Posts tagged ‘IMANUEL’

APAKAH PENGORBANAN YESUS MEMPUNYAI ARTI?

APAKAH PENGORBANAN YESUS MEMPUNYAI ARTI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Aloisius Gonzaga, Biarawan Yesuit – Selasa, 21 Juni 2016)

 05-sermon-on-the-mount-1800

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6,12-14) 

Bacaan Pertama: 2Raj 19:9b-11,14-21,31-35a,36; Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-4,10-11

“Sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Mat 7:14).

Yesus Kristus – Tuhan dan Juruselamat kita – tidak pernah berjanji bahwa kehidupan Kristiani akan mudah. Ia tidak pernah mengatakan bahwa keberadaan kita akan bebas dari masalah, bilamana kita memilih untuk mengikut Dia melalui pintu yang sempit dan jalan yang sesak. Memang kita memakluminya. Setiap hari kita menghadapi godaan-godaan yang beraneka-ragam: mengasihi atau membenci sesama kita, menolong seseorang yang memerlukan bantuan atau mengabaikannya, mentaati perintah-perintah Allah atau mengabaikan perintah-perintah itu, menjadi instrumen-instrumen perdamaian atau aktif dalam provokasi serta mendorong terjadinya perpecahan. Bahkan sebagian orang akan menghadapi pengejaran serta penganiayaan secara langsung karena telah memilih “pintu yang sempit dan jalan yang sesak” dari Kristus.

Apakah yang harus kita lakukan? Bagaimana seharusnya kita berpikir mengenai Yesus dan hidup-Nya sendiri yang telah diberikan-Nya kepada kita? Apakah pengorbanan Yesus mempunyai arti, jadi tidak sia-sia? Apabila kita harus melontarkan pertanyaan ini kepada semua generasi umat Kristiani yang mendahului kita, maka mereka akan menanggapi pertanyaan kita itu dengan suara yang nyaring dan penuh syukur: “Ya!” Banyak dari mereka telah menjalani jalan yang sesak dan bertekun melalui penderitaan-penderitaan yang jauh lebih berat dan menyakitkan daripada apa yang kita alami pada zaman modern ini.

Mengapa mereka tetap bertahan dengan penuh iman? Karena mereka tahu bahwa Yesus berjalan bersama mereka. Kenyataan yang satu inilah yang membuat perbedaan antara frustrasi tanpa harapan dan kenyamanan, antara kekalahan dan kemenangan.

Baiklah kita bersama-sama menyadari, bahwa setiap langkah yang kita ambil berarti kita berjalan bersama Yesus. Kita harus percaya bahwa Putera Allah sendiri telah membuka jalan bagi kita dan memberikan kepada kita segalanya yang kita perlukan untuk mengikuti Dia. Selagi kita berjalan di jalan yang telah dibuka oleh Allah bagi kita, maka hidup kita dapat dipenuhi dengan makna dan tujuan – hanya apabila karena kita menjadi menjadi duta-duta Yesus dan bejana-bejana Roh Kudus yang semakin dipenuhi dengan kuasa-Nya. Manakala kita mencoba untuk hidup tanpa Yesus, maka martabat dan nilai-nilai baik yang kita anut tidak akan bertambah besar, melainkan menyusut.

Yesus telah berjanji kepada semua murid-Nya di segala zaman bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka. Tidak pernah! Walaupun kita terlibat dalam kedosaan serius sekali, Yesus tetap berada bersama kita. Kerahiman-Nya akan meliputi diri kita, dan kekuatan-Nya akan memberdayakan kita. Oleh karena itu, marilah pada hari ini kita mengambil keputusan definitif untuk menaruh kepercayaan kepada kuat-kuasa Yesus untuk tetap mentransformasikan diri kita menjadi hamba-hamba atau pelayan-pelayan penuh kuasa dari Injil-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah berjanji untuk senantiasa ada bersamaku sampai akhir zaman. Terima kasih untuk menyerahkan hidup-Mu sendiri bagiku. Tolonglah aku agar tetap setia kepada-Mu, seperti Engkau setia kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:6,12-14), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN MEMBERDAYAKAN KITA” (bacaan tanggal 21-6-16 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 19 Juni 2016  [HARI MINGGU BIASA XII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

JANGANLAH ENGKAU TAKUT MENGAMBIL MARIA SEBAGAI ISTRIMU

JANGANLAH ENGKAU TAKUT MENGAMBIL MARIA SEBAGAI ISTRIMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 18 Desember 2014) 

YUSUF BERMIMPI BERTEMU DENGAN MALAIKAT TUHANKelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya. (Mat 1:18-24) 

Bacaan Pertama: Yer 23:5-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,12-13,18-19 

Orang kudus mana dari para anggota persekutuan para kudus di surga yang memiliki memori-memori yang dapat dibandingkan dengan cerita-cerita keluarga yang penuh kemuliaan, keintiman, seperti yang dapat diceritakan oleh Santo Yusuf tentang Yesus? Yesus yang masih anak-anak, Yesus remaja, Yesus sebagai orang dewasa muda, Yesus sebagai tukang kayu muda, pekerja keras dan seorang Anak yang taat kepada Bapa-Nya di surga dan ayah dan ibu-Nya di dunia. Santo Yusuf dapat saja berjalan sebagai orang kudus yang paling “top”, dan memandang mereka satu persatu dan berkata: “Anda menjadi ternama karena anda memberikan hidupmu untuk karya Yesus, sang Juruselamat dunia. Namun, ingatkah anda siapa yang melatih Anak itu sehingga tumbuh dewasa? Ingatkah anda, Yesus menjadi asisten siapa ketika menjadi tukang kayu? Ingatkah anda siapa yang menjadi guru Yesus? Siapa yang menjawab semua pertanyaan-pertanyaan sulit Anak yang mahacerdas itu?

Ya, Santo Yusuf dapat mendengarkan segala diskusi besar di bidang teologi antara para uskup dan para pengajar sejarah yang saleh-saleh, dan mengatakan kepada mereka, “Tetapi, akulah guru agama Yesus, Tuhan dan Allahmu. Maria dan aku adalah rumah-Nya dan keluarga-Nya, sekolah-Nya dan instruktur-instruktur-Nya. Apa pendapatmu tentang pekerjaan yang kami lakukan terhadap Anak kami satu-satunya ini? Jadi, manakala kita membicarakan memori-memori dari yang menarik dari  kehidupan di dunia yang membahagiakan, kudus dan bermakna, maka tidak ada seorang pun yang  mempunyai memori-memori seperti Santo Yusuf.

THE HOLY FAMILY - 2Ah, sebenarnya Santo Yusuf samasekali bukanlah seorang pribadi yang akan “menyombongkan” diri seperti saya tulis di atas. Jauh di belakang layar, Santo Yusuf bekerja menopang keluarganya dan melindungi mereka dari mara-bahaya, terutama pada masa kecil Yesus. Misteri inkarnasi dan Imanuel tidak pernah akan ia pahami sepenuhnya sampai akhir hayatnya, namun hal itu tidak menahan atau menghalanginya untuk melakukan tugasnya sebagai kepala keluarga yang baik. Santo Yusuf adalah seorang man of action yang rendah hati dan sederhana. Dia adalah seorang pemimpin dalam artian sebenarnya!

Sambil memandang lukisan-lukisan indah para kudus dengan pakaian atau jubah mereka yang indah cemerlang, Santo Yusuf dapat berkata: “Kalau anda mau melukis diriku, lukislah aku yang mengenakan jubah berwarna coklat yang kotor penuh debu, atau baju kerja yang kelihatan jorok, sambil memegang gergaji dan palu, berdiri di atas lantai yang penuh debu dan serpihan kayu….” Namun Santo Yusuf mempunyai satu permintaan untuk lukisan tersebut: “Hanya satu permintaanku terkait lukisanku. Dapatkah anda menempatkan istriku dan Anakku yang masih kecil dalam lukisan itu juga? Aku tidak dapat menceritakan tentang hidupku tanpa mereka yang sangat kukasihi: keluargaku – Maria dan Yesus!”

Dalam bacaan hari ini kita belajar bahwa Santo Yusuf sungguh adalah seorang yang benar, yang takut akan Allah. Ia berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya (Mat 1:24). Santo Yusuf adalah seorang yang dipenuhi semangat dan cintakasih kepada Allah, dengan suatu hasrat mendalam untuk melakukan kehendak-Nya.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepadaku Santo Yusuf sebagai “model iman”. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, ajarlah aku bagaimana bagaimana mendekati man of action yang sederhana ini sebagai satu contoh ketaatan. Berilah kepadaku sebuah hati seperti hati Santo Yusuf – sebuah hati yang sepenuhnya percaya kepada-Mu dan siap melakukan kehendak Bapa di surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yer 23:5-8), bacalah tulisan yang berjudul “JANJI TENTANG TUNAS DAUD YANG ADIL” (bacaan tanggal 18-12-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014. 

Cilandak, 16 Desember 2014

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMANUEL, YANG BERARTI ALLAH MENYERTAI KITA

IMANUEL, YANG BERARTI ALLAH MENYERTAI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN IV [Tahun A] – 22 Desember 2013)

YUSUF BERMIMPI BERTEMU DENGAN MALAIKAT TUHANKelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya (Mat 1:18-24).

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Kedua: Rm:1:1-7

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.)” (Mat 1:23).

Sungguh suatu mukjizat – “Allah menyertai kita!” Hal ini berarti lebih daripada sekadar Yesus datang ke tengah-tengah kita dan mengajar kita suatu cara hidup yang lebih baik. Tentunya ini sudah hebat. Akan tetapi, dalam inkarnasi, Allah sendiri sesungguhnya menjadi seorang dari kita! Dia bersama kita, bukan hanya secara fisik, melainkan juga dalam pikiran dan roh juga. Dia mengetahui dengan tepat bagaimana rasanya hidup sebagai manusia. Dia sama dengan manusia lainnya, kecuali dalam hal dosa (Ibr 4:15).

Dengan penuh gairah Yesus meninggalkan takhta surgawi-Nya untuk dapat dilahirkan sebagai seorang manusia di tengah dunia. Tentunya Dia excited ketika datang ke tengah-tengah kita-manusia. Dia ingin menarik kita kembali secara penuh – roh, pikiran, dan tubuh – kepada Bapa surgawi. Karena Dia adalah Imanuel – Allah menyertai kita – maka Yesus memahami sepenuhnya segala perjuangan dan rasa takut kita. Dia bukanlah orang asing apabila kita berbicara mengenai kesulitan-kesulitan hidup kita. Dia menderita dan mengalami berbagai pencobaan dan mengetahui, mengenal dan juga mengalami rasa sakit dan takut kita. Dia menghadapi semuanya yang kita akan jumpai dalam kehidupan kita.

BETLEHEMSebelum Yesus datang, Allah menganugerahkan hikmat dan kekuatan kepada umat-Nya melalui para nabi. Namun karena kasih-Nya dan untuk menjamin kita kembali sepenuhnya kepada Dia, Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk menjadi salah seorang seperti kita-manusia. Oleh karena Yesus ada bersama kita, maka sekarang kita mempunyai pengharapan akan kehidupan kekal! Pada hari ini, oleh kuasa Roh Kudus yang dicurahkan ke dalam hati kita, maka Yesus masih merupakan Imanuel – Allah yang menyertai kita!

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, sekarang masalahnya apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Yesus adalah seorang pribadi? Ini adalah janji Injil! Selagi kita membuat persiapan-persiapan terakhir dalam rangka menyongsong hari Natal, Yesus mengundang kita semua untuk meluangkan waktu berada bersama dia dalam doa. Yesus ingin agar kita membuka hati kita dan menerima kasih-Nya dan kesembuhan dari-Nya. Dia ingin mencurahkan kepada kita dengan pengharapan dan kemerdekaan. Selagi kita mengheningkan diri kita di hadapan hadirat-Nya, maka kita dapat menerima sukacita mendalam karena boleh mengenal Yesus secara pribadi – suatu sukacita yang akan mentranformasikan diri kita menjadi semakin rupa dengan diri-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku meletakkan hatiku di hadapan-Mu dan mohon kepada-Mu untuk memenuhi diriku dengan kehadiran-Mu. Aku ingin berjalan bersama Engkau dan mengenal Engkau sebagai Imanuel – Allah yang menyertai diriku. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, mampukanlah diriku agar dapat mengenal Engkau secara pribadi. Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 1:18-24), bacalah tulisan yang berjudul “MARI KITA TELADANI SANTO YOSEF, SANG HAMBA TUHAN !!!” (bacaan tanggal 22-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 18 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH MEMPUNYAI SUATU RENCANA YANG TEPAT DAN SEMPURNA BAGI KITA MASING-MASING

ALLAH MEMPUNYAI SUATU RENCANA YANG TEPAT DAN SEMPURNA BAGI KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Rabu, 18 Desember 2013)

YUSUF BERMIMPI BERTEMU DENGAN MALAIKAT TUHANKelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya. (Mat 1:18-24)

Bacaan pertama: Yer 23:5-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,12-13,18-19

Setelah selesai dengan Maria (Luk 1:31), Allah mengutus seorang malaikat untuk menyatakan rencana penyelamatan-Nya kepada Yusuf juga. Kita dapat membayangkan kiranya sang malaikat berkata kepada Yusuf begini: “Jangan takut, Yusuf. Allah telah memilih engkau untuk menjadi ayah di dunia dari Putera-Nya sendiri. Dia akan membimbing engkau dan memimpin engkau. Bawalah Maria ke rumah sebagai istrimu dan percayalah kepada Tuhan.” Yusuf kiranya tidak mungkin mampu untuk memenuhi peranannya jika dia tidak dibuat yakin bahwa Allah adalah “seorang” Bapa yang sangat mengasihi, yang rencana-rencana-Nya bagi dirinya adalah baik dan tidak akan mencelakakan dirinya.

Allah mempunyai suatu rencana yang tepat dan sempurna bagi kita masing-masing. Ia telah mengenal kita dari sejak sediakala dana Ia telah memilih kita untuk dijadikan anak-anak angkat melalui Kristus (Ef 1:5). Ia mempunyai kasih yang istimewa bagi kita masing-masing dan suatu cara khusus dengan mana Dia mau kita masing-masing melayani-Nya. Kita mungkin tidak selalu jelas tentang rencana Allah bagi kita, namun kita dapat menaruh kepercayaan bahwa Dia tidak pernah mengabaikan rencana-Nya, dan Ia selalu bekerja untuk merealisasikan rencana-Nya itu.

Sebagaimana Maria yang bertanya kepada sang malaikat bagaimana dia – yang masih perawan – akan melahirkan anak, maka pentinglah bagi kita untuk menyediakan waktu dan bertanya kepada Allah agar menyatakan rencana-Nya kepada kita. Kita tidak boleh takut untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat spesifik kepada Allah. Apabila kita pikir bahwa Dia memimpin kita ke arah tertentu, kita dapat berdoa begini: “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku bagaimana ini cocok dengan rencana-Mu bagi diriku.” Kita harus mau mengambil langkah-langkah kecil untuk mencoba taat kepada apa yang kita pikir Allah perintahkan kepada kita. Kita semua dapat belajar banyak melalui suatu eksperimentansi dalam suasana doa yang sedemikian.

Kadang-kadang sukarlah bagi kita untuk menaruh kepercayaan pada rencana Allah, teristimewa pada saat-saat kita sakit dan menderita kesusahan. Barangkali ada peristiwa-peristiwa yang terjadi pada diri kita yang kita pikir bukan merupakan bagian dari rencana Allah yang penuh kasih. Ketika kita menyadari bahwa kita berada dalam situasi-situasi seperti itu, maka kita dapat berseru kepada Bapa surgawi agar diberi kekuatan dan berpaling kepada keluarga kita dan para sahabat kita untuk penghiburan dan doa-doa. Allah mengasihi kita dan telah memilih kita menjadi milik-Nya sendiri, menjadi keluarga-Nya sendiri. Ia mempunyai sebuah rencana tentang bagaimana kita akan melayani-Nya dan orang-orang lain, dan Ia akan menyatakan rencana-Nya kepada kita apabila kita bertanya kepada-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyatakan rencana penyelamatan-Mu dalam Yesus. Terima juga untuk kasih-Mu dan rencana-Mu bagi diri kami masing-masing. Selagi kami merayakan kelahiran sang Juruselamat, tolonglah kami memberi tanggapan kepada-Mu dengan hati yang penuh iman dan rasa percaya seperti yang telah ditunjukkan oleh Yusuf dan Maria. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 1:18-24), bacalah tulisan yang berjudul “DIKANDUNG DARI ROH KUDUS” (bacaan tanggal 18-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “JANGANLAH ENGKAU TAKUT MENGAMBIL MARIA SEBAGAI ISTRIMU” (bacaan tanggal 18-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama (Yer 23:5-8), bacalah tulisan yang berjudul “JANJI TENTANG TUNAS DAUD YANG ADIL” (bacaan tanggal 18-12-10) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 14 Desember 2013 [Peringatan S. Yohanes dari Salib]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIKANDUNG DARI ROH KUDUS

DIKANDUNG DARI ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 18 Desember 2012)

YUSUF BERMIMPI BERTEMU DENGAN MALAIKAT TUHANKelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya. (Mat 1:18-24)

Bacaan pertama: Yer 23:5-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,12-13,18-19

Setelah mendengar bahwa Maria hamil secara misterius, Yusuf memilih alternatif tindakan yang penuh belarasa sekaligus adil (lihat Mat 1:19). Namun ketika dia merenungkan dan mendoakan pilihan-Nya, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan menunjukkan suatu jalan lain. Kita dapat mengatakan bahwa Roh Kuduslah yang berbicara kepada Yusuf. Roh Kudus menjelaskan kepada Yusuf bahwa dia harus menikahi Maria, dan bahwa Anak yang dikandungnya adalah untuk menyelamatkan manusia dari dosa (Mat 1:22-23). Ini adalah suatu pernyataan yang bersifat vital untuk umat manusia, dan juga tidak kurang pentingnya bahwa kita memohon kepada Roh Kudus untuk memeteraikan kebenaran yang sama dalam hati kita masing-masing.

Yesus, yang dikandung dari Roh Kudus, datang untuk mengangkat kita ke alam surgawi. Tanpa pernyataan Roh Kudus, kecenderungan alami kita adalah untuk mereduksi kehidupan Kristiani kita menjadi sekadar sebuah daftar kewajiban-kewajiban yang harus kita lakukan atau tidak lakukan. Kita mulai melihat iman kita hanya sebagai sebuah polis asuransi terhadap risiko neraka, yang preminya kita bayar dengan kehadiran kita pada Misa setiap hari Minggu. Keprihatinan kita pada orang-orang miskin dipersempit menjadi isu-isu penyediaan makanan dan tempat bernaung mereka sehari-hari. Kalau kita tidak membiasakan diri dengan Roh Kudus, kita akan luput melihat jantung dari Injil.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Tanpa pertolongan Roh Kudus, kita juga akan mengalami kesulitan untuk memahami tujuan hidup kita. Namun selagi kita menenangkan hati kita dan memperkenankan Roh Kudus untuk menyatakan kepada kita kebenaran-kebenaran sabda Allah dalam Kitab Suci, maka kita mulai memahami Injil secara lebih penuh lagi – termasuk panggilan Allah secara pribadi kepada kita masing-masing. Pesan keselamatan akan menjadi hidup sebagai suatu pernyataan kasih Allah Bapa. Kita akan melihat Yesus sebagai Dia yang tetap secara kekal berkomitmen untuk menyelamatkan kita dari dosa dan membawa kita ke hadapan hadirat-Nya untuk selama-lamanya.

Apakah kita percaya bahwa Roh Kudus ingin berbicara kepada kita tentang siapa Yesus itu sebenarnya dan tentang hidup yang dapat kita alami apabila bersatu dengan diri-Nya? Pada hari-hari menjelang Natal ini, marilah kita “bereksperimen” dalam “mendengarkan” suara yang dibisikkan Roh Kudus kepada kita masing-masing. Marilah kita duduk sendiri dengan hanya ditemani oleh Alkitab sambil terus memperhatikan gerakan-gerakan Roh Kudus dalam hati kita. Percayalah bahwa Ia akan mengangkat kita ke alam surgawi. Dia yang mahasetia akan melakukan hal tersebut.

DOA: Roh Kudus Allah, aku percaya Engkau begitu berhasrat untuk berbicara kepadaku. Tingkatkanlah kesadaranku akan kehadiran-Mu. Tolonglah aku untuk sungguh mendengarkan suara-Mu ketika aku membaca Kitab Suci. Ajarlah aku jalan-jalan-Mu. Bimbinglah aku dalam menjalani kehidupan yang diberikan Yesus kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama Injil hari ini (Mat 1:18-24), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH ENGKAU TAKUT MENGAMBIL MARIA SEBAGAI ISTRIMU” (bacaan tanggal 18-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2012.
Berkaitan dengan Bacaan Pertama (Yer 23:5-8), bacalah tulisan yang berjudul “JANJI TENTANG TUNAS DAUD YANG ADIL” (bacaan tanggal 18-12-10) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 10 Desember 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH ENGKAU TAKUT MENGAMBIL MARIA SEBAGAI ISTRIMU

JANGANLAH ENGKAU TAKUT MENGAMBIL MARIA SEBAGAI ISTRIMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven, Jumat 18-12-09) 

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya (Mat 1:18-24).

Bacaan pertama: Yer 23:5-8 

Dalam menceritakan kisah Natal ini, Matius menekankan bahwa sejarah Israel digenapi dengan kedatangan Yesus.  Untuk menunjukkan intervensi langsung yang dilakukan oleh Alllah, Matius menunjuk pada kenyataan dikandungnya Yesus dalam rahim Maria oleh kuasa Roh Kudus. Ini adalah sebuah peristiwa ilahi, namun juga bersifat insani; sesuatu hal yang tidak lepas dari kebingungan, teristimewa bagi Yusuf. 

Apa yang harus dilakukan oleh Yusuf pada waktu dia memperoleh info dari malaikat Tuhan, bahwa Maria telah mengandung dan dia jelas bukanlah laki-laki yang membuat tunangannya itu mengandung? Apakah Maria pernah memberitahukan kepadanya tentang kondisinya? Apakah Maria juga pernah bercerita kepadanya, bahwa semua ini adalah akibat suatu rahmat istimewa dari Allah? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab dalam Injil Matius. Akan tetapi ada satu kalimat dalam Injil Matius ini yang menguatkan-penuh jaminan, sepotong kalimat yang diucapkan oleh sang malaikat Tuhan: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu” (Mat 1:20). Kiranya kalimat ini sungguh menyejukkan hati Yusuf. Rasa was-was, khawatir, malah rasa takut seperti ini sebenarnya adalah awal dari kebijaksanaan: Suatu rasa takjub penuh hormat di hadapan hadirat Allah sang Mahatinggi. Rasa takut Yusuf, rasa takjubnya ini, membuat dirinya merasa tak berarti apa-apa dan tentunya tak pantas untuk menjadi bagian dari peristiwa ilahi ini. Yusuf hanyalah seorang tukang kayu di Nazaret, seorang laki-laki bersahaja tanpa embel-embel reputasi sosial yang tinggi. Akan tetapi, justru itulah sebabnya Allah memilih dia. Bayangkanlah betapa tergetar hati Yusuf, ketika mengetahui bahwa Allah menginginkan dirinya menjadi bagian dari peristiwa yang menggenapi sejarah semua nenek moyangnya

Kita pun harus memandang serta menantikan kedatangan Hari Natal yang tinggal satu minggu ini dengan rasa takjub penuh hormat, namun juga dengan kesadaran penuh syukur bahwa Allah memanggil kita untuk turut ambil bagian dalam misteri agung ini, walaupun kita hanyalah orang-orang biasa saja. 

“Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman YHWH, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: YHWH – keadilan kita” (Yer 23:5-6).  Ketika nabi Yeremia memproklamasikan pesan ini,  Yehuda berada dalam situasi kacau-balau. Bangsa kecil ini berada dalam ambang kehancurannya di hadapan kekaisaran Babel yang perkasa. Yeremia menyalahkan raja-raja Yehuda yang telah ‘mengkhianati’ rakyatnya, tidak bedanya dengan para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Nya hilang dan terserak (lihat Yer 23:1). Meskipun dalam situasi yang suram sedemikian, Yeremia memproklamasikan janji Allah, bahwa Dia akan menghadirkan seorang raja yang adil-bijaksana, seorang keturunan Daud. 

Nubuat nabi Yeremia menunjukkan suatu pandangan terhadap masa depan yang bersifat optimistis, dan hal ini mencirikan liturgi Adven kita. Allah berjanji bahwa hari-hari baik akan datang. Hari-hari baik bagi kita terwujud dengan kelahiran Yesus, namun kita memandang ke depan juga untuk saat-saat yang lebih baik lewat perayaan Natal kita ini. Adven adalah keyakinan bahwa sesuatu yang lebih baik ada di depan mata. Adven adalah suatu harapan bahwa kita akan menemukan (kembali) suatu rasa cinta yang sempat hilang, dan meraih kembali sukacita hari-hari yang lebih membahagiakan. Nubuat nabi Yeremia berarti bahwa kita memiliki alasan kuat untuk bersikap optimistis dan waspada selalu, karena meskipun Kristus sang Gembala Baik sudah hadir di dunia, kita masih menantikan kedatangan-Nya dalam kemuliaan pada akhir zaman. 

DOA: Roh Kudus Allah, aku percaya bahwa Engkau ingin sekali berbicara kepadaku tentang siapa Yesus itu dan apa arti dari penghayatan hidup Injili. Tingkatkanlah kesadaranku akan kehadiran-Mu. Tolonglah aku agar mampu mendengar suara-Mu tatkala  aku membaca Kitab Suci. Ajarlah aku jalan-jalan-Mu. Bimbinglah aku dalam penghayatan hidup Kristiani yang telah diberikan Yesus Kristus kepadaku. Amin.

Cilandak, 17 Desember 2009 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS