Posts tagged ‘KAPERNAUM’

MENJADI YANG TERAKHIR DARI SEMUANYA DAN PELAYAN DARI SEMUANYA

MENJADI YANG TERAKHIR DARI SEMUANYA DAN PELAYAN DARI SEMUANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Selasa, 22 Mei, 2018) 

Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mrk 9:30-37) 

Bacaan Pertama: Yak 4:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 55:7-11,23 

“Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk 9:35).

Petikan sabda Yesus ini barangkali merupakan sabda yang paling menantang dalam Injil. Kita semua mengetahui bahwa kita dimaksudkan untuk melayani, …… namun menjadi pelayan dari semuanya? Mudahlah untuk kita menjadi penuh keutamaan/kebajikan ketika menghadapi seseorang yang nyaman/enak bagi kita berelasi dengannya. Akan tetapi bagaimana kalau kita harus berurusan dengan orang-orang yang “berbeda” dengan kita? Mungkin saja mereka berasal dari budaya yang berbeda, memiliki tradisi iman yang berbeda, atau menganut nilai-nilai yang berbeda. Bisa juga mereka adalah orang-orang yang cacat fisik dan/atau menderita penyakit yang menakutkan kita. Atau mungkin saja karena mereka adalah orang-orang tidak mengenakkan untuk menjadi teman bergaul. Jika kita cukup lama memikirkan hal ini, maka kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri, “Bagaimana aku harus melakukannya dengan baik seturut kehendak Allah?”

Sebenarnya kita tidak perlu mencari jauh-jauh untuk memperoleh jawabannya. Yesus, sang Guru agung, memberikan kepada kita visual aid guna membantu kita memahami diri-Nya. Dia menggunakan seorang anak kecil untuk mengingatkan kita bahwa mereka yang biasa kita sepelekan, yang kita pikir tidak ada artinya, paling akhir, atau “berbeda” sesungguhnya sangat dekat dengan diri-Nya. Pada kenyataannya, orang-orang kecil (wong cilik) ini sesungguhnya adalah Yesus yang menyamar: “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Mrk 9:37). Yesus dapat saja menggunakan seseorang yang sudah tua dalam usia, seorang pengemis, atau seseorang yang sedang mengalami pergumulan pribadi dalam batinnya, namun hakekat pesan-Nya adalah sama: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”  (Mat 25:40).

Yesus dapat saja tidak mengatakan kepada kita untuk pergi keluar melayani setiap orang yang kita temui. Namun jelaslah bahwa Dia menantang kita untuk mengubah cara kita memandang orang-orang lain. Apabila kita melihat wajah-Nya dalam wajah orang-orang yang kita temui, apakah dia kaya atau miskin, sehat wal’afiat atau sedang sakit-sakitan – maka kita tidak akan merasa gundah apakah kita  “besar” atau “kecil” dalam Kerajaan Surga. Kita tidak akan melihat pelayanan sebagai suatu beban melainkan sebagai sesuatu untuk dinikmati dengan penuh sukacita.

Apabila kita (anda dan saya) mempunyai kesulitan untuk menemukan Tuhan Yesus dalam diri seseorang yang kita temui, barangkali kita perlu menemukannya dalam diri kita sendiri dulu. Jika kita merasa lelah untuk mengasihi dengan kekuatan kita sendiri, marilah kita memohon kepada Tuhan Yesus untuk mengisi diri kita dengan kekuatan-Nya dan belas kasih-Nya. Terang Roh Kudus yang menyinari kita akan mentransformasikan visi kita. Orang-orang yang tadinya susah/tidak cocok menurut pandangan kita akan menjadi lebih mudah untuk kita kasihi. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kita pun akan mempunyai suatu bela-rasa terhadap mereka. Ada lagu barat yang liriknya a.l. berbunyi: “Nothing looks the same through the eyes of love” – Tidak ada sesuatu pun yang kelihatan sama melalui mata cinta.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah mata-Mu kepadaku, agar aku dapat melihat sesamaku seperti Engkau melihat mereka. Berikanlah hati-Mu kepadaku, agar aku dapat mengasihi mereka dengan kasih-Mu.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:30-37), bacalah tulisan yang berjudul “PELAYAN DARI SEMUANYA” (bacaan tanggal 22-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak,  20 Mei 2018 [HARI RAYA PENTAKOSTA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YESUS SUNGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

YESUS SUNGGUH MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 12 Januari 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dr Corleone, Biarawan

 

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!”  Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.”  (Mrk 2:1-12)

Bacaan Pertama: 1Sam 8:4-7,10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:16-19

Ini adalah sebuah “adegan” yang sungguh konkret. Cerita ini mengungkapkan great expectations dari orang kebanyakan, suatu hasrat kuat dan sangat manusiawi untuk memperoleh kesembuhan fisik. Datang saja ke acara kebangunan rohani atau “Misa Penyembuhan” untuk menyaksikan dengan mata-kepala  sendiri, malah kita mungkin mengalami  sendiri kesembuhan itu. Kesembuhan-kesembuhan terjadi, meskipun yang disembuhkan belum tentu datang karena didorong motif yang sepenuhnya spiritual. Cerita ini juga menggambarkan, bahwa sepanjang sejarah manusia Allah menghendaki, bahkan memiliki hasrat besar, untuk mengampuni pendosa yang bertobat. Kita tentu percaya bahwa hal ini benar karena iman kita akan kerahiman atau belaskasih Allah. Namun dengan kedatangan Yesus ke tengah-tengah umat manusia, pengampunan dosa itu mengambil sebuah bentuk pengungkapan manusia yang baru, yang membawa kita kepada suatu kepastian.

Berkat-berkat serta karunia-karunia Allah tidak selalu menyangkut hal-ikhwal yang bersifat badani. Pekerjaan-pekerjaan menakjubkan dari Allah ada dalam hati manusia. Karunia agung dari Allah adalah pemerdekaan/pembebasan dari dosa-dosa. Bisa saja orang lumpuh ini, yang membutuhkan pertolongan dan sepenuhnya menggantungkan diri pada orang-orang lain yang boleh dikatakan “nekat”, merupakan seorang pribadi yang lebih siap untuk menerima pengampunan. Kita maklumi ada cukup banyak orang menolak pengampunan Allah karena sebuah alasan tunggal, yaitu bahwa mereka tidak mau “menerima” pengampunan itu lewat orang lain. “Mohon pengampunan Allah” mensyaratkan bahwa orang bersangkutan mengakui keterbatasan-keterbatasan dirinya dan menghaturkan permohonan dengan sangat akan turunnya Kerahiman Ilahi ke atas dirinya, namun kesombongan tersembunyi dapat menghalangi dia untuk mengambil langkah seperti itu. Banyak orang berpikir bahwa dirinya “mandiri”, sefl sufficient, mereka mau keluar dari kesusahan hanya berdasarkan kekuatan mereka sendiri. Yesus mengampuni dosa-dosa orang lumpuh dengan mengucapkan kata-kata manusia: “Hai anakKu, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5). Ketika para pemuka agama menolak cara pemberian pengampunan seperti ini, Yesus menanggapi dengan suatu tanda yang mudah dilihat oleh mata manusia: Dia menyembuhkan orang lumpuh itu melalui firman yang keluar dari mulut-Nya, untuk menunjukkan bahwa Dia memiliki kuasa mengampuni dosa melalui firman-Nya. Apa yang diucapkan Yesus ini sama kuatnya dengan kata-kata: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mrk 2:11)

Reaksi negatif para pemuka agama juga menunjukkan bahwa mereka sebetulnya belum siap untuk menerima keselamatan. Mereka telah membangun bagi diri mereka sendiri sebuah “agama yang penuh dengan kebenaran moral”, dan berpikir bahwa hanya mereka sendirilah yang akan berjaya merebut keselamatan dengan mengikuti kehendak mereka sendiri. Kita sering mengalami keraguan untuk menerima sakramen tobat dari seorang imam yang mewakili Kristus (lihat Yoh 20:21-23). Mungkin kita memiliki sikap yang agak mirip dengan para pemuka agama pada zaman Yesus itu. Di batin kita yang paling dalam, kita merasa takut, karena kita selalu kembali dan kembali lagi ke dalam dosa-dosa yang sama. Di kedalaman hati kita mungkin saja ada suatu hasrat ambisius untuk menjadi seorang yang “adil”, sehingga tidak perlu lagi mohon pengampunan dari Allah – artinya “kita bisa dan mampu melakukan apa saja tanpa Allah!”  Ada juga yang mengatakan, “Tetapi, apakah Allah tidak dapat mengampuni dosa-dosaku, bahkan dosa yang paling jelek sekali pun, apabila aku mohon pengampunan dari Dia secara langsung?” Tanggapan saya: “Iman saya mengatakan, bahwa Allah dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya, namun biasanya dalam kehidupan Gereja di mana saya adalah anggotanya, pengampunan atas dosa-dosa yang sungguh serius diperoleh melalui Sakramen Tobat.”

Wajah sejati Allah adalah “‘Kasih yang mengampuni” dan bukanlah “Hakim yang senang menghukum”. Inilah mukjizat besar yang tak henti-hentinya dibuat oleh Allah. Namun untuk menunjukkan bahwa mukjizat yang tak kelihatan ini sungguh riil adanya, maka Yesus menggaris-bawahinya dengan sebuah mukjizat yang berwujud. Inilah inti bacaan Injil hari ini!

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur atas pengampunan dan kesembuhan yang begitu sering Kauberikan kepadaku. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, roh sukacita dan puji-pujian, sehingga segala karunia Roh yang diberikan kepadaku dapat kupersembahkan kembali kepada-Mu lewat pengabdianku kepada sesamaku, semua seturut kehendak-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA” (bacaan tanggal 12-1-18) dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 18-01 BACAAN HARIAN JANUARI 2018. 

Cilandak, 9 Januari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI

IMAN SEJATI SEORANG PERWIRA ROMAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 18 September 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam 

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Tim 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 28:2,7-9 

Perwira Romawi dalam cerita Injil Lukas ini berpangkat Centurion yang membawahi seratus orang prajurit, katakanlah sekarang namanya komandan kompi. Perwira ini adalah seorang yang memiliki iman yang kokoh, iman yang mencerminkan keyakinannya yang bersifat total dan mutlak kepada Yesus. Sikap dan perilaku perwira ini tanpa banyak ribut mengakui otoritas Yesus atas segala aspek kehidupan. Dihadapkan dengan penyakit serius yang diderita oleh hambanya yang sangat dihargainya, sang perwira menggantungkan pengharapannya pada Yesus saja. Ternyata perwira ini adalah seorang pribadi yang mengasihi bangsa Yahudi, malah membangun rumah ibadat (sinagoga) bagi masyarakat Yahudi setempat (Luk 7:4-5).

Perwira itu minta tolong kepada beberapa orang tua-tua Yahudi agar dapat menghadap Yesus dan mohon pertolongan-Nya guna menyembuhkan hambanya. Nampaknya dia tidak merasa layak untuk datang sendiri menghadap Yesus (bdk. Mat 8:5). Perwira itu mencari otoritas yang ada pada sabda Yesus, sebagai solusi yang jelas terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

Surat Pertama Santo Petrus memuji iman dari mereka yang menerima dan percaya kepada Yesus setelah wafat dan kebangkitan-Nya. Dalam surat itu Petrus menulis: “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira dengan rasa sukacita yang mulia dan tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1Ptr 1:8-9). Di sini kita dapat melihat betapa tulisan Petrus ini menggambarkan iman dari sang perwira dalam bacaan Injil Lukas hari ini.

Sang perwira merasa tidak layak untuk menghadap Yesus secara pribadi, maka dia mengutus dua rombongan; yang pertama adalah para tua-tua Yahudi seperti sudah diutarakan di atas dan kemudian rombongan kedua yang terdiri dari para sahabatnya (lihat Luk 7:3,6). Baginya, Yesus jelaslah seorang Pribadi yang dalam diri-Nya Tuhan Allah berdiam, seseorang yang memiliki otoritas melampau batas-batas insani. Oleh karena itu, dengan ketulusan hati yang tak perlu diragukan lagi, sang perwira menilai dirinya tidak layak untuk menerima Yesus dalam rumahnya. Begitu tinggi rasa hormatnya terhadap Yesus, sehingga dia membutuhkan sepatah kata saja dari Yesus agar hambanya itu disembuhkan: “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Luk 7:7). Hamba yang sakit keras itu pun sembuh – lewat kuasa dari Yesus dan iman sang perwira.

Peristiwa ini dapat menolong memperkuat kita dalam zaman ini yang juga banyak menyaksikan penyembuhan dan mukjizat ilahi, dunia di mana banyak sekali sikon yang dihadapi orang-orang membuat mereka stres dan patah semangat karena menyadari ketidak-mampuan mereka menghadapi berbagai sikon tersebut. Marilah kita ingat selalu bahwa otoritas Yesus tidak pernah mengalami erosi sejak dahulu. Penulis surat kepada orang Ibrani mengatakan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Janji Yesus sama absahnya hari ini seperti dua ribu tahun lalu: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7)

DOA: Tuhan Yesus, tingkatkanlah imanku kepada-Mu, teristimewa pada saat-saat aku berada dalam ketegangan dan keragu-raguan, agar dengan demikian aku dapat dengan penuh keyakinan bertumpu pada sabda-Mu sebagai sumber kekuatanku yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL” (bacaan tanggal 18-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 15 September 2017 [Peringatan SP Maria Berdukacita]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS PENUH WIBAWA DAN KUASA

YESUS PENUH WIBAWA DAN KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Selasa, 5 September 2017) 

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Lalu tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. (Luk 4:31-37)

Bacaan Pertama: 1Tes 5:1-6,9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

Ada seorang guru yang saya sangat kagumi pada waktu  saya bersekolah di SR dan SMP Bruderan Budi Mulia, Mangga Besar di tahun 1950’an. Nama beliau adalah Ibu Sudjilah, didikan susteran OSF Mendut dan seorang pejuang kemerdekaan. Beliau seorang Kristiani Katolik ….. dan beliau tidak menikah…… mengabdikan diri sepenuhnya bagi dunia pendidikan. Beliau sempat mengajar kami Bahasa Indonesia (termasuk menggunakan huruf Arab), Sejarah Dunia dan Sejarah Indonesia. Di mata saya, beliau adalah seorang guru yang  hebat. Kecintaan saya pada Indonesia boleh dikatakan ditanamkan oleh ibu guru ini. Berbagai perlakuan diskriminatif yang saya alami sepanjang hidup ini tidak menyusutkan kecintaan saya pada negara dan bangsa Indonesia, sedikit-banyak adalah karena pendidikan yang saya terima melalui Ibu Sudjilah ini.

Sekarang, apabila kita (anda dan saya) mengingat-ingat kembali masa sekolah kita dahulu, apa kiranya kualitas yang dimiliki seorang guru tertentu (seperti Ibu Sujilah di atas) yang memampukan dirinya memimpin kita  sampai menjadi siswa-siswa yang unggul. Apa yang dimiliki oleh guru istimewa seperti itu, yang memberi inspirasi kepada kita masing-masing untuk menjadi siswa-siswa yang penuh perhatian dan tanggung-jawab? Barangkali ayah atau ibu kita juga memiliki kualitas itu. Namanya adalah otoritas. Jikalau kita merenungkan bacaan Injil hari ini, maka jelas Yesus secara unik memiliki kualitas termaksud. “Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa” (Luk 4:32).

Bagi orang-orang di Kapernaum, Yesus adalah seorang pribadi yang menakjubkan karena melalui kata-kata-Nya, Dia membuka jalan bagi mereka untuk memikirkan Bapa di surga. Yesus tidak hanya sekadar membuat kemasan baru dari hikmat manusia yang sebenarnya sudah dikenal baik (familiar) di tengah khalayak ramai, dengan suatu cara yang baru dan provokatif. Kata-kata Yesus juga menolong mereka untuk berjumpa dengan Allah. Karena identitias-Nya yang unik, Yesus mengetahui pemikiran-pemikiran dan hasrat-hasrat Allah sendiri. Tuhan Yesus adalah “seorang” pemikir yang orisinal dan kata-kata-Nya mengkonfrontasi pemikiran-pemikiran duniawi orang-orang dan membawa mereka berkontak dengan hasrat-hasrat Allah yang terdalam. Otoritas Yesus berasal dari “atas” karena Dia sendiri datang dari “atas”. Oleh karena itu, orang-orang dapat menaruh pengharapan mereka pada kata-kata-Nya dengan penuh keyakinan.

Kata-kata Yesus menyatakan identitas-Nya, demikian pula tindakan-tindakan-Nya! Yesus menggunakan otoritas dan kuasa-Nya untuk mengalahkan kekuatan-kekuatan jahat dan memulihkan manusia sehingga menjadi utuh. Kita lihat bahwa Dia memiliki otoritas dan kuasa untuk memaksa  roh jahat taat kepada-Nya dan memerintahkan roh jahat itu keluar dari dalam diri orang yang kerasukan itu. Melalui otoritas dan kuasa-Nya, Yesus meraih kemenangan mutlak! (Luk 4:35-36).

Hasrat Yesus untuk mengalahkan Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya tidaklah lebih kuat daripada kerinduan-Nya untuk menyembuhkan kita, anak-anak manusia yang terbelenggu oleh kedosaan. Hati kita yang lemah melekat pada cara-cara berpikir duniawi kita, dan hati itu menentang cara hidup baru yang ingin diberikan oleh Yesus. Melalui pertobatan, artinya dengan berbalik dari hidup kedosaan kita lalu berpaling kepada Yesus, maka kita pun dapat mengalami keutuhan. Seperti orang yang dirasuki oleh roh jahat itu, kita pun dapat menaruh kepercayaan pada Yesus untuk membersihkan hati dan pikiran kita dan memenuhi diri kita masing-masing dengan hidup baru.  Pada hari ini baiklah kita semua menyadari sepenuhnya bahwa melalui Roh Kudus, Yesus hadir di tengah-tengah dan di dalam diri kita masing-masing, dan bahwa kita dapat berjumpa dengan Dia selagi hati kita menghadap hadirat-Nya dalam doa.

DOA: Yesus Kristus, bukalah pikiran dan hati kami bagi otoritas dan kuasa-Mu. Kami menolak apa/siapa saja yang akan menjauhkan kami dari diri-Mu. Kami mohon agar Engkau memperbaharui pikiran dan hati kami, dan membangun kembali cintakasih kami kepada-Mu, sebagai Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:31-37) yang berjudul “” (bacaan tanggal 5-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 2 September 2017 [Peringatan para martir Fransiskan pada masa Revolusi Perancis] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA

BERMURAH-HATI KEPADA ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir – Senin, 14 Agustus 2017)

OFM Conv.: Pesta S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam Martir  

Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut pajak Bait Allah kepada Petrus dan berkata, “Apakah gurumu tidak membayar pajak sebesar dua dirham itu?” Jawabnya, “Memang membayar.” Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan, “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea atau pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus, “Dari orang asing!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Jadi, bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita membuat mereka gusar, pergilah memancing ke danau. Tangkaplah ikan pertama yang kaupancing dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Mat 17:22-27) 

Bacaan Pertama: Ul 10:12-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Pada waktu orang-orang Yahudi mulai kembali ke Yerusalem dari tanah pembuangan di Babel, mereka setuju untuk hidup dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan hukum Allah. Jika sebelumnya para raja Persia memberikan tunjangan dana untuk terselenggaranya kebaktian di Bait Allah, maka sekarang komunitas Yahudi berjanji untuk memberi sumbangan guna menunjang upacara kebaktian regular dari sumber daya mereka sendiri. Baik warga yang kaya maupun yang miskin, setiap laki-laki yang sudah berumur 20 tahun atau lebih mulai membayar dua dirham per tahunnya. Uang perak Yunani (8.60 g) yang senilai dua dirham sama besarnya  dengan upah dua hari kerja seorang buruh biasa. Memang jumlah yang relatif kecil namun signifikan bagi orang-orang lebih miskin yang harus berjuang dari hari ke hari untuk survive. 

Instruksi Yesus untuk menemukan sekeping uang logam senilai 4 dirham dalam mulut seekor ikan mungkin tidak masuk akal bagi Petrus. Pada titik ini, Petrus telah mendengar pengajaran Yesus dan menyaksikan banyak mukjizat-Nya. Petrus sendiri pun telah memproklamasikan Yesus sebagai “Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Namun demikian, seperti kita, Petrus masih harus belajar lebih lagi tentang siapa Yesus sebenarnya dan juga tentang kebebasan yang diberikan-Nya kepada semua anak-anak Allah. Melakukan seperti apa yang diinstruksikan Yesus tentunya membawa Petrus kepada  suatu tingkatan yang baru dalam upaya memahami Juruselamatnya.

Kemudian Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan anak-anak raja yang tidak diwajibkan untuk membayar pajak kepada ayah mereka yang raja (Mat 17:25); maksudnya bahwa Dia tidak perlu membayar pajak keagamaan untuk pemeliharaan rumah ibadat, karena Dia adalah Putera dari sang Pemilik rumah ibadat itu. Yesus juga meng-cover kewajiban Petrus, artinya termasuk kita juga. Allah telah memanggil kita semua untuk menjadi pewaris-pewaris Kerajaan-Nya, dan melalui darah Kristus martabat kita dipulihkan. Yesus telah memberikan lebih daripada sekadar membayar jalan kita menuju Kerajaan. Masuk ke dalam hadirat-Nya dan kemampuan untuk mendengar suara-Nya sekarang adalah anugerah-Nya bagi kita, seperti dibayarkan pajak Bait Allah oleh Yesus merupakan anugerah bagi Petrus. Sekarang, Yesus minta agar persembahan kita di gereja datang dari sebuah hati yang penuh rasa syukur dan suatu hasrat untuk ikut ambil bagian dalam karya-Nya.

Kita harus bermurah-hati baik kepada Allah maupun kepada sesama kita. Oleh karena itu marilah kita bersahabat dengan para saudari dan saudara kita yang masih hidup sebagai orang-orang asing bagi Kerajaan-Nya. Marilah kita mengasihi mereka sepenuh hati agar supaya mereka dapat mengalami sentuhan Yesus dan menerima anugerah-anugerah (karunia-karunia) yang diberikan-Nya dengan penuh kemurahan-hati.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah begitu baik kepadaku dengan membuat diriku sebagai anak-Mu. Aku sungguh mengasihi-Mu, ya Allahku. Penuhilah diriku dengan Roh-Mu, agar supaya aku dapat mengasihi semua anak-anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 17:22-27), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU” (bacaan tanggal 14-8-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 11 Agustus 2017 [Pesta S. Klara dr Assisi, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ROTI KEHIDUPAN

ROTI KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Jumat, 5 Mei 2017)

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat. (Yoh 6:52-59)

Bacaan Pertama: Kis 9:1-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2 

Selagi Yesus mengajar orang banyak tentang roti kehidupan, Ia mengatakan kepada mereka bahwa diri-Nya lah roti yang memberi-hidup dan dikirim oleh Bapa di surga. Di bagian akhir pengajaran-Nya, Yesus menantang mereka yang datang kepada-Nya: “Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Menanggapi pertengkaran antara orang-orang Yahudi sendiri, dengan sederhana Yesus mengulangi: “Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:53-54).  Bagi para pembaca Injil Yohanes yang awal, “litani” terus-menerus dari kata-kata – “makan”, “minum”, “daging”, “darah” – mengingatkan mereka akan Sakramen Ekaristi. Demikian pula kiranya dengan kita, bukan?

Dalam Sakramen Ekaristi, kita dihubungkan dengan kurban di mana Yesus mempersembsahkan diri-Nya sendiri “untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Setiap kali kita merayakan misteri ini, kurban yang sama dihadirkan kembali kepada kita. Menurut “Katekismus Gereja Katolik” (KGK), Ekaristi adalah suatu “kenangan” dalam pengertian alkitabiah: “tidak hanya berarti mengenangkan peristiwa-peristiwa di masa lampau, tetapi mewartakan karya-karya agung yang telah dilakukan Allah untuk umat manusia (bdk. Kel 13:3). Dalam perayaan liturgi peristiwa-peristiwa itu dihadirkan dan menjadi hidup lagi” (KGK, 1363). Hal ini tidak bertentangan samasekali dengan pernyataan dalam ‘Surat kepada Orang Ibrani: “Sebab oleh satu kurban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan” (Ibr 10:14).

Ekaristi bukan sekadar suatu peringatan; Ekaristi adalah juga suatu kurban atau pemberian-diri yang riil: “Dalam Ekaristi, Kristus mengaruniakan tubuh ini, yang telah Ia serahkan di kayu salib untuk kita, dan darah ini, ‘yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa’ (Mat 26:28)” (KGK. 1365). Setiap kali kita merayakan Misa, kita turut mengambil bagian dalam penghadiran-kembali kematian dan kebangkitan Kristus. Ketika kita menerima Dia dengan suatu disposisi iman dan kasih, maka kita masuk ke dalam peristiwa-peristiwa aktual persembahan kurban berupa pemberian-diri-Nya sendiri. Kita tidak hanya menerima roti dan anggur, atau daging dan darah. Kita menerima keselamatan. Oleh karena itu marilah kita bersukacita bahwa Yesus telah memberikan karunia  ini kepada segenap generasi sampai saat kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan kelak.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk pengorbanan-Mu di kayu salib dan kebangkitan-Mu kepada hidup baru. Terima kasih, Engkau membuat tindakan penebusan-Mu itu hadir setiap kali kami merayakan Ekaristi. Dengan rendah hati kami menerima kehadiran-Mu di tengah-tengah kami, dan kami percaya akan janji-Mu yang besar bahwa siapa saja yang makan tubuh-Mu dan minum darah-Mu akan tetapi tinggal dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:52-59), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN MENUJU KEHIDUPAN KEKAL-NYA ADALAH MELALUI SALIB”  (bacaan tanggal 5-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012)

Cilandak, 2 Mei 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 1 Mei 2017)

Peringatan S. Yusuf Pekerja

Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29)

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Pikir-pikir, paling sedikit ada satu hal yang baik (sisi positif) dari orang banyak yang mengikuti Yesus seperti diceritakan dalam  bacaan di atas: Orang banyak itu memiliki ketekunan! Banyak dari mereka telah menyaksikan penyembuhan orang buta, orang lumpuh, orang yang menderita berbagai macam sakit-penyakit lainnya, dan mereka sendiri telah diberi makan sampai kenyang secara ajaib sehari sebelumnya. Dan sekarang, ketika Yesus “menghilang” dari pandangan mata mereka, mereka terus saja mencari Dia sampai ketemu di daratan/pantai bagian lain dari danau itu, di Kapernaum. Seperti akan kita lihat dalam bacaan beberapa hari ke depan, ketekunan mereka membawa hasil, hasil yang jauh lebih besar dan agung daripada yang mereka harap-harapkan.

Ketika orang banyak itu menemukan Yesus, kiranya mereka bertanya-tanya dalam hati bagaimana Yesus bisa sampai ke Kapernaum. Naik apa, karena semua perahu sudah dihitung! Mereka bertanya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” (Yoh 6:25). Yesus tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Sebaliknya, Dia ingin memperdalam pemahaman mereka tentang siapa diri-Nya sesungguhnya. Sampai saat itu, orang banyak tertarik kepada Yesus karena berbagai mukjizat dan tanda heran lain yang dibuat oleh-Nya.

Sekarang, tibalah waktunya bagi orang banyak itu untuk mulai memandang Yesus melampaui tanda-tanda, yaitu kepada kebenaran-kebenaran yang dimaksudkan oleh tanda-tanda tersebut. Yesus ingin memimpin mereka kepada iman akan diri-Nya sebagai Putera Allah dan Roti Kehidupan. Mukjizat pergandaan roti dan ikan hanyalah suatu “pendahuluan” untuk sampai kepada mukjizat yang lebih mendalam, yaitu pemberian tubuh dan darah-Nya sendiri yang dapat memberikan kehidupan kekal kepada semua orang yang percaya. Yesus bersabda: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29). Ini adalah kata-kata keras bagi telinga banyak orang. Mereka masih tetap menginginkan tanda-tanda dari dunia sehingga mereka tidak perlu menghadapi tantangan iman. Memang tidak susah untuk bersimpati kepada orang banyak itu! Iman-kepercayaan tidak selalu merupakan suatu perjalanan yang mudah. Apabila hidup itu berjalan baik dan kita memperoleh banyak tanda dari kasih Allah kepada kita yang kelihatan di dunia ini, memang tidak sulitlah untuk beriman-kepercayaan. Namun justru dalam badai kehidupanlah iman kita itu dapat bertumbuh.

Dalam hal inilah ketekunan mendapat upahnya. Apakah dalam masa-masa baik atau masa-masa yang buruk, “dalam untung dan malang”, kita harus terus berjuang dalam iman! Marilah kita selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menggunakan karunia akal-budi yang diberikan Allah untuk melihat kebenaran dari setiap situasi di mana kita berada, sehingga iman kita dapat bertumbuh dan menjadi matang melalui rahmat Allah.

DOA: Tuhan Yesus, kuatkanlah karunia iman yang telah Kauanugerahkan kepadaku. Tolonglah aku untuk selalu bertekun mencari-Mu di dalam segala hal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “PERCAYA KEPADA DIA YANG TELAH DIUTUS ALLAH” (bacaan tanggal 1-5-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 27 April 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS