Posts tagged ‘KEMUNAFIKAN ORANG FARISI’

TIDAK ADA SESUATU PUN YANG TERSEMBUNYI YANG TIDAK AKAN DIKETAHUI

TIDAK ADA SESUATU PUN YANG TERSEMBUNYI YANG TIDAK AKAN DIKETAHUI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Jumat, 19 Oktober 2018)

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya, “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tetapi Aku akan menunjukkan kepada kamu siapa yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang  setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang  ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah lima ekor burung pipit dijual seharga dua receh terkecil? Sungguh pun demikian tidak seekor pun yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit. (Luk 12:1-7) 

Bacaan Pertama: Ef 1:11-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,12-13 

“Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.” (Luk 12:2)

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berbicara mengenai ragi orang Farisi. Yesus mengingatkan para murid-Nya untuk waspada terhadap kemunafikan orang-orang Farisi tersebut. Berbagai pekerjaan dan tindakan mereka dalam mematuhi segala macam hukum dan peraturan keagamaan sesungguhnya tidak bernilai karena mereka tidak mempunyai iman-kepercayaan yang diperlukan. Ada kehampaan/kekosongan dalam diri mereka. Jadi, tidak seperti Abraham, kekosongan dalam diri mereka itu membuat segala hal yang mereka perbuat – termasuk praktek “kesalehan” dalam mentaati hukum Taurat – adalah tanpa iman.

Religiositas orang-orang Farisi bersifat sintetis (seperti halnya barang-barang palsu) dan kenyataan seperti itu tidak dapat disembunyikan untuk selamanya. Sebagaimana ragi, religiositas sintetis tersebut akan menunjukkan “keaslian”-nya, cepat atau lambat. Praktek agama yang bagaikan sandiwara itu tidak akan menyelamatkan, mentransformasikan atau memberi makna atas penderitaan seseorang.

Relasi kita dengan Allah adalah relasi yang paling serius dalam hidup kita, dan samasekali bukanlah sebuah game. Itulah sebabnya mengapa kepada kita diingatkan agar “takut akan Allah” (lihat Kej 42:18; 2Taw 26:5; Ayb 1:1; Mzm 66:16; Ams 19:23 dll.). Kita tahu bahwa kehendak Allah akan terwujud dengan satu cara atau lainnya. Allah tidak akan dapat ditipu oleh mereka yang bersandiwara walaupun bahasa yang dipakai adalah bahasa agama yang paling suci. Orang dapat menipu seorang gembala umat, namun tidak akan dapat menipu Allah. Yesus bersabda: “Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui” (Luk 12:2).

Kenyataan bahwa Allah mampu melihat hati kita yang terdalam dapat merupakan suatu penghiburan karena walaupun kita tidak sempurna, Allah melihat motif-motif kita yang sesungguhnya.  Sebaliknya, kemampuan Allah untuk melihat hati kita dapat merupakan sebuah sumber teror yang luarbiasa menakutkan jika orang-orang lain memandang kita sebagai “orang suci” sementara kita juga tahu bahwa Dia sangat mengetahui motif-motif pribadi kita yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Di atas disebutkan ketiadaan iman-kepercayaan orang munafik. Baiklah dalam kesempatan saya menyinggung sedikit soal iman ini. Seperti juga tubuh kita, iman kita juga mempunyai siklus dengan tahapan-tahapannya. Ada iman masa kecil yang terasa indah; ada iman yang penuh turbulensi, tanda-tanya dan sering membingungkan pada waktu kita menjalani masa remaja dst. Iman kita tidaklah bersifat linear dan selalu bertumbuh ke arah yang lebih baik, iman juga dapat turun-naik. Iman kita adalah sesuatu yang hidup, yang dipengaruhi oleh berbagai turbulensi dalam hidup kita. Di bawah setiap hal yang muncul dalam kesadaran kita, iman adalah fondasi di atas mana kita membangun sistem-sistem nilai, kepercayaan dan falsafah hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memuji Engkau dan aku meninggikan Engkau. Engkau adalah batu karangku dan tempat pengungsianku. Semoga aku senantiasa berpegang erat-erat pada-Mu sebagai seorang anak yang senantiasa berpegang erat-erat pada bapanya. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Jadikanlah hatiku seperti hatimu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 12:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “DENGAN PERTOLONGAN ALLAH KITA DAPAT MENGATASI RASA TAKUT KITA” (bacaan tanggal 19-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10  PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

Cilandak, 16 Oktober 2018 [Peringatan S. Margareta Maria Alacoque] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK MEMANG BERBEDA SEKALI DENGAN YESUS

PARA PEMIMPIN AGAMA YANG MUNAFIK MEMANG BERBEDA SEKALI DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir – Rabu, 17 Oktober 2018)

“ ……… Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terbaik di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya, “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab, “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun. ………” (Luk 11:42-46) 

Bacaan Pertama: Gal 5:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Bayangkanlah anda mengundang seorang tamu istimewa untuk makan bersama di rumahmu dan kemudian anda malah “dimaki-maki” dan dihina, demikian para tamu lain yang hadir. Tamu macam apa yang akan menyerang tuan rumah dengan kata-kata yang terasa sangat keras itu?

Seperti seekor singa ganas yang menyerang mangsanya, Yesus – singa dari suku Yehuda (Why 5:5) – menyerang sikap negatif yang telah begitu lama mengendap dalam hati orang-orang Farisi. Dalam menafsirkan Hukum Musa, sejumlah orang Farisi menggunakan pendekatan kaku yang mengabaikan panggilan untuk membuat keseimbangan antara keadilan dan belas kasih. Dalam menanggapi hal itu, Yesus berupaya untuk menunjukkan kepada mereka “semangat” atau roh dari hukum tersebut. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat pada acara makan malam tersebut adalah para pakar dalam bidang hukum Musa. Namun Yesus ingin agar mereka melihat bahwa Kerajaan Allah adalah terlebih-lebih mengenai relasi daripada mengenai peraturan-peraturan. Tantangannya bukanlah sekadar kepatuhan-kaku untuk melakukan “persepuluhan” dan/atau kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya, melainkan untuk mengasihi Allah dan bersikap serta berlaku adil terhadap umat-Nya. Mematuhi perintah-perintah Allah bukanlah untuk membuktikan kekudusan seorang pribadi, melainkan untuk mengasihi Allah dan tetap bersikap dan berlaku benar terhadap kasih perjanjian-Nya.

Tidak seperti para ahli Taurat yang dikatakan oleh Yesus “tidak menyentuh beban yang diletakkan oleh mereka pada orang dengan satu jari pun” (lihat Luk 11:46), Yesus memikul semua beban dan dosa-dosa kita pada kayu salib. Tidak seperti orang-orang Farisi, yang membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi tidak bagian dalamnya (Luk 11:39), Yesus datang untuk membersihkan kita luar-dalam, guna memurnikan hati kita dan menarik diri kita kepada-Nya. Yesus tidak hanya mengatakan kepada kita bagaimana kita harus bertindak. Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban agar dengan demikian kita akan memiliki kuasa untuk mengikuti perintah-perintah-Nya.

Inilah seluruh alasan mengapa Allah menghendaki adanya inkarnasi: “Sabda menjadi daging!” (Yoh 1:14). Yesus datang ke dunia untuk berada bersama kita, untuk menjadi seorang pribadi manusia seperti kita, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi seperti Dia dan hidup dengan-Nya untuk selama-lamanya. Setiap hari Yesus berada bersama kita – Dia adalah Imanuel – untuk menolong kita memikul beban-beban kita dan untuk mencurahkan rahmat ilahi secara berlimpah. Yesus tidak meninggalkan kita sendiri ketika Dia kembali kepada Bapa di surga. Yesus meninggalkan Roh Kudus-Nya bagi kita untuk menjadi Penasihat dan Penghibur kita, dan Ia meninggalkan bagi kita tubuh-Nya dan darah-Nya dalam Ekaristi. Bukankah semua ini merupakan bukti betapa besar kasih-Nya kepada kita?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengasihi diriku, jiwa dan ragaku! Ini, terimalah hatiku ini! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengambil dosa-dosaku dan memikul beban-bebanku. Aku juga bersyukur sedalam-dalamnya karena kasih-Mu yang tak terkira, Engkau bersedia mati demi aku. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan berilah aku makan “roti kehidupan”. Berilah makanan bagi jiwaku dengan “asupan makanan yang bergizi”. Puaskanlah rasa hausku akan hal-hal rohani. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama  hari ini (Gal 5:18-25), bacalah tulisan yang berjudul “SEDIKIT CATATAN MENGENAI BUAH ROH” (bacaan tanggal 17-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 14 Oktober 2018 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERIKANLAH ISINYA SEBAGAI SEDEKAH DAN SESUNGGUHNYA SEMUANYA AKAN MENJADI BERSIH BAGIMU

BERIKANLAH ISINYA SEBAGAI SEDEKAH DAN SESUNGGUHNYA SEMUANYA AKAN MENJADI BERSIH BAGIMU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Selasa, 16 Oktober 2018)

SCJ: Peringatan S. Margareta Maria Alacoque, Perawan

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Ia masuk ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu heran melihat bahwa Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.” (Luk 11:37-41) 

Bacaan Pertama: Gal 4:31b-5:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:41,43-45,47-48 

Pada tingkatan tertentu, orang Farisi ini kelihatannya seorang pribadi terhormat. Dengan mengundang Yesus makan malam, dia menunjukkan bahwa dirinya sungguh berminat untuk mengenal rabi yang populer akhir-akhir ini. Dengan mencuci tangannya secara seremonial sebelum makan, orang Farisi ini juga menunjukkan bahwa dia berhati-hati dan taat dalam memenuhi kewajiban-kewajiban keagamaannya. Akhirnya, dengan menahan diri dari tindakan mengkritisi tamunya, orang Farisi ini menunjukkan kesantunannya. Namun demikian Yesus menegur orang ini dan orang-orang Farisi lainnya dengan keras, dengan mengatakan bahwa orang Farisi itu serakah (“bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan”; Luk 11:39). Mengapa Yesus sampai berkata-kata keras seperti itu, apalagi sebagai tamu istimewa dalam suatu acara makan malam? Kiranya bukan karena Yesus tidak mengasihi orang Farisi itu. Yesus senantiasa memandang setiap orang dengan kebaikan hati yang penuh bela-rasa. Jadi, apa yang dilakukan oleh Yesus?

Orang itu mempunyai masalah, yaitu bahwa dia tidak melihat atau tidak mau melihat. Walaupun dari luar kelihatan bahwa perilaku keagamaannya itu nyaris sempurna, hatinya dipenuhi dengan motivasi-motivasi non-religius. Pada dasarnya orang Farisi ini seorang pribadi yang serakah … tamak,  yang menginginkan untuk memperoleh lebih dan lebih lagi bagi dirinya, bukan memberi kepada orang-orang lain. Perilaku keagamaannya hanyalah merupakan tabir yang menghalanginya untuk dapat melihat kebutuhannya sendiri akan suatu perubahan batiniah. Hal paling baik yang dapat dilakukan oleh Yesus bagi diri si Farisi adalah memindahkan tabir itu ke tempat lain dan menunjukkan kepadanya apa saja yang ada di situ setelah tabir itu disingkirkan.

Sekarang, bagaimana dengan diri kita sendiri? Sampai seberapa seringkah kita menghindar, kita tidak mau menghadapi masalah keserakahan/ketamakan  yang ada dalam hati dan pikiran kita? Kita dapat saja berpikir bahwa mengubah diri kita sendiri itu sungguh sulit, bahkan tidak mungkin. Namun Yesus ingin membangunkan kita dari tidur dan mengingatkan akan kebutuhan kita untuk bertobat karena Dia ingin menyembuhkan kita. Yesus ingin membersihkan hati kita – bukan sekadar secara umum: Ia ingin menyembuhkan pikiran dan hati kita yang suka mementingkan diri sendiri, nafsu-nafsu dan kecemburuan serta rasa iri hati kita. Sekarang, maukah kita memperkenankan Yesus menjamah kita, menyentuhkan jari-jari kasih-Nya pada pemikiran-pemikiran dan pola-pola perilaku kita yang membutuhkan perubahan? Tidak ada alasan bagi kita untuk merasa takut. Ia sudah mengetahui dosa-dosa kita, bahkan sebelum kita mengungkapkannya ……, dan bagaimana pun juga Dia tetap mengasihi kita.

Yesus bukanlah Yesus sekiranya Dia tidak memberi solusi atas masalah yang dihadapi seseorang. Yesus tidak hanya mengkritisi orang Farisi itu. Dia menunjukkan kepadanya jalan keluar dari keterikatan pada hal-hal yang buruk itu: “Berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu” (Luk 11:41). Yesus berjanji kepada kita, bahwa apabila kita melangkah keluar dari pemikiran, sikap dan perilaku yang mementingkan diri sendiri, dan mulai menunjukkan perhatian secara konkret-praktis terhadap orang-orang lain, maka kita akan mengalami rahmat-Nya bekerja dalam diri kita dan mengubah hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memang membutuhkan perubahan batiniah. Namun aku tidak dapat melakukannya sendiri, untuk itu tolonglah aku. Sembuhkanlah diriku, agar aku dapat mengasihi sebagaimana Engkau mengasihi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:37-41), bacalah tulisan yang berjudul “TETAPI BAGIAN DALAMMU PENUH RAMPASAN DAN KEJAHATAN” (bacaan tanggal 16-10-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 14 Oktober 2018 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DENGAN PERTOLONGAN ALLAH KITA DAPAT MENGATASI RASA TAKUT KITA

DENGAN PERTOLONGAN ALLAH KITA DAPAT MENGATASI RASA TAKUT KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Jumat, 20 Oktober 2017)

 

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya, “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tetapi Aku akan menunjukkan kepada kamu siapa yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang  setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang  ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah lima ekor burung pipit dijual seharga dua receh terkecil? Sungguh pun demikian tidak seekor pun yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit. (Luk 12:1-7) 

Bacaan Pertama: Rm 4:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5,11 

“Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.” (Luk 12:4)

“… jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.” (Luk 12:7)

Pada tahun 1933, pada puncaknya masa susah “Great Depression”, presiden Franklin Roosevelt membuat pengumuman sebagai berikut: “Kita tidak perlu takut kepada apa pun kecuali ketakutan itu sendiri.”  Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut ……” (Luk 12:4). Presiden Roosevelt berbicara mengenai suatu krisis politik dan ekonomi, sedangkan Yesus berbicara mengenai suatu krisis yang jauh lebih penting, yaitu krisis spiritual.

Ketakutan dapat melumpuhkan jiwa, dapat melemahkan tekad kita untuk menghindari godaan dan bekerja sama dengan rahmat Allah. Ketakutan dapat menggantikan keberanian  dengan kepengecutan, dan menggantikan pengharapan dengan keputusasaan. Namun dalam segala hal ini, kita masing-masing menunjukkan diri kita sebagai seorang pribadi yang manusiawi. Bahkan Yesus sendiri mengalami rasa takut yang luar biasa di taman Getsemani.

Kabar baiknya adalah bahwa dengan pertolongan Allah kita dapat mengatasi rasa takut kita.  Keberanian yang sejati bukan berarti tanpa rasa takut samasekali, melainkan bertindak berdasarkan kehendak Allah walaupun ketika kita merasa takut. Sejak beliau nyaris tertembak mati oleh seorang pembunuh pada tahun 1981, pastilah Paus Yohanes Paulus II masih dihinggapi rasa takut setiap kali beliau harus tampil di depan publik. Namun beliau terus melakukannya.

Demikian pula halnya dengan kita, walaupun dalam skala kecil-kecilan. Melalui doa, penghiburan yang kita terima dari orang-orang lain, dan kekuatan batiniah yang disediakan oleh rahmat Allah, maka kita semua dapat menerima rasa takut kita dan memperoleh pertolongan yang kita perlukan untuk mengubah pikiran dan motif kita. Lalu, kita akan melihat bahwa rasa takut kita semakin menyusut dan kita akan semakin berakar dalam kasih.

Menjadi manusiawi berarti menjadi lemah dalam diri kita sendiri namun kuat dalam Kristus, berdosa dalam diri kita sendiri namun kudus di dalam Dia, merasa takut dalam diri kita naum berani melalui Roh-Nya. Santa Teresia dari Lisieux pernah berkata bahwa bahkan tindakan-tindakan kita yang paling mulia sekali pun tetap dinodai oleh berbagai kelemahan. Namun demikian, selagi kita dengan cara yang jauh dari sempurna berjalan tertatih-tatih menuju Allah, kita tetap dapat memberikan kemuliaan kepada-Nya. Pertimbangkanlah kelemahan-kelemahan yang berbeda dari para rasul Yesus dan yakinlah bahwa pada akhirnya yang menang-berjaya adalah kuat-kuasa yang dari atas itu. Semoga Yesus memberikan kepada kita damai-sejahtera yang melampaui segala pengertian kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memuji Engkau dan aku meninggikan Engkau. Engkau adalah batu karangku dan tempat pengungsianku. Semoga aku senantiasa berpegang erat-erat pada-Mu sebagai seorang anak yang senantiasa berpegang erat-erat pada bapanya. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Rm 4:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MEMPERHITUNGKAN IMAN ABRAHAM SEBAGAI KEBENARAN” (bacaan tanggal 20-10-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-10  PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 18 Oktober 2017 [Pesta S. Lukas, Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS