Posts tagged ‘INJIL LUKAS’

KITA PUN DIPANGGIL UNTUK MENGATAKAN “YA” KEPADA ALLAH

KITA PUN DIPANGGIL UNTUK MENGATAKAN “YA” KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KABAR SUKACITA – Rabu, 25 Maret 2020)

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14;8:10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10 

Bayangkanlah iman yang diperlukan oleh Maria untuk menjawab selagi dia dengan kebebasan penuh menyerahkan dirinya kepada apa yang diminta Allah dari dirinya. Maria berkata, “Ya!” “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Rasa percaya, iman, pengharapan, kerendahan-hati, ketaatan, dan kasih, semuanya menyatu-padu dalam kata-kata yang diucapkan Maria, dan sejak saat mahapenting itu, dunia dan sejarah umat manusia pun berubah, … untuk selamanya.

Cerita dari Injil Lukas ini yang memimpin Santo Fransiskus dari Assisi – satu dari banyak orang kudus lainnya dengan pengalaman serupa – untuk menyapa Maria sebagai “mempelai Roh Kudus” (Ibadat Sengsara Tuhan; Antifon Santa Perawan Maria, 2). Akan tetapi kita tidak boleh membatasi gambaran ini sekadar pada saat terkandungnya Yesus. Roh Kudus menaungi Maria tidak hanya pada saat itu, melainkan juga pada setiap langkah yang diambilnya pada perjalanan ziarahnya selama hidup di atas bumi ini. Banyak sekali hidup iman Maria yang patut dicatat disamping saat ia diperkandung oleh Roh Kudus. Sepanjang hidupnya Maria bertumbuh dalam ketergantungannya kepada Roh Kudus dan menjadi seorang saksi yang lebih besar (daripada saksi-saksi lain) terkait dengan hidup baru yang telah dibawa oleh Yesus bagi kita semua.

Seperti juga Maria, kita pun dipanggil untuk mengatakan “ya” kepada Allah, tidak sekali saja, tapi lagi dan lagi. Seperti Maria, kita pun telah diundang ke dalam suatu relasi akrab dengan Roh Kudus – untuk menjadi tempat kediaman-Nya, untuk mendengarkan Dia, untuk bertindak di bawah bimbingan-Nya, untuk membawa Kristus ke tengah dunia. Seperti Maria, kita pun dapat bertanya-tanya dalam hati kita, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” (bdk. Luk 1:34).

Santo Augustinus dari Hippo [354-430] menulis, “Ibunda Kristus membawa Dia dalam rahimnya. Semoga kita membawa Dia dalam hati kita. Sang perawan menjadi hamil dengan inkarnasi Kristus. Semoga hati kita pun mengandung dengan iman kepada Kristus. Dia (Maria) membawa sang Juruselamat. Semoga jiwa kita membawa keselamatan dan puji-pujian.”

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar dapat mendengar panggilan-Mu untuk mengasihi dan melayani. Tolonglah diriku agar dapat mengatakan “ya” kepada Engkau. Utuslah Roh Kudus-Mu kepadaku, sehingga dengan demikian Yesus dapat dilahirkan dalam hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “PERAWAN MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT GABRIEL” (bacaan tangggal 25-3-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 24 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DAN KARYA-KARYA-NYA DITOLAK

YESUS DAN KARYA-KARYA-NYA DITOLAK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Senin, 16 Maret 2020)

Kata-Nya lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Lagi pula, Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Pada zaman Nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang disembuhkan selain Naaman, orang Siria itu. Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. (Luk 4:24-30)

Bacaan Pertama: 2Raj 5:1-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2-3; 43:3-4

Yesus adalah dokter ilahi yang mengikuti model nabi-nabi Perjanjian Lama Elia dan Elisa. Yesus mengingatkan kita bahwa pada masa kekeringan dan kelaparan yang relatif lama (3 ½ tahun) Elia bukan diutus kepada banyak janda di Israel, melainkan kepada seorang janda di Sarfat, di tanah Sidon (non-Yahudi) (Luk 4:25-26; bdk. 1Raj 17:1, 8-16). Elisa diutus ke Israel sebagai seorang penyembuh dan dokter, namun hanya orang Siria-lah yang bernama Naaman yang disembuhkan olehnya (Luk 4:27; bdk. 2Raj 5:1-14).

Suatu kondisi dari hati manusia di bawah pengaruh dosa adalah menolak Allah dan karya-Nya.  Pada awal sejarah umat manusia, kuasa dosa dilepaskan ke dalam dunia. Umat manusia menjadi terluka secara mendalam disebabkan efek-efek dosa yang membuat manusia cenderung untuk tidak taat kepada Allah dan menolak rencana Allah terkait dengan kehidupan kita masing-masing. Kita dapat menganalogikan dosa dengan penyakit kusta yang merajalela di Israel pada masa Elisa dan Elisa. Penyakit kusta merusak wajah dan bagian-bagian tubuh lainnya dari penderita,  demikian pula dampak dosa atas diri para pendosa. Dosa mendistorsi pemahaman seorang manusia tentang rencana Allah yang penuh kasih bagi dirinya. Allah mengutus Elia dan Elisa sebagai instrumen-instrumen penyembuhan-Nya. Namun bukannya diterima dengan penuh syukur oleh orang-orang yang ada, mereka malah dicurigai, tidak dipercaya dan ditolak.

Demikian pula yang terjadi dengan Yesus. Yesus adalah dokter ilahi dan pewahyuan sempurna dari rencana Allah untuk menyembuhkan dan memulihkan umat manusia. Namun Ia juga ditolak, dibenci, dihina, ditangkap, diadili dalam sebuah pengadilan dagelan, disiksa, dan kemudian dihukum mati di atas kayu salib bersama dua orang penjahat lainnya. Allah mengutus Yesus ke tengah dunia untuk membawa penyembuhan atas diri kita, dan kita pun mempunyai kebebasan untuk menerima atau menolak Dia.

Secara terus-menerus kita masing-masing pun dihadapkan dengan alternatif pilihan antara menerima atau menolak Yesus dalam kata-kata yang kita ucapkan maupun tindakan-tindakan kita. Namun ada satu hal yang tidak pernah boleh kita lupakan, yaitu bahwa Yesus ingin menyembuhkan kita dari cara-cara bagaimana dosa telah merusak relasi kita dengan diri-Nya dan sesama kita.

Jadi, pentinglah bagi kita masing-masing untuk memperkenankan Yesus menyembuhkan dan bekerja dalam kehidupan kita seturut cara apa saja yang dipilih-Nya sendiri. Kita harus mengesampingkan pandangan-pandangan kita sendiri bagaimana kiranya Yesus harus bekerja. Dengan rendah hati dan secara sederhana baiklah kita memperkenankan Yesus bekerja di dalam diri kita seturut cara yang dipilih-Nya. Layaknya seorang dokter ahli, Yesus mengetahui dengan tepat bagaimana memperlakukan kita. Karena Dia sangat mengetahui bagaimana dosa merampas martabat kita sebagai manusia dan anak-anak Allah, Yesus dapat begitu tajam dalam diagnosanya, namun senantiasa dengan penuh belarasa bagi kita semua.

DOA: Bapa surgawi, aku menyesali cara-cara bagaimana aku menolak karya Yesus di dalam diriku. Oleh karena itu aku memutuskan untuk bertobat dan kembali kepada Engkau dan jalan-jalan-Mu, ya Allah yang Mahabaik dan Maharahim. Bapa, tolonglah aku agar dapat memahami bahwa karena kasih-Mu kepada dunia Putera-Mu Kauutus ke dunia untuk mencari dan menyelamatkan anak-anak-Mu yang hilang dan untuk menyembuhkan dan memulihkan ciptaan-Mu yang telah menjauh dari diri-Mu dan rencana-Mu yang penuh kasih. Tolonglah diriku agar dapat menundukkan pikiran dan kehendakku di bawah rencana penyembuhan-Mu untuk kehidupanku. Berikanlah rahmat-Mu dan karunia agar dapat mengasihi dan merangkul Engkau, ya Bapa yang Mahakasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “ ‘NASIB’ SEORANG NABI DI KAMPUNG-NYA SENDIRI” (bacaan tanggal 16-3-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 20-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014)

Cilandak, 14 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KASIH SANG BAPAK TELAH MENYEMBUHKAN MASA LAMPAU SI ANAK, SEDANGKAN PERTOBATAN SI ANAK AKAN MENGOREKSIA MASA DEPANNYA

KASIH SANG BAPAK TELAH MENYEMBUHKAN MASA LAMPAU SI ANAK, SEDANGKAN PERTOBATAN SI ANAK AKAN MENGOREKSI MASA DEPANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Sabtu, 14 Maret 2020)

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk 15:1-3,11-32). 

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 103:1-4.9-12

Perumpamaan Yesus ini secara tradisional dikenal sebagai “Perumpamaan tentang Anak yang Hilang”; kadang-kadang dinamakan “Perumpamaan tentang Bapa yang Mengampuni”. Perumpamaan ini mengajarkan kepada kita tentang bela rasa yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Dr. Kenneth Bailey dari School of Theology di Beirut, Lebanon mencatat bahwa seperti halnya di banyak masyarakat lainnya, dalam masyarakat Timur Tengah, seorang bapak dapat membuat surat wasiat atau tidak membuatnya. Namun alternatif apa pun yang dipilihnya, sang bapak akan selalu memegang hak atas uang yang dimilikinya (termasuk bunganya) sampai dia wafat. Apabila ada anaknya yang minta bagian warisan sebelum waktunya, maka hal ini sama saja dengan menyumpahi bapaknya agar segera “mati”! Tulisan ini bersumberkan pada pemikiran Dr. Bailey tersebut.

Dalam perumpamaan ini, si anak bungsu sebenarnya melukai hati bapaknya dalam dua cara. Pertama-tama, dia meminta uang dari bapaknya “sekarang juga”. Hal ini menunjukkan bahwa dia tidak dapat menunggu sampai saat bapaknya itu meninggal dunia. Kedua, dengan meminta bagian warisan dan hak untuk menggunakannya, lengkaplah sudah bagaimana dia mengabaikan kebutuhan-kebutuhan masa depan dari bapaknya. Namun, sang bapak mengikuti keinginan “kurang ajar” (tak tahu adat) dari anaknya itu. Dan …… walaupun hatinya terluka, dia tidak marah.

Begitu si anak bungsu menghabiskan uang hasil penjualan harta warisannya itu, kita mungkin saja berpikir mengapa dia tidak pulang saja ke rumahnya. Salah satu alasan kiranya adalah karena dia merasa malu untuk kembali pulang. Alasan lain adalah bahwa dia akan “dicuekin” … dianggap tidak ada – artinya tidak ada seorang pun akan berbicara atau diasosiasikan dengan dirinya. Perlakuan seperti ini juga akan dialami oleh seorang laki-laki apabila dia menikah dengan seorang perempuan tidak bermoral atau kehilangan uang (merugi) karena berhubungan dengan orang non-Yahudi (baca: kafir). Dalam kasus-kasus seperti ini, “orang yang bersalah” harus mengakui dosa-dosanya, mengkompensasi kerugian dan tetap berada di luar komunitasnya sampai terbukti pantas untuk masuk kembali ke dalam komunitasnya itu.

Dalam perumpamaan ini, sang bapak menginisiasi suatu cara baru dalam mengampuni. Sang bapak tidak mencuekkan anaknya, bahkan dia berlari (orang yang sudah tua biasanya tidak bertindak seperti itu) untuk bertemu dengan anaknya, yang sebenarnya secara terbuka dan dengan sengaja telah melukai hatinya. Sang bapak tidak menunggu anaknya mengucapkan permohonan maaf, melainkan dia langsung saja mengampuni anaknya secara total. Pengungkapan kasih berlimpah dari sang bapak yang tidak disangka-sangka ini tentunya sangat menyenangkan hati anaknya.

Yesus memakai cerita ini sebagai sebuah contoh pengampunan Allah kepada kita semua dan sebagai suatu model pengampunan yang harus kita terapkan satu sama lain dengan sesama manusia (bukan hanya dengan orang Kristiani). Kasih sang bapak telah menyembuhkan masa lampau; pertobatan si anak akan mengoreksi masa depannya.

Sekarang kita lihat perilaku si anak sulung. Ternyata dia “mencuekkan” adiknya; dia menolak untuk menyambut kedatangan kembali adiknya itu. Nah, bagaimana halnya dengan kita masing-masing dalam menghadapi situasi serupa? Kita dapat meneladani sang bapak yang penuh bela rasa atau meniru perilaku anaknya sulung yang tidak berbelas kasih terkait dengan mengampuni orang lain. Kita dapat “berlari” sambil membuka kedua tangan kita lebar-lebar guna menyambut orang itu, atau membelakangi serta menolak untuk berbicara kepada orang itu. Saya jadi teringat akan sebuah motto kerja ketika saya bekerja di First National City Bank (Citibank N.A.) berpuluh tahun lalu: “What you do is up to you!” 

Setiap kali kita membuang dan melupakan luka-luka dan sakit hati kita di masa lampau, maka kita bertumbuh sedikit lebih besar dan lebih baik. Jika kita tetap hidup sambil memendam kepahitan dan kebencian, maka sebenarnya kita secara perlahan-lahan sedang menuju kematian. Saudari-Saudaraku, inilah saatnya bagi kita untuk berbalik dan kembali kepada Bapa surgawi. Dia adalah Allah yang baik, satu-satunya yang baik dan sumber segala kebaikan.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu kepadaku yang tanpa syarat dan juga pengampunan-Mu atas segala dosa-dosaku, baik melalui pikiran, perkataan, perbuatan maupun kelalaian – teristimewa kelalaian untuk mengasihi sesamaku tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang ada: status sosial-ekonomi, ras/bangsa, suku, bahasa, agama. Apabila aku berada dalam keadaan yang tidak benar di mata-Mu, tolonglah aku agar mau dan mampu berlari mendapati-Mu dan jatuh ke dalam pelukan-Mu yang penuh kasih dan pengampunan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG SEORANG AYAH DAN DUA ORANG ANAK LAKI-LAKINYA” (bacaan tanggal 14-3-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 12 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

p.s. Maaf atas keterlambatan postingan ini. Tidak ada internet connection.

BERSEDIAKAH KITA BERBELA RASA TERHADAP LAZARUS -LAZARUS YANG KITA JUMPAI DALAM KEHIDUPAN KITA?

BERSEDIAKAH KITA BERBELA RASA TERHADAP LAZARUS-LAZARUS YANG KITA JUMPAI DALAM KEHIDUPAN KITA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Kamis, 12 Maret 2020)

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak, Bapak Abraham, tetapi jika seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepada-Nya Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31) 

Bacaan Pertama: Yer 17:5-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Memang tidak enaklah rasanya bila kita untuk pertama kalinya berjumpa dengan seorang pengemis yang meminta-minta sedekah di sebuah sudut jalan. Kita mungkin saja merasa heran apakah yang telah terjadi sehingga menyeret dirinya ke dalam situasi yang samasekali tidak manusiawi. Namun, dengan berjalannya waktu, kita mungkin menjadi terbiasa dengan pemandangan seperti itu, sampai akhirnya kita samasekali tidak memperhatikan orang-orang seperti itu. Cuwek saja! EGP! Pada saat-saat seperti itulah pengemis miskin itu menjadi seperti Lazarus bagi kita.

Orang kaya dalam perumpamaan Yesus hari ini masuk neraka bukan karena dia kaya atau karena dia menikmati hidupnya. Sebaliknya, justru karena si kaya ini begitu disibukkan dengan kepentingan dan kenikmatan dirinya sendiri, sampai-sampai dia mengabaikan keberadaan Lazarus. Si kaya membuat dirinya sebagai pusat dunianya. Hanya di dalam nerakalah dia menyadari bahwa dia harus menggunakan berbagai karunia dan sumber daya yang dimilikinya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Kesadaran dirinya bahwa dia sudah terlambat untuk melakukan apa pun guna memperbaiki posisinya tentunya merupakan tambahan penderitaan atas dirinya.

Terima kasih penuh syukur kita panjatkan kepada Allah karena kita belum terlambat! Pada penghakiman terakhir kita tidak akan diinterogasi perihal sampai seberapa kaya atau miskin diri kita. Tingkat pendidikan kita juga tidak memiliki signifikansi. Banyak dari hal yang kita lakukan dan memakan waktu kita tidak penting ketika Allah menguji kehidupan kita pada akhirnya. Akan tetapi, kita dapat memastikan diri bahwa Dia akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada kita berkaitan dengan penggunaan sumber-sumber daya yang kita miliki (baca Mat 25:31-46). Dalam perumpamaan hari ini, Yesus mengajar kita bahwa jikalau kita menggunakan harta benda dunia ini hanya untuk kepentingan diri kita sendiri, tanpa ada bela rasa terhadap Lazarus-Lazarus dalam kehidupan kita, maka kita mengambil risiko yang ujung-ujungnya sama dengan yang dialami oleh si orang kaya dalam perumpamaan ini.

Dengan hati yang difokuskan pada apa yang penting bagi Allah, marilah kita menggunakan waktu dan kesempatan-kesempatan yang kita miliki untuk mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Oleh karena itu, pada hari ini marilah kita memperhatikan secara istimewa seseorang yang  biasanya kita tidak perhatikan – barangkali seorang pribadi sunyi-sepi-sendiri yang membutuhkan senyum kita, atau seorang anggota keluarga kita yang membutuhkan pertolongan kita. Bela rasa akan bertumbuh dalam hati kita jika kita bertindak atas bela rasa yang kita rasakan terhadap orang lain. Selagi kita belajar menggunakan berbagai karunia yang kita miliki untuk menolong Lazarus-Lazarus yang berdiri di depan pintu rumah kita, maka kita akan lebih mengenal lagi kasih Allah bagi kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, penuhilah hatiku dengan bela rasa-Mu bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan, termasuk mereka yang sakit. Gunakanlah diriku sebagai instrumen-Mu guna menghibur dan menolong mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG-ORANG SEPERTI LAZARUS DALAM KEHIDUPAN KITA” (bacaan tanggal 12-3-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 10 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AJARAN YESUS YANG KERAS – HARI BIASA PEKAN II PRAPASKAH

AJARAN YESUS YANG KERAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Senin, 9 Maret 2020)

Peringatan Fakultatif S. Fransiska dari Roma, Janda, OFS – Pendiri Tarekat

Ordo Santa Clara (Ordo II S. Fransiskus): S. Katarina dr Bologna, Perawan

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Luk 6:36-38) 

Bacaan Pertama: Dan 9:4b-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 79:8,9,11,13 

Para pengikut Yesus mengetahui arti dari ketegangan hidup dalam teritori yang diduduki bangsa lain. Serdadu-serdadu dan para pemungut cukai dari Herodes Antipas yang mewakili penguasa Roma, sungguh bersikap dan berperilaku opresif terhadap bangsa Yahudi. Sebagai akibatnya, ketika Yesus berbicara dengan umat Yahudi mengenai mengasihi musuh-musuh (Luk 6:27), Dia tahu benar bahwa hal itu kedengaran “absurd” di telinga mereka, …… bertentangan dengan setiap kecenderungan alamiah/natural mereka. Yesus memang seorang “tanda lawan”, dan kita sebagai para murid-Nya – seturut perintah Bapa surgawi – mendengarkan Dia (lihat Mat 15:5), hal mana ujung-ujungnya kitapun menjadi “tanda lawan” pula.

Sesungguhnya Yesus memanggil para pengikut-Nya untuk untuk menjadi “supernatural”, untuk menjadi “anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang yang jahat” (Luk 6:35). Yesus memanggil mereka untuk ikut ambil bagian dalam kasih Bapa kepada orang-orang lain juga yang diciptakan oleh Bapa. Kasih ini tidak muncul dari rasa kagum terhadap dia yang dikasihi. Musuh kita barangkali saja bukan tipe yang pantas untuk kita kagumi. Hal ini juga tidak berarti kita menyetujui pelecehan yang dilakukan oleh musuh. Kasih Allah menjangkau orang-orang yang berperilaku tidak pantas, bahkan menjangkau juga para pendosa, termasuk pada saat-saat mereka sedang terlibat dalam dosa. Kasih Allah mengungkapkan hasrat penuh bela rasa-Nya terhadap kebaikan seorang pribadi, siapa pun pribadi itu.

Untuk mengasihi secara begini kita dituntut untuk mengesampingkan tanggapan-tanggapan alamiah kita dan membuka hati kita bagi pengaruh kasih ilahi. Yesus mengajar kita untuk mengasihi musuh-musuh kita dan berbuat baik kepada mereka” (Luk 6:35). Pada gilirannya hal ini mensyaratkan adanya kerendahan-hati dan pengosongan diri kita untuk menjadi serupa dengan Yesus yang dengan kelemah-lembutan sejati, menerima cemoohan dan olok-olok dari orang-orang yang menganiaya-Nya, dengan martabat-Nya sebagai Putera Bapa surgawi, memohon kepada-Nya untuk mengampuni mereka (lihat Luk 23:34).

Walaupun kebanyakan dari kita tidak hidup di teritori yang diduduki oleh musuh, kapan saja kita dapat berada dalam situasi konflik dengan rekan-kerja kita, tetangga-tetangga kita, bahkan dengan para anggota keluarga kita sendiri. Selagi kita menggantungkan diri kita sepenuhnya kepada Yesus, maka Dia pun akan “memasok” kita dengan rahmat kasih yang sangat kita perlukan, yang akan memampukan kita untuk melakukan hal-hal yang baik atau melayani orang-orang lain tanpa pamrih.

DOA: Bapa surgawi, aku memuji Engkau karena telah men-sharing-kan kasih-Mu yang sempurna dengan diriku melalui Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk setiap kesempatan yang Kauberikan dalam kehidupanku untuk mempraktekkan kerendahan-hati. Semoga roh ketaatanku  senantiasa memuliakan nama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:36-38), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS SENDIRILAH STANDAR KITA!” (bacaan tanggal 9-3-20) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014)

Cilandak, 9 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ITU LEBIH BESAR DARIPADA SALOMO MAUPUN YUNUS

YESUS ITU LEBIH BESAR DARIPADA SALOMO MAUPUN YUNUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Rabu, 4 Maret 2020)

Peringatan Fakultatif S. Kasimirus

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan ]pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Yun 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,18-19 

“Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini.” (Luk 11:29-30)

Terus terang, jika kita menyebut nama nabi Yunus yang muncul di kepala kita adalah gambaran ikan paus yang besar dan dalam perut ikan paus besar itu ada nabi Yunus. Kitab Yunus (Perjanjian Lama) adalah cerita mengenai seorang nabi Yahudi yang diutus untuk berkhotbah mewartakan pertobatan kepada para penduduk kota kafir Niniwe. Ketika dia sampai di sana, Yunus tidak membuat tanda-tanda yang luarbiasa. Dia hanya mengatakan kepada orang-orang Niniwe bahwa dosa-dosa para penduduk Niniwe telah menempatkan mereka di bawah kutukan Allah. Bagaimana orang-orang Niniwe menanggapi seruan pertobatan Allah lewat mulut nabi Yunus ini? Sungguh mengejutkan!  Walaupun mereka bukan orang-orang yang beragama Yahudi, para penduduk Niniwe menanggapi seruan Yunus ini dengan suatu pertobatan batin yang sejati. Dengan pengharapan bahwa Allah akan menahan/membatalkan penjatuhan hukuman yang memang pantas bagi mereka, para penduduk Niniwe melakukan pertobatan pada waktu raja mereka sendiri memerintahkan mereka untuk berbalik dan meninggalkan kedosaan mereka (Yun 3:1-10).

Seperti juga Yunus, Yesus datang ke tengah-tengah masyarakat manusia pada zaman-Nya untuk memproklamasikan suatu pesan pertobatan dan keselamatan. Namun banyak pendengar khotbah-khotbah pewartaan-Nya memiliki hati yang keras dan beku. Mereka menuntut Yesus untuk membuat mukjizat sebagai bukti, bahkan ketika mereka gagal untuk mengenali “tanda” yang sudah sekian lama hadir di tengah-tengah mereka, yaitu Yesus sendiri. Yesus merasa sedih atas kekerasan hati dan ketidakpercayaan orang-orang tersebut. Oleh karena itu Dia berkata kepada para pendengar-Nya: “Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya” (Luk 11:32).

Begitu seriuskah tuduhan yang dialamatkan kepada orang-orang Yahudi? Mengapa? Marilah kita merenungkan cerita Yunus lagi. Orang-orang kota Niniwe berubah karena khotbah nabi Yunus, seorang asing. Tidak demikian halnya dengan orang-orang Yahudi. Seorang pribadi yang jauh lebih besar daripada Yunus telah datang ke tengah-tengah umat-Nya sendiri, namun Ia ditolak mentah-mentah. Yesus juga mengingatkan para pendengar-Nya bahwa Ratu dari Selatan (Syeba) telah melakukan perjalanan jauh untuk mendengarkan hikmat Salomo, padahal orang yang berdiri di tengah-tengah mereka adalah jauh lebih besar daripada Salomo (Luk 11:31). Hal ini sungguh menimbulkan rasa sedih hati Yesus, yaitu kenyataan bahwa umat-Nya sendiri tidak mau mengakui-Nya atau menerima sabda-sabda kebenaran dan kebebasan yang diucapkan-Nya.

Sebenarnya yang harus menjadi bahan pertimbangan banyak orang Yahudi bukanlah credentials (lulusan pesantren mana dll.) Yesus, tetapi pesan pertobatan dan keselamatan yang disampaikan-Nya. Orang-orang Niniwe tidak meminta resume (riwayat hidup dan berbagai capaian) Nabi Yunus, tetapi melihat ada kebenaran dari apa yang dikhotbahkannya. Jadi, seruan Yesus agar orang-orang Yahudi kembali kepada arti sesungguhnya dari perjanjian (dengan Allah) seharusnya sudah cukup bagi orang-orang Farisi. Apabila mereka gagal melihat signifikansi dari ajaran-Nya, maka penilaian atas credentials-Nya tidak akan membantu.

Pada hari ini pun Yesus datang kepada kita dengan pesan keselamatan yang sama. Dia menawarkan kepada kita kebebasan dari dosa dan hikmat untuk hidup kita, hanya apabila kita sudi mendengarkan pesan-Nya tersebut. Janganlah kita meniru orang-orang Yahudi yang menuntut tanda-tanda luarbiasa sebagai bukti atau menutup hati kita terhadap panggilan-Nya. Marilah kita menanggapi rahmat-Nya dan bertobat atas dosa-dosa kita. Marilah kita memohon Roh Kudus-Nya untuk mentransformasikan dan memperbaharui diri kita. Setiap hari, marilah kita mencari Yesus untuk mendapatkan hikmat-Nya, yang terus tersedia bagi kita melalui sabda-Nya dalam Kitab Suci, agar dengan demikian kita senantiasa memperoleh bimbingan-Nya dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, jagalah diriku agar tidak mengeraskan dan menutup hatiku terhadap sentuhan kasih-Mu. Tolonglah aku untuk dengan rendah hati menanggapi panggilan-Mu dan kemudian memasuki sukacita penuh dan kebebasan yang datang dari pertobatanku. Yesus, aku ingin merangkul sepenuhnya sabda-sabda-Mu yang penuh hikmat, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yun 3:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “YUNUS DAN PERTOBATAN KOTA NINIWE” (bacaan tanggal 4-3-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2020. 

Cilandak, 2 Maret 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUHAN MENGHARGAI KEHENDAK BEBAS MANUSIA

TUHAN MENGHARGAI KEHENDAK BEBAS MANUSIA

(Bacaan Injil, Hari Kamis sesudah Rabu Abu – 27 Februari 2020)

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Kata-Nya kepada mereka semua, “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? (Luk 9:22-25). 

Bacaan Pertama: Ul 30:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Tidakkah anda merasa takjub penuh kekaguman ketika menyadari bahwa Yesus Kristus – Putera Allah yang tunggal, Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus – memberikan kepada kita – manusia biasa yang pada suatu hari akan mati – sebuah pilihan? Ia tidak memerintahkan kita untuk mengikuti jejak-Nya; …… Dia mengundang kita. Yesus menghargai kehendak bebas yang dikaruniakan kepada manusia sewaktu diciptakan.

Apakah pilihan yang ditawarkan oleh Yesus? Apakah ini pilihan untuk menghayati suatu kehidupan yang terus-menerus melibatkan penderitaan: “menyangkal diri dan memikul salib kita” dari hari ke hari, dan secara pasif menerima pencobaan apa saja yang datang menimpa, dengan pengharapan bahwa Allah akan menerima kita? Tidak! Pilihan yang riil adalah untuk mengikuti jejak Yesus dan menerima apa saja yang diminta oleh pilihan itu. Sebuah pilihan untuk memusatkan pandangan mata kita pada Yesus, yang rindu untuk mencurahkan kasih-Nya kedalam hati kita setiap hari. Ini adalah pilihan untuk percaya bahwa dengan Yesus kita dapat mengatasi segala halangan, tantangan, atau kesulitan yang bermunculan – baik secara internal maupun eksternal.

Di sini, pada awal masa Prapaskah, Allah mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepada kita: “Siapa Yesus itu?” Apakah Dia sekadar seorang baik, barangkali bahkan seorang nabi, yang peri kehidupan-Nya harus kita teladani? Atau, Dia adalah Putera Allah yang menjadi manusia agar supaya kita dapat menjadi anak-anak Allah? Apakah Dia seorang hakim yang kaku-keras, yang siap untuk menghukum setiap dosa kita? Ataukah Dia sang “Anak Domba Allah” yang menyerahkan hidup-Nya sendiri agar kita dapat dibebas-merdekakan dari dosa dan ditransformasikan menjadi “gambar dan rupa-Nya” sendiri?

Berabad-abad sebelum kehadiran Yesus di tengah-tengah dunia, Musa mengatakan kepada orang-orang Israel bahwa taat kepada Allah adalah suatu isu hidup-atau-mati: “Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan” (Ul 30:15), dan artian tertentu hal ini memang benar. Musa mengetahui perbedaan antara berjalan sehari-hari dengan Tuhan dan berjalan sendiri.

Pada hari ini Yesus ingin membuka mata (hati) kita tentang adanya perbedaan itu. Dia ingin mengatakan kepada kita, bahwa apabila kita memilih Dia dari  hari ke hari, kemungkinan-kemungkinan yang tersedia untuk kehidupan kita adalah tidak terbatas. Kita tidak hanya akan hidup sebagai sekadar makhluk insani, melainkan akan memperoleh akses kepada segala rahmat dan kuasa Allah yang Mahakuasa! Kita akan dimampukan untuk mengasihi mereka yang sangat sulit kita kasihi, mengampuni mereka yang sangat sulit untuk kita ampuni dan mengatasi permasalahan yang tak mungkin teratasi apabila kita memakai kekuatan kita sendiri. Memang ada masalah “biaya” di sini. Mungkin dalam bentuk berbagai penderitaan dan kesulitan di sepanjang jalan yang kita tempuh, namun kita dapat merasa yakin bahwa selama kita berada dekat dengan Yesus, maka Dia akan sangat dekat dengan diri kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku memilih untuk mengikuti jejak-Mu pada hari ini dan hari-hari sepanjang hidupku. Aku menerima janji-Mu tentang kehidupan. Tuhan, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena telah mengundang diriku untuk berada bersama dengan-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ul 30:15-20), bacalah tulisan yang berjudul “AKU MENGHADAPKAN KEPADAMU PADA HARI INI KEHIDUPAN DAN KEBERUNTUNGAN, KEMATIAN DAN KECELAKAAN” (bacaan tanggal 27-2-20) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 20-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,  26 Februari 2020 [HARI RABU ABU] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS