak sengaja kita menghadap seorang tokoh seperti itu dalam kondisi yang tak pantas (berpakaian kotor dlsb.), maka kita akan mencari sebuah tempat di mana kita dapat membersihkan diri dan menyiapkan diri kita sendiri untuk peristiwa penting tersebut.

Kalau begitu halnya, bagaimana kita akan menyiapkan diri kita untuk menghadap Tuhan, Dia yang mengetahui setiap sudut pikiran dan hati kita? Ke mana kita harus pergi untuk membakar dan membersihkan semua noda serta berbagai kekotoran dalam diri kita? Ingatlah “perumpamaan Yesus tentang perjamuan kawin”, ketika  sang raja bertanya kepada seorang tamu yang tidak mengenakan pakaian pesta: “Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta?” (Mat 22:12). Namun kematian “yang datang seperti seorang pencuri di malam hari” (bdk. 1Tes 5:2), memang merupakan sesuatu yang tak di sangka-sangka dan mungkin saja datang pada saat di mana kita tidak siap.

DOA: Tuhanku dan Allahku, jika para kudus-Mu yang terbaik pun harus menderita banyak hal agar berharga bagi-Mu, berapa jauhkah perjalanan yang masih harus kami lakukan? Ya Tuhan, kasihanilah kami sepanjang perjalanan ziarah kami di dunia, sehingga dengan demikian kami dapat sampai ke surga kelak dalam keadaan selamat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:35-38), bacalah tulisan yang berjudul “MELAKUKAN CEK-IMAN SECARA TERATUR” (bacaan tanggal 23-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 21 Oktober 2018 [HARI MINGGU BIASA XXIX – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG KAYA YANG BODOH

ORANG KAYA YANG BODOH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX – Senin, 22 Oktober 2018)

Peringatan S. Yohanes Paulus II, Paus

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah  terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21)

Bacaan Pertama: Ef 2:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

“Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”  (Luk 12:21)

Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh ini hanya terdapat dalam Injil Lukas.  Sah-sah saja apabila ada orang yang bertanya: “Siapakah orang yang tidak ingin kaya?”  Tetapi kaya yang bagaimana? Dengan demikian, tidak mengherankanlah apabila “bertumbuh menjadi (semakin) kaya untuk diri sendiri sebagai lawan dari bertumbuh menjadi (semakin) kaya di hadapan Allah” merupakan tema yang berada di jantung dari semua spiritualitas Kristiani.

Orang kaya dalam bacaan Injil hari ini adalah seorang yang bodoh. Mengapa dikatakan bodoh? Karena dia mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, padahal seharusnya dia kaya di hadapan Allah (Luk 12:21). Perumpamaan ini menggarisbawahi kebutuhan akan perspektif yang tepat. Yesus tidak mencela kekayaan di sini. Yesus berbicara mengenai distraksi yang terjadi pada area-area lain dalam kehidupan kita sebagai akibat dari suatu hasrat tanpa kendali untuk menumpuk kekayaan.

Menjadi kaya di hadapan Allah janganlah diartikan bahwa kita harus menghabiskan uang kita – bahkan sampai menguras semua uang yang ada dalam rekening-rekening kita di bank. Menjadi kaya di hadapan Allah adalah perkembangan dari sumber daya batiniah dan kekuatan spiritual dalam diri kita yang memampukan kita menghargai kasih Allah bagi kita dan kehadiran-Nya yang penuh kasih-sayang seorang Bapa dalam kehidupan kita. Kekuatan batiniah itu menjadi batu karang yang kokoh yang di atasnya hidup kita dibangun. Atas dasar fondasi yang kokoh itulah kita menghayati kehidupan sosial maupun profesional kita.

Menimbun kekayaan untuk kepentingan sendiri – seperti disoroti dalam perumpamaan ini – adalah upaya untuk mengakumulasi harta-kekayaan tanpa dasar moral dan spiritual yang diperlukan sebagai dasar. Dengan demikian kita menjadi budak dari harta-kekayaan kita. Katakanlah bahwa kekayaan duniawi menjadi berhala yang kita sembah. Seandainya semua itu hilang-lenyap, maka kita pun tidak memiliki apa-apa lagi untuk menggantungkan diri. Ada orang yang mengatakan bahwa kekayaan duniawi pada hakekatnya adalah sejenis kebangkrutan spiritual.

Allah, Bapa kita kaya dalam rahmat-Nya (Ef 2:4). Ia juga memiliki kekayaan anugerah besar sekali yang tak terbayangkan oleh kita (Ef 2:7; 3:8). Santo Paulus menulis: “Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus” (Ef 1:18). Salahkah kita jika mengatakan bahwa sebagai anak-anak Allah kita adalah yang paling kaya di dunia, tetapi tidak perlu kaya dalam pengertian duniawi?

Kita bertumbuh-kembang semakin kaya di hadapan Allah dengan mewarisi sepenuh mungkin kekayaan kemuliaan-Nya. Kita benar-benar akan kaya dengan menghayati janji-janji Baptis kita sesetia mungkin sebagai anak-anak Allah. Kita akan memegang teguh sabda Yesus: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berilah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di surga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusak ngengat” (Luk 12:32-33; bdk. Mat 19:21). Kita juga harus “berbuat baik, menjadi kaya dalam perbuatan baik, suka memberi dan membagi dan dengan demikian, mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya” (1Tim 6:18-19).

cole_st_paul, Wed Mar 26, 2008, 5:11:42 PM, 8C, 5378×6746, (380+569), 100%, bent 6 stops, 1/60 s, R86.6, G51.8, B74.4

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Karena kamu telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus bahwa sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (1Kor 8:9). Allah memang menghendaki agar anak-anak-Nya benar-benar kaya dengan kekayaan-Nya dan menurut ukuran Allah. Bersama Santo Paulus marilah kita berkata: “… segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp 3:8). Marilah kita (anda dan saya) menjadi semakin kaya di hadapan Allah.

[Catatan tambahan: Bagi anda yang cermat dalam membaca teks Kitab Suci, maka ungkapan “kaya di hadapan Allah” (Luk 12:21) yang dinilai baik ini akan sedikit membingungkan, karena dalam “Sabda Bahagia” terdapat ayat: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Terasa ada kontradiksi di sini. Saya menganjurkan untuk membaca ayat Mat 5:3 ini begini: “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh” (Inggris: poor in spirit atau spiritually poor) agar tidak bingung berkepanjangan. Dengan demikian, juga tidak akan ada masalah dengan ungkapan “kaya di hadapan Allah” di atas.] 

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik. Kuduslah nama-Mu, ya Khalik langit dan bumi. Terangilah mata hatiku supaya mengenali betapa kayanya kemuliaan warisan-Mu kepadaku sebagai anak-Mu (Ef 1:18). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG ORANG KAYA YANG BODOH(bacaan tanggal 22-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018.

Cilandak, 18 Oktober 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS