Posts tagged ‘KAPERNAUM’

ROTI KEHIDUPAN

ROTI KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Jumat, 5 Mei 2017)

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat. (Yoh 6:52-59)

Bacaan Pertama: Kis 9:1-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2 

Selagi Yesus mengajar orang banyak tentang roti kehidupan, Ia mengatakan kepada mereka bahwa diri-Nya lah roti yang memberi-hidup dan dikirim oleh Bapa di surga. Di bagian akhir pengajaran-Nya, Yesus menantang mereka yang datang kepada-Nya: “Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Menanggapi pertengkaran antara orang-orang Yahudi sendiri, dengan sederhana Yesus mengulangi: “Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:53-54).  Bagi para pembaca Injil Yohanes yang awal, “litani” terus-menerus dari kata-kata – “makan”, “minum”, “daging”, “darah” – mengingatkan mereka akan Sakramen Ekaristi. Demikian pula kiranya dengan kita, bukan?

Dalam Sakramen Ekaristi, kita dihubungkan dengan kurban di mana Yesus mempersembsahkan diri-Nya sendiri “untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Setiap kali kita merayakan misteri ini, kurban yang sama dihadirkan kembali kepada kita. Menurut “Katekismus Gereja Katolik” (KGK), Ekaristi adalah suatu “kenangan” dalam pengertian alkitabiah: “tidak hanya berarti mengenangkan peristiwa-peristiwa di masa lampau, tetapi mewartakan karya-karya agung yang telah dilakukan Allah untuk umat manusia (bdk. Kel 13:3). Dalam perayaan liturgi peristiwa-peristiwa itu dihadirkan dan menjadi hidup lagi” (KGK, 1363). Hal ini tidak bertentangan samasekali dengan pernyataan dalam ‘Surat kepada Orang Ibrani: “Sebab oleh satu kurban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan” (Ibr 10:14).

Ekaristi bukan sekadar suatu peringatan; Ekaristi adalah juga suatu kurban atau pemberian-diri yang riil: “Dalam Ekaristi, Kristus mengaruniakan tubuh ini, yang telah Ia serahkan di kayu salib untuk kita, dan darah ini, ‘yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa’ (Mat 26:28)” (KGK. 1365). Setiap kali kita merayakan Misa, kita turut mengambil bagian dalam penghadiran-kembali kematian dan kebangkitan Kristus. Ketika kita menerima Dia dengan suatu disposisi iman dan kasih, maka kita masuk ke dalam peristiwa-peristiwa aktual persembahan kurban berupa pemberian-diri-Nya sendiri. Kita tidak hanya menerima roti dan anggur, atau daging dan darah. Kita menerima keselamatan. Oleh karena itu marilah kita bersukacita bahwa Yesus telah memberikan karunia  ini kepada segenap generasi sampai saat kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan kelak.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk pengorbanan-Mu di kayu salib dan kebangkitan-Mu kepada hidup baru. Terima kasih, Engkau membuat tindakan penebusan-Mu itu hadir setiap kali kami merayakan Ekaristi. Dengan rendah hati kami menerima kehadiran-Mu di tengah-tengah kami, dan kami percaya akan janji-Mu yang besar bahwa siapa saja yang makan tubuh-Mu dan minum darah-Mu akan tetapi tinggal dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:52-59), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN MENUJU KEHIDUPAN KEKAL-NYA ADALAH MELALUI SALIB”  (bacaan tanggal 5-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 2 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 1 Mei 2017)

Peringatan S. Yusuf Pekerja

Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Pikir-pikir, paling sedikit ada satu hal yang baik (sisi positif) dari orang banyak yang mengikuti Yesus seperti diceritakan dalam  bacaan di atas: Orang banyak itu memiliki ketekunan! Banyak dari mereka telah menyaksikan penyembuhan orang buta, orang lumpuh, orang yang menderita berbagai macam sakit-penyakit lainnya, dan mereka sendiri telah diberi makan sampai kenyang secara ajaib sehari sebelumnya. Dan sekarang, ketika Yesus “menghilang” dari pandangan mata mereka, mereka terus saja mencari Dia sampai ketemu di daratan/pantai bagian lain dari danau itu, di Kapernaum. Seperti akan kita lihat dalam bacaan beberapa hari ke depan, ketekunan mereka membawa hasil, hasil yang jauh lebih besar dan agung daripada yang mereka harap-harapkan.

Ketika orang banyak itu menemukan Yesus, kiranya mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana Yesus bisa sampai ke Kapernaum. Naik apa, karena semua perahu sudah dihitung! Mereka bertanya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” (Yoh 6:25). Yesus tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Sebaliknya, Dia ingin memperdalam pemahaman mereka tentang siapa diri-Nya sesungguhnya. Sampai saat itu, orang banyak tertarik kepada Yesus karena berbagai mukjizat dan tanda heran lain yang dibuat oleh-Nya.

Sekarang, tibalah waktunya bagi orang banyak itu untuk mulai memandang Yesus melampaui tanda-tanda, yaitu kepada kebenaran-kebenaran yang dimaksudkan oleh tanda-tanda tersebut. Yesus ingin memimpin mereka kepada iman akan diri-Nya sebagai Putera Allah dan Roti Kehidupan. Mukjizat pergandaan roti dan ikan hanyalah suatu “pendahuluan” untuk sampai kepada mukjizat yang lebih mendalam, yaitu pemberian tubuh dan darah-Nya sendiri yang dapat memberikan kehidupan kekal kepada semua orang yang percaya. Yesus bersabda: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Ini adalah kata-kata keras bagi telinga banyak orang. Mereka masih tetap menginginkan tanda-tanda dari dunia sehingga mereka tidak perlu menghadapi tantangan iman. Memang tidak susah untuk bersimpati kepada orang banyak itu! Iman-kepercayaan tidak selalu merupakan suatu perjalanan yang mudah. Apabila hidup itu berjalan baik dan kita memperoleh banyak tanda dari kasih Allah kepada kita yang kelihatan di dunia ini, memang tidak sulitlah untuk beriman-kepercayaan. Namun justru dalam badai kehidupanlah iman kita itu dapat bertumbuh.

Dalam hal inilah ketekunan mendapat upahnya. Apakah dalam masa-masa baik atau masa-masa yang buruk, “dalam untung dan malang”, kita harus terus berjuang dalam iman! Marilah kita selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menggunakan karunia akal-budi yang diberikan Allah untuk melihat kebenaran dari setiap situasi di mana kita berada, sehingga iman kita dapat bertumbuh dan menjadi matang melalui rahmat Allah.

DOA: Tuhan Yesus, kuatkanlah karunia iman yang telah Kauanugerahkan kepadaku. Tolonglah aku untuk selalu bertekun mencari-Mu di dalam segala hal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH” (bacaan tanggal 1-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 27 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!  

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA III [TAHUN A] – 22 Januari 2017)

Hari Kelima Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 

kemuridan-yesus-memanggil-murid-muridnya-yang-pertamaTetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, – bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang  besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak itu Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” [1]

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu, Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan mereka (Mat 4:12-23). [1] Mat 4:15-16 à Yes 8:23-9:1 

Bacaan Pertama: Yes 8:23b-9:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Kedua: 1Kor 1:10-13,17

Setelah Herodes Antipas menangkap Yohanes Pembaptis, Yesus mengundurkan diri dari padang gurun; bukan untuk melarikan diri dari raja itu, karena Galilea juga merupakan bagian dari daerah kekuasaannya, melainkan untuk menunjukkan sebuah prinsip yang akan seringkali berulang: penolakan terhadap Injil di satu tempat akan membawa pewartaan Injil ke sebuah tempat lain.

Yesus dan Yohanes Pembaptis tidak hanya mempunyai pesan yang sama, mereka juga mengalami kemartiran di bawah pemerintahan seorang raja yang sama: Herodes Antipas. Apakah Yesus kembali ke Nazaret untuk waktu yang tidak lama atau apakah Dia pindah alamat ke Kapernaum, semuanya tidak jelas. Kapernaum, di tepi danau terletak di wilayah Naftali, yang bersama Zebulon dan yang lain-lain dari kerajaan utara dirampas dan dimasukkan ke bawah kekuasaaan Asiria (Asyur) pada tahun 734 SM. Karena dibanjiri oleh imigran-imigran non-Yahudi (baca: kafir), maka hal ini memberikan alasan bagi orang-orang Yahudi Ortodoks di Yerusalem untuk mencurigai kemurnian doktrinal mereka. Yesaya telah menubuatkan pembebasan mereka, seperti diringkas dalam Yes 5:23-9:1.  Hal ini digenapi ketika Yesus datang ke Galilea. Galilea adalah tanah orang Yahudi, maka kunjungan Yesus ke Galilea menggambarkan bahwa Yesus pertama-tama datang kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel (lihat Mat 10:6; lihat juga15:4). Namun, Galilea juga merupakan “distrik orang-orang kafir” yang memberikan banyak peluang bagi Yesus untuk berkontak dan berinter-aksi dengan orang-orang non-Yahudi. Dengan demikian Galilea menggambarkan komposisi dari komunitas Matius yang terdiri dari orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi.

“Sejak itu Yesus mulai memberitakan, ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!’ ” (Mat 4:17) adalah ayat yang sangat penting dalam Injil. Di satu sisi ayat ini memberikan pesan yang seperti pesan Yohanes Pembaptis, namun di sisi lain ayat termaksud mengakhiri bagian dari Injil yang dimulai di bab 3. “Sejak itu Yesus mulai memberitakan” menandakan bagian pertama dari pelayanan Yesus di tengah publik. Bagian kedua ditandakan oleh ayat Mat 16:21, di mana ungkapan yang sama akan digunakan oleh penulis Injil.

Sejak awal pelayanan-Nya di tengah public, Yesus memanggil mengumpulkan sejumlah murid di sekeliling Diri-Nya. Mengapa? Karena Yesus sadar bahwa ajaran-Nya akan hilang jika tidak diintegrasikaan dalam kehidupan pribadi-pribadi dan hidup sebuah komunitas. Komunitas itu – yang sekarang kita namakan Gereja – menjadi garam bumi dan terang dunia (Mat 5:13-16). Jadi, sebelum Yesus mengajar atau membuat mukjizat, Ia harus mempunyai saksi-saksi. Saksi-saksi dimaksud tidak hanya berarti orang-orang yang melihat dan mendengar apa yang dilakukan/diucapkan-Nya, melainkan juga menghayati dan hidup seturut pesan-Nya.

Kata-kata yang diucapkan lewat khotbah dengan cepat dapat terlupakan oleh  orang banyak, yang datang karena keinginan tahu yang bersifat superfisial, tanpa komitmen. Kata-kata tertulis juga dapat menjadi kata-kata yang terkubur mati apabila tidak hidup dalam hati manusia dan diproklamasikan  oleh suatu suara yang hidup.

Murid-murid Yesus harus lebih daripada sekadar murid-murid para rabi Yahudi, bahkan harus lebbih daripada sekadar saksi-saksi. Panggilan Yesus mencakup sebuah janji bahwa Dia akan membuat mereka menjadi pejala-penjala manusia, suatu pekerjaan yang akan mereka mulai lakukan ketika Yesus mengutus mereka dalam misi evangelisasi mereka yang pertama (Mat 10).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah memancarkan terang kasih-Mu ke dalam hidupku yang dipenuhi kegelapan ini. Di tengah-tengah kesibukan sehari-hariku, tolonglah aku agar dapat mengikuti-Mu dengan semangat yang berapi-api sebagaimana yang telah ditujukkan oleh para murid-Mu yang pertama. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 4:12-23), bacalah tulisan yang berjudul “PERSATUAN ALAM TERANG DAN HIDUP YANG MENYELAMATKAN DARI KRISTUS” (bacaan tanggal 22-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

Cilandak, 19 Januari 2017 [Hari Kedua Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 13 Januari 2017) 

stdas0592-jesus-heals-the-palsied-manKemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: Ibr 4:1-5,11; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,6-8 

Narasi Injil yang cukup dramatis ini adalah mengenai bagaimana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah oleh empat orang yang membawanya ke tempat itu. Cerita tentang penyembuhan orang lumpuh ini adalah yang pertama dari lima cerita konflik dalam Injil Markus (2:1-3:6), yang menyoroti perlawanan para pemuka agama Yahudi terhadap pernyataan siapa diri Yesus itu. Dengan berpegang teguh pada ide-ide kuno mereka sendiri, para ahli Taurat dan orang Farisi gagal mengalami bela rasa dan kasih Allah yang dimanifestasikan dalam diri Yesus.

Ada beberapa pokok konflik yang muncul antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi selama berlangsungnya proses penyembuhan. Yang pertama terjadi ketika Yesus mendeklarasikan bahwa dosa-dosa orang itu diampuni (Mrk 2:5). Dalam Perjanjian Lama, kuasa untuk mengampuni dosa hanya milik Allah saja (Kel 34:6-7; Yes 43:25). Lalu Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10). Tradisi Yahudi pada waktu itu memahami bahwa yang dimaksudkan dengan “anak manusia” (Dan 7:13-14) mengacu kepada sang Mesias yang akan membawa umat ke dalam Kerajaan Allah. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan tokoh mesianis ini untuk mulai menyatakan diri-Nya dan mempersiapkan umat bagi pekerjaan yang akan dilaksanakan-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Tanggapan umat yang hadir terhadap peristiwa penyembuhan orang lumpuh ini merupakan sebuah kontras yang tajam terhadap ketakutan yang melumpuhkan dari para ahli Taurat (Mrk 2:7). Orang banyak takjub dan memuliakan Allah, sambil berkata: “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Mereka memberi tanggapan positif terhadap kebaikan dan belas kasih Allah. Kiranya tidak sedikit dari orang banyak itu kemudian menjadi murid-murid Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa orang banyak  dapat mengenali siapa Yesus itu, sementara para pemimpin agama Yahudi buta sehingga tidak mampu melihat siapa sebenarnya Yesus? Jawabnya terletak pada iman mereka. Yesus melihat iman dari mereka yang membawa orang lumpuh dan juga iman si lumpuh sendiri (Mrk 2:5). Walaupun kuat-kuasa dan belas kasih Yesus begitu terlihat oleh mereka yang percaya (beriman), ketidak-percayaan telah membutakan mata (terutama mata hati) para pemuka agama Yahudi tersebut. Para pemuka agama Yahudi itu tidak mau mengubah mindset  mereka, juga tidak mempunyai keberanian untuk keluar dari comfort zone mereka. Bukankah implisit dalam pengertian apa iman itu, terdapat unsur-unsur keberanian dan perubahan diri?

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bukalah mata kami agar mampu melihat karya-Mu dengan lebih jelas dalam hidup kami. Sembuhkanlah kami dari berbagai cara berpikir kami yang membatasi – bahkan menghalangi – pemahaman kami tentang rencana penyelamatan Bapa surgawi atas segenap umat manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG LUMPUH” (bacaan tanggal 13-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2014] 

Cilandak, 10 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

MENYERAHKAN HIDUP KITA KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 11 Januari 2017) 

ca17b1c8Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.”  Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”  Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.  (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Yesus menyembuhkan setiap orang yang datang kepada-Nya di Kapernaum. Dia menerima setiap orang, bahkan orang-orang yang mungkin dipertimbangkan sebagai orang-orang yang tak masuk hitungan. Bagi Yesus, tidak ada orang yang dibuang. Yesus membuat jelas bahwa Dia datang untuk menjungkir-balikkan pekerjaan Iblis serta roh-roh jahat pengikutnya, dan membereskan perusakan/kerusakan akibat dosa. Melalui jamahan penyembuhan-Nya, Yesus mengundang setiap orang untuk mengikuti Dia dan memperkenankan Dia memerintah dalam hati mereka.

Ibu mertua Simon Petrus adalah seorang dari mereka yang menerima undangan Yesus itu. Begitu dia menerima jamahan penyembuhan dari Yesus, dia mulai melayani-Nya dan para murid yang ikut serta dengan-Nya (Mrk 1:31). Kelihatan di sini tidak ada keragu-raguan di pihak sang ibu mertua: Dia begitu bersyukur atas apa yang dilakukan Tuhan Yesus baginya, sehingga setelah disembuhkan langsung saja dia bangkit berdiri untuk melayani-Nya.

Melalui Yesus, kerajaan Allah telah datang kepada kita – suatu sentuhan surga pada bumi. Yesus menawarkan penyembuhan kepada masing-masing dari kita – tubuh, pikiran dan roh – sehingga kita pun akan menanggapi dengan penuh sukacita, melayani Dia dan umat-Nya dalam cintakasih. Ibu mertua Simon memberikan kepada kita sebuah contoh cara pelayanan Kristiani. Seandainya dia tidak disembuhkan terlebih dahulu, maka dia pun tidak akan mampu untuk melayani. Tetapi, sekali dia mengalami kerahiman dan penyembuhan ilahi dari Tuhan, dia pun bebas untuk memberikan dirinya sendiri secara penuh bagi Tuhan.

yesus-menyembuhkan-jesus-heals-the-sick-mat-9-35Yesus memanggil kita semua untuk melayani Allah dan sesama. Akan tetapi, sebelum kita menjadi pelayan-Nya, adalah vital bahwa kita mengalami karya penyembuhan-Nya dulu dalam hidup kita. Kita semua telah dilukai oleh efek-efek dosa, dan kita membawa tanda-tandanya dalam tubuh dan hati kita. Sampai berapa jauh kita memperkenankan Tuhan melayani kita dengan menyembuhkan diri kita, sampai sebegitu jauh pula kita akan mampu bergabung dengan-Nya dalam pekerjaan membangun kerajaan-Nya di muka bumi ini. Melayani Tuhan bukanlah sesuatu yang kita kerahkan dari kebaikan kita sendiri. Ini adalah sesuatu yang bertumbuh dalam diri kita selagi kita menyerahkan hidup kita kepada tangan-tangan penyembuhan sang Guru dan Dokter Agung. Marilah kita membawa luka-luka dan sakit-penyakit kita kepada Yesus dan mohon kepada-Nya agar menyembuhkan kita, sehingga kita dapat menjadi pelayan-pelayan-Nya yang penuh sukacita.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan sembuhkanlah kami sehingga Kerajaan-Mu akan datang ke muka bumi ini dalam kepenuhan dan kuat-kuasa. Kami menyerahkan hidup kami kepada-Mu agar supaya kami dapat mengasihi-Mu, melayani-Mu dan bersama dengan-Mu, dengan demikian dapat menjadi perpanjangan tangan-Mu bagi dunia di sekeliling kami. Terpujilah Nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan yang berjudul “KESELAMATAN DARI YESUS” (bacaan tanggal 11-1-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 9 Januari 2017 [PESTA PEMBAPTISAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IMAN YANG LUAR BIASA

IMAN YANG LUAR BIASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Senin, 28 November 2016)

OFM dan OFMConv.: Peringatan S. Yakobus dari Marka, Imam 

centurion-looking-rightKetika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga. (Mat 8:1-5)

Bacaan Pertama: Yes 2:1-5 atau Yes 4:2-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-9

Memang luarbiasa besar iman yang dimiliki oleh si perwira itu. Rasa percayanya kepada Yesus begitu kuat sehingga Yesus sampai memproklamirkan kepada orang-orang yang di situ: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10). Marilah kita membayangkan bagaimana orang ini menanti dengan penuh hasrat saat di mana dia dapat mendekati Yesus dan mengajukan permohonannya. Ingatlah bahwa perwira dengan pangkat centurion (sekarang: komandan kompi) ini tentulah bukan seorang Yahudi. Oleh rahmat Allah, kita juga telah menerima karunia iman. Kita pun dapat melakukan pendekatan kepada Yesus dengan pengharapan yang sama seperti yang dimiliki si perwira pasukan Romawi itu. Sekarang tergantung kepada kita untuk memutuskan apakah kita akan mempraktekkan iman ini. 

Percayakah anda bahwa tidak ada yang terlalu besar bagi Allah? Otoritas-Nya mencakup dunia dari kekal sampai kekal. Ketika Dia berjalan di antara kita manusia, Yesus mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan orang-orang yang menderita segala macam sakit-penyakit dan Ia juga mengampuni para pendosa. Sekarang Ia sudah ditinggikan ke sebelah kanan Allah Bapa, Dia siap untuk bertindak dengan kuat-kuasa yang sama, pada hari ini. Benarlah bahwa Yesus telah naik ke surga, namun Ia telah memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya – Allah sendiri yang berdiam dalam diri kita masing-masing dan dalam dunia. 

YESUS DAN CENTURION - 3Manakala anda berdoa, apakah – seperti si perwira Romawi – anda melakukan terobosan di tengah-tengah kerumunan orang banyak yang mempunyai iman yang kecil, lalu menempatkan kebutuhan-kebutuhan anda langsung di hadapan Yesus? Pertimbangkanlah rasa percaya (trust) dan iman si perwira: dalam upayanya agar kebutuhannya diketahui oleh Yesus, tidak ada yang dapat menghalanginya. Sekarang lihat hasilnya: Si perwira melihat dengan matanya sendiri bahwa tidak ada apa dan siapa pun di atas muka bumi ini yang dapat menyaingi kuat-kuasa dan kasih Kristus. Hambanya yang tadinya lumpuh dan kemudian menjadi sembuh tentunya adalah seorang saksi hidup atas kuasa penyembuhan yang mahadahsyat dari Allah. Seperti Bunda Maria, dia pun kiranya dapat melambungkan kidungnya: “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya” (Luk 1:49). 

Bacaan Injil hari ini yang menunjukkan kuasa penyembuhan ilahi dilanjutkan dengan cerita tentang penyembuhan ibu mertua Petrus yang sakit demam, kemudian disusul oleh karya Yesus mengusir roh jahat yang telah merasuki banyak orang. Mereka pun dibebaskan dari pengaruh roh jahat, demikian pula banyak orang sakit yang disembuhkannya semua (lihat Mat 8:14-17). Iblis memang akan senang sekali kalau kita merasa ragu apakah Allah masih ingin bekerja dengan cara ini di dunia. Dalam hal ini baiklah kita yakini bahwa Allah masih sama kuat-kuasa penyembuhan-Nya dan belas kasihan-Nya sekarang seperti 2.000 tahun lalu. Memang susah bagi kita untuk mengerti bagaimana Allah berniat untuk bekerja dalam dan lewat diri kita. Yang kita butuhkan adalah menaruh kepercayaan atas kebaikan-Nya dan mempraktekkan iman yang telah diberikan-Nya kepada kita. Marilah sekarang kita berdoa agar Allah memanifestasikan kasih-Nya dalam sebuah dunia yang begitu membutuhkan-Nya. 

DOA: Tuhan Yesus, kami tak pantas datang ke hadapan-Mu, namun Engkau menerima kami dengan tangan terbuka. Dalam kehidupan semua orang yang paling membutuhkan Engkau, ya Tuhan, sebutkanlah sepatah kata saja, dan biarlah terjadi pada kami semua menurut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [Mat 8:5-11],  bacalah  tulisan yang berjudul “IMAN YANG RENDAH HATI” (bacaan tanggal 28-11-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 25 November 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERINTAH YESUS KEPADA ROH-ROH JAHAT PENUH WIBAWA DAN KUASA

PERINTAH YESUS KEPADA ROH-ROH JAHAT PENUH WIBAWA DAN KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Selasa, 30 Agustus 2016) 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Lalu tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. (Luk 4:31-37)

Bacaan Pertama: 1Kor 2:10b-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:8-14

Pelayanan Yesus telah dimulai. Tidak pernah kelihatan yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang heran dan bertanya-tanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  (Luk 4:36). Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekedar khotbah. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa”  (1 Kor 2:4).

Setiap kebenaran Injil dapat dipilah-pilah dan dianalisis dengan kekuatan intelek dan hal itu samasekali tidak salah, asal saja tidak jadi membingungkan kita atau malah membuat kita tertipu oleh si Jahat. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dan lebih memiliki kuasa, yang diberikan oleh Yesus kepada kita. Dia datang untuk memproklamasikan kebenaran sedemikian rupa, sehingga akan memerdekakan kita. Yesus berfirman: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32).

Kata-kata Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebaskan kita. Kata-kata Yesus mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja.

Apakah kita mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa, sehingga kita dapat mengalami kuasanya untuk memerdekakan kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari tindakan kita mendengarkan firman-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau kelompok Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada pada pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis. Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada firman-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita.

Yesus merindukan supaya kita mengundang Dia ke dalam hati kita masing-masing – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mencatat, “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain”  (KGK, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau saja yang mengetahui hati kami dan hasrat yang ada dalam hati kami itu. Pada saat ini kami mengundang-Mu untuk memasuki bagian terdalam dari keberadaan kami dan mengikat kami pada hati-Mu. Bebaskanlah kami, ya Tuhan, dari segala kejahatan dan ajarlah kami bagaimana seharusnya hidup untuk-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SUNGGUH INGIN BEKERJA DALAM HIDUP KITA” (bacaan tanggal 30-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 28 Agustus 2016 [HARI MINGGU BIASA XXII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS