Posts tagged ‘KAPERNAUM’

IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI

IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 18 September 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam 

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Tim 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 28:2,7-9 

Perwira Romawi dalam cerita Injil Lukas ini berpangkat Centurion yang membawahi seratus orang prajurit, katakanlah sekarang namanya komandan kompi. Perwira ini adalah seorang yang memiliki iman yang kokoh, iman yang mencerminkan keyakinannya yang bersifat total dan mutlak kepada Yesus. Sikap dan perilaku perwira ini tanpa banyak ribut mengakui otoritas Yesus atas segala aspek kehidupan. Dihadapkan dengan penyakit serius yang diderita oleh hambanya yang sangat dihargainya, sang perwira menggantungkan pengharapannya pada Yesus saja. Ternyata perwira ini adalah seorang pribadi yang mengasihi bangsa Yahudi, malah membangun rumah ibadat (sinagoga) bagi masyarakat Yahudi setempat (Luk 7:4-5).

Perwira itu minta tolong kepada beberapa orang tua-tua Yahudi agar dapat menghadap Yesus dan mohon pertolongan-Nya guna menyembuhkan hambanya. Nampaknya dia tidak merasa layak untuk datang sendiri menghadap Yesus (bdk. Mat 8:5). Perwira itu mencari otoritas yang ada pada sabda Yesus, sebagai solusi yang jelas terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

Surat Pertama Santo Petrus memuji iman dari mereka yang menerima dan percaya kepada Yesus setelah wafat dan kebangkitan-Nya. Dalam surat itu Petrus menulis: “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira dengan rasa sukacita yang mulia dan tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1Ptr 1:8-9). Di sini kita dapat melihat betapa tulisan Petrus ini menggambarkan iman dari sang perwira dalam bacaan Injil Lukas hari ini.

Sang perwira merasa tidak layak untuk menghadap Yesus secara pribadi, maka dia mengutus dua rombongan; yang pertama adalah para tua-tua Yahudi seperti sudah diutarakan di atas dan kemudian rombongan kedua yang terdiri dari para sahabatnya (lihat Luk 7:3,6). Baginya, Yesus jelaslah seorang Pribadi yang dalam diri-Nya Tuhan Allah berdiam, seseorang yang memiliki otoritas melampau batas-batas insani. Oleh karena itu, dengan ketulusan hati yang tak perlu diragukan lagi, sang perwira menilai dirinya tidak layak untuk menerima Yesus dalam rumahnya. Begitu tinggi rasa hormatnya terhadap Yesus, sehingga dia membutuhkan sepatah kata saja dari Yesus agar hambanya itu disembuhkan: “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Luk 7:7). Hamba yang sakit keras itu pun sembuh – lewat kuasa dari Yesus dan iman sang perwira.

Peristiwa ini dapat menolong memperkuat kita dalam zaman ini yang juga banyak menyaksikan penyembuhan dan mukjizat ilahi, dunia di mana banyak sekali sikon yang dihadapi orang-orang membuat mereka stres dan patah semangat karena menyadari ketidak-mampuan mereka menghadapi berbagai sikon tersebut. Marilah kita ingat selalu bahwa otoritas Yesus tidak pernah mengalami erosi sejak dahulu. Penulis surat kepada orang Ibrani mengatakan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Janji Yesus sama absahnya hari ini seperti dua ribu tahun lalu: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7)

DOA: Tuhan Yesus, tingkatkanlah imanku kepada-Mu, teristimewa pada saat-saat aku berada dalam ketegangan dan keragu-raguan, agar dengan demikian aku dapat dengan penuh keyakinan bertumpu pada sabda-Mu sebagai sumber kekuatanku yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL” (bacaan tanggal 18-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 15 September 2017 [Peringatan SP Maria Berdukacita]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

YESUS PENUH WIBAWA DAN KUASA

YESUS PENUH WIBAWA DAN KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Selasa, 5 September 2017) 

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Lalu tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. (Luk 4:31-37)

Bacaan Pertama: 1Tes 5:1-6,9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

Ada seorang guru yang saya sangat kagumi pada waktu  saya bersekolah di SR dan SMP Bruderan Budi Mulia, Mangga Besar di tahun 1950’an. Nama beliau adalah Ibu Sudjilah, didikan susteran OSF Mendut dan seorang pejuang kemerdekaan. Beliau seorang Kristiani Katolik ….. dan beliau tidak menikah…… mengabdikan diri sepenuhnya bagi dunia pendidikan. Beliau sempat mengajar kami Bahasa Indonesia (termasuk menggunakan huruf Arab), Sejarah Dunia dan Sejarah Indonesia. Di mata saya, beliau adalah seorang guru yang  hebat. Kecintaan saya pada Indonesia boleh dikatakan ditanamkan oleh ibu guru ini. Berbagai perlakuan diskriminatif yang saya alami sepanjang hidup ini tidak menyusutkan kecintaan saya pada negara dan bangsa Indonesia, sedikit-banyak adalah karena pendidikan yang saya terima melalui Ibu Sudjilah ini.

Sekarang, apabila kita (anda dan saya) mengingat-ingat kembali masa sekolah kita dahulu, apa kiranya kualitas yang dimiliki seorang guru tertentu (seperti Ibu Sujilah di atas) yang memampukan dirinya memimpin kita  sampai menjadi siswa-siswa yang unggul. Apa yang dimiliki oleh guru istimewa seperti itu, yang memberi inspirasi kepada kita masing-masing untuk menjadi siswa-siswa yang penuh perhatian dan tanggung-jawab? Barangkali ayah atau ibu kita juga memiliki kualitas itu. Namanya adalah otoritas. Jikalau kita merenungkan bacaan Injil hari ini, maka jelas Yesus secara unik memiliki kualitas termaksud. “Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa” (Luk 4:32).

Bagi orang-orang di Kapernaum, Yesus adalah seorang pribadi yang menakjubkan karena melalui kata-kata-Nya, Dia membuka jalan bagi mereka untuk memikirkan Bapa di surga. Yesus tidak hanya sekadar membuat kemasan baru dari hikmat manusia yang sebenarnya sudah dikenal baik (familiar) di tengah khalayak ramai, dengan suatu cara yang baru dan provokatif. Kata-kata Yesus juga menolong mereka untuk berjumpa dengan Allah. Karena identitias-Nya yang unik, Yesus mengetahui pemikiran-pemikiran dan hasrat-hasrat Allah sendiri. Tuhan Yesus adalah “seorang” pemikir yang orisinal dan kata-kata-Nya mengkonfrontasi pemikiran-pemikiran duniawi orang-orang dan membawa mereka berkontak dengan hasrat-hasrat Allah yang terdalam. Otoritas Yesus berasal dari “atas” karena Dia sendiri datang dari “atas”. Oleh karena itu, orang-orang dapat menaruh pengharapan mereka pada kata-kata-Nya dengan penuh keyakinan.

Kata-kata Yesus menyatakan identitas-Nya, demikian pula tindakan-tindakan-Nya! Yesus menggunakan otoritas dan kuasa-Nya untuk mengalahkan kekuatan-kekuatan jahat dan memulihkan manusia sehingga menjadi utuh. Kita lihat bahwa Dia memiliki otoritas dan kuasa untuk memaksa  roh jahat taat kepada-Nya dan memerintahkan roh jahat itu keluar dari dalam diri orang yang kerasukan itu. Melalui otoritas dan kuasa-Nya, Yesus meraih kemenangan mutlak! (Luk 4:35-36).

Hasrat Yesus untuk mengalahkan Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya tidaklah lebih kuat daripada kerinduan-Nya untuk menyembuhkan kita, anak-anak manusia yang terbelenggu oleh kedosaan. Hati kita yang lemah melekat pada cara-cara berpikir duniawi kita, dan hati itu menentang cara hidup baru yang ingin diberikan oleh Yesus. Melalui pertobatan, artinya dengan berbalik dari hidup kedosaan kita lalu berpaling kepada Yesus, maka kita pun dapat mengalami keutuhan. Seperti orang yang dirasuki oleh roh jahat itu, kita pun dapat menaruh kepercayaan pada Yesus untuk membersihkan hati dan pikiran kita dan memenuhi diri kita masing-masing dengan hidup baru.  Pada hari ini baiklah kita semua menyadari sepenuhnya bahwa melalui Roh Kudus, Yesus hadir di tengah-tengah dan di dalam diri kita masing-masing, dan bahwa kita dapat berjumpa dengan Dia selagi hati kita menghadap hadirat-Nya dalam doa.

DOA: Yesus Kristus, bukalah pikiran dan hati kami bagi otoritas dan kuasa-Mu. Kami menolak apa/siapa saja yang akan menjauhkan kami dari diri-Mu. Kami mohon agar Engkau memperbaharui pikiran dan hati kami, dan membangun kembali cintakasih kami kepada-Mu, sebagai Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:31-37) yang berjudul “” (bacaan tanggal 5-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 2 September 2017 [Peringatan para martir Fransiskan pada masa Revolusi Perancis] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA

BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir – Senin, 14 Agustus 2017)

OFM Conv.: Pesta S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir  

Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut pajak Bait Allah kepada Petrus dan berkata, “Apakah gurumu tidak membayar pajak sebesar dua dirham itu?” Jawabnya, “Memang membayar.” Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan, “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea atau pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus, “Dari orang asing!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Jadi, bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita membuat mereka gusar, pergilah memancing ke danau. Tangkaplah ikan pertama yang kaupancing dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27) 

Bacaan Pertama: Ul 10:12-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Pada waktu orang-orang Yahudi mulai kembali ke Yerusalem dari tanah pembuangan di Babel, mereka setuju untuk hidup dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan hukum Allah. Jika sebelumnya para raja Persia memberikan tunjangan dana untuk terselenggaranya kebaktian di Bait Allah, maka sekarang komunitas Yahudi berjanji untuk memberi sumbangan guna menunjang upacara kebaktian regular dari sumber daya mereka sendiri. Baik warga yang kaya maupun yang miskin, setiap laki-laki yang sudah berumur 20 tahun atau lebih mulai membayar dua dirham per tahunnya. Uang perak Yunani (8.60 g) yang senilai dua dirham sama besarnya  dengan upah dua hari kerja seorang buruh biasa. Memang jumlah yang relatif kecil namun signifikan bagi orang-orang lebih miskin yang harus berjuang dari hari ke hari untuk survive. 

Instruksi Yesus untuk menemukan sekeping uang logam senilai 4 dirham dalam mulut seekor ikan mungkin tidak masuk akal bagi Petrus. Pada titik ini, Petrus telah mendengar pengajaran Yesus dan menyaksikan banyak mukjizat-Nya. Petrus sendiri pun telah memproklamasikan Yesus sebagai “Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Namun demikian, seperti kita, Petrus masih harus belajar lebih lagi tentang siapa Yesus sebenarnya dan juga tentang kebebasan yang diberikan-Nya kepada semua anak-anak Allah. Melakukan seperti apa yang diinstruksikan Yesus tentunya membawa Petrus kepada  suatu tingkatan yang baru dalam upaya memahami Juruselamatnya.

Kemudian Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan anak-anak raja yang tidak diwajibkan untuk membayar pajak kepada ayah mereka yang raja (Mat 17:25); maksudnya bahwa Dia tidak perlu membayar pajak keagamaan untuk pemeliharaan rumah ibadat, karena Dia adalah Putera dari sang Pemilik rumah ibadat itu. Yesus juga meng-cover kewajiban Petrus, artinya termasuk kita juga. Allah telah memanggil kita semua untuk menjadi pewaris-pewaris Kerajaan-Nya, dan melalui darah Kristus martabat kita dipulihkan. Yesus telah memberikan lebih daripada sekadar membayar jalan kita menuju Kerajaan. Masuk ke dalam hadirat-Nya dan kemampuan untuk mendengar suara-Nya sekarang adalah anugerah-Nya bagi kita, seperti dibayarkan pajak Bait Allah oleh Yesus merupakan anugerah bagi Petrus. Sekarang, Yesus minta agar persembahan kita di gereja datang dari sebuah hati yang penuh rasa syukur dan suatu hasrat untuk ikut ambil bagian dalam karya-Nya.

Kita harus bermurah-hati baik kepada Allah maupun kepada sesama kita. Oleh karena itu marilah kita bersahabat dengan para saudari dan saudara kita yang masih hidup sebagai orang-orang asing bagi Kerajaan-Nya. Marilah kita mengasihi mereka sepenuh hati agar supaya mereka dapat mengalami sentuhan Yesus dan menerima anugerah-anugerah (karunia-karunia) yang diberikan-Nya dengan penuh kemurahan-hati.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah begitu baik kepadaku dengan membuat diriku sebagai anak-Mu. Aku sungguh mengasihi-Mu, ya Allahku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu, agar supaya aku dapat mengasihi semua anak-anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU” (bacaan tanggal 14-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ROTI KEHIDUPAN

ROTI KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Jumat, 5 Mei 2017)

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat. (Yoh 6:52-59)

Bacaan Pertama: Kis 9:1-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2 

Selagi Yesus mengajar orang banyak tentang roti kehidupan, Ia mengatakan kepada mereka bahwa diri-Nya lah roti yang memberi-hidup dan dikirim oleh Bapa di surga. Di bagian akhir pengajaran-Nya, Yesus menantang mereka yang datang kepada-Nya: “Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Menanggapi pertengkaran antara orang-orang Yahudi sendiri, dengan sederhana Yesus mengulangi: “Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:53-54).  Bagi para pembaca Injil Yohanes yang awal, “litani” terus-menerus dari kata-kata – “makan”, “minum”, “daging”, “darah” – mengingatkan mereka akan Sakramen Ekaristi. Demikian pula kiranya dengan kita, bukan?

Dalam Sakramen Ekaristi, kita dihubungkan dengan kurban di mana Yesus mempersembsahkan diri-Nya sendiri “untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Setiap kali kita merayakan misteri ini, kurban yang sama dihadirkan kembali kepada kita. Menurut “Katekismus Gereja Katolik” (KGK), Ekaristi adalah suatu “kenangan” dalam pengertian alkitabiah: “tidak hanya berarti mengenangkan peristiwa-peristiwa di masa lampau, tetapi mewartakan karya-karya agung yang telah dilakukan Allah untuk umat manusia (bdk. Kel 13:3). Dalam perayaan liturgi peristiwa-peristiwa itu dihadirkan dan menjadi hidup lagi” (KGK, 1363). Hal ini tidak bertentangan samasekali dengan pernyataan dalam ‘Surat kepada Orang Ibrani: “Sebab oleh satu kurban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan” (Ibr 10:14).

Ekaristi bukan sekadar suatu peringatan; Ekaristi adalah juga suatu kurban atau pemberian-diri yang riil: “Dalam Ekaristi, Kristus mengaruniakan tubuh ini, yang telah Ia serahkan di kayu salib untuk kita, dan darah ini, ‘yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa’ (Mat 26:28)” (KGK. 1365). Setiap kali kita merayakan Misa, kita turut mengambil bagian dalam penghadiran-kembali kematian dan kebangkitan Kristus. Ketika kita menerima Dia dengan suatu disposisi iman dan kasih, maka kita masuk ke dalam peristiwa-peristiwa aktual persembahan kurban berupa pemberian-diri-Nya sendiri. Kita tidak hanya menerima roti dan anggur, atau daging dan darah. Kita menerima keselamatan. Oleh karena itu marilah kita bersukacita bahwa Yesus telah memberikan karunia  ini kepada segenap generasi sampai saat kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan kelak.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk pengorbanan-Mu di kayu salib dan kebangkitan-Mu kepada hidup baru. Terima kasih, Engkau membuat tindakan penebusan-Mu itu hadir setiap kali kami merayakan Ekaristi. Dengan rendah hati kami menerima kehadiran-Mu di tengah-tengah kami, dan kami percaya akan janji-Mu yang besar bahwa siapa saja yang makan tubuh-Mu dan minum darah-Mu akan tetapi tinggal dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:52-59), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN MENUJU KEHIDUPAN KEKAL-NYA ADALAH MELALUI SALIB”  (bacaan tanggal 5-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 2 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 1 Mei 2017)

Peringatan S. Yusuf Pekerja

Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Pikir-pikir, paling sedikit ada satu hal yang baik (sisi positif) dari orang banyak yang mengikuti Yesus seperti diceritakan dalam  bacaan di atas: Orang banyak itu memiliki ketekunan! Banyak dari mereka telah menyaksikan penyembuhan orang buta, orang lumpuh, orang yang menderita berbagai macam sakit-penyakit lainnya, dan mereka sendiri telah diberi makan sampai kenyang secara ajaib sehari sebelumnya. Dan sekarang, ketika Yesus “menghilang” dari pandangan mata mereka, mereka terus saja mencari Dia sampai ketemu di daratan/pantai bagian lain dari danau itu, di Kapernaum. Seperti akan kita lihat dalam bacaan beberapa hari ke depan, ketekunan mereka membawa hasil, hasil yang jauh lebih besar dan agung daripada yang mereka harap-harapkan.

Ketika orang banyak itu menemukan Yesus, kiranya mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana Yesus bisa sampai ke Kapernaum. Naik apa, karena semua perahu sudah dihitung! Mereka bertanya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” (Yoh 6:25). Yesus tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Sebaliknya, Dia ingin memperdalam pemahaman mereka tentang siapa diri-Nya sesungguhnya. Sampai saat itu, orang banyak tertarik kepada Yesus karena berbagai mukjizat dan tanda heran lain yang dibuat oleh-Nya.

Sekarang, tibalah waktunya bagi orang banyak itu untuk mulai memandang Yesus melampaui tanda-tanda, yaitu kepada kebenaran-kebenaran yang dimaksudkan oleh tanda-tanda tersebut. Yesus ingin memimpin mereka kepada iman akan diri-Nya sebagai Putera Allah dan Roti Kehidupan. Mukjizat pergandaan roti dan ikan hanyalah suatu “pendahuluan” untuk sampai kepada mukjizat yang lebih mendalam, yaitu pemberian tubuh dan darah-Nya sendiri yang dapat memberikan kehidupan kekal kepada semua orang yang percaya. Yesus bersabda: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Ini adalah kata-kata keras bagi telinga banyak orang. Mereka masih tetap menginginkan tanda-tanda dari dunia sehingga mereka tidak perlu menghadapi tantangan iman. Memang tidak susah untuk bersimpati kepada orang banyak itu! Iman-kepercayaan tidak selalu merupakan suatu perjalanan yang mudah. Apabila hidup itu berjalan baik dan kita memperoleh banyak tanda dari kasih Allah kepada kita yang kelihatan di dunia ini, memang tidak sulitlah untuk beriman-kepercayaan. Namun justru dalam badai kehidupanlah iman kita itu dapat bertumbuh.

Dalam hal inilah ketekunan mendapat upahnya. Apakah dalam masa-masa baik atau masa-masa yang buruk, “dalam untung dan malang”, kita harus terus berjuang dalam iman! Marilah kita selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menggunakan karunia akal-budi yang diberikan Allah untuk melihat kebenaran dari setiap situasi di mana kita berada, sehingga iman kita dapat bertumbuh dan menjadi matang melalui rahmat Allah.

DOA: Tuhan Yesus, kuatkanlah karunia iman yang telah Kauanugerahkan kepadaku. Tolonglah aku untuk selalu bertekun mencari-Mu di dalam segala hal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH” (bacaan tanggal 1-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 27 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!  

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA III [TAHUN A] – 22 Januari 2017)

Hari Kelima Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani 

kemuridan-yesus-memanggil-murid-muridnya-yang-pertamaTetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, – bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang  besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak itu Yesus mulai memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” [1]

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu, Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan mereka (Mat 4:12-23). [1] Mat 4:15-16 à Yes 8:23-9:1 

Bacaan Pertama: Yes 8:23b-9:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Kedua: 1Kor 1:10-13,17

Setelah Herodes Antipas menangkap Yohanes Pembaptis, Yesus mengundurkan diri dari padang gurun; bukan untuk melarikan diri dari raja itu, karena Galilea juga merupakan bagian dari daerah kekuasaannya, melainkan untuk menunjukkan sebuah prinsip yang akan seringkali berulang: penolakan terhadap Injil di satu tempat akan membawa pewartaan Injil ke sebuah tempat lain.

Yesus dan Yohanes Pembaptis tidak hanya mempunyai pesan yang sama, mereka juga mengalami kemartiran di bawah pemerintahan seorang raja yang sama: Herodes Antipas. Apakah Yesus kembali ke Nazaret untuk waktu yang tidak lama atau apakah Dia pindah alamat ke Kapernaum, semuanya tidak jelas. Kapernaum, di tepi danau terletak di wilayah Naftali, yang bersama Zebulon dan yang lain-lain dari kerajaan utara dirampas dan dimasukkan ke bawah kekuasaaan Asiria (Asyur) pada tahun 734 SM. Karena dibanjiri oleh imigran-imigran non-Yahudi (baca: kafir), maka hal ini memberikan alasan bagi orang-orang Yahudi Ortodoks di Yerusalem untuk mencurigai kemurnian doktrinal mereka. Yesaya telah menubuatkan pembebasan mereka, seperti diringkas dalam Yes 5:23-9:1.  Hal ini digenapi ketika Yesus datang ke Galilea. Galilea adalah tanah orang Yahudi, maka kunjungan Yesus ke Galilea menggambarkan bahwa Yesus pertama-tama datang kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel (lihat Mat 10:6; lihat juga15:4). Namun, Galilea juga merupakan “distrik orang-orang kafir” yang memberikan banyak peluang bagi Yesus untuk berkontak dan berinter-aksi dengan orang-orang non-Yahudi. Dengan demikian Galilea menggambarkan komposisi dari komunitas Matius yang terdiri dari orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi.

“Sejak itu Yesus mulai memberitakan, ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!’ ” (Mat 4:17) adalah ayat yang sangat penting dalam Injil. Di satu sisi ayat ini memberikan pesan yang seperti pesan Yohanes Pembaptis, namun di sisi lain ayat termaksud mengakhiri bagian dari Injil yang dimulai di bab 3. “Sejak itu Yesus mulai memberitakan” menandakan bagian pertama dari pelayanan Yesus di tengah publik. Bagian kedua ditandakan oleh ayat Mat 16:21, di mana ungkapan yang sama akan digunakan oleh penulis Injil.

Sejak awal pelayanan-Nya di tengah public, Yesus memanggil mengumpulkan sejumlah murid di sekeliling Diri-Nya. Mengapa? Karena Yesus sadar bahwa ajaran-Nya akan hilang jika tidak diintegrasikaan dalam kehidupan pribadi-pribadi dan hidup sebuah komunitas. Komunitas itu – yang sekarang kita namakan Gereja – menjadi garam bumi dan terang dunia (Mat 5:13-16). Jadi, sebelum Yesus mengajar atau membuat mukjizat, Ia harus mempunyai saksi-saksi. Saksi-saksi dimaksud tidak hanya berarti orang-orang yang melihat dan mendengar apa yang dilakukan/diucapkan-Nya, melainkan juga menghayati dan hidup seturut pesan-Nya.

Kata-kata yang diucapkan lewat khotbah dengan cepat dapat terlupakan oleh  orang banyak, yang datang karena keinginan tahu yang bersifat superfisial, tanpa komitmen. Kata-kata tertulis juga dapat menjadi kata-kata yang terkubur mati apabila tidak hidup dalam hati manusia dan diproklamasikan  oleh suatu suara yang hidup.

Murid-murid Yesus harus lebih daripada sekadar murid-murid para rabi Yahudi, bahkan harus lebbih daripada sekadar saksi-saksi. Panggilan Yesus mencakup sebuah janji bahwa Dia akan membuat mereka menjadi pejala-penjala manusia, suatu pekerjaan yang akan mereka mulai lakukan ketika Yesus mengutus mereka dalam misi evangelisasi mereka yang pertama (Mat 10).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah memancarkan terang kasih-Mu ke dalam hidupku yang dipenuhi kegelapan ini. Di tengah-tengah kesibukan sehari-hariku, tolonglah aku agar dapat mengikuti-Mu dengan semangat yang berapi-api sebagaimana yang telah ditujukkan oleh para murid-Mu yang pertama. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 4:12-23), bacalah tulisan yang berjudul “PERSATUAN ALAM TERANG DAN HIDUP YANG MENYELAMATKAN DARI KRISTUS” (bacaan tanggal 22-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

Cilandak, 19 Januari 2017 [Hari Kedua Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 13 Januari 2017) 

stdas0592-jesus-heals-the-palsied-manKemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: Ibr 4:1-5,11; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,6-8 

Narasi Injil yang cukup dramatis ini adalah mengenai bagaimana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah oleh empat orang yang membawanya ke tempat itu. Cerita tentang penyembuhan orang lumpuh ini adalah yang pertama dari lima cerita konflik dalam Injil Markus (2:1-3:6), yang menyoroti perlawanan para pemuka agama Yahudi terhadap pernyataan siapa diri Yesus itu. Dengan berpegang teguh pada ide-ide kuno mereka sendiri, para ahli Taurat dan orang Farisi gagal mengalami bela rasa dan kasih Allah yang dimanifestasikan dalam diri Yesus.

Ada beberapa pokok konflik yang muncul antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi selama berlangsungnya proses penyembuhan. Yang pertama terjadi ketika Yesus mendeklarasikan bahwa dosa-dosa orang itu diampuni (Mrk 2:5). Dalam Perjanjian Lama, kuasa untuk mengampuni dosa hanya milik Allah saja (Kel 34:6-7; Yes 43:25). Lalu Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10). Tradisi Yahudi pada waktu itu memahami bahwa yang dimaksudkan dengan “anak manusia” (Dan 7:13-14) mengacu kepada sang Mesias yang akan membawa umat ke dalam Kerajaan Allah. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan tokoh mesianis ini untuk mulai menyatakan diri-Nya dan mempersiapkan umat bagi pekerjaan yang akan dilaksanakan-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Tanggapan umat yang hadir terhadap peristiwa penyembuhan orang lumpuh ini merupakan sebuah kontras yang tajam terhadap ketakutan yang melumpuhkan dari para ahli Taurat (Mrk 2:7). Orang banyak takjub dan memuliakan Allah, sambil berkata: “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Mereka memberi tanggapan positif terhadap kebaikan dan belas kasih Allah. Kiranya tidak sedikit dari orang banyak itu kemudian menjadi murid-murid Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa orang banyak  dapat mengenali siapa Yesus itu, sementara para pemimpin agama Yahudi buta sehingga tidak mampu melihat siapa sebenarnya Yesus? Jawabnya terletak pada iman mereka. Yesus melihat iman dari mereka yang membawa orang lumpuh dan juga iman si lumpuh sendiri (Mrk 2:5). Walaupun kuat-kuasa dan belas kasih Yesus begitu terlihat oleh mereka yang percaya (beriman), ketidak-percayaan telah membutakan mata (terutama mata hati) para pemuka agama Yahudi tersebut. Para pemuka agama Yahudi itu tidak mau mengubah mindset  mereka, juga tidak mempunyai keberanian untuk keluar dari comfort zone mereka. Bukankah implisit dalam pengertian apa iman itu, terdapat unsur-unsur keberanian dan perubahan diri?

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bukalah mata kami agar mampu melihat karya-Mu dengan lebih jelas dalam hidup kami. Sembuhkanlah kami dari berbagai cara berpikir kami yang membatasi – bahkan menghalangi – pemahaman kami tentang rencana penyelamatan Bapa surgawi atas segenap umat manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG LUMPUH” (bacaan tanggal 13-1-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2014] 

Cilandak, 10 Januari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS