SIKAP DAN PERILAKU MUSA YANG PATUT KITA CONTOH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Dominikus, Pendiri Ordo Pengkhotbah, Imam – Selasa, 8 Agustus 2017

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bapa Dominikus

Ordo Pengkhotbah (OP): Hari Raya S. Dominikus, Pendiri Tarekat, Imam

Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kusy yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kusy. Kata mereka: “Sungguhkah TUHAN (YHWH) berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” Dan kedengaranlah hal itu kepada YHWH. Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. Lalu berfirmanlah YHWH dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: “Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan.” Maka keluarlah mereka bertiga. Lalu turunlah YHWH dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. Lalu berfirmanlah Ia: “Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, YHWH menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa YHWH. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa? Sebab itu bangkitlah murka YHWH terhadap mereka, lalu pergilah Ia. Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!

Lalu kata Harun kepada Musa: “Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami. Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya. Lalu berserulah Musa kepada  YHWH: “Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia.” Kemudian berfirmanlah YHWH kepada Musa: “Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali.” Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali. Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran. (Bil 12:1-13)

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-7,12-13; Bacaan Injil: Mat 15:1-2,10-14  

Dalam hikmat-Nya, Allah memanggil sejumlah orang untuk menjadi pewarta Kabar Baik-Nya, sejumlah orang untuk menjadi nabi, dan sejumlah orang untuk menjadi guru. Namun demikian, mereka semua hidup di bawah Roh-Nya. “Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh. Ada berbagai pelayanan, tetapi satu Tuhan” (1Kor 12:4-5).

Panggilan Allah senantiasa unik bagi kita masing-masing, dan secara istimewa Dia memberkati orang-orang yang menanggapi panggilan-Nya dengan kerendahan hati, mereka yang menyadari bahwa panggilan Allah itu tidak datang karena talenta-talenta yang mereka miliki, tetapi datang dari tangan Allah sendiri dan berdasarkan pilihan-Nya sendiri. Ini adalah sikap Musa, hal mana menjelaskan mengapa Musa sangat berkenan di mata Allah.

Kitab Suci mengatakan bahwa Musa “ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi” (Bil 12:3). Karena Musa sedemikian rendah hati, Allah dapat berbicara langsung dengan dirinya (Bil 12:8). Allah dapat sepenuhnya percaya bahwa Musa tidak akan menjadi sombong karena posisinya untuk memimpin bani Israel dan menyalahgunakan otoritasnya.

Ini adalah jantung dari seorang pelayan Tuhan yang sejati, dan inilah yang belum mampu dipahami oleh Harun dan Miriam. Rasa iri hati mereka mengungkapkan suatu hasrat untuk dapat diakui dan dihormati banyak orang, dan hal ini mengungkapkan bahwa mereka sesungguhnya belum siap untuk memikul tanggungjawab pekerjaan (jabatan) yang mereka cari-cari. Sebaliknyalah dengan Musa. Ketika melihat Miriam terkena kusta, Musa tidak merasa senang/gembira, melainkan langsung dengan hati tulus bedoa untuk kesembuhan saudarinya ini. Musa juga langsung mengampuni Miriam yang menentang dirinya serta telah berbicara melawan dirinya.

Sikap dan perilaku Musa sungguh mengingatkan kita akan sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Yesus memberkati, bukan mengutuk orang-orang yang menyiksa diri-Nya. Yang utama dan pertama bagi Yesus adalah mencari kehendak Bapa surgawi dan merangkulnya, kemudian memperkenankan Bapa surgawi memberikan kuat-kuasa untuk melaksanakan kehendak-Nya tersebut. Kerendahan hati seperti ini sangat berkenan di mata Allah.

Banyak orang kudus dan pilar-pilar iman telah mewariskan kepada kita tulisan-tulisan dan perbuatan-perbuatan kepahlawanan mereka sebagai contoh untuk kita ikuti/tiru. Namun demikian, ada banyak sekali orang-orang yang kerendahan hati mereka dan cintakasih mereka hanya diketahui oleh Allah sendiri. Setiap hari kita diundang untuk bergabung dengan “para kudus tanpa nama” (para pahlawan-iman tanpa nama) apabila kita dengan rendah hati mencari kehendak Allah, merangkulnya sebagai kehendak kita sendiri, dan mengandalkan diri pada kuat-kuasa Roh Kudus guna memampukan kita untuk taat kepada Allah yang sangat mengasihi kita.

DOA: Tuhan Yesus, di atas segala-galanya kami ingin menyenangkan Bapa surgawi dengan mencari kehendak-Nya dalam kerendahan hati. Berdayakanlah kami hari ini agar mampu memikul tanggung jawab yang dipercayakan-Nya kepada kami seturut kehendak-Nya; dan hidup sepenuhnya bagi Engkau. Penuhilah diri kami dengan Roh Kudus-Mu sehingga dengan demikian kami dapat menjadi pelayan-pelayan-Mu yang rendah hati dan setia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:1-2,10-14), bacalah tulisan yang berjudul “KONFLIK TERBUKA YANG BERKELANJUTAN” (bacaan tanggal 8-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

Cilandak, 7 Agustus 2017 [Peringatan B. Agatangelus & Kasianus, Imam Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS