Posts tagged ‘IBU MERTUA PETRUS’

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 11 Januari 2017) 

ca17b1c8Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Yesus menyembuhkan setiap orang yang datang kepada-Nya di Kapernaum. Dia menerima setiap orang, bahkan orang-orang yang mungkin dipertimbangkan sebagai orang-orang yang tak masuk hitungan. Bagi Yesus, tidak ada orang yang dibuang. Yesus membuat jelas bahwa Dia datang untuk menjungkir-balikkan pekerjaan Iblis serta roh-roh jahat pengikutnya, dan membereskan perusakan/kerusakan akibat dosa. Melalui jamahan penyembuhan-Nya, Yesus mengundang setiap orang untuk mengikuti Dia dan memperkenankan Dia memerintah dalam hati mereka.

Ibu mertua Simon Petrus adalah seorang dari mereka yang menerima undangan Yesus itu. Begitu dia menerima jamahan penyembuhan dari Yesus, dia mulai melayani-Nya dan para murid yang ikut serta dengan-Nya (Mrk 1:31). Kelihatan di sini tidak ada keragu-raguan di pihak sang ibu mertua: Dia begitu bersyukur atas apa yang dilakukan Tuhan Yesus baginya, sehingga setelah disembuhkan langsung saja dia bangkit berdiri untuk melayani-Nya.

Melalui Yesus, kerajaan Allah telah datang kepada kita – suatu sentuhan surga pada bumi. Yesus menawarkan penyembuhan kepada masing-masing dari kita – tubuh, pikiran dan roh – sehingga kita pun akan menanggapi dengan penuh sukacita, melayani Dia dan umat-Nya dalam cintakasih. Ibu mertua Simon memberikan kepada kita sebuah contoh cara pelayanan Kristiani. Seandainya dia tidak disembuhkan terlebih dahulu, maka dia pun tidak akan mampu untuk melayani. Tetapi, sekali dia mengalami kerahiman dan penyembuhan ilahi dari Tuhan, dia pun bebas untuk memberikan dirinya sendiri secara penuh bagi Tuhan.

yesus-menyembuhkan-jesus-heals-the-sick-mat-9-35Yesus memanggil kita semua untuk melayani Allah dan sesama. Akan tetapi, sebelum kita menjadi pelayan-Nya, adalah vital bahwa kita mengalami karya penyembuhan-Nya dulu dalam hidup kita. Kita semua telah dilukai oleh efek-efek dosa, dan kita membawa tanda-tandanya dalam tubuh dan hati kita. Sampai berapa jauh kita memperkenankan Tuhan melayani kita dengan menyembuhkan diri kita, sampai sebegitu jauh pula kita akan mampu bergabung dengan-Nya dalam pekerjaan membangun kerajaan-Nya di muka bumi ini. Melayani Tuhan bukanlah sesuatu yang kita kerahkan dari kebaikan kita sendiri. Ini adalah sesuatu yang bertumbuh dalam diri kita selagi kita menyerahkan hidup kita kepada tangan-tangan penyembuhan sang Guru dan Dokter Agung. Marilah kita membawa luka-luka dan sakit-penyakit kita kepada Yesus dan mohon kepada-Nya agar menyembuhkan kita, sehingga kita dapat menjadi pelayan-pelayan-Nya yang penuh sukacita.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan sembuhkanlah kami sehingga Kerajaan-Mu akan datang ke muka bumi ini dalam kepenuhan dan kuat-kuasa. Kami menyerahkan hidup kami kepada-Mu agar supaya kami dapat mengasihi-Mu, melayani-Mu dan bersama dengan-Mu, dengan demikian dapat menjadi perpanjangan tangan-Mu bagi dunia di sekeliling kami. Terpujilah Nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan yang berjudul “KESELAMATAN DARI YESUS” (bacaan tanggal 11-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 9 Januari 2017 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEMAKIN PENUH KOMITMEN TERHADAP RENCANA ALLAH

SEMAKIN PENUH KOMITMEN TERHADAP RENCANA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Rabu, 2 September 2015)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Yohanes Fransiskus Burte, Severinus Girault, Apolinaris Morel, dkk.-Martir-martir Revolusi Perancis 

IBU MERTUA PETRUSKemudian Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Dialah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” Lalu Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. (Luk 4:38-44)

Bacaan Pertama: Kol 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 52:10-11

Ibu mertua Petrus sedang menderita sakit demam keras. Kita semua tentu tahu sekali bagaimana rasanya tubuh panas-dingin, menggigil, kepala yang “cenot-cenotan” dan terasa pusing yang sangat tidak nyaman dst. Itulah kiranya yang dirasakan oleh ibu mertua Petrus (catatan: pada masa itu belum ada aspirin atau obat-obat sejenis). Kita dapat mengasumsikan bahwa keluarga Petrus telah mencoba segalanya yang mereka ketahui guna menolong perempuan itu, namun tanpa hasil. Kelihatannya mereka sudah hampir mencapai titik jenuh, … tinggal menyerah saja. Pada saat-saat kritis seperti inilah Yesus datang, dan dengan kata-kata sederhana – namun penuh kuat-kuasa – Ia mengusir penyakit itu.  Injil mencatat yang berikut ini dengan singkat: “Lalu Ia (Yesus) berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka” (Luk 4:39).

Ibu mertua Petrus tidak menunggu lama-lama. Digerakkan oleh rasa terbebaskan dan terima kasih penuh syukur, ia langsung bangkit berdiri dan melayani mereka (Luk 4:39). Sungguh luar biasa perempuan ini! Contoh baik bagi seorang pengikut Yesus!

Yesus Kristus, sang Dokter/Tabib Agung, telah menyembuhkan kita masing-masing juga. Dia telah membebaskan kita dari ikatan dosa dan keterpisahan dari Allah, dan Ia terus saja menyembuhkan segala penyakit sehubungan dengan jiwa dan roh kita: akar kepahitan hidup, perasaan bahwa kita adalah makhluk-makhluk tidak berarti, rasa takut kita, ketagihan kita akan sesuatu yang bukan berasal dari Allah. Kematian-Nya pada kayu salib adalah obat penyembuh satu-satunya terhadap segala kejahatan dosa dan maut. Jika kita terpisah dari Yesus Kristus, maka kita sama tidak berdayanya dengan ibu mertua Petrus yang sedang menderita demam keras.

stdas0748Nah, bagaimana seharusnya kita menanggapi suatu penyembuhan yang begitu hebat “kaliber”nya? Apakah kita harus menjadi lebih sibuk lagi? Mencoba lebih keras lagi untuk melakukan lebih banyak lagi. Jawabnya: tidak perlu! Tanggapan kita yang pertama haruslah memahami keselamatan yang telah kita terima dari Yesus, sehingga dengan demikian keselamatan ini akan menggerakkan kita, tidak selalu supaya bekerja lebih keras, malainkan untuk menjadi semakin penuh komitmen terhadap rencana Allah bagi hidup kita.

Dua ribu tahun lamanya, kematian Yesus dan kebangkitan-Nya telah mentransformasikan secara dramatis orang-orang dalam jumlah yang tak terbilang banyaknya. Mengapa? Karena mereka – lewat bimbingan Roh Kudus – sampai kepada pemahaman bahwa Putera Allah yang tanpa noda dan kekal-abadi memasuki sejarah dengan ruang-waktunya dan menderita sampai mati di kayu salib agar manusia dapat diciptakan kembali seturut gambar dan rupa-Nya.

Salib Kristus memiliki daya kekuatan yang sungguh besar. Hal ini perlu kita ketahui dan sadari. Sekarang, apakah kita menyadari bahwa sedemikian besar kasih-Nya bagi kita (anda dan saya) semua. Apakah kita mengetahui ruang lingkup penuh dari transformasi yang mampu dikerjakan oleh-Nya dalam diri kita? Setiap hari Dia ingin membuka pikiran dan hati kita agar dapat memahami sabda-Nya dalam Kitab Suci, membebas-merdekakan kita dari pola-pola dosa, dan mengajar kita untuk mengasihi dengan sesempurna mungkin seturut contoh yang diberikan-Nya dalam mengasihi.

Saudari dan Saudaraku, jika kita memandang Yesus dalam kontemplaasi, apa pun menjadi mungkin. Marilah kita memusatkan pandangan kita pada-Nya pada hari ini.

DOA: Yesus, pada saat ini aku datang kepada-Mu untuk memohon lebih banyak lagi kasih-Mu dan kuat-kuasa-Mu. Sembuhkanlah aku, ya Tuhan Yesus. Transformasikanlah diriku. Ajarlah aku. Aku ingin bangkit dan melayani-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:38-44), bacalah tulisan yang berjudul “KESEMBUHAN YANG KITA PEROLEH DARI YESUS” (bacaan tanggal 2-9-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-09  PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2015. 

Cilandak, 31 Agustus 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIALAH YANG MEMIKUL KELEMAHAN KITA DAN MENANGGUNG PENYAKIT KITA

DIALAH YANG MEMIKUL KELEMAHAN KITA DAN MENANGGUNG PENYAKIT KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Sabtu, 27 Juni 2015)

Jesus_heals_leper_1140-152Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Pada saat itu juga sembuhlah hambanya. 

Setibanya di rumah Petrus, Yesus melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangun dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan semua orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Mat 8:5-17) 

Bacaan Pertama: Kej 18:1-15; Mazmur Tanggapan: Luk 1:46-50,53

Tiga cerita pertama tentang penyembuhan Yesus (seorang kusta [Mat 8:1-4; hamba seorang perwira di Kapernaum [Mat 8:5-13]; dan ibu-mertua Petrus [Mat 8;14-15]) terikat satu sama lain dengan eratnya dan menggambarkan apa yang dikatakan oleh Yesaya mengenai Hamba YHWH dalam Mat 8:17. Semua mukjizat tersebut terjadi dalam satu hari. Orang kusta dan ibu-mertua Petrus disembuhkan lewat sentuhan. Hal ini penting karena pada umumnya Matius lebih menyukai untuk menunjukkan Yesus yang menyembuhkan hanya dengan mengucapkan kata-kata, seperti dilakukannya kepada sang perwira Romawi dalam antisipasi terhadap apa yang digambarkan dalam Mat 8:16, di mana Yesus mengusir roh-roh jahat dengan sepatah kata.

YESUS DAN CENTURION - 3Perhatikanlah kontras antara permohonan sungguh-sungguh dari sang perwira dan orang kusta tersebut dengan absennya hal serupa dalam hal ibu-mertua Petrus. Apa yang mau dikatakan di sini? Yesus memberkati iman yang diwujudkan dalam  permohonan yang sungguh-sungguh dari dalam hati, namun belarasa-Nya tidak dibatasi oleh ada atau tidaknya permohonan termaksud. Yesus senantiasa mengambil inisiatif dalam hal adanya kebutuhan nyata.

Ketiga orang yang menerima kesembuhan dari Yesus adalah orang-orang yang termarjinalisasi dalam masyarakat. Lihatlah si orang kusta. Dia adalah orang buangan secara hukum. Ia dituntut untuk hidup di luar kota/tempat berkumpulnya orang-orang, dan setiap kali ada orang berjalan mendekatinya dia harus berseru-seru: “Najis! Najis!”, sambil menutupi mukanya (lihat Im 13:45-46). Di dunia yang masih terkebelakang pada zaman modern ini, keluarga-keluarga seringkali menolak orang kusta sebagai orang yang dikutuk Allah karena dosa. Dan penderitaan orang kusta yang paling berat adalah bahwa dirinya diasingkan oleh keluarganya sendiri dan masyarakatnya sendiri. Jadi, sungguh lebih mengejutkan kitalah bahwa Yesus menyentuh orang kusta dalam menyembuhkannya. Yesus tidak takut kepada hal-hal yang ditakuti orang-orang lain. Yesus hanya menginginkan bahwa kasih Allah menyentuh siapa saja, termasuk mereka yang tidak dapat disentuh (the untouchable).

Sang perwira Romawi adalah seorang “kafir” menurut standar Yahudi yang berlaku, malah dipandang seperti “anjing-anjing”. Walaupun demikian dia menunjukkan iman yang lebih besar daripada yang ditemukan Yesus di antara orang-orang Israel. Ia adalah macam orang kafir yang membawa ke dalam komunitas Matius – yang awal mulanya melulu terdiri dari orang-orang Yahudi – lebih banyak kegairahan dan semangat daripada mereka yang berasal dari agama Yahudi. Akhirnya, ibu-mertua Petrus adalah seorang perempuan, warga masyarakat kelas dua seturut standar Yahudi yang berlaku pada saat itu. Namun setelah disembuhkan oleh Yesus dari demamnya, dia bangkit dan langsung saja melayani Dia. Ibu-mertua Petrus adalah suatu tipe murid Kristus yang melayani dan menunjukkan sikap yang bahkan pada waktu itu belum dimiliki oleh dua belas murid yang dipilih sendiri oleh Yesus: tidak berambisi untuk menjadi yang bukan-bukan (bdk. Mat 20:20-28).

Ketika Matius membuat klimaks bacaan Injil ini dengan petikan dari Yesaya 53:4, “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat 8:17), yang dimaksudkannya adalah bahwa Yesus memenuhi janji Perjanjian Lama ini bukan dengan menjadi sakit sendiri, melainkan dengan penuh belarasa mengidentifikasikan dirinya dengan orang yang sakit dan kemudian mengusir penyakit yang dideritanya untuk pergi dari orang bersangkutan. Akan tetapi beban-beban yang diangkat-Nya dari orang-orang yang ditolong-Nya adalah lebih daripada itu, yaitu beban-beban karena ditolak oleh masyarakat, beban-beban karena penindasan oleh mereka yang memegang kekuasaan, dlsb. Di atas bahu Yesus, beban-beban ini akan dialami bukan sebagai penyakit, melainkan penganiayaan dan akhirnya penyaliban, karena itulah “harga” yang harus dibayar oleh-Nya karena berpihak dan membela orang-orang yang tersingkirkan serta tertindas dan kemudian membuat komunitas dengan mereka. Dalam hal ini Yesus mewujudkan keyakinan-Nya bahwa semua orang adalah anak-anak dari “seorang” Bapa di surga.

HEALING OF THE MOTHER IN LAW OF PETER - 3Bacaan hari ini menantang kita untuk memeriksa hidup kita sendiri siapa saja yang termasuk dalam bilangan orang-orang buangan, orang-orang tersisihkan dan orang-orang tertindas. Para penderita HIV-Aids dapat dikatakan adalah orang-orang kusta zaman modern. Namun kita masing-masing perlu bertanya kepada diri kita sendiri apakah ada orang-orang yang kita sudah “hapus” dari buku kita, secara sadar maupun tidak sadar, sebagai orang-orang di luar lingkaran “orang-orang terhormat” yang kita kenal? Siapa saja yang selama ini kita pandang sebagai “orang-orang kafir”? Apakah saudari-saudara kita yang beragama Hindu, Buddha, Muslim? Apakah orang-orang yang berasal dari suku atau etnis lain dari kita? Dan bagaimana dengan orang Kristiani lain yang pelayanannya kepada kita sukar untuk diterima? Dst. Dlsb. Barangkali rahmat terbesar kita terima jika kita menerima “orang-orang lain” itu sebagai saluran kasih Allah kepada kita. Setiap komunitas Kristiani perlu/harus mempertanyakan apakah komunitas tersebut merupakan sekelompok orang yang puas-diri dengan yang apa mereka miliki, ataukah komunitas itu setia kepada tantangan yang diberikan Yesus untuk membuka pintu dan melangkah ke luar guna berkomunitas dengan orang-orang “lain” tersebut. 

DOA:  Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau menanggung segala sakit-penyakitku, memikul segala penderitaanku. Engkau adalah andalanku, ya Yesus. Oleh kuasa Roh Kudus, bentuklah aku menjadi murid-Mu yang setia. Sembuhkanlah dan kuatkanlah imanku yang lemah ini. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-17), bacalah tulisan yang berjudul “KATAKAN SAJA SEPATAH KATA” (bacaan tanggal 27-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

Cilandak, 23 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DATANG UNTUK MEMBAWA KESELAMATAN

YESUS DATANG UNTUK MEMBAWA KESELAMATAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 15 Januari 2014

JESUS HEALS THE SICK - 001Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.” Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan. (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: 1Sam 3:1-10,19-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,5,7-10

Kapernaum yang terletak di pinggir danau mempunyai banyak pengalaman yang berkaitan dengan sakit-penyakit dan ketiadaan pengharapan yang menghimpit umat manusia. Pada suatu hari, Yesus sampai di kota pantai itu dan memproklamasikan kedatangan Kerajaan Allah. Lewat tindakan-tindakan-Nya dan kata-kata yang diucapkan-Nya, Yesus membuat kehadiran Kerajaan Allah (=Allah yang meraja) menjadi kelihatan dan kuasa-Nya menyadi nyata. Otoritas menentukan yang dipakai oleh Yesus untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh-roh jahat memperagakan belas kasihan Allah yang tak terhingga besarnya. Inilah saat-saat yang menandai terbitnya suatu era baru menyangkut penyelamatan dan keselamatan umat manusia. Pernyataan ilahi yang menyangkut keselamatan ini mengambil tempat dalam konteks kebutuhan umat manusia. Bagi anak manusia yang menanggapi semua ini dengan iman, maka Kerajaan Allah menjadi suatu pengalaman pribadi yang secara sekilas memberi gambaran dari transformasi mulia dari segala ciptaan dalam kepenuhan waktu.

THE MOTHER IN LAW OF PETER WAS HEALEDPemahaman para murid tentang kodrat Yesus yang sesungguhnya sangatlah terbatas. Walaupun dengan segala keterbatasan yang ada, hati para murid digerakkan untuk mempercayakan kepada Yesus keprihatinan mereka atas ibu mertua Petrus yang sedang menderita sakit demam. Yesus menanggapi keprihatinan para murid-Nya itu tanpa menunda-nunda, dan sakit demam ibu mertua Petrus pun disembuhkan, malah dia langsung melayani Yesus dan para murid-Nya (Mrk 1:29-31). Luar biasa! Frase “Ia ‘membangunkan’ dia” yang digunakan oleh Markus (Mrk 1:31), ditulis dalam bahasa Yunani: egeiro, yang juga dapat diartikan “membangkitkan dari mati”. Yesus datang sebagai Tuhan (Kyrios) untuk membawa keselamatan dan membangkitkan semua orang yang terbaring karena penyakit dosa. Diangkat kepada hidup baru, kita dipanggil untuk melayani dalam pembangunan Kerajaan-Nya.

Pada akhir hari yang dipenuhi dengan penyembuhan-penyembuhan dan pengusiran-pengusiran roh-roh jahat, Yesus tidak memperbolehkan roh-roh jahat itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia (Mrk 1:34). Pagi-pagi benar Yesus mengundurkan diri dari orang banyak dan para murid-Nya yang belum memahami peranan-Nya sebagai Mesias. dan pergi ke tempat terpencil dan berdoa di sana. Ini adalah awal dari “rahasia Mesianis”. Banyak orang takjub dan terkagum-kagum menyaksikan perbuatan-perbuatan baik Yesus dan memandang diri-Nya sebagai seorang pembuat mukjizat (wonder worker), namun mereka belum mampu melihat sifat misi-Nya yang sesungguhnya. Ketika berdoa dalam keheningan di tempat terpencil tadi, Yesus dikuatkan untuk melakukan kehendak Bapa-Nya, bukan menuruti tuntutan orang banyak akan seorang Mesias seturut hasrat hati dan pandangan mereka sendiri (Mrk 1:35-39).

Mereka yang telah belajar untuk menerima Dia sebagai Anak Manusia yang menderita, disalibkan dan kemudian bangkit dalam kemuliaan mengalahkan dosa, dapat memproklamasikan Dia sebagai sang Mesias. Yang ditutupi oleh Yesus pada awalnya dinyatakan secara penuh dalam terang kebangkitan-Nya (Luk 24:26).

Bilamana kita mengundurkan diri ke tempat sunyi dan mencari keakraban dengan Bapa surgawi dalam doa, Roh Kudus akan menyatakan kepada kita siapa Yesus itu dan apakah misi-Nya. Yesus sungguh rindu untuk menyembuhkan kita semua dan dosa-dosa kita.

DOA: Tuhan Yesus, sentuhlah diriku yang sudah “berantakan” ini. Tolonglah aku agar mau menyerahkan diriku kepada kuat-kuasa penyembuhan-Mu. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan yang berjudul “PADA HARI INI PUN YESUS MASIH MENYEMBUHKAN” (bacaan tanggal 15-1-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 13 Januari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS